
Setiap manusia yang hidup di zaman tertentu, menemukan atau bahkan mengalami adanya asosiasi-asosiasi tertentu dengan zaman yang lampau. Zaman sekarang ini adalah zaman di mana gempita agama, politik, teknologi [industri], dan informasi—yang pada konteks tertentu memiliki asosiasi dengan konteks lampau. Asosiasi tersebut diberlakukan oleh manusia untuk membangun jembatan pemikiran, empirikal, dan pemaknaan atas fakta telah terjadi, dan kemudian, ketiganya dijadikan sebagai “pedoman” untuk bertindak di hari ini dan di masa mendatang agar dapat mencapai tujuan-tujuan yang telah ditetapkan.
Pada tataran agama dan politik, justru asosiasi-asosiasi (yang dirancang atau dipikirkan sendiri) begitu kental dan bahkan sangat mengikat seseorang atau sekelompok orang. Sedangkan pada tataran teknologi, tentu kita hanya dapat menilai, menikmati (menggunakan) teknologi terbarukan, kecanggihan industri di segala bidang, dan lajunya perkembangan ilmu pengetahuan—termasuk penelitian di berbagai bidang—dan informasi. Produk hoax juga menyita banyak perhatian kita. Tak sedikit yang menjadi korbannya. Hoax seolah-olah telah menjadi “budaya baru” yang secara masiv dikaitkan dengan sederet kisah yang juga hoax: hoax melahirkan hoax baru.
Dari fakta persebaran dan pandemik hoax, agama tidak lepas dari jenis ini. Hoax atas nama agama pun marak terjadi. Agama—di satu sisi—menjadi buah bibir yang laris manis di pasaran, menjadi kekuatan yang memikat hati, dan di sisi lain, agama menjadi minuman keras yang memabukkan, menghasilkan berbagai tindakan kekerasan, radikalisme, paralogisme, diskriminasi, intimadasi, persekusi, dan lain sebagainya. Agama menampilkan dualisme spesifik tindakan yang dilakukannya: menunjukkan supremasi kebaikan (ajaran-ajaran moralitas) dan menunjukkan supremasi keradikalannya (yang berakhir dengan konflik dan gesekan sosio-politik).
Dalam konteks pemahaman tentang Yesus Kristus, historis tentang Dia tak lepas dari hoax. Para penutur hoax memiliki alasan-alasan terselubung untuk menggaungkan hoax tersebut. Opini, solipsisme, dan sentimen keyakinan, memungkinkan alasan dari tindakan menggaungkan hoax tentang Yesus. Hingga saat ini, ada orang-orang tertentu yang termakan hoax dan berjuang untuk terus menyebarkan hoax tentang Yesus. Politik juga ikut bermain dalam ranah ini.
Salam Bae
Buku masih dalam proses editing.
