PROLEGOMENA TEOLOGI SISTEMATIKA

Teologi adalah nyanyian pikiran. Pikiran menghasilkan lagu-lagu yang akan dinyanyikan. Lirik dan makna lirik tergantung pada apa yang kita pahami tentang Tuhan dan apa yang kita alami bersama Tuhan”. Teologi yang menyanyikan “Tuhan dan karya-Nya” adalah teologi yang hidup. (S. R. Paparang)

Ruang pemikiran teologi sangatlah luas, dan upaya untuk memuaskan telinga para pendengar bukanlah hal yang mudah. Tetapi teologi yang benar tidak peduli apakah pendengar puas atau tidak, melainkan berupaya menjelaskan apa yang Tuhan kehendaki dilakukan oleh orang-orang yang percaya kepada-Nya, dalam sendi-sendi kehidupan mereka. (S. R. Paparang)

Sumber gambar: https://id.pinterest.com/pin/253749760243779208/

PRELIMINARI

Ada banyak faset (segi) dalam teologi yang dapat kita amati, dalami, kembangkan, kritisi, dan imani. Pengamatan, pendalaman, pengembangan, pengkritisan, dan pengimanan adalah konteks berteologi untuk menghasilkan teologi. Teologi dan berteologi adalah dua aspek iman yang tak dapat dipisahkan. Sejatinya, teologi itu sendiri adalah pemahaman tentang Allah dan karya-Nya yang kita lihat dalam pewahyuan nama-Nya, Firman-Nya, dan Eksistensi-Nya. Ketika berbicara tentang Allah, maka kita berbicara tentang nama, firman (logos), dan eksistensi.

Prinsip logis ini tidak saja nyata dan bersifat historis (penyataan) tetapi secara ontologi juga merupakan substansi hakiki dari kebenaran personalitas diri Allah. Pengetahuan kita tentang Allah bergantung pada Allah. Ketika Allah menyatakan diri-Nya, Ia secara simultan menyatakan eksistensi-Nya—bahwa Dia ada—, kehendak-Nya yang tertuang dalam firman-Nya, dan identitas-Nya, yang melekat pada nama-Nya.

Secara perlahan, iman memimpin kita kepada kekayaan kasih, kemurahan, dan kuasa Allah yang nyata pada setiap langkah kehidupan kita. Dari iman lahirlah teologi yang kuat. Kita diperkenankan Allah untuk memahami dan menikmati kasih-Nya di sepanjang hidup; tak terkecuali penderitaan dan pergumulan, Allah tetap berkarya.

Melangkah pada puncak teologi harus menapaki pada anak tangga pertama. Dalam dunia teologi sistematika, dua aspek fundamen yang perlu dipahami yaitu prolegomena dan bibliologi. Prolegomena berbicara tentang pemahaman teologi, iman, dan sikap hidup, sedangkan bibliologi berbicara tentang apa dan bagaimana Alkitab itu.

Pada konteks prolegomena atau pengantar ke dalam teologi sistematika, kita mempelajari tentang apa itu teologi, bagaimana prinsip mengenal Allah, iman, berteologi, hidup dan teologi, sikap hidup (doa, kesetiaan, pertobatan, kerendahhatian), pergumulan hidup, mengasihi Allah dan sesama, dan mencintai Firman Allah.

Apa yang kita pelajari akan membawa kita kepada luasnya dan dalamnya pengetahuan tentang Allah, di mana kita hidup dan bergerak dituntun oleh Dia melalui pengetahuan yang telah diejawantahkan kepada kita melalui firman-Nya dan pengalaman iman kita bersama-Nya.

Mengapa Belajar Teologi?

“Teologi yang baik bertujuan untuk membebaskan kehidupan orang lain”. Kalimat singkat ini adalah parafrase dari Kelly M. Kapic, Profesor Studi Teologi (khususnya teologi sistematika dan historika) di Covenant College, Lookout Mountain, Georgia. Pertanyaannya: “apa yang dibebaskan dari kehidupan orang lain?” Saya mencatat setidaknya ada tujuh hal: pertama, membebaskan orang lain dari ketidaktahuan tentang personalitas dan karya Tuhan; kedua, membebaskan orang lain dari kesesatan dan penyesatan tentang iman Kristen, ajaran-ajaran Alkitab yang telah disalahpahami, disalahtafsirkan, dan disalahaplikasikan; ketiga, membebaskan orang lain dari hati yang keras dan tidak mau bertobat kepada Tuhan; keempat, membebaskan orang lain dari segala macam penderitaan yang disebabkan oleh keengganan berserah kepada Tuhan, Sang Khalik yang memelihara kehidupan umat yang percaya; kelima, membebaskan orang lain dari sikap arogansi beragama (tanpa mengerti apa itu iman yang sesungguhnya) dan egoisme diri yang berlebihan dan liar; keenam, membebaskan orang lain dari karakter buruk dan kebodohan yang melekat dalam hati orang yang acuh tak acuh terhadap persekutuan dengan Tuhan dan sesama orang percaya; dan ketujuh, membebaskan orang lain dari keraguan (skeptisisme) akan pernyertaan dan perlindungan Tuhan tatkala berbagai problem kehidupan menyita waktunya untuk bergumul.

Dari ketujuh “pembebasan” yang saya sebutkan di atas, “teologi” juga memberikan fungsi yang baik bagi iman dan perilaku kita setiap hari. Teologi yang hidup pasti bertumbuh; teologi yang hidup berarti teologi yang dipahami secara benar dan kemudian memperbaiki diri lalu beranjak untuk memperbaiki orang lain dalam konteks relasinya dengan Tuhan dan sesama. Setiap hari ada pertumbuhan dalam iman dan perbuatan—layaknya tanaman yang disiram dan terus menampilkan pertumbuhan dan pada akhirnya menghasilkan buah-buah.

Fungsi teologi adalah: pertama, memberikan pemahaman yang baik tentang hal-hal substansial iman Kristen dan personalitas Tuhan dalam proses menempuh kehidupan beriman dan beragama; kedua, membuka wawasan atau cakrawala berpikir orang percaya untuk terus mendalami dan merasakan makna mengikut (percaya) Tuhan dalam totalitas hayatinya; ketiga, memasukkan berbagai gagasan teologis—bilblikal ke dalam iman dan pemikiran orang percaya untuk semakin menyebarluaskan gagasan-gagasan tersebut dalam konteks komunikasi, relasi, dan penginjilan; keempat, mengeluarkan berbagai kesalahpahaman tentang iman dan personalitas Tuhan dari pikiran orang percaya, atau dengan perkataan lain, menanggalkan pola hidup dan pola berpikir lama yang bukan merupakan prinsip iman itu sendiri; dan kelima, menutup segala pintu penyesatan dan kesesatan yang berpotensi masuk ke dalam pemikiran, pemahaman, dan iman orang percaya. Memahami teologi memang tidak mudah tetapi dengan melihat pada fungsi-fungsi teologi di atas, kita semakin didorong untuk terus mendalami, merasakan, dan mengaplikasikan teologi itu dalam pluralitas hayati dan humanitas.

Profesor Kapic menjelaskan, teologi tidak hanya dicadangkan bagi mereka yang ada dalam dunia pendidikan tinggi; teologi adalah aspek pemikiran dan percakapan untuk semua yang hidup dan bernafas, yang bergumul dan takut, yang berharap dan berdoa.[1] Kepentingan teologi membuka berbagai peluang bagi gerbang pemikiran manusia yang bebas, yang dapat mengarahkan manusia untuk melihat kepada Allah yang Mahabesar dan Maha Berdaulat atas kehidupan manusia. Pencarian manusia akan Allah menyita banyak perhatian bagi para teolog dan para atheis dalam diskusi mereka tentang Allah ada dan Allah tidak ada. Sebagaimana dinyatakan secara skeptis oleh Ludwig Feuerbach (1804-1872), seorang filsuf ateis abad sembilas belas bahwa, bicara tentang Allah tidak lebih daripada penguatan bicara tentang diri sendiri: “Allah” hanya proyeksi tentang pemikiran dan hasrat manusia.[2]

Pernyataan Feuerbach memiliki dua implikasi, pertama implikasi faktual dan kedua implikasi substansial. Pada implikasi faktual, pernyataan Feuerbach ada benarnya, sebab ada kasus di mana orang(-orang) Kristen dapat mengakui bahwa ia percaya kepada Allah dan sekaligus menonjolkan bahwa “dirinyalah Allah itu.” Artinya, dengan tujuan meraup keuntungan yang tidak semestinya, peribadatan dan proses “berimannya” tidaklah murni untuk kemuliaan Allah, melainkan hanyalah topeng belaka: memuji diri sendiri dan mengagungkan diri sendiri, layaknya seorang yang haus kekuasaan dan kepopuleran. Pada akhirnya, topeng mereka terbuka, dan terlihat dengan jelas bahwa mereka telah melakukan penipuan berkedok “agama Kristen”. Pada implikasi substansialnya, pernyataan Feuerbach adalah salah dan bernatur opini, tanpa bukti apa pun. “Allah” seperti apa yang diproyeksikan oleh pemikiran dan hasrat manusia, dan “Allah” yang mana yang diproyeksikan, apakah Allah versi Kristen atau Allah dalam imajinasi Feuerbach? Allah Alkitab adalah Allah yang menyatakan diri. Jadi, tidak bisa diaggap sebagai proyeksi diri sendiri (manusia). Jelas, Allah versi Feuerbach adalah imajinasinya sendiri.

Teologi yang baik adalah teologi yang memuaskan jiwa kita akan kebaikan Tuhan, kasih dan sayang Tuhan, pemeliharaan dan kepedulian, serta pengampunan Tuhan yang di dalam itu semua, jiwa kita dipandang berharga oleh Tuhan dan menjadikan kita sebagai duta-duta firman-Nya untuk terus mewartakan kabar baik kepada dunia sekitar. Kapic menilai bahwa “teologi menyangkut soal hidup, dan bukan percakapan yang dapat dihindari oleh jiwa kita.”[3] Menurut Alexander dari Halles bahwa, teologi lebih merupakan kebajikan daripada seni, hikmat ketimbang pengetahuan faktual, teologi lebih terdiri dari kebajikan dan perwujudnyataan ketimbang kontemplasi dan pengetahuan.[4]

Dalam pemahanan tentang mengapa belajar teologi? Kapic menyebutkan dua hal sebagai landasannya yaitu “mengenal dan menikmati Allah menjadi bijak” dan “teologi sebagai ziarah”. Pada “mengenal dan menikmati Allah menjadi bijak”, Kapic menyatakan beberapa hal berikut ini:

  1. Kita menikmati [merasakan kasih, kuasa, pemeliharaan] Allah setara dengan kita menyembah Dia dengan setia. Ibadah yang setia—termasuk pujian, doa, ketaatan dan iman—penting adanya, sebab berhala dalam segala bentuknya, tidak memuaskan Allah maupun kita. Ibadah tidak menuntut kita mengerti segala sesuatu tentang Allah dengan sempurna, tetapi respons murni kita kepada Allah sejati yang menyatakan diri-Nya kepada kita.[5]
  2. Di bawah kehangatan karya kreatif-Nya dan perhatian-Nya, umat manusia diundang untuk berjalan dengan Allah, untuk mengenal dan mengasihi Dia. Inilah ibadah, atau penyembahan.[6]
  3. Teologi sepenuhnya adalah tentang mengetahui bagaimana menyanyikan pujian penyelamatan; tahu kapan bersorak, kapan meratap, kapan diam dan kapan berharap.[7]
  4. “Pengetahuan” dalam teologi tidak kognitif semata tetapi juga bersifat personal dengan unsur hubungan dan komitmen. Adalah suatu kesalahmengertian serius bila orang menegaskan bahwa kita hanya dapat menyembah Allah sesudah mengerti semua doktrin penting. Pengetahuan dan penikmatan akan Allah tidak terpisahkan.[8]
  5. Kita tidak pernah dapat mengerti diri kita, arti kita atau kepuasan hidup manusia yang sejati dengan benar lepas dari pengenalan akan Allah.[9] Sebagaimana yang ditulis oleh John Calvin  (1509-1564), “Hampir semua hikmat yang kita miliki, maksudnya, hikmat yang benar dan sehat, terdiri dari dua bagian: pengetahuan akan Allah dan akan diri kita sendiri. Tetapi, meski disatukan oleh banyak ikatan, yang mana yang mendahului dan menghasilkan yang lain tidak mudah untuk dibedakan.”[10] Menurut Kapic, pengenalan akan Allah dan pengenalan akan diri tumbuh dalam persekutuan ini: kita tidak akan pernah mengerti diri sendiri jika kita berusaha melakukannya lepas dari pengenalan akan Allah.[11]
  6. Ibadah yang benar kepada Allah membebaskan dan menyanggupkan kita untuk mengasihi ciptaan-Nya dengan benar dari untuk meratap ketika kita melihat ciptaan disalahgunakan.[12]
  7. Dengan datang kepada Allah yang hidup dan membawa hidup, pertanyaan, ketakutan serta pengharapan kita, kita tumbuh dalam pengenalan akan Allah. Pengenalan ini bukan intelektual semata; pengenalan ini juga penuh gairah, menyentuh baik pengertian maupun afeksi kita.

Sedangkan pada “teologi sebagai ziarah”, Kapic menyatakan beberapa hal berikut ini:

  1. Ada dua jenis pengetahuan yaitu pengetahuan asli (archetypal) dan pengetahuan duplikat (ectypal) tentang Allah. Pengetahuan yang archetypal akan Allah adalah pengetahuan sempurna yang Allah miliki tentang diri-Nya sendiri. Kefanaan atau dosa tidak membatasi Dia. Ia tahu segala sesuatu. Yang paling utama, Allah tahu diri-Nya sendiri sepenuhnya. Pengetahuan ectypal adalah pengertian yang kita miliki tentang Allah melalui cara penyataan diri-Nya, yang paling jelas dinyatakan dalam Alkitab dan puncaknya adalah dalam inkarnasi sang Firman. Dengan demikian kita bisa memiliki pengetahuan yang benar tentang Allah, meski itu bukan pengetahuan yang lengkap. Bahkan dengan Alkitab yang dikaruniakan secara ilahi, manusia yang terbatas dan berdosa perlu pencerahan dari Roh Kudus untuk mengertinya dengan benar dan menyambut pesannya.[13]
  2. Mengenal Allah berarti mengenal yang Esa yang datang dalam Firman dan Roh. Pengetahuan Allah dalam diri-Nya murni dan penuh, sedangkan pengetahuan kita akan Dia bersifat derivatif (turunan) dan tidak lengkap. Karena pengetahuan kita akan Allah harus bertumbuh sambil kita berjalan bersama-Nya melalui waktu, tidak heran bahwa sebagian dari imaji terbaik yang dipakai untuk menggambarkan usaha teologis adalah ziarah. Alkitab memaparkan kita orang Kristen sebagai orang yang ada di “Jalan” (bdk. Kis. 9:2; 19:9, 23; 24:14, 22), karena kita adalah para “pendatang” (1 Ptr. 2:11) yang dipanggil untuk “berjalan” dalam Roh yang membawa terang bahkan ke dalam kegelapan (bdk. 2 Kor. 5:2; Gal. 5:16, 25; Ef. 5:8, 15; Kol. 2:6; 1 Yoh. 1:6-7; 2 Yoh. 6).[14]
  3. Kita ada dalam suatu pengembaraan, kita sedang menuju ke suatu tempat, sambil kita makin setia menyaksikan dan menyesuaikan diri dengan Allah dan kemuliaan-Nya. Pengetahuan kita akan Allah dan perenungan teologis kita tidak dapat terhindar dari sifat fana, derivatif dan mengalami perkembangan.[15]
  4. Semua teologi yang baik dan setia datang dari Allah, yang adalah teolog utama—satu-satunya yang dapat bicara tentang diri-Nya tanpa kelemahan diri dan kesalahmengertian. Sebagaimana yang dinyatakan oleh Thomas Aquinas, “Teologi diajarkan oleh Allah, mengajarkan tentang Allah dan memimpin kepada Allah” (Theologia a Deo Docetur, Deum docet, et ad Deum ducit).[16]
  5. Ketika kita menyadari adanya relasi antara teologi dan ibadah, kita pindah dari keingintahuan intelektual ke perjumpaan yang terlibat dengan Allah yang hidup.[17]

DEFINISI TEOLOGI

Secara umum teologi dipandang sebagai sebuah pemikiran dan pemahaman yang sifatnya lebih luas di samping pengetahuan tentang personalitas Allah. Bahkan seluk-beluk iman Kristen dan perdebatannya, dipandang sebagai ranah teologis untuk menetapkan formula iman yang ortodoks dan sekaligus menentukan hal-hal yang menyimpang dari iman Kristen. Hal ini pula yang diamati Daniel L. Lukito berikut ini: “Istilah ‘teologia’ memang tidak mudah didefinisikan. Sekalipun jelas bahwa teologia merupakan kombinasi dari dua kata Yunani theos (Allah) dan logos (kata, pemikiran, uraian, ilmu), namun istilah tersebut telah dipergunakan secara luas.[18] Kadang-kadang kata ini, menurut Lukito, dimengerti sebagai istilah yang menggambarkan lingkup seluruh pokok studi, penelitian, dan aplikasi dalam pendidikan atau sekolah teologia. Dengan pengertian itu berarti teologia mencakup segala penelitian tentang PL, PB, sejarah gereja, teologi sistematika, ilmu berkhotbah, pendidikan agama Kristen dan konseling.

Dalam pengertian lebih sempit, maka “theologia”, menurut Lukito, menunjuk pada usaha untuk meneliti iman Kristen dari aspek doktrinnya. Ini berarti mencakup divisi seperti teologia sistematika, teologi biblika, teologia historika, dan teologi filosofika. Juga apabila dimengerti secara lebih sempit, “teologia” menunjuk pada teologia sistematika.[19] Jadi, teologia adalah suatu pembicaraan secara rasional tentang Allah dan pekerjaan-Nya. Dalam hal ini, “teologia Kristen” berarti bahwa pembicaraan yang rasional itu merupakan hasil yang diperoleh dari Alkitab sebagai titik tolak penemuan yang sine qua non ([kondisi] yang tidak boleh tidak ada; kondisi yang harus ada untuk sesuatu) dan prima facie (based on immediate impression, atau hal yang langsung atau dengan sendirinya terpikir sebagai titik acuan).[20] Lukito juga menjelaskan, bahwa “dari sudut lain, teologia juga menunjuk pada respons manusia terhadap firman yang disampaikan Allah melalui Alkitab.[21]

Beberapa definisi tentang teologia berikut ini dijelaskan Lukito untuk melihat konteks latar belakang para teolog dan gagasan mereka masing-masing.

Pertama, menurut Benyamin B. Warfield (1851-1921), seorang teolog ortodoks dari Princeton, teologia adalah “ilmu yang membicarakan tentang Allah dan hubungan antara Allah dan alam semesta.” Penekanan Warfield di sini adalah “Allah itu ada, dan seandainya tidak ada Allah, teologia tidak pernah ada. Demikian pula seandainya Allah yang berada itu tidak berhubungan dengan ciptaan-Nya, teologia juga tidak pernah ada.

Kedua, guru besar teologia sistematika di Union Theological Seminary, William G. T. Shedd, berpendapat bahwa, “Teologia adalah suatu ilmu yang berhubungan dengan Yang Tak Terbatas dan yang terbatas, dengan Allah dan alam semesta.”

Ketiga, teolog Baptis, A. H. Strong berpendapat, “Teologia adalah ilmu tentang Allah dan hubungan-hubungan antara Allah dan alam semesta.”

Keempat, menurut Charles Hodge (1797-1878), “Teologia … mengetengahkan fakta-fakta Kitab Suci dalam urutan dan hubungan yang tepat dengan prinsip-prinsip atau kebenaran-kebenaran umum yang ada dalam fakta-fakta itu sendiri dan yang meliputi dan menyelaraskan seutuhnya.” Hodge menempatkan Alkitab sebagai salah satu sumber atau kategori fakta-fakta atau kebenaran yang tidak diwahyukan di mana pun juga. Sedangkan alam merupakan sumber atau kategori fakta lainnya yang makin diperjelas oleh Alkitab sendiri. Jadi, teologia berkenaan dengan yang alamiah dan yang diwahyukan. Yang alamiah itu berhubungan dengan fakta-fakta tentang alam sejauh mana fakta-fakta itu mengungkapkan tentang Allah serta relasi manusia dengan Dia; sedangkan Alkitab menyatakan segalanya itu dengan lebih lengkap dan lebih otoritatif.[22]

Kelima, F. Schleiermacher berpendapat bahwa, teologia sebagai usaha menganalisis pengalaman kesadaran religius, yaitu perasaan ketergantungan yang mutlak (the feeling of absolute dependence).[23] Bagi Schleiermacher, apabila kita berbicara tentang “Allah”, dengan mempergunakan bahasa dari kehidupan sehari-hari yang berhubungan dengan “knowing” (mengetahui) dan “doing” (melakukan), kita sebenarnya sedang mengartikulasikan “self-consciuosness” (kesadaran diri yang timbul dengan sendirinya).[24] Kesimpulan Schleiermacher adalah bahwa apabila suatu pikiran yang mempunyai hubungan dengan doktrin tidak memiliki landasan di dalam perasaan, maka tidak ada pernyataan yang bisa dibuat berkenaan dengan itu.[25] Dengan perkataan lain, menurut Lukito, kita tidak dapat menguraikan tentang manusia, atau tentang karya Allah, apabila formula doktrinalnya tidak datang dari hasil refleksi pada kesadaran diri yang religius (religious self-consciousness).[26]

Keenam, menurut Paul Tillich (1886-1965), teologia adalah interpretasi metodikal dari materi pokok iman Kristen.[27] Tillich menganggap istilah “Allah” tidaklah terlalu penting karena “Allah” adalah sebuah simbol yang diperoleh dari kesadaran religius. “Allah” bukan sosok Pribadi Yang Ada; Ia adalah Yang Ada itu sendiri (Being Itself, not a Being). Jadi, “Allah” itu melingkupi segala sesuatu dan Ia berada di  dalam segala sesuatu. Karena “Allah” melampaui dan di luar dari esensi dan eksistensi, maka segala usaha untuk membuktikan eksistensi “Allah” tidak dapat diterima; masalah eksistensi “Allah” tidak dapat dipertanyakan atau dijawab.[28] Bagi Tillich, hanya ada satu titik mula berteologia yang sah, yakni dimulai dari manusia dan pengalaman manusia atas realita. Teologia barulah dapat membangun sebuah jembatan yang berarti (memiliki arti) dengan inti kebenaran berita Kristen apabila berita itu sendiri dinilai atau diinterpretasikan sesuai dengan “keprihatinan puncak” (ultimate concerns) dalam pengalaman manusia[29], dan Lukito menilai, Tillich memilih untuk memulai penjabaran teologinya hanya dari pengalaman manusia.

Ketujuh, menurut Choan-Seng Song, definisi teologia yang sering diberikan oleh teolog-teolog Barat tidaklah tepat. Menurutnya, teologia itu berkenaan dengan persoalan bagaimana Allah memperhatikan manusia. Urusan teologia bukanlah untuk mempersoalkan bagaimana manusia memperhatikan Allah.[30] Bagi Song, teologia Kristen yang tradisional yang terlalu banyak membicarakan tentang Allah (dengan eksistensi-Nya, atribut-Nya, dan segala perdebatan tentang karya-Nya) menjadi sangat terbatas, karena bagian terbesar masalah yang bertalian dengan kehidupan manusia terabaikan begitu saja. Teologia seharusnya dimengerti sebagai antropologi: “theo-logy must be anthropo-logy”.[31] Untuk memperkuat argumennya, menurut Song, bukankah Allah sendiri, di dalam Yesus Kristus, datang dan berkecimpung di tengah manusia sebagai suatu tindakan yang teo-logis?[32]

Kedelapan, Lukito menilai bahwa definisi dan pengertian teologia yang dinyatakan Schleiermacher, Tillich, dan Song mengandung kelemahan, oleh karena dengan demikian teologia menjadi independen atau tercerai dari Alkitab. Menurutnya, teologia seharusnya berkenaan dengan Allah dan ciptaan-Nya seperti yang dimengerti dari Alkitab. “Teologia adalah pengetahuan yang sistematis tentang Allah dan hubungannya dengan ciptaan-Nya seperti yang dipaparkan dalam Alkitab.”[33] Tentu saja, menurut Lukito, dalam definisi tersebut sudah tercakup pengertian bahwa teologia juga merupakan respons manusia terhadap inisiatif Allah dalam wahyu-Nya. Respons tersebut dapat berwujud dalam bentuk usaha-usaha untuk mengerti wahyu/penyataan Allah tentang manusia dari dan dunia, serta bagaimana menerapkannya ke setiap bagian kehidupan dan pemikiran manusia.[34]

Kesembilan, tanggapan saya atas berbagai definisi teologi di atas adalah sebagai berikut: (1) teologia berbicara pribadi Allah, yang menyatakan diri-Nya sebagai Pencipta, Penebus, dan Pewahyu; (2) teologia berbicara tentang karya-karya Allah yang mencakup belas kasih-Nya, pengampunan-Nya, penghukuman-Nya, kasih karunia, dan anugerah-Nya. Dalam karya-karya tersebut apa yang didefinisikan para teolog di atas sudah termasuk; (3) teologia berbicara mengenai kesadaran akan diri sendiri (manusia) yang terikat dengan imannya untuk mengenal lebih jauh tentang Allah dan firman-Nya serta mengalami hidup bersama-Nya. (4) apa yang digagas Warfield bersifat konsekuensi logis yang menilai bahwa tanpa “sumber teologi” (yaitu Allah) tak mungkin ada “proses berteologi”. (5) apa yang digagas Shedd, bersifat logis dan naturiah, dan ada kesamaan dengan gagasan Strong. (6) gagasan Hodge merupakan sebuah proses (yaitu mengetengahkan) dan hasil (urutan dan hubungan dengan prinsip-prinsip atau kebenaran-kebenaran umum yang ada dalam fakta-fakta itu sendiri) dari memahami teologi alkitabiah. (7) gagasan Schleiermacher merupakan cara berteologi yaitu usaha menganalisis pengalaman kesadaran religius, dan menempatkan pengetahuan dan tindakan sebagai mengartikulasikan (menjelaskan dengan kata-kata) self-consciuosness (kesadaran diri yang timbul dengan sendirinya) yang pada esensinya kuranglah sempurna karena hanya mengartikulasikan kesadaran diri yang timbul dengan sendirinya dan bukan yang dialami dalam proses beriman.

Di samping itu, gagasannya mengenai “suatu pikiran yang mempunyai hubungan dengan doktrin tidak memiliki landasan di dalam perasaan, maka tidak ada pernyataan yang bisa dibuat berkenaan dengan itu” menjadikan “perasaan” melampaui dari fakta tentang providensia Allah atas manusia. (8) gagasan Tillich justru berkontradiksi. Kontradiksinya terlihat dari pernyataan bahwa “segala usaha untuk membuktikan eksistensi ‘Allah’ tidak dapat diterima”, padahal ia sendiri telah membuktikan eksistensi Allah itu sendiri dan ia menerima apa yang ia nyatakan. Berikutnya, kontradiksi terlihat pada frasa “masalah eksistensi ‘Allah’ tidak dapat dipertanyakan atau dijawab”, padahal ia sendiri telah menjawab eksistensi Allah itu sendiri. Di sini Tillich berkesimpulan terlalu sederhana sekali tanpa melihat konsekuensi logis dari apa yang ia nyatakan sendiri. (9) gagasan Song terlihat berat sebelah. Pada sisi lain ia berpikir bahwa “teologia itu berkenaan dengan persoalan bagaimana Allah memperhatikan manusia” dan “bukan untuk mempersoalkan bagaimana manusia memperhatikan Allah.” Alangkah baiknya jika keduanya disatukan, karena di saat kita memikirkan tentang bagaimana Allah memperhatikan kita, secara bersamaan kita juga sedang memperhatikan Allah yang memperhatikan kita. Ini disebut dengan konsekuensi logis secara bersamaan. Memang benar apa yang dinyatakan Song, “teologia Kristen yang terlalu banyak membicarakan tentang Allah melupakan atau mengabaikan kehidupan manusia. Teologi secara substansial seyogianya menyentuh tiga wilayah yaitu kognitif (pengetahuan setiap orang percaya tentang Allah dan karya-Nya), konatif (perilaku atau sikap orang percaya kepada sesama dan kepada Tuhan), dan keterampilan dalam menghasilkan berbagai karya yang bermanfaat bagi diri sendiri dan orang lain. Teologi yang tidak menghasilkan perubahan, buah, dan pengaruh, bukanlah teologi yang baik  dan sehat, melainkan teologi yang kering dan kekurangan gizinya. (10) benar apa yang digagas Lukito bahwa “teologia seharusnya berkenaan dengan Allah dan ciptaan-Nya seperti yang dimengerti dari Alkitab.” Gagasan ini menjawab tiga definisi teologi sebagaimana yang telah saya sebutkan di atas yaitu: teologia berbicara pribadi Allah, berbicara tentang karya-karya Allah, dan berbicara mengenai kesadaran akan diri sendiri (manusia).


[1] Kelly M. Kapic, Pedoman Ringkas Berteologi: Mengapa dan Bagaimana Studi Teologi, alih bahasa Paul S. Hidayat (Jakarta: Waskita Publishing, 2014), 7-8.

[2] Ludwig Feuerbach, The Essence of Christianity (1841, cetak ulang, New York: Barnes & Noble, 2004), dikutip Kapic, Pedoman Ringkas Berteologi, 9.

[3] Kapic, Pedoman Ringkas Berteologi, 12.

[4] Alexander dari Halles, dikutip dalam Theological Commonplaces, dikutip Kapic, Pedoman Ringkas Berteologi, 13.

[5] Kapic, Pedoman Ringkas Berteologi, 13.

[6] Kapic, Pedoman Ringkas Berteologi, 14.

[7] Kapic, Pedoman Ringkas Berteologi, 15.

[8] Kapic, Pedoman Ringkas Berteologi, 16-17.

[9] Kapic, Pedoman Ringkas Berteologi, 17-18.

[10] John Calvin, Institutes of the Christian Religion, ed. John T. McNeill, terj. Ford Lewis Battle, 2 vol., Library of Christians Classic (Philadelphia: Westminster Press, 1960), 1.1.1-2, dikutip Kapic, Pedoman Ringkas Berteologi, 17.

[11] Kapic, Pedoman Ringkas Berteologi, 18.

[12] Kapic, Pedoman Ringkas Berteologi, 18.

[13] Kapic, Pedoman Ringkas Berteologi, 23.

[14] Kapic, Pedoman Ringkas Berteologi, 24-25.

[15] Kapic, Pedoman Ringkas Berteologi, 27.

[16] Kapic, Pedoman Ringkas Berteologi, 28.

[17] Kapic, Pedoman Ringkas Berteologi, 30.

[18] Daniel Lucas Lukito, Pengantar Teologia Kristen I (Bandung: Kalam Hidup, 2002), 11.

[19] Lukito, Pengantar Teologia Kristen I,11.

[20] Lukito, Pengantar Teologia Kristen I,11-12.

[21] Lukito, Pengantar Teologia Kristen I,12.

[22] Systematic Theology (Grand Rapids: Eerdmans, 1979), I:19, dikutip Lukito, Pengantar Teologia Kristen I,15.

[23] F. Schleiermacher, The Christian Faith, ed. H. R. Mackintosh dan J. S. Stewart (Edinburg: T. & T. Clark, 1956), 12 dst. dikutip Lukito, Pengantar Teologia Kristen I,15-16.

[24] Schleiermacher, The Christian Faith, 17, 76 (ps. 15), dikutip Lukito, Pengantar Teologia Kristen I,16.

[25] Schleiermacher, The Christian Faith, 78, dikutip Lukito, Pengantar Teologia Kristen I,16.

[26] Lukito, Pengantar Teologia Kristen I,16.

[27] Paul Tillich, Systematic Theology (Chicago: University of Chicago, 1951), 1:18.

[28] Tillich, Systematic Theology, 227.

[29] Tillich, Systematic Theology, 12, Lukito, Pengantar Teologia Kristen I,16-17.

[30] C. S. Song, “New Perspective of Theology in Asia: Ten Theological Theses”, SEAJT 20, No. 1 (1979): 15, dikutip Lukito, Pengantar Teologia Kristen I,17.

[31] C. S. Song, Tell Us Our Names: Story Theology from An Asian Perspective (Maryknoll: Orbis, 1984), 37, dikutip Lukito, Pengantar Teologia Kristen I,17.

[32] Song, Tell Us Our Names, 9, dikutip Lukito, Pengantar Teologia Kristen I,17.

[33] Lukito, Pengantar Teologia Kristen I,18.

[34] Lukito, Pengantar Teologia Kristen I,18.

MENJARING ANGIN: Pengetahuan tentang Hidup?

Sumber gambar: https://unsplash.com/photos/Wm-_SIZuY8A (Dendy Darma@dds_works)

“Menjaring angin” adalah sebuah frasa yang memuat dua diksi filosofis. Diksi “menjaring” secara umum dipahami sebagai usaha manusia untuk mendapatkan sesuatu. Jaring sering dipakai dalam dunia nelayan atau pelaut untuk menangkap ikan. Jaring juga bisa dipakai dalam dunia jebakan untuk menangkap burung dan binatang lain yang diinginkan. Diksi “angin” adalah udara atau gerakan udara yang nyata, dirasakan, tetapi tidak terlihat wujudnya. Angin itu bereksistensi tetapi tak terlihat secara kasat mata.

Frasa “menjaring anging” memberikan pemahaman bahwa segala sesuatu yang dilakukan manusia, entah baik atau jahat, bisa berpotensi untuk tidak mendapatkan hasil yang diinginkan. Berbagai usaha dan upaya, perjuangan tak kenal lelah, kerja keras, perencanaan dan komitmen, sering tak berbuahkan apa-apa. Ini terjadi di dua jenis orang: baik dan jahat. Raja Salomo sendiri mengakui kondisi ini. Ia mengamati bahwa: “Aku telah melihat segala perbuatan yang dilakukan orang di bawah matahari, tetapi lihatlah, segala sesuatu adalah kesia-siaan dan usaha menjaring angin” (Pengkhotbah 1:14). Secara umum kondisi adalah kondisi riil yang mungkin sering kita lihat atau bahkan kita alami.

Akan tetapi, bagi mereka yang beriman teguh, segala upaya harus terus dikerjakan dengan baik dan penuh integritas. Tetap percaya bahwa apa yang Tuhan buat itu [akan] indah pada waktunya. Nah, menjaring angin ini memberikan pelajaran penting bagi kita bahwa kita tidak boleh sombong dengan apa yang kita miliki, jabati, alami, dan rasakan. Sebuah kalimat bijak menegaskan:

“Semasa hidup, kitalah tuan dan orang yang paling berkuasa di rumah mewah kita. Saat meninggal, tidak ada yang setuju jasad kita disimpan, walaupun hanya di garasi di belakang rumah kita. Semasa hidup, kita duduk gagah di kursi direktur utama di kantor kita. Saat meninggal, tak ada yang setuju kita didudukkan di kursi manapun di kantor kita.”

Kondisi seperti ini, bisa dikategorikan sebagai usaha “menjaring angin” tetapi dalam konotasi yang lebih luas dan bijak. Kita begitu dihargai semasa hidup, tapi tak seorangpun dari pendukung kita yang bersedia ruang tamunya sebagai tempat untuk menaruh jenazah kita selama-lamanya. Bahkan yang lebih ekstrim lagi adalah harta kekayaan kita yang banyak tidak dapat lagi dinikmati, malahan orang lain yang menikmatinya. Mungkin juga dicuri orang lain. Dalam perspektif dunia, tentu apa yang kita dapatkan sekarang ini, harta benda, kedudukan, jabatan, uang, kemewahan, tidak akan dibawa ke dalam peti mati untuk digenggam, seperti digenggam saat kita masih hidup. Ini adalah usaha menjaring angin. Apa yang kita dapatkan selama hidup dalam bentuk benda, tidak akan dibawa bersama dengan kematian kita.

Tetapi, dari perspektif iman, apa yang kita miliki yang didapati dengan cara yang benar, akan dibawa sampai bertemu Tuhan. Apa yang dibawa? Yang dibawa adalah iman kita, sikap hidup kita di hadapan Tuhan, rasa hormat kita kepada Tuhan selama hidup. Kecantikan, kegantengan, ketenaran, kemasyhuran dan sebagainya, hanyalah tinggal kenangan. Bagi mereka yang telah berbuat baik, kenangan tentang mereka akan menjadi pelajaran hidup.

Melihat kondisi hidup yang dijalani manusia, Raja Salomo berucap: “Segenggam ketenangan lebih baik dari pada dua genggam jerih payah dan usaha menjaring angin” (Pengkhotbah 4:6). Hidup perlu ketenangan—ketenangan dalam berusaha juga dibutuhkan, ketimbang bernafsu ingin mendapatkan dan menghalalkan segala sesuatu. Iri hati lahir dari motivasi yang tidak baik. Hawa nafsunya menguasai untuk mempertontonkan kebenciannya (ketidaksukaannya) kepada orang lain.

Manusia bekerja untuk mendapatkan ketenangan. Ketenangan didapatkan dari hasil pekerjaan, memuaskan. Bekerja memiliki tujuan. Bekerja dengan cara asal bekerja adalah wujud dari usaha menjaring angin. Tak ada hasil. Kalau pun ada, tidak bertahan lama. Jerih payah demi jerih payah, membawa seseorang untuk tidak mendapatkan apa-apa; itu adalah usaha menjaring angin.

Kondisi-kondisi kehidupan manusia yang beragam, seringkali menimbulkan dampak-dampak negatif. Persaingan demi persaingan muncul untuk menunjukkan eksistensi masing-masing. Setiap orang membuat tariannya sendiri. Menciptakan warna musiknya sendiri. Menciptakan jaringnya sendiri. Mengundang penonton dengan caranya sendiri, dan menciptakan alat musiknya sendiri, mendapatkan segala sesuatu yang diinginkan hatinya. Perjuangan tak kenal lelah berujung penyesalan dan air mata. Perjuangan tak kenal lelah berujung pada kebencian dan iri hati kepada sesamanya: “ini adalah usaha menjaring angin.”

Raja Salomo pun mengungkapkan: “Dan aku melihat bahwa segala jerih payah dan segala kecakapan dalam pekerjaan adalah iri hati seseorang terhadap yang lain. Inipun kesia-siaan dan usaha menjaring angin” (Pengkhotbah 4:4). Jerih payah dan segala kecakapan adalah iri hati seorang terhadap yang lain dibuktikan dari cara seseorang bekerja untuk mendapatkan sesuatu. Kebencian menimbulkan permusuhan dalam bekerja. Kecapakan-kecakapan palsu dapat muncul ketika iri hati seseorang terhadap yang lain begitu kuat. Penipuan-penipuan pun turut serta dalam kancah ini. Jerih payah berbungkus iri hati tampak dalam pekerjaan seseorang yang lebih banyak berkata-kata dari pada menggerakkan tangan, kaki, dan otak. Mulutnya lebih banyak berbicara hal-hal yang tidak penting, ketimbang memikirkan tujuan hidup dan menghasilkan sesuatu yang bermanfaat bagi dirinya, sesamanya, dan keluarganya.

Kebencian dan iri hati adalah usaha menjaring angin. Mereka yang lebih banyak membenci dan iri hati tak akan pernah maju dalam bekerja. Alasannya sederhana: mereka terlalu sibuk membicarakan orang lain, sehingga mengabaikan pekerjaannya sendiri. Menjaring angin bukanlah tujuan hidup kita. Kita perlu menjaring, tetapi yang dijaring adalah “hasil” dari pekerjaan kita. Pekerjaan harus dikerjakan dengan kredibilitas, integritas, dan sikap hidup yang takut akan Tuhan. Mereka yang tidak takut akan Tuhan bisa menunjukkan kredibilitas dan integritas, tetapi sikap hidupnya akan menjerumuskannya ke dalam berbagai kemunafikan, penipuan, kerusakan moral, kerusakan relasi, dan kerusakan pikirannya.

Mereka yang takut akan Tuhan, bisa saja menjaring angin. Artinya apa yang mereka upayakan tidak berbuahkan hasil, gagal panen, dan lain sebagainya. Namun, perjuangan mereka tidak berakhir sampai di situ. Mereka bangkit dan terus menunjukkan tiga eksistensi: eksistensi diri mereka (kekuatan); eksistensi kebaikan mereka; dan eksistensi komitmen untuk tetap takut akan Tuhan.

Marilah kita mencermati hidup ini dan menilai apakah yang kita kerjakan akan menghasilkan “angin”? Ataukah kita perlu menambahkan bijaksana dengan memintannya kepada Tuhan? Nilailah diri kita sebelum kita menilai orang lain. Sebab prinsip “nilai-menilai” bukan hanya ada pada kita, tetapi ada juga pada orang lain. Inti dari semua yang dikerjakan dalam hidup ini adalah seperti yang ditegaskan Raja Salomo bahwa:

“Akhir kata dari segala yang didengar ialah: takutlah akan Allah dan berpeganglah pada perintah-perintah-Nya, karena ini adalah kewajiban setiap orang. Karena Allah akan membawa setiap perbuatan ke pengadilan yang berlaku atas segala sesuatu yang tersembunyi, entah itu baik, entah itu jahat (Pengkhotbah 12:13-14)

Takut akan Tuhan mendatangkan kehidupan dan ketenteraman (Ams. 14:26), mendatangkan kekudusan dan kesucian (Mzm. 19:10). Mereka yang takut akan Tuhan akan dipelihara Tuhan (Mzm. 25:12) dan memiliki akal budi yang baik (Mzm. 111:10). Mereka yang takut akan Tuhan tidak mempublikasikan iri hati; mereka membenci kejahatan, kesombongan, kecongkakan, tingkah laku yang jahat, dan mulut penuh tipu muslihat. Mereka yang takut akan Tuhan, akan mendapatkan kehidupan yang kekal (Ams. 10:27). Mereka yang takut akan Tuhan adalah orang yang jujur (Ams. 14:2). Takut akan TUHAN adalah sumber kehidupan, sehingga orang terhindar dari jerat maut (Ams. 14:27). Takut akan Tuhan menghilangkan kecemasan (Ams. 15:16). Mereka yang takut akan TUHAN menjauhi kejahatan (Ams. 16:6), dan mereka yang rendah hati dan takut akan TUHAN mendapatkan upah kekayaan, kehormatan dan kehidupan (Ams. 22:4).

Bijaklah dalam bertindak dan berpikir. Buanglah iri hati dan kebencian. Ingatlah bahwa Tuhan tetap berpihak kepada orang-orang benar, kepada mereka yang takut akan Dia, dan kepada mereka yang menjalankan kehendak-Nya. Usaha menjaring angin bukanlah tujuan hidup kita. Tugas kita adalah terus berusaha untuk melakukan pekerjaan yang baik, suatu usaha yang disertai dengan bijaksana, agar dapat mendatangkan kebaikan dan kepuasan bagi hidup kita sendiri. Mereka yang puas dengan hidup ini adalah mereka yang bersyukur dan mengandalkan Tuhan setiap hari. Tuhan telah memberikan pengetahuan tentang hidup kepada kita melalui serentetan kejadian di mana di dalamnya juga terkandung kebaikan dan kemurahan-Nya yang patut disyukuri dan diwartakan.

Salam Bae…

MENJADI PELAKU FIRMAN

Peran Diktum, Perilaku, dan Logika dalam Mewujudkan Iman yang Seimbang

Sumber gambar: https://unsplash.com/photos/PGnqT0rXWLs (Helena Lopes@wildlittlethingsphoto)

Kekristenan bertumbuh dan berkembang didasari pada beberapa aspek penting. Aspek-aspek penting tersebut membentuk karakter dan iman menjadi semakin hari semakin menarik dan mantap. Orang Kristen yang sesungguhnya (percaya kepada Tuhan Yesus) menampakkan pola hidup yang selaras dengan prinsip-prinsip Alkitab. Alkitab mengatur, mengarahkan, mengontrol, menguasai, dan memerintah dalam totalitas hidup orang percaya.

Aspek-aspek yang telah membentuk karakter dan iman Kristen terdiri atas diktum (ucapan), perilaku, dan logika (cara berpikir). Ketiganya disatukan untuk menyatakan bahwa seorang Kristen adalah “Pelaku Firman”. Prinsip menjadi pelaku firman adalah sebuah keharusan yang secara substansial selaras dengan apa yang dikehendaki Tuhan. Pasalnya, perintah-perintah, titah-titah, peraturan-peraturan, dan hukum-hukum yang ditetapkan Tuhan, harus dilaksanakan dan diatati. Ketika orang Kristen melakukan itu semua, maka ia dapat dikategorikan sebagai “pelaku firman”.

Menjadi pelaku firman tentu tidaklah mudah. Ada cukup alasan bagi orang Kristen untuk tidak menjadi pelaku firman. Di antaranya adalah karena kurangnya pengetahuan tentang Alkitab, kurangnya persekutuan dengan saudara-saudara seiman, kurangnya relasi dengan sesama orang percaya, dan adanya tekanan perilaku duniawi yang menyita banyak waktu, sehingga memikirkan pelayanan, ibadah, persekutuan, doa, merenungkan Alkitab, menjadi semakin sulit, dan bahkan diabaikan. Singkatnya, lebih penting mengurus hal-hal duniawi ketimbang mengurus hal-hal surgawi.

Alangkah indahnya menjadi pelaku firman. Menjadi pelaku firman berarti memiliki komitmen. Akan tetapi, tentu ada tantangan, godaan dan hambatan. Kadang, ketika seseorang baru memulai melakukannya, godaan dan hambatan datang silih berganti. Alih-alih ingin menjadi pelaku firman yang baik, tetapi justru terjebak dalam kolam duniawi.

Dalam melihat tipe orang Kristen terkait dengan kehidupannya sehari-hari, menurut pengamatan saya terdapat lima kelompok.

Kelompok pertama adalah mereka yang hidup biasa-biasa saja. Tak ada angin, tak ada hujan, mereka hidup seolah-olah tahu tentang Tuhan tetapi lupa melakukan firman-Nya.

Kelompok kedua adalah mereka yang hidup separuh hati dan jiwa. Kadang ibadah kadang tidak. Mereka mengikuti arah angin. Mereka selalu ikut-ikutan. Tergantung “mood” (suasana hati). Kristen model ini sangat bergantung pada situasi dan kondisi. Dalam melayani atau beribadah pun tergantung pada orang lain dan kondisi.

Kelompok ketiga adalah mereka yang benar-benar malas. Semuanya serba malas. Tidak pernah merasakan dan menghayati hidup ini sebagai anugerah dari Tuhan. Bagi mereka selama masih ada waktu untuk bermalas-malasan, maka harus dipergunakan sebaik mungkin. Kristen jenis ini sulit bertumbuh dalam iman. Ada cukup alasan yang dibuat untuk menolak beribadah, berdoa, dan sebagainya.

Kelompok keempat adalah mereka yang rohaninya berlapis. Maksudnya, mereka memang tampak rohani di luar, tetapi perilaku (afektif), tutur kata (diktum), dan cara berpikir (logika) mereka tidaklah sama sekali mencerminkan prinsip-prinsip Alkitab (berlapis antara yang baik dan buruk).

Dari mulut mereka keluar pujian dan kata-kata rohani dan dari mulut yang sama keluar kutuk, caci maki, penghinaan, kata-kata kotor, fitnah, sumpah serapah. Mulut mereka penuh kemunafikan. Mereka melapisi keburukan dengan kerohanian. Mereka lihai merangkai kata untuk mengelabui orang lain. Dan tak lupa pula, mulut mereka penuh ancaman ketika apa yang terjadi tidak sesuai dengan harapan. Kelompok ini cukup banyak berdomisili di gereja-gereja dan pelakunya terdiri dari berbagai tingkatan. Tingkat bawah adalah jemaat biasa, tingkat menengah adalah para majelis atau pengerja gereja, dan tingkat atas adalah para pendeta.

Kelompok kelima adalah mereka yang murni, tulus hatinya, tidak munafik dan justru menonjolkan sikap sabar dan mengasihi musuh-musuhnya. Antara diktum, perilaku, dan logika seimbang. Mereka menjaga keseimbangan perkataan, sikap, dan pemikiran. Dari mereka lahir berbagai karya yang memberkati orang lain.

Mereka dikagumi karena kesalehan, ketulusan, kesabaran, dan kasih mereka. Mereka inilah para pelaku firman yang sesungguhnya. Melakukannya tanpa ada tendensi untuk dibayar terutama dibayar untuk mencaci maki, merendahkan, menghina, memprovokasi orang lain. Kalau yang rohaninya berlapis, mereka siap dibayar meski harus menjual harga diri dan identitas.

Orang yang murni dan tulus hatinya menampilkan gaya hidup yang dapat diteladani. Warisan-warisan karya dan iman mereka menjadi rebutan banyak orang. Merekalah para pelaku firman yang sesungguhnya. Peran diktum sangat mencerminkan keindahan hati dan pemikiran mereka. Perilaku mereka sangat menonjol siap dijadikan teladan. Logika atau cara berpikir mereka menghadirkan damai sejahtera, bersifat menguatkan dan mengarahkan.

Menjadi pelaku firman adalah tugas kita semua. Setiap kita ditempa oleh-Nya dan kemudian dituntun untuk mengikuti firman-Nya, menghadirkan kasih, damai, dan pengampunan; menjembatani dua tebing perbedaan agar menjadi satu dalam ikatan damai sejahtera.

Kita perlu melatih bagaimana menerapkan diktum yang baik dan berbobot. Jika sudah terlatih, maka latihlah orang lain untuk melakukan hal yang sama. Perilaku kita bersumber dari pengetahuan kita tentang firman Tuhan. Kita berkata-kata karena kita memiliki pengetahuan. Di sini, keseimbagan antara berkata-kata dan berperilaku menjadi seimbang.

Akhirnya, peran logika haruslah menandai sebuah kesinambungan atau korelasi antara iman dan perbuatan. Cara berpikir kita perlu membaca konteks kehidupan. Kita dapat menawarkan “kue-kue kehidupan” di setiap konteks kehidupan, kapan pun dan di mana pun.

Sudahkah kita menjadi pelaku firman? Jika sudah, kembangkanlah terus kualitas diktum, perilaku, dan logika. Jangan berhenti, jangan merasa puas dengan apa yang telah dicapai dan dilakukan selama ini. Berbuat baik tak ada habisnya. Dengan demikian, layaklah kita mengikuti pernayataan Rasul Paulus bahwa: “Kasih tidak berkesudahan”.

Salam Bae…

KONFLIK KEMANUSIAAN

Refleksi Kejadian 27:41-28:9

Sumber gambar: https://unsplash.com/photos/GdTKZmz7LU8 (Sai Balaji Varma Gadhiraju@saivarma2000)

Konflik yang sering terjadi dalam relasi hayati humanitas disebabkan oleh faktor-faktor internal dan eksternal. Konflik dengan sesama kita (sahabat, keluarga, rekan kerja) sebagaimana yang sering kita lihat, bahkan kita alami berawal dari sebuah relasi yang ternodai (rusak) akibat dari hal-hal yang substansial maupun yang non-substansial. Hal-hal tersebut terjadi karena adanya pelanggaran, penipuan, atau kompromi, sehingga akibatnya, relasi menjadi rusak dan menimbulkan konflik berkelanjutan. Perasaan kemanusiaan kita juga turut terluka karena relasi yang rusak itu. Kondisi inilah yang terjadi antara Esau dan Yakub.

Kejadian 27 dan 28 menceritakan tentang konteks yang sedang dibicarakan. Dari konteks ini, saya mencatat dua sikap yang mencederai kemanusiaan—singkatnya, mencederai relasi humanitas, yang digambarkan dalam sebuah peristiwa dari keluarga Ishak dan Ribka.

Pertama, menipu. Sesuai konteksnya (pasal 27), Ribka memanipulasi olahan makanan enak buat suaminya, supaya Yakub, diberkati oleh Ishak (27:5-11). Ribka merancang penipuan agar Yakub diberkati oleh Ishak. Dengan jaminan masakan enak olahan Ribka, Yakub pasti akan diberkati oleh Ishak, ayahnya. Akibat dari rancangan penipuan oleh Ribka, Yakub pun ikut menipu bapaknya dengan menggunakan nama Tuhan (ay. 20). Kadang menipu atas nama Tuhan dianggap sebagai senjata yang ampuh untuk membuat orang lain percaya dengan perkataan kita. Padahal, tindakan itu merupakan tindakan yang berdosa.

Pengaruh dari penipuan adalah orang yang tertipu mengalami kepedihan hati. Kepedihan hati akan melahirkan dendam membara. Esau meraung-raung setelah mendengar bahwa Yakub telah mengambil berkat yang seharusnya dia terima (27:30-34). Pengaruh penipuan juga membuat orang tertipu itu menangis karena kecewa ia telah tertipu. Esau menangis karena kesal dan marah terhadap Yakub (27:38). Menangis mengimplikasikan tiga hal: (1) menangis karena terharu; (2) menangis karena kesakitan (tubuh); (3) menangis karena sakit hati (kondisi/keadaan), akibat ditipu, dikecewakan, dan sebagainya. Esau tentu menangis karena sakit hati.

Kedua, dendam. Esau menaruh dendam kepada Yakub. Dendam bisa berlanjut kepada “pembunuhan”. Itulah yang direncanakan Esau terhadap Yakub (ay. 41). Pada faktanya, karena penipuan, orang kemudian menaruh dendam dan ingin membalaskan dendamnya dengan berbagai cara, dan “membunuh” adalah salah satu cara yang sering dilakukan. Mungkin kita pernah mendendam kepada orang lain yang pernah menyakiti hati kita, bahkan merobek-robek harga diri kita. Dan hingga sekarang mungkin masih mendendam. Buanglah dendam itu. Kita hanya menyimpan “sampah hati” dan akan membusukkan hidup kita.

Seorang pastor berkhotbah: “Kita semua mempunyai musuh dalam hidup ini”. Lalu seorang pendengar berdiri dan hendak protes. “Pak pastor, saya ini tidak punya musuh”. Mengapa bisa begitu? Tanya pastor keheranan. Jawabnya: “Semua musuh saya sudah mati, jadi saya tidak punya musuh lagi.” Ya, benar, kalaupun musuh kita sudah mati, ada satu musuh lagi yang harus ditaklukkan yaitu “diri kita sendiri”. Sudahkah kita melihat diri kita dan menilai apakah kita pernah menipu dan berencana membunuh orang lain? Segera memohon ampun kepada Tuhan. Atau masihkah kita mau menipu orang lain dan menaruh dendam kepada mereka yang telah menyakiti kita? Semua itu harus ditanggalkan. Nikmati hidup baru bersama Tuhan, niscaya kebahagiaan yang sejati akan dirasakan sepanjang hayat.

Jangan sampai kita menjadi pencetus konflik kemanusiaan sebagaimana yang terjadi dalam keluarga Ishak: Esau menaruh dendam kepada Yakub karena Yakub telah menipunya (hasil dari ide ibunya sendiri). Baik menipu dan mendendam bukanlah perilaku yang harus kita lakukan, sebaliknya menipu dan mendendam hendaklah dibuang jauh-jauh dari hidup kita, dan biarkan Tuhan yang melakukan apa yang dikehendaki-Nya agar kita dapat menikmati kasih dan kemurahan-Nya. Ketika kita mau hidup dalam kekudusan, menjauhkan segala prasangka buruk terhadap orang lain, Tuhan akan membalasnya dengan cara-Nya yang ajaib. Tuhan kiranya memberkati, menopang, dan menyertai kita semua dalam melakukan kehendak-Nya dalam totalitas hayati kita.


Shalom. Salam Bae

MEMBANGUN KARAKTER

Secara faktual, setiap orang mewakili karakter yang ada dalam dirinya sendiri. Seseorang tidak mewakili karakter orang lain. Lain orang lain karakter. Imbasnya, setiap orang bertanggung jawab atas karakter yang dimilikinya. Melihat fakta dalam kehidupan Kristen, seringkali kita disuguhkan atau dipertontonkan dengan berbagai macam karakter. Di gereja misalnya; para jemaat akan dengan mudah melihat dan mengasesmen karakter pendetanya atau gembala jemaatnya. Pendeta/Gembala Jemaat yang baik akan dipuji dan diteladani. Tak lupa pula, jemaat siap mempublikasikan dan mengkomunikasikan kepada orang lain. Maklum, itu kan pendeta/gembala jemaat yang diidolakan.

Tetapi, ada pilihan lain yang tak kalah pentingnya. Pendeta/Gembala Jemaat yang tidak baik akan direndahkan, ditinggalkan, dan dihina. Apa alasannya? Sudah jelas bahwa pendeta/gembala jemaat model demikian tak layak dipuji atau diteladani. Apalagi sehari-harinya hanya sibuk mengurusi orang lain yang dia anggap bahwa dialah yang suci dan tak berdosa. Jemaat akan dengan sangat mudah melihat gelagat sang pendeta/gembala jemaat. Mereka adalah “juri” dalam perlombaan pertunjukan karakter. Namun, satu hal tak boleh dilupakan bahwa pendeta/gembala jemaat juga dapat mengasesmen jemaatnya. Bedanya, jemaat tersebut harus dikonselingkan dan ditegur, dididik, dibina, dan dirangkul, sedangkan pendeta yang bermulut “ember” dan berkarakter buruk akan segera ditinggalkan.

Fenomena ini mencuat ke permukaan di mana berbagai akses teknologi dengan mudah untuk segera mempublikasikan atau mengetahui gerak gerik pendeta maupun jemaat. Ada pendeta yang selalu mempublikasikan dirinya sendiri ketika hendak berkhotbah atau melayani. Ada pula jemaat yang ber”selfie ria” di dalam gereja. Tidak hanya saat sebelum ibadah, tetapi ketika ibadah sedang berlangsung pun ikut ber”selfie ria”. Aneh tapi nyata. Nyata tapi lucu. Itulah carut marut karakter pendeta dan jemaatnya. Masing-masing mempublikasikan diri sendiri dalam konteks ibadah. Bukankah harusnya Tuhan dan cinta kasihNya yang dipublikasikan?

Tidak ada salahnya ketika seseorang mempublikasikan pelayanannya. Bukankah itu adalah dorongan bagi orang lain untuk melayani Tuhan juga? Benar. Di satu sisi ketika seseorang mempublikasikan pelayanannya maka orang lain dapat terhibur, termotivasi, dan terinspirasi untuk melakukan hal yang sama meski di tempat yang berbeda. Tentu ini sangat bermanfaat dan memberikban pengaruh yang luar biasa. Di sisi lain, ada orang yang mempublikasikan pelayanannya dengan tujuan supaya mendapat pujian. Jadinya ia menjadi “besar kepala”. Syukur jika tidak demikian. Tetapi mengingat media sosial menjadi ajang berbagai informasi, berbagi cerita, ajang adu pamer dan adu keunggulan maka baik pendeta dan jemaat juga tak mau ketinggalan. Kesempatan harus dimanfaatkan. Tetapi apakah karakter kita dapat terbangun dengan cara demikian?

Ada orang yang saat melayani tak tertarik untuk mempublikasikan pelayanannya seperti yang dilakukan oleh yang lain sampai meluap-luap. Sedangkan ada pula orang yang senang berbagi cerita tentang pelayanannya dan memberkati banyak orang. Lain pula dengan mereka yang hanya pamer pelayanan dan berharap mendapatkan pujian. Sudah pasti itu. Tetapi motivasinya kurang mantap. Karakter seseorang dapat terbangun bukan melalui publikasi personal dengan tujuan tertentu tetapi terbangun dengan publikasi oleh dan dari orang lain, orang yang meneladaninya.

Pada kasus tertentu, ada orang yang hanya mempublikasikan kebodohan dan keburukan moralitas. Mulutnya menjadi “besar” tatkala yang dibicarakan dan dipublikasikan adalah orang lain yang dijelek-jelekkan sedangkan otaknya mengecil. Perangainya terlihat jelas bahwa memang otaknya yang kecil terisi dengan hal-hal negatif dan berharap dialah yang tersuci dan terkudus seantero bumi. Apalagi jika orang model begini berstatus pendeta.

Celakanya, memang pendetalah yang sering mempertontonkan kebodohan dan keburukan moralitasnya. Yang dia pikir adalah bagaimana menghina orang dan jemaatnya menjadi penonton setia. Jemaat berkata: “Apa tidak salah dengan pendeta kami? Bukankah dia sering berkhotbah di kebaktian minggu dan kebaktian lainnya? Apakah pendeta kami masih waras dan sehat sedangkan ucapan mulutnya penuh sumpah serapah dan caci maki? Apa bedanya mulutnya dengan kloset? Gawat kalau begini terus pendeta kami. Sebaiknya kita pikirkan bagaimana jalan keluarnya. Semoga Tuhan menghukumnya.” Mungkin seperti itulah curahan hati para jemaat dari berbagai tingkatan umur.

Karakter seseorang adalah surat terbuka. Setiap orang akan dengan mudah mencari alamat sang karakter sebab dari totalitas hidupnya sangat terlihat jelas kebaikan, kesantunan, kemurahan, dan kehangatan kasihnya. Membangun karakter adalah tindakan bijaksana dan memberi dampak yang luar biasa. Membangun karakter berarti kita memberi diri untuk belajar; belajar dari pengalaman, belajar dari orang lain, belajar dari Tuhan melalui firmanNya.

Karakter yang terbangun tampak dari beberapa hal berikut ini:

Pertama. Berjuang untuk terus membangun diri dalam hal kata, pikiran dan perbuatan selaras dengan kehendak Tuhan.

Kedua. Berjuang untuk terus mendorong dan menolong orang lain agar menemukan kebahagiaan.

Ketiga. Berjuang menjadi teladan dan panutan bagi orang lain. Pengaruh yang ditampilkan di depan umum adalah karakter yang solid dan mantap.

Keempat. Berjuang mewujudkan cinta kasih dan damai sejahtera di mana pun ia berada. Dengan cinta kasih dan damai sejahtera yang ditaburkan di lahan-lahan hati sesama, akan tercipta kerukunan dan rasa saling menghormati dan menghargai. Dengan demikian, kebencian dan caci maki reda dengan sendirinya.

Kelima. Berjuang melayani Tuhan dalam berbagai bidang kehidupan dan pekerjaan. Dengan bekerja yang baik kita menampilkan sosok yang pemurah dan kredibel. Dengan melayani kita menunjukkan kesetiaan dan ketaatan kita kepada Sang Khalik.

Keenam. Berjuang mempertahankan hidup dengan cara-cara yang sesuai prosedur. Mendapatkan keuntungan dari kerja keras menuntun seseorang menemukan kebahagiaan yang sejati. Mereka yang meraup dan mencari keuntungan dari cara-cara yang licik dan saling memperalat akan terjatuh ke dalam berbagai-bagai duka.

Ketujuh. Berjuang untuk berusaha mewariskan sesuatu yang bernilai tinggi kepada generasi berikutnya. Karakter seseorang yang baik mewajibkan dirinya untuk mewariskan sesuatu. Sebab dengan warisan yang bernilai tinggilah kita mendapatkan penghargaan yang tak ternilai harganya.

Membangun karakter ibarat menaiki anak-anak tangga. Proseslah yang akan membentuk seseorang hingga menjadi pribadi yang kuat dan solid. Kepadanya layak disematkan piagam penghargaan hidup yang dengan tulus dan rendah hati serta penuh kemurahan membangun diri sendiri dan orang lain. Para jemaat harus meneladani pendetanya dan pendeta juga perlu meneladani Tuhannya. Pendeta yang bermulut sampah layak ditinggalkan sedangkan pendeta yang bermulut pemurah layak diteladani. Karakterlah yang menentukan seperti apa diri kita yang sebenarnya. Dan seorang yang berkarakter baik dan solid, lihat pula sahabat-sahabatnya.

Mereka yang telah membangun karakter pasti memiliki sahabat-sahabat yang berkarakter sama. Pendeta yang berkarakter buruk, lihatlah pula sahabat-sahabatnya. Dari sahabat-sahabatnyalah kita dapat menilai seperti apa pendeta kita. Akhirnya, marilah membangun karakter sejak dini dan nantikanlah hasilnya di kemudian hari. Hanya mereka yang berhasil membangun karakter yang akan disebut berbahagia, sebab merekalah pelaku-pelaku firman Tuhan.

Salam Bae….

Sumber gambar: https://www.patientcentra.com/patient-recruitment-insights/recruiting-patients-for-alzheimers-clinical-trials

BERPIKIR MELAWAN ARUS

Komitmen Melayani Tuhan

Sumber gambar: https://id.pinterest.com/pin/73887250120994600/

Kondisi kehidupan manusia seringkali menjadi alasan mengapa seseorang bisa tetap bertahan untuk mencintai kondisi tersebut, atau sebaliknya, seseorang justru meninggalkan kondisi yang bisa menyenangkannya seumur hidupnya. Dalam banyak kasus, ketika kondisi ‘kekayaan’ dirasa dapat memberikan nilai lebih bagi dirinya atau orang yang dikasihinya, maka ia bisa menetapkan untuk berpegang teguh pada kondisi tersebut. Artinya, kekayaan dapat mengikat seseorang untuk tetap setia kepada apa yang dikerjakannya.

Bertolak belakang dengan hal tersebut, ada pula orang yang berpikir melawan arus—berpikir sebaliknya—rela meninggalkan zona nyaman yang ia rasa dapat memberikan kesejahteraan lebih. Zona di mana ia nyaman dengan segala yang ia dapati: jabatan, kedudukan, gaji, dan sebagainya. Ini adalah kejadian yang langka. Seorang dengan gaji 1 milyar per tahun, rela meninggalkan pekerjaannya untuk tujuan yang lain—sebuah tujuan yang berlawanan dengan pola pikir kebanyakan orang. Ia memilih melayani Tuhan meski dengan gaji yang kecil. Tak mengapa, karena baginya, ia dapat berbagi dengan sesama dan menyenangkan hati Tuhan.

Berpikir melawan arus tidak hanya terjadi pada kondisi pekerjaan seseorang. Konteks ini dapat terjadi pula dalam bidang-bidang yang lain. Ketika seseorang (atau sekelompok orang) sibuk mempergunjingkan orang lain maka jangan berharap dapat menghasilkan karya-karya yang bermanfaat. Jika tindakan tersebut dipelihara, justru malah dapat berpotensi mengerami kejahatan, kesombongan, dan kebencian yang siap menetas untuk bereksistensi melawan kebenaran dan kebajikan. Hasilnya adalah menetaskan pertikaian, perselisihan, perkelahian, kematian, dan caci maki tiada tara. Bahkan ia (mereka) hidup dalam kandang keberdosaan yang begitu kotor.

Pokok pelayanan Kristen tidaklah mengizinkan orang-orang yang bertelur kesombongan, kejahatan, dan kebencian untuk hidup bersama dengan orang-orang percaya. Mereka tidak termasuk dalam “gereja” yang mana di dalamnya adalah orang-orang yang telah ditebus dan rela meninggalkan keduniawian mereka. Kedamaian ada pada mereka. Tak mungkin Tuhan memberikan damai kepada mereka yang bermulut sampah, kotor, najis, dan suka mencaci. Tak ada harapan pada bibir mulut penuh sumpah serapah.

Pelayanan Kristen adalah pelayanan yang penuh tantangan sekaligus mengaharuskan penyangkalan diri, pelepasan kebebasan diri yang liar dan mau dibentuk oleh Tuhan menjadi pribadi yang mendatangkan sukacita dan berkat bagi sesamanya. Pelayan Kristen adalah mereka yang kesehariannya memuji Tuhan, bukan memuji manusia pendusta dan najis. Pelayan Kristen adalah mereka yang kesehariannya membicarakan kasih dan kuasa Tuhan, serta kebaikan-Nya.

Tuhan terlalu agung dan baik bagi mereka yang mengasihi-Nya. Tuhan Tuhan terlalu rendah bagi mereka yang meninggikan dirinya dan memegahkan diri. Tuhan terlalu aneh bagi mereka yang merasa hebat dan memiliki segalanya. Tuhan begitu hebat dan penuh kasih bagi pelayan yang setia.

Pelayanan Kristen adalah pengorbanan. Apa yang dikorbankan bukanlah untuk kehebatan diri, bukanlah untuk kemasyhuran diri, dan bukanlah menambahkan kemuliaan diri, melainkan berkorban supaya nama Tuhan dimuliakan. Mereka yang meninggalkan zona nyaman dan bertaruh hidup di ladang Tuhan, berlomba untuk menyenangkan hati Tuhan; mereka menabung (mengumpulkan) karya-karya bernilai kekal. Pelayanan Kristen berorientasi pada kekekalan. Apa yang mereka cari? Tentu bukan harta, melainkan jiwa baru yang dibawa kepada Tuhan. Apa yang mereka dapatkan? Tentu bukan harta kekayaan, melainkan semangat memberitakan Injil untuk terus menyuarakan kebenaran bahwa Yesus Kristus adalah Juruselamat dunia. Segala sesuatu yang mereka terima, semuanya adalah anugerah dan kemurahan Tuhan.

Tak ada yang mereka banggakan untuk dipamerkan. Mereka yang selalu menuduh dan curiga kepada orang-orang yang tulus melayani Tuhan sebenarnya memupuk iri hati yang berlebihan. Mereka pikir bahwa apa yang mereka pikir tentu benar, padahal tidaklah demikian. Meski tantangan dan hambatan datang pada mereka yang melayani Tuhan dengan tulus hati, mereka tetap maju dan semangat. Tuhan menjaga sahabat-sahabat-Nya, menjaga mereka yang taat dan setia kepada-Nya. Mereka yang sibuk dengan kegiatan-kegiatan duniawi, pastilah tidak memiliki waktu membicarakan kebaikan Tuhan; mereka terbuang dari hadapan Tuhan. Tetapi kita yang menetapkan diri untuk melayani Tuhan meski tantangannya berat, tak usah berkecil hati sebab Ia yang menjanjikannya adalah setia. Ia setia bukan sekadar setia, tetapi melindungi mereka yang tulus dan percaya kepada-Nya.

Pengorbanan yang telah dinyatakan sebagai bagian dari berpikir melawan arus, tentu akan berbuahkan hasil. Komitmen untuk setia kepada Tuhan bukan hanya di saat hidup serba ada, serba berlimpah, tetapi di saat hidup berkekurangan, mengalami tantangan dan hambatan. Para pelayan Tuhan dengan serta merta akan tahu bahwa Tuhan tidak pernah meninggalkan mereka; Tuhan tidak pernah berdusta akan janji-Nya. Ia begitu luar biasa melawat umat-Nya. Sekali Ia bertindak, dunia gemetar. Sekali Ia murka, para pendusta dan peleter serta penabur kebencian, akan tumbang, bertekuk lutut, atau bahkan terlempar dari muka bumi ini.

Para pelayan Tuhan tahu bahwa bukan kehendak mereka yang terjadi, melainkan kehendak Tuhan saja. Berpikir melawan arus adalah komitmen para pelayan Tuhan untuk melayani-Nya dengan sepenuh hati. Mereka bangga tatkala mereka melayani.

Sungguh, Tuhan itu luar biasa. Ia tahu bahwa mereka yang berpikir melawan arus—berpikir untuk meninggalkan zona nyaman demi pelayan dan kesempatan mengajar orang lain—adalah mereka yang siap diberkati secara luar biasa. Mereka, meski menabur dengan mencucurkan air mata, akan menuai dengan bersorak-sorai. Mereka yang berjalan maju dengan menangis sambil menabur benih kebenaran Tuhan, pasti pulang dengan sorak-sorai sambil membawa berkas-berkasnya (Mazmur 126:5-6).

Adakah kita ragu melayani Tuhan? Pastikan pilihan hidupmu untuk melayani Tuhan adalah sebuah komitmen yang teguh. Yakinlah bahwa Tuhan itu memperhatikan, memberkati, menyertai, dan menopang orang-orang pilihan-Nya, yang setia melayani di mana saja Ia utus. Melakukan kehendak-Nya adalah bagian yang tak terpisahkan dari iman kita. Apa yang kita terima dari Sang Khalik seyogianya dibagikan kepada sesama. Kita dipanggil oleh-Nya untuk melayani dengang setia dan melakukan apa yang berkenan kepada-Nya, sampai akhir hayat.

Shalom. Tuhan Yesus memberkati kita semua.

Salam Bae

ANTROPOLOGI SOSIAL AGAMA

Sumber gambar: https://www.behance.net/gallery/53935173/Diversity-Illustration (Diversity Illustration Hope McConnell)

Jiwa agama dan sosiologi di Indonesia kurang lebih merepresentasikan pernyataan Karl Marx bahwa “agama adalah candu bagi masyarakat.” Pernyataan Marx memiliki dua implikasi: pertama, implikasi positif. Artinya, ketika masyarakat mengalami penindasan, tidak mendapat perlakukan yang layak dari dunia (pemerintah), kehilangan perasaan hidup, maka agama menjadi penyembuh luka-luka batin dan menawarkan kedamaian dan kesabaran. Masyarakat menjadi nyaman ketika agama berhasil men-”candu”-i mereka; kedua, implikasi negatif. Misalnya ketika masyarakat memasuki pesta demokrasi, isu agama akan seketika menjadi candu yang dapat membius penganut agama tertentu untuk menyatakan sikap protes, ketidaksetujuan, dan kebencian kepada mereka yang berbeda agama dengannya. Dan itu terjadi di Indonesia.

Dalam memahami agama, kita dapat meninjau beberapa aspek: pertama, aspek pengajaran; kedua, aspek tafsiran teologis; ketiga, aspek fenomenologis; keempat; aspek relasional; kelima; aspek pemahaman; keenam, aspek ritual; ketujuh, aspek cita-cita. Semua aspek ini dapat terjadi dan berkembang dalam kelompok sosial.

ASPEK PENGAJARAN berbicara tentang bagaimana manusia mengimplementasikan ajaran-ajaran Kitab Suci dalam relasinya dengan Sang Pencipta dan sesamanya. Pengajaran-pengajaran agama dalam berkembang menjadi perekat sekaligus pemisah dalam konteks relasi antar agama dan sosial masyarakat yang lebih masiv.

ASPEK TAFSIRAN TEOLOGIS sering memunculkan berbagai spekulasi pemikiran yang cenderung menyesatkan. Akan tetapi, gagasan tafsiran teologis perlu dikumandangkan asalkan tidak melenceng dari maksud asli Kitab Suci. Memang sulit merealisasikannya namun hal ini sangat perlu bagi kesinambungan keimanan pemeluk agama masing-masing.

ASPEK FENOMENOLOGIS diwujudkan dalam sejumlah empiris penganut agama yang mengulang berbagai fenomena yang terjadi di masa lampau. Tetapi, ada bahaya-bahaya yang dapat muncul ke permukaan ketika perubahan beradaban agama telah begitu terbuka bagi ilmu pengetahuan dan teknologi.

ASPEK RELASIONAL adalah hal-hal praktis yang dapat dipahami secara rasional tanpa memerlukan tafsiran teologis.

ASPEK PEMAHAMAN adalah aspek dasar bagi setiap orang beragama dalam mengkaji dan mengaplikasikan ajaran-ajaran dalam Kitab Suci.

ASPEK RITUAL merupakan aplikasi dari pemahaman keagamaan yang tertuang dalam bentuk ibadah, sembahyang, doa, dan sebagainya.

ASPEK CITA-CITA adalah perwujudan harapan agama-agama akan masa depan yang lebih baik. Apa yang dilakukan di masa kini dengan berangkat pada peristiwa historis dijadikan sebagai wacana (pemikiran) bahwa ajaran-ajaran agamanya tetap menjadi prioritas iman dan pemikiran dalam membentuk manusia menjadi berkarakter baik dan relasional.

Orang yang beragama secara prinsipil memiliki beberapa kelompok. Ada yang memahami agama secara artifisial (positif dan negatif). Ada yang memahaminya secara parsial (positif dan negatif). Ada yang memahaminya secara historis—radikal. Ada yang memahaminya secara historis—teologis. Ada yang memahaminya secara historis—aplikatif. Ada yang memahaminya secara harfiah. Ada yang memahaminya secara maknawi—relasional—humanis.

Franz Magnis Suseno menjelaskan, dalam tulisannya Karl Marx menyatakan bahwa pada dasarnya manusia yang membuat agama, bukan agama yang membuat manusia. Agama adalah perealisasian hakikat manusia dalam angan-angan saja, jadi tanda bahwa manusia justru belum berhasil merealisasikan hakikatnya. Agama adalah tanda keterasingan dari dirinya sendiri. Franz Magnis Suseno, Pemikiran Karl Marx dari Sosialisme Utopis ke Perselisihan Revisioner (Jakarta: Gramedia Pustaka Utama, 2005), 72.
Berangkat dari hal-hal tersebut, antropologi sosial agama berbicara mengenai tujuh hal yakni:

Pertama, MANUSIA YANG BERSOSIAL TERIKAT DENGAN SISTEM AGAMA YANG DIANUTNYA. Aspek-aspek normatif, moralitas, iman, ibadat, dan sebagainya, semuanya diatur dalam agama itu sendiri. Terikat dalam arti bahwa manusia perlu “mengikuti” pola historis yang tertuang dalam ajaran agama itu sendiri. Sebagai makhluk sosial, manusia berkesempatan memilih agama tertentu sebagai pilihan bebasnya atau dengan cara lain, sehingga kesinambungan konsep sosial agama dapat terus dijaga dan dilestarikan serta terus menjaga dan menciptakan perdamaian di lingkungan sosialnya.

Kedua, MANUSIA MEMILIKI TANGGUNG JAWAB SOSIAL TERHADAP SESAMANYA SEBAGAI PERWUJUDAN AJARAN AGAMANYA MASING-MASING. Konteks ini kadang lebih mengedepankan aspek-aspek kesamaan paham atau ideologi ketimbang adanya perbedaan dengan paham atau ideologi yang dipercaya dalam agama tersebut. Tetapi, pada faktanya, justru seringkali perbedaan agama tidak menjadikan seseorang atau kelompok sosial untuk menutup diri dan bersifat curiga melainkan turut mengimplementasikan ajaran agamanya sebagai ajaran yang baik yang dapat diuji ketika mereka berbuat kepada orang lain meski berbeda iman.

Ketiga, MANUSIA MEMILIKI TANGGUNG JAWAB UNTUK MENYEBARKAN AJARAN AGAMANYA. Dalam banyak kasus, konflik internal maupun eksternal dalam setiap agama muncul atau diakibatkan oleh aspek ini. Konflik antar agama, antar suku, antar ras seringkali dipicu karena ada pihak-pihak tertentu yang mau menonjolkan ajaran agama mereka tanpa memikirkan dampak yang timbuk karenanya. Kasus Ahok tahun 2017 lalu telah menyita perhatian masyarakat Indonesia yang berimbas kepada generalisasi bahwa Kristen itu kafir dan layak masuk neraka. Gagasan-gagasan sepihak dan tidak dapat dipertanggungjawabkan telah merusak relasi antar agama dalam kelompok sosial. Dengannya, kita dapat bercermin bahwa meski manusia yang beragama memiliki kewajiban atau tanggung jawab dalam menyebarkan ajaran agamanya, tetapi ada konteks-konteks khusus yang perlu diperhatikan sehingga tidak menibulkan gejala-gejala kecurigaan atau gejala-gejala konflik antar agama dalam kelompok sosial.

Keempat, MANUSIA BERTANGGUNG JAWAB TERHADAP PENGEMBANGAN BUDAYA YANG TIDAK BERTENTANGAN DENGAN AGAMANYA. Agama dan budaya dapat saling berdampingan untuk membentuk manusia menjadi pribadi yang mandiri, peduli, pekerja keras, dan rohani. Budaya-budaya yang ada di masyarakat perlu mendapat perhatian khusus dan melihat (menilainya) berdasarkan kacamata agama. Yang baik diteruskan, yang buruk ditinggalkan.

Kelima, MANUSIA BERTANGGUNG JAWAB MENJAGA TATANAN LINGKUNGAN (ALAM). Agama tidak hanya melulu berhubungan dengan Tuhan tetapi juga berhubungan dengan lingkungan. Mereka yang percaya kepada Tuhan tentu tahu bahwa alam semesta diciptakan Tuhan untuk didiami manusia. Tidak hanya mendiami alam, manusia diberikan tanggung jawab untuk menjaga, merawat, dan mengola lingkungan bagi keberlangsungan hayati mereka. Tanggung jawab manusia beragama justru kadang lebih rendah dibandingkan mereka yang tidak kurang beragama atau tidak beragama (secara resmi). Itu sebabnya, antroplogi sosial agama mengidentifikasi pokok-pokok persoalan manusia ke dalam berbagai kategori sehingga manusia dapat melihat dirinya berada pada kategori yang mana. Ketika manusia bertanggung jawab terhadap lingkungan, maka hal itu membuktikan bahwa ia sadar dan peduli terhadap hidupnya sendiri dan sesamanya.

Keenam, MANUSIA BERTANGGUNG JAWAB MEMPERTAHANKAN AJARAN AGAMANYA. Sudah menjadi kewajiban penganut agama untuk mempertahankan agamanya masing-masing. Dalam konteks ini, keyakinan terhadap agamanya, menjadi sebuah pegangan hidup. Kehidupannya telah dibentuk oleh ajaran-ajaran agamanya, dan menjadi teladan dalam kata, pikiran, dan perbuatan. Ini telah menjadi sejarah bagi mereka yang telah berjuang mempraktikan ajaran-ajaran agamanya dan memberikan pengaruh yang baik bagi orang lain dan keberlangsungan hayati orang banyak.

Ketujuh, MANUSIA BERTANGGUNG JAWAB ATAS DIRINYA SENDIRI BERDASARKAN AJARAN AGAMANYA. Manusia yang telah mempercayai ajaran-ajaran agamanya, bergerak, bertindak, berpikir, dan bertanggung jawab harus sesuai dengan ajaran-ajaran itu sendiri. Potensi diri dibarengi dengan keseimbangan dan pemenuhan ajaran-ajaran agamanya. Pribadi yang baik berangkat dari konsep agama yang baik pula. Akan tetapi, konsep “baik” menurut agama yang satu, berbeda definisi dan aktualisasinya (penerapannya) dengan agama lain. Tanggung jawab pribadi terhadap agama adalah hal umum terjadi di lingkungan masyarakat.

Salam Bae

JIKA YESUS ITU TUHAN, MENGAPA DIA DISALIBKAN?

Kita perlu mengetahui bahwa dalam segala hal, dibutuhkan sebuah cara memahami (proses pemahaman) supaya apa yang diselidiki, dibaca, diimani, dan dianalisis dapat dipertanggungjawabkan. Ini adalah persoalan mendasar. Sekali lagi, untuk mengetahui segala sesuatu, kita harus memiliki memulai dengan “CARA MEMAHAMI”.

Nah, iman Kristen harus dipahami dengan menggunakan cara memahami sesuai dengan prinsip Alkitab, sehingga pertanyaan mengenai “JIKA YESUS ITU TUHAN, MENGAPA DIA DISALIBKAN?” akan dapat dipahami secara baik. Kesalahan orang memahami personalitas Yesus dikarenakan ia salah memahami. Untuk mendasari statement (pernyataan) saya, maka saya menyebutkan lima cara memahami iman Kristen. Dua di antaranya adalah memahami secara salah, dan dua cara tersebut seringkali dipakai oleh kaum Islam termasuk pertanyaan di atas.

Pertama, memahami secara FRAGMENTARIS. Memahami dengan cara ini adalah bagaimana sesorang melihat sesuatu secara terpecah-pecah (tidak utuh). Yesus mati bukan hanya sekadar mati, melainkan ada rencana sebelumnya yang ditetapkan Allah bagi penebusan manusia atas dosa-dosa mereka. Jadi, yang mati bukan “Tuhan” melainkan manusia Yesus. Rasul Paulus menegaskan bahwa “Dalam keadaan [Yesus] sebagai manusia, Ia telah merendahkan diri-Nya dan taat sampai mati, bahkan sampai mati di kayu salib” (Filipi 2:8). Lagipula tidak ada konsep “Tuhan” mati dalam iman Kristen. Misalnya, seorang bupati mati, maka yang mati tentu bukan jabatan “bupati” melainkan orang yang menjabat sebagai bupati. Kesalahan Islam memahami bahwa “Tuhan mati” tentu secar fragmentaris bukan secara komprehensif (menyeluruh). Yesus mati menebus manusia dari dosa karena manusia berdosa kepada Allah maka hanya Allah yang berhak menentukan bagaimana cara menebus manusia.

Perjanjian Lama menegaskan bagaimana ritual-ritual penebusan dosa dan salah manusia melalui pengorbanan binatang. Cara ini kemudian dipakai Allah yang lebih suprematis (lebih unggul) dari cara-cara lama sebab jika semua manusia berdosa dan mengorbankan binatang, berapa banyak binatang yang harus diperlukan. Allah yang hanya mengutus Yesus Kristus—satu untuk semua—agar manusia ditebus dari dosa dan pemberontakannya. Yang ditebus adalah mereka yang telah dipilih sejak kekekalan dan mereka yang ditebus pasti dipanggil Allah untuk menikmati anugerah keselamatan, melakukan kehendak-Nya, hidup dalam kasih dan pengampunan selama kehidupannya.

Jadi, kesalahan memahami personalitas Yesus secara fragmentaris akan menghasilkan kekeliruan dan kesesatan karena tidak memahami makna kematian Yesus. Tuhan tidak mati sebab Tuhan adalah bersifat substansi. Yang mati adalah manusia Yesus Kristus.

Lalu mengapa Dia disebut Tuhan? Kita harus memahami bahwa Yesus memiliki dua natur yaitu Ilahi dan Manusia. Yesus sebagai Tuhan harus dipahami dari apa yang diklaim atau dikerjakan-Nya. Yesus mengampuni dosa. Jika demikian maka Ia adalah Allah. Bagaimana bisa Yesus adalah Allah? Kita harus melihatnya bahwa Yesus—sebelum berinkarnasi (menjadi manusia)—Ia adalah Logos Allah yang ada sejak kekal di dalam diri Allah: “Pada mulanya Firman; Firman itu bersama-sama dengan Allah dan Firman itu adalah Allah” (Yohanes 1:1).

Dengan demikian, Yesus adalah Tuhan karena Ia telah ada sejak kekekalan; Ia adalah Logos Allah yang ada sejak kekal; Ia menjadi terbatas karena Ia menjadi manusia; Ia lahir, bertumbuh, layaknya manusia biasa. Memang Yesus menggunakan natur manusia maka semua unsur manusiawi berjalan seperti biasanya. Namun, karena Yesus adalah Logos Kekal Allah yang menjelma jadi manusia, maka kita tidak dapat memahami pribadi Yesus hanya secara fragmentaris melainkan secara utuh. Kesalahan menempatkan pemahaman kita tentang Yesus yaitu secara fragmentaris akan menghasilkan keraguan dan penolakan bahwa Yesus adalah Tuhan. Kematian Yesus harus dilihat secara “Sejarah Penebusan” Allah bagi manusia berdosa yang menjamin keselamatan dan kehidupan yang kekal. Mereka yang memahami Yesus secara utuh akan dengan mudah melihat bahwa kematian Yesus bukan berarti “Tuhan mati” melainkan kemanusiaan-Nya yang mati. “Tuhan” bukanlah bersifat fisik. “Tuhan” itu substansi dan substansi tak mungkin mati. Manusia bisa mati jasmaninya tetapi rohnya tetap ada.

Kedua, memahami secara PARSIAL. Cara memahami ini adalah mengabaikan sebagian kebenaran. Kebenaran itu utuh. Jika memahaminya secara sebagian maka hal itu akan memberi kesan bahwa pemahaman itu benar tetapi bisa menyesatkan. Pertanyaan: “JIKA YESUS ITU TUHAN, MENGAPA DIA DISALIBKAN?” bukanlah sebuah kebenaran utuh, karena mengabaikan konteks lain. Islam selalu bersikukuh menegaskan bahwa Yesus bukan Tuhan, padahal “Tuhan” menurut pemahaman mereka berbeda dengan “Tuhan” dalam pemahaman Kristen. Ini disebut sebuah sesat pikir yaitu “Straw Man” di mana seorang Islam menolak Yesus sebagai “Tuhan” (dalam sudut pandang mereka) dan berharap orang Kristen memahami seperti apa yang mereka pahami. Ini menyesatkan. Pemahaman Yesus sebagai Tuhan, berbeda dengan pemahaman “Yesus bukan Tuhan” dalam pemahaman Islam. Yesus bukan “Tuhan” benar jika dipahami dari perspektif Islam, tetapi menjadi sesat jika dipahami dari perspektif Kristen.

Jika Yesus bukan “Tuhan”, “Tuhan” seperti apa yang Islam maksudkan? Di sini perlu sebuah definisi. Tuhan itu berarti pribadi yang berkuasa dan pribadi yang mengampuni dosa. Jika demikian, ketika Yesus mengatakan bahwa Ia berkuasa dan mengampuni dosa, maka konsekuensi logisnya adalah Yesus adalah Tuhan. Sebagai buktinya, mari kita lihat teks-teks berikut. Hal ini hendak menjelaskan kita tidak sedang memahami Yesus secara PARSIAL melainkan secara komprehensif.

Teks Matius 9:6, Yesus berkata: “supaya kamu tahu, bahwa di dunia ini Anak Manusia berkuasa mengampuni dosa”. Bukankah Yesus sendiri menegaskan bahwa Ia berkuasa mengampuni dosa layaknya Allah? Kita tahu bahwa hanya Allah yang berkuasa mengampuni dosa dan Yesus menegaskan bahwa Ia mengampuni dosa, maka Ia adalah Allah dan Tuhan yang berkuasa mengampuni dosa.

Teks Matius 12:8, Yesus menegaskan bahwa: “Anak Manusia adalah Tuhan atas hari Sabat.” Bukankah Yesus sendiri mengakui bahwa Ia adalah Tuhan atas hari Sabat? Anak Manusia di sini merujuk pada Yesus sendiri.

Teks Matius 13:41 menegaskan bahwa Yesus yang adalah Anak Manusia “akan menyuruh malaikat-malaikat-Nya dan mereka akan mengumpulkan segala sesuatu yang menyesatkan dan semua orang yang melakukan kejahatan dari dalam Kerajaan-Nya.” Bukankah hanya Allah saja yang dapat berkuasa memerintahkan malaikat-malaikat-Nya? Yesus memiliki kuasa sebagaimana Allah memilikinya yang dibuktikan dari memerintahkan malaikat-malaikat-Nya.

Matius 16:27 di mana Yesus berkata: “Sebab Anak Manusia akan datang dalam kemuliaan Bapa-Nya diiringi malaikat-malaikat-Nya; pada waktu itu Ia akan membalas setiap orang menurut perbuatannya.” Dalam teks tersebut, Yesus membalas setiap orang menurut perbuatannya. Itu berarti, Yesus memiliki kuasa untuk menghakimi layaknya Allah yang dapat menghakimi.

Matius 16:28 di mana Yesus berkata: “Aku berkata kepadamu: Sesungguhnya di antara orang yang hadir di sini ada yang tidak akan mati sebelum mereka melihat Anak Manusia datang sebagai Raja dalam Kerajaan-Nya.” Dalam teks tersebut tampak bahwa Yesus datang sebagai Raja dalam kerajaan-Nya. Dari perspektif Alkitab, hanya Allah saja yang adalah Raja dan memiliki kerajaan. Dengan demikian, Yesus adalah Allah yang juga adalah Raja. Dalam doktrin Kristen, Baik Bapa dan Yesus memiliki kesatuan ontologis yang mana pribadi yang satu merepresentasikan pribadi lainnya. Sama halnya dengan tuduhan bahwa orang Kristen menyembah tiga Allah. Itu keliru, sebab Bapa, Firman, dan Roh Kudus adalah kesatua ontologis yang setara dan kekal, tetapi sekaligus berdistingsi. Misalnya, Anda dan perkataan Anda adalah satu dalam substansi kemanusiaan Anda. Tetapi perkataan Anda bukanlah Anda dan Anda bukanlah perkataan Anda. Anda dan perkataan sama-sama ada sejak Anda diciptakan. Bedanya, Allah dan Firman-Nya tidak diciptakan, kedua-Nya sama-sama kekal. Allah mencipta dengan Firman dan Firman itu ada sejak kekal. Allah mustahil tanpa Firman. Yesus pernah berkata bahwa Dia dan Bapa-Nya adalah satu.

Kesatuan Yesus dan Bapa adalah kesatuan tujuan dan hakikat. Malaikat tak mungkin satu tujuan dengan Allah, karena Allah lebih tinggi dan menetapkan segala sesuatu. Hanya Allah saja yang dapat memiliki satu tujuan dengan Firman-Nya.

Teks Matius 19:28, yang berbunyi: Kata Yesus kepada mereka: “Aku berkata kepadamu, sesungguhnya pada waktu penciptaan kembali, apabila Anak Manusia bersemayam di takhta kemuliaan-Nya, kamu, yang telah mengikut Aku, akan duduk juga di atas dua belas takhta untuk menghakimi kedua belas suku Israel.” Dari teks tersebut, Yesus berhak menghakimi kedua belas suku Israel. Dengan demikian, sebagaimana Allah adalah hakim, maka ketika Yesus mengklaim bahwa diri-Nya adalah hakim, maka Ia adalah Allah yang berkuasa menghakimi.

Jika definisi Tuhan sudah terbukti sesuai dengan definisi di atas, dan Yesus memenuhi kriteria tersebut, maka tidak ada keberatan untuk memahami dan percaya kepada Yesus sebagai Tuhan dan Allah yang berkuasa. Untuk memahami setiap gagasan ke-Tuhanan dan ke-Allahan Yesus haruslah berangkat data biblikal secara utuh dan bukan sepotong-sepotong (fragmentaris) atau parsial.

Ketiga, memahami secara KOMPREHENSIF. Cara memahami ini adalah yang mutlak dilakukan oleh setiap orang yang mengenal dan memahami personalitas Yesus Kristus. Soal Yesus sebagai manusia, mati, makan, lahir, dan sebagainya haruslah dipahami secara utuh. Ketika seseorang menolak memahami secara utuh, maka ia akan tersesat kepada cara berpikir fragmentaris atau parsial yang tidak akan menemukan makna yang sesungguhnya dari inkarnasi Yesus Kristus ke dalam dunia sebagai cara Allah menebus manusia. Yesus adalah Allah yang menjadi manusia (Yohanes 1:14) bukan asal jadi manusia tetapi ada latar belakang yang membingkainya. Allah ingin menebus manusia dengan cara-Nya sendiri, sekali untuk selamanya. Jika dulu bangsa Israel yang berdosa harus mengorbankan binatang dan mencurahkan darahnya sebagai lambang bahwa kesalahan dan dosanya telah ditebus oleh Tuhan, kini, Allah menentukan cara-Nya menebus manusia yaitu mengutus LOGOS [Firman] ke dunia dalam rupa manusia. Soal bagaimana ini bisa diterima oleh akal manusia, kita harus melihat akan maksud dan rencana Allah bagi manusia. Mereka yang menolak cara penebusan Allah, maka ia tidak mengenal Allah Israel. Boleh saja ia menolak karena ia mempercayai “Ilah” yang lain, maka ia harus berjuang memahami bagaimana “Ilah” yang dipercayainya itu mengampuni dosa-dosanya.

Dalam Islam tidak ada konsep penebusan sehingga mereka binggung memahami konsep penebusan, apalagi konsep penebusan dosa. Mereka yang tidak paham dengan sendirinya akan menuduh cara penebusan dosa versi Kristen tidak masuk akal padahal mereka tidak memahami cara penebusan versi Kristen. Karena ketidakpahaman tersebut, mereka memaksa Kristen untuk memahami seperti yang mereka pahami, padahal cara demikian adalah sesat. Jika ingin memahami doktrin Kristen, maka yang dilakukan adalah memahami berdasarkan cara pandang Alkitab, dan bukan al-Qur’an.

Keempat, memahami secara JUKSTAPOSISI. Cara memahami ini adalah menempatkan satu teks sejajar dengan teks lain. Artinya, teks nubuatan Mesias Ilahi dalam Perjanjian Lama (PL) yang digenapi dalam Perjanjian Baru (PB) maka keduanya harus dipandang sejajar karena saling melengkapi. Yang satu tak mungkin berdiri tanpa yang lainnya. Ada penyejajaran konteks dan teks Alkitab terkait pokok tertentu. Contoh lain adalah dalam Mazmur 23 Daud menegaskan bahwa TUHAN adalah Gembala (juga beberapa teks lainnya) dan di dalam Yohanes 10:11 Yesus menegaskan bahwa Ia adalah Gembala yang baik. Ini dipahami sejajar antara TUHAN dalam PL yang adalah Gembala dan Yesus dalam PB yang juga adalah Gembala. Itu berarti, Yesus adalah Allah tetapi yang berinkarnasi mewujud manusia dalam rangka realisasi cara penyelamatan Allah kepada manusia yang berdosa.

Kelima, memahami secara DEMARKASI. Cara memahami ini adalah bagaimana seseorang melihat konteks yang sedang dibicarakan. Ketika kita membahas tentang penyaliban Yesus, maka ada konteks yang mengikatnya. Kita tidak dapat melihat secara acak sebuah peristiwa kecuali melihatnya berdasarkan demarkasi konteks. Kesalahan Islam yang sering diulang-ulang adalah mengatakan bahwa “Yesus itu adalah utusan dan utusan tidak bisa menjadi Tuhan”. Memang pada beberapa kesempatan Yesus mengatakan bahwa Ia diutus Allah, sedangkan pada kesempatan lain Ia mengatakan bahwa Ia keluar dan datang dari Allah. “Diutus”, “keluar”, dan “datang” dari Allah memiliki konteksnya masing-masing. Tidak bisa dicampur-adukkan karena akan menimbulkan cara berpikir fragmentaris. Yesus memang diutus Bapa-Nya karena Ia adalah manusia. Tetapi Yesus adalah Logos Allah yang setara dengan Bapa-Nya. Keduanya memiliki demarkasi.

Untuk menjawab pertanyaan “JIKA YESUS ITU TUHAN, MENGAPA DIA DISALIBKAN?” haruslah ditempuh dengan cara memahami personalitas Yesus secara komprehensif, juktaposisi, dan demarkasi. Tidak ada “Tuhan” yang mati karena “Tuhan” itu bukan fisik melainkan substansi. Tidak ada “bupati” yang mati karena “bupati” adalah jabatan. Yang mati adalah yang menjabat sebagai bupati.

Kematian Yesus bukan asal mati tanpa tujuan. Kematian Yesus adalah untuk menebus manusia yang telah berdosa kepada Allah. Penebusan hanya dapat dipahami dalam teologi Kristen sedangkan Islam tidak memiliki konsep tersebut. Yesus mati bagi manusia berdosa. Ia mendamaikan antara Allah dan manusia. Mereka yang ditebus dosa-dosanya adalah mereka yang telah ditetapkan Allah sejak kekekalan dan tentu mereka yang dipanggil Allah untuk menerima dan menikmati keselamatan yang dianugerahkan-Nya, akan hidup kudus, hidup dalam kebenaran, hidup dalam kasih dan pengampunan.

Benarlah perkataan Rasul Paulus, bahwa

Kita tahu sekarang, bahwa Allah turut bekerja dalam segala sesuatu untuk mendatangkan kebaikan bagi mereka yang mengasihi Dia, yaitu bagi mereka yang terpanggil sesuai dengan rencana Allah. Sebab semua orang yang dipilih-Nya dari semula, mereka juga ditentukan-Nya dari semula untuk menjadi serupa dengan gambaran Anak-Nya, supaya Ia, Anak-Nya itu, menjadi yang sulung di antara banyak saudara. Dan mereka yang ditentukan-Nya dari semula, mereka itu juga dipanggil-Nya. Dan mereka yang dipanggil-Nya, mereka itu juga dibenarkan-Nya. Dan mereka yang dibenarkan-Nya, mereka itu juga dimuliakan-Nya.

Soli Deo Gloria. Salam Bae…

Sumber gambar:

  1. https://promovillagecom.blogspot.com/2012/03/pencil-sketch-of-christ.html?m=1
  2. https://id.pinterest.com/pin/914862410296100/

JIN KAFIR DI MULUT PARA PENCACI YESUS?

Sumber gambar: https://weheartit.com/entry/6401507 (joao gabriel
@VanJounes)

Frasa “jin kafir” keluar dari seorang “public figure” (tokoh masyarakat) Islam, Abdul Somad. Video yang berdurasi pendek, seketika menjadi viral di berbagai media sosial. Lalu, berbagai respons muncul. Ada yang membuat tanggapan, termasuk teman-teman saya; ada yang memosting ayat-ayat tentang salib, tentang gambar salib, tentang drakula yang takut dengan salib, gereja-gereja yang ada salibnya, dan sederet komentar dan pernyataan tentang salib Yesus.

Ketika saya melihat video tersebut, yang saya pahami adalah gestikulasi Bang Somad, terkesan “meremehkan” salib, terkesan merendahkan salib. Tak jadi soal mengenai apa yang saya pahami terhadap gaya komunikasi Bang Somad, tetapi jika mau fair, Bang Somad juga perlu merenung bahwa standar ganda bisa digunakan untuk membuat lelucon seputar iman Islamnya Bang Somad. Jangan berpikir bahwa Kristen tidak memiliki sejumlah potensi untuk mendengungkan kegagalan pemahaman logika Bang Somad mengenai salib.

Dengan gaya “mayoritas” seperti yang dilakukan Bang Somad, tentu menimbulkan berbagai respons baik positif (para pendengarnya jangan ikut tertawa, meski saya menduga tidak semua yang mendengar celoteh Bang Somad, setuju dengan beliau) maupun negatif (respons dari internal Islam dan respons dari Kristen).

Dari segi logika dan pengetahuan, Bang Somad sama sekali tidak memahami makna dan sejarah salib Yesus. Saya tahu, bahwa Bang Somad sendiri menolak peristiwa penyaliban Yesus, di mana Yesus tidak disalibkan melainkan ada orang yang diserupakan Allah SWT mirip Yesus. Tapi itu hanya soal keyakinan dogmatis saja. Masing-masing meyakini soal salib. Namanya juga keyakinan; ya, harus yakin dong. Bukan begitu Bang Somad?

Ucapan-ucapan Bang Somad mengenai di salib ada jin kafir, sama sekali diucapkan “tanpa pengetahuan apa-apa” mengenai makna dan kuasa salib. Bahkan, tidak ada kontribusi pengetahuan doktrinal di dalamnya. Saya menyebut itu sebagai celoteh sentimen agama yang Anda rasakan sebagai “salah” di pihak Kristen karena percaya pada Yesus yang disalib, dan sebagai benar “di pihak Anda” karena merasa bahwa di dalam salib Kristen ada jin kafir (karena Kristen dicap sebagai kafir. Bukan begitu Bang Somad?).

Untuk kepentingan penjelasan seperlunya dari saya karena celoteh-celoteh Bang Somad tidak memiliki bobot apa-apa—hanya soal ketidaktahuannya mengenai salib—maka saya memakluminya, dan memberikan beberapa catatan.

Pertama, Bang Somad, apa yang Anda ucapkan bukanlah sebuah pengetahuan yang benar tentang salib. Anda hanya menggaungkan prinsip tidak logis tentang salib. Pengetahuan Anda sangat dangkal. Saya memakluminya. Konsekuensi logis dari apa yang Anda lakukan, adalah bahwa jangan Anda berpikir bahwa Kristen tidak memiliki alasan untuk melontarkan celoteh-celoteh tentang anda dan iman yang anda imani. Kami bisa menggunakan standar ganda di sini. Tetapi untuk apa? Memperkeruh suasana? Tentu tidak! Jika anda tertarik mengkritisi iman Kristen, sila pakai sumber dan data historis, bukan modal celoteh.

Kedua, Bang Somad, apa yang Anda sampaikan kepada para pendengarmu adalah “benar” menurut keyakinan dogmatismu, dan “salah” menurut makna substansial dari salib yang diimani Kristen. Jika demikian, sebaiknya—jika Anda ingin mengkritisi makna dan historisitas salib, maka ruang akademis menjadi ruang bagi Anda untuk memulai penelitian, pencarian sumber rujukan, dan menghasilkan kritikan yang kredibel, otentik, dan akuntabel.

Ketiga, Bang Somad, kalau merasa mayoritas, jangan sesuka hati menebar pemahaman yang salah tentang iman Kristen. Bukan berarti minoritas tidak dapat berbuat apa-apa untuk melakukan standar yang sama. Tetapi karena alasan sensitivisme agama di negara Indonesia sangatlah tinggi, maka sedapat mungkin celoteh-celoteh yang tidak penting, diredam. Jika berbicara dalam ranah akademis (ilmiah), maka sah-sah saja mengkritisi iman Kristen, tetapi harus ditempuh dengan jalur akademis pula, bukan dengan modal celoteh jalanan, demo, persekusi, dan lain sebagainya.

Keempat, Bang Somad, ruang pengetahuan tentang iman Kristen terbuka lebar dan seluas-luasnya. Anda tidak perlu takut karena kekurangan sumber. Dibutuhkan hanyalah niat untuk melakukan penelitian ilmiah (akademis), ketimbang Anda membodohi para pendengar Anda dengan celoteh-celoteh (yang bukan pengetahuan akademis). Jika Anda tertarik untuk mendalami makna salib, apakah ada jin kafir di dalamnya, sila melakukan penelitian ilmiah soal itu. Pintu terbuka lebar untuk Anda, dan bahkan bagi para pendengar celoteh Anda. Eh, ngomong-ngomong, Bang Somad tahu dari mana ada jin kafir di salib? Apakah Anda bisa melihat jin?

Kelima, Bang Somad, dalam pemahaman Kristen, salib memang adalah tanda kebodohan, tetapi kebodohan bagi mereka yang akan binasa. Salib adalah tanda bahwa Allah mengasihi manusia berdosa dan mendamaikan mereka melalui Yesus Kristus yang disalibkan. Tidak mudah bagi Anda untuk memahami makna salib dan keselamatan dari perspektif iman Kristen. Keselamatan yang diyakini Kristen bukanlah keselamatan yang tanpa sejarah, tanpa ketentuan; bukan pula keselamatan yang muncul tiba-tiba tanpa dasar bagaimana Allah ingin manusia diselamatkan dari belenggu dosa; bukan pula keselamatan yang muncul dari seorang malaikat dan berkata ini dan itu. Keselamatan yang dipahami Kristen adalah berangkat dari kejatuhan manusia dalam dosa dan manusia, dengan segala potensinya, tidak dapat membereskan dosa-dosa mereka. Hanya Allah yang dapat membereskannya. Jika Anda memasuki ranah doktrin keselamatan, seumur hidup Anda tidak cukup untuk mempelajarinya.

Keenam, Bang Somad, semua celoteh yang pernah Anda sampaikan kepada siapa pun, tidaklah memberikan kontribusi akademis apa-apa. Jika para pendengarmu bukanlah orang-orang yang berpikir kritis dan akademis, maka saya takut, mereka akan menjadi tersesat sedemikian jauh, ketika Anda, dengan lantangnya merendahkan iman Kristen. Atau barangkali, ketika Anda mengatakan bahwa di salib ada jin kafir, sebenarnya Anda sedang mencaci iman [salib] Kristen? Hanya Anda dan jin kafir yang tahu soal itu. Tetapi, jika saya dimintai tanggapan, saya hanya akan menanyakan begini: “Dari cara Anda menjawab dan gerak tubuh Anda (gestikulasi), bukankah terlihat sepertinya Anda meremehkan salib dengan cara memperagakannya pula?

Ketujuh, Bang Somad, Kristen itu adalah pabrik pembuat kacamata. Jika Anda mau memahami iman Kristen yang begitu besar itu, Anda harus menggunakan kacamata yang sesuai dengan konteksnya. Sayangnya, kemarin, waktu Anda mengatakan bahwa di salib ada jin kafir, Anda salah pakai kacamata. Jika ingin memahami salib, pergilah ke pabrik pembuat kacamata. Dijamin, Anda tidak akan tersesat seperti sekarang ini ketika Anda berbicara mengenai iman Kristen.

Dari beberapa catatan respons saya terhadap celoteh Bang Somad, maka pertanyaan saya: “Apakah celoteh bahwa ‘di salib ada jin kafir’, hanya ada dan keluar dari mulut para pencaci Yesus? Selamat merenung.

Salam Bae….

Catatan: tulisan singkat ini telah dipublikasikan pada tanggal 18 Agustus 2019 di Facebook saya.

YESUS DI MULUT PARA PENCACI

Sumber gambar: https://id.pinterest.com/pin/593278950892886729/

Caci maki terhadap Yesus memuncak pada saat penyaliban-Nya. Caci maki dan perendahan diri Yesus sangatlah menyakitkan, apalagi ketika Yesus dalam keadaan tersalib. Saya menyebut salah satu di sini: “Orang lain Ia selamatkan, tetapi diri-Nya sendiri tidak dapat Ia selamatkan! Ia Raja Israel? Baikla Ia turun dari salib itu dan kami akan percaya kepada-Nya.” Hinaan ini melebihi dari caci maki. Mengapa? Karena ucapan di atas diucapkan oleh orang-orang ber-Tuhan yaitu imam-imam kepala, ahli-ahli Taurat dan tua-tua (Matius 27:41-42).

Lalu apa yang terjadi? Apakah ketika mereka menghina dan menantang Yesus untuk turun dari salib, kemudian Yesus bergegas turun dari salib? Sama sekali tidak! Mengapa? Sabar dulu! Ada hal yang lebih spektakuler dan tak bisa dilawan, yaitu: “Kebangkitan” Yesus Kristus. Mengapa harus kebangkitan? Karena dalam kebangkitanlah, semua caci maki, hinaan, perendahan terhadap Yesus luntur. Apa mau dikata, Yesus yang dulunya dihina dan dicaci maki, pada hari yang ketiga Ia bangkit dari antara orang mati.

Ada dua peristiwa yang sangat merendahkan Yesus yaitu: pertama, caci maki dan hinaan, dan kedua, kematian-Nya. Dua peristiwa ini sangatlah menyesakkan dada. Bahkan para murid Yesus menjadi sangat malu sekali, kecewa, dan takut. Bagaimana mungkin Yesus yang adalah Guru mereka, biasa melakukan mukjizat, membangkitkan orang mati, menyembuhkan berbagai penyakit, kini Ia terhina dan tersalib? Bukankah ini sangat memalukan? Bukankah ini sangalah menyakitkan?

Tunggu dulu! Ada hal yang lebih spektakuler dari pada itu. Pertama, kebangkitan Yesus dari antara orang melunturkan semua ucapan caci maki, hinaan, dan perendahan diri Yesus. Ia telah bangkit dari antara orang mati, Ia telah mengalahkan maut, dan jaminan-Nya adalah bahwa mereka yang percaya kepada-Nya akan juga dibangkitkan (bdk. Yoh. 11:25). Kedua, kenaikan-Nya ke surga menandakan bahwa semua orang percaya akan diterima Tuhan Yesus dalam kerajaan Bapa-Nya. Yesus pernah mengatakan: “Di rumah Bapa-Ku banyak tempat tinggal”. Yesus pergi menyediakan tempat bagi saleh-saleh-Nya. Dan ketiga, Yesus mengutus para murid untuk memberitakan Injil (Mat. 28:18-20). Karena pengutusan inilah, maka dunia diubahkan oleh Yesus. Diubahkan hanya dengan dua hal: KASIH dan KUASA. Sampai sekarang, Kasih dan Kuasa masih menjadi kekuatan tak terkalahkan oleh siapa pun, termasuk Iblis (Setan).

Meskipun demikian, Yesus menjadi bahan cacian di sepanjang sejarah. Mengapa? Karena Dia adalah manusia yang dalam anggapan para pencaci, tidak layak disembah dan dijadikan Tuhan. Sabar dulu. Yesus disembah bukan karena Dia manusia, tetapi Dia adalah pribadi yang lain dari pada yang lainnya. Untuk memahami ini, saya berikan contoh. Semua manusia yang makan nasi bukan karena nasi akan menjadi kotoran setelah dimakan yang dibuang melalui dubur, tetapi karena nasi merupakan salah satu bahan makanan yang bisa menjadikan perut terisi atau kenyang. Pertanyaannya: “mengapa manusia masih makan nasi jika ia tahu bahwa nasi akan berubah menjadi kotoran yang sangat bau saat dibuang melalui dubur?” Mungkin ada yang menjawab: “manusia bukan makan kotoran melainkan nasi, dan kemudian nasi diproses dalam tubuh, dan menjadi kotoran.” Artinya, nasi diproses menjadi kotoran.

Lalu bagaimana dengan Yesus? Begini: Yesus disembah karena Dia adalah Tuhan. Meski Dia manusia, ke-Tuhanan-Nya bukan dilihat dari tubuh manusiawi-Nya melainkan dari “kuasa yang diperlihatkan-Nya”. Para pencaci Yesus tidak memahami hal ini. Mereka akan terus melakukan caci maki bahwa Yesus hanyalah manusia biasa dan bukan Tuhan. Memang benar bahwa Yesus adalah manusia. Tetapi—sekali lagi—ke-Tuhanan Yesus diukur dari kuasa yang diperlihatkan-Nya. Saya perlihatkan di sini, bahwa Yesus berkuasa dan mengampuni dosa. Yesus berkata: “supaya kamu tahu, bahwa di dunia ini Anak Manusia berkuasa mengampuni dosa” (Matius 9:6). Bukankah Yesus sendiri menegaskan bahwa Ia berkuasa mengampuni dosa layaknya Allah? Saya lanjutkan. Dalam Matius 12:8, Yesus menegaskan bahwa: “Anak Manusia adalah Tuhan atas hari Sabat.” Bukankah Yesus sendiri mengakui bahwa Ia adalah Tuhan atas hari Sabat?

Dalam teks Matius 13:41 ditegaskan bahwa Yesus yang adalah Anak Manusia “akan menyuruh malaikat-malaikat-Nya dan mereka akan mengumpulkan segala sesuatu yang menyesatkan dan semua orang yang melakukan kejahatan dari dalam Kerajaan-Nya.” Bukankah hanya Allah saja yang dapat berkuasa memerintahkan malaikat-malaikat-Nya? Konsekuensinya, Yesus adalah Allah bukan?

Saya tambahkan dua teks lagi. Dalam Matius 16:27 Yesus berkata: “Sebab Anak Manusia akan datang dalam kemuliaan Bapa-Nya diiringi malaikat-malaikat-Nya; pada waktu itu Ia akan membalas setiap orang menurut perbuatannya.” Dalam teks tersebut, Yesus membalas setiap orang menurut perbuatannya. Itu berarti, Yesus memiliki kuasa untuk menghakimi layaknya Allah yang dapat menghakimi (bdk. Matius 19:28). Dalam Matius 16:28 Yesus berkata: “Aku berkata kepadamu: Sesungguhnya di antara orang yang hadir di sini ada yang tidak akan mati sebelum mereka melihat Anak Manusia datang sebagai Raja dalam Kerajaan-Nya.” Dari teks tersebut tampak bahwa Yesus datang sebagai Raja dalam kerajaan-Nya. Dari perspektif Alkitab, hanya Allah saja yang adalah Raja dan memiliki kerajaan. Dengan demikian, Yesus adalah Allah yang juga adalah Raja, bukan?

Dalam doktrin Kristen, baik Bapa dan Yesus memiliki kesatuan ontologis yang mana pribadi yang satu merepresentasikan pribadi lainnya. Sama halnya dengan tuduhan (para pencaci) bahwa orang Kristen menyembah tiga Allah. Itu keliru, sebab Bapa, Firman, dan Roh Kudus adalah kesatuan ontologis yang setara dan kekal, tetapi sekaligus berdistingsi. Misalnya, Anda dan perkataan Anda adalah satu dalam substansi kemanusiaan Anda. Tetapi perkataan Anda bukanlah Anda dan Anda bukanlah perkataan Anda. Anda dan perkataan sama-sama ada sejak Anda diciptakan. Bedanya, Allah dan Firman-Nya tidak diciptakan, kedua-Nya sama-sama kekal. Allah mencipta dengan Firman dan Firman itu ada sejak kekal. Allah mustahil tanpa Firman.

Namun, di mata para pencaci, penjelasan di atas tidaklah cukup berarti, sebab mereka dungu, tak mau memahami secara kredibel. Bagi mereka, Yesus adalah manusia dan utusan. Yesus hanyalah seorang Nabi dan Rasul Allah. Maaf, orang Kristen melihat Yesus sebagai Tuhan bukan pada manusia-Nya melainkan pada kuasa-Nya; sama dengan analogi di atas, bahwa manusia tidak melihat pada nasi yang akan menjadi kotoran, melainkan pada nasi yang riil nasi. Jika demikian, apakah orang Kristen salah memahami Yesus? Tentu tidak. Yang salah adalah para pencaci-Nya. Karena kedunguan mereka, maka mereka akan terus mencaci sampai akhir zaman; karena pemahaman mereka hanya terpaku pada kemanusiaan Yesus maka sampai kapan pun mereka akan berpendirian sama pula.

Para pencaci akan melancarkan serangannya untuk menjatuhkan Yesus. Alasannya sederhana, sekali lagi: Yesus adalah manusia biasa dan Dia adalah utusan Allah. Yang diutus tidak lebih tinggi dari yang diutus. Tunggu dulu! Saya berikan analogi. Jika Allah memberikan firman-Nya, apakah Allah lebih tinggi dari firman yang Dia berikan? Tentu tidak. Jika seseorang menulis buku dan bukunya dikirim ke beberapa orang untuk dibaca, apakah si penulis lebih tinggi dari tulisannya? Tentu tidak. Firman dan tulisan merepresentasikan kesetaraan si pemberi firman dengan firmannya, dan si penulis dengan tulisannya.

Nah, Yesus Kristus adalah utusan Bapa. Yesus adalah Logos Bapa yang keluar dari diri-Nya. Pertanyaannya: Logos yang diutus Bapa ke dalam dunia (bdk. Yohanes 6:29, 35, 37, 39-40) apakah lebih rendah dari Bapa? Tentu tidak. Yesus adalah Logos yang menjadi manusia, diutus Bapa. Yesus—Logos Ilahi—keluar dari Bapa: “Jikalau Allah adalah Bapamu, kamu akan mengasihi Aku, sebab Aku ‘keluar’ dan ‘datang dari’ Allah. Dan Aku datang bukan atas kehendak-Ku sendiri, melainkan Dialah yang mengutus Aku” (Yohanes 8:42).

Para pencaci sebaiknya menyadari kedunguan yang ada pada diri mereka. Memahami lebih baik daripada menghindarnya. Yesus yang dicaci bukanlah problem baru. Sejak Yesus melayani dan disalibkan, Ia dimusuhi, dibenci, dicaci, direndahkan, dan dianggap menghujat Allah. Sebagai Anak Allah, Yesus menunjukkan kuasa-Nya yang luar biasa. Anak Allah bukanlah anak dipahami secara biologis—karena orang-orang Yahudi memahami bahwa ketika ada orang yang mengakui sebagai “Anak Allah” maka ia harus dihukum mati (bdk. Yohanes 19:7)—frasa Anak Allah bukanlah Allah beranak secara biologis, melainkan pada pengakuan “kesetaraan dengan Allah”. Itulah makna yang sebenarnya dari frasa Anak Allah.

Yesus dimulut para pencaci akan menjadi Yesus tak berdaya, Yesus tak menebus, Yesus yang manusiawi, Yesus tak tersalib (versi Islam), Yesus yang tersalib mati terhina (disaksikan oleh imam-imam kepala, tua-tua Yahudi, dan lainnya), Yesus yang bukanlah Tuhan, sedangkan Yesus dimulut para pemuji-Nya adalah Yesus yang berkuasa, Yesus yang mati dan bangkit, Yesus yang naik ke surga menyediakan tempat bagi saleh-saleh-Nya, Yesus yang adalah Logos Ilahi menjadi manusia, Yesus yang adalah setara dengan Bapa yang dari-Nya Logos keluar.

Yesus tetaplah Yesus sesuai dengan apa yang disaksikan oleh murid-muridNya dan semua orang yang mengalami kasih dan kuasaNya. Meski para pencaci akan tetap eksis hingga akhir zaman, semuanya akan dihakimi-Nya. Semua persoalan dan keyakinan dogmatis agama-agama akan berakhir di akhir zaman. Keyakinan Kristen menyebutkan bahwa Yesus akan datang kembali menjemput saleh-saleh-Nya, menyediakan tempat, memberikan makhota kehidupan, dan menerima kehidupan kekal. Betapa bahagianya menjadi murid Yesus, murid yang mengasihi sesama, mengasihi musuh, mendoakan musuh, menolong sesama, bahkan berkorban bagi sesama. Ajaran-ajaran ini tidak ada dalam agama mana pun selain Kristen.

Bersyukurlah jika kita telah dan akan menjadi pengikut Yesus Kristus. Pujian kepada-Nya hanyalah keluar dari mulut para pemuji. Sebaliknya, caci maki dan hinaan kepada Yesus hanya keluar dari mulut para pencaci dengan berbagai jenisnya. Tidak perlu kuatir dan benci kepada para pencaci. Kelak, jika Tuhan Yesus berkenan, mereka hanya akan mengalami dua hal: pertama, percaya kepada-Nya, dan kedua, mati dalam dosa mereka.

Semoga Tuhan Yesus memberikan kita hikmat dan bijaksana untuk menjalani kehidupan ini dan bertanggung jawab di hadapan-Nya, melakukan apa yang dikehendaki-Nya, hidup kudus, saling memberkati dan mendoakan, dan selalu peduli (mengasihi) sesama, apa pun latar belakangnya.

Salam Bae

Rancang situs seperti ini dengan WordPress.com
Mulai