PARA PENDETA BERMULUT SAMPAH: Fiksi tentang Impotensi Krestologia dan Potensi Menghakimi

Sumber Gambar: Pinterest (https://id.pinterest.com/pin/531776668506909988/)

Artikel ini menjelaskan dan mengkaji secara fiksi tentang karakterisasi para pendeta yang bermulut sampah. “Sampah” adalah sebuah ucapan kotor, ujaran menghina, dan memfitnah, dalam kategori ‘menghakimi’ sesamanya sebagai bagian yang inheren dengan sifat dan sikapnya (karakter) yang tampak dalam kesehariannya. Ucapan kotor, ujaran menghina, dan memfitnah dipandang sebagai inpotensi krestologia – menandakan bahwa para pendeta fiksi tidaklah kompatibel dengan iman dan prinsip-prinsip Kitab Suci. Akibatnya, mereka yang bangga dan mengagungkan para pendeta semacam ini terkurung dalam dualisme dosa: bangga dengan para pendeta bermulut sampah (bangga tidak pada tempatnya) dan percaya dengan sampah yang dikeluarkan dari mulut mereka yaitu ucapan kotor, menghina, dan memfitnah (diyakini sebagai kebenaran tanpa klarifikasi), sebagai sebagian dari “iman” fiksi.

PENDAHULUAN

Kekristenan adalah sikap hidup yang mencerminkan sifat-sifat Tuhan. Atau dengan perkataan lain, orang Kristen ‘mengkomunikasikan’ sifat-sifat Allah melalui kata, pikiran, dan perbuatan. Secara mendasar, gagasan-gagasan tentang moralitas dan keseimbangan antara iman dan perbuatan merupakan identitas Kitab Suci yang mendorong setiap orang percaya untuk memancarkan cinta kasih melalui moralitas, iman, dan perbuatan. Ketiganya menyatu dalam sebuah ‘kisah kehidupan’ seorang Kristen, tak terkecuali para pendeta fiksi.

Karakterisasi orang Kristen, termasuk para pendeta fiksi, ternilai melalui totalitas kehidupannya. Dari sini kita dapat berangkat dan menyimpulkan bahwa implikasi logisnya adalah ‘perbuatan’. Perbuatan ini jelas dan sangat terang terlihat dalam ‘ucapan-ucapan’ dan ‘tingkah-laku’ (“dicta” dan “gesta”). Apa yang diharapkan dari “dicta” dan “gesta”? Tentu ada! Gagasan ini sebenarnya merupakan penjabaran dari prinsip-prinsip Kitab Suci; salah satunya adalah: “iman tanpa perbuatan adalah mati”. Ketika para pendeta gagal dalam menerapkan kata-kata yang ‘menyegarkan’, yang ‘menegaskan’, tanpa mengecilkan tindakan ‘menghardik para pendosa dan pencemooh’—maka mereka menceburkan diri mereka ke dalam kubangan dosa dan bermuara [menghasilkan] “Impotensi Krestologia” dan “kemampuan menghakimi”.

Ketika potensi menghakimi perlahan-lahan menaiki tangganya, maka para pendeta fiksi menjadi brutal dan haus akan uang. Tak jarang, jabatan apa pun diraupnya asalkan menghasilkan uang banyak—atau paling ada ‘cukup’ uang untuk menyambung hidup. Taruhannya adalah integritas. Menjual integritas adalah mereka yang gagal melihat ‘kuasa’ Tuhan yang dahsyat itu. Pada faktanya, para pendeta fiksi yang tidak beres akan berani berganti gereja atau rela mengganti gerejanya untuk mengikuti kemana arus uang itu mengalir deras. Sikap membaca situasi sangat diperlukan di sini oleh para pendeta fiksi ini. Tak jarang, di antara mereka ada yang terkapar mati, penuh aib dan malu, penuh warisan dendam kesumat dan kebencian yang tak terbendung.

KARAKTERISASI PARA PENDETA FIKSI YANG BERMULUT SAMPAH

Berbicara mengenai karakterisasi (pelukisan watak) seseorang, asesmen yang dihasilkan adalah melalui pengamatan yang cerdas dari serangkaian temuan-temuan faktual berdasarkan dua hal: ucapan dan perbuatan. Dua hal ini adalah lazim digunakan dalam berbagai bidang.

Karakterisasi para pendeta fiksi bermulut sampah mengumandakan cara-cara hipokrit dan syahwat Iblis. Tampak bahwa apa yang mereka utarakan di mimbar gereja, tidak berbanding lurus dengan apa yang mereka lakukan di luar gereja. Ketidakseimbangan antara “olahan masakan di mimbar gereja” dengan “olahan masakan di mimbar jalanan” mencuatkan sejumlah opini dan asesmen yang kental dengan hardikan, justru menguatkan fakta bahwa para pendeta fiksi yang bermulut sampah perlu dihardik—syukur jika ia bertobat—dan menerapkan prinsip—setelah menghardik—mengampuni dan mendoakannya.

Ketika mereka tidak mau berubah (para pendeta fiksi), tugas kita selesai—urusan mereka, apalagi berstatus pendeta fiksi—untuk mengubah pola pikir, pola perkataan, dan pola perbuatan. Dari karakterisasi mereka, tampak sudah sebuah ‘kenyataan hidup’ bahwa mereka bukanlah pelayan yang setia, melainkan “hamba uang”. Uang dapat mempengaruhi seseorang dalam kondisi-kondisi tertentu, kepepet, dan kekurangan. Kompromi terhadap dosa menjadikan statusnya sebagai pelayan Tuhan menjadi tercemar, dan kehidupan mereka penuh dengan “sampah hati dan pikiran.”

“Sampah hati dan pikiran” tertuang dalam ucapan-ucapan kotor, ujaran menghina, memfitnah, dan ‘menghakimi’ sesamanya karena alasan kebencian, iri hati, dengki, dan dendam. “Sampah hati dan pikiran” adalah bagian yang inheren dengan sifat dan sikapnya (karakter) yang tampak dalam kesehariannya: tidak selarasnya antara perkataan dan perbuatan, apalagi perkataan dan perbuatannya tidak sesuai dengan prinsip Kitab Suci.

Ucapan kotor, menghina, dan memfitnah dipandang sebagai inpotensi krestologia – menandakan bahwa para pendeta tidaklah kompatibel dengan iman dan prinsip-prinsip Kitab Suci. Seperti yang Yesus katakan tentang nabi-nabi palsu yang menjual dagangannya dengan menyamar seperti domba, tetapi sesungguhnya mereka adalah serigala yang buas:

“Dari buahnyalah kamu akan mengenal mereka. Dapatkah orang memetik buah anggur dari semak duri atau buah ara dari rumput duri? Demikianlah setiap pohon yang baik menghasilkan buah yang baik, sedang pohon yang tidak baik menghasilkan buah yang tidak baik. Tidak mungkin pohon yang baik itu menghasilkan buah yang tidak baik, ataupun pohon yang tidak baik itu menghasilkan buah yang baik. Dan setiap pohon yang tidak menghasilkan buah yang baik, pasti ditebang dan dibuang ke dalam api” (Mat. 7:16-19).

“Buah” adalah hasil dari semua totalitas proses kehidupan manusia, tak terkecuali para pendeta fiksi bermulut sampah. Penegasan ini berangkat dari fiksi yang mencuat ke permukaan waktu dan tempat, di mana para pengamat fiksi senior dan junior menggabungkan pengamatannya sebagai pengamatan yang menempuh jalur penelitian kualitatif dengan strategi “ephocé”.

PARA PENDETA FIKSI BERMULUT SAMPAH DAN PENGIKUTNYA

Para pengikut yang digembalakan oleh para pendeta fiksi ini, merasa bangga dan mengagungkannya. Bentuk-bentuk pengagungkan semuanya ‘berbayar’ dalam kandang ideologi konspirasi. Kandang ideologi konspirasi ini dibuat dengan mengeluarkan biaya yang sangat besar. Konstruksi bangunannya dibuat dari seng plat tembus pandang dan dipagari dengan pohon pengetahuan tentang fitnah dan hipokrit.

Pohon pengetahuan tentang fitnah dan hipokrit bertumbuh subur karena disiram bukan dengan air tetapi dengan ‘uang’. Pengikut-pengikutnya diberikan asupan gizi yang dianggap terlezat dan terbaik, entah beras merah, roti bakar, nasi bungkus (berkaret dua), ban motor, jabatan, pakaian, celana, dan sebagainya. Mereka sangat bangga dengan hadiah-hadiah yang diberikan. Mereka siap mendukung kapan pun dan di mana pun. Alih-alih ingin membela kehormatan, malahan menunjukkan kebodohan dan kedunguan dalam konteks pemikiran dan perbuatan.

Para pendeta fiksi semacam ini (bermulut sampah) terkurung dalam dualisme dosa yaitu di satu sisi bangga dengan karakternya (bermulut sampah) tanpa harus mengubahnya dan merasa benar serta Tuhan berpihak kepada mereka, dan percaya dengan “sampah” yang dikeluarkan dari mulutnya yaitu ucapan kotor, menghina, dan memfitnah adalah sebagian dari “iman” fiksi. Tak ada kata-kata yang dapat diungkapkan mengenai “iman” mereka yang luar biasa jeleknya. Para pengikutnya tentu lebih jelek dan buruk karena mengais “iman” dari para pendeta fiksi.

Impotensi krestologia dan potensi menghakimi yang dilakukan oleh para pendeta fiksi bermulut sampah adalah fakta dan implikasi logisnya. Tak ada yang patut “diteladani” dari mereka kecuali “ditelanjangi” kebodohan mereka yang membabi buta. Aneh tapi nyata; nyata tapi aneh.

PENUTUP

Pertama, secara fiksi, para pendeta fiksi bermulut sampah “ada di antara kita”, dan tak memandang denominasi.

Kedua, karakterisasi para pendeta fiksi yang bermulut sampah adalah menunjukkan bahwa kehidupannya tidaklah menjadi berkat; iman mereka ditutupi dengan uang dan kekuasaan; sampah yang dikeluarkan adalah ucapan kotor, ujaran menghina, dan memfitnah.

Ketiga, Kekristenan adalah sikap hidup yang mencerminkan sifat-sifat Tuhan yang justru bertolak belakang dengan sikap hidup para pendeta fiksi bermulut sampah.

Keempat, gagasan-gagasan tentang moralitas dan keseimbangan antara iman dan perbuatan merupakan identitas Kitab Suci yang mendorong setiap orang percaya untuk memancarkan cinta kasih melalui moralitas, iman, dan perbuatan. Ketiganya menyatu dalam sebuah ‘kisah kehidupan’ seorang Kristen, tak terkecuali para pendeta fiksi.

Kelima, “dicta” dan “gesta” adalah bukti faktual dari setiap orang. Ketika muncul ketidakselarasan antara “dicta” dan “gesta” berdasarkan prinsip-prinsip Kitab Suci, maka hasilnya adalah “sampah”.

Keenam, mereka yang menceburkan diri mereka ke dalam kubangan dosa menghasilkan “Impotensi Krestologia” dan “kemampuan menghakimi”. Ketika potensi menghakimi perlahan-lahan menaiki tangganya, maka para pendeta fiksi menjadi brutal dan haus akan uang.

Ketujuh, karakterisasi para pendeta fiksi bermulut sampah mengumandakan cara-cara hipokrit dan syahwat Iblis. etidakseimbangan antara “olahan masakan di mimbar gereja” dengan “olahan masakan di mimbar jalanan” mencuatkan sejumlah opini dan asesmen yang kental dengan hardikan bagi para pendeta fiksi bermulut sampah.

Kedelapan, kompromi terhadap dosa menjadikan seseorang sebagai pelayan Tuhan menjadi tercemar; para pendeta fiksi tak terkecuali di mana kehidupan mereka penuh dengan “sampah hati dan pikiran.”

Kesembilan, “Buah” adalah hasil dari semua totalitas proses kehidupan manusia, tak terkecuali para pendeta fiksi bermulut sampah.

Kesepuluh, para pendeta fiksi bermulut sampah terkurung dalam dualisme dosa yaitu bangga dengan karakternya (bermulut sampah) dan percaya bahwa dengan “sampah” yang dikeluarkan dari mulutnya adalah sebagian dari “iman”.

Kesebelas, impotensi krestologia dan potensi menghakimi yang dilakukan oleh para pendeta fiksi bermulut sampah adalah fakta dan implikasi logisnya. Tak ada yang patut “diteladani” dari mereka.

Keduabelas, potensi menghakimi membawa para pendeta fiksi bermulut sampah kepada level hidup yang tidak menghasilkan damai sejahtera. Kehidupan mereka akan dipenuhi dengan berbagai kesombongan dan rasa membenarkan diri (merasa benar sendiri) dan tidak berusaha menolong dan membina jemaat yang dipimpinnya.

BUTIR-BUTIR PERMENUNGAN:

Di manakah posisi kita: apakah sebagai pelaku kebenaran yang sesuai dengan prinsip Alkitab atau pelaku publikasi sampah-sampah hati dan pikiran?

Bagaimana sebenarnya membentuk karakter kita?

Siapa yang perlu kita teladani?

Shalom. Tuhan Yesus memberkati kita semua

Glosari Utama: “Chrestologia”

Chrestologia (χρηστολογία, khrestologia) dalam bahasa Inggris disebut “friendly speech yang berarti kemampuan berbicara ramah, atau cara berbicara [yang] ramah. Impotensi Chrestologia menunjukkan bahwa seseorang sangat tidak mampu untuk berbicara ramah karena perbendaharaan hati dan pikirannya dipenuhi dengan berbagai gagasan kotor, terkontaminasi dengan uang, harta, dan jabatan.

Dalam TDNT Greek Dictionary, kata chrēstos [χρηστός] memiliki varian yang lain yakni: χρηστότης [chrestótēs] yang berarti goodness, kindness; χρηστεύομαι [chresteuomai] yang berarti to be kind, loving; dan χρηστολογία, [chrestólogia] yang berarti friendly speech. Kata χρηστός [chrēstós] berarti good, kind.

Dalam Thayer Greek Lexicon disebutkan: χρηστός, χρηστη, χρηστόν (χράομαι):

1. properly, fit for use, useful; virtuous, good:  ἤθη χρηστά, 1 Cor. 15:33 ((Treg.  χρηστά (but cf. Buttmann, 11)), see ἦθος, 2).

2. manageable, i. e. mild, pleasant (opposed to harsh, hard, sharp, bitter):  of things, χρηστότερός οἶνος, pleasanter, Luke 5:39 (here T Tr text χρηστός; so WH in brackets) (of wine also in Plutarch, mor., p. 240 d. (i. e. Lacaen. apophtheg.  (Gorgias 2); p. 1073 a. (i. e. de com. notit. 28)); of food and drink, Plato, de rep. 4, p. 438 a.; σῦκα, the Septuagint Jer. 24:3, 5); ὁ ζυγός (opposed to burdensome), Matt. 11:30 (A. V. easy); of persons, kind, benevolent:  of God, 1 Pet. 2:3 (A. V. gracious) from Ps. 33:9 (Ps. 34:9); τό χρηστόν τοῦ Θεοῦ equivalent to ἡ χρηστότης (Winer’s Grammar, sec. 34, 2), Rom. 2:4; of men, εἰς τινα toward one, Eph. 4:32; ἐπί τινα, Luke 6:35 (here of God; in both passages, A. V. kind).*

Dalam The LXX and Judaism disebutkan bahwa:

a. The LXX uses chrēstós for various Hebrew terms in the senses “excellent,” “genuine,” or “costly.”

b. With reference to people it means “good,” “serviceable,” “kind,” “benevolent.” Philo. Philo uses chrēstós in the senses “serviceable,” “helpful,” and “good.” He relates it to the goodness of God that the righteous seek to follow. Rulers are “gracious,” and “friendly” or “kind” is implied when God is called chrēstós. Josephus. In Josephus the term means “morally good” but also has the nuances “kind,” “gentle,” “benevolent,” “considerate,” and “well disposed.”

Salam Bae…

SAATNYA TUHAN YANG PEGANG MIKROFON: Ketika Manusia Kebanyakan Bicara dan Menghakimi Sesamanya

Dunia adalah agama—dalam pemahaman beberapa orang, termasuk atheis—adalah dunia kekerasan dan kesombongan di mana manusia yang beragama saling membunuh dan mengacaukan tatanan kemasyarakatan dan negara. Mengapa mereka membunuh dan mengacaukan? Tentu ada alasannya. Seringkali kita melihat kekerasan atas nama agama, memakai teks-teks kitab suci begitu ramai di dunia politik dan agama. Orang akan dengan semangat dan bahagia (terpuaskan) ketika penganut agama lain dibantai, dibunuh, dan dikalahkan, semisal gerakan terorisme dunia, ISIS.

Alasan utama melakukan kekerasan dan pembunuhan atas nama agama adalah penafsiran atas teks-teks lampau yang bernada provokatif. Akan tetapi, teks-teks tersebut tidak terlepas dari konteksnya. Meski sering diabaikan, ISIS menggunakan teks-teks kitab suci mereka sebagai “pembenaran diri” untuk menegakkan ajaran agamanya. Persoalannya, yang tertarik kepada gerakan ISIS adalah mereka yang memiliki roh yang sama dengan mereka: ingin membunuh orang kafir di manapun dijumpai.

Kesalahan menafsir teks-teks kitab suci mereka membawa mereka kepada dunia yang kacau dan penuh kekerasan. Ketika mereka mengusahakan kekuasaan dan ingin berkuasa dengan cara–cara sadis, apalagi menghalalkan tindakan mereka dengan dukungan teks-teks kitab suci mereka, maka tidak ada “damai” yang dapat ditawarkan. Bagaimana mau menawarkan damai, sedangkan cara mereka sudah terlihat secara sadis memperlakukan agama lain. Ini kontradiksi faktual. Meski publikasi yang digembar-gemborkan sangatlah tekstual, tetapi sayangnya, mereka terjebak dalam sakit mental “paralogisme”—mereka tersesat dan tidak tahu bahwa mereka tersesat.

Di samping itu, kaum beragama berada dalam dua posisi—di satu sisi menolak dan mengutuk gerakan ISIS, dan di sisi lain berpura-pura menolak tetapi sebenarnya menyetujuinya. Akhirnya, agama menjadi ocehan kaum agnostik dan atheisme dan menghasilkan sejumlah kritik. Memang begitulah dunia agama. Para pemuka agama mana pun memang tidak dapat menjamin bahwa semua penganutnya beres; selalu ada yang baik dan ada pula yang jahat. Hanya, substansinya diletakkan pada ajaran agama itu sendiri. Mereka yang paham soal hayati humanitas tidak lagi mengulang sejarah untuk membenarkan tindakan masa kini. Masa lampau memang penuh peperangan. Maklum, mereka berebut kekuasaan dan wilayah, mereka berjuang dengan atas nama “Pribadi” yang mereka percayai. Namun, di zaman sekarang ini konteksnya menjadi lain.

PERSOALAN HAYATI

Kehidupan yang keras dapat saja mempengaruhi seseorang atau sekelompok orang untuk melakukan kekerasan atas nama agama. Persoalan hayati adalah sangat vital. Untuk bertahan hidup maka seseorang harus bekerja. Sekelas ISIS saja jika tidak punya bahan makanan pasti mereka semua mati kelaparan. Mereka butuh uang, mereka butuh logistik, mereka butuh segala sesuatu yang memperkuat gerakan mereka dan mengisi perut mereka.

Setiap orang, baik beragama maupun tidak beragama, sama-sama berjuang untuk bertahan hidup. Kadang, untuk mencari makan, seorang pemuka agama harus mengoceh, tak jarang merendahkan dan menghina, serta mengutuk agama lain, mengatakan bahwa agama lain itu kafir karena tidak sesuai dengan ajaran mereka; padahal, prinsip yang sama juga berlaku bagi setiap agama yang dapat mengatakan bahwa agama di luar dirinya adalah kafir dan masuk neraka.

Agama sibuk mempertontonkan surga dan neraka seolah-olah mereka pernah ke sana dan dapat tiket lebih untuk dijual dan didagangkan kepada orang lain. Orang mati pun dipolitisasi soal surga dan neraka. Bukankah hidup beragama semakin kacau mengkuatirkan? Manusia terlalu banyak bicara sampai Tuhan yang bicara mikenya (pengeras suara) dirampas dan diambil alih. Kaum bergama kebanyakan bicara yang bukan substansial malahan sibuk mencaci maki, menghina dengan sangat keterlaluan dan merasa bahagia dalam kebodohannya (ignorance is bliss).

PERSOALAN HUMANITAS

Kemanusiaan di mata teroris bukanlah sesuatu hal yang bernilai. Bagi mereka, pokoknya manusia yang tidak sepaham dengan mereka harus dibunuh. Kekacauan dalam beragama menghalalkan kekerasan dan pembunuhan. Mereka merasa bebas melakukan aksinya. Lalu Tuhan di mana? Mengapa Tuhan serasa diam saja? Apakah Tuhan tidak bisa turun tangan? Sabar saja. Tuhan itu Maha Melihat. Melihat apa? Ia melihat semua kejahatan manusia. Lalu mengapa kejahatan semakin banyak dan merajalela? Sabar saja. Semakin banyak kejahatan yang dibuat manusia, maka semakin banyak hukumun yang akan menimpanya. Ini hanya soal “tabur-tuai”. Sabar saja. Mereka yang merasa diri berbuat bagi Tuhan, biarkanlah puas dengan perasaan mereka. Toh pada akhirnya mereka juga mati.

Mungkin kita harus melihat bagaimana seandainya Tuhan memegang mike (pengeras suara). Kita lihat Ia berbicara. Berbicara apa? Berbicara tentang hukuman yang akan ditimpakan kepada pelaku kejahatan dan pengasihan kepada mereka yang berbuat baik dan mengasihi sesamanya. Pondasi hidup manusia memang sering digantungkan pada konteks ajaran agama. Mereka bergerak dan hidup di dalam ajaran agama meski ada pula yang tersesat dan keluar jalur.

BERBICARA: POTENSI KEBAIKAN DAN POTENSI KEJAHATAN

Dalam berbicara, agama (penganutnya) sering menawarkan keunggulannya dan merendahkan agama lainnya. Ukuran yang mereka gunakan adalah otoritas kitab suci, padahal semua agama mengakui bahwa kitab suci mereka bertorotas. Lalu bagaimana kita menilannya? Yang perlu kita nilai adalah “perilaku (moralitas)” dan “spiritualitas” (kerohanian). Dua ukuran ini berlaku bagi semua agama dengan didasari pada kitab suci mereka yang mengatur tatanan moral dan spiritual.

Potensi kebaikan menjadi landasan utama mereka yang menamakan dirinya “beriman”. Jika iman itu direalisasikan dengan cara membunuh dan merendahkan orang lain, maka mereka yang beriman itu harus lebih baik dan lebih suci, lebih kudus dari mereka yang direndahkannya. Pada faktanya, kaum beragama suka bicara “firman Tuhan” tetapi memungkiri potensi kebaikan agama lain. Padahal, kebaikan itu bersifat universal. Tidak ada perbuatan baik yang berbeda; perbuatan baik itu sama di mata Tuhan. Lalu bagaimana dengan mereka yang tidak beragama? Apakah perbuatan baik mereka dipandang baik di mata Tuhan? Saya rasa itu benar. Bukankah kaum beragama lebih jahat dari pada mereka yang tidak beragama? Biarkanlah Tuhan yang berurusan dan menilai mereka yang tidak beragama tetapi masih terus berbuat baik. Itu urusan Tuhan sebab kita semua bertanggung jawab kepada-Nya.

MANUSIA: BANYAK BICARA DAN MENGHAKIMI SESAMANYA

Dalam kondisi politik di Indonesia, banyak orang yang suka bicara, menghakimi sesama dan menggunakan agama sebagai pembenaran dan perlindungan diri. Mereka merasa nyaman karena ada yang mendukung. Tak jarang, yang bicara dengan yang mendukung sama-sama “paralogisme” dan merasa bahwa “ignorance is bliss”. Mereka begitu bersemangat mempublikasikan kebodohannya. Sayangnya, agama dipasung dan diperkosa untuk memuaskan nafsu birahi politik, kekuasaan, dan popularitas.

Lalu apa yang dapat kita pahami dari peristiwa tersebut? Kita sabar saja. Tunggu Tuhan yang bicara. Suatu saat Ia akan pegang mike (pengeras suara) dan berbicara dari langit-Nya. Sekarang, marilah siapkan waktu kita, untuk mendengar Tuhan berbicara melalui pengeras suara. Sabar, kabel mike-nya masih dalam perjalanan. Sebentar lagi tiba di lokasi pertemuan.

TUHAN: SEKARANG AKU YANG PEGANG “MIKE”

Hai manusia, belum cukupkah waktu yang Aku berikan kepada kalian untuk menyadari kesalahan, kebodohan, kesombongan, dan kejahatan kalian? Belum cukupkah kesabaran-Ku menanti kalian datang kepada-Ku? Bukankah Aku akan memberikan pengampunan yang berlimpah kepada mereka yang datang mendekat, bertobat dan berbalik kepada-Ku? Bukankah Aku selalu sabar terhadap kamu dan menanti kalian datang berseru kepada-Ku?

Aku pernah memakai Nabi Yesaya untuk berkata:

“Carilah TUHAN selama Ia berkenan ditemui; berserulah kepada-Nya selama Ia dekat! Baiklah orang fasik meninggalkan jalannya, dan orang jahat meninggalkan rancangannya; baiklah ia kembali kepada TUHAN, maka Dia akan mengasihaninya, dan kepada Allah kita, sebab Ia memberi pengampunan dengan limpahnya. Sebab rancangan-Ku bukanlah rancanganmu, dan jalanmu bukanlah jalan-Ku, demikianlah firman TUHAN. Seperti tingginya langit dari bumi, demikianlah tingginya jalan-Ku dari jalanmu dan rancangan-Ku dari rancanganmu” (Yesaya 55:6-9).

Aku masih bisa ditemui ketika engkau mencari Aku; Aku masih sangat dekat dengan engkau dan menanti engkau berseru kepada-Ku; Aku menyarankan agar engkau meninggalkan kefasikanmu, kesombonganmu, kejahatanmu, kemunafikanmu, kenajisanmu, dan kembali kepada-Ku. Ketika engkau kembali kepada-Ku, Aku akan mengasihiku dan memberi pengampunan yang berlimpah.

Kurang apa Aku? Tidak cukupkah kasih dan kesabaran-Ku menanti engkau bertobat? Sekarang Aku memegang mike, dengarkanlah perkataan-Ku: “Bertobatlah dari kelakuanmu yang jahat, sombong, munafik, dan najis. Kembali kepada-Ku; Aku mengasihimu; Aku rindu menyatakan kasih dan pengampunan-Ku yang berlimpah. Aku ingin manusia menikmati betapa manisnya firman-Ku, betapa manisnya teguran-Ku. Kecaplah dan lihatlah, apakah Aku kurang baik terhadapmu?

Dan ketahuilah: “Aku menyertai engkau sampai kepada akhir zaman.” Mereka yang percaya kepada-Ku, akan setia berjuang dalam kebenaran dan sabar menanti Aku kembali. Ketika Aku kembali, Aku akan memberikan kepadamu “makhota kehidupan” dan “kehidupan yang kekal”.

Mengapa demikian? “Sebab Aku ini mengetahui rancangan-rancangan apa yang ada pada-Ku mengenai kamu, demikianlah firman TUHAN, yaitu rancangan damai sejahtera dan bukan rancangan kecelakaan, untuk memberikan kepadamu hari depan yang penuh harapan (Yeremia 29:11).

Bagaimana supaya kami bisa menemukan kebahagiaan dan masuk ke dalam Kerajaan-Nya? Tidak perlu takut, Yesus menawarkan jalan menuju ke sana: “Akulah jalan dan kebenaran dan hidup. Tidak ada seorangpun yang datang kepada Bapa, kalau tidak melalui Aku.” Ketika mengikut Yesus, apa yang harus kita lakukan? Ikutilah dan lakukanlah apa yang diajarkan Yesus:

“Berbahagialah orang yang miskin di hadapan Allah, karena merekalah yang empunya Kerajaan Sorga. Berbahagialah orang yang berdukacita, karena mereka akan dihibur. Berbahagialah orang yang lemah lembut, karena mereka akan memiliki bumi. Berbahagialah orang yang lapar dan haus akan kebenaran, karena mereka akan dipuaskan. Berbahagialah orang yang murah hatinya, karena mereka akan beroleh kemurahan. Berbahagialah orang yang suci hatinya, karena mereka akan melihat Allah. Berbahagialah orang yang membawa damai, karena mereka akan disebut anak-anak Allah. Berbahagialah orang yang dianiaya oleh sebab kebenaran, karena merekalah yang empunya Kerajaan Sorga. Berbahagialah kamu, jika karena Aku kamu dicela dan dianiaya dan kepadamu difitnahkan segala yang jahat. Bersukacita dan bergembiralah, karena upahmu besar di sorga, sebab demikian juga telah dianiaya nabi-nabi yang sebelum kamu.” (Matius 5:3-12)

“Kamu adalah garam dunia. Jika garam itu menjadi tawar, dengan apakah ia diasinkan? Tidak ada lagi gunanya selain dibuang dan diinjak orang. Kamu adalah terang dunia. Kota yang terletak di atas gunung tidak mungkin tersembunyi. Lagipula orang tidak menyalakan pelita lalu meletakkannya di bawah gantang, melainkan di atas kaki dian sehingga menerangi semua orang di dalam rumah itu. Demikianlah hendaknya terangmu bercahaya di depan orang, supaya mereka melihat perbuatanmu yang baik dan memuliakan Bapamu yang di sorga.” (Matius 5:13-16)

“Jika ya, hendaklah kamu katakan: ya, jika tidak, hendaklah kamu katakan: tidak. Apa yang lebih dari pada itu berasal dari si jahat.” (Matius 5:37)

“Kasihilah musuhmu dan berdoalah bagi mereka yang menganiaya kamu. Karena dengan demikianlah kamu menjadi anak-anak Bapamu yang di sorga, yang menerbitkan matahari bagi orang yang jahat dan orang yang baik dan menurunkan hujan bagi orang yang benar dan orang yang tidak benar. Apabila kamu mengasihi orang yang mengasihi kamu, apakah upahmu? Bukankah pemungut cukai juga berbuat demikian? Dan apabila kamu hanya memberi salam kepada saudara-saudaramu saja, apakah lebihnya dari pada perbuatan orang lain? Bukankah orang yang tidak mengenal Allahpun berbuat demikian? Karena itu haruslah kamu sempurna, sama seperti Bapamu yang di sorga adalah sempurna.” (Matius 5:44-48).

Yakinlah bahwa “keselamatan tidak ada di dalam siapapun juga selain di dalam Dia (Yesus), sebab di bawah kolong langit ini tidak ada nama lain yang diberikan kepada manusia yang olehnya kita dapat diselamatkan.” (Kisah Para Rasul 4:12). Keselamatan adalah pemberian Allah dan dengan kasih-Nya yang besar Ia menyelamatkan kita melalui Yesus Kristus: “Karena begitu besar kasih Allah akan dunia ini, sehingga Ia telah mengaruniakan Anak-Nya yang tunggal, supaya setiap orang yang percaya kepada-Nya tidak binasa, melainkan beroleh hidup yang kekal. Sebab Allah mengutus Anak-Nya ke dalam dunia bukan untuk menghakimi dunia, melainkan untuk menyelamatkannya oleh Dia. Barangsiapa percaya kepada-Nya, ia tidak akan dihukum; barangsiapa tidak percaya, ia telah berada di bawah hukuman, sebab ia tidak percaya dalam nama Anak Tunggal Allah.” (Yohanes 3:16-18).

Shalom

Sumber Gambar: https://id.pinterest.com/pin/663647695077308695/

TUHAN TIDAK KOMPROMI TERHADAP KEJAHATAN: Ulasan Singkat Atas Mazmur 5:1-13

Mazmur 5 adalah sebuah doa yang meliputi pergumulan yang berat, menghadapi kenyataan hidup bahwa orang-orang jahat secara eksis “membentuk respons Daud terhadap TUHAN dan respons terhadap orang-orang jahat tersebut.” Respons Daud diungkapkan dalam doanya di mana dia begitu merindukan campur tangan TUHAN ketika pengalaman hidupnya mengajari dia bahwa TUHAN tidak kompromi terhadap kejahatan dan Tuhan membenci kejahatan.

Salah satu kejahatan (dosa) yang disebutkan pemazmur adalah “kebohongan”: “Engkau membinasakan orang-orang yang berkata bohong” (ayat 7). Mengenai ini, saya teringat dengan pernyataan Rabi Yahudi, Joseph Teluskhin dalam bukunya Words that Hurt, Words that Heal (Kata-kata yang Melukai, Kata-kata yang Menyembuhkan) yang tulis tahun 1996. Teluskhin memberikan pernyataan yang cukup berani, dan mengagetkan saya. Ia menyatakan, “Ketika kehidupan seseorang terancam bahaya, Kitab Suci menggambarkan bahwa Tuhan tidak hanya memperbolehkan kebohongan, tetapi juga memerintahkan hal itu.” Untuk memperkuat argumentasinya, Teluskhin menyodorkan salah satu kisah sebagai representatif dalilnya yaitu dalam 1 Samuel 16:2: “Ketika Tuhan menyuruh Nabi Samuel mengurapi Daud sebagai raja untuk menggantikan Saul, Samuel menolak. ‘Bagaimana mungkin aku pergi? Jika Saul mendengarnya ia akan membunuh aku’. Tuhan tidak menjanjikan Samuel perlindungan atau mengatakan kepadanya untuk berbicara jujur dan memikul segala akibatnya. Malahan, Tuhan meminta sang nabi untuk mengatakan suatu “kebohongan” kepada Saul bahwa tujuan perjalanan bukanlah untuk mengurapi raja baru, tetapi untuk mempersembahkan kurban. Rupanya, Tuhan ingin mengajarkan Samuel bahwa seseorang tidak berutang kebenaran kepada seorang calon pembunuh.”

Lalu apa kaitannya dengan “Tuhan tidak kompromi terhadap kejahatan”, dengan pernyataan Teluskhin? Tentu ada: “Teluskhin menjadikan Tuhan “berkompromi” dengandosa kebohongan”. Apakah Teluskhin mengajukan sebuah tesis berdasarkan eksegesis, eisegesis, solipsisme, makna filosofis, atau theorem subjektif, saya tidak membahasnya di sini.

Saya kembali ke pembahasan Mazmur 5. Topik “Tuhan tidak kompromi terhadap kejahatan” adalah topik yang sedikit bebas karena membuka peluang bagi logika manusia untuk mempertanyakan identitas dan perbuatan Tuhan. Di satu sisi, Tuhan membenci kejahatan, dan di sisi lain, Tuhan memerintahkan umat-Nya untuk “membunuh” (dalam konteks tertentu), sehingga orang kemudian beranggapan bahwa “Tuhan kompromi dengan dosa”. Tetapi apakah pemahaman yang bebas itu menuduh Tuhan sebagai pencipta dosa dan kejahatan, perlu kita terima? Tentu tidak! Tuhan bukanlah pencipta dosa dan bukan pula kompromi terhadap kejahatan.

Esensi Mazmur 5

Pemazmur memohon kepada Tuhan; ia berkeluh kesah, berteriak minta tolong. Ia meyakini bahwa Tuhan akan mendengar doanya. Ia [pemazmur] kemudian melakukan sesuatu untuk menyenangkan Tuhan (ay. 4). Pemazmur mengungkapkan pengalaman hidupnya; ia mengamati seluk beluk kehidupan manusia termasuk mereka yang fasik dan jahat. Ia juga menyatakan keyakinannya bahwa Tuhan “tak mungkin” berpihak, berkompromi, dan bersahabat dengan para pelaku kejahatan (kontras dengan gagasan Teluskhin).

Untuk memahami secara mendalam klausa “Tuhan tidak kompromi terhadap kejahatan”, saya mencatat beberapa jenis kejahatan di Mazmur 5, yakni: kefasikan, kejahatan, pembualan, kebohongan, penumpahan darah [pembunuhan], penipuan, ketidakjujuran, kebusukan, bersilat lidah, dan pemberontakan.

Dari berbagai jenis dosa di atas, Tuhan sama sekali “tidak kompromi terhadap kejahatan” (kontra Rabi Teluskhin). Bagaimana mungkin Tuhan berkompromi dengan dosa kebohongan sedangkan Ia sendiri adalah Tuhan yang “membinasakan orang-orang yang berkata bohong?” Orang jahat, termasuk pembohong, dibenci Tuhan. Beberapa teks Kitab Suci, menegaskan bahwa orang-orang jahat, adalah mereka yang sejak lahir telah berdosa. Bahkan sejak dari kandungan pun mereka telah berdosa. Mazmur 58:4 menegaskan, “Sejak lahir orang-orang fasik telah menyimpang, sejak dari kandungan pendusta-pendusta telah sesat”, dan Mazmur 69:28-29 menjelaskan bagaimana seorang pemazmur memohon agar mereka yang bersalah ditambahkan salah mereka: “Tambahkanlah salah kepada salah mereka, dan janganlah sampai Engkau membenarkan mereka! Biarlah mereka dihapuskan dari kitab kehidupan, janganlah mereka tercatat bersama-sama dengan orang-orang yang benar!”

Selanjutnya, Mazmur 5 berbicara mengenai tiga hal: pertama, perbuatan orang benar; kedua, perbuatan (kedaulatan) Tuhan; dan ketiga, perbuatan orang fasik (jahat). Perbuatan orang benar mencakup: 1) orang benar selalu mengandalkan Tuhan yang diwujudkan dalam doa permohonan (ay. 2-4, 9); 2) orang benar adalah pribadi yang mempersembahkan sesuatu kepada Tuhan (ay. 4); 3) orang benar adalah pribadi yang mengamati tindak tanduk kejahatan orang-orang yang jauh dari Tuhan sebagai analogi kehidupan faktual (ay. 5-7, 10, 11); dan 4) orang benar adalah pribadi yang memiliki keyakinan (ay. 8, 12, 13).

Perbuatan Tuhan mencakup: 1) Tuhan sebagai Pribadi yang peduli (ay. 2-4); 2) Tuhan adalah Pribadi yang membenci dosa, kejahatan, kefasikan, dan pelanggaran (ay. 5, 6, 7); 3) Tuhan adalah Pribadi yang adil (ay. 9); dan 4) Tuhan adalah Pribadi yang berdaulat (ay. 12-13), dan perbuatan orang fasik mencakup: 1) pembuat kejahatan (ay. 5, 6); 2) suka berbual; 3) suka berkata bohong (ay. 7); 4) penumpah darah (ay. 7); 5) penipu (ay. 7); pelaku kebusukan (ay. 10); lidah licin (merayu-rayu, bercabang lidah, memperdaya) (ay. 10).

Dari ketiga perbuatan tersebut (perbuatan Tuhan, orang benar, dan orang fasik), terlihat jelas bahwa dalam prosesnya, kadang orang benar mengalami tekanan, bahkan ancaman. Tetapi pada hakikatnya, Tuhan tetap “berpihak” kepada mereka dan “menghukum” orang-orang fasik dan jahat. Kita mengetahui bahwa percaya kepada Tuhan, adalah dasar dari iman, dan iman itu terus bertumbuh dan berbuah.

Substansi klausaTuhan Tidak Kompromi terhadap Kejahatan”

Klausa tersebut mengandung makna sebagai berikut. Pertama, Tuhan bukanlah pribadi yang suka dengan kejahatan, bukan pelaku kejahatan. Tuhan tidak pernah menyetujui perbuatan dosa. Kedua, perintah Tuhan untuk menyingkirkan kejahatan selalu didahului dengan perbuatan kejahatan manusia itu sendiri. Artinya, hukuman Tuhan adalah konsekuensi logis dari perbuatan jahat manusia. Tuhan memiliki pra-pengetahuan yang tak dapat dipahami sepenuhnya oleh manusia, sehingga model tafsir ala Rabi Teluskhin yang menyatakan “Tuhan yang mengizinkan berbohong”, bukanlah referensi dasariah untuk memahami natur Tuhan, melainkan merupakan kegagalan memahami pra-pengetahuan Tuhan akan masa depan. Ketiga, sikap kompromistis dengan kejahatan secara substansial adalah pelaku kejahatan itu sendiri. Ketika Tuhan ditafsirkan sebagai pribadi yang setuju dengan tindakan berbohong, maka manusia menjadikan Tuhan sebagai pelaku kejahatan. Di sini, Tuhan diperhadapkan dengan dua hal yang kontradiksi. Keempat, substansi apologetis dari klausa di atas adalah “jangan memahami narasi Kitab Suci dengan sikap ‘a priori’ karena akan berdampak pada klaim-klaim menyimpang, yang dengannya menjadikan Tuhan ‘kompromi’ dengan sesuatu yang Ia sendiri benci” seperti yang dilakukan Rabi Teluskhin. Tuhan tidak mungkin di satu sisi menyukai kebohongan dan di sisi lain membenci kebohongan. Ketika hal itu dilekatkan pada diri Tuhan, sebenarnya “kitalah” yang setuju untuk berbohong dan bukan Tuhan. Ini disebut dengan frasa “koneksi solipsisme”—yaitu pertalian dengan pribadi lain berdasarkan pengetahuan pribadi yang dianggap benar (tanpa melihat komprehensif narasi biblikal itu sendiri). Yang dilakukan Teluskhin adalah bersifat “koneksi solipsisme”—menjadikan Tuhan sebagai wakil dari diri sendiri, padahal Tuhan sama sekali tidak mengizinkan untuk berbohong karena hal itu akan bertentangan dengan natur-Nya sendiri. Inilah yang dilakukan Teluskhin.

Klimaks Mazmur 5 Terkait Klausa Tuhan Tidak Kompromi terhadap Kejahatan”

Dalam pemahaman saya, ayat 12-13 adalah klimaks atau puncak dari identitas orang benar dan identitas Tuhan. Tiga kata yang akan mengakhiri ulasan ini adalah “berlindung”, “memberkati”, dan “memagari”.

Pertama, “Tetapi semua orang ang berlindung pada-Mu akan bersukacita”. Kata “berlindung” dapat diartikan sebagai “mempercayakan diri” (kepada pribadi di mana seseorang berlindung). Ketika seseorang berlindung kepada Tuhan, maka ia sedang “mempercayakan dirinya untuk dilindungi” oleh Tuhan. Selain itu, kata “berlindung” memaksudkan sebuah harapan dan pertolongan, serta kasih sayang. Ketika kita hendak berlindung kepada Tuhan, secara langsung kita mempercayakan diri kepada-Nya, mengharapkan bimbingan-Nya, pertolongan-Nya, dan kasih sayang-Nya. Implikasi yang kedua dari makna “berlindung” adalah bahwa orang-orang yang mempercayakan diri kepada Tuhan akan “terhindar” dan “menghindar” dari segala macam kefasikan, kejahatan, bualan, kebohongan, pembunuhan (penumpah darah), penipuan, ketidakadilan, ketidakjujuran, kebusukan, bersilat lidah (pintar merayu-rayu), dan pemberontakan.

Kedua, Tuhan “memberkati” orang benar dapat berarti bahwa Ia akan menyertai dan menopang.

Ketiga, Tuhan “memagari” orang benar dengan anugerah seperti perisai, dapat diartikan sebagai perlindungan dan pertolongan Tuhan.

Butir-Butir Permenungan

Pertama, Tuhan bukanlah pribadi yang menyetujui atau bahkan merekomendasikan untuk melakukan kebohongan sebagaimana yang dilakukan oleh Teluskhin: “Tuhan dikompromikan dengan dosa kebohongan”—yang secara substansial adalah pertujuan Teluskhin terhadap sikap berbohong yang dilekatkan pada diri Tuhan (koneksi—solipsisme).

Kedua, Tuhan adalah Maha Pengasih dan Mahaberdaulat atas hidup manusia. Tuhan mengamati orang benar dan orang fasik. Tuhan berdaulat memberkati orang benar, dan menghukum orang fasik (orang yang melakukan berbagai dosa sebagaimana yang tertulis dalam Mazmur 5). Hanya waktu yang membedakannya. Kadang, orang fasik lama matinya, sedangkan orang benar, cepat matinya. Intinya, keduanya mati. Bedanya adalah “upah” atas hidup dan karya mereka. Orang benar tidak boleh kompromi dengan kejahatan.

Ketiga, Orang benar menerima makhota kehidupan dan hidup kekal, orang fasik menerima kematian kekal dan siksaan kekal. Kita dapat menentukan mau jadi seperti apa diri kita. Potensi yang Tuhan berikan seyogianya diejahwantahkan ke dalam keragaman hayati humanitas yang di dalamnya, nama Tuhan dipuji dan dimulikan, serta hati Tuhan disenangkan.

Keempat, Janganlah menjadikan Tuhan sebagai “wakil” dari kita dalam mengkompromikan-Nya dengan dosa (koneksi solipsisme) sebagaimana yang dilakukan oleh Rabi Teluskhin. Tuhan Mahasuci dan Mahakudus; Ia tak mungkin berkompromi terhadap dosa (kejahatan) di satu sisi, dan membenci serta menghukum dosa di sisi lainnya.

Kelima, ketika menghadapi pergumulan yang berat, atau memiliki pengalaman (melihat, mengamati) berbagai jenis kejahatan yang dilakukan oleh orang-orang fasik, tetap berdoa dan memohon pertolongan Tuhan, serta menempatkan kedaulatan Tuhan atas perbuatan jahat orang-orang fasik. Biarkanlah Tuhan yang menghukum orang-orang fasik.

Kiranya Tuhan memberkati, menyertai, dan menopang kehidupan kita, hari ini, sampai Maranatha.

Shalom

Sumber Gambar: Google Image: https://1.bp.blogspot.com/-ebjp_6tpbO4/VujTt9zW9YI/AAAAAAAAALM/kkwBTorOeAw3E-qTY0a7sTKTTYyRIRy3Q/s1600/kejahatan%2Bdunia%2Bmaya.png

UPAH KEHIDUPAN SETELAH KEMATIAN: Refleksi Wahyu 20:11-25 – 21:1-8

Pendahuluan

Kitab Wahyu adalah kitab yang ditulis oleh Rasul Yohanes di pulau Patmos. Di pulau ini ia mendapatkan hak istimewa dari Tuhan di mana ia diberikan sebuah penglihatan yang luar biasa hebatnya. Mengapa? Karena penglihatan tersebut bukan berbicara hal-hal biasa tetapi hal-hal yang tidak biasa; penglihatan tentang suatu kehidupan masa depan dari gereja dan orang-orang percaya, bahkan kehidupan setelah kematian. Semua manusia pasti mati, namun tidak semua manusia mati. Rasul Yohanes menggambarkan kondisi atau keadaan manusia, bumi dan langit, dalam konteks hukuman terakhir dari Tuhan. Pada akhirnya, setelah manusia mati, ia harus menghadap takhta pengadilan Kristus, dan menerima “upah” hidupnya selama di bumi. Setiap orang yang namanya tidak ditemukan dalam Kitab Kehidupan akan dilemparkan ke dalam lautan api.

Akan tetapi, tidak menutup kemungkinan bahwa ada orang yang menganggap bahwa tidak ada kehidupan setelah kematian, atau tidak ada neraka. Pernyataan bahwa ada upah setelah kematian hanya dianggap remeh oleh orang-orang yang membenci Tuhan, melawan Tuhan, masa bodoh dengan Tuhan, melupakan Tuhan, dan bahkan menghina Tuhan. Orang-orang seperti ini, yang menganggap bahwa hukuman Tuhan tidak ada, apalagi yang menganggap Tuhan itu ada. Mereka menampakkan segala jenis perbuatannya yang kotor, najis, jijik, dan amoral. Orang-orang ini, seperti yang dikatakan Alkitab adalah penghuni neraka, namanya tidak tertulis dalam Kitab Kehidupan. Itu sebabnya, penting bagi semua jemaat Tuhan untuk mengetahui bahwa ada upah kehidupan setelah kematian; supaya kita tidak kecewa mengikut Tuhan, kita tidak sedih dan merana dalam mengikut Tuhan. Yang ikut Tuhan dengan sungguh-sunguh, dapat upah. Yang cinta Tuhan, rela menderita, mengasihi sesama akan merasa bahagia dan puas tatkala ia menerima upahnya dan masuk surga.

Yang menganggap tidak penting, segera sadar. Jika tidak sadar, maka langkah terakhirnya adalah upah hidup saudara akan diterima setelah saudara mati. Setelah mati ke mana? Ke neraka karena setelah menghadap Tuhan dan namanya ternyata tidak ditemukan dalam Kitab Kehidupan. LALU BAGAIMANA KITA DAPAT MEMAHAMI APA ITU UPAH KEHIDUPAN SETELAH KEMATIAN?

KAJIAN TEKS

Wahyu 20:11-25 – 21:1-8

Dalam Wahyu 20:11-25 – 21:1-8, saya membaginya menjadi tiga bagian: Bagian pertama berbicara mengenai penglihatan Rasul Yohanes yang dibagi ke dalam dua penglihatan; Bagian kedua berbicara tentang tindakan Tuhan atas manusia, langit dan bumi; dan Bagian ketiga berbicara tentang upah dan kondisi manusia setelah mati.

BAGIAN 1

Penglihatan 1

Takhta putih, Dia [Tuhan], kelenyapan bumi, orang-orang mati besar kecil, kitab kehidupan dan kitab-kitab lainnya, laut menyerahkan semua orang yang mati di dalamnya, mau dan kerajaan maut menyerahkan orang-orang yang ada di dalamnya (sekalian semuanya dilemparkan ke dalam lautan api – orang-oran yang tidak ditemukan namanya dalam Kitab Kehidupan).

Penglihatan 2:

Langit baru dan bumi yang baru, kota kudus – Yerusalem baru, Tuhan yang duduk di tahta, dan penghukuman orang-orang namanya tidak terdapat dalam Kitab Kehidupan (ay. 8)

BAGIAN 2: Tindakan Tuhan

Melenyapkan bumi dan langit (ay. 11), mengadili orang-orang telah mati (membaca nama-nama), menghukum orang-orang yang namanya tidak terdapat dalam Kitab Kehidupan, menghapus segala air mata, menghapus maut bagi orang-orang percaya, duka, ratap tangis, menjadikan segala sesuatunya baru (ay. 5), memerintahkan Rasul Yohanes untuk menuliskan penglihatan yang ia lihat, memberi minum, memberikan upah kepada yang percaya dan tidak percaya.

BAGIAN 3: Upah dan kondisi manusia sesudah mati                            

Orang-orang mati (orang-orang yang telah mati lalu masuk ke dalam kehidupan yang baru di tempat yang baru) besar kecil MENGHADAP (BERDIRI) di depan takhta putih yang besar yang berarti berdiri menghadap Tuhan Yesus.

Semua kitab dibuka dan juga kitab lain yakni Kitab Kehidupan. Semua kitab ini berisikan semua tindak tanduk perbuatan manusia. Di bagian lain Alkitab, dinyatakan bahwa (lihat nats pembimbing) “Segala sesuatu telanjang di hadapan-Nya”, “mata TUHAN ada di segala tempat mengawasi orang baik dan orang jahat”, “TUHAN membalas setiap orang menurut perbuatannya” (Mzr. 62:13).

Semua orang tanpa terkecuali akan memasuki tahap pengadilan Kristus. Yang mati di laut, di darat dan sebagainya, yang mati dan masuk dalam kerajaan maut akan diadili oleh Tuhan Yesus tanpa ada pilih kasih. Setiap orang dihakimi menurut perbuatannya (ay. 13). Orang-orang yang melawan Tuhan dalam segala hal akan dilemparkan ke dalam lautan api. Itulah kematian yang kedua. Inilah kondisi dari orang-orang yang melawan Tuhan, melacurkan diri dengan berbagai kenajisan, kejijikkan, hawa nafsu seks yang liar seperti kuda dan monyet, suka melawan orang tua, berbuat curang, suka menipu, pembunuh, sundal, pendusta, penakut, pemfitnah, yang tidak percaya akan mendapat upah yang layak atas segala sesuatu yang mereka lakukan (lihat 21:8)

LALU BAGAIMANA DENGAN UPAH MEREKA YANG PERCAYA?

Mereka akan menempati langit dan bumi yang baru. Yesus Kristus akan tinggal dan menetap dengan umat-Nya. Yesus disebut dengan “kemah Allah” – sebuah idiomatik yang mengacu kepada “tempat berteduh” – karena di bagian lain Alkitab, dikatakan bahwa “Allah adalah tempat perteduhan, tempat perlindungan kita”. Yesus akan tinggal dengan umat-Nya; mereka akan menjadi umat-Nya; Yesus akan menjadi Allah mereka. Yesus akan menghapus segala air mata mereka.

Air mata menggambarkan pergumulan, keterasingan umat yang percaya kepada-Nya atau yang diperlakukan secara tidak adil, mereka bergumul, mereka berjuang demi Injil Kristus, mereka menangis karena melayani Tuhan yang banyak tantangannya, mereka bersedih karena terpuruknya moralitas anak-anak Tuhan, para pendeta menjadi penipu, penjahat, preman, pemfitnah, pembohong, perancang kudeta, penentang, pemalsu kebenaran, tukang main perempuan, pelacur, sombong rohani, dan lain sebagainya – mereka sungguh tidak percaya mengapa ada anak-anak Tuhan dan para hamba Tuhan, para pendeta yang begitu najis hidupnya, begitu kotor pikirannya, mulutnya, perbuatannya. Mereka itulah yang menangis tanda merasa kasihan dengan upah yang akan mereka terima nantinya.

Yudas menulis: “PELIHARALAH DIRIMU DEMIKIAN DALAM KASIH ALLAH SAMBIL MENANTIKAN RAHMAT TUHAN KITA, YESUS KRISTUS, UNTUK HIDUP YANG KEKAL. TUNJUKKANLAH BELAS KASIHAN KEPADA MEREKA YANG RAGU-RAGU, SELAMATKANLAH MEREKA DENGAN JALAN MERAMPAS MEREKA DARI API….” (YUDAS 1:23). Orang yang percaya kepada Tuhan tidak akan mengalami maut selama-lamanya. Mereka akan menerima mahkota kehidupan atas kesetiaan merka kepada Tuhan. Tidak ada lagi perkabungan, atau ratap tangis atau dukacita. Mereka akan diberikan minum dengan cuma-Cuma dari mata air kehidupan

Mereka akan dijadikan “anak-anak Tuhan” (ay. 7)

Itulah upah bagi mereka yang bekerja bagi Tuhan, melayani Tuhan, menata hidup mereka tetap di jalan Tuhan, tetap setia dalam segala situasi dan kondisi, mereka menangis, bergumul, berdukacita, meratap dan menangis. Tetapi mereka menerima kebahagiaan yang tak terkirakan. Rasul Yohanes menulis: “Berbahagialah orang-orang yang mati di dalam Tuhan, sejak sekarang ini. Mereka boleh beristirahat dari jerih lelah mereka, karena segala perbuatan mereka menyertai mereka.” (Wahyu 14:13)

APLIKASI

Apa yang harus kita lakukan untuk memperoleh hidup kekal? Berbuatlah kebaikan dalam kasih dan cinta Tuhan, bukan didasari pada kasih duniawi. Kasih duniawi bersifat menjerumuskan dan menyesatkan, tetapi kasih surgawi bersifat menjernihkan, membahagiakan, menenangkan, dan memenangkan segala jenis pergumulan dan godaan duniawi.

Periksalah hidup kita apakah perbuatan kita sudah semakin mencerminkan pikiran setan atau Iblis, atau semakin menyerupai pikiran Tuhan, mencintai Tuhan, mengasihi Tuhan lebih dari segalanya, lebih dari pacar kita, lebih dari suami atau istri kita, lebih dari anak atau orangtua kita, lebih dari apapun.

Seperti syair lagu yang berbunyi: “Lebih dalam lagi, kucinta Kau Tuhan, lebih dari segala yang ada”….seharusnya menjadi bagian penting dalam hidup dan iman kita. Yang masih jauh dari Tuhan, yang merasa telah meninggalkan Tuhan, yang merasa telah acuh tak acuh dengan Tuhan, yang merasa kecewa dengan Tuhan, yang merasa Tuhan tidak ada, Tuhan tidak peduli, segeralah bertobat, jangan sampai saudara mati hari ini atau besok dan disiksa di neraka – di perapian yang menyala-nyala, tidak ada ampun di sana.

Sekitar awal November 2015, pada hari jumat malam terjadi enam kasus terorisme di Perancis. Lebih dari 150 orang meninggal. Siapa yang menyangka bahwa mereka akan mati karena bom bunuh diri? Lalu mereka setelah mati ke mana? Beberapa bulan lalu, di Mekah, pada saat umat Muslim naik haji dalam momen lempar Jumroh, hampir 800 orang meninggal karena terinjak-injak. Siapa yang menduga mereka akan mati terinjak?

Hidup ini perlu kesadaran tinggi agar kita dapat menjaga pola pikir dan tindakan kita. Jika tidak, siapa yang menduga bahwa kita masih akan hidup esok hari? Siapa yang menjamin, bahwa ia dapat mencapai umur tinggi? Hidup bahagia dengan kekasihnya dan menikmati semua kemewahan dunia? Semua manusia tidak dapat menjamin hidupnya bahagia selamanya. Hidup bersama Tuhan, ada bahagia dan sukacita yang tak terkira.

Alkitab, dan secara khusus bacaan kita tadi memberikan gambaran penting tentang apa yang seharusnya kita lakukan agar mendapatkan kebahagiaan surgawi dari Tuhan. Setiap orang yang tidak mengindahkan teguran Tuhan, yang tidak mengindahkan larangan-larangan Tuhan akan menerima akibatnya. Hari ini mungkin saudara merasa nyaman dengan dosa saudara. Mungkin saudara merasa bahwa Tuhan tidak melihat segala perbuatan najis dan kotor yang kita lakukan. Tetapi ingat, mata Tuhan ada di segala tempat. Segala sesuatu telanjang di hadapan-Nya. Tidak ada yang tersembunyi bagi-Nya. Segera sadari diri dan bertobat sebelum terlambat.

Saudara tidak akan diberikan kesempatan untuk bertobat di neraka. Kesempatan bertobat adalah di dunia ini, sebelum terlambat. Yang suka menipu, suka berbohong, suka main perempuan, suka melacurkan dirinya sehingga sembarang laki-laki meniduri engkau wahai perempuan, orang yang suka berkelahi, mencaci maki, berpikiran kotor, mulut kotor, hati kotor, perbuatan najis dan jijik, suka gosipkan orang lain, suka berkata dusta tentang sesamanya, suka berpesta pora dan foya-foya, segeralah bertobat.

Alkitab mengatakan: “Carilah TUHAN selama Ia berkenan ditemui; berserulah kepada-Nya selama Ia dekat”. (Yesaya 55:6)

Tuhan memberkati, menyertai dan menopang kita semua. Shalom

Sumber Gambar: https://1.bp.blogspot.com/-Cd0JnSv_gZs/XaHoPvsjv2I/AAAAAAAAAkY/bDNh5xkKW34SpxvqKw8BSrsGHUtpgCcCACLcBGAsYHQ/s1600/YESUS%2BNAIK%2BKESURGA.png

INTEGRITAS DAN PERSONA HIPOKRIT: Antara Slogan Integritas Versus Slogan Hipokrit

“Uang bisa membuka mulut untuk berucap sumpah serapah dan makian. Uang bisa menutup mulut agar tak menyuarakan kebenaran, tetapi beradu argumentasi hipokrit agar sang pembayar merasa puas. Uang bisa membeli celana dan membuka celana. Uang bisa membuat perahu kehidupan dan merusakkan perahu kehidupan pula. Uang bisa menciptakan integritas palsu dan menjual integritas palsu. Uang bisa mempublikasikan kebohongan dan menjual kebohongan. Uang hampir bisa memuluskan segala sesuatu”

Akhir-akhir ini, orang-orang marak memperbincangkan integritas. Integritas yang dipahami dan diperbincangkan sangatlah variatif. Masing-masing memiliki definisi tersendiri. Dari definisi tersebut mereka mulai mendayung perahu mereka. Di sekitar mereka ada banyak perahu, baik yang modelnya sama, ukurannya sama, maupun model yang berbeda dan ukuran yang berbeda. Tidak hanya itu, penumpang dalam perahu-perahu tersebut juga berbeda. Perahu boleh sama, tetapi integritas bisa berbeda.

Dalam proses pembentukan integritas, ada cukup banyak halangan, hambatan, kuman-kuman yang hendak datang melekatkan dirinya pada karakter kita. Di dalam proses tersebut, seseorang akan menunjukkan dirinya apakah ia seorang yang mudah dipengaruhi, mudah dihasut, mudah dikelabui, mudah ditipu, mudah menyerah, mudah emosi, mudah dendam, atau justru sebaliknya, ia menjadi seorang yang kuat dalam prinsip, dalam iman, dalam komitmen, dalam karaktar, dalan konsistensi, dan dalam karakternya.

Di banyak konteks, integritas dapat melekatkan atau dilekatkan pada setiap orang. Entah bagaimana prosesnya sampai integritas dalam melekat atau dilekatkan dalam karakter seseorang, kita tidak terlalu memperhatikannya, kecuali bila kita berada di sekeliling mereka dan mengamatinya secara sadar dan konsisten. Secara fakta, integritas dalam menjadi “sahabat” bagi mereka yang memikiki karakter yang sepadan dengan prinsip-prinsip kebenaran yang dianutnya. Di berbagai kalangan, integritas adalah sesuatu yang dijunjung tinggi. Namun, tentu ada saja orang-orang yang gagal mempertahankan integritasnya.

Mereka yang gagal mempertahankan integritasnya adalah mereka yang sering jatuh pada perangkap “uang”. Ketika tawaran uang diperhadapkan pada seseorang dan kemudian ia merelakan hati nurani dan integritasnya dikorbankan, maka itu adalah awal mula kehancuran karakter seseorang. Dalam banyak kasus, para pendeta pun ikut bermain dalam kasus-kasus tertentu. Tawaran demi tawaran mengalir deras. Tidak main-main, tawaran untuk saling menjatuhkan, saling berebut kursi di “parlemen gereja”, saling mencaci maki, saling merendahkan, saling menghina, saling menggertak, saling membenci, dan saling meluapkan emosi dosa terselubung sampai kepada dosa ketelanjangan moralitas pun menjadi sajian siap saji di meja yang bernama “hari”. Setiap “hari” ada saja yang mengumandangkan gelagat “Sang Provokator” berperasaan paling suci tak tak berdosa seantero dunia. Uang pun mengucur deras tanda kepuasan “masturbasi politik denominasi”. Slogan persona hipokrit yang paling popular di zaman “now” adalah: Ayo dukung saya, saya menawarkan politik denominasi, dan kita akan bermasturbasi bersama-sama menikmati hasilnya.”

Mengapa politik denominasi? Politik denominasi adalah kumpulan dari berbagai karakter, latar belakang sosial, latar belakang ekonomi, dan latar belakang identitas. Tak pandang gelar, jabatan, harta, dan harga diri (ada yang harganya murah dan ada yang harganya mahal). Mereka bersatu padu untuk memajukan agenda induk dari Sang Pendosa Besar dan pemimpin perkumpulan. Agenda-agenda besar dipertontonkan untuk meneguhkan dukungan dari berbagai denominasi agar semakin yakin dengan tujuannya. Tak lupa, uang pun menjadi senjata yang siap disarungkan dan dibawa ke mana-mana. Kegagalan integritas pasti membanjiri kelompok politik denominasi. Integritas menjadi barang yang dibuang di tempat sampah, atau bahkan ada yang menyimpannya di gudang rumahnya, untuk bahan makanan yang kapan saja digunakan ketika ia gagal dalam politik denominasi. Artinya, sekadar memperalat saja ketika dibutuhkan asalkan “uang jatah” diturunkan dari langit yang sedang cerah.

Perahu semakin kencang didayung. Integritas-integritas rela ditinggalkan di pelabuhan rumah mereka dan berucap: “Selamat Tinggal Integritas”. Mereka kemudian menentukan arah politik denominasi dan mencari pulau sebagai persinggahan dalam penyusunan rencana-rencana jahat. Mereka semakin yakin dengan identitas mereka yang telah terjual oleh janji-janji manis dari bibir sang hipokrit. Tapi, mengapa mereka semakin bersinar di kala cuaca sedang mendung? Itu pertanda bahwa mereka kuat. Kuat karena ditopang oleh uang. Tak ada kekuatan lain selain uang. Uang bisa membuka mulut untuk berucap sumpah serapah dan makian. Uang bisa menutup mulut agar tak menyuarakan kebenaran, tetapi beradu argumentasi hipokrit agar sang pembayar merasa puas. Uang bisa membeli celana dan membuka celana. Uang bisa membuat perahu kehidupan dan merusakkan perahu kehidupan pula. Uang bisa menciptakan integritas palsu dan menjual integritas palsu. Uang bisa mempublikasikan kebohongan dan menjual kebohongan. Uang hampir bisa memuluskan segala sesuatu.

Bilakah kita terbuai dengan uang? Semoga tidak, dan sebaiknya jangan sama sekali. Bilakah kita menjual integritas kita hanya karena satu partai? Semoga tidak. Bilakah kita menjual diri dengan harga yang murah demi sesuap nasi yang bernama “popularitas”? Semoga tidak. Bilakah kita berkata tidak pada “Bapa segala Dusta” yang menawarkan uang dalam jumlah banyak? Semoga tidak. Bilakah kita mengorbankan gereja untuk menghancurkan gereja orang lain? Semoga tidak. Bilakah kita ikut-ikutan mencaci maki dan merendahkan orang lain dengan bayaran yang murah? Semoga tidak. Bilakah kita terpesona dengan janji-janji manis kampanye dalam politik denominasi? Semoga tidak. Bilakah kita bersama satu perahu dengan wajah-wajah garang yang telah menjual integritas mereka demi uang? Semoga tidak. Bilakah kita terus mengumangkan kebencian dan caci maki sedangkan kita adalah orang yang dihormati? Semoga tidak. Bilakah kita main kucing-kucingan untuk memperalat orang lain agar mendapatkan sesuatu? Semoga tidak. Bilakah kita menampilkan persona hipokrit demi uang? Semoga tidak.

Wadah kehidupan adalah sesama kita. Ketika kita tidak memperhatikan perahu integritas kita, maka kita akan terjerumus ke dalam berbagai-bagai duka. Kita melihat perahu kita dan perahu orang lain. Kadang, perahu yang dinaiki tidaklah diperhatikan, tetapi sibuk melihat dan menilai perahu orang lain. Ikutilah slogan integritas yaitu: “Cerdas Berpikir, Jujur Berkata, Tulus Berbuat.” Dan jangan pedulikan slogan hipokrit yaitu: “Ayo dukung saya, saya menawarkan politik denominasi, dan kita akan bermasturbasi bersama-sama menikmati hasilnya.” Lupakan mereka. Jangan terpengaruh dengan mereka. Mereka adalah para pemalsu kebenaran dan sering bermasturbasi sendiri dan ingin menularkan hawa nafsunya kepada mereka yang siap meninggalkan integritas mereka demi “seonggok uang”. Integritas tidak berubah ketika warna-warni uang di depan mata. Integritas adalah barang langka di tengah kemeriahan caci maki dan “money politic”.

Salam Bae

Sumber Gambar: https://id.pinterest.com/pin/557883472586791969/

GEN MANUSIA DICIPTA: Agama Akan Kolaps?

Ada berbagai cara manusia untuk menciptakan segala sesuatu. Dengan menciptakan segala sesuatu terkait dengan kemajuan teknologi yang mutakhir, menjadikan “agama” sebagai racun rasio yang tidak lagi dibutuhkan. Pada faktanya, yang cukup menyita perhatian adalah orang-orang beragama yang membuat ulah dalam relasi kemanusiaan. Baru saja dituduh mencuri amplifier, pelakunya langsung dikejar, dipukuli secara keroyokan, lalu disiram bensin, dan akhirnya dibakar sampai mati. Inilah ulah orang-orang yang bertuhan dan menyatakan diri dekat dengan Allah, tetapi Allah yang seperti apa yang didekati atau yang disembah?

Tak kalah menariknya adalah ada orang yang membunuh dengan mengatasnamakan agama; dan kita pun tahu bahwa “agama” pasti melibatkan pribadi yang dipercaya dan yang disembah. Lalu di saat yang sama, mereka menyatakan bahwa: DIA maha pengampun, DIA maha penyayang, DIA maha pengasih, dan bunga-bunga perkataan atau julukan lainnya. Di sisi lain teknologi semakin maju, dan para penganut agama berkelahi memperebutkan siapa yang masuk surga dan siapa yang dituduh masuk neraka; juga menuduh orang lain yang tidak sepaham dan seagama sebagai “kafir”, dan agamanya adalah penentu siapa yang ke surga dan siapa yang ke neraka. Akan tetapi, klaim-klaim agamais (religius) tersebut tidak berbanding lurus dengan apa yang mereka lakukan. Perkataan memang manis, tetapi pahitnya muncul di permukaan melalui perbuatan dan mulut penuh sumpah serapah.

Para ilmuwan kemudian menilai bahwa mereka yang bertuhan sibuk mencari pembenaran diri dengan mengklaim “ini dan itu”—seolah-oleh mereka lebih benar dan lebih tahu dari Sang Pencipta. Bahkan lebih parahnya adalah mereka membenarkan membunuh dengan mengatasnamakan agama. Bertolak belakang dengan hal ini, Yesus telah menegaskan kepada para murid-Nya bahwa: “Kamu akan dikucilkan, bahkan akan datang saatnya bahwa setiap orang yang membunuh kamu akan menyangka bahwa ia berbuat bakti bagi Allah” (Yoh. 16:2). Dari pernyataan tersebut, terbukti bahwa para murid Yesus (para rasul) di kemudian hari banyak yang mati martir dengan berbagai cara. Bahkan hingga sekarang ini, para pengikut Yesus mengalami hal yang sama. Bedanya dengan agama lain, para pengikut Yesus lainnya tidak menuntut pembalasan dengan melakukan kejahatan serupa sebab Yesus tidak memerintahkan hal tersebut.

Sepanjang sejarah, pembunuhan dengan berkedok agama telah menjadi tren konflik kemanusiaan. Saling membakar rumah orang-orang yang tak bersalah, dan saling menyerang antar suku yang beda agama. Konflik di satu tempat kemungkinan besar [dan itu sering terjadi] berimbas di tempat lain tatkala konflik tersebut adalah konflik agama. Manusia menjadi seperti harimau kelaparan yang siap memangsa siapa saja yang lewat.

Dari serangkaian peristiwa buruk yang dilakukan oleh para rohaniwan atau para pemuka agama dan pengikut-pengikutnya, telah menjadi sasaran empuk kaum atheis untuk merendahkan mereka. Mereka pun semakin bangga menyatakan bahwa kami pun tak bertuhan, malahan memajukan dunia ketimbang kaum beragama. Namun, penilaian seperti itu tentu berat sebelah. Pasalnya, para agamawan juga menjadi berkat bagi sesamanya. Mereka rela berkorban bagi sesamanya. Ada nilai-nilai kemanusiaan yang dijunjung tinggi oleh mereka yang beragama. Tapi seringkali hal-hal baik tersebut ditekan oleh berbagai keburukan dari agama yang sama ataupun agama yang berbeda.

Lalu apa kaitannya dengan rencana manusia untuk membuat gen manusia? Kaitannya adalah ketika manusia dapat menciptakan gen manusia, yang dalam arti bahwa mereka bisa menciptakan manusia, maka agama menjadi imbas; agama diprediksi akan mengalami kolaps. Apalagi ketika agama selalu bikir onar dan kekacauan kemanusiaan. Agama dianggap tidak memiliki kontribusi dalam dunia ilmu pengetahuan mutakhir dan mungkin dianggap kolot. Ukuran kemajuan diukur dari seberapa berkembangnya teknologi itu dan imbasnya pula, agama dianggap semakin ketinggalan, dan ilmu pengetahuan semakin di depan, mirip iklan motor Yamaha.

Pemikiran di atas mungkin ada benarnya, tetapi tidak sesederhana itu. Tentu, anggaplah benar jika manusia dapat membuat gen manusia lalu menciptakan manusia sama seperti kita sekarang ini. Jika demikian, maka manusia mengumumkan bahwa “kita tidak membutuhkan agama atau Tuhan, atau sejenisnya untuk mempercayai bahwa Tuhan menciptakan manusia, tetapi kita hanya butuh kepercayaan bahwa manusia bisa menciptakan manusia lain dengan cara yang spektakuler”. Anggaplah demikian pernyataan para pembuat gen manusia.

Mari kita analisis soal ini. Saya akan mengulas hal ini dengan sistem pemikiran yang tajam agar kesombongan tersebut dapat segera diredam. Sekali lagi, anggaplah manusia berhasil membuat gen manusia dan dengan demikian mereka disebut “para pencipta manusia” untuk menyingkirkan gagasan agama tentang Tuhan yang menciptakan manusia. Ada yang menyebutnya dengan “Generasi Alpha”. Artinya generasi pertama yang diciptakan manusia melalui kemajuan teknologi. Bersiaplah menerima tantangan ini.

Berikut ini adalah analisis dan hipotesis terkait dengan kehebatan manusia dalam membuat gen baru untuk menciptakan manusia (anggaplah ini benar).

Pertama, ketika para pembuat gen manusia menciptakan manusia (melalui cara teknologis) lalu mengklaim “kita tidak butuh Tuhan, karena Tuhan telah kalah”, maka kita harus bersabar menunggu apakah manusia gen tersebut akan bertumbuh besar bahkan sampai ia mati.

Kedua, ketika para pembuat gen manusia berhasil menciptakan manusia, maka kita harus bertanya apakah materi yang mereka gunakan untuk membuat gen adalah ciptaan mereka sendiri?

Ketiga, ketika para pembuat gen manusia berhasil menciptakan manusia, maka siapa yang menciptakan para pembuat gen?

Keempat, ketika para pembuat gen manusia berhasil menciptakan manusia, apakah mereka menggunakan unsur kualifikasi manusiawi atau di luar unsur kualifikasi manusiawi?

Kelima, jika menggunakan unsur di luar unsur kualifikasi manusiawi, maka siapa yang menciptakan unsur tersebut?

Keenam, jika menggunakan unsur kualifikasi manusiawi, maka siapa yang menciptakan unsur tersebut?

Ketujuh, jika bisa menjawab pertanyaan-pertanyaan di atas, barulah bisa mengatakan: “Kami tidak membutuhkan Tuhan karena kami bisa menciptakan manusia”.

Kedelapan, ketika para pembuat gen manusia berhasil menciptakan manusia, maka dari mana ide untuk menciptakan manusia dengan jenis yang sama? Dari Alkitab?

Kesembilan, jika ide membuat manusia dengan jenis yang sama, maka itu bukan hebat namanya, tetapi “copy paste” dari pencipta sebelumnya.

Kesepuluh, ketika para pembuat “gen baru” untuk menciptakan manusia, maka mereka tidak lebih hebat dari orangtua mereka yang telah membuat mereka melalui hubungan biologis (laki-laki dan perempuan) dan berproses selama sembilan bulan.

Kesebelas, kaum ilmuwan tidak  boleh menyombongkan diri di atas bukit sebab pengguna teknologi sekarang ini adalah orang-orang yang beragama yang menguntungkan menguntungkan mereka.

KESIMPULAN

Kau beragama tetap menghargai teknologi dan ilmu pengetahuan karena mereka masih manusia yang tingga di bumi yang sama. Ilmu pengetahuan dan teknologi diciptakan dan dikembangkan atau ditemukan, diperuntukkan bagi manusia dan lainnya. Ajaran agama dikembangkan dan ditafsir untuk memperbaiki moralitas dan spiritualitas manusia juga. Soal ajaran agama yang diperkosa dan dijadikan alat untuk menghancurkan sesama dan bahkan saling membunuh sesama, bukanlah sesuatu yang dijadikan jukstaposisi terhadap seluruh kaum beragama. Sama halnya dengan ilmu pengehuan dan teknologi. Itu berguna bagi sesama, tapi dalam waktu yang bersamaan, ilmu pengetahuan dan teknologi dapat membunuh dan menghancurkan sesama manusia. Jadinya  impas bukan?

Para ilmuwan tak boleh sombong dengan menyatakan bahwa: “Kami tidak butuh Tuhan”, atau menganggap bahwa mereka yang beragama itu kolot. Ukuran kemajuan tidak hanya diukur dari seberapa berkembangnya teknologi itu tetapi diukur dari para penggunanya. Secanggih-canggihnya teknologi tidak lebih canggih dari para PENCIPTAN, pengguna atau pemakainya. Agama tak mungkin kolaps karena kemajuan teknologi. Penganut agama yang skeptis dan menjadi tidak beragama sangat mungkin terjadi. Yang menjadi “TUAN” dari ilmu pengetahuan dan teknologi adalah “PEMAKAINYA”.

Para pembuat gen untuk menciptakan manusia tidak dapat dikatakan hebat karena ia menciptakan jenis yang sudah ada. Hebat itu jika manusia bisa membuat jenis yang sama seperti orang atau pribadi yang menciptakannya. Tetapi hal ini mustahil. Seorang anak tak mungkin menciptakan Ayahnya. Jika demikian, para pembuat gen perlu “berkaca di sendok” dan mulai merenungkan bahwa “kami tidak hebat”, dan “kami membutuhkan Tuhan” yang telah menciptakan segala sesuatu untuk dinikmati manusia. Jika mereka tidak percaya adanya Tuhan, urungkan niat untuk mengatakan “kami tidak butuh Tuhan” sebab dengan menyebut “Tuhan” maka anda sedang meneguhkan keberadaan-Nya.

Ketika agama dianggap semakin ketinggalan, dan ilmu pengetahuan semakin di depan, maka para ilmuwan juga harus “berkaca di sondok” sebab semaju-majunya ilmu pengetahuan dan teknologi, tidak lebih hebat dari mereka yang menggunakan ilmu pengetahuan, sebab apalah sendok jika tidak digunakan; ia akan menjadi karat dan terkapar sampai tertimbun debu atau reruntuhan akibat gempa bumi atau bencana alam. Jika ilmuwan hebat, maka mereka harus bisa mengalahkan tanah longsor, tsunami, gempa bumi, atau membuat matahari tidak bisa bersinar. Jika itu terjadi, maka pasti itu hanyalah mimpi di siang hari.

Jadi, beragamalah yang baik dan santun. Hargai sesama dan jadilah pelopor pengguna teknologi dan ilmu pengetahuan untuk kepentingan bersama. Jadiah ilmuwan yang tahu diri bahwa sehebat-hebatnya temuan mereka tidak lebih hebat dari “MATERI” yang mereka gunakan untuk menciptakan teknologi dan menemukan ilmu pengetahuan, termasuk para pembuat gen manusia. Jika para ilmuwan mengakui bahwa materi sangat penting bagi dasar menciptakan teknologi dan kemajuan ilmu pengetahuan, maka ingatlah pesan Sang Pencipta: “Pada mulanya Allah menciptakan langit dan bumi” (Kejadian 1:1), sebab “Pada mulanya adalah Firman; Firman itu bersama-sama dengan Allah dan Firman itu adalah Allah. Ia pada mulanya bersama-sama dengan Allah. Segala sesuatu dijadikan oleh Dia dan tanpa Dia tidak ada suatupun yang telah jadi dari segala yang telah dijadikan” dan “Firman itu telah menjadi manusia, dan diam di antara kita, dan kita telah melihat kemuliaan-Nya, yaitu kemuliaan yang diberikan kepada-Nya sebagai Anak Tunggal Bapa, penuh kasih karunia dan kebenaran” (Yoh. 1:1-3, 14). Siapakah Firman itu dan yang menjadi manusia? Dialah YESUS KRISTUS, JURUSELAMAT DUNIA.

SELAMAT MENIKMATI HIDUP DENGAN BIJAKSANA DAN BERINTEGRITAS

DAMAI SEJAHTERA BAGI KITA SEMUA

Sumber Gambar: https://www.biospherex.com/wp-content/uploads/2011/04/2009-06-02-at-20-39-56-1.jpg

TUHAN TIDAK TINGGAL DIAM: Antara Kendali Tuhan dan Tindakan Manusia

Refleksi Mazmur 139:1–4

Mazmur 139 merupakan wujud dari segala rahasia kehidupan manusia yang berada dalam pengawasan TUHAN. Pasal ini juga merupakan elaborasi dari kemahatahuan dan kepedulian TUHAN atas hidup manusia – siapa pun itu – yang pada gilirannya akan mengetahui bahwa hidup itu bernilai, hidup itu bermakna, hidup itu diawasi, dan hidup itu perlu dipertanggungjawabkan.

Berangkat dari hal inilah, Raja Daud menjelaskan mengenai keterkaitan antara pengawasan TUHAN dan hidup yang dijalani manusia pada umumnya, dan umat TUHAN pada khususnya. Segala sesuatu – itu yang menjadi penekanan Daud – bahwa TUHAN sanggup dan menguasai segala hal yang dilakukan [telah terjadi] dan “pikirkan” [belum terjadi]. Di sini, Daud menggambarkan TUHAN sebagai Pencipta, sekaligus Pemelihara yang bertanggung jawab atas hidup matinya manusia. Semuanya ada dalam kuasa dan kedaulatan-Nya; Ia bertanggung penuh atas kehidupan di dunia ini.

Bagaimana konsep ini bisa sedemikian indah digambarkan oleh Daud? Konsep ini jelas merupakan bukti nyata dari apa yang dialami Daud sendiri, di samping hal-hal yang lain yang di luar jangkauannya. Sementara Daud menjelaskan betapa hebatnya dan mahatahunya TUHAN itu, ia juga sedang memberikan kesimpulan iman bahwa semua manusia harus “sadar” bahwa apa yang dilakukannya ada dalam pandangan mata [pengawasan] dan pikiran TUHAN [rencana-Nya].

Di balik proses kehidupan yang rumit sekalipun, tangan TUHAN selalu menopang. Di balik proses kehidupan yang tertekan, kecewa, tidak seperti yang diharapkan, Daud menegaskan bahwa ada TUHAN yang bertanggung jawab dan memproses semua bentuk ketidakadilan, kejahatan, perlawanan terhadap-Nya, dan lain sebagainya. “TUHAN” – dalam keyakinan dan pengalaman Daud – adalah Pribadi yang peduli, pengasih, dan pembalas terhadap segala sesuatu yang bertentangan dengan kehendak-Nya.

Kita akan melihat beberapa hal penting dari beberapa ayat Mazmur 139, yang memberi penegasan dan rasa tanggung jawab kita di hadapan TUHAN dalam menjalani hidup.

Latar Belakang Kitab Mazmur

Dalam kitab ini dicerminkan idealisme keagamaan yang saleh dan persekutuan dengan Allah, penyesalan karena dosa dan pencarian akan kesempurnaan, berjalan dalam kegelapan, tanpa ketakutan, oleh terang iman; tentang ketaatan kepada hukum Taurat Allah, gairah berbakti kepada Allah, persekutuan dengan sesama pengikut Allah, penghormatan terhadap Firman Allah; tentang kerendahan hati di bawah cambuk yang mengajar, kepercayaan yang teguh kendati kejahatan merajalela dan berjaya dan ketenangan di tengah-tengah kebalauan.

Para penyair Ibrani diilhami untuk menerima pengetahuan-pengetahuan rohani dan pengalaman-pengalaman keagamaan di atas, dan menjadikannya tema nyanyian-nyanyian mereka. Tapi harus diingat bahwa ‘Mazmur adalah syair, dan syair dimaksudkan untuk dinyanyikan, bukan risalah doktrin, juga bukan khotbah’ (C. S Lewis, Reflections on the Psalms, 1958, p. 2).

Karena itulah judul Mazmur dalam bahasa Ibrani ialah “tehillim”, ‘nyanyian-nyanyian pujian’  —  dan mazmur-mazmur itu juga mengungkapkan agama Israel, yakni agama yang menjadi warisan para pemazmur itu, bukan hanya pengalaman-pengalaman keagamaan mereka secara pribadi. Justru Kitab Mazmur adalah milik semua ‘orang beriman’, baik Yahudi maupun non-Yahudi (J.G.S.S. Thompson dan F. D. Kider, Kitab Mazmur, dalam Ensiklopedi Alkitab Masa Kini, Jakarta: YKBK, 2011, 41).

I S I

1Untuk pemimpin biduan. Mazmur Daud. TUHAN, Engkau menyelidiki dan mengenal aku; 2Engkau mengetahui, kalau aku duduk atau berdiri, Engkau mengerti pikiranku dari jauh. 3Engkau memeriksa aku, kalau aku berjalan dan berbaring, segala jalanku Kaumaklumi. 4Sebab sebelum lidahku mengeluarkan perkataan, sesungguhnya, semuanya telah Kauketahui, ya TUHAN.

Tujuan: Pemimpin Biduan

Mengapa? Karena kitab Mazmur adalah sebuah nyanyian, maka tema-tema tentang pengetahuan tentang Tuhan dan pengalaman religius “harus” dinyanyikan. Dalam menyanyi dibutuhkan seorang pemimpin pujian [nyanyian] – yang dengan begitu, pemimpin tersebut dapat dengan leluasa menjelaskan makna dari teks-teks yang akan dinyanyikan itu. Simpel saja, dalam menyanyikan sebuah lagu, dibutuhkan sebuah usaha “latihan” irama dan menghafal nada. Hal ini dimaksudkan TUHAN bahwa semua bentuk penyataan akan kuasa dan karya-Nya patut dinyanyikan, dijadikan sebagai sebuah simfoni yang indah tatkala seseorang menyanyikan sebuah lagu. Lagu dimaksudkan untuk menghibur, menguatkan, mencerahkan, memberikan semangat dan terlebih, lagu adalah sebuah wadah bagi manusia untuk mengeluarkan semua potensi yang ada, semua keinginan dan hasrat kepada seseorang atau siapa saja yang dijadikan tujuan lagu tersebut.

Konsep ini sebenarnya berasal dari TUHAN. TUHAN itu menyukai puji-pujian. Ia bertakhta di atas puji-pujian umat-Nya. Semua harmonisasi ada dalam lagu atau kidung pujian.

Tugas pemimpin biduan [kor] adalah memberikan pelatihan teks-teks lagu, melatih nada lagu, dan lain sebagainya sehingga teks-teks dalam lagu tersebut tidak hanya dijadikan hafalan tetapi dapat termaktub secara kuat dalam hati sanubari manusia yang mencitai dan mengasihi TUHAN.

Alasan: karena pemimpin memiliki berbagai hak yang tidak dimiliki oleh pengikutnya. Mengapa? Pemimpin lebih banyak tahu, lebih banyak tanggung jawab, dan lebih banyak pengalaman.

Dampak: dapat dirasakan secara langsung karena pemimpin selalu bersama dengan pengikutnya. Pemimpin memiliki waktu yang lebih banyak dari pada pengikutnya dan seorang pemimpin dapat kapan saja memberikan sesuatu kepada pengikutnya.

Isi Nyanyian:

Pertama: Personalitas TUHAN: Mahatahu (examined, memeriksa, menguji, meneliti)

Kedua: Tanggung jawab TUHAN: Menyelidiki dan mengenal umat-Nya; Mengerti pikiran manusia (discern [mengetahui dengan jelas], discernest, understand, understandest; Memeriksa; Memberitahukan (acquanted, maklumi): jalan-jalan atau “mengetahui” (acquanted with) dan familiar with: mengetahui, tahu tentang.

Ketiga: Tanggung jawab manusia. Menghitung atau mengakui semua berkat dan karya TUHAN (ay. 18); Memohon pertolongan TUHAN dalam menghadapi kerasnya hidup (ay. 19-20).

Keempat: Kesadaran diri manusia: Mengakui TUHAN (ay. 6): tidak sanggup mencapai pengetuhuan-Nya; Mengakui bahwa TUHAN ada di mana-mana; Mengakui bahwa TUHANlah yang membentuknya di dalam kandungan ibunya (ay. 13-16); Sadar akan bahaya pembenaran diri dan memohon agar TUHAN menuntun ke jalan yang kekal (ay. 24)

Pertanyaan mendasarnya adalah: apakah semua tindakan manusia yang tidak baik, juga merupakan kendali TUHAN? Kita harus memperhatikan bahwa Tuhan telah memberikan otonomi berpikir kepada manusia dan dengan pikirannya, manusia dapat melakukan, mengontrol, melanggar, dan tindakan-tindakan lainnya. Contohnya: Di akun FB, ada foto yang diposting mengenai seorang ayah membunuh anaknya yang masih kecil. Jika diprediksi, anak tersebut kira-kira berumur 1 tahun 5 bulanan. Saya melihat foto tersebut dan sedih dan hampir menangis. Saya melihat bahwa di bagian leher anak tersebut ada bekas gorokan, bekas irisan, atau tusukan yang cukup lebar membentuk sebuah garis lurus dan lukanya agak terbuka. Dari pengamatan saya, dugaan saya mengapa seorang anak membunuh anaknya adalah:

a) Suami istri bertengkar dan istri lari dari rumah;

b) Adu mulut dengan istri dan suami naik pitam lalu anak jadi sasaran;

c) Suami dihina oleh istri secara berlebihan, mungkin karena miskin atau tidak punya pekerjaan sehingga suami naik pitam lalu membunuh anaknya;

d) Masalah ekonomi;

e) Masalah istri tidak kembali dari bepergian;

f) Masalah istri tinggalkan suami karena ada orang ketiga (selingkuh);

g) Anak menangis terlalu lama; dan

h) Ada masalah dengan tetangga atau keluarga lainnya

Tentu kita harus memahami pembagian atau lebih tepatnya “tanggung jawab”. Tuhan bertanggung jawab penuh atas totalitas hidup manusia. Manusia diberikan tanggung jawab oleh Tuhan melalui: totalitas tubuhnya. Di dalam tubuh ada: mata, telinga, pikiran, tangan, kaki, hati, hasrat, emosi, kehendak, kemarahan, kebencian, kedengkian, sukacita, damai, ketenangan, cinta, kasih, nafsu. Dan dalam kesemuanya itu, dua bagian tubuh yang penting adalah: HATI dan PIKIRAN. Baik tidaknya manusia bergantung kepada dua bagian tubuh ini.

Jika hati dan pikiran kita dikuasai kemarahan, kebencian, tindakan apa saja yang dapat dilakukan akan dapat dilakukan dengan nekat dan terpaksa.

Kembali ke Mazmur 139. Dalam bagian Mazmur 139, lima aspek yang dilakukan TUHAN:

Pertama: Tuhan mengenal Daud: hati (ay. 1)

Kedua: Tuhan mengerti pikiran Daud  (ay. 2)

Ketiga: Tuhan mengetahui perkataan lidah: berasal dari hati dan pikiran (ay. 4)

Keempat: Tuhan mengenal hati (permohonan): ayat 23

Kelima: Tuhan mengenal pikiran-pikiran Daud (permohonan): ayat 23

Dengan demikian, perlu ditekankan bahwa: TUHAN mengawasi dan peduli dengan kita, TUHAN mengetahui semua tindak tanduk kita, TUHAN meminta pertanggungan jawab atas semua perbuatan kita. Apa yang kita lakukan bergantung pada hati dan pikiran. Tindakan yang tidak sesuai dengan kehendak dan ajaran TUHAN bukanlah menyalahkan TUHAN tetapi lebih kepada tanggung jawab hati dan pikiran yang telah TUHAN berikan sejak ia menciptakan manusia di Taman Eden dan menciptakan manusia sejak dalam rahim ibu.

Kalau TUHAN mengenal kita dan jalan-jalan hidup kita, seharusnya kita juga bercermin dari tindakan itu yaitu mengenal diri kita sendiri dan jalan-jalan hidup kita masing-masing agar hidup kita selaras dengan kehendak Tuhan dan melalui perbuatan-perbuatan kita, nama Tuhan dimuliakan, dan diri kita dimuliakan Tuhan.

Tuhan memberkati dan melindungi kita semua. Amin.

Sumber Gambar: Pinterest

MENAKAR PSIKOLOGI “FACEBOOK”

Dunia berpikir adalah dunia di mana manusia menuangkan berbagai hal yang dipikirkan, dirasakan, diamati, diselidiki, diteliti, disiasati, dan dialami. Semua hal ini dapat dengan mudah dipublikasikan, terutama melalui media sosial. Media sosial yang cukup populer adalah “Facebook”, di samping WhatsApp, Instagram, BBM, Messenger, Twoo, Twitter, Zorpia, dan lain sebagainya. Seseorang dengan “sesuka hati” mempublikasikan—maklum, namanya juga media sosial—sebuah media yang dapat dilihat banyak orang. Namun, apakah semua yang dipublis memiliki batasan-batasan?

Akhir-akhir ini, publikasi segala sesuatu melalui media Facebook dinilai cukup masiv. Publikasi tersebut sudah tidak lagi memiliki batasan kecuali otoritas Facebook telah membatasinya. Namun, karena setiap orang memiliki potensi berpikir yang independen maka apa yang dipublikasikan tidak dapat diganggu gugat. Bercermin dari hal ini, sebagai pengguna Facebook, saya meneliti dan menyimak apa saja sebenarnya yang dipublikasikan. Seperti yang saya katakan bahwa setiap orang memiliki potensi berpikir yang independen, namun independensi berpikir sering dipengaruhi oleh aspek lain di luar pikiran seseorang seperti pengaruh pikiran orang lain, pengaruh publikasi orang lain, pengaruh emosional orang lain, pengaruh persaingan. Sedangkan dari aspek pribadi, publikasi independen pikiran yang tertuang dalam Facebook dilatari oleh berbagai tipe (akan saya jelaskan kemudian).

Berbagai kasus terjadi akibat kurang cerdasnya menggunakan media Facebook. Pemerkosaan, penculikan, pembunuhan, penganiayaan, perang antar agama, kisruh politik, pelecehan agama, pembunuhan karakter, caci maki, fitnah, ujuran kebencian, dan sebagianya, terjadi karena penggunaan media sosial Facebook yang tidak bijaksana dan tidak cerdas. Media sosial bisa berdampak positif tetapi sekaligus dampak negatif mengikutinya. Memang kita tidak bermaksud buruk, tetapi orang lain yang menafsirkan apa yang dipublikasikan dapat saja menganggapnya sebagai perbuatan buruk terhadapnya. Apalagi status yang menyudutkan orang lain yang belum tentu benar dan sesuai fakta. Fitnah menjadi makanan sehari-hari. Siapa pelaku fitnah? Pastinya adalah mereka yang memiliki karakter yang tidak beres, mereka yang dibayar untuk itu, mereka yang pernah tersakiti, dan lain sebagianya.

Dari penelitian media sosial Facebook yang saya lakukan sejak tahun 2015, saya merangkum berbagai pandangan umum dan tipe dari pengguna Facebook. Untuk penjelasan tipe pengguna Facebook, tentu terkait dengan pandangan umum tentang Facebook di mana setiap orang dapat mempublikasikan sesuatu.

Pandangan umum soal media sosial (tertuang dalam bentuk publikasinya):

Mempublikasikan iklan (jualan berbagai jenis barang dan jasa)

Mempublikasikan diri sendiri (foto-foto kegiatan)

Mempublikasikan tulisan-tulisan kritis dan satiris terkait isu sosial, ekonomi, agama, kemanusiaan, negara, pemerintahan, konflik global, dan sebagainya

Mempublikasikan karya-karya orang lain (buku, artikel, dan sebagainya)

Mempublikasikan karya-karya sendiri (buku, artikel, dan sebagainya)

Mempublikasikan kegiatan terkini (kuliah, berangkat ke tempat lain [naik kapal, perahu, pesawat, motor, mobil, dan sebagainya], olahraga, ceramah, diskusi, seminar, lokakarya, hari raya keagamaan, tamasya dan sebagainya)

Mempublikasikan kegiatan yang telah lampau

Berkomunikasi dengan sahabat dan orang lain (membicarakan soal kabar terkini, tinggal di mana, kerja di mana, sudah berkeluarga atau belum, sudah punya pacar atau belum, sudah menikah atau belum, siapa yang sudah meninggal, siapa yang sudah berhasil, dan sebagainya)

Mempublikasikan tindak kekerasan terhadap sesama, pembunuhan, pelecehen seksual, konten pornografi, ucapan-ucapan ancaman

Mempublikasikan kemarahan terhadap sesama, keluarga, anak, pimpinan

Ajang pameran kegiatan, diri sendiri, organisasi,  atau hewan-hewan peliharaan dan sebagainya

Ajang curhat (kadang curhat kepada Tuhan, curhat kepada temannya, curhat kepada siapa saja yang mau melihat statusnya)

Ajang menjelekkan orang lain, suami, istri, anak, tetangga, dan organisasi atau lembaga lainnya

Suka cari perhatian (membuat status yang menggantung, bertanya yang tidak jelas, foto sehabis mandi, pakai bedak dan lipstik, dan sebagainya)

Pamer keindahan  bagian tubuh tertentu

Ajang memuaskan hawa nafsu (mempublis gambar-gambar senonoh)

Ajang penipuan (mempublikasikan sesuatu untuk tujuan menipu)

Ajang publikasi kejahatan (menyombongkan diri dengan tindakn kejahatan yang dilakukan secara pribadi atau komunal)

Ajang perkenalan (memperkenalkan diri)

Ajang cari pacar (jodoh)

Ajang berkelahi lewat kata-kata (ancam-mengancam)

Ajang mencari dukungan (politik, pilkada, organisasi, dan dalam situasi konflik)

Promosi program dan kegiatan yang sedang berjalan

Ajang mencari popularitas diri

Ajang untuk mengukur berapa jumlah orang yang LIKE statusnya

Ajang berdialog, berdiskusi dan berdebat

Ajang berbagi informasi, berita duka, berita kelahiran, dan sebagainya

Dari berbagai pandangan umum di atas yang tertuang dalam bentuk publikasinya, semuanya dilakukan dalam bentuk: kata, foto/gambar, situs/website/link, video, audio (tanpa tampilan menarik) dan simbol-simbol tertentu.

Berdasarkan pandangan umum di atas, maka saya mengelompokkannya ke dalam berbagai “tipe psikologi” Facebook. Pengelompokkan ini akan berimplikasi pada dua hal yakni implikasi positif dan implikasi negatif. Dari sini kita dapat belajar memahami karakter kita sendiri dan karakter orang lain (setidaknya asesmen terhadap pengguna Facebook terbuka lebar, maklum, namanya juga media sosial, pasti melibatkan banyak orang, pengguna, penilai, dan pengamat). Berbagai tipe psikologi Facebook saya sebutkan berikut ini:

TIPE MARKETING. Tipe jenis ini adalah mempublikasikan hal-hal yang berbau ekonomis dan keuntungan. Segala sesuatu dipasarkan asalkan menguntungkan dan memberi pemasukan. Lumayan, untuk bertahan hidup dan memperjuangkan hidup.

TIPE BERBAGI. Tipe jenis ini adalah tipe yang selalu membagikan segala sesuatu terkait: Cerita Petualangan, Cerita Anak yang lucu (entah anak sendiri atau anak orang lain), Cerita Keluarga, Cerita Kesaksian hidup (pribadi, keluarga, dan orang lain),             Ayat-ayat Alkitab, Artikel (kehidupan, kesehatan, agama, dan sebagainya, entah menyejukkan maupun yang menyesakkan).

TIPE KURANG KERJAAN. Tipe jenis ini adalah tipe yang selalu berorientasi pada pola meramaikan Facebook. Dari pada sepi, mendingan diramaikan dengan publikasi-publikasi dalam bentuk-bentuk yang disukai.

TIPE HANDPHONE BARU. Tipe jenis ini adalah tipe yang oleh karena memiliki handphone (smarphone) yang baru, maka niat mempublikasikan segala sesuatu tak terbendung lagi. Apa saja dipublikasikan, entah kenang-kenangan, kegiatan, dan sebagainya.

TIPE MEKANIS. Tipe jenis ini tergolong unik dan kadang dinilai membosankan. Tipe ini dikatakan mekanis karena pikiran dan hatinya tertuju kepada segala sesuatu itu harus dipublikasikan. Ketika memasak, dipublis. Ketika makan dipublis. Sehabis makan dipublis. Mau mandi dipublis. Setelah mandi dipublis. Berangkat kerja dipublis. Macet di jalan dipublis. Sampai di tempat kerja, kantor, sekolah, dan sebagainya, dipublis. Sedang bekerja dipublis. Sedang mengajar dipublis. Sedang ujian dipublis. Sedang istirahat makan dipublis. Pulang kerja dipublis. Jalanan macet dipublis. Sampai di rumah dalam keadaan letih dipublis. Mau mandi malam dipublis. Makan malam dipublis. Sebelum “bobo” [tidur] dipublis. Tempat tidur dipublis. Bangun pagi dipublis. Mandi pagi dipublis. Sarapan pagi dipublis, meski hanya makan “IndoeMie” dan rekan-rekannya satu kelas, seperti “SuperMIe, “SariMie”, dan “PopMie”. Minum teh/kopi/susu/air putih dipublis. Berangkat kerja/sekolah dipublis, dan seterusnya, dan setiap harinya.

Segala jenis kegiatan selalu dipublis. Jika dalam seminggu, segala sesuatu dipublis, maka pengguna Facebook yang lain sudah dapat mengetahui, jadwal kehidupan dan jadwal pekerjaan seseorang, karena ternyata Facebook menjadi “media mencatat kegiatan sehari-hari” tanpa ada batasan privasi yang dapat saja dibaca orang lain.

Dalam kasus yang lain, biasanya tipe ini, misalnya mempublikasikan foto dalam jumlah yang banyak tetapi foto yang sama (gayanya, senyumnya dan sebagainya) dalam jumlah yang banyak pula. Foto dengan gaya yang sama—entah ada motif apa di dalamnya—kadang atau selalu membuat orang menilai bahwa “lain kali kalau publis foto, dipilih dulu mana yang bagus. Jangan semua foto yang sama dipublis. Bosan lihatnya”. Kira-kira itulah curahan hati para penilai foto-foto yang dipublis dalam bentuk yang sama.

TIPE CURHAT. Tipe jenis ini adalah tipe yang suka mencurahkan isi hatinya. Pokoknya segala kejadian yang terjadi di dunia ini, dipublikasikan. Kaki kesenggol batu, dipublis. Kaki kena knalpot dipublis. Mata merah dipublis. Badan lemas dipublis. Tangan kena air panas dipublis. Terbaring di rumah sakit dipublis. Terbaring di jalanan dipublis. Pantat tumbuh bisul dipublis. Kaki bisulan, dipublis. Anak sakit dipublis (“cepat sembuh ya anak kesayangan mami….”). Konflik keluarga dipublis. Salah paham dengan teman atau tetangga dipublis. Ada masalah dipublis. Kadang curhatnya ke Tuhan, kadang pula ke teman[-teman] lama, kadang ke siapa saja yang perhatian kepada curhatannya di Facebook.

TIPE SOK JAGOAN. Tipe jenis ini adalah tipe yang “berani” sekaligus “konyol”. Penggunanya menggunakan kata-kata, gambar-gambar, atau video untuk menunjukkan kebolehannya, kejagoannya, dan agamanya. Kadang, tipe model ini beraninya keroyokan, dianggap karena mayoritas, dianggap hebat karena banyak dukungan dan sebagainya. Tipe ini bisa terjadi di kalangan geng, anak sekolahan, ormas-ormas yang tidak jelas, suku-suku tertentu, kelompok atau organisasi tertentu. Tipe ini bisa menimbulkan gesekan dan konflik sosial.

TIPE CAPER (CARI PERHATIAN). Tipe jenis ini adalah tipe yang lucu dan kadang tidak jelas. Biasanya suka mempublikasikan pribadinya yang sedang dirundung masalah, sedang sakit flu, batuk, dan pilek. Atau dalam kondisi senang dan ingin orang lain tahu bahwa ia sedang gembira. Setelah mandi dipublis. Setelah pake bedak dan lipstik dipublis. Sedang berkhotbah di hari Minggu dipublis. Melayani di hari Minggu dipublis. Sebelum berkhotbah “selfie dulu” lalu dipublis, dan hal-hal lain yang terjadi pada hari itu juga.

TIPE PAMER. Tipe ini beda-beda tipis dengan tipe cari perhatian. Ada yang pamer sepatu baru, baju baru, pacar baru, motor baru, mobil baru, cincin batu akik maupun batu kali. Pamer di sini dalam arti bahwa “substansi” dari publikasinya sangat kelihatan (mencolok). Banyak hal yang menjadi ajang pamer di media sosial. Bahkan belakangan, pamer agama pun turut meramaikan media sosial Facebook.

TIPE KRITIS (kritik-kritik terhadap kesenjangan sosial, pemerintah, diskriminasi, dan sebagainya). Tipe ini sering menunjukkan pemikirannya (dalam bentuk tulisan dan atau gambar disertai penjelasan) dan kritik terhadap hal-hal yang dinilai menyimpang dan menunjukkan tanda-tanda ketidakseimbangan.

TIPE INFORMATIF. Tipe ini suka berbagi informasi terkait dengan berbagai hal.

TIPE MUSIMAN. Tipe ini muncul sesuai dengan musimnya. Jarang muncul di Facebook. Jika musim hujan, dia “nongol”.

TIPE SITUASIONAL. Tipe ini hampir sama dengan tipe musiman. Namun tipe bisa muncul lebih cepat dari musiman. Ketika situasi berubah, pengguna Facebook tipe ini langsung muncul.

TIPE GAYA-GAYAAN. Tipe ini mirip dengan tipe pamer dan caper. Suka bergaya di mana-mana dan dipublis. Gaya di tempat tidur, di kamar mandi, di ruang tamu, di wastafel, di toilet, di atap rumah, di pinggir pantai, dan sebagainya. Tipe ini beranggapan bahwa “saya ingin berbagi cerita dan pengalaman”. Tapi jika keseringan mempublikasikan segala sesuatu yang bermotif “gaya” maka ia termasuk pada tipe ini.

TIPE PENIPUAN. Tipe ini jelas sekali motifnya. Namun sering orang-orang tertipu karenanya. Substansi dasarnya adalah menipu dan meraup keuntungan, jika bermotif jualan dan pemasaran; ingin memperkosa dan mencelakai perempuan, jika motifnya pasang foto ganteng dan curi perhatian, berkenalan, memuji-muji perempuan, buat janji, dan “sikat” jika sudah ketemu.

TIPE ESKATOLOGIS. Tipe ini memiliki pemikiran ke masa depan. Apa yang dipublikasikan adalah cerminan dari buah pemikirannya tentang kegelisahan, dan keresahan, bahkan antisipasi terhadap sesuatu yang bisa menjadi ancaman. Dengan berbagai publikasi, tipe ini berharap bahwa para pembaca dapat memahami bahwa di masa depan perlu kehati-hatian dan kesiapan. Jika tidak, bencana, situasi yang tidak diinginkan dapat terjadi.

Dari berbagai tipe pengguna Facebook di atas, saya menutup deskripsi ini dengan fungsi media sosial dan implikasinya. Fungsi (positif dan negatif) Facebook: 1) Mempengaruhi  orang lain dengan kata-kata bijaksana maupun dengan kata-kata hujatan, caci maki, dan provokatif; 2) Mempengaruhi  orang lain dengan tulisan atau artikel; 3) Mempengaruhi  orang lain dengan foto-foto/gambar-gambar tentang kehidupan atau kepedulian atau kekerasan, pembunuhan, dan penyiksaan (penganiayaan); 4) Mempengaruhi  orang lain dengan kata-kata motivasi; 5) Mempengaruhi  orang lain dengan rasa kepedulian dan rasa kebencian; dan 6) Mempengaruhi  orang lain dengan foto-foto lucu (menghibur) atau foto-foto sindiran, hinaan, dan perendahan martabat.

Implikasi Facebook terdiri atas implikasi positif dan negatif. Apa yang kita kira berimplikasi positif, tetapi bisa juga sebaliknya. Apa yang kita publikasikan bisa saja menurut kita itu tidak membosankan, tetapi di sisi lainnya, membuat orang bosan melihat publikasi yang hanya itu-itu saja. Bisa saja menurut kita apa yang dipublis tidak menyinggung perasaan orang lain, tetapi dalam waktu bersamaan, hal itu dapat menyinggung perasaan orang lain. Intinya, kita perlu memahami “makna” dan “substansi” dari apa yang kita publikasikan, sebab yang melihat, menilai, dan mengomentari adalah masyarakat luas. Jika tidak mau dilihat, dinilai, dan dikomentari, maka buatlah Facebook sendiri yang tidak ada teman sama sekali.

Jika demikian, bijaksanalah dalam menggunakan Facebook. Tak ada salahnya mempublikasikan segala sesuatu karena itu bersifat pribadi. Namun, bentuk-bentuk kejahatan dan pembunuhan serta kesalahpahaman dapat terjadi melalui publikasi tersebut.

Sebagai penutup dari tulisan ini, saya hendak menyimpulkan lima hal implikasi dari menggunakan Facebook. Pertama, menggunakan Facebook itu bersifat preokupi (memeras pikiran); kedua, menggunakan Facebook itu bersifat menghibur; ketiga, menggunakan Facebook itu bersifat prosaik (menjenuhkan, membosankan); keempat, menggunakan Facebook itu bersifat berbagi (sharing); dan kelima, menggunakan Facebook itu bersifat mempengaruhi.

Salam Facebook

Sumber Gambar:

MILLENNIAL JESUS

Setiap manusia yang hidup di zaman tertentu, menemukan atau bahkan mengalami adanya asosiasi-asosiasi tertentu dengan zaman yang lampau. Zaman sekarang ini adalah zaman di mana gempita agama, politik, teknologi [industri], dan informasi—yang pada konteks tertentu memiliki asosiasi dengan konteks lampau. Asosiasi tersebut diberlakukan oleh manusia untuk membangun jembatan pemikiran, empirikal, dan pemaknaan atas fakta telah terjadi, dan kemudian, ketiganya dijadikan sebagai “pedoman” untuk bertindak di hari ini dan di masa mendatang agar dapat mencapai tujuan-tujuan yang telah ditetapkan.

Pada tataran agama dan politik, justru asosiasi-asosiasi (yang dirancang atau dipikirkan sendiri) begitu kental dan bahkan sangat mengikat seseorang atau sekelompok orang. Sedangkan pada tataran teknologi, tentu kita hanya dapat menilai, menikmati (menggunakan) teknologi terbarukan, kecanggihan industri di segala bidang, dan lajunya perkembangan ilmu pengetahuan—termasuk penelitian di berbagai bidang—dan informasi. Produk hoax juga menyita banyak perhatian kita. Tak sedikit yang menjadi korbannya. Hoax seolah-olah telah menjadi “budaya baru” yang secara masiv dikaitkan dengan sederet kisah yang juga hoax: hoax melahirkan hoax baru.

Dari fakta persebaran dan pandemik hoax, agama tidak lepas dari jenis ini. Hoax atas nama agama pun marak terjadi. Agama—di satu sisi—menjadi buah bibir yang laris manis di pasaran, menjadi kekuatan yang memikat hati, dan di sisi lain, agama menjadi minuman keras yang memabukkan, menghasilkan berbagai tindakan kekerasan, radikalisme, paralogisme, diskriminasi, intimadasi, persekusi, dan lain sebagainya. Agama menampilkan dualisme spesifik tindakan yang dilakukannya: menunjukkan supremasi kebaikan (ajaran-ajaran moralitas) dan menunjukkan supremasi keradikalannya (yang berakhir dengan konflik dan gesekan sosio-politik).

Dalam konteks pemahaman tentang Yesus Kristus, historis tentang Dia tak lepas dari hoax. Para penutur hoax memiliki alasan-alasan terselubung untuk menggaungkan hoax tersebut. Opini, solipsisme, dan sentimen keyakinan, memungkinkan alasan dari tindakan menggaungkan hoax tentang Yesus. Hingga saat ini, ada orang-orang tertentu yang termakan hoax dan berjuang untuk terus menyebarkan hoax tentang Yesus. Politik juga ikut bermain dalam ranah ini.

Salam Bae

Buku masih dalam proses editing.

DIKOTOMI PENYALIBAN YESUS

Peristiwa penyaliban Yesus di kalangan Islam dan Kristen menuai pro dan kontra. Hal ini sekaligus merupakan dikotomi yang tidak mencapai “meeting point” karena keduanya memiliki serangkaian bukti sebagai dalilnya. Di pihak Islam, menafsirkan Surat An-Nisa [4]:157 sebagai bentuk pertolongan Allah kepada Isa dari penyaliban dengan cara membuat wajah seseorang mirip Isa. Ada yang menyebut orang tersebut sebagai salah satu murid Yesus yakni Yudas Iskariot (Yahuza) dan lainnya menyebutnya sebagai Simon dari Kirene. Yang pasti, mayoritas Muslim menolak bahwa Isa mati disalib. Di pihak Kristen, sebagai pemilik sejarah tersebut, menyuguhkan bukti-bukti historis dalam catatan Injil-injil kanonik. Mereka sepakat bahwa “Yesus benar-benar mati di kayu salib”, sekaligus mempercayai kematian-Nya sebagai media Allah untuk keselamatan umat-Nya.

Data yang disuguhkan mayoritas Muslim (teolog dan penafsir), tidaklah memadai secara historis, justru memunculkan data yang ahistoris ditambah dengan persepsi teologis. Pasalnya, terbukti bahwa kristologi Muhammad dibangun berdasarkan pengaruh yang didapatkan dari ajaran-ajaran bidat-bidat Kristen yang jelas-jelas merupakan bentuk ajaran-ajaran yang tidak sejalan dengan ajaran resmi Gereja. Teori penggantian Isa disalib lebih merupakan pandangan gnostisisme dan doketisme sebagaimana disebutkan dalam sumber-sumber yang tergolong apokrif atau bidat. Data Kristen yang disuguhkan justru mendeteksi semua bentuk-bentuk penyimpangan kristologi Muhammad termasuk penyangkalannya terhadap kematian Isa di kayu salib serta teori penggantian.

Berdasarkan penelusuran sumber-sumber dan analisis historis-teologis tentang kristologi Muhammad yang dikemas dalam dialog apologetika, ternyata dapat dibuktikan bahwa konsepsi tentang penyaliban Isa dan teori penggantian Isa merupakan bentuk penyimpangan historis. Dari analisis kritis pula, semua teori (penafsiran) dan persepsi teologis tentang penyaliban Isa, dengan mudah digagalkan dan dibantah secara ilmiah. Dengan begitu, persepsi teologis bahwa Isa tidak mati disalib dan ada orang yang menggantikannya, merupakan sebuah kegagalan dalam memahami fakta sejarah dan memunculkan sikap ketidakjujuran akademis demi sebuah pembelaan kehormatan Isa sebagai Nabi Allah atau pun Al-Qur’an sebagai firman Allah.

Melalui kajian historis-teologis dengan pendekatan Appellate Court, beberapa temuan penting dapat disajikan dalam buku ini yaitu:

1) Legitimasi kenabian Muhammad didapatkan dari penganut Kristen heretis yakni Pendeta Bahirah dan Waraqa ibn Naufal, yang berkembang menjadi keyakinan diri Muhammad sebagai nabi terakhir yang membawa agama Islam yang diklaim berasal dari Allah;

2) Legitimasi tersebut berimbas kepada pemahamannya tentang kristologi menjadi ikut tercemar karena bersumber bukan dari tradisi tulisan melainkan tradisi lisan;

3) Banyaknya data historis yang terkait dengan pandangan bahwa Yesus tidak disalib tetapi ada penggantinya, sebagai bentuk ajaran-ajaran sesat Kristen yang terdeteksi secara kuat ditemukan dalam teks Surat An-Nisa [4]:157. Dari bukti-bukti yang ada, Muhammad telah mengikuti ajaran-ajaran non-biblikal dan non-historikal;

4) Maraknya data Al-Qur’an terkait dengan kristologi yang sama sekali tidak mencerminkan data historis tetapi lebih kepada persepsi teologis;

5) Muhammad memiliki lebih banyak relasi sosial, religius, ekonomi, dan politik, dengan komunitas Kristen heretis sehingga di dalamnya ada pengaruh-pengaruh pemahaman kristologi sebagaimana disebutkan pada nomor 4; dan

6) Dengan adanya dialog apologetik, ditemukan kelemahan-kelemahan persepsi teologis dari mayoritas teolog/penafsir Muslim. Munculnya tuduhan-tuduhan yang tidak beralasan membuktikan kelemahan mereka bahwa hal itu tidak didasarkan pada pengamatan historis yang kredibel dan akuntabel tetapi lebih kepada asumsi umum yang berkembang di kalangan Islam sebagai iklim tetap dari iman dan kepercayaan mereka yang merupakan warisan kristologi yang kaku dan ahistoris.

AKAN TERBIT

Rancang situs seperti ini dengan WordPress.com
Mulai