
Logika adalah media (perantara) internal dan eksternal: “kita—dan—orang lain”. Logika berperan penting dalam menjawab berbagai hal yang bersifat kontradiksi, paradoks, dan antitesis. Logika dapat menjadi senjata untuk menyuarakan sebuah prinsip, kebenaran, dan argumentasi. Logika dapat menjelaskan eksistensi manusia. Dari eksistensi, lahirlah argumentasi.
Dunia apologetika adalah dunia di mana argumen menyatu dengan dokumen. Argumen tanpa dokumen (pembuktian), sangat tidak berdasar. Sedangkan dokumen tanpa argumen sangatlah mengkuatirkan namun bisa menjadi sebuah pegangan. Sebuah dokumen dapat saja dijelaskan sebagai sebuah “dokumen palsu” berdasarkan argumen seseorang. Sebuah argumen dapat saja dijadikan kebenaran oleh seseorang meski tanpa pembuktian dokumen.
Apologetika dapat digunakan sebagai bagian dari sikap seseorang yang rindu mengasah pikirannya. Seorang apologet dapat mencerna setiap pertanyaan, analisis, kritik dan negasi, dan kemudian meminta dokumen pembuktian. Dengan perkataan lain, segala sesuatu membutuhkan bukti (dokumen) dan klarifikasi. Dokumen memiliki dua kategori: pertama, dokumen tertulis; dan kedua, dokumen penyataan faktual (empiris atau pengamatan); klarifikasi berbicara mengenai “permintaan kejelasan posisi, bukti otentik, dan prinsip logis (rasiosinasi).
Kebutuhan akan apologetika penting, mengingat konteks kemajemukan agama seringkali mengerucut ke arah perdebatan dan perendahan ajaran-ajaran Kristen. Pada prinsipnya, orang Kristen arus mempertanggungjawabkan imannya kepada setiap orang yang meminta pertanggungan jawab. Dalam hal ini kita mengikuti prinsip Rasul Petrus: “Tetapi kuduskanlah Kristus di dalam hatimu sebagai Tuhan! Dan siap sedialah pada segala waktu untuk memberi pertanggungan jawab kepada tiap-tiap orang yang meminta pertanggungan jawab dari kamu tentang pengharapan yang ada padamu, tetapi haruslah dengan lemah lembut dan hormat, dan dengan hati nurani yang murni, supaya mereka, yang memfitnah kamu karena hidupmu yang saleh dalam Kristus, menjadi malu karena fitnahan mereka itu” (1 Ptr. 3:15-16).
Berangkat dari prinsip di atas, maka gerak apologetika sangat diperlukan. Seyogianya kita wajib menyampaikan pokok-pokok penting iman kita kepada orang yang memintanya, dengan cara lemah lembut dan hormat, dengan hati nurani yang murni. Prinsip berapologetika tidak hanya menampilkan bagaimana berbicara (menyatakan kebenaran melalui penjelasan), tetapi juga menampilkan sikap hidup yang kudus, baik, dan murni. Kita adalah “surat terbuka” yang dapat dilihat dan diamati orang lain.
“Pemikiran” dan “sikap hidup” kita harus selaras dengan prinsip-prinsip Alkitab. Itu adalah kesatuan yang tak terpisahkan dalam kehidupan seorang apologet Kristen. Dunia apologetika mengantarkan seorang Kristen pada tanggung jawabnya di hadapan Tuhan dan manusia. Apologetika memiliki ruang lingkup yang luas—seluas doktrin Kristen itu sendiri. Peran apologetika adalah memberikan potensi memahami tentang doktrin Kristen secara mendalam [eksegetis] sekaligus memberikan kemampuan melakukan pengkajian berdasarkan konsekuensi logis.
Peran apologetika memberikan ruang yang cukup bagi orang Kristen untuk mengembangkan potensi logika dan sikap hidupnya, sehingga ketika ada hal-hal yang dipandang sebagai kelemahan doktrin Kristen, atau dengan kata lain bahwa doktrin Kristen adalah doktrin yang tidak masuk akal, maka apologetika akan memberikan jawabannya.
Apologetika memiliki lima pendekatan (atau metode) yang digunakan untuk menjawab dan menganalisis berbagai keberatan terhadap iman Kristen. Kelima pendekatan tersebut digunakan oleh para apologet sebagai panduan dan jalur untuk mendistribusikan (membagi) isu-isu, klaim-klaim, bentuk-bentuk kritik dan pemikiran yang mencoba memposisikan berlawanan arah dengan doktrin Kristen.
Kelima pendekatan tersebut adalah: Classical Method (Metode Klasikal), The Evidential Method (Metode Evidensial), The Cumulative Case Method (Metode Kumulatif Kasus/Keadaan), Presuppositional Method (Metode Presuposisi), dan The Reformed Epistemology Method (Metode Epistemologi Reformed). Sedangkan metode yang saya kembangkan adalah The Clarification Method. Metode ini sering dalam bentuk pertanyaan klarifikasi (atau meminta konfirmasi apakah klaim, negasi, atau kritik itu benar-benar berdasar baik secara logis maupun, teologis, ataupun dokumentatif. Metode klarifikasi menunjukkan prinsip “Appellate Court”.
“Appellate Court” dapat diartikan sebagai pengadilan yang mempunyai kuasa untuk meninjau dan menarik keputusan yang telah dibuat pengadilan di bawahnya. Ini adalah istilah teknis yang merujuk kepada diversitas kandungan historis (narasi-narasi) antara Kekristenan dengan agama-agama lain. Mayoritas teolog, penafsir, dan ilmuwan dari agama-agama lain, telah “menghasilkan keputusan-keputusan” sepihak dengan tidak mempertimbangkan data dan konteks historis, sehingga mereka telah “menjadi hakim” dalam pengadilan mereka sendiri. Dengan demikian, saya menghadrikan sebuah “pengadilan” yang lebih tinggi untuk meninjau dan menarik keputusan terkait dengan keputusan sebelumnya.
Saya mengikuti Gregory Koukl—meski Koukl tidaklah spesifik merujuk pada metode klarifikasi [tetapi metodologi yang ia gunakan sering berbentuk klarifikasi]—yang dalam hal ini, sering argumentasi seseorang untuk menyerang iman Kristen lupa untuk diklarifikasi. Orang Kristen lebih berfokus kepada bagaimana menjawab dan menjelaskan klaim, tuduhan, dan kritik orang lain tanpa mempertanyakan atau mengklarifikasi semua bentuk klaim, tuduhan, dan kritik tersebut.
Salah satu contoh yang menarik bagi saya, yang diungkapkan Koukl adalah ketika seseorang mengklaim bahwa: “Tidak ada Tuhan”. Maka metode klarifikasinya adalah dalam bentuk pertanyaan: “Tuhan yang mana?” Dari klarifikasi tersebut, kita sedang meminta tanggung jawab klaim seseorang tersebut bahwa jika tidak ada Tuhan, maka Tuhan mana yang tidak ada?
Contoh kedua saya ambil dari pernyataan Islam tertantang ketuhanan Yesus yang sering digunakan untuk mengkritik iman Kristen: “Jika Yesus itu Tuhan, carilah dalam Alkitab di mana Yesus pernah mengatakan: ‘Akulah Tuhan’”.
Ada beberapa klarifikasi dari pernyataan tersebut.
Pertama, apakah pernyataan tersebut dianggap sah untuk membuktikan ketuhanan Yesus?
Kedua, apakah pernyataan tersebut adalah mutlak untuk membuktikan ketuhanan Yesus?
Ketiga, jika mutlak apakah pernyataan yang sama bisa berdampak pada kasus yang lain untuk digunakan sebagai standar ganda?
Keempat, apakah hanya dengan mengatakan “Akulah Tuhan” maka Yesus menjadi Tuhan? Apakah dengan hanya dengan mengatakan “Sayalah manusia” maka saya menjadi manusia?
Kelima, “Tuhan” seperti apa yang Anda maksudkan? Dan sebutkan ciri-ciri “Tuhan”.
Contoh lainnya adalah misalnya ada orang yang mengatakan bahwa “Alkitab orang Kristen telah dipalsukan”. Maka bentuk klarifikasinya adalah sebagai berikut:
Menurut Anda, apa definisi “palsu”
Menurut Anda, siapa yang memalsukan Alkitab?
Menurut Anda, tahun berapa dan di mana pemalsuan itu terjadi?
Menurut Anda, apa saja yang dipalsukan?
Menurut Anda, kitab-kitab apa saja yang telah dipalsukan?
Apa dasar Anda mengatakan bahwa Alkitab telah dipalsukan?
Apakah ada bukti arkeologi bahwa Alkitab telah dipalsukan?
Bagaimana Anda tahu bahwa Alkitab telah dipalsukan?
Menurut Anda, Alkitab yang asli ada di mana pasca dipalsukan?
Dalam model klarifikasi ini, kita dilatih untuk menemukan alasan-alasan tersembunyi di balik setiap klaim, tuduhan, negasi, dan kritik terhadap iman Kristen. Kita akan tahu bahwa seringkali mereka hanya menunjukkan kebodohan mereka sendiri. Metode Klarifikasi bertujuan untuk membuat seseorang bertanggung jawab penuh atas apa yang diklaim, dinegasikan, dan dikritisi. Beban bukti ada padanya, bukan pada kita. Metode klarifikasi adalah mempertanyakan pertanyaan dan pernyataan. Metodologi Klarifikasi sangat efektif untuk menghentikan semua klaim murahan, negasi, tuduhan, dan kritik.
Kultivasi (perkembangan, perkuatan) iman Kristen, mendorong kita semua untuk bersama-sama untuk semakin giat dalam melayani Tuhan dan bermisi (mengabarkan Injil). Kita dipanggil dan terpanggil untuk terus mengembangkan potensi yang telah Tuhan Yesus berikan untuk diterapkan dalam kehidupan sehari-hari. Tak lupa pula, kita haruslah menunjukkan kekuatan pemikiran deskriptif dan rasiosinasi tentang iman Kristen, sembari hidup dalam kekudusan dan menjadi teladan bagi semua orang.
Salam Bae…..
Sumber gambar: https://id.pinterest.com/pin/545991154803714500/

Wah suka dengan metode Klarifikasi. Benar kadang kita terfokus dengan menjawab. Bertanya juga baik terutama bila orangnya ketemu langsung atau direct. Kalau indirect mau nda mau kita menjawab dengan data.
SukaDisukai oleh 1 orang