HIDUP SEBAGAI SAKSI YESUS KRISTUS

Refleksi Kisah Para Rasul 1:6-11

Sumber gambar: https://id.pinterest.com/pin/401594491752716967/

Frasa “hidup sebagai saksi Kristus” memberi pemahaman kepada kita bahwa “dalam totalitas kehidupan yang dijalani, kita, sebagai ‘saksi-Nya’ , harus menunjukkan (mewujudkan) iman kepada Yesus melalui kata, perbuatan, dan pikiran.” Tidak ada yang tersisa dalam kehidupan kita selain hanya untuk Kristus. Pertaruhan hidup-mati kita hanya bagi dan demi Yesus Kristus dalam hal melayani, memberitakan Injil, hidup benar, beriman, dan berkarya.

Lalu bagaimana dengan kesenangan dan kebebasan kita untuk menikmati hidup? Sama sekali terganggu? Tidak! Yang merasa terganggu adalah mereka yang belum sepenuhnya memahami bagaimana seharusnya mengikut Yesus dan menjadi saksi-Nya. Adalah baik bagi kita untuk memahami apa makna menjadi pengikut dan saksi Kristus. Pemahaman itu sendiri akan menggiring kita kepada “jalan kekudusan dan tanggung jawab moral, bahkan spiritualitas untuk semakin berani bersaksi melalui kata, perbuatan, dan pikiran.

Teks Kisah Para Rasul 1:6-11 menjelaskan tentang fokus pelayanan para murid; mereka menerima kuasa untuk menjadi saksi Yesus Kristus” (ay. 8). Ayat 8 hendak mengkonfirmasi bahwa “menjadi saksi dalam memberitakan Injil Yesus Kristus” membutuhkan kuasa [Yun. dunamis] dari Tuhan. Kuasa ini menjadi media bagi orang-orang percaya (para murid Yesus) yang berdampingan erat (koheren) dengan pemberitaan Injil.

Sejarah iman Kristen membuktikan bahwa pemberitaan Injil yang berbarengan yang manifestasi kuasa Tuhan telah menjadikan berita Injil bukanlah semata-mata hanya perkataan-perkataan saja, melainkan perkataan-perkataan yang mengubahkan manusia berdosa menjadi “manusia baru” di dalam Kristus. Kuasa Tuhan yang diberikan kepada para penginjil, mengkonfirmasi bahwa “Tuhan yang disembah oleh orang-orang Kristen” adalah Tuhan yang berkuasa dan berdaulat. Berapa banyak orang yang telah diubahkan oleh Tuhan? Berapa banyak orang yang bertekuk lutut di hadapan-Nya?

Pekabaran Injil adalah realisasi dari iman yang terpahami secara baik. Siapa saja bisa mengklaim bahwa ia beriman, tetapi pertanyaan mendasarnya adalah: “apakah iman itu terpahami dengan baik, ataukah hanya iman di mulut saja?” Orang Kristen yang mengabarkan Injil adalah orang yang memahami mengapa ia beriman kepada Yesus Kristus.

Teks Kisah Para Rasul 1:8 menyebutkan beberapa pokok penting yang perlu kita pahami.

Pertama, Roh Kudus menjadi pribadi yang memimpin kita untuk bergerak dan merealisasikan iman kepada Yesus Kristus. Roh Kudus diberikan Bapa kepada setiap orang percaya. Roh Kudus akan berdiam di dalam diri orang percaya.

Kedua, implikasi dari berdiamnya Roh Kudus dalam diri orang percaya adalah “menerima kuasa”, “mendapatkan kuasa”.

Ketiga, implikasi dari berdiamnya Roh Kudus dan penerimaan kuasa adalah para murid menjadi “saksi Yesus Kristus di segala tempat”, kapan pun dan di mana pun. Kita yang hidup sekarang ini mewarisi berita Injil yang diwartakan oleh para rasul Yesus Kristus.

Lalu, Apa yang Dapat Kita Lakukan di Zaman Ini?

Iman yang terpahami mendorong setiap orang percaya menyadari peran dan tanggung jawabnya dalam melayani. Orang percaya memerlukan “kuasa” dari Tuhan untuk menyertai proses pemberitaan Injil Yesus. Tantangannya adalah kuasa-kuasa kegelapan yang membelenggu orang-orang berdosa dan orang-orang yang hidup dalam berbagai jenis kejahatan.

Tuhan memanggil kita untuk melakukan tugas mulia ini. Ketika beriman, bukan berarti kita berhenti di tempat dan kemudian hanya menikmati karunia Tuhan secara pribadi. Tuhan telah menyatakan kepada kita dalam sejarah bahwa Ia telah berbagi dengan manusia, berbagi keselamatan, kasih, dan pengampunan. Karena itulah, kita juga mendapat tugas yang sama, yaitu berbagi kasih dan pengampunan, agar orang-orang yang berdosa, yang jauh dari Tuhan, diselamatkan oleh-Nya.

Roh Kudus yang telah berdiam di dalam diri kita merealisasikan kehendak-Nya dalam konteks pemberitaan Injil dan manifestasi kuasa-Nya yang dahsyat dan luar biasa. Jika demikian, masihkah kita berlambat-lambat untuk melakukan tugas dan tanggung jawab sebagai orang yang percaya dan beriman kepada Tuhan?

Jangan berlambat-lambat untuk melayani-Nya. Waktu ini sangat singkat. Pergunakanlah waktu yang Tuhan berikan. Para murid Yesus telah menunjukkan bahwa mereka sangat serius dengan pemberitaan Injil. Mereka berani karena ada jaminan Roh Kudus yang berdiam dalam diri mereka dan mereka diberikan kuasa yang luar biasa.

Hidup sebagai saksi Yesus Kristus adalah hidup yang melayani, hidup yang berbagi, dan hidup yang memberi diri untuk pemberitaan Injil.

Soli Deo Gloria

Salam Bae

BERTOBATLAH

Refleksi Kisah Para Rasul 2:14-40

Sumber gambar: https://www.thesacredartgallery.com/artists/ch-pabst/the-rosary/

PENDAHALUAN

Bertobat adalah sebuah keputusan yang memiliki alasan tertentu. Seseorang dapat berikhtiar untuk “bertobat” ketika ada sesuatu yang menggerakkan pikirannya untuk melakukan pertobatan. Berbagai alasan pertobatan seseorang menjadi dasar mengapa seseorang itu “berubah” atau “berbalik” kepada sesuatu yang lain.

Dalam konteks ini, pertobatan sering dipahami sebagai tindakan meninggalkan (memutuskan) sesuatu yang menjadi jerat dosa dan pemberontakan, bahkan segala jenis kejahatan, untuk mendekati dan memegang kehidupan yang lebih baik, bersih, jujur, penuh kasih, dan sukacita. Pertobatan sering membawa seseorang kepada kondisi bahagia, bebas dari tekanan dan ikatan dosa dunia.

Kitab Suci menggunakan istilah metanoeō dan metanoia: bertobat, berubah pikiran, merasakan penyesalan yang mendalam, menyesal, mengubah pikiran, berbalik meninggalkan dosa, perubahan pikiran, hal berpaling (dari dosa). Arti mendasar dari metanoia adalah: perubahan hati, yakni pertobatan nyata dalam pikiran, sikap, pandangan dengan arah yang sama sekali berubah, putar balik dari dosa kepada Tuhan dan pengabdian kepada-Nya.

Berangkat dari arti tersebut, konteks ajakan Rasul Petrus kepada para pendengar khotbahnya dalam peristiwa Pentakosta, adalah hendak “mengubah pikiran” mereka (mengenai konsep pemahaman nubuatan) dan berpaling dari dosa-dosa mereka, sebagaimana tampak dalam ayat 38 dan 40: “Bertobatlah dan hendaklah kamu masing-masing memberi dirimu dibaptis dalam nama Yesus Kristus untuk ‘pengampunan dosamu’, maka kamu akan menerima karunia Roh Kudus”, dan “Berilah dirimu diselamatkan dari angkatan yang jahat ini.”

Pada pemahaman tentang nubuatan, Rasul Petrus mengaitkan Yesus dan fenomena bahasa lidah yang terjadi pada diri para rasul pasca Roh Kudus turun ke atas mereka dalam bentuk nyala api, dan mengaitkan Yesus dengan nubuatan Perjanjian Lama. Artinya, untuk menjembatani pemahaman akan fenomena bahasa lidah dan Yesus Kristus yang mati, bangkit, dan naik ke surga, Petrus menggunakan teks-teks PL sebagai konfirmasi bahwa fenomena yang terjadi dan sekaligus pemberitaan tentang Yesus Kristus dapat dipertanggung jawabkan.

Roh Kudus mengkonfirmasi firman Tuhan dalam PL, karena orang-orang Yahudi mengakui otoritas Kitab Suci mereka. Dengan demikian, mereka mengetahui dan sekaligus melihat fakta di depan mata bahwa nubuatan-nubuatan Kitab Suci mereka tergenapi. Kita dapat membayangkan ketika kurang lebih 3000 orang menyerahkan diri bertobat (metanoia) dan dibaptis serta menerima Yesus sebagai Tuhan dan Juruselamat. Dan di sini, peran Roh Kudus sangatlah penting sekali. Jika Roh Kudus bekerja maka segala sesuatu menjadi mungkin. Apa yang mustahil bagi manusia, tidak mustahil bagi Roh Kudus, sebab Ia adalah Tuhan yang berkuasa.

KONTEKS

Keberanian Petrus berdiri di depan orang banyak (yaitu orang-orang Yahudi yang saleh dari segala bangsa di bawah kolong langit) adalah fakta bahwa Roh Kudus bekerja, memberikan keberanian kepada Petrus untuk berbicara. Tidak hanya itu, kemampuan Rasul Petrus untuk berbicara menjadi hal menarik (lihat 2:1-13). “Penuh dengan Roh Kudus” (ay. 4) menghasilkan potensi berbicara dalam bahasa-bahasa lain (bdk. ay. 7-11). Hal ini adalah bukti kuasa Roh Kudus yang ajaib dan luar biasa.

Berikut ini adalah beberapa pokok penting mengenai konteks dari teks di atas.

Pertama, Roh Kudus mengurapi orang berbicara tentang “kebenaran Tuhan” dan perkataan orang tersebut menghasilkan “kuasa yang mengubahkan”. Hal ini terlihat pada ayat 37: “Ketika mereka mendengar hal itu hati mereka sangat terharu, lalu mereka bertanya kepada Petrus dan rasul-rasul yang lain: ‘Apakah yang harus kami perbuat, saudara-saudara?’” Kemudian Petrus mengarahkan para pendengar yang bertanya untuk bertobat. Hal ini dijelaskan pada ayat 38: “Bertobatlah dan hendaklah kamu masing-masing memberi dirimu dibaptis dalam nama Yesus Kristus untuk pengampunan dosamu, maka kamu akan menerima karunia Roh Kudus.”

Kedua, apa yang menyebabkan Petrus menganjurkan para pendengar khotbahnya untuk bertobat? Di sini kita perlu melihat “isi” khotbahnya (ay. 14-36) karena ternyata setelah mendengar isi khotbah Rasul Petrus, orang-orang Yahudi yang saleh dari segala bangsa, “hati mereka sangat terharu” (ay. 37).

Ketiga, isi khotbah Petrus mencakup:

1. penegasan bahwa nubuatan Nabi Yoel bahwa: “Akan terjadi pada hari-hari terakhir — demikianlah firman Allah — bahwa Aku akan mencurahkan Roh-Ku ke atas semua manusia; maka anak-anakmu laki-laki dan perempuan akan bernubuat, dan teruna-terunamu akan mendapat penglihatan-penglihatan, dan orang-orangmu yang tua akan mendapat mimpi. Juga ke atas hamba-hamba-Ku laki-laki dan perempuan akan Kucurahkan Roh-Ku pada hari-hari itu dan mereka akan bernubuat. Dan Aku akan mengadakan mujizat-mujizat di atas, di langit dan tanda-tanda di bawah, di bumi: darah dan api dan gumpalan-gumpalan asap. Matahari akan berubah menjadi gelap gulita dan bulan menjadi darah sebelum datangnya hari Tuhan, hari yang besar dan mulia itu” (ay. 17-20). Khotbah pertama Petrus menegaskan bahwa kondisi yang dialami para rasul yaitu “dipenuhi Roh Kudus” adalah bukti penggenapan nubuatan Nabi Yoel. Di sini, orang-orang Yahudi yang saleh melihat pemahaman yang kuat dari nubuatan itu sendiri.

2. Petrus kemudian mengarahkan para pendengar untuk menunjukkan sikap bahwa: “Dan barangsiapa yang berseru kepada nama Tuhan akan diselamatkan” (ay. 21). Petrus sedang mengarahkan mereka kepada Yesus Kristus (ay. 22-24), yang ditentukan Allah dan yang dinyatakan mereka dengan kekuatan-kekuatan dan mujizat-mujizat dan tanda-tanda yang dilakukan oleh Allah dengan perantaraan Dia di tengah-tengah mereka, seperti yang mereka ketahui. Yesus membuktikan bahwa Ia datang dan berasal dari Bapa (bdk. Yoh. 7:28, “Aku diutus oleh Dia yang benar”; 7:29, “Aku datang dari Dia dan Dialah yang mengutus Aku”; 8:42, “Aku keluar dan datang dari Tuhan”; 16:28, “Aku datang dari Bapa”; 17:8, “Aku datang dari pada-Mu”). Di samping itu, dalam wujud manusia-Nya, Yesus disalibkan (dibunuh) (ay. 23) dan dibangkitkan Tuhan dengan melepaskan Dia dari sengsara maut (ay. 24). Dengan demikian, “kebangkitan Yesus” adalah fakta sejarah yang tak terbantahkan.

3. Petrus kembali mengaitkan Yesus dengan nubuatan Raja Daud (ay. 26-28) dan menegaskan bahwa: Yesus yang bangkit selaras dengan perkataan Daud bahwa “TUHAN tidak membiarkan Orang Kudus-Nya melihat kebinasaan.”

4. Petrus kemudian memberikan analogi (ay. 29) bahwa Daud telah mati, tetapi Tuhan telah berjanji kepadanya dengan mengangkat sumpah, bahwa Ia akan mendudukkan “seorang” dari keturunan Daud sendiri di atas takhtanya (ay. 30). “Karena itu ia telah melihat ke depan dan telah berbicara tentang kebangkitan Mesias, ketika ia mengatakan, bahwa Dia tidak ditinggalkan di dalam dunia orang mati, dan bahwa daging-Nya tidak mengalami kebinasaan. Yesus inilah yang dibangkitkan Tuhan, dan tentang hal itu kami semua adalah saksi” (ay. 31-32). Jadi, korelasi nubuatan Daud dengan fakta bahwa Yesus bangkit dari antara orang mati sudah sesuai dengan nubuatan Daud. Dan korelasi ini bukanlah dibuat-buat atau dicocok-cocokkan, melainkan sudah tergenapi dalam diri Yesus Kristus: mati dan bangkit dari kematian. Ini sangat luar biasa.

5. Di ayat 33, “Dan sesudah Ia ditinggikan oleh tangan kanan Tuhan dan menerima Roh Kudus yang dijanjikan itu, maka dicurahkan-Nya apa yang kamu lihat dan dengar di sini.” Tidak hanya mati dan bangkit, Yesus Kristus juga naik ke surga. Hal ini terlihat pada ayat 34-35, “Sebab bukan Daud yang naik ke sorga, malahan Daud sendiri berkata: Tuhan telah berfirman kepada Tuanku: Duduklah di sebelah kanan-Ku, sampai Kubuat musuh-musuh-Mu menjadi tumpuan kaki-Mu.”

6. Terakhir (ay. 36), Petrus menutup dengan penegasan dan ajakan: “Jadi seluruh kaum Israel harus tahu dengan pasti, bahwa Allah telah membuat Yesus, yang kamu salibkan itu, menjadi Tuhan dan Kristus.”

Keempat, ayat 37 menjelaskan respons dari khotbah Petrus: “hati mereka sangat terharu”. Selain terharu, mereka melanjutkan dengan bertanya. Inilah yang mengarahkan mereka kepada sebuah “metanoia” (pertobatan). Ayat 38 dan 40, menjelaskan ajakan Petrus: “Bertobatlah” dan memberi diri untuk diselamatkan.”

Kelima, kita melihat bahwa “Orang-orang yang menerima perkataannya itu memberi diri dibaptis dan pada hari itu jumlah mereka bertambah kira-kira tiga ribu jiwa” (ay. 41), suatu jumlah yang fantastis. Kuasa dan urapan Roh Kudus sangatlah ajaib dan luar biasa bukan? Kelanjutannya adalah “Mereka ‘bertekun dalam pengajaran’ rasul-rasul dan ‘dalam persekutuan’. Dan mereka selalu ‘berkumpul’ untuk memecahkan roti dan ‘berdoa’” (ay. 42).

Keenam, kuasa dan urapan Roh Kudus tidak berhenti pada dua fenomena ajaib yaitu para rasul “berbahasa lidah” dan Rasul Petrus “berkhotbah di depan ribuan orang Yahudi yang kemudian mereka terharu dan ingin mengubah pikiran mereka”, melainkan “mengadakan banyak mujizat dan tanda” (ay. 43), dan mendorong hidup bersama dalam persekutuan dan berbagi dengan sesama anggota Gereja: “Dan semua orang yang telah menjadi percaya tetap bersatu, dan segala kepunyaan mereka adalah kepunyaan bersama, dan selalu ada dari mereka yang menjual harta miliknya, lalu membagi-bagikannya kepada semua orang sesuai dengan keperluan masing-masing” (ay. 44-45).

Roh Kudus juga mengarahkan umat-Nya untuk hidup dalam persekutuan dan sehati, sebagaimana tampak dalam ayat 46-47: “Dengan bertekun dan dengan sehati mereka berkumpul tiap-tiap hari dalam Bait Allah. Mereka memecahkan roti di rumah masing-masing secara bergilir dan makan bersama-sama dengan gembira dan dengan tulus hati, sambil memuji Tuhan. Dan mereka disukai semua orang. Dan tiap-tiap hari Tuhan menambah jumlah mereka dengan orang yang diselamatkan.”

PENUTUP

Roh Kudus bekerja untuk mendorong kita memahami firman-Nya dan kemudian bertobat, menyerahkan diri untuk taat dan setia kepada Tuhan, sebagaimana terjadi pada orang-orang Yahudi ketika Petrus selesai berkhotbah.

Roh Kudus memimpin kita untuk menyatakan firman-Nya dan menjadi saksi Injil di mana pun, dan kapan pun.

Roh Kudus yang memberikan kekuatan dan keberanian kepada kita seyogianya dipakai bagi pelayanan kepada sesama, baik dalam komunitas Gereja, maupun dalam pekerjaan misi.

Roh Kudus juga mengarahkan kita untuk bertekun dalam firman-Nya dan mengutamakan persekutuan dengan sesama anggota Gereja. Kita pun harus saling peduli satu dengan lainnya, saling mendoakan, dan saling berbagi; tidak memandang perbedaan dan status sebagai ajang untuk menyombongkan diri. Roh Kudus memimpin kita untuk dalam kebenaran-Nya, hidup kudus, dan hidup yang bersaksi bagi Yesus Kristus.

Salam Bae…

TEOLOGI “UCAP-TINDAK”

Refleksi Iman dan Diri

Sumber gambar: https://id.pinterest.com/pin/349732727311832908/

Tindak (perbuatan) seseorang seringkali diukur dari apa yang diucapkan. Dengan perkataan lain, ucapan lahir dari pikiran yang kemudian terealisasi dalam sebuah tindak. Ukuran kualitas ucap (ujar) seseorang tampak pada tindaknya, sehingga lahirlah slogan: “berani berkata, berani bertindak”, “siapa yang berkata hendaklah ia berbuat”, “apa yang dikatakan harus dilakukan”, dan “tindakan lahir dari pikiran atau ucapan”.

Acapkali kita tersendat dengan tindak nyata. Berucap itu mudah, yang sulit adalah bertindak. Adakah kita mengalaminya? Kita bahkan terbiasa, piawai, atau seperti akrobat di permainan sirkus dalam hal ucapan-ucapan. Kita bahkan menyembunyikan segala dosa tindakan dengan sederet kata-kata indah nan suci bahwa kita tidak berdosa. Laburan marmer putih mengkilap menutupi busuknya tindakan kita sendiri. Kemunafikan menjadi raja di pikiran kita.

Apakah itu mencerminkan sikap hidup Kristen yang baik? Tentu tidak. Ucap yang baik menghasilkan tindak yang baik. Jangan memoles tindak kita yang tidak seberapa dengan ucap yang bombastis. Ada kalanya seseorang berbuat sedikit tapi berbicara besar tentang tindakannya. Ini tidak jujur. Sebaliknya, ada yang berbicara bombastis tapi tindakannya nol besar. Ini kemunafikan belaka.

Lalu apa yang akan dipikirkan, pahami, dan lakukan? Di sini peran Teologi “ucap-tindak” menjadi relevan dan kuat untuk mengoreksi diri kita. Teologi “ucap-tindak” memiliki dasar yang sama dengan apa yang salah jelaskan di atas: “berani berkata, berani bertindak”, “siapa yang berkata hendaklah ia berbuat”, “apa yang dikatakan harus dilakukan”, dan “tindakan lahir dari pikiran atau ucapan”.

Jika kita pernah membaca pernyataan Rasul Yakobus: “iman tanpa perbuatan pada hakekatnya adalah mati”, maka kita tahu navigasi logika mengarah kepada konsistensi iman yang harus melahirkan perbuatan.

Teologi “ucap-tindak” menegaskan prinsip yang sangat fundamental (mendasar), sebab luaran dari ucap seseorang adalah tindakannya. Artinya, seseorang dinilai bukan hanya dari ucapnya, apalagi jika ucapnya itu terkesan mantap, berbobot, dan menarik. Akan tetapi, koherensi ucap-tindak menjadi relevan dan itulah dasar penilaian terhadap seseorang.

Bagaimana dengan kita? Apakah kita pernah berucap lalu lupa bertindak? Apakah tindak yang kita nyatakan lahir dari apa yang kita ucapkan? Apakah iman yang kita ucapkan kepada Tuhan diteruskan dengan tindakan nyata? Ataukah kita hanya bertindak tanpa iman dan beriman tanpa tindakan? Teologi “ucap-tindak” memberi ruang kepada kita untuk melihat dan menilai diri kita sendiri apakah tindak kita selaras dengan ucap kita, ucap kita melahirkan tindak nyata.

Teologi “ucap-tindak” menegaskan beberapa prinsip yang perlu kita perhatikan:

Pertama, ucapan kita seyogianya benar, sesuai fakta, tidak menyimpangan kebenaran, dan ucap kita berdasar pada Alkitab.

Kedua, ucap kita tidak hanya berhenti pada menariknya ucap itu sendiri melainkan dilanjutkan pada realisasi sebab ucap bisa menarik, tapi lebih menarik lagi jika dilakukan.

Ketiga, tindakan kita bukanlah sembarang tindakan. Tindakan itu haruslah dilandasi iman kepada Yesus Kristus. Di sini, antara iman dan perbuatan haruslah solid. Ada banyak perbuatan yang dilakukan oleh orang Kristen, tetapi apakah itu semua berdasar pada iman? Belum tentu. Ada banyak orang Kristen mengaku beriman, tetapi tindak-tanduknya tidak mencerminkan iman itu sendiri.

Keempat, ucap kita menentukan identitas kita. Lebih-lebih lagi tindakan kita. Ada orang yang manis perkataannya tetapi busuk hatinya. Ada orang yang berbicara mengesankan tetapi ia sedang merencanakan sesuatu yang tidak baik terhadap kita. Ada orang yang berbicara dengan tujuan untuk menipu, dan tindakannya yang akan tampak ke permukaan untuk memperlihatkan penipuannya.

Kelima, tindakan kita akan lebih fulgar dinilai ketimbang ucap kita. Jika tindakan kita kotor dan jelek, maka itu akan menjadi luka seumur hidup. Akan tetapi, ketika ucap kita salah, seringkali masih bisa dimaklumi. Lain halnya dengan tindak. Itu akan berbicara lebih kuat di sepanjang sejarah dan tak bisa diralat. Ucap yang salah bisa diralat di kemudian hari, tetapi tindak membunuh orang lain tak bisa diralat di kemudian hari. Keduanya, bisa diselesaikan dengan cara “mengampuni”.

Keenam, Teologi “ucap-tindak” tidak membiarkan pengampunan berjalan sendiri. Justru Teologi “ucap-tindak” menempatkan pengampunan sebagai senjata utamanya. Sesama yang berucap salah, kita ampuni. Sesama yang bertindak salah, kita ampuni. Mungkin kita pernah berucap: marilah kita saling mengampuni, tapi kemudian sulit bagi kita untuk mengampuni sesama. Ini tidak konsisten. Iman Kristen tidak menempatkan tindak balas dendam, melainkan tindak mengampuni karena itulah yang diajarkan Yesus Kristus.

Ketujuh, kehidupan Kristen yang beriman sungguh-sungguh kepada Yesus Kristus menyatakan koherensi dan konsistensi antara ucap dan tindak. Dalam konteks biblika: iman dan perbuatan haruslah konsisten. Kita mengaku beriman kepada Tuhan dan oleh karena itu kita perlu bertindak sesuai dengan kehendak Tuhan.

Adakah kita menyadari bahwa selama ini kita telah salah di hadapan Tuhan dan sesama? Adakah selama ini kita telah berbuat selaras dengan iman kita kepada Tuhan? Teruslah menilai diri sendiri sebelum menilai orang lain; teruslah berbenah diri sebelum membenahi orang lain; dan teruslah bertindak di dalam iman sebab itulah yang berkenan kepada Tuhan.

Salam Bae…

MEMBACA ZAMAN: Refleksi Kejadian 4:17-26

Sumber gambar: https://id.pinterest.com/pin/316729786297091702/

Di mana kita hidup di situ kita “membaca”. Apa yang dibaca? Yang dibaca adalah kehidupan dan perilaku di zaman itu, termasuk diri dan hidup kita. Apa maknanya? Maknanya adalah hal itu dapat menjadi kekuatan teladan dan warisan sekaligus “tanda awas” untuk mengoreksi diri kita. Berapa lama pengaruh bacaan zaman? Lamanya adalah seumur hidup kita dan bergantung kepada seberapa paham diri kita akan proses hidup dan apa yang terjadi di dalamnya. Artinya, apa yang kita pegang—mungkin itu adalah hasil dari “membaca zaman”.

Membaca zaman bergantung pada bijaksana. Bijaksana itu bisa kita terima langsung dari Tuhan atau melalui Firman-Nya. Sejatinya, bijaksana mempengaruhi totalitas hidup kita, memimpin hidup kita untuk tetap bertahan pada keyakinan kita kepada Sang Khalik.

Di setiap zaman, setiap manusia dapat melakukan tiga hal: pertama, membaca zaman dan bertindak dengan bijaksana (buku karya John Stott dapat mewakili hal ini); kedua, membaca zaman dan bodoh amat (tidak menanggapi secara serius situasi zaman dan melakukan hal lain sebagai gantinya); dan ketiga, membaca zaman dan tidak berbuat apa-apa (tidak memiliki niat untuk bergerak melakukan sesuatu).

Kita akan melihat beberapa konteks yang terjadi di zaman Adam dan Hawa serta generasi yang dilahirkannya dari teks yang kita baca. Peristiwa-peristiwa tersebut dapat terjadi (atau terulang kembali) di zaman kita sekarang ini. Membaca zaman memang perlu. Ada asosiasi-asosiasi internal yang dapat muncul dalam pikiran. Artinya, kita tidak boleh lupa di mana dan dalam situasi seperti apa kita hidup dan mengaitkannya dengan peristiwa-peristiwa lampau yang bisa menjadikan diri kita semakin lebih baik. Hal ini tampak dalam asosiasi teks dengan zaman kita yang akan saya jelaskan kemudian.

Banyak buku yang membahas mengenai Generasi Millennial, Generasi Z, dan sejumlah nama lain yang dikarang sendiri berdasarkan bacaaan zaman. Bahkan, muncul buku-buku yang membahas revolusi industri 4.0. Sementara itu, kita masih tetap setia kepada Tuhan dalam bentuk beribadah di Gereja, dan di tempat lainnya, memohon agar Tuhan melindungi kita, keluarga, anak-anak, dan lainnya, dalam menghadapi kemajuan teknologi.

Salah satu buku yang merepresentasikan (mewakili) pembacaan zaman adalah buku yang berjudul “Homo Deus” karya Yuval N. Harari. Buku tersebut mengkaji sebuah pembacaan zaman. Harari menyinggung peristiwa-peristiwa historis dan melihat kekuatan tekonologi masa kini, kemudian meramal masa depan, apa yang akan terjadi dengan kemajuan teknologi tersebut. Buku ini begitu kuat membaca zaman dan generasi yang akan datang. Jika demikian, apakah yang perlu kita kerjakan ketika kita hidup di zaman yang begitu maju teknologinya? Apakah bisa kita mengkorelasikan zaman dulu kepada zaman sekarang ini? Tentu bisa.

Kita melihat bahwa generasi dan situasi zaman yang dijelaskan dalam teks bacaan kita, menggambarkan adanya korelasi. Apa yang terjadi di zaman kita, dulu sudah terjadi. Artinya, kita dapat melihat zaman dulu untuk dijadikan “alasan dan keputusan” untuk menjalani hari ini dan dapat memberi pengaruh di masa depan.

Berdasarkan teks yang kita baca, terdapat peristiwa-peristiwa yang terbingkai dalam konteks “situasi zaman”; di dalam zaman itu terdapat “generasi-generasi”. Hal ini menjadi menarik karena setiap zaman, generasinya berbeda, peristiwa berbeda, dan kadang terulang kembali, dan lain sebagainya.

Membaca zaman di mana kita hidup adalah sebuah kebijaksanaan (kecakapan/kepandaian) untuk mengambil makna terhadapnya. Sebagaimana yang akan kita amati, bahwa dalam bacaan kita, tampak hal-hal yang menarik, sebagai berikut:

  1. Penamaan kota berdasarkan nama anak (ay. 17b).
  2. Poligami (ay. 19).
  3. Penemuan kecapi dan suling (ay. 21).
  4. Lahirnya pakar tembaga dan besi (ay. 22).
  5. Pembunuhan beralasan (ay. 23-24): “lebih baik membunuh daripada dibunuh”. Alasan Lamekh membunuh adalah karena dirinya dilukai oleh orang lain, membunuh karena dirinya dipukul sampai bengkak.
  6. Pembelaan diri dari segala serangan. Hal ini dilakukan Lamekh.
  7. Kasih karunia Tuhan terhadap Adam dan Hawa. Pasca matinya Habel, Tuhan memberikan anak kepada mereka dan menamainya Set (ay. 25).
  8. Kerinduan generasi di zaman itu untuk memanggil nama TUHAN (ay. 26).

Di sini, saya memfokuskan pada “kerinduan memanggil nama TUHAN”. Situasi atau kondisi yang terjadi di zaman Adam dan Hawa dan keturunannya, mendorong sebuah kesadaran untuk datang kepada Tuhan. Memang tidak disebutkan secara luas mengenai gambaran situasi di zaman itu, tetapi apa yang kita baca dirasa cukup merepresentasikan kondisi zaman di mana mereka hidup.

Di zaman ini, di tengah lajunya teknologi, masih adakah yang rindu dan peduli memanggil nama Tuhan? Tentu masih ada ada. Lihat saja semua yang hadir di Persekutuan Doa Paramount Enterprise hari ini: semuanya datang karena rindu memanggil (memuji, berdoa, memohon, dan bersyukur) nama Tuhan. Lihat saja di Gereja, masih ada orang-orang yang datang bersyukur dan memohon kepada Tuhan dalam ibadah.

Di tengah maraknya pengguna media sosial, nama Tuhan pun ikut dipanggil-panggil. Ada yang buat status: “Tuhan Yesus, tolonglah saya”. Memangnya Tuhan Yesus punya Facebook? Sekarang, ada orang-orang tertentu kelihatan rohani di media sosial, padahal kenyataannya tidaklah demikian. Selalu berdoa di dunia maya, tetapi selalu berdosa di dunia nyata. Lalu apa yang seharusnya kita pahami dari konteks rindu “memanggil nama Tuhan?” Memanggil nama Tuhan dapat bermakna:

  1. Menyadari akan fananya hidup manusia dan manusia membutuhkan Tuhan: manusia memanggil nama Tuhan.
  2. Mengakui bahwa hidup manusia berada dalam kedaulatan-Nya, segala sesuatu dapat terjadi jika Ia berkenan: manusia memanggil nama Tuhan dan mengakuinya. Hal ini tampak dalam peristiwa di man Tuhan mengaruniakan anak kepada Adam dan Hawa, ganti Habel, yaitu Set dan kemudian Set memperanakkan Enos di mana di zaman itulah orang mulai memanggil nama Tuhan.
  3. Mensyukuri bahwa segala sesuatu yang baik adalah karena kemurahan Tuhan: manusia memanggil nama Tuhan dan bersyukur kepada-Nya.
  4. Menyadari bahwa Tuhan itu adil dan akan memberikan keadilan kepada mereka yang berseru dan bersandar kepada-Nya: manusia memanggil nama Tuhan dan bersyukur.
  5. Menyadari bahwa setiap dosa yang dilakukan pasti akan menerima hukuman dari Tuhan dan karenanya seseorang harus “memanggil” nama-Nya, berseru dan memohon ampun.
  6. Mengakui bahwa Tuhan adalah Sang Pembela manusia, dan Ia akan bertindak sesuai dengan kehendak-Nya: manusia memanggil nama Tuhan dan memohon pembelaan-Nya.
  7. Menyadari bahwa kasih karunia Tuhan melampaui segala sesuatu yang kita usahakan dan harapkan: manusia memanggil nama Tuhan dan menyadari keterbatasannya.

Di zaman Adam dan Hawa serta keturunannya (secara khusus pada generasi Enos), “memanggil nama Tuhan” membuktikan iman kepada Tuhan yang diyakini bahwa Ia mengatur dan menjadikan segala sesuatu indah pada waktunya. Di zaman kita, memanggil nama Tuhan juga seyogianya dilakukan sebagai bukti bahwa kita beriman kepada-Nya. Kita dapat menarik makna dari zaman Adam dan Hawa dan menempatkan makna itu di hidup kita sekarang ini.

Menarik makna berarti kita telah mampu “membaca zaman”. Ada orang-orang yang berlomba-lomba menulis tentang masa depan Generasi Millennial, Generasi Z, dan sebagainya, bahkan tentang pengaruh kuat Revolusi Industri 4.0. Profesor Harari menyebutkan bahwa manusia dapat menjadi Tuhan bagi dirinya sendiri, yang dengannya manusia bisa bebas menentukan pilihan hidupnya. Sementara ada segelintir orang Kristen yang sibuk berteologi “silat lidah” dan menghasilkan ajaran-ajaran yang aneh, menyimpang, dan sesat.

Diharapkan kita menyadari bagaimana situasi zaman sekarang ini dan membacanya dengan iman yang dari Tuhan, serta menyadari bahwa “kita tetap membutuhkan Tuhan, kemudian memanggil nama-Nya, berseru, memohon kekuatan, bimbingan, dan pertolongan-Nya”.

Bisa saja seseorang hidup tanpa iman kepada Tuhan, dan dia bahagia. Tetapi ingatlah, kematian bisa datang secara tak terduga dan merobohkan kesombongannya. Bisa saja kita merasa lebih hebat dari orang lain, tetapi ingat, ketika mati, kita membutuhkan orang lain untuk memikul jenazah kita. Bisa saja kita merasa tidak perlu memanggil nama Tuhan, tetapi ingatlah bahwa suatu saat, Tuhan akan memanggil kita.

Bijaksanalah dalam hidup. Bijaksanalah dalam membaca zaman. Rindukanlah perubahan diri. Rindukanlah Tuhan, rindukanlah kasih dan kuasa-Nya. Panggillah nama-Nya, setiap waktu, free and unlimited. Hiduplah dalam terang firman Tuhan, dan rasakan jamahan kuasa Tuhan.

Soli Deo Gloria……

KESOMBONGAN DAN IMPLIKASI MEDIA SOSIAL FACEBOOK: Manusia Mekanis Menghasilkan Penindasan terhadap Karakter Personal

Sumber gambar: https://id.pinterest.com/pin/1548181099931171/

Setiap manusia memiliki potensi untuk menyombongkan diri karena potensi itu nyata dan ada dalam diri manusia. Kesombongan adalat natur alamiah. Kita tidak perlu “memasukkan” ke dalam diri, karena potensi kesombongan sudah melekat secara alamiah. Kesombongan tentu memiliki latar belakang. Latar belakang ditengarai oleh sejumlah hal yakni: situasi, kondisi, psikologi, ekonomi, sosial, politik, kekayaan, harta, strata hidup, pendidikan, pekerjaan, agama, suku, bangsa, budaya, dan karakter.

Dalam budaya populer yang terkontaminasi sekarang ini, di mana hampir segala sesuatu dipublikasikan, maka kesombongan dapat saja ikut bermain di dalamnya. Publikasi melalui media sosial—dalam hal ini: facebook, dapat mencakup banyak hal, termasuk kesombongan. Kesombongan terwujud dalam karya cetak dan noncetak, verbal, tindakan fisik, gestikulasi, dan raut wajah. Di dunia maya, kesombongan begitu marak marak. Meski kadang tidak tampak atau tidak secara terang-terangan, indikasi ke arah kesombongan dapat dengan mudah “terbaca”.

Sumber gambar: https://id.pinterest.com/pin/694680311259161909/

Kesombongan sering “menyamar” dalam bentuk publikasi-publikasi personal maupun komunal. Maraknya pengguna media sosial facebook menyeret karakter manusia menjadi “karakter mekanis”. Tangan dan hati manusia menjadi tak terkendali dan bahkan seringkali menjadi liar. Ketika tangan dan hati tertuju pada facebook, maka dampak yang ditimbulkan cukup beragam:

Pertama, relasi sesama manusia menjadi berkurang. Misalnya kita berada di bus Transjakarta, bus Mayasari Bakti, Kopaja, atau berada di rumah sakit, puskesmas, di tempat-tempat umum, atau di tempat lainnya, mayoritas kita melihat manusia sibuk menggunakan handphone dan saya menduga di antaranya sibuk dengan media sosial termasuk facebook. Seorang ibu sibuk menggunakan facebook meski anaknya merengek meminta susu atau dibuatkan susu. Relasi ibu-anak menjadi terabaikan. Facebook memiliki implikasi untuk mengganggu relasi antar sesama.

Sumber gambar: https://id.pinterest.com/pin/149322543883182270/

Kedua, manusia sibuk dengan dunianya, dan jarang memperhatikan dunia sekitar. Meski tidak selalu demikian, tetapi berdasarkan pengamatan saya, seseorang yang sibuk dengan dunianya adalah pokoknya apa yang saya lakukan, entah di dalam kamar, di dapur, di ruang tamu, di depan rumah, di kebun, di pohon, di pantai, di dalam pesawat, dan di berbagai tempat umum, semuanya “harus” dipublikasikan. Tak jarang, anak bayi yang tak tahu apa-apa pun dipublikasikan. Meski dengan tujuan berbagi cerita, tetapi kita pun tidak tahu apakah ada orang yang sedang mengincar bayi tersebut atau tidak. Semuanya dalam pandangan si facebooker adalah baik, dan sering melupakan dampak negatifnya.

Sumber gambar: https://id.pinterest.com/pin/810225789202848901/

Dalam rapat juga demikian. Seorang pemimpin sibuk dengan dunianya, dan lupa bahwa ia sedang rapat. Anggota jemaat juga demikian. Ketika sedang ibadah, mereka sibuk mengurus dunianya (menggunakan handphone untuk mengamati, mengomentari, menyukai status), ketimbang berelasi dengan Tuhan dan sesama. Facebook memiliki implikasi untuk menjadikan manusia sibuk dengan dunianya dan kurang memperhatikan dunia sesamanya.

Sumber gambar: https://id.pinterest.com/pin/354940014386041101/

Ketiga, tidak adanya batasan “berbagi” di facebook. Contoh kasus adalah persoalan keluarga atau rumah tangga dipublikasikan. Ketika dipublikasikan, beberapa harapan yang saya duga ikut di dalamnya seperti mencari perhatian (caper), meminta belas kasihan, ingin memberitahukan bahwa saya ada masalah, ingin melihat berapa banyak yang peduli, komentar, dan “like” statusnya. Bahkan tak jarang, seseorang mengumbar emosi dan caci maki di facabook, padahal sebenarnya hal itu justru menindas karakter personal. Psikologi semacam ini sudah begitu menggejala di kalangan masyarakat, terutama bagi masyarakat yang kurang memahami makna media sosial. Facebook memiliki implikasi untuk seseorang sesuka hati mempublikasikan apa yang dia sukai dan inginkan sehingga tidak adanya batasan tertentu sebagai seleksi informasi, gambar, dan sebagainya.

Sumber gambar: https://id.pinterest.com/pin/299067231477852402/

Keempat, ajang permusuhan dipublikasikan di facebook. Adanya kesalahpahaman ditimbulkan karena publikasi permusuhan dan caci maki sering menjadi “tajuk rencana” dari isu-isu atau fakta permusuhan, pertikaian, perselisihan, baik bersifat personal maupun komunal. Tak jarang nama salah satu suku pun dibawa-bawa. Ini bisa memicu timbulnya konflik antar suku. Bahkan yang lebih masiv adalah publikasi permusuhan antar agama. Agama yang satu merasa paling hebat di negeri ini yang kemudian menyombongkan diri seolah-olah agama-agama lainnya kafir dan tidak ada apa-apanya.

Dari pengamatan saya, model publikasikan berbau agama atau lebih tepatnya SARA sudah banyak memakan korban. Mereka yang hanya memiliki “otak sejengkal” merasa paling benar dan arah pemikirannya sudah sepanjang “jalan tol Jakarta—Merak”, padahal justru merupakan otak sumbu pendek yang mudah meledak. Facebook memiliki implikasi untuk mengganggu tatanan hidup beragama yang damai dan tentram, tanpa adanya provokasi masiv untuk menghancurkan agama-agama lain yang tidak sepaham dengan agama tertentu.

Sumber gambar: https://id.pinterest.com/pin/514395588684284766/

Kelima, ajang pamer-memamerkan sering menjadi perhatian setiap hati. Para pengguna facebook sering tidak menyaring sesuatu tetapi main hantam saja asalkan “gue senang”. Memang tidak ada yang melarang seseorang mempublikasikan apa yang dia mau, tetapi sekali lagi, ada batasan yang perlu diperhatikan. Seringkali kita melihat seseorang memamerkan: sepatu baru, celana baru, baju baru, kiriman baru, handphone baru, tas baru, pacar baru, agama baru, makanan (saat makan di salah satu rumah atau warung makan), menonton bioskop, pelayanan gerejawi, daging ayam, daging babi, daging rw, tiket pesawat, surat lamaran, sedang mengajar, sedang berkhotbah, sedang santai bareng, duduk di dalam pesawat, sedang tamasya, sedang berada di hotel, di kamar mandi, di kamar tidur, sedang berlibur ke luar negeri, sedang berenang, dan kegiatan lainnya. Facebook memiliki implikasi untuk memamerkan segala sesuatu untuk tujuan agar diri seseorang dipuji, dielu-elukan, di-ok-kan, dan kemudian kesombongan dapat muncul karenanya.

Sumber gambar: https://id.pinterest.com/pin/259027416044128252/

Perhatikan, mungkin dari berbagai kegiatan yang saya sebutkan di atas dapat disalahpahami. Tetapi tujuan saya di sini adalah memberikan gambaran bahwa publikasi-publikasi berbagai kegiatan adalah hak setiap orang (privasi). Saya setuju pada poin tersebut. Akan tetapi, dampak atau indikasi kesombongan dapat muncul di dalamnya. Seperti judul tulisan ini: “Kesombongan Media Sosial Facebook” adalah sebuah indikasi bahwa kesombongan seseorang terlihat dari apa yang dia publis. Meski tidak bermaksud menyombongkan diri, tetapi hati manusia tidak ada yang tahu. Yang dapat kita nilai adalah frekuensi dari sesuatu yang dia publis secara berulang-ulang. Karakter manusia menjadi “Karakter Mekanis”—ia tahu bahwa kapan ia akan mempublikasikan sesuatu yang “itu-itu melulu”. Hati, pikiran, dan tangan sudah terkontaminasi secara mekanis sehingga “sedikit-sedikit foto sesuatu dan publis” sehingga apa saja dipublis. Berciuman dengan pacar dipublis. Berciuman dengan hewan dipublis. Berciuman dengan sesama jenis, juga dipublis.

Sumber gambar: https://id.pinterest.com/pin/265219865543882313/

Keenam, seseorang menindas karakternya. Implikasinya dari penindasan karakter seseorang adalah banyak waktu yang terbuang hanya untuk membuka dan mengamati facebook. Bahkan hampir setiap menit seseorang membuka facebooknya (ketika menggunakan smartphone, karena dianggap lebih mudah). Karakter manusia menjadi ditekan untuk memenuhi dan memuaskan diri sendiri serta pelanggan facebook. Jumlah para “liker” sering diamati. Tangan dan hati sudah terkoneksi dengan keinginan: “semoga status saya [entah tulisan, celoteh, curhat, caci maki, marah-marah, gambar/foto” banyak yang ‘like’ sehingga hati ini merasa senang karena banyak yang peduli (menurut dia) dan banyak yang menyukainya. Inilah yang saya sebut dengan “karakter mekanis.”

Sumber gambar: https://id.pinterest.com/pin/103019910203602573/

KARAKTER MEKANIS

Karakter mekanis ditandai dengan tujuh fakta:

(1) penggunaan waktu yang terlalu banyak untuk ber-facebook-an;

(2) tangan dan hati yang selalu tergerak untuk membuka, melihat, mengamati, dan berkomentar tentang isi facebook (baca: status). Rasa-rasanya hati dan tangan telah terpikat oleh “MAGNETISASI FACEBOOK”. Sepertinya ada spekulasi perasaan, di mana seseorang merasakan bahwa ia harus “membuka” dan “melihat” facebook, entah melihat jumlah “liker” atau hanya sekadar melihat status lainnya;

(3) ketika naik bus atau mobil, yang pertama dibuka adalah facebook;

(4) ketika melakukan berbagai aktivitas seperti makan, naik pesawat, mengajar, berkhotbah, tamasya, dan sebagainya, yang paling pertama dilakukan adalah kegiatan tersebut difoto dan dipublis. Misalnya foto makanan dengan status: “yang mau makan silakan merapat”. Yang lebih aneh adalah tulang ayam pun difoto, dan tak jarang, berdoa sebelum makan adalah “second time” sesudah foto makanan (“first time”);

(5) ada persoalan sedikit, langsung dipublikasikan di facebook, entah persoalan pribadi, pelayanan, gereja, keluarga/rumah tangga, pemimpin, dan sebagainya. Hati dan pikiran selalu terkontak dengan facebook;

(6) ada kegiatan, langsung dipublikasikan. Biasanya, manusia mekanis seperti ini tidak tahu membedakan mana kegiatan yang bersifat penting (kegiatan organisasi dan sebagainya) dan mana kegiatan yang tidak bersifat penting (seperti makan, minum, tidur, mandi, pakai bedak, pakai lipstik, pakai sepatu, pakai baju, dan sebagainya); dan

(7) kelihatan agak berbeda (situasi dan kondisi), langsung dipublikasikan. Model seperti ini misalnya sesudah mandi, sudah pakai bedak, sudah pakai lipstik, sudah make-up, sudah pangkas rambut, baru dari salon smoothing rambut dan sebagainya, dan sudah-sudah lainnya. Manusia mekanis model ini, sering mencari perhatian dan mencari popularitas. Sering yang dipublikasikan adalah tidak memandang umur, mulai dari bayi dalam kandungan, bayi baru lahir, dan sampai orang mati. Meski tujuannya hanya sekadar informasi, tetapi dapat dinilai dari seberapa banyak waktu yang digunakan untuk mempublis sesuatu. Biasanya, informasi atau berita kelahiran dan kematian merupakan sebuah bentuk pemberitahuan dan kepedulian terhadap sesama. Itu justru baik. Tetapi, jangan sampai orang yang mempublis kelahiran dan kematian, juga masuk dalam daftar manusia mekanis.

Sumber gambar: https://id.pinterest.com/pin/829014243892498215/

KONKLUSI

Kesombongan Media Sosial Facebook adalah sebuah pemikiran mendasar tentang karakter manusia, latar belakang manusia, dan potensi negatifnya. Kita mengetahui bersama bahwa setiap manusia memiliki potensi untuk menyombongkan diri karena potensi itu nyata dan ada dalam diri manusia. namun rasanya tidak adil jika hanya potensi kesombongan yang dimunculkan. Benar, potensi positif dan kerendah-hatian juga tampak dalam perilaku psikologi media sosial facebook. Namun, dalam tulisan ini, saya memfokuskan pada potensi kesombongan, di mana kesombongan memiliki latar belakang seperti: situasi, kondisi, psikologi, ekonomi, sosial, politik, kekayaan, harta, strata hidup, pendidikan, pekerjaan, agama, suku, bangsa, budaya, dan karakter.

Menggunakan facebook tentu sah-sah saja. Tidak ada yang mengusik perilaku psikologi para penggunanya, kecuali ada batasan-batasan yang ditetapkan oleh perusahaan facebook itu sendiri. Salah memahami penggunaan facebook bisa berdampak pada sebuah kesombongan maya yang nyata. Kesombongan sering “menyamar” dalam bentuk publikasi-publikasi personal maupun komunal. Maraknya pengguna media sosial facebook menyeret karakter manusia menjadi “karakter mekanis”. Tangan dan hati manusia menjadi tak terkendali dan bahkan seringkali menjadi liar.

Dampak yang ditimbulkan oleh penggunaan facebooka adalah: (1) relasi sesama manusia menjadi berkurang; (2) manusia sibuk dengan dunianya, dan jarang memperhatikan dunia sekitar; (3) tidak adanya batasan “berbagi” di facebook (apa saja dipublikasikan tanpa memikirkan nilai-nilai etis dan moral; (4) ajang permusuhan dipublikasikan di facebook; (5) ajang pamer-memamerkan sering menjadi perhatian setiap hati; dan (6) seseorang menindas karakternya. Implikasinya dari penindasan karakter seseorang adalah banyak waktu yang terbuang hanya untuk membuka dan mengamati facebook.

Akibatnya, manusia menjadi seperti mekanis. Maka layaklah jika disebut dengan manusia berkarakter mekanis yang ditandai tujuh fakta: (1) penggunaan waktu yang terlalu banyak untuk ber-facebook-an; (2) tangan dan hati yang selalu tergerak untuk membuka, melihat, mengamati, dan berkomentar tentang isi facebook (baca: status); (3) ketika naik bus atau mobil, yang pertama dibuka adalah facebook; (4) ketika melakukan berbagai aktivitas seperti makan, naik pesawat, mengajar, berkhotbah, tamasya, dan sebagainya, yang paling pertama dilakukan adalah kegiatan tersebut difoto dan dipublis; (5) ada persoalan sedikit, langsung dipublikasikan di facebook; (6) ada kegiatan, langsung dipublikasikan; dan (7) kelihatan agak berbeda (situasi dan kondisi), langsung dipublikasikan.

Sumber gambar: https://id.pinterest.com/pin/651403533576462554/

Menggunakan media sosial facebook perlu bijaksana/hikmat untuk mempertimbangkan untung ruginya dan implikasi yang muncul karenanya. Oleh sebab itu, marilah menggunakan facebook untuk kegiatan-kegiatan seperti: menyampaikan informasi atau berita tentang hal-hal yang baik, menunjukkan rasa kepedulian terhadap sesama, menunjukkan sikap beragama yang sehat meski dalam konteks perdebatan, menunjukkan sikap kedewasaan dengan tidak mempublikasikan kelemahan dan persoalan keluarga, rumah tangga, atau tetangga, menunjukkan sikap kedewasaan dengan tidak marah-marah, mencaci maki orang lain yang belum tentu memiliki facebook, dan menunjukkan sikap bijaksana dalam memberikan solusi, rasa belangsungkawa, dan rasa humanisme yang sesuai dengan prinsip-prinsip kebenaran.

Pengguna yang cerdik, cerdas, dan bijak, akan menuai implikasi dan hasil yang baik. Mencari pujian di media sosial facebook boleh-boleh saja, asalkan tindakan-tindakan yang dipublis memiliki nilai dan karakter kemanusiaan, karakter kepedulian terhadap alam semesta dan karakter yang mencintai Tuhan yang terwujud dalam rasa saling mengasihi dan mengampuni satu dengan lainnya.

Salam Bae…

MEMAHAMI KETIDAKADILAN

Sumber gambar: https://unsplash.com/photos/ujkG7mTs7IM

Proses hidup yang kita jalani selalu muncul kebenaran, dan ketidakadilan. Kebenaran, sebagai lawan dari kepalsuan dan kebohongan, merupakan sebuah natur yang paling banyak disukai manusia.

Kebenaran selalu bersifat menenangkan jiwa, memuaskan jiwa, memberikan pengharapan yang penuh, dan memberikan sukacita berlimpah

Ketidakadilan merupakan sebuah natur yang juga paling banyak disukai manusia.

Ketidakadilan selalu bersifat menggangu jiwa, melaparkan jiwa, memberikan pengharapan yang kosong, dan memberikan dukacita.

Ketidakadilan adalah hasil dari kebenaran yang diselewengkan; hasil dari ketidakpedulian terhadap sesama; hasil dari kesombongan dan keangkuhan manusia; hasil dari hawa nafsu manusia yang inggin menguasai banyak hal untuk pemuasan diri sendiri baik secara fisikal, maupun secara psikologikal.

Ketidakadilan adalah wujud dari penipuan, pemalsuan, ketidakseimbangan, korupsi, nepotisme, pilih kasih, dan kecenderungan membela yang sepaham, sesuku, dan segama.

Marilah berbuat kebenaran. Nyatakan apa yang benar, dan tegorlah yang salah. Tugas kita adalah “tinggal” di dalam kebenaran dan kebenaran itu akan memerdekakan kita.

Salam Bae..

MEMAHAMI KESERAKAHAN

Sumber gambar: https://id.pinterest.com/pin/126241595784350057/

Serakah adalah sebuah kata yang merangkum sikap dan habitat seseorang dalam menginginkan lebih dari apa yang telah ia miliki dengan cara yang tidak layak.

Kata yang sama dengan serakah adalah “tamak”, “loba”, dan “rakus”. Indikasi keserakahan manusia adalah menginginkan sesuatu dengan cara-cara yang tidak layak, atau cara-cara yang brutal agar tujuannya tercapai.

Tidak hanya orang duniawi yang serakah. Para pendeta Kristen juga sering terlihat sebagai seorang yang serakah. Ia ingin mendapatkan jumlah uang yang fantastis dan merangkul sejumlah pendeta lainnya yang “bodoh”—“domba yang pandir” yang siap dibodohi

Domba-domba tersebut tentu akan diberi makan. Meski makanan yang diberikan adalah makanan tipu muslihat, namun bagi si serakah, ia akan terus mendukung dan menjaga domba-domba pandirnya untuk dihidupi, diberi makan dan diberi minum dari mata air kematian. Domba-domba siap membela si serakah karena si serakah telah berjasa terhadap mereka. Si serakah terus mengeruk keuntungan yang dapat ia raih. Dengan berbagai cara ia lakukan, ia yakin akan mendapatkan jumlah uang yang fantastis itu

Keserakahan telah menutupi lemak hatinya. Matanya telah tertutup dengan uang kertas. Pikirannya telah dibungkus dengan kejahatan dan ketamakan. Ia hidup hanyalah bagaimana supaya mendapat kekayaan yang besar. Bahkan, tidak segan-segan ia menghabisi orang-orang yang menjadi penghalangnya.

Si serakah yang adalah para pendeta, telah mencurangi sebanyak mungkin orang. Ia bergelagat “sok suci” dan “tak bersalah”, mengendus suara-suara Alkitab untuk dijadikan jimat kebohongan dan kemunafikan terselubung. Dia merasa yakin bahwa apa yang dilakukannya adalah benar-benar Tuhan berkati. Domba-domba pandirnya juga ikut menyuarakan berkat-berkat semu agar si serakah menjadi bangga dan yakin bahwa mereka ternyata masih setia. Si serakah yang tak akan pernah puas, sampai ia mati dalam keadaan yang menjadi musuh Allah.

Kita pun melihat bahwa perkara mengenai serakah dan keserahkan terjadi di sekitar kita. Tak jarang, juga di gereja kita.

Pada akhirnya, kita dapat menilai bahwa keserakahan dapat menjerumuskan siapa saja—tak pandang bulu.

Yang dibutuhkan adalah kesadaran bahwa apa yang kita miliki sekarang ini, dinikmati dengan ucapan syukur, karena Tuhanlah yang menjadi sumber berkat kita; Ia memberikan kepada kita apa yang diperlukan; Ia mencukupkan segala sesuatu bagi kebaikan kita, orang-orang yang kita kasihi, dan bagi sesama yang membutuhkan.

Salam Bae…

MEMAHAMI KEBAIKAN

Sumber gambar: https://unsplash.com/photos/OP2YXOUspjQ (Bonnie Kittle@bonniekdesign)

Kebaikan adalah penyejuk hati, penetral pikiran, dan penyeimbang hidup.

Berbuat baik adalah unsur spiritual manusia yang secara alami telah tertanam dalam dirinya.

Kebaikan yang ditaburkan dalam damai menghasilkan kesejukan dan sukacita tak terkira.

Kebaikan yang ditaburkan dalam konflik menghasilkan peredaman emosi dan amarah.

Kebaikan yang ditaburkan dalam perselisihan menghasilkan kedamaian yang kuat.

Kebaikan yang ditaburkan dalam perang menghasilkan penyesalan dan pertobatan.

Kebaikan yang ditaburkan dalam kebencian menghasilkan kesadaran jiwa bahwa membenci itu tidak ada gunanya dan merusak pikiran, hati, relasi, dan hidup itu sendiri.

Kebaikan yang ditaburkan dalam permusuhan menghasilkan kelegaan dan sukacita.

Kebaikan yang ditaburkan dalam kehinaan menghasilkan kehidupan yang mulia dan bermartabat.

Kebaikan yang ditaburkan dalam kelemahan menghasilkan kekuatan dan keyakinan.

Tetaplah berbuah baik dan bagikanlah kebaikan kita kepada orang lain selagi masih ada waktu.

Orang yang berbuat baik, menaburkan kebaikan, menciptakan kebaikan, dan meluaskan kebaikan. Ia pasti akan menerima kebaikan dari Sang Khalik.

Salam Bae…

MEMAHAMI KEMUNAFIKAN

Sumber gambar: https://id.pinterest.com/pin/335870084715113853/

Dalam diri manusia terdapat banyak kemungkinan yang bisa menjadikan dirinya dihina, dicaci maki, dimuliakan, ditinggikan, disanjung, diteladani, dan dihindari.

Keadaan munafik adalah keadaan di mana seseorang sering melakukan pembohongan, mengumbar janji palsu, meyakinkan orang lain dengan iming-iming uang, jabatan, fasilitas, kenyamanan, dan kehancuran orang lain yang menjadi musuhnya.

Kemunafikan adalah habitualisme seseorang yang di dalam dirinya telah melekat berbagai kehidupan dan natur duniawi. Rasul Paulus telah menegaskan bahwa perbuatan daging itu ialah: percabulan, kecemaran, hawa nafsu, penyembahan berhala, sihir, perseteruan, perselisihan, iri hati, amarah, kepentingan diri sendiri, percideraan, roh pemecah, kedengkian, kemabukan, pesta pora, perzinaan, perburitan (persebutuhan antara laki-laki dengan laki-laki), pencurian, kikir, fitnahan dan penipuan.

Kemunafikan adalah musuh dari kejujuran dan sahabat dari kekotoran hati. Kemunafikan adalah musuh dari kebaikan dan sahabat dari kejahatan.

Kemunafikan adalah musuh dari keadilan dan sahabat dari ketidakadilan. Kemunafikan adalah musuh dari cinta kasih yang tulus dan sahabat dari perusak kesucian hidup.

Kemunafikan adalah musuh dari kebenaran dan sahabat dari kepalsuan. Kemunafikan adalah musuh dari welas asih dan sahabat dari kepura-puraan dan mencari muka.

Kemunafikan adalah musuh dari pengorbanan dan sahabat dari egoism. Kemunafikan adalah musuh dari kesucian dan kekudusan hidup dan sahabat dari kekotoran dan kenajisan hidup.

Kemunafikan adalah sesuatu yang dibenci Tuhan dan sahabat dari Iblis (setan). Kemunafikan dilakukan oleh mereka yang tidak mengasihi sesama; mereka yang tidak jujur pada diri sendiri; mereka yang ambisius dan egoisme; mereka yang hidupnya tidak beres; mereka yang relasi dengan Tuhan tidak beres; dan mereka yang selalu menipu, membohongi, dan memperalat orang lain.

Janganlah munafik. Jauhkanlah diri kita dari kemunafikan.

Salam Bae..

MEMAHAMI KEBENCIAN YANG BRUTAL

Sumber gambar: https://survivallife.com/violent-revolution/

Kebencian yang brutal adalah fakta yang terlihat dari mereka yang membenci seseorang yang dianggap tidak bernilai, dianggap sebagai sampah atau kotoran, dianggap sebagai orang yang kurang ajar, dianggap sebagai musuh utama, dianggap sebagai penipu luar biasa, dianggap sebagai seorang yang layak mati dan celaka, dianggap sebagai seorang pendosa besar.

Kebencian yang brutal dilakukan oleh mereka yang rata-rata memiliki uang yang banyak. Mereka (para pembenci) berani melakukan segala sesuatu karena ditunjang dengan kekayaan (uang) mereka. Mereka dapat menjadi sangat jahat hanya karena tujuan mereka untuk menyingkirkan, mencelakakan, membunuh musuh utama mereka.

Kebencian telah menjadi makanan mereka setiap hari. Yang mereka pikirkan adalah kira-kira bagaimana melakukan usaha-usaha yang jitu agar musuh mereka segera dihancurkan atau pun dipermalukan bahkan dilenyapkan. Mereka seolah-olah menjadi sahabat dekatnya Iblis, Bapa segala dusta dan sang Pembunuh manusia sejak mulanya. Para pembenci yang brutal tidak mengenal usia dan jabatan. Para pendeta pun bisa ikut nimbrung di dalam kandang “kebencian”. Mereka merasa diri mereka paling suci dan benar. Mereka merasa bahwa merekalah yang tidak berdosa sedangkan musuh mereka adalah pendosa besar.

Mereka merasa bahwa “Tuhan berpihak kepada mereka” meski dengan cara-cara yang menipu, memalsukan kebenaran, pembohongan publik, mengadopsi cara-cara preman (menakut-nakuti, atau mengancam siapa pun yang tidak mau mengikuti mereka). Tuhan dibajak oleh mereka. Omongan mereka seperti tidak berdosa. Nama Tuhan diserukan, tetapi orang lain dijuhat dan direndahkan. Nama Tuhan dipajang sebagai penguat argumentasi dan kepura-puraan mereka. Mereka merasa suci karena mereka telah menyucikan diri dari hal-hal duniawi meski cara-cara yang mereka lakukan persis duniawi. Nama Tuhan dipakai sebagai ornament doa mereka dan merasa bahwa Tuhan akan menjawab doa mereka. Mereka berdoa dengan mengatakan orang lain berdosa dan mereka tidak, suci tanpa noda, cela, dan dosa. Luar biasa kesucian dan kekudusan mereka

Bahkan, jika semut pun mendengarkan identitas mereka, semut akan jatuh terpeleset karena goncangan yang dahsyat yang didengar oleh semut. Semut akan terheran-heran dengan kesucian dan ketakberdosaan mereka. Menuduh orang lain berdosa, sedangkan mereka tidak. Wow.. luar biasa hebatnya. Langit pun tak sanggup melihatnya dan menggunakan awan untuk menutupi matanya. Bahkan awan yang menutupi mata langit tak sanggup menahan pedihnya hati mereka, sehingga mereka, akhirnya mencucurkan air mata ke bumi.

Kebencian telah memenuhi semua ruangan hati mereka. Tiada tempat bagi kebaikan, kesadaran, dan kesucian diri. Kebencian telah menjadi raja hati mereka. Anak buah kebencian yaitu: kesombongan, tipu muslihat, kepalsuan, intimidasi, roh pemecah, penipuan, premanisme, memperalat orang lain dengan uang dan kekuasaan, dan kemunafikan. Mereka setiap hari berolah raga untuk memperkuat tubuh mereka agar siap berperang melawan orang yang diurapi Tuhan, siap melawan siapa saja yang menjadi musuh dari kebencian yang brutal

Tak ada waktu bagi mereka untuk merenung sejenak akan fananya hidup ini, akan penghakiman dan pengadilan Tuhan yang Mahakuasa. Kebencian telah menguburkan kebaikan dan kekudusan hidup dirinya dan orang lain. Kebencian membawa kematian.

Kebencian yang brutal seringkali menjadi sesuatu yang menggelikan di telinga kita. Betapa tidak, orang yang menamakan dirinya Kristen, toh masih juga memiliki kebencian yang brutal yang dampaknya adalah “menghalalkan” segala cara untuk memuaskan hawa nafsu yang tak terkendali itu – meskipun rugi, ia tetap saja memelihara kebenciannya. Hanya ada tiga cara yang dapat menyadarkan orang itu yakni: kecelakaan, jatuh sakit, dan hampir mati. Dan hanya ada satu cara untuk menghentikan kebrutalannya itu: “kematian mendadak”.

Dengan kematian mendadak, di mana secara bersamaan dia sedang dalam kondisi membenci orang lain secara brutal, bisa saja juga menyadarkan kawan-kawan karibnya yang juga melakukan hal yang sama, atau mendukung apa yang dilakukan orang tersebut.

Dari sudut ini, TUHAN masih memberikan kesempatan untuk bertobat, dan mengubah diri menjadi orang yang menebarkan cinta kasih dan pengampunan yang dari TUHAN. Seringkali, tanpa kita duga, para pendeta terjebak atau sengaja menjebakkan dirinya ke dalam gerakan kejahatan untuk menghancurkan orang lain. Dengan bermodalkan “menghalalkan segala cara”, pada pendeta tersebut dengan gencar akan melalukan banyak hal agar banyak orang-orang, atau para pendeta lainnya yang mengikuti dan percaya akan omong kosong mereka. Mereka pintar merayu dan menebarkan cinta kasih semu, cinta kasih yang sebenarnya brutal tetapi dibalutkan dengan emas. Mereka pintar mengungkapkan kecantikan dan kebersihan diri mereka (meskipun hatinya kotor) – ibarat seorang pelacur yang senantiasa merayu dan menebarkan senyum semu agar dirinya dilacuri oleh sekian banyak laki-laki yang haus akan seks dan kenikmatannya.

Menebarkan kebencian yang brutal sama saja menaburkan benih-benih kematian dan benih-benih kehancuran. Hidup ini tidak akan berarti jika hanya kebencian yang pelihara dan besarkan dalam hati dan pikiran kita. Kebencian merusak hati dan pikiran. Kebencian mengambil dan menyita banyak waktu kita untuk hidup dalam kubangan dosa. Kebencian adalah praktik hidup dari orang-orang yang tidak beres secara moralitas dan spiritualitas. Kebencian adalah kesukaan dari orang-orang yang suka mencelakakan orang lain; kesukaan dari mereka yang sombong, baik sombong secara kekuasaan, maunpun sombong secara kekayaan.

Kebencian adalah matinya nurani, matinya kebaikan, matinya cinta kasih, matinya kesadaran diri. Tidak ada yang dapat dibanggakan manusia selain menyadari bahwa dirinya ada dalam pemeliharaan Tuhan.

Salam Bae…

Rancang situs seperti ini dengan WordPress.com
Mulai