
Setiap orang memiliki keyakinan terhadap sesuatu, baik bersumber dari dirinya sendiri, maupun bersumber dari luar dirinya. Keyakinan itu mendorong setiap orang untuk memperlihatkan tingkah lakunya, menunjukkan kualitas, dan memberi pengaruh pada orang lain.
Dalam konteks ini, iman Kristen mengetengahkan (mengemukakan) sebuah prinsip hidup yang telah diubahkan oleh Yesus Kristus. Secara substansial, setiap orang yang percaya dan beriman kepada Yesus Kristus haruslah menyatakan dirinya sebagai seseorang yang “diubahkan” (oleh Yesus Kristus melalui pengalaman dan pemahaman akan firman-Nya) dan “berubah” (oleh komitmen pribadi untuk menyelaraskan pilihan hidup dengan kehendak Tuhan Yesus).
“Diubah” dan “Berubah” adalah fakta bahwa seseorang telah mengenakan manusia baru, karena telah menanggalkan manusia lama. Pada titik ini, seseorang telah melakukan dan mengalami perubahan. Pilihan hidup seseorang untuk mengikut Yesus Kristus dan beriman kepada-Nya merupakan sebuah keputusan yang dibarengi dengan “kredo”. Kredo itu sendiri lahir karena Yesus telah memberikan iman kepadanya untuk meneruskan kehidupan tetapi dengan cara yang berbeda. Jika ia telah mengenakan manusia baru maka cara hidupnya tentu berbeda ketika ia masih mengenakan manusia lama. Perubahan ke arah yang lebih baik belum terjadi dan belum dilakukan ketika seseorang masih mengenakan manusia lama.
Mengikut Yesus adalah sebuah keputusan iman, di mana iman itu sendiri diberikan oleh Yesus: “dari Dia, oleh Dia, dan kepada Dia”. Dialah yang layak menerima pujian dan sembah, hormat serta ungkapan syukur dari mereka yang setia dan beriman kepada-Nya. Mengikut Yesus mendorong seseorang untuk melihat kehidupan sebagai “KASIH KARUNIA” yang luar biasa dari Yesus Kristus; sebuah kehidupan yang melihat sesama sebagai objek kasih Allah dan layak menerima pengampunan dan keselamatan dari-Nya.
Kendatipun dalam proses mengikut Yesus terdapat berbagai macam hambatan, tantangan, tekanan, dan hinaan, hal itu tidak menyurutkan komitmen kita untuk melihat bahwa Yesus Kristus akan tetap menyertai dan memberikan kekuatan dalam menghadapi semuanya itu. Tak jadi soal dunia membenci kita, sebab Yesus terlebih dahulu dibenci. Tak jadi soal dunia memandang rendah kita, sebab Yesus terlebih dahulu direndahkan dunia.
Sejatinya, mengikut Yesus adalah sebuah pilihan yang tepat sekaligus bermasalah. Bermasalah karena dunia menghina dan merendahkan Yesus, dan imbasnya, pengikut-Nya pasti hina dan rendah. Tentu tidaklah demikian. Jika kita menggunakan standar yang sama, maka kita dapat mengatakan bahwa “perbuatan-perbuatan duniawi adalah jenis perbuatan yang rendah, hina, dan kotor, maka siapa saja yang melakukan perbuatan-perbuatan duniawi, pasti dirinya adalah rendah, hina, dan kotor.”
Mengikut Yesus juga menimbulkan masalah bagi diri kita sendiri. Masalahnya terletak pada bagaimana kita berkomitmen untuk melakukan tindakan “solvinatia” dan mengenakan manusia baru, merasakan kehidupan yang baru, yang diubahkan Yesus Kristus. Jika kita tidak dapat mengatasi masalah tersebut, maka sikap hidup kita akan menunjukkan kebalikannya: di satu sisi mengaku sebagai pengikut Yesus Kristus (yang harus hidup dalam kesucian dan kekudusan), tetapi di sisi lain perilaku, karakter, dan relasinya sangat buruk dan tidak terpuji. Ini adalah dua hal yang kontradiksi dalam diri seseorang.
Itu sebabnya, seseorang harus melakukan tindakan “solvinatia” agar terlihat jelas hidupnya berubah karena Yesus Kristus. Dengan menetapkan prinsip hidup di dalam Yesus Kristus, kita—secara simultan—menentukan apa dan bagaimana kehidupan di dalam Yesus. “Apa” menyangkut komitmen untuk setia kepada-Nya, sedangkan “bagaimana” menyangkut segala sesuatu yang kita persembahkan kepada-Nya sebagai persembahan yang hidup.
Ketika kita memilih jalan hidup kita untuk percaya kepada Yesus Kristus, maka kita perlu berkomitmen melakukan “solvinatia”. Kata “solvinatia” berasal dari kata “solvi” dan “nativo”. Kata “solvi” berarti “memecahkan”—jika diambil artinya dari bahasa Esperanto (bahasa antar bangsa yang netral; bahasa artifisial, buatan, yang diciptakan oleh seorang Polandia, Dr. Ludwig Lazarus Zamenhof [1851-1917], yang masa mudanya tinggal di lingkungan multietnis; esperanto adalah bahasa yang diciptakan untuk mempermudah komunikasi antar [berbagai] bangsa di dunia). Sedangkan dalam bahasa Latin, “solvi” diartikan sebagai “terlepas”.
Kata “nativo” berasal dari bahasa Itali, yang berarti “asli”. Kata lain yang bisa digunakan adalah “natia” (dalam bahasa Polandia) yang berarti “harapan”. Berangkat dari arti dua kata tersebut, maka “solvinatia” berarti “memecahkan [yang] asli”, atau “melepaskan [yang] asli”. Jika menggunakan kata “natia”, maka dapat dipahami sebagai “melepaskan harapan”. Kedua kata bisa dipakai dalam pengertian yang sama dalam konteks tertentu sebagaimana yang akan dijelaskan berikut ini.
Dalam konteks iman Kristen, seseorang yang mengikut Yesus Kristus, haruslah “melepaskan [memecahkan] sifat yang asli, maksudnya sifat yang dilakukan sebelum menjadi pengikut Yesus Kristus (sifat buruk) atau “melepaskan harapan” yang lama; dengan perkataan lain sifat asli dari “manusia lama” dan harapannya harus dibuang dan dilepaskan. Jika seseorang telah melepaskan atau memecahkan kehidupan lamanya dan harapannya, maka ia diberikan oleh Yesus sebuah “kehidupan (manusia) dan harapan yang baru.” Yesus bertanggung jawab atas kehidupan orang-orang yang percaya kepada-Nya: Ia mengubahkan mereka; Ia memperlengkapi mereka dengan segala perbuatan baik.
Ada standar pembeda antara manusia lama dan manusia baru. Menjadi manusia baru—menjadi pengikut Yesus Kristus—berarti berani melakukan “solvinatia”, yaitu melepaskan manusia lama (sifat asli yang buruk) dan harapan semunya, untuk hidup dalam kasih Tuhan. Menjadi pengikut Yesus, harus berbeda (tampil beda); beda kehidupan, beda cara hidup. Cara hidup harus selaras dengan firman-Nya. Kehidupan yang benar dan kudus adalah ciri khas dari mereka yang telah berkomitmen untuk melakukan “solvinatia”.
Solvinatia adalah komitmen iman dari seseorang yang memilih menyandarkan hidupnya kepada Yesus Kristus. Komitmen iman itu akan membentuk perilaku, karakter, dan relasi humanitas. Tak ada pilihan lain bagi kita jika kita menyatakan kredo kepada Yesus Kristus selain “melepaskan sifat asli kita”—solvinatia—dan mengenakan sifat yang baru yang diberikan (dan ditetapkan) oleh Yesus Kristus: hidup kudus, mengasihi Tuhan dan sesama, dan melakukan segala sesuatu yang menyenangkan dan berkenan kepada Tuhan Yesus.
Mari, lakukanlah tindakan “solvinatia” jika kita mengaku sebagai pengikut YESUS KRISTUS. Jika Saudara sudah melakukannya, ajaklah sahabat-sahabatmu, atau orang-orang yang anda kenal dan kasihi, untuk melakukan hal yang sama: Solvinatia dan menerima Yesus Kristus sebagai Tuhan dan Juruselamat, yang telah teruji dan terbukti mengubahkan milyaran manusia jahat menjadi manusia yang baik sesuai dengan kehendak-Nya.
Tentu ada “natia” [harapan] di dalam Yesus Kristus, dan harapan itu bukanlah harapan untuk menikmati seksualitas di surga, tetapi menikmati kemuliaan dan kebahagiaan kehidupan kekal, yang Tuhan Yesus berikan kepada mereka yang taat dan setia kepada-Nya.
Salam Bae……











