
Pendeta pelacur adalah pendeta yang terlibat dalam kasus-kasus yang lumrah: percabulan, kudeta, perebutan jabatan, penipuan, mau mendapatkan jatah pembagian harta kekayaan, memperalat orang lain untuk kepentingan dan pemuasan hawa nafsu pribadi. Kasus-kasus tersebut menjadi ukuran betapa brutalnya pendeta – dengan menghalalkan segala cara – ia mulai mencari dukungan di mana-mana dan mengumpulkan sebanyak mungkin orang yang dapat dirayunya, yang dapat dipeluknya, yang dapat diciumnya, yang dapat dibayarnya, yang dapat dilacurinya.
Dengan bermodalkan jabatan “pendeta” dan ditambah dengan pemalsuan “suara Tuhan”, pendeta pelacur tersebut akan rela mengeluarkan apa saja termasuk uangnya untuk berjuang mencapai apa yang menjadi tujuannya. Pendeta pelacur akan menggunakan berbagai cara seperti kekerasan, ancaman, sogokan, pembohongan, kemunafikan, provokasi, dan penipuan. Anehnya, orang-orang yang ditipu adalah anggota jemaatnya, bahkan ada juga yang berstatus pendeta dan pelayan Tuhan. Jadi, pendeta menipu pendeta.
Para pendeta dan pelayan yang ditipu atau dirayu oleh pendeta pelacur adalah pendeta dan pelayan yang matanya hanya berfungsi sebelah. Mengapa? Karena mata sebelahnya telah ditutupi dengan “iming-iming” harta kekayaan, uang, seks, dan sebagainya. Para pendeta yang telah terkena racun penipuan yang dahsyat digambarkan sebagai pendeta-pendeta pandir yang tidak dapat berbuat apa-apa.
Mungkinkah mereka disebut orang baik dan akan berbuat baik? Dalam anggapan saya, tidak mungkin. Nabi Yeremia pernah berujar: “Dapatkah orang Etiopia mengganti kulitnya atau macan tutul mengubah belangnya? Masakan kamu dapat berbuat baik, hal orang-orang yang membiasakan diri berbuat jahat? (Yeremia 13:23).
Di sini jelas bahwa habitualisme seseorang yang berbuat jahat, tidak dapat berbuat baik karena perbuatan jahat telah menjadi kebiasaan mereka setiap hari. Tak mungkin satu sumber mata air memancarkan air tawar dan air pahit. “Pohon yang baik menghasilkan buat yang baik, sedang pohon yang tidak baik menghasilkan buah yang tidak baik” (Matius 7:17). “Karena tidak ada pohon yang baik yang menghasilkan buah yang tidak baik, dan juga tidak ada pohon yang tidak baik yang menghasilkan buah yang baik” (Lukas 6:43), dan “Orang yang baik mengeluarkan hal-hal yang baik dari penbendaharaannya yang baik dan orang-orang yang jahat mengeluarkan hal-hal yang jahat dari perbendaharaannya yang jahat” (Matius 12:35)
Rasul Petrus pernah berujar: “Bagi mereka cocok apa yang dikatakan peribahasa yang benar ini: ‘Anjing kembali lagi ke muntahnya, dan babi yang mandi kembali lagi ke kubangannya.’” Gagasan ini sebenarnya berangkat dari natur manusia itu sendiri. Jika naturnya selalu berbuat jahat semata-mata, maka dia akan tetap kembali ke kubangannya. Mereka akan memakan apa yang pernah mereka muntahkan. Ucapan mereka tidaklah dapat dipercaya karena bersumber dari hati yang mau mencari kepentingan diri sendiri.
Sebelum Rasul Petrus, penulis kitab Amsal menegaskan bahwa: “Seperti anjing kembali ke muntahnya, demikianlah orang bebal yang mengulangi kebodohannya.” Raja Daud juga menjelaskan konteks yang sama. Ia menuturkan, “Dosa bertutur di lubuk hati orang fasik; rasa takut kepada Allah tidak ada pada orang itu, sebab ia membujuk dirinya, sampai orang mendapati kesalahannya dan membencinya. Perkataan dari mulutnya ialah kejahatan dan tipu daya, ia berhenti berlaku bijaksana dan berbuat baik. Kejahatan dirancangkannya di tempat tidurnya, ia menempatkan dirinya di jalan yang tidak baik; apa yang jahat tidak ditolaknya” (Mazmur 36)
Mengapa dikatakan pendeta pelacur? Alasannya sederhana, sesuai dengan apa yang diperbuatnya yakni:
(1) Melacurkan dirinya untuk diikuti oleh para domba pandir.
(2) Dirinya siap digunakan oleh para domba pandir dengan cara meminta sesuatu dari pendeta pelacur untuk memuaskan keinginan mereka.
(3) Para domba pandir memiliki sejumlah alasan untuk menjadi pengikut pendeta pelacur, dan salah satunya adalah pendeta pelacur harus memberi makan dan minum sebagai imbalan atas lacurannya.
(4) Melakukan apa saja dengan siapa saja agar keinginannya terpuaskan.
(5) Siap membayar siapa saja agar hasrat dan kesombongannya terpenuhi.
(6) Siap bekerja sama dengan siapa saja asalkan memberikan keuntungan kepada dirinya meski dengan cara-cara yang tidak ia sukai.
(7) Terus mencari dukungan, mencari mangsa yang dapat ditelannya dengan rayuan manisnya
Pendeta pelacur adalah mereka yang telah mengesampingkan gagasan-gagasan moral dan spiritual demi pemuasan ambisi dan egonya. Mereka adalah orang-orang yang durhaka. Mungkinkah kita melihat mereka? Mungkinkah klta telah mengikuti mereka? Mungkinkah kita telah terperangkap dalam jaringnya?
Keluarlah! Tinggalkanlah dia! Jangan merusak dirimu dengan berbagai-bagai duka akibat dari pergaulan dengan pendeta pelacur. Hidup itu begitu berharga untuk diserahkan kepadanya. Jangan ragu untuk pergi dan meninggalkannya, sebab kehidupanmu sangatlah berarti dan masih dapat dipakai Tuhan untuk pekerjaan yang lebih mulia, lebih baik, lebih lurus dan berkenan kepada Tuhan Yesus.
Salam Bae…
