FILOSOFI PINTU

FAKTA DASAR

Perlindungan dan keamanan hidup manusia didapatkan dari serangkaian cara. Untuk mendapatkan kehidupan yang nyaman dan aman, manusia secara bijak membuat “rumah”. Rumah adalah tempat tinggal yang paling disukai manusia. Ketika membuat rumah, “pintu” adalah bagian kecil dari konstruksi bangunan, bahkan yang megah sekalipun.

Rumah yang telah dibangun, didasarkan pada rancangan yang matang, atau hanya sekadar bangun saja. Dalam skema atau gambar rumah, pintu selalu digambar sebagai akses atau penghubung dari ruang satu ke ruangan yang lainnya. Atau dengan perkataan lain, “pintu” adalah wacana untuk memasuki sebuah ruangan untuk menikmati segala sesuatu yang ada di dalamnya.

Rumah dengan pekarangan yang luas, memiliki beberapa pintu. Pintu utama pasti ada—yaitu pintu masuk untuk melihat pekarangan dan rumah itu sendiri. Pintu kedua adalah pintu rumah atau pintu utama untuk masuk ke dalam rumah. Selain itu, ada pintu-pintu kamar tidur—tak lupa pula, pintu kamar mandi.

Apa sebenarnya makna dari pintu? Seindah-indahnya sebuah kamar, jika tidak memiliki pintu masuk, maka kamar hanyalah sebuah ruangan yang tak akan dinikmati selama-lamanya. Seindah dan semewah apa pun ruang tamu rumah, jika tidak ada pintu masuk ke dalammya, akan menjadi ruangan seperti kuburan. Lalu apa makna mendasar dan makna filosofis dari sebuah “pintu” rumah dan “pintu” hidup kita?

GAGASAN FILOSOFIS

Manusia yang lahir normal, keluar dari “pintu” rahim seorang perempuan. Permulaan hidup manusia ketika melihat dunia, muncul dari “pintu” mata. Perasaan akan kesenangan dan kesusahan hidup, dialami melalui “pintu” hati. Menikmati kebebasan berpikir dan menikmati keindahan kata-kata, dialami manusia dengan membuka “pintu” kesadaran logikanya. Keindahan sebuah  ruangan rumah dengan segala macam ornamen, kemewahan barang-barangnya, akan dilihat dan dikagumi ketika seseorang telah masuk melalui sebuah “pintu” yang menghubungkan ruangan luar dan ruangan dalam.

Bahkan, dalam arti negatif, dua sejoli yang ingin menikmati hawa nafsu liar di kamar hotel, harus berurusan dengan “pintu masuk”. Jika tidak ada pintu, nafsu tinggallah nafsu. Atau dalam arti yang positif, dua sejoli yang baru menikah dan ingin menikmati hotel mewah di Bali, harus juga berurusan dengan banyak pintu seperti pintu mobil, pintu pesawat, pintu toilet, pintu kapal laut, pintu masuk hotel, dan pintu masuk kamar hotel, tak lupa pula, pintu kamar mandi jika kebelet “pipis” atau sedang sakit perut.

“Pintu” adalah akses masuk keluar. Dengan pintulah kita dapat menikmati keindahan hidup baik secara positif maupun negatif. Ketika pintu tertutup, tak ada yang dapat dibanggakan oleh pemilik rumah. Dia mau lihat apa jika pintu rumah tertutup? Lalu apa makna seluas-luasnya dari sebuah “pintu”? Di sini, saya hendak menjelaskan filosofis dari pintu yang dikorelasikan dengan berbagai konteks. Berikut penjelasannya.

Konteks Rumah

Seperti yang telah saya jelaskan di atas, bahwa setiap rumah memiliki pintu, baik pintu utama akses masuk pekarangan rumah, pintu utama ruang tamu, pintu kamar, dan pintu kamar mandi. Semua pintu tersebut tidaklah sama. Pemilik rumah tidak akan berpikir untuk membuat bentuk dan jenis pintu di rumahnya itu sama. Ia akan mendesai atau menyesuaikan jenis dan bentuk pintu di setiap ruangan. Pintu gerbang lain dengan pintu kamar mandi, dan seterusnya.

Pintu rumah adalah sebuah kebanggaan bagi pemilik rumah sebab jika tidak demikian, ia akan kehilangan harta benda ketika pintu rumahnya tidak dibuat seaman mungkin sehingga pencuri dengan mudahnya masuk ke dalam rumah untuk mengambil barang-barang berharga. Dari sini kita belajar bahwa “pintu” adalah penutup rumah sebagai bentuk keamanan dan kenyamanan diri” dan sebagai pembuka rumah sebagai bentuk kenikmatan dan kepuasan hidup bersama orang-orang yang dikasihi. Yang jomblo tentu tidak termasuk. Tetapi para jomblo juga dapat menikmati hidup bersama sahabat-sahabatnya melalui sebuah pintu masuk ke dalam rumahnya sendiri atau rumah sewaan.

Konteks Hotel

Konteks ini kurang lebih memiliki kesamaan dengan konteks rumah. Akan tetapi, hotel sering memberikan nilai privasi dan keamanan yang lebih dalam konteks refreshing, liburan, dan kegiatan-kegiatan lainnya. Siapa pun yang masuk ke hotel akan selalu berurusan dengan pintu-pintu. Pintu memberikan kesan yang baik dan mengharukan bagi mereka yang menikmati liburan bersama keluarga dan orang yang dicintai dan dikasihi. Namun, di sisi lain, pintu juga akan menjadi malapetaka ketika ada orang yang “bunuh diri” di kamar hotel dengan berbagai cara. Pintu di satu sisi menghadirkan kebahagiaan, dan di sisi lainnya menghadirkan malapetaka. Ketika pintu terkunci dan tidak bisa dibuka, semua kebahagiaan akan pupus dan tak terwujud.

Konteks Alat Transportasi

Tidak hanya rumah, sekolah, perkantoran, atau  hotel yang memiliki pintu. Alat-alat transportasi juga didesain sedemikian rupa dengan memiliki pintu masuk yang nyaman. Mobil mewah seperti Mercedes memiliki pintu dan para penggunanya memiliki akses untuk menikmati kemewahan di dalamnya. Ketika semua orang telah berurusan dengan pintu masuk ke dalam alat-alat transportasi, maka mereka dapat menikmati berbagai keindahan alam dan sebagainya; mereka dapat mempercepat waktu “berada” dari lokus yang satu ke lokus lainnya; mereka dapat menikmati liburan yang menyenangkan sesuai jadwal yang ditetapkan. Semua dapat terwujud ketika “pintu” masuk ke dalam alat-alat transportasi tersebut berfungsi dengan baik. Jika tidak, semuanya akan kacau dan berantakan.

Konteks Logika

Logika menjembatani berbagai hal untuk dipikirkan, dianalisis, dan dipublikasikan. Dalam konteks yang sedang saya jelaskan, logika manusia mengimplementasikan apa yang dipikirkan manusia terkait dengan beragam konteks. “Pintu” logika saya samakan dengan “pengertian penuh” dari sebuah konteks. Ketika manusia tidak memahami segala sesuatu atau “sesuatu” maka hal itu dapat kita kategorikan sebagai “ia tak dapat mengerti sepenuhnya”. Pengertian yang penuh adalah bentuk keterpahaman seseorang terhadap sesuatu. Pintu logika merupakan gerbang yang besar untuk masuk ke dalam berbagai pengertian yang membuat manusia melihat kemenangan, keindahan, kebahagiaan, kesukacitaan, kepuasan, dan keberkatan. Manusia yang memahami atau mengerti adalah manusia yang telah membuka pintu logikanya untuk melihat ke dalam konteks-konteks yang dipikirkan yang dicerna dan dirasakan dengan hati tenang.

Pintu logika adalah pintu pengertian penuh di mana manusia dapat memahami dan melihat kekayaan kehidupan dengan ragamnya. Saya rasa, kebahagiaan dan rasa puas yang terdalam adalah ketika “kita mengerti sepenuhnya” tentang sesuatu hal  yang dengannya kita dapat menikmatinya, menjalaninya, melakukannya, membagikannya, dan menjaganya seumur hidup. Mengerti sepenuhnya tidak berarti bahwa “sesuatu atau objek” yang dipikirkan dapat sepenuhnya dipahami. Mengerti sepenuhnya juga berarti bahwa manusia menyadari bahwa sesuatu itu dapat saja tidak dipahami sepenuhnya (personalitas, gejala, dan sebagainya). Kesadaran bahwa manusia tidak dapat memahami sepenuhnya—misalnya personalitas Tuhan—dapat dikategorikan sebagai “mengerti sepenuhnya” keterbatasan logika, waktu, metode, dan sumber.

Konteks Kehidupan

Secara totalitas manusia menikmati dua pintu: pintu awal kehidupan dan pintu akhir kehidupan. Pintu kehidupan terbuka luas dan tinggal dinikmati sebebas-bebasnya. Akan tetapi, kebebasan yang tidak terkontrol dan tidak didasarkan pada kesadaran-kesadaran akan nilai kehidupan, akan menjerumuskan manusia kepada kematian atau sakit penyakit. Ketika manusia hidup, pintu-pintu kehidupan membuka peluang baginya untuk memilih pintu mana yang akan memberikan kebahagiaan atau kebebasan, kenyamanan atau keserakahan.

Setiap manusia memiliki potensi untuk membuka setiap pintu kehidupan: pilihan bebas manusia mengantarkan dirinya kepada tujuan hidupnya yang dilaluinya melalui sebuah “pintu”. Pintu hati dan pintu logika memungkinkan manusia dapat menetapkan jalan hidupnya. Mereka yang beriman kepada Tuhan juga memiliki pilihan yang sama. ”. Pintu hati dan pintu logika memungkinkan manusia dapat menetapkan jalan hidup yang dikaruniakan Tuhan kepada mereka. ketika hati dan logika menyatu (atau sekapat), maka pintu-pintu kehidupan akan terbuka dan memberikan berbagai jenis kebahagiaan dan kepuasan hidup di dalam Tuhan.

Pintu-pintu kehidupan menyediakan berbagai hidangan kehidupan bagi mereka yang “tahu bagaimana masuk ke dalamnya” melalui pintu yang dibuka dengan “kunci” yang tepat. Ketika kunci tidak tepat, seseorang akan memaksakan diri untuk masuk melalui pintu kehidupan dengan cara mendobrak atau merusaknya. Ketika pintu kehidupan telah rusak, maka terlihat bahwa motivasi seseorang akan membawa dirinya kepada berbagai-bagai duka.

Pintu-pintu kehidupan bukanlah bersifat fisik, melainkan spiritual. Spiritualitas kita diukur dari sejauh mana kita berpikir, berkata, dan berbuat. Tuhan telah menyediakan banyak pintu dan kita diberikan kesempatan oleh Tuhan untuk meminta kunci yang tepat agar bisa membuka pintu-pintu tersbut. Tetapi, Tuhan juga memberikan kesadaran dan pengertian bagi kita untuk mempergunakan ruangan kehidupan di mana kita telah masuk di dalamnya (melalui pintu) untuk hal-hal yang memuliakan dan menyenangkan Tuhan.

Pintu-pintu kehidupan adalah akses memasuki dunia yang riil dan kita dituntut untuk menjadi para pelaku firman-Nya. Menjadi yang terbaik adalah tujuan Tuhan bagi kita. Dengan kunci-kunci kehidupan yang Tuhan berikan, kita dapat mengajak orang lain untuk masuk ke dalam dunia kebahagiaan, dunia di mana kasih, iman, dan pengharapan menjadi kesatuan yang mengikat manusia menjadi serupa dengan Yesus Kristus.

Ketika Tuhan mengizinkan kita menikmati dunia yang diberkatinya, sikap kita adalah tetap menjaga kemurnian diri; menjaga pikiran, perkataan, dan perbuatan kita selaras dengan kehendak Tuhan dan firman-Nya. Seperti yang diungkapkan Raja Daud dalam Mazmur 141:3, “Awasilah mulutku, ya TUHAN, berjagalah pada pintu bibirku”, bahwa Daud memohon agar Tuhan memampukan dirinya berkata-kata yang benar dan tidak mengeluarkan kata-kata yang tidak sesuai dengan kehendak Tuhan. Kejahatan melalui pintu “bibir” adalah kejahatan yang sangat berisiko kareka akan berpengaruh buruk dan mencelakakan diri sendiri dan orang lain. Daud tahu bahwa “bibir” adalah organ tubuh yang ketika terbuka (pintunya) akan dengan mudah mengeluarkan kata-kata, baik pujian maupun kutuk. Untuk itulah Daud memohon agar Tuhan “menjaga pintu bibirnya” agar terhindar dari kesombongan perkataan yang akan menjeratnya.

Ketika kita memohon kepada Tuhan agar Ia menolong dan melindungi diri kita, maka kita akan terhindar dari segala kesesatan pikiran dan perkataan yang mencelakakan diri sendiri dan orang lain. Ajaklah sahabat-sahabat kita untuk masuk melalui pintu kehidupan yang telah Tuhan sediakan, dan turut menikmati kebahagiaan yang juga Tuhan sediakan kepada kita. Menikmati kebahagiaan haruslah melalui sebuah “pintu”. Pintu hati, pintu logika, pintu bibir, adalah pintu-pintu yang perlu dibuka untuk menikmati janji-janji Tuhan yang luar biasa.

Selamat membuat pintu, membuka pintu, dan menikmati ruangan kehidupan yang indah, yang Tuhan sediakan kepada kita. Ketika ruangan kehidupan yang di dalamnya tidak menyediakan kebahagiaan, maka patahkanlah kuncinya sehingga kita dan orang lain tidak ada yang memasukinya. Tuhan telah memberikan ruangan kehidupan kepada kita, dan kita diberikan kunci untuk membukanya. Gunakanlah kunci-kunci pintu kehidupan dengan baik dan membawa orang lain untuk turut merasakan kebaikan Tuhan yang luar biasa sebab Tuhan adalah adalah Pemurah dan penuh belas kasihan, serta cinta kasih yang tiada taranya.

Shalom. Salam Bae

Sumber gambar: https://id.pinterest.com/pin/688628599263791402/

Tinggalkan komentar

Rancang situs seperti ini dengan WordPress.com
Mulai