Stenly R. Paparang
Ada tiga fundamen iman Kristen tentang personalitas Logos yang menjadi daging [sarks] dalam terang Kristologi, yakni: Kristologi Biblika, Kristologi Definisi, dan Kristologi Solidisme. Tiga fundamen ini secara biblikal—teologis—historis, adalah warisan iman yang begitu kuat dan tetap berdiri, tampil keren di antara semak-semak belukar kesesatan (doctrinal, biblical, logical, dan historical).
Dalam memahami Kristologi, tak jarang riak-riak lelucon, kebodohan, kesesatan, muncul untuk mencari “panggung”nya sendiri, memperlihatkan akrobat yang dapat menyita perhatian kita. Bahkan ketika ada yang mengaku sebagai “Kristolog”, sebenarnya ia hanyalah memerankan “Doraemon”. Apa yang dihasilkannya pasti “suka-sukanya”, tak memenuhi kriteria hermeneutik bibikal.
Kita melihat bahwa riak-riak bidat Kristologi telah muncul di abad-abad awal perkembangan kekristenan. Secara historis, riak-riak tersebut mendapat panggung karena dicatat dalam buku-buku sejarah Gereja. Sebut saja Kaum Ebionit. Kemudian disusul dengan bidat-bidat lainnya, yang juga diadopsi, diracik kembali, diolah kembali oleh para pengusung Kristologi Doraemon di zaman ini.
Menariknya, tiga fundamen Kristologi yang seiring-sejalan dengan kekuatan pekabaran Injil dan menghasilkan ekspansi pertumbuhan Gereja di seluruh dunia, secara simultan memunculkan reaksi terhadapnya sehingga berbagai jenis kesesatan Kristologi mencuri perhatian. Alhasil, perdebatan Kristologi menjadi “panggung utama” dalam dua posisi: bagi Kristologi Biblika, tetap mempertahankan rumusan biblikanya, sedangkan Kristologi Sesat merumuskan sesuatu yang menyimpang dengan olahan bumbu-bumbu logika sesuka hati mereka.
Bahkan hingga sekarang ini, para peramu Kristologi Sesat mengubah bentuknya menjadi Kristologi Doraemon: Rumusan Kristologi sesat memang sangatlah variatif. Teks-teks rujukan mereka selalu menampilkan pola hermeneutik “doraemon”—dengan perkataan lain: “suka-suka gue”.
Tipe Kristologi Doraemon telah menjamur di mana-mana. Tipe ini memang eksis dan diadopsi oleh orang-orang Kristen yang tidak matang dalam hal logika, atau cacat bernalar untuk memahami konteks doctrinal, biblical, logical, dan historical. Di samping itu, tipe ini selalu menampilkan berbagai kebodohan dan inkonsistensi yang secara demarkatif salah, sehingga tidak dapat mengakomodasi Kristologi secara komprehensif dan jukstaposisi.
Kristologi Doraemon adalah jenis pemikiran yang salah dan menyesatkan, baik dalam kategori tiga fundamen Kristologi (Biblikal, Definisi, dan Solidisme), maupun dalam kategori doctrinal, logical, dan historical. Jika kita mengadaptasi lirik lagu “Doraemon”, maka akan jadi begini rumusan tipe penganut Kristologi Doraemon:
Aku ingin begini, aku ingin begitu
Ingin ini, ingin itu, banyak sekali
Semua, semua, semua, dapat dikabulkan
Dapat dikabulkan dengan “otak yang bodoh”
Aku ingin terbangkan kesesatan di angkasa
Hey, “kumur-kumur ayat”
La, la, la, aku sayang sekali: “kebodohan”
Kristologi Doraemon diusung oleh mereka yang memang bernafsu paralogisme untuk mengabulkan semua rumusan teologis (non biblical) Kristologi dengan otak [cara berpikir] yang bodoh. Kita dapat menilai sendiri mana tipe Kristologi Doraemon yang diusung oleh para penyesat, para penyombong kebodohan, dan para pemalsu kebenaran.
Kebodohan itu sendiri secara klasifikasi terbagi atas tiga: kebodohan secara logika (cara bernalar memahami pengetahuan tertentu), kebodohan secara moralitas (perilaku keseharian), dan kebodohan secara spiritual (tindakan beragama yang salah menggunakan teks-teks kitab suci). Kaum penganut Kristologi Doraemon mengusung kebodohan jenis pertama dan ketiga.
Dan akhirnya, saya menyebut lima prinsip penganut Kristologi Doraemon.
PERTAMA, mereka dengan sesuka hati menafsirkan teks-teks Kitab Suci tanpa melihat dua aspek mendasar dari hermeneutic: konteks dan korelasi (satu teks yang memiliki korelasi dengan teks yang lain).
KEDUA, seperti adaptasi lirik lagu Doraemon yang saya tuliskan di atas, mereka ingin apa saja bisa, hanya dengan modal “otak yang bodoh”, bodoh dalam hal logika dan bodoh dalam hal spiritual.
KETIGA, mereka menciptakan rumusan Kristologi yang parsial dan fragmentaris, dan bukan rumusan Kristologi yang demarkatif (konteks-konteks), komprehensif, dan jukstaposisi.
KEEMPAT, mereka pada akhirnya memiliki rumusan Kristologi yang menumbuhkan semak-semak belukar kesesatan (doctrinal, biblical, logical, dan historical).
KELIMA, mereka ingin menerbangkan kesesatan di angkasa (kepada publik) dengan modal ‘kumur-kumur ayat’. Artinya, ayat-ayat yang digunakan tidak memenuhi konteks hermeneutik yang dapat dipertanggungjawabkan secara korelasional, historis, dan doktrinal.
Apa yang dapat kita tarik dari fenomena penganut Kristologi Doraemon? Kita didorong untuk memahami secara demarkatif, komprehensif, dan juktaposisi perihal Kristologi Biblikal, Definisi, dan Solidisme.
Kita diajak untuk memahami secara benar apa yang dinyatakan kepada kita dalam Kitab Suci, dan kita disadarkan bahwa ternyata perlawanan kita terhadap ajaran-ajaran sesat tidak akan pernah berhenti, tetapi justru—fakta itu—memberikan kepada kita sebuah pengharapan bahwa “ajaran-ajaran yang benar tentang Yesus, selalu memiliki tandingan sebagaimana tampak dalam sejarah Kekristenan.
Akan tetapi, fakta itu membuat kita untuk tetap berjuang ‘mempertahankan iman kepada Yesus Kristus’, dan ‘mempertaruhkan segala sesuatu bagi Dia’—dan dengan demikian kita menunjukkan kesetiaan yang kuat kepada-Nya.
Sejatinya, kesetiaan kepada Yesus Kristus hanya dapat dibuktikan melalui dua hal: apa yang kita pertahankan dan apa yang kita pertaruhkan. Tetaplah setia pada kebenaran, dan jangan menjualnya. Milikilah cara memahami Kristologi secara Biblika, Definisi, dan Solidisme.
Salam Bae
Sumber gambar: https://dyp.im/mentahan-gambar-doraemon-png/

