Supremasi Alkitab terletak pada tiga aspek: Pertama, pengaruhnya yang mengubah manusia (dari jahat menjadi baik) untuk percaya kepada Yesus Kristus, Juruselamat Dunia. Kedua, beritanya, yaitu mengembalikan manusia kepada Sang Khalik, hidup kudus, benar, adil, penuh kasih, dan suka mengampuni. Ketiga, penyebarannya yang sangat masiv dilakukan oleh murid, orang-orang percaya, penginjil, teolog, pelayan Gereja, guru, dan lain sebagainya. Sejarah telah membuktikan hal itu.
Supremasi tersebut tetap konsisten dan bertahan hingga sekarang ini. Miliaran umat Kristen menerapkan konteks suprematif Alkitab pada dunia mereka masing-masing, mempengaruhi budaya, menata kehidupan yang kudus dan benar, dan masih banyak lagi. Kita sendiri mungkin menyadari bahwa tanpa Alkitab, hidup kita menjadi liar, tak terkendali, atau bahkan hilang dari jalan Tuhan.
Jika Alkitab sedemikian rupa mengubah kita, sudah selaknyalah kita hidup dalam perenungan akan firman-Nya, hidup di dalam-Nya dan mengikuti anjuran serta prinsip iman yang ditetapkan oleh Alkitab. Tuhan mengajarkan bahwa setiap orang yang percaya harus hidup di dalam firman-Nya, bertumbuh, berakar, dan berbuah lebat, dalam seluruh aspek kehidupan yang dijalani.
W. Gary Crampton menyatakan, “hanya Alkitab yang menyatakan jalan keselamatan (1 Kor. 15:3, 4; Kis. 11:13, 14). Alkitab memberi seseorang pengetahuan tentang Kristus (Yoh. 14:6; Kis. 4:12). Alkitab juga merupakan firman Allah yang membawa individu untuk menyetujui kebenaran dari berita Alkitab (Yoh. 4:41; Kis. 17:11, 12). Alkitab adalah apa yang meyakinkan manusia tentang dosa mereka dan memimpin mereka kepada Kristus, menyebabkan mereka beriman kepada Kristus (Ibr. 4:12; Gal. 3:22-24). Melalui Alkitab seseorang lahir kembali (1 Ptr. 1:23; Yak. 1:18).”
Prinsip-prinsip Alkitab selalu menekankan cara hidup yang berkenan kepada Allah. Bagi Crampton, Alkitab merupakan sarana utama pengudusan dalam kehidupan orang Kristen. Roh Kudus bekerja di dalam dan melalui Alkitab yang dihembuskan Allah untuk menguduskan anak-anak Allah (2 Tes. 2:13). Tanpa suatu pemahaman mengenai firman Allah tidak mungkin seorang Kristen mengetahui bagaimana ia harus dengan suatu sikap yang menyenangkan Tuhan. Crampton juga menegaskan bahwa Alkitab memberi aturan iman dan hidup bagi kita. Alkitab merupakan sumber dari semua pengetahuan (Mzr. 19:7; Ams. 2:6). Alkitab mengajar orang kudus bagaimana berjalan dalam jalur kebenaran (Mzr. 23:3). Alkitab menjadi sumber kekuatannya (Mat. 4:4; Kis. 20:32).
Michael Keene menegaskan: Alkitab merupakan batu pijakan dari dua agama, Yudaisme dan Kristianitas, dan merupakan satu karya sastra klasik agung dunia…. Pengaruh Alkitab terhadap dunia tak dapat terhitung banyaknya. Alkitab berisi puisi-puisi sangat indah, kisah-kisah sengsara, dan karakter yang mengesankan. Pengaruhnya atas seni dan sastra Barat meluas melampaui bidang agama. Alkitab merupakan buku yang paling luas diterjemahkan, dicetak, didistribusikan, dan paling laku sepanjang segala masa. Alkitab telah bertahan ribuan tahun. Dan providensia Tuhan atasnya telah menjadia bagian terhadap bertahannya Alkitab. Alkitab adalah pesan Tuhan bagi seluruh umat manusia dan oleh karena itu, Alkitab telah diterjemahkan ke dalam berbagai bahasa agar makna dan pesan-pesan moral serta keselamatan dapat dipahami oleh semua orang di seluruh dunia. Menurut Keene, Alkitab adalah sekumpulan buku yang ditulis pada zaman berbeda dan oleh banyak pengarang yang berbeda. Tidak satu pun dari manuskrip asli masih bertahan. Para ahli telah mencoba menemukan teks Alkitab yang paling awal dan paling dapat dipercaya.
Berkenaan dengan konteks tersebut, Keene menjelaskan signifikansi dari terjemahan Alkitab:
Terjemahan kitab suci Yahudi paling awal adalah Septuaginta (juga dikenal dengan LXX), yakni terjemahan dari bahasa Ibrani ke Yunani untuk memenuhi kebutuhan orang-orang Yahudi yang tersebar di seluruh dunia yang berbicara bahasa Yunani dan sudah tidak dapat berbicara bahasa Ibrani. Terjemahan ini menjadi dasar bagi banyak penerjemahan sesudahnya, terutama versi Vulgata dari bahasa Latin oleh St. Hieronimus tahun 382 SM yang begitu berpengaruh. Penerjemahan kitab suci Yunani yang menggunakan teks Ibrani secara umum diambil dari versi Masoretes. Masoretes adalah sekelompok ahli Yahudi yang bekerja antara tahun 500 – 1000 M, yang menambah huruf-huruf vokal pada teks Ibrani yang, sampai saat ini, terdiri dari huruf konsonan. Untuk mempertahankan kemurnian teks kuno para ahli Masorete menambah tanda baca di atas dan di bawah baris-baris tulisan sehingga tidak mengganggu teks. Karya Masorete dapat diuji dengan membandingkannya pada beberapa gulungan-gulungan Kitab dari Laut Mati – manuskrip-manuskrip yang kira-kira 1000 tahun lebih tua daripada versi kitab suci Ibrani apa pun. Perbandingan itu hanya berfungsi untuk mempertinggi penghormatan kita bagi kepercayaan akan teks lain, yang jauh lebih tua, yakni teks Ibrani yang kita miliki.
Berkenaan dengan teks PB, Keene mengemukakan:
Ada beribu-ribu manuskrip Perjanjian Baru. Sebenarnya manuskrip yang sungguh-sungguh paling tua sampai sekarang berasal dari abad ke-4 dan 5 M. Ada juga penggalan-penggalan papirus yang berasal dari abad ke-2 dan ke-3 M. Manuskrip-manuskrip lain terdapat pada perkamen dan semuanya itu dijilid dalam bentuk buku (naskah kuno/codex). Manuskrip-manuskrip itu melengkapi teks terus-menerus, baik dalam bentuk huruf kapital (upper-case-letters) maupun huruf kecil (lower-case-letters). Dalam naskah-naskah kuno ini tidak ada ruang antarkatam tanpa tanda-tanda baca, dan tanpa pemisahan ke dalam bab dan ayat. Huruf kapital yang paling penting adalah Codex Sinaiticus dan Codex Vaticanus dari abad ke-4. Codex Bezae berisi teks keempat Injil dan Kisah Para Rasul berbahasa Yunani maupun Latin. Penggalan-penggalan paling awal dari manuskrip papirus adalah kutipan singkat dalam Yohanes 18 yang ditemukan di Mesir dan diterbitkan tahun 1935; penggalan ini kira-kira berasal dari tahun 135 M.
Mengenai penerjemahan Alkitab, Keene menguraikan:
Setiap terjemahan Alkitab merupakan suatu interpretasi. Tidak ada naskah tunggal asli yang oleh para penerjemah diterjemahkan secara sama. Bahkan teks-teks yang paling awal pun sering memberikan beberapa kemungkinan terjemahan kata-kata, frase atau bagian tunggal. Para ahli terus-menerus membuka kemungkinan baru. Para penerjemah selalu perlu membuat penilaian yang didasarkan pada kejelasan yang ada. Inilah salah satu alasan mengapa begitu banyak terjemahan yang berbeda telah dibuat.
Terjemahan-terjemahan Awal
Lama sebelum kanon-kanon Perjanjian Lama dan Baru disetujui, terjemahan telah dibuat ke dalam bahasa-bahasa lain. Yang paling penting adalah Septuaginta (dari Ibrani ke Yunani), Peshitta (dari Ibrani ke Syria), dan Vulgata (dari Ibrani ke Latin). Targum adalah terjemahan dari Ibrani ke Aram.
Terjemahan ke dalam Bahasa Inggris
Terjemahan Alkitab ke dalam bahasa Inggris memberi perhatian besar pada karya William Tyndale (1494–1536). Persaingan antara Alkitab Para Uskup dan Alkitab Geneva telah membawa Raja James I ke komisi Versi Alkitab yang Berwibawa, yang muncul tahun 1611. Versi yang direvisi, tahun 1881, mencoba memperbaiki Versi yang Berwibawa, dan Versi Standar yang Direvisi, pada tahun 1952, yang menyingkirkan beberapa arkhaisme. Jerusalem Bible, yang digunakan Gereja Katolik Roma, diterbitkan tahun 1966, sementara Alkitab Inggris Baru, pertama kali diterbitkan 1961, kemudian direvisi sebagai Alkitab Inggris yang Direvisi tahun 1989. Good News Bible (1976) dan New International Version (1978) keduanya terbukti menjadi begitu populer di antara para pembaca Evangelis.
Hingga sekarang ini, Alkitab memiliki banyak terjemahan. Pesan dan maknanya tidak berubah. Perbedaan terjemahan adalah lazim dalam dunia tulis-menulis. Namun, fokusnya bukan pada perbedaan satu atau dua kata, melainkan pada skema besar yang mengandung pesan dan makna dari kasih, kuasa, dan kemurahan Allah di dalam Kristus Yesus bagi manusia berdosa. Sejarah telah memperlihatkan kepada kita bahwa Alkitab memiliki kekuatan yang luar biasa untuk memberikan pengaruh kepada banyak orang untuk datang kepada Yesus, mengubah perilakunya sesuai dengan prinsip dan ajaran Alkitab. Dan Alkitab memiliki implikasi kokoh bagi kehidupan orang percaya.
Banyak kesalahan, kebodohan, dan “ketololan” yang disampaikan oleh Waloni dalam bukunya. Dia mencampur adukan berbagai teori yang dia ciptakan sendiri dan membuat pembaca sulit mencernanya, sebab cara menulisnya seperti “kutu loncat”. Klaim-klaim yang disodorkan Waloni adalah klaim-klaim lepas tanpa dasar sama sekali. Kesulitan mencerna ajaran-ajaran Waloni merupakan gambaran dari citra diri yang paling kotor dari seorang akademis yang menyandang doktor, apalagi Waloni adalah mantan pendeta.
Saya mengkaji dan menjawab berbagai tuduhan Waloni berkenaan dengan kredibilitas Alkitab, mengklaim bahwa Alkitab omong kosong, penuh tipuan dan sebagainya. Kita tidak menemukan ulasan atau tuduhan Islam yang baik mengenai Alkitab. Distorsi-distorsi argumen tampaknya menjadi “makanan siap saji” bagi para penganut Islam. Waloni mengaitkan Nasrani yang dibawa oleh Isa, lalu Saulus yang merekayasa menjadi Kristen. Waloni menjelaskan pendapat dari E. Lolowang mengenai PB, menegaskan kata “Nasrani”, mengutip Kisah Para Rasul 11:26, ia kemudian menjelaskan, lalu menegaskan bahwa Injil telah direkayasa oleh Paulus, dan kemudian menyinggung soal Naskah Laut Mati lalu mengutip beberapa tokoh yang menolak Injil dan ajaran Kristen. Berikut saya kutip pernyataannya (halaman 75-80):
“…. Dan sebaliknya, beliau [Pdt. Dr. Willy E. Lolowang, M.Th. – jika Waloni mengutip secara benar pernyataan Lolowang, maka ulasan saya berikut akan menyanggah argumentasi Waloni dan Lolowang, karena saya tahu persis apakah Lolowang menyatakan demikian atau tidak. Tetapi karena demikianlah yang ditulisakan oleh Waloni dalam bukunya, maka sanggahan saya juga sangat keras] banyak menyalahkan sekaligus menvonis bahwa semua tulisan dan argumentasi Paulus dalam “Bibel Kristen” tidak “Rasional”. Bahkan beliau pernah mengatakan bahwa semua tulisan dan argumentasi Paulus adalah merupakan pernyataan orang “SINTING”. Menurut beliau, Bibel Kristen sukar dipahami dan terkesan ambisius, ekstrimis, dan egoistis, dalam memperjuangkan maksud serta rencananya untuk membangun agama atau keyakinan yang tanpa izin dari Allah.
…. Dan Islam (yang diajarkan oleh nabi dari Bani Ismail) adalah untuk semua bani/keturunan di dunia. Sedangkan kitab Perjanjian Baru, menurut beliau, hanya untuk umat Kristen…. Tapi “Nasrani yang dimaksud adalah menunjukkan pada keyakinan umat Israel yang dibawa oleh Nabi Isa As…. Kemudian dia [Saulus] merekayasa sekaligus memutar-balikkan fakta sejarah agama “Nasrani” dengan agama yang dibangunnya sendiri yaitu Kristen. Agama ini pertama kali diresmikan di Antiokhia (Syria) sebagaimana tertulis dalam kitab suci Kristen (Perjanjian Baru) “Kisah Para Rasul 11:26” yang berbunyi:
Mereka tinggal bersama-sama dengan jemaat itu satu tahun lamanya, sambil mengajar banyak orang. Di Antiokhialah murid-murid itu untuk pertama kali disebut kristen. (Kisah Para Rasul 11:26)
Kata “murid-murid” dan kata “banyak orang” di dalam ayat ini sama sekali bukan menunjukkan pada murid-murid Isa As dan Pengikutnya, melainkan “suatu perkumpulan orang-orang yang telah berhasil dicuci otak” oleh Saulus. Saulus kemudian mengubah namanya menjadi Paulus…. Mereka [Kristen] tanpa rasa malu terus menerus membawa-bawa cerita dongeng, seolah-olah Kristen adalah sebuah agama lanjutan dari Nabi Isa As. Begitu juga, dengan isi berita Injil Isa. Injil juga direkayasa olehnya (Paulus) sehingga menjadi Perjanjian Baru (New Testament). Kitab ini (Perjanjian Baru) adalah 99,9% buatan tangan dan otak Paulus yang mempertuhankan “Isa” yang di-Yesus-Tuhankan olehnya dan seluruh umat Kristen. Ini dia (Paulus) lakukan agar Paulus dapat mengangkat dirinya (menduduki jabatan) sebagai Rasul.
Dengan demikian, agama yang dibawa Isa As. dan para mengikutnya lenyap dari muka bumi karena telah diganti dengan agama Paulus yaitu “Kristen”… tanpa sadar mereka [pengikut Paulus] menyebut-nyebut kitab buatan Paulus (Perjanjian Baru/Bibel Kristen) seolah-olah Injil Isa As. padahal yang sebenarnya, kitab tersebut hanyalah rekayasa dan omong kosong para ahli kitab (filsuf) dari Yahudi dan Yunani….
Yahudi adalah bangsa yang tidak punya pendirian. Mereka dengan mudah menjual hak keselamatan kepada bangsa Romawi. Akibatnya mereka menjalin kerja sama dengan bangsa Romawi untuk mengubah kitab Musa As. dan para nabi lainnya menjadi “Perjanjian Lama”. Apabila ditelusuri, hanya 30% (tiga puluh persen) cerita di dalamnya hampir mirip dengan Al-Qur’an, sedangkan yang tujuh puluh persennya adalah “dusta belaka”.
Dari kenyataaan ini, muncul ide (dalam otak Paulus) untuk membangun agama baru yang menyerupai agama yang dibawa oleh Nabi Isa As (Nasrani) dengan cara merekayasa semua tulisan pada murid Isa As. yang berisi perkataan Nabi Isa As yang pernah disampaikan kepada para murid-Nya. Namun sayang, kitab Injil tersebut telah hilang dimusnahkan. Itu sebabnya, ketika ditanyakan disimpan di manakah naskah asli Kitab Suci Injil? Manusia-manusia pengikut Paulus menjawab: “Naskah asli Injil disimpan di Laut Mati.”
Berikut ini adalah beberapa tokoh ternama di kalangan Kristen yang menyimpulkan bahwa ajaran Kristen tidak memiliki bukti-bukti yang kuat/akurat yang diusung Waloni.
Uskup Agung Profesor Jenkins, pemimpin Gereja tertinggi keempat di Inggris, yang tidak takut kehilangan jabatan dengan menyatakan: kebangkitan Yesus dari kubur, sesungguhnya tidak pernah terjadi.
Jhon Alegro, anggota tim pencari Naskah Laut Mati (The Dead Sea Scrools) dipecat karena mengemukakan naskah yang dianggap rawan dan dapat mengguncangkan keimanan umat Kristen.
Rev. Dr. Charles Francis Potter, yang membuktikan bahwa dari Naskah Laut Mati bahwa Roh Kudus sebagai oknum yang disembah, tidak dikenal di zaman Yesus.
Robert W. Funk, Profesor Ilmu Perjanjian Baru di Universitas Harvard bersama 74 pakar Alkitab lainnya yang dihujat umat Kristen Amerika dan dunia karena membuktikan bahwa hanya 18% ucapan di dalam Bibel yang dianggap asli.
Dr. Barbara Thiering, Guru besar Universitas Sidney Australia yang dihujat para umat Kristen karena dari hasil penelitiannya selama 20 tahun terhadap Naskah Laut Mati, menemukan bahwa Yesus tidak mati di tiang salib.
Prof. Davis Freedrich Strauss, yang dipecat seumur hidup sebagai guru besar agama Kristen karena mengatakan bahwa kitab Perjanjian Baru Kristen adalah fakta dongeng dan khayalan.
Masih banyak kisah sejarah para teolog Kristen yang memfonis Kitab Suci Kristen “bukan firman dari Tuhan.” Akhirnya, dengan keputusan yang benar mereka pergi meninggalkan “Iman Kristen” dan memeluk agama “Islam” sebagai agama dari Allah SWT.
Analisis ini didasarkan pada kutipan pernyataan Waloni di atas:
Pertama.
“…. Dan sebaliknya, beliau [Pdt. Dr. Willy E. Lolowang, M.Th.] banyak menyalahkan sekaligus menvonis bahwa semua tulisan dan argumentasi Paulus dalam “Bibel Kristen” tidak “Rasional”.
Sanggahan saya adalah Willy E. Lolowang tidak memahami natur dari Alkitab itu sendiri apalagi dengan mengatakan bahwa argumentasi Paulus tidak rasional. Saya mau bertanya, apakah semua tulisan Paulus tidak rasional? Tentu orang Kristen tidak mempercayainya semudah Lolowang mempercayainya sebab dasar pijakan Lolowang berbeda dengan saya dan sangat disayangkan, doktor seperti Lolowang berani mengambil kesimpulan terbodoh di dunia yang juga diikuti oleh Waloni. Sebaiknya belajar lebih dalam lagi mengenai Paulus. Jangan hanya belajar sedikit lalu bicaranya banyak dan mengklaim ini dan itu. Apakah perkataan Paulus berikut ini tidak rasional?
“dan janganlah tiap-tiap orang hanya memperhatikan kepentingannya sendiri, tetapi kepentingan orang lain juga” (Flp. 2:4)
Bukankah ayat di atas yang dimaksudkan Paulus bahwa setiap jemaat di Filipi tidak boleh egois? Mengatakan bahwa tulisan Paulus tidak rasional sebaiknya didasari pada penelitian sejarah, teologi dan logika sehingga Lolowang dan Waloni tidak mengambil kesimpulan prematur yang dapat berakibat buruk bagi jati diri dan nama baik seorang doktor
Kedua.
Bahkan beliau [Lolowang] pernah mengatakan bahwa semua tulisan dan argumentasi Paulus adalah merupakan pernyataan orang “SINTING”.
Sebenarnya yang sinting itu Lolowang, dan yang lebih sinting lagi adalah Waloni karena percaya pada ucapan orang sinting. Jika mengatakan sinting, sebaiknya dijabarkan hal-hal apa saja yang dianggap sinting oleh Lolowang terhadap tulisan-tulisan Paulus. Apakah orang sinting dapat mengatakan hal-hal berikut ini?
Ia akan membalas setiap orang menurut perbuatannya, yaitu hidup kekal kepada mereka yang dengan tekun berbuat baik, mencari kemuliaan, kehormatan dan ketidakbinasaan, tetapi murka dan geram kepada mereka yang mencari kepentingan sendiri, yang tidak taat kepada kebenaran, melainkan taat kepada kelaliman. Penderitaan dan kesesakan akan menimpa setiap orang yang hidup yang berbuat jahat, pertama-tama orang Yahudi dan juga orang Yunani, tetapi kemuliaan, kehormatan dan damai sejahtera akan diperoleh semua orang yang berbuat baik, pertama-tama orang Yahudi, dan juga orang Yunani. Sebab Allah tidak memandang bulu.
Roma 2:6-11. Hendaklah kasih itu jangan pura-pura! Jauhilah yang jahat dan lakukanlah yang baik. Hendaklah kamu saling mengasihi sebagai saudara dan saling mendahului dalam memberi hormat.
Roma 12:9-10. Berkatilah siapa yang menganiaya kamu, berkatilah dan jangan mengutuk! Janganlah membalas kejahatan dengan kejahatan; lakukanlah apa yang baik bagi semua orang!
Roma 12:14, 17. Saudara-saudaraku yang kekasih, janganlah kamu sendiri menuntut pembalasan, tetapi berilah tempat kepada murka Allah, sebab ada tertulis: Pembalasan itu adalah hak-Ku. Akulah yang akan menuntut pembalasan, firman Tuhan. Tetapi, jika seterumu lapar, berilah dia makan; jika ia haus, berilah dia minum! Dengan berbuat demikian kamu menumpukkan bara api di atas kepalanya. Janganlah kamu kalah terhadap kejahatan, tetapi kalahkanlah kejahatan dengan kebaikan!
Roma 12:19-21. Orang yang mencuri, janganlah ia mencuri lagi, tetapi baiklah ia bekerja keras dan melakukan pekerjaan yang baik dengan tangannya sendiri, supaya ia dapat membagikan sesuatu kepada orang yang berkekurangan. Janganlah ada perkataan kotor keluar dari mulutmu, tetapi pakailah perkataan yang baik untuk membangun, di mana perlu, supaya mereka yang mendengarnya, beroleh kasih karunia.
Efesus 4:28-29. Hai anak-anak, taatilah orang tuamu di dalam Tuhan, karena haruslah demikian. Hormatilah ayahmu dan ibumu ini adalah suatu perintah yang penting, seperti yang nyata dari janji ini: supaya kamu berbahagia dan panjang umurmu di bumi. Dan kamu, bapa-bapa, janganlah bangkitkan amarah di dalam hati anak-anakmu, tetapi didiklah mereka di dalam ajaran dan nasihat Tuhan.
Efesus 6:1-4. Karena itu matikanlah dalam dirimu segala sesuatu yang duniawi, yaitu percabulan, kenajisan, hawa nafsu, nafsu jahat dan juga keserakahan, yang sama dengan penyembahan berhala, semuanya itu mendatangkan murka Allah (atas orang-orang durhaka).
Hanya orang sinting yang menganggap ayat-ayat di atas ditulis oleh orang sinting. Dan orang sinting itu adalah Lolowang dan Waloni.
Ketiga.
Menurut beliau [Lolowang], Bibel Kristen sukar dipahami dan terkesan ambisius, ekstrimis, dan egoistis, dalam memperjuangkan maksud serta rencananya untuk membangun agama atau keyakinan yang tanpa izin dari Allah.
Memang Alkitab sulit dipahami jika seseorang yang otaknya ada pasir dan kerikil. Saya kira, orang seperti itu hanya mencari sensasi dan kurang kerjaan. Tidak ada yang ambisius, ekstrimis dan egoistis. Justru Al-Qur’an adalah egoistis, ambisius dan ekstrimis yakni menganggap orang Kristen adalah kafir (egoistis dan ekstrimis) dan memancung batang leher orang kafir di mana pun dijumpai (ekstrimis), dan masih banyak lagi. Saya kira, klaim Lolowang yang dikutip Waloni adalah keliru dan mengeneralkan Alkitab. Semua kitab suci agama manu pun perlu dipelajari sebaik mungkin untuk menghindari kesalahpahaman sejarah, maksud dan tujuan dari penulisannya. Maka, kita harus bijaksana dalam memahami isi Alkitab sebab zamannya berbeda, budayanya berbeda, situasi dan kondisinya berbeda, bahasanya berbeda, dan sebagainya.
Keempat.
…. Dan Islam (yang diajarkan oleh nabi dari Bani Ismail) adalah untuk semua bani/keturunan di dunia. Sedangkan kitab Perjanjian Baru, menurut beliau [Lolowang], hanya untuk umat Kristen….
Ini pernyataan yang aneh. Islam untuk semua keturunan dunia? Bukankah dalam Al-Qur’an juga dimuat kisah-kisah dalam PL dan PB, dan dengan demikian menjadikan PL dan PB adalah untuk semua keturunan di dunia? Ini kesimpulan apa? Kristen adalah untuk semua umat di dunia, suku bangsa di dunia sesuai dengan perintah Yesus: “Jadikanlah semua bangsa murid-Ku.” Kesimpulan Lolowang ini terlalu dipaksakan dan berdampak pada munculnya kebodohan. Mengatakan bahwa PB untuk orang Kristen saja, sama saja dengan mengatakan bahwa AL-Qur’an hanya untuk orang Islam saja. Sebaiknya Lolowang dan Waloni merenung dulu di pinggir pantai.
Kelima.
Tapi “Nasrani yang dimaksud adalah menunjukkan pada keyakinan umat Israel yang dibawa oleh Nabi Isa As….
Kesimpulan Waloni di atas tidak ada dasar sejarahnya. Jika saja Waloni menunjukkan sumber-sumbernya maka saya akan menggunakan sumber-sumber sebagai pembuktiannya. Nama “Nasrani” muncul satu kali dalam Alkitab yakni di Kisah Para Rasul 24:5
Telah nyata kepada kami, bahwa orang ini adalah penyakit sampar, seorang yang menimbulkan kekacauan di antara semua orang Yahudi di seluruh dunia yang beradab, dan bahwa ia adalah seorang tokoh dari sekte orang Nasrani.
Mari kita melihat beberapa tafsiran dari ayat di atas. C. van den Berg menjelaskan:
Tertulus menyebut Paulus sebagai: Pengacau yang menghasut semua orang Yahudi di seluruh dunia supaya memberontak…. Pembawa aliran baru, seorang tokoh dari aliran Nasrani, yakni sekte pengikut Yesus orang Nazaret itu. Nada ejekan terdengar dalam kata “Nasrani” itu. Apakah mungkin sesuatu yang baik datang dari Nazaret (bdk. Yoh. 1:14; 7:41).
Dari tafsiran van den Berg, tampak bahwa “Nasrani” diidentikan dengan “sekte” [bidat] pengikut Yesus dari Nazaret. Maka, tuduhan Waloni bahwa “Nasrani” diganti oleh Paulus menjadi “Kristen” sama sekali salah, karena Waloni tidak menjelaskan dasar sejarahnya. Bagaimana mungkin Paulus menggantikan “Nasrani” dengan “Kristen” sedangkan ia sendiri dijuluki Nasrani, sekte pengikut Yesus dari Nazaret?
Menurut H. v. d. Brink, sebutan Nasrani adalah sebuah partai, begitu juga dengan Simon J. Kistemaker. Kistemaker menjelaskan:
“the word Nazarene is usually rendered ‘of Nazareth’. The Jews identified Christians as followers of Jesus the Nazarene, but why did Tertullus speak of the Nazarene sect? ‘It is conjectured that in pre-Christian times a Nazorean party of Jewish sectaries was known for a close observance of ascetic rules of conduct. Perhaps this party was taunted with the name Nazoraioi by orthodox Jews, who by Christian times applied the term of disrespect, knowingly or ignorantly, to the new Christian sect’ (David H. Wallace, “Nazarene”, International Standard Bible Encyclopedia, rev. ed., Volume 3, p. 500, dikutip oleh Simon J. Kistemaker, New Testament Commentary: Acts, [Grand Rapids, Michigan: Baker Academic, 2007, sixth printing], 837).
Tertullus attempts to portray the so-called Nazarene sect as a political party, but he fails, because Felix is acquainted with the Christian faith (v. 22). (Simon J. Kistemaker, New Testament Commentary: Acts, (Grand Rapids, Michigan: Baker Academic, 2007, sixth printing), 837)
David G. Peterson menjelaskan, “the term ‘Nazorean’ was normally applied to Jesus (2:22; 3:6; 4:20; 6:14; 22:8; 26:9), but here in the plural to his followers (David G. Peterson, The Acts of the Apostles, The Pillar New Testament Commentary [PNTC], [Grand Rapids, Michigan: William B. Eerdmans Publishing Company; Norton Street, Nottingham England: APOLOS, 2009], 632).
Ναζωραίων (Yun. [Nazoraion]) berarti orang Nazaret, nama bagi pengikut Yesus dari Nazaret juga dipahami sebagai: an inhabitant of Nazareth, a title given to Jesus in the NT dan a name given to Christians by the Jews (Ac. 24:5) (OLB Lexicon-Greek, dalam Sabda 4 versi Elektronik.). R. S. Rayburnmenjelaskan: “According to Tertullian (Against Marcion iv, 8), it continued to serve Jews as a name for Christians. Later it was used by the Persians and Muslims” (R. S. Rayburn, dalam Walter A. Elwell, Evangelical Dictionary of Theology: Second Edition), dalam Stenly R. Paparang, Kamus Multi Terminologi: Sebuah Kamus dengan Multi Bahasa, [Jakarta: Delima, 2013], 187).
Itu berarti, Nasrani (Nazoraios) memiliki arti yang sama dengan sebutan “Kristen” (Christian). H. H. Schaeder juga menjelaskan latar belakang Nazōraíos (Nazarenós [of Nazareth], atau Nazarene), termasuk sebutan Nasrani kepada Paulus dalam Kisah Para Rasul 24:5 di mana kata tersebut memiliki makna yang sama dengan sebutan “Kristen”. Jadi kedua kata tersebut sebenarnya tidak perlu dipersoalkan sebab keduanya memiliki sumber yang sama yakni Yesus Kristus. Menyebut Nasrani berarti pengikut Yesus dari Nazaret (sebutan Yesus yang umum dipakai dalam PB) dan menyebut Kristen berarti pengikut atau pengiring [Yesus] Kristus:
Jesus is called Nazarēnós in Mark 1:24; 10:47; Luke 4:34, and Nazōraíos in Matthew 2:23; 26:69; Luke 18:37. Paul is linked to the sect tṓn Nazōraíōn in Acts 24:5. A connection with Nazareth is presupposed in Mark, Luke, and John (also Nazarét and Nazará; cf. Mt. 4:13; Lu. 4:16). Comparison of Matthew 26:69; 26:71 shows that Nazōraíos and Galilaíos mean much the same thing (cf. Ac. 1:11)…. Whether or not the use of Nazarēnós or Nazōraíos for Jesus and the first Palestinian Christians underlies the term adopted by Christians in Syria, Persia, Armenia, etc. is much debated, and attempts have been made to trace an earlier sect of Nasaraíoi…. The pre-Christian Jewish sect of Nasarenes is known only from Epiphanius (Against 80 Heresies 18, 29.6), who carefully distinguishes them from the Jewish Christian Nazōraíoi…. One may conclude that the term Nazōraíos derives from the city of Nazareth as the hometown of Jesus (H. H. Schaeder, IV, 874-79, dalam Software Sabda 4 versi Elektronik.).
F. F. Bruce menafsirkan Kisah Para Rasul 24:5 (tentang sekte orang Nasrani): penjelasan yang paling baik untuk ini ialah bahwa orang Kristen mendapat nama itu dari nama Yesus orang Nazaret. Dalam bahasa Ibrani dan Arab sampai sekarang orang Kristen masih disebut orang Nasrani. Dengan demikian, kata “Kristen” sama artinya dengan “Nasrani” (Nazarene atau Nazoraean), di mana kedua kata tersebut diartikan sebagai “the followers of Jesus” (Bruce) (para pengikut Yesus [dari atau orang Nazaret, Nazoraios (Stanley E. Porter, Jeffrey T. Reed, and Matthew Brook O’Donnell)] seperti yang tampak dalam elaborasi PB).
F. D. Wellem menyebutkan bahwa “Nazaren” atau “Nasrani” menunjuk pada kota kelahiran Yesus. Di sini Nazaren sama dengan Nazaret. Istilah ini juga dipergunakan untuk orang-orang Kristen pada mulanya (Kis. 24:5) dan terus dipergunakan untuk beberapa abad kemudian. Menurut Wellem, orang-orang Islam masih terus mempergunakan sebutan Nasrani kepada orang-orang Kristen. Tulisan-tulisan Yahudi memakai istilah Nozerin. Istilah ini juga dikenakan pada sekelompok orang Kristen Yahudi di Siria.
A. F. Walls juga menjelaskan mengenai kata ini:
Menurut Markus, sebutan ‘orang Nazaret’ (Nazarenos) digunakan untuk Tuhan Yesus oleh roh-roh jahat (Mrk. 1:24), orang banyak (Mrk. 10:47) hamba perempuan (Mrk. 14:67), dan kurir kebangkitan (Mrk. 16:6). Tapi Matius, Lukas dan Yohanes biasanya memakai Nazoraios (Mat. 26:71; Luk. 18:37; Yoh. 18:5 dan seterusnya; Yoh. 19:19; Kis. 2:22; 3:6; 4:10; 6:14; 22:8; 26:9). Kedua istilah itu diterjemahkan ‘orang Nazaret’ dalam Alkitab. Nazoraios dipakai juga untuk Yesus dalam Matius 2:23, dan sebagai sebutan populer untuk ‘sekte’ Kristen dalam Kisah Para Rasul 24:5. Istilah ini terus hidup dalam pemakaian Yahudi (bdk. bentuk Palestina tertua dari Shemoneh ‘Esreh, di mana kira-kira pada tahun 100 M kutukan diucapkan terhadap notsrim) dan dalam bahasa Arab, tampaknya sebagai sebutan umum untuk orang Kristen (bdk. R. Bell, The Origin of Islam in its Christian Environment, 1926, pp. 147 dst.).
Dalam Al-Qur’an, orang Kristen disebut dengan istilah yang sama yakni “Nasrani”, seperti dalam Surah 2:62,
“Sesungguhnya orang-orang beriman, orang Yahudi, orang-orang Nasrani dan orang-orang Shabi’in, barang siapa yang beriman kepada Allah, hari kemudian dan beramal saleh, mereka akan menerima pahala di sisi Tuhan mereka, tidak ada ketakutan bagi mereka, dan tidak (pula) mereka berduka cita.”
Dari penjelasan beberapa tokoh di atas, maka klaim Waloni bahwa “Nasrani” adalah keyakinan umat Israel yang dibawa oleh Isa As. adalah keliru sebab istilah tersebut hanyalah sebutan bagi para pengikut Yesus Kristen termasuk Paulus, dan kata tersebut sama artinya dengan kata “Kristen” yang berarti “para pengikut Kristus [Yesus]”. Dengan demikian, Paulus tidaklah mengganti nama Nasrani dengan Kristen sebab Paulus sendiri dijuluki sekte Nasrani (Kis. 24:5). Dalam penjelasan Waloni pun, ia tidak menyertakan sumber-sumber mengenai penggantian Nasrani ke Kristen oleh Paulus.
Saya merasa perlu memuat juga tentang latar belakang nama Kristen sebagai pengetahuan tambahan kepada para pembaca. Elaborasi di bawah ini dikemukakan oleh A. F. Walls.
Sebutan ini muncul 3 kali dalam Perjanjian Baru, Kisah Para Rasul 11:26; 26:28; 1 Petrus 4:16. Ketiganya mengandung gagasan bahwa Kristen adalah gelar yang diakui umum pada zaman Perjanjian Baru (PB), sekalipun jelas ada sebutan-sebutan lain yang dipakai oleh orang Kristen sendiri, yang barangkali lebih disukai. Pembentukan sebutan itu agaknya berasal dari bahasa Latin, di mana kata benda jamak yang berakhir pada –iani mungkin menunjuk kepada serdadu dari seorang perwira khusus (umpamanya, “Galbiani”, berarti orang-orang Galba, Tacitus, History 1. 51), dan oleh karenanya berarti pendukung seseorang. Di dalam Injil-injil kita menjumpai istilah “Herodianoi”, yang mungkin adalah pendukung-pendukung atau orang-orang yang dibela Herodes. Karena itu, istilah “Christian(o)I, mungkin mulanya menggambarkan “serdadu-serdadu Kristus”, atau “rumah tangga Kristus”, atau “pendukung-pendukung Kristus”.
Lukas menunjukkan bahwa Antiokhialah jemaat pertama dengan suatu unsur murni non-Yahudi, bekas penyembah berhala; artinya: Yahudi melihat agama Kristen lain dari mazhab Yahudi. Bagaimana pun juga sebutan “Kristen” telah baku pada tahun 60-an. Herodes Agripa yang licik itu memakainya (Kis. 26:28), pasti untuk menyindir Paulus (Mattingley menerjemahkannya, “Segera kamu akan meng-gerakkan aku untuk mendaftarkan diri sebagai Christianus, (H. B. Matingley, Journal of Theological Studies, 9, 1958, pp. 26 etc.). Menurut Tacitus (Annales 15.44 – [Annales adalah suatu sastra kuno]) Nero melancarkan tuduhan-tuduhan palsu terhadap suatu mazhab yang masyarakat umum sedang menyebutnya ”Orang Kristen.”
Walls menguraikan, kata “Chrematisai” dalam Kisah Para Rasul 11:26 ditafsirkan bermacam-macam. Bickerman, dengan menerjemahkannya “menyebut diri mereka”, berpendapat bahwa “Kristen” adalah sebutan yang diciptakan di jemaat Antiokhia (E. J. Bickerman, Harvard Theological Review, 42, 1949, pp. 109 etc.). Terje-mahannya memang mungkin, tapi tidak harus begitu. Agak-nya lebih sesuai jika masyarakat non-Kristen Antiokhialah yang menciptakan sebutan itu. “Chrematisai” sering diter-jemahkan “disebut di depan umum” untuk menunjuk kepada perbuatan resmi dalam mendaftarkan mazhab baru di bawah nama ‘orang-orang Kristen.’ Barangkali Lukas bermaksud tidak lebih dari menunjukkan, bahwa sebutan itu dipakai umum di kota pertama, di mana sebuah sebutan yang menunjukkan perbedaan sangat diperlukan. Dari sini mungkin dengan cepat dan mudah menjadi resmi dan umum.
Keenam.
Kemudian dia [Saulus] merekayasa sekaligus memutarbalikkan fakta sejarah agama “Nasrani” dengan agama yang dibangunnya sendiri yaitu Kristen. Agama ini pertama kali diresmikan di Antiokhia (Syria) sebagaimana tertulis dalam kitab suci Kristen (Perjanjian Baru) “Kisah Para Rasul 11:26” yang berbunyi: Mereka tinggal bersama-sama dengan jemaat itu satu tahun lamanya, sambil mengajar banyak orang. Di Antiokhialah murid-murid itu untuk pertama kali disebut kristen. (Kisah Para Rasul 11:26). Mengenai klaim Waloni di bagian Keenam ini, sudah terjawab dalam ulasan di bagian Kelima.
Ketujuh.
Kata “murid-murid” dan kata “banyak orang” di dalam ayat ini (Kis. 11:26) sama sekali bukan menunjukkan pada murid-murid Isa As dan Pengikutnya, melainkan “suatu perkumpulan orang-orang yang telah berhasil dicuci otak” oleh Saulus.
Waloni keliru membaca teks Kisah Para Rasul 11. Waloni melupakan ayat 25: Lalu pergilah Barnabas ke Tarsus untuk mencari Saulus; dan setelah bertemu dengan dia, ia membawanya ke Antiokhia. Paulus ke Antiokhia diajak oleh Barnabas dan mereka berdua tinggal bersama-sama dengan jemaat di situ. Apakah Paulus mencuci otak para murid Antiokhia? Lalu Barnabas di mana? Apakah dia hanya diam saja mendengarkan ceramah cuci otak Paulus selama satu tahun? Waloni, Waloni… ngelantur lagi.
Kedelapan.
Saulus kemudian mengubah namanya menjadi Paulus….
Tidak ada indikasi dalam PB bahwa Saulus mengubah namanya menjadi Paulus. Waloni ternyata buta Alkitab. Kesalahan Waloni bersumber dari keamburadulannya menyampaikan sesuatu yang tidak ada sumber dukungannya. Sayangnya, kebiasaan ini telah merasuki pikiran Waloni yang kotor dan membabi buta. Saulus adalah nama dari dialek Ibrani: “sya’ul” yang berarti “yang diminta”. Paulus adalah nama Romawi. Tidak ada indikasi apa pun dalam Alkitab bahwa Saulus mengubah namanya menjadi Paulus. Nama Saulus pertama kali disebut dalam Kisah Para Rasul 7:50, Paulus pertama kali disebut dalam Kisah Para Rasul 13:9. Saulus terakhir kali disebut dalam Kisah Para Rasul 26:14. Baik Saulus maupun Paulus, sama saja, tergantung dari konteks mana kita melihatnya.
Kesembilan.
Mereka [Kristen] tanpa rasa malu terus menerus membawa-bawa cerita dongeng, seolah-olah Kristen adalah sebuah agama lanjutan dari Nabi Isa As. Begitu juga, dengan isi berita Injil Isa.
Cerita dongeng? Jika PB cerita dongeng, bagaimana mungkin Waloni dan teolog Islam lainnya mengklaim bahwa Muhammad dinubuatkan dalam PB? Waloni keliru memahami sejarah. Waloni berpikir bahwa Isa mendirikan sebuah agama sehingga ia berasumsi bahwa seolah-olah Kristen adalah agama lanjutan dari Nabi Isa As. Sebaiknya Waloni perlu belajar sejarah terlebih dahulu.
Kesepuluh.
Injil juga direkayasa olehnya (Paulus) sehingga menjadi Perjanjian Baru (New Testament).
Tuduhan ini sama sekali tidak ada dasar sejarahnya apalagi sumber yang akurat. Ini hanyalah omong kosong Waloni yang buta sejarah. Saya memakluminya sebab sejak awal saya sudah mengetahui bahwa memang Waloni bukanlah orang yang akuntabel dalam soal tafsir Alkitab dan memahami doktrin Kristen. Istilah Perjanjian Baru bukanlah rekayasa Paulus. Ini kebodohan Waloni tingkat tinggi. Ini membuat saya tertawa. Apakah ilmu seorang doktor Waloni hanya asumsi belaka? Waloni juga tidak menyebutkan hal-hal apa saja dari Injil yang direkayasa Paulus sehingga menjadi PB. Hal ini menambah tingkat kebodohan Waloni sendiri.
Kesebelas.
Kitab ini (Perjanjian Baru) adalah 99,9% buatan tangan dan otak Paulus yang mempertuhankan “Isa” yang di-Yesus-Tuhankan olehnya dan seluruh umat Kristen. Ini dia (Paulus) lakukan agar Paulus dapat mengangkat dirinya (menduduki jabatan) sebagai Rasul.
Kitab PB terdiri dari 27 kitab. Itu berarti, sesuai dengan klaim Waloni, maka hampir keseluruhan kitab-kitab tersebut dibuat oleh Paulus, sedangkan Injil Matius, Markus, Lukas, dan Yohanes bukan ditulis oleh Paulus. Kisah Para Rasul bukan ditulis oleh Paulus. Surat Yakobus bukan ditulis oleh Paulus, apalagi surat 1 dan 2 Petrus, 1, 2 dan 3 Yohanes, Yudas, dan Wahyu bukanlah ditulis oleh Paulus. Maka klaim Waloni di atas hanyalah omong kosong belaka. Maklum, orang yang tak memiliki dasar pijakan dan referensi ilmiah, hanyalah mengumbar omong kosong dan asumsi semata. Tuduhan Waloni bahwa Paulus mempertuhankan Isa dan yang di-Yesus-Tuhankan, juga tidak memiliki dasar sejarah. Ini adalah ciri khas orang buta sejarah.
Keduabelas.
Dengan demikian, agama yang dibawa Isa As. dan para mengikutnya lenyap dari muka bumi karena telah diganti dengan agama Paulus yaitu “Kristen”….
Lihat ulasan di bagian Kelima. Seperti yang saya kemukakan sebelumnya bahwa Yesus tidak mendirikan agama, sehingga tuduhan Waloni di atas sama sekali omong kosong.
Ketigabelas.
“… tanpa sadar mereka [pengikut Paulus] menyebut-nyebut kitab buatan Paulus (Perjanjian Baru/Bibel Kristen) seolah-olah Injil Isa As. padahal yang sebenarnya, kitab tersebut hanyalah rekayasa dan omong kosong para ahli kitab (filsuf) dari Yahudi dan Yunani….
Ada dua keteledoran Waloni: (1), Di bagian Kesebelas, Waloni mengatakan bahwa PB, 99,9% adalah buatan tangan dan otak Paulus, tetapi kemudian dia mengatakan bahwa yang sebenarnya, kitab tersebut hanyalah rekayasa dan omong kosong para ahli kitab (filsuf) dari Yahudi dan Yunani. (2), Waloni mengklaim, “tanpa sadar mereka [pengikut Paulus] menyebut-nyebut kitab buatan Paulus seolah-olah Injil Isa As….” Jelas bahwa asumsi Waloni merupakan tindak lanjut dari keteledoran pertama di atas. Tidak ada orang Kristen yang menduga bahwa kitab buatan Paulus seolah-olah Injil Isa karena Injil-injil bukanlah tulisan Paulus. Ini hanyalah pengakuan yang tidak keruan dan omong kosong Waloni saja.
Keempatbelas.
Yahudi adalah bangsa yang tidak punya pendirian. Mereka dengan mudah menjual hak keselamatan kepada bangsa Romawi. Akibatnya mereka menjalin kerja sama dengan bangsa Romawi untuk mengubah kitab Musa As. dan para nabi lainnya menjadi “Perjanjian Lama”. Apabila ditelusuri, hanya 30% (tiga puluh persen) cerita di dalamnya hampir mirip dengan Al-Qur’an, sedangkan yang tujuh puluh persennya adalah “dusta belaka”.
Klaim Waloni di atas tidak ada dasar sejarahnya. Itu hanya karangan Waloni saja. Istilah Perjanjian Lama bukanlah hasil pemalsuan antara Yahudi dan Romawi. Jika Waloni menuduh bahwa kitab Musa dan kitab para nabi telah diubah, maka tentunya Waloni harus tahu apa saja yang diubah itu, kapan diubah dan siapa nama pelakunya. Sampai kapan pun Waloni tidak dapat menjawabnya berdasarkan kajian ilmiah. Dijamin!
Menurut Waloni, hanya 30% (tiga puluh persen) cerita di dalamnya hampir mirip dengan Al-Qur’an, sedangkan yang tujuh puluh persennya adalah “dusta belaka”. Ini aneh. Sebelumnya Waloni menuduh bahwa Yahudi dan Romawi telah mengubah kitab Musa dan para nabi lainnya, tetapi di sisi lain ia mengakui bahwa 30% mirip Al-Qur’an. Ini membuat saya tertawa geli. Kebodohan Waloni semakin memuncak. Pak Waloni, yang ada lebih dahulu kitab-kitab Musa dan para nabi atau Al-Qur’an? Al-Qur’an-lah yang mirip PL, dan bukan sebaliknya. Itu sama saja mengatakan bahwa ayah mirip anaknya, padahal ayahnya yang lahir lebih dahulu baru anaknya, maka yang benar adalah: anak mirip ayahnya.
Yang rasional saja Waloni tidak dapat mencerna, bagaimana mungkin ia mengakui bahwa ia adalah orang rasional tetapi hukum logika (rasio) saja tidak bisa dipahami? Selanjutnya, menurut Waloni bahwa sisanya (70%) adalah dusta belaka. Sebaiknya pembaca [kita] bertanya kepada Waloni, apa saja yang dusta belaka itu, kapan didustakan dan siapa pelakunya.
Kelimabelas.
Dari kenyataaan ini, muncul ide (dalam otak Paulus) untuk membangun agama baru yang menyerupai agama yang dibawa oleh Nabi Isa As (Nasrani) dengan cara merekayasa semua tulisan pada murid Isa As. yang berisi perkataan Nabi Isa As yang pernah disampaikan kepada para murid-Nya.
Mengenai Nasrani, lihat ulasan di bagian Kelima. Lagi-lagi tuduhan bahwa Paulus merekayasa semua tulisan para murid Isa As. Tuduhan ini, seperti yang saya kemukakan di atas adalah tidak memiliki dasar sejarahnya. Mungkin ini sejarah dari tanah Arab. Perhatikan baik-baik klaim Waloni di atas. Di nomor 11, Waloni mengakui bahwa Perjanjian Baru adalah 99,9% buatan tangan dan otak Paulus, tetapi kemudian Waloni mengatakan bahwa Paulus merekayasa tulisan para murid Isa? Tidak “nyambung” otak Waloni. Injil-injil tidak pernah dipalsukan oleh Paulus.
Keenambelas.
Namun sayang, kitab Injil tersebut telah hilang dimusnahkan. Itu sebabnya, ketika ditanyakan disimpan di manakah naskah asli Kitab Suci Injil? Manusia-manusia pengikut Paulus menjawab: “Naskah asli Injil disimpan di Laut Mati.”
Waloni mengutak-atik kalimatnya sampai ia memaksa kalimat-kalimat (klaim-klaimnya) dikaitkan dengan Naskah Laut Mati (The Dead Sea Scrolls). Tidak ada seorang pun yang bertanya bahwa Injil disimpan di Laut Mati. Sebaiknya kita bertanya: kira-kira menurut Waloni, siapa pelaku yang menyimpan naskah Injil di Laut Mati?
Ketujuhbelas.
Berikut ini adalah beberapa tokoh ternama di kalangan Kristen yang menyimpulkan bahwa ajaran Kristen tidak memiliki bukti-bukti yang kuat/akurat.
Uskup Agung Profesor Jenkins, pemimpin Gereja tertinggi keempat di Inggris, yang tidak takut kehilangan jabatan dengan menyatakan: kebang-kitan Yesus dari kubur, sesungguhnya tidak pernah terjadi.
Jhon Alegro, anggota tim pencari Naskah Laut Mati (The Dead Sea Scrools) dipecat karena mengemukakan naskah yang dianggap rawan dan dapat mengguncangkan keimanan umat Kristen.
Rev. Dr. Charles Francis Potter, yang mem-buktikan bahwa dari Naskah Laut Mati bahwa Roh Kudus sebagai oknum yang disembah, tidak dikenal di zaman Yesus.
Robert W. Funk, Profesor Ilmu Perjanjian Baru di Universitas Harvard bersama 74 pakar Alkitab lainnya yang dihujat umat Kristen Amerika dan dunia karena membuktikan bahwa hanya 18% ucapan di dalam Bibel yang dianggap asli.
Barbara Thiering berpendapat, dari hasil pene-litiannya selama 20 tahun terhadap Naskah Laut Mati, menemukan bahwa Yesus tidak mati di tiang salib.
Prof. Davis Freedrich Strauss, yang dipecat seumur hidup sebagai guru besar agama Kristen karena mengatakan bahwa kitab Perjanjian Baru Kristen adalah fakta dongeng dan khayalan.
Masih banyak kisah sejarah para teolog Kristen yang memfonis Kitab Suci Kristen “bukan firman dari Tuhan.” Akhirnya, dengan keputusan yang benar mereka pergi meninggalkan “Iman Kristen” dan memeluk agama “Islam” sebagai agama dari Allah SWT.
Dari keenam tokoh di atas (dalam pembahasan bagian 24), tak satu pun disebutkan sumbernya dari mana, meskipun saya tahu teori-teori dari beberapa tokoh di atas. Ini adalah kelemahan pertama. Kelemahan kedua adalah, Waloni sama sekali tidak menyinggung mengenai apa saja pembelaan Kristen yang melawan argumen tokoh-tokoh di atas, seperti Jesus Seminar. Banyak buku Kristen yang valid dan jujur yang telah menjawab tuduhan dari Jesus Seminar. Jesus Seminar bukanlah penentu apakah itu ucapan Yesus atau bukan. Siapa mereka dan apa otoritas mereka? Berikut sanggahan saya terhadap enam tokoh yang disebutkan Waloni di atas (saya mengutip kembali argumen mereka agar pembaca dapat menyerap secara baik sanggahan saya:
PERTAMA:
Uskup Agung Profesor Jenkins yang menyatakan bahwa kebangkitan Yesus dari kubur, sesungguhnya tidak pernah terjadi. Pertama, pernyataan Jenkins adalah pernyataan klasik dan dusta palsu. Mungkin Waloni baru tahu. Argumen bahwa Yesus tidak bangkit dari kubur telah ada sejak peristiwa kebangkitan Yesus, yakni dalam Matius 28:11-15, di mana para penjaga kubur Yesus memberitahukan peristiwa hilangnya Yesus dari kuburan. Tentu dalam konteks ini, peristiwa tersebut adalah peristiwa kebangkitan Yesus dari kubur. Lalu berundinglah imam-imam kepada dan tua-tua dan kemudian menyogok para penjaga untuk menyebarkan berita kehobongan bahwa Yesus tidak bangkit. Saya tidak kaget ketika Profesor Jenkins mengatakan bahwa Yesus tidak bangkit. Kedua, jika yang dimaksud Waloni adalah Philip Jenkins, maka saya mengutip pernyataan Jenkins dalam mengomentari Apokrifa. Sebelumnya saya menguraikan pendapat dari Origen yang berkaitan dengan konteks tersebut:
Origen, seorang Bapa Gereja pada abad ketiga, menyampaikan pendapat mayoritas dari kekristenan pada zamannya mengenai Apokrifa PB yang dibandingkan dengan empat Injil: Aku mengetahui sebuah injil tertentu yang disebut “Injil menurut Thomas” dan sebuah “Injil menurut Matthias”, dan banyak lagi yang lainnya yang telah kami baca – supaya kami tidak dianggap orang yang tidak tahu karena orang-orang yang mengasumsikan bahwa mereka memiliki pengetahuan jika mereka paham dengan injil-injil ini. Meskipun demikian, di antara semua injil ini kami hanya mengakui apa yang telah diakui oleh Gereja, yaitu bahwa hanya keempat Injil yang seharusnya diterima.
Philip Jenkins, dalam studi yang lengkap mengenai semua karya ini [kitab-kitab Apokrifa], memberikan kesimpulan yang memiliki banyak kemiripan dengan Origen, “Karena sama sekali bukan merupakan pendapat-pendapat alternatif dari para pengikut Yesus mula-mula, sebagian besar injil yang hilang seharusnya dipandang sebagai tulisan para penentang yang muncul kemudian dan yang memisahkan diri dari Gereja tradisional yang muncul kemudian.
Jadi, menurut Jenkins, injil-injil yang hilang dianggap sebagai “injil” penentang yang memisahkan diri dari Gereja. Tentu kita tahu bahwa “injil” yang lain dari pada pengakuan Gereja bahwa Yesus adalah Tuhan, dianggap sebagai “injil sesat/bidat”, dan harus ditolak dan dibuang.
KEDUA:
Jhon Alegro, anggota tim pencari Naskah Laut Mati dipecat karena mengemukakan naskah yang dianggap rawan dan dapat mengguncangkan keimanan umat Kristen.
Ada beberapa pertanyaan saya kepada Waloni: pertama, naskah apa yang dianggap rawan? kedua, kira-kira tahun berapa Jhon Alegro dipecat? ketiga, apakah hanya Allegro saja ahli Naskah Laut Mati (The Dead Sea Scrolls)? Penemuan-penemuan terbaru soal Dead Sea Scrolls sudah begitu banyak dan iman Kristen sudah terbiasa dengan penemuan-penemuan tersebut termasuk penemuan-penemuan gadungan. Mungkin beberapa buku Allegro berikut ini yang dimaksud Waloni:
J. M. Allegro, The Dead Sea Scrolls, (Harmondsworth: Penguin, 1956)
J. M. Allegro, The Dead Sea Scrolls, (Pelican A376; Baltimore: Penguin, 1956; 2d ed., 1964)
J. M. Allegro, The Mystery of the Dead Sea Scrolls Revealed, (New York: Gramercy, 1981)
J. M. Allegro, The People of the Dead Sea Scrolls, (London: Routledge and Kegan Paul, 1959).
KETIGA:
Charles F. Potter, yang membuktikan bahwa dari Naskah Laut Mati bahwa Roh Kudus sebagai oknum yang disembah, tidak dikenal di zaman Yesus.
Pertama, sebenarnya kesimpulan Potter tidak begitu penting sebab penemuan Naskah Laut Mati dari Potter sebenarnya meneguhkan Injil-injil PB. Memang Roh Kudus di zaman Yesus bukan sebagai oknum yang disembah, melainkan Yesuslah yang disembah (lihat catatan-catatan Injil). Kedua, dari beberapa buku rujukan (standar) mengenai The Dead Sea Scrolls, saya tidak menemukan nama Charles F. Potter. Mungkin nama tersebut ada di buku yang Waloni rujuk. Buku-buku yang saya periksa adalah:
John Kampen, Wisdom Literature: Eerdmans Commentaries on the Dead Sea Scrolls, (Grand Rapids, Michigan: William B. Eerdmans Publishing Company, 2011).
Lawrence H. Schiffman, Qumran and Jerusalem: Studies in the Dead Sea Scrolls and the History of Judaism, (Grand Rapids, Michigan: William B. Eerdmans Publishing Company, 2010).
James C. VanderKam, The Dead Sea Scrolls and the Bible, (Grand Rapids, Michigan: William B. Eerdmans Publishing Company, 2012).
Joseph A. Fitzmyer, A Guide to the Dead Sea Scrolls and Related Literature, (Grand Rapids, Michigan: William B. Eerdmans Publishing Company, 2008).
Michael E. Stone, Ancient Judaism: New Visions and Views, (Grand Rapids, Michigan: William B. Eerdmans Publishing Company, 2011).
Yang saya temukan adalah nama Frank C. Porter. Frank C. Porter disinggung oleh Michael E. Stone dalam Ancient Judaism: New Visions and Views, (Grand Rapids, Michigan: William B. Eerdmans Publishing Company, 2011), 91 di catatan kaki nomor 5. Judul buku Porter adalah The Messages of the Apocalyptic Writers, (New York: Scribners, 1905). Ada lagi Stanley E. Porter, Profesor Perjanjian Baru di McMaster Divinity College, Hamilton, Ontario Canada, tetapi nama Charles F. Potter tidak saya temukan.
Berikut adalah buku-buku rujukan standar mengenai The Dead Sea Scrolls:
Michael Wise, Martin Abegg Jr., and Edward Cook, The Dead Sea Scrolls: A New Translation, (San Francisco: HarperSanFrancisco, 2005).
Martin Abegg Jr., Peter Flint, and Eugene Ulrich, The Dead Sea Scrolls Bible: The Oldest Known Bible Translated for the First Time into English, (San Francisco: HarperSanFrancisco, 1999).
Martin G. Abegg Jr., The Dead Sea Scrolls Concordance, Volume 1: The Non-Biblical Texts From Qumran. One volume in 2 parts, (Leiden: Brill, 2003).
Florentino Garcia Martinez and Eibert J. C. Tigchelaar, The Dead Sea Scrolls: Study Edition, 2 vols., (Leiden: Brill; Grand Rapids: Eerdmans, 1997-98).
Ben Zion Wacholder, Martin G. Abegg, and James Bowley, A Preliminary Edition of the Unpublished Dead Sea Scrolls: The Hebrew and Aramaic Texts from Qumran, 4 vols., (Washington, DC: Biblical Archaelogy Society, 1991-96).
James C. VanderKam, The Dead Sea Scrolls and the Bible, (Grand Rapids, Michigan: William B. Eerdmans Publishing Company, 2012).
James C. VanderKam, The Dead Sea Scrolls Today, Grand Rapids: Wm. B. Eerdmans, 1994).
J. C. VanderKam and P. Flint, The Meaning of the Dead Sea Scrolls: Their Significance for Understanding the Bible, Judaism, Jesus and Christianity, (San Francisco: HarperSanFrancisco, 2002).
Joseph A. Fitzmyer, A Guide to the Dead Sea Scrolls and Related Literature, (Grand Rapids, Michigan: William B. Eerdmans Publishing Company, 2008).
Joseph A. Fitzmyer, The Dead Sea Scrolls: Major Publications and Tools for Study, (Society of Biblical Literature Sources for Biblical Study [SBLSBS] 8 Missoula, MT: Scholars, 1975).
George J. Brooke, The Dead Sea Scrolls and the New Testament, 217-34, (Minneapolis: Fortress, 2005). Revised edition of “The Wisdom of Matthew’s Beatitudes (4Qbéat) and Mt. 5.3-12.” ScrB 19 (1988-89): 35-41.
R. Eisenman, James the Brother of Jesus: The Key to Unlocking the Secrets of Early Christianity and the Dead Sea Scrolls, (New York: Viking, 1997).
Craig A. Evans, “The Dead Sea Scrolls and the Canon of Scripture in the Time of Jesus”, in Flint, The Bible at Qumran.
D. K. Falk, The Parabiblical Texts: Strategies for Extending the Scriptures among the Dead Sea Scrolls. Companion to the Qumran Scrolls [CQS] 8. Library of Second Temple Studies [LSTS] 63. London: T. & T. Clark, 2007).
Florentino Garcia Martinez and E. J. C. Tigchelaar, “Bibliography of the Dead Sea Scrolls”, Revue de Qumran 18 (1997-98).
Florentino Garcia Martinez, The Dead Sea Scrolls Translated: The Qumran Texts in English, (trans. W. G. E. Watson; Leiden: Brill, 1994).
M. Yizhar, Bibliography of Hebrew Publications on the Dead Sea Scrolls 1948-1964, (Harvard Theological Studies 23; Cambridge, MA: Harvard University Press, 1967).
R. A. Cloward, The Old Testament Apocryphal and Pseudepigrapha and The Dead Sea Scrolls: A Selected Bibliography of Text Editions and English Translations, (Provo, UT: F.A.R.M.S., 1988).
L. H. Schiffman, Reclaiming the Dead Sea Scrolls: The History of Judaism, the Backround of Christianity, the Lost Library of Qumran, (Philadelphia, PA: Jewish Publication Society, 1994; repr. New York: Doubleday, 1995).
N. A. Silberman, The Hidden Scrolls, Christianity, Judaism & the War for the Dead Sea Scrolls, (New York: Putnam’s Sons, 1994).
R. Price, Secret of the Dead Sea Scrolls, (Eugene, OR: Harvest House Publishers, 1996).
M. Pearlman, The Dead Sea Scrolls in the Shrine of the Book, (Jerusalem: Israel Museum, 1988).
S. Hodge, The Dead Sea Scrolls Rediscovered, (Berkeley, CA: Seastone, 2003).
J. Campbell, The Dead Sea Scrolls: The Complete Story, (Berkeley, CA: Ulysses, 1998).
P. R. Davies, G. J. Brooke, and P. R. Callaway, The Complete World of the Dead Sea Scrolls, (London: Thames & Hudson, 2002).
G. Vermes, The Dead Sea Scrolls: Qumran in Perspective, (rev. ed.; London: Collins, 1977; Philadelphia: Fortress, 1981).
E. Wilson, The Dead Sea Scrolls 1947-1969, (New York: Oxford University Press, 1969).
Lawrence H. Schiffman, Qumran and Jerusalem: Studies in the Dead Sea Scrolls and the History of Judaism, (Grand Rapids, Michigan: William B. Eerdmans Publishing Company, 2010).
Martin G. Abegg, “The Hebrew of the Dead Sea Scrolls”, in The Dead Sea Scrolls after Fifty Years: A Comprehensive Assessment, ed. Peter W. Flint and J. C. VanderKam, (Leiden: Brill, 1998).
R. de. Vaux, Archaeology and the Dead Sea Scrolls, Schweich Lectures 1959, (London: Oxford University Press, 1973).
J. M. Allegro, The Dead Sea Scrolls, (Harmondsworth: Penguin, 1956).
J. M. Allegro, The Dead Sea Scrolls, (Pelican A376; Baltimore: Penguin, 1956; 2d ed., 1964)
J. M. Allegro, The Mystery of the Dead Sea Scrolls Revealed, (New York: Gramercy, 1981).
J. M. Allegro, The People of the Dead Sea Scrolls, (London: Routledge and Kegan Paul, 1959).
F. F. Bruce, Second Thoughts in the Dead Sea Scrolls, (Grand Rapids, Michigan: Wm. B. Eerdmans, 1977).
M. Burrows, The Dead Sea Scrolls, (New York: Viking, 1955).
E. M. Cook, Solving the Mysteries of the Dead Sea Scrolls, (Grand Rapids: Zondervan, 1994).
John Kampen, Wisdom Literature: Eerdmans Com-mentaries on the Dead Sea Scrolls, (Grand Rapids, Michigan: William B. Eerdmans Publishing Company, 2011).
KEEMPAT:
Robert W. Funk, Profesor Perjanjian Baru bersama 74 pakar Alkitab lainnya membuktikan bahwa hanya 18% ucapan di dalam Bibel yang dianggap asli.
Saya tahu bahwa orang-orang di atas adalah termasuk dalam tim “Jesus Seminar”. Sebelum saya menguraikan ulasan menarik tentang Jesus Seminar dari Douglas Groothuis, saya mengutip pendapat dari James M. Boice mengenai kepastian historis Yesus yang berseberangan dengan “penentuan petak umpet” ala Jesus Seminar:
Yesus adalah seorang sosok historis yang hidup dan ajaran-ajaran-Nya dapat diselidiki dengan teknik-teknik akademik yang normal. Jika kebenaran itu hilang, maka kekristenan sendiri akan hilang, karena kekristenan itu adalah dan pasti historis. Namun kehidupan Kristus bahkan lebih daripada ini – kehidupan Kristus adalah sejarah yang menentukan. Makna seluruh sejarah disingkapkan dalam sejarah Tuhan Yesus Kristus, dan pilihan antara komitmen kepada-Nya atau penolakan terhadap-Nya dan sejarah-Nya menetapkan tujuan-tujuan kita.
Douglas Groothuis, dalam bukunya “Jesus in An Age of Controversy” membahas mengenai topik Jesus Seminar. Berikut ulasan dari Groothuis yang akan membungkamkan mulut Waloni, membuat jantungnya berdebar-debar – dan menambah sesuatu di dalam otaknya yakni bara tempurung, selain dari pasir, kerikil, paku payung dan jarum pentul. Jesus Seminar dibentuk pada tahun 1985 dengan tujuan ekspres yakni: mendidik orang-orang Kristen yang tidak terpelajar mengenai apa yang “studi-studi ilmiah” dapat memberii tahu kita tentang Perjanjian Baru dan Yesus. Robert Funk, otak dan juru bicara Jesus Seminar berkata: “Kami ingin membebaskan Yesus. Satu-satunya Yesus yang kebanyakan orang inginkan adalah Yesus khayalan. Mereka tidak menginginkan Yesus sejati. Mereka ingin Yesus yang dapat mereka sembah. Sang Yesus Kultis.” (Dalam Los Angeles Times, 24 Februari 1994; dikutip dalam Luke Timothy Johnson, The Real Jesus: The Misguided Quest for the Historical Jesus and the Truth of the Traditional Gospels, [San Francisco: HarperSanFrancisco, 1996], p. 7. Dikutip kembali oleh Groothuis, Yesus di Zaman Kontroversi.).
Roy Hoover, anggota Jesus Seminar menyatakan bahwa misinya adalah untuk “membebaskan Yesus dari orang-orang” yang menyusun Kitab-kitab Injil.”
Para anggota Jesus Seminar mengadakan pertemuan 2 kali dalam setahun untuk membukukan opini-opini mereka mengenai perkataan-perkataan Yesus. Kelompok ini semula mempunyai kurang lebih 200 orang anggota, tetapi berkurang menjadi 74 anggota pada saat publikasi The Five Gospels (1993). Mereka dengan saksama dan mempelajari keempat Injil yang alkitabiah dan Injil Tomas dan mereka berusaha untuk menentukan autentisitas setiap perkataan Yesus. Seorang anggota Jesus Seminar dengan popular meringkas pemilihan warna-warni itu seperti berikut ini:
Warna merah: itu perkataan Yesus
Warna merah muda: itu kedengarannya seperti perkataan Yesus
Warna abu-abu: itu mungkin perkataan Yesus
Warna hitam: telah terjadi kesalahan
Penilaian Luke Timothy Johnson terhadap Jesus Seminar:
Jesus Seminar menginginkan ulasan pers! Mereka berusaha mendapatkan ulasan pers! Mereka memahami berita utama! Mereka meminta respons media! Yang terutama, mereka menyediakan manik-manik berwarna, dan hal yang paling ketat (di luar vatikan) adalah bahwa agama menyediakan pemilihan yang aktual, ditambah pernyataan-pernyataan provokatif yang dibuat dengan keterampilan khusus! Sebagai bonusnya, mereka tidak berhubungan dengan isu-isu yang sulit untuk ditutup-tutupi seperti dosa dan anugerah, tetapi dengan personalitas, sang sosok pendiri, Yesus. Dan mereka menjanjikan bentuk serangan yang memalukan pada dasar-dasar kekristenan. Keterampilan Jesus Seminar itu diterima oleh segmen media yang tidak diberi kesempatan untuk mengerjakan berita yang riil.
Media yang kelaparan terkadang langsung menelan pernyataan-pernyataan Jesus Seminar tanpa mencernanya terlebih dahulu. Walaupun para anggota Jesus Seminar mempresentasikan diri mereka sebagai wakil dari keseluruhan komunitas sarjana, namun hal ini tidak benar. Mereka hanyalah sekelompok kecil sarjana Perjanjian Baru dan seperti yang ditunjukkan oleh para kritikus, mereka tidak mewakili dunia kesarjanaan Perjanjian Baru yang lebih luas. Meskipun ada 74 sarjana yang berkontribusi pada karya final The Five Gospels, tetapi ada 6900 anggota Society of Biblical Literature dan setidaknya setengah dari mereka adalah pakar-pakar Perjanjian Baru. Dua organisasi akademis studi Alkitab terkemuka, yakni: Society of Biblical Literature dan Society for the Study of the New Testament, tidak bergabung secara resmi dengan Jesus Seminar.
Jesus Seminar didanai oleh Weststar Institute. Menurut Johnson, meskipun Jesus Seminar membanggakan beberapa sarjananya yang bereputasi tinggi, daftar nama para cendekiawan itu sama sekali tidak mewakili tokoh-tokoh terbaik dari kesarjanaan Perjanjian Baru. Sarjana Perjanjian Baru, Craig Blomberg mencatatat bahwa 36 dari 74 Jesus Seminar memperoleh gelar mereka dari atau mengajar di salah satu dari tiga “departemen studi-studi Perjanjian Baru yang paling liberal” seperti Harvard, Claremont dan Vanderbilt. Para sarjana Eropa juga tidak termasuk di dalamnya. 40 pesertanya “adalah orang-orang yang relatif tidak dikenal”yang secara akademis tidak dapat dibuktikan. (Craig L. Blomberg,”The Seventy-four ‘Scholars’: Who Does the Jesus Seminar Really Speak For?” Christian Research Journal [Musim Gugur 1994], 34. Dikutip oleh Groothuis, Yesus di Zaman Kontroversi)
Profesor Perjanjian Baru, Richard Hays mengatakan dengan sesungguhnya: “Pada kenyataannya, sebagian besar sarjana Alkitab professional sangat skeptis dengan metode-metode dan kesimpulan-kesimpulan kelompok akademis ini.” Meskipun ada sarjana-sarjana yang dihormati dan berkualitas di dalam kelompok itu, usaha mereka untuk menghadirkan pandangan-pandangan mereka sebagai hasil-hasil kesarjanaan kritis yang meyakinkan – harus kita katakan – adalah penipuan yang patut dicela (Richard Hays, The Corrected Jesus: A Review of The Five Gospels, First Things, [Mei 1994], 47. Dikutip oleh Groothuis, Yesus di Zaman Kontroversi).
Jesus Seminar memasukkan pandangan-pandangannya sendiri yang pesimistik tentang natur Kitab-kitab Injil dan bukan pandangan-pandangan kesarjanaan Perjanjian Baru pada umumnya. Karena menolak hal-hal supernatural, maka Jesus Seminar harus mere-konstruksi sebuah gambar Yesus yang baru melampaui apa yang dinyatakan oleh Kitab-kitab Injil itu sendiri. Karena telah mendekonstruksi pandangan Yesus sejarah, maka mereka merasa bebas untuk mengontruksi sosok Yesus yang asing sama sekali. Prinsip yang digunakan oleh Jesus Seminar adalah meng-hilangkan banyak perkataan yang keluar dari mulut Yesus. Prinsip ini dikenal sebagai criteria ketidaksamaan (criterion of dissimilarity). Perkataan Yesus dianggap autentik jika perkataan itu berbeda dengan tradisi Yahudi zaman itu dan pandangan-pandangan gereja Kristen perdana. Pernya-taan Jesus Seminar yang aneh: “Berhati-hatilah bila anda menemukan sosok Yesus yang seluruhnya cocok dengan anda.” (ini tentu saja adalah apa yang telah mereka lakukan sendiri).
Groothuis menutupnya dengan: Ingatlah pesan Yesus: “Berbahagialah kamu, jika karena Aku kamu dicela dan dianiaya dan kepadamu difitnahkan segala yang jahat.” (Mat. 5:11), dan “Barangsiapa tidak memikul salibnya dan mengikut Aku, ia tidak layak bagi-Ku” (Mat. 10:38). Isu-isu miring tentang Yesus sudah menjadi “santapan harian” orang Kristen dan iman Kristen tetap teguh. Kesimpulannya, dengan mencoba meyakinkan pembaca mengenai pendapat dari Jesus Seminar bahwa hanya 18 persen ucapan di dalam Bibel yang dianggap asli adalah kesimpulan yang bodoh sebab tindakan Jesus Seminar adalah tindakan “kurang kerjaan” dan mencari sensasi, tindakan tersebut tidaklah terpuji dalam dunia akademis. Jesus Seminar bukanlah penentu apakah Alkitab (Injil-injil) itu asli atau palsu, melaikan didasari pada fakta yang telah disaksikan oleh para murid Yesus. Oleh karena itu, para murid tentu lebih tahu ucapan Yesus ketimbang Jesus Seminar apalagi Waloni.
KELIMA:
Barbara Thiering: Yesus tidak mati di tiang salib. Beberapa penemuan Thiering: Jesus and the Riddle of the Dead Sea Scrolls, (San Francisco: HarperCollins, 1992), The Qumran Origins of the Christian Church; Jesus the Man: A New Interpretation from the Dead Sea Scrolls (1992; edisi AS, The Riddle of the Dead Sea Scrolls), Jesus of the Apocalypse: The Life of Jesus After the Crucifixion (1995), dan The Book That Jesus Wrote: John’s Gospel (1998). Profesor Craig A. Evans menjelaskan mengenai penafsiran berdasarkan telik sandi yang dilakukan Thiering (seorang dosen Australia yang sudah pensiun dan penulis) berdasarkan beberapa bukunya yang sudah disebutkan di atas. Inilah beberapa dari penemuannya:
Minggu, 1 Maret 7 SM, Yesus dilahirkan di Mird, dekat Laut Mati, tidak jauh dari Qumran.
Pada usia 12 tahun, Yesus terpisah dari ibunya.
Saat remaja Yesus mungkin pergi ke Aleksandria, Mesir, tempat ia dipengaruhi oleh Buddhisme.
Minggu 25 Maret 15 M, pada usia 21 tahun, Yesus dibaptis di Yerusalem.
Pada 20 M, Yusuf, ayah Yesus meninggal.
1 Maret 29 M, saat ultah ke-35 Yesus memulai persiapan pelayanan; Yohanes Pembaptis mengambil otoritas Yesus untuk membaptis.
Selasa 6 Juni 30 M, Yesus dan Maria Magdalena bertunangan. Mereka menikah Sabtu, 23 September 30 M. Simon Magus memimpin upacara itu. Ini adalah pernikahan percobaan. Pernikahan kedua yang mengikat terjadi pada 18 Maret 33 M.
Jumat 20 Maret 33 M, Yesus disalibkan, bersama dengan Simon Magus dan Yudas Iskariot. Namun Yesus dibius, jatuh pingsan dan diolok-olok tentara Romawi, dan diturunkan dari salibnya dalam keadaan masih hidup (meskipun luka parah). Kehidupannya diselamatkan melalui obat khusus yang diselundupkan ke dalam kuburan bersamanya. Yesus sembuh.
Sabtu 15 September 36 M, Yesus kembali ke “panggung”.
Senin 29 Februari 40 M, Saulus (Paulus) bertemu Yesus, untuk memutuskan apa yang harus dilakukan terhadap Kaisar Romawi, Gaius Caligula.
3 September 45 M, Yesus mengajar di Antiokhia.
Selasa 17 Maret, 50 M, di Filipi, Yesus menikah lagi, kali ini dengan Lydia.
Selasa 7 Maret, Yesus, Lukas dan Paulus berkumpul di Tesalonika untuk merayakan ultah ke-25 Perjamuan Malam dan penyalibannya.
Daftar di atas hanya sebagian dari penemuan Thiering. Mantan dosen University of Sydney School of Divinity ini telah menyingkap cukup banyak hal. Dan ya, Yesus punya anak dari istri-istrinya Maria dan Lydia. Mungkin Anda bertanya, bagaimana “fakta” yang mengherankan ini ditemukan? Menurut Thiering: Dengan membaca Gulungan Laut Mati, meneliti tulisan Perjanjian Baru, dan tentu saja dengan mengandaikan bahwa semua itu ditulis dalam bentuk sandi dan karena itu perlu diuraikan.
Menurut Thiering, Yesus menikah. Pertanyaannya: Jika Yesus menikah, mengapa Petrus, Yohanes dan murid-murid lainnya tidak mengetahui pernikahan tersebut, atau mengapa mereka tidak diundang. Yesus selalu bersama-sama dengan murid-murid-Nya, dan tentu isu pernikahan Yesus harusnya disinggung di kitab-kitab yang mereka tulis, seperti surat Petrus (1 dan 2 Petrus), surat Yakobus, surat Yohanes (Injil Yohanes; 1, 2, 3 Yohanes dan juga Wahyu). Dalam surat-surat mereka, tidak satu pun indikasi bahwa Yesus menikah. Dengan demikian, telik sandi “gadungan” ala Thiering sama sekali omong kosong – dan Waloni menjadi pengusung penemuan gadungan Thiering lebih bodoh daripada Thiering sendiri.
Menurut Evans bahwa ia tidak mengenal satu pun sarjana yang berkompeten akan setuju dengan kesimpulan Thiering. Berkenaan dengan hal ini, bagi Evans, sebagian besar ahli mengabaikan tulisan Barbara Thiering karena begitu subjektif dan aneh. Untungnya, seorang ahli memberikan kritik pada karyanya sesuai yang layak ia dapatkan, yakni N. T. Wright, Who Was Jesus? (Grand Rapids: Eerdmans, 1992), pp. 19-36. Menurut Wright, sarjana yang setuju dengan pendapat Thiering adalah Thiering sendiri. Itu berarti, Thiering dapat saya katakan sebagai dosen yang “bodoh” karena tergesa-gesa mencari sensasi mengenai makna dari Naskah Laut Mati yang ditelitinya. Dengan mengorbankan integritasnya sebagai peneliti, Thiering berani menyimpulkan kesimpulan yang aneh – dan Waloni adalah orang yang paling bodoh karena percaya kepada kesimpulan dosen yang bodoh.
Di samping itu, Evans menjelaskan, orang bisa membaca setiap baris Perjanjian Baru, Gulungan Laut Mati, dan literatur lainnya dari periode waktu itu dan tidak menemukan apa pun yang terkait dengan pemikiran (penemuan) Thiering. Mengapa tidak? Karena tidak ada satu pun penemuannya disebutkan di dalamnya.” Bagi Evans, tulisan Thiering adalah tulisan yang paling aneh.
KEENAM:
Profesor Davis Freedrich Strauss, yang dipecat seumur hidup sebagai guru besar agama Kristen karena mengatakan bahwa kitab Perjanjian Baru Kristen adalah fakta dongeng dan khayalan.
Saya menemukan dalam salah satu buku, bahwa David Strauss (jika yang dimaksud Waloni adalah ini) adalah seorang penentang yang gigih terhadap Kristen, maka dengan demikian saya mengutip pernyataan Wilbur Smith dalam buku Josh McDowell. Profesor Wilbur Smith menulis, “Bahkan David Strauss, penentang tergigih dari unsur adikodrati Injil yang tulisan-tulisannya telah merusak lebih banyak iman Kristen daripada semua orang lain di zaman modern – bahkan Strauss, dengan segala kecamannya yang pedas, cerdik, ganas dan penolakannya atas segala sesuatu yang berbau mukjizat, terpaksa mengakui, menjelang akhir hayatnya, bahwa di dalam Yesus ada kesempurnaan moral. ‘Kristus ini … mempunyai nilai historis, bukan mistis; adalah seorang pribadi, bukan sekadar simbol…. Dia tetap meru-pakan model agama yang terjangkau oleh alam pikiran kita; dan tidak mungkin ada kesalehan sempurna tanpa keha-diran-Nya di dalam hati.
Sekali lagi, jika yang dimaksudkan Waloni adalah David Strauss, maka sangat disayangkan bahwa Waloni hanya mengutip pernyataan Strauss secara berat sebelah, sebab seperti yang dikatakan oleh Smith, bahwa Strauss pada akhirnya mengakui pribadi Yesus Kristus yang dituliskan oleh para penulis Injil – mempunyai nilai historis. Jika “Yesus mempunyai nilai historis”, maka tentu Injil-injil adalah akurat sesuai dengan fakta sejarah, bukan cerita dongeng dan omong kosong belaka.
Masih berkaitan dengan apologetika saya terhadap klaim-klaim murahan Waloni mengenai Alkitab. Di halaman 87, klaim amburadul-irasional, didengungkan Waloni: “Ketahuilah, walaupun Alkitab Perjanjian Baru Kristen hanya 5% fakta dan 95% dongeng dan khayalan, tetapi tidak pernah terungkap dari mulut Yesus bahwa dirinya adalah TUHAN atau ALLAH atau BAPA yang patut disembah!! Beliau tidak pernah mengaku dirinya sebagai “Juruselamat” apalagi sebagai “Tuhan”
Klaim Waloni di atas sebenarnya tidak “nyambung” dengan klaim bahwa Yesus tidak pernah mengakui bahwa Ia adalah Tuhan, karena dalam Alkitab juga tidak ada ucapan Yesus bahwa Dia mengaku: “Aku bukan Tuhan”. Tuduhan 5% fakta dan 95% dongeng dan khayalan, sebenarnya tidak ada dasar sejarahnya. Jika hanya 5% fakta, apakah hal itu termasuk nubuat Yesus tentang datangnya Muhammad? “Dari mana sumbernya bahwa hanya 5% yang adalah fakta dalam Perjanjian Baru? Apa saja fakta tersebut (yang 5%)? Apa saja dongeng dan khayalan yang 95% itu? sumber manakah yang menyebutkan demikian?
Tuduhan-tuduhan Waloni di atas, sebenarnya dengan sendirinya gugur dalam dapur ilmiah. Ia pun tidak bisa memberikan sumber, sebagaimana dalam dunia akademis bahwa argumen harus didasari bukti-bukti ilmiah dan saya tidak dapat menemukan secara valid dalam buku Waloni.
Di halaman 100, Waloni mengatakan bahwa keempat Injil ditulis ± tahun 120 M. benarkah? Waloni pun tidak menyebutkan sumbernya yang menyatakan demikian. Injil-injil kanonik (berdasarkan kanon) ditulis tidak lebih dari abad pertama. Itu berarti, Injil-injil kanonik tidak ditulis lebih dari tahun 100 M, kecuali “Injil-injil Gnostik”, ditulis setelah abad pertama.
Di halaman 111-112, Waloni mengemukakan: Menurut umat Kristen, keempat kitab dar MATIUS hingga YOHANES adalah “Injil”. Padahal yang sebenarnya bukan injil. Adapun kebenaran ucapan Nabi “Sang pembawa Injil” yaitu Isa as, yang tertulis dari dalam ke empat kitab ini, kebenarannya hanya 5% saja. Selanjutnya 45% “tahayul”, dan 50% adalah “dongeng”. Formulasi matematikanya adalah: “Tahayul + dongeng = “OMONG KOSONG”.
Sebelum saya menjawab klaim di atas, ada hal yang lucu yang perlu saya jelaskan di sini. Di halaman 111-121, saya melihat gaya penulisan bahasa Ibrani, Indonesia dan Inggris mengenai nama-nama kitab dan kata-kata lainnya yang dipaparkan oleh Waloni.
Kitab Yohanes, ditulis (dalam bahasa Inggris): Bible according to Jhon. Seharusnya kata “Jhon” ditulis dengan “John”. (mungkin salah ketik)
Galatia, ditulis “Galations”. Seharusnya ditulis Galatians.
Efesus ditulis “Ephesions”. Seharusnya ditulis Ephesians.
Filipi ditulis “Filippions”. Seharusnya ditulis Philippians.
Kolose ditulis “Klose” dan “Colossing”. Seharusnya ditulis Kolose dan Colossians.
1 Korintus ditulis I Korintas. Begitu juga dengan 2 Korintus: II Korintas.
1 Tesalonika ditulis “Thessalonions”. Seharusnya ditulis Thessalonians. Sedangkan 2 Tesalonika ditulis “Thessalenions.”
1 Timotius ditulis “I Timotios”. 2 Timotius ditulis “II Timottos”.
Filemon ditulis “Filemon”. Seharusnya Philemon (dalam bahasa Inggris).
Yakobus ditulis “Yakobbus” dan “The Geneal Epistle of James”. Seharusnya ditulis “James”.
1 Petrus ditulis “The first Epistle Geneal of Peter”. Seharusnya ditulis “1 Peter” saja.
2 Petrus ditulis “The Second Epistle Geneal of Peter. Seharusnya ditulis “2 Peter” saja.
1 Yohanes ditulis “The first Epistle Geneal of Jhon”. Seharusnya ditulis “Epistle of John” (sudah termasuk 2 dan 3 Yohanes).
Wahyu ditulis “The Revelation of saint Jhon the Divne”. Seharusnya ditulis “Revelation” saja. Untuk nama “Jhon”, seharusnya ditulis “John”.
Di halaman 114, kitab Yakobus ditulis “Yakobas”.
Di halaman 114, kata “Ortodoks” ditulis “Ortodok”, padahal dalam bahasa Inggrisnya: Orthodox (ada huruf “ks” di belakang karena kata tersebut adalah serapan).
Di halaman 115, kitab Bilangan ditulis “Nambers”. Seharusnya “Numbers”.
Kitab Yosua ditulis “Yasak”. Seharusnya “Yusak”.
Di halaman 116, kitab Ester ditulis “Eser”. (Mungkin salah ketik).
Di halaman 117, kitab Amos ditulis “Aos”. Mungkin salah ketik.
Di halaman 119, kitab Keluaran ditulis “Weelah Syemot”: Inilah Namanya. Seharusnya ditulis “Elah syemot”: inilah nama-nama.
Di halaman 119, kitab Ulangan ditulis “Elleh hadebarim”: inilah perkotaan. Apakah kitab ulangan berbicara mengenai “perkotaan?” Tentu tidak. Kitab Ulangan berbicara mengenai pengulangan hukum, undang-undang.
Di halaman 119, kitab Hakim-hakim ditulis “Syofetim”. Seharusnya ditulis “Syopetim”.
Kitab Yesaya ditulis (dalam bahasa Ibrani) “Yesyayahu”. Memang benar bacaaannya tetapi salah penulisannya. Seharusnya ditulis yesya’yahu (Yahweh adalah keselamatan).
Di halaman 120, kitab Yehezkiel ditulis “Yehezqel” (Ibr.). Seharusnya ditulis (bahasa Ibraninya) yekhezqé’l (Allah menguatkan).
Di halaman 120, kitab Zefanya ditulis “Zetanya”. Mungkin salah ketik.
Di halaman 120, di poin C Waloni menuliskan mengenai Ketubim yang adalah “kitab-kitab” orang Yahudi Helenis. Dalam bahasa Yunani kitab-kitab ini dikenal dengan istilah “Hagiographi” (hagiografi). Waloni keliru dalam membedakan antara hagiografi dan hagiografa. Saya jelaskan perbedaan kedua istilah tersebut:
Hagiografa (Yun. agiographa – dari kata agios, agio yang artinya ‘kudus’; jamak ‘orang-orang kudus’) adalah tulisan-tulisan suci, bagian kanon Yahudi yang ketiga dan terakhir, sedangkan kata hagiografi berarti tulisan tentang kehidupan orang-orang suci. Sumber-sumber penulisannya adalah kisah para martir, berbagai biografi dan naskah liturgi. Kumpulan hagiografi yang pertama ditulis oleh Eusebius dari Kaisarea pada abad ke-3. Karena Waloni menyinggung kitab-kitab (Ketubim) Yahudi, maka seharusnya ditulis hagiografa dan bukan hagiografi.
Di halaman 120, Waloni menulis nama kitab Ayub dengan “Yob”. Mungkin yang Waloni maksud adalah dalam bahasa Ibrani. Tapi sayang, penulisannya juga salah. Seharusnya ditulis ´Iyyôb (Yun. Iob).
Kitab Amsal ditulis Mesyalim. Seharusnya ditulis misylé (amsal dari), yang adalah singkatan dari misylé syelomoh (amsal-amsal Salomo).
Kitab Kidung Agung ditulis “Syir Hasyirim”. Seharusnya “Syir hasysirim”.
Kitab Ratapan ditulis Eica. Seharusnya ditulis ‘ékha.
Sekarang saya akan menjawab klaim ignoran Waloni di atas. Waloni mengklaim bahwa Matius, Markus, Lukas dan Yohanes bukanlah Injil. Apa alasan Waloni mengklaim demikian? Jawabnya: Wallaahua’lam…. Tuduhan-tuduhan seperti demikian, membanjiri buku Waloni. Selanjutnya, ke empat kitab ini (Injil-injil), kebenarannya hanya 5% saja. Selanjutnya 45% “tahayul”, dan 50% adalah “dongeng”. Formulasi matematikanya adalah: “Tahayul + dongeng = “OMONG KOSONG”. Mengenai klaim ini, kita hanya patut bertanya kepada Waloni: apa saja kebenaran yang 5% itu, apa saja 45% takhayul itu dan apa saja 50% dongeng itu. Sampai tikus beranak unta Arab, Waloni tidak akan dapat menjawabnya.
Di halaman 113-114, Waloni mengungkapkan (klaim ini sudah diulang-ulang) dari 27 kitab PB terdapat 4 kitab yang mengatasnamakan “Injil” (padahal bukan “Injil). Kitab-kitab tersebut adalah: “Matius, Markus, Lukas, dan Yohanes.” Selain itu, terdapat juga 14 surat kiriman Paulus dari kitab Roma sampai kitab Ibrani. Ada juga 9 buah karangan: Lukas (Kisah Para Rasul), Yakobus, I-II Petrus, I-III Yohanes Yudas, Wahyu kepada Yohanes (katanya!!!).
Di halaman 118, setelah Waloni memaparkan susunan kitab-kitab versi Kristen, Katolik dan Ortodoks Timur, Waloni menyimpulkan bahwa “dari sini kita dapat melihat bahwa ‘kitab suci Kristen bukanlah Firman Tuhan, melainkan buatan tangan dan otak manusia, tanpa bukti-bukti sejarah yang dapat dipertanggungjawabkan kebenarannya. Tentu ini hanyalah klaim kosong tanpa dasar sama sekali.
Kita perlu bertanya kepada Waloni: pertama, jika Alkitab bukan firman Tuhan, bagaimana mungkin Waloni mengklaim bahwa Muhammad telah dinubuatkan di dalamnya? kedua, tangan dan otak manusia mana yang membuat Alkitab yang bukan firman Tuhan? Jelas bahwa kitab-kitab suci mana pun adalah buatan tangan manusia. Jika kitab-kitab Kristen tanpa bukti sejarah yang dapat dipertanggungjawabkan, maka untuk membuktikan hal tersebut, sebenarnya Waloni juga membutuhkan sejarah yang mengatakan demikian. Untuk membuktikan bahwa Om Paulus adalah pembohong, maka Anda harus mempunyai bukti-bukti ilmiah.
Di halaman 231, Waloni menyatakan bahwa: Sebaliknya, kitab suci Kristen adalah kitab buatan tangan dan otak manusia. Segala yang tertulis di dalamnya mengandung 10% kebenaran dan 90% omong kosong.
Klaim ini sudah saya jawab sebelumnya. Akan tetapi, saya tambahkan sedikit bahwa Waloni lupa bahwa Al-Qur’an juga adalah buatan manusia Muhammad dan para pengikutnya. Waloni juga lupa bahwa AL-Qur’an disusun berdasarkan otak manusia. Tak ada wahyu yang dicerna dan diturunkan dari Tuhan tanpa menggunakan otak manusia. Menurut Waloni, Alkitab mengandung 10% kebenaran dan 90% omong kosong. Kita perhatikan bahwa hampir seratus persen Waloni percaya bahwa Muhammad dinubuatkan dalam Alkitab PL dan PB. Dengan yakin seyakin-yakinnya Waloni mengklaim bahwa Muhammad adalah Nabi Islam yang dinubuatkan oleh Nabi Musa dan Yesus. Jika Alkitab mengandung 10% kebenaran, apakah 10% itu adalah nubuatan untuk Nabi Muhammad?
Di halaman 231-233, Waloni mengemukakan,
“Adapun fakta yang membenarkan kitab suci Kristen adalah buatan tangan dan otak manusia adalah sebagai berikut. Pertama, apa yang tertulis di dalamnya bukanlah wahyu dari Tuhan, tetapi anggapan manusia yang tidak dapat dibuktikan dengan fakta kebenaran sejarah. Kedua, ia ditulis tanpa alasan manfaat dan keselamatan umat manusia. Sebaliknya, ia menyesatkan dan menjerumuskan manusia ke jurang neraka. Ketiga, penulisan kitab Perjanjian Lama bukan lagi murni kitab Taurat Musa dan para nabi. Apa yang dikisahkannya telah menyimpang dari fakta sejarah, bahkan wibawa para nabi Allah SWT telah direndahkan. Misalnya, Daud difitnah berzina, Luth difitnah berzina dengan anak kandungnya sendiri, Sulaiman dituduh menyembah berhala, Harus difitnah memimpin bani Israil menyembah berhala, dan lain-lain.
Keempat, kitab Perjanjian Baru Kristen intinya menjelaskan bahwa hukum Taurat dan kitab para nabi sudah berlalu sebab sudah diganti dengan kehadiran Yesus ke dunia melalui proses kematian di tiang salib. Contohnya dalam Matius 5:18-19. Kelima, penulisan kitab Perjanjian Baru dimulai kurang lebih empat ratus tahun kemudian setelah dimuliakannya nabi Isa as (yang di-Yesus-tuhankan). Makanya, sampai hari ini tidak ada satu manusia pun yang mampu menunjukkan naskah atau kitab asli Injil Isa as. Tetapi anehnya, kitab Perjanjian Baru disebut Injil Yesus.
Argumen dan klaim amburadul Waloni di atas, saya analisis sebagai berikut: berdasarkan pijakan berpikir Waloni, ia mendefinisikan bukti bahwa Alkitab adalah buatan tangan dan otak yang didasari pada:
Pertama, apa yang tertulis di dalamnya bukanlah wahyu dari Tuhan, tetapi anggapan manusia yang tidak dapat dibuktikan dengan fakta kebenaran sejarah.
Klaim Waloni ini sebenarnya menjadikan Kitab Sucinya (Al-Qur’an) adalah pembohong semata-mata karena di dalam Al-Qur’an dituliskan bahwa ia membenarkan kitab-kitab sebelumnya. Jika Al-Qur’an membenarkan kitab-kitab yang bukan wahyu dari Tuhan dan tidak dapat dibuktikan dengan fakta sejarah, maka AL-Qur’an sedang melakukan penipuan. Dan jelas, Waloni tertipu dengan argumennya sendiri. Mari kita lihat apa klaim Al-Qur’an mengenai “pembenarannya terhadap kitab-kitab sebelumnya:
Surat Al Baqarah [2]:136, … “Kami beriman kepada Allah dan apa yang diturunkan kepada Kami, dan apa yang diturunkan kepada Ibrahim, Isma’il, Ya’qub dan anak cucunya, dan apa yang diberikan kepada Musa dan ‘Isa serta apa yang diberikan kepada nabi-nabi dari Tuhannya. Kami tidak membeda-bedakan seorangpun di antara mereka dan kami hanya tunduk dan patuh kepada-Nya.”
Surat Ali ‘Imran [3]:3, Dia menurunkan Al Kitab (Al-Qur’an) kepadamu dengan sebenarnya; membenarkan kitab yang telah diturunkan sebelumnya dan menurunkan Taurat dan Injil.
Surat Al Maa-idah [5]:48 – Dan Kami telah turunkan kepadamu Al Qur’an dengan membawa kebenaran, membenarkan apa yang sebelumnya, yaitu kitab-kitab (yang diturunkan sebelumnya) dan batu ujian terhadap kitab-kitab yang lain itu; maka putuskanlah perkara mereka menurut apa yang Allah turunkan dan janganlah kamu mengikuti hawa nafsu mereka dengan meninggalkan kebenaran yang telah datang kepadamu….
Surat Al An’aam [6]:92, “Dan ini (Al Qur’an) adalah kitab yang telah Kami turunkan yang diberkahi membenarkan kitab-kitab yang (diturunkan) sebelumnya….”
Surat Faathir [35]:31, Dan apa yang telah Kami wahyukan kepadamu yaitu Al Kitab (Al Qur’an) itulah yang benar, dengan membenarkan kitab-kitab yang sebelumnya. Sesungguhnya Allah benar-benar Maha Mengetahui lagi Maha Melihat (keadaan) hamba-hamba-Nya.
Bukankah dengan mengatakan bahwa Alkitab penuh dengan omong kosong bertentangan dengan ayat-ayat Al-Qur’an? Waloni pasti menjawab bahwa Al-Qur’an membenarkannya sebelum dipalsukan dan diedit. Pertanyaannya: Kapan dipalsukan dan diedit? Jika Alkitab bukanlah wahyu dari Tuhan maka jelas bahwa nubuat mengenai Nabi Muhammad dalam Alkitab juga gugur dengan sendirinya sesuai dengan klaim Waloni.
Di pihak lain (dalam buku Waloni), ia mengakui bahwa Muhammad telah dinubuatkan dalam Alkitab, tetapi anehnya, Waloni mengklaim bahwa Alkitab bukanlah wahyu dari Tuhan. Jika Alkitab merupakan anggapan manusia yang tidak dapat dibuktikan dengan fakta kebenaran sejarah, maka apakah Waloni dapat membuktikan secara ilmiah dan sesuai dengan fakta sejarah bahwa Alkitab adalah merupakan anggapan manusia belaka? Apakah Waloni dapat membuktikan secara ilmiah dan sesuai dengan fakta kebenaran sejarah, apa saja yang tidak dapat dibuktikan dengan fakta kebenaran sejarah?
Kedua, ia [Alkitab] ditulis tanpa alasan manfaat dan keselamatan umat manusia. Sebaliknya, ia menyesatkan dan menjerumuskan manusia ke jurang neraka.
Klaim Waloni di atas sama sekali salah total. Menurut Waloni, Alkitab ditulis tanpa alasan manfaat dan keselamatan umat manusia, padahal, dalam seluruh Alkitab, keselatan umat manusia (umat pilihan-Nya) mendominasi secara total. Dalam PL, konsep keselamatan yang digagas Allah adalah melalui pencurahan darah dan mempersem-bahkan korban. Keselamatan dari Tuhan yang ditujukan kepada para nabi dan para hamba-Nya, keselamatan yang dinantikan oleh umat-Nya, keselamatanlah yang menjadi tajuk utama dari berita Alkitab (PL dan PB). Tanpa Tuhan, manusia berdosa tak mungkin dapat menyelamatkan dirinya sendiri sekalipun betapa salehnya ia dan betapa baiknya ia. Berita keselamatan adalah berita penuh sukacita di mana Allah yang menjadi sumber keselamatan itu, mencurahkan keselamatan kepada umat-Nya, dengan cara-Nya sendiri dan dengan ketentuan yang Ia tetapkan sendiri.
Dalam PB, Yesus mencurahkan darah-Nya untuk keselamatan umat-Nya dari dosa-dosa mereka. Kalau menurut Waloni bahwa Alkitab ditulis tanpa alasan manfaat dan keselamatan umat manusia, hal itu justru menunjukkan kebalikkannya. Betapa kayanya firman Allah: Alkitab, yang menekankan relasi kasih, relasi pengampunan dan relasi keselamatan antara Allah dan umat pilihan-Nya.
Kemudian, sesuai dengan pernyataan Waloni bahwa Alkitab menyesatkan dan menjerumuskan manusia ke jurang neraka, maka mengapa Waloni berani berkata bahwa Muhammad dinubuatkan Alkitab? Bukankah klaim tersebut akan mengakibatkan Muhammad adalah nabi sesat dan masuk neraka karena Alkitab ternyata menyesatkan dan menjerumuskan manusia ke jurang neraka?
Orang Kristen tidak mungkin menerima pernyataan Waloni tersebut sebab Alkitab adalah firman Allah yang hidup, yang mengubah hidup manusia menjadi hidup yang memberi arti dalam kehidupan bersama di mana ia berada.
Kembali ke soal “keselamatan” yang dianggap Waloni tidak menjadi alasan kepenulisan Alkitab. Dalam Alkitab, keselamatan menjadi tema utama, karena manusia telah jatuh dalam dosa. Akibat dosa, maka manusia harus diselamatkan. Untuk diselamatkan, didamaikan dan dikuduskan oleh Allah, umat Israel harus mempersembahkan “sesuatu” kepada Allah. Tuntutan ini adalah berdasarkan tuntutan Allah. Yang akan menyelamatkan [Allah] menuntut cara-Nya untuk menye-lamatkan yang akan diselamatkan [manusia], maka, hanya Allah yang dapat menentukan bagaimana seharusnya “menyelamatkan” manusia yang berdosa. Ia pula yang menentukan batas-batas sesuatu demi kepentingan kese-lamatan. Jelas bahwa konsep keselamatan Alkitab, tidak dipahami oleh Muhammad (dan penganut Islam di seluruh dunia), sebab mereka menolak, terutama karya penebusan Yesus di kayu salib. Bagi mereka, hal itu tidak masuk akal. Masakan Allah mau menyelamatkan manusia harus turun menjadi manusia dan mati di antara para penjahat? Ini suatu penghinaan terhadap Tuhan sendiri. Akan tetapi, dengan cara demikian, Yesus sanggup menyelamatkan semua orang yang telah dipilih sejak kekekalan:
Sebab di dalam Dia Allah telah memilih kita sebelum dunia dijadikan, supaya kita kudus dan tak bercacat di hadapan-Nya. Dalam kasih Ia telah menentukan kita dari semula oleh Yesus Kristus untuk menjadi anak-anak-Nya, sesuai dengan kerelaan kehendak-Nya, supaya terpujilah kasih karunia-Nya yang mulia, yang dikaruniakan-Nya kepada kita di dalam Dia, yang dikasihi-Nya. Sebab di dalam Dia dan oleh darah-Nya kita beroleh penebusan, yaitu pengampunan dosa, menurut kekayaan kasih karunia-Nya, yang dilimpahkan-Nya kepada kita dalam segala hikmat dan pengertian. Sebab Ia telah menyatakan rahasia kehendak-Nya kepada kita, sesuai dengan rencana kerelaan-Nya, yaitu rencana kerelaan yang dari semula telah ditetapkan-Nya di dalam Kristus. (Ef. 1:4-9)
Karena itu Ia sanggup juga menyelamatkan dengan sempurna semua orang yang oleh Dia datang kepada Allah. Sebab Ia hidup senantiasa untuk menjadi Pengantara mereka. (Ibr. 7:25)
Topik-topik mengenai keselamatan, adalah bagian terpenting dari isi Alkitab, baik melalui cara mengorbankan sesuatu seperti yang diperintahkan Tuhan kepada umat-Nya atau keselamatan jiwa dan rohani yang dikerjakan oleh Tuhan. Berikut ayat-ayat yang menyatakan tentang aspek keselamatan dari Allah yang menjadi kesukaan dan bagian terpenting bagi umat pilihan-Nya, yang bertolak belakang dengan klaim Waloni bahwa keselamatan tidak menjadi alasan kepenulisan Alkitab:
Aku menanti-nantikan keselamatan yang dari pada-Mu, ya TUHAN (Kej. 49:18)
Tetapi berkatalah Musa kepada bangsa itu: Janganlah takut, berdirilah tetap dan lihatlah keselamatan dari TUHAN, yang akan diberikan-Nya hari ini kepadamu; sebab orang Mesir yang kamu lihat hari ini, tidak akan kamu lihat lagi untuk selama-lamanya (Kel. 14:13)
Untuk keselamatan mereka Aku akan mengingat perjanjian dengan orang-orang dahulu yang Kubawa keluar dari tanah Mesir di depan mata bangsa-bangsa lain, supaya Aku menjadi Allah mereka; Akulah TUHAN (Im. 26:45)
Sebab itu katakanlah: Sesungguhnya Aku berikan kepadanya perjanjian keselamatan yang dari pada-Ku (Bil. 25:12)
Supaya aku menceritakan segala perbuatan-Mu yang terpuji dan bersorak-sorak di pintu gerbang puteri Sion karena keselamatan yang dari pada-Mu (Mzr. 9:14)
Tetapi aku bersorak-sorak karena TUHAN, aku girang karena keselamatan dari pada-Nya (Mzr. 35:9)
Siapa yang mempersembahkan syukur sebagai korban, ia memuliakan Aku; siapa yang jujur jalannya, keselamatan yang dari Allah akan Kuperlihatkan kepadanya (Mzr. 50:23)
Sesungguhnya keselamatan dari pada-Nya dekat pada orang-orang yang takut akan Dia, sehingga kemuliaan diam di negeri kita (Mzr. 85:9)
Ya TUHAN, berilah kiranya keselamatan! Ya TUHAN, berilah kiranya kemujuran! (Mzr. 118:25)
Ia menumbuhkan sebuah tanduk keselamatan bagi kita di dalam keturunan Daud, hamba-Nya itu (Luk. 1:69)
Untuk memberikan kepada umat-Nya pengertian akan keselamatan yang berdasarkan pengampunan dosa-dosa mereka (Luk. 1:77)
Dan keselamatan tidak ada di dalam siapapun juga selain di dalam Dia, sebab di bawah kolong langit ini tidak ada nama lain yang diberikan kepada manusia yang olehnya kita dapat diselamatkan (Kis. 4:12)
Karena Allah tidak menetapkan kita untuk ditimpa murka, tetapi untuk beroleh keselamatan oleh Yesus Kristus, Tuhan kita (1 Tes. 5:9)
Dan aku mendengar suara yang nyaring di sorga berkata: Sekarang telah tiba keselamatan dan kuasa dan pemerintahan Allah kita, dan kekuasaan Dia yang diurapi-Nya, karena telah dilemparkan ke bawah pendakwa saudara-saudara kita, yang mendakwa mereka siang dan malam di hadapan Allah kita (Why. 12:10)
Kemudian dari pada itu aku mendengar seperti suara yang nyaring dari himpunan besar orang banyak di sorga, katanya: Haleluya! Keselamatan dan kemuliaan dan kekuasaan adalah pada Allah kita (Why. 19:1)
Dari uraian ayat-ayat di atas, apakah kepenulisan Alkitab tidak menekankan keselamatan? Apakah Alkitab tidak menuntun umat-Nya kepada keselamatan?
Ketiga,menurut Waloni, penulisan kitab Perjanjian Lama bukan lagi murni kitab Taurat Musa dan para nabi. Apa yang dikisahkannya telah menyimpang dari fakta sejarah, bahkan wibawa para nabi Allah SWT telah direndahkan. Misalnya, Daud difitnah berzina, Luth difitnah berzina dengan anak kandungnya sendiri, Sulaiman dituduh menyembah berhala, Harun difitnah memimpin bani Israil menyembah berhala, dan lain-lain. Mengatakan bahwa kitab Taurat Musa dan para nabi tidak murni lagi, sebenarnya menjadikan Al-Qur’an menyimpang dari maksud mula-mula. Mengapa? Sebab dalam Al-Qur’an, semua perilaku para nabi dan rasul termasuk Muhammad dibela mati-matian, atau diterangkan yang baik-baiknya saja. Alkitab tahu siapa para nabi. Mereka adalah manusia biasa – tidak lepas dari kesalahan dan dosa. Nuh mabuk, Musa berdosa, Abram berdusta, Lot disetubuhi oleh kedua anaknya, Daud berzina, Salomo memiliki istri yang banyak, Yunus tidak taat pada Tuhan.
Dalam Al-Qur’an memang tidak disebutkan berbagai skandal dari nabi-nabi, misalnya Ibrahim, Daud, Sulaiman (Salomo) dan lainnya. Masalahnya, Al-Qur’an terlalu tinggi menjunjung nabi-nabi padahal mereka juga adalah manusia. Daud adalah raja Israel, tetapi Alkitab tidak menyembunyikan dosa-dosanya, tapi membeberkannya. Untuk apa “membungkus” dosa-dosa para nabi jika memang faktanya demikian. Waloni menuduh Paulus penyesat dan pembohong padahal Waloni sendiri memiliki asumsi yang negatif tentang Paulus, dan berangkat dari presuposisi yang subjektif sekali tentang Paulus. Semua argumen Waloni mengenai Paulus bukanlah ajaran standar dari orang Kristen.
Tidak ada Kitab Suci selain Alkitab yang menjelaskan berbagai dosa, kelemahan, kesalahan, skandal dan sebagainya dari orang-orang yang dipilih TUHAN. Mereka adalah manusia – yang memiliki kecenderungan untuk berdosa. Tujuan Waloni dengan mengusung kasus-kasus besar dari pada nabi TUHAN dalam Alkitab adalah sebenarnya sedang membandingkan dengan Al-Qur’an, di mana di dalamnya tidak dijelaskan mengenai skandal Daud, Salomo dan lainnya. Waloni mau mendeteksi Kitab Suci dari berbagai perbuatan yang tidak baik. Dia lupa bahwa TUHAN membenarkan orang yang tidak benar, TUHAN mengampuni orang yang berdosa – dan itulah mereka: Nuh, Abram, Daud, Salomo dan lainnya. Jelas Alkitab lebih fair ketimbang Al-Qur’an.
Keempat,kitab Perjanjian Baru Kristen intinya menjelaskan bahwa hukum Taurat dan kitab para nabi sudah berlalu sebab sudah diganti dengan kehadiran Yesus ke dunia melalui proses kematian di tiang salib. Contohnya dalam Matius 5:18-19.
Waloni salah memahami konteksnya. Saya memakluminya. Dengan modal pengetahuan teologi sejengkal, mau memahami kekayaan Alkitab yang begitu dalam. Hukum Taurat tidak dibatalkan tetapi digenapi. Dalam referensi yang Waloni usulkan (Mat. 5:18-19), Waloni keliru memahaminya. Ayat 17 jelas mengatakan: “Janganlah kamu menyangka, bahwa Aku datang untuk meniadakan hukum Taurat atau kitab para nabi. Aku datang bukan untuk meniadakannya, melainkan untuk menggenapinya”
Yesus tidak meniadakan hukum Taurat – atau seperti usulan Waloni: berlalu dan diganti – adalah keliru. Ini merupakan tafsir bebas tanpa pemahaman yang utuh terhadap teks dan konteks yang dimaksudkan Matius.
Segala sesuatu yang kamu kehendaki supaya orang perbuat kepadamu, perbuatlah demikian juga kepada mereka. Itulah isi seluruh hukum Taurat dan kitab para nabi (Mat. 7:12)
Tetapi sekarang, tanpa hukum Taurat kebenaran Allah telah dinyatakan, seperti yang disaksikan dalam Kitab Taurat dan Kitab-kitab para nabi, yaitu kebenaran Allah karena iman dalam Yesus Kristus bagi semua orang yang percaya. Sebab tidak ada perbedaan (Rm. 3:21-22)
Karena kami yakin, bahwa manusia dibenarkan karena iman, dan bukan karena ia melakukan hukum Taurat. Atau adakah Allah hanya Allah orang Yahudi saja? Bukankah Ia juga adalah Allah bangsa-bangsa lain? Ya, benar. Ia juga adalah Allah bangsa-bangsa lain! Artinya, kalau ada satu Allah, yang akan membenarkan baik orang-orang bersunat karena iman, maupun orang-orang tak bersunat juga karena iman. Jika demikian, adakah kami membatalkan hukum Taurat karena iman? Sama sekali tidak! Sebaliknya, kami meneguhkannya (Rm. 3:28-31)
Sebab Kristus adalah kegenapan hukum Taurat, sehingga kebenaran diperoleh tiap-tiap orang yang percaya. Sebab Musa menulis tentang kebenaran karena hukum Taurat: “Orang yang melakukannya, akan hidup karenanya” (Rm. 10:4-5)
Jika hukum Taurat berlalu dan diganti [dalam pengertian Waloni], maka Yesus tidak konsisten dengan perkataan-Nya [Yesus datang tidak meniadakan hukum Taurat melainkan menggenapinya]. Paulus juga meneguhkan perkataan Yesus bahwa hukum Taurat tidak dibatalkan melainkan diteguhkan. Maka, Waloni memang salah total dalam memahami maksud dari teks Matius 5 yang ia rujuk. Demikian juga, bahwa tentu orang Kristen yang mengasihi, tidak memenuhi hukum Taurat sebab dalam Roma 13:8-10 di atas, tidak berlaku (jika menjawab pendapat Waloni). Kasih adalah pemenuhan hukum Taurat; dan orang Kristen diperintahkan untuk saling mengasihi. Hukum Taurat tidak dibatalkan atau ditiadakan karena jelas teks dalam Matius 5 jelas menyatakan demikian.
Dari teks-teks di atas, jelas bahwa kasih adalah pemenuhan hukum Taurat – dan Taurat tidak dibatalkan atau dihilangkan seperti dugaan Waloni. Memang pema-haman yang keliru yang dilakukan Waloni berimbas kepada kebodohannya dalam mengerti maksud Alkitab.
Kelima,penulisan kitab Perjanjian Baru dimulai kurang lebih empat ratus tahun kemudian setelah dimuliakannya nabi Isa as (yang di-Yesus-tuhankan). Makanya, sampai hari ini tidak ada satu manusia pun yang mampu menunjukkan naskah atau kitab asli Injil Isa as. Tetapi anehnya, kitab Perjanjian Baru disebut Injil Yesus.
Perhatikan baik-baik pernyataan Waloni di atas. Menurutnya, penulisan kitab Perjanjian Baru dimulai kurang lebih empat ratus tahun kemudian setelah dimuliakannya nabi Isa as (yang di-Yesus-tuhankan). Waloni memang salah besar. Dari mana bukti bahwa Injil atau PB ditulis kurang lebih 400 tahun setelah Yesus dimuliakan? Aduh, astaga. Jika Waloni menyebutkan Perjanjian Baru, maka ada 27 kitab yang terdiri empat Injil, Kisah Para Rasul, tiga belas surat Paulus, Ibrani, Yakobus, dua surat Petrus, tiga surat Yohanes, surat Yudas dan wahyu kepada Yohanes. Injil pertama (Markus) ditulis kurang lebih selang waktu tidak sampai ± 35 tahun setelah Yesus naik ke surga yaitu sekitar tahun 60-an. Oleh karena Irenaeus bersaksi bahwa Markus menulis setelah kematian Petrus dan Paulus dan karena Paulus kemungkinan besar mati pada musim panas atau musim gugur tahun 66 AD, maka Markus sangat mungkin menulis Injilnya pada tahun 66 atau 67 AD. Karena penghancuran Yerusalem tidak disebut, maka pasti Markus menulis sebelum tahun 70 AD.
Lalu datanglah Waloni, sang teolog kelas teri dengan teori barunya bahwa PB (termasuk Injil-Injil) ditulis kurang lebih empat ratus tahun sesudah Yesus dimuliakan [naik ke surga]. Ini teori seorang doktor yang rendahan, yang tidak ada sumber yang pendukungnya. Kitab-kitab PB, selesai ditulis pada akhir tahun 90-an Masehi. Kitab itu adalah kitab Wahyu. Tidak ada satu pun kitab PB yang ditulis lebih dari empat ratus tahun. Jika ada, maka itu adalah kitab khayalan Waloni.
Selanjutnya, sambungan dari pernyataan Waloni di atas adalah: Makanya, sampai hari ini tidak ada satu manusia pun yang mampu menunjukkan naskah atau kitab asli Injil Isa as. Tetapi anehnya, kitab Perjanjian Baru disebut Injil Yesus.
Ada dua kesalahan total dari pernyataan Waloni di atas. (1) Waloni mengakui bahwa tidak ada naskah asli Injil Isa, padahal Isa [Yesus] sama sekali tidak menulis Injil satu pun. Tidak ada profesor mana pun yang menyatakan bahwa Yesus pernah menulis Injil. Yang menulis Injil adalah murid-murid Yesus dan orang-orang yang dipilih Tuhan untuk menulis dan melayani-Nya. (2) Waloni menuduh dan membuat kesimpulan sendiri bahwa “anehnya, kitab Perjanjian Baru disebut Injil Yesus.” Perhatikan, Waloni menyatakan bahwa kitab Perjanjian Batu disebut Injil Yesus. Pertanyaannya adalah: Siapa yang menyatakan atau mengklaim bahwa kitab Perjanjian Baru adalah Injil Yesus? Tidak ada satu pun ahli yang menyatakan demikian. Kecuali dengan menyebutkan “Injil tentang Yesus Kristus”. Kalau pun menyebutkan “Injil Yesus”, hal itu dimaksudkan merujuk pada kisah tentang Yesus, dan bukan Injil yang ditulis oleh Yesus. Jika yang Waloni maksudkan bahwa “Injil yang ditulis Yesus”, maka ia keliru.
Kitab-kitab PB adalah kitab-kitab yang menceritakan tentang hidup dan karya Yesus Kristus serta kedatangan-Nya yang kedua kali. Ini adalah benar.
Kesimpulan saya mengenai klaim kelima Waloni adalah bahwa Isa tidak pernah menulis Injil – yang menulis Injil adalah para murid Yesus. Yesus menulis Injil adalah ajaran Al-Qur’an, bukan Alkitab.
Josh McDowell memaparkan berbagai keunikan Alkitab dibanding dengan buku-buku lainnya. Salah satunya adalah “unik dalam kemampuannya bertahan”. Ia menjelaskan: Meskipun ditulis di atas bahan-bahan yang mudah rusak, harus disalin dan disalin ulang selama ratusan tahun sebelum teknik pencetakan ditemukan, gaya, ketepatan dan keberadaannya tetap dapat dipertahankan. Alkitab, dibandingkan dengan karya sastra kuno lainnya, didukung oleh lebih banyak bukti naskah daripada 10 karya sastra digabungkan menjadi satu (Josh McDowell, Apologetika: Bukti yang Meneguhkan Kebenaran Alkitab, volume 1, (Malang: Gandum Mas, 2007), hlm. 46. Judul asli Evidence That Demands a Verdict, (United States: Here’s Life Publishers, 1981). Michael Keene menegaskan: Alkitab merupakan batu pijakan dari dua agama, Yudaisme dan Kristianitas, dan merupakan satu karya sastra klasik agung dunia…. Pengaruh Alkitab terhadap dunia tak dapat terhitung banyaknya. Alkitab berisi puisi-puisi sangat indah, kisah-kisah sengsara, dan karakter yang mengesankan. Pengaruhnya atas seni dan sastra Barat meluas melampaui bidang agama. Alkitab merupakan buku yang paling luas diterjemahkan, dicetak, didistribusikan, dan paling laku sepanjang segala masa. (Michael Keene, Alkitab: Sejarah, Proses Terbentuk, dan Pengaruhnya, diterjemahkan oleh Y. Dwi Koratno, (Yogyakarta: Kanisius, 2006), hlm. 6)
Berkenaan dengan konteks tersebut, Keene mengemukakan:
Ada beribu-ribu manuskrip Perjanjian Baru. Sebenarnya manuskrip yang sungguh-sungguh paling tua sampai sekarang berasal dari abad ke-4 dan 5 M. Ada juga penggalan-penggalan papirus yang berasal dari abad ke-2 dan ke-3 M. Manuskrip-manuskrip lain terdapat pada perkamen dan semuanya itu dijilid dalam bentuk buku (naskah kuno/codex). Manuskrip-manuskrip itu melengkapi teks terus-menerus, baik dalam bentuk huruf kapital (upper-case-letters) maupun huruf kecil (lower-case-letters). Dalam naskah-naskah kuno ini tidak ada ruang antarkatam tanpa tanda-tanda baca, dan tanpa pemisahan ke dalam bab dan ayat. Huruf kapital yang paling penting adalah Codex Sinaiticus dan Codex Vaticanus dari abad ke-4. Codex Bezae berisi teks keempat Injil dan Kisah Para Rasul berbahasa Yunani maupun Latin. Penggalan-penggalan paling awal dari manuskrip papirus adalah kutipan singkat dalam Yohanes 18 yang ditemukan di Mesir dan diterbitkan tahun 1935; penggalan ini kira-kira berasal dari tahun 135 M.
Paul Enns menegaskan bahwa Alkitab adalah firman Allah karena berasal dari Allah: Sebanyak 3800 kali Alkitab menyatakan “Allah berfirman” atau “Demikianlah firman Allah”. Contohnya dalam Keluaran 14:1; 20:1; Imamat 4:1; Bilangan 4:1; Ulangan 4:2; 32:48; Yesaya 1:10,24; Yeremia 1:11; Yehezkiel 1:3 dll. Paulus juga mengakui bahwa hal-hal yang ia tulis merupakan perintah Tuhan (1 Korintus 14:37) dan semua itu diakui oleh orang percaya (1 Tesalonika 2:13). Petrus memproklamasikan kepastian dari Kitab Suci dan keharusan untuk memperhatikan ketidakberubahan dan kepastian dari Firman Allah (2 Petrus 1;16-21). Yohanes juga mengakui bahwa pengajarannya berasal dari Allah; apabila orang menolak ajarannya berarti ia menolak Allah (1 Yohanes 4:6). Alkitab berasal dari 40 penulis yang berbeda (41 penulis?), dengan berbagai profesi dalam kehidupan mereka. Misalnya Musa, seorang pemimpin politik; Yosua, seorang pemimpin militer; Daud, seorang gembala; Salomo, seorang raja; Amos, seorang penjaga ternak dan pemetik buah; Daniel, seorang perdana menteri; Matius, seorang pemungut cukai; Lukas, seorang dokter medis; Paulus, seorang rabi dan Petrus, seorang nelayan. Alkitab juga ditulis diberbagai lokasi yang berbeda dan di tengah situasi yang beragam. Pada kenyataannya, Alkitab ditulis di tiga benua: Eropa, Asia, Afrika. Paulus menunis dari penjara di Roma dan dari kota Korintus, keduanya terletak di Eropa; Yeremia (dan mungin Musa) menulis di Mesir, di Afrika. Musa kemungkinan besar menulis di padang gurun; Daud menyusun Mazmurnya di pinggir kota, Salomo mengkontemplasikan Amsal di kerajaan, Yohanes menulis sebagai seorang buangan di pulau Patmos dan Paulus menulis lima kitab dari penjara.
Menurut Enns, alasannya cukup jelas bahwa hal itu terlihat bahwa banyak dari para penulis tidak mengenal penulis Kitab Suci lainnya dan mereka tidak mengetahui tentang tulisan lainnya. Hal itu dikarenakan para penulis yang menulis dalam jangka waktu lebih dari 1500 tahun. Namun demikian Alkitab secara menakjubkannya, merupakan suatu kesatuan yang utuh. Dan dalam kesatuannya (Roh Kudus adalah penyatu dari ke 66 kitab tersebut), kitab-kitab ini mengajarkan ketritunggalan Allah, keilahian Yesus Kristus, Pribadi Roh Kudus, kejatuhan dan kecemaran manusia, demikian pula keselamatan karena anugerah.
Sebagai pembuktian realibilitas dari PL dan PB, Enns menerangkan sebagai berikut:
Beberapa sumber kuno yang menunjukkan reliabilitas dari teks PL yakni:
NASKAH LAUT MATI. Sebelum penemuan naskah Qumran, manuskrip yang paling tua tertanggal kira-kira 900 AD. Beberapa manuskrip dari Naskah Laut Mati, termasuk di dalamnya Yesaya, Habakuk dan yang lain, tertanggal lebih jauh ke belakang yaitu 125 BC. Berarti manuskrip itu 1000 tahun lebih tua dari yang semula tersedia. Konklusi utama adalah tidak adanya perbedaan yang signifikan antara gulungan Yesaya di Qumran dengan teks Masoretik yang tertanggal 1000 kemudian.
SEPTUAGINTA. Terjemahan bahasa Yunani dari PL Ibrani untuk mengakomodasi orang Yahudi yang tersebar, yang tidak lagi bisa berbahasa Ibrani. Tradisi mengatakan bahwa sekitar 70 sarjana Ibrani menerjemahkan terks Ibrani ke Yunani (Septuaginta berarti “tujuh puluh”, jadi itu disebut LXX). Teks itu diterjemahkan di Aleksandria, Mesir, antara 250-150 BC. Sebagai suatu terjemahan hal itu tidaklah pas tetapi teks itu menolong dalam melihat bahwa itu berdasar pada teks Ibrani yang berusia 1000 tahun lebih tua dari manuskrip Ibrani yang kita miliki sekarang.
PENTATEUKH ORANG SAMARIA. Terjemahan dari kitab-kitab Musa dibuat untuk menfasilitasi ibadah di Samaria di gunung Gerizim (sebagai saingan Yerusalem). Terjemahan itu berdiri sendiri dari teks Masoretik dan karena itu tertelusur jauh ke belakang, yaitu abad ke-4 BC, maka terjemahan itu merupakan saksi yang bernilai untuk teks PL. meskipun ada sekitas 6000 perbedaan dengan teks Masoretik, kebanyakan dari perbedaan itu adalah hal yang tidak berarti, yaitu berhubungan dengan tata bahasa dan pelafalan (David Ewert, From Ancient Tablets to Modern Translations, (Grand Rapids: Zondervan, 1983), p. 100.).
TARGUM ARAMAIK. Setelah Israel kembali dari pembuangan di Babel, orang Yahudi pada umumnya telah meninggalkan bahasa Ibrani dan memakai Aramaik. Hal itu menjadi suatu kebutuhan untuk menyediakan Kitab Suci bagi orang Yahudi dalam bahasa sehari-hari mereka. Hasilnya adalah Targum. Targum artinya “terjemahan” atau “parafrasa” (menulis dengan kata-kata sendiri), dan mereka cukup bebas dalam menceritakan kembali catatan Alkitab; namun demikian, mereka “memberikan latar belakang yang bernilai untuk studi PB selain memberikan kesaksian untuk teks PL (David Ewert).
RELIABILITAS TEKS PB. Manuskrip Papirus. Manuskrip-manuskrip ini tua dan merupakan kesaksian yang penting. Misalnya: Papirus Chester Beatty tertanggal abad ke-2.
Manuskrip Uncial. Kira-kira 240 manuskrip disebut manuskrip uncial dan dapat dikenali dengan huruf-huruf besar. Codex (artinya “kitab”) Sinaiticus berisi semua PB dan tertanggal 331 AD. Codex Vaticanus berisi hampir keseluruhan PB, tertanggal dari abad ke-4 dan diperhitungkan sebagai salah satu manuskrip yang paling penting. Alexandrinus, tertanggal abad ke-5, berisi semua PB kecuali bagian dari Matius dan adalah menolong untuk menentukan teks Wahyu. Yang lain termasuk Codex Ephraemi (abad ke-5), Codex Bezae (abad ke-5 dan 6), dan Codex Washington (abad ke-4 dan 5).
Manuskrip Minuscule. Ada sekitar 2800 manuskrip manuskrip dalam huruf-huruf kecil. Secara umumnya tidak setua dari manuskrip uncial. Sebagian dari minuscule menyatakan tipe teks yang sama dan menunjukkan memiliki suatu hubungan “keluarga.” Demikianlah manuskrip itu dikategorikan.
Versi-versi. Sejumlah versi-versi yang terdahulu dari PB juga menolong dalam mengerti teks yang benar. Beberapa versi Syriac yang ada, di antaranya Diotessaron Tatian (170 AD), Old Syriac (200 AD), Peshitta (abad ke-5), dan Syriac Palestina (abad ke-5). Latin Vulgate, diterjemahkan oleh Jerome (400 AD), mempengaruhi gereja Barat. Terjemahan Koptik (diterjemahkan dalam abaf ke-3), termasuk versi Sahidic dan versi Bohairic, mempengaruhi Mesir.
Kesimpulan Enns adalah sebagai berikut: “Melalui studi manuskrip Yunani dan versi-versi yang mula-mula, kritik teks telah mampu menentukan teks yang dengan substansial dari tulisan-tulisan asli. Adalah nyata bahwa tangan Allah telah memelihara macam-macam teks sepanjang abad untuk memampukan para ahli untuk menyusunnya dan merekonstruksi teks itu sedekat mungkin pada tulisan aslinya.”
NASKAH-NASKAH TULIS TANGAN (NNT)
J. N. Birdsall mengelaborasikan mengenai naskah-naskah tulis tangan. Menurutnya, sumber paling utama ialah dalam naskah-naskah tulis tangan Yunani, yang dibuat dari sejumlah bahan yang berbeda-beda. Yang pertama adalah papyrus (sarana menulis dibuat dari semacam gelagah, yang dapat tahan lama). Papyrus ini dipakai di seluruh dunia kuno, tapi yang tersimpan dengan paling baik adalah papyrus yang ditemukan di lahan-lahan pasir Mesir. Dari 68 papirus PB yang terkenal itu (yang ditandai dalam daftar Gregory-von-Dobschuetz-Aland dengan “p” dalam bentuk huruf Gotik, dan disusul dengan bilangan) adalah yang berikut.
Pertama.
Papirus Kitab-kitab Injil. P45 (Papyrus Chester-Beatty, dengan kitab-kitab Injil, Dublin), kira-kira 250 M, dalam 17 lembar memuat 30 bagian terbesar dari Lukas dan Markus, sedikit berkurang bagian-bagian Matius dan Yohanes; P52 (Perpustakaan John Rylands, Manchester, UK) kira-kira 100-150 M, adalah serpihan PB yang paling tua yang ditemui; P66 (Papirus Bodmer dari Yohanes, Genewa, Swiss), kira-kira 200 M memuat Injil Yohanes dengan beberapa tempat kosong dalam pasal 14-21.
Kedua.
Papirus Kisah. P38 (Papirus Michigan 1571, Ann Arbor, AS) yang oleh beberapa ahli ditemukan bertarikh abad 3 oleh ahli lain abad ke-4, memuat Kisah Para Rasul 18:27-19:6; 19:12-16; P45 (Chester Beatty, seperti di atas) 13 halaman memuat bagian-bagian dari Kisah Para Rasul 5:30-17:17; P48 (Florence) bertarikh abad ke-3, hanya satu lembar, memuat Kisah Para Rasul 23:11-29.
Ketiga.
Surat-surat Paulus. P46 (Papirus Chester Beatty dengan surat-surat, Dublin), kira-kira 250 M dalam 90 lembar memuat bagian-bagian Surat Roma, 1 dan 2 Korintus, Galatia, Efesus, Filipi, Kolose, 1 Tesalonika, dalam urutan tersebut.
Keempat.
Kitab Wahyu. P47 (Papirus Chester Beatty dengan Wahyu, Dublin) 10 lembar, memuat Wahyu 9:10-17:2.
Semua papyrus di atas sangat menolong dalam hal menetapkan teks PB. Bahan kedua untuk membuat naskah-naskah tulis tangan Yunani adalah “Perkamen.” Perkamen adalah kulit biri-biri atau kambing yang dikeringkan dan dilicinkan dengan batu apung; kulit ini merupakan sarana menulis yang tahan lama dan tahan terhadap segala macam iklim. Perkamen dipakai sejak zaman kuno sampai akhir abad pertengahan Eropa, karena kertas mulai menggantikan-nya.
NASKAH-NASKAH PERJANJIAN BARU
Curt Fletemier menyebutkan bahwa lebih dari 5.300 naskah kuno Perjanjian Baru dalam bahasa Yunani. Sebelumnya sudah ada 15.000 salinan naskah kuno lainnya yang pernah diterjemahkan ke dalam bahasa-bahasa lain, seperti bahasa Syria dan Koptik. Naskah yang paling tua adalah naskah yang penting. Naskah-naskah itu disebut UNCIALS dan PAPYRI. Saat ini, ada 268 naskah dengan huruf besar, tetapi kebanyakan di antaranya berasal dari abad ke-5 dan abad-abad setelahnya. Naskah-naskah tertua, UNCIALS yang cukup diakui keasliannya dan dipakai menjadi dasar terjemahan Alkitab pada masa kini.
Codex Vaticanus, 325-350 M (Roma, Itali)
Codex Sinaiticus, 350 M (London, Inggris)
Codex Alexandrinus, 400 M (London, Inggris)
Codex Ephraemi, 400 M (Paris, Perancis)
Codex Bezae, 450 M (Cambridge, Inggris)
Salah satu naskah kuno yang lengkap memuat seluruh Kitab PB yakni Codex Sinaiticus, yang berasal dari tahun 350 M. Terjemahan Alkitab pada masa kini sebagian besar berdasarkan Codex Vaticanus dan Sinaiticus, tetapi ketika Alkitab versi KJV (King James Version) dicetak, Codex Vaticanus dan Sinaiticus sudah tidak dapat dipakai lagi. Naskah-naskah yang tua usianya adalah Papyrus karena ditulis di atas lembaran papyrus berbentuk lembaran kertas kuno yang masih kasar. Beberapa di antaranya memuat sepuluh surat-surat Paulus sedangkan yang lainnya memuat Injil Yohanes, Matius dan lainnya. Fragmen 7Q5 ditemukan di gua nomor tujuh di Qumran. Gua Qumran dihancurkan oleh Romawi pada tahun 68 M dan tidak pernah dipugar kembali, sehingga naskah ini pasti ditulis sebelum tahun 68 M. Delapan belas huruf yang terdapat di dalamnya telah dideteksi dan sangat sesuai ketika dibandingkan dengan naskah dalam Markus 6:52-53. Berikut adalah daftar lengkap papyrus tertua yang kita miliki (dalam bahasa Yunani):
P32 (Nomor Papyrus), tahun penulisan, 175 M, isinya adalah Surat-surat Paulus (Manchester, Inggris).
P45, tahun penulisan 150 M, isinya 4 Injil dan Kisah Para Rasul (Dublin, Irlandia)
P46, tahun penulisan antara tahun 81-96 M, isinya surat-surat Paulus (Ann Arbor, Michigan). P46, Papirus Beatty II, adalah salah satu naskah tertua. Naskah ini telah dicetak kembali seluruhnya dalam satu volume, bagian dari seri naskah Chester Beatty Biblical Papyrus. Cakupan dari Papirus ini (secara berurutan) adalah: Roma, Ibrani, 1&2 Korintus, Efesus, Galatia, Filipi, Kolose, 1&2 Tesalonika. Tentu saja, karena dimakan waktu, satu atau dua bagian hilang dari tiap halaman bawah. Seperti 17 ayat bagian pertama dari surat Roma, 6:14 sampai 8:15, dan sedikit bagian dari surat Tesalonika.
P66, tahun penulisan antara tahun 100-150 M, isinya Injil Yohanes (Cologny, Swiss). P66, Papirus Bodmer.
P70, tahun penulisan antara tahun 150-200 M, isinya Matius 1,2,3,12 dan 24 (Florence, Itali).
P77, tahun penulisan 150 M, isinya Kitab-kitab Injil (Oxford, Inggris).
P87, tahun penulisan 125 M, isinya surat-surat Paulus (Cologne, Jerman)
P90, tahun penulisan 150 M, isinya Kitab-kitab Injil (Oxford, Inggris).
FRAGMEN-FRAGMEN YANG ADA (BAGIAN KECIL DARI NASKAH PAPYRUS):
P1 (nomor papyrus), tahun penulisan 100 M, isinya Mat. 1:19 dan 12:14-20 (Philadelphia, Pensylvinia).
P4, tahun penulisan antara tahun 85-100, isinya Lukas 3:23; 5:36 (Paris, Perancis).
P29, tahun penulisan antara tahun 180-220, isinya Kisah Para Rasul 26:7-8 (Oxford, Inggris).
P52, tahun penulisan antara tahun 117-138, isinya Yohanes 18:31-33 (Manchester, Inggris).
P64, tahun penulisan sebelum 66 M, isinya Mat. 26:7-8; 10:14-15,22-23,31 (Oxford, Inggris). Ini adalah Fragmen Papirus Magdalena. Carsten Thiede menemukan tiga bagian kecil yang terlupakan dari Injil Matius dalam sebuah kotak kaca yang sudah lama (tempat penyimpanan barang berharga), di sebuah perpustakaan kecil, di Inggris. Pada saat ia melihatnya, dari bentuk tulisan Yunaninya ia langsung mengenali bahwa fragmen ini berasal dari naskah Yunani sekitar abad pertama.
7Q4, (sebelum 66 M), isinya 1 Tim. 3:16 (Barcelona, Spanyol).
7Q5 (50 M), isinya Mar. 6:52-53 (Barcelona, Spanyol). 7Q4 dan 7Q5 ditemukan di gua Qumran, bersamaan dengan Naskah Laut Mati.
P67 (sebelum 66 M), isinya Mat. 3:9,15; 5:20-22,25-28 (Barcelona, Spanyol)
P69 (antara tahun 80-120 M), isinya Luk. 22:41,45-48,58-61 (Oxford, Inggris).
Salah seorang mualaf, Dr. Muhammad Yahya Waloni, dalam bukunya “Islam Meruntuhkan Iman Sang Pendeta:, menulis (halaman 87) sebuah klaim yang sang amburadul-irasional: “Ketahuilah, walaupun Alkitab Perjanjian Baru Kristen hanya 5% fakta dan 95% dongeng dan khayalan….“
Tuduhan 5% fakta dan 95% dongeng dan khayalan, sebenarnya tidak ada dasar sejarahnya. Dari mana sumbernya bahwa hanya 5% yang adalah fakta dalam Perjanjian Baru? Apa saja fakta tersebut (yang 5%)? Apa saja dongeng dan khayalan yang 95% itu? Mumber manakah yang menyebutkan demikian? Tuduhan-tuduhan Waloni di atas, sebenarnya dengan sendirinya gugur dalam “dapur” ilmiah. Di halaman 111-112, Waloni mengemukakan sebuah pernyataan yang mencengangkan saya: Menurut umat Kristen, keempat kitab dar MATIUS hingga YOHANES adalah “Injil”. Padahal yang sebenarnya bukan injil. Adapun kebenaran ucapan Nabi “Sang pembawa Injil” yaitu Isa as, yang tertulis dari dalam ke empat kitab ini, kebenarannya hanya 5% saja. Selanjutnya 45% “tahayul”, dan 50% adalah “dongeng”. Formulasi matematikanya adalah: “Tahayul + dongeng = “OMONG KOSONG”.
Pernyataan Waloni di atas perlu diklarifikasi: 1) apa saja kebenaran yang 5% itu; 2) apa saja 45% takhayul itu; dan 3) apa saja 50% dongeng itu. Saya meyakini bahwa Waloni tak akan sanggup menjawabnya. Tuduhan Waloni sama sekali tidak ada dasar sejarahnya, dan itu membuktikan bahwa Waloni bukanlah sarjana yang jujur dan kredibel, justru malah mempertontonkan kebodohannya sendiri yang bercampur dengan “kesakithatiannya” terhadap Kristen. Tidak ada metodologi yang digunakan Waloni. Semuanya hanya berdasarkan asumsi semata, dan penuh dengan caci maki. Entah, setan apa yang ada dalam pikirannya sampai menimbulkan kebodohan tingkat tinggi yang tertuang dalam seluruh celotehannya di dalam bukunya yang tidak ilmiah sama sekali.
Kredibilitas dan Reliabilitas Alkitab: Kredo Iman Kristen Sepanjang Sejarah
Alkitab adalah firman Allah yang berotoritas. Alkitab benar-benar merupakan sebuah buku yang luar biasa. Alkitab menuntun kita untuk beriman kepada Yesus Kristus, memupuk pertumbuhan iman, membimbing, membentuk, dan mengoreksi iman itu sepanjang hidup kita (Philip Johnston (editor), Pengantar untuk Mengenal Alkitab: Memahami Alkitab Berdasarkan Sejarah, Tema, dan Penafsirannya, (Bandung: Kalam Hidup, 2011), hlm. 11). Mark Strauss menjelaskan bahwa Alkitab muncul dalam beragam konteks sejarah serta budaya dan memakai bentuk-bentuk penulisan yang bervariasi: prosa, puisi, silsilah, hukum (perintah serta peraturan), mazmur, amsal, sejarah, filsafat, nubuat, Surah-Surah kiriman, dan sebagainya. Keberagaman tersebut dapat dilukiskan sebagai sisi manusiawi dari Alkitab, sebab mencakup aneka pengalaman dan sudut pandang yang luas jangkauannya (Mark Strauss, “Mengenal Alkitab”, dalam Johnston, Pengantar untuk Mengenal Alkitab, hlm. 15).
Alkitab memiliki “keragaman” yang tiada tara – Alkitab menjadi inspirasi hidup kudus dan suci di hadapan Tuhan, karena demikianlah naturnya. Alkitab tidak digunakan sebagai senjata untuk membenarkan pembunuh-an terhadap manusia. Alkitab tidak mencetuskan kaum “teroris”. Alkitab menuntun kepada hidup yang penuh kasih dan pengampunan. Tidak ada kasih dan pengampunan yang ajaib dan tulus selain daripada kasih dan pengampunan yang diajarkan Tuhan Yesus yang dengannya, orang Kristen dapat menjadi terang dan garam dunia, mengasihi sesama, mengasihi musuh dan mendoakan musuh mereka. Tidak ada perintah dan demikian berani, yang dikumandangkan oleh para pemimpin agama selain daripada Yesus Kristus. Tidak ada yang berani mengatakan kasihilah dan doakan musuhmu, selain daripada Yesus Kristus.
Strauss berpendapat, walaupun ada banyak perbedaan, Alkitab menyajikan sebuah kisah yang agung atau meta-narasi. Kisah ini dapat dirangkum sebagai tindakan-tindakan Allah untuk menyelamatkan dunia. Kesatuan itu tercapai karena Alkitab bukanlah sekadar buku karya manusia. Alkitab bukanlah sekadar buku karya manusia. Alkitab adalah firman Allah yang diilhamkan dan berkuasa. Strauss juga menjelaskan bahwa, “Pengilhaman atau inspirasi berarti bahwa Alkitab bukanlah sekadar catatan mengenai perenungan-perenungan rohani atau pengalaman-pengalaman manusia dengan Allah, melainkan penyataan diri Allah (Wahyu), komunikasi-Nya yang sarat makna kepada umat manusia. Alkitab sendiri menyatakan pengilhaman mengenai isinya tersebut, baik secara implisit (tidak langsung) maupun secara eksplisit (langsung).”
Alkitab adalah firman Allah didasari pada apa yang dikatakannya sendiri – ia berasal dari Allah; Allah yang mewahyukannya kepada manusia, maka sifat atau natur manusiawi ikut menghiasi atau mewarnai Alkitab itu sendiri. Strauss menjelaskan, “Penulisan nubuat dalam Alkitab PL memakai istilah ‘Beginilah firman TUHAN….’ Para penulis Alkitab PB juga sering mengutip Alkitab PL dengan menyatakan, ‘Berfirmanlah Allah…’ atau ‘Berfirmanlah Roh Kudus….’ Sebuah contoh yang baik ialah Kisah Para Rasul 4:25 yang mengutip Mazmur 2:1-2 dari Alkitab PL dengan pendahuluan, ‘Oleh Roh Kudus dengan perantaraan hamba-Mu Daud, bapa kami, Engkau (Tuhan) telah berfirman’ di sini kita melihat keselarasan yang manusiawi dan ilahi dalam pengilhaman Alkitab. Strauss menambahkan, pengilhaman itu tidak bergantung pada sumber-sumber atau tradisi-tradisi di balik naskah itu, tetapi pada penulis dan naskah yang dihasilkannya. Seleksi, peredaksian, dan komposisi penulis yang diilhami itu dibimbing dan dituntun “oleh Roh Kudus yang diutus dari sorga, menyampaikan berita Injil kepada kamu” (1 Ptr. 1:12) sehingga hasilnya adalah Alkitab yang berkuasa – firman Allah.
Berdasarkan uraian di atas, maka dapat saya simpulkan bahwa klaim Waloni bahwa Alkitab isinya 10% kebenaran dan 90% omong kosong adalah sebuah klaim tanpa dasar dan paling konyol di bawah kolong langit ini. Waloni sama sekali hanya mengeluarkan bualan sentimen personal dan sama sekali tidak memiliki bukti apa pun. Modal Waloni hanyalah “celoteh penipuan dan kebohongan.”
Kristen tidak memalsukan PL, tidak ragu dengan PL, malahan dijadikan sebagai Kitab Suci yang berotoritas. Kristen tidak mengubah kisah atau sejarah PL melainkan meneguhkannya – dan atau mengutipnya sebagai bagian dari pengakuan bahwa PL berotoritas dan adalah firman yang telah diwahyukan Allah.
“Perkataan orang berhikmat yang didengar dengan tenang, lebih baik dari pada teriakan orang yang berkuasa di antara orang bodoh” (Pengkhotbah 9:17)
Banyak kesalahan dan kebodohan yang muncul ke permukaan tatkala sekelompok orang membicarakan tentang naskah-naskah Perjanjian Baru, yang dianggap telah dipalsukan oleh para penyalin. Alasan ini disebabkan karena dalam naskah-naskah PB ada banyak varian yang berbeda satu dengan lainnya. Dan bahkan, beberapa orang mendeteksi akan adanya kerusakan secara radikal atas naskah-naskah PB, sehingga mereka menyimpulkan bahwa Alkitab adalah kitab omong kosong dan telah dipalsukan. Kita tentu dapat bertanya: Apa saja yang omong kosong? Apa definisi omong kosong? Dan siapa yang menciptakan omong kosong? Apakah omong kosong yang dituduh kepada Alkitab memiliki sejumlah sumber rujukan atau materi dasarnya sebagai pembuktiannya? Siapa yang memalsukan, kapan dipalsukan, apa saja yang dipalsukan, apa persis bunyi teks aslinya, di mana teks yang asli?
Lebih parahnya lagi, ada yang menuduh bahwa Paulus mengubah atau merekayasa Injil-Injil menjadi Perjanjian Baru (New Testament). Kitab ini (Perjanjian Baru), menurut Muhammad Yahwa Waloni adalah 99,9% buatan tangan dan otak Paulus yang mempertuhankan “Isa” yang di-Yesus-Tuhankan olehnya dan seluruh umat Kristen. Ini dia (Paulus) lakukan agar Paulus dapat mengangkat dirinya (menduduki jabatan) sebagai Rasul. Ada yang mencoba mengutip pernyataan Robert W. Funk, Profesor Perjanjian Baru bersama 74 pakar Alkitab lainnya yang membuktikan bahwa hanya 18% ucapan di dalam Bibel yang dianggap asli. Hampir secara keseluruhan kritik teks PB, sepakat untuk mendongkel personalitas Yesus yang terdiri dari dua bagian besar: mendongkel ketuhanan-Nya dan mendongkel klaim-klaim-Nya. Dua hal ini telah dilakukan oleh banyak pakar bahkan para skeptis dan sebagainya.
“Jesus Seminar” adalah kelompok yang mengusung teori pendongkelan Yesus dari naskah-naskah PB. Sebelum saya menguraikan ulasan menarik tentang Jesus Seminar dari Douglas Groothuis, saya mengutip pendapat dari James M. Boice mengenai kepastian historis Yesus yang berseberangan dengan “penentuan petak umpet” ala Jesus Seminar:
“Yesus adalah seorang sosok historis yang hidup dan ajaran-ajaran-Nya dapat diselidiki dengan teknik-teknik akademik yang normal. Jika kebenaran itu hilang, maka kekristenan sendiri akan hilang, karena kekristenan itu adalah dan pasti historis. Namun kehidupan Kristus bahkan lebih daripada ini – kehidupan Kristus adalah sejarah yang menentukan. Makna seluruh sejarah disingkapkan dalam sejarah Tuhan Yesus Kristus, dan pilihan antara komitmen kepada-Nya atau penolakan terhadap-Nya dan sejarah-Nya menetapkan tujuan-tujuan kita.” James Montgomery Boice, Dasar-dasar Iman Kristen (Foundation of the Christian Faith), (Surabaya: Momentum 2011), 622.
Douglas Groothuis, dalam bukunya Jesus in An Age of Controversy membahas mengenai topik Jesus Seminar. Berikut ulasan dari Groothuis:
Jesus Seminar dibentuk pada tahun 1985 dengan tujuan ekspres yakni: mendidik orang-orang Kristen yang tidak terpelajar mengenai apa yang “studi-studi ilmiah” dapat memberi tahu kita tentang Perjanjian Baru dan Yesus. Robert Funk, otak dan juru bicara Jesus Seminar berkata: “Kami ingin membebaskan Yesus. Satu-satunya Yesus yang kebanyakan orang inginkan adalah Yesus khayalan. Mereka tidak menginginkan Yesus sejati. Mereka ingin Yesus yang dapat mereka sembah. Sang Yesus Kultis” (Sumber: Los Angeles Times, 24 Februari 1994; dikutip dalam Luke Timothy Johnson, The Real Jesus: The Misguided Quest for the Historical Jesus and the Truth of the Traditional Gospels, (San Francisco: HarperSanFrancisco, 1996), p. 7. Dikutip kembali oleh Groothuis, Yesus di Zaman Kontroversi). Roy Hoover, anggota Jesus Seminar menyatakan bahwa misinya adalah untuk “membebaskan Yesus dari orang-orang” yang menyu-sun Kitab-kitab Injil.” (Sumber: Dikutip dalam Kenneth L. Woodward, “The Death of Jesus,” Newsweek, 4 April 1994, p. 49. Dikutip oleh Groothuis, Yesus di Zaman Kontroversi).
Para anggota Jesus Seminar mengadakan pertemuan 2 kali dalam setahun untuk membukukan opini-opini mereka mengenai perkataan-perkataan Yesus. Kelompok ini semula mempunyai kurang lebih 200 orang anggota, tetapi berkurang menjadi 74 anggota pada saat publikasi The Five Gospels (1993). Mereka dengan saksama dan mempelajari keempat Injil yang alkitabiah dan Injil Tomas dan mereka berusaha untuk menentukan autentisitas setiap perkataan Yesus. Seorang anggota Jesus Seminar dengan popular meringkas pemilihan warna-warni itu seperti berikut ini:
Warna merah: itu perkataan Yesus
Warna merah muda: itu kedengarannya seperti perkataan Yesus
Warna abu-abu: itu mungkin perkataan Yesus
Warna hitam: telah terjadi kesalahan
(Robert Funk, Roy Hoover, dan Jesus Seminar, The Five Gospels: The Search for the Authentic Words of Jesus, (New York: Macmillan Publishing Company, 1993), 37. Dikutip oleh Groothuis, Yesus di Zaman Kontroversi).
Penilaian Luke Timothy Johnson terhadap Jesus Seminar: Jesus Seminar menginginkan ulasan pers! Mereka berusaha mendapatkan ulasan pers! Mereka memahami berita utama! Mereka meminta respons media! Yang terutama, mereka menyediakan manik-manik berwarna, dan hal yang paling ketat (di luar vatikan) adalah bahwa agama menyediakan pemilihan yang aktual, ditambah pernyataan-pernyataan provokatif yang dibuat dengan keterampilan khusus! Sebagai bonusnya, mereka tidak berhubungan dengan isu-isu yang sulit untuk ditutup-tutupi seperti dosa dan anugerah, tetapi dengan personalitas, sang sosok pendiri, Yesus. Dan mereka menjanjikan bentuk serangan yang memalukan pada dasar-dasar kekristenan. Keterampilan Jesus Seminar itu diterima oleh segmen media yang tidak diberi kesempatan untuk mengerjakan berita yang riil. Luke Timothy Johnson, The Real Jesus: The Misguided Quest for the Historical Jesus and the Truth of the Traditional Gospels, (San Francisco: HarperSanFrancisco, 1996), p. 10. Dikutip oleh Groothuis, Yesus di Zaman Kontroversi.
Groothuis mengamati bahwa media yang kelaparan terkadang langsung menelan pernyataan-pernyataan Jesus Seminar tanpa mencernanya terlebih dahulu. Walaupun para anggota Jesus Seminar mempresentasikan diri mereka sebagai wakil dari keseluruhan komunitas sarjana, namun hal ini tidak benar. Mereka hanyalah sekelompok kecil sarjana Perjanjian Baru dan seperti yang ditunjukkan oleh para kritikus, mereka tidak mewakili dunia kesarjanaan Perjanjian Baru yang lebih luas. Meskipun ada 74 sarjana yang berkontribusi pada karya final The Five Gospels, tetapi ada 6900 anggota Society of Biblical Literature dan setidaknya setengah dari mereka adalah pakar-pakar Perjanjian Baru. Dua organisasi akademis studi Alkitab terkemuka, yakni: Society of Biblical Literature dan Society for the Study of the New Testament, tidak bergabung secara resmi dengan Jesus Seminar. Jesus Seminar didanai oleh Weststar Institute (Yang didirikan Robert Funk (1926–2005)). Menurut Johnson, meskipun Jesus Seminar membanggakan beberapa sarjananya yang bereputasi tinggi, daftar nama para cendekiawan itu sama sekali tidak mewakili tokoh-tokoh terbaik dari kesarjanaan Perjanjian Baru. Sarjana Perjanjian Baru, Craig Blomberg mencatat bahwa 36 dari 74 Jesus Seminar memperoleh gelar mereka dari atau mengajar di salah satu dari tiga “departemen studi-studi Perjanjian Baru yang paling liberal” seperti Harvard, Claremont dan Vanderbilt. Para sarjana Eropa juga tidak termasuk di dalamnya. 40 pesertanya “adalah orang-orang yang relatif tidak dikenal”yang secara akademis tidak dapat dibuktikan (Craig L. Blomberg,”The Seventy-four ‘Scholars’: Who Does the Jesus Seminar Really Speak For?” Christian Research Journal (Musim Gugur 1994), 34. Dikutip oleh Groothuis, Yesus di Zaman Kontroversi).
Profesor Perjanjian Baru, Richard Hays mengatakan dengan sesungguhnya: “Pada kenyataannya, sebagian besar sarjana Alkitab professional sangat skeptis dengan metode-metode dan kesimpulan-kesimpulan kelompok akademis ini.” Meskipun ada sarjana-sarjana yang dihormati dan berkualitas di dalam kelompok itu, usaha mereka untuk menghadirkan pandangan-pandangan mereka sebagai hasil-hasil kesarjanaan kritis yang meyakinkan – harus kita katakan – adalah penipuan yang patut dicela (Richard Hays, The Corrected Jesus: A Review of The Five Gospels, First Things, [Mei 1994], 47. Dikutip oleh Groothuis, Yesus di Zaman Kontroversi). Jesus Seminar memasukkan pandangan-pandangannya sendiri yang pesimistik tentang natur Kitab-kitab Injil dan bukan pandangan-pandangan kesarjanaan Perjanjian Baru pada umumnya. Karena menolak hal-hal supernatural, maka Jesus Seminar harus mere-konstruksi sebuah gambar Yesus yang baru melampaui apa yang dinyatakan oleh Kitab-kitab Injil itu sendiri. Karena telah mendekonstruksi pandangan Yesus sejarah, maka mereka merasa bebas untuk mengontruksi sosok Yesus yang asing sama sekali.
Prinsip yang digunakan oleh Jesus Seminar adalah menghilangkan banyak perkataan yang keluar dari mulut Yesus. Prinsip ini dikenal sebagai criteria ketidaksamaan (criterion of dissimilarity). Perkataan Yesus dianggap autentik jika perkataan itu berbeda dengan tradisi Yahudi zaman itu dan pandangan-pandangan gereja Kristen perdana. Pernya-taan Jesus Seminar yang aneh: “Berhati-hatilah bila anda menemukan sosok Yesus yang seluruhnya cocok dengan anda.” (ini tentu saja adalah apa yang telah mereka lakukan sendiri). Groothuis menutupnya dengan: Ingatlah pesan Yesus: “Berbahagialah kamu, jika karena Aku kamu dicela dan dianiaya dan kepadamu difitnahkan segala yang jahat.” (Mat. 5:11), dan “Barangsiapa tidak memikul salibnya dan mengikut Aku, ia tidak layak bagi-Ku” (Mat. 10:38).
Isu-isu miring tentang Yesus sudah menjadi “santapan harian” orang Kristen dan iman Kristen tetap teguh. Lain halnya dengan Islam, ketika mengkritk Muhammad, telinga mereka sudah gatal, marah dan emosi (naik darah). Kesimpulannya, dengan mencoba meyakinkan pembaca mengenai pendapat dari Jesus Seminar bahwa hanya 18 persen ucapan di dalam Bibel yang dianggap asli adalah kesimpulan yang ignoran sebab tindakan Jesus Seminar adalah tindakan “kurang kerjaan” dan mencari sensasi, meskipun tindakan tersebut tidaklah terpuji dalam dunia akademis. Jesus Seminar bukanlah penentu apakah Alkitab (Injil-injil) itu asli atau palsu, melaikan didasari pada fakta yang telah disaksikan oleh para murid Yesus. Oleh karena itu, para murid tentu lebih tahu ucapan Yesus ketimbang Jesus Seminar.
Sumber gambar: 365bibles.blogspot.com/2011_02_01_archive.html
Ehrman mengatakan, “Tentunya sebagian besar dari ratusan ribu perubahan teks antarmanuskrip adalah perubahan yang sama sekali tidak signifikan, tidak penting, dan tidak berguna selain untuk memberikan petunjuk bahwa para penyalin adalah manusia yang sering mengalami kesulitan ejaan atau mengalami kesulitan untuk mempertahankan konsentrasi sama seperti orang-orang lain pada umumnya” (“Did Jesus Really Say That?,New Book Says Ancient Scribes Changed His Words”, by Jeri Krentz. Charlotte Observer, Desember 17, 2005, 207).
Ehrman menjelaskan, “Para ahli modern telah menemukan bahwa para penyalin di Alexandria … cukup teliti, bahkan untuk ukuran saat itu, dan di Alexander juga ada dokumen Kristen purba yang sangat murni dan dipertahankan dari satu dekade ke dekade berikutnya oleh para penyalin Kristen yang relatif baik” (“Did Jesus Really Say That?,New Book Says Ancient Scribes Changed His Words”, by Jeri Krentz. Charlotte Observer, Desember 17, 2005, 72).
Analisis:
Pertama, jika Ehrman mengakui bahwa “Tentunya sebagian besar dari ratusan ribu perubahan teks antarmanuskrip adalah perubahan yang sama sekali tidak signifikan, tidak penting, dan tidak berguna selain untuk memberikan petunjuk bahwa para penyalin adalah manusia yang sering mengalami kesulitan ejaan atau mengalami kesulitan untuk mempertahankan konsentrasi sama seperti orang-orang lain pada umumnya”, mengapa ia berkesimpulan terlalu dini untuk menyatakan bahwa naskah-naskah PB telah rusak sedemikian rupa seolah-olah tak terpulihkan? Bukankah Ehrman sendiri telah mengakui bahwa perubahan-perubahan tersebut tidak signifikan dan tidak berguna? Bukankah Ehrman juga mengakui bahwa naskah-naskah asli sudah tidak ada lagi? Lalu dengan apa membandingkan naskah-naskah salinan untuk mengetahui bahwa itu telah diubah sedemikian rupa?
Kedua, jika Ehrman yakin bahwa di Alexander juga ada dokumen Kristen purba yang sangat murni dan dipertahankan dari satu dekade ke dekade berikutnya oleh para penyalin Kristen yang relatif baik, mengapa kemudian ia berkesimpulan terbalik? Di sinilah letak kebingungan Ehrman sendiri. Bock dan Wallace mengamati bahwa “tulisan Ehrman mengesankan seolah-olah keyakinan iman ortodoks akan guncang jika perikop-perikop tersebut dihilangkan dari Alkitab.” Padahal, Ehrman sendiri yang goncang imannya karena ia sendiri tidak menaruh sistem penemuan dan pemikirannya kepada standar berpikir itu sendiri (lihat analisis saya sebelumnya).
KESIMPULAN
Pertama, gagasan-gagasan, klaim-klaim Ehrman sebenarnya hanya berkutat pada sebuah keyakinannya bahwa karena naskah asli tidak ada, maka yang ada adalah salinan dari salinan dan seterusnya, yang telah banyak diubah oleh para penyalin, sehingga isi beritanya tidak lagi seortodoks yang kita kira. Ehrman beranggapan bahwa karena banyaknya varian maka Alkitab tak dapat dapat dikategorikan sebagai firman Allah yang tanpa salah. Tetapi, apa yang salah dengan Alkitab? Apakah penulisannya atau inti beritanya? Kesalahan penulisan adalah hal lumrah dalam dunia tulis-menulis, akan tetapi yang sering menjadi substansial adalah “pesan” yang ingin disampaikan kepada para pembaca
Kedua, Ehrman gagal dalam hal uji materi pernyataan dengan menggunakan prinsip filsafat logika yang salah satunya adalah standar ganda bagi setiap klaim-klaimnya. Juga, mayoritas pernyataan Ehrman hanyalah sebuah asumsi yang dia anggap sebagai solipsisme, padahal justru sebaliknya, setiap gagasan dan pernyataan Ehrman, dengan mudah ditampik tanpa harus berkeringat membasahi tubuh.
Ketiga, karena firman Allah diberikan kepada manusia, maka Allah sungguh luar biasa menghargai manusia yang bisa salah tetapi tidak harus salah dalam menyampaikan pesan-pesan pokok yang mencakup lima hal: (1) terkait dengan tanggung jawab manusia di hadapan Tuhan; (2) tanggung jawab moralitas; (3) tanggung jawab kemanusiaan; (4) tanggung jawab spiritualitas (ibadah, doa); dan (5) tanggung jawab keselamatan.
Keempat, ajaran-ajaran pokok tersebut hingga sekarang tidak berubah dan itulah sebabnya, Kristen menjadi agama nomor satu di dunia, meski hujan kritik tak pernah sepi dalam setiap zaman. Jawaban demi jawaban yang diberikan oleh para teolog dan pemerhati teologi, telah cukup membungkam para pengkritik, kaum skeptis, dan kaum negator. Alkitab adalah buku dari Tuhan yang telah menghasilkan peradaban yang bermoral, tanpa peperangan, tanpa balas dendam, dan memberikan keleluasaan pada Tuhan untuk melakukan kehendak-Nya seperti yang tampak dalam tulisan Rasul Paulus: “Saudara-saudaraku yang kekasih, janganlah kamu sendiri menuntut pembalasan, tetapi berilah tempat kepada murka Allah, sebab ada tertulis: Pembalasan itu adalah hak-Ku. Akulah yang akan menuntut pembalasan, firman Tuhan” (Roma 12:19).
Sumber kutipan:
Sumber: Darrel L. Bock & Daniel B. Wallace, Mendongkel Yesus dari TakhtaNya: Upaya Mutakhir untuk Menjungkirbalikkan Iman Gereja mengenai Yesus Kristus, terj. Helda Siahaan (Jakarta: PT Gramedia Pustaka Utama, 2009).
Ehrman menegaskan, “Variasi antarmanuskrip bahkan lebih banyak daripada jumlah kata dalam PB” (“Did Jesus Really Say That?,New Book Says Ancient Scribes Changed His Words”, by Jeri Krentz. Charlotte Observer, Desember 17, 2005, 90). Ia memperkirakan ada 400.000 variasi, sedangkan PB berbahasa Yunani saat ini rata-rata terdiri atas 138.162 kata. Implikasinya, setiap kata dalam PB memiliki kemungkinan 3 variasi. Betapa menyedihkan!
Ia juga menyatakan, “Manuskrip-manuskrip yang kita miliki… penuh dengan kesalahan yang diulang dan semakin lama semakin banyak. Kadang-kadang kesalahan tersebut dikoreksi, dan kadang-kadang meningkat. Demikian seterusnya selama berabad-abad….” (Misquoting Jesus: The Story behind Who Changed the Bible and Why, San Francisco: HarperSanFrancisco, 2005, 57).
Ehrman menyimpulkan, “Melihat begitu banyak masalah [kerusakan manuskrip], bagaimana kita mengharapkan dapat mengetahui isi teks asli, teks yang sebenarnya ditulis oleh pengarang? Tentu sangat sulit; sedemikian sulit sehingga sejumlah ahli kritik teks telah mulai menyarankan kita untuk tidak mendiskusikan teks ‘asli’ karena tidak memiliki akses terhadapnya” (“Did Jesus Really Say That?,New Book Says Ancient Scribes Changed His Words”, by Jeri Krentz. Charlotte Observer, Desember 17, 2005, 58).
Analisis:
Pertama, jika Ehrman meragukan teks-teks PB yang ada sekarang yang dianggap sebagai teks-teks yang diubah atau disalin dengan ribuan variannya, bagaimana ia bisa berkesimpulan bahwa teks-teks ada sekarang telah diubah sedangkan ia sendiri mengakui bahwa tidak ada akses ke “teks” asli?
Kedua, atas dasar apa Ehrman menyimpulkan bahwa naskah-naskah PB telah diubah dengan begitu banyaknya sedangkan ia sendiri tidak mengetahui seperti apa naskah-naskah asli tersebut?
Ketiga, bukankah Ehrman sendiri menabrak argumentasinya sendiri? Ini membuktikan bahwa Ehrman tidak secara matang mengambil kesimpulan atas tuduhan perubahan secara masiv selama berabad-abad lamanya.
Keempat, Profesor Perjanjian Baru Craig Blomberg mengatakan, “Hal yang membuat buku “Misquoting Jesus” sangat berbeda adalah kesan yang ditimbulkan oleh Ehrman melalui data dan kecenderungannya untuk berfokus pada perubahan-perubahan paling drastis dalam sejarah teks, sehingga pembaca awam mengira bahwa masih banyak dan beragam contoh fenomena lain di luar yang ia paparkan, padahal sebenarnya tidak ada lagi” (Review of Misquoting Jesus, by Bart D. Ehrman. Denver Journal vol. 8. http://www.denverseminary.edu/dj/articles2006/0200/0206) (Dikutip Bock & Wallace)
Kelima, Ehrman sendiri mengakui, “Perubahan terbanyak adalah perubahan karena kesalahan murni dan sederhana, seperti salah tulis, pengurangan atau penambahan yang tidak disengaja, kesalahan ejaan, dan kesalahan-kesalahan kecil lain” (Misquoting Jesus: The Story behind Who Changed the Bible and Why, San Francisco: HarperSanFrancisco, 2005, 55) (Dikutip Bock & Wallace).
Keenam, Metzger dan Ehrman mendaftarkan beberapa jenis kesalahan karena penglihatan atau pendengaran kurang baik, dan kesalahan karena cara berpikir. (Bruce Metzger dan Bart Ehrman, The Text of the New Testament: Its Transmission, Corruption, and Restoration. 4th ed. Oxford: Oxford University Press, 2005, 250-59) (Dikutip Bock & Wallace). Contoh variasi teks. Naskah 1 Tesalonika 2:7 mengandung masalah teks yang sulit. Paulus dan Silas menggambarkan sikapnya terhadap orang yang baru bertobat dalam kunjungan mereka ke Tesalonika. Beberapa manuskrip mengatakan “Kami lembut terhadap kamu”, sedangkan yang lain mengatakan “Kami seperti anak kecil di antara kamu.” Perbedaan kedua variasi ini hanya satu huruf dalam bahasa Yunani, yaitu “nepioi” versus “epioi”. Bahkan ada satu salinan abad pertengahan yang mengatakan “Kami seperti kuda di antara kamu”! Ini karena kata kuda dalam bahasa Yunani adalah “hippoi”yang tulisannya mirip dengan dua kata tadi (Bock & Wallace).
Ketujuh, Bock & Wallace menjelaskan, variasi-variasi yang ditemukan dalam manuskrip dapat dibagi menjadi beberapa kategori berikut: (1) Perbedaan ejaan; (2) Perbedaan minor karena merupakan sinonim atau perbedaan kata yang tidak mempengaruhi terjemahan; (3) Perbedaan berarti tetapi tidak masuk akal kalau diikuti; dan (4) Perbedaan berarti dan masuk akal untuk diikuti.
Kedelapan, Bock & Wallace menjelaskan Perjanjian Baru juga mengandung variasi karena sinonim (persaman kata). Jenis variasi ini dapat mempengaruhi terjemahan tetapi tidak mempengaruhi makna dasar. Apakah Yesus dipanggil “Tuhan” atau “Yesus” dalam Yohanes 4:1 tidak mengubah makna dasar, karena yang dimaksud tetap sama. Sebuah ilustrasi dari variasi yang berarti dan masuk akal atau “bisa jalan” adalah Roma 5:1. Apakah Paulus mengatakan “Kami memiliki damai” (echomen) atau “Mari kita memiliki damai (echōmen)? Dalam bahasa Yunani, “Kami memiliki damai” bernuansa indikatif, sedangkan “Mari kita memiliki damai” adalah subjunktif. Perbedaan antara dua bentuk kata kerja tersebut ditandai oleh penggunaan “o” pendek (omicron) dalam indikatif, dan penggunaan “o” panjang (omega) dalam subjunktif. Pertanyaan penting adalah: Apakah salah satu variasi tersebut berkontradiksi dengan ajaran Kitab Suci? Tidak. Keduanya “bisa jalan”.
Tertullianus, seorang Bapa Gereja pada awal abad ketiga, mengecam lawan-lawannya yang meragukan isi naskah asli dengan mengatakan: “Marilah, hai engkau yang memerlukan lebih banyak jawaban untuk keselamatanmu, datanglah ke Gereja-Gereja apostolik yang masih memiliki dan membacakan tulisan-tulisan otentik dari para rasul serta menampilkan wajah beberapa dari mereka (Prescription Again Heretics, bab 36).
Bock dan Wallace menjelaskan, jika “otentik” berarti asli, seperti makna bahasa Latinnya, maksud Tertullianus adalah mengatakan bahwa beberapa buku asli PB masih ada pada saat itu, lebih dari 1 abad setelah ditulis. Maksudnya tentulah surat-surat Paulus kepada jemaat di Korintus, Filipi, Tesalonika, Efesus, dan Roma. Ia menganjurkan mereka mengunjungi Gereja-Gereja tersebut untuk melihat tulisan asli tersebut. Tetapi jika “otentik” tidak berarti dokumen asli, setidaknya berarti salinan-salinan yang ditulis dengan teliti.
Irenaeus, uskup agung dari Lyons pada akhir abad kedua mencatat bahwa ia telah memeriksa salinan-salinan kitab Wahyu dan mencatat manuskrip-manuskrip mana yang lebih awal untuk memastikan teks-teks yang otentik. Ia berusaha memelihara isi teks asli, tetapi tidak menyatakan bahwa dokumen asli masih ada. Namun, usaha Irenaeus memelihara isi teks asli dan membandingkan salinan dengan manuskrip yang lebih awal tentu menggambarkan praktik dan usaha yang dilakukan oleh para penulis dan Bapa Gereja.
Dua manuskrip tertua yang kita miliki saat ini, yaitu Papyrus 75 (P75) dan Codex Vaticanus (B), memiliki kesamaan yang luar biasa. Keduanya termasuk manuskrip paling akurat yang ada saat ini. P75 lebih tua 125 tahun daripada B, namun bukan merupakan sumber teks B. Sebaliknya, B disalin dari sumber yang lebih tua daripada P75. Kombinasi dua naskah ini tentu dapat membawa kita kembali ke awal abad kedua.
Misquoting Jesus karya Bart Ehrman, lupa membandingkan salinan-salinan PB dengan literatur kuno Latin atau Yunani lainnya. Keraguan terhadap teks PB mestinya sama dengan keraguan terhadap buku kuno lain. Manuskrip PB jauh lebih dekat kepada aslinya dan jauh lebih banyak daripada literatur lain pada era yang sama. PB jauh lebih tahan uji daripada literatur kuno Yunani atau Latin mana pun.
Telah ditemukan sekitar 5.700 manuskrip PB dalam bahasa Yunani. Jumlah sumber ini terus bertambah. Setiap dekade ada penemuan manuskrip baru. Sedangkan rata-rata naskah penulis klasik ditemukan hanya dalam 20 manuskrip. Naskah PB berbahasa Yunani saja lebih dari 300 kali lipatnya. Selain bahasa Yunani, manuskrip PB juga ada dalam bahasa Latin, Koptik, Syria, Armenia, Gothik, Georgia, Arab, dan banyak versi lain. Manuskrip Latin ada lebih dari 10.000. Secara keseluruhan PB memiliki sekitar 1.000 kali lipat jumlah manuskrip dari rata-rata penulis klasik lain. Bahkan jumlah salinan karya penulis terkenal seperti Homerus dan Herodotus sama sekali tidak dapat dibandingkan dengan PB.
Bruce Metzger dan Bart Ehrman menulis dalam The Text of the New Testament. Selain bukti tertulis manuskrip PB berbahasa Yunani dan versi-versi lebih awal, para ahli kritik teks dapat membandingkan banyak kutipan Alkitab dalam tafsiran, khotbah, dan tulisan-tulisan para Bapa Gereja. Begitu banyaknya kutipan ini sehingga seandainya pun seluruh sumber pengetahuan yang lain mengenai teks PB dimusnahkan, tetap akan ada cukup sumber untuk merekonstruksi hampir seluruh PB (Bruce Metzger dan Bart Ehrman, The Text of the New Testament: Its Transmission, Corruption, and Restoration. 4th ed. Oxford: Oxford University Press, 2005, 126).
Para ahli kritik teks PB memiliki sangat banyak sumber dibandingkan dengan literatur Yunani dan Latin lain. Meskipun kita tidak memilik dokumen-dokumen asli, pernyataan bahwa kita tidak memiliki salinan dari salinan dari salinan dari dokumen asli tanpa klarifikasi lebih lanjut mengenai apa yang kita miliki adalah pernyataan yang menyesatkan. Pernyataan seperti ini mengungkapkan kesalahan penting Misqouting Jesus: bukan apa yang Ehrman katakan yang menjadi masalah, melainkan apa yang tidak dikatakannya. Ia tidak mengatakan betapa banyak sumber yang kita miliki untuk dapat merekonstruksi teks PB, sehingga menimbulkan kesan seolah-olah kita tidak memiliki petunjuk apa pun mengenai isi teks asli PB karena semua manuskrip telah rusak. Faktanya tidak demikian. Isi teks asli memang tidak mudah dipastikan, tetapi dapat ditemukan dalam manuskrip-manuskrip yang kita miliki. Kita sama sekali tidak perlu menduga-duga isi teks tanpa dasar manuskrip. Jadi, terlepas dari apakah kita memiliki atau tidak memiliki salinan dari salinan dari salinan, saat ini kita memiliki salinan yang secara kolektif cukup layak untuk membawa kita pada isi teks asli, kecuali dalam beberapa bagian yang sangat kecil (Bock & Wallace)
Analisis:
Saya merangkum penjelasan yang sangat baik dari Profesor Bock dan Wallace sebagai berikut:
Pertama, dari pernyataan Tertullianus bahwa, “Marilah, hai engkau yang memerlukan lebih banyak jawaban untuk keselamatanmu, datanglah ke Gereja-Gereja apostolik yang masih memiliki dan membacakan tulisan-tulisan otentik dari para rasul serta menampilkan wajah beberapa dari mereka” telah membuktikan bahwa di zamannya ada “tulisan-tulisan otentik dari para rasul” yang tentunya bertarikh lebih awal dan sangat mungkin adalah naskah asli atau salinan pertama atau kedua dari naskah asli.
Kedua, Bock dan Wallace yakin (berdasarkan pernyataan Tertullianus) bahwa beberapa buku asli PB masih ada pada saat itu, lebih dari 1 abad setelah ditulis (surat-surat Paulus kepada jemaat di Korintus, Filipi, Tesalonika, Efesus, dan Roma).
Ketiga, dari data bahwa “Irenaeus, uskup agung dari Lyons pada akhir abad kedua mencatat bahwa ia telah memeriksa salinan-salinan kitab Wahyu dan mencatat manuskrip-manuskrip mana yang lebih awal untuk memastikan teks-teks yang otentik. Ia berusaha memelihara isi teks asli, tetapi tidak menyatakan bahwa dokumen asli masih ada. Namun, usaha Irenaeus memelihara isi teks asli dan membandingkan salinan dengan manuskrip yang lebih awal tentu menggambarkan praktik dan usaha yang dilakukan oleh para penulis dan Bapa Gereja” justru meneguhkan bahwa teks-teks otentik—dalam hal ini—bisa mencakup dua hal yaitu: (1) bahwa naskah-naskah asli yang terpelihara (kontra Ehrman); (2) inti berita (pesan) tidak berubah (tetap ortodok, kontra Ehrman)
Ketiga, dari “dua manuskrip tertua yang kita miliki saat ini, yaitu Papyrus 75 (P75) dan Codex Vaticanus (B), memiliki kesamaan yang luar biasa dan keduanya termasuk manuskrip paling akurat yang ada saat ini”, justru membuktikan bahwa—jika seandainya bukan teks asli—maka paling tidak adalah salinan dari teks asli, sehingga hal ini menampik spekulasi yang sangat galau versi Ehrman.
Keempat, sebagaimana yang diungkapkan Bock dan Wallace bawhwa, “’Misquting Jesus’ karya Bart Ehrman, lupa membandingkan salinan-salinan PB dengan literatur kuno Latin atau Yunani lainnya. Keraguan terhadap teks PB mestinya sama dengan keraguan terhadap buku kuno lain. Manuskrip PB jauh lebih dekat kepada aslinya dan jauh lebih banyak daripada literatur lain pada era yang sama. PB jauh lebih tahan uji daripada literatur kuno Yunani atau Latin mana pun” membuktikan bahwa gagasan-gagasan spekulatif Ehrman sangat berat sebelah. Itu sebabnya, klaim-klaim Ehrman sebenarnya “gugur” ketika diuji dalam dapur filsafat logika di mana salah satunya adalah penggunaan standar ganda, dan unsur-unsur lain yang penting dalam filsafat logika adalah: terdefinisi, terkonteks, terklasifikasi, dan terklarifikasi.
Kelima, dari penjelasan Metzger dan Ehrman dalam “The Text of the New Testament”, bahwa, “… begitu banyaknya kutipan ini sehingga seandainya pun seluruh sumber pengetahuan yang lain mengenai teks PB dimusnahkan, tetap akan ada cukup sumber untuk merekonstruksi hampir seluruh PB” mengindikasikan dua hal: (1) isi berita PB masih tetap dipertahankan dna dipercaya; dan (2) hal-hal teknis tidak menjadi yang paling mendasar untuk menyatakan bahwa naskah-naskah PB telah secara masiv berubah total sehingga tidak seortodoks yang Ehrman kira.
Keenam, Bock dan Wallace benar ketika menyatakan bahwa, “meskipun kita tidak memilik dokumen-dokumen asli, pernyataan bahwa kita tidak memiliki salinan dari salinan dari salinan dari dokumen asli tanpa klarifikasi lebih lanjut mengenai apa yang kita miliki adalah pernyataan yang menyesatkan”. Ini sebenarnya menjelaskan bahwa Ehrman itu mengeluarkan pernyataan-pernyataan yang menyesatkan yang ketika diukur dari prinsip filsafat logika langsung gugur. Karena inti persoalannya adalah ada pada “naskah asli” yang dipersoalkan sehingga berbagai spekulasi muncul. Seperti yang diungkapkan pula oleh Bock dan Wallace bahwa, “pernyataan seperti ini mengungkapkan kesalahan penting Misquoting Jesus bukan apa yang Ehrman katakan yang menjadi masalah, melainkan apa yang tidak dikatakannya. Bagi saya ini merupakan bagian dari cara berpikir yang dilupakan Ehrman.
Saya sepakat dengan Bock dan Wallace bahwa, “Isi teks asli memang tidak mudah dipastikan, tetapi dapat ditemukan dalam manuskrip-manuskrip yang kita miliki.” Artinya, inti berita merupakan hal fundamental, yang masih terjaga hingga sekarang ini. Buktinya, Kristen adalah agama terbesar di dunia dan menghasilkan sebuah sistem kehidupan yang baik dan bahkan suprematif: mendoakan musuh. Jadi, pada dasarnya, Ehrman hanya mempersoalkan hal-hal teknis dan melupakan hal-hal yang substansial.
Ehrman mengatakan, “variasi antar manuskrip-manuskrip itu lebih banyak daripada jumlah kata dalam PB” (“Did Jesus Really Say That?,New Book Says Ancient Scribes Changed His Words”, by Jeri Krentz. Charlotte Observer, Desember 17, 2005, 90). Ia mengatakan, “Semua naskah ini saling berbeda, dalam ribuan bagian… Perbedaan tersebut sedemikian banyak sehingga kita bahkan tidak tahu berapa jumlahnya” (Misquoting Jesus: The Story behind Who Changed the Bible and Why, San Francisco: HarperSanFrancisco, 2005, 10).
Analisis:
Pertama, Ehrman harus mengakui bahwa jika diuji melalui penelitian ilmiah dengan mengajukan 20 penulis terkait dengan topik atau fakta yang mereka lihat, maka perbedaan varian diksi, frasa, klausa, kalimat, dan paragraf “mutlak” berbeda, sehingga ketika fakta ini terjadi, maka fakta pada penyalinan manuskrip-manuskrip akan mutlak menghasilkan varian-varian. Soal jumlah “varian itu lebih banyak daripada jumlah kata dalam PB” bukanlah jadi soal yang substansial sebab toh inti beritanya tidak berubah, sebagaimana telah saya sampaikan di awal bahwa ada lima pokok utama dalam Alkitab: pertama, terkait dengan tanggung jawab manusia di hadapan Tuhan; kedua, tanggung jawab moralitas; ketiga, tanggung jawab kemanusiaan; keempat, tanggung jawab spiritualitas (ibadah, doa); dan kelima, tanggung jawab keselamatan.
Kedua, kita semua, termasuk Ehrman tidak mengetahui apa latar belakang yang menyebabkan bahwa variasi antar manuskrip-manuskrip itu lebih banyak daripada jumlah kata dalam PB. Namun, sebagaimana telah saya jelaskan di atas bahwa faktor logislah yang memastikan bahwa adanya perbedaan tersebut yakni karena setiap penyalin memiliki perspektif (cara berpikir, konteks yang mengikat) yang berbeda, sehingga—sekali lagi—bukan hal-hal yang substansial yang menjadi varinnya. Inti berita (lima pokok) tetap terjaga. Meski 10 orang menulis satu peristiwa dengan kata-kata atau kalimat sendiri-sendiri, tetapi inti peristiwanya tetap sama.
Ketiga, pernyataan Ehrman bahwa, “semua naskah ini saling berbeda, dalam ribuan bagian… Perbedaan tersebut sedemikian banyak sehingga kita bahkan tidak tahu berapa jumlahnya” mengindikasikan perbedaan-perbedaan teknis sebagaimana para pakar PB berpendapat demikian. Poinnya adalah “inti berita” tetap tidak berubah meski varian-varian dalam manuskrip-manuskrip begitu masiv.
MERAGUKAN NASKAH-NASKAH PERJANJIAN BARU
Bagian 7
Ehrman menyimpulkan, “Kita salah jika menganggap perubahan-perubahan tersebut tidak berdampak nyata terhadap makna atau kesimpulan teologis dari teks tersebut… Dalam beberapa kasus, makna inti dari teks dipertaruhkan karena tergantung pada bagaimana kita mengatasi suatu masalah teks.” “Did Jesus Really Say That?,New Book Says Ancient Scribes Changed His Words”, by Jeri Krentz. Charlotte Observer, Desember 17, 2005, 208).
Efek kumulatif dari semua argumentasi Ehrman adalah: bukan hanya tidak ada kepastian mengenai isi teks asli, melainkan juga seandainya kita yakin akan isi teks, teologi intinya tidak seortodoks yang kita sangka (Bock & Wallace)
Analisis:
Pernyataan Ehrman di atas saya bagi dua:
Pertama, pernyataan Ehrman bahwa, “Kita salah jika menganggap perubahan-perubahan tersebut tidak berdampak nyata terhadap makna atau kesimpulan teologis dari teks tersebut” justru salah sebab hingga sekarang makna yang terkandung dalam manuskrip-manuskrip yang memiliki varian-varian (atau perubahan-perubahan) tidaklah menimbulkan tindakan-tindakan anarkis-anarkis dari mayoritas Kristen. Hingga sekarang Kristen adalah agama terbesar di dunia, dengan milyaran orang yang mengaku Yesus sebagai Tuhan dan Alkitab adalah firman Allah. Seandainya spekulasi Ehrman benar, maka tentu jumlah penganut Kristen menempati posisi terendah dari jumlah agama-agama di dunia. Pada faktanya tidaklah demikian. Oleh sebab itu, pernyataan Ehrman bukanlah hal yang perlu dirisaukan karena pernyataan Ehrman justru berangkat dari kerisauannya yang tak mampu menggunakan logikanya untuk melihat secara standar ganda dan data faktual.
Kedua, Ehrman menyatakan (sebagai sambungan dari pernyataan sebelumnya) bahwa, “dalam beberapa kasus, makna inti dari teks dipertaruhkan karena tergantung pada bagaimana kita mengatasi suatu masalah teks”, memang menimbulkan persoalan-persoalan heremenetis pada teks-teks tertentu. Tetapi, pengaruh yang ditimbulkanya tidak sebesar kerisauan Ehrman. Orang Kristen hingga sekarang tidaklah memusingkan hal-hal teknis dalam konteks perbedaan varian-varian sebagaimana muncul dalam terjemahan-terjemahan, karena—seperti yang telah saya tegaskan di atas—bahwa inti berita tidak berubah. Yang berubah adalah “perasaan galau” Ehrman.
Sebagaimana yang diungkapkan oleh Bock & Wallace terkait dengan gagasan Ehrman bahwa, efek kumulatif dari semua argumentasi Ehrman adalah: bukan hanya tidak ada kepastian mengenai isi teks asli, melainkan juga seandainya kita yakin akan isi teks, teologi intinya tidak seortodoks yang kita sangka. Gagasan Ehrman ini sudah terjawab dalam penjelasan saya di atas. Justru malah ajaran Kristen sangat ortodoks hingga sekarang. Tak ada yang berubah pesan Alkitab dalam kelima pokok penting yang telah saya sebutkan di awal.
MERAGUKAN NASKAH-NASKAH PERJANJIAN BARU
Bagian 8
Bock dan Wallace menganalisis argumentasi Ehrman dan berpendapat, jika Ehrman menegaskan bahwa “kita bahkan tidak memiliki salinan generasi ketiga atau keempat selain salinan-salinan yang ditulis jauh setelah itu memberikan kesan yang menyesatkan. Bagaimana ia tahu seperti apa salinan-salinan generasi awal? Kita memiliki 10 sampai 15 salinan yang ditulis dalam kurun waktu satu abad sejak PB selesai; tidak mungkinkah beberapa di antaranya adalah salinan generasi ketiga atau keempat, atau bahkan generasi kedua? Memang benar, semua berbentuk salinan fragmental, tetapi sebagian cukup substansial. Ehrman sendiri mengakui salah satu dari manuskrip tersebut mungkin merupakan salinan langsung dari naskah yang ditulis ratusan tahun sebelumnya (Bruce Metzger dan Bart Ehrman, The Text of the New Testament: Its Transmission, Corruption, and Restoration. 4th ed. Oxford: Oxford University Press, 2005, 91).
Bock dan Wallace memberikan uraian tentang penulisan PB sebagai berikut:
Pertama, berita disampaikan secara tertulis, bukan lisan.
Kedua, berita diteruskan melalui beberapa jalur, tidak hanya satu. Jalur-jalur ini berfungsi untuk memeriksa dan menyeimbangkan hasil penyampaian berita.
Ketiga, ahli kritik teks biasanya tidak hanya mengandalkan penerima berita terakhir, tetapi juga bertanya kepada beberapa orang yang lebih dekat dengan sumber berita.
Keempat, sepanjang sejarah penyampaian berita, para penulis (dikenal sebagai Bapa-Bapa Gereja) memberikan komentar terhadap teks, dan jika ada kesenjangan kronologis antarmanuskrip mereka mengisinya dengan mencatat apa yang dikatakan oleh teks dalam konteks waktu dan tempat saat itu.
Kelima, dalam permainan telepon, pemain yang baru selesai membisikkan cerita tidak lagi ikut campur dalam kelanjutan penyampaian cerita, sedangkan PB asli disalin lebih dari satu kali dan masih dikonsultasikan sampai beberapa generasi salinan sesudahnya.
Analisis:
Jika ada yang bertanya: bagaimana jika yang menyalin adalah mereka yang ingin memalsukan inti berita Injil-Injil PB? Jawabannya sederhana: Injil-Injil PB disalin oleh banyak penyalin. Hal ini tampak dalam banyaknya varian teks. Namun dari sejumlah perbedaan varian teks, substansi dari Injil sama sekali tidak berubah. Poin utama dari hal ini adalah karena yang menyalin adalah manusia, maka kemungkinan untuk salah menyalin [yang tidak disengaja] adalah hal yang lumrah, sebagaimana yang terjadi di dunia percetakan. “Manusia bisa salah, tetapi ‘tidak harus’ salah”. Kira-kira itulah moto Kristen untuk menampik gagasan-gagasan Ehrman.
Pakar Perjanjian Baru, Profesor Barth Ehrman adalah seorang yang meninggalkan imannya menjadi skeptis terhadap Perjanjian Baru (Alkitab). Pernyataannya yang mengguncang dunia kritik teks, kritik sumber, dan sebagainya, telah menyita perhatian dunia khususnya bidang penelitian teks-teks PB. Telah beredar ulasan-ulasan dan kajian-kajian terhadap pernyataan Ehrman. Profesor PB Darrel L. Bock & Daniel B. Wallace telah mengulas pernyataan Ehrman. Berikut ini adalah beberapa klaim Ehrman sebagaimana yang dikutip oleh Bock & Wallace, dan kemudian saya memberikan analisis terhadap setiap pernyataan Ehrman dari perspektif filsafat logika dan secuil gagasan doktrinal (jika dipandang perlu). Agar lebih mendetail (spesifik), maka saya menguraikan ulasan ini secara fragmentaris-korelasional (tetap saling terkait)
Ehrman menyatakan keraguannya: “Saya terus-menerus kembali kepada pertanyaan mendasar: bagaimana kita dapat mengatakan bahwa Alkitab adalah firman Allah yang tak mungkin salah padahal faktanya kita tidak memiliki kata-kata yang diinspirasikan oleh Allah tanpa kemungkinan salah, melainkan hanya kata-kata yang ditulis oleh para penyalin—kadang-kadang dengan tepat dan kadang-kadang (sering kali) dengan tidak tepat?” (“Did Jesus Really Say That?,New Book Says Ancient Scribes Changed His Words”, by Jeri Krentz. Charlotte Observer, Desember 17, 2005, 7).
Analisis:
Ehrman tidak memahami secara mendalam mengenai klausa “tanpa kemungkinan salah”. Kalimat ini tidaklah berorientasi pada hal-hal teknis melainkan kepada lima pokok utama dalam Alkitab yang adalah firman Allah: pertama, terkait dengan tanggung jawab manusia di hadapan Tuhan; kedua, tanggung jawab moralitas; ketiga, tanggung jawab kemanusiaan; keempat, tanggung jawab spiritualitas, ibadah, doa; dan kelima, tanggung jawab keselamatan.
Jelas, bahwa frasa “Firman Allah tanpa salah” tidak bermaksud atau tidak berfokus pada hal-hal penulisan sebuah peristiwa yang kemudian diidentifikasikan sebagai sesuatu yang berkontradiksi melainkan pada isi dari peristiwa tersebut yang mencakup lima pokok utama di atas. Bahkan frasa “firman Allah tanpa salah” dalam Alkitab tidaklah mengindikasikan adanya pemahaman bahwa yang dimaksudkan dengan klaim tersebut adalah hal-hal teknis atau proses penyalinan naskah. Yang menjadi fokus utama bahwa firman Allah tanpa salah selalu berorientasi pada “hubungan kovenan” Allah terhadap manusia, serta “apa yang menjadi tanggung jawab manusia kepada Allah karena manusia telah berdosa kepada Allah.”
Jadi, Ehrman sendiri tidak mendefinisikan gagasan “tanpa kemungkinan salah” yang ditujukan kepada Alkitab. Dengan demikian, asumsi subjektif Ehrman bukanlah bersifat radikal melainkan hanyalah letupan emosi dan ketikdaktercapaian cara berpikir logis dalam memahami totalitas Alkitab yang adalah karya Allah yang paling ajaib di dunia yang telah mengubah miliyaran manusia berdosa, menjadi hidup secara benar di hadapan Allah sesuai dengan firman-Nya.
MERAGUKAN NASKAH-NASKAH PERJANJIAN BARU (Bagian 2)
Karena hasil penelitian Ehrman atas Markus 2:26, ia kemudian mulai berpikir bahwa Alkitab mengalami perubahan seismik [yang sangat besar]. Ehrman kemudian menulis, “Bagi saya, Alkitab mulai tampak sebagai buku yang sangat manusiawi… Buku ini adalah karya manusia dari awal sampai akhir” (“Did Jesus Really Say That?,New Book Says Ancient Scribes Changed His Words”, by Jeri Krentz. Charlotte Observer, Desember 17, 2005, 11).
Analisis:
Pertama, Alkitab memang adalah buku manusiawi karena ditujukan kepada manusia.
Kedua, Alkitab adalah karya manusia dalam konteks bahwa memang manusia yang menulis Alkitab, dan bukan kambing. Ehrman benar dalam hal ini bahwa Alkitab adalah karya manusia dari awal sampai akhir. Allah bukanlah penulis sebagaimana yang kita pahami bahwa Allah seperti manusia yang menulis memegang alat tulis. Tidak. Allah adalah sumber pengilhaman; Allah menghargai manusia sebagai penulisnya sebab firman-Nya ditujukan [dikhususkan] bagi manusia, maka sebagai wujud penghargaan Allah kepada manusia adalah mengizinkan manusia menggunakan logikanya untuk menuliskan firman-Nya.
Ketiga, Alkitab adalah buku untuk manusia yang berisi tentang pedoman dari Allah yang mencakup lima pokok utama: (1) terkait dengan tanggung jawab manusia di hadapan Tuhan; (2) tanggung jawab moralitas; (3) tanggung jawab kemanusiaan; (4) tanggung jawab spiritualitas (ibadah, doa); dan (5) tanggung jawab keselamatan.
MERAGUKAN NASKAH-NASKAH PERJANJIAN BARU (Bagian 3)
Dalam acara “The Daily Show”, Ehrman diundang dan menjadi bintang tamu. Acara tersebut dipandu oleh Jon Stewart. Atas dasar hasil presentasi Ehrman, Stewart mengatakan bahwa Alkitab yang sengaja dirusak oleh para penyalin ortodoks justru terlihat “lebih menarik… nyaris lebih ilahi.”
Analisis atas pendapat Stewart di atas:
Pertama, Stewart harus mendefinisikan kata “sengaja” yang merujuk kepada penyalin ortodoks, bahwa mereka telah merusak Alkitab.
Kedua, Stewart harus menyuguhkan naskah asli untuk membuktikan argumentasinya bahwa Alkitab yang telah dirusak itu “nyaris lebih ilahi.”
Ketiga, klaim “nyaris lebih ilahi” harus ada pembanding dengan yang “bukan ilahi” atau “sedikit ilahi” sehingga klaim Stewart tersebut dapat diklarifikasi secara solid dan kredibel.
Keempat, Stewart tak mungkin dapat membuktikannya, sebab Ehrman sendiri menyadari bahwa tidak ada lagi naskah asli. Jika naskah asli tidak ada, bagaimana mungkin Stewart dapat membuktikan naskah asli yang [mungkin] “kurang ilahi” atau “sedikit ilahi” untuk dibandingkan dengan naskah PB yang dirusak itu sebagai “nyaris bersifat ilahi”?
Kelima, argumentasi Stewart adalah menunjukkan skeptisismenya yang ignoran tingkat [level] merayap (creep).
MERAGUKAN NASKAH-NASKAH PERJANJIAN BARU (Bagian 4)
Bock dan Wallace meringkas argumentasi Bart Ehrman, demikian:
(1) Naskah PB ditulis ulang jauh setelah naskah aslinya, sehingga menimbulkan keraguan mengenai apa sebenarnya isi naskah asli;
(2) Begitu banyak perbedaan teks di antara naskah-naskah yang ditemukan, terutama manuskrip-manuskrip yang tertua, sehingga menimbulkan dugaan bahwa teks tersebut tidak disalin dengan sangat teliti;
(3) Para penyalin “ortodoks” telah mengubah secara signifikan teks PB, bahkan mengubah berita intinya.
Analisis:
(1) pernyataan Ehrman bahwa “naskah PB ditulis ulang jauh setelah naskah aslinya” tidak dapat dibuktikan secara memadai oleh Ehrman dan meskipun—seandainya—naskah tersebut disalin ulang jauh setelah naskah aslinya, tidak merupakan jaminan bahwa “naskah aslinya” perlu diragukan. Ini hanya soal asumsi dan bukan pada persoalan fakta historis. Ehrman sedang asyik bermain di dunia persepsi logis tetapi tidak logis sebab ada celah dalam logika untuk berpikir sebaliknya (standar ganda). Jadi, pernyataan Ehrman bukanlah bersifat ilmiah melainkan bersifat spekulatif.
(2) kalimat “begitu banyak perbedaan teks di antara naskah-naskah yang ditemukan, terutama manuskrip-manuskrip yang tertua, sehingga menimbulkan dugaan bahwa teks tersebut tidak disalin dengan sangat teliti” yang diungkapkan Ehrman memiliki natur yang sama dengan pernyataan pertama: ia hanya berspekulasi tanpa bukti. Namanya asumsi yang tetap asumsi. Tak ada yang istimewa dari klaim Ehrman tersebut. Hanya saja, karena kepakarannya, maka mungkin orang tidak perlu membedakan mana yang terkait dengan klaim ilmiah dan mana klaim yang hanya bersifat spekulatif. Di sini, Ehrman merasa dirinya sedang ber-“solipsisme” atau “bermasturbasi” sesuka hati.
Pemikiran Ehrman kemudian menghasilkan dugaan bahwa “teks tersebut tidak disalin dengan sangat teliti” merupakan sebuah proses analogi yang tak mutlak alias spekulatif. Karena hanya bersifat “dugaan” maka pernyataan Ehrman bukanlah sebuah pernyataan yang perlu dipikirkan secara matang. Itu hanyalah gagasan ringan tak berbobot. Lagipula, definisi “disalin dengan sangat teliti” sebenarnya hanyalah sebuah keinginan dan latar belakang Ehrman bahwa Alkitab “seharusnya” disalin secara teliti, padahal pesan Alkitab tidak berbicara soal “seharusnya” melainkan “sesungguhnya”; bukan soal teknis penulisan, tetapi pesan yang ingin disampaikan.
(3) Dugaan Ehrman bahwa “para penyalin “ortodoks” telah mengubah secara signifikan teks PB, bahkan mengubah berita intinya” juga merupakan klaim spekulatif. Tak ada bukti mengenai “pengubahan teks-teks” oleh penyalin ortodoks. Ehrman tidak memahami natur dari Firman Allah, dan ia hanya ingin berpikir bahwa seharusnya penyalinan teks-teks tersebut “harus tidak salah kata demi kata dan huruf demi huruf”. Jika Ehrman menganggap bahwa para penyalin ortodoks telah melakukan perubahan-perubahan signifikan terhadap teks PB, dari mana analogi antara teks-teks asli dan teks-teks perubahan yang dilakukan oleh para penyalin ortodoks dapat diukur? Ehrman di sini sedang bermimpi di siang bolong.
MERAGUKAN NASKAH-NASKAH PERJANJIAN BARU (Bagian 5)
Ehrman menyatakan: “Bukan hanya tidak memiliki naskah asli, kita bahkan tidak memiliki salinan dari naskah asli. Kita bahkan tidak memiliki salinan dari salinan dari naskah asli, atau salinan dari salinan dari salinan dari naskah asli. Kita hanya memiliki salinan yang ditulis jauh setelah naskah aslinya” (“Did Jesus Really Say That?,New Book Says Ancient Scribes Changed His Words”, by Jeri Krentz. Charlotte Observer, Desember 17, 2005, 10).
Dasar atas klaim Ehrman di atas, selaras dengan klaimnya bahwa “Fakta bahwa kita memiliki ribuan manuskrip PB tidak berarti kita dapat yakin bahwa kita tahu apa yang tertulis dalam naskah aslinya. Jika kita hampir tidak memiliki naskah-naskah awal, bagaimana kita dapat tahu apakah teks PB tidak pernah diubah secara signifikan sebelum diperbanyak?” (Lost Christianities: The Battles for Sripture and the Faiths We Never Knew, Oxford: Oxford University Press,2003, 219).
Analisis:
Petama, jika tidak adanya naskah asli, dan yang ada hanyalah salinan dari salinan dan seterusnya, maka apakah perbedaan varian yang ribuan itu dapat disimpulkan bahwa Alkitab telah mengalami perubahan seismik? Apakah tidak ada ruang pemikiran lain bahwa “minat” yang sangat besar dari penganut Kristen Ortodoks untuk menyalin “berita yang sangat baik dan memberikan perubahan pada kehidupan mereka” kemudian disebarluaskan meski secara substansi perbedaan varian bukanlah unsur yang esensial ketimbang unsur pokok-pokoknya?
Kedua, klausa “kita bahkan tidak memiliki salinan dari salinan dari naskah asli” adalah klaim keyakinan dan bukan klaim ilmiah karena tidak ada bukti bagi Ehrman bahwa naskah-naskah yang ada adalah bukan naskah-naskah asli. Untuk menyeimbangkan klaim keyakinan Ehrman, maka saya juga menggunakan klaim keyakinan bahwa “sangat mungkin dari ribuan naskah, satu, lima, atau sepuluh, adalah salinan dari naskah. Ini adalah standar ganda: klaim keyakinan sepadan dengan klaim keyakinan.
Ketiga, klausa “kita hanya memiliki salinan yang ditulis jauh setelah naskah aslinya” lebih bersifat spekulatif ketimbang ilmiah. Dan klausa tersebut masuk dalam kategori klaim keyakinan. Maka, sebagai balasannya, mungkin saja salinan dari naskah asli disalin sangat dekat waktunya dengan naskah asli.