Antara Iman dan Pengalaman Hidup Ditinjau dari Mazmur 90:12[1]

PENDAHULUAN
Secara umum, manusia memiliki empat jenis hubungan: pertama, dengan Tuhan; kedua, dengan sesama; ketiga, dengan alam (lingkungan); dan keempat, dengan diri sendiri. Keempat jenis hubungan ini bisa menjadi baik, bisa menjadi rusak. Baik-rusaknya suatu hubungan ditentukan oleh tiga aspek, yaitu: pemahaman akan kehidupan, pemahaman akan lingkungan (situasi dan kondisi), dan pemahaman akan iman.
Pemahaman akan kehidupan berbicara mengenai apa maka kehidupan bagi manusia. Manusia menjadi baik ketika ia memahami hidup secara baik pula; dan manusia menjadi rusak ketika ia memahami hidup hanya sebagai pemuasan nafsu belaka. Pemahaman akan lingkungan (situasi dan kondisi) berbicara mengenai bagaimana sikap dan perilaku manusia untuk berinteraksi dengan lingkungannya; dan pemahaman akan iman berbicara tentang apa yang Allah kehendaki untuk dilakukan manusia yang beriman kepada-Nya.
Mazmur 90:12 mengandung tiga aspek di atas. Umat Tuhan menyadari bahwa mereka diberikan kesempatan oleh Tuhan untuk menikmati hidup di bawah pimpinan dan kuasa-Nya, melalui Musa, nabi-Nya. Umat-Nya beradaptasi dengan situasi dan kondisi dari lokus-lokus di mana mereka lewat atau pun menetap. Dan mereka juga bergumul untuk melakukan kehendak Allah agar hidup mereka tertuju hanya kepada Allah.
Tiga aspek di atas tidak hanya berbicara mengenai apa yang dipikirkan dan dilakukan, tetapi juga berbicara mengenai spiritualitas. Hari-hari yang dilalui, justru mengajar umat Tuhan untuk melihat bahwa Tuhan tetap mengasihi mereka dan menghajar ketika mereka melawan, memberontak, dan berdosa di hadapan-Nya.
Klausa “Ajarlah kami menghitung hari-hari kami” adalah sebuah spiritualitas yang menyadarkan umat-Nya bahwa setiap hari, ada tangan Tuhan yang menuntun mereka. Manusia dididik Tuhan untuk menjadi “bijaksana”—tahu dan mempertimbangkan baik-buruknya segala sesuatu. Dari situ, umat Tuhan bergerak dari spiritualitas kepada realitas—melihat kehidupan secara bijaksana—dan menemukan konsistensi penyertaan Tuhan bagi mereka sendiri.
Konteks tersebut menyuguhkan dua fakta bahwa dalam hari-hari yang dilalui manusia, mereka melihat apa yang dilakukan Allah, dan melihat apa yang mereka lakukan bagi Allah.
Allen P. Ross dalam A Commentary On The Psalms menyatakan bahwa, selama sekitar 3000 tahun Mazmur telah menjadi inti dari kehidupan rohani umat Allah. Susunan doa, pujian, nyanyian pujian, renungan, dan liturgi dalam koleksi mencakup semua aspek hidup bagi Allah di dunia yang “antagonistic [menentang] to the faith”.[2] Bagi orang Kristen awal, Mazmur juga dihargai karena nilai mereka dalam doa dan pujian dari umat, tap i lebih lagi karena aplikasi mereka kepada Kristus dalam tulisan perjanjian baru.[3]
Mazmur 90 adalah ungkapan “Doa Musa, Abdi Allah” di mana ia, dalam proses mengikut Tuhan Allah dan memimpin Israel, memiliki sejumlah pengalamaan yang berharga. Doa yang benar, lahir dari pengalaman bersama Tuhan, di mana manusia mengungkapkan apa yang ia rasakan (alami), gumuli, dan apa yang akan diharapkan.
Ayat 12 sebagai bagian dari spiritualitas Kristen—maksudnya sebagai dasar bahwa hanya Tuhan yang dapat mengajar kita tentang kehidupan, pergumulan, sukacita, dukacita, tekanan hidup, dan lain sebagainya. Doa adalah solusi dan sekaligus merupakan ungkapan spiritualitas antara manusia dengan Tuhan.
Di bagian berikutnya—setelah menjelaskan substansi Mazmur secara umum dan secara khusus—saya akan menyebutkan tiga aspek spiritualitas terkait dengan Mazmur 90:12.
SUBSTANSI MAZMUR 90
Augustinus, J. Calvin, C. S. Lewis, N.T. Wright, dan para teolog lainnya telah memberikan kesaksian mereka mengenai apa yang mereka rasakan dari kitab Mazmur. Tidak hanya soal tafsiran mereka, melainkan kehidupan mereka yang dipengaruhi oleh kitab Mazmur. Spiritualitas mereka menjadi kuat tatkala memahami dan melakukan teks-teks dari kitab Mazmur dalam kehidupan mereka di hadapan Tuhan dan di hadapan sesamanya.
James Hely Hutchinson (teolog asal Irlandia), menyatakan bahwa, Mazmur adalah ungkapan hati yang menjauhkan keegoisan dan mengarahkan diri pada objek kenikmatan tertinggi yaitu Allah Pencipta, Penebus Israel, Yahweh sendiri.[4] Berangkat dari pernyataan Hutchinson
Profesor Perjanjian Lama, Rolf A. Jacobson dan Karl N. Jacobson, dalam Invitation to the Psalm : A Reader’s Guide for Discovery and Engagement menyatakan bahwa, kitab Mazmur adalah, pertama dan terutama, merupakan kumpulan puisi Ibrani. Dalam membaca mazmur, kita melatih pemikiran kita secara logis — dalam arti bahwa kata, frasa, dan kalimat disatukan menurut asas yang diatur oleh cara berpikir (logika).[5] Puisi secara keseluruhan adalah jenis bahasa yang memiliki logika yang berbeda dari jenis tulisan lainnya. Dan puisi Ibrani, khususnya, memiliki set yang lebih khusus.[6]
Mazmur adalah puisi alkitabiah. Kata bahasa Inggris “Mazmur” berasal dari bahasa Yunani psalmos, yang pada gilirannya digunakan untuk menerjemahkan kata mizmor Ibrani, yang secara harfiah berarti “lagu.” Jadi dalam pengertian yang paling mendasar, Mazmur adalah sebuah nyanyian atau puisi alkitabiah.[7]
Dalam sejarah Israel, ketika mereka menyampaikan sesuatu kepada Tuhan, mereka melakukannya dengan dua cara: berdoa (memohon, menyampaikan) dan menyanyi. Dua hal ini dapat dilakukan di berbagai kondisi (krisis, bahagia, sukacita, tertekan, dll), dan kitab Mazmur mencerminkan dua tindakan ini. Nyanyian syukur mencerminkan pengalaman orang-orang percaya yang telah melewati berbagai krisis.
Kitab Mazmur itu sendiri memiliki beberapa genre. Genre Mazmur yang diklasifikasikan menurut konten tematiknya:
- Mazmur kerajaan (Royal psalms) yang ada hubungannya dengan raja Israel.
- Mazmur penobatan atau pelantikan (Enthronement psalms) ada hubungannya dengan Tuhan sebagai raja Israel.
- Mazmur kebijaksanaan atau hikmat (Wisdom psalms) menggambarkan tradisi hikmat Israel dan berusaha mengajarkan sesuatu kepada pembaca (atau khalayak).
- Mazmur penciptaan (Creation psalms), berbicara tentang Allah sebagai Pencipta dan bumi sebagai ciptaan Tuhan.
- Mazmur sejarah (Historical psalms) menceritakan kembali sebagian sejarah Israel.
- Mazmur Sion (Zion psalms) berbicara tentang Yerusalem (dan khususnya tentang Bait Suci) sebagai tempat di mana Allah berdiam.
- Mazmur kutukan (Imprecatory psalms) yaitu meminta Tuhan untuk menghukum mereka yang menindas pemazmur atau komunitas pemazmur.
- Mazmur penitensial (Penitential psalms) yaitu meminta pengampunan.
- Mazmur liturgi (Liturgical psalms) memberikan petunjuk untuk ritual penyembahan.[8]
- Mazmur Taurat. Sebuah jenis Mazmur kebijaksanaan yang memuji Torat Allah yang diberikan kepada kita. (Taurat berarti “hukum” atau “instruksi.”) Mazmur 1 adalah Mazmur Taurat.[9]
Setiap pasal dalam kitab Mazmur dapat kita identifikasi berdasarkan genrenya.
C. Hassell Bullock menjelaskan bahwa, dalam kitab mazmur tertuang sisi kemanusiaan (humanitas) kita. Masalah pribadi, krisis, dan ketika kegembiraan tak terungkapkan, rasa sakit kita tak terucapkan. Dalam kondisi demikian, kita merasa benar-benar ditinggalkan, ketika ke tegangan hidup datang ke kehidupan kita dan tak terelakkan, atau ketika jiwa kita mengatasi puncak pencapaian manusia.[10] John Calvin berpendapat bahwa mengenali Mazmur akan memaksa kita untuk menjadi jujur tentang diri kita di hadapan Tuhan.[11] Memang, konteks yang disuguhkan dalam kitab Mazmur sangatlah kental dengan kehidupan nyata manusia, relasinya dengan Tuhan dan sesama, dan pergumulan, permusuhan, kebencian terhadap musud, dan permohonan.
James L. Mays menyatakan bahwa, Mazmur adalah puisi keagamaan dari komunitas tertentu (the religious poetry of a particular community).[12] Komunitas tersebut tentu adalah umat Tuhan itu sendiri yang melihat kehidupan (dengan suka dukanya) dan sekaligus melihat intervensi Tuhan dalam kehidupan manusia, termasuk mereka sendiri. Dalam perkembangannya hingga sekarang ini, orang percaya (Gereja) menggumulkan berbagai konteks kehidupan dan dari hal tersebut, Gereja melihat bagaimana tangan Tuhan menopang dan menolong mereka.
Gereja dituntut dengan mendorong kehidupan doa, membantu orang yang berdoa mengembangkan hubungan yang lebih dalam dengan Allah dan kesadaran yang lebih luas akan apa yang dibutuhkan dunia. Satu rintangan untuk berdoa yang setia semacam itu adalah gagasan yang lazim diadakan bahwa doa hendaknya bebas dari kemarahan dan frustrasi.[13] Lalu bagaimana gereja dapat berdoa dalam keadaan trauma dan ketidakadilan? Gereja—meskipun dalam kondisi tersulit—harus tetap berdoa dan menyerahkan segala sesuatu pada kehendak Allah.
Walter Brueggemann berpendapat. Pertama, Mazmur menyatakan bahwa kita harus melihat dunia dan kehidupan kita dengan cara yang sebenarnya, tidak berpura-pura, tidak ada penyangkalan. Dan kedua, mereka bersikeras bahwa semua pengalaman seperti kekacauan dan kekecewaan adalah subjek yang tepat dari wacana dengan Allah. “Realitas dunia, kebenaran tentang diri kita sendiri dapat dibawa dalam doa.[14]
Dalam konteks penafsiran, kitab Mazmur diteropong dari berbagai konteks. Pertama, Historical Interpretations (problem Interpretasi): “Interpretasi lain dari Mazmur yang tidak tepat adalah bahwa mereka (para pemazmur) hanyalah produk dari konteks sejarah. Mereka tidak selalu memaksudkan untuk mengajarkan apa-apa, atau setidaknya tidak perlu menjadi model untuk doa hari ini.” Artinya, pola doa-doa dalam Mazmur tidak menjadi contoh bagi kita sekarang ini. Model penafsiran historis (menyangkal inpirasi Kitab Suci)[15] Kedua, penafsiran alegoris: dijelaskan dalam istilah fenomenologis. Ketiga, penafsiran sosio-historis yang menyangkal pewahyuan Kitab Suci.
Bagi kita, penafsiran Mazmur tidak dapat dipisahkan dari pengakuan bahwa kitab tersebut diinspirasikan oleh Roh Kudus. Singkat kata, kitab Mazmur diwahyukan oleh Allah sendiri.
SPIRITUALITAS DALAM AYAT 12
Melihat hari-hari hidup kita, tidak lepas dari gumul juang serta bahagia yang diberikan Allah. Kesadaran akan betapa fananya hidup kita mengantar kita pada sebuah pemahaman dan keputusan bahwa “kita membutuhkan Tuhan”. Itulah spiritualitas sejati. Ketika kita merasa kuat dan hebat, maka spiritualitas menjadi hilang sama sekali. Sebaliknya, ketika kita mengakui bahwa kita fana dalam waktu, dan Tuhan kekal dan hebat, maka spiritualit as kita terkonfirmasi dalam fakta hidup.
Spiritualitas kita tak bisa tampak kuat ketika menghindari dari gumul juang hidup. Justru ayat 12 menegaskan konteks ini. Mengitung hari-hari sama berarti memohon kepada Tuhan bahwa dalam hari-hari yang dilalui, kiranya Tuhan menguatkan, menopang, menuntun, dan memberkati. Apa pun yang kita terima dari Allah, baik atau buruk, harus mengakui bahwa itu adalah kehendak-Nya. Kita berdoa, Allah menjawab. Menurut N. T. Wright, nilai apa pun yang mungkin kita miliki datang dari kebaikan Allah, bukan kendali kita terhadap keadaan kita.[16] Doa lahir dari pengalaman, dan melalui doa, iman kita mendorong untuk menempatkan kehendak Allah di atas kehendak kita. Allah berdaulat, dan Ia menghendaki agar kita secara bijaksana menilai hidup kita sendiri.
Melalui bijaksana dari Tuhan, kita “menghitung”—dengan perkataan lain: memperhatikan dan menilai hari-hari hidup mengenai apa yang Tuhan buat bagi kita dan apa yang kita buat bagi Tuhan. Yang kita buat bagi Tuhan mencakup dua aspek: aspek menyenangkan hati Tuhan—bertindak sesuai dengan firman-Nya, dan aspek menyakiti hati Tuhan—bertindak sesuka hati tanpa peduli dengan firman-Nya.
Robert Alter menyatakan bahwa, ayat 12 menggambarkan keterbatasan eksistensi manusia yang kontras dengan keberadaan Allah yang abadi.[17] Karena terbatas, maka manusia membutuhkan Allah untuk memberinya pengajaran dalam menilai, mengamati, menghitung hari-hari yang dijalani, mencapai bijaksana yaitu tahu bahwa dalam hari-hari itu, manusia melihat apa yang Tuhan buat bagi diri mereka, dan melihat (mengakui) apa yang mereka buat bagi Tuhan, entah baik, entah buruk. Seperti di ayat 9, “kami menghabiskan tahun-tahun kami “like a sigh” [seperti keluh, ungkapan kesusahan] (Ibr. hegeh also means “murmur”—bisikan).[18]
Menghitung hari-hari berarti dalam hari-hari tersebut—sebagaimana tercatat pada ayat 9—mengandung suka dan duka. Dengan demikian, manusia bergantung pada Allah sepenuhnya untuk melihat hari-hari hidup yang ada dalam kedaulatan-Nya. Pengalaman untuk melihat perbuatan Tuhan adalah bagian dari spiritualitas (ay. 16). Pengalaman turunannya adalah “perbuatan-perbuatan tangan manusia” (ay. 17). Jadi, spiritualitas mencakup merasakan dan menikmati perbuatan tangan Tuhan dan sekaligus menikmati perbuatan tangan kita yang selaras dengan kehendak-Nya.
Hidup itu berlalu buru-buru (ay. 10). Ada penderitaan, kesukaraan, dan lain sebagainya. Kematian bisa disebabkan oleh kemarahan Allah (ay. 11). Kemarahan Allah memang mengagumkan bagi orang percaya dan menyedihkan bagi orang-orang yang tidak percaya. Ay. 13 adalah permohonan untuk memohon kemurahan Tuhan (bdk. ay. 11). Permohonan tersebut sekaligus mencakup: mengenyangkan manusia dengan kasih setia di waktu pagi (ay. 14), supaya ada sorak-sorai. Memohon agar Tuhan membuat manusia bersukacita seimbang dengan hari-hari saat mana Tuhan mengajar (mendidik) mereka (ay. 15). Spiritualitas orang percaya menempatkan diri mereka sebagai manusia yang lemah, bergumul, berjuang, dan dengan demikian, membutuhkan Allah. Spiritualitas berarti “menyadari” kondisi hidup, sekaligus “menginginkan” intervensi Allah dalam hidup.
Hidup manusia di dunia hanya sementara (fana). Kesadaran inilah yang hendak ditegaskan Musa. Karena fana, maka Tuhan adalah satu-satunya pribadi yang dapat memberikan jaminan dan kebahagiaan, serta kekuatan untuk menjalani, menghadapi suka-duka hidup.
ASPEK SPIRITUALITAS
Berdasarkan elaborasi di atas, kita sampai pada aspek spiritualitas. Ada beberapa aspek spiritualitas yang perlu kita cermati berikut ini:
Pertama, tetap beriman di masa sukar; tidak hanya memanfaatkan masa yang bahagia, tetapi juga menyeimbangkan “iman” dalam dua, tiga, atau bahkan empat kondisi (bahagia, duka, gelisah, tekanan).
Kedua, spiritualitas yang benar adalah menyeimbangkan antara iman dan pengalaman hidup bersama Tuhan dalam konteks bijaksana menilai, memahami, menghitung “hari-hari” yang dijalani, yaitu mengakui dan melihat apa yang Tuhan buat bagi kita, dan mengakui dan menilai apa yang kita buat untuk Tuhan.
Ketiga, menyanyi (memuji-muji Tuhan) merupakan perintah Tuhan, sebab ekspresi iman tidak hanya melalui tindakan untuk berjalan pada jalan Tuhan, tetapi juga “menyanyikan” syukur, kebaikan Tuhan, pertolongan Tuhan, permohonan kepada Tuhan, dan lain sebagainya.
Keempat, bertindak sesuai dengan kehendak Tuhan dalam hari-hari yang dijalani.
Kelima, selalu mengandalkan (membutuhkan) Tuhan dalam segala hal, dalam hari-hari yang dilalui, melalui doa dan pujian. Dari sini kita menemukan konsistensi penyertaan Tuhan di sepanjang hidup.
Berdasarkan elaborasi di atas, kita dapat menarik kesimpulan bahwa spiritualitas Kristen adalah aspek signifikan yang terbentuk dari kualitas iman dan pengalaman yang diterapkan dalam konteks empat hubungan sebagaimana yang telah saya jelaskan di atas. Spiritualitas Kristen adalah level iman yang membawa seseorang kepada sikap hidup yang mengakui apa yang Tuhan buat bagi kita dan mengakui serta menyadari apa yang kita buat untuk Tuhan. Artinya segala sesuatu yang kita lakukan harus didasari pada firman dan disadari sebagai tanggung jawab iman.
Hari-hari yang kita lalui—sama seperti Musa dan umat Israel yang dipimpinnya—tidak hanya merasakan manisnya hidup, tetapi juga pahitnya hidup. Artinya, Tuhan mendidik umat-Nya untuk menikmati keseimbangan hidup—suka dan duka—di mana Tuhanlah yang bekerja untuk mendatangkan kebaikan bagi kita semua. Spiritualitas Kristen adalah jalan yang ditempuh dan dihasilkan dari berbagai kondisi di mana Tuhan mengajar dan mendidik kita untuk dapat “menghitung”, dan menilai” kehidupan sebagai karunia dari Tuhan yang patut disyukuri dan dijalani dengan penuh iman kepada-Nya.
Salam Bae
[1] Artikel ini masih bersifat bahan mentah, belum dilakukan pengkajian eksegetis, melainkan hanya pada tataran aplikatif. Artikel ini bisa digunakan sebagai bahan perenungan atas hidup, iman, pengalaman, dan spiritualitas Kristen.
[2] Allen P. Ross, Kregel Exegetical Library: A Commentary On The Psalms. Volume 1 (1—41) (Grand Rapids, MI: Kregel Publications, 2011), 25.
[3] Ross, A Commentary On The Psalms, 25.
[4] James Hely Hutchinson, “The Psalms And Praise”, dalam David Firth and Philip S. Johnston (eds.), Interpreting The Psalms: Issues and Approaches (Downers Grove, Illinois: InterVarsity Press, 2005), 85-86.
[5] Rolf A. Jacobson and Karl N. Jacobson, Invitation to the Psalm: A Reader’s Guide for Discovery and Engagement (Grand Rapids, MI: Baker Academic, 2013), versi pdf.
[6] Jacobson and Jacobson, Invitation to the Psalm.
[7] Jacobson and Jacobson, Invitation to the Psalm.
[8] Jacobson and Jacobson, Invitation to the Psalm.
[9] Jerome F. D. Creach, Six Themes Everyone Should Know: Psalms (Louisville, Kentucky: Geneva Press, 2019).
[10] C. Hassell Bullock, Encountering the Book of Psalms: A Literary and Theological Introduction (Grand Rapids, MI: Baker Academic, 2018)
[11] John Calvin, Commentary on the Book of Psalms, trans. Henry Beveridge (Grand Rapids: Baker, 1979), 1:xxxvii.
[12] James L. Mays, Psalms Interpretation: A Bible Commentary for Teaching and Preaching (Louisville, KY: Westminster John Knox Press, 1994), 8, dikutip Creach, Psalms (Louisville, Kentucky: Geneva Press, 2019).
[13] Creach, Psalms.
[14] Walter Brueggemann, The Message of the Psalms (Minneapolis: Fortress, 2002), 52 dikutip Daniel Michael Nehrbass, Praying Curses: The Therapeutic and Preaching Value of the Imprecatory Psalms (Eugene, OR: Wipf and Stock Publishers, 2013)
[15] Nehrbass, Praying Curses.
[16] N. T. Wright, The Case for the Psalms: Why They Are Essential (EPUB Edition JULY 2013).
[17] Robert Alter, The Book of Psalms: A Translation with Commentary (New York: W. W. Norton & Company, 2009).
[18] Alter, The Book of Psalms.









