MERAGUKAN NASKAH-NASKAH PERJANJIAN BARU (Bagian 9)

Sumber gambar: https://www.ancient-origins.net/artifacts-ancient-writings/oxyrhynchus-papyri-largest-cache-early-christian-manuscripts-discovered-020982

Tertullianus, seorang Bapa Gereja pada awal abad ketiga, mengecam lawan-lawannya yang meragukan isi naskah asli dengan mengatakan: “Marilah, hai engkau yang memerlukan lebih banyak jawaban untuk keselamatanmu, datanglah ke Gereja-Gereja apostolik yang masih memiliki dan membacakan tulisan-tulisan otentik dari para rasul serta menampilkan wajah beberapa dari mereka (Prescription Again Heretics, bab 36).

Bock dan Wallace menjelaskan, jika “otentik” berarti asli, seperti makna bahasa Latinnya, maksud Tertullianus adalah mengatakan bahwa beberapa buku asli PB masih ada pada saat itu, lebih dari 1 abad setelah ditulis. Maksudnya tentulah surat-surat Paulus kepada jemaat di Korintus, Filipi, Tesalonika, Efesus, dan Roma. Ia menganjurkan mereka mengunjungi Gereja-Gereja tersebut untuk melihat tulisan asli tersebut. Tetapi jika “otentik” tidak berarti dokumen asli, setidaknya berarti salinan-salinan yang ditulis dengan teliti.

Irenaeus, uskup agung dari Lyons pada akhir abad kedua mencatat bahwa ia telah memeriksa salinan-salinan kitab Wahyu dan mencatat manuskrip-manuskrip mana yang lebih awal untuk memastikan teks-teks yang otentik. Ia berusaha memelihara isi teks asli, tetapi tidak menyatakan bahwa dokumen asli masih ada. Namun, usaha Irenaeus memelihara isi teks asli dan membandingkan salinan dengan manuskrip yang lebih awal tentu menggambarkan praktik dan usaha yang dilakukan oleh para penulis dan Bapa Gereja.

Dua manuskrip tertua yang kita miliki saat ini, yaitu Papyrus 75 (P75) dan Codex Vaticanus (B), memiliki kesamaan yang luar biasa. Keduanya termasuk manuskrip paling akurat yang ada saat ini. P75 lebih tua 125 tahun daripada B, namun bukan merupakan sumber teks B. Sebaliknya, B disalin dari sumber yang lebih tua daripada P75. Kombinasi dua naskah ini tentu dapat membawa kita kembali ke awal abad kedua.

Misquoting Jesus karya Bart Ehrman, lupa membandingkan salinan-salinan PB dengan literatur kuno Latin atau Yunani lainnya. Keraguan terhadap teks PB mestinya sama dengan keraguan terhadap buku kuno lain. Manuskrip PB jauh lebih dekat kepada aslinya dan jauh lebih banyak daripada literatur lain pada era yang sama. PB jauh lebih tahan uji daripada literatur kuno Yunani atau Latin mana pun.

Telah ditemukan sekitar 5.700 manuskrip PB dalam bahasa Yunani. Jumlah sumber ini terus bertambah. Setiap dekade ada penemuan manuskrip baru. Sedangkan rata-rata naskah penulis klasik ditemukan hanya dalam 20 manuskrip. Naskah PB berbahasa Yunani saja lebih dari 300 kali lipatnya. Selain bahasa Yunani, manuskrip PB juga ada dalam bahasa Latin, Koptik, Syria, Armenia, Gothik, Georgia, Arab, dan banyak versi lain. Manuskrip Latin ada lebih dari 10.000. Secara  keseluruhan PB memiliki sekitar 1.000 kali lipat jumlah manuskrip dari rata-rata penulis klasik lain. Bahkan jumlah salinan karya penulis terkenal seperti Homerus dan Herodotus sama sekali tidak dapat dibandingkan dengan PB.

Bruce Metzger dan Bart Ehrman menulis dalam The Text of the New Testament. Selain bukti tertulis manuskrip PB berbahasa Yunani dan versi-versi lebih awal, para ahli kritik teks dapat membandingkan banyak kutipan Alkitab dalam tafsiran, khotbah, dan tulisan-tulisan para Bapa Gereja. Begitu banyaknya kutipan ini sehingga seandainya pun seluruh sumber pengetahuan yang lain mengenai teks PB dimusnahkan, tetap akan ada cukup sumber untuk merekonstruksi hampir seluruh PB (Bruce Metzger dan Bart Ehrman, The Text of the New Testament: Its Transmission, Corruption, and Restoration. 4th ed. Oxford: Oxford University Press, 2005, 126).

Para ahli kritik teks PB memiliki sangat banyak sumber dibandingkan dengan literatur Yunani dan Latin lain. Meskipun kita tidak memilik dokumen-dokumen asli, pernyataan bahwa kita tidak memiliki salinan dari salinan dari salinan dari dokumen asli tanpa klarifikasi lebih lanjut mengenai apa yang kita miliki adalah pernyataan yang menyesatkan. Pernyataan seperti ini mengungkapkan kesalahan penting Misqouting Jesus: bukan apa yang Ehrman katakan yang menjadi masalah, melainkan apa yang tidak dikatakannya. Ia tidak mengatakan betapa banyak sumber yang kita miliki untuk dapat merekonstruksi teks PB, sehingga menimbulkan kesan seolah-olah kita tidak memiliki petunjuk apa pun mengenai isi teks asli PB karena semua manuskrip telah rusak. Faktanya tidak demikian. Isi teks asli memang tidak mudah dipastikan, tetapi dapat ditemukan dalam manuskrip-manuskrip yang kita miliki. Kita sama sekali tidak perlu menduga-duga isi teks tanpa dasar manuskrip. Jadi, terlepas dari apakah kita memiliki atau tidak memiliki salinan dari salinan dari salinan, saat ini kita memiliki salinan yang secara kolektif cukup layak untuk membawa kita pada isi teks asli, kecuali dalam beberapa bagian yang sangat kecil (Bock & Wallace)

Analisis:

Saya merangkum penjelasan yang sangat baik dari Profesor Bock dan Wallace sebagai berikut:

Pertama, dari pernyataan Tertullianus bahwa, “Marilah, hai engkau yang memerlukan lebih banyak jawaban untuk keselamatanmu, datanglah ke Gereja-Gereja apostolik yang masih memiliki dan membacakan tulisan-tulisan otentik dari para rasul serta menampilkan wajah beberapa dari mereka” telah membuktikan bahwa di zamannya ada “tulisan-tulisan otentik dari para rasul” yang tentunya bertarikh lebih awal dan sangat mungkin adalah naskah asli atau salinan pertama atau kedua dari naskah asli.

Kedua, Bock dan Wallace yakin (berdasarkan pernyataan Tertullianus) bahwa beberapa buku asli PB masih ada pada saat itu, lebih dari 1 abad setelah ditulis (surat-surat Paulus kepada jemaat di Korintus, Filipi, Tesalonika, Efesus, dan Roma).

Ketiga, dari data bahwa “Irenaeus, uskup agung dari Lyons pada akhir abad kedua mencatat bahwa ia telah memeriksa salinan-salinan kitab Wahyu dan mencatat manuskrip-manuskrip mana yang lebih awal untuk memastikan teks-teks yang otentik. Ia berusaha memelihara isi teks asli, tetapi tidak menyatakan bahwa dokumen asli masih ada. Namun, usaha Irenaeus memelihara isi teks asli dan membandingkan salinan dengan manuskrip yang lebih awal tentu menggambarkan praktik dan usaha yang dilakukan oleh para penulis dan Bapa Gereja” justru meneguhkan bahwa teks-teks otentik—dalam hal ini—bisa mencakup dua hal yaitu: (1) bahwa naskah-naskah asli yang terpelihara (kontra Ehrman); (2) inti berita (pesan) tidak berubah (tetap ortodok, kontra Ehrman)

Ketiga, dari “dua manuskrip tertua yang kita miliki saat ini, yaitu Papyrus 75 (P75) dan Codex Vaticanus (B), memiliki kesamaan yang luar biasa dan keduanya termasuk manuskrip paling akurat yang ada saat ini”, justru membuktikan bahwa—jika seandainya bukan teks asli—maka paling tidak adalah salinan dari teks asli, sehingga hal ini menampik spekulasi yang sangat galau versi Ehrman.

Keempat, sebagaimana yang diungkapkan Bock dan Wallace bawhwa, “’Misquting Jesus’ karya Bart Ehrman, lupa membandingkan salinan-salinan PB dengan literatur kuno Latin atau Yunani lainnya. Keraguan terhadap teks PB mestinya sama dengan keraguan terhadap buku kuno lain. Manuskrip PB jauh lebih dekat kepada aslinya dan jauh lebih banyak daripada literatur lain pada era yang sama. PB jauh lebih tahan uji daripada literatur kuno Yunani atau Latin mana pun” membuktikan bahwa gagasan-gagasan spekulatif Ehrman sangat berat sebelah. Itu sebabnya, klaim-klaim Ehrman sebenarnya “gugur” ketika diuji dalam dapur filsafat logika di mana salah satunya adalah penggunaan standar ganda, dan unsur-unsur lain yang penting dalam filsafat logika adalah: terdefinisi, terkonteks, terklasifikasi, dan terklarifikasi.

Kelima, dari penjelasan Metzger dan Ehrman dalam “The Text of the New Testament”, bahwa, “… begitu banyaknya kutipan ini sehingga seandainya pun seluruh sumber pengetahuan yang lain mengenai teks PB dimusnahkan, tetap akan ada cukup sumber untuk merekonstruksi hampir seluruh PB” mengindikasikan dua hal: (1) isi berita PB masih tetap dipertahankan dna dipercaya; dan (2) hal-hal teknis tidak menjadi yang paling mendasar untuk menyatakan bahwa naskah-naskah PB telah secara masiv berubah total sehingga tidak seortodoks yang Ehrman kira.

Keenam, Bock dan Wallace benar ketika menyatakan bahwa, “meskipun kita tidak memilik dokumen-dokumen asli, pernyataan bahwa kita tidak memiliki salinan dari salinan dari salinan dari dokumen asli tanpa klarifikasi lebih lanjut mengenai apa yang kita miliki adalah pernyataan yang menyesatkan”. Ini sebenarnya menjelaskan bahwa Ehrman itu mengeluarkan pernyataan-pernyataan yang menyesatkan yang ketika diukur dari prinsip filsafat logika langsung gugur. Karena inti persoalannya adalah ada pada “naskah asli” yang dipersoalkan sehingga berbagai spekulasi muncul. Seperti yang diungkapkan pula oleh Bock dan Wallace bahwa, “pernyataan seperti ini mengungkapkan kesalahan penting Misquoting Jesus bukan apa yang Ehrman katakan yang menjadi masalah, melainkan apa yang tidak dikatakannya. Bagi saya ini merupakan bagian dari cara berpikir yang dilupakan Ehrman.

Saya sepakat dengan Bock dan Wallace bahwa, “Isi teks asli memang tidak mudah dipastikan, tetapi dapat ditemukan dalam manuskrip-manuskrip yang kita miliki.” Artinya, inti berita merupakan hal fundamental,  yang masih terjaga hingga sekarang ini. Buktinya, Kristen adalah agama terbesar di dunia dan menghasilkan sebuah sistem kehidupan yang baik dan bahkan suprematif: mendoakan musuh. Jadi, pada dasarnya, Ehrman hanya mempersoalkan hal-hal teknis dan melupakan hal-hal yang substansial.

Salam Bae…

MERAGUKAN NASKAH-NASKAH PERJANJIAN BARU

Bagian 6

Ehrman mengatakan, “variasi antar manuskrip-manuskrip itu lebih banyak daripada jumlah kata dalam PB” (“Did Jesus Really Say That?,New Book Says Ancient Scribes Changed His Words”, by Jeri Krentz. Charlotte Observer, Desember 17, 2005, 90). Ia mengatakan, “Semua naskah ini saling berbeda, dalam ribuan bagian… Perbedaan tersebut sedemikian banyak sehingga kita bahkan tidak tahu berapa jumlahnya” (Misquoting Jesus: The Story behind Who Changed the Bible and Why, San Francisco: HarperSanFrancisco, 2005, 10).

Analisis:

Pertama, Ehrman harus mengakui bahwa jika diuji melalui penelitian ilmiah dengan mengajukan 20 penulis terkait dengan topik atau fakta yang mereka lihat, maka perbedaan varian diksi, frasa, klausa, kalimat, dan paragraf “mutlak” berbeda, sehingga ketika fakta ini terjadi, maka fakta pada penyalinan manuskrip-manuskrip akan mutlak menghasilkan varian-varian. Soal jumlah “varian itu lebih banyak daripada jumlah kata dalam PB” bukanlah jadi soal yang substansial sebab toh inti beritanya tidak berubah, sebagaimana telah saya sampaikan di awal bahwa ada lima pokok utama dalam Alkitab: pertama, terkait dengan tanggung jawab manusia di hadapan Tuhan; kedua, tanggung jawab moralitas; ketiga, tanggung jawab kemanusiaan; keempat, tanggung jawab spiritualitas (ibadah, doa); dan kelima, tanggung jawab keselamatan.

Kedua, kita semua, termasuk Ehrman tidak mengetahui apa latar belakang yang menyebabkan bahwa variasi antar manuskrip-manuskrip itu lebih banyak daripada jumlah kata dalam PB. Namun, sebagaimana telah saya jelaskan di atas bahwa faktor logislah yang memastikan bahwa adanya perbedaan tersebut yakni karena setiap penyalin memiliki perspektif (cara berpikir, konteks yang mengikat) yang berbeda, sehingga—sekali lagi—bukan hal-hal yang substansial yang menjadi varinnya. Inti berita (lima pokok) tetap terjaga. Meski 10 orang menulis satu peristiwa dengan kata-kata atau kalimat sendiri-sendiri, tetapi inti peristiwanya tetap sama.

Ketiga, pernyataan Ehrman bahwa, “semua naskah ini saling berbeda, dalam ribuan bagian… Perbedaan tersebut sedemikian banyak sehingga kita bahkan tidak tahu berapa jumlahnya” mengindikasikan perbedaan-perbedaan teknis sebagaimana para pakar PB berpendapat demikian. Poinnya adalah “inti berita” tetap tidak berubah meski varian-varian dalam manuskrip-manuskrip begitu masiv.

MERAGUKAN NASKAH-NASKAH PERJANJIAN BARU

Bagian 7

Ehrman menyimpulkan, “Kita salah jika menganggap perubahan-perubahan tersebut tidak berdampak nyata terhadap makna atau kesimpulan teologis dari teks tersebut… Dalam beberapa kasus, makna inti dari teks dipertaruhkan karena tergantung pada bagaimana kita mengatasi suatu masalah teks.” “Did Jesus Really Say That?,New Book Says Ancient Scribes Changed His Words”, by Jeri Krentz. Charlotte Observer, Desember 17, 2005, 208).

Efek kumulatif dari semua argumentasi Ehrman adalah: bukan hanya tidak ada kepastian mengenai isi teks asli, melainkan juga seandainya kita yakin akan isi teks, teologi intinya tidak seortodoks yang kita sangka (Bock & Wallace)

Analisis:

Pernyataan Ehrman di atas saya bagi dua:

Pertama, pernyataan Ehrman bahwa, “Kita salah jika menganggap perubahan-perubahan tersebut tidak berdampak nyata terhadap makna atau kesimpulan teologis dari teks tersebut” justru salah sebab hingga sekarang makna yang terkandung dalam manuskrip-manuskrip yang memiliki varian-varian (atau perubahan-perubahan) tidaklah menimbulkan tindakan-tindakan anarkis-anarkis dari mayoritas Kristen. Hingga sekarang  Kristen adalah agama terbesar di dunia, dengan milyaran orang yang mengaku Yesus sebagai Tuhan dan Alkitab adalah firman Allah. Seandainya spekulasi Ehrman benar, maka tentu jumlah penganut Kristen menempati posisi terendah dari jumlah agama-agama di dunia. Pada faktanya tidaklah demikian. Oleh sebab itu, pernyataan Ehrman bukanlah hal yang perlu dirisaukan karena pernyataan Ehrman justru berangkat dari kerisauannya yang tak mampu menggunakan logikanya untuk melihat secara standar ganda dan data faktual.

Kedua, Ehrman menyatakan (sebagai sambungan dari pernyataan sebelumnya) bahwa, “dalam beberapa kasus, makna inti dari teks dipertaruhkan karena tergantung pada bagaimana kita mengatasi suatu masalah teks”, memang menimbulkan persoalan-persoalan heremenetis pada teks-teks tertentu. Tetapi, pengaruh yang ditimbulkanya tidak sebesar kerisauan Ehrman. Orang Kristen hingga sekarang tidaklah memusingkan hal-hal teknis dalam konteks perbedaan varian-varian sebagaimana muncul dalam terjemahan-terjemahan, karena—seperti yang telah saya tegaskan di atas—bahwa inti berita tidak berubah. Yang berubah adalah “perasaan galau” Ehrman.

Sebagaimana yang diungkapkan oleh Bock & Wallace terkait dengan gagasan Ehrman bahwa, efek kumulatif dari semua argumentasi Ehrman adalah: bukan hanya tidak ada kepastian mengenai isi teks asli, melainkan juga seandainya kita yakin akan isi teks, teologi intinya tidak seortodoks yang kita sangka. Gagasan Ehrman ini sudah terjawab dalam penjelasan saya di atas. Justru malah ajaran Kristen sangat ortodoks hingga sekarang. Tak ada yang berubah pesan Alkitab dalam kelima pokok penting yang telah saya sebutkan di awal.

MERAGUKAN NASKAH-NASKAH PERJANJIAN BARU

Bagian 8

Bock dan Wallace menganalisis argumentasi Ehrman dan berpendapat, jika Ehrman menegaskan bahwa “kita bahkan tidak memiliki salinan generasi ketiga atau keempat selain salinan-salinan yang ditulis jauh setelah itu memberikan kesan yang menyesatkan. Bagaimana ia tahu seperti apa salinan-salinan generasi awal? Kita memiliki 10 sampai 15 salinan yang ditulis dalam kurun waktu satu abad sejak PB selesai; tidak mungkinkah beberapa di antaranya adalah salinan generasi ketiga atau keempat, atau bahkan generasi kedua? Memang benar, semua berbentuk salinan fragmental, tetapi sebagian cukup substansial. Ehrman sendiri mengakui salah satu dari manuskrip tersebut mungkin merupakan salinan langsung dari naskah yang ditulis ratusan tahun sebelumnya (Bruce Metzger dan Bart Ehrman, The Text of the New Testament: Its Transmission, Corruption, and Restoration. 4th ed. Oxford: Oxford University Press, 2005, 91).

Bock dan Wallace memberikan uraian tentang penulisan PB sebagai berikut:

Pertama, berita disampaikan secara tertulis, bukan lisan.

Kedua, berita diteruskan melalui beberapa jalur, tidak hanya satu. Jalur-jalur ini berfungsi untuk memeriksa dan menyeimbangkan hasil penyampaian berita.

Ketiga, ahli kritik teks biasanya tidak hanya mengandalkan penerima berita terakhir, tetapi juga bertanya kepada beberapa orang yang lebih dekat dengan sumber berita.

Keempat, sepanjang sejarah penyampaian berita, para penulis (dikenal sebagai Bapa-Bapa Gereja) memberikan komentar terhadap teks, dan jika ada kesenjangan kronologis antarmanuskrip mereka mengisinya dengan mencatat apa yang dikatakan oleh teks dalam konteks waktu dan tempat saat itu.

Kelima, dalam permainan telepon, pemain yang baru selesai membisikkan cerita tidak lagi ikut campur dalam kelanjutan penyampaian cerita, sedangkan PB asli disalin lebih dari satu kali dan masih dikonsultasikan sampai beberapa generasi salinan sesudahnya.

Analisis:

Jika ada yang bertanya: bagaimana jika yang menyalin adalah mereka yang ingin memalsukan inti berita Injil-Injil PB? Jawabannya sederhana: Injil-Injil PB disalin oleh banyak penyalin. Hal ini tampak dalam banyaknya varian teks. Namun dari sejumlah perbedaan varian teks, substansi dari Injil sama sekali tidak berubah. Poin utama dari hal ini adalah karena yang menyalin adalah manusia, maka kemungkinan untuk salah menyalin [yang tidak disengaja] adalah hal yang lumrah, sebagaimana yang terjadi di dunia percetakan. “Manusia bisa salah, tetapi ‘tidak harus’ salah”. Kira-kira itulah moto Kristen untuk menampik gagasan-gagasan Ehrman.

Sumber gambar: https://id.pinterest.com/pin/306737424622820460/

MERAGUKAN NASKAH-NASKAH PERJANJIAN BARU

Sumber gambar: https://id.pinterest.com/pin/37999190583933870/

Bagian 1

Pakar Perjanjian Baru, Profesor Barth Ehrman adalah seorang yang meninggalkan imannya menjadi skeptis terhadap Perjanjian Baru (Alkitab). Pernyataannya yang mengguncang dunia kritik teks, kritik sumber, dan sebagainya, telah menyita perhatian dunia khususnya bidang penelitian teks-teks PB. Telah beredar ulasan-ulasan dan kajian-kajian terhadap pernyataan Ehrman. Profesor PB Darrel L. Bock & Daniel B. Wallace telah mengulas pernyataan Ehrman. Berikut ini adalah beberapa klaim Ehrman sebagaimana yang dikutip oleh Bock & Wallace, dan kemudian saya memberikan analisis terhadap setiap pernyataan Ehrman dari perspektif filsafat logika dan secuil gagasan doktrinal (jika dipandang perlu). Agar lebih mendetail (spesifik), maka saya menguraikan ulasan ini secara fragmentaris-korelasional (tetap saling terkait)

Ehrman menyatakan keraguannya: “Saya terus-menerus kembali kepada pertanyaan mendasar: bagaimana kita dapat mengatakan bahwa Alkitab adalah firman Allah yang tak mungkin salah padahal faktanya kita tidak memiliki kata-kata yang diinspirasikan oleh Allah tanpa kemungkinan salah, melainkan hanya kata-kata yang ditulis oleh para penyalin—kadang-kadang dengan tepat dan kadang-kadang (sering kali) dengan tidak tepat?” (“Did Jesus Really Say That?,New Book Says Ancient Scribes Changed His Words”, by Jeri Krentz. Charlotte Observer, Desember 17, 2005, 7).

Analisis:

Ehrman tidak memahami secara mendalam mengenai klausa “tanpa kemungkinan salah”. Kalimat ini tidaklah berorientasi pada hal-hal teknis melainkan kepada lima pokok utama dalam Alkitab yang adalah firman Allah: pertama, terkait dengan tanggung jawab manusia di hadapan Tuhan; kedua, tanggung jawab moralitas; ketiga, tanggung jawab kemanusiaan; keempat, tanggung jawab spiritualitas, ibadah, doa; dan kelima, tanggung jawab keselamatan.

Jelas, bahwa frasa “Firman Allah tanpa salah” tidak bermaksud atau tidak berfokus pada hal-hal penulisan sebuah peristiwa yang kemudian diidentifikasikan sebagai sesuatu yang berkontradiksi melainkan pada isi dari peristiwa tersebut yang mencakup lima pokok utama di atas. Bahkan frasa “firman Allah tanpa salah” dalam Alkitab tidaklah mengindikasikan adanya pemahaman bahwa yang dimaksudkan dengan klaim tersebut adalah hal-hal teknis atau proses penyalinan naskah. Yang menjadi fokus utama bahwa firman Allah tanpa salah selalu berorientasi pada “hubungan kovenan” Allah terhadap manusia, serta “apa yang menjadi tanggung jawab manusia kepada Allah karena manusia telah berdosa kepada Allah.”

Jadi, Ehrman sendiri tidak mendefinisikan gagasan “tanpa kemungkinan salah” yang ditujukan kepada Alkitab. Dengan demikian, asumsi subjektif Ehrman bukanlah bersifat radikal melainkan hanyalah letupan emosi dan ketikdaktercapaian cara berpikir logis dalam memahami totalitas Alkitab yang adalah karya Allah yang paling ajaib di dunia yang telah mengubah miliyaran manusia berdosa, menjadi hidup secara benar di hadapan Allah sesuai dengan firman-Nya.

MERAGUKAN NASKAH-NASKAH PERJANJIAN BARU (Bagian 2)

Karena hasil penelitian Ehrman atas Markus 2:26, ia kemudian mulai berpikir bahwa Alkitab mengalami perubahan seismik [yang sangat besar]. Ehrman kemudian menulis, “Bagi saya, Alkitab mulai tampak sebagai buku yang sangat manusiawi… Buku ini adalah karya manusia dari awal sampai akhir” (“Did Jesus Really Say That?,New Book Says Ancient Scribes Changed His Words”, by Jeri Krentz. Charlotte Observer, Desember 17, 2005, 11).

Analisis:

Pertama, Alkitab memang adalah buku manusiawi karena ditujukan kepada manusia.

Kedua, Alkitab adalah karya manusia dalam konteks bahwa memang manusia yang menulis Alkitab, dan bukan kambing. Ehrman benar dalam hal ini bahwa Alkitab adalah karya manusia dari awal sampai akhir. Allah bukanlah penulis sebagaimana yang kita pahami bahwa Allah seperti manusia yang menulis memegang alat tulis. Tidak. Allah adalah sumber pengilhaman; Allah menghargai manusia sebagai penulisnya sebab firman-Nya ditujukan [dikhususkan] bagi manusia, maka sebagai wujud penghargaan Allah kepada manusia adalah mengizinkan manusia menggunakan logikanya untuk menuliskan firman-Nya.

Ketiga, Alkitab adalah buku untuk manusia yang berisi tentang pedoman dari Allah yang mencakup lima pokok utama: (1) terkait dengan tanggung jawab manusia di hadapan Tuhan; (2) tanggung jawab moralitas; (3) tanggung jawab kemanusiaan; (4) tanggung jawab spiritualitas (ibadah, doa); dan (5) tanggung jawab keselamatan.

MERAGUKAN NASKAH-NASKAH PERJANJIAN BARU (Bagian 3)

Dalam acara “The Daily Show”, Ehrman diundang dan menjadi bintang tamu. Acara tersebut dipandu oleh Jon Stewart. Atas dasar hasil presentasi Ehrman, Stewart mengatakan bahwa Alkitab yang sengaja dirusak oleh para penyalin ortodoks justru terlihat “lebih menarik… nyaris lebih ilahi.”

Analisis atas pendapat Stewart di atas:

Pertama, Stewart harus mendefinisikan kata “sengaja” yang merujuk kepada penyalin ortodoks, bahwa mereka telah merusak Alkitab.

Kedua, Stewart harus menyuguhkan naskah asli untuk membuktikan argumentasinya bahwa Alkitab yang telah dirusak itu “nyaris lebih ilahi.”

Ketiga, klaim “nyaris lebih ilahi” harus ada pembanding dengan yang “bukan ilahi” atau “sedikit ilahi” sehingga klaim Stewart tersebut dapat diklarifikasi secara solid dan kredibel.

Keempat, Stewart tak mungkin dapat membuktikannya, sebab Ehrman sendiri menyadari bahwa tidak ada lagi naskah asli. Jika naskah asli tidak ada, bagaimana mungkin Stewart dapat membuktikan naskah asli yang [mungkin] “kurang ilahi” atau “sedikit ilahi” untuk dibandingkan dengan naskah PB yang dirusak itu sebagai “nyaris bersifat ilahi”?

Kelima, argumentasi Stewart adalah menunjukkan skeptisismenya yang ignoran tingkat [level] merayap (creep).

MERAGUKAN NASKAH-NASKAH PERJANJIAN BARU (Bagian 4)

Bock dan Wallace meringkas argumentasi Bart Ehrman, demikian:

(1) Naskah PB ditulis ulang jauh setelah naskah aslinya, sehingga menimbulkan keraguan mengenai apa sebenarnya isi naskah asli;

(2) Begitu banyak perbedaan teks di antara naskah-naskah yang ditemukan, terutama manuskrip-manuskrip yang tertua, sehingga menimbulkan dugaan bahwa teks tersebut tidak disalin dengan sangat teliti;

(3) Para penyalin “ortodoks” telah mengubah secara signifikan teks PB, bahkan mengubah berita intinya.

Analisis:

(1) pernyataan Ehrman bahwa “naskah PB ditulis ulang jauh setelah naskah aslinya” tidak dapat dibuktikan secara memadai oleh Ehrman dan meskipun—seandainya—naskah tersebut disalin ulang jauh setelah naskah aslinya, tidak merupakan jaminan bahwa “naskah aslinya” perlu diragukan. Ini hanya soal asumsi dan bukan pada persoalan fakta historis. Ehrman sedang asyik bermain di dunia persepsi logis tetapi tidak logis sebab ada celah dalam logika untuk berpikir sebaliknya (standar ganda). Jadi, pernyataan Ehrman bukanlah bersifat ilmiah melainkan bersifat spekulatif.

(2) kalimat “begitu banyak perbedaan teks di antara naskah-naskah yang ditemukan, terutama manuskrip-manuskrip yang tertua, sehingga menimbulkan dugaan bahwa teks tersebut tidak disalin dengan sangat teliti” yang diungkapkan Ehrman memiliki natur yang sama dengan pernyataan pertama: ia hanya berspekulasi tanpa bukti. Namanya asumsi yang tetap asumsi. Tak ada yang istimewa dari klaim Ehrman tersebut. Hanya saja, karena kepakarannya, maka mungkin orang tidak perlu membedakan mana yang terkait dengan klaim ilmiah dan mana klaim yang hanya bersifat spekulatif. Di sini, Ehrman merasa dirinya sedang ber-“solipsisme” atau “bermasturbasi” sesuka hati.

Pemikiran Ehrman kemudian menghasilkan dugaan bahwa “teks tersebut tidak disalin dengan sangat teliti” merupakan sebuah proses analogi yang tak mutlak alias spekulatif. Karena hanya bersifat “dugaan” maka pernyataan Ehrman bukanlah sebuah pernyataan yang perlu dipikirkan secara matang. Itu hanyalah gagasan ringan tak berbobot. Lagipula, definisi “disalin dengan sangat teliti” sebenarnya hanyalah sebuah keinginan dan latar belakang Ehrman bahwa Alkitab “seharusnya” disalin secara teliti, padahal pesan Alkitab tidak berbicara soal “seharusnya” melainkan “sesungguhnya”; bukan soal teknis penulisan, tetapi pesan yang ingin disampaikan.

(3) Dugaan Ehrman bahwa “para penyalin “ortodoks” telah mengubah secara signifikan teks PB, bahkan mengubah berita intinya” juga merupakan klaim spekulatif. Tak ada bukti mengenai “pengubahan teks-teks” oleh penyalin ortodoks. Ehrman tidak memahami natur dari Firman Allah, dan ia hanya ingin berpikir bahwa seharusnya penyalinan teks-teks tersebut “harus tidak salah kata demi kata dan huruf demi huruf”. Jika Ehrman menganggap bahwa para penyalin ortodoks telah melakukan perubahan-perubahan signifikan terhadap teks PB, dari mana analogi antara teks-teks asli dan teks-teks perubahan yang dilakukan oleh para penyalin ortodoks dapat diukur? Ehrman di sini sedang bermimpi di siang bolong.

MERAGUKAN NASKAH-NASKAH PERJANJIAN BARU (Bagian 5)

Ehrman menyatakan: “Bukan hanya tidak memiliki naskah asli, kita bahkan tidak memiliki salinan dari naskah asli. Kita bahkan tidak memiliki salinan dari salinan dari naskah asli, atau salinan dari salinan dari salinan dari naskah asli. Kita hanya memiliki salinan yang ditulis jauh setelah naskah aslinya” (“Did Jesus Really Say That?,New Book Says Ancient Scribes Changed His Words”, by Jeri Krentz. Charlotte Observer, Desember 17, 2005, 10).

Dasar atas klaim Ehrman di atas, selaras dengan klaimnya bahwa “Fakta bahwa kita memiliki ribuan manuskrip PB tidak berarti kita dapat yakin bahwa kita tahu apa yang tertulis dalam naskah aslinya. Jika kita hampir tidak memiliki naskah-naskah awal, bagaimana kita dapat tahu apakah teks PB tidak pernah diubah secara signifikan sebelum diperbanyak?” (Lost Christianities: The Battles for Sripture and the Faiths We Never Knew, Oxford: Oxford University Press,2003, 219).

Analisis:

Petama, jika tidak adanya naskah asli, dan yang ada hanyalah salinan dari salinan dan seterusnya, maka apakah perbedaan varian yang ribuan itu dapat disimpulkan bahwa Alkitab telah mengalami perubahan seismik? Apakah tidak ada ruang pemikiran lain bahwa “minat” yang sangat besar dari penganut Kristen Ortodoks untuk menyalin “berita yang sangat baik dan memberikan perubahan pada kehidupan mereka” kemudian disebarluaskan meski secara substansi perbedaan varian bukanlah unsur yang esensial ketimbang unsur pokok-pokoknya?

Kedua, klausa “kita bahkan tidak memiliki salinan dari salinan dari naskah asli” adalah klaim keyakinan dan bukan klaim ilmiah karena tidak ada bukti bagi Ehrman bahwa naskah-naskah yang ada adalah bukan naskah-naskah asli. Untuk menyeimbangkan klaim keyakinan Ehrman, maka saya juga menggunakan klaim keyakinan bahwa “sangat mungkin dari ribuan naskah, satu, lima, atau sepuluh, adalah salinan dari naskah. Ini adalah standar ganda: klaim keyakinan sepadan dengan klaim keyakinan.

Ketiga, klausa “kita hanya memiliki salinan yang ditulis jauh setelah naskah aslinya” lebih bersifat spekulatif ketimbang ilmiah. Dan klausa tersebut masuk dalam kategori klaim keyakinan. Maka, sebagai balasannya, mungkin saja salinan dari naskah asli disalin sangat dekat waktunya dengan naskah asli.

KELUARGA HOSEA DAN KELUARGA MASA KINI

Konteks: Fiman Tuhan datang pada Hosea pada zaman Uzia, Yotam, Ahas dan Hizkia,-raja Yehuda, dan pada zaman Yerobeam bin Yoas, raja Israel.

Apa yang terjadi dengan Yehuda dan Israel? Di zaman Uzia dan Yotam, bangsa mempersembahkan dan membakar korban di bukit-bukit pengorbanan.

Di zamannya, Ahas, raja Yehuda, anak Yotam melakukan apa yang jahat di mata Tuhan, hidup menurut kelakukan raja-raja Israel. Ia mempersembahkan anaknya sebagai korban dalam api, sesuai dengan perbuatan keji bangsa-bangsa yang dihalau Tuhan dari depan orang Israel. Ia mempersembahkan dan membakar korban di bukit-bukit pengorbanan dan di atas tempat-tempat yang tinggi dan di bawah setiap pohon yang rimbun.

Di zamannya, Hizkia raja Yehuda, melakukan apa yang benar di mata Tuhan. Dia menjauhkan bukit-bukit pengorbanan dan yang meremukkan tugu-tugu berhala dan yang menghancurkan ular tembaga yang dibuat Musa, sebab sampai pada masa itu orang Israel memang masih membakar korban bagi ular itu yang namanya disebut Nehustan.

Di zamannya, Yerobeam bin Yoas, raja Israel, melakukan apa yang jahat di mata Tuhan. Tetapi Tuhan menolong Israel melalui Yerobeam bin Yoas untuk melepaskan kesenggsaraan Israel.

Berangkat dari kondisi Israel dan Yehuda, maka Tuhan ingin menunjukkan kasih sayang-Nya sekaligus kekecewaan-Nya atas Israel. Dosa-dosa penyembahan berhala dan keserakahan manusia membawa mereka pada level dosa dan kejahatan tingkat tinggi. Untuk menggambarkan situasi ini, Tuhan-melalui pernikahan Hosea dan Gomer-memberikan contoh faktualnya. Gomer dilambangkan sebagai Israel, pelacur rohani, pelaku dosa-dosa zina rohani dan fisik, membelakangi Tuhan, dan Hosea menggambarkan Tuhan yang mau mengasihi Gomer [Israel].

Perhatikan frasa “membelakangi Tuhan”. Ini kondisi yang sangat parah dan menyakitkan. Misalnya, ketika seorang pendeta berkhotbah lalu jemaatnya membelakangi pendeta, meski tahu bahwa ada pendeta di depan yang sedang berkhotbah, tetapi jemaat tidak mengindahkannya. Bukankah ini sangat menyakitkan dan kurang ajar? Itulah yang dilakukan Israel terhadap Tuhan. Tuhan dengan setia menunjukkan cinta kasih-Nya, malahan sering dilupakan. Padahal mereka tahu bahwa Tuhan itu ada, dan berkuasa, dan bahkan menolong umat-Nya. Mungkin kondisi ini dapat diwakilkan dengan kalimat: “Tuhan itu baik, Ia akan mengampuni; itu kan pekerjaan-Nya”

Isi

Hosea menikahi seorang pelacur. Pelacur memiliki dua arti: pertama, pelacur jalanan, dan kedua, pelacur kuil (pelacur bakti)—pelacur di kuil penyembahan berhala. Ada perbedaan tafsir soal ini. Apa pun maksud dari pelacur, yang pasti identitas yang dilekatkan pada Gomer adalah “pelacur”. Artinya, personalitas Gomer dianggap sebagai kondisi di mana Gomer memiliki kedudukan dalam arti relasi sosial yang rendah.

Lalu mengapa Tuhan memilih Gomer untuk dinikahkan dengan Hosea? Apakah tidak ada perempuan cantik lainnya yang lebih terhormat? Begini, kita sering berfokus pada kata “pelacur” sebagaimana yang dilekatkan pada Gomer. Kita lupa, bahwa Tuhan memerintahkan Hosea untuk mengambil Gomer sebagai “istrinya” secara sah. Bukan dengan cara yang sembrono. Hal ini terkait dengan proses “pembelajaran” dan “kode” dari Tuhan untuk memberitahukan bahwa Ia kecewa dengan Israel. Kondisi orang Israel dijelaskan di pasal 4. Sedangkan maksud pernikahan Hosea dengan Gomer dan perempuan lainnya dijelaskan di pasal 3.

NAS  Hosea 1:2 When the LORD first spoke through Hosea, the LORD said to Hosea, “Go, take to yourself a wife of harlotry, and have children of harlotry; for the land commits flagrant harlotry, forsaking the LORD.”

NAB  Hosea 1:2 When the LORD began to speak with Hosea, the LORD said to Hosea: Go, get for yourself a woman of prostitution and children of prostitution, for the land prostitutes itself, turning away from the LORD.

NIV  Hosea 1:2 When the LORD began to speak through Hosea, the LORD said to him, “Go, marry a promiscuous woman and have children with her, for like an adulterous wife this land is guilty of unfaithfulness to the LORD.”

NJB  Hosea 1:2 The beginning of what Yahweh said through Hosea: Yahweh said to Hosea, ‘Go, marry a whore, and get children with a whore; for the country itself has become nothing but a whore by abandoning Yahweh.’

λαβ verb imperative aorist active 2nd person singular from λαμβάνω

BGT  Hosea 1:2 ἀρχὴ λόγου κυρίου πρὸς Ωσηε καὶ εἶπεν κύριος πρὸς Ωσηε βάδιζε λαβ σεαυτῷ γυναῖκα πορνείας καὶ τέκνα πορνείας διότι ἐκπορνεύουσα ἐκπορνεύσει ἡ γῆ ἀπὸ ὄπισθεν τοῦ κυρίου (Hos 1:2 BGT)

Implementasi:

Pertama, tidak ada manusia yang tanpa dosa. Tidak ada keluarga yang tanpa masalah. Tidak ada pasangan kita yang suci dan tak berdosa. Semuanya berstatus orang orang berdosa. Meski Gomer mendapatkan julukan atau sebutan yang kurang baik, karena ia seorang pelacur, lalu siapa kita yang mengusik keluarga Hosea di mana Hosea mendapat firman secara langsung dari Tuhan? Di sini penekannya bukan pada siapa dalam anggota keluarga yang paling bersih, suci, dan kudus, melainkan terletak pada “kehadiran Tuhan dalam keluarga” tanpa memandang status masa lampau. Hosea menikahi Gomer dalam status yang kurang baik di mata masyarakat. Jika demikian, meski menurut kita, istri atau suami kita baik, tetap saja terbuka peluang bagi orang lain untuk menafsirkan yang lain

Kedua, keluarga yang bahagia adalah keluarga yang diberkati Tuhan. Pernikahan Hosea atas dasar perintah Tuhan sebagai analogis dan pembelajaran bagi Israel bahwa meskipun mereka berzina menyembah ilah lain, namun Tuhan masih menunjukkan belas kasihan kepada mereka dan menerima mereka.

Ketiga, keluarga yang diberkati Tuhan adalah keluarga yang memberi teladan kepada yang lain. Pernikahan dan keluarga Hosea adalah teladan bagi bangsa Israel bahwa meski Gomer mendapat status yang kurang baik, namun itulah faktanya, tak seorang pun yang merasa dirinya paling suci tanpa dosa. Kesadaran inilah yang sehusnya dimiliki keluarga Kristen untuk semakin mencintai dan mengasihi Tuhan. Dampaknya adalah kita dapat mengasihi istri, suami, anak-anak kita, dan sesama kita.

KEEMPAT, keluarga yang diberkati oleh Tuhan adalah keluarga yang mengalami hidup bersama dengan Tuhan: mendoakan orang lain dan menjadi berkat bagi orang lain.

Salam Bae….

Sumber gambar: https://id.pinterest.com/pin/325525879320518527/

MALAM NATAL DI BANDARA SUPADIO PONTIANAK: Membagikan Damai Sejahtera Kristus kepada Sesama Melalui Tulisan Singkat

Beberapa berita belakangan ini mencuat ke permukaan soal perayaan Natal. Ada yang senang dengan Natal, ada yang sedih, ada yang alergi dan ada yang berbahagia. Yang alergi dengan Natal, baik mengucapkan “Selamat Natal” kepada orang Kristen maupun tulisan ucapan selamat Natal di kue telah menunjukkan bahwa Natal Yesus Kristus menuai dukacita dan kebencian di hati mereka. Alasannya mengikuti ajaran agama, tetapi tidak ada satupun ajaran agama yang secara persis menulis: “Jangan mengucapkan selamat Natal kepada orang Kristen karena kita akan ikut menjadi kafir”. Cari saja di semua kitab suci agama apa pun, kalimat seperti itu tidak akan ditemukan. Sudahlah, tak jadi soal dengan mereka yang alergi dengan Natal dan mengucapkan selamat Natal. Iman Kristen tidak bergantung pada ucapan mereka. Itu hanya soal persepsi dan sentimen agama yang berdiam di hati mereka yang sama sekali tidak mengerti nilai-nilai “damai sejahtera”.

Damai sejahtera adalah sebuah pilihan hidup untuk menghadirkan keindahan hidup dan kualitas hidup dalam relasi dengan sesama manusia, tanpa memandang perbedaan suku, agama, ras, dan golongan. Natal Yesus justru menyatukan berbagai perbedaan. Ada para gembala—yang bukan orang terpandang—mengunjungi bayi Yesus di palungan dan turut bergembira dengan Yusuf dan Maria. Ada orang Majus dari timur—orang-orang terpandang dan kaya—turut mempersebahkan emas, dupa (kemenyan) dan mur kepada “Sang Raja” yang telah lahir sesuai dengan petunjuk Bintang. Ada lagi para malaikat—ciptaan Tuhan yang berbeda dengan manusia—turut mengambil bagian dalam menyambut Natal Yesus Kristus. Ungkap mereka: “Kemuliaan bagi Allah di tempat yang mahatinggi dan damai sejahtera di bumi di antara manusia yang berkenan kepada-Nya” (Luk. 2:14).

Itu sebabnya, Natal Yesus Kristus adalah penyatuan berbagai perbedaan untuk memuji Allah Bapa, Sang Pemberi Anugerah yang paling besar dalam sejarah dunia ini. Natal Yesus Kristus adalah kehadiran situasi dan kondisi yang baru, yang tidak biasanya. Itulah Bapa kita. Bapa yang berdaulat, berhak menentukan cara apa yang hendak Dia tunjukkan sebagai bukti bahwa Ia mengasihi kita manusia berdosa: “Karena Allah begitu mengasihi dunia ini, sehingga Ia telah mengaruniakan Anak-Nya yang tunggal, supaya setiap orang yang percaya kepada-Nya tidak binasa, melainkan beroleh hidup yang kekal. Sebab Allah mengutus Anak-Nya ke dalam dunia bukan untuk menghakimi dunia, melainkan untuk menyelamatkannya oleh Dia (Yoh. 3:16-17).

Natal Yesus Kristus adalah peran Bapa melalui Sang Logos untuk menyelamatkan dengan cara baru. Kita yang dipanggil Tuhan, perlu memahami substansi Natal dengan melihat kepada kasih dan kedaulatan Sang Bapa yang kekal. Melalui hal tersebut, barulah kita dapat memahami sepenuhnya bahwa meski Natal kita disalahpahami, dihina, menimbulkan alergi, kita perlu memberikan obat penawar yaitu: TUNJUKKANLAH DAMAI SEJAHTERA KRISTUS YANG TELAH MEMERINTAH (MENGUASAI) HATI KITA kepada semua orang termasuk mereka yang alergi.

Mereka yang mengerti makna Natal Yesus Kristus, Sang Putra Bapa mengunjungi dunia yaitu bukan dengan cara yang telah Dia lakukan pada zaman lampau, melainkan Sang Bapa menetapkan cara yang tak pernah diduga manusia yaitu INKARNASI, suatu cara yang luar biasa hebatnya: “Logos menjadi manusia”.

Apa yang menarik dengan INKARNASI? INKARNASI adalah perwujudan kemahakuasaan Bapa yang dipublikasikan secara terang melalui pribadi Yesus Kristus. Sang Logos yang kekal “menjadi manusia” [ὁ λόγος σὰρξ ἐγένετο]. Cara inilah yang kemudian ditegaskan oleh penulis kitab Ibrani (1:1-6):

Setelah pada zaman dahulu Allah berulang kali dan dalam pelbagai cara berbicara kepada nenek moyang kita dengan perantaraan nabi-nabi, maka pada zaman akhir ini Ia telah berbicara kepada kita dengan perantaraan Anak-Nya, yang telah Ia tetapkan sebagai yang berhak menerima segala yang ada. Oleh Dia Allah telah menjadikan alam semesta.

Ia adalah cahaya kemuliaan Allah dan gambar wujud Allah dan menopang segala yang ada dengan firman-Nya yang penuh kekuasaan. Dan setelah Ia selesai mengadakan penyucian dosa, Ia duduk di sebelah kanan Yang Mahabesar, di tempat yang tinggi, jauh lebih tinggi dari pada malaikat-malaikat, sama seperti nama yang dikaruniakan kepada-Nya jauh lebih indah dari pada nama mereka.

Karena kepada siapakah di antara malaikat-malaikat itu pernah Ia katakan: “Anak-Ku Engkau! Engkau telah Kuperanakkan pada hari ini?” dan “Aku akan menjadi Bapa-Nya, dan Ia akan menjadi Anak-Ku?” Dan ketika Ia membawa pula Anak-Nya yang sulung ke dunia, Ia berkata: “Semua malaikat Allah harus menyembah Dia.”

Perwujudan cara Sang Bapa kepada dunia telah terjadi dalam peristiwa sejarah: Natal Yesus Kristus membawa perubahan, damai, dan pertentangan. INKARNASI Yesus merupakan ketetapan Sang Bapa. Ia [Yesus], meski dalam kondisi-Nya sebagai manusia, masih memiliki kuasa dan kemuliaan. Ini berarti bahwa—sebagaimana yang Yesus nyatakan: “Oleh sebab itu, ya Bapa, permuliakanlah Aku pada-Mu sendiri dengan kemuliaan yang Kumiliki di hadirat-Mu sebelum dunia ada” (Yoh. 17:5)—bahwa eksistensi Yesus baik sebelum INKARNASI maupun dalam INKARNASI tetap memiliki substansi kekal dan tak mengurangi kualitas kuasa dan kemuliaan-Nya. Bedanya, Ia menjadi manusia.

Penulis Ibrani menegaskan bahwa “oleh Dia Allah telah menjadikan alam semesta”. Ini selaras dengan apa dinyatakan oleh Rasul Yohanes (Yoh. 1:3): “Segala sesuatu dijadikan oleh Dia dan tanpa Dia tidak ada suatupun yang telah jadi dari segala yang telah dijadikan.” Sebagai “cahaya kemuliaan Allah dan gambar wujud Allah”, Yesus Kristus menopang segala yang ada dengan firman-Nya yang penuh kekuasaan. Kekuasaan yang ada pada diri Yesus menunjukkan bahwa Ia adalah Tuhan. Jadi, kelirulah mereka yang suka mencari cara dan membodohi orang lain dengan mengatakan bahwa Yesus bukan Tuhan. Sudahlah, tidak mengakui Yesus sebagai Tuhan, tidaklah menjadikan Yesus tiba-tiba berubah menjadi bukan Tuhan. Yang pasti, Ia adalah Logos yang kekal (Yoh. 1:1), pencipta segala yang ada (Yoh. 1:3).

Natal Yesus Kristus juga bertujuan untuk “mengadakan penyucian dosa”. Cara Sang Bapa ini menuai pro dan kontra. Ada yang tidak setuju dengan cara seperti ini. Ya sudahlah. Mungkin mereka yang tidak setuju punya cara lain untuk ditawarkan kepada Sang Pencipta. Pikirku: “Ya sudah, mereka saja yang jadi Tuhan” supaya bisa mengganti cara yang lain untuk menebus manusia dari dosa-dosa mereka.

Yesus Kristus yang telah lahir telah menjadi puji-pujian seluruh umat Kristen. Nama Yesus telah menjadi popular. Popular karena Ia unik dan satu-satunya pribadi yang menyatakan Sang Bapa kepada manusia. Mati dan menebus manusia. Menawarkan damai sejahtera kepada mereka yang mau percaya. Dan satu lagi. Yesus adalah Tuhan yang layak disembah. Ini bukan karangan saya tetapi pernyataan Allah seperti yang dituliskan oleh penulis kitab Ibrani: “Dan ketika Ia membawa pula Anak-Nya yang sulung ke dunia, Ia berkata: ‘Semua malaikat Allah harus menyembah Dia’” (Ibr. 1:6). Jadi, mereka yang menegasikan bahwa Yesus bukan Tuhan, tentu harus menyerah karena malaikat-malaikat diperintahkan untuk menyembah Yesus.

Ingat, malaikat-malaikat diperintahkan menyembah Yesus dalam keadaan-Nya sebagai manusia. Dalam keadaan-Nya sebagai manusia saja sudah diperintahkan untuk disembah, apalagi dalam keadaan-Nya sebagai Logos Ilahi yang kekal? Mari berpikir jernih.

Itulah beberapa kualitas Natal Yesus Kristus yang kita rayakan di tahun ini. Meski dalam proses perjalanan kembali ke Jakarta, saya hendak menuliskan sedikit makna Natal agar kita semua diajak untuk melihat kekayaan Alkitab dan kekayaan cara Sang Bapa untuk menunjukkan kasih dan sayangnya. Tulisan ini belumlah cukup untuk menyatakan kekayaan Natal Yesus Kristus.

Selamat Natal saudara-saudaraku di mana pun kalian berada

Tuhan Yesus memberkati kita semua. Jadilah terang meski dijadikan objek caci maki. Jadilah pembawa damai, meski ada yang alergi untuk mengucapkan selamat Natal. Damai sejahtera Kristus yang telah memerintah dalam hati kita, kiranya menjadi pegangan hidup sampai selama-lamanya.

Shalom

Tulisan ini ditulis pada malam tanggal 24 Desember 2017.

Sumber gambar: https://i.pinimg.com/originals/26/4b/1a/264b1a986c554fef8060dca0fa799eb1.jpg

KRISTEN DAN ANCAMAN TERORIS DAN PEMBUNUHAN YANG MENGATASNAMAKAN AGAMA: Menanggapi Tragedi Bom Bunuh Diri di Gereja GKI Diponegoro, Gereja SMTK Ngagel dan Gereja HKY

Kekristenan adalah agama yang paling disering dicaci maki, dihina, direndahkan, dibunuh, dicerca, ditertawakan, didiskriminasikan, dan tak lupa, sering dikritik. Meskipun demikian, Kristen adalah agama terbesar di dunia; berkembangnya Kekristenan bukan melalui ancaman, bukan melalui pembunuhan, bukan melalui fitnah dan kebencian, bukan pula dengan menggunakan bom bunuh diri di sana sini; Kekristenan berkembang karena cinta, kasih, dan sayang Tuhan yang diejawantahkan dalam pemberitaan Injil, pengajaran, pemikiran, dan tindakan.

Secara faktual, sedemikian besar gelombang cobaan dan hambatan tersebut tidak mengecilkan peran untuk “MENDOAKAN MUSUH DAN MENDOAKAN MEREKA”. Mengapa demikian? Karena Yesus Kristus telah mengajarkan bahwa, “Tetapi Aku berkata kepadamu: Kasihilah musuhmu dan berdoalah bagi mereka yang menganiaya kamu. Karena dengan demikianlah kamu menjadi anak-anak Bapamu yang di sorga, yang menerbitkan matahari bagi orang yang jahat dan orang yang baik dan menurunkan hujan bagi orang yang benar dan orang yang tidak benar” (Matius 5:44-45).

Terkait dengan kasus pemboman di gereja-gereja sejak dulu; bahkan hingga hari ini, 13 Mei 2018 di beberapa gereja di Surabaya, para pelakukanya “mengatasnamakan Islam”. Apakah dengan demikian kita menyimpulkan bahwa semua yang beragama Islam memiliki pandangan yang sama dengan para teroris? Tentu tidak! Di sini, kita perlu memahami demarkasi ideologi dan demarkasi iman antara para pelaku teror dan para penyembah yang cinta damai yang ada dalam Islam.

Menyimak maraknya tindakan-tindakan yang mengatasnamakan agama, saya memberikan beberapa alasan (asumsi) berikut ini:

Pertama, para pelaku pembunuhan (bom bunuh diri dan sebagainya) yang mengatasnamakan agama Islam adalah mereka yang gagal memahami narasi dan konteks Kitab Sucinya. Akibatnya, pikiran mereka diracuni dan dibius oleh kebencian yang membabi buta sehingga menghalalkan segala cara.

Kedua, para pelaku pembunuhan yang mengatasnamakan agama Islam adalah mereka yang diindoktrinasi oleh para pemimpin mereka yang memiliki “ideologi Iblis” untuk memuluskan agenda rahasia mereka untuk menciptakan sistem pemerintahan—atau sistem keagamaan yang berpusat pada ajaran Islam yang mereka pahami secara keliru.

Ketiga, para pelaku pembunuhan yang mengatasnamakan agama Islam adalah mereka yang selalu melihat sisi negatif dari agama-agama lain berdasarkan fakta yang tidak berimbang (gagasan tunggal yang diusung oleh para pemimpin mereka) sehingga pikiran mereka dihipnotis untuk membunuh agama lain yang tidak sepaham, tidak seiman, dan tidak se-Tuhan.

Keempat, para pelaku pembunuhan yang mengatasnamakan agama Islam adalah mereka yang mengingingkan kekerasan dan pembunuhan adalah jalan utama untuk memuluskan agenda rahasia mereka, pahadal justru sebaliknya, kekerasan dalam sepanjang sejarah selalu kalah dengan prinsip “hidup damai dan toleran” terhadap sesama manusia.

Kelima, para pelaku pembunuhan yang mengatasnamakan agama Islam adalah mereka yang tidak dapat membedakan antara ideologi dan iman.

Keenam, para pelaku pembunuhan yang mengatasnamakan agama Islam adalah mereka yang gagal paham soal iman agama lain.

Ketujuh, para pelaku pembunuhan yang mengatasnamakan agama Islam adalah mereka yang dirasuki ujaran-ujaran kebencian terhadap salah satu agama yang menjadi sasaran pembunuhan.

Dari alasan-alasan tersebut, tampak bahwa mereka yang mengatasnamakan agama justru merusak citra Islam di mata publik; sebaliknya, para pecinta Islam yang toleran dan cinta damai harus pula mengumandangkan kedamaian dan rasa kemanusiaan terhadap sesama dan bukan malah mengumandangkan HAM ketika pihak kepolisian menindaki para pelaku teror. Jika demikian, kita sedang beromong kosong ria soal HAM. Yang mati tidak dipikirkan HAM-nya, sedangkan para pelaku bom bunuh diri yang telah membunuh, malahan dibela HAM-nya. Ini negara apa? Syukurlah, dalam beberapa kesempatan saya melihat bahwa para intelektual muslim telah menyatakan sikap bahkan mengutuk tindakan kekerasan dan pembunuhan yang mengatasnamakan Islam atas kasus bom bunuh diri di beberapa gereja di Surabaya yaitu Gereja GKI Diponegoro, Gereja SMTK Ngagel dan Gereja HKY.

Kalau seandainya masjid yang dibom, entah apa jadinya pluralisme di negara ini; ketika gereja dibom, orang Kristen tetap tabah dan tak membalas kejahatan dengan kejahatan. Kalau ada satu ayat saja di mana Yesus berkata: “Bunuhlah mereka yang membunuh umat-Ku; bunuhlah mereka yang menghina nama-Ku”, maka para teroris bukanlah apa-apa. Sayangnya, tidak pernah terucap sedikitpun dari mulut Yesus yang memerintahkan pengikut-Nya untuk membunuh musuh Kristen, membunuh mereka yang menghina dan mencaci maki Yesus dan pengikut-Nya; yang ada malahan Yesus memerintahkan untuk berdoa dan mengasihi mereka yang menganiya dan berbuat jahat kepada pengikut-Nya.

Benarlah apa yang dikatakan Yesus ribuan tahun yang lalu:

“Kamu akan dikucilkan, bahkan akan datang saatnya bahwa setiap orang yang membunuh kamu akan menyangka bahwa ia berbuat bakti bagi Allah. Mereka akan berbuat demikian, karena mereka tidak mengenal baik Bapa maupun Aku. Tetapi semuanya ini Kukatakan kepadamu, supaya apabila datang saatnya kamu ingat, bahwa Aku telah mengatakannya kepadamu. Hal ini tidak Kukatakan kepadamu dari semula, karena selama ini Aku masih bersama-sama dengan kamu” (Yohanes 16:2-4)

Tragedi bom bunuh diri diri gereja-gereja di Surabaya adalah “wajah buruk” kehidupan pluralisme di Indonesia. Kalau beberapa hari lalu, di Mako Brimob Kelapa Dua Depok terjadi insiden yang menewaskan beberapa orang, yang juga pelakunya mengatasnamakan agama, kini kasus yang menimpa Kristen juga bermotif sama: “membunuh atas nama agama”. Ancaman demi ancaman dan pembunuhan demi pembunuhan atas nama agama telah mencoreng sifat hakiki dari agama: “membawa manusia kepada Tuhan”.

Saudara-saudaraku, ingatlah selalu ajaran Yesus: “kasihilah musuhmu dan berdoalah bagi mereka yang menganiaya kamu.” Jika kita menjadi pengikut Yesus Kristus, ingatlah hal-hal ini:

Pertama, Yesus itu tidak pernah membalas kejahatan dengan kejahatan dan tidak pernah memerintahkan para pengikut-Nya untuk membalas kejahatan dengan kejahatan;

Kedua, Yesus tidak pernah memerintahkan murid-murid-Nya untuk berperang, membunuh, dan mencaci maki orang lain;

Ketiga, Yesus tidak pernah memerintahkan para murid-Nya untuk membenci orang lain, membalas kejahatan dengan kejahatan, tetapi justru malah Ia memerintahkan untuk mengasihi musuh-musuh dan berdoa bagi mereka.

Keempat, Yesus menjamin para pengikutnya dengan kehidupan kekal dan sukacita yang lua biasa dalam Kerajaan-Nya.

Meski menjadi pengikut Yesus Kristus sering disalahpahami, dan bahkan sering dicaci maki dan diburu untuk dibunuh, namun tidak ada seorang pun yang dapat menyamai dan menyaingi Yesus, baik dalam hal personalitas dan ajaran-ajaran-Nya. Salam Damai Indonesiaku. Semoga keluarga korban diberikan kekuatan dan kesabaran dari Tuhan; kiranya kejadian ini terwujud solidaritas agama-agama untuk melawan terorisme. Saya turut bersedih atas korban jiwa akibat tindakan bom bunuh diri dari mereka yang mengaku beragama, tetapi otaknya adalah ideologi Iblis dan bukan iman kepada Allah swt. yang penuh kasih dan sayang atas umat manusia.

Shalom. Soli Deo Gloria

Sumber gambar: https://simponinews.com/wp-content/uploads/2018/05/IMG-20180513-WA0055.jpg

PRINSIP-PRINSIP DASAR APOLOGETIKA

Dunia berpikir, selain luas, juga bersifat bebas. Siapa saja bebas untuk berpikir apa saja (secara luas) — sesuka hatinya. Begitu juga dalam dunia teologi; siapa saja bebas berpikir dan berpendapat dari apa yang dia rasa dan dia pikir itu baik, mengandung sebuah pernyataan bagi posisinya. Kebebasan berpikir dianggap sebagai otonomi manusia untuk menentukan posisinya. Bahkan tak jarang ada orang yang merasa bahwa sistem pemikirannya terhadap iman Kristen dianggap valid dan tak terbantahkan. Ada yang beranggapan bahwa agama Kristen memiliki ‘Allah yang kelihatan’ sedangkan Islam memiliki ‘Allah yang tidak kelihatan’; kemudian ditarik kesimpulan bahwa ‘Allah yang tidak kelihatan adalah benar’, padahal belum ada bukti bahwa ‘Allah yang tidak kelihatan itu siapa, dan bagaimana personalitasnya.’ Implikasinya, Allah orang Kristen kelihatan, jadi pasti bukan Tuhan.

Kesimpulan tersebut selain tidak memiliki bukti, juga bersifat imajinatif. Pemahaman akan Allah dalam teologi Kristen selalu bersumber dari penyataan diri-Nya, sebagaimana termaktub dalam Kitab Suci. Teologi Kristen tidak membicarakan Allah dalam konsep angan-angan dan imajinasi. Sama sekali tidak! Penyataan diri Allah menjadi dasar dan bukti keimanan Kristen terhadap Dia yang menyatakan diri-Nya. Itu sebabnya, iman Kristen memiliki bukti terkuat bukan berdasarkan logika imajinatif, atau logika mengarang bebas, tetapi berdasarkan logika penyataan diri Allah.

Untuk melihat kejelasan mengenai hal ini, ada beberapa pertanyaan sebagai potensi keseimbangan berpikir analogikal.

Pertama: apa keuntungan dan keunggulan jika Tuhan tidak kelihatan, dan apa keuntungan dan keunggulan jika Tuhan kelihatan

Kedua: jika Tuhan tidak kelihatan, maka ‘Tuhan’ seperti apa yang diproyeksikan dalam pikiran Anda ketika Anda berdoa?

Ketiga: apakah mutlak Tuhan itu harus tidak kelihatan?

Keempat: apakah Tuhan yang tidak kelihatan adalah ‘Tuhan yang menyatakan diri-Nya?”

Kelima: jika jawaban dari pertanyaan keempat adalah ‘Ya’ dengan dalil bahwa soal Tuhan menyatakan diri dengan cara tidak kelihatan itu adalah kedaulatan-Nya, maka dari mana Anda tahu bahwa “Tuhan yang tidak kelihatan” diyakini adalah Tuhan yang benar? Apakah Ia telah menyatakan diri-Nya untuk membuktikan bahwa Ia tidak kelihatan?

Keenam: Apakah ukuran atau standar bahwa Tuhan yang tidak kelihatan adalah Tuhan yang benar?

Memahami ‘Allah yang kelihatan dan tidak kelihatan’ memiliki problem yang sama yakni: ‘Allah seperti apa yang diproyeksikan pikiran manusia ketika mereka sedang berdoa?’ Setiap manusia, agama apa pun dia, memiliki proyeksi tentang ‘Allah’ atau ‘Tuhan’ yang diyakininya. Jadi, ketika seseorang mengklaim bahwa ‘Allah yang tidak kelihatan itulah yang benar’ maka dia pun harus membuktikan bahwa ‘Allah seperti apa yang tidak kelihatan?’

Klaim tersebut bermain di ranah ‘logika’ dan ‘analogikal’. Ada pula yang mengklaim bahwa orang Kristen tidak bisa menghapal Alkitab sedangkan orang Islam bisa menghapal al-Qur’an. Padahal, dia tidak tahu bahwa Alkitab dan al-Quran tingkat ketebalannya berbeda. Alkitab ditulis dalam dua bahasa, sedangkan al-Quran hanya satu. Jadi sebenarnya orang Kristen tidak diperintahkan untuk menghapal kitab sucinya, melainkan diperintahkan untuk hidup sesuai dengan hukum-hukum, perintah-perintah, ketetapan-ketetapan Tuhan Allah, menantikan janji-janji Tuhan, menikmati cinta kasih dan kebaikan-Nya. Domain menghapal bukanlah perintah Tuhan Allah. Jadi, tidak ada kewajiban untuk menghapal Alkitab tetapi ada kewajiban untuk hidup sesuai prinsip-prinsip Alkitab.

Dasar-dasar pemikiran terdiri atas: daya nalar untuk menganalisis (pengamatan), konseptual, faktual, dokumentarial, skriptural atau Kitab Suci, rasionalitas, dan analogikal. Dasar-dasar tersebut memandu kita untuk dapat memahami dan menghidupi kebenaran. Untuk menjawab berbagai keberatan terhadap iman Kristen, maka kita juga harus menyodorkan sesuatu sesuai dengan konsep dasarnya. Misalnya, ketika seseorang mengatakan: “Tidak ada neraka”, maka kita perlu bertanya: apakah “Tidak ada neraka” didasarkan pada “daya nalar untuk menganalisis (pengamatan), konseptual, faktual, dokumentarial, skriptural atau Kitab Suci, rasionalitas, atau analogikal?”

Jika negasi mereka berangkat dari data Kitab Suci atau dokumentarial, maka sebagai pembuktian terbalik adalah mereka yang menegasikan ‘Tidak ada neraka’ harus juga menyuguhkan sumber atau data yang sama. Jika para negator menggunakan data ‘analogikal’ dengan menyatakan: ‘Tidak mungkin Allah yang baik dan maha kasih menciptakan neraka atau menghukum manusia di perapian yang menyala-nyala’.

Kita dapat memberikan sanggahan sebagai berikut: “Kalau tidak mungkin Allah menciptakan neraka karena Ia baik dan maha kasih, lalu bagaimana tanggapan Anda atas berbagai jenis kejahatan yang terjadi di dunia ini?” Menurut Anda, ‘orang-orang yang berbuat jahat seharusnya mendapat hukuman atau tidak, atas segala yang dilakukan terhadap manusia lain, seperti membunuh, mendustai, dan melakukan perbuatan jahat lainnya”? 

Apakah dengan adanya kejahatan di dunia ini maka Anda berkesimpulan bahwa tidak mungkin Allah menciptakan neraka? Pernyataan bahwa Allah tidak mungkin menciptakan neraka tidaklah mendahului fakta bahwa Allah telah menciptakan neraka. Pembuktian bahwa neraka itu ada karena didasarkan pada skriptural yang di dalamnya memuat tentang kesaksian penglihatan-penglihatan dari mereka yang dikenan Tuhan.

Intinya adalah: Pertama. Kita harus memahami terlebih dahulu sumber atau data apa yang digunakan. Jika para negator menolak Kitab Suci [Alkitab] sebagai wahyu Allah, maka para negator diminta untuk menunjukkan dokumen yang sama dengan Kitab Suci [Alkitab] sebagai bukti bahwa di dalamnya membuktikan bahwa Alkitab bukanlah firman Allah. Dokumen tersebut harus memenuhi unsur keakuratan historis. Kedua. Bedakan antara negasi konseptual atau analogikal dengan negasi faktual dan dokumentarial, dan hal-hal lainnya sebagaimana telah disebutkan di atas.

Ketiga. Setiap bentuk negasi, kita perlu memiliki cara berpikir analogikal. Artinya, setiap bentuk negasi selalu memiliki dua sisi. Jangan terpaku pada satu sisi saja. Misalnya: para negator menyatakan bahwa ‘Yesus itu hanyalah mitos’. Maka kita dapat mengajukan beberapa pertanyaan: Apa definisi mitos? Apa klasifikasi mitos? Apa saja konteks mitos? Dokumen apa saja yang menolak historisitas Yesus? Apa dasar hakiki yang menguatkan klaim bahwa Yesus hanyalah mitos?

Hal ini juga memiliki natur yang sama dengan mereka yang menegasikan bahwa ‘Yesus bukan Tuhan’: Pertama, kita dapat bertanya, ‘apa definisi Tuhan menurut Anda? Kedua, apa saja yang dilakukan Tuhan? Ketiga, apakah definisi dan perbuatan yang dilakukan Tuhan didukung oleh sebuah dokumen? Keempat, jika seorang pribadi dapat melakukan apa yang bisa dilakukan oleh ‘Tuhan’, maka apakah seorang tersebut dapat disebut Tuhan? Kelima, jika seseorang mengatakan bahwa ‘Tuhan tak mungkin mati’, maka kita dapat bertanya apakah ada bukti bahwa Tuhan pernah mati?

Jika mereka mengatakan: Yesus adalah Tuhan, dan Ia mati disalibkan, bukankah Tuhan itu telah mati? Pertanyaan analogikal: menurut Anda, apakah ‘Tuhan’ itu fisik atau ‘substansial’ [roh]? Apakah ketika manusia mati maka rohnya juga ikut mati? Jika ya, maka apa buktinya bahwa roh manusia itu mati, dan mati seperti apa yang Anda ketahui?

Dalam menjawab setiap pertanyaan, kita dapat menggunakan prinsip klarifikasi dalam bentuk memperjelas klaim atau negasi yang diajukan terhadap iman Kristen. Hal ini disebabkan adanya demarkasi, baik demarkasi negatif, maupun demarkasi positif. Demarkasi negatif adalah bentuk klaim dan negasi yang sama sekali tidak ada hubungannya, seperti iman Islam yang menolak ketuhanan Yesus. Demarkasi positif adalah bentuk klaim dan negasi yang bertolak dari teks-teks Alkitab yang cenderung melakukan penafsiran secara ‘amburadul’ dan ‘sesuka hati’ sehingga menghasilkan nilai berpikir yang tidak doktrinal maupun dogmatis.

Salam Bae…

Sumber gambar: https://id.pinterest.com/pin/499336677410649266/

APA YANG TERJADI PASCA YESUS MATI?

Sumber gambar: https://www.raulberzosa.com/arte-sacro

Untuk memahami persoalan apa yang dilakukan Yesus pasca kematian-Nya, kita harus menggunakan kerangka berpikir komprehensif dari semua karya Allah di dalam Yesus Kristus. Alkitab menjelaskan bahwa “manusia telah berdosa kepada Allah”—ini ditegaskan karena Allah tidak berhutang dosa kepada manusia, sebaliknya, manusia berhutang dosa pada Allah. Oleh sebab itu, karena manusia berdosa kepada Allah, maka hanya Allah saja yang layak, yang patut, yang mutlak, dan yang berdaulat menetapkan “bagaimana” cara menebus manusia.

Perjanjian Lama menegaskan berbagai tata cara penebusan dosa yang ditetapkan dan disetujui Allah agar bangsa Israel, umat-Nya, mengetahui bahwa untuk mendapatkan pengampunan, penyucian, pembebasan dari segala dosa, kesalahan, dan pelanggaran, mereka harus mempersembahkan kurban-kurban, yang mengindikasikan adanya dua hal yakni “kematian” dan “darah”. Hal inilah yang kemudian digenapi dan dikerjakan Yesus di kayu salib: Ia mencucurkan darah dan kemudian Ia mati sebagai tanda “substitusi”—mengganti manusia dengan diri-Nya agar manusia diselamatkan dari murka Allah.

Inilah yang ditegaskan Rasul Petrus (1 Petrus 1:18-19)

Sebab kamu tahu, bahwa kamu telah ditebus dari cara hidupmu yang sia-sia yang kamu warisi dari nenek moyangmu itu bukan dengan barang yang fana, bukan pula dengan perak atau emas, melainkan dengan darah yang mahal, yaitu darah Kristus yang sama seperti darah anak domba yang tak bernoda dan tak bercacat.

Dan Rasul Paulus menegaskan konteks ini dalam Roma 8:32:

Ia, yang tidak menyayangkan Anak-Nya sendiri, tetapi yang menyerahkan-Nya bagi kita semua, bagaimanakah mungkin Ia tidak mengaruniakan segala sesuatu kepada kita bersama-sama dengan Dia?

Singkatnya, penebusan dilakukan karena ketetapan Allah yakni mempersembahkan kurban-kurban, dilakukan juga oleh Yesus di zaman Perjanjian Baru.

Lalu apa yang terjadi pasca kematian Yesus? Mengenai ini, hanya Rasul Petrus yang menuliskannya yaitu dalam 1 Petrus 3:18-20:

Sebab juga Kristus telah mati sekali untuk segala dosa kita, Ia yang benar untuk orang-orang yang tidak benar, supaya Ia membawa kita kepada Allah; Ia, yang telah dibunuh dalam keadaan-Nya sebagai manusia, tetapi yang telah dibangkitkan menurut Roh, dan di dalam Roh itu juga Ia pergi memberitakan Injil kepada roh-roh yang di dalam penjara, yaitu kepada roh-roh mereka yang dahulu pada waktu Nuh tidak taat kepada Allah, ketika Allah tetap menanti dengan sabar waktu Nuh sedang mempersiapkan bahteranya, di mana hanya sedikit, yaitu delapan orang, yang diselamatkan oleh air bah itu.

Dari teks di atas, tidak disebutkan kapan harinya di mana Yesus pergi kepada roh-roh dalam penjara untuk “memproklamirkan” kemenangan-Nya atas maut. Kata yang diterjemahkan “memproklamirkan” adakah “ekēruksen” [ἐκήρυξεν] dari kata “kērussō” [κηρύσσω]. Jadi, entah pada hari Jumat malam, atau hari Sabtu secara keseluruhan, yang pasti, atas keterangan Rasul Petrus, Yesus pergi ke penjara di mana terdapat roh-roh manusia yang hidup pada zaman Nuh.

Dengan demikian, apa yang terjadi pada hari Sabtu, pasca kematian Yesus di hari Jumat? Jawabannya adalah “Yesus pergi memproklamirkan kemenangan-Nya atas maut”. Soal berapa lama Ia memproklamirkan kemenangan-Nya di dalam penjara, Alkitab tidak menjelaskannya. Dari sini kita paham, bahwa ketika Allah menyelamatkan manusia, Ia tidak setengah-setengah; Ia secara total menyelesaikan dan mengerjakannya melalui Anak-Nya yang Tunggal, yaitu Yesus Kristus. Hanya mereka yang menyadari betapa ia adalah manusia berdosa yang telah ditetapkan Tuhan, dipanggil, dan ditebus oleh Yesus, yang dapat memahami betapa ajaibnya dan betapa kasihnya Allah pada manusia berdosa.

Salam Bae…

MAKNA “INJIL” DAN “KITAB INJIL KANONIK”

PENDAHULUAN

Berbicara tentang “Injil”, tentunya bukan merupakan hal yang baru bagi orang Kristen, karena dengan Injil-lah orang Kristen tahu dan mengenal siapa Yesus dan karya keselamatan-Nya. Keempat Injil (kitab-kitab) dalam Perjanjian Baru merupakan satu-satunya sumber informasi utama mengenai Yesus Kristus, selain dari pada kitab-kitab lain terutama kitab-kitab yang ditulis oleh Rasul Paulus. Menurut J. I. Packer, Merrill C. Tenney dan William White, keempat Injil [kitab-kitab] itu tidaklah menyajikan sebuah biografi lengkap mengenai kehidupannya, cuma gambaran tentang pribadi-Nya dan pekerjaan-Nya. J. I.  Packer, Merrill C. Tenney dan William White, Dunia Perjanjian Baru, (Malang: Gandum Mas, 1995), 121. Selanjutnya dijelaskan bahwa kitab-kitab Injil, sesungguhnya merupakan penafsiran-penafsiran dari pada sekedar catatan rentetan peristiwa, tetapi tidak ada alasan sedikitpun untuk meragukan bahwa segala hal yang mereka kemukakan adalah sepenuhnya benar. Packer, Tenney dan White, Dunia Perjanjian Baru, 121.

Di samping itu, keempat penulis Injil memberikan aksentuasi yang berbeda-beda, berdasarkan maksud yang hendak disampaikan kepada para penerima Injil itu. Matius menekankan Yesus sebagai Raja, Markus menekankan Yesus sebagai hamba, Lukas menekankan Yesus sebagai Anak Manusia, dan Yohanes menekankan Yesus sebagai Anak Allah. Yesus Kristus adalah tokoh utama dalam Injil-Injil. Penulis-penulis lain selain dari penulis Injil-injil kanonik, yang menekankan Yesus dengan cara yang berbeda, mungkin juga ada yang mencampuradukan ajaran Kristen dengan paham yang lain sehingga menghasilkan sebuah kitab atau injil yang sangat berbeda.

Menurut Joel B. Green, “Sebenarnya ada banyak ‘injil’ yang ditulis pada abad-abad pertama keberadaan Gereja. Lukas sendiri menyadari adanya beberapa upaya untuk menyampaikan kisah Yesus yang telah dilakukan sebelum upayanya ini (Luk. 1:1).” Joel B. Green, Memahami Injil-injil dan Kisah Para Rasul, (Jakarta: Persekutuan Pembaca Alkitab, 2005), 20. Dengan adanya penyampaian berita-berita yang disampaikan melalui sebuah “Injil” [kitab] yang memfokuskan ajarannya pada pribadi Yesus maka pada abad pertama, Gereja mengalami suatu perlawanan tentang ajaran-ajaran yang berkembang pada saat itu, yang juga termasuk di dalamnya adalah paham-paham Gnostik. Curt Fletemier mengomentari masalah ini dan menyimpulkan, “Tapi satu hal yang kita tahu pasti adalah selama abad kedua, ketika umat Kristen mulai menyebarkan Injil (berita) tentang Yesus di daerah Romawi, Gnostik menjadi salah satu pesaing terberat kekristenan. Beberapa orang Yahudi, Roma, dan Yunani menjadi orang kristen, yang lainnya menjadi Gnostik.” Curt Fletemier, Injil Yudas: Dusta Berkepanjangan, 3. Dalam Perjanjian Baru, Gnostik telah menyebar di kalangan jemaat-jemaat di Kolose, Korintus dan lain-lain. “Bidat Gnostik dalam Perjanjian Baru adalah bidat di Kolose yang menggabungkan spekulasi-spekulasi filosofis, kuasa perbintangan, ketakutan kepada perantara, tabu terhadap makanan dan praktik-praktik bertapa dengan unsur yang dipinjam di Yudaisme (Kolose 2:8-23). Bidat di Korintus menyangkal kenyataan kebangkitan (1 Kor. 15:12). Bidat yang berbahaya yang ditentang dalam surat-surat Yohanes, yang menyangkal kemanusiaan Kristus (1 Yoh. 4:3; 2 Yoh. 1:7). Mengenai guru-guru palsu di Asia, ungkapan yang berbunyi Gnostik ‘seluk-beluk Iblis’ digunakan (Why. 2:24), surat-surat penggembalaan mencela pengajaran yang dicampurkan dengan mitologi dan silsilah (1 Tim. 1:4 dst, [lih. Ensiklopedi Alkitab Masa Kini, tentang Gnostik, 343]).

Dalam masa pelayanan Yesus selama di bumi, Ia memberitakan kabar keselamatan, kerajaan Allah, berita pengampunan dosa, juga Yesus menyembuhkan berbagai macam penyakit, berjalan berkeliling di kota dan desa dan masih banyak hal yang dilakukan. Pada masa itu juga banyak orang yang mengetahui tentang Yesus, dan apa yang Ia lakukan. Ada orang-orang Farisi dan ahli-ahli Taurat, orang-orang Saduki dan orang-orang yang ada sekitar Yesus di mana Ia melayani (Mat. 4:23-25 [Yesus mangajar dan menyembuhkan banyak orang dan tersiarlah kabar tentang Dia di seluruh Siria], dan konteks yang sama ditulis oleh Lukas dalam Luk. 6:17-19 [Yesus mengajar dan menyembuhkan orang-orang yang sakit juga yang dirasuk oleh roh jahat].

Konteks yang lebih luas lagi adalah tentang khotbah di bukit, di mana ada begitu banyak orang yang mendengarkan khotbah yang disampaikan oleh Yesus (Mat. 5:1-12; Luk. 6:20-23). Yesus dan orang-orang Farisi (Mat. 12:22-37; Mrk. 3:20-30; Luk. 11:14-23). Yesus dan orang-orang Farisi dan ahli-ahli Taurat (Mat. 15:1-20; Mrk. 7:1-23). Yesus dan orang-orang Farisi dan juga orang-orang Saduki (Mat.16:4; Mrk. 8:11-13). Yesus memberikan kesaksian tentang diri-Nya dan menimbulkan pertentangan di antara orang banyak (Yoh. 7:14-24), dan masih banyak hal lain yang dilakukan oleh Yesus seperti yang dikatakan oleh Yohanes, “Masih banyak hal-hal lain lagi yang diperbuat oleh Yesus, tetapi jikalau semuanya harus dituliskan satu persatu, maka agaknya dunia tidak dapat memuat semua kitab yang harus ditulis itu” (Yoh. 21:25). Injil adalah kabar yang baik bagi orang yang percaya bahwa Yesus adalah Tuhan yang diutus Bapa ke dalam dunia.

MAKNA “INJIL”

Menurut John Drane: “Kata ‘Injil’ adalah padanan dalam bahasa Indonesia untuk kata Yunani, ‘euanggelion, yang dipakai Markus, dan mula-mula dipilih sebab kedua-duanya mempunyai arti yang sama: “Kabar Baik.” Jadi, Markus menulis mengenai “Permulaan kabar baik.” Apa artinya itu? Markus dan para penulis kitab Injil lainnya telah mendengar “Kabar Baik” tentang Yesus. John Drane, Memahami Perjanjian Baru, Pengantar Historis – Teologis, (Jakarta: BPK Gunung Mulia, 2001), 184.

Ola Tulluan berpendapat bahwa Kata euangelium berasal dari bahasa Yunani, artinya adalah “Kabar Baik.” Dalam Perjanjian Baru, istilah ini tidak pernah dipakai untuk kitab-kitab Injil, tetapi senantiasa tentang “berita keselamatan”. Baru pada abad ke-2 istilah ini dipakai dalam arti “Kitab Injil. Ola Tulluan, Introduksi Perjanjian Baru, (Malang: Departemen Literatur YPPI, 1999), 27.

Gerald O’Colllins dan Edward Farrugia juga menjelaskan tentang kata “Injil”, yaitu: Injil (Yun. “Kabar Gembira”). Warta bahwa kerajaan Allah sudah dekat (Mrk. 1:14-15) dan bahwa Yesus dinyatakan sebagai putera Allah dan Tuhan karena kematian dan kebangkitan-Nya (Rm. 1:3-4; 1 Kor. 15-1-11). Kabar gembira ini mendatangkan keselamatan…. (Rm. 1:16) dan mendorong manusia untuk rela berkorban (Mrk. 8:35; 10:29). Pada abad kedua “Injil” menjadi nama untuk menunjuk empat tulisan dalam Perjanjian Baru yang mengisahkan pengajaran, karya wafat, serta kebangkitan Yesus. Demikianlah kita mempunyai Injil Matius, Markus, Lukas dan Yohanes. Gerald O’ Collins dan Edward G. Farrugia, Kamus Teologi, (Yogyakarta: Kanisius, 2000), 117.

Joel B. Green juga menjelaskan: “Di dalam dunia Helenistis, istilah Injil atau kabar baik terutama dihubungkan dengan pengumuman kemenangan dalam pertempuran. Dalam Perjanjian Lama terjemahan bahasaYunani yang ditulis sekitar abad ketiga masehi, kata benda eunggelion muncul bebrapa kali. Walaupun demikian…kata tersebut mengandung makna “kabar baik.” (Green, Memahami Injil-injil dan Kisah Para Rasul, 61-62). Sebagai contoh, lihat 2 Samuel 4:10; 18:22, kata ini tidak menampilkan nuansa keagamaan yang eksplisit. Di sisi lain kata kerja euanggelizomai, “memberitakan kabar baik”, di dalam Yesaya 52:7, dihubungkan dengan proklamasi keselamatan … karena itu, Injil adalah berita keselamatan dari Allah….(Green, Memahami Injil-injil dan Kisah Para Rasul, 62).

Kabar Baik memiliki serangkaian perjalanan Yesus dalam “setting” (kejadian atau latar belakang cerita) yang menarik yang menghadirkan perdebatan teologis dengan para ahli Taurat dan lain-lain. Polemik yang berkepanjangan dengan orang-orang Yahudi (atau penganut agama Yahudi) terletak pada diri Yesus yang adalah Mesias yang juga memberi penebusan dosa manusia di mana hal itu tidak mau diakui oleh agama Yahudi. Green menjelaskan bahwa, “Bagi kita, sebuah Injil adalah sebuah buku yang memberikan narasi tentang kehidupan Yesus – yang secara khusus memfokuskan diri pada pelayanan-Nya kepada orang banyak, kematian serta kubur yang kosong” (Green, Memahami Injil-injil dan Kisah Para Rasul, 61).

Profesor Agustinus Gianto memberikan penjelasan tentang kata “Injil.” Dia mengemukakan bahwa, “menjelang zaman Yesus, kata ‘injil’, yang berasal dari bahasa Yunani ‘euaggelion, secara umum dipakai dalam arti kabar baik, berita yang melegahkan karena bala bantuan telah tiba atau musuh telah tersingkir. Di kalangan orang Yahudi zaman itu pengertiannya menjadi lebih khas, yakni kabar baik bahwa sudah dekatlah pembebasan dari pembuangan di negeri asing dan penindasan oleh kuasa asing. Inilah yang melatari pemakaian kata ‘injil’ di kalangan para murid Yesus … yaitu bahwa Yang Mahakuasa kini bertindak memerdekakan seluruh kemanusiaan dari kungkungan keberdosaan. Gagasan yang tadinya berkembang di kalangan umat Yahudi tadi kini mulai meluas menjadi warta rohani bagi semua orang. Untuk itu Yesus memakai gagasan yang mudah dimengerti oleh para pendengarnya waktu itu, yakni ‘kerajaan Tuhan telah datang’ … yakni pemberitahuan mengenai kerahiman ilahi serta ajakan untuk menerimanya. Itulah ‘Injil’ pada mulanya.” Rodolphe Kasser, Marvin Meyer, dan Gregor Wurst, The Gospel of Judas (Jakarta: Gramedia Pustaka Utama, 2006), viii-ix.

Gianto menambahkan, di kalangan para murid generasi berikutnnya, gagasan tadi juga dipakai untuk menyebut pelbagai tulisan mengenai tindakan Yesus dalam mewujudkan “Kabar Gembira” tadi, yakni penyembuhan, pengusiran setan, serta pengajaran bagaimana hidup menurut Kabar Gembira itu, termasuk pula kejadian-kejadian menjelang akhir hidup-Nya, wafat dan kebangkitan-Nya. Kumpulan yang  paling utuh dari semua ini terdapat dalam keempat Injil di dalam Alkitab sekarang. Boleh dikatakan bahwa Injil-Injil dalam Alkitab mengabadikan berita gembira –Injil – yang dibawakan oleh Yesus. Kitab-kitab itu kemudian dikeramatkan dalam pelbagai kalangan umat Kristen sejak awal abad kedua. Kasser, Meyer, dan Wurst, The Gospel of Judas, ix.

Eksplikasi di atas bisa dikaitkan dengan pelayanan Yesus yang menyatakan Kerajaan Allah atau Kerajaan Sorga yang diceritakan oleh Matius (5:10; 6:33; 7:21; 9:35), Markus (10:15), Lukas (9:11). Yesus menghadirkan Kerajaan Allah dalaam pelayanan-Nya. Artinya, kedamaian, kuasa, keadilan, dan kemurahan Allah dinyatakan-Nya. Dengan demikian, Injil juga mewartakan Kerajaan Allah (Mat. 11:28-30) yang penuh kasih, keadilan, damai dan kuasa Allah bagi orang-orang berdosa.

Jacob van Bruggen menjelaskan bahwa, “nama Injil tidak menunjukkan gaya, tetapi mencirikan isinya. Kitab itu berisi kabar baik mengenai Kristus…. Bagaimanapun, di sini istilah Injil mengandung arti: ‘riwayat hidup Yesus Kristus di bumi.’ Riwayat hidup itulah yang dibicarakan sebagai ‘kabar baik.’ Jacob van Bruggen, Markus: Injil  Menurut  Petrus (BPK Gunung Mulia, 2006), 6-7.

Keempat penulis Injil Perjanjian Baru menceritakan riwayat hidup Yesus dengan tujuan yang sama yaitu Yesus sebagai penebus. Dalam riwayat inilah Yesus menjalankan tugas yang diberikan oleh Bapa-Nya (Yohanes 13:3, “Yesus tahu, bahwa Bapa-Nya telah menyerahkan segala sesuatu kepada-Nya dan bahwa Ia datang dari Allah dan kembali kepada Allah”; bdk. Yoh. 14:24). Dengan berbagai hal yang Ia lakukan, banyak orang yang percaya akan pengajaran-Nya dan mujizat yang diperbuat-Nya (Yoh. 10:40-42; 2:23; 3:1; 19:39; Mat. 7:28; Luk. 7:16; Mrk. 5:20).

Injil-Injil kanonik menceritakan tentang Yesus. Injil-Injil kanonik ditulis berdasarkan fakta sejarah (ada saksi mata kejadian, dan melalui kuasa Roh Kudus yang mewahyukan kebenaran tersebut, menjadikan Injil-Injil PB bersifat mengubahkan kehidupan dan memberikan informasi tentang Kerajaan Allah  serta keselamatan yang dikerjakan-Nya). Fakta merupakan dasar utama untuk setiap kebenaran yang termaktub dalam Injil-Injil PB. Kemudian fakta tersebut dapat diteguhkan oleh penemuan-penemuan arkeologi, jika fakta itu memiliki keterkaitan dengan sesuatu hal yang disampaikan, baik itu daerah, kota, orang yang memerintah, peristiwa-peristiwa yang terjadi pada masa itu dan lain sebagainya.

Tentang fakta, Bruce Chilton menjelaskan, kata ‘fakta’ dipakai untuk unsur-unsur dalam kitab-kitab Injil yang pertama-tama mencerminkan apa yang sesungguhnya dikatakan dan dilakukan oleh Yesus (setidaknya sejauh kita dapat mengetahuinya). Fakta hanya mengacu pada apa yang ada di dunia pengalaman, pada apa yang didengar orang atau diajarkan oleh Yesus. “Fiksi”, langsung mengacu pada dunia kepercayaan pada bahan yang ditulis orang Kristen untuk mengungkapkan kepercayaannya kepada Kristus. Dokumen yang dianggap berdasarkan fakta dalam menyampaikan laporan mengenai peristiwa-peristiwa masa lampau harus memiliki hubungan yang dapat dibuktikan dengan peristiwa yang bersangkutan…. Tetapi, jika satu dokumen menyajikan pembahasan yang panjang lebar atas nama Yesus – seperti halnya dengan “injil-injil apokrif”, abad ke-2 – tetapi hampir tidak ada kaitannya dengan ajaran-Nya sebagaimana dapat diketahui dari sumber-sumber terdahulu, maka sewajarnya dokumen-dokumen itu dianggap fiksi. Bruce Chilton, Studi Perjanjian Baru bagi Pemula (Jakarta: BPK Gunung Mulia, 2000), 23-24. Lebih lanjut Bruce menjelaskan bahwa, “Kitab-kitab Injil tidak sepenuhnya menempati salah satu posisi, sehingga sulit untuk memasukkannya dalam salah satu kategori. Pada satu pihak, dokumen-dokumen ini menyampaikan bahwa atas nama Yesus, tetapi pada pihak lain memberi kesaksian tentang iman Gereja Purba. Bagi kita, untuk mengerti seberapa jauh Injil-injil itu berdasarkan fakta, kita harus tahu bagaimana erat kaitannya dengan Yesus dari sejarah dalam hal tuntutan Injil itu mengenai Dia”. Chilton, Studi Perjanjian Baru Bagi Pemula, 24.

Keempat Injil adalah fakta sejarah yang dapat dipercaya dan akurat. Dalam penjelasannya, keempat Injil kanonik bersifat saling melengkapi satu sama lain dan patut disebut sebagai suatu “konklusi” nyata dari Allah.  Lee Strobel mengutip pernyataan Benjamin Warfield, dalam bukunya yang berjudul Introduction to Textual Criticism of the New Testament:

“Jika kita membandingkan keadaan kini dari teks Perjanjian Baru dengan keadaan kini dari teks tulisan kuno lainnya, kita harus … mengumumkannya sebagai sesuatu yang benar secara sungguh-sungguh mengagumkan. Ketelitian dalam bagaimana Perjanjian disalin juga demikian – suatu ketelitian yang pasti bertumbuh dari perujukan yang benar atas kata-kata kudusnya … Perjanjian Baru tak tertandingi di antara tulisan-tulisan kuno dalam kemurnian teksnya sebagaimana yang benar-benar diteruskan dan tetap digunakan. Lee Strobel, Pembuktian atas Kebenaran Kristus (Batam: Gospel Press, 2002), 89.

Kitab-kitab Perjanjian Baru, khususnya kitab-kitab Injil, telah mengalami berbagai bentuk-bentuk kritik yang mencoba menggugurkan kewibawaan Alkitab bahwa di dalamnya memiliki data atau informasi yang kontras satu dengan yang lainnya. Memang ada beberapa teks dari Injil Sinopsis dan Injil Yohanes yang sangat mencolok perbedaanya dan orang langsung mengambil kesimpulan bahwa hal sangat kontradiksi. Padahal, kalau dilihat secara akurat dan berdiri pada prosedur interpretasi obyektif maka dapat sebenarnya isi dalam Injil-Injil memberi keragaman atau keharmonisasian tentang teks (meski dianggap berkontradiksi), dan tetap pada kesimpulan bahwa keempat Injil ini saling melengkapi. Berita “Injil” mengacu pada berita keselamatan, anugerah Allah, kerajaan Allah, pengampunan dosa, pertobatan dan lain sebagainya. Rasul Paulus, dalam teologinya mengelaborasikan mengenai Kristologi yang mendalam. Ia menjadikan Injil sebagai pegangan hidupnya (bdk. Rm. 1:1-4, 16-17; 2 Kor. 6:1-10).

Orang-orang Kristen pada abad pertama mengalami pergolakan iman tentang Yesus. Banyak muncul ajaran-ajaran tentang Yesus yang tujuannya menghancurkan inti kepercayaan Kristen tentang Yesus (bdk. Flp. 3:2-4, Kol. 2:16-20, 2 Tes. 3:6-9, 1 Tim. 1:3-10, 6:9-10 dan lain-lain). Menurut S. T. France, sumber-sumber Kristen di luar Perjanjian Baru juga tidak dapat banyak membantu. Sebagian besar “kitab-kitab Injil” yang dihasilkan selama abad kedua dan sesudahnya jelas-jelas didasarkan atas keempat Injil dalam kanon, kemudian dilengkapi dengan cerita dongeng yang makin bertambah. S. T. France, Yesus Sang Radikal (Jakarta: BPK Gunung Mulia, 2000), 181.

Curt Fletemier, dalam Injil Yudas: Dusta Berkepanjangan, halaman 13, menjelaskan bahwa, “ratusan tahun setelah penyaliban Yesus, dan masa setelah para rasul tiada, ada kemungkinan bahwa beberapa orang Kristen dipengaruhi oleh pengajaran Gnostik, menulis beberapa injil baru. Tentu saja mereka akan memalsukan nama mereka dan menaruhkan nama para Rasul yang sudah lama tiada pada tulisan mereka. Mereka tahu bahwa dengan menaruhkan nama para Rasul di dalam tulisannya akan membuat orang menganggapnya lebih serius.”

ANTARA INJIL DAN KITAB-KITAB INJIL

Di atas telah dijelaskan soal makna kata “Injil” [euanggelion] yang berarti kabar baik. Yesus memberitakan Injil bukan berarti Ia memberitakan isi kitab-kitab Injil. Injil yang diberitakan bersifat verbal dan menekankan pada “isi”. Isi Injil adalah terkait dengan berita keselamatan, Kerajaan Allah, dan aspek-aspek penting tentang pertobatan kepada Allah, kasih Allah, dan pengampunan Allah. Sedangkan kitab-kitab Injil adalah dokumen-dokumen yang mengisahkan tentang pribadi Yesus Kristus dalam keseluruhan pelayanan-Nya dalam konteks Inkarnasi-Nya.

Jadi, sangat keliru jika memahami bahwa Injil yang diberikan Yesus adalah Injil yang merupakan kitab-kitab. Ada yang keliru memahami definisi Injil yang diberitakan Yesus. Mereka berpikir bahwa Injil yang diberitakan Yesus adalah sebuah ‘kitab’, padahal antara Injil yang diberitakan Yesus yang menekankan pada ‘isi berita’ dan Injil yang merupakan sebuah kitab, tentulah berbeda dari segi bentuk dan kronologis.

Karena kesalahpahaman inilah, beberapa orang telah “salah kaprah” terhadap Injil, baik yang diberitakan Yesus maupun Injil yang ditulis oleh para murid Yesus (Matius, Yohanes, dan Petrus [melalui Markus]) dan Lukas, seorang dokter dan seorang rekan kerja Rasul Paulus. Persoalan salah kaprah ini mengantarkan kita pada kitab suci Islam: al-Qur’an yang dalam beberapa kitab menyebutkan bahwa ia “membenarkan kitab-kitab sebelumnya” termasuk Injil. Nah, pertanyaannya, Injil yang mana yang dibenarkan al-Qur’an? Untuk menghindari pembenaran al-Qur’an terhadap kitab-kitab Injil PB, beberapa orang berdalih bahwa Injil yang dibenarkan oleh al-Qur’an adalah “Injil Yesus Kristus”, padahal al-Qur’an sendiri berbicara mengenai kitab Injil dan bukan berita Injil. Karena ketidakjujuran muslimers, maka tak ada yang mau mengakui bahwa al-Qur’an membenarkan Injil PB, dengan dalih bahwa Injil PB telah dipalsukan. Jika dipalsukan, mengapa al-Qur’an membenarkannya?

Mungkin mereka berdalih bahwa yang dibenarkan adalah Injil yang asli. Pertanyaannya: Injil asli yang mana? dan kita dapat terus bertanya ketika mereka memberikan jawaban. Pada akhirnya, tak ada yang mengakui keabsahan Injil-Injil PB ketika al-Qur’an membenarkannya, kecuali mereka yang telah mendalami kekayaan dan keakuratan historis. Bagi saya, mereka yang tidak mau jujur dan belajar tentang kekayaan Injil sebagaimana yang dibenarkan al-Qur’an, dan berdampak pada keengganan untuk mencari dan mendalami pengetahuan tentang Injil-Injil PB itu sendiri, menganggap dirinya bahagia meski tidak tahu apa-apa. Kondisi seperti ini saya sebut dengan “IGNORANCE IS BLISS”—ketidaktahuan adalah anugerah [kebahagiaan]. Sudah tidak tahu, tetapi tidak mau belajar dari pengajaran Kristen; suka mengkritik doktrin-doktrin Kristen, tetapi menolak penjelasan ilmiah yang dikemukakan Kristen; suka mengutak-atik teks-teks Alkitab tanpa konteks, tetapi ketika dijelaskan kontesknya, malah menolaknya dan bahkan tidak menerimanya. Itulah makna sesungguhnya dari peribahasa “IGNORANCE IS BLISS”—ketidaktahuan adalah anugerah [kebahagiaan].

Jika ada muslimers yang bertanya mengapa Injil-Injil PB ada banyak terjemahan, kita hanya bertanya: Injil terjemahan yang mana yang dibenarkan al-Qur’an. Ketika para muslimer bertanya: Injil-Injil PB sebenarnya ditulis dalam bahasa apa: Yunani, Aram, atau Ibrani? Kita hanya bertanya: Injil dalam bahasa apa yang dibenarkan al-Qur’an? Dijamin, pasti tidak tahu dan tidak bisa menjawab.

Salam Bae…

Sumber gambar: https://i.pinimg.com/originals/20/3d/3c/203d3c92fc3e6d720e7571c58cb90fa9.jpg

“YAHWEH” ATAU “ALLAH” [GOD] ATAU KEDUA-DUANYA? (Bagian 2-selesai)

SEKILAS MENGENAI PERNYATAAN PENGAGUNG YAHWEH

Saya mengutip pernyataan salah satu pengagung Yahweh (kutipan ini diambil dari catatan Pendeta Budi Asali), yaitu Kristian Sugiyarto yang berpendapat, “Saya setuju bahwa nama (Yahweh) identik dengan pribadi-Nya itu sendiri, … Jika Nama identik dengan pribadi maka mengganti nama bisa berarti mengganti pribadi atau tidak mungkin melukiskan pribadi Yahweh dengan nama selain Yahweh. .. ingat bahwa nama Yahweh dibuat oleh Yahweh sendiri (Yer. 32:20: “….. kepada Israel dan kepada umat manusia, sehingga Engkau membuat nama bagi-Mu sendiri,… “), sedangkan TUHAN dan ALLAH jelas nama buatan LAI (NIV)”.

Saya sedikit mengomentari pendapat Sugiyarto mengenai pernyataannya bahwa: “ingat bahwa nama Yahweh dibuat oleh Yahweh sendiri (Yer. 32:20)”. Dari pernyataannya tersebut, sebenarnya simpel saja, pertanyaan saya yang kedua di atas layak dijawab: apakah kata “Yahweh” yang diwahyukan-Nya ataukah “YHWH” yang diwahyukan-Nya? Sebagai catatan di sini adalah “Apakah Sugiyarto memiliki bukti manuskrip atau papyrus Yeremia 32:20 yang menegaskan bahwa terjemahan “Yahweh”-lah yang benar-benar diwahyukan, padahal terjemahan ‘Yahweh’ berangkat dari empat huruf mati ‘YHWH’

Kedua, Sugiyarto menyatakan: “kyrios adalah kata Yunani yang salah atau minimal tidak tepat untuk menggantikan YHWH”. Pertanyaannya, apa dasarnya bahwa kata ‘kyrios’ tidak tepat untuk menggantikan YHWH? Lagipula, jika YHWH tidak diterjemahkan atau ditransliterasikan dengan menggunakan tambahan vokal ‘a’ dan ‘e’, maka apakah nama ‘Yahweh’ dapat mewakili empat huruf tersebut sebagai mana yang diwahyukan?

Ketiga, Sugiyarto menyatakan: “Jadi pada mulanya Septuaginta tetap mempertahankan YHWH. Namun belakangan memang diganti dengan Kyrios, Tuhannya orang Yunani!”. Jika dugaan Sugiyarto benar, maka ia harus membuktikan dengan menggunakan data ilmiah bahwa ‘belakangkan memang diganti dengan kyrios’ sehingga tidak menimbulkan klaim semata tanpa ada dasar sama sekali. Kata ‘belakangan’ harus jelas: kapan, di mana, dan oleh siapa yang menggantinya, sehigga Sugiyarto tidak terkesan hanya berasumsi tingkat tinggi di sini.

Keempat, Sugiyarto menyatakan: “Saya memang bersikeras bahwa Nama Yahweh itu tidak bisa diganti, dan sebaliknya Anda juga bersikeras bahwa Nama Yahweh bisa diganti. Sama-sama keras kan! … Menurut pemahaman umum, pribadi yang berhak memberi/mengganti nama adalah pribadi yang mempunyai authority. … Mereka yang memberi atau mengganti nama ini mempunyai wewenang terhadap oknum yang diberi/diganti nama.”

Pernyataan Sugiyarto sangat kontradiktif. Buktinya adalah: 1) Pernyataan “Saya memang bersikeras bahwa Nama Yahweh itu tidak bisa diganti” merupakan kepercayaan yang terlampau tinggi dan melampaui dari data historis itu sendiri. Pertanyaanya: dari mana Sugiyarto yakin bahwa nama ‘Yahweh’ itulah yang diwahyukan padahal dia sendiri menulis nama tersebut berasal dari empat huruf YHWH? Implikasinya, pertanyaan kedua saya di atas belum terjawab. 2) Ini pernyataan yang lebih aneh lagi: “Menurut pemahaman umum, pribadi yang berhak memberi/mengganti nama adalah pribadi yang mempunyai authority”. Jika asumsi saya benar, maka pernyataan Sugiyarto di atas mengindikasikan bahwa hanya Yahweh saja yang berotoritas mengubah nama-Nya, akan tetapi, Yahweh tidak mengubah nama-Nya: dengan demikian, terjemahan ‘Yahweh’-lah yang benar karena Yahweh tidak menggantinya sama sekali. Akan tetapi, pertanyaan kedua saya di atas harus dijawab: mana yang diwahyukan, apakah Yahweh atau YHWH? Jika ini terjawab, maka kita semua akan memiliki landasan kuat bahwa Ia sendiri yang menyatakan nama-Nya.

Para Yahwehisme menyuguhkan teks pendukung terkait dengan nama ‘Yahweh’ yang tak boleh diubah:

Keluaran 3:15, Selanjutnya berfirmanlah Allah kepada Musa: “Beginilah kaukatakan kepada orang Israel: TUHAN, Allah nenek moyangmu, Allah Abraham, Allah Ishak dan Allah Yakub, telah mengutus aku kepadamu: itulah nama-Ku untuk selama-lamanya dan itulah sebutan-Ku turun-temurun.

Yesaya 42:8, Aku ini TUHAN, itulah nama-Ku; Aku tidak akan memberikan kemuliaan-Ku kepada yang lain atau kemasyhuran-Ku kepada patung.

Teks Keluaran 3:15 menegaskan bahwa “itulah nama-Ku untuk selama-lamanya dan itulah sebutan-Ku turun-temurun”. Pertanyaannya: nama yang mana? Yahweh atau YHWH? Jika ada yang mengatakan ‘Yahweh’ implikasinya dia mengakui bahwa nama ‘Yahweh’-lah yang diwahyukan.

Mari kita lihat firman-Nya kepada Musa dalam Keluaran 3:14:14, “Firman Allah kepada Musa: “AKU ADALAH AKU.” Lagi firman-Nya: “Beginilah kaukatakan kepada orang Israel itu: AKULAH AKU telah mengutus aku kepadamu.”

Jika demikian, nama ‘Dia’ yang original adalah ’ẹhyeh ’ăšer ’ẹhyeh. Harusnya ini yang dipertahankan, bukan dengan arogan memaksakan nama ‘Yahweh’ dipertahankan dengan menuduh nama ‘Allah’ adalah warisan Islam Arab. Untuk hal ini secara khusus saya akan membahas mengenai nama ‘Elohim’ yang digunakan oleh pengagung Yahweh dalam Alkitab terjemahan mereka. Standar ganda akan saya gunakan di sini.

Mari kita lihat berbagai varian terjemahan tentang teks Keluaran 3:14 berikut ini:

NET  Exodus 3:14 God said to Moses, “I AM that I AM.” And he said, “You must say this to the Israelites, ‘I AM has sent me to you.'”

NIV  Exodus 3:14 God said to Moses, “I AM WHO I AM. This is what you are to say to the Israelites: ‘I AM has sent me to you.'”

NJB  Exodus 3:14 God said to Moses, ‘I am he who is.’ And he said, ‘This is what you are to say to the Israelites, “I am has sent me to you.” ‘

NKJ  Exodus 3:14 And God said to Moses, “I AM WHO I AM.” And He said, “Thus you shall say to the children of Israel,`I AM has sent me to you.'”

RSV  Exodus 3:14 God said to Moses, “I AM WHO I AM.” And he said, “Say this to the people of Israel, `I AM has sent me to you.'”

TNIV  Exodus 3:14 God said to Moses, “I AM WHO I AM. This is what you are to say to the Israelites: ‘I AM has sent me to you.’ “

YLT  Exodus 3:14 And God saith unto Moses, ‘I AM THAT WHICH I AM;’ He saith also, ‘Thus dost thou say to the sons of Israel, I AM hath sent me unto you.’

Nama ’ẹhyeh ’ăšer ’ẹhyeh adalah nama original Allah. Herman Bavink [Dogmatika Reformed Jilid 2: Allah dan Penciptaan, (Surabaya: Momentum, 2012)] menyebutkan bahwa nama Allah ’ẹhyeh ’ăšer ’ẹhyeh adalah Dia yang punya nama tetapi sekaligus tidak punya nama. Berikut penjelasannya soal YHWH:

Bangsa Yahudi menyebutnya nama yang terutama, nama yang mendeskripsikan esensi Allah, nama diri Allah, nama yang mulia, nama empat huruf (tetragrammaton), dan yang menyimpulkan dari Imamat 24:16 dan Keluaran 3:15 (di mana mereka membaca kata “selamanya” sebagai kata “menyembunyikannya”, [le‘allēm] sehingga mereka dilarang untuk melafalkannya. Kita tidak tahu kapan persisnya ide ini muncul di antara bangsa Yahudi. Namun yang pasti LXX telah membaca “Adonai” di sini dan karenanya menerjemahkannya dengan “Kurios” (Yun. kyrios). Terjemahan selanjutnya mengikuti contoh ini dan mereproduksinya dengan “Dominus” (Latin), “Lord” (Inggris), “der Herr (Jerman), HEERE (Belanda) (Acts of Synod of Dort, bagian 2), l’Eternal (Prancis). Oleh karena kegentaran orang Yahudi untuk melafalkan nama ini, pengucapan orisinal dan benar telah hilang atau karena cara pelafalan yang benar dalam kenyataannya telah hilang (lih. Bernhard de Moor, Commentarius perpetuus in Johannis Marckii Compendium theologiae christianae didactico-elencticum, I, 534; Johann Franz. Buddeus, Institutiones theologiae dogmaticae variis observationibus illustratae, [Leipzig: T. Fritsch, 1723] I, 188).

Dengan berpegang pada tradisi Yahudi, beberapa pakar, Joachim dari Floris dalam karyanya Evangelium Aeternum, misalkan, melafalkan nama tersebut [YHWH] dengan “Yewe”, dan memang vokalisasi ini dapat ditemukan dalam karya Samuel B. Meir dan kemudian masih dipertahankan oleh Hottinger, Reland, dan yang lainnya (Franz Delitzsch, Neuer Commentar über die Genesis, [Leipzig: Dörffling & Franke, 1887], pp. 546 etc). Pelafalan “Jehovah” memiliki asal-usul yang belum lama. Pelafalan ini diterima secara luas melalui dukungan Peter Galatinus, seorang Fransiscan, namun ia ditentang oleh banyak pakar (lih. Dionysius Petavius, “De Deo”, dalam De theologicis dogmatibus, [Paris: Vivès, 1865-67], VIII, bab 9). Di kemudian hari, Drusius, Amama, Scaliger, Vriemoet, dan yang lain, mempertanyakan bahwa pengucapan “Jehovah” mungkin tidak benar dengan menyatakan bahwa vokalisasi telah diderivasi dari kata “Adonai” (Gisbert Voetius, Selectae disputationes theologicae, [Utrecht, 1648-69], V, 55; Campegius Vitringan, Doctrina christianae religionis, [Leiden: Joannis le Mair, 1761-86], I, 130).

Bahkan vokalisasi ini sangat dipertanyakan. Yang pertama, kata YHWH adalah sebuah “Qere perpetuum” dalam Alkitab Ibrani, yang kadang-kadang memiliki huruf vokal dari “Adonai” dan di waktu lain memiliki huruf vokal dari “Elohim”. Selanjutnya, bentuk “Yehōwāh” adalah tidak-Ibrani dan tidak dapat dijelaskan. Akhirnya, vokalisasi ini berasal dari waktu ketika pendapat bahwa nama itu seharusnya tidak pernah dilafalkan telah mengakar di dalam tradisi Yahudi.

Sebagaimana telah disebutkan di atas bahwa menurut Friedrich Delitzsch, nama YHWH telah muncul dalam dua nama diri [gabungan] yang ditemukan dalam loh tanah liat dari masa Hammurabi,´”Ya-a’-ve-elu” dan “Ya-u-um-ilu”. Dari penemuan ini dia menyimpulkan bahwa nama YHWH mula-mula berasal dari Kanaan dan bahwa suku Hammurabi membawanya dari Kanaan ke Babel. Delitzsch keliru jika berpikir bahwa nama YHWH berasal dari Kanaan, sebab asal-usul Semitis bangsa Kanaan dan emigrasi suku Hammurabi dari Kanaan ke Babel adalah hipotesis yang tidak dapat dibuktikan, dan kita tidak menemukan jejak dalam masa kuno tersebut tentang satu allah Kanaan yang bernama YHWH. Mengenai etimologi nama tersebut, umumnya diasumsikan bahwa etimologinya merujuk kembali ke akar hwh atau hyh, dan hanya ada ketidaksepakatan mengenai pertanyaan apakah akar itu berbentuk “imperfect tense” orang ketiga dari “Qal” atau “Hiphil”.

Jika penjelasan di atas dipahami secara terang, maka memahami nama ‘Yahweh’ sebagai tindakan pemaksaan maka secara tegas hal itu bertentangan data historis dan data biblika. Kita pun melihat bahwa kaum Israel dan Yahudi menggunakan kata ‘Adonay’ kepada Sang Khalik, Yahwe, untuk menggantikan nama yang kudus itu. Meski mereka juga menggunakan Yahweh, tetapi mereka tidak getol untuk memaksakan—sebagaimana lazimnya para agoran Yahwehisme—penyebutan nama ‘Yahweh’ sebagai yang benar. Implikasinya justru menjadikan nama tersebut menjadi tidak kudus dan terkesan sembarangan.

Hal ini mengingatkan saya pada Keluaran 20:7 yang menyatakan: “Jangan menyebut nama TUHAN, Allahmu, dengan sembarangan, sebab TUHAN akan memandang bersalah orang yang menyebut nama-Nya dengan sembarangan.” Nah, apakah kaum Yahwehisme termasuk mereka yang menyebut nama ‘Yahweh’ dengan sembarangan atau tidak? Bahkan mereka mengumbar-ngumbar nama ‘Yahweh’ dengan sesuka hati sehingga menimbulkan asumsi bahwa ‘mereka telah menyalahgunakan nama Yahweh’ itu sendiri. Jika nama ‘Yahweh’ itu kudus, maka apakah nama ’ẹhyeh ’ăšer ’ẹhyeh tidak kudus dan perlu dilupakan? Bukankah nama ’ẹhyeh ’ăšer ’ẹhyeh yang diwahyukan kepada Musa waktu di semak yang terbakar?

Lalu bagaimana dengan kata ‘Allah’ atau ‘God’? Untuk kata ‘Allah’, akan saya jelaskan di akhir tulisan ini setelah melewati beberapa bagian penting termasuk nama ‘Elohim’.

Berikut ini saya memberikan bukti-bukti bahwa penggunaan nama ‘God’ tidak menjadi sebuah keberatan terhadap mereka yang bergelut di dunia historis dan agama, baik dari kalangan non Yahudi maupun Yahudi.

Pertama: dalam NEW EDITION OF THE “BABYLONIAN TALMUD: Original Text, Edited, Corrected, Formulated and Translated into English oleh Michael L. Rodkinson, (Boston: The Talmud Society, 1918), menggunakan kata “God” dan “Lord”.

Kedua: Salah seorang Rabbi Yahudi, Joseph Telushkin, dalam bukunya Jewish Wisdom: Ethical, Spiritual, and Historical Lessons from the Great Works and Thinkers, (New York: William Morrow and Company, 1994), tidak keberatan menggunakan kata God, meski ia sendiri adalah orang Yahudi asli, yang memiliki Kitab Ibrani, sebagai landasan kata YHWH dan Yahweh. Meski demikian, Teluskhin tidak seperti orang Indonesia yang ke-Yahudi-yahudian untuk mengusung gagasan nama ‘Yahweh’ seolah-olah pertanyaan kedua saya di atas “sudah” terjawab.

Saya memberikan beberapa bukti penggunaan kata ‘God’

(halaman 5): Both the Bible’s prophets and the greatest figures of talmudic Judaism have also expressed the view that ethical behavior is God’s central demand of human beings: He has told you, O man, what is good, and what the Lord requires of you: Only to do justice, to love goodness, and to walk modestly with your God. – Micah 6:8 (eighth century B.C.E.)

(halaman 6): That Hillel, one of the greatest figures of talmudic Judaism, was willing to convert a non-Jew on the basis of his accepting this ethical principle surely proves that ethical behavior constitutes Judaism’s essence (in the same way that Protestant fundamentalists would insist on a would-be convert’s acceptance of what they see as Christianity’s essence, that Jesus Christ was the son of God who died to atone for mankind’s sins).

(halaman 9): additional statement of Judaism’s essence the world endures because of three activities: Torah study, worship of God, and deeds of loving-kindness (Ethics of the Fathers 1:2)

(halaman 10) the Torah’s central message is the belief in one universal and moral God. Idolatry, with its insistence on a multitude of gods and its denial of a universal morality, negates Judaism’s essence.

(halaman 129): Rabbi Akiva’s statement notwithstanding, the article on Song of Songs in the Encyclopedia Judaica (15:143-152) clearly suggests the book’s unusual character: “The Song of Songs is unique in the Bible, for nowhere else within it can be found such a sustained paean to the warmth of love between man and woman. It is completely occupied with that one theme. No morals are drawn: no propethic preachments are made. God receives no mention, and theological concerns are never discussed. While the Book of Esther also fails ti mention God, an unmistakable spirit of nationalism permeates its pages; but the Song of Song lacks even this theme.” The Rabbis of the Talmud claimed that Song of Songs was allegorical in nature, that it used the model of a man and a woman to explain the love between God and the Jewish people.  The very use of such a model suggests the high regard Judaism had for male-female love and sexuality.

(halaman 212): God did not build Auschwitz and its crematoria. Men did…. The Holocaust may make faith in God difficult, but it makes faith in man impossible (Dennis Prager and Joseph Telushkin, The Nine Question People Ask About Judaism, page 35).

(halaman 283): if I knew God, I would be God. (Medieval Jewish proverb)

(halaman 287): Evidence of God I have found in the existence of [the people] Israel.

(halaman 287): Sh’ma Yisra’el, Adonai Eloheinu Adonai Ekhad (Hear, O Israel, the Lord is our God, the Lord is One).

(halaman 358): these six Hebrew words come the closest to constituting Judaim’s basic credo; the equivalent of Christianity’s statement that Jesus is the Son of God who died to atone for humankind’s sins, and of Islam’s declaration that “There is no God but God, and Mohammed is his prophet.”

(halaman 397): The Seven No Ahide Laws (Judaism’s basic principles of morality for a non-Jewish Society): 1) Not to deny God (i.e. idolatry); 2) Not to blaspheme God; 3) Not the murder; 4) Not to engage in forbiden sexual activities (e.g. incest); 5) Not to steal; 6) Not to eat a limb torn from a living animal; 7) To set up courts to ensure obedience to the other (See Babylonian Talmud, Sanhedrin 56a).

Ketiga: Jack R. Lundbom dalam bukunya Deuteronomy: A Commentary, (Grand Rapids, Michigan: William B. Eerdmans Publishing Company, 2013), menggunakan dua-duanya (Yahweh dan God). 1) halaman 309: The Shema, taking in at least 6:4-5, sums up and renders positively the first and second commandments, which affirm the oneness of Yahweh and deny the plurality of others gods (P. D. Miller 1984, “The Most Important Word: The Yoke of the Kingdom.” Iliff Review 41/3:18). The two themes dominate the remaining sermonic material in chs. 6-11; 2) halaman 309-310: Yahweh our God, Yahweh is one. The four Hebrew words can be translated in different ways, as one can see from the Targums and modern English Versions:

The Lord is our God, the Lord is one (Targum Onqelos)

The Lord is our God, one Lord (New English Bible)

The Lord is our God, the Lord our one God (Revised English Bible)

The Lord our God, the Lord is one (Targum Pseudo-Jonathan]; New International Version)

The Lord our God is one Lord (Targum Neofiti; Authorized King James Version, 1611; Revised Standard Version)

The Lord is our God, the Lord alone (Tanakh: A New Translation of the Holy Scriptures According to the Traditional Hebrew Text. Philadelphia, 1985; New American Bible; New Revised Standard Version)

Yahweh our God is the one Yahweh (Jerusalem Bible)

Yahweh our God is the one, the only Yahweh (New Jerusalem Bible)

Ketiga: Charles H. H. Scobie, The Ways of Our God: An Approach to Biblical Theology, (Grand Rapids, Michigan: Wm. Eerdmans Publishing Co.: 2003) menggunakan kedua-duanya. Charles H. H. Scobie is Cowan Professor Emeritus of Religious Studies and former head of the Departement of Religious Studies at Mount Allison University, Sackville, New Brunswick:

1) halaman 107-108: “Hear, O Israel” The Lord our God (YHWH ’elōhēnû) is one Lord (YHWH ’echādh); and you shall love the Lord your God with all your heart, and with all your soul, and with all your might” (Deut. 6:4-5 RSV). These key passages take us to the very core of the OT understanding of God:

a God who is known by name,

a God who is one, and

a God who is above all a personal God.

2) halaman 108: God’s name is an expression of his essential nature. God’s nature is made known not only to Israel but also throughout creation: O LORD, our Sovereign how majestic is your name in all the earth! (Ps. 8:1); 3) in both the Decalogue and the Shema, God is named in two ways: (a) by the term ’elōhîm, a word that means “God” in a general sense and can be used with reference to the whole created order to designate the “gods” of peoples other than Israel; (b) by a proper name, YHWH, that is used only within the historical order to denote the God who makes himself known and enters into a special relationship with his people Israel; 4) halaman 108-109: The term ’elōhîm is by far the most common general word for “God”, occuring some 2,500 times in the OT. The word is plural in form, but when used with reference to the God of Israel there is never any doubt that the reference is to the one God. The plural can be regarded as a “plural of majesty” or an “abstract plural” that “corresponds to our word ‘Godhead’ or ‘divinity’ and is thus suited to the task of summing up the whole of divine power in a personal unity” (Walter Eichrodt, Theology of the Old Testament. Vol. 1. Philadelphia: Westminster, 1961: 185).

Teluskhin sama sekali tidak menjadi radikal dengan penulisan atau penyebutan Yahweh dan God. Penggunaan kata yang merujuk pada ‘Allah’ dalam berbagai bahasa tidak menjadi masalah teologis maupun historis karena Allah tidak dibatasi oleh kata-kata tertentu dari suatu bangsa. Penggunaan sebutan lain masih bisa diterima tetapi personalitasnya merujuk kepada Allah Pencipta yang dikenal melalui penyataan diri-Nya hingga—dalam pandangan iman Kristen—kepada Yesus Kristus.

Arogansi kaum Yahweisme mendobrak bukan pada makna dan historis secara substansial melainkan kepada kebodohan relasional yaitu mengabaikan konteks budaya, pesan, dan objek penyembahan.

PENGGUNAAN SECARA VARIATIF: YHWH, YAHWEH, LORD, DAN GOD [ALLAH]

Berikut ini adalah penjelasan dan argumentasi mengenai pemakaian kata ‘Yahweh’, ‘Lord’, LORD dan ‘God’ [Allah] secara variatif. Hal ini merupakan sebuah ‘pintu’ untuk memasuki cakrawala pemahaman tentang personalitas Allah dalam peristiwa historis. Substansinya adalah memahami personalitas Allah [God, Elohim] bukanlah soal ‘nama-Nya’ melainkan ‘Pribadi-Nya’ (mengenai konteks ini, saya menulis artikelnya secara terpisah dengan judul: “Memahami Allah: Antara Nama dan Personalitas: Pemaknaan dan Serapan Nama-nama Allah sebagai Jukstaposisi Identitas dan Karya-karya-Nya”). Hal ini akan saya jelaskan dalam bagian selanjutnya mengenai pengadopsian nama ‘El’ oleh bangsa Israel (bentuknya jamaknya adalah ‘Elohim’) yang digunakan dalam Kitab Ibrani dan juga kitab para pengagung nama Yahweh.

Penjelasan akar kata ‘El’ merupakan ‘standar ganda’ bagi para pengagung nama Yahweh yang ‘menuduh’ sepihak bahwa nama ‘Allah’ adalah nama ‘ilah kafir’, padahal nama ‘El’ juga adalah nama Dewa bangsa Kanaan, bangsa kafir (selengkapnya akan saya ulas di bagian berikutnya). Karena pemahanan yang dangkal dan ignoran, para tokoh pengagung nama Yahweh cenderung menyuguhkan data yang tidak valid kepada pengikutnya sehingga mereka yang awam hanya menerima asupan gizi yang tidak seimbang antara akal atau logika mereka dengan data historis. Wajar saja jika kita mendapati bahwa klaim-klaim golongan awam dari para pengagung nama Yahweh menjadi ‘lepas kendali doktrinal’ dan menjurus kepada sikap arogan terhadap ‘bahasa Yunani’ di mana nama Yesus (terjemahan dari Yunani ‘Iēsou) bukanlah nama sah melainkan “Yeshua”-lah yang sah. Klaim ini mengarah kepada arogansi dan ketidaktetarikkan pada bahasa Yunani. Padahal, PB ditulis dalam bahasa Yunani. Sebagai tambahannya, Alkitab PL dituliskan dalam bahasa Yunani yakni Septuaginta karena naskah-naskah PL itu sendiri telah tiada. Penerjemahan PL (Ibrani) ke Yunani (Septuaginta) merupakan bukti sejarah bahwa bahasa Yunani adalah bahasa “Pemersatu” umat Yahudi (selain Ibrani), yang dalam pemahaman kaum pengagung nama Yahweh, nama Yunani untuk Yesus [‘Iēsou] tidaklah sah, melainkan nama Ibraninya yakni “Yeshua”. Karena kekurangan pengetahuan dan jarangnya belajar secara memadai, membawa kaum awal pengagung nama Yahweh ke dalam ‘lumpur hujat’ yang tak terkendali dan sama sekali menyimpang dari data dan konteks historis.

Terkait dengan penyebutan nama Allah yang variatif, membuktikan bahwa para pakar bukanlah mereka yang cenderung arogan untuk memaksakan penggunaan nama ‘Yahweh’—sebagaimana yang dilakukan para pengagung nama Yahweh—sebagai sebuah “take for granted” yang buta. Mengapa buta? Sebab tetragramaton (YHWH) yang kemudian ada vokal yang ditambahkan ke dalamnya, merupakan sebuah penelurusan historis yang tak berujung. Perbedaan penyebutan YHWH ketika ada vokal masuk di dalamnya bukanlah sebuah gagasan tunggal. Artinya, penyebutan atau pelafalan “Yahweh” bukanlah gagasan tunggal  (satu-satunya) sehingga menggiring para penggagung Yahweh untuk berpendapat bahwa memang pelafalan Yahweh-lah yang diwahyukan. Padahal, ada ragam penyebutan lainnya yang menjadi perbedaan.

Saya telah mengutipnya di “Bagian Kedua” mengenai hal ini. Tapi saya menyebutnya kembali secara singkat (elaborasi dan Herman Bavink):

“Beberapa pakar, Joachim dari Floris dalam karyanya Evangelium Aeternum, misalkan, melafalkan nama tersebut [YHWH] dengan “Yewe”, dan memang vokalisasi ini dapat ditemukan dalam karya Samuel B. Meir dan kemudian masih dipertahankan oleh Hottinger, Reland, dan yang lainnya (Franz Delitzsch, Neuer Commentar über die Genesis, [Leipzig: Dörffling & Franke, 1887], pp. 546 etc) … Di kemudian hari, Drusius, Amama, Scaliger, Vriemoet, dan yang lain, mempertanyakan bahwa pengucapan ‘Jehovah’ mungkin tidak benar dengan menyatakan bahwa vokalisasi telah diderivasi dari kata ‘Adonai’ (Gisbert Voetius, Selectae disputationes theologicae, [Utrecht, 1648-69], V, 55; Campegius Vitringan, Doctrina christianae religionis, [Leiden: Joannis le Mair, 1761-86], I, 130). Bahkan vokalisasi ini sangat dipertanyakan. Yang pertama, kata YHWH adalah sebuah ‘Qere perpetuum’ dalam Alkitab Ibrani, yang kadang-kadang memiliki huruf vokal dari ‘Adonai’ dan di waktu lain memiliki huruf vokal dari ‘Elohim’. Selanjutnya, bentuk ‘Yehōwāh’ adalah tidak-Ibrani dan tidak dapat dijelaskan. Akhirnya, vokalisasi ini berasal dari waktu ketika pendapat bahwa nama itu seharusnya tidak pernah dilafalkan telah mengakar di dalam tradisi Yahudi.

Menurut Friedrich Delitzsch, nama YHWH telah muncul dalam dua nama diri [gabungan] yang ditemukan dalam loh tanah liat dari masa Hammurabi,’Ya-a’-ve-elu’ dan ‘Ya-u-um-ilu’. Dari penemuan ini dia menyimpulkan bahwa nama YHWH mula-mula berasal dari Kanaan dan bahwa suku Hammurabi membawanya dari Kanaan ke Babel. Delitzsch keliru jika berpikir bahwa nama YHWH berasal dari Kanaan, sebab asal-usul Semitis bangsa Kanaan dan emigrasi suku Hammurabi dari Kanaan ke Babel adalah hipotesis yang tidak dapat dibuktikan, dan kita tidak menemukan jejak dalam masa kuno tersebut tentang satu allah Kanaan yang bernama YHWH. Mengenai etimologi nama tersebut, umumnya diasumsikan bahwa etimologinya merujuk kembali ke akar hwh atau hyh, dan hanya ada ketidaksepakatan mengenai pertanyaan apakah akar itu berbentuk ‘imperfect tense’ orang ketiga dari ‘Qal’ atau ‘Hiphil’”.

Sebagai penyeimbang penjelasan Bavink di atas, saya mengutip beberapa dasar mengenai perdebatan ini. Alkitab Edisi Studi (LAI, 2012) menjelaskan dan memberikan argumentasi sebagai berikut:

“Dalam Alkitab Ibrani, Tetragrammaton telah digunakan dalam syair-syair kuno seperti nyanyian Miryam (Kel. 15) dan Nyanyian Debora (Hak. 5) yang diperkirakan berasal dari sekitar abad ke-12 SM. Berdasarkan keterangan dalam Alkitab Ibrani, sudah lama diusulkan bahwa YHWH awalnya disembah orang Midian. Musa dikisahkan menggembalakan ternak Yitro, mertuanya, di Midian (Kel. 2:15-22). Di gunung Sinai (atau Horeb) yang berada di wilayah Midian, Musa bertemu dengan YHWH di balik belukar menyala (Kel. 3). Kemungkinan ia mengambil alih kultus Midian itu dari mertuanya yang seorang imam. Salah satu indikasinya ialah pujian dan kurban yang dipersembahkan Yitro kepada YHWH setelah menyaksikan kemajuan yang dicapai menantunya (Kel. 18). Kesamaan kultus ini diperkirakan telah memungkinkan orang Keni, salah satu klan Midian, bersatu dengan orang Yehuda untuk menduduki Kanaan (Hak. 1:16). Akan tetapi, berdasarkan teks-teks lainnya, ada pula yang memperkirakan bahwa YHWH berasal dari Edom dan sekitarnya. YHWH digambarkan berasal dari Edom, Seir, Paran, Sinai atau Téman (Hak. 5:4; Ul. 33:2; Hab. 3:3). Jadi, kendati banyak pakar yang berpendapat bahwa kultus YHWH berasal dari luar Israel, jejaknya yang persis sulit ditelusuri.

Pelafalan yang tepat untuk YHWH tidak diketahui lagi. Bentuk ‘Yahweh’ yang sekarang umum dikenal sebenarnya merupakan hasil rekonstruksi terhadap Tetragrammaton. Rekonstruksi ini didasarkan pada pelafalan kata yang mirip dalam teks-teks Amorit dan pelafalan yang dicatat dalam beberapa teks Yunani. Patut dicatat, setelah masa pembuangan di Babel, umat Yahudi amat segan menyebut Tetragrammaton yang sakral itu secara langsung. Dengan rasa hormat yang mendalam mereka menguncapkan ‘Adonay’ yang berarti Tuanku atau Tuhan(ku) (sebagai sebutan pengganti dari YHWH).

Salah satu bukti tradisi pengucapan ini adalah Septuaginta, Perjanjian Lama berbahasa Yunani yang diterjemahkan dari Alkitab Ibrani. Terjemahan Alkitab perdana ini dikerjakan di Alexandria, Mesir, sejak abad ketiga SM. Pada masa itu, mulai dari masa pemerintahan Aleksander Agung, bahasa Yunani menjadi bahasa pengantar di seluruh wilayah kekuasaannya, termasuk Palestina dan sekitarnya. Dalam Septuaginta, ternyata istilah Yunani yang dipakai sebagai padanan Tetragrammaton adalah ‘Kyrios’ yang berarti ‘Tuan’ atau ‘Tuhan’. padanan ini jelas sekali mencerminkan tradisi pengucapan Tetragrammaton sebagai ‘Adonay’.

Kaum Masoret pun, yang terkenal amat setia menjaga kesahihan teks Ibrani, mempertahankan tradisi yang sama. Para penyalin Yahudi itu menyisipkan vokal a-o-a dari kata ‘A-do-nay’ ke dalam YHWH. Dengan cara itu, mereka ingin mengingatkan para pembaca Yahudi untuk menyebut ‘Adonay’ setiap kali menemukan Tetragrammaton dalam teks Ibrani yang mereka baca. Ironisnya, maksud kaum Masoret ini justru keliru dipahami atau tidak dipedulikan oleh umat Kristen di kemudian hari. Alhasil, YHWH disalin sebagai ‘Yahowa’ atua ‘Yehuwa’. Salah kaprah ini mulai muncul pada abad pertengahan, konon sejak masa Paus Leo X, lalu diikuti oleh berbagai terjemahan Alkitab dari abad-abad lalu.”

Dari penjelasan dan argumentasi historis di atas, tampak bahwa YHWH telah disalahpahami oleh mereka yang memang tidak mempelajari data historis. Jadi, bukan soal ‘nama-Nya’ tetapi ‘personalitas-Nya’ sebagaimana tampak dalam pengucapan Tetragrammaton yang diganti dengan ‘Adonay’. Apakah pribadi Allah berubah ketika umat Israel menggantikannya dengan ‘Adonay’? Tentu tidak. Substansinya jelas dan pribadi yang disembah juga jelas. Maka mereka yang mencoba memunculkan ‘gagasan tunggal’ sebenarnya menciptakan ‘makna dan pribadi yang baru’ yang menggiring kepada perbedaan substansial antara mereka yang mempersoalkan nama ‘YHWH’ dan mereka yang setia kepada ‘Pribadi Yang Ilahi’ meski disebut dengan nama lain, seperti ‘Adonay’ dan sebagainya.

Untuk menambah data terkait dengan penggunaan atau penyebutan nama YHWH  secara variatif, saya mengutip beberapa sumber berikut ini:

Pertama. J. Weingreen, M.A., Ph.D., Emeritus Fellow of Trinity College, Dublin, Emeritus Professor of Hebrew University Of Dublin, dalam bukunya A PRACTICAL GRAMMAR FOR CLASSICAL HEBREW. SECOND EDITION (Oxford: Clarendon Press & New York: Oxford University Press, Great Clarendon Street, 1959) menggunakan varian: Yahweh dan Lord: YHWH Yahweh, the Lord … Menurut Weingreen, “Another type of deliberate change in reading due, in this case, to reverence, is the Divine name Yah¦weh or Yahweh. The Divine name was considered too sacred to be pronounced; so the consonants of this word were written in the text (Kethibh), but the word read (Qere) was Adonay (meaning ‘Lord’). The consonants of the (Kethibh) YHWH were given the vowels of the (Qere) Adonay namely … producing the impossible form Yehōwâ. Since, however, the Divine name occurs so often in the Bible, the printed editions do not put the reading required (Qere) in the margin or footnote; the reader is expected to substitute the Qere for Kethibh, without having his attention drawn to it every time it occurs. For this reason it has been called Qere Perpetuum, i.e. permanent Qere.” Weingreen cenderung menggunakan terjemahan ‘Lord’ ketimbang ‘God’.

Kedua. E. Kautzsch, Professor of Theology in the University of Halle, dalam Gesenius’ Hebrew Grammar, Second English Edition Revised in Accordance with the Twenty-Eighth German Edition (1909) by A. E. Cowley, with a Facsimile of the Siloam Inscription By J. Euting, and a Table of Alphabets by M. Lidzbarski Clarendon Press. Oxford (Oxford University Press, Walton Street, Oxford, 1910), menggunakan penyebutan nama secara variatif: “Yahweh”, “God” dan “Lord”:

the Most Holy (only of Yahweh), Ho 12:1, Pr 9:10, 30:3

Yahweh (the God) of hosts

Godhead, God (to be distinguished from the numerical plural gods, Ex 12:12, & c.)… (whenever it denotes one God), is proved especially by its being almost invariably joined with a singular attribute (cf. § 132 h)…

supremus (of God) is doubtful; according to others it is a numerical plural…

On the other hand, we must regard as doubtful a number of participles in the plural, which, being used as attributes of God, resemble plurales excellentiae

Gn 1:3 and God said, Let there be light: verse 4 and God saw the light

God is not a man, that he should lie, and (i. e. neither) the son of man, that he should repent

.. forasmuch as God hath showed thee all this; Dt 21:16.

it pleased the Lord … to magnifywhich the Lord commanded (that) ye should do

may learn, and fear the Lord, i. e.to fear the Lord

… instance of the same kind is Gn 30:27 I have divined and the Lord hath blessed me, & c., i. e. that the Lord hath blessed me for thy sake.

Ketiga, Mark D. Futato, dalam bukunya Beginning Biblical Hebrew, (Winona Lake, Indiana: Eisenbrauns, 2003), menyebutkan tiga kata yakni “God”, “Lord” dan “LORD”.

Translate the following from Psalm 136:1–3, 26.

Give thanks to the LORD, for he is good;

for his faithfulness endures forever.
Give thanks to the God of Gods,

for his faithfulness endures forever.
Give thanks to the lord of Lords,

for his faithfulness endures forever
Give thanks to the God of heaven,

for his faithfulness endures forever.

In that day, the holy prophet will pray and prophesy, and the servants of the king will listen. Then they will cling to the commandments and statutes which are written in the book of the law of God.

When they lie down at night, they will not be afraid, because their God will guard their souls.

… The letters hwhy are the Lord’s covenantal name, often translated LORD, in contrast to Lord, and are referred to as the Tetragrammaton, “four letters.” According to Jewish tradition, which wishes to revere the divine name, the Tetragrammaton should not be pronounced. The edition of the Hebrew Bible you are…

Translate the following from Judges 7:4, 5, 7.

(4) The LORD said to Gideon, “The people are still too numerous. Bring them down to the water . . . (5) He brought the people down to the water. (7) The LORD said to Gideon, “With three hundred men I will save you.”

Keempat. Bruce K. Waltke and M. O’Connor dalam An Introduction to Biblical Hebrew Syntax (Eisenbrauns: Winona Lake, Indiana 1990, 2004), menggunakan empat kata yakni “Yahweh”, “YHWH”, “God” dan “Lord”

… because “this is not the way Moses usually addresses Yahweh,” and “the following sentence shows that speech proceeds in the respectful third person, not the second.”…

… despite the standard translation of the hÌy phrase as a protasis and of the Àm clause as its apodosis (‘As Yahweh lives, may … ‘).

The Lord YHWH swears by his holiness: “Surely, the time will come …”

I am YHWH, your God. (Exod. 20:2)

The first of these two utterances represents a situation with God as the agent and the sea as the object of the splitting action. The second utterance represents God as the agent and the rocks as having been caused to be put into the state of being split up.

YHWH … is God of gods and Lord of lords.

YHWH is our Lord (Deut. 10:17).

Teks-teks di atas menggunakan kata terjemahan ke dalam satu bahasa: Inggris. Para penulis tidak menjadi radikal dengan menyingkirkan kata “God” dalam buku atau tulisan mereka. Kesalahan melihat relasi teologis—historis dari sejarah penyataan Allah mengabaikan makna terdalam dari konteks karya Allah di sepanjang perjalanan kehidupan umat-Nya. Kaum Yahweisme adalah sekolompok orang yang mengurung diri dengan ideologi “Yahwe” yang diikat dengan sentimen teologis untuk menyingkirkan nama “Allah” di mana kata itu menjadi tidak bermasalah, malahan telah menorehkan sejarah kuasa dan kepedulian-Nya terhadap umat manusia di dunia ini. Klaim bahwa Yesus adalah Allah (Jesus is God) telah tercatat dalam sejarah kekristenan yang panjang. Sedangkan kaum Yahweisme, anak kemarin sore, mau mencoba menyingkirkan penggunaan kata “Allah”, “God” dan sebagainya, dari dunia teologi.

Akhirnya, kita hanya melihat dualisme jalur devosi: kaum Yahweisme tetap dengan penyebutan kata tersebut, sedangkan Kristen mayoritas tetapi menggunakan nama Allah sesuai dengan konteks budaya, bahasa, dan relasi mereka di sepanjang sejarah, dan tetap merasakan kasih, kemurahan, dan kebaikan Tuhan Yesus, dalam segala situasi. Bukan berarti mereka yang menyebut nama ‘Allah’ tidak diberkati. Toh, sebelum kemunculan kaum Yahweisme, orang-orang percaya di sepanjang zaman telah menikmati buah-buah dari iman mereka kepada Tuhan Yesus, Allah yang menjadi manusia.

Salam Bae.

Sumber gambar: breslovcenter.blogspot.com/2012/10/hitbodedut-and-hashems-name.html

Rancang situs seperti ini dengan WordPress.com
Mulai