HIDUP BAGI TUHAN

Pengalaman hidup manusia menjadikan dirinya sebagai penentu internal atas apa yang akan ia lakukan. Atau dengan perkataan lain, pengalaman adalah bagian kohesif dengan masa depan yang akan diraih. Pengalaman percaya kepada Tuhan memiliki indikasi yang sama. Namun, dalam segala aspek hidupnya, Tuhan mengatur dan menetapkan jalan hidup manusia. Artinya, dalam kebebasan manusia menentukan, memilih, dan merangkum semua jalan hidupnya, TUHAN tetap berintervensi (campur tangan) atas segala sesuatunya.

Alkitab menegaskan hal ini; bahwa Tuhanlah yang memungkinkan segala sesuatu terjadi. Kita yang hidup bagi Tuhan, tetap percaya bahwa Dialah yang memutuskan dan menetapkan segala sesuatu. Raja Sulaiman menuliskan konteks ini secara jelas:

Segala jalan orang adalah bersih menurut pandangannya sendiri, tetapi TUHANlah yang menguji hati (Amsal 16:2)

Hati manusia memikir-mikirkan jalannya, tetapi TUHANlah yang menentukan arah langkahnya (Amsal 16:9)

Banyaklah rancangan di hati manusia, tetapi keputusan TUHANlah yang terlaksana (Amsal 19:2)

Setiap jalan orang adalah lurus menurut pandangannya sendiri, tetapi TUHANlah yang menguji hati (Amsal 21:2)

Karena TUHANlah yang memberikan hikmat, dari mulut-Nya datang pengetahuan dan kepandaian (Amsal 2:6)

Dari ayat-ayat di atas, tampak jelas bahwa Tuhanlah yang berdaulat atas segala sesuatu dan memungkinkan segala sesuatu dapat terjadi sesuai dengan kehendak-Nya. Ia campur tangan atas hidup manusia. Tentulah Tuhan memperhatikan hidup orang-orang pilihan-Nya, dan menghukum orang-orang yang melakukan kejahatan, dan yang membenci umat-Nya. Dari ayat-ayat tersebut, kita belajar bahwa Tuhan itu peduli dan penuh kasih sayang terhadap orang-orang yang percaya kepada-Nya.

Hal ini pula yang ditegaskan oleh Raja Daud ketika ia menuliskan, “TUHAN menetapkan langkah-langkah orang yang hidupnya berkenan kepada-Nya; apabila ia jatuh, tidaklah sampai tergeletak ,sebab TUHAN menopang tangannya (Mazmur 37:23-24). Mereka yang hidup bagi Tuhan dan berkenan kepada-Nya tentu akan diberkati, disertai, dan ditopang oleh-Nya. Jaminan Tuhan adalah bahwa “Ia menetapkan—dan Ia menjaga umat pilihan-Nya dari segala kesesakan dan godaan dunia.” Tuhan pula yang menjamin bahwa umat pilihan-Nya akan tetap bersandar kepada-Nya sebagai Pribadi yang layak dipercaya dan diandalkan.

Hidup bagi Tuhan adalah hidup yang: pertama, beriman; kedua, berserah; dan ketiga, berdoa. Beriman, berarti kita meyakini akan semua janji Tuhan dan apa yang Ia janjikan pasti dikabulkan. Beriman berarti tangguh menghadapi badai kehidupan, tangguh menghadapi kesulitan dan problem kehidupan. Beriman, berarti kita siap menanggung segala risiko yang datang sebagai konsekuensi dari iman kepada Yesus Kristus. Orang Kristen adalah “sasaran caci maki dan perendahan, baik kepada Tuhannya, kepada orang Kristennya, kepada Kitab Sucinya, dan kepada ajarannya”. Tidak ada ruang di mana Kristen tidak dihina dan dikritisi. Anehnya, Kristen adalah agama terbesar di dunia. Ada apa? Dalam pengamatan saya, Kristen adalah agama yang menjalankan ajaran-ajarannya secara dewasa, dan lebih siap menghadapi badai kritikan, perendahan, caci maki, dan hinaan ketimbang lainnya. Itulah kehebatan Kristen: hidup bagi Tuhan melakukan kehendak-Nya dan siap menerima segala risiko dengan tidak melalukan “balas dendam”.

Lebih dahsyatnya, Yesus Kristus malahan memerintahkan untuk berdoa bagi musuh: “Tetapi Aku berkata kepadamu: Kasihilah musuhmu dan berdoalah bagi mereka yang menganiaya kamu. Karena dengan demikianlah kamu menjadi anak-anak Bapamu yang di sorga, yang menerbitkan matahari bagi orang yang jahat dan orang yang baik dan menurunkan hujan bagi orang yang benar dan orang yang tidak benar (Matius 5:44-45). Adakah yang dapat menandingin ajaran Yesus Kristus? Tidak ada. Itulah sebabnya, Kristen menjadi agama terbesar sekaligus menjadi incaran dan sasaran empuk untuk dihina dan direndahkan. Mengapa demikian? Ingatlah perkataan Yesus berikut ini:

Jikalau dunia membenci kamu, ingatlah bahwa ia telah lebih dahulu membenci Aku dari pada kamu (Yohanes 158)

Sekiranya kamu dari dunia, tentulah dunia mengasihi kamu sebagai miliknya. Tetapi karena kamu bukan dari dunia, melainkan Aku telah memilih kamu dari dunia, sebab itulah dunia membenci kamu (Yohanes 15:19)

Aku telah memberikan firman-Mu kepada mereka dan dunia membenci mereka, karena mereka bukan dari dunia, sama seperti Aku bukan dari dunia (Yohanes 17:14)

Janganlah kamu heran, saudara-saudara, apabila dunia membenci kamu. Kita tahu, bahwa kita sudah berpindah dari dalam maut ke dalam hidup, yaitu karena kita mengasihi saudara kita. Barangsiapa tidak mengasihi, ia tetap di dalam maut. Setiap orang yang membenci saudaranya, adalah seorang pembunuh manusia. Dan kamu tahu, bahwa tidak ada seorang pembunuh yang tetap memiliki hidup yang kekal di dalam dirinya. Demikianlah kita ketahui kasih Kristus, yaitu bahwa Ia telah menyerahkan nyawa-Nya untuk kita; jadi kitapun wajib menyerahkan nyawa kita untuk saudara-saudara kita (1 Yohanes 3:13-16)

Tidak ada yang dapat menandingi ajaran Yesus dan kehidupan Kristen. Dibenci tetapi membenci. Direndahkan tetapi tidak merendahkan; dikutuk tetapi tidak mengutuk, justru memberkati: “Berkatilah siapa yang menganiaya kamu, berkatilah dan jangan mengutuk!” (Roma 12:14). Hidup bagi Tuhan berarti beriman, yang siap menerima segala risiko sebagai konsekuensi dari percaya kepada Yesus Kristus yang adalah Tuhan dan Juruselamat dunia.

Hidup bagi Tuhan berarti berserah. Berserah kepada Yesus berarti mengakui kekuasaan dan kedaulatan-Nya atas hidup semua manusia, atas hidup orang-orang benar (percaya), dan atas hidup orang-orang jahat. Sikap pasrah adalah sikap di mana manusia terbatas dan ia membutuhkan Tuhan dalam totalitas hidupnya. Mereka yang sombong tentu tidak membutuhkan Tuhan. Sekuat dan sehebat bagaimana pun orang Kristen, haruslah memiliki sikap pasrah kepada Tuhan. Ialah yang empunya kehidupan. Maka, tidak perlu kuatir. Cukup serahkan kekuatiran dan problem kehidupan kepada Yesus Kristus:

Serahkanlah hidupmu kepada TUHAN dan percayalah kepada-Nya, dan Ia akan bertindak (Mazmur 37:5)

Serahkanlah kuatirmu kepada TUHAN, maka Ia akan memelihara engkau! Tidak untuk selama-lamanya dibiarkan-Nya orang benar itu goyah (Mazmur 55:23)

Serahkanlah perbuatanmu kepada TUHAN, maka terlaksanalah segala rencanamu (Amsal 16:3)

Serahkanlah segala kekuatiranmu kepada-Nya, sebab Ia yang memelihara kamu (1 Petrus 5:7)

Kepasrahan berarti menempatkan dan menyerahkan hak pembalasan kepada Tuhan saja. Seperti yang dialami dan ditegaskan Rasul Paulus bahwa: “Janganlah membalas kejahatan dengan kejahatan; lakukanlah apa yang baik bagi semua orang! Sedapat-dapatnya, kalau hal itu bergantung padamu, hiduplah dalam perdamaian dengan semua orang! Saudara-saudaraku yang kekasih, janganlah kamu sendiri menuntut pembalasan, tetapi berilah tempat kepada murka Allah, sebab ada tertulis: Pembalasan itu adalah hak-Ku. Akulah yang akan menuntut pembalasan, firman Tuhan (Roma 12:17-19).

Yang terakhir, hidup bagi Tuhan berarti berdoa. Yesus menegaskan demikian: “Mintalah, maka akan diberikan kepadamu; carilah, maka kamu akan mendapat; ketoklah, maka pintu akan dibukakan bagimu. Karena setiap orang yang meminta, menerima dan setiap orang yang mencari, mendapat dan setiap orang yang mengetok, baginya pintu dibukakan. Berdoa berarti kita membutuhkan pertolongan Tuhan dan berkat Tuhan. Ia dengan penuh kasih mendengar doa-doa yang disampaikan kepada-Nya. Berdoa adalah pekerjaan yang paling ringan sekaligus paling berat. Ringan, karena setiap waktu seseorang dapat berdoa kepada Tuhan. Berat, karena manusia yang merasa hebat dan memiliki segala sesuatu merasa berat untuk mengakui dan berdoa kepada Tuhan. Ia mengakui bahwa apa yang didapatkan adalah usahanya, dan tidak ada urusan dengan Tuhan apalagi berkat Tuhan.

Namun, sebagai prinsip hidup bagi Tuhan, berdoa adalah bagian yang kohesif dengan beriman dan pasrah. Berdoa melatih kita berkomunikasi dengan Tuhan. berdoa tak membutuhkan biaya; doa melintasi ruang dan waktu; tak ada hambatan sedikitpun karena di mana pun, kita dapat berdoa. Hiduplah bagi Tuhan dan tunjukkan iman dan sikap pasrah kepada Tuhan dengan cara berdoa: berdoa bagi orang lain, berdoa bagi mereka yang melakukan penginjilan, berdoa bagi musuh-musuh yang menghina Yesus, ajaran Kristen, Kitab Suci, dan orang Kristen. Tuhan itu berdaulat atas kehidupan, dan jika Ia berkenan, doa kita pasti dijawab. Meski kita dibenci, tidak perlu membalas kebencian. Cukup dengan doa dan memohon agar Tuhan memberkati orang yang membenci kita. Itu saja. Tidak lebih dari itu. Tuhan tentu punya rencana yang akan diwujudkan dalam kehidupan kita maupun dalam kehidupan para pembenci kita.

Sumber gambar: Unsplash

Tinggalkan komentar

Rancang situs seperti ini dengan WordPress.com
Mulai