KETIKA PARA TEOLOG DUDUK DI ALUN-ALUN HERMENEUTIK

Dunia menjadi berkualitas ketika gerakan “menafsir” mendapat tempat yang layak. Pada setiap konteks kehidupan, relasi, dan komunikasi, manusia bergumul dan berbahagia dengan proses hermeneutik. Fakta ini menavigasikan pola berpikir, menilai, merumuskan, dan menetapkan, menuju kepada tujuan yang hendak dicapai.

Menafsir bukanlah hal mudah, meski seringkali dipandang mudah. Ada sejumlah fitur yang signifikan—sebagai rambu lalu lintasnya—membuat proses menafsir mendapatkan kualitasnya (fakta, konsep, korelasi, analogi, teologis, dogma, historis). Hasil tafsiran menentukan navigasi iman, harapan, dan tindakan. Berbagai kesesatan berpikir dan penyesatan verbal, konsep, teori, doktrinal (ajaran) adalah buah-buah dari bagaimana proses menafsir dilakukan.

Gegap gempita pengajaran yang tidak karuan, memunculkan sejumlah kumur-kumur emosi, arogansi hermeneutik. Sebagai lawannya, dokumen sejarah dikeluarkan dari brankas yang lama tersimpan sebagai arsip pembuktian kebenaran. Pada kondisi sekarang, alun-alun hermeneutika ramai pengunjung. Ada yang hendak belajar, ada yang hendak bertanya, ada yang hendak mendengar saja, dan ada yang kebanyakan bicara. Semakin bicara, semakin salah.

Kita dapat menilai dan kemudian memutuskan apa yang benar dan apa yang salah. Menafsir menentukan nilai akhir, bahkan kondisi akhir dari iman kita. Penafsiran-penafsiran menjadi fitur logika. Kebebasan menafsir—meski di satu sisi merupakan hak asasi manusia—menghasilkan ragam “doktrin”—bahkan membentuk sebuah “dogma”, tetapi di sisi lain, penafsiran yang bebas itu, jika tidak melihat dan memahami rambu-rambu penafsiran, akan berujung pada “jalan buntu ahistoris”.

Para teolog mengundang kaum awam untuk hadir di alun-alun hermeneutik. Para teolog harus menunjukkan proses navigasi hermeneutik dan mengundang dokumen sejarah untuk hadir sebagai tamu istimewa. Artinya, proses hermeneutik tak dapat berbuat apa-apa ketika “sejarah” tidak diundang untuk hadir di alun-alun hermeneutik sebagai panggung “adu kualitas”.

Sejatinya, pada proses hermeneutik, para teolog dengan berbagai latar pendidikan, empirikal, dan karya, menampilkan gayanya masing-masing untuk mendapatkan dukungan, pujian, sanjungan, atau bahkan pengaruh. Tersedia lahan yang luas bagi para teolog untuk memenuhinya dengan “ajaran-ajaran yang sehat dan bergizi bagi kaum awam”. Para teolog harus meramu ajaran-ajaran Alkitab untuk disuguhkan kepada para pembaca yang jinak maupun liar.

Alun-alun hermeneutik memang tanpa pagar, tetapi logika dan prinsip menjadi pembatas dan tiang penopang untuk memperkuat gagasan, pemikiran, dan elaborasi historis—konteks dari setiap teks-teks Kitab Suci. Terdapat disparitas hasil dari proses menafsir; bahkan cara memahami teks-teks juga variatif, dan di satu sisi ada yang memahami secara keliru, lalu dilabeli dengan “sesat”, dan “tersesat”.

Keributan yang terjadi menandakan bahwa urgensi teks-teks Kitab Suci menavigasikan proses menafsir, berteologi, dan proses berkehidupan. Tak jarang, kesombongan (arogansi) menjadi dasar untuk memperlihatkan “isi otak” yang tak seberapa itu, kepada publik, dan sekaligus mengumumkan bahwa “isi otak saya” luar biasa. Itulah sekelumit fakta dunia teologi dalam konteks menafsirkan teks-teks Kitab Suci.

Apa yang dapat kita pelajari dari fenomena yang lucu ini? Ketika para teolog bertemu di alun-alun hermeneutik, sejatinya mereka menunjukkan tiga aspek hermeneutik dan satu skema dari teologi—hermeneutik, sebagai berikut:

PERTAMA: Konteks. Di dalam “konteks” terdapat alur berpikir sederhana, mengaitkan teks dengan penutur, penulis, konteks budaya, masyarakat, penerima, dan lain sebagainya. Artinya, pada pemahaman mendasar ini, kita harus terbiasa menafsir dengan melihat konteks. Tak ada teks tanpa konteks.

KEDUA: Pemahaman Komprehensif. Konteks adalah bagian dari cara memahami komprehensif. Para penafsir yang mengabaikan pemahaman komprehensif akan menghasilkan pemahanan yang prematur dan bahkan sangat spekulatif, jika tidak dikatakan “menyesatkan konteks”. Setiap teks hadir dalam bingkai pemahaman komprehensif yang diajukan oleh penutur atau bahkan penulis.

KETIGA: Korelasi Tekstual. Hal ini mengindikasikan bahwa ada teks-teks yang memiliki korelasi dengan konteks (teks) yang lain. Kita dapat melihatnya pada Injil-Injil PB, surat-surat Paulus, dan juga kitab-kitab lainnya yang menyingung pemahaman (dan historis) dari PL. Korelasi tekstual dalam Alkitab adalah lumrah karena mayoritas natur kitab-kitab memiliki korelasi substansial dari karya Allah bagi umat pilihan-Nya.

Sedangkan SKEMA utama dari proses menafsir: Mengarahkan manusia berdosa kepada Allah yang kudus, untuk hidup kudus, benar, adil, dan jujur, agar dari semua proses kehidupan manusia, kehendak Allah dilakukan dan kemudian manusia—di antara sesamanya—menjadi “berkat” dalam kata, perbuatan, dan pemikiran.

Ketika para teolog duduk di alun-alun hermeneutik, jangan mengumbar nafsu arogansi dan emosi yang tak terkendali, melainkan pamerkanlah intelektualisme dan spiritualisme yang sehat dan aplikatif supaya mereka yang melihatnya “memuliakan Allah” karena perbuatan-perbuatanmu yang baik itu.

Salam Bae…..

Sumber gambar: Pinterest

SEMAYAM TEOLOGI

Konteks “memahami” adalah upaya logis dalam menafsir segala sesuatu, sesuai dengan gerak hati. Proses memahami memiliki beberapa bentuk. Pertama, memahami berdasarkan penglihatan (atau pembacaan). Kedua, menafsir [berdasarkan] pengalaman (ikut di dalam konteks yang sedang ditafsir). Ketiga, menafsir dari pengalaman orang lain. Keempat, menafsir dari hasil tafsiran. Dengan demikian, memahami memiliki banyak faset karena setiap konteks menghasilkan beragama pemahaman.

Dalam konteks teologi, menafsir adalah lazim dilakukan. Selain dari menafsir teks-teks Alkitab, kita dapat menafsir hasil tafsiran para penafsir (teolog). Pada lingkup ini, pemahaman menjadi dua jalan: jalan menuju pada makna teks, dan jalan menuju tendensi teologi para penafsir. Dari sini kita dapat bergerak menuju pada “pemilihan” dan “pemilahan”. Pemilihan mencakup keputusan untuk menerima hasil tafsiran (bahkan dengan beberapa poin yang kita tambahkan pada hasil tafsiran), sedangkan pemilahan mencakup keputusan untuk memisahkan hasil tafsiran yang terkesan spekulatif dan menyimpang.

Teologi menjadi objek penafsiran yang marak dilakukan. Pasalnya, terdapat pokok-pokok yang menjadi percakapan di berbagai kalangan. Teologi bisa menjadi baik dan berpengaruh, tetapi juga menjadi jelek, membosankan, dan menyebalkan. Kita adalah pengolah “teologi”. Sebagai pengolah, sedapat mungkin kita memiliki potensi memahami dan menafsir secara baik dan kredibel, sehingga menghasilkan teologi yang baik dan solid.

Wajah teologi menjadi merona atau memuakkan tergantung pada kita sendiri. Akhir-akhir ini, teologi menjadi jelek karena berada di tangan-tangan yang tidak memiliki potensi mengolah teologi. Justru yang muncul adalah kekisruhan yang menonjolkan arogansi teologi (doktrinal) dan saling memaki-maki. Tak jarang, identitas “studi” ikut mencuat ke permukaan. Dendam kesumat dalam sejarah, kembali dibangkitkan untuk didaur ulang sebagai senjata untuk menyerang orang lain. Akhirnya, wajah teologi menjadi buruk, memuakkan, dan menyebalkan.

Ada tawaran menarik yang saya suguhkan di sini. Saya hendak mendorong pembaca untuk menyemayamkan teologi pada tempat yang seharusnya. Teologi yang sehat berarti juga menyehatkan. Ketika teologi dijadikan alat untuk menyombongkan diri, maka keburukan menjadi milik dari mereka yang memperalat teologi.

Saya menyuguhkan semayam teologi yang mencakup lima aspek:

PERTAMA: teologi yang memenuhi kaidah penafsiran yang kredibel: konteks, korelasi, dan komprehensivitas tema atau pesan.

KEDUA: teologi yang menempatkan kesadaran bahwa masih tersimpan misteri pada pokok-pokok tertentu dan sedapat mungkin kita tidak berspekulasi terhadapnya.

KETIGA: teologi yang melihat bahwa kehidupan yang kita jalani dan keselamatan yang kita terima adalah semata-mata anugerah dan kemurahan Allah.

KEEMPAT: teologi yang memposisikan antara ontologi dan historis secara berdampingan dan menyatukan keduanya ketika membahas pokok-pokok tertentu, semisal Kristologi.

KELIMA: teologi yang mengarahkan hidup manusia—tak terkecuali—kepada kehidupan yang dikehendaki Allah (penuh kasih, pengampunan, dan kekudusan).

Dari kelima prinsip semayam teologi di atas, kita dimampukan untuk melihat bahwa apabila teologi itu sehat dan menyehatkan, maka teologi itu mengandung penafsiran yang kredibel, kesadaran bahwa ada misteri pada pokok-pokok tertentu, mengandung pemahaman bahwa kehidupan dan keselamatan adalah anugerah dan kemurahan Allah, teologi yang melihat konteks (antara ontologi dan historis), dan teologi mengarahkan hidup manusia kepada kehidupan yang dikehendaki Allah.

Selamat berteologi secara sehat, solid, dan semaja (sahaja).

Salam Bae

Sumber gambar: Pinterest

THEOTEMOLOGY: Menalar “ho logos sarks egeneto” dalam Terang Filsafat

Dalam skema besar iman Kristen terdapat berbagai fitur (karakteristik khusus) pada setiap doktrin, baik doktrin yang substansial maupun yang suplementatif dan praksis. Setiap doktrin memiliki korelasi satu dengan lainnya. Proses memahaminya haruslah secara komprehensif, jukstaposisi (dalam konteks-konteks tertentu), dan secara demarkasi (juga dalam konteks tertentu).

Kebenaran dapat diyakini akibat dari proses memahami. Kesesatan muncul akibat salah memahami. Proses memahami adalah upaya logis-faktual yang dilakukan setiap orang pada semua konteks kehidupan, ilmu pengetahuan, relasi, komunikasi, agama, penyembahan, dan politik. Memahami adalah penelitian yang tertinggi dan hasil yang tertinggi. Tidak ada bukti ilmiah yang paling memadai selain dari pada “memahami” apa yang diteliti, diamati, dilihat, dirasakan, diraba, dan dialami.

Semua konteks penelitian ilmu pengetahuan harus menunjukkan proses memahami segala sesuatu yang menjadi objek penelitian. Ruang agama juga demikian. Memahami unsur-unsur penting dalam bingkai agama, adalah jalan terbaik yang tersedia untuk ditempuh hingga mencapai tujuan akhir.

Saya menyuguhkan materi dasar dan substansial ini untuk masuk ke dalam skema besar iman Kristen dan fitur-fitur dari skema besar tersebut. Skema besar iman Kristen berangkat dari Historical of Redemption—Sejarah Penebusan—yang dengannya kita dapat melihat komprehensivitas karya Allah bagi manusia. Iman Kristen tidak bisa dipahami dari perspektif parsial atau demarkasi. Hal ini sering terjadi pada pemahaman terhadap Kristologi. Tak heran, jika pihak-pihak tertentu, hanya berkutat pada negasi terhadap ke-Tuhanan Yesus, sementara mereka mengusung teori humanitas Yesus yang terpisah, bahkan secara total, dari inkarnasi-Nya.

Di sini kita melihat bahwa pemahaman akan skema besar iman Kristen sangatlah signifikan. Iman Kristen itu sendiri didasarkan pada theorema—apa yang dilihat, dirasakan, dan dialami—sebagaimana tampak dalam tulisan Rasul Yohanes, dan tulisan-tulisan lainnya dalam Perjanjian Baru.

“Apa yang telah ada sejak semula, yang telah kami dengar, yang telah kami lihat dengan mata kami, yang telah kami saksikan dan yang telah kami raba dengan tangan kami tentang Firman hidup – itulah yang kami tuliskan kepada kamu. Hidup itu telah dinyatakan, dan kami telah melihatnya dan sekarang kami bersaksi dan memberitakan kepada kamu tentang hidup kekal, yang ada bersama-sama dengan Bapa dan yang telah dinyatakan kepada kami. Apa yang telah kami lihat dan yang telah kami dengar itu, kami beritakan kepada kamu juga, supaya kamupun beroleh persekutuan dengan kami. Dan persekutuan kami adalah persekutuan dengan Bapa dan dengan Anak-Nya, Yesus Kristus” (1 Yohanes 1:1-4)

Konteks yang sama dituliskan oleh penulis Ibrani:

“Setelah pada zaman dahulu Allah berulang kali dan dalam pelbagai cara berbicara kepada nenek moyang kita dengan perantaraan nabi-nabi, maka pada zaman akhir ini Ia telah berbicara kepada kita dengan perantaraan Anak-Nya, yang telah Ia tetapkan sebagai yang berhak menerima segala yang ada. Oleh Dia Allah telah menjadikan alam semesta. Ia adalah cahaya kemuliaan Allah dan gambar wujud Allah dan menopang segala yang ada dengan firman-Nya yang penuh kekuasaan. Dan setelah Ia selesai mengadakan penyucian dosa, Ia duduk di sebelah kanan Yang Mahabesar, di tempat yang tinggi, jauh lebih tinggi dari pada malaikat-malaikat, sama seperti nama yang dikaruniakan kepada-Nya jauh lebih indah dari pada nama mereka. Karena kepada siapakah di antara malaikat-malaikat itu pernah Ia katakan: ‘Anak-Ku Engkau! Engkau telah Kuperanakkan pada hari ini?’ dan ‘Aku akan menjadi Bapa-Nya, dan Ia akan menjadi Anak-Ku?’ Dan ketika Ia membawa pula Anak-Nya yang sulung ke dunia, Ia berkata: ‘Semua malaikat Allah harus menyembah Dia.’ Dan tentang malaikat-malaikat Ia berkata: ‘Yang membuat malaikat-malaikat-Nya menjadi badai dan pelayan-pelayan-Nya menjadi nyala api.’ Tetapi tentang Anak Ia berkata: ‘Takhta-Mu, ya Allah, tetap untuk seterusnya dan selamanya, dan tongkat kerajaan-Mu adalah tongkat kebenaran. Engkau mencintai keadilan dan membenci kefasikan; sebab itu Allah, Allah-Mu telah mengurapi Engkau dengan minyak sebagai tanda kesukaan, melebihi teman-teman sekutu-Mu’” (Ibrani 1:1-8)

Kesalahan melihat dan memahami skema besar iman Kristen berbuahkan berbagai bentuk penyesatan dan kesesatan termasuk di dalamnya tidak memahami Historical Redemption. Kerangka pikir dari skema besar iman Kristen ditempuh dengan melakukan pendalaman historis, biblikal, dan komprehensivitas karya Allah bagi manusia berdosa. Ketika seseorang memisahkan dari skema besarnya, maka tak heran, “logical fallacy”, kesalahan hermeneutik, dan “kumur-kumur ayat” (ilmu cocokologi dan comotologi) menjadi makanan yang lahap dimakan oleh mereka yang berjiwa paralogisme.

Kesalahan-kesalahan tersebut di atas terus berulang dari waktu ke waktu. Negasi terhadap ke-Tuhanan Yesus tak henti-hentinya dikumandangkan oleh pemikir-pemikir yang tak berpikir secara komprehensif, oleh para mualaf kacangan yang hanya mencari sensasi, para negator dari berbagai kalangan, sementara orang-orang Kristen sepanjang sejarah telah merasakan, melihat, dan mengalami kuasa dan kasih Yesus Kristus dalam kehidupan mereka. Kekristenan terus berjalan dengan mengalami kasih dan kuasa Tuhan Yesus, sementara para negator masih terus berjuang mencari-cari dalil yang membantah ke-Tuhanan Yesus. Perang “pikiran” yang mengolah data yang ada, bahkan mengolah pikiran yang tak pernah terpikirkan pun mencuat ke permukaan. Apalagi mengolah data yang tak pernah ada di dunia ini, juga ikut bermain-main; data yang tak pernah ada hanya ada di otak para negator, menipu dan membabi buta, menyerang iman Kristen.

Kita melihat—dalam terang epistemologi—ada dasar-dasar bagi pengetahuan dan batasan-batasannya. Hal ini dapat berlaku bagi Kristologi yang diserang mati-matian oleh para negator. Apa dasar-dasarnya? Tentu yang utama adalah fakta, apa yang diamati, diteliti, dirasakan, dialami, lalu logika menyimpulkan sedemikian rupa sehingga menjadi sebuah ‘kebenaran’. Sedangkan batasannya adalah konteks, definisi, dan demarkasi.

Di samping itu, epistemologi berbicara mengenai hakikat pengetahuan, justifikasi (pembenaran), dan kelogisan dari sebuah keyakinan (apa yang diyakini). Aspek klarifikasi adalah bagian dari epistemologi. Semua yang diketahui, dirasa benar, diyakini, diragukan, haruslah diklarifikasi. Dalam kaitannya dengan fakta epistemologi berdampingan dengan theorema. Kedua hal ini akan dijelaskan kemudian.

Jika hal ini diterapkan, maka skema besar dari iman Kristen akan menjadi pokok pembahasan yang menarik sekaligus terjustifikasi, bukan berdasarkan keyakinan yang buta, melaikan berdasarkan hakikat fakta, theorema, dan epistemologi: memiliki dasar dan konteks (demarkasi). Theotemologi adalah pendekatan yang saya gunakan untuk mengkorfirmasi, mengklarifikasi, dan menjustifikasi apa yang diimani oleh orang-orang Kristen.

Dalam ranah ini, skema besar iman Kristen mendapatkan “pengakuan” bukan karena teori-teori belaka, melainkan “theōréō”—aku melihat, memeriksa; dengan perkataan lain, “aku mengalami sendiri”, dan kita tahu pengalaman (empirikal) adalah aspek penting dalam filsafat, logika, bahkan dalam konteks agama-agama atau berbagai sistem keyakinan secara universal.

Theotemologi mengedepankan keakuratan pemahaman akan data historis, hermenetik, dan empirikal. Suatu empirikal bukanlah ‘karangan’ yang direkayasa untuk dijadikan sebuah kebenaran, melainkan karangan yang hendak menyatakan bahwa apa yang dilihat, diamati, dan dialami adalah benar. Keraguan dan negasi terhadap karangan-karangan orang-orang percaya tentu tak lepas dari kritik dan sentimen, akan tetapi karangan-karangan tersebut merupakan sebuah ungkapan empiris atas apa yang mereka lihat dari “Sang Juruselamat”.

Meskipun masih menyisahkan ruang perdebatan, pesan dan makna utama dari karangan-karangan mereka, tetap dipertahankan. Hingga pada titik tertentu, karangan-karangan mereka terkonfirmasi dalam “iman” di kehidupan nyata. Yesus Kristus yang mereka tuliskan dalam kitab[-kitab] mereka adalah bukti bahwa sosok Yesus telah mengubahkan mereka menjadi pelaku-pelaku firman Allah, dan bahkan hingga akhir hidup mereka, iman mereka kepada Tuhan Yesus Kristus tak pernah pudar.

Menalar ὁ λόγος σὰρξ ἐγένετο (ho logos sarks egeneto) dengan menunjukkan aspek konteks, definisi, dan klasifikasi, adalah bagian dari theotemologi. Konteks inkarnasi—Logos menjadi daging—dalam skema besar iman Kristen merupakan perwujudan kasih dan kuasa Allah atas manusia berdosa. Allah tak kekurangan cara dan tentu kedaulatan-Nya adalah penentu “mau seperti apa Ia menebus umat-Nya”. Ada banyak protes terhadap cara Allah menebus melalui Yesus Kristus.

Kesalahan memahami ὁ λόγος σὰρξ ἐγένετο akan berimbas kepada pemahaman yang parsial, fragmentaris, dan paralogisme. Ketika kita memeriksa berbagai bentuk pemikiran dan pemahaman dari para negator, ketiga bentuk pemahaman tersebut sudah pasti mereka lakukan. Tiga pemahaman tersebut bertolak belakang dengan theorema dan epistemologi.

Dalam ruang filsafat logika, iman Kristen memenuhi kriteria “terdefinisi”, “terkonteks”, dan “terklasifikasi”. Skema besar iman Kristen selalu terkait dengan tiga hal tersebut. Ambil contoh tentang “pengampunan”. Secara definisi, pengampunan adalah tindakan Allah bagi manusia yang telah berbuat dosa di hadapan-Nya. Secara konteks, pengampunan diberikan Allah kepada setiap orang yang telah melakukan dosa (pelanggaran dan kesalahan). Setiap dosa memiliki konteksnya masing-masing. Hal ini tampak pada konsekuensi yang diterima. Sedangkan secara klasifikasi, pengampunan diberikan kepada Allah untuk semua klasifikasi dosa, tetapi dengan cara mengikuti aturan main Allah yang membedakan tata cara untuk setiap dosa yang dilakukan umat-Nya.

APA ITU THEOTEMOLOGY?

Theotemology adalah istilah yang terdiri dari dua kata gabungan, yakni: “theorema” dan “epistemology”. Kata “theorema” berasal dari kata Yunani Kuno: “theōrēma”, “speculation, proposition to be proved” [spekulasi, proposisi yang akan dibuktikan]), dari kata θεωρέω [theōréō],  aku melihat, mempertimbangkan, memeriksa.

Kata θεωρέω berarti “seeing” (melihat) melalui persepsi akal, apa yang ditonton (as a spectator), melalui “persepsi mental [untuk] mengerti, memahami, memperhatikan, melalui persepsi rohani [untuk] melihat”; tahu, mengalami. Dalam pengertian lain, theorema dapat diartikan sebagai “dalil” yang berangkat dari apa yang diamati (dilihat), dirasakan, diketahui. Jika konteks pengampunan dikaitkan ‘theorema’, maka pengampunan yang dialami dan dilihat sendiri (bagaimana Tuhan bekerja atas diri seseorang), dapat menjadi fakta utama bagaimana skema iman Kristen dapat diungkapkan secara epistemologi.

Epistemologi adalah cabang filsafat yang membahas tentang dasar-dasar dan batas-batas pengetahuan. Dasar-dasar pengetahuan selalu dikaitkan dengan proses penalaran yang melibatkan theorema (apa yang dilihat, dirasakan [dialami]), dan diketahui. Sedangkan batas-batas pengetahuan dikaitkan dengan konteks, definisi, dan klasifikasi, atau yang saya sebut dengan filsafat logika.

Theotemologi (“Theorema-Epistemologi”) adalah sebuah konteks logika yang menilai segala sesuatu dengan cara membuktikan apa yang dilihat, yang dipersepsikan oleh akal, yang dirasakan, berdasarkan analisis epistemologi dengan mengedepankan cara bernalar melalui proses mendefinisikan, mengkontekskan (berdasarkan konteksnya), dan mengklasifikasikan.

Proses mendefinisikan, mengkontekskan, dan mengklasifikasikan ditunjang oleh dokumen, historisitas, dan prinsip logis dari sesuatu (yang terjadi atau yang diperdebatkan). Theotemologi adalah bentuk akurasi dari logika manusia untuk menghasilkan sebuah konsep maupun fakta tentang segala sesuatu (yang diamati, diteliti, diperdebatkan).

Theotemologi adalah serangkaian langkah-langkah antisipatif-logis untuk menjembatani berbagai penyimpangan, kesalahan bernalar (logical fallacy), kesalahan pengungkapan (fault disclosure), kesalahan memahami (error understanding), kesalahan merujuk pada dokumen historis (errors refer to historical documents), dan kesalahan titik pijak (memahami berdasarkan pendapat sendiri dan bukan berdasarkan pada natur dari sesuatu yang diamati, dikritik).

Dengan menggunakan pendekatan Theotemologi—terutama dalam penelusuran dan pemahaman mengenai skema besar iman Kristen—kita akan mendapatkan gambaran yang komprehensif, konsisten, terjustifikasi, dan reliabel. Pemahanan akan iman Kristen tidak bisa menggunakan pola pemahanan parsial, fragmentaris, atau paralogisme, sebab tindakan tersebut hanya menghasilkan sesat pikir kepada sesat pikir sebelum dan sesudahnya (pasca menafsir). Inilah yang kita jumpai pada para mualaf “ecek-ecek” dan “kacangan” dalam memahami Kristologi, Trinitas, Hermeneutik-Biblikal, dan Bibliologi.

Pendekatan Theotemologi dalam konteks “pengampunan”—sebagaimana telah disebutkan di atas—kita melihat bahwa Allah yang menyatakan pengampunan itu (kepada orang-orang berdosa), memiliki alasan teologis dan konsekuensi. Teologis, karena Allah hendak menyatakan kemurahan-Nya, dan konsekuensi karena manusia “mengakui dosa-dosanya”. Apa yang diperbuat manusia (segala jenis kejahatan dan perlawanannya terhadap Allah), semuanya terbuka di depan mata-Nya (bdk. Amsal 15:3), dan Allah, dengan kemurahan-Nya, mengampuni mereka yang mengakui dosa-dosanya (bdk. 1 Yohanes 1:8-10).

Pengampunan dapat dilihat, dirasakan, dan dialami oleh mereka yang mengakui dosa-dosanya kepada Allah. Pengakuan kepada Allah haruslah terdefinisi secara jelas. Ketika kita mengatakan: “Aku telah berdosa kepada-Mu, ya Allah”, maka pertanyaannya adalah: “dosa apa yang dilakukan?” sebab jenis-jenis dosa ada banyak sekali. Dengan logika kita menilai apa yang Allah kerjakan bagi kita—yaitu mengampuni—dan hal itu dapat kita rasakan (alami) sendiri. Kita dapat menceritakan dalam konteks apa kita berdosa, dalam konteks apa Allah mengampuni kita; dosa yang kita akui harus terdefinisi secara baik, dan perlu diklasifikasikan (misalnya mencuri: apa yang dicuri? uang? berapa banyak?).

Pengampunan yang kita terima—berdasarkan pemahaman Theotemologi—adalah bentuk konfirmasi bahwa pengampunan itu faktual, yang dirasakan (dialami) dan dilihat sendiri. Dengan demikian Theotemologi menjembatani berbagai kesalahan pemahaman tentang pengampunan yang Allah berikan. Apalagi pengampunan yang dikerjakan oleh Yesus Kristus, Logos Allah yang kekal.

Itulah yang menjadi bagian dari skema besar iman Kristen: ὁ λόγος σὰρξ ἐγένετο. Inkarnasi Logos yang menjadi manusia juga adalah perwujudan kasih Allah yang luar biasa untuk mengampuni umat-Nya. Pengampunan Allah dapat Ia lakukan dengan cara apa saja. Ia berdaulat menentukannya. Kita yang berdosa, tak perlu merasa cukup syarat untuk mengajukan keberatan terhadap apa yang Allah lakukan. ὁ λόγος σὰρξ ἐγένετο adalah tanda kedaulatan Allah, yang bertujuan agar “kita diampuni, ditebus, didamaikan, dikuduskan dan diselamatkan”.

Skema ὁ λόγος σὰρξ ἐγένετο akan menjadi pokok penting dari iman Kristen, dan karenanya penalaran atas fakta bahwa Logos telah menjadi manusia untuk tujuan pengampunan, penebusan, dan penyelamatan, sangatlah dibutuhkan. Penelusuran dan pemahaman terhadap ὁ λόγος σὰρξ ἐγένετο dilakukan dengan menggunakan prinsip Theotemologi.

Memahami pengampunan tidaklah mudah. Konteks ini sangatlah dalam dan luas. Kita harus melihatnya dari PL dan PB secara komprehensif. Theotemologi dapat memampukan kita untuk memahami pengampunan Allah, termasuk fitur-fitur iman Kristen yang lainnya, seperti Trinitas, Kristologi, dan lainnya.

Akhirnya, Theotemologi mengajak kita untuk mengafirmasi setiap keberatan yang wajar, ataupun “logical fallacy”, bahkan paralogisme akut yang muncul dari pikiran mereka yang “sentimen” dan “benci” terhadap skema besar maupun fitur-fitur iman Kristen yang suplementatif dan praksis.

Salam Bae.

Catatan: Tulisan ini masih tahap awal. Masih diperlukan penelusuran biblika dan filsafat yang mendalam. Semoga!

Sumber gambar: Pinterest

SPIRITUALITAS: Antara Iman dan Pengalaman Hidup Ditinjau dari Mazmur 90:12

PENDAHULUAN

Secara umum, manusia memiliki empat jenis hubungan: pertama, dengan Tuhan; kedua, dengan sesama; ketiga, dengan alam (lingkungan); dan keempat, dengan diri sendiri. Keempat jenis hubungan ini bisa menjadi baik, bisa menjadi rusak. Baik-rusaknya suatu hubungan ditentukan oleh tiga aspek, yaitu: pemahaman akan kehidupan, pemahaman akan lingkungan (situasi dan kondisi), dan pemahaman akan iman.

Pemahaman akan kehidupan berbicara mengenai apa maka kehidupan bagi manusia. Manusia menjadi baik ketika ia memahami hidup secara baik pula; dan manusia menjadi rusak ketika ia memahami hidup hanya sebagai pemuasan nafsu belaka. Pemahaman akan lingkungan (situasi dan kondisi) berbicara mengenai bagaimana sikap dan perilaku manusia untuk berinteraksi dengan lingkungannya; dan pemahaman akan iman berbicara tentang apa yang Allah kehendaki untuk dilakukan manusia yang beriman kepada-Nya.

Mazmur 90:12 mengandung tiga aspek di atas. Umat Tuhan menyadari bahwa mereka diberikan kesempatan oleh Tuhan untuk menikmati hidup di bawah pimpinan dan kuasa-Nya, melalui Musa, nabi-Nya. Umat-Nya beradaptasi dengan situasi dan kondisi dari lokus-lokus di mana mereka lewat atau pun menetap. Dan mereka juga bergumul untuk melakukan kehendak Allah agar hidup mereka tertuju hanya kepada Allah.

Tiga aspek di atas tidak hanya berbicara mengenai apa yang dipikirkan dan dilakukan, tetapi juga berbicara mengenai spiritualitas. Hari-hari yang dilalui, justru mengajar umat Tuhan untuk melihat bahwa Tuhan tetap mengasihi mereka dan menghajar ketika mereka melawan, memberontak, dan berdosa di hadapan-Nya.

Klausa “Ajarlah kami menghitung hari-hari kami” adalah sebuah spiritualitas yang menyadarkan umat-Nya bahwa setiap hari, ada tangan Tuhan yang menuntun mereka. Manusia dididik Tuhan untuk menjadi “bijaksana”—tahu dan mempertimbangkan baik-buruknya segala sesuatu. Dari situ, umat Tuhan bergerak dari spiritualitas kepada realitas—melihat kehidupan secara bijaksana—dan menemukan konsistensi penyertaan Tuhan bagi mereka sendiri.

Konteks tersebut menyuguhkan dua fakta bahwa dalam hari-hari yang dilalui manusia, mereka melihat apa yang dilakukan Allah, dan melihat apa yang mereka lakukan bagi Allah.

Allen P. Ross dalam A Commentary On The Psalms  menyatakan bahwa, selama sekitar 3000 tahun Mazmur telah menjadi inti dari kehidupan rohani umat Allah. Susunan doa, pujian, nyanyian pujian, renungan, dan liturgi dalam koleksi mencakup semua aspek hidup bagi Allah di dunia yang “antagonistic [menentang] to the faith”.[1] Bagi orang Kristen awal, Mazmur  juga dihargai karena nilai mereka dalam doa dan pujian dari umat, tap  i lebih lagi karena aplikasi mereka kepada Kristus dalam tulisan perjanjian baru.[2]

Mazmur 90 adalah ungkapan “Doa Musa, Abdi Allah” di mana ia, dalam proses mengikut Tuhan Allah dan memimpin Israel, memiliki sejumlah pengalamaan yang berharga. Doa yang benar, lahir dari pengalaman bersama Tuhan, di mana manusia mengungkapkan apa yang ia rasakan (alami), gumuli, dan apa yang akan diharapkan.

Ayat 12 sebagai bagian dari spiritualitas Kristen—maksudnya sebagai dasar bahwa hanya Tuhan yang dapat mengajar kita tentang kehidupan, pergumulan, sukacita, dukacita, tekanan hidup, dan lain sebagainya. Doa adalah solusi dan sekaligus merupakan ungkapan spiritualitas antara manusia  dengan Tuhan.

Di bagian berikutnya—setelah menjelaskan substansi Mazmur secara umum dan secara khusus—saya akan menyebutkan tiga aspek spiritualitas terkait dengan Mazmur 90:12.

SUBSTANSI MAZMUR 90

Augustinus, J. Calvin, C. S. Lewis, N.T. Wright, dan para teolog lainnya telah memberikan kesaksian mereka mengenai apa yang mereka rasakan dari kitab Mazmur. Tidak hanya soal tafsiran mereka, melainkan kehidupan mereka yang dipengaruhi oleh kitab Mazmur. Spiritualitas mereka menjadi kuat tatkala memahami dan melakukan teks-teks dari kitab Mazmur dalam kehidupan mereka di hadapan Tuhan dan di hadapan sesamanya.

James Hely Hutchinson (teolog asal Irlandia), menyatakan bahwa, Mazmur adalah ungkapan hati yang menjauhkan keegoisan dan mengarahkan diri pada objek kenikmatan tertinggi yaitu Allah Pencipta, Penebus Israel, Yahweh sendiri.[3] Berangkat dari pernyataan Hutchinson

Profesor Perjanjian Lama, Rolf A. Jacobson dan Karl N. Jacobson, dalam Invitation to the Psalm : A Reader’s Guide for Discovery and Engagement menyatakan bahwa, kitab Mazmur adalah, pertama dan terutama, merupakan kumpulan puisi Ibrani.  Dalam membaca mazmur, kita melatih pemikiran kita secara logis — dalam arti bahwa kata, frasa, dan kalimat disatukan menurut asas yang diatur oleh cara berpikir (logika).[4] Puisi secara keseluruhan adalah jenis bahasa yang memiliki logika yang berbeda dari jenis tulisan lainnya. Dan puisi Ibrani, khususnya, memiliki set yang lebih khusus.[5]

Mazmur adalah puisi alkitabiah. Kata bahasa Inggris “Mazmur” berasal dari bahasa Yunani psalmos, yang pada gilirannya digunakan untuk menerjemahkan kata mizmor Ibrani, yang secara harfiah berarti “lagu.” Jadi dalam pengertian yang paling mendasar, Mazmur adalah sebuah nyanyian atau puisi alkitabiah.[6]

Dalam sejarah Israel, ketika mereka menyampaikan sesuatu kepada Tuhan, mereka melakukannya dengan dua cara: berdoa (memohon, menyampaikan) dan menyanyi. Dua hal ini dapat dilakukan di berbagai kondisi (krisis, bahagia, sukacita, tertekan, dll), dan kitab Mazmur mencerminkan dua tindakan ini. Nyanyian syukur mencerminkan pengalaman orang-orang percaya yang telah melewati berbagai krisis.

Kitab Mazmur itu sendiri memiliki beberapa genre. Genre Mazmur yang diklasifikasikan menurut konten tematiknya:

  1. Mazmur kerajaan (Royal psalms) yang ada hubungannya dengan raja Israel.
  2. Mazmur penobatan atau pelantikan (Enthronement psalms) ada hubungannya dengan Tuhan sebagai raja Israel.
  3. Mazmur kebijaksanaan atau hikmat (Wisdom psalms) menggambarkan tradisi hikmat Israel dan berusaha mengajarkan sesuatu kepada pembaca (atau khalayak).
  4. Mazmur penciptaan (Creation psalms), berbicara tentang Allah sebagai Pencipta dan bumi sebagai ciptaan Tuhan.
  5. Mazmur sejarah (Historical psalms) menceritakan kembali sebagian sejarah Israel.
  6. Mazmur Sion (Zion psalms) berbicara tentang Yerusalem (dan khususnya tentang Bait Suci) sebagai tempat di mana Allah berdiam.
  7. Mazmur kutukan (Imprecatory psalms) yaitu meminta Tuhan untuk menghukum mereka yang menindas pemazmur atau komunitas pemazmur.
  8. Mazmur penitensial (Penitential psalms) yaitu meminta pengampunan.
  9. Mazmur liturgi (Liturgical psalms) memberikan petunjuk untuk ritual penyembahan.[7]
  10. Mazmur Taurat. Sebuah jenis Mazmur kebijaksanaan yang memuji Torat  Allah yang diberikan kepada kita. (Taurat berarti “hukum” atau “instruksi.”) Mazmur 1 adalah Mazmur Taurat.[8]

Setiap pasal dalam kitab Mazmur dapat kita identifikasi berdasarkan genrenya.

C. Hassell Bullock menjelaskan bahwa, dalam kitab mazmur tertuang sisi kemanusiaan (humanitas) kita. Masalah pribadi, krisis, dan ketika kegembiraan tak terungkapkan, rasa sakit kita tak terucapkan. Dalam kondisi demikian, kita merasa benar-benar ditinggalkan, ketika ke  tegangan hidup datang ke kehidupan kita dan tak terelakkan, atau ketika jiwa kita mengatasi puncak pencapaian manusia.[9] John Calvin berpendapat bahwa mengenali Mazmur akan memaksa kita untuk menjadi jujur tentang diri kita di hadapan Tuhan.[10] Memang, konteks yang disuguhkan dalam kitab Mazmur sangatlah kental dengan kehidupan nyata manusia, relasinya dengan Tuhan dan sesama, dan pergumulan, permusuhan, kebencian terhadap musud, dan permohonan.

James L. Mays menyatakan bahwa, Mazmur adalah puisi keagamaan dari komunitas tertentu (the religious poetry of a particular community).[11] Komunitas tersebut tentu adalah umat Tuhan itu sendiri yang melihat kehidupan (dengan suka dukanya) dan sekaligus melihat intervensi Tuhan dalam kehidupan manusia, termasuk mereka sendiri. Dalam perkembangannya hingga sekarang ini, orang percaya (Gereja) menggumulkan berbagai konteks kehidupan dan dari hal tersebut, Gereja melihat bagaimana tangan Tuhan menopang dan menolong mereka.

Gereja dituntut dengan mendorong kehidupan doa, membantu orang yang berdoa mengembangkan hubungan yang lebih dalam dengan Allah dan kesadaran yang lebih luas akan apa yang dibutuhkan dunia. Satu rintangan untuk berdoa yang setia semacam itu adalah gagasan yang lazim diadakan bahwa doa hendaknya bebas dari kemarahan dan frustrasi.[12] Lalu bagaimana gereja dapat berdoa dalam keadaan trauma dan ketidakadilan? Gereja—meskipun dalam kondisi tersulit—harus tetap berdoa dan menyerahkan segala sesuatu pada kehendak Allah.

Walter Brueggemann berpendapat. Pertama, Mazmur menyatakan bahwa kita harus melihat dunia dan kehidupan kita dengan cara yang sebenarnya, tidak berpura-pura, tidak ada penyangkalan. Dan kedua, mereka bersikeras bahwa semua pengalaman seperti kekacauan dan kekecewaan adalah subjek yang tepat dari wacana dengan Allah. “Realitas dunia, kebenaran tentang diri kita sendiri dapat dibawa dalam doa.[13]

Dalam konteks penafsiran, kitab Mazmur diteropong dari berbagai konteks. Pertama, Historical Interpretations (problem Interpretasi): “Interpretasi lain dari Mazmur yang tidak tepat adalah bahwa mereka (para pemazmur) hanyalah produk dari konteks sejarah. Mereka tidak selalu memaksudkan untuk mengajarkan apa-apa, atau setidaknya tidak perlu menjadi model untuk doa hari ini.” Artinya, pola doa-doa dalam Mazmur tidak menjadi contoh bagi kita sekarang ini. Model penafsiran historis (menyangkal inpirasi Kitab Suci)[14] Kedua, penafsiran alegoris: dijelaskan dalam istilah fenomenologis. Ketiga, penafsiran sosio-historis yang menyangkal pewahyuan Kitab Suci.

Bagi kita, penafsiran Mazmur tidak dapat dipisahkan dari pengakuan bahwa kitab tersebut diinspirasikan oleh Roh Kudus. Singkat kata, kitab Mazmur diwahyukan oleh Allah sendiri.

SPIRITUALITAS DALAM AYAT 12

Melihat hari-hari hidup kita, tidak lepas dari gumul juang serta bahagia yang diberikan Allah. Kesadaran akan betapa fananya hidup kita mengantar kita pada sebuah pemahaman dan keputusan bahwa “kita membutuhkan Tuhan”. Itulah spiritualitas sejati. Ketika kita merasa kuat dan hebat, maka spiritualitas menjadi hilang sama sekali. Sebaliknya, ketika kita mengakui bahwa kita fana dalam waktu, dan Tuhan kekal dan hebat, maka spiritualit  as kita terkonfirmasi dalam fakta hidup.

Spiritualitas kita tak bisa tampak kuat ketika menghindari dari gumul juang hidup. Justru ayat 12 menegaskan konteks ini. Mengitung hari-hari sama berarti memohon kepada Tuhan bahwa dalam hari-hari yang dilalui, kiranya Tuhan menguatkan, menopang, menuntun, dan memberkati. Apa pun yang kita terima dari Allah, baik atau buruk, harus mengakui bahwa itu adalah kehendak-Nya. Kita berdoa, Allah menjawab. Menurut N. T. Wright, nilai apa pun yang mungkin kita miliki datang dari kebaikan Allah, bukan kendali kita terhadap keadaan kita.[15] Doa lahir dari pengalaman, dan melalui doa, iman kita mendorong untuk menempatkan kehendak Allah di atas kehendak kita. Allah berdaulat, dan Ia menghendaki agar kita secara bijaksana menilai hidup kita sendiri.

Melalui bijaksana dari Tuhan, kita “menghitung”—dengan perkataan lain: memperhatikan dan menilai hari-hari hidup mengenai apa yang Tuhan buat bagi kita dan apa yang kita buat bagi Tuhan. Yang kita buat bagi Tuhan mencakup dua aspek: aspek menyenangkan hati Tuhan—bertindak sesuai dengan firman-Nya, dan aspek menyakiti hati Tuhan—bertindak sesuka hati tanpa peduli dengan firman-Nya.

Robert Alter menyatakan bahwa, ayat 12 menggambarkan keterbatasan eksistensi manusia yang kontras dengan keberadaan Allah yang abadi.[16] Karena terbatas, maka manusia membutuhkan Allah untuk memberinya pengajaran dalam menilai, mengamati, menghitung hari-hari yang dijalani, mencapai bijaksana yaitu tahu bahwa dalam hari-hari itu, manusia melihat apa yang Tuhan buat bagi diri mereka, dan melihat (mengakui) apa yang mereka buat bagi Tuhan, entah baik, entah buruk. Seperti di ayat 9, “kami menghabiskan tahun-tahun kami “like a sigh” [seperti keluh, ungkapan kesusahan] (Ibr. hegeh also means “murmur”—bisikan).[17]

Menghitung hari-hari berarti dalam hari-hari tersebut—sebagaimana tercatat pada ayat 9—mengandung suka dan duka. Dengan demikian, manusia bergantung pada Allah sepenuhnya untuk melihat hari-hari hidup yang ada dalam kedaulatan-Nya. Pengalaman untuk melihat perbuatan Tuhan adalah bagian dari spiritualitas (ay. 16). Pengalaman turunannya adalah “perbuatan-perbuatan tangan manusia” (ay. 17). Jadi, spiritualitas mencakup merasakan dan menikmati perbuatan tangan Tuhan dan sekaligus menikmati perbuatan tangan kita yang selaras dengan kehendak-Nya.

Hidup itu berlalu buru-buru (ay. 10). Ada penderitaan, kesukaraan, dan lain sebagainya. Kematian bisa disebabkan oleh kemarahan Allah (ay. 11). Kemarahan Allah memang mengagumkan bagi orang percaya dan menyedihkan bagi orang-orang yang tidak percaya. Ay. 13 adalah permohonan untuk memohon kemurahan Tuhan (bdk. ay. 11). Permohonan tersebut sekaligus mencakup: mengenyangkan manusia dengan kasih setia di waktu pagi (ay. 14), supaya ada sorak-sorai. Memohon agar Tuhan membuat manusia bersukacita seimbang dengan hari-hari saat mana Tuhan mengajar (mendidik) mereka (ay. 15). Spiritualitas orang percaya menempatkan diri mereka sebagai manusia yang lemah, bergumul, berjuang, dan dengan demikian, membutuhkan Allah. Spiritualitas berarti “menyadari” kondisi hidup, sekaligus “menginginkan” intervensi Allah dalam hidup.

Hidup manusia di dunia hanya sementara (fana). Kesadaran inilah yang hendak ditegaskan Musa. Karena fana, maka Tuhan adalah satu-satunya pribadi yang dapat memberikan jaminan dan kebahagiaan, serta kekuatan untuk menjalani, menghadapi suka-duka hidup.

ASPEK SPIRITUALITAS

Berdasarkan elaborasi di atas, kita sampai pada aspek spiritualitas. Ada beberapa aspek spiritualitas yang perlu kita cermati berikut ini:

Pertama, tetap beriman di masa sukar; tidak hanya memanfaatkan masa yang bahagia, tetapi juga menyeimbangkan “iman” dalam dua, tiga, atau bahkan empat kondisi (bahagia, duka, gelisah, tekanan).

Kedua, spiritualitas yang benar adalah menyeimbangkan antara iman dan pengalaman hidup bersama Tuhan dalam konteks bijaksana menilai, memahami, menghitung “hari-hari” yang dijalani, yaitu mengakui dan melihat apa yang Tuhan buat bagi kita, dan mengakui dan menilai apa yang  kita buat untuk Tuhan.

Ketiga, menyanyi (memuji-muji Tuhan) merupakan perintah Tuhan, sebab ekspresi iman tidak hanya melalui tindakan untuk berjalan pada jalan Tuhan, tetapi juga “menyanyikan” syukur, kebaikan Tuhan, pertolongan Tuhan, permohonan kepada Tuhan, dan lain sebagainya.

Keempat, bertindak sesuai dengan kehendak Tuhan dalam hari-hari yang dijalani.

Kelima, selalu mengandalkan (membutuhkan) Tuhan dalam segala hal, dalam hari-hari yang dilalui, melalui doa dan pujian. Dari sini kita menemukan konsistensi penyertaan Tuhan di sepanjang hidup.

Berdasarkan elaborasi di atas, kita dapat menarik kesimpulan bahwa spiritualitas Kristen adalah aspek signifikan yang terbentuk dari kualitas iman dan pengalaman yang diterapkan dalam konteks empat hubungan sebagaimana yang telah saya jelaskan di atas. Spiritualitas Kristen adalah level iman yang membawa seseorang kepada sikap hidup yang mengakui apa yang Tuhan buat bagi kita dan mengakui serta menyadari apa yang kita buat untuk Tuhan. Artinya segala sesuatu yang kita lakukan harus didasari pada firman dan disadari sebagai tanggung jawab iman.

Hari-hari yang kita lalui—sama seperti Musa dan umat Israel yang dipimpinnya—tidak hanya merasakan manisnya hidup, tetapi juga pahitnya hidup. Artinya, Tuhan mendidik umat-Nya untuk menikmati keseimbangan hidup—suka dan duka—di mana Tuhanlah yang bekerja untuk mendatangkan kebaikan bagi kita semua. Spiritualitas Kristen adalah jalan yang ditempuh dan dihasilkan dari berbagai kondisi di mana Tuhan mengajar dan mendidik kita untuk dapat “menghitung”, dan menilai” kehidupan sebagai karunia dari Tuhan yang patut disyukuri dan dijalani dengan penuh iman kepada-Nya.


Referensi

[1] Allen P. Ross, Kregel Exegetical Library: A Commentary On The Psalms. Volume 1 (1—41) (Grand Rapids, MI: Kregel Publications, 2011), 25.

[2] Ross, A Commentary On The Psalms, 25.

[3] James Hely Hutchinson, “The Psalms And Praise”, dalam David Firth and Philip S. Johnston (eds.), Interpreting The Psalms: Issues and Approaches (Downers Grove, Illinois: InterVarsity Press, 2005), 85-86.

[4] Rolf A. Jacobson and Karl N. Jacobson, Invitation to the Psalm: A Reader’s Guide for Discovery and Engagement (Grand Rapids, MI: Baker Academic, 2013), versi pdf.

[5] Jacobson and Jacobson, Invitation to the Psalm.

[6] Jacobson and Jacobson, Invitation to the Psalm.

[7] Jacobson and Jacobson, Invitation to the Psalm.

[8] Jerome F. D. Creach, Six Themes Everyone Should Know: Psalms (Louisville, Kentucky: Geneva Press, 2019).

[9] C. Hassell Bullock, Encountering  the Book of Psalms: A Literary and Theological Introduction (Grand Rapids, MI: Baker Academic, 2018)

[10] John Calvin, Commentary on the Book of Psalms, trans. Henry Beveridge (Grand Rapids: Baker, 1979), 1:xxxvii.

[11] James L. Mays, Psalms Interpretation: A Bible Commentary for Teaching and Preaching (Louisville, KY: Westminster John Knox Press, 1994), 8, dikutip Creach, Psalms (Louisville, Kentucky: Geneva Press, 2019).

[12] Creach, Psalms.

[13] Walter Brueggemann, The Message of the Psalms (Minneapolis: Fortress, 2002), 52 dikutip Daniel Michael Nehrbass, Praying Curses: The Therapeutic and Preaching Value of the Imprecatory Psalms (Eugene, OR: Wipf and Stock Publishers, 2013)

[14] Nehrbass, Praying Curses.

[15] N. T. Wright, The Case for the Psalms: Why They Are Essential (EPUB Edition JULY 2013).

[16] Robert Alter, The Book of Psalms: A Translation with Commentary (New York: W. W. Norton & Company, 2009).

[17] Alter, The Book of Psalms.


Artikel ini masih bersifat bahan mentah, belum dilakukan pengkajian eksegetis, melainkan hanya pada tataran aplikatif. Artikel ini bisa digunakan sebagai bahan perenungan atas hidup, iman, pengalaman, dan spiritualitas Kristen.

Sumber gambar: Unsplash

KARAKTER KRISTEN

Hal utama pada diri manusia adalah soal bagaimana ia menerapkan apa yang ada pada dirinya. Apa yang diterapkan (keluar) dari diri adalah—pada umumnya—cerminan dari diri itu sendiri. Lazimnya, orang-orang akan dapat menilai seseorang dari apa yang tampak dari dirinya. Itulah “karakter” [watak, tabiat, akhlak, budi pekerti] yang nyata. Seperti yang ditegaskan Yesus, bahwa “Dari buahnyalah kamu akan mengenal mereka….” (Mat. 7:16). Yesus mengantisipasi munculnya nabi-nabi palsu yang menyamar seperti domba, padahal mereka adalah serigala yang buas. Dan menurut Yesus: “Demikianlah setiap pohon yang baik menghasilkan buah yang baik, sedang pohon yang tidak baik menghasilkan buah yang tidak baik.” Konsekuensi logisnya adalah: sesuatu yang baik mengeluarkan yang baik, sedangkan sesuatu yang buruk mengeluarkan yang buruk.

Seperti yang kita tahu, bahwa “baik dan buruk” dapat dinilai berdasarkan tiga aspek: pertama, aspek pengajaran Kitab Suci; kedua, aspek pendapat dan pengamatan orang lain; dan ketiga, aspek pendapat dan pengamatan diri sendiri. Kitab Suci tentu merupakan dasar teori dan praktik, tentang bagaimana karakter manusia dibentuk dan dipertahankan. Ajaran-ajaran Kitab Suci merupakan pendorong bagi manusia untuk meneladani Allah sebagai Sumber Kebenaran, Kekudusan, dan Kesucian. Apa yang Tuhan kehendaki (“yang baik”) haruslah dilakukan dengan penuh ketaatan kepada-Nya, dan apa yang Tuhan larang (“yang buruk”), haruslah tidak dilakukan atau dijauhkan dari diri kita.

Dari pendapat dan pengamatan orang lain, kita juga dapat menerima konsep “baik dan buruk”. Pada tataran ini manusia bisa terjebak—bisa melakukan hal buruk (jahat) yang dianggap baik oleh orang lain, dan melakukan hal baik yang dianggap buruk oleh diri sendiri dan orang lain yang tidak setuju dengan konsep baik tersebut.

Pemahaman tentang “baik dan buruk” secara etis menimbulkan perbedaan. Perbedaannya seringkali terletak pada bagaimana seseorang menilai isi dari sesuatu, menilainya pada tujuan dari sesuatu; dan yang lain menilainya berdasarkan motivasi untuk melakukan sesuatu. Baik isi, tujuan, dan motivasi adalah tiga hal yang mendasar, yang menimbulkan perbedaan pemahaman.

Dalam pandangan Kitab Suci (Alkitab), segala sesuatu yang baik dilakukan dengan berdasar pada motivasi yang benar, jujur, dan tulus di hadapan Tuhan, serta didorong oleh kuasa Allah. Rasul Paulus menegaskan, bahwa “Allah turut bekerja dalam segala sesuatu untuk mendatangkan kebaikan bagi mereka yang mengasihi Dia, yaitu bagi mereka yang terpanggil sesuai dengan rencana Allah (Roma 8:28). Segala sesuatu yang baik datangnya dari Allah dan bertujuan agar mereka yang terpanggil menerima kebaikan Allah. Bahkan, Rasul Paulus menjelaskan bahwa, segala sesuatu harus dilakukan dalam nama Tuhan Yesus: “Dan segala sesuatu yang kamu lakukan dengan perkataan dan atau perbuatan, lakukanlah semuanya itu dalam nama Tuhan Yesus, sambil mengucap syukur oleh Dia kepada Allah, Bapa kita” (Kolose 4:9).

Motivasi yang benar, jujur, dan tulus, tampak pula dalam nasihat Rasul Paulus yakni: “Janganlah membalas kejahatan dengan kejahatan; lakukanlah apa yang baik bagi semua orang!” Di sini sangat jelas bagaimana seorang yang percaya kepada Yesus Kristus, hidup dengan motivasi yang benar tatkala melakukan segala sesuatu. Pengamatan tentang “baik dan buruk” terhadap segala sesuatu bisa menimbulkan permasalahan—apalagi dinilai bukan berdasarkan pandangan Kitab Suci. Kita perlu mengikuti pengamatan orang lain jikalau apa yang diamati itu berdasarkan prinsip-prinsip Kitab Suci.

Pada aspek pendapat dan pengamatan diri sendiri, konteks “baik dan buruk” juga akan mengalami masalah sama seperti pada pengamatan orang lain. Baik pengamatan diri sendiri maupun orang lain akan menjadi pemahaman yang benar ketika didasari pada prinsip-prinsip Alkitab. Siapa saja tentu bisa menilai (atau memahami) konsep baik dan buruk. Tetapi seringkali—ketika prinsip-prinsip Alkitab tidak digunakan—atau barangkali digunakan tetapi salah memahaminya—akan menimbulkan masalah yang besar dalam diri seseorang dan relasinya setiap hari.

Karakter Kristen mengunggulkan prinsip-prinsip Alkitab untuk menjembatani dirinya dengan Tuhan. Tuhan senang dengan orang yang setia dan taat pada firman-Nya. Sebaliknya, Tuhan membenci orang yang jahat dan suka melawan firman-Nya. Ketika manusia berusaha membuat jembatan secara sendiri, maka pasti jembatan itu tidak mengarahkannya pada Tuhan, melainkan pada tujuan yang dirancang untuk memuaskan hawa nafsunya. Sebalknya, ketika Tuhan yang membuat jembatan, mutlak kita diarahkan kepada diri-Nya sendiri.

Karakter Kristen mengedepankan nilai-nilai supremasi Alkitab yang pada tataran tertentu, nilai-nilai itu dapat mengubah orang lain. Dengan demikian, karakter Kristen adalah pengejawantahan (perwujudan) iman yang dibuktikan melalui perbuatan. Benarlah apa yang dikatakan Rasul Yakobus: “Jika iman itu tidak disertai perbuatan, maka iman itu pada hakekatnya adalah mati” (Yakobus 2:17); “Hai manusia bebal, maukah engkau mengakui sekarang, bahwa iman tanpa perbuatan adalah iman yang kosong?” (Yakobus 2:20); “Sebab seperti tubuh tanpa roh adalah mati, demikian jugalah iman tanpa perbuatan-perbuatan adalah mati” (Yakobus 2:26).

Sudah jelas bahwa karakter Kristen didasarkan pada iman dan perbuatan. Keduanya harus sejalan dan terejawantahkan secara natural—bukan paksaan. Oleh sebab itu, terkait dengan konteks pengejawantahan iman dan perbuatan dari karakter Kristen, saya mencatat lima hal sebagai berikut:

Pertama, karakter Kristen MEREFLEKSIKAN pribadi Tuhan yang terejawantahkan dalam kata, perbuatan, dan pikiran. Beberapa kutipan dari tulisan Rasul Paulus di atas cukup untuk memberikan gambaran tentang konteks ini. Setiap orang Kristen—seluruh hidupnya haruslah merefleksikan (mencerminkan, memantulkan) pribadi Tuhan yaitu: pengasih, pengampun, penolong, dan pemberi. Orang Kristen juga harus merefleksikan sifat -sifat Tuhan: kudus, adil, benar, dalam totalitas hidupnya. Jadi, teladannya bukanlah pada manusia biasa melainkan pada Sang Pencipta, Yesus Kristus. Kita menilik pada Sang Pencipta. Itulah standar yang paling tinggi.

Kedua, karakter Kristen MEREPRESENTASIKAN (mewakili, bertindak atas nama) Tuhan. Ini sangat luar biasa. Tidak hanya merefleksikan Tuhan, orang Kristen juga merepresentasikan Tuhan dalam melakukan segala sesuatu yang selaras dengan kehendak-Nya. Sejalan dengan itu, karakter Kristen sungguh-sungguh diletakkan pada pribadi yang paling tinggi sehingga karakter yang dihasilkan adalah suprematif.

Lalu, bagaimana dengan orang Kristen, para pendeta yang melakukan dosa di hadapan Tuhan? Jawaban sederhananya adalah “karena mereka gagal melihat Tuhan sebagai teladan yang baik”. Mereka (para pendosa) lebih memuaskan hawa nafsunya ketimbang menyenangkan hati Tuhan. Kegagalan para pendeta dan orang Kristen dalam menerapkan karakter yang selaras dengan kehendak Tuhan, tidaklah menjadi sebuah fakta “meng-generalisasi-kan” dengan semua orang Kristen. Mereka yang berdosa dan melakukan dosa [melanggar aturan Sang Pencipta] bukanlah salah dari ajaran Alkitab, melainkan karena mereka lebih mementingkan hawa nafsunya.

Ketiga, karakter Kristen BERORIENTASI pada KESADARAN BAHWA HIDUP ADALAH ANUGERAH DARI TUHAN. Karenanya, hidup itu harus dijalani dengan rasa takut akan Tuhan (berhikmat), menjauhi kejahatan (berakal budi yang baik), dan mengandalkan Tuhan dalam segala hal. Pada konteks ini, orientasi karakter Kristen pada sebuah kesadaran menggiring pemahaman bahwa Roh Kudus akan memampukan kita untuk melakukan apa yang dikehendaki Allah, apa yang baik, yang berkenan kepada Allah.

Keempat, karakter Kristen menekankan KETAATAN dan KESETIAAN kepada Tuhan. Percaya kepada Tuhan dibarengi dengan sikap taat kepada-Nya. Taat dalam pengertian ini adalah tahu bahwa kita percaya, tahu bahwa kita beriman kepada-Nya, tahu bahwa kita diberikan tanggung jawab untuk melakukan firman-Nya dari hari ke hari, dan tahu bahwa apa Tuhan memberikan upah bagi mereka yang taat dan setia. Kesetiaan berarti hanya Tuhan yang menjadi harapan dan tujuan satu-satunya dalam hidup. Hanya Tuhan yang menjadi pegangan hidup kita.

Kelima, karakter Kristen melihat secara ESKATOLOGIS bahwa apa yang telah ditabur dalam kebaikan, akan menuai kebaikan pada akhirnya. Ada harapan yang gemilang ketika kita mempersembahkan diri kepada Tuhan. Tidak hanya harapan, melainkan ada pula jaminan bagi mereka yang taat dan setia melakukan segala sesuatu yang berkenan kepada-Nya yaitu: “kehidupan yang kekal”. Inilah harapan eskatologis—harapan yang kuat.

Dengan demikian, karakter Kristen yang mencakup refleksi, representasi, orientasi pada kesadaran, ketaatan dan kesetian, dan eskatologis, perlu dipahami dan diterapkan secara masiv di kehidupan sekarang dan seterusnya. Karakter Kristen perlu menjadi “cahaya” yang menerangi langkah kita.

Kita dipanggil bukan hanya menikmati anugerah, rahmat, dan berkat Tuhan, melainkan juga berbuat sesuatu yang berkenan kepada-Nya secara bertanggung jawab dan sadar.

Kita dipanggil bukan untuk bersantai-ria, tetapi kita didorong untuk bergerak menunjukkan karakter Kristen, yang dengannya nama Tuhan dipuji dan dimuliakan, dan orang lain mendapatkan berkat dari segala sesuatu yang kita lakukan berdasarkan karakter Kristen yaitu: (1) merefleksikan pribadi Tuhan yang terejawantahkan dalam kata, perbuatan, dan pikiran; (2) merepresentasikan (mewakili) Tuhan; (3) berorientasi pada kesadaran bahwa hidup adalah anugerah dari Tuhan; (4) menekankan ketaatan dan kesetiaan kepada Tuhan; dan (5) melihat secara ESKATOLOGIS bahwa apa yang telah ditabur dalam kebaikan, akan menuai kebaikan pada akhirnya.

Salam Bae.

Sumber gambar: Unsplash

PENGAMPUNAN ALLAH TAK SELEBAR DAUN KELOR

Pengampunan Allah—dalam sejarahnya—tidak didasarkan pada “ucapan Allah saja” melainkan juga melalui “tindakan”. Apa tindakan Allah untuk mengampuni manusia? Pertama-tama kita disuguhkan dengan kisah kejatuhan manusia dalam dosa, Adam dan Hawa “tidak mengikuti perintah Allah”. Akhirnya mereka “berdosa”—sebuah tindakan gegabah dan mau melawan Allah yang telah memberikan pedoman dan perintah untuk tidak bertindak di luar dari apa yang Allah kehendaki.

Allah kemudian menyatakan sebuah hukuman—tentunya melalui sebuah perkataan [ucapan]—bahwa baik Adam, Hawa, dan Ular, semuanya mendapat hukuman karena Allah sendiri yang “mengatakan” demikian. Tindakan Allah kemudian adalah “menutupi ketelanjangan manusia” dengan kulit binatang: “Dan Allah membuat pakaian dari kulit binatang untuk manusia dan untuk isterinya itu, lalu mengenakannya kepada mereka” (Kejadian 3:21).

“Kulit binatang” yang dibuat untuk pakaian haruslah melewati proses kematian dan pencurahan darah dari binatang itu sendiri. Konsep dan fakta ini kemudian menjadi dasar bagaimana Allah “mengampuni umat-Nya” dari dosa-dosa mereka. Zaman Musa, Allah memakai cara “kematian dan pencurahan darah kurban-kurban binatang” agar umat-Nya merasakan pengampunan dan perkenanan Allah atas mereka. Dosa mereka diampuni Allah dengan cara Allah sendiri. Musa tidak menetapkan cara mengampuni dosa, melainkan Allah saja.

Jadi, poin penegasannya adalah Allah mengampuni tidak hanya melalui “ucapan [perkataan] saja” melainkan juga melalui “tindakan”. Dua hal substansial inilah yang kemudian secara final dilakukan Allah dalam skema inkarnasi Sang Logos Ilahi, masuk ke dalam dunia yang berdosa. Jika pengampunan Allah hanya melalui “perkataan” saja, maka pengampunan itu hanya selebar daun kelor. Tidak demikian dengan skema pengampunan yang dipahami dan diimani Kristen.

Pengampunan Allah tidak selebar daun kelor; pengampunan-Nya luas dan dalam, tinggi dan lebar, tak terukur; kasih-Nya dinyatakan kepada manusia berdosa melalui pengampunan. Pengampunan yang menyatukan antara perkataan dan tindakan “Allah berfirman [berkata]” dan “Allah bertindak” adalah dua fakta untuk menunjukkan pengampunan Allah yang luas, tak terukur dan tak terkira itu, dan Yesus Kristus yang adalah “cahaya kemuliaan Allah dan gambar wujud Allah”—Firman yang menjadi “daging”—datang untuk menyatakan “tindakan kasih Allah yang luar biasa”.

Kekristenan percaya bahwa pengampunan Allah itu luar biasa, tidak selebar daun kelor; tak sekecil yang kita duga dan pahami. Pengampunan itu sendiri dinyatakan kepada kita melalui “firman” dan “tindakan”—sebuah keutuhan yang logis dan konsisten. Allah menunjukkan konsistensi-Nya kepada manusia, Sang Logos [Firman] bertindak menjadi manusia untuk mewujudkan pengampunan Allah bagi manusia berdosa. Ketika Allah mengatakan “Aku akan mengampunimu”, maka pasti Ia akan bertindak bukan dengan perkataan lagi, melainkan dengan “tindakan”.

Perjanjian Lama telah memberikan gambaran mengenai konteks tersebut, di mana binatang yang dikurbankan adalah pertanda bahwa pengampunan itu haruslah ditempuh bukan lagi dengan perkataan, melainkan dengan tindakan. Tindakan Allah melahirkan tindakan manusia. Manusia harus mempersembahkan kurban karena itulah adalah perintah Allah untuk pengampunan yang diberikan Allah.

Pengampunan itu tidak sekerdil yang kita bayangkan, tak semudah yang kita pikirkan: asal bicara kepada Allah: “Saya mengakui dosa-dosa saya, ampunilah saya, ya Allah”. Tidak, tidak semudah berkata. Allah menawarkan tindakan yang memang hanya Dia yang berhak menyatakan tindakan itu sebagai bagian dari pengampunan dosa.

Pengampunan itu adalah “tindakan Allah” yang mencakup “kematian dan pencurahan darah [binatang yang dikurbankan]. Gambaran ini pula dinyatakan Allah dalam diri Yesus Kristus, yang dalam keadaan-Nya sebagai manusia, menjadi kurban yang sempurna, mati disalibkan, dan darah-Nya dicurahkan. Yesus tidak hanya mengampuni tetapi juga menjamin mereka yang oleh-Nya Ia tebus. Ia pula mengajarkan bahwa mereka yang hidup dan percaya kepada-Nya harus menyatakan sikap hidup yang kudus, menyatakan KASIH dan PENGAMPUNAN terhadap sesamanya.

Pengampunan mengarahkan kehidupan kita kepada kesadaran bahwa Allah tidak hanya mengasihi kita, tetapi menuntun hidup kita, dan mengarahkan langkah hidup kita kepada firman-Nya, kekudusan, kesucian, kebenaran, dan sukacita sorgawi. Tak hanya itu, pengampunan yang Allah berikan, menyadarkan kita bahwa kita tak mampu melepaskan diri dari dosa kecuali kita diberikan kemampuan “menyadari” bahwa dosa adalah tindakan yang dibenci Allah. Jika Allah membenci dosa, demikianlah orang yang percaya membenci dosa.

Jika melihat pengampunan yang Allah tunjukkan kepada kita melalui Yesus Kristus, maka pengampunan itu begitu besar, disediakan Allah bagi kita. Jangan kerdilkan pengampunan Allah; jangan pahami bahwa pengampunan Allah hanya selebar daun kelor. Pengampunan Allah itu besar, karena hanya Dia sajalah yang dapat mengampuni mereka yang telah dipilih-Nya dari semua suku bangsa; pengampunan Allah atas manusia berdosa tak dapat diukur dan dibatasi. Dia berhak mengampuni siapa saja yang dikehendaki-Nya.

Jangan bermegah diri jika “sudah merasa” diampuni dan membuat efek kejut “menghardik Virus Corona” atau menganjurkan pakai minyak urapan untuk menangkal Virus Corona. Jangan buat yang aneh-aneh; cukup sadari kemalangan kita dan bagaimana Allah mengampuni kita melalui Yesus Kristus yang telah mati, bangkit, dan naik ke surga.

Ia yang berkuasa mengampuni kita telah menunjukkan jangkauan pengampunan yang luas dan tak terkira. Pengampunan Allah tak selebar daun kelor. Oleh karena itu, mari kita memahami dan mengabarkan bahwa pengampunan Allah itu sungguh luar biasa; dengan pengampunan kita dapat bersukacita, kita dapat bergemah dalam Tuhan, bukan bermegah dalam ego kita sendiri.

Jika Allah telah mengampuni kita, maka kita pun harus mengampuni setiap orang yang bersalah kepada kita. Kita diingatkan melalui doa yang Yesus katakan (Matius 6:9-13):

Bapa kami yang di surga,

Dikuduskanlah nama-Mu,

datanglah kerajaan-Mu,

jadilah kehendak-Mu di bumi seperti di surga.

Berikanlah kami pada hari ini makanan kami secukupnya dan AMPUNILAH KAMI AKAN KESALAHAN KAMI, SEPERTI KAMU JUGA TELAH MENGAMPUNI ORANG YANG BERSALAH KEPADA KAMI; dan janganlah membawa kami ke dalam pencobaan tetapi lepaskanlah kami dari pada yang jahat.

Tuhan memberkati kita semua.

Salam Bae

Sumber gambar: Google Image

“ANDREIA”

Kata “keberanian” adalah adalah sebuah sikap atau langkah yang diambil untuk melakukan sesuatu. Keberanian bersifat aktif. Keberanian memiliki konteks tersendiri dan tidak semua hal membutuhkan keberanian. Hanya hal-hal tertentu saja membutuhkan keberanian.

Keberanian itu sendiri didorong, terjadi, tercipta, dan muncul karena adanya situasi atau kondisi yang mengikatnya. Tak ada keberanian yang muncul secara terpisah dengan konteks yang sedang melingkupi seseorang. Dengan demikian, keberanian memperlihatkan eksistensinya dalam hal-hal tertentu yang dengannya, jatidiri, identitas, iman, keyakinan, harapan, dan prinsip hidup dapat diwujudkan, diaplikasikan, dikonfirmasi, dan bertambah teguh.

Filsuf Yunani yang bernama Plato, pernah membahas dan memberikan definisi terhadap kata “keberanian”. Keberanian (Yun. “andreia”; dengan sebutan yang berasal dari kata itu yakni “andrea” dan “andria”) melingkupi segala situasi yang dialami seseorang di mana ia secara yakin memelihara keyakinan itu. Kata “andreia” itu sendiri digunakan sebagai implikasi dari rasa yakin seseorang untuk mencapai sesuatu.

Menurut Plato, “dalam semua situasi” seorang pemberani akan tetap memelihara keyakinan itu—pada saat menderita atau merasa hikmat, pada saat penuh keinginan dan pada saat didera ketakutan—dan tidak pernah membuang keyakinan itu dari jiwanya.” (The conservation of the conviction which the law has created by education about the fearful things […] And by the phrase ‘under all conditions’ I mean that the brave man preserves it both in pain and pleasure and in desires and fears and does not expel it from his soul” [The Republic 429c]).

Keberanian tersimpan dari diri manusia dan muncul pada situasi-situasi tertentu. Keberanian tidak hanya berbicara menaggapi sesuatu tetapi berani menghadapi sesuatu, memegang sesuatu (konsisten) dan tak mudah berubah pikiran. Pada “andreia” terletak komitmen yang teguh untuk siap menghadapi apa pun yang merintangi langkah-langkahnya. Hanya mereka yang berani dalam menguji diri sendiri seberapa kuat ia menghadapi dan seberapa jauh ia melangkah.

Mereka yang berani adalah mereka yang tentu bijaksana dalam menampilkan “andreia” mereka. Andreia bukan sembarang andreia, tetapi selalu ada pemikiran bahwa andreia yang ia miliki tidak menjadi sia-sia. “Siapa yang berani adalah mereka yang telah berpikir untuk merencanakan sesuatu, entah rencana jangka pendek, maupun jangka panjang.”

Andreia adalah milik mereka yang tak mudah putus asa; milik mereka yang yakin akan pimpinan Tuhan. Ia tahu bahwa ia tidak sendiri menghadapi hidup; bahkan andreia yang ia miliki tak akan terbuang sia-sia ketika ia dengan yakin bahwa ia telah mampu melakukan secara nyata perbuatan-perbuatan dari imannya kepada Tuhan.

Andreia adalah kekuatan hidup dan prinsip seseorang. Mungkin, andreia dapat pudar, tetapi tak ada kata “menyerah” bagi mereka yang telah terbiasa menunjukkan keberanian bertindak dan menghadapi berbagai persoalan.

Dengan demikian, kita patut menunjukkan “andreia” pada konteks-konteks tertentu untuk mencapai tujuan hidup. Keberanian sangat dibutuhkan dalam kondisi sekarang ini, mengingat kita diperhadapkan dengan banyak pilihan yang mungkin saja menurunkan level iman kita. Andreia hadir dan memberikan terang bagi langkah kita serta mengarahkan hati dan pikiran kita ke arah yang Tuhan kehendaki.

Mereka yang bersyukur atas apa yang Tuhan buat dalam kehidupan mereka, entah baik, entah malang, entah sukacita, entah dukacita, adalah mereka yang berani. Itulah sebabnya, andreia patut kita pertahankan untuk menggapai hal-hal yang kita yakini dapat memberikan kebahagiaan dan berkat terutama berkat bagi orang lain ketika kita sendiri telah terberkati oleh Tuhan

Salam Bae

Sumber gambar: Unsplash

KITA DAN MASALAH “DUNIAWI” BERTEOLOGI

Sumber gambar: Pinterest

“Rohani” dan “duniawi” adalah dua ciri (identitas) manusia jika dilihat dari perspektif iman Kristen. Manusia rohani menunjukkan perilaku bahwa ia adalah milik Tuhan dan hidup di dalam kasih-Nya, sedangkan manusia duniawi menunjukkan perilaku bahwa ia adalah miliknya sendiri atau milik Iblis, atau milik sesuatu yang ia tentukan sendiri.

Dalam bertelogi, kita dapat melihat dan menilai dua jenis manusia tersebut. Bagi mereka yang rohani, mengutamakan prinsip kredibilitas, integritas, dan kasih, adalah hal yang utama. Dari hal-hal tersebut, mereka mendapatkan upahnya dari Tuhan dan sesama. Bagi mereka yang duniawi, mengutamakan diri sendiri sebagai yang paling penting, dan merasa iri jika ada saingan, mengutamakan kepopuleran semata dan menjadi sombong (egosentris) dalam segala sesuatu, selalu menciptakan masalah, dan sembrono dalam berteologi.

Dua identitas tersebut mewarnai corak berteologi di Indonesia dan juga menjadi ciri khas denominasi. Akan tetapi, dua identitas tersebut lambat laun bisa bertukar tempat. Mereka yang dulunya terlalu rohani, kini berubah menjadi sombong rohani. Mereka yang dulunya sombong rohani, kini berubah menjadi rendah hati dan rohani, menghargai perbedaan pendapat dan menempatkan konteks itu ke dalam ranah “pilihan dan prinsip hermeneutika”.

Pergulatan dogmatis—teologis memperguncingkan sebuah keyakinan denominasi atau bahkan arogansi teologi di mana “nalar” menavigasikan fitur-fitur internal, misalnya emosi, kepuasan, keegoisan, kesombongan akademis (gelar dan keilmuan), lokus studi (misalnya di luar negeri yang bergengsi), yang pada gilirannya “orang-orang” tertentu terjebak dalam rantai “dosa intelektual”. Dosa jenis ini sejatinya memperlihatkan tiga aspek:

Pertama, memamerkan kesombongan akademik yang berimbas kepada “salah kaprah” terhadap semua jenis teologi dan fakta teologi iman tanpa adanya penelitian (pengamatan dan analisis) yang bersifat solidisme.

Kedua, memamerkan penghakiman terhadap orang lain tanpa dibarengi dengan pemahaman yang komprehensif. Misalnya ketika seseorang dulunya berada dalam kesesatan, lalu ia bertobat, dan kisah pertobatannya belum diketahui secara umum, maka ketika ada penghakiman terhadap orang tersebut, di situlah ia sedang memberikan penghakiman yang keliru.

Ketiga, mengandalkan lokus studinya, seolah-olah lokus tersebut merupakan presentasi dari “kebenaran” yang paling benar. Lokus studi tidak menjamin sebuah prinsip kebenaran. Sebuah analisis terhadap teologi, bersumber dari kecermatan, pemahanan yang mendalam yang mencakup pencarian sumber-sumber terbaik, prinsip hermeneutik, pemaparan berdasarkan historisitas, dogmatis, dan biblikal yang kredibel, dan bukan “pada label lokus studi”.

Berbagai metode (cara mengamati) dan bernalar menghasilkan tumpukan konsep dan data teologi entah yang bernatur historis, eksegetis, maupun eisegesis; bahkan lebih parahnya lagi: paralogisme. Pada arena pertempuran ideologi dan teologi, orang-orang kemudian berlomba untuk menampilkan sejumlah gerakan akrobat agar dilihat oleh khalayak.

Tak jarang kebodohan berjalan beriringan dengan kesombongan popularitas. Asal ada “ide”, siap dijual kepada publik. Perlombaan yang tak berhadiah ini menyeret sejumlah orang untuk ikut meramaikan perlombaan tersebut. Para penonton tentu ikut berpartipasi memberi dukungan kepada “gaco” yang diandalkan. Pada akhirnya, yang tersisa adalah “lelucon-lelucon teologi” yang menciptakan lagu-lagu sumbang ke permukaan bumi ini.

Kemudian, berbagai arogansi makin mengental ketika orang-orang tertentu memperlihatkan berbagai keajaiban emosi diri untuk sekaligus menunjukkan bahwa “inilah saya”, dan “inilah potensi keilmuan saya”; “kalian cukup tahu saja bahwa memang saya bisa diandalkan, bahkan lebih andal dari lawan berpikir saya”. Fakta ini mengarahkan para pendengar dan penonton kepada sebuah lingkungan yang di dalamnya berkerumun para pengamat, pesorak, pendengar, pencemooh, provokator, dan lain sebagainya. Hal ini seringkali menimbulkan riak-riak politik agama dan menyeret berbagai “lidah-lidah sombong” untuk mencuatkan narasi-narasi kekinian yang mengandung — jika bukan arogansi akademis — pasti bumbu “kebodohan konteks”.

Publik menilainya dan kemudian menyuarakan nilai-nilai itu, sementara orang-orang tertentu masih sibuk berlomba memperebutkan popularitas diri. Percampuran nalar teologis dengan popularitas memang sulit diamati; tetapi dari buahnya kita dapat melihatnya.

Kini, kita digerakkan untuk terus melihat diri kita, apa yang kita perbuat kepada Tuhan dan sesama. Mungkin kita telah melupakan tugas dan tanggung jawab iman dan menyeret diri kita untuk masuk dalam lingkungan yang tidak mendukung realisasi tugas dan tanggung jawab iman. Kita mungkin terlalu sibuk untuk menavigasikan egoisme akademik dan melupakan identitas yang diberikan Yesus kepada semua orang percaya.

Apakah kita akan membiarkan diri kita terus-menerus seperti ini? Ataukah kita kembali aktif mendukung gerakan “bekerja dan melayani Tuhan”? Memang, melayani Tuhan memiliki banyak faset (segi). Tetapi motivasi dalam melayani, itulah yang menentukan kualitasnya. Kita terpanggil untuk menjadi saksi melalui perkataan, pikiran, dan perbuatan. Semua yang kita katakan dan perbuat, berasal dari kualitas pemikiran kita sendiri. Ketika pikiran kita didasarkan pada Alkitab dan diarahkan kepada kemuliaan Tuhan, maka pasti berkualitas.

Keilmuan teologi kita seyogianya mengarahkan orang-orang kepada kehidupan yang berkenan kepada Allah, menguatkan pemahaman mereka tentang Allah, mendorong mereka untuk mengasihi Allah dan sesama, dan menampilkan gaya hidup yang selaras dengan firma-Nya. Bukan untuk gaya-gayaaan, melainkan karena memang tuntutan spiritual yang Tuhan kehendaki memanglah demikian.

Kita diperhadapkan dengan masalah duniawi berteologi yang kemudian menggiring opini publik – dengan menilainya – sebagai dosa intelektual. Tidak hanya itu, dosa intelektual selain dari pada tiga aspek yang telah saya sebutkan di atas, tampak bahwa dosa jenis ini merambah kepada sikap yang ingin menyingkirkan orang lain yang dinilai menjadi “hambatan” atau “saingan” bagi dirinya. Fakta ini telah membuat beberapa orang merasa puas diri dengan yang dimilikinya, sementara meraka yang berjuang untuk tetap maju dalam studi terus menggeluti teologi dan faset-fasetnya dengan tujuan “berbagi kepada yang lain” selagi ia bergerak dan bernafas. Itulah panggilan yang diterimanya dari Sang Khalik.

Sebaiknya, dosa intelektual dibuang jauh-jauh. Marilah kita bersama-sama berbagi berkat dengan yang lain melalui potensi yang diberikan oleh Tuhan, melalui goresan-goresan pena iman yang diberikan Tuhan; jangan pelit ilmu, jangan simpan ilmu, tetapi berbagilah selagi engkau sehat dan kuat, selagi engkau masih dapat berpikir segar. Tuhan telah memberikan hikmat, akal budi, dan pengertian kepada kita, maka selayaknya kita menggunakannya untuk menyenangkan hati Tuhan melalui tindakan-tindakan bermanfaat.

Ingatlah pesan dari Rasul Yohanes, bahwa: “Janganlah kamu mengasihi dunia dan apa yang ada di dalamnya. Jikalau orang mengasihi dunia, maka kasih akan Bapa tidak ada di dalam orang itu. Sebab semua yang ada di dalam dunia, yaitu keinginan daging dan keinginan mata serta keangkuhan hidup, bukanlah berasal dari Bapa, melainkan dari dunia. Dan dunia ini sedang lenyap dengan keinginannya, TETAPI ORANG YANG MELAKUKAN KEHENDAK ALLAH TETAP HIDUP SELAMA-LAMANYA” (1 Yohanes 2:15-17).

Buanglah kesombongan akademis, sebab hal itu tidak dapat mengerjakan pelayanan terbaik di hadapan Tuhan, justru malah menciptakan ruang kebencian dan caci maki antara satu dengan lainnya. Teolog yang sombong (yang memancarkan dosa intelektualnya) akan menjadi bahan caci maki, dan yakinlah pengikutnya akan semakin berkurang, hari demi hari. Buanglah hal-hal duniawi dalam proses berteologi kita, tetapi arahkanlah hati, pikiran, dan tindakan kita kepada hal-hal yang memuliakan nama-Nya, mendatangkan berkat, memberi teladan, dan terlebih bersaksi bagi kebenaran Yesus Kristus.

Salam Bae……

MENCATAT KEHIDUPAN

Sumber gambar: Unsplash

Ragam makna dan pesan ada pada kehidupan yang kita jalani. Setiap proses dan perjalanan kehidupan memberi kepada kita “catatan-catatan” makna dan pesan hidup. Tugas kita, atau bahkan tanggung jawab kita adalah mencatat kehidupan agar kita dapat menyimpan semuanya dalam pikiran, perasaan, dan emosi.

Suatu saat, catatan kehidupan akan mengingatkan kita bahwa rentetan peristiwa yang dilalui telah membawa sebuah harapan dan fakta hingga kita menemukan kondisi kita sekarang ini.

Ada baiknya, catatan kehidupan itu kita buka setiap hari sembari merenungkan bahwa di setiap detik, ada “tangan yang kuat” menopang, memberkati, dan menyertai kita.

Kita aman, karena Dia melindungi dan mengasihi kita. Kita kuat karena Dia yang menopang kita. Kita bahagia karena Dia bermurah hati kepada kita.

Sungguh, alangkah baiknya jika ucapan syukur diberikan kepada Dia, Sang Khalik. Catatan kehidupan membuat kita menyadari bahwa Dia ada di balik semua peristiwa.

Kekaguman yang mendalam kepada kemurahanNya mengarahkan hidup kita kepada sebuah tujuan, yaitu: “kemuliaan”.

Di dalam kemuliaan tersimpan kekayaan hikmat, kasih, pengampunan, dan teladan. Kita yang dimuliakan Tuhan, seyogianya menunjukkan jati diri terkuat yang telah diberikanNya: hikmat, kasih, pengampunan, dan teladan.

Catatan kehidupan dimiliki setiap orang. Hanya, siapa yang melihat dan melakukan semua catatan kehidupan itulah yang akan menjadi pemenang.

Usahakanlah dirimu memperoleh kertas [hati], pena [iman], dan tinta [kasih] ketika hendak mencatat kehidupan ini.

Niscaya, kehidupanmu akan berbuah lebat, menghasilkan pengaruh, dan menjadi berkat bagi banyak orang.

Salam Bae.

ANTARA GELAR DAN KUALITAS KARYA DAN PEMIKIRAN: Catatan Reflektif atas Riak-Riak Kesombongan

Sumber gambar: Pinterest

Mungkin kita terbiasa dengan penilaian terhadap ‘gelar’ tertentu dari seseorang. Tetapi apakah itu sudah cukup menunjukkan kualitasnya? Kita pun mungkin pernah mendengar bahwa ada orang-orang tertentu yang membeli ijazah untuk mendapatkan “gelar”, meski tak ada kualitasnya sama sekali. Lalu apa yang menjadi ukurannya?

Memang, kategori nilai pada setiap orang berbeda-beda. Ada yang terpukau dengan seseorang karena gelar akademik yang disandangnya; ada yang terpesona dengan seseorang karena wibawanya; ada yang terperanjat dengan seseorang karena kemampuannya mengelola sesuatu; ada yang kagum dengan seseorang karena kualitas berpikirnya; dan ada yang menyukai seseorang karena menghasilkan berbagai jenis karya.

Dari jenis-jenis kategori nilai di atas, sulit bagi kita untuk dapat objektif—tetapi bagi mereka yang memang matang dalam memahami setiap potensi dan karya seseorang, kategori nilai dapat dilekatkan secara objektif. Seringkali tampilan luar dijadikan tameng untuk menunjukkan potensi meski hanya “seuprit” (secuil).

Yang lebih lucu lagi, ada orang-orang tertentu yang mengkategorikan “gelar” sebagai jaminan bahwa kualitas berpikirnya di atas rata-rata, meski tanpa karya nyata. Di sini, subjektivisme bermain-main dengan berbagai kepentingan di baliknya.

Tuntutan karya seringkali menjadi tidak penting bagi mereka yang telah merasa “hebat” ketika sudah memiliki gelar akademik tertentu. Riak-riak kesombongan pun tak dapat dihindari, malahan semakin tampil ke permukaan. Masing-masing menyusun strategi “puas diri” agar tak terlihat “bodoh-bodoh amat”. Polesan demi polesan diperjuangkan sampai melupakan kualitas dan karya.

Memang, kita kadang tak mampu untuk menebarkan keadilan berpikir, menilai, dan menentukan sejauh mana peran dan kualitas “gelar-gelar akademik” yang disandang oleh orang-orang tertentu. Kenyataannya ada orang-orang yang malahan asyik dengan “gelar-gelar” meskipun tata surya berpikirnya kacau balau.

Gaya menutupi kebodohan diri sendiri menjadi ajang untuk memperlihatkan apa yang dimiliki berbekal gelar-gelar akademik tadi. Tak mampu mengoreksi diri, malahan menutup jendela logika untuk hidup dalam tradisi egoisme yang kumuh dalam logika, terkungkung dalam kesombongan, dan rasa puas diri. Hampir-hampir kita tak sanggup melihat dan berkata ketika melihat kenyataan pahit ini yang menyeret “sepertiga kaum [yang merasa] beriman” untuk ikut bermain sepak takraw di alun-alun fakta hidup.

Hingga akhirnya ada celah yang dalam antara gelar dengan kualitas karya dan pemikiran. Gelar lebih unggul dibanding kualitas karya dan pemikiran. Dalam catatan sejarah, mungkin kita telah menemukan berbagai kehebatan dan kekuatan karya serta pemikiran dari orang-orang biasa, yang telah mengubah dunia.

Mereka tidak bergelar tertentu dibanding “orang-orang di luar sana” yang menganggap gelar-gelar yang disandangnya sebagai prestise tingkat dewa, namun kenyataannya pengaruhnya hanya seluas ledakan bom molotov di alun-alun kota fiktif.
Riak-riak kesombongan memang seringkali muncul. Gelar akademik menjadi perisai untuk menutupi “kebodohan-kebodohan” tertentu agar tampak memukau di depan kaum awam.

Lagi-lagi, tak dapat dipungkiri bahwa kenyataan telah memberikan kita catatan-catatan logika di mana kita dapat menyusun karya dan pemikiran dari mereka yang berdedikasi, tidak mau menyombongkan diri dengan gelar-gelar yang disandangnya, dan terlebih lagi, mau menjadi berkat bagi sesama, melalui kata (relasi), perbuatan (karya), dan pemikiran (arahan atau wejangan).

Meski dunia ini berkeliaran berbagai pemikiran, termasuk dari mereka yang bergelar tadi, namun biarlah publik yang menilai. Tetapi, jika ingin mendapatkan penilaian yang benar-benar berkualitas dan tidak diskriminatif, maka lakukanlah penilaian berdasarkan kualitas karya dan pemikiran, bukan “yang lain”.

Semoga kita dapat berkarya bagi kemuliaan nama Tuhan, bukan bagi kemuliaan diri sendiri. Marilah kita terus mengasa logika kita, sehingga menghasilkan pemikiran-pemikiran yang konstruktif (membangun), pastoralis (menggembalakan), evolutif (mengubah [mengembangkan]), optative (menyiapkan masa depan), dan efektif—situasional.

Lihatlah dunia! Lihatlah mereka yang berkarya dan berpikir, sebab tanpa karya dan pemikiran, dunia menjadi tempat yang usang, membosankan, dan tak menghasilkan kehidupan yang layak dihidupi.

Teruslah berkarya dan berpikir, yang di dalamnya kita ikut membangun diri sendiri dan membangun orang lain. Lebih dari itu semua, andalkan Tuhan, jauhkan kesombongan, dan utamakan kualitas yang telah diberikan Tuhan.

Salam Bae

Rancang situs seperti ini dengan WordPress.com
Mulai