Teologi adalah nyanyian pikiran. Pikiran menghasilkan lagu-lagu yang akan dinyanyikan. Lirik dan makna lirik tergantung pada apa yang kita pahami tentang Tuhan dan apa yang kita alami bersama Tuhan”. Teologi yang menyanyikan “Tuhan dan karya-Nya” adalah teologi yang hidup. (S. R. Paparang)
Ruang pemikiran teologi sangatlah luas, dan upaya untuk memuaskan telinga para pendengar bukanlah hal yang mudah. Tetapi teologi yang benar tidak peduli apakah pendengar puas atau tidak, melainkan berupaya menjelaskan apa yang Tuhan kehendaki dilakukan oleh orang-orang yang percaya kepada-Nya, dalam sendi-sendi kehidupan mereka. (S. R. Paparang)

PRELIMINARI
Ada banyak faset (segi) dalam teologi yang dapat kita amati, dalami, kembangkan, kritisi, dan imani. Pengamatan, pendalaman, pengembangan, pengkritisan, dan pengimanan adalah konteks berteologi untuk menghasilkan teologi. Teologi dan berteologi adalah dua aspek iman yang tak dapat dipisahkan. Sejatinya, teologi itu sendiri adalah pemahaman tentang Allah dan karya-Nya yang kita lihat dalam pewahyuan nama-Nya, Firman-Nya, dan Eksistensi-Nya. Ketika berbicara tentang Allah, maka kita berbicara tentang nama, firman (logos), dan eksistensi.
Prinsip logis ini tidak saja nyata dan bersifat historis (penyataan) tetapi secara ontologi juga merupakan substansi hakiki dari kebenaran personalitas diri Allah. Pengetahuan kita tentang Allah bergantung pada Allah. Ketika Allah menyatakan diri-Nya, Ia secara simultan menyatakan eksistensi-Nya—bahwa Dia ada—, kehendak-Nya yang tertuang dalam firman-Nya, dan identitas-Nya, yang melekat pada nama-Nya.
Secara perlahan, iman memimpin kita kepada kekayaan kasih, kemurahan, dan kuasa Allah yang nyata pada setiap langkah kehidupan kita. Dari iman lahirlah teologi yang kuat. Kita diperkenankan Allah untuk memahami dan menikmati kasih-Nya di sepanjang hidup; tak terkecuali penderitaan dan pergumulan, Allah tetap berkarya.
Melangkah pada puncak teologi harus menapaki pada anak tangga pertama. Dalam dunia teologi sistematika, dua aspek fundamen yang perlu dipahami yaitu prolegomena dan bibliologi. Prolegomena berbicara tentang pemahaman teologi, iman, dan sikap hidup, sedangkan bibliologi berbicara tentang apa dan bagaimana Alkitab itu.
Pada konteks prolegomena atau pengantar ke dalam teologi sistematika, kita mempelajari tentang apa itu teologi, bagaimana prinsip mengenal Allah, iman, berteologi, hidup dan teologi, sikap hidup (doa, kesetiaan, pertobatan, kerendahhatian), pergumulan hidup, mengasihi Allah dan sesama, dan mencintai Firman Allah.
Apa yang kita pelajari akan membawa kita kepada luasnya dan dalamnya pengetahuan tentang Allah, di mana kita hidup dan bergerak dituntun oleh Dia melalui pengetahuan yang telah diejawantahkan kepada kita melalui firman-Nya dan pengalaman iman kita bersama-Nya.
Mengapa Belajar Teologi?
“Teologi yang baik bertujuan untuk membebaskan kehidupan orang lain”. Kalimat singkat ini adalah parafrase dari Kelly M. Kapic, Profesor Studi Teologi (khususnya teologi sistematika dan historika) di Covenant College, Lookout Mountain, Georgia. Pertanyaannya: “apa yang dibebaskan dari kehidupan orang lain?” Saya mencatat setidaknya ada tujuh hal: pertama, membebaskan orang lain dari ketidaktahuan tentang personalitas dan karya Tuhan; kedua, membebaskan orang lain dari kesesatan dan penyesatan tentang iman Kristen, ajaran-ajaran Alkitab yang telah disalahpahami, disalahtafsirkan, dan disalahaplikasikan; ketiga, membebaskan orang lain dari hati yang keras dan tidak mau bertobat kepada Tuhan; keempat, membebaskan orang lain dari segala macam penderitaan yang disebabkan oleh keengganan berserah kepada Tuhan, Sang Khalik yang memelihara kehidupan umat yang percaya; kelima, membebaskan orang lain dari sikap arogansi beragama (tanpa mengerti apa itu iman yang sesungguhnya) dan egoisme diri yang berlebihan dan liar; keenam, membebaskan orang lain dari karakter buruk dan kebodohan yang melekat dalam hati orang yang acuh tak acuh terhadap persekutuan dengan Tuhan dan sesama orang percaya; dan ketujuh, membebaskan orang lain dari keraguan (skeptisisme) akan pernyertaan dan perlindungan Tuhan tatkala berbagai problem kehidupan menyita waktunya untuk bergumul.
Dari ketujuh “pembebasan” yang saya sebutkan di atas, “teologi” juga memberikan fungsi yang baik bagi iman dan perilaku kita setiap hari. Teologi yang hidup pasti bertumbuh; teologi yang hidup berarti teologi yang dipahami secara benar dan kemudian memperbaiki diri lalu beranjak untuk memperbaiki orang lain dalam konteks relasinya dengan Tuhan dan sesama. Setiap hari ada pertumbuhan dalam iman dan perbuatan—layaknya tanaman yang disiram dan terus menampilkan pertumbuhan dan pada akhirnya menghasilkan buah-buah.
Fungsi teologi adalah: pertama, memberikan pemahaman yang baik tentang hal-hal substansial iman Kristen dan personalitas Tuhan dalam proses menempuh kehidupan beriman dan beragama; kedua, membuka wawasan atau cakrawala berpikir orang percaya untuk terus mendalami dan merasakan makna mengikut (percaya) Tuhan dalam totalitas hayatinya; ketiga, memasukkan berbagai gagasan teologis—bilblikal ke dalam iman dan pemikiran orang percaya untuk semakin menyebarluaskan gagasan-gagasan tersebut dalam konteks komunikasi, relasi, dan penginjilan; keempat, mengeluarkan berbagai kesalahpahaman tentang iman dan personalitas Tuhan dari pikiran orang percaya, atau dengan perkataan lain, menanggalkan pola hidup dan pola berpikir lama yang bukan merupakan prinsip iman itu sendiri; dan kelima, menutup segala pintu penyesatan dan kesesatan yang berpotensi masuk ke dalam pemikiran, pemahaman, dan iman orang percaya. Memahami teologi memang tidak mudah tetapi dengan melihat pada fungsi-fungsi teologi di atas, kita semakin didorong untuk terus mendalami, merasakan, dan mengaplikasikan teologi itu dalam pluralitas hayati dan humanitas.
Profesor Kapic menjelaskan, teologi tidak hanya dicadangkan bagi mereka yang ada dalam dunia pendidikan tinggi; teologi adalah aspek pemikiran dan percakapan untuk semua yang hidup dan bernafas, yang bergumul dan takut, yang berharap dan berdoa.[1] Kepentingan teologi membuka berbagai peluang bagi gerbang pemikiran manusia yang bebas, yang dapat mengarahkan manusia untuk melihat kepada Allah yang Mahabesar dan Maha Berdaulat atas kehidupan manusia. Pencarian manusia akan Allah menyita banyak perhatian bagi para teolog dan para atheis dalam diskusi mereka tentang Allah ada dan Allah tidak ada. Sebagaimana dinyatakan secara skeptis oleh Ludwig Feuerbach (1804-1872), seorang filsuf ateis abad sembilas belas bahwa, bicara tentang Allah tidak lebih daripada penguatan bicara tentang diri sendiri: “Allah” hanya proyeksi tentang pemikiran dan hasrat manusia.[2]
Pernyataan Feuerbach memiliki dua implikasi, pertama implikasi faktual dan kedua implikasi substansial. Pada implikasi faktual, pernyataan Feuerbach ada benarnya, sebab ada kasus di mana orang(-orang) Kristen dapat mengakui bahwa ia percaya kepada Allah dan sekaligus menonjolkan bahwa “dirinyalah Allah itu.” Artinya, dengan tujuan meraup keuntungan yang tidak semestinya, peribadatan dan proses “berimannya” tidaklah murni untuk kemuliaan Allah, melainkan hanyalah topeng belaka: memuji diri sendiri dan mengagungkan diri sendiri, layaknya seorang yang haus kekuasaan dan kepopuleran. Pada akhirnya, topeng mereka terbuka, dan terlihat dengan jelas bahwa mereka telah melakukan penipuan berkedok “agama Kristen”. Pada implikasi substansialnya, pernyataan Feuerbach adalah salah dan bernatur opini, tanpa bukti apa pun. “Allah” seperti apa yang diproyeksikan oleh pemikiran dan hasrat manusia, dan “Allah” yang mana yang diproyeksikan, apakah Allah versi Kristen atau Allah dalam imajinasi Feuerbach? Allah Alkitab adalah Allah yang menyatakan diri. Jadi, tidak bisa diaggap sebagai proyeksi diri sendiri (manusia). Jelas, Allah versi Feuerbach adalah imajinasinya sendiri.
Teologi yang baik adalah teologi yang memuaskan jiwa kita akan kebaikan Tuhan, kasih dan sayang Tuhan, pemeliharaan dan kepedulian, serta pengampunan Tuhan yang di dalam itu semua, jiwa kita dipandang berharga oleh Tuhan dan menjadikan kita sebagai duta-duta firman-Nya untuk terus mewartakan kabar baik kepada dunia sekitar. Kapic menilai bahwa “teologi menyangkut soal hidup, dan bukan percakapan yang dapat dihindari oleh jiwa kita.”[3] Menurut Alexander dari Halles bahwa, teologi lebih merupakan kebajikan daripada seni, hikmat ketimbang pengetahuan faktual, teologi lebih terdiri dari kebajikan dan perwujudnyataan ketimbang kontemplasi dan pengetahuan.[4]
Dalam pemahanan tentang mengapa belajar teologi? Kapic menyebutkan dua hal sebagai landasannya yaitu “mengenal dan menikmati Allah menjadi bijak” dan “teologi sebagai ziarah”. Pada “mengenal dan menikmati Allah menjadi bijak”, Kapic menyatakan beberapa hal berikut ini:
- Kita menikmati [merasakan kasih, kuasa, pemeliharaan] Allah setara dengan kita menyembah Dia dengan setia. Ibadah yang setia—termasuk pujian, doa, ketaatan dan iman—penting adanya, sebab berhala dalam segala bentuknya, tidak memuaskan Allah maupun kita. Ibadah tidak menuntut kita mengerti segala sesuatu tentang Allah dengan sempurna, tetapi respons murni kita kepada Allah sejati yang menyatakan diri-Nya kepada kita.[5]
- Di bawah kehangatan karya kreatif-Nya dan perhatian-Nya, umat manusia diundang untuk berjalan dengan Allah, untuk mengenal dan mengasihi Dia. Inilah ibadah, atau penyembahan.[6]
- Teologi sepenuhnya adalah tentang mengetahui bagaimana menyanyikan pujian penyelamatan; tahu kapan bersorak, kapan meratap, kapan diam dan kapan berharap.[7]
- “Pengetahuan” dalam teologi tidak kognitif semata tetapi juga bersifat personal dengan unsur hubungan dan komitmen. Adalah suatu kesalahmengertian serius bila orang menegaskan bahwa kita hanya dapat menyembah Allah sesudah mengerti semua doktrin penting. Pengetahuan dan penikmatan akan Allah tidak terpisahkan.[8]
- Kita tidak pernah dapat mengerti diri kita, arti kita atau kepuasan hidup manusia yang sejati dengan benar lepas dari pengenalan akan Allah.[9] Sebagaimana yang ditulis oleh John Calvin (1509-1564), “Hampir semua hikmat yang kita miliki, maksudnya, hikmat yang benar dan sehat, terdiri dari dua bagian: pengetahuan akan Allah dan akan diri kita sendiri. Tetapi, meski disatukan oleh banyak ikatan, yang mana yang mendahului dan menghasilkan yang lain tidak mudah untuk dibedakan.”[10] Menurut Kapic, pengenalan akan Allah dan pengenalan akan diri tumbuh dalam persekutuan ini: kita tidak akan pernah mengerti diri sendiri jika kita berusaha melakukannya lepas dari pengenalan akan Allah.[11]
- Ibadah yang benar kepada Allah membebaskan dan menyanggupkan kita untuk mengasihi ciptaan-Nya dengan benar dari untuk meratap ketika kita melihat ciptaan disalahgunakan.[12]
- Dengan datang kepada Allah yang hidup dan membawa hidup, pertanyaan, ketakutan serta pengharapan kita, kita tumbuh dalam pengenalan akan Allah. Pengenalan ini bukan intelektual semata; pengenalan ini juga penuh gairah, menyentuh baik pengertian maupun afeksi kita.
Sedangkan pada “teologi sebagai ziarah”, Kapic menyatakan beberapa hal berikut ini:
- Ada dua jenis pengetahuan yaitu pengetahuan asli (archetypal) dan pengetahuan duplikat (ectypal) tentang Allah. Pengetahuan yang archetypal akan Allah adalah pengetahuan sempurna yang Allah miliki tentang diri-Nya sendiri. Kefanaan atau dosa tidak membatasi Dia. Ia tahu segala sesuatu. Yang paling utama, Allah tahu diri-Nya sendiri sepenuhnya. Pengetahuan ectypal adalah pengertian yang kita miliki tentang Allah melalui cara penyataan diri-Nya, yang paling jelas dinyatakan dalam Alkitab dan puncaknya adalah dalam inkarnasi sang Firman. Dengan demikian kita bisa memiliki pengetahuan yang benar tentang Allah, meski itu bukan pengetahuan yang lengkap. Bahkan dengan Alkitab yang dikaruniakan secara ilahi, manusia yang terbatas dan berdosa perlu pencerahan dari Roh Kudus untuk mengertinya dengan benar dan menyambut pesannya.[13]
- Mengenal Allah berarti mengenal yang Esa yang datang dalam Firman dan Roh. Pengetahuan Allah dalam diri-Nya murni dan penuh, sedangkan pengetahuan kita akan Dia bersifat derivatif (turunan) dan tidak lengkap. Karena pengetahuan kita akan Allah harus bertumbuh sambil kita berjalan bersama-Nya melalui waktu, tidak heran bahwa sebagian dari imaji terbaik yang dipakai untuk menggambarkan usaha teologis adalah ziarah. Alkitab memaparkan kita orang Kristen sebagai orang yang ada di “Jalan” (bdk. Kis. 9:2; 19:9, 23; 24:14, 22), karena kita adalah para “pendatang” (1 Ptr. 2:11) yang dipanggil untuk “berjalan” dalam Roh yang membawa terang bahkan ke dalam kegelapan (bdk. 2 Kor. 5:2; Gal. 5:16, 25; Ef. 5:8, 15; Kol. 2:6; 1 Yoh. 1:6-7; 2 Yoh. 6).[14]
- Kita ada dalam suatu pengembaraan, kita sedang menuju ke suatu tempat, sambil kita makin setia menyaksikan dan menyesuaikan diri dengan Allah dan kemuliaan-Nya. Pengetahuan kita akan Allah dan perenungan teologis kita tidak dapat terhindar dari sifat fana, derivatif dan mengalami perkembangan.[15]
- Semua teologi yang baik dan setia datang dari Allah, yang adalah teolog utama—satu-satunya yang dapat bicara tentang diri-Nya tanpa kelemahan diri dan kesalahmengertian. Sebagaimana yang dinyatakan oleh Thomas Aquinas, “Teologi diajarkan oleh Allah, mengajarkan tentang Allah dan memimpin kepada Allah” (Theologia a Deo Docetur, Deum docet, et ad Deum ducit).[16]
- Ketika kita menyadari adanya relasi antara teologi dan ibadah, kita pindah dari keingintahuan intelektual ke perjumpaan yang terlibat dengan Allah yang hidup.[17]
DEFINISI TEOLOGI
Secara umum teologi dipandang sebagai sebuah pemikiran dan pemahaman yang sifatnya lebih luas di samping pengetahuan tentang personalitas Allah. Bahkan seluk-beluk iman Kristen dan perdebatannya, dipandang sebagai ranah teologis untuk menetapkan formula iman yang ortodoks dan sekaligus menentukan hal-hal yang menyimpang dari iman Kristen. Hal ini pula yang diamati Daniel L. Lukito berikut ini: “Istilah ‘teologia’ memang tidak mudah didefinisikan. Sekalipun jelas bahwa teologia merupakan kombinasi dari dua kata Yunani theos (Allah) dan logos (kata, pemikiran, uraian, ilmu), namun istilah tersebut telah dipergunakan secara luas.[18] Kadang-kadang kata ini, menurut Lukito, dimengerti sebagai istilah yang menggambarkan lingkup seluruh pokok studi, penelitian, dan aplikasi dalam pendidikan atau sekolah teologia. Dengan pengertian itu berarti teologia mencakup segala penelitian tentang PL, PB, sejarah gereja, teologi sistematika, ilmu berkhotbah, pendidikan agama Kristen dan konseling.
Dalam pengertian lebih sempit, maka “theologia”, menurut Lukito, menunjuk pada usaha untuk meneliti iman Kristen dari aspek doktrinnya. Ini berarti mencakup divisi seperti teologia sistematika, teologi biblika, teologia historika, dan teologi filosofika. Juga apabila dimengerti secara lebih sempit, “teologia” menunjuk pada teologia sistematika.[19] Jadi, teologia adalah suatu pembicaraan secara rasional tentang Allah dan pekerjaan-Nya. Dalam hal ini, “teologia Kristen” berarti bahwa pembicaraan yang rasional itu merupakan hasil yang diperoleh dari Alkitab sebagai titik tolak penemuan yang sine qua non ([kondisi] yang tidak boleh tidak ada; kondisi yang harus ada untuk sesuatu) dan prima facie (based on immediate impression, atau hal yang langsung atau dengan sendirinya terpikir sebagai titik acuan).[20] Lukito juga menjelaskan, bahwa “dari sudut lain, teologia juga menunjuk pada respons manusia terhadap firman yang disampaikan Allah melalui Alkitab.[21]
Beberapa definisi tentang teologia berikut ini dijelaskan Lukito untuk melihat konteks latar belakang para teolog dan gagasan mereka masing-masing.
Pertama, menurut Benyamin B. Warfield (1851-1921), seorang teolog ortodoks dari Princeton, teologia adalah “ilmu yang membicarakan tentang Allah dan hubungan antara Allah dan alam semesta.” Penekanan Warfield di sini adalah “Allah itu ada, dan seandainya tidak ada Allah, teologia tidak pernah ada. Demikian pula seandainya Allah yang berada itu tidak berhubungan dengan ciptaan-Nya, teologia juga tidak pernah ada.
Kedua, guru besar teologia sistematika di Union Theological Seminary, William G. T. Shedd, berpendapat bahwa, “Teologia adalah suatu ilmu yang berhubungan dengan Yang Tak Terbatas dan yang terbatas, dengan Allah dan alam semesta.”
Ketiga, teolog Baptis, A. H. Strong berpendapat, “Teologia adalah ilmu tentang Allah dan hubungan-hubungan antara Allah dan alam semesta.”
Keempat, menurut Charles Hodge (1797-1878), “Teologia … mengetengahkan fakta-fakta Kitab Suci dalam urutan dan hubungan yang tepat dengan prinsip-prinsip atau kebenaran-kebenaran umum yang ada dalam fakta-fakta itu sendiri dan yang meliputi dan menyelaraskan seutuhnya.” Hodge menempatkan Alkitab sebagai salah satu sumber atau kategori fakta-fakta atau kebenaran yang tidak diwahyukan di mana pun juga. Sedangkan alam merupakan sumber atau kategori fakta lainnya yang makin diperjelas oleh Alkitab sendiri. Jadi, teologia berkenaan dengan yang alamiah dan yang diwahyukan. Yang alamiah itu berhubungan dengan fakta-fakta tentang alam sejauh mana fakta-fakta itu mengungkapkan tentang Allah serta relasi manusia dengan Dia; sedangkan Alkitab menyatakan segalanya itu dengan lebih lengkap dan lebih otoritatif.[22]
Kelima, F. Schleiermacher berpendapat bahwa, teologia sebagai usaha menganalisis pengalaman kesadaran religius, yaitu perasaan ketergantungan yang mutlak (the feeling of absolute dependence).[23] Bagi Schleiermacher, apabila kita berbicara tentang “Allah”, dengan mempergunakan bahasa dari kehidupan sehari-hari yang berhubungan dengan “knowing” (mengetahui) dan “doing” (melakukan), kita sebenarnya sedang mengartikulasikan “self-consciuosness” (kesadaran diri yang timbul dengan sendirinya).[24] Kesimpulan Schleiermacher adalah bahwa apabila suatu pikiran yang mempunyai hubungan dengan doktrin tidak memiliki landasan di dalam perasaan, maka tidak ada pernyataan yang bisa dibuat berkenaan dengan itu.[25] Dengan perkataan lain, menurut Lukito, kita tidak dapat menguraikan tentang manusia, atau tentang karya Allah, apabila formula doktrinalnya tidak datang dari hasil refleksi pada kesadaran diri yang religius (religious self-consciousness).[26]
Keenam, menurut Paul Tillich (1886-1965), teologia adalah interpretasi metodikal dari materi pokok iman Kristen.[27] Tillich menganggap istilah “Allah” tidaklah terlalu penting karena “Allah” adalah sebuah simbol yang diperoleh dari kesadaran religius. “Allah” bukan sosok Pribadi Yang Ada; Ia adalah Yang Ada itu sendiri (Being Itself, not a Being). Jadi, “Allah” itu melingkupi segala sesuatu dan Ia berada di dalam segala sesuatu. Karena “Allah” melampaui dan di luar dari esensi dan eksistensi, maka segala usaha untuk membuktikan eksistensi “Allah” tidak dapat diterima; masalah eksistensi “Allah” tidak dapat dipertanyakan atau dijawab.[28] Bagi Tillich, hanya ada satu titik mula berteologia yang sah, yakni dimulai dari manusia dan pengalaman manusia atas realita. Teologia barulah dapat membangun sebuah jembatan yang berarti (memiliki arti) dengan inti kebenaran berita Kristen apabila berita itu sendiri dinilai atau diinterpretasikan sesuai dengan “keprihatinan puncak” (ultimate concerns) dalam pengalaman manusia[29], dan Lukito menilai, Tillich memilih untuk memulai penjabaran teologinya hanya dari pengalaman manusia.
Ketujuh, menurut Choan-Seng Song, definisi teologia yang sering diberikan oleh teolog-teolog Barat tidaklah tepat. Menurutnya, teologia itu berkenaan dengan persoalan bagaimana Allah memperhatikan manusia. Urusan teologia bukanlah untuk mempersoalkan bagaimana manusia memperhatikan Allah.[30] Bagi Song, teologia Kristen yang tradisional yang terlalu banyak membicarakan tentang Allah (dengan eksistensi-Nya, atribut-Nya, dan segala perdebatan tentang karya-Nya) menjadi sangat terbatas, karena bagian terbesar masalah yang bertalian dengan kehidupan manusia terabaikan begitu saja. Teologia seharusnya dimengerti sebagai antropologi: “theo-logy must be anthropo-logy”.[31] Untuk memperkuat argumennya, menurut Song, bukankah Allah sendiri, di dalam Yesus Kristus, datang dan berkecimpung di tengah manusia sebagai suatu tindakan yang teo-logis?[32]
Kedelapan, Lukito menilai bahwa definisi dan pengertian teologia yang dinyatakan Schleiermacher, Tillich, dan Song mengandung kelemahan, oleh karena dengan demikian teologia menjadi independen atau tercerai dari Alkitab. Menurutnya, teologia seharusnya berkenaan dengan Allah dan ciptaan-Nya seperti yang dimengerti dari Alkitab. “Teologia adalah pengetahuan yang sistematis tentang Allah dan hubungannya dengan ciptaan-Nya seperti yang dipaparkan dalam Alkitab.”[33] Tentu saja, menurut Lukito, dalam definisi tersebut sudah tercakup pengertian bahwa teologia juga merupakan respons manusia terhadap inisiatif Allah dalam wahyu-Nya. Respons tersebut dapat berwujud dalam bentuk usaha-usaha untuk mengerti wahyu/penyataan Allah tentang manusia dari dan dunia, serta bagaimana menerapkannya ke setiap bagian kehidupan dan pemikiran manusia.[34]
Kesembilan, tanggapan saya atas berbagai definisi teologi di atas adalah sebagai berikut: (1) teologia berbicara pribadi Allah, yang menyatakan diri-Nya sebagai Pencipta, Penebus, dan Pewahyu; (2) teologia berbicara tentang karya-karya Allah yang mencakup belas kasih-Nya, pengampunan-Nya, penghukuman-Nya, kasih karunia, dan anugerah-Nya. Dalam karya-karya tersebut apa yang didefinisikan para teolog di atas sudah termasuk; (3) teologia berbicara mengenai kesadaran akan diri sendiri (manusia) yang terikat dengan imannya untuk mengenal lebih jauh tentang Allah dan firman-Nya serta mengalami hidup bersama-Nya. (4) apa yang digagas Warfield bersifat konsekuensi logis yang menilai bahwa tanpa “sumber teologi” (yaitu Allah) tak mungkin ada “proses berteologi”. (5) apa yang digagas Shedd, bersifat logis dan naturiah, dan ada kesamaan dengan gagasan Strong. (6) gagasan Hodge merupakan sebuah proses (yaitu mengetengahkan) dan hasil (urutan dan hubungan dengan prinsip-prinsip atau kebenaran-kebenaran umum yang ada dalam fakta-fakta itu sendiri) dari memahami teologi alkitabiah. (7) gagasan Schleiermacher merupakan cara berteologi yaitu usaha menganalisis pengalaman kesadaran religius, dan menempatkan pengetahuan dan tindakan sebagai mengartikulasikan (menjelaskan dengan kata-kata) self-consciuosness (kesadaran diri yang timbul dengan sendirinya) yang pada esensinya kuranglah sempurna karena hanya mengartikulasikan kesadaran diri yang timbul dengan sendirinya dan bukan yang dialami dalam proses beriman.
Di samping itu, gagasannya mengenai “suatu pikiran yang mempunyai hubungan dengan doktrin tidak memiliki landasan di dalam perasaan, maka tidak ada pernyataan yang bisa dibuat berkenaan dengan itu” menjadikan “perasaan” melampaui dari fakta tentang providensia Allah atas manusia. (8) gagasan Tillich justru berkontradiksi. Kontradiksinya terlihat dari pernyataan bahwa “segala usaha untuk membuktikan eksistensi ‘Allah’ tidak dapat diterima”, padahal ia sendiri telah membuktikan eksistensi Allah itu sendiri dan ia menerima apa yang ia nyatakan. Berikutnya, kontradiksi terlihat pada frasa “masalah eksistensi ‘Allah’ tidak dapat dipertanyakan atau dijawab”, padahal ia sendiri telah menjawab eksistensi Allah itu sendiri. Di sini Tillich berkesimpulan terlalu sederhana sekali tanpa melihat konsekuensi logis dari apa yang ia nyatakan sendiri. (9) gagasan Song terlihat berat sebelah. Pada sisi lain ia berpikir bahwa “teologia itu berkenaan dengan persoalan bagaimana Allah memperhatikan manusia” dan “bukan untuk mempersoalkan bagaimana manusia memperhatikan Allah.” Alangkah baiknya jika keduanya disatukan, karena di saat kita memikirkan tentang bagaimana Allah memperhatikan kita, secara bersamaan kita juga sedang memperhatikan Allah yang memperhatikan kita. Ini disebut dengan konsekuensi logis secara bersamaan. Memang benar apa yang dinyatakan Song, “teologia Kristen yang terlalu banyak membicarakan tentang Allah melupakan atau mengabaikan kehidupan manusia. Teologi secara substansial seyogianya menyentuh tiga wilayah yaitu kognitif (pengetahuan setiap orang percaya tentang Allah dan karya-Nya), konatif (perilaku atau sikap orang percaya kepada sesama dan kepada Tuhan), dan keterampilan dalam menghasilkan berbagai karya yang bermanfaat bagi diri sendiri dan orang lain. Teologi yang tidak menghasilkan perubahan, buah, dan pengaruh, bukanlah teologi yang baik dan sehat, melainkan teologi yang kering dan kekurangan gizinya. (10) benar apa yang digagas Lukito bahwa “teologia seharusnya berkenaan dengan Allah dan ciptaan-Nya seperti yang dimengerti dari Alkitab.” Gagasan ini menjawab tiga definisi teologi sebagaimana yang telah saya sebutkan di atas yaitu: teologia berbicara pribadi Allah, berbicara tentang karya-karya Allah, dan berbicara mengenai kesadaran akan diri sendiri (manusia).
[1] Kelly M. Kapic, Pedoman Ringkas Berteologi: Mengapa dan Bagaimana Studi Teologi, alih bahasa Paul S. Hidayat (Jakarta: Waskita Publishing, 2014), 7-8.
[2] Ludwig Feuerbach, The Essence of Christianity (1841, cetak ulang, New York: Barnes & Noble, 2004), dikutip Kapic, Pedoman Ringkas Berteologi, 9.
[3] Kapic, Pedoman Ringkas Berteologi, 12.
[4] Alexander dari Halles, dikutip dalam Theological Commonplaces, dikutip Kapic, Pedoman Ringkas Berteologi, 13.
[5] Kapic, Pedoman Ringkas Berteologi, 13.
[6] Kapic, Pedoman Ringkas Berteologi, 14.
[7] Kapic, Pedoman Ringkas Berteologi, 15.
[8] Kapic, Pedoman Ringkas Berteologi, 16-17.
[9] Kapic, Pedoman Ringkas Berteologi, 17-18.
[10] John Calvin, Institutes of the Christian Religion, ed. John T. McNeill, terj. Ford Lewis Battle, 2 vol., Library of Christians Classic (Philadelphia: Westminster Press, 1960), 1.1.1-2, dikutip Kapic, Pedoman Ringkas Berteologi, 17.
[11] Kapic, Pedoman Ringkas Berteologi, 18.
[12] Kapic, Pedoman Ringkas Berteologi, 18.
[13] Kapic, Pedoman Ringkas Berteologi, 23.
[14] Kapic, Pedoman Ringkas Berteologi, 24-25.
[15] Kapic, Pedoman Ringkas Berteologi, 27.
[16] Kapic, Pedoman Ringkas Berteologi, 28.
[17] Kapic, Pedoman Ringkas Berteologi, 30.
[18] Daniel Lucas Lukito, Pengantar Teologia Kristen I (Bandung: Kalam Hidup, 2002), 11.
[19] Lukito, Pengantar Teologia Kristen I,11.
[20] Lukito, Pengantar Teologia Kristen I,11-12.
[21] Lukito, Pengantar Teologia Kristen I,12.
[22] Systematic Theology (Grand Rapids: Eerdmans, 1979), I:19, dikutip Lukito, Pengantar Teologia Kristen I,15.
[23] F. Schleiermacher, The Christian Faith, ed. H. R. Mackintosh dan J. S. Stewart (Edinburg: T. & T. Clark, 1956), 12 dst. dikutip Lukito, Pengantar Teologia Kristen I,15-16.
[24] Schleiermacher, The Christian Faith, 17, 76 (ps. 15), dikutip Lukito, Pengantar Teologia Kristen I,16.
[25] Schleiermacher, The Christian Faith, 78, dikutip Lukito, Pengantar Teologia Kristen I,16.
[26] Lukito, Pengantar Teologia Kristen I,16.
[27] Paul Tillich, Systematic Theology (Chicago: University of Chicago, 1951), 1:18.
[28] Tillich, Systematic Theology, 227.
[29] Tillich, Systematic Theology, 12, Lukito, Pengantar Teologia Kristen I,16-17.
[30] C. S. Song, “New Perspective of Theology in Asia: Ten Theological Theses”, SEAJT 20, No. 1 (1979): 15, dikutip Lukito, Pengantar Teologia Kristen I,17.
[31] C. S. Song, Tell Us Our Names: Story Theology from An Asian Perspective (Maryknoll: Orbis, 1984), 37, dikutip Lukito, Pengantar Teologia Kristen I,17.
[32] Song, Tell Us Our Names, 9, dikutip Lukito, Pengantar Teologia Kristen I,17.
[33] Lukito, Pengantar Teologia Kristen I,18.
[34] Lukito, Pengantar Teologia Kristen I,18.









