
Dalam konteks dialog antaragama, Kristologi sering menjadi topik yang penuh friksi, terutama bagi para mualaf yang beralih dari agama Kristen ke Islam. Tafsir ngalor ngidul, istilah yang dalam bahasa Jawa berarti “ke sana ke mari” atau “tidak beraturan,” menggambarkan betapa kompleks dan beragamnya interpretasi mengenai Kristus dalam kedua agama tersebut.
Dalam tradisi teologi Kristen, Yesus Kristus adalah Anak Allah, Sang Firman yang datang menjadi daging (manusia – Yohanes 1:14) dan adalah Pribadi kedua dalam konteks doktrin Trinitas Mahakudus. Kristus adalah pusat dari iman Kristen, Mesias yang diutus untuk menyelamatkan umat-Nya dari dosa-dosa mereka (Matius. 1:21) melalui kematian dan kebangkitan-Nya. Ajaran ini ditegaskan dalam berbagai kredo dan doktrin gereja, yang menjadi landasan keyakinan bagi umat Kristen di seluruh dunia, di sepanjang sejarah.
Sebaliknya, dalam Islam, Yesus (disebut Isa dalam bahasa Arab) dihormati sebagai salah satu nabi besar, tetapi tidak dianggap sebagai Anak Allah. Isa adalah manusia biasa yang diberikan mukjizat oleh Allah. Konsep keilahian Isa seperti yang diajarkan dalam Kekristenan ditolak dalam Islam, yang mengajarkan tauhid atau keesaan Allah yang absolut.
Friksi dan Tantangan bagi Para Mualaf
Bagi mualaf yang sebelumnya beragama Kristen, peralihan dari pandangan Kristologi Kristen ke pandangan Islam dapat menjadi proses yang kompleks dan penuh tantangan. Perubahan keyakinan ini tidak hanya melibatkan aspek teologis tetapi juga emosional dan psikologis. Memahami dan menerima Isa sebagai nabi, bukan sebagai Anak Allah, apalagi sebagai Tuhan dan Juruselamat, memerlukan penyesuaian yang mendalam terhadap identitas religius mereka yang baru.
Selain tantangan internal, mualaf juga sering menghadapi konflik eksternal. Hubungan dengan keluarga dan komunitas yang masih memeluk agama Kristen bisa menjadi sumber ketegangan. Para mualaf mungkin harus menghadapi pertanyaan, keraguan, atau bahkan penolakan dari orang-orang terdekat mereka. Friksi ini bisa memperburuk ketegangan yang sudah ada dan menambah beban emosional mereka dalam proses peralihan agama.
Tafsir Ngalor Ngidul: Interpretasi Beragam dan Dinamika Pemahaman
Dalam menghadapi perbedaan pandangan tentang Kristus, banyak mualaf yang mencoba mencari pemahaman yang lebih mendalam melalui berbagai sumber, baik dari literatur Islam maupun Kristen. Tafsir ngalor ngidul menggambarkan beragam interpretasi dan upaya mualaf untuk menjembatani pemahaman antara dua tradisi ini. Mereka mungkin mengadopsi perspektif yang berbeda untuk mencoba mendamaikan keyakinan lama dengan yang baru.
Pada akhirnya, tafsir ngalor ngidul dari para mualaf terkonfirmasi dengan deretan muncratan kebodohan, memperkosa teks-teks, tidak memahami narasi nubuatan dan penggenapannya, tidak memahami narasi Sejarah Penyataan Allah dalam Sejarah, tidak memahami konteks penebusan, substitusi, dan predestinasi, tidak memahami proses menafsir secara sehat dan kredibel, memiliki paham yang salah dan selalu salah paham, tidak memahami natur Kristologi Ontologis-Historis, dan sejatinya, bualan-bualan omong kosong yang keluar dari mulut mereka, telah menjadi habitualisme alami.
Meskipun berbagai jawaban eksegetikal dan apologetikal telah disodorkan ke “biji mata” mereka, tetapi saja kebutaan telah membuat mereka tidak dapat menerima kebenaran yang sejati. Yang ada malahan memperkosa doktrin Alkitab dengan gaya ngalor ngidul yang sejati, tak berubah, polanya tetap sama, itu-itu saja! Tak ada perkembangan sama sekali dalam hal cara berpikir dan memahami doktrin Kristen.
Meskipun dialog antaragama dapat menjadi salah satu cara untuk mengurangi friksi ini, namun kenyataannya tetaplah sama. Mempertontonkan kebodohan level 7 adalah kesukaan mereka. Navigasi iman membuat mereka sulit menerima kebenaran di depan mata! Upaya untuk menjaga toleransi memang menjadi impian bersama, tetapi jika terus-menerus mempertontonkan pola ngalor ngidur terhadap Kristologi, friksi tetap menjadi andalan mereka. Muhammad Yahya Waloni mencetuskan istilah “tolologi”, yang sebenarnya itu berlaku untuk dia, bukan untuk Kristen. Rasanya mereka belum puas jika tidak berbicara tentang Yesus yang lain, Yesus yang diperkosa habis-habisan dengan kebodohan sejarah, teologi, dan hermeneutika. Itulah yang terus terjadi.
Para mualaf yang berhasil melalui friksi Kristologi ini seringkali menemukan identitas religius yang dibanggakan sampai ke puncak gunung, tapi tidak berbanding lurus dengan kejujuran akademis tentang sejarah, teologi, dan hermeneutika Kristologi.
Friksi yang dihadapi para mualaf dalam memahami Kristologi mencerminkan kompleksitas dialog antaragama, bahkan gesekan doktrinal, sosial, dan sikap toleransi. Tafsir ngalor ngidul menggambarkan perjalanan mereka dalam mencari pemahaman yang jauh dari sumber utama doktrin Kristus: Alkitab.
Friksi – pergeseran yang menimbulkan perbedaan pendapat – terhadap Kristologi tidak dapat dianggap sebagai narasi akademis, melainkan sebuah upaya untuk mempromosikan tafsir ngalor ngidul sejati, yang tetap konsisten dengan kebodohan yang melekat di dalam pikiran para penentang Yesus Kristus, yang adalah Tuhan dan Juruselamat. Negasi terhadap Yesus berujung pada caci maki dan perendahan terhadap-Nya. Meskipun demikian, kegemilangan Kristus atas dunia tak dapat dikalahkan oleh siapa pun di kolong langit ini. Dialah Tuhan yang kuat, berkuasa, dan memberikan jaminan kehidupan kekal bagi mereka yang percaya kepada-Nya, dan setia hingga akhir.
Salam Bae….




















