
PRELIMINARI
Konsep monoteisme (tauhid, dalam Islam) adalah sebuah pemikiran yang berangkat dari dua sumber: pertama, dari kitab suci, dan kedua, dari respons manusia terhadap Tuhan yang dipercaya. Monoteisme adalah paham yang mempercayai bahwa hanya ada satu Tuhan (Allah) yang layak disembah dan dipercayai.
Pada faktanya, keesaan Allah berangkat dari relasi Allah dengan ciptaan yang dengannya Allah menyatakan bahwa “tidak ada yang lain selain Aku”. Frasa “tidak ada yang lain” hanya merujuk pada ciptaan. Ini dinamakan dengan esa dalam relasinya dengan ciptaan (keesaan ekonomi).
Esa dalam relasinya dengan ciptaan hanya berlaku bagi manusia saja karena manusia harus memilih dan menyatakan imannya kepada Tuhan Allah sebagai Pribadi yang berkuasa, mahatahu, dan berdaulat. Keesaan ekonomi menjadi relatif. Artinya, Allah menjadi relatif dengan ciptaan-Nya. Manusia masih memiliki kesempatan untuk melihat, mempercayai, dan menyembah ilah lain. Konsep esa ini merupakan wujud utama dari bagaimana manusia memilih Allah sebagai “satu-satunya” dari semua ciptaan yang ada di dunia, untuk dipercaya dan disembah.
Keesaan Allah dalam relasinya dengan ciptaan tidak mendengungkan siapa diri-Nya secara ontologis (ada, eksis pada diri-Nya sendiri, dan bagaimana Ia secara personal). Monoteisme Yudaisme dan Kristen memiliki perbedaan secara substansial dan hermeneutis. Yudaisme menolak kejamakan dalam diri Allah sebagaimana mereka menolak Trinitas. Itulah perbedaan hermeneutis karena pada beberapa teks PL, muncul gagasan adanya kejamakan dalam diri Allah. Dengan demikian, Yudaisme belum dapat memahami personalitas Allah secara ontologis yaitu seperti apakah Allah pada diri-Nya sendiri.
KONSEP MONOTEISME ISLAM
Monoteisme (Tauhid) Islam hanya bersumber dari keesaan dalam relasinya dengan ciptaan dan bukan pada ontologis. Konsep ontologis berbicara mengenai identitas Allah pada diri-Nya sendiri dan ketika Islam memahami keesaan secara ontologis, mereka tidak dapat menjawab pertanyaan berikut ini: “Jika Allah itu esa secara numerik, maka dengan apakah Allah membandingkan diri-Nya sebagai satu-satunya?” Catatan penting di sini adalah keesaan yang saya maksudkan adalah keesaan secara ontologis, dan bukan ekonomi (relasi-Nya dengan ciptaan). Hal ini sekaligus menjadi tanda bahwa konsep tauhid Islam tidak dapat masuk ke dalam konsep ontologis karena mereka hanya tahu bahwa “Allah itu tauhid (esa)” tanpa mengetahui bahwa esa tersebut hanya terkait dengan ciptaan.
Islam terus menyatakan bahwa hanya “hanya Allah satu-satunya” yang mereka pikir bahwa itu merujuk kepada Allah secara numeris, satu secara angka. Padahal, konsep itu hanya berlaku bagi Allah dalam relasinya dengan ciptaan, sedangkan secara ontologis, mereka tidak dapat menjawabnya. Beberapa teks tauhid Islam saya kutip di sini:
Surat Ash Shaaffaat [37]:4, Sesungguhnya Tuhanmu benar-benar Esa. Surat Al Ikhlash [112]:1, Katakanlah: “Dialah Allah, Yang Maha Esa” (bandingkan Sura 5:72, 73, Sura 72:3).
Surat Al Anbiyaa’ [21]:108, Katakanlah: “Sesungguhnya yang diwahyukan kepadaku adalah: “Bahwasanya Tuhan-mu adalah Tuhan Yang Esa, maka hendaklah kamu berserah diri (kepada-Nya).”
Surat An Nahl [16]:22, Tuhan kamu adalah Tuhan Yang Maha Esa. Maka orang-orang yang tidak beriman kepada akhirat, hati mereka mengingkari (keesaan Allah), sedangkan mereka sendiri adalah orang-orang yang sombong.
Kita memperhatikan bahwa konteks esa di atas adalah esa dalam kaitannya dengan ciptaan karena mengingat di zaman Muhammad ada banyak ilah yang disembah. Sekali lagi, esa dalam versi Islam hanya menjawab secara ekonomi dan bukan ontologis (konsep ini akan saya jelaskan kemudian sebagai kekuatan argumentasi saya).
Konsep esa dalam relasinya dengan ciptaan dapat dilihat dalam esai Nurcholish Madjid yang berjudul “Islam Agama Kemanusiaan, di mana ia menyatakan bahwa “… maka manusia … pun tidaklah diciptakan Tuhan melainkan dengan kewajiban tunduk dan menyembah kepada-Nya saja, yaitu menganut paham Ketuhanan Yang Maha Esa, tawhid (Nurcholish Madjid, Islam Agama Kemanusiaan: Membangun Tradisi dan Visi Baru Islam Indonesia [Jakarta, 1995], 179, dikutip Nicholas J. Woly, Perjumpaan di Serambi Iman, 158).
Konsep yang sama dijelaskan Syamsul Rijal Hamid bahwa, kata “Tauhid” berasal dari bahasa Arab, bentuk masdar dari kata wahhada yuwahhidu yang secara etimologis, berarti keesaan. Yakni percaya bahwa Allah SWT itu satu. Dengan demikian yang dimaksudkan tauhid di sini, tidak lain adalah tauhidullah (mengesakan Allah SWT). Jadi pernyataan/pengakuan, bahwa Allah SWT itu esa atau satu: Laa Ilaaha Illa Allah (tiada Tuhan selain Allah). Allah SWT memerintahkan agar kita memeluk ajaran/agama tauhid (QS. 21/Al Ambiya’:92; 2/Al Baqoroh:133) (Hamid, Buku Pintar Agama Islam, 64).
Konsep Hamid bahwa “mengesakan Allah SWT” merupakan respons manusia terhadap Allah yang dipercayainya yang berangkat dari teks quran. Konsep Hamid bahwa “percaya bahwa Allah SWT itu satu” mungkin merujuk pada esa dalam relasinya dengan ciptaan (lihat teks-teks qurn di atas). Memeluk ajaran/agama tauhid adalah sebuah pilihan bahwa Allah itu adalah pribadi yang disembah dan dipercayai umat Islam, meski—menurut saya—mereka tidak paham soal esa dalam konteks ontologis. Karena ketidaktahuan inilah, maka mereka terus memaksakan pemahaman tauhid mereka kepada semua orang. Padahal jelas sekali bahwa esa yang mereka pahami adalah esa dalam kaitannya dengan ciptaan. Hal ini pun berimbas kepada negasi mereka terhadap Yesus yang mereka anggap bahwa orang Kristen menyembah manusia Yesus yang adalah ciptaan Allah. Padahal, dalam konsep biblika, Yesus tidak diciptakan melainkan pencipta segala sesuatu (Yohanes 1:1-3).
Akibat konsep tauhid yang menjukstaposisi konsep keesaan Kristen, maka mereka mengira bahwa Kristen menyembah manusia yang mereka mereka anggap itu adalah dosa syirik. Mereka sibuk mengurusi agama orang lain padahal konsep keesaan mereka bermasalah secara ontologis. Perhatikan, jika Allah adalah satu secara numeris (konsep Islam), maka secara ontologis, dengan apakah atau dengan siapakah Allah membandingkan diri-Nya, atau dibandingkan dengan diri-Nya? Jika Islam menjawab: “dengan ciptaan”, maka itu tidak menjawab secara ontologis, dan jika mereka menjawab: “tidak dengan apa-apa, atau siapa-siapa”, maka hal itu gagal secara ontologis.
ANALOGI KEESAAN
Keesaan secara ekonomi hanya bisa menjawab konteks “membandingkan” sedangkan konsep “menyamakan” tidak dapat dipaksakan ke dalamnya karena Allah tidak dapat disamakan dengan ciptaan. Trinitas dapat menjawab keduanya, baik membandingkan maupun menyamakan. Akan tetapi, meski percaya kepada Trinitas (Tiga Pribadi Satu Esensi, personalitas Allah secara ontologis), keesaan secara ekonomi pun dipercayai Kristen sebagaimana teks-teks PL menegaskannya.
Dalam Ulangan 6:4, terlihat bahwa Musa menegaskan keesaan Tuhan dalam kaitannya dengan ciptaan sebagaimana mereka sebelumnya berada di tanah perbudakan, Mesir, yang notabenenya adalah bangsa penyembah berhala. Hal ini jelas bahwa pembuatan patung ‘Anak Lembu Emas’ (Keluaran 32) mengisyaratkan adanya pengaruh dari konteks penyembahan bangsa Mesir. Hal ini dijelaskan dalam Ulangan 12:29-13:18 soal larangan menyembah illah lain:
“…maka hati-hatilah, supaya jangan engkau kena jerat dan mengikuti mereka, setelah mereka dipunahkan dari hadap-anmu, dan supaya jangan engkau menanya-nanya tentang allah mereka dengan berkata: Bagaimana bangsa-bangsa ini beribadah kepada allah mereka? Akupun mau berlaku begitu. Jangan engkau berbuat seperti itu terhadap TUHAN, Allahmu; sebab segala yang menjadi kekejian bagi TUHAN, apa yang dibenci-Nya, itulah yang dilakukan mereka bagi allah mereka; bahkan anak-anaknya lelaki dan anak-anaknya perempuan dibakar mereka dengan api bagi allah mereka. Segala yang kuperintahkan kepadamu haruslah kamu lakukan dengan setia, janganlah engkau menambahnya ataupun menguranginya.
Apabila di tengah-tengahmu muncul seorang nabi atau seorang pemimpi…dan ia membujuk: Mari kita mengikuti allah lain, yang tidak kaukenal, dan mari kita berbakti kepadanya, maka janganlah engkau mendengarkan per-kataan nabi atau pemimpin itu….
Apabila saudaramu laki-laki, anak ibumu, atau anakmu laki-laki atau anakmu perempuan atau isterimu sendiri atau sahabat karibmu membujuk engkau diam-diam, katanya: Mari kita berbakti kepada allah lain yang tidak dikenal olehmu ataupun oleh nenek moyangmu, salah satu allah bangsa-bangsa sekelilingmu, baik yang dekat maupun jauh dari padamu, dari ujung bumi ke ujung bumi, maka janganlah engkau mengalah kepadanya dan janganlah mendengarkan dia. Janganlah engkau merasa sayang kepadanya, janganlah mengasihani dia dan janganlah menutupi salahnya, tetapi bunuhlah dia!…Engkau harus melempari dia dengan batu, sehingga mati, karena ia telah berikhtiar menyesatkan engkau dari pada TUHAN, Allahmu….Sebab dengan demikian engkau mendengarkan suara TUHAN, Allahmu, untuk berpegang pada segala perintah-Nya, yang kusampaikan kepadamu pada hari ini, dengan melakukan apa yang benar di mana TUHAN, Allahmu.”
Namun, keesaan Allah yang bernatur ekonomi dan henoteisme dijelaskan dalam teks-teks berikut ini (juga merupakan analogi [pembandingkan] dengan ilah-ilah dunia yang mana Tuhan Israel sangat suprematif dan tak tertandingi):
Ulangan 4:39, “Sebab itu ketahuilah pada hari ini dan camkanlah, bahwa TUHANlah Allah yang di langit di atas dan di bumi di bawah, tidak ada yang lain.”
2 Samuel 7:22-23, “Sebab itu Engkau besar, ya Tuhan ALLAH, sebab tidak ada yang sama seperti Engkau menurut segala yang kami tangkap dengan telinga kami. Dan bangsa manakah di bumi seperti umat-Mu Israel, yang Allahnya pergi membebaskannya menjadi umat-Nya, untuk mendapat nama bagi-Nya dengan melakukan perbuatan-perbuatan yang besar dan dahsyat bagi mereka, dan dengan menghalau bangsa-bangsa dan para allah mereka dari depan umat-Nya?
Yesaya 44:6, “Beginilah firman TUHAN, Raja dan Penebus Israel, TUHAN semesta alam: ‘Akulah yang terdahulu dan Akulah yang terkemudian; tidak ada Allah selain dari pada-Ku.”
Yesaya 44:8, “…Kamulah saksi-saksi-Ku! Adakah Allah selain dari pada-Ku? Tidak ada Gunung Batu yang lain, tidak ada Kukenal!”
Yesaya 45:5-7, “Akulah TUHAN dan tidak ada yang lain; kecuali Aku tidak ada Allah. Aku telah mempersenjatai engkau, sekalipun engkau tidak mengenal Aku, supaya orang tahu dari terbitnya matahari sampai terbenamnya, bahwa tidak ada yang lain di luar Aku. Akulah TUHAN dan tidak ada yang lain, yang menjadikan terang dan menciptakan gelap, yang menjadikan nasib mujur dan menciptakan nasib malang; Akulah TUHAN yang membuat semuanya ini.”
Yesaya 45:18, “Sebab beginilah firman TUHAN, yang men-ciptakan langit, – Dialah Allah – yang membentuk bumi dan menjadikannya dan yang menegakkannya, – dan Ia menciptakannya bukan supaya kosong, tetapi Ia mem-bentuknya untuk didiami – : ‘Akulah TUHAN dan tidak ada yang lain.’”
Yesaya 45:21, “Beritahukanlah dan kemukakanlah alasan-mu, ya, biarlah mereka berunding bersama-sama: Siapakah yang mengabarkan hal ini dari zaman purbakala, dan memberitahukannya dari sejak dahulu? Bukankah Aku, TUHAN? Tidak ada yang lain, tidak ada Allah selain dari pada-Ku! Allah adalah Juruselamat, tidak ada yang lain kecuali Aku!”
Yesaya 45:22, “Berpalinglah kepada-Ku dan biarkanlah dirimu diselamatkan, hai ujung-ujung bumi! Sebab Akulah Allah dan tidak ada yang lain.”
Yesaya 46:9-10, “Ingatlah hal-hal yang dahulu dari sejak purbakala, bahwasanya Akulah Allah dan tidak ada yang lain, Akulah Allah dan tidak ada yang seperti Aku, yang memberitahukan dari mulanya hal-hal kemudian dan dari zaman purbakala apa yang belum terlaksana…”
Zakharia 14:9, “Maka TUHAN akan menjadi Raja atas seluruh bumi; pada waktu itu TUHAN adalah satu-satunya dan nama-Nya satu-satunya.”
1 Tawarikh 17:20, “Ya TUHAN, tidak ada yang sama seperti Engkau menurut segala yang kami tangkap dengan telinga kami.”
Mazmur 89:7-8, “Sebab siapakah di awan-awan yang sejajar dengan TUHAN, yang sama seperti TUHAN di antara penghuni sorgawi? Allah disegani dalam kalangan orang-orang kudus, dan sangat ditakuti melebihi semua yang ada di sekeliling-Nya.”
1 Samuel 2:2, Tidak ada yang kudus seperti TUHAN, sebab tidak ada yang lain kecuali Engkau dan tidak ada gunung batu seperti Allah kita.
Dari teks-teks tersebut, baik Yudaisme dan Kristen menjunjung tinggi “Keesaan Allah” tetapi teks-teks tersebut hanya bermakna keesaan ekonomis, dan bukan ontologis.
Ada sumber Islam yang menjelaskan soal tauhid dalam zat, yang mungkin dalam pemikiran Islam bahwa taudih tersebut menjelaskan secara ontologis. Mari kita lihat kutipannya (saya mengutip bagian pertama saja):
“Tauhid dalam Zat: Allah adalah Satu, tidak mempunyai sekutu dan tandingan; tidak ada sesuatu pun yang serupa dengan-Nya. Zat Allah yang suci tidaklah tersusun dari bagian-bagian seperti jasad mahluk hidup. Zat-Nya sangat sempurna dan tidak serupa dengan zat-zat lainnya” (sumber: http://islamiyah.wordpress.com/2007/03/25/keesaan-allah/. Di-akses tanggal 3 Oktober 2011).
Kutipan di atas sebenarnya hanya menegaskan keesaan ekonomi: klausa “Allah adalah Satu, tidak mempunyai sekutu dan tandingan” dapat kita ajukan pertanyaan: “jika Allah tidak mempunyai sekutu dan tandingan, maka dengan apa Allah dibandingkan? Pasti dengan ciptaan. Jika keesaan ontologis yang dimaksudkan, maka pertanyaan yang sama juga diajukan. Secara ontologis, klausa “Allah adalah Satu, tidak mempunyai sekutu dan tandingan” tidak masuk hitungan. Klausa tersebut hanya berlaku bagi relasinya dengan ciptaan.
Klausa kedua adalah “tidak ada sesuatu pun yang serupa dengan-Nya”. Ini juga bernatur ekonomi. Hal ini tampak dalam penjelasan berikutnya yaitu “Zat Allah yang suci tidaklah tersusun dari bagian-bagian seperti jasad ‘mahluk hidup’”. Bukankah sumber tersebut hendak menjelaskan keesaan secara ekonomi? Mari kita perhatikan pernyataan Nasruddin Razak untuk mendukung kesimpulan di atas. Menurutnya, “Suatu kepercayaan yang menegaskan bahwa hanya Tuhanlah yang menciptakan, memberi hukum-hukum, mengatur dan mendidik alam semesta ini (disebut Tauhid Rububiyah). Sebagai konsekuensinya, maka hanya Tuhan itulah yang satu-satunya yang wajib disembah, dimohon petunjuk dan pertolongannya, serta yang harus ditakuti (disebut Tauhid Uluhiyah) (Nasruddin Razak, Dienul Islam: Penafsiran Kembali Islam sebagai Suatu Aqidah dan Way of Life [Bandung: Alma’arif, 1996], 39).
Secara ontologis, monoteisme Islam tak bisa berbuat apa-apa. Mereka hanya memahami bahwa Allah itu esa (tauhid) secara numerik; dan itu benar jika direlasikan dengan ciptaan. Sedangkan dalam konteks ontologis, Islam tidak dapat menjawab dengan apakah Allah membandingkan diri-Nya jika Ia adalah esa pada diri-Nya sendiri.
Dengan demikian, hanya konsep Trinitas yang dapat menjawab keesaan secara ontologis. Mengapa? Karena masing-masing pribadi dapat merepresentasikan yang lain. Ada pribadi lain yang dapat dibandingkan sebagai wujud dari kesatuan esensial, dan kesetaraan ilahi. Tidak hanya membandingkan, tetapi menyamakan (menyetarakan, mensejajarkan) pribadi satu dengan lainnya muncul dalam konsep ontologis. Jika pemazmur menulis: “Sebab siapakah di awan-awan yang sejajar dengan TUHAN, yang sama seperti TUHAN di antara penghuni sorgawi? (Mazmur 89:7-8), maka hanya Trinitas yang dapat menjawabnya. Teks tersebut hendak menjelaskan bahwa TUHAN tidak dapat disejajarkan dengan ciptaan-Nya. Penghuni sorgawi—malaikat-malaikat—adalah ciptaan TUHAN. Hanya Bapa, Firman, dan Roh Kudus yang sejajar dan setara dalam esensi dan kekekalan.
Jadi, keesaan secara ontologis, hanya Trinitas yang dapat menjawab personalitas Allah pada diri-Nya sendiri, sedangkan keesaan dalam relasinya dengan ciptaan (ekonomi), tidak dapat menjawab personalitas Allah pada diri-Nya sendiri melainkan hanyalah menunjukkan objek penyembahan kepada Allah saja di antara ilah-ilah lain (henoteisme) yang ada di dunia, di mana ilah-ilah tersebut adalah ciptaan Allah.
Muhammad Yahya Waloni pernah menolak ketuhanan Yesus dengan merujuk pada teks Yesaya 43:10-11, “Sebelum Aku tidak ada Allah dibentuk, dan sesudah Aku tidak akan ada lagi. Aku, Akulah TUHAN dan tidak ada juruselamat selain dari pada-Ku.” Waloni mengira bahwa teks itu merujuk bahwa Allah tidak membentuk Yesus menjadi Allah, sehingga orang Kristen sudah salah menyembah dan menjadikan Yesus sebagai Tuhan karena bertentangan dengan teks Yesaya tersebut. Dan menurut Waloni, sekaliber pendeta pun tak akan sanggup menjelaskan ayat di atas, kecuali dengan cara berbohong dengan melandaskan pemahaman pada surat-surat Paulus yang sarat dengan “omong kosong”. Jawaban dari Waloni berkenaan dengan hal ini adalah: “temui tukang kayu yang sedang membuat perabot dari kayu. Tanyakan, apakah pernah si tukang kayu menjadi “PERABOT” walau hanya sedetik saja? Kalau ada, saya siap mempertuhankan “tukang kayu” itu.
Saya sudah menyanggah komentar konyol ala Waloni di atas dalam buku saya yang berjudul “Menjawab dan Menertawakan Argumen Teolog Kelas Teri”, dan saya kutip sanggahan saya di sini:
Waloni menggunakan teks di atas untuk menolak bahwa Yesus sebagai Allah karena ia mengira bahwa “sebelum Allah, tidak ada Allah dibentuk”, yang berarti tidak ada “Allah” lain “selain Allah”, dan jika Yesus dipercaya sebagai Allah, maka itu berarti bertentangan dengan Yesaya 43:10 di atas. Akan tetapi, teks di atas tidak berbicara soal “Allah menciptakan Allah”. Teks tersebut memaksudkan bahwa sebelum Allah, Allah tidak membentuk “ilah” lain untuk disembah. Artinya, Allah tidak menyediakan ‘ilah’ lain untuk disembah seperti Ia disembah. Hal ini dapat dipahami berdasarkan teks Yesaya 42:8, “Aku ini TUHAN, itulah nama-KU’ Aku tidak akan memberikan kemuliaan-Ku kepada yang lain atau kemasyhuran-Ku kepada patung”. Allah tak mungkin membentuk ilah lain agar kemuliaan-Nya diberikan kepada ilah tersebut. Sebagaimana bangsa Israel sering membuat patung yang disembah, maka Allah hendak mengkonfirmasi bahwa sebelum Ia, tidak ada ilah lain yang Ia bentuk yang sama dengan diri-Nya.
Sedangkan frasa “sesudah Aku tidak akan ada lagi” menandaskan bahwa bangsa Israel harus setia kepada Allah sebagai Pencipta (43:1, 15), Penebus (43:1, 14), Berdaulat memanggil dan memilih (43:1), Penjaga (43:2), Juruselamat (43:3, 11-12), Pengasih (43:4), Raja (43:15). Frasa tersebut tidak mengindikasikan bahwa Yesus bukan Allah, sebab konteksnya tidak berbicara mengenai Yesus. Ayat 10 sebenarnya menjelaskan bahwa Israel tidak boleh mencari juruselamat selain Allah yang adalah Juruselamat mereka (ayat 11), dan menegaskan pula bahwa hanya Allah yang dapat menyelamatkan Israel dan bukan ilah asing yang ada di antara mereka (ayat 12). Pula menegaskan bahwa hanya Allah yang adalah Allah sejati dan Juruselamat satu-satunya, serta berdaulat atas hidup Israel (ayat 13).
Jadi, teks Yesaya 43:10 memberikan pemahaman bahwa sejak dulu, Allah tidak pernah membentuk ilah lain untuk diberikan kepada Israel. Ia mau bahwa hanya Dialah yang menjadi Pribadi satu-satunya yang harus ditaati dan disembah karena Ia sendiri yang memilih dan membentuk Israel.
Jika saya memahami alur berpikir Waloni, teks Yesaya 43:10 sebenarnya menggiring bahwa “Allah tidak membentuk Yesus menjadi Allah” atau “Allah tidak menciptakan Yesus untuk menjadi Allah”. Yesaya 43:10 menegaskan bahwa TUHAN tidak membentuk atau menciptakan ilah dan sesudahnya juga tidak, untuk menandingi diri-Nya. Tuduhan Waloni pasti menyatakan bahwa Yesus adalah dibentuk oleh Allah, artinya diciptakan Allah. Dengan melihat konteksnya, maka pertanyaan dan tantangan Waloni sudah disanggah dan dijawab.
TRINITAS KRISTEN (KEESAAN ONTOLOGIS)
Kembali ke konsep keesaan ontologis. Lalu, bukankah ketika membandingkan pribadi satu dengan lainnya akan menghasilkan perbedaan kualitas pribadi? Begini, konteks membandingkan dalam konsep Trinitas dipahami sebagai sebuah kesetaraan esensi antara Bapa, Firman, dan Roh Kudus. Secara ontologis, ada pribadi lain yang dapat dibandingkan yang mana Yesus sering menyatakannya. Dan pada kesempatan lain, Yesus menyatakan kesetaraa, kesamaan, kesejajaran antara Bapa, diri-Nya, dan Roh Kudus. Secara ontologis, pribadi yang satu menjelaskan pribadi lainnya. Inilah yang disebut dengan keesaan ontologis. Keesaan jenis ini tidak ditemukan dalam Yudaisme dan Islam sehingga “Allah” dalam pemahaman mereka menjadi pribadi yang kesepian dan egois (mengasihi diri sendiri).
Keesaan Ontologis menjelaskan kasih yang ada dalam diri Bapa, Yesus [Anak] dan Roh Kudus dapat saling memberi dan menerima, mereka berperikhoresis, saling memenuhi satu dengan lainnya. Trinitas bukanlah Allah yang kesepian karena kasih dalam diri-Nya terealisasi secara kekal, seperti yang Yesus nyatakan: “…sebab Engkau telah mengasihi Aku sebelum dunia dijadikan” (Yoh. 17:24). Tidak hanya itu, Alkitab menyediakan banyak bukti mengenai konsep Trinitas, sebagaimana akan kita lihat dalam penjelaskan pola rangkap tiga.
Berikut ini, saya menjelaskan pola rangkap tiga, yang saya ambil dari tulisan saya di Jurnal Arastamar SETIA Jakarta Volume VII Nomor 1 Tahun 2015 (ISSN: 2085-9627). Menurut Herman Bavink menjelaskan, bahwa
Benih yang bertumbuh menjadi bunga trinitarian yang mekar di dalam Perjanjian Baru telah ditanamkan sebelumnya di dalam Perjanjian Lama. Elohim, Allah yang hidup, mencipta dengan berfirman dan mengutus Roh-Nya. Dunia menjadi ada karena penyebab rangkap tiga. Demikian pula, YHWH, Allah kovenan, menjadikan diri-Nya diketahui oleh umat-Nya, menyelematkan, dan memelihara mereka dengan firman dan Roh-Nya. Dalam wujud malaikat Tuhan, entah itu malaikat yang diciptakan atau Logos, Allah, khususnya firman-Nya, hadir secara unik dan berkuasa. Herman Bavink, Dogmatika Reformed Jilid 2: Allah dan Penciptaan, (Surabaya: Momentum, 2012), 319.
Kejadian 1:1-3 menyebutkan pola rangkap tiga dalam konteks penciptaan. Ayat 1 menyebutkan bahwa “Allah menciptakan langit dan bumi.” Ayat 2 menyebutkan bahwa “Roh Allah melayang-layang di atas permukaan air” dan ayat 3 menyebutkan bahwa “Berfirmanlah Allah: Jadilah terang, maka terang itu jadi!” Pola rangkap tiga membuka peluang bagi adanya kejamakan dalam diri Allah. Kejamakan ini bukanlah rumusan Kristen melainkan fakta yang Allah nyatakan kepada kita. Seringkali, kita mau menentukan “berapa” Allah itu. Alasan unitarianisme bahwa Allah sendiri menyatakan diri-Nya “esa” – namun alasan keesaan tersebut tidaklah dilihat secara komprehensif dan kontekstual, melainkan mengukur kesimpelan penyembahan kepada “satu Allah” ketimbang “tiga Allah” sebagaimana yang dituduhkan kepada Kristen.
Tuduhan bahwa orang Kristen menyembah tiga Allah adalah salah sasaran, karena yang disembah hanyalah satu Allah meskipun dalam pemahaman sejarah ada tiga personalitas yakni Bapa, Yesus, dan Roh Kudus, yang secara berdistingsi dapat dipahami dari karya-karya Mereka. Dalam catatan Alkitab, pola rangkap tiga begitu kental, seperti yang tertuang dalam teks-teks di bawah ini:
Karena itu pergilah, jadikanlah semua bangsa murid-Ku dan baptislah mereka dalam nama Bapa dan Anak dan Roh Kudus (Mat. 28:19)
Jawab malaikat itu kepadanya: “Roh Kudus akan turun atasmu dan kuasa Allah Yang Mahatinggi akan menaungi engkau; sebab itu anak yang akan kaulahirkan itu akan disebut kudus, Anak Allah (Luk. 1:35)
Aku akan minta kepada Bapa, dan Ia akan memberikan kepadamu seorang Penolong yang lain, supaya Ia menyertai kamu selama-lamanya, yaitu Roh Kebenaran. Dunia tidak dapat menerima Dia, sebab dunia tidak melihat Dia dan tidak mengenal Dia. Tetapi kamu mengenal Dia, sebab Ia menyertai kamu dan akan diam di dalam kamu (Yoh. 14:16-17)
Jikalau Penghibur yang akan Kuutus dari Bapa datang, yaitu Roh Kebenaran yang keluar dari Bapa, Ia akan bersaksi tentang Aku. (Yoh. 15:26)
Tetapi apabila Ia datang, yaitu Roh Kebenaran, Ia akan memimpin kamu ke dalam seluruh kebenaran; sebab Ia tidak akan berkata-kata dari diri-Nya sendiri, tetapi segala sesuatu yang didengar-Nya itulah yang akan dikatakan-Nya dan Ia akan memberitakan kepadamu hal-hal yang akan datang. Ia akan memuliakan Aku, sebab Ia akan memberitakan kepadamu apa yang diterimanya dari pada-Ku. Segala sesuatu yang Bapa punya, adalah Aku punya; sebab itu Aku berkata: Ia akan memberitakan kepadamu apa yang diterimanya dari pada-Ku.” (Yoh. 16:13-15)
Tetapi demi Kristus, Tuhan kita, dan demi kasih Roh, aku menasihatkan kamu, saudara-saudara, untuk bergumul bersama-sama dengan aku dalam doa kepada Allah untuk aku, (Rm. 15:30)
Tetapi setelah genap waktunya, maka Allah mengutus Anak-Nya, yang lahir dari seorang perempuan dan takluk kepada hukum Taurat. Ia diutus untuk menebus mereka, yang takluk kepada hukum Taurat, supaya kita diterima menjadi anak. Dan karena kamu adalah anak, maka Allah telah menyuruh Roh Anak-Nya ke dalam hati kita, yang berseru: “ya Abba, ya Bapa!” (Gal. 4:4-6)
sebab dengan mati-Nya sebagai manusia Ia telah membatalkan hukum Taurat dengan segala perintah dan ketentuannya, untuk menciptakan keduanya menjadi satu manusia baru di dalam diri-Nya, dan dengan itu mengadakan damai sejahtera, dan untuk memperdamaikan keduanya, di dalam satu tubuh, dengan Allah oleh salib, dengan melenyapkan perseteruan pada salib itu. Ia datang dan memberitakan damai sejahtera kepada kamu yang “jauh” dan damai sejahtera kepada mereka yang “dekat,” karena oleh Dia kita kedua pihak dalam satu Roh beroleh jalan masuk kepada Bapa. (Ef. 2:15-18).
Pola rangkap tiga mengantar kita pada konsep indentitas kesetaraan. Alkitab menyebutkan bahwa Allah adalah Pencipta. Kitab Kejadian menggunakan kata “elohim” yang memiliki indikasi “jamak” (bentuk akhiran im adalah jamak). Lalu pada Kejadian 1:26, digunakan kata “Kita” yang juga berindikasi jamak. Ada yang menafsirkan sebagai plural majestic [jamak kemuliaan] dan ada yang menafsirkan jamak personalitas. Dua arus utama penafsiran dalam kitab Kejadian memainkan disparitas personalitas diri Allah. Yang pasti, Allah diakui sebagai Pencipta seperti yang dinyatakan oleh penulis kitab Kejadian.
Falibilitas (kekeliruan) seseorang dalam memahami Trinitas berangkat dari ketidakterpahaminya personalitas Bapa, Anak, dan Roh Kudus. Dalam alam pemikiran penganut unitarian (menegasikan Trinitas), Allah dipahami sebagai personalitas dan bukan sebagai “esensi”. Identitas kesetaraan dipahami oleh kaum Trinitarian sebagai kesetaraan esensi yang dimiliki oleh ketiga Pribadi. Anak berasal dari Bapa, dan Roh Kudus keluar dari Bapa dan Anak. Baik Anak dan Roh Kudus mendapatkan esensi Mereka dari Bapa. Jika ada menganggap Bapa lebih tinggi dari kedua-Nya, bukankah kedua-Nya memiliki esensi dari Bapa? Bagaimana mungkin Bapa lebih tinggi dari pada esensi yang keluar atau berasal dari diri-Nya sendiri?
Keesaan ontologis menegaskan kesetaraan antara tiga Pribadi dalam Trinitas sebagaimana tampak dari bukti-bukti berikut ini (diambil dari artikel saya dalam Jurnal Arastamar SETIA Volume VII Nomor 1 Tahun 2015):
Bapa sebagai Pencipta (1 Kor. 8:6; Yes. 41:20; 45:12); Bapa sebagai Penebus (Yes. 43:3; 44:22; 48:17; 41:14; 47:4); Bapa sebagai Hakim (yang menghakimi) dan Pengampun (Mzm. 9:9; 96:13; 98:9; Yer. 36:3; Mzm. 32:1; Yes. 22:14); Bapa sebagai Pewahyu (memperkenalkan diri-Nya) (Yes. 48:12; Kel. 6:2; Yes. 30:27; Bilangan 12:6; 1 Samuel 2:27; 3:21; Yesaya 19:21; Yesaya 22:14; Yehezkiel 20:5, 9; 35:11; 38:23). Yesus sebagai Pencipta (Yoh. 1:3; Kol. 1:16-17); Yesus sebagai Penebus (Pemberi Hidup) (Mat. 1:21; Yoh. 1:29; Mrk. 10:45; Mat. 26:28; Luk. 24:47); Yesus sebagai Hakim dan Pengampun (Kis. 10:42; 2 Tim. 4:8; Mat. 9:2; Luk. 5:20; Luk. 7:48); Yesus sebagai Pewahyu (Menyatakan diri) (Yoh. 1:18; Mat. 11:27; Yoh. 14:21). Roh Kudus sebagai Pencipta (Ayb. 33:4; 26:13 menegaskan tentang nafas sebagai Roh dari Allah); Roh Kudus sebagai Penebus (pemberi hidup baru yang bebas dari dosa dan kematian) (Rm. 8:1-2; 8:11; Yoh. 16:13); Roh Kudus sebagai Hakim dan Pengampun (Mrk. 3:29; Luk. 12:10; Mat. 12:31-32. Ada dua pribadi yang disinggung di atas yakni Yesus dan Roh Kudus. Yesus sebagai pribadi yang menggenapi rencana kekal Allah [Bapa] tentang keselamatan [bdk. Ef. 1:4], dapat saja ditolak karya-Nya disalib sebagaimana yang tampak di sepanjang sejarah dan Roh Kudus sebagai pribadi yang meneguhkan dan menawarkan keselamatan sebagai “rencana kekal Allah” lalu kemudian tawaran itu ditolak, maka seseorang tersebut telah berbuat [melakukan] dosa kekal – suatu dosa yang menyangkal karya Allah yang kekal yakni “misi penyalamatan atas manusia-manusia yang berdosa”. Roh Kudus yang berhak mengampuni dosa dan tidak mengampuni dosa bertindak sebagai “Hakim” atas manusia yang telah berdosa. Dengan demikian, Roh Kudus dalam teks-teks di atas, bertindak sebagai Hakim dan Pengampun); Roh Kudus sebagai Pewahyu (2 Timotius 3:16 dan 2 Petrus 1:20-21)
Melihat bukti-bukti di atas, maka keesaan ekonomi adalah keesaan yang umum dipahami dalam setiap agama sebagai sebuah pilihan bagi manusia untuk mempercayai Allah sebagai “satu-satunya” pribadi yang disembah dan diimani, dibanding dengan ilah-ilah lainnya (patung, batu, pohon, matahari, sungai, benda-benda keramat, dan sebagainya). Maka, keesaan Allah dalam kaitannya dengan ciptaan merupakan relativisme bagi manusia untuk menentukan pilihannya kepada pribadi yang dipercayai dan disembah. Keesaan ekonomi sangat membantu manusia untuk mengarahkan hidupnya kepada satu pribadi saja di samping ilah-ilah lainnya yang menjadi daya tarik tersendiri (bersifat henoteisme). Akan tetapi keesaan ontologis adalah sebuah konsep terapan “kasih yang murni dan tulus” dari pribadi satu kepada pribadi lainnya. Sebagaimana Allah menegaskan bahwa “Kasihilah TUHAN, Allahmu, dengan segenap hatimu dan dengan segenap jiwamu dan dengan segenap kekuatanmu” (Ulangan 6:5). Allah mengajar manusia untuk mengasihi-Nya karena Allah, secara ontologis telah menerapkan kasih itu kepada pribadi lainnya yang setara (akan saya kutip teks-teks Injil Yohanes sebagai pembuktiannya). Di samping itu, sebagai realisasi kasih manusia terhadap Allah, maka manusia juga harus mengasihi sesamanya (Imamat 19:18, Janganlah engkau menuntut balas, dan janganlah menaruh dendam terhadap orang-orang sebangsamu, melainkan kasihilah sesamamu manusia seperti dirimu sendiri; Akulah TUHAN; Imamat 19:34, Orang asing yang tinggal padamu harus sama bagimu seperti orang Israel asli dari antaramu, kasihilah dia seperti dirimu sendiri, karena kamu juga orang asing dahulu di tanah Mesir; Akulah TUHAN, Allahmu).
Dalam Injil Yohanes, konsep keesaan ontologis (yang dipahami dalam arti lain sebagai Trinitas ontologis) sangat melimpah. Baik Pribadi Bapa, Yesus, dan Roh Kudus, sama-sama setara, saling merepresentasikan, dan sama-sama kekal. Untuk lebih jelasnya, teks-teks berikut ini dapat memberikan pemahaman yang kuat mengenai personalitas Allah ditinjau dari aspek ontologis.
Yohanes 1:14 Firman itu telah menjadi manusia, dan diam di antara kita, dan kita telah melihat kemuliaan-Nya, yaitu kemuliaan yang diberikan kepada-Nya sebagai Anak Tunggal Bapa, penuh kasih karunia dan kebenaran.
Yohanes 1:18 Tidak seorangpun yang pernah melihat Allah; tetapi Anak Tunggal Allah, yang ada di pangkuan Bapa, Dialah yang menyatakan-Nya (bdk. 3:35; 5:17)
Yohanes 5:18 Sebab itu orang-orang Yahudi lebih berusaha lagi untuk membunuh-Nya, bukan saja karena Ia meniadakan hari Sabat, tetapi juga karena Ia mengatakan bahwa Allah adalah Bapa-Nya sendiri dan dengan demikian menyamakan diri-Nya dengan Allah (bdk. 5:19-23, 36-37).
Yohanes 5:26 Sebab sama seperti Bapa mempunyai hidup dalam diri-Nya sendiri, demikian juga diberikan-Nya Anak mempunyai hidup dalam diri-Nya sendiri.
Yohanes 6:27 Bekerjalah, bukan untuk makanan yang akan dapat binasa, melainkan untuk makanan yang bertahan sampai kepada hidup yang kekal, yang akan diberikan Anak Manusia kepadamu; sebab Dialah yang disahkan oleh Bapa, Allah, dengan meterai-Nya.”
Yohanes 6:37 Semua yang diberikan Bapa kepada-Ku akan datang kepada-Ku, dan barangsiapa datang kepada-Ku, ia tidak akan Kubuang.
Yohanes 6:40 Sebab inilah kehendak Bapa-Ku, yaitu supaya setiap orang, yang melihat Anak dan yang percaya kepada-Nya beroleh hidup yang kekal, dan supaya Aku membangkitkannya pada akhir zaman.”
Yohanes 6:44 Tidak ada seorangpun yang dapat datang kepada-Ku, jikalau ia tidak ditarik oleh Bapa yang mengutus Aku, dan ia akan Kubangkitkan pada akhir zaman.
Yohanes 6:45 Ada tertulis dalam kitab nabi-nabi: Dan mereka semua akan diajar oleh Allah. Dan setiap orang, yang telah mendengar dan menerima pengajaran dari Bapa, datang kepada-Ku.
Yohanes 6:46 Hal itu tidak berarti, bahwa ada orang yang telah melihat Bapa. Hanya Dia yang datang dari Allah, Dialah yang telah melihat Bapa.
Yohanes 6:65 Lalu Ia berkata: “Sebab itu telah Kukatakan kepadamu: Tidak ada seorangpun dapat datang kepada-Ku, kalau Bapa tidak mengaruniakannya kepadanya.” (bdk. 8:18, 38)
Yohanes 8:53-54 Adakah Engkau lebih besar dari pada bapa kita Abraham, yang telah mati! Nabi-nabipun telah mati; dengan siapakah Engkau samakan diri-Mu?” Jawab Yesus: “Jikalau Aku memuliakan diri-Ku sendiri, maka kemuliaan-Ku itu sedikitpun tidak ada artinya. Bapa-Kulah yang memuliakan Aku, tentang siapa kamu berkata: Dia adalah Allah kami
Yohanes 10:15 sama seperti Bapa mengenal Aku dan Aku mengenal Bapa, dan Aku memberikan nyawa-Ku bagi domba-domba-Ku (bdk. 10:17-18)
Yohanes 10:30 Aku dan Bapa adalah satu.”
Yohanes 10:36 masihkah kamu berkata kepada Dia yang dikuduskan oleh Bapa dan yang telah diutus-Nya ke dalam dunia: Engkau menghujat Allah! Karena Aku telah berkata: Aku Anak Allah?
Yohanes 10:38 tetapi jikalau Aku melakukannya dan kamu tidak mau percaya kepada-Ku, percayalah akan pekerjaan-pekerjaan itu, supaya kamu boleh mengetahui dan mengerti, bahwa Bapa di dalam Aku dan Aku di dalam Bapa.”
Yohanes 12:26 Barangsiapa melayani Aku, ia harus mengikut Aku dan di mana Aku berada, di situpun pelayan-Ku akan berada. Barangsiapa melayani Aku, ia akan dihormati Bapa.
Yohanes 13:3 Yesus tahu, bahwa Bapa-Nya telah menyerahkan segala sesuatu kepada-Nya dan bahwa Ia datang dari Allah dan kembali kepada Allah.
Yohanes 14:6 Kata Yesus kepadanya: “Akulah jalan dan kebenaran dan hidup. Tidak ada seorangpun yang datang kepada Bapa, kalau tidak melalui Aku.
Yohanes 14:7 Sekiranya kamu mengenal Aku, pasti kamu juga mengenal Bapa-Ku. Sekarang ini kamu mengenal Dia dan kamu telah melihat Dia.” (bdk. 14:9-11, 13)
Yohanes 14:16 Aku akan minta kepada Bapa, dan Ia akan memberikan kepadamu seorang Penolong yang lain, supaya Ia menyertai kamu selama-lamanya,
Yohanes 14:21 Barangsiapa memegang perintah-Ku dan melakukannya, dialah yang mengasihi Aku. Dan barangsiapa mengasihi Aku, ia akan dikasihi oleh Bapa-Ku dan Akupun akan mengasihi dia dan akan menyatakan diri-Ku kepadanya.”
Yohanes 14:23 Jawab Yesus: Jika seorang mengasihi Aku, ia akan menuruti firman-Ku dan Bapa-Ku akan mengasihi dia dan Kami akan datang kepadanya dan diam bersama-sama dengan dia.
Yohanes 14:26 tetapi Penghibur, yaitu Roh Kudus, yang akan diutus oleh Bapa dalam nama-Ku, Dialah yang akan mengajarkan segala sesuatu kepadamu dan akan mengingatkan kamu akan semua yang telah Kukatakan kepadamu.
Yohanes 15:9 “Seperti Bapa telah mengasihi Aku, demikianlah juga Aku telah mengasihi kamu; tinggallah di dalam kasih-Ku itu.
Yohanes 15:10 Jikalau kamu menuruti perintah-Ku, kamu akan tinggal di dalam kasih-Ku, seperti Aku menuruti perintah Bapa-Ku dan tinggal di dalam kasih-Nya.
Yohanes 15:16 Bukan kamu yang memilih Aku, tetapi Akulah yang memilih kamu. Dan Aku telah menetapkan kamu, supaya kamu pergi dan menghasilkan buah dan buahmu itu tetap, supaya apa yang kamu minta kepada Bapa dalam nama-Ku, diberikan-Nya kepadamu.
Yohanes 15:23 Barangsiapa membenci Aku, ia membenci juga Bapa-Ku.
Yohanes 15:26 Jikalau Penghibur yang akan Kuutus dari Bapa datang, yaitu Roh Kebenaran yang keluar dari Bapa, Ia akan bersaksi tentang Aku.
Yohanes 16:15 Segala sesuatu yang Bapa punya, adalah Aku punya; sebab itu Aku berkata: Ia akan memberitakan kepadamu apa yang diterimanya dari pada-Ku.”
Yohanes 16:28 Aku datang dari Bapa dan Aku datang ke dalam dunia; Aku meninggalkan dunia pula dan pergi kepada Bapa.”
Yohanes 17:5 Oleh sebab itu, ya Bapa, permuliakanlah Aku pada-Mu sendiri dengan kemuliaan yang Kumiliki di hadirat-Mu sebelum dunia ada.
Yohanes 17:11 Dan Aku tidak ada lagi di dalam dunia, tetapi mereka masih ada di dalam dunia, dan Aku datang kepada-Mu. Ya Bapa yang kudus, peliharalah mereka dalam nama-Mu, yaitu nama-Mu yang telah Engkau berikan kepada-Ku, supaya mereka menjadi satu sama seperti Kita.
Yohanes 17:21 supaya mereka semua menjadi satu, sama seperti Engkau, ya Bapa, di dalam Aku dan Aku di dalam Engkau, agar mereka juga di dalam Kita, supaya dunia percaya, bahwa Engkaulah yang telah mengutus Aku.
Yohanes 17:24 Ya Bapa, Aku mau supaya, di manapun Aku berada, mereka juga berada bersama-sama dengan Aku, mereka yang telah Engkau berikan kepada-Ku, agar mereka memandang kemuliaan-Ku yang telah Engkau berikan kepada-Ku, sebab Engkau telah mengasihi Aku sebelum dunia dijadikan.
Yohanes 20:21 Maka kata Yesus sekali lagi: “Damai sejahtera bagi kamu! Sama seperti Bapa mengutus Aku, demikian juga sekarang Aku mengutus kamu.”
PENUTUP
Keesaan Ontologi merupakan sebuah pemahaman bahwa Allah hanya dapat dipahami berdasarkan Trinitas yang menegaskan konsep “kasih”, “kesetaraan”, “kesamaan”, dan “kekekalan”. Ketika Yesus membandingkan diri-Nya dengan Bapa, maka Ia hendak menyatakan bahwa Ia setara dan sama dengan Bapa, dan sudah ada sejak kekekalan (Yoh. 1:1).
Keesaan secara ekonomi memang bermanfaat bagi kita tatkala kita menunjukkan komitmen kita kepada Tuhan sebagai pribadi yang layak dipercaya dan disembah. Meski Islam juga mengadopsi konsep yang sama, tapi beberapa di antara mereka terlalu memaksakan konsep monoteisme ekonomis kepada agama lain dengan cara-cara yang tidak layak dan menghalalkan kekerasan dan pembunuhan hanya karena berbeda konsep monoteismenya.
Seyogianya keesaan Tuhan dalam relasinya dengan ciptaan mendorong untuk semakin mengasihi sesama sebagai wujud nyata dari mengasihi Tuhan. Alangkah tidak masuk akal ketika seseorang berbicara monoteisme tetapi melakukan perbuatan-perbuatan yang busuk, jijik, dan jahat. Justru, ketika kita percaya bahwa hanya Tuhan sebagai pribadi yang satu-satunya disembah dan dipercaya, maka kita harus menunjukkan kasih kita (sebagai pilihan) kepada Tuhan dalam bentuk lainnya yang setara yaitu mengasihi sesama.
Keesaan ontologis hanya dapat dijelaskan oleh Trinitas dan di dalamnya kasih yang kekal itu berperikhoresis; dan kasih dalam Trinitas itu melimpah keluar: kepada manusia sebagaimana Yesus tegaskan bahwa “…supaya kamu saling mengasihi; sama seperti Aku telah mengasihi kamu demikian pula kamu harus saling mengasihi” (Yoh. 13:34); “Jikalau kamu mengasihi Aku, kamu akan menuruti segala perintah-Ku” (Yoh. 14:15); “Inilah perintah-Ku, yaitu supaya kamu saling mengasihi, seperti Aku telah mengasihi kamu” (Yoh. 15:12).
Trinitas adalah finalitas dari personalitas Allah secara ontologis yang menegaskan supremasi “kasih-Nya” dan direalisasikan dalam dunia ciptaan. Tidak ada yang dapat mengalahkan “kasih” sampai akhir zaman. Kasih adalah wujud nyata dari kepedulian Allah yang terungkap dalam Inkarnasi Yesus Kristus. Allah yang dipahami sebagai ‘satu’ secara numerik dan dipaksakan ke dalam konteks ontologis akan berimbas kepada Allah yang kesepian dan egois. Oleh sebab itu, Trinitas adalah jawaban bagi manusia bahwa “kasih Allah” yang dinyatakan kepada kita melalui Yesus Kristus adalah kasih yang menghasilkan penebusan dan keselamatan sebagaimana yang Ia janjikan. Inilah yang Rasul Yohanes (Yoh. 3:16-18) tegaskan:
Karena begitu besar kasih Allah akan dunia ini, sehingga Ia telah mengaruniakan Anak-Nya yang tunggal, supaya setiap orang yang percaya kepada-Nya tidak binasa, melainkan beroleh hidup yang kekal. Sebab Allah mengutus Anak-Nya ke dalam dunia bukan untuk menghakimi dunia, melainkan untuk menyelamatkannya oleh Dia. Barangsiapa percaya kepada-Nya, ia tidak akan dihukum; barangsiapa tidak percaya, ia telah berada di bawah hukuman, sebab ia tidak percaya dalam nama Anak Tunggal Allah.
Soli Deo Gloria. Salam Bae
Sumber gambar: https://iconreader.files.wordpress.com/2011/02/rublev-angels-at-mamre-trinity.jpg













