
Kita perlu mengetahui bahwa dalam segala hal, dibutuhkan sebuah cara memahami (proses pemahaman) supaya apa yang diselidiki, dibaca, diimani, dan dianalisis dapat dipertanggungjawabkan. Ini adalah persoalan mendasar. Sekali lagi, untuk mengetahui segala sesuatu, kita harus memiliki memulai dengan “CARA MEMAHAMI”.
Nah, iman Kristen harus dipahami dengan menggunakan cara memahami sesuai dengan prinsip Alkitab, sehingga pertanyaan mengenai “JIKA YESUS ITU TUHAN, MENGAPA DIA DISALIBKAN?” akan dapat dipahami secara baik. Kesalahan orang memahami personalitas Yesus dikarenakan ia salah memahami. Untuk mendasari statement (pernyataan) saya, maka saya menyebutkan lima cara memahami iman Kristen. Dua di antaranya adalah memahami secara salah, dan dua cara tersebut seringkali dipakai oleh kaum Islam termasuk pertanyaan di atas.
Pertama, memahami secara FRAGMENTARIS. Memahami dengan cara ini adalah bagaimana sesorang melihat sesuatu secara terpecah-pecah (tidak utuh). Yesus mati bukan hanya sekadar mati, melainkan ada rencana sebelumnya yang ditetapkan Allah bagi penebusan manusia atas dosa-dosa mereka. Jadi, yang mati bukan “Tuhan” melainkan manusia Yesus. Rasul Paulus menegaskan bahwa “Dalam keadaan [Yesus] sebagai manusia, Ia telah merendahkan diri-Nya dan taat sampai mati, bahkan sampai mati di kayu salib” (Filipi 2:8). Lagipula tidak ada konsep “Tuhan” mati dalam iman Kristen. Misalnya, seorang bupati mati, maka yang mati tentu bukan jabatan “bupati” melainkan orang yang menjabat sebagai bupati. Kesalahan Islam memahami bahwa “Tuhan mati” tentu secar fragmentaris bukan secara komprehensif (menyeluruh). Yesus mati menebus manusia dari dosa karena manusia berdosa kepada Allah maka hanya Allah yang berhak menentukan bagaimana cara menebus manusia.
Perjanjian Lama menegaskan bagaimana ritual-ritual penebusan dosa dan salah manusia melalui pengorbanan binatang. Cara ini kemudian dipakai Allah yang lebih suprematis (lebih unggul) dari cara-cara lama sebab jika semua manusia berdosa dan mengorbankan binatang, berapa banyak binatang yang harus diperlukan. Allah yang hanya mengutus Yesus Kristus—satu untuk semua—agar manusia ditebus dari dosa dan pemberontakannya. Yang ditebus adalah mereka yang telah dipilih sejak kekekalan dan mereka yang ditebus pasti dipanggil Allah untuk menikmati anugerah keselamatan, melakukan kehendak-Nya, hidup dalam kasih dan pengampunan selama kehidupannya.
Jadi, kesalahan memahami personalitas Yesus secara fragmentaris akan menghasilkan kekeliruan dan kesesatan karena tidak memahami makna kematian Yesus. Tuhan tidak mati sebab Tuhan adalah bersifat substansi. Yang mati adalah manusia Yesus Kristus.
Lalu mengapa Dia disebut Tuhan? Kita harus memahami bahwa Yesus memiliki dua natur yaitu Ilahi dan Manusia. Yesus sebagai Tuhan harus dipahami dari apa yang diklaim atau dikerjakan-Nya. Yesus mengampuni dosa. Jika demikian maka Ia adalah Allah. Bagaimana bisa Yesus adalah Allah? Kita harus melihatnya bahwa Yesus—sebelum berinkarnasi (menjadi manusia)—Ia adalah Logos Allah yang ada sejak kekal di dalam diri Allah: “Pada mulanya Firman; Firman itu bersama-sama dengan Allah dan Firman itu adalah Allah” (Yohanes 1:1).
Dengan demikian, Yesus adalah Tuhan karena Ia telah ada sejak kekekalan; Ia adalah Logos Allah yang ada sejak kekal; Ia menjadi terbatas karena Ia menjadi manusia; Ia lahir, bertumbuh, layaknya manusia biasa. Memang Yesus menggunakan natur manusia maka semua unsur manusiawi berjalan seperti biasanya. Namun, karena Yesus adalah Logos Kekal Allah yang menjelma jadi manusia, maka kita tidak dapat memahami pribadi Yesus hanya secara fragmentaris melainkan secara utuh. Kesalahan menempatkan pemahaman kita tentang Yesus yaitu secara fragmentaris akan menghasilkan keraguan dan penolakan bahwa Yesus adalah Tuhan. Kematian Yesus harus dilihat secara “Sejarah Penebusan” Allah bagi manusia berdosa yang menjamin keselamatan dan kehidupan yang kekal. Mereka yang memahami Yesus secara utuh akan dengan mudah melihat bahwa kematian Yesus bukan berarti “Tuhan mati” melainkan kemanusiaan-Nya yang mati. “Tuhan” bukanlah bersifat fisik. “Tuhan” itu substansi dan substansi tak mungkin mati. Manusia bisa mati jasmaninya tetapi rohnya tetap ada.
Kedua, memahami secara PARSIAL. Cara memahami ini adalah mengabaikan sebagian kebenaran. Kebenaran itu utuh. Jika memahaminya secara sebagian maka hal itu akan memberi kesan bahwa pemahaman itu benar tetapi bisa menyesatkan. Pertanyaan: “JIKA YESUS ITU TUHAN, MENGAPA DIA DISALIBKAN?” bukanlah sebuah kebenaran utuh, karena mengabaikan konteks lain. Islam selalu bersikukuh menegaskan bahwa Yesus bukan Tuhan, padahal “Tuhan” menurut pemahaman mereka berbeda dengan “Tuhan” dalam pemahaman Kristen. Ini disebut sebuah sesat pikir yaitu “Straw Man” di mana seorang Islam menolak Yesus sebagai “Tuhan” (dalam sudut pandang mereka) dan berharap orang Kristen memahami seperti apa yang mereka pahami. Ini menyesatkan. Pemahaman Yesus sebagai Tuhan, berbeda dengan pemahaman “Yesus bukan Tuhan” dalam pemahaman Islam. Yesus bukan “Tuhan” benar jika dipahami dari perspektif Islam, tetapi menjadi sesat jika dipahami dari perspektif Kristen.
Jika Yesus bukan “Tuhan”, “Tuhan” seperti apa yang Islam maksudkan? Di sini perlu sebuah definisi. Tuhan itu berarti pribadi yang berkuasa dan pribadi yang mengampuni dosa. Jika demikian, ketika Yesus mengatakan bahwa Ia berkuasa dan mengampuni dosa, maka konsekuensi logisnya adalah Yesus adalah Tuhan. Sebagai buktinya, mari kita lihat teks-teks berikut. Hal ini hendak menjelaskan kita tidak sedang memahami Yesus secara PARSIAL melainkan secara komprehensif.
Teks Matius 9:6, Yesus berkata: “supaya kamu tahu, bahwa di dunia ini Anak Manusia berkuasa mengampuni dosa”. Bukankah Yesus sendiri menegaskan bahwa Ia berkuasa mengampuni dosa layaknya Allah? Kita tahu bahwa hanya Allah yang berkuasa mengampuni dosa dan Yesus menegaskan bahwa Ia mengampuni dosa, maka Ia adalah Allah dan Tuhan yang berkuasa mengampuni dosa.
Teks Matius 12:8, Yesus menegaskan bahwa: “Anak Manusia adalah Tuhan atas hari Sabat.” Bukankah Yesus sendiri mengakui bahwa Ia adalah Tuhan atas hari Sabat? Anak Manusia di sini merujuk pada Yesus sendiri.
Teks Matius 13:41 menegaskan bahwa Yesus yang adalah Anak Manusia “akan menyuruh malaikat-malaikat-Nya dan mereka akan mengumpulkan segala sesuatu yang menyesatkan dan semua orang yang melakukan kejahatan dari dalam Kerajaan-Nya.” Bukankah hanya Allah saja yang dapat berkuasa memerintahkan malaikat-malaikat-Nya? Yesus memiliki kuasa sebagaimana Allah memilikinya yang dibuktikan dari memerintahkan malaikat-malaikat-Nya.
Matius 16:27 di mana Yesus berkata: “Sebab Anak Manusia akan datang dalam kemuliaan Bapa-Nya diiringi malaikat-malaikat-Nya; pada waktu itu Ia akan membalas setiap orang menurut perbuatannya.” Dalam teks tersebut, Yesus membalas setiap orang menurut perbuatannya. Itu berarti, Yesus memiliki kuasa untuk menghakimi layaknya Allah yang dapat menghakimi.
Matius 16:28 di mana Yesus berkata: “Aku berkata kepadamu: Sesungguhnya di antara orang yang hadir di sini ada yang tidak akan mati sebelum mereka melihat Anak Manusia datang sebagai Raja dalam Kerajaan-Nya.” Dalam teks tersebut tampak bahwa Yesus datang sebagai Raja dalam kerajaan-Nya. Dari perspektif Alkitab, hanya Allah saja yang adalah Raja dan memiliki kerajaan. Dengan demikian, Yesus adalah Allah yang juga adalah Raja. Dalam doktrin Kristen, Baik Bapa dan Yesus memiliki kesatuan ontologis yang mana pribadi yang satu merepresentasikan pribadi lainnya. Sama halnya dengan tuduhan bahwa orang Kristen menyembah tiga Allah. Itu keliru, sebab Bapa, Firman, dan Roh Kudus adalah kesatua ontologis yang setara dan kekal, tetapi sekaligus berdistingsi. Misalnya, Anda dan perkataan Anda adalah satu dalam substansi kemanusiaan Anda. Tetapi perkataan Anda bukanlah Anda dan Anda bukanlah perkataan Anda. Anda dan perkataan sama-sama ada sejak Anda diciptakan. Bedanya, Allah dan Firman-Nya tidak diciptakan, kedua-Nya sama-sama kekal. Allah mencipta dengan Firman dan Firman itu ada sejak kekal. Allah mustahil tanpa Firman. Yesus pernah berkata bahwa Dia dan Bapa-Nya adalah satu.
Kesatuan Yesus dan Bapa adalah kesatuan tujuan dan hakikat. Malaikat tak mungkin satu tujuan dengan Allah, karena Allah lebih tinggi dan menetapkan segala sesuatu. Hanya Allah saja yang dapat memiliki satu tujuan dengan Firman-Nya.
Teks Matius 19:28, yang berbunyi: Kata Yesus kepada mereka: “Aku berkata kepadamu, sesungguhnya pada waktu penciptaan kembali, apabila Anak Manusia bersemayam di takhta kemuliaan-Nya, kamu, yang telah mengikut Aku, akan duduk juga di atas dua belas takhta untuk menghakimi kedua belas suku Israel.” Dari teks tersebut, Yesus berhak menghakimi kedua belas suku Israel. Dengan demikian, sebagaimana Allah adalah hakim, maka ketika Yesus mengklaim bahwa diri-Nya adalah hakim, maka Ia adalah Allah yang berkuasa menghakimi.
Jika definisi Tuhan sudah terbukti sesuai dengan definisi di atas, dan Yesus memenuhi kriteria tersebut, maka tidak ada keberatan untuk memahami dan percaya kepada Yesus sebagai Tuhan dan Allah yang berkuasa. Untuk memahami setiap gagasan ke-Tuhanan dan ke-Allahan Yesus haruslah berangkat data biblikal secara utuh dan bukan sepotong-sepotong (fragmentaris) atau parsial.
Ketiga, memahami secara KOMPREHENSIF. Cara memahami ini adalah yang mutlak dilakukan oleh setiap orang yang mengenal dan memahami personalitas Yesus Kristus. Soal Yesus sebagai manusia, mati, makan, lahir, dan sebagainya haruslah dipahami secara utuh. Ketika seseorang menolak memahami secara utuh, maka ia akan tersesat kepada cara berpikir fragmentaris atau parsial yang tidak akan menemukan makna yang sesungguhnya dari inkarnasi Yesus Kristus ke dalam dunia sebagai cara Allah menebus manusia. Yesus adalah Allah yang menjadi manusia (Yohanes 1:14) bukan asal jadi manusia tetapi ada latar belakang yang membingkainya. Allah ingin menebus manusia dengan cara-Nya sendiri, sekali untuk selamanya. Jika dulu bangsa Israel yang berdosa harus mengorbankan binatang dan mencurahkan darahnya sebagai lambang bahwa kesalahan dan dosanya telah ditebus oleh Tuhan, kini, Allah menentukan cara-Nya menebus manusia yaitu mengutus LOGOS [Firman] ke dunia dalam rupa manusia. Soal bagaimana ini bisa diterima oleh akal manusia, kita harus melihat akan maksud dan rencana Allah bagi manusia. Mereka yang menolak cara penebusan Allah, maka ia tidak mengenal Allah Israel. Boleh saja ia menolak karena ia mempercayai “Ilah” yang lain, maka ia harus berjuang memahami bagaimana “Ilah” yang dipercayainya itu mengampuni dosa-dosanya.
Dalam Islam tidak ada konsep penebusan sehingga mereka binggung memahami konsep penebusan, apalagi konsep penebusan dosa. Mereka yang tidak paham dengan sendirinya akan menuduh cara penebusan dosa versi Kristen tidak masuk akal padahal mereka tidak memahami cara penebusan versi Kristen. Karena ketidakpahaman tersebut, mereka memaksa Kristen untuk memahami seperti yang mereka pahami, padahal cara demikian adalah sesat. Jika ingin memahami doktrin Kristen, maka yang dilakukan adalah memahami berdasarkan cara pandang Alkitab, dan bukan al-Qur’an.
Keempat, memahami secara JUKSTAPOSISI. Cara memahami ini adalah menempatkan satu teks sejajar dengan teks lain. Artinya, teks nubuatan Mesias Ilahi dalam Perjanjian Lama (PL) yang digenapi dalam Perjanjian Baru (PB) maka keduanya harus dipandang sejajar karena saling melengkapi. Yang satu tak mungkin berdiri tanpa yang lainnya. Ada penyejajaran konteks dan teks Alkitab terkait pokok tertentu. Contoh lain adalah dalam Mazmur 23 Daud menegaskan bahwa TUHAN adalah Gembala (juga beberapa teks lainnya) dan di dalam Yohanes 10:11 Yesus menegaskan bahwa Ia adalah Gembala yang baik. Ini dipahami sejajar antara TUHAN dalam PL yang adalah Gembala dan Yesus dalam PB yang juga adalah Gembala. Itu berarti, Yesus adalah Allah tetapi yang berinkarnasi mewujud manusia dalam rangka realisasi cara penyelamatan Allah kepada manusia yang berdosa.
Kelima, memahami secara DEMARKASI. Cara memahami ini adalah bagaimana seseorang melihat konteks yang sedang dibicarakan. Ketika kita membahas tentang penyaliban Yesus, maka ada konteks yang mengikatnya. Kita tidak dapat melihat secara acak sebuah peristiwa kecuali melihatnya berdasarkan demarkasi konteks. Kesalahan Islam yang sering diulang-ulang adalah mengatakan bahwa “Yesus itu adalah utusan dan utusan tidak bisa menjadi Tuhan”. Memang pada beberapa kesempatan Yesus mengatakan bahwa Ia diutus Allah, sedangkan pada kesempatan lain Ia mengatakan bahwa Ia keluar dan datang dari Allah. “Diutus”, “keluar”, dan “datang” dari Allah memiliki konteksnya masing-masing. Tidak bisa dicampur-adukkan karena akan menimbulkan cara berpikir fragmentaris. Yesus memang diutus Bapa-Nya karena Ia adalah manusia. Tetapi Yesus adalah Logos Allah yang setara dengan Bapa-Nya. Keduanya memiliki demarkasi.
Untuk menjawab pertanyaan “JIKA YESUS ITU TUHAN, MENGAPA DIA DISALIBKAN?” haruslah ditempuh dengan cara memahami personalitas Yesus secara komprehensif, juktaposisi, dan demarkasi. Tidak ada “Tuhan” yang mati karena “Tuhan” itu bukan fisik melainkan substansi. Tidak ada “bupati” yang mati karena “bupati” adalah jabatan. Yang mati adalah yang menjabat sebagai bupati.
Kematian Yesus bukan asal mati tanpa tujuan. Kematian Yesus adalah untuk menebus manusia yang telah berdosa kepada Allah. Penebusan hanya dapat dipahami dalam teologi Kristen sedangkan Islam tidak memiliki konsep tersebut. Yesus mati bagi manusia berdosa. Ia mendamaikan antara Allah dan manusia. Mereka yang ditebus dosa-dosanya adalah mereka yang telah ditetapkan Allah sejak kekekalan dan tentu mereka yang dipanggil Allah untuk menerima dan menikmati keselamatan yang dianugerahkan-Nya, akan hidup kudus, hidup dalam kebenaran, hidup dalam kasih dan pengampunan.
Benarlah perkataan Rasul Paulus, bahwa
Kita tahu sekarang, bahwa Allah turut bekerja dalam segala sesuatu untuk mendatangkan kebaikan bagi mereka yang mengasihi Dia, yaitu bagi mereka yang terpanggil sesuai dengan rencana Allah. Sebab semua orang yang dipilih-Nya dari semula, mereka juga ditentukan-Nya dari semula untuk menjadi serupa dengan gambaran Anak-Nya, supaya Ia, Anak-Nya itu, menjadi yang sulung di antara banyak saudara. Dan mereka yang ditentukan-Nya dari semula, mereka itu juga dipanggil-Nya. Dan mereka yang dipanggil-Nya, mereka itu juga dibenarkan-Nya. Dan mereka yang dibenarkan-Nya, mereka itu juga dimuliakan-Nya.
Soli Deo Gloria. Salam Bae…
Sumber gambar:






















