FILSAFAT “MATA”

“Mata adalah pelita tubuh. Jika matamu baik, teranglah seluruh tubuhmu”—demikian pernyataan Yesus Kristus (Matius 6:22). Pernyataan tersebut terkait dengan keinginan mata untuk mendapatkan “segala sesuatu”, dikumpulkan, dan dipakai untuk diri sendiri. Itulah sebabnya, “mata” menjadi “pintu masuk” bagi segala sesuatu untuk menjadikan diri kita sebagai orang baik tetapi dewasa dalam mengelola yang kita miliki, atau menjadi orang yang tamak akan segala sesuatu.

Mata adalah pelita, karena ia melihat segala sesuatu; kita membutuhkan sesuatu ketika kita melihat sesuatu; kita menginginkan sesuatu ketika kita melihat sesuatu. Mata menerawang sesukanya, tapi seringkali dipandu dan diarahkan oleh hati nurani.

Mata menghasilkan dosa, ketika ia tidak dapat mengontrol dirinya; mata bisa menghasilkan kejahatan, ketika ia ingin “memiliki, merasakan, dan menikmati yang bukan miliknya sendiri”. Mata menimbulkan harapan ketika ia berkomitmen (setelah melihat orang sukses) untuk bekerja keras untuk meraih kesuksesann.

Mata adalah pelabuhan hidup, selain pintu masuk. Sebagai pelabuhan, mata menambatkan banyak hal untuk tetap berlabuh di pelabuhan. Seolah-olah mata tidak dapat merelakan kapal-kapal keangkuhan untuk pergi berlayar. Atau sebaliknya, mata tidak merelakan kapal-kapal kebajikan pergi berlayar meninggalkannya. Tetapi penting juga ketika kapal-kapal kebajikan pergi berlayar untuk memberi makan kepada banyak orang; dan kemudian menjadi berkat.

Mata melihat dengan tajam berbagai kebaikan dan kejahatan. Mata kita seringkali tidak puas dengan segala sesuatu. Bahkan mata dapat menjerumuskan kita ke dalam berbagai-bagai pencobaaan dan dukacita.

Mata memiliki sejumlah mutiara. Ketika mutiara bersinar, mata menjadi menyala dan menghasilkan kilauan-kilauan cahaya yang memukau. Akan tetapi, bahaya pun muncul, ketika hati nurani padam dan disingkirkan dari takhtanya.

Mata dapat menangis ketika melihat kejahatan merajalela. Mata dapat menangis ketika terharu melihat berkat-berkat Tuhan turun atas kita. Air mata adalah sahabat mata. Keduanya tak bisa dipisahkan. Memang Tuhan telah menempatkan air di dalam mata sehingga mata dapat mengerti bagaimana ketika air di dalam dirinya mengalir (menetes) tanpa ada sesuatu yang dirasakan dan dipahami.

Oh… mata. Engkau memang adalah pelita hidup manusia. Engkau kadang mengarahkan hidup seorang ke arah yang baik, kadang ke arah yang jahat, kadang ke arah yang abu-abu. Oh… mata. Engkau seringkali bekerja sama dengan hati nurani untuk melihat hal-hal ajaib yang Tuhan perbuat; tetapi sebaliknya, engkau menyingkirkan hati nurani untuk memuaskan hawa nafsunya.

Mata, adakah engkau berubah dan berbuah? Adakah engkau berubah ke arah yang lebih baik ketika engkau tersesat di jalan yang kau ciptakan sendiri? Adakah engkau berbuah setelah berubah?

Hal terpenting dari filsafat mata adalah bahwa kita sendiri dapat mengajar dan mengarahkan mata kita untuk melihat hal-hal baik dan kemudian berkomitmen untuk melakukan hal yang sama.

close-up photo of persons eye

Filsafat mata mengajarkan kita lima hal:

Pertama, mata adalah pelita tubuh. Itu sebabnya, cahaya mata bisa menerangi jalan kita—jika kita menjaga cahayanya. Sebaliknya, jika kita menyembunyikan cahayanya, atau bahkan memadamkannya, maka jalan kita menjadi gelap gulita, dan kita mencari jalan, menciptakan jalan baru, dan kemudian kita tersesat olehnya. Jika mata kita gelap, maka gelaplah seluruh tubuh kita. Kita hidup dalam ketidakpastian dan ketidakjelasan.

Kedua, mata adalah pintu masuk terhadap segala sesuatu. Ketika kita membiarkan mata kita masuk segala hal buruk, maka kita menyimpan dan mengundang “dosa” masuk bertama, duduk, dan menginap di dalam rumah kita. Ketika dosa menginap, hati nurani dibiarkan tidur di luar, tanpa selimut dan obat nyamuk. Mata telah membiarkan pintunya dibuka dan dosa masuk. Mata telah salah mengambil keputusan. Hati nurani menangis dan tersingkirkan.

Ketiga, mata adalah pelabuhan yang dapat mengundang banyak kapal, entah kapal keangkuhan atau kapal kebajikan. Ketika mata bekerja sama dengan hati nurani, maka kapal kebajikanlah yang berlabuh. Tetapi ketika mata ingin berkuasa sendiri (egois) dan tidak mengundang hati nurani, maka kapal keangkuhanlah yang berlabuh. Dengan demikian, kita harus tetap memadukan kerja sama antara mata dan hati nurani agar kapal-kapal kebajikan dapat berlabuh dan sekaligus memuat barang-barang berharga, buah-buah segar, untuk dibagikan kepada orang lain, di pulau-pulau yang jauh.

woman's left eye

Keempat, mata adalah anugerah Tuhan bagi kita. Kita harus menjaganya sedemikian rupa sehingga dari mata, kita dapat berkarya bagi Tuhan, dan melayani-Nya dengan sepenuh hati. Arahkanlah mata kita untuk melihat sekeliling kita, pandanglah ke ladang-ladang yang sudah menguning dan matang untuk dituai (Yohanes 4:35). Arahkan mata kita kepada Tuhan. Jangan biarkan mata kita melihat segala keangkuhan dan kesombongan; jangan biarkan mata memuaskan keinginannya yang justru dapat mencelakakan kita sendiri. Hargailah mata kita, dan bijaklah dalam menggunakan mata, sebab mata kita adalah pelita hidup kita.

Kelima, mata adalah sahabat hati nurani. Jalin kerja sama yang baik dengan hati nurani, karena jika mata berjalan sendiri, maka ia akan mudah tersesat. Ketika hati nurani diajak dalam kendaraan iman, maka pasti kita dapat sampai di tujuan yang Tuhan kehendaki. Jika mata dan hati nurani berjalan bersama dalam satu kendaraan iman, maka kita dapat “membawa berkat bagi orang lain”.

woman doing chin gesture while taking photo

Keenam, mata adalah pabrik air mata. Ia dapat meneteskan air mata ketika memahami dan merasakan sesuatu, entah baik, entah buruk. Pada prinsipnya, air mata adalah sahahat mata, dan dengan demikian juga adalah sahabat hati nurani. Mereka dapat bersama-sama merasakan segala sesuatu yang menyentuh perasaan dan hati. Mereka mengerti dan memahami apa makna hidup, makna prjuangan, makna dukacita, dan makna kepedulian.

Ketujuh, mata adalah “wajah karakter” pribadi kita. Kita bergumul dan berjuang di dalam waktu, dan melihat betapa sulitnya kehidupan yang dijalani, betapa hebatnya tantangan dan cobaan di depan mata kita. karakter yang kuat di dalam iman, akan mengarahkan mata untuk melihat—menengadah—kepada Sang Khalik, seraya memohon pertolongan, pernyerataan, dan kekuatan untuk menghadapi dan menjalani kehidupan.

Akhirnya, marilah kita memakai mata kita sebagai alat untuk mengarahkan hidup kita kepada jalan Tuhan, kepada hal-hal baik, dan mengajak orang lain untuk turut dalam jalan Tuhan itu—bersama-sama menggapai masa depan yang telah Tuhan tetapkan bagi kita. Cintailah matamu, dan jadikanlah hati nurani sebagai sahabatnya, selamanya.

Salam Bae

Sumber gambar: https://unsplash.com/s/photos/eyes

Tinggalkan komentar

Rancang situs seperti ini dengan WordPress.com
Mulai