LOGOS DAN IDENTITASNYA

Sumber gambar: Pinterest

PENDAHULUAN

Pemahaman akan personalitas Allah mencakup natur trinitas: nama, eksistensi, dan realisasi. Nama merupakan kepenuhan kepribadian dari pribadi yang mana dengan nama itu sendiri, pribadi itu dapat dikenal. Sebutan Bapa adalah suatu kepenuhan kepribadian-Nya, menegaskan bahwa Ia eksis dan Ia memiliki “Logos” yang direalisasikan-Nya pada peristiwa penciptaan.

Eksistensi merupakan konfirmasi keberadaan dan nama yang tadi muncul karena eksistensi. Eksistensi itu sendiri terbagi atas dua hal yaitu eksistensi secara faktual (ontologis) dan eksistensi secara konseptual (hanya dalam pemikiran saja). Esensi Bapa adalah “Roh” yang jika dipahami secara logis, Roh itu sendiri adalah Pribadi, sebab Bapa tak mungkin disebut Bapa jika Ia tidak eksis, jika Ia tidak memiliki Roh-Nya.

Realisasi merupakan sebuah penyataan diri Bapa ke dalam sejarah dan secara khusus pada sejarah penciptaan. Logos Bapa adalah realisasi bahwa Ia berpikir, Ia mencipta, dan Ia mewahyukan sesuatu. Dengan Logos-Nya, Bapa mencipta, dan dengan demikian Bapa telah merealisasikan Logos-Nya ke dalam dunia ciptaan.

Memahami prolog Rasul Yohanes mengenai: “Pada mulanya adalah Firman [Logos]; Firman itu bersama-sama dengan Allah dan Firman itu adalah Allah” perlu melihat pada natur eksistensialnya. Mengatakan bahwa “pada mulanya adalah Logos” menegaskan bahwa Logos itu kekal; Ia ada pada mulanya. Mengatakan bahwa Logos itu bersama-sama dengan Allah menegaskan bahwa Allah itu eksis dan kekal. Allah di sini merujuk kepada Bapa (nama yang merupakan kepenuhan dari personalitas), dan mengatakan bahwa “Firman itu adalah Allah” menegaskan secara logis bahwa yang “ada” bersama-sama Allah, yang “ada” pada mulanya pasti Ia kekal. Di sini, kesetaraan kekal antara Logos dan Allah tak dapat dipungkiri.

Yang menjadi permasalahan kemudian adalah ketika Logos menjadi daging (sarks) (lihat Yoh. 1:14). Barulah perbedaan pemahaman akan personalitas Yesus dan Bapa mencuat ke permukaan. Ada dua hal yang dipahami di sini. Pertama, eksistensi Logos secara ontologis [pra-inkarnasi], dan kedua, eksistensi Yesus secara historis [Logos pasca-inkarnasi]. Kelemahan dari mereka yang melihat Yesus sebagai “bukan Allah”, “bukan setara dengan Bapa”, “Ia adalah ciptaan”, adalah karena melihat eksistensi Yesus pada peristiwa historis. Artinya, pemahaman itu sendiri sudah berat sebelah dan mengabaikan eksistensi ontologis Logos pra-inkarnasi.

Begini. “Allah” atau “Tuhan” dari semua agama yang diakui sebagai pribadi yang “berbicara”, dan “berfirman” tentu akan mengakui pula bahwa Ia memiliki pikiran dan perkataan sejak kekal. Pikiran Allah tidak lebih rendah dari Allah. Pikiran adalah pribadi sebab Allah tak mungkin diakui sebagai pemberi firman (perkataan) jika Ia sendiri tidak memiliki pikiran. Dalam konteks ini, Yesus, Logos Ilahi yang kekal haruslah dilihat secara utuh (komprehensif) sehingga tidak terjebak dalam konsep berpikir parsial dan selektif—apriori.

Ketika berbicara mengenai pribadi Yesus, seseorang perlu memperhatikan dua hal tadi yaitu eksistensi Logos secara ontologis dan eksistensi Logos yang menjadi daging [manusia] yang kita kenal dalam diri Yesus Kristus secara historis. Untuk lebih membantu pemahaman ini, tiga aspek Filsafat Logika perlu diajukan di sini, yaitu: TERDEFINISI, TERKONTEKS, dan TERKLASIFIKASI. Namun, jika Anda tertarik, Anda bisa memulai dengan menjabarkan ketiga aspek Filsafat Logika di atas untuk menambah keyakinan Anda pada konteks Logos yang kita bicarakan di sini.

Seperti yang telah saya jelaskan di atas, bahwa Logos itu sendiri bersifat kekal (Yoh. 1:1); Ia eksis bersama-sama dengan Bapa. Logisnya, Bapa memiliki Logos sejak kekal. Eksistensi Bapa adalah juga eksistensi Logos. Begitu juga dengan eksistensi Roh. Ketiga-Nya adalah suatu kepenuhan kepribadian. Disebut pribadi (berdasarkan penyataan-Nya sendiri) karena memiliki eksistensi, logos [pikiran], dan nama. Coba Anda pikirkan jika suatu pribadi tanpa “nama” dalam pengertian khusus. “tanpa nama” juga adalah sebuah nama.

Sekarang, saya mengajak kita semua untuk melihat identitas Logos berdasarkan pemahaman biblikal—dan pada beberapa pokok, berdasarkan pemahaman logis. Ketika Logos berinkarnasi ke dalam dunia menjadi “sarks”, itu tidak berarti kemahakuasaan dan kekuatan Allah Bapa belum sempurna. Justru sebaliknya, karena kekuasaan-Nya, maka tidak ada yang mustahi bagi-Nya untuk “menjadi” manusia. Ini adalah bukti kekuasaan Allah.

Yesus sendiri mempublikasikan bahwa antara Diri-Nya dan Bapa adalah satu. Kesatuan ini menegaskan posisi kemanusiaan Yesus yang tidak mengganggu eksistensi ontologis-Nya. Mengambil kemanusiaan Yesus tapi melupakan eksistensi ontologis-Nya, adalah berat sebelah dan menimbulkan kesesatan dogmatis, biblika, dan historis. Di samping itu, Yesus pula menegaskan bahwa kehendak-Nya dan kehendak Bapa bukanlah dua hal yang berbeda (berkontradiksi) melainkan kehendak Bapa tertuang dalam keputusan kekal bahwa mereka yang percaya kepada Yesus berarti percaya kepada Sang Bapa yang mengutus Logos-Nya menjadi manusia—Logos yang berdiam sejak kekal dalam diri Sang Bapa.

Kesatuan ini mengimplikasikan semua klaim Yesus tentang agenda Inkarnasi sebagai perwujudan kehendak Bapa bagi keselamatan semua orang pilihan-Nya. Yesus menempatkan diri-Nya setara dengan Bapa di mana mereka yang percaya kepada-Nya diartikan sebagai mereka yang percaya kepada Bapa yang mengutus-Nya ke dalam dunia (bdk. Yoh. 3:16). Dalam Yohanes 10:28 dikatakan bahwa, “dan Aku memberikan hidup yang kekal kepada mereka dan mereka pasti tidak akan binasa sampai selama-lamanya dan seorangpun tidak akan merebut mereka dari tangan-Ku.” Ini klaim yang sangat luar biasa.

Otoritas (eksousia) Yesus sangat jelas. Di teks-teks lain dinyatakan adanya kesetaraan Yesus dengan Bapa-Nya dalam hal keselamatan dan mengasihi. Misalnya Yohanes 5:21, “Sebab sama seperti Bapa membangkitkan orang-orang mati dan menghidupkannya, demikian juga Anak menghidupkan barangsiapa yang dikehendaki-Nya.” Kesetaraan ini berbicara mengenai otoritas (eksousia) dan kuasa (dunamis) yang dimiliki Bapa dan Yesus. Karena Yesus adalah Logos Ilahi yang berdiam dalam diri Allah Bapa sejak kekal, maka kualitas otoritas (eksousia) dan kuasa (dunamis) adalah sama pula. Yang membedakannya adalah Logos Ilahi telah menjadi manusia. Itu hanya perbedaan luaran (dalam peristiwa historis humanitas Yesus) saja dan bukan perbedaan substansial dan eksistensi.

Keberdiaman korelasi-representatif tampak pula dalam teks Yohanes 17:21, “supaya mereka semua menjadi satu, sama seperti Engkau, ya Bapa, di dalam Aku dan Aku di dalam Engkau, agar mereka juga di dalam Kita, supaya dunia percaya, bahwa Engkaulah yang telah mengutus Aku.” Klausa “ya Bapa, di dalam Aku” meneguhkan bahwa Logos yang berinkarnasi tidak memisahkan diri-Nya secara mandiri dan melupakan sumber dari mana Logos itu berasal. Ini berarti, Yesus merepresentasikan Bapa (seperti yang muncul dalam teks-teks Injil Yohanes), maka kesetaraan itu mutlak.

Bapa tidak mungkin meninggikan diri dari Logos yang “keluar” dari diri-Nya dan Logos tak mungkin memisahkan diri dan meninggikan diri terhadap sumber dari mana Logos itu “keluar”. Klausa tersebut membuktikan bahwa Yesus setara dengan Bapa dan Yesus adalah Allah. Klausa “Aku [Yesus] di dalam Bapa” meneguhkan bahwa Logos tidak terpisah dari Pribadi Bapa. Cara memahaminya adalah “Allah memiliki Logos sejak kekal; Allah tak mungkin tanpa Logos; ketidakmungkinan itu bukan hanya sebuah gagasan atau wacana, melainkan karena itu tertulis dalam firman-Nya”.

SUBSTANSI BIBLIKA MENGENAI LOGOS

Daniel B. Walace (dalam Mounce, William D., Basics of Biblical Greek, Malang: Literatur SAAT, 2011) menjelaskan tentang identitas “logos” dalam Yohanes 1:1 dilihat dari aspek bahasa. Menurutnya:

“Kasus nominatif adalah kasus di mana subjeknya ada di dalamnya. Ketika subjek menggunakan kata kerja yang menyeimbangkan seperti ‘is’ (yaitu sebuah kata kerja yang mensejajarkan subjek dengan sesuatu yang lain), maka nomina lainnya akan muncul dalam kasus nominatif-nominatif predikat. Dalam kalimat, ‘John adalah seorang pria’, maka ‘John’ adalah subjek dan ‘pria’ adalah nominatif predikat. Dalam bahasa Inggris, subjek dan nominatif predikat dibedakan dari susunannya (subjek muncul lebih dahulu). Tidak demikian halnya dalam bahasa Yunani, karena susunan katanya agak fleksibel dan lebih banyak digunakan sebagai menekankan daripada fungsi tata bahasa saja. Selain itu, susunan kata berfungsi untuk membedakan subjek dari nominatif predikat. Misalnya, jika satu dari dua nomina mempunyai artikel tertentu maka itu pastilah subjek.

Sebagaimana telah dikatakan, susunan kata khususnya berfungsi untuk memberi tekanan. Secara umum, saat sebuah kata ditempatkan di depan klausa maka itu untuk memberi tekanan. Ketika sebuah nominatif predikat diletakkan di depan kata kerja, dalam susunannya, maka itu juga untuk menekankan. Contoh yang baik adalah Yohanes 1:1c. Versi bahasa Inggris umumnya membaca, ‘and the Word was God.’ Namun dalam bahasa Yunani, susunannya terbalik.

kai Theos en ho logos

dan Allah adalah itu Firman

Kita tahu bahwa ‘Firman itu’ adalah subjeknya karena mempunyai artikel tertentu, maka kita menerjemahkannya: ‘and the Word was God.’ Ada dua dampak teologis yang seharusnya dipikirkan: (1) mengapa ‘Theos’ ditempatkan di depan? Dan (2) mengapa tidak memiliki artikel?

Secara ringkas, posisi memang sengaja menekankan inti atau kualitasnya: ‘Apa Allah, begitulah Firman itu.’ Nuansa sebuah terjemahan perlu menekankan ini. Tidak munculnya artikel tertentu mencegah kita menyamakan ‘Pribadi’ sang Firman (Yesus Kristus) dari ‘Pribadi’ Allah (Bapa). Katakanlah, susunan kata memberitahu kita bahwa Yesus Kristus memiliki semua tabiat ilahi yang dimiliki sang Bapa; tidak adanya artikel menyatakan pada kita bahwa Yesus Kristus bukanlah sang Bapa. Cara Yohanes menulis di sini amatlah indah dan padat! Bahkan salah satu pernyataan teologis yang paling agung yang pernah ditemukan. Sebagaimana Martin Luther berkata, tidak adanya artikel ini adalah untuk melawan Sabelianisme; sedangkan susunan katanya melawan Arianisme.

Cara lain menyatakan ini dapat dilihat dari bagaimana kontruksi bahasa Yunani menjelaskannya:

kai ho logos en o Theos

‘dan Firman itu adalah sang Allah’ (yaitu Bapa – pandangan Sabelianisme)

kai ho logos en Theos

‘dan Firman itu adalah suatu allah’ (pandangan Arianisme)

kai Theos en ho logos

‘dan Allah adalah Firman itu’ (pandangan Ortodoks)

Yesus Kristus adalah Allah dan memiliki semua tabiat yang dimiliki Bapa. Namun Dia bukanlah pribadi pertama dalam Trinitas. Semua ini secara singkat dinyatakan dalam ‘kai Theos en ho logos’”.

ELABORASI HISTORIS SIGNIFIKAN SOAL LOGOS

Pertama, menurut Enns (The Moody Handbook of Theology, 263):

Kata “adalah” (Ing. “was”) dalam kalimat, “Pada mulanya adalah Firman” adalah kata Yunani hen, dalam bentuk tense imperfek yang menekankan keberadaan yang terus-menerus pada waktu yang lampau. Frasa itu dapat diterjemahkan, “Pada mulanya adalah Firman yang terus-menerus ada.”

Kedua, menurut Leon Morris, tidak pernah ada suatu waktu di mana Firman itu tidak ada. Tidak pernah ada sesuatu pun yang tidak bergantung pada-Nya untuk keberadaan-Nya. Kata kerja “adalah” secara paling natural dimengerti sebagai keberadaan yang kekal dari Firman itu. ‘Firman it uterus menerus ada” (Morris, The Gospel According to John, Grand Rapids: Eerdmans, 1971, 73, dikutip Enns, Moody Handbook of Theology, 295).

Ketiga, dalam Kolose 1:17, Paulus menyatakan, “Ia ada terlebih dahulu dari segala sesuatu dan segala sesuatu ada di dalam Dia”, menekankan sekali lagi tentang kekekalan dan praeksistensi Kristus melalui penggunaan bentuk tensa waktu sekarang (Enns, Moody Handbook of Theology, 264).

Keempat, Logos dalam Yohanes 1:1, mempunyai makna yang sangat kaya, sebagai sumber dan bukti bahwa Yesus, Logos Ilahi itu datang mengunjungi dunia dengan “menjadi manusia”. Erickson menegaskan bahwa sebenarnya yang dikatakan Yohanes ialah, “Yang Ilahi (atau Allah) adalah Firman” (Theos en ho logos). Dengan mendahulukan ‘Theos” sebagai kontras terhadap susunan kata dari anak kalimat yang sebelumnya, Yohanes menjadikan pernyataan ini sangat kuat. Yohanes menyatakan bahwa Firman itu adalah setara dengan Allah namun berbeda pula dengan Allah (Erickson, Teologi Kristen, 324-25).

Kelima, Linwood Urban mengutip pernyataan Philo soal logos sebagai berikut: “Selagi Allah ada secara ontologis sebagai (nama yang sama) analogi dari Yang Esa Dia sementara itu adalah dua berkenan dengan Kekuasaan, Kebaikan dan Kewenangan-Nya yang paling tinggi dan paling pertama; dengan Kebaikan Dia memperanakkan alam semesta dan dengan otoritas-Nya Dia memerintah apa yang sudah diciptakan-Nya. Dan ada hal ketiga yang – ada di antara mereka – membawa keduanya bersama-sama, yaitu Logos-Nya, karena dengan Logos, Allah adalah pemerintah dan kebaikan, kedua-duanya. …Logos itu dilahirkan di dalam akal budi Allah sebelum segala sesuatu dan dimanifestasikan dalam hubungan dengan semua hal (Philo, The Cherubim, bag. 227 dst., dikutip Linwood Urban, Sejarah Ringkas Pemikiran Kristen, Jakarta: BPK Gunung Mulia, 2003, 61). Dengan demikian, Philo memiliki konsepsi tentang Allah (Yang Esa dan Ada), yang juga disebutnya Bapa, dan tentang Logos, yang disebutnya Anak (Philo, Husbandry, bag. 50-52. Urban, Sejarah Ringkas Pemikiran Kristen, 61).

Keenam, Philo membedakan antara “logos” dan “akal budi”, dan dengan demikian keduanya dipandang berbeda dan terpisah; “logos” pernah tidak ada, karena “logos” lahir dalam akal budi. Namun, yang menjadi pertanyaannya: kapan “logos” lahir dalam akal budi Allah, dan di sini tidak jelas apakah Allah menciptakan logos dengan menggunakan logos atau menggunakan akal budi-Nya. Urban menganalisis bahwa, Philo membuat hal ini jelas bahwa Logos adalah sumber pemerantaraan yang berdaya cipta dan memerintah. Philo sesekali berbicara tentang Logos sebagai Allah dan terkadang sebagai yang berdiri di tempat Allah. Namun, hubungan yang pasti antara Logos-Anak dan Allah Sang Bapa tidak jelas; juga tidak jelas hubungan apa yang ada antara Bapa dan Anak di satu pihak dengan Roh Kudus di lain pihak yang juga dibicarakan oleh Philo (Urban, Sejarah Ringkas Pemikiran Kristen, 61).

Ketujuh, Harry A. Wolfson mengemukakan bahwa, bagi Philo ada tiga tahap temporal dari Logos. Pada tahap pertama Logos itu adalah hikmat Allah yang ada bersama Allah sejak kekal. Pada tahap kedua Logos yang lain diciptakan di dalam suatu masa sebagai “ada” (being) yang independen. Logos ini, yang diciptakan menurut citra Allah, adalah perantara penciptaan itu. Pada tahap ketiga Logos yang lain diproyeksikan ke dalam dunia sebagai tatanan yang rasional atau jiwa dunia. Selain itu, menurut Wolfson, Philo percaya bahwa ada Roh Kudus Allah, yang berbeda dari Logos, yang mengilhami dan mencerahi para nabi (Harry A. Wolfson, The Philosophy of the Church Fathers, jilid 1, Cambridge: Harvard University Press, 1956, 177, dikutip Urban, Sejarah Ringkas Pemikiran Kristen, 61). Namun, Erwin Goodenough percaya bahwa Philo berpikir tentang Logos sebagai pancaran yang keluar dari Bapa dan bukan suatu ciptaan (E. R. Goodenough, An Introduction to Philo Judaeus, New Heaven: Yale University Press, 1940, 100, dikutip Urban, Sejarah Ringkas Pemikiran Kristen, 61). Goodenough mengajukan teori satu tahap dari Logos – Logos sebagai perantara penciptaan identik dengan hikmat Bapa (Urban, Sejarah Ringkas Pemikiran Kristen, 62).

Kedelapan, Philo berpendapat bahwa Logos itu “bukan seperti Allah, yang tidak diciptakan, tetapi bukan pula seperti Anda, yang merupakan ciptaan, melainkan ada di tengah kedua ekstrem tersebut (Philo, Who Is the Heir? Pasal 52, bagian 206, dikutip Urban, Sejarah Ringkas Pemikiran Kristen, 62). Bagi Urban, Philo merasa tidak perlu menyelesaikan ambiguitas semacam ini sebagaimana yang dirasakan Bapa Gereja Kristen ketika mereka berusaha menafsirkan kehadiran ilahi di dalam Kristus sebagai kehadiran Logos atau Hikmat yang mempunyai daya cipta. Bagi mereka adalah penting mengetahui apakah Logos diperanakkan dari Allah, dan dengan demikian Dia adalah Allah, ataukah hanya suatu ciptaan Allah, seperti malaikat (Urban, Sejarah Ringkas Pemikiran Kristen, 62). Implikasinya, isu inilah yang mendorong berlangsungnya pertemuan yang kemudian dikenal sebagai Konsili Nicea pada tahun 325 T.U, ketika Arius (yang hidup hingga tahun 336 T.U) menggoncangkan banyak orang dengan mengemukakan semacam “versi Wolfson” (Wolfson, Church Fathers, jilid 1, 585) mengenai pemahaman Philo soal hubungan Bapa dari Anak (Urban, Sejarah Ringkas Pemikiran Kristen, 62).

Kesembilan, Charles R. Swindoll menguraikan perihal identitas Yesus sebagai Logos Allah dalam Yohanes 1:1. Menurutnya, “Rasul Yohanes meminjam konsep logos ini untuk memberi suatu arti penting baru kepada konsep ini sebagai sebuah nama kecil, dari berbagai macam arti, untuk Anak Allah… “Pada mulanya adalah Firman” (dalam bahasa Inggris “In beginning was being the logos”, bukan “In the beginning…”) (Charles R. Swindoll, Tokoh Terbesar: Yesus, Jakarta: Nafiri Gabriel, 2008, 18). Swindoll menambahkan, “dengan menghapus definite article “the”,Yohanes ingin mengemukan bahwa kita dapat mengenali suatu momen di masa lalu untuk kemudian menyebutnya “permulaan.” Ia menunjuk kepada sesuatu yang sudah ada sebelum kekekalan … – di dalam suatu permulaan yang tidak pernah benar-benar mempunyai permulaan, logos sudah ada. Ia tidak mempunyai “titik awal”. Karena ada secara kekal, maka logos ada bersama dengan Allah dan logos itu sendiri adalah Allah (Swindoll, Tokoh Terbesar, 18).

Kesepuluh, Swindoll berpendapat, pada ayat ini (maksdnya Yoh. 1:1), kata “Firman” berasal dari istilah Yunani “logos” yang mengandung arti penting yang luar biasa besar bagi para filosof di zaman Yesus. Logos pertama kali dipopulerkan oleh Heraclitus kira-kira lima ratus tahun sebelum Kristus, dan selanjutnya berkembang menjadi sebuah prinsip yang bersifat universal, tak terbatas dan religius (Swindoll, Tokoh Terbesar, 17). Dalam Stoicism, logos mengekspresikan sifat kormos yang teratur dan berorientasi pada teleologi (studi tentan penyebab akhir). Oleh karena itu, ini dapat disamakan dengan Allah dan dengan kekuatan penalaran kosmik, yang mana dunia materi merupakan sesuatu yang terbuka lebar (Gerhard Kittel dan Gerhard Friedrich [peny.), Theological Dictionary of the New Testament: Abridged in One Volume, terj. Geoffrey W. Bromiley, Grand Rapids: Eerdmans, 1985, p. 506, dikutip Swindoll, Tokoh Terbesar, 17-18).

Kesebelas, dengan pengaruh dari Perjanjian Lama dan pemikiran Yunani kuno, Philo (seorang filosof Yahudi yang hidup di mana Kristus) sering menggunakan istilah logos ini, di mana ke dalam istilah ini ia memberikan arti penting yang sangat berkembang dan tempat sentral untuk ajaran teologisnya. Ia mengembangkan istilah ini dari sumber-sumber kalangan Stoik, dan menurut penemuannya atas pemikiran-pemikiran Yunani di dalam Kitab Suci berbahasa Ibrani, dan menggunakannya berdasarkan ayat-ayat seperti Mazmur 33:6 untuk menyatakan bagaimana cara Allah yang Tak Terbatas itu bisa menjadi Pencipta alam semesta dan yang menyatakan diri- Nya sendiri kepada Musa dan para Bapa Leluhur. Pada sisi Yunani ia menyamakan Logos dengan konsep dari Plato tentang Dunia Ide sehingga ini menjadi rencana Allah dan sekaligus kuasa penciptaan dari Allah sendiri. D. R. W. Wood, penyunting, New Bible Dictionary, Edisi ke-3, Downers Grove, Illinois: InterVarsity, 1996, p. 693, dikutip Swindoll, Tokoh Terbesar, 18).

Keduabelas, dari aspek sejarah, sebelum Yohanes menggunakan istilah “Logos” kepada Yesus, istilah logos itu sendiri sudah popular di zaman Heraklitos dan Philo. Terkait dengan konteks ini, A. Hanafi, A. Epping, Th. C. Stockum dan Juntak, menjelaskan logos yang dikaitkan dengan penciptaan, serta beberapa aspek penting lainnya:

“Bagaimana Tuhan mengatur dunia? Bagaimana ketinggian-Nya (bagi Philo ketinggian Tuhan tidak berarti bahwa dia lumpuh [tidak bergerak-‘inert’] – Tuhan berada di luar sifat-sifat moral, di luar semua pengalaman indera, di luar semua pemikiran, di luar semua hukum-hukum ilmu pengetahuan) dipertalikan dengan alas semesta yang materiil ini? Ini diselesaikan melalui ajaran ‘Logos’ yang merupakan salah satu sumbangan Philo terhadap filsafat. Kita melihat ajarannya telah ada sebelumnya pada Heraclitus  dan aliran Stoa. Tetapi pada Philo selain itu semua, ajaran tersebut mempunyai suatu fungsi methaphisika yang tertentu. Logos tersebut yang abadi digambarkan oleh Philo dengan berbagai jalan: 1). Sebagai hakekat Tuhan (God’s essence); 2) Sebagai sesuatu yang tidak berbenda (incorporeal – being); dan 3) Sebagai pengetahuan (wisdom) yang tetap (A. Hanafi, Filsafat Skolastik, Jakarta: Pustaka Alhusna, 1983, 34).

Ketigabelas, Hanafi menekankan bahwa dalam pemakaian istilah Logos dari Philo terdapat kekacauan yang besar sekali, karena Logos terdapat dalam fikiran Tuhan, sebagai suatu hal (hakekat) yang tidak berbenda, sebagai contoh (rencana – blueprint) alam semesta dan sebagai sifat yang tetap dalam dunia. Selanjutnya, di samping Idee Universal (Universal Ideas) yang menjadi perantara antara Tuhan dan manusia, kita mendapati malaikat-malaikat yang juga sama, yaitu menjadi utusan Tuhan (Hanafi, Filsafat Skolastik, 34).

Keempatbelas, Epping, Stockum dan Juntak menjelaskan, bahwa ‘logos’ atau ‘kata’ dipahami Philo sebagai pribadi yaitu malaikat yang bertingkat tinggi:

berkatalah Philo selanjutnya: Tuhan menciptakan dunia dengan “kata” (logos)-nya, yang keluar daripadanya sebagai sinar cahaya yang tidak habis-habis. “Kata” dinamakan olehnya “malaikat yang bertingkat tinggi”, sedang Idea-idea yang dianggap mempunyai tingkatan lebih rendah dinamakan “kekuatan-kekuatan” atau “bidadari-bidadari”, “iblis-iblis.” Manusia adalah makhluk yang demikian pula, hanya rohnya yang masih terikat pada raganya. Manusia dapat kembali pada hidupnya yang tanpa raga, dengan menempuh jalan “kebijaksanaan.” Tuhan hanya menampakkan “dirinya” pada seorang yang bijaksana, dan seorang yang mengalami hal demikian merasakan kebahagiaan yang lebih besar daripada kebahagiaan apa pun juga yang pernah dialami manusia (A. Epping, Th. C. Stockum dan Juntak, Filsafat Ensie: Eerste Nederlandse Systematisch Ingerichte Encyclopaedie, Bandung: Jemmars, 1983, 120).

Kelimabelas, dari berbagai uraian di atas, tampak perbedaannya dengan logos yang dituliskan Yohanes. Yohanes mengidentifikasikan logos kepada pribadi Yesus yang adalah “Logos Allah” dalam menciptakan dunia. Yohanes menggunakan konsep “logos” kepada kaum Yunani dengan maksud bahwa logos yang selama ini dibicarakan telah datang ke dunia dan nyata. Logos yang dibicarakan oleh Philo adalah logos yang samar-samar. Berkenaan dengan hal itu, Bruce Milne menjelaskan bahwa, dalam filsafat Yunani, “logos” mempunyai sejarah yang panjang, paling tidak sejak zaman Heraklitos (kira-kira 500 SM. Herakleitos lahir di Ephesus dan merupakan filsuf terbesar sebelum Sokrates, seorang pemikir besar yang meletakkan dasar-dasar filsafat Yunani), yang menganggap “logos” sebagai prinsip yang membentuk, mengatur dan mengendalikan alam semesta. Philo, guru Yahudi yang terkenal di Afrika Utara, yang hidup pada abad pertama, banyak mengambil bahannya dari filsafat Yunani dan sering mengacu pada “logos” dengan mempersonifikasikan kegiatan “logos” (bdk. “logos adalah nahkoda dan pilot alam semesta”; anak sulung Bapa”) (Bruce Milne, Yohanes: Lihatlah Rajamu! Jakarta: Yayasan Komunikasi Bina Kasih, 2010, 40-41). Bagi Milne, kendati pemakaian “logos” oleh orang Yunani agak mempengaruhi Yohanes, pengertian Yohanes menyimpang dari pengertian mereka mengenai satu hal yang sangat asasi dan hakiki. Dalam pemikiran Yunani, “logos” adalah bagian dari tatanan Ilahi; dan karena fakta itu maka “logos” dianggap terpisah dari dunia materi dan sejarah. Sebaliknya, bagi Yohanes, Firman atau Logos itu dinyatakan khas dan gamblang dalam “menjadi daging” atau “menjadi manu-sia” (Milne, Yohanes, 41).

Keenambelas, dari sisi historis, pada awalnya istilah ‘logos’ digunakan oleh Homer, dengan pengertian ‘mitos; atau ‘perkataan’. Selanjutnya, pada abad kelima istilah logos dipakai oleh sejumlah filsuf, antara lain: Heraklitus yang menganggap bahwa logos adalah hukum dunia yang satu dan kekal. Logos itu itu yang menguasai serta mengatur segala perubahan yang terjadi dalam alam semesta. Logos juga dapat berarti pikiran, sehingga lahirlah istilah logika (Pandensolang, Kristologi Kristen, 181). Heraklitus menyatakan bahwa logos merupakan dasar perbuatan manusia, karena itu akal manusia dituntut untuk mengetahui logos tersebut. Siapa yang menguasai hukum dunia (logos), maka ia harus bertindak sesuai dengan hukum itu dan perbuatannya harus tunduk pada pikirannya (Pandensolang, Kristologi Kristen, 181).

Ketujuhbelas, kaum Sofistik mengakui bahwa logos merupakan sebuah metode dalam berargumentasi dan berdialog, khususnya dalam mempertahankan keyakinan pribadi atau kelompok. Dengan demikian bagi kelompok Sofisisme, logos merupakan kekuatan dan dasar prinsipil dalam suatu perdebatan. Sedangkan Socrates memandang bahwa diskusi dan perdebatan merupakan aktifitas umum dari setiap manusia untuk mempertahankan sebuah kebenaran dengan tujuan untuk menemukan logos. Plato dan Aristoteles menganggap bahwa pada umumnya manusia sendiri memiliki logos, karena tindakan dan aktifitas manusia ditentukan oleh kata atau logos yang menyebabkan seseorang sanggup untuk berbicara dan mengerti (Pandensolang, Kristologi Kristen, 181).

Namun kaum Stoik berpandangan bahwa logos merupakan sebuah kekuatan yang setara dengan Allah, itulah yang mengatur kehidupan dunia. Logos tersebut juga memberikan kuasa, kekuatan dan moral kepribadian kepada manusia. Tetapi kelompok tersebut membedakan antara inner logos, yaitu pikiran, dan logos artikulasi, yaitu percakapan (Verlyn D. Verbrugge [peny.] “Parthenos” dalam The New International Theological Dictionary of New Testament Words, Grand Rapids: Zondervan Publishing House, 2000, 759, dikutip Pandensolang, Kristologi Kristen, 181), sedangkan filsuf Yunani menggunakan istilah logos dalam pengajaran filsafat mereka dengan arti percakapan, berita atau kata. Sedangkan kaum Yudaisme memakai logos sebagai sebuah hikmat dalam literatur dan filsafat bangsa tersebut (Pandensolang, Kristologi Kristen, 181). Maka, Logos yang digunakan oleh Yohanes adalah logos yang terdapat dalam kitab Kejadian, yaitu Logos sebagai pencipta bumi dan segala isinya (Kej. 1:1) (Pandensolang, Kristologi Kristen, 182). Demikian juga perkataan Firman adalah Allah [dalam Yohanes 1:1] menyatakan bahwa Kristus adalah Pribadi kekal, karena Logos adalah Allah yang kekal (R. V. G. Tasker, John, Tyndale New Testament Commentary, Grand Rapids: William B. Eerdmans Publishing Company, 1999, 4:43-45, dikutip Pandensolang, Kristologi Kristen, 181).

Kedelapanbelas, identifikasi mengenai logos dalam pandangan filsafat di atas, secara tepat melekat pada diri Yesus dalam arti bahwa inkarnasi Yesus—Logos menjadi daging [manusia], prinsip-prinsip logos yang dipercakapkan oleh kalangan filsuf terteguhkan dalam diri Yesus. Secara imaniah, saya mengakui bahwa bentuk-bentuk pemahaman mengenai logos bersumber dari wahyu umum yang diberikan Allah kepada manusia yang darinya manusia kemudian menggali potensi-potensi yang dapat dihubungkan dengan eksousia Allah, penciptaan, kedaulatan, dan kuasa Allah atas dunia. Secara langsung, prinsip-prinsip tersebut ada pada diri Yesus. Yesus yang adalah Logos Ilahi, memberikan kuasa karena Ia berkuasa. Ia memberikan kekuatan kepada mereka yang berharap kepada-Nya. Ia memberikan panduan moralitas dan bagaimana menjaga kepribadian yang suci dan kudus di hadapan Allah. Yesus sebagai Pencipta (Yoh. 1:3) adalah kekal (Yoh. 1:1). Ialah yang menguasai dan mengatur dunia dengan kekuasaan-Nya. Tampak bahwa semua percakapan dan pemahaman tentang logos, secara faktual ada dalam diri Yesus. Kesalahan memahami dualisme spesifik personalitas Yesus berujung pada kekeliruan, negasi, dan penyangkalan, bahkan penyesatan.

Kesembilanbelas, Ronald H. Nash menjelaskan: “salah satu aspek yang paling membingungkan dalam ajaran Perjanjian Baru tentang Logos adalah hubungan penggunaan Logos dalam Perjanjian Baru dengan penggunaannya oleh para pemikir sebelumnya, terutama Philo, filsuf Yahudi pada abad pertama. Philo bukanlah orang pertama yang menulis tentang Logos kosmis. Bagi Heraclitus dari Efesus (yang terkenal sekitar tahun 500 SM) dan juga para filsuf Stoik yang muncul agak belakangan, Logos merupakan hukum kosmis dari rasio yang mengendalikan alam semesta dan Logos itu imanen di dalam rasio manusia. Kaum Stoik beranggapan bahwa rasio manusia merupakan perluasan dari Rasio yang menyebar di seluruh kosmos. Penting untuk diperhatikan bahwa Logosnya Heraclitus dan kaum Stoik bukanlah Allah yang berpribadi dan bahkan bukan keberadaan yang berpribadi, melainkan abstraksi metafisis. Philo dipengaruhi baik oleh spekulasi yang telah ada tentang Logos ini dan juga oleh ajaran Plato tentang Forma, yang diinterpretasikan oleh Philo sebagai pemikiran-pemikiran Allah (Nash, Firman Allah dan Akal Budi Manusia, 62).

Philo menuliskan Logos itu sebagai “Mediator” (mesitēs) dan “Gambar” (eikon) Allah. Dunia diciptakan melalui perantaraan Logos. Philo melukiskan bahwa Logos itu bukanlah tidak diperanakkan (seperti Allah) bukan pula diperanakkan (seperti manusia) (Philo, Who is the Heir of Divine Things, 205-6, dikutip Nash, Firman Allah dan Akal Budi Manusia, 68-69). Dengan demikian, Logos itu berada di perbatasan antara Allah dan manusia, menjadi penengah dari Allah kepada manusia seperti seorang duta besar dan dari manusia kepada Allah sebagai pensyafaat (Philo, On the Special Laws 3, 62, dikutip Nash, Firman Allah dan Akal Budi Manusia, 68-69) Logos dinamai Anak yang Sulung (bdk. Ibr. 1:6) dan yang lahir Pertama. Logos itu adalah Terang sekaligus bayangan Allah (Nash, Firman Allah dan Akal Budi Manusia, 69).

Keduapuluh, mengingat bahwa tulisan dan pernyataan Rasul Yohanes soal Yesus yang adalah Logos Ilahi (yang disembah), maka iman Kristen memahami Yesus sebagai Sang Pemberi Hukum kosmis—karena Ia adalah Pencipta dan mengendalikan alam semesta. Yesus, dalam inkarnasi-Nya, imanen di dalam kehidupan manusia. Logos yang ditekankan Yohanes adalah “Pribadi Allah” (kontra Logosnya Heraclitus dan kaum Stoik). Logos yang berinkarnasi digambarkan sebagai Mediator: Allah dengan manusia. Yesus menjadi Pengantara (Mediator) yang sempurna.

Keduapuluh satu, Nash menyimpulkan, bahwa:

kesamaan-kesamaan antara dunia-pemikiran Alexandria kuno dan dua kitab dari Perjanjian Baru (surat Ibrani dan Injil Yohanes), sudah pasti akan memunculkan anggapan bahwa memang ada suatu hubungan ketergantungan. Ada beberapa orang yang sedemikian jauhnya sampai menyatakan bahwa kedua tulisan Perjanjian Baru itu jelas bergantung pada Philo dan merupakan pengakomodasian ajaran Kristen mula-mula tentang Yesus kepada konstruksi yang benar-benar teoretis dari Yudaisme Alexandria. Namun demikian, terlalu banyak perbedaan yang ada sehingga pandangan yang simplistis ini tidak bisa diterima. Pertama-tama, Logos di dalam surat Ibrani dan Injil Yohanes bukanlah abstraksi metafisis dari Philo, melainkan satu individu yang spesifik, satu pribadi yang historis. Logos dari Philo “bukanlah” seorang pribadi. Memang Philo menulis tentang Logos dengan istilah-istilah personal tetapi ini hanya merupakan personifikasi dari abstraksi metafisis. Menurut A. H. Armstrong, taraf yang sesungguhnya dari eksistensi independen yang dimiliki Logos yang diajarkan Philo “harus tetap penuh” (Nash, Firman Allah dan Akal Budi Manusia, 69).

Munculnya kecurigaan adalah ketergantungan atau pengaruh filsafat Philo terhadap Yohanes bisa saja dilontarkan. Tetapi poinnya bukan soal keterpengaruhan konsep Logos melainkan pada pembuktian ‘real’ bahwa Logos yang dibicarakan Yohanes adalah Logos Ilahi, Logos Pribadi, dan Logos yang faktual—turun ke dalam dunia, yang berbeda dengan logos yang dipahami oleh para filsuf pra-Yohanes. Logos ini menunjukkan eksistensi-Nya melalui dua hal yaitu perbuatan-perbuatan-Nya dan klaim-klaim-Nya. Jadi, pokok persoalannya bukan pada dugaan keterpengaruhan konsep logos, melainkan pada fakta yang hendak disuguhkan.

Keduapuluhdua, Armstrong mendeteksi bahwa pandangan Philo mengenai hal ini (logos) sangat kabur, dan tentu saja Logos yang diajarkan Philo tidak dapat dikatakan sebagai seorang pribadi, apalagi sebagai Pribadi Ilahi (A. H. Armstrong, An Introduction to Ancient Philosophy, Boston: Beacon Press, 1963, 162, dikutip Nash, Firman Allah dan Akal Budi Manusia, 70). Armstrong menambahkan, Logos yang diajarkan Philo “sama sekali berbeda dengan Logos yang dimaksud dalam prolog Injil Yohanes, yang adalah seorang Pribadi yang benar-benar historis dan juga Ilahi (Armstrong, An Introduction to Ancient Philosophy, 162, dikutip Nash, Firman Allah dan Akal Budi Manusia, 70).

Menurut Nash, sama sekali tidak ada dukungan mutlak bagi posisi bahwa Philo mempercayai Logos itu berpribadi, apalagi seorang pribadi yang hidup dalam sejarah. Logos dalam ajaran Philo benar-benar tidak memiliki ciri-ciri berkepribadian atau mesianis atau soteriologis yang begitu penting dalam penjelasan Kristen tentang Yesus. Logos dalam ajaran Philo bukanlah pribadi atau mesias atau penyelamat, melainkan prinsip kosmis yang didalilkan untuk menyelesaikan berbagai macam problem metafisis dan epistemologis (Nash, Firman Allah dan Akal Budi Manusia, 70). Dalam pernyataan Frederick Copleston, “di dalam doktrin Philonis tentang Logos, tidak ada rujukan kepada seorang manusia yang historis” (Frederick Copleston, A History of Philosophy, 9 vol., Westminster, Maryland: The Newman Press, 1960, I:459. Dikutip Nash, Firman Allah dan Akal Budi Manusia, 70).

Keduapuluhtiga, secara umum Logos dalam konteks Perjanjian Baru, sebagaimana yang dijelaskan Nash berikut ini menegaskan tiga hal yaitu Logos kosmologis, Logos epistemologis, dan Logos soteriologis. Perjanjian Baru memperhitungkan tiga fungsi yang berbeda tetapi juga berkaitan kepada Logos Kristen, yang memungkinkan pembahasan mengenai Kristus sebagai Logos kosmologis, Logos epistemologis dan Logos soteriologis. Tanpa Yesus, dunia tidak pernah eksis dan tidak akan eksis sekarang; tanpa Yesus, manusia tidak akan pernah menjadi ciptaan yang mampu berpengetahuan; dan tanpa Yesus, manusia tidak akan pernah diselamatkan dari dosa. Kristus digambarkan sebagai Logos kosmologis dan Logos epistemologis di dalam prolog Injil Yohanes. Rasul Yohanes menggambarkan Kristus sebagai agen yang melalui-Nya Allah menjadikan dunia eksis: “Pada mulanya adalah Firman (Logos); Firman (Logos) itu bersama-sama dengan Allah dan Firman (Logos) itu adalah Allah. Ia pada mulanya bersama-sama dengan Allah. Segala sesuatu dijadikan oleh Dia dan tanpa Dia tidak ada satu pun yang telah jadi dari segala yang telah dijadikan” (Yoh. 1:1-3). Rasul Paulus juga menggambarkan Kristus yang praeksisten sebagai pengantara penciptaan (1 Kor. 8:6; Kol. 1:16). Logos kosmologis selanjutnya bertindak sebagai penengah dalam hubungan yang terus berkelanjutan antara Allah dan manusia (Nash, Firman Allah dan Akal Budi Manusia, 72).

Dalam Yohanes 1:9, Rasul Yohanes menyatakan bahwa Kristus adalah “terang yang sesungguhnya, yang menerangi setiap orang.” Dengan kata lain, Logos epistemologis bukan saja pengantara penyataan khusus ilahi (Yoh. 1:14), Dia juga dasar dari segala pengetahuan manusia (Nash, Firman Allah dan Akal Budi Manusia, 73). Juga dalam surat Ibrani, dimulai dengan menggambarkan Kristus sebagai Logos epistemologis yang memperantarai penyataan Allah kepada manusia (Ibr. 1:1-3). Kemudian penulis menggambarkan Yesus sebagai Logos kosmologis yang memperantarai penciptaan baik sebagai Pencipta (Ibr. 1:2) maupun sebagai Penopang (Ibr. 1:3) (Nash, Firman Allah dan Akal Budi Manusia, 73). Kesimpulannya, Yesus adalah Logos soteriologis yang, baik sebagai imam maupun sebagai kurban, berfungsi menghasilkan keselamatan. Doktrin Logos menempati tempat yang penting di dalam pikiran beberapa bapa Gereja di abad mula-mula (Nash, Firman Allah dan Akal Budi Manusia, 74).

KONKLUSI

Pertama, identitas Yesus sebagai Logos Allah haruslah dipahai secara penuh, baik pra-inkarnasi (eksistensi ontologis), maupun pasca-inkarnasi (eksistensi historis). Di sini, bukan berarti Yesus memiliki dua eksistensi, melainkan satu eksistensi kekal-Nya. Eksistensi historis dimaksudkan bahwa Yesus “ada” [eksis] sebagai manusia sejati yang memiliki dua natur: natur ke-ilahian-Nya dan natur kemanusiaan-Nya. Yesus tentu eksis sebagai manusia tetapi eksistensi ontologis-Nya adalah eksistensi mutlak.

Kedua, sebagai Logos yang kekal, ada [eksis pada mulanya], dan bersama-sama dengan Allah, Yesus tidak lebih rendah dari Bapa. Bapa tak mungkin dipahami sebagai Pribadi yang sedikit lebih tinggi dari Yesus yang adalah Logos yang kekal yang ada bersama-sama dengan Bapa. Yesus setara dengan Bapa dipahami dari aspek ontologis-Nya. Sedangkan sebagai manusia, bukan alasan bagi kita untuk memahami bahwa Yesus lebih rendah dari Bapa. Secara logis, semua manusia berada di bawah Bapa. Akan tetapi dalam kasus “ho Logos sarks egeneto” tidak dapat dipahami sebagai perendahan personalitas diri Yesus sebagai kita akan kembali kepada sumber eksistensi utama Yesus sebagai Logos, yaitu “Ia ada pada mulanya; Ia bersama-sama dengan Allah, dan Ia adalah Allah”.

Ketiga, dengan mengatakan Yesus sebagai ciptaan akan menimbulkan kerancuan logika. Jika Yesus yang adalah Logos Allah diciptakan, maka dengan “Logos” manakah Allah menciptakan Logos-Nya? Negasi bahwa Yesus tidak setara dengan Bapa, sama halnya dengan mengatakan “pikiran Anda tidak setara dengan Anda”. Apakah hal ini mungkin? Tentu tidak mungkin. Baik pikiran Anda yang telah menjadi catatan atau buku, tetap saja itu setara dengan diri Anda. Ketika Anda berpikir sebaliknya, maka Anda sedang merendahkan diri Anda sendiri. Dalam konteks Trinitas, konsep atau pemikiran semacam itu tidaklah mungkin sebab tidak ada peluang untuk itu. Lagipula, demarkasi konteks sangat diperlukan di sini.

Yesus adalah Logos yang kekal. Logos berdiam dalam diri Bapa, dan eksis sejak kekal bersama dengan Bapa. Ketika Ia menjadi manusia, eksistensi ontologis-Nya tidak menjadi dipahami sebagai eksistensi yang diciptakan. Sama sekali tidak. Kesetaraan Yesus dengan Bapa-Nya, ditemukan di banyak teks dalam PB. Belajar secara baik, akan menghasilkan pemahaman yang baik, asalkan tahu menggunakan logika secara tepat dan benar sesuai konteksnya.

Salam Bae

APOLOGETIKA MISI DAN MISI APOLOGETIKA: Akuntabilitas Kristen dalam Memberitakan Yesus Kristus kepada Dunia

Stenly R. Paparang

PENDAHULUAN

Bermisi adalah tugas yang melekat dalam diri orang Kristen. Sebagai perintah Tuhan yang termaktub dalam Alkitab, orang Kristen memiliki tanggung jawab yang besar untuk bermisi. Tanggung jawab tersebut perlu didukung oleh pemahaman-pemahaman yang baik dan kredibel terkait berita dari misi dan personalitas Tuhan. Dalam pemahaman saya, misi menekankan dua hal: pertama, isi berita, dan kedua, personalitas Allah yang terkandung dalam isi berita. Isi berita terkait erat dengan apa yang Tuhan kerjakan dalam sejarah, tentang apa yang Tuhan janjikan kepada umat-Nya yang percaya, tentang tanggung jawab manusia dan pola hidup yang ‘benar’ di hadapan-Nya. Sedangkan personalitas Allah membahas tentang identitas, karya, rencana, dan kehendak-Nya, secara khusus pribadi Yesus Kristus yang berinkarnasi—Firman menjadi daging [ὁ λόγος σὰρξ ἐγένετο, ho logos sarks egeneto]—dalam mewujudkan rencana keselamatan dari Allah bagi umat yang telah ditetapkan-Nya.

Apologetika [dari kata ἀπολογία, apologia] misi dan misi apologetika adalah dua hal yang signifikan. Pertama, karena misi (berita dan personalitas Tuhan) bersifat “pemberitaan” yang akan mendapatkan respons dari mereka yang mendengarkannya: menerima, ragu, dan menolak. Itu sebabnya, misi mengandung prinsip apologetika praktis maupun akademis, tergantung siapa yang merespons dan menanyakan iman Kristen ketika misi dijalankan (diberitakan). Kedua, mereka yang bermisi—setidaknya—memiliki sejumlah pemahaman dan pengalaman yang perlu disampaikan. Ketika mendapat respons negatif, peran apologetik, entah praktis atau akademis, seorang misionaris perlu menjelaskan berita misi dengan baik meskipun hasilnya bisa diterima, dipertimbangkan, atau ditolak. Pemahaman terkait dengan pengajaran dan prinsip-prinsip Alkitab, baik personalitas Tuhan, maupun kehendak, perintah, ketetapan, dan rencana Tuhan yang terkorelasi dengan keselamatan, prinsip kehidupan, penebusan, ketaatan, kekudusan, dan kesetiaan kepada-Nya. Pengalaman terkait dengan pola hidup Kristen dengan Tuhan. Mereka yang percaya kepada-Nya memiliki beragam pengamalan hidup bersama-Nya. Seringkali, pengalaman menjadi kekuatan bagi setiap pribadi Kristen dalam memberitakan Injil, mewartakan pribadi Tuhan, dan berusaha membawa mereka yang tertarik dengan iman Kristen. Namun, pengalaman bukanlah menjadi inti utama misi.

Dalam apologetika misi, dibutuhkan seorang Kristen yang memiliki pemahaman yang baik tentang berita Alkitab yang akan disampaikan. Sebabnya adalah adanya berbagai kemungkinan yang dapat terjadi dalam gerakan misi yang dikerjakan. Penolakan-penolakan terhadap berita misi mendorong misionaris untuk mendalami berita Alkitab agar dapat memberikan jawaban yang memadai—setidaknya itulah harapan saya—sehingga para penerima misi bisa diyakinkan. Dalam misi apologetika, dibutuhkan seorang Kristen yang memiliki tanggung jawab dan komitmen dalam memberitakan Injil Yesus Kristus. Ia perlu menyatakan kebenaran tentang Yesus Kristus, menyatakan keberatan atas kesalahan tafsir atau pemahaman akan Alkitab dan Yesus Kristus, menjelaskan natur dosa, penebusan, keselamatan yang ditawarkan oleh Yesus, dan terlebih, seperti yang ditegaskan Rasul Petrus bahwa seorang yang percaya perlu menunjukkan sikap hidup yang baik (1 Ptr. 3:15-16).

Bermisi akan diperhadapkan dengan berbagai hal yang bisa menjadi pendorong, penyemangat, dan pembelajaran yang baik. Dengan demikian, apologetika misi dan misi apologetika, sebagai tawaran yang saya suguhkan kepada para pembaca, kiranya dapat memberikan pembelajaran, dorongan, dan semangat dalam bermisi, memberitakan Injil, dan menjadi saksi bagi Yesus Kristus.

APOLOGETIKA MISI: MISI YANG BERAPOLOGETIKA

Di atas telah saya singgung sedikit mengenai apologetika misi. Uraian berikut ini membahas mengenai aspek-aspeknya: pertama, kondisi manusia yang berdosa; kedua, mengarahkan manusia kepada Allah; dan ketiga, mewartakan Injil [Kabar Baik], dan keempat, menjelaskan personalitas Yesus.

1. Menyampaikan Kondisi Manusia yang Berdosa

Kehidupan manusia sekarang ini—bahkan pasca Adam dan Hawa berdosa—tidak lepas dari berbagai penyimpangan, penyesatan, kesesatan, kejahatan, kedustaan, kebohongan, pembunuhan, kebencian, perseteruan, permusuhan, dendam kesumat, dan lain sebagainya. Kondisi seperti ini, dalam pengamatan saya, telah menjadi semacam habit (kebiasaan) di berbagai lapisan masyarakat dan dalam kelompok agama-agama di dunia.

Agama yang dianut oleh setiap manusia, entah yang resmi maupun non resmi, memiliki serentetan ketentuan, norma [aturan] yang sifafnya mengikat dan tidak mengikat. Di dalamnya termuat bentuk-bentuk etis—normatif, larangan-larangan, dan lain sebagainya. Meskipun demikian, secara substansial, hal-hal tersebut masih memiliki kekurangan. Artinya, tidak ada sumber yang dipandang sebagai “pribadi” berkuasa, berdaulat, berotoritas atas kehidupan manusia dan segala tindak-tanduknya. Tidak ada pengakuan bahwa bentuk-bentuk etis—normatif, larangan-larangan, dan lain sebagainya, didasarkan atau berasal dari “Tuhan, Sang Pencipta” sebagai Pribadi yang berdaulat penuh atas hidup manusia. Walaupun ada, keyakinan akan suatu personalitas yang ‘ilahi’ didasari bukan pada penyataan melainkan pada perasaan ilahi yang ada dalam diri manusia. Meskipun agama-agama lain mungkin menolak gagasan ini, namun perlu dicatat bahwa dalam diri manusia ada benih [perasaan] ilahi yang memungkinkan manusia secara sadar mengakui adanya pribadi yang lebih berkuasa dan pencipta alam semesta.

Dalam dugaan saya, setiap agama memiliki kisah-kisah tentang “Pribadi” yang dianggap superior dibandingkan dengan manusia dan alam. Jika dugaan saya benar, maka benih ilahi dalam diri manusia menjadi sangat kuat dan faktual. Jika manusia berdosa, maka pasti ada awal di mana manusia berdosa. Mungkin, dalam berbagai kisah agama-agama dunia, menceritakan kisah tentang manusia yang berdosa dalam beragam definisi sesuai dengan geografis dan budaya dari agama itu sendiri. Akan tetapi, substansi keberdosaan manusia dalam ragam definisi memiliki kesatuan makna yaitu melakukan pelanggaran atau penyelewengan prinsip-prinsip umum yang berlaku di masyarakat (budaya dan adat) dan agama.

Setiap bentuk pelanggaran terhadap prinsip-prinsip yang berlaku di masyarakat dan agama, akan mendapatkan hukuman yang kadang setimpal, kadang tidak (kurang atau melampaui). Jika demikian, maka pesan misi Kristen memiliki korelasi yang cukup baik untuk menyampaikan kabar baik. Artinya, setiap manusia memiliki pemahaman tentang baik buruknya, jahat tidaknya sesuatu tindakan yang dilakukan oleh manusia. Dari sini kita dapat beranjak menyampaikan pesan-pesan Alkitab kepada setiap orang dengan memberikan gambaran umum soal natur keberdosaan manusia yang tak mungkin dipulihkan selama-lamanya jika Allah tidak membereskan dan menetapkan ketentuan-ketentuan untuk memperkokoh dan mengesahkannya.

Menyampaikan kondisi manusia yang telah berdosa kepada Allah, memungkinkan terbukanya peluang bagi siapa saja yang mendengarkannya, agar mereka bisa menyadari bahwa jika hidup keberdosaan mereka semakin menguasai pola dan perilaku kehidupan mereka setiap hari, maka mereka diambang kehancuran dan penghukuman Allah. Sadarkanlah manusia, betapa mereka membutuhkan Allah untuk memberikan jaminan dan sukacita tatkala Allah berkehendak memulihkan dan membangkitkan manusia dari keberdosaaan, kenajisan, dan keterpurukan mereka. Inilah jembatan pertama.

2. Mengarahkan Manusia kepada Allah

Dari jembatan pertama, misionaris melanjutkan pokok pembicaraan bahwa manusia memerlukan Allah. Ini dimaksudkan agar manusia yang sadar akan dosa dan kejahatannya di hadapan Allah untuk meminta pengampunan kepada Allah. Dialah yang mengampuni, mengasihi, menebus, dan menyelamatkan manusia dari dosa. Catatan penting di sini adalah bahwa manusia berdosa kepada Allah, Sang Pencipta dan Pemberi Hidup, sehingga tidak muncul gagasan bahwa Allah berhutang sesuatu pada manusia, tetapi justru sebaliknya, manusia berhutang kepada Allah. Allah telah menentukan bagaimana caranya agar manusia dapat ditebus, diselamatkan, dan diberi jaminan kehidupan kekal.

Mengarahkan manusia kepada Allah berarti memberi dia kesadaran penuh bahwa hanya Allah saja yang dapat diandalkan. Hanya Allah saja yang dapat membenarkan dan menguduskan dia. Hanya Allah saja yang dapat membereskan ketidakberesannya. Itu berarti, kebutuhan akan Allah menjadi semakin besar. Manusia membutuhkan Allah, sebab hanya Dia sajalah yang menjadi tempat perteduhan manusia, tempat perlindungan manusia, dan tempat manusia mendapatkan kedamaian dan sukacita abadi. Musa berdoa: “Tuhan, Engkaulah tempat perteduhan kami turun-temurun” (Mzm. 90:1). Pemazmur mengakui bahwa Tuhan adalah tempat perlindungan: “Demikianlah TUHAN adalah tempat perlindungan bagi orang yang terinjak, tempat perlindungan pada waktu kesesakan” (Mzm 9:10); “Orang-orang benar diselamatkan oleh TUHAN; Ia adalah tempat perlindungan mereka pada waktu kesesakan” (Mzm. 37:39); “… Allah itu bagi kita tempat perlindungan dan kekuatan, sebagai penolong dalam kesesakan sangat terbukti (Mzm. 46:1); “Percayalah kepada-Nya setiap waktu, hai umat, curahkanlah isi hatimu di hadapan-Nya; Allah ialah tempat perlindungan kita” (Mzm. 62:9).

Jika keyakinan kita kuat bahwa Allah adalah tempat perteduhan dan perlindungan, maka mengarahkan manusia kepada Allah tidak menjadi sebuah keraguan dalam bermisi, melainkan sebagai kekuatan dan keberanian bahwa memang Allah layak disembah dan percayai, sehingga mereka yang mendengar berita misi dapat menjadi yakin dan percaya kepada Allah yang kita beritakan.

3. Mewartakan Injil [Kabar Baik]

Aspek ini memiliki beberapa hal signifikan untuk diberitakan dalam misi Kristen sebagai bagian dari apologetika misi. Berikut penjelasannya.

Penebusan dan Pengampunan Dosa

Alkitab secara jelas memberikan pernyataan bahwa Yesus adalah Redeemer dan Dialah yang menebus, mengampuni manusia dari dosa-dosa mereka serta mendamaikan. Catatan penting di sini bahwa penebusan dilakukan oleh Allah, dengan cara Allah, dengan kehendak dan kedaulatan-Nya, dan dengan ketetapan yang Ia buat. Kematian Yesus disalib adalah cara Allah menebus, sebagaimana yang tertuang dalam praktik penebusan dosa dalam Perjanjian Lama. “Darah” menjadi emblem yang sangat kuat serta merupakan “sarana” bagi Allah dalam menebus. Allah berhak menebus dan menentukan cara menebus, sebab manusia berdosa kepada Allah. Berikut teks-teks bukti tentang karya penebusan Yesus Kristus.

1 Korintus 1:30, Ia membenarkan dan menguduskan dan menebus kita; δικαιοσύνη τε καὶ ἁγιασμός, καὶ ἀπολύτρωσις; dikaiosunē te kai hagiasmos, kai apolutrōsis).

Galatia 3:13, Kristus telah menebus kita dari kutuk hukum Taurat; Χριστὸς ἡμᾶς ἐξηγόρασεν ἐκ τῆς κατάρας τοῦ νόμου; Khristos hēmas eksegorasen ek tēs kataras tou nomou.

Galatia 4:5, Ia diutus untuk menebus mereka; ἵνα τοὺς ὑπὸ νόμον ἐξαγοράσῃ [dari kata ἐξαγοράζω yang berarti redeem]; hina tous hupo nomon eksagorasē.

Ibrani 9:15, … sebab Ia telah mati untuk menebus pelanggaran-pelanggaran…. (kata ‘menebus’ digunakan kata ἀπολύτρωσιν [apolutrōsin] dari kata ἀπολύτρωσις [apolutrōsis] release [membebaskan, melepaskan, Ibr. 11:35]; redemption [literal ‘buying back’], deliverance [pembebasan, pelepasan], acquittal [pembebasan], ransoming [menebus], bdk. Luk. 21:28; Rm. 3:24; 8:23; Ef. 1:7; Ibr. 9:15).

Matius 20:28, … untuk melayani dan untuk memberikan nyawa-Nya menjadi tebusan bagi banyak orang (Lih. Markus 10:45 dan 1 Timotius 2:6). Kata ‘tebusan’ digunakan kata λύτρον [lutron] yang berarti price of release (harga atau hadiah kelepasan atau pembebasan), ransom [(uang) tebusan](bdk. Mat. 20:28; Mrk. 10:45.

Roma 3:24, dan oleh kasih karunia telah dibenarkan dengan cuma-cuma karena penebusan dalam Kristus Yesus; δικαιούμενοι δωρεὰν τῇ αὐτοῦ χάριτι διὰ τῆς ἀπολυτρώσεως τῆς ἐν Χριστῷ Ἰησοῦ [dikaioumenoi dōrean tē autou khariti dia tēs apolutrōseōs tēs en Khristō Iesou]. ‘Penebusan’ menggunakan kata ἀπολύτρωσις.

Efesus 1:7, Sebab di dalam Dia dan oleh darah-Nya kita beroleh penebusan, yaitu pengampunan dosa, menurut kekayaan kasih karunia-Nya. Ἐν ᾧ ἔχομεν τὴν ἀπολύτρωσιν διὰ τοῦ αἵματος αὐτοῦ, τὴν ἄφεσιν τῶν παραπτωμάτων, κατὰ τὸ πλοῦτος τῆς χάριτος αὐτοῦ. En hō ekhomen tēn apolutrōsin dia tou aimatos autou, tēn aphesin tōn paraptōmatōn, kata to pluotos tēs kharitos autou.

Kolose 1:14, di dalam Dia kita memiliki penebusan kita, yaitu pengampunan dosa. ἐν ᾧ ἔχομεν τὴν ἀπολύτρωσιν, τὴν ἄφεσιν τῶν ἁμαρτιῶν. En hō ekhomen tēn apolutrōsin, tēn aphesin tōn hamartiōn.

1 Petrus 1:18-19, Sebab kamu tahu, bahwa kamu telah ditebus dari cara hidupmu yang sia-sia…. kata ‘ditebus’ digunakan kata ἐλυτρώθητε dari kata λυτρόω[lutroō] yang berarti free by paying a ransom, redeem.

2 Korintus 5:18, Dan semuanya ini dari Allah, yang dengan perantaraan Kristus telah mendamaikan [καταλλάσσω] kita dengan diri-Nya dan yang telah mempercayakan pelayanan pendamaian itu kepada kami.

2 Korintus 5:19, Sebab Allah mendamaikan [καταλλάσσω, reconcile] dunia dengan diri-Nya oleh Kristus…

Ibrani 2:17, Itulah sebabnya … Ia menjadi Imam Besar yang menaruh belas kasihan dan yang setia kepada Allah untuk mendamaikan [ἱλάσκομαι, propitiate (propisiasi), be merciful, expiate] dosa seluruh bangsa.

Matius 26:28, Sebab inilah darah-Ku, darah perjanjian, yang ditumpahkan bagi banyak orang untuk pengampunan [ἄφεσις] dosa. Kata aphesis [ἄφεσις] berarti remission (pengampunan), release (pembebasan, kelepasan), pardon (pengampunan), forgiveness of sins.

Kisah Para Rasul 2:38, … Bertobatlah dan hendaklah kamu masing-masing memberi dirimu dibaptis dalam nama Yesus Kristus untuk pengampunan [ἄφεσις] dosamu….

Kisah Para Rasul 10:43, Tentang Dialah semua nabi bersaksi, bahwa barangsiapa percaya kepada-Nya, ia akan mendapat pengampunan [ἄφεσις] dosa oleh karena nama-Nya.

Kolose 1:14, di dalam Dia kita memiliki penebusan [ἀπολύτρωσις] kita, yaitu pengampunan [ἄφεσις] dosa.

Matius 9:2, … berkatalah Ia [Yesus] kepada orang lumpuh itu: ‘Percayalah, hai anak-Ku, dosamu sudah diampuni [ἀφίημι].”

Terkait dengan penebusan dan karya Yesus Kristus, Herman Bavink menjelaskan,

Perjanjian Baru memandang kematian Kristus sebagai persembahan korban dan penggenapan kultus persebahan korban Perjanjian Lama. Ia adalah persembahan korban kovenan sejati; sama seperti kovenan lama diteguhkan oleh persembahan korban kovenan (Kel. 24:3-11), maka darah Kristus adalah darah kovenan baru (Mat. 26:28; Mrk. 14:24; Ibr. 9:13). Kristus adalah korban (thusia, zebaH), korban bagi dosa-dosa kita (Ef. 5:2; Ibr. 9:26; 10:12), suatu persembahan (prosfora, dōron, minHäh qorBän; Ef. 5:2; Ibr. 10:10, 14, 18); suatu tebusan (lytron, antilytron); Mat. 20:28; Mrk. 10:45;; 1 Tim. 2:6; terjemahan dari kata-kata Ibrani Ge’ulläh, Pedûyim, Köper, dan dengan demikian bermakna harga bagi pembebasan, tebusan untuk membeli kebebasan seseorang dari penjara, dan dengan demikian adalah alat pendamaian, persembahan korban yang dengannya dosa orang lain ditutupi sehingga menyelamatkan mereka dari kematian (Herman Bavink, Dogmatika Reformed, 417).

Penebusan berarti “pembebasan”, “pelepasan”, “pendamaian”, “pembayaran”, “penjaminan”, dan “pemeliharaan”. Yesus melakukan itu semua melalui kematian-Nya. Rasul Petrus meneguhkan, “Sebab kamu tahu, bahwa kamu telah ditebus [λυτρόω (lutroō), free by paying a ransom, redeem] dari cara hidupmu yang sia-sia yang kamu warisi dari nenek moyangmu itu bukan dengan barang yang fana, bukan pula dengan perak atau emas, melainkan dengan darah [αἷμα, aima] yang mahal [τίμιος (timios), valuable, precious, costly, of great worth or value], yaitu darah Kristus yang sama seperti darah anak domba yang tak bernoda dan tak bercacat [ἄμωμος (amōmos), unblemished, blameless] (1 Ptr. 1:18-19). Penebusan melalui ‘media’ darah adalah penebusan yang merupakan ketentuan yang ditetapkan Allah dalam PL.

Keselamatan dan Kehidupan Kekal

Semua manusia yang dalam kedaulatan Allah ditebus melalui Yesus Kristus, diberikan jaminan keselamatan yakni kehidupan kekal. Kehidupan kekal menandakan bahwa mereka yang diselamatkan akan bertemu dengan “Sang Pemberi Keselamatan”. Ini adalah sukacita yang sangat besar bagi mereka yang diselamatkan. Kehidupan perlu dipahami sebagai bagian dari keselamatan di mana Allah, sebagai Pemrakarsa Penebus, Penyelamat, dan Pemberi Keselamatan kepada mereka yang dikehendaki-Nya. Mereka yang diselamatkan dan yang akan menerima kehidupan kekal, adalah mereka yang telah ditebus dan diampuni oleh Allah. Allah tahu siapa yang Dia tebus dan ampuni. Keselamatan tidak didasari pada setiap manusia yang bertobat sehingga Allah masih tetap membuka peluang kepada setiap orang yang bertobat dan dimasukkan (dalam sejarah sebagai peneguhan rencana-Nya) ke dalam keselamatan-Nya. Keselamatan yang dinyatakan Alkitab adalah keselamatan sesuai dengan rencana Allah, sesuai kedaulatan-Nya untuk memilih siapa yang diselamatkan berdasarkan pemilihan-Nya. Keselamatan tidak dipahami sebagai peluang manusia untuk masuk ke dalam rencana Allah, tetapi keselamatan adalah rencana Allah yang masuk ke dalam kehidupan manusia yang ingin Ia selamatkan berdasarkan ketetapan-Nya yang kekal (bdk. Rm. 8:29-30).

Allah sendiri mempertunjukkan bahwa diri-Nya adalah sumber keselamatan dan pemberi jaminan keselamatan sebagaimana PL menegaskannya (lih. Yes. 49:6; 53:1-12). Zakharia bernubuat (Luk. 1:67-71): “Ia menumbuhkan sebuah tanduk keselamatan bagi kita di dalam keturunan Daud, hamba-Nya itu … untuk memberikan kepada umat-Nya pengertian akan keselamatan yang berdasarkan pengampunan dosa-dosa mereka.” Rasul Petrus menegaskan (Kis. 4:12): “Dan keselamatan tidak ada di dalam siapapun juga selain di dalam Dia, sebab di bawah kolong langit ini tidak ada nama lain yang diberikan kepada manusia yang olehnya kita dapat diselamatkan.” Keselamatan yang Tuhan berikan berdampak pada penerimaan kehidupan kekal. Mereka yang percaya kepada Tuhan akan menerimanya. Nabi Daniel menyatakan: “Dan banyak dari antara orang-orang yang telah tidur di dalam debu tanah, akan bangun, sebagian untuk mendapat hidup yang kekal, sebagian untuk mengalami kehinaan dan kengerian yang kekal” (Dan. 12:2). Rasul Yohanes adalah rasul yang paling banyak menyinggung soal hidup kekal (ζωή αἰώνιος, zōē aiōnios). Berikut ayat-ayatnya:

“… setiap orang yang percaya kepada-Nya beroleh hidup yang kekal [ζωή αἰώνιος] (Yoh 3:15)

“… setiap orang yang percaya kepada-Nya tidak binasa, melainkan beroleh hidup yang kekal (Yoh. 3:16)

“Barangsiapa percaya kepada Anak, ia beroleh hidup yang kekal….” (Yoh. 3:36)

“Aku berkata kepadamu: Sesungguhnya barangsiapa mendengar perkataan-Ku dan percaya kepada Dia yang mengutus Aku, ia mempunyai hidup yang kekal dan tidak turut dihukum….” (Yoh. 5:24)

“Bekerjalah, bukan untuk makanan yang akan dapat binasa, melainkan untuk makanan yang bertahan sampai kepada hidup yang kekal, yang akan diberikan Anak Manusia kepadamu….” (Yoh. 6:27)

“Sebab inilah kehendak Bapa-Ku, yaitu supaya setiap orang, yang melihat Anak dan yang percaya kepada-Nya beroleh hidup yang kekal….” (Yoh. 6:40)

“Aku berkata kepadamu: Sesungguhnya barangsiapa percaya, ia mempunyai hidup yang kekal” (Yoh. 6:47)

“Barangsiapa makan daging-Ku dan minum darah-Ku, ia mempunyai hidup yang kekal dan Aku akan membangkitkan dia pada akhir zaman” (Yoh. 6:54)

“dan Aku memberikan hidup yang kekal kepada mereka dan mereka pasti tidak akan binasa sampai selama-lamanya dan seorangpun tidak akan merebut mereka dari tangan-Ku” (Yoh. 10:28)

“Barangsiapa mencintai nyawanya, ia akan kehilangan nyawanya, tetapi barangsiapa tidak mencintai nyawanya di dunia ini, ia akan memeliharanya untuk hidup yang kekal” (Yoh. 12:25)

“… Ia akan memberikan hidup yang kekal kepada semua yang telah Engkau berikan kepada-Nya” (Yoh. 17:2)

“Inilah hidup yang kekal itu, yaitu bahwa mereka mengenal Engkau, satu-satunya Allah yang benar, dan mengenal Yesus Kristus yang telah Engkau utus” (Yoh. 17:3)

“Dan inilah janji yang telah dijanjikan-Nya sendiri kepada kita, yaitu hidup yang kekal” (1 Yoh. 2:25)

“Dan inilah kesaksian itu: Allah telah mengaruniakan hidup yang kekal kepada kita dan hidup itu ada di dalam Anak-Nya” (1 Yoh. 5:11)

“Semuanya itu kutuliskan kepada kamu, supaya kamu yang percaya kepada nama Anak Allah, tahu, bahwa kamu memiliki hidup yang kekal” (1 Yoh. 5:13)

“… Dia adalah Allah yang benar dan hidup yang kekal” (1 Yoh. 5:20)

Dalam teks-teks lainnya juga meneguhkan bahwa yang telah ditetapkan Allah akan menerima kehidupan kekal:

“…dan semua orang yang ditentukan Allah untuk hidup yang kekal, menjadi percaya (Kis. 13:48)

“… setelah kamu dimerdekakan dari dosa dan setelah kamu menjadi hamba Allah, kamu beroleh buah yang membawa kamu kepada pengudusan dan sebagai kesudahannya ialah hidup yang kekal” (Rm. 6:22)

“Sebab upah dosa ialah maut; tetapi karunia Allah ialah hidup yang kekal dalam Kristus Yesus, Tuhan kita” (Rm. 6:23)

“Sebab barangsiapa menabur dalam dagingnya, ia akan menuai kebinasaan dari dagingnya, tetapi barangsiapa menabur dalam Roh, ia akan menuai hidup yang kekal dari Roh itu” (Gal. 6:8)

“supaya kita, sebagai orang yang dibenarkan oleh kasih karunia-Nya, berhak menerima hidup yang kekal, sesuai dengan pengharapan kita” (Tit. 3:7)

“Peliharalah dirimu demikian dalam kasih Allah sambil menantikan rahmat Tuhan kita, Yesus Kristus, untuk hidup yang kekal” (Yud. 21)

Jaminan kehidupan kekal dari Allah sebagai bukti bahwa Allah serius mengasihi, menebus, dan menyelamatkan manusia. Kasih Allah tercurah melalui inkarnasi, penderitaan, penyaliban, kematian, kebangkitan, dan kenaikan [ke surga] Yesus. Sebagai orang percaya, bermisi adalah wujud tanggung jawab yang kuat karena kita telah dikasihi, ditebus, dan diselamatkan oleh Allah melalui Yesus Kristus. Berita inilah yang patut dikabarkan dan juga, pribadi Allah sebagai Sang Penyelamat patut pula diberitakan sebagai pendamping dari berita keselamatan manusia dari dosa-dosa.

Memberitakan Kristus: Menjelaskan Personalitas-Nya

Tugas misi yang paling utama adalah memberitakan Kristus. Memberitakan Kristus berarti menyatakan “apa diri-Nya” dan “apa karya-Nya”. Rasul Paulus dan rekan-rekannya telah melakukan penginjilan sebagai misi utama, dan dalam misi tersebut mereka “memberitakan Kristus”. Filipi 1:15-16 dan 1 Korintus 1:23 adalah wujud dari tugas ini.  Filipi 1:15-16, “Ada orang yang memberitakan Kristus [τὸν χριστὸν κηρύσσουσιν] karena dengki dan perselisihan, tetapi ada pula yang memberitakan-Nya dengan maksud baik. Mereka ini memberitakan Kristus karena kasih, sebab mereka tahu, bahwa aku ada di sini untuk membela Injil.” 1 Korintus 1:23, “tetapi kami memberitakan Kristus yang disalibkan [ἡμεῖς δὲ κηρύσσομεν Χριστὸν ἐσταυρωμένον]: untuk orang-orang Yahudi suatu batu sandungan dan untuk orang-orang bukan Yahudi suatu kebodohan”.

Kata ‘memberitakan’ digunakan kata κηρύσσω [kērussō] yang berarti proclaim aloud [memproklamirkan, menyatakan dengan suara keras], announce [mengumumkan, mempermaklumkan, memberitahukan], mention publicly [mengatakan di depan umum], preach [mengajarkan] most often in reference to God’s saving action (Mat. 10:27; Mrk. 1:4, 39, 45; 5:20; 7:36; 13:10; Luk. 8:39; 9:2; 12:3; 24:47; Kis. 15:21; Rm. 2:21; 1 Kor. 9:27; 15:12; 2 Kor. 4:5; Gal. 2:2; 5:11; 1 Tes. 2:9; 2 Tim. 4:2; Why. 5:2. Proclaim victory [menyatakan kemenangan] 1 Ptr. 3:19. Memberitakan [tentang] Kristus berarti mempermaklumkan di depan umum dengan penuh keberanian dan kesalehan serta menyatakan bahwa mereka yang percaya kepada Kristus diberikan kemenangan atas dosa dan belenggu kejahatan diputuskan. Akuntabilitasi ini menjadi sangat penting sebab iman yang diberikan kepada kita perlu diterapkan ke dalam tingkah laku misi untuk memberitakan Injil Yesus Kristus. Poin utamanya adalah ‘tentang’ Yesus. Elaborasi berikut ini merupakan bagian integral dari tugas ‘memberitakan Kristus’. Tujuan κηρύσσω adalah mewujudkan iman kita melalui perkataan, percakapan, teladan, dan pikiran ke dalam ‘siklus kehidupan’. Memberitakan Kristus didahului dengan pengenalan dan pengudusan Kristus dalam hidup seseorang (bdk. 1 Ptr. 3:15). Ketika seseorang telah mengenal dan menguduskan Kristus, maka ia juga telah menjadi ‘percaya’ sepenuhnya kepada Yesus Kristus. Jaminanya adalah seperti yang ditegaskan Rasul Yohanes: Siapakah yang mengalahkan [νικάω] dunia, selain dari pada dia yang percaya [πιστεύω], bahwa Yesus adalah Anak Allah? [υἱὸς τοῦ θεοῦ] (1 Yoh. 5:5). Orang percaya dapat mengalahkan dunia. Ini keyakinan kita. Mengalahkan dunia dengan iman kita. Iman itu adalah percaya bahwa Yesus adalah Anak Allah.

Tentu, tidak menutup kemungkinan bahwa ada tantangan dalam ‘memberitakan Kristus’. Dalam konteks global, personalitas Yesus menjadi sorotan utama dalam pemahaman keagamaan Kristen. Hampir semua agama yang menyoroti Kristen, selalu berkutat dan berporos pada personalitas Yesus. Agama yang paling sering mengumandangkan personalitas Yesus adalah Islam. Dalam catatan quran, pribadi Yesus [Isa Almasih] adalah pribadi yang cukup disinggung. Akan tetapi, meski banyak disinggung, gambaran Islam tentang Isa agak berbeda. Perbedaan ini muncul dalam sejumlah kisah yang menurut saya sebagai ahistoris sebab kisah tersebut tidaklah bersumber dari catatan historis melainkan hanya berasal atau bersumber dari tradisi lisan atau folklor (cerita rakyat). Mengapa demikian? Sebab Alkitab telah selesai mengalami kanonisasi pada abad ke-4 sehingga Alkitab telah beredar di zaman sebelum Muhammad ada di dunia.

J. N. Birdsall, profesor Perjanjian Baru dan Kritik Tekstual menjelaskan,

Abad ke-4 terlihat penetapan kanon dalam batas-batas yang kita kenal, baik bagi umat kristiani di bagian barat maupun di bagian timur. Di timur pokok yang menentukan ialah Surat Paskal ke-39 dari Atanasius pada thn 367. Di sini untuk pertama kali dijumpai satu PB dengan batas-batas terperinci seperti yang kita kenal. Ada perbedaan yang jelas antara tulisan-tulisan dalam kanon yang disebut sebagai satu-satunya sumber pengajaran agama, dan tulisan-tulisan lain yang boleh dibaca, yakni Didakhe (Pengajaran) dan Shepherd (Gembala). Kitab-kitab Apokrifa yang bidaah disebut sebagai pemalsuan-pemalsuan yang dengan sengaja bertujuan menyesatkan orang. Di dunia barat kanon ditetapkan oleh keputusan konsili di Kartago pada thn 397, ketika sebuah daftar yang sama seperti daftar Atanasius disetujui. Kira-kira pada zaman yang sama sejumlah penulis Latin menaruh perhatian terhadap batas-batas kanon PB: Priscilian di Spanyol, Rufinus dari Aquileia di Gaul, Agustinus di Afrika Utara (yang pandangannya memberi sumbangan bagi keputusan-keputusan di Kartago), Innocentius I, uskup Roma, dan penulis Keputusan Pseudo-Gelasius. Semua itu mempunyai pandangan yang sama (J. N. Birdsall, “Kanon Perjanjian Baru”, dalam Ensiklopedi Alkitab Masa Kini Jilid I, 508).

Implikasinya jelas, berdasarkan kanonisasi Alkitab secara lengkap di abad ke-4, umat Kristen di tanah Arab memiliki Kitab Suci yang baku, dan pemahaman Muhammad tentang Isa telah bercampur aduk dengan tradisi-tradisi (cerita-cerita) yang berkembang di wilayah Arab dan sekitarnya termasuk menerima serapan ajaran dari bidat-bidat Kristen. Oleh sebab itu, gambaran Isa dalam quran tidaklah mewakili gambaran Yesus dalam Perjanjian Baru (PB). Bahkan, menurut saya, Isa dalam quran tidaklah menambahkan “apa-apa” bagi Yesus versi PB sebab sangat kontradiksi. Pemahaman Isa dalam quran sangatlah “kerdil”—tetapi justru pihak apologet Islam yang paling banyak bicara Isa menurut versi cerita-cerita rakyat dalam quran, dan bukan versi Alkitab PB. Jelas keduanya berbeda meski merujuk pada pribadi yang sama. Kita tidak dapat menerima dua sumber tentang Isa di mana kedua sumber tersebut saling kontradiksi. Hal ini memicu pemahaman yang beragam di kalangan kedua agama tersebut. Itu sebabnya, menjelaskan personalitas Yesus perlu didasarkan pada catatan historis PB dan bukan catatan ahistoris quran.

Meskipun demikian, kita memiliki “jembatan” penghubung untuk menjelaskan personalitas Isa versi quran dan Yesus versi PB. Setidaknya, ada beberapa data quran yang bersimilaritas dengan PB. Namun, hal itu bukan berarti bahwa kita menerima quran sebagai firman Allah, melainkan hanyalah dipandang sebagai catatan-catatan pemikiran atau pandangan teologis Muhammad dan para pengikutnya. Di sisi lain, kita juga memiliki jembatan untuk menghubungkan pemahaman Mesias versi Kristen dan Mesias versi Yudaisme. Jembatan tersebut adalah Kitab Ibrani (atau Perjanjian Lama). Bergelut dengan pemahaman “Mesias”, Yudaisme dan Kristen memiliki “sumber” yang sama. Hanya persoalannya adalah ‘tafsir’ terhadap gagasan mesianik dalam PL (akan saya jelaskan di bagian tersendiri).

Perbedaan antara Kristen dan Islam dalam hubungannya dengan Yudaisme adalah:

Pertama, Kristen menerima Kitab Suci Yudaisme secara penuh dan mengakui otoritasnya. Soal disparitas tafsir, itu biasa. Kristen tidak mengubah apa-apa dari Kitab Suci Yudaisme. Justru pemahaman PB terkait dengan PL. Kekuatan inilah yang memungkinkan Kristen dapat menjadi agama yang tangguh dan kredibel dalam memahami “historical redemption”.

Kedua, Yudaisme tidak menerima PB apalagi menerima Yesus sebagai Mesias yang dijanjikan. Pemahaman mereka berangkat dari ‘kematian’ Yesus disalib yang merupakan lambang kekalahan Mesias. Bagi mereka, Mesias adalah pemimpin perang yang akan membebaskan mereka dari penjajahan. Yesus tidak masuk hitungan mereka. Dalam tulisan apokaliptik Yahudi, ada tiga sumber yang menunjukkan kesamaan dalam hal Mesias:

1 Henokh, 4 Ezra (= 2 Esdras), dan 2 Barukh. 1 Henokh berasal dari abad ke-1 SM dan dikutip di Yudas 14. Topik yang dibahas di kitab ini meliputi pribadi dan tugas Mesias, orang benar yang tinggal selama-lamanya bersama Allah, Mesias dan para malaikat-Nya. Kitab ini menguatkan orang percaya yang menantikan kedatangan Mesias. 4 Ezra (= 2 Esdras) ditulis setelah kehancuran Yerusalem, selama pemerintahan Domitianus. Kitab ini merefleksikan pesimisme hidup orang Yahudi, namun melukiskan pemeritahan Mesias, penghakiman yang akan datang, dan pembangunan kembali Yerusalem Baru. Kitab ini merujuk Mesias yang menghakimi, menghancurkan musuh, dan mengumpulkan suku-suku Israel. 2 Barukh disusun setelah hancurnya Yerusalem dan berisi konsep masa depan yang optimis. Penulis melihat pemerintahan Mesias, penghakiman yang akan memuji orang benar dan menghukum orang jahat, kebangkitan, bumi baru, dan Yerusalem surgawi (Simon J. Kistemaker, Tafsiran Kitab Wahyu, 53).

Meski pemahaman tulisan-tulisan apokaliptik Yahudi dikaitkan dengan tulisan Rasul Yohanes yakni kitab Wahyu, namun poinnya adalah pemahaman Yahudi tentang Mesias sangatlah kuat. Setidaknya, selain dari Kitab Ibrani (PL), mereka memiliki referensi lain tentang personalitas Mesias sebagaimana tampak dari penjelasan Kistemaker. Di sisi lain, gambaran Mesias Kristen memiliki referensi dari kitab-kitab Yahudi (Kitab Ibrani). Pengharapan Mesias masih dinantikan oleh umat Yahudi. Bahkan pasca Yesus naik ke surga, dua kitab di atas (4 Ezra dan 2 Barukh) ditulis sekitar tahun 70-an M, di mana di dalamnya ada pengharapan akan Mesias.

Ketiga, Yudaisme juga menolak quran sebagai firman Allah sebab menurut Reuven Firestone, quran memuat kisah-kisah berdasarkan folklorisme (Lihat Reuven Firestone, “Jewish Culture in the Formative Period of Islam”, dalam David Biale (ed.), Cultures of the Jews: A New History, [New York: Schocken Books, 2002]). Menurutnya, “Many of these stories, therefore, like their Jewish or Christian bearers, became ‘Arabized’ as they blended into the local topography and folklore traditions. As a result, uniquely Arabian legends began to emerge that reflected both the biblical and the indigenous heritages” (Firestone, “Jewish Culture in the Formative Period of Islam”, dalam Biale [ed.], Cultures of the Jews: A New History, 273).

Terkait dengan ulasan Firestone, saya menulis salah satu artikel dengan topik “Dialog Al-Qur’an dan Alkitab” yang mengomentari pendapat Firestone:

kandungan historis yang diungkapkan Firestone menegaskan bahwa kisah-kisah tersebut (cerita -cerita Alkitab yang beredar di kalangan orang-orang Yahudi dan Kristen yang tinggal di wilayah Arab di mana mereka juga turut membagikannya kepada masyarakat sekitarnya) memang bersumber dari Yahudi dan Kristen, namun sudah dikemas dalam bentuk ‘Arabisasi’ yang sudah tercampur dengan folklore atau tradisi lokal. Jelas apa yang diungkapkan Firestone bahwa kaum Yahudi dan Kristen mencapurkan cerita rakyat atau tradisi lokal mereka sehingga menyerap ke dalam cerita-cerita Arab yang mencerminkan data biblikal dan warisan adat setempat (Paparang, “Dialog Al-Qur’an dan Alkitab: Sebuah Kolase dan Klarifikasi Wahyu Allah atas Klaim Pemalsuan Alkitab, dalam Kasih Karunia Yesus Kristus, 253).

Muhammad banyak dipengaruhi oleh ‘cerita-cerita’ tersebut dan kemudian pengikutnya menjadikan ‘kitab suci’ tandingan dengan kandungan unsur Kitab Suci Yahudi dan Kristen termuat di dalamnya. Tetapi secara historis berkontradiksi. Alasannya sederhana saja: Yahudi dan Kristen ‘telah’ memiliki Kitab Suci baku, dan tak mungkin dipalsukan. Kitab Suci Yahudi dan Kristen telah menjalani proses panjang dan diakui otoritasnya sehingga quran yang dipandang sebagai ‘firman Allah’ oleh pengikut Muhammad, tidak lebih dari bentuk pemalsuan historis dan doktrinal.

Keempat, Islam tidak menerima Kitab Suci Yahudi dan Kristen sebagai ‘firman Allah’ sebab dengan menerimanya, maka mereka sedang membenturkan diri mereka sendiri. Kandungan biblika dalam quran lebih banyak namun telah mengandung distorsi historis yang cukup masiv (percampuran cerita yang carut-marut). Meski ketiganya mengakui Abraham [Ibrahim] sebagai Bapak Leluhur, namun konsepsi pemahaman tentang ‘Tuhan’ sangatlah berbeda.

Setidaknya, dari konflik internal dan eksternal yang dialami oleh Yudaisme, Kristen, dan Islam, kita masih memiliki ‘jembatan’ untuk menghubungkan narasi historis tentang ‘kasih dan rahmat Tuhan’ yang luar biasa bagi manusia berdosa. Persoalannya, cara menebus dan mengampuni dosa, ketiganya berbeda. Namun elaborasi berikut ini saya fokuskan pada penjelasan tentang personalitas [identitas] Yesus, sedangkan karya-karya-Nya telah saya jelaskan di atas. Perlu diketahui bahwa menjelaskan personalitas Yesus Kristus bersifat signifikan, mengingat personalitas Yesus begitu popular di berbagai kalangan termasuk kalangan akademisi. Ini juga terkait dengan tugas sebagai pemberita Injil dan sebagai orang percaya untuk ‘mengalahkan dunia’ [ὁ νικῶν τὸν κόσμον] yakni dengan mengakui dan percaya bahwa Yesus adalah Anak Allah. Tugas misi kita adalah memproklamirkan [κηρύσσω] identitas dan personalitas Yesus kepada dunia, sebab dalam apologetika misi, hal ini bersifat krusial.

Anak Allah

Sebutan atau gelar “Anak Allah” sering salah dipahami. Umumnya, orang berpikir bahwa gelar Anak Allah mengindikasikan bahwa Allah punya Anak yang bernama Yesus. Jika demikian, siapa istri Allah? Orang kemudian berkesimpulan bahwa Maria adalah istri Allah. Hal inilah yang kemudian dipahami secara gegabah oleh kaum Muslim dengan menyatakan: “Allah tidak beranak dan tidak diperanakkan.” Bahkan ada yang mengatakan: ‘Jika Yesus anak Tuhan, bidannya siapa?” atau dalam bahasa yang lebih keren sedikit: “kalau Tuhan beranak, yang jadi bidannya siapa? Keduanya memiliki indikasi yang sama. Ketika Yesus disebut Anak Tuhan, maka siapa yang melayani persalinannya? Kira-kira demikian implikasi dari pernyataan tersebut.

Dalam pandangan saya, model statement seperti di atas masuk dalam kategori ‘celoteh jalanan’ sebab mereka yang berpandangan dan memahami gelar Yesus sebagai Anak Allah [υἱὸς τοῦ θεοῦ] berdasarkan konotasi biologis sebenarnya tidaklah memahami data dan konteks dari gelar tersebut. Ketika mereka mengatakan “Allah tidak beranak dan tidak diperanakkan”, maka sebenarnya pernyataan tersebut sedang menegaskan bahwa: Allah Islam tidak beranak secara biologis. Ketika pernyataan itu dilekatkan kepada Yesus sebagai Anak Allah, maka Islam, dengan teori mereka menganggap bahwa Allah Kristus “beranak” secara biologis. Jika anggapan ini benar di mana gagasan bahwa “Allah tidak beranak dan tidak diperanakkan” dituduhkan kepada Kristen, maka Islam sedang melakukan straw man—sebuah jenis kesesatan logika di mana standar iman Islam tersebut mau mengukur standar Kristen yang secara substansial berbeda. Kesimpulannya, kritik Islam “salah tempat”. Allah Islamlah yang ‘tidak beranak’ secara biologis (sesuai dengan pemahaman mereka) sedangkan Allah Kristen ’memiliki’ Anak bukan dengan cara biologis melainkan dengan cara ‘keluar’ dan ‘diperanakkan’. Allah itu roh, maka memahami bahwa Allah beranak secara biologis sudah salah. Kata ‘diperanakkan’ bukan mengindikasikan bahwa Allah beranak seperti dalam pemahaman Islam, melainkan istilah tersebut mengacu kepada natur ‘kemanusiaan’ Yesus dalam inkarnasi-Nya. Istilah ‘keluar’ merujuk kepada ‘sumber’ di mana Anak [Yesus] keluar. Itu berarti, substansi Anak sama dengan sumber di mana Ia ‘keluar’. Ini adalah salah satu indikasi keilahian Yesus.

Kelemahan Islam adalah terlalu memaksakan gagasan mereka kepada doktrin inkarnasi Yesus, padahal landasan pemikirannya jelas berbeda. Islam tak mungkin memiliki pemahanan yang solid, valid, dan kredibel tentang personalitas Yesus sejauh landasan pijaknya didasari pada data quranik. Data quranik, seperti yang saya jelaskan di atas bukanlah data historis melainkan ahistoris (bersumber dari tradisi lisan atau folklor). Jika Islam masih berkeras hati untuk memaksakan prinsip tersebut ke dalam doktrin Kristen, maka Islam sedang melakukan “masturbasi teologi”—berpuas diri dengan doktrinnya yang tidak ada kaitan dengan doktrin Kristen. Beda sumber beda landasan. Beda historis beda pemikiran dan rumusan doktrinnya.

Memahami Yesus sebagai “Anak Allah” dengan penekanan pada unsur biologis bukanlah maksud dari Alkitab. Doktrin Kristen sama sekali tidak mengajarkan hal itu. Yang memahami “Allah bisa beranak secara biologis” adalah doktrin Islam yang tak pantas dilekatkan pada pemahaman “Anak Allah” dalam doktrin Kristen. Ada dua hal yang perlu dipahami di sini. Pertama, istilah ‘beranak’ seolah-olah manusia menekankan aspek biologis. Padahal, Allah tidaklah dipahami secara fisik. Allah itu Roh. Jadi tidak ada bukti apa pun di dunia ini bahwa Roh bisa beranak. Dengan demikian, Allah Kristen tidak beranak. Kedua, Allah beranak dan Allah memiliki Anak adalah dua hal yang berbeda. Allah memiliki Anak bukanlah dengan cara biologis sebagaimana yang selama ini disalahpahami oleh mereka yang menolak gagasan Anak Allah dilekatkan pada Yesus Kristus. Allah memiliki Anak dengan cara yang sama sekali berbeda dengan apa yang dipahami oleh manusia yang menekankan aspek biologis. Istilah tersebut adalah istilah antara. Kata “Anak” mewakili manusia dan kata “Allah” mewakili Allah sendiri. Penggabungan dua istilah ini dapat dipahami sejauh seseorang memahaminya dalam bingkai historical redemption. Penolakan istilah “Anak Allah” berangkat dari ketidakmengertian seseorang akan cara Allah menebus manusia dari dosa mereka dengan apa yang telah Ia tetapkan. Tentunya, memahami perkara ini bukan berangkat dari gagasan manusia terhadap apa yang Allah perbuat, melainkan berangkat dari Allah yang melakukan perbuatan-Nya bagi manusia dalam rangka penebusan. Ketika hal ini dipahami, maka berita dari misi Kristen akan—mungkin—dengan mudah dipahami. Misi Kristen adalah membawa manusia yang belum mengenal Yesus untuk mengenal Dia dan apa yang Ia lakukan bagi manusia dan masa depan manusia. Perjanjian Baru menyebutkan pengakuan Yesus sebagai ‘Anak Allah’ [υἱὸς τοῦ θεοῦ] didasarkan pada sejumlah sumber. Perlu dicatat bahwa dalam PB frasa υἱὸς τοῦ θεοῦ memiliki kekayaan makna. Berikut ini adalah teks-teks bukti tentang sebutan υἱὸς τοῦ θεοῦ bagi Yesus.

Pengakuan Iblis [διάβολος]

Matius 4:3, 6, Lalu datanglah si pencoba itu dan berkata kepada-Nya: “Jika Engkau Anak Allah, perintahkanlah supaya batu-batu ini menjadi roti” [καὶ προσελθὼν ὁ πειράζων εἶπεν αὐτῷ· εἰ υἱὸς εἶ τοῦ θεοῦ, εἰπὲ ἵνα οἱ λίθοι οὗτοι ἄρτοι γένωνται – kai proselthōn ho peirazōn eipen autō. Ei uios ei tou Theou, eipe hina oi lithoi outoi artoi genōntai]. Lalu berkata kepada-Nya: “Jika Engkau Anak Allah, jatuhkanlah diri-Mu ke bawah, sebab ada tertulis: Mengenai Engkau Ia akan memerintahkan malaikat-malaikat-Nya dan mereka akan menatang Engkau di atas tangannya, supaya kaki-Mu jangan terantuk kepada batu” (ayat-ayat paralelnya dalam Lukas 4:3, 9). Meskipun teks-teks di atas tidak secara gamblang menyatakan pengakuan Iblis tentang Yesus sebagai υἱὸς τοῦ θεοῦ namun hal tersebut dipahami sebagai pengakuan negatif yang dirancang Iblis untuk membuktikan secara terbalik. Perlu dicatat di sini adalah bahwa Yesus sama sekali tidak memenuhi semua permintaan Iblis. Mengapa? Kita perlu melihat siapa penuturnya. Iblis adalah penutur untuk mencobai Yesus. Iblis itu tidak bisa dipercaya. Jadi mustahil Yesus mendengarkan tantangan atau pencobaan Iblis. Namanya juga ‘si pencoba’, berarti ia hanya mau mencoba dan kata-katanya tidak bisa dipercaya. Yesus tahu siapa penuturnya. Yesus tahu apa motif di balik tawaran-tawaran Iblis. Itu sebabnya, dalam tiga kali pencobaan Iblis, Yesus sama sekali tidak memenuhi permintaannya. Yang ‘tidak bisa dipercaya’, jangan dipercaya. Itulah inti dari kisah pencobaan Iblis terhadap Yesus.

Berikut ini adalah penjelasan mengenai percakapan Iblis dengan Yesus dan kesimpulannya.

Pencobaan Pertama

Pernyataan Iblis: Jika Engkau Anak Allah, perintahkanlah supaya batu-batu ini menjadi roti.

Jawaban Yesus: “Ada tertulis: Manusia hidup bukan dari roti saja, tetapi dari setiap firman yang keluar dari mulut Allah.”

Kesimpulan: Pembuktian bahwa Yesus adalah Anak Allah, dalam pandangan Iblis, adalah mengubah batu-batu menjadi roti. Yesus menjawabnya dengan mengarahkan Iblis untuk melihat Firman yang telah disampaikan TUHAN (dalam PL). Artinya, dasar memahami personalitas Yesus haruslah didasari pada data Firman TUHAN. Yesus bukanlah menjadi Anak Allah ketika Ia mengubah batu-batu menjadi roti. Iblis menggunakan materi bahan makanan [roti] karena Yesus sedang lapar. Di sini, jika Yesus menuruti perintah Iblis, maka Yesus bukanlah Anak Allah. Ini disebut dengan “pembuktian terbalik” yang dirancangkan Iblis.

Jadi, pembuktian mengubah batu-batu menjadi roti justru melemahkan identitas Yesus sebagai Anak Allah karena tiga hal: pertama, ke-Anak Allah-an Yesus bukan ditentukan oleh diri-Nya sendiri melainkan melalui Iblis yang menyodorkan batu-batu untuk dijadikan roti; kedua, ketika Yesus menjadikan batu-batu menjadi roti, maka Yesus ‘tunduk’ pada Iblis (yang memerintah-Nya) dan implikasinya adalah identitas ‘Anak Allah’ yang dilekatkan pada Yesus pasca Dia menjadikan batu-batu jadi roti bukanlah didapatkan dari diri-Nya sendiri melainkan dari Iblis; dan ketiga, penolakan Yesus atas perintah Iblis membuktikan bahwa Dia tidak layak diperintah oleh Iblis. Sebagai Anak Allah, Ia menunjukkan bahwa perintah Iblis bukanlah apa-apa sebab Dia tahu apa yang ada dalam pikiran Iblis hanyalah semata-mata mau mencobai bukan dengan maksud meneguhkan keilahian Yesus melainkan justru merendahkan-Nya.

Akan tetapi, Yesus juga membuktikan secara terbalik (kontra Iblis) dengan menegaskan bahwa “Manusia hidup bukan dari roti saja, tetapi dari setiap firman yang keluar dari mulut Allah”. Artinya, tanpa “makan roti pun” Aku [Yesus] bisa hidup karena “Aku adalah Anak Allah.” Metode “pembuktian terbalik” sering digunakan oleh para penentang ketuhanan Yesus. Mereka—sama halnya dengan Iblis—ingin meminta bukti layaknya Iblis meminta bukti, bahwa “Jika Yesus mengakui dari mulut-Nya sendiri bahwa: ‘Aku [adalah] Allah’, maka Yesus berstatus Allah”. Jadi, penentuan identitas ke-Allah-an Yesus bukanlah berasal dari diri-Nya sendiri melainkan dari mereka yang ‘memasang’ perangkap pembuktian terbalik. Dalam pemikiran mereka, metode ini digunakan karena Alkitab tidak menyebutkan pengakuan demikian. Jadi, mereka seolah-olah yang menentukan apakah Yesus akan jadi Allah atau tidak berdasarkan standar yang mereka tetapkan. Perlu dicatat bahwa identitas Yesus tidaklah diukur dengan cara demikian. Ia memiliki sejumlah alasan untuk membuktikan identitas keilahian, ke-Tuhan-an, dan ke-Allah-an-Nya.

Model ini sangat lemah karena mengukur ketuhanan Yesus ‘hanya dari’ pengakuan personal [dari mulut saja]. Padahal, mengukur dan memahami ketuhanan Yesus tidak hanya didasari pada pengakuan tunggal melainkan dari sumber-sumber lainnya sebagaimana yang akan dijelaskan berikut ini. Sangat jelas bahwa model tersebut tidak memenuhi standar sebuah kebenaran sebab kebenaran tidak hanya diukur dari standar tunggal melainkan dari serentetan standar [tergantung jenis] kebenaran. Sebut saja dalam kasus di pengadilan. Setiap kasus setidaknya mempunyai ‘saksi’. Jika Yesus adalah ‘Anak Allah’, maka kita perlu melihat para saksi lain yang menyatakan bahwa Dia adalah ‘Anak Allah’ yang berimplikasi pada ketuhanan-Nya.

Pencobaan Kedua

Pernyataan Iblis: “Jika Engkau Anak Allah, jatuhkanlah diri-Mu ke bawah, sebab ada tertulis: Mengenai Engkau Ia akan memerintahkan malaikat-malaikat-Nya dan mereka akan menatang Engkau di atas tangannya, supaya kaki-Mu jangan terantuk kepada batu.”

Jawaban Yesus: “Ada pula tertulis: Janganlah engkau mencobai Tuhan, Allahmu!” Jawaban Yesus juga dibuktikan dengan mengutip Firman dalam Ulangan 6:16, “Janganlah kamu mencobai TUHAN, Allahmu, seperti kamu mencobai Dia di Masa.” Yesus mengambil contoh kisah tentang Israel di Masa dan Meriba (Kel. 17:1-7). Dari kisah tersebut, Yesus membalas pernyataan Iblis dengan mengatakan bahwa jangan mencobai Tuhan, Allahmu.

Dalam anggapan saya—Yesus sedang mengatakan kepada Iblis: “Kamu siapa yang berhak memerintah Saya? Gelar Anak Allah yang ada pada diri-Ku bukan akan ‘ada’ dan ‘dibuktikan’ karena Saya melompat dan ditatang oleh para malaikat.” Bukan hak kamu untuk membuktikan Saya adalah Anak Allah tetapi dari diri-Ku sendiri. Kamu tak berhak sama sekali untuk membuktikannya.

Menyimak pernyataan Yesus di atas bahwa “Janganlah engkau mencobai Tuhan, Allahmu”, maka pertanyaannya: siapa yang dimaksudkan dengan “Tuhan, Allahmu?” Sangat mungkin Yesus menunjuk pada diri-Nya sebagai Tuhan dan Allah di mana Iblis harus takluk dan tunduk pada-Nya, bukan memerintah-Nya dan mengaturnya sesuka hati. Arti lain bahwa Ia sedang menyatakan kesetaraan-Nya dengan Allah dalam PL, dan pula Yesus sedang merujuk kepada Bapa-Nya sebagai ‘sumber’ dari mana Ia datang dan keluar. Ini berarti selaras dengan arti yang kedua. Arti yang pertama bahwa: “Janganlah engkau mencobai Tuhan, Allahmu” merujuk pada diri-Nya sendiri karena konteksnya adalah Iblis sedang mencobai Yesus untuk membuktikan apakah Ia Ilahi [Anak Allah] atau tidak. Karena alasan inilah, maka saya berpendapat bahwa Yesus sedang menyatakan bahwa diri-Nya adalah Tuhan dan Allah secara implisit—kontekstual. Arti yang kedua sebagai pembuktian bahwa Yesus sedang menyatakan distingsi antara Ia dan Bapa-Nya (dalam PL) sebagaimana PL sering menyatakan adanya suatu distingsi keilahian dari pribadi-pribadi kekal (misalnya Roh Kudus dan Malaikat TUHAN). Arti yang ketiga merujuk pada natur inkarnasi Yesus di mana dalam posisi sebagai manusia, Ia merujuk pada Bapa-Nya sebagai sumber dari mana Ia datang dan keluar. Hal ini pula menegaskan bahwa Ia setara dengan Sang Sumber sebab esensi yang dimiliki-Nya berasal dan sama dengan Sang Sumber.

Jawaban Yesus terkait dengan ‘siapa yang berhak memerintah’. Ketegasan jawaban Yesus membuktikan bahwa ini bukan perkara menjatuhkan atau menatang kaki-Nya sebagai penggenapan nubuatan Mazmur 91:11-12, tetapi soal ‘siapa yang memerintah’. Iblis tidak berhak memerintah Yesus sebagai Yesus adalah Anak Allah. Posisi Yesus sebagai Anak Allah justru jauh lebih tinggi dari pada Iblis. Implikasinya adalah pembuktian identitas Yesus sebagai Anak Allah tidaklah bergantung pada perintah Iblis melainkan hanya melalui kehendak Yesus sendiri sebagaimana yang akan kita lihat dalam kesimpulan berikut ini.

Kesimpulan: Pernyataan Iblis memiliki dua arti, pertama, jika dituruti maka berimplikasi pada Iblis sebagai yang tertinggi dan Yesus sebagai yang terendah. Yang terendah mengikuti perintah yang tertinggi; kedua, dengan membuktikan bahwa Yesus bisa menjatuhkan [melemparkan: βάλλω—throw] diri-Nya ke bawah, Yesus bukanlah apa-apa meski malaikat-malaikat akan menatang-Nya di atas tangan, karena yang membuktikannya bukanlah Yesus melainkan Iblis. Artinya, jika tidak ada Iblis yang mengajukan pernyataan tersebut, maka mustahil Yesus adalah Anak Allah. Jadi, identitas Yesus sebagai Anak Allah bergantung pada Iblis. Inilah yang sering digunakan oleh mereka yang menegasikan ke-Ilahian Yesus. Merekalah yang mempunyai aturan pembuktian dengan cara: “Jika Yesus adalah Tuhan dan Allah, maka Ia harus menyatakan dari diri-Nya sendiri bahwa ‘Akulah Tuhan’”. Rumusan ini yang digunakan Islam sebagai negasi ke-Tuhanan Yesus, yang mengikuti cara Iblis, sebagaimana telah saya sebutkan di atas. Hal ini sama saja dengan menegaskan: “Jika saya adalah manusia, maka saya harus mengeluarkan pernyataan bahwa saya adalah manusia sejati.” Jika demikian, maka esensi kemanusiaan saya bergantung pada ucapan saya. Padahal, tidaklah demikian.

Iblis juga mengajukan pembuktian melalui firman dengan mengutip Mazmur 91:11-12, “sebab malaikat-malaikat-Nya akan diperintahkan-Nya kepadamu untuk menjaga engkau di segala jalanmu. Mereka akan menatang engkau di atas tangannya, supaya kakimu jangan terantuk kepada batu”; for he will command his angels concerning you to guard you in all your ways; they will lift you up in their hands, so that you will not strike your foot against a stone [NIV]). Teks Mazmur 91:11-12 berbicara nubuatan tentang Yesus dan identitas yang disandang-Nya sebagai Anak Allah dan Anak Manusia dalam inkarnasi-Nya. Namun, membuktikan bahwa diri-Nya adalah Anak Allah dengan cara menjatuhkan diri ke bawah tidaklah relevan dengan teks-teks yang diacu sebab dalam teks-teks tersebut tidak ada indikasi soal malaikat-malaikat akan menatang pasca menjatuhkan diri. Benar, bahwa Iblis mengutip firman, tetapi Iblis memberikan arti yang negatif untuk hasil negatif.

Dari teks-teks Matius 4, kita melihat bahwa pasca Iblis pergi, para malaikat [ἄγγελοι] datang (mendekat, προσῆλθον, προσέρχομαιcome or go to, approach) melayani [διακονέω] Yesus (ay. 11). Ada beberapa makna dari ayat 11 tersebut.

Pertama, para malaikat yang datang melayani Yesus menggenapi Mazmur 91:11-12. Mereka datang atas perintah Allah (kontras perintah dan tantangan pencobaan Iblis) (lihat ay. 11 “sebab malaikat-malaikat-Nya akan diperintahkan-Nya kepadamu”). Di sini jelas bahwa yang berhak memerintah malaikat adalah Allah sendiri. Dalam kasus pencobaan Yesus di atas, Iblis memberikan tantangan yang berimplikasi pada dua hal yakni jika Yesus menjatuhkan diri ke bawah maka para malaikat akan diperintahkan untuk menatang kaki Yesus dan kedua bahwa kedatangan para malaikat untuk menatang kaki Yesus disebabkan oleh rekomendasi Iblis sehingga Allah mengutus para malaikat menatang kaki Yesus. Jadi kita melihat bahwa Iblislah yang menyebabkan ‘para malaikat’ datang menatang kaki Yesus di mana secara otomatis Allah akan menggenapi nubuatan Mazmur 91:11-12. Akan tetapi, pembuktiannya justru terbalik. Pasca Iblis pergi, baru para malaikat datang melayani Yesus.

Kedua, para malaikat yang melayani [διακονέω] Yesus, dapat diartikan dua hal yaitu menyembah dan menatang. Mengapa harus menatang? Menurut saya, para malaikat yang datang untuk melayani Yesus termasuk menatang kaki-Nya sebab jika tidak, maka nubuatan Mazmur 91:11-12 tidak akan pernah tergenapi. Lagipula, para malaikat yang menatang kaki Yesus selaras dengan pencobaan yang mendahuluinya. Artinya, meski Iblis tidak berhasil membuktikan para malaikat yang menatang, tetapi Allah membuktikan bahwa Ia memerintahkan para malaikat untuk datang melayani Yesus: menatang kaki dan menyembah-Nya. Sebagai pembuktian, kata προσέρχομαι juga berarti “of coming to a deity” (datang kepada yang Ilahi, datang kepada Tuhan, datang kepada Allah). Teks-teks berikut ini menjelaskan penggunaan kata προσέρχομαι.

Ibrani 4:16, Sebab itu marilah kita dengan penuh keberanian menghampiri [προσερχώμεθα] takhta kasih karunia, supaya kita menerima rahmat dan menemukan kasih karunia untuk mendapat pertolongan kita pada waktunya.

Ibrani 7:25, Karena itu Ia sanggup juga menyelamatkan dengan sempurna semua orang yang oleh Dia datang [προσερχομένους] kepada Allah. Sebab Ia hidup senantiasa untuk menjadi Pengantara mereka).

Ibrani 10:22, Karena itu marilah kita menghadap [προσερχώμεθα] Allah dengan hati yang tulus ikhlas dan keyakinan iman yang teguh, oleh karena hati kita telah dibersihkan dari hati nurani yang jahat dan tubuh kita telah dibasuh dengan air yang murni.

Ibrani 11:6, Sebab barangsiapa berpaling [προσερχόμενον] kepada Allah, ia harus percaya bahwa Allah ada, dan bahwa Allah memberi upah kepada orang yang sungguh-sungguh mencari Dia.

1 Petrus 2:4, Dan datanglah [προσερχόμενοι] kepada-Nya, batu yang hidup itu, yang memang dibuang oleh manusia, tetapi yang dipilih dan dihormat di hadirat Allah.

Berdasarkan keterangan di atas, dapat saja dipahami bahwa para malaikat yang datang melayani Yesus, berarti datang ke pribadi yang ‘Ilahi’, pribadi yang adalah Allah itu sendiri (of coming to a deity) yang kemudian mereka menyembang-Nya. Kita melihat juga dalam Matius 4:3, si pencoba [πειράζω] datang [προσελθὼν] kepada-Nya. Iblis tahu bahwa Yesus adalah Anak Allah. Ia datang kepada ‘Yang Ilahi’. Hanya saja dalam konteks pencobaan yang dilakukannya, Iblis ingin melihat—setidaknya menurut pemahaman saya—bahwa dalam kondisi Yesus sebagai manusia, mungkinkah Ia masih berstatus dan beridentitas sebagai ‘Anak Allah’ dan ‘Yang Ilahi’? Jelas, dalam pencobaan Iblis terhadap Yesus, membuktikan bahwa Yesus benar-benar ‘Anak Allah’ dan ‘Yang Ilahi’. Tanpa ada pertanyaan “Jika Engkau Anak Allah” dari Iblis, Yesus adalah Anak Allah. Status Yesus sebagai Anak Allah tidaklah ditentukan oleh pertanyaan dan implikasi dari uji coba Iblis terhadap-Nya. Iblis itu tidak bisa dipercaya: yang ‘tidak bisa dipercaya’, jangan dipercaya.

Mungkin saja ada orang yang berpendapat bahwa Iblis datang kepada pribadi yang Ilahi (of coming to a deity) tidaklah merupakan maksud Iblis sebab yang menulis Injil Matius tidak tahu apa yang ada dalam pikiran Iblis, apakah Iblis telah memiliki prapemahaman bahwa Yesus adalah pribadi yang Ilahi atau tidak. Seolah-olah Matius menegaskan sendiri identitas Yesus meski Iblis tidak memiliki prapemahaman yang demikian. Namun, perlu dicatat di sini bahwa Matius menuliskan kisah ini secara utuh. Artinya, kata ‘datang’ (προσέρχομαι) mengindikasikan Iblis pergi menemui pribadi Yang Ilahi, didasarkan pada cerita yang utuh sebab dikisahkan kemudian, Iblis mengatakan: “Jika Engkau Anak Allah” di setiap niat pencobaannya. Iblis mengutip pernyataan “sebab ada tertulis: ‘Mengenai Engkau Ia akan memerintahkan malaikat-malaikat-Nya dan mereka akan menatang Engkau di atas tangannya, supaya kaki-Mu jangan terantuk kepada batu.’” Siapa Yesus sehingga Allah memerintahkan para malaikat-Nya untuk menatang kaki-Nya di atas tangan mereka? Bukankah dengan mengutip teks PL, Iblis sedang menyatakan bahwa memang Yesus adalah pribadi Yang Ilahi? Meski upaya Iblis gagal dengan tidak mendapatkan bukti bahwa Yesus bisa menjatuhkan diri-Nya, namun, kutipan yang dipakai Iblis justru membuktikan bahwa Yesus benar-benar pribadi Yang Ilahi. Lagipula, dasar bahwa Yesus adalah pribadi yang Ilahi dijelaskan dari jawaban yang diucapkan-Nya, sebagaimana telah saya uraikan di atas.

Ketiga, ada yang menafsirkan bahwa pencobaan di padang gurun sebagai bentuk cara Iblis untuk mempercepat ‘pemuliaan Yesus’ dalam inkarnasi-Nya. Namun, gagasan ini, menurut saya, tidaklah relevan dengan Mazmur 91:14-16. Lagipula, Iblis tidak memiliki hak untuk ‘memuliakan’ Yesus apalagi mempercepat pemuliaan-Nya dengan tidak melalui jalan penderitaan, salib, dan kematian. Pencobaan dalam Matius 4, menurut saya berbicara tentang status dan identitas Yesus sebagai Anak Allah, Allah, dan Tuhan, dalam kondisi Yesus sebagai Anak Manusia untuk menyelamatkan manusia dari dosa-dosa mereka melalui salib.

Mazmur 91:14-16 menyatakan: “Sungguh, hatinya melekat kepada-Ku, maka Aku akan meluputkannya, Aku akan membentenginya, sebab ia mengenal nama-Ku. Bila ia berseru kepada-Ku, Aku akan menjawab, Aku akan menyertai dia dalam kesesakan, Aku akan meluputkannya dan memuliakannya. Dengan panjang umur akan Kukenyangkan dia, dan akan Kuperlihatkan kepadanya keselamatan dari pada-Ku.” Dari teks-teks tersebut, yang berhak memuliakan Yesus adalah Bapa-Nya. Pemuliaan Yesus terjadi pasca Ia berada dalam kesesakan yang dapat diartikan sebagai peristiwa salib yang harus dilalui-Nya. Hal ini pula ditegaskan Rasul Paulus: “Dan dalam keadaan sebagai manusia, Ia telah merendahkan diri-Nya dan taat sampai mati, bahkan sampai mati di kayu salib. Itulah sebabnya Allah meninggikan Dia dan mengaruniakan kepada-Nya nama di atas segala nama, supaya dalam nama Yesus bertekuk lutut segala yang ada di langit dan yang ada di atas bumi dan yang ada di bawah bumi, dan segala lidah mengaku: ‘Yesus Kristus adalah Tuhan,’ bagi kemuliaan Allah, Bapa! (Flp. 2:8-11).

Keempat, ungkapan “Ia akan memerintahkan malaikat-malaikat-Nya dan mereka akan menatang Engkau di atas tangannya, supaya kaki-Mu jangan terantuk kepada batu” dapat diartikan bahwa dalam kondisi apa pun, tanpa ada perintah dari Iblis, Yesus dilindungi dan ditopang Allah dalam menggenapi totalitas ‘rencana keselamatan’ atas umat pilihan-Nya.

Pencobaan Ketiga

Pernyataan Iblis: “Semua itu [kerajaan dunia] akan kuberikan kepada-Mu, jika Engkau sujud menyembah aku.”

Jawaban Yesus: “Enyahlah, Iblis! Sebab ada tertulis: Engkau harus menyembah Tuhan, Allahmu, dan hanya kepada Dia sajalah engkau berbakti!”

Kesimpulan: Tawaran Iblis yang terakhir tidak main-main. Ia mau, Yesus menyembahnya. Di sini memang terkesan aneh. Iblis seolah-olah merasa menguasai semua kerajaan dunia dan mencoba menawarkannya dengan ada timbal baliknya. Ada beberapa hal yang saya pahami dari tawaran dan permintaan Iblis serta jawaban Yesus:

Pertama, Iblis mungkin melihat bahwa Yesus sebagai Anak Allah dalam wujud manusia yang dipandang status-Nya lebih rendah dari dia, memiliki kemungkinan untuk digoda dengan tujuan menyembah-nya.

Kedua, jika Yesus tergoda untuk menyembahnya, maka betapa kesombongan Iblis memuncak dan dengan bukti tersebut, Iblis memiliki cukup dalil bahwa jika Yesus saja yang adalah Anak Allah tertarik dengan tawaran kerajaan dunia sebagai imbalan dari menyembahnya, apalagi para pengikut-Nya?

Ketiga, Iblis memiliki dasar bahwa untuk menggoda manusia agar tunduk dan menyembahnya adalah dengan cara menawarkan kerajaan dunia, hal-hal yang sifatnya mewah, megah, dan kesenangan lainnya karena dianggap setimpal, cukup menyembahnya dan tunduk padanya. Menyembah Iblis berarti menaklukkan diri di bawah kuasanya.

Keempat, jawaban Yesus memutarbalikkan semua gagasan buruk dan menipu dari Iblis. Yesus menegaskan bahwa: “Kamu [Iblis] tidak layak disembah meski kamu menawarkan kerajaan dunia, sebab itu bukan milikmu, tetapi milik-Ku.” Ini diwujudkan dengan jawaban Yesus: “Enyahlah, Iblis! Sebab ada tertulis: Engkau harus menyembah Tuhan, Allahmu, dan hanya kepada Dia sajalah engkau berbakti!”

Kelima, jawaban Yesus adalah dalil bagi orang percaya agar tidak mudah digoda dengan tawaran apa saja untuk tunduk dan menyembah Iblis. Jawaban Yesus menjelaskan sebuah ketegasan objek penyembahan yang hanya ditujukan kepada Allah Bapa yang direpresentatifkan melalui Diri-Nya. Ia setara dengan Allah Bapa.

Dari teks-teks Matius di atas, jelas bahwa dengan menyebutkan “Jika Engkau Anak Allah”, Iblis membuktikan—meski dengan tendensi negatif—bahwa Yesus adalah Anak Allah, bukan dalam pengertian biologis seperti yang dipahami oleh mereka yang menolak gelar Anak Allah kepada Yesus. Pengetahuan Iblis bahwa Yesus adalah Anak Allah dibuktikan melalui satu kutipan firman Allah dalam Mazmur 91:11-12. Ketika mereka yang memahami gelar Anak Allah sebagai bentuk pemahaman indikasi biologis, lebih buruk dari Iblis. Pada kesempatan lain, setan pun mengakui bahwa Yesus adalah “Anak Allah Yang Mahatinggi” (Luk. 8:28) tidak dengan pemahaman biologis. Pembaca pasti tahu apa implikasinya ketika mereka yang memahami gelar ‘Anak Allah’ secara biologis. Dengan melihat tangkisan jawaban Yesus terhadap Iblis, membuktikan bahwa Yesus adalah Tuhan dan Allah yang layak didengar, layak ditaati, dipatuhi, dan disembah.

Pengakuan Setan-setan

Di bagian lain, setan-setan mengakui bahwa Yesus adalah Anak Allah.

Matius 8:29, Dan mereka itupun berteriak, katanya: Apa urusan-Mu dengan kami, hai Anak Allah?

Markus 3:11, Bilamana roh-roh jahat melihat Dia, mereka jatuh tersungkur di hadapan-Nya dan berteriak: “Engkaulah Anak Allah.”

Markus 5:7, dan dengan keras ia berteriak: “Apa urusan-Mu dengan aku, hai Yesus, Anak Allah Yang Mahatinggi? Demi Allah, jangan siksa aku!”

Lukas 4:41, Dari banyak orang keluar juga setan-setan sambil berteriak: “Engkau adalah Anak Allah.” Lalu Ia dengan keras melarang mereka dan tidak memperbolehkan mereka berbicara, karena mereka tahu bahwa Ia adalah Mesias.

Lukas 8:28 Ketika ia melihat Yesus, ia berteriak lalu tersungkur di hadapan-Nya dan berkata dengan suara keras: “Apa urusan-Mu dengan aku, hai Yesus Anak Allah Yang Mahatinggi? Aku memohon kepada-Mu, supaya Engkau jangan menyiksa aku.”

Implikasinya, jika Yesus bukan Anak Allah lalu siapa yang bisa membuktikan bahwa setan-setan salah mengidentifikasikan pribadi Yesus? Jelas, gelar ‘Anak Allah’ [υἱὸς τοῦ θεοῦ] yang dikatakan oleh setan-setan tidaklah bermakna ‘biologis’, sebab setan-setan adalah makhluk roh, maka mereka mengetahui bahwa gelar Anak Allah yang ditujukan kepada Yesus tidaklah bermakna biologis. Maka, mereka (para lawan Kristen yang menolak keilahian Yesus) yang memahami gelar υἱὸς τοῦ θεοῦ dengan konotasi biologis adalah ‘salah alamat’ alias ‘sesat’.

Pengakuan Para Murid

Pengakuan para murid bahwa Yesus adalah υἱὸς τοῦ θεοῦ didasarkan pada apa yang mereka lihat. Artinya, pengakuan-pengakuan dari Iblis dan setan-setan tidak mengurangi kuatnya identitas Yesus. Para murid adalah orang terdekat Yesus. Mereka adalah saksi mata apa yang dilakukan Yesus. Kristologi quran yang menolak gagasan υἱὸς τοῦ θεοῦ terhadap Yesus merupakan gambaran buruk dari pemahaman nilai-nilai historis PB. Selain itu, Rasul Paulus adalah salah satu rasul yang diutus untuk menjadi saksi Yesus. Pasca kebutaan matanya karena mau membunuh orang-orang yang percaya kepada Yesus, ia diberikan mandat untuk menjadi rasul bagi bangsa-bangsa selain Israel.

Matius 14:33,  Dan orang-orang yang ada di perahu menyembah Dia, katanya: “Sesungguhnya Engkau Anak Allah.”

Matius 16:16, Maka jawab Simon Petrus: “Engkau adalah Mesias, Anak Allah yang hidup!”

Markus 1:1, “Inilah permulaan Injil tentang Yesus Kristus, Anak Allah.” Penulisan Yesus sebagai υἱὸς τοῦ θεοῦ didasarkan atau pengakuan Petrus (Markus adalah Injil menurut Petrus). Petrus adalah salah satu murid terdekat Yesus.

Yohanes 1:34, Dan aku telah melihat-Nya dan memberi kesaksian: “Ia inilah Anak Allah.”

Yohanes 1:49, Kata Natanael kepada-Nya: “Rabi, Engkau Anak Allah, Engkau Raja orang Israel!”

Yohanes 11:27, Jawab Marta: “Ya, Tuhan, aku percaya, bahwa Engkaulah Mesias, Anak Allah, Dia yang akan datang ke dalam dunia.”

Yohanes 20:31, tetapi semua yang tercantum di sini telah dicatat, supaya kamu percaya, bahwa Yesuslah Mesias, Anak Allah, dan supaya kamu oleh imanmu memperoleh hidup dalam nama-Nya.

Kisah Para Rasul 9:20,  Ketika itu juga ia memberitakan Yesus di rumah-rumah ibadat, dan mengatakan bahwa Yesus adalah Anak Allah.

Roma 1:4, dan menurut Roh kekudusan dinyatakan oleh kebangkitan-Nya dari antara orang mati, bahwa Ia adalah Anak Allah yang berkuasa, Yesus Kristus Tuhan kita.

2 Korintus 1:19, Karena Yesus Kristus, Anak Allah, yang telah kami beritakan di tengah-tengah kamu, yaitu olehku dan oleh Silwanus dan Timotius, bukanlah “ya” dan “tidak,” tetapi sebaliknya di dalam Dia hanya ada “ya”.

Galatia 2:20, namun aku hidup, tetapi bukan lagi aku sendiri yang hidup, melainkan Kristus yang hidup di dalam aku. Dan hidupku yang kuhidupi sekarang di dalam daging, adalah hidup oleh iman dalam Anak Allah yang telah mengasihi aku dan menyerahkan diri-Nya untuk aku.

Efesus 4:13, sampai kita semua telah mencapai kesatuan iman dan pengetahuan yang benar tentang Anak Allah, kedewasaan penuh, dan tingkat pertumbuhan yang sesuai dengan kepenuhan Kristus.

Ibrani 4:14, Karena kita sekarang mempunyai Imam Besar Agung, yang telah melintasi semua langit, yaitu Yesus, Anak Allah, baiklah kita teguh berpegang pada pengakuan iman kita.

Ibrani 6:6, namun yang murtad lagi, tidak mungkin dibaharui sekali lagi sedemikian, hingga mereka bertobat, sebab mereka menyalibkan lagi Anak Allah bagi diri mereka dan menghina-Nya di muka umum.

Ibrani 10:29, Betapa lebih beratnya hukuman yang harus dijatuhkan atas dia, yang menginjak-injak Anak Allah, yang menganggap najis darah perjanjian yang menguduskannya, dan yang menghina Roh kasih karunia?

1 Yohanes 3:8, barangsiapa yang tetap berbuat dosa, berasal dari Iblis, sebab Iblis berbuat dosa dari mulanya. Untuk inilah Anak Allah menyatakan diri-Nya, yaitu supaya Ia membinasakan perbuatan-perbuatan Iblis itu.

1 Yohanes 4:15, Barangsiapa mengaku, bahwa Yesus adalah Anak Allah, Allah tetap berada di dalam dia dan dia di dalam Allah.

1 Yohanes 5:5, Siapakah yang mengalahkan dunia, selain dari pada dia yang percaya, bahwa Yesus adalah Anak Allah?

1 Yohanes 5:10, Barangsiapa percaya kepada Anak Allah, ia mempunyai kesaksian itu di dalam dirinya; barangsiapa tidak percaya kepada Allah, ia membuat Dia menjadi pendusta, karena ia tidak percaya akan kesaksian yang diberikan Allah tentang Anak-Nya.

1 Yohanes 5:13, Semuanya itu kutuliskan kepada kamu, supaya kamu yang percaya kepada nama Anak Allah, tahu, bahwa kamu memiliki hidup yang kekal.

1 Yohanes 5:20, Akan tetapi kita tahu, bahwa Anak Allah telah datang dan telah mengaruniakan pengertian kepada kita, supaya kita mengenal Yang Benar; dan kita ada di dalam Yang Benar, di dalam Anak-Nya Yesus Kristus. Dia adalah Allah yang benar dan hidup yang kekal.

Wahyu 2:18, Dan tuliskanlah kepada malaikat jemaat di Tiatira: Inilah firman Anak Allah, yang mata-Nya bagaikan nyala api dan kaki-Nya bagaikan tembaga.

Pengakuan Para Musuh [Pembenci] Yesus

Tidak hanya para murid, orang-orang yang memusuhi dan membenci Yesus ingin mendapatkan legitimasi bahwa Yesus adalah Anak Allah. Pernyataan mereka kurang mendapat respons dari Yesus, tetapi Yesus menggunakan “standar sumber” di mana ketika mereka ingin mendapatkan jawaban dari Yesus bahwa “Akulah Anak Allah”, justru malah Yesus menggunakan pertanyaan menjadi pernyataan. Itulah arti dari “standar sumber”. Dua teks yakni Matius 26:3-64 dan Lukas 22:70 menggunakan “standar sumber”. Tiga teks lainnya (Mat. 27:40 dan 43) menyangkut ejekan terhadap Yesus untuk meminta bukti bahwa Ia adalah Anak Allah, yang kurang lebih sama dengan pencobaan Iblis di padang gurun dalam Matius 4:1-11. Satu teks yakni Yohanes 19:7 adalah implikasi dari klaim Yesus bahwa diri-Nya adalah Anak Allah.

Matius 26:63-64, Tetapi Yesus tetap diam. Lalu kata Imam Besar itu kepada-Nya: “Demi Allah yang hidup, katakanlah kepada kami, apakah Engkau Mesias, Anak Allah, atau tidak.” Jawab Yesus: “Engkau telah mengatakannya. Akan tetapi, Aku berkata kepadamu, mulai sekarang kamu akan melihat Anak Manusia duduk di sebelah kanan Yang Mahakuasa dan datang di atas awan-awan di langit.”

Lukas 22:70, Kata mereka semua: “Kalau begitu, Engkau ini Anak Allah?” Jawab Yesus: “Kamu sendiri mengatakan, bahwa Akulah Anak Allah.”

Matius 27:40, mereka berkata: “Hai Engkau yang mau merubuhkan Bait Suci dan mau membangunnya kembali dalam tiga hari, selamatkanlah diri-Mu jikalau Engkau Anak Allah, turunlah dari salib itu!”

Matius 27:43, Ia menaruh harapan-Nya pada Allah: baiklah Allah menyelamatkan Dia, jikalau Allah berkenan kepada-Nya! Karena Ia telah berkata: Aku adalah Anak Allah.

Yohanes 19:7, Jawab orang-orang Yahudi itu kepadanya: “Kami mempunyai hukum dan menurut hukum itu Ia harus mati, sebab Ia menganggap diri-Nya sebagai Anak Allah.”

Berdasarkan teks-teks tersebut (Mat. 26:63-64 dan Luk. 22:70), dapat disimpulkan bahwa berdasarkan standar sumber, maka kalimat: “Engkau sendiri mengatakannya”, adalah juga sebuah pernyataan atau pengakuan [klaim] Yesus. Artinya, Yesus meneguhkan pertanyaan ‘apakah Engkau Anak Allah?’ dalam bentuk pernyataan. Dasar Yesus mengklaim bahwa Dia adalah Anak Allah berangkat dari pertayaan itu sendiri. Jika tidak ada pertanyaan tersebut, maka jawaban penegasan juga tidak akan muncul. Ini adalah model ‘peneguhan ganda’. Artinya, pengakuan bahwa Yesus adalah Anak Allah dilakukan dengan model berlapis. Dalam prinsip logika, seseorang dapat saja meneguhkan sebuah identitas tanpa ia sendiri mengakuinya, melainkan berangkat dari apa yang ditanyakan—dan jika itu benar, maka seseorang tinggal meneguhkannya dengan berkata: “Engkau sendiri yang mengatakannya.”

Lalu dari mana para pembenci dan musuh Yesus mendapatkan informasi bahwa Yesus adalah Anak Allah? Tentu mereka banyak mendengar berbagai isu dan informasi yang berkembang, sehingga dengan rasa penasaran, mereka menginginkan agar Yesus mengakuinya di depan umum. Mereka mengharapkan Yesus untuk mengeluarkan statement bahwa: “Akulah Anak Allah”. Namun, justru kenyataannya berbalik arah. Yesus menggukan cara berpikir lain untuk meneguhkan identitas-Nya sebagai Anak Allah. Luar biasa bukan? Jika ada yang menanyatakan: “Apakah Yesus adalah Tuhan”, maka jawablah: “Engkau sendiri yang mengatakannya”.

Pengakuan Kepala Pasukan Prajurit

Kepala pasukan Romawi memikiki pengakuan sendiri, terkait dengan apa yang ia lihat di peristiwa penyaliban. Tetapi, kepala pasukan menggunakan istilah Anak Allah kepada Yesus dalam perasaan kagum (kontras dengan mereka yang memusuhi dan membenci Yesus) tatkala merasakan ‘gempa bumi’ dan peristiwa yang terjadi di penyaliban. Dua teks berikut ini menceritakan peristiwa yang sama: Matius 27:54, Kepala pasukan dan prajurit-prajuritnya yang menjaga Yesus menjadi sangat takut ketika mereka melihat gempa bumi dan apa yang telah terjadi, lalu berkata: “Sungguh, Ia ini adalah Anak Allah.” Markus 15:39, Waktu kepala pasukan yang berdiri berhadapan dengan Dia melihat mati-Nya demikian, berkatalah ia: “Sungguh, orang ini adalah Anak Allah!”

Pengakuan Malaikat

Makhluk roh selain setan-setan adalah malaikat [ἄγγελος]. Malaikat adalah ‘utusan Allah’  yang membawa (dan menyampaikan) pesan Allah bagi manusia. Dalam penegasan bahwa Yesus adalah Anak Allah, malaikat Tuhan ‘lebih tahu’ siapa Yesus ketimbang mereka yang menolak Yesus sebagai Anak Allah. Mengapa? Malaikat adalah makhluk surgawi yang diutus Allah. Ketika malaikat menyampaikan bahwa Yesus adalah Anak Allah Yang Mahatinggi, maka kesaksian [pengakuannya] tidaklah diragukan. Lukas 1:32, 35, Ia akan menjadi besar dan akan disebut Anak Allah Yang Mahatinggi [Οὗτος ἔσται μέγας, καὶ υἱὸς ὑψίστου κληθήσετα – houtos estai megas, kai huios hupsistou klēthēseta]. Dan Tuhan Allah akan mengaruniakan kepada-Nya takhta Daud, bapa leluhur-Nya … Jawab malaikat itu kepadanya: Roh Kudus akan turun atasmu dan kuasa Allah Yang Mahatinggi akan menaungi engkau; sebab itu anak yang akan kaulahirkan itu akan disebut kudus, Anak Allah.

Ada hal menarik di sini. Di ayat 32 disebutkan: “Yesus adalah Anak Allah Yang Mahatiggi” dan di ayat 35 disebutkan: “Roh Kudus akan turun atasmu dan kuasa Allah Yang Mahatinggi akan menaungi engkau”. Artinya, sebutan bagi Yesus sebagai υἱὸς ὑψίστου κληθήσεται relevan atau berbanding lurus dengan kuasa yang menaungi Maria yakni kuasa Allah Yang Mahatinggi [δύναμις ὑψίστου] dan Roh Kudus [πνεῦμα ἅγιον] yang ‘turun’ [ἐπέρχομαι] atas Maria. Tampaknya, doktrin Trinitas dapat dipahami di sini (ada dua pribadi berbeda dalam memproses kehamilan Maria untuk mengandung bayi Yesus tanpa indikasi biologis seksual). Di atas telah saya singgung mengenai pencobaan di padang gurun, bahwa jawaban Yesus: “Ada pula tertulis: Janganlah engkau mencobai Tuhan, Allahmu!” salah satunya artinya merujuk pada Bapa-Nya sebagai sumber dari mana Ia datang dan keluar yang menegaskan bahwa Ia setara dengan Sang Sumber sebab esensi yang dimiliki-Nya berasal dan sama dengan Sang Sumber. Jika Maria dinaungi oleh kuasa Allah Yang Mahatinggi [δύναμις ὑψίστου] maka Yesus ‘sangat layak’ disebut sebagai Anak Allah Yang Mahatingi (υἱὸς ὑψίστου κληθήσεται) karena Ia berasal dari Allah Yang Mahatinggi.

Pengakuan Yesus Sendiri

Pengakuan Yesus merupakan bukti bahwa Ia adalah Anak Allah. Kita perlu memahami konteksnya. Teks-teks berikut ini menguatkan bahwa Yesus adalah Anak Allah sebagaimana dikuatkan pula dari berbagai pengakuan di atas.

Yohanes 5:25, “Aku berkata kepadamu: Sesungguhnya saatnya akan tiba dan sudah tiba, bahwa orang-orang mati akan mendengar suara Anak Allah, dan mereka yang mendengarnya, akan hidup.”

Teks tersebut menyatakan kuasa yang dimiliki Yesus sebagai Anak Allah, kuasa yang menghidupkan. Dia sendiri mengaku bahwa Dialah Anak Allah yang berkuasa itu.

Yohanes 10:36, “masihkah kamu berkata kepada Dia yang dikuduskan oleh Bapa dan yang telah diutus-Nya ke dalam dunia: Engkau menghujat Allah! Karena Aku telah berkata: Aku Anak Allah?” Pengakuan Yesus sebagai Anak Allah sangat beralasan. Ia dikuduskan oleh Bapa; Ia telah diutus Bapa ke dalam dunia. Ia yang dikuduskan dan diutus memiliki natur yang sama dengan menguduskan dan mengutus-Nya. Artinya, sebutan Anak Allah bukanlah gagasan tunggal, melainkan didukung oleh sejumlah fakta otentik sebagaimana yang kita lihat dari berbagai pengakuan di atas.

Yohanes 11:4, “Ketika Yesus mendengar kabar itu, Ia berkata: ‘Penyakit itu tidak akan membawa kematian, tetapi akan menyatakan kemuliaan Allah, sebab oleh penyakit itu Anak Allah akan dimuliakan.’”

Yesus mengakui dan mengklaim bahwa penyakit seorang anak tidaklah membawa kematian, melainkan membawa kemuliaan bagi Yesus sendiri karena Ia melakukan mukjizat yakni membangkitkan Lazarus. Tetapi perhatikan dalam ayat-ayat berikutnya. Lazarus memang mati, sedangkan Yesus mengatakan bahwa “penyakit yang diderita Lazarus tidak akan membawa kematian”. Bukankah ini kontradiksi? Tidak. Kematian yang dinyatakan Yesus tentu Ia pahami sedangkan kematian dalam arti biasa adalah kematian total. Yesus mengetahui bahwa Ia akan membangkitkan Lazarus dan kematian. Maka, kematian Lazarus bukanlah kematian melainkan hanya ‘tidur’. Meski Yesus sendiri mengatakan bahwa Lazarus telah mati, tetapi pernyataan itu ditujukan kepada mereka yang memahami arti ‘mati’ pada umumnya. Pada akhirnya, kita melihat buktinya: Lazarus dibangkitkan.

Apa yang dikatakan Yesus, kembali diteguhan (ay. 39-40, “Tuhan, ia sudah berbau, sebab sudah empat hari ia mati.” Jawab Yesus: “Bukankah sudah Kukatakan kepadamu: Jikalau engkau percaya engkau akan melihat kemuliaan Allah?” (bdk. ay. 4, “… kemuliaan Allah, sebab oleh penyakit itu Anak Allah akan dimuliakan”). Ayat 45 menjelaskan: “Banyak di antara orang-orang Yahudi yang datang melawat Maria dan yang menyaksikan sendiri apa yang telah dibuat Yesus, percaya kepada-Nya.” Anak Allah yang dimuliakan melalui mukjizat kebangkitan Lazarus, teraplikasi dalam peristiwa “Banyak di antara orang-orang Yahudi percaya kepada Yesus.” Percaya berarti “mengakui” bahwa Yesus adalah Anak Allah.

Berbagai pengakuan di atas merupakan sedikit dari sekian banyak pengakuan para saksi mata dan sebagainya. Dengan demikian, gelar (sebutan) ‘Anak Allah’ terhadap Yesus merupakan sebuah kemutlakan sebab ‘natur’ Yesus berasal dari Sang Sumber yaitu Allah Bapa. Dan gelar ‘Anak Allah’ dalam pandangan Alkitab bukanlah ‘anak’ dalam arti biologis sebagaimana yang dipahami oleh umat Islam. Betapa keliru pemahaman mereka. Saya memakluminya karena sumber quranik yang menjadi rujukan mereka bukanlah data historis melainkan hanyalah kumpulan pandangan teologi yang dipengaruhi oleh bidat-bidat Kristen. Hanya sedikit sekali catatan kristologi quranik yang dapat diterima sebagai bagian dari pandangan teologis—similaritas. Sisanya merupakan campuran ‘cerita dongeng’ dan penyimpangan doktrin Kristen.

Saya kembali melanjutkan penjelasan tentang frasa Anak Allah. ‘Anak Allah’ berarti Anak dari Allah. Injil Yohanes dengan gamblang menjelaskannya. Bukan berarti Allah beranak, seperti pemahaman Islam yang dangkal—teks tanpa konteks—melainkan Allah berkenan memberikan Logos-Nya untuk menjadi daging (ὁ λόγος σὰρξ ἐγένετο) sesuai dengan cara-Nya sendiri. Allah tidak meminta persetujuan kepada manusia untuk melakukan inkarnasi. Manusia perlu memahami cara kerja Allah, dan bukan mengkritik—karena kedangkalan pemikirannya.

Yesus sebagai Anak Allah menegaskan substansi kekal-Nya, menekankan ke-Ilahian-Nya yang sama dengan Bapa-Nya, menekankan bahwa Ia manusia [Anak], dan Ia adalah Allah [dari substansi yang sama dengan Bapa]. Anak Allah juga mengimplikasikan Allah yang menebus manusia rela menjadi manusia dan dengan menjadi manusia. Darah sebagai tanda penebusan menjadi faktual, sebagaimana darah binatang dalam PL yang faktual, dan bukan darah dalam arti kiasan. Ketika mereka yang beranggapan: “jika Yesus adalah Tuhan, mengapa Ia mati?” mengenai pertanyaan ini, Rasul Paulus menegaskan: “Dan dalam keadaan sebagai manusia, Ia telah merendahkan diri-Nya dan taat sampai mati, bahkan sampai mati di kayu salib”. Yesus mati dalam keadaan-Nya sebagai manusia, sebab ‘Tuhan tak mungkin mati’. Lagipula, Tuhan yang mati—yang dipahami oleh mereka yang menolak ke-Tuhan-an Yesus—dipandang sebagai ‘Tuhan fisik’ padahal Tuhan itu bukanlah fisik melainkan esensi [atau substansi]. ‘Tuhan fisik’ pasti mati, tetapi ‘Tuhan esensi’ tak mungkin mati. Yang mati pada manusia adalah fisiknya, tetapi esensinya tidak mati.

Dari serangkaian argumentasi, penjelasan, data, dan konteks gelar Yesus sebagai υἱὸς τοῦ θεοῦ berdasarkan data biblika, dari ‘pemahaman yang sangat dangkal’ dan berbagai ‘celoteh jalanan’ yang memahami  gelar Yesus sebagai ‘Anak Allah’ [υἱὸς τοῦ θεοῦ] dari aspek biologis, membawa kita kepada kesimpulan:

Pertama, gelar Yesus sebagai Anak Allah [υἱὸς τοῦ θεοῦ] adalah gelar Ilahi karena konfirmasi pertama penyebutan gelar Anak Allah kepada Yesus adalah Malaikat Gabriel. Implikasinya adalah gelar Anak Allah tersebut bukanlah ‘Anak’ dalam arti biologis melainkan gelar ‘Inkarnatif’ dan gelar ‘Kesetaraan Esensi’ antara Sumber dari mana ‘Anak’ itu keluar.

Kedua, gelar Yesus sebagai Anak Allah [υἱὸς τοῦ θεοῦ] adalah sebuah penegasan bahwa inkarnasi Yesus bernuansa ‘Ilahi’ dalam rangka penebusan dan penyelamatan umat pilihan Allah. Tidak ada wakil Allah yang cukup syarat untuk melakukan penebusan dan penyelamatan manusia dari dosa-dosa selain dari pada Yesus yang Ilahi.

Ketiga, gelar Yesus sebagai Anak Allah [υἱὸς τοῦ θεοῦ] menegaskan bahwa Ia adalah “Mesias Ilahi” sebagaimana nubuatan tentang datangnya Sang Mesias Ilahi dalam Mikha 5:1, Yesaya 7:14, dan Yesaya 9:5-6.

Keempat, gelar Yesus sebagai Anak Allah [υἱὸς τοῦ θεοῦ] adalah gelar kehormatan dan tertinggi meski Yesus berada dalam kondisi sebagai manusia. Meski dalam kondisi sebagai manusia, penyebutan gelar sebagai Anak Allah tidak dapat dipahami sebagai indikasi biologis, sebagaimana yang berakar dalam teologi Islam.

Kelima, teologi Islam yang memahami gelar Yesus sebagai Anak Allah [υἱὸς τοῦ θεοῦ] dari aspek biologis membuktikan bahwa level pemikiran dan logika mereka berada di bawah Iblis dan setan-setan, sebab baik Iblis maupun setan-setan menggunakan dan menyebut gelar Yesus sebagai Anak Allah [υἱὸς τοῦ θεοῦ] berakar dari kesamaan esensi Yesus dengan Sang Alah Bapa sehingga nuansa biologis bukanlah maksud dari sebutan ‘Anak Allah’.

Keenam, para apologet dan teolog Islam yang memahami gelar Yesus sebagai Anak Allah [υἱὸς τοῦ θεοῦ] dari aspek biologis, bukanlah orang-orang yang terpelajar secara mumpuni dan kredibel dalam memahami kristologi. Alasannya sederhana, karena pola pikir mereka berangkat dari pola pikir kristologi quranik yang mana dengan modal Kristologi “straw man” mereka mengusulkan gagasan teologi quranik untuk diterapkan pada Alkitab (Injil-Injil).

Ketujuh, kristologi quranik bukanlah kristologi yang kredibel karena didasari pada pola pikir ‘rendahan’ di mana data kristologinya berangkat dari data distorsi dan tidak sesuai dengan data historis. Alasan inilah yang membuktikan bahwa para kristolog Islam tidak pernah menghasilkan rumusan kristologi yang eksegetis sejauh analisis mereka didasari pada data quranik. Kristen tidak bisa menggunakan data kristologi quranik versi Arab sebab Injil-Injil ditulis dalam bahasa Yunani. Jadi, untuk memahami Kristologi yang kredibel dan eksegetis, tidak diperkenankan menggunakan data quranik berbahasa Arab melainkan data biblika berbahasa Yunani sebab alasannya jelas, PB ditulis dalam bahasa Yunani. Pemahanan kristologi quranik tidaklah memadai karena mengandung unsur folklorisme dan tidak sesuai dengan catatan historis yang reliabel.

Kedelapan, mereka yang memahami gelar Yesus sebagai Anak Allah [υἱὸς τοῦ θεοῦ] dari aspek biologis adalah mereka yang tidak memiliki pengetahuan memadai soal identitas dan personalitas Yesus Kristus berdasarkan data biblika.

Kesembilan, mereka yang memahami gelar Yesus sebagai Anak Allah [υἱὸς τοῦ θεοῦ] dari aspek biologis memiliki sejumlah prapaham yang keliru soal ajaran Kristen dan Yesus Kristus. Memahami doktrin Kristen memiliki banyak konteks. Artinya, teks-teks biblika tidak dapat ditafsirkan tanpa ada konteksnya. Semua perkataan, pernyataan, firman, dan sebagainya, harus melihat lokusnya, korelasi tekstual, korelasi konteks, penutur, dan situasi/kondisi. Dari sini, pola hermeneutika yang valid, solid, dan kredibel adalah sebuah keharusan. Kajian eksegetikal memungkinkan penggalian makna asali atas segala sesuatu termasuk frasa “Anak Allah”. Memahami hal ini tak bisa menggunakan dalil Al-Qur’an, sebab materi dasarnya bukanlah itu, melainkan Alkitab [Skripturalistik]. Dengan demikian, memahami frasa “Anak Allah” secara eksegetis menghasilkan sebuah pemahaman yang komprehensif ketimbang fragmentaris. Iman Kristen memiliki banyak konteks, itu sebabnya, jika mencoba mendekati iman Kristen, harus memilih, “kacamata” apa yang akan digunakan sebab Kristen adalah pabrik pembuat kacamata (konteks).

Kesepuluh, pola hermeneutika yang valid, solid, dan kredibel yang diterapkan pada Kristologi quranik tidaklah dapat mengakomodasi Kristologi PL dan PB sebab data yang dimuat dalam quran berdasarkan cerita-cerita rakyat yang sarat dengan bidat-bidat Kristen. Alasannya sederhana, Kristen telah memiliki Alkitab baku dan kristologi PB merupakan standar yang kuat dan tak membutuhkan kristologi lain yang menyimpang dan sarat dengan ‘penyimpangan historis’ dan ‘kesesatan doktrinal’.

Kesebelas, memahami gelar Yesus sebagai Anak Allah [υἱὸς τοῦ θεοῦ] dari aspek biologis bukanlah produk PB. Alkitab memberikan identitas kepada mereka yang dikenan-Nya atau mereka yang adalah ciptaan-Nya dengan sebutan jamak “Anak-anak Allah”. Artinya, baik tunggal maupun jamak, sebutan ‘Anak Allah’ atau ‘Anak-anak Allah’ tidaklah dipahami dalam aksentuasi atau konotasi biologis sebagaimana yang dipahami oleh Islam. Berikut data PL yang menyebutkan istilah “Anak-anak Allah” (Kej. 6:2, 4; Ayb. 1:6; 2:1; 38:7; Hos. 1:10). Data PB juga demikian: Lukas 6:35, “Tetapi kamu, kasihilah musuhmu dan berbuatlah baik kepada mereka dan pinjamkan dengan tidak mengharapkan balasan, maka upahmu akan besar dan kamu akan menjadi anak-anak Allah Yang Mahatinggi, sebab Ia baik terhadap orang-orang yang tidak tahu berterima kasih dan terhadap orang-orang jahat”; Lukas 20:36, “Sebab mereka tidak dapat mati lagi; mereka sama seperti malaikat-malaikat dan mereka adalah anak-anak Allah, karena mereka telah dibangkitkan”; Yohanes 1:12, “Tetapi semua orang yang menerima-Nya diberi-Nya kuasa supaya menjadi anak-anak Allah, yaitu mereka yang percaya dalam nama-Nya; Yohanes 11:52; Roma 8:16, “Roh itu bersaksi bersama-sama dengan roh kita, bahwa kita adalah anak-anak Allah.” Roma 8:19; 8:21; Roma 9:8, “Artinya: bukan anak-anak menurut daging adalah anak-anak Allah, tetapi anak-anak perjanjian yang disebut keturunan yang benar”; Roma 9:26; Galatia 3:26, “Sebab kamu semua adalah anak-anak Allah karena iman di dalam Yesus Kristus”; Filipi 2:15; 1 Yohanes 3:1, “Lihatlah, betapa besarnya kasih yang dikaruniakan Bapa kepada kita, sehingga kita disebut anak-anak Allah, dan memang kita adalah anak-anak Allah. Karena itu dunia tidak mengenal kita, sebab dunia tidak mengenal Dia”; 1 Yohanes 3:2, “Saudara-saudaraku yang kekasih, sekarang kita adalah anak-anak Allah, tetapi belum nyata apa keadaan kita kelak; akan tetapi kita tahu, bahwa apabila Kristus menyatakan diri-Nya, kita akan menjadi sama seperti Dia, sebab kita akan melihat Dia dalam keadaan-Nya yang sebenarnya”; 1 Yohanes 3:10; 1 Yohanes 5:2, “Inilah tandanya, bahwa kita mengasihi anak-anak Allah, yaitu apabila kita mengasihi Allah serta melakukan perintah-perintah-Nya.”

Kedua belas, Allah Islamlah yang ‘tidak beranak’ secara biologis (sesuai dengan pemahaman mereka) sedangkan Allah Kristen ‘memiliki’ Anak bukan dengan cara biologis melainkan dengan cara ‘keluar’ dan ‘diperanakkan’. Allah itu roh, maka memahami bahwa Allah beranak secara biologis sudah salah. Kata ‘diperanakkan’ bukan mengindikasikan bahwa Allah beranak seperti dalam pemahaman Islam, melainkan istilah tersebut mengacu kepada natur ‘kemanusiaan’ Yesus dalam inkarnasi-Nya. Istilah ‘keluar’ merujuk kepada ‘sumber’ di mana Anak [Yesus] keluar. Itu berarti, substansi Anak sama dengan sumber di mana Ia ‘keluar’. Ini adalah salah satu indikasi keilahian Yesus.

Ketiga belas, Islam tak mungkin memiliki pemahanan yang solid, valid, dan kredibel tentang personalitas Yesus sejauh landasan pijlaknya didasari pada data quranik. Data quranik, seperti yang saya jelaskan di atas bukanlah data historis melainkan ahistoris (bersumber dari tradisi lisan atau folklor). Jika Islam masih berkeras hati untuk memaksakan prinsip tersebut ke dalam doktrin Kristen, maka Islam sedang melakukan “masturbasi teologi”—berpuas diri dengan doktrinnya yang tidak ada kaitan dengan doktrin Kristen. Beda sumber beda landasan. Beda historis beda pemikiran dan rumusan doktrinnya.

Keempat belas, Memahami Yesus sebagai “Anak Allah” dengan penekanan pada unsur biologis bukanlah maksud dari Alkitab. Doktrin Kristen sama sekali tidak mengajarkan hal itu. Yang memahami “Allah bisa beranak secara biologis” adalah doktrin Islam yang tak pantas dilekatkan pada pemahaman “Anak Allah” dalam doktrin Kristen.

Kelima belas, istilah ‘beranak’ dalam pandangan quran jeals menekankan aspek biologis. Jadi, gagasan ‘beranak’ versi quran dan gagasan ‘Kuperanakkan” [diperanakkan] versi Alkitab (Mzm. 2:7) adalah dua hal yang berbeda dan orientasi pemikirannya juga berbeda. Sejauh pemikiran biologis dilekatkan pada Allah yang adalah “Roh”, sejauh itu pula pemahaman terhadap gelar Yesus sebagai Anak Allah [υἱὸς τοῦ θεοῦ] menyimpang dan kehilangan arah eksegetis. Seyogianya memahami gelar Yesus sebagai Anak Allah [υἱὸς τοῦ θεοῦ] didasarkan pada data Alkitab dan bukan data quran. Kedua sumber tersebut jelas berbeda secara kualitas, historis, dan teologis. Kalau sudah berbeda, maka tidak heran jika muncul ‘celoteh jalanan’: “Kalau Yesus anak Tuhan, bidannya siapa?”

Keenam belas, gagasan Allah beranak dan Allah memiliki Anak adalah dua hal yang berbeda. Allah memiliki Anak bukanlah dengan cara biologis sebagaimana yang selama ini disalahpahami oleh mereka yang menolak gagasan Anak Allah dilekatkan pada Yesus Kristus. Allah memiliki Anak dengan cara yang sama sekali berbeda dengan apa yang dipahami oleh manusia yang menekankan aspek biologis. Penolakan istilah “Anak Allah” berangkat dari ketidakmengertian seseorang akan cara Allah menebus manusia dari dosa mereka dengan apa yang telah Ia tetapkan.

Ketujuh belas, Perjanjian Baru menyebutkan pengakuan Yesus sebagai ‘Anak Allah’ [υἱὸς τοῦ θεοῦ] didasarkan pada sejumlah sumber. Frasa υἱὸς τοῦ θεοῦ memiliki kekayaan makna, baik berdasarkan pengakuan Iblis [διάβολος], pengakuan setan-setan, pengakuan para murid, pengakuan para pembenci (musuh) Yesus, pengakuan kepala pasukan prajurit Romawi, pengakuan malaikat, dan pengakuan Yesus.

Kedelapan belas, gelar ‘Anak Allah’ terhadap Yesus merupakan sebuah kemutlakan sebab ‘natur’ Yesus berasal dari Sang Sumber yaitu Allah Bapa. ‘Anak Allah’ berarti Anak dari Allah. Injil Yohanes dengan gamblang menjelaskannya. Bukan berarti Allah beranak, seperti pemahaman Islam yang dangkal—teks tanpa konteks—melainkan Allah berkenan memberikan Logos-Nya untuk menjadi daging (ὁ λόγος σὰρξ ἐγένετο) sesuai dengan cara-Nya sendiri. Allah tidak meminta persetujuan kepada manusia untuk melakukan inkarnasi.

Kesembilan belas, Yesus sebagai Anak Allah menegaskan substansi kekal-Nya, menekankan ke-Ilahian-Nya yang sama dengan Bapa-Nya, menekankan bahwa Ia manusia [Anak], dan Ia adalah Allah [dari substansi yang sama dengan Bapa]. Anak Allah juga mengimplikasikan Allah yang menebus manusia rela menjadi manusia dan dengan menjadi manusia.

Kedua puluh, implikasi dari semua penjelasan di atas, menyingkirkan segala kemungkinan sesat pikir dan penyimpangan doktrinal dan penyimpangan sumber Kristologi. Semua negasi terhadap gelar Yesus sebagai Anak Allah karena alasan biologis, merupakan bukti bahwa betapa rendahnya pemikiran para apologet dan teolog Muslim yang mencoba ‘memahami’ kekayaan Kristologi biblika, di mana mereka mengukurnya dengan data quranik yang memiliki data kristologi paling ‘miskin’ dan ingin mengumumkan bahwa ia kaya tetapi pada faktanya sangat menyedihkan.

Kedua puluh satu, meski ada ‘jembatan’ penghubung dalam menjelaskan kristologi biblika kepada mereka yang menegasikan ke-Ilahian Yesus berdasarkan data quranik, namun kita tidak bisa berkompromi dengan kebenaran kristologi.

Kedua puluh dua, menolak Yesus sebagai Anak Allah [υἱὸς τοῦ θεοῦ] berdasarkan data boleh-boleh saja. Namun, jika negasi itu ingin menyatakan bahwa data quranik paling superior, minta maaf, data quran yang didasarkan pada cerita rakyat dan telah terdistorsi, dan tak pantas menyatakan bahwa ia lebih superior, lebih valid, dan kredibel. Sudah saya tegaskan bahwa data biblika mengenai kristologi lebih kredibel karena kekuatan historisnya telah terbukti, sedangkan data quranik mengenai kristologi bukanlah data kredibel, tetapi mengungkapkan kerancuan historis, teologis, doktrinal, dan sistem logika “straw man”.

Allah (Yesus mengampuni dosa)

Yesus mengklaim bahwa diri-Nya “berkuasa mengampuni dosa”. Dari klaim tersebut, dapat disimpulkan bahwa inilah klaim eksplisit Yesus bahwa Ia adalah ‘Allah’ yang berkuasa mengampuni dosa meski dalam kondisi inkarnasi-Nya menjadi manusia. Pengakuan ini memiliki beberapa implikasi: pertama, Yesus hendak menyatakan diri-Nya adalah Allah; kedua, Yesus hendak menyatakan bahwa diri-Nya setara dengan Allah dalam hal mengampuni dosa, meski Ia dalam wujud manusia. Ia menyebut diri-Nya sebagai “Anak Manusia” [ὁ υἱὸς τοῦ ἀνθρώπου, ho uios tou anthrōpou]. Teks Matius 9:6 menyebutkan klaim Yesus sebagai Anak Manusia yang berkuasa mengampuni dosa: “Tetapi supaya kamu tahu, bahwa di dunia ini Anak Manusia berkuasa mengampuni dosa — lalu berkatalah Ia kepada orang lumpuh itu —: ‘Bangunlah, angkatlah tempat tidurmu dan pulanglah ke rumahmu!’”. Teks-teks paralelnya adalah Markus 2:10 dan Lukas 5:24.

Dari pengakuan eksplisit Yesus sebagai ‘yang berkuasa mengampuni dosa’ menjelaskan posisi dan kedudukan keilahian-Nya sebagai Allah, meski Ia juga sebagai Anak Manusia. Jika Anak Manusia berkuasa mengampuni dosa, maka implikasi yang muncul adalah pasti Ia adalah Allah sendiri atau setara dengan Allah sebagaimana yang dipikirkan oleh beberapa ahli Taurat: “Mengapa orang ini berkata begitu? Ia menghujat Allah. Siapa yang dapat mengampuni dosa selain dari pada Allah sendiri?” (Mrk 2:7) dan oleh ahli-ahli Taurat dan orang-orang Farisi berpikir: “Siapakah orang yang menghujat Allah ini? Siapa yang dapat mengampuni dosa selain dari pada Allah sendiri?” (Luk. 5:21).

Lukas 5:17-26 mengisahkan tentang Yesus mengajar, lalu ada beberapa orang Farisi dan ahli Taurat duduk mendengarkan-Nya.  Beberapa orang mengusung seorang lumpuh di atas tempat tidur. Mereka berusaha membawa dia masuk dan meletakkannya di hadapan Yesus. Karena mereka tidak dapat membawanya masuk karena banyaknya orang di situ, naiklah mereka ke atap rumah, membongkar atap itu, dan menurunkan orang itu dengan tempat tidurnya ke tengah-tengah orang banyak tepat di depan Yesus. Yesus berkata (karena melihat iman mereka): “Hai saudara, dosamu sudah diampuni.” Karena perkataan Yesus tersebut, ahli-ahli Taurat dan orang-orang Farisi berpikir dalam hatinya: “Siapakah orang yang menghujat Allah ini? Siapa yang dapat mengampuni dosa selain dari pada Allah sendiri?” Kemudian Yesus mengklaim sangat keras: “Tetapi supaya kamu tahu, bahwa di dunia ini Anak Manusia berkuasa mengampuni dosa.” Implikasinya, “semua orang itu takjub, lalu memuliakan Allah, dan mereka sangat takut, katanya: ‘Hari ini kami telah menyaksikan hal-hal yang sangat mengherankan.’”

Lukas 7:48-49 mencatat peristiwa pengampunan dosa yang dilakukan Yesus. Lagi-lagi Yesus mengatakan bahwa Ia mengampuni dosa seorang perempuan: “Lalu Ia [Yesus] berkata kepada perempuan itu: ‘Dosamu telah diampuni.’ Dan mereka, yang duduk makan bersama Dia, berpikir dalam hati mereka: ‘Siapakah Ia ini, sehingga Ia dapat mengampuni dosa?’ Apa yang dipikirkan oleh mereka yang duduk makan bersama dengan Yesus adalah pikiran yang sama dengan ahli-ahli Taurat dan orang-orang Farisi, bahwa dalam Kitab Suci mereka menegaskan bahwa hanya Allah saja yang dapat mengampuni dosa, dan bukan manusia.

Lukas 7:41-43 menjelaskan identitas Yesus sebagai pribadi yang dapat mengampuni dosa yang diibaratkan dengan ‘pelepas’: “Ada dua orang yang berhutang kepada seorang pelepas uang. Yang seorang berhutang lima ratus dinar, yang lain lima puluh. Karena mereka tidak sanggup membayar, maka ia menghapuskan hutang kedua orang itu. Siapakah di antara mereka yang akan terlebih mengasihi dia?” Jawab Simon: “Aku kira dia yang paling banyak dihapuskan hutangnya.” Kata Yesus kepadanya: “Betul pendapatmu itu.” Gambaran yang diberikan Yesus mengenai seorang pelepas yang kemudian dilanjutkan dengan perkataan Yesus kepada seorang perempuan: “Dosamu sudah diampuni” memberikan arah pemikiran bahwa Yesus sedang memposisikan diri-Nya sebagai Allah yang berotoritas “mengampuni dosa”. Dalam pemikiran umum (misalnya oleh para ahli Taurat dan orang-orang Farisi), manusia mustahil dapat mengampuni dosa. Akan tetapi, jika Yesus mengklaim secara eksplisit bahwa “Anak Manusia berkuasa mengampuni dosa” dan mengatakan “Dosamu sudah diampuni”, maka Ia hendak menegaskan secara eskplisit juga bahwa Ia adalah Allah dan setara dengan Allah dalam Perjanjian Lama yang mengampuni dosa.

Sebagai buktinya, teks-teks PL berikut ini menegaskan bahwa TUHAN Allah berhak dan berotoritas mengampuni dosa: Kejadian 18:26, Keluaran 32:32; 34:7, Bilangan 14:18, 19, 30:5, 1 Raja-raja 8:30, 34, 36, 39, 50, 2 Raja-raja 5:18, 2 Tawarikh 6:21, 25, 26, 30, 39, 2 Tawarikh 7:14, Nehemia 9:17, Mazmur 32:5, 78:38, 85:3, 86:5, 99:8, 103:3, Yeremia 5:1, 31:34, 33:8, 36:3, 50:20, Mikha 7:18. Dalam PB menegaskan bahwa Tuhan, Allah Bapa mengampuni dosa: Matius 6:14, 15, 18:35, Markus 1:4, 11:25, Lukas 3:3, Efesus 4:32, Kolose 2:13, 3:13, 1 Yohanes 1:9. Klaim eksplisit Yesus bahwa: “Anak Manusia berkuasa mengampuni dosa” menunjukkan identitas Yesus sebagai Allah. Meski Ia sendiri telah berinkarnasi menjadi manusia, esensi keilahian-Nya tidak hilang. Klaim-klaim-Nya menunjukkan siapa diri-Nya. Tak seorang pun yang berani mengklaim seperti Yesus.

Mesias

Dalam pemahaman PL, Mesias dipahami sebagai “Dia yang diurapi TUHAN”. Mesias adalah pemimpin dan raja orang Yahudi. Hal ini tertuang dalam Nelson’s New Illustrated Bible Dictionary, “In Jewish thought, the Messiah would be the king of the Jews, a political leader who would defeat their enemies and bring in a golden era of peace and prosperity. In Christian thought, the term Messiah refers to Jesus’ role as a spritual deliverer, setting His people free from sin and death (Youngblood, Bruce & Harrison, Nelson’s New Illustrated Bible Dictionary, 826).

J. A. Motyer dan F. F. Bruce menjelaskan,

istilah Mesias, yang dipakai sebagai gelar resmi dari tokoh utama yang dinanti-nantikan oleh orang Yahudi, adalah hasil pemikiran dari Yudaisme masa kemudian. Tentu pemakaian istilah itu dikukuhkan oleh PB, tapi dalam PL hanya terdapat dua kali (Dan. 9:25-26). Pemikiran tentang mengurapi, dan pemikiran tentang orang yang diurapi, adalah lazim dalam PL…. Dalam Yesaya 45:1 Koresy, raja Persia, disapa sebagai (mesyikho) ‘yang Ku-urapi’. Di sini ada lima unsur yang jika ditinjau dengan terang Alkitab bagian yang lain, jelas menentukan garis pikiran utama tertentu mengenai mesianisme PL. Koresy ialah orang yang dipilih Allah (Yes. 41:25), ditetapkan untuk menggenapi suatu tujuan penyelamatan bagi umat Allah (Yes. 45:11-13), dan menggenapi hukuman terhadap musuh-musuh-Nya (Yes. 47). Kepadanya diberikan kuasa untuk memerintah bangsa-bangsa (Yes. 45:1-3); dan dalam semua tindakannya, yang sesungguhnya bertindak ialah Yahweh sendiri (Yes. 45:1-7) (Motyer & Bruce, “Mesias”, dalam Ensiklopedi Alkitab Masa Kini, 57).

Berdasarkan keterangan Motyer dan Bruce, Mesias sejajarkan dengan “Yahweh” dalam semua tindakannya. Jika demikian, PB memahami Mesias sebagai nubuatan PL yang tergenapi dalam diri Yesus. Motyer dan Bruce mengemukakan, “kata Ibrani masyiakh atau Aram mesyikha’ dua kali ditransliterasikan dalam bahasa Yunani dengan messias (Yoh. 1:41; 4:25; dan di kedua tempat itu ditambah keterangan dengan khristos). Di tempat lain kata itu diterjemahkan dengan kata Yunani Khristos, dari kata kerja khrio, yang berarti ‘mengurapi’. Mesias ialah Yesus dari Nazaret, yang pada saat baptisan-Nya diurapi ‘dengan Roh Kudus dan kuat kuasa’ (Kis. 10:38; bdk. maksud dari hal Yesus mengutip Yesaya 61:1 dalam Lukas 4:18). Tapi Yesus sendiri jarang memakai istilah itu, dan tanpa diragukan sebabnya ialah kesalahpahaman yang bisa timbul karena pemakaian istilah itu. Tatkala Petrus menyatakan pengakuannya bahwa Yesus-lah Kristus, Dia terima Nama pertanda itu, tapi memerintahkan murid-murid-Nya jangan menceritakan itu kepada siapa pun (Mrk. 8:29-30)” (Motyer & Bruce, “Mesias”, dalam Ensiklopedi Alkitab Masa Kini, 63).

PB memiliki indikasi yang kuat sekali ketika melekatkan gelar Mesias kepada Yesus. Kesejajaran antara Allah dengan Yesus sebagai Mesias ditemukan dalam beberapa teks PL dan penggenapannya dalam PB. Artinya, Mesias PL dapat dipahami sebagai Mesias yang Ilahi (akan dijelaskan kemudian). TUHAN mempunyai maksud untuk mewujudnyatakan rencana dan kehendak-Nya bagi umat Israel, umat pilihan-Nya, melalui seorang Mesias yang dijanjikan. Mesias, dalam penggambaran PL memiiki tiga indikasi: pertama, Mesias yang hebat dan kuat. Mesias ini dipahami sebagai Mesias yang memimpin perang dan ia akan membebaskan Israel dari kekuatan musuh atau penjajah; kedua, Mesias yang menderita. Mesias ini dipahami dari nubuatan Nabi Yesaya (pasal 52:13-15-53:12); dan ketiga, Mesias yang Ilahi. Mesias ini dijumpai dari teks-teks seperti Yesaya 9:5-6 dan Mikha 5:1. Yesus memiliki ketiga indikasi Mesias dalam PL.

Pertama, sebagai Mesias yang hebat dan kuat, Yesus telah “membebaskan manusia” bukan dari penjajahan politik, kuasa, wilayah, dan sebagainya. Kekuatan yang terbesar yang ditumbangkan oleh Yesus adalah “dosa” yang membawa kematian [maut. Rasul Paulus menegaskan hal ini dalam 1 Kor. 15:54-57]:

Dan sesudah yang dapat binasa ini mengenakan yang tidak dapat binasa dan yang dapat mati ini mengenakan yang tidak dapat mati, maka akan genaplah firman Tuhan yang tertulis: “Maut telah ditelan dalam kemenangan. Hai maut di manakah kemenanganmu? Hai maut, di manakah sengatmu?” Sengat maut ialah dosa dan kuasa dosa ialah hukum Taurat. Tetapi syukur kepada Allah, yang telah memberikan kepada kita kemenangan oleh Yesus Kristus, Tuhan kita.

Yesus layak menumbangkan dosa sebab Ia adalah Allah. Yesus bebas dari dosa dan Ia tidak berbuat dosa. Mesias dalam versi Yahudi adalah manusia biasa, yang bisa berdosa dan bahkan ia sendiri berdosa. Jadi, penekanannya adalah bahwa Yesus sebagai Mesias yang kuat, menumbangkan kuasa yang paling kuat di dunia ini yakni “dosa”. Ia telah membereskannya sehingga manusia diberikan kesadaran bahwa dosa-dosa dapat membawa manusia kepada kematian, keterpurukan, sakit penyakit, rasa malu, saling mendendam, saling menyalahkan, saling memperkosa hak-hak orang lain, saling menjatuhkan dan sebagainya. Lihatlah, mereka yang telah disadarakan oleh Yesus tidak akan terus melakukan hal-hal demikian: Πᾶς ὁ γεγεννημένος ἐκ τοῦ θεοῦ ἁμαρτίαν οὐ ποιεῖ, ὅτι σπέρμα αὐτοῦ ἐν αὐτῷ μένει, καὶ οὐ δύναται ἁμαρτάνειν, ὅτι ἐκ τοῦ θεοῦ γεγέννηται – Setiap orang yang lahir dari Allah, tidak terus berbuat dosa lagi; sebab benih ilahi tetap ada di dalam dia dan ia tidak dapat terus berbuat dosa, karena ia lahir dari Allah (1 Yoh. 3:9) (bdk. terj. NIV: No one who is born of God will “continue” to sin, because God’s seed remains in them; they cannot go on sinning, because they have been born of God).

Kedua, sebagai Mesias yang menderita yang menggenapi nubuatan Nabi Yesaya (pasal 52:13-15-53:12) dibuktikan dan digenapi di dalam diri-Nya melalui penderitaan dan penyaliban. Pasca kematian-Nya, Ia bangkit. Ia mengalahkan maut. Ia menebus dosa umat-Nya. Ia memberi kemenangan dan umat-Nya dapat menikmati sukacita dari Allah dalam totalitas kehidupan mereka.

Ketiga, Yesus sebagai Mesias yang Ilahi yang menggenapi nubuatan dalam Yesaya 9:5-6 dan Mikha 5:1. Mesias Ilahi adalah Mesias dari Allah, yang menebus, dan memberikan jaminan kehidupan kekal kepada mereka yang percaya (bdk. Yoh. 3:16). Hanya Allah yang dapat menebus dosa umat-Nya. Implikasinya, Yesus adalah Mesias Ilahi, Allah yang menjadi manusia.

Allah dan Logos

Memahami Kristologi secara mendalam, tidak dapat memisahkan gelar-gelar Yesus yang ada pada diri-Nya. Rasul Yohanes memulai Injilnya dengan menggabungkan dua identitas Yesus: Allah dan Logos: Ἐν ἀρχῇ ἦν ὁ λόγος, καὶ ὁ λόγος ἦν πρὸς τὸν θεόν, καὶ θεὸς ἦν ὁ λόγος (En arkhe en ho logos, kai ho logos en pros ton Theon, kai Theos en ho logos). Mari kita perhatikan penegasan keilahian Yesus dalam teks tersebut:

Pertama, Ἐν ἀρχῇ ἦν ὁ λόγος menegaskan praeksistensi Logos sebelum berinkarnasi (ay. 14). Yohanes menjelaskan bahwa Logos itu kekal, sejak mulanya.

Kedua, καὶ ὁ λόγος ἦν πρὸς τὸν θεόν menegaskan keberdiaman Logos bersama dengan Allah. Dikatakan sebelumnya bahwa “pada mulanya adalah Logos [Firman]” yang menandakan bahwa Ia kekal. Logos itu bersama-sama dengan Allah. kekekalan Logos adalah kekekalan Allah. Logos tak mungkin tanpa Allah dan Allah tak mungkin tanpa Logos. Allah kekal, demikian juga Logos. Dari ayat tersebut, tidak ada saling mendahului baik Allah maupun Logos. Keduanya ada sejak kekal.

Ketiga, καὶ θεὸς ἦν ὁ λόγος menegaskan ke-Allah-an Logos. Alasannya jelas: Logos itu ada pada mulanya; Ia bersama-sama dengan Allah sejak mulanya. Kebermulaan Logos adalah kebermulaan Allah yang tak bisa diprediksi. Maka kita menyebutnya sebagai kebermulaan kekal yang tanpa permulaan eksistensi seperti layaknya ciptaan (alam semesta).

Keempat, tiga penjelasan tersebut di atas, memberikan arah pemikiran bahwa Logos yang akan berinkarnasi bukan tanpa alasan. Alasannya jelas ketika kita memahaminya dalam bingkai “Historical Redemption”. Itu sebabnya, berita misi perlu memberitakan bahwa manusia yang telah berdosa perlu ditebus. Dan yang berhak menebus adalah Allah sendiri. Cara menebus telah Allah nyatakan yakni melalui inkarnasi Logos-Nya: Yesus Kristus. Dialah yang disalibkan. Darah-Nya menebus dosa manusia (bdk. 1 Ptr. 1:18-19).

Tuhan (Kurios)

Agenda penegasian ke-Tuhan-an Yesus sering dikaitkan dengan kemanusiaan-Nya. Negasi yang berat sebelah ini tidak melihat secara utuh gagasan personalitas Yesus dalam Alkitab. Perlu disadari bahwa pembuktian personalitas Yesus yang sekaligus juga dinegasikan dengan bukti Injil-Injil, dibuktikan juga melalui data Injil-Injil dan kitab-kitab PB (serta korelasinya dengan PL). Di sini saya hanya menyebutkan beberapa teks sebagai bukti klaim-klaim ke-Tuhan-an Yesus dari diri-Nya sendiri, meski PB memaparkan banyak sekali bukti bahwa Yesus adalah Tuhan, baik dari para murid-Nya maupun para saksi mata perbuatan mukjizat Yesus dan lain sebagainya (lihat penjelasan pengakuan-pengakuan Yesus sebagai Anak Allah di atas).

Pertama, Matius 4:1-11. Kisah Yesus dicobai di padang gurun adalah kisah perlawanan Iblis terhadap Yesus dengan mengemukakan berbagai dalil pembuktian bahwa Yesus adalah Anak Allah. Iblis memahami—jika dilihat dari kisah tersebut—bahwa Yesus adalah Anak Allah bukan secara biologis. Iblis tahu bahwa dirinya adalah roh dan bukan daging. Sedangkan Yesus adalah daging [manusia] namun memiliki eksistensi yang kekal, setara dengan Allah. Hal ini tampak dalam sejumlah pernyataan Iblis untuk mencobai Yesus (lihat penjelasannya di atas pada bagian ‘Anak Allah’).

Kedua, Yohanes 13:13: ὑμεῖς φωνεῖτέ με· ὁ διδάσκαλος, καί· ὁ κύριος, καὶ καλῶς λέγετε· εἰμὶ γάρ [humeis phōneite me ho didaskalos, kai ho kurios, kai kalōs legete eimi gar; Kamu menyebut Aku Guru dan Tuhan, dan katamu itu tepat, sebab memang Akulah Guru dan Tuhan]. Beberapa orang menerjemahkan kata κύριος dengan “Tuan” dan bukan “Tuhan”. Yang lainnya menerjemahkan dengan kata “Tuhan”. Kata κύριος memiliki beberapa arti: lord, master, owner, Lord. Perlu diperhatikan, penggunaan kata κύριος diselaraskan dengan dengan empat hal: konteks [terkecil], kepada siapa yang diucapkan, siapa penuturnya, dan latar belakang situasi dan kondisi [konteks terbesar]. Saya hanya menekankan pada ‘siapa penuturnya.’ Mereka yang menerjemahkan κύριος dengan ‘Tuan’ memiliki dua arah: menerjemahkannya berdasarkan pendekatan-pendekatan (bahasa, budaya, dan sebagainya), dan kedua, menerjemahkannya karena adanya tendensi menegasikan ke-Tuhan-an Yesus. Teks tersebut adalah bukti bahwa Yesus sendiri tidaklah mengakui diri-Nya sebagai Tuhan, melainkan sebagai Tuan.

Penjelasan saya berikut ini secara tegas menolak yang kedua sebab ada aspek yang mereka lupakan terkait dengan ke-Tuhan-an Yesus dalam teks tersebut. Meski bentuk penolakan ke-Tuhan-an Yesus didasari pada terjemahan kata κύριος dengan “Tuan”, namun mereka yang menggunakan terjemahan tersebut melupakan aspek “siapa penuturnya”. Dalam teks tersebut, penuturnya adalah Yesus. Jika diterjemahkan “Tuhan”, bagi saya, hal itu wajar karena Yesus sendiri tahu siapa diri-Nya. Guru dan Tuhan adalah terjemahan yang kuat karena penuturnya adalah Yesus yang sebelum mengucapkan kalimat tersebut, telah melakukan banyak hal yang ajaib [mukjizat], tindakan-tindakan spektakuler, tindakan-tindakan yang merujuk bahwa Dia adalah Allah. Para murid tentu tahu bahwa Yesus adalah Tuhan. Hal ini tercermin dari kisah-kisah sebelum Yesus mengatakan bahwa Dia adalah “Guru dan Tuhan”. Mereka yang bersikukuh menerjemahkan “Tuan” untuk kata κύριος dalam menegasikan ke-Tuhan-an Yesus, perlu melihat bahwa si penutur tahu siapa dirinya.

Ketiga, Matius 12:8, Karena Anak Manusia adalah Tuhan atas hari Sabat [κύριος γάρ ἐστιν τοῦ σαββάτου ὁ υἱὸς τοῦ ἀνθρώπου; kurios gar estin tou sabbaton ho huios tou anthrōpou] (Bdk. Markus 2:28 dan Lukas 6:5). Prinsip hari Sabat dalam PL adalah Tuhan sebagai penentu hari Sabat, apa yang dipahami dari hari Sabat sebagaimana yang Tuhan perintahkan, apa yang dilakukan pada hari Sabat, dan larangan-larangannya (Bdk. Keluaran 20:8, 10-11; Keluaran 31:13). Dalam konteks ini, Yesus sedang menyatakan bahwa diri-Nya adalah penentu dan pemilik hari Sabat layaknya TUHAN dalam PL. Penegasan Yesus soal diri-Nya adalah “Tuhan atas hari Sabat” membuktikan otoritas-Nya sebagai “Allah” yang sama dengan Allah dalam PL. Kita tahu siapa penuturnya di sini.

Dengan demikian implikasinya adalah ketika Yesus menyatakan bahwa diri-Nya sebagai “Tuhan atas hari Sabat” maka Dia juga mengklaim bahwa diri-Nya adalah Tuhan.

Keempat, Matius 20:28 (Bdk. Markus 10:45), “sama seperti Anak Manusia datang bukan untuk dilayani, melainkan untuk melayani dan untuk memberikan nyawa-Nya menjadi tebusan bagi banyak orang” [ὥσπερ ὁ υἱὸς τοῦ ἀνθρώπου οὐκ ἦλθεν διακονηθῆναι ἀλλὰ διακονῆσαι καὶ δοῦναι τὴν ψυχὴν αὐτοῦ λύτρον ἀντὶ πολλῶν]. Kata λύτρον, price of release (harga dari pembebasan, kepelapasan), ransom (tebusan) mengacu kepada totalitas karya Yesus. Jelas bahwa Yesus memberi diri-Nya sebagai λύτρον dalam konteks perwujudan finalisasi rencana Allah untuk menebus manusia dari dosa.

Penebusan dalam PL mengandung unsur “darah.” Binatang-binatang yang dipakai sebagai kurban, ada darahnya. Ketika Allah menggunakan cara yang sama—yakni adanya aspek ‘darah’ dalam peristiwa penebusan’—maka Allah berinkarnasi menjadi daging [manusia] [σὰρξ ἐγένετο, sarks egeneto]. Sebagai manusia berarti darah harus dicurahkan sebagaimana binatang-binatang dibunuh dan darahnya dicurahkan.  Sebagai Tuhan berarti Ia menebus dengan cara-Nya sendiri [yakni inkarnasi menjadi daging yang dapat mencurahkan darah]. Konsep ini kemudian terealisasi dalam diri Yesus. Dua teks berikut ini merepresentasikan makan penebusan yang digenapi dalam diri Yesus:

Ibrani 2:10, “Sebab memang sesuai dengan keadaan Allah — yang bagi-Nya dan oleh-Nya segala sesuatu dijadikan —, yaitu Allah yang membawa banyak orang kepada kemuliaan, juga menyempurnakan Yesus, yang memimpin mereka kepada keselamatan, dengan penderitaan.”

1 Petrus 1:18-19, “Sebab kamu tahu, bahwa kamu telah ditebus dari cara hidupmu yang sia-sia yang kamu warisi dari nenek moyangmu itu bukan dengan barang yang fana, bukan pula dengan perak atau emas, melainkan dengan darah yang mahal, yaitu darah Kristus yang sama seperti darah anak domba yang tak bernoda dan tak bercacat.”

Dalam PL, Allah berperan aktif menebus manusia. Penebusan itu digunakan berbagai “media sebagai “sarana” penebusan. Dari situ terklarifikasi bahwa ketentuan-ketentuan yang Allah buat terpenuhi dalam sarana penebusan tersebut. Sebut saja “anak domba sebagai sarana penebusan. Lalu Yohanes mendeklarasikan bahwa Yesus adalah Anak Domba Allah yang menghapus dosa dunia [ἴδε ὁ ἀμνὸς τοῦ θεοῦ ὁ αἴρων τὴν ἁμαρτίαν τοῦ κόσμου – ide ho amnos tou Theo ho airōn tēn hamartian tou kosmou]. Allah sebagai Pencipta memiliki hak prerogatif mutlak untuk menebus manusia. Penebusan itu dikerjakan Allah melalui Yesus bagi semua umat pilihan-Nya selain dari pada Israel. Jika PL menyebutkan tata cara penebusan, itu hanya berlaku pada Israel saja.

Tetapi, ketika PB mendeklarasikan maksud dan rencana Allah untuk menebus semua orang yang telah ditetapkan-Nya (bdk. Rm. 8:29-30) melalui kematian Yesus di salib, maka itu berarti Allahlah yang menebus manusia. Itu sebabnya, Yesus dalam berbagai kesempatan mengklaim, memperlihatkan, dan menegaskan bahwa diri-Nya memang manusia tetapi Ia adalah Allah yang kekal yang menempati ruang manusia di dunia dan menjadi sama seperti manusia pada umumnya. Yesus adalah “Theo-Antrophos” [Allah-Manusia]—Allah menebus, manusianya mati [selaras dengan kematian anak domba dalam PL]—bagi kepentingan umat-Nya. Dengan demikian, ke-Tuhan-an Yesus ditegaskan dari klaim-Nya sendiri: “Anak Manusia memberikan nyawa-Nya menjadi λύτρον bagi banyak orang” dan hal adalah bentuk konfirmasi dari pernyataan Malaikat Gabriel bahwa “… karena Dialah yang akan menyelamatkan umat-Nya dari dosa mereka” (Mat 1:21). Yesus pula yang menegaskan bahwa “Anak Manusia datang untuk mencari dan menyelamatkan yang hilang” (Luk. 19:10).

Juruselamat

PL menegaskan bahwa TUHAN Allah adalah Juruselamat. Nabi Yesaya menyatakan “Aku, Akulah TUHAN dan tidak ada juruselamat selain dari pada-Ku” (Yes. 43:11); “Sungguh, Engkau Allah yang menyembunyikan diri, Allah Israel, Juruselamat” (Yes. 45:15); “…. Tidak ada yang lain, tidak ada Allah selain dari pada-Ku! Allah yang adil dan Juruselamat, tidak ada yang lain kecuali Aku!” (Yes. 45:21). Nabi Hosea juga menegaskan “Tetapi Aku adalah TUHAN, Allahmu sejak di tanah Mesir; engkau tidak mengenal allah kecuali Aku, dan tidak ada juruselamat selain dari Aku” (Hos. 13:4). Dari dasar PL itulah, kemudian ditegaskan malaikat Tuhan [Utusan Allah] ketika menyampaikan berita besar kepada para gembala (Luk. 2:10-11): Lalu kata malaikat itu kepada mereka: “Jangan takut, sebab sesungguhnya aku memberitakan kepadamu kesukaan besar untuk seluruh bangsa: Hari ini telah lahir bagimu Juruselamat, yaitu Kristus, Tuhan, di kota Daud. Berita tersebut mengimplikasikan bahwa keselamatan Allah diperluas bukan karena baru diperluas melainkan telah Ia rencanakan sebelumnya.

Seperti dalam PL bahwa kurban keselamatan, dosa, dan penebus salah diperuntukkan bagi bangsa Israel. Dan itu berarti bersifat terbatas. Namun, ketika Allah mengutus Anak-Nya (Yoh. 3:16) ke dunia sebagai perwujudan penegasan perluasan keselamatan (tidak bertumpu pada satu bangsa saja), maka kematian Yesus bersifat luas—kepada seluruh bangsa—sebagaimana yang dinyatakan malaikat Tuhan. Beberapa bukti perlu disimak terkait. Misalnya Kisah Para Rasul 13:47 “Sebab inilah yang diperintahkan kepada kami: Aku telah menentukan engkau menjadi terang bagi bangsa-bangsa yang tidak mengenal Allah, supaya engkau membawa keselamatan sampai ke ujung bumi”, Kisah Para Rasul 15:11 “Sebaliknya, kita percaya, bahwa oleh kasih karunia Tuhan Yesus Kristus kita akan beroleh keselamatan sama seperti mereka juga”, Kisah Para Rasul 28:28 “Sebab itu kamu harus tahu, bahwa keselamatan yang dari pada Allah ini disampaikan kepada bangsa-bangsa lain dan mereka akan mendengarnya”, Roma 11:11 “Maka aku bertanya: Adakah mereka tersandung dan harus jatuh? Sekali-kali tidak! Tetapi oleh pelanggaran mereka, keselamatan telah sampai kepada bangsa-bangsa lain, supaya membuat mereka cemburu”, 1 Tesalonika 5:9 “Karena Allah tidak menetapkan kita untuk ditimpa murka, tetapi untuk beroleh keselamatan oleh Yesus Kristus, Tuhan kita”, 2 Timotius 2:10 “Karena itu aku sabar menanggung semuanya itu bagi orang-orang pilihan Allah, supaya mereka juga mendapat keselamatan dalam Kristus Yesus dengan kemuliaan yang kekal”, dan Ibrani 9:28 “demikian pula Kristus hanya satu kali saja mengorbankan diri-Nya untuk menanggung dosa banyak orang. Sesudah itu Ia akan menyatakan diri-Nya sekali lagi tanpa menanggung dosa untuk menganugerahkan keselamatan kepada mereka, yang menantikan Dia.”

Teks-teks tersebut secara kuat dan tegas menyatakan bahwa Yesus adalah Juruselamat dan Penebus. Ketika gagasan ini dikaitkan dengan PL, kita akan menemukan bahwa keduanya saling meneguhkan identitas Allah dan Yesus. Dengan demikian, ketika Yesus menegaskan dan ditegaskan bahwa diri-Nya adalah Juruselamat, hal tersebut tidak bertentangan dengan PL. Yesus sebagai σωτήρ menunjukkan identitas-Nya sebagai Allah, sebab Allah saja yang dapat menebus manusia. Ketika misi Kristen disebarkan, Yesus sebagai Juruselamat menjadi berita utamanya. Pasca Yesus ke surga, berita tersebut menjadi berita utama para murid [rasul] bahwa Yesus adalah Juruselamat. Implikasinya, Yesus adalah Allah dan Tuhan kita—selaras dengan pernyataan PL (Lihat Kis. 5:31; 13:23; Flp. 3:20; 1 Tim. 1:1; 4:10; 2 Tim. 1:10; Tit. 1:3-4; 2:10; 2:13; 3:4; 3:6; 2 Ptr. 1:1; 1:11; 2:20; 3:2; 3:18; 1 Yoh. 4:14; Yud 1:25).

Alfa dan Omega

Dalam kitab Wahyu disebutkan bahwa Yesus adalah “Alfa dan Omega” [Ἄλφα καὶ τὸ Ὦ] – Yang Awal dan Yang Akhir [ὁ πρῶτος καὶ ὁ ἔσχατος]. Pernyataan ini membuktikan bahwa Yesus telah ‘ada’ sebelum inkarnasi-Nya ke dunia (praeksistensi). Pernyataan Ἄλφα καὶ τὸ Ὦ adalah wujud nyata ke-Tuhan-an Yesus.

Simon J. Kistemaker menjelaskan Wahyu 1:8, “inilah pernyataan pertama Allah tentang diri-Nya sendiri, yang Yohanes ulangi di 21:6, “Aku adalah Alfa dan Omega, Yang Awal dan Yang Akhir.” Baik Allah maupun Kristus menyebut diri “Aku adalah Alfa dan Omega” (Kistemaker, Tafsiran Kitab Wahyu, 92). Itu berarti, ada kesetaraan antara Allah dengan Yesus (mengenai hal ini, Kistemaker menjelaskannya dalam tafsirannya pada 21:6 dan 22:13 yang akan saya paparkan kemudian). Kistemaker berpendapat, Kristus kekal dan bisa menyebut diri-Nya Yang Awal dan Yang Akhir, Sumber dan Penggenap karya penciptaan dan penebusan (Kistemaker, Tafsiran Kitab Wahyu, 93). Bagi Richard Bauckham, “Kristus adalah agen ilahi dalam penciptaan Allah atas segala sesuatu maupun dalam penggenapan eskatologis Allah atas segala sesuatu” (Bauchkam, Theology of the Book of Revelation, New Testament Theology, 56-57, dikutip Kistemaker, Tafsiran Kitab Wahyu, 93). Sebagai agen Allah [logos], memungkinkan Allah menciptakan segala sesuatu. Allah tak mungkin tanpa ‘logos’. Keberdiamana logos secara kekal dalam diri Allah mengimplikasikan kekekalan logos dan esensi yang dimiliki logos berasal dari Allah yang kekal. Itu sebabnya, sebagai agen Allah, Yesus memiliki natur kekal dan kesetaraan dengan Allah.

Pemahaman Yesus sebagai agen Allah tidaklah menggiring opini bahwa Dia hanyalah ‘pesuruh’ Allah. Kita mengetahui bahwa karena inkarnasi-Nya, maka Yesus disebut sebagai logos yang menjadi daging [manusia]. Tanpa inkarnasi, sebutan ‘agen’, ‘Anak Manusia’, ‘Anak Allah’, ‘Anak Daud’, dan sebagainya, tak pernah terucap.

Dalam teks Wahyu 1:8, pernyataan Ἄλφα καὶ τὸ Ὦ dikatakan oleh Yesus. Meskipun dalam pasal 1:1 dituliskan, “Inilah wahyu Yesus Kristus, yang dikaruniakan Allah kepada-Nya…” seolah-olah Yesus tidak memiliki otoritas untuk menyatakan identitas-Nya. Namun, sebagaimana yang tampak dalam Injilnya, Yohanes melihat adanya kesetaraan antara Allah dan Yesus.

Lebih jelasnya, Yohanes secara gamblang menjelaskan tentang identitas Yesus berdasarkan apa yang dilihatnya. Ia adalah saksi mata atas apa yang dilakukan Yesus. Ia pun menulis bahwa Yesus setara dengan Allah Bapa, meski secara situasional, Ia dalam keadaan sebagai manusia (bdk. Yoh. 1:14). Berikut teks-teks kesetaraan Yesus dengan Bapa dan konteks bahwa Yesus merepresentasikan Bapa kepada manusia.

3:17-18, Sebab Allah mengutus Anak-Nya ke dalam dunia bukan untuk menghakimi dunia, melainkan untuk menyelamatkannya oleh Dia. Barangsiapa percaya kepada-Nya, ia tidak akan dihukum; barangsiapa tidak percaya, ia telah berada di bawah hukuman, sebab ia tidak percaya dalam nama Anak Tunggal Allah. Percaya kepada Yesus berarti percaya kepada Allah yang mengutus Yesus. Bahkan yang percaya diberikan jaminan: ‘tidak dihukum’. Itu berarti, Yesus menyatakan diri sebagai Hakim (bdk. Mzm 7:12 dan 9:5, “Allah adalah Hakim yang adil”).

3:36, Barangsiapa percaya kepada Anak, ia beroleh hidup yang kekal, tetapi barangsiapa tidak taat kepada Anak, ia tidak akan melihat hidup, melainkan murka Allah tetap ada di atasnya. Percaya kepada Yesus yang adalah Anak Allah, diberikan jaminan kehidupan kekal. Hanya Allah yang dapat memberikan jaminan kehidupan kekal. Ini pernyataan kesetaraan Yesus dengan Allah.

5:21, Sebab sama seperti Bapa membangkitkan orang-orang mati dan menghidupkannya, demikian juga Anak menghidupkan barangsiapa yang dikehendaki-Nya (bdk. 6:54). Ketegasan Yesus di sini mengungkapkan kesetaraan kuasa antara Dia dengan Bapa-Nya, untuk menghidupkan orang-orang mati. Artinya, kuasa yang dimiliki Bapa, adalah juga kuasa yang sama dimiliki-Nya sebab Yesus datang dan keluar dari Bapa (bdk. Yoh. 6:46, “Hanya Dia yang datang dari Allah, Dialah yang telah melihat Bapa”; 7:29, “Aku kenal Dia, sebab Aku datang dari Dia dan Dialah yang mengutus Aku”; 8:42, “… sebab Aku keluar dan datang dari Allah. Dan Aku datang bukan atas kehendak-Ku sendiri, melainkan Dialah yang mengutus Aku”; 16:27, “… karena kamu telah mengasihi Aku dan percaya, bahwa Aku datang dari Allah”; 16:28, “Aku datang dari Bapa dan Aku datang ke dalam dunia….”; 17:8, “…bahwa Aku datang dari pada-Mu, dan mereka percaya, bahwa Engkaulah yang telah mengutus Aku”.

3:31, Siapa yang datang dari atas adalah di atas semuanyaSiapa yang datang dari sorga adalah di atas semuanya. Penegasan bahwa Yesus dari surga [atas] membuktikan bahwa Ia di atas semuanya. Hanya Allah di atas semuanya.

5:23, supaya semua orang menghormati Anak sama seperti mereka menghormati Bapa. Barangsiapa tidak menghormati Anak, ia juga tidak menghormati Bapa, yang mengutus Dia. Kesetaraan penghormatan ditujukan kepada Bapa dan Yesus. Yesus [Anak] adalah representatif Bapa. Konsekuensinya, menghormati Yesus, sama halnya menghormati Bapa. Ini wujud dari kesetaraan kehormatan.

5:24, Aku berkata kepadamu: Sesungguhnya barangsiapa mendengar perkataan-Ku dan percaya kepada Dia yang mengutus Aku, ia mempunyai hidup yang kekal dan tidak turut dihukum, sebab ia sudah pindah dari dalam maut ke dalam hidup. Ini adalah bentuk kesetaraan Yesus dengan Bapa yang mengutus-Nya: “Sesungguhnya barangsiapa mendengar perkataan-Ku” dan “percaya kepada Dia yang mengutus Aku” adalah dua hal yang setara. Percaya kepada Yesus berarti percaya kepada Bapa (bdk. 5:23). Yang mendengar dimungkinkan untuk percaya. Yang percaya kepada Yesus pasti mereka yang mendengar perkataan-Nya. Jika demikian, Bapa yang mengutus direpresentasikan oleh Yesus dan segala perkataan-Nya. Tentu Yesus tidak menyatakan sesuatu yang bertentangan dengan kehendak Bapa yang mengutus-Nya.

6:57, Sama seperti Bapa yang hidup mengutus Aku dan Aku hidup oleh Bapa, demikian juga barangsiapa yang memakan Aku, akan hidup oleh Aku. Ayat ini dapat berarti demikian, “Bapa hidup, dan Aku hidup oleh Bapa yang hidup sebab jika Yesus hidup maka itu disebabkan karena yang mengutus-Nya adalah hidup.” Hidup di sini bermakna eksistensi kekal yang tentunya secara hakiki bahwa baik Bapa maupun Yesus memiliki eksistensi yang tak dapat dipahami sepenuhnya karena Bapa, yang mengutus Yesus adalah kekal. Maka ayat di atas melampaui dari apa yang kita pahami tentang ‘hidup’ Bapa dan ‘hidup’ Yesus. Selanjutnya, kalimat “Aku [Yesus] hidup, dan kamu akan hidup oleh Aku” adalah konsekuensi dari yang pertama. Ini adalah sebuah analogi yang konsisten. Yang percaya akan hidup selama-lamanya sebagaimana Yesus hidup selama-lamanya dalam kekekalan, meski mengalami kehidupan sementara di bumi. Oleh sebab itu, esensi Yesus yang dari Bapa, menegaskan kesetaraan [kesamaan] esensi. Bapa hidup, maka Yesus juga hidup dalam esensi-Nya.

8:12, Maka Yesus berkata pula kepada orang banyak, kata-Nya: “Akulah terang dunia; barangsiapa mengikut Aku, ia tidak akan berjalan dalam kegelapan, melainkan ia akan mempunyai terang hidup.” Penegasan Yesus sebagai ‘terang dunia’ menyamakan kesetaraan identitas-Nya dengan Allah dalam PL sebagai ‘terang’: Mazmur 27:1, “…TUHAN adalah terangku dan keselamatanku…”; Mikha 7:8, “… sekalipun aku duduk dalam gelap, TUHAN akan menjadi terangku.

8:51-52  “Aku berkata kepadamu: Sesungguhnya barangsiapa menuruti firman-Ku, ia tidak akan mengalami maut sampai selama-lamanya….”. Menuruti firman [yang dikatakan] Yesus sama halnya menuruti firman Allah [yang mengutus-Nya]. Meski mendapat penolakan dari lawan-lawan-Nya, namun perkataan Yesus ini dinyatakan secara tegas. Kesetaraan firman Yesus dan firman Allah membuktikan bahwa Ia dan Allah adalah setara dalam hal menyampaikan firman yang memberikan dampak pada kehidupan kekal (selama-lamanya) sebagai jaminan dari mereka yang mendengar dan menurutinya.

11:25,  Jawab Yesus: Akulah kebangkitan dan hidup; barangsiapa percaya kepada-Ku, ia akan hidup walaupun ia sudah mati. Ini adalah klaim yang menyatakan bahwa baik Bapa maupun Yesus, memiliki kuasa memberikan kehidupan kekal maupun kehidupan bagi mereka yang telah mati (dibangkitkan).

12:26, Barangsiapa melayani Aku, ia harus mengikut Aku dan di mana Aku berada, di situpun pelayan-Ku akan berada. Barangsiapa melayani Aku, ia akan dihormati Bapa. Bukti bahwa seseorang dihormati Bapa adalah melayani Yesus dalam bentuk ‘mengikuti-Nya’: mengikuti firman-Nya dan mengikuti teladan-Nya, sebab dengan mengikuti [melayani] Yesus, di situ Bapa dipermuliakan dan ditinggikan sebab siapa yang percaya kepada Yesus berarti percaya kepada Pribadi yang mengutus-Nya.

12:44, “… ‘Barangsiapa percaya kepada-Ku, ia bukan percaya kepada-Ku, tetapi kepada Dia, yang telah mengutus Aku.’” Ini adalah penegasan Yesus tentang identitas-Nya yang merepresentasikan Bapa dalam diri-Nya. Percaya kepada Yesus berarti percaya kepada Bapa sebab apa yang dilakukan dan dikatakan Yesus adalah apa yang dikehendaki Bapa.

12:45, dan barangsiapa melihat Aku, ia melihat Dia, yang telah mengutus Aku. Ayat ini selaras dengan 12:44. Yesus merepresentasikan Bapa-Nya. Bapa yang tidak kelihatan menjadi ‘terlihat’ dalam pribadi Yesus. Kata ‘melihat’ tidaklah dimaksudkan melihat pribadi-Nya secara kasat mata, melaikan melihat mengenai apa yang ‘dikatakan-Nya [difirmankan dan diklaim-Nya]’ dan apa yang ‘dilakukan-Nya’. Apa yang ‘terlihat’ dalam pribadi Yesus (perkataan, klaim, dan tindakan-Nya) adalah sesuai dengan apa yang dikehendaki Bapa. Jadi, tidak ada perbedaan antara kehendak Yesus dan kehendak Bapa (bdk. 14:9, 24).

15:23, Barangsiapa membenci Aku, ia membenci juga Bapa-Ku. Ayat ini juga menjelaskan kesetaraan Yesus dengan Bapa-Nya. Mereka yang membenci Yesus karena apa yang dikatakan, diklaim dan dilakukan Yesus (bdk. penjelasan 12:45 di atas). Makna “membenci Yesus berarti membenci Bapa-Nya” disebabkan karena apa yang dilakukan, dikerjakan, dikatakan, difirman, diklaim Yesus, adalah selaras dengan kehendak Bapa. Tidak ada pertentangan antara kehendak Yesus dengan kehendak Bapa-Nya. Dalam keadaan-Nya sebagai manusia, justru Yesus menyatakan bahwa “tetapi bukanlah kehendak-Ku, melainkan kehendak-Mulah yang terjadi” (Mat. 26:39, 42; Mrk. 14:36; Luk. 22:42).

Dari bukti-bukti di atas, maka saya berkesimpulan bahwa Yesus memiliki kesetaraan hak untuk menyatakan firman dan klaim bahwa Ia adalah Alfa dan Omega, seperti yang nyata dalam Wahyu 1:8. Konkritnya, Wahyu 1:7 menegaskan bahwa ayat 8 benar-benar diklaim oleh Yesus: “Lihatlah, Ia datang dengan awan-awan dan setiap mata akan melihat Dia, juga mereka yang telah menikam Dia. Dan semua bangsa di bumi akan meratapi Dia. Ya, amin.” Kata ganti ‘Ia’ dan ‘Dia’ merujuk kepada Yesus. Indikasi utamanya adalah “juga mereka yang telah menikam Dia” melihat Ia datang dengan awan-awan. Artinya, tidak hanya setiap mata akan melihat Yesus, tetapi mereka yang telah membunuh-Nya juga akan melihat kedatangan-Nya.

Oleh sebab itu, dari penjelasan di atas, maka bentuk penegasian ke-Tuhan-an Yesus yang diukur dari ‘ucapan’ [pengakuan Yesus sendiri] telah dibuktikan melalui Wahyu 1:8 dan juga ayat-ayat berikut ini: 1:17; 2:8; 21:6; 22:13:

1:8, “Aku adalah Alfa dan Omega [Εγώ εἰμι τὸ Ἄλφα καὶ τὸ Ὦ], firman Tuhan Allah, yang ada dan yang sudah ada dan yang akan datang, Yang Mahakuasa.” Ayat ini menegaskan beberapa hal tentang keilahian Yesus: pertama, keseteraan-Nya dengan Allah sebagai Pencipta, Yang Awal dan Yang Akhir, Allah yang ada pada mulanya (bdk. Kej. 1:1 dan Yoh. 1:1) menciptakan segala sesuatu, dan Allah yang akan mengakhiri segala sesuatu; kedua, kalimat ‘firman Tuhan Allah’ menyatakan bahwa firman yang disampaikan Yesus kepada Rasul Yohanes adalah firman dari diri-Nya sendiri sebagai ‘Tuhan Allah’. Hal ini selaras dan sebagai konsekuensi dari pernyataan awal Yesus: “Εγώ εἰμι τὸ Ἄλφα καὶ τὸ Ὦ”. Yang Awal dan Yang Akhir mutlak sebagaipribadi yang kekal yaitu Tuhan Allah. Dialah Yesus; ketiga, kalimat “yang ada dan yang sudah ada dan yang akan datang” menyatakan kekekalan Yesus. Yohanes mendapatkan legitimasi tentang apa yang ditulis dalam Injilnya (Yoh. 1:1): In the beginning was the Word, and the Word was with God, and the Word was God (ASV); Ἐν ἀρχῇ ἦν ὁ λόγος, καὶ ὁ λόγος ἦν πρὸς τὸν θεόν, καὶ θεὸς ἦν ὁ λόγος. Yesus juga menegaskan bahwa Ia adalah “Yang Mahakuasa” [the Almighty, ὁ παντοκράτωρ – ho pantokrator]. Yesus meneguhkan apa yang ditulis oleh Rasul Yohanes. Dua pernyataan yakni Ἐν ἀρχῇ ἦν ὁ λόγος, καὶ ὁ λόγος ἦν πρὸς τὸν θεόν, καὶ θεὸς ἦν ὁ λόγος dan ὁ ὢν καὶ ὁ ἦν καὶ ὁ ἐρχόμενος [yang ada dan yang sudah ada dan yang akan datang] saling meneguhkan, saling mendukung, saling menguatkan dan saling mengkonfirmasi. Yesus adalah Allah dan kekal; keempat, kalimat “Yang Mahakuasa” juga membuktikan bahwa sebagai Alfa dan Omega, Tuhan Allah, dan Yang Kekal, mengimplikasikan kekuasaan yang tertinggi di antara segala kuasa yang ada. Kita teringat akan perkataan Yesus sebelum Ia naik ke surga: “Kepada-Ku telah diberikan segala kuasa di sorga dan di bumi” (Mat. 28:18). Dalam PL, sebutan “Yang Mahakuasa” ditujukan kepada Allah [Yahweh] yang kekal: Kejadian 17:1; 28:3; 35:11; 43:14; 48:3; 49:25; Keluaran 6:3; Bilangan 24:4, 16; Rut 1:20-21; Ayub 5:17; 6:4, 14; 8:3, 5; 11:7; 13:3; 15:25; 21:15, 20; 22:3, 17, 23, 25, 26; 23:16; 24:1; 27:2, 10, 11, 13; 29:5; 31:2, 35; 32:8; 33:4; 34:10, 12; 35:13; 37:23; 39:35; Mazmur 50:1; 68:15; 91:1; Yesaya 13:6; 60:16.

Lalu kitab Wahyu menegaskan hal yang sama kepada Yesus: 4:8, Dan keempat makhluk itu masing-masing bersayap enam, sekelilingnya dan di sebelah dalamnya penuh dengan mata, dan dengan tidak berhenti-hentinya mereka berseru siang dan malam: “Kudus, kudus, kuduslah Tuhan Allah, Yang Mahakuasa, yang sudah ada dan yang ada dan yang akan datang”; 11:17, sambil berkata: “Kami mengucap syukur kepada-Mu, ya Tuhan, Allah, Yang Mahakuasa, yang ada dan yang sudah ada, karena Engkau telah memangku kuasa-Mu yang besar dan telah mulai memerintah sebagai raja; 15:3, Dan mereka menyanyikan nyanyian Musa, hamba Allah, dan nyanyian Anak Domba, bunyinya: “Besar dan ajaib segala pekerjaan-Mu, ya Tuhan, Allah, Yang Mahakuasa! Adil dan benar segala jalan-Mu, ya Raja segala bangsa!”; 16:7, Dan aku mendengar mezbah itu berkata: “Ya Tuhan, Allah, Yang Mahakuasa, benar dan adil segala penghakiman-Mu”; 16:14, Itulah roh-roh setan yang mengadakan perbuatan-perbuatan ajaib, dan mereka pergi mendapatkan raja-raja di seluruh dunia, untuk mengumpulkan mereka guna peperangan pada hari besar, yaitu hari Allah Yang Mahakuasa; 19:6, Lalu aku mendengar seperti suara himpunan besar orang banyak, seperti desau air bah dan seperti deru guruh yang hebat, katanya: “Haleluya! Karena Tuhan, Allah kita, Yang Mahakuasa, telah menjadi raja”; 19:15, Dan dari mulut-Nya keluarlah sebilah pedang tajam yang akan memukul segala bangsa. Dan Ia akan menggembalakan mereka dengan gada besi dan Ia akan memeras anggur dalam kilangan anggur, yaitu kegeraman murka Allah, Yang Mahakuasa; 21:22, Dan aku tidak melihat Bait Suci di dalamnya; sebab Allah, Tuhan Yang Mahakuasa, adalah Bait Sucinya, demikian juga Anak Domba itu.

1:17-18, ketika aku melihat Dia, tersungkurlah aku di depan kaki-Nya sama seperti orang yang mati; tetapi Ia meletakkan tangan kanan-Nya di atasku, lalu berkata: “Jangan takut! Aku adalah Yang Awal dan Yang Akhir, dan Yang Hidup. Aku telah mati, namun lihatlah, Aku hidup, sampai selama-lamanya dan Aku memegang segala kunci maut dan kerajaan maut.

2:8, “Dan tuliskanlah kepada malaikat jemaat di Smirna: Inilah firman dari Yang Awal dan Yang Akhir, yang telah mati dan hidup kembali.

21:6, Firman-Nya lagi kepadaku: Semuanya telah terjadi. Aku adalah Alfa dan Omega, Yang Awal dan Yang Akhir. Orang yang haus akan Kuberi minum dengan cuma-cuma dari mata air kehidupan.

22:13, Aku adalah Alfa dan Omega, Yang Pertama dan Yang Terkemudian, Yang Awal dan Yang Akhir.

Pernyataan “Yang Pertama dan Yang Terkemudian” yang diklaim oleh Yesus, selaras dengan pernyataan Yahweh dalam PL. Nabi Yesaya menuliskan: “Siapakah yang melakukan dan mengerjakan semuanya itu? Dia yang dari dahulu memanggil bangkit keturunan-keturunan, Aku, TUHAN, yang terdahulu, dan bagi mereka yang terkemudian Aku tetap Dia juga” (41:4); “Beginilah firman TUHAN, Raja dan Penebus Israel, TUHAN semesta alam: ‘Akulah yang terdahulu dan Akulah yang terkemudian; tidak ada Allah selain dari pada-Ku’” (Yes. 44:6) dan “Dengarkanlah Aku, hai Yakub, dan engkau Israel yang Kupanggil! Akulah yang tetap sama, Akulah yang terdahulu, Akulah juga yang terkemudian!” (Yes. 48:12).

G. K. Beale, dalam The Book of Reveation, menegaskan, τὸ Ἄλφα καὶ τὸ Ὦ(“the Alpha and the Omega) is a figure of speech called a merism (a merism states polar opposites in order to highlight everything between the opposites). Similar merism are ἡ ἀρχὴ καὶ τὸ τέλος (“the Beginning and the End”, 21:6; 22:13) and ὁ πρῶτος καὶ ὁ ἔσχατος (“the First and the Last”, 22:13; cf. 1:17). These merisms express God’s control of all history, especially by bringing it to an end in salvation and judgment (Beale, The Book of Reveation. The New International Greek Testament Commentary, 199).

Tampak bahwa pernyataan τὸ Ἄλφα καὶ τὸ Ὦ (“the Alpha and the Omega) dan ἡ ἀρχὴ καὶ τὸ τέλος (“the Beginning and the End”) mengindikasikan (mengekpresikan) pengontrolan Allah atas keseluruhan sejarah, yang di dalamnya include misi penyelamatan Allah dan penghukuman-Nya atas dosa-dosa manusia. Jika demikian, ada aspek kesetaraan antara Allah dan Yesus—jika teks di atas merujuk kepada Allah—namun jika teks tersebut sangat kuat merujuk pada Yesus, maka implikasinya juga sama: Ia dan Allah memiliki kesetaraan. Beale menambahkan,

These divine speaker identifies himself as “the Alpha and the Omega, the beginning and the end” (τὸ ἄλφα καὶ τὸ ὦ, ἡ ἀρχὴ καὶ τὸ τέλος). We have seen that the titles “Alpha and Omega” and “first and last” (1:8, 17) are synonymous with the similar expressions “the beginning and the end, the first and the last” (ἡ ἀρχὴ καὶ τὸ τέλος, ὁ πρῶτος καὶ ὁ ἔσχατος) at the end of the book (in 22:13, with a repetition of “Alpha and Omega”). All these titles express God’s sovereignty over history, especially by bringing it to an end in salvation and judgment. That God is the beginning and end of history means that he rules over all events in between. The two “beginning and end” merisms of 21:6 might have been formulated through reflection on the similar clauses in Isaiah 41-48, since ὁ πρῶτος καὶ ὁ ἔσχατος in 1:17b is based on the same Isaianic wording. Indeed, the Masoretic Text of Isa. 41:4; 44:6, and 48:12 has variant forms of “I am the first an the last” (Beale, The Book of Reveation. The New International Greek Testament Commentary, 1055).

Rujukan Rasul Yohanes tentang gagasan “the Alpha and the Omega, the beginning and the end” adalah Yesaya 41:4, 44:6, dan 48:12 sebagaimana tampak dari penjelasan Beale di atas. Beale menafsirkan Wahyu 22:13, “the Apocalypse has already called God “the Alpha and the Omega” (1:8, 21:6) and “the Beginning and the End” (21:6), and Christ has been called “the First and the Last” (1:17; 2:8). Now all these titles, which are used in the Old Testament of God, are combined and applied to Christ to highlight his deity” (Beale, The Book of Reveation, 1138). Menurut Beale, semua titel (gelar) yang digunakan dalam Perjanjian Lama kepada Allah, dikombinasikan dan diaplikasikan kepada Yesus untuk menyoroti ke-Ilahian-Nya.

Dasar-dasar ini boleh menjadi referensi kesetaraan Yesus dengan Allah Bapa-Nya. Yang tampak dari peristiwa historis, Allah membawa dan menganugerahkan keselamatan kepada manusia melalui Yesus. Ada perbedaan kualitas dan identitas antara para nabi dan Yesus. Para nabi adalah mereka yang menyampaikan pesan-pesan keselamatan dan penghukuman Allah, tetapi mereka tidak dapat bertindak atas nama Allah untuk mengampuni dan menyelamatkan umat Allah yang berdosa dengan diri mereka sendiri. Sedangkan Yesus, Ia bertindak atas nama Allah untuk mati, mencurahkan darah-Nya bagi pengampunan dosa-dosa umat-Nya. Tidak hanya itu, Ia bangkit dari kematian dan kembali ke surga—tempat di mana Ia berasal sesuai dengan yang diklaim semasa hidup-Nya.

MISI APOLOGETIKA

Setelah kita melihat elaborasi Apologetika Misi, kita beranjak kepada topik mengenai Misi Apologetika. Beberapa poin penting yang menjadi bagian dari Misi Apologetika akan saya paparkan. Dengan begitu, memahami misi, sebagaimana telah saya jelaskan di bagian awal tulisan ini yakni isi berita, dan personalitas Allah yang terkandung dalam isi berita. Elaborasi di atas mencakup keduanya. Apologetika Misi berarti berita misi dan personalitas Allah dalam misi tersebut perlu dipahami secara baik dan memadai sehingga ketika mendapat respons dari para pendengar, kita bisa memberi pertanggungan jawab (bdk. 1 Ptr. 3:15-16). Sedangkan Misi Apologetika berbicara mengenai tanggung jawab dan komitmen Kristen dalam memberitakan Injil.

Menyatakan Kebenaran Alkitab tentang Yesus Kristus

Apologetika bukanlah melulu ‘berdebat’, melainkan seni bagaimana mempertahankan iman Kristen, seni bagaimana memberikan jawaban yang baik kepada setiap orang, seni bagaimana mempertanggung jawabkan spiritual dan moralitas Kristen, dan seni meluruskan kesimpangsiuran, kesesatan, kesalahpahaman orang-orang terhadap ajaran [doktrin] Kristen dan data Alkitab. Menyatakan kebenaran Alkitab adalah wujud dari kesaksian kita dan iman kita pada Yesus. Sebagai saksi Kristus, patutlah kita memahami bahwa tanggung jawab misi adalah hal yang mulia. Dari situlah kita membuktikan bahwa kita adalah orang yang setia dan taat akan firman-Nya.

Menyatakan Keberatan Atas Sesat Tafsir Alkitab

Alkitab adalah kitab yang paling banyak dikritik. Namun, dalam kritik yang keras sekalipun, orang Kristen tidak kehilangan nyali. Tidak hanya kritik dari pada atheis, kaum liberal, kaum rasional dan sebagainya, namun Islam juga mengkritik Alkitab melalui kitab sucinya. Meski demikian, kita tahu bahwa semua kitab suci agama-agama di dunia terbuka peluang untuk dikritik. Artinya, setiap kitab suci memiliki natur untuk dikritik, baik oleh lawan maupun oleh penganut agama tersebut. Misi apologetika perlu memahami kritik dan sekaligus menjawabnya. Ketika Alkitab ditafsir sesuka hati oleh mereka yang mengkritiknya, para misonaris dapat menjawab keberatan atasnya dan menyuguhkan cara yang akademis dan kredibel.

Sesat tafsir atas Alkitab memang menjadi marak terjadi baik di kalangan Kristen sendiri maupun dari kalangan liberal, rasional, penentang, maupun dari kalangan agama lain. Akan tetapi, Alkitab memiliki sejumlah panduan dasar untuk menjawabnya. Dibutuhkan pemahaman yang kuat terlebih dahulu dari pihak Kristen (misionaris) tentang ajaran-ajaran Alkitab, baru bisa memberikan jawaban yang kurang lebih menampik berbagai bentuk kesesatan tafsir atas Alkitab.

Beberapa contoh berikut ini bisa menjadi panduannya. Misalnya dosa. Dalam doktrin Kristen, Yesus mati menebus manusia dari dosa. Namun, ada halangan dalam memahaminya, yakni di satu sisi Yesus adalah Tuhan, dan di sisi lain, Yesus adalah manusia. Ketika Yesus mati, maka orang mengira, ‘Tuhan’ juga mati. Padahal hal itu salah. ‘Tuhan’ bukanlah dipahami secara fisik. Gelar ‘Tuhan’ tidak menekankan fisik tapi pada substansinya. Ketika Yesus mati, yang mati adalah raga manusia-Nya. Rasul Paulus dengan tegas menyatakan hal ini: “Dan dalam keadaan sebagai manusia [ἄνθρωπος], Ia telah merendahkan diri-Nya dan taat [ὑπήκοος] sampai mati [θάνατος], bahkan sampai mati di kayu salib” (Flp. 2:8). Yesus taat [ὑπήκοος] kepada Bapa-Nya. Ia [ὑπήκοος] karena Ia manusia. Ia bisa menebus manusia dari dosa karena Ia adalah Allah.

Doktrin keselamatan dan penebusan melalui penyaliban juga merupakan sasaran empuk kritik. Namun, sama seperti gagasan dosa di atas, mereka yang keliru memahami kedua doktrin ini sering terjebak pada ketidaktahuan secara komprehensif soal data Alkitab dan bahkan lebih parahnya adalah tidak memiliki alur pemikiran tentang “historical redemption”. Jadi, keselamatan, penebusan dosa, selalu dikaitkan dengan rencana dan cara Allah menebus serta peduli kepada manusia. Ketika mengkritik doktrin-doktrin fundamental ini, para lawan Kristen sering merasa sombong dengan teori-teori mereka, padahal secara natur, teori-teori tersebut adalah “salah kamar”.

Keselamatan dari Allah disebabkan manusia adalah ciptaan-Nya. Manusia berdosa kepada Allah dan secara keturunan, manusia tercemar oleh dosa tersebut. Lalu apakah manusia berakhir di situ? Tidak. Allah tetap menggenapi rencana kekal-Nya dan memperkenankan manusia sesuai kedaulatan-Nya untuk menikmati keselamatan itu. Keselamatan yang di dalamnya mencakup penebusan, pengampunan, pendamaian, dan pengudusan itulah yang diwujudkan Allah atas manusia. Tidak hanya itu, jaminan memperoleh kehidupan kekal adalah bentuk finalnya. Aspek-aspek inilah yang sering menjadi percakapan dalam bermisi. Perlu bagi kita untuk memahaminya.

Soal lain lagi adalah Kristologi. Sering, orang menilai bahwa untuk membuktikan Yesus adalah Tuhan, maka Ia harus mengakui dari mulut-Nya sendiri bahwa ‘Aku adalah Tuhan’. Ini mirip dengan strategi Iblis. Artinya, beban pembuktian ada pada ‘pengakuan’. Dengan demikian, ‘pengakuan’ adalah standar tunggal dan standar lainnya tidak masuk hitungan. Apakah benar demikian? Jelas bahwa hal tersebut adalah keliru karena beban pembuktian bersifat tunggal. Metode ini sering dipakai Islam untuk menolak ke-Ilahian Yesus. Namun, beberapa teks yang telah saya jelaskan di atas adalah bukti bahwa Yesus mengklaim diri-Nya adalah ‘Tuhan’. Misalnya ketika Yesus mengatakan: “Anak Manusia adalah Tuhan atas hari Sabat” dan “Akulah Guru dan Tuhan” sudah cukup membuktikan bahwa Ia mengakui-Nya (bdk. Yoh. 10:36; 11:4).

Tidak hanya itu, beberapa teks berikut ini membuktikan hal yang sama. Mereka yang mengakui Yesus sebagai Anak Allah adalah orang-orang terdekat, para saksi mata, dan bahkan dari cara menjawab Yesus yang menggunakan pengakuan orang lain sebagai bukti bahwa Ia adalah Anak Allah.

Kesaksian Yohanes: Dan aku telah melihat-Nya dan memberi kesaksian: Ia inilah Anak Allah (Yoh. 1:34; bdk. 20:31)

Kesaksian Natanael: “Rabi, Engkau Anak Allah, Engkau Raja orang Israel!” (Yoh. 1:49)

Kesaksian Marta: “Ya, Tuhan, aku percaya, bahwa Engkaulah Mesias, Anak Allah, Dia yang akan datang ke dalam dunia” (Yoh. 11:27)

Kesaksian Pilatus: “Engkaukah raja orang Yahudi?” Jawab Yesus: “Engkau sendiri mengatakannya” (Luk. 23:3)

Kesaksian Imam Besar dan kesaksian Yesus: “Demi Allah yang hidup, katakanlah kepada kami, apakah Engkau Mesias, Anak Allah, atau tidak.” Jawab Yesus: “Engkau telah mengatakannya. Akan tetapi, Aku berkata kepadamu, mulai sekarang kamu akan melihat Anak Manusia duduk di sebelah kanan Yang Mahakuasa dan datang di atas awan-awan di langit.”

Kesaksian para tua-tua bangsa Yahudi dan imam-imam kepala dan ahli-ahli Taurat: “Kalau begitu, Engkau ini Anak Allah?” Jawab Yesus: “Kamu sendiri mengatakan, bahwa Akulah Anak Allah” (Luk. 22:70)

Poin-poin utama dari seni menafsir adalah memperhatikan konteksnya yang terdiri atas: situasi dan kondisi, penutur, penerima, korelasi tekstual dan korelasi konteks. Kelemahan dari mereka yang menegasikan ke-Ilahian Yesus dengan menggunakan dalil Injil-Injil, selalu melupakan unsur penutur, analisis konteks dan teks, serta memiliki persepsi yang buruk terhadap Alkitab.

Memenangkan Orang Lain melalui Sikap Hidup

Secara substansial, Kristen adalah sebuah ‘ekspos hidup’ melalui tiga hal: pertama, melalui cara berucap, kedua, melalui cara berbuat, dan ketiga, melalui cara berpikir. Ketiga prinsip ini tertuang dalam nasihat Petrus: “Tetapi kuduskanlah Kristus di dalam hatimu sebagai Tuhan! Dan siap sedialah pada segala waktu untuk memberi pertanggungan jawab [cara berucap] kepada tiap-tiap orang yang meminta pertanggungan jawab dari kamu tentang pengharapan yang ada padamu [cara berpikir], tetapi haruslah dengan lemah lembut dan hormat, dan dengan hati nurani yang murni [cara berbuat], supaya mereka, yang memfitnah kamu karena hidupmu yang saleh dalam Kristus, menjadi malu karena fitnahan mereka itu” (1 Ptr. 3:15-16).

Kehidupan Kristen tidak akan lepas dari ketiga hal tersebut. Seyogianya kehidupan spiritual dan moral ditampakkan dalam totalitas kehidupan. Tak ada yang perlu ditutupi. Kita adalah “surat terbuka” yang dapat dibaca oleh semua orang. Ketika kita menampakkan sikap hidup yang seperti itu, mungkin saja mereka yang melihatnya akan dipengaruhi. Yesus juga pernah mengatakan: “Demikianlah hendaknya terangmu bercahaya di depan orang, supaya mereka melihat perbuatanmu yang baik dan memuliakan Bapamu yang di sorga” (Mat. 5:16). Jika demikian, kita perlu menjadi ‘teladan terang’ dalam sikap, pemikiran, dan perkataan. Misi Kristen: apologetika misi dan misi apologetika, melibatkan ketiga unsur di atas. Misi juga berbicara mengenai pengaruh melalui ‘teladan terang’, selain dari pada perkataan isi berita dan personalitas Tuhan.

Penutup

Apologetika Misi dan Misi Apologetika merupakan dua implikasi akuntabilitasi (tanggung jawab) iman dan moral. Bermisi merupakan panggilan yang mulia di mana kita diberikan kesempatan oleh Tuhan untuk mewartakan diri-Nya dan apa yang dikehendaki-Nya.

Dalam tugas misi tersebut, kita perlu mendorong diri kita untuk terus belajar Alkitab dan berusaha memahami pengajaran-pengajaran iman Kristen. Ketika bermisi, ada berbagai tantangan untuk menyampaikan iman Kristen dan personalitas Yesus Kristus. Kadang ada respons yang negatif, ada penolakan, dan bahkan ada respons yang terlampau kasar. Apologetika misi mengandung berita pekerjaan Tuhan dalam sejarah yang terus dikumandangkan terkait dengan penebusan, keselamatan, dan jaminan-Nya. Dengan begitu, personalitas Tuhan juga ikut diberitakan. Sebab Tuhanlah yang memungkinkan manusia dapat ditebus, diselamatkan, dan menerima jaminan-Nya.

Apologetika misi mengisyaratkan bahwa betapa pentingnya kita memahami Alkitab secara benar dan kredibel sehingga ketika doktrin-doktrin penting yang disampaikan dalam misi, kita dapat dengan lebih meyakinkan memberikan penjelasan, dan bahkan mungkin memberi pengaruh yang sangat baik kepada mereka yang mendengarkannya. Seorang Kristen patut bersekutu dengan Tuhan. Ia perlu memiliki pengalaman pribadi dengan Tuhan. Atau dengan kata lain, ia mempunyai kehidupan doa, kehidupan rohani, dan kehidupan yang kudus di hadapan-Nya. Dengan demikian, mengikuti nasihat Petrus, akan menjadi lebih mudah.

Misi Apologetika lebih menekankan pada cara membereskan, meluruskan kesimpangsiuran pemahaman doktrin Kristen oleh mereka yang mengkritik, merendahkan, menghina, dan menegasikannya. Tanggung ini membutuhkan kesiapan yang matang, di mana orang Kristen telah mendorong dirinya untuk belajar dan belajar Alkitab sehingga darinya, ia dapat menjelaskan secara baik, meyakinkan, dan berwibawa tentang pengajaran-pengajaran Alkitab dan dapat membawa pengaruh yang baik kepada mereka yang mendengarkannya. Dan tak boleh dilupakan, tanpa kuasa dan campur tangan Tuhan, pekerjaan misi kita—sebagus apa pun—akan menjadi sia-sia, sebab hanya Tuhanlah yang memungkinkan pekerjaan misi baik apologetika misi dan misi apologetika, dapat menghasilkan sukacita karena banyak orang yang dimenangkan bagi kemuliaan nama Tuhan Yesus.

Soli Deo Gloria

Bibliografi

Bavink, Herman. Dogmatika Reformed Jilid 3: Dosa dan Keselamatan di dalam Kristus, terj. Ichwei G. Indra dan Irwan Tjulianto. Surabaya: Momentum: 2016.

Beale, G. K. Beale. The Book of Reveation. The New International Greek Testament Commentary (NIGTC). Grand Rapids, Michigan: Wm. B. Eerdmans Publishing Com., 1999.

Birdsall, J. N. “Kanon Perjanjian Baru”, dalam Ensiklopedi Alkitab Masa Kini Jilid I, terj. Harun Hadiwijono. Jakarta: YKBK, 2011.

Firestone, Reuven. “Jewish Culture in the Formative Period of Islam”, dalam David Biale (ed.), Cultures of the Jews: A New History. New York: Schocken Books, 2002.

Gingrich, F. Wilbur. Shorter Lexicon of the Greek New Testament, second edition revised by Frederick W. Danker, dalamBibleWork9.

Kistemaker, Simon J. Tafsiran Kitab Wahyu, terj. Peter Suwadi Wong dan Baju Widjotomo. Surabaya: Momentum, 2011.

Motyer, J. A. Motyer & F. F. Bruce. “Mesias”, diterjemahkan oleh M. H. Simanungkalit & H. A. Oppusunggu, dalam Ensiklopedi Alkitab Masa Kini. Jilid II: M–Z, (peny.) J. D. Douglas dkk. Jakarta: YKBK, 2011.

Paparang, Stenly R. “Dialog Al-Qur’an dan Alkitab: Sebuah Kolase dan Klarifikasi Wahyu Allah atas Klaim Pemalsuan Alkitab, dalam Kasih Karunia Yesus Kristus, editor Adi Putra, Darwin T. Zega, dan Lewi N. Bora. Jakarta: VIEWS, 2016. Youngblood, Ronald F., F. F. Bruce & R. K. Harrison. Nelson’s New Illustrated Bible Dictionary. Nashville, Tennessee: Thomas Nelson, 1995.

Artikel ini adalah artikel saya yang telah diterbitkan dalam buku “Berjuanglah Sampai Akhir: Kumpulan Tulisan dalam Rangka Dies Natalis SETIA ke-30, editor Stenly R. Paparang, Kembong Mallisa’, Yosia Belo, Moses Wibowo, & Lewi N. Bora. Copyright © 2017–cet. 1 – Jakarta: DELIMA, 2017; 15,5 cm x 23 cm. ISBN: 978-602-1605-83-7

MATRA KARISMATIK IMAN KRISTEN

Kerangka berpikir manusia pada umumnya dilandasi pada perilaku yang tampak dalam relasi dan komunikasi yang terjadi di masyarakat fisikal maupun masyarakat digital. Perilaku menjadi matra (ukuran, dimensi) untuk melihat kadar karismatik dari seseorang. Baik-buruknya, dinilai melalui perilaku. Singkatnya, manusia memperlihatkan karakternya melalui perilaku, dan perilaku yang dilakukan, bergantung pada pemikirannya dan konteks di mana manusia itu berada.

“Kehidupan” menyediakan berbagai jenis konteks yang harus kita hadapi, jalani, dan maknai. Ada koherensi yang terjadi antara pikiran dan perilaku. Dalam ruang iman, perilaku (perbuatan) adalah wujud dari iman itu sendiri. Apa yang diimani terlihat jelas dari perbuatan-perbuatan yang dilakukan seseorang.

Perbuatan-perbuatan adalah matra karismatik bagi seseorang. Iman juga demikian. Matra iman adalah perbuatan-perbuatan yang direalisasikan dalam kehidupan (relasi dan komunikasi). Semua bentuk perbuatan baik, dilandasi dengan prinsip KESETIAAN kepada Yesus Kristus (bertanggung jawab atas imannya), KEBERANIAN BERSAKSI bagi dan tentang Yesus Kristus (jujur [terus terang]), dan prinsip BERPEGANG TEGUH pada ajaran-ajaran Tuhan Yesus (karena seseorang mengasihi Dia). Iman Kristen bergerak dari ketiga aspek tersebut.

Pada tahap ini, kita dapat memahami apa itu matra karismatik iman Kristen. Tiga aspek yang saya sebut di atas, adalah matranya. Untuk lebih jelasnya, saya menguraikannya secara singkat berikut ini.

Matra Pertama: KESETIAAN kepada Yesus Kristus (bertanggung jawab atas imannya). Setiap orang yang percaya kepada Yesus Kristus, menampilkan sikap “kesetiaan” pada ajaran-ajaran-Nya, terutama tentang “mengasihi Dia dan sesama, mendoakan musuh, dan memberkati orang yang mengutuk”. Kesetiaan ini tampil ke permukaan dalam hal beribadah, berdoa, dan menyatakan kepedulian kepada sesama. Inilah tanggung jawab iman.

Jangan bicara soal iman jika tidak bertanggung jawab. Jangan bicara soal iman, jika tidak setia kepada Yesus Kristus. Para martir Kristen sepanjang abad, menunjukkan matra karismatik dari iman mereka kepada Yesus Kristus. Meski mereka disiksa dan bunuh, mereka tetap setia kepada Yesus dan tahu bahwa ada jaminan setelah kematian. Mereka juga tahu bahwa para pembunuh mereka, juga akan mati, hanya cara matinya yang mungkin berbeda. Tetapi apakah para pembunuh itu memiliki jaminan setelah kematian?

KESETIAAN adalah tanggung jawab iman. Matra ini begitu kuat terlihat di sepanjang sejarah pada mereka yang benar-benar percaya kepada Yesus Kristus. Meski dianggap bahwa mereka “menyembah manusia”, tetapi Yesus adalah manusia yang berbeda kualitasnya dengan manusia pada umumnya. Ia datang dan lahir dari Allah—Logos Allah yang kekal—datang ke dalam dunia “menjadi daging” (ho logos sarks egeneto [Yoh. 1:14]), dan menyatakan bahwa Allah yang Mahakuasa itu adalah “Imanuel”, Allah yang “menjadi” dekat dengan manusia, mengenakan daging manusia untuk menunjukkan bahwa Ia mengasihi lebih dari apa yang manusia pikirkan dan pahami.

KESETIAAN kepada Yesus Kristus tidak bertepuk sebelah tangan. JAMINAN disediaan bagi mereka yang percaya dan setia seperti penegasan Rasul Yohanes: “supaya setiap orang yang percaya kepada-Nya, tidak binasa, melainkan beroleh hidup yang kekal” (Yoh. 3:16). Allah yang “menjadi” adalah Allah yang menunjukkan kemahakuasaan-Nya, dan Ia pula menyatakan diri sebagai Allah yang imanen: IMANUEL.

Sebagai matra karismatik iman Kristen, KESETIAAN menjadi taruhan iman sepanjang hayat. Gumul juang adalah bagian dalam proses realisasi kesetiaan itu. KESETIAAN itu mahal harganya; bahkan hidup kita adalah bayarannya. Mengikut Yesus adalah sebuah keputusan untuk SETIA sampai mati. Matra ini menjadi kualitas dan kemampuan orang Kristen untuk menunjukkan bahwa mereka tidak salah beriman kepada Yesus Kristus. Ia menjamin dan memberkati, serta memberikan kemenangan.

Matra Kedua: KEBERANIAN BERSAKSI bagi dan tentang Yesus Kristus (jujur [terus terang]). Keberanian ini mengikuti teladan Yesus Kristus. Ia berterus terang menyatakan bahwa “Aku memberikan hidup yang kekal kepada mereka [domba-domba-Nya, sebuah arti kiasan bagi orang-orang pilihan-Nya] dan mereka pasti tidak akan binasa sampai selama-lamanya dan seorang pun tidak akan merebut mereka dari tangan-Ku. Bapa-Ku, yang memberikan mereka kepada-Ku, lebih besar dari siapa pun, dan seorang pun tidak dapat merebut mereka dari tangan Bapa. Aku dan Bapa adalah satu” (Yoh. 10:28-30).

Jika Yesus menyatakan yang benar dengan berani, maka setiap orang percaya pun melakukan hal yang sama. Berani bersaksi bagi dan tentang Yesus adalah realisasi dari lima identitas Kristen yang diikat oleh kasih kepada Yesus Kristus:

(1) Identitas sebagai PENJALA MANUSIA (ἁλιεῖς ἀνθρώπων [halieis anthrōpōn,  fishers of men). Sebagai penjala, orang percaya menjala orang yang belum percaya, orang berdosa dan pendosa, dengan Injil (Kabar Baik); membawanya kepada Yesus Kristus, mengajarkan dan mengarahkan mereka kepada kehidupan yang kudus, mengampuni, dan peduli. BERANI BERSAKSI melalui tindakan menjala manusia.

(2) Identitas sebagai GARAM DUNIA [ἅλας τῆς γῆς]. Sebagai garam dunia, orang percaya, kita mengarahkan pandangan untuk melihat bahwa dunia adalah ladang misi Allah dan mengubahnya menjadi dunia yang tumbuh buah-buah kebenaran, kasih, keadilan, dan kedamaian. Yesus menjadikan kita sebagai garam dunia untuk berjuang dan menghentikan kerusakan karena dosa. Ini menjadi tanggung jawab orang percaya untuk “mengubah” dunia menjadi tempat yang penuh kasih, kebenaran, keadilan, dan kedamaian.

Sebagai matra karismatik, KEBERANIAN menampilkan identitas garam dunia, adalah tindakan yang memang berisiko, tetapi sekaligus menjadi upaya menaburkan benih-benih firman Tuhan, yang dengannya kita memelihara dunia dari pembusukan karena dosa, dan menjadi pengawet relasi dan komunikasi dalam masyarakat mikro maupun makro.

(3) Identitas sebagai TERANG DUNIA [φῶς τοῦ κόσμου]. Menjadi terang dunia berarti menjelaskan pengaruh yang lebih luas. Yesus menjadikan para murid-Nya sebagai terang dunia, bersifat “derivatif” [turunan, yang diturunkan] dari pengakuan Yesus sebagai “Terang Dunia” [Ἐγώ εἰμι τὸ φῶς τοῦ κόσμου, Egō eimi to phōs tou kosmou; Yoh. 8:12; bdk. Mat. 4:16]. Orang percaya telah diterangi oleh Yesus Kristus dan konsekuensinya adalah mereka memancarkan dan menjadi terang dunia.

Identitas sebagai terang dunia bertujuan agar orang yang melihat perbuatan kita “memuliakan Bapa” (Mat. 5:16). Kita adalah terang dunia dan berani menampilkan gaya hidup yang “terang” [memancarkan] sehingga kita dapat menjadi teladan. Kita menerangi dunia yang “gelap” karena dosa; dunia yang suka memandang pada kegelapan [kejahatan]. Kita harus berani menjadi terang, kapan pun, dan di mana pun. Menurut John Piper, “ketika perbuatan baik kita mendapat cita rasa dari garam dan cahaya dari terang ini, dunia akan disadarkan untuk mengecap sesuatu yang belum pernah mereka rasakan sebelumnya, yaitu, kemuliaan Allah di dalam Yesus” (John Piper, Apa yang Yesus Tuntut dari Dunia, alih bahasa Miriam Santoso [Malang: Literatur SAAT, 2012], 401). Dan menurut Margaret Davies, orang percaya dilarang bersahabat dengan dunia dalam konteks kedagingan yang berlawanan dengan kehendak Allah. Orang percaya—meski dilarang bersahabat dengan dunia—tetapi “para pengikut Yesus tidak harus menjadi terpisah dari dunia, melaikan mereka eksis sebagai terang bagi dunia” (Margaret Davies, Matthew. Second Edition [Sheffield: Sheffield Phoenix Press, 2009. Department of Biblical Studies, University of Sheffield], 51).

(4) Identitas sebagai PELAKU FIRMAN. Rasul Yakobus menulis: “Γίνεσθε δὲ ποιηταὶ λόγου, καὶ μὴ μόνον ἀκροαταί, παραλογιζόμενοι ἑαυτούς” [Ginesthe de poiētai logou, kai mē monon akhroatai, paralogizomenoi eautous], “Tetapi hendaklah kamu menjadi pelaku firman dan bukan hanya pendengar saja; sebab jika tidak demikian kamu menipu diri sendiri”. Menjadi pelaku firman harus berani. Matra ini begitu kuat dan jelas dalam konteks penerapannya ke dalam kehidupan sehari-hari. Kualitas menjadi pelaku firman dilahirkan dari pemahaman akan tanggung jawab iman; iman yang berani bertindak, dan bukan iman hanya pada tataran kata-kata belaka. Menjadi pelaku firman, berarti BERANI BERSAKSI.

(5) Identitas sebagai MURID KRISTUS. Aspek ini menegaskan prinsip “saling mengasihi”. Menjadi murid Yesus Kristus, mutlak harus saling mengasihi dan BERANI mengasihi meski musuh sekalipun. Yesus berkata (Yoh. 13:34-35): “Ἐντολὴν καινὴν δίδωμι ὑμῖν, ἵνα ἀγαπᾶτε ἀλλήλους· καθὼς ἠγάπησα ὑμᾶς, ἵνα καὶ ὑμεῖς ἀγαπᾶτε ἀλλήλους. Ἐν τούτῳ γνώσονται πάντες ὅτι ἐμοὶ μαθηταί ἐστε, ἐὰν ἀγάπην ἔχητε ἐν ἀλλήλοις [Aku memberikan perintah baru kepada kamu, yaitu supaya kamu saling mengasihi; sama seperti Aku telah mengasihi kamu demikian pula kamu harus saling mengasihi. Dengan demikian semua orang akan tahu, bahwa kamu adalah murid-murid-Ku, yaitu jikalau kamu saling mengasihi]. Matra ini menunjukan karismatik iman seseorang, bahkan totalitas jati dirinya, seutuhnya.

Menjadi murid Yesus berarti BERANI BERSAKSI dan juga MENGASIHI, tanpa syarat. Yesus telah mengasihi kita maka kitapun harus saling mengasihi. Bahkan lebih dari itu, Yesus sendiri menyerahkan nyawa-Nya bagi domba-domba-Nya (Yoh. 10:11): Ἐγώ εἰμι ὁ ποιμὴν ὁ καλός· ὁ ποιμὴν ὁ καλὸς τὴν ψυχὴν αὐτοῦ τίθησιν ὑπὲρ τῶν προβάτων [Akulah gembala yang baik. Gembala yang baik memberikan nyawanya bagi domba-dombanya].

BERANI BERSAKSI adalah pernyataan sikap yang jujur—tidak menyembunyikan iman. Jujur berarti melakukan dan mengatakan yang sebenarnya. Pada ranah ini, setiap orang percaya dapat berlaku jujur karena imannya kepada Tuhan Yesus. Iman Kristen menancapkan kualifikasi karakter diri pada sikap jujur yang terkorelasi dengan prinsip “kasih”. Kejujuran yang dipisahkan dari prinsip kasih bukanlah bagian dari iman Kristen. Dan kasih itu mendorong kita memperlihatkan KEBERANIAN untuk BERSAKSI.

Matra Ketiga: BERPEGANG TEGUH pada ajaran-ajaran Tuhan Yesus (karena mengasihi Dia). Setiap penganut agama membuat komitmen untuk berpegang pada setiap ajaran yang tertulis di dalam kitab sucinya masing-masing. Dalam konteks ini, Kekristenan menunjukkan sikap berpegang teguh pada ajaran-ajaran Yesus. Ajaran-ajaran-Nya begitu dalam dan kuat, menekankan sikap hidup yang mengasihi Allah dan mengasihi sesama (Mat. 22:37-39): “Jawab Yesus kepadanya: “Kasihilah Tuhan, Allahmu, dengan segenap hatimu dan dengan segenap jiwamu dan dengan segenap akal budimu. Itulah hukum yang terutama dan yang pertama. Dan hukum yang kedua, yang sama dengan itu, ialah: Kasihilah sesamamu manusia seperti dirimu sendiri.

Matra karismatik untuk BERPEGANG TEGUH pada ajaran-ajaran Yesus diteruskan dan dibuktikan oleh para rasul (Petrus, Yohanes, Yakobus, Paulus, dan lainnya). Dan kita yang hidup di zaman sekarang ini juga menerima dan melakukan matra karismatik tersebut. Sikap berpegang teguh adalah bagian dari iman kepada Yesus Kristus. Konteks ini telah dibuktikan oleh para martir, para pahlawan iman yang telah meninggalkan teladan iman mereka kepada setiap generasi, sampai kepada kita sekarang ini.

Pada akhirnya, kita harus menunjukkan kualitas iman kita melalui KESETIAAN kepada Yesus Kristus, KEBERANIAN BERSAKSI bagi dan tentang Yesus Kristus, dan BERPEGANG TEGUH pada ajaran-ajaran-Nya. Itulah ketiga matra karismatik iman Kristen yang telah dibuktikan, diuji, dan diwartakan dari zaman ke zaman.

Sudahkah kita mengambil bagian untuk merealisasikan matra karismatik iman Kristen tersebut? Kiranya Tuhan memimpin dan menguatkan kita untuk dapat menunjukkan KESETIAAN, KEBERANIAN BERSAKSI, dan BERPEGANG TEGUH pada ajaran-ajaran Yesus, di sepanjang hayat kita: kini, dan selamanya.

Salam Bae

Sumber gambar: Unsplash

IMANKU YANG DISALAHPAHAMI: Refleksi Singkat

Stenly R. Paparang

“Salah Paham” adalah kondisi yang sering terjadi di sekitar kita, bahkan di lingkungan “agama”, salah paham telah menjadi “trending topic” di berbagai media sosial, dan mungkin juga di masyarakat, tempat kita berada. Salah paham ini bisa menjurus kepada situasi yang ‘chaos’, dan konflik berdarah-darah. Akibatnya, suara-suara sumbang dan celoteh-celoteh jalanan dapat menjadi alat untuk membesar-besarkan kesalahpahaman tadi, apalagi jika kesalahpahaman itu terkait dengan iman Kristen.

Seorang mualaf yang mulutnya kotor (saya temukan dalam bukunya), yaitu Muhammad Yahya Waloni, adalah seorang yang mengatakan bahwa Rasul Paulus masuk neraka.  Tentu perkataan tersebut sama sekali tidak berdasar. Omong kosong ini, entah dia dapat dari mana, sampai ia berani menuliskan di dalam bukunya. Dari semua isi buku Waloni, hampir 100 persen salah paham, bahkan salah total.

Kesalahannya menggaungkan iman Kristen yang dikiranya “benar” menurut pemahamannya ternyata ketika diuji secara ilmiah, mengandung kebohongan-kebohongan yang dirancang untuk memperbesar omong kosong dan kesalahpahamannya tentang iman Kristen, baik Kristologi, Alkitab, nubuatan Mesias yang dikaitkan dengan Muhammad, dan masih banyak lagi.

Ia pun mengajukan pernyataan yang kurang lebih sama dengan para mualaf lainnya: “Yesus itu bukan Tuhan. Ia hanyalah utusan Allah.” Pernyataan tersebut memang benar, tetapi tidak secara komprehensif dipahami, baik berdasarkan historis, logis, dan dogmatis. Untuk menjawab pernyataan tersebut, saya memulai dengan menilainya berdasarkan pada “cara memahami”.

Pertama, Pernyataan “Yesus itu bukan Tuhan. Ia hanyalah utusan Allah” dipahami secara fragmentaris oleh para mualaf. Saya memakluminya.

Kedua, para mualaf menganggap bahwa Allah yang mengutus Yesus adalah “Allah” yang sama dengan “Allah” Islam.

Ketiga, para mualaf akan selalu memahami secara fragmentaris dan tidak membuka peluang bagi proses atau cara memahami secara komprehensif berdasarkan konteks hermeneutika Alkitab yang kredibel, dengan mengikuti rambu-rambu penafsirannya.

Bagi mereka, Yesus diutus Allah. Itu saja. Padahal, cara memahaminya tidak demikian. Saya memakluminya. Namanya juga mualaf, ya, pasti tidak mau membuka pikiran dalam konteks cara memahami Yesus secara komprehensif berdasarkan Alkitab. Karena ini berbicara mengenai historisitas, maka ada korelasi yang dapat dipahami, meski kita tahu ada jurang pemisah antara pemahaman Islam dengan pemahaman Kristen mengenai pribadi Yesus.

Para mualaf mengira bahwa jika Yesus utusan Allah maka Ia adalah Rasul. Pola ini diadopsi dari konsep quranik. Menurut Kristen, Yesus bukan Rasul. Tidak ada rumusan dalam Alkitab bahwa Yesus adalah Rasul. Yesus itu berbeda dengan apa yang dipikirkan para mualaf. Pola pikir quranik tidak bisa dipakai untuk mengukur pola pikir biblikal karena keduanya memiliki perbedaan yang fundamental, baik iman, doktrin, dan historis.

Untuk memperteguh klaim mereka bahwa Yesus adalah utusan, maka mereka menyuguhkan sederet ayat Alkitab, terutama dalam Injil Yohanes. Anehnya, tak satupun yang memahami konteksnya. Ini kelemahan yang sangat mendasar. Padahal, sejak prolog Injilnya, Rasul Yohanes menuliskan:

“Firman menjadi daging [manusia; Yun. sarks]” (Yoh. 1:14). Yesus adalah Logos Allah yang berdiam sejak kekal. Jadi, seluruh Injil Yohanes yang berbicara mengenai natur kemanusiaan Yesus, termasuk Ia diutus Bapa-Nya, Ia tidak dapat berbuat apa-apa dari diri-Nya jika Bapa tidak mengaruniakannya, TETAP DAN HARUS melihat pada pasal 1 (prolog Injil Yohanes). Memisahkan tulang dari daging menjadikan tubuh manusia lemah tak berdaya, dan tak bisa berbuat apa-apa. Ini cara-cara yang sama sekali “salah” sebagaimana yang dilakukan oleh Yahya Waloni, Irena Handono, dan lainnya.

Ilmu “comotologi” atau ilmu mencomot-comot ayat-ayat Alkitab tanpa memahami konteksnya adalah kelihaian para mualaf secara mayoritas. Karena lihai menampilkan ilmu “comotologi”, maka mereka asyik dan puas mengajukan dalil bahwa memang Yesus adalah utusan, Ia bukan Tuhan, dan masih banyak lagi. Sayangnya, impotensi kehendak berimbas kepada impotensi logika mereka yang tidak mau memahami teks dan konteks secara utuh. Model tafsir comotologi sudah membudaya di kalangan mualaf, termasuk mualaf “abal-abal” (dari aspek ilmu dan kajian Kristologi) yaitu Yahya Waloni.

Kondisi psikologi “IGNORANCE IS SATISFACTION” (kebodohan adalah kepuasan) para mualaf ini tidak tanggung-tanggung ditampilkan. Yahya Waloni, mantan pendeta yang mulutnya penuh ucapan-ucapan kotor dan omong kosong, merasa puas dengan kebodohannya sendiri mengenai salah pahamnya tentang iman Kristen. Yang ada hanyalah bualan-bualan tanpa dasar sama sekali. Tentunya, Waloni cs, menganggap sudah tahu segalanya tentang iman Kristen, terutama soal Kristologi, kian merasakan diri mereka berada di atas angin buatan sendiri.

Berbagai celoteh para mualaf yang terlampau luar biasa, maksudnya luar biasa “ngalor ngidulnya” cukup membuat riuh suasana di Nusantara. Kebebasan berpendapat menjadi tidak terbendung. Padahal, kebebasan berpendapat yang seperti apa yang dijunjung tinggi, menjadi pertanyaan mendasar kita.

Dalam dunia penelitian ilmiah, siapa saja yang menyodorkan gagasan mengenai iman Kristen, itu sah-sah saja, tetapi harus dibarengi dengan ulasan, kajian, kritik, sumber, metodologi, pendekatan, dan hal lain yang dapat menunjang penelitian itu sendiri. Sebaliknya, setiap respons atau sanggahan (apologetis) atas ulasan mengenai iman Kristen, bernatur sama. Hal ini dipandang biasa dalam dunia akademis.

Mengingat ada orang-orang tertentu yang mudah salah paham dengan iman Kristen, maka sedapat mungkin para rohaniwan, pendeta, pastor, pemerhati teologi, haruslah bergerak untuk memberikan respons atau kajian yang mengarahkan siapa saja yang membaca atau melihatnya, mendapatkan pengajaran yang benar tentang iman Kristen yang biblikal. Meresponsnya bukan dengan cara membabi buta, melainkan dengan cara yang akademis, tajam, dan solid. Memberikan respons bukan berarti kita tersinggung, tetapi lebih bersifat mengklarifikasi berbagai bentuk kesalahpahaman orang lain tentang iman Kristen.

Suara-suara kebenaran adalah suara-suara klarifikasi. Mereka yang tergerak berbagi berkat dengan sesama dalam konteks “memberikan respons terhadap kesalahpahaman orang lain tentang iman Kristen”, adalah orang-orang yang berniat untuk berbagi, ketimbang “pelit ilmu”. Daripada ilmu dipendam dan dinikmati sendiri (bermasturbasi teologis), lebih baik berbondong-bondong berbagi berkat melalui tulisan apologetis, klarifikatif, dogmatis, historis, dan logis.

Suasana makin memanas karena isu-isu agama mudah digoreng dengan minyak pelumas. Orang Kristen pun tidak boleh tinggal diam. Ia harus menyadari bahwa dirinya dipanggil untuk menyatakan kebenaran, ketimbang diam dan merasa puas sendiri. Kita dipanggil untuk berbicara—tentunya dengan berbagai cara—apalagi ditunjang dengan berbagai media sosial yang marak digunakan oleh masyarakat secara luas.

Salah paham iman Kristen akan tetap ada dan terus berkembang. Apakah kita tetap tinggal diam? Mungkin ada yang mengatakan: “Ah, itu tidak penting”, dan saya harus katakan: “WOW GITU?” Sebaiknya potensi yang Tuhan berikan kepada kita, disalurkan untuk memberikan pengarahan, pemahaman, klarifikasi, penjelasan, penerangan, dan konfirmasi mengenai isu-isu iman Kristen yang digoreng sedemikian rupa, apalagi panci dan minyaknya berada di tangan para mualaf yang tidak jujur secara akademis, semisal Yahya Waloni, Irena Handono, dan lainnya.

Silakan saja mengkritisi iman Kristen, tetapi jangan “asal bunyi” dan “salah paham”. Gunakan akal sehat, dan bukan mulut penuh caci maki; gunakan kajian ilmiah dan bukan “ngalor ngidul disoraki”. Iman Kristen adalah iman yang didasari pada pemahaman bahwa Allah yang mengasihi manusia berdosa, dan Ia menetapkan bagaimana caranya agar manusia diselamatkan, dibenarkan, dikuduskan, diampuni, dan ditebus. Tak ada manusia yang cukup kuat, cukup iman, cukup umur, dan cukup uang (harta kekayaan) yang dapat melepaskannya dari jerat dosa dan kejahatan. Hanya Allah saja yang sanggup melakukannya, dan Yesus Kristus adalah perwujudan kasih Allah yang begitu besar, yang menebus, mengampuni, membenarkan, mendamaikan, dan menyelamatkan manusia dari kuasa dosa dan kuasa maut. Itulah inti iman Kristen.

Lihatlah pada Allah yang mengasihi manusia; lihatlah pada Allah yang menyelamatkan, mengampuni, dan menebus manusia; lihatlah pada Allah yang peduli dengan moralitas umat-Nya; lihatlah pada Allah yang mengarahkan manusia untuk hidup kudus. Ketika ada Allah yang telah berbuat demikian, maka ikutilah Dia. Dan Kristen telah melihat semuanya itu. Allah yang penuh kasih, mengaruniakan anak-Nya yang tunggal supaya setiap orang yang percaya kepada-Nya (yaitu Yesus Kristus), tidak binasa, melainkan beroleh hidup yang kekal.”

Yang tidak paham secara utuh soal iman Kristen, tidak perlu kebakaran jenggot, apalagi mewartakan “salah paham” Yesus Kristus. Yahya Waloni dan lainnya boleh saja mengkritik iman Kristen, asalkan dengan cara-cara akademis, bukan dengan cara memaki, menyebarkan kebohongan dan memalsukan dokumen historis.

Tuhan kiranya memberkati pelayanan kita di segala bidang kehidupan. Dan wartakanlah kebenaran Alkitab selagi masih ada kesempatan.

Selamat berpikir, dan selamat beragama secara dewasa.

Salam Bae!

Sumber gambar: pinterest

FILSAFAT FIKSI: Mengukur Gagasan Rocky Gerung dengan Tiga Substansi Filsafat Logika

Sebuah fakta yang menarik sekaligus mengerutkan kening terkait dengan pernyataan Gerung bahwa “Kitab Suci” adalah fiksi. Ini menarik karena sang penutur adalah seorang pembelajar filsafat. Ketika bermain di dunia filsafat, sandi diksi atau penggunaan term-term sesuai dengan dunianya, sehingga para pendengar harus perlu memahami apa makna di balik pernyataan Gerung tersebut.

Tetapi, term-term tertentu dalam dunia filsafat yang masuk ke dalam dunia agama, kadang memiliki similaritas dan kadang sebaliknya, memunculkan disimilaritas konteks. Gerung adalah seorang pengamat politik. Pernyataannya yang berani, diungkapkan dalam acara Indonesia Lawyers Club (ILC) pada Selasa, 10 April 2018. Menurutnya, kata “fiksi” dianggap negatif karena dibebani kehobongan, sehingga fiksi itu selalu dimaknai sebagai kehobongan.

Karena Gerung menyebut bahwa Kitab Suci adalah fiksi—entah Kitab Suci agama mana yang dia maksudkan—yang pasti hanya Gerung yang tahu. Jika demikian, gagasan Gerung sangat “liar” dan tidak terkonteks. Pada kasus ini, Gerung ceroboh. Penggunaan diksi dalam dunia filsafat dimungkinkan dan bersifat bebas—tetapi harus memiliki definisi, konteks, dan klasifikasi. Meski di atas Gerung telah memberikan definisi, tetapi definisi tersebut tak mampu mengakomodasi Kitab Suci sebab frasa “Kitab Suci” merujuk kepada pluralitas kitab-kitab dari agama-agama dan yang pasti berbeda pula.

Definisi, konteks, dan klasifikasi adalah substansi dari filsafat logika. Saya akan menguji pernyataan Gerung berdasarkan tiga substansi filsafat logika. Kita lihat dulu beberapa pernyataan Gerung berikut ini. Menurutnya,

Kitab Suci adalah fiksi. Untuk memperkuat pernyataannya, Gerung membuat definisi fiksi secara berlawanan dengan definisi pada umumnya. Menurut Gerung, “Fiksi adalah energi yang dihubungkan dengan telos, dan itu sifatnya fiksi. Dan itu baik. Fiksi adalah “fiction”, dan itu berbeda dengan “fiktif”. Telos sendiri dalam bahasa Yunani berarti “akhir”, “tujuan”, atau “sasaran.” Contoh yang diusungnya adalah Mahabharata. Menurutnya, Mahabharata adalah fiksi, tapi itu bukan fiktif. Fiksi itu kreatif. Sama seperti orang beragama yang terus kreatif dan ia menunggu telosnya. Gerung menambahkan, “dalam agama, fiksi adalah energi untuk meng ydaktifkan imajinasi. Gerung mendefinisikan fiksi sebagai “narasi yang bersifat imajiner”—mengarah ke masa depan hingga para pembaca bisa berimajinasi tentang hal itu (keterangan ini diambil salah satu sumber).

Sampai di sini, saya memahami ketika Gerung mendefinisikan fiksi sebagai sebuah “narasi” dan berbeda dari fiktif. Tetapi, Gerung menciptakan definisi sendiri yang tak lazim, sebab narasi bisa bersifat fiksi tetapi fiksi tak selalu bersifat narasi, karena ketika Gerung merujuk ke Kitab Suci yang menurutnya adalah sebuah fiksi, Gerung sendiri tidak memahami kajian mendalam soal latar belakang setiap kitab dalam Kitab Suci (jika dalam Kitab Suci terdiri dari kitab-kitab). Kegagalan pendefinisian yang dilakukan Gerung, menjadikan dirinya gegabah dan terlalu dini bermasturbasi dengan menggunakan diksi yang tak lazim (soal pendefinisiannya). Bisa saja definisi fiksi diterima berdasarkan dunia filsafat yang mana Gerung berdiam di dalamnya. Tetapi, ketika diksi tersebut digulingkan ke dunia agama, Gerung harusnya berpikir dua kali untuk merumuskan gagasan yang tidak lebih dari fiktif belaka.

Untuk memperkuat gagasannya, Gerung menyodorkan sebuah contoh (contoh berikut, saya dikutip dari salah satu sumber). Gerung bertutur mengenai keindahan surga sebagai contohnya. Menurutnya, keindahan surga diperuntukkan oleh orang yang beramal baik, kita belum mengalami dan merasakan tapi kita bisa membayangkan seperti apa keindahan surga. Sah-sah saja contoh yang disodorkan Gerung, tetapi ada beberapa kesalahan dalam kalimat tersebut: Pertama, “keindahan surga diperuntukkan oleh orang yang beramal baik”. Berdasakan klausa ini, tampak bahwa Gerung tak mengerti tentang keselamatan yang diberikan Tuhan kepada orang-orang yang percaya kepada-Nya. Masuk surga tidak hanya berbicara amal baik—kecuali jika yang Gerung maksudkan adalah salah satu agama yang memang doktrinnya hanya menetapkan bahwa masuk surga hanyalah mereka yang beramal baik—tetapi hanya Gerunglah yang tahu agama mana yang dia maksudkan. Kedua, “kita belum mengalami dan merasakan tapi kita bisa membayangkan seperti apa keindahan surga”. Bagaimana bisa membayangkan keindahan surga jika Kitab Sucinya adalah fiksi? Apa yang mau dibayangkan, seolah-olah manusia bisa berimajinasi tentang surga sesuai dengan keinginannya? Bukankah Gerung sedang memberikan kebebasan kepada siapa saja untuk membayangkan keindahan surga? Bagaimana jika yang dibayangkan adalah mengenai seks di surga, atau kenikmatan makan minum? Ini semakin menjurus kepada kondisi fiksi logika yang liar.

Dari pernyataan Gerung, tampak bahwa filsafat yang diusungnya adalah filsafat fiksi—di mana Gerung menciptakan narasi yang dia sendiri sedang berimajinasi dengan fiksinya sendiri. Mungkin Gerung baru bangun dari tidurnya dan belum tersadar dari fiksi imajinernya. Gerung sedang berimajinasi tentang masa depan hingga ia bisa berimajinasi tentang Kitab Suci adalah fiksi dan keindahan surga yang dapat dibayangkan sendiri sesuai keinginannya karena tidak ada dukungan dokumentasi dan historisitasnya. Gerung hanya bisa “berargumentasi” tanpa didukung oleh dokumentasi dan historisitas dari konteks-konteks yang dia rujuk.

Berikut ini adalah ukuran untuk mengukur gagasan Gerung melalui tiga substansi Filsafat Logika. Filsafat Logika adalah sebuah tatanan pemikiran tentang cara berpikir, cara menggunakan term-term (diksi-diksi), cara berargumentasi, dan cara melihat konteks-konteks yang mengikat dari sebuah fakta yang hendak dikaji. Di samping itu, Filsafat Logika adalah sebuah metodologi untuk menemukan berbagai hal—entah menyimpang atau tidak, entah sesuai fakta kebenaran atau hanya bersifat fiksi (khayalan), dan beragama makna dari sebuah narasi faktual baik yang bersifat sinkronis maupun diakronis.

Filsafat Logika berbicara mengenai bagaimana mengukur sesuatu berdasarkan tiga substansinya yakni: terdefinisi, terkonteks, dan terklasifikasi. Berikut ini adalah deskripsi singkat mengenai tiga substansi Filsafat Logika untuk mengukur gagasan Gerung

TERDEFINISI

Ada beberapa tulisan yang telah saya baca sebagai sanggahan terhadap gagasan Gerung mengenai hal ini—termasuk soal definisi dari kata “fiksi”. Dari kamus yang mereka kutip, secara definisi fiksi diartikan sebagai cerita rekaan, khayalan, pernyataan yang hanya berdasarkan khayalaun atau pikiran, tidak berdasarkan kenyataan. Dari penjelasan definisi fiksi versi Gerung, tampak ada disparitas dan Gerung sendiri menciptkan demarkasi makna yang tak lazim. Apakah ini hanyalah akal-akalan Gerung untuk melakukan “self-defense mechanism” atau tidak, hanya Gerung yang tahu.

Jika kita mengacu pada definisi umum tentang fiksi, maka gagasan Gerung perlu disingkirkan alias gugur dalam kategori “terdefinisi”. Entah gagasan filsafat apa yang menjadi landasannya sehingga definisi umum bisa berubah menjadi definisi pribadi. Atau bisa saja, kamus yang digunakan Gerung berbeda dengan kamus pada umumnya. Atau barangkali, filsafat yang dipelajar Gerung adalah filsafat yang eksklusif yang dapat menciptakan definisi secara mandiri. Meski demikian, adalah tak wajar bagi Gerung untuk menyatakan bahwa Kitab Suci adalah fiksi berdasarkan definisi yang tak lazim, karena mereka yang percaya kepada Kitab Suci memiliki definisi tersendiri yang bertolak belakang dengan definisi Gerung. Sebaiknya Gerung membuat kitab sucinya sendiri yang diberi nama “Kitab Suci Fiksi” sebagai tandingannya.

TERKONTEKS

Untuk subtansi ini, Gerung menyinggung beberap konteks. Tetapi, konteks-konteks tersebut tidak dapat mengakomodasi konteks Kitab Suci secara komprehensif. Di sini Gerung sedang melakukan jukstaposisi fiksi dari pikirannya yang tak memiliki dasar apa pun yang kredibel dan solid. Ini saya sebut dengan filsafat fiksi versi Gerung yang menciptakan diksi fiksi sesuai dengan keinginannya. Sekali lagi, konteks-konteks yang diusung Gerung, tidak dapat mengakomodasi kitab-kitab dalam Kitab Suci agama-agama karena satu atau dua konteks bukanlah ukuran untuk menjadikan Kitab Suci itu fiksi.

TERKLASIFIKASI

Dari definisi fiksi yang disebutkan Gerung, saya mencatat ada beberapa klasifikasi makna diksi fiksi itu: pertama, fiksi adalah energi yang dihubungkan dengan telos; kedua, itu sifatnya fiksi; ketiga, itu baik; keempat, fiksi adalah “fiction”, dan itu berbeda dengan “fiktif”. Klasifikasi makna yang disebutkan Gerung memang berbeda dengan makna pada umumnya. Itu sebabnya saya katakan bahwa Gerung menciptakan definisi yang tak lazim (sebagaimana saya jumpai dari beberapa tulisan yang mengulas soal definisi fiksi). Memang setiap narasi memiliki telosnya masing-masing sesuai konteks. Tetapi setiap telos harus terkonteks dan terklasifikasi. Klausa “fiksi adalah energi yang dihubungkan dengan telos” yang digagas Gerung tidak dapat mengakomodasi setiap telos dalam narasi Kitab Suci. Gerung gagal dalam melihat secara komprehensif dari natur Kitab Suci.

Dari klasifikasi makna ala Gerung, maka dalam konteks subtansi “terklasifikasi”, gagasan Gerung gugur. Kegagalan Gerung adalah menggunakan frasa “Kitab Suci” di mana frasa tersebut sangatlah luas sekali. Jumlah kitab-kitabnya sangat banyak dalam satu Kitab Suci. Bagaimana seorang pakar filsafat lalu bermasturbasi dengan istilah fiksi yang salah tempat dengan merujuk pada frasa “Kitab Suci” yang sangat luas? Saya kira, Gerung perlu merenung sejenak dan belajar menggunakan kata, frasa, klausa, kalimat, dan perikop untuk menetapkan definisi, konteks, dan klasifikasi atas setiap gagasan yang memuat kata, frasa, klausa, kalimat, dan perikop.

KESIMPULAN

Pertama, pernyataan Gerung bahwa “Kitab Suci” adalah fiksi, bukanlah sebuah gagasan yang pada tempatnya. Gerung keliru dalam menempatkan diksi dan makna diksi kepada objek yang dituju yaitu Kitab Suci. Frasa Kitab Suci sangat luas, sehingga gagasan fiksi yang dilekatkan pada Kitab Suci sangatlah prematur dan hanya merupakan fiksi ala Gerung. Gerung menikmati definisi fiksi dengan fiksinya sendiri berdasarkan filsafat fiksi.

Kedua, ketika bermain di dunia filsafat, sandi diksi atau penggunaan term-term harus sesuai dengan dunianya, sehingga pernyataan Gerung tersebut perlu ditolak karena diksi dunia agama lain dengan definisi fiksi yang dimaksud Gerung.

Ketiga, gagasan Gerung sangat “liar” dan tidak terkonteks (karena hanya menyebutkan Kitab Suci dan bukan salah satu narasi Kitab Suci). Penggunaan diksi dalam dunia filsafat dimungkinkan dan bersifat bebas—tetapi harus memiliki definisi, konteks, dan klasifikasi. Meski Gerung telah memberikan definisi, tetapi definisi tersebut tak mampu mengakomodasi Kitab Suci sebab frasa “Kitab Suci” merujuk kepada pluralitas kitab-kitab dari agama-agama dan yang pasti berbeda pula.

Keempat, klausa “dalam agama, fiksi adalah energi untuk mengaktifkan imajinasi” bersifat prematur karena ia menggeneralisasi semua agama. Gerung mendefinisikan fiksi sebagai “narasi yang bersifat imajiner”—mengarah ke masa depan, merupakan kesimpulan yang tidak solid.

Kelima, Gerung menciptakan definisi sendiri yang tak lazim, sebab narasi bisa bersifat fiksi tetapi fiksi tak selalu bersifat narasi, karena ketika Gerung merujuk ke Kitab Suci yang menurutnya adalah sebuah fiksi, Gerung sendiri tidak memahami kajian mendalam soal latar belakang setiap kitab dalam Kitab Suci (jika dalam Kitab Suci terdiri dari kitab-kitab). Kegagalan pendefinisian yang dilakukan Gerung, menjadikan dirinya gegabah dan terlalu dini bermasturbasi dengan menggunakan diksi yang tak lazim (soal pendefinisiannya).

Keenam, filsafat yang diusung Gerung adalah filsafat fiksi—di mana Gerung menciptakan narasi yang dia sendiri sedang berimajinasi dengan fiksinya sendiri. Gerung hanya bisa “berargumentasi” tanpa didukung oleh dokumentasi dan historisitas dari konteks-konteks yang dia rujuk.

Ketujuh, dalam kategori TERDEFINISI, penjelasan definisi fiksi versi Gerung, tampak ada disparitas dan Gerung sendiri menciptkan demarkasi makna yang tak lazim dan sebaiknya hanya Gerung yang layak menggunakan definisi tersebut dan bukan kaum beragama yang Kitab Sucinya dikatakan fiksi

Kedelapan, dalam kategori TERKONTEKS, konteks-konteks yang disebut Gerung tidak dapat mengakomodasi konteks Kitab Suci secara komprehensif. Gerung melakukan jukstaposisi fiksi dari pikirannya yang tak memiliki dasar apa pun yang kredibel dan solid. Inilah filsafat fiksi versi Gerung. Satu atau dua konteks yang disebutkan Gerung bukanlah ukuran untuk menjadikan Kitab Suci itu fiksi.

Kesembilan, dalam kategori TERKLASIFIKASI, klasifikasi makna yang disebutkan Gerung memang berbeda dengan makna pada umumnya. Gerung menciptakan definisi yang tak lazim. Kegagalan Gerung adalah menggunakan frasa “Kitab Suci” yang tidak terklasifikasi menjadikan Gerung sebagai seorang imajiner yang ingin menularkan gagasan fiksi ke dalam konteks yang begitu luas yang termaktub dalam Kitab Suci.

Ngomong-ngomong, Kitab Suci siapa yang dimaksudkan Gerung? Hanya Gerung yang tahu. Itulah filsafat fiksi: hanya sang penutur yang tahu. Karena gagasan Gerung sangat tidak terkonteks, tidak terdefinisi, dan tidak terklasifikasi soal Kitab Suci, maka siapa pun berhak menyatakan responsnya sebagai orang yang ber-Kitab Suci; dan saya adalah salah satunya.

Sumber rujukan:

Endah Lismartini, “Rocky Gerung: Kitab Suci adalah Fiksi”, dalam VIVA.co.id, 11 April 2018

Martomo Wahyudianto, “Fiksi Disejajarkan dengan Wahyu Allah (Firman Allah)? Sebuah Apologtika Singkat, Batam 14 April 2018

Hanny Setiawan, “Kitab Suci adalah Fiksi, Narasi Politis Rocky Gerung, dalam BeritaMujizat.co, 11 April 2018

Artikel ini pernah saya posting di Facebook beberapa tahun yang lalu.

Sumber gambar: Pinterest

KEBANGKITAN YESUS: MAUT DIKALAHKAN, TERBITLAH PENGHARAPAN IMAN

Sumber gambar: https://i.pinimg.com/originals/f1/5a/ab/f15aab440f222fd935e0a6ab7ed55ba6.jpg

“Yesus yang bangkit tanda bahwa semua hinaan, caci maki, dan kematian-Nya (yang dianggap sebagai kekalahan Yesus–di mana Ia tidak melakukan perlawanan), luntur seketika, maut tak berkutik. Kebangkitan Yesus membuktikan bahwa kematian-Nya adalah awal terbitnya pengharapan iman. Kebangkitan Yesus sebagai fakta bahwa maut bukanlah hal yang menakutkan bagi para pengikut-Nya, melainkan awal dari kehidupan yang penuh kebahagiaan.”

PENDAHULUAN

Kebangkitan Yesus tidak dapat dipisahkan dari kematian-Nya di kayu salib. Teologi Kristen menempatkan kematian dan kebangkitan sebagai dua peristiwa yang utuh dan menunjukkan bahwa keduanya adalah fakta sejarah. Islam yang menolak kematian Yesus bukanlah sebuah opini yang perlu ditakutkan. Kita paham saja, bahwa memang Islam tidak memahami teologi Kristen secara utuh dan kita maklumi saja, teologi Islam bukanlah teologi yang mandiri melainkan teologi yang memiliki banyak penyimpangan ketika ia hendak memahami teologi Kristen dan Yudaisme.

Fakta sejarah tak dapat dilindas hanya dengan bermodalkan “wahyu” dari Allah yang isinya justu menabrak wahyu yang lainnya. Kita tahu bahwa ketidakdewasaan beriman, membawa Islam kepada pemikiran yang sama sekali tidak historis: menolak penyaliban tetapi menerima kenaikan Yesus ke surga, di mana peristiwa kenaikan Tuhan Yesus ke surga, juga merupakan peristiwa yang tak dapat dipisahkan dari kematian dan kebangkitan Yesus. Apa hendak dikata? Proses berteologi yang tidak sehat ini telah menciptakan jurang pemisah yang mungkin tak terjembatani—kecuali bagi mereka yang sadar diri bahwa penyaliban adalah fakta historis—dan berakibat rusaknya tatanan relasi antar agama dan sering berujung pada sentimen anarkis atas nama agama. Intinya, penolakan mayoritas Islam terhadap penyaliban bukan soal historisitas tetapi lebih bersifat menjaga kewibawaan quran. Kita tahu bahwa penolakan quran terhadap penyaliban bukanlah didasari pada “saksi mata penyaliban” tetapi pada konsep ketimpangan pemahaman teologi Kristen—di mana Muhammad sendiri tidak secara utuh menerima asupan teologi yang sehat; ia mendapatkan asupan teologi dari Kristen bidat.

Tapi sudahlah. Kristen tidak perlu ambil pusing dengan teologi yang menolak peristiwa historis hanya demi kebahagiaan dan kebanggaan semu. Fakta sejarah adalah tetap sebuah fakta. Untuk meneguhkan hal ini, saya hendak menyebutkan teks penyaliban dalam Injil-Injil sebagai bukti bahwa para saksi mata penyaliban itu sendiri. Matius 27:32-61; Markus 15:33-47; Lukas 23:44-55; dan Yohanes 19:28-42, secara sepakat mencatat peristiwa penyaliban dan kematian Yesus hingga proses penguburan-Nya. Untuk membuktikan fakta historis, setidaknya setiap suguhan data mencakup: dokumentasi, argumentasi, dan fakta yang didokumentasikan dan diargumentasikan. Teologi Islam tentang negasi penyaliban tidak memenuhi satu pun dari cakupan tersebut.

Terkait dengan keterangan teks penyaliban, John Walvoord menjelaskan, “catatan Alkitab mengenai kematian Kristus merupakan penyajian yang lengkap baik dari segi nubuatan maupun sejarah. Banyak nas dalam Perjanjian Lama dan Injil meramalkan kematian Kristus, seperti Mazmur 22, Yesaya 53, Markus 8:31, Lukas 9:22 dan ayat-ayat serupa.” Menurutnya, “seluruh Injil dan seluruh surat-surat Kiriman memberikan pernyataan atau menerima fakta kematian-Nya” (John F. Walvoord, Yesus Kristus Tuhan Kita [Surabaya: Yakin, tth.], 142).

KEMATIAN YESUS: TIDAK ADA SAKSI MATA DARI PARA MURID?

Jika penyaliban Yesus menurut PB ditafsirkan kaum liberal dan Islam bahwa Yesus tidak mati dengan alasan-alasan eksegetis terhadap tulisan-tulisan Injil-Injil PB, bahwa tidak ada saksi mata penyaliban berdasarkan catatan Markus 14:50 disebutkan, “semua murid itu meninggalkan Dia dan melarikan diri”, akan tetapi, kisah tersebut tidak berhenti sampai di situ, karena dalam ayat 54 dikatakan:

“Dan Petrus mengikuti Dia dari jauh, sampai ke dalam halaman Imam besar….”

Jika menganggap bahwa orang Kristen salah menafsirkannya (tentang penyaliban Yesus), pertanyaannya adalah: bagaimana mungkin murid-murid (Rasul Yohanes, Petrus, dan lainnya) Yesus yang dianggap “tidak” menyaksikan kisah penyaliban, dapat menuliskan bahwa Yesus telah mati untuk menebus manusia, memberikan kehidupan kekal, mendamaikan manusia berdosa dengan Allah yang suci dan kudus, dan dengan darahnya Ia telah memberikan penebusan? Bukanlah lebih masuk akal jika orang Kristen menerima informasi dari para murid yang melihat Guru mereka ditangkap dan disalibkan, ketimbang mempercayai informasi yang tidak jelas mengenai penyaliban Yesus?

Berikut daftar saksi mata penyaliban, termasuk para murid:

“Semua orang yang mengenal Yesus dari dekat, termasuk perempuan-perempuan yang mengikuti Dia dari Galilea, berdiri jauh-jauh dan melihat semuanya itu” (Luk. 23:49)

“Ketika Yesus melihat ibu-Nya dan murid yang dikasihi-Nya [Rasul Yohanes] berada di sampingnya, berkatalah Ia kepada ibu-Nya: ‘Ibu, inilah, anakmu!’ Kemudian kata-Nya kepada murid-Nya: ‘Inilah ibumu!’ Dan sejak saat itu murid itu menerima dia di dalam rumahnya’” (Yoh. 19:26-27).

Perhatikan keterangan Lukas 23:49. Dikatakan bahwa “semua orang yang mengenal Yesus dari dekat, termasuk perempuan-perempuan…” adalah keterangan yang multi tafsir. Setidaknya, kita dapat memahami bahwa frasa “semua orang yang mengenal Yesus dari dekat” juga berarti murid-murid Yesus atau orang-orang lain yang mengikut Yesus selama Ia melayani. Namun, menurut saya, frasa tersebut lebih kuat acuannya kepada murid-murid Yesus sebagaimana terbukti dari tulisan-tulisan dan kesaksian-kesaksian mereka sendiri mengenai kematian dan dampak kematian Yesus Kristus:

Kisah Para Rasul 2:29-32, “…Yesus inilah yang dibangkitkan Allah, dan tentang hal itu kami semua adalah saksi”;

Kisah Para Rasul 3:12-15, “… Allah Abraham, Ishak dan Yakub, Allah nenek moyang kita telah memuliakan Hamba-Nya, yaitu Yesus yang kamu serahkan dan tolak di depan Pilatus, walaupun Pilatus berpendapat, bahwa Ia harus dilepaskan. Tetapi kamu telah menolak Yang Kudus dan Benar, serta menghendaki seorang pembunuh sebagai hadiahmu. Demikianlah Ia, Pemimpin kepada hidup, telah kamu bunuh, tetapi Allah telah membangkitkan Dia dari antara orang mati; dan tentang hal itu kami adalah saksi”;

Kisah Para Rasul 5:29-32, “… Allah nenek moyang kita telah membangkitkan Yesus, yang kamu gantungkan pada kayu salib dan kamu bunuh. Dialah yang telah ditinggikan oleh Allah sendiri dengan tangan kanan-Nya menjadi Pemimpin dan Juruselamat, supaya Israel dapat bertobat dan menerima pengampunan dosa. Dan kami adalah saksi dari segala sesuatu itu, kami dan Roh Kudus, yang dikaruniakan Allah kepada semua orang yang mentaati Dia”;  

Kisah Para Rasul 10:39-43, “Dan kami adalah saksi dari segala sesuatu yang diperbuat-Nya di tanah Yudea maupun di Yerusalem; dan mereka telah membunuh Dia dan menggantung Dia pada kayu salib. Yesus itu telah dibangkitkan Allah pada hari yang ketiga, dan Allah berkenan, bahwa Ia menampakkan diri, bukan kepada seluruh bangsa, tetapi kepada saksi-saksi, yang sebelumnya telah ditunjuk oleh Allah, yaitu kepada kami yang telah makan dan minum bersama-sama dengan Dia, setelah Ia bangkit dari antara orang mati….”

Terpujilah Allah dan Bapa Tuhan kita Yesus Kristus, yang karena rahmat-Nya yang besar telah melahirkan kita kembali oleh kebangkitan Yesus Kristus dari antara orang mati, kepada suatu hidup yang penuh pengharapan (1 Ptr. 1:3).

Oleh Dialah kamu percaya kepada Allah, yang telah membangkitkan Dia dari antara orang mati dan yang telah memuliakan-Nya, sehingga imanmu dan pengharapanmu tertuju kepada Allah (1 Ptr. 1:21)

Sebab juga Kristus telah mati sekali untuk segala dosa kita, Ia yang benar untuk orang-orang yang tidak benar, supaya Ia membawa kita kepada Allah; Ia, yang telah dibunuh dalam keadaan-Nya sebagai manusia, tetapi yang telah dibangkitkan menurut Roh (1 Ptr. 3:18)

1 Yohanes 1:1-4, “…. Apa yang telah ada sejak semula, yang telah kami dengar, yang telah kami lihat dengan mata kami, yang telah kami saksikan dan yang telah kami raba dengan tangan kami tentang Firman hidup — itulah yang kami tuliskan kepada kamu. Apa yang telah kami lihat dan yang telah kami dengar itu, kami beritakan kepada kamu juga, supaya kamupun beroleh persekutuan dengan kami. Dan persekutuan kami adalah persekutuan dengan Bapa dan dengan Anak-Nya, Yesus Kristus….”

1 Yohanes 2:2, “Dan Ia adalah pendamaian untuk segala dosa kita, dan bukan dosa kita saja, tetapi juga untuk dosa seluruh dunia” (bdk 1 Yoh. 3:16; 4:10)

Dan dari Yesus Kristus, Saksi yang setia, yang pertama bangkit dari antara orang mati dan yang berkuasa atas raja-raja bumi ini. Bagi Dia, yang mengasihi kita dan yang telah melepaskan kita dari dosa kita oleh darah-Nya (Why. 1:5)

Ketika aku melihat Dia, tersungkurlah aku di depan kaki-Nya sama seperti orang yang mati; tetapi Ia meletakkan tangan kanan-Nya di atasku, lalu berkata: “Jangan takut! Aku adalah Yang Awal dan Yang Akhir, dan Yang Hidup. Aku telah mati, namun lihatlah, Aku hidup, sampai selama-lamanya dan Aku memegang segala kunci maut dan kerajaan maut (Why. 1:17-18).

KEMATIAN YESUS: PENEBUSAN DOSA DISELESAIKAN

Kematian Yesus dikaitkan dengan penebusan sebagaimana persembahan kurban-kurban dalam PL mengindikasikan adanya penebusan yang dikerjakan Allah Bapa. Jaminan penebusan yang dikerjakan Yesus memberikan implikasi bagi penebusan yang sempurna dan hak untuk didengar—segala permintaan kita—oleh Bapa di surga. Charles Hodge, sebagaimana dikutip oleh James Boice, menyatakan bahwa,

Kita diterangi dalam pengetahuan akan kebenaran; kita diperdamaikan dengan Allah oleh kematian Anak-Nya yang berkorban; dan kita dibebaskan dari kuasa Iblis dan dimasukkan ke dalam kerajaan Allah; semuanya ini memiliki dasar pandangan bahwa bagi kita Penebus kita adalah sekaligus Nabi, Imam, dan Raja. Oleh karena itu, ini bukan hanya sebuah klasifikasi yang mudah dari isi misi dan karya-Nya, tetapi masuk ke dalam natur dari misi dan karya tersebut, dan harus dipertahankan dalam teologi kita jika kita ingin menerima kebenaran sebagaimana yang dinyatakan dalam firman Allah (Charles Hodge, Systematic Theology, II, [London: James Clarke & Co., 1960], 461. Dikutip oleh James Montgomery Boice, Dasar-dasar Iman Kristen, terj. Lanna Wahyuni [Surabaya: Momentum, 2011], 334).

Dua pernyataan di atas terkait dengan tujuan kematian Yesus disalib, didasari pada maksud dan rencana Allah untuk menebus dengan ‘cara-Nya sendiri’ karena manusia telah jatuh dalam dosa dan natur keberdosaan manusia harus ditebus oleh sesuatu yang ditentukan Allah. Allah berdaulat penuh dalam proses penebusan manusia dari dosa-dosa. Menurut Profesor Gerald Bray, “Jesus did not sin, but on the cross he became sin for us (2 Cor. 5:21; Gal. 3:13)” (Gerald Bray, God Is Love: A Biblical and Systematic Theology [Wheaten Illinois: Crossway, 2012], 585).

Yesus jelas tidak mati karena dosa-dosa-Nya. Alkitab menegaskan bahwa Ia tidak berdosa. Yang tidak berdosa layak untuk mengampuni orang berdosa. Bray menegaskan, “He was not put to death for anything he had done wrong, but for the sins of those for whom he died (1 Pet. 3:18). His sinlessness exempted him from death and therefore made him suitable to be a sacrifice for the sins of others (Heb. 10:11-14)” (Bray, God Is Love, 586). Bray menambahkan pula bahwa,

Jesus bore the punishment for our sins, took our place on the cross, and paid the price for us by his suffering and death. If he had not died for us, we would have had to die for our own sins, and would have been destroyed by their unbearable weight. Instead, we have been forgiven and promised that, just as Jesus was raised from the dead, we shall be raised with him to share in his eternal glory (Rom. 6:4-11) (Bray, God Is Love, 587).

Alkitab secara tegas menyebutkan dan menetapkan fakta bahwa Yesus benar-benar menanggung hukuman atas dosa-dosa manusia. Melalui salib, ia membayar harga. Melalui penderitaan dan kematian-Nya, orang yang percaya kepada-Nya disadarkan bahwa harga untuk penebusan dosa-dosa mereka sangat mahal.  Sebaliknya, kita telah diampuni dan bahkan dijanjikan bahwa, sama seperti Yesus telah dibangkitkan dari antara orang mati, kita akan dibangkitkan bersama-sama dengan Dia.

Elaborasi Profesor Robert L. Reymond berikut ini, saya kutip untuk melihat secara sistematis tentang kematian Yesus secara eksegetis yang mencakup: (1) The Body of Christ; (2) The Blood of Christ; (3) The Cross of Christ; (4) The Death of Christ. Ini menarik sekali, sebab elaborasi mendalam yang diamati Reymond memberikan gambaran yang sangat tajam dan sistematis mengenai karya Yesus di kayu salib (Robert L. Reymond, A New Systematic Theology of the Christian Faith [Nashville: Thomas Nelson Publishers, 1998], 624-25).

PB menegaskan dampak atau pencapaian yang dihasilkan dari “tubuh” Kristus terkait penyaliban (kematian-Nya). Reymond menjelaskan:

Romans 7:4, Christian “died [ἐθανατώθητε, ethanatōthēte] to the law through the body of Christ.”

Colossians 1:22, God “reconciled [ἀποκατήλλαξεν, apokatēllaxen] you by the body of [Christ’s] flesh through death to present you holy and umblemished and blameless in his sight.”

Hebrews 10:10, Christians “have been made holy [ἡγιασμένοι, hēgiasmenoi] through the offering of the body of Jesus Christ once for all.”

1 Peter 2:24, Jesus “bore [ἀνήνεγκεν, anēnenken] our sins in his body on the tree, in order that we might die to sins and live for righteousness—by whose wounds you have been healed [ιαθητε, iathēte].”

PB menegaskan dampak atau pencapaian yang dihasilkan dari “darah” Kristus terkait penyaliban (kematian-Nya). Reymond menjelaskan:

Acts 20:28, God “acquired [περιεποιήσατο, periepoiēsato], [the church] through his own blood” (or “through the blood of his own [Son].”

Romans 3:25: God “publicly set Christ forth [προέθετο, proetheto] as a propitiation [ιλαστηριον, hilastērion], through faith in his blood, to demonstrate his justice because of the passing over of sins committed beforehand in God’s forebearenca.” (see also Heb. 2:17; 1 John 2:2; 4:10)

Romans 5:9, Christians “have been justified [δικαιωθέντες, dikaiōthentes, that is, pardoned and constituted righteous] by his blood.”

Ephesians 1:7, Christians “have redemption [ἀπολύτρωσιν, apolytrōsin] through his blood, the forgiveness of trespasses.”

Ephesians 2:12-13, Gentile Christians “who once were far away have been brought near [ἐγενήθητε ἐγγὺς, egenēthēte engys] [to Christ, to citizenship in Israel, to the benefits of the covenants of the promise, to hope, and to God himself] by the blood of Christ.”

Colossians 1:20, God was pleased through Christ “to reconcile [ἀποκαταλλάξαι, apokatallaxai] all things to himself, having made peace [ειρηνοποιησας, eirenopoiēsas] through the blood of his cross.”

Hebrews 9:12, Christ “entered the Most Holy Place once for all through his own blood, having obtained [εὑράμενος, heuramenos] eternal redemption [λυτρωσιν, lytrōsin].”

Hebrews 9:14, The blood of Christ “will cleanse [καθαριεῖ, kathariei] our consciences from acts that lead to death, so that we may serve the living God.”

1 Peter 1:2, 18-19, God’s elect were chosen “for sprinkling by the blood of Jesus Christ,” which figure portrays Christ’s death as a sacrificial death in fulfillment of the Old Testament typical system of sacrifice in which the blood of bulls and goats was ceremonially sprinkled on the persons and objects to be cleansed. Furthermore, it is by his “precious blood” that the believers “were redeemed [ἐλυτρώθητε, elytrōthēte]” from their former empty way of life.

1 John 1:7, “The blood of Jesus, his Son, cleanses [καθαρίζει, katharizei] us from all sin.”

Revelation 1:5, Christ “loved us and freed [λύσαντι, lysanti] us from our sins by his blood.”

Revelation 5:9-10, Christ “purchased [ἠγόρασας, egorasas] for God by his blood men from every tribe and language and people and nation, and made [εποιησας, epoiēsas] them for God a kingdom and priests, and they will reign on the earth.”

Rasul Paulus menyatakan tentang pencapaian salib melalui kurban Yesus Kristus. Reymond menjelaskan:

Ephesians 2:16: God “has reconciled [ἀποκαταλλάξῃ, apokatallaxe] both [Jews an Gentiles] in one body to God through the cross, having put to death [αποκτεινας, apokteinas] [God’s] enmity by [or “on”] it.”

Colossians 1:20: Christ “made peace [εἰρηνοποιήσας, eirēnopoiēsas] through the blood of his cross.”

Colossians 2:14-15: God “canceled [ἐξαλείψας, exaleipsas] the written code, with its regulations, that was against us and stood opposed to us; he took it out of the way [ἦρκεν ἐκ τοῦ μέσου, ērken ek tou mesou], nailing it fast to the cross. Having disarmed [ἀπεκδυσάμενος, apekdysamenos] the rulers and authorities, he exposed [them] publicly [ἐδειγμάτισεν ἐν παρρησίᾳ, edeigmatisen en parrēsia], triumphing [θριαμβεύσας, thriambeusas] over them by it.”

PB menegaskan dampak atau pencapaian yang dihasilkan dari “kematian” Kristus di salib. Reymond menjelaskan:

Roma 5:10: “When we were enemies, we were reconciled [κατηλλάγημεν, katēllagēmen] to God through the death of his Son.”

Kolose 1:21-22: “Once you were alienated and enemies in your minds as shown by evil works, but now God has reconciled [ἀποκατήλλαξεν, apokatēllaxen] you … through [Christ’s] death, to present you holy and unblemished and blameless in his sight.”

Ibrani 2:9-10: “We see Jesus, through the suffering of death, being crowned with glory and honor, so that by the grace of God in behalf of all the might taste death. For it was fitting for [God] … in bringing many sons to glory to perfect the Author of their salvation through suffering.”

Ibrani 2:14: Christ “shared in their humanity in order that through his death he might destroy [καταργήσῃ, katargēsē] the one who has the power of death, that is, the devil, and free [ἀπαλλάξῃ, apallaxē] those who all their lives were held in slavery by their fear of death.”

Ibrani 9:15: “He is the Mediator of a new covenant in order that, by means of death as a ransom to set them free [εἰς ἀπολύτρωσιν, eis apolytrōsin] from the trespasses under the first covenant, the ones who have been called might receive the promise of the eternal inheritance.”

KEBANGKITAN YESUS, KONFIRMASI KEMATIAN-NYA:  MAUT DIKALAHKAN, TERBITLAH PENGHARAPAN IMAN

Rasul Paulus secara tegas menyatakan tentang kemenangan Yesus atas maut. Dalam 1 Korintus 15:54-57 dinyatakan,

Dan sesudah yang dapat binasa ini mengenakan yang tidak dapat binasa dan yang dapat mati ini mengenakan yang tidak dapat mati, maka akan genaplah firman Tuhan yang tertulis: “Maut telah ditelan dalam kemenangan. Hai maut di manakah kemenanganmu? Hai maut, di manakah sengatmu?” Sengat maut ialah dosa dan kuasa dosa ialah hukum Taurat. Tetapi syukur kepada Allah, yang telah memberikan kepada kita kemenangan oleh Yesus Kristus, Tuhan kita.

Kita melihat bahwa betapa teologi salib: “kematian dan kebangkitan” adalah peristiwa historis yang membawa kemenangan dan harapan iman dari para pengikut Yesus sepanjang sejarah. Kebangkitan Yesus adalah sebuah “KONFIRMASI” kematian Yesus. Dengan segera, orang Kristen yang percaya akan kebangkitan Yesus Kristus tahu bahwa peristiwa kebangkitan tersebut didasari pada kematian Yesus di salib. Jika mengatakan bahwa ada orang yang bangkit dari kematian, maka seseorang tersebut dipastikan telah mati secara sungguh-sungguh. Dalam konteks ini pula, kebangkitan Yesus telah menjadi pokok utama atas peristiwa yang mendahuluinya: penyaliban dankematian di kayu salib. Untuk membuktikan kebangkitan Yesus, perlu menegaskan bahwa Ia benar-benar mati.

J. Knox Chamblin menegaskan, “signifikansi peristiwa yang satu [kebangkitan] hanya bisa dipahami dalam keterkaitan dengan peristiwa lainnya [kematian Yesus di salib]. Kedua peristiwa ini penting untuk mencapai tujuan penyelamatan Allah” (J. Knox Chamblin, Paulus dan Diri: Ajaran Rasuli bagi Keutuhan Pribadi [Surabaya: Momentum, 2011], 77).

“I confess the Cross, because I know of the Resurrection”, demikian pernyataan St. Cyril of Jerusalem (St. Cyril of Jerusalem, The Catechetical Lectures, 13:4, in A Select Library of the Nicene and Post-Nicene Fathers of the Christian Chruch, 2d series, vol. 7 [Grand Rapids: Wm. B. Eerdmans, 1978], p. 83, dikutip oleh Vigen Guroian, The Melody of Faith: Theology in an Orthodox Key (Grand Rapids, Michigan: Wm. B. Eerdmans Publishing Co., 2010), 94).

Yang lebih menarik lagi, Vigen Guroian menjelaskan, “the Crucifixion could not possibly have led to the demise of Jesus Christ, but only to his resurrection. For indeed, the power of the Resurrection is the power of the Cross” (Vigen Guroian, The Melody of Faith: Theology in an Orthodox Key [Grand Rapids, Michigan: Wm. B. Eerdmans Publishing Co., 2010], 97). Karena kebangkitanlah yang mempengaruhi kematian Yesus. Dan saya setuju dengan Guroian bahwa “kekuatan Kebangkitan adalah kekuatan Salib.” Guroian menambahkan, “the Crucifixion did not the Resurrection necessary; rather, in order that the Resurrection might come to pass, the Crucifixion had to be. The aim and goal of Christ’s suffering and death is resurrection” (Guroian, The Melody of Faith, 97-98).

Dari penuturan Guroian bahwa agar “kebangkitan mungkin terjadi, penyaliban harus harus terjadi. Maksud dan tujuan dari penderitaan dan kematian Kristus adalah kebangkitan.” Jika kebangkitan tidak terjadi, maka konsekuensinya adalah kematian Yesus di salib tak mungkin terjadi. Inilah yang Paulus tegaskan dalam 1 Koristus 15:12-20:

Jadi, bilamana kami beritakan, bahwa Kristus dibangkitkan dari antara orang mati, bagaimana mungkin ada di antara kamu yang mengatakan, bahwa tidak ada kebangkitan orang mati? Kalau tidak ada kebangkitan orang mati, maka Kristus juga tidak dibangkitkan. Tetapi andaikata Kristus tidak dibangkitkan, maka sia-sialah pemberitaan kami dan sia-sialah juga kepercayaan kamu.

Lebih dari pada itu kami ternyata berdusta terhadap Allah, karena tentang Dia kami katakan, bahwa Ia telah membangkitkan Kristus  —  padahal Ia tidak membangkitkan-Nya, kalau andaikata benar, bahwa orang mati tidak dibangkitkan. Sebab jika benar orang mati tidak dibangkitkan, maka Kristus juga tidak dibangkitkan. Dan jika Kristus tidak dibangkitkan, maka sia-sialah kepercayaan kamu dan kamu masih hidup dalam dosamu. Demikianlah binasa juga orang-orang yang mati dalam Kristus. Jikalau kita hanya dalam hidup ini saja menaruh pengharapan pada Kristus, maka kita adalah orang-orang yang paling malang dari segala manusia. Tetapi yang benar ialah, bahwa Kristus telah dibangkitkan dari antara orang mati, sebagai yang sulung dari orang-orang yang telah meninggal.

Fakta bahwa Yesus benar-benar mati di salib, juga dijelaskan oleh para sarjana dan teolog berikut ini. Gordon Thomas menjelaskan argumentasi Dr. Robert Fleming, seorang sarjana kitab suci, bahwa Fleming mendasarkan temuannya (maksudnya dengan mengatakan bahwa Yesus kemungkinan lebih tua pada saat Dia disalib) pada kajiannya mengenai manuskrip-manuskrip Siria yang bertanggal pada saat sensus digelar di Yudea pada tahun 12 sebelum Masehi—dan disimpulkan bahwa itulah zaman ketika Yesus dilahirkan sehingga berumur empat puluh tahun ketika Yesus disalib, seorang laki-laki tua pada zamannya. Fleming sendiri mengemukakan, “Ia [Yesus] mungkin bukanlah pria yang sehat. Dalam ukuran manusia, Yesus sudah berada pada puncak fisiknya. Tak ada implikasi teologis dalam merevisi usia Yesus. Namun, itu membantu menjelaskan mengapa Yesus meninggal dengan begitu cepat.” Thomas menjelaskan, pada tahun 1955, Robert Smalhout, Profesor Anestesiologi di University Hospital, Utrecht, dan juga seorang sarjana kitab suci terkemuka, memberikan pandangan tentang penyaliban Yesus. Menurut Smalhout, “ribuan tahanan perang dan budak dieksekusi dengan cara disalibkan. Setelah kekalahan Spartakus pada tahun 71 sebelum Masehi, hampir 7.000 salib berdiri berjajar di Appian Way. Di setiap salib, tergantung seorang budak pemberontak.” Berangkat dari fakta tersebut, Smalhout mengatakan bahwa “penyaliban itu sangat biasa sehingga para penulis Injil tidak membuang-buang waktu untuk menggambarkan proses itu secara detail. Setiap orang di wilayah Romawi telah mengetahui dengan sangat baik” (Gordon Thomas, The Jesus Conspiracy: Salib yang Tak Terelakkan, terj. Harris Hermansyah Setiajid [Yogyakarta: Kanisius, 2013], 430-41).

Selaras dengan pernyataan Smalhout, Zannoni menilai bahwa, “tradisi Yahudi mengaku bertanggung jawab atas penyaliban Yesus pada malam Paskah karena Ia menyesatkan Israel (Talmud, Sanhedrin 43a). Bagaimana pun juga tidak adil untuk meletakkan semua kesalahan atas kematian Yesus pada pundak orang Yahudi. Ada yang mungkin ikut terlibat dalam tuduhan melawan Yesus. Merupakan kebenaran bahwa pemerintahan Roma yang bertanggung jawab atas eksekusi (Arthur E. Zannoni, , Jesus of the Gospels: Apa Kata Injil tentang Dia [Jakarta: OBOR, 2014], 2-3).

Penegasan lainnya tentang penyaliban, dikemukakan oleh Craig A. Evans, seorang profesor Perjanjian Baru, “Kematian Yesus bukan fiksi. Kematian Yesus adalah realitas sejarah yang suram. Hal itu diketahui oleh orang bukan Kristen, dan merupakan suatu peristiwa yang meruntuhkan semangat para pengikut Yesus—paling tidak pada awalnya—dan masih merupakan aib berkelanjutan ketika gereja memproklamirkan Yesus sebagai Juruselamat dan Putra Allah di seluruh kerajaan Romawi. Tidak dapat diragukan bahwa Yesus dihukum mati (Craig A. Evans, “Teriakan Kematian”, dalam Craig A. Evans & N. T. Wright, Hari-hari Terakhir Yesus: Apa yang Sesungguhnya Terjadi? editor Troy A. Miller, penerjemah Paus S. Hidayat [Jakarta: Literatur Perkantas, 2010], 16).

Berbagai data historis dan pemahaman teologis akan salib Yesus seperti yang telah diuraikan di atas, mengukuhkan bahwa Yesus sungguh-sungguh mati di salib. Dan kejadian spektakuler berikutnya yaitu kebangkitan, merupakan konfirmasi dari kematian Yesus. Berikut adalah ulasan mengenai kebangkitan Yesus. Kebangkitan Yesus, dalam perspektif Stanley J. Grenz, membentuk dasar pemahaman Kristen awal tentang identitas Kristus dan kebangkitan adalah pusat dari semua pengajaran apostolik. “The resurrection formed the foundation for the early Christian understanding of the identity of Jesus. The testimony to Jesus’ resurrection was central to all apostoloc preaching” (Stanley J. Grenz, Theology for the Community of God [Grand Rapids, Michigan: Wm. B. Eerdmans Publishing Company, 2000], 259).

Gerald Bray menegaskan, faktanya adalah bahwa ada cukup banyak orang yang mengaku menjadi saksi mata dari kebangkitan Yesus, dan yang siap mempertaruhkan hidup mereka pada kebenaran dari peristiwa yang diceritakan dalam Injil (Bray, God Is Love: A Biblical and Systematic Theology, 594). Dalam pemahaman Gordon Thomas, “kebangkitan itu merupakan pembenaran akan Kristus. Kebangkitan itu menunjukkan kemenangannya atas dosa dan maut. Yesus tidak dibunuh tanpa tujuan, namun Ia menyerahkan hidupnya bagi dunia. Kebangkitan Kristus memberi kita tujuan hidup yang kita butuhkan di bumi ini, memberi jaminan kepada kita bahwa ada tempat lain setelah kehidupan di dunia ini (Gordon Thomas, The Jesus Conspiracy: Salib yang Tak Terelakkan, terj. Harris Hermansyah Setiajid [Yogyakarta: Kanisius, 2013], 420).

Kebangkitan Yesus selalu dikaitkan dengan “tubuh”-Nya. Artinya, kebangkitan Yesus bukanlah sebuah metafora yang direkayasan oleh para murid Yesus. Jika kebangkitan hanyalah sebuah metafora, maka dibutuhkan waktu yang sangat lama untuk merekonstruksi kembali kisah kematian dan kebangkitan metafora tersebut. Yesus yang bangkit adalah Yesus yang bertubuh layaknya manusia. Dia tidak berubah menjadi pribadi yang bersifat roh tetapi benar-benar memiliki tubuh (Hal ini secara jelas diungkapkan Rasul Paulus dalam 1 Korintus 15:42-57). Menurut N. T. Wright, kata “kebangkitan” tidak pernah berarti ‘pengalaman kebahagiaan tanpa tubuh’” (N. T. Wright, “Kejutan Kebangkitan”, dalam Craig A. Evans & N. T. Wright, Hari-hari Terakhir Yesus: Apa yang Sesungguhnya Terjadi? editor Troy A. Miller, penerjemah Paus S. Hidayat [Jakarta: Literatur Perkantas, 2010], 82).

Kebangkitan adalah cara untuk merujuk kepada suatu kehidupan bertubuh secara baru di suatu waktu di balik kematian (Wright, “Kejutan Kebangkitan”, dalam Evans & Wright, Hari-hari Terakhir Yesus, 87). Yesus bangkit tanda bahwa semua hinaan, caci maki, dan kekalahan-Nya yang tanpa perlawanan itu, luntur seketika, tak berkutik. Kebangkitan Yesus membuktikan bahwa kematian-Nya adalah awal terbitnya pengharapan iman. Kebangkitan Yesus sebagai fakta bahwa maut bukanlah hal yang menakutkan bagi para pengikut-Nya, melainkan awal dari kehidupan yang penuh kebahagiaan. Korelasi antara kebangkitan Yesus dengan kebangkitan orang percaya adalah implikasi makna teologis dan merupakan janji-Nya. Luis M. Bermejo menjelaskan hal ini, “Tidak perlu ditekankan lagi bahwa kebangkitan orang Kristen berpola pada kebangkitan Kristus. Apa yang terjadi pada Yesus akan terjadi pada diri kita. Yesus dibangkitkan dengan tubuh-Nya yang sebelumnya tetapi sama sekali diubah, berubah, dan kita juga akan dibangkitkan dalam tubuh yang “penuh Roh Kudus” (1 Kor. 15:44), yang tidak ada kaitan dengan jenazah yang ditempatkan dalam kubur (Bermejo, Luis M., Makam Kosong: Misteri dan Makna Kebangkitan Yesus [Yogyakarta: Kanisius, 2013], 337).

Deskripsi pemahaman dan pemikiran dari para teolog di atas, menjelaskan tentang kematian Yesus dan implikasinya. Di samping itu, penjelasan tersebut mengukukuhkan fakta historis bahwa Yesus benar-benar mati di salib dan pada hari ketiga Ia bangkti dari antara orang mati. Lalu apa kaitannya dengan perspektif Islam? Secara faktual, Islam melompati berbagai peristiwa historis. Boleh saja mereka berpendapat bahwa Yesus tidak mati. Tetapi catatan Injil-Injil menyebutkan bahwa kematian Yesus berakhir pada pemakaman-Nya. Hasilnya adalah “kebangkitan” dan “kenaikan-Nya” ke surga. Tiga peristiwa besar yang dilewati Islam boleh jadi sebagai gambaran bahwa Muhammad hanya mempersingkat data historis bahwa Isa naik ke surga, seperti yang nyata dari teks Qur’an berikut ini, jika dilihat dari kacamata historisitas Injil-Injil PB:

(Ingatlah), ketika Allah berfirman, “Wahai Isa! Aku mengambilmu dan mengangkatmu kepada-Ku, serta menyucikanmu dari orang-orang yang kafir, dan menjadikan orang-orang yang mengikutimu di atas orang-orang yang kafir hingga Hari Kiamat. Kemudian kepada-Ku engkau kembali, lalu Aku beri keputusan tentang apa yang kamu perselisihkan” (QS. 3:55)

Benar, bahwa Isa naik ke surga. Akan tetapi, peristiwa naiknya Isa ke surga bukanlah terjadi pada saat penyaliban tetapi pasca kebangkitan-Nya. Di sini ada yang misinterpretasi historis yang dilakukan Muhammad dan para pengikutnya. Lagipula, range (jarak) waktu antara Muhammad dengan kisah penyaliban sangat jauh dan telah melewati berbagai proses termasuk proses “lisan”. Proses ini tidaklah memadai sebab tradisi lisan harus bercermin pada tradisi tulisan sebagaimana yang diwariskan oleh para penulis Injil-Injil PB. Zanoni berpendapat, Injil Sinoptik menggambarkan peristiwa salib penuh dengan kejadian luar biasa seperti terbelahnya tirai Kenisah, gemba bumi, terbukanya kubur, pengakuan iman kepala prajurit (Zannoni, Jesus of the Gospels, 190).

Ada yang menarik dari peristiwa-peristiwa (tanda-tanda) yang menyertai penyaliban Yesus. Jika menyimak pendapat mayoritas Islam bahwa Yesus digantikan dengan seorang yang lain untuk disalibkan, maka sangat tidak mungkin ada tirai Bait Allah (Kenisah) yang terbelah. Lagipula, orang yang menggantikan Yesus tidak memiliki posisi yang penting atau kuasa, atau otoritas khusus untuk membuat tirai Bait Allah terbelah; apalagi terjadi gempa bumi, kubur terbuka, dan pengakuan iman kepala prajurit. “Allah” yang dibajak oleh Muhammad untuk mengakomodasi penyaliban Yesus sekaligus menyelamatkan Dia dari salib, menghasilkan sisi ketidakmungkinan historis dan peristiwa-peristiwa spektakuler yang menyertai penyaliban tersebut.

Dalam pemahaman saya, indikasi untuk melakukan penyelamatan Isa dari salib oleh Muhammad — sebagai konsekuensi logisnya — adalah bahwa peristiwa-peristiwa yang menyertai penyaliban tersebut tidak diperhitungkan sebagai bagian dari fakta historis. Fokus Muhammad hanya pada pembelaan seorang pribadi yang bernama Yesus, yang sangat tidak layak untuk disalibkan dengan cara yang brutal, dengan mengorbankan peristiwa lainnya yang ikut terjadi pada saat penyaliban. Tabrakan persepsi teologis dengan fakta sejarah tidak bisa menjadi “kesenangan akademis” apalagi “kesenangan agamais–quranik”, seolah-olah “Allah” setuju dengan cara-cara seperti itu. Tendensi agamais ikut bermain dalam ranah ini — atau yang penulis sebut dengan paradigma solipsisme: kerangka berpikir yang didasari pada kesimpulan bahwa apa yang dikatakan “Muhammad” pasti benar adanya”, tanpa merujuk dan menyelidiki kesimpulan tersebut secara historis berdasarkan klasifikasi (pembagian) penentuan mana fiktif, mana persepsi teologis, mana persepsi politis, dan mana fakta historis. Dengan begitu, perdebatan ini dapat diakhiri bukan dengan cara “menimbulkan sentimen agamais atau partikularisme” melainkan menempatkannya pada tata cara penyelidikan objektif dari fakta sejarah yang sebenarnya terjadi. Meskipun salah satu di antaranya dinyatakan “salah” atau “keliru” – tetap tidak harus ditolak dengan cara yang tidak etis: menuduh “kafir” atau “Alkitabmu palsu”, atau “Al-Qur’an adalah firman Allah yang sempurna tanpa salah”.

Seperti yang telah penulis ungkapkan di atas, salah satu peristiwa yang dilupakan Islam adalah “kebangkitan” – artinya, untuk meneguhkan argumentasi bahwa Yesus tidak disalibkan, maka Islam harus menambah daftar rujukan pendapat para ahli mengenai “penguburan”, “kebangkitan” dan “penjengukkan mayat” Yesus. Tetapi ada indikasi lainnya bahwa ketika Al-Qur’an “membenarkan kitab-kitab sebelumnya (Taurat dan Injil), maka pertanyaannya adalah: apakah ada siginifikansi teologis atau historis dari klaim itu sendiri? Ada teks-teks quranik yang berbicara mengenai “kematian” Yesus secara implisit, namun semuanya dibantah oleh para ilmuan dan teolog Islam untuk mengakomodasi Surat 4:157-158 sebagaimana yang menjadi poros perdebatannya.

Namun, kebangkitan Yesus adalah bukti bahwa Ia telah mati sebagai manusia. Ia taat sampai mati. Seperti yang Rasul Paulus ungkapkan: “Dan dalam keadaan sebagai manusia, Ia telah merendahkan diri-Nya dan taat sampai mati, bahkan sampai mati di kayu salib” (Flp. 2:8). Dalam catatan Injil-Injil PB, peristiwa kebangkitan Yesus dicatat dalam Matius 27:1—28:15; Markus 16:1-8; Lukas 23:56b—24:12; dan Yohanes 20:1-10. Selain dari pada kebangkitan, bukti kuat lainnya adalah penampakkan Yesus pasca kematian dan kebangkitan-Nya. Kematian Yesus dilihat oleh banyak orang. Tak mungkin Ia pura-pura mati atau pingsan, sebab hukuman cambuk bagi yang akan disalib sangat sadis, juga ketika ditambah dengan proses penyaliban, kehabisan darah adalah konsekuensi logisnya.

Berikut ini adalah analisis dan penelitian Gary R. Habermas & Michael R. Licona tentang kebangkitan Yesus sebagai fakta sejarah sekaligus menggugurkan teori substitusi versi Islam untuk menegasikan kematian Yesus di salib. Habermas dan Licona memulai dengan pemahaman akan kekuatan kesaksian sebagai bukti bahwa sebuah peristiwa itu benar-benar terjadi atau memiliki bobot historisitas yang kredibel. Menurut Habermas dan Licona, para sejarawan memanfaatkan sejumlah prinsip berdasarkan akal sehat untuk menilai bobot sebuah kesaksian. Berikut ini dari antara prinsip-prinsip itu:

Pertama, kesaksian yang diberikan saksi-saksi independen dan ganda biasanya dinilai lebih berbobot daripada kesaksian oleh satu saksi saja.

Kedua, pengukuhan oleh sumber yang netral atau bersifat memusuhi biasanya dinilai lebih berbobot daripada pengukuhan oleh sumber yang bersahabat, sebab tidak ada kecenderungan untuk memihak pada orang atau posisi tertentu.

Ketiga, orang biasanya tidak merekayasa rincian cerita, yang cenderung melemahkan posisi mereka.

Keempat, kesaksian oleh para saksi mata biasanya dinilai lebih berbobot daripada kesaksian yang didengar dari sumber kedua atau ketiga.

Kelima, kesaksian dini dari waktu yang sangat dekat dengan peristiwa yang bersangkutan biasanya dinilai lebih dapat dipercaya daripada kesaksian yang diperoleh bertahun-tahun setelah peristiwa itu (Gary R. Habermas & Michael R. Licona, The Case for the Resurrection of Jesus [Jakarta: Literatur Perkantas, 2013], 40).

Berangkat dari prinsip-prinsip tersebut, Habermas dan Licona menyimpulkan bahwa, “Hampir-hampir ada suatu konsensus di antara para pakar yang meneliti kebangkitan Yesus, yakni: setelah kematian Yesus di salib, para murid-Nya benar-benar percaya bahwa ia menampakkan diri-Nya kepada mereka sebagai yang bangkit dari antara orang mati. Kesimpulan ini dicapai dengan data yang menginsyaratkan: (1) para murid sendiri mengklaim bahwa Yesus yang bangkit menampakkan diri kepada mereka, dan (2) setelah kematian Yesus di salib, murid-murid-Nya diubah secara radikal. Orang-orang yang penakut dan pengecut, yang menyangkal dan meninggalkan Dia pada saat penangkapan dan eksekusi-Nya diubah menjadi orang-orang yang berani memberitakan Injil tentang Tuhan yang bangkit. Mereka tetap teguh menghadapi pemenjaraan, penyiksaan, dan kematian sebagai martir. Sangatlah jelas, mereka sungguh-sungguh percaya bahwa Yesus bangkit dari antara orang mati (Habermas & Licona, The Case for the Resurrection of Jesus, 43).

BUTIR-BUTIR PERMENUNGAN

Pertama, kebangkitan Yesus adalah konfirmasi bahwa Ia benar-benar mati disalibkan.

Kedua, fakta penyaliban memiliki dukungan dokumentasi, argumentasi, dan fakta yang didokumentasikan dan diargumentasikan.

Ketiga, Yesus bangkit tanda bahwa semua hinaan, caci maki, dan kekalahan-Nya yang tanpa perlawanan itu, luntur seketika, tak berkutik. Kebangkitan Yesus membuktikan bahwa kematian-Nya adalah awal terbitnya pengharapan iman. Kebangkitan Yesus sebagai fakta bahwa maut bukanlah hal yang menakutkan bagi para pengikut-Nya, melainkan awal dari kehidupan yang penuh kebahagiaan.

Keempat, kebangkitan Yesus memberikan harapan bagi orang-orang yang percaya kepada-Nya, bahwa kematian bukanlah akhir dari kehidupan mereka di dunia. Kebangkitan Yesus menghasilkan terbitnya pengharapan iman Kristen sepanjang sejarah hingga saat ini.

Kelima, penyiksaan terhadap Yesus yang dilakukan oleh tentara Romawi dan disaksikan oleh orang-orang Yahudi yang membenci-Nya luntur dan tak berkutik ketika Yesus bangkit dari antara orang mati. Artinya, mereka yang merasa bangga dan menang karena Yesus disiksa dan mati, tidak dapat berkata apa-apa ketika Yesus bangkit dari kematian.

Keenam, kebangkitan Yesus adalah tanda sukacita abadi bagi mereka yang percaya. Yesus menjamin bahwa mereka yang percaya kepada-Nya, meski mengalami berbagai penderitaan, caci maki, pembunuhan, ancaman, diskriminasi, ketidakadilan, akan menerima mahkota kehidupan dan kehidupan kekal bersama dengan Dia di dalam kerajaan kekal-Nya.

Ketujuh, kebangkitan Yesus adalah bukti bahwa maut telah dikalahkan, dan tak ada yang perlu ditakuti. Yesus telah mengalahkan maut. Yesus telah menjamin kehidupan umat-Nya. Yesus sungguh ajaib dan perkasa. Jika maut dikalahkan, apalagi para pencaci-Nya dan para penghina kekristenan? Pasti mereka tak berkutik ketika Yesus menunjukkan kehebatan kuasa-Nya.

SHALOM

Salam Bae

KENAIKAN YESUS KE SURGA SEBAGAI WUJUD EKSISTENSI-NYA

Memahami personalitas Yesus tidaklah hanya diukur dari sebuah ‘pemikiran sejengkal’ yang hanya memahami Yesus dari aspek kemanusiaan-Nya. Perdebatan dwi natur Yesus masih menyita perhatian para pemerhati dan pembenci Yesus hingga sekarang. Kitab-Kitab Perjanjian Baru menyuguhkan data tentang personalitas Yesus yang bersumber dari pengalaman mereka hidup bersama dengan Yesus, dari tradisi oral yang dekat dengan sumber utama, dan keyakinan iman dari mereka yang telah mendengar, mengalami, dan diubahkan oleh Yesus.

Peristiwa kenaikan Yesus adalah bagian dari karya Yesus dalam inkarnasi-Nya ke dunia. Peristiwa tersebut ditandai dengan beberapa konteks penting terkait dengan keilahian-Nya. Perjanjian Baru mencatat bahwa:

Pertama: Matius 28:16-20 menyatakan: Dan kesebelas murid itu berangkat ke Galilea, ke bukit yang telah ditunjukkan Yesus kepada mereka. Ketika melihat Dia mereka menyembah-Nya, tetapi beberapa orang ragu-ragu.  Yesus mendekati mereka dan berkata: “Kepada-Ku telah diberikan segala kuasa di sorga dan di bumi. Karena itu pergilah, jadikanlah semua bangsa murid-Ku dan baptislah mereka dalam nama Bapa dan Anak dan Roh Kudus, dan ajarlah mereka melakukan segala sesuatu yang telah Kuperintahkan kepadamu. Dan ketahuilah, Aku menyertai kamu senantiasa sampai kepada akhir zaman.”

Dari teks-teks di atas, murid-murid Yesus menyembah Dia. Meski ada beberapa orang yang ragu-ragu, hal itu tidaklah mengurangi substansi penyembahan dari murid-murid lainnya. Yesus kemudian meneguhkan identitas-Nya dengan mengatakan: “Kepada-Ku telah diberikan segala kuasa di sorga dan di bumi” (ἐδόθη μοι πᾶσα ἐξουσία ἐν οὐρανῷ καὶ ἐπὶ [τῆς] γῆς). Sebagaimana Allah berkuasa baik di sorga dan di bumi, Yesus juga meneguhkan identitas-Nya bahwa Dia memiliki kuasa di sorga dan di bumi. Maka, penyembahan kepada diri-Nya tidaklah merupakan sebuah penghujatan kepada Allah.

Kedua: Markus 16:17-19 menyatakan, “Tanda-tanda ini akan menyertai orang-orang yang percaya: mereka akan mengusir setan-setan demi nama-Ku, mereka akan berbicara dalam bahasa-bahasa yang baru bagi mereka, mereka akan memegang ular, dan sekalipun mereka minum racun maut, mereka tidak akan mendapat celaka; mereka akan meletakkan tangannya atas orang sakit, dan orang itu akan sembuh.” Sesudah Tuhan Yesus berbicara demikian kepada mereka, terangkatlah Ia ke sorga, lalu duduk di sebelah kanan Allah.

Teks-teks di atas menyebutkan bahwa pra kenaikan Yesus, Ia melengkapi para murid dengan kuasa untuk mengusir setan-setan, dan kemampuan berbicara dengan bahasa-bahasa yang baru, memegang ular, minum racun maut tetapi tetap aman, dan menyembuhkan orang sakit. Kuasa yang diberikan Yesus membuktikan bahwa Ia berhak dan berkuasan memberikan kuasa kepada siapa yang dikehendaki-Nya, sebagaimana Allah dalam PL memberikan kuasa kepada mereka yang dipilih dan dikehendaki-Nya.

Ketiga: Lukas 24:50-52 menyatakan, “Lalu Yesus membawa mereka ke luar kota sampai dekat Betania. Di situ Ia mengangkat tangan-Nya dan memberkati mereka. Dan ketika Ia sedang memberkati mereka, Ia berpisah dari mereka dan terangkat ke sorga. Mereka sujud menyembah [προσκυνέω – proskuneo] kepada-Nya, lalu mereka pulang ke Yerusalem dengan sangat bersukacita.”

Teks-teks di atas menyebutkan bahwa Yesus “memberkati” [εὐλόγησεν, dari kata  εὐλογέω – eulogeo] para murid. Dari data Matius dan Markus, sepertinya sejalan dengan apa yang dilakukan Yesus. Ia memberkati dan memberi kuasa kepada para murid untuk memberitakan Injil. Meski ada tantangan, namun hal itu bukanlah alasan yang perlu ditakutkan karena Yesus telah memperlengkapi dengan kuasa dan mukjizat untuk melakukan tanda-tanda yang ajaib dan besar.

Dikatakan pula bahwa para murid menyembah [προσκυνέω] Yesus. Selaras dengan data dari Matius, Lukas memiliki penekanan yang sama bahwa “Yesus disembah” sebagai Tuhan dan Allah karena klaim dan perbuatan-perbuatan lampau yang dilakukannya di depan mata para murid orang-orang yang menerima perbuatan ajaib-Nya.

Keempat: Kisah Para Rasul 1:6-11, “Maka bertanyalah mereka yang berkumpul di situ: “Tuhan, maukah Engkau pada masa ini memulihkan kerajaan bagi Israel?” Jawab-Nya: “Engkau tidak perlu mengetahui masa dan waktu, yang ditetapkan Bapa sendiri menurut kuasa-Nya. Tetapi kamu akan menerima kuasa, kalau Roh Kudus turun ke atas kamu, dan kamu akan menjadi saksi-Ku di Yerusalem dan di seluruh Yudea dan Samaria dan sampai ke ujung bumi.” Sesudah Ia mengatakan demikian, terangkatlah Ia disaksikan oleh mereka, dan awan menutup-Nya dari pandangan mereka. Ketika mereka sedang menatap ke langit waktu Ia naik itu, tiba-tiba berdirilah dua orang yang berpakaian putih dekat mereka, dan berkata kepada mereka: “Hai orang-orang Galilea, mengapakah kamu berdiri melihat ke langit? Yesus ini, yang terangkat ke sorga meninggalkan kamu, akan datang kembali dengan cara yang sama seperti kamu melihat Dia naik ke sorga.”

Teks-teks di atas menyebutkan beberapa hal penting: 1) Murid-murid memanggil dia sebagai “Tuhan” [κύριος]. Mengapa harus “Tuhan?” pasalnya, para murid adalah saksi mata dari setiap perbuatan-perbuatan ajaib yang dilakukan Yesus: orang buta melihat, orang lumpuh berjalan, orang mati dibangkitkan, setan diusir, setan mengakui Yesus sebagai Anak Allah yang Maha Tinggi [υἱὲ τοῦ θεοῦ τοῦ ὑψίστου. Lih. Markus 5:7].

Jawaban Yesus merujuk kepada Bapa-Nya: “Engkau tidak perlu mengetahui masa dan waktu, yang ditetapkan Bapa sendiri menurut kuasa-Nya.” Akan tetapi, jika kita kaitkan dengan teks dalam Matius 28:18, “Kepada-Ku telah diberikan segala kuasa di sorga dan di bumi.” Hal ini menunjukkan kesetaraan antara Bapa dan Yesus. Yesus pun menegaskan bahwa Ia datang dan keluar dari Bapa (Yoh. 8:42):

εἶπεν αὐτοῖς ὁ Ἰησοῦς· εἰ ὁ θεὸς πατὴρ ὑμῶν ἦν ἠγαπᾶτε ἂν ἐμέ, ἐγὼ γὰρ ἐκ τοῦ θεοῦ ἐξῆλθον καὶ ἥκω· οὐδὲ γὰρ ἀπ᾽ ἐμαυτοῦ ἐλήλυθα, ἀλλ᾽ ἐκεῖνός με ἀπέστειλεν.

Kata Yesus kepada mereka: “Jikalau Allah adalah Bapamu, kamu akan mengasihi Aku, sebab Aku keluar dan datang dari Allah. Dan Aku datang bukan atas kehendak-Ku sendiri, melainkan Dialah yang mengutus Aku.”

Keluar dari Allah [ἐκ τοῦ θεοῦ] menunjukkan sumber eksistensi Yesus. Allah adalah kekal (bdk. Yoh. 1:1), maka substansi yang keluar dari diri Allah bersifat [bernatur] kekal sesuai dengan dari mana eksistensi-Nya keluar, yaitu dari Allah yang kekal. Kata ἐκ [ek] memiliki beragam arti, dan tergantung konteksnya. F. Wilbur Gingrich dalam Shorter Lexicon of the Greek New Testament, second edition revised by Frederick W. Danker, mencatat arti dari kata ἐκ [ek]:

ἐκ; before vowels ἐξ prep. w. gen. from, out of, away from1. to denote separation Mt 2:15; 26:27; Mk 16:3; J 12:27; 17:15; Ac 17:33; Gal 3:13; Rv 14:13; from among Lk 20:35; Ac 3:23.—2. to denote the direction from which something comes from, out from Mt 17:9; Mk 11:20; Lk 5:3; in answer to the question where? at, on Mt 20:21, 23; Ac 2:25, 34.—3. to denote origin, cause, motive reason from, of, by Mt 1:3, 5, 18; J 1:13, 46; 1 Cor 7:7; 2 Cor 5:1; Gal 2:15; 4:4; Phil 3:5. Because of, by Mk 7:11; 2 Cor 2:2; Rv 8:11. By reason of, as a result of, because of Lk 12:15; Ac 19:25; Ro 4:2; with Lk 16:9. Of, from of source or material Mt 12:34; J 19:2; 1 Cor 9:13; Rv 18:12. According to, in accordance with Mt 12:37; 2 Cor 8:11, 13. ἐκ τούτου for this reason, therefore J 6:66. οἱ ἐκ νόμου partisans of the law Ro 4:14.—4. in periphrasis for the partitive gen. Mt 10:29; 25:2; Lk 11:15, which may even function as subject of a sentence ἐκ τ. μαθητῶν some of the disciples J 16:17; used with εἶναι = belong to someone or something Mt 26:73; Ac 21:8; 1 Cor 12:15f. After verbs of filling with Lk 15:16; J 12:3; Rv 8:5. For the gen. of price or value for Mt 20:2; 27:7; Ac 1:18.—5. of time from, from this or that time on Mt 19:12; Mk 10:20; J 9:1, 32; for Lk 23:8; after 2 Pt 2:8.

Eksistensi Yesus yang adalah keluar dari Allah [ἐκ τοῦ θεοῦ] meneguhkan perkataan-Nya sendiri bahwa kuasa yang dimiliki-Nya setara dengan Allah Bapa, sebagaimana tampak dari dua teks di atas yakni Kisah Para Rasul 1:7 dan Matius 28:18. Yesus kemudian menjelaskan bahwa ketika para murid menerima kuasa, melalui turunnya Roh Kudus, berimplikasi kepada identitas dan tanggung jawab mereka untuk menjadi saksi Yesus Kristus di Yerusalem dan di seluruh Yudea dan Samaria dan sampai ke ujung bumi.” Hal ini selaras dengan data dari Markus 16:17-20.

Setelah Yesus naik ke surga, berdirilah dua orang yang berpakaian putih dan berkata: “Hai orang-orang Galilea, mengapakah kamu berdiri melihat ke langit? Yesus ini, yang terangkat ke sorga meninggalkan kamu, akan datang kembali dengan cara yang sama seperti kamu melihat Dia naik ke sorga.” Penegasan identitas KEILAHIAN Yesus ditambahkan oleh dua malaikat yang menyatakan bahwa Yesus akan datang kembali. Perlu dicatat bahwa, para saksi mata yang melihat Yesus naik ke surga merupakan bukti yang sangat kuat dan akurat. Ketika mereka yang meragukan peristiwa ini, juga harus menyodorkan saksi-saksi mata yang ‘TIDAK’ melihat Yesus naik ke surga. Artinya, menolak Yesus tidak naik ke surga harus sebanding dengan saksi-saksi mata yang melihat Yesus naik ke surga.

Peristiwa kenaikan Yesus ke surga adalah peristiwa historis. Dari data PB, kita menemukan peristiwa kenaikan Yesus ke surga, dan beberapa bukti lain meneguhkan peristiwa tersebut.

Pertama. Lukas 24:50-51, Lalu Yesus membawa mereka ke luar kota sampai dekat Betania. Di situ Ia mengangkat tangan-Nya dan memberkati mereka. Dan ketika Ia sedang memberkati mereka, Ia berpisah dari mereka dan terangkat ke sorga.

Kedua. Yohanes 3:13, Tidak ada seorangpun yang telah naik ke sorga, selain dari pada Dia yang telah turun dari sorga, yaitu Anak Manusia.

Ketiga. Kisah Para Rasul 1:9, Sesudah Ia mengatakan demikian, terangkatlah Ia disaksikan oleh mereka, dan awan menutup-Nya dari pandangan mereka.

Keempat. 1 Petrus 3:21-22 “… oleh kebangkitan Yesus Kristus, yang duduk di sebelah kanan Allah, setelah Ia naik ke sorga sesudah segala malaikat, kuasa dan kekuatan ditaklukkan kepada-Nya.

Kelima. Efesus 4:10,  Ia yang telah turun, Ia juga yang telah naik jauh lebih tinggi dari pada semua langit, untuk memenuhkan segala sesuatu.

Teks-teks di atas memberi kesaksian tentang identitas Yesus. Rasul Paulus menegaskan bahwa Yesus yang telah turun [inkarnasi] adalah Yesus yang naik ke surga. “Oὗτος ὁ Ἰησοῦς ὁ ἀναλημφθεὶς ἀφ᾽ ὑμῶν εἰς τὸν οὐρανὸν οὕτως ἐλεύσεται ὃν τρόπον ἐθεάσασθε αὐτὸν πορευόμενον εἰς τὸν οὐρανόν” [Outos ho Insous ho analemphtheis aph humon eis ton ouranon outos eleusetai hon tropon ethasasthe auton poreuomenon eis ton ouranon].

Teks Yohanes 3:13 sebagaimana yang merupakan judul dari artikel singkat ini menguatkan peristiwa kenaikan Yesus Kristus ke surga. Rasul Paulus memiliki pandangan yang sama terkait dengan peristiwa turunnya Yesus ke dunia dan peristiwa Yesus naik ke surga karena Ia telah turun: “Tidak ada seorangpun yang telah naik ke sorga, selain dari pada Dia yang telah turun dari sorga, yaitu Anak Manusia.” [καὶ οὐδεὶς ἀναβέβηκεν εἰς τὸν οὐρανὸν εἰ μὴ ὁ ἐκ τοῦ οὐρανοῦ καταβάς, ὁ υἱὸς τοῦ ἀνθρώπου — kai oudeis anabebeken eis ton ouranon ei me ho ek tou ouranou katabas, ho uios tou anthropou].

Kesimpulannya adalah kenaikan Yesus merupakan penegasan identitas-Nya. Ia dari surga. Ia datang dan keluar dari Allah [ἐκ τοῦ θεοῦ]. Ia memiliki kuasa yang setara dengan Allah (teks Matius 28:18 dan Kisah Para Rasul 1:7). Ia memberi perintah sebagai Allah dan Tuhan untuk memberitakan Injil-Nya melalui para murid yang telah diperlengkapi dengan kuasa dan mengadakan tanda-tanda mukjizat. Yesus yang naik adalah Yesus yang telah turun ke dunia, berinkarnasi menjadi sama dengan manusia. Yesus yang naik adalah membuktikan bahwa eksistensi-Nya telah Ia perlihatkan. Yesus tidak menutup-nutupi pra eksistensi-Nya. Dengan gamblang Ia membuktikan bahwa Ia adalah Tuhan yang berdaulat sepenuhnya, di langit dan di bumi.

Soli Deo Gloria

TEKS TANPA KONTEKS: MENYAMAR DI BALIK AYAT ALKITAB: Sebuah Ulasan Atas Status Elia Hanafi

Jika pembaca secara cermat memperhatikan tiga status Elia Hanafi (di facebook) dalam gambar di tulisan ini, pembaca (yang memahami Alkitab) akan dengan segera dapat mengetahui apa makna dari status Hanafi tersebut. Sekilas memang tidak menyinggung Alkitab Kristen, namun pembaca yang pernah belajar hermeneutika, akan menemukan sebuah “hidden agenda” dalam status Hanafi. Pertanyaannya: ada apa dengan Hanafi? Tentu ada ‘apanya’.

Mencermati ‘mind set’ Hanafi, tentu ada landasan pijak (persepsi) yang hendak disuguhkan kepada para pembaca. Kita tidak tahu apa motif di balik ‘mind set’ Hanafi. Akan tetapi, karena statusnya Hanafi berbau tafsir Alkitab, maka saya selaku pembaca Alkitab dapat dengan segera mengetahui apa yang hendak dimaksudkan Hanafi: ia menyamar di balik ayat Alkitab.

Dalam dunia hermeneutika, sebuah objek yang yang diamati, diteliti, dan dibaca, menimbulkan berbagai prasangka, presumsi, asumsi, persepsi, untuk menafsirkannya. Jika demikian, Hanafi bisa saja memiliki sejumlah alasan entah prasangka, presumsi, asumsi, atau persepsi dalam menafsirkan ayat-ayat Alkitab dengan cara “menyamar” di balik ayat-ayat itu sendiri.

Untuk menghindari prasangka, presumsi, asumsi, dan persepsi dalam memahami Alkitab, saya sedikit menyuguhkan poin-poin penting dalam dunia tafsir [hermeneutika] sehingga pembaca dapat memahaminya sebagai dasar dalam membaca dan menafsirkan status Hanafi akhir-akhir ini.

Pertama. Setiap orang yang menyampaikan sesuatu, memikirkan sesuatu dan menuliskan sesuatu memiliki indikasi interpretasi makna

Kedua. Makna dari sebuah maksud akan ditafsirkan dari berbagai perspektif, tergantung siapa yang menafsirkan.

Ketiga. Dalam menafsirkan sesuatu, ada aspek-aspek yang mempengaruhinya: aspek ideologi, aspek konsep, aspek subjektivitas, aspek similaritas, aspek disimilaritas, aspek objektivitas, aspek situasional

Keempat. Dalam dunia Alkitab, kita menerima tulisan-tulisan sejarah yang tentunya memiliki makna baik di zaman penulisan, atau pun di zaman kita sekarang ini. Dalam konteks ini, interpretasi [penafsiran] seseorang harus difokuskan pada aspek situasional di mana penulis menuliskan sesuatu yang dikaitkan dengan kondisi di mana ia berada atau distansi yang dekat dengan kehidupan si penulis

Kelima. Hermeneutika, dilihat dari aspek umum adalah sebuah ilmu yang mempelajari bagaimana memahami sesuatu [menafsirkan] sesuai naturnya atau makna aslinya. Hermeneutika tidak dapat dipengaruhi (dalam arti hakikinya) oleh para penafsir sebab makna asli adalah salah satu aspek penting di dalam hermeneutika itu sendiri. Selain itu, hermeneutika mengharuskan seorang penafsir menghargai bukti-bukti penunjang makna asli dari sebuah objek yang diteliti, dibaca, dan ditafsirkan

Keenam. Dalam konteks literalistik, setiap pembaca atau penulis buku, harus selalu mengutamakan “makna” dari sebuah bacaan atau buku. Signifikansi hermeneutika melibatkan unsur ketilitian, kecermatan, keakuratan, fokus, pengkajian ilmiah dan eksgesis dalam konteks biblikal, eksegesis adalah tindakan hermeneutika terhadap teks-teks yang diteliti. Dengan demikian, maka setiap orang yang mempelajari Alkitab, harus melewati proses eksegesis yang cermat, solid dan memadai.

Ketujuh. H. A. Van Dop, dalam tulisannya “Hermeneusis dan Anamnesis” menjelaskan: Dalam dunia teologi modern ilmu hermeneutik merupakan suatu disiplin yang tidak dapat diremehkan. Tentunya istilah hermêneutikê tekhnê sudah lama dikenal dan digunakan, tetapi sejak Schleiermacher dan Dilthey pengertiannya menjadi lebih spesifik dengan menekankan keharusan bahwa ilmu ini harus dapat diuji validitasnya menurut standar-standar yang juga diberlakukan pada disiplin-disiplin ilmiah lainnya. H. A. Van Dop menjelaskan, istilah “hermeneusis” berasal dari nama dewa Yunani, Hermes. Tugas terutama dewa Hermes ini ialah menjadi pengantar pesan dari para dewa, khususnya pesan-pesan dari dewa Zeus – dewa tertinggi – kepada manusia. Di dalam dunia modern, Hermes menjadi simbol komunikasi. Ada aspek profetis padanya, karena ia menyampaikan hal-hal yang hakiki, yang perlu diketahui. Dengan demikian ia harus dapat menginterpretasikan maksud para dewa. Segala kabar angin, kabar burung dan info, dialah yang memungkinkannya.

Kedelapan. H. A. Van Dop menguraikan: Kata Ibrani yang digunakan dalam hubungan ini ialah bentuk-bentuk turunan dari kata kerja “lits” yang berarti “berfungsi sebagai jurubicara atau penyambung lidah”, “menerjemahkan”, tetapi juga dengan konotasi kecurigaan apakah terjemahannya mungkin dimanipulasi, sehingga menjadi “mengolok-olok”: siapa yang mengetahui persis apa yang dikatakan oleh jurubahasa? Maka teringatlah kita pada pepatah Perancis, “menerjemahkan adalah memperdayakan”. Anamnesis (peringatan), dari kata Yunani “anamimniskein” yang berarti “mengingat”.

Kesembilan. Hermeneutik tidak dapat berfungsi dengan baik, jika tidak menghasilkan inspirasi untuk mengekpresikan iman. Tidak semua orang harus sanggup untuk memahami hasil studi para teolog, tetapi semua orang sanggup menghayati suatu pesan “kerygmatis”, entah mereka menerima atau menolaknya. Pesan itu, jika sudah diterima, perlu dihayati dan dirayakan, tidak kurang dari penghayatan dan perayaan yang kita perhatikan di dalam seremoni adat. Hermeneusis dan anamnesis bersama-sama mempunyai aspek pastoral.

Kesepuluh. Martin Lukito Sinaga, dalam “Sekelumit Hermenetik Paul Ricoeur”, menyatakan, “Dari fungsinya memang hermeneutik mau membawa orang dari situasi ketidaktahuan menjadi mengerti, dari sesuatu yang relatif gelap ke dalam bentuk ungkapan yang jelas dan terang, dari teks yang semula didengar di masa lampau dengan nyaringnya menjadi teks yang masih punya gemanya di telinga pembaca masa kini. Karena itu hermeneutik adalah suatu teori penafsiran, yang berniat mengajak orang menafsir dengan benar dan bernas.”

Kesebelas. Martin Lukito Sinaga menambahkan, Hermeneutik adalah suatu upaya menyelam ke dalam warisan dan serat-serat kultural manusia – melalui teks-teks kebudayaan – dan juga upaya menemukannya secara baru (artinya: membacanya secara baru) demi memperoleh kekuatan untuk hidup di belantara masa kini. Melalui hermeneutik, seseorang dapat bertemu secara kreatif dengan warisan masa lalunya, bahkan ia akan ditolong dalam upayanya membentangkan lintasan cakrawala di hadapan kehidupannya.

Kedua belas. R. C. Sproul menjelaskan bahwa tujuan hermeneutika adalah menetapkan garis-garis pedoman dan aturan- aturan menafsir. Hermeneutika telah berkembang menjadi ilmu yang teknis dan rumit. Dokumen tertulis mana saja adalah subjek salah tafsir. Karena itu kita telah mengembangkan aturan-aturan untuk menjaga kita dari kesalahpahaman seperti itu. Penelitian ini akan kita batasi hanya sampai pada aturan-aturan dan garis-garis pedoman yang dasar saja.

Ketiga belas. Christian de Jonge, dalam “Sola Scriptura: Alkitab pada Zaman Reformasi, Terutama dalam Teologi Calvin” menyatakan: Seorang Humanis terkemuka dari Perancis, Jacques Lefèvre d’Étaples (1455-1536), berpendapat bahwa Roh Kudus berbicara melalui huruf-huruf Alkitab dan oleh sebab itu tidak benar kalau orang hanya memperhatikan arti harfiah tanpa merenungkan apa yang hendak disampaikan oleh Roh Kudus melalui huruf-huruf itu. Ia tidak mau melepaskan arti rohani dari teks Alkitab, tetapi ia menolak tafsiran harfiah yang hanya melihat teks dalam konteks historisnya (yang disebutnya sensus literalis historicus), seakan-akan Gereja dalam renungannya terhadap Perjanjian Lama tidak dapat maju lebih jauh dari orang-orang Yahudi. Yang penting bagi Lefèvre d’Étaples adalah sensus literalis propheticus, yaitu tafsiran yang mampu melihat dalam Perjanjian Lama nubuat mengenai Kristus dan amanat yang penting untuk Gereja sekarang. Mendengarkan suara Roh Kudus melalui huruf Alkitab akan membarui Gereja sesuai dengan maksud Allah.

Keempat belas. Christian de Jonge menyimpulkan: Kenyataan membuktikan bahwa prinsip bahwa Alkitab menafsirkan diri sendiri, walaupun mungkin berguna dalam pertikaian teologis, dalam praktek tidak dapat berfungsi. Para penafsir dalam mendekati teks selalu dipengaruhi oleh praduga-praduga dan prapaham-prapaham yang ditentukan oleh konteks mereka sendiri, bukan oleh teks. Oleh sebab itu seorang penafsir dalam proses penafsiran bertugas untuk mengeliminasikan praduga-praduga yang menghalangi pemahaman yang tepat mengenai teks.

Kelima belas. Dalam dunia hermeneutka, ada sejumlah tantangan: Kesejangan Waktu, Kesejangan budaya, Kesenjangan geografis, Kesenjangan bahasa.

Keenam belas. Adanya faktor-faktor yang mempengaruhi penafsiran Alkitab: 1) Pluralitas membaca; 2) Ideologi personal; 3) “mind set” personal; 4) pengaruh pola pikir dari kitab suci lain yang dibawa ke dalam Alkitab.

Ketujuh belas. Hermeneutika yang tepat bertujuan: pertama, untuk menemukan berita dari Allah. Hermeneutika melindungi Alkitab dari penyalahgunaan, baik secara sengaja atau tidak, yang mengubah pengajaran Alkitab demi mencapai tujuan pribadinya. Hermeneutika yang benar menyediakan kerangka konsep untuk menafsirkan secara tepat dengan memakai alat-alat bantu eksegesis yang akurat (Yun. exegeomai, berarti “mengeluarkan” makna dari sebuah teks atau bagian tulisan). Kedua, untuk menghindari atau menyingkirkan kesalahpahaman atau perspektif dan kesimpulan yang salah tentang ajaran Alkitab. Ketiga, mampu menerapkan berita Alkitab dalam kehidupan kita. Seperti yang dikatakan E. J. Carnell, “Sebuah istilah dapat digunakan dalam salah satu dari tiga cara berikut ini: hanya memiliki satu makna pasti (univocally [makna tunggal]), dengan berbagai makna yang berbeda (equivocally), dan dengan sebuah makna proporsional – sebagian sama dan sebagian lagi beda (analogically).” E. J. Carnel, An Introduction to Christian Apologetics, (Grand Rapids: Eerdmans, 1948), p. 144. Dengan kata lain, pada bagian-bagian tertentu Allah berbicara kepada kita secara univokal. Yakni, meskipun beritanya ditulis kepada orang-orang di zaman kuno, sebagian besar unsurnya tetap sama – sebut saja beberapa contoh: eksistensi manusia, realitas dari malaikat, setan-setan, Allah, dan Yesus sebagai Anak Allah.

Kembali soal penyamaran Hanafi di balik ayat-ayat Alkitab. Hanafi sendiri memunculkan sejumlah asumsi bahwa ayat-ayat yang dikutipnya dipahami Kristen sebagaimana ia memahaminya. Ketika ia menyuguhkan ayat-ayat yang berbau ‘pedang’, dan membandingkannya dengan demo umat Islam yang santun, seolah-olah bahwa Kristen yang berdemo menggunakan ayat-ayat pedang, dan Islam menggunakan ayat-ayat yang santun. Asumsi ini adalah sebuah tindakan “jukstaposisi opini” personal Hanafi dengan opini Kristen.

Saya mengamati bahwa Hanafi sendiri menggunakan metode tafsir “visual harfiah” yang menyingkirkan “konteks”. Ini saya namakan dengan “Teks Tanpa Konteks” [TTK]. Pola pemikiran tafsir Hanafi jelas berdasar pada TTK yang diusung dalam setiap statusnya. Ketika pembaca tidak secara teliti memperhatikan gagasan TTK Hanafi, maka secara tidak langsung, pembaca dapat berpikir bahwa gagasan TTK Hanafi adalah benar. Akan tetapi, tentu tidaklah demikian adanya. Ketika gagasan yang sama kita terapkan kepada quran, maka Hanafi sendiri mengalami kesulitan. Sebut saja beberapa teks berikut ini yang bisa diajukan kepada Hanafi untuk ditafsirkan berdasarkan gagasan TTK sebagaimana ia terapkan kepada Alkitab:

AYAT-AYAT KERAS:

Surah 8:12  (Ingatlah), ketika Tuhanmu mewahyukan kepada para malaikat: “Sesungguhnya Aku bersama kamu, maka teguhkan (pendirian) orang-orang yang telah beriman”. Kelak akan Aku jatuhkan rasa ketakutan ke dalam hati orang-orang kafir, maka penggallah kepala mereka dan pancunglah tiap-tiap ujung jari mereka.

Surah 47:4  Apabila kamu bertemu dengan orang-orang kafir (di medan perang) maka pancunglah batang leher mereka. Sehingga apabila kamu telah mengalahkan mereka maka tawanlah mereka dan sesudah itu kamu boleh membebaskan mereka atau menerima tebusan sampai perang berakhir. Demikianlah apabila Allah menghendaki niscaya Allah akan membinasakan mereka tetapi Allah hendak menguji sebahagian kamu dengan sebahagian yang lain. Dan orang-orang yang syahid pada jalan Allah, Allah tidak akan menyia-nyiakan amal mereka.

Surah 2:191  Dan bunuhlah mereka di mana saja kamu jumpai mereka, dan usirlah mereka dari tempat mereka telah mengusir kamu (Mekah); dan fitnah itu lebih besar bahayanya dari pembunuhan, dan janganlah kamu memerangi mereka di Masjidil Haram, kecuali jika mereka memerangi kamu di tempat itu. Jika mereka memerangi kamu (di tempat itu), maka bunuhlah mereka. Demikanlah balasan bagi orang-orang kafir.

Surah 4:89  Mereka ingin supaya kamu menjadi kafir sebagaimana mereka telah menjadi kafir, lalu kamu menjadi sama (dengan mereka). Maka janganlah kamu jadikan di antara mereka penolong-penolong(mu), hingga mereka berhijrah pada jalan Allah. Maka jika mereka berpaling, tawan dan bunuhlah mereka di mana saja kamu menemuinya, dan janganlah kamu ambil seorangpun di antara mereka menjadi pelindung, dan jangan (pula) menjadi penolong

Su 4:91  Kelak kamu akan dapati (golongan-golongan) yang lain, yang bermaksud supaya mereka aman dari pada kamu dan aman (pula) dari kaumnya. Setiap mereka diajak kembali kepada fitnah (syirik), merekapun terjun kedalamnya. Karena itu jika mereka tidak membiarkan kamu dan (tidak) mau mengemukakan perdamaian kepadamu, serta (tidak) menahan tangan mereka (dari memerangimu), maka tawanlah mereka dan bunuhlah mereka dan merekalah orang-orang yang Kami berikan kepadamu alasan yang nyata (untuk menawan dan membunuh) mereka.

Surah 9:5  Apabila sudah habis bulan-bulan Haram itu, maka bunuhlah orang-orang musyrikin itu dimana saja kamu jumpai mereka, dan tangkaplah mereka. Kepunglah mereka dan intailah ditempat pengintaian. Jika mereka bertaubat dan mendirikan sholat dan menunaikan zakat, maka berilah kebebasan kepada mereka untuk berjalan. Sesungguhnya Allah Maha Pengampun lagi maha Penyayang.

Surah 5:38 Laki-laki yang mencuri dan perempuan yang mencuri, potonglah tangan keduanya (sebagai) pembalasan bagi apa yang mereka kerjakan dan sebagai siksaan dari Allah. Dan Allah Maha Perkasa lagi Maha Bijaksana.

CURI ISTRI (?)

Surah 33:37  Dan (ingatlah), ketika kamu berkata kepada orang yang Allah telah melimpahkan nikmat kepadanya dan kamu (juga) telah memberi nikmat kepadanya: “Tahanlah terus isterimu dan bertakwalah kepada Allah,” sedang kamu menyembunyikan di dalam hatimu apa yang Allah akan menyatakannya, dan kamu takut kepada manusia, sedang Allah-lah yang lebih berhak untuk kamu takuti. Maka tatkala Zaid telah mengakhiri keperluan terhadap istrinya (menceraikannya), Kami kawinkan kamu dengan dia supaya tidak ada keberatan bagi orang mukmin untuk (mengawini) isteri-isteri anak-anak angkat mereka, apabila anak-anak angkat itu telah menyelesaikan keperluannya daripada isterinya. Dan adalah ketetapan Allah itu pasti terjadi.

ISTRI EMPAT

Surah 4:3  Dan jika kamu takut tidak akan dapat berlaku adil terhadap (hak-hak) perempuan yang yatim (bilamana kamu mengawininya), maka kawinilah wanita-wanita (lain) yang kamu senangi: dua, tiga atau empat. Kemudian jika kamu takut tidak akan dapat berlaku adil, maka (kawinilah) seorang saja, atau budak-budak yang kamu miliki. Yang demikian itu adalah lebih dekat kepada tidak berbuat aniaya.

BIDADARI SURGA

Surah 37:48 Di sisi mereka ada bidadari-bidadari yang tidak liar pandangannya dan jelita matanya

Surah 37:49 seakan-akan mereka adalah telur (burung unta) yang tersimpan dengan baik.

Surah 38:52 Dan pada sisi mereka (ada bidadari-bidadari) yang tidak liar pandangannya dan sebaya umurnya.

Surah 55:56 Di dalam syurga itu ada bidadari-bidadari yang sopan menundukkan pandangannya, tidak pernah disentuh oleh manusia sebelum mereka (penghuni-penghuni syurga yang menjadi suami mereka), dan tidak pula oleh jin.

Surah 55:58 Seakan-akan bidadari itu permata yakut dan marjan.

Surah 55:70 Di dalam syurga itu ada bidadari-bidadari yang baik-baik lagi cantik-cantik.

Surah 55:72 (Bidadari-bidadari) yang jelita, putih bersih, dipingit dalam rumah.

Surah 56:35 Sesungguhnya Kami menciptakan mereka (bidadari-bidadari) dengan langsung

Surah 56:36 dan Kami jadikan mereka gadis-gadis perawan.

Surah 56:37 penuh cinta lagi sebaya umurnya.

Surah Al-Baqarah 2:25, Dan sampaikanlah kabar gembira kepada orang-orang yang beriman dan berbuat kebajikan, bahwa untuk mereka (disediakan) surga-surga yang mengalir di bawahnya sungai-sungai. Setiap kali mereka diberi rezki buah-buahan dari surga, mereka berkata, “Inilah rezeki yang diberikan kepada kami dahulu”. Mereka telah diberi (buah-buahan) yang serupa. Dan di sana mereka (memperoleh) pasangan-pasangan yang suci. Mereka kekal di dalamnya.

Surah Âli ‘Imran 3:15, Katakanlah, “Maukah aku kabarkan kepadamu apa yang lebih baik dari yang demikian itu?” Bagi orang-orang yang bertakwa (tersedia) di sisi Tuhan mereka surga-surga yang mengalir di bawahnya sungai-sungai, mereka kekal di dalamnya, dan pasangan-pasangan yang suci serta rida Allah. Dan Allah Maha Melihat hamba-hamba-Nya.

Surah An-Nisa’ 4:57, Adapun orang-orang yang beriman dan mengerjakan kebajikan, kelak akan Kami masukkan ke dalam surga yang mengalir di bawahnya sungai-sungai, mereka kekal di dalamnya selama-lamanya. Di sana mereka mempunyai pasangan-pasangan yang suci, dan Kami masukkan mereka ke tempat yang teduh lagi nyaman.

Surah Yasin 36:55, 56, Sesungguhnya penghuni surga pada hari itu bersenang-senang dalam kesibukan (mereka). Mereka dan pasangan-pasangannya berada dalam tempat yang teduh, bersandar di atas dipan-dipan.

Surah As-Saffaat 37:48-50, Dan di sisi mereka ada (bidadari-bidadari) yang bermata indah dan membatasi pandangannya. Seakan-akan mereka adalah telur yang tersimpan dengan baik. Lalu mereka berhadap-hadapan satu sama lain sambil bercakap-cakap.

Surah Az-Zukhruf 43:70-71, Masuklah kamu ke dalam surga, kamu dan pasanganmu akan digembirakan. Kepada mereka diedarkan piring-piring dan gelas-gelas dari emas, dan di dalam surga itu terdapat apa yang diingini oleh hati dan segala yang sedap (dipandang) mata. Dan kamu kekal di dalamnya.

Surah At-Tur 52:20, Mereka bersandar di atas dipan-dipan yang tersusun dan Kami memberikan kepada mereka pasangan bidadari yang bermata indah.

Surah Ar-Rahman 55:56,72-74, Di dalam surga itu ada bidadari-bidadari yang membatasi pandangan, yang tidak pernah disentuh oleh manusia maupun jin sebelumnya. Bidadari-bidadari dipelihara di dalam kemah-kemah. Maka nikmat Tuhanmu yang manakah yang kamu dustakan? Mereka sebelumnya tidak pernah disentuh oleh manusia maupun oleh jin.

Surah Al-Waqi’ah 56:22-23,34-37, Dan ada bidadari-bidadari bermata indah, laksana mutiara yang tersimpan baik. (Ayat 34) dan kasur-kasur yang tebal lagi empuk. (Ayat 35) Kami menciptakan mereka (bidadari-bidadari itu) secara langsung, (ayat 36) lalu Kami jadikan mereka perawan-perawan, (ayat 37) yang penuh cinta (dan) sebaya umurnya.

Sura An-Naba’ 78:31-34, Sungguh, orang-orang yang bertakwa mendapat kemenangan. (yaitu) kebun-kebun dan buah anggur, dan gadis-gadis montokyang sebaya, dan gelas-gelas yang penuh (berisi minuman).

Sura Ad-Dukhan 44:51-55, Sungguh, orang-orang yang bertakwa berada dalam tempat yang aman, [52] (yaitu) di dalam taman-taman dan mata air-mata air. [53] mereka memakai sutera yang halus dan sutera yang tebal, (duduk) berhadapan, [54] demikianlah, kemudian Kami berikan kepada mereka pasangan bidadari yang bermata indah. [55] Di dalamnya mereka dapat meminta segala macam buah-buahan dengan aman dan tenteram.

Bagaimana pendapat Hanafi? Silakan menafsirkan teks-teks quran di atas berdasarkan metodologi TEKS TANPA KONTEKS sebagaimana yang anda lakukan pada Alkitab.

Salam Bae

HIDUP BAGI TUHAN

Pengalaman hidup manusia menjadikan dirinya sebagai penentu internal atas apa yang akan ia lakukan. Atau dengan perkataan lain, pengalaman adalah bagian kohesif dengan masa depan yang akan diraih. Pengalaman percaya kepada Tuhan memiliki indikasi yang sama. Namun, dalam segala aspek hidupnya, Tuhan mengatur dan menetapkan jalan hidup manusia. Artinya, dalam kebebasan manusia menentukan, memilih, dan merangkum semua jalan hidupnya, TUHAN tetap berintervensi (campur tangan) atas segala sesuatunya.

Alkitab menegaskan hal ini; bahwa Tuhanlah yang memungkinkan segala sesuatu terjadi. Kita yang hidup bagi Tuhan, tetap percaya bahwa Dialah yang memutuskan dan menetapkan segala sesuatu. Raja Sulaiman menuliskan konteks ini secara jelas:

Segala jalan orang adalah bersih menurut pandangannya sendiri, tetapi TUHANlah yang menguji hati (Amsal 16:2)

Hati manusia memikir-mikirkan jalannya, tetapi TUHANlah yang menentukan arah langkahnya (Amsal 16:9)

Banyaklah rancangan di hati manusia, tetapi keputusan TUHANlah yang terlaksana (Amsal 19:2)

Setiap jalan orang adalah lurus menurut pandangannya sendiri, tetapi TUHANlah yang menguji hati (Amsal 21:2)

Karena TUHANlah yang memberikan hikmat, dari mulut-Nya datang pengetahuan dan kepandaian (Amsal 2:6)

Dari ayat-ayat di atas, tampak jelas bahwa Tuhanlah yang berdaulat atas segala sesuatu dan memungkinkan segala sesuatu dapat terjadi sesuai dengan kehendak-Nya. Ia campur tangan atas hidup manusia. Tentulah Tuhan memperhatikan hidup orang-orang pilihan-Nya, dan menghukum orang-orang yang melakukan kejahatan, dan yang membenci umat-Nya. Dari ayat-ayat tersebut, kita belajar bahwa Tuhan itu peduli dan penuh kasih sayang terhadap orang-orang yang percaya kepada-Nya.

Hal ini pula yang ditegaskan oleh Raja Daud ketika ia menuliskan, “TUHAN menetapkan langkah-langkah orang yang hidupnya berkenan kepada-Nya; apabila ia jatuh, tidaklah sampai tergeletak ,sebab TUHAN menopang tangannya (Mazmur 37:23-24). Mereka yang hidup bagi Tuhan dan berkenan kepada-Nya tentu akan diberkati, disertai, dan ditopang oleh-Nya. Jaminan Tuhan adalah bahwa “Ia menetapkan—dan Ia menjaga umat pilihan-Nya dari segala kesesakan dan godaan dunia.” Tuhan pula yang menjamin bahwa umat pilihan-Nya akan tetap bersandar kepada-Nya sebagai Pribadi yang layak dipercaya dan diandalkan.

Hidup bagi Tuhan adalah hidup yang: pertama, beriman; kedua, berserah; dan ketiga, berdoa. Beriman, berarti kita meyakini akan semua janji Tuhan dan apa yang Ia janjikan pasti dikabulkan. Beriman berarti tangguh menghadapi badai kehidupan, tangguh menghadapi kesulitan dan problem kehidupan. Beriman, berarti kita siap menanggung segala risiko yang datang sebagai konsekuensi dari iman kepada Yesus Kristus. Orang Kristen adalah “sasaran caci maki dan perendahan, baik kepada Tuhannya, kepada orang Kristennya, kepada Kitab Sucinya, dan kepada ajarannya”. Tidak ada ruang di mana Kristen tidak dihina dan dikritisi. Anehnya, Kristen adalah agama terbesar di dunia. Ada apa? Dalam pengamatan saya, Kristen adalah agama yang menjalankan ajaran-ajarannya secara dewasa, dan lebih siap menghadapi badai kritikan, perendahan, caci maki, dan hinaan ketimbang lainnya. Itulah kehebatan Kristen: hidup bagi Tuhan melakukan kehendak-Nya dan siap menerima segala risiko dengan tidak melalukan “balas dendam”.

Lebih dahsyatnya, Yesus Kristus malahan memerintahkan untuk berdoa bagi musuh: “Tetapi Aku berkata kepadamu: Kasihilah musuhmu dan berdoalah bagi mereka yang menganiaya kamu. Karena dengan demikianlah kamu menjadi anak-anak Bapamu yang di sorga, yang menerbitkan matahari bagi orang yang jahat dan orang yang baik dan menurunkan hujan bagi orang yang benar dan orang yang tidak benar (Matius 5:44-45). Adakah yang dapat menandingin ajaran Yesus Kristus? Tidak ada. Itulah sebabnya, Kristen menjadi agama terbesar sekaligus menjadi incaran dan sasaran empuk untuk dihina dan direndahkan. Mengapa demikian? Ingatlah perkataan Yesus berikut ini:

Jikalau dunia membenci kamu, ingatlah bahwa ia telah lebih dahulu membenci Aku dari pada kamu (Yohanes 158)

Sekiranya kamu dari dunia, tentulah dunia mengasihi kamu sebagai miliknya. Tetapi karena kamu bukan dari dunia, melainkan Aku telah memilih kamu dari dunia, sebab itulah dunia membenci kamu (Yohanes 15:19)

Aku telah memberikan firman-Mu kepada mereka dan dunia membenci mereka, karena mereka bukan dari dunia, sama seperti Aku bukan dari dunia (Yohanes 17:14)

Janganlah kamu heran, saudara-saudara, apabila dunia membenci kamu. Kita tahu, bahwa kita sudah berpindah dari dalam maut ke dalam hidup, yaitu karena kita mengasihi saudara kita. Barangsiapa tidak mengasihi, ia tetap di dalam maut. Setiap orang yang membenci saudaranya, adalah seorang pembunuh manusia. Dan kamu tahu, bahwa tidak ada seorang pembunuh yang tetap memiliki hidup yang kekal di dalam dirinya. Demikianlah kita ketahui kasih Kristus, yaitu bahwa Ia telah menyerahkan nyawa-Nya untuk kita; jadi kitapun wajib menyerahkan nyawa kita untuk saudara-saudara kita (1 Yohanes 3:13-16)

Tidak ada yang dapat menandingi ajaran Yesus dan kehidupan Kristen. Dibenci tetapi membenci. Direndahkan tetapi tidak merendahkan; dikutuk tetapi tidak mengutuk, justru memberkati: “Berkatilah siapa yang menganiaya kamu, berkatilah dan jangan mengutuk!” (Roma 12:14). Hidup bagi Tuhan berarti beriman, yang siap menerima segala risiko sebagai konsekuensi dari percaya kepada Yesus Kristus yang adalah Tuhan dan Juruselamat dunia.

Hidup bagi Tuhan berarti berserah. Berserah kepada Yesus berarti mengakui kekuasaan dan kedaulatan-Nya atas hidup semua manusia, atas hidup orang-orang benar (percaya), dan atas hidup orang-orang jahat. Sikap pasrah adalah sikap di mana manusia terbatas dan ia membutuhkan Tuhan dalam totalitas hidupnya. Mereka yang sombong tentu tidak membutuhkan Tuhan. Sekuat dan sehebat bagaimana pun orang Kristen, haruslah memiliki sikap pasrah kepada Tuhan. Ialah yang empunya kehidupan. Maka, tidak perlu kuatir. Cukup serahkan kekuatiran dan problem kehidupan kepada Yesus Kristus:

Serahkanlah hidupmu kepada TUHAN dan percayalah kepada-Nya, dan Ia akan bertindak (Mazmur 37:5)

Serahkanlah kuatirmu kepada TUHAN, maka Ia akan memelihara engkau! Tidak untuk selama-lamanya dibiarkan-Nya orang benar itu goyah (Mazmur 55:23)

Serahkanlah perbuatanmu kepada TUHAN, maka terlaksanalah segala rencanamu (Amsal 16:3)

Serahkanlah segala kekuatiranmu kepada-Nya, sebab Ia yang memelihara kamu (1 Petrus 5:7)

Kepasrahan berarti menempatkan dan menyerahkan hak pembalasan kepada Tuhan saja. Seperti yang dialami dan ditegaskan Rasul Paulus bahwa: “Janganlah membalas kejahatan dengan kejahatan; lakukanlah apa yang baik bagi semua orang! Sedapat-dapatnya, kalau hal itu bergantung padamu, hiduplah dalam perdamaian dengan semua orang! Saudara-saudaraku yang kekasih, janganlah kamu sendiri menuntut pembalasan, tetapi berilah tempat kepada murka Allah, sebab ada tertulis: Pembalasan itu adalah hak-Ku. Akulah yang akan menuntut pembalasan, firman Tuhan (Roma 12:17-19).

Yang terakhir, hidup bagi Tuhan berarti berdoa. Yesus menegaskan demikian: “Mintalah, maka akan diberikan kepadamu; carilah, maka kamu akan mendapat; ketoklah, maka pintu akan dibukakan bagimu. Karena setiap orang yang meminta, menerima dan setiap orang yang mencari, mendapat dan setiap orang yang mengetok, baginya pintu dibukakan. Berdoa berarti kita membutuhkan pertolongan Tuhan dan berkat Tuhan. Ia dengan penuh kasih mendengar doa-doa yang disampaikan kepada-Nya. Berdoa adalah pekerjaan yang paling ringan sekaligus paling berat. Ringan, karena setiap waktu seseorang dapat berdoa kepada Tuhan. Berat, karena manusia yang merasa hebat dan memiliki segala sesuatu merasa berat untuk mengakui dan berdoa kepada Tuhan. Ia mengakui bahwa apa yang didapatkan adalah usahanya, dan tidak ada urusan dengan Tuhan apalagi berkat Tuhan.

Namun, sebagai prinsip hidup bagi Tuhan, berdoa adalah bagian yang kohesif dengan beriman dan pasrah. Berdoa melatih kita berkomunikasi dengan Tuhan. berdoa tak membutuhkan biaya; doa melintasi ruang dan waktu; tak ada hambatan sedikitpun karena di mana pun, kita dapat berdoa. Hiduplah bagi Tuhan dan tunjukkan iman dan sikap pasrah kepada Tuhan dengan cara berdoa: berdoa bagi orang lain, berdoa bagi mereka yang melakukan penginjilan, berdoa bagi musuh-musuh yang menghina Yesus, ajaran Kristen, Kitab Suci, dan orang Kristen. Tuhan itu berdaulat atas kehidupan, dan jika Ia berkenan, doa kita pasti dijawab. Meski kita dibenci, tidak perlu membalas kebencian. Cukup dengan doa dan memohon agar Tuhan memberkati orang yang membenci kita. Itu saja. Tidak lebih dari itu. Tuhan tentu punya rencana yang akan diwujudkan dalam kehidupan kita maupun dalam kehidupan para pembenci kita.

Sumber gambar: Unsplash

KRISTOLOGI DORAEMON

Stenly R. Paparang

Ada tiga fundamen iman Kristen tentang personalitas Logos yang menjadi daging [sarks] dalam terang Kristologi, yakni: Kristologi Biblika, Kristologi Definisi, dan Kristologi Solidisme. Tiga fundamen ini secara biblikal—teologis—historis, adalah warisan iman yang begitu kuat dan tetap berdiri, tampil keren di antara semak-semak belukar kesesatan (doctrinal, biblical, logical, dan historical).

Dalam memahami Kristologi, tak jarang riak-riak lelucon, kebodohan, kesesatan, muncul untuk mencari “panggung”nya sendiri, memperlihatkan akrobat yang dapat menyita perhatian kita. Bahkan ketika ada yang mengaku sebagai “Kristolog”, sebenarnya ia hanyalah memerankan “Doraemon”. Apa yang dihasilkannya pasti “suka-sukanya”, tak memenuhi kriteria hermeneutik bibikal.

Kita melihat bahwa riak-riak bidat Kristologi telah muncul di abad-abad awal perkembangan kekristenan. Secara historis, riak-riak tersebut mendapat panggung karena dicatat dalam buku-buku sejarah Gereja. Sebut saja Kaum Ebionit. Kemudian disusul dengan bidat-bidat lainnya, yang juga diadopsi, diracik kembali, diolah kembali oleh para pengusung Kristologi Doraemon di zaman ini.

Menariknya, tiga fundamen Kristologi yang seiring-sejalan dengan kekuatan pekabaran Injil dan menghasilkan ekspansi pertumbuhan Gereja di seluruh dunia, secara simultan memunculkan reaksi terhadapnya sehingga berbagai jenis kesesatan Kristologi mencuri perhatian. Alhasil, perdebatan Kristologi menjadi “panggung utama” dalam dua posisi: bagi Kristologi Biblika, tetap mempertahankan rumusan biblikanya, sedangkan Kristologi Sesat merumuskan sesuatu yang menyimpang dengan olahan bumbu-bumbu logika sesuka hati mereka.

Bahkan hingga sekarang ini, para peramu Kristologi Sesat mengubah bentuknya menjadi Kristologi Doraemon: Rumusan Kristologi sesat memang sangatlah variatif. Teks-teks rujukan mereka selalu menampilkan pola hermeneutik “doraemon”—dengan perkataan lain: “suka-suka gue”.

Tipe Kristologi Doraemon telah menjamur di mana-mana. Tipe ini memang eksis dan diadopsi oleh orang-orang Kristen yang tidak matang dalam hal logika, atau cacat bernalar untuk memahami konteks doctrinal, biblical, logical, dan historical. Di samping itu, tipe ini selalu menampilkan berbagai kebodohan dan inkonsistensi yang secara demarkatif salah, sehingga tidak dapat mengakomodasi Kristologi secara komprehensif dan jukstaposisi.

Kristologi Doraemon adalah jenis pemikiran yang salah dan menyesatkan, baik dalam kategori tiga fundamen Kristologi (Biblikal, Definisi, dan Solidisme), maupun dalam kategori doctrinal, logical, dan historical. Jika kita mengadaptasi lirik lagu “Doraemon”, maka akan jadi begini rumusan tipe penganut Kristologi Doraemon:

Aku ingin begini, aku ingin begitu

Ingin ini, ingin itu, banyak sekali

Semua, semua, semua, dapat dikabulkan

Dapat dikabulkan dengan “otak yang bodoh”                                         

Aku ingin terbangkan kesesatan di angkasa

Hey, “kumur-kumur ayat”

La, la, la, aku sayang sekali: “kebodohan”

Kristologi Doraemon diusung oleh mereka yang memang bernafsu paralogisme untuk mengabulkan semua rumusan teologis (non biblical) Kristologi dengan otak [cara berpikir] yang bodoh. Kita dapat menilai sendiri mana tipe Kristologi Doraemon yang diusung oleh para penyesat, para penyombong kebodohan, dan para pemalsu kebenaran.

Kebodohan itu sendiri secara klasifikasi terbagi atas tiga: kebodohan secara logika (cara bernalar memahami pengetahuan tertentu), kebodohan secara moralitas (perilaku keseharian), dan kebodohan secara spiritual (tindakan beragama yang salah menggunakan teks-teks kitab suci). Kaum penganut Kristologi Doraemon mengusung kebodohan jenis pertama dan ketiga.

Dan akhirnya, saya menyebut lima prinsip penganut Kristologi Doraemon.

PERTAMA, mereka dengan sesuka hati menafsirkan teks-teks Kitab Suci tanpa melihat dua aspek mendasar dari hermeneutic: konteks dan korelasi (satu teks yang memiliki korelasi dengan teks yang lain).

KEDUA, seperti adaptasi lirik lagu Doraemon yang saya tuliskan di atas, mereka ingin apa saja bisa, hanya dengan modal “otak yang bodoh”, bodoh dalam hal logika dan bodoh dalam hal spiritual.

KETIGA, mereka menciptakan rumusan Kristologi yang parsial dan fragmentaris, dan bukan rumusan Kristologi yang demarkatif (konteks-konteks), komprehensif, dan jukstaposisi.

KEEMPAT, mereka pada akhirnya memiliki rumusan Kristologi yang menumbuhkan semak-semak belukar kesesatan (doctrinal, biblical, logical, dan historical).

KELIMA, mereka ingin menerbangkan kesesatan di angkasa (kepada publik) dengan modal ‘kumur-kumur ayat’. Artinya, ayat-ayat yang digunakan tidak memenuhi konteks hermeneutik yang dapat dipertanggungjawabkan secara korelasional, historis, dan doktrinal.

Apa yang dapat kita tarik dari fenomena penganut Kristologi Doraemon? Kita didorong untuk memahami secara demarkatif, komprehensif, dan juktaposisi perihal Kristologi Biblikal, Definisi, dan Solidisme.

Kita diajak untuk memahami secara benar apa yang dinyatakan kepada kita dalam Kitab Suci, dan kita disadarkan bahwa ternyata perlawanan kita terhadap ajaran-ajaran sesat tidak akan pernah berhenti, tetapi justru—fakta itu—memberikan kepada kita sebuah pengharapan bahwa “ajaran-ajaran yang benar tentang Yesus, selalu memiliki tandingan sebagaimana tampak dalam sejarah Kekristenan.

Akan tetapi, fakta itu membuat kita untuk tetap berjuang ‘mempertahankan iman kepada Yesus Kristus’, dan ‘mempertaruhkan segala sesuatu bagi Dia’—dan dengan demikian kita menunjukkan kesetiaan yang kuat kepada-Nya.

Sejatinya, kesetiaan kepada Yesus Kristus hanya dapat dibuktikan melalui dua hal: apa yang kita pertahankan dan apa yang kita pertaruhkan. Tetaplah setia pada kebenaran, dan jangan menjualnya. Milikilah cara memahami Kristologi secara Biblika, Definisi, dan Solidisme.

Salam Bae

Sumber gambar: https://dyp.im/mentahan-gambar-doraemon-png/

Rancang situs seperti ini dengan WordPress.com
Mulai