MEMBACA ZAMAN: Refleksi Kejadian 4:17-26

Sumber gambar: https://id.pinterest.com/pin/316729786297091702/

Di mana kita hidup di situ kita “membaca”. Apa yang dibaca? Yang dibaca adalah kehidupan dan perilaku di zaman itu, termasuk diri dan hidup kita. Apa maknanya? Maknanya adalah hal itu dapat menjadi kekuatan teladan dan warisan sekaligus “tanda awas” untuk mengoreksi diri kita. Berapa lama pengaruh bacaan zaman? Lamanya adalah seumur hidup kita dan bergantung kepada seberapa paham diri kita akan proses hidup dan apa yang terjadi di dalamnya. Artinya, apa yang kita pegang—mungkin itu adalah hasil dari “membaca zaman”.

Membaca zaman bergantung pada bijaksana. Bijaksana itu bisa kita terima langsung dari Tuhan atau melalui Firman-Nya. Sejatinya, bijaksana mempengaruhi totalitas hidup kita, memimpin hidup kita untuk tetap bertahan pada keyakinan kita kepada Sang Khalik.

Di setiap zaman, setiap manusia dapat melakukan tiga hal: pertama, membaca zaman dan bertindak dengan bijaksana (buku karya John Stott dapat mewakili hal ini); kedua, membaca zaman dan bodoh amat (tidak menanggapi secara serius situasi zaman dan melakukan hal lain sebagai gantinya); dan ketiga, membaca zaman dan tidak berbuat apa-apa (tidak memiliki niat untuk bergerak melakukan sesuatu).

Kita akan melihat beberapa konteks yang terjadi di zaman Adam dan Hawa serta generasi yang dilahirkannya dari teks yang kita baca. Peristiwa-peristiwa tersebut dapat terjadi (atau terulang kembali) di zaman kita sekarang ini. Membaca zaman memang perlu. Ada asosiasi-asosiasi internal yang dapat muncul dalam pikiran. Artinya, kita tidak boleh lupa di mana dan dalam situasi seperti apa kita hidup dan mengaitkannya dengan peristiwa-peristiwa lampau yang bisa menjadikan diri kita semakin lebih baik. Hal ini tampak dalam asosiasi teks dengan zaman kita yang akan saya jelaskan kemudian.

Banyak buku yang membahas mengenai Generasi Millennial, Generasi Z, dan sejumlah nama lain yang dikarang sendiri berdasarkan bacaaan zaman. Bahkan, muncul buku-buku yang membahas revolusi industri 4.0. Sementara itu, kita masih tetap setia kepada Tuhan dalam bentuk beribadah di Gereja, dan di tempat lainnya, memohon agar Tuhan melindungi kita, keluarga, anak-anak, dan lainnya, dalam menghadapi kemajuan teknologi.

Salah satu buku yang merepresentasikan (mewakili) pembacaan zaman adalah buku yang berjudul “Homo Deus” karya Yuval N. Harari. Buku tersebut mengkaji sebuah pembacaan zaman. Harari menyinggung peristiwa-peristiwa historis dan melihat kekuatan tekonologi masa kini, kemudian meramal masa depan, apa yang akan terjadi dengan kemajuan teknologi tersebut. Buku ini begitu kuat membaca zaman dan generasi yang akan datang. Jika demikian, apakah yang perlu kita kerjakan ketika kita hidup di zaman yang begitu maju teknologinya? Apakah bisa kita mengkorelasikan zaman dulu kepada zaman sekarang ini? Tentu bisa.

Kita melihat bahwa generasi dan situasi zaman yang dijelaskan dalam teks bacaan kita, menggambarkan adanya korelasi. Apa yang terjadi di zaman kita, dulu sudah terjadi. Artinya, kita dapat melihat zaman dulu untuk dijadikan “alasan dan keputusan” untuk menjalani hari ini dan dapat memberi pengaruh di masa depan.

Berdasarkan teks yang kita baca, terdapat peristiwa-peristiwa yang terbingkai dalam konteks “situasi zaman”; di dalam zaman itu terdapat “generasi-generasi”. Hal ini menjadi menarik karena setiap zaman, generasinya berbeda, peristiwa berbeda, dan kadang terulang kembali, dan lain sebagainya.

Membaca zaman di mana kita hidup adalah sebuah kebijaksanaan (kecakapan/kepandaian) untuk mengambil makna terhadapnya. Sebagaimana yang akan kita amati, bahwa dalam bacaan kita, tampak hal-hal yang menarik, sebagai berikut:

  1. Penamaan kota berdasarkan nama anak (ay. 17b).
  2. Poligami (ay. 19).
  3. Penemuan kecapi dan suling (ay. 21).
  4. Lahirnya pakar tembaga dan besi (ay. 22).
  5. Pembunuhan beralasan (ay. 23-24): “lebih baik membunuh daripada dibunuh”. Alasan Lamekh membunuh adalah karena dirinya dilukai oleh orang lain, membunuh karena dirinya dipukul sampai bengkak.
  6. Pembelaan diri dari segala serangan. Hal ini dilakukan Lamekh.
  7. Kasih karunia Tuhan terhadap Adam dan Hawa. Pasca matinya Habel, Tuhan memberikan anak kepada mereka dan menamainya Set (ay. 25).
  8. Kerinduan generasi di zaman itu untuk memanggil nama TUHAN (ay. 26).

Di sini, saya memfokuskan pada “kerinduan memanggil nama TUHAN”. Situasi atau kondisi yang terjadi di zaman Adam dan Hawa dan keturunannya, mendorong sebuah kesadaran untuk datang kepada Tuhan. Memang tidak disebutkan secara luas mengenai gambaran situasi di zaman itu, tetapi apa yang kita baca dirasa cukup merepresentasikan kondisi zaman di mana mereka hidup.

Di zaman ini, di tengah lajunya teknologi, masih adakah yang rindu dan peduli memanggil nama Tuhan? Tentu masih ada ada. Lihat saja semua yang hadir di Persekutuan Doa Paramount Enterprise hari ini: semuanya datang karena rindu memanggil (memuji, berdoa, memohon, dan bersyukur) nama Tuhan. Lihat saja di Gereja, masih ada orang-orang yang datang bersyukur dan memohon kepada Tuhan dalam ibadah.

Di tengah maraknya pengguna media sosial, nama Tuhan pun ikut dipanggil-panggil. Ada yang buat status: “Tuhan Yesus, tolonglah saya”. Memangnya Tuhan Yesus punya Facebook? Sekarang, ada orang-orang tertentu kelihatan rohani di media sosial, padahal kenyataannya tidaklah demikian. Selalu berdoa di dunia maya, tetapi selalu berdosa di dunia nyata. Lalu apa yang seharusnya kita pahami dari konteks rindu “memanggil nama Tuhan?” Memanggil nama Tuhan dapat bermakna:

  1. Menyadari akan fananya hidup manusia dan manusia membutuhkan Tuhan: manusia memanggil nama Tuhan.
  2. Mengakui bahwa hidup manusia berada dalam kedaulatan-Nya, segala sesuatu dapat terjadi jika Ia berkenan: manusia memanggil nama Tuhan dan mengakuinya. Hal ini tampak dalam peristiwa di man Tuhan mengaruniakan anak kepada Adam dan Hawa, ganti Habel, yaitu Set dan kemudian Set memperanakkan Enos di mana di zaman itulah orang mulai memanggil nama Tuhan.
  3. Mensyukuri bahwa segala sesuatu yang baik adalah karena kemurahan Tuhan: manusia memanggil nama Tuhan dan bersyukur kepada-Nya.
  4. Menyadari bahwa Tuhan itu adil dan akan memberikan keadilan kepada mereka yang berseru dan bersandar kepada-Nya: manusia memanggil nama Tuhan dan bersyukur.
  5. Menyadari bahwa setiap dosa yang dilakukan pasti akan menerima hukuman dari Tuhan dan karenanya seseorang harus “memanggil” nama-Nya, berseru dan memohon ampun.
  6. Mengakui bahwa Tuhan adalah Sang Pembela manusia, dan Ia akan bertindak sesuai dengan kehendak-Nya: manusia memanggil nama Tuhan dan memohon pembelaan-Nya.
  7. Menyadari bahwa kasih karunia Tuhan melampaui segala sesuatu yang kita usahakan dan harapkan: manusia memanggil nama Tuhan dan menyadari keterbatasannya.

Di zaman Adam dan Hawa serta keturunannya (secara khusus pada generasi Enos), “memanggil nama Tuhan” membuktikan iman kepada Tuhan yang diyakini bahwa Ia mengatur dan menjadikan segala sesuatu indah pada waktunya. Di zaman kita, memanggil nama Tuhan juga seyogianya dilakukan sebagai bukti bahwa kita beriman kepada-Nya. Kita dapat menarik makna dari zaman Adam dan Hawa dan menempatkan makna itu di hidup kita sekarang ini.

Menarik makna berarti kita telah mampu “membaca zaman”. Ada orang-orang yang berlomba-lomba menulis tentang masa depan Generasi Millennial, Generasi Z, dan sebagainya, bahkan tentang pengaruh kuat Revolusi Industri 4.0. Profesor Harari menyebutkan bahwa manusia dapat menjadi Tuhan bagi dirinya sendiri, yang dengannya manusia bisa bebas menentukan pilihan hidupnya. Sementara ada segelintir orang Kristen yang sibuk berteologi “silat lidah” dan menghasilkan ajaran-ajaran yang aneh, menyimpang, dan sesat.

Diharapkan kita menyadari bagaimana situasi zaman sekarang ini dan membacanya dengan iman yang dari Tuhan, serta menyadari bahwa “kita tetap membutuhkan Tuhan, kemudian memanggil nama-Nya, berseru, memohon kekuatan, bimbingan, dan pertolongan-Nya”.

Bisa saja seseorang hidup tanpa iman kepada Tuhan, dan dia bahagia. Tetapi ingatlah, kematian bisa datang secara tak terduga dan merobohkan kesombongannya. Bisa saja kita merasa lebih hebat dari orang lain, tetapi ingat, ketika mati, kita membutuhkan orang lain untuk memikul jenazah kita. Bisa saja kita merasa tidak perlu memanggil nama Tuhan, tetapi ingatlah bahwa suatu saat, Tuhan akan memanggil kita.

Bijaksanalah dalam hidup. Bijaksanalah dalam membaca zaman. Rindukanlah perubahan diri. Rindukanlah Tuhan, rindukanlah kasih dan kuasa-Nya. Panggillah nama-Nya, setiap waktu, free and unlimited. Hiduplah dalam terang firman Tuhan, dan rasakan jamahan kuasa Tuhan.

Soli Deo Gloria……

Tinggalkan komentar

Rancang situs seperti ini dengan WordPress.com
Mulai