
“Menjaring angin” adalah sebuah frasa yang memuat dua diksi filosofis. Diksi “menjaring” secara umum dipahami sebagai usaha manusia untuk mendapatkan sesuatu. Jaring sering dipakai dalam dunia nelayan atau pelaut untuk menangkap ikan. Jaring juga bisa dipakai dalam dunia jebakan untuk menangkap burung dan binatang lain yang diinginkan. Diksi “angin” adalah udara atau gerakan udara yang nyata, dirasakan, tetapi tidak terlihat wujudnya. Angin itu bereksistensi tetapi tak terlihat secara kasat mata.
Frasa “menjaring anging” memberikan pemahaman bahwa segala sesuatu yang dilakukan manusia, entah baik atau jahat, bisa berpotensi untuk tidak mendapatkan hasil yang diinginkan. Berbagai usaha dan upaya, perjuangan tak kenal lelah, kerja keras, perencanaan dan komitmen, sering tak berbuahkan apa-apa. Ini terjadi di dua jenis orang: baik dan jahat. Raja Salomo sendiri mengakui kondisi ini. Ia mengamati bahwa: “Aku telah melihat segala perbuatan yang dilakukan orang di bawah matahari, tetapi lihatlah, segala sesuatu adalah kesia-siaan dan usaha menjaring angin” (Pengkhotbah 1:14). Secara umum kondisi adalah kondisi riil yang mungkin sering kita lihat atau bahkan kita alami.
Akan tetapi, bagi mereka yang beriman teguh, segala upaya harus terus dikerjakan dengan baik dan penuh integritas. Tetap percaya bahwa apa yang Tuhan buat itu [akan] indah pada waktunya. Nah, menjaring angin ini memberikan pelajaran penting bagi kita bahwa kita tidak boleh sombong dengan apa yang kita miliki, jabati, alami, dan rasakan. Sebuah kalimat bijak menegaskan:
“Semasa hidup, kitalah tuan dan orang yang paling berkuasa di rumah mewah kita. Saat meninggal, tidak ada yang setuju jasad kita disimpan, walaupun hanya di garasi di belakang rumah kita. Semasa hidup, kita duduk gagah di kursi direktur utama di kantor kita. Saat meninggal, tak ada yang setuju kita didudukkan di kursi manapun di kantor kita.”
Kondisi seperti ini, bisa dikategorikan sebagai usaha “menjaring angin” tetapi dalam konotasi yang lebih luas dan bijak. Kita begitu dihargai semasa hidup, tapi tak seorangpun dari pendukung kita yang bersedia ruang tamunya sebagai tempat untuk menaruh jenazah kita selama-lamanya. Bahkan yang lebih ekstrim lagi adalah harta kekayaan kita yang banyak tidak dapat lagi dinikmati, malahan orang lain yang menikmatinya. Mungkin juga dicuri orang lain. Dalam perspektif dunia, tentu apa yang kita dapatkan sekarang ini, harta benda, kedudukan, jabatan, uang, kemewahan, tidak akan dibawa ke dalam peti mati untuk digenggam, seperti digenggam saat kita masih hidup. Ini adalah usaha menjaring angin. Apa yang kita dapatkan selama hidup dalam bentuk benda, tidak akan dibawa bersama dengan kematian kita.
Tetapi, dari perspektif iman, apa yang kita miliki yang didapati dengan cara yang benar, akan dibawa sampai bertemu Tuhan. Apa yang dibawa? Yang dibawa adalah iman kita, sikap hidup kita di hadapan Tuhan, rasa hormat kita kepada Tuhan selama hidup. Kecantikan, kegantengan, ketenaran, kemasyhuran dan sebagainya, hanyalah tinggal kenangan. Bagi mereka yang telah berbuat baik, kenangan tentang mereka akan menjadi pelajaran hidup.
Melihat kondisi hidup yang dijalani manusia, Raja Salomo berucap: “Segenggam ketenangan lebih baik dari pada dua genggam jerih payah dan usaha menjaring angin” (Pengkhotbah 4:6). Hidup perlu ketenangan—ketenangan dalam berusaha juga dibutuhkan, ketimbang bernafsu ingin mendapatkan dan menghalalkan segala sesuatu. Iri hati lahir dari motivasi yang tidak baik. Hawa nafsunya menguasai untuk mempertontonkan kebenciannya (ketidaksukaannya) kepada orang lain.
Manusia bekerja untuk mendapatkan ketenangan. Ketenangan didapatkan dari hasil pekerjaan, memuaskan. Bekerja memiliki tujuan. Bekerja dengan cara asal bekerja adalah wujud dari usaha menjaring angin. Tak ada hasil. Kalau pun ada, tidak bertahan lama. Jerih payah demi jerih payah, membawa seseorang untuk tidak mendapatkan apa-apa; itu adalah usaha menjaring angin.
Kondisi-kondisi kehidupan manusia yang beragam, seringkali menimbulkan dampak-dampak negatif. Persaingan demi persaingan muncul untuk menunjukkan eksistensi masing-masing. Setiap orang membuat tariannya sendiri. Menciptakan warna musiknya sendiri. Menciptakan jaringnya sendiri. Mengundang penonton dengan caranya sendiri, dan menciptakan alat musiknya sendiri, mendapatkan segala sesuatu yang diinginkan hatinya. Perjuangan tak kenal lelah berujung penyesalan dan air mata. Perjuangan tak kenal lelah berujung pada kebencian dan iri hati kepada sesamanya: “ini adalah usaha menjaring angin.”
Raja Salomo pun mengungkapkan: “Dan aku melihat bahwa segala jerih payah dan segala kecakapan dalam pekerjaan adalah iri hati seseorang terhadap yang lain. Inipun kesia-siaan dan usaha menjaring angin” (Pengkhotbah 4:4). Jerih payah dan segala kecakapan adalah iri hati seorang terhadap yang lain dibuktikan dari cara seseorang bekerja untuk mendapatkan sesuatu. Kebencian menimbulkan permusuhan dalam bekerja. Kecapakan-kecakapan palsu dapat muncul ketika iri hati seseorang terhadap yang lain begitu kuat. Penipuan-penipuan pun turut serta dalam kancah ini. Jerih payah berbungkus iri hati tampak dalam pekerjaan seseorang yang lebih banyak berkata-kata dari pada menggerakkan tangan, kaki, dan otak. Mulutnya lebih banyak berbicara hal-hal yang tidak penting, ketimbang memikirkan tujuan hidup dan menghasilkan sesuatu yang bermanfaat bagi dirinya, sesamanya, dan keluarganya.
Kebencian dan iri hati adalah usaha menjaring angin. Mereka yang lebih banyak membenci dan iri hati tak akan pernah maju dalam bekerja. Alasannya sederhana: mereka terlalu sibuk membicarakan orang lain, sehingga mengabaikan pekerjaannya sendiri. Menjaring angin bukanlah tujuan hidup kita. Kita perlu menjaring, tetapi yang dijaring adalah “hasil” dari pekerjaan kita. Pekerjaan harus dikerjakan dengan kredibilitas, integritas, dan sikap hidup yang takut akan Tuhan. Mereka yang tidak takut akan Tuhan bisa menunjukkan kredibilitas dan integritas, tetapi sikap hidupnya akan menjerumuskannya ke dalam berbagai kemunafikan, penipuan, kerusakan moral, kerusakan relasi, dan kerusakan pikirannya.
Mereka yang takut akan Tuhan, bisa saja menjaring angin. Artinya apa yang mereka upayakan tidak berbuahkan hasil, gagal panen, dan lain sebagainya. Namun, perjuangan mereka tidak berakhir sampai di situ. Mereka bangkit dan terus menunjukkan tiga eksistensi: eksistensi diri mereka (kekuatan); eksistensi kebaikan mereka; dan eksistensi komitmen untuk tetap takut akan Tuhan.
Marilah kita mencermati hidup ini dan menilai apakah yang kita kerjakan akan menghasilkan “angin”? Ataukah kita perlu menambahkan bijaksana dengan memintannya kepada Tuhan? Nilailah diri kita sebelum kita menilai orang lain. Sebab prinsip “nilai-menilai” bukan hanya ada pada kita, tetapi ada juga pada orang lain. Inti dari semua yang dikerjakan dalam hidup ini adalah seperti yang ditegaskan Raja Salomo bahwa:
“Akhir kata dari segala yang didengar ialah: takutlah akan Allah dan berpeganglah pada perintah-perintah-Nya, karena ini adalah kewajiban setiap orang. Karena Allah akan membawa setiap perbuatan ke pengadilan yang berlaku atas segala sesuatu yang tersembunyi, entah itu baik, entah itu jahat (Pengkhotbah 12:13-14)
Takut akan Tuhan mendatangkan kehidupan dan ketenteraman (Ams. 14:26), mendatangkan kekudusan dan kesucian (Mzm. 19:10). Mereka yang takut akan Tuhan akan dipelihara Tuhan (Mzm. 25:12) dan memiliki akal budi yang baik (Mzm. 111:10). Mereka yang takut akan Tuhan tidak mempublikasikan iri hati; mereka membenci kejahatan, kesombongan, kecongkakan, tingkah laku yang jahat, dan mulut penuh tipu muslihat. Mereka yang takut akan Tuhan, akan mendapatkan kehidupan yang kekal (Ams. 10:27). Mereka yang takut akan Tuhan adalah orang yang jujur (Ams. 14:2). Takut akan TUHAN adalah sumber kehidupan, sehingga orang terhindar dari jerat maut (Ams. 14:27). Takut akan Tuhan menghilangkan kecemasan (Ams. 15:16). Mereka yang takut akan TUHAN menjauhi kejahatan (Ams. 16:6), dan mereka yang rendah hati dan takut akan TUHAN mendapatkan upah kekayaan, kehormatan dan kehidupan (Ams. 22:4).
Bijaklah dalam bertindak dan berpikir. Buanglah iri hati dan kebencian. Ingatlah bahwa Tuhan tetap berpihak kepada orang-orang benar, kepada mereka yang takut akan Dia, dan kepada mereka yang menjalankan kehendak-Nya. Usaha menjaring angin bukanlah tujuan hidup kita. Tugas kita adalah terus berusaha untuk melakukan pekerjaan yang baik, suatu usaha yang disertai dengan bijaksana, agar dapat mendatangkan kebaikan dan kepuasan bagi hidup kita sendiri. Mereka yang puas dengan hidup ini adalah mereka yang bersyukur dan mengandalkan Tuhan setiap hari. Tuhan telah memberikan pengetahuan tentang hidup kepada kita melalui serentetan kejadian di mana di dalamnya juga terkandung kebaikan dan kemurahan-Nya yang patut disyukuri dan diwartakan.
Salam Bae…
