Hidup manusia, sejak awal, adalah sebuah pembatasan. Pembatasan tersebut adalah naturnya. Tuhan telah menetapkan sebuah ciptaan yakni “manusia” sebagai makhluk bermoral, berpendidikan, berlogika, berkembang biak, berkesadaran tinggi, berperasaan, beremosi, berketetapan, berkehendak, berkemauan, berkeinginan, berhasrat, berelasi, berkasih sayang, dan beradab. Pembatasan yang dimaksud adalah pembatasan potensi dan kehidupan manusia di bumi. Akibat dari pembatasan tersebut, kematian merupakan salah satu implikasinya. Kematian adalah natur kewajaran manusia. Kematian memiliki latar belakang pembatasan natur manusia. Kematian berdampak pada kesedihan, kebahagiaan, sukacita, pesta pora, kepuasan, pelunasan hutang, tindakan diperalat, tindakan siasat dan tipu muslihat, penipuan dan lain sebagainya.
Kematian manusia adalah sebuah fenomena hidup yang sudah Tuhan atur. Kematian tidak memandang siapa pun. Natur pembatasan melingkupi semua jenis manusia. Tak ada yang dapat melarikan diri dari kematian. Kematian melanda semua belahan dunia. Ada kematian wajar, ada kematian tak disengaja, ada kematian yang disengaja, ada kematian karena hukuman, ada kematian karena pembalasan dendam, ada kematian karena iri hati, perselisihan, permusuhan, peperangan, kecelakaan, gempa bumi, sakit menyakit, penanganan medis, pembunuhan, pembantaian, stroke, diguna-guna, dan lain sebagainya.
Menyadari bahwa kematian adalah sesuatu yang bernatur pembatasan, seharusnya kita menjaga pola hidup dan kesehatan; menjaga perilaku dan pola pemikiran; menjaga identitas dan jatidiri kita; menjaga keamanan dan kenyamanan hidup kita. Kematian adalah sebuah hadiah bagi mereka yang mencintai Tuhan untuk bertemu dengan-Nya. Kematian adalah hadiah bagi mereka yang secara sadar telah melakukan berbagai tindak kejahatan, melakukan pemalsuan kebenaran, melakukan penipuan, melakukan penghinaan, melakukan kebohongan, melakukan intrik-intrik politik busuk, dan melakukan berbagai cara yang jahat dan tak berperi kemanusiaan.
Kematian melanda semua manusia tanpa terkecuali. Hidup mati dikuasai lidah, demikian ungkapan Raja Salomo. Lidah bijak mendatangkan hidup, tetapi lidah dusta mendatangkan celaka dan kematian. Hidup benar di hadapan Tuhan mendatangkan hidup, hidup buruk dan membenci sesama mendatangkan kematian yang wajar. Hidup yang suci mendatangkan pujian dan kemuliaan. Hidup yang kotor dan nista mendatangkan hinaan dan kematian yang tanpa disengaja. Hidup yang peduli dengan sesama mendatangkan kedamaian dan keriangan. Hidup yang kudus mendatangkan kebersihan diri dan terhindar dari jerat-jerat duniawi
Memahami kematian berarti memahami kehidupan. Memahami kehidupan berarti memahami kefanaan hidup – pembatasan hidup yang telah menjadi ketetapan Tuhan. Namun, Tuhan juga telah menyediakan hidup yang tak terbatas—sebuah kehidupan bersama Dia, kehidupan kekal. Mereka yang bersama Dia adalah mereka yang telah setia, telah taat, dan telah bertahan dalam kekudusan, bertahan dalam menghadapi goncangan-goncangan dunia, bertahan menghadapi manisnya rayuan dunia: seks, perzinaan, kemabukan, pesta pora, kekayaan besar tapi harus membenci dan menjatuhkan orang lain yang tidak bersalah, kenikmatan seks, obat-obat terlarang, dan minuman keras.
Kematian merupakan pembatasan hidup. Bagi orang jahat, kematian menghadiahkan kematian kekal, dan bagi orang benar dan setia, kematian menghadiahkan kehidupan kekal.
Pendeta pelacur adalah pendeta yang terlibat dalam kasus-kasus yang lumrah: percabulan, kudeta, perebutan jabatan, penipuan, mau mendapatkan jatah pembagian harta kekayaan, memperalat orang lain untuk kepentingan dan pemuasan hawa nafsu pribadi. Kasus-kasus tersebut menjadi ukuran betapa brutalnya pendeta – dengan menghalalkan segala cara – ia mulai mencari dukungan di mana-mana dan mengumpulkan sebanyak mungkin orang yang dapat dirayunya, yang dapat dipeluknya, yang dapat diciumnya, yang dapat dibayarnya, yang dapat dilacurinya.
Dengan bermodalkan jabatan “pendeta” dan ditambah dengan pemalsuan “suara Tuhan”, pendeta pelacur tersebut akan rela mengeluarkan apa saja termasuk uangnya untuk berjuang mencapai apa yang menjadi tujuannya. Pendeta pelacur akan menggunakan berbagai cara seperti kekerasan, ancaman, sogokan, pembohongan, kemunafikan, provokasi, dan penipuan. Anehnya, orang-orang yang ditipu adalah anggota jemaatnya, bahkan ada juga yang berstatus pendeta dan pelayan Tuhan. Jadi, pendeta menipu pendeta.
Para pendeta dan pelayan yang ditipu atau dirayu oleh pendeta pelacur adalah pendeta dan pelayan yang matanya hanya berfungsi sebelah. Mengapa? Karena mata sebelahnya telah ditutupi dengan “iming-iming” harta kekayaan, uang, seks, dan sebagainya. Para pendeta yang telah terkena racun penipuan yang dahsyat digambarkan sebagai pendeta-pendeta pandir yang tidak dapat berbuat apa-apa.
Mungkinkah mereka disebut orang baik dan akan berbuat baik? Dalam anggapan saya, tidak mungkin. Nabi Yeremia pernah berujar: “Dapatkah orang Etiopia mengganti kulitnya atau macan tutul mengubah belangnya? Masakan kamu dapat berbuat baik, hal orang-orang yang membiasakan diri berbuat jahat? (Yeremia 13:23).
Di sini jelas bahwa habitualisme seseorang yang berbuat jahat, tidak dapat berbuat baik karena perbuatan jahat telah menjadi kebiasaan mereka setiap hari. Tak mungkin satu sumber mata air memancarkan air tawar dan air pahit. “Pohon yang baik menghasilkan buat yang baik, sedang pohon yang tidak baik menghasilkan buah yang tidak baik” (Matius 7:17). “Karena tidak ada pohon yang baik yang menghasilkan buah yang tidak baik, dan juga tidak ada pohon yang tidak baik yang menghasilkan buah yang baik” (Lukas 6:43), dan “Orang yang baik mengeluarkan hal-hal yang baik dari penbendaharaannya yang baik dan orang-orang yang jahat mengeluarkan hal-hal yang jahat dari perbendaharaannya yang jahat” (Matius 12:35)
Rasul Petrus pernah berujar: “Bagi mereka cocok apa yang dikatakan peribahasa yang benar ini: ‘Anjing kembali lagi ke muntahnya, dan babi yang mandi kembali lagi ke kubangannya.’” Gagasan ini sebenarnya berangkat dari natur manusia itu sendiri. Jika naturnya selalu berbuat jahat semata-mata, maka dia akan tetap kembali ke kubangannya. Mereka akan memakan apa yang pernah mereka muntahkan. Ucapan mereka tidaklah dapat dipercaya karena bersumber dari hati yang mau mencari kepentingan diri sendiri.
Sebelum Rasul Petrus, penulis kitab Amsal menegaskan bahwa: “Seperti anjing kembali ke muntahnya, demikianlah orang bebal yang mengulangi kebodohannya.” Raja Daud juga menjelaskan konteks yang sama. Ia menuturkan, “Dosa bertutur di lubuk hati orang fasik; rasa takut kepada Allah tidak ada pada orang itu, sebab ia membujuk dirinya, sampai orang mendapati kesalahannya dan membencinya. Perkataan dari mulutnya ialah kejahatan dan tipu daya, ia berhenti berlaku bijaksana dan berbuat baik. Kejahatan dirancangkannya di tempat tidurnya, ia menempatkan dirinya di jalan yang tidak baik; apa yang jahat tidak ditolaknya” (Mazmur 36)
Mengapa dikatakan pendeta pelacur? Alasannya sederhana, sesuai dengan apa yang diperbuatnya yakni:
(1) Melacurkan dirinya untuk diikuti oleh para domba pandir.
(2) Dirinya siap digunakan oleh para domba pandir dengan cara meminta sesuatu dari pendeta pelacur untuk memuaskan keinginan mereka.
(3) Para domba pandir memiliki sejumlah alasan untuk menjadi pengikut pendeta pelacur, dan salah satunya adalah pendeta pelacur harus memberi makan dan minum sebagai imbalan atas lacurannya.
(4) Melakukan apa saja dengan siapa saja agar keinginannya terpuaskan.
(5) Siap membayar siapa saja agar hasrat dan kesombongannya terpenuhi.
(6) Siap bekerja sama dengan siapa saja asalkan memberikan keuntungan kepada dirinya meski dengan cara-cara yang tidak ia sukai.
(7) Terus mencari dukungan, mencari mangsa yang dapat ditelannya dengan rayuan manisnya
Pendeta pelacur adalah mereka yang telah mengesampingkan gagasan-gagasan moral dan spiritual demi pemuasan ambisi dan egonya. Mereka adalah orang-orang yang durhaka. Mungkinkah kita melihat mereka? Mungkinkah klta telah mengikuti mereka? Mungkinkah kita telah terperangkap dalam jaringnya?
Keluarlah! Tinggalkanlah dia! Jangan merusak dirimu dengan berbagai-bagai duka akibat dari pergaulan dengan pendeta pelacur. Hidup itu begitu berharga untuk diserahkan kepadanya. Jangan ragu untuk pergi dan meninggalkannya, sebab kehidupanmu sangatlah berarti dan masih dapat dipakai Tuhan untuk pekerjaan yang lebih mulia, lebih baik, lebih lurus dan berkenan kepada Tuhan Yesus.
Kekristenan berkembang dan menjadi agama terbesar di dunia adalah fakta yang mengejutkan. Hal ini disebabkan karena pekabaran Injil terus dilakukan, yang menegaskan bahwa Yesus Kristus adalah Juruselamat dunia, mengasihi, menebus, mengampuni, mendamaikan, menguduskan, dan menyelamatkan manusia-manusia yang berdosa. Dalam catatan sejarah, sejak abad pertama hingga sekarang ini, gerakan misi terus dilakukan. Meski berbagai ancaman, kekejaman, dan pembunuhan terhadap para pekabar Injil, bahkan juga bagi para pengikut Yesus, telah menimbulkan kesedihan yang mendalam. Para martir Kristen dibunuh, dipenggal, dijadikan tontonan umum tatkala mereka dimakan binatang buas, disalibkan, dibakar hidup-hidup untuk dijadikan lampu taman. Apakah kemudian orang Kristen lainnya menuntut balas? Tentu tidak. Tuhanlah yang akan membalasnya, karena para martir mati demi Tuhan yang telah memberikan iman yang kuat; mereka tetap mempertahankan iman hingga mati. Itu adalah sebuah upaya rekursif dalam menghadapi tantangan di zaman mereka.
Rekursif adalah sesuatu yang berkaitan dengan tindakan yang berulang-ulang, berasal dari bahasa Latin “recursus” yang berarti “berulang-ulang”, atau “berulang”. Jika dikaitkan dengan tindakan misi, maka pola bermisi sejak awal di zaman para rasul terus dilakukan secara “berulang” sampai sekarang ini.
Dalam kaitannya dengan upaya rekursif tersebut, tidak hanya keberhasilan para misionaris yang membawa jiwa kepada Kristus Yesus, tetapi sejarah juga mencatat bahwa muncul juga gerakan perlawanan untuk meredam dan menghalangi proses pekabaran Injil. Gerakan perlawanan terhadap iman Kristen bermuara pada dua tujuan yaitu menghambat berita Injil dan memusnahkan ajaran-ajaran Kristen tentang Yesus (sebagaimana termaktub dalam Alkitab). Upaya untuk memusnahkan pengikut Yesus dan Alkitab masih terus terjadi. Namun ketika Injil tidak lagi diberitakan karena hambatan dan halangan tersebut, Tuhan kemudian membuat “mukjizat” yang luar biasa. Mukjizat adalah suara Tuhan yang berbicara melalui tindakan (perbuatan ajaib) ketika para pekabar Injil dilarang berbicara. Maka di sini, kekristenan berkembang karena tiga hal: pertama, karena pemberitaan Injil mengandung kasih dan keselamatan dari Tuhan; kedua, karena mukjizat yang Tuhan lakukan untuk meneguhkan berita Injil atau karena Tuhan ingin menunjukkan kuasa-Nya, baik kepada pekabar Injil maupun kepada mereka yang menentang Injil; dan ketiga, karena perbuatan-perbuatan kasih yang dilakukan oleh orang-orang Kristen termasuk para penginjil.
Dalam sejarahnya, Kristen adalah agama yang diiringi dengan penderitaan. Oleh para lawan mereka, pengikut Yesus Kristus dibuat menderita bahkan dibunuh karena mereka mempertahankan iman kepada Yesus Kristus. Ancaman demi ancaman, halangan demi halangan, hambatan demi hambatan, pembunuhan demi pembunuhan, persekusi demi persekusi, tidak mengecilkan peran para pekabar Injil untuk menyatakan bahwa keselamatan yang telah dikerjakan Yesus dan penebusan manusia dari dosa-dosa mereka telah secara sempurna digenapi oleh Yesus melalui kematian-Nya sebagai “manusia” di kayu salib (bdk. Filipi 2:8). Berita ini tetap ada dan bertahan di sepanjang sejarah. Pengampunan dosa adalah berita yang cukup menggelisahkan atau menggentarkan para pelaku dosa bahwa mereka membutuhkan Juruselamat untuk memberi mereka kedamaian, kelepasan, dan kebahagiaan.
Kristen, selain Yudaisme (Israel) adalah agama yang sering mengalami penderitaan. Yudaisme dalam sejarahnya diwarnai dengan penindasan dan kesengsaraan. Dalam bingkai “Perjanjian Lama” versi Kristen, bangsa Israel yang adalah cikal bakal agama Yudaisme, bangsa yang hidup dalam tekanan, penindasan, perbudakan, kesengsaraan, dan terutama berada di bawah hukuman Tuhan akibat dari berbagai bentuk penyelewengan dan kenajisan hidup yang melawan hukum-hukum dan perintah-perintah Tuhan. Kristen yang lahir dari rahim Yudaisme adalah agama yang memiliki perspektif yang sedikit berbeda dengan Yudaisme. Terutama dalam soal tafsir “Mesias”. Percabangan tafsir yang muncul dalam konteks ini menjadikan Kristen sebagai “agama” yang lahir, berdiri, dan berkembang dalam wadah “Inkarnasi Allah menjadi daging [manusia]—ο λογος σαρξ εγενετο [ho logos sarks egeneto]” yaitu “Yesus Kristus”.
Yesus, sebagai pijakan dan tolok ukur ajaran-ajaran kasih dan keselamatan telah menjadi “trending topic” dari arus orang-orang percaya yaitu para pengikut-Nya. Mereka adalah para penyembah Yesus, menaruh harapan pada-Nya sebagai Juruselamat: Penebus dan Penyelamat. Keselamatan yang diwujudkan dalam peristiwa kematian-Nya disalib sebagai manusia telah menjadi peristiwa yang sangat berkesan. Allah yang menjadi manusia (inkarnasi) adalah satu-satunya cara yang diperlihatkan Allah kepada dunia. Meski ada orang-orang dunia yang tidak menerima cara tersebut, namun cara itu pula yang menjadikan Kristen sebagai agama yang kuat dan dikagumi di sepanjang sejarah.
Dalam perkembangannya melalui penginjilan, berita yang dikumandangkan adalah tentang “Allah yang begitu mengasihi manusia berdosa dan mengaruniakan Yesus Kristus sebagai ‘jalan penebusan’” dan “kasih Yesus yang luar biasa: rela mati di kayu salib untuk maksud penebusan dan realisasi keselamatan.” Konsep keselamatan yang ditetapkan Allah didasarkan pada dua hal yakni kasih karunia dan pencurahan darah. Dua konsep ini kemudian diwujudkan dalam inkarnasi [ho logos sarks egeneto]: Allah yang mewujud dalam tubuh manusia secara alamiah. Allah menetapkan “cara” menebus yang lain dan unik. Mereka yang tidak paham tentu akan mengumpulkan sejumlah opini dan keberatan untuk mempertanyakannya dan menggembar-gemborkan konsep atau paham yang tidak benar (menyimpang).
Berita bahwa “Allah yang begitu mengasihi manusia berdosa dan mengaruniakan Yesus Kristus sebagai ‘jalan penebusan’” dinyatakan oleh Rasul Yohanes dalam Injilnya yang ditulis berdasarkan fakta bahwa ia sendiri adalah pengikut Yesus Kristus; ia sendiri melihat dan merasakan kuasa dan mukjizat yang diperlihatkan Yesus; ia pula yang mendengar dan melihat bukti klaim-klaim spektakuler Yesus mengenai diri-Nya: Tuhan dan Allah, Sang Juruselamat dunia:
Karena begitu besar kasih Allah akan dunia ini, sehingga Ia telah mengaruniakan Anak-Nya yang tunggal, supaya setiap orang yang percaya kepada-Nya tidak binasa, melainkan beroleh hidup yang kekal. Sebab Allah mengutus Anak-Nya ke dalam dunia bukan untuk menghakimi dunia, melainkan untuk menyelamatkannya oleh Dia. Barangsiapa percaya kepada-Nya, ia tidak akan dihukum; barangsiapa tidak percaya, ia telah berada di bawah hukuman, sebab ia tidak percaya dalam nama Anak Tunggal Allah (Yohanes 3:16-18)
Mereka yang percaya kepada Yesus berarti sama dengan percaya kepada Sang Bapa yang mengaruniakan Yesus bagi dunia yang berdosa. Lalu bukankah pernyataan Rasul Yohanes mengindikasikan bahwa “Allah punya Anak” atau “Allah beranak?” Mereka yang memahami “Allah beranak” pasti pikirannya tumpul; ya, memang tumpul. Istilah “Anak” di sini tidak dipahami sebagai sebagai konsep biologis bahwa istri Allah hamil dan beranak. Ini jelas pikiran dari yang bodoh; bodoh karena tidak memahami konsep bahwa Allah memiliki sejumlah kualitas kuasa yang tak dapat dipahami oleh manusia. Istilah “anak” memiliki beberapa pemahaman: pertama, anak secara biologis (status sebagai anak karena dilahirkan dari orangtuanya); kedua, anak secara pengakuan (misalnya Israel adalah ‘anak kesayangan Allah’. Itu berarti Israel diakui oleh Allah sebagai yang disayang, dijaga, dan diberkati. Yesus Kristus, dalam keadaan-Nya sebagai manusia, dinyatakan ‘diakui’ oleh Allah sebagai ‘Anak-Nya yang tunggal’ yang kepada-Nya Ia berkenan [Mat. 3:17; 17:5; Mrk. 1:11; bdk. Yoh. 1:14, 18; 3:16, 18; 1Yoh. 4:9]); ketiga, anak secara adopsi (seseorang dapat disebut sebagai anak karena ia telah ‘diadopsi’ oleh seseorang. Dalam istilah sekarang, disebut dengan ‘anak angkat’); keempat, anak secara atau dalam konteks silsilah (misalnya: Yesus Kristus anak Daud, anak Abraham [Mat. 1:1]); dan kelima, anak secara identitas turunan [penyebutan] yang sama, satu substansi yang setara, misalnya penyebutan atau pengakuan “Anak Allah”. Konteks ini seringkali dipakai Yesus untuk menyebut diri-Nya sebagai “Anak Allah” (Yoh. 5:25, “…orang-orang mati akan mendengar suara Anak Allah”; Luk. 22:70, “Jawab Yesus: ‘Kamu sendiri mengatakan, bahwa Akulah Anak Allah’”; Yoh. 11:4, “…sebab oleh penyakit itu Anak Allah akan dimuliakan”), atau pengakuan Yohanes (Yoh. 1:18, “…tetapi Anak Tunggal Allah….; 1:34, “Ia inilah Anak Allah”; 3:16, “Karena begitu besar kasih Allah akan dunia ini, sehingga Ia telah mengaruniakan Anak-Nya yang tunggal….”; 3:17-18, “Sebab Allah mengutus Anak-Nya … sebab ia tidak percaya dalam nama Anak Tunggal Allah”; 20:31, “…supaya kamu percaya, bahwa Yesuslah Mesias, Anak Allah….”), pengakuan Iblis untuk mencobai Yesus (Mat. 4:3, 6; Luk. 4:3, 9), pengakuan setan-setan, roh-roh jahat (Mat. 8:29; Mrk. 3:11; 5:7; Luk. 4:41; 8:28), terlebih para murid yang mengakui bahwa Yesus adalah Mesias, Anak Allah (Mat. 14:33; 16:16), pengakuan kepala pasukan (Mrk. 15:39), pernyataan Markus (Mrk. 1:1), peryataan (pengakuan) malaikat terkait kelahiran Yesus, Sang Juruselamat (Luk. 1:32, “disebut Anak Allah Yang Mahatinggi”; 1:35, “sebab itu anak yang akan kaulahirkan itu akan disebut kudus, Anak Allah”), pengakuan Natanael (Yoh. 1:49, “Rabi, Engkau Anak Allah, Engkau Raja orang Israel!”).
Dalam terang inkarnasi Logos menjadi daging [manusia], Allah merealisasikan kovenan yang baru untuk menunjukkan kepada manusia berdosa bahwa “cara penebusan dalam PL secara penuh dan final dikerjakan oleh Yesus Kristus melalui kematian dan kebangkitan-Nya, di mana kurban dalam PL hanya mati tapi tidak bangkit dari kematian, sedangkan Yesus melampaui dari kurban PL. Itulah cara Allah yang dipilih-Nya tanpa meminta persetujuan manusia. Berita tentang “kasih Yesus yang luar biasa itu: rela mati di kayu salib untuk maksud penebusan dan realisasi keselamatan yang ditetapkan-Nya sejak kekekalan” menjadi topik utama dalam tulisan-tulisan para rasul. Sebut saja dua di antaranya: Rasul Petrus dan Rasul Paulus. Rasul Petrus menegaskan,
Sebab kamu tahu, bahwa kamu telah ditebus dari cara hidupmu yang sia-sia yang kamu warisi dari nenek moyangmu itu bukan dengan barang yang fana, bukan pula dengan perak atau emas, melainkan dengan darah yang mahal, yaitu darah Kristus yang sama seperti darah anak domba yang tak bernoda dan tak bercacat. Ia telah dipilih sebelum dunia dijadikan, tetapi karena kamu baru menyatakan diri-Nya pada zaman akhir. Oleh Dialah kamu percaya kepada Allah, yang telah membangkitkan Dia dari antara orang mati dan yang telah memuliakan-Nya, sehingga imanmu dan pengharapanmu tertuju kepada Allah (1Ptr. 1:18-21).
Penegasan Rasul Petrus di atas adalah sebuah fakta yang terjadi. Konsep “darah” menjadi familiar dalam kaitannya dengan penebusan. Petrus mengkorelasikan “darah” dalam PL dengan “darah” Yesus Kristus di Perjanjian Baru. Darah sebagai media adalah cara Allah, sekali lagi: cara Allah — dan bukan cara manusia — untuk menebus manusia dari dosa-dosa mereka. Darah adalah simbol pengurbanan. PL hanya memperlihatkan darah binatang untuk membereskan ketidakberesan bangsa Israel. PB memperlihatkan darah Yesus untuk menebus manusia yang berdosa (bdk. Mat. 1:21). Di sini sangat terlihat konsep pengurbanan yang luar biasa. Seperti pemahaman yang diungkapkan Rasul Paulus, bahwa “Dia yang tidak mengenal dosa telah dibuat-Nya menjadi dosa karena kita, supaya dalam Dia kita dibenarkan oleh Allah” (2 Kor. 5:21) adalah benar, sama seperti konsep pengurbanan dalam PL. Binatang-binatang tidak mengenal dosa bangsa Israel, tetapi binatang-binatang itu jadi “pengganti” bangsa Israel. Itulah cara Allah: mengganti Israel untuk ditebus dengan binatang yang darahnya harus dicurahkan. Binatang itu mati menggantikan mereka. Yesus pun demikian: Ia adalah “pengganti” manusia berdosa; Ia tidak berdosa, tetapi dibuat Allah menjadi dosa karena kita, sama dengan binatang-binatang (dalam PL) yang tidak bersalah apa-apa tetapi dijadikan sebagai dosa untuk menebus bangsa Israel. Binatang adalah “pengantara” antara Allah dan bangsa Israel, demikian pula Yesus: Ia adalah Pengantara yang sempurna. Ia mati sebagai kurban yang sempurna, dan bangkit dari kematian. Teks-teks berikut meneguhkannya:
Karena Allah itu esa dan esa pula Dia yang menjadi pengantara antara Allah dan manusia, yaitu manusia Kristus Yesus yang telah menyerahkan diri-Nya sebagai tebusan bagi semua manusia: itu kesaksian pada waktu yang ditentukan (1 Tim 2:5-6)
Karena itu Ia sanggup juga menyelamatkan dengan sempurna semua orang yang oleh Dia datang kepada Allah. Sebab Ia hidup senantiasa untuk menjadi Pengantara mereka (Ibr. 7:25)
Karena itu Ia adalah Pengantara dari suatu perjanjian yang baru, supaya mereka yang telah terpanggil dapat menerima bagian kekal yang dijanjikan, sebab Ia telah mati untuk menebus pelanggaran-pelanggaran yang telah dilakukan selama perjanjian yang pertama (Ibr. 9:15)
Anak-anakku, hal-hal ini kutuliskan kepada kamu, supaya kamu jangan berbuat dosa, namun jika seorang berbuat dosa, kita mempunyai seorang pengantara pada Bapa, yaitu Yesus Kristus, yang adil (1 Yoh. 2:1)
Rasul Paulus juga menegaskan konteks kematian Yesus dalam rangka penebusan yang bertolak dari kesaksian Kitab Suci (maksudnya PL): “Sebab yang sangat penting telah kusampaikan kepadamu, yaitu apa yang telah kuterima sendiri, ialah bahwa Kristus telah mati karena dosa-dosa kita, sesuai dengan Kitab Suci, bahwa Ia telah dikuburkan, dan bahwa Ia telah dibangkitkan, pada hari yang ketiga, sesuai dengan Kitab Suci” (1 Kor. 15:3-4). Ada nubuat-nubuat yang cukup menegaskan bahwa penderitaan, kematian, kebangkitan Mesias diwujudkan dalam diri Yesus Kristus. Karya-karya Yesus meneguhkan nubuatan-nubuatan PL. Itu berarti konsep penebusan PL yang melibatkan darah binatang terealisasi secara sempurna dalam kematian Yesus yang mencurahkan darah dan mengalami kematian sebagai manusia sebagaimana yang ditegaskan Paulus berikut ini: “Dan dalam keadaan sebagai manusia, Ia telah merendahkan diri-Nya dan taat sampai mati, bahkan sampai mati di kayu salib” (Flp. 2:8).
Kematian Yesus adalah bukti cinta kasih-Nya kepada manusia berdosa. Allah menggunakan cara yang ajaib dan luar biasa. Yesus menjadi manusia untuk membereskan ketidakberesan manusia. Lalu bukankah Allah itu Mahakuasa? Bukankah Ia dapat mengampuni manusia berdosa tanpa harus melalui cara penyaliban Yesus? Pertanyaan-pertanyaan tersebut berangkat dari ketidakmengertian akan kedaulatan Allah. Saya dapat mengajukan pertanyaan untuk menyeimbangi pertanyaan tersebut: “Yang berhak menebus itu siapa?”; “Apakah manusia berdosa berhak mengatur Allah yang Maha Berdaulat?”; “Apakah Allah kurang pandai untuk menebus manusia dari dosa, sehingga manusia harus memberikan saran kepada-Nya soal cara yang paling baik untuk menebus manusia?” Kematian adalah cara yang paling baik yang dilakukan Allah untuk memberikan kehidupan kekal kepada mereka yang ditebus Allah. Binatang-binatang (dalam PL) darahnya dicurahkan dan mati; Yesus Kristus (dalam PB) darah-Nya dicurahkan dan mati. Dua prinsip ini sama tetapi “medianya” berbeda.
Berangkat dari dua prinsip tersebut, saya memahaminya sebagai cara Allah yang luar biasa. Kalau darah binatang yang dikurbankan hanya menebus bangsa Israel sebagai umat pilihan, darah Yesus yang dicurahkan justru membuktikan bahwa darah Yesus cukup untuk menebus semua umat pilihan yang tersebar di seluruh dunia. Allah menampilkan kehebatan kuasa-Nya sebagai realisasi dari rencana kekal-Nya untuk menyelamatkan manusia di seluruh dunia—umat yang telah dipilih-Nya. Dari situlah ide untuk mewartakan Injil kepada semua bangsa sebagai gerakan “Kasih dan Keselamatan” yang telah diwariskan Yesus kepada para pengikut-Nya.
Selain keberhasilan dari para pekabar Injil, ada pula aliran penentang kekristenan. Arus ini sering mengandalkan otot ketimbang otak. Meski juga otak sering dipakai untuk melawan gagasan-gagasan doktrinal Kristen. Otot digunakan untuk membuat kekerasan, intimidasi, pengusiran, pembakaran, pembunuhan kepada orang-orang Kristen dan tempat ibadahnya. Karena otak mereka tidak dapat menerima ajaran-ajaran Kristen, maka ototlah yang lebih berperan. Bukan karena Kristen tidak bisa berperang atau melawan, tetapi karena tidak ada teks rujukan yang pernah Yesus ajarkan untuk membalas kejahatan dengan kejahatan. Tidak sama sekali.
Arus penentang kekristenan di sepanjang sejarah sering melakukan tiga hal: pertama, menghambat pergerakan misi dan perkembangan populasi Kristen dengan berbagai cara; kedua, membunuh atau membantai orang-orang Kristen dengan cara-cara yang sadis sehingga menimbulkan ketakutan bagi orang Kristen lainnya; dan ketiga, menafsirkan ajaran-ajaran Alkitab sesuka hati tanpa didasari oleh pengkajian hermeneutik yang kredibel dan solid. Pada kasus pertama, kedua, dan ketiga, hingga sekarang masih dilakukan. Ketika kasus pertama dan kedua tidak dapat dijalankan, maka kasus ketiga dijalankan. Sekarang ini, ada sejumlah orang atau kelompok yang sering menggunakan ayat-ayat Alkitab dengan model tafsiran sesuka hati [tafsir dengkul] dan kemudian menyodorkan kepada orang-orang Kristen yang kurang terpelajar atau yang bahkan kurang memahami ajaran-ajaran Kristen, sehingga bisa berpotensi mempengaruhi mereka.
Arus jenis ini yaitu menggunakan tafsir bebas sesuka hati terhadap teks-teks Alkitab, cukup marak di Indonesia. Mereka suka sekali menafsirkan Alkitab dari kacamata agama mereka dan kemudian menjadikan seolah-olah agama mereka yang benar sesuai harapan mereka tentunya. Arus jenis ini juga sudah dimulai sejak lama. Sebut saja dari kalangan Islam adalah Ahmed Deedat dan dilanjutkan oleh Zakir Naik yang memiliki pola yang sama yaitu menggunakan teks-teks Alkitab lalu menafsirkannya sesuka hati sesuai kepentingan. Demikian juga dengan Irena Handono, Ustadz Kainama, Yahya Waloni, dan lain sebagainya yang tipenya sama. Bahkan yang lebih bodoh/konyol lagi adalah ada yang mengatakan bahwa: “Alkitab dinyatakan benar kalau Alquran menyatakannya benar”. Ini lucu sekali, dan terkesan sangat bodoh.
Berangkat dari arus penentang tersebut, tugas orang Kristen adalah terus mendalami kekayaan ajaran-ajaran Alkitab, sehingga dapat mempertanggungjawabkan iman di hadapan semua orang yang meminta, mengingingkan, menanyakan penjelasan tentangbya. Tidak perlu takut ketika ada pertanyaan-perntayaan sulit untuk dijawab, sebab iman itu kadang tidak bisa dijelaskan dengan perkataan (secara logis), sebab catatan penting di sini adalah “Tuhan tidak dipahami secara penuh oleh manusia yang terbatas”. Yang dipahami adalah apa yang telah difirmankan-Nya kepada manusia. Kritik-kritik atas Alkitab wajar saja dilakukan, tetapi para pengkritik juga harus memahami jawaban yang diberikan. Tidak hanya suka mengkritik, tetapi juga suka menerima penjelasan atas kritik tersebut.
Gerakan kasih dan keselamatan harus terus dilakukan dan dikumandangkan. Kekristenan akan terus berkembang ketika gerakan kasih dan keselamatan menjadi bagian penting untuk dilakukan. Kasih tentu lebih dari sekadar berbuat baik secara normatif. Pemberitaan Injil berisikan kasih dan keselamatan yang Tuhan anugerahkan kepada manusia berdosa. Gerakan kasih adalah saat orang Kristen mempublikaskan perbuatan-perbuatan terang (baik dan selaras dengan kehendak Allah), melalui pikiran, perkataan, dan perbuatan. Penginjilan adalah bagian yang tak terpisahkan dari iman Kristen. Penginjilan telah menjadi sahabat karib iman Kristen. Penginjilan bukanlah pemaksaan untuk menjadi Kristen, tetapi lebih kepada bagaimana manusia memahami dirinya yang berdosa dan membutuhkan Tuhan sebagai Penebus yang menebusnya dan memberikan keselamatan yang kekal.
Keselamatan yang diberikan Tuhan hanya bagi mereka yang percaya kepada-Nya dan setia melakukan apa yang berkenan kepada-Nya. Mengapa harus keselamatan? Pasalnya, manusia itu mati, dan setelah mati ia ke mana? Tuhan justru menawarkan kehidupan setelah kematian dan manusia yang ditebus-Nya dapat menikmati kehidupan dan kebahagiaan dalam Surga-Nya. Penghiburan bagi orang percaya adalah karena mereka diyakinkan menerima kehidupan kekal, mahkota kehidupan, dan ikut tinggal dalam Surga-Nya. Maka, kematian bukanlah ketakutan yang membelenggu iman, tetapi justru iman itulah yang memberikan pengharapan dan kelegaan bahkan kekuatan untuk menjalani kehidupan dengan rasa syukur dan meletakkan semua proses kehidupan ke dalam tangan kuasa Tuhan. Tentu Tuhan sanggup mengatur kehidupan semua orang yang percaya kepada-Nya.
Sebagai gerakan kasih melalui pikiran, perkataan, dan perbuatan, Kristen haruslah menjadi garam dan terang dunia di mana pun berada. Keselamatan yang Tuhan berikan haruslah diwartakan dengan cara damai, bukan dengan cara perang. Mewartakan kasih dan keselamatan Tuhan telah menjadi tugas utama kita sebagai orang percaya. Tugas kita hanyalah mewartakannya, dan selebihnya Tuhan yang akan mengerakkan hati setiap orang yang telah mendengar kabar tentang kasih dan keselamatan yang Tuhan lakukan dalam sejarah kemanusiaan.
Yesus Kristus adalah Juruselamat—dengan darah-Nya, Ia menebus manusia berdosa—dan kehendak-Nya adalah manusia hidup dalam kebenaran, hidup dalam kekudusan dan kesucian, menjadi pembawa damai, sebagaimana yang diajarkan-Nya: “Berbahagialah orang yang membawa damai, karena mereka akan disebut anak-anak Allah” (Mat. 5:9). Meski kadang penderitaan dan aniaya terjadi bagi kita oleh mereka yang membenci kita karena beriman kepada Yesus Kristus, tetap bersabar dan ingat pesan-Nya:
“Berbahagialah orang yang dianiaya oleh sebab kebenaran, karena merekalah yang empunya Kerajaan Sorga. Berbahagialah kamu, jika karena Aku kamu dicela dan dianiaya dan kepadamu difitnahkan segala yang jahat. Bersukacita dan bergembiralah, karena upahmu besar di sorga, sebab demikian juga telah dianiaya nabi-nabi yang sebelum kamu” (Matius 5:10-12).
Kristen sebagai gerakan kasih dan keselamatan harus terus menjadi berkat meski sering dihujat. Teruslah menjadi terang meski sering dianggap berpikiran gelap. Teruslah menjadi pelayanan Tuhan meski ada hambatan di depan. Teruslah lemah lembut, meski kadang sering dianggap kurang ajar. Teruslah mencari kebenaran, memahaminya, dan tinggal di dalamnya, meski kebenaran sering disalahpahami oleh mereka yang membenci kita. Teruslah bermurah hati meski sering dicurigai. Teruslah menjaga kesucian hati, meski kadang godaan dan tawaran menggiurkan dikipaskan di depan mata kita. Teruslah membawa damai, meski kadang diintimidasi dan ditekan bahkan didiskriminasikan. Teruslah bertahan dan bersabar dalam penderitan dan aniaya oleh sebab kebenaran iman kepada Yesus KRistus, meski ketidakadilan dan diskriminasi kita terima. Teruslah sabar dan berdoa bagi mereka yang mencela, menganiaya, dan yang memfitnah segala yang jahat kepada kita.
Dan ingatlah keagungan rahasia ibadah kita, bahwa “Dia [Yesus Kristus], yang telah menyatakan diri-Nya dalam rupa manusia, dibenarkan dalam Roh; yang menampakkan diri-Nya kepada malaikat-malaikat, diberitakan di antara bangsa-bangsa yang tidak mengenal Allah; yang dipercayai di dalam dunia, diangkat dalam kemuliaan” (1 Tim. 3:16). Inilah yang menjadi isi berita Injil sebagai bentuk kasih kita kepada sesama, dan keselamatan yang telah diberikan Yesus Kristus melalui kematian-Nya di kayu salib akan terus menjadi pemberitaan bagi bangsa-bangsa lain. Tugas kita adalah memberitakan Injil-Nya, dan Tuhan akan meneguhkan-Nya sesuai dengan kehendak-Nya.
Air mata, meskipun tidak kelihatan di mata kita, tetapi ia seringkali menjadikan manusia bertobat dari tingkah lakunya yang jahat
Air mata, seringkali menjadikan manusia iba dengan sesamanya
Air mata, seringkali menjadikan manusia merenungkan betapa sulit dan fananya hidup ini
Air mata, seringkali menjadikan manusia membutuhkan manusia lain untuk saling berbagi rasa dan simpati, berbagi keceriaan, dan penderitaan
Air mata, seringkali menjadikan manusia yang sombong dan jahat, yang kuat dan lemah, yang kaya dan miskin, yang pelacur dan rohaniwan, yang pemfitnah dan pemberontak, berlutut di hadapan Tuhan meminta kasih dan pengampunan-Nya
Air mata memiliki sahabat karibnya yakni “hati”, sebab segala sesuatu yang terjadi dalam diri manusia disebabkan karena “hati” yang turut merasakan segala sesuatu yang ia lihat, ia raba, ia dengar, ia gumuli, ia doakan, ia lakukan, dan ia mimpikan.
Secara faktual, manusia memiliki banyak hal yang mendukung perealisasian karakter, pembawaan diri, prinsip hidup, dan habitualisme diri. Biasanya, mereka yang mau hidupnya “diubah” oleh Tuhan, dengan rela dan lapang dada, meninggalkan semua kenikmatan dunia, semua jenis karakter (tabiat, watak) yang buruk, semua pembawaan diri yang negatif, pembawaan diri yang tidak menguntungkan orang lain (egoisme), semua prinsip hidup yang tidak etis, moralis, dan spiritualis, dan semua habitualisme (paham yang dipegang erat terkait dengan kebiasaan diri) yang tidak memberikan dampak positif.
Kita memerlukan Tuhan untuk mengubah hidup kita. Tuhan akan memberikan kekuatan (potensi) bagi kita ketika kita berkomitmen untuk hidup bagi Dia, hidup melayani Dia, dan hidup dalam terang firman-Nya. Hidup yang diubahkan adalah cerminan dari kekayaan sukacita yang Tuhan berikan kepada mereka. Tuhan sanggup mengubah hidup manusia yang brutal sekalipun.
Mereka yang digerakkan hatinya untuk berubah, perlu untuk menanggalkan pakaian lama (manusia lama) dan mengenakan pakaian baru (manusia baru) yang terus dibarui oleh Roh Kudus. Tuhan mengubah mereka yang telah Ia tetapkan. Mereka yang telah diubahkan harus setia dan taat kepada Tuhan. Mereka yang diubahkan harus siap menderita dalam segala hal, siap menderita untuk dimusuhi dunia, siap untuk dihina, siap untuk tidak masuk hitungan dunia.
Namun, sebaliknya, mereka yang telah diubahkan Tuhan harus bersukacita karena Tuhan tetap memberkatinya; mereka harus siap untuk dipakai Tuhan dalam menggenapi seluruh rencana-Nya; siap melayani-Nya di mana saja; siap melihat berbagai keajaiban dan mukjizat Tuhan; siap untuk dimuliakan; siap untuk memerintah bersama Tuhan di surga-Nya yang mulia; siap untuk menerima upah dari hasil pekerjaan selama di dunia.
Tuhan mengubahkan hidup, Tuhan pula yang menjaganya, Tuhan pula yang menjaminnya, Tuhan pula yang meneguhkannya, Tuhan pula yang memeliharnya, Tuhan pula yang menopang dan menyokongnya. Yakinlah bahwa hidup yang diubahkan adalah suatu natur hidup yang diberkati, dimuliakan, dan dijamin.
Hidup yang diubahkan menandakan bahwa kita telah dipanggil Tuhan untuk berbagi dalam pekerjaan-Nya yang mulia. Tugas kita adalah melakukan kehendak-Nya, menyenangkan hati-Nya dan memuliakan nama-Nya, selamanya…
Kita membutuhkan wasit ketika bermain bola; kita membutuhkan wasit ketika bermain tinju;
Kita membutuhkan angin ketika ketika memasang layar perahu kita; kita membutuhkan air ketika kita haus;
Kita membutuhkan makanan ketika kita lapar; kita membutuhkan jari untuk memasangkan cincin;
Kita membutuhkan tangga untuk mencapai puncak; kita membutuhkan jalan untuk menjalankan kendaraan kita;
Kita tidak membutuhkan penjahat untuk tinggal di dalam rumah kita; kita tidak membutuhkan pengkhianat dalam organisasi kita;
Kita tidak membutuhkan penjilat dalam Gereja kita; kita tidak membutuhkan penipu dan pelahap dalam pelayanan kita;
Kita tidak membutuhkan orang-orang yang brutal dan najis bibir dalam menjalankan organisasi [lembaga] kita; kita tidak membutuhkan orang-orang yang sombong dan angkuh dalam memberitakan Injil;
Kita tidak membutuhkan para perusak dan pemecah belah persatuan untuk duduk dalam jabatan organisasi; kita tidak membutuhkan orang-orang bermental pelacur dan plin-plan untuk menjalankan sebuah visi;
Kita tidak membutuhkan orang-orang yang miskin rohani untuk mengerjakan pekerjaan Tuhan yang besar; kita tidak membutuhkan para pemalsu kebenaran dan pemfitnah untuk mengajar dan mendidik orang lain;
Kita tidak membutuhkan para pencuri dan pecundang rohani untuk mewujudkan sebuah mimpi yang besar; kita membutuhkan Tuhan untuk menolong dan membimbing, dalam mewujudkan iman dan harapan kita;
Kita membutuhkan pemfitnah dan peleter untuk menguji kesabaran kita; kita membutuhkan kesalahan untuk diampuni;
Kita membutuhkan sebuah ujian hidup untuk mendapatkan harapan yang terwujud; kita membutuhkan seorang yang pencaci maki untuk menguji kematangan emosional kita;
Kita membutuhkan nafas hidup untuk dapat melakukan semuanya…
Setiap manusia diberikan kemampuan untuk hidup, bertahan hidup, memelihara hidup, memupuk hidup, menumbuhkembangkan hidup, memperjuangkan hidup, dan mengasihi sesama oleh Sang Pencipta, dalam bentuk relasi sosial, kemanusiaan, agama, moralitas, dan relasi keibaan.
Kita telah berproses hingga berada dalam kondisi sekarang ini, adalah kita yang telah banyak tahu—atau setidaknya tahu tentang apa arti hidup, apa arti berjuang, apa arti doa, harapan, mukjizat, air mata, kesabaran, dan apa arti kegagalan.
Kita selalu diberi kesempatan. Kesempatan sering datang tanpa kita duga. Beberapa orang “menangkap” kesempatan, sementara lainnya membiarkan kesempatan itu lewat begitu saja. Memang jenis-jenis kesempatan sangatlah menentukan, yang pada akhirnya, kesempatan yang baik dan dilakukan dengan sebaik mungkin menghasilkan keterpahaman tentang apa artinya mencintai dan bertahan hidup.
Kehidupan ini indah; kehidupan ini keras; kehidupan ini tidak adil; kehidupan ini membahagikan; kehidupan ini membosankan; kehidupan ini mengecewakan. Semua definisi konten hidup bersumber dari kondisi hidup seseorang. Tak jarang, beberapa orang terjerumus dalam kubangan dosa dan menjadikan diri mereka hina dan ternoda
Kehidupan sering tidak berpihak pada orang-orang miskin. Malahan justru dalam anggapan banyak orang, kehidupan sering berpihak kepada orang-orang kaya. Artinya, mereka dapat memiliki segala sesuatu yang hendak mereka inginkan, sukai, dan butuhkan, sedangkan orang-orang miskin hanya berharap bahwa ia bisa menikmati hidup di hari ini saja sudah cukup dan sangat disyukuri.
Orientasi pemikiran dari kedua jenis orang: kaya dan miskin, tentu sangatlah berbeda. Yang kaya—jika berhati sosial dan murah hati, ia akan dengan senang hati membantu dan mendukung orang-orang miskin. Ia bahagia karena bisa berbagi dengan orang lain yang berbeda statusnya dengan dia. Perbuatannya sungguh mulia. Hatinya pasti lembut dan pemurah
Yang kaya—jika hatinya begitu sombong, akan dengan mudah memperalat orang lain, menekan orang miskin, menghina, dan melakukan berbagai cara untuk menambah kekayaannya. Bahkan tidak segan-segan ia akan menghabisi nyawa orang lain jika memang mereka menjadi penghalang rencana dan tujuannya yang ambisius
Yang miskin selalu berharap mendapat makanan secukupnya. Persis seperti doa yang diajarkan oleh Yesus: “Berikanlah kami makanan kami yang secukupnya”. Tuhan sampai turun tangan untuk menolong orang miskin. Ia ada di pihak mereka. Ia peduli; Ia penyayang; Ia pemurah. Hari demi hari tangan kasih-Nya terulur untuk menolong mereka yang susah dan kesulitan. Cinta kasih-Nya tak berkesudahan. Ia rindu bahwa orang-orang yang dikasihi-Nya melakukan perbuatan-perbuatan mulia tanpa pandang bulu
Harapan hidup dapat terpenuhi, ketika dorongan semangat juang terus dikobarkan. Kehidupan dalam pengharapan dan pengharapan dalam kehidupan adalah dua mutasi (perpindahan) pemikiran kita dari yang abstrak menjadi riil. Sanggupkah kita memahami hidup ini? Sanggupkah kita menjalani kehidupan dalam pengharapan dan pengharapan dalam kehidupan? Dalam hidup ada harapan, dan dalam harapan ada hidup.
Memahami hidup sebagai mutasi pemikiran, diharapkan dapat menjembatani berbagai kesenjangan, kesempatan, dan harapan di masa mendatang. Mutasi pemikiran kita menjadi jalan-jalan yang terbaik yang telah dipikirkan matang-matang untuk menghasilkan kehidupan yang bermutu (berbobot) sebagai sebuah harapan yang kita genggam. Mutasi pemikiran lainnya yang sejalan dengan itu adalah pengharapan dalam kehidupan di mana setiap jejak langkah iman kita, tetap berada dalam koridor pengharapan (pada Kristus dan di dalam Kristus) agar kehidupan kita menjadi bernilai kekal.
Mutasi pemikiran adalah perjuangan untuk menjadikan nyata segala sesuatu yang kita harapkan. Yesus Kristus akan menopang kita senantiasa ketika kita tahu menempatkan diri pada setiap kesempatan yang Ia berikan. Takan ada mutasi pemikiran jika kesadaran akan kehidupan tidak memberi nilai pada diri kita sendiri. Justru kesadaran diri mendorong kita memutasikan pemikiran ke dalam tindakan-tindakan riil, di mana semua tindakan tersebut adalah harapan yang telah kita pegang dan imani selama ini.
Kehidupan dalam harapan dan harapan di dalam kehidupan memang benar-benar memberi bobot bagi “tindakan dan perkataan kita” agar mereka yang menilai diri kita, mendapatkan berkat dan kemudian memuliakan Tuhan Yesus Kristus, kini, dan selamanya.
“Waktu” telah menyediakan kepada kita berbagai hal yang di dalamnya kita turut berjuang menggunakan waktu agar bisa hidup (eksis), bisa mempertahankan hidup, bisa menolong hidup diri sendiri dan orang lain, bisa mengembangkan potensi, talenta, dan sebagainya, bisa menikmati hidup, bisa merenungi hidup, menekan hidup, dan membenci hidup.
Semua hal di atas adalah konsekuensi hidup. Manusia yang hidup menikmati, merasakan, menjalani, dan menghadapi “konsekuensi hidup”. Di samping konsekuensi hidup, ada juga konsekuensi logika. Apa yang kita pikirkan dan katakan, akan berkonsekuensi pada perbuatan (tindakan) kita. Semua tindakan manusia ditentukan dari konsekuensi logika; manusia yang berpikir akan menghasilkan berbagai hal, entah dalam bentuk ucapan (perkataan), perbuatan (tindakan), atau khayalan semata (tak pernah diwujudkan).
Perjuangan menikmati dan mempertahankan hidup adalah hasil dari konsekuensi hidup dan logika. Kita yang hidup sekarang ini terus mengaplikasikan dan mengimplikasikan kedua konsekuensi tersebut untuk berjuang dan mempertahankan hidup. Mereka yang gagal bisa bangkit lagi, atau bahkan tidak sama sekali. Mereka yang kecewa akan kembali gembira, atau tidak sama sekali. Mereka yang bertahan hidup akan melakukan berbagai cara untuk terus bertahan, atau tidak sama sekali. Mereka yang berjuang mencapai sesuatu akan terus berusaha, atau tidak sama sekali.
Raja Salamo (Sulaiman) menulis: “Untuk segala sesuatu ada masanya, untuk apa pun di bawah langit ada waktunya” (Pengkhotbah 3:1). Artinya, rentetan peristiwa kehidupan yang terjadi dalam diri kita dan orang lain, memang berada dalam masa atau waktunya. Ada waktu lahir; ada waktu untuk meninggal, ada waktu untuk menanam, ada waktu untuk mencabut yan ditanam. Ada waktu perang; ada waktu damai, dan sederet waktu dan kejadian lainnya yang telah, sedang, dan akan terjadi dalam kehidupan kita.
Hidup dapat dinikmati, tetapi selalu ada konsekuensi. Peperangan menghasilkan kematian; kecelakaan menghasilkan kematian; kesakitan (sakit penyakit) menghasilkan kematian; pertarungan menghasilkan kematian; kebencian menghasilkan kematian; permusuhan menghasilkan kematian; sakit hati menghasilkan kematian; dendam membara menghasilkan kematian; cemburu menghasilkan kematian; beda keyakinan menghasilkan kematian; mulut kotor dan caci maki menghasilkan kematian. Masih banyak konsekuensi hidup dan logika yang dapat menghasilkan kematian.
Akan tetapi, baik konsekuensi hidup dan logika, juga membawa kebahagiaan, ketenangan, kasih sayang, cinta kasih, syukur, sukacita, sukaria, senang hati, dan kondisi lainnya yang menyenangkan serta mendatangkan kebaikan bagi manusia. Tetapi kita perlu mengingat pesan-pesan Tuhan melalui firman-Nya yang saya kutip berikut ini (mencakup konsekuensi hidup dan konsekuensi logika):
Hidup dan mati dikuasai lidah, siapa suka menggemakannya, akan memakan buahnya (Amsal 18:21).
Apabila engkau bernazar kepada TUHAN, Allahmu, janganlah engkau menunda-nunda memenuhinya, sebab tentulah TUHAN, Allahmu, akan menuntutnya dari padamu, sehingga hal itu menjadi dosa bagimu (Ulangan 23:21)
Jagalah hatimu dengan segala kewaspadaan, karena dari situlah terpancar kehidupan (Amsal 4:23)
Jagalah dirimu, supaya hatimu jangan sarat oleh pesta pora dan kemabukan serta kepentingan-kepentingan duniawi dan supaya hari Tuhan jangan tiba-tiba jatuh ke atas dirimu seperti jerat (Lukas 21:34)
Janganlah engkau memperkosa hak orang asing dan anak yatim; juga janganlah engkau mengambil pakaian seorang janda menjadi gadai (Ulangan 24:17)
Janganlah percaya kepada pemerasan, janganlah menaruh harap yang sia-sia kepada perampasan apabila harta makin bertambah, janganlah hatimu melekat padanya (Mazmur 62:11)
Janganlah engkau menganggap dirimu sendiri bijak, takutlah akan TUHAN dan jauhilah kejahatan (Amsal 3:7)
Janganlah menahan kebaikan dari pada orang-orang yang berhak menerimanya, padahal engkau mampu melakukannya (Amsal 3:27)
Janganlah menempuh jalan orang fasik, dan janganlah mengikuti jalan orang jahat (Amsal 4:14)
Janganlah lekas-lekas marah dalam hati, karena amarah menetap dalam dada orang bodoh (Pengkhotbah 7:9)
Konsekuensi hidup tak bisa dihindari. Oleh karena itu, bertindaklah bijaksana dan mendasari semua perbuatan pada kehendak (firman) Allah. Mereka yang berbuat baik akan menuai kebaikan. Jika tidak sekarang, pasti di kemudian hari. Begitu pula dengan konsekuensi logika, yang tidak bisa dihindari tetapi dijalani. Apa yang dipikirkan jangan sampai bertentangan dengan prinsip-prinsip firman Allah. Pikiran yang baik haruslah dituangkan ke dalam perbuatan-perbuatan sehingga kita dapat menerima buah-buahnya. Perjuangan menikmati dan mempertahankan hidup akan terus kita jalani dan hadapi selagi kita masih diberikan kesempatan hidup oleh Sang Khalik. Jadilah teladan dalam segala perbuatan baik, pikiran baik, niscaya, konsekuensi hidup dan logika akan menjadi bagian kita—ya, konsekuensi yang baik pula yang kita dapatkan, meski tak menutup kemungkinan bahwa konsekuensi yang tidak baik dapat kita alami juga. Tetapi Tuhan tahu itu semua dan Ia akan menolong, bahkan memberikan upah setimpal dengan apa yang kita kerjakan, pikirkan, lakukan, dan bagikan kepada orang lain sesuai dengan maksud dan kehendak-Nya.
“Tanpa Allah bermisi ke dalam dunia, penginjilan terhadap dunia tidaklah mungkin. Tanpa Allah membuktikan kasih-Nya yang luar biasa bagi manusia berdosa, penginjilan terhadap dunia menjadi kosong dan tidak memiliki tujuan akhir. Tanpa Allah mengampuni dan menebus manusia berdosa, penginjilan terhadap dunia tak mungkin ada”
Pemazmur menuliskan sebuah pernyataan yang luar biasa dan memiliki kedalaman makna terkait dengan apa yang dikerjakan TUHAN. Pemazmur bertutur: “Ia [TUHAN] takkan membiarkan kakimu goyah, Penjagamu tidak akan terlelap. Sesungguhnya tidak terlelap dan tidak tertidur Penjaga Israel” (Mzm. 121:3-4). Ayat-ayat tersebut mengindikasikan bahwa TUHAN tetap bekerja—bukti bahwa Ia Mahakuasa dan berdaulat sepenuhnya atas langit dan bumi; bukti Ia aktif dalam memelihara umat-Nya. Di samping itu, penjagaan dan penyertaan-Nya membuktikan Ia tidak terlelap sedikitpun dan sedetikpun. Tuhan tidak tertidur apalagi pulas dalam istrihat-Nya; Ia sama sekali tidak pernah terlelap, lupa, atau keasyikan beristirahat. Tuhan tetap mengawasi dunia ini dan pergerakan di dalamnya tanpa terlelap atau tertidur sedikitpun. Ini yang dinamakan dengan “providensia” [pemeliharaan].
Terkait dengan konteks tersebut, Yesus pun menyatakan hal yang secara substansial sama: “Bapa-Ku bekerja sampai sekarang, maka Akupun bekerja juga” (Yoh. 5:17). Lalu apa kepentingannya dua kutipan di atas? Dua kutipan di atas sebenarnya menegaskan bahwa orang percaya (Kristen) harus aktif bekerja bagi Tuhan, bermisi bagi Tuhan. Tak ada alasan bagi setiap orang Kristen untuk tidak bekerja bagi Tuhan; untuk tidak bermisi bagi Tuhan; Tuhan sendiri telah menyatakan kehendak-Nya dan cara kerja-Nya kepada umat-Nya, maka selayaknyalah umat Tuhan melakukan apa yang dikehendaki-Nya. Jika Tuhan begitu aktif bekerja untuk mendatangkan kebaikan bagi umat-Nya, mengapa kita tidak melakukan hal yang sama: bekerja aktif untuk menjadi berkat bagi orang lain, memberitakan Injil dan menyatakan sikap hidup yang baik dan berkenan kepada Tuhan? Inilah yang membawa kita pada pokok “mewartakan kabar baik, misi kita bersama” di mana kegiatan tersebut adalah sebuah aktivitas iman yang direalisasikan dalam tindakan nyata.
Bermisi adalah perintah dan kehendak Tuhan, wujud ketaatan kita kepada Tuhan, dan merupakan kegiatan yang harus dilakukan di dalam setiap konteks dan situasi kehidupan kita. Kehidupan Kristen adalah kehidupan yang aktif; kehidupan yang memiliki peran dalam berbagai sendi kehidupan. Di samping itu, kehidupan Kristen yang aktif selalu dan harus ditandai dengan tujuh aspek yang signifikan yakni:
Pertama, kehidupan yang memancarkan kasih yang tulus. Berkata dan berbuat berdasarkan prinsip-prinsip Alkitab; menyingkirkan segala bentuk kemunafikan dan mengampuni sesama manusia—termasuk mendoakan musuh-musuh dan orang-orang yang berbuat jahat kepada kita. Tindakan ini bukanlah sebuah tindakan yang lemah melainkan justru merupakan tindakan yang paling kuat di dunia. Membunuh orang yang membunuh; berbuat jahat kepada orang yang berbuat jahat bukanlah sebuah kekuatan yang patut dibanggakan. Justru mengampuni yang orang telah membunuh, mengampuni mereka yang telah berbuat jahat, dan mendoakan mereka yang telah menganiaya kita, merupakan KEKUATAN TERBESAR; sebab dibutukan iman dan pengertian yang tinggi, dibutuhkan ketulusan dan keikhlasan yang luar biasa, dan dibutuhkan pengampunan yang total untuk melakukan hal-hal demikian. Ketika hidup orang Kristen menyatakan kasih yang tulis “misi Tuhan melalui gesta” telah menyatakan bahwa Tuhan itu Maha Pengampun sebagaimana Ia telah mengampuni kita yang berdosa ini, maka patutlah kita juga mengampuni orang bersalah kepada kita.
Kedua, kehidupan yang memberkati orang lain. Prinsipnya: diberkati [oleh Tuhan] untuk menjadi berkat bagi sesama manusia tanpa memandang suku, agama, ras, dan golongan, warna kulit, dan latar belakang lainnya. Menjadi berkat dilakukan melalui dicta, gesta, dan nous.
Ketiga, kehidupan yang menunjukkan kekudusan. Pola kehidupan Kristen selalu mengutamakan kehidupan yang kudus: terpisah dari dosa-dosa dunia, terpisah dari segala bentuk kejahatan, kemunafikan, seks liar, korupsi, penipuan, kepalsuan, kedengkian, perselisihan, percek-cokan, dan sebagainya. Kekudusan hidup ditandai dengan komitmen untuk hidup dalam terang firman Tuhan, menyatakan apa yang benar, dan menegor yang salah. Tidak hanya dalam konteks menjauhi hal-hal duniawi tetapi bagaimana kehidupan Kristen yang melawan ketidakbenaran dan menyatakan apa yang salah. Misi Kristen juga demikian; menjadi terang dan garam dunia—terang yang menerangi kegelapan, menyatakan yang benar dan salah; garam yang meleburkan diri menjadi berkat dan mendatangkan sukacita dan kebahagiaan di mana pun kita berada.
Keempat, kehidupan yang menampakkan terang dalam perbuatan. Apa yang dilakukan oleh orang Kristen adalah perbuatan-perbuatan terang. Artinya, tidak ada faktor perbuatan yang perlu disembunyikan; kita adalah ‘surat terbuka’ yang dapat dibaca semua orang; iman dan perbuatan berjalan beriringan, menyatu, dan saling mendukung serta meneguhkan; yang satu membutuhkan lainnya, dan sebaliknya: iman tanpa perbuatan pada hakikatnya adalah mati (pernyataan Rasul Yakobus).
Kelima, kehidupan yang menggarami situasi dan kondisi. Sebagaimana yang Yesus tegaskan bahwa: “kamu adalah garam dunia”—mengindikasikan bahwa orang percaya [Kristen] harus menampakkan sikap dan pola hidup yang bersahabat, ramah, pengasih, pengampun, penyayang dan pemberi solusi yang baik bagi sesama; menggarami kehidupan menandakan kedewasaan berpikir dan bertindak di mana level kehidupan jenis ini adalah bukti bahwa seseorang telah memiliki pengalaman pribadi dengan Tuhan, merasakan jamahan kuasa-Nya yang mengubahkan kehidupan seseorang, melihat bagaimana pentingnya sebuah hidup yang berkenan kepada Tuhan. Dengan begitu, setiap situasi dan kondisi di mana kita berada, misi melalui “perilaku [gesta, konatif] kita” dapat terlihat dengan jelas (dan terang).
Keenam, kehidupan yang siap menderita. Yesus pernah menderita dalam keadaan-Nya sebagai manusia; tidak hanya itu, dalam keadaan-Nya sebagai manusia, Ia disiksa, dicambuk, diludahi, dicaci maki, dan kemudian mati salibkan. Penderitaan Yesus adalah gambaran faktual bahwa ketika para pengikut-Nya menderita, Yesus telah mengalaminya terlebih dahulu. Yesus pernah menyatakan sebuah prinsip “penderitaan” yang akan dialami oleh para murid:
“Semuanya ini Kukatakan kepadamu, supaya kamu jangan kecewa dan menolak Aku. Kamu akan dikucilkan, bahkan akan datang saatnya bahwa setiap orang yang membunuh kamu akan menyangka bahwa ia berbuat bakti bagi Allah. Mereka akan berbuat demikian, karena mereka tidak mengenal baik Bapa maupun Aku. Tetapi semuanya ini Kukatakan kepadamu, supaya apabila datang saatnya kamu ingat, bahwa Aku telah mengatakannya kepadamu” (Yoh. 16:1-4a)
Namun, pernyataan tentang penderitaan tersebut selalu berbanding lurus dengan providensi dan penyertaan Yesus bagi semua orang percaya di segala zaman dan abad: “Dan ketahuilah, Aku
menyertai kamu senantiasa sampai kepada akhir zaman” (Mat. 28:20b).
Ketujuh, kehidupan yang mewartakan Injil sebagai Kabar Baik. Kehidupan ini adalah kehidupan yang menandakan bahwa seseorang telah menyadari peran, iman, dan tanggung jawabnya di hadapan Tuhan. Konsekuensi logis dari percaya kepada Yesus Kristus adalah “mewartakan Kabar Baik” dalam berbagai bentuk: melalui pemikiran, melalui dicta, dan melalui gesta. Kehidupan yang berbuah adalah kehidupan yang menjadi berkat bagi orang lain. Tidak hanya itu, kehidupan yang mewartakan Injil merupakan bukti kerinduan yang luar biasa dan mendalam untuk menyatakan kasih dan kebaikan Tuhan, pengampunan dan pemulihan hidup yang dikerjakan Tuhan melalui pesan-pesan Alkitab.
Ketujuh aspek tersebut adalah ‘aktivitas’ iman Kristen—seseorang yang layak di hadapan Tuhan diukur oleh tujuh aspek tersebut. Mengapa layak? Karena ketujuh aspek itu adalah perintah Tuhan sendiri yang termaktub dalam Alkitab:
(1) Kehidupan yang memancarkan kasih yang tulus ditegaskan dalam beberapa teks: “Dan hukum yang kedua, yang sama dengan itu, ialah: Kasihilah sesamamu manusia seperti dirimu sendiri” (Mat. 22:39); “Dan jika kamu berdiri untuk berdoa, ampunilah dahulu sekiranya ada barang sesuatu dalam hatimu terhadap seseorang, supaya juga Bapamu yang di sorga mengampuni kesalahan-kesalahanmu” (Mrk. 11:25); “Janganlah kamu menghakimi, maka kamupun tidak akan dihakimi. Dan janganlah kamu menghukum, maka kamupun tidak akan dihukum; ampunilah dan kamu akan diampuni” (Luk. 6:37); “Jagalah dirimu! Jikalau saudaramu berbuat dosa, tegorlah dia, dan jikalau ia menyesal, ampunilah dia” (Luk. 17:3); “Tetapi Aku berkata kepadamu: Kasihilah musuhmu dan berdoalah bagi mereka yang menganiaya kamu” (Mat. 5:44); “hormatilah ayahmu dan ibumu dan kasihilah sesamamu manusia seperti dirimu sendiri” (Mat. 19:19); “Dan hukum yang kedua, yang sama dengan itu, ialah: Kasihilah sesamamu manusia seperti dirimu sendiri” (Mat. 22:39); “Tetapi kepada kamu, yang mendengarkan Aku, Aku berkata: Kasihilah musuhmu, berbuatlah baik kepada orang yang membenci kamu” (Luk. 6:27); “Tetapi kamu, kasihilah musuhmu dan berbuatlah baik kepada mereka dan pinjamkan dengan tidak mengharapkan balasan, maka upahmu akan besar dan kamu akan menjadi anak-anak Allah Yang Mahatinggi, sebab Ia baik terhadap orang-orang yang tidak tahu berterima kasih dan terhadap orang-orang jahat” (Luk. 6:35); “Inilah perintah-Ku kepadamu: Kasihilah seorang akan yang lain” (Yoh. 15:17)
(2) Kehidupan yang memberkati orang lain ditegaskan dalam teks Roma 12:14, “Berkatilah siapa yang menganiaya kamu, berkatilah dan jangan mengutuk!”
(3) Kehidupan yang menunjukkan kekudusan ditegaskan dalam teks-teks berikut:
“Sebab Akulah TUHAN, Allahmu, maka haruslah kamu menguduskan dirimu dan haruslah kamu kudus, sebab Aku ini kudus, dan janganlah kamu menajiskan dirimu dengan setiap binatang yang mengeriap dan merayap di atas bumi” (Im. 11:44); “Sebab Akulah TUHAN yang telah menuntun kamu keluar dari tanah Mesir, supaya menjadi Allahmu; jadilah kudus, sebab Aku ini kudus” (Im. 11:45); “Berbicaralah kepada segenap jemaah Israel dan katakan kepada mereka: Kuduslah kamu, sebab Aku, TUHAN, Allahmu, kudus” (Im. 19:2); “Kuduslah kamu bagi-Ku, sebab Aku ini, TUHAN, kudus dan Aku telah memisahkan kamu dari bangsa-bangsa lain, supaya kamu menjadi milik-Ku” (Im. 20:26); “Karena itu, saudara-saudara, demi kemurahan Allah aku menasihatkan kamu, supaya kamu mempersembahkan tubuhmu sebagai persembahan yang hidup, yang kudus dan yang berkenan kepada Allah: itu adalah ibadahmu yang sejati” (Rm. 12:1); “Allah memanggil kita bukan untuk melakukan apa yang cemar, melainkan apa yang kudus” (1 Tes. 4:7); “tetapi hendaklah kamu menjadi kudus di dalam seluruh hidupmu sama seperti Dia yang kudus, yang telah memanggil kamu, sebab ada tertulis: Kuduslah kamu, sebab Aku kudus” (1 Ptr. 1:15-16); “Dan biarlah kamu juga dipergunakan sebagai batu hidup untuk pembangunan suatu rumah rohani, bagi suatu imamat kudus, untuk mempersembahkan persembahan rohani yang karena Yesus Kristus berkenan kepada Allah” (1 Ptr. 2:5); “Tetapi kamulah bangsa yang terpilih, imamat yang rajani, bangsa yang kudus, umat kepunyaan Allah sendiri, supaya kamu memberitakan perbuatan-perbuatan yang besar dari Dia, yang telah memanggil kamu keluar dari kegelapan kepada terang-Nya yang ajaib: kamu, yang dahulu bukan umat Allah, tetapi yang sekarang telah menjadi umat-Nya, yang dahulu tidak dikasihani tetapi yang sekarang telah beroleh belas kasihan” (1 Ptr. 2:9-10)
(4) Kehidupan yang menampakkan terang dalam perbuatan ditegaskan dalam teks-teks berikut ini:
“Janganlah kita jemu-jemu berbuat baik, karena apabila sudah datang waktunya, kita akan menuai, jika kita tidak menjadi lemah” (Gal. 6:9); “Karena itu, selama masih ada kesempatan bagi kita, marilah kita berbuat baik kepada semua orang, tetapi terutama kepada kawan-kawan kita seiman” (Gal. 6:10); “Karena itu kami senantiasa berdoa juga untuk kamu, supaya Allah kita menganggap kamu layak bagi panggilan-Nya dan dengan kekuatan-Nya menyempurnakan kehendakmu untuk berbuat baik dan menyempurnakan segala pekerjaan imanmu” (2 Tes. 1:11); “Dan janganlah kamu lupa berbuat baik dan memberi bantuan, sebab korban-korban yang demikianlah yang berkenan kepada Allah” (Ibr. 13:16); “Akan tetapi, jikalau kamu menjalankan hukum utama yang tertulis dalam Kitab Suci: ‘Kasihilah sesamamu manusia seperti dirimu sendiri,’ kamu berbuat baik” (Yak. 2:8); “Jadi jika seorang tahu bagaimana ia harus berbuat baik, tetapi ia tidak melakukannya, ia berdosa” (Yak. 4:17); “Sebab inilah kehendak Allah, yaitu supaya dengan berbuat baik kamu membungkamkan kepicikan orang-orang yang bodoh” (1 Ptr. 2:15); “Sebab dapatkah disebut pujian, jika kamu menderita pukulan karena kamu berbuat dosa? Tetapi jika kamu berbuat baik dan karena itu kamu harus menderita, maka itu adalah kasih karunia pada Allah” (1 Ptr. 2:20); “Dan siapakah yang akan berbuat jahat terhadap kamu, jika kamu rajin berbuat baik?” (1 Ptr. 3:13); “Sebab lebih baik menderita karena berbuat baik, jika hal itu dikehendaki Allah, dari pada menderita karena berbuat jahat” (1 Ptr. 3:17); “Karena itu baiklah juga mereka yang harus menderita karena kehendak Allah, menyerahkan jiwanya, dengan selalu berbuat baik, kepada Pencipta yang setia” (1 Ptr. 4:19); “Saudaraku yang kekasih, janganlah meniru yang jahat, melainkan yang baik. Barangsiapa berbuat baik, ia berasal dari Allah, tetapi barangsiapa berbuat jahat, ia tidak pernah melihat Allah” (3 Yoh. 1:11); dan “Sebab seperti tubuh tanpa roh adalah mati, demikian jugalah iman tanpa perbuatan-perbuatan adalah mati” (Yak. 2:26).
(5) Kehidupan yang menggarami situasi dan kondisi ditegaskan dalam teks-teks berikut:
“Kamu adalah garam dunia” (Mat. 5:13a); “Tetapi hendaklah kamu ramah seorang terhadap yang lain, penuh kasih mesra dan saling mengampuni, sebagaimana Allah di dalam Kristus telah mengampuni kamu” (Ef. 4:32); “sedangkan seorang hamba Tuhan tidak boleh bertengkar, tetapi harus ramah terhadap semua orang. Ia harus cakap mengajar, sabar, dan dengan lemah lembut dapat menuntun orang yang suka melawan…” (2 Tim. 2:24-25); “Janganlah mereka memfitnah, janganlah mereka bertengkar, hendaklah mereka selalu ramah dan bersikap lemah lembut terhadap semua orang” (Tit. 3:2); “Janganlah kamu menghakimi, maka kamupun tidak akan dihakimi. Dan janganlah kamu menghukum, maka kamupun tidak akan dihukum; ampunilah dan kamu akan diampuni” (Luk. 6:37); dan “Sabarlah kamu seorang terhadap yang lain, dan ampunilah seorang akan yang lain apabila yang seorang menaruh dendam terhadap yang lain, sama seperti Tuhan telah mengampuni kamu, kamu perbuat jugalah demikian” (Kol. 3:13).
(6) Kehidupan yang siap menderita ditegaskan dalam teks-teks berikut ini: “Dan jika kita adalah anak, maka kita juga adalah ahli waris, maksudnya orang-orang yang berhak menerima janji-janji Allah, yang akan menerimanya bersama-sama dengan Kristus, yaitu jika kita menderita bersama-sama dengan Dia, supaya kita juga dipermuliakan bersama-sama dengan Dia” (Rm. 8:17); “Sebab kepada kamu dikaruniakan bukan saja untuk percaya kepada Kristus, melainkan juga untuk menderita untuk Dia” (Flp. 1:29); “Jadi janganlah malu bersaksi tentang Tuhan kita dan janganlah malu karena aku, seorang hukuman karena Dia, melainkan ikutlah menderita bagi Injil-Nya oleh kekuatan Allah” (2 Tim. 1:8); “Ikutlah menderita sebagai seorang prajurit yang baik dari Kristus Yesus” (2 Tim. 2:3); “Memang setiap orang yang mau hidup beribadah di dalam Kristus Yesus akan menderita aniaya” (2 Tim. 3:12)
(7) Kehidupan yang mewartakan Injil sebagai Kabar Baik, ditegaskan dalam teks-teks berikut ini:
“Pergilah dan beritakanlah: Kerajaan Sorga sudah dekat” (Mat. 10:7); “Pergilah ke seluruh dunia, beritakanlah Injil kepada segala makhluk” (Mrk. 16:15); “…tetapi engkau, pergilah dan beritakanlah Kerajaan Allah di mana-mana” (Luk. 9:60); “Beritakanlah firman, siap sedialah baik atau tidak baik waktunya, nyatakanlah apa yang salah, tegorlah dan nasihatilah dengan segala kesabaran dan pengajaran” (2 Tim. 4:2); dan “…siap sedialah pada segala waktu untuk memberi pertanggungan jawab kepada tiap-tiap orang yang meminta pertanggungan jawab dari kamu tentang pengharapan yang ada padamu, tetapi haruslah dengan lemah lembut dan hormat, dan dengan hati nurani yang murni, supaya mereka, yang memfitnah kamu karena hidupmu yang saleh dalam Kristus, menjadi malu karena fitnahan mereka itu” (1 Ptr. 3:15-16).
Prinsip-prinsip (atau aspek signifikan) hidup Kristen seperti yang telah dijelaskan di atas, harus menjadi aktivitas iman dalam totalitas kehidupan kekristenan kita. Itulah mengapa tugas mengabarkan Injil menjadi suatu tugas yang signifikan. Yesus telah memberi perintah kepada para murid-Nya, dan kepada kita juga untuk: “Pergi, dan memberitakan Injil—Kabar Baik, kepada semua orang”. Baik Matius maupun Markus, keduanya mengumandangkan substansi yang sama dari kegiatan “pergi” yakni “memberitakan [mewartakan] Kabar Baik.
Penderitaan Yesus adalah bagian dari kemanusiaan-Nya. Yesus berulang kali menubuatkan penderitaan dan kematian-Nya, karena hal ini merupakan konteks penebusan dan penyelamatan bagi orang-orang yang berdosa. Nubuatan mengenai kematian Yesus bernatur “penyelamatan” dan “jaminan dari kematian-Nya di salib”. Jika kematian Yesus tanpa memiliki jaminan, maka itu sia-sia. Kematian Yesus memiliki jaminan. Hal ini meneguhkan apa yang dituliskan dalam Injil Yohanes 3:16, “Karena begitu besar kasih Allah akan dunia ini, sehingga Ia telah mengaruniakan Anak-Nya yang tunggal, supaya setiap orang yang percaya kepada-Nya tidak binasa, melainkan beroleh hidup yang kekal.”
Kita harus memahami bahwa penderitaan Yesus tidak dapat dipisahkan dengan kematian dan kebangkitan-Nya. Mereka yang memisahkan fakta tersebut akan menjadi sama dengan pemahaman Islam bahwa Yesus tidak mati disalib. Itu berarti, Yesus hanya mengalami penderitaan, lalu kemudian Allah menyelamatkan Yesus dari peristiwa salib dan menyerupakan orang lain mirip Yesus, untuk disalibkan. Pemahaman ini sama sekali menyesatkan dan tidak ada dasar sejarahnya, kecuali karangan dan rekayasa semata. Dengan perkataan lain, penolakan terhadap kematian Yesus disalib merupakan sebuah kesimpulan ahistoris.
Teologi Kristen menegaskan bahwa Yesus benar-benar menderita, disalibkan, mati, dikuburkan, pada hari yang ketiga bangkit dari antara orang mati, dan naik ke surga. Hal ini begitu jelas diungkapkan dalam PENGAKUAN IMAN RASULI yang merupakan rumusan iman Kristen. Fakta ini menjadi dasar bagi kita untuk melihat bahwa penderitaan dan kematian Yesus di salib, terkait erat dengan “Sejarah Penebusan” yang telah Allah lakukan dalam Perjanjian Lama, dan memiliki kesinambungan pada masa Perjanjian Baru, yang digenapi oleh Yesus Kristus.
Teks Matius 16:21-25 (perikop utuhnya ay. 21-28) adalah salah satu bagian yang menjelaskan mengenai konteks nubuatan bahwa Mesias (Yesus) akan mengalami penderitaan, mati, dan bangkit pada hari yang ketiga. Deskripsi singkat berikut ini, setidaknya dapat memberikan pemahaman bahwa penderitaan dan kematian Yesus, serta kebangkitan-Nya adalah kesatuan peristiwa yang utuh, dan tak bisa dipahami secara terpisah.
Pakar Perjanjian Baru, Leon Morris, dalam bukunya Injil Matius, terj. Hendry Ongkowidjojo (Surabaya: Momentum, 2016), menjelaskan mengenai teks Matius 16:21-24 sebagai berikut:
Pertama, frasa “sejak waktu itu” menunjukkan peristiwa pada ayat 13-20 teramat penting; peristiwa itu mengubah seluruh arah instruksi Yesus kepada kedua belas murid. Setelah jelas bahwa kelompok kecil ini mulai memahami bahwa Ia (Yesus) adalah Mesias yang telah lama dijanjikan, Yesus mulai mengajar mereka tentang arti dari kemesiasan-Nya. Bagi orang Yahudi pada umumnya, menjadi Mesias sama dengan kemuliaan yang tak terkira. Mesias bisa saja menghadapi perlawanan dan kesulitan, tetapi semua ini tidak lebih dari sekadar ketidaknyamanan yang harus dilalui untuk mencapai kemuliaan dan kemegahan.
Kedua, bagi Yesus, penderitaan adalah esensi kemesiasan (bdk. 17:9, 12, 22-23; 20:18-19; 21:38-39). Mempelajari “Mesias harus menderita” merupakan proses yang akan terbukti sangat sulit bagi para murid. Yesus memberi tahu bahwa Ia harus menderita. Di Yerusalem Yesus harus menderita, yang bisa meliputi berbagai-bagai kesukaran. Penderitaan yang Yesus alami disebabkan oleh tua-tua, imam-imam kepala, dan ahli-ahli Taurat. Ketiga kelompok ini merujuk pada keseluruhan pemimpin Yahudi. Tua-tua tampaknya merujuk pada Sanhedrin, dewan legislatif tertinggi orang Yahudi. Imam-imam kepala merujuk pada posisi tertinggi dalam rumah ibadat, tetapi istilah ini juga bisa berarti anggota keluarga imam besar. Sedangkan ahli-ahli Taurat adalah orang-orang yang mendalami Taurat; mereka merupakan bagian penting dari Sanhedrin.
Ketiga, Petrus mengkritik Yesus (ay. 22). Petrus menganggap dirinya lebih tahu dari Yesus tentang apa yang harus Mesias lakukan. Ia tidak bisa menerima apa yang baru Yesus katakana (ay. 21). Klausa “kiranya Allah menjauhkan hal itu!” merupakan suatu penolakan keras Petrus atas apa yang Yesus nubuatkan. Petrus telah melihat keagungan Yesus dan karena itu, ia tidak bisa memahami jika Mesias akan menjalani penghinaan seperti yang Yesus katakan. Bagi Petrus, tidak bisa dipahami jika seorang yang baru saja ia nyatakan sebagai “Mesias, Anak Allah yang hidup” harus ditolak dan dibunuh.
Keempat, Yesus menegur secara keras terhadap Petrus. Kata “enyahlah” [hupagō] merupakan kata yang keras. Kata ini bisa diartikan sebagai “pergi”, “pergi sana”. Yesus menolak usulan Petrus. Tetapi usulan Petrus ini berasal dari Iblis. Kematian Yesus (dalam kemanusiaan-Nya) begitu penting di dalam rencana Allah sehingga berusaha mencegah Yesus (untuk mati) sama dengan melakukan pekerjaan Iblis. Petrus mencobai Yesus seperti Iblis mencobai-Nya di padang gurun. Iblis berupaya membujuk Yesus untuk mengambil jalan yang mudah dan luas biasa, serta menghindari jalan penderitaan. Pada dasarnya, inilai yang Petrus nasihatkan.
Kelima, mencegah Yesus dari kematian, merupakan “batu sandungan” karena rencana Allah adalah bagi keselamatan manusia yang berdosa melalui kematian Yesus yang telah dinubuatkan, haruslah digenapi (bdk. ay. 21, dan teks-teks paralelnya di dalam Injil-Injil lainnya). Menolak kesengsaraan (penderitaan) dan kematian Mesias, adalah jalan pikiran manusia yang tidak memahami rencana Allah.
Keenam, sebagaimana Yesus dalam keadaan-Nya sebagai manusia mengalami penderitaan, para murid yang mengikut Yesus, juga harus menderita. Kata “setiap” merujuk bukan hanya pada murid-murid, tetapi merujuk kepada siapa saja yang akan menjadi murid Yesus. “Menyangkal diri” berarti meninggalkan sikap mementingkan diri sendiri, sikap mempromosikan diri sendiri, dan sikap mencari keuntungan diri sendiri. “Memikul salib” berarti melakukan penyangkalan diri, mengorbankan diri, dan tidak memusingkan kepentingan diri sendiri.
Dari apa yang telah dijelaskan Morris, saya menambahkan beberapa hal yang korelatif dan suplementatif:
Pertama, salib juga berarti “beban” yang harus dipikul. Beban itu bukanlah beban dosa, melainkan “beban ketaatan, kesetiaan, dan keberanian mengikut Yesus.
Kedua, penderitaan dalam mengikut Yesus adalah sebuah konsekuensi logis: “setiap orang yang mau mengikut Aku, ia harus menyangkal dirinya, memikul salibnya dan mengikut Aku”, dan konsistensi logis: “karena barangsiapa mau menyelamatkan nyawanya, ia akan kehilangan nyawanya; tetapi barangsiapa kehilangan nyawanya karena Aku, ia akan memperolehnya” (ay. 25). Hal ini menandaskan bahwa Yesus juga akan mati, tetapi Ia akan bangkit pada hari ketiga (bdk. ay. 21). Jadi, jika Yesus mati, maka para pengikut-Nya yang mati karena imannya kepada Yesus, juga akan dibangkitkan sebagaimana Yesus bangkit dari antara orang mati. Ini adalah sebuha prinsip konsistensi dari Yesus. Dan kita menerima prinsip ini.
Ketiga, penderitaan dan kematian Yesus—sebagai Mesias, Anak Allah yang hidup (ay. 16)—terjadi secara fakta karena Yesus benar-benar manusia sejati. Kemanusiaan-Nya layak menderita, dan bukan menolaknya, sebagaimana yang dilakukan Petrus dan Iblis yang merasukinya.
Keempat, penderitaan Yesus adalah bagian dari totalitas Inkarnasi Logos Allah menjadi daging (sarks), sehingga, dengan demikian fakta ini menancapkan keyakinan bahwa Yesus bukanlah manusia setengah dewa, atau hanya tampaknya seperti manusia, melainkan Ia benar-benar manusia sejati (bdk. Flp. 2:6-8).
Kelima, penderitaan Yesus terkait erat dengan penggenapan nubuatan Yesus mengenai kematian dan kebangkitan-Nya (ay. 21). Kesatuan peristiwa yang utuh ini, harus tetap dipegang dan diimani sebagai sebuah peristiwa historis. Hal ini membawa kita kepada karya penebusan dan penyelamatan Allah melalui Yesus Kristus yang final. Itulah sebabnya, kita mengakui bahwa Yesus adalah Juruselamat satu-satunya yang menjembatani hubungan antara Allah dan manusia di mana manusia telah merusak hubungan itu sendiri karena dosa-dosa mereka.
Keenam, kematian Yesus Kristus adalah kehendak Allah, sedangkan mengupayakan agar Yesus tidak jadi mati, seperti yang diusulkan Petrus adalah murni kehendak Iblis. Jika ada agama yang menolak dan mengupayakan bahwa Yesus tidak mati disalib, itu adalah kehendak (pikiran) Iblis.
Yesus Kristus adalah Juruselamat yang mati—dalam keadaan-Nya sebagai manusia—untuk menebus dan menyelamatkan umat-Nya. Ia menjamin dan memberikan kehidupan kekal bagi setiap orang yang percaya kepada-Nya.