S O L V I N A T I A: Makna Mengikut Yesus Kristus

Sumber gambar: https://unsplash.com/photos/43cZUXtT3yc (Ali Yahya@ayahya09)

Setiap orang memiliki keyakinan terhadap sesuatu, baik bersumber dari dirinya sendiri, maupun bersumber dari luar dirinya. Keyakinan itu mendorong setiap orang untuk memperlihatkan tingkah lakunya, menunjukkan kualitas, dan memberi pengaruh pada orang lain.

Dalam konteks ini, iman Kristen mengetengahkan (mengemukakan) sebuah prinsip hidup yang telah diubahkan oleh Yesus Kristus. Secara substansial, setiap orang yang percaya dan beriman kepada Yesus Kristus haruslah menyatakan dirinya sebagai seseorang yang “diubahkan” (oleh Yesus Kristus melalui pengalaman dan pemahaman akan firman-Nya) dan “berubah” (oleh komitmen pribadi untuk menyelaraskan pilihan hidup dengan kehendak Tuhan Yesus).

“Diubah” dan “Berubah” adalah fakta bahwa seseorang telah mengenakan manusia baru, karena telah menanggalkan manusia lama. Pada titik ini, seseorang telah melakukan dan mengalami perubahan. Pilihan hidup seseorang untuk mengikut Yesus Kristus dan beriman kepada-Nya merupakan sebuah keputusan yang dibarengi dengan “kredo”. Kredo itu sendiri lahir karena Yesus telah memberikan iman kepadanya untuk meneruskan kehidupan tetapi dengan cara yang berbeda. Jika ia telah mengenakan manusia baru maka cara hidupnya tentu berbeda ketika ia masih mengenakan manusia lama. Perubahan ke arah yang lebih baik belum terjadi dan belum dilakukan ketika seseorang masih mengenakan manusia lama.

Mengikut Yesus adalah sebuah keputusan iman, di mana iman itu sendiri diberikan oleh Yesus: “dari Dia, oleh Dia, dan kepada Dia”. Dialah yang layak menerima pujian dan sembah, hormat serta ungkapan syukur dari mereka yang setia dan beriman kepada-Nya. Mengikut Yesus mendorong seseorang untuk melihat kehidupan sebagai “KASIH KARUNIA” yang luar biasa dari Yesus Kristus; sebuah kehidupan yang melihat sesama sebagai objek kasih Allah dan layak menerima pengampunan dan keselamatan dari-Nya.

Kendatipun dalam proses mengikut Yesus terdapat berbagai macam hambatan, tantangan, tekanan, dan hinaan, hal itu tidak menyurutkan komitmen kita untuk melihat bahwa Yesus Kristus akan tetap menyertai dan memberikan kekuatan dalam menghadapi semuanya itu. Tak jadi soal dunia membenci kita, sebab Yesus terlebih dahulu dibenci. Tak jadi soal dunia memandang rendah kita, sebab Yesus terlebih dahulu direndahkan dunia.

Sejatinya, mengikut Yesus adalah sebuah pilihan yang tepat sekaligus bermasalah. Bermasalah karena dunia menghina dan merendahkan Yesus, dan imbasnya, pengikut-Nya pasti hina dan rendah. Tentu tidaklah demikian. Jika kita menggunakan standar yang sama, maka kita dapat mengatakan bahwa “perbuatan-perbuatan duniawi adalah jenis perbuatan yang rendah, hina, dan kotor, maka siapa saja yang melakukan perbuatan-perbuatan duniawi, pasti dirinya adalah rendah, hina, dan kotor.”

Mengikut Yesus juga menimbulkan masalah bagi diri kita sendiri. Masalahnya terletak pada bagaimana kita berkomitmen untuk melakukan tindakan “solvinatia” dan mengenakan manusia baru, merasakan kehidupan yang baru, yang diubahkan Yesus Kristus. Jika kita tidak dapat mengatasi masalah tersebut, maka sikap hidup kita akan menunjukkan kebalikannya: di satu sisi mengaku sebagai pengikut Yesus Kristus (yang harus hidup dalam kesucian dan kekudusan), tetapi di sisi lain perilaku, karakter, dan relasinya sangat buruk dan tidak terpuji. Ini adalah dua hal yang kontradiksi dalam diri seseorang.

Itu sebabnya, seseorang harus melakukan tindakan “solvinatia” agar terlihat jelas hidupnya berubah karena Yesus Kristus. Dengan menetapkan prinsip hidup di dalam Yesus Kristus, kita—secara simultan—menentukan apa dan bagaimana kehidupan di dalam Yesus. “Apa” menyangkut komitmen untuk setia kepada-Nya, sedangkan “bagaimana” menyangkut segala sesuatu yang kita persembahkan kepada-Nya sebagai persembahan yang hidup.

Ketika kita memilih jalan hidup kita untuk percaya kepada Yesus Kristus, maka kita perlu berkomitmen melakukan “solvinatia”. Kata “solvinatia” berasal dari kata “solvi” dan “nativo”. Kata “solvi” berarti “memecahkan”—jika diambil artinya dari bahasa Esperanto (bahasa antar bangsa yang netral; bahasa artifisial, buatan, yang diciptakan oleh seorang Polandia, Dr. Ludwig Lazarus Zamenhof [1851-1917], yang masa mudanya tinggal di lingkungan multietnis; esperanto adalah bahasa yang diciptakan untuk mempermudah komunikasi antar [berbagai] bangsa di dunia). Sedangkan dalam bahasa Latin, “solvi” diartikan sebagai “terlepas”.

Kata “nativo” berasal dari bahasa Itali, yang berarti “asli”. Kata lain yang bisa digunakan adalah “natia” (dalam bahasa Polandia) yang berarti “harapan”. Berangkat dari arti dua kata tersebut, maka “solvinatia” berarti “memecahkan [yang] asli”, atau “melepaskan [yang] asli”. Jika menggunakan kata “natia”, maka dapat dipahami sebagai “melepaskan harapan”. Kedua kata bisa dipakai dalam pengertian yang sama dalam konteks tertentu sebagaimana yang akan dijelaskan berikut ini.

Dalam konteks iman Kristen, seseorang yang mengikut Yesus Kristus, haruslah “melepaskan [memecahkan] sifat yang asli, maksudnya sifat yang dilakukan sebelum menjadi pengikut Yesus Kristus (sifat buruk) atau “melepaskan harapan” yang lama; dengan perkataan lain sifat asli dari “manusia lama” dan harapannya harus dibuang dan dilepaskan. Jika seseorang telah melepaskan atau memecahkan kehidupan lamanya dan harapannya, maka ia diberikan oleh Yesus sebuah “kehidupan (manusia) dan harapan yang baru.” Yesus bertanggung jawab atas kehidupan orang-orang yang percaya kepada-Nya: Ia mengubahkan mereka; Ia memperlengkapi mereka dengan segala perbuatan baik.

Ada standar pembeda antara manusia lama dan manusia baru. Menjadi manusia baru—menjadi pengikut Yesus Kristus—berarti berani melakukan “solvinatia”, yaitu melepaskan manusia lama (sifat asli yang buruk) dan harapan semunya, untuk hidup dalam kasih Tuhan. Menjadi pengikut Yesus, harus berbeda (tampil beda); beda kehidupan, beda cara hidup. Cara hidup harus selaras dengan firman-Nya. Kehidupan yang benar dan kudus adalah ciri khas dari mereka yang telah berkomitmen untuk melakukan “solvinatia”.

Solvinatia adalah komitmen iman dari seseorang yang memilih menyandarkan hidupnya kepada Yesus Kristus. Komitmen iman itu akan membentuk perilaku, karakter, dan relasi humanitas. Tak ada pilihan lain bagi kita jika kita menyatakan kredo kepada Yesus Kristus selain “melepaskan sifat asli kita”—solvinatia—dan mengenakan sifat yang baru yang diberikan (dan ditetapkan) oleh Yesus Kristus: hidup kudus, mengasihi Tuhan dan sesama, dan melakukan segala sesuatu yang menyenangkan dan berkenan kepada Tuhan Yesus.

Mari, lakukanlah tindakan “solvinatia” jika kita mengaku sebagai pengikut YESUS KRISTUS. Jika Saudara sudah melakukannya, ajaklah sahabat-sahabatmu, atau orang-orang yang anda kenal dan kasihi, untuk melakukan hal yang sama: Solvinatia dan menerima Yesus Kristus sebagai Tuhan dan Juruselamat, yang telah teruji dan terbukti mengubahkan milyaran manusia jahat menjadi manusia yang baik sesuai dengan kehendak-Nya.

Tentu ada “natia” [harapan] di dalam Yesus Kristus, dan harapan itu bukanlah harapan untuk menikmati seksualitas di surga, tetapi menikmati kemuliaan dan kebahagiaan kehidupan kekal, yang Tuhan Yesus berikan kepada mereka yang taat dan setia kepada-Nya.

Salam Bae……

TEOLOGI LUMEN?

“Manusia memancarkan jati dirinya (identitasnya) sendiri dan dengan demikian, ia dapat dinilai dari jati diri itu.” Apa yang menarik dari pernyataan tersebut? Begini: setiap manusia secara sadar dan tidak sadar menunjukkan (memancarkan) siapa dirinya melalui perkataan, perbuatan, dan pemikiran, sehingga orang lain dapat memahami, menilai, menetapkan, “apa dan bagaimana” manusia itu.

Apakah yang dilakukan seseorang melalui perkataan, perbuatan, dan pemikiran itu akan tetap konsisten dilakukannya? Ataukah hanya sebatas gaya-gayaaan, cari perhatian, mencari popularitas, dan atau mencari kesenangan belakan? Hanya kita sendiri yang tahu apa sebenarnya “motivasi” yang terkandung dari realisasi perbuatan, perkataan, dan pemikiran yang ditunjukkan.

Bagaimana dengan teologi yang kita sampaikan, atau yang menjadi pegangan kita? Apakah akan tetap bertahan dan bercahaya di sepanjang zaman, ataukah hanya TERANG SESAAT LALU PUDAR KEMUDIAN? Apakah terang Kristus yang ada di dalam diri kita hanya bercahaya saat kita masih kuat melayani-Nya, dan pudar ketika kita lemah? Ataukah kita semangat melayani Tuhan ketika kita masih kekurangan, dan mengabaikan pelayanan ketika kita telah menjadi kaya dan berhasil?

Pertanyaan-pertanyaan di atas adalah sebuah dorongan bagi kita untuk melihat komitmen kita dalam mengikut Yesus dan melayani-Nya. Kita mengetahui dari tulisan Rasul Paulus bahwa Allah telah “membuat terang-Nya bercahaya di dalam hati kita, supaya kita beroleh terang dari pengetahuan tentang kemuliaan Allah yang nampak pada wajah Kristus” (2 Korintus 4:6), dan melalui tulisan Rasul Yohanes, ditegaskan bahwa Yesus Kristus adalah “Terang Dunia”: Dalam Dia [Logos] ada hidup dan hidup itu adalah terang manusia. Terang itu bercahaya di dalam kegelapan dan kegelapan tidak menguasainya … Terang yang sesungguhnya, yang menerangi setiap orang, sedang datang ke dalam dunia. Ia telah ada di dalam dunia dan dunia dijadikan oleh-Nya, tetapi dunia tidak mengenal-Nya (Yohanes 1:4-5, 9-10).

Dalam satu kesempatan, Yesus menegaskan identitas-Nya sebagai terang dunia: “Akulah terang dunia; barangsiapa mengikut Aku, ia tidak akan berjalan dalam kegelapan, melainkan ia akan mempunyai terang hidup” (Yohanes 8:12). Dengan demikian, setiap orang yang percaya dan mengikut Yesus, mempunyai “terang” hidup yang dipancarkan dalam kehidupannya, lingkungannya, dan relasinya.

Dalam konteks ini, “kita” adalah pembawa dan pemancar terang Kristus. Terang itu sendiri tampak dalam perbuatan, perkataan, dan pemikiran. Ketiganya sejalan dan secara simultan dilakukan. Ini menjadi identitas penegas dan pembeda antara orang yang percaya kepada Yesus, dan “orang-orang duniawi” yang tidak percaya kepada-Nya. Orang-orang percaya memancarkan terang; itulah yang diperitahkan Yesus: “Demikianlah hendaknya terangmu bercahaya di depan orang, supaya mereka melihat perbuatanmu yang baik dan memuliakan Bapamu yang di sorga” (Matius 5:16). Cahaya—yaitu perbuatan, perkataan, pemikiran—haruslah secara konsisten dilakukan sepanjang hayat, bukan hanya terang di awal, lalu pudar kemudian; bukan seperti “lumen” yang lama-kelamaan menjadi pudar.

Kita memahami bahwa ada orang-orang tertentu yang menganut paham “Teologi Lumen”. Teologi ini hendak menegaskan posisi seseorang yang dengan semangat tinggi untuk menunjukkan “teologinya” kepada publik. Teologinya kelihatan bercahaya di depan mata orang-orang bodoh, tetapi di waktu kemudian, teologinya ternyata bermasalah dan pudar di telan waktu. Tipikal orang yang demikian, tidak menaruh simpati kepada “pemahaman doktrinal yang alkitabiah dan telah teruji waktu, dan dipegang oleh Gereja-gereja secara resmi yang telah dipertahankan sejak abad pertama sampai sekarang”. Orang-orang yang mengusung Teologi Lumen adalah mereka yang ingin mencari sensasi, kuat berimajinasi, tetapi mengorbankan jati diri dan harga diri.

Teologi Lumen adalah jenis teologi yang menekankan pada “cahaya awal” tetapi “memudar” kemudian, ketika melewati proses waktu. Lumen adalah sebuah istilah fisika yang berarti “satuan ukuran kekuatan cahaya”. Lumen sering kita kenal terdapat dalam LCD (Liquid Crystal Display) proyektor, di mana pada proyektor tersebut, lumen yang pada awalnya terlihat terang dan jelas, lama-kelamaan akan memudar, kabur, dan kemudian menjadi tidak jelas. Konteks ini saya tarik ke dalam sebuah identitas teologi seseorang yang memang hanya menonjolkan “cahaya awal” untuk sensasi dan imajinasi (liar).

Teologi Lumen diusung oleh orang-orang yang dengan tujuan tertentu, ingin menunjukkan kekuatannya, meski secara prinsip “menyesatkan”. Teologi yang dibangunnya bukanlah mempertahankan apa yang telah diwariskan oleh para rasul (dan semua orang percaya yang telah menunjukkan ajaran [pengajaran] dalam sikap dan kehidupan mereka). Teologi Lumen tidak konsisten tetapi inkonsisten, dan cenderung menampilkan ajaran-ajaran yang menyesatkan, terutama pada konteks Kristologi. Tiga sahabat saya telah menunjukkan sikap mereka untuk melawan jenis teologi ini: Deky H. Y. Nggadas (Verbum Veritatis), Samuel T. Gunawan, dan Albert Rumampuk. Kita dapat belajar dari mereka.

Lalu teologi apa yang harus kita pegang dan dapat bertahan lama sampai akhir hayat? Tentu bukanlah Teologi Lumen, apalagi Teologi Sukses, Teologi Kemakmuran, yang tidak jelas dan hanya meraup keuntungan semu. Kita dapat memegang “Teologi Konsinyasi”—yaitu teologi yang melarang orang-orang percaya untuk meninggalkan pekerjaan dan pelayanannya dan harus menyelesaikan pertandingan iman sampai akhir hayat. Tugas mereka adalah menggarap pekerjaan Tuhan dan tetap setia sampai akhir. Teologi Konsinyasi mengusung prinsip: “Hendaklah engkau setia sampai mati, dan Aku akan mengaruniakan kepadamu mahkota kehidupan” (Wahyu 2:10b).

Teologi yang kita bangung mencerminkan (memancarkan) jati diri kita. Berteologi secara sehat mendorong kehidupan yang sehat dan menyehatkan orang lain. Jika kita sehat, maka potensi untuk menyehatkan orang lain dapat terjadi. Mari membangun Teologi Konsinyasi melalui keputusan untuk konsisten antara perkataan, perbuatan, dan pemikiran, di sepanjang hayat kita. Dan ingatlah pesan Rasul Paulus:

“Apa pun juga yang kamu perbuat, perbuatlah dengan segenap hatimu seperti untuk Tuhan dan bukan untuk manusia” (Kolose 3:23)

“dan segala sesuatu yang kamu lakukan dengan perkataan atau perbuatan, lakukanlah semuanya itu dalam nama Tuhan Yesus, sambil mengucap syukur oleh Dia kepada Allah, Bapa kita” (Kolose 3:17).

“Tetapi kuasailah dirimu dalam segala hal, sabarlah menderita, lakukanlah pekerjaan pemberita Injil dan tunaikanlah tugas pelayananmu” (2 Timotius 4:5)

Berteologilah dengan penuh komitmen kepada Tuhan. Jangan menyesatkan dan menebarkan cahaya yang tampak terang di awal, tetapi kemudian pudar dan tidak jelas, seperti Teologi Lumen. “Kita dipanggil Tuhan Yesus untuk setia kepada-Nya, untuk melayani-Nya, menjadi garam dan terang dan pelaku-pelaku firman sepanjang hayat”. Itulah prinsip Teologi Konsinyasi.

Salam Bae

Sumber gambar: 3.bp.blogspot.com/-W616HLhjkcs/TXlJ1CBzQ8I/AAAAAAAADVY/Jl1nXLqynB8/s1600/BenQ%2BMX710%2BLCD%2BProjector.jpgIklan

PEMAHAMAN MENDASAR DAN DISPARITAS LOGIS TENTANG TRINITAS

Sumber gambar: https://shareaverse.wordpress.com/2013/07/27/the-trinity-triune-godhead/

Ada berbagai pemikiran untuk memahami personalitas Allah. Dalam pengamatan saya, dua hal yang paling sering dilakukan oleh manusia dalam konteks ini adalah: memahami bagaimana sesungguhnya Allah dan memahami bagaimana seharusnya Allah. Pada pemahaman bagaimana sesungguhnya Allah manusia mendasarinya dengan berangkat pada “apa yang dinyatakan Allah tentang diri-Nya”. Konteks ini adalah secara substansial memiliki bukti-bukti sejarah di mana Ia telah menyatakan diri-Nya kepada orang-orang pilihan dalam kaitannya dengan realisasi rencana dan kehendak-Nya bagi kebaikan manusia; dan di sisi lainnya, Ia menghukum manusia yang berdosa yang dengannya Allah dapat dipahami sebagai Allah yang baik dan Allah yang adil yaitu menghukum mereka yang bersalah. Semuanya ini memiliki sumber rujukan atau yang saya sebut dengan “dokumentasi”. Oleh karenanya, pemahaman bagaimana sesungguhnya Allah secara iman dapat diargumentasikan, didukung oleh dokumentasi dan peristiwa historis. Ketiganya yaitu argumentasi, dokumentasi, dan historis, saya sebut dengan filsafat iman.

Sedangkan pada pemahaman bagaimana seharusnya Allah, manusia menggunakan berbagai konsekuensi logis untuk merumuskan tentang apa yang harus dimiliki, dilakukan, dan ditetapkan Allah. Manusia cenderung memahami Allah berdasarkan konsep logis bahwa jika Allah tidak begini, maka Ia tidak begitu. Berbagai hipotesis logis dikumandangkan untuk memuluskan pemahaman mereka tentang Allah.

Kekuatan logika dalam memahami personalitas Allah bukanlah hal yang baru. Logika memang diperlukan untuk memahami-Nya karena itu adalah pemberian-Nya. Ini berlaku pada mereka yang percaya bahwa Allah yang menciptakan manusia; dan tidak berlaku bagi mereka yang tidak percaya bahwa Allah telah menciptakan manusia dalam arti khusus. Jurang pemisah dalam memahami personalitas Allah bukanlah pada bukti-bukti penyataan Allah, melainkan pada konsep logis, analogis, hipotesis, dan lain sebagainya. Memang, secara substansial, logika, analogi dan hipotesis diperlukan dalam memahami personalitas Allah, hanya saja penggunaan ketiganya haruslah melihat demarkasi konteks, bukti-bukti penyataan, dan dokumentasi historis. Kesalahan menggunakan ketiganya—artinya karena berangkat dari “a priori” ketimbang “aposteriori”, berakibat pada negasi personalitas Allah dan menggunakan pemahanan bagaimana seharusnya Allah.

Secara historis, Kristen memahami Allah konsep bagaimana sesungguhnya Allah. Allah yang sesungguhnya adalah Allah yang menyatakan diri dan berdasarkan penyataan itulah, bukti bahwa konsep memahami Allah dipandang sebagai dapat dipercaya, bersifat historis, dapat diargumentasikan, dan memiliki dokumen pendukung (bukti-bukti penyataan itu sendiri). Berangkat dari pemikiran yang sangat mendasar ini, maka doktrin Allah Tritunggul (atau disebut secara singkat dengan Trinitas), adalah doktrin yang memahami Allah sebagai “Allah yang sesungguhnya.” Namun, patut diakui bahwa personalitas Allah tetap menyisahkan misteri. Alasannya adalah karena keterbatasan logika yang tak mungkin menjangkau Allah dengan logika (pengertian, pemahaman, analisis, dan sebagainya) sehingga apa yang dinyatakan itulah yang menjadi dasar pijakan pengetahuan tentang diri-Nya. Memaksa memahami Allah berdasarkan bagaimana seharusnya Allah membawa seseorang kepada “rasa puas semu dan penyesatan”.

Bagaimana bisa dikatakan rasa puas semu? Puas, karena manusia dengan segala macam rumusan pikirannya menggunakan bukti analogis—dan bukan bukti penyataan—untuk merumuskan dan menyusun formula tentang bagaimana “seharusnya Allah. Lalu bagaimana bisa disebutkan sebagai penyesatan? Alasannya karena rumusan dan formula tentang personalitas Allah yang bukan didasarkan pada penyataan bukanlah sebuah pemahaman yang kredibel. Permainan logika bisa dianggap logis tetapi tidak berarti itulah yang sesuai dengan fakta penyataan.

Pada kasus Trinitas, beberapa orang memiliki pemahaman yang dangkal bukan karena mereka memahami personalitas Allah yang “sesungguhnyamelainkan karena mereka menggunakan cara berpikir tentang bagaimana “seharusnya Allahyang terlihat cocok dengan logika mereka. Di sini, catatan pentingnya adalah “Allah tidaklah tunduk pada rumusan logika yang menyimpang tanpa bukti penyataan apa pun.” Sebaliknya, dalam pemahaman Kristen (yang menerima Trinitas) Allah dipahami sesuai dengan apa yang Ia nyatakan. Meski dipandang sebagai sesuatu yang sulit dan hampir tidak masuk di akal, Trinitas pada dirinya sendiri adalah fakta historis dan kesimpulan logisnya adalah “Allah ada sebagaimana Ia ada, dan Allah dipahami sejauh Ia menyatakan diri-Nya”. Soal bagaimana Ia dipahami sebagai Trinitas, tentu ada jalur berpikirnya yang didasarkan pada fakta historis, dokumentasi pendukung, dan dapat diargumentasikan (isi-isi argumen berdasarkan historisitas dan dokumentasi).

Berbicara mengenai doktrin Trinitas, bukanlah hal yang mudah untuk dipahami. Ada orang-orang Kristen maupun non-Kristen beranggapan bahwa doktrin Trinitas sulit dipahami dan tidak masuk akal. Anggapan tersebut di satu sisi ada benarnya dan di sisi lainnya ada salahnya. Mengapa demikian? Alasannya adalah memahami pribadi Allah tidak semudah yang kita bayangkan. Oleh karena itu, mengatakan bahwa belajar Trinitas tidak masuk akal, sama saja dengan mengatakan bahwa doktrin keesaan Allah juga tidak masuk akal. Mengapa bisa tidak masuk di akal? Keesaan Allah diukur atau dinilai dengan apa? Apakah hanya diukur dari pernyataan bahwa “Allah itu esa”? lalu kita merumuskan bahwa “Allah itu satu saja”—maksudnya, diri-Nya hanya ada satu saja, bukan dua atau tiga, dan seterusnya? Tidak semudah itu.

Mereka yang menganggap bahwa doktrin Trinitas menimbulkan banyak problem, sebenarnya juga menyatakan bahwa doktrin Unitarian memiliki problem yang sama. Kita perlu memahami dan mengakui bahwa Allah itu tidak terbatas – dan manusia terbatas pikirannya. Perumusan Trinitas tentu berdasarkan pada penalaran logis yang disertai bukti.

Sebagai langkah awal, saya hendak menyatakan demikian, bahwa “Allah tidak menyatakan diri-Nya sebagai “satu” secara numerik, melainkan “satu” di antara ilah-ilah yang lain.” Maksudnya adalah, Allah sendiri menegaskan bahwa “objek” penyembahan “haruslah” hanya kepada Dia, dan bukan kepada ilah-ilah yang ada di bumi atau di sekitar bangsa Israel yang dimiliki oleh bangsa-bangsa lain. Jika hal ini dipahami secara baik dan benar, maka personalitas Allah yang kita pahami tidak membawa kita pada kancah perdebatan yang panjang.

Tetapi perdebatan terus berlanjut. Pada substansinya, memahami ‘keesaan Allah’ haruslah dilihat dari konteks di mana Allah menyatakan bahwa hanya Diri-Nya yang ‘esa’—satu di antara ilah-ilah lain, bukan “satu secara numerik” tanpa melihat konteks eksistensi ilah-ilah lain di dunia. Di sini, titik berangkat prapemahaman seseorang akan pribadi Allah menentukan aspek pengetahuannya tentang Allah. Dan pada hakikatnya bahwa prapemahaman tersebut harus didasari pada wahyu Allah, bukan pada asumsi logika manusia.

Dari sini kita melihat bahwa memahami Allah sebagai yang esa mencakup dua hal: esa dalam hal penyembahan, dan esa dalam hal esensi. Keduanya berbeda. Islam masuk dalam ranah “esa penyembahan”, sehingga ketika orang Kristen menyembah Yesus, maka mereka mengira bahwa orang Kristen menduakan Allah, berlaku syirik, dan dianggap kafir. Padahal yang disembah oleh orang Kristen adalah Yesus yang tidak dipisahkan dari status ontologi-Nya sebagai Firman Allah yang kekal (Yoh. 1:1-3).

Keesaan Allah dalam arti “esa penyembahan” merujuk pada “seharusnya” Allah yang disembah dan bukan ilah-ilah ciptaan Allah. Keesaan Allah dalam arti “esa esensi [ontologi] merujuk pada “sesungguhnya” Allah itu tiga pribadi: Bapa, Firman, dan Roh Kudus sebagaimana yang dinyatakan dalam Alkitab.

Ada problem pemahaman yang muncul: apakah Allah Tritunggal memiliki tiga roh (dari masing-masing pribadi) ataukah hanya satu roh? Kita pun di sini tergerak untuk melihat tiga pribadi dari Trinitas secara terpisah. Dengan demikian, asumsi filosofi-teologis berangkat dari skema pemahaman natural kita sendiri. Jika esensi Allah adalah Roh, maka mungkinkah esensi Allah memiliki “roh”?

ALLAH TRITUNGGAL: SATU ROH ATAU TIGA ROH?

Posisi saya adalah Trinitas memiliki “satu Roh”. Satu Roh merujuk pada tidak ada perbedaan kualitas kehendak, sehingga menggiring opini bahwa ketiga Pribadi Trinitas memiliki roh-Nya masing-masing. Tidak ada indikasi soal ini dalam Alkitab.

Perbedaan esensi dan pribadi haruslah dipahami secara baik. Sebagaimana yang diungkapkan Herman Bavink bahwa, “Kitab Suci juga jelas mengenakan natur ilahi dan kesempurnaan-kesempurnaan ilahi kepada Anak dan Roh dan menempatkan Mereka setara dengan Bapa. Maka Bapa, Anak dan Roh adalah subjek-subjek yang berdistingsi di dalam satu esensi ilahi.” Saya memahami esensi ilahi sebagai “Roh yang kekal” sebab natur Allah adalah “Roh” yang dapat dipahami sebagai “esensi hakiki” (self-condition) dan mutlak. Mutlak bukan karena kita yang melekatkannya melainkan “demikianlah adanya”.

Bavink berpendapat bahwa “di dalam Allah tidak ada pemisahan atau pembagian”, yang dapat saya pahami bahwa “Pribadi-pribadi Trinitas tidak memisahkan diri Mereka karena memiliki roh-Nya masing-masing apalagi ‘membagi’ distingsi roh Mereka masing-masing. Karena Trinitas memiliki ‘satu Roh’ maka tidak ada perbedaan kehendak, emosi, dan pikiran, sebagaimana yang tertuang dalam narasi-narasi Alkitab. Emosi, pikiran, dan kehendak Mereka—secara filosofis ‘ada dalam Roh yang satu itu’ sehingga berimplikasi kepada tidak adanya perbedaan kualitas emosi, pikiran, dan kehendak.” Lagipula, tidak ada bukti apa pun dalam Alkitab bahwa Pribadi-Pribadi Trinitas saling bertolak belakang dalam kehendak. Sama sekali tidak.

Memang, Pribadi-Pribadi Trinitas memiliki eksistensi-Nya tersendiri yang disting, tetapi hal itu bukan berarti eksistensi dipahami sebagai “satu roh dimiliki Yesus, satu roh dimiliki Roh Kudus, dan satu roh dimiliki Bapa. Eksistensi hanyalah mengacu pada “ke—ada—an” personalitas Mereka. Eksisten dan esensi memiliki perbedaan. Eksistensi mengacu pada kondisi “ada” dan “adanya” Pribadi-Pribadi Trinitas adalah sejak kekal yang tak terpahami, tak berawal. Ketika seseorang mengatakan: “kapan Allah mulai ada?” maka kita dapat bertanya juga dengan pertanyaan: “kapan manusia mulai berpikir”. Tidak ada jawaban atas dua pertanyaan di atas. Maka, secara faktual, tidak perlu ditanyakan.

Distingsi-distingsi antara ketiga Pribadi secara jelas tampak dalam relasi-relasi yang menghasilkan diferensiasi di dalam keberadaan ilahi (Bavink). “Setiap Pribadi adalah diri-Nya sendiri dalam suatu cara yang kekal, sederhana, dan mutlak, Bapa adalah Allah, Anak adalah Allah, Roh Kudus adalah Allah. Dan karena ketiga-Nya adalah Allah, Mereka semua berbagian dalam “satu natur ilahi”. Maka, hanya ada satu Allah (Bavink).

Pemahaman saya mengenai “satu natur ilahi” merujuk kepada “satu Roh” yang dimiliki oleh tiga Pribadi, sehingga tidak ada perbedaan kualitas pendapat, pikiran, dan kehendak.

Mungkin, kesalahan mereka dalam memahami konteks “tiga roh” terjebak dalam kelogisan demarkasi personal sebagaimana yang diambil dari analogi manusia. Secara logis, ketiga Pribadi dalam Trinitas saling berdingsi, dan konsekuensi logisnya (maksudnya di sini saya hanya memahami makna logis, bukan menjelaskan pandangan saya) adalah Bapa punya roh, Yesus punya roh, dan Roh Kudus punya roh, jadinya ada tiga roh. Sampai di sini memang logis. Tetapi pertanyaan-Nya, apakah “roh” dari masing-masing Pribadi berbeda atau sama? Jika berbeda, bagaimana ukuran untuk sampai pada kesimpulan demikian? Bagaimana “roh”-Nya Roh Kudus bisa berbeda dengan roh Bapa yang dari-Nya Ia keluar? Bagaimana “roh”-Nya Yesus bisa dikatakan berbeda dengan roh Bapa padahal ia dilahirkan dari Bapa? Jika sama, maka implikasinya adalah hanya “ada satu roh” saja meski ada tiga Pribadi yang disting.

Oleh sebab itu, kesimpulan saya adalah: “hanya ada satu roh dalam Trinitas yang dengannya tidak ada perbedaan kualitas pikiran, emosi, dan kehendak karena tidak ada bukti apa pun dalam Alkitab bahwa Allah Trinitas berkelahi dan berbeda pendapat karena masing-masing meliki tiga roh. Justru Alkitab menjelaskan keselarasan dan kesamaan kehendak di antara Pribadi-Pribadi dalam Trinitas. Seperti pernyataan dalam Pengakuan Iman Westminter: “Di dalam Allah yang esa, terdapat tiga Pribadi, yang adalah satu dalam substansi, kuasa, dan kekekalan….” dan seperti yang diungkapkan A. A. Hodge sebagaimana dikutip oleh Cornelius Van Til, bahwa “Bapa, Anak, dan Roh Kudus sama-sama Allah yang tunggal itu, dan bahwa esensi yang tidak bisa dibagi-bagi dan segala kesempurnaan dan prerogatif ilahi, adalah kepunyaan dari masing-masing Pribadi di dalam pengertian dan derajat yang sama”, dengan demikian, tidak ada perbedaan kehendak dalam Trinitas. Ketika kita beranjak memahami Allah dengan tanpa bukti, maka kita terjerumus dalam konsep memahami “bagaimana seharusnya Allah”.

Salam Bae

Mengenai Allah Tritunggal: Satu Roh atau Tiga Roh, telah dimuat di: https://teologiareformed.blogspot.com/2018/10/allah-tritunggal-satu-roh-atau-tiga-roh.html oleh Admin Teologi Reformed. Konteks tersebut saya muat di Facebook dalam diskusi soal Trinitas. Tetapi tulisan Allah Tritunggal: Satu Roh atau Tiga Roh adalah bagian dari topik dalam artikel singkat ini.

YESUS DAN SALIB: Refleksi Singkat

Sumber gambar: https://id.pinterest.com/pin/765400899169567223/

Pada komunitas tertentu, salib dipahami secara berbeda dengan apa yang dipahami oleh umat Kristen. Salib dipandang sebagai penghinaan dan tanda kutuk Allah sehingga umat Kristen—sebagai imbasnya—dianggap sebagai orang-orang yang aneh. Sejatinya, bukanlah orang-orang Kristen yang aneh, melainkan orang-orang yang melihat salib secara bertolak belakang dengan doktrin salib Kristen.

Salib memang terlihat hina, terlihat sadis dan kejam, terlihat sebagai tanda kutuk. Tetapi salib justru memiliki makna yang jauh lebih dalam dari pemahaman dan penglihatan (cara pandang seseorang) yang tidak sepenuhnya memahami konteks dan latar belakangnya. Terkadang, mereka yang salah dan secara sesat memahami salib justru merasa yang paling tahu tentang salib. Kebiasaan paralogisme seperti telah menjamur di komunitas tertentu, dan orang-orang yang membenci salib. Kita melihat bahwa salib adalah cara Allah untuk menyatakan kasih, penebusan, pengampunan, dan keselamatan. Dalam catatan Perjanjian Lama, pengampunan (dan penyelamatan) yang Allah kerjakan terlihat dalam dua cara:

Pertama, pengampunan Allah berdasarkan kasih karunia (kerelaan Allah untuk mengampuni manusia berdosa). Hal ini terlihat pada kejahatan pertama yang dilakukan Kain, yaitu membunuh Habel, adiknya. Kejadian 4:8-15, Kata Kain kepada Habel, adiknya: “Marilah kita pergi ke padang.” Ketika mereka ada di padang, tiba-tiba Kain memukul Habel, adiknya itu, lalu membunuh dia. Firman TUHAN kepada Kain: “Di mana Habel, adikmu itu?” Jawabnya: “Aku tidak tahu! Apakah aku penjaga adikku?” Firman-Nya: “Apakah yang telah kauperbuat ini? Darah adikmu itu berteriak kepada-Ku dari tanah. Maka sekarang, terkutuklah engkau, terbuang jauh dari tanah yang mengangakan mulutnya untuk menerima darah adikmu itu dari tanganmu … Firman TUHAN kepadanya: “Sekali-kali tidak! Barangsiapa yang membunuh Kain akan dibalaskan kepadanya tujuh kali lipat.” Kemudian TUHAN menaruh tanda pada Kain, supaya ia jangan dibunuh oleh barangsiapapun yang bertemu dengan dia.

Tuhan mengampuni Kain berdasarkan kasih karunia-Nya dan tidak memerintahkan Kain untuk mempersembahkan kurban sebagai pengampunan dosanya yitu membunuh adiknya. Kasih karunia ini berlaku bagi Adam, Hawa, Nuh, Abraham, Ishak, Yakub, dan lainnya sebelum masa di mana Musa diperintahkan Allah untuk mempersembahkan berbagai kurban (kurban penebus salah, kurban penghapus dosa, dan lainnya).

Kedua, pengampunan Allah berdasarkan persembahan kurban, yang terkait erat dengan darah dan kematian. Musa diperintahkan Tuhan untuk mengadakan persembahan kurban-kurban, dan yang terkait dosa adalah kurban penghapus dosa (Kel. 29:14; 29:36; 30:10; Im. 4:3; 4:14; 4:20; 4:24-25; 4:29; 4:33; dan lain-lain). Konsep ini kemudian digenapi dalam diri Yesus Kristus; Ia adalah Anak Domba Allah yang menghapus dosa dunia (Yoh. 1:29).  Perjanjian Lama menegaskan bahwa kurban pengganti terkait dengan darah dan kematian; kurban keselamatan dan pengampunan juga memiliki makna yang sama. Dalam Kejadian 22:8 Abraham dengan yakin berkata anaknya: “Allah yang akan menyediakan anak domba untuk korban bakaran bagi-Nya.” Dan kita melihat bahwa seharusnya Ishak yang dipersembahkan Abraham, kita Allah menggantinya dengan seekor domba jantan (Kej. 22:13). Baik lembu jantan maupun domba jantan bertujuan untuk pengudusan, penebus salah, yang dengannya Allah menghendaki umat-Nya diselamatkan (bdk. Kel. 29:1-28; Kel. 5:16-19).

Kini, dalam Perjanjian Baru, Allah mengganti domba jantan dengan Yesus Kristus; darah-Nya dicurahkan dan tubuh-Nya mengalami kematian. Depiksi (penggambaran) ini adalah perwujudan dari cara Allah—berdasar pada kedaulatan-Nya untuk menebus dan menguduskan umat-Nya—harus berurusan dengan “darah dan kematian”. Darah adalah lambang kehidupan dan kematian adalah lambang kebangkitan. Yesus secara tepat menegaskan hal ini: “Akulah kebangkitan dan hidup”. Yesus juga menegaskan: “Matius 26:28 Sebab inilah darah-Ku, darah perjanjian, yang ditumpahkan bagi banyak orang untuk pengampunan dosa” (Mat. 26:28). Di dalam Yesus tergabung kasih karunia dan pengurbanan untuk pengampunan, penebusan dan pengudusan. Rasul Paulus menegaskan bahwa: Sebenarnya dahulu kami semua juga terhitung di antara mereka, ketika kami hidup di dalam hawa nafsu daging dan menuruti kehendak daging dan pikiran kami yang jahat. Pada dasarnya kami adalah orang-orang yang harus dimurkai, sama seperti mereka yang lain.

Tetapi Allah yang kaya dengan rahmat, oleh karena kasih-Nya yang besar, yang dilimpahkan-Nya kepada kita, telah menghidupkan kita bersama-sama dengan Kristus, sekalipun kita telah mati oleh kesalahan-kesalahan kita — oleh kasih karunia kamu diselamatkan — dan di dalam Kristus Yesus Ia telah membangkitkan kita juga dan memberikan tempat bersama-sama dengan Dia di sorga, supaya pada masa yang akan datang Ia menunjukkan kepada kita kekayaan kasih karunia-Nya yang melimpah-limpah sesuai dengan kebaikan-Nya terhadap kita dalam Kristus Yesus. Sebab karena kasih karunia kamu diselamatkan oleh iman; itu bukan hasil usahamu, tetapi pemberian Allah, itu bukan hasil pekerjaanmu: jangan ada orang yang memegahkan diri. Karena kita ini buatan Allah, diciptakan dalam Kristus Yesus untuk melakukan pekerjaan baik, yang dipersiapkan Allah sebelumnya. Ia mau, supaya kita hidup di dalamnya (Ef. 3:3-10).

Di saliblah, Allah menunjukkan kekerasan dan kebejatan manusia dan Yesus tuntas menyelesaikannya. Di saliblah, manusia mempertontonkan kehebatan kekerasan yang luar biasa yang dengannya Kristus tak gentar hingga kematian-Nya. Di saliblah, Allah menyatakan bahwa kejahatan sebesar apa pun, semuanya diampuni-Nya di dalam dan melalui Yesus Kristus. Allah, dengan kasih-Nya yang besar telah menunjukkan kebesaran karunia dan pengampunan-Nya untuk menyelamatkan umat yang berdosa. Salib adalah cara Allah membela dan menyelesaikan masalah dosa. Mereka yang percaya kepada Yesus Kristus, semuanya melihat kepada Kristus yang telah menderita, mati, dan bangkit dari kematian.

Yesus Kristus adalah pusat iman Kristen. Allah telah mendamaikan diri-Nya dengan umat-Nya melalui kematian Anak Domba. Hal ini adalah kelanjutan dari PL dan sekaligus penggantian dari “domba” ke “manusia”. Sebelumnya Allah menggantikan dari “manusia” ke “domba” yang terjadi pada peristiwa Abraham mempersembahkan Ishak. Kini, kita patut bersyukur, Allah dengan kasih-Nya telah menunjukkan kepada kita bahwa Ia mengasihi dan mengampuni kita dari segala kejahatan kita.

Tapi mengapa harus “salib”? Begini: manusia seringkali mengajukan keberatan terhadap cara Allah menebus. Kita melihat bahwa dalam PL, darah dan kematian menjadi simbol penebusan, pengudusan, penghapus dosa, dan lainnya. Musa dan segenap bangsa Israel tetap menjalankan itu sebagai perintah Allah, karena mereka telah berdosa bukan kepada sesama manusia, tetapi berdosa kepada Allah. Singkatnya, hanya Allah yang berhak mengampuni dosa dan menentukan bagaimana caranya umat yang berdosa untuk diampuni, ditebus, dikuduskan, dan diselamatkan.

Orang-orang yang menolak salib sebenarnya adalah orang-orang yang tidak memahami dosa dan pemberontakannya sendiri. Mereka mengira bahwa Allah dapat saja menebus dan menyelamatkan manusia dengan cara lain. Tetapi apa dasarnya? Lalu kapan itu terjadi? Seperti yang telah saya kemukakan di atas bahwa penyelamatan dan pengampunan Allah dilakukan dengan dua cara yaitu kasih karunia dan pengurbanan. Jika demikian, mengapa masih meragukan pengampunan dan penyelamatan Allah melalui Yesus Kristus yang disalibkan?

Yesus dan salib adalah fakta sejarah yang telah ditetapkan Allah. Orang-orang yang percaya kepada Yesus Kristus melihat kepada salib sebagai lambang kehinaan, tetapi di baliknya, adalah pengampunan dan keselamatan yang Allah siapkan. Yesus dan salib adalah depiksi anugerah Allah yang luar biasa. Ketika manusia dapat melihat kejahatan dan pemberontakannya di hadapan Allah, maka salib yang dilihatnya akan benar-benar dipahami. Salib memang terlihat hanya sebagai penyiksaan dan kebrutalan penyiksaan. Akan tetapi, Kristus melihat salib sebagai jalan penyelematan dan pengampunan yang harus Dia lewati. Ia pun secara tuntas melewatinya dan mengatakan: “Sudah Selesai!”

PL melihat kepada Allah sebagai Pribadi yang mengampuni dan mengasihi; Allah menunjukkan kasih dan pengampunan-Nya melalui kasih karunia dan persembahan kurban-kurban. Umat PB (termasuk kita) melihat kepada Yesus Kristus—Logos Allah yang menjadi daging [manusia] sebagai Pribadi yang mengampuni dan mengasihi; Kristus menunjukkan kasih dan pengampunan-Nya melalui kasih karunia dan persembahan diri-Nya sebagai kurban yang sempurna di hadapan Allah.

Melihat Yesus yang disalibkan tidak menjadikan Yesus rendah dan terhina sedemikian rupa meskipun pada peristiwa penyaliban Yesus dihina, diejek, direndakan, dan ditertawakan. Tetapi, Yesus membalikkan semua itu melalui penggenapan nubuat-Nya sendiri bahwa “Anak Manusia akan bangkit pada hari yang ketiga”. Memang, penyaliban dan kematian Yesus begitu menyakitkan hati para murid Yesus; tetapi Yesus telah memberitahukan lebih dahulu berulang kali bahwa Ia akan diserahkan, disiksa, disalibkan, dan mati. Tetapi tidak berhenti di situ: “Ia akan bangkit pada hari ketiga”.

Salib adalah karya yang luar biasa; meski terhina tetapi salib adalah yang termulia; meski dipandang rendah, salib menjadikan kita ditinggikan; meski ditertawakan, mereka yang menertawakannya dan menolaknya sebenarnya menertawakan diri sendiri, menertawakan dosa dan pemberontakannya di hadapan Tuhan. Salib, meski ditolak oleh mereka yang merasa suci dan sempurna, tetapi Tuhan Yesus tidak menolak mereka yang menyadari dosa dan pemberontakannya dan melihat kepada salib-Nya.

Salib telah menyelamatkan dunia. Kekerasan dibalas dengan pengampunan. Perkataan Yesus adalah perkataan yang menyadarkan dunia bahwa pengampunan adalah jalan utama untuk menghentikan kekerasan dan kejahatan. Yesus berkata: “Ya Bapa, ampunilah mereka, sebab mereka tidak tahu apa yang mereka perbuat” (Luk. 23:34). Hingga sekarang, kekerasan dan kekejaman terhadap para pengikut Yesus hanya dapat dibalas dengan pengampunan, karena Yesus telah memberitakan teladan ini.

Mari melihat salib sebagai kasih karunia dan pengampunan Allah di dalam Yesus Kristus. Kita harus sadar akan dosa dan pemberontakan kita di hadapan Allah. Yesus Kristus yang tersalib bukan karena Dia lemah dan tak berdaya. Sama sekali tidak! Yesus yang tersalib karena Ia harus melewati “jalan itu” untuk menyatakan kasih-Nya yang luar biasa, hingga akhirnya, mereka yang ditebus-Nya beroleh damai sejahtera, kasih, dan pengampunan. Dunia ini diubah oleh kasih dan pengampunan Yesus Kristus.

Salam Bae

Artikel ini sudah diterbitkan di Harmoni Indonesia: https://harmoni.or.id/y-e-s-u-s-d-a-n-s-a-l-i-b-oleh-stenly-r-paparang/ tanggal 19 April 2019 (bertepatan dengan perayaan Wafat Isa Almasih. Penerbitan artikel singkat ini di link di atas diminta oleh sahabat saya, Pdt. Dr. Sapta Siagian, M.Th.

Harmoni Indonesia

E R O R I S M E

Kebodohan yang Menginap di Otak

Sumber gambar: https://id.pinterest.com/pin/661888476459887230/

Sejumlah klaim dan celoteh non-logis-teologis yang dikumandangkan oleh para negator Kristologi—terutama pada aspek-aspek ke-Ilahian, ke-Tuhanan, dan ke-Allahan Yesus—telah memperlihatkan berbagai jenis cara memahami. Yang sering terjadi adalah para negator menggunakan cara memahami parsial, fragmentaris, dan paralogisme, sehingga kebodohan menginap dengan tenang di otak mereka.

Jenis pemahaman paralogisme menghasilkan—secara konsekuensi logis—sebuah konteks “erorisme”, di mana baik proses awal berpikir, memahami, dan merumuskan [sesuatu] sampai pada hasil akhir dari proses tersebut bersifat “error”. Mengapa demikian? Karena memang cara memahaminya menggunakan paralogisme. Lama-lama kelamaan, jika seseorang tidak melatih cara berpikirnya, maka kebodohan akan selamanya menginap di otaknya.

Erorisme adalah sebuah paham yang tampak pada cara berpikir dan hasil berpikir yang salah (Ing. ‘error’) pada seseorang, baik secara penalaran logis, hermeneutis, eksegetis, teologis, dan historis. Bagaimana pun pendekatan yang digunakan, tetap saja salah karena pada dasarnya sudah ada presaposisi internal yang melekat pada pikiran dan keyakinannya, sehingga secara langsung menutup pintu penalaran logis, pembuktian historis, dan penafsiran yang kredibel.

Erorisme dijumpai pada mereka yang mengakui bahwa Yesus tidak disalibkan, Yesus bukan Tuhan, dan yang menganggap Yesus sebagai Anak Allah dalam pengertian biologis. Erorisme adalah konsekuensi logis dari paralogisme di mana kebodohan telah menginap lama di otak, sehingga otak itu menjadi “rusak”.

Di sini, saya hanya menjelaskan beberapa pokok mengenai gelar “Anak Allah” bagi Yesus yang disalahpahami secara erorisme. Penjelasan ini saya kutip dari buku saya yang berjudul: “Yesus Anak Allah: Sebuah Tinjauan Filsafat Logika” yang diterbitkan oleh Pustaka Star’s Lub tahun 2019.

PERTAMA, pada teks Matius 16:16, Simon Petrus mengaku: “Engkau adalah Mesias, Anak Allah yang hidup!” Petrus (dan para murid yang lain) memiliki pemahaman yang sama yakni memahami Yesus sebagai “Anak Allah” dengan melihat aspek dan fakta tentang “kualitas tindakan Yesus” yang membuktikan bahwa apa yang dilakukan Yesus, setara dengan apa yang dilakukan Allah. Artinya, perbuatan-perbuatan atau tindakan-tindakan yang dilakukan Allah, dapat juga dilakukan oleh Yesus. Morris menegaskan, “Yesus adalah Yang Diurapi oleh Allah, Ia diutus untuk menggenapi kehendak Allah dalam cara yang istimewa. Tidak ada gelar yang bisa lebih tinggi dari Anak Allah yang Hidup. Jawaban Petrus menyatakan natur esensial dari Tuhan kita di dalam bahasa yang paling komprehensif” (Morris, Injil Matius, 430). Penegasan Morris memberikan pengertian bahwa Yesus bukanlah Anak Allah dalam arti biologis melainkan Anak dalam arti yang esensial: Yesus adalah Yang Ilahi.

KEDUA, pada teks Matius 26:63, perkataan Imam Besar kepada Yesus mengenai apakah Engkau Mesias, Anak Allah, atau tidak, dipahami bukan secara biologis, karena pemahaman akan sebutan “Anak Allah” dalam konteks ini adalah “menyamakan diri dengan Allah” atau menyetarakan diri Yesus dengan Allah. Secara definisi indikasi penyebutan “Anak Allah” kepada Yesus seperti yang dilakukan Imam Besar didasarkan pada sikap Yesus yang mau menyamakan diri dengan Alllah, dan bukan menyatakan bahwa Allah beranak secara biologis.

Morris menjelaskan, “pertanyaan Imam Besar ini sulit dijawab karena Kemesiasan Yesus sangat berbeda dengan konsep Mesias Imam Besar. Menjawab ‘ya’ atau ‘tidak’ bisa sama-sama menimbulkan salah paham. Karena itu Yesus berkata, ‘Itu adalah ucapanmu, bukan ucapan-Ku’ (H. Melinsky, Matthew, [London, 1965], ‘Ya, tetapi bukan seperti yang kau maksudkan’). Yesus seolah mau mengatakan, ‘Saya tidak akan berkata seperti itu, tetapi karena engkau yang mengatakannya, Saya tidak bisa menyangkalnya’” (Morris, Injil Matius, 696-97). Analisis Morris sangat tepat. Apa yang dipandang oleh Imam Besar terkait sebutan “Anak Allah” sangat jelas bukanlah dalam pengertian biologis.

KETIGA, pada teks Matius 27:40, perkataan orang banyak “…selamatkanlah diri-Mu jikalau Engkau Anak Allah, turunlah dari salib itu!” memiliki indikasi yang sama dengan apa yang dikatakan oleh Imam Besar di atas. Arti dari “Anak Allah” menegaskan sebuah analogi bahwa jika Yesus adalah Anak Allah maka Ia pasti dapat menunjukkan kuasa dan kehebatan-Nya yaitu turun dari salib secara luar biasa. Konteksnya tidak dipahami sebagai Allah yang memiliki anak secara biologis. Anak Allah disamakan dengan Allah dalam hal kuasa-Nya.

KEEMPAT, pada teks Matius 27:43, frasa “Anak Allah” menunjukkan bahwa jika Yesus berkenan kepada Allah karena Ia menyatakan bahwa Ia adalah Anak Allah, maka konsekuensi logisnya adalah “Allah akan menyelamatkan Dia”. Di sini pemahaman “Anak Allah” adalah sebagai sebuah relasi yang kuat antara Allah dan Yesus (sebagai Anak Allah) yang berkonsekuensi logis yaitu Allah akan menolong, menyelamatkan “Anak-Nya” (yang dipercayai, diberikan hak) ketika Ia berada dalam keadaan sukar. Maka, Allah tidak dipahami sebagai memiliki “Anak” secara biologis.

Menurut Morris, mereka yang menyimpulkan “karena Ia (Yesus) telah berkata: Aku adalah Anak Allah” secara tepat menyadari Yesus telah mengklaim relasi yang istimewa dengan Allah (Morris, Injil Matius, 732). Konsekuensi logisnya adalah “Anak Allah” dimaksudkan adalah dalam arti relasi atau kuasa dan kesetaraan dengan Allah, bukan dalam pengertian biologis di mana Yesus dianggap lahir dari rahim Allah.

KELIMA, pada teks Matius 27:54 (lih. Juga Mrk. 15:39), perkataan kepala pasukan dan prajurit-prajuritnya bahwa “Sungguh, Ia ini adalah Anak Allah” menegaskan relasi yang kuat antara Allah dan Anak-Nya bahwa ada konsekuensi logis yang muncul ketika Yesus, sebagai Anak Allah yang mengalami sengsara, dibela oleh Allah. Allah tidak dipahami sebagai yang ber-Anak secara biologis melainkan sebagai pribadi yang menjaga pribadi yang dikasihi, diakui sebagai Anak-Nya dalam pengertian relasi.

Morris berpendapat, bahwa “pengakuan ini (maksudnya ‘Sungguh, Ia ini adalah Anak Allah’) menyerupai pengakuan para murid sebelumnya (14:33). Sungguh menunjuk pada kepastian; mereka tidak sedang menduga. Mereka paham kematian Yesus menunjukkan Ia adalah Anak Allah. Bahkan bagi orang-orang non-Yahudi, kematian Yesus berikut peristiwa-peristiwa sesudahnya menunjukkan Ia bukan sekadar seorang yang lain. Yesus memiliki relasi khusus dengan Allah” (Morris, Injil Matius, 739).

Jika demikian, pengertian Anak Allah secara biologis bukanlah maksud dari sebutan tersebut. Mereka yang mengganggap bahwa sebutan Anak Allah dalam pengertian biologis, secara faktual mengabaikan atau buta terhadap definisi itu sendiri yang secara konteks sangat jelas sekali maknanya.

KEENAM, teks Markus 3:11, memiliki indikasi yang sama dengan teks Matius 8:29 di atas. Van Bruggen menjelaskan, roh-roh jahat mengakui Yesus sebagai Anak Allah (mereka meneriakkan pengakuan itu). Kendati begitu, pengakuan mereka itu bukan pengakuan yang mencari perlindungan. Mereka mengakui realitas kedatangan Anak Allah, dan mereka gemetar ketakutan (Jacob van Bruggen, Markus, 124).

KETUJUH, pada teks Yohanes 1:49, Natanael berucap: “Rabi, Engkau Anak Allah, Engkau Raja orang Israel!” Natanael tentu tidak bermaksud menyebut Yesus sebagai Anak Allah dalam arti biologis. Tetapi hendak menegaskan bahwa “Anak” dalam pengertian kuasa (sebagai Raja orang Israel), kehendak (selaras dengan kehendak Allah), dan adanya kesetaraan antara Yesus dengan Allah. Sebutan “Anak” menjelaskan posisi kemanusiaan-Nya, dan sebutan “Allah” yang mengikuti kata “Anak” menjelaskan identitas Yesus yang sesungguhnya. Menurut Robert H. Gundry, “Nathanael’s recognition of Jesus as also ‘the Son of God’ echoes the Baptist’s testimony in 1:34. And as truly an Israelite, Nathanael recognizes Jesus as ‘the king of Israel’” (Pengakuan Nathanael tentang Yesus sebagai “Anak Allah” menggemakan kesaksian Yohanes Pembaptis di 1:34. Dan sebagai seorang Israel sejati, Natanael mengakui Yesus sebagai “raja Israel”) (Robert H. Gundry, Commentary on the New Testament: Verse-by-Verse Explanations with a Literal Translation [Peabody, Massachusetts: Hendrickson Publishers, 2010], 355).

Pengakuan Natanael, dilihat dari aspek substansi-nya, mengacu kepada pengakuan imaniah di mana iman Natanael sangat berdasar sesuai dengan yang ia lihat. Pengakuan ini pada waktu-waktu kemudian, dibuktikan; bahkan hingga sekarang ini. Tidak ada aksentuasi biologis di sini.

Penjelasan di atas menyangkup erorisme soal gelar “Anak Allah” bagi Yesus, telah ditegaskan melalui prinsip penalaran yang mengaitkan definisi frasa tersebut dengan konteks dan identitas Yesus. Artinya, pola erorisme telah menjadi habitualisme para negator (termasuk muslims) yang melakukan “hibridisasi antara paralogisme teologis dengan ketidakpahaman doktrin Kristen” dan kemudian berkoar-koar mengatakan doktrin Kristen itu salah untuk meraup pembenaran teologi mereka. Hal ini tentu merupakan proses bernalar secara sesat dan mengandung erorisme.

Jadi, berpikirlah secara jernih. Lihatlah doktrin Kristen bukan dari perspektif “imaniah-personal” (yang buta historis), atau keyakinan dogmatis pribadi, tetapi lihatlah secara komprehensif dan mengikuti proses berpikir logis, teologis, historis, eksegetis, dan hermeneutis. Jangan biarkan kebodohan menginap di otak. Usirlah dia karena masa kontraknya sudah berakhir dan undanglah kepandaian serta kejujuran; engkau akan dibuatnya berbahagia–selamanya…

Salam Bae

PERBEDAAN SOAL KEMATIAN YUDAS

Sumber gambar: https://id.pinterest.com/pin/124974958395041811/

Matius 27:3-10 mencatat penyesalan mendalam Yudas karena telah mengkhianati Yesus kepada para penguasa Yahudi. Yudas mula-mula berusaha mengembalikan tiga puluh mata uang perak yang telah mereka bayarkan kepadanya sebagai penunjuk jalan bagi para pengawal Bait Allah ke Getsemani di mana Yesus ditangkap.

Tetapi, imam-iman dan para pejabat Bait Allah tidak mau menerima uang itu kembali, sebab itu adalah uang darah, dan karenanya tidak pantas sebagai persembahan kepada Allah.

Maka Yudas melemparkan kantong berisi uang itu ke lantai perbendaharaan Bait Allah, lalu meninggalkan kota itu, dan “menggantung diri” (apēnxato [ἀπήγξατο]—kata kerja bentuk lampau untuk orang ketiga tunggal dari “apanchō” [ἀπάγχω], yaitu kata kerja yang dipakai dengan arti spesifik tersebut sejak abad kelima SM). Ini membuktikan fakta bahwa Yudas mengikat simpul tali ke lehernya dan meloncat dari dahan di mana ujung yang lain dari tali tersebut diikatkan.

Dalam Kisah Para Rasul 1:18 Rasul Petrus mengingatkan murid-murid yang lain akan akhir hidup yang memalukan dari Yudas serta kekosongan jabatan yang dia tinggalkan di antara Dua Belas Murid, sehingga diperlukan seorang murid yag lain untuk mengisi tempatnya. Petrus menceritakan yang berikut ini: οὗτος μὲν οὖν ἐκτήσατο χωρίον ἐκ μισθοῦ τῆς ἀδικίας καὶ πρηνὴς γενόμενος ἐλάκησεν μέσος καὶ ἐξεχύθη πάντα τὰ σπλάγχνα αὐτοῦ. Ini dapat berarti bahwa Yudas telah membuat perjanjian dengan pemilik dari tanah yang semula ingin dibelinya dengan memakai uang hasil pengkhiatannya; atau – yang lebih memungkinkan menurut konteks di sini—Petrus sedang berbicara dengan gaya ironis, dengan menyatakan bahwa Yudas memang memperoleh sebidang tanah, namun itu hanya berupa satu tempat untuk penguburan [χωρίον, khōrion, juga bisa mencakup konsep ini], yaitu sebidang tanah tempat tubuhnya yang sudah tak bernyawa dimasukkan.

Selanjutnya Kisah Para Rasul 1:18 menyatakan: “Lalu ia jatuh tertelungkup, dan perutnya terbelah sehingga semua isi perutnya tertumpah ke luar.” Ini menunjukkan bahwa pohon di mana Yudas menggantung diri tumbuh menggantung di tepi tebing yang curam. Jika dahan di mana dia menggantung diri sudah mati dan mengering—kenyataannya banyak pepohonan yang cocok dengan gambaran ini yang bahkan sampai sekarang ada pada tepi jurang yang secara tradisional diidentifikasikan sebagai tempat di mana Yudas mati—maka hanya diperlukan satu kali hembusan angin keras untuk merenggut mayat yang berat ini dan mengoyakkan dahan di mana ia tergantung lalu keduanya rontok dengan hentakan keras ke dasar jurang di bawah.

Terdapat petunjuk bahwa angin keras muncul pada saat kematian Yesus sehingga membela tabir besar di dalam Bait Allah dari atas ke bawah (Matius 27:51, Καὶ ἰδοὺ τὸ καταπέτασμα τοῦ ναοῦ ἐσχίσθη ἀπ᾽ ἄνωθεν ἕως κάτω εἰς δύο καὶ ἡ γῆ ἐσείσθη καὶ αἱ πέτραι ἐσχίσθησαν, [Dan lihatlah, tabir Bait Suci terbelah dua dari atas sampai ke bawah dan terjadilah gempa bumi, dan bukit-bukit batu terbelah]). Ini disertai gempa bumi yang memecahkan karang atau padas dan tak disangsikan juga disertai badai petir, yang biasanya terjadi setelah awan dan kegelapan menyatu untuk waktu yang cukup lama (Matius 27:45 Ἀπὸ δὲ ἕκτης ὥρας σκότος ἐγένετο ἐπὶ πᾶσαν τὴν γῆν ἕως ὥρας ἐνάτης [Mulai dari jam dua belas kegelapan meliputi seluruh daerah itu sampai jam tiga]).

Berbagai keadaan memungkinkan bagi apa yang telah dimulai hanya sebagai suatu tindakan bunuh dengan cara menggantung diri itu berubah menjadi perusakan mengerikan pada mayat itu ketika dahan pohon tersebut terkena hantaman angin keras dan runtuh ke dasar jurang. Demikian penjelasan Gleason L. Archer, Jr. “Encyclopedia of Bible Difficulties”.

Daniel Lucas Lukito menjelaskan:

Usaha penyelidikan yang lebih meyakinkan lagi ialah penelitian salinan kuno berdasarkan teks bahasa aslinya lelalui leksikonnya yang cukup dikenal, G. A. Abbott Smith, menjelaskan bahwa kata ‘prēnēs’ [πρηνὴς] dari Kisah Para Rasul 1:18, yang sejak dahulu dianggap hanya berarti ‘Jatuh tertelungkup’ ternyata dapat pula berarti ‘membengkak. Dari data yang lebih akurat ini, rekonstruksi kematian Yudas dapat diperlihatkan sebagai berikut: Yudas memang menggantung dirinya hingga ia menemui ajalnya. Mayatnya kemungkinan tidak dapat ditemukan hingga beberapa saat sampai organ di perutnya membusuk, dan khusus pada bagian perutnya membengkak. Oleh karena bagian perut adalah bagian yang rawan rusak, masuk akal bahwa Yudas yang masih tergantung itu pecah isi perutnya. Rekonstruksi seperti ini sesuai dengan bunyi teks aslinya yang mengatakan bahwa tubuh Yudas itu [ἐλάκησεν μέσος, ‘elakēsen mesos’] yang artinya ‘membengkak di bagian tengahnya.’”

Penjelasan lainnya saya kutip dari Ensiklopesi Alkitab Masa Kini, bahwa Alkitab melaporkan penyesalannya yang memilukan itu, tetapi hanya Matius dari keempat Injil yang menceritakannya (27:3-10). Melengkapi laporan penyesalan dan peristiwa Yudas bunuh diri, yang didahalui oleh pergumulan batin dalam dirinya harus ditambahkan berita Kis. 1:18-19. Dan untuk melengkapi data sebagai bukti, perlu ditambahkan kejelasan fantastis Papias, fragmen 3, yang disimpan oleh Apollinarius, orang Laodikia. Menurut Papias, tubuh Yudas mengembung (ini bisa berarti “prēnēs”, tertelungkup, Kis. 1:18…Ada beberapa usaha untuk menyelaraskan Matius 27:3-10, dengan Kisah Para Rasul. 1:18, umpamanya pendapat Agustinus, bahwa tali yang digunakan Yudas untuk gantung diri putus dan ia mati terjatuh, sesuai Kisah Para Rasul 1:18 [καὶ πρηνὴς γενόμενος ἐλάκησεν μέσος, καὶ ἐξεχύθη πάντα τὰ σπλάγχνα αὐτοῦ (lalu ia jatuh tertelungkup, dan perutnya terbelah sehingga semua isi perutnya tertumpah ke luar)]; dengan demikian Matius dan Lukas sepakat.

Salam Bae

ALKITAB MENGUBAHKAN HIDUP KITA

Sebuah Refleksi Iman

Sumber gambar: https://unsplash.com/photos/Wbyfby353Ag (Priscilla Du Preez@priscilladupreez)

Iman Kristen tumbuh dan berkembang karena Alkitab. Prinsip hidup yang mengandung moralitas dan spiritualitas secara gamblang dituliskan dalam Alkitab. Kehidupan Kristen yang baik dan berkenan kepada Tuhan didasarkan pada firman-Nya: Alkitab. Pemahaman akan personalitas Allah dan karya-Nya, keselamatan, hukuman, ajaran, perintah, ketetapan, dosa, dan aspek-aspek penting dari pengajaran iman Kristen semuanya termaktub dalam Alkitab.

Dalam perkembangan pemikiran teologi, aksentuasi pada bagaimana memahami Alkitab merupakan salah satu bagian dari iman kita kepada Tuhan Yesus. Mengapa ini menjadi aksentuasi?

Pertama, Alkitab adalah “sumber pengetahuan” kita tentang Tuhan dan dengan Alkitab pula, kita memiliki “pengalaman” hidup beriman kepada dan di dalam Tuhan.

Kedua, Alkitab adalah warisan Tuhan dalam bentuk yang sangat manusiawi yaitu ditempuh melalui proses penulisan dan penyesuaian konteks di mana firman itu dituliskan: “verba patens scripta manens”. Pada konteks ini, pesan dan makna Alkitab tidak difokuskan pada kata-kata semata yang secara teknis dapat secara salah ketika disalin, disalin, disalin, dan disalin.

Ketiga, Alkitab adalah “wajah Kristen” yang dengannya totalitas aspek kehidupan, iman, harap, dan keselamatan termaktub di dalamnya. Mengabaikan Alkitab dapat mengakibatkan kita jauh dari Tuhan dan mungkin akan terpisah selamanya. Alkitab sebagai “wajah Kristen” dilihat oleh banyak orang dan mereka yang melihatnya memiliki beragam respons. Ada yang curiga, ada yang percaya, ada skeptis, ada yang mengkritiknya, ada yang menolaknya, ada yang menghinanya, dan lain sebagainya.

Keempat, Alkitab yang kita percaya melewati proses yang panjang hingga menjadi bentuknya yang sekarang. Proses tersebut mencakup penulisan dan penyalinan. Naskah-naskah asli Alkitab telah rusak total. Jalan keluar yang harus dilakukan adalah “menyalinnya”. Proses penyalinannya dilihat dari kondisi atau konteks di mana penyalin itu hidup.

Hingga kini, ada yang berasumsi dua hal yaitu naskah-naskah asli Alkitab mayoritas telah rusak total dan proses penyalinan merupakan solusinya, dan Alkitab yang sekarang adalah salinan dari salinan dari salinan dari salinan dan seterusnya. Bagaimana ini bisa terjadi? Inilah yang saya sebut dengan klausa (sudah saya sebut di atas): “Alkitab adalah warisan Tuhan dalam bentuk yang sangat manusiawi”.

Mengapa sangat manusiawi? Alkitab ditulis oleh manusia, diberikan kepada manusia untuk menjamin, mengubah, mendidik, dan mengatur kehidupan manusia, disalin oleh manusia, dinilai berdasarkan kehidupan manusia, dan aspek-aspek lainnya yang terkait dengan manusia.

Mungkin ada yang bertanya: Mengapa Tuhan tidak bisa menjaga firman-Nya dari kerusakan? Pertanyaan ini tidak memahami substansi firman yang diberikan kepada manusia. Kalau firman itu tidak rusak maka firman itu tidak boleh ditulis di bahan yang mudah rusak, seperti perkamen, papyrus dan sebagainya. Semua firman yang diberikan kepada manusia tentu ditulis pada bahan yang ada di dunia ini. Dua loh batu yang bertuliskan 10 Perintah Allah saja bisa pecah karena dibanting Musa. Bukankah 10 Perintah adalah berasal dari Allah?

Kelima, Alkitab adalah “media iman” yang membawa kita dekat pada Tuhan, membentuk hidup kita selaras dengan firman-Nya. Alkitab sebagai media iman dapat menjadi pegangan bagi iman itu sendiri. Mereka yang mati demi Yesus Kristus (tidak menyangkal-Nya) adalah buah dari keyakinan mereka kepada Yesus Kristus sebagaimana diajarkan Alkitab.

Oleh sebab itu, berdasarkan kelima alasan aksentuasi di atas, kita didorong untuk mendalami Alkitab dengan berbagai pendekatan untuk mendidik, menguatkan, memberikan pengharapan, memberi sukacita, dan memberi arah bagi kehidupan kita di dunia ini hingga akhirnya kita bertemu dengan Sang Khalik dalam kemuliaan surga-Nya.

Teolog-teolog “tertentu” yang muncul kemudian, merasa bahwa Alkitab memiliki banyak masalah yang seolah-olah melunturkan autentisitasnya, isinya dan lain sebagainya. Berbekal “bernalar” tanpa merujuk pada dokumen awal—Bapa-Bapa Gereja—para teolog tersebut merasa apa yang dipikirkan dan dikritiknya adalah hebat, padahal mereka hanya perlu menelisik lebih jauh ke dokumen-dokumen awal sejarah Kekristenan, dan bukan berkutat pada hasil pemikiran teologi pada abad ke-18, 19 atau 20.

Sejatinya, kita diajar untuk melihat “dokumen sejarah” pada abad-abad awal Kekristenan dan bukan pada hasil pemikiran yang terlepas dari dokumen sejarah awal tersebut. Kekristenan itu memiliki sejarah dan penulisan kitab-kitab juga demikian, apalagi para pembaca awal dan penafsir awal, yang kadang kita lupakan untuk memuaskan arogansi teologi dan masturbasi teologi yang kita rasa itu cukup untuk membanting Kekristenan di lantai.

Padahal—di sini—kita harus jujur melihat alur sejarah kepenulisan Alkitab dan para pembaca awal. Pada titik ini kita akan tahu apa dan bagaimana prosesnya. Pengaruh pemikiran “liberal”—sebagaimana yang sering dijuluki kepada mereka yang kritis terhadap Alkitab—telah menyita perhatian kita, dan kadangkala orang-orang tertentu merasa bangga ketika mengutip pemikiran mereka yang adal produk yang belakangan.

Marilah kita belajar memahami proses bagaimana Allah hadir di dunia ini dan menggunakan manusia untuk menulis firman-Nya, kisah-Nya, hukum dan kekuatan-Nya, pengampunan dan kasih-Nya, penebusan dan penyelamatan-Nya pada media-media yang mudah rusak atau akan rusak. Jangan terlalu arogan berpikir dengan mengatakan bahwa mengapa Allah tidak dapat menjaga firman-Nya? Apakah ada kitab-kitab dari agama di dunia ini yang tidak ditulis pada media yang mudah dan akan rusak?

Jangan merasa bahwa ketika mengkritik Alkitab maka sudah hebat dan selevel dengan Barth Ehrman dan lainnya. Itu hanyalah membuktikan bahwa kita adalah pecundang teologi yang tidak dapat melihat balok yang ada di mata sendiri, malahan menuduh ada selumbar di dalam Alkitab. Bukankah ini adalah ironi teologi kita?

Mampukah kita melihat karya Allah secara utuh dan tersungkur di depannya seraya berkata: “Terima kasih atas anugerah-Mu, ya Alah, karena Engkau telah menyatakan diri dan menetapkan diri-Mu dituliskan dalam bahan-bahan yang mudah rusak, tetapi ajaran-ajaran tentang-Mu, kasih, kuasa, keadilan, dan mukjizat-Mu, tak rusak oleh waktu dan proses. Manusia-manusia yang telah Engkau ubahkan tentu hanya meneguhkan apa yang tertulis dalam Alkitab.”

Salam Bae

DUNIA APOLOGETIKA: Sebuah Refleksi

Logika adalah media (perantara) internal dan eksternal: “kita—dan—orang lain”. Logika berperan penting dalam menjawab berbagai hal yang bersifat kontradiksi, paradoks, dan antitesis. Logika dapat menjadi senjata untuk menyuarakan sebuah prinsip, kebenaran, dan argumentasi. Logika dapat menjelaskan eksistensi manusia. Dari eksistensi, lahirlah argumentasi.

Dunia apologetika adalah dunia di mana argumen menyatu dengan dokumen. Argumen tanpa dokumen (pembuktian), sangat tidak berdasar. Sedangkan dokumen tanpa argumen sangatlah mengkuatirkan namun bisa menjadi sebuah pegangan. Sebuah dokumen dapat saja dijelaskan sebagai sebuah “dokumen palsu” berdasarkan argumen seseorang. Sebuah argumen dapat saja dijadikan kebenaran oleh seseorang meski tanpa pembuktian dokumen.

Apologetika dapat digunakan sebagai bagian dari sikap seseorang yang rindu mengasah pikirannya. Seorang apologet dapat mencerna setiap pertanyaan, analisis, kritik dan negasi, dan kemudian meminta dokumen pembuktian. Dengan perkataan lain, segala sesuatu membutuhkan bukti (dokumen) dan klarifikasi. Dokumen memiliki dua kategori: pertama, dokumen tertulis; dan kedua, dokumen penyataan faktual (empiris atau pengamatan); klarifikasi berbicara mengenai “permintaan kejelasan posisi, bukti otentik, dan prinsip logis (rasiosinasi).

Kebutuhan akan apologetika penting, mengingat konteks kemajemukan agama seringkali mengerucut ke arah perdebatan dan perendahan ajaran-ajaran Kristen. Pada prinsipnya, orang Kristen arus mempertanggungjawabkan imannya kepada setiap orang yang meminta pertanggungan jawab. Dalam hal ini kita mengikuti prinsip Rasul Petrus: “Tetapi kuduskanlah Kristus di dalam hatimu sebagai Tuhan! Dan siap sedialah pada segala waktu untuk memberi pertanggungan jawab kepada tiap-tiap orang yang meminta pertanggungan jawab dari kamu tentang pengharapan yang ada padamu, tetapi haruslah dengan lemah lembut dan hormat, dan dengan hati nurani yang murni, supaya mereka, yang memfitnah kamu karena hidupmu yang saleh dalam Kristus, menjadi malu karena fitnahan mereka itu” (1 Ptr. 3:15-16).

Berangkat dari prinsip di atas, maka gerak apologetika sangat diperlukan. Seyogianya kita wajib menyampaikan pokok-pokok penting iman kita kepada orang yang memintanya, dengan cara lemah lembut dan hormat, dengan hati nurani yang murni. Prinsip berapologetika tidak hanya menampilkan bagaimana berbicara (menyatakan kebenaran melalui penjelasan), tetapi juga menampilkan sikap hidup yang kudus, baik, dan murni. Kita adalah “surat terbuka” yang dapat dilihat dan diamati orang lain.

“Pemikiran” dan “sikap hidup” kita harus selaras dengan prinsip-prinsip Alkitab. Itu adalah kesatuan yang tak terpisahkan dalam kehidupan seorang apologet Kristen. Dunia apologetika mengantarkan seorang Kristen pada tanggung jawabnya di hadapan Tuhan dan manusia. Apologetika memiliki ruang lingkup yang luas—seluas doktrin Kristen itu sendiri. Peran apologetika adalah memberikan potensi memahami tentang doktrin Kristen secara mendalam [eksegetis] sekaligus memberikan kemampuan melakukan pengkajian berdasarkan konsekuensi logis.

Peran apologetika memberikan ruang yang cukup bagi orang Kristen untuk mengembangkan potensi logika dan sikap hidupnya, sehingga ketika ada hal-hal yang dipandang sebagai kelemahan doktrin Kristen, atau dengan kata lain bahwa doktrin Kristen adalah doktrin yang tidak masuk akal, maka apologetika akan memberikan jawabannya.

Apologetika memiliki lima pendekatan (atau metode) yang digunakan untuk menjawab dan menganalisis berbagai keberatan terhadap iman Kristen. Kelima pendekatan tersebut digunakan oleh para apologet sebagai panduan dan jalur untuk mendistribusikan (membagi) isu-isu, klaim-klaim, bentuk-bentuk kritik dan pemikiran yang mencoba memposisikan berlawanan arah dengan doktrin Kristen.

Kelima pendekatan tersebut adalah: Classical Method (Metode Klasikal), The Evidential Method (Metode Evidensial), The Cumulative Case Method (Metode Kumulatif Kasus/Keadaan), Presuppositional Method (Metode Presuposisi), dan The Reformed Epistemology Method (Metode Epistemologi Reformed). Sedangkan metode yang saya kembangkan adalah The Clarification Method. Metode ini sering dalam bentuk pertanyaan klarifikasi (atau meminta konfirmasi apakah klaim, negasi, atau kritik itu benar-benar berdasar baik secara logis maupun, teologis, ataupun dokumentatif. Metode klarifikasi menunjukkan prinsip “Appellate Court”.

“Appellate Court” dapat diartikan sebagai pengadilan yang mempunyai kuasa untuk meninjau dan menarik keputusan yang telah dibuat pengadilan di bawahnya. Ini adalah istilah teknis yang merujuk kepada diversitas kandungan historis (narasi-narasi) antara Kekristenan dengan agama-agama lain. Mayoritas teolog, penafsir, dan ilmuwan dari agama-agama lain, telah “menghasilkan keputusan-keputusan” sepihak dengan tidak mempertimbangkan data dan konteks historis, sehingga mereka telah “menjadi hakim” dalam pengadilan mereka sendiri. Dengan demikian, saya menghadrikan sebuah “pengadilan” yang lebih tinggi untuk meninjau dan menarik keputusan terkait dengan keputusan sebelumnya.

Saya mengikuti Gregory Koukl—meski Koukl tidaklah spesifik merujuk pada metode klarifikasi [tetapi metodologi yang ia gunakan sering berbentuk klarifikasi]—yang dalam hal ini, sering argumentasi seseorang untuk menyerang iman Kristen lupa untuk diklarifikasi. Orang Kristen lebih berfokus kepada bagaimana menjawab dan menjelaskan klaim, tuduhan, dan kritik orang lain tanpa mempertanyakan atau mengklarifikasi semua bentuk klaim, tuduhan, dan kritik tersebut.

Salah satu contoh yang menarik bagi saya, yang diungkapkan Koukl adalah ketika seseorang mengklaim bahwa: “Tidak ada Tuhan”. Maka metode klarifikasinya adalah dalam bentuk pertanyaan: “Tuhan yang mana?” Dari klarifikasi tersebut, kita sedang meminta tanggung jawab klaim seseorang tersebut bahwa jika tidak ada Tuhan, maka Tuhan mana yang tidak ada?

Contoh kedua saya ambil dari pernyataan Islam tertantang ketuhanan Yesus yang sering digunakan untuk mengkritik iman Kristen: “Jika Yesus itu Tuhan, carilah dalam Alkitab di mana Yesus pernah mengatakan: ‘Akulah Tuhan’”.

Ada beberapa klarifikasi dari pernyataan tersebut.

Pertama, apakah pernyataan tersebut dianggap sah untuk membuktikan ketuhanan Yesus?

Kedua, apakah pernyataan tersebut adalah mutlak untuk membuktikan ketuhanan Yesus?

Ketiga, jika mutlak apakah pernyataan yang sama bisa berdampak pada kasus yang lain untuk digunakan sebagai standar ganda?

Keempat, apakah hanya dengan mengatakan “Akulah Tuhan” maka Yesus menjadi Tuhan? Apakah dengan hanya dengan mengatakan “Sayalah manusia” maka saya menjadi manusia?

Kelima, “Tuhan” seperti apa yang Anda maksudkan? Dan sebutkan ciri-ciri “Tuhan”.

Contoh lainnya adalah misalnya ada orang yang mengatakan bahwa “Alkitab orang Kristen telah dipalsukan”. Maka bentuk klarifikasinya adalah sebagai berikut:

Menurut Anda, apa definisi “palsu”

Menurut Anda, siapa yang memalsukan Alkitab?

Menurut Anda, tahun berapa dan di mana pemalsuan itu terjadi?

Menurut Anda, apa saja yang dipalsukan?

Menurut Anda, kitab-kitab apa saja yang telah dipalsukan?

Apa dasar Anda mengatakan bahwa Alkitab telah dipalsukan?

Apakah ada bukti arkeologi bahwa Alkitab telah dipalsukan?

Bagaimana Anda tahu bahwa Alkitab telah dipalsukan?

Menurut Anda, Alkitab yang asli ada di mana pasca dipalsukan?

Dalam model klarifikasi ini, kita dilatih untuk menemukan alasan-alasan tersembunyi di balik setiap klaim, tuduhan, negasi, dan kritik terhadap iman Kristen. Kita akan tahu bahwa seringkali mereka hanya menunjukkan kebodohan mereka sendiri. Metode Klarifikasi bertujuan untuk membuat seseorang bertanggung jawab penuh atas apa yang diklaim, dinegasikan, dan dikritisi. Beban bukti ada padanya, bukan pada kita. Metode klarifikasi adalah mempertanyakan pertanyaan dan pernyataan. Metodologi Klarifikasi sangat efektif untuk menghentikan semua klaim murahan, negasi, tuduhan, dan kritik.

Kultivasi (perkembangan, perkuatan) iman Kristen, mendorong kita semua untuk bersama-sama untuk semakin giat dalam melayani Tuhan dan bermisi (mengabarkan Injil). Kita dipanggil dan terpanggil untuk terus mengembangkan potensi yang telah Tuhan Yesus berikan untuk diterapkan dalam kehidupan sehari-hari. Tak lupa pula, kita haruslah menunjukkan kekuatan pemikiran deskriptif dan rasiosinasi tentang iman Kristen, sembari hidup dalam kekudusan dan menjadi teladan bagi semua orang.

Salam Bae…..

Sumber gambar: https://id.pinterest.com/pin/545991154803714500/

HIDUP YANG DIKENDALIKAN OLEH KATA[-KATA]

Business woman lecturing at Conference. Audience at the lecture hall.

Sebuah pernyataan yang paling mengesankan dan kuat, berbunyi demikian: “Setiap orang dikenyangkan oleh karena buah perkataan, dan orang mendapat balasan dari pada yang dikerjakan tangannya”. Atau dalam terjemahan lama: “Dari pada buah-buah mulut tiap-tiap orang dikenyangkan dengan kebaikan, seperti upah diberikan akan dia sebab pekerjaan tangannya” (Amsal 12:14). Ini sangat menarik, bahwa setiap manusia dapat mengandalkan kata-katanya (buah-buah dari mulutnya) dan tindakannya (pekerjaan tangannya).

Pada faktanya, kita melihat bahwa manusia dapat mengandalkan tiga bentuk potensi hidupnya: pertama, hanya mengandalkan kata-kata saja tanpa bekerja; kedua, mengandalkan kemampuan bekerja tanpa banyak kata-kata [banyak bekerja sedikit berkata-kata]; dan ketiga, banyak bekerja, banyak berkata-kata. Kita berada pada potensi yang mana?

Dengan bercermin pada penyataan Raja Salomo di atas, kita dapat mengakui bahwa hidup ditentukan oleh perkataan-perkataan kita yang olehnya kita berbuat sesuatu. Dalam hal tak berbuat sesuatu, itu juga menentukan hidup kita untuk tidak menghasilkan apa-apa, karena kemalasan kita sendiri.

Adakah manusia yang menyangkal bahwa hidup yang dijalani dikendalikan oleh kata-kata? Bukankah baik-buruknya relasi dan komunikasi ditentukan oleh perkataan-perkataan yang kita ucapkan? Bukankah selaras-ketidakselarasan perbuatan seringkali diukur dengan apa yang diucapkan seseorang? Kata-kata itu lembut, tetapi juga tajam, menusuk ke hati. Kata-kata itu mendorong dan mengarahkan seseorang kepada hal-hal baik, tetapi juga menjatuhkan dan menyesatkan orang lain, pula dapat mengarahkan orang lain menuju jalan yang membinasakan.

Apa hebatnya kata-kata yang kita ucapkan? Mungkin Anda memiliki pengalaman hidup bagaimana situasi dan kondisi menjadi berubah ketika Anda salah bicara. Atau anda pernah menjadi bahagia dan menerima penghargaan karena kata-kata Anda yang begitu menyejukkan dan membangun hidup orang lain. Ketika Anda mengatakan sesuatu kepada pasangan Anda, ia langsung lemah terkulai, atau mungkin “klepek-klepek” dibuatnya.

Seorang motivator adalah sosok yang mengandalkan kata-kata yang membangun, kata-kata bijak, dan kata-kata yang menyemangati orang lain. Motivator adalah pakar “kata-kata” dalam arti tertentu. Seorang pelayan Tuhan, juga memiliki nilai yang sama: ia harus menjaga kata-katanya agar dapat mendorong dan membangun orang lain untuk menjadi lebih baik.

Klausa “Hidup dikendalikan oleh kata[-kata]” adalah sebuah fakta alami yang terjadi dalam konteks relasi dan komunikasi manusia secara global. Penulis Amsal melihat bahwa kalau hanya berkata-kata saja tanpa berjerih payah, manusia akan mengalami kekurangan. Kata-kata harus dilanjutkan dengan tindakan nyata: “Dalam tiap jerih payah ada keuntungan, tetapi kata-kata belaka mendatangkan kekurangan saja” (Amsal 14:23).

Tentu ada masalah yang dihadapi manusia dalam merealisasikan kata-kata dan tindakannya. Kekuatiran seringkali menjadi alasan mengapa seseorang dapat menjadi sedih berlarut-larut dan tidak berbuat apa-apa. Berbagai konteks hidup memaksa kita untuk bekerja, tidak hanya berkata-kata saja. Atau barangkali kita hanya berdoa saja tetapi tidak mau berusaha.

Slogan “ORA ET LABORA”—berdoa dan bekerja—adalah sebuah kredo bagi kita untuk berjuang hidup, tanpa melupakan Tuhan. Kita berdoa karena kita membutuhkan Tuhan untuk dapat menjalani proses kehidupan. Segala upaya yang dikerjakan berangkat dari apa yang kita pahami dan katakan tentang makna hidup.

Kita dapat setuju dengan pemahaman penulis Amsal, bahwa “kekuatiran dalam hati membungkukkan orang, tetapi perkataan yang baik menggembirakan dia” (Amsal 12:25). Kita membutuhkan dukungan “kata-kata” yang memotivasi; kata-kata dapat mengendalikan emosi dan perasaan kita untuk segera bertindak. Menghibur orang yang sedang berduka atau sedih, seringkali dilakukan dengan kata-kata. Dalam sebuah acara resmi, seringkali kita mendengar “Kata Sambutan”. Kata Sambutan berisi tindakan-tindakan yang telah terjadi, sedang terjadi, dan akan terjadi (dilakukan). Perkataan itu dapat mengendalikan hidup kita.

Dalam relasi dan komunikasi, tak sedikit salah paham, kekisruhan, dan fitnah terjadi. Bahkan, perkataan yang kasar dan pedas dapat menjadi pemantik munculnya “kebakaran” dalam relasi sosial mikro maupun makro. Tetapi setiap jawaban yang lebih lembut, berpotensi besar meredahkan pertikaian ataupun konflik. Penulis Amsal mengingatkan kita, bahwa “Jawaban yang lemah lembut meredakan kegeraman, tetapi perkataan yang pedas membangkitkan amarah” (Amsal 15:1).

Dari fakta yang kita lihat, kita tak dapat menyangkali bahwa kata-kata begitu kuat pengaruhnya dalam kehidupan kita sendiri. Catatan-catatan faktual-reflektif dari penulis Amsal menyebutkan beberapa di antaranya:

Seseorang bersukacita karena jawaban yang diberikannya, dan alangkah baiknya perkataan yang tepat pada waktunya (Amsal 15:23)

Rancangan orang jahat adalah kekejian bagi TUHAN, tetapi perkataan ramah itu suci (Amsal 15:26)

Perkataan mulut orang adalah seperti air yang dalam, tetapi sumber hikmat adalah seperti batang air yang mengalir (Amsal 18:4). Perkataan beberapa orang adalah seperti air yang dalam-dalam, tetapi mata air hikmat itu memancarkan anak sungai yang jernih (TL).

Orang yang berpengetahuan menahan perkataannya, orang yang berpengertian berkepala dingin (Amsal 17:27)

Perkataan yang menyenangkan adalah seperti sarang madu, manis bagi hati dan obat bagi tulang (Amsal 16:24).

Dari catatan-catatan faktual-reflektif di atas, kita dapat secara langsung mengasosiasikan dengan pengalaman kita atau pengalaman orang lain. Kita sadar, bahwa kata-kata begitu kuat mempengaruhi kehidupan kita bahkan segala tindakan yang kita ambil.

Kata-kata terkait erat dengan lidah. Lidah memungkinkan kita dapat berkata-kata, entah baik entah buruk. Rasul Yakobus memperingatkan kita semua bahwa: “tetapi tidak seorang pun yang berkuasa menjinakkan lidah; ia adalah sesuatu yang buas, yang tak terkuasai, dan penuh racun yang mematikan” (Yakobus 3:8). Di satu sisi, dengan lidah (segala perkataan) kita memuji Tuhan, dan di sisi lain, dengan lidah (segala perkataan) kita mengutuk orang lain (bdk. Yakobus 3:9).

Ternyata perkataan itu sangatlah menentukan dan bahkan mengendalikan hidup kita sendiri. Lidah adalah anggota tubuh yang kecil, tetapi dapat mengendalikan segala sesuatu bahkan dapat membuat hal-hal yang besar. Demikian halnya api; betapa pun kecilnya api, ia dapat membakar hutan yang besar (Yakobus 3:5b). Perkataan itu menghidupkan dan juga bisa mematikan. Binatang-binatang liar dapat dijinakkan dan telah dijinakkan oleh sifat manusia. Tetapi siapakah yang dapat menjinakkan lidahnya sendiri? (bdk. Yakobus 3:7).

Hidup memang ditentukan oleh perkataan kita; kita dapat mengendalikan hidup kita dengan kata-kata. Tetapi ketika kata-kata hanya sebuah pemuas dan pemoles diri—kita sedang bersembunyi dari kemunafikan kita sendiri—itu hanya omong saja, tanpa ada tindakan nyata: NO ACTION TALK ONLY [NATO].

Lebih dari apa yang kita pahami dan lihat tentang fenomena kata-kata dan tindakan manusia pada umumnya (termasuk kita), ternyata Tuhan mengetahui segala sesuatu yang akan terjadi terkait perkataan-perkataan kita: “Sebab sebelum lidahku mengeluarkan perkataan, sesungguhnya, semuanya telah Kauketahui, ya TUHAN” (Mazmur 139:4). Dengan demikian, bukankah kita harus berhati-hati dengan segala perkataan kita? Ingatlah, Tuhan Maha Mengetahui—OMNISCIENCE. Bertindak hati-hati adalah wujud dari kebijaksanaan kita.

Dengan melihat secara menyeluruh proses kehidupan kita, apa yang kita katakan dan perbuat, ternyata adalah sebuah fakta bahwa kita “meneladani” Tuhan. Ia mengendalikan hidup manusia dengan perkataan-Nya (Firman-Nya) dan Ia bertindak untuk membuktikan bahwa perkataan-Nya adalah benar. Pemazmur mengakui, bahwa “…TUHAN setia dalam segala perkataan-Nya dan penuh kasih setia dalam segala perbuatan-Nya” (Mazmur 145:13). Bukankah ini luar biasa dan mendorong kita untuk semakin mengasihi dan setia kepada Tuhan dalam kata (dicta) dan perbuatan (gesta) kita?

Marilah kita memperlihatkan perbuatan-perbuatan kita secara konsisten, yang selaras dengan apa yang kita katakan sendiri. Ingatlah, hidup dapat dikendalikan oleh kata[-kata] kita sendiri. Perkataan yang benar haruslah menghasilkan tindakan yang benar; dan tindakan yang benar lahir (bukti realisasi) dari perkataan yang benar. Tuhan memberkati orang yang berkata dan berbuat benar.

Jagalah lidah (perkataan) kita, niscaya hidup kita terjaga. Buanglah sikap: “Lain di bibir lain dibuat”. Peliharalah sikap: “bibir [lidah] berkata, tangan dan kaki berbuat”, atau “kata-kata [lidah] menjadi pondasi, perbuatan-perbuatan menjadi konstruksi, dan Tuhanlah yang menjadikannya sempurna penuh kasih.”

Salam Bae

Sumber gambar: https://beleaderly.com/speaking-panels-awesome-panelist/

YESUS DIOLOK-OLOKKAN KARENA KITA

Refleksi Markus 10:32-34

Luca Signorelli http://www.tuttartpitturasculturapoesiamusica.com

PENDAHULUAN

Kekristenan lahir, tumbuh, dan berkembang, disebabkan oleh kasih dan kuasa Yesus Kristus yang diperlihatkan kepada “dunia”. Banyak orang diubahkan oleh-Nya dan kemudian mereka bersaksi dan memberitakan Injil. Berbarengan dengan hal itu, olok-olok terhadap Yesus dan para pengikut-Nya (orang Kristen) pun menjadi bahan perbincangan publik, dan seringkali dijadikan “senjata” untuk menghina, menjatuhkan, mengintimidasi, dan menyerang orang Kristen.

Akhir-akhir ini, kita pun disuguhkan hal yang sama. Beberapa kasus amoral dan tidak terpuji yang dilakukan oleh “orang-orang Kristen” telah menyita perhatian masyarakat. Kita pun ikut menjadi malu; kita diolok-olok; Yesus juga diolok-olok. Bukankah kita adalah “garam dan terang dunia” yang seharusnya menjadi teladan dan terang di dalam masyarakat?

Kita tahu bahwa ada aspek-aspek yang membedakan antara orang-orang (pengikut) yang percaya kepada Yesus Kristus dan “orang-orang” yang tidak percaya kepada Yesus Kristus. Kita dapat mendaftarkan perbedaan-perbedaan itu jika kita membaca Perjanjian Baru, dan jika memungkinkan kita juga dapat membaca sejarah para martir Kristen yang rela mati dalam imannya kepada Yesus Kristus. Mereka menjadikan Kristus ditinggikan melalui perbuatan dan iman mereka.

Perbedaan yang sangat mencolok yang dapat kita lihat lihat adalah “penderitaan dan olok-olok” terhadap orang Kristen, selebihnya olok-olok ditujukan kepada Tuhan Yesus. Mengapa terjadi demikian? Untuk menjawab pertanyaan tersebut, kita harus melihat terlebih dahulu pribadi Yesus Kristus dalam Injil-Injil Perjanjian Baru.

Teks Markus 10:32-34 [khususnya ay. 33-34] (dan kisah paralel dalam Matius 20:17-19 dan Lukas 18:31-34) merupakan nubuatan Yesus tentang penderitaan, penyaliban, kematian, dan kebangkitan-Nya (pemberitahuan ketiga tentang penderitaan-Nya). Dalam perjalanan bersama murid-murid-Nya ke Yerusalem, Yesus mengatakan tentang apa yang akan terjadi atas diri-Nya. Markus mencatat alasan Yesus mengatakan nubuatan adalah karena murid-murid Yesus merasa cemas, dan orang-orang yang mengikut Yesus dari belakang merasa takut (ay. 32).

Sebelumnya, dalam ayat 28-31, Yesus menjelaskan mengenai upah mengikut Dia. Upah itu terlihat sangat menarik tetapi Markus mencatat bahwa upah itu “sekalipun disertai berbagai penganiayaan” [ay. 30], tetap akan diterima oleh mereka yang setia mengikut Yesus. Mungkin inilah yang membuat mereka cemas dan takut. Dalam kondisi ini, Yesus justru memberikan isyarat: “apakah kalian masih ‘berani’ mengikut Aku ketika Aku akan mengalami penderitaan dan kematian?”

Tidak berhenti sampai di situ. Yesus juga menegaskan bahwa Ia akan bangkit dari antara orang mati. Artinya, meski para pengikut-Nya mengalami penderitaan, mereka harus yakin bahwa Yesus juga mengalami penderitaan dan kematian. Tetapi Yesus membuktikan bahwa kematian bukanlah akhir dari kehidupan para pengikut-Nya. Sebagaimana Ia bangkit, maka para mengikut-Nya juga akan dibangkitkan dari antara orang mati (bdk. 1 Korintus 15:13-14).

Lukas mencatat bahwa nubuatan Yesus mengenai penderitaan yang kematian-Nya tidak dimengerti sama sekali oleh para murid; arti perkataan itu tersembunyi bagi mereka dan mereka tidak tahu apa yang dimaksudkan (Lukas 18:34). Bagaimana mungkin mereka memahami betapa berisikonya mengikut Yesus, sedangkan mereka tidak mengerti arti nubuatan Yesus?

Nubuatan Yesus begitu jelas, bahwa: (1) Anak Manusia akan diserahkan kepada imam-imam kepala dan ahli-ahli Taurat (Mrk. 14:53-65; 15:10); (2) mereka akan menjatuhi Dia hukuman mati (Mrk. 15:13-15); (3) mereka akan menyerahkan Dia kepada bangsa-bangsa yang tidak mengenal Tuhan (Mrk. 15:1-15); (4) Ia diolok-olok (Mrk 15:18); (5) Ia diludadi (Mrk 15:19); (6) Ia disesah (dipukul; Mrk. 15:15, 19); (7) Ia dibunuh (Mrk. 15:20-41); dan (8) Ia akan bangkit pada hari yang ketiga (Mrk. 16:1-8a).

YESUS DIOLOK-OLOK KARENA KITA

Dari nubuatan Yesus di atas, semuanya digenapi (terjadi). Lalu bagaimana dengan kita? Bukankah Yesus diolok-olok karena pelanggaran-pelanggaran kita? Marilah kita melihat nubuatan Nabi Yesaya mengenai Mesias yang menderita (53:3, 5): “Ia DIHINA dan dihindari orang … ia SANGAT DIHINA, sehingga orang menutup mukanya terhadap dia…. Tetapi dia tertikam oleh karena pemberontakan kita, dia diremukkan oleh karena kejahatan kita; ganjaran yang mendatangkan keselamatan bagi kita ditimpakan kepadanya, dan oleh bilur-bilurnya kita menjadi sembuh.” Nubuatan itu—dalam iman Kristen—digenapi oleh Yesus Kristus. Dalam konteks sekarang, Yesus diolok-olok karena kita (dalam arti positif maupun negatif). Yesus dihina karena kita. Yesus direndahkan, dicaci maki, karena kita.

Yesus telah membuktikan bahwa diri-Nya menjadi tebusan bagi banyak orang (Mrk. 10:45); Dia menebus dengan darah-Nya, darah yang mahal yang sama seperti darah anak domba yang tak bernoda dan tak bercacat (1 Ptr. 1:18-19). Dia rela diolok-olok, menanggung penghinaan, karena kita—umat pilihan-Nya. Yesus berkata: “Domba-domba-Ku mendengarkan suara-Ku dan Aku mengenal mereka dan mereka mengikut Aku, dan Aku memberikan hidup yang kekal kepada mereka dan mereka pasti tidak akan binasa sampai selama-lamanya dan seorang pun tidak akan merebut mereka dari tangan-Ku” (Yoh. 10:27-28).

Yesus diolok-olok karena pengajaran-Nya berbeda dengan para ahli Taurat. Yesus diolok-olok karena klaim-klaim-Nya yang spektakuler. Yesus diolok-olok karena tindakan-Nya lain dari tindakan para ahli Taurat. Yesus diolok-olok karena orang-orang yang percaya dan mengikuti-Nya sangat banyak, dan menjadi ancaman bagi orang-orang Yahudi, ahli-ahli Taurat, dan sekutunya.

PENUTUP

Yesus diolok-olok karena kita, haruslah dipahami sebagai fakta bahwa kita telah mengambil risiko yang besar untuk beriman kepada Yesus. Beriman kepada Yesus memang berisiko, dan mengenai hal ini, Yesus telah menegaskan: “Dan berbahagialah orang yang tidak menjadi kecewa dan menolak Aku” (Mat. 11:6; Luk. 7:23).

Memang, beriman kepada Yesus bukanlah jaminan bahwa kita tidak akan mengalami tekanan, penderitaan, ancaman, atau bahkan kematian. Setiap manusia tentu dapat mengalami tekanan, penderitaan, ancaman, dan kematian. Virus Corona saja telah membunuh banyak orang, telah meresahkan banyak orang, telah menekan kehidupan banyak orang, telah membuat manusia menderita dengan ketakutan, dan bahkan Virus Corona telah menjadi ancaman global yang berbahaya.

Lalu, apa yang perlu kita takutkan ketika kita beriman kepada Yesus Kristus? Apakah olok-olok akan menjadikan kita sangat terpukul dan kemudian meninggalkan Yesus? Bukankah Yesus telah merasakan olok-olok juga?

Yesus rela diolok-olok, karena Ia dengan setia menyelesaikan tugas yang telah Bapa berikan kepada-Nya. Kalau saja Yesus tidak rela menerima olok-olok, tentu Ia gagal melaksanakan misi penyelamatan.

Yesus diolok-olok karena kita, disebabkan karena Ia begitu mengasihi kita; Ia menyelamatkan kita dari sesuatu yang paling ditakuti oleh manusia yaitu kematian. Yesus telah mengalahkan maut (kematian), dan karena itu setiap orang yang percaya kepada-Nya, tidak binasa, melainkan beroleh kehidupan yang kekal.

Sudahkah kita menunjukkan sikap hidup yang berkenan kepada Tuhan, sehingga orang lain diberkati? Sudahkah terang dalam diri kita bercahaya di depan orang, sehingga mereka yang melihatnya (perbuatan kita yang baik) memuliakan Bapa yang di surga?

Jika Yesus telah membuktikan kebenaran meski diolok-olok, mengapa kita justru diolok-olok karena ketidakbenaran dan hawa nafsu kita? Kita tidak dapat memungkiri bahwa memang Yesus diolok-olok karena kita, tetapi di zaman sekarang, kitalah yang menjadikan Yesus diolok-olok; ya, Dia diolok-olok karena kekotoran dan dosa-dosa kita.

Kita dipanggil oleh Yesus Kristus untuk melakukan perbuatan baik, melayani Dia dengan sepenuh hati, siap menghadapi tantangan, siap menderita demi Kristus, setia kepada-Nya, dan hidup menjadi berkat bagi orang lain, sehingga nama Tuhan dipuji dan dimuliakan. Amin.

Soli Deo Gloria

Salam Bae

Sumber gambar: https://stenlyreinalpaparang.home.blog/wp-content/uploads/2021/02/6e972-luca2bsignorelli2bthe2bcrucifixion.jpg

Rancang situs seperti ini dengan WordPress.com
Mulai