MERDEKA MENUJU KEMULIAAN: Refleksi Roma 8:18-21

Sumber gambar: https://dontcallmebetty.tumblr.com/post/47882756576/thealienchild-hippie-nature-spiritual

Pendahuluan

Kemuliaan yang Tuhan berikan kepada kita memiliki alasan eskatologis. Artinya, mereka yang percaya kepada Tuhan, tidak akan mendapatkan harapan kosong atau bahkan upah yang kosong, melainkan menerima harapan yang terpenuhi (digenapi), menerima kemuliaan, mendapatkan mahkota, dan menikmati kehidupan kekal di dalam Kerajaan-Nya.

Iman menuntun kita kepada kemuliaan Allah. Dengan iman, kita melangkah di jalan Tuhan, hidup, bertumbuh dalam kasih dan pengharapan. Dalam perjalanan iman, kita diperhadapkan dengan berbagai hal yang membentuk komitmen, perilaku, bahkan membentuk karakter kita selaras dengan kehendak-Nya. Penderitaan adalah salah satu hal yang menjadi familiar di tengah konsep kita beriman, fakta di mana kita menjalani dan merealisasikan iman itu. Ada kemerdekaan di dalam iman kepada Yesus. Merdeka dari dosa adalah cara Ia membentuk karakter kita.

Makna merdeka dari dosa berarti kita telah dilepaskan dari kungkungan dosa, dipanggil keluar dari kehidupan yang lama, dan terus dipimpin Roh Kudus untuk menerima kemuliaan Tuhan di dalam Kerajaan-Nya. Apakah manusia bisa merdeka dari jerat dosa dan kejahatan? Tentu tidak bisa; kecuali Tuhan sendiri yang “memerdekakannya.”  Konsep kemerdekaan Kristen sejatinya merupakan sebuah fakta di mana Tuhanlah yang berinisiatif memerdekakan manusia dari segala jerat dosa dan kejahatan. Tak ada manusia yang cukup kuat, cukup iman, cukup umur, dan cukup uang (harta kekayaan) yang dapat melepaskannya dari jerat dosa dan kejahatan. Hanya Tuhanlah yang sanggup melakukannya. Oleh karena itu, memerdekakan manusia dari dosa adalah pekerjaan Tuhan semata-mata.

Pembahasan

Teks Roma 8, secara khusus ayat 18-30 berbicara mengenai harapan dari hidup beriman kepada Yesus Kristus. Harapan itu ada karena Tuhan telah memberikan kemerdekaan kepada orang percaya. Rasul Paulus adalah contoh nyata bahwa ia telah mengalami kemerdekaan di dalam Yesus Kristus; hidupnya yang lama telah ditanggalkannya, dan mengenakan manusia baru; ia meyakini bahwa apa yang dia imani memiliki harapan di kemudian hari (bersifat eskatologis). Harapan itu adalah sebuah keyakinan akan menikmati kemuliaan Tuhan dalam kerajaan-Nya.

Kita melihat, bahwa ayat 18 menjelaskan keyakinan Rasul Paulus, bahwa mengikut Yesus memang bisa mengalami penderitaan, tetapi penderitaan yang dialaminya sekarang tidak dapat dibandingkan dengan upah (kemuliaan) yang akan dinyatakan Tuhan di kemudian hari.

Paulus melanjutkan (ay. 19-21), bahwa dalam keselamatan terkandung harapan; harapan untuk menikmati upah dan kemuliaan yang diberikan Tuhan; harapan untuk mencapai garis akhir tujuan iman kita kepada Yesus Kristus. Rasul Paulus menegaskan (ay. 24) bahwa “kita diselamatkan dalam pengharapan”. Sejatinya, pengharapan adalah kerinduan iman untuk dapat menikmati janji-janji Tuhan. Mengikut Tuhan berarti akan menerima realisasi dari janji-janji-Nya.

Kita beriman bukanlah sembarang beriman. Beriman memiliki tujuan yang jelas. Yesus Kristus adalah “jalan keselamatan” menuju Bapa-Nya yang di sorga. Kondisi merdeka dari segala jerat dosa dan kejahatan, membawa semua orang percaya kepada kemuliaan surgawi yang disediakan Allah Bapa.

Apa yang kita alami sekarang bukanlah penghalang untuk menolak kasih karunia Tuhan Yesus. Jangan sampai penderitaan yang dialami menjadikan kita sebagai pribadi-pribadi yang meragukan kasih dan kuasa Tuhan yang telah memerdekakan kita. Memang, penderitaan itu sangatlah berat; ada yang menyangkal imannya karena penderitaan yang dialaminya; ada pula yang tetap setia, bertahan dalam iman kepada Yesus Kristus, hingga mati dalam kesetiaannya kepada Yesus Kristus. Paulus adalah salah satu contohnya. Mereka yang setia telah berbahagia, dan Tuhan memberikan hadiah yang besar: “kemuliaan dan kehidupan kekal”. Itulah harapan dari iman kepada Yesus Kristus.

Dari semua yang kita alami, rasakan, dan kita jalani dalam konteks mengikut Yesus, kita pun harus mengingat bahwa Tuhan turut bekerja dalam segala sesuatu untuk mendatangkan kebaikan bagi mereka yang mengasihi Dia, yaitu mereka yang terpanggil sesuai dengan rencana Allah (ay. 28). Ada prinsip-prinsip yang perlu kita pahami dan pegang.

Berikut ini adalah prinsip-prinsip—sebagaimana yang ditegaskan oleh Rasul Paulus (ay. 29-30)—yang harus kita pahami baik-baik dan kita pegang:

  1. Mereka yang dipilih-Nya dari semula, adalah mereka yang ditentukan-Nya dari semula.
  2. Mereka yang ditentukan-Nya dari semula, adalah mereka yang dipanggil-Nya (konfirmasi faktual).
  3. Mereka yang dipanggil-Nya, adalah mereka yang dibenarkan-Nya (diselamatkan).
  4. Mereka yang dibenarkan-Nya, adalah mereka yang juga akan dimuliakan (menerima upah dari pemilihan Tuhan atas mereka).

Prinsip-prinsip di atas mengarahkan kita bahwa segala sesuatu datangnya dari Tuhan, ditetapkan oleh Tuhan, dijamin oleh Tuhan, ditopang oleh Tuhan, dan membawa itu semua kembali kepada Tuhan. artinya, dari Dia, karena Dia, dan oleh Dia.

Penutup

Merdeka menuju kemuliaan adalah harapan dari iman kita. Harapan itu ada karena Tuhan telah memberikan “kemerdekaan” kepada orang percaya. Dengan demikian, kita harus serius untuk hidup beriman dan tetap setia pada Tuhan, melakukan kehendak-Nya, setia untuk tetap menjaga iman dan harapan yang kita terima dari Tuhan. Itulah keyakinan kita. Tuhan menjaminnya bagi kita yang setia.

Upah dari kesetiaan kita kepada Tuhan adalah mendapatkan mahkota kehidupan, dan hidup yang kekal. Beriman dan setia adalah dua kesadaran diri, dan bahwa kita telah dimerdekakan oleh Yesus Kristus melalui kematian-Nya dan kebangkitan-Nya. Akhirnya, kita yang telah “merdeka” karena kasih dan kuasa Yesus Kristus, akan diperhadapkan dengan kehidupan yang berat, kehidupan yang diwarnai dengan berbagai penderitaan. Namun, penyertaan-Nya selalu ada dan tetap ada. Tidak hanya itu saja, kita yang beriman dan merdeka, dapat juga merasakan kasih dan kuasa Tuhan Yesus yang menopang, memberkati, dan menyertai perjalanan kehidupan kita, hari demi hari.

Tuhan Yesus Memberkati Kita Semua. Salam Bae…..

Artikel ini diterbitkan dalam buku Antologi:

TUHAN MEMINTA YANG TERBAIK: Kumpulan Refleksi Iman dan Pelayanan sebagai Penghargaan kepada Pdt. Dr. Matheus Mangentang di Usianya ke-63 Tahun. Editor: Stenly R. Paparang, Kembong Mallisa’, Purnama Pasande, Yosia Belo, Jeffrit K. Ismail. Copyright © 2019. Penerbit Pustaka STAR’S Lub. ISBN 978-623-90326-9-2.

TUHAN MEMINTA YANG TERBAIK

Refleksi Imamat 3:1-117

Sumber gambar: https://id.pinterest.com/pin/234890936803500844/

Lima pasal pertama dalam kitab Imamat berbicara mengenai lima jenis kurban, yaitu: kurban bakaran, kurban sajian, kurban keselamatan, kurban penghapus dosa, dan kurban penebus salah. Korban-korban tersebut memiliki ketentuan dan tujuannya masing-masing. Hal ini menunjukkan bahwa Tuhan begitu ketat dalam memberikan dan mengajarkan tentang prinsip hidup dan konsekuensinya kepada umat-Nya.

Kita melihat bahwa sampai sekarang prinsip ini masih berlaku. Bukan pada kurban-kurban, melainkan pada prinsip. Kurban-kurban yang ditentukan Tuhan mengisyaratkan adanya tata cara yang harus dilalui dan dilakukan oleh orang-orang Israel, dan juga oleh para imam. Semua mendapat tugas dan tanggung jawab. Tuhan tidak membiarkan seseorang “menganggur” dalam melayani-Nya. Tak lupa pula, dalam proses mengikut Tuhan, ada berbagai konsekuensi yang diterima, baik konsekuensi positif maupun konsekuensi negatif.

KONTEKS

Dari teks Imamat 3:1-117, tampak bahwa konsekuensi yang diterima oleh orang Israel adalah konsekuensi positif yaitu “kurban [untuk] keselamatan].” Allah tidak menginginkan umat-Nya yang melakukan pelanggaran (dosa) lalu santai-santai seolah-olah tidak terjadi apa-apa. Apa yang Tuhan perintahkan kepada mereka menandakan bahwa mereka harus menerima konsekuensi dari segala jenis perbuatan tidak benar di hadapan-Nya, dan mengikuti peraturan (“aturan main”) Tuhan, sebagaimana tampak dalam bacaan kita tadi.

Empat jenis binatang yang dipersembahkan kepada Tuhan sebagai kurban keselamatan adalah bentuk kepedulian Tuhan atas umat-Nya. Ia telah berbuat baik dan begitu baik, maka tentu Ia konsisten: meminta yang terbaik dari umat-Nya. Tidak hanya yang terbaik, tetapi juga mengikuti ketentuan-Nya, tidak sembarangan. Persembahan yang baik menurut kita, belum tentu baik menurut Tuhan. Oleh sebab itu, baik jenis binatang yang dipersembahkan, Tuhan memberikan ketentuan-ketentuan yang harus dilakukan sehingga proses mempersembahkan persembahan kepada Tuhan, tidak terkesan sembarangan dan asal-asalan.

Berikut penjelasan singkat mengenai empat jenis persembahan (binatang) yang dipersembahkan kepada Tuhan sebagai kurban keselamatan, terdiri atas jenis (binatang) persembahan dan ketentuannya:

Pertama: Lembu (seekor jantan atau betina). Ketentuannya: (1) Persembahan haruslah yang “tidak bercela” (ay. 1); (2) Darah kurban disiramkan pada mezbah sekeliling Kemah Pertemuan (ay. 2); (3) Persembahan harus selektif yaitu lemak (ay. 3); dan (4) Dibakar oleh anak-anak Harun (ay. 5).

Kedua: Kambing domba (seekor jantan atau betina). Ketentuannya: Persembahan haruslah yang “tidak bercela” (ay. 6).

Ketiga: Domba. Ketentuanya: (1) Darah kurban disiramkan pada mezbah sekeliling Kemah Pertemuan (ay. 8); (2) Persembahan harus selektif yaitu lemak (ay. 9); dan (3) Dibakar oleh imam (ay. 11).

Keempat: Kambing. Ketentuannya: Darah kurban disiramkan pada mezbah sekeliling Kemah Pertemuan (ay. 13); (2) Persembahan harus selektif yaitu lemak (ay. 14); (3) Dibakar oleh imam (ay. 16).

Dari empat jenis binatang kurban di atas, semuanya memiliki ketentuan. Ketentuan ini dimaksudkan agar bangsa Israel tidak “sembarangan mempersembahkan” persembahan kepada Tuhan. Tuhan tentu meminta yang terbaik; Tuhan memilih yang terbaik. Tujuannya adalah agar kita menerima yang terbaik dari Tuhan.

Ketentuan-ketentuan yang diberikan adalah untuk mendidik bangsa Israel, bahwa persembahan itu haruslah memenuhi kriteria yang ditetapkan Allah. Jika mereka berdosa kepada Allah, bukankah masuk akal dan konsisten jika Allah menetapkan ketentuan-ketentuan persembahan?

Dengan demikian, persembahan kepada Allah janganlah dimanipulasi, janganlah dikorupsi, janganlah dinajiskan, janganlah dikotori oleh cara-cara yang kurang ajar, cara-cara yang sembarangan. Allah kita adalah pribadi yang kudus, maka konsekuensi logisnya adalah persembahan itu harus kudus.

BUTIR-BUTIR PERMENUNGAN

Pertama. Tuhan telah berbuat banyak hal terhadap diri, keluarga, pelayanan, dan pekerjaan kita. Jika demikian, masihkah kita mengeluh kepada Tuhan ketika Tuhan meminta kepada yang terbaik dari kita untuk dipersembahkan kepada-Nya?

Kedua. Persembahan yang diperuntukkan bagi Tuhan, tidak boleh diambil sesuka hati: “Janganlah sekali-kali kamu makan lemak darah” (ay. 17). Artinya, lemak darah kurban yang dipersembahkan bagi Tuhan, tidak boleh dialihkan kepada yang lain, dan tidak boleh diambil oleh yang mempersembahkan kurban. Apa yang dikhususkan untuk Tuhan, harus benar-benar untuk Tuhan.

Ketiga. Kita mungkin seringkali mengatakan: “Tuhan, aku mengasihi-Mu”. Jika demikian, akankah kita memberikan yang terbaik kepada-Nya, seperti: waktu, potensi, dan sebagainya?

Keempat. Jika Tuhan—setiap waktu—memberikan yang terbaik kepada kita, apakah kita tetap konsisten memberikan yang terbaik kepada Tuhan selagi kita masih hidup?

Salam Bae…

Artikel ini diterbitkan dalam buku Antologi:

TUHAN MEMINTA YANG TERBAIK: Kumpulan Refleksi Iman dan Pelayanan sebagai Penghargaan kepada Pdt. Dr. Matheus Mangentang di Usianya ke-63 Tahun. Editor: Stenly R. Paparang, Kembong Mallisa’, Purnama Pasande, Yosia Belo, Jeffrit K. Ismail. Copyright © 2019. Penerbit Pustaka STAR’S Lub. ISBN 978-623-90326-9-2

JANGAN JEMU-JEMU BERBUAT BAIK: Refleksi Galatia 6:1-10 (Bagian 2)

Sumber gambar: https://id.pinterest.com/pin/755197431266775115/

Pendahuluan

Hampir setiap orang memiliki pemahaman tentang “perbuatan baik”. Pemahaman setiap orang tentang “perbuatan baik” kadang dilatari oleh budaya, filsafat, teologi, agama, denominasi, suku, bangsa, dan lain sebagainya. Perbuatan baik menurut seseorang, belum tentu baik jika dipandang oleh orang lain, demikian sebaliknya.

Kitab Suci memiliki penjelasan menarik tentang apa itu perbuatan baik. Tuhan adalah Sumber kebaikan itu. Ia telah menunjukkan kebaikan-Nya kepada manusia dengan menyediakan segala sesuatu. Pemazmur menyatakan: “Bersyukurlah kepada TUHAN sebab Ia baik. Bahwasanya kasih setia-Nya untuk selama-lamanya” (Mzm. 107:1).

Kebaikan Tuhan tampak dari tiga hal yaitu: providensia (pemeliharaan), pengampunan (perwujudan kasih Tuhan yang besar), dan penyelamatan (yang dalam konteks iman Kristen dikaitkan dengan pengurbanan Yesus Kristus di kayu salib sebagai wujud kasih Bapa kepada manusia berdosa). Dari ketiga kebaikan Tuhan di atas, kebaikan yang dapat ditiru oleh manusia (orang percaya) adalah pengampunan(mengampuni). Mengapa? Karena Tuhan telah terlebih dahulu mengampuni kita maka kita pun harus mengampuni sesama kita. Itulah salah satu perbuatan baik manusia yang bersumber dari Tuhan.

Orang Kristen memahami “perbuatan baik” yang sesuai dengan kehendak Tuhan. Artinya, perbuatan  baik yang dilakukan (berdasarkan pemahaman tadi) mengikuti standar Tuhan. Perbuatan baik yang dilakukan oleh orang Kristen bersumber dari Kitab Suci. Tidak ada hambatan baginya untuk menerapkan segala bentuk perbuatan baik. Apa yang baik menurut Tuhan pasti berguna (bermanfaat) dan berpengaruh bagi manusia yang beriman kepada-Nya. Apa yang baik menurut manusia belum tentu baik menurut Tuhan; perbuatan baik yang ditetapkan Tuhan, pasti menyenangkan hati-Nya ketika kita melakukannya dengan tulus dan jujur.

Di masa sekarang, kita melihat orang-orang dengan berbagai jenis karakternya, berlomba-lomba berbuat baik. Tak jarang, perbuatan baik mereka memiliki motivasi yang terselubung; berbuat baik karena “ada maunya”. Pada prinsipnya, iman Kristen mengajarkan bahwa berbuat baik tidak perlu dilakukan secara hipokrit (munafik) yaitu berbuat baik karena ada “maunya” (motivasi terselubung). Berbuat baik harus dari hati yang tulus dan penuh kasih. Itulah yang berkenan kepada Tuhan dan menyenangkan hati-Nya.

Perbuatan Baik berdasarkan Teks Galatia 6:1-10

Rasul Paulus menjelaskan tentang apa dan bagaimana berbuat baik kepada sesama manusia. Hal ini dimaksudkan sebagai sebuah pengajaran bahwa orang beriman bukan hanya sekadar beriman kepada Tuhan, tetapi harus tahu bagaimana menunjukkan sikap hidupnya sebagai bukti bahwa ia beriman.

Pertama, Paulus memberi makna pada perbuatan umat di Galatia sebagai perbuatan baik yaitu: “memimpin orang yang melakukan suatu pelanggaran, dengan roh lemah lembut” (ay. 1). Yang memimpin orang yang melakukan pelanggaran adalah seorang yang “rohani”. Mengapa? Karena tidak mungkin orang yang suka melakukan pelanggaran dapat memimpin orang yang juga melakukan pelanggaran. Di sini harus ada perbedaan identitas. Mereka yang beriman harus memimpin orang yang belum beriman.

Kedua, perbuatan baik kedua adalah: “Bertolong-tolongan dalam menanggung beban sesama anggota Gereja! Dengan berbuat demikian, itu sudah memenuhi hukum Kristus” (ay. 2). Menolong sesama yang membutuhkan adalah sebuah perbuatan baik yang dikehendaki Tuhan. Menolong bukan supaya dapat imbalan melainkan karena lahir dari kasih yang tulus tanpa menuntut balasan.

Ketiga, perbuatan baik ketiga adalah: “seseorang yang menerima pengajaran dalam Firman, membagi segala sesuatu yang ada padanya dengan orang yang memberikan pengajaran itu” (ay. 6). Saling berbagi adalah hal yang penting terkait dengan perbuatan baik. Apalagi berbagi dengan orang yang telah berjasa pada kita, terutama berjasa dalam mengajarkan firkin Tuhan.

Keempat, perbuatan baik keempat adalah: “menabur dalam Roh”. Perbuatan ini merupakan sebuah konsistensi iman seseorang dengan apa yang dilakukannya. Jika mereka yang hidup dalam Roh Kudus, maka ia harus melakukan segala sesuatu di dalam Roh Kudus. Artinya, perbuatan-perbuatan yang dilakukannya selaras dengan kehendak Roh Kudus.

Keempat perbuatan baik di atas perlu dilakukan secara berkelanjutan—tidak jemu-jemu (tidak bosan-bosan). Melakukan perbuatan baik selagi masih ada waktu dan kesempatan, adalah pilihan utama orang percaya. Berbuat baik dimulai dari lingkungan kita, komunitas kita, kepada saudara-saudara kita yang seiman.

Konteks Sebelumnya dari Galatia 6:1-10

Untuk memahami berbagai jenis perbuatan baik sebagaimana yang disebutkan di atas, kita perlu melihat konteks sebelumnya yang dijelaskan Rasul Paulus sebagaimana tercantum dalam pasal 5.

Pertama, mereka yang berbuat baik berarti mereka telah dimerdekakan Kristus (5:1) dan menjadi milik Kristus (bdk. 5:24).

Kedua, mereka yang berbuat baik berarti mereka berada dalam kasih karunia Tuhan (bdk. 5:4).

Ketiga, mereka yang berbuat baik berarti mereka hidup dalam Roh Kudus (bdk. 5:5 dan 16-18) menghasilkan buah Roh (5:22-23) dan dipimpin Roh Kudus (5:25).

Keempat, mereka yang berbuat baik berarti mereka yang tidak mempergunakan kemerdekaan itu sebagai kesempatan untuk kehidupan dalam dosa (bdk. 5:13).

Kelima, mereka yang berbuat baik berarti mereka yang suka melayani sesamanya oleh kasih (bdk. 5:13-14).

Keenam, mereka yang berbuat baik berarti mereka yang tidak lagi dikuasai atau diperbudak oleh perbuatan-perbuatan daging (bdk. 5:19-21).

Ketujuh, mereka yang berbuat baik berarti mereka yang tidak gila hormat, tidak suka menantang dan tidak suka mendengki (5:26).

Jangan Jemu-jemu Berbuat Baik

Prinsip ini—maksudnya “jangan jemu-jemu berbuat baik—merupakan dasar pijak orang percaya. Hal ini adalah prinsip yang dipahami dari personalitas dan karya Tuhan. Pasalnya, kebaikan Tuhan tidak pernah bisa diukur oleh manusia, bahkan tak dapat dibalas oleh manusia. Bahkan mungkin kita pernah mengatakan: “Tuhan, kasih setia-Mu lebih dari hidup”—yang dapat diartikan bahwa kasih setia Tuhan sungguh luar biasa memenuhi dan mengubah hidup kita. Tanpa kasih setia Tuhan, hidup kita menjadi terpisah dari-Nya, dan mustahil kita berbuat baik sesuai dengan kehendak-Nya.

Alasan mengapa kita jangan jemu-jemu berbuat baik adalah karena kita meneladani Tuhan: Ia sangat baik dan telah berbuat baik (bdk. Mzm. 119:68, “Engkau baik dan berbuat baik….”). Bahkan penulis Amsal mengabadikan peran seorang istri yang cakap, yang berbuat baik kepada suaminya dan tidak berbuat jahat sepanjang umurnya sebagaimana tercantum dalam Amsal 31:12). Ia menyediakan makanan untuk seisi rumahnya (Ams. 31:15). Mengapa ia bisa berbuat demikian? Karena ia takut akan TUHAN (Ams. 31:30).

Benarlah apa yang dikatakan pemazmur: “Aku mau menyanyi untuk TUHAN, karena Ia telah berbuat baik kepadaku” (Mzm. 13:6). Orang yang paham tentang makna perbuatan baik dari Tuhan akan melakukan kebaikan kepada orang lain karena ia telah merasakan kebaikan Tuhan. Orang yang tidak jemu-jemu berbuat baik adalah orang yang paham betul mengenai kebaikan Tuhan, dan juga karena ia telah terbiasa dalam hal berbuat baik. Pohon yang baik pasti menghasilkan buah yang baik.

Bahkan ada analogi yang bersifat tajam yaitu ketika Yeremia menyatakan firman TUHAN bahwa: “Dapatkah orang Etiopia mengganti kulitnya atau macan tutul mengubah belangnya? Masakan kamu dapat berbuat baik, hai orang-orang yang membiasakan diri berbuat jahat?” (Yer. 13:23). Yesus sendiri berani menerobos pemahaman yang dangkal dari ahli-ahli Taurat dan orang-orang Farisi, dengan menegaskan bahwa boleh berbuat baik pada hari Sabat. Padahal, meski berbuat baik pada hari Sabat—misalnya menolong orang lain, dianggap sebagai tindakan yang salah oleh ahli-ahli Taurat dan orang-orang Farisi (Mrk. 3:1-6; Luk. 6:6-11; Mat. 12:9-14). Yang terpenting menurut Yesus adalah “berbuat baik”, karena berbuat baik itu dapat melampaui apa pun, hari apa pun, budaya apa pun.

Penutup

Rasul Paulus mendorong jemaat di Galatia untuk memberikan perhatian serius kepada jenis-jenis perbuatan baik dan mengajarkan jemaat di Galatia agar mereka tidak jemu-jemu berbuat baik dengan cara: “memimpin orang yang melakukan suatu pelanggaran, dengan roh lemah lembut”, “Bertolong-tolongan untuk menanggung beban sesama anggota Gereja”, “membagi segala sesuatu kepada orang yang memberikan telah mengajari mereka”, dan “menabur dalam Roh” yaitu segala sesuatu yang dilakukan harus menunjukkan “kekudusan” dan lahir (berasal) dari Roh Kudus.

Jangan jemu-jemu berbuat baik karena Tuhan telah berbuat baik kepada kita. Berbuat baik memang terdengar mudah, tetapi kadang sulit untuk dilakukan. Berbuat baik melibatkan kasih yang tulus dan pengorbanan (tenaga, uang, waktu, harta dan sebagainya). Dalam perspektif Kristen, perbuatan baik adalah tindakan yang dilandasi dengan kasih dan pengorbanan. Mereka yang berbuat sesuatu tetapi tidak mau berkorban, bukan berbuat baik, melainkan hanya ingin terlihat baik; mereka berpura-pura baik, bukan menunjukkan kebaikan yang sesungguhnya (kasih yang tulus dan berkorban bagi sesama).

Jika kita sudah berbuat baik sejak dulu, jadikanlah itu sebagai dorongan untuk berbuat baik di kemudian hari, tanpa merasa bosan. Berbuat baik kadang terlihat buruk ketika dilihat oleh mereka yang iri hati kepada kita. Tetapi pada akhirnya, dari buahnya kita dapat melihat hasilnya, yaitu hasi dari benih-benih perbuatan baik yang kita taburkan setiap hari.

Selamat berbuat baik dengan tidak jemu-jemu. Tuhan Yesus memberkati kita semua. Shalom.

Salam Bae…

Artikel ini diterbitkan dalam buku Antologi:

TUHAN MEMINTA YANG TERBAIK: Kumpulan Refleksi Iman dan Pelayanan sebagai Penghargaan kepada Pdt. Dr. Matheus Mangentang di Usianya ke-63 Tahun. Editor: Stenly R. Paparang, Kembong Mallisa’, Purnama Pasande, Yosia Belo, Jeffrit K. Ismail. Copyright © 2019. Penerbit Pustaka STAR’S Lub. ISBN 978-623-90326-9-2

GIAT MELAYANI TUHAN

Refleksi 1 Korintus 15:58

Sumber gambar: https://id.pinterest.com/pin/373446994105086361/

Identitas anak-anak Allah terlihat dari tiga hal: pertama, sikap hidup setiap hari; kedua, sikap pelayanan; dan ketiga, sikap bekerja. Hal kedua menjelaskan tentang sebuah sikap yang tidak hanya sekadar “melayani” saja, melainkan ada aspek-aspek penting yang menjadi dasar dan menjadi menopang dalam pelayanan. Pada umumnya, melayani adalah sebuah gambaran kegiatan yang rohani (dilakukan oleh orang-orang yang “dipakai” Tuhan) dan dianggap rohani (dilakukan oleh orang-orang yang “merasa dipakai” Tuhan). Secara substansial dan empirikal, keduanya jelas berbeda.

Orang-orang yang melayani Tuhan memiliki orientasi pelayanan yang sesuai dengan kehendak Tuhan. Orientasi tersebut merupakan wujud nyata dari keterpanggilan mereka untuk siap melayani dalam segala hal dan situasi; pula merupakan wujud dari kesadaran iman dan tanggung jawab mereka kepada Tuhan yang telah memakai mereka sebagai alat di tangan-Nya.

Dalam pasal 15 tampak bahwa Rasul Paulus menjelaskan mengenai “kebangkitan”. Berdasarkan konteks, Paulus menjelaskan tiga bagian mengenai kebangkitan yang bersifat doktrinal yaitu: “kebangkitan Yesus” (1 Kor. 15:1-11), “kebangkitan manusia” (orang percaya; 1 Kor. 15:12-34), dan “kebangkitan tubuh” (1 Kor. 15:35-57). Setelah menjelaskan hal-hal yang bersifat doktrinal, maka pada 15:58, Rasul Paulus menyimpulkan dengan pernyataan yang bersifat aplikatif: “Berdirilah teguh, jangan goyah, dan giatlah selalu dalam pekerjaan Tuhan! Sebab kamu tahu, bahwa dalam persekutuan dengan Tuhan jerih payahmu tidak sia-sia.” Baik “doktrinal” (dasar iman) maupun “aplikatif” (giat melayani Tuhan), keduanya haruslah tertuang dalam totalitas kehidupan dan pelayanan orang percaya.

Giat melayani Tuhan bukan hanya sekadar “terlihat” melayani tetapi sungguh-sungguh “memperlihatkan” substansi pelayanan. Jika kita hanya sekadar terlihat melayani, maka kita akan berpura-pura sibuk melayani padahal isi dan tujuannya tidak jelas. Apa saja diperbuat supaya terlihat sibuk melayani. Asal terlihat sibuk, pasti dianggap [telah] melayani. Ini jelas suatu pemahaman yang keliru.

Memperlihatkan substansi pelayanan (giat melayani Tuhan) secara faktual terdapat dalam teks Pada teks 1 Korintus 15:58 (dan kaitannya dengan teks-teks sebelumnya).

Pertama, setiap jenis pelayanan harus menerapkan hal-hal yang bersifat doktrinal untuk menegaskan posisi iman Kristen dibanding ‘iman-iman’ [agama] lainnya. Di sini kita dapat menerapkan pemahaman kita mengenai “kebangkitan Kristus”, atau yang lainnya yang sesuai konteks (situasi dan kondisi). Meski ada yang menolak kebangkitan, kita pun harus menegaskan bahwa Yesus benar-benar bangkit dari antara orang mati. Ini adalah perwujudan dari “orientasi pelayanan yang sesuai dengan kehendak Tuhan.”

Kedua, setiap jenis pelayanan harus menerapkan kemampuan untuk “berdiri teguh dan tidak goyah”. Pelayanan yang kita kerjakan bukanlah tanpa tantangan dan hambatan. Meski demikian, sikap berdiri teguh dan tidak goyah tetap dilakukan. Ini adalah wujud dari “keterpanggilan untuk siap dan giat melayani Tuhan” dalam segala hal dan situasi.

Ketiga, setiap jenis pelayanan harus menerapkan “kesadaran iman” dan “tanggung jawab iman”. Kita harus sadar bahwa Tuhan telah memanggil dan memakai kita sebagai alat di tanggan-Nya, yang dengannya tanggung jawab iman haruslah terwujud, termaknai dalam berbagai jenis pelayanan.

Keempat, setiap jenis pelayanan harus menerapkan “komitmen”kepada Tuhan untuk tetap giat melayani dan berjerih lelah bagi-Nya. Kita dipanggil untuk melayani sesama, giat melayani Tuhan; dan tetap setia dalam segala situasi dan kondisi.

Ingatlah, bahwa hanya mereka yang “setia” dalam melayani Tuhan, yang akan menerima mahkota kehidupan. Oleh sebab itu: “Berdirilah teguh, jangan goyah, dan giatlah selalu dalam pekerjaan Tuhan! Sebab kamu tahu, bahwa dalam persekutuan dengan Tuhan jerih payahmu tidak sia-sia.”

Salam Bae…

TEGURAN TUHAN

Refleksi Keluaran 9:13-35

Sumber gambar: https://id.pinterest.com/pin/185562447119685197/

Pendahuluan

Setiap orang selalu menunjukkan “dicta (perkataan-perkataan) dan “gesta (perbuatan-perbuatan) dalam totalitas hayati humanitas yang dijalani. Ada yang suka berkata-berkata dan berbuat selaras dengan perkataannya; ada yang berbuat tidak selaras dengan perkataannya; ada yang berkata tetapi tidak melakukannya sama sekali. Firaun adalah contohnya. Dalam Kejadian 8:8, Firaun berjanji bahwa jika katak-katak itu dijauhkan TUHAN darinya, maka ia (Firaun) akan melepaskan bangsa Israel. Apa yang terjadi? Sampai tulah kesembilan, Firaun tidak melepaskan bangsa Israel.

Teks Keluaran 9:13-35 menjelaskan kelanjutan dari kekerasan hati Firaun (ketidakkonsistenannya) dengan tidak melepaskan bangsa Israel meskipun ia telah berjanji kepada Musa. Teks ini pula menjelaskan dua hal, teguran TUHAN melalui tulah “hujan es” dan “kekerasan hati Firaun”.

Pokok-pokok Penting

Pertama, frasa “Berfirmanlah TUHAN” menandakan bahwa Ia hendak menyatakan sesuatu (ay. 13). Frasa “Berfirmanlah TUHAN” kadang hanya dilewati begitu saja seolah-olah tidak ada apa-apa dengannya. Padahal, justru di situlah letak inti dari semua kejadian yang mengikutinya (bdk. ay. 22 “Berfirmanlah TUHAN” kepada Musa yang menjelaskan peristiwa turunnya tulah).

Musa diperintahkan untuk bangun pagi-pagi, berdiri menantikan Firaun, dan mengatakan “Beginilah firman TUHAN”, biarkanlah umat-Ku ‘pergi’ supaya mereka ‘beribadah’ kepada-Ku. Perintah TUHAN yang ditujukan kepada Firaun sebenarnya sangat sederhana yaitu hanya membiarkan bangsa Israel keluar dari tanah Mesir untuk beribadah kepada TUHAN.

Kedua, tulah “hujan es” ditujukan kepada Firaun, pegawai-pegawainya, dan rakyatnya. Tujuan diberikan tulah adalah supaya Firaun mengetahui bahwa tidak ada yang seperti TUHAN di seluruh bumi. Maksud di balik tujuan tersebut adalah TUHAN hendak menyatakan bahwa Dialah satu-satunya yang hebat, berkuasa, berdaulat, berotoritas di antara ilah-ilah lain termasuk ilah yang dipercayai oleh Firaun. Di sini TUHAN sedang membandingkan—selain dari pada menyatakan kekuasaan-Nya yang mutlak—diri-Nya dengan ciptaan. Dalam konteks ini, memahami pribadi TUHAN bersumber dari dua hal yakni dalam kaitannya dengan ciptaan dan  dalam kaitannya dengan ontologis (eksistensi personal TUHAN).

Ketiga, setiap tulah (tulah sebelumnya: air menjadi darah, katak, nyamuk, lalat pikat, penyakit sampar pada ternak, barah) hingga tulah ketujuh tidak menyadarkan Firaun akan teguran TUHAN. Dia ayat 27-28 Firaun menyesal tetapi untuk sementara waktu, sebagaimana Musa menegaskannya (ay. 30), bahwa Firaun dan para pegawainya, belum takut kepada TUHAN. Mengenai teguran TUHAN kepada Firaun juga dibuktikan dengan tulah-tulah berikutnya yang menyatakan bahwa Firaun masih belum sadar akan teguran TUHAN sebab di pasal 10-12 masih ada tiga tulah (belalang, gelap gulita selama tiga hari, dan anak sulung orang Mesir, mati). Bahkan, di ayat 34-35 dijelaskan bahwa Firaun dan para pegawainya, terus berbuat dosa, berkeras hati. Ia pun tidak melepaskan orang Israel pergi.

Kematian menyadarkan Firaun?

Hingga akhirnya, “kematian” menyadarkan Firaun (12:29-33). Teguran TUHAN melalui tulah-tulah (pertama sampai kesembilan) belum menyadarkan Firaun. Ia berkeras hati, ia terus berbuat dosa, ia terus tidak menepati janjinya untuk melepaskan bangsa Israel sebagaimana yang dikatakan Musa kepadanya. Dan pada akhirnya, pasca kematian anak sulungnya dan semua anak sulung rakyatnya, barulah ia sadar dan mengakui bahwa memang TUHAN orang Israel itu hebat.

Firaun sebenarnya banyak mendapat kemurahan dari TUHAN, hanya saja karena ia berkeras hati dan ingin menunjukkan kekuasaannya yang hanya secuil untuk menantang kekuasaan TUHAN atas seluruh bumi. Firaun malahan diberikan kesempatan sampai sembilan kali oleh TUHAN, tetapi ia membuangnya dengan percuma.

Butir-Butir Permenungan

Ada hal yang membuat kita sulit mengeluarkan kebaikan dari dalam diri dan justru memasukkan dosa ke dalam diri kita sendiri. Ketika dosa telah menjadi habit, maka seseorang akan terus berkeras hati, terus melakukan dosa, sehingga kebaikan dalam diri tidak lagi keluar. Kebaikan diri kita bukanlah dari luar, melainkan dari dalam yang harus keluar (dikeluarkan).

“Keras hati” adalah sebuah frasa yang menegaskan bahwa niat seseorang untuk mengabaikan TUHAN, masa bodoh dengan teguran TUHAN, bahkan lebih dari itu, ada orang yang merasa “nyaman” dalam dosa, disimpan rapi dalam dirinya. Ini sangat berbahaya. Jangan sampai kita asyik dengan dosa “keras hati” dan tidak mau berbalik kepada TUHAN (metanoia).

Teguran TUHAN itu ada bermacam-macam. Tinggal bagaimana kita memahami dan memaknainya serta mengkorelasikan dengan apa yang telah kita buat selama ini. Sebagaimana kebaikan tidak pernah terbuang percuma, maka kejahatan juga tidak pernah terbuang percuma. Kebaikan yang kita buat akan dibalas oleh TUHAN, demikian juga dengan kejahatan.

Taburlah kebaikan selagi masih ada waktu. Buanglah keras hati dan masa bodoh dengan TUHAN; jadilah pelaku-pelaku firman yang menyelaraskan antara dicta dan gesta seumur hidup kita. Amin.

Salam Bae…

JANGAN MENYOMBONGKAN DIRI

Refleksi Keluaran 18:1-12

Sumber gambar: https://id.pinterest.com/pin/807340670674924817/

Pendahuluan

“Kesadaran” adalah bagian dari kehidupan kita. Dengan kesadaran kita dapat menempuh jalan hidup kita, menjaganya, dan mempertahankannya. Kita tidak dapat memisahkan identitas kita dengan bagaimana caranya kita bersikap. Artinya, meskipun kita memiliki identitas yang terpandang dan terhormat, tetapi moralitas dan sikap rendah hati tak bisa tidak harus dilakukan dan ditunjukkan. Itulah makna kesadaran diri, tidak menyombongkan diri. Antara kesadaran diri dan identitas sangatlah koheren jika ditinjau dari aspek biblika.

“Jangan menyombongkan diri” hendak menegaskan sebuah sikap “agere contra (bertindak sebaliknya), di mana kesadaran dan identitas bukan digunakan sebagai “alat pembenaran diri” dan “alat untuk menyombongakan diri. Jangan karena kita memiliki sesuatu maka kita bertindak melampaui batas dan menunjukkan sikap yang tidak terpuji, memamerkan diri yang tak terkendali, bermotif kesombongan, entah teologi, gelar, harta, kekayaan, atau relasi.

Salah satu tokoh yang tidak memamerkan kesombongannya adalah Musa. Ia tidak menunjukkan sikap “mentang-mentang” [tidak mempergunakan apa yang dimilikinya sebagai senjata untuk sombong] melainkan justru menunjukkan identitas moral dan hormatnya kepada Yitro, mertuanya. Musa sadar akan statusnya sebagai menantu. Hal inilah yang kemudian menjadi warisan bagi kita sebagai orang Kristen hingga sekarang sebagai sebuah kesadaran iman. Kita tak mungkin melepaskan moralitas ketika kita menjadi orang yang memiliki jabatan tinggi. Kitab Suci justru menunjukkan bahwa siapa pun kita, sikap “bermoral” dan “rendah hati” tetap menjadi hal yang utama dan tak bisa disingkirkan begitu saja.

Ketika manusia menunjukkan sikap “mentang-mentang” (menyombongkan diri) maka ia sedang merendahkan dirinya sendiri dan tidak menampilkan gaya hidup yang bermartabat, bermoral, dan rendah hati. Orang Kristren perlu memperhatikan identitasnya dan sedapat mungkin menunjukkan kegemilangan imannya melalui iman dan karya. Orang Kristen perlu menyadari identitas dan statusnya yang sebenarnya.

Teks Keluaran 18:1-12 hendak menegaskan Musa dan sikap hidupnya yang sangat baik dan menunjukkan kesadarannya bahwa meski ia adalah seorang nabi, tetapi ia juga sadar bahwa statusnya adalah sebagai menantu Yitro.

INTISARI

PERTAMA: “Jangan menyombongkan diri” hendak menjelaskan sebuah fakta bahwa apa yang dipunyai, identitas yang dimiliki, tidak perlu disombongkan karena semuanya bisa hilang kapan saja. Seperti Musa yang adalah seorang nabi, menunjukkan sikap hormat dan rendah hati kepada mertuanya. Musa sebagai nabi yang dipilih Tuhan telah menunjukkan sikap hidup yang baik dan bermoral (berintegritas). Itulah kesadaran Musa.

KEDUA: Musa tidak melihat jabatannya sebagai nabi untuk dijadikan sebagai rasa “kesombongan” diri. Ia menyadari bahwa itu adalah pemberian Tuhan dan digunakan sesuai perlunya.

KETIGA: Musa tidak melupakan statusnya sebagai seorang menantu dari Yitro. Musa tidak menunjukkan sikap “mentang-mentang” (yaitu hanya karena merasa Nabi, maka ia tidak menghargai mertuanya). Musa tidak melakukan hal itu. Ia tahu, bahwa orangtua harus tetap dihargai meski ia dihargai oleh begitu banyak orang Israel. Musa sadar secara moral. Dengan demikian, ia tidak menyombongkan dirinya.

KEEMPAT: dalam ayat 7, sikap Musa adalah ia sujud dan mencium mertuanya ketika mereka bertemu. Sungguh ini adalah sikap yang rendah hati. Ia tetap menghargai “orang tua” meski ia adalah seorang nabi yang hebat.

KELIMA: baik Musa maupun Yitro, keduanya sama-sama menunjukkan sikap saling menghargai. Dalam konteks kehidupan sehari-hari, kita berbuat baik dan menghargai secara ideal kita juga mengharapkan tindakan sebaliknya. Akan tetapi, seringkali kita tidak menerima perlakukan yang sama. Apa pun situasinya, kita tetap berbuat baik dan menghargai orang lain.

APLIKASI

Kesadaran akan identitas dan status, akan menunjukkan bahwa diri kita bermoral dan rendah hati. Kesadaran menjadikan hidup kita tertib dan selaras dengan kehendak Tuhan. Jika kita tahu bahwa kita adalah umat Tuhan, seyogianya melakukan apa yang dikehendaki Tuhan.

Tidak perlu menyombongkan diri dengan identitas atau status kita sebab itu bukanlah realisasi dari iman kepada Tuhan, bukan pula koheren dengan kehendak Tuhan. Justru Tuhan menghendaki kita untuk rendah hati dan saling menghormat, menghargai sesama.

Musa adalah teladan dalam bersikap bermoral dan rendah hati. Ia tidak menunjukkan sikap mentang-mentang, tidak menyombongkan dirinya, melainkan menunjukkan kebalikkannya; ia memperlihatkan rasa hormat kepada mertuanya, Yitro.

Sikap Musa yang menghargai dan memperlihatkan rasa hormatnya, dapat kita contohi untuk diterapkan kepada orangtua atau siapa saja yang berhak menerima penghormatan kita.

Kita harus sadar dan menunjukkan identitas kita dengan cara merealisasikan cara hidup yang menghormati, bermoral, dan rendah hati. Dengan demikian, kesombongan akan tersingkirkan dari hidup kita.

Salam Bae…

DUSTA MELAWAN ROH KUDUS

Refleksi Kisah Para Rasul 5:1-11

Sumber gambar: dianaleaghmatthews.com/ananias-and-sapphira/#.YDzF2U7is_7

Pendahuluan

Pada setiap konteks kehidupan, berkata “dusta”, atau saling “mendustai” adalah fakta yang tak bisa terhindarkan, entah kita sendiri sebagai pelakunya, entah orang lain, atau bahkan orang-orang terdekat kita. Atau barangkali, kita pernah mendengar dan melihat bahwa ada ‘pelayan-pelayan Tuhan’ yang hidup dalam dusta dan saling mendustai satu sama lain, sehingga menimbulkan berbagai penderitaan, salah paham, kebencian, dan bahkan saling memusuhi.

Sejatinya, sikap atau perilaku dusta berpotensi mencemarkan nama baik kita, terlebih nama baik Tuhan yang kita percayai. Dusta tidak pernah lahir dari kebenaran. Dusta lahir dari penolakan terhadap fakta yang sesungguhnya. Atau dengan perkataan lain, dusta lahir dari ketakutan atau bahkan dari kekerasan hati dan kebencian (terhadap seseorang) untuk tidak mau mengakui kesalahan. Pada kasus Ananias dan Safira, dusta yang mereka lakukan terkait dengan penolakan atas fakta yang terjadi. Mereka “ingin” mencari keuntungan di balik hasil penjualan tanah, yang pada gilirannya justru membawa mereka kepada kematian.

Apakah berkata dusta diperbolehkan? Ada yang mengatakan: “Tergantung situasi dan kondisinya”. Tetapi jelas, Kitab Suci menolak untuk berkata dusta, bahkan Tuhan membenci dusta (perkataan tidak benar).

Salah satu hukum Tuhan dalam PL menegaskan: “Jangan mengucapkan saksi dusta tentang sesamamu” (Kel. 20:16). Petunjuk lainnya adalah: “Haruslah kaujauhkan dirimu dari perkara dusta…” (Kel. 23:7); “Siapa mengatakan kebenaran, menyatakan apa yang adil, tetapi saksi dusta menyatakan tipu daya” (Ams. 12:17); “Orang yang dusta bibirnya adalah kekejian bagi TUHAN, tetapi orang yang berlaku setia dikenan-Nya” (Ams. 12:22); “Orang benar benci kepada dusta, tetapi orang fasik memalukan dan memburukkan diri” (Ams. 13:5); “Saksi yang setia tidak berbohong, tetapi siapa menyembur-nyemburkan kebohongan, adalah saksi dusta” (Ams. 14:5); “Lidah dusta membenci korbannya, dan mulut licin mendatangkan kehancuran” (Ams. 26:28).

Perjanjian Baru juga menegaskan hal yang sama. Orang percaya harus “membenci dusta”: “Jangan lagi kamu saling mendustai, karena kamu telah menanggalkan manusia lama serta kelakuannya” (Kol. 3:9); “Karena itu buanglah dusta dan berkatalah benar seorang kepada yang lain, karena kita adalah sesama anggota” (Ef. 4:25); “Aku menulis kepadamu, bukan karena kamu tidak mengetahui kebenaran, tetapi justru karena kamu mengetahuinya dan karena kamu juga mengetahui, bahwa tidak ada dusta yang berasal dari kebenaran” (1 Yoh. 2:21); dan “Jika kamu menaruh perasaan iri hati dan kamu mementingkan diri sendiri, janganlah kamu memegahkan diri dan janganlah berdusta melawan kebenaran!” (Yak. 3:14).

Kita melihat bahwa Kitab Suci secara tegas menempatkan dan menyatakan bahwa “dusta” sebagai perilaku yang dibenci Tuhan. Kita mungkin pernah melihat beberapa orang yang karena dustanya, mengalami penderitaan dan kematian.

Bahkan yang lebih aneh lagi adalah, ada orang yang karena “dusta” malahan ia mengalami hidup makmur dan sejahtera, terbebas dari penderitaan, dan kondisi kehidupan yang baik-baik saja, seolah-olah dusta telah menjadi sahabat dekatnya yang membawa keuntungan. Mungkin itulah yang mau dirasakan oleh suami-istri: Ananias dan Safira. Mereka ingin mendapatkan keuntungan dengan cara “berdusta” tentang hasil penjualan tanah. Meski mereka menyerahkan sejumlah uang hasil penjualan tanah, namun mereka justru menahan sejumlah uang untuk tujuan mencari keuntungan tadi. Motivasilah yang melatari lahirnya “dusta”.

Hal lainnya adalah dusta lahir dan terjadi karena dilatari berbagai motif, situasi, dan kondisi. Berbagai dusta telah terjadi mengakibatkan relasi sesama manusia menjadi rusak dan hancur. Relasi yang rusak masih bisa diperbaiki, tetapi kematian itu sendiri, yang ditakuti itu, tak dapat diperbaiki. Siapakah yang dapat memperbaiki kematian yang ia telah mati? Itulah yang terjadi dengan Ananias dan Safira, mereka tidak dapat memperbaiki apapun karena kematian telah menghampiri mereka.

Korelasi dan Konteks

Pertama, orang-orang percaya dalam komunitas “Gereja mula-mula” adalah mereka yang menunjukkan hidup yang egaliter (sama derajatnya [di hadapan Tuhan]). Dikatakan bahwa mereka “hidup bersama dalam relasi kasih yang menerima dan memberi; segala kepunyaan mereka adalah kepunyaan bersama—selalu ada dari mereka yang menjual harta miliknya, lalu membagi-bagikannya kepada semua orang sesuai dengan keperluan masing-masing” (Kis. 2:44-45). Cara hidup yang memberi pada Gereja mula-mula menghasilkan sisi positif di masyarakat: “mereka disukai semua orang”.

Kedua, pasal 4 menjelaskan, bahwa mereka menampilkan hidup yang berbagi: “segala sesuatu adalah kepunyaan mereka bersama” (ay. 32). Bukti nyata adalah ada yang menjual tanah dan hasilnya dinikmati oleh semua anggota Gereja (ay. 34). Pola hidup egaliter menghasilkan sebuah kondisi dan relasi yang baik. Bahkan “tidak ada seorang pun yang berkekurangan di antara mereka; karena semua orang yang mempunyai tanah atau rumah, menjual kepunyaannya itu, dan hasil penjualan itu mereka bawa dan diletakkan di depan kaki rasul-rasul; lalu dibagi-bagikan kepada setiap orang sesuai dengan keperluannya” (4:34-37, Yusuf, dan lainnya).

Ketiga, tetapi mengapa Ananias dan Safira berkata dusta melawan Roh Kudus? Apakah mereka tidak rela untuk berbagi dengan sesama anggota Gereja lainnya? Apakah mereka pelit? Apakah mereka tulus mengikut Yesus Kristus? Apakah mereka terpaksa berdusta ataukah mereka ingin terlihat baik dengan cara ikut-ikut jual tanah seperti yang lain?

Berdasarkan teks yang kita baca, Ananias memiliki ide untuk menahan sebagian hasil penjualan tanah pribadi. Ide tersebut diketahui istrinya. Di sini, suami istri sepakat untuk merencanakan dusta dan mencari keuntungan. Ini kerja sama yang baik, tetapi pada konteks yang salah. Kerja sama boleh-boleh saja, asalkan jangan kerja sama untuk merencanakan dosa dan dusta. Itu berbahaya dan dibenci Tuhan.

Keempat, hingga waktunya tiba setelah tanah dijual, Ananias menahan “sebagian” hasil penjualan tanah mereka. Dan dengan semangat (mungkin ingin menunjukkan bahwa mereka juga adalah orang-orang yang peduli dan ingin berbagi dengan sesama anggota Gereja, sama seperti yang lainnya), Ananias membawa uang yang sisa (dari hasil “tilap” sebagian) dan meletakkannya di depan kaki rasul-rasul (5:2). Mengapa harus diletakkan di kaki para rasul? Pada pasal 4:34-35, 36-37, hasil penjualan diletakkan di bawa kaki rasul-rasul sebagai bukti bahwa hal itu diketahui bersama, bukan diserahkan secara sepihak kepada salah satu rasul. Hal ini menghindari tindak “korupsi”.

Kelima, pada akhirnya tindakan dusta—yaitu tilap (menggelapkan) sebagian uang hasil penjualan tanah diketahui oleh Rasul Petrus. Tidak hanya tilap uang, tetapi Ananias justru mengatakan dusta bahwa itulah hasil penjualan tanah mereka. Kita tidak tahu apakah sebelumnya Ananias dan Safira telah berjanji kepada para rasul atau minimal di depan anggota Gereja lainnya bahwa mereka akan menjual sebidang tanah, sama seperti yang telah dilakukan oleh anggota Gereja yang lain. Kita pun tidak tahu motivasi awalnya. Tetapi dugaan saya bahwa memang motivasi Ananias dan Safira adalah mencari nama (popularitas) dan mencari muka (ingin dihormati dan disanjung).

Keenam, tindakan Ananias kemudian dikaitkan dengan “dipenuhi” [πληρόω, plērō] oleh Iblis (Satan). Iblis adalah musuh Tuhan. Dan yang pasti ia melawan Tuhan dengan dusta perkataan. Secara kuasa, Iblis tentu jauh panggang dari api jika diperhadapkan dengan Sang Penciptanya. Ia tak mungkin melawan Tuhan dengan kuasa yang dimilikinya. Justru Iblis menggunakan yang lain, yaitu dengan “dusta” melawan kebenaran. Petrus menegaskan bahwa perbuatan Ananias adalah mendustai Roh Kudus. Konsekuensinya adalah “mati”.

Ketujuh, Safira datang setelah suaminya mati karena dustanya sendiri yang dirancang sebelumnya. Ia datang tanpa mengetahui bahwa suaminya sudah mati. Petrus menginterogasinya. Safira mengiyakan bahwa ia dan suaminya telah menjual tanah dan uang yang dipersembahkan di kaki para rasul adalah hasil utuh dari penjualan tanah mereka (ay. 8). Kongkalikong (perihal tahu sama tahu) antara Ananias dan Safira telah menimbulkan masalah kematian bagi mereka sendiri.

Kedelapan, ada kemungkinan bahwa Petrus tahu harga jual tanah. Indikatornya adalah karena telah terjadi sebelumnya bahwa ada anggota Gereja mula-mula menjual milik mereka dan hasilnya diletakkan di kaki para rasul (2:44-45) dan mungkin salah satunya adalah tanah milik. Pasal 4:34-37 ada yang menjual tanah dan hasilnya diletakkan di kaki para rasul. Pengalaman ini yang mungkin dipakai Petrus untuk menginterogasi Ananias dan Safira. Integrogasi Petrus berbuahkan hasil. Ternyata suami istri tersebut telah “berdusta” terhadap Roh Kudus. Mereka telah tilap uang dan kongkalikong soal hasil jual tanah. Seandainya mereka jujur, pasti mereka tidak mati.

Kesembilan, dusta melawan Roh Kudus bukanlah jenis perbuatan yang ringan, justru itu adalah tindakan makar (akal busuk atau tipu muslihat) baik terhadap para rasul maupun terhadap Roh Kudus. Hasilnya: “kematian mendadak”.

Terapan dan Pesan kepada Kita

Jangan hanya karena ingin terlihat baik dan peduli terhadap orang lain, kita mencari nama dan muka dengan cara-cara kompromistis dengan dusta dan kejahatan. Tuhan membenci dusta dan kejahatan, apalagi kejahatan rohani.

Bersikaplah jujur meski kerugian bisa kita alami. Toh, Tuhan tahu kejujuran kita. Ia akan membalas dengan cara-Nya sendiri dan hasilnya akan memberkati kita. Mencari nama dan popularitas di Gereja hanya akan menyisahkan konflik, perpecahan, kebencian, penderitaan, dendam, permusuhan, dan kematian. Buanglah itu jauh-jauh.

Hidup dalam dusta dan mengusahakan dusta adalah tindakan berdosa di hadapan Roh Kudus. Ananias dan Safira adalah contoh keluarga yang mau memberi dengan motivasi yang keliru: memberi tapi tidak rela kehilangan. Kita pun diingatkan, bahwa berkata dusta bukanlah pilihan yang tepat dalam konteks hidup di hadapan Tuhan. Dusta hanya melahirkan dusta dan keburukan, bahkan kematian.

Jagalah hati dan mulut kita untuk tetap setia mengatakan kebenaran Tuhan, setia mewujudkan sikap hidup yang jujur, sebab dengan berbuat demikian, kita akan dimuliakan Tuhan dengan cara yang ajaib.

Salam Bae…

HIDUP SEBAGAI SAKSI YESUS KRISTUS

Refleksi Kisah Para Rasul 1:6-11

Sumber gambar: https://id.pinterest.com/pin/401594491752716967/

Frasa “hidup sebagai saksi Kristus” memberi pemahaman kepada kita bahwa “dalam totalitas kehidupan yang dijalani, kita, sebagai ‘saksi-Nya’ , harus menunjukkan (mewujudkan) iman kepada Yesus melalui kata, perbuatan, dan pikiran.” Tidak ada yang tersisa dalam kehidupan kita selain hanya untuk Kristus. Pertaruhan hidup-mati kita hanya bagi dan demi Yesus Kristus dalam hal melayani, memberitakan Injil, hidup benar, beriman, dan berkarya.

Lalu bagaimana dengan kesenangan dan kebebasan kita untuk menikmati hidup? Sama sekali terganggu? Tidak! Yang merasa terganggu adalah mereka yang belum sepenuhnya memahami bagaimana seharusnya mengikut Yesus dan menjadi saksi-Nya. Adalah baik bagi kita untuk memahami apa makna menjadi pengikut dan saksi Kristus. Pemahaman itu sendiri akan menggiring kita kepada “jalan kekudusan dan tanggung jawab moral, bahkan spiritualitas untuk semakin berani bersaksi melalui kata, perbuatan, dan pikiran.

Teks Kisah Para Rasul 1:6-11 menjelaskan tentang fokus pelayanan para murid; mereka menerima kuasa untuk menjadi saksi Yesus Kristus” (ay. 8). Ayat 8 hendak mengkonfirmasi bahwa “menjadi saksi dalam memberitakan Injil Yesus Kristus” membutuhkan kuasa [Yun. dunamis] dari Tuhan. Kuasa ini menjadi media bagi orang-orang percaya (para murid Yesus) yang berdampingan erat (koheren) dengan pemberitaan Injil.

Sejarah iman Kristen membuktikan bahwa pemberitaan Injil yang berbarengan yang manifestasi kuasa Tuhan telah menjadikan berita Injil bukanlah semata-mata hanya perkataan-perkataan saja, melainkan perkataan-perkataan yang mengubahkan manusia berdosa menjadi “manusia baru” di dalam Kristus. Kuasa Tuhan yang diberikan kepada para penginjil, mengkonfirmasi bahwa “Tuhan yang disembah oleh orang-orang Kristen” adalah Tuhan yang berkuasa dan berdaulat. Berapa banyak orang yang telah diubahkan oleh Tuhan? Berapa banyak orang yang bertekuk lutut di hadapan-Nya?

Pekabaran Injil adalah realisasi dari iman yang terpahami secara baik. Siapa saja bisa mengklaim bahwa ia beriman, tetapi pertanyaan mendasarnya adalah: “apakah iman itu terpahami dengan baik, ataukah hanya iman di mulut saja?” Orang Kristen yang mengabarkan Injil adalah orang yang memahami mengapa ia beriman kepada Yesus Kristus.

Teks Kisah Para Rasul 1:8 menyebutkan beberapa pokok penting yang perlu kita pahami.

Pertama, Roh Kudus menjadi pribadi yang memimpin kita untuk bergerak dan merealisasikan iman kepada Yesus Kristus. Roh Kudus diberikan Bapa kepada setiap orang percaya. Roh Kudus akan berdiam di dalam diri orang percaya.

Kedua, implikasi dari berdiamnya Roh Kudus dalam diri orang percaya adalah “menerima kuasa”, “mendapatkan kuasa”.

Ketiga, implikasi dari berdiamnya Roh Kudus dan penerimaan kuasa adalah para murid menjadi “saksi Yesus Kristus di segala tempat”, kapan pun dan di mana pun. Kita yang hidup sekarang ini mewarisi berita Injil yang diwartakan oleh para rasul Yesus Kristus.

Lalu, Apa yang Dapat Kita Lakukan di Zaman Ini?

Iman yang terpahami mendorong setiap orang percaya menyadari peran dan tanggung jawabnya dalam melayani. Orang percaya memerlukan “kuasa” dari Tuhan untuk menyertai proses pemberitaan Injil Yesus. Tantangannya adalah kuasa-kuasa kegelapan yang membelenggu orang-orang berdosa dan orang-orang yang hidup dalam berbagai jenis kejahatan.

Tuhan memanggil kita untuk melakukan tugas mulia ini. Ketika beriman, bukan berarti kita berhenti di tempat dan kemudian hanya menikmati karunia Tuhan secara pribadi. Tuhan telah menyatakan kepada kita dalam sejarah bahwa Ia telah berbagi dengan manusia, berbagi keselamatan, kasih, dan pengampunan. Karena itulah, kita juga mendapat tugas yang sama, yaitu berbagi kasih dan pengampunan, agar orang-orang yang berdosa, yang jauh dari Tuhan, diselamatkan oleh-Nya.

Roh Kudus yang telah berdiam di dalam diri kita merealisasikan kehendak-Nya dalam konteks pemberitaan Injil dan manifestasi kuasa-Nya yang dahsyat dan luar biasa. Jika demikian, masihkah kita berlambat-lambat untuk melakukan tugas dan tanggung jawab sebagai orang yang percaya dan beriman kepada Tuhan?

Jangan berlambat-lambat untuk melayani-Nya. Waktu ini sangat singkat. Pergunakanlah waktu yang Tuhan berikan. Para murid Yesus telah menunjukkan bahwa mereka sangat serius dengan pemberitaan Injil. Mereka berani karena ada jaminan Roh Kudus yang berdiam dalam diri mereka dan mereka diberikan kuasa yang luar biasa.

Hidup sebagai saksi Yesus Kristus adalah hidup yang melayani, hidup yang berbagi, dan hidup yang memberi diri untuk pemberitaan Injil.

Soli Deo Gloria

Salam Bae

BERTOBATLAH

Refleksi Kisah Para Rasul 2:14-40

Sumber gambar: https://www.thesacredartgallery.com/artists/ch-pabst/the-rosary/

PENDAHALUAN

Bertobat adalah sebuah keputusan yang memiliki alasan tertentu. Seseorang dapat berikhtiar untuk “bertobat” ketika ada sesuatu yang menggerakkan pikirannya untuk melakukan pertobatan. Berbagai alasan pertobatan seseorang menjadi dasar mengapa seseorang itu “berubah” atau “berbalik” kepada sesuatu yang lain.

Dalam konteks ini, pertobatan sering dipahami sebagai tindakan meninggalkan (memutuskan) sesuatu yang menjadi jerat dosa dan pemberontakan, bahkan segala jenis kejahatan, untuk mendekati dan memegang kehidupan yang lebih baik, bersih, jujur, penuh kasih, dan sukacita. Pertobatan sering membawa seseorang kepada kondisi bahagia, bebas dari tekanan dan ikatan dosa dunia.

Kitab Suci menggunakan istilah metanoeō dan metanoia: bertobat, berubah pikiran, merasakan penyesalan yang mendalam, menyesal, mengubah pikiran, berbalik meninggalkan dosa, perubahan pikiran, hal berpaling (dari dosa). Arti mendasar dari metanoia adalah: perubahan hati, yakni pertobatan nyata dalam pikiran, sikap, pandangan dengan arah yang sama sekali berubah, putar balik dari dosa kepada Tuhan dan pengabdian kepada-Nya.

Berangkat dari arti tersebut, konteks ajakan Rasul Petrus kepada para pendengar khotbahnya dalam peristiwa Pentakosta, adalah hendak “mengubah pikiran” mereka (mengenai konsep pemahaman nubuatan) dan berpaling dari dosa-dosa mereka, sebagaimana tampak dalam ayat 38 dan 40: “Bertobatlah dan hendaklah kamu masing-masing memberi dirimu dibaptis dalam nama Yesus Kristus untuk ‘pengampunan dosamu’, maka kamu akan menerima karunia Roh Kudus”, dan “Berilah dirimu diselamatkan dari angkatan yang jahat ini.”

Pada pemahaman tentang nubuatan, Rasul Petrus mengaitkan Yesus dan fenomena bahasa lidah yang terjadi pada diri para rasul pasca Roh Kudus turun ke atas mereka dalam bentuk nyala api, dan mengaitkan Yesus dengan nubuatan Perjanjian Lama. Artinya, untuk menjembatani pemahaman akan fenomena bahasa lidah dan Yesus Kristus yang mati, bangkit, dan naik ke surga, Petrus menggunakan teks-teks PL sebagai konfirmasi bahwa fenomena yang terjadi dan sekaligus pemberitaan tentang Yesus Kristus dapat dipertanggung jawabkan.

Roh Kudus mengkonfirmasi firman Tuhan dalam PL, karena orang-orang Yahudi mengakui otoritas Kitab Suci mereka. Dengan demikian, mereka mengetahui dan sekaligus melihat fakta di depan mata bahwa nubuatan-nubuatan Kitab Suci mereka tergenapi. Kita dapat membayangkan ketika kurang lebih 3000 orang menyerahkan diri bertobat (metanoia) dan dibaptis serta menerima Yesus sebagai Tuhan dan Juruselamat. Dan di sini, peran Roh Kudus sangatlah penting sekali. Jika Roh Kudus bekerja maka segala sesuatu menjadi mungkin. Apa yang mustahil bagi manusia, tidak mustahil bagi Roh Kudus, sebab Ia adalah Tuhan yang berkuasa.

KONTEKS

Keberanian Petrus berdiri di depan orang banyak (yaitu orang-orang Yahudi yang saleh dari segala bangsa di bawah kolong langit) adalah fakta bahwa Roh Kudus bekerja, memberikan keberanian kepada Petrus untuk berbicara. Tidak hanya itu, kemampuan Rasul Petrus untuk berbicara menjadi hal menarik (lihat 2:1-13). “Penuh dengan Roh Kudus” (ay. 4) menghasilkan potensi berbicara dalam bahasa-bahasa lain (bdk. ay. 7-11). Hal ini adalah bukti kuasa Roh Kudus yang ajaib dan luar biasa.

Berikut ini adalah beberapa pokok penting mengenai konteks dari teks di atas.

Pertama, Roh Kudus mengurapi orang berbicara tentang “kebenaran Tuhan” dan perkataan orang tersebut menghasilkan “kuasa yang mengubahkan”. Hal ini terlihat pada ayat 37: “Ketika mereka mendengar hal itu hati mereka sangat terharu, lalu mereka bertanya kepada Petrus dan rasul-rasul yang lain: ‘Apakah yang harus kami perbuat, saudara-saudara?’” Kemudian Petrus mengarahkan para pendengar yang bertanya untuk bertobat. Hal ini dijelaskan pada ayat 38: “Bertobatlah dan hendaklah kamu masing-masing memberi dirimu dibaptis dalam nama Yesus Kristus untuk pengampunan dosamu, maka kamu akan menerima karunia Roh Kudus.”

Kedua, apa yang menyebabkan Petrus menganjurkan para pendengar khotbahnya untuk bertobat? Di sini kita perlu melihat “isi” khotbahnya (ay. 14-36) karena ternyata setelah mendengar isi khotbah Rasul Petrus, orang-orang Yahudi yang saleh dari segala bangsa, “hati mereka sangat terharu” (ay. 37).

Ketiga, isi khotbah Petrus mencakup:

1. penegasan bahwa nubuatan Nabi Yoel bahwa: “Akan terjadi pada hari-hari terakhir — demikianlah firman Allah — bahwa Aku akan mencurahkan Roh-Ku ke atas semua manusia; maka anak-anakmu laki-laki dan perempuan akan bernubuat, dan teruna-terunamu akan mendapat penglihatan-penglihatan, dan orang-orangmu yang tua akan mendapat mimpi. Juga ke atas hamba-hamba-Ku laki-laki dan perempuan akan Kucurahkan Roh-Ku pada hari-hari itu dan mereka akan bernubuat. Dan Aku akan mengadakan mujizat-mujizat di atas, di langit dan tanda-tanda di bawah, di bumi: darah dan api dan gumpalan-gumpalan asap. Matahari akan berubah menjadi gelap gulita dan bulan menjadi darah sebelum datangnya hari Tuhan, hari yang besar dan mulia itu” (ay. 17-20). Khotbah pertama Petrus menegaskan bahwa kondisi yang dialami para rasul yaitu “dipenuhi Roh Kudus” adalah bukti penggenapan nubuatan Nabi Yoel. Di sini, orang-orang Yahudi yang saleh melihat pemahaman yang kuat dari nubuatan itu sendiri.

2. Petrus kemudian mengarahkan para pendengar untuk menunjukkan sikap bahwa: “Dan barangsiapa yang berseru kepada nama Tuhan akan diselamatkan” (ay. 21). Petrus sedang mengarahkan mereka kepada Yesus Kristus (ay. 22-24), yang ditentukan Allah dan yang dinyatakan mereka dengan kekuatan-kekuatan dan mujizat-mujizat dan tanda-tanda yang dilakukan oleh Allah dengan perantaraan Dia di tengah-tengah mereka, seperti yang mereka ketahui. Yesus membuktikan bahwa Ia datang dan berasal dari Bapa (bdk. Yoh. 7:28, “Aku diutus oleh Dia yang benar”; 7:29, “Aku datang dari Dia dan Dialah yang mengutus Aku”; 8:42, “Aku keluar dan datang dari Tuhan”; 16:28, “Aku datang dari Bapa”; 17:8, “Aku datang dari pada-Mu”). Di samping itu, dalam wujud manusia-Nya, Yesus disalibkan (dibunuh) (ay. 23) dan dibangkitkan Tuhan dengan melepaskan Dia dari sengsara maut (ay. 24). Dengan demikian, “kebangkitan Yesus” adalah fakta sejarah yang tak terbantahkan.

3. Petrus kembali mengaitkan Yesus dengan nubuatan Raja Daud (ay. 26-28) dan menegaskan bahwa: Yesus yang bangkit selaras dengan perkataan Daud bahwa “TUHAN tidak membiarkan Orang Kudus-Nya melihat kebinasaan.”

4. Petrus kemudian memberikan analogi (ay. 29) bahwa Daud telah mati, tetapi Tuhan telah berjanji kepadanya dengan mengangkat sumpah, bahwa Ia akan mendudukkan “seorang” dari keturunan Daud sendiri di atas takhtanya (ay. 30). “Karena itu ia telah melihat ke depan dan telah berbicara tentang kebangkitan Mesias, ketika ia mengatakan, bahwa Dia tidak ditinggalkan di dalam dunia orang mati, dan bahwa daging-Nya tidak mengalami kebinasaan. Yesus inilah yang dibangkitkan Tuhan, dan tentang hal itu kami semua adalah saksi” (ay. 31-32). Jadi, korelasi nubuatan Daud dengan fakta bahwa Yesus bangkit dari antara orang mati sudah sesuai dengan nubuatan Daud. Dan korelasi ini bukanlah dibuat-buat atau dicocok-cocokkan, melainkan sudah tergenapi dalam diri Yesus Kristus: mati dan bangkit dari kematian. Ini sangat luar biasa.

5. Di ayat 33, “Dan sesudah Ia ditinggikan oleh tangan kanan Tuhan dan menerima Roh Kudus yang dijanjikan itu, maka dicurahkan-Nya apa yang kamu lihat dan dengar di sini.” Tidak hanya mati dan bangkit, Yesus Kristus juga naik ke surga. Hal ini terlihat pada ayat 34-35, “Sebab bukan Daud yang naik ke sorga, malahan Daud sendiri berkata: Tuhan telah berfirman kepada Tuanku: Duduklah di sebelah kanan-Ku, sampai Kubuat musuh-musuh-Mu menjadi tumpuan kaki-Mu.”

6. Terakhir (ay. 36), Petrus menutup dengan penegasan dan ajakan: “Jadi seluruh kaum Israel harus tahu dengan pasti, bahwa Allah telah membuat Yesus, yang kamu salibkan itu, menjadi Tuhan dan Kristus.”

Keempat, ayat 37 menjelaskan respons dari khotbah Petrus: “hati mereka sangat terharu”. Selain terharu, mereka melanjutkan dengan bertanya. Inilah yang mengarahkan mereka kepada sebuah “metanoia” (pertobatan). Ayat 38 dan 40, menjelaskan ajakan Petrus: “Bertobatlah” dan memberi diri untuk diselamatkan.”

Kelima, kita melihat bahwa “Orang-orang yang menerima perkataannya itu memberi diri dibaptis dan pada hari itu jumlah mereka bertambah kira-kira tiga ribu jiwa” (ay. 41), suatu jumlah yang fantastis. Kuasa dan urapan Roh Kudus sangatlah ajaib dan luar biasa bukan? Kelanjutannya adalah “Mereka ‘bertekun dalam pengajaran’ rasul-rasul dan ‘dalam persekutuan’. Dan mereka selalu ‘berkumpul’ untuk memecahkan roti dan ‘berdoa’” (ay. 42).

Keenam, kuasa dan urapan Roh Kudus tidak berhenti pada dua fenomena ajaib yaitu para rasul “berbahasa lidah” dan Rasul Petrus “berkhotbah di depan ribuan orang Yahudi yang kemudian mereka terharu dan ingin mengubah pikiran mereka”, melainkan “mengadakan banyak mujizat dan tanda” (ay. 43), dan mendorong hidup bersama dalam persekutuan dan berbagi dengan sesama anggota Gereja: “Dan semua orang yang telah menjadi percaya tetap bersatu, dan segala kepunyaan mereka adalah kepunyaan bersama, dan selalu ada dari mereka yang menjual harta miliknya, lalu membagi-bagikannya kepada semua orang sesuai dengan keperluan masing-masing” (ay. 44-45).

Roh Kudus juga mengarahkan umat-Nya untuk hidup dalam persekutuan dan sehati, sebagaimana tampak dalam ayat 46-47: “Dengan bertekun dan dengan sehati mereka berkumpul tiap-tiap hari dalam Bait Allah. Mereka memecahkan roti di rumah masing-masing secara bergilir dan makan bersama-sama dengan gembira dan dengan tulus hati, sambil memuji Tuhan. Dan mereka disukai semua orang. Dan tiap-tiap hari Tuhan menambah jumlah mereka dengan orang yang diselamatkan.”

PENUTUP

Roh Kudus bekerja untuk mendorong kita memahami firman-Nya dan kemudian bertobat, menyerahkan diri untuk taat dan setia kepada Tuhan, sebagaimana terjadi pada orang-orang Yahudi ketika Petrus selesai berkhotbah.

Roh Kudus memimpin kita untuk menyatakan firman-Nya dan menjadi saksi Injil di mana pun, dan kapan pun.

Roh Kudus yang memberikan kekuatan dan keberanian kepada kita seyogianya dipakai bagi pelayanan kepada sesama, baik dalam komunitas Gereja, maupun dalam pekerjaan misi.

Roh Kudus juga mengarahkan kita untuk bertekun dalam firman-Nya dan mengutamakan persekutuan dengan sesama anggota Gereja. Kita pun harus saling peduli satu dengan lainnya, saling mendoakan, dan saling berbagi; tidak memandang perbedaan dan status sebagai ajang untuk menyombongkan diri. Roh Kudus memimpin kita untuk dalam kebenaran-Nya, hidup kudus, dan hidup yang bersaksi bagi Yesus Kristus.

Salam Bae…

TEOLOGI “UCAP-TINDAK”

Refleksi Iman dan Diri

Sumber gambar: https://id.pinterest.com/pin/349732727311832908/

Tindak (perbuatan) seseorang seringkali diukur dari apa yang diucapkan. Dengan perkataan lain, ucapan lahir dari pikiran yang kemudian terealisasi dalam sebuah tindak. Ukuran kualitas ucap (ujar) seseorang tampak pada tindaknya, sehingga lahirlah slogan: “berani berkata, berani bertindak”, “siapa yang berkata hendaklah ia berbuat”, “apa yang dikatakan harus dilakukan”, dan “tindakan lahir dari pikiran atau ucapan”.

Acapkali kita tersendat dengan tindak nyata. Berucap itu mudah, yang sulit adalah bertindak. Adakah kita mengalaminya? Kita bahkan terbiasa, piawai, atau seperti akrobat di permainan sirkus dalam hal ucapan-ucapan. Kita bahkan menyembunyikan segala dosa tindakan dengan sederet kata-kata indah nan suci bahwa kita tidak berdosa. Laburan marmer putih mengkilap menutupi busuknya tindakan kita sendiri. Kemunafikan menjadi raja di pikiran kita.

Apakah itu mencerminkan sikap hidup Kristen yang baik? Tentu tidak. Ucap yang baik menghasilkan tindak yang baik. Jangan memoles tindak kita yang tidak seberapa dengan ucap yang bombastis. Ada kalanya seseorang berbuat sedikit tapi berbicara besar tentang tindakannya. Ini tidak jujur. Sebaliknya, ada yang berbicara bombastis tapi tindakannya nol besar. Ini kemunafikan belaka.

Lalu apa yang akan dipikirkan, pahami, dan lakukan? Di sini peran Teologi “ucap-tindak” menjadi relevan dan kuat untuk mengoreksi diri kita. Teologi “ucap-tindak” memiliki dasar yang sama dengan apa yang salah jelaskan di atas: “berani berkata, berani bertindak”, “siapa yang berkata hendaklah ia berbuat”, “apa yang dikatakan harus dilakukan”, dan “tindakan lahir dari pikiran atau ucapan”.

Jika kita pernah membaca pernyataan Rasul Yakobus: “iman tanpa perbuatan pada hakekatnya adalah mati”, maka kita tahu navigasi logika mengarah kepada konsistensi iman yang harus melahirkan perbuatan.

Teologi “ucap-tindak” menegaskan prinsip yang sangat fundamental (mendasar), sebab luaran dari ucap seseorang adalah tindakannya. Artinya, seseorang dinilai bukan hanya dari ucapnya, apalagi jika ucapnya itu terkesan mantap, berbobot, dan menarik. Akan tetapi, koherensi ucap-tindak menjadi relevan dan itulah dasar penilaian terhadap seseorang.

Bagaimana dengan kita? Apakah kita pernah berucap lalu lupa bertindak? Apakah tindak yang kita nyatakan lahir dari apa yang kita ucapkan? Apakah iman yang kita ucapkan kepada Tuhan diteruskan dengan tindakan nyata? Ataukah kita hanya bertindak tanpa iman dan beriman tanpa tindakan? Teologi “ucap-tindak” memberi ruang kepada kita untuk melihat dan menilai diri kita sendiri apakah tindak kita selaras dengan ucap kita, ucap kita melahirkan tindak nyata.

Teologi “ucap-tindak” menegaskan beberapa prinsip yang perlu kita perhatikan:

Pertama, ucapan kita seyogianya benar, sesuai fakta, tidak menyimpangan kebenaran, dan ucap kita berdasar pada Alkitab.

Kedua, ucap kita tidak hanya berhenti pada menariknya ucap itu sendiri melainkan dilanjutkan pada realisasi sebab ucap bisa menarik, tapi lebih menarik lagi jika dilakukan.

Ketiga, tindakan kita bukanlah sembarang tindakan. Tindakan itu haruslah dilandasi iman kepada Yesus Kristus. Di sini, antara iman dan perbuatan haruslah solid. Ada banyak perbuatan yang dilakukan oleh orang Kristen, tetapi apakah itu semua berdasar pada iman? Belum tentu. Ada banyak orang Kristen mengaku beriman, tetapi tindak-tanduknya tidak mencerminkan iman itu sendiri.

Keempat, ucap kita menentukan identitas kita. Lebih-lebih lagi tindakan kita. Ada orang yang manis perkataannya tetapi busuk hatinya. Ada orang yang berbicara mengesankan tetapi ia sedang merencanakan sesuatu yang tidak baik terhadap kita. Ada orang yang berbicara dengan tujuan untuk menipu, dan tindakannya yang akan tampak ke permukaan untuk memperlihatkan penipuannya.

Kelima, tindakan kita akan lebih fulgar dinilai ketimbang ucap kita. Jika tindakan kita kotor dan jelek, maka itu akan menjadi luka seumur hidup. Akan tetapi, ketika ucap kita salah, seringkali masih bisa dimaklumi. Lain halnya dengan tindak. Itu akan berbicara lebih kuat di sepanjang sejarah dan tak bisa diralat. Ucap yang salah bisa diralat di kemudian hari, tetapi tindak membunuh orang lain tak bisa diralat di kemudian hari. Keduanya, bisa diselesaikan dengan cara “mengampuni”.

Keenam, Teologi “ucap-tindak” tidak membiarkan pengampunan berjalan sendiri. Justru Teologi “ucap-tindak” menempatkan pengampunan sebagai senjata utamanya. Sesama yang berucap salah, kita ampuni. Sesama yang bertindak salah, kita ampuni. Mungkin kita pernah berucap: marilah kita saling mengampuni, tapi kemudian sulit bagi kita untuk mengampuni sesama. Ini tidak konsisten. Iman Kristen tidak menempatkan tindak balas dendam, melainkan tindak mengampuni karena itulah yang diajarkan Yesus Kristus.

Ketujuh, kehidupan Kristen yang beriman sungguh-sungguh kepada Yesus Kristus menyatakan koherensi dan konsistensi antara ucap dan tindak. Dalam konteks biblika: iman dan perbuatan haruslah konsisten. Kita mengaku beriman kepada Tuhan dan oleh karena itu kita perlu bertindak sesuai dengan kehendak Tuhan.

Adakah kita menyadari bahwa selama ini kita telah salah di hadapan Tuhan dan sesama? Adakah selama ini kita telah berbuat selaras dengan iman kita kepada Tuhan? Teruslah menilai diri sendiri sebelum menilai orang lain; teruslah berbenah diri sebelum membenahi orang lain; dan teruslah bertindak di dalam iman sebab itulah yang berkenan kepada Tuhan.

Salam Bae…

Rancang situs seperti ini dengan WordPress.com
Mulai