Manusia secara utuh memiliki sikap relasional. Segala sesuatu dapat direlasikan dengan sesuatu yang lain. Manusia tak bisa tidak harus membuat dirinya terkoneksi dengan yang lain, entah pribadi, benda, waktu, kesempatan, materi, dan pikiran. Imajinasi dan proses berpikir seringkali membentuk hidup manusia menjadi sesuatu yang berarti, bertumbuh, yang merusak, mengganggu, kejam, brutal, dan lain sebagainya.
Dalam setiap kasus atau kejadian yang terjadi, bisa dikatakan bahwa manusia langsung mengaitkannya (menghubungkannya) dengan sesuatu yang lain. Cara ini menjadi sebuah habit permanen di sepanjang sejarah. Dalam konteks agama pun demikian. Ketika kita—orang yang percaya kepada Tuhan—mengalami suatu kejadian, maka kita langsung merelasikannya dengan Tuhan.
Bahkan lebih dari itu, ketika ada musuh kita yang menghina kita, lalu ia mengalami kejadian buruk, maka kita langsung mengatakan: “Itu karena ia menghina kita”. Lebih buruknya lagi, ketika kasus bom bunuh diri di beberapa gereja yang mengakibatkan banyak orang mati, maka serentak semua kaum beragama berkomentar. Ada yang senang, dan ada yang sedih. Ada yang pura-pura simpati dan lain sebagainya.
“Aku dan Tuhan” seolah-olah menjadi kekuatan logika untuk membenarkan segala perbuatan keji yang membunuh banyak orang—dan orang-orang tertentu bangga bahwa “Tuhan”-nya membalaskan dendam pribadinya atau dendam agamanya. Kita senang jika agama di luar kita mengalami sengsara dan bahkan mensyukurinya. Sikap arogansi beragama menjadi sesuatu yang melekat dalam diri orang-orang munafik dan sombong rohani. Mereka ibarat binatang buas yang kelaparan.
Propaganda-propaganda agama dan ayat-ayat kitab suci menjadi “jualan kecap” agama itu sendiri, yang marak terjadi. Berbagai ujaran kebencian yang membabi buta menghiasi ladang kehidupan beragama. Ada yang senang dengan mengucapkan ujaran kebencian dan penghinaan, dan ada yang marah karena dianggap bisa merusak relasi humanitas.
“Aku dan Tuhan” adalah sikap pribadi yang ingin menjadikan diri kita baik terhadap diri kita dan terhadap sesama. “Aku dan Tuhan” bisa juga berpotensi untuk menjadi sombong rohani dan kaku dalam keyakinan dogmatis. Sikap balas dendam dan mengajak perang bisa terjadi di sekitar kita dengan berbagai alasan. Agama menjadi senjata untuk membunuh, menyalahkan, menghina dan mencaci maki. Hal itu dapat dianggap benar bagi mereka yang pikirannya dibutakan oleh “ilah” zaman ini; ya, “ilah” yang mendorong manusia menjadi jahat.
Pula, “Aku dan Tuhan” bisa berpotensi menciptakan kedamaian dan kesejukkan hidup dan relasi keagamaan. Siapa pun kita dapat memiliki pemikiran untuk menciptakan segala sesuatu, entah baik, entah buruk. Pada prinsipnya, “Aku dan Tuhan” merupakan keputusan iman (keyakinan) dan keputusan pikiran (pemahaman) akan “hidup dan Tuhan”. Hidup, selalu melibatkan relasi humanitas, dan Tuhan, selalu diyakini sebagai Penolong, Pembebas, Penghibur, Penyayang, dan Pembalas.
Kekristenan hadir di dunia untuk memberikan pemikiran dan pemahaman yang baru. Dua senjata yang mematikan dosa dan kesombongan adalah: KASIH dan KUASA TUHAN. Dua senjata ini juga diberikan kepada mereka yang percaya kepada-Nya. Kekristenan kuat, tangguh, tak terkalahkan, karena ia menggunakan dua senjata ini di sepanjang sejarah.
KASIH, mengisahkan tentang pengurbanan Yesus Kristus di kayu salib, untuk menebus, mengampuni, membenarkan, dan menyelamatkan manusia-mansia berdosa. Mengapa harus ditempuh dengan cara demikian? Hanya Allah yang tahu. Jika Allah sudah mengetahui bahwa tidak ada cara lain yang lebih mujarab (ampuh) untuk menebus, mengampuni, membenarkan, dan menyelamatkan manusia-mansia berdosa, maka tentu tidak ada cara lain yang muncul dalam sejarah selain dari pada cara pengurbanan Yesus Kristus di kayu salib. Ingat, Allah Mahatahu; Ia tahu masa depan manusia. Kita manusia yang terbatas dan tidak tahu masa depan kita.
Bukankah manusia berdosa kepada Allah? Jika demikian, bukankah Allah berhak menentukan bagaimana cara untuk menebus manusia? Lalu mengapa Allah harus menggunakan cara salib yang mengerikan? Bukankah bertolak belakang antara cara Allah untuk mendamaikan manusia dengan diri-Nya melalui Kristus tapi dengan cara penyaliban yang sadis? Sama sekali tidak. Tentu Allah juga bisa bertanya kepada kita: “Apakah ada cara lain untuk mendamaikan manusia yang berdosa dengan diri Allah?” Dan kita mungkin menjawab: “Ada”. Persoalannya adalah bukan Allah yang berhutang kepada kita, melainkan kitalah yang berhutang kepada Allah. Jadi, Allah berdaulat menentukan bagaimana cara-Nya menebus manusia.
Itulah KASIH Allah yang besar yang diberikan kepada kita (Yoh. 3:16), dan KASIH itulah yang menjadi sarana persebaran Kristen di seluruh dunia hingga sekarang ini. Di pihak Allah, KASIH adalah supremasi dari pengampunan, penebusan, pembenaran, dan penyelamatan manusia berdosa. Di pihak orang percaya, KASIH adalah supremasi dari sikap hidup berelasi dengan sesama, mengampuni sesama yang telah berbuat jahat kepada mereka, mewartakan bahwa YESUS KRISTUS adalah wujud KASIH Bapa yang mengasihi dan menyelamatkan kita yang berdosa. KASIH itulah yang tak bisa dirobohkan oleh apa pun. Ingatlah perkataan Rasul Paulus:
Siapakah yang akan memisahkan kita dari kasih Kristus? Penindasan atau kesesakan atau penganiayaan, atau kelaparan atau ketelanjangan, atau bahaya, atau pedang? Seperti ada tertulis: “Oleh karena Engkau kami ada dalam bahaya maut sepanjang hari, kami telah dianggap sebagai domba-domba sembelihan.” Tetapi dalam semuanya itu kita lebih dari pada orang-orang yang menang, oleh Dia yang telah mengasihi kita. Sebab aku yakin, bahwa baik maut, maupun hidup, baik malaikat-malaikat, maupun pemerintah-pemerintah, baik yang ada sekarang, maupun yang akan datang, atau kuasa-kuasa, baik yang di atas, maupun yang di bawah, ataupun sesuatu makhluk lain, tidak akan dapat memisahkan kita dari kasih Allah, yang ada dalam Kristus Yesus, Tuhan kita. (Roma 8:35-39)
Dunia bertahan karena ada KASIH Allah dan KASIH manusia-manusia yang percaya kepada-Nya, dan Kekristenan adalah Pelopor KASIH.
KUASA adalah senjata kedua yang dipakai Tuhan untuk menunjukkan bahwa Ia berkuasa, berdaulat, dan bertoritas atas hidup manusia. Orang Kristen yang mengalami penindasan, pembunuhan, pembantaian, dan penderitaan, tetap bertahan dalam iman mereka kepada Yesus Kristus. Mereka tak takut menghadapi kematian. Bagi mereka, KUASA Tuhan yang telah mengubahkan hidup mereka menjadi hidup yang berkenan kepada-Nya, lebih dari apapun juga. KUASA Tuhan adalah pengubah hidup manusia. Seringkali Tuhan menunjukkan kuasa kepada mereka yang percaya, dan mereka selamat dari malapetaka dan kecelakaan. Bahkan dengan KUASA itu pula, orang-orang yang dulunya membenci Kekristenan, kita diubahkan oleh Tuhan.
Tuhan juga memperlengkapi orang percaya dengan KUASA-NYA. Pekabaran Injil dan perluasan ajaran-ajaran Yesus sangat cepat tersebar karena Tuhan seringkali menunjukkan KUASA-Nya melalui orang-orang yang dipilih-Nya. Para pelayan Tuhan diberikan KUASA untuk mengadakan mukjizat dan menyembuhkan, serta kuasa-kuasa lainnya. Sampai sekarang KUASA itu tetap ada.
KASIH dan KUASA adalah alat di tangan Tuhan untuk mengubahkan dunia tanpa menggunakan kekerasan, perang, pembunuhan, intimidasi, dan lain sebagainya. Ketika ketika mengatakan bahwa kita orang yang percaya kepada Tuhan, maka wujudkanlah KASIH dan KUASA itu dalam totalitas kehidupan. Tiada yang mustahil bagi Tuhan untuk mengubahkan orang-orang jahat dan sombong, melalui KASIH dan KUASA yang kita tunjukkan.
“Aku dan Tuhan” harus diwujudnyatakan dalam KASIH dan KUASA yang mengubahkan hidup sesama kita setelah kita diubahkan Tuhan.
Semua orang punya hak yang sama, yaitu hak “untuk menjalani hidup”, hak “menakar hidup”, dan hak “memuaskan hati”. Ketiga hak tersebut dapat secara bergantian atau berproses dalam diri kita. Kita dapat terus memperjuangkan dan mempertahankan hak-hak itu, meski kita juga tahu bahwa “hambatan” dan “tantangan” bisa datang kapan saja, hingga akhirnya kemenangan didapatkan (diraih) karena telah melewati hambatan dan tantangan.
Setiap proses “melewati” segala bentuk hambatan dan tantangan biasanya—pada akhirnya—memberikan kesenangan, kepuasan, kebahagiaan, dan sukacita tersendiri. Apa yang dirasakan seseorang dapat saja merupakan takaran (ukuran) yang selaras dengan apa yang dijalani dan digelutinya. Dan kepuasan hati adalah bagian koheren di dalamnya. Siapa pun kita, mendambatan kepuasan hati yang dimotivasi oleh berbagai hal. Baik dan buruk perbuatan seseorang, tetap “kepuasan hati” akan menjadi bagian yang tidak terpisahkan dan itu juga menjadi takaran yang dia diinginkan.
Semua orang menakar dirinya sendiri. Apa yang ditakarnya adalah potensi-potensi, pemikiran-pemikiran, dan lain sebagainya yang terus-menerus diasa, digeluti, diperjuangkan, dibangkitkan, dipaksakan. Dalam kancah hidup, tak ada yang bisa mengabaikan takaran dirinya sendiri karena dari proses dan memperjuangkan takaran diri, setiap orang akan tiba pada tujuannya masing-masing, menerima “upah”—dan merasa “puas”. Yang tidak puas bisa saja protes dan mengeluh. Tapi itu juga adalah takaran bagi dirinya sendiri atau takaran yang “di-tidak-adilkan” oleh orang lain. Tetapi, bersyukurlah, dan meminta pertolongan Tuhan.
Hak “untuk menjalani hidup” adalah Hak Asasi Manusia yang melekat secara permanen pada setiap orang. Menjalani hidup bukan hanya sekadar menjalaninya saja. Ada banyak hal yang harus dilakukan, dipenuhi, ditaati, dan diselesaikan. Kita tak sekadar hidup dan bergelut (bergumul) dan berjuang di dalam hidup itu, melainkan kita harus tahu bahwa hidup itu berharga dan mendorong, bahkan memaksa kita untuk bertahan dan berjuang untuk merasakan dan menikmati hidup.
Baik-buruk, mujur-malang, senang-kecewa, sehat-sakit, dan sebagainya, adalah ornamen-ornamen mutlak dan permanen yang diberikan Tuhan untuk menghiasi pohon kehidupan kita. Kita pun mengetahui bahwa kita terbatas. Dalam kondisi ini, ada manusia-manusia yang menciptakan berbagai “situasi” yang berpotensi untuk memecah-belah keutuhan relasi manusia dengan cara-cara yang egois dan sentimen. Hak hidup orang lain direnggut dan dianggap sebagai sampah, bahkan binatang yang tak berguna.
Itulah yang terjadi di sekitar kita atau mungkin kita melihat dan mendengar hal itu terjadi di tempat lain. Manusia menjadi pembunuh sesamanya; manusia menjadi musuh sesamanya; manusia menjadi pongah karena keyakinan agama dan dikuasai nafsu membunuh sesamanya; manusia menjadi buas dan menajamkan gigi taringnya untuk memangsa sesamanya; dan manusia menjadi budak kejahatan yang mau tidak mau ia harus menuruti hawa nafsu kejahatan. Meskipun demikian, kita harus ingat, bahwa mereka yang cinta kejahatan dan dikuasai olehnya, juga akan mati. Mereka boleh berbangga diri, tetapi toh pada akhirnya, kematian tak bisa mereka singkirkan.
Kepada kita diberikan bijaksana oleh Tuhan untuk memahami berbagai persoalan yang terjadi di kehidupan ini. Kita tidak perlu turut dalam kancah “balas dendam” karena keyakinan dogmatis agama yang liar dan tak terkendali. Kita semua tahu bahwa ketidakadilan, kejahatan, kebencian, dan permusuhan selalu ada dan menghiasa pohon kehidupan manusia seantero dunia. Tapi bukan itu poin pentingnya. Kita dipanggil untuk menjalani hidup dengan memperhatikan hidup, berhati-hati, dan menghindar dari segala bentuk perbuatan jahat yang dapat merugikan orang lain.
Dalam berbagai peristiwa, kita, secara bersamaan melakukan hak untuk “menakar hidup”. Menakar hidup dilatari berbagai hal. Ada yang menakarnya dengan kebaikan; ada yang menakarnya dengan kejahatan; ada yang menakarnya dengan kepongahan; ada yang menakarnya dengan kejujuran; ada yang menakarnya dengan ketulusan dan keikhlasan; ada yang menakarnya dengan agama; ada yang menakarnya dengan bahasa; ada yang menakarnya dengan pendidikan; ada yang menakarnya dengan gelar; ada yang menakarnya dengan suku; ada yang menakarnya dengan pemikiran yang kritis; ada yang menakarnya dengan negara; ada yang menakarnya dengan iman; ada yang menakarnya dengan ketekunan; ada yang menakarnya dengan kegantengan dan kecantikan; ada yang menakarnya dengan tinggi dan pendeknya tubuh; ada yang menakarnya dengan harta kekayaan; ada yang menakarnya dengan persahabatan; ada yang menakarnya dengan seks; ada yang menakarnya dengan hawa nafsu; ada yang menakarnya dengan mulut kotor; ada yang menakarnya dengan perangai; ada yang menakarnya dengan uang; ada yang menakarnya dengan pekerjaan, ada yang menakarnya dengan keluarga.
Hak menakar hidup tak bisa dihindari, tetapi harus dijalani dan diselesaikan, dinikmati dan dirasakan, digeluti dan diperjuangkan. Malas-malasan bukanlah pilihan yang baik, tetapi rajin dan semangat menjalani hidup mendorong kita untuk mencapai takaran hidup yang kita tentukan sendiri.
Dari semua yang kita lakukan, tujuannya selalu untuk “memuaskan hati”. Kepuasan hati adalah puncak tertinggi dari semua kegiatan dan proses menjalani dan menakar hidup. Hati yang puas memang tak bisa diungkapkan. Setiap orang punya definisi tersendiri dan pengalamannya. Hati yang terpuaskan sungguh membahagiakan, entah puas karena hal baik, atau puas karena hal buruk (jahat). Hanya itu pilihan dan hasil yang mendukung kepuasan hati.
Akhirnya, menjalani hidup yang adalah hak setiap orang, perlu dijalani dengan sebaik mungkin. Hak menakar hidup perlu menjadi pendorong untuk menjadikan hati kita terpuaskan. Oleh sebab itu, jalanilah hidup ini, takarlah hidup ini, agar hati kita terpuaskan. Jangan lupa untuk bersyukur kepada Tuhan karena Dialah yang memberikan hikmat dan kekuatan kepada kita, dan Dialah yang turut campur tangan di dalam segala hal untuk mendatangkan kebaikan bagi mereka yang mengasihi-Nya.
Pada kesempatan tertentu—atau bahkan hampir pada setiap kesempatan, ada orang-orang tertentu yang menampilkan, entah dengan sengaja atau sudah diatur, kepongahan hidupnya. Yang ditampilkan tentu adalah sesuatu yang “dianggap” sebagai sesuatu yang lain dari pada yang lainnya, sesuatu yang memiliki harga yang dirasa lebih mahal dari lainnya, sesuatu yang dirasa lebih banyak dari lainnya, dan sesuatu yang dirasa lebih benar dari lainnya.
Mungkin dalam pengalaman hidup, sering melihat berbagai jenis kepongahan yang terjadi di sekitar kita—atau bahkan di berbagai media sosial. Berbagai prediksi dapat dilakukan untuk mencari tahu apa motif di balik kepongahan yang ditunjukkan oleh seseorang.
Kita pun dapat menafsir bahwa mereka yang menunjukkan pongah hidupnya (dirinya) adalah orang-orang yang memiliki problem pada dirinya. Problem itu mencakup: egoisme, tamak, kekayaan (miliknya dan bukan miliknya), pendidikan, sahabat, pekerjaan, keluarga, harta, dan lain sebagainya. Pada umumnya, egoisme dan kekayaan bisa menjadi alasan utama mengapa pongah begitu terlihat jelas dan eksis di sekitar kita dan atau di media sosial.
Pongah kadang muncul ketika seseorang merasa iri hati dengan orang lain. Bahkan masing-masing menunjukkan pongah secara berbalas-balasan untuk mencari sensasi dan perhatian. Pada akhirnya, yang tersisa adalah dosa-dosa spektakuler yang memang dengan sengaja dipentaskan di dunia persilatan—ya, persilatan lidah, pamer diri, pamer harta, di berbagai wadah publikasi.
Pongahnya hidup bukanlah pilihan baik kita yang tahu bahwa segala harta benda (materi) yang kita miliki tidak menjamin hidup kita bahagia selamanya. Kebahagiaan tidak terletak pada apa yang kita pegang, miliki, gunakan, dan rasakan. Kebahagiaan terletak pada waktu, kesempatan, hati, kasih, dan kebersamaan. Pongah dapat menggerogoti kebahagiaan kita dan bahkan yang didapatkan adalah bahagia “semu daya” (tipuan) dan dipaksakan.
Waktu berjalan terus tanpa istirahat sejenak. Kita yang hidup di dalam waktu bisa beristirahat sejenak dari letihnya perjalanan hidup. Tangan kita terulur untuk menggapai segala sesuatu untuk menjadikan atau bahkan memaksakan hidup kita menjadi bahagia, senang, puas, rindu, dan mempesona (menarik perhatian atau mengagumkan).
Meski acap kali kita lalai untuk mendorong diri kita untuk bergerak menggapai sesuatu yang diinginkan, tapi waktu dan kesempatan kadang masih membuka kedua tangannya untuk mempersilakan kita menggapainya dan menjaknya menuju ke tujuan (dari sesuatu) yang kita inginkan. Di sini, pongah hidup haruslah disingkirkan dan memulai sebuah langkah awal untuk bergegas langkah demi langkah agar tiba di perkebunan buah-buah hidup yang menjadi milik kita.
Kita adalah nakhoda bagi kapal (kehidupan) yang diarungi. Lautan hidup telah terbentang luas di depan mata kita. Segala sesuatu “ada” dan tersedia. Kita melihatnya dan harus bergerak memulai kembara hidup dan dengan tangan terulur merindukan tujuan dari kembara hidup itu sendiri.
Keyakinan akan “mampu mengarungi lautan hidup” dapatlah menjadi salah satu faktor berhasilnya kembara hidup. Di proses kembara, kita masih bisa bebas berpikir dan merenungkan apa yang telah kita lakukan, apa yang sedang kita lakukan dan apa yang akan kita lakukan. Entah apakah diperlukan introspeksi, kesadaran penuh, keyakinan kembali, emendasi karakter dan sikap, kitalah yang menentukan dan memutuskannya.
Hidup telah menyediakan lapangan yang sangat luas bagi setiap manusia; ia dapat menikmatinya sesuka hati, atau dengan bijaksana mengaturnya. Waktu dan kesempatan pun demikian. Mereka hadir dalam setiap tarik dan hembusan nafas kita. Mereka selalu ada. Kita yang perlu sadar dan menarik kesimpulan dari fakta ini.
Pongah hidup memang dapat saja terlihat dan terjadi di sekitar kita. Pada faktanya, hal itu sering terjadi. Kita dapat belajar dari mereka yang pernah mempertontonkan kepongahannya dan kemudian bertobat serta mengubah (memperbaiki) diri (kehidupan) dan relasi mereka. Kita pun tetap waspada dan menjaga diri serta menjaga iman kita kepada Tuhan. Penjagaan diri dan iman ditempuh melalui cara yang selaras dengan prinsip Alkitab.
Kita pun diberikan kesempatan—selama masih bernafas—untuk memperhatikan diri, hidup, hati, pikiran, lingkungan, dan orang lain. Pongah-pongah akan hadir dan mengganggu kita. Kebaikan hati kita—kebaikan yang selaras dengan kehendak Tuhan—adalah senjata ampuh untuk menyingkirkan pongah-pongah diri sendiri dan mungkin juga orang lain.
Sudahkah kita menyingkirkan sikap pongah-pongah diri? Atau menyingkirkan sikap pongah-pongah diri orang lain, orang di sekitar kita? Hanya kita yang telah berubah dan berhasil memperbaiki diri menjadi baik, penuh kasih, hati yang tulus, dan merindukan dan menjadi inisiator kebersamaan, yang dapat menyingkirkan pongah-pongah itu. Dari kitalah lahir berbagai hal baik jika diri kita adalah pohon yang baik. Semoga.
Perkembangan informasi dan teknologi telah merambah ke seluruh dunia. Kecanggihan teknologi dibarengi juga dengan sikap konsumtif dari manusia itu sendiri. Meski teknologi serba canggih, tetap saja kelemahan teknologi itu tetap ada. Meski sedemikian canggih, tetap saja teknologi tidak dapat memenuhi semua tuntutan hidup, keinginan, dan hawa nafsu manusia.
Merambahnya pengguna media sosial, telah banyak menimbulkan persoalan, di samping berbagai kemudahan dan kenyamanannya. Persoalan-persoalan yang muncul terkait dengan penggunaan media sosial adalah menyangkut beberapa indikasi sekaligus faktualitasnya. Manusia pada umumnya bersikap publikatif. Sikap publikatif ini memiliki buah yang sangat banyak. Buah itulah yang akan ditelusuri dan diamati dalam kajian ini. Sebagaimana kita tahu dari Alkitab bahwa “dari buahnyalah kamu mengenal mereka”, maka implikasinya dengan penggunaan media sosial adalah “dari media sosiallah kita dapat mengenal diri kita dan diri orang lain”.
Beberapa teks pendukung untuk memperkuat indikasi saya dalam hal ini adalah sebagai berikut:
Mat 7:16 Dari buahnyalah kamu akan mengenal mereka. Dapatkah orang memetik buah anggur dari semak duri atau buah ara dari rumput duri?
Mat 7:17 Demikianlah setiap pohon yang baik menghasilkan buah yang baik, sedang pohon yang tidak baik menghasilkan buah yang tidak baik.
Mat 7:18 Tidak mungkin pohon yang baik itu menghasilkan buah yang tidak baik, ataupun pohon yang tidak baik itu menghasilkan buah yang baik.
Luk 6:43 “Karena tidak ada pohon yang baik yang menghasilkan buah yang tidak baik, dan juga tidak ada pohon yang tidak baik yang menghasilkan buah yang baik.
Mat 7:20 Jadi dari buahnyalah kamu akan mengenal mereka.
Identifikasi ini telah saya nilai sejak beberapa bulan belakangan ini. Artinya, identifikasi yang saya dapati dari penelusuran penggunaan media sosial dapat dikategorikan baru—meski implikasi dari penggunaan media sosial sudah terkesan sangat lama. Status, informasi, dan curahan hati, dapat terlihat dari konten media sosial, yang mana, setiap pembaca dapat menilainya berdasarkan cara pandangnya masing-masing.
Seperti yang telah saya kemukakan di atas bahwa setiap manusia bersikap publikatif. Dengan sikap inilah, segala sesuatu—bahkan sampai kepada hal-hal pribadi pun dipublikasikan. Media sosial adalah media penilaian. Di mana seseorang menuliskan sesuatu atau memamerkan sesuatu, mempublikasikan sesuatu, langsung saja para pengguna atau pembaca memberikan nilai. Setelah penjelasan berikut ini, saya akan menjelaskan sikap publikatif manusia terkait dengan media sosial. Maraknya penggunaan media sosial menjadikan alat-alat yang memuat media sosial, seperti komputer, laptob, handphone, televisi (menggunakan jaringan internet), dan sebagainya, menjadi semakin tinggi pemakaiannya. Pembayaran listrik pun meningkat. Pembelian peralatan elektronik yang menawarkan terkoneksinya alat-alat tersebut dengan jaringan internet menjadi sangat laku di pasaran.
Tak hanya itu, pengaruh media sosial telah memasuki “lahan Gereja” yang dengan berbagai perspektif, dipakai sebagai sarana atau media dalam mempermudah peribadatan dan kegiatan-kegiatan lainnya. Sekarang, saya ingin menguraikan sikap publikatif manusia terkait dengan penggunaan media sosial dengan berbagai aplikasi, tanpa terkecuali. Namun, di akhir kajian ini, saya ingin memfokuskan pada satu media sosial saja yakni Facebook—media sosial yang sangat familiar di berbagai kalangan, dari kecil sampai besar, dari muda sampai tua, di samping media InstraGram, Youtube, Likee, Tik-Tok, Twitter, dan lainnya.
JENIS-JENIS PUBLIKASI
Sikap publikatif manusia terdiri dari berbagai latar belakang atau jenis publikatif yang didasari pada latar belakangnya untuk mempublikasikan sesuatu. Analisis saya berikut ini adalah pengamatan secara pribadi dan pengalaman pribadi dalam memantau penggunaan media sosial selama beberapa tahun belakangan ini.
Publikasi ilmiah. Terdiri dari tulisan-tulisan ilmiah, foto-foto penelitian, arkeologi, artikel-artikel kesehatan, pertanian, teknologi, agama, budaya, sosial, dan sebagainya. Publikasi ilmiah adalah wujud dari kepedulian seseorang, sekelompok orang [peneliti], lembaga/organisasi/gereja, dan sebagainya. Tujuannya adalah memberikan data faktual dan dianggap bisa memberikan kontribusi positif bagi perubahan sesuatu atau peningkatan sesuatu.
Publikasi lembaga, perusahaan, gereja, yayasan, sekolah, institusi, rumah sakit, dan sebagainya. Terdiri dari kekuatan, kelebihan, keindahan, kenyamanan, keuntungan, kemutakhiran, kelengkapan, dan sebagainya dari lembaga itu sendiri. Tujuannya adalah memberikan daya tarik kepada masyarakat luas agar lembaga itu dapat dikunjungi dan sebagainya. Seperti publikasi sekolah, biasanya terkait dengan penerimaan siswa atau mahasiswa baru.
Publikasi Agama. Terdiri dari kelebihan dan kehebatan, keuntungan dan kemananan ketika seseorang masuk atau menjalankan ajaran agama tersebut. Publikasi ini sering menyembunyikan borok dari para petinggi agamanya dan memamerkan kelebihan-kelebihan yang faktual dan imajinatif maupun yang fiktif.
Publikasi Iklan. Terdiri dari penawaran produk-produk (bahan elektronik, bahan makanan, pakaian, otomotif, bunga, tanah, kucing, sapi, kuda, ular, dan sebagainya) dengan harga dan keuntungannya, meski sering terjadi ketidakcocokkan dengan publikasi keuntungannya. Publikasi iklan terkait dengan pencarian keuntungan dari hasil penjualan. Tak heran, toko online begitu marak dilakukan, sekaligus penipuan mengikutinya dari belakang.
Publikasi Amoral. Terdiri dari publikasi tindakan-tindakan kriminal, pemerkosaan, pembunuhan, pelecehan seksual, pornografi, pornoaksi, film porno, perendahan martabat orang lain, penghinaan, dan sebagainya. Publikasi model ini sering dijumpai di berbagai situs remsi dan non resmi. Pengunjungnya juga tak kalah hebat—membludak.
Publikasi Politik. Terdiri dari isu-isu politik, partai-partai, kejelekan partai lain dan kelebihan partai sendiri. Tak jarang, gereja juga terjebak dari publikasi seperti ini. Publikasi ini juga dimanfaatkan oleh para terorisme dengan mengusung kekejaman kemanusiaan yang diidentifikasikan sebagai publikasi yang bersifat politis atau politisasi.
Publikasi Sosial. Terdiri dari pemaparan pola hidup, struktur kemasyarakatan, kegiatan-kegiatan sosial, dan sebagainya. Publikasi ini mencermati berbagai fenomena yang terjadi di lingkungan sosial, baik secara mikro maupun secara makro. Selain itu, publikasi sosial mengetengahkan manfaat dari kebudayaan, adat istiadat, dan bahkan keunikan yang ada di dalam kelompok masyarakat tertentu.
Publikasi Personal. Publikasi ini ada yang bersifat positif maupun negatif. Publikasi inilah yang akan menjadi fokus saya dalam kajian ini. Publikasi personal terdiri dari tindakan-tindakan yang mempublikasikan diri sendiri atau bersama dengan orang lain. Diri sendiri terkait dengan kegiatan yang dilakukan, di mana dia berada, apa yang sedang dipikirkan, apa yang sedang disesalkan, apa yang sedang ditunggu, apa yang sedang didoakan, persoalan-persoalan yang dialami, gesekan dengan tetangga atau sahabat, makan sendiri, makan bersama, memasak, mencuci, menjemur pakaian, naik mobil, naik pesawat, berdoa, berkhotbah, berenenag, naik kapal, memancing, tidur, mandi, dan sebagainya.
Publikasi personal negatif adalah publikasi yang melanggar aturan etis dan moralitas juga spiritualitas. Publikasi personal negatif memperlihatkan atau mempertontonkan keseksian bagian tubuh tertentu. Bahkan tak jarang seluruh tubuh pun dipublikasikan. Publikasi seperti ini memancing situasi pengguna yang melihatnya untuk berhalusinasi, berseks melalui pikiran, berzina melalui pikiran, dan berujung pada pemerkosaan dan pembunuhan. Kasus pemerkosaan, sering diasumsikan berasal dari mereka yang ketagihan seksualitas, baik melalui video maupun gambar.
LANDASAN-LANDASAN PENGGUNAAN MEDIA SOSIAL
Dalam pengamatan saya, menggunakan media sosial memiliki enam landasan. Landasan-landasan tersebut akan mengidentifikasikan posisi pemuda Kristen, di mana ia berada. Sebenarnya, delapan jenis publikasi di atas, mungkin merupakan publikasi yang selama ini dilakukan pemuda Kristen. Entah yang bersifat ilmiah, personal, iklan, lembaga, agama, dan sebagainya.
Landasan Pijak [Pengguna tanpa Batas]
Landasan ini adalah sebuah kebebasan bagi pengguna media sosial. Tidak ada batasan dalam mengakses internet dan sebagainya. Batasan tersebut adalah batasan umur. Meski dalam beberapa situs, ada permintaan bagi para pengguna di atas 17 tahun. Namun karena dunia maya, bisa saja pengguna memberikan informasi yang menipu alias bohong. Seperti misalnya Facebook, yang telah memakan korban dari aspek pemerkosaan (setidaknya itu yang saya baca). Akun FB seseorang disamarkan dan dipasang foto laki-laki ganteng, lalu seorang perempuan berpikir bahwa ia bisa menikmati masa berkenalan dan berpacaran dengan laki-laki tersebut. Dan pada akhirnya mereka berjanji untuk bertemu, lalu perempuan diperkosa. Kasus ini belum saya konfirmasi (informasi dari FB itu sendiri memang terlihat perempuan itu selesai diperkosa). Kalaupun tidak benar, setidaknya kita dapat lebih berhati-hati dengan berbagai akun palsu di FB.
Meski para pengguna tidak dibatasi, namun sebaiknya pemuda Kristen perlu memperhatikan rambu-rambu dalam menggunakan media sosial.
Landasan Teori
Memahami landasan teori terkait dengan penggunaan media sosial adalah sebuah tindakan yang baik. Dikatakan baik artinya bahwa pengguna media sosial harus tahu secara teoretis makna dan implikasi dari media sosial. Untuk mendapatkan makna dan implikasinya, diperlukan sebuah teori secara elaborative (deskriptif) tentang sebuah manual system atau otomatic system. Teori-teori tentang media sosial dapat dikembangkan oleh siapa saja yang memiliki waktu yang cukup untuk mengamati, menyelidiki, menelusuri konten internal dari media sosial. Teori-teori tersebut didapatkan melalui sebuah pengalaman atau pun asumsi positif rasionalistik.
Landasan Psikologi
Psikologi media sosial sama halnya dengan sifat manusia yang publikatif. Artinya, manusia menginginkan segala sesuatu tentang dirinya, orang lain, lembaga, partai, agama, yayasan, sekolah, pemerintahan, provinsi, negara, dan sebagainya, perlu dipublikasikan dengan berbagai tendensi personal atau komunal, bahkan sampai kepada hidden agenda. Psikologi media sosial adalah sebuah pengamatan bahwa manusia cenderung memiliki berbagai lapisan perasaan. Pada prinsipnya, secara psikologi, manusia ingin dikenal, ingin diperhatikan, ingin popular, ingin terkenal, merasa sombong, merasa hebat, merasa tertekan, merasa kecewa, merasa disakiti, merasa peduli dan simpati, bahkan empati, merasa dendam dan marah, dan sebagainya, entah kepada orang lain, tetangga, sahabat, suami, istri, orangtua, guru, ketua, kepala sekolah, rektor, pendeta, dan sebagainya.
Psikologi media sosial dapat dinilai dari konten (isi) yang dipublikasikan. Dari situ kita dapat menilai mengenai siapa sebenarnya pengguna media sosial tersebut. Jika memberikan contoh—sebut saja media sosial Facebook, mayoritas pengguna FB ingin merasa dikenal, ingin merasa diperhatikan, ingin memberitahukan bahwa saya ada di sini (di tempat di mana pernah atau sedang pergi dan sebagainya), ingin menyombongkan diri, kurang kerjaan, publikasi tanpa pertimbangan, publikasi menggoda, publikasi provokatif, publikasi kepedulian tak terarah dan terarah, memperkenalkan anak, istri, suami, tetangga, pendeta, gembala, ketua sinode, majelis, pelayanan hari minggu, rekreasi, anak bayi, makanan, minuman, kekayaan, gaji, pekerjaan, penerimaan pegawai, mengajar di salah satu sekolah, jumlah gaji, piring, lemari es, televisi, tempat tidur, kulit kaki, cincin, batu akik, mobil, menu hari ini, kue, toples, kuku, bibir, pipi, senyuman, pantat, paha, pakaian, sepatu, kaos kaki, gelang, cincin pertunangan dan pernikahan, kalung, dan lain sebagainya.
Dari apa yang dipublikasikan, tampak bahwa penilaian terhadap psikologi media sosial secara nyata dapat dipertanggungjawabkan. Meski mungkin saja kita dapat keliru menilai orang lain (pengguna media sosial), tetapi secara logis, kesimpulan kita berangkat dari apa yang dipublikasikan. Jika setiap hari, sebelum makan, makanan difoto, kita tahu bahwa model seperti ini membawa seseorang kepada cara berpikir yang mekanis. Artinya, secara mekanis, ketika melihat makanan, yang ada di pikirannya adalah bagaimana makanan tersebut bisa dipublikasikan. Metode berpikir seperti ini cenderung kaku dan mengabaikan berbagai pertimbangan.
Landasan Iman
Pemuda Kristen adalah pemuda yang beriman. Meski kita tahu jenis iman itu ada bermacam-macam. Namun, saya membatasi ruang gerak analisis ini kepada pemuda Kristen yang beriman saja. Pemuda Kristen yang beriman sungguh-sungguh, harus tahu menempatkan dirinya di mana saja. Ketika bersentuhan dengan dunia media sosial, iman kita janganlah disingkirkan atau dipinggirkan, lalu ego dan nafsu kita yang dikedepankan. Ini menjadi keliru. Perlu dicatat bahwa media sosial adalah media khalayak ramai. Artinya, apa yang kita publikasikan, akan dilihat, diamati, dibaca, ditafsirkan, dianalisis oleh banyak orang. Nah, sasaran saya di sini adalah perlunya kesadaran iman untuk menilai apakah yang saya publikasikan itu bersifat publikatif, bermoral, bermartabat, bermanfaat, dan menjadi berkat bagi orang lain atau tidak.
Meski seringkali, orang yang tidak beriman, atau imannya lemah, dianggap menjadi orang yang paling rohani ketika statusnya di media sosial berbau spiritual. Setiap hari statusnya adalah: Terima kasih Yesus; Thank You Lord; Help Me My Jesus; bersyukur kepada Tuhan; Tuhan tolong saya; Sertai perjalananku ini ya Tuhan Yesus; kepada-Mu aku berserah yang Tuhan; Oh My God; Tuhan lindungilah keluargaku; Tuhan sembuhkanlah anakku; semoga cepat sembuh sayangku, Tuhan Yesus menyembuhkanmu; dan ucapan kepada Tuhan dengan berbagai versi.
Iman tidak meniadakan logika. Dengan iman, kita bisa mengarahkan logika kita kepada hal-hal yang positif dan bermanfaat. Dengan iman, kita bisa mengarahkan logika kita untuk berbagi dengan sesama melalui status-status yang baik dan mencerahkan. Sering, persoalan rumah tangga, persoalan pacaran, persoalan konflik gereja, konflik lembaga, yayasan, dan sebagainya, dibawa-bawa ke media sosial. Iman yang kuat adalah iman yang mempertimbangkan segala sesuatu untuk mendatangkan kebaikan, berkat, penghiburan, sukacita, damai sejahteran, kepada orang lain.
Landasan Identitas
Landasan ini berbicara mengenai identitas kita. Tak jarang, status di media sosial seringkali tidak mencerminkan identitas kita yang sebenarnya. Seorang ibu rumah tangga sering membuat status tentang keburukan suaminya di salah satu jenis media sosial. Seorang mantan pacar juga mempublikasikan kasus yang sama. identitas kita memperlihatkan apa yang kita publikasikan. Dengan demikian, identitas perlu dipahami dan disadari dengan sebaik-baiknya, sehingga kita tidak sembarangan membuat sesuatu, mempublikasikan sesuatu, mengatakan [menulis] sesuatu di media sosial apa pun jenisnya. Kalau seseorang beridentitas tukang jual online, sudah pasti publikasinya adalah barang-barang yang akan dijual. Jika jualan sapi, maka yang dipublish adalah foto sapi bukan buaya atau kambing.
Landasan Privasi
Yang terakhir adalah landasan privasi. Banyak orang berpendapat bahwa apa pun yang saya publish di media sosial adalah “hak” saya, media sosial saya, dan kesukaan saya untuk menyampaikannya. Ini tentu benar. Kita punya hak untuk mempublish sesuatu melalui media sosial. Tetapi ingat, ada landasan identitas yang telah saya jelaskan di atas. Coba anda bayangkan, seorang yang berstatus Guru Agama, lalu publish statusnya atau fotonya yakni kalimat atau foto yang tidak senonoh. Aneh bukan?
Privasi memang menjadi pengikat dan kewenangan dari apa yang dipublikasikan. Namun ada beberapa hal penting yang perlu dicatat di sini untuk meluruskan pemahaman privasi di atas:
Identitas perlu menjadi pembatas, pengukur, penyelaras atas apa yang kita publikasikan.
Media sosial adalah media umum yang bisa menimbulkan multi tafsir, multi pengamatan, multi nafsu, multi dosa, multi seks, multi asumsi, multi emosi dan sebagainya.
Media sosial adalah media yang dipakai untuk mempublikasikan sesuatu yang baik, sesuai dengan tatanan moralitas, tatanan agama, dan tatanan masyarakat berdasarkan hukum dan undang-undang.
Mempublikasikan sesuatu memang tidak dilarang, tetapi kesadaran iman seharusnya mengarahkan logika untuk mempertimbangkan untung ruginya, baik buruknya, etis tidaknya, dan sebagainya.
Sebaiknya yang kita publikasikan adalah hal-hal yang bermanfaat dan dapat memberikan kontribusi yang baik bagi sesama kita. Selain itu, publikasi melalui media sosial sebaiknya menghindari agenda kesombongan yang terselubung, agenda sok cari perhatian, agenda pamer kekayaan, wajah cantik dan ganteng, anak yang gemuk dan menggemaskan, uang, rumah, tempat tidur, jenis-jenis makanan, bibir, senyuman, paha, pantat, buah dada, gigi, jenis rambut, warna kulit, pakaian, sepatu, pekerjaan, dan sebagainya.
Publikasi yang hanya sekadar iseng bisa saja dilakukan asalkan dinilai terlebih dahulu apa untungnya, apa manfaatnya. Jika ingin menghibur orang lain, publikasi iseng-isengan, saya rasa cukup bermanfaat. Tetapi jenis publikasinya harus dicermati terlebih dahulu, jangan sampai melukai orang lain.
TANGGUNG JAWAB PEMUDA KRISTEN
Tanggung jawabnya sederhana saja. Pahami Alkitab secara baik dan kredibel, lalu terapkan itu di dalam kehidupan setiap hari. Teks-teks berikut ini mencerminkan sebuah tanggung jawab orang Kristen—termasuk pemuda Kristen
Matius 7:17, Demikianlah setiap pohon yang baik (αγαθον καρπους) menghasilkan buah yang baik, sedang pohon yang tidak baik menghasilkan buah yang tidak baik.
Roma 12:2, Janganlah kamu menjadi serupa (συσχηματιζεσθε: suskematizesthe, terbentuk oleh, disesuaikan dengan, meneladani) dengan dunia ini, tetapi berubahlah (μεταμορφουσθε) oleh pembaharuan (ανακαινωσει) budimu (tou νοος), sehingga kamu dapat membedakan (δοκιμαζειν, menguji, menganggap layak, menilai, menyatakan) manakah kehendak Allah: apa yang baik (αγαθον, berguna, cocok, sempurna), yang berkenan kepada Allah dan yang sempurna (τελειον, matang, dewasa, lengkap).
1 Yohanes 2:15-17, Janganlah kamu mengasihi (αγαπατε, dari kata agapao, merindukan, mencintai, menyukai. Kata ini berbentuk “Modus-Imperatif” atau kata kerja utama) dunia dan apa yang ada di dalamnya. Jikalau orang mengasihi dunia, maka kasih akan Bapa tidak ada di dalam orang itu.
μη αγαπατε τον κοσμον μηδε τα εν τω κοσμω εαν τις αγαπα τον κοσμον ουκ εστιν η αγαπη του πατρος εν αυτω
me agapate ton kosmon mede ta en to kosmo ean tis agapa ton kosmos ouk estin he agape tou patros en auto
Sebab semua yang ada di dalam dunia, yaitu keinginan (επιθυμια, kerinduan, nafsu, hasrat) daging dan keinginan mata serta keangkuhan (αλαζονεια) hidup (βιου, harta kekayaaan, nafkahnya, penghidupannya, harta milik), bukanlah berasal dari Bapa, melainkan dari dunia.
Dan dunia ini sedang lenyap (παραγεται, lewat, pergi, berlalu) dengan keinginannya, tetapi orang yang melakukan kehendak Allah tetap hidup selama-lamanya.
Ibrani 4:13, Dan tidak ada suatu makhlukpun yang tersembunyi di hadapan-Nya, sebab segala sesuatu telanjang (γυμνα, tidak berpakaian) dan terbuka (τετραχηλισμενα, tetrakelismena, dibuka, ditelanjangi) di depan mata Dia, yang kepada-Nya kita harus memberikan pertanggungan jawab (memberi tanggung jawab, bertanggung jawab kepada Allah).
Pertanyaan-pertanyaan kasuistik dan tentang hak dalam menggunakan media sosial:
Apakah yang kita publikasikan bermanfaat?
Dalam kategori apa bermanfaat?
Bermanfaat bagi siapa?
Apakah yang kita publikasikan mengandung unsur spiritualitas atau iman Kristen?
Apakah hak kita untuk publikasi sesuatu di media sosial merupakan hak sepenuhnya atau hak bersama?
Bukankah media sosial adalah media umum?
Apa batasan hak kita dalam menggunakan media sosial?
Memang benar, bahwa apa yang kita publikasikan dalam media sosial berangkat dari hak kita. Tetapi perlu diingat bahwa media sosial bukanlah milik personal melainkan komunal. Setiap hal yang dipublikasikan, dimungkinkan bahwa kita berharap ada yang merespon. Apalagi foto makanan, kaki, bibir, pantat, paha, dada, keseksian tubuh, dan sebagainya.
Dunia dan keinginan memang sedang menyelinap di antara iman anak-anak muda Kristen. Dunia selalu menawarkan sebuah gagasan dan fakta yang menarik dan menggiurkan. Jika demikian, apa yang harus kita lakukan ketika melihat teks-teks Alkitab di atas yang berbicara mengenai tanggung jawab pemuda Kristen?
Apakah perlu bagi kita untuk merumuskan langkah-langkah konkret untuk mewartakan Injil melalui media sosial?
Apakah perlu bagi pemuda Kristen untuk bersatu dalam mewartakan Injil Yesus Kristus melalui talenta yang diberikan Tuhan dan kemudian dituangkan ke dalam media sosial?
BAHAYA-BAHAYA YANG MUNCUL
Bahaya-bahaya ini sebenarnya sudah jelas dari pemaparan teks-teks Alkitab di atas. Saya menyebutkan beberapa kata kerja yang kira-kira memiliki indikasi kuat tentang adanya habitualisme pemuda Kristen dalam menggunakan media sosial.
Janganlah kamu menjadi serupa (συσχηματιζεσθε: suskematizesthe, terbentuk oleh, disesuaikan dengan, meneladani) dengan dunia ini
Berubahlah (μεταμορφουσθε) oleh pembaharuan (ανακαινωσει) budimu (tou νοος)
Χρηστοτης. kebaikan, kemurahan, belas kasihan; apa yang benar
Αγαθωσυνη. kebaikan
Πιστις. iman
Πραοτης. Lemah lembut, kerendah-hatian
Εγκρατεια. Temperamen, penguasaan diri
DISPARITAS FACEBOOK DAN THE BOOK OF LIFE
Facebook
The Book of Life
Dibuat manusia
Dibuat Tuhan
Dipakai manusia
Dipakai Tuhan
Manusia buat status
Tuhan telah menulis pembuat status dan tidak menulis pembuat status
Membuat status tentang Tuhan
Menulis status tentang manusia
Pamer dan bisa dihapus
Tidak bisa dihapuskan karena telah dipilih dan ditetapkan
Makanan difoto
Mengamati yang foto makanan dan apa yang dimakannya
Cari perhatian (caper)
Mencari yang perhatian dengan sesamanya
Bawa perasaan
Meneguhkan perasaan bahwa mereka diselamatkan
Menjelekkan orang lain
Memuliakan dan mengangkat mereka yang ditulis di buku kehidupan
Banyak komentar
Tidak banyak komentar
Sok pintar
Memberkati orang pintar yang dipilih-Nya
Modus (Modal Dusta)
Tak pernah berdusta—Ia menjamin bahwa mereka yang namanya tertulis dalam Kitab Kehidupan, akan diberkati dan dipelihara
Mempublikasikan apa saja sesuka hati, sesuai hak, semaunya, sekehendak hati, dan sebagainya
Tuhan mempublikasikan orang-orang yang telah ditulis namanya dalam Buku/Kitab Kehidupan dengan cara-cara yang sesuai dengan apa yang dikehendaki-Nya
Marah dan mempublikasikan status tersebut. Marah pada dunia maya dan bukan dunia fakta (terbatas dan sesuai konteksnya)
Marah tetapi tidak menghapus namanya dalam Kitab Kehidupan
Bisa menambahkan dan mengurangkan pertemanan
Nama-nama yang tertulis dalam Kitab Kehidupan adalah mereka yang telah dipilih sejak kekekalan dan tak akan dihapus
PENUTUP
Media sosial berdampak positif dan negatif
Media sosial dapat menjadi berkat dan menjadi kutuk
Media sosial adalah wadah untuk menyampaikan aspirasi untuk suatu kemajuan
Media sosial adalah wadah aktif untuk menjalin kerja sama, persahabatan antar bangsa, negasa, dan benua (bersifat global)
Media sosial adalah wadah untuk berjualan
Media sosial adalah wadah untuk menipu
Media sosial adalah wadah untuk mencari mangsa perempuan atau laki-laki untuk melakukan aksi kejahatan, pemerkosaan, penipuan, hipnotisisme, dan sebagainya
Media sosial adalah wadah pencarian jodoh
Media sosial adalah wadah untuk mempromosikan sesuatu, tentang diri, perusahaan, sekolah, dan sebagainya
Media sosial adalah wadah untuk memberitakan Injil
Media sosial adalah wadah untuk menghemat pembelian buku
Media sosial adalah sarana pemborosan listrik
Media sosial adalah sarana untuk berkomunikasi/tegur sapa
Media sosial adalah mempublikasikan kegiatan-kegiatan gereja, kegiatan-kegiatan pelayanan (dengan tendensi kesombongan, sok caper [cari perhatian], tendensi positif, tendensi pemberitahuan, tendensi pamer, dan sebagainya)
Media sosial adalah wadah untuk menyatakan syukur kepada Tuhan
Media sosial adalah wadah untuk berbagi rasa: sukacita dan dukacita
Media sosial adalah sarana ajang pamer kekasih, istri, milik, dan sebagainya
MEDIA SOSIAL: MEMPENGARUHI ATAU DIPENGARUHI?
Media sosial yang kita gunakan berdampak pada dua hal: mempengaruhi atau dipengaruhi. Mempengaruhi adalah publikasi yang kita lakukan. dipengaruhi adalah publikasi yang orang lain lakukan. Dua kemungkinan ini menjadi pusat perhatian kita. Apa gunanya media sosial? Di atas sudah saya jelaskan. Konten-konten publikatif di media sosial berimplikasi kepada mempengaruhi dan dipengaruhi.
Pemuda Kristen perlu memikirkan dua implikasi tersebut. Sebagai Kristen, perlunya pemuda Kristen meninjau ulang gagasan-gagasan dan pemikiran-pemikiran kita tentang penggunaan media sosial. Jika kita mulai membenahi cara penggunaan media sosial dan orientasi tujuan dan pemikiran kita, maka saya yakin bahwa ada semacam kegerakan positif bagi pekabaran Injil. Kita perlu bergerak dalam mewartakan Injil—mumpung media sosial adalah media yang paling banyak digunakan manusia. Mulai dari yang kecil sampai yang besar, dari yang anak-anak sampai kepada orang tua. Pemuda Kristen perlu menjadi barisan pekabaran Injil melalui media sosial, sebab kesulitan kita dalam melakukan pekabaran Injil disebabkan adanya para separatis dan radikalisme agama dari mereka yang ingin memecah belah persatuan. Di Indonesia, para separatis memang tumbuh subur dan bahkan dipelihara oleh orang-orang tertentu yang memiliki kepentingan politik—religius.
Semoga kita diberikan kekuatan untuk melalukan pekabaran Injil melalui media sosial. Dan kiranya hikmat dan kebijaksanaan akan terus ditambahkan kepada kita—para pelaku firman—yang senantiasa peduli dengan mereka-mereka yang terhilang.
Secara umum, manusia memiliki empat jenis hubungan: pertama, dengan Tuhan; kedua, dengan sesama; ketiga, dengan alam (lingkungan); dan keempat, dengan diri sendiri. Keempat jenis hubungan ini bisa menjadi baik, bisa menjadi rusak. Baik-rusaknya suatu hubungan ditentukan oleh tiga aspek, yaitu: pemahaman akan kehidupan, pemahaman akan lingkungan (situasi dan kondisi), dan pemahaman akan iman.
Pemahaman akan kehidupan berbicara mengenai apa maka kehidupan bagi manusia. Manusia menjadi baik ketika ia memahami hidup secara baik pula; dan manusia menjadi rusak ketika ia memahami hidup hanya sebagai pemuasan nafsu belaka. Pemahaman akan lingkungan (situasi dan kondisi) berbicara mengenai bagaimana sikap dan perilaku manusia untuk berinteraksi dengan lingkungannya; dan pemahaman akan iman berbicara tentang apa yang Allah kehendaki untuk dilakukan manusia yang beriman kepada-Nya.
Mazmur 90:12 mengandung tiga aspek di atas. Umat Tuhan menyadari bahwa mereka diberikan kesempatan oleh Tuhan untuk menikmati hidup di bawah pimpinan dan kuasa-Nya, melalui Musa, nabi-Nya. Umat-Nya beradaptasi dengan situasi dan kondisi dari lokus-lokus di mana mereka lewat atau pun menetap. Dan mereka juga bergumul untuk melakukan kehendak Allah agar hidup mereka tertuju hanya kepada Allah.
Tiga aspek di atas tidak hanya berbicara mengenai apa yang dipikirkan dan dilakukan, tetapi juga berbicara mengenai spiritualitas. Hari-hari yang dilalui, justru mengajar umat Tuhan untuk melihat bahwa Tuhan tetap mengasihi mereka dan menghajar ketika mereka melawan, memberontak, dan berdosa di hadapan-Nya.
Klausa “Ajarlah kami menghitung hari-hari kami” adalah sebuah spiritualitas yang menyadarkan umat-Nya bahwa setiap hari, ada tangan Tuhan yang menuntun mereka. Manusia dididik Tuhan untuk menjadi “bijaksana”—tahu dan mempertimbangkan baik-buruknya segala sesuatu. Dari situ, umat Tuhan bergerak dari spiritualitas kepada realitas—melihat kehidupan secara bijaksana—dan menemukan konsistensi penyertaan Tuhan bagi mereka sendiri.
Konteks tersebut menyuguhkan dua fakta bahwa dalam hari-hari yang dilalui manusia, mereka melihat apa yang dilakukan Allah, dan melihat apa yang mereka lakukan bagi Allah.
Allen P. Ross dalam A Commentary On The Psalms menyatakan bahwa, selama sekitar 3000 tahun Mazmur telah menjadi inti dari kehidupan rohani umat Allah. Susunan doa, pujian, nyanyian pujian, renungan, dan liturgi dalam koleksi mencakup semua aspek hidup bagi Allah di dunia yang “antagonistic [menentang] to the faith”.[2] Bagi orang Kristen awal, Mazmur juga dihargai karena nilai mereka dalam doa dan pujian dari umat, tap i lebih lagi karena aplikasi mereka kepada Kristus dalam tulisan perjanjian baru.[3]
Mazmur 90 adalah ungkapan “Doa Musa, Abdi Allah” di mana ia, dalam proses mengikut Tuhan Allah dan memimpin Israel, memiliki sejumlah pengalamaan yang berharga. Doa yang benar, lahir dari pengalaman bersama Tuhan, di mana manusia mengungkapkan apa yang ia rasakan (alami), gumuli, dan apa yang akan diharapkan.
Ayat 12 sebagai bagian dari spiritualitas Kristen—maksudnya sebagai dasar bahwa hanya Tuhan yang dapat mengajar kita tentang kehidupan, pergumulan, sukacita, dukacita, tekanan hidup, dan lain sebagainya. Doa adalah solusi dan sekaligus merupakan ungkapan spiritualitas antara manusia dengan Tuhan.
Di bagian berikutnya—setelah menjelaskan substansi Mazmur secara umum dan secara khusus—saya akan menyebutkan tiga aspek spiritualitas terkait dengan Mazmur 90:12.
SUBSTANSI MAZMUR 90
Augustinus, J. Calvin, C. S. Lewis, N.T. Wright, dan para teolog lainnya telah memberikan kesaksian mereka mengenai apa yang mereka rasakan dari kitab Mazmur. Tidak hanya soal tafsiran mereka, melainkan kehidupan mereka yang dipengaruhi oleh kitab Mazmur. Spiritualitas mereka menjadi kuat tatkala memahami dan melakukan teks-teks dari kitab Mazmur dalam kehidupan mereka di hadapan Tuhan dan di hadapan sesamanya.
James Hely Hutchinson (teolog asal Irlandia), menyatakan bahwa, Mazmur adalah ungkapan hati yang menjauhkan keegoisan dan mengarahkan diri pada objek kenikmatan tertinggi yaitu Allah Pencipta, Penebus Israel, Yahweh sendiri.[4] Berangkat dari pernyataan Hutchinson
Profesor Perjanjian Lama, Rolf A. Jacobson dan Karl N. Jacobson, dalam Invitation to the Psalm : A Reader’s Guide for Discovery and Engagement menyatakan bahwa, kitab Mazmur adalah, pertama dan terutama, merupakan kumpulan puisi Ibrani. Dalam membaca mazmur, kita melatih pemikiran kita secara logis — dalam arti bahwa kata, frasa, dan kalimat disatukan menurut asas yang diatur oleh cara berpikir (logika).[5] Puisi secara keseluruhan adalah jenis bahasa yang memiliki logika yang berbeda dari jenis tulisan lainnya. Dan puisi Ibrani, khususnya, memiliki set yang lebih khusus.[6]
Mazmur adalah puisi alkitabiah. Kata bahasa Inggris “Mazmur” berasal dari bahasa Yunani psalmos, yang pada gilirannya digunakan untuk menerjemahkan kata mizmor Ibrani, yang secara harfiah berarti “lagu.” Jadi dalam pengertian yang paling mendasar, Mazmur adalah sebuah nyanyian atau puisi alkitabiah.[7]
Dalam sejarah Israel, ketika mereka menyampaikan sesuatu kepada Tuhan, mereka melakukannya dengan dua cara: berdoa (memohon, menyampaikan) dan menyanyi. Dua hal ini dapat dilakukan di berbagai kondisi (krisis, bahagia, sukacita, tertekan, dll), dan kitab Mazmur mencerminkan dua tindakan ini. Nyanyian syukur mencerminkan pengalaman orang-orang percaya yang telah melewati berbagai krisis.
Kitab Mazmur itu sendiri memiliki beberapa genre. Genre Mazmur yang diklasifikasikan menurut konten tematiknya:
Mazmur kerajaan (Royal psalms) yang ada hubungannya dengan raja Israel.
Mazmur penobatan atau pelantikan (Enthronement psalms) ada hubungannya dengan Tuhan sebagai raja Israel.
Mazmur kebijaksanaan atau hikmat (Wisdom psalms) menggambarkan tradisi hikmat Israel dan berusaha mengajarkan sesuatu kepada pembaca (atau khalayak).
Mazmur penciptaan (Creation psalms), berbicara tentang Allah sebagai Pencipta dan bumi sebagai ciptaan Tuhan.
Mazmur sejarah (Historical psalms) menceritakan kembali sebagian sejarah Israel.
Mazmur Sion (Zion psalms) berbicara tentang Yerusalem (dan khususnya tentang Bait Suci) sebagai tempat di mana Allah berdiam.
Mazmur kutukan (Imprecatory psalms) yaitu meminta Tuhan untuk menghukum mereka yang menindas pemazmur atau komunitas pemazmur.
Mazmur penitensial (Penitential psalms) yaitu meminta pengampunan.
Mazmur liturgi (Liturgical psalms) memberikan petunjuk untuk ritual penyembahan.[8]
Mazmur Taurat. Sebuah jenis Mazmur kebijaksanaan yang memuji Torat Allah yang diberikan kepada kita. (Taurat berarti “hukum” atau “instruksi.”) Mazmur 1 adalah Mazmur Taurat.[9]
Setiap pasal dalam kitab Mazmur dapat kita identifikasi berdasarkan genrenya.
C. Hassell Bullock menjelaskan bahwa, dalam kitab mazmur tertuang sisi kemanusiaan (humanitas) kita. Masalah pribadi, krisis, dan ketika kegembiraan tak terungkapkan, rasa sakit kita tak terucapkan. Dalam kondisi demikian, kita merasa benar-benar ditinggalkan, ketika ke tegangan hidup datang ke kehidupan kita dan tak terelakkan, atau ketika jiwa kita mengatasi puncak pencapaian manusia.[10] John Calvin berpendapat bahwa mengenali Mazmur akan memaksa kita untuk menjadi jujur tentang diri kita di hadapan Tuhan.[11] Memang, konteks yang disuguhkan dalam kitab Mazmur sangatlah kental dengan kehidupan nyata manusia, relasinya dengan Tuhan dan sesama, dan pergumulan, permusuhan, kebencian terhadap musud, dan permohonan.
James L. Mays menyatakan bahwa, Mazmur adalah puisi keagamaan dari komunitas tertentu (the religious poetry of a particular community).[12] Komunitas tersebut tentu adalah umat Tuhan itu sendiri yang melihat kehidupan (dengan suka dukanya) dan sekaligus melihat intervensi Tuhan dalam kehidupan manusia, termasuk mereka sendiri. Dalam perkembangannya hingga sekarang ini, orang percaya (Gereja) menggumulkan berbagai konteks kehidupan dan dari hal tersebut, Gereja melihat bagaimana tangan Tuhan menopang dan menolong mereka.
Gereja dituntut dengan mendorong kehidupan doa, membantu orang yang berdoa mengembangkan hubungan yang lebih dalam dengan Allah dan kesadaran yang lebih luas akan apa yang dibutuhkan dunia. Satu rintangan untuk berdoa yang setia semacam itu adalah gagasan yang lazim diadakan bahwa doa hendaknya bebas dari kemarahan dan frustrasi.[13] Lalu bagaimana gereja dapat berdoa dalam keadaan trauma dan ketidakadilan? Gereja—meskipun dalam kondisi tersulit—harus tetap berdoa dan menyerahkan segala sesuatu pada kehendak Allah.
Walter Brueggemann berpendapat. Pertama, Mazmur menyatakan bahwa kita harus melihat dunia dan kehidupan kita dengan cara yang sebenarnya, tidak berpura-pura, tidak ada penyangkalan. Dan kedua, mereka bersikeras bahwa semua pengalaman seperti kekacauan dan kekecewaan adalah subjek yang tepat dari wacana dengan Allah. “Realitas dunia, kebenaran tentang diri kita sendiri dapat dibawa dalam doa.[14]
Dalam konteks penafsiran, kitab Mazmur diteropong dari berbagai konteks. Pertama, Historical Interpretations (problem Interpretasi): “Interpretasi lain dari Mazmur yang tidak tepat adalah bahwa mereka (para pemazmur) hanyalah produk dari konteks sejarah. Mereka tidak selalu memaksudkan untuk mengajarkan apa-apa, atau setidaknya tidak perlu menjadi model untuk doa hari ini.” Artinya, pola doa-doa dalam Mazmur tidak menjadi contoh bagi kita sekarang ini. Model penafsiran historis (menyangkal inpirasi Kitab Suci)[15] Kedua, penafsiran alegoris: dijelaskan dalam istilah fenomenologis. Ketiga, penafsiran sosio-historis yang menyangkal pewahyuan Kitab Suci.
Bagi kita, penafsiran Mazmur tidak dapat dipisahkan dari pengakuan bahwa kitab tersebut diinspirasikan oleh Roh Kudus. Singkat kata, kitab Mazmur diwahyukan oleh Allah sendiri.
SPIRITUALITAS DALAM AYAT 12
Melihat hari-hari hidup kita, tidak lepas dari gumul juang serta bahagia yang diberikan Allah. Kesadaran akan betapa fananya hidup kita mengantar kita pada sebuah pemahaman dan keputusan bahwa “kita membutuhkan Tuhan”. Itulah spiritualitas sejati. Ketika kita merasa kuat dan hebat, maka spiritualitas menjadi hilang sama sekali. Sebaliknya, ketika kita mengakui bahwa kita fana dalam waktu, dan Tuhan kekal dan hebat, maka spiritualit as kita terkonfirmasi dalam fakta hidup.
Spiritualitas kita tak bisa tampak kuat ketika menghindari dari gumul juang hidup. Justru ayat 12 menegaskan konteks ini. Mengitung hari-hari sama berarti memohon kepada Tuhan bahwa dalam hari-hari yang dilalui, kiranya Tuhan menguatkan, menopang, menuntun, dan memberkati. Apa pun yang kita terima dari Allah, baik atau buruk, harus mengakui bahwa itu adalah kehendak-Nya. Kita berdoa, Allah menjawab. Menurut N. T. Wright, nilai apa pun yang mungkin kita miliki datang dari kebaikan Allah, bukan kendali kita terhadap keadaan kita.[16] Doa lahir dari pengalaman, dan melalui doa, iman kita mendorong untuk menempatkan kehendak Allah di atas kehendak kita. Allah berdaulat, dan Ia menghendaki agar kita secara bijaksana menilai hidup kita sendiri.
Melalui bijaksana dari Tuhan, kita “menghitung”—dengan perkataan lain: memperhatikan dan menilai hari-hari hidup mengenai apa yang Tuhan buat bagi kita dan apa yang kita buat bagi Tuhan. Yang kita buat bagi Tuhan mencakup dua aspek: aspek menyenangkan hati Tuhan—bertindak sesuai dengan firman-Nya, dan aspek menyakiti hati Tuhan—bertindak sesuka hati tanpa peduli dengan firman-Nya.
Robert Alter menyatakan bahwa, ayat 12 menggambarkan keterbatasan eksistensi manusia yang kontras dengan keberadaan Allah yang abadi.[17] Karena terbatas, maka manusia membutuhkan Allah untuk memberinya pengajaran dalam menilai, mengamati, menghitung hari-hari yang dijalani, mencapai bijaksana yaitu tahu bahwa dalam hari-hari itu, manusia melihat apa yang Tuhan buat bagi diri mereka, dan melihat (mengakui) apa yang mereka buat bagi Tuhan, entah baik, entah buruk. Seperti di ayat 9, “kami menghabiskan tahun-tahun kami “like a sigh” [seperti keluh, ungkapan kesusahan] (Ibr. hegeh also means “murmur”—bisikan).[18]
Menghitung hari-hari berarti dalam hari-hari tersebut—sebagaimana tercatat pada ayat 9—mengandung suka dan duka. Dengan demikian, manusia bergantung pada Allah sepenuhnya untuk melihat hari-hari hidup yang ada dalam kedaulatan-Nya. Pengalaman untuk melihat perbuatan Tuhan adalah bagian dari spiritualitas (ay. 16). Pengalaman turunannya adalah “perbuatan-perbuatan tangan manusia” (ay. 17). Jadi, spiritualitas mencakup merasakan dan menikmati perbuatan tangan Tuhan dan sekaligus menikmati perbuatan tangan kita yang selaras dengan kehendak-Nya.
Hidup itu berlalu buru-buru (ay. 10). Ada penderitaan, kesukaraan, dan lain sebagainya. Kematian bisa disebabkan oleh kemarahan Allah (ay. 11). Kemarahan Allah memang mengagumkan bagi orang percaya dan menyedihkan bagi orang-orang yang tidak percaya. Ay. 13 adalah permohonan untuk memohon kemurahan Tuhan (bdk. ay. 11). Permohonan tersebut sekaligus mencakup: mengenyangkan manusia dengan kasih setia di waktu pagi (ay. 14), supaya ada sorak-sorai. Memohon agar Tuhan membuat manusia bersukacita seimbang dengan hari-hari saat mana Tuhan mengajar (mendidik) mereka (ay. 15). Spiritualitas orang percaya menempatkan diri mereka sebagai manusia yang lemah, bergumul, berjuang, dan dengan demikian, membutuhkan Allah. Spiritualitas berarti “menyadari” kondisi hidup, sekaligus “menginginkan” intervensi Allah dalam hidup.
Hidup manusia di dunia hanya sementara (fana). Kesadaran inilah yang hendak ditegaskan Musa. Karena fana, maka Tuhan adalah satu-satunya pribadi yang dapat memberikan jaminan dan kebahagiaan, serta kekuatan untuk menjalani, menghadapi suka-duka hidup.
ASPEK SPIRITUALITAS
Berdasarkan elaborasi di atas, kita sampai pada aspek spiritualitas. Ada beberapa aspek spiritualitas yang perlu kita cermati berikut ini:
Pertama, tetap beriman di masa sukar; tidak hanya memanfaatkan masa yang bahagia, tetapi juga menyeimbangkan “iman” dalam dua, tiga, atau bahkan empat kondisi (bahagia, duka, gelisah, tekanan).
Kedua, spiritualitas yang benar adalah menyeimbangkan antara iman dan pengalaman hidup bersama Tuhan dalam konteks bijaksana menilai, memahami, menghitung “hari-hari” yang dijalani, yaitu mengakui dan melihat apa yang Tuhan buat bagi kita, dan mengakui dan menilai apa yang kita buat untuk Tuhan.
Ketiga, menyanyi (memuji-muji Tuhan) merupakan perintah Tuhan, sebab ekspresi iman tidak hanya melalui tindakan untuk berjalan pada jalan Tuhan, tetapi juga “menyanyikan” syukur, kebaikan Tuhan, pertolongan Tuhan, permohonan kepada Tuhan, dan lain sebagainya.
Keempat, bertindak sesuai dengan kehendak Tuhan dalam hari-hari yang dijalani.
Kelima, selalu mengandalkan (membutuhkan) Tuhan dalam segala hal, dalam hari-hari yang dilalui, melalui doa dan pujian. Dari sini kita menemukan konsistensi penyertaan Tuhan di sepanjang hidup.
Berdasarkan elaborasi di atas, kita dapat menarik kesimpulan bahwa spiritualitas Kristen adalah aspek signifikan yang terbentuk dari kualitas iman dan pengalaman yang diterapkan dalam konteks empat hubungan sebagaimana yang telah saya jelaskan di atas. Spiritualitas Kristen adalah level iman yang membawa seseorang kepada sikap hidup yang mengakui apa yang Tuhan buat bagi kita dan mengakui serta menyadari apa yang kita buat untuk Tuhan. Artinya segala sesuatu yang kita lakukan harus didasari pada firman dan disadari sebagai tanggung jawab iman.
Hari-hari yang kita lalui—sama seperti Musa dan umat Israel yang dipimpinnya—tidak hanya merasakan manisnya hidup, tetapi juga pahitnya hidup. Artinya, Tuhan mendidik umat-Nya untuk menikmati keseimbangan hidup—suka dan duka—di mana Tuhanlah yang bekerja untuk mendatangkan kebaikan bagi kita semua. Spiritualitas Kristen adalah jalan yang ditempuh dan dihasilkan dari berbagai kondisi di mana Tuhan mengajar dan mendidik kita untuk dapat “menghitung”, dan menilai” kehidupan sebagai karunia dari Tuhan yang patut disyukuri dan dijalani dengan penuh iman kepada-Nya.
Salam Bae
[1] Artikel ini masih bersifat bahan mentah, belum dilakukan pengkajian eksegetis, melainkan hanya pada tataran aplikatif. Artikel ini bisa digunakan sebagai bahan perenungan atas hidup, iman, pengalaman, dan spiritualitas Kristen.
[2] Allen P. Ross, Kregel Exegetical Library: A Commentary On The Psalms. Volume 1 (1—41) (Grand Rapids, MI: Kregel Publications, 2011), 25.
[4] James Hely Hutchinson, “The Psalms And Praise”, dalam David Firth and Philip S. Johnston (eds.), Interpreting The Psalms: Issues and Approaches (Downers Grove, Illinois: InterVarsity Press, 2005), 85-86.
[5] Rolf A. Jacobson and Karl N. Jacobson, Invitation to the Psalm:A Reader’s Guide for Discovery and Engagement (Grand Rapids, MI: Baker Academic, 2013), versi pdf.
[6] Jacobson and Jacobson, Invitation to the Psalm.
[7] Jacobson and Jacobson, Invitation to the Psalm.
[8] Jacobson and Jacobson, Invitation to the Psalm.
[9] Jerome F. D. Creach, Six Themes Everyone Should Know: Psalms (Louisville, Kentucky: Geneva Press, 2019).
[10] C. Hassell Bullock, Encountering the Book of Psalms: A Literary and Theological Introduction (Grand Rapids, MI: Baker Academic, 2018)
[11] John Calvin, Commentary on the Book of Psalms, trans. Henry Beveridge (Grand Rapids: Baker, 1979), 1:xxxvii.
[12] James L. Mays, PsalmsInterpretation:A Bible Commentary for Teaching and Preaching (Louisville, KY: Westminster John Knox Press, 1994), 8, dikutip Creach, Psalms (Louisville, Kentucky: Geneva Press, 2019).
[14] Walter Brueggemann, The Message of the Psalms (Minneapolis: Fortress, 2002), 52 dikutip Daniel Michael Nehrbass, Praying Curses: The Therapeutic and Preaching Value of the Imprecatory Psalms (Eugene, OR: Wipf and Stock Publishers, 2013)
Kesetiaan memiliki makna terdalam. Kehidupan dan relasi manusia mencerminkan sikap ‘setia’ kepada Tuhan. Kesetiaan kepada Tuhan tampak dalam totalitas hidup yang dijalani. Setia menenkankan prinsip ketaatan, komitmen, dan kesediaan menerima segala sesuatu dari Tuhan—apa pun itu—bagi kebaikan kita.
Ada fakta menarik yang dapat kita lihat di kehidupan kita sendiri. Terkadang, fakta itu sering diabaikan, sering dianggap remeh bahkan tak pernah terlintas di pikiran kita. Apakah itu? Kita merasakan bagaimana kehidupan ini baik-baik saja; bagaimana kita meraih segala sesuatu yang kita inginkan dan kehendaki. Kita mendapati diri kita masih bernafas, mendapati diri kita masih bergerak, membuka mulut untuk makan dan minum, kita bekerja untuk menyambung hidup. Dari semuanya itu, sudahkah kita bersyukur kepada Tuhan? Sudahkah kita menyadari bahwa hidup itu adalah anugerah?
Dapatkah kita sejenak merenung bahwa hidup itu penting dan berharga dan mengakui bahwa ada ‘tangan Tuhan yang kuat’ yang sedang menopang, memberkati, dan menyertai kita setiap waktu? Apakah Tuhan pernah alpa menolong dan memelihara kita? Apakah Tuhan lalai menepati janji-Nya? Apakah Tuhan hanya menjadi tujuan doa ketika kita sedang sekarat, tak berdaya? Bukankah dalam situasi suka dan duka kita tetap mengucap syukur kepada-Nya?
Hanya mereka yang setia kepada Tuhan yang dapat melakukan apa yang berkenan kepada-Nya. Hanya mereka yang menyadari dengan hikmatnya bahwa kebaikan Tuhan itu tak pernah pudar dan kemurahan Tuhan selalu baru tiap hari, selalu mengiringi langkah hidup kita.
Tak ada yang dapat kita berikan kepada-Nya selain rasa syukur dan perbuatan-perbuatan yang menyenangkan hati-Nya. Kesetiaan membawa hidup kita semakin dekat dengan Tuhan. Kesetiaan memberi kita sukacita yang luar biasa. Tuhan telah menyuguhkan kehidupan yang bermakna bagi kita; kita tinggal menyantapnya sambil mengucap syukur.
Kesetiaan kepada Tuhan mahal harganya. Kita terpanggil untuk melihat dan menyadari bahwa kasih Tuhan tak terbatas pada saat kita senang, melainkan juga saat kita dalam keadaan sedih, berduka, dan kecewa. Kita datang kepada-Nya dalam berbagai kondisi—dan Tuhan tetap menerima kita, menerima keluh kesah. Tuhan itu setia akan janji-Nya. Sudahkah kita menyatakan kesetiaan kita kepada-Nya?
Kesetiaan kita kepada Tuhan mencakup dua aspek: pertama, apa yang kita pertahankan; dan kedua, apa yang kita pertaruhkan.
Kita harus memperlihatkan iman kita dan lebih dari itu, mempertahankannya. Godaan dan cobaan adalah bumbu-bumbu kehidupan yang dapat mendorong kita untuk memperlihatkan kesetiaan iman kita kepada Tuhan.
Kita harus bertaruh segala sesuatu: waktu, tenaga, pikiran, uang, harta benda, dan lain sebagainya. Semuanya dilakukan untuk menunjukkan bahwa kita setia kepada Tuhan karena Dialah yang mengaruniakan segala sesuatu kepada kita.
Kesetiaan Tuhan kepada kita dibuktikan melalui tiga hal: pertama, Ia berdaulat atas hidup dan mati manusia; kedua, Ia memelihara semua ciptaan-Nya sesuai dengan kehendak-Nya; dan ketiga, Ia menjadikan segala sesuatu indah pada waktu-Nya.
Tuhan adalah setia; Ia telah menyatakan kesetiaan-Nya, dan Ia mengasihi kita. Ya, kita yang senantiasa berharap dan bersandar kepada-Nya.
Dosa adalah masalah serius. Tak ada manusia yang kebal dosa. Dosa menjadi penjara kenikmatan demi memuaskan kesenangan. Dosa menjatuhkan banyak orang; dosa memalukan banyak orang; dosa merendahkan banyak orang; dosa mematikan banyak orang; dosa menghilangkan kepercayaan banyak orang, dan dosa merebak, mempengaruhi banyak orang.
Kadang-kadang dosa dipandang sebagai kesenangan, bahkan kenikmatan tersendiri. Dosa disembunyikan, kadang dipertontonkan. Ada banyak cara bagi manusia untuk melakukan dosa, tetapi Tuhan menyediakan satu cara untuk menyelesaikannya. Ia begitu mengasihi manusia yang meski berdosa, Ia menyediakan pertobatan, pengampunan, dan keselamatan.
Adakah yang dapat menyadari bahwa kemurahan dan kasih Tuhan begitu luar biasa? Adakah di antara kita yang melihat bahwa Tuhan menyediakan banyak waktu bagi kita untuk menyadari dosa-dosa, pelanggaran, dan kejahatan kita? Adakah di antara kita yang bergegas untuk kembali pulang kepada Tuhan ketika hendak merasakan kebebasan dan sukacita surgawi?
Sungguh, manusia menjadi “raja” atas dirinya sendiri ketika ia menyingkirkan Tuhan dan kursi hatinya. Kita lebih menuruti keinginan daging kita ketimbang menuruti kehendak Tuhan. Kita terbiasa dan bahkan ahli dalam melakukan dan menyembunyikan dosa-dosa, baik kecil, besar, maupun yang spektakuler.
Adakah kita menyadari betapa terhilangnya kita dari hadapan Tuhan Allah ketika kita berteman dengan dosa, pelanggaran, dan kesalahan kita? Bukankah kita sendiri yang menjauhkan diri dari Tuhan? Bukankah kita sendiri yang membuang Tuhan dari hati dan pikiran kita? Bukankah kita yang tidak mau membaca dan merenungkan firman-Nya untuk mengarahkan hidup kita kepada kebaikan, kasih, dan kemurahan Tuhan?
Ada yang hilang dari diri manusia ketika dosa merajai hati dan pikirannya. Keterhilangan dalam diri manusia terkait dengan “apa” dan “bagaimana”.
“Apa” berbicara tentang apa yang menyebabkan sesuatu terjadi. Apa yang seharusnya dipertahankan, runtuh ketika dosa dilakukan. Apa yang harus dijaga dengan sebaik mungkin, terbuka dengan sendirinya atau bahkan karena paksaan. Apa yang seharusnya tidak dilakukan (dilarang Tuhan), justru karena dosa, itu pun dilakukan dengan kesadaran bahwa “semoga tidak ada yang tahu dan tidak terjadi apa-apa”. Apa yang telah diikrarkan, runtuh dan tercecer ketika “dosa merasuki hati dan pikiran”.
“Bagaimana” berbicara tentang apa yang harus dilakukan. Bagaimana kita bergerak untuk keluar dari masalah dosa; bagaimana seharusnya kita menarik diri dari kesibukan dosa dan berjuang untuk menata hidup dengan lebih baik, berdasarkan apa yang Tuhan kehendaki.
Fakta telah mengajarkan kita banyak hal: Seharusnya hidup benar di hadapan Tuhan, malahan menjadi runtuh ketika dosa dilakukan. Seharusnya berjalan lurus di jalan Tuhan, malahan menyimpang ke kanan atau ke kiri untuk berbuat dosa.
Apa yang kita amati dari dualisme fakta di atas? Tentu kita harus menyadari bahwa ketika kita menyatakan “KREDO” kepada Tuhan, maka secara konsisten kita juga harus hidup bagi Dia dan di dalam [kasih] Dia. Kita tak bisa menyatakan hidup bagi Dia jika tidak tinggal di dalam Dia. Seseorang tak dapat mengatakan bahwa “Saya hidup dalam rumah itu”, jika ia sendiri tak pernah masuk dan tinggal di dalamnya.
Siapa yang dipimpin oleh Tuhan pasti hidup di dalam Tuhan; siapa yang dipanggil Tuhan untuk tinggal dalam kasih-Nya, pasti akan hidup—secara konsisten—bagi Tuhan. Jika demikian, apa yang harus kita perjuangkan dan pertahankan?
Pertama, kita harus memperjuangkan hidup kudus yang mencakup banyak aspek signifikan di dalamnya. Sikap berjuang adalah sebuah kesadaran dan keaktifan untuk melihat Tuhan sebagai Pemimpin Hidup sekaligus melihat diri kita sebagai seorang yang bertanggung (bekerja dan berjuang) bagi Tuhan dalam segala hal termasuk moralitas dan spiritulitas.
Dengan menyibukkan diri melayani Tuhan, dosa dapat disingkirkan. Kita bekerja bagi Tuhan seyogianya hidup dalam kebenaran dan kekudusan; dosa menjadi musuh utama yang harus dilawan, hindari, dan dibuang.
Kedua, kita harus mempertahankan apa yang telah Tuhan berikan kepada kita. Ia telah memberikan iman, kasih, dan pengharapan. Jagalah dan peliharalah itu agar kehidupan yang di jalani, tetap berada pada koridor Tuhan; dengan mempertahankannya, kita tak akan menyimpang ke kanan atau ke kiri, apalagi berbuat dosa.
Kiranya Tuhan memberkati kita dan memampukan kita melakukan kebaikan, kasih, kemurahan kepada sesama. Bahkan kita menjauhkan diri dari segala perbuatan yang dibenci Tuhan dan menegor mereka yang hidup dalam kegelapan dosa, membawa mereka kepada terang Yesus Kristus.
Filosofi ketakutan berbicara tentang fakta bahwa manusia menyadari keterbatasannya dan menginginkan sesuatu di balik keterbatasannya itu (the philosophy of fear speaks of the fact that man is aware of his limitations and wants something behind it) — Stenly R. Paparang
Ketakutan adalah bagian dari diri manusia dan merupakan sifat alami manusia. Ada kejadian atau situasi tertentu yang membuat manusia menjadi takut. Biasanya apa yang tidak diinginkan, apa yang tidak disukai, apa yang tidak harapkan, apa yang tidak dipikirkan, apa yang mengakibatkan sesuatu, dan apa yang bisa menghilangkan sesuatu, menimbulkan rasa takut.
Ada berbagai dampak yang ditimbulkan ketika manusia merasa takut. Manusia dapat melakukan segala sesuatu ketika perasaan takut menyelimuti dirinya. Pikiran akan terus berpikir mencari jawaban dan jalan keluar dari rasa takut. kadang, apa yang dimiliki dihantui oleh rasa takut kehilangan. Apa yang selama ini dibangun dan dipertahankan, takut untuk roboh dan terlepas dari genggaman.
Ada fakta yang memberi kepada kita sepotong kisah mengenai rasa takut. Yesus, ketika Ia akan disalibkan, rasa takut hadir dalam diri-Nya (lih. Lukas 22:42-44). Dalam keadaan-Nya sebagai manusia, sangat wajar Yesus merasa ketakutan, apalagi Dia menghadapi kematian. Ketika ada orang yang menghubungkannya dengan ke-Tuhanan Yesus, rasa takut yang dirasakan-Nya dipakai sebagai senjata untuk menegasikan ke-Tuhanan-Nya. Tapi orang Kristen jelas melihat rasa takut yang dialami Yesus dalam kondisi-Nya sebagai manusia, karena Ia jelas dalam wujud manusia. Mereka yang tidak melihat hal ini, tentu memiliki motivasi tersembunyi untuk menolak ke-Tuhanan-Nya.
Kalau Yesus itu Tuhan, mengapa Ia takut? Seharusnya pertanyaan menjadi sebuah pernyataan: “karena Yesus adalah manusia, maka Ia merasa takut menghadapi kematian”. Lalu, ke-Tuhanan Yesus di mana? Tentu tidak kemana-mana. Karena Yesus memiliki dua natur, maka Ia tak mungkin melepaskan natur kemanusiaan-Nya secara permanen hanya untuk mempertahankan ke-Tuhanan-Nya. Karena Yesus adalah manusia yang unik—satu-satunya di dunia—maka kasus penggunaan natur secara alami dan sesuai konteksnya, hanya dapat dilakukan Yesus. Mengenai urusan kemanusiaan, maka apa yang dialami manusia pada umumnya, tentu dirasakan oleh Yesus. Sedangkan mengenai urusan ke-Tuhanan-Nya, maka apa yang dilakukan oleh Tuhan Allah, tentu dapat dilakukan oleh Yesus. Hal-hal ini sangat jelas tampak dalam catatan Injil-Injil Perjanjian Baru.
Mengenai hal-hal tersebut, saya tidak membahasnya di sini. Saya hanya menyinggung mengenai rasa takut yang dialami Yesus ketika menghadapi kematian-Nya melalui penyaliban sebagaimana yang telah Ia nubuatkan (Mat. 16:21; 17:22-23; 20:18-19). Meski demikian, pada akhirnya Ia membuktikan bahwa apa yang dinubuatkan terjadi. Nubuat mengenai penderitaan, kematian-Nya (karena dibunuh), dan bangkit pada hari ketiga adalah sebuah konfirmasi bahwa perkataan-Nya benar. Ini sangat luar biasa. Meski rasa takut melingkupi diri Yesus, pada akhirnya Ia sanggup melewati semua tindakan yang membuat-Nya menderita kesakitan, dan mati. Ia justru mengubah rasa takut menjadi kemenangan yang luar biasa. Dengan rasa takut, Yesus menghadapi kematian-Nya.
Itulah sebabnya, dalam tulisan singkat ini, saya hendak memahami filosofi ketakutan yang dirangkum dari berbagai kisah. Saya mengamatinya secara mendalam dan menghasilkan beberapa pemahaman dan kesimpulan tentang filosofi ketakutan.
Pertama, ketakutan adalah upaya manusia untuk merasakan keselamatan tatkala ia berada dalam himpitan masalah yang berat. Di sini, ketakutan menghasilkan berbagai cara untuk lepas dan terbebas dari himpitan masalah. Yesus pernah mengalami hal ini, tetapi Ia kemudian tidak lari atau menghindar dari rasa takut akan kematian-Nya; justru Ia berkata: “Bukan kehendak-Ku yang jadi, tetapi kehendak-Mu (Bapa) yang jadi.”
Kedua, ketakutan adalah rasa alami yang dirasakan manusia ketika berhadapan dengan sesuatu yang menantang, atau membuat dirinya terpuruk, terluka, terhukum, dan terancam (keselamatan dirinya atau orang-orang yang dia kasihi). Ia akan mengerahkan seluruh pikiran dan tenaganya dalam menghadapi ketakutan itu. Banyak tindakan yang dapat dilakukan untuk mengatasinya. Kadang, bunuh diri menjadi jalan pintasnya.
Ketiga, ketakutan adalah sebuah keputusan diri dan pikiran ketika berhadapan dengan rasa malu dan marah. Marah tidak selamanya berani. Ada kalanya, dalam keadaan marah justru seseorang merasa takut. Takut jika yang dimarahinya adalah orang yang lebih kuat, lebih tinggi jabatannya, lebih kaya, lebih berpengaruh, lebih hebat dari dirinya.
Keempat, ketakutan adalah dampak dari sebuah perasaan ketika seseorang merasakan akan mengalami kematian.
Kelima, ketakutan adalah sebuah situasi di mana yang mayoritas merasa menjadi berkurang. Konteks ini sering terjadi dalam dunia agama. Ketika ada orang dari agama mayoritas menjadi penganut agama minoritas, maka rasa takut—artinya takut berkurang dan takut menjadi malu—bisa menyelimuti pengamut agama mayoritas.
Keenam, ketakutan adalah sebuah keputusan yang dalam waktu sekejap bisa menjadi tindakan membunuh orang lain. Konteks ini bisa juga terjadi dalam dunia agama. Ketika beberapa orang dari penganut agama mayoritas beralih keyakinan ke agama minoritas, maka rasa takut—takut berkurang, takut malu (dipermalukan), takut disaingi, dan takut menjadi sakit hati berkepanjangan, maka rasa takut diteruskan dengan tindakan brutal, yaitu membunuh penganut agama minoritas. Hal ini sering terjadi di bumi kita.
Ketujuh, ketakutan adalah kondisi keterbatasan manusia dalam menghadapi sesuatu. Misalnya seseorang melewati kuburan di tengah malam. Ia takut karena ia terbatas untuk bisa melawan “setan” yang dalam pemahamannya bisa melukai atau bahkan membunuhnya. Contoh kasus lainnnya adalah para murid Yesus. Ketika mereka melihat ada orang yang berjalan di atas air, mereka ketakutan. Mereka takut karena orang itu bisa saja mencelakai mereka dan menenggelamkan mereka. Ketika itu Yesus berkata: “Tenanglah, Aku ini, jangan takut!” (Mat. 14:26-27; Mrk. 6:49-50; Yoh. 6:19-20).
Dari ketujuh pemahaman dan kesimpulan tentang filosofi ketakutan di atas, kita termasuk pada bagian yang mana? Apakah ketakutan yang selama ini kita rasakan telah menjadikan diri kita takut melangkah dan bertindak? Apakah ketakutan sering menyelimuti kita? Apakah kita perlu takut terus-menerus ketika berhadapan dengan fakta hidup?
Sebagai pengikut Yesus Kristus, haruskah kita merasa takut berkepanjangan? Sebagai minoritas di negara Indonesia, haruskah kita berhenti berbuat baik, mengasihi orang-orang yang membenci dan memusuhi kita sedemikian rupa sampai mencap kita sebagai “kafir” dan “penghuni neraka jahanam?” Haruskah kita berhenti mendoakan orang-orang yang memusuhi dan membenci kita? Tentu tidak. Yesus Kristus telah mengajarkan ajaran “tunggal” yaitu: Kasihilah musuhmu dan berdoalah bagi mereka yang menganiaya kamu. Karena dengan demikianlah kamu menjadi anak-anak Bapamu yang di sorga, yang menerbitkan matahari bagi orang yang jahat dan orang yang baik dan menurunkan hujan bagi orang yang benar dan orang yang tidak benar” (Mat. 5:44-45).
Para martir Kristen telah membuktikan bahwa kematian bukanlah ketakukan yang perlu mereka hindari. Meski ketakutan bisa saja menjadikan diri mereka menyangkal imannya kepada Yesus Kristus, tetapi mereka memilih setia dan mati demi Yesus Kristus. Ketakutan secara manusiawi memang ada, tetapi bagi pengikut Yesus Kristus, ketakutan telah digantikan dengan jaminan kehidupan yang kekal. Ketakukan boleh ada, tetapi janganlah ketakutan itu menjadikan diri kita terpuruk dan tidak lagi bangkit untuk berharap kepada Tuhan, serta menjadi terang dan garam dunia, menjadi pelaku-pelaku firman.
Ingatlah, Allah, yang memanggil kita kepada persekutuan dengan Yesus Kristus, Tuhan kita, adalah setia. Tuhan adalah setia. Ia akan menguatkan hati kita dan memelihara kita terhadap yang jahat (1 Kor. 1:9; 1 Tes 5:24; 2 Tes. 3:3). Jika Tuhan itu setia, ketakutan bukan sesuatu yang harus dipelihara, melainkan kita harus bersyukur pada ketakutan—khususnya akan kematian—telah dijamin oleh Tuhan bahwa mereka yang mati bagi-Nya, akan diberikan kehidupan yang kekal dan makhota kehidupan.
Meski ketakukan bisa hadir di mana-mana, dalam segala situasi dan kondisi, orang-orang yang percaya kepada Yesus Kristus harus menjaga hidupnya, hidup dalam kesucian. “Setiap orang yang menaruh pengharapan itu kepada Yesus Kristus, menyucikan diri sama seperti Yesus Kristus adalah suci.
Sifat egois mungkin ada dalam diri kita atau mungkin orang yang kita kenal. Apa yang menyebabkan seseorang menjadi egois dan bagaimana mengatasinya? Egoisme bisa dikikis atau bahkan dihilangkan dengan melihat secara cermat pada lima substansi hidup:
Pertama, setiap manusia harus melihat bahwa ia dan orang lain memiliki kesamaan hidup. Artinya, sama-sama menikmati hidup dan udara, atau bumi yang sama. Bedanya adalah soal kesempatan. Ketika seseorang dapat memahami hal ini, maka egoisme dalam konteks memandang kehidupan, akan segera luntur atau menurun, karena seseorang dapat menyadari bahwa dirinya adalah sama dengan orang lain: mendapat kesempatan hidup yang sama tetapi soal kesempatan menikmati hidup dengan berbagai cara adalah pembedanya.
Kedua, setiap manusia harus melihat bahwa dirinya dan orang lain sama-sama mempertahankan hidup. Setiap manusia memiliki potensi untuk mempertahankan hidupnya dan orang-orang yang dikasihi serta dicintainya. Jadi, egoisme terhadap konteks mempertahankan hidup membawa seseorang kepada rasa puas diri yang semu sebab ia sendiri tak bisa hidup tanpa orang lain. Jika seseorang merasa bahwa hanya dia yang dapat berbuat ini dan itu, seseorang tersebut melupakan prinsip substansial ini. Uang yang didapati, dimiliki, dicari, toh bukanlah karena usaha sendiri melainkan adanya kontribusi dari orang lain. Sebut saja seorang guru atau dosen. Mereka mengajar mendapatkan upah (gaji) dari penyelenggara pendididikan atau para murid/mahasiswa yang menyetor uang bayaran sebagai kewajibannya. Maka, di sini hendak ditegaskan bahwa sehebat-hebatnya dosen atau guru, jika tanpa murid atau mahasiswa, maka dosen atau guru bukanlah apa-apa, bahkan tak menghasilkan apa-apa.
Ketiga, setiap manusia harus menyadari bahwa ia dan orang lain sama-sama akan mati. Keegoisan untuk mau menang sendiri dalam hal hidup, mengurangi rasa hormat terhadap orang lain. Apa bedanya seorang direktur yang memiliki gaji besar, dengan seorang pemulung di jalanan? Mereka berbeda dalam hal pendapatan hidup, tetapi mereka sama dalam hal substansi hayatinya dan sama-sama akan mati. Entah direktur, entah pemulung semuanya akan mati. Soal siapa duluan mati, itu adalah kehendak Tuhan. Tidak ada jaminan bahwa karena pemulung adalah orang yang tidak terhormat, maka ialah yang dahulu mati. Memahami hal ini, akan menjadikan diri kita untuk tidak egois dengan apa yang kita miliki untuk disombongkan. Sebaliknya, apa yang kita miliki haruslah menjadi berkat bagi orang lain dengan berbagai cara.
Keempat, setiap manusia harus menyadari bahwa ia dan orang lain memiliki potensi yang berbeda. Potensi-potensi menghasilkan karya-karya. Baik direktur dan pemulung, keduanya memiliki potensi. Seorang pemulung jika ia berhenti menjadi pemulung dan kemudian belajar dan berusaha, maka terbuka peluang baginya untuk menjadi seorang direktur. Seorang direktur yang ketika bangkrut dan jatuh miskin, terbuka peluang baginya untuk menjadi seorang pemulung. Potensi-potensi yang dimiliki manusia tidak perlu disombongkan atau menjadi sebuah egoisme yang tinggi. Memahami bahwa kita dan orang lain memiliki potensi yang berbeda, akan menghilangkan rasa egoisme.
Kelima, setiap manusia harus menyadari bahwa ia dan orang lain memiliki prinsip hidup, kekurangan, dan kelebihan. Setiap manusia memiliki keunikan tersendiri. Namun, setiap manusia juga memiliki prinsip hidup yang mengukuhkan iman dan pengharapannya. Di samping itu, kekurangan dan kelebihan adalah hal yang bersifat natural dalam diri manusia. Lalu untuk apa egois jika kita tahu bahwa setiap manusia memiliki prinsip hidup, kekurangan, dan kelebihan? Seorang yang memiliki uang banyak tidak lebih lama hidupnya dibanding seorang yang miskin. Seorang yang menggunakan uangnya untuk menghalalkan segala cara dan dianggap hebat oleh para pendukungnya, tidak lebih hebat dari seorang ibu yang penuh kesabaran merawat, mendidik, mengasuh, dan mengajar anak-anaknya meski ia sendiri tidak memiliki uang dalam jumlah banyak.
Orang yang berduit banyak memiliki kekurangan dan kelebihan. Begitu pula dengan para pedagang asongan. Mereka yang berbuat jahat memiliki kelebihan dan kekurangan, begitu pula dengan mereka yang berbuat baik. Pembedanya adalah substansi dari kekurangan dan kelebihan dari masing-masing manusia.
Seringkali, egoisme lahir dari empat hal: pertama, karena seseorang merasa lebih kaya dari orang lain sehingga ia dapat mengendalikan, mengatur, dan menetapkan sesuka hati karena ia merasa bahwa karena dialah maka semuanya terjadi dan terwujud; kedua, karena seseorang merasa bahwa ia lebih berpengalaman dibanding lainnya, sehingga ia mau bahwa pendapatnya saja yang diterima; ketiga, karena seseorang merasa bahwa hanya dialah yang hebat dan pintar maka semua orang harus melihat kepada dirinya dan harus menerima setiap hal yang diusulkannya. Karena kepintarannya, maka pendapat dan gagasan orang lain dianggap tidaklah bermutu atau berguna; dan keempat, karena seseorang merasa bahwa dirinya adalah paling beriman, paling dekat dengan Tuhan, dan paling sering tampil di depan umum. Konteks ini memberikan data faktual bahwa seringkali mereka yang merasa paling dekat dengan Tuhan justru bertindak melawan Tuhan. Mereka yang merasa paling beriman justru yang melakukan hal-hal di luar iman. Keegoisan lahir dari kesombongan rohani dan menganggap bahwa hanya dia yang layak didengar dan ditakuti.
Untuk menghindari, meredam, dan mengikis sifat-sifat egois dalam diri, kelima hal yang substansial di atas adalah solusinya.
Selamat memahami, merenungkan, dan mencobanya, sehingga mendapatkan perubahan yang berarti dalam hidup.
Perlindungan dan keamanan hidup manusia didapatkan dari serangkaian cara. Untuk mendapatkan kehidupan yang nyaman dan aman, manusia secara bijak membuat “rumah”. Rumah adalah tempat tinggal yang paling disukai manusia. Ketika membuat rumah, “pintu” adalah bagian kecil dari konstruksi bangunan, bahkan yang megah sekalipun.
Rumah yang telah dibangun, didasarkan pada rancangan yang matang, atau hanya sekadar bangun saja. Dalam skema atau gambar rumah, pintu selalu digambar sebagai akses atau penghubung dari ruang satu ke ruangan yang lainnya. Atau dengan perkataan lain, “pintu” adalah wacana untuk memasuki sebuah ruangan untuk menikmati segala sesuatu yang ada di dalamnya.
Rumah dengan pekarangan yang luas, memiliki beberapa pintu. Pintu utama pasti ada—yaitu pintu masuk untuk melihat pekarangan dan rumah itu sendiri. Pintu kedua adalah pintu rumah atau pintu utama untuk masuk ke dalam rumah. Selain itu, ada pintu-pintu kamar tidur—tak lupa pula, pintu kamar mandi.
Apa sebenarnya makna dari pintu? Seindah-indahnya sebuah kamar, jika tidak memiliki pintu masuk, maka kamar hanyalah sebuah ruangan yang tak akan dinikmati selama-lamanya. Seindah dan semewah apa pun ruang tamu rumah, jika tidak ada pintu masuk ke dalammya, akan menjadi ruangan seperti kuburan. Lalu apa makna mendasar dan makna filosofis dari sebuah “pintu” rumah dan “pintu” hidup kita?
GAGASAN FILOSOFIS
Manusia yang lahir normal, keluar dari “pintu” rahim seorang perempuan. Permulaan hidup manusia ketika melihat dunia, muncul dari “pintu” mata. Perasaan akan kesenangan dan kesusahan hidup, dialami melalui “pintu” hati. Menikmati kebebasan berpikir dan menikmati keindahan kata-kata, dialami manusia dengan membuka “pintu” kesadaran logikanya. Keindahan sebuah ruangan rumah dengan segala macam ornamen, kemewahan barang-barangnya, akan dilihat dan dikagumi ketika seseorang telah masuk melalui sebuah “pintu” yang menghubungkan ruangan luar dan ruangan dalam.
Bahkan, dalam arti negatif, dua sejoli yang ingin menikmati hawa nafsu liar di kamar hotel, harus berurusan dengan “pintu masuk”. Jika tidak ada pintu, nafsu tinggallah nafsu. Atau dalam arti yang positif, dua sejoli yang baru menikah dan ingin menikmati hotel mewah di Bali, harus juga berurusan dengan banyak pintu seperti pintu mobil, pintu pesawat, pintu toilet, pintu kapal laut, pintu masuk hotel, dan pintu masuk kamar hotel, tak lupa pula, pintu kamar mandi jika kebelet “pipis” atau sedang sakit perut.
“Pintu” adalah akses masuk keluar. Dengan pintulah kita dapat menikmati keindahan hidup baik secara positif maupun negatif. Ketika pintu tertutup, tak ada yang dapat dibanggakan oleh pemilik rumah. Dia mau lihat apa jika pintu rumah tertutup? Lalu apa makna seluas-luasnya dari sebuah “pintu”? Di sini, saya hendak menjelaskan filosofis dari pintu yang dikorelasikan dengan berbagai konteks. Berikut penjelasannya.
Konteks Rumah
Seperti yang telah saya jelaskan di atas, bahwa setiap rumah memiliki pintu, baik pintu utama akses masuk pekarangan rumah, pintu utama ruang tamu, pintu kamar, dan pintu kamar mandi. Semua pintu tersebut tidaklah sama. Pemilik rumah tidak akan berpikir untuk membuat bentuk dan jenis pintu di rumahnya itu sama. Ia akan mendesai atau menyesuaikan jenis dan bentuk pintu di setiap ruangan. Pintu gerbang lain dengan pintu kamar mandi, dan seterusnya.
Pintu rumah adalah sebuah kebanggaan bagi pemilik rumah sebab jika tidak demikian, ia akan kehilangan harta benda ketika pintu rumahnya tidak dibuat seaman mungkin sehingga pencuri dengan mudahnya masuk ke dalam rumah untuk mengambil barang-barang berharga. Dari sini kita belajar bahwa “pintu” adalah penutup rumah sebagai bentuk keamanan dan kenyamanan diri” dan sebagai pembuka rumah sebagai bentuk kenikmatan dan kepuasan hidup bersama orang-orang yang dikasihi. Yang jomblo tentu tidak termasuk. Tetapi para jomblo juga dapat menikmati hidup bersama sahabat-sahabatnya melalui sebuah pintu masuk ke dalam rumahnya sendiri atau rumah sewaan.
Konteks Hotel
Konteks ini kurang lebih memiliki kesamaan dengan konteks rumah. Akan tetapi, hotel sering memberikan nilai privasi dan keamanan yang lebih dalam konteks refreshing, liburan, dan kegiatan-kegiatan lainnya. Siapa pun yang masuk ke hotel akan selalu berurusan dengan pintu-pintu. Pintu memberikan kesan yang baik dan mengharukan bagi mereka yang menikmati liburan bersama keluarga dan orang yang dicintai dan dikasihi. Namun, di sisi lain, pintu juga akan menjadi malapetaka ketika ada orang yang “bunuh diri” di kamar hotel dengan berbagai cara. Pintu di satu sisi menghadirkan kebahagiaan, dan di sisi lainnya menghadirkan malapetaka. Ketika pintu terkunci dan tidak bisa dibuka, semua kebahagiaan akan pupus dan tak terwujud.
Konteks Alat Transportasi
Tidak hanya rumah, sekolah, perkantoran, atau hotel yang memiliki pintu. Alat-alat transportasi juga didesain sedemikian rupa dengan memiliki pintu masuk yang nyaman. Mobil mewah seperti Mercedes memiliki pintu dan para penggunanya memiliki akses untuk menikmati kemewahan di dalamnya. Ketika semua orang telah berurusan dengan pintu masuk ke dalam alat-alat transportasi, maka mereka dapat menikmati berbagai keindahan alam dan sebagainya; mereka dapat mempercepat waktu “berada” dari lokus yang satu ke lokus lainnya; mereka dapat menikmati liburan yang menyenangkan sesuai jadwal yang ditetapkan. Semua dapat terwujud ketika “pintu” masuk ke dalam alat-alat transportasi tersebut berfungsi dengan baik. Jika tidak, semuanya akan kacau dan berantakan.
Konteks Logika
Logika menjembatani berbagai hal untuk dipikirkan, dianalisis, dan dipublikasikan. Dalam konteks yang sedang saya jelaskan, logika manusia mengimplementasikan apa yang dipikirkan manusia terkait dengan beragam konteks. “Pintu” logika saya samakan dengan “pengertian penuh” dari sebuah konteks. Ketika manusia tidak memahami segala sesuatu atau “sesuatu” maka hal itu dapat kita kategorikan sebagai “ia tak dapat mengerti sepenuhnya”. Pengertian yang penuh adalah bentuk keterpahaman seseorang terhadap sesuatu. Pintu logika merupakan gerbang yang besar untuk masuk ke dalam berbagai pengertian yang membuat manusia melihat kemenangan, keindahan, kebahagiaan, kesukacitaan, kepuasan, dan keberkatan. Manusia yang memahami atau mengerti adalah manusia yang telah membuka pintu logikanya untuk melihat ke dalam konteks-konteks yang dipikirkan yang dicerna dan dirasakan dengan hati tenang.
Pintu logika adalah pintu pengertian penuh di mana manusia dapat memahami dan melihat kekayaan kehidupan dengan ragamnya. Saya rasa, kebahagiaan dan rasa puas yang terdalam adalah ketika “kita mengerti sepenuhnya” tentang sesuatu hal yang dengannya kita dapat menikmatinya, menjalaninya, melakukannya, membagikannya, dan menjaganya seumur hidup. Mengerti sepenuhnya tidak berarti bahwa “sesuatu atau objek” yang dipikirkan dapat sepenuhnya dipahami. Mengerti sepenuhnya juga berarti bahwa manusia menyadari bahwa sesuatu itu dapat saja tidak dipahami sepenuhnya (personalitas, gejala, dan sebagainya). Kesadaran bahwa manusia tidak dapat memahami sepenuhnya—misalnya personalitas Tuhan—dapat dikategorikan sebagai “mengerti sepenuhnya” keterbatasan logika, waktu, metode, dan sumber.
Konteks Kehidupan
Secara totalitas manusia menikmati dua pintu: pintu awal kehidupan dan pintu akhir kehidupan. Pintu kehidupan terbuka luas dan tinggal dinikmati sebebas-bebasnya. Akan tetapi, kebebasan yang tidak terkontrol dan tidak didasarkan pada kesadaran-kesadaran akan nilai kehidupan, akan menjerumuskan manusia kepada kematian atau sakit penyakit. Ketika manusia hidup, pintu-pintu kehidupan membuka peluang baginya untuk memilih pintu mana yang akan memberikan kebahagiaan atau kebebasan, kenyamanan atau keserakahan.
Setiap manusia memiliki potensi untuk membuka setiap pintu kehidupan: pilihan bebas manusia mengantarkan dirinya kepada tujuan hidupnya yang dilaluinya melalui sebuah “pintu”. Pintu hati dan pintu logika memungkinkan manusia dapat menetapkan jalan hidupnya. Mereka yang beriman kepada Tuhan juga memiliki pilihan yang sama. ”. Pintu hati dan pintu logika memungkinkan manusia dapat menetapkan jalan hidup yang dikaruniakan Tuhan kepada mereka. ketika hati dan logika menyatu (atau sekapat), maka pintu-pintu kehidupan akan terbuka dan memberikan berbagai jenis kebahagiaan dan kepuasan hidup di dalam Tuhan.
Pintu-pintu kehidupan menyediakan berbagai hidangan kehidupan bagi mereka yang “tahu bagaimana masuk ke dalamnya” melalui pintu yang dibuka dengan “kunci” yang tepat. Ketika kunci tidak tepat, seseorang akan memaksakan diri untuk masuk melalui pintu kehidupan dengan cara mendobrak atau merusaknya. Ketika pintu kehidupan telah rusak, maka terlihat bahwa motivasi seseorang akan membawa dirinya kepada berbagai-bagai duka.
Pintu-pintu kehidupan bukanlah bersifat fisik, melainkan spiritual. Spiritualitas kita diukur dari sejauh mana kita berpikir, berkata, dan berbuat. Tuhan telah menyediakan banyak pintu dan kita diberikan kesempatan oleh Tuhan untuk meminta kunci yang tepat agar bisa membuka pintu-pintu tersbut. Tetapi, Tuhan juga memberikan kesadaran dan pengertian bagi kita untuk mempergunakan ruangan kehidupan di mana kita telah masuk di dalamnya (melalui pintu) untuk hal-hal yang memuliakan dan menyenangkan Tuhan.
Pintu-pintu kehidupan adalah akses memasuki dunia yang riil dan kita dituntut untuk menjadi para pelaku firman-Nya. Menjadi yang terbaik adalah tujuan Tuhan bagi kita. Dengan kunci-kunci kehidupan yang Tuhan berikan, kita dapat mengajak orang lain untuk masuk ke dalam dunia kebahagiaan, dunia di mana kasih, iman, dan pengharapan menjadi kesatuan yang mengikat manusia menjadi serupa dengan Yesus Kristus.
Ketika Tuhan mengizinkan kita menikmati dunia yang diberkatinya, sikap kita adalah tetap menjaga kemurnian diri; menjaga pikiran, perkataan, dan perbuatan kita selaras dengan kehendak Tuhan dan firman-Nya. Seperti yang diungkapkan Raja Daud dalam Mazmur 141:3, “Awasilah mulutku, ya TUHAN, berjagalah pada pintu bibirku”, bahwa Daud memohon agar Tuhan memampukan dirinya berkata-kata yang benar dan tidak mengeluarkan kata-kata yang tidak sesuai dengan kehendak Tuhan. Kejahatan melalui pintu “bibir” adalah kejahatan yang sangat berisiko kareka akan berpengaruh buruk dan mencelakakan diri sendiri dan orang lain. Daud tahu bahwa “bibir” adalah organ tubuh yang ketika terbuka (pintunya) akan dengan mudah mengeluarkan kata-kata, baik pujian maupun kutuk. Untuk itulah Daud memohon agar Tuhan “menjaga pintu bibirnya” agar terhindar dari kesombongan perkataan yang akan menjeratnya.
Ketika kita memohon kepada Tuhan agar Ia menolong dan melindungi diri kita, maka kita akan terhindar dari segala kesesatan pikiran dan perkataan yang mencelakakan diri sendiri dan orang lain. Ajaklah sahabat-sahabat kita untuk masuk melalui pintu kehidupan yang telah Tuhan sediakan, dan turut menikmati kebahagiaan yang juga Tuhan sediakan kepada kita. Menikmati kebahagiaan haruslah melalui sebuah “pintu”. Pintu hati, pintu logika, pintu bibir, adalah pintu-pintu yang perlu dibuka untuk menikmati janji-janji Tuhan yang luar biasa.
Selamat membuat pintu, membuka pintu, dan menikmati ruangan kehidupan yang indah, yang Tuhan sediakan kepada kita. Ketika ruangan kehidupan yang di dalamnya tidak menyediakan kebahagiaan, maka patahkanlah kuncinya sehingga kita dan orang lain tidak ada yang memasukinya. Tuhan telah memberikan ruangan kehidupan kepada kita, dan kita diberikan kunci untuk membukanya. Gunakanlah kunci-kunci pintu kehidupan dengan baik dan membawa orang lain untuk turut merasakan kebaikan Tuhan yang luar biasa sebab Tuhan adalah adalah Pemurah dan penuh belas kasihan, serta cinta kasih yang tiada taranya.