KARAKTER KRISTEN

Hal utama pada diri manusia adalah soal bagaimana ia menerapkan apa yang ada pada dirinya. Apa yang diterapkan (keluar) dari diri adalah—pada umumnya—cerminan dari diri itu sendiri. Lazimnya, orang-orang akan dapat menilai seseorang dari apa yang tampak dari dirinya. Itulah “karakter” [watak, tabiat, akhlak, budi pekerti] yang nyata. Seperti yang ditegaskan Yesus, bahwa “Dari buahnyalah kamu akan mengenal mereka….” (Mat. 7:16). Yesus mengantisipasi munculnya nabi-nabi palsu yang menyamar seperti domba, padahal mereka adalah serigala yang buas. Dan menurut Yesus: “Demikianlah setiap pohon yang baik menghasilkan buah yang baik, sedang pohon yang tidak baik menghasilkan buah yang tidak baik.” Konsekuensi logisnya adalah: sesuatu yang baik mengeluarkan yang baik, sedangkan sesuatu yang buruk mengeluarkan yang buruk.

Seperti yang kita tahu, bahwa “baik dan buruk” dapat dinilai berdasarkan tiga aspek: pertama, aspek pengajaran Kitab Suci; kedua, aspek pendapat dan pengamatan orang lain; dan ketiga, aspek pendapat dan pengamatan diri sendiri. Kitab Suci tentu merupakan dasar teori dan praktik, tentang bagaimana karakter manusia dibentuk dan dipertahankan. Ajaran-ajaran Kitab Suci merupakan pendorong bagi manusia untuk meneladani Allah sebagai Sumber Kebenaran, Kekudusan, dan Kesucian. Apa yang Tuhan kehendaki (“yang baik”) haruslah dilakukan dengan penuh ketaatan kepada-Nya, dan apa yang Tuhan larang (“yang buruk”), haruslah tidak dilakukan atau dijauhkan dari diri kita.

Dari pendapat dan pengamatan orang lain, kita juga dapat menerima konsep “baik dan buruk”. Pada tataran ini manusia bisa terjebak—bisa melakukan hal buruk (jahat) yang dianggap baik oleh orang lain, dan melakukan hal baik yang dianggap buruk oleh diri sendiri dan orang lain yang tidak setuju dengan konsep baik tersebut.

Pemahaman tentang “baik dan buruk” secara etis menimbulkan perbedaan. Perbedaannya seringkali terletak pada bagaimana seseorang menilai isi dari sesuatu, menilainya pada tujuan dari sesuatu; dan yang lain menilainya berdasarkan motivasi untuk melakukan sesuatu. Baik isi, tujuan, dan motivasi adalah tiga hal yang mendasar, yang menimbulkan perbedaan pemahaman.

Dalam pandangan Kitab Suci (Alkitab), segala sesuatu yang baik dilakukan dengan berdasar pada motivasi yang benar, jujur, dan tulus di hadapan Tuhan, serta didorong oleh kuasa Allah. Rasul Paulus menegaskan, bahwa “Allah turut bekerja dalam segala sesuatu untuk mendatangkan kebaikan bagi mereka yang mengasihi Dia, yaitu bagi mereka yang terpanggil sesuai dengan rencana Allah (Roma 8:28). Segala sesuatu yang baik datangnya dari Allah dan bertujuan agar mereka yang terpanggil menerima kebaikan Allah. Bahkan, Rasul Paulus menjelaskan bahwa, segala sesuatu harus dilakukan dalam nama Tuhan Yesus: “Dan segala sesuatu yang kamu lakukan dengan perkataan dan atau perbuatan, lakukanlah semuanya itu dalam nama Tuhan Yesus, sambil mengucap syukur oleh Dia kepada Allah, Bapa kita” (Kolose 4:9).

Motivasi yang benar, jujur, dan tulus, tampak pula dalam nasihat Rasul Paulus yakni: “Janganlah membalas kejahatan dengan kejahatan; lakukanlah apa yang baik bagi semua orang!” Di sini sangat jelas bagaimana seorang yang percaya kepada Yesus Kristus, hidup dengan motivasi yang benar tatkala melakukan segala sesuatu. Pengamatan tentang “baik dan buruk” terhadap segala sesuatu bisa menimbulkan permasalahan—apalagi dinilai bukan berdasarkan pandangan Kitab Suci. Kita perlu mengikuti pengamatan orang lain jikalau apa yang diamati itu berdasarkan prinsip-prinsip Kitab Suci.

Pada aspek pendapat dan pengamatan diri sendiri, konteks “baik dan buruk” juga akan mengalami masalah sama seperti pada pengamatan orang lain. Baik pengamatan diri sendiri maupun orang lain akan menjadi pemahaman yang benar ketika didasari pada prinsip-prinsip Alkitab. Siapa saja tentu bisa menilai (atau memahami) konsep baik dan buruk. Tetapi seringkali—ketika prinsip-prinsip Alkitab tidak digunakan—atau barangkali digunakan tetapi salah memahaminya—akan menimbulkan masalah yang besar dalam diri seseorang dan relasinya setiap hari.

Karakter Kristen mengunggulkan prinsip-prinsip Alkitab untuk menjembatani dirinya dengan Tuhan. Tuhan senang dengan orang yang setia dan taat pada firman-Nya. Sebaliknya, Tuhan membenci orang yang jahat dan suka melawan firman-Nya. Ketika manusia berusaha membuat jembatan secara sendiri, maka pasti jembatan itu tidak mengarahkannya pada Tuhan, melainkan pada tujuan yang dirancang untuk memuaskan hawa nafsunya. Sebalknya, ketika Tuhan yang membuat jembatan, mutlak kita diarahkan kepada diri-Nya sendiri.

Karakter Kristen mengedepankan nilai-nilai supremasi Alkitab yang pada tataran tertentu, nilai-nilai itu dapat mengubah orang lain. Dengan demikian, karakter Kristen adalah pengejawantahan (perwujudan) iman yang dibuktikan melalui perbuatan. Benarlah apa yang dikatakan Rasul Yakobus: “Jika iman itu tidak disertai perbuatan, maka iman itu pada hakekatnya adalah mati” (Yakobus 2:17); “Hai manusia bebal, maukah engkau mengakui sekarang, bahwa iman tanpa perbuatan adalah iman yang kosong?” (Yakobus 2:20); “Sebab seperti tubuh tanpa roh adalah mati, demikian jugalah iman tanpa perbuatan-perbuatan adalah mati” (Yakobus 2:26).

Sudah jelas bahwa karakter Kristen didasarkan pada iman dan perbuatan. Keduanya harus sejalan dan terejawantahkan secara natural—bukan paksaan. Oleh sebab itu, terkait dengan konteks pengejawantahan iman dan perbuatan dari karakter Kristen, saya mencatat lima hal sebagai berikut:

Pertama, karakter Kristen MEREFLEKSIKAN pribadi Tuhan yang terejawantahkan dalam kata, perbuatan, dan pikiran. Beberapa kutipan dari tulisan Rasul Paulus di atas cukup untuk memberikan gambaran tentang konteks ini. Setiap orang Kristen—seluruh hidupnya haruslah merefleksikan (mencerminkan, memantulkan) pribadi Tuhan yaitu: pengasih, pengampun, penolong, dan pemberi. Orang Kristen juga harus merefleksikan sifat -sifat Tuhan: kudus, adil, benar, dalam totalitas hidupnya. Jadi, teladannya bukanlah pada manusia biasa melainkan pada Sang Pencipta, Yesus Kristus. Kita menilik pada Sang Pencipta. Itulah standar yang paling tinggi.

Kedua, karakter Kristen MEREPRESENTASIKAN (mewakili, bertindak atas nama) Tuhan. Ini sangat luar biasa. Tidak hanya merefleksikan Tuhan, orang Kristen juga merepresentasikan Tuhan dalam melakukan segala sesuatu yang selaras dengan kehendak-Nya. Sejalan dengan itu, karakter Kristen sungguh-sungguh diletakkan pada pribadi yang paling tinggi sehingga karakter yang dihasilkan adalah suprematif.

Lalu, bagaimana dengan orang Kristen, para pendeta yang melakukan dosa di hadapan Tuhan? Jawaban sederhananya adalah “karena mereka gagal melihat Tuhan sebagai teladan yang baik”. Mereka (para pendosa) lebih memuaskan hawa nafsunya ketimbang menyenangkan hati Tuhan. Kegagalan para pendeta dan orang Kristen dalam menerapkan karakter yang selaras dengan kehendak Tuhan, tidaklah menjadi sebuah fakta “meng-generalisasi-kan” dengan semua orang Kristen. Mereka yang berdosa dan melakukan dosa [melanggar aturan Sang Pencipta] bukanlah salah dari ajaran Alkitab, melainkan karena mereka lebih mementingkan hawa nafsunya.

Ketiga, karakter Kristen BERORIENTASI pada KESADARAN BAHWA HIDUP ADALAH ANUGERAH DARI TUHAN. Karenanya, hidup itu harus dijalani dengan rasa takut akan Tuhan (berhikmat), menjauhi kejahatan (berakal budi yang baik), dan mengandalkan Tuhan dalam segala hal. Pada konteks ini, orientasi karakter Kristen pada sebuah kesadaran menggiring pemahaman bahwa Roh Kudus akan memampukan kita untuk melakukan apa yang dikehendaki Allah, apa yang baik, yang berkenan kepada Allah.

Keempat, karakter Kristen menekankan KETAATAN dan KESETIAAN kepada Tuhan. Percaya kepada Tuhan dibarengi dengan sikap taat kepada-Nya. Taat dalam pengertian ini adalah tahu bahwa kita percaya, tahu bahwa kita beriman kepada-Nya, tahu bahwa kita diberikan tanggung jawab untuk melakukan firman-Nya dari hari ke hari, dan tahu bahwa apa Tuhan memberikan upah bagi mereka yang taat dan setia. Kesetiaan berarti hanya Tuhan yang menjadi harapan dan tujuan satu-satunya dalam hidup. Hanya Tuhan yang menjadi pegangan hidup kita.

Kelima, karakter Kristen melihat secara ESKATOLOGIS bahwa apa yang telah ditabur dalam kebaikan, akan menuai kebaikan pada akhirnya. Ada harapan yang gemilang ketika kita mempersembahkan diri kepada Tuhan. Tidak hanya harapan, melainkan ada pula jaminan bagi mereka yang taat dan setia melakukan segala sesuatu yang berkenan kepada-Nya yaitu: “kehidupan yang kekal”. Inilah harapan eskatologis—harapan yang kuat.

Dengan demikian, karakter Kristen yang mencakup refleksi, representasi, orientasi pada kesadaran, ketaatan dan kesetian, dan eskatologis, perlu dipahami dan diterapkan secara masiv di kehidupan sekarang dan seterusnya. Karakter Kristen perlu menjadi “cahaya” yang menerangi langkah kita.

Kita dipanggil bukan hanya menikmati anugerah, rahmat, dan berkat Tuhan, melainkan juga berbuat sesuatu yang berkenan kepada-Nya secara bertanggung jawab dan sadar.

Kita dipanggil bukan untuk bersantai-ria, tetapi kita didorong untuk bergerak menunjukkan karakter Kristen, yang dengannya nama Tuhan dipuji dan dimuliakan, dan orang lain mendapatkan berkat dari segala sesuatu yang kita lakukan berdasarkan karakter Kristen yaitu: (1) merefleksikan pribadi Tuhan yang terejawantahkan dalam kata, perbuatan, dan pikiran; (2) merepresentasikan (mewakili) Tuhan; (3) berorientasi pada kesadaran bahwa hidup adalah anugerah dari Tuhan; (4) menekankan ketaatan dan kesetiaan kepada Tuhan; dan (5) melihat secara ESKATOLOGIS bahwa apa yang telah ditabur dalam kebaikan, akan menuai kebaikan pada akhirnya.

Salam Bae.

Sumber gambar: Unsplash

PENGAMPUNAN ALLAH TAK SELEBAR DAUN KELOR

Pengampunan Allah—dalam sejarahnya—tidak didasarkan pada “ucapan Allah saja” melainkan juga melalui “tindakan”. Apa tindakan Allah untuk mengampuni manusia? Pertama-tama kita disuguhkan dengan kisah kejatuhan manusia dalam dosa, Adam dan Hawa “tidak mengikuti perintah Allah”. Akhirnya mereka “berdosa”—sebuah tindakan gegabah dan mau melawan Allah yang telah memberikan pedoman dan perintah untuk tidak bertindak di luar dari apa yang Allah kehendaki.

Allah kemudian menyatakan sebuah hukuman—tentunya melalui sebuah perkataan [ucapan]—bahwa baik Adam, Hawa, dan Ular, semuanya mendapat hukuman karena Allah sendiri yang “mengatakan” demikian. Tindakan Allah kemudian adalah “menutupi ketelanjangan manusia” dengan kulit binatang: “Dan Allah membuat pakaian dari kulit binatang untuk manusia dan untuk isterinya itu, lalu mengenakannya kepada mereka” (Kejadian 3:21).

“Kulit binatang” yang dibuat untuk pakaian haruslah melewati proses kematian dan pencurahan darah dari binatang itu sendiri. Konsep dan fakta ini kemudian menjadi dasar bagaimana Allah “mengampuni umat-Nya” dari dosa-dosa mereka. Zaman Musa, Allah memakai cara “kematian dan pencurahan darah kurban-kurban binatang” agar umat-Nya merasakan pengampunan dan perkenanan Allah atas mereka. Dosa mereka diampuni Allah dengan cara Allah sendiri. Musa tidak menetapkan cara mengampuni dosa, melainkan Allah saja.

Jadi, poin penegasannya adalah Allah mengampuni tidak hanya melalui “ucapan [perkataan] saja” melainkan juga melalui “tindakan”. Dua hal substansial inilah yang kemudian secara final dilakukan Allah dalam skema inkarnasi Sang Logos Ilahi, masuk ke dalam dunia yang berdosa. Jika pengampunan Allah hanya melalui “perkataan” saja, maka pengampunan itu hanya selebar daun kelor. Tidak demikian dengan skema pengampunan yang dipahami dan diimani Kristen.

Pengampunan Allah tidak selebar daun kelor; pengampunan-Nya luas dan dalam, tinggi dan lebar, tak terukur; kasih-Nya dinyatakan kepada manusia berdosa melalui pengampunan. Pengampunan yang menyatukan antara perkataan dan tindakan “Allah berfirman [berkata]” dan “Allah bertindak” adalah dua fakta untuk menunjukkan pengampunan Allah yang luas, tak terukur dan tak terkira itu, dan Yesus Kristus yang adalah “cahaya kemuliaan Allah dan gambar wujud Allah”—Firman yang menjadi “daging”—datang untuk menyatakan “tindakan kasih Allah yang luar biasa”.

Kekristenan percaya bahwa pengampunan Allah itu luar biasa, tidak selebar daun kelor; tak sekecil yang kita duga dan pahami. Pengampunan itu sendiri dinyatakan kepada kita melalui “firman” dan “tindakan”—sebuah keutuhan yang logis dan konsisten. Allah menunjukkan konsistensi-Nya kepada manusia, Sang Logos [Firman] bertindak menjadi manusia untuk mewujudkan pengampunan Allah bagi manusia berdosa. Ketika Allah mengatakan “Aku akan mengampunimu”, maka pasti Ia akan bertindak bukan dengan perkataan lagi, melainkan dengan “tindakan”.

Perjanjian Lama telah memberikan gambaran mengenai konteks tersebut, di mana binatang yang dikurbankan adalah pertanda bahwa pengampunan itu haruslah ditempuh bukan lagi dengan perkataan, melainkan dengan tindakan. Tindakan Allah melahirkan tindakan manusia. Manusia harus mempersembahkan kurban karena itulah adalah perintah Allah untuk pengampunan yang diberikan Allah.

Pengampunan itu tidak sekerdil yang kita bayangkan, tak semudah yang kita pikirkan: asal bicara kepada Allah: “Saya mengakui dosa-dosa saya, ampunilah saya, ya Allah”. Tidak, tidak semudah berkata. Allah menawarkan tindakan yang memang hanya Dia yang berhak menyatakan tindakan itu sebagai bagian dari pengampunan dosa.

Pengampunan itu adalah “tindakan Allah” yang mencakup “kematian dan pencurahan darah [binatang yang dikurbankan]. Gambaran ini pula dinyatakan Allah dalam diri Yesus Kristus, yang dalam keadaan-Nya sebagai manusia, menjadi kurban yang sempurna, mati disalibkan, dan darah-Nya dicurahkan. Yesus tidak hanya mengampuni tetapi juga menjamin mereka yang oleh-Nya Ia tebus. Ia pula mengajarkan bahwa mereka yang hidup dan percaya kepada-Nya harus menyatakan sikap hidup yang kudus, menyatakan KASIH dan PENGAMPUNAN terhadap sesamanya.

Pengampunan mengarahkan kehidupan kita kepada kesadaran bahwa Allah tidak hanya mengasihi kita, tetapi menuntun hidup kita, dan mengarahkan langkah hidup kita kepada firman-Nya, kekudusan, kesucian, kebenaran, dan sukacita sorgawi. Tak hanya itu, pengampunan yang Allah berikan, menyadarkan kita bahwa kita tak mampu melepaskan diri dari dosa kecuali kita diberikan kemampuan “menyadari” bahwa dosa adalah tindakan yang dibenci Allah. Jika Allah membenci dosa, demikianlah orang yang percaya membenci dosa.

Jika melihat pengampunan yang Allah tunjukkan kepada kita melalui Yesus Kristus, maka pengampunan itu begitu besar, disediakan Allah bagi kita. Jangan kerdilkan pengampunan Allah; jangan pahami bahwa pengampunan Allah hanya selebar daun kelor. Pengampunan Allah itu besar, karena hanya Dia sajalah yang dapat mengampuni mereka yang telah dipilih-Nya dari semua suku bangsa; pengampunan Allah atas manusia berdosa tak dapat diukur dan dibatasi. Dia berhak mengampuni siapa saja yang dikehendaki-Nya.

Jangan bermegah diri jika “sudah merasa” diampuni dan membuat efek kejut “menghardik Virus Corona” atau menganjurkan pakai minyak urapan untuk menangkal Virus Corona. Jangan buat yang aneh-aneh; cukup sadari kemalangan kita dan bagaimana Allah mengampuni kita melalui Yesus Kristus yang telah mati, bangkit, dan naik ke surga.

Ia yang berkuasa mengampuni kita telah menunjukkan jangkauan pengampunan yang luas dan tak terkira. Pengampunan Allah tak selebar daun kelor. Oleh karena itu, mari kita memahami dan mengabarkan bahwa pengampunan Allah itu sungguh luar biasa; dengan pengampunan kita dapat bersukacita, kita dapat bergemah dalam Tuhan, bukan bermegah dalam ego kita sendiri.

Jika Allah telah mengampuni kita, maka kita pun harus mengampuni setiap orang yang bersalah kepada kita. Kita diingatkan melalui doa yang Yesus katakan (Matius 6:9-13):

Bapa kami yang di surga,

Dikuduskanlah nama-Mu,

datanglah kerajaan-Mu,

jadilah kehendak-Mu di bumi seperti di surga.

Berikanlah kami pada hari ini makanan kami secukupnya dan AMPUNILAH KAMI AKAN KESALAHAN KAMI, SEPERTI KAMU JUGA TELAH MENGAMPUNI ORANG YANG BERSALAH KEPADA KAMI; dan janganlah membawa kami ke dalam pencobaan tetapi lepaskanlah kami dari pada yang jahat.

Tuhan memberkati kita semua.

Salam Bae

Sumber gambar: Google Image

“ANDREIA”

Kata “keberanian” adalah adalah sebuah sikap atau langkah yang diambil untuk melakukan sesuatu. Keberanian bersifat aktif. Keberanian memiliki konteks tersendiri dan tidak semua hal membutuhkan keberanian. Hanya hal-hal tertentu saja membutuhkan keberanian.

Keberanian itu sendiri didorong, terjadi, tercipta, dan muncul karena adanya situasi atau kondisi yang mengikatnya. Tak ada keberanian yang muncul secara terpisah dengan konteks yang sedang melingkupi seseorang. Dengan demikian, keberanian memperlihatkan eksistensinya dalam hal-hal tertentu yang dengannya, jatidiri, identitas, iman, keyakinan, harapan, dan prinsip hidup dapat diwujudkan, diaplikasikan, dikonfirmasi, dan bertambah teguh.

Filsuf Yunani yang bernama Plato, pernah membahas dan memberikan definisi terhadap kata “keberanian”. Keberanian (Yun. “andreia”; dengan sebutan yang berasal dari kata itu yakni “andrea” dan “andria”) melingkupi segala situasi yang dialami seseorang di mana ia secara yakin memelihara keyakinan itu. Kata “andreia” itu sendiri digunakan sebagai implikasi dari rasa yakin seseorang untuk mencapai sesuatu.

Menurut Plato, “dalam semua situasi” seorang pemberani akan tetap memelihara keyakinan itu—pada saat menderita atau merasa hikmat, pada saat penuh keinginan dan pada saat didera ketakutan—dan tidak pernah membuang keyakinan itu dari jiwanya.” (The conservation of the conviction which the law has created by education about the fearful things […] And by the phrase ‘under all conditions’ I mean that the brave man preserves it both in pain and pleasure and in desires and fears and does not expel it from his soul” [The Republic 429c]).

Keberanian tersimpan dari diri manusia dan muncul pada situasi-situasi tertentu. Keberanian tidak hanya berbicara menaggapi sesuatu tetapi berani menghadapi sesuatu, memegang sesuatu (konsisten) dan tak mudah berubah pikiran. Pada “andreia” terletak komitmen yang teguh untuk siap menghadapi apa pun yang merintangi langkah-langkahnya. Hanya mereka yang berani dalam menguji diri sendiri seberapa kuat ia menghadapi dan seberapa jauh ia melangkah.

Mereka yang berani adalah mereka yang tentu bijaksana dalam menampilkan “andreia” mereka. Andreia bukan sembarang andreia, tetapi selalu ada pemikiran bahwa andreia yang ia miliki tidak menjadi sia-sia. “Siapa yang berani adalah mereka yang telah berpikir untuk merencanakan sesuatu, entah rencana jangka pendek, maupun jangka panjang.”

Andreia adalah milik mereka yang tak mudah putus asa; milik mereka yang yakin akan pimpinan Tuhan. Ia tahu bahwa ia tidak sendiri menghadapi hidup; bahkan andreia yang ia miliki tak akan terbuang sia-sia ketika ia dengan yakin bahwa ia telah mampu melakukan secara nyata perbuatan-perbuatan dari imannya kepada Tuhan.

Andreia adalah kekuatan hidup dan prinsip seseorang. Mungkin, andreia dapat pudar, tetapi tak ada kata “menyerah” bagi mereka yang telah terbiasa menunjukkan keberanian bertindak dan menghadapi berbagai persoalan.

Dengan demikian, kita patut menunjukkan “andreia” pada konteks-konteks tertentu untuk mencapai tujuan hidup. Keberanian sangat dibutuhkan dalam kondisi sekarang ini, mengingat kita diperhadapkan dengan banyak pilihan yang mungkin saja menurunkan level iman kita. Andreia hadir dan memberikan terang bagi langkah kita serta mengarahkan hati dan pikiran kita ke arah yang Tuhan kehendaki.

Mereka yang bersyukur atas apa yang Tuhan buat dalam kehidupan mereka, entah baik, entah malang, entah sukacita, entah dukacita, adalah mereka yang berani. Itulah sebabnya, andreia patut kita pertahankan untuk menggapai hal-hal yang kita yakini dapat memberikan kebahagiaan dan berkat terutama berkat bagi orang lain ketika kita sendiri telah terberkati oleh Tuhan

Salam Bae

Sumber gambar: Unsplash

KITA DAN MASALAH “DUNIAWI” BERTEOLOGI

Sumber gambar: Pinterest

“Rohani” dan “duniawi” adalah dua ciri (identitas) manusia jika dilihat dari perspektif iman Kristen. Manusia rohani menunjukkan perilaku bahwa ia adalah milik Tuhan dan hidup di dalam kasih-Nya, sedangkan manusia duniawi menunjukkan perilaku bahwa ia adalah miliknya sendiri atau milik Iblis, atau milik sesuatu yang ia tentukan sendiri.

Dalam bertelogi, kita dapat melihat dan menilai dua jenis manusia tersebut. Bagi mereka yang rohani, mengutamakan prinsip kredibilitas, integritas, dan kasih, adalah hal yang utama. Dari hal-hal tersebut, mereka mendapatkan upahnya dari Tuhan dan sesama. Bagi mereka yang duniawi, mengutamakan diri sendiri sebagai yang paling penting, dan merasa iri jika ada saingan, mengutamakan kepopuleran semata dan menjadi sombong (egosentris) dalam segala sesuatu, selalu menciptakan masalah, dan sembrono dalam berteologi.

Dua identitas tersebut mewarnai corak berteologi di Indonesia dan juga menjadi ciri khas denominasi. Akan tetapi, dua identitas tersebut lambat laun bisa bertukar tempat. Mereka yang dulunya terlalu rohani, kini berubah menjadi sombong rohani. Mereka yang dulunya sombong rohani, kini berubah menjadi rendah hati dan rohani, menghargai perbedaan pendapat dan menempatkan konteks itu ke dalam ranah “pilihan dan prinsip hermeneutika”.

Pergulatan dogmatis—teologis memperguncingkan sebuah keyakinan denominasi atau bahkan arogansi teologi di mana “nalar” menavigasikan fitur-fitur internal, misalnya emosi, kepuasan, keegoisan, kesombongan akademis (gelar dan keilmuan), lokus studi (misalnya di luar negeri yang bergengsi), yang pada gilirannya “orang-orang” tertentu terjebak dalam rantai “dosa intelektual”. Dosa jenis ini sejatinya memperlihatkan tiga aspek:

Pertama, memamerkan kesombongan akademik yang berimbas kepada “salah kaprah” terhadap semua jenis teologi dan fakta teologi iman tanpa adanya penelitian (pengamatan dan analisis) yang bersifat solidisme.

Kedua, memamerkan penghakiman terhadap orang lain tanpa dibarengi dengan pemahaman yang komprehensif. Misalnya ketika seseorang dulunya berada dalam kesesatan, lalu ia bertobat, dan kisah pertobatannya belum diketahui secara umum, maka ketika ada penghakiman terhadap orang tersebut, di situlah ia sedang memberikan penghakiman yang keliru.

Ketiga, mengandalkan lokus studinya, seolah-olah lokus tersebut merupakan presentasi dari “kebenaran” yang paling benar. Lokus studi tidak menjamin sebuah prinsip kebenaran. Sebuah analisis terhadap teologi, bersumber dari kecermatan, pemahanan yang mendalam yang mencakup pencarian sumber-sumber terbaik, prinsip hermeneutik, pemaparan berdasarkan historisitas, dogmatis, dan biblikal yang kredibel, dan bukan “pada label lokus studi”.

Berbagai metode (cara mengamati) dan bernalar menghasilkan tumpukan konsep dan data teologi entah yang bernatur historis, eksegetis, maupun eisegesis; bahkan lebih parahnya lagi: paralogisme. Pada arena pertempuran ideologi dan teologi, orang-orang kemudian berlomba untuk menampilkan sejumlah gerakan akrobat agar dilihat oleh khalayak.

Tak jarang kebodohan berjalan beriringan dengan kesombongan popularitas. Asal ada “ide”, siap dijual kepada publik. Perlombaan yang tak berhadiah ini menyeret sejumlah orang untuk ikut meramaikan perlombaan tersebut. Para penonton tentu ikut berpartipasi memberi dukungan kepada “gaco” yang diandalkan. Pada akhirnya, yang tersisa adalah “lelucon-lelucon teologi” yang menciptakan lagu-lagu sumbang ke permukaan bumi ini.

Kemudian, berbagai arogansi makin mengental ketika orang-orang tertentu memperlihatkan berbagai keajaiban emosi diri untuk sekaligus menunjukkan bahwa “inilah saya”, dan “inilah potensi keilmuan saya”; “kalian cukup tahu saja bahwa memang saya bisa diandalkan, bahkan lebih andal dari lawan berpikir saya”. Fakta ini mengarahkan para pendengar dan penonton kepada sebuah lingkungan yang di dalamnya berkerumun para pengamat, pesorak, pendengar, pencemooh, provokator, dan lain sebagainya. Hal ini seringkali menimbulkan riak-riak politik agama dan menyeret berbagai “lidah-lidah sombong” untuk mencuatkan narasi-narasi kekinian yang mengandung — jika bukan arogansi akademis — pasti bumbu “kebodohan konteks”.

Publik menilainya dan kemudian menyuarakan nilai-nilai itu, sementara orang-orang tertentu masih sibuk berlomba memperebutkan popularitas diri. Percampuran nalar teologis dengan popularitas memang sulit diamati; tetapi dari buahnya kita dapat melihatnya.

Kini, kita digerakkan untuk terus melihat diri kita, apa yang kita perbuat kepada Tuhan dan sesama. Mungkin kita telah melupakan tugas dan tanggung jawab iman dan menyeret diri kita untuk masuk dalam lingkungan yang tidak mendukung realisasi tugas dan tanggung jawab iman. Kita mungkin terlalu sibuk untuk menavigasikan egoisme akademik dan melupakan identitas yang diberikan Yesus kepada semua orang percaya.

Apakah kita akan membiarkan diri kita terus-menerus seperti ini? Ataukah kita kembali aktif mendukung gerakan “bekerja dan melayani Tuhan”? Memang, melayani Tuhan memiliki banyak faset (segi). Tetapi motivasi dalam melayani, itulah yang menentukan kualitasnya. Kita terpanggil untuk menjadi saksi melalui perkataan, pikiran, dan perbuatan. Semua yang kita katakan dan perbuat, berasal dari kualitas pemikiran kita sendiri. Ketika pikiran kita didasarkan pada Alkitab dan diarahkan kepada kemuliaan Tuhan, maka pasti berkualitas.

Keilmuan teologi kita seyogianya mengarahkan orang-orang kepada kehidupan yang berkenan kepada Allah, menguatkan pemahaman mereka tentang Allah, mendorong mereka untuk mengasihi Allah dan sesama, dan menampilkan gaya hidup yang selaras dengan firma-Nya. Bukan untuk gaya-gayaaan, melainkan karena memang tuntutan spiritual yang Tuhan kehendaki memanglah demikian.

Kita diperhadapkan dengan masalah duniawi berteologi yang kemudian menggiring opini publik – dengan menilainya – sebagai dosa intelektual. Tidak hanya itu, dosa intelektual selain dari pada tiga aspek yang telah saya sebutkan di atas, tampak bahwa dosa jenis ini merambah kepada sikap yang ingin menyingkirkan orang lain yang dinilai menjadi “hambatan” atau “saingan” bagi dirinya. Fakta ini telah membuat beberapa orang merasa puas diri dengan yang dimilikinya, sementara meraka yang berjuang untuk tetap maju dalam studi terus menggeluti teologi dan faset-fasetnya dengan tujuan “berbagi kepada yang lain” selagi ia bergerak dan bernafas. Itulah panggilan yang diterimanya dari Sang Khalik.

Sebaiknya, dosa intelektual dibuang jauh-jauh. Marilah kita bersama-sama berbagi berkat dengan yang lain melalui potensi yang diberikan oleh Tuhan, melalui goresan-goresan pena iman yang diberikan Tuhan; jangan pelit ilmu, jangan simpan ilmu, tetapi berbagilah selagi engkau sehat dan kuat, selagi engkau masih dapat berpikir segar. Tuhan telah memberikan hikmat, akal budi, dan pengertian kepada kita, maka selayaknya kita menggunakannya untuk menyenangkan hati Tuhan melalui tindakan-tindakan bermanfaat.

Ingatlah pesan dari Rasul Yohanes, bahwa: “Janganlah kamu mengasihi dunia dan apa yang ada di dalamnya. Jikalau orang mengasihi dunia, maka kasih akan Bapa tidak ada di dalam orang itu. Sebab semua yang ada di dalam dunia, yaitu keinginan daging dan keinginan mata serta keangkuhan hidup, bukanlah berasal dari Bapa, melainkan dari dunia. Dan dunia ini sedang lenyap dengan keinginannya, TETAPI ORANG YANG MELAKUKAN KEHENDAK ALLAH TETAP HIDUP SELAMA-LAMANYA” (1 Yohanes 2:15-17).

Buanglah kesombongan akademis, sebab hal itu tidak dapat mengerjakan pelayanan terbaik di hadapan Tuhan, justru malah menciptakan ruang kebencian dan caci maki antara satu dengan lainnya. Teolog yang sombong (yang memancarkan dosa intelektualnya) akan menjadi bahan caci maki, dan yakinlah pengikutnya akan semakin berkurang, hari demi hari. Buanglah hal-hal duniawi dalam proses berteologi kita, tetapi arahkanlah hati, pikiran, dan tindakan kita kepada hal-hal yang memuliakan nama-Nya, mendatangkan berkat, memberi teladan, dan terlebih bersaksi bagi kebenaran Yesus Kristus.

Salam Bae……

MENCATAT KEHIDUPAN

Sumber gambar: Unsplash

Ragam makna dan pesan ada pada kehidupan yang kita jalani. Setiap proses dan perjalanan kehidupan memberi kepada kita “catatan-catatan” makna dan pesan hidup. Tugas kita, atau bahkan tanggung jawab kita adalah mencatat kehidupan agar kita dapat menyimpan semuanya dalam pikiran, perasaan, dan emosi.

Suatu saat, catatan kehidupan akan mengingatkan kita bahwa rentetan peristiwa yang dilalui telah membawa sebuah harapan dan fakta hingga kita menemukan kondisi kita sekarang ini.

Ada baiknya, catatan kehidupan itu kita buka setiap hari sembari merenungkan bahwa di setiap detik, ada “tangan yang kuat” menopang, memberkati, dan menyertai kita.

Kita aman, karena Dia melindungi dan mengasihi kita. Kita kuat karena Dia yang menopang kita. Kita bahagia karena Dia bermurah hati kepada kita.

Sungguh, alangkah baiknya jika ucapan syukur diberikan kepada Dia, Sang Khalik. Catatan kehidupan membuat kita menyadari bahwa Dia ada di balik semua peristiwa.

Kekaguman yang mendalam kepada kemurahanNya mengarahkan hidup kita kepada sebuah tujuan, yaitu: “kemuliaan”.

Di dalam kemuliaan tersimpan kekayaan hikmat, kasih, pengampunan, dan teladan. Kita yang dimuliakan Tuhan, seyogianya menunjukkan jati diri terkuat yang telah diberikanNya: hikmat, kasih, pengampunan, dan teladan.

Catatan kehidupan dimiliki setiap orang. Hanya, siapa yang melihat dan melakukan semua catatan kehidupan itulah yang akan menjadi pemenang.

Usahakanlah dirimu memperoleh kertas [hati], pena [iman], dan tinta [kasih] ketika hendak mencatat kehidupan ini.

Niscaya, kehidupanmu akan berbuah lebat, menghasilkan pengaruh, dan menjadi berkat bagi banyak orang.

Salam Bae.

ANTARA GELAR DAN KUALITAS KARYA DAN PEMIKIRAN: Catatan Reflektif atas Riak-Riak Kesombongan

Sumber gambar: Pinterest

Mungkin kita terbiasa dengan penilaian terhadap ‘gelar’ tertentu dari seseorang. Tetapi apakah itu sudah cukup menunjukkan kualitasnya? Kita pun mungkin pernah mendengar bahwa ada orang-orang tertentu yang membeli ijazah untuk mendapatkan “gelar”, meski tak ada kualitasnya sama sekali. Lalu apa yang menjadi ukurannya?

Memang, kategori nilai pada setiap orang berbeda-beda. Ada yang terpukau dengan seseorang karena gelar akademik yang disandangnya; ada yang terpesona dengan seseorang karena wibawanya; ada yang terperanjat dengan seseorang karena kemampuannya mengelola sesuatu; ada yang kagum dengan seseorang karena kualitas berpikirnya; dan ada yang menyukai seseorang karena menghasilkan berbagai jenis karya.

Dari jenis-jenis kategori nilai di atas, sulit bagi kita untuk dapat objektif—tetapi bagi mereka yang memang matang dalam memahami setiap potensi dan karya seseorang, kategori nilai dapat dilekatkan secara objektif. Seringkali tampilan luar dijadikan tameng untuk menunjukkan potensi meski hanya “seuprit” (secuil).

Yang lebih lucu lagi, ada orang-orang tertentu yang mengkategorikan “gelar” sebagai jaminan bahwa kualitas berpikirnya di atas rata-rata, meski tanpa karya nyata. Di sini, subjektivisme bermain-main dengan berbagai kepentingan di baliknya.

Tuntutan karya seringkali menjadi tidak penting bagi mereka yang telah merasa “hebat” ketika sudah memiliki gelar akademik tertentu. Riak-riak kesombongan pun tak dapat dihindari, malahan semakin tampil ke permukaan. Masing-masing menyusun strategi “puas diri” agar tak terlihat “bodoh-bodoh amat”. Polesan demi polesan diperjuangkan sampai melupakan kualitas dan karya.

Memang, kita kadang tak mampu untuk menebarkan keadilan berpikir, menilai, dan menentukan sejauh mana peran dan kualitas “gelar-gelar akademik” yang disandang oleh orang-orang tertentu. Kenyataannya ada orang-orang yang malahan asyik dengan “gelar-gelar” meskipun tata surya berpikirnya kacau balau.

Gaya menutupi kebodohan diri sendiri menjadi ajang untuk memperlihatkan apa yang dimiliki berbekal gelar-gelar akademik tadi. Tak mampu mengoreksi diri, malahan menutup jendela logika untuk hidup dalam tradisi egoisme yang kumuh dalam logika, terkungkung dalam kesombongan, dan rasa puas diri. Hampir-hampir kita tak sanggup melihat dan berkata ketika melihat kenyataan pahit ini yang menyeret “sepertiga kaum [yang merasa] beriman” untuk ikut bermain sepak takraw di alun-alun fakta hidup.

Hingga akhirnya ada celah yang dalam antara gelar dengan kualitas karya dan pemikiran. Gelar lebih unggul dibanding kualitas karya dan pemikiran. Dalam catatan sejarah, mungkin kita telah menemukan berbagai kehebatan dan kekuatan karya serta pemikiran dari orang-orang biasa, yang telah mengubah dunia.

Mereka tidak bergelar tertentu dibanding “orang-orang di luar sana” yang menganggap gelar-gelar yang disandangnya sebagai prestise tingkat dewa, namun kenyataannya pengaruhnya hanya seluas ledakan bom molotov di alun-alun kota fiktif.
Riak-riak kesombongan memang seringkali muncul. Gelar akademik menjadi perisai untuk menutupi “kebodohan-kebodohan” tertentu agar tampak memukau di depan kaum awam.

Lagi-lagi, tak dapat dipungkiri bahwa kenyataan telah memberikan kita catatan-catatan logika di mana kita dapat menyusun karya dan pemikiran dari mereka yang berdedikasi, tidak mau menyombongkan diri dengan gelar-gelar yang disandangnya, dan terlebih lagi, mau menjadi berkat bagi sesama, melalui kata (relasi), perbuatan (karya), dan pemikiran (arahan atau wejangan).

Meski dunia ini berkeliaran berbagai pemikiran, termasuk dari mereka yang bergelar tadi, namun biarlah publik yang menilai. Tetapi, jika ingin mendapatkan penilaian yang benar-benar berkualitas dan tidak diskriminatif, maka lakukanlah penilaian berdasarkan kualitas karya dan pemikiran, bukan “yang lain”.

Semoga kita dapat berkarya bagi kemuliaan nama Tuhan, bukan bagi kemuliaan diri sendiri. Marilah kita terus mengasa logika kita, sehingga menghasilkan pemikiran-pemikiran yang konstruktif (membangun), pastoralis (menggembalakan), evolutif (mengubah [mengembangkan]), optative (menyiapkan masa depan), dan efektif—situasional.

Lihatlah dunia! Lihatlah mereka yang berkarya dan berpikir, sebab tanpa karya dan pemikiran, dunia menjadi tempat yang usang, membosankan, dan tak menghasilkan kehidupan yang layak dihidupi.

Teruslah berkarya dan berpikir, yang di dalamnya kita ikut membangun diri sendiri dan membangun orang lain. Lebih dari itu semua, andalkan Tuhan, jauhkan kesombongan, dan utamakan kualitas yang telah diberikan Tuhan.

Salam Bae

NATUR DAN IDENTITAS APOLOGETIKA

Untuk Apa Berapologi?

Secara praksis, setiap orang Kristen berfungsi sebagai seorang apologet; bahkan lebih dari itu, menjadi seorang apologet. Pada tataran ini, ia bisa menyampaikan berbagai hal yang ia tahu untuk menjawab berbagai pertanyaan dan negasi seputar Alkitab dan iman Kristen (Teologi, Kristologi, dan dan lain-lain). Meskipun demikian, pada konteks internal Kristen, menyampaikan apa yang diketahui bisa menghasilkan perbedaan pendapat. Perbedaan tersebut dilatar-belakangi oleh aspek-aspek seperti denominasi, pemikiran (rasionalisasi), budaya, keilmuan, tendensi personal, hermeneutis, penokohan (mengusung tokoh-tokoh tertentu dan mengikuti alur berpikir dan pemahamannya tentang sesuatu), dan aspek independensi imajinasi personal.

Secara substansial, tidak semua semua orang Kristen yang memiliki kualifikasi—setidaknya secara akademis—untuk menjadi apologet yang terdidik, terpelajar, mumpuni, kredibel, akuntabel, dan berintegritas. Seorang apologet memiliki sejumlah ketentuan aka-demis, keahlian atau kepakaran (penguasaan bidang studi tersendiri atau campuran), ketentuan suplemen pengetahuan dalam konteks korelasi antar bidang studi, dan berbagai empirikalnya. Meski tak dapat dipungkiri bahwa secara praktis ada saja orang-orang Kristen yang berapologetika dengan baik tanpa memiliki ketentuan akademis, keahlian, dan sebagainya. Di sini, kita harus melihat signifikansi (kepentingan) tanggung jawab iman, tanpa melihat siapa yang berpendidikan (menempuh studi teologi di sekolah tinggi teologi atau sejenisnya) atau tidak. Yang terpenting adalah pemahaman tentang Tuhan dan pengalaman (empirikal) rohani seseorang tidak menyimpang dari konteks Alkitab dan tidak menyesatkan. Setiap kita perlu memiliki kesadaran internal, sebuah kesadaran dan perenungan pribadi akan iman terhadap Tuhan. Kesadaran internal ini mendorong setiap orang Kristen untuk memperkuat dan mempertahankan imannya.

Saya mencatat ada dua kesadaran internal, yaitu: pertama, kredibilitas iman Kristen; dan kedua, akuntabilitas iman Kristen. Kredibilitas iman Kristen berbicara tentang apakah iman Kristen dapat dipercaya atau tidak. Pertanyaan ini mencakup doktrin-doktrin fundamental Kristen yang masih menimbulkan perdebatan (soal pemahaman dan kesimpulan) dan disparitas tafsir (hermeneutika). Sejatinya, dasar dari pemahaman akan doktrin-doktrin Kristen adalah penggunaan pendekatan dan atau metodologi. Sebut saja beberapa di antaranya adalah soal baptisan, bahasa lidah, keselamatan, Tritunggal, yang membutuhkan usaha yang serius dalam memahaminya baik seara komprehensif, tematik—korelasional, konteks, dan historis.

Jadi, secara sederhana dan berdasarkan fakta, persoalan-persoalan tentang iman Kristen masih menjadi trending topic di berbagai denominasi gereja di seluruh dunia. Itu sebabnya, peran apologetika secara internal perlu dan signifikan, mengingat perdebatan dan disparitas tafsir atas persoalan-persoalan tersebut, berdampak pada relasi sosial. Bahkan, komunikasi, spiritualitas, moralitas, dan relasi persekutuan, ikut tercemar dan menjadi terganggu bahkan menjadi rusak. Peran para apologet memang perlu untuk menjembatani jurang pemisah tersebut, dengan cara-cara yang lebih persuasif, santun, dan tegas, serta bersahabat (merangkul).

Akuntabilitas iman Kristen berbicara tentang apakah iman Kristen dapat dipertanggungjawabkan atau tidak. Secara praktis ada topik-topik khusus yang sulit dipertanggungjawabkan. Namun itu tidak berarti bahwa tidak dapat dipertanggungjawabkan sama sekali. Bentuk pertanggungan jawab berbeda-beda, bergantung pada natur dari topik iman Kristen itu sendiri. Perlu diingat bahwa natur iman Kristen memiliki tingkat kesulitan tersendiri. Ada aspek-aspek tertentu yang tidak bisa dipahami sepenuhnya, dan ada aspek lain yang dapat dipahami.

Dua kesadaran di atas (kredibilitas dan akuntabalitas) merupakan langkah orientasi bagi masa depan dan langkah kontribusi teologi (iman Kristen) bagi masyarakat dan jemaat (dalam lingkungan gereja, lembaga-lembaga). Orientasi mencakup pemikiran-pemikiran eskatologis iman Kristen yang diterapkan ke dalam proses perwujudan iman. Sedangkan kontribusi teologi mencakup tiga aspek yaitu akademis, spiritualitas, dan konatif (sebuah kehidupan yang mewujudkan usaha atau kemauan untuk mencapai tujuan yang diinginkan).

Memahami peran penting apologetika di atas, kita tahu bahwa betapa mendesaknya peran kita untuk berkontribusi dalam dunia apologetika untuk memberikan pemahaman yang benar tentang hal-hal yang diperdebatkan dan hal-hal yang dipandang menyimpang. Dengan begitu, belajar dan memahami peran penting apologetika seharusnya menjadikan kita sebagai duta-duta Injil, pemberita-pemberita Injil, yang seyogianya membekali diri sejak awal bertemu Tuhan (empirikal spiritual) dan sejak awal belajar teologi.

Kita adalah manusia yang berpikir. Dengan pikiran, kita menentukan sesuatu. Sesuatu yang kita tentukan sangat terkait dengan masa lalu (empirisisme), masa kini (kontemporisme, pengamatan sehari-hari tentang objek-objek tertentu), dan masa depan (optatifisme, harapan akan kehidupan yang lebih baik atau ingin mendapatkan, menguasai, memiliki sesuatu, dalam berbagai bentuk atau wujud). Dalam konteks yang lebih sempit, pikiran kita menentukan apa yang kita “imani”. Yang diimani terkait erat dengan sesuatu yang lampau yang diyakini memiliki pengaruh di masa kini dan mendatang. Iman itu adalah iman kepada Yesus Kristus.

Di samping alasan berpikir, dan kemudian beriman, kita berada dan hidup dalam lingkungan yang plural. Plural tidak hanya sebatas agama saja, melainkan plural dalam berbagai aspek seperti budaya, ideologi, adat istiadat, bahasa, dan sebagainya. Karena keberagaman tersebut, maka pikiran juga beragam. Dalam keragaman itu, muncul berbagai ide atau keyakinan yang sering berbenturan dengan apa yang kita imani. Di sini dapat terlihat sebuah problem of interest (persoalan kepentingan). Akibatnya, benturan-benturan logika dan benturan-benturan fisik adalah imbasnya. Namun, semaksimal mungkin benturan-benturan fisik dihindari. Kita lebih mengutamakan sebuah cara berpikir yang lebih jernih, klarifikatif, dan benar berdasarkan kajian-kajian yang kredibel dan solid.

Melihat kebutuhan “berpikir” yang menjadi trending topic, maka tuntutan berpikir kritis juga sangat dibutuhkan untuk mengulas, menanggapi, dan menganalisis konteks berpikir tadi yang sedang popular. Di era teknologi yang semakin canggih, manusia, mau tidak mau harus melayani tuntutan berpikir. Setiap berita, ide, tulisan, informasi, dan sebagainya, semuanya dihasilkan oleh pikiran. Manusia semakin gencar menjual berbagai gagasan dan penemuan di dalam “pasar ide”, baik di dunia cetak maupun di dunia maya. Iman Kristen juga menjadi ajang pertandingan, baik di kalangan Kristen pada khususnya, maupun di kalangan agama-agama lain pada umumnya. Akibatnya, tuntutan untuk terus berpikir menjadi semacam tuntutan yang primer meski kita seringkali tidak suka mengolah pikiran dan bagaimana berpikir untuk menangkal semua arus pemikiran dunia yang mencoba menggerogoti iman Kristen. Di sinilah peran apologetika menjadi aktual dan sangat penting. Penting karena tuntutan pertanyaan dan klaim-klaim yang menyimpang dari iman Kristen atau klaim-klaim yang menyimpang (mencurigai, menuduh, menggugat) tentang iman Kristen, perlu ditanggapi secara serius, solid, dan kredibel. Maka anjuran untuk berapologetika menjadi sangat krusial (penting atau esensial) dan perlu.

Dalam kondisi yang seperti ini, orang Kristen tidaklah harus tinggal diam dan bermasa bodoh. Jika kita hanya berdiam diri, kepalsuan dan penyesatan akan merajalela di mana-mana. Sebagaimana dalam pemahanan yang logis dan faktual bahwa kepalsuan yang terus-menerus digembar-gemborkan, akan menjadi kebenaran bagi mereka yang tidak mengklarifikasi dan tidak mencari tahu apa yang sebenarnya benar. Oleh karena alasan inilah, peran kita sebagai apologet (praksis maupun akademis) menjadi sangat signifikan dan krusial. Dengan demikian, memahami duduk esensial (pijak mendasar) dari apologetika, baik secara teoretikal maupun secara praktikal. Apologetika adalah suatu disiplin ilmu yang dipelajari di berbagai sekolah tinggi teologi. Signifikansi natur apologetika berangkat dari berbagai problematika atau persoalan-persoalan yang dialami oleh orang Kristen [Gereja] pada umumnya, baik dari luar maupun dari dalam yang berimbas kepada munculnya tokoh-tokoh apologetis (melawan kesesatan doktrinal atau tuduhan-tuduhan dari pihak non Kristen) dan denominasi-denominasi seragam namun berbeda sudut pandang tentang pengertian-pengertian Alkitab, iman, dan doktrin-doktrin, yang didasarkan pada independensi hermeneutika dan cara memahami dari masing-masing tokoh Gereja tersebut.

YESUS ANAK ALLAH: Sebuah Tinjauan Filsafat Logika

Setiap fakta atau objek yang diteliti dapat atau perlu ditinjau secara variatif (dengan berbagai metode atau pendekatan), dan harus menghasilkan kesimpulan yang kredibel (atau reliabel; dapat dipercaya) dan solid (berbobot, berisi). Mengapa harus? Bukankah pada faktanya ada berbagai hasil penelitian yang tidak kredibel? Memang fatkta itu ada. Kita pun tahu bahwa dalam berbagai penelitian (dengan meng-gunakan metodologi dan pendekatan tertentu) telah menghasilkan berbagai kesimpulan, entah prematur, gadungan (bohongan), kredibel, penipuan, dan lain sebagainya.

Fakta ini telah merambah—bahkan sejak dulu—ke dalam ranah teologi (agama-agama) yang mencuatkan tiga hal: pertama, perubahan karakter dan moralitas seseorang: dari jahat menjadi lebih baik; kedua, menyalakan api sentimen agama dan kebencian terhadap penganut agama lain; dan ketiga, menyebarluaskan (anggapan) kebohongan-kebohongan dogmatis agama lain yang pada dasarnya disalahmengerti. Secara prinsip, ketiga hal ini masih tetap sejalan dengan proses beriman dari setiap penganut agama di dunia ini.

Dalam konteks Kristologi, ketiga hal di atas merupakan bagian yang tidak terpisahkan. Pasalnya, ketika seseorang bertobat (secara sungguh-sungguh) dan menerima Yesus sebagai Tuhan dan Juruselamatnya, ada perubahan karakter dan moralitas yang dialami seseorang: dari jahat menjadi lebih baik. Ia—di kemudian hari, akan memiliki banyak pengalaman bersama Yesus, baik suka maupun duka. Contoh konkretnya adalah Paulus. Paulus, sebelumnya bernama Saulus, adalah seorang yang memusuhi pengikut Yesus Kristus. Ia bahkan tak segan-segan untuk membunuh para pengikut Yesus. Hingga akhirnya, dalam perjalanan ke Damsyik (Kis. 9), ia bertemu Yesus dan diubahkan secara luar biasa. Ia menjadi seorang Rasul yang pemberani, memberitakan Injil Yesus Kristus dan memberikan konstruksi teologi mengenai personalitas Yesus Kristus yang solid, di samping rasul-rasul lainnya. Di sini, Yesus, sebagai “Anak Allah” telah mengubahkan kehidupan dan iman sebelumnya menjadi beriman kepada Yesus, Allah yang berinkarnasi menjadi manusia dan menyelesaikan karya keselamatan bagi manusia yang berdosa, melalui salib.

Pada hal kedua, ada orang-orang yang memahami gelar Yesus sebagai “Anak Allah” secara keliru sehingga menyalakan api sentimen agama mereka dan memunculkan kebencian terhadap penganut ajaran Yesus Kristus. Hingga kini, kekeliruan dan kesalahan fatal menafsirkan gelar Yesus tersebut telah menorehkan sejarah buruk bagi penganut agama-agama yang mencoba menafsir ala kadarnya terhadap personalitas Yesus sehingga pengikut Yesus: Kristen, menerima berbagai perlakukan yang tidak semestinya: dibakar, dibunuh, disiksa, didiskriminasi, dan lain sebagainya.

Pada hal ketiga, berangkat dari kekeliruan dan kesalahan fatal dogmatis Kristologi secara khusus mengenai Anak Allah telah menjadikan “orang-orang tertentu”—yang mengusung “Kristologi Miring yaitu lidah-lidah yang menista Yesus”—menyebarluaskan kebohongan-kebohongan dogmatis agama Kristen. Bahkan mereka sangat bangga dan yakin bahwa apa yang mereka pahami dan sebarluaskan adalah “benar”, padahal secara substansial, historisitas, dan dogmatis, adalah menyesatkan. Hal ini tentu menjadikan mereka sebagai orang-orang yang mengalami gangguan kejiwaan “paralogisme” yaitu kesesatan yang tidak disadari bahwa mereka itu sesat.

Dalam proses beriman, Kristen terus menjaga pemahaman Kristologi mereka berdasarkan Alkitab. Pedoman iman dan pengharapan serta keselamatan, tertuang secara jelas dalam Alkitab; dan dengan demikian, proses beriman lambat laun menjadi “dewasa”. Kedewasaan tersebut tercermin dalam sikap dan perilaku Kristen yang “mengasihi sesama manusia” dan “mendoakan musuh serta orang-orang yang mencaci maki” mereka.

Apa yang membuat Kristen tetap teguh dalam iman hingga saat ini? Tidak lain, pemahaman mereka tentang Yesus Kristus dibuktikan melalui empirikal mereka. Yesus tidak sekadar manusia belaka seperti yang dipahami oleh Yudaisme dan Islam. Sama sekali tidak. Yesus adalah pribadi yang begitu luar biasa yang dibuktikan dari kuasa-Nya atas segala sesuatu. Ia mengubah manusia-manusia busuk dan kotor menjadi manusia yang mengasihi Tuhan dan sesama. Mereka yang percaya terus mengenal-Nya secara kontinuitas dan membicarakan (mewartakan) Yesus Kristus kepada dunia. Ia adalah Anak Allah yang luar biasa, datang ke dalam dunia dan mengajak manusia berdosa untuk datang dan percaya kepada Allah yang memberikan keselamatan, pengharapan, pengampunan, kekudusan hidup, dan pembenaran.

Kita harus mengakui bahwa pokok bahasan mengenai personalitas Yesus menarik untuk dikaji; menarik karena memiliki latar belakangnya. Ada yang merasa menarik (menyenangkan) karena dipakai sebagai “senjata” untuk menjatuhkan pemahaman Kristologi orang lain; ada yang merasa menarik karena mengganggap bahwa pokok ini mendorong penggalian ilmiah secara memadai sehingga menghasilkan berbagai gagasan yang patut dipertimbangkan, bahkan dapat diterima secara akal sehat. Ada pula yang merasa bahwa Kristologi menarik untuk dikaji karena semakin menimbulkan kekaguman yang luar biasa terhadap Yesus Kristus yang dipercaya dan diyakini sebagai Tuhan, Anak Allah yang Kudus dan Juruselamat manusia.

Dalam dunia iman Kristen, Kristologi adalah doktrin yang menyita waktu, pikiran, dan tenaga. Bahkan hingga sekarang ini, perdebatan, perumusan, pemahaman, pengkajian, dan penyimpulan tentang personalitas Yesus, masih terus berlanjut. Disparitas pemahaman (perspektif) adalah akar utama di mana semuanya bertumbuh dan menghasilkan buah-buah. Persoalannya, apakah buah-buah itu manis rasanya, atau busuk dan penuh ulat, bergantung dari cara dan proses pertumbuhannya dan mereka yang turut menumbuhkan dan merawatnya.

Pada ranah biblika dan historis, sebenarnya Kristologi telah mencapai puncak pemahamannya, dan sudah final. Artinya, Yesus sebagai Tuhan dan Juruselamat “telah” menjadi kredo Gereja sepanjang zaman. Tak hanya itu, pengakuan bahwa Yesus adalah Tuhan dan Juruselamat telah berlangsung saat Yesus hadir di dunia. Pada perkembangan gereja abad pertama hingga sekarang ini, pemahanan Kristologi Biblika tetap menjadi pegangan utama Gereja-gereja. Meski tak dapat dipungkiri bahwa ada perdebatan teologis soal itu. Imbasnya, pemahaman yang keliru atau menyimpang soal personalitas Yesus Kristus—menggunakan tafsir eisegesis (memasukkan sesuatu [asumsi, opini] ke dalam teks), dan menekankan liberalisme logika (kebebasan berpikir hingga melampaui kriteria penafsiran).

Memang, liberalisme logika (berpikir) bisa saja menjadi senjata utama para negator gelar Yesus sebagai Anak Allah. Akan tetapi perlu diingat bahwa liberalisme logika (khususnya memahami dan melihat Yesus) bukanlah merupakan gagasan tunggal. Sama sekali tidak. Beberapa orang yang suka dengan gaya liberalisme sebenarnya merupakan orang-orang yang “konyol” karena merasa bahwa apa yang mereka sampaikan adalah gagasan tunggal. Sesungguhnya, ketika masuk dalam ranah liberalisme logika pada konteks pemahaman Kristologi selalu bersifat dualisme, misalnya ada yang mengatakan: “Yesus mungkin tidak bangkit secara fisik”, maka kita bisa juga mengatakan: “Yesus mungkin bangkit secara fisik.” Berpikir sebaliknya adalah natur dari liberalisme logika. Sayangnya, ketika ada orang yang menggunakan liberalisme logika, serentak para pengikutnya membenarkan apa yang dikatakannya (digagasnya).

Kita melihat bahwa proses menafsir yang menyimpang kadang dianggap sebagai “benar” padahal secara logis dan historis adalah salah. Konteks menafsir yang benar adalah eksegesis yaitu mengeluarkan makna teks. Inilah yang perlu diperhatikan dan dilakukan secara kredibel.

Di zaman sekarang ini, masih ada orang-orang yang tertarik memberikan ruang pemikiran dan pemahaman yang berseberangan atau bahkan menyimpang dari data historis dan biblika tentang personalitas Yesus. Tetapi memang itu menarik perhatian ketika penalaran yang disuguhkan soal Kristologi menyinggung data biblika. Meski kelihatan bahwa si penutur keliru memahami teks, misalnya Zakir Naik yang keliru memahami teks Matius soal tanda Yunus (Matius 12:39-40), yang dikiranya bahwa Yesus tidak mati karena Yunus juga tidak mati, tetapi sangat jelas dan presumsi mendahului teks. Kita tahu bahwa Naik adalah penceramah Islam yang menolak kematian Yesus. Jadi, sebelum membaca teks dia sudah memiliki presumsi terlebih dahulu sebelum menafsir. Dan anehnya, dia mencari teks-teks yang “dia rasa “ mendukung presumsinya sebagai bagian dari imannya yang buta.

Atau semisal David Benjamin Keldani dalam bukunya yang berjudul Mengguak Misteri Muhammad Shallallahu ‘Alaihi Wa Sallam[1]danMuhammad Yahwa Waloni dalam bukunya Islam Meruntuhkan Iman Sang Pendeta yang keliru memahami teks Yohanes 14:16 soal “Parakletos” yang mereka pelintir dengan penuh keyakinan menjadi periklitos yang artinya “Yang Terpuji” di mana kata tersebut diyakini mengacu kepada Muhammad. Padahal secara tekstual dan historis sama sekali tidak menyentuh gagasan nabi mereka. Pembodohan semacam ini dan kebodohan yang disengaja karena presumsi mendahului teks telah menjadi habitat permanen untuk memuluskan iman mereka. Saya memaklumi hal ini. Di samping itu, secara mendasar tujuan mereka adalah mencari kesibukan untuk mengganggu iman Kristen, mencari sensasi, popularitas, dan tak lupa: uang pelumas. Yesus menjadi “obralan” yang laris manis di pasaran. Asal menyemburkan Kristologi yang “aneh” dan “enak didengar” seketika itu juga “opini Kristologi” menjadi muncul ke permukaan.

Pada faktanya, personalitas Yesus Kristus (Kristologi) menjadi topik yang menarik dan menjadi incaran para teolog, pemerhati teologi, kaum skeptis, para negator, dan para pencaci. Kelompok-kelompok yang memahami personalitas Yesus, terbagi atas empat yakni: kelompok kakap, kelompok teri, kelompok skeptis, dan kelompok ortodoks—biblikal.

Kelompok kakap adalah mereka yang mengumandangkan gagasan yang kelihatan akademis dan kemampuan analisis yang mencakup argumentasi dan dokumentasi (kadang hanya argumentasi saja, tanpa didukung dokumentasi dan historisitas, misalnya Dan Brown, Barbara Thiering, Zakir Naik, Jesus Seminar).

Kelompok teri adalah mereka yang hanya berpikir secara artifisial, mengumandangkan opini, presumsi tanpa konteks, omong kosong, dan sering bermasturbasi logika yang menghasilkan kebuntuan dan kesemuan pendapat.

Kelompok skeptis terbagi dua yaitu mereka yang benar-benar skeptis dengan eksistensi Yesus dan kemudian sama sekali tidak menghiraukan data sejarah; kedua adalah mereka yang memiliki serangkaian pemikiran untuk meragukan Yesus, dan memiliki dualisme logika yang di satu sisi mengikuti pengakuan gereja (berpura-pura) dan di sisi lain mengikuti pengakuan diri sendiri berdasarkan logikanya (secara situasional saja).

Kelompok ortodoks—biblikal adalah mereka yang terus mempertahankan ajaran-ajaran para rasul, ajaran-ajaran para nabi—singkatnya, mempertahankan ajaran Alkitab (PL dan PB). Artinya, kelompok ini tetap berpegang teguh pada data biblikal (argumentasi, dokumentasi, dan historisitas [yang saya sebut dengan filsafat iman) dari kajian Kristologi yang solid dan reliabel. Kelompok ini adalah para misionari, teolog, dan apologet yang terus berjuang menyingkirkan berbagai ajaran sesat yang menyesatkan banyak orang. Mereka memiliki tanggung jawab yang besar dalam memperluas (menyebarkan) Kristologi biblika.

Pada setiap kelompok di atas, saya mengelompokkan mereka ke dalam lima kategori: (1) teolog (bisa termasuk dalam kelompok kakap, teri, skeptis, atau ortodoks-biblikal); (2) pemerhati teologi atau doktrin Kristen (bisa termasuk dalam kelompok kakap, teri, skeptis, atau ortodoks-biblikal); (3) kaum skeptis (termasuk dalam kelompok teri); (4) para negator (bisa termasuk dalam kelompok kakap, teri, atau skeptis); dan (5) para pencaci doktrin Kristen (bisa termasuk dalam kelompok kakap, teri, atau skeptis). Dari hasil pemikiran mereka, keempat kelompok di atas memiliki motivasi yang berbeda. Dari motivasilah, akan terlihat seperti apa bentuk-bentuk pemikiran dan penyelesaiannya (kesimpulan akhir) terhadap Kristologi yang mereka pikirkan dan pahami. Semua hasil pemahaman, pemikiran, analisis, daur ulang gagasan, opini, dan bahkan perkembangan pemikiran tentang Kristologi, berangkat dari sebuah “motivasi”. Motivasi inilah yang akan menentukan sejauh mana gagasan dan pemikiran seseorang, sejauh mana level pemahaman seseorang, dan metodologi apa yang digunakannya, dan bagaimana hasil akhirnya.

Saya mengamati, empat kelompok di atas (kakap, teri, skeptis, dan ortodoks-biblikal) menghasilkan empat kesimpulan akhir: pertama, menerima personalitas Yesus Kristus sebagai pribadi yang setara dengan Allah Bapa, dengan alasan bahwa Yesus adalah “Logos Ilahi” yang menjadi “daging” dalam konteks penggenapan nubuatan Perjanjian Lama terkait dengan penyelamatan dan penebusan umat pilihan-Nya; kedua, menolak personalitas Yesus sebagai tokoh yang tidak historis sebab tidak ada cukup bukti tentang apakah Dia pernah hadir di dunia atau tidak; ketiga, bersikap skeptis terhadap personalitas Yesus termasuk skeptis tentang keilahian-Nya, dan meragukan-Nya sebagai Allah yang berinkarnasi; dan keempat, menegasikan semua unsur keilahian-Nya, menolak gelar-Nya sebagai Tuhan, dan Anak Allah, tetapi hanya menerima pribadi-Nya sebagai manusia belaka, sebagai Nabi dan Utusan Allah.

Dalam ruang analisis ini, saya menggunakan substansi (isi) filsafat logika yaitu: terdefinisi, terkonteks, dan terklasifikasi untuk mengukur setiap gagasan tentang Kristologi; hasilnya akan terlihat apakah sesuai dengan data Alkitab (biblikal) atau hanyalah sebuah opini, presumsi dan kesesatan semata. Dalam filsafat logika, informasi dan keakuratan data biblikal (dan konteks-konteks yang mengikatnya) akan menjadi sebuah makanan yang sehat dan memberikan kesegaran yang luar biasa. Sebaliknya, informasi yang keluar jalur, di luar jalur yang ingin masuk jalur, menyimpang dari data dan konteks historis dan biblikal, merupakan sebuah makanan busuk yang mengakibatkan gizi buruk dan pikiran buruk (berdampak pada negasi).

Kita mungkin mengetahui bahwa rumusan Kristologi yang valid dan kredibel (berdasarkan data biblikal) telah dihasilkan oleh Gereja dan para teolog di sepanjang sejarah sejak abad pertama. Itulah yang diwariskan kepada orang Kristen dari zaman ke zaman. Kristologi yang kredibel tidaklah mudah digeser oleh serangkaian analisis dan ulasan yang salah tempat, out of context, dan salah sasaran, apalagi bernada sentimen agama dan berdasarkan presumsi semata.

Filsafat logika hanyalah menegaskan posisi ke-Ilahian dan ke-Tuhanan Yesus berdasarkan definisi, konteks, dan klasifikasi. Mereka yang menggunakan pendekatan konteks kitab suci agama lain, semisal Islam—yang pola pemahaman dan dasar mereka dipandang menyimpang dan ahistoris, tidak mendapat apresiasi yang berarti, malahan mereka mau ikut nimbrung ke dalam lautan Kristologi Biblikal dan mencoba mengobok-obok airnya, padahal riak-riak air hasil obok-obok tidak memiliki dasar yang berarti sama sekali. Secara tegas saya nyatakan di sini bahwa Kristologi Quranik bukanlah bersifat historis melainkan sebuah pandangan teologis yang terdistorsi dan menyimpang, bahkan mengandung dongeng yang beredar sebelum Islam lahir.

Berbagai upaya telah dilakukan para negator, kaum skeptis, untuk merumuskan sebuah pemahaman Kristologi yang dipandang sebagai senjata ampuh untuk meredam dan mengganggu Kristologi Kristen yang telah diwariskan sejak dulu yang didasarkan pada data biblikal dan historis. Para teolog Kristen telah menjelaskan konsep personalitas Yesus dan menghasilkan sebuah pemahaman Kristologi yang memenuhi tiga substansi iman yakni: argumentasi (dalam menjelaskan), dokumentasi (penjelasan didukung oleh bukti-bukti dokumen), dan historisitas (penjelasan dan dokumentatif adalah bukti sejarah yang valid dan kredibel) dan didukung dengan filsafat logika: terdefinisi, terkonteks, dan terklasifikasi.


[1] Nama lainnya adalah Abdul Ahad Dawud, bukunya diterjemahkan oleh Burhan Wirasubrata, (Jakarta: Sahara Publisher, 2003).

KRISTOLOGI MIRING

Konteks berteologi adalah sebuah upaya orang Kristen dalam memahami, mendalami, mewacanakan, dan memberitakan iman dalam konteks merealisasikan ajaran-ajaran Alkitab, sebagaimana telah dilakukan di sepanjang sejarah.

Teologi itu sendiri bersifat permanen, fleksibel, dan aplikatif. Sejatinya, orang-orang beriman dapat secara cermat menampilkan gaya hidup, gaya bersikap, dan gaya berteologi di zamannya masing-masing. Ada konteks yang mengikat dari semua realisasi teologi di setiap zaman. Kristologi adalah bagian yang tak terpisahkan dari cara berteologi.

Kristologi telah digumuli di sepanjang sejarah, menghadirkan konsep dan ajaran yang permanen (diwariskan dari para rasul), fleksibel (teologi yang mengandung politik—baik iman maupun budaya—di setiap zaman untuk menampilkan sesuatu dan mengisi berbagai kekosongan di zaman itu sendiri), dan aplikatif, di mana ajaran-ajaran dalam Kristologi dapat diterapkan ke dalam relasi humanitas, iman, dan devosi.

Sejarah panjang perdebatan Kristologi merupakan bukti bahwa pokok ini sangatlah menarik. Di samping menarik, orang-orang tertentu dapat menggunakannya sebagai “senjata” atau “alat” untuk mendapatkan berbagai keuntungan, penipuan, penyesatan, dan sederet motivasi di baliknya. Di sini, kita melihat bahwa signifikansi Kristologi tidak melulu soal bagaimana orang Kristen mempertahankan dan mengimani apa yang dituliskan dalam Alkitab, tetapi juga terbuka peluang bagi orang-orang tertentu untuk melakukan paralogisme, pemahaman parsial dan fragmentaris.

Tiga jenis pemahaman tersebut, telah menjadi “benalu” dalam historisitas Kristologi di sepanjang sejarah. Kendati demikian, pemahanan Kristologi yang benar, yaitu memahami secara komprehensif, jukstaposisi, dan demarkasi, menjadi sebuah penegasan kebenaran Kristologi yang pada konteks itu, ajaran-ajaran iman Kristen tetap bertahan dan tetap dapat dipertanggungjawabkan secara ilmiah.

Historical Jesus adalah studi teologi yang menyita banyak waktu. Barangkali, upaya untuk menggali kedalaman dan daya tarik Kristologi akan terus menjadi bahan kajian teologi hingga akhir zaman. Kendati bermunculan “teologi-teologi miring” yang juga menghasilkan “Kristologi Miring”—upaya kita untuk berteologi janganlah pupus di tengah jalan. Kita menyadari bahwa “perang ideologi dan dogmatis” menjadi ajang bernalar yang dengannya manusia mendapatkan manfaat, atau bahkan menyerap berbagai aspek penting bagi keberlangsungan hayati—imaniah.

Kristologi Miring yang kami sajikan ini merupakan sebuah respons iman yang mencakup historis, doktrinal dan apologetika terhadap isu-isu miring—sebuah term teknis yang mengacu pada sebuah konsep atau pemikiran yang tidak lurus [tidak alkitabiah], condong ke arah subjektivisme non-historikal dan non-eksegetikal—di mana Kristologi menjadi rumusan nalar sesuka hati dari mereka yang mempunyai berbagai motivasi. Kristologi para pemikir liberal, para negator iman Kristen, para mualaf, juga kaum intelektual Islam, menghadirkan bentuk nalar Kristologi yang menyimpang; di dalamnya hanya terdapat tiga model pemahanan: parsial, fragmentaris, dan paralogisme. Buku ini hadir untuk memberikan respons yang didasarkan pada historis, doctrinal, dan apologetika.

Ide untuk menuliskan buku di bawah judul “Kristologi Miring” terpikirkan oleh saya pada awal April 2019, dan kemudian saya share di Facebook saya pada tanggal 10 April 2019; saya mengajak teman-teman untuk memulai dan terlibat dalam pembuatan buku dimaksud. Setelah bergelut dengan waktu yang cukup panjang, akhirnya buku ini dapat direalisasikan pada bulan Juni 2020.

Meski sempat mandek selama setahun lebih, upaya untuk menerbitkan buku tetap menjadi prioritas kami (Esar, Deky, Eli, Natan, Samuel, Pangeran, Jimmy, Albert, Bonar, dan saya). Hingga terbentuknya ASASI (Asosiasi Apologis Indonesia), semangat melanjutkan proyek buku Kristologi Miring, kembali membara. Hasilnya, buku ini dapat diterbitkan.

Saya mengucapkan terima kasih kepada sahabat-sahabat saya yang luar biasa, yang telah ikut berpartisipasi dalam menyumbang artikel-artikel, sehingga buku ini dapat diterbitkan. Tuhan Yesus menolong dan memberkati kita dalam tugas dan tanggung jawab iman untuk mengisi zaman ini dengan teologi-teologi yang kredibel, reliabel, dan aplikatif.

Kiranya buku ini memberikan pencerahan di tengah maraknya Kristologi versi miring yang mengganggu tatanan iman, nalar, biblika, dan sejarah. Pula, buku ini dapat menjadi referensi bagi para mahasiswa untuk menggali kekayaan Kristologi.

Salam,

Stenly R. Paparang

Penggagas buku Kristologi Miring

Editor: Stenly R. Paparang, Pangeran Manurung, dan Elia Tambunan

Cetakan 1, 2020. Penerbit Bible Culture Study bekerja sama dengan ASASI (Asosiasi Apologis Indonesia) dan Penerbit Prodi Teologi STT Sumatera Utara

Ukuran Buku: 15.5 cm x 23 cm

ISBN: 978-623-91188-1-5

Kontributor:

KRISTOLOGI ISLAM: Nalar Politik Ilmu Keagamaan tentang Yesus. Elia Tambunan

KRISTOLOGI DILETANTIS: Islam dan Vario Lectio terhadap Historical Jesus. Stenly R. Paparang

PROBLEM KEMESIASAN YESUS DALAM BENAK YUDAISME. Pangeran Manurung

KRISTOLOGI MIRING ALA IOANES RAKHMAT: Respons Apologetik-Filosofis terhadap Hipotesis Deifikasi Kristus. Yosep Belay

TINJAUAN KRITIS ATAS TEORI KENOTISISME DAN CORPUS DELICTI ERASTUS SABDONO. Samuel T. Gunawan

KRISTOLOGI MIRING: Khotbah yang Lancung. Hasahatan Hutahaean

MENINJAU ULANG MODEL KRISTOLOGI PAUL F. KNITTER. Junior Natan Silalahi

KONSEP ANAK ALLAH YANG ILAHI DARI PAGANISME? Studi Kristologi Historis Gelar Anak Allah. Jimmy Jeffry

EKSISTENSI KRISTUS YANG TERKOYAK: Menjawab Kristologi Saksi-Saksi Yehuwa. Albert Rumampuk

KRISTOLOGI FEMINISME: Sebuah Analisis dan Evaluasi.Adi Putra

DOSA YANG TIDAK MENDATANGKAN MAUT: Tinjauan Atas 1 Yohanes 5:16-17 dan Kaitannya dengan Kristologi. Susten Bako

RESPONS TEOLOGIS-APOLOGETIK TERHADAP TEOLOGI SAKSI YEHUWA: Analisis Yohanes 1:1. Alex Talelu

Pemesan dapat menghubungi Stenly R. Paparang di 0857-3073-1533

Harga Buku: 130.000,- (di luar ongkos kirim)

SEJARAH ASASI

Bermula dari kerinduan Saudara Albert Rumampuk untuk mendalami firman Tuhan, maka tahun 2019 pada tanggal 15 Mei, dikumpulkanlah para hamba Tuhan untuk bergabung dalam satu Grup WhatsApp yang diberi nama: Bible Study.

Saudara Albert mengumpulkan para hamba Tuhan sebagai berikut: Natan, Stenly, Jimmy, Samuel Gunawan, Bonar, Pangeran, Eli, Esar, dan Deky. Mereka saling bergumul, berdebat, berdiskusi, melawak, bahkan saling mengolok-olok satu dengan yang lain. Sesekali berdiskusi serius tentang teologi dan perkembangan seminari di Indonesia.

Diskusi akhirnya berkembang dan melahirkan sebuah ide untuk membuat sebuah wadah yang lebih formal. Cukup lama rencana ini tidak terlaksana karena berbagai hal. Dengan berbekal semangat, pada hari Sabtu 20 Juni 2020 pukul 18.00, Saudara Pangeran menghubungi Natan, Stenly, dan Samuel untuk mengeksekusi kerinduan bersama itu. Dalam rapat berempat via WhatsApp, Natan diminta untuk mendoakan rencana tersebut dan mulai menyusun Pengurus Inti ASASI.

TEOREMA TRINITAS: Penalaran Logis tentang Nama, Logos [Pikiran], dan Eksistensi Allah

Sumber gambar: https://elainajdavidson.blogspot.com/2016/06/update-for-kings-challenge-final.html?spref=pi

Pendahuluan

Eksistensi adalah bagaimana sesuatu itu dipahami sebagai ‘yang ada’ dan ‘bagaimana ia ada’. Singkatnya, eksistensi adalah bagaimana memahami sesuatu dari perspektif ontologi. Keberadaan itu “ada” karena “ada” yang dibuktikan dari perkataan, penyataan, dan pemahaman. Pada perkataan, “ada” bisa disebutkan—apa saja—yang penting, entah itu masuk akal atau tidak, sesuatu yang disebutkan itu “ada”, yaitu ada dalam pikiran. Pada penyataan, “ada” bisa dilihat, dirasakan, diraba, didengar, dan dialami, sehingga “ada” di sini mengandung fakta empiris. Biasanya “barang bukti” diindikasikan sebagai kekuatan bukti itu sendiri karena dapat disuguhkan, baik melalui tulisan, buku, penuturan, persaksian, dan pengisahan ulang apa yang dilihat oleh seseorang. Pada pemahaman, “ada” itu bisa dipahami berdasarkan “iman” atau “keyakinan” seseorang yang seringkali didasari pada tendensi agama tertentu. Apa saja bisa dipahami sebagai “ada”, yang terpenting adalah bagaimana meyakininya itu tetap ada.

“Ada” memiliki dua indikasi eksistensi. Pertama, “ada” secara faktual, yaitu “ada” yang bisa dilihat, diamati, dirasakan, diraba, dan dialami. Konteks ini sebenarnya berbicara mengenai data historis dan empirikal. Kedua, “ada” secara konseptual, yaitu sesuatu yang ada dalam pikiran manusia yang di-“ada”-kan untuk maksud tertentu. Meski secara faktual “ada” itu tidak tampak, tetapi “ada” itu eksis dalam pikiran manusia.

Berangkat dari penalaran logis di atas, maka teorema (dalil) Trinitas mengandung pemahaman dan pembuktian yang sama. Jangan dikira bahwa Trinitas tidak memiliki teorema empirikal dan historis. Trinitas itu berdasar, logis, dan empiris. Orang-orang yang tidak memahaminya merasa bahwa doktrin Trinitas tidak masuk akal (tidak bisa diterima karena dianggap bertentangan dengan logika), dan karenanya, menolaknya. Bahkan yang lebih ekstrem lagi, ada yang mengklaim bahwa Trinitas adalah ajaran setan, padahal setan tidak pernah mengajarkan Trinitas, tidak ada bukti apa pun soal itu, karena setan sendiri bernatur trinitas (nama [setan], perkataan/pikiran, dan rohnya [wujud eksistensi]).

Penalaran Logis: Pertanyaan Signifikan

Ada beberapa pertanyaan yang harus dijawab untuk mengantarkan kita pada pemahaman yang benar tentang Trinitas.

  1. Setiap orang berdoa kepada “tuhan”, “dewa”, “allah”, “ilah”. Jika demikian, bagaimana orang-orang memproyeksikan “tuhan”, “dewa”, “allah”, “ilah” dalam pikiran mereka? Maksudnya, bagaimana bentuknya, wajahnya, dan eksistnsinya.
  2. Setiap pribadi (yang utuh) entah “tuhan”, “dewa”, “allah”, atau “ilah” yang memiliki pikiran (logos, kalam), bernatur trinitas. Jika demikian, kepada siapakah manusia berdoa: kepada nama “tuhan”, “dewa”, “allah”, “ilah”, atau kepada logos, pikiran, kalam yang ada di dalam diri “tuhan”, “dewa”, “allah”, “ilah” itu, atau kepada eksistensinya yaitu roh atau dzat?
  3. Jika Allah membuat mukjizat, maka yang menghasilkan perbuatan mukjizat itu adalah Allah, atau pikiran-Nya, atau eksistensi-Nya?
  4. Jika Allah kekal, maka apakah Logos (pikiran) dan Roh Allah adalah juga kekal?
  5. Apakah Logos dan Roh Allah setara dengan Allah?
  6. Jika Logos Allah diciptakan, maka dengan apa (media atau alat) Logos itu diciptakan?
  7. Apakah Allah bisa dipisahkan dari Logos dan Roh-Nya?

Penalaran logis Nama, Logos, dan Eksistensi Allah: Kepenuhan Kepribadian

Allah yang Mahakuasa itu tentu dapat melakukan segala sesuatu yang terkait dengan rencana dan kehendak-Nya. Inkarnasi Logos menjadi daging [manusia] adalah wujud dan penyataan kuasa Allah yang luar biasa itu. Ketika Logos menjadi manusia, maka secara simultan Allah hendak menegaskan kepada manusia bahwa Ia begitu hebat; tak tertandingi.

Lalu bagaimana dengan kematian Yesus di kayu salib? Bukankah itu sesuatu yang tidak hebat dan memalukan? Bukankah jika Yesus adalah Logos Allah yang menjadi manusia, mengapa Ia mati? Berarti hal itu tidak hebat, bukan? Sabar dulu. Kita tidak dapat melihat satu peristiwa dan mengklaim bahwa satu peristiwa itu adalah final. Kita tahu dari Perjanjian Baru bahwa Yesus—pasca mati-Nya sebagai manusia—bangkit dari antara orang mati. Tidak hanya itu saja, Ia pun naik ke surga, tanpa kendaraan atau alat apa pun (bandingkan dengan peristiwa Nabi Elia naik ke surga). Lalu ada yang bertanya: “Bukankah Yesus ‘dibangkitkan’ oleh Allah?” bagaimana hal itu bisa membuktikan bahwa Dia adalah Tuhan sedangkan kebangkitan-Nya dilakukan oleh Allah? Kita harus lihat dulu, bahwa yang dibangkitkan Allah adalah tubuh manusia Yesus. Tidak ada persoalan dengan hal itu. Manusia dapat mati. Lalu, apakah dengan inkarnasi Yesus, maka Trinitas terancam? Tentu tidak.

Trinitas adalah kepenuhan kepribadian: Allah, Logos, dan Roh Kudus; ketiganya setara, kekal, tetapi berdistingsi (berbeda). Analoginya begini: tidak ada satu manusia pun yang dapat memisahkan dirinya (manusia) dengan pikirannya (perkataannya), dan rohnya (wujud eksistensi dasariahnya). Manusia hidup sebagai pribadi yang utuh—itulah ciptaan Allah yang sempurna. Keutuhan pribadi manusia merefleksikan kepenuhan kepribadian Allah itu sendiri. Dari kitab Kejadian 1:26 dinyatakan: “Baiklah Kita menjadikan manusia menurut Gambar dan Rupa Kita….”

Dari aspek logika, Trinitas sangat rasional (kontra klaim bahwa Trinitas adalah tidak masuk akal). Kerasionalan itu dapat kita pahami—meski bukanlah analogi yang memuaskan—dari diri manusia itu sendiri (lihat teks Kej. 1:26). Sejak kekal Allah tidaklah sendirian; Ia (Allah) kekal bersama eksistensi-Nya dan Pikiran-Nya. Allah tidak mendahului Logos dan Eksistensi-Nya. Ketiga-Nya setara, tetapi berdistingsi. Kesetaraan itu adalah kesetaraan ontologi. “Allah Islam” juga sama; Ia memiliki kalam dan dzat sejak kekal. Jika mereka menganggap bahwa Allah swt lebih dulu kekal dibanding dzat-Nya, maka ada dzat lain yang mendahului dzat kedua. Begitu juga dengan kalam-Nya. Kita tidak dapat menafikan kalam Allah seolah-olah Allah tak butuh kalam. Lalu apakah Allah berpikir sejak kekal? Atau dalam waktu tertentu saja Ia berpikir? Apakah pikiran itu muncul saat Allah hendak berpikir atau pikiran itu sudah ada sejak Allah ada?

Teorema Trinitas

Trinitas adalah perwujudan kepenuhan kepribadian Allah dalam konteks penyataan-Nya. Sejak awal penciptaan, kita melihat bahwa “Allah ber-firman” atau “Allah berkata” karena Ia memiliki “pikiran” [davar, logos]. Kemudian dituliskan bahwa “Roh Allah melayang-layang di atas permukaan air, suatu wujud eksistensi yang faktual. Allah—demikian kita menyebutnya—adalah sebuah kata yang dipakai sebagai kesatuan eksistensi antara Roh dan Logos. Suatu penyatuan pasti memiliki nama atau sebutan. Bahkan Allah sendiri menyatakan diri-Nya sebagai “Yang Ada”: Aku adalah Aku.

Ketika Allah mengatakan demikian kepada Musa, maka secara faktual kita melihat adanya kesatuan kepribadian yaitu: eksistensi, perkataan, dan wujud nyata (secara utuh) yaitu Aku adalah Aku (nama). Trinitas tidak dapat dihindari tetapi dipahami dan diimani. Semua agama yang mengakui “pribadi yang diakuinya sebagai Tuhan pernah berkata [berpikir] tak bisa tidak harus mengakuinya sebagai “bernatur trinitas” yaitu: nama (yang padanya diberikan atau yang diakuinya), pikiran (yang tampak dari apa yang dikatakannya) dan rohnya (wujud eksistensi yang esensial).

Dari keseluruhan Alkitab, Trinitas seringkali muncul: Allah yang berfirman, Allah yang hadir di tengah-tengah umat-Nya (dalam wujud yang tak dapat dilihat oleh mata, tetapi dapat dialami, dirasakan kehadiran dan kuasa-Nya), dan Allah yang “berinkarnasi”—Logos menjadi daging—suatu konfirmasi bahwa kuasa-Nya tak terbatas (Ia berdaulat melakukan apa yang dikehendaki-Nya) dan Ia menunjukkan bahwa kuasa-Nya tak terkalahkan, meski menjadi manusia (bdk. Flp. 2:6-11; 1 Kor. 15:54-57).

Dalam Trinitas adalah kesetaraan ontologis, di mana baik Allah, Logos, dan Roh-Nya sama-sama kekal. Sebagaimana yang tampak dalam teks Kejadian 1:1-3, yaitu Allah yang “menciptakan langit dan bumi” melalui davar-Nya, dan Roh-Nya menunjukkan eksistensi esensial yang dinyatakan (diwujudkan). Kesatuan ontologis ini menandakan dan mengkonfirmasi bahwa ketiga-Nya adalah satu, tak bisa dipisahkan, dan setara. Ketika hal ini dibawa ke ranah humanitas, maka tidak ada satu pun manusia yang dapat memisahkan dirinya dengan pikirannya sendiri.

Segala sesuatu memiliki nama. Nama itu sendiri adalah perwujudan dari eksistensi. Segala sesuatu memiliki natur binitarian dan trinitarian. Batu, misalnya, hanya memiliki natur binitarian yaitu: batu (nama yang diberikan), dan eksistensinya (wujudnya). Sedangkan pada Allah, kita memahaminya berdasarkan natur esensial-Nya (self-definition: definisi diri yang mutlak, atau disebut dengan self-condition: kondisi diri yang ontologi) yaitu: Ia secara mutlak (niscaya) memiliki Logos [pikiran] dan Roh [wujud eksistensi]. Ketiganya eksis. Nama itu eksis secara faktual, dan bukan konseptual; Logos itu eksis secara faktual, dan bukan konseptual; dan Roh Kudus itu eksis secara faktual, dan bukan konseptual.

Eksis secara faktual didukung oleh tiga aspek koheren: pertama, melalui penyataan Allah itu sendiri (Ia ada, berfirman, dan bertindak); kedua, melalui kesaksian dan pengalaman (empiris) orang-orang yang mana Allah menyatakan diri-Nya; dan ketiga, melalui tulisan-tulisan (firman-Nya) yang dituliskan oleh orang-orang pilihan-Nya, yang sekarang kita terima sebagai Kitab Suci. Pada aspek kedua, pengalaman bersama Allah tidak dapat dimonopoli oleh satu orang saya. Hal ini berlanjut pada aspek ketiga, bahwa penulisan firman-Nya tak dapat diterima jika hanya ditulis oleh satu orang, seolah-olah Allah menjadi miliknya sendiri. Pada faktanya, Kitab Suci (Alkitab) ditulis oleh lebih dari empat puluh orang penulis dari berbagai profesi dan latar belakang. Allah dialami oleh semua jenis orang, dan bukan oleh satu orang.

Trinitas juga dialami, disaksikan, dan dirasakan oleh banyak orang. Tak ada bukti apa pun dalam Alkitab bahwa Allah hanya dialami oleh satu orang. Kita menolak hal itu karena juga tidak ada dasarnya sama sekali. Ketika kesaksian hanya dialami oleh satu orang, maka sifat monopoli dan rekayasa sangatlah kental. Alktab adalah hasil tulisan banyak orang; mereka tidak hanya menulis, tetapi merasakan kuasa dan kasih Allah. Betapa dahsyatnya kuasa Allah yang mengubahkan hidup mereka dan kesaksian mereka “sama”—tangan Tuhan menolong mereka, menguatkan, dan menghibur. Itulah konsistensi Allah menyatakan diri dan mewahyukan firman-Nya, bahkan menyatakan diri-Nya sendiri melalui inkarnasi Logos, yang tentunya juga “dialami” oleh semua orang yang percaya kepada-Nya.

Dalam konteks kasih, Trinitas merupakan contoh yang konkret dan penuh, di mana sejak kekal, kasih itu—hubungan antar pribadi—direalisasikan dari satu pribadi ke pribadi yang lain. Hal ini tampak dalam pernyataan Yesus: “Seperti Bapa telah mengasihi Aku, demikianlah juga Aku telah mengasihi kamu, tinggallah di dalam kasih-Ku itu” (Yoh. 15:9; bdk. 17:23, 24 “Engkau telah ‘mengasihi’ Aku sebelum dunia dijadikan”). Kasih menjadi pengikat Pribadi-Pribadi dalam Trinitas. Kasih itulah yang diejawantahkan kepada dunia (manusia) yang dikasihi-Nya. Ada fakta perikhoresis dalam diri Trinitas, suatu hubungan satu dengan lainnya dalam kekekalan. Tidak salah, jika Ia menyatakan: “Aku mengasiki kamu”, karena Ia sendiri telah membuktikan bahwa kasih itu direalisasikan dalam suatu hubungan (relasi ontologi dan ekonomi [dengan ciptaan-Nya]).[1]

Trinitas adalah tanda dan fakta keagungan Allah. Memahaminya juga adalah sebuah kedewaan logika dan iman. Menolaknya, berarti menolak eksistensi kita sendiri sebagai pribadi yang bernatur trinitas juga—manusia sebagai refleksi dari Allah Trinitas sebagaimana ditegaskan dalam Kejadian 1:26. Jangan merasa stres ketika memahami Trinitas, karena jika itu pilihan Anda, maka Anda juga akan mengalami hal yang sama dengan “tuhan yang baru”, yakni jika tidak bernatur binitarian, pasti bernatur trinitas juga. Ketika Anda menyembah “tuan yang baru” itu, apakah yang Anda sembah adalah eksistensinya (roh atau dzat), atau pikiran yang ada di dalam dirinya, atau nama yang mana ia disebut? Anda tinggal memilihnya. Jika Anda paham soal ini, maka tidak ada alasan untuk menolak Trinitas seperti yang dinyatakan dalam Alkitab.

Allah itu transenden dan sekaligus imanen. “Allah” yang tidak menyatakan diri justru membuktikan ia bukan allah yang mahakuasa. Apa buktinya? Buktinya ia tidak menyatakan diri. Allah yang demikian adalah buatan pikiran manusia. Ketakutan terhadapnya hanyalah perasaan dan desakan logika, serta petimbangan hati nurani. Tidak ada yang dapat diimani dari allah jenis itu. Itulah berhala. Berhala adalah pikiran manusia itu sendiri, sedangkan Trinitas adalah Allah yang sejati, Allah yang menyatakan diri-Nya dan kuasa-Nya. Tidak hanya itu, Allah disaksikan oleh orang-orang yang kepadanya Allah berkenan; Allah dialami dan dirasakan oleh orang-orang pilihan-Nya, dan Allah didokumentasikan dalam tulisan-tulisan (Alkitab).

Penutup

Teorema Trinitas begitu jelas dalam Alkitab. Memahaminya adalah sebuah kesadaran logika dan iman. Pada logika, kita mengakui bahwa penyataan Allah Trinitas adalah logis: dari Dia, oleh Dia, dan untuk Dia. Jika Ia tidak menyatakan diri, manusia tidak dapat memahami-Nya. Trinitas juga memberikan peluang analogi dengan diri manusia itu sendiri karena manusia diciptakan menurut Gambar dan Rupa Allah. Jika demikian, maka manusia dapat memahami Allah berdasarkan refleksi personal. Pada iman, Trinitas adalah kesaksian yang didasarkan pengalaman dan Kitab Suci. Iman itu berdasar pada sejarah penyataan Allah, sejarah kesaksian dan pengalaman orang-orang pilihan Allah dan yang dipakai Allah, dan sejarah totalitasnya yang dituliskan dalam Kitab Suci.

Dengan demikian, berdasarkan teorema di atas, maka dapat disimpulkan bahwa Trinitas adalah fakta penyataan (dari Allah) dan empirikal (dari mereka yang dipilih dan dipakai-Nya). Trinitas adalah konsistensi Allah untuk menyatakan diri-Nya secara penuh. Trinitas adalah perwujudan logika (cara memahami) yang suprematif. Trinitas adalah perwujudan kasih yang utuh. Trinitas adalah perwujudan kepribadian yang utuh, dan Trinitas adalah keagungan diri Allah yang dibagikan-Nya kepada manusia melalui Yesus Kristus, Logos Allah yang menjadi manusia, yang menyelamatkan, mengampuni, dan menebus kita. Dia begitu mengasihi kita.

Ketika kita menyembah Allah, maka kita menyembah kepenuhan Kepribadian-Nya; menyembah-Nya bukan berarti memisahkan Allah dari Logos dan Roh-Nya. Itu sebabnya tidak ada persoalan dengan penyembahan kepada Roh Kudus, kepada Yesus Kristus (Logos yang menjadi manusia), dan kepada Allah. Adakah umat beragama yang menyembah “Tuhannya” lalu tidak menyembah substansi ontologinya? Adakah umat beragama yang menyembah “Tuhannya” lalu tidak menyembah firman yang ada dalam diri “Tuhan” tersebut?

Yesus pernah menegaskan bahwa barangsiapa mengormati-Nya, ia menghormati Bapa-Nya; barangsiapa mengasihi-Nya, ia mengasihi Bapa-Nya. Trinitas adalah logis, maka bagaimana menalarnya, tentu didasarkan pada prinsip-prinsip logis sebagaimana yang telah saya jelaskan di atas. Jika Yesus—dalam keadaan-Nya sebagai manusia—mengapa Ia berdoa? Di mana letak ke-Tuhanan-Nya? Tentu yang berdoa adalah kemanusiaan Yesus, karena toh Yesus adalah manusia sejati; Ia berdoa kepada Bapa-Nya. Hal ini adalah logis.

 Adakah Yesus menganggap diri-Nya bagian dari Trinitas dan menganggap bahwa Allah itu esa? Di sini kita harus tahu dulu apa itu esa. Esa itu ada dua arti: esa secara ontologis, dan esa secara relasional (Allah dengan ciptaan-Nya). Esa secara ontologis adalah kesatuan atau kepenuhan kepribadian Allah yaitu diri-Nya, Logos-Nya, dan Roh-Nya. Ketiganya adalah “satu” tetapi berdistingsi. Sedangkan esa secara relasional adalah bahwa hanya Allah saja yang satu-satunya (esa) yang harus “disembah”. Ketika seseorang menyembah Allah, maka Ia sedang menyembah Allah sebagai esa secara ontologis dan esa secara objek penyembahan. Ketika kita taat dan tunduk kepada orang yang lebih tinggi (kedudukannya) dari kita, maka secara faktual kita tunduk kepada eksistensinya (karena dia ada), kepada pikirannya, dan kepada dirinya (yang utuh). Orang tersebut hanya ada satu, dan bukan tiga.

Memahami Trinitas memerlukan analogi-analogi yang telah disediakan Allah dalam ciptaan-Nya. Apalagi jika kita memahami secara analogi dari diri manusia, meskipun analogi tersebut tidaklah sempurna; setidaknya dapat mewakili dan memberikan pemahaman yang mendasar.


[1] Lihat buku Robert Letham, Allah Trinitas, terbitan Momentu, Surabaya.

Rancang situs seperti ini dengan WordPress.com
Mulai