
Pendahuluan
Kemuliaan yang Tuhan berikan kepada kita memiliki alasan eskatologis. Artinya, mereka yang percaya kepada Tuhan, tidak akan mendapatkan harapan kosong atau bahkan upah yang kosong, melainkan menerima harapan yang terpenuhi (digenapi), menerima kemuliaan, mendapatkan mahkota, dan menikmati kehidupan kekal di dalam Kerajaan-Nya.
Iman menuntun kita kepada kemuliaan Allah. Dengan iman, kita melangkah di jalan Tuhan, hidup, bertumbuh dalam kasih dan pengharapan. Dalam perjalanan iman, kita diperhadapkan dengan berbagai hal yang membentuk komitmen, perilaku, bahkan membentuk karakter kita selaras dengan kehendak-Nya. Penderitaan adalah salah satu hal yang menjadi familiar di tengah konsep kita beriman, fakta di mana kita menjalani dan merealisasikan iman itu. Ada kemerdekaan di dalam iman kepada Yesus. Merdeka dari dosa adalah cara Ia membentuk karakter kita.
Makna merdeka dari dosa berarti kita telah dilepaskan dari kungkungan dosa, dipanggil keluar dari kehidupan yang lama, dan terus dipimpin Roh Kudus untuk menerima kemuliaan Tuhan di dalam Kerajaan-Nya. Apakah manusia bisa merdeka dari jerat dosa dan kejahatan? Tentu tidak bisa; kecuali Tuhan sendiri yang “memerdekakannya.” Konsep kemerdekaan Kristen sejatinya merupakan sebuah fakta di mana Tuhanlah yang berinisiatif memerdekakan manusia dari segala jerat dosa dan kejahatan. Tak ada manusia yang cukup kuat, cukup iman, cukup umur, dan cukup uang (harta kekayaan) yang dapat melepaskannya dari jerat dosa dan kejahatan. Hanya Tuhanlah yang sanggup melakukannya. Oleh karena itu, memerdekakan manusia dari dosa adalah pekerjaan Tuhan semata-mata.
Pembahasan
Teks Roma 8, secara khusus ayat 18-30 berbicara mengenai harapan dari hidup beriman kepada Yesus Kristus. Harapan itu ada karena Tuhan telah memberikan kemerdekaan kepada orang percaya. Rasul Paulus adalah contoh nyata bahwa ia telah mengalami kemerdekaan di dalam Yesus Kristus; hidupnya yang lama telah ditanggalkannya, dan mengenakan manusia baru; ia meyakini bahwa apa yang dia imani memiliki harapan di kemudian hari (bersifat eskatologis). Harapan itu adalah sebuah keyakinan akan menikmati kemuliaan Tuhan dalam kerajaan-Nya.
Kita melihat, bahwa ayat 18 menjelaskan keyakinan Rasul Paulus, bahwa mengikut Yesus memang bisa mengalami penderitaan, tetapi penderitaan yang dialaminya sekarang tidak dapat dibandingkan dengan upah (kemuliaan) yang akan dinyatakan Tuhan di kemudian hari.
Paulus melanjutkan (ay. 19-21), bahwa dalam keselamatan terkandung harapan; harapan untuk menikmati upah dan kemuliaan yang diberikan Tuhan; harapan untuk mencapai garis akhir tujuan iman kita kepada Yesus Kristus. Rasul Paulus menegaskan (ay. 24) bahwa “kita diselamatkan dalam pengharapan”. Sejatinya, pengharapan adalah kerinduan iman untuk dapat menikmati janji-janji Tuhan. Mengikut Tuhan berarti akan menerima realisasi dari janji-janji-Nya.
Kita beriman bukanlah sembarang beriman. Beriman memiliki tujuan yang jelas. Yesus Kristus adalah “jalan keselamatan” menuju Bapa-Nya yang di sorga. Kondisi merdeka dari segala jerat dosa dan kejahatan, membawa semua orang percaya kepada kemuliaan surgawi yang disediakan Allah Bapa.
Apa yang kita alami sekarang bukanlah penghalang untuk menolak kasih karunia Tuhan Yesus. Jangan sampai penderitaan yang dialami menjadikan kita sebagai pribadi-pribadi yang meragukan kasih dan kuasa Tuhan yang telah memerdekakan kita. Memang, penderitaan itu sangatlah berat; ada yang menyangkal imannya karena penderitaan yang dialaminya; ada pula yang tetap setia, bertahan dalam iman kepada Yesus Kristus, hingga mati dalam kesetiaannya kepada Yesus Kristus. Paulus adalah salah satu contohnya. Mereka yang setia telah berbahagia, dan Tuhan memberikan hadiah yang besar: “kemuliaan dan kehidupan kekal”. Itulah harapan dari iman kepada Yesus Kristus.
Dari semua yang kita alami, rasakan, dan kita jalani dalam konteks mengikut Yesus, kita pun harus mengingat bahwa Tuhan turut bekerja dalam segala sesuatu untuk mendatangkan kebaikan bagi mereka yang mengasihi Dia, yaitu mereka yang terpanggil sesuai dengan rencana Allah (ay. 28). Ada prinsip-prinsip yang perlu kita pahami dan pegang.
Berikut ini adalah prinsip-prinsip—sebagaimana yang ditegaskan oleh Rasul Paulus (ay. 29-30)—yang harus kita pahami baik-baik dan kita pegang:
- Mereka yang dipilih-Nya dari semula, adalah mereka yang ditentukan-Nya dari semula.
- Mereka yang ditentukan-Nya dari semula, adalah mereka yang dipanggil-Nya (konfirmasi faktual).
- Mereka yang dipanggil-Nya, adalah mereka yang dibenarkan-Nya (diselamatkan).
- Mereka yang dibenarkan-Nya, adalah mereka yang juga akan dimuliakan (menerima upah dari pemilihan Tuhan atas mereka).
Prinsip-prinsip di atas mengarahkan kita bahwa segala sesuatu datangnya dari Tuhan, ditetapkan oleh Tuhan, dijamin oleh Tuhan, ditopang oleh Tuhan, dan membawa itu semua kembali kepada Tuhan. artinya, dari Dia, karena Dia, dan oleh Dia.
Penutup
Merdeka menuju kemuliaan adalah harapan dari iman kita. Harapan itu ada karena Tuhan telah memberikan “kemerdekaan” kepada orang percaya. Dengan demikian, kita harus serius untuk hidup beriman dan tetap setia pada Tuhan, melakukan kehendak-Nya, setia untuk tetap menjaga iman dan harapan yang kita terima dari Tuhan. Itulah keyakinan kita. Tuhan menjaminnya bagi kita yang setia.
Upah dari kesetiaan kita kepada Tuhan adalah mendapatkan mahkota kehidupan, dan hidup yang kekal. Beriman dan setia adalah dua kesadaran diri, dan bahwa kita telah dimerdekakan oleh Yesus Kristus melalui kematian-Nya dan kebangkitan-Nya. Akhirnya, kita yang telah “merdeka” karena kasih dan kuasa Yesus Kristus, akan diperhadapkan dengan kehidupan yang berat, kehidupan yang diwarnai dengan berbagai penderitaan. Namun, penyertaan-Nya selalu ada dan tetap ada. Tidak hanya itu saja, kita yang beriman dan merdeka, dapat juga merasakan kasih dan kuasa Tuhan Yesus yang menopang, memberkati, dan menyertai perjalanan kehidupan kita, hari demi hari.
Tuhan Yesus Memberkati Kita Semua. Salam Bae…..
Artikel ini diterbitkan dalam buku Antologi:
TUHAN MEMINTA YANG TERBAIK: Kumpulan Refleksi Iman dan Pelayanan sebagai Penghargaan kepada Pdt. Dr. Matheus Mangentang di Usianya ke-63 Tahun. Editor: Stenly R. Paparang, Kembong Mallisa’, Purnama Pasande, Yosia Belo, Jeffrit K. Ismail. Copyright © 2019. Penerbit Pustaka STAR’S Lub. ISBN 978-623-90326-9-2.









