AKU MINTA MAAF

Bukan maksud hatiku untuk melukai perasaanmu; bukan pula niatku untuk membuatmu merasa sesak dada karena ulah perkataanku. Tidak sama sekali.

Aku tidak sedang berusaha memperlihatkan “kata-kata” dengan tujuan melukai dan menggelisahkan hatimu. Tidak sama sekali. Pada pikiranku, aku hanya bersenda gurau; sedangkan pada pikiranmu, mungkin aku “sengaja” melukai perasaanmu.

Sungguh, aku tidak seperti itu; aku hanya ingin membuat suasana menjadi cair; meski pada akhirnya “kesalahpahaman” yang terjadi.

Jika memang sikapku dan kata-kataku melukai hatimu, “AKU MINTA MAAF”. Maafkanlah aku yang dengan tulus mengungkapkannya kepadamu. Jikalau pun tidak mendapat “apa-apa” dari permohonan maafku, aku tetap menyatakan diriku bersalah atas perkataanku.

Kelemahan-kelemahanku mungkin menjadi “racun” bagimu ketika aku salah menempatkan diri di hadapanmu dan di hadapan banyak orang. Biarlah “racun” itu kembali padaku; aku meminumnya sebagai permohonan maafku yang paling tinggi terhadapmu.

Biarlah aku belajar dari situasi dan fakta ini, yang pada gilirannya aku berusaha menjadi pribadi yang lebih baik, tidak lagi melukai hati dan perasaan orang lain, termasuk dirimu.

Maafkanlah diriku.

Permohonan ini pada akhirnya akan menentukan guliran waktu di kemudian hari tentang fakta yang akan terjadi.

Aku minta maaf.

Sumber gambar: https://unsplash.com/photos/S4tm-mox-xQ

Catatan:

  1. Ungkapan maaf pada tulisan singkat di atas adalah contoh yang mungkin pernah kita alami, entah sebagai pelaku yang melukai hati dan perasaan orang lain (sengaja atau tidak sengaja [tidak bermaksud untuk melukai]), atau sebagai orang yang terlukai.
  2. Pernahkah kita melukai perasaan orang lain?
  3. Pernahkah kita melukai hati orang lain?
  4. Pernahkah kita dengan sengaja melukai hati dan perasaan orang lain?
  5. Permohonan maaf adalah tanda kesadaran dan kedewasaan.
  6. Kita belajar dari fakta hidup bahwa kita sering disalahpahami atas ucapan atau senda gurau kita; tetapi biarlah dari fakta itu pula kita ditegur untuk tidak menyinggung perasaan orang lain sebab penilaian dan rasa orang lain terhadap kata-kata kita, belum tentu sama.
  7. Setiap respons terhadap kata-kata kita, tentu berbeda. Jadi, perhatikanlah situasi, kondisi, dan pribadi-pribadi di sekeliling kita, agar tidak menyinggung perasaan dan melukai hati mereka.

Salam Bae…

Tinggalkan komentar

Rancang situs seperti ini dengan WordPress.com
Mulai