
Artikel ini menjelaskan dan mengkaji secara fiksi tentang karakterisasi para pendeta yang bermulut sampah. “Sampah” adalah sebuah ucapan kotor, ujaran menghina, dan memfitnah, dalam kategori ‘menghakimi’ sesamanya sebagai bagian yang inheren dengan sifat dan sikapnya (karakter) yang tampak dalam kesehariannya. Ucapan kotor, ujaran menghina, dan memfitnah dipandang sebagai inpotensi krestologia – menandakan bahwa para pendeta fiksi tidaklah kompatibel dengan iman dan prinsip-prinsip Kitab Suci. Akibatnya, mereka yang bangga dan mengagungkan para pendeta semacam ini terkurung dalam dualisme dosa: bangga dengan para pendeta bermulut sampah (bangga tidak pada tempatnya) dan percaya dengan sampah yang dikeluarkan dari mulut mereka yaitu ucapan kotor, menghina, dan memfitnah (diyakini sebagai kebenaran tanpa klarifikasi), sebagai sebagian dari “iman” fiksi.
PENDAHULUAN
Kekristenan adalah sikap hidup yang mencerminkan sifat-sifat Tuhan. Atau dengan perkataan lain, orang Kristen ‘mengkomunikasikan’ sifat-sifat Allah melalui kata, pikiran, dan perbuatan. Secara mendasar, gagasan-gagasan tentang moralitas dan keseimbangan antara iman dan perbuatan merupakan identitas Kitab Suci yang mendorong setiap orang percaya untuk memancarkan cinta kasih melalui moralitas, iman, dan perbuatan. Ketiganya menyatu dalam sebuah ‘kisah kehidupan’ seorang Kristen, tak terkecuali para pendeta fiksi.
Karakterisasi orang Kristen, termasuk para pendeta fiksi, ternilai melalui totalitas kehidupannya. Dari sini kita dapat berangkat dan menyimpulkan bahwa implikasi logisnya adalah ‘perbuatan’. Perbuatan ini jelas dan sangat terang terlihat dalam ‘ucapan-ucapan’ dan ‘tingkah-laku’ (“dicta” dan “gesta”). Apa yang diharapkan dari “dicta” dan “gesta”? Tentu ada! Gagasan ini sebenarnya merupakan penjabaran dari prinsip-prinsip Kitab Suci; salah satunya adalah: “iman tanpa perbuatan adalah mati”. Ketika para pendeta gagal dalam menerapkan kata-kata yang ‘menyegarkan’, yang ‘menegaskan’, tanpa mengecilkan tindakan ‘menghardik para pendosa dan pencemooh’—maka mereka menceburkan diri mereka ke dalam kubangan dosa dan bermuara [menghasilkan] “Impotensi Krestologia” dan “kemampuan menghakimi”.
Ketika potensi menghakimi perlahan-lahan menaiki tangganya, maka para pendeta fiksi menjadi brutal dan haus akan uang. Tak jarang, jabatan apa pun diraupnya asalkan menghasilkan uang banyak—atau paling ada ‘cukup’ uang untuk menyambung hidup. Taruhannya adalah integritas. Menjual integritas adalah mereka yang gagal melihat ‘kuasa’ Tuhan yang dahsyat itu. Pada faktanya, para pendeta fiksi yang tidak beres akan berani berganti gereja atau rela mengganti gerejanya untuk mengikuti kemana arus uang itu mengalir deras. Sikap membaca situasi sangat diperlukan di sini oleh para pendeta fiksi ini. Tak jarang, di antara mereka ada yang terkapar mati, penuh aib dan malu, penuh warisan dendam kesumat dan kebencian yang tak terbendung.
KARAKTERISASI PARA PENDETA FIKSI YANG BERMULUT SAMPAH
Berbicara mengenai karakterisasi (pelukisan watak) seseorang, asesmen yang dihasilkan adalah melalui pengamatan yang cerdas dari serangkaian temuan-temuan faktual berdasarkan dua hal: ucapan dan perbuatan. Dua hal ini adalah lazim digunakan dalam berbagai bidang.
Karakterisasi para pendeta fiksi bermulut sampah mengumandakan cara-cara hipokrit dan syahwat Iblis. Tampak bahwa apa yang mereka utarakan di mimbar gereja, tidak berbanding lurus dengan apa yang mereka lakukan di luar gereja. Ketidakseimbangan antara “olahan masakan di mimbar gereja” dengan “olahan masakan di mimbar jalanan” mencuatkan sejumlah opini dan asesmen yang kental dengan hardikan, justru menguatkan fakta bahwa para pendeta fiksi yang bermulut sampah perlu dihardik—syukur jika ia bertobat—dan menerapkan prinsip—setelah menghardik—mengampuni dan mendoakannya.
Ketika mereka tidak mau berubah (para pendeta fiksi), tugas kita selesai—urusan mereka, apalagi berstatus pendeta fiksi—untuk mengubah pola pikir, pola perkataan, dan pola perbuatan. Dari karakterisasi mereka, tampak sudah sebuah ‘kenyataan hidup’ bahwa mereka bukanlah pelayan yang setia, melainkan “hamba uang”. Uang dapat mempengaruhi seseorang dalam kondisi-kondisi tertentu, kepepet, dan kekurangan. Kompromi terhadap dosa menjadikan statusnya sebagai pelayan Tuhan menjadi tercemar, dan kehidupan mereka penuh dengan “sampah hati dan pikiran.”
“Sampah hati dan pikiran” tertuang dalam ucapan-ucapan kotor, ujaran menghina, memfitnah, dan ‘menghakimi’ sesamanya karena alasan kebencian, iri hati, dengki, dan dendam. “Sampah hati dan pikiran” adalah bagian yang inheren dengan sifat dan sikapnya (karakter) yang tampak dalam kesehariannya: tidak selarasnya antara perkataan dan perbuatan, apalagi perkataan dan perbuatannya tidak sesuai dengan prinsip Kitab Suci.
Ucapan kotor, menghina, dan memfitnah dipandang sebagai inpotensi krestologia – menandakan bahwa para pendeta tidaklah kompatibel dengan iman dan prinsip-prinsip Kitab Suci. Seperti yang Yesus katakan tentang nabi-nabi palsu yang menjual dagangannya dengan menyamar seperti domba, tetapi sesungguhnya mereka adalah serigala yang buas:
“Dari buahnyalah kamu akan mengenal mereka. Dapatkah orang memetik buah anggur dari semak duri atau buah ara dari rumput duri? Demikianlah setiap pohon yang baik menghasilkan buah yang baik, sedang pohon yang tidak baik menghasilkan buah yang tidak baik. Tidak mungkin pohon yang baik itu menghasilkan buah yang tidak baik, ataupun pohon yang tidak baik itu menghasilkan buah yang baik. Dan setiap pohon yang tidak menghasilkan buah yang baik, pasti ditebang dan dibuang ke dalam api” (Mat. 7:16-19).
“Buah” adalah hasil dari semua totalitas proses kehidupan manusia, tak terkecuali para pendeta fiksi bermulut sampah. Penegasan ini berangkat dari fiksi yang mencuat ke permukaan waktu dan tempat, di mana para pengamat fiksi senior dan junior menggabungkan pengamatannya sebagai pengamatan yang menempuh jalur penelitian kualitatif dengan strategi “ephocé”.
PARA PENDETA FIKSI BERMULUT SAMPAH DAN PENGIKUTNYA
Para pengikut yang digembalakan oleh para pendeta fiksi ini, merasa bangga dan mengagungkannya. Bentuk-bentuk pengagungkan semuanya ‘berbayar’ dalam kandang ideologi konspirasi. Kandang ideologi konspirasi ini dibuat dengan mengeluarkan biaya yang sangat besar. Konstruksi bangunannya dibuat dari seng plat tembus pandang dan dipagari dengan pohon pengetahuan tentang fitnah dan hipokrit.
Pohon pengetahuan tentang fitnah dan hipokrit bertumbuh subur karena disiram bukan dengan air tetapi dengan ‘uang’. Pengikut-pengikutnya diberikan asupan gizi yang dianggap terlezat dan terbaik, entah beras merah, roti bakar, nasi bungkus (berkaret dua), ban motor, jabatan, pakaian, celana, dan sebagainya. Mereka sangat bangga dengan hadiah-hadiah yang diberikan. Mereka siap mendukung kapan pun dan di mana pun. Alih-alih ingin membela kehormatan, malahan menunjukkan kebodohan dan kedunguan dalam konteks pemikiran dan perbuatan.
Para pendeta fiksi semacam ini (bermulut sampah) terkurung dalam dualisme dosa yaitu di satu sisi bangga dengan karakternya (bermulut sampah) tanpa harus mengubahnya dan merasa benar serta Tuhan berpihak kepada mereka, dan percaya dengan “sampah” yang dikeluarkan dari mulutnya yaitu ucapan kotor, menghina, dan memfitnah adalah sebagian dari “iman” fiksi. Tak ada kata-kata yang dapat diungkapkan mengenai “iman” mereka yang luar biasa jeleknya. Para pengikutnya tentu lebih jelek dan buruk karena mengais “iman” dari para pendeta fiksi.
Impotensi krestologia dan potensi menghakimi yang dilakukan oleh para pendeta fiksi bermulut sampah adalah fakta dan implikasi logisnya. Tak ada yang patut “diteladani” dari mereka kecuali “ditelanjangi” kebodohan mereka yang membabi buta. Aneh tapi nyata; nyata tapi aneh.
PENUTUP
Pertama, secara fiksi, para pendeta fiksi bermulut sampah “ada di antara kita”, dan tak memandang denominasi.
Kedua, karakterisasi para pendeta fiksi yang bermulut sampah adalah menunjukkan bahwa kehidupannya tidaklah menjadi berkat; iman mereka ditutupi dengan uang dan kekuasaan; sampah yang dikeluarkan adalah ucapan kotor, ujaran menghina, dan memfitnah.
Ketiga, Kekristenan adalah sikap hidup yang mencerminkan sifat-sifat Tuhan yang justru bertolak belakang dengan sikap hidup para pendeta fiksi bermulut sampah.
Keempat, gagasan-gagasan tentang moralitas dan keseimbangan antara iman dan perbuatan merupakan identitas Kitab Suci yang mendorong setiap orang percaya untuk memancarkan cinta kasih melalui moralitas, iman, dan perbuatan. Ketiganya menyatu dalam sebuah ‘kisah kehidupan’ seorang Kristen, tak terkecuali para pendeta fiksi.
Kelima, “dicta” dan “gesta” adalah bukti faktual dari setiap orang. Ketika muncul ketidakselarasan antara “dicta” dan “gesta” berdasarkan prinsip-prinsip Kitab Suci, maka hasilnya adalah “sampah”.
Keenam, mereka yang menceburkan diri mereka ke dalam kubangan dosa menghasilkan “Impotensi Krestologia” dan “kemampuan menghakimi”. Ketika potensi menghakimi perlahan-lahan menaiki tangganya, maka para pendeta fiksi menjadi brutal dan haus akan uang.
Ketujuh, karakterisasi para pendeta fiksi bermulut sampah mengumandakan cara-cara hipokrit dan syahwat Iblis. etidakseimbangan antara “olahan masakan di mimbar gereja” dengan “olahan masakan di mimbar jalanan” mencuatkan sejumlah opini dan asesmen yang kental dengan hardikan bagi para pendeta fiksi bermulut sampah.
Kedelapan, kompromi terhadap dosa menjadikan seseorang sebagai pelayan Tuhan menjadi tercemar; para pendeta fiksi tak terkecuali di mana kehidupan mereka penuh dengan “sampah hati dan pikiran.”
Kesembilan, “Buah” adalah hasil dari semua totalitas proses kehidupan manusia, tak terkecuali para pendeta fiksi bermulut sampah.
Kesepuluh, para pendeta fiksi bermulut sampah terkurung dalam dualisme dosa yaitu bangga dengan karakternya (bermulut sampah) dan percaya bahwa dengan “sampah” yang dikeluarkan dari mulutnya adalah sebagian dari “iman”.
Kesebelas, impotensi krestologia dan potensi menghakimi yang dilakukan oleh para pendeta fiksi bermulut sampah adalah fakta dan implikasi logisnya. Tak ada yang patut “diteladani” dari mereka.
Keduabelas, potensi menghakimi membawa para pendeta fiksi bermulut sampah kepada level hidup yang tidak menghasilkan damai sejahtera. Kehidupan mereka akan dipenuhi dengan berbagai kesombongan dan rasa membenarkan diri (merasa benar sendiri) dan tidak berusaha menolong dan membina jemaat yang dipimpinnya.
BUTIR-BUTIR PERMENUNGAN:
Di manakah posisi kita: apakah sebagai pelaku kebenaran yang sesuai dengan prinsip Alkitab atau pelaku publikasi sampah-sampah hati dan pikiran?
Bagaimana sebenarnya membentuk karakter kita?
Siapa yang perlu kita teladani?
Shalom. Tuhan Yesus memberkati kita semua
Glosari Utama: “Chrestologia”
Chrestologia (χρηστολογία, khrestologia) dalam bahasa Inggris disebut “friendly speech” yang berarti kemampuan berbicara ramah, atau cara berbicara [yang] ramah. Impotensi Chrestologia menunjukkan bahwa seseorang sangat tidak mampu untuk berbicara ramah karena perbendaharaan hati dan pikirannya dipenuhi dengan berbagai gagasan kotor, terkontaminasi dengan uang, harta, dan jabatan.
Dalam TDNT Greek Dictionary, kata chrēstos [χρηστός] memiliki varian yang lain yakni: χρηστότης [chrestótēs] yang berarti goodness, kindness; χρηστεύομαι [chresteuomai] yang berarti to be kind, loving; dan χρηστολογία, [chrestólogia] yang berarti friendly speech. Kata χρηστός [chrēstós] berarti good, kind.
Dalam Thayer Greek Lexicon disebutkan: χρηστός, χρηστη, χρηστόν (χράομαι):
1. properly, fit for use, useful; virtuous, good: ἤθη χρηστά, 1 Cor. 15:33 ((Treg. χρηστά (but cf. Buttmann, 11)), see ἦθος, 2).
2. manageable, i. e. mild, pleasant (opposed to harsh, hard, sharp, bitter): of things, χρηστότερός οἶνος, pleasanter, Luke 5:39 (here T Tr text χρηστός; so WH in brackets) (of wine also in Plutarch, mor., p. 240 d. (i. e. Lacaen. apophtheg. (Gorgias 2); p. 1073 a. (i. e. de com. notit. 28)); of food and drink, Plato, de rep. 4, p. 438 a.; σῦκα, the Septuagint Jer. 24:3, 5); ὁ ζυγός (opposed to burdensome), Matt. 11:30 (A. V. easy); of persons, kind, benevolent: of God, 1 Pet. 2:3 (A. V. gracious) from Ps. 33:9 (Ps. 34:9); τό χρηστόν τοῦ Θεοῦ equivalent to ἡ χρηστότης (Winer’s Grammar, sec. 34, 2), Rom. 2:4; of men, εἰς τινα toward one, Eph. 4:32; ἐπί τινα, Luke 6:35 (here of God; in both passages, A. V. kind).*
Dalam The LXX and Judaism disebutkan bahwa:
a. The LXX uses chrēstós for various Hebrew terms in the senses “excellent,” “genuine,” or “costly.”
b. With reference to people it means “good,” “serviceable,” “kind,” “benevolent.” Philo. Philo uses chrēstós in the senses “serviceable,” “helpful,” and “good.” He relates it to the goodness of God that the righteous seek to follow. Rulers are “gracious,” and “friendly” or “kind” is implied when God is called chrēstós. Josephus. In Josephus the term means “morally good” but also has the nuances “kind,” “gentle,” “benevolent,” “considerate,” and “well disposed.”
Salam Bae…










