JIKA YESUS ITU TUHAN, MENGAPA DIA DISALIBKAN?

Kita perlu mengetahui bahwa dalam segala hal, dibutuhkan sebuah cara memahami (proses pemahaman) supaya apa yang diselidiki, dibaca, diimani, dan dianalisis dapat dipertanggungjawabkan. Ini adalah persoalan mendasar. Sekali lagi, untuk mengetahui segala sesuatu, kita harus memiliki memulai dengan “CARA MEMAHAMI”.

Nah, iman Kristen harus dipahami dengan menggunakan cara memahami sesuai dengan prinsip Alkitab, sehingga pertanyaan mengenai “JIKA YESUS ITU TUHAN, MENGAPA DIA DISALIBKAN?” akan dapat dipahami secara baik. Kesalahan orang memahami personalitas Yesus dikarenakan ia salah memahami. Untuk mendasari statement (pernyataan) saya, maka saya menyebutkan lima cara memahami iman Kristen. Dua di antaranya adalah memahami secara salah, dan dua cara tersebut seringkali dipakai oleh kaum Islam termasuk pertanyaan di atas.

Pertama, memahami secara FRAGMENTARIS. Memahami dengan cara ini adalah bagaimana sesorang melihat sesuatu secara terpecah-pecah (tidak utuh). Yesus mati bukan hanya sekadar mati, melainkan ada rencana sebelumnya yang ditetapkan Allah bagi penebusan manusia atas dosa-dosa mereka. Jadi, yang mati bukan “Tuhan” melainkan manusia Yesus. Rasul Paulus menegaskan bahwa “Dalam keadaan [Yesus] sebagai manusia, Ia telah merendahkan diri-Nya dan taat sampai mati, bahkan sampai mati di kayu salib” (Filipi 2:8). Lagipula tidak ada konsep “Tuhan” mati dalam iman Kristen. Misalnya, seorang bupati mati, maka yang mati tentu bukan jabatan “bupati” melainkan orang yang menjabat sebagai bupati. Kesalahan Islam memahami bahwa “Tuhan mati” tentu secar fragmentaris bukan secara komprehensif (menyeluruh). Yesus mati menebus manusia dari dosa karena manusia berdosa kepada Allah maka hanya Allah yang berhak menentukan bagaimana cara menebus manusia.

Perjanjian Lama menegaskan bagaimana ritual-ritual penebusan dosa dan salah manusia melalui pengorbanan binatang. Cara ini kemudian dipakai Allah yang lebih suprematis (lebih unggul) dari cara-cara lama sebab jika semua manusia berdosa dan mengorbankan binatang, berapa banyak binatang yang harus diperlukan. Allah yang hanya mengutus Yesus Kristus—satu untuk semua—agar manusia ditebus dari dosa dan pemberontakannya. Yang ditebus adalah mereka yang telah dipilih sejak kekekalan dan mereka yang ditebus pasti dipanggil Allah untuk menikmati anugerah keselamatan, melakukan kehendak-Nya, hidup dalam kasih dan pengampunan selama kehidupannya.

Jadi, kesalahan memahami personalitas Yesus secara fragmentaris akan menghasilkan kekeliruan dan kesesatan karena tidak memahami makna kematian Yesus. Tuhan tidak mati sebab Tuhan adalah bersifat substansi. Yang mati adalah manusia Yesus Kristus.

Lalu mengapa Dia disebut Tuhan? Kita harus memahami bahwa Yesus memiliki dua natur yaitu Ilahi dan Manusia. Yesus sebagai Tuhan harus dipahami dari apa yang diklaim atau dikerjakan-Nya. Yesus mengampuni dosa. Jika demikian maka Ia adalah Allah. Bagaimana bisa Yesus adalah Allah? Kita harus melihatnya bahwa Yesus—sebelum berinkarnasi (menjadi manusia)—Ia adalah Logos Allah yang ada sejak kekal di dalam diri Allah: “Pada mulanya Firman; Firman itu bersama-sama dengan Allah dan Firman itu adalah Allah” (Yohanes 1:1).

Dengan demikian, Yesus adalah Tuhan karena Ia telah ada sejak kekekalan; Ia adalah Logos Allah yang ada sejak kekal; Ia menjadi terbatas karena Ia menjadi manusia; Ia lahir, bertumbuh, layaknya manusia biasa. Memang Yesus menggunakan natur manusia maka semua unsur manusiawi berjalan seperti biasanya. Namun, karena Yesus adalah Logos Kekal Allah yang menjelma jadi manusia, maka kita tidak dapat memahami pribadi Yesus hanya secara fragmentaris melainkan secara utuh. Kesalahan menempatkan pemahaman kita tentang Yesus yaitu secara fragmentaris akan menghasilkan keraguan dan penolakan bahwa Yesus adalah Tuhan. Kematian Yesus harus dilihat secara “Sejarah Penebusan” Allah bagi manusia berdosa yang menjamin keselamatan dan kehidupan yang kekal. Mereka yang memahami Yesus secara utuh akan dengan mudah melihat bahwa kematian Yesus bukan berarti “Tuhan mati” melainkan kemanusiaan-Nya yang mati. “Tuhan” bukanlah bersifat fisik. “Tuhan” itu substansi dan substansi tak mungkin mati. Manusia bisa mati jasmaninya tetapi rohnya tetap ada.

Kedua, memahami secara PARSIAL. Cara memahami ini adalah mengabaikan sebagian kebenaran. Kebenaran itu utuh. Jika memahaminya secara sebagian maka hal itu akan memberi kesan bahwa pemahaman itu benar tetapi bisa menyesatkan. Pertanyaan: “JIKA YESUS ITU TUHAN, MENGAPA DIA DISALIBKAN?” bukanlah sebuah kebenaran utuh, karena mengabaikan konteks lain. Islam selalu bersikukuh menegaskan bahwa Yesus bukan Tuhan, padahal “Tuhan” menurut pemahaman mereka berbeda dengan “Tuhan” dalam pemahaman Kristen. Ini disebut sebuah sesat pikir yaitu “Straw Man” di mana seorang Islam menolak Yesus sebagai “Tuhan” (dalam sudut pandang mereka) dan berharap orang Kristen memahami seperti apa yang mereka pahami. Ini menyesatkan. Pemahaman Yesus sebagai Tuhan, berbeda dengan pemahaman “Yesus bukan Tuhan” dalam pemahaman Islam. Yesus bukan “Tuhan” benar jika dipahami dari perspektif Islam, tetapi menjadi sesat jika dipahami dari perspektif Kristen.

Jika Yesus bukan “Tuhan”, “Tuhan” seperti apa yang Islam maksudkan? Di sini perlu sebuah definisi. Tuhan itu berarti pribadi yang berkuasa dan pribadi yang mengampuni dosa. Jika demikian, ketika Yesus mengatakan bahwa Ia berkuasa dan mengampuni dosa, maka konsekuensi logisnya adalah Yesus adalah Tuhan. Sebagai buktinya, mari kita lihat teks-teks berikut. Hal ini hendak menjelaskan kita tidak sedang memahami Yesus secara PARSIAL melainkan secara komprehensif.

Teks Matius 9:6, Yesus berkata: “supaya kamu tahu, bahwa di dunia ini Anak Manusia berkuasa mengampuni dosa”. Bukankah Yesus sendiri menegaskan bahwa Ia berkuasa mengampuni dosa layaknya Allah? Kita tahu bahwa hanya Allah yang berkuasa mengampuni dosa dan Yesus menegaskan bahwa Ia mengampuni dosa, maka Ia adalah Allah dan Tuhan yang berkuasa mengampuni dosa.

Teks Matius 12:8, Yesus menegaskan bahwa: “Anak Manusia adalah Tuhan atas hari Sabat.” Bukankah Yesus sendiri mengakui bahwa Ia adalah Tuhan atas hari Sabat? Anak Manusia di sini merujuk pada Yesus sendiri.

Teks Matius 13:41 menegaskan bahwa Yesus yang adalah Anak Manusia “akan menyuruh malaikat-malaikat-Nya dan mereka akan mengumpulkan segala sesuatu yang menyesatkan dan semua orang yang melakukan kejahatan dari dalam Kerajaan-Nya.” Bukankah hanya Allah saja yang dapat berkuasa memerintahkan malaikat-malaikat-Nya? Yesus memiliki kuasa sebagaimana Allah memilikinya yang dibuktikan dari memerintahkan malaikat-malaikat-Nya.

Matius 16:27 di mana Yesus berkata: “Sebab Anak Manusia akan datang dalam kemuliaan Bapa-Nya diiringi malaikat-malaikat-Nya; pada waktu itu Ia akan membalas setiap orang menurut perbuatannya.” Dalam teks tersebut, Yesus membalas setiap orang menurut perbuatannya. Itu berarti, Yesus memiliki kuasa untuk menghakimi layaknya Allah yang dapat menghakimi.

Matius 16:28 di mana Yesus berkata: “Aku berkata kepadamu: Sesungguhnya di antara orang yang hadir di sini ada yang tidak akan mati sebelum mereka melihat Anak Manusia datang sebagai Raja dalam Kerajaan-Nya.” Dalam teks tersebut tampak bahwa Yesus datang sebagai Raja dalam kerajaan-Nya. Dari perspektif Alkitab, hanya Allah saja yang adalah Raja dan memiliki kerajaan. Dengan demikian, Yesus adalah Allah yang juga adalah Raja. Dalam doktrin Kristen, Baik Bapa dan Yesus memiliki kesatuan ontologis yang mana pribadi yang satu merepresentasikan pribadi lainnya. Sama halnya dengan tuduhan bahwa orang Kristen menyembah tiga Allah. Itu keliru, sebab Bapa, Firman, dan Roh Kudus adalah kesatua ontologis yang setara dan kekal, tetapi sekaligus berdistingsi. Misalnya, Anda dan perkataan Anda adalah satu dalam substansi kemanusiaan Anda. Tetapi perkataan Anda bukanlah Anda dan Anda bukanlah perkataan Anda. Anda dan perkataan sama-sama ada sejak Anda diciptakan. Bedanya, Allah dan Firman-Nya tidak diciptakan, kedua-Nya sama-sama kekal. Allah mencipta dengan Firman dan Firman itu ada sejak kekal. Allah mustahil tanpa Firman. Yesus pernah berkata bahwa Dia dan Bapa-Nya adalah satu.

Kesatuan Yesus dan Bapa adalah kesatuan tujuan dan hakikat. Malaikat tak mungkin satu tujuan dengan Allah, karena Allah lebih tinggi dan menetapkan segala sesuatu. Hanya Allah saja yang dapat memiliki satu tujuan dengan Firman-Nya.

Teks Matius 19:28, yang berbunyi: Kata Yesus kepada mereka: “Aku berkata kepadamu, sesungguhnya pada waktu penciptaan kembali, apabila Anak Manusia bersemayam di takhta kemuliaan-Nya, kamu, yang telah mengikut Aku, akan duduk juga di atas dua belas takhta untuk menghakimi kedua belas suku Israel.” Dari teks tersebut, Yesus berhak menghakimi kedua belas suku Israel. Dengan demikian, sebagaimana Allah adalah hakim, maka ketika Yesus mengklaim bahwa diri-Nya adalah hakim, maka Ia adalah Allah yang berkuasa menghakimi.

Jika definisi Tuhan sudah terbukti sesuai dengan definisi di atas, dan Yesus memenuhi kriteria tersebut, maka tidak ada keberatan untuk memahami dan percaya kepada Yesus sebagai Tuhan dan Allah yang berkuasa. Untuk memahami setiap gagasan ke-Tuhanan dan ke-Allahan Yesus haruslah berangkat data biblikal secara utuh dan bukan sepotong-sepotong (fragmentaris) atau parsial.

Ketiga, memahami secara KOMPREHENSIF. Cara memahami ini adalah yang mutlak dilakukan oleh setiap orang yang mengenal dan memahami personalitas Yesus Kristus. Soal Yesus sebagai manusia, mati, makan, lahir, dan sebagainya haruslah dipahami secara utuh. Ketika seseorang menolak memahami secara utuh, maka ia akan tersesat kepada cara berpikir fragmentaris atau parsial yang tidak akan menemukan makna yang sesungguhnya dari inkarnasi Yesus Kristus ke dalam dunia sebagai cara Allah menebus manusia. Yesus adalah Allah yang menjadi manusia (Yohanes 1:14) bukan asal jadi manusia tetapi ada latar belakang yang membingkainya. Allah ingin menebus manusia dengan cara-Nya sendiri, sekali untuk selamanya. Jika dulu bangsa Israel yang berdosa harus mengorbankan binatang dan mencurahkan darahnya sebagai lambang bahwa kesalahan dan dosanya telah ditebus oleh Tuhan, kini, Allah menentukan cara-Nya menebus manusia yaitu mengutus LOGOS [Firman] ke dunia dalam rupa manusia. Soal bagaimana ini bisa diterima oleh akal manusia, kita harus melihat akan maksud dan rencana Allah bagi manusia. Mereka yang menolak cara penebusan Allah, maka ia tidak mengenal Allah Israel. Boleh saja ia menolak karena ia mempercayai “Ilah” yang lain, maka ia harus berjuang memahami bagaimana “Ilah” yang dipercayainya itu mengampuni dosa-dosanya.

Dalam Islam tidak ada konsep penebusan sehingga mereka binggung memahami konsep penebusan, apalagi konsep penebusan dosa. Mereka yang tidak paham dengan sendirinya akan menuduh cara penebusan dosa versi Kristen tidak masuk akal padahal mereka tidak memahami cara penebusan versi Kristen. Karena ketidakpahaman tersebut, mereka memaksa Kristen untuk memahami seperti yang mereka pahami, padahal cara demikian adalah sesat. Jika ingin memahami doktrin Kristen, maka yang dilakukan adalah memahami berdasarkan cara pandang Alkitab, dan bukan al-Qur’an.

Keempat, memahami secara JUKSTAPOSISI. Cara memahami ini adalah menempatkan satu teks sejajar dengan teks lain. Artinya, teks nubuatan Mesias Ilahi dalam Perjanjian Lama (PL) yang digenapi dalam Perjanjian Baru (PB) maka keduanya harus dipandang sejajar karena saling melengkapi. Yang satu tak mungkin berdiri tanpa yang lainnya. Ada penyejajaran konteks dan teks Alkitab terkait pokok tertentu. Contoh lain adalah dalam Mazmur 23 Daud menegaskan bahwa TUHAN adalah Gembala (juga beberapa teks lainnya) dan di dalam Yohanes 10:11 Yesus menegaskan bahwa Ia adalah Gembala yang baik. Ini dipahami sejajar antara TUHAN dalam PL yang adalah Gembala dan Yesus dalam PB yang juga adalah Gembala. Itu berarti, Yesus adalah Allah tetapi yang berinkarnasi mewujud manusia dalam rangka realisasi cara penyelamatan Allah kepada manusia yang berdosa.

Kelima, memahami secara DEMARKASI. Cara memahami ini adalah bagaimana seseorang melihat konteks yang sedang dibicarakan. Ketika kita membahas tentang penyaliban Yesus, maka ada konteks yang mengikatnya. Kita tidak dapat melihat secara acak sebuah peristiwa kecuali melihatnya berdasarkan demarkasi konteks. Kesalahan Islam yang sering diulang-ulang adalah mengatakan bahwa “Yesus itu adalah utusan dan utusan tidak bisa menjadi Tuhan”. Memang pada beberapa kesempatan Yesus mengatakan bahwa Ia diutus Allah, sedangkan pada kesempatan lain Ia mengatakan bahwa Ia keluar dan datang dari Allah. “Diutus”, “keluar”, dan “datang” dari Allah memiliki konteksnya masing-masing. Tidak bisa dicampur-adukkan karena akan menimbulkan cara berpikir fragmentaris. Yesus memang diutus Bapa-Nya karena Ia adalah manusia. Tetapi Yesus adalah Logos Allah yang setara dengan Bapa-Nya. Keduanya memiliki demarkasi.

Untuk menjawab pertanyaan “JIKA YESUS ITU TUHAN, MENGAPA DIA DISALIBKAN?” haruslah ditempuh dengan cara memahami personalitas Yesus secara komprehensif, juktaposisi, dan demarkasi. Tidak ada “Tuhan” yang mati karena “Tuhan” itu bukan fisik melainkan substansi. Tidak ada “bupati” yang mati karena “bupati” adalah jabatan. Yang mati adalah yang menjabat sebagai bupati.

Kematian Yesus bukan asal mati tanpa tujuan. Kematian Yesus adalah untuk menebus manusia yang telah berdosa kepada Allah. Penebusan hanya dapat dipahami dalam teologi Kristen sedangkan Islam tidak memiliki konsep tersebut. Yesus mati bagi manusia berdosa. Ia mendamaikan antara Allah dan manusia. Mereka yang ditebus dosa-dosanya adalah mereka yang telah ditetapkan Allah sejak kekekalan dan tentu mereka yang dipanggil Allah untuk menerima dan menikmati keselamatan yang dianugerahkan-Nya, akan hidup kudus, hidup dalam kebenaran, hidup dalam kasih dan pengampunan.

Benarlah perkataan Rasul Paulus, bahwa

Kita tahu sekarang, bahwa Allah turut bekerja dalam segala sesuatu untuk mendatangkan kebaikan bagi mereka yang mengasihi Dia, yaitu bagi mereka yang terpanggil sesuai dengan rencana Allah. Sebab semua orang yang dipilih-Nya dari semula, mereka juga ditentukan-Nya dari semula untuk menjadi serupa dengan gambaran Anak-Nya, supaya Ia, Anak-Nya itu, menjadi yang sulung di antara banyak saudara. Dan mereka yang ditentukan-Nya dari semula, mereka itu juga dipanggil-Nya. Dan mereka yang dipanggil-Nya, mereka itu juga dibenarkan-Nya. Dan mereka yang dibenarkan-Nya, mereka itu juga dimuliakan-Nya.

Soli Deo Gloria. Salam Bae…

Sumber gambar:

  1. https://promovillagecom.blogspot.com/2012/03/pencil-sketch-of-christ.html?m=1
  2. https://id.pinterest.com/pin/914862410296100/

JIN KAFIR DI MULUT PARA PENCACI YESUS?

Sumber gambar: https://weheartit.com/entry/6401507 (joao gabriel
@VanJounes)

Frasa “jin kafir” keluar dari seorang “public figure” (tokoh masyarakat) Islam, Abdul Somad. Video yang berdurasi pendek, seketika menjadi viral di berbagai media sosial. Lalu, berbagai respons muncul. Ada yang membuat tanggapan, termasuk teman-teman saya; ada yang memosting ayat-ayat tentang salib, tentang gambar salib, tentang drakula yang takut dengan salib, gereja-gereja yang ada salibnya, dan sederet komentar dan pernyataan tentang salib Yesus.

Ketika saya melihat video tersebut, yang saya pahami adalah gestikulasi Bang Somad, terkesan “meremehkan” salib, terkesan merendahkan salib. Tak jadi soal mengenai apa yang saya pahami terhadap gaya komunikasi Bang Somad, tetapi jika mau fair, Bang Somad juga perlu merenung bahwa standar ganda bisa digunakan untuk membuat lelucon seputar iman Islamnya Bang Somad. Jangan berpikir bahwa Kristen tidak memiliki sejumlah potensi untuk mendengungkan kegagalan pemahaman logika Bang Somad mengenai salib.

Dengan gaya “mayoritas” seperti yang dilakukan Bang Somad, tentu menimbulkan berbagai respons baik positif (para pendengarnya jangan ikut tertawa, meski saya menduga tidak semua yang mendengar celoteh Bang Somad, setuju dengan beliau) maupun negatif (respons dari internal Islam dan respons dari Kristen).

Dari segi logika dan pengetahuan, Bang Somad sama sekali tidak memahami makna dan sejarah salib Yesus. Saya tahu, bahwa Bang Somad sendiri menolak peristiwa penyaliban Yesus, di mana Yesus tidak disalibkan melainkan ada orang yang diserupakan Allah SWT mirip Yesus. Tapi itu hanya soal keyakinan dogmatis saja. Masing-masing meyakini soal salib. Namanya juga keyakinan; ya, harus yakin dong. Bukan begitu Bang Somad?

Ucapan-ucapan Bang Somad mengenai di salib ada jin kafir, sama sekali diucapkan “tanpa pengetahuan apa-apa” mengenai makna dan kuasa salib. Bahkan, tidak ada kontribusi pengetahuan doktrinal di dalamnya. Saya menyebut itu sebagai celoteh sentimen agama yang Anda rasakan sebagai “salah” di pihak Kristen karena percaya pada Yesus yang disalib, dan sebagai benar “di pihak Anda” karena merasa bahwa di dalam salib Kristen ada jin kafir (karena Kristen dicap sebagai kafir. Bukan begitu Bang Somad?).

Untuk kepentingan penjelasan seperlunya dari saya karena celoteh-celoteh Bang Somad tidak memiliki bobot apa-apa—hanya soal ketidaktahuannya mengenai salib—maka saya memakluminya, dan memberikan beberapa catatan.

Pertama, Bang Somad, apa yang Anda ucapkan bukanlah sebuah pengetahuan yang benar tentang salib. Anda hanya menggaungkan prinsip tidak logis tentang salib. Pengetahuan Anda sangat dangkal. Saya memakluminya. Konsekuensi logis dari apa yang Anda lakukan, adalah bahwa jangan Anda berpikir bahwa Kristen tidak memiliki alasan untuk melontarkan celoteh-celoteh tentang anda dan iman yang anda imani. Kami bisa menggunakan standar ganda di sini. Tetapi untuk apa? Memperkeruh suasana? Tentu tidak! Jika anda tertarik mengkritisi iman Kristen, sila pakai sumber dan data historis, bukan modal celoteh.

Kedua, Bang Somad, apa yang Anda sampaikan kepada para pendengarmu adalah “benar” menurut keyakinan dogmatismu, dan “salah” menurut makna substansial dari salib yang diimani Kristen. Jika demikian, sebaiknya—jika Anda ingin mengkritisi makna dan historisitas salib, maka ruang akademis menjadi ruang bagi Anda untuk memulai penelitian, pencarian sumber rujukan, dan menghasilkan kritikan yang kredibel, otentik, dan akuntabel.

Ketiga, Bang Somad, kalau merasa mayoritas, jangan sesuka hati menebar pemahaman yang salah tentang iman Kristen. Bukan berarti minoritas tidak dapat berbuat apa-apa untuk melakukan standar yang sama. Tetapi karena alasan sensitivisme agama di negara Indonesia sangatlah tinggi, maka sedapat mungkin celoteh-celoteh yang tidak penting, diredam. Jika berbicara dalam ranah akademis (ilmiah), maka sah-sah saja mengkritisi iman Kristen, tetapi harus ditempuh dengan jalur akademis pula, bukan dengan modal celoteh jalanan, demo, persekusi, dan lain sebagainya.

Keempat, Bang Somad, ruang pengetahuan tentang iman Kristen terbuka lebar dan seluas-luasnya. Anda tidak perlu takut karena kekurangan sumber. Dibutuhkan hanyalah niat untuk melakukan penelitian ilmiah (akademis), ketimbang Anda membodohi para pendengar Anda dengan celoteh-celoteh (yang bukan pengetahuan akademis). Jika Anda tertarik untuk mendalami makna salib, apakah ada jin kafir di dalamnya, sila melakukan penelitian ilmiah soal itu. Pintu terbuka lebar untuk Anda, dan bahkan bagi para pendengar celoteh Anda. Eh, ngomong-ngomong, Bang Somad tahu dari mana ada jin kafir di salib? Apakah Anda bisa melihat jin?

Kelima, Bang Somad, dalam pemahaman Kristen, salib memang adalah tanda kebodohan, tetapi kebodohan bagi mereka yang akan binasa. Salib adalah tanda bahwa Allah mengasihi manusia berdosa dan mendamaikan mereka melalui Yesus Kristus yang disalibkan. Tidak mudah bagi Anda untuk memahami makna salib dan keselamatan dari perspektif iman Kristen. Keselamatan yang diyakini Kristen bukanlah keselamatan yang tanpa sejarah, tanpa ketentuan; bukan pula keselamatan yang muncul tiba-tiba tanpa dasar bagaimana Allah ingin manusia diselamatkan dari belenggu dosa; bukan pula keselamatan yang muncul dari seorang malaikat dan berkata ini dan itu. Keselamatan yang dipahami Kristen adalah berangkat dari kejatuhan manusia dalam dosa dan manusia, dengan segala potensinya, tidak dapat membereskan dosa-dosa mereka. Hanya Allah yang dapat membereskannya. Jika Anda memasuki ranah doktrin keselamatan, seumur hidup Anda tidak cukup untuk mempelajarinya.

Keenam, Bang Somad, semua celoteh yang pernah Anda sampaikan kepada siapa pun, tidaklah memberikan kontribusi akademis apa-apa. Jika para pendengarmu bukanlah orang-orang yang berpikir kritis dan akademis, maka saya takut, mereka akan menjadi tersesat sedemikian jauh, ketika Anda, dengan lantangnya merendahkan iman Kristen. Atau barangkali, ketika Anda mengatakan bahwa di salib ada jin kafir, sebenarnya Anda sedang mencaci iman [salib] Kristen? Hanya Anda dan jin kafir yang tahu soal itu. Tetapi, jika saya dimintai tanggapan, saya hanya akan menanyakan begini: “Dari cara Anda menjawab dan gerak tubuh Anda (gestikulasi), bukankah terlihat sepertinya Anda meremehkan salib dengan cara memperagakannya pula?

Ketujuh, Bang Somad, Kristen itu adalah pabrik pembuat kacamata. Jika Anda mau memahami iman Kristen yang begitu besar itu, Anda harus menggunakan kacamata yang sesuai dengan konteksnya. Sayangnya, kemarin, waktu Anda mengatakan bahwa di salib ada jin kafir, Anda salah pakai kacamata. Jika ingin memahami salib, pergilah ke pabrik pembuat kacamata. Dijamin, Anda tidak akan tersesat seperti sekarang ini ketika Anda berbicara mengenai iman Kristen.

Dari beberapa catatan respons saya terhadap celoteh Bang Somad, maka pertanyaan saya: “Apakah celoteh bahwa ‘di salib ada jin kafir’, hanya ada dan keluar dari mulut para pencaci Yesus? Selamat merenung.

Salam Bae….

Catatan: tulisan singkat ini telah dipublikasikan pada tanggal 18 Agustus 2019 di Facebook saya.

YESUS DI MULUT PARA PENCACI

Sumber gambar: https://id.pinterest.com/pin/593278950892886729/

Caci maki terhadap Yesus memuncak pada saat penyaliban-Nya. Caci maki dan perendahan diri Yesus sangatlah menyakitkan, apalagi ketika Yesus dalam keadaan tersalib. Saya menyebut salah satu di sini: “Orang lain Ia selamatkan, tetapi diri-Nya sendiri tidak dapat Ia selamatkan! Ia Raja Israel? Baikla Ia turun dari salib itu dan kami akan percaya kepada-Nya.” Hinaan ini melebihi dari caci maki. Mengapa? Karena ucapan di atas diucapkan oleh orang-orang ber-Tuhan yaitu imam-imam kepala, ahli-ahli Taurat dan tua-tua (Matius 27:41-42).

Lalu apa yang terjadi? Apakah ketika mereka menghina dan menantang Yesus untuk turun dari salib, kemudian Yesus bergegas turun dari salib? Sama sekali tidak! Mengapa? Sabar dulu! Ada hal yang lebih spektakuler dan tak bisa dilawan, yaitu: “Kebangkitan” Yesus Kristus. Mengapa harus kebangkitan? Karena dalam kebangkitanlah, semua caci maki, hinaan, perendahan terhadap Yesus luntur. Apa mau dikata, Yesus yang dulunya dihina dan dicaci maki, pada hari yang ketiga Ia bangkit dari antara orang mati.

Ada dua peristiwa yang sangat merendahkan Yesus yaitu: pertama, caci maki dan hinaan, dan kedua, kematian-Nya. Dua peristiwa ini sangatlah menyesakkan dada. Bahkan para murid Yesus menjadi sangat malu sekali, kecewa, dan takut. Bagaimana mungkin Yesus yang adalah Guru mereka, biasa melakukan mukjizat, membangkitkan orang mati, menyembuhkan berbagai penyakit, kini Ia terhina dan tersalib? Bukankah ini sangat memalukan? Bukankah ini sangalah menyakitkan?

Tunggu dulu! Ada hal yang lebih spektakuler dari pada itu. Pertama, kebangkitan Yesus dari antara orang melunturkan semua ucapan caci maki, hinaan, dan perendahan diri Yesus. Ia telah bangkit dari antara orang mati, Ia telah mengalahkan maut, dan jaminan-Nya adalah bahwa mereka yang percaya kepada-Nya akan juga dibangkitkan (bdk. Yoh. 11:25). Kedua, kenaikan-Nya ke surga menandakan bahwa semua orang percaya akan diterima Tuhan Yesus dalam kerajaan Bapa-Nya. Yesus pernah mengatakan: “Di rumah Bapa-Ku banyak tempat tinggal”. Yesus pergi menyediakan tempat bagi saleh-saleh-Nya. Dan ketiga, Yesus mengutus para murid untuk memberitakan Injil (Mat. 28:18-20). Karena pengutusan inilah, maka dunia diubahkan oleh Yesus. Diubahkan hanya dengan dua hal: KASIH dan KUASA. Sampai sekarang, Kasih dan Kuasa masih menjadi kekuatan tak terkalahkan oleh siapa pun, termasuk Iblis (Setan).

Meskipun demikian, Yesus menjadi bahan cacian di sepanjang sejarah. Mengapa? Karena Dia adalah manusia yang dalam anggapan para pencaci, tidak layak disembah dan dijadikan Tuhan. Sabar dulu. Yesus disembah bukan karena Dia manusia, tetapi Dia adalah pribadi yang lain dari pada yang lainnya. Untuk memahami ini, saya berikan contoh. Semua manusia yang makan nasi bukan karena nasi akan menjadi kotoran setelah dimakan yang dibuang melalui dubur, tetapi karena nasi merupakan salah satu bahan makanan yang bisa menjadikan perut terisi atau kenyang. Pertanyaannya: “mengapa manusia masih makan nasi jika ia tahu bahwa nasi akan berubah menjadi kotoran yang sangat bau saat dibuang melalui dubur?” Mungkin ada yang menjawab: “manusia bukan makan kotoran melainkan nasi, dan kemudian nasi diproses dalam tubuh, dan menjadi kotoran.” Artinya, nasi diproses menjadi kotoran.

Lalu bagaimana dengan Yesus? Begini: Yesus disembah karena Dia adalah Tuhan. Meski Dia manusia, ke-Tuhanan-Nya bukan dilihat dari tubuh manusiawi-Nya melainkan dari “kuasa yang diperlihatkan-Nya”. Para pencaci Yesus tidak memahami hal ini. Mereka akan terus melakukan caci maki bahwa Yesus hanyalah manusia biasa dan bukan Tuhan. Memang benar bahwa Yesus adalah manusia. Tetapi—sekali lagi—ke-Tuhanan Yesus diukur dari kuasa yang diperlihatkan-Nya. Saya perlihatkan di sini, bahwa Yesus berkuasa dan mengampuni dosa. Yesus berkata: “supaya kamu tahu, bahwa di dunia ini Anak Manusia berkuasa mengampuni dosa” (Matius 9:6). Bukankah Yesus sendiri menegaskan bahwa Ia berkuasa mengampuni dosa layaknya Allah? Saya lanjutkan. Dalam Matius 12:8, Yesus menegaskan bahwa: “Anak Manusia adalah Tuhan atas hari Sabat.” Bukankah Yesus sendiri mengakui bahwa Ia adalah Tuhan atas hari Sabat?

Dalam teks Matius 13:41 ditegaskan bahwa Yesus yang adalah Anak Manusia “akan menyuruh malaikat-malaikat-Nya dan mereka akan mengumpulkan segala sesuatu yang menyesatkan dan semua orang yang melakukan kejahatan dari dalam Kerajaan-Nya.” Bukankah hanya Allah saja yang dapat berkuasa memerintahkan malaikat-malaikat-Nya? Konsekuensinya, Yesus adalah Allah bukan?

Saya tambahkan dua teks lagi. Dalam Matius 16:27 Yesus berkata: “Sebab Anak Manusia akan datang dalam kemuliaan Bapa-Nya diiringi malaikat-malaikat-Nya; pada waktu itu Ia akan membalas setiap orang menurut perbuatannya.” Dalam teks tersebut, Yesus membalas setiap orang menurut perbuatannya. Itu berarti, Yesus memiliki kuasa untuk menghakimi layaknya Allah yang dapat menghakimi (bdk. Matius 19:28). Dalam Matius 16:28 Yesus berkata: “Aku berkata kepadamu: Sesungguhnya di antara orang yang hadir di sini ada yang tidak akan mati sebelum mereka melihat Anak Manusia datang sebagai Raja dalam Kerajaan-Nya.” Dari teks tersebut tampak bahwa Yesus datang sebagai Raja dalam kerajaan-Nya. Dari perspektif Alkitab, hanya Allah saja yang adalah Raja dan memiliki kerajaan. Dengan demikian, Yesus adalah Allah yang juga adalah Raja, bukan?

Dalam doktrin Kristen, baik Bapa dan Yesus memiliki kesatuan ontologis yang mana pribadi yang satu merepresentasikan pribadi lainnya. Sama halnya dengan tuduhan (para pencaci) bahwa orang Kristen menyembah tiga Allah. Itu keliru, sebab Bapa, Firman, dan Roh Kudus adalah kesatuan ontologis yang setara dan kekal, tetapi sekaligus berdistingsi. Misalnya, Anda dan perkataan Anda adalah satu dalam substansi kemanusiaan Anda. Tetapi perkataan Anda bukanlah Anda dan Anda bukanlah perkataan Anda. Anda dan perkataan sama-sama ada sejak Anda diciptakan. Bedanya, Allah dan Firman-Nya tidak diciptakan, kedua-Nya sama-sama kekal. Allah mencipta dengan Firman dan Firman itu ada sejak kekal. Allah mustahil tanpa Firman.

Namun, di mata para pencaci, penjelasan di atas tidaklah cukup berarti, sebab mereka dungu, tak mau memahami secara kredibel. Bagi mereka, Yesus adalah manusia dan utusan. Yesus hanyalah seorang Nabi dan Rasul Allah. Maaf, orang Kristen melihat Yesus sebagai Tuhan bukan pada manusia-Nya melainkan pada kuasa-Nya; sama dengan analogi di atas, bahwa manusia tidak melihat pada nasi yang akan menjadi kotoran, melainkan pada nasi yang riil nasi. Jika demikian, apakah orang Kristen salah memahami Yesus? Tentu tidak. Yang salah adalah para pencaci-Nya. Karena kedunguan mereka, maka mereka akan terus mencaci sampai akhir zaman; karena pemahaman mereka hanya terpaku pada kemanusiaan Yesus maka sampai kapan pun mereka akan berpendirian sama pula.

Para pencaci akan melancarkan serangannya untuk menjatuhkan Yesus. Alasannya sederhana, sekali lagi: Yesus adalah manusia biasa dan Dia adalah utusan Allah. Yang diutus tidak lebih tinggi dari yang diutus. Tunggu dulu! Saya berikan analogi. Jika Allah memberikan firman-Nya, apakah Allah lebih tinggi dari firman yang Dia berikan? Tentu tidak. Jika seseorang menulis buku dan bukunya dikirim ke beberapa orang untuk dibaca, apakah si penulis lebih tinggi dari tulisannya? Tentu tidak. Firman dan tulisan merepresentasikan kesetaraan si pemberi firman dengan firmannya, dan si penulis dengan tulisannya.

Nah, Yesus Kristus adalah utusan Bapa. Yesus adalah Logos Bapa yang keluar dari diri-Nya. Pertanyaannya: Logos yang diutus Bapa ke dalam dunia (bdk. Yohanes 6:29, 35, 37, 39-40) apakah lebih rendah dari Bapa? Tentu tidak. Yesus adalah Logos yang menjadi manusia, diutus Bapa. Yesus—Logos Ilahi—keluar dari Bapa: “Jikalau Allah adalah Bapamu, kamu akan mengasihi Aku, sebab Aku ‘keluar’ dan ‘datang dari’ Allah. Dan Aku datang bukan atas kehendak-Ku sendiri, melainkan Dialah yang mengutus Aku” (Yohanes 8:42).

Para pencaci sebaiknya menyadari kedunguan yang ada pada diri mereka. Memahami lebih baik daripada menghindarnya. Yesus yang dicaci bukanlah problem baru. Sejak Yesus melayani dan disalibkan, Ia dimusuhi, dibenci, dicaci, direndahkan, dan dianggap menghujat Allah. Sebagai Anak Allah, Yesus menunjukkan kuasa-Nya yang luar biasa. Anak Allah bukanlah anak dipahami secara biologis—karena orang-orang Yahudi memahami bahwa ketika ada orang yang mengakui sebagai “Anak Allah” maka ia harus dihukum mati (bdk. Yohanes 19:7)—frasa Anak Allah bukanlah Allah beranak secara biologis, melainkan pada pengakuan “kesetaraan dengan Allah”. Itulah makna yang sebenarnya dari frasa Anak Allah.

Yesus dimulut para pencaci akan menjadi Yesus tak berdaya, Yesus tak menebus, Yesus yang manusiawi, Yesus tak tersalib (versi Islam), Yesus yang tersalib mati terhina (disaksikan oleh imam-imam kepala, tua-tua Yahudi, dan lainnya), Yesus yang bukanlah Tuhan, sedangkan Yesus dimulut para pemuji-Nya adalah Yesus yang berkuasa, Yesus yang mati dan bangkit, Yesus yang naik ke surga menyediakan tempat bagi saleh-saleh-Nya, Yesus yang adalah Logos Ilahi menjadi manusia, Yesus yang adalah setara dengan Bapa yang dari-Nya Logos keluar.

Yesus tetaplah Yesus sesuai dengan apa yang disaksikan oleh murid-muridNya dan semua orang yang mengalami kasih dan kuasaNya. Meski para pencaci akan tetap eksis hingga akhir zaman, semuanya akan dihakimi-Nya. Semua persoalan dan keyakinan dogmatis agama-agama akan berakhir di akhir zaman. Keyakinan Kristen menyebutkan bahwa Yesus akan datang kembali menjemput saleh-saleh-Nya, menyediakan tempat, memberikan makhota kehidupan, dan menerima kehidupan kekal. Betapa bahagianya menjadi murid Yesus, murid yang mengasihi sesama, mengasihi musuh, mendoakan musuh, menolong sesama, bahkan berkorban bagi sesama. Ajaran-ajaran ini tidak ada dalam agama mana pun selain Kristen.

Bersyukurlah jika kita telah dan akan menjadi pengikut Yesus Kristus. Pujian kepada-Nya hanyalah keluar dari mulut para pemuji. Sebaliknya, caci maki dan hinaan kepada Yesus hanya keluar dari mulut para pencaci dengan berbagai jenisnya. Tidak perlu kuatir dan benci kepada para pencaci. Kelak, jika Tuhan Yesus berkenan, mereka hanya akan mengalami dua hal: pertama, percaya kepada-Nya, dan kedua, mati dalam dosa mereka.

Semoga Tuhan Yesus memberikan kita hikmat dan bijaksana untuk menjalani kehidupan ini dan bertanggung jawab di hadapan-Nya, melakukan apa yang dikehendaki-Nya, hidup kudus, saling memberkati dan mendoakan, dan selalu peduli (mengasihi) sesama, apa pun latar belakangnya.

Salam Bae

TEGURAN TUHAN

Refleksi Keluaran 9:13-35

Sumber gambar: https://unsplash.com/photos/moytQ7vzhAM (Kyle Fiori@navy99)

Pendahuluan

Setiap orang selalu menunjukkan “dicta” (perkataan-perkataan) dan “gesta” (perbuatan-perbuatan) dalam totalitas hayati humanitas yang dijalani. Ada yang suka berkata-berkata dan berbuat selaras dengan perkataannya; ada yang berbuat tidak selaras dengan perkataannya; ada yang berkata tetapi tidak melakukannya sama sekali. Firaun adalah contohnya. Dalam Kejadian 8:8, Firaun berjanji bahwa jika katak-katak itu dijauhkan TUHAN darinya, maka ia (Firaun) akan melepaskan bangsa Israel. Apa yang terjadi? Sampai tulah kesembilan, Firaun tidak melepaskan bangsa Israel.

Teks Keluaran 9:13-35 menjelaskan kelanjutan dari kekerasan hati Firaun (ketidakkonsistenannya) dengan tidak melepaskan bangsa Israel meskipun ia telah berjanji kepada Musa. Teks ini pula menjelaskan dua hal, teguran TUHAN melalui tulah “hujan es” dan “kekerasan hati Firaun”.

Pokok-pokok Penting

Pertama, frasa “Berfirmanlah TUHAN” menandakan bahwa Ia hendak menyatakan sesuatu (ay. 13). Frasa “Berfirmanlah TUHAN” kadang hanya dilewati begitu saja seolah-olah tidak ada apa-apa dengannya. Padahal, justru di situlah letak inti dari semua kejadian yang mengikutinya (bdk. ay. 22 “Berfirmanlah TUHAN” kepada Musa yang menjelaskan peristiwa turunnya tulah). Musa diperintahkan untuk bangun pagi-pagi, berdiri menantikan Firaun, dan mengatakan “Beginilah firman TUHAN”, biarkanlah umat-Ku ‘pergi’ supaya mereka ‘beribadah’ kepada-Ku. Perintah TUHAN yang ditujukan kepada Firaun sebenarnya sangat sederhana yaitu hanya membiarkan bangsa Israel keluar dari tanah Mesir untuk beribadah kepada TUHAN.

Kedua, tulah “hujan es” ditujukan kepada Firaun, pegawai-pegawainya, dan rakyatnya. Tujuan diberikan tulah adalah supaya Firaun mengetahui bahwa tidak ada yang seperti TUHAN di seluruh bumi. Maksud di balik tujuan tersebut adalah TUHAN hendak menyatakan bahwa Dialah satu-satunya yang hebat, berkuasa, berdaulat, berotoritas di antara ilah-ilah lain termasuk ilah yang dipercayai oleh Firaun. Di sini TUHAN sedang membandingkan—selain dari pada menyatakan kekuasaan-Nya yang mutlak—diri-Nya dengan ciptaan. Dalam konteks ini, memahami pribadi TUHAN bersumber dari dua hal yakni dalam kaitannya dengan ciptaan dan dalam kaitannya dengan ontologis (eksistensi personal TUHAN).

Ketiga, setiap tulah (tulah sebelumnya: air menjadi darah, katak, nyamuk, lalat pikat, penyakit sampar pada ternak, barah) hingga tulah ketujuh tidak menyadarkan Firaun akan teguran TUHAN. Dia ayat 27-28 Firaun menyesal tetapi untuk sementara waktu, sebagaimana Musa menegaskannya (ay. 30), bahwa Firaun dan para pegawainya, belum takut kepada TUHAN. Mengenai teguran TUHAN kepada Firaun juga dibuktikan dengan tulah-tulah berikutnya yang menyatakan bahwa Firaun masih belum sadar akan teguran TUHAN sebab di pasal 10-12 masih ada tiga tulah (belalang, gelap gulita selama tiga hari, dan anak sulung orang Mesir, mati). Bahkan, di ayat 34-35 dijelaskan bahwa Firaun dan para pegawainya, terus berbuat dosa, berkeras hati. Ia pun tidak melepaskan orang Israel pergi.

Kematian menyadarkan Firaun?

Hingga akhirnya, “kematian” menyadarkan Firaun (12:29-33). Teguran TUHAN melalui tulah-tulah (pertama sampai kesembilan) belum menyadarkan Firaun. Ia berkeras hati, ia terus berbuat dosa, ia terus tidak menepati janjinya untuk melepaskan bangsa Israel sebagaimana yang dikatakan Musa kepadanya. Dan pada akhirnya, pasca kematian anak sulungnya dan semua anak sulung rakyatnya, barulah ia sadar dan mengakui bahwa memang TUHAN orang Israel itu hebat.

Firaun sebenarnya banyak mendapat kemurahan dari TUHAN, hanya saja karena ia berkeras hati dan ingin menunjukkan kekuasaannya yang hanya secuil untuk menantang kekuasaan TUHAN atas seluruh bumi. Firaun malahan diberikan kesempatan sampai sembilan kali oleh TUHAN, tetapi ia membungnya dengan percuma.

Refleksi

Ada hal yang membuat kita sulit mengeluarkan kebaikan dari dalam diri dan justru memasukkan dosa ke dalam diri kita sendiri. Ketika dosa telah menjadi habit, maka seseorang akan terus berkeras hati, terus melakukan dosa sehingga kebaikan dalam diri tidak lagi keluar. Kebaikan diri kita bukanlah dari luar, melainkan dari dalam.

“Keras hati” adalah sebuah frasa yang menegaskan bahwa niat seseorang untuk mengabaikan TUHAN, masa bodoh dengan teguran TUHAN, bahkan lebih dari itu, ada orang yang merasa “nyaman” dalam dosa, disimpan rapi dalam dirinya.

Jangan sampai kita asyik dengan dosa “keras hati” dan tidak mau berbalik kepada TUHAN (metanoia). Teguran TUHAN itu ada bermacam-macam. Tinggal bagaimana kita memahami dan memaknainya serta mengkorelasikan dengan apa yang telah kita buat selama ini. Sebagaimana kebaikan tidak pernah terbuang percuma, maka kejahatan juga tidak pernah terbuang percuma. Kebaikan yang kita buat akan dibalas oleh TUHAN, demikian juga dengan kejahatan.

Taburlah kebaikan selagi masih ada waktu. Buanglah keras hati dan masa bodoh terhadap TUHAN; jadilah pelaku-pelaku firman yang menyelaraskan antara dicta dan gesta seumur hidup kita. Amin.

Salam Bae

IDENTITAS KRISTEN

Sebuah Pemahaman Relasi dan Konatif

Sumber gambar: https://unsplash.com/photos/9CMUPez8wLo (Priscilla Du Preez@priscilladupreez)

“Aku mengabarkan keadilan dalam jemaah yang besar; bahkan tidak kutahan bibirku, Engkau juga yang tahu, ya TUHAN” – Daud, Mazmur 40:10 –

Pendahuluan

Orang Kristen yang sejati adalah pribadi yang memahami identitasnya, baik di hadapan Tuhan maupun di hadapan manusia. Identitas, dalam pandangan umum merupakan salah satu dari sekian banyak kebutuhan hidup, nilai etis-relasional, etis-edukasional, dan etis-spiritual yang paling dibutuhkan dan dianggap krusial. Betapa tidak, identitas seseorang akan memberi nilai kepada dirinya sendiri, memberi kekuatan kepercayaan dalam sebuah komunitas masyarakat mikro maupun makro.

Dalam konteks ini, identitas seseorang memainkan peran penting bagi suatu keberlangsungan hidup, bahkan sistem kepercayaan seseorang. Memahami identitas kita bukanlah merupakan perkara elusif (sukar), sebab setiap orang pasti tahu siapa dirinya sendirinya karena ia adalah makhluk yang berpikir. Identitas adalah bersifat inheren (melekat) dengan personalitas manusia. Jika ia inheren, maka tentu dapat dipahami dan diterapkan.

Melihat perkembangan zaman sekarang ini, dalam penilaian saya, identitas merupakan sesuatu yang hampir langka, mengingat maraknya kasus-kasus yang terjadi (korupsi, KDRT, pelecehan seksual, kekerasan terhadap anak, narkoba, pembunuhan) di berbagai bidang kehidupan manusia. Ada orang-orang yang mempertaruhkan identitasnya hanya demi sebuah “tujuan” yang menurutnya dapat menjadikan hidupnya lebih baik. Persoalan perebutan harta kekayaan gereja, perebutan kekuasaan, dan lain sebagainya, sering mengorbankan identitas. Pendeta tidak terkecuali. Bahkan ada pendeta yang begitu lihai dalam mempermainkan identitasnya, sampai-sampai ia lupa identitasnya tersebut.

Dalam pandangan Alkitab, identitas memiliki makna yang dalam. Identitas tersebut akan menampakkan siapa diri kita sebenarnya. Identitas bahkan merupakan “emblematic” (symbol) spiritualitas tatkala Tuhan menyebut kita sebagai “umat pilihan-Nya”, dan “biji mata-Nya”. Menyimak akan kutipan ayat di atas, saya menyoroti dan mengkajinya dari perspektif identitas sebab menurut saya, perkataan-perkataan Daud dalam pasal 40 tersebut, kental dengan berbagai wujud identitas yang semestinya kita pahami secara mendalam sehingga ketika secara tepat memahami identitas tersebut, maka dalam menerapkan konasi spiritualitas kita, tanpa ragu, kita dapat memberikan pengaruh positif bagi orang lain di mana pun kita berada.

Kajian Mazmur 40

Jika kita membaca secara keseluruhan, maka kita akan mendapati banyak hal yakni: apa yang TUHAN lakukan dan apa yang Daud lakukan. Di sini, penekanan saya terletak pada dua identitas yaitu identitas TUHAN dan identitas Daud. Identitas TUHAN terdiri dari dua hal yaitu siapa [diri] TUHAN dan apa yang dikerjakan TUHAN. Sedangkan identitas Daud juga terdiri dari dua hal yaitu siapa [diri] Daud dan apa yang dikerjakan atau dilakukan Daud. Dua orientasi identitas ini, akan menjadi kajian saya dalam tulisan singkat ini. Perlu dicatat bahwa ayat 10 yang telah saya kutip di atas tidak berdiri sendiri, tetapi merupakan bagian dari kedua identitas (TUHAN dan Daud) yang akan saya kaji kemudian.

Pertama: Identitas TUHAN

Seperti yang telah saya singgung di atas, bahwa orang Kristen adalah pribadi yang memahami identitasnya. Dalam kaitannya dengan hal tersebut, seorang Kristen secara sadar harus memahami dan mengenai siapa TUHAN [identitasnya]. Dalam perjalanan hidup Daud, ia telah banyak bergumul dan berujuang melawan musuh-musuhnya yang mengejek dan menghinanya, bahkan menghina TUHANnya Daud. Tidak segan-segan pula, para musuhnya berikhtiar untuk membunuhnya dan menginginkan ia mati binasa selama-lamanya. Kisah hidpnya ia tungkan dalam bentuk tulisan yang kita sebut dengan “Mazmur”. Ia hidup mengalami pahit getirnya hidup. Ia terus mengandalkan TUHAN dan bersandar sepenuhnya kepada TUHAN. Dalam tulisan-tulisan Daud, ia memperkenalkan siapa TUHAN itu dan apa yang telah diperbuat-Nya. Berikut penjelasannya.

Siapa TUHAN

Mengenal dan memahami TUHAN, tidak dapat dicapai oleh pikiran dan pengetahuan manusia. Alasan klasiknya adalah “karena manusia terbatas”. Alasan tersebut ada benarnya, namun dalam keterbatasan manusia, kita juga perlu tahu bahwa itu juga adalah “hasil” ciptaan TUHAN. Dari sini kita berangkat dan memahami bahwa “TUHAN itu adalah Pencipta”. Sebagai Pencipta, Ia memiliki hak atau kedaulatan penuh atas ciptaan-Nya. Dengan begitu, Ia dengan kehendak-Nya sendiri dapat “memperkenalkan” diri-Nya kepada manusia yang terbatas itu. Kekristenan percaya bahwa manusia tidak bisa dapat mengenal TUHAN tanpa Ia memperkenalkan – atau sebutan normatifnya adalah: “mewahyukan diri-Nya” – kepada manusia. Alasan ini bersumber dari Alkitab – firman Allah.

Dalam pasal 40 kitab Mazmur, Daud memperkenalkan identitas TUHAN kepada kita. Saya menyebutkannya berikut ini:

(a) TUHAN itu lebih tinggi dari siapa pun dari segala ciptaan-Nya (ay. 6, tidak ada yang dapat disejajarkan dengan Engkau). Itu berarti, Ia tidak ada bandingan dan tandingan-Nya. Hal ini dapat dipahami sebagai konsekuensi logisnya.

(b) TUHAN itu mahatahu. Ia mengetahui apa pun di dunia ini (ay. 10, Engkau juga yang tahu, ya TUHAN) (bdk. Mzm 37:18; 38:10; 39:5; 44:22; 69:6; 94:11; 139:2; 142:4; 103:14).

(c) TUHAN itu Pengasih, Penolong, adil, penuh rahmat, setia, dan sumber keselamatan kebenaran (ay. 11, keadilan tidaklah kusembunyikan dalam hatika, kesetiaan-Mu dan keselamatan dari pada-Mu kubicarakan, kasih-Mu dan kebenaran-Mu tidak kudiamkan….). Ayat berbicara mengenai “apa yang diterima Daud dari pada TUHAN”, dan apa yang diterimanya itu, ia “lakukan” secara bertanggung jawab. Keadilan tidaklah disembunyikan Daud. Artinya, TUHAN itu telah berlaku adil kepadanya, dan ia juga harus berlaku adil kepada orang lain. Dengan demikian, semua yang telah diberikan TUHAN yakni yang telah disebutkan di atas, harus menjadi bagian integral dalam diri Daud yang patut dikerjakan (dilakukan) dalam sepanjang hidupnya.

Selain itu, “Keadilan adalah salah satu atribut Allah yang paling menonjol dalam Alkitab. Berkali-kali Allah diperlihatkan sebagai suara keadilan, khususnya dalam kitab para nabi (Yes. 28:6; 51:4-5; 61:8; Yer. 9:24; 21:12; Yeh. 34:16). Segala jalan Allah adalah adil: ‘Gunung Batu, yang pekerjaan-Nya sempurna, karena segala jalan-Nya adil, Allah yang setia, dengan tiada kecurangan, adil dan benar Dia’ (Ul. 32:4; lih. Juga Neh. 9:13, 33; Yes. 58:2; Yoh. 5:30; 2 Tes. 1:6). Orang benar dipanggil untuk mencerminkan keadilan Allah, sebab Tuhan mengasihi oran adil (Mzm. 37:28)” (Leland Ryken, James C. Wilhoit, dan Tremper Longman III, The Dictionary of Biblical Imagery. Kamus Gambaran Alkitab, terj. Elifas Gani, Grace Purnamasari, Irwan Tjulianto, dan Peter Suwadi Wong [Surabaya: Momentum, 2011], 12). Pernyataan yang bersifat biblis ini, selaras dengan pernyataan Daud “Aku mengabarkan keadilan.”

(d) TUHAN itu [maha] besar (ay. 17, … TUHAN itu besar). TUHAN itu besar berarti Ia tidak dapat dipahami, dijangkau, dan dimengerti oleh akal budi manusia (bdk. Mzm 40:6; 139:17). Tidak hanya pribadi-Nya saja, tetapi sifat-sifat-Nya (atau atribut-atribut-Nya), dan semua pekerjaan TUHAN itu besar. Jadi, pengakuan Daud bahwa TUHAN itu besar berarti mencakup totalitas diri, sifat, kuasa, dan karya TUHAN.

Beberapa bukti bahwa TUHAN itu besar yang mengacu pada pribadi-Nya, sifat-sifat-Nya, kuasa, dan karya-karya-Nya: Mzm 96:4  Sebab TUHAN maha besar dan terpuji sangat, Ia lebih dahsyat dari pada segala allah (lih. Mzm 99:2; 135:5; 35:27; 95:3; 96:4). Mzm 70:5 Biarlah bergirang dan bersukacita karena Engkau semua orang yang mencari Engkau; biarlah mereka yang mencintai keselamatan dari pada-Mu selalu berkata: “Allah itu besar!” (lih. Mzm 77:14; 86:10; 104:1). Mzm 5:8 Tetapi aku, berkat kasih setia-Mu yang besar, aku akan masuk ke dalam rumah-Mu, sujud menyembah ke arah bait-Mu yang kudus dengan takut akan Engkau (lih. Mzm 57:11; 69:14; 86:13). Mzm 18:51 Ia mengaruniakan keselamatan yang besar kepada raja yang diangkat-Nya…. Mzm 47:3 Sebab TUHAN, Yang Mahatinggi, adalah dahsyat, Raja yang besar atas seluruh bumi (lih. Mzm 48:3). Mzm 51:3 Kasihanilah aku, ya Allah, menurut kasih setia-Mu, hapuskanlah pelanggaranku menurut rahmat-Mu yang besar! (lih. Mzm. 69:17). Mzm 66:3 Katakanlah kepada Allah: “Betapa dahsyatnya segala pekerjaan-Mu; oleh sebab kekuatan-Mu yang besar musuh-Mu tunduk menjilat kepada-Mu. Mzm 71:19 Keadilan-Mu, ya Allah, sampai ke langit. Engkau yang telah melakukan hal-hal yang besar, ya Allah, siapakah seperti Engkau? Mzm 99:3 Biarlah mereka menyanyikan syukur bagi nama-Mu yang besar dan dahsyat; Kuduslah Ia! Mzm 108:5 sebab kasih-Mu besar mengatasi langit, dan setia-Mu sampai ke awan-awan. Mzm 111:2 Besar perbuatan-perbuatan TUHAN, layak diselidiki oleh semua orang yang menyukainya. Mzm 126:3 TUHAN telah melakukan perkara besar kepada kita, maka kita bersukacita. Mzm 136:4 Kepada Dia yang seorang diri melakukan keajaiban-keajaiban besar! Mzm 138:5 mereka akan menyanyi tentang jalan-jalan TUHAN, sebab besar kemuliaan TUHAN. Mzm 145:8 TUHAN itu pengasih dan penyayang, panjang sabar dan besar kasih setia-Nya.

Apa yang dikerjakan [karya] TUHAN

Dalam keseluruhan pasal 40, Daud memperkenalkan pekerjaan-pekerjaan TUHAN, termasuk pekerjaan TUHAN yang dapat ia rasakan semasa hidupnya: Ia menjenguk dan mendengar (ay. 2); mengangkat, menempatkan, dan menetapkan (ay. 3); memberikan (ay. 4); melepaskan dan menolong (ay. 14, 18); memperhatikan dan meluputkan (ay. 18). Semua pekerjaan TUHAN berbentuk kata kerja. Itu berarti bahwa TUHAN aktif dalam memelihara, menjaga, menopang, memperhatikan, menolong, mengawasi dan memberikan berkat-berkat-Nya kepada umat pilihan – umat yang berserah dan bersandar kepada-Nya. mungkinkah TUHAN pasif? Sangat tidak mungkin. Daud tahu siapa TUHAN.

Kedua: Identitas Daud

Daud adalah seorang raja yang besar dan hebat. Ia adalah raja pilihan TUHAN dan bukan manusia. Dengan demikian, ia harus bertanggung jawab penuh kepada TUHAN semasa pemerintahannya dan semasa hidupnya. Ia harus mewariskan segala sesuatu yang dia alami bersama dengan TUHAN kepada keturunannya dan kepada kita sekarang ini melalui sebuah kitab. Dalam pasal 40, identitas Daud sangat unik, padahal ia adalah seorang raja yang hebat dan diurapi TUHAN. Meskipun demikian, ia tetap tidak patah semangat dan mau meninggalkan TUHAN tetapi dalam identitasnya tersebut, ia terlibat begitu kuat dalam mempertahankan imannya kepada TUHAN.

Siapa Daud

Daud mengidentifikasikan dirinya sebagai berikut: ia terlihat sebagai seorang yang penuh pergumulan sehingga mengancam nyawanya (ay. 2-3); ia terlihat sebagai seorang yang memiliki kerinduan memuji Allah di tengah himpitan pergumulan, tekanan, dan masalah (ay. 4); ia terlihat sebagai seorang yang kuat kepercayaannya kepada TUHAN, dan konsisten dengan apa yang ia yakini. Ia tidak mudah terpengaruh meskipun dalam kondisi yang sangat terdesak sekalipun (ay. 5); ia terlihat sebagai seorang melakukan pekerjaan, tahu melihat pekerjaan dan bahkan merasakan kuasa TUHAN (ay. 6-11); ia memperkenalkan dirinya sebagai seorang yang sengsara dan miskin (NKJV, AV, ESV, dan RSV menerjemahkan ‘poor’ [malang, sial, miskin] dan ‘needy’ [miskin]).

Apa yang dikerjakan Daud (terkait dengan hubungannya dengan TUHAN dan identitas TUHAN)

Daud menyebutkan hal-hal yang ia lakukan (dalam pasal 40), di mana identitasnya sebagai hamba TUHAN memberinya kesadaran penuh untuk dapat melakukannya meskipun dalam tekanan berat sekalipun dan nyawanya menjadi taruhnnya. Di samping itu, ia juga menyandarkan diri kepada TUHAN dalam menjalani dan menggumuli segala persoalan yang ia hadapi. Dalam pasal 40, ia memperlihatkan dirinya, memperlihatkan tanggung jawabnya, dan mempelihatkan TUHAN yang bertindak.

Berikut segala tindakan Daud: ia sabar menantikan pertolongan TUHAN (ay. 2); ia memuji Allah (ay. 4); ia percaya kepada TUHAN dan konsisten (ay. 5); ia melakukan kehendak dan Taurat TUHAN (ay. 9); ia memberitakan [melakukan] keadilan (ay. 10); ia membicarakan keadilan, kesetiaan, keselamatan, kasih, dan kebenaran TUHAN kepada orang banyak (ay. 11); ia setia kepada TUHAN dalam kondisi apa pun (ay. 13-18).

IDENTITAS KRISTEN

Di atas telah saya sebutkan identitas Daud di mana dalam pergumulan dan perjuangannya menjalani hidup yang penuh tantangan, hambatan, ancaman, dan sebagainya, ia tetap menunjukkan identitasnya di hadapan TUHAN dan sekaligus ia dengan penuh semangat dan kerendahhatian memperkenalkan identitas TUHAN. Tidak biasanya– ketika kita diperhadapkan dengan kondisi dan situasi yang sangat mencekam, nyawa kita terancam, harga diri kita tercoreng, integritas dan iman kita dipertaruhkan – lalu kita menunjukkan identitas kita sekaligus menunjukkan identitas TUHAN.

Dalam kondisi yang demikian, kita justru makin jauh dari identitas kita yang sebenarnya. Bahkan TUHAN pun tidak lagi menjadi prioritas kita dalam menyelesaikan persoalan-persoalan yang rumit dan sulit untuk diselesaikan. Namun, sebesar apa pun ujian bagi hidup kita, jangan melupakan TUHAN. Sehebat apa pun musuh kita, jangan lupa bahwa TUHAN lebih hebat – Ia tak tersaingi, tak terkalahkan, dan terbandingkan. Identitas Kristen akan menjadi semakin kuat dan bernilai ketika itu dibawa ke ranah relasi dan konatif. Seperti kata Rasul Yakobus: “Demikian juga halnya dengan iman: Jika iman itu tidak disertai perbuatan, maka iman itu pada hakekatnya adalah mati” (2:17); “Sebab seperti tubuh tanpa roh adalah mati, demikian jugalah iman tanpa perbuatan-perbuatan adalah mati” (2:26).

Identitas terbaca ketika manusia berelasi dan berperilaku (konatif). Identitas memberi pengaruh ketika manusia berelasi dan berperilaku. Daud menunjukkan identitasnya dalam bentuk relasi dan konatif. Ia berelasi dengan TUHAN karena ia tahu identitasnya dan identitas TUHANnya. Bahkan identitas musuhnya ia juga tahu. Tetapi ia lebih mengutamakan identitas TUHAN disbanding yang lain karena ia tahu hanya TUHANlah yang sanggup menyelamatkannya, meluputkannya, membebaskannya dari jerat maut dan malapetaka bahkan ancaman musuh-musuhnya.

Relasi kita dengan TUHAN menjadikan identitas kita semakin kuat dan kita diberkati. Relasi kita dengan sesama manusia menjadikan identitas kita bernilai dan membangun orang lain – memberikan pengaruh positif dalam setiap komunitas di mana pun kita berada. Konatif kita di hadapan TUHAN menunjukkan ketataan dan kesetiaan kita kepada kehendak dan perintah TUHAN yang termaktub dalam Alkitab. Perilaku kita di hadapan TUHAN membentuk karakter kita menjadi semakin baik, semakin rohani, dan semakin memperkokoh iman. Perilaku kita di hadapan manusia membentuk relasi sosio-spiritual dalam menjalin hubungan keakraban, menunjukkan cinta kasih yang murni, kebenaran dan keadilan TUHAN diperbincangkan dan diberitakan sehingga orang lain dapat mengenal dan percaya kepada TUHAN.

“MENGABARKAN KEADILAN”: IDENTITAS ETIS-YURIDIS

Secara khusus, ayat 10 yang berbunyi: “Aku mengabarkan keadilan” menjadi arti yang kuat bagi identitas Kristen. Mengabarkan keadilan membutuhkan objek, dan Daud menulis, “dalam Jemaah yang besar”. Alasannya sederhana, bahwa karena Allah itu adil, dan Dia telah menyatakan keadilan-Nya, maka ‘saya’ harus berlaku adil. Daud pun menegaskan bahwa “tidak kutahan bibirku”. Berarti kerinduan yang tinggi akan keadilan yang harus dikabarkan, diberitakan, dilakukan, menjadi sifat konatif mutlak dari seorang hamba TUHAN, kapan pun dan di mana pun.

Paul Enns menegaskan, “Keadilan Allah berarti bahwa Allah secara keseluruhan benar dan adil dalam semua urusan-Nya dengan umat manusia; lebih dari itu, tindakan keadilan ini sesuai dengan hukum-Nya. Hukum Allah merefleksikan standar Allah, maka Allah adalah benar dan adil pada waktu Ia menghakimi manusia pada waktu mereka melanggar hukum Allah yang diwahyukan” (Paul Enns, The Moody Handbook if Theology, alih bahasa Rahmiati Tanudjaja [Malang: Departemen Literatur SAAT, 2003], 240). Daud telah belajar banyak dari TUHAN soal keadilan. Jika ia mau menyatakan keadilan yang adil, maka ia harus mencari sumber keadilan yang paling adil yakni TUHAN.

Seperti yang diungkapkan Cornelius van Til, “Allah mendistribusikan keadilan di antara manusia dan pada akhirnya akan mendistribusikan keadilan seutuhnya di antara mereka. Dia menghukum ketidakadilan dan memberikan imbalan kepada keadilan. Jika menginginkan adanya keadilan di dalam dunia orang-orang berdosa, keadilan itu dengan demikian harus diberikan kepada mereka. Ini pastilah merupakan karunia dari anugerah Allah (Cornelius van Til, Pengantar Theologi Sistematik: Prolegomena, dan Doktrin Wahyu, Alkitab, dan Allah, ed. Edisi bahasa Inggris Willam Edgar, terj. Irwan Tjulianto [Surabaya: Momentum, 2010], 444).

Keadilan versi dunia telah terkontaminasi dengan dosa dan kerusakan manusia, meskipun tetap ada usaha untuk adil. Namun masih ada “keadilan” yang sifatnya bisa mengambang dan bahkan menciptakan ketidakadilan itu sendiri. Sedangkan keadilan versi TUHAN, adalah keadilan di atas semua keadilan, supremasinya mengungguli semua keadilan yang manusia buat dan usahakan. Tentu Daud mengabarkan keadilan bukanlah keadilan dari dirinya sendiri tetapi keadilan “hasil” dari persekutuannya dengan TUHAN.

Catatan: artikel ini pernah diterbitkan di salah satu jurnal sekolah tinggi teologi.

Salam Bae

PELAYANAN YANG BERKENAN KEPADA TUHAN

Refleksi Singkat

Sumber gambar: https://id.pinterest.com/pin/820710732079079615/

PERTAMA:

BERDASARKAN PANGGILAN (tuhan memanggil kita untuk melayani-Nya)

Abraham “dipanggil” Tuhan untuk bekerja bagi Dia.

Panggilan tersebut mengarahkan Abraham untuk taat, setia, dan tunduk kepada Tuhan. Jika bukan karena panggilan Tuhan, mungkin Abraham tidak akan patuh dan taat pada perintah Tuhan.

KEDUA:

MEMILIKI KERINDUAN BERBAGI “berkat”: potensi, pengetahuan, sikap hidup

Pelayanan tak mungkin tanpa potensi, pengetahuan dan sikap hidup, sebab ketiganya merupakan fakta yang paling mendasar dari mereka yang turun ke ladang pelayanan.

Potensi digunakan untuk bekerja, mengembangkan pelayanan.

Pengetahuan digunakan untuk mengajarkan hal-hal yang benar, kasih Tuhan, pengampunan dan keselamatan dari Tuhan.

Sikap hidup adalah finalisasi dari potensi dan pengetahuan. Sikap hidup seorang pelayan haruslah berpadanan dengan Alkitab.

KETIGA:

MENGANDALKAN TUHAN dalam segala hal (mengutamakan Dia untuk melakukan segala sesuatu dalam pelayanan.

Tidak ada jaminan bahwa pelayanan kita akan mulus dan tanpa tantangan. Oleh karena itu, kita harus bersandar dan mengandalkan Tuhan dalam segala hal. Di sini, kita bergantung sepenuhnya kepada Tuhan. Dialah yang memberikan kuasa dan kemampuan kepada kita untuk melayani, menghadapi segala tantangan dan hambatan yang datang.

Karena kita melayani ‘Tuhan’ di hadapan manusia, maka kita harus mengandalkan Dia. Dialah yang memberikan kekuatan, waktu, kesempatan, perlindungan, pemeliharaan, dan penghiburan dalam segala situasi saat kita melayani-Nya

KEEMPAT:

MEMAHAMI FIRMAN-NYA dengan baik dan bertanggung jawab (pengajaran [doktrin], pemahaman tentang karya Allah, keselamatan, dan penebusan).

Tak ada pelayanan tanpa pemberitaan firman Tuhan. •Firman Tuhan adalah dasar iman dan perbuatan kita. Pemahaman yang baik terhadap firman-Nya memberi kita tanggung jawab yang besar untuk terus mengabarkannya

KELIMA:

TETAP SETIA

Kesetiaan itu mahal harganya.

Melayani tanpa kesetiaan [kepada Tuhan] bukanlah pelayanan yang sesungguhnya, bahkan mengabaikan “panggilan” dari Tuhan.

Kesetiaan berarti tetap konsisten pada janji dan pengakuan iman bahwa kita terpanggil untuk melayani manusia di hadapan Tuhan dan melayani Tuhan di hadapan manusia.

Salam Bae…

BENDERA ARASTAMAR TERTANCAP DI TANAH BALI

Sebuah Catatan Singkat tentang Sosok Purnama Pasande, Pelayan Muda yang Berhasil

“Ketika Tuhan memakai orang-orang kecil yang dipandang sebelah mata, suatu saat pasti Tuhan akan memberkati dan mempublikasikan prestasi dan karya orang-orang kecil sehingga Tuhan akan membuka mata yang satu dan orang akan melihat dengan dua mata” – Stenly R. Paparang, “Memahami Potensi Diri”, 2017.

Hampir sekitar 4000 perguruan tinggi di seluruh Indonesia, diundang untuk menghadiri acara PERTEMUAN PIMPINAN PERGURUAN TINGGI SE-INDONESIA dengan tema “AKSI KEBANGSAAN PERGURUAN TINGGI MELAWAN RADIKALISME, di mana dalam kegiatan tersebut dihadiri Bapak Presiden Republik Indonesia, Ir. Joko Widodo. Pertemuan itu membahas isu dan agenda kebangsaan dalam menghadapi arus radikalisme dan terorisme “berwajah agama” yang “membonceng agama” dalam ideologi separatisnya. Pertemuan diadakan di Nusa Dua Bali tanggal 25-26 September 2017.

Ada yang menarik dari pertemuan tersebut di samping isu-isu terorisme berwajah agama dan isu kebangsaan dalam wadah musyawarah dan kebersamaan. Hal menarik itu adalah diundangnya Purnama Pasande, M.Th. selaku Ketua Sekolah Tinggi Teologi STAR’S Lub Luwuk Banggai yang mewakili deretan Sekolah-sekolah Arastamar dalam wadah PRESTASI (Perhimpunan Sekolah-Sekolah Tinggi Arastamar Setia Indonesia). Arastamar yang dulu pernah diuji coba untuk dibumihanguskan oleh mereka yang berlatar “infeksi moralitas” kini membuahkan hasil dan menorehkan sejarah bahwa Arastamar layak diacungi jempol.

Di tengah maraknya hasutan, hinaan, cacian, dan upaya merusak nama baik pendiri Arastamar, yaitu Pdt. Dr. Matheus Mangentang, M.Th., Ketua STT STAR’S Lub, Purnama Pasande sebagai anak didik dan asuhan Pendeta Matheus Mangentang justru memunculkan sebuah cahaya gemilang di level nasional – dan bahkan level internasional. Dengan diundangnya Purnama Pasende selaku ketua STT STAR’S Lub, menambah daftar panjang prestasi yang ditoreh oleh anak didik dan asuhan Pendeta Matheus Mangentang. Hampir semua pimpinan perguruan tinggi dalam wadah PRESTASI dipimpin oleh anak-anak muda. Purnama Pasande adalah salah satunya, dan menjadi pemimpin termuda di level nasional dalam wadah PRESTASI. Saya menyebut rekan-rekan saya yang memimpin perguruan tinggi yang adalah buah dari pelayanan Pendeta Matheus Mangentang: Sensius Amon Karlau, Jeffrit K. Ismail, Jansakti Saddu Saly, Jimmy Novianto, Narsing L. Marriba, Aris D. Rimbe, Marinus Gulo, Terah Y. Manu, Yos Adoni Sesatonis, Nataeli Gea, Yusuf L. Marriba, Yahya Mailani, dan lain-lain.

Apa yang dapat dilihat dari perwakilan Arastamar oleh STT STAR’S Lub di tanah Bali? Selain mengikuti kegiatan sebagai agenda resmi, bendera sebagai lambang identitas STT STAR’S Lub ditancapkan di tanah Bali di antara ribuan bendera perguruan tinggi seluruh Indonesia. Di bendera tersebut tergambar “salib”. Maknanya adalah “kasih Yesus memungkinkan kita melakukan hal-hal yang pernah kita pikirkan.” STT STAR’S Lub sebagai bagian dari Arastamar telah membuktikan bahwa meski sering dipandang sebelah mata, toh akhirnya buah pekerjaan yang membuktikannya.

Lagipula, sosok Purnama Pasande dapat disebut sebagai pelayan dan pemimpin muda yang berhasil. Ia mewujudkan berbagai kegiatan di Kampus STT STAR’S Lub sebagai bukti bahwa sekolah tersebut memiliki keragaman kegiatan yang mengundang rasa kagum dari masyarakat Luwuk, meski di satu sisi, nama beliau menjadi pergunjingkan di Kota Luwuk dalam konteks pendidikan tinggi. Beliau yang masih tergolong muda, tidak membuat dirinya dihambat oleh tumbuhan-tumbuhan yang tumbuh untuk menghambatnya, malahan justru tumbuhan-tumbuhan penghambat itu, lambat laun mulai layu.

Kehadiran Purnama Pasande di tanah Bali sebagai perwakilan dari wadah PRESTASI membuat rekan-rekannya turut berbangga hati. Merasakan bahwa Arastamar semakin merambatkan akarnya, memunculkan semangat baru bagi rekan-rekan untuk terus berprestasi meski hambatan datang silih berganti. Pendeta Matheus Mangentang tentu bangga melihat anak-anak didiknya berhasil di usia muda. Sebagai orang tua, beliau sangat dihormati oleh anak-anak didiknya yang berhasil memimpin sekolah tinggi. Yang lain sibuk menjatuhkan beliau, anak-anaknya justru terus mengangkat beliau dengan buah karya yang tidak main-main.

Arastamar yang terus berbuah di mana-mana membuktikan bahwa visi yang beliau sosialisasikan dan tanamkan di hati para alumni SETIA telah berbuahkan hasil. Purnama Pasende sebagai anak muda juga telah membuktikannya. Tak mudah menjadi pemimpin. Tetapi ketika pola kepemimpinan dinikmati dengan penuh rasa percaya diri, kredibel, dan integritas, kepemimpinan dilakukan ibarah berselancar di atas ombak hambatan duniawi. Ada makna di balik keberhasilan kepemimpinan Purnama Pasande. Beliau yang selalu sibuk dengan kegiatan kampus untuk menggali potensi para mahasiswa, kini ia pun dihargai oleh lembaga-lembaga lain dalam bentuk diundang sebagai pembicara di berbagai acara di kota Luwuk. Ia pun terus menggali potensi kepemimpinannya dengan belajar dan belajar.

Sebagai sahabat dan rekan kerja, saya pun turut berbangga hati atas keberhasilan yang diraihnya. STT STA’RS Lub yang dipimpinnya telah diakreditasi oleh Badan Akreditasi Nasional Perguruan Tinggi (BAN-PT) baik Program Studinya maupun Institusinya. Ini justru sangat membanggakan. Ada lain yang lebih membanggakan. Purnama Pasande telah meluluskan mahasiswa hingga angkatan yang ke-6 yang diselenggarakan dalam acara Wisuda ke-6 dan Dies Natalis STT STAR’S Lub ke-10 tanggal 27 September 2017 dengan tema: “Bersyukurlah kepada TUHAN, sebab Ia baik! Bahwasanya untuk selama-lamanya kasih setia-Nya (Mazmur 136:1), di mana saya dipercayakan menyampaikan orasi ilmiah untuk menggantikan Pendeta Matheus Mangentang.

Masih ada lagi prestasi yang dicapai dan ditorehkan Purnama Pasande. Namun yang saya catat di sini hanyalah beberapa di antaranya. Jika ingin menyusun daftar prestasi, bisa langsung berkomunikasi dengannya atau langsung berkunjung ke Kampus STT STAR’S Lub di Kota Luwuk. Sembari memberikan dukungan bagi peningkatan kualitas dan pengembangan ke depannya. Percayalah, “ketika Tuhan memakai orang-orang kecil yang dipandang sebelah mata, suatu saat pasti Tuhan akan memberkati dan mempublikasikan prestasi dan karya orang-orang kecil sehingga Tuhan akan membuka mata yang satu dan orang akan melihat dengan dua mata.” Itulah yang dialami Purnama Pasande. Dulu beliau dipandang sebelah mata, kini ia dipandang dengan dua mata.

Sebagai penutup dari catatan singkat saya, tak lupa pula saya menyampaikan terima kasih kepada Purnama Pasande di mana beliau telah memberikan testimoni pada kamus saya. Saya mengutipnya: “Kamus Multi Terminologi: Sebuah Kamus dengan Multi Bahasa ini merupakan karya yang mengagumkan oleh karena menjawab kebutuhan para dosen/guru dan siswa/mahasiswa dalam mengajar dan belajar.” (Purnama Pasande, M.Th., Ketua [termuda] STT STAR’S LUB Luwuk Banggai Sulawesi Tengah). Testimoni tersebut ditulis tahun 2013. Itu berarti, beliau berumur kurang lebih 28 tahun. Waktu memimpin STT STAR’S Lub tahun 2007, Purnama Pasande berumur 22 tahun (kelahiran 1985). Beliau masih sangat muda, tetapi memiliki potensi untuk memimpin meski harus dimulai dari awal. Ia telah membuktikan bahwa apa yang telah Tuhan percayakan kepadanya, telah ia kerjakan dan akan terus dikerjakan bagi kemuliaan Tuhan.

Intinya, bendera STT STAR’S Lub yang berkibar di tanah Bali, mengungkapkan makna bahwa orang yang dipakai Tuhan pasti diberkati. Diberkati tidak melulu materi, tetapi sering bertentuk karya, kepercayaan, jabatan, harkat dan martabat yang dimuliakan, dan lain sebagainya. Sebagai Pelayan dan Pemimpin Muda yang berhasil, ada banyak agenda yang telah ia siapkan untuk kemajuan dan peningkatan mutu (kualitas) STT STAR’S Lub. Kami dan rekan-rekan siap menanti gebrakan baru dari sosok Purnama Pasande, “Yang Muda Yang Berani Menembus Batas.”

Sukses selalu dalam karya dan kepemimpinan. Tuhan Yesus Memberkati kita semua, pelayan yang setia hingga akhir. Jayalah Arastamar di bumi Nusantara tercinta.

Salam Bae…

ARASTAMAR BERGEMA DI TANAH GRIMENAWA – PAPUA

Sebuah Catatan Singkat tentang Sosok Jeffrit K. Ismail: Pemimpin yang Bepikir Cepat, Bergerak Cepat

“Tulisan ini diterbitkan beberapa tahun lalu di Facebook saya. Jika ada perubahan konteks dalam di masa sekarang, bukan berarti apa yang dituangkan dalam tulisan singkat ini adalah salah, melainkan hanya karena adanya perubahan situasi dan kondisi”

“Ketika Tuhan memakai orang-orang kecil yang dipandang sebelah mata, suatu saat pasti Tuhan akan memberkati dan mempublikasikan prestasi dan karya orang-orang kecil sehingga Tuhan akan membuka mata yang satu dan orang akan melihat dengan dua mata” – Stenly R. Paparang, “Memahami Potensi Diri”, 2017.

Ketika misi tertancap kuat di hati, maka segera pekerjaan nyata ada hasilnya. Inilah yang dikerjakan oleh Jeffrit K. Ismail, pemimpin muda berdarah Rote. Dengan berbekal pengalaman melayani di berbagai pedalaman Papua bersama rekannya, Sensius Karlau, Jeffrit menunjukkan bahwa pengalaman di berbagai pedalaman tersebut, tidaklah sia-sia. Ia kemudian “banting stir” (tepa di bok) dan masuk ke dunia pelayanan pendidikan.

Ia masih tergolong muda, sama halnya dengan “Anak-Anak Arastamar” lainnya seperti Gihon, Purnama, Jansakti, Sensius, Yopi, Yosia, Adi, James, Heri, Yahya, dan lainnya (yang tidak dapat saya sebutkan satu persatu), tetapi semangat melayani begitu tinggi—tak sebanding dengan mereka yang hanya memburukkan nama “Arastamar” dan berharap Arastamar lenyap. Mereka—yang adalah pengganggu dan perusak pelayanan Arastamar tentu tidaklah menyurutkan motivasi pelayanan dari Anak-Anak Arastamar, dan Jeffrit salah satunya.

Ia melayani di bidang pendidikan di tanah Papua bersama Sensius dengan tujuan membangun masyarakat Papua dan mengharapkan bahwa akan berkembangnnya perekonomian dan tingkat pemikiran yang mapan, mumpuni, konstruktif, dan aplikatif. Dengan segudang pelayanan bersama rekannya, Jeffrit menunjukkan bahwa dirinya mampu untuk bersaing di dunia pendidikan.

Tak kalah penting dari itu, Jeffrit dikenal dengan berbagai gagasan yang mendasar di bidang pendidikan. Pelayanan ini telah dibuktikan dengan dibentuknya SMTK Firdaus Jayapura di Grimenawa dan Sekolah Tinggi Agama Kristen Arastamar Grimenewa. Kepiawaian dalam bekerja mencuatkan sejumlah opini bahwa memang sahabat saya yang satu ini layak disebut sebagai seorang “Pemimpin yang Bepikir Cepat, Bergerak Cepat”. Nyatanya, hasil goresan tangannya dan didukung oleh rekan-rekannya yang memiliki spirit dan kerja keras, menghasilkan akreditasi bagi STAK Arastamar Grimenewa. Bukankah ini adalah perjuangan yang luar biasa?

Bercermin dari hal ini, saya semakin menyadari bahwa “Anak-Anak Arastamar” didikan dan arahan Bapak Pendeta Matheus Mangentang, semakin di depan mengalahkan motor Yamaha. Anak-Anak Arastamar adalah anak-anak desa yang sederhana tetapi memiliki pemikiran yang perlu diperhitungkan. Mereka yang hanya iri kepada Anak-Anak Arastamar hanyalah menyisahkan duka yang mendalam karena tak tahu harus berbuat apa. Mereka yang tidak giat bagi pekerjaan Tuhan hanyalah sibuk mengganggu dan merusak pekerjaan Tuhan. Anak-Anak Arastamar akan selalu membuktikan komitmen pelayanan (melayani Tuhan) dan bahkan menyingkirkan orang-orang yang mengganggu pekerjaan Tuhan.

Jeffrit siap menggulingkan “batu raksana pendidikan” yang akan melindas mereka yang hanya pintar bicara tapi otak “tra ada isi”. Ia telah membuktikan bahwa pelayanan yang dirintis di tanah Papua bersama rekan-rekannya telah membuahkan hasil. Yang pasti, dari fakta ini, menambah deretan prestasi “Anak-Anak Arastamar” yang patut dibanggakan.

Saya sendiri menaruh respek terhadap beliau. Bagi saya, apa yang telah dihasilkan dari pelayan kita seyogianya “memuliakan Tuhan”—dan itu telah terbukti. Jeffrit, dengan kepiawaiannya dalam mengolah “masakan dan bumbu-bumbu pendidikan” membangkitkan semangat juang bagi rekan-rekan saya yang akan melakukan hal yang sama pada institusi yang mereka pimpin.

Saya berharap, kita semua dapat bergandeng tangan untuk memajukan misi di tanah Papua sebagai bukti bahwa kita mengasihi mereka sebagaimana Yesus mengasihi mereka. Saya sendiri kagum dengan Jeffrit atas prestasi yang telah dicapainya. Dan dari fakta ini, tentunya berbagai pemikiran dan gagasan ideal bagi dunia pendidikan akan terus digulirkan dan dikembangkan bagi kemajuan Arastamar yang kita cintai. “Jikalau bukan kita yang memberitakan Injil, lalu siapa lagi? Jikalau bukan kita yang melayani Tuhan di bidang pendidikan, siapa lagi? Jikalau Tuhan sudah memberikan talenta dan potensi diri yang luar biasa kepada kita, masihkah kita melalaikannya?

Bekerjalah selagi ada waktu. Jangan bersantai-santai. Anak-Anak Arastamar adalah bukti dari kepedulian terhadap saudara-saudara yang membutuhkan uluran tangan kita—dan Grimenawa telah menerima sentuhan tangan Tuhan melalui hambaNya, Jeffrit Ismail, yang telah membangun sekolah-sekolah sebagai bagian dari kepeduliannya. Marilah bekerja, selagi masih siang.

Semoga catatan singkat ini dapat menjadi pendorong semangat bagi kita semua untuk semakin mengasihi Tuhan dan mengasihi sesama yang diwujudkan melalui dunia pendidikan.

Salam Arastamar

Rancang situs seperti ini dengan WordPress.com
Mulai