Persoalan yang muncul di permukaan denominasi Kristen adalah penyebutan nama ‘Yahweh’ dan ‘Allah’ yang dilihat dari berbagai aspek. Penganut Yahwehisme (pengagung nama Yahweh) menyatakan secara tegas bahwa nama “Allah” adalah bukanlah terjemahan yang tepat bagi nama Elohim, karena ada perbedaan antara nama diri dan gelar bagi Sang Pencipta. Bahkan mereka mengusung bahwa empat huruf mati: YHWH harus tetap dipertahankan. Mereka mengusung berbagai dokumen untuk membuktikan asumsi mereka. Kata ‘Allah’ ditetapkan sebagai milik Islam Arab. Meski tidak melakukan penelusuran historis yang memadai, pokoknya mereka tetap bersikukuh bahwa ‘Allah’ adalah milik agama Islam. Benarkah demikian?
Pada proses dan perjalanan ‘beda paham’ ini kemudian mengerucut sampai kepada sedikit atau bahkan parahnya relasi antar denominasi Kristen. Kaum arogansi penentang kata ‘Allah’ yakni kaum Yahwehisme menegaskan bahwa ‘pemaksaan’ nama Yahweh diterjemahkan menjadi ‘TUHAN’ dan ‘Elohim’ menjadi ‘Allah’ merupakan sebuah langkah yang tidak benar. Namun, perlu diingat bahwa gagasan kaum arogan Yahwehisme tidak memperhitungkan konteks diakronis nama YHWH, di mana empat huruf mati YHWH (tetragramaton) harus diterjemahkan dengan “Yahweh”, memiliki asal asul yang tidak pasti. Saya akan mengajukan enam pertanyaan saya yang mustahil dijawab oleh kaum arogan Yahwehisme. Enam pertanyaan tersebut sebenarnya hanya sebagai bentuk penurunan tensi ‘panas tinggi’ kaum Yahwehisme yang semakin tak terkendali.
Alih-alih menggunakan kata-kata Ibrani, namun pada hakikatnya mayoritas tidak mengerti secara mendalam analisis leksikon dan gramatikal bahasa Ibrani. Pokoknya, jika sudah bunyi bahasa Ibrani, mereka serasa terbang bagaikan burung rajawali. Tapi tidak tahu mereka terbang ke mana. LAI menerjemahkan atau mentransliterasikan YHWH dengan “TUHAN”, namun ditolak secara tegas oleh kaum arogan ini. Meski perdebatan ini hanyalah perdebatan linguistik dan historis, tetapi relasi yang terjadi di antara keduanya menjadi sedikit terganggu. Pasalnya, kaum Yahwehisme bertindak seolah-olah mereka yang menyebut nama “Allah” adalah mereka yang sangat terkutuk, padahal, mereka juga dulunya adalah orang yang menyebut dan menggunakan nama “Allah” sebagai “Bapa” yang Kekal.
Saya mengutip beberapa pernyataan dan penjelasan serta argumentasi penting dari LAI terkait polemik ini:
Pertama: Kata “Allah” masih dipersoalkan oleh sebagian pengguna Alkitab terbitan Lembaga Alkitab Indonesia (LAI). Persoalan ini mencuat ke permukaan, karena ada beberapa kelompok yang menolak penggunaan kata “Allah” dengan ingin menghidupkan kembali penggunaan nama Yahweh atau Yahwe. Dalam teks Ibrani sebenarnya nama Yahweh atau Yahwe ditulis dengan empat huruf konsonan (YOD-HE-WAW-HE, “YHWH”) tanpa huruf vokal. Tetapi, ada bersikeras, keempat huruf ini harus diucapkan. Terjemahan LAI dianggap telah menyimpang, bahkan menyesatkan umat kristiani di tanah air. Apakah LAI yang dipercaya Gereja-gereja untuk menerjemahkan Alkitab telah melakukan kesalahan yang begitu mendasar? Di mana sebenarnya letak persoalannya?
Kedua: Dalam Alkitab Terjemahan Baru (1974) yang digunakan secara luas di tanah air, baik oleh umat Katolik mapun Protestan, kata “Allah” merupakan padanan ‘ELOHIM, ‘ELOAH, dan ‘EL dalam Alkitab Ibrani:
Kejadian 1:1: “Pada mulanya Allah (‘ELOHIM) menciptakanlangit dan bumi.”
Ulangan 32:17: “Mereka mempersembahkan kurban kepada roh-roh jahat yang bukan Allah (‘ELOAH).”
Dari segi bahasa, tidak dapat dipungkiri, kata ‘ELOHIM, ELOAH, dan ‘EL berkaitan dengan akar kata ‘L, dewa yang disembah dalam dunia Semit kuno. EL, ILU, atau ILAH adalah bentuk-bentuk serumpun yang umum digunakan untuk dewa tertinggi. Umat Israel kuno ternyata memakai istilah yang digunakan oleh bangsa-bangsa sekitarnya. Apakah hal itu berarti bahwa mereka penganut politeisme? Tentu saja, tidak! Umat Israel kuno memahami kata-kata itu secara baru. Yang mereka sembah adalah satu-satunya pencipta langit dan bumi. Proses seperti inilah yang masih terus bergulir ketika firman Tuhan mencapai berbagai bangsa dan budaya di seluruh dunia.
Ketiga: Beberapa kelompok yang menolak kata “Allah” memang berpendapat, kata itu tidak boleh hadir di dalam Alkitab umat kristiani. Ada yang memberi alasan bahwa “Allah” adalah nama Tuhan yang disembah umat Muslim. Ada pula yang mengaitkannya dengan dewa-dewi bangsa Arab. Seandainya pendirian ini benar, tentu ‘EL, ‘ELOAH, dan ‘ELOHIM pun harus dicoret dari Alkitab Ibrani! Lagi pula, beberapa inskripsi yang ditemukan pada abad keenam menunjukkan bahwa kata “Allah” telah digunakan umat kristiani ortodoks sebelum lahirnya Islam. Hingga kini, umat kristiani di negeri seperti Mesir, Irak, Aljazair, Yordania, dan Libanon tetap memakai “Allah” dlam Alkitab mereka. Jadi, kata “Allah” tidak dapat diklaim sebagai milik satu agama saja.
Kebijakan LAI dalam menerjemahkan ‘ELOHIM, ‘ELOAH, dan ‘EL sama sekali bukan hal baru. Terjemahan Alkitab yang pertama ke dalam bahasa Yunani sekitar abad ketiga SM., merupakan contoh tertua yang kita miliki. Terjemahan yang dikenal dengan nama “Septuaginta” dikerjakan di Aleksandria, Mesir, dan ditujukan bagi umat Yahudi berbahasa Yunani. Dalam Kejadian 1:1, misalnya, Septuaginta menggunakan istilah THEOS yang biasa dipakai untuk dewa-dewa Yunani. Nyatanya, Perjanjian Baru pun memakai kata yang sama, seperti contoh berikut: “Terpujilah Allah (THEOS), Bapa Tuhan kita Yesus Kristus” (2 Kor. 1:3). Tentu, THEOS dalam kutipan ini tidak dipahami sebagai sembahan polities.
Keempat: Harus diakui, asal-usul nama YHWH tidak mudah ditelusuri. Dari segi bahasa, YHWH sering dikaitkan dengan kata HAYAH ‘ada, menjadi’, seperti yang terungkap dalam Keluaran 3:14: “Firman Allah (‘ELOHIM) kepada Musa: ‘AKU ADALAH AKU,’ (‘EHYEH ‘ASHER ‘EHYEH). Lagi firman-Nya: ‘Beginilah kau katakana kepada orang Israel itu: AKULAH AKU (“EHYEH) telah mengutus aku kepadamu.” Maknanya yang persis tidak diketahui lagi, namun ada yang menafsirkannya sebagai kehadiran Tuhan yang senantiasa ‘ADA’ menyertai sejarah umat-Nya.
Apa dasar LAI menggunakan kata “TUHAN” (seluruhnya huruf besar) sebagai padanan untuk YHWH? Untuk menjawab ini, kita perlu memperhatikan sejarah, umat Yahudi sesudah masa pembuangan amat segan menyebut nama sakral YHWH secara langsung oleh karena rasa hormat yang mendalam. Lagi pula, pengucapan YHWH yang persis tidak diketahui lagi. Setiap kali bertemu kata YHWH dalam Alkitab Ibrani, mereka menyebut ‘ADONAY yang berarti ‘Tuhan’. Tradisi pengucapan ini terlihat jelas dalam Septuaginta yang menggunakan kata KYRIOS (‘Tuhan’) untuk YHWH, seperti contoh berikut: “KYRIOS menggembalakan aku, dan aku tidak kekurangan apa pun” (Mzm. 23:1).
Kelima: Ternyata, Yesus dan para rasul mengikuti tradisi yang sama! Sebagai contoh, dalam pencobaan di padang gurun, Yesus menjawab godaan Iblis dengan kutipan dari Ulangan 6:16: “ada pula tertulis: Janganlah engkau mencobai Tuhan (KYRIOS), Allahmu” (Mat. 4:7). Dalam kutipan ini tidak ditemukan nama YHWH melainkan KYRIOS. Jika nama YHWH harus ditulis seperti dalam teks Ibrani, mengapa penulis Injil Matius tidak mempertahankannya? Begitu pula, dalam surat-surat rasul Paulus tidak pernah digunakan nama YHWH. Dalam Roma 10:13, misalnya, Paulus mengutip Yoel 2:32: “Barang siapa yang berseru kepada nama Tuhan (KYRIOS) akan diselamatkan”. Terbukti, kata yang digunakan adalah KYRIOS, bukan YHWH.
Mungkinkah Yesus dan para rasul telah mengikuti suatu tradisi yang “keliru”? tentu saja, tidak! Para penulis Perjanjian Baru justru mengikuti tradisi umat Yahudi yang menyebut ‘ADONAY (‘TUHAN”) setiap kali bertemu nama YHWH. Karena Perjanjian Baru ditulis dalam bahasa Yunani, kata KYRIOS dipakai sebagai padanan untuk ‘ADONAY yang mencerminkan tradisi pengucapan YHWH.
Keenam: Singkatnya, LAI mengikuti teladan Yesus dan umat kristiani perdana menyangkut pengucapan YHWH. Dalam Alkitab TB-LAI, kata “TUHAN” ditulis dengan huruf besar semua sebagai padanan untuk ‘ADONAY yang mengingatkan tradisi pengucapan itu. Penulisan ini memang sengaja dibedakan dengan “Tuhan” (hanya huruf pertama besar), padanan untuk ‘ADONAY yang tidak merepresentasikan YHWH. Perhatikan contoh berikut: “Sion berkata: ‘TUHAN (YHWH) telah meninggalkan aku dan Tuhanku (‘ADONAY) telah melupakan aku.’” (Yes. 49:14). Perbedaan ini tentu tidak relevan untuk Perjanjian baru yang tidak mempertahankan penulisan YHWH.
Berbagai terjemahan modern juga mengikuti tradisi yang sama, misalnya, dalam bahasa Inggris: “the LORD” (New Jewish Publication Society Version; New Revised Standard Version, New International Version, New King James Version, Today’s English Version); Jerman: “der HERR” (EinHeitsubersetzung; die Bible nach der Ubersetzung Martin Luthers); Belanda: “le SEIGNEUR” (Traduction Oecumenique de la Bible).
Kebijakan LAI mengenai padanan untuk nama-nama ilahi tidak diambil secara simplistis. Berbagai aspek harus dipertimbangkan dengan matang, antara lain:
(1) Teks sumber (Ibrani dan Aram untuk Perjanjian Lama; Yunani untuk Perjanjian Baru) dan tafsirannya. (2) Tradisi umat Tuhan dalam Perjanjian Lama dan Perjanjian Baru. (3) Sejarah pemakaian nama-nama ilahi dalam penerjemahan Alkitab ke dalam berbagai bahasa dan budaya dari zaman ke zaman. (4) Kebijakan yang diikuti tim-tim penerjemahan Alkitab di seluruh dunia, khususnya yang bergabung dalam perserikatan lembaga-lembaga Alkitab sedunia (United Bible Societies). (5) Kesepakatan yang diambil bersama dengan gereja-gereja, baik Katolik maupun Protestan, yang menggunakan Alkitab terbitan LAI hingga saat ini. Menjelang penyelesaian Alkitab TB-LAI, misalnya, pada tahun 1968 diadakan konsultasi di Cipayung dengan para pemimpin dan wakil gereja-gereja dari berbagai denominasi. Dalam konsultasi ini, antara lain, disepakati agar kata “Allah” tetap digunakan seperti dalam terjemahan-terjemahan sebelumnya.
Ketujuh: LAI tidak pernah berpretensi seolah-olah terjemahannya sudah sempurna dan tidak perlu diperbaiki lagi. Akan tetapi, mengingat proses panjang dan berhati-hati yang ditempuh dalam menerbitkan Alkitab, tuntutan beberapa kelompok yang ingin menyingkirkan atau memulihkan nama tertentu, tidak dapat dituruti begitu saja. Dalam semua proses pengambilan keputusan menyangkut terjemahan Alkitab, berbagai faktor harus dipertimbangkan dengan saksama menyangkut teks-teks sumber, tafsirannya, tradisi penerjemahan sampai dampak bagi persekutuan dan kesaksian umat Tuhan bersama-sama, khususnya di tanah air kita.
Setelah melihat pernyataan dan penjelasan serta argumentasi LAI di atas, tampak bahwa kaum arogan Yahwehisme memiliki sejumlah asumsi yang belum teruji kebenarannya. Meski mereka menunjukkan sejumlah dokumen pendukung tentang nama ‘Allah’ tetapi mereka sendiri melupakan kata ‘Elohim’ dalam terjemahan Alkitab mereka. Apa sebenarnya latar belakang kata ‘Elohim’ itu? Hal ini juga masuk dalam daftar pertanyaan saya yang akan dituliskan kemudian.
Kita perlu melihat kondisi terkini dari kaum Yahwehisme yang di satu sisi, arogansi yang muncul mendorong para pengikutnya yang awam, menjadi seolah-olah tahu bahasa Ibrani dan merasa bahwa ketika menggunakan bahasa Ibrani, mereka menjadi lebih superior dari yang lain. Padahal, penggunaan bahasa Ibrani yang mereka paparkan, hanyalah secara artifisial, tanpa ada tendensi akademis yang mumpuni. Atau dengan kata lain, mereka yang menggunakan beberapa kata Ibrani, merasa seolah-olah di atas angin ketimbang mereka yang tidak mendukung gagasan Yahwehisme.
Akan tetapi, penelitian yang cermat, menghasilkan berbagai gagasan yang menarik untuk dikaji dan dipikirkan bersama. Terlepas dari setuju atau tidak, penelitian yang cermat tersebut, mengantar kita kepada sikap terbuka secara akademis untuk melihat adanya keragaman terjemahan dan dalil yang dapat menjadi tolok ukur mengapa seseorang bisa menggunakan kata ‘Yahweh’ dan ‘Allah’ di satu sisi, dan pula di sisi lainnya(lihat deskripsi LAI di atas). Saya sendiri pernah mengusulkan beberapa pertanyaan terkait dengan terjemahan YHWH untuk “Yahweh”, baik dari sisi historis atau pun dari sisi logika.
Secara subtansi, teks-teks Alkitab (Kitab Ibrani—Kitab Suci Yudaisme) menyebutkan hanya empat huruf: YHWH [yod, he, waw, he]. Kemudian, empat huruf tersebut ditransliterasikan menjadi “Yahweh”. Nah, terkait soal ini, maka beberapa pertanyaan muncul.
Pertama, dari mana asal usulnya dua vocal ‘a’ dan ‘e’ muncul dalam tetragramaton
Kedua, apakah penyebutan ‘Yahweh’ adalah benar langsung diwahyukan-Nya ataukah hanya empat huruf ‘YHWH’ yang diwahyukan-Nya?
Ketiga, siapa yang menetapkan dua vokal itu dalam tetragramaton. Dan atas dasar apa memasukkannya dalam tetragramaton.
Keempat, jika manusia yang menetapkan dua vokal tersebut maka pertanyaan kedua di atas muncul kembali.
Kelima, apa dasarnya sehingga harus disebut ‘Yahweh’? Mengapa tidak yang lainnya?
Keenam, apakah sebutan ‘elohim’ itu murni milik Israel atau hasil dari asimilasi dewa bangsa lain?
Keenam pertanyaan di atas sebenarnya bertujuan untuk menurunkan ‘sakit panas’ dari para pengagung Yahweisme yang getol memaksakan bahwa memang terjemahan yang tepat adalah ‘Yahweh’ meski mereka tidak mengetahui secara pasti dari mana kedua vokal ‘a’ dan ‘e’ masuk dalam empat huruf mati. Saya sendiri tidak keberatan menyebut nama ‘Yahweh’, namun tidak sefanatik kaum Yahweisme. Alasan saya tidak keberatan untuk menyebut atau menggunakan nama ‘Yahweh’ berangkat dari tradisi yang berkembang dari bangsa Israel itu sendiri, meski tidak ada data yang pasti mengenai masuknya dua vokal ‘a’ dan ‘e’ ke dalam YHWH.
Bisa saja empat huruf tersebut menggunakan vokal lainnya. Alasannya karena tidak ada data pasti mengapa harus “Yahweh” dan bukan yang lainnya. Ketika mereka yang ngotot menyatakan bahwa ‘harus’ Yahweh yang harus diterjemahkan, maka pertanyaan-pertanyaan saya di atas haruslah dijawab. Terkait dengan peryataan kedua di atas, tidak ada data yang pasti apakah terjemahan ‘Yahweh’ yang diwahyukan ataukah hanya ‘YHWH’ yang diwahyukan sebagaimana tampak dalam deskripsi LAI di atas. Semuanya masih menjadi tanda tanya. Namun, untuk alasan warisan historis, mayoritas menggunakan ‘Yahweh’ ketimbang terjemahan yang lainnya.
Jadi, sebenarnya kita berdiri pada posisi yang dual: mengakui bahwa terjemahan Yahwehlah yang benar dan terjemahan YHWH lah yang benar dan diwahyukan. Untuk mengurangi kadar kecurigaan satu sama lain, berikut ini saya akan memaparkan banyak contoh para pakar atau ahli dari berbagai kalangan. Mulai dari pakar Grammar of Biblical Hebrew, pakar doktrin Yudaisme, pakar historis, juga Rabbi Yahudi, dan para teolog lainnya, yang mana penyebutan Yahweh, God, Lord, LORD, Elohim, Allah, (dan terjemahan bahasa Indonesia dan Inggris lainnya) digunakan atau diterima secara bersamaan, tanpa ada tendensi pemaksaan bahwa terjemahan ‘Yahweh’ lah yang diwahyukan. Artinya, mayoritas menerima penyebutan ‘Yahweh’ tetapi tidak dengan tendensi untuk ‘mengkafirkan’ mereka yang menyebut nama ‘Allah’—seolah-olah kaum arogan Yahwehisme ‘tahu’ bahwa nama ‘Yahweh’-lah yang diwahyukan padahal mereka sendiri mengakui bahwa nama itu didasarkan pada empat huruf (tetragramaton). Lalu yang mana sebenarnya diwahyukan-Nya?
Penggunaan kata “Yahweh” atau “Yahwe” oleh para sejarawan, teolog, penafsir, tidak berada dalam tendensi tertentu, apalagi menekankan arogansi teologis. Paul Joüon dan T. Muraoka, A Grammar of Biblical Hebrew [Subsidia Biblica – 27], Editrice Pontificio Intituto Biblico – Piazza della Pilotta, Roma 2006, menggunakan baik kata ‘Yahweh’ maupun ‘God’ (terjemahan Indonesia adalah “Allah”). Saya akan mengutipnya di sini, dan pembaca bisa melihat penggunaan nama Yahweh, Lord, dan God yang digunakan Paul Joüon dan T. Muraoka. Sebelum saya mengutipnya, saya memperkenalkan salah satu dar keduanya, yakni Profesor Muraoka. Muraoka studi BA (1960) di Tokyo Kyoiku University in English Philosophy; studi MA (1962), bidang Greek, Hebrew and general linguistic dan Ph.D (1970) Hebrew dan Semitic linguistic di Hebrew University in Jerusalem. Tahun 1970-1980, ia belajar bahasa Ibrani, Aramaik, Siria dan Etiopia di University of Manchester, U.K. Ia adalah profesor Bahasa Ibrani di Leiden University, The Netherlands (1991-2003). Dengan demikian, kita dapat melihat bahwa Profesor Muraoka bukanlah orang biasa, melainkan pakar di bidang bahasa Ibrani, Aramaik dan sebagainya.
Dalam bukunya, Muraoka menyebutkan “Lord” bagi kata YHWH dalam teks 2 Raja-raja 8:13, “the Lord showed you to me”. Penggunaan kata “Yahweh”, “God”, dan “Lord” tidak dipandang sebagai arogansi teologis melainkan bermain di tataran elaboratif tekstual—historis dan pemaknaan atas teks dimaksud. Juga tanpa ada tendensi pemaksaan makna literal sebagaimana dijumpai dalam kasus Yahwehisme.
“Siapa mendidik seorang pencemooh, mendatangkan cemooh kepada dirinya sendiri, dan siapa mengecam orang fasik, mendapat cela” (Amsal 9:7)
Dunia perkataan bersifat luas, liar, terkontrol, dan longgar. Longgarnya perkataan merupakan hal wajar sekaligus tidak wajar. Kesukaan seseorang untuk berkata-kata bergantung pada karakter dan personalitasnya. Mulut kotor penuh gusto hipokrit dan “verbal abuse” (bahasa [perkataan] kasar dan menghina yang ditujukan pada seseorang) didorong oleh banyak faktor. Faktor utama adalah lingkungan. Seseorang menjadi bermulut kotor dan penuh sumpah serapah ditenggarai berasal dari lingkungan di mana ia berada. Tak heran jika ada pendeta yang bermulut kotor karena disebabkan oleh lingkungan yang mendukung identitasnya sebagai sang pencemooh.
Perkataan yang terkontrol adalah bagian dari penguasaan diri seseorang. Meski bisa saja seseorang memiliki kapabilitas untuk berkata-kata secara longgar tetapi karena penguasaan diri yang tinggi maka setiap perkataannya menjadi terkontrol. Baik perkataan yang longgar dan terkontrol semuanya ditandai oleh aspek-aspek internal seseorang. Sebagaimana kita ketahui bahwa lingkungan dapat menjerumuskan seseorang ke dalam “baskom demoralitas” dan juga mengangkat martabat seseorang dalam sebuah “baskom moralitas yang tinggi”.
Di lingkungan pencemooh, siapa pun yang tak bisa menguasai dirinya akan termakan oleh arus gusto hipokrit dan “verbal abuse”. Dalam lingkungan tersebut, tak ada personal yang dapat dijadikan panutan karena karakter personal yang ada di sekitarnya memiliki identitas yang sama. Bahkan lebih dari itu. Gusto hipokrit adalah sebuah konteks yang menjelaskan tentang “semangat” (dan antusiasme) sebagai sebuah rasa individual yang mengandung penampilan palsu, sehingga menghasilkan tindakan yang bertentangan dengan keyakinan atau perasaannya yang sesungguhnya. Singkatnya, semangat untuk melakukan kemunafikan.
Gusto hipokrit mengetengahkan sebuah fakta bahwa hipokrit dapat dipupuk dan dilatih oleh pelatih yang tentu memiliki rating tertinggi di antara komunitas mereka. Hipokrit menjadi jualan persuasif yang meyakinkan sembari pikirannya dibumbui dengan hawa nafsu dan keserakahan. Gusto “verbal abuse” adalah gandengan dari gusto hipokrit. Keduanya adalah kakak beradik hanya beda darah dan tanah kelahiran. Keduanya menyatu ibarat rokok dan asbak.
Gusto “verbal abuse” sama dengan “mencemooh” (atau menyalahgunakan perkataan [lisan]), muncul dan dimunculkan oleh orang-orang yang hatinya tidak memiliki kemurnian kasih dan tidak memiliki pengertian yang tinggi alias pencemooh. Gusto “verbal abuse” dilakukan oleh mereka yang otaknya miring dan sering tak terkendali. Mereka kerap mencerminkan pribadi yang suci dan bersih dalam pandangannya sendiri di kandang sendiri. Di antara mereka ada berbagai level jabatab. Ada yang bagian keuangan, ada bagian pendoa sumpah serapah, ada yang provokator, ada yang pengamat, ada yang bagian tagih uang, ada yang bagian pemerataan keuangan, ada yang bagian lobi atau manuver licik dan lainnya adalah bagian “cleaning service” atau bagian sapu-sapu jalan para pelaku gusto “verbal abuse” seolah-olah mereka adalah pelayan yang membersihkan dosa-dosa para pencemooh.
Pencemooh yang lepas kendali sering disebabkan oleh adanya bayaran yang cukup tapi rutin. Setiap kali uang bayaran melekat di tangan dan ditambah bonus, maka secara otomatis gusto “verbal abuse” akan mengalir deras. Sang Hipokrit sering pula tidak tahu bahwa para pencemooh (pelaku “verbal abuse”) bisa berjiwa “hipokrit”. Artinya, dalam lingkungan setan mereka saling memperalat. Yang punya uang senang dan yang dibayar juga senang. Senang dalam dosa adalah “surganya” para pelaku kejahatan dan pelaku cemooh. Di sini kita dapat menarik kesimpulan bahwa mereka akan bangga dengan kehandalan mereka dan akrab dalam lingkungan keburukan dan kesombongan. Mereka saling mendukung dan menasihati dalam kegelapan logika dan kebutaan rohani.
Agenda mereka hanyalah bagaimana meraup uang, kekuasaan, jabatan, pengikut yang dapat dibeli, dan bagaimana menjatuhkan serta mengancam orang lain. Hati dan pikiran mereka menjadi satu dan diikat oleh gusto hipokrit dan gusto “verbal abuse”. Karena saling menyatu mereka kemudian mengandung dan melahirkan seorang “anak-anak” ingusan yang siap membabi buta, tabrak sana tabrak sini dan sering tabrak lari. Mereka piawai dengan kelicikan dan omongan manis. Membaca mereka sangatlah mudah. Cukup lihat perilaku dan perkataan mereka setiap hari dan apa yang mereka hasilkan. Sebagaimana Alkitab tegaskan: “Pohon dikenal dari buahnya”.
Selaras dengan fakta di atas, kita perlu menjaga diri dari pengaruh buruk mereka. Hati dan pikiran kita harus tetap murni, mengasihi Tuhan dan sesama. Kita tidak perlu meniru hal-hal buruk yang dikumandangkan oleh para pencemooh. Alkitab memberikan rambu-rambu peringatan, nasihat, kecaman, dan kesinambungan kehidupan manusia yang baik dan yang buruk (para pencemooh alias pelaku “verbal abuse”). Seperti yang ditegaskan oleh Alkitab bahwa kumpulan pencemooh adalah memiliki perilaku yang buruk.
Berikut ini adalah teks-teks selektif menyangkut pelaku “verbal abuse” dan tanggung jawab orang benar yang berperilaku lurus dan baik.
Mazmur 1:1-3. Berbahagialah orang yang tidak berjalan menurut nasihat orang fasik, yang tidak berdiri di jalan orang berdosa, dan yang tidak duduk dalam kumpulan pencemooh, tetapi yang kesukaannya ialah Taurat TUHAN, dan yang merenungkan Taurat itu siang dan malam. Ia seperti pohon, yang ditanam di tepi aliran air, yang menghasilkan buahnya pada musimnya, dan yang tidak layu daunnya; apa saja yang diperbuatnya berhasil.
Melalui pengamatan, di kehidupan yang normal sering muncul perilaku abnormal yang melekat pada dosa. Kurangnya pengetahuan membuat seseorang menjadi pakar dalam hal gusto hipokrit dan gusto “verbal abuse”. Amsal 1:22 mengutarakan kondisi tersebut: “Berapa lama lagi, hai orang yang tak berpengalaman, kamu masih cinta kepada keadaanmu itu, pencemooh masih gemar kepada cemooh, dan orang bebal benci kepada pengetahuan?”
Di konteks pertikaian dan perselisihan yang terjadi dapat muncul secara tiba-tiba atau dengan teknik yang telah dirancang sebelumnya, orang-orang yang berperilaku “verbal abuse” dan “hipokrit”. Mereka ini sebaiknya jangan dididik karena hal itu sama dengan melempar mutiara kepada babi. Karakter pencemooh yang telah mendarah daging menyulitkan perubahan pada seseorang.
Upaya untuk mendidik atau menyadarkan bisa menjadi upaya yang sia-sia. Amsal 9:7 menyatakan: “Siapa mendidik seorang pencemooh, mendatangkan cemooh kepada dirinya sendiri, dan siapa mengecam orang fasik, mendapat cela.” Sulit bagi pencemooh untuk mencari hikmat karena pikirannya telah ditutupi oleh pasir sumpah serapah dan dusta serta tipu muslihat. Amsal 14:6 menegaskannya: “Si pencemooh mencari hikmat, tetapi sia-sia, sedangkan bagi orang berpengertian, pengetahuan mudah diperoleh.” Bahkan dalam Amsal 15:12 dijelaskan karakter nya: “Si pencemooh tidak suka ditegur orang; ia tidak mau pergi kepada orang bijak.”
Ciri khas lainnya dari pencemooh di nyatakan ole Amsal 21:24 sebagai berikut: “Orang yang kurang ajar dan sombong pencemooh namanya, ia berlaku dengan keangkuhan yang tak terhingga.” Memang si pencemooh itu angkuh. Padahal ia sendiri sedang menumpukkan dosa dalam hidupnya. Tetapi perlu diingat bahwa pada saat yang ditentukan Tuhan, si pencemooh akan habis sebagaimana dijelaskan oleh Nabi Yesaya: “Sebab orang yang gagah sombong akan berakhir dan orang pencemooh akan habis, dan semua orang yang berniat jahat akan dilenyapkan” (29:20).
Ketiga di lingkungan kita muncul para pencemooh yang mengakibatkan pertikaian atau pertengkaran, seyogianya kita melakukan nasihat Salomo: “Usirlah si pencemooh, maka lenyaplah pertengkaran, dan akan berhentilah perbantahan dan cemooh” (Amsal 22:10).
Kita perlu melihat diri kita dan menilai secara jujur apakah saya termasuk dalam kategori orang yang gusto hipokrit dan gusto “verbal abuse” atau kita termasuk dalam kategori orang yang berintegritas dan memiliki kasih yang tulus dan murni? Jika kita mengaku sebagai abdi Allah, maka selayaknyalah kita hidup dalam kemurnian kasih dan komitmen. Tidak mudah dibeli oleh para pembeli pengikut untuk menjadi penduduk lingkungan hipokrit dan “verbal abuse” melainkan hidup sebagai warga Kerajaan Allah yang mengenakan senjata terang.
Kita pun dinasihati oleh Rasul Paulus bahwa: “Hari sudah jauh malam, telah hampir siang. Sebab itu marilah kita menanggalkan perbuatan-perbuatan kegelapan dan mengenakan perlengkapan senjata terang Marilah kita hidup dengan sopan, seperti pada siang hari, jangan dalam pesta pora dan kemabukan, jangan dalam percabulan dan hawa nafsu, jangan dalam perselisihan dan iri hati. Tetapi kenakanlah Tuhan Yesus Kristus sebagai perlengkapan senjata terang dan janganlah merawat tubuhmu untuk memuaskan keinginannya (Roma 13:12-14).
“Pemahaman” dan cara memahami” adalah dasar dari logika. Semua kehidupan, filsafat, ilmu pengetahuan dengan segala bidangnya, konsep, kritik, sikap diri, dan lain sebagainya, bergantung pada sebuah “pemahaman”. Setiap pemahaman menghasilkan berbagai hal: ada yang baik, dan ada yang buruk; ada yang bermanfaat, dan ada merusak; ada yang menguntungkan, dan ada yang merugikan; ada yang melegakan, dan ada yang menyesakkan dada; ada yang menuai pujian, dan ada yang menuai cacian (makian); ada yang memuluskan jalan hidupnya, ada ada yang menghambat jalan hidupnya.
Ada “banyak” kisah manusia yang dihasilkan dari sebuah “pemahaman”—entah pemahaman tunggal, ganda, maupun jamak. Setiap kesempatan yang dimiliki, dapat ditempuh dan diolah melalui sebuah pemahaman tentang “waktu”—yang mendorong setiap kita untuk dapat melakukan apa yang dapat dilakukan. Itulah “pemahaman”.
Di dunia “hermeneutik” [menafsir; memahami], segala sesuatu yang ditempuh perlu memahami aspek-aspek signifikan yang terkandung di dalam hermeneutik itu sendiri. Para Voyager (orang yang mengadakan pelayaran) di kapal logika mengedepankan pemahaman yang utuh dari sebuah konteks yang hendak dibicarakan (dipikirkan). Para Voyager akan dapat menemukan konstruksi yang benar-benar kuat ketika beberapa aspek signifikan dari substansi hermeneutik ditempuh dengan kritis dan jujur.
Ruang pemahaman kadang tak bisa dibendung. Selalu ada saja “ruang baru” di mana para Voyager bermain keluar dari kapal logika. Hingga akhirnya, berbagai kesimpulan atau gagasan bermunculan mempengaruhi para nelayan yang sedang berada di sekitar kapal logika mereka. “Pengaruh” adalah tujuan dari hermeneutik. Jika tanpa pengaruhi, percuma seseorang melakukan penafsiran. Pengaruh itu sendiri ada berbagai bentuknya. “Pengaruh” secara substansial mengandung rasa percaya, pemahaman, rasa yakin, rasa ragu, dan sebagainya—yang semuanya bergantung pada “penafsiran [cara menafsir]”.
Di sini, untuk memahami anatomikal (uraian tentang sesuatu) hermeneutik, diperlukan konstruksi—setidaknya ini yang saya pahami—sebagai dasar untuk mencapai tujuan dari apa yang ditafsirkan, semisal teks Kitab Suci.
Pertama, GERMINAL: TEKS DAN KONTEKS
Sebagai tindakan germinal (mula-mula) dalam menafsir, maka teks (yang dibaca) harus dipahami dengan melihat konteks yang terkandung dalam teks. Tindakan tindakan adalah tindakan umum dalam dunia tafsir Kitab Suci. Dasarnya jelas, teks dan konteks menjadi tindakan logis germinal. Namun, seringkali “prapemahaman” seringkali mendahului konteks dari teks yang sedang ditafsirkan.
Kedua, PERSEPTIVITAS. Tindakan germinal dilanjutkan dengan perseptivitas (daya pemahaman atau pengamatan). Tingkat pemahaman terhadap teks dan konteks berbeda-beda. Para Voyager di dalam kapal logika pasti memiliki tingkatan perseptivitas dalam hal menafsir. Mereka—dengan berbagai latar belakang pendidikan dan keilmuan mengunggulkan hal-hal tersebut sebagai dasar pijak membangun konstruksi hermenetisnya. Tentu, hasil akhir akan menjadi penentu perseptivitas hermeneutis teks dan konteks.
Ketiga, IMAGINABEL (yang dapat dipikirkan). Kadangkala, gerak imaginabel muncul saat menafsir teks-teks sulit. Imaginabel sebenarnya membuka ruang pemikiran yang lain ketika konteks-konteks yang dipahami dari sebuah teks sulit untuk ditentukan latar belakangnya, budaya, politik, geografis, maksud dan tujuan penulis, dan lain sebagainya. Namun, secara substansial tindakan imaginabel membuka beberapa pemahaman yang tidak lazim untuk menjembatani kurangnya informasi konteks yang terkandung dalam teks.
Keempat, IMPERSONASI (perbuatan meniru; peniruan). Para Voyager tententu kadang melakukan impersonasi yaitu mendaur ulang cara dan hasil menafsir para penafsir pendahulu mereka atau yang sezaman dengan mereka. Tindakan ini dilakukan untuk tetap mempertahankan natur hermeneutik ketika berhadapan dengan berbagai kesulitan menafsir. Meniru bisa memungkinkan terciptanya konsistensi hermeneutis di satu sisi, dan mempertahankan isi kebenaran dari teks dan konteks di sisi lainnya.
Kelima, BAHAYA IMPERTINEN (tidak ada hubungan, tidak mengenai pokok persoalannya; di luar pokok persoalan; menyimpang dari pokok). Dalam proses hermeneutis ada bahaya yang bisa terjadi. Bahaya tersebut adalah impertinen. Dalam kalangan internal Kristen, tindakan impertinen sering terjadi. Bahkan belakangan ini, para teolog, ilmuwan, dan intelektual agama lain, sering melakukan impertinen. Mereka menafsir sesuka hati dengan menonjolkan asumsi dan opini subjektivisme yang liar untuk memuaskan pemahaman dangkal mereka tentang iman Kristen. Ahmed Deedat dan Zakir Naik adalah dua teolog Islam yang ignoran yang menafsir teks-teks Alkitab dan menghasilkan impertinen liar. Anehnya, ada orang-orang yang percaya pada cara menafsir mereka yang sangat impertinen. Bahaya ini akan menjalar ketika germinal (teks dan konteks) dan perseptivitas diabaikan. Apalagi mengabaikan aspek-aspek hermeneutis kredibel.
Keenam, BAHAYA PERMISIF (suka atau serba membolehkan). Permisif memiliki kaitan dengan impertinen. Artinya tindakan permisif dapat mengizinkan terjadinya tindakan impertinen. Namun, secara positif, tindakan permisif juga dapat berpotensi untuk melihat sisi lain dari sisi yang sudah ada—yang lazim. Apa maksudnya? Maksudnya adalah para Voyager dapat mengajukan cara lain untuk melihat kedalaman teks dan membolehkan metodologi atau pendekatan yang berpeluang menghasilkan gagasan baru dari teks yang ditafsirkan.
Dari deskripsi di atas, anatomikal hermeneutis adalah dasar bagi para Voyager yang berada di kapal logika. Meski penjelasannya sangat sederhana, diharapkan dapat membuka ruang diskusi mengenai konteks dan perkembangan hermeneutika saat ini. Yang pasti, hukum internal dari dunia tafsir adalah perlu memahami “konteks”—memahami kedalaman dan jembatan-jembatan yang menghubungkan pulau yang satu dengan pulau yang lain, sehingga para Voyager di kapal logika mereka—ketika singgah di salah satu pulau, mereka menemukan bahwa konteks dari sebuah teks telah terdapat di sana, dan kemudian tinggal menggalinya, mengembangkannya, dan membagikannya kepada para nelayan yang mencari ikan di sekitar pulau-pulau hermeneutika.
Para Voyager di kapal logika akan menjadi petualang yang membawa berbagai pengalaman mereka mengarungi lautan “teks dan konteks” untuk dibagikan kepada para nelayan, memberikan “pengaruh”, menciptakan kehidupan yang berkenan kepada Allah, menaburkan benih-benih kebenaran Allah, dan menjadi teladan dalam perbuatan baik di mana perbuatan baik diambil dari teks dan konteks Kitab Suci yang telah mereka kunyah-kunyah menjadi makanan bergizi.
“Engkau telah melepaskan kami, ya TUHAN, dari ketakutan akan kematian. Engkau telah membuat akhir kehidupan di dunia ini, menjadi awal kehidupan sejati kami. Engkau menebus kami dari kutuk dosa, dan telah mengembalikan nama kami menjadi baik. Engkau telah meremukan kepala ular yang telah merenggut manusia di rahangnya karena jurang ketidaktaatan kami. Engkau telah membuka bagi kami jalan untuk kebangkitan, setelah terlebih dahulu merobohkan gerbang kematian. Dan Engkau memberikan kepada mereka yang takut akan Engkau tanda yang terlihat, yakni tanda salib Kudus-Mu, untuk menghancurkan musuh-musuh kami dan untuk perlindungan kehidupan kami.”
Js. Makrina(Kristen Orthodox)
Sumber gambar: Pinterest
Pendahuluan
Kekristenan berdiri dilandasi oleh iman kepada Yesus Kristus. Pengajaran tentang Yesus Kristus tertuang dalam Kitab Suci Perjanjian Baru (PB). Para rasul telah memberikan warisan pengajaran tentang Yesus dan iman mereka kepada Yesus. Baik Yesus maupun para rasul (murid-murid) meninggalkan dua hal: pengajaran dan teladan. Yang kita warisi dari mereka adalah yang sedang kita lakukan dan rasakan.
Kekristenan berdiri karena pengajaran tentang Yesus yang dipublikasikan kepada dunia secara global dan masiv. Sepanjang sejarah, orang-orang Kristen berjuang memberitakan Injil meski berbagai tantangan, halangan, hambatan, dan ancaman kematian menanti mereka. Istilah “martir” menjadi popular di kalangan Kristen yang merujuk kepada mereka yang secara sederhana diartikan sebagai “mati demi Kristus”. Sepanjang sejarah tak terhitung jumlah martir Kristen. Mereka telah berjuang hingga akhir; mereka setia sampai mati; mereka bertahan sampai mati; mereka tidak menyangkal iman mereka untuk kompromi; dan mereka berani melawan ketidakadilan dan keserakahan dosa melalui tindakan kasih dan persebaran kebenaran Injil [Alkitab].
Tidak hanya di luar dari kekristenan yang membunuh orang-orang Kristen. Secara internal, Katolik Roma dan Prostestan menorah “jalan darah” yang dicurahkan demi berbagai kepentingan. Agama dan darah adalah dua hal yang tak bisa dipisahkan. Sejak awal, gagasan untuk mementingkan diri sendiri telah muncul sejak Kain membunuh Habel. Persoalannya adalah karena persembahan kepada Tuhan yang diterima adalah persembahan Habel, sedangkan Kain tidak. Ini tentu berbicara soal Tuhan dan persembahan. Maka, gagasan Agama dan Darah sebagai dua hal yang tak bisa dipisahkan merupakan catatan sejarah yang penting bagi kita di zaman ini untuk melihat signifikansi keduanya.
Zaman modern, dengan perkembangan teknologi dan informasi, menambah daftar panjang para penegak hukum dan juga agama-agama di dunia mengenai mengenai meningkatnya angka kejahatan dengan berbagai motif. Pemerkosaan, pembunuhan bermotif seks dan pelecehan seksual disebabkan oleh maraknya penggunaan internet di berbagai kalangan. Para pemuda dan pemudi Kristen terjerumus ke dalam dosa-dosa seksualitas dan berujung kepada pencemaran nama baik agama itu sendiri.
Ada pula karena kasus seksualitas, berujung pada saling bunuh. Darah pun tertumpah. Moralitas Kristen sering tidak menjadi pajangan utama di mimbar-mimbar Kristen, tetapi lebih menekankan kepada cara hidup penuh kasih dan saling mengampuni. Gagasan moral Kristen yang dibarengi dengan pendisiplinan anggota gereja dirasa belum cukup dan belum memadai untuk menekan angka pelanggaran moralitas dan seksualitas terutama di kalangan anak muda. Spirtualitas Kristen menjadi second class setelah tindakan-tindakan amoral dan masa bodoh atas peraturan gerejawi termasuk tata cara pendisiplinan. Masihkah relevan disiplin gereja? Saya rasa masih dan harus. Tetapi, apakah ada gereja yang masih melakukan hal tersebut? Saya rasa masih ada. Tetapi mungkin jumlahnya tidak banyak.
Maraknya pelecehan seksual, seks bebas (free sex), hamil di luar nikah, pembunuhan janin (bayi) atau aborsi, pembunuhan terhadap pasangan hidup atau pun pacar, bunuh diri karena putus asa dan putus cinta, rusaknya moralitas pemuda dan pemudi gereja, dan berbagai tindakan buruk dan amora lainnya, menjadikan gereja sebagai sorotan publik dan sering dipertanyakan program-program gereja tersebut yang pro spiritualitas Kristen. Dalam pengamatan saya secara kecil-kecilan di beberapa gereja, program-program gereja yang diusung ternyata sangat kurang menekankan level spiritualitas atau iman para pemuda dan pemudi. Yang ada hanyalah mayoritas kegiatan-kegiatan yang bersifat komunal dalam konteks kemah bakti, ret-retreat, bakti sosial, lomba paduan suara (koor dan vokal grup), pesparawi (pesta paduan suara gerejawi), lomba gerak jalan, sepak bola, tenis meja, dan lain sebagainya. Sebagian gereja lainnya, mengusung kegiatan-kegiatan KTB (kelompok tumbuh bersama) atau Konsel, persekutuan doa, dan sejenisnya.
Berbagai cara dan program digulirkan oleh gereja-gereja untuk mendidik generasi muda agar mencintai dan menjaga kekudusan hidup, menjaga hubungan di masa pacaran sampai menuju ke jenjang pernikahan. Namun, pada kenyataannya, dalam analisis saya, bahwa cukup banyak gereja yang gagal untuk mengamati perkembangan dan arus teknologi dan informasi yang mana para generasi muda lebih banyak mengakses informasi melalalui media internet atau smart phone. Tak hanya generasi muda, hubungan pernikahan pun diancam bubar—akibat melalukan chatting via media sosial dan kemudian berujung pada perselingkuhan.
Di beberapa kota besar di Indonesia, dari berbagai sumber yang saya dapatkan terkait informasi mengenai semberawutnya moralitas generasi muda Kristen, mayoritas dosa seksual menjadi peringkat nomor satu. Dosa seksual adalah dosa yang terdiri dari dosa berhubungan seksual pra nikah, dosa perselingkuhan atau perzinaan yang tidak pada tempatnya. Seorang sahabat saya, yang adalah seorang pendeta, pernah mengkonseling sepuluh pasangan yang akan menikah. Dan hasil dari konseling pranikah tersebut didapatkan informasi tentang pengakuan pasangan-pasangan tersebut adalah dari sepuluh pasangan yang akan menikah, ternyata hanya dua pasangan yang belum melakukan hubungan seks. Delapan pasangan mengaku telah melakukan hubungan seks pra nikah.
Tahun 2008, ketika saya berkunjung ke salah satu kantor kementerian agama RI di Manado, saya membaca sebuah Koran yang berisi tentang seorang gadis muda (mungkin duduk di bangku SMA) direkam oleh seseorang ketika ia melakukan hubungan seks dengan salah seorang aparat pemerintah. Di Talaud, beredar video perempuan dan salah seorang aparat kepolisian yang berciuman dan saling raba meraba. Di Manado, dari hasil survey salah satu lembaga, didapatkan bahwa lebih dari 60% para perempuan muda (anak-anak SMP dan SMA—belum termasuk yang kuliah) dan mayoritas adalah pemudi Kristen, telah melakukan hubungan seks. Bagi mereka, berhubungan seks tak jadi masalah, asalkan mereka mendapatkan bayaran untuk membeli smart phone, atau bahkan sebelum berhubungan seks bebas, mereka meminta dibelikan smart phone untuk bergaya.
Pertanyaannya adalah: di mana tugas gereja? Kemerosotan moral dan spiritual bukanlah persoalan baru di dalam Gereja. Gereja perlu memperhatikan masalah ini mengingat perkembangan teknologi dan informasi menjadi dorongan dan desakan kepada kaum muda untuk memiliki sebuah life style yang jika tidak terpenuhi, mereka akan mencoba mengorbankan diri dan keperawanannya agar mendapatkan apa yang diinginkan.
Bercermin dari persoalan ini, saya mencoba menggagas sebuah pemahaman yang krusial dan substansial terkait dengan “Teladan Iman”. Teladan iman berpusat pada prinsip meneladani iman dari para pendahulu kita—atau dengan sebutan “para martir Kristen” yang rela mati demi Kristus. Para martir patut diteladani. Iman dan keyakinan mereka membawa mereka pada nilai-nilai sejarah yang patut dipelajari sekaligus diteladani. Generasi muda telah—dalam pengamatan saya—kehilangan teladan iman. Mereka mendapati diri mereka hanya sebatas apa yang dipahami berkenaan dengan kondisi kekinian, kondisi rohani yang berbarengan dengan maraknya demoralisasi; maraknya perselingkuhan, maraknya pergaulan bebas; maraknya penggunaan narkoba, free sex, dan kekerasan seksual.
Menjadi Kristen hanya sebayas nama dan slogan belaka, tetapi nilai untuk berkorban bagi pelayanan dan Injil menjadi menipis dan bahkan padam sama sekali. Teladan iman dalam kajian ini, akan saya paparkan terkait dengan beberapa martir Kristen yang setia hingga akhir. Teladan iman perlu diwariskan kepada generasi demi generasi agar mereka tahu bahwa perjuangan menjadi Kristen begitu berat. Tindakan ini sebenarnya bertujuan untuk menekan angka kemerosotan moralitas dan spiritualitas Kristen dan membawa generasi muda pada puncak kejayaan untuk setia melayani Tuhan, menjadi pelopor kesucian dan kekudusan hidup dan terlebih lagi menjadi pioneer dalam menggagas gerakan cinta teladan iman dari para martir Kristen.
Alasan ini sekaligus menjadi tujuan utama saya untuk memberikan semangat kepada kaum muda bahwa menjadi pengikut Yesus dan menjadi pelayan Injil merupakan sebuah penghargaan dan sukacita tersendiri. Memang kita perlu meneladani tokoh-tokoh Kristen yang masih hidup, tetapi sekaligus juga tak boleh kita melupakan tokoh-tokoh Kristen yang telah mati demi Kristus. Sebagaimana telah ditetapkan dalam Alkitab bahwa:
“…. “Setiap orang yang mau mengikut Aku, ia harus menyangkal dirinya, memikul salibnya dan mengikut Aku. Karena barangsiapa mau menyelamatkan nyawanya, ia akan kehilangan nyawanya; tetapi barangsiapa kehilangan nyawanya karena Aku, ia akan memperolehnya. (Matius 16:24-25)
Sebab kepada kamu dikaruniakan bukan saja untuk percaya kepada Kristus, melainkan juga untuk menderita untuk Dia. (Filipi 1:29)
DASAR ALKITAB
Kita perlu melihat dasar-dasar untuk mencontohi pendahulu kita yang telah berjuang dan mati demi Injil. Saya membandingkan dengan gagasan dari Gereja Orthodox di mana mereka membacakan kisah mereka yang patut dihormati di dalam iman karena mereka telah setia sampai akhir hidup mereka di dalam iman. Cara menghormati mereka adalah dengan cara menyalakan api (pendupaan atau lilin).[1] Dasar mereka adalah Yeremia 34:5.[2]
Dalam Ibrani 13:7, sangat jelas menunjukkan adanya perintah untuk meneladi mereka yang telah setia hingga akhir:
“Ingatlah akan pemimpin-pemimpin kamu, yang telah menyampaikan firman Allah kepadamu. Perhatikanlah akhir hidup mereka dan contohlah iman mereka.
Berikut ini adalah ayat-ayat yang menjelaskan betapa pentingnya untuk mengingat sejarah tentang perbuatan TUHAN dan kesetiaan umat-Nya untuk dijadikan pembelajaran iman yang juga disebut sebagai teladan iman agar umat percaya tahu bahwa sejak dulu, dalam berbagai peristiwa-peristiwa spektakuler, TUHAN telah banyak dan terus-menerus berkarya di dunia ini.
Mazmur 78:1-8
Nyanyian pengajaran Asaf. Pasanglah telinga untuk pengajaranku, hai bangsaku, sendengkanlah telingamu kepada ucapan mulutku. Aku mau membuka mulut mengatakan amsal, aku mau mengucapkan teka-teki dari zaman purbakala. Yang telah kami dengar dan kami ketahui, dan yang diceritakan kepada kami oleh nenek moyang kami, kami tidak hendak sembunyikan kepada anak-anak mereka, tetapi kami akan ceritakan kepada angkatan yang kemudian puji-pujian kepada TUHAN dan kekuatan-Nya dan perbuatan-perbuatan ajaib yang telah dilakukan-Nya. Telah ditetapkan-Nya peringatan di Yakub dan hukum Taurat diberi-Nya di Israel; nenek moyang kita diperintahkan-Nya untuk memperkenalkannya kepada anak-anak mereka, supaya dikenal oleh angkatan yang kemudian, supaya anak-anak, yang akan lahir kelak, bangun dan menceritakannya kepada anak-anak mereka, supaya mereka menaruh kepercayaan kepada Allah dan tidak melupakan perbuatan-perbuatan Allah, tetapi memegang perintah-perintah-Nya; dan jangan seperti nenek moyang mereka, angkatan pendurhaka dan pemberontak, angkatan yang tidak tetap hatinya dan tidak setia jiwanya kepada Allah.
Ulangan 7:18
Maka janganlah engkau takut kepada mereka; ingatlah selalu apa yang dilakukan TUHAN, Allahmu, terhadap Firaun dan seluruh Mesir,
Ulangan 8:2
Ingatlah kepada seluruh perjalanan yang kaulakukan atas kehendak TUHAN, Allahmu, di padang gurun selama empat puluh tahun ini dengan maksud merendahkan hatimu dan mencobai engkau untuk mengetahui apa yang ada dalam hatimu, yakni, apakah engkau berpegang pada perintah-Nya atau tidak.
Ulangan 32:7
Ingatlah kepada zaman dahulu kala, perhatikanlah tahun-tahun keturunan yang lalu, tanyakanlah kepada ayahmu, maka ia memberitahukannya kepadamu, kepada para tua-tuamu, maka mereka mengatakannya kepadamu.
1 Tawarikh 16:12
Ingatlah perbuatan-perbuatan ajaib yang dilakukan-Nya, mujizat-mujizat-Nya dan penghukuman-penghukuman yang diucapkan-Nya,
Mazmur 105:5-6
Ingatlah perbuatan-perbuatan ajaib yang dilakukan-Nya, mujizat-mujizat-Nya dan penghukuman-penghukuman yang diucapkan-Nya, hai anak cucu Abraham, hamba-Nya, hai anak-anak Yakub, orang-orang pilihan-Nya!
Lukas 17:32,
Ingatlah akan isteri Lot!
2 Tim 3: 15
Ingatlah juga bahwa dari kecil engkau sudah mengenal Kitab Suci yang dapat memberi hikmat kepadamu dan menuntun engkau kepada keselamatan oleh iman kepada Kristus Yesus.
Ibrani 10:32
Ingatlah akan masa yang lalu. Sesudah kamu menerima terang, kamu banyak menderita oleh karena kamu bertahan dalam perjuangan yang berat
Ibrani 12:3
Ingatlah selalu akan Dia, yang tekun menanggung bantahan yang sehebat itu terhadap diri-Nya dari pihak orang-orang berdosa, supaya jangan kamu menjadi lemah dan putus asa.
Ibrani 13:3
Ingatlah akan orang-orang hukuman, karena kamu sendiri juga adalah orang-orang hukuman. Dan ingatlah akan orang-orang yang diperlakukan sewenang-wenang, karena kamu sendiri juga masih hidup di dunia ini.
PARA MARTIR KRISTEN: TELADAN IMAN YANG PERLU DIKETAHUI
Susan Bergman[3] menguraikan berbagai kisah tentang para martir dari berbagai generasi dan tempat. Bergman secara tepat menuliskan kisah-kisah tersebut sebagai warisan yang semestinya perlu dipelajari dan direnungkan serta diingat kembali. Agustinus menyatakan: “Martyrem non facit poena, sed causa”, yang berarti: Bukan penderitaan yang membuat orang menjadi martir sejati, melainkan alasannya (Epist. 89.2).[4] menurut Bergman, istilah martir membuat pikiran kita melayang pada pemandangan di arena Romawi Kuno di mana orang-orang Kristen yang mula-mula diadu dengan binatang buas.[5] Melihat fenomena para martir Kristen, Bergman menulis, “dengan angka kematian orang-orang Kristen yang meningkat di seluruh dunia dalam tahun-tahun terakhir, pikiranku ditarik kepada titik persimpangan antara iman dan kematian.
Selanjutnya, Bergman menjelaskan berbagai peristiwa yang terjadi seputar kematian orang-orang Kristen demi Injil dan keimamanan mereka terhadap Yesus Kristus. Sebelumnya ia menjelaskan tentang makna martir, seperti yang diungkapkan berikut ini:
Martir, yang arti dasarnya adalah “saksi”, pertama kali dipakai sebagai rujukan bagi orang-orang Kristen mula-mula yang dibunuh karena pengakuan iman mereka kepada Allah sejati dan esa. Para saksi ini bukan saja mengungkapkan apa yang telah mereka lihat dengan hati mereka. Mereka menanggung penderitaan sekarang sebab mereka yakin akan pemerintahan Allah di bumi dan pengharapan yang akan menempatkan mereka dalam kehidupan surgawi yang akan datang.[6]
Polikarpus, uskup dari gereja di Smirna, karena menolak untuk menyebut kaisar sebagai “Allah”, maka ia membiarkan para lawannya mengikatnya di tiang dan membakarnya hidup-hidup. Para penangkapnya mendesak, “Coba lihat, mana ruginya hanya berkata Kaisar itu Tuhan, dan membakar dupa, dan selanjutnya, kalau itu dapat menyelamatkan hidupmu?” Polikarpus menyahut, “sudah delapan puluh enam aku melayani-Nya, dan belum pernah Ia menyakitiku. Bagaimana mungkin sekarang aku menghujat Raja dan Juruselamatku?”[7] Bergman menjelaskan, “Di abad kita saat ini, ada catatan-catatan yang jelas tentang orang-orang Kristen yang diperhadapkan dengan pilihan antara iman dan hidup di Pakistan, bekas Uni Soviet, Armenia, Sudan, Cina, Cile, Iran – daftarnya masih bisa diperpanjang.”[8] Kisah lainnya dituturkan Bergman,
Di abad ke-20 mulai dengan demam karena pemberontakan Boxer di Cina, di mana Lizzie Atwater, seorang perempuan muda Amerikan sambil menanti untuk dihukum mati, membuat coretan-coretan kepada saudara perempuannya: “Mereka memenggal kepala sebanyak tiga puluh tiga orang dari kami, minggu lalu di Taiyuan. Aku merasa gelisah dan panic, ketika kusangka ada kesempatan untuk hidup.”[9] Ratu Boneka dari para Boxer, Tz’u-shi, mengeluarkan dekrit yang isinyamemerintahkan semua orang asing hidukum mati (“Mampuslah setan-setan asing … basmilah agama asing”), dan pada bulan Juni dan Juli tahun 1900, di Provinsi Shansi utara saja, Gubernur Yu-hsien telah membantai 159 orang misionaris dan anak-anak mereka.[10]
Berita martir lainnya, Bergman menyebutkan bahwa: “Di seluruh San Salvador[11] bertebaran pamflet yang berkata, “haga patria, mate un Cura!” “Jadilah patriot, bunuhlah seorang imam!” Sebelas orang telah dibunuh antara tahun 1977 dan 1980, juga ikut terbunuh empat perempuan gereja dari Amerika Utara, dan misionaris Lutheran, Episkopal, Menonit, dan Baptis, siapa saja di antara mereka yang meneladani Kristus dalam bentuk keberpihakan kepada orang miskin.[12] Dietrich Bonhoeffer, pendeta Jerman dari Gereja Yang Mengaku (Confessing Church), memimpin doa pagi untuk sesama tawanan dan sesudahnya segera digiring ke tiang gantungan Nazi bersama lima orang komplotannya yang lain karena melawan Hitler. Seorang rekan senasibnya asal Inggris merekam kata-kata perpisahan Bonhoeffer, yang diucapkan dalam bahasa Inggris sebelum ia digantung, “Inilah akhirnya – bagiku, awal kehidupan.”[13]
Menurut tradisi yang beredar, dikatakan bahwa Rasul Petrus disalibkan terbalik. Itu berarti ia sendiri mati martir. Rasul Paulus juga mati martir dan diduga ia mati di zaman pemerintahan kaisar Nero. Rasul-rasul lainnya juga mati martir. Di generasi berikutnya, kondisi yang sama juga dialami oleh orang-orang Kristen, tokoh-tokoh Kristen yang memiliki iman yang kuat, tak luput dari kekejaman pembunuhan dan pembantaian bahkan politik. Tidak dapat disangkal bahwa banyak dari orang-orang percaya yang memperjuangkan imannya demi Kristus, rela mati untuk Dia, dibunuh, dibakar, dipenggal, dan mengalami penderitaan yang sangat berat. Michael Collins dan Matthew A. Price menulis, “Sejak pemerintahan Romawi ketika mereka yang menolak untuk menyembah berhala harus dihukum mati; tak terhitung orang Kristen dari semua benua di dunia memperoleh keberanian untuk menghadapi maut dan mati bagi Kristus dari pada melepaskan iman mereka. Sejak kehidupan, kematian dan kebangkitan Yesus, kristianitas telah menjadi salah satu agama yang paling terkemuka di dunia. Tak terhitung banyaknya martir yang telah memberikan hidup mereka untuk menyebarkan Injil ke setiap benua.”[14]
Yustinos Martir menulis, “Sekalipun kami umat Kristen dibunuh dengan pedang, disalibkan, diserahkan sebagai makanan binatang buas, atau disiksa dengan dibakar api, kami tidak akan murtad dari iman kami. Sebaliknya, semakin besar penyiksaan yang kami terima, semakin banyak pula orang yang bertobat dan menjadi kudus di dalam nama Yesus.” Dalam Holy Nine Children of Kola:Guarami, Adarnasi, Bakari, Vache, Bardzini, Dachi, Djuansheri, Ramazi, and Parsmani (6th c.) (Georgia)—9 Martir Anak-anak dari diceritakan mengenai kisah martir kecil. Kisah ini kemudian diperingati oleh Gereja Orthodox pada tanggal 7 Maret. Anak-anak ini adalah berasal dari keluarga (orangtua) pagan. Mereka kemudian memaksakan diri mengikuti ibadah di gereja. Mereka diterima dengan syarat-syarat yang berat sebagaimana yang disampaikan sang imam. Orangtua mereka marah dan melaporkan kepada penguasa.
Orangtua mereka memaksa penguasa untuk membunuh anak-anak mereka dengan cara dirajam. Dan lubang besar digali bagi para pemuda yang telah dibaptis tersebut, dan dilemparkan ke dalamnya. “Kami adalah orang Kristen, dan kami akan mati bagi-Nya, di dalam Siapa kami dibaptis!” Demikian kata mereka. Orangtua mereka mengambil batu dan kemudian beberapa orang lain ikut bergabung. Mereka memukuli juga sang imam hingga mati. Kisah ini terjadi pada abad ke-6 di wilayah bersejarah bernama Tao di Georgia bagian selatan.
Kisah martir lainnya adalah martir Rahibah Paraskeva (+ 138 M). Ia adalah seorang putri semata wayang dari pasangan Kristen. Dia banyak menghabiskan waktu untuk berdoa dan mempelajari Kitab Suci. Pasca kematian orangtuanya, ia memilih kehidupan monastisisme. Ia kemudian rajin menginjil. Ia kemudian diseret ke pengadilan. Ia dijatuhi hukuman dengan siksaan mengerikan. Ini adalah konsekuensi dari imannya kepada Yesus. Di kepalanya diberi helm besi yang tengah membara dan mereka melemparkannya ke dalam kuali dengan cairan tir mendidih. Tapi dengan kuasa Allah, sang martir kudus ini tak juga terluka. Ketika kaisar menengok ke dalam kuali di mana Paraskeva di dalamnya, wajahnya terkena percikan dari tar merah-panas, dan ia ikut terbakar. Lalu kaisar, memohon martir kudus ini untuk menyembuhkannya dan ia menyembuhkannya dan kaisar membebaskannya. Suatu ketika Paraskeva tiba di kota, di mana gubernur bernama Asclepius berkuasa, Paraskeva dianiaya dan dijatuhkan hukuman mati. Ia dibawa ke sebuah ular besar di sebuah gua, dengan harapan ular itu akan melahapnya. Tetapi Paraskeva membuat tanda salib di atas ular itu dan ular itu mati. Asclepius dan warga yang tahu kisah ini berbalik beriman kepada Kristus dan Paraskeva dibebaskan. Ia melanjutkan khotbah penginjilannya hingga sampai di kota, di mana gubernur Tarasius berkuasa. Paraskeva menerima kematiannya sebagai martir pada abad ke-2 setelah mengalami penyiksaan yang mengerikan dan berakhir dengan dipenggal kepalanya.
KORELASI TELADAN IMAN DENGAN MORALITAS DAN SPIRITUALITAS KRISTEN
Ada beberapa hal yang menjadi analisis saya untuk mengusulkan gagasan teladan iman diterapkan di berbagai gereja. Tujuannya jelas bahwa generasi muda perlu mengingat perjuangan iman para martir yang mati demi Kristus Yesus. Mereka telah meninggalkan teladan iman yang tak berkompromi meski nyawa taruhannya. Konsep ini dalam anggapan saya setidaknya akan memberikan sebuah pemahaman yang baik bahwa iman Kristen bukanlah iman yang biasa-biasa saja, atau suatu iman yang gampangan saja, melainkan iman yang penuh risiko yang besar karena sering nyawa menjadi bayarannya.
Anak muda yang kurang memahami sejarah akan dengan gampang melihat kekristenan sebagai sebuah agama yang bebas—bahkan mungkin diangap sebagai agama yang bebas berbuat dosa bahkan dosa seksual dan perzinaan sekalipun karena toh tidak ada hukuman atau disiplin dari Gerejanya. Pola pikir yang gampangan seperti ini mengantar mayoritas anak muda untuk mengambil jalan pintas dalam melakukan kenikmatan dosa seksual, narkoba, dan lain sebagainya. Mereka yang buta sejarah yang tidak tahu bahwa iman Kristen didasari pada sebuah konsep “darah” mulai dari darah Yesus dan kemudian darah para murid dan seterusnya. Memahami sejarah teladan iman para martir—saya rasa—para pemuda/pemudi gereja akan merasakan betapa kuatnya iman mereka yang walaupun ditawarkan kebebasan dan kekayaan, mereka tetap memilih setia kepada Yesus, dan tidak menyangkalnya, meski kematian sebagai konsekuensinya. Berikut adalah gagasan awal saya untuk mendorong generasi muda agar meneladani iman para martir yang sebagian kecil saja telah saya paparkan di atas.
Belajar sejarah tentang kehidupan dan iman para martir membentuk pola pemikiran kita bahwa mereka memilih setia kepada Yesus ketimbang menyangkalnya meski mereka ditawarkan banyak hal.
Generasi muda yang belajar sejarah para martir diharapkan mendapatkan teladan iman dalam menjalani kehidupan sebagai orang Kristen yang melayani di berbagai bidang dan berbagai profesi.
Teladan iman dirasa perlu untuk menyadarkan generasi muda bahwa kekristenan bukanlah agama yang bebas melakukan dosa dan kebejatan moralitas sehingga mengakibatkan merosotnya spiritualitas Kristen.
Teladan iman membawa kesadaran bahwa menjadi pengikut Kristus akan mengalami banyak hambatan, tantatangan dan lain sebagainya, sebagaimana disebutkan dalam beberapa ayat di atas.
Teladan iman mempengaruhi pola pikir generasi muda untuk semakin mencintai Tuhan dan pekerjaan-Nya ketimbang berpesta pora dalam dosa dan kenikmatan seksual dan perbuatan dosa lainnya.
Padamnya teladan iman di dalam gereja menjadikan generasi muda miskin sejarah dan miskin teladan iman yang patut dicontohi.
Gereja tidak memadai mengusung program yang pro generasi muda.
Para pelayan menyibukkan diri dengan pelayanan mimbar tanpa atau kurang melakukan pendekatan historis tentang para martir Kristen yang rela mati demi Yesus.
Jika pemahaman akan teladan iman para martir dipahami secara baik, saya rasa angka kemerosotan moral dan spiritualitas Kristen akan terus menurun. Setidaknya ini harapan saya.
Pembinaan kerohanian bagi generasi muda hanya berputar dalam aspek normative. Jarang sekali membahas mengenai teladan iman para martir Kristen.
Teladan iman adalah bagian penting dari semua gereja untuk melihat bahwa di dalam peristiwa matinya para martir, ada kuasa Tuhan yang bekerja. Meski demikian, Tuhan selalu mengingatkan umat-Nya untuk percaya bahwa segala sesuatu adalah rencana-Nya.
Sebagai penutup dari kajian ini, saya mengutip pernyataan Bunda Teresa yang sangat menarik dan inspiratif. Setidaknya, pernyataan Bunda Teresa akan mendorong generasi muda untuk terus berkarya bagi Tuhan dan menggunakan seluruh kemampuan dan talenta dalam melayani Tuhan.
[2] Engkau akan mati dengan damai. Dan sebagaimana dinyalakan api untuk menghormati bapa-bapa leluhurmu, raja-raja dahulu, yang hidup sebelum engkau, demikianlah orang akan menyalakan api untuk menghormati engkau, dan akan meratapi engkau dengan berkata: Aduhai, tuan! Sungguh, Akulah yang mengucapkan firman ini, demikianlah firman TUHAN.”
[3] Susan Bergman (peny.), Para Martir: Kisah-kisah Kontemporer Pergumulan Iman dalam Dunia Modern (Jakarta: BPK Gunung Mulia, 2012). Judul asli Martyrs: Contemporary Writers on Modern Lives of Faith (Maryknoll: Orbis Books, 1996)
Konsep monoteisme (tauhid, dalam Islam) adalah sebuah pemikiran yang berangkat dari dua sumber: pertama, dari kitab suci, dan kedua, dari respons manusia terhadap Tuhan yang dipercaya. Monoteisme adalah paham yang mempercayai bahwa hanya ada satu Tuhan (Allah) yang layak disembah dan dipercayai.
Pada faktanya, keesaan Allah berangkat dari relasi Allah dengan ciptaan yang dengannya Allah menyatakan bahwa “tidak ada yang lain selain Aku”. Frasa “tidak ada yang lain” hanya merujuk pada ciptaan. Ini dinamakan dengan esa dalam relasinya dengan ciptaan (keesaan ekonomi).
Esa dalam relasinya dengan ciptaan hanya berlaku bagi manusia saja karena manusia harus memilih dan menyatakan imannya kepada Tuhan Allah sebagai Pribadi yang berkuasa, mahatahu, dan berdaulat. Keesaan ekonomi menjadi relatif. Artinya, Allah menjadi relatif dengan ciptaan-Nya. Manusia masih memiliki kesempatan untuk melihat, mempercayai, dan menyembah ilah lain. Konsep esa ini merupakan wujud utama dari bagaimana manusia memilih Allah sebagai “satu-satunya” dari semua ciptaan yang ada di dunia, untuk dipercaya dan disembah.
Keesaan Allah dalam relasinya dengan ciptaan tidak mendengungkan siapa diri-Nya secara ontologis (ada, eksis pada diri-Nya sendiri, dan bagaimana Ia secara personal). Monoteisme Yudaisme dan Kristen memiliki perbedaan secara substansial dan hermeneutis. Yudaisme menolak kejamakan dalam diri Allah sebagaimana mereka menolak Trinitas. Itulah perbedaan hermeneutis karena pada beberapa teks PL, muncul gagasan adanya kejamakan dalam diri Allah. Dengan demikian, Yudaisme belum dapat memahami personalitas Allah secara ontologis yaitu seperti apakah Allah pada diri-Nya sendiri.
KONSEP MONOTEISME ISLAM
Monoteisme (Tauhid) Islam hanya bersumber dari keesaan dalam relasinya dengan ciptaan dan bukan pada ontologis. Konsep ontologis berbicara mengenai identitas Allah pada diri-Nya sendiri dan ketika Islam memahami keesaan secara ontologis, mereka tidak dapat menjawab pertanyaan berikut ini: “Jika Allah itu esa secara numerik, maka dengan apakah Allah membandingkan diri-Nya sebagai satu-satunya?” Catatan penting di sini adalah keesaan yang saya maksudkan adalah keesaan secara ontologis, dan bukan ekonomi (relasi-Nya dengan ciptaan). Hal ini sekaligus menjadi tanda bahwa konsep tauhid Islam tidak dapat masuk ke dalam konsep ontologis karena mereka hanya tahu bahwa “Allah itu tauhid (esa)” tanpa mengetahui bahwa esa tersebut hanya terkait dengan ciptaan.
Islam terus menyatakan bahwa hanya “hanya Allah satu-satunya” yang mereka pikir bahwa itu merujuk kepada Allah secara numeris, satu secara angka. Padahal, konsep itu hanya berlaku bagi Allah dalam relasinya dengan ciptaan, sedangkan secara ontologis, mereka tidak dapat menjawabnya. Beberapa teks tauhid Islam saya kutip di sini:
Surat Ash Shaaffaat [37]:4, Sesungguhnya Tuhanmu benar-benar Esa. Surat Al Ikhlash [112]:1, Katakanlah: “Dialah Allah, Yang Maha Esa” (bandingkan Sura 5:72, 73, Sura 72:3).
Surat Al Anbiyaa’ [21]:108, Katakanlah: “Sesungguhnya yang diwahyukan kepadaku adalah: “Bahwasanya Tuhan-mu adalah Tuhan Yang Esa, maka hendaklah kamu berserah diri (kepada-Nya).”
Surat An Nahl [16]:22, Tuhan kamu adalah Tuhan Yang Maha Esa. Maka orang-orang yang tidak beriman kepada akhirat, hati mereka mengingkari (keesaan Allah), sedangkan mereka sendiri adalah orang-orang yang sombong.
Kita memperhatikan bahwa konteks esa di atas adalah esa dalam kaitannya dengan ciptaan karena mengingat di zaman Muhammad ada banyak ilah yang disembah. Sekali lagi, esa dalam versi Islam hanya menjawab secara ekonomi dan bukan ontologis (konsep ini akan saya jelaskan kemudian sebagai kekuatan argumentasi saya).
Konsep esa dalam relasinya dengan ciptaan dapat dilihat dalam esai Nurcholish Madjid yang berjudul “Islam Agama Kemanusiaan, di mana ia menyatakan bahwa “… maka manusia … pun tidaklah diciptakan Tuhan melainkan dengan kewajiban tunduk dan menyembah kepada-Nya saja, yaitu menganut paham Ketuhanan Yang Maha Esa, tawhid (Nurcholish Madjid, Islam Agama Kemanusiaan: Membangun Tradisi dan Visi Baru Islam Indonesia [Jakarta, 1995], 179, dikutip Nicholas J. Woly, Perjumpaan di Serambi Iman, 158).
Konsep yang sama dijelaskan Syamsul Rijal Hamid bahwa, kata “Tauhid” berasal dari bahasa Arab, bentuk masdar dari kata wahhada yuwahhidu yang secara etimologis, berarti keesaan. Yakni percaya bahwa Allah SWT itu satu. Dengan demikian yang dimaksudkan tauhid di sini, tidak lain adalah tauhidullah (mengesakan Allah SWT). Jadi pernyataan/pengakuan, bahwa Allah SWT itu esa atau satu: Laa Ilaaha Illa Allah (tiada Tuhan selain Allah). Allah SWT memerintahkan agar kita memeluk ajaran/agama tauhid (QS. 21/Al Ambiya’:92; 2/Al Baqoroh:133) (Hamid, Buku Pintar Agama Islam, 64).
Konsep Hamid bahwa “mengesakan Allah SWT” merupakan respons manusia terhadap Allah yang dipercayainya yang berangkat dari teks quran. Konsep Hamid bahwa “percaya bahwa Allah SWT itu satu” mungkin merujuk pada esa dalam relasinya dengan ciptaan (lihat teks-teks qurn di atas). Memeluk ajaran/agama tauhid adalah sebuah pilihan bahwa Allah itu adalah pribadi yang disembah dan dipercayai umat Islam, meski—menurut saya—mereka tidak paham soal esa dalam konteks ontologis. Karena ketidaktahuan inilah, maka mereka terus memaksakan pemahaman tauhid mereka kepada semua orang. Padahal jelas sekali bahwa esa yang mereka pahami adalah esa dalam kaitannya dengan ciptaan. Hal ini pun berimbas kepada negasi mereka terhadap Yesus yang mereka anggap bahwa orang Kristen menyembah manusia Yesus yang adalah ciptaan Allah. Padahal, dalam konsep biblika, Yesus tidak diciptakan melainkan pencipta segala sesuatu (Yohanes 1:1-3).
Akibat konsep tauhid yang menjukstaposisi konsep keesaan Kristen, maka mereka mengira bahwa Kristen menyembah manusia yang mereka mereka anggap itu adalah dosa syirik. Mereka sibuk mengurusi agama orang lain padahal konsep keesaan mereka bermasalah secara ontologis. Perhatikan, jika Allah adalah satu secara numeris (konsep Islam), maka secara ontologis, dengan apakah atau dengan siapakah Allah membandingkan diri-Nya, atau dibandingkan dengan diri-Nya? Jika Islam menjawab: “dengan ciptaan”, maka itu tidak menjawab secara ontologis, dan jika mereka menjawab: “tidak dengan apa-apa, atau siapa-siapa”, maka hal itu gagal secara ontologis.
ANALOGI KEESAAN
Keesaan secara ekonomi hanya bisa menjawab konteks “membandingkan” sedangkan konsep “menyamakan” tidak dapat dipaksakan ke dalamnya karena Allah tidak dapat disamakan dengan ciptaan. Trinitas dapat menjawab keduanya, baik membandingkan maupun menyamakan. Akan tetapi, meski percaya kepada Trinitas (Tiga Pribadi Satu Esensi, personalitas Allah secara ontologis), keesaan secara ekonomi pun dipercayai Kristen sebagaimana teks-teks PL menegaskannya.
Dalam Ulangan 6:4, terlihat bahwa Musa menegaskan keesaan Tuhan dalam kaitannya dengan ciptaan sebagaimana mereka sebelumnya berada di tanah perbudakan, Mesir, yang notabenenya adalah bangsa penyembah berhala. Hal ini jelas bahwa pembuatan patung ‘Anak Lembu Emas’ (Keluaran 32) mengisyaratkan adanya pengaruh dari konteks penyembahan bangsa Mesir. Hal ini dijelaskan dalam Ulangan 12:29-13:18 soal larangan menyembah illah lain:
“…maka hati-hatilah, supaya jangan engkau kena jerat dan mengikuti mereka, setelah mereka dipunahkan dari hadap-anmu, dan supaya jangan engkau menanya-nanya tentang allah mereka dengan berkata: Bagaimana bangsa-bangsa ini beribadah kepada allah mereka? Akupun mau berlaku begitu. Jangan engkau berbuat seperti itu terhadap TUHAN, Allahmu; sebab segala yang menjadi kekejian bagi TUHAN, apa yang dibenci-Nya, itulah yang dilakukan mereka bagi allah mereka; bahkan anak-anaknya lelaki dan anak-anaknya perempuan dibakar mereka dengan api bagi allah mereka. Segala yang kuperintahkan kepadamu haruslah kamu lakukan dengan setia, janganlah engkau menambahnya ataupun menguranginya.
Apabila di tengah-tengahmu muncul seorang nabi atau seorang pemimpi…dan ia membujuk: Mari kita mengikuti allah lain, yang tidak kaukenal, dan mari kita berbakti kepadanya, maka janganlah engkau mendengarkan per-kataan nabi atau pemimpin itu….
Apabila saudaramu laki-laki, anak ibumu, atau anakmu laki-laki atau anakmu perempuan atau isterimu sendiri atau sahabat karibmu membujuk engkau diam-diam, katanya: Mari kita berbakti kepada allah lain yang tidak dikenal olehmu ataupun oleh nenek moyangmu, salah satu allah bangsa-bangsa sekelilingmu, baik yang dekat maupun jauh dari padamu, dari ujung bumi ke ujung bumi, maka janganlah engkau mengalah kepadanya dan janganlah mendengarkan dia. Janganlah engkau merasa sayang kepadanya, janganlah mengasihani dia dan janganlah menutupi salahnya, tetapi bunuhlah dia!…Engkau harus melempari dia dengan batu, sehingga mati, karena ia telah berikhtiar menyesatkan engkau dari pada TUHAN, Allahmu….Sebab dengan demikian engkau mendengarkan suara TUHAN, Allahmu, untuk berpegang pada segala perintah-Nya, yang kusampaikan kepadamu pada hari ini, dengan melakukan apa yang benar di mana TUHAN, Allahmu.”
Namun, keesaan Allah yang bernatur ekonomi dan henoteisme dijelaskan dalam teks-teks berikut ini (juga merupakan analogi [pembandingkan] dengan ilah-ilah dunia yang mana Tuhan Israel sangat suprematif dan tak tertandingi):
Ulangan 4:39, “Sebab itu ketahuilah pada hari ini dan camkanlah, bahwa TUHANlah Allah yang di langit di atas dan di bumi di bawah, tidak ada yang lain.”
2 Samuel 7:22-23, “Sebab itu Engkau besar, ya Tuhan ALLAH, sebab tidak ada yang sama seperti Engkau menurut segala yang kami tangkap dengan telinga kami. Dan bangsa manakah di bumi seperti umat-Mu Israel, yang Allahnya pergi membebaskannya menjadi umat-Nya, untuk mendapat nama bagi-Nya dengan melakukan perbuatan-perbuatan yang besar dan dahsyat bagi mereka, dan dengan menghalau bangsa-bangsa dan para allah mereka dari depan umat-Nya?
Yesaya 44:6, “Beginilah firman TUHAN, Raja dan Penebus Israel, TUHAN semesta alam: ‘Akulah yang terdahulu dan Akulah yang terkemudian; tidak ada Allah selain dari pada-Ku.”
Yesaya 44:8, “…Kamulah saksi-saksi-Ku! Adakah Allah selain dari pada-Ku? Tidak ada Gunung Batu yang lain, tidak ada Kukenal!”
Yesaya 45:5-7, “Akulah TUHAN dan tidak ada yang lain; kecuali Aku tidak ada Allah. Aku telah mempersenjatai engkau, sekalipun engkau tidak mengenal Aku, supaya orang tahu dari terbitnya matahari sampai terbenamnya, bahwa tidak ada yang lain di luar Aku. Akulah TUHAN dan tidak ada yang lain, yang menjadikan terang dan menciptakan gelap, yang menjadikan nasib mujur dan menciptakan nasib malang; Akulah TUHAN yang membuat semuanya ini.”
Yesaya 45:18, “Sebab beginilah firman TUHAN, yang men-ciptakan langit, – Dialah Allah – yang membentuk bumi dan menjadikannya dan yang menegakkannya, – dan Ia menciptakannya bukan supaya kosong, tetapi Ia mem-bentuknya untuk didiami – : ‘Akulah TUHAN dan tidak ada yang lain.’”
Yesaya 45:21, “Beritahukanlah dan kemukakanlah alasan-mu, ya, biarlah mereka berunding bersama-sama: Siapakah yang mengabarkan hal ini dari zaman purbakala, dan memberitahukannya dari sejak dahulu? Bukankah Aku, TUHAN? Tidak ada yang lain, tidak ada Allah selain dari pada-Ku! Allah adalah Juruselamat, tidak ada yang lain kecuali Aku!”
Yesaya 45:22, “Berpalinglah kepada-Ku dan biarkanlah dirimu diselamatkan, hai ujung-ujung bumi! Sebab Akulah Allah dan tidak ada yang lain.”
Yesaya 46:9-10, “Ingatlah hal-hal yang dahulu dari sejak purbakala, bahwasanya Akulah Allah dan tidak ada yang lain, Akulah Allah dan tidak ada yang seperti Aku, yang memberitahukan dari mulanya hal-hal kemudian dan dari zaman purbakala apa yang belum terlaksana…”
Zakharia 14:9, “Maka TUHAN akan menjadi Raja atas seluruh bumi; pada waktu itu TUHAN adalah satu-satunya dan nama-Nya satu-satunya.”
1 Tawarikh 17:20, “Ya TUHAN, tidak ada yang sama seperti Engkau menurut segala yang kami tangkap dengan telinga kami.”
Mazmur 89:7-8, “Sebab siapakah di awan-awan yang sejajar dengan TUHAN, yang sama seperti TUHAN di antara penghuni sorgawi? Allah disegani dalam kalangan orang-orang kudus, dan sangat ditakuti melebihi semua yang ada di sekeliling-Nya.”
1 Samuel 2:2, Tidak ada yang kudus seperti TUHAN, sebab tidak ada yang lain kecuali Engkau dan tidak ada gunung batu seperti Allah kita.
Dari teks-teks tersebut, baik Yudaisme dan Kristen menjunjung tinggi “Keesaan Allah” tetapi teks-teks tersebut hanya bermakna keesaan ekonomis, dan bukan ontologis.
Ada sumber Islam yang menjelaskan soal tauhid dalam zat, yang mungkin dalam pemikiran Islam bahwa taudih tersebut menjelaskan secara ontologis. Mari kita lihat kutipannya (saya mengutip bagian pertama saja):
“Tauhid dalam Zat: Allah adalah Satu, tidak mempunyai sekutu dan tandingan; tidak ada sesuatu pun yang serupa dengan-Nya. Zat Allah yang suci tidaklah tersusun dari bagian-bagian seperti jasad mahluk hidup. Zat-Nya sangat sempurna dan tidak serupa dengan zat-zat lainnya” (sumber: http://islamiyah.wordpress.com/2007/03/25/keesaan-allah/. Di-akses tanggal 3 Oktober 2011).
Kutipan di atas sebenarnya hanya menegaskan keesaan ekonomi: klausa “Allah adalah Satu, tidak mempunyai sekutu dan tandingan” dapat kita ajukan pertanyaan: “jika Allah tidak mempunyai sekutu dan tandingan, maka dengan apa Allah dibandingkan? Pasti dengan ciptaan. Jika keesaan ontologis yang dimaksudkan, maka pertanyaan yang sama juga diajukan. Secara ontologis, klausa “Allah adalah Satu, tidak mempunyai sekutu dan tandingan” tidak masuk hitungan. Klausa tersebut hanya berlaku bagi relasinya dengan ciptaan.
Klausa kedua adalah “tidak ada sesuatu pun yang serupa dengan-Nya”. Ini juga bernatur ekonomi. Hal ini tampak dalam penjelasan berikutnya yaitu “Zat Allah yang suci tidaklah tersusun dari bagian-bagian seperti jasad ‘mahluk hidup’”. Bukankah sumber tersebut hendak menjelaskan keesaan secara ekonomi? Mari kita perhatikan pernyataan Nasruddin Razak untuk mendukung kesimpulan di atas. Menurutnya, “Suatu kepercayaan yang menegaskan bahwa hanya Tuhanlah yang menciptakan, memberi hukum-hukum, mengatur dan mendidik alam semesta ini (disebut Tauhid Rububiyah). Sebagai konsekuensinya, maka hanya Tuhan itulah yang satu-satunya yang wajib disembah, dimohon petunjuk dan pertolongannya, serta yang harus ditakuti (disebut Tauhid Uluhiyah) (Nasruddin Razak, Dienul Islam: Penafsiran Kembali Islam sebagai Suatu Aqidah dan Way of Life [Bandung: Alma’arif, 1996], 39).
Secara ontologis, monoteisme Islam tak bisa berbuat apa-apa. Mereka hanya memahami bahwa Allah itu esa (tauhid) secara numerik; dan itu benar jika direlasikan dengan ciptaan. Sedangkan dalam konteks ontologis, Islam tidak dapat menjawab dengan apakah Allah membandingkan diri-Nya jika Ia adalah esa pada diri-Nya sendiri.
Dengan demikian, hanya konsep Trinitas yang dapat menjawab keesaan secara ontologis. Mengapa? Karena masing-masing pribadi dapat merepresentasikan yang lain. Ada pribadi lain yang dapat dibandingkan sebagai wujud dari kesatuan esensial, dan kesetaraan ilahi. Tidak hanya membandingkan, tetapi menyamakan (menyetarakan, mensejajarkan) pribadi satu dengan lainnya muncul dalam konsep ontologis. Jika pemazmur menulis: “Sebab siapakah di awan-awan yang sejajar dengan TUHAN, yang sama seperti TUHAN di antara penghuni sorgawi? (Mazmur 89:7-8), maka hanya Trinitas yang dapat menjawabnya. Teks tersebut hendak menjelaskan bahwa TUHAN tidak dapat disejajarkan dengan ciptaan-Nya. Penghuni sorgawi—malaikat-malaikat—adalah ciptaan TUHAN. Hanya Bapa, Firman, dan Roh Kudus yang sejajar dan setara dalam esensi dan kekekalan.
Jadi, keesaan secara ontologis, hanya Trinitas yang dapat menjawab personalitas Allah pada diri-Nya sendiri, sedangkan keesaan dalam relasinya dengan ciptaan (ekonomi), tidak dapat menjawab personalitas Allah pada diri-Nya sendiri melainkan hanyalah menunjukkan objek penyembahan kepada Allah saja di antara ilah-ilah lain (henoteisme) yang ada di dunia, di mana ilah-ilah tersebut adalah ciptaan Allah.
Muhammad Yahya Waloni pernah menolak ketuhanan Yesus dengan merujuk pada teks Yesaya 43:10-11, “Sebelum Aku tidak ada Allah dibentuk, dan sesudah Aku tidak akan ada lagi. Aku, Akulah TUHAN dan tidak ada juruselamat selain dari pada-Ku.” Waloni mengira bahwa teks itu merujuk bahwa Allah tidak membentuk Yesus menjadi Allah, sehingga orang Kristen sudah salah menyembah dan menjadikan Yesus sebagai Tuhan karena bertentangan dengan teks Yesaya tersebut. Dan menurut Waloni, sekaliber pendeta pun tak akan sanggup menjelaskan ayat di atas, kecuali dengan cara berbohong dengan melandaskan pemahaman pada surat-surat Paulus yang sarat dengan “omong kosong”. Jawaban dari Waloni berkenaan dengan hal ini adalah: “temui tukang kayu yang sedang membuat perabot dari kayu. Tanyakan, apakah pernah si tukang kayu menjadi “PERABOT” walau hanya sedetik saja? Kalau ada, saya siap mempertuhankan “tukang kayu” itu.
Saya sudah menyanggah komentar konyol ala Waloni di atas dalam buku saya yang berjudul “Menjawab dan Menertawakan Argumen Teolog Kelas Teri”, dan saya kutip sanggahan saya di sini:
Waloni menggunakan teks di atas untuk menolak bahwa Yesus sebagai Allah karena ia mengira bahwa “sebelum Allah, tidak ada Allah dibentuk”, yang berarti tidak ada “Allah” lain “selain Allah”, dan jika Yesus dipercaya sebagai Allah, maka itu berarti bertentangan dengan Yesaya 43:10 di atas. Akan tetapi, teks di atas tidak berbicara soal “Allah menciptakan Allah”. Teks tersebut memaksudkan bahwa sebelum Allah, Allah tidak membentuk “ilah” lain untuk disembah. Artinya, Allah tidak menyediakan ‘ilah’ lain untuk disembah seperti Ia disembah. Hal ini dapat dipahami berdasarkan teks Yesaya 42:8, “Aku ini TUHAN, itulah nama-KU’ Aku tidak akan memberikan kemuliaan-Ku kepada yang lain atau kemasyhuran-Ku kepada patung”. Allah tak mungkin membentuk ilah lain agar kemuliaan-Nya diberikan kepada ilah tersebut. Sebagaimana bangsa Israel sering membuat patung yang disembah, maka Allah hendak mengkonfirmasi bahwa sebelum Ia, tidak ada ilah lain yang Ia bentuk yang sama dengan diri-Nya.
Sedangkan frasa “sesudah Aku tidak akan ada lagi” menandaskan bahwa bangsa Israel harus setia kepada Allah sebagai Pencipta (43:1, 15), Penebus (43:1, 14), Berdaulat memanggil dan memilih (43:1), Penjaga (43:2), Juruselamat (43:3, 11-12), Pengasih (43:4), Raja (43:15). Frasa tersebut tidak mengindikasikan bahwa Yesus bukan Allah, sebab konteksnya tidak berbicara mengenai Yesus. Ayat 10 sebenarnya menjelaskan bahwa Israel tidak boleh mencari juruselamat selain Allah yang adalah Juruselamat mereka (ayat 11), dan menegaskan pula bahwa hanya Allah yang dapat menyelamatkan Israel dan bukan ilah asing yang ada di antara mereka (ayat 12). Pula menegaskan bahwa hanya Allah yang adalah Allah sejati dan Juruselamat satu-satunya, serta berdaulat atas hidup Israel (ayat 13).
Jadi, teks Yesaya 43:10 memberikan pemahaman bahwa sejak dulu, Allah tidak pernah membentuk ilah lain untuk diberikan kepada Israel. Ia mau bahwa hanya Dialah yang menjadi Pribadi satu-satunya yang harus ditaati dan disembah karena Ia sendiri yang memilih dan membentuk Israel.
Jika saya memahami alur berpikir Waloni, teks Yesaya 43:10 sebenarnya menggiring bahwa “Allah tidak membentuk Yesus menjadi Allah” atau “Allah tidak menciptakan Yesus untuk menjadi Allah”. Yesaya 43:10 menegaskan bahwa TUHAN tidak membentuk atau menciptakan ilah dan sesudahnya juga tidak, untuk menandingi diri-Nya. Tuduhan Waloni pasti menyatakan bahwa Yesus adalah dibentuk oleh Allah, artinya diciptakan Allah. Dengan melihat konteksnya, maka pertanyaan dan tantangan Waloni sudah disanggah dan dijawab.
TRINITAS KRISTEN (KEESAAN ONTOLOGIS)
Kembali ke konsep keesaan ontologis. Lalu, bukankah ketika membandingkan pribadi satu dengan lainnya akan menghasilkan perbedaan kualitas pribadi? Begini, konteks membandingkan dalam konsep Trinitas dipahami sebagai sebuah kesetaraan esensi antara Bapa, Firman, dan Roh Kudus. Secara ontologis, ada pribadi lain yang dapat dibandingkan yang mana Yesus sering menyatakannya. Dan pada kesempatan lain, Yesus menyatakan kesetaraa, kesamaan, kesejajaran antara Bapa, diri-Nya, dan Roh Kudus. Secara ontologis, pribadi yang satu menjelaskan pribadi lainnya. Inilah yang disebut dengan keesaan ontologis. Keesaan jenis ini tidak ditemukan dalam Yudaisme dan Islam sehingga “Allah” dalam pemahaman mereka menjadi pribadi yang kesepian dan egois (mengasihi diri sendiri).
Keesaan Ontologis menjelaskan kasih yang ada dalam diri Bapa, Yesus [Anak] dan Roh Kudus dapat saling memberi dan menerima, mereka berperikhoresis, saling memenuhi satu dengan lainnya. Trinitas bukanlah Allah yang kesepian karena kasih dalam diri-Nya terealisasi secara kekal, seperti yang Yesus nyatakan: “…sebab Engkau telah mengasihi Aku sebelum dunia dijadikan” (Yoh. 17:24). Tidak hanya itu, Alkitab menyediakan banyak bukti mengenai konsep Trinitas, sebagaimana akan kita lihat dalam penjelaskan pola rangkap tiga.
Berikut ini, saya menjelaskan pola rangkap tiga, yang saya ambil dari tulisan saya di Jurnal Arastamar SETIA Jakarta Volume VII Nomor 1 Tahun 2015 (ISSN: 2085-9627). Menurut Herman Bavink menjelaskan, bahwa
Benih yang bertumbuh menjadi bunga trinitarian yang mekar di dalam Perjanjian Baru telah ditanamkan sebelumnya di dalam Perjanjian Lama. Elohim, Allah yang hidup, mencipta dengan berfirman dan mengutus Roh-Nya. Dunia menjadi ada karena penyebab rangkap tiga. Demikian pula, YHWH, Allah kovenan, menjadikan diri-Nya diketahui oleh umat-Nya, menyelematkan, dan memelihara mereka dengan firman dan Roh-Nya. Dalam wujud malaikat Tuhan, entah itu malaikat yang diciptakan atau Logos, Allah, khususnya firman-Nya, hadir secara unik dan berkuasa. Herman Bavink, Dogmatika Reformed Jilid 2: Allah dan Penciptaan, (Surabaya: Momentum, 2012), 319.
Kejadian 1:1-3 menyebutkan pola rangkap tiga dalam konteks penciptaan. Ayat 1 menyebutkan bahwa “Allah menciptakan langit dan bumi.” Ayat 2 menyebutkan bahwa “Roh Allah melayang-layang di atas permukaan air” dan ayat 3 menyebutkan bahwa “Berfirmanlah Allah: Jadilah terang, maka terang itu jadi!” Pola rangkap tiga membuka peluang bagi adanya kejamakan dalam diri Allah. Kejamakan ini bukanlah rumusan Kristen melainkan fakta yang Allah nyatakan kepada kita. Seringkali, kita mau menentukan “berapa” Allah itu. Alasan unitarianisme bahwa Allah sendiri menyatakan diri-Nya “esa” – namun alasan keesaan tersebut tidaklah dilihat secara komprehensif dan kontekstual, melainkan mengukur kesimpelan penyembahan kepada “satu Allah” ketimbang “tiga Allah” sebagaimana yang dituduhkan kepada Kristen.
Tuduhan bahwa orang Kristen menyembah tiga Allah adalah salah sasaran, karena yang disembah hanyalah satu Allah meskipun dalam pemahaman sejarah ada tiga personalitas yakni Bapa, Yesus, dan Roh Kudus, yang secara berdistingsi dapat dipahami dari karya-karya Mereka. Dalam catatan Alkitab, pola rangkap tiga begitu kental, seperti yang tertuang dalam teks-teks di bawah ini:
Karena itu pergilah, jadikanlah semua bangsa murid-Ku dan baptislah mereka dalam nama Bapa dan Anak dan Roh Kudus (Mat. 28:19)
Jawab malaikat itu kepadanya: “Roh Kudus akan turun atasmu dan kuasa Allah Yang Mahatinggi akan menaungi engkau; sebab itu anak yang akan kaulahirkan itu akan disebut kudus, Anak Allah (Luk. 1:35)
Aku akan minta kepada Bapa, dan Ia akan memberikan kepadamu seorang Penolong yang lain, supaya Ia menyertai kamu selama-lamanya, yaitu Roh Kebenaran. Dunia tidak dapat menerima Dia, sebab dunia tidak melihat Dia dan tidak mengenal Dia. Tetapi kamu mengenal Dia, sebab Ia menyertai kamu dan akan diam di dalam kamu (Yoh. 14:16-17)
Jikalau Penghibur yang akan Kuutus dari Bapa datang, yaitu Roh Kebenaran yang keluar dari Bapa, Ia akan bersaksi tentang Aku. (Yoh. 15:26)
Tetapi apabila Ia datang, yaitu Roh Kebenaran, Ia akan memimpin kamu ke dalam seluruh kebenaran; sebab Ia tidak akan berkata-kata dari diri-Nya sendiri, tetapi segala sesuatu yang didengar-Nya itulah yang akan dikatakan-Nya dan Ia akan memberitakan kepadamu hal-hal yang akan datang. Ia akan memuliakan Aku, sebab Ia akan memberitakan kepadamu apa yang diterimanya dari pada-Ku. Segala sesuatu yang Bapa punya, adalah Aku punya; sebab itu Aku berkata: Ia akan memberitakan kepadamu apa yang diterimanya dari pada-Ku.” (Yoh. 16:13-15)
Tetapi demi Kristus, Tuhan kita, dan demi kasih Roh, aku menasihatkan kamu, saudara-saudara, untuk bergumul bersama-sama dengan aku dalam doa kepada Allah untuk aku, (Rm. 15:30)
Tetapi setelah genap waktunya, maka Allah mengutus Anak-Nya, yang lahir dari seorang perempuan dan takluk kepada hukum Taurat. Ia diutus untuk menebus mereka, yang takluk kepada hukum Taurat, supaya kita diterima menjadi anak. Dan karena kamu adalah anak, maka Allah telah menyuruh Roh Anak-Nya ke dalam hati kita, yang berseru: “ya Abba, ya Bapa!” (Gal. 4:4-6)
sebab dengan mati-Nya sebagai manusia Ia telah membatalkan hukum Taurat dengan segala perintah dan ketentuannya, untuk menciptakan keduanya menjadi satu manusia baru di dalam diri-Nya, dan dengan itu mengadakan damai sejahtera, dan untuk memperdamaikan keduanya, di dalam satu tubuh, dengan Allah oleh salib, dengan melenyapkan perseteruan pada salib itu. Ia datang dan memberitakan damai sejahtera kepada kamu yang “jauh” dan damai sejahtera kepada mereka yang “dekat,” karena oleh Dia kita kedua pihak dalam satu Roh beroleh jalan masuk kepada Bapa. (Ef. 2:15-18).
Pola rangkap tiga mengantar kita pada konsep indentitas kesetaraan. Alkitab menyebutkan bahwa Allah adalah Pencipta. Kitab Kejadian menggunakan kata “elohim” yang memiliki indikasi “jamak” (bentuk akhiran im adalah jamak). Lalu pada Kejadian 1:26, digunakan kata “Kita” yang juga berindikasi jamak. Ada yang menafsirkan sebagai plural majestic [jamak kemuliaan] dan ada yang menafsirkan jamak personalitas. Dua arus utama penafsiran dalam kitab Kejadian memainkan disparitas personalitas diri Allah. Yang pasti, Allah diakui sebagai Pencipta seperti yang dinyatakan oleh penulis kitab Kejadian.
Falibilitas (kekeliruan) seseorang dalam memahami Trinitas berangkat dari ketidakterpahaminya personalitas Bapa, Anak, dan Roh Kudus. Dalam alam pemikiran penganut unitarian (menegasikan Trinitas), Allah dipahami sebagai personalitas dan bukan sebagai “esensi”. Identitas kesetaraan dipahami oleh kaum Trinitarian sebagai kesetaraan esensi yang dimiliki oleh ketiga Pribadi. Anak berasal dari Bapa, dan Roh Kudus keluar dari Bapa dan Anak. Baik Anak dan Roh Kudus mendapatkan esensi Mereka dari Bapa. Jika ada menganggap Bapa lebih tinggi dari kedua-Nya, bukankah kedua-Nya memiliki esensi dari Bapa? Bagaimana mungkin Bapa lebih tinggi dari pada esensi yang keluar atau berasal dari diri-Nya sendiri?
Keesaan ontologis menegaskan kesetaraan antara tiga Pribadi dalam Trinitas sebagaimana tampak dari bukti-bukti berikut ini (diambil dari artikel saya dalam Jurnal Arastamar SETIA Volume VII Nomor 1 Tahun 2015):
Bapa sebagai Pencipta (1 Kor. 8:6; Yes. 41:20; 45:12); Bapa sebagai Penebus (Yes. 43:3; 44:22; 48:17; 41:14; 47:4); Bapa sebagai Hakim (yang menghakimi) dan Pengampun (Mzm. 9:9; 96:13; 98:9; Yer. 36:3; Mzm. 32:1; Yes. 22:14); Bapa sebagai Pewahyu (memperkenalkan diri-Nya) (Yes. 48:12; Kel. 6:2; Yes. 30:27; Bilangan 12:6; 1 Samuel 2:27; 3:21; Yesaya 19:21; Yesaya 22:14; Yehezkiel 20:5, 9; 35:11; 38:23). Yesus sebagai Pencipta (Yoh. 1:3; Kol. 1:16-17); Yesus sebagai Penebus (Pemberi Hidup) (Mat. 1:21; Yoh. 1:29; Mrk. 10:45; Mat. 26:28; Luk. 24:47); Yesus sebagai Hakim dan Pengampun (Kis. 10:42; 2 Tim. 4:8; Mat. 9:2; Luk. 5:20; Luk. 7:48); Yesus sebagai Pewahyu (Menyatakan diri) (Yoh. 1:18; Mat. 11:27; Yoh. 14:21). Roh Kudus sebagai Pencipta (Ayb. 33:4; 26:13 menegaskan tentang nafas sebagai Roh dari Allah); Roh Kudus sebagai Penebus (pemberi hidup baru yang bebas dari dosa dan kematian) (Rm. 8:1-2; 8:11; Yoh. 16:13); Roh Kudus sebagai Hakim dan Pengampun (Mrk. 3:29; Luk. 12:10; Mat. 12:31-32. Ada dua pribadi yang disinggung di atas yakni Yesus dan Roh Kudus. Yesus sebagai pribadi yang menggenapi rencana kekal Allah [Bapa] tentang keselamatan [bdk. Ef. 1:4], dapat saja ditolak karya-Nya disalib sebagaimana yang tampak di sepanjang sejarah dan Roh Kudus sebagai pribadi yang meneguhkan dan menawarkan keselamatan sebagai “rencana kekal Allah” lalu kemudian tawaran itu ditolak, maka seseorang tersebut telah berbuat [melakukan] dosa kekal – suatu dosa yang menyangkal karya Allah yang kekal yakni “misi penyalamatan atas manusia-manusia yang berdosa”. Roh Kudus yang berhak mengampuni dosa dan tidak mengampuni dosa bertindak sebagai “Hakim” atas manusia yang telah berdosa. Dengan demikian, Roh Kudus dalam teks-teks di atas, bertindak sebagai Hakim dan Pengampun); Roh Kudus sebagai Pewahyu (2 Timotius 3:16 dan 2 Petrus 1:20-21)
Melihat bukti-bukti di atas, maka keesaan ekonomi adalah keesaan yang umum dipahami dalam setiap agama sebagai sebuah pilihan bagi manusia untuk mempercayai Allah sebagai “satu-satunya” pribadi yang disembah dan diimani, dibanding dengan ilah-ilah lainnya (patung, batu, pohon, matahari, sungai, benda-benda keramat, dan sebagainya). Maka, keesaan Allah dalam kaitannya dengan ciptaan merupakan relativisme bagi manusia untuk menentukan pilihannya kepada pribadi yang dipercayai dan disembah. Keesaan ekonomi sangat membantu manusia untuk mengarahkan hidupnya kepada satu pribadi saja di samping ilah-ilah lainnya yang menjadi daya tarik tersendiri (bersifat henoteisme). Akan tetapi keesaan ontologis adalah sebuah konsep terapan “kasih yang murni dan tulus” dari pribadi satu kepada pribadi lainnya. Sebagaimana Allah menegaskan bahwa “Kasihilah TUHAN, Allahmu, dengan segenap hatimu dan dengan segenap jiwamu dan dengan segenap kekuatanmu” (Ulangan 6:5). Allah mengajar manusia untuk mengasihi-Nya karena Allah, secara ontologis telah menerapkan kasih itu kepada pribadi lainnya yang setara (akan saya kutip teks-teks Injil Yohanes sebagai pembuktiannya). Di samping itu, sebagai realisasi kasih manusia terhadap Allah, maka manusia juga harus mengasihi sesamanya (Imamat 19:18, Janganlah engkau menuntut balas, dan janganlah menaruh dendam terhadap orang-orang sebangsamu, melainkan kasihilah sesamamu manusia seperti dirimu sendiri; Akulah TUHAN; Imamat 19:34, Orang asing yang tinggal padamu harus sama bagimu seperti orang Israel asli dari antaramu, kasihilah dia seperti dirimu sendiri, karena kamu juga orang asing dahulu di tanah Mesir; Akulah TUHAN, Allahmu).
Dalam Injil Yohanes, konsep keesaan ontologis (yang dipahami dalam arti lain sebagai Trinitas ontologis) sangat melimpah. Baik Pribadi Bapa, Yesus, dan Roh Kudus, sama-sama setara, saling merepresentasikan, dan sama-sama kekal. Untuk lebih jelasnya, teks-teks berikut ini dapat memberikan pemahaman yang kuat mengenai personalitas Allah ditinjau dari aspek ontologis.
Yohanes 1:14 Firman itu telah menjadi manusia, dan diam di antara kita, dan kita telah melihat kemuliaan-Nya, yaitu kemuliaan yang diberikan kepada-Nya sebagai Anak Tunggal Bapa, penuh kasih karunia dan kebenaran.
Yohanes 1:18 Tidak seorangpun yang pernah melihat Allah; tetapi Anak Tunggal Allah, yang ada di pangkuan Bapa, Dialah yang menyatakan-Nya (bdk. 3:35; 5:17)
Yohanes 5:18 Sebab itu orang-orang Yahudi lebih berusaha lagi untuk membunuh-Nya, bukan saja karena Ia meniadakan hari Sabat, tetapi juga karena Ia mengatakan bahwa Allah adalah Bapa-Nya sendiri dan dengan demikian menyamakan diri-Nya dengan Allah (bdk. 5:19-23, 36-37).
Yohanes 5:26 Sebab sama seperti Bapa mempunyai hidup dalam diri-Nya sendiri, demikian juga diberikan-Nya Anak mempunyai hidup dalam diri-Nya sendiri.
Yohanes 6:27 Bekerjalah, bukan untuk makanan yang akan dapat binasa, melainkan untuk makanan yang bertahan sampai kepada hidup yang kekal, yang akan diberikan Anak Manusia kepadamu; sebab Dialah yang disahkan oleh Bapa, Allah, dengan meterai-Nya.”
Yohanes 6:37 Semua yang diberikan Bapa kepada-Ku akan datang kepada-Ku, dan barangsiapa datang kepada-Ku, ia tidak akan Kubuang.
Yohanes 6:40 Sebab inilah kehendak Bapa-Ku, yaitu supaya setiap orang, yang melihat Anak dan yang percaya kepada-Nya beroleh hidup yang kekal, dan supaya Aku membangkitkannya pada akhir zaman.”
Yohanes 6:44 Tidak ada seorangpun yang dapat datang kepada-Ku, jikalau ia tidak ditarik oleh Bapa yang mengutus Aku, dan ia akan Kubangkitkan pada akhir zaman.
Yohanes 6:45 Ada tertulis dalam kitab nabi-nabi: Dan mereka semua akan diajar oleh Allah. Dan setiap orang, yang telah mendengar dan menerima pengajaran dari Bapa, datang kepada-Ku.
Yohanes 6:46 Hal itu tidak berarti, bahwa ada orang yang telah melihat Bapa. Hanya Dia yang datang dari Allah, Dialah yang telah melihat Bapa.
Yohanes 6:65 Lalu Ia berkata: “Sebab itu telah Kukatakan kepadamu: Tidak ada seorangpun dapat datang kepada-Ku, kalau Bapa tidak mengaruniakannya kepadanya.” (bdk. 8:18, 38)
Yohanes 8:53-54 Adakah Engkau lebih besar dari pada bapa kita Abraham, yang telah mati! Nabi-nabipun telah mati; dengan siapakah Engkau samakan diri-Mu?” Jawab Yesus: “Jikalau Aku memuliakan diri-Ku sendiri, maka kemuliaan-Ku itu sedikitpun tidak ada artinya. Bapa-Kulah yang memuliakan Aku, tentang siapa kamu berkata: Dia adalah Allah kami
Yohanes 10:15 sama seperti Bapa mengenal Aku dan Aku mengenal Bapa, dan Aku memberikan nyawa-Ku bagi domba-domba-Ku (bdk. 10:17-18)
Yohanes 10:30 Aku dan Bapa adalah satu.”
Yohanes 10:36 masihkah kamu berkata kepada Dia yang dikuduskan oleh Bapa dan yang telah diutus-Nya ke dalam dunia: Engkau menghujat Allah! Karena Aku telah berkata: Aku Anak Allah?
Yohanes 10:38 tetapi jikalau Aku melakukannya dan kamu tidak mau percaya kepada-Ku, percayalah akan pekerjaan-pekerjaan itu, supaya kamu boleh mengetahui dan mengerti, bahwa Bapa di dalam Aku dan Aku di dalam Bapa.”
Yohanes 12:26 Barangsiapa melayani Aku, ia harus mengikut Aku dan di mana Aku berada, di situpun pelayan-Ku akan berada. Barangsiapa melayani Aku, ia akan dihormati Bapa.
Yohanes 13:3 Yesus tahu, bahwa Bapa-Nya telah menyerahkan segala sesuatu kepada-Nya dan bahwa Ia datang dari Allah dan kembali kepada Allah.
Yohanes 14:6 Kata Yesus kepadanya: “Akulah jalan dan kebenaran dan hidup. Tidak ada seorangpun yang datang kepada Bapa, kalau tidak melalui Aku.
Yohanes 14:7 Sekiranya kamu mengenal Aku, pasti kamu juga mengenal Bapa-Ku. Sekarang ini kamu mengenal Dia dan kamu telah melihat Dia.” (bdk. 14:9-11, 13)
Yohanes 14:16 Aku akan minta kepada Bapa, dan Ia akan memberikan kepadamu seorang Penolong yang lain, supaya Ia menyertai kamu selama-lamanya,
Yohanes 14:21 Barangsiapa memegang perintah-Ku dan melakukannya, dialah yang mengasihi Aku. Dan barangsiapa mengasihi Aku, ia akan dikasihi oleh Bapa-Ku dan Akupun akan mengasihi dia dan akan menyatakan diri-Ku kepadanya.”
Yohanes 14:23 Jawab Yesus: Jika seorang mengasihi Aku, ia akan menuruti firman-Ku dan Bapa-Ku akan mengasihi dia dan Kami akan datang kepadanya dan diam bersama-sama dengan dia.
Yohanes 14:26 tetapi Penghibur, yaitu Roh Kudus, yang akan diutus oleh Bapa dalam nama-Ku, Dialah yang akan mengajarkan segala sesuatu kepadamu dan akan mengingatkan kamu akan semua yang telah Kukatakan kepadamu.
Yohanes 15:9 “Seperti Bapa telah mengasihi Aku, demikianlah juga Aku telah mengasihi kamu; tinggallah di dalam kasih-Ku itu.
Yohanes 15:10 Jikalau kamu menuruti perintah-Ku, kamu akan tinggal di dalam kasih-Ku, seperti Aku menuruti perintah Bapa-Ku dan tinggal di dalam kasih-Nya.
Yohanes 15:16 Bukan kamu yang memilih Aku, tetapi Akulah yang memilih kamu. Dan Aku telah menetapkan kamu, supaya kamu pergi dan menghasilkan buah dan buahmu itu tetap, supaya apa yang kamu minta kepada Bapa dalam nama-Ku, diberikan-Nya kepadamu.
Yohanes 15:23 Barangsiapa membenci Aku, ia membenci juga Bapa-Ku.
Yohanes 15:26 Jikalau Penghibur yang akan Kuutus dari Bapa datang, yaitu Roh Kebenaran yang keluar dari Bapa, Ia akan bersaksi tentang Aku.
Yohanes 16:15 Segala sesuatu yang Bapa punya, adalah Aku punya; sebab itu Aku berkata: Ia akan memberitakan kepadamu apa yang diterimanya dari pada-Ku.”
Yohanes 16:28 Aku datang dari Bapa dan Aku datang ke dalam dunia; Aku meninggalkan dunia pula dan pergi kepada Bapa.”
Yohanes 17:5 Oleh sebab itu, ya Bapa, permuliakanlah Aku pada-Mu sendiri dengan kemuliaan yang Kumiliki di hadirat-Mu sebelum dunia ada.
Yohanes 17:11 Dan Aku tidak ada lagi di dalam dunia, tetapi mereka masih ada di dalam dunia, dan Aku datang kepada-Mu. Ya Bapa yang kudus, peliharalah mereka dalam nama-Mu, yaitu nama-Mu yang telah Engkau berikan kepada-Ku, supaya mereka menjadi satu sama seperti Kita.
Yohanes 17:21 supaya mereka semua menjadi satu, sama seperti Engkau, ya Bapa, di dalam Aku dan Aku di dalam Engkau, agar mereka juga di dalam Kita, supaya dunia percaya, bahwa Engkaulah yang telah mengutus Aku.
Yohanes 17:24 Ya Bapa, Aku mau supaya, di manapun Aku berada, mereka juga berada bersama-sama dengan Aku, mereka yang telah Engkau berikan kepada-Ku, agar mereka memandang kemuliaan-Ku yang telah Engkau berikan kepada-Ku, sebab Engkau telah mengasihi Aku sebelum dunia dijadikan.
Yohanes 20:21 Maka kata Yesus sekali lagi: “Damai sejahtera bagi kamu! Sama seperti Bapa mengutus Aku, demikian juga sekarang Aku mengutus kamu.”
PENUTUP
Keesaan Ontologi merupakan sebuah pemahaman bahwa Allah hanya dapat dipahami berdasarkan Trinitas yang menegaskan konsep “kasih”, “kesetaraan”, “kesamaan”, dan “kekekalan”. Ketika Yesus membandingkan diri-Nya dengan Bapa, maka Ia hendak menyatakan bahwa Ia setara dan sama dengan Bapa, dan sudah ada sejak kekekalan (Yoh. 1:1).
Keesaan secara ekonomi memang bermanfaat bagi kita tatkala kita menunjukkan komitmen kita kepada Tuhan sebagai pribadi yang layak dipercaya dan disembah. Meski Islam juga mengadopsi konsep yang sama, tapi beberapa di antara mereka terlalu memaksakan konsep monoteisme ekonomis kepada agama lain dengan cara-cara yang tidak layak dan menghalalkan kekerasan dan pembunuhan hanya karena berbeda konsep monoteismenya.
Seyogianya keesaan Tuhan dalam relasinya dengan ciptaan mendorong untuk semakin mengasihi sesama sebagai wujud nyata dari mengasihi Tuhan. Alangkah tidak masuk akal ketika seseorang berbicara monoteisme tetapi melakukan perbuatan-perbuatan yang busuk, jijik, dan jahat. Justru, ketika kita percaya bahwa hanya Tuhan sebagai pribadi yang satu-satunya disembah dan dipercaya, maka kita harus menunjukkan kasih kita (sebagai pilihan) kepada Tuhan dalam bentuk lainnya yang setara yaitu mengasihi sesama.
Keesaan ontologis hanya dapat dijelaskan oleh Trinitas dan di dalamnya kasih yang kekal itu berperikhoresis; dan kasih dalam Trinitas itu melimpah keluar: kepada manusia sebagaimana Yesus tegaskan bahwa “…supaya kamu saling mengasihi; sama seperti Aku telah mengasihi kamu demikian pula kamu harus saling mengasihi” (Yoh. 13:34); “Jikalau kamu mengasihi Aku, kamu akan menuruti segala perintah-Ku” (Yoh. 14:15); “Inilah perintah-Ku, yaitu supaya kamu saling mengasihi, seperti Aku telah mengasihi kamu” (Yoh. 15:12).
Trinitas adalah finalitas dari personalitas Allah secara ontologis yang menegaskan supremasi “kasih-Nya” dan direalisasikan dalam dunia ciptaan. Tidak ada yang dapat mengalahkan “kasih” sampai akhir zaman. Kasih adalah wujud nyata dari kepedulian Allah yang terungkap dalam Inkarnasi Yesus Kristus. Allah yang dipahami sebagai ‘satu’ secara numerik dan dipaksakan ke dalam konteks ontologis akan berimbas kepada Allah yang kesepian dan egois. Oleh sebab itu, Trinitas adalah jawaban bagi manusia bahwa “kasih Allah” yang dinyatakan kepada kita melalui Yesus Kristus adalah kasih yang menghasilkan penebusan dan keselamatan sebagaimana yang Ia janjikan. Inilah yang Rasul Yohanes (Yoh. 3:16-18) tegaskan:
Karena begitu besar kasih Allah akan dunia ini, sehingga Ia telah mengaruniakan Anak-Nya yang tunggal, supaya setiap orang yang percaya kepada-Nya tidak binasa, melainkan beroleh hidup yang kekal. Sebab Allah mengutus Anak-Nya ke dalam dunia bukan untuk menghakimi dunia, melainkan untuk menyelamatkannya oleh Dia. Barangsiapa percaya kepada-Nya, ia tidak akan dihukum; barangsiapa tidak percaya, ia telah berada di bawah hukuman, sebab ia tidak percaya dalam nama Anak Tunggal Allah.
Merebaknya Virus Corona di banyak negara, menimbulkan sikap waspada, takut, sedih, panik, antisipatif, sombong, dan bahagia. Sejak Covid-19 dinyatakan “ada” di Indonesia, membuat rakyat panik, tetapi tidak terlalu masiv; beberapa wilayah menyatakan sikap waspada. Ini baru tahap awal.
Kemudian disusul dengan berbagai berita yang meramaikan kancah media sosial. Muncullah beragam respons. Karena di Indonesia mayoritas rakyatnya adalah kaum “beragama”, maka ketika Corona menyergap, kaum beragama “sesegera” mungkin menjual kecap. Ada yang berulah: “lebih baik mati karena Virus Corona, daripada membeli alat penangkal Virus Corona buatan kafir”. Yang lain berkata: “tidak apa-apa bergereja, toh Tuhan bisa kapan saja memanggil kita untuk mati. Ada yang mati duduk santai, mati berdiri, dan mati model lainnya. Kita tidak perlu takut yang berlebihan terhadap Virus Corona”.
Yang lain menimpali: “tidak perlu takut bersalaman dan berpelukan, Tuhan tahu apa yang kita lakukan”, “berbahasa lidah meningkatkan imun tubuh”, dan “memakai minyak urapan bisa terbebas Virus Corona.” Lebih aneh lagi, munculnya Covid-19 di Wuhan, dikaitkan dengan “Tentara Allah”, ada pula yang mengaitkannya dengan sosok yang berada di Arab sana; karena ia tidak bisa pulang ke Indonesia, maka Allah mengirimkan Corona ke Indonesia.
Terdengar nubuatan di sana sini, klaim di sana sini. Lebih dari itu, ada yang mau telan Virus Corona. Antara kebodohan, kesombongan, dan jualan kecap agama, beda-beda tipis. Sementara Corona terus menyergap. Manusia sibuk berkomentar, Corona sibuk dengan perjalanannya dari satu manusia ke manusia lainnya, tanpa biaya, tanpa suara.
Masih banyak klaim yang bernada jualan kecap dari kaum beragama yang terkesan superior; sebenarnya mereka ingin mengunggulkan Tuhan, tetapi pada akhirnya antara iman dan self-confidence menjadi beda-beda tipis dan sulit dipahami. Akibatnya, karena jualan kecap tersebut, korban pun berjatuhan.
Serentak, beberapa pemimpin gereja, dan bahkan jemaat gereja-gereja tertentu, mengutip teks-teks Alkitab. Serentak pula ilmu tafsir cocokologi menjadi trend di muka bumi ini. Celoteh dan nyeleneh menjadi ajang pertandingan mengunggulkan “Tuhan siapa yang hebat”, sekaligus “diri siapa yang hebat”. Kembali berulah: antara “Tuhan” dan “diri [yang mengklaim] disodorkan ke publik untuk adu ketangkasan. Akibatnya, korban pun berjatuhan, sementara Tuhan masih tetap menjadi pokok pengharapan, doa-doa disampaikan kepada-Nya. Air mata dan kerinduan terus mengalir menuju Tuhan yang ada di sorga.
Bencana tetap berlanjut. Fenomena Corona menyergap bumi, menyisahkan kesedihan yang mendalam. Jumlah korban yang mati terus diamati, bahkan dimanipulasi; ada pula yang mengaitkannya dengan “Tuhan kok tak bisa membela dan menyelamatkan umat-Nya”, mengapa banyak yang mati, di mana Tuhanmu? Agama menjadi racun bagi pikiran dengan mencari titik bahagia ketika “agama lain” yang mati, apalagi banyak, apalagi pendeta, apalagi pemimpin agama. Agama menjadi pabrik menjual kecap; ya, kecap keangkuhan, kecap kesombongan, tapi sedikit yang menjual kebijaksanaan.
Sikap waspada, takut, sedih, panik, adalah normatif, dilakukan oleh mayoritas manusia di bumi. Belakangan, di Indonesia, hampir secara keseluruhan masyarakat melakukan sikap waspada dan antisipatif. Pihak pemerintah telah memberikan imbauan dan mengeluarkan perintah untuk bekerja dari rumah, sekolah dari rumah, dan ibadah di rumah. Perintah ini masih berlanjut sampai sekarang.
Sistem kerja menjadi berubah, peribadatan pun juga ikut berubah. Corona menggetarkan dunia, menyergap dunia, dan manusia panik, takut, waspada, lelah, terus berjuang. Secara global, Covid-19 menjadi pokok pembicaraan, baik tentang pencegahannya, pengobatannya, jumlah yang sembuh, yang mati, dan yang terdampak. Setiap hari kita disuguhkan dengan berita tentang Covid-19. Ya, Covid-19 mendapat panggung utama di hampir seantero dunia yang kita pijaki ini.
Memang, sikap antisipatif dengan slogan: “stay at home”, “di rumah aja”, menjadi bagian dari sikap kebijaksanaan kita. Segala sesuatu menjadi berubah. Kendati demikian, ada saja “suara-suara kesombongan” yang menyeruak ke permukaan, menguap, dan ingin mendapat panggung seperti Corona. Parahnya lagi, jumlah kematian yang banyak—terutama dari agama tertentu—dijadikan sebuah rasa bahagia, karena bagi beberapa orang, kematian mereka yang berbeda agama menandakan bahwa agama yang dianutnya lebih hebat.
Kekeliruan semacam ini mungkin telah mampir dan menginap dalam pikiran kita. Akan tetapi, ingatlah, Virus Corona menyergap kepada semua manusia, entah beragama atau tidak, entah yang merasa suci atau tidak, entah yang merasa hebat atau tidak. Corona adalah virus yang menjalar sedemikian cepat dan masiv. Sekarang ini, manusia berperang melawan Corona, perang senyap, tetapi “mulut-mulut kesombongan ikut menampilkan cuplikan-cuplikan kebodohan” ke udara; Corona membunuh banyak orang, tak peduli tua atau muda, kaya atau miskin, orang berpangkat atau tidak, pendeta atau jemaat, pemimpin agama atau pengikutnya; semuanya “sama di mata Corona”.
Sebaliknya, dari kisah yang menyedihkan dan menakutkan ini, kita harus tetap waspada, menjaga diri, dan berserah kepada Tuhan. Pandemik Covid-19 bukanlah perkara gampang; ini perang senyap, jangan kaitkan dengan agama-agama tertentu. Hentikan celoteh, tapi berbuatlah sesuatu untuk sesama. Hentikan jualan kecapmu, tapi berikanlah “makanan” kepada sesama. Jangan bangga dengan kematian sesama gegara Corona, sebab kapan saja engkau bisa mati. Engkau boleh bangga dengan kematian sesamamu, KECUALI engkau tidak akan mati. Engkau fana, jangan jual kecap. Hentikanlah itu!
Pada akhirnya, manusia jangan sombong; jangan merasa hebat. CORONA TAK TERLIHAT, TETAPI IA NYATA BERBUAT.
Bukankah seringkali kita mendengar bahwa: “lakukanlah kebaikan dengan tangan kanan, dan jangan diketahui oleh tangan kirimu”? Lakukanlah sesuatu, baik untuk diri sendiri, keluargamu, dan sesamamu.
Jadikan fakta sergapan Corona sebagai “pelajaran untuk menjadikan kepalamu menghadap ke langit, melihat Sang Pencipta, dan menjadikan kepalamu ke bawah, melihat sesamamu.”
Hentikan jualan kecap, sebab kecapmu akan habis. Jualah kebijaksanaan, karena itu akan membuatmu menjadi berkat bagi orang lain.
Berusaha menggapai dan menemukan cinta berdampak pada kepemilikan cinta itu sendiri. Dalam menjalani cinta, muncul dampak-dampak kecil maupun besar. Dampak-dampak tersebut terkait erat dengan tujuan mengapa seseorang itu mencintai. Secara prinsip dampak-dampak itu sendiri adalah sebuah usaha untuk semakin mempekuat rasa cinta, semakin mengokohkan prinsip mencintai, atau sebaliknya, mencoba untuk menghindar dari pasangannya tatkala didapati ada ketidakcocokkan dalam banyak hal.
Dari kasus-kasus yang terjadi, rasa cemburu adalah hal yang paling banyak dirasakan oleh orang-orang yang berpacaran. Dan rasa cemburu itu sendiri, saya rasa adalah faktor penting bagi keutuhan, kekuatan, dan juga merupakan bumbu-bumbu dari cinta. Cemburu adalah rasa hati yang sedikit marah, sedikit kesal (perasaan di tengah-tengah); merasakan sakit hati karena apa yang menjadi milikinya, apa yang menjadi kesukaannya, apa yang menjadi kepunyaannya, apa yang menjadi pujaan hatinya, beralih tempat, beralih fungsi, dan beralih perasaan.
Selaras dengan rasa cemburu itu, ada orang-orang yang merasa bahwa cinta yang telah ia berikan dan terima patut diperjuangkan dan dipertahankan. Itulah fungsi rasa cemburu. Rasa cemburu merupakan rasa kepemilikan seseorang kepada pasangannya.
Cinta dan rasa cemburu ada dua sisi mata uang yang saling melekat, terkait, dan terpadu. Terkadang, rasa cemburu melampaui rasa cinta itu. Itu tidak baik. Cinta harus lebih besar ketimbang rasa cemburu, sebab rasa cemburu yang muncul harus disesuaikan dengan fakta yang ada, sedangkan cinta itu tak harus disesuaikan dengan fakta yang ada melainkan melampaui ruang dan waktu: cinta yang terpisah oleh jarak dan waktu. Di mana saja ia berada, ia tetap cinta dan terus memberikan perhatian kepada yang dicintainya.
Setelah menjelaskan sedikit tentang rasa cinta dan cemburu (bagian dari rasa cinta dan rasa kepemilikan [posesif]), sekarang kita beralih soal “celana”. Mengapa harus celana? Semua manusia yang normal dan beretika dalam konteks kebudayaan yang telah maju, memakai atau menggunakan celana sebagai usaha kesadaran untuk menutupi alat kelamin. Lain halnya dengan suku-suku primitif yang telanjang. Kita tidak membahas soal itu.
Celana adalah simbol identitas manusia. Bayangkan saja jika semua orang yang bekerja di kantor tanpa menggunakan celana. Atau bekerja di kantor hanya menggunakan kantong plastik. Kalau pun terjadi, itu bisa membuktikan bahwa manusia tidak memiliki rasa malu. Celana dapat meningkatkan rasa percaya diri, sekaligus meruntuhkan harga diri. Celana yang terbuka menghadirkan nafsu, entah liar atau sistematis, tergantung konteksnya.
Dalam berbagai kasus pelampiasan hawa nafsu seks, perbuatan suka sama suka, atau pemerkosaan, celana harus disingkirkan dan diluncurkan dari tempatnya. Banyak laki-laki yang mempunyai satu pasangan tetapi telah banyak membuka celana perempuan yang bukan seharusnya. Banyak perempuan, yang meskipun memiliki satu pasangannya, ia rela membuka celananya bagi orang lain yang bukan pasangannya – dan tindakan itu memang tidak baik, tidak bermoral dan melanggar prinsip-prinsip iman. Saya tahu bahwa ada budaya atau suku yang mengizinkan pasangan dalam masa pacaran atau fase sebelum menikah, melakukan hubungan seksual. Tetapi jika itu dilakukan maka nilai kepemilikan akan cinta dan pribadi yang dicintainya menjadi tidak bernilai. Kita bisa berbeda paham di sini, tetapi nafsu liar tetaplah nafsu liar yang ingin menggerogoti kenikmatan yang tak layak dinikmati.
Orang yang saling mencintai pun dalam masa pacaran sering membuka celana – suatu perbuatan yang salah – yang tidak terhormat dan tidak menghormati kesucian diri dan cinta. Yang sudah menikah pun tidak luput dari teknik atau cara membuka celana yang bukan pasangannya. Seorang suami mencari cara untuk membuka celana dan menikmati sesuatu di balik celana itu. Seorang istri rela membiarkan celananya dibuka oleh laki-laki yang bukan suaminya. Itu adalah fakta yang terjadi. Para “PELAKOR” bergentayangan di mana-mana. Para “PERISOR” pun melakukan hal yang sama. Sama-sama berjuang mengejar dan membuka celana.
Mereka yang dikuasai nafsu seksual, sedang dibius oleh sesuatu di balik celana. Celana yang sepotong membangkitkan nafsu untuk menikmati sesuatu di baliknya. Tak jarang, para pemuka agama yang hebat jatuh dalam perangkap “celana”: lihat, pikir, buka, dan nikmati. Dosa semakin menyemangati nafsu liar dan terus keasyikan dengan air dosa: mandi di dalam air dosa, berenang, dan bersalto ria. Pelakor dan Perisor sama-sama eksis menunjukan kemampuan membuka celana. Kapan ini akan berakhir? Kecuali bumi musnah. Itu saja.
Ajaran agama tak mampu membendung gerakan pembuka celana dan pencinta celana. Apa yang mereka harapkan? Kepuasan dan kenikmatan ilegal. Apa yang didapatkan? Kenikmatan sejenak dan kemudian mati. Kita tidak bisa menutup mata, sebab kasus-kasus seperti ini marak terjadi di seluruh dunia. Di mana moralitas mereka? Di mana rasa cinta mereka yang pada awalnya begitu menggebu-gebu?
Ada beberapa persoalan yang menjadi pemicu terbukanya celana-celana liar yang bukan haknya untuk dibuka.
Pertama: Adanya hubungan yang tidak baik, hubungan yang retak di antara kedua pasangan baik yang belum menikah dan yang sudah menikah.
Kedua: Adanya perasaan ingin menikmati kenikmatan seksual dari laki-laki atau perempuan yang bukan pasangannya baik yang belum menikah dan yang sudah menikah
Ketiga: Adanya pengaruh pikiran yang terkontaminasi dengan hal-hal negatif terutama dalam soal seks (dari televisi, majalah, koran, film, video dan sebagainya)
Keempat: Adanya rasa ingin menikmati hubungan seks dengan alasan suka sama suka. Keduanya sama-sama puas.
Kelima: Adanya usaha untuk mendapatkan kenikmatan seksual dengan alasan paksaan atau rayuan manis dan gombal dari seorang laki-laki kepada perempuan entah yang dicintainya secara serius atau hanya pura-pura mencintai (hanya mau menikmati tubuhnya dalam hubungan seksua saja).
Keenam: Adanya pemaksaan tingkat tinggi meskipun salah satu pasangannya tidak mau melakukan hubungan seksual, tetapi karena tidak bisa melawan maka terjadilah pembukaan celana.
Ketujuh: Adanya jaminan masa depan, jaminan kekayaan, jaminan harta, jaminan-jaminan lainnya yang dianggap dapat menguntungkannya, maka ia rela membuka celananya tanpa disuruh atau rela membiarkan celananya siap dibuka.
Kedelapan: Adanya rasa senang dan bahagia ketika pasangannya memiliki kelebihan-kelebihan fisik, materi, talenta, kreativitas, dan lain sebagainya sehingga ia merasa terjamin bahkan merasa tidak rugi jika celananya dibuka dan kemudian melakukan hubungan sekssual.
Kesembilan: Adanya kemampuan diri dalam melampiaskan nafsu seksualnya kepada orang-orang yang menjadi sasarannya
Lalu bagaimana hubungan antara cinta dan celana? Cinta menghasilkan rasa cemburu. Dan itu pasti. Dan tak lupa pula, seringkali rasa cinta dan cemburu berakhir dengan terbukanya celana. Celana adalah “ikon” kesucian, kesungguhan, kenikmatan, kebahagiaan, kebejatan, kenajisan, dan kekotoran.
Di dalam jantung Cinta terdapat rasa cemburu, kasih sayang, dan hasrat yang menggebu-gebu untuk mengungkapkan semuanya kepada pasangannya – entah dalam wilayah cinta yang wajar-moral dan sesuai dengan prinsip agama, ataukah dalam wilayah cinta yang buas-tak terkendali dan sesuai dengan dorongan libido yang amoral yang berakibat pada dibukanya sebuah celana.
Di dalam jantung Cemburu terdapat terdapat rasa ketidakpuasan cinta, amarah yang meledak, kegelisahan, kesakithatian, dan nekat – yang akan termanifestasikan pada tindakan-tindakan yang agak aneh, entah dengan cara menggunakan orang lain untuk menunjukkan bahwa dia juga bisa membuat pasangannya cemburu, entah dengan cara menyusun strategi untuk menyingkirkan satu atau keduanya, atau dengan cara bersabar, berdoa, dan menyusun cara yang baik untuk meminta pertanggungjawaban atas tindakan yantg menimbulkan rasa cemburu. Tetapi kadang-kadang, jika rasa cemburu itu terlampau besar dan sakit hati, maka “celana” akan menjadi sasaran empuk dan tak bisa dikendalikan secara moral-etis
Di dalam jantung Celana terdapat simbol seks yang bisa menghasilkan sebuah kebahagiaan yang sewajarnya berdasarkan prinsip moral-etis dan agama, atau menghasilkan sebuah kebahagiaan dan kenikmatan sesaat dan mencelakakan dan merusak kesucian orang lain. Celana adalah simbol baik atau tidak baik. Tergantung pada siapa yang membukakanya dan dalam waktu apa. Jika yang bukan semestinya membuka celana, maka musibah akan melanda mereka.
Para penjual celana akan mendapat keuntungan ketika celana-celana yang terbuka sudah tidak dipakai lagi. Beli celana mahal-mahal, kalau hanya untuk dibuka dalam menikmati dosa-dosa seksual, akan sangat merugikan diri sendiri. Kematian, dan akhirnya penghakiman tak akan mendapat jatah celana tetapi jatah kematian kekal yang secara terus-menerus (mati, hidup, mati, hidup, mati, dan seterusnya).
Pergunakanlah celana dengan sebaik mungkin. Sebagus-bagusnya baju, jika celananya tidak bagus, akan terlihat aneh dan kocak. Celana adalah simbol yang unik tetapi menantang. Celana yang terjaga adalah celana yang kudus yang selayaknya dinikmati oleh pasangan yang sah secara agama: menikah dan menjalin kasih sayang yang murni tanpa ada celana-celana lain yang harus diurus dan diperjuangkan.
Berjuanglah untuk menjaga celana dan berusahalah memberi celana baik untuk diri sendiri maupun sebagai hadiah kepada orang yang dikasihi. Layakanlah celana pada tempatnya, pada jalurnya. Jangan umbar celana, jangan buka celana, jangan goyang celana, karena akan menimbulkan gempa bumi dalam tubuh manusia yang mengingingkan celana terbuka untuk meraih isi di dalamnya.
Tuhan mengasihi manusia yang menjaga kekudusan hidupnya, termasuk menjaga agar celana jangan sampai dibuka secara paksa, dibuka karena pasrah, atau membuka sendiri karena ketagihan, terangsang, atau karena kerasukan setan.
Kiranya hidup kita tetap dijaga dari segala gerakan pembuka celana-celana yang hidupnya najis dan kotor bersimbah lumpur dosa. Jadikan hidup dan diri kita suci dan mengandalkan Tuhan dalam segala hal. Dan jangan lupa, jagalah celanamu agar tetap pada posisinya, sampai tiba waktunya, orang yang berhak dan layak membukanya—jika bukan anda yang membukanya—dan merasakan kasih dan sayang yang tulus dalam lingkup kesetiaan dan kekudusan.
Ada cukup fakta yang kita lihat (jika pernah) bahwa iman Kristen menjadi bahan olok-olokkan di sepanjang sejarah. Akibatnya, banyak pengikut Yesus menjadi martir. Dengan kekejaman yang kadang melampaui batas, para pengikut Kristus—hingga matinya—tidak menyangkal imannya kepada Yesus Kristus. Para rasul Yesus Kristus pun mengalami kekejaman dan penyiksanaan hingga mereka mati sebagai martir: iman mereka tidak goyah sedikitpun.
Bukannya Kekristenan merosot, malahan terus berkembang dan menjadi agama terbesar di dunia. Perkembangan Kekristenan bukan terjadi hanya dengan modal “senjata dan perang”. Tidak. Para penginjil hanya bermodalkan Injil (yang akan diwartakan) dan dirinya sebagai surat Kristus yang terbuka. Mereka tidak menggunakan sihir, pedang, tombak, atau senjata mematikan. Tidak sama sekali! Mereka memiliki iman yang dewasa, tidak takut mati, tidak takut menghadapi ancaman, bahaya, pedang, kelaparan, tantangan, hambatan, diskriminasi, dan intimidasi. Mereka dengan berani menyatakan kedewasaan dalam beriman—tidak membalas kejahatan dengan kejahatan dan caci maki dengan caci maki, meski caci maki datang bertubi-tubi. Mereka telah membuktikan bahwa “kasih [kebaikan]” telah mengalahkan kejahatan yang paling jahat sekalipun. Ada kuasa dalam kasih yang dilakukan orang-orang Kristen di sepanjang sejarah.
Apa yang menjadikan Kekristenan semakin berkembang? Jawabannya adalah: “karena Kekristenan memiliki iman yang dewasa”. Iman itulah yang menjadikan mengapa Kekristenan dipandang sebagai agama yang memiliki nilai kasih yang paling tinggi, rela berkorban bagi sesama, mengasihi tanpa pamrih, dan siap menderita bagi Yesus Kristus.
Sejarah telah membuktikan bahwa iman Kristen ditaburi dengan “darah”. Pertama-tama, darah Yesus Kristus yang tercurah bagi pengampunan dosa. Darah yang mahal itu telah menyucikan kita dari segala dosa dan kejahatan kita. Penulis Ibrani menegaskan, bahwa “betapa lebihnya darah Kristus, yang oleh Roh yang kekal telah mempersembahkan diri-Nya sendiri kepada Allah sebagai persembahan yang tak bercacat, akan menyucikan hati nurani kita dari perbuatan-perbuatan yang sia-sia, supaya kita dapat beribadah kepada Allah yang hidup” (Ibrani 9:14).
Rasul Yohanes juga menegaskan hal yang sama: “Tetapi jika kita hidup di dalam terang sama seperti Dia ada di dalam terang, maka kita beroleh persekutuan seorang dengan yang lain, dan darah Yesus, Anak-Nya itu, menyucikan kita dari pada segala dosa” (1 Yohanes 1:7).
Di kemudian hari, para rasul Yesus Kristus pun mencurahkan darah mereka sebagai bukti bahwa iman mereka kuat [dewasa] dan rela mati demi Yesus Kristus. Mereka telah melihat bahwa Kristus telah meninggalkan teladan yang luar biasa—meski mati disalibkan, Ia kemudian mempertontonkan kuasa Allah yang luar biasa dengan cara: “bangkit dari antara orang mati”. Adakah hinaan dan perendahan terhadap Yesus telah mengalahkan kebangkitan-Nya? Sama sekali tidak. Para pengikut Yesus Kristus pun tahu bahwa kematian bukanlah sesuatu yang menakutkan, karena mereka yakin bahwa mereka akan dibangkitkan sebagaimana Yesus bangkit dari antara orang mati. Ada harapan dan jaminan hidup kekal dari kematian mereka. Kedewasaan iman mereka membawa mereka kepada ketaatan dan kesetiaan kepada Yesus Kristus, meski kematian di depan mata mereka yang siap mereka hadapi.
Perjuangan iman dan kesetiaan kepada Kristus masih terus berlanjut. Para martir di sepanjang sejarah telah menorehkan catatan dan kisah iman yang kuat dan tak tergoyahkan. Api, kematian, penyiksaan, pedang, penderitaan, pembantaian, dan perlakuan tidak adil, tak sanggup memisahkan mereka dengan kekuatan kasih Yesus Kristus. Yesus mengubah hidup mereka dan ketakutan, bahkan kematian adalah pilihan yang tepat ketika mereka tahu bahwa percaya kepada Yesus Kristus akan menerima risiko tersebut.
Tak terbilang jumlah martir-martir Kristen. Darah mereka membasahi perjalanan perkembangan dan kemasyhuran Kristen hingga saat ini. KASIH dan KUASA adalah senjata mematikan—senjata yang mematikan dosa dan kesombongan para pencaci, pengina, dan pembunuh orang Kristen. Tak ada yang bisa melawan dan menolak kasih Tuhan ketika Ia melawat seseorang. Dari pendosa besar, diubahkan menjadi penginjil besar. Dari pembunuh hebat, diubahkan Tuhan menjadi pengasih hebat. Dari pencaci tingkat tinggi, diubahkan Tuhan menjadi pemuji Tuhan yang luar biasa. Tak ada satupun yang dapat melawan Tuhan ketika Ia bekerja. Itulah rahasia mengapa Kekristenan menjadi agama termasyhur di dunia.
Dalam kisah perjalanan Kristen, telah terbukti bahwa kedewasaan beriman (atau dewasa dalam iman) membawa Kristen pada puncak perwujudan kasih dan anugerah Tuhan kepada setiap orang di segala zaman. Meski dibarengi—hingga saat ini—dengan kritikan yang kurang ajar, caci maki terhadap Yesus, pengikut-Nya dianggap kafir dan menyembah manusia, dianggap darahnya halal oleh orang-orang beringas, dianggap sebagai agama yang salah dan palsu, dan hinaan tingkat tinggi lainnya, namun Kristen tetap menjadi idola manusia-manusia yang ingin hidupnya “PENUH KASIH DAN PENGAMPUNAN.”
Dari fakta tersebut, saya menyimpulkan tujuh “SIKAP DEWASA DALAM BERIMAN” yang tertuang melalui sikap (sudah dibuktikan): “Tidak membalas kejahatan dengan kejahatan”, “mengalahkan kejahatan dengan kebaikan”, “mengasihi dan mendoakan musuh serta orang-orang yang menganiaya orang Kristen”, dan “mengampuni orang yang bersalah”.
Pertama, orang Kristen tahu bahwa yang mengkritik iman Kristen tidak paham sepenuhnya (artifisial). Kesalahan utama terkait dengan para pencaci yang mengkritik iman Kristen adalah karena mereka memahami iman Kristen hanya sepotong (artifisial), tidak secara mendalam. Kalaupun paham, itu pun hanya ajaran sesat Kristen. Karena alasan inilah, kadang-kadang Kristen dirasa tidak perlu menanggapi orang-orang jenis ini. Mereka lihai dalam berceloteh yang mengandung caci maki dan hinaan. Dan hingga akhirnya mereka mati dalam kegilaan ini, jika tidak bertobat.
Kedua, orang Kristen tahu bahwa yang mengkritik sengaja mencari gara-gara. Untuk alasan keamanan, orang-orang jenis ini tidak perlu diladeni. Yang ada hanyalah menguras emosi. Namanya juga mencari gara-gara. Ketika diserang balik, justru kebakaran jenggot. Itulah tipikal orang-orang yang bermental kerupuk. Mudah tersulut emosinya ketika diserang balik.
Ketiga, orang Kristen tahu bahwa yang mengkritik adalah orang bermental “Paralogisme” yaitu seseorang yang tidak tahu bahwa dirinya sesat. Karena alasan inilah, kadang caci maki mereka hanya patut ditertawakan. Maklum, ia sesat dan tidak tahu bahwa dia sesat adalah sebuah kesesatan yang paling sesat. Cukup dimaklumi saja; doakan dia supaya Tuhan menjamah hatinya dan percaya kepada-Nya. Di luar itu, urusan Tuhan.
Keempat, orang Kristen tahu bahwa yang mengkritik bukanlah pribadi yang kompeten dan mengerti doktrin Kristen. Seperti yang terjadi di sepanjang sejarah, para pengkritik dan pencaci iman Kristen adalah orang-orang yang tidak mengerti tapi merasa mengerti tentang iman Kristen. Hasilnya adalah kesesatan doktrinal, hermeneutikal, dan biblikal. Tipikal ini bisa dilawan dengan mengajukan berbagai substansi iman Kristen meski kadang tidak diterima. Maklumi saja; namanya juga tidak kompeten dan tidak mengerti. Mereka kadang bahagia dengan ke-idiot-an mereka. Doakan mereka.
Kelima, orang Kristen tahu bahwa yang mengkritik masih kanak-kanak dalam pemikiran. Ini sering terjadi ketika hinaan dan kebencian terhadap orang Kristen semakin memuncak dalam relasi keagamaan. Ada fakta yang terjadi bahwa para pengkritik dan pembenci iman Kristen menuduh bahwa orang Kristen menyembah atau mempunyai tiga Allah: Allah Bapa, Allah Anak [Yesus Kristus], dan Allah Roh Kudus. Sabar dulu. Kristen tidak menyembah tiga Allah tetapi satu Allah yang terdiri dari tiga Pribadi.
Mustahil seseorang menyembah Allah tetapi tidak menyembah Firman dan Roh-Nya (Dzat-Nya). Percaya kepada Allah yang “esa” berarti percaya pada Firman dan Roh-Nya. Kekristenan lebih maju dan terbuka dalam memahami personalitas Allah dibanding Yudaisme dan Islam. Ketika Islam menyembah “Allah swt” sebagai yang esa, mereka tidak bisa menafikan Kalam dan Dzat Allah swt”. Tentu antara “Allah swt”, dengan Kalam dan Dzat-Nya adalah setara dan kekal karena Islam percaya bahwa “Allah swt” adalah kekal. Baik Yudaisme maupun Islam, mereka berkutat pada Allah yang esa hanya pada tataran relasional yaitu Allah berelasi dengan ciptaan-Nya yang mana ketika memahami Allah yang esa, tentu esa dalam arti bahwa hanya Dia yang disembah dari sekian bahwa ilah di dunia. Akan tetapi, pada tataran ontologis, mereka lupa bahwa Allah itu dapat disebut Pribadi karena Ia memiliki Firman dan Roh. Allah tak mungkin disebut Pribadi jika Ia tidak memiliki Firman, kecuali Allah yang bisa dan tak memiliki Firman.
Menyembah Allah berarti menyembah Firman-Nya dan Roh-Nya. Ketiganya setara dan sama-sama kekal. Mustahil seseorang percaya kepada Allah di satu sisi, dan menolak Firman dan Roh-Nya di sisi lain. Semua ilah dan Tuhan di dunia ini bernatur Trinitas, kecuali bagi ilah atau Tuhan yang tidak berfirman sama sekali. Jadi, sangat keliru jika menuduh Kristen menyembah tiga Allah. Itu justru adalah cara berpikir kekanak-kanakan.
Keenam, orang Kristen tahu bahwa ada saatnya berbicara, ada saatnya berdiam diri. Ketika caci maki dibalas caci maki, hinaan dibalas hinaan, maka caci maki dan hinaan akan terus hidup dalam mulut para pencaci dan penghina. Ketika melihat situasi yang semberawut dan kita tahu bahwa para pencaci, pengkritik dan penghina memiliki pengetahuan yang minim, seadanya, itupun sesat, kita perlu berdiam diri. Dan jika saatnya untuk berbicara, maka berbicaralah untuk menyampaikan kebenaran dalam konteksnya masing-masing. Jika saatnya berdiam diri, berdiam dirilah, untuk menghindari perbantahan dan permusuhan.
Ketujuh, orang Kristen tahu bahwa ada saatnya tegas dan menasihati. Ketika doktrin-doktrin Kristen diolah oleh tangan-tangan penyesat, pembenci, pencaci, pengkritik, dan penghina, maka nasibnya tentu menjadi tak berbentuk. Saatnya kita tegas dan menasihati. Jika diterima, syukurilah; jika ditolak, maklumilah. Orang-orang bodoh yang merasa diri benar memang sulit diluruskan. Tetapi orang-orang yang tahu bahwa dirinya bodoh akan dengan mudah dinasihati. Doakan mereka.
Dari serangkaian serangan, kritikan, dan caci maki serta sahabat-sahabatnya, Kekristenan telah membuktikan bahwa upaya untuk merendahkan Kristen dan terlebih merendahkan Yesus Kristus—di satu sisi berbuahkan kondisi yang mengecewakan, tetapi di sisi lain berbuahkan buah-buah yang manis yaitu mereka yang menyerang, mengkritik, mencaci maki, dan menertawakan iman Kristen dan Yesus Kristus, justru dipanggil-Nya untuk menerima keselamatan dan pengampunan dosa-dosanya.
Beriman secara dewasa adalah wujud keimanan yang kuat kepada Yesus Kristus. Kita perlu memahami latar belakang atau tipikal para pengkritik, pencaci, penghina, dan lain sebagainya, sehingga tidak terjebak dalam kelicikan mereka. Kebijaksanaan dan hikmat yang Tuhan berikan seyogianya dipergunakan sesuai perlunya.
Tetaplah beriman secara dewasa dan menjadi teladan dalam kata, perbuatan, dan pikiran. Janganlah membalas kejahatan dengan kejahatan; janganlah membalas caci maki dengan caci maki; jadilah teladan dalam perbuatan baik; tetaplah sabar menghadapi para penyesat yang tersesat dan tidak tahu ia tersesat. Nyatakan kasih kita dalam hal saling mengasihi, mengampuni, dan mendoakan.
Pengikut Yesus Kristus yang sejati adalah mereka yang memiliki iman yang kuat, kasih yang besar, pengampunan yang tiada batas, dan doa yang mengubahkan segala sesuatu. Ketika iman itu bertumbuh dewasa, maka segala sesuatu haruslah diberikan kepada Tuhan dan biarkanlah Tuhan bekerja sesuai dengan kehendak dan kedaulatan-Nya.
Lalu Simeon memberkati mereka dan berkata kepada Maria, ibu Anak itu: “Sesungguhnya Anak [Yesus] ini ditentukan untuk menjatuhkan atau membangkitkan banyak orang di Israel dan untuk menjadi suatu tanda yang menimbulkan perbantahan (Lukas 2:34)
Sejarah membuktikan bahwa kekristenan telah berkembang dan menyebar ke berbagai penjuru dunia dengan sebuah kepercayaan yang unik dan luar biasa. Uniknya adalah Yesus Kristus yang datang ke dunia, yang mengenakan jubah “kemanusiaan” layaknya manusia di dunia, telah menjadi objek penyembahan. Tetapi mengapa Ia disembah? Bukankah Ia adalah manusia belaka? Bukankah orang Kristen itu aneh dan gila karena menyembah seorang manusia? Bukankah orang Kristen adalah kafir karena menyembah manusia? Kata siapa? Kata Kitab Suci agama tertentu. Tetapi mengapa Kitab Suci agama tertentu dapat menilai dan menganggap benar apa yang ia nyatakan sedangkan para penafsir kitab suci tersebut tidak paham soal gagasan inkarnasi Yesus Kristus?
Penyembahan kepada Yesus sering disalahpahami. Bagi pemikiran sebagian orang, manusia tak layak disembah. Saya sepakat dengan pemikiran seperti ini. Akan tetapi, “manusia” seperti apa yang dimaksudkan? Tentu manusia yang dipahami oleh mereka yang berpikir bahwa “manusia tidak bisa disembah” adalah manusia yang dalam kemanusiaannya sangat terbatas—ia dapat mati; ia makan; ia dilahirkan; ia menyusui; ia mengenakan pakaian; ia haus; mati, lelah, letih, menderita—yang kemudian dilekatkan kepada Yesus sehingga implikasinya adalah “manusia dengan ciri-ciri seperti itu tak mungkin dapat disembah dan tak mungkin dia adalah Tuhan. Lalu, apakah Yesus sama dengan ciri-ciri manusia seperti itu? Ada yang mengatakan, Ya! Tetapi perlu digarisbawahi di sini adalah kemanusiaan Yesus memenuhi kemanusiaan kita, tetapi kemanusiaan kita tidaklah memenuhi personalitas Yesus sebab Yesus itu berbeda. Di dalam diri-Nya terdapat dua natur: Ilahi dan manusiawi. Jadi, tentu ada pertimbangan lain selain dari gagasan bahwa Yesus adalah manusia biasa.
Kita melihat bahwa kisah atau peristiwa kelahiran Yesus sangatlah berbeda dengan manusia pada umumnya, sehingga kelirulah jika menganggap bahwa orang Kristen adalah sesat karena menyembah manusia Yesus. Injil-Injil Perjanjian Baru menyebutkan bahwa:
Yesus yang lahir adalah dikandung dari Roh Kudus
Yesus yang lahir adalah Juruselamat (menyelamatkan umat-Nya dari dosa mereka)
Yesus yang lahir adalah Kristus
Yesus yang lahir adalah Tuhan
Yesus yang lahir adalah Raja Yahudi
Yesus yang lahir adalah Raja atas kaum keturunan Yakub sampai selama-lamanya
Yesus yang lahir adalah sesuai dengan nubuatan Perjanjian Lama
Yesus yang lahir adalah Anak Allah Yang Mahatinggi
Yesus yang lahir adalah Imanuel
Yesus yang lahir adalah Anak Kudus
Jadi, tuduhan orang-orang bermental rendahan, bernalar tidak tuntas, berpola pikir pesimis, berpola pikir sentimental, tidak dapat memahami metode berpikir komprehensif tentang personalitas Yesus Kristus. Saya tidak mempersoalkan tuduhan sepihak tentang penolakan penyembahan kepada Yesus. Hanya saja, mereka yang menolaknya, tidak membuka mata lebar-lebar dan tidak membuka pikiran mereka untuk melihat bahwa Alkitab menyediakan bukti-bukti yang melimpah baik kemanusiaan Yesus maupun keilahian Yesus.
Lalu apa tanggapan Kristen terkait tuduhan bahwa orang Kristen itu kafir karena menyembah Yesus yang adalah manusia belaka? Sudah barang tentu, kualitas pemikiran dan pemahaman Kristen melampaui dari mereka yang berpikir sebaliknya yaitu mereka yang berpikiran bertentangan dengan data biblika. Tetapi saya memastikan di sini bahwa memang tidak semua orang Kristen yang dapat memiliki pemahaman sebegitu rumit terkait inkarnasi Yesus Kristus. Di akar rumput hanya dapat dipastikan bahwa Yesus adalah “Allah yang menjadi manusia”. Soal bagaimana Allah dapat menjadi manusia bukanlah doktrin yang perlu dipahami sampai sebegitu dalam. Sedangkan di kalangan akademis, memahami konteks inkarnasi perlu pemikiran ilmiah berdasarkan data biblika sehingga bisa memberikan jawaban yang valid terhadap berbagai kritikan yang mencoba mengais rejeki dari popularitas Yesus Kristus.
Namun, saya dapat memastikan bahwa semua kritikan yang ditujukan kepada kemanusiaan Yesus tidaklah secara cermat melihat disparitas natur personalitas Yesus. Kelemahan atau bahkan kebodohan dari mereka yang mengkritik inkarnasi Yesus mencuat ke permukaan dan mendapatkan sambutan dari mereka yang kurang lebih sepaham. Namun Kristen tidak kehilangan taji untuk menunjukkan bentuk-bentuk “logical fallacy” dan ignoransi doktrinal biblikal.
Berikut ini saya hendak memaparkan berbagai pemikiran yang salah paham, bahkan sesat, terkait inkarnasi Yesus dan alasan Kristen menyembah Yesus sebagai Tuhan dan Juruselamat dunia.
Pertama, Yesus lebih rendah dari Sang Bapa (Logos yang keluar dari Sang Bapa)
Pemahaman atau pandangan seperti ini melihat disparitas kronologis dari inkarnasi. Artinya, karena Yesus diutus Bapa ke dalam dunia, maka Sang Pengutus tentu lebih tinggi dari pada yang diutus. Memang, secara kronologis-historis, Yesus datang dalam sejarah manusia yang dapat dipahami bahwa Yesus memiliki awal sejarah. Tetapi secara substansial tentu tidaklah demikian. Yesus disebut sebagai “Logos Ilahi”—Logos Sang Bapa [Allah] yang kekal. Jika seseorang berpikir bahwa firman Allah lebih rendah dari Allah maka implikasinya adalah Allah juga rendah, sebab tidak ada yang dapat dibandingkan dengan Allah selain Firman-Nya. Firman keluar dari dalam diri Sang Bapa — Sang Bapa itu kekal — sejak kekal Sang Bapa memiliki Firman — Firman tidak diciptakan — Firman berdiam dalam diri Sang Bapa — Firman tidak memiliki awal sebagaimana Sang Bapa tidak memiliki awal dalam konteks penciptaan, maka Firman itu adalah kekal.
Ketika Firman [Logos] berinkarnasi ke dalam dunia dan mengambil bentuk manusiawi, itu tidak berarti bahwa esensi—eksistensi Logos menjadi berawal. Yang berawal adalah natur ragawi manusiawi di mana Logos menempatkan diri-Nya di dalam natur tersebut, sedangkan natur keilahian dan eksistensi kekekalan Logos tetaplah kekal. Maka, semua tuduhan bahwa Yesus lebih rendah dari Sang Bapa pasti berpatokan pada natur ragawi Yesus—selain dari pada pemahaman disparitas kronologis yang saya sebutkan di atas.
Lagipula, manusia Yesus dan manusia pada umumnya memiliki disparitas substansial. Mereka yang memahami bahwa Yesus tak mungkin disembah karena Ia adalah manusia belaka berangkat dari pemahaman yang dangkal soal natur “manusia” biasa (seperti kita) yang dilekatkan pada Yesus. Tetapi, manusia Yesus tentu berbeda. Proses historisnya berbeda. Eksistensinya berbeda. Proses pembentukannya berbeda: tanpa hubungan seksual. Manusia biasa menempuh jalur hubungan seksual, sedangkan kelahiran Yesus tidak. Jadi memang benar bahwa Yesus adalah manusia, tetapi kita tidak berhenti sampai di situ. Masih ada banyak implikasi dan latar belakang yang harus digali untuk menemukan kualitas penyembahan kepada Yesus. Mereka yang masih berdebat soal mengapa Yesus disembah karena alasan bahwa Ia hanyalah manusia biasa (seorang Nabi), adalah mereka yang masih berpikiran dangkal dan tak melihat komprehensivitas data biblika.
Yesus setara dengan Sang Bapa bukan dilihat dari konteks kemanusiaan-Nya melainkan dari substansi (eksistensi-Nya) sebagaimana yang ditegaskan Rasul Yohanes: “Pada mulanya adalah Firman; Firman itu bersama-sama dengan Allah dan Firman itu adalah Allah. Ia pada mulanya bersama-sama dengan Allah. Segala sesuatu dijadikan oleh Dia dan tanpa Dia tidak ada suatupun yang telah jadi dari segala yang telah dijadikan” (Yoh. 1:1-3). Perhatikan penegasan-penegasan Rasul Yohanes yang akan saya jelaskan berikut ini.
(1) Pada mulanya adalah Firman [Logos]. Pernyataan ini menunjukkan dan membuktikan bahwa Firman memiliki eksistensi kekal. Pada mulanya Firman itu telah ada. Artinya, sebelum segala sesuatu ada (diciptakan), Firman itu telah ada. “Ada”-nya Sang Logos tidak dapat diprediksi. Awal Logos bukanlah dimaksudkan sebagai awal dari ciptaan, melainkan penegasan bahwa Logos itu kekal dan ada. Jika manusia dapat mengetahui kapan ia mulai berpikir maka mungkin saja ia dapat memahami bahwa Logos itu memiliki awal sebagaimana ia tahu kapan ia mulai berpikir.
(2) Firman itu bersama-sama dengan Allah. Secara tegas Rasul Yohanes menyebutkan bahwa Allah dan Firman “ada” sejak kekal. Artinya, Firman dan Allah “sama-sama”—tidak ada yang mendahului. Kata “bersama-sama” menegaskan keberdiaman satu sama lain. Allah tidak mendahului Firman dan Firman tidak mendahului Allah. Allah di sini merujuk kepada “Bapa” yang kekal seperti yang nyata di ayat 14 dan 18:
Firman itu telah menjadi manusia, dan diam di antara kita, dan kita telah melihat kemuliaan-Nya, yaitu kemuliaan yang diberikan kepada-Nya sebagai Anak Tunggal Bapa, penuh kasih karunia dan kebenaran.
Tidak seorangpun yang pernah melihat Allah; tetapi Anak Tunggal Allah, yang ada di pangkuan Bapa, Dialah yang menyatakan-Nya.
Penegasan Rasul Yohanes di atas menandai kualitas Logos dan kekekalan Logos. Logos ini yang kemudian “menjadi manusia”. Ia diam di antara kita—diam di dunia, hidup di dunia, mengenakan kemanusiaan manusia seperti kita. Sebagai tingkat disparitas kemanusiaan Yesus dengan kemanusiaan kita pada umumnya, maka Rasul Yohanes menyebutkan supremasi-supremasi personal Yesus untuk meneguhkan bahwa Yesus layak disembah sebab Dia adalah Allah dan Tuhan.
(a) Yesus adalah Firman yang bersama-sama dengan Allah dan Dia adalah Pencipta. Allah—Sang Bapa—mencipta dengan Logos-Nya, maka tanpa Logos tak mungkin Allah mencipta. Maka alasan penyembahan kepada Yesus bukanlah sebuah kebodohan dan bukanlah sebuah “gagal paham” seperti yang dituduhkan oleh mereka yang sebenarnya “tidak belajar baik-baik” tentang data biblika. Justru sebaliknya, “gagal paham” soal Kristen memenuhi pola pemikiran mereka.
(b) Yesus [Logos yang menjadi manusia] memiliki kemuliaan yaitu kemuliaan yang diberikan kepada-Nya sebagai Anak Tunggal Bapa. Ada dua supremasi di sini yaitu “diberikan kemuliaan” dan disebut sebagai “Anak Tunggal Bapa”. Yesus “diberikan kemuliaan” bukan berarti Dia tidak memiliki kemuliaan. Kemuliaan yang diterima-Nya berada dalam konteks inkarnasi-Nya (menjadi manusia), dan bukan dalam eksistensi kekekalan-Nya (bdk. Yoh. 1:1). Maka, di sini, kemanusiaan Yesus berbeda dengan kemanusiaan pada umumnya.
Itu sebabnya, penyembahan kepada Yesus sangatlah pantas. Sebutan sebagai “Anak Tunggal Bapa” menjelaskan sumber dari mana Anak (Yesus dalam inkarnasi-Nya). Kata “tunggal” digunakan kata μονογενοῦς dari kata μονογενής yang berarti “only” (satu-satunya, tunggal), unique (unik, khusus).
Jika menggabungkan arti tersebut, maka tentu Yesus itu unik (khas) yang berbeda kualitas kemanusiaan-Nya denga kemanusiaan kita. Sebutan Anak Tunggal Bapa juga menegaskan “kepemilikan” yang artinya Yesus “lahir” dan “keluar” dari pribadi Sang Bapa. Lalu apakah Dia tidak layak disembah tatkala kualitas kemanusiaan-Nya berbeda dengan manusia pada umumnya dan bahkan Ia secara esensi berbeda dengan kita? Mereka yang masih bergulat dengan negasi keilahian (atau ke-Tuhan-an Yesus) hanya karena Ia manusia, adalah mereka yang masih memiliki pola pemikiran “merayap”. Globalnya, tidak ada satu manusia pun “yang sama” dengan Yesus. Jadi, negasi penyembahan kepada-Nya tidak memiliki cukup alasan logis dan ilmiah sebagaimana telah saya buktikan di atas.
(c) Yesus penuh kasih karunia dan kebenaran. Manusia biasa mustahil penuh kasih karunia dan kebenaran. Hanya pribadi yang bersifat ilahi (yang disembah) dan pribadi yang memiliki natur ke-Tuhan-an (yang berkuasa) yang memiliki kebenaran dan kasih karunia. Itu sebabnya, jika tuduhan Yesus hanya manusia biasa dan tak layak disembah, maka itu salah kaprah. Jelas, bahwa Yesus adalah manusia yang memiliki kualitas ilahi yang substansial seperti yang nyata dalam catatan Rasul Yohanes.
(d) Yesus dalam inkarnasi-Nya menyatakan Sang Bapa kepada manusia: “Tidak seorangpun yang pernah melihat Allah; tetapi Anak Tunggal Allah, yang ada di pangkuan Bapa, Dialah yang menyatakan-Nya” (1:18). Kata “pangkuan” (Yun. κόλποςmemiliki beragam arti [dan terjemahan]: bosom, side, heart). Pemahaman tentang karya Yesus dalam inkarnasi-Nya tidak dapat dipisahkan dengan rencana kekal Sang Bapa di mana Ia berkenan kepada Anak-Nya, yaitu Yesus Kristus. Istilah “pangkuan” dapat dipahami sebagai “perkenanan”. Artinya, Yesus sebagai Anak Tunggal Bapa, adalah Anak yang berkenan kepada Sang Bapa. Pemahaman ini dipertegas dengan suara dari langit yang menyatakan:
Dan tiba-tiba sedang ia berkata-kata turunlah awan yang terang menaungi mereka dan dari dalam awan itu terdengar suara yang berkata: “Inilah Anak yang Kukasihi, kepada-Nyalah Aku berkenan, dengarkanlah Dia” (Mat. 17:5)
Kata “Anak” bukan dipahami sebagai “Allah yang beranak” seperti yang dituduhkan oleh sebagian orang yang tak tahu akar persoalan penyebutan frasa “Anak Allah” kepada Yesus. Mereka memahaminya secara biologis padahal hal itu justru menunjukkan betapa bodohnya pola pikir seperti itu. Kristen tidak percaya bahwa Allah bisa beranak layaknya tuduhan sebagian orang. Allah beranak justru pola pikir kafir. Maka Kristen bukanlah kafir seperti yang dituduhkan. Sayangnya, ada yang bersikeras untuk menyatakan bahwa Kristen itu kafir karena menganggap Yesus sebagai Anak Allah. Jadi, sebagian orang mengukur kesalahan Kristen berdasarkan kitab sucinya, padahal cara demikian tidaklah ilmiah dan bukan sebuah sikap yang jujur. Anak Allah yang dipahami Kristen tidaklah biologis sebab Alkitab tidak mengajarkannya. Model “straw man” adalah ciri khas kelompok yang logikanya sedang dirasuk oleh cara berpikir kafir.
(3) Firman [Logos] itu adalah Allah. Alasan Rasul Yohanes menyebutkan bahwa Logos itu adalah adalah berangkat dari identitas bahwa Logos itu ada pada mulanya dan Ia ada bersama-sama dengan Allah dalam kekekalan. Hanya pribadi yang kekal (tak berawal) yang adalah pribadi yang ilahi (yang disembah). Yesus—Sang Logos—layak disembah karena Ia bersifat ilahi. Bukti-bukti yang telah saya paparkan cukup untuk membuktikan penyembahan kepada Yesus.
(4) Ia pada mulanya bersama-sama dengan Allah. Kesetaraan Logos dengan Sang Bapa didasari pada “eksistensi” yang kekal di antara keduanya. Jika di ayat 1 disebutkan bahwa “pada mulanya adalah Firman” maka di ayat 2 disebutkan bahwa “Allah juga ada pada mulanya”. Konsekuensi logisnya adalah baik Allah dan Logos, keduanya sama-sama kekal dan ada pada mulanya. Dengan demikian, Logos yang menjadi manusia bukanlah Logos yang biasa. Sudah jelas bahwa identitas Logos baik sebelum berinkarnasi maupun dalam inkarnasi-Nya, telah begitu terang dijelaskan Rasul Yohanes.
(5) Segala sesuatu dijadikan oleh Dia dan tanpa Dia tidak ada suatupun yang telah jadi dari segala yang telah dijadikan. Dengan Logos, Allah—Sang Bapa—mencipta. Keharusan Bapa memiliki Logos bukanlah karangan manusia melainkan pernyataan Bapa itu sendiri dan melalui Inkarnasi Logos menjadi manusia membuktikan bahwa peristiwa Natal adalah bersifat unik—dan itu pasti—sehingga mereka yang salah paham soal ini dapat segera gulung tikar dan mengikuti petunjuk Alkitab. “Allah berfirman” membuktikan Allah memiliki firman sejak kekal. Kekekalan Allah adalah kekekalan Firman. Kekekalan Firman adalah kekekalan Allah sebab Firman berdiam dalam diri Allah yang kekal. Pernyataan Rasul Yohanes bahwa “Segala sesuatu dijadikan oleh Dia [Logos] dan tanpa Dia [Logos] tidak ada suatupun yang telah jadi dari segala yang telah dijadikan” justru semakin memperteguh identitas Yesus sebelum inkarnasi dan menambah daftar panjang bahwa Yesus adalah pribadi yang layak disembah.
Mereka yang salah paham soal peristiwa Natal (inkarnasi Logos) dan bahkan tak mau mengucapkan “Selamat Hari Natal” adalah menunjukkan sentimen keagamaan yang rendah. Sudah salah paham, pakai sumber yang salah, tafsir yang salah, dan menuduh sepihak dan juga salah. Masihkah mereka yang mencaci maki dan salah paham soal Natalku yang aku yakini adalah anugerah Sang Bapa bagi manusia berdosa? Bukankah manusia berdosa kepada Bapa dan hanya Bapa saja yang dapat mengampuni dengan cara-Nya sendiri? Jika demikian, mengapa memprotes dan menegasikan inkarnasi Yesus Kristus ke dunia?
Mungkin mereka yang menolak akan menjawab: “Bukan karena itu kami menolak, tetapi karena kalian menyembah Yesus yang hanyalah manusia”. Jika itu jawabannya, maka pertanyaan klarifikasinya adalah: “Manusia seperti apa yang kalian maksudkan?” Jelas bahwa kualitas kemanusiaan Yesus sangatlah berbeda dengan kemanusiaan manusia pada umumnya. Benar bahwa Yesus adalah manusia. Tetapi dengan mengabaikan bukti-bukti lain, rasanya tidak adil dan bahkan justru mencoreng pola hermeneutik biblika. Mereka yang hanya bermodalkan tafsir seadanya apalagi didasari pada sumber-sumber yang tidak jelas, menghadirkan pemahaman yang rendah dan seadanya pula. Alkitab begitu tegas menguraikan supremasi-supremasi kemanusiaan dan bahkan keilahian Yesus. Tak ada yang dapat menyanggahnya.
Kedua, Jika Yesus Anak Tuhan, Bidannya Siapa?
Topik ini menarik. Menarik bukan karena pertanyaannya karena yang bertanya memperlihatkan keanehan yang amat sangat. Ini sekaligus lucu dan menggelikan. Pertanyaan tersebut muncul karena pemahaman sang penanya sangat rendah dan tidak memahami Alkitab secara baik. Saya memakluminya. Pola pikir yang hanya diisi dengan konsep kebencian, konsep kafir, dan konsep ahistoris, maka hasilnya juga demikian. Sentimen agama begitu kental sehingga pertanyaan di atas lebih menunjukkan logika rendahan atau logika kelas jalanan bahkan sentimen agama, ketimbang logika ilmiah dan pola pikir yang berkualitas.
Jelas bahwa pertanyaan tersebut berangkat dari kebodohan bersalutkan sentimen dan kebencian terhadap Kristen. ketidakmampuan mengolah data biblika dan cara memahami doktrin Kristen yang rumit menjadikan mereka yang hobi menyudutkan Kristen hanya bermodalkan mulut yang tanpa gigi. Hanya bisa bicara tapi tidak bisa mengunyah. Alkitab tidak menjelaskan bahwa Yesus itu anak Tuhan. Yesus adalah Anak Allah yang Hidup sebagaimana yang disebutkan dalam catatan Injil-Injil berikut ini:
Mat. 8:29. Dan mereka itupun berteriak, katanya: “Apa urusan-Mu dengan kami, hai Anak Allah? Adakah Engkau ke mari untuk menyiksa kami sebelum waktunya?”
Mat. 14:33. Dan orang-orang yang ada di perahu menyembah Dia, katanya: “Sesungguhnya Engkau Anak Allah.”
Mat. 16:16. Maka jawab Simon Petrus: “Engkau adalah Mesias, Anak Allah yang hidup!”
Mat. 27:54. Kepala pasukan dan prajurit-prajuritnya yang menjaga Yesus menjadi sangat takut ketika mereka melihat gempa bumi dan apa yang telah terjadi, lalu berkata: “Sungguh, Ia ini adalah Anak Allah.”
Mrk. 1:1. Inilah permulaan Injil tentang Yesus Kristus, Anak Allah.
Mrk. 3:11. Bilamana roh-roh jahat melihat Dia, mereka jatuh tersungkur di hadapan-Nya dan berteriak: “Engkaulah Anak Allah.”
Mrk. 5:7. dan dengan keras ia berteriak: “Apa urusan-Mu dengan aku, hai Yesus, Anak Allah Yang Mahatinggi? Demi Allah, jangan siksa aku!”
Mrk. 15:39. Waktu kepala pasukan yang berdiri berhadapan dengan Dia melihat mati-Nya demikian, berkatalah ia: “Sungguh, orang ini adalah Anak Allah!”
Luk. 1:32. Ia akan menjadi besar dan akan disebut Anak Allah Yang Mahatinggi. Dan Tuhan Allah akan mengaruniakan kepada-Nya takhta Daud, bapa leluhur-Nya
Luk. 1:35. Jawab malaikat itu kepadanya: “Roh Kudus akan turun atasmu dan kuasa Allah Yang Mahatinggi akan menaungi engkau; sebab itu anak yang akan kaulahirkan itu akan disebut kudus, Anak Allah.
Luk. 4:3. Lalu berkatalah Iblis kepada-Nya: “Jika Engkau Anak Allah, suruhlah batu ini menjadi roti.”
Luk. 22:70. Kata mereka semua: “Kalau begitu, Engkau ini Anak Allah?” Jawab Yesus: “Kamu sendiri mengatakan, bahwa Akulah Anak Allah.”
Yoh. 1:34. Dan aku telah melihat-Nya dan memberi kesaksian: Ia inilah Anak Allah.”
Yoh. 1:49. Kata Natanael kepada-Nya: “Rabi, Engkau Anak Allah, Engkau Raja orang Israel!”
Yoh. 10:36. masihkah kamu berkata kepada Dia yang dikuduskan oleh Bapa dan yang telah diutus-Nya ke dalam dunia: Engkau menghujat Allah! Karena Aku telah berkata: Aku Anak Allah?
Yoh. 11:27. Jawab Marta: “Ya, Tuhan, aku percaya, bahwa Engkaulah Mesias, Anak Allah, Dia yang akan datang ke dalam dunia.”
Yoh. 20:31. tetapi semua yang tercantum di sini telah dicatat, supaya kamu percaya, bahwa Yesuslah Mesias, Anak Allah, dan supaya kamu oleh imanmu memperoleh hidup dalam nama-Nya.
Semua teks di atas, tidak ada satupun yang memahami Yesus sebagai Anak Allah (termasuk Yesus sendiri) dari perspektif biologis sebagaimana yang dipahami oleh mereka yang melakukan tuduhan bahwa “Allah tidak beranak” dan berpikir bahwa ungkapan tersebut ditujukan kepada Yesus padahal jarak tempuh pemahaman mereka terhadap Alkitab sangatlah jauh. Gelar “Anak Allah” adalah gelar yang menegaskan kuasa, kemuliaan, dan kebenaran, yang dilakukan Yesus, dan bukan “anak” dalam arti biologis di mana ada hubungan antara Allah dengan istrinya, seperti yang tampak dalam negasi-negasi murahan yang dilakukan oleh mereka yang membenci Kristen. Alkitab menegaskan bahwa Allah itu roh. Jadi istilah “Anak Allah” haruslah dipahami dalam konteks tersebut. Malaikat Tuhan menyatakan: “Ia akan menjadi besar dan akan disebut Anak Allah Yang Mahatinggi (Luk. 1:32). Penyebutan Yesus sebagai Anak Allah Yang Mahatinggi jelas tidak menunjukkan unsur biologis melainkan unsur mukjizat di mana rahim Maria dipakai Allah untuk menyatakan dan mempertunjukkan mukjizat yang luar biasa itu.
Jadi, mereka yang menganggap Yesus sebagai “Anak Tuhan” tentulah salah kaprah. Mereka yang menganggap Yesus sebagai “Anak Allah” dalam arti biologis juga salah kaprah. Kalau Kristen tidak memahami bahwa “Anak Allah” tidaklah dalam arti biologis, lalu mengapa ada agama yang memahaminya sebagai anak dalam arti biologis? Tentu ini sangat lucu dan menggelikan. Rasanya tidak habis pikir. Yang punya Kitab Sucia siapa, yang menolak siapa, dan yang menuduh siapa. Bukankah hal ini terkesan sangat aneh?
Oleh sebab itu, “Jika Yesus Anak Tuhan, bidannya siapa? adalah sebuah pertanyaan yang didasari pada sebuah kebodohan, sebuah sentimen agama, sebuah kesalahan tafsir, sebuah tindakan salah alamat, dan sebuah pemikiran yang sangat dangkal karena dengan bertanya seperti itu, orang Kristen kemudian dianggap kafir. Tidak, sama sekali tidak. Justru mereka yang menuduhnya secara sembarangan dan tanpa dasar yang solid dan konkret, merekalah yang kafir—kafir karena mereka menutup diri dari lautan pengajaran Alkitab yang mengundang siapa saja untuk mandi dan berenang, menikmati keindahan ajaran Inkarnasi: Logos menjadi manusia, menawarkan damai sejahtera, menebus, dan menyelamatkan manusia yang berdosa. Adakah manusia yang merasa dirinya tidak berdosa? Jika ada yang merasakannya, maka pasti dia adalah manusia berdosa.
Ketiga, Yesus Bukan Tuhan, Dia adalah manusia.
Di atas saya telah menjelaskan disparitas kemanusiaan Yesus dan kemanusiaan kita pada umumnya. Di sini saya hanya menambahkan beberapa pengertian tentang topik ini. Yesus disebut Tuhan karena Ia memiliki kuasa atas segala sesuatu. Berikut adalah teks-teks bukti:
Yoh 10:18 Tidak seorangpun mengambilnya dari pada-Ku, melainkan Aku memberikannya menurut kehendak-Ku sendiri. Aku berkuasa memberikannya dan berkuasa mengambilnya kembali. Inilah tugas yang Kuterima dari Bapa-Ku.”
Mat. 9:6. Tetapi supaya kamu tahu, bahwa di dunia ini Anak Manusia berkuasa mengampuni dosa….
Yoh. 5:21. Sebab sama seperti Bapa membangkitkan orang-orang mati dan menghidupkannya, demikian juga Anak menghidupkan barangsiapa yang dikehendaki-Nya.
Luk. 24:19. Kata-Nya kepada mereka: “Apakah itu?” Jawab mereka: “Apa yang terjadi dengan Yesus orang Nazaret. Dia adalah seorang nabi, yang berkuasa dalam pekerjaan dan perkataan di hadapan Allah dan di depan seluruh bangsa kami.
Mat. 10:28. Dan janganlah kamu takut kepada mereka yang dapat membunuh tubuh, tetapi yang tidak berkuasa membunuh jiwa; takutlah terutama kepada Dia yang berkuasa membinasakan baik jiwa maupun tubuh di dalam neraka.
Mat. 3:11. Aku membaptis kamu dengan air sebagai tanda pertobatan, tetapi Ia yang datang kemudian dari padaku lebih berkuasa dari padaku dan aku tidak layak melepaskan kasut-Nya. Ia akan membaptiskan kamu dengan Roh Kudus dan dengan api.
Mat. 7:29. Sebab Ia mengajar mereka sebagai orang yang berkuasa, tidak seperti ahli-ahli Taurat mereka.
Mrk. 1:7. Inilah yang diberitakannya: “Sesudah aku akan datang Ia yang lebih berkuasa dari padaku; membungkuk dan membuka tali kasut-Nyapun aku tidak layak.
Mrk. 1:22. Mereka takjub mendengar pengajaran-Nya, sebab Ia mengajar mereka sebagai orang yang berkuasa, tidak seperti ahli-ahli Taurat.
Mrk. 2:10. Tetapi supaya kamu tahu, bahwa di dunia ini Anak Manusia berkuasa mengampuni dosa….
Luk. 3:16. Yohanes menjawab dan berkata kepada semua orang itu: Aku membaptis kamu dengan air, tetapi Ia yang lebih berkuasa dari padaku akan datang dan membuka tali kasut-Nyapun aku tidak layak. Ia akan membaptis kamu dengan Roh Kudus dan dengan api.
Luk. 5:24. Tetapi supaya kamu tahu, bahwa di dunia ini Anak Manusia berkuasa mengampuni dosa….
Berdasarkan teks-teks di atas, Yesus yang adalah Tuhan, layak disembah karena Ia berkuasa (memiliki kuasa). Kuasa yang dimiliki Yesus adalah sama dengan Bapa (Yoh. 5:21). Jadi, benar bahwa Yesus adalah manusia. Tetapi mereka yang menolak ke-Tuhan-an-Nya perlu menggaruk kepala, bertapa, dan dalam pertapaannya tersebut ia perlu merenungkan kekayaan Alkitab dan memberi diri melihat secara terang bahwa Yesus adalah Logos Allah yang berinkarnasi. Ia menyatakan Sang Bapa. Ia adalah sosok yang unik, satu-satunya, tak ada yang lain. Ia adalah manusia sejati dan Allah sejati. Kemanusiaan-Nya terlihat jelas. Begitu pula dengan keilahian dan ke-Tuhan-an-Nya. Manusia yang dikenakan Sang Logos adalah fakta. Begitu pula dengan keilahian dan ke-Tuhan-an-Nya adalah fakta juga. Kelahiran Yesus adalah unik dan mengesankan. Bapa yang begitu peduli dengan manusia berdosa dan Ia mengaruniakan Sang Logos untuk menempati dunia dan tinggal di dalamnya. Merasakan bagaimana ciptaan-Nya merasa. Itulah Yesus Kristus yang luar biasa. Penyembahan kepada-Nya adalah konsekuensi logis yang dapat dilihat, dirasakan, dan dipikirkan oleh manusia yang percaya sepanjang zaman. Tidak hanya itu, para penulis Alkitab mencermati, mengamati, melihat, merasakan, mengalami, hidup bersama Sang Logos. Seperti yang dituliskan oleh Rasul Yohanes bahwa:
Apa yang telah ada sejak semula, yang telah kami dengar, yang telah kami lihat dengan mata kami, yang telah kami saksikan dan yang telah kami raba dengan tangan kami tentang Firman hidup — itulah yang kami tuliskan kepada kamu. Hidup itu telah dinyatakan, dan kami telah melihatnya dan sekarang kami bersaksi dan memberitakan kepada kamu tentang hidup kekal, yang ada bersama-sama dengan Bapa dan yang telah dinyatakan kepada kami. Apa yang telah kami lihat dan yang telah kami dengar itu, kami beritakan kepada kamu juga, supaya kamupun beroleh persekutuan dengan kami. Dan persekutuan kami adalah persekutuan dengan Bapa dan dengan Anak-Nya, Yesus Kristus. Dan semuanya ini kami tuliskan kepada kamu, supaya sukacita kami menjadi sempurna. Dan inilah berita, yang telah kami dengar dari Dia, dan yang kami sampaikan kepada kamu: Allah adalah terang dan di dalam Dia sama sekali tidak ada kegelapan. Jika kita katakan, bahwa kita beroleh persekutuan dengan Dia, namun kita hidup di dalam kegelapan, kita berdusta dan kita tidak melakukan kebenaran. Tetapi jika kita hidup di dalam terang sama seperti Dia ada di dalam terang, maka kita beroleh persekutuan seorang dengan yang lain, dan darah Yesus, Anak-Nya itu, menyucikan kita dari pada segala dosa (1 Yoh. 1:1-7).
Keempat, Natal itu perayaan kafir
Mungkin telah sering kita mendengar bahwa perayaan Natal adalah perayaan kafir. Memang, ada banyak bentuk ritual yang terwariskan dari berbagai perayaan orang-orang yang tidak mengenal Tuhan. Namun bukan berarti bahwa bentuk-bentuk ritual kafir itu masih dipertahankan ketika seseorang telah menjadi percaya kepada Tuhan. Kita perlu mengetahui bahwa manusia pasca jatuh dalam dosa, telah bebas menciptakan segala sesuatu yang bisa memuaskan hasrat hati dan keinginannya termasuk dalam hal penyembahan.
Hari Natal, dalam pemahaman sebagian orang dianggap sebagai warisan ritual kafir. Ada berbagai sumber yang saling tumpang tindih soal ini. Tapi di sini saya tidak membahas dan menganalisisnya. Saya hanya menegaskan bahwa Natal tetaplah Natal. Kristen tidak sedang berfantasi soal ilah-ilah yang tidak jelas. Kristen justru malah menegaskan hal-hal yang benar-benar jelas dan terang. Natal adalah peristiwa bersejarah, di mana Sang Bapa—Sang Pencipta itu memberi diri-Nya melalui Logos untuk datang mengunjungi, diam, menetap di dunia ciptaan-Nya. Natal bukanlah perayaan kafir. Natal secara jelas adalah wujud kecintaan Allah pada manusia yang berdosa dan kemudian sebagai wujud manusia yang mengasihi-Nya. Merayakan Natal dengan berbagai ornamen mewah dan sebagainya, tidaklah menyatakan bahwa pada waktu peristiwa Natal, semuanya serba mewah. Tidak. Natal adalah kesederhanaan. Lalu mengapa orang Kristen merayakannya dengan mewah dan penuh sukacita? Kita perlu melihat bahwa zaman telah berubah dan berbeda. Ungkapan syukur karena Natal membawa perubahan bagi dunia berdosa adalah salah satu alasan mengapa orang Kristen merayakannya dengan berbagai cara.
Namun, saya tentu tidak setuju dengan orang Kristen yang merayakan Natal dengan segala kemewahan hanya bertujuan memamerkan kekayaan atau untuk hura-hura, pesta pora yang tidak jelas, dan ajang untuk melakukan hal-hal yang tidak sesuai dengan prinsip-prinsip Alkitab. Natal adalah ungkapan syukur atas kasih Bapa yang luar biasa. Tak ada yang dapat menandingi ungkapan syukur Kristen di dalam perayaan Natal. Mereka yang berada di luar kandang syukuran ini, hanya dapat merendahkan, mencaci maki, menghina, dan melakukan berbagai aksi untuk menolak perayaan Natal. Semua ornamen Natal tidak identik dengan Natal Yesus Kristus. Apa yang dilakukan dalam memeriahkan Natal tentu dengan menggunakan berbagai ornamen. Hanya sebatas ornamen, dan bukan sebagai penyembahan berhala.
Kelima, Pohon Natal itu penyembahan berhala
Ada yang menyatakan bahwa pohon Natal adalah bentuk penyembahan kafir yang terwariskan dalam perayaan Natal Kristen. Namun, sebagaimana telah saya katakan di atas bahwa semua ornamen Natal hanyalah bentuk ungkapan hati. Soal pohon Natal yang disembah tentu saya sangat tidak setuju. Pohon dalam perayaan Natal tidaklah mewakili Natal itu sendiri. Pohon tersebut hanyalah bagian dari hiasan untuk menambah suasana sukacita. Berbagai ornamen yang dipasang dan digantung di pohon tersebut semakin mempercantik pohonnya. Meski ada yang menganggap bahwa pohon Natal adalah tata cara yang diikuti dari ritual penyembahan berhala terhadap pohon dan kemudian orang Kristen mengambil alih ritual tersebut dan menggantikannya dengan ungkapan syukur kepada Tuhan yang telah lahir ke dalam dunia. Namun, sampai sekarang, sejauh pengetahuan saya, tidak ada orang Kristen yang menyembah pohon Natal dan menjadikannya berhala.
Keenam, Orang Kristen kafir karena menyembah Yesus
Ada agama tertentu yang menuduh orang Kristen itu kafir karena menyembah Yesus. Tuduhan tersebut didasari pada kitab sucinya. Ini tergolong aneh. Mereka yang menuduh tidak membaca Alkitab secara baik, malah menuduh Alkitab telah dipalsukan. Ini makin lebih aneh lagi. Semakin menuduh dan mengkritik, semakin sesat dan menyesatkan. Saya sudah menjelaskan di atas soal bagaimana Yesus sebagai manusia dan Tuhan, yang disembah. Ada kualitas disparitas yang mencolok antara kemanusiaan Yesus dan kemanusiaan kita.
Penyembahan kepada Yesus didasarkan pada data biblika (data historis). Jika hendak mengetahui lebih dalam mengapa orang Kristen menyembah Yesus, maka bacalah Alkitab secara baik. Pahami konteksnya, pahami metodologi hermeneutik, pahami konteks korelasi antar teks dan antar perjanjian, pahami saksi mata, pahami para murid Yesus, pahami klaim-klaim Yesus, pahami perbuatan-perbuatan mukjizat Yesus. Niscaya kualitas pengetahuan tentang Inkarnasi Yesus dan dua natur personalitas Yesus akan dipahami dengan baik. Tidak perlu mencaci maki lebih dahulu. Tidak perlu curiga terlebih dahulu. Tidak perlu sentimen terlebih dahulu. Hanya sediakan waktu untuk belajar Alkitab.
Natalku yang disalahpahami oleh mereka yang membenci Yesus dan membenci Kristen sebenarnya menggenapi perkataan Yesus: “Berbahagialah kamu, jika karena Anak Manusia orang membenci kamu, dan jika mereka mengucilkan kamu, dan mencela kamu serta menolak namamu sebagai sesuatu yang jahat” (Luk. 6:22); “Jikalau dunia membenci kamu, ingatlah bahwa ia telah lebih dahulu membenci Aku dari pada kamu. Sekiranya kamu dari dunia, tentulah dunia mengasihi kamu sebagai miliknya. Tetapi karena kamu bukan dari dunia, melainkan Aku telah memilih kamu dari dunia, sebab itulah dunia membenci kamu (Yoh. 15:18-19).
Dengan Natal, saya dapat memahami bahwa Sang Bapa telah menyatakan kasih-Nya yang luar biasa bagi saya yang adalah manusia berdosa. Surga—Sang Bapa bersemayam bersama Sang Logos yang kekal—telah turut mengambil bagian dalam sejarah. Luar biasa kasih Sang Bapa. Saya dapat merasakan cinta kasih yang besar untuk dibagikan kepada semua orang termasuk kepada mereka yang menghina Yesusku, menghina dan merendahkan Natalku, mencaci maki ajaran-ajaran Kitab Suciku. Mereka juga adalah objek kasih Sang Bapa melalui Sang Logos. Bapa mengasihi dunia termasuk mereka yang menolak Sang Logos sebagai Allah dan Tuhan, serta Juruselamat dunia. Semoga ada berkat yang luar biasa bagi kita semua yang memahami Natal sebagai wujud cinta kasih dan sayang Bapa kepada dunia yang berdosa.
Bagikanlah damai sejahtera Natal kepada sesama kita. Hendaklah damai sejahtera Kristus bertahta (memerintah, mengontrol, menguasai, dan mengendalikan) di hati kita. Kita satu di dalam Tuhan. Satu dalam damai sejahtera, meski berbeda suku, bahasa, warna kulit, budaya, dan adat istiadat. Kiranya Natal memberikan pencerahan bagi pikiran dan hati kita untuk semakin mengasihi Tuhan dan melakukan apa yang berkenan kepada-Nya. Kasihilah sesamamu manusia seperti engkau mengasihi dirimu sendiri. kasihilah musuhmu dan berdoalah bagi mereka yang menganiaya kamu. Berdoalah bagi mereka yang menghina dan mencaci maki Natal kita.
Iman Kristen memiliki empat prinsip dasar: pertama, iman kepada penggenapan nubuat-nubuat PL tentang datangnya seorang Mesias yang terwujud dalam diri Yesus Kristus; kedua, iman kepada kematian Yesus Kristus yang bersifat substitutif yang berarti bahwa Ia [Yesus] menebus umat pilihan-Nya dari dosa-dosa lampau, dosa-dosa masa kini, dan dosa-dosa akan datang; ketiga, iman kepada kebangkitan Yesus dari kematian yang melalui peristiwa tersebut, ada konfirmasi bahwa orang-orang yang percaya kepada-Nya akan hidup walaupun ia sudah mati. Jaminan ini menandai kekuatan iman mengapa orang Kristen rela menderita dan mati demi Kristus; dan keempat, iman kepada kedatangan Yesus Kristus yang kedua kali, yang melalui peristiwa tersebut, pengharapan Kristen akan dikonfirmasikan dan digenapi bahwa Yesus yang datang memberikan jaminan dan menepati janji-Nya dan orang-orang yang percaya kepada-Nya akan ikut memerintah bersama-Nya di dalam kerajaan-Nya yang kekal.
Keempat dasar di atas telah dipertahankan sejak Yesus naik ke surga. Hingga sekarang tak terhitung berapa banyak martir Kristen yang siap mati demi Kristus. Mereka dianggap sebagai “binatang yang tak berakal budi” dan dianggap sebagai pengganggu tatanan kenegaraan. Tapi anehnya, mereka tidak berbuat kejahatan; mereka tidak membunuh; mereka justru mendoakan musuh-musuhnya; mereka mendoakan pemerintah dan berdoa bagi kesejahteraan kota tersebut; mereka rajin berbuat baik. Tetapi, karena kebencian mereka terhadap iman kepada Yesus Kristus, menjadikan orang Kristen sebagai sasaran empuk untuk diperlakukan secara tidak adil, diskriminatif, dan sering diburu untuk dibunuh.
Apa yang menarik dari iman Kristen? Apa yang unik dari iman Kristen? Mengapa mereka tidaka membalas kejahatan dengan kejahatan? Mengapa mereka tidak membuat gerakan balas dendam bagi pemerintah yang mendiskriminasikan mereka? Mengapa mereka begitu tabah dihina, dicaci maki, dikatakan manusia kafir, dikatakan penghuni neraka jahanam, tetapi tidak terganggu dengan semua ucapan fitnah dan tak berakal budi tersebut? Bukankah semua tuduhan fitnah yang ditujukan kepada Kristen adalah cerminan hati dan pikiran dan para pelaku fitnah dan pencaci maki? Jawabannya adalah “Karena Kristus telah mewariskan kasih yang luar biasa; kasih yang tak menuntut balas dan kasih tanpa pamrih”. Kristus telah mendahului pengikut-Nya: Ia dihina, Ia dicaci maki, Ia direndahkan, Ia difitnah, dan pada akhirnya Ia dibunuh secara kejam. Pertanyaannya adalah: “Bukankah Ia adalah Tuhan?” Mengapa Tuhan bisa dibunuh?” Memang benar Ia adalah Tuhan. Tetapi yang dibunuh bukanlah substansi keilahian-Nya (ke-Tuhanan-Nya) melainkan tubuh ragawi-Nya (tubuh manusiawi-Nya) karena memang yang disalibkan adalah tubuh-Nya dan bukan natur ke-Tuhanan-Nya.
Hal ini diperjelas sejak awal Yesus datang ke dunia: Natal. Kelahiran Yesus ke dunia (Natal). Peristiwa Natal itu sendiri adalah peristiwa bahagia sekaligus menyedihkan. Natal menceritakan Kristus yang tertolak, namun Ia menawarkan damai dan keselamatan. Yohanes menegaskan peristiwa tersebut dengan menulis: “Karena Allah begitu mengasihi dunia ini sehingga Ia mengaruniakan Anak-Nya yang Tunggal, supaya setiap orang yang percaya kepada-Nya tidak binasa melainkan beroleh hidup yang kekal” (Yoh. 3:16).
Natal yang menyedihkan adalah ketika Yusuf dan Maria tidak mendapatkan tempat yang layak (dalam pandangan manusia), tetapi hanya mendapatkan tempat istirahat binatang, dan bayi Yesus ditempatkan di tempat minum binatang: palungan. Apakah ini layak? Saya merasa bahwa dalam pandangan Allah Bapa, itulah tempat yang layak karena Yesus dibaringkan di palungan. Lalu mengapa harus palungan? Mengapa tidak di kasur yang empuk atau tempat yang layak dan nyaman? Yesus yang berasal dari tempat yang tertinggi, namun Ia rela turun dan menempati tempat yang paling terendah. Ini adalah sebuah paradoks. Ini adalah teladan pertama dari peristiwa Natal Yesus Kristus. Ini adalah warisan bagi para pengikut-Nya. Ketika orang Kristen mengalami hal serupa, ingatlah kisah Natal.
Penolakan pertama adalah ketika tidak ada tempat yang layak bagi Yusuf dan Maria yang sedang mengandung. Siapa yang menolak? Lukas mencatat, “dan ia [Maria] melahirkan seorang anak laki-laki, anaknya yang sulung, lalu dibungkusnya dengan lampin dan dibaringkannya di dalam palungan, karena tidak ada tempat bagi mereka di rumah penginapan” (Luk. 2:7). Tempat yang layak itu sebenarnya ada yaitu “rumah penginapan”. Tetapi Lukas tidak mencatat apakah rumah penginapan itu penuh; apakah karena Yusuf dan Maria tidak memiliki cukup uang untuk membayar penginapan, atau apakah karena Yusuf dan Maria kelihatan tidak meyakinkan untuk menginap di rumah penginapan. Lagipula, jika kita melihat dari aspek humanitas, apakah pemilik penginapan tidak merasa kasihan dengan Maria yang sedang mengandung dan akan segera melahirkan? Di mana rasa humanitas pemilik penginapan atau orang-orang yang tinggal di dalam penginapan tersebut? Penolakan ini membawa bayi Yesus ke tempat palungan, tempat di mana Ia dibaringkan.
Hal ini sangat menarik. Dalam kondisi tersebut, Maria melahirkan dengan selamat dan tidak terjadi apa-apa. Pertanyaannya: siapakah yang membantu Yusuf dan Maria dalam proses persalinan? Tidak ada indikasi apa pun di dalam catatan Injil-Injil. Namun dugaan saya, salah satu atau lebih pengurus penginapan, turut membantu proses persalinan jika kita tidak memikirkan opsi tunggal bahwa Yusuf sendirilah yang membantu proses persalinan istrinya. Tetapi, intinya adalah Maria menjalani proses persalinan secara sempurna dan bayinya lahir dengan selamat.
Penolakan kedua adalah ketika Raja Herodes dengan diam-diam memanggil orang-orang majus dan dengan teliti bertanya kepada mereka, bilamana bintang itu nampak. Kemudian ia menyuruh mereka ke Betlehem, katanya: “Pergi dan selidikilah dengan seksama hal-hal mengenai Anak itu dan segera sesudah kamu menemukan Dia, kabarkanlah kepadaku supaya akupun datang menyembah Dia” (Mat. 2:7-8). Apakah Herodes murni akan menyembah bayi Yesus? Tidak! Herodes justru “menolak” Sang Bayi Yesus yang adalah “Raja” sebagaimana pernyataan orang Majus tentang penglihatan mereka mengenai Bintang di Timur yang merupakan fenomena langka:
“Sesudah Yesus dilahirkan di Betlehem di tanah Yudea pada zaman raja Herodes, datanglah orang-orang majus dari Timur ke Yerusalem dan bertanya-tanya: ‘Di manakah Dia, raja orang Yahudi yang baru dilahirkan itu? Kami telah melihat bintang-Nya di Timur dan kami datang untuk menyembah Dia’” (Mat. 2:1-2).
Herodes mungkin merasa takut, merasa tersaingi, dan merasa terancam kedudukannya lain sebagainya. Herodes menolak kelahiran Yesus, Raja orang Yahudi. Orang-orang Majus bukanlah orang-orang sembarangan. Mereka adalah ahli-ahli nujum. Mereka melihat sebuah fenomena langkah mengenai “Bintang di Timur” sebagai indikasi dan konfirmasi mengenai datangnya seorang raja. Pesan Herodes kepada orang-orang Majus untuk mengabarkan hal ikhwal Anak [Yesus] yang lahir itu dengan tujuan supaya ia datang menyembah Dia adalah bukti penolakannya dengan menggunakan strategi licik. Syukurlah orang-orang Majus diperingatkan dalam mimpi, supaya jangan kembali kepada Herodes, maka pulanglah mereka ke negerinya melalui jalan lain (Mat. 2:12). Lalu malaikat Tuhan mengkonfirmasi bahwa niat Herodes adalah bukan untuk menyembah Yesus, melainkan untuk membunuh-Nya: “Setelah orang-orang majus itu berangkat, nampaklah malaikat Tuhan kepada Yusuf dalam mimpi dan berkata: ‘Bangunlah, ambillah Anak itu serta ibu-Nya, larilah ke Mesir dan tinggallah di sana sampai Aku berfirman kepadamu, karena Herodes akan mencari Anak itu untuk membunuh Dia’” (Mat. 2:13).
Dua penolakan di atas diseimbangkan dengan dua penerimaan dengan diperteguh oleh pernyataan malaikat-malaikat surga. Penerimaan pertama adalah oleh Yusuf dan Maria. Yusuf menerima Maria dalam kondisi “mengandung dari Roh Kudus”. Peristiwa mengandung dari Roh Kudus adalah peristiwa ajaib karena “Kuasa Allah yang Mahatinggi” telah menaungi Maria dan Roh Kudus turun atasnya. Peristiwa ini menandai mukjizat kelahiran Yesus yang supranatural. Dalam kondisi tersebut, Yusuf sebagai seorang yang tulus hati, tidak mau mencemarkan nama Maria, hendak menceraikannya secara diam-diam. Akan tetapi, malaikat Tuhan tampak kepadanya dalam mimpi dan berkata: “Yusuf, anak Daud, janganlah engkau takut mengambil Maria sebagai isterimu, sebab anak yang di dalam kandungannya adalah dari Roh Kudus. Ia akan melahirkan anak laki-laki dan engkau akan menamakan Dia Yesus, karena Dialah yang akan menyelamatkan umat-Nya dari dosa mereka” (Mat. 1:20-21). Lalu Yusuf pun menerima Maria yang telah mengandung dari Roh Kudus sebagai tanda bahwa ia telah “menerima Yesus” sebagai Anak Allah yang Kudus yang dikandung oleh Maria, seperti yang ditegaskan Matius (1:24-25): “Sesudah bangun dari tidurnya, Yusuf berbuat seperti yang diperintahkan malaikat Tuhan itu kepadanya. Ia mengambil Maria sebagai isterinya, tetapi tidak bersetubuh dengan dia sampai ia melahirkan anaknya laki-laki dan Yusuf menamakan Dia Yesus.”
Jikalau Yusuf menerima Maria dan bayi yang dikandungnya, maka Maria terlebih dahulu menerima “Yesus [nama yang diberi oleh malaikat Tuhan] dalam rahimnya. Penerimaan Maria terhadap Yesus yang adalah Anak Allah yang Kudus adalah bukti risiko yang besar yang harus diterimanya terutama dari pihak tunangannya, Yusuf dan kemudian tetangga-tetangganya. Maria, meski mungkin ia merasa tersiksa dengan mengandung dari Roh Kudus, namun Allah memberikan jalan keluar baik bagi Maria maupun bagi Yusuf sehingga peristiwa kelahiran Yesus bukan tanpa ayah (bukan dalam pengertian biologis) melainkan ada ayah sebagai bukti “keluarga yang sah”: istri yang mengandung didampingi oleh suaminya. Allah tetap menjaga kemurnian dan kekudusan hubungan suami-istri antara Yusuf dan Maria hingga Yesus dilahirkan. Maka penerimaan Yusuf dan Maria berimplikasi kepada dua hal penting: pertama, penerimaan terhadap Yesus sebagai perwujudan dari nubuatan Perjanjian Lama; dan kedua, penerimaan terhadap Yesus sebagai perwujudan dari keluarga yang sah: bayi Yesus lahir memiliki ayah dan ibu. Kehormatan Yesus diwujudkan oleh hadirnya Yusuf yang mendampingi istrinya, Maria, dalam proses persalinan dan pemeliharaan Yesus sejak bayi hingga tumbuh dewasa. Kesimpulannya, penerimaan Yusuf dan Maria terhadap Yesus adalah penerimaan bersifat menjaga Kehormatan Yesus yang akan dilahirkan “dari keluarga yang sah”: ada ayah dan ibu.
Penerimaan kedua adalah oleh para gembala. Lukas (2:8-20) mencatat demikian:
Di daerah itu ada gembala-gembala yang tinggal di padang menjaga kawanan ternak mereka pada waktu malam. Tiba-tiba berdirilah seorang malaikat Tuhan di dekat mereka dan kemuliaan Tuhan bersinar meliputi mereka dan mereka sangat ketakutan. Lalu kata malaikat itu kepada mereka: “Jangan takut, sebab sesungguhnya aku memberitakan kepadamu kesukaan besar untuk seluruh bangsa: Hari ini telah lahir bagimu Juruselamat, yaitu Kristus, Tuhan, di kota Daud. Dan inilah tandanya bagimu: Kamu akan menjumpai seorang bayi dibungkus dengan lampin dan terbaring di dalam palungan.” Dan tiba-tiba tampaklah bersama-sama dengan malaikat itu sejumlah besar bala tentara sorga yang memuji Allah, katanya: “Kemuliaan bagi Allah di tempat yang mahatinggi dan damai sejahtera di bumi di antara manusia yang berkenan kepada-Nya.” Setelah malaikat-malaikat itu meninggalkan mereka dan kembali ke sorga, gembala-gembala itu berkata seorang kepada yang lain: “Marilah kita pergi ke Betlehem untuk melihat apa yang terjadi di sana, seperti yang diberitahukan Tuhan kepada kita.” Lalu mereka cepat-cepat berangkat dan menjumpai Maria dan Yusuf dan bayi itu, yang sedang berbaring di dalam palungan. Dan ketika mereka melihat-Nya, mereka memberitahukan apa yang telah dikatakan kepada mereka tentang Anak itu. Dan semua orang yang mendengarnya heran tentang apa yang dikatakan gembala-gembala itu kepada mereka. Tetapi Maria menyimpan segala perkara itu di dalam hatinya dan merenungkannya. Maka kembalilah gembala-gembala itu sambil memuji dan memuliakan Allah karena segala sesuatu yang mereka dengar dan mereka lihat, semuanya sesuai dengan apa yang telah dikatakan kepada mereka.
Para gembala pergi menjumpai Yusuf dan Maria dan bayi Yesus sebagaimana yang dinyatakan oleh seorang malaikat Tuhan. Para pergi untuk mengkonfirmasi apa yang dikatakan oleh malaikat Tuhan tersebut (ay. 20): (1) benar bahwa ada bayi yang dilahirkan pada hari itu; (2) benar bahwa bayi yang dilahirkan adalah “Juruselamat”; (3) benar bahwa bayi yang dilahirkan adalah “Kristus”; (4) benar bahwa bayi yang dilahirkan “Tuhan”; (5) benar bahwa bayi yang dilahirkan adalah di kota Daud: Betlehem sesuai dengan nubuat nabi Mikha (5:1); (6) benar bahwa bayi yang dilahirkan dibungkus dengan lampin; dan (7) benar bahwa bayi yang dilahirkan terbaring di palungan. Implikasinya adalah “mereka memuji dan memuliakan Allah”. Apa yang mereka dengar dan lihat semuanya konsisten sebagaimana Lukas mencatat (ay. 20): “Maka kembalilah gembala-gembala itu sambil memuji dan memuliakan Allah karena segala sesuatu yang mereka dengar dan mereka lihat, semuanya sesuai dengan apa yang telah dikatakan kepada mereka.” Kesimpulannya, penerimaan para gembala terhadap Yesus adalah penerimaan bersifat mengkonfirmasi berita malaikat Tuhan bahwa Yesus yang dilahirkan adalah berasal dari “surga” yang disampaikan oleh malaikat Tuhan dari surga.
Penerimaan ketiga adalah oleh orang-orang Majus dari Timur. Matius 2:9-11 disebutkan bahwa “Setelah mendengar kata-kata raja itu, berangkatlah mereka. Dan lihatlah, bintang yang mereka lihat di Timur itu mendahului mereka hingga tiba dan berhenti di atas tempat, di mana Anak itu berada. Ketika mereka melihat bintang itu, sangat bersukacitalah mereka. Maka masuklah mereka ke dalam rumah itu dan melihat Anak itu bersama Maria, ibu-Nya, lalu sujud menyembah Dia. Merekapun membuka tempat harta bendanya dan mempersembahkan persembahan kepada-Nya, yaitu emas, kemenyan dan mur.” Apa yang dialami oleh orang-orang Majus memiliki substansi yang sama dengan apa yang dialami oleh para gembala. Orang-orang Majus melihat bintang di Timur lalu dikonfirmasi bahwa “memang ada bayi yang lahir tepat di mana bintang itu mengarahkan mereka.” Mereka berjalan selama berbulan-bulan mengikuti petunjuk bintang Timur tersebut. Apa yang menarik dan membuat mereka terkesan sehingga rela berjalan selama berbulan-bulan untuk mencari Raja Yahudi yang dilahirkan?
Mereka pun dengan penuh keyakinan akan bertemu dengan “Raja yang lahir itu” sekaligus membawa persembahan yang luar biasa. Bagaimana mereka bisa yakin bisa bertemu dengan Raja yang dilahirkan serta mempersembahkan persembahan kepada-Nya? Keyakinan seperti apa yang mereka miliki? Bukankah ini hal yang luar biasa? Berjalan selama berbulan-bulan yang keyakinan bahwa bintang Timur adalah pertanda lahirnya seorang Raja? Ini sungguh penerimaan yang melampaui dari penolakan Yusuf dan Maria karena tidak mendapatkan tempat penginapan. Yusuf dan Maria tidak berkecil hati karena tidak memiliki tempat untuk bersalin. Mereka memilih tempat “apa adanya” untuk melahirkan bayi yang dikandung oleh Maria. Justru apa yang mereka keluarkan tidak berbanding lurus dengan apa yang mereka terima dari orang-orang Majus. Ada empat hal yang dilakukan orang-orang Majus yakni sebagai tanda penerimaan mereka: (1) menyembah Yesus; (2) mempersembahkan emas; (3) mempersembahkan kemenyan; dan (4) mempersembahkan mur.
Kesimpulannya, penerimaan orang-orang Majus terhadap Yesus adalah penerimaan bersifat pembuktian bahwa Yesus adalah “Raja yang dilahirkan” berdasarkan nubuatan PL dan membuktikan karya-karya-Nya sebagai Raja di bumi dan di surga. Ingat, peristiwa kelahiran seorang Raja Yahudi yaitu Yesus, ditandai oleh bintang-Nya di Timur (di langit) dan Raja dilahirkan di Betlehem (di bumi). Artinya jelas, bahwa Yesus berasal dari surga (konfirmasi dari berita yang didengar oleh para gembala) dilahirkan berdasarkan petunjuk bintang di langit di mana langit adalah takhta Allah. sebagai seorang Raja, Yesus patut mendapat “penyembahan”. Orang-orang Majus langsung memberitahukan kepada Herodes bahwa mereka akan menyembah Yesus sebagai raja orang Yahudi, yang baru dilahirkan itu (Mat. 2:2).
Penerimaan yang keempat adalah berbentuk konfirmasi “pujian bala tentara surga [malaikat surgawi] kepada Allah”. Dua penolakan di bumi dan tiga penerimaan di bumi ditengahi oleh satu konfirmasi pujian surgawi. Allah memiliki agenda terbaik untuk membuat kisah Natal dalam konteks penerimaan menjadi lebih unggul. Penolakan tidak sebanding dengan penerimaan Yesus sebagai inkarnasi Allah menjadi daging (ὁ λόγος σὰρξ ἐγένετο [ho logos sarks egeneto]). Pujian agung oleh para malaikat surgawi menandai kemenangan dan keagungan inkarnasi Yesus Kristus. Meski hanya Lukas yang mencatatnya, namun catatan Lukas merupakan konfirmasi bahwa memang bayi yang dilahirkan adalah: Juruselamat, Kristus, dan Tuhan. Inilah bunyi pujiannya: “Kemuliaan bagi Allah di tempat yang mahatinggi dan damai sejahtera di bumi di antara manusia yang berkenan kepada-Nya.”
Pertanyaanya: apakah pujian itu ditujukan kepada Allah Bapa atau kepada Yesus yang adalah Allah? Menurut saya pujian itu ditujukan kepada Yesus (bayi yang telah lahir itu) karena hal ini kemudian diteguhkan oleh Rasul Yohanes bahwa Allah (di surga) mengaruniakan Anak-Nya yang tunggal (dilahirkan di dunia). Kemuliaan bagi Yesus yang adalah Allah “di tempat yang mahatinggi” (setara dengan Allah Bapa yang mengaruniakan Yesus kepada manusia) dalam inkarnasi-Nya membawa [memberikan, menawarkan] “damai sejahtera” di bumi bagi manusia yang berkenan kepada-Nya. Hal ini didahului oleh pernyataan malaikat Tuhan bahwa: “Hari ini telah lahir bagimu Juruselamat, yaitu Kristus, Tuhan, di kota Daud” (ὅτι ἐτέχθη ὑμῖν σήμερον σωτὴρ ὅς ἐστιν χριστὸς κύριος ἐν πόλει Δαυίδ [hoti etekhthē humin sēmeron sōtēr hos estin khristos kurios en polei Dauid]). Pujian bala tentara surga—dalam pemahaman saya—merupakan konfirmasi inkarnasi Yesus kepada para gembala bahwa “bayi yang lahir pada hari ini, adalah bayi yang ilahi; bayi yang adalah Juruselamat karena Ia adalah Allah (secara substansi) yang menggunakan tubuh ragawi untuk menyatakan maksud dan rencana-Nya bagi keselamatan umat manusia.
Tepatlah jika dikatakan bahwa Natal adalah di mana Kristus ditolak tetapi sekaligus menawarkan damai dan keselamatan bagi manusia sebagai tanda penerimaan-Nya atas dunia yang telah menerima-Nya (para gembala dan orang-orang Majus). Orang-orang percaya di sepanjang zaman yang telah melakukan hal-hal seperti yang dilakukan oleh Yusuf dan Maria, para gembala, dan orang-orang Majus dalam arti substansialnya, adalah mereka yang menerima kesahajaan Yusuf dan Maria ketika hendak menjalani proses persalinan Sang Bayi Kudus dan tetap meyakini seperti yang diyakini oleh Yusuf dan Maria, para gembala dan orang-orang Majus dari Timur bahwa:
Yesus yang lahir adalah dikandung dari Roh Kudus
Yesus yang lahir adalah Juruselamat (menyelamatkan umat-Nya dari dosa mereka)
Yesus yang lahir adalah Kristus
Yesus yang lahir adalah Tuhan
Yesus yang lahir adalah Raja Yahudi
Yesus yang lahir adalah Raja atas kaum keturunan Yakub sampai selama-lamanya
Yesus yang lahir adalah sesuai dengan nubuatan Perjanjian Lama
Yesus yang lahir adalah Anak Allah Yang Mahatinggi
Yesus yang lahir adalah Imanuel
Yesus yang lahir adalah Anak Kudus
Natal, meski sering disalahpahami, tetapi makna substansialnya secara historis dapat dipertanggung jawabkan berdasarkan catatan-catatan Injil-Injil PB dan catatan-cataan nubuatan PL. Salah kaprah dan kritikan terhadap peristiwa Natal (baca: Inkarnasi) wajar-wajar saja sebab ketika seseorang memiliki prapaham, prakonsepsi, sentimen agama, sentimen rasisme, dan aspek-aspek negatif lainnya, sudah pasti akan berujung pada penolakan, baik penolakan Yesus sebagai Anak Allah yang Kudus, penolakan Yesus sebagai Allah yang berinkarnasi, penolakan Yesus sebagai Juruselamat, penolakan Yesus sebagai Raja orang Yahudi, penolakan Yesus sebagai Kristus [Mesias], penolakan Yesus sebagai Tuhan, penolakan Yesus sebagai Anak Allah Yang Mahatinggi, dan penolakan Yesus sebagai Imanuel. Cukup banyak yang menolaknya dari berbagai perspektif. Namun, hal itu bukan menjadikan iman Kristen kecut ciut oleh segelintir kebodohan, caci maki, dan hujatan salah kaprah, dan sebagainya.
Dalam catatan Kisah Para Rasul (catatan yang dikumpulkan oleh Lukas) dan catatan-catatan para rasul Yesus Kristus, peristiwa Natal menjadi momen penting bagi pewartaan Yesus sebagai Tuhan dan Juruselamat, pewartaan bahwa Yesus membawa damai dan keselamatan bagi umat-Nya yang ditebus-Nya. Saya mencatatnya di sini.
Kisah Para Rasul 12:11-12, Yesus adalah batu yang dibuang oleh tukang-tukang bangunan — yaitu kamu sendiri —, namun ia telah menjadi batu penjuru. Dan keselamatan tidak ada di dalam siapapun juga selain di dalam Dia, sebab di bawah kolong langit ini tidak ada nama lain yang diberikan kepada manusia yang olehnya kita dapat diselamatkan.
Kisah Para Rasul 5:31, Dialah yang telah ditinggikan oleh Allah sendiri dengan tangan kanan-Nya menjadi Pemimpin dan Juruselamat, supaya Israel dapat bertobat dan menerima pengampunan dosa.
Kisah Para Rasul 13:23 Dan dari keturunannyalah, sesuai dengan yang telah dijanjikan-Nya, Allah telah membangkitkan Juruselamat bagi orang Israel, yaitu Yesus.
Filipi 3:20, Karena kewargaan kita adalah di dalam sorga, dan dari situ juga kita menantikan Tuhan Yesus Kristus sebagai Juruselamat
2 Timotius 1:10, dan yang sekarang dinyatakan oleh kedatangan Juruselamat kita Yesus Kristus, yang oleh Injil telah mematahkan kuasa maut dan mendatangkan hidup yang tidak dapat binasa.
Titus 1:4, Kepada Titus, anakku yang sah menurut iman kita bersama: kasih karunia dan damai sejahtera dari Allah Bapa dan Kristus Yesus, Juruselamat kita, menyertai engkau.
Titus 2:13, dengan menantikan penggenapan pengharapan kita yang penuh bahagia dan penyataan kemuliaan Allah yang Mahabesar dan Juruselamat kita Yesus Kristus.
Tit 3:4, 6, Tetapi ketika nyata kemurahan Allah, Juruselamat kita, dan kasih-Nya kepada manusia … yang sudah dilimpahkan-Nya kepada kita oleh Yesus Kristus, Juruselamat kita
2 Petrus 1:1, Dari Simon Petrus, hamba dan rasul Yesus Kristus, kepada mereka yang bersama-sama dengan kami memperoleh iman oleh karena keadilan Allah dan Juruselamat kita, Yesus Kristus.
2 Petrus 1:11, Dengan demikian kepada kamu akan dikaruniakan hak penuh untuk memasuki Kerajaan kekal, yaitu Kerajaan Tuhan dan Juruselamat kita, Yesus Kristus.
2 Petrus 2:20, Sebab jika mereka, oleh pengenalan mereka akan Tuhan dan Juruselamat kita, Yesus Kristus, telah melepaskan diri dari kecemaran-kecemaran dunia, tetapi terlibat lagi di dalamnya, maka akhirnya keadaan mereka lebih buruk dari pada yang semula.
2 Petrus 3:18, Tetapi bertumbuhlah dalam kasih karunia dan dalam pengenalan akan Tuhan dan Juruselamat kita, Yesus Kristus. Bagi-Nya kemuliaan, sekarang dan sampai selama-lamanya.
1 Yohanes 4:14, Dan kami telah melihat dan bersaksi, bahwa Bapa telah mengutus Anak-Nya menjadi Juruselamat dunia.
Yudas 1:25, Allah yang esa, Juruselamat kita oleh Yesus Kristus, Tuhan kita, bagi Dia adalah kemuliaan, kebesaran, kekuatan dan kuasa sebelum segala abad dan sekarang dan sampai selama-lamanya. Amin.
Lukas 2:14, Kemuliaan bagi Allah di tempat yang mahatinggi dan damai sejahtera di bumi di antara manusia yang berkenan kepada-Nya.
Lukas19:38, Kata mereka: Diberkatilah Dia yang datang sebagai Raja dalam nama Tuhan, damai sejahtera di sorga dan kemuliaan di tempat yang mahatinggi!
Yohanes 14:27, Damai sejahtera Kutinggalkan bagimu. Damai sejahtera-Ku Kuberikan kepadamu, dan apa yang Kuberikan tidak seperti yang diberikan oleh dunia kepadamu. Janganlah gelisah dan gentar hatimu.
Yohanes 16:33, Semuanya itu Kukatakan kepadamu, supaya kamu beroleh damai sejahtera dalam Aku. Dalam dunia kamu menderita penganiayaan, tetapi kuatkanlah hatimu, Aku telah mengalahkan dunia.
Yohanes 20:19, Ketika hari sudah malam pada hari pertama minggu itu berkumpullah murid-murid Yesus di suatu tempat dengan pintu-pintu yang terkunci karena mereka takut kepada orang-orang Yahudi. Pada waktu itu datanglah Yesus dan berdiri di tengah-tengah mereka dan berkata: “Damai sejahtera bagi kamu!”
Yohanes 20:21, Maka kata Yesus sekali lagi: “Damai sejahtera bagi kamu! Sama seperti Bapa mengutus Aku, demikian juga sekarang Aku mengutus kamu.”
Yohanes 20:26, Delapan hari kemudian murid-murid Yesus berada kembali dalam rumah itu dan Tomas bersama-sama dengan mereka. Sementara pintu-pintu terkunci, Yesus datang dan Ia berdiri di tengah-tengah mereka dan berkata: “Damai sejahtera bagi kamu!”
Kisah Para Rasul 10:36, Itulah firman yang Ia suruh sampaikan kepada orang-orang Israel, yaitu firman yang memberitakan damai sejahtera oleh Yesus Kristus, yang adalah Tuhan dari semua orang.
Roma 5:1, Sebab itu, kita yang dibenarkan karena iman, kita hidup dalam damai sejahtera dengan Allah oleh karena Tuhan kita, Yesus Kristus.
Efesus 2:14-15, Karena Dialah damai sejahtera kita, yang telah mempersatukan kedua pihak dan yang telah merubuhkan tembok pemisah, yaitu perseteruan, sebab dengan mati-Nya sebagai manusia Ia telah membatalkan hukum Taurat dengan segala perintah dan ketentuannya, untuk menciptakan keduanya menjadi satu manusia baru di dalam diri-Nya, dan dengan itu mengadakan damai sejahtera.
Efesus 2:17, Ia datang dan memberitakan damai sejahtera kepada kamu yang “jauh” dan damai sejahtera kepada mereka yang “dekat”
Kolose 3:15, Hendaklah damai sejahtera Kristus memerintah dalam hatimu, karena untuk itulah kamu telah dipanggil menjadi satu tubuh. Dan bersyukurlah.
2 Tesalonika 3:16, Dan Ia, Tuhan damai sejahtera, kiranya mengaruniakan damai sejahtera-Nya terus-menerus, dalam segala hal, kepada kamu. Tuhan menyertai kamu sekalian.
Markus 16:8, … Sesudah itu Yesus sendiri dengan perantaraan murid-murid-Nya memberitakan dari Timur ke Barat berita yang kudus dan tak terbinasakan tentang keselamatan yang kekal itu.
Lukas 1:77, untuk memberikan kepada umat-Nya pengertian akan keselamatan yang berdasarkan pengampunan dosa-dosa mereka
Lukas 2:30, sebab mataku telah melihat keselamatan yang dari pada-Mu
Lukas 3:6, dan semua orang akan melihat keselamatan yang dari Tuhan.
Kisah Para Rasul 13:47, Sebab inilah yang diperintahkan kepada kami: Aku telah menentukan engkau menjadi terang bagi bangsa-bangsa yang tidak mengenal Allah, supaya engkau membawa keselamatan sampai ke ujung bumi.
Kisah Para Rasul 15:11, Sebaliknya, kita percaya, bahwa oleh kasih karunia Tuhan Yesus Kristus kita akan beroleh keselamatan sama seperti mereka juga.
1 Tesalonika 5:9, Karena Allah tidak menetapkan kita untuk ditimpa murka, tetapi untuk beroleh keselamatan oleh Yesus Kristus, Tuhan kita.
2 Timotius 2:10, Karena itu aku sabar menanggung semuanya itu bagi orang-orang pilihan Allah, supaya mereka juga mendapat keselamatan dalam Kristus Yesus dengan kemuliaan yang kekal.
2 Timotius 3:15, Ingatlah juga bahwa dari kecil engkau sudah mengenal Kitab Suci yang dapat memberi hikmat kepadamu dan menuntun engkau kepada keselamatan oleh iman kepada Kristus Yesus.
Ibrani 2:10, Sebab memang sesuai dengan keadaan Allah — yang bagi-Nya dan oleh-Nya segala sesuatu dijadikan — , yaitu Allah yang membawa banyak orang kepada kemuliaan, juga menyempurnakan Yesus, yang memimpin mereka kepada keselamatan, dengan penderitaan.
Ibrani 5:9, dan sesudah Ia mencapai kesempurnaan-Nya, Ia menjadi pokok keselamatan yang abadi bagi semua orang yang taat kepada-Nya
Ibrani 9:28, demikian pula Kristus hanya satu kali saja mengorbankan diri-Nya untuk menanggung dosa banyak orang. Sesudah itu Ia akan menyatakan diri-Nya sekali lagi tanpa menanggung dosa untuk menganugerahkan keselamatan kepada mereka, yang menantikan Dia.
Berdasarkan catatan Kisah Para Rasul dan catatan-catatan para rasul Yesus Kristus, maka saya menutup tulisan ini dengan menegaskan kembali iman Kristen yang berdiri atas empat dasar dan tentang penolakan serta penerimaan terhadap peristiwa kelahiran (Inkarnasi) Yesus Kristus sebagaimana telah saya jelaskan di atas.
Pertama, iman kepada penggenapan nubuat-nubuat PL tentang datangnya seorang Mesias yang terwujud dalam diri Yesus Kristus.
Ketepatan nubuatan PL tidaklah direkayasa. Maka iman Kristen sangat dapat dipertanggungjawabkan dari aspek teks-teks nubuatan dan historisismenya berdasarkan pemahaman dan penggalian biblika secara kredibel (eksegetis). Penolakan terhadap gagasan penggenapan nubuatan PL terhadap Yesus merupakan kebodohan yang paling konyol yang pernah ada sebab data biblika terkait nubuatan dan penggenapannya tersedia di depan mata.
Kedua, iman kepada kematian Yesus Kristus yang bersifat substitutif yang berarti bahwa Ia [Yesus] menebus umat pilihan-Nya dari dosa-dosa lampau, dosa-dosa masa kini, dan dosa-dosa akan datang.
Inkarnasi Yesus harus dipahami dari komprehensivitas historisnya. Pengampunan hanya datang dari Allah. Itu sangat wajar, sebab manusia “berdosa terhadap Allah”. Dalam PL, hanya Allah yang menetapkan bagaimana umat-Nya ditebus dan diampuni. Kini, dalam PB, Allah menetapkan cara-Nya sendiri—sebab Ia berdaulat menentukan cara apa saja—menebus dan mengampuni manusia dari dosa-dosa mereka. Penegasan Rasul Petrus sangatlah tepat dijadikan dasar di sini (1 Ptr. 1:18-21):
Sebab kamu tahu, bahwa kamu telah ditebus dari cara hidupmu yang sia-sia yang kamu warisi dari nenek moyangmu itu bukan dengan barang yang fana, bukan pula dengan perak atau emas, melainkan dengan darah yang mahal, yaitu darah Kristus yang sama seperti darah anak domba yang tak bernoda dan tak bercacat. Ia telah dipilih sebelum dunia dijadikan, tetapi karena kamu baru menyatakan diri-Nya pada zaman akhir. Oleh Dialah kamu percaya kepada Allah, yang telah membangkitkan Dia dari antara orang mati dan yang telah memuliakan-Nya, sehingga imanmu dan pengharapanmu tertuju kepada Allah.
Ketiga, iman kepada kebangkitan Yesus dari kematian yang melalui peristiwa tersebut, ada konfirmasi bahwa orang-orang yang percaya kepada-Nya akan hidup walaupun ia sudah mati.
Jaminan ini menandai kekuatan iman mengapa orang Kristen rela menderita dan mati demi Kristus. Iman kepada dan demi Yesus adalah kekuatan orang Kristen. Mereka tahu persis bahwa “Yesus yang disembah adalah Yesus yang berkuasa menolong, menguatkan, menopang, menyelamatkan, melegakan, dan memberi kekuatan dalam menghadapi berbagai ancaman dan penderitaan. Yesus secara tegas menyatakan: “Akulah kebangkitan dan hidup; barangsiapa percaya kepada-Ku, ia akan hidup walaupun ia sudah mati” (Yoh. 11:25).
Keempat, iman kepada kedatangan Yesus Kristus yang kedua kali, yang melalui peristiwa tersebut, pengharapan Kristen akan dikonfirmasikan dan digenapi bahwa Yesus yang datang memberikan jaminan dan menepati janji-Nya dan orang-orang yang percaya kepada-Nya akan ikut memerintah bersama-Nya di dalam kerajaan-Nya yang kekal.
Penderitaan, intimidasi, diskriminasi, dan pembunuhan terhadap orang Kristen tidak menyurutkan iman mereka kepada Yesus bahwa Ia akan datang kedua kali dan menunjukkan kuasa-Nya yang dahsyat terhadap musuh-musuh-Nya, serta memberikan kemenangan kepada umat-Nya. Umat-Nya akan tinggal bersama-Nya dalam Kerajaan-Nya yang kekal.
Natal adalah awal mula iman Kristen. Natal adalah cakupan dari serangkaian kasih dan pengharapan Kristen. Iman Kristen bertumpu dan berkembang di dalam Yesus. Yesus tetaplah Yesus meski segelintir pengkritik dengan dalil prapaham dan ketidakmatangan mempelajari Perjanjian Baru mencoba menyodorkan dalil-dalil palsu dan bernatur eisegesis, untuk melawan iman Kristen. Kritikan demi kritikan tetap menjadi makanan sehari-hari. Saya mengajak semua orang Kristen untuk meyakini bahwa Natal adalah kebenaran hakiki yang bersifat kekal. Kebenaran inilah yang memerdekakan kita semua. Iman Kristen tetap kuat dan tak tergoyahkan ketika orang Kristen telah dimerdekakan oleh kebenaran Injil, kebenaran Yesus Kristus. Ini adalah kunci utamanya. Rasul Yohanes dan Rasul Paulus menegaskan hal ini:
Yohanes 8:32, dan kamu akan mengetahui kebenaran, dan kebenaran itu akan memerdekakan [membebaskan] kamu [καὶ γνώσεσθε τὴν ἀλήθειαν, καὶ ἡ ἀλήθεια ἐλευθερώσει ὑμᾶς].
Yohanes 8:36, Jadi apabila Anak itu memerdekakan kamu, kamupun benar-benar merdeka [ἐὰν οὖν ὁ υἱὸς ὑμᾶς ἐλευθερώσῃ, ὄντως ἐλεύθεροι ἔσεσθε].
Roma 8:2, Roh, yang memberi hidup telah memerdekakan [membebaskan] kamu dalam Kristus dari hukum dosa dan hukum maut [ὁ γὰρ νόμος τοῦ πνεύματος τῆς ζωῆς ἐν Χριστῷ Ἰησοῦ ἠλευθέρωσέν σε ἀπὸ τοῦ νόμου τῆς ἁμαρτίας καὶ τοῦ θανάτου]
Galatia 5:1, Supaya kita sungguh-sungguh merdeka, Kristus telah memerdekakan kita. Karena itu berdirilah teguh dan jangan mau lagi dikenakan kuk perhambaan [Τῇ ἐλευθερίᾳ ἡμᾶς Χριστὸς ἠλευθέρωσεν· στήκετε οὖν καὶ μὴ πάλιν ζυγῷ δουλείας ἐνέχεσθε].
Akhirnya, ketika Natal dirayakan, kita memahaminya sebagai “memory” bahwa Yesus “pernah” lahir ke dunia. Orientasi perayaan bukan seperti merayakan Hari Ulang Tahun yang umum dilakukan manusia. Memahami bahwa orang Kristen merayakan Ulang Tahun Yesus adalah salah kaprah. Yang dirayakan adalah “kesadaran iman yang bersifat historis bahwa Yesus yang pernah lahir di dunia adalah Raja yang memberi kemenangan dan yang telah menebus serta mengampuni manusia dari dosa-dosa mereka dan menjamin keselamatan manusia tebusan-Nya untuk memperoleh kehidupan kekal.” Inilah makna dan substansi perayaan Natal Yesus Kristus. Kekurangmengertian soal ini membawa para kaum hipokrit, kaum pengkritik terjerumus ke dalam kubangan kebodohan mereka sendiri.
Natal adalah keyakinan iman bahwa Yesus menyatakan kebenaran-Nya dan kita yang percaya kepada-Nya dimerdekakan (dibebaskan) dari segala keraguan, segala dosa dan kesalahan, dan dari segala macam perilaku buruk yang mencemarkan nama baik kita. Yesus menyucikan dan menguduskan kita. Maka seyogianya kita hidup dalam kesucian dan kekudusan. Meski di satu sisi Yesus Kristus ditolak, tetapi ingatlah, yang menerima-Nya justru malah lebih banyak. Segelintir orang yang mencaci maki dan menghina doktrin Inkarnasi dan Keilahian Yesus bukanlah sebuah ancaman yang serius. Hanya saja, orang Kristen perlu dimerdekakan oleh Yesus di mana ia harus percaya sepenuhnya kepada Kebenaran tentang Yesus Kristus sebagaimana yang dicatat dalam Alkitab. Barulah orang Kristen dapat menjelaskan tentang Yesus yang sesungguhnya berdasarkan histosisisme biblika dan bukan berdasarkan kitab suci agama lain atau pikiran para kritikus yang gagal paham.
Kita tahu bahwa Natal menceritakan Kristus yang tertolak, namun Ia menawarkan damai dan keselamatan. Natal yang menyedihkan adalah ketika Yusuf dan Maria tidak mendapatkan tempat yang layak (dalam pandangan manusia), tetapi hanya mendapatkan tempat istirahat binatang, dan bayi Yesus ditempatkan di tempat minum binatang: palungan. Penolakan dari Herodes pun terjadi. Ia sendiri merasa tersaingi dengan lahirnya Yesus Kristus. Ia ingin membunuh-Nya (lih. Mat. 2:13). Namun, penerimaan Yesus juga menjadi agenda penting dalam pemahaman iman Kristen. Penerimaan Yusuf dan Maria terhadap Yesus adalah penerimaan bersifat menjaga Kehormatan Yesus yang akan dilahirkan “dari keluarga yang sah”: ada ayah dan ibu. Penerimaan para gembala terhadap Yesus adalah penerimaan bersifat mengkonfirmasi berita malaikat Tuhan bahwa Yesus yang dilahirkan adalah berasal dari “surga” yang disampaikan oleh malaikat Tuhan dari surga. Penerimaan orang-orang Majus terhadap Yesus adalah penerimaan bersifat pembuktian bahwa Yesus adalah “Raja yang dilahirkan” berdasarkan nubuatan PL dan membuktikan karya-karya-Nya sebagai Raja di bumi dan di surga.
Penerimaan berbentuk konfirmasi “pujian bala tentara surga [malaikat surgawi] kepada Allah” menandai kemenangan dan keagungan inkarnasi Yesus Kristus: “Kemuliaan bagi Allah di tempat yang mahatinggi dan damai sejahtera di bumi di antara manusia yang berkenan kepada-Nya.” Natal begitu indah ketika kita melihatnya sebagai “hadiah” bagi manusia yang dipedulikan Allah. Kepedulian Allah tidak hanya menganugerahi “Anak-Nya yang Tunggal” melainkan juga damai sejahtera dan keselamatan. Maka Natal harus mengumandangkan bahwa: Yesus adalah Juruselamat, Kristus, Tuhan, Raja Yahudi, Raja atas kaum keturunan Yakub sampai selama-lamanya, Anak Allah Yang Mahatinggi, Imanuel, dan Anak yang Kudus. Kepada-Nyalah segala hormat, puji-pujian, dan penyembahan.