BERTOBATLAH

Refleksi Kisah Para Rasul 2:14-40

Sumber gambar: https://www.thesacredartgallery.com/artists/ch-pabst/the-rosary/

PENDAHALUAN

Bertobat adalah sebuah keputusan yang memiliki alasan tertentu. Seseorang dapat berikhtiar untuk “bertobat” ketika ada sesuatu yang menggerakkan pikirannya untuk melakukan pertobatan. Berbagai alasan pertobatan seseorang menjadi dasar mengapa seseorang itu “berubah” atau “berbalik” kepada sesuatu yang lain.

Dalam konteks ini, pertobatan sering dipahami sebagai tindakan meninggalkan (memutuskan) sesuatu yang menjadi jerat dosa dan pemberontakan, bahkan segala jenis kejahatan, untuk mendekati dan memegang kehidupan yang lebih baik, bersih, jujur, penuh kasih, dan sukacita. Pertobatan sering membawa seseorang kepada kondisi bahagia, bebas dari tekanan dan ikatan dosa dunia.

Kitab Suci menggunakan istilah metanoeō dan metanoia: bertobat, berubah pikiran, merasakan penyesalan yang mendalam, menyesal, mengubah pikiran, berbalik meninggalkan dosa, perubahan pikiran, hal berpaling (dari dosa). Arti mendasar dari metanoia adalah: perubahan hati, yakni pertobatan nyata dalam pikiran, sikap, pandangan dengan arah yang sama sekali berubah, putar balik dari dosa kepada Tuhan dan pengabdian kepada-Nya.

Berangkat dari arti tersebut, konteks ajakan Rasul Petrus kepada para pendengar khotbahnya dalam peristiwa Pentakosta, adalah hendak “mengubah pikiran” mereka (mengenai konsep pemahaman nubuatan) dan berpaling dari dosa-dosa mereka, sebagaimana tampak dalam ayat 38 dan 40: “Bertobatlah dan hendaklah kamu masing-masing memberi dirimu dibaptis dalam nama Yesus Kristus untuk ‘pengampunan dosamu’, maka kamu akan menerima karunia Roh Kudus”, dan “Berilah dirimu diselamatkan dari angkatan yang jahat ini.”

Pada pemahaman tentang nubuatan, Rasul Petrus mengaitkan Yesus dan fenomena bahasa lidah yang terjadi pada diri para rasul pasca Roh Kudus turun ke atas mereka dalam bentuk nyala api, dan mengaitkan Yesus dengan nubuatan Perjanjian Lama. Artinya, untuk menjembatani pemahaman akan fenomena bahasa lidah dan Yesus Kristus yang mati, bangkit, dan naik ke surga, Petrus menggunakan teks-teks PL sebagai konfirmasi bahwa fenomena yang terjadi dan sekaligus pemberitaan tentang Yesus Kristus dapat dipertanggung jawabkan.

Roh Kudus mengkonfirmasi firman Tuhan dalam PL, karena orang-orang Yahudi mengakui otoritas Kitab Suci mereka. Dengan demikian, mereka mengetahui dan sekaligus melihat fakta di depan mata bahwa nubuatan-nubuatan Kitab Suci mereka tergenapi. Kita dapat membayangkan ketika kurang lebih 3000 orang menyerahkan diri bertobat (metanoia) dan dibaptis serta menerima Yesus sebagai Tuhan dan Juruselamat. Dan di sini, peran Roh Kudus sangatlah penting sekali. Jika Roh Kudus bekerja maka segala sesuatu menjadi mungkin. Apa yang mustahil bagi manusia, tidak mustahil bagi Roh Kudus, sebab Ia adalah Tuhan yang berkuasa.

KONTEKS

Keberanian Petrus berdiri di depan orang banyak (yaitu orang-orang Yahudi yang saleh dari segala bangsa di bawah kolong langit) adalah fakta bahwa Roh Kudus bekerja, memberikan keberanian kepada Petrus untuk berbicara. Tidak hanya itu, kemampuan Rasul Petrus untuk berbicara menjadi hal menarik (lihat 2:1-13). “Penuh dengan Roh Kudus” (ay. 4) menghasilkan potensi berbicara dalam bahasa-bahasa lain (bdk. ay. 7-11). Hal ini adalah bukti kuasa Roh Kudus yang ajaib dan luar biasa.

Berikut ini adalah beberapa pokok penting mengenai konteks dari teks di atas.

Pertama, Roh Kudus mengurapi orang berbicara tentang “kebenaran Tuhan” dan perkataan orang tersebut menghasilkan “kuasa yang mengubahkan”. Hal ini terlihat pada ayat 37: “Ketika mereka mendengar hal itu hati mereka sangat terharu, lalu mereka bertanya kepada Petrus dan rasul-rasul yang lain: ‘Apakah yang harus kami perbuat, saudara-saudara?’” Kemudian Petrus mengarahkan para pendengar yang bertanya untuk bertobat. Hal ini dijelaskan pada ayat 38: “Bertobatlah dan hendaklah kamu masing-masing memberi dirimu dibaptis dalam nama Yesus Kristus untuk pengampunan dosamu, maka kamu akan menerima karunia Roh Kudus.”

Kedua, apa yang menyebabkan Petrus menganjurkan para pendengar khotbahnya untuk bertobat? Di sini kita perlu melihat “isi” khotbahnya (ay. 14-36) karena ternyata setelah mendengar isi khotbah Rasul Petrus, orang-orang Yahudi yang saleh dari segala bangsa, “hati mereka sangat terharu” (ay. 37).

Ketiga, isi khotbah Petrus mencakup:

1. penegasan bahwa nubuatan Nabi Yoel bahwa: “Akan terjadi pada hari-hari terakhir — demikianlah firman Allah — bahwa Aku akan mencurahkan Roh-Ku ke atas semua manusia; maka anak-anakmu laki-laki dan perempuan akan bernubuat, dan teruna-terunamu akan mendapat penglihatan-penglihatan, dan orang-orangmu yang tua akan mendapat mimpi. Juga ke atas hamba-hamba-Ku laki-laki dan perempuan akan Kucurahkan Roh-Ku pada hari-hari itu dan mereka akan bernubuat. Dan Aku akan mengadakan mujizat-mujizat di atas, di langit dan tanda-tanda di bawah, di bumi: darah dan api dan gumpalan-gumpalan asap. Matahari akan berubah menjadi gelap gulita dan bulan menjadi darah sebelum datangnya hari Tuhan, hari yang besar dan mulia itu” (ay. 17-20). Khotbah pertama Petrus menegaskan bahwa kondisi yang dialami para rasul yaitu “dipenuhi Roh Kudus” adalah bukti penggenapan nubuatan Nabi Yoel. Di sini, orang-orang Yahudi yang saleh melihat pemahaman yang kuat dari nubuatan itu sendiri.

2. Petrus kemudian mengarahkan para pendengar untuk menunjukkan sikap bahwa: “Dan barangsiapa yang berseru kepada nama Tuhan akan diselamatkan” (ay. 21). Petrus sedang mengarahkan mereka kepada Yesus Kristus (ay. 22-24), yang ditentukan Allah dan yang dinyatakan mereka dengan kekuatan-kekuatan dan mujizat-mujizat dan tanda-tanda yang dilakukan oleh Allah dengan perantaraan Dia di tengah-tengah mereka, seperti yang mereka ketahui. Yesus membuktikan bahwa Ia datang dan berasal dari Bapa (bdk. Yoh. 7:28, “Aku diutus oleh Dia yang benar”; 7:29, “Aku datang dari Dia dan Dialah yang mengutus Aku”; 8:42, “Aku keluar dan datang dari Tuhan”; 16:28, “Aku datang dari Bapa”; 17:8, “Aku datang dari pada-Mu”). Di samping itu, dalam wujud manusia-Nya, Yesus disalibkan (dibunuh) (ay. 23) dan dibangkitkan Tuhan dengan melepaskan Dia dari sengsara maut (ay. 24). Dengan demikian, “kebangkitan Yesus” adalah fakta sejarah yang tak terbantahkan.

3. Petrus kembali mengaitkan Yesus dengan nubuatan Raja Daud (ay. 26-28) dan menegaskan bahwa: Yesus yang bangkit selaras dengan perkataan Daud bahwa “TUHAN tidak membiarkan Orang Kudus-Nya melihat kebinasaan.”

4. Petrus kemudian memberikan analogi (ay. 29) bahwa Daud telah mati, tetapi Tuhan telah berjanji kepadanya dengan mengangkat sumpah, bahwa Ia akan mendudukkan “seorang” dari keturunan Daud sendiri di atas takhtanya (ay. 30). “Karena itu ia telah melihat ke depan dan telah berbicara tentang kebangkitan Mesias, ketika ia mengatakan, bahwa Dia tidak ditinggalkan di dalam dunia orang mati, dan bahwa daging-Nya tidak mengalami kebinasaan. Yesus inilah yang dibangkitkan Tuhan, dan tentang hal itu kami semua adalah saksi” (ay. 31-32). Jadi, korelasi nubuatan Daud dengan fakta bahwa Yesus bangkit dari antara orang mati sudah sesuai dengan nubuatan Daud. Dan korelasi ini bukanlah dibuat-buat atau dicocok-cocokkan, melainkan sudah tergenapi dalam diri Yesus Kristus: mati dan bangkit dari kematian. Ini sangat luar biasa.

5. Di ayat 33, “Dan sesudah Ia ditinggikan oleh tangan kanan Tuhan dan menerima Roh Kudus yang dijanjikan itu, maka dicurahkan-Nya apa yang kamu lihat dan dengar di sini.” Tidak hanya mati dan bangkit, Yesus Kristus juga naik ke surga. Hal ini terlihat pada ayat 34-35, “Sebab bukan Daud yang naik ke sorga, malahan Daud sendiri berkata: Tuhan telah berfirman kepada Tuanku: Duduklah di sebelah kanan-Ku, sampai Kubuat musuh-musuh-Mu menjadi tumpuan kaki-Mu.”

6. Terakhir (ay. 36), Petrus menutup dengan penegasan dan ajakan: “Jadi seluruh kaum Israel harus tahu dengan pasti, bahwa Allah telah membuat Yesus, yang kamu salibkan itu, menjadi Tuhan dan Kristus.”

Keempat, ayat 37 menjelaskan respons dari khotbah Petrus: “hati mereka sangat terharu”. Selain terharu, mereka melanjutkan dengan bertanya. Inilah yang mengarahkan mereka kepada sebuah “metanoia” (pertobatan). Ayat 38 dan 40, menjelaskan ajakan Petrus: “Bertobatlah” dan memberi diri untuk diselamatkan.”

Kelima, kita melihat bahwa “Orang-orang yang menerima perkataannya itu memberi diri dibaptis dan pada hari itu jumlah mereka bertambah kira-kira tiga ribu jiwa” (ay. 41), suatu jumlah yang fantastis. Kuasa dan urapan Roh Kudus sangatlah ajaib dan luar biasa bukan? Kelanjutannya adalah “Mereka ‘bertekun dalam pengajaran’ rasul-rasul dan ‘dalam persekutuan’. Dan mereka selalu ‘berkumpul’ untuk memecahkan roti dan ‘berdoa’” (ay. 42).

Keenam, kuasa dan urapan Roh Kudus tidak berhenti pada dua fenomena ajaib yaitu para rasul “berbahasa lidah” dan Rasul Petrus “berkhotbah di depan ribuan orang Yahudi yang kemudian mereka terharu dan ingin mengubah pikiran mereka”, melainkan “mengadakan banyak mujizat dan tanda” (ay. 43), dan mendorong hidup bersama dalam persekutuan dan berbagi dengan sesama anggota Gereja: “Dan semua orang yang telah menjadi percaya tetap bersatu, dan segala kepunyaan mereka adalah kepunyaan bersama, dan selalu ada dari mereka yang menjual harta miliknya, lalu membagi-bagikannya kepada semua orang sesuai dengan keperluan masing-masing” (ay. 44-45).

Roh Kudus juga mengarahkan umat-Nya untuk hidup dalam persekutuan dan sehati, sebagaimana tampak dalam ayat 46-47: “Dengan bertekun dan dengan sehati mereka berkumpul tiap-tiap hari dalam Bait Allah. Mereka memecahkan roti di rumah masing-masing secara bergilir dan makan bersama-sama dengan gembira dan dengan tulus hati, sambil memuji Tuhan. Dan mereka disukai semua orang. Dan tiap-tiap hari Tuhan menambah jumlah mereka dengan orang yang diselamatkan.”

PENUTUP

Roh Kudus bekerja untuk mendorong kita memahami firman-Nya dan kemudian bertobat, menyerahkan diri untuk taat dan setia kepada Tuhan, sebagaimana terjadi pada orang-orang Yahudi ketika Petrus selesai berkhotbah.

Roh Kudus memimpin kita untuk menyatakan firman-Nya dan menjadi saksi Injil di mana pun, dan kapan pun.

Roh Kudus yang memberikan kekuatan dan keberanian kepada kita seyogianya dipakai bagi pelayanan kepada sesama, baik dalam komunitas Gereja, maupun dalam pekerjaan misi.

Roh Kudus juga mengarahkan kita untuk bertekun dalam firman-Nya dan mengutamakan persekutuan dengan sesama anggota Gereja. Kita pun harus saling peduli satu dengan lainnya, saling mendoakan, dan saling berbagi; tidak memandang perbedaan dan status sebagai ajang untuk menyombongkan diri. Roh Kudus memimpin kita untuk dalam kebenaran-Nya, hidup kudus, dan hidup yang bersaksi bagi Yesus Kristus.

Salam Bae…

Tinggalkan komentar

Rancang situs seperti ini dengan WordPress.com
Mulai