
Setiap manusia diberikan kemampuan untuk hidup, bertahan hidup, memelihara hidup, memupuk hidup, menumbuhkembangkan hidup, memperjuangkan hidup, dan mengasihi sesama oleh Sang Pencipta, dalam bentuk relasi sosial, kemanusiaan, agama, moralitas, dan relasi keibaan.
Kita telah berproses hingga berada dalam kondisi sekarang ini, adalah kita yang telah banyak tahu—atau setidaknya tahu tentang apa arti hidup, apa arti berjuang, apa arti doa, harapan, mukjizat, air mata, kesabaran, dan apa arti kegagalan.
Kita selalu diberi kesempatan. Kesempatan sering datang tanpa kita duga. Beberapa orang “menangkap” kesempatan, sementara lainnya membiarkan kesempatan itu lewat begitu saja. Memang jenis-jenis kesempatan sangatlah menentukan, yang pada akhirnya, kesempatan yang baik dan dilakukan dengan sebaik mungkin menghasilkan keterpahaman tentang apa artinya mencintai dan bertahan hidup.
Kehidupan ini indah; kehidupan ini keras; kehidupan ini tidak adil; kehidupan ini membahagikan; kehidupan ini membosankan; kehidupan ini mengecewakan. Semua definisi konten hidup bersumber dari kondisi hidup seseorang. Tak jarang, beberapa orang terjerumus dalam kubangan dosa dan menjadikan diri mereka hina dan ternoda
Kehidupan sering tidak berpihak pada orang-orang miskin. Malahan justru dalam anggapan banyak orang, kehidupan sering berpihak kepada orang-orang kaya. Artinya, mereka dapat memiliki segala sesuatu yang hendak mereka inginkan, sukai, dan butuhkan, sedangkan orang-orang miskin hanya berharap bahwa ia bisa menikmati hidup di hari ini saja sudah cukup dan sangat disyukuri.
Orientasi pemikiran dari kedua jenis orang: kaya dan miskin, tentu sangatlah berbeda. Yang kaya—jika berhati sosial dan murah hati, ia akan dengan senang hati membantu dan mendukung orang-orang miskin. Ia bahagia karena bisa berbagi dengan orang lain yang berbeda statusnya dengan dia. Perbuatannya sungguh mulia. Hatinya pasti lembut dan pemurah
Yang kaya—jika hatinya begitu sombong, akan dengan mudah memperalat orang lain, menekan orang miskin, menghina, dan melakukan berbagai cara untuk menambah kekayaannya. Bahkan tidak segan-segan ia akan menghabisi nyawa orang lain jika memang mereka menjadi penghalang rencana dan tujuannya yang ambisius
Yang miskin selalu berharap mendapat makanan secukupnya. Persis seperti doa yang diajarkan oleh Yesus: “Berikanlah kami makanan kami yang secukupnya”. Tuhan sampai turun tangan untuk menolong orang miskin. Ia ada di pihak mereka. Ia peduli; Ia penyayang; Ia pemurah. Hari demi hari tangan kasih-Nya terulur untuk menolong mereka yang susah dan kesulitan. Cinta kasih-Nya tak berkesudahan. Ia rindu bahwa orang-orang yang dikasihi-Nya melakukan perbuatan-perbuatan mulia tanpa pandang bulu
Harapan hidup dapat terpenuhi, ketika dorongan semangat juang terus dikobarkan. Kehidupan dalam pengharapan dan pengharapan dalam kehidupan adalah dua mutasi (perpindahan) pemikiran kita dari yang abstrak menjadi riil. Sanggupkah kita memahami hidup ini? Sanggupkah kita menjalani kehidupan dalam pengharapan dan pengharapan dalam kehidupan? Dalam hidup ada harapan, dan dalam harapan ada hidup.
Memahami hidup sebagai mutasi pemikiran, diharapkan dapat menjembatani berbagai kesenjangan, kesempatan, dan harapan di masa mendatang. Mutasi pemikiran kita menjadi jalan-jalan yang terbaik yang telah dipikirkan matang-matang untuk menghasilkan kehidupan yang bermutu (berbobot) sebagai sebuah harapan yang kita genggam. Mutasi pemikiran lainnya yang sejalan dengan itu adalah pengharapan dalam kehidupan di mana setiap jejak langkah iman kita, tetap berada dalam koridor pengharapan (pada Kristus dan di dalam Kristus) agar kehidupan kita menjadi bernilai kekal.
Mutasi pemikiran adalah perjuangan untuk menjadikan nyata segala sesuatu yang kita harapkan. Yesus Kristus akan menopang kita senantiasa ketika kita tahu menempatkan diri pada setiap kesempatan yang Ia berikan. Takan ada mutasi pemikiran jika kesadaran akan kehidupan tidak memberi nilai pada diri kita sendiri. Justru kesadaran diri mendorong kita memutasikan pemikiran ke dalam tindakan-tindakan riil, di mana semua tindakan tersebut adalah harapan yang telah kita pegang dan imani selama ini.
Kehidupan dalam harapan dan harapan di dalam kehidupan memang benar-benar memberi bobot bagi “tindakan dan perkataan kita” agar mereka yang menilai diri kita, mendapatkan berkat dan kemudian memuliakan Tuhan Yesus Kristus, kini, dan selamanya.
Salam Bae…..
