
Hal utama pada diri manusia adalah soal bagaimana ia menerapkan apa yang ada pada dirinya. Apa yang diterapkan (keluar) dari diri adalah—pada umumnya—cerminan dari diri itu sendiri. Lazimnya, orang-orang akan dapat menilai seseorang dari apa yang tampak dari dirinya. Itulah “karakter” [watak, tabiat, akhlak, budi pekerti] yang nyata. Seperti yang ditegaskan Yesus, bahwa “Dari buahnyalah kamu akan mengenal mereka….” (Mat. 7:16). Yesus mengantisipasi munculnya nabi-nabi palsu yang menyamar seperti domba, padahal mereka adalah serigala yang buas. Dan menurut Yesus: “Demikianlah setiap pohon yang baik menghasilkan buah yang baik, sedang pohon yang tidak baik menghasilkan buah yang tidak baik.” Konsekuensi logisnya adalah: sesuatu yang baik mengeluarkan yang baik, sedangkan sesuatu yang buruk mengeluarkan yang buruk.
Seperti yang kita tahu, bahwa “baik dan buruk” dapat dinilai berdasarkan tiga aspek: pertama, aspek pengajaran Kitab Suci; kedua, aspek pendapat dan pengamatan orang lain; dan ketiga, aspek pendapat dan pengamatan diri sendiri. Kitab Suci tentu merupakan dasar teori dan praktik, tentang bagaimana karakter manusia dibentuk dan dipertahankan. Ajaran-ajaran Kitab Suci merupakan pendorong bagi manusia untuk meneladani Allah sebagai Sumber Kebenaran, Kekudusan, dan Kesucian. Apa yang Tuhan kehendaki (“yang baik”) haruslah dilakukan dengan penuh ketaatan kepada-Nya, dan apa yang Tuhan larang (“yang buruk”), haruslah tidak dilakukan atau dijauhkan dari diri kita.
Dari pendapat dan pengamatan orang lain, kita juga dapat menerima konsep “baik dan buruk”. Pada tataran ini manusia bisa terjebak—bisa melakukan hal buruk (jahat) yang dianggap baik oleh orang lain, dan melakukan hal baik yang dianggap buruk oleh diri sendiri dan orang lain yang tidak setuju dengan konsep baik tersebut.
Pemahaman tentang “baik dan buruk” secara etis menimbulkan perbedaan. Perbedaannya seringkali terletak pada bagaimana seseorang menilai isi dari sesuatu, menilainya pada tujuan dari sesuatu; dan yang lain menilainya berdasarkan motivasi untuk melakukan sesuatu. Baik isi, tujuan, dan motivasi adalah tiga hal yang mendasar, yang menimbulkan perbedaan pemahaman.
Dalam pandangan Kitab Suci (Alkitab), segala sesuatu yang baik dilakukan dengan berdasar pada motivasi yang benar, jujur, dan tulus di hadapan Tuhan, serta didorong oleh kuasa Allah. Rasul Paulus menegaskan, bahwa “Allah turut bekerja dalam segala sesuatu untuk mendatangkan kebaikan bagi mereka yang mengasihi Dia, yaitu bagi mereka yang terpanggil sesuai dengan rencana Allah (Roma 8:28). Segala sesuatu yang baik datangnya dari Allah dan bertujuan agar mereka yang terpanggil menerima kebaikan Allah. Bahkan, Rasul Paulus menjelaskan bahwa, segala sesuatu harus dilakukan dalam nama Tuhan Yesus: “Dan segala sesuatu yang kamu lakukan dengan perkataan dan atau perbuatan, lakukanlah semuanya itu dalam nama Tuhan Yesus, sambil mengucap syukur oleh Dia kepada Allah, Bapa kita” (Kolose 4:9).
Motivasi yang benar, jujur, dan tulus, tampak pula dalam nasihat Rasul Paulus yakni: “Janganlah membalas kejahatan dengan kejahatan; lakukanlah apa yang baik bagi semua orang!” Di sini sangat jelas bagaimana seorang yang percaya kepada Yesus Kristus, hidup dengan motivasi yang benar tatkala melakukan segala sesuatu. Pengamatan tentang “baik dan buruk” terhadap segala sesuatu bisa menimbulkan permasalahan—apalagi dinilai bukan berdasarkan pandangan Kitab Suci. Kita perlu mengikuti pengamatan orang lain jikalau apa yang diamati itu berdasarkan prinsip-prinsip Kitab Suci.
Pada aspek pendapat dan pengamatan diri sendiri, konteks “baik dan buruk” juga akan mengalami masalah sama seperti pada pengamatan orang lain. Baik pengamatan diri sendiri maupun orang lain akan menjadi pemahaman yang benar ketika didasari pada prinsip-prinsip Alkitab. Siapa saja tentu bisa menilai (atau memahami) konsep baik dan buruk. Tetapi seringkali—ketika prinsip-prinsip Alkitab tidak digunakan—atau barangkali digunakan tetapi salah memahaminya—akan menimbulkan masalah yang besar dalam diri seseorang dan relasinya setiap hari.
Karakter Kristen mengunggulkan prinsip-prinsip Alkitab untuk menjembatani dirinya dengan Tuhan. Tuhan senang dengan orang yang setia dan taat pada firman-Nya. Sebaliknya, Tuhan membenci orang yang jahat dan suka melawan firman-Nya. Ketika manusia berusaha membuat jembatan secara sendiri, maka pasti jembatan itu tidak mengarahkannya pada Tuhan, melainkan pada tujuan yang dirancang untuk memuaskan hawa nafsunya. Sebalknya, ketika Tuhan yang membuat jembatan, mutlak kita diarahkan kepada diri-Nya sendiri.
Karakter Kristen mengedepankan nilai-nilai supremasi Alkitab yang pada tataran tertentu, nilai-nilai itu dapat mengubah orang lain. Dengan demikian, karakter Kristen adalah pengejawantahan (perwujudan) iman yang dibuktikan melalui perbuatan. Benarlah apa yang dikatakan Rasul Yakobus: “Jika iman itu tidak disertai perbuatan, maka iman itu pada hakekatnya adalah mati” (Yakobus 2:17); “Hai manusia bebal, maukah engkau mengakui sekarang, bahwa iman tanpa perbuatan adalah iman yang kosong?” (Yakobus 2:20); “Sebab seperti tubuh tanpa roh adalah mati, demikian jugalah iman tanpa perbuatan-perbuatan adalah mati” (Yakobus 2:26).
Sudah jelas bahwa karakter Kristen didasarkan pada iman dan perbuatan. Keduanya harus sejalan dan terejawantahkan secara natural—bukan paksaan. Oleh sebab itu, terkait dengan konteks pengejawantahan iman dan perbuatan dari karakter Kristen, saya mencatat lima hal sebagai berikut:
Pertama, karakter Kristen MEREFLEKSIKAN pribadi Tuhan yang terejawantahkan dalam kata, perbuatan, dan pikiran. Beberapa kutipan dari tulisan Rasul Paulus di atas cukup untuk memberikan gambaran tentang konteks ini. Setiap orang Kristen—seluruh hidupnya haruslah merefleksikan (mencerminkan, memantulkan) pribadi Tuhan yaitu: pengasih, pengampun, penolong, dan pemberi. Orang Kristen juga harus merefleksikan sifat -sifat Tuhan: kudus, adil, benar, dalam totalitas hidupnya. Jadi, teladannya bukanlah pada manusia biasa melainkan pada Sang Pencipta, Yesus Kristus. Kita menilik pada Sang Pencipta. Itulah standar yang paling tinggi.
Kedua, karakter Kristen MEREPRESENTASIKAN (mewakili, bertindak atas nama) Tuhan. Ini sangat luar biasa. Tidak hanya merefleksikan Tuhan, orang Kristen juga merepresentasikan Tuhan dalam melakukan segala sesuatu yang selaras dengan kehendak-Nya. Sejalan dengan itu, karakter Kristen sungguh-sungguh diletakkan pada pribadi yang paling tinggi sehingga karakter yang dihasilkan adalah suprematif.
Lalu, bagaimana dengan orang Kristen, para pendeta yang melakukan dosa di hadapan Tuhan? Jawaban sederhananya adalah “karena mereka gagal melihat Tuhan sebagai teladan yang baik”. Mereka (para pendosa) lebih memuaskan hawa nafsunya ketimbang menyenangkan hati Tuhan. Kegagalan para pendeta dan orang Kristen dalam menerapkan karakter yang selaras dengan kehendak Tuhan, tidaklah menjadi sebuah fakta “meng-generalisasi-kan” dengan semua orang Kristen. Mereka yang berdosa dan melakukan dosa [melanggar aturan Sang Pencipta] bukanlah salah dari ajaran Alkitab, melainkan karena mereka lebih mementingkan hawa nafsunya.
Ketiga, karakter Kristen BERORIENTASI pada KESADARAN BAHWA HIDUP ADALAH ANUGERAH DARI TUHAN. Karenanya, hidup itu harus dijalani dengan rasa takut akan Tuhan (berhikmat), menjauhi kejahatan (berakal budi yang baik), dan mengandalkan Tuhan dalam segala hal. Pada konteks ini, orientasi karakter Kristen pada sebuah kesadaran menggiring pemahaman bahwa Roh Kudus akan memampukan kita untuk melakukan apa yang dikehendaki Allah, apa yang baik, yang berkenan kepada Allah.
Keempat, karakter Kristen menekankan KETAATAN dan KESETIAAN kepada Tuhan. Percaya kepada Tuhan dibarengi dengan sikap taat kepada-Nya. Taat dalam pengertian ini adalah tahu bahwa kita percaya, tahu bahwa kita beriman kepada-Nya, tahu bahwa kita diberikan tanggung jawab untuk melakukan firman-Nya dari hari ke hari, dan tahu bahwa apa Tuhan memberikan upah bagi mereka yang taat dan setia. Kesetiaan berarti hanya Tuhan yang menjadi harapan dan tujuan satu-satunya dalam hidup. Hanya Tuhan yang menjadi pegangan hidup kita.
Kelima, karakter Kristen melihat secara ESKATOLOGIS bahwa apa yang telah ditabur dalam kebaikan, akan menuai kebaikan pada akhirnya. Ada harapan yang gemilang ketika kita mempersembahkan diri kepada Tuhan. Tidak hanya harapan, melainkan ada pula jaminan bagi mereka yang taat dan setia melakukan segala sesuatu yang berkenan kepada-Nya yaitu: “kehidupan yang kekal”. Inilah harapan eskatologis—harapan yang kuat.
Dengan demikian, karakter Kristen yang mencakup refleksi, representasi, orientasi pada kesadaran, ketaatan dan kesetian, dan eskatologis, perlu dipahami dan diterapkan secara masiv di kehidupan sekarang dan seterusnya. Karakter Kristen perlu menjadi “cahaya” yang menerangi langkah kita.
Kita dipanggil bukan hanya menikmati anugerah, rahmat, dan berkat Tuhan, melainkan juga berbuat sesuatu yang berkenan kepada-Nya secara bertanggung jawab dan sadar.
Kita dipanggil bukan untuk bersantai-ria, tetapi kita didorong untuk bergerak menunjukkan karakter Kristen, yang dengannya nama Tuhan dipuji dan dimuliakan, dan orang lain mendapatkan berkat dari segala sesuatu yang kita lakukan berdasarkan karakter Kristen yaitu: (1) merefleksikan pribadi Tuhan yang terejawantahkan dalam kata, perbuatan, dan pikiran; (2) merepresentasikan (mewakili) Tuhan; (3) berorientasi pada kesadaran bahwa hidup adalah anugerah dari Tuhan; (4) menekankan ketaatan dan kesetiaan kepada Tuhan; dan (5) melihat secara ESKATOLOGIS bahwa apa yang telah ditabur dalam kebaikan, akan menuai kebaikan pada akhirnya.
Salam Bae.
Sumber gambar: Unsplash









