PONGAHNYA HIDUP

Pada kesempatan tertentu—atau bahkan hampir pada setiap kesempatan, ada orang-orang tertentu yang menampilkan, entah dengan sengaja atau sudah diatur, kepongahan hidupnya. Yang ditampilkan tentu adalah sesuatu yang “dianggap” sebagai sesuatu yang lain dari pada yang lainnya, sesuatu yang memiliki harga yang dirasa lebih mahal dari lainnya, sesuatu yang dirasa lebih banyak dari lainnya, dan sesuatu yang dirasa lebih benar dari lainnya.

Mungkin dalam pengalaman hidup, sering melihat berbagai jenis kepongahan yang terjadi di sekitar kita—atau bahkan di berbagai media sosial. Berbagai prediksi dapat dilakukan untuk mencari tahu apa motif di balik kepongahan yang ditunjukkan oleh seseorang.

Kita pun dapat menafsir bahwa mereka yang menunjukkan pongah hidupnya (dirinya) adalah orang-orang yang memiliki problem pada dirinya. Problem itu mencakup: egoisme, tamak, kekayaan (miliknya dan bukan miliknya), pendidikan, sahabat, pekerjaan, keluarga, harta, dan lain sebagainya. Pada umumnya, egoisme dan kekayaan bisa menjadi alasan utama mengapa pongah begitu terlihat jelas dan eksis di sekitar kita dan atau di media sosial.

Pongah kadang muncul ketika seseorang merasa iri hati dengan orang lain. Bahkan masing-masing menunjukkan pongah secara berbalas-balasan untuk mencari sensasi dan perhatian. Pada akhirnya, yang tersisa adalah dosa-dosa spektakuler yang memang dengan sengaja dipentaskan di dunia persilatan—ya, persilatan lidah, pamer diri, pamer harta, di berbagai wadah publikasi.

Pongahnya hidup bukanlah pilihan baik kita yang tahu bahwa segala harta benda (materi) yang kita miliki tidak menjamin hidup kita bahagia selamanya. Kebahagiaan tidak terletak pada apa yang kita pegang, miliki, gunakan, dan rasakan. Kebahagiaan terletak pada waktu, kesempatan, hati, kasih, dan kebersamaan. Pongah dapat menggerogoti kebahagiaan kita dan bahkan yang didapatkan adalah bahagia “semu daya” (tipuan) dan dipaksakan.

Waktu berjalan terus tanpa istirahat sejenak. Kita yang hidup di dalam waktu bisa beristirahat sejenak dari letihnya perjalanan hidup. Tangan kita terulur untuk menggapai segala sesuatu untuk menjadikan atau bahkan memaksakan hidup kita menjadi bahagia, senang, puas, rindu, dan mempesona (menarik perhatian atau mengagumkan).

Meski acap kali kita lalai untuk mendorong diri kita untuk bergerak menggapai sesuatu yang diinginkan, tapi waktu dan kesempatan kadang masih membuka kedua tangannya untuk mempersilakan kita menggapainya dan menjaknya menuju ke tujuan (dari sesuatu) yang kita inginkan. Di sini, pongah hidup haruslah disingkirkan dan memulai sebuah langkah awal untuk bergegas langkah demi langkah agar tiba di perkebunan buah-buah hidup yang menjadi milik kita.

Kita adalah nakhoda bagi kapal (kehidupan) yang diarungi. Lautan hidup telah terbentang luas di depan mata kita. Segala sesuatu “ada” dan tersedia. Kita melihatnya dan harus bergerak memulai kembara hidup dan dengan tangan terulur merindukan tujuan dari kembara hidup itu sendiri.

Keyakinan akan “mampu mengarungi lautan hidup” dapatlah menjadi salah satu faktor berhasilnya kembara hidup. Di proses kembara, kita masih bisa bebas berpikir dan merenungkan apa yang telah kita lakukan, apa yang sedang kita lakukan dan apa yang akan kita lakukan. Entah apakah diperlukan introspeksi, kesadaran penuh, keyakinan kembali, emendasi karakter dan sikap, kitalah yang menentukan dan memutuskannya.

Hidup telah menyediakan lapangan yang sangat luas bagi setiap manusia; ia dapat menikmatinya sesuka hati, atau dengan bijaksana mengaturnya. Waktu dan kesempatan pun demikian. Mereka hadir dalam setiap tarik dan hembusan nafas kita. Mereka selalu ada. Kita yang perlu sadar dan menarik kesimpulan dari fakta ini.

Pongah hidup memang dapat saja terlihat dan terjadi di sekitar kita. Pada faktanya, hal itu sering terjadi. Kita dapat belajar dari mereka yang pernah mempertontonkan kepongahannya dan kemudian bertobat serta mengubah (memperbaiki) diri (kehidupan) dan relasi mereka. Kita pun tetap waspada dan menjaga diri serta menjaga iman kita kepada Tuhan. Penjagaan diri dan iman ditempuh melalui cara yang selaras dengan prinsip Alkitab.

Kita pun diberikan kesempatan—selama masih bernafas—untuk memperhatikan diri, hidup, hati, pikiran, lingkungan, dan orang lain. Pongah-pongah akan hadir dan mengganggu kita. Kebaikan hati kita—kebaikan yang selaras dengan kehendak Tuhan—adalah senjata ampuh untuk menyingkirkan pongah-pongah diri sendiri dan mungkin juga orang lain.

Sudahkah kita menyingkirkan sikap pongah-pongah diri? Atau menyingkirkan sikap pongah-pongah diri orang lain, orang di sekitar kita? Hanya kita yang telah berubah dan berhasil memperbaiki diri menjadi baik, penuh kasih, hati yang tulus, dan merindukan dan menjadi inisiator kebersamaan, yang dapat menyingkirkan pongah-pongah itu. Dari kitalah lahir berbagai hal baik jika diri kita adalah pohon yang baik. Semoga.

Salam Bae…

Sumber gambar: https://twitter.com/Margiela/status/578518986276601857/photo/1

Tinggalkan komentar

Rancang situs seperti ini dengan WordPress.com
Mulai