SPIRITUALITAS

Antara Iman dan Pengalaman Hidup Ditinjau dari Mazmur 90:12[1]

Sumber gambar: https://unsplash.com/photos/yykbf9LiS50 (Fa Barboza@fan11)

PENDAHULUAN

Secara umum, manusia memiliki empat jenis hubungan: pertama, dengan Tuhan; kedua, dengan sesama; ketiga, dengan alam (lingkungan); dan keempat, dengan diri sendiri. Keempat jenis hubungan ini bisa menjadi baik, bisa menjadi rusak. Baik-rusaknya suatu hubungan ditentukan oleh tiga aspek, yaitu: pemahaman akan kehidupan, pemahaman akan lingkungan (situasi dan kondisi), dan pemahaman akan iman.

Pemahaman akan kehidupan berbicara mengenai apa maka kehidupan bagi manusia. Manusia menjadi baik ketika ia memahami hidup secara baik pula; dan manusia menjadi rusak ketika ia memahami hidup hanya sebagai pemuasan nafsu belaka. Pemahaman akan lingkungan (situasi dan kondisi) berbicara mengenai bagaimana sikap dan perilaku manusia untuk berinteraksi dengan lingkungannya; dan pemahaman akan iman berbicara tentang apa yang Allah kehendaki untuk dilakukan manusia yang beriman kepada-Nya.

Mazmur 90:12 mengandung tiga aspek di atas. Umat Tuhan menyadari bahwa mereka diberikan kesempatan oleh Tuhan untuk menikmati hidup di bawah pimpinan dan kuasa-Nya, melalui Musa, nabi-Nya. Umat-Nya beradaptasi dengan situasi dan kondisi dari lokus-lokus di mana mereka lewat atau pun menetap. Dan mereka juga bergumul untuk melakukan kehendak Allah agar hidup mereka tertuju hanya kepada Allah.

Tiga aspek di atas tidak hanya berbicara mengenai apa yang dipikirkan dan dilakukan, tetapi juga berbicara mengenai spiritualitas. Hari-hari yang dilalui, justru mengajar umat Tuhan untuk melihat bahwa Tuhan tetap mengasihi mereka dan menghajar ketika mereka melawan, memberontak, dan berdosa di hadapan-Nya.

Klausa “Ajarlah kami menghitung hari-hari kami” adalah sebuah spiritualitas yang menyadarkan umat-Nya bahwa setiap hari, ada tangan Tuhan yang menuntun mereka. Manusia dididik Tuhan untuk menjadi “bijaksana”—tahu dan mempertimbangkan baik-buruknya segala sesuatu. Dari situ, umat Tuhan bergerak dari spiritualitas kepada realitas—melihat kehidupan secara bijaksana—dan menemukan konsistensi penyertaan Tuhan bagi mereka sendiri.

Konteks tersebut menyuguhkan dua fakta bahwa dalam hari-hari yang dilalui manusia, mereka melihat apa yang dilakukan Allah, dan melihat apa yang mereka lakukan bagi Allah.

Allen P. Ross dalam A Commentary On The Psalms  menyatakan bahwa, selama sekitar 3000 tahun Mazmur telah menjadi inti dari kehidupan rohani umat Allah. Susunan doa, pujian, nyanyian pujian, renungan, dan liturgi dalam koleksi mencakup semua aspek hidup bagi Allah di dunia yang “antagonistic [menentang] to the faith”.[2] Bagi orang Kristen awal, Mazmur  juga dihargai karena nilai mereka dalam doa dan pujian dari umat, tap  i lebih lagi karena aplikasi mereka kepada Kristus dalam tulisan perjanjian baru.[3]

Mazmur 90 adalah ungkapan “Doa Musa, Abdi Allah” di mana ia, dalam proses mengikut Tuhan Allah dan memimpin Israel, memiliki sejumlah pengalamaan yang berharga. Doa yang benar, lahir dari pengalaman bersama Tuhan, di mana manusia mengungkapkan apa yang ia rasakan (alami), gumuli, dan apa yang akan diharapkan.

Ayat 12 sebagai bagian dari spiritualitas Kristen—maksudnya sebagai dasar bahwa hanya Tuhan yang dapat mengajar kita tentang kehidupan, pergumulan, sukacita, dukacita, tekanan hidup, dan lain sebagainya. Doa adalah solusi dan sekaligus merupakan ungkapan spiritualitas antara manusia  dengan Tuhan.

Di bagian berikutnya—setelah menjelaskan substansi Mazmur secara umum dan secara khusus—saya akan menyebutkan tiga aspek spiritualitas terkait dengan Mazmur 90:12.

SUBSTANSI MAZMUR 90

Augustinus, J. Calvin, C. S. Lewis, N.T. Wright, dan para teolog lainnya telah memberikan kesaksian mereka mengenai apa yang mereka rasakan dari kitab Mazmur. Tidak hanya soal tafsiran mereka, melainkan kehidupan mereka yang dipengaruhi oleh kitab Mazmur. Spiritualitas mereka menjadi kuat tatkala memahami dan melakukan teks-teks dari kitab Mazmur dalam kehidupan mereka di hadapan Tuhan dan di hadapan sesamanya.

James Hely Hutchinson (teolog asal Irlandia), menyatakan bahwa, Mazmur adalah ungkapan hati yang menjauhkan keegoisan dan mengarahkan diri pada objek kenikmatan tertinggi yaitu Allah Pencipta, Penebus Israel, Yahweh sendiri.[4] Berangkat dari pernyataan Hutchinson

Profesor Perjanjian Lama, Rolf A. Jacobson dan Karl N. Jacobson, dalam Invitation to the Psalm : A Reader’s Guide for Discovery and Engagement menyatakan bahwa, kitab Mazmur adalah, pertama dan terutama, merupakan kumpulan puisi Ibrani.  Dalam membaca mazmur, kita melatih pemikiran kita secara logis — dalam arti bahwa kata, frasa, dan kalimat disatukan menurut asas yang diatur oleh cara berpikir (logika).[5] Puisi secara keseluruhan adalah jenis bahasa yang memiliki logika yang berbeda dari jenis tulisan lainnya. Dan puisi Ibrani, khususnya, memiliki set yang lebih khusus.[6]

Mazmur adalah puisi alkitabiah. Kata bahasa Inggris “Mazmur” berasal dari bahasa Yunani psalmos, yang pada gilirannya digunakan untuk menerjemahkan kata mizmor Ibrani, yang secara harfiah berarti “lagu.” Jadi dalam pengertian yang paling mendasar, Mazmur adalah sebuah nyanyian atau puisi alkitabiah.[7]

Dalam sejarah Israel, ketika mereka menyampaikan sesuatu kepada Tuhan, mereka melakukannya dengan dua cara: berdoa (memohon, menyampaikan) dan menyanyi. Dua hal ini dapat dilakukan di berbagai kondisi (krisis, bahagia, sukacita, tertekan, dll), dan kitab Mazmur mencerminkan dua tindakan ini. Nyanyian syukur mencerminkan pengalaman orang-orang percaya yang telah melewati berbagai krisis.

Kitab Mazmur itu sendiri memiliki beberapa genre. Genre Mazmur yang diklasifikasikan menurut konten tematiknya:

  1. Mazmur kerajaan (Royal psalms) yang ada hubungannya dengan raja Israel.
  2. Mazmur penobatan atau pelantikan (Enthronement psalms) ada hubungannya dengan Tuhan sebagai raja Israel.
  3. Mazmur kebijaksanaan atau hikmat (Wisdom psalms) menggambarkan tradisi hikmat Israel dan berusaha mengajarkan sesuatu kepada pembaca (atau khalayak).
  4. Mazmur penciptaan (Creation psalms), berbicara tentang Allah sebagai Pencipta dan bumi sebagai ciptaan Tuhan.
  5. Mazmur sejarah (Historical psalms) menceritakan kembali sebagian sejarah Israel.
  6. Mazmur Sion (Zion psalms) berbicara tentang Yerusalem (dan khususnya tentang Bait Suci) sebagai tempat di mana Allah berdiam.
  7. Mazmur kutukan (Imprecatory psalms) yaitu meminta Tuhan untuk menghukum mereka yang menindas pemazmur atau komunitas pemazmur.
  8. Mazmur penitensial (Penitential psalms) yaitu meminta pengampunan.
  9. Mazmur liturgi (Liturgical psalms) memberikan petunjuk untuk ritual penyembahan.[8]
  10. Mazmur Taurat. Sebuah jenis Mazmur kebijaksanaan yang memuji Torat  Allah yang diberikan kepada kita. (Taurat berarti “hukum” atau “instruksi.”) Mazmur 1 adalah Mazmur Taurat.[9]

Setiap pasal dalam kitab Mazmur dapat kita identifikasi berdasarkan genrenya.

C. Hassell Bullock menjelaskan bahwa, dalam kitab mazmur tertuang sisi kemanusiaan (humanitas) kita. Masalah pribadi, krisis, dan ketika kegembiraan tak terungkapkan, rasa sakit kita tak terucapkan. Dalam kondisi demikian, kita merasa benar-benar ditinggalkan, ketika ke  tegangan hidup datang ke kehidupan kita dan tak terelakkan, atau ketika jiwa kita mengatasi puncak pencapaian manusia.[10] John Calvin berpendapat bahwa mengenali Mazmur akan memaksa kita untuk menjadi jujur tentang diri kita di hadapan Tuhan.[11] Memang, konteks yang disuguhkan dalam kitab Mazmur sangatlah kental dengan kehidupan nyata manusia, relasinya dengan Tuhan dan sesama, dan pergumulan, permusuhan, kebencian terhadap musud, dan permohonan.

James L. Mays menyatakan bahwa, Mazmur adalah puisi keagamaan dari komunitas tertentu (the religious poetry of a particular community).[12] Komunitas tersebut tentu adalah umat Tuhan itu sendiri yang melihat kehidupan (dengan suka dukanya) dan sekaligus melihat intervensi Tuhan dalam kehidupan manusia, termasuk mereka sendiri. Dalam perkembangannya hingga sekarang ini, orang percaya (Gereja) menggumulkan berbagai konteks kehidupan dan dari hal tersebut, Gereja melihat bagaimana tangan Tuhan menopang dan menolong mereka.

Gereja dituntut dengan mendorong kehidupan doa, membantu orang yang berdoa mengembangkan hubungan yang lebih dalam dengan Allah dan kesadaran yang lebih luas akan apa yang dibutuhkan dunia. Satu rintangan untuk berdoa yang setia semacam itu adalah gagasan yang lazim diadakan bahwa doa hendaknya bebas dari kemarahan dan frustrasi.[13] Lalu bagaimana gereja dapat berdoa dalam keadaan trauma dan ketidakadilan? Gereja—meskipun dalam kondisi tersulit—harus tetap berdoa dan menyerahkan segala sesuatu pada kehendak Allah.

Walter Brueggemann berpendapat. Pertama, Mazmur menyatakan bahwa kita harus melihat dunia dan kehidupan kita dengan cara yang sebenarnya, tidak berpura-pura, tidak ada penyangkalan. Dan kedua, mereka bersikeras bahwa semua pengalaman seperti kekacauan dan kekecewaan adalah subjek yang tepat dari wacana dengan Allah. “Realitas dunia, kebenaran tentang diri kita sendiri dapat dibawa dalam doa.[14]

Dalam konteks penafsiran, kitab Mazmur diteropong dari berbagai konteks. Pertama, Historical Interpretations (problem Interpretasi): “Interpretasi lain dari Mazmur yang tidak tepat adalah bahwa mereka (para pemazmur) hanyalah produk dari konteks sejarah. Mereka tidak selalu memaksudkan untuk mengajarkan apa-apa, atau setidaknya tidak perlu menjadi model untuk doa hari ini.” Artinya, pola doa-doa dalam Mazmur tidak menjadi contoh bagi kita sekarang ini. Model penafsiran historis (menyangkal inpirasi Kitab Suci)[15] Kedua, penafsiran alegoris: dijelaskan dalam istilah fenomenologis. Ketiga, penafsiran sosio-historis yang menyangkal pewahyuan Kitab Suci.

Bagi kita, penafsiran Mazmur tidak dapat dipisahkan dari pengakuan bahwa kitab tersebut diinspirasikan oleh Roh Kudus. Singkat kata, kitab Mazmur diwahyukan oleh Allah sendiri.

SPIRITUALITAS DALAM AYAT 12

Melihat hari-hari hidup kita, tidak lepas dari gumul juang serta bahagia yang diberikan Allah. Kesadaran akan betapa fananya hidup kita mengantar kita pada sebuah pemahaman dan keputusan bahwa “kita membutuhkan Tuhan”. Itulah spiritualitas sejati. Ketika kita merasa kuat dan hebat, maka spiritualitas menjadi hilang sama sekali. Sebaliknya, ketika kita mengakui bahwa kita fana dalam waktu, dan Tuhan kekal dan hebat, maka spiritualit  as kita terkonfirmasi dalam fakta hidup.

Spiritualitas kita tak bisa tampak kuat ketika menghindari dari gumul juang hidup. Justru ayat 12 menegaskan konteks ini. Mengitung hari-hari sama berarti memohon kepada Tuhan bahwa dalam hari-hari yang dilalui, kiranya Tuhan menguatkan, menopang, menuntun, dan memberkati. Apa pun yang kita terima dari Allah, baik atau buruk, harus mengakui bahwa itu adalah kehendak-Nya. Kita berdoa, Allah menjawab. Menurut N. T. Wright, nilai apa pun yang mungkin kita miliki datang dari kebaikan Allah, bukan kendali kita terhadap keadaan kita.[16] Doa lahir dari pengalaman, dan melalui doa, iman kita mendorong untuk menempatkan kehendak Allah di atas kehendak kita. Allah berdaulat, dan Ia menghendaki agar kita secara bijaksana menilai hidup kita sendiri.

Melalui bijaksana dari Tuhan, kita “menghitung”—dengan perkataan lain: memperhatikan dan menilai hari-hari hidup mengenai apa yang Tuhan buat bagi kita dan apa yang kita buat bagi Tuhan. Yang kita buat bagi Tuhan mencakup dua aspek: aspek menyenangkan hati Tuhan—bertindak sesuai dengan firman-Nya, dan aspek menyakiti hati Tuhan—bertindak sesuka hati tanpa peduli dengan firman-Nya.

Robert Alter menyatakan bahwa, ayat 12 menggambarkan keterbatasan eksistensi manusia yang kontras dengan keberadaan Allah yang abadi.[17] Karena terbatas, maka manusia membutuhkan Allah untuk memberinya pengajaran dalam menilai, mengamati, menghitung hari-hari yang dijalani, mencapai bijaksana yaitu tahu bahwa dalam hari-hari itu, manusia melihat apa yang Tuhan buat bagi diri mereka, dan melihat (mengakui) apa yang mereka buat bagi Tuhan, entah baik, entah buruk. Seperti di ayat 9, “kami menghabiskan tahun-tahun kami “like a sigh” [seperti keluh, ungkapan kesusahan] (Ibr. hegeh also means “murmur”—bisikan).[18]

Menghitung hari-hari berarti dalam hari-hari tersebut—sebagaimana tercatat pada ayat 9—mengandung suka dan duka. Dengan demikian, manusia bergantung pada Allah sepenuhnya untuk melihat hari-hari hidup yang ada dalam kedaulatan-Nya. Pengalaman untuk melihat perbuatan Tuhan adalah bagian dari spiritualitas (ay. 16). Pengalaman turunannya adalah “perbuatan-perbuatan tangan manusia” (ay. 17). Jadi, spiritualitas mencakup merasakan dan menikmati perbuatan tangan Tuhan dan sekaligus menikmati perbuatan tangan kita yang selaras dengan kehendak-Nya.

Hidup itu berlalu buru-buru (ay. 10). Ada penderitaan, kesukaraan, dan lain sebagainya. Kematian bisa disebabkan oleh kemarahan Allah (ay. 11). Kemarahan Allah memang mengagumkan bagi orang percaya dan menyedihkan bagi orang-orang yang tidak percaya. Ay. 13 adalah permohonan untuk memohon kemurahan Tuhan (bdk. ay. 11). Permohonan tersebut sekaligus mencakup: mengenyangkan manusia dengan kasih setia di waktu pagi (ay. 14), supaya ada sorak-sorai. Memohon agar Tuhan membuat manusia bersukacita seimbang dengan hari-hari saat mana Tuhan mengajar (mendidik) mereka (ay. 15). Spiritualitas orang percaya menempatkan diri mereka sebagai manusia yang lemah, bergumul, berjuang, dan dengan demikian, membutuhkan Allah. Spiritualitas berarti “menyadari” kondisi hidup, sekaligus “menginginkan” intervensi Allah dalam hidup.

Hidup manusia di dunia hanya sementara (fana). Kesadaran inilah yang hendak ditegaskan Musa. Karena fana, maka Tuhan adalah satu-satunya pribadi yang dapat memberikan jaminan dan kebahagiaan, serta kekuatan untuk menjalani, menghadapi suka-duka hidup.

ASPEK SPIRITUALITAS

        Berdasarkan elaborasi di atas, kita sampai pada aspek spiritualitas. Ada beberapa aspek spiritualitas yang perlu kita cermati berikut ini:

Pertama, tetap beriman di masa sukar; tidak hanya memanfaatkan masa yang bahagia, tetapi juga menyeimbangkan “iman” dalam dua, tiga, atau bahkan empat kondisi (bahagia, duka, gelisah, tekanan).

Kedua, spiritualitas yang benar adalah menyeimbangkan antara iman dan pengalaman hidup bersama Tuhan dalam konteks bijaksana menilai, memahami, menghitung “hari-hari” yang dijalani, yaitu mengakui dan melihat apa yang Tuhan buat bagi kita, dan mengakui dan menilai apa yang  kita buat untuk Tuhan.

Ketiga, menyanyi (memuji-muji Tuhan) merupakan perintah Tuhan, sebab ekspresi iman tidak hanya melalui tindakan untuk berjalan pada jalan Tuhan, tetapi juga “menyanyikan” syukur, kebaikan Tuhan, pertolongan Tuhan, permohonan kepada Tuhan, dan lain sebagainya.

Keempat, bertindak sesuai dengan kehendak Tuhan dalam hari-hari yang dijalani.

Kelima, selalu mengandalkan (membutuhkan) Tuhan dalam segala hal, dalam hari-hari yang dilalui, melalui doa dan pujian. Dari sini kita menemukan konsistensi penyertaan Tuhan di sepanjang hidup.

Berdasarkan elaborasi di atas, kita dapat menarik kesimpulan bahwa spiritualitas Kristen adalah aspek signifikan yang terbentuk dari kualitas iman dan pengalaman yang diterapkan dalam konteks empat hubungan sebagaimana yang telah saya jelaskan di atas. Spiritualitas Kristen adalah level iman yang membawa seseorang kepada sikap hidup yang mengakui apa yang Tuhan buat bagi kita dan mengakui serta menyadari apa yang kita buat untuk Tuhan. Artinya segala sesuatu yang kita lakukan harus didasari pada firman dan disadari sebagai tanggung jawab iman.

Hari-hari yang kita lalui—sama seperti Musa dan umat Israel yang dipimpinnya—tidak hanya merasakan manisnya hidup, tetapi juga pahitnya hidup. Artinya, Tuhan mendidik umat-Nya untuk menikmati keseimbangan hidup—suka dan duka—di mana Tuhanlah yang bekerja untuk mendatangkan kebaikan bagi kita semua. Spiritualitas Kristen adalah jalan yang ditempuh dan dihasilkan dari berbagai kondisi di mana Tuhan mengajar dan mendidik kita untuk dapat “menghitung”, dan menilai” kehidupan sebagai karunia dari Tuhan yang patut disyukuri dan dijalani dengan penuh iman kepada-Nya.


Salam Bae


[1] Artikel ini masih bersifat bahan mentah, belum dilakukan pengkajian eksegetis, melainkan hanya pada tataran aplikatif. Artikel ini bisa digunakan sebagai bahan perenungan atas hidup, iman, pengalaman, dan spiritualitas Kristen.

[2] Allen P. Ross, Kregel Exegetical Library: A Commentary On The Psalms. Volume 1 (1—41) (Grand Rapids, MI: Kregel Publications, 2011), 25.

[3] Ross, A Commentary On The Psalms, 25.

[4] James Hely Hutchinson, “The Psalms And Praise”, dalam David Firth and Philip S. Johnston (eds.), Interpreting The Psalms: Issues and Approaches (Downers Grove, Illinois: InterVarsity Press, 2005), 85-86.

[5] Rolf A. Jacobson and Karl N. Jacobson, Invitation to the Psalm: A Reader’s Guide for Discovery and Engagement (Grand Rapids, MI: Baker Academic, 2013), versi pdf.

[6] Jacobson and Jacobson, Invitation to the Psalm.

[7] Jacobson and Jacobson, Invitation to the Psalm.

[8] Jacobson and Jacobson, Invitation to the Psalm.

[9] Jerome F. D. Creach, Six Themes Everyone Should Know: Psalms (Louisville, Kentucky: Geneva Press, 2019).

[10] C. Hassell Bullock, Encountering  the Book of Psalms: A Literary and Theological Introduction (Grand Rapids, MI: Baker Academic, 2018)

[11] John Calvin, Commentary on the Book of Psalms, trans. Henry Beveridge (Grand Rapids: Baker, 1979), 1:xxxvii.

[12] James L. Mays, Psalms Interpretation: A Bible Commentary for Teaching and Preaching (Louisville, KY: Westminster John Knox Press, 1994), 8, dikutip Creach, Psalms (Louisville, Kentucky: Geneva Press, 2019).

[13] Creach, Psalms.

[14] Walter Brueggemann, The Message of the Psalms (Minneapolis: Fortress, 2002), 52 dikutip Daniel Michael Nehrbass, Praying Curses: The Therapeutic and Preaching Value of the Imprecatory Psalms (Eugene, OR: Wipf and Stock Publishers, 2013)

[15] Nehrbass, Praying Curses.

[16] N. T. Wright, The Case for the Psalms: Why They Are Essential (EPUB Edition JULY 2013).

[17] Robert Alter, The Book of Psalms: A Translation with Commentary (New York: W. W. Norton & Company, 2009).

[18] Alter, The Book of Psalms.

KESETIAAN

Kesetiaan memiliki makna terdalam. Kehidupan dan relasi manusia mencerminkan sikap ‘setia’ kepada Tuhan. Kesetiaan kepada Tuhan tampak dalam totalitas hidup yang dijalani. Setia menenkankan prinsip ketaatan, komitmen, dan kesediaan menerima segala sesuatu dari Tuhan—apa pun itu—bagi kebaikan kita.

Ada fakta menarik yang dapat kita lihat di kehidupan kita sendiri. Terkadang, fakta itu sering diabaikan, sering dianggap remeh bahkan tak pernah terlintas di pikiran kita. Apakah itu? Kita merasakan bagaimana kehidupan ini baik-baik saja; bagaimana kita meraih segala sesuatu yang kita inginkan dan kehendaki. Kita mendapati diri kita masih bernafas, mendapati diri kita masih bergerak, membuka mulut untuk makan dan minum, kita bekerja untuk menyambung hidup. Dari semuanya itu, sudahkah kita bersyukur kepada Tuhan? Sudahkah kita menyadari bahwa hidup itu adalah anugerah?

Dapatkah kita sejenak merenung bahwa hidup itu penting dan berharga dan mengakui bahwa ada ‘tangan Tuhan yang kuat’ yang sedang menopang, memberkati, dan menyertai kita setiap waktu? Apakah Tuhan pernah alpa menolong dan memelihara kita? Apakah Tuhan lalai menepati janji-Nya? Apakah Tuhan hanya menjadi tujuan doa ketika kita sedang sekarat, tak berdaya? Bukankah dalam situasi suka dan duka kita tetap mengucap syukur kepada-Nya?

Hanya mereka yang setia kepada Tuhan yang dapat melakukan apa yang berkenan kepada-Nya. Hanya mereka yang menyadari dengan hikmatnya bahwa kebaikan Tuhan itu tak pernah pudar dan kemurahan Tuhan selalu baru tiap hari, selalu mengiringi langkah hidup kita.

Tak ada yang dapat kita berikan kepada-Nya selain rasa syukur dan perbuatan-perbuatan yang menyenangkan hati-Nya. Kesetiaan membawa hidup kita semakin dekat dengan Tuhan. Kesetiaan memberi kita sukacita yang luar biasa. Tuhan telah menyuguhkan kehidupan yang bermakna bagi kita; kita tinggal menyantapnya sambil mengucap syukur.

Kesetiaan kepada Tuhan mahal harganya. Kita terpanggil untuk melihat dan menyadari bahwa kasih Tuhan tak terbatas pada saat kita senang, melainkan juga saat kita dalam keadaan sedih, berduka, dan kecewa. Kita datang kepada-Nya dalam berbagai kondisi—dan Tuhan tetap menerima kita, menerima keluh kesah. Tuhan itu setia akan janji-Nya. Sudahkah kita menyatakan kesetiaan kita kepada-Nya?

Kesetiaan kita kepada Tuhan mencakup dua aspek: pertama, apa yang kita pertahankan; dan kedua, apa yang kita pertaruhkan.

Kita harus memperlihatkan iman kita dan lebih dari itu, mempertahankannya. Godaan dan cobaan adalah bumbu-bumbu kehidupan yang dapat mendorong kita untuk memperlihatkan kesetiaan iman kita kepada Tuhan.

Kita harus bertaruh segala sesuatu: waktu, tenaga, pikiran, uang, harta benda, dan lain sebagainya. Semuanya dilakukan untuk menunjukkan bahwa kita setia kepada Tuhan karena Dialah yang mengaruniakan segala sesuatu kepada kita.

Kesetiaan Tuhan kepada kita dibuktikan melalui tiga hal: pertama, Ia berdaulat atas hidup dan mati manusia; kedua, Ia memelihara semua ciptaan-Nya sesuai dengan kehendak-Nya; dan ketiga, Ia menjadikan segala sesuatu indah pada waktu-Nya.

Tuhan adalah setia; Ia telah menyatakan kesetiaan-Nya, dan Ia mengasihi kita. Ya, kita yang senantiasa berharap dan bersandar kepada-Nya.

Salam Bae

Sumber gambar: https://unsplash.com/photos/6jYoil2GhVk (Aaron Burden@aaronburden)

HIDUP DI DALAM DAN BAGI TUHAN

Dosa adalah masalah serius. Tak ada manusia yang kebal dosa. Dosa menjadi penjara kenikmatan demi memuaskan kesenangan. Dosa menjatuhkan banyak orang; dosa memalukan banyak orang; dosa merendahkan banyak orang; dosa mematikan banyak orang; dosa menghilangkan kepercayaan banyak orang, dan dosa merebak, mempengaruhi banyak orang.

Kadang-kadang dosa dipandang sebagai kesenangan, bahkan kenikmatan tersendiri. Dosa disembunyikan, kadang dipertontonkan. Ada banyak cara bagi manusia untuk melakukan dosa, tetapi Tuhan menyediakan satu cara untuk menyelesaikannya. Ia begitu mengasihi manusia yang meski berdosa, Ia menyediakan pertobatan, pengampunan, dan keselamatan.

Adakah yang dapat menyadari bahwa kemurahan dan kasih Tuhan begitu luar biasa? Adakah di antara kita yang melihat bahwa Tuhan menyediakan banyak waktu bagi kita untuk menyadari dosa-dosa, pelanggaran, dan kejahatan kita? Adakah di antara kita yang bergegas untuk kembali pulang kepada Tuhan ketika hendak merasakan kebebasan dan sukacita surgawi?

Sungguh, manusia menjadi “raja” atas dirinya sendiri ketika ia menyingkirkan Tuhan dan kursi hatinya. Kita lebih menuruti keinginan daging kita ketimbang menuruti kehendak Tuhan. Kita terbiasa dan bahkan ahli dalam melakukan dan menyembunyikan dosa-dosa, baik kecil, besar, maupun yang spektakuler.

Adakah kita menyadari betapa terhilangnya kita dari hadapan Tuhan Allah ketika kita berteman dengan dosa, pelanggaran, dan kesalahan kita? Bukankah kita sendiri yang menjauhkan diri dari Tuhan? Bukankah kita sendiri yang membuang Tuhan dari hati dan pikiran kita? Bukankah kita yang tidak mau membaca dan merenungkan firman-Nya untuk mengarahkan hidup kita kepada kebaikan, kasih, dan kemurahan Tuhan?

Ada yang hilang dari diri manusia ketika dosa merajai hati dan pikirannya. Keterhilangan dalam diri manusia terkait dengan “apa” dan “bagaimana”.

“Apa” berbicara tentang apa yang menyebabkan sesuatu terjadi. Apa yang seharusnya dipertahankan, runtuh ketika dosa dilakukan. Apa yang harus dijaga dengan sebaik mungkin, terbuka dengan sendirinya atau bahkan karena paksaan. Apa yang seharusnya tidak dilakukan (dilarang Tuhan), justru karena dosa, itu pun dilakukan dengan kesadaran bahwa “semoga tidak ada yang tahu dan tidak terjadi apa-apa”. Apa yang telah diikrarkan, runtuh dan tercecer ketika “dosa merasuki hati dan pikiran”.

“Bagaimana” berbicara tentang apa yang harus dilakukan. Bagaimana kita bergerak untuk keluar dari masalah dosa; bagaimana seharusnya kita menarik diri dari kesibukan dosa dan berjuang untuk menata hidup dengan lebih baik, berdasarkan apa yang Tuhan kehendaki.

Fakta telah mengajarkan kita banyak hal: Seharusnya hidup benar di hadapan Tuhan, malahan menjadi runtuh ketika dosa dilakukan. Seharusnya berjalan lurus di jalan Tuhan, malahan menyimpang ke kanan atau ke kiri untuk berbuat dosa.

Apa yang kita amati dari dualisme fakta di atas? Tentu kita harus menyadari bahwa ketika kita menyatakan “KREDO” kepada Tuhan, maka secara konsisten kita juga harus hidup bagi Dia dan di dalam [kasih] Dia. Kita tak bisa menyatakan hidup bagi Dia jika tidak tinggal di dalam Dia. Seseorang tak dapat mengatakan bahwa “Saya hidup dalam rumah itu”, jika ia sendiri tak pernah masuk dan tinggal di dalamnya.

Siapa yang dipimpin oleh Tuhan pasti hidup di dalam Tuhan; siapa yang dipanggil Tuhan untuk tinggal dalam kasih-Nya, pasti akan hidup—secara konsisten—bagi Tuhan. Jika demikian, apa yang harus kita perjuangkan dan pertahankan?

Pertama, kita harus memperjuangkan hidup kudus yang mencakup banyak aspek signifikan di dalamnya. Sikap berjuang adalah sebuah kesadaran dan keaktifan untuk melihat Tuhan sebagai Pemimpin Hidup sekaligus melihat diri kita sebagai seorang yang bertanggung (bekerja dan berjuang) bagi Tuhan dalam segala hal termasuk moralitas dan spiritulitas.

Dengan menyibukkan diri melayani Tuhan, dosa dapat disingkirkan. Kita bekerja bagi Tuhan seyogianya hidup dalam kebenaran dan kekudusan; dosa menjadi musuh utama yang harus dilawan, hindari, dan dibuang.

Kedua, kita harus mempertahankan apa yang telah Tuhan berikan kepada kita. Ia telah memberikan iman, kasih, dan pengharapan. Jagalah dan peliharalah itu agar kehidupan yang di jalani, tetap berada pada koridor Tuhan; dengan mempertahankannya, kita tak akan menyimpang ke kanan atau ke kiri, apalagi berbuat dosa.

Kiranya Tuhan memberkati kita dan memampukan kita melakukan kebaikan, kasih, kemurahan kepada sesama. Bahkan kita menjauhkan diri dari segala perbuatan yang dibenci Tuhan dan menegor mereka yang hidup dalam kegelapan dosa, membawa mereka kepada terang Yesus Kristus.

Salam Bae

Sumber gambar: https://unsplash.com/photos/EMZxDosijJ4 (Ben White@benwhitephotography)

FILOSOFI KETAKUTAN

Filosofi ketakutan berbicara tentang fakta bahwa manusia menyadari keterbatasannya dan menginginkan sesuatu di balik keterbatasannya itu (the philosophy of fear speaks of the fact that man is aware of his limitations and wants something behind it) — Stenly R. Paparang

Ketakutan adalah bagian dari diri manusia dan merupakan sifat alami manusia. Ada kejadian atau situasi tertentu yang membuat manusia menjadi takut. Biasanya apa yang tidak diinginkan, apa yang tidak disukai, apa yang tidak harapkan, apa yang tidak dipikirkan, apa yang mengakibatkan sesuatu, dan apa yang bisa menghilangkan sesuatu, menimbulkan rasa takut.

Ada berbagai dampak yang ditimbulkan ketika manusia merasa takut. Manusia dapat melakukan segala sesuatu ketika perasaan takut menyelimuti dirinya. Pikiran akan terus berpikir mencari jawaban dan jalan keluar dari rasa takut. kadang, apa yang dimiliki dihantui oleh rasa takut kehilangan. Apa yang selama ini dibangun dan dipertahankan, takut untuk roboh dan terlepas dari genggaman.

Ada fakta yang memberi kepada kita sepotong kisah mengenai rasa takut. Yesus, ketika Ia akan disalibkan, rasa takut hadir dalam diri-Nya (lih. Lukas 22:42-44). Dalam keadaan-Nya sebagai manusia, sangat wajar Yesus merasa ketakutan, apalagi Dia menghadapi kematian. Ketika ada orang yang menghubungkannya dengan ke-Tuhanan Yesus, rasa takut yang dirasakan-Nya dipakai sebagai senjata untuk menegasikan ke-Tuhanan-Nya. Tapi orang Kristen jelas melihat rasa takut yang dialami Yesus dalam kondisi-Nya sebagai manusia, karena Ia jelas dalam wujud manusia. Mereka yang tidak melihat hal ini, tentu memiliki motivasi tersembunyi untuk menolak ke-Tuhanan-Nya.

Kalau Yesus itu Tuhan, mengapa Ia takut? Seharusnya pertanyaan menjadi sebuah pernyataan: “karena Yesus adalah manusia, maka Ia merasa takut menghadapi kematian”. Lalu, ke-Tuhanan Yesus di mana? Tentu tidak kemana-mana. Karena Yesus memiliki dua natur, maka Ia tak mungkin melepaskan natur kemanusiaan-Nya secara permanen hanya untuk mempertahankan ke-Tuhanan-Nya. Karena Yesus adalah manusia yang unik—satu-satunya di dunia—maka kasus penggunaan natur secara alami dan sesuai konteksnya, hanya dapat dilakukan Yesus. Mengenai urusan kemanusiaan, maka apa yang dialami manusia pada umumnya, tentu dirasakan oleh Yesus. Sedangkan mengenai urusan ke-Tuhanan-Nya, maka apa yang dilakukan oleh Tuhan Allah, tentu dapat dilakukan oleh Yesus. Hal-hal ini sangat jelas tampak dalam catatan Injil-Injil Perjanjian Baru.

Mengenai hal-hal tersebut, saya tidak membahasnya di sini. Saya hanya menyinggung mengenai rasa takut yang dialami Yesus ketika menghadapi kematian-Nya melalui penyaliban sebagaimana yang telah Ia nubuatkan (Mat. 16:21; 17:22-23; 20:18-19). Meski demikian, pada akhirnya Ia membuktikan bahwa apa yang dinubuatkan terjadi. Nubuat mengenai penderitaan, kematian-Nya (karena dibunuh), dan bangkit pada hari ketiga adalah sebuah konfirmasi bahwa perkataan-Nya benar. Ini sangat luar biasa. Meski rasa takut melingkupi diri Yesus, pada akhirnya Ia sanggup melewati semua tindakan yang membuat-Nya menderita kesakitan, dan mati. Ia justru mengubah rasa takut menjadi kemenangan yang luar biasa. Dengan rasa takut, Yesus menghadapi kematian-Nya.

Itulah sebabnya, dalam tulisan singkat ini, saya hendak memahami filosofi ketakutan yang dirangkum dari berbagai kisah. Saya mengamatinya secara mendalam dan menghasilkan beberapa pemahaman dan kesimpulan tentang filosofi ketakutan.

Pertama, ketakutan adalah upaya manusia untuk merasakan keselamatan tatkala ia berada dalam himpitan masalah yang berat. Di sini, ketakutan menghasilkan berbagai cara untuk lepas dan terbebas dari himpitan masalah. Yesus pernah mengalami hal ini, tetapi Ia kemudian tidak lari atau menghindar dari rasa takut akan kematian-Nya; justru Ia berkata: “Bukan kehendak-Ku yang jadi, tetapi kehendak-Mu (Bapa) yang jadi.”

Kedua, ketakutan adalah rasa alami yang dirasakan manusia ketika berhadapan dengan sesuatu yang menantang, atau membuat dirinya terpuruk, terluka, terhukum, dan terancam (keselamatan dirinya atau orang-orang yang dia kasihi). Ia akan mengerahkan seluruh pikiran dan tenaganya dalam menghadapi ketakutan itu. Banyak tindakan yang dapat dilakukan untuk mengatasinya. Kadang, bunuh diri menjadi jalan pintasnya.

Ketiga, ketakutan adalah sebuah keputusan diri dan pikiran ketika berhadapan dengan rasa malu dan marah. Marah tidak selamanya berani. Ada kalanya, dalam keadaan marah justru seseorang merasa takut. Takut jika yang dimarahinya adalah orang yang lebih kuat, lebih tinggi jabatannya, lebih kaya, lebih berpengaruh, lebih hebat dari dirinya.

Keempat, ketakutan adalah dampak dari sebuah perasaan ketika seseorang merasakan akan mengalami kematian.

Kelima, ketakutan adalah sebuah situasi di mana yang mayoritas merasa menjadi berkurang. Konteks ini sering terjadi dalam dunia agama. Ketika ada orang dari agama mayoritas menjadi penganut agama minoritas, maka rasa takut—artinya takut berkurang dan takut menjadi malu—bisa menyelimuti pengamut agama mayoritas.

Keenam, ketakutan adalah sebuah keputusan yang dalam waktu sekejap bisa menjadi tindakan membunuh orang lain. Konteks ini bisa juga terjadi dalam dunia agama. Ketika beberapa orang dari penganut agama mayoritas beralih keyakinan ke agama minoritas, maka rasa takut—takut berkurang, takut malu (dipermalukan), takut disaingi, dan takut menjadi sakit hati berkepanjangan, maka rasa takut diteruskan dengan tindakan brutal, yaitu membunuh penganut agama minoritas. Hal ini sering terjadi di bumi kita.

Ketujuh, ketakutan adalah kondisi keterbatasan manusia dalam menghadapi sesuatu. Misalnya seseorang melewati kuburan di tengah malam. Ia takut karena ia terbatas untuk bisa melawan “setan” yang dalam pemahamannya bisa melukai atau bahkan membunuhnya. Contoh kasus lainnnya adalah para murid Yesus. Ketika mereka melihat ada orang yang berjalan di atas air, mereka ketakutan. Mereka takut karena orang itu bisa saja mencelakai mereka dan menenggelamkan mereka. Ketika itu Yesus berkata: “Tenanglah, Aku ini, jangan takut!” (Mat. 14:26-27; Mrk. 6:49-50; Yoh. 6:19-20).

Dari ketujuh pemahaman dan kesimpulan tentang filosofi ketakutan di atas, kita termasuk pada bagian yang mana? Apakah ketakutan yang selama ini kita rasakan telah menjadikan diri kita takut melangkah dan bertindak? Apakah ketakutan sering menyelimuti kita? Apakah kita perlu takut terus-menerus ketika berhadapan dengan fakta hidup?

Sebagai pengikut Yesus Kristus, haruskah kita merasa takut berkepanjangan? Sebagai minoritas di negara Indonesia, haruskah kita berhenti berbuat baik, mengasihi orang-orang yang membenci dan memusuhi kita sedemikian rupa sampai mencap kita sebagai “kafir” dan “penghuni neraka jahanam?” Haruskah kita berhenti mendoakan orang-orang yang memusuhi dan membenci kita? Tentu tidak. Yesus Kristus telah mengajarkan ajaran “tunggal” yaitu: Kasihilah musuhmu dan berdoalah bagi mereka yang menganiaya kamu. Karena dengan demikianlah kamu menjadi anak-anak Bapamu yang di sorga, yang menerbitkan matahari bagi orang yang jahat dan orang yang baik dan menurunkan hujan bagi orang yang benar dan orang yang tidak benar” (Mat. 5:44-45).

Para martir Kristen telah membuktikan bahwa kematian bukanlah ketakukan yang perlu mereka hindari. Meski ketakutan bisa saja menjadikan diri mereka menyangkal imannya kepada Yesus Kristus, tetapi mereka memilih setia dan mati demi Yesus Kristus. Ketakutan secara manusiawi memang ada, tetapi bagi pengikut Yesus Kristus, ketakutan telah digantikan dengan jaminan kehidupan yang kekal. Ketakukan boleh ada, tetapi janganlah ketakutan itu menjadikan diri kita terpuruk dan tidak lagi bangkit untuk berharap kepada Tuhan, serta menjadi terang dan garam dunia, menjadi pelaku-pelaku firman.

Ingatlah, Allah, yang memanggil kita kepada persekutuan dengan Yesus Kristus, Tuhan kita, adalah setia. Tuhan adalah setia. Ia akan menguatkan hati kita dan memelihara kita terhadap yang jahat (1 Kor. 1:9; 1 Tes 5:24; 2 Tes. 3:3). Jika Tuhan itu setia, ketakutan bukan sesuatu yang harus dipelihara, melainkan kita harus bersyukur pada ketakutan—khususnya akan kematian—telah dijamin oleh Tuhan bahwa mereka yang mati bagi-Nya, akan diberikan kehidupan yang kekal dan makhota kehidupan.

Meski ketakukan bisa hadir di mana-mana, dalam segala situasi dan kondisi, orang-orang yang percaya kepada Yesus Kristus harus menjaga hidupnya, hidup dalam kesucian. “Setiap orang yang menaruh pengharapan itu kepada Yesus Kristus, menyucikan diri sama seperti Yesus Kristus adalah suci.

Salam Bae.

Sumber gambar: https://id.pinterest.com/pin/367747125812907606/

BAGAIMANA MENGHILANGKAN SIFAT EGOISME?

Sumber Gambar: https://id.pinterest.com/pin/577868195930792327/

Sifat egois mungkin ada dalam diri kita atau mungkin orang yang kita kenal. Apa yang menyebabkan seseorang menjadi egois dan bagaimana mengatasinya? Egoisme bisa dikikis atau bahkan dihilangkan dengan melihat secara cermat pada lima substansi hidup:

Pertama, setiap manusia harus melihat bahwa ia dan orang lain memiliki kesamaan hidup. Artinya, sama-sama menikmati hidup dan udara, atau bumi yang sama. Bedanya adalah soal kesempatan. Ketika seseorang dapat memahami hal ini, maka egoisme dalam konteks memandang kehidupan, akan segera luntur atau menurun, karena seseorang dapat menyadari bahwa dirinya adalah sama dengan orang lain: mendapat kesempatan hidup yang sama tetapi soal kesempatan menikmati hidup dengan berbagai cara adalah pembedanya.

Kedua, setiap manusia harus melihat bahwa dirinya dan orang lain sama-sama mempertahankan hidup. Setiap manusia memiliki potensi untuk mempertahankan hidupnya dan orang-orang yang dikasihi serta dicintainya. Jadi, egoisme terhadap konteks mempertahankan hidup membawa seseorang kepada rasa puas diri yang semu sebab ia sendiri tak bisa hidup tanpa orang lain. Jika seseorang merasa bahwa hanya dia yang dapat berbuat ini dan itu, seseorang tersebut melupakan prinsip substansial ini. Uang yang didapati, dimiliki, dicari, toh bukanlah karena usaha sendiri melainkan adanya kontribusi dari orang lain. Sebut saja seorang guru atau dosen. Mereka mengajar mendapatkan upah (gaji) dari penyelenggara pendididikan atau para murid/mahasiswa yang menyetor uang bayaran sebagai kewajibannya. Maka, di sini hendak ditegaskan bahwa sehebat-hebatnya dosen atau guru, jika tanpa murid atau mahasiswa, maka dosen atau guru bukanlah apa-apa, bahkan tak menghasilkan apa-apa.

Ketiga, setiap manusia harus menyadari bahwa ia dan orang lain sama-sama akan mati. Keegoisan untuk mau menang sendiri dalam hal hidup, mengurangi rasa hormat terhadap orang lain. Apa bedanya seorang direktur yang memiliki gaji besar, dengan seorang pemulung di jalanan? Mereka berbeda dalam hal pendapatan hidup, tetapi mereka sama dalam hal substansi hayatinya dan sama-sama akan mati. Entah direktur, entah pemulung semuanya akan mati. Soal siapa duluan mati, itu adalah kehendak Tuhan. Tidak ada jaminan bahwa karena pemulung adalah orang yang tidak terhormat, maka ialah yang dahulu mati. Memahami hal ini, akan menjadikan diri kita untuk tidak egois dengan apa yang kita miliki untuk disombongkan. Sebaliknya, apa yang kita miliki haruslah menjadi berkat bagi orang lain dengan berbagai cara.

Keempat, setiap manusia harus menyadari bahwa ia dan orang lain memiliki potensi yang berbeda. Potensi-potensi menghasilkan karya-karya. Baik direktur dan pemulung, keduanya memiliki potensi. Seorang pemulung jika ia berhenti menjadi pemulung dan kemudian belajar dan berusaha, maka terbuka peluang baginya untuk menjadi seorang direktur. Seorang direktur yang ketika bangkrut dan jatuh miskin, terbuka peluang baginya untuk menjadi seorang pemulung. Potensi-potensi yang dimiliki manusia tidak perlu disombongkan atau menjadi sebuah egoisme yang tinggi. Memahami bahwa kita dan orang lain memiliki potensi yang berbeda, akan menghilangkan rasa egoisme.

Kelima, setiap manusia harus menyadari bahwa ia dan orang lain memiliki prinsip hidup, kekurangan, dan kelebihan. Setiap manusia memiliki keunikan tersendiri. Namun, setiap manusia juga memiliki prinsip hidup yang mengukuhkan iman dan pengharapannya. Di samping itu, kekurangan dan kelebihan adalah hal yang bersifat natural dalam diri manusia. Lalu untuk apa egois jika kita tahu bahwa setiap manusia memiliki prinsip hidup, kekurangan, dan kelebihan? Seorang yang memiliki uang banyak tidak lebih lama hidupnya dibanding seorang yang miskin. Seorang yang menggunakan uangnya untuk menghalalkan segala cara dan dianggap hebat oleh para pendukungnya, tidak lebih hebat dari seorang ibu yang penuh kesabaran merawat, mendidik, mengasuh, dan mengajar anak-anaknya meski ia sendiri tidak memiliki uang dalam jumlah banyak.

Orang yang berduit banyak memiliki kekurangan dan kelebihan. Begitu pula dengan para pedagang asongan. Mereka yang berbuat jahat memiliki kelebihan dan kekurangan, begitu pula dengan mereka yang berbuat baik. Pembedanya adalah substansi dari kekurangan dan kelebihan dari masing-masing manusia.

Seringkali, egoisme lahir dari empat hal: pertama, karena seseorang merasa lebih kaya dari orang lain sehingga ia dapat mengendalikan, mengatur, dan menetapkan sesuka hati karena ia merasa bahwa karena dialah maka semuanya terjadi dan terwujud; kedua, karena seseorang merasa bahwa ia lebih berpengalaman dibanding lainnya, sehingga ia mau bahwa pendapatnya saja yang diterima; ketiga, karena seseorang merasa bahwa hanya dialah yang hebat dan pintar maka semua orang harus melihat kepada dirinya dan harus menerima setiap hal yang diusulkannya. Karena kepintarannya, maka pendapat dan gagasan orang lain dianggap tidaklah bermutu atau berguna; dan keempat, karena seseorang merasa bahwa dirinya adalah paling beriman, paling dekat dengan Tuhan, dan paling sering tampil di depan umum. Konteks ini memberikan data faktual bahwa seringkali mereka yang merasa paling dekat dengan Tuhan justru bertindak melawan Tuhan. Mereka yang merasa paling beriman justru yang melakukan hal-hal di luar iman. Keegoisan lahir dari kesombongan rohani dan menganggap bahwa hanya dia yang layak didengar dan ditakuti.

Untuk menghindari, meredam, dan mengikis sifat-sifat egois dalam diri, kelima hal yang substansial di atas adalah solusinya.

Selamat memahami, merenungkan, dan mencobanya, sehingga mendapatkan perubahan yang berarti dalam hidup.

Shalom

Salam Bae…

FILOSOFI PINTU

FAKTA DASAR

Perlindungan dan keamanan hidup manusia didapatkan dari serangkaian cara. Untuk mendapatkan kehidupan yang nyaman dan aman, manusia secara bijak membuat “rumah”. Rumah adalah tempat tinggal yang paling disukai manusia. Ketika membuat rumah, “pintu” adalah bagian kecil dari konstruksi bangunan, bahkan yang megah sekalipun.

Rumah yang telah dibangun, didasarkan pada rancangan yang matang, atau hanya sekadar bangun saja. Dalam skema atau gambar rumah, pintu selalu digambar sebagai akses atau penghubung dari ruang satu ke ruangan yang lainnya. Atau dengan perkataan lain, “pintu” adalah wacana untuk memasuki sebuah ruangan untuk menikmati segala sesuatu yang ada di dalamnya.

Rumah dengan pekarangan yang luas, memiliki beberapa pintu. Pintu utama pasti ada—yaitu pintu masuk untuk melihat pekarangan dan rumah itu sendiri. Pintu kedua adalah pintu rumah atau pintu utama untuk masuk ke dalam rumah. Selain itu, ada pintu-pintu kamar tidur—tak lupa pula, pintu kamar mandi.

Apa sebenarnya makna dari pintu? Seindah-indahnya sebuah kamar, jika tidak memiliki pintu masuk, maka kamar hanyalah sebuah ruangan yang tak akan dinikmati selama-lamanya. Seindah dan semewah apa pun ruang tamu rumah, jika tidak ada pintu masuk ke dalammya, akan menjadi ruangan seperti kuburan. Lalu apa makna mendasar dan makna filosofis dari sebuah “pintu” rumah dan “pintu” hidup kita?

GAGASAN FILOSOFIS

Manusia yang lahir normal, keluar dari “pintu” rahim seorang perempuan. Permulaan hidup manusia ketika melihat dunia, muncul dari “pintu” mata. Perasaan akan kesenangan dan kesusahan hidup, dialami melalui “pintu” hati. Menikmati kebebasan berpikir dan menikmati keindahan kata-kata, dialami manusia dengan membuka “pintu” kesadaran logikanya. Keindahan sebuah  ruangan rumah dengan segala macam ornamen, kemewahan barang-barangnya, akan dilihat dan dikagumi ketika seseorang telah masuk melalui sebuah “pintu” yang menghubungkan ruangan luar dan ruangan dalam.

Bahkan, dalam arti negatif, dua sejoli yang ingin menikmati hawa nafsu liar di kamar hotel, harus berurusan dengan “pintu masuk”. Jika tidak ada pintu, nafsu tinggallah nafsu. Atau dalam arti yang positif, dua sejoli yang baru menikah dan ingin menikmati hotel mewah di Bali, harus juga berurusan dengan banyak pintu seperti pintu mobil, pintu pesawat, pintu toilet, pintu kapal laut, pintu masuk hotel, dan pintu masuk kamar hotel, tak lupa pula, pintu kamar mandi jika kebelet “pipis” atau sedang sakit perut.

“Pintu” adalah akses masuk keluar. Dengan pintulah kita dapat menikmati keindahan hidup baik secara positif maupun negatif. Ketika pintu tertutup, tak ada yang dapat dibanggakan oleh pemilik rumah. Dia mau lihat apa jika pintu rumah tertutup? Lalu apa makna seluas-luasnya dari sebuah “pintu”? Di sini, saya hendak menjelaskan filosofis dari pintu yang dikorelasikan dengan berbagai konteks. Berikut penjelasannya.

Konteks Rumah

Seperti yang telah saya jelaskan di atas, bahwa setiap rumah memiliki pintu, baik pintu utama akses masuk pekarangan rumah, pintu utama ruang tamu, pintu kamar, dan pintu kamar mandi. Semua pintu tersebut tidaklah sama. Pemilik rumah tidak akan berpikir untuk membuat bentuk dan jenis pintu di rumahnya itu sama. Ia akan mendesai atau menyesuaikan jenis dan bentuk pintu di setiap ruangan. Pintu gerbang lain dengan pintu kamar mandi, dan seterusnya.

Pintu rumah adalah sebuah kebanggaan bagi pemilik rumah sebab jika tidak demikian, ia akan kehilangan harta benda ketika pintu rumahnya tidak dibuat seaman mungkin sehingga pencuri dengan mudahnya masuk ke dalam rumah untuk mengambil barang-barang berharga. Dari sini kita belajar bahwa “pintu” adalah penutup rumah sebagai bentuk keamanan dan kenyamanan diri” dan sebagai pembuka rumah sebagai bentuk kenikmatan dan kepuasan hidup bersama orang-orang yang dikasihi. Yang jomblo tentu tidak termasuk. Tetapi para jomblo juga dapat menikmati hidup bersama sahabat-sahabatnya melalui sebuah pintu masuk ke dalam rumahnya sendiri atau rumah sewaan.

Konteks Hotel

Konteks ini kurang lebih memiliki kesamaan dengan konteks rumah. Akan tetapi, hotel sering memberikan nilai privasi dan keamanan yang lebih dalam konteks refreshing, liburan, dan kegiatan-kegiatan lainnya. Siapa pun yang masuk ke hotel akan selalu berurusan dengan pintu-pintu. Pintu memberikan kesan yang baik dan mengharukan bagi mereka yang menikmati liburan bersama keluarga dan orang yang dicintai dan dikasihi. Namun, di sisi lain, pintu juga akan menjadi malapetaka ketika ada orang yang “bunuh diri” di kamar hotel dengan berbagai cara. Pintu di satu sisi menghadirkan kebahagiaan, dan di sisi lainnya menghadirkan malapetaka. Ketika pintu terkunci dan tidak bisa dibuka, semua kebahagiaan akan pupus dan tak terwujud.

Konteks Alat Transportasi

Tidak hanya rumah, sekolah, perkantoran, atau  hotel yang memiliki pintu. Alat-alat transportasi juga didesain sedemikian rupa dengan memiliki pintu masuk yang nyaman. Mobil mewah seperti Mercedes memiliki pintu dan para penggunanya memiliki akses untuk menikmati kemewahan di dalamnya. Ketika semua orang telah berurusan dengan pintu masuk ke dalam alat-alat transportasi, maka mereka dapat menikmati berbagai keindahan alam dan sebagainya; mereka dapat mempercepat waktu “berada” dari lokus yang satu ke lokus lainnya; mereka dapat menikmati liburan yang menyenangkan sesuai jadwal yang ditetapkan. Semua dapat terwujud ketika “pintu” masuk ke dalam alat-alat transportasi tersebut berfungsi dengan baik. Jika tidak, semuanya akan kacau dan berantakan.

Konteks Logika

Logika menjembatani berbagai hal untuk dipikirkan, dianalisis, dan dipublikasikan. Dalam konteks yang sedang saya jelaskan, logika manusia mengimplementasikan apa yang dipikirkan manusia terkait dengan beragam konteks. “Pintu” logika saya samakan dengan “pengertian penuh” dari sebuah konteks. Ketika manusia tidak memahami segala sesuatu atau “sesuatu” maka hal itu dapat kita kategorikan sebagai “ia tak dapat mengerti sepenuhnya”. Pengertian yang penuh adalah bentuk keterpahaman seseorang terhadap sesuatu. Pintu logika merupakan gerbang yang besar untuk masuk ke dalam berbagai pengertian yang membuat manusia melihat kemenangan, keindahan, kebahagiaan, kesukacitaan, kepuasan, dan keberkatan. Manusia yang memahami atau mengerti adalah manusia yang telah membuka pintu logikanya untuk melihat ke dalam konteks-konteks yang dipikirkan yang dicerna dan dirasakan dengan hati tenang.

Pintu logika adalah pintu pengertian penuh di mana manusia dapat memahami dan melihat kekayaan kehidupan dengan ragamnya. Saya rasa, kebahagiaan dan rasa puas yang terdalam adalah ketika “kita mengerti sepenuhnya” tentang sesuatu hal  yang dengannya kita dapat menikmatinya, menjalaninya, melakukannya, membagikannya, dan menjaganya seumur hidup. Mengerti sepenuhnya tidak berarti bahwa “sesuatu atau objek” yang dipikirkan dapat sepenuhnya dipahami. Mengerti sepenuhnya juga berarti bahwa manusia menyadari bahwa sesuatu itu dapat saja tidak dipahami sepenuhnya (personalitas, gejala, dan sebagainya). Kesadaran bahwa manusia tidak dapat memahami sepenuhnya—misalnya personalitas Tuhan—dapat dikategorikan sebagai “mengerti sepenuhnya” keterbatasan logika, waktu, metode, dan sumber.

Konteks Kehidupan

Secara totalitas manusia menikmati dua pintu: pintu awal kehidupan dan pintu akhir kehidupan. Pintu kehidupan terbuka luas dan tinggal dinikmati sebebas-bebasnya. Akan tetapi, kebebasan yang tidak terkontrol dan tidak didasarkan pada kesadaran-kesadaran akan nilai kehidupan, akan menjerumuskan manusia kepada kematian atau sakit penyakit. Ketika manusia hidup, pintu-pintu kehidupan membuka peluang baginya untuk memilih pintu mana yang akan memberikan kebahagiaan atau kebebasan, kenyamanan atau keserakahan.

Setiap manusia memiliki potensi untuk membuka setiap pintu kehidupan: pilihan bebas manusia mengantarkan dirinya kepada tujuan hidupnya yang dilaluinya melalui sebuah “pintu”. Pintu hati dan pintu logika memungkinkan manusia dapat menetapkan jalan hidupnya. Mereka yang beriman kepada Tuhan juga memiliki pilihan yang sama. ”. Pintu hati dan pintu logika memungkinkan manusia dapat menetapkan jalan hidup yang dikaruniakan Tuhan kepada mereka. ketika hati dan logika menyatu (atau sekapat), maka pintu-pintu kehidupan akan terbuka dan memberikan berbagai jenis kebahagiaan dan kepuasan hidup di dalam Tuhan.

Pintu-pintu kehidupan menyediakan berbagai hidangan kehidupan bagi mereka yang “tahu bagaimana masuk ke dalamnya” melalui pintu yang dibuka dengan “kunci” yang tepat. Ketika kunci tidak tepat, seseorang akan memaksakan diri untuk masuk melalui pintu kehidupan dengan cara mendobrak atau merusaknya. Ketika pintu kehidupan telah rusak, maka terlihat bahwa motivasi seseorang akan membawa dirinya kepada berbagai-bagai duka.

Pintu-pintu kehidupan bukanlah bersifat fisik, melainkan spiritual. Spiritualitas kita diukur dari sejauh mana kita berpikir, berkata, dan berbuat. Tuhan telah menyediakan banyak pintu dan kita diberikan kesempatan oleh Tuhan untuk meminta kunci yang tepat agar bisa membuka pintu-pintu tersbut. Tetapi, Tuhan juga memberikan kesadaran dan pengertian bagi kita untuk mempergunakan ruangan kehidupan di mana kita telah masuk di dalamnya (melalui pintu) untuk hal-hal yang memuliakan dan menyenangkan Tuhan.

Pintu-pintu kehidupan adalah akses memasuki dunia yang riil dan kita dituntut untuk menjadi para pelaku firman-Nya. Menjadi yang terbaik adalah tujuan Tuhan bagi kita. Dengan kunci-kunci kehidupan yang Tuhan berikan, kita dapat mengajak orang lain untuk masuk ke dalam dunia kebahagiaan, dunia di mana kasih, iman, dan pengharapan menjadi kesatuan yang mengikat manusia menjadi serupa dengan Yesus Kristus.

Ketika Tuhan mengizinkan kita menikmati dunia yang diberkatinya, sikap kita adalah tetap menjaga kemurnian diri; menjaga pikiran, perkataan, dan perbuatan kita selaras dengan kehendak Tuhan dan firman-Nya. Seperti yang diungkapkan Raja Daud dalam Mazmur 141:3, “Awasilah mulutku, ya TUHAN, berjagalah pada pintu bibirku”, bahwa Daud memohon agar Tuhan memampukan dirinya berkata-kata yang benar dan tidak mengeluarkan kata-kata yang tidak sesuai dengan kehendak Tuhan. Kejahatan melalui pintu “bibir” adalah kejahatan yang sangat berisiko kareka akan berpengaruh buruk dan mencelakakan diri sendiri dan orang lain. Daud tahu bahwa “bibir” adalah organ tubuh yang ketika terbuka (pintunya) akan dengan mudah mengeluarkan kata-kata, baik pujian maupun kutuk. Untuk itulah Daud memohon agar Tuhan “menjaga pintu bibirnya” agar terhindar dari kesombongan perkataan yang akan menjeratnya.

Ketika kita memohon kepada Tuhan agar Ia menolong dan melindungi diri kita, maka kita akan terhindar dari segala kesesatan pikiran dan perkataan yang mencelakakan diri sendiri dan orang lain. Ajaklah sahabat-sahabat kita untuk masuk melalui pintu kehidupan yang telah Tuhan sediakan, dan turut menikmati kebahagiaan yang juga Tuhan sediakan kepada kita. Menikmati kebahagiaan haruslah melalui sebuah “pintu”. Pintu hati, pintu logika, pintu bibir, adalah pintu-pintu yang perlu dibuka untuk menikmati janji-janji Tuhan yang luar biasa.

Selamat membuat pintu, membuka pintu, dan menikmati ruangan kehidupan yang indah, yang Tuhan sediakan kepada kita. Ketika ruangan kehidupan yang di dalamnya tidak menyediakan kebahagiaan, maka patahkanlah kuncinya sehingga kita dan orang lain tidak ada yang memasukinya. Tuhan telah memberikan ruangan kehidupan kepada kita, dan kita diberikan kunci untuk membukanya. Gunakanlah kunci-kunci pintu kehidupan dengan baik dan membawa orang lain untuk turut merasakan kebaikan Tuhan yang luar biasa sebab Tuhan adalah adalah Pemurah dan penuh belas kasihan, serta cinta kasih yang tiada taranya.

Shalom. Salam Bae

Sumber gambar: https://id.pinterest.com/pin/688628599263791402/

FILSAFAT TEOLOGI: Karakter sebagai Empirikal Iman Kristen

Sumber gambar: https://id.pinterest.com/pin/52635889384629542/

Filsafat teologi yang sesungguhnya hanya dapat dijelaskan secara memuaskan oleh mereka yang telah mengalami kasih, kuasa, dan firman Tuhan, hidup dalam “kebenaran [doktrin]” yang sesungguhnya (tanpa ada penyimpangan doktrinal), dan oleh mereka yang telah diubahkan Tuhan (bertobat) dan hidup dalam kejujuran, keadilan, dan ketulusan.

Secara umum, filsafat teologi—khususnya teologi Kristen—dapat dirumuskan, dipikirkan, dikembangkan, dianalisis, oleh setiap orang Kristen. Akan tetapi, identitas “Kristen” tidak menjamin hasil dari sebuah filsafat teologi yang sesungguhnya. Filsafat teologi tidak hanya berangkat dari berbagai gagasan logikalisme dan doktrinal Kristen, melainkan juga dari “natur empirikal” iman Kristen dari mereka yang benar-benar hidup dalam firman dan berlaku jujur di hadapan Allah.

Jadi, filsafat teologi mencakup tiga aspek penting yaitu: gagasan logikalisme, doktrin, dan empirikal. Bagian-bagian dari tiga aspek ini akan dijelaskan kemudian, setelah saya menjelaskan sedikit tentang natur dari filsafat teologi.

NATUR FILSAFAT TEOLOGI

Natur atau ciri khas dari filsafat teologi adalah sebagai berikut:

Pertama, filsafat teologi memiliki harta karun yang sangat banyak yang bisa mencukupi—ketika semua manusia yang mengambil harta karun itu untuk kesinambungan kehidupan mereka. Harta karun itu memiliki kegunaannya masing-masing: berguna untuk memperbaiki hidup di hadapan Tuhan, berguna untuk memperbaiki hidup di hadapan sesama manusia, berguna untuk menyelaraskan diri dengan firman Tuhan, dan berguna untuk menampilkan sikap hidup yang benar kepada semua orang.

Kedua, filsafat teologi memiliki PESAN dan MAKNA yang beragam sesuai konteksnya masing-masing. Pada setiap konteks pesan dan makna mendorong setiap orang untuk bergerak dan berjuang mempertahankan hidup. Pada faktnya, para teolog menjadi tidak berguna ketika ia mengabaikan peran dan tanggung jawabnya untuk berjuang mempertahankan hidup. Teologi tidak hanya “berbicara tentang Tuhan” tetapi juga “berbicara tentang tanggung jawab bertahan hidup” sebab hidup itu sendiri adalah pemberian Tuhan dan tanggung jawab kita untuk menjalani dan mempertahankannya.

Ketiga, filsafat teologi memiliki POTENSI untuk MENGUBAHKAN ARAH HIDUP (tujuan) seseorang, dan doktrin yang menyimpang. Fakta lampau telah memperlihatkan kepada kita mengenai para martir yang hidupnya diubahkan Tuhan Yesus Kristus dan mereka berani berjuang bahkan rela mati bagi dan demi Dia. Fakta lampau juga telah memperlihatkan kepada kita mengenai berbagai doktrin yang menyimpang yang dipercayai oleh orang-orang yang menyesatkan, tersesat, dan disesatkan, sehingga terbukti bahwa pemahaman mereka tentang teologi yang menyoroti teks-teks Alkitab begitu dan sangat menyimpang.

Ada orang-orang yang mereka sesatkan dan mereka tidak tahu bahwa mereka itu sesat. Ini adalah sebuah paralogisme. Para penyesat ini masih ada hingga sekarang. Dengan keyakinan seadanya tetapi “ngotot”, mereka mempublikasikan gagasan-gagasan “unyil” dengan suara lantang, bahkan lebih menggelegar. Secara substansi isi dari publikasi gagasan-gagasan mereka telah gagal menggunakan prinsip-prinsip hermeneutika dan historikal. Akibatnya, mereka semakin tersesat dan menyesatkan.

Peran filsafat teologi sangat dibutuhkan di zaman ini, mengingat maraknya doktrin-doktrin yang menyesatkan berseliweran (berjalan kian kemari) di berbagai tempat. Para teolog, penafsir, pemerhati teologi, dan pelayan Tuhan, memilik tugas yang berat: harus berjuang untuk berperang melawan serigala-serigala yang menyamar menjadi domba upahan. Bawa kembali domba-domba yang direbut mereka; bawa pulang ke tempat yang seharusnya yaitu “Gereja”.

Ketiga, filsafat teologi memiliki PEDOMAN untuk hidup kudus di hadapan Tuhan. Ada narasi-narasi teologis-filosofis, narasi-narasi etis-teologis, narasi-narasi humanitas hayati, narasi-narasi iman dan relasional, narasi-narasi kredibilitas iman, dan narasi-narasi eskatologis. Semua narasi tersebut merupakan narasi doktrinal. Jiwa kita dibentuk menurut narasi-narasi itu. Berbagai kesulitan tentu akan ditemui apabila memahami dan menerapkan narasi-narasi tersebut. Namun, yang pasti Tuhan akan menopang, menuntun, dan memberikan kekuatan untuk menghadapi dan keluar dari berbagai kesulitan.

Keempat, filsafat teologi memiliki CINTA KASIH TUHAN yang telah dinyatakan kepada manusia berdosa. Teologi seyogianya membicarakan dan merealisasikan cinta kasih Tuhan yang luar biasa itu.

Kelima, filsafat teologi memiliki HARAPAN untuk menata masa depan yang lebih baik, lebih maju, mandiri, dan kredibel. Setiap orang percaya dicerahkan dan dikuatkan imannya karena ada harapan pasti dan petualangan mengikut dan percaya kepada Tuhan Yesus.

BAGIAN-BAGIAN FILSAFAT TEOLOGI:

Pertama, respons terhadap penyataan Allah (logikalisme dan doktrinal). Allah telah menyatakan diri-Nya baik dalam sejarah Bapak-Bapak leluhur, bangsa Israel, para hakim dan nabi, maupun kepada para rasul melalui Yesus Kristus. Secara logis, orang yang percaya kepada Allah haruslah merespons kebaikan-Nya dan penyataan-Nya melalui Yesus Kristus. Secara doktrinal, penyataan Allah adalah bagian terpenting dari iman Kristen yang menegaskan bahwa Allah—secara ajaib—menunjukkan kuasa-Nya yaitu “LOGOS menjadi daging [sarks] dan diam di antara manusia”.

Kedua, Iman yang bersandar pada Allah yang pra-historis dan pasca empirikal (logikalisme, doktrinal dan empirikal). Secara logis iman harus melihat pada Allah yang berkarya pra-historis dan pasca empirikal secara kontinu. Melihat pada Allah berarti mengandalkan Dia secara serius dan konsisten. Bersandar pada Allah adalah sebuah doktrin yang perlu dipahami dan dilakukan, serta dipertahankan. Secara empirikal, apa yang baik yang pernah dilakukan haruslah tetap dilakukan, apa yang terjadi di masa lampau haruslah tetap dipegang dan dipahami sehingga dapat diterapkan di masa kini dalam konteks relasi humanitas dan relasi spiritual dengan Tuhan. Ini adalah karakter yang substansial dari iman Kristen dan sebagai empirikal yang patut diperhatikan.

Ketiga, Kuasa Allah yang Mahaberdaulat: Solusi yang Suprematif (doktrinal). Kuasa Allah—ketika dinyatakan—maka tidak ada satu manusia pun yang dapat menahannya. Kuasa Allah harus dipegang sebagai doktrin; keyakinan bahwa Allah berkuasa dan Ia Mahaberdaulat atas semua ciptaan-Nya adalah bersifat doktrinal. Jika tidak, narasi-narasi doktrinal akan menjadi tak berarti karena kehilangan kuasa Allah yang hebat dan dahsyat itu.

Keempat, Logika: Pemahaman akan kebenaran (logikalisme dan doktrinal). Secara logis, kebenaran harus dipahami dan dihidupi. Kebenaran-kebenaran yang terdapat dalam Alkitab adalah doktrin-doktrin yang dapat dipertanggung jawabkan. Dari padanya kita menyerap berbagai hal subsntasial untuk tetap menjaga dan melindungi diri kita dari serangan ajaran-ajaran sesat dan menyesatkan. Karakter iman Kristen mengedepankan pemahaman akan kebenaran secara kredibel.

Kelima, Supremasi kasih yang tulus (doktrinal). Kasih terhadap Allah harus terealisasi ke dalam konteks kasih terhadap sesama. Secara substansial, supremasi kasih dipandang sebagai doktrin yang menghasilkan tatanan kehidupan yang selaras dengan kehendak Tuhan. Doktrin yang benar adalah doktrin yang mengandung prinsip kasih Allah kepada manusia dan kasih manusia kepada Allah. Mengasihi Allah dan sesama adalah dasar dari karakter iman Kristen dan itu menjadi empirikal yang krusial.

Keenam, Konatif yang Unik (empirikal). Iman tanpa perbuatan pada hakikatnya adalah mati. Demikian pernyataan tegas Rasul Yakobus. Tindakan-tindakan etis-teologis adalah sebuah desakan empiris yang dengannya kita tahu dan menilai bahwa percaya kepada Tuhan Allah tak mungkin jika tidak menampilkan karakter dan konatif (kemauan untuk berbuat sesuatu) yang telah ditetapkan Tuhan. Konatif yang unik ada dua yaitu: “mengasihi musuh” dan “berdoa bagi musuh.” Filsafat teologi harus berani menunjukkan konatif yang unik ini, sehingga menjadi empirikal yang perlu diwariskan.

Ketujuh, Pengurbanan Kristus yang diteladani (doktrinal dan empirikal). Pengurbanan Yesus Kristus tidak hanya menjadi narasi doktrinal melainkan merupakan narasi empirikal. Mereka yang percaya kepada Yesus Kristus tentu memiliki pengalaman tersendiri di mana mereka merasakan kasih, kuasa, dan jamahan Tuhan. Doktrin seharusnya menjadi sebuah empiris orang percaya, termasuk empiris di mana mendatang.

AKHIRNYA…

Filsafat teologi menjelaskan tentang prinsip dan pengajaran tentang Allah dan karya-Nya di dalam Yesus Kristus, menjelaskan tentang kasih dan kuasa Tuhan. Filsafat teologi mencakup tiga aspek penting yaitu: gagasan logikalisme, doktrin, dan empirikal dan ketiganya memiliki bagian-bagian signifikan yakni:

(1) respons terhadap penyataan Allah (logikalisme dan doktrinal). (2) Iman yang bersandar pada Allah yang pra-historis dan pasca empirikal (logikalisme, doktrinal dan empirikal). Secara logis iman harus melihat pada Allah yang berkarya pra-historis dan pasca empirikal secara kontinu. (3) Kuasa Allah yang Mahaberdaulat: Solusi yang Suprematif (doktrinal). Kuasa Allah harus dipegang sebagai doktrin; keyakinan bahwa Allah berkuasa dan Ia Mahaberdaulat atas semua ciptaan-Nya adalah bersifat doktrinal. (4) Logika: Pemahaman akan kebenaran (logikalisme dan doktrinal). Secara logis, kebenaran harus dipahami dan dihidupi. (5) Supremasi kasih yang tulus (doktrinal). Kasih terhadap Allah harus terealisasi ke dalam konteks kasih terhadap sesama. (6) Konatif yang unik (empirikal). Iman tanpa perbuatan pada hakikatnya adalah mati. Konatif yang unik ada dua yaitu: “mengasihi musuh” dan “berdoa bagi musuh”, dan (7) Pengurbanan Kristus yang diteladani (doktrinal dan empirikal). Mereka yang percaya kepada Yesus Kristus tentu memiliki pengalaman tersendiri di mana mereka merasakan kasih, kuasa, dan jamahan Tuhan.

Filsafat teologi memiliki harta karun yang sangat banyak yang bisa mencukupi—ketika semua manusia yang mengambil harta karun itu untuk kesinambungan kehidupan mereka. Filsafat teologi memiliki PESAN dan MAKNA yang beragam sesuai konteksnya masing-masing.

Filsafat teologi memiliki POTENSI untuk MENGUBAHKAN ARAH HIDUP (tujuan) seseorang, dan doktrin yang menyimpang. Filsafat teologi memiliki PEDOMAN untuk hidup kudus di hadapan Tuhan. Filsafat teologi memiliki CINTA KASIH TUHAN yang telah dinyatakan kepada manusia berdosa.

Filsafat teologi memiliki HARAPAN untuk menata masa depan yang lebih baik, lebih maju, mandiri, dan kredibel. Jika memiliki harapan, bergegaslah dari zona nyaman dan bergerak mencari jiwa-jiwa terhilang; ajar mereka, arahkan mereka, dan panggil mereka untuk menerima Yesus Kristus sebagai Tuhan dan Juruselamat mereka.

Filsafat teologi bukan hanya sebagai wacana (percakapan) intelektual (pengetahuan tentang doktrin-doktrin) saja, melainkan pula sebagai wacana empirikal yang dengannya kita telah menyeimbangkan dan menyelaraskan antara iman dan perbuatan. Dan itu menjadi fakta empirikal iman Kristen yang sangat berkesan, solid, dan patut dipertahankan sepanjang hayat.

Salam Bae.

FILSAFAT “WAKTU” (Philosophy of Time)

Manusia berpikir di dalam waktu. Manusia hidup dan bergerak di dalam waktu. Manusia berelasi dan bahagia di dalam waktu. Manusia menderita dan berjuang di dalam waktu. Manusia lahir dan mati di dalam waktu. Manusia berperang dan berdamai di dalam waktu. Di dalam waktu manusia berfilsafat. “Waktu” menciptakan “filsafat” dan dalam berfilsafat, manusia dapat memahami signifikansi “waktu.”

“Waktu” memiliki dua indikasi yakni: pertama, waktu yang menunjuk pada ketentuan yang tetap seperti jam, hari; dan kedua, waktu yang menunjuk pada suatu masa, saat, atau momentum yang tidak secara teratur terjadi dalam kehidupan manusia. Di sini, saya hendak menekankan pada jenis waktu yang kedua.

Filsafat waktu berbicara mengenai apa yang perlu dilakukan oleh manusia dalam waktu yang singkat ini. Artinya, kita dapat menduga atau bahkan meyakini bahwa hidup manusia itu sangat singkat. Alkitab menjelaskan bahwa hidup manusia itu sama seperti uap, sebentar saja kelihatan lalu hilang lenyap. Semarak manusia itu juga bersifat sementara. Namun ada perbedaan antara manusia yang dikenan Tuhan dan manusia yang tidak dikenan Tuhan.

Pada umumnya, setiap manusia perlu melakukan sesuatu. Sesuatu yang akan dilakukan, dilakukannya di dalam waktu. Bahkan, segala sesuatu memiliki tendensi waktu yang terbatas atau dibatasi. Karenanya, manusia berlomba-lomba mengerjakan segala sesuatu yang mendatangkan kebaikan, baik bagi dirinya sendiri, bagi orangtuanya, bagi keluarganya, bagi orang yang dikasihi dan dicintainya, dan bagi sahabatnya.

Filsafat waktu mendukung sepenuhnya mengenai unsur-unsur moralitas dan spiritualitas yang terkandung di dalam segala sesuatu yang telah, sedang, dan akan dilakukan oleh setiap manusia. Tulisan ini akan mengkaji tiga hal: pertama, substansi filsafat waktu; kedua, unsur moralitas yang terkandung di dalam waktu sebagai bentuk kredibilitas manusia terhadap sesama; dan ketiga, unsur spiritualitas yang terkandung di dalam waktu sebagai bentuk kredibilitas manusia terhadap Tuhan, Sang Pencipta waktu.

Pertama: SUBSTANSI FILSAFAT WAKTU

Secara substansial, filsafat dipahami sebagai bentuk pemikiran yang memikirkan, mengkaji, dan menilai kebijaksaan. Kebijaksanaan itu sendiri bersifat abstrak dan mencakup keluasan materi baik tentang alam semesta, manusia, dan Sang Pencipta. Di dalam waktu, para filsuf bergelut tentang tiga hal tersebut. Ketiga-tiganya masih menjadi bahan perbincangan hingga sekarang ini. Alam semesta dipahami sebagai hasil ciptaan Tuhan di satu sisi, dan di sisi lain merupakan hasil nonpersonal (secara alamiah). Yang kedua merupakan bentuk pemikiran yang gagal total memahami substansi waktu dari materi yang menciptakan alam semesta secara kebetulan atau bersifat potensialitas.

Jadi, filsafat waktu adalah bagian dari tanggung jawab manusia untuk memahami alam semesta sebagai “rumah” bagi manusia untuk berkreasi, berdaya cipta, beranak cucu, berbahagia, berelasi, dan melakukan segala sesuatu, entah baik, entah buruk.

Filsafat waktu adalah bagian dari tanggung jawab manusia untuk memahami “manusia” sebagai “kawan” sekerja dalam segala hal dan “teman” yang memiliki rasa kemanusiaan, rasa memiliki, rasa memerlukan, rasa kebergantungan, rasa melindungi, rasa menghormati, dan rasa solidaritas.

Filsafat waktu adalah bagian dari tanggung jawab manusia untuk memahami personalitas Tuhan sebagai Sang Pencipta yang memungkinkan segala sesuatu terjadi. Dialah yang menciptakan alam semesta dan manusia di muka bumi ini. Dialah yang berhak menentukan segala sesuatu untuk dapat terjadi dalam totalitas proses kesinambungan alam semesta dan proses kehidupan manusia sejak ia dalam kandungan sampai ia menutup mata.

Ketiga hal tersebutlah yang mendasari substansi dari filsafat waktu. Manusia harus menjaga alam semesta; manusia harus saling mengasihi sesamanya; dan manusia harus bersyukur kepada Tuhan sebagai Pribadi yang memungkinkan manusia dapat melakukan segala sesuatu yang mendatangkan kebaikan bagi manusia itu sendiri.

Kedua: UNSUR MORALITAS

Moralitas menjadi bagian yang tak terpisahkan dari substansi filsafat waktu sebagaimana yang telah saya jelaskan di atas. Filsafat waktu mendorong manusia untuk menjaga tatanan hidup (konatif), pikiran, dan perkataan yang menciptakan sebuah moralitas yang agung yang dapat dinilai dan dirasakan manfaatnya oleh sesamanya. Itu sebabnya, moralitas menjadi tanggung jawab yang agung untuk menghasilkan karakter yang agung pula. Menenun moralitas membutuhkan ‘waktu’. Karenanya, filsafat waktu memberi desakan agar tenunan moralitas segera dikerjakan—dan bukan ditunda-tunda.

Ketiga: UNSUR SPIRITUALITAS

Spiritualitas adalah sahabat dari moralitas. Spiritualitas menjadi bagian yang tak terpisahkan dari substansi filsafat waktu. Filsafat waktu mendorong manusia untuk menjaga tatanan kerohanian (spiritualitas), pikiran, dan perkataan dalam hubungannya dengan Tuhan. Spiritualitas menciptakan sebuah karakter dan integritas yang agung yang dapat dinilai dan dirasakan manfaatnya oleh sesamanya. Itu sebabnya, spiritualitas menjadi tanggung jawab yang agung untuk menghasilkan karakter dan integritas yang agung pula. Menenun spiritualtias membutuhkan ‘waktu’. Karenanya, filsafat waktu memberi desakan agar tenunan spiritualtitas segera dikerjakan—dan bukan ditunda-tunda.

Relasi dengan Tuhan adalah bersifat personal. Setiap manusia memiliki rahasia tersendiri soal hubungannya dengan Tuhan. Ia dapat menciptakan “waktu” yang terbaik di mana ia hidup bersama Tuhan dalam arti bahwa ia mematuhi hukum-hukum Tuhan dan segala perintah-perintah-Nya. Bagaimana baiknya hubungan seseorang dengan Tuhan, bergantung pada seberapa banyak “waktu” yang ia gunakan untuk menyenangkan hati Tuhan dan memuliakan nama-Nya.

Filsafat waktu dapat juga berarti bagaimana manusia mempergunakan waktu selama ia hidup untuk berkontribusi bagi alam semesta, bagi sesama, dan bagi pekerjaan atau pelayanan Tuhan. Dengan waktu yang digenggam manusia, ia perlu menumbuhkembangkan sikap menghargai waktu, dan di dalam waktu tersebut, ia terkubur di dalamnya. Kesadaran menilai dan mempergunakan waktu adalah sebuah kebijaksanaan, sebuah filsafat waktu. Manusia harus memahami, menghargai, dan mempergunakan waktu yang ada.

Konklusinya adalah bahwa filsafat waktu mendorong setiap manusia untuk memahami signifikansi waktu, menghargai waktu dengan melakukan hal-hal yang bermanfaat bagi alam semesta dan sesama manusia, dan mempergunakan waktu yang dikaruniakan Tuhan untuk melakukan segala sesuatu yang menyenangkan hati-Nya dan memuliakan nama-Nya.

Di dalam waktu manusia memikirkan dan memahami filsafat waktu. Di dalam waktu , manusia menerapkan filsafat waktu, dan di dalam waktu, tulisan filsafat waktu saya akhiri.

Salam Bae…

Sumber gamba: https://id.pinterest.com/pin/827747606507369386/

LOGIKA ANALOGIKAL—KLASIFIKASI

Secara hakiki, cara berpikir manusia bersifat analogikal—klasifikasi. Bentuk ini adalah umum berlaku di segala bidang. Ada indikasi persamaan dalam suatu hal tetapi sekaligus dibedakan berdasarkan kategori-kategori internal maupun eksternal bahkan berdasarkan fakta. Manusia pada umumnya juga sering melakukan cara berpikir analogikal—klasifikasi yang pada gilirannya dia sendiri dapat memahami secara mendalam ketika ia berada dalam kasus yang sama.

Sampai di sini, pembaca masih belum memahami apa sebenarnya yang saya maksudkan dengan logika analogikal—klasifikasi. Saya pun tidak tahu. Jadi kita berhenti di sini saja. Ok? Anda tersenyum. Lalu—mungkin—berguman: “buat apa membahas atau menulis tentang logika analogikal—klasifikasi sedangkan anda/kamu (maksudnya ‘saya’ sebagai penulis) mau menulisnya? Kalau begitu, akhirnya saya pun jadi, malahan sebenarnya saya tahu tetapi bermain dalam komposisi penulisan untuk menggiring kuriositas-jika pembaca membaca sampai tulisan ini berakhir.

Saya lanjutkaan. Logika analogikal—klasifikasi adalah pola pikir manusia yang melihat persamaan kasus, sekaligus membuat klasifikasi dari apa yang dia lihat dari persamaan kasus tersebut. Sebagai contoh konkrit, saya membuat perumpamaan yang bersifat faktual, berikut ini:

“Jika kita melihat anak kecil berumur dua tahun, kencing dipinggir jalan, maka mayoritas yang melihatnya akan memiliki respons yang berbeda. Pertama, kita akan berkata, anak itu lucu ya, kencing di pinggir jalan. Kedua, kita berpikir bahwa tidak apa-apa anak kecil itu kencing di pinggir jalan. Ketiga, kita berpikir bahwa untuk apa dipikirkan ketika anak kecil kencing di pinggir jalan. Keempat, kita mungkin berkata: ‘di mana orangtuanya? mengapa anaknya dibiarkan kencing di pinggir jalan’”.

Sampai di sini, kadang kita tidak memusingkan apakah anak dua tahun itu melanggar etika atau tidak. Maklum, namanya juga anak kecil, jadi tidak apa-apa kencing di pinggir jalan. Kapan pun dan di mana pun, anak berumur dua tahun bisa kencing di mana saja. Tidak ada halangan. Toh, burungnya masih kecil, tidak mengganggu pemandangan mata, dan tidak menimbulkan hawa nafsu. Lalu bagaimana jika orang dewasa berumur tiga puluh tahun kencing di pinggir jalan?

Jika kita melihat orang dewasa berumur tiga puluh tahun, kencing dipinggir jalan, maka mayoritas yang melihatnya akan memiliki respons yang berbeda juga. Pertama, kita akan berkata, orang itu tidak tahu diri, kencing di pinggir jalan. Kedua, kita berpikir bahwa tidak baik orang itu kencing di pinggir jalan. Ketiga, orang itu tidak tahu malu. Keempat, dasar, kencing sembarangan. Kelima, dasar, orangtuanya mungkin tidak pernah mendidiknya dengan baik. Keenam, orang itu tidak punya perasaan, bagaimana jika ada orang lain melihat alat kelaminnya?”

Jika anak kecil berumur dua tahun bisa kencing di mana saja, maka tidak demikian dengan orang dewasa. Orang dewasa akan kencing berdasarkan klasifikasi tempat dan situasi. Jika malam hari, di tempat gelap, orang dewasa bisa kencing sepuasnya. Tidak demikian ketika di siang hari di tempat yang sama. Orang dewasa merasa malu kencing sembarangan karena “burungnya”, sedangkan anak kecil tidak.

Dari dua kisah di atas, yang secara faktual mungkin pernah atau sering kita lihat di sekitar kita atau di mana saja, adalah bentuk logika analogikal—klasifikasi. Kita melihat dua kasus yang sama yakni “kencing di pinggir jalan” dan sekaligus melakukan klasifikasi faktual—psikologi terhadap dua orang yang berbeda secara umur dan pengetahuan. Dengan demikian, ada banyak hal atau peristiwa yang memiliki natur logika analogikal—klasifikasi.

Contoh lain adalah: “Ada seorang pendeta berkata kepada jemaatnya: ‘sebagai orang percaya, tidak boleh merokok, tidak boleh mabuk-mabukkan.’ Di lain pihak, pendeta tersebut malah merokok dan mabuk-mabukan. Ketika sang pendeta ketahuan merokok dan mabuk-mabukan, ia berkata: ‘kalau pendeta merokok dan mabuk-mabukan, tidak apa-apa, dan tidak jadi masalah.’” Si pendeta sedang melakukan logika analogikal—klasifikasi. Ia mengklasifikasikan dirinya dengan jemaatnya dalam soal merokok dan mabuk-mabukan, bahkan dirinya dianalogikan sebagai “anak kecil yang kencing di pinggir jalan”, sedangkan jemaatnya dianalogikan sebagai “orang dewasa yang kecil di pinggir jalan.”

Contoh lainnya adalah: seorang pendeta mengatakan kepada jemaatnya: “janganlah kita berkata sombong, berkata kotor, berkata tipu muslihat, merendahkan orang lain dengan fitnah, dan menghina orang yang belum tentu orang yang dihina dan difitnah melakukan hal-hal sebagaimana yang dituduh oleh si penuduh dan pemfitnah.” Namun, pada kenyataannya, para jemaat menemukan pendetanya justru melakukan hal-hal yang dilarangnya (sesuai Alkitab), seperti: ia berkata sombong, ia berkata kotor, ia berkata dengan penuh tipu muslihat, ia merendahkan orang lain dengan fitnah, dan ia menghina orang yang belum tentu orang yang dihina dan difitnah melakukan hal-hal sebagaimana yang dituduh oleh si pendeta tersebut.

Ketika diklarifikasi, si pendeta berkata, “Tidak apa-apa, saya kan pendeta, jadi tidak masalah, karena Tuhan bisa mengampuni saya.” Akan tetapi, ketika dilihatnya para jemaat melakukan hal yang sama, ia menjadi marah dan geram, dan mengatakan bahwa: “Tuhan akan menghukum kalian karena telah berbuat yang tidak benar.” Mengenai contoh di atas, saya teringat dengan kisah Raja Daud yang mengambil istri Uria dengan cara yang tidak wajar. Nabi Natan memberikan perumpamaan soal kisah Daud, dan Daud menjadi sangat marah dan berkata: “Demi TUHAN yang hidup: orang yang melakukan itu harus dihukum mati….” Daud mengklasifikasikan dirinya denga orang lain, padahal yang dimaksudkan Nabi Natan adalah Daud sendiri. Daud tidak menyadari tindakannya sehingga ia ditegur Tuhan. Sama halnya dengan pendeta yang merasa suci meski menghina dan merendahkan orang, dan berharap bahwa jemaat yang melakukan hal yang sama, haruslah dihukum. Lalu dirinya? Dirinya sendiri tidak masuk dalam kategori tersebut adalah dia sedang melakukan analogikal—klasifikasi.

Ketika seseorang memahami persoalan orang lain tetapi fokus pada orangnya dan bukan pada persoalannya, seseorang telah melakukan “argumentum ad hominen”. Seseorang juga melakukan analogikal—klasifikasi (membedakan diri orang lain dengan dirinya)

Ketika seseorang memiliki anggapan buruk sebelum mengetahui sesuatu secara pasti dan faktual, seseorang telah melakukan hukum “a priori” (beranggapan sebelum mengetahui secara pasti). Seseorang juga melakukan analogikal—klasifikasi (mengganggap orang lain buruk dan dirinya tidak)

Ketika seseorang memfitnah dan kemudian menyadari bahwa apa yang difitnahkan tidaklah sesuai dengan kenyataan, maka seseoang telah mengalami “a posteriori”. Seseorang juga melakukan analogikal—klasifikasi (merasa diri paling suci dan benar dibanding orang lain)

Ketika seseorang merasa benar hanya dari dirinya sendiri (baik hal negatif dan positif), ia telah melalukan “solipsisme”. Seseorang juga melakukan analogikal—klasifikasi (merasa benar dibanding orang lain dan merasa tahu segala hal yang benar dibanding orang lain)

Ketika seseorang merasa suci dan benar di antara para pencemooh, ia telah mengkondisikan berada di “dunia khayalan yang di dalamnya ada bidadari yang kapan saja disetubuhi”. Seseorang juga melakukan analogikal—klasifikasi (merasa suci dari semua pelaku fitnah dan suka membenci orang lain dan merasa bahwa orang lain dapat diperalat sesuai keingingan [nafsu])

Ketika seseorang merasa percaya dengan pengakuan orang yang berhalusinasi dengan kekayaan yang tak terbukti, ia telah “diperalat-memperalat” untuk tujuannya masing-masing. Seseorang juga melakukan analogikal—klasifikasi (membedakan dan membandingkan diri orang yang punya kekayaan dengan orang lain yang lebih miskin)

Ketika seseorang yang menjadi penjilat sana sini, ia telah menjadikan dirinya sebagai “pelacur sosial—religiositas”. Seseorang juga melakukan analogikal—klasifikasi (mengklasifikan orang-orang yang telah memberinya segalanya baik materi maupun uang)

Ketika seseorang mengukur dirinya yang diangap suci dengan orang yang dirasa paling kotor, maka ia telah melakukan “pelacuran-rasio-egoistik”. Seseorang juga melakukan analogikal—klasifikasi (mengklasifikasikan dirinya dengan orang lain yang dirasa paling kotor dan rendah)

Ketika seseorang berkoar-koar dengan sesuatu yang dia sendiri bermain di dunia sandi diksi, maka ia sebenarnya sedang mempublikasikan “ignorantiam—perspektivisme”. Seseorang juga melakukan analogikal—klasifikasi (membandingkan orang lain dengan orang lain dengan menggunakan sandi diksi)

Ketika seseorang melakukan logika analogikal—klasifikasi terhadap kasus-kasus yang dilarang dan dia sendiri melakukan hal tersebut, maka seseorang tersebut telah melakukan “aproval—personalistik” (pembenaran pribadi).

Sampai di sini, konsep logika analogikal—klasifikasi telah menjerumuskan orang-orang dalam dunia yang kecil. Di dunia yang kecil manusia menganggap diri besar. Persamaan yang diklasifikasikan oleh seseorang dapat menjadi “standar ganda” .

Konsep logika analogikal—klasifikasi bisa kita terapkan sejauh hal itu masih berada di lingkungan analogi psikologi umur dan karakter antara anak kecil dan orang dewasa dalam hal “kencing di pinggir jalan.” Akan tetapi, ketika konsep logika analogikal—klasifikasi diterapkan kepada sesama orang dewasa, maka orang dewasa akan mengalami standar ganda. Jika seseorang mengatakan kepada seseorang: “Anda yang jangan menyalahkan orang lain”, maka standar gandanya adalah: “Anda juga yang menyalahkan saya (yang adalah lain dari diri anda).”

Oleh sebab itu, berhentilah melakukan konsep logika analogikal—klasifikasi terhadap orang lain dalam hal negatif, tetapi lakukanlah konsep logika analogikal—klasifikasi dalam hal tatanan moralitas, spiritualitas, kedudukan, jabatan, dalam relasi saling memahami, saling mengerti, saling menghargai, saling menghormati, dan saling menopang.

Shalom. Salam Bae…

Sumber gambar: https://id.pinterest.com/pin/5629568273793910/

PUPUR DAN SMENGKEN

Dulu, pupur (bedak) dan smengken adalah idola anak kecil dan anak remaja. Anak kecil, termasuk saya, selalu dipakaikan pupur oleh ibu saya. Pupur tersebut bermerek “Marcks”, “Purol”, “Herocyn” dan “Viva Cosmetics”. Keempat jenis pupur ini popular di zaman saya dulu. Penggunaannya tergantung kondisi. Marcks adalah pupur yang sering saya gunakan hingga sekolah menengah atas. Biar tampak putih (meski sedikit saja), pupur telah membawa pesona diri dari anak desa yang sering tak memakai kaos kaki ketika berangkat ke sekolah. Pupur memang hebat.

Pupur adalah pewarna wajah. Pupur telah menjadikan anak desa tampil bersinar meski kadang antara pipi kanan dan pipi kiri kurang seimbang. Kadang pupur di pipi sebelah kanan terlalu tebal. Tak jarang, pupur dipakai sampai di telinga, dan dipakai juga buat pengharum kile-kile (ketiak). Menarik bukan?

Lalu bagaimana dengan smengken? Smengken (lipstik) di kalangan anak remaja adalah pewarna bibir yang bisa menjadi daya tarik agar orang terpikat karenanya. Smengken menghasilkan gelora diri yang harus ditonjolkan demi meraup perhatian dari para anak muda; tak jarang lelaki tua ikut melihat penampilan remaja bersmengken.

Smengken memiliki citarasa tersendiri. Apalagi ketika malam minggu tiba. Sekejap, smengken menjadi popular. Untuk apa? Untuk menarik perhatian. Meski bentuk bibir kelihatan kurang menarik, tapi karena warna smengken yang terlampau merah, membuat mata para pelihat tersepona; tak jarang, banyak yang tertawa geli dan aneh. Para remaja putri memang suka menggunakan smengken meski kadang bibir terasa gatal akibat smengken dengan harga sepuluh ribu dapat empat. Tetapi, smengken telah membuat puas diri karena dianggap telah memberikan hasil yang maksimal. Smengken punya kisah tersendiri bagi mereka yang pernah merasa percaya diri ketika memakainya.

Lalu makna apa yang dapat kita petik dari kisah pupur dan smengken? Tentu ada. Berikut maknanya (dalam pemahaman saya):

Pertama, pupur adalah benda yang bisa memberikan rasa tersendiri pada wajah kita.

Kedua, pupur adalah tanda bahwa ibu kita mengasihi dan sayang kepada kita yang dengan setia memberikan pupur di pipi meski kadang tampak tak seimbang (sebelah tipis, sebelah tebal).

Ketiga, pupur adalah tanda bahwa kita tampil beda, wangi, menawan, dan menarik.

Keempat, smengken adalah benda yang memberikan rasa percaya diri.

Kelima, smengken adalah tanda bahwa kita sayang pada diri kita sendiri—sesuai takaran penggunaannya—untuk menunjukkan kecantikan wajah secara utuh.

Keenam, smengken adalah tanda bahwa kita ingin tampil beda dan memberikan yang terbaik bagi orang yang kita sayangi, dan bagi para pelihat di mana pun mereka berada.D

Ketujuh, dari pupur dan smengken kita dapat belajar bahwa segala sesuatu yang kita gunakan adalah bagian dari realisasi diri untuk diperlihatkan kepada khalayak. Jika demikian, yang paling menarik dari hidup kita bukanlah pupur dan smengken, melainkan perilaku dan perkataan kita sehari-hari. Pupur dan smengken bisa menimbulkan daya tarik, akan tetapi ketika para pemakainnya memiliki perilaku yang buruk, maka pupur dan smengken akan menjadi luntur dari penilaian khalayak.

Jadikan diri kita menarik dengan mengembangkan potensi diri yang telah Tuhan berikan kepada kita.

Salam Bae…

Sumber gambar: https://cdn.idntimes.com/content-images/community/2018/06/55469a414a078fca25095cccf6c85bba.jpg

Rancang situs seperti ini dengan WordPress.com
Mulai