GEREJA YANG MEMBAWA INJIL KE SEBERANG: Refleksi Singkat Kisah Para Rasul 16:4-47

Sumber gambar: https://thebowyerbiblegospels.wordpress.com/2018/04/22/philip-de-vere-presents-a-print-from-the-bowyer-bible-sacrifices-are-brought-for-paul-and-barnabas-acts-14_13-1-marillier/

Gereja adalah alat Roh Kudus untuk menyampaikan maksud dan rencana-Nya ke dalam kehidupan orang-orang yang ditentukan-Nya untuk percaya (mendengar dan menerima berita Injil Yesus Kristus). Para Rasul (Paulus dan rekan-rekannya) dipakai Roh Kudus sebagai alat-Nya untuk menyampaikan Kabar Baik. Dalam konteks Kisah Para Rasul 16, Roh Kudus mengarahkan perhatian mereka kepada orang-orang yang telah ditetapkan oleh Roh Kudus, termasuk kepada orang-orang di Makedonia.

Pekabaran Injil terus mengalami perkembangan. Ajaran-ajaran tentang Yesus yang dikabarkan ternyata membawa pengaruh besar terhadap pertobatan manusia yang berdosa dan rindu mendapatkan lawatan Tuhan dalam kehidupan mereka. Ayat 4-5 menegaskan bahwa perkembangan jumlah anggota Gereja, dan juga iman yang diteguhkan disebabkan oleh pengajaran dan konsistensi mengikuti ajaran tersebut, sebagaimana yang disampaikan oleh para rasul.

Dalam proses pekabaran Injil Roh Kudus memimpin para rasul untuk berjuang dalam segala hal agar berita Injil sampai di tempat-tempat yang tidak diperhatikan. Akan tetapi, dalam beberapa kesempatan, Roh Kudus mencegah dan tidak mengizinkan para rasul untuk memberikan Injil di Asia, Misia (ay. 5-7). Roh Kudus mencegah pekabaran Injil karena alasan tertentu.

Alasan tersebut adalah karena Roh Kudus menggerakkan mereka untuk mengabarkan Injil di Makedonia. Ayat 8-10 menyebutkan bahwa Roh Kudus memberikan penglihatan kepada Paulus: “ada seorang berdiri dan berseru: “Menyeberanglah ke mari, dan tolonglah kami!” Orang-orang membutuhkan Injil, membutuhkan pertolongan. Ayat 11-12, menjelaskan bahwa mereka mengikuti petunjuk penglihatan itu. Memang tidak dijelaskan apa yang dilakukan di Makedonia, tetapi berdasarkan fakta sebelumnya, membuktikan bahwa Paulus dan rekan-rekannya melalukan pekabaran Injil, mengajarkan tentang Yesus Kristus, sebagaimana yang mereka lakukan di Filipi.

Paulus pun tiba di Filipi (ay. 13-15) dan melakukan pekabaran Injil rumahan; hal ini membuahkan hasil. Lidia, penjual kain ungu dari Tiatira, menjadi semakin percaya dan dibaptis. Ia sebelumnya beribah kepada Allah (ay. 15) dan Tuhan membuka hatinya sehingga ia paham tentang apa yang disampaikan Paulus.

Konsekuensi dari mengabarkan Injil adalah selalu datang gangguan-gangguan yang tidak diduga sebelumnya. Ayat 16-18, Paulus yang dipimpin Roh Kudus memiliki kuasa untuk mengusir roh jahat (roh tenung) yang merasuki seorang hamba perempuan yang kemudian mengganggu mereka.

Ayat 19-40, menjelaskan mengenai Paulus dan Silas ditangkap karena alasan “hoax”. Mereka dipenjara, tetapi Roh Kudus tetap bekerja melalui mereka di dalam penjara. Kepala penjara menjadi percaya; ia dan seisi rumahnya juga menjadi percaya. Paulus dan Silas dilepaskan.

Buah dari pekabaran Injil mengantarkan kita kepada kondisi bahwa selalu ada lokus yang menjadi prioritas untuk menaburkan benih-benih Injil. Jika demikian, Gereja harus membawa Injil itu ke “seberang”—ke tempat-tempat yang membutuhkan Injil, membutuhkan pertolongan.

Gereja yang benar berarti Gereja itu menunjukkan semangat dalam mengabarkan Injil dan menolong orang-orang yang membutuhkan pertolongan. Gereja tidak boleh diam, tidak boleh berpuas diri dengan apa yang dimilikinya; Gereja harus menjadi berkat melalui perkataan dan perbuatan.

Gerena harus mengabarkan Injil ke “seberang”. Masih banyak orang yang membutuhkan pelayanan,  bahkan pertolongan Gereja . Gereja jangan tinggal diam. Seperti yang dikatakan Yesus kepada para murid-Nya: “Kamu harus memberi makan!” Dengan demikian Gereja juga “harus memberi makan” melalui pengajaran, aturan-aturan Gereja, dan melalui bentuk-bentuk kepedulian sosial.

Salam Bae…

ANAK MANUSIA DI TANGAN MANUSIA: Refleksi Matius 17:22-23

Sumber gambar: https://id.pinterest.com/pin/292522938303092388/

PENDAHULUAN

Teks Matius 17:2-23 menegaskan jabatan Yesus sebagai Nabi. Alasannya sederhana: “Ia menubuatkan kematian dan kebangkitan-Nya.” Dan itu terjadi. Dalam jabatan-Nya sebagai Nabi, Yesus—Anak Manusia—menampilkan sebuah keberanian untuk menubuatkan penderitaan, kematian, kebangkitan, dan kedatangan-Nya di awan-awan. Tidak ada nabi mana pun yang pernah menubuatkan penderitaan, kematian, kebangkitan, dan kedatangan di awan-awan. Di sini, hanya Yesus saja yang melakukannya. Pertanyaannya: mengapa Yesus begitu berani melakukan demikian?

Jawaban atas pertanyaan di atas sangatlah rumit dan mendalam. Tidak hanya sekadar kita mengatakan bahwa karena Yesus memiliki misi khusus yaitu menebus dan menyelamatkan umat-Nya dari dosa-dosa mereka. Tetapi lebih dari itu; Yesus—selain menegaskan identitas misi-Nya ke dunia, Ia juga menegaskan identitas personalitas-Nya: Logos menjadi daging, Logos yang hadir dalam sejarah manusia. Ini luar biasa.

Akan tetapi, yang menjadi pokok diskusi dan percakapan teologis adalah bagaimana bisa Yesus yang adalah Anak Allah dan yang berkuasa, bisa mati? Di satu sisi Ia dipercaya sebagai Anak Manusia dan di sisi lainnya Ia dipercaya sebagai Allah yang berkuasa. Pertanyaan ini menjadi pertanyaan utama dari mereka yang menegasikan ke-Tuhanan (ke-Allahan) Yesus. Seperti yang dicatat dalam Injil-Injil, Yesus sebagai Anak Manusia menegaskan kondisi faktual bahwa Ia adalah manusia seperti pada umumnya. Bedanya adalah Ia berkuasa atas hidup manusia, Ia berkuasa mengampuni dosa, berkuasa membangkitkan orang mati, dan lain sebagainya.

Persoalan kematian Yesus yang dicap oleh non-Kristen bahwa bagaimana mungkin Tuhan bisa mati?, kita tentu akan memberikan jawaban yang benar yaitu: “yang mati adalah kemanusiaan Yesus”. Jadi, apakah ada Tuhan yang mati? Tentu tidak ada. Lalu Yesus yang adalah Tuhan, bukankah Ia mati disalib? Benar, Ia mati disalib, tetapi ke-Tuhanan-Nya tidak ikut mati bersama kemanusiaan-Nya. Sebagai kekuatan dari argumentasi ini, saya menyuguhkan tiga teks penegasnya:

Filipi 2:8, Dan dalam keadaan sebagai manusia, Ia telah merendahkan diri-Nya dan taat sampai mati, bahkan sampai mati di kayu salib.

Ibrani 9:27-28, Dan sama seperti manusia ditetapkan untuk mati hanya satu kali saja, dan sesudah itu dihakimi, demikian pula Kristus hanya satu kali saja mengorbankan diri-Nya untuk menanggung dosa banyak orang. Sesudah itu Ia akan menyatakan diri-Nya sekali lagi tanpa menanggung dosa untuk menganugerahkan keselamatan kepada mereka, yang menantikan Dia.

1 Petrus 3:18, Sebab juga Kristus telah mati sekali untuk segala dosa kita, Ia yang benar untuk orang-orang yang tidak benar, supaya Ia membawa kita kepada Allah; Ia, yang telah dibunuh dalam keadaan-Nya sebagai manusia, tetapi yang telah dibangkitkan menurut Roh.

Kematian Yesus dalam kemanusiaan-Nya menggenapi konsep dan ketentuan penebusan dosa dalam PL sebagaimana yang dilakukan oleh bangsa Israel. Kurban binatang yang darahnya dicurahkan terepresentasikan dalam diri Yesus, Anak Domba yang kudus dan tak bercacat cela. Jadi, frasa “Anak Manusia di tangan manusia” merupakan sebuah penegasan bahwa Yesus datang untuk tujuan penebusan umat-Nya dari dosa-dosa mereka (bdk. Mat. 1:21) dan menderita dan mati disalibkan karena “tangan-tangan manusia”.

Substansi Anak Manusia di Tangan Manusia

Teks Matius 17:22-23 menceritakan tentang Yesus dan para murid-Nya di mana Yesus pasca pemuliaan-Nya di atas gunung (Mat. 17:1-13), menegaskan misi-Nya yang besar untuk dituntaskan. Pada pasal 17:12, Yesus sudah menegaskan bahwa Anak Manusia akan menderita. Dalam kondisi yang sangat terkenal, Yesus—sebelumnya Yesus dimuliakan dan menyembuhkan seorang anak muda yang sakit ayan (17:14-18), bahkan jauh sebelum itu ada banyak mukjizat yang dilakukan Yesus—Yesus malahan menubuatkan penderitaan, penyaliban, kematian, dan kebangkitan-Nya kepada para murid. Dan respons para murid adalah “sedih sekali” (17:23).

Rasa sedih tentu wajar karena mereka sebenarnya tidak menginginkan Yesus menderita dan mati meskipun Yesus menegaskan pula bahwa Ia akan bangkit. Justru para murid tidak melihat kehebatan Yesus di sini, yaitu Ia akan bangkit pada hari yang ketiga. Lalu mengapa mereka sedih? Mungkin karena mereka telah melihat Yesus sangat terkenal dan banyak membuat mukjizat. Padahal, sebagai Anak Manusia, Yesus telah menegaskan kematian-Nya melalui “tangan-tangan manusia”.

Nubuatan Yesus mengenai kematian-Nya merupakan penggenapan nubuatan PL (lihat Yesaya 53). Anak Manusia merujuk pada sebuah identitas inkarnasi (Yoh. 1:14) di mana Logos Ilahi masuk dan tinggal dalam dunia (sejarah manusia). Anak Manusia di tangan manusia adalah sebuah pernyataan bahwa Yesus tidak terpaksa mati melainkan Ia datang untuk misi yang mulia dan agung: menderita, mati, dan bangkit, bagi penebusan, penyelamatan, dan pengampunan umat-Nya.

Penutup

Melalui teks yang kita baca, dapat dipahami bahwa sebagai Anak Manusia, Yesus sekaligus menunjukkan dan memperlihatkan dua identitas (dwi natur) yaitu sebagai Allah (Logos Ilahi) yang berkuasa atas segala sesuatu (atas kematian, atas laut, atas makanan [hidup], atas cipaan-Nya; dan kedua, sebagai Anak Manusia yang akan memberikan diri-Nya menjadi tebusan bagi banyak orang, mencurahkan darah-Nya dan mati dalam keadaan-Nya sebagai manusia untuk misi penebusan, penyelamatan, dan pengampunan umat-Nya.

Kepada kita telah diberikan anugerah yang besar ini. Dan seyogianya kita memperhatikan, memahami, dan merasakan kuasa Tuhan Allah yang menjamah dan mengubah diri dan hidup kita. Menjadi saksi bagi-Nya adalah kewajiban kita. Yesus telah menyelesaikan misi surgawi: Anak Manusia yang mati bagi umat-Nya; Ia bangkit dari kematian, dan Ia kembali kepada Bapa-Nya.

Kitapun mendapatkan tugas dan tanggung jawab yang sama: menjadi anak-anak Allah yang taat dan setia kepada-Nya; tetap menjadi berkat, menolong, menopang, dan menyatakan kepedulian kepada sesama sebagaimana Yesus telah melakukannya.

Soli Deo Gloria

WARTAKAN KABAR DAMAI: Refleksi Markus 16:15

Sumber gambar: https://unsplash.com/photos/mO9vKbG5csg

PENDAHULUAN

Kehidupan Kristen adalah kehidupan yang aktif; kehidupan yang memiliki peran dalam berbagai sendi kehidupan. Di samping itu, kehidupan yang aktif ditandai oleh tujuh aspek yakni: pertama, kehidupan yang memancarkan kasih yang tulus; kedua, kehidupan yang memberkati orang lain; ketiga, kehidupan yang menunjukkan kekudusan; keempat, kehidupan yang menampakkan terang perbuatan; kelima, kehidupan yang menggarami situasi dan kondisi; keenam, kehidupan yang siap menderita; dan ketujuh, kehidupan yang mewartakan Injil sebagai Kabar Baik.

Ketujuh aspek tersebut adalah ‘aktivitas’ iman Kristen—kita dlayakkan Tuhan untuk mampu melakukan tujuh aspek tersebut. Jadi, mau tidak mau, suka atau tidak suka, semuanya harus menjadi aktivitas iman dalam totalitas kehidupan kita. Itulah mengapa tugas mengabarkan Injil menjadi suatu tugas yang signifikan. Yesus telah memberi perintah kepada para murid-Nya, dan kepada kita juga untuk: “Pergi, dan memberitakan Injil—Kabar Baik, kepada semua orang”. Baik Matius dan Markus mengumandangkan substansi yang sama dari kegiatan “pergi” yakni “memberitakan [mewartakan] Kabar Baik.

SUBSTANSI KABAR BAIK

Kabar Baik adalah kabar damai—di mana berita keselamatan yang dikerjakan Tuhan direalisasikan dalam sejarah inkarnasi Yesus Kristus. Perintah mewartakan Kabar Baik [damai] mencakup hal-hal substansial sebagaimana yang dicatat Markus: pertama, Kabaik Baik mengumandangkan “kebangkitan Yesus” (ay. 14); kedua, Kabar Baik mengumandangkan bahwa orang-orang harus percaya kepada Yesus sebagai Tuhan dan Juruselamat (ay. 16); ketiga, Kabar Baik mengumandangkan bahwa Yesus yang dipercaya itu memiliki kuasa yang tak terbatas, kuasa mengusir setan yang diberikan kepada orang-orang percaya; mereka yang mewartakan Kabar Baik tidak akan takut terhadap ancaman: memegang ular, minum racun maut, tidak akan mendapat celaka (ay. 17-18); keempat, Kabar Baik untuk menyertakan kepedulian terhadap orang-orang sakit (ay. 18); kelima, Kabar Baik mengumandangkan “kenaikan Yesus ke surga” (ay. 19) tanda bahwa Yesus yang menderita, disalibkan, dan mati, bukanlah peristiwa yang menindas iman Kristen melainkan merupakan kesatuan peristiwa yang tuntas di mana Yesus telah menyelesaikan kehendak Bapa-Nya untuk menebus dan mendamaikan manusia dengan Sang Bapa.

Penjelasan ayat 15 berikut ini merupakan kesatuan perintah mewartakan Kabar Baik yang mencakup hal-hal substansial sebagaimana yang telah saya sebutkan di atas. Kata “pergilah” [πορευθέντες, poreuthentes] dari kata πορεύομαι [poreuomai], πορεύω [poreuō] adalah kata kerja partisip yang menjadi pendukung dari “pemberitaan Injil”. Kata “beritakanlah” [κηρύσσω, kērussō, to proclaim, preach, memproklamasikan, mengajarkan (Kabar Baik)] adalah kata kerja aoris aktif. Aoris adalah sebuah “tindakan yang terjadi pada masa lampau”. Ini mengacu kepada tindakan yang telah Yesus lakukan dan Ia menghendaki para murid melakukan hal yang sama. Perbuatan yang telah terjadi yakni “memberitakan Injil” sebagaimana yang telah Yesus lakukan, haruslah terus dilakukan secara ‘aktif’. Itulah hidup Kristen yang sesungguhnya sebagaimana telah saya sebutkan di awal. Yesus memberitakan Injil dari kota ke kota dan dari desa ke desa. Kita pun demikian.

WARTAKAN KABAR DAMAI: KERJA IMAN, KERJA NYATA

Mewartakan kabar damai sebagai bagian dari tugas pekabaran Injil adalah wujud dari kerja nyata berdasarkan iman. Di sinilah perpaduan dan konfirmasi bahwa iman dan perbuatan sama-sama direalisasikan. Perbuatan mengabarkan Injil adalah konsekuensi dari iman; iman yang ada haruslah diwujudnyatakan dalam kerja nyata, aktif bersaksi, dan memberitakan Injil dengan berbagai cara. Kerja iman adalah kesadaran diri untuk melakukan apa yang diimani. Itu berarti, seorang Kristen telah melakukan kerja nyata sebagai bagian signifikan dari kehidupan Kristen yang aktif.

Tak ada cukup alasan untuk menolak keaktifan kehidupan Kristen. Seperti yang ditegaskan Rasul Paulus kepada Timotius bahwa, “Beritakanlah firman, siap sedialah baik atau tidak baik waktunya, nyatakanlah apa yang salah, tegorlah dan nasihatilah dengan segala kesabaran dan pengajaran” (2 Tim. 4:2). Apa yang ditegaskan Rasul Paulus mengikuti prinsip Yesus Kristus: “pergi dan mengabarkan Kabar Baik”.

Mewartakan Kabar Baik adalah sebuah tugas mulia sebab kita adalah Lux Mundi [Terang Dunia] (Mat. 5:14, 16). Mewartakan Kabar Baik adalah tugas mulia di mana kita perlu membagikan cinta kasih Tuhan yang telah kita alami kepada sesama, sebagaimana yang ditegaskan Yesus: “pohon yang baik menghasilkan buah yang baik”. Pohon yang baik memberikan buah tanpa memandang bulu; tak peduli siapa yang lewat atau melihat buahnya; tetap berproses untuk menghasilkan buah; memberikan buah yang baik dan membagikan hasil tanpa merasa rugi atau tersakiti. Berbagi Injil tidak menyakiti kita, tetapi justru memberikan sukacita dan kebahagiaan. Itulah kehidupan Kristen yang aktif.

PENUTUP

Pertama, kehidupan Kristen adalah kehidupan yang aktif; kehidupan yang memiliki peran dalam berbagai sendi kehidupan. Karena itu wartakanlah Kabar Baik kepada manusia.

Kedua, perintah Yesus untuk pergi dan memberitakan Injil adalah perintah aktif dan merupakan teladan Yesus yang diwariskan kepada para murid. Yesus sendiri telah melakukan pekabaran Injil semasa pelayanannya.

Ketiga, perintah mewartakan Kabar Baik [damai] mencakup hal-hal substansial: kebangkitan, percaya kepada Yesus, Yesus yang berkuasa dan memberi kuasa kepada orang percaya, kepedulian terhadap sesama, dan kenaikan Yesus ke surga.

Keempat, mewartakan kabar damai adalah wujud dari kerja nyata berdasarkan iman. Ini adalah perpaduan dan konfirmasi bahwa iman dan perbuatan sama-sama direalisasikan.

Salam Bae

KRISTUS DIHAKIMI DAN DIRENDAHKAN KARENA KITA: Refleksi Matius 20:17-19

Sumber gambar: https://fineartamerica.com/featured/the-scourging-tissot.html?product=art-print

Pendahuluan

Allah menyatakan diri dalam sejarah manusia. Kitab Suci mengisahkan bahwa Allah yang transenden menyatakan diri, dan menjadi Allah yang imanen—ada dalam pengalaman manusia. Yang menjadi catatan penting di sini adalah “pengalaman hidup mengenal dan merasakan kasih dan kuasa Tuhan” adalah sebuah kesaksian pribadi setiap orang yang dengannya ia dapat berbicara, mengajar, dan mewartakan tentang Tuhan, kasih, dan kuasa-Nya. Dengan demikian, tanpa pengalaman hidup bersama Tuhan, iman kita menjadi kosong.

Secara kontinuitas, Tuhan Allah terus-menerus membentuk umat-Nya menjadi manusia-manusia yang mengasihi-Nya dan mengasihi sesama dan Kitab Suci mencatat bahwa “orang-orang yang dipanggil-Nya “telah memiliki pengalaman” hidup bersama-Nya. Tuhan menginginkan umat-Nya agar merealisasikan “kasih, keadilan, dan kebenaran” dalam totalitas hidupnya. Hingga akhirnya, mereka mengalami kegagalan demi kegagalan memenuhi tuntutan dan hukum-hukum-Nya. Kegagalan yang mereka alami terkait dengan kuatnya dosa yang mengikat, membelenggu, mendorong mereka untuk melakukan segala bentuk kejahatan di hadapan Tuhan.

Dalam kondisi seperti ini Allah memberikan cara untuk menyelamatkan umat-Nya dari dosa mereka yaitu melalui konsep “pengurbanan anak domba” yang tidak bercacat cela. Konsep penebusan ini berlanjut hingga zaman PB. Pada finalnya, Allah menyatakan diri dengan menjadi manusia (Yoh. 1:14). Yesus Kristus adalah Logos Ilahi yang datang ke dalam dunia ciptaan-Nya. Tak ada yang mustahil untuk membuat diri-Nya menjadi sama dengan manusia. Seperti yang ditegaskan Rasul Paulus bahwa Yesus Kristus “telah mengosongkan diri-Nya sendiri, mengambil rupa seorang hamba, dan menjadi sama dengan manusia. Dan dalam keadaan sebagai manusia, Ia telah merendahkan diri-Nya dan taat sampai mati, bahkan sampai mati di kayu salib (Flp. 2:7-8).

Terkait dengan hal ini, teks yang kita baca (Mat. 20:17-19) menampilkan gambaran tentang nubuatan Yesus tentang penderitaan, kematian, dan kebangkitan-Nya. Dalam konteks itu pula, secara kasat mata “Kristus dihakimi dan direndahkan karena manusia berdosa”. Ia yang adalah Allah yang menjadi manusia, dan kemudian dihina, direndahkan, dicaci (diolok-olok). Fakta ini sekaligus menjadi bagian yang koheren dengan para pengikut Yesus di sepanjang sejarah, bahkan hingga hari ini.

Konteks

Pada pasal 19:27-30 (bdk. Luk. 18:28-30) Yesus menyatakan bahwa diri-Nya—sebagai Anak Manusia—bersemayam di takhta kemuliaan-Nya, kamu, yang telah mengikuti Aku, akan duduk juga di atas dua belas takhta untuk menghakimi kedua belas suku Israel. Tidak hanya soal kedudukan dan kemuliaan yang akan diterima oleh para pengikut-Nya, malahan Ia menegaskan tentang jaminan dari mereka yang “rela”—karena nama Yesus—meninggalkan rumahnya, saudaranya laki-laki atau saudaranya perempuan, bapa atau ibunya, anak-anak atau ladangnya, akan menerima kembali seratus kali lipat dan akna memperoleh hidup yang kekal.

Selanjutnya, pasal 20:1-16 dijelaskan mengenai tuan yang mencari pekerja-pekerja untuk kebun anggurnya, sebuah gambaran tentang mereka (para pekerja) yang berkomitmen (sepakat) untuk melayani Tuhan di dalam ladang pelayanan yang dipercayakan kepada para pekerja-Nya, tanpa merasa “iri hati” kepada mereka yang juga dipanggil Tuhan untuk melayani dengan giat.

Hingga akhirnya, dari serangkaian perbuatan-perbuatan mukjizat, kepedulian, ketegasan, dan prinsip yang Yesus lakukan dan ajarkan, Ia kemudian menubuatkan penderitaan, kematian, dan kebangkitan-Nya. Ini adalah nubuat Yesus yang ketiga. Nubuat pertama terdapat dalam Matius 16:21; nubuat kedua dalam Matius 17:22-23. Semua nubuatan ini substansi dan tujuan sama yaitu Yesus akan menderita, mati disalibkan, dan bangkit pada hari ketiga. Ini sangat luar biasa. Yesus secara rela dihakimi dan direndahkan. Yang terakhir—yaitu kebangkitan-Nya—adalah cara Tuhan menunjukkan kemuliaan dan kekuasaan-Nya atas maut.

Kita tidak hanya berfokus kepada kematian-Nya, sebagaimana yang dirasakan oleh para murid bahwa mereka sedih ketika mendengar nubuatan Yesus tentang penderitaan, kematian, dan kebangkitan-Nya: “Pada waktu Yesus dan murid-murid-Nya bersama-sama di Galilea, Ia berkata kepada mereka: ‘Anak Manusia akan diserahkan ke dalam tangan manusia dan mereka akan membunuh Dia dan pada hari ketiga Ia akan dibangkitkan. Maka hati murid-murid-Nya itupun sedih sekali’” (Mat. 17:22-23). Para murid melupakan nubuatan Yesus tentang kebangkitan-Nya. Padahal, sebelumnya mereka begitu bahagia dan bangga melihat berbagai perbuatan mukjizat yang dilakukan Yesus; rasanya kebahagiaan dan kebanggaan mereka sirna dan bahkan menimbulkan rasa malu ketika Yesus, Guru mereka, akan mati secara tidak terhormat; bagi mereka, hal itu tidak berbanding lurus dengan ketenaran Yesus karena berbagai perbuatan mukjizat yang dilakukan-Nya.

Para murid puas dengan apa yang Yesus lakukan sampai-sampai mereka melupakan misi yang harus dituntaskan Yesus. Meski Ia mati, Ia akan bangkit. Itulah nubuatan Yesus tentang diri-Nya. Meski kematian-Nya merupakan hal buruk bagi para murid—bahkan sampai Iblis, yang merasuki Petrus pun, harus menggagalkan kematian Yesus. Matius 16:21-23 mencatat, bahwa “Sejak waktu itu Yesus mulai menyatakan kepada murid-murid-Nya bahwa Ia harus pergi ke Yerusalem dan “menanggung banyak penderitaan” dari pihak tua-tua, imam-imam kepala dan ahli-ahli Taurat, lalu “dibunuh” dan “dibangkitkan” pada hari ketiga. Tetapi Petrus menarik Yesus ke samping dan menegor Dia, katanya: “Tuhan, ‘kiranya Bapa menjauhkan hal itu! Hal itu sekali-kali takkan menimpa Engkau.’” Maka Yesus berpaling dan berkata kepada Petrus: “’Enyahlah Iblis’. Engkau suatu batu sandungan bagi-Ku, sebab engkau bukan memikirkan apa yang dipikirkan Tuhan, melainkan apa yang dipikirkan manusia.”

Kematian (yang bermakna perendahan) Kristus bukanlah sebuah kabar buruk bagi kita, melainkan sebuah kabar baik, sebab melalui kematian-Nya, Kristus bangkit dari antara orang mati. Maut telah dikalahkan oleh Yesus Kristus, sehingga mereka yang percaya pada-Nya memiliki jaminan bahwa mereka juga akan dibangkitkan oleh Kristus.

Makna dari Kristus dihakimi dan Direndahkan

Dari penjelasan di atas, saya merangkum beberapa makna sebagai berikut: pertama, “Kristus dihakimi” bukan karena Ia lemah dan tak berdaya, melainkan Ia harus menyelesaikan misi penyelamatan manusia dari dosa-dosa mereka; “kelak Ia akan menghakimi dunia” (salah satu klausa dalam Pengakuan Iman Rasuli: “dan Ia akan datang dari sana, untuk menghakimi orang yang hidup dan yang mati [bdk. 2 Tim. 4:1; 4:8; Yoh. 5:22, 27, 30; 8:16; Kis. 10:42; 17:31; 1 Ptr. 4:5); kedua, “Kristus direndahkan” bukan karena Ia rendah, melainkan karena Ia dianggap sebagai orang yang melawan keyakinan agama Yahudi (Yesus juga dilawan oleh imam-imam kepala, ahli-ahli Taurat, tua-tua Yahudi, dan orang-orang Farisi) pada waktu itu; akibatnya, Kristus dihina, disiksa, dan kemudian disalibkan; kebalikannya, Kristus ditinggikan (Yoh. 3:14; 12:32, 34; Kis. 2:33; 5:31; Flp. 2:9); “kelak Ia akan meninggikan” orang-orang yang percaya kepada-Nya (Luk. 1:52; Yak. 4:10); ketiga, “Kristus adalah jaminan keselamatan dan pengampunan” umat-Nya; Ia telah menyerahkan diri-Nya menjadi kurban penebusan dosa yang sempurna, satu kali untuk selama-lamanya.

Lalu, apa yang dapat kita perbuat untuk Kristus? Jadilah garam dan terang dunia, jadilah teladan, dan jadilah pelaku firman, mewartakan Yesus Kristus, keselamatan, pengampunan dan penebusan yang telah dikerjakan-Nya. Itulah tanggung jawab iman yang melekat erat dalam diri orang-orang percaya. Melakukan hal-hal tersebut tentu ada tantangannya. Meski demikian, kita harus meyakini bahwa Tuhan menyertai, menopang, dan memberkati kita semua hingga akhir zaman. Amin!

Salam Bae….

KESELAMATAN HANYA DALAM NAMA YESUS: Refleksi Kisah Para Rasul 4:12-22

Sumber gambar: https://www.kunsthalle-karlsruhe.de/kunstwerke/Matthias-Grünewald/Christus-am-Kreuz-zwischen-Maria-und-Johannes/BFA3025441F9DC4AEF4D8A93E3A788D0/#

Topik keselamatan menjadi menarik untuk diperbincangkan ketika ada pertanyaan demikian: “Apa yang didapatkan seseorang dalam totalitas kehidupannya termasuk akhir dari kehidupannya?” Pertanyaan ini akan menghasilkan beragam jawaban. Jika pertanyaan ini ditanyakan kepada orang-orang Kristen maka minimal jawabannya [akan] mengandung tiga hal: pertama, kehidupan kekal; kedua, keselamatan; dan ketiga, surga. Jika digabungkan ketiga jawaban tersebut, maka akan menjadi demikian: “Setiap orang Kristen yang percaya kepada Yesus Kristus telah ‘diselamatkan’ dan akan menerima ‘kehidupan kekal’ di dalam ‘surga-Nya’ yang kudus.”

Dari perspektif agama-agama, “keselamatan” menjadi bagian penting dan bahkan menjadi tujuan mengapa percaya kepada Yahweh, Allah, Tuhan, Dewa, Ilah, dan lainnya. Maraknya pemahaman keselamatan menggiring pada beragam tafsir terhadapnya. Lebih parahnya lagi, Ada yang dengan murah meriah mempublikasikan keselamatan dengan cara “menjual tiket ke surga”, “memilih gubernur yang tidak seiman, masuk neraka, sedangkan memilih guberner seiman akan masuk surga [selamat tentunya]”, dan sejumlah “jualan kecap politik” yang membonceng agama sebagai obat bius yang dianggap paling mujarab.

Dengan sekejap, tawaran surga menjadi obat bius yang secara masiv merambah ke masyarakat di seluruh Indonesia. Padahal, untuk mencapai surga, haruslah mengikuti ketentuan Tuhan. Anehnya, manusia dengan sesuka hati menggunakan cara yang nyeleneh (asal-asalan) untuk membodohi masyarakat. Tentu “surga” yang dijanjikan itu bukanlah surga yang Tuhan maksudkan. Itu surga khayalan para politikus yang ingin meraup keuntungan. Sayangnya, ada juga masyarakat yang percaya dengan “jualan kecap politik” tersebut.

Keselamatan dalam perspektif Kristen bukanlah keselamatan hasil politik Tuhan; bukan pula sebuah rekayasa yang semu. Keselamatan yang Tuhan berikan adalah keselamatan yang direncanakan sejak kekal, keselamatan yang penuh kuasa, bukan hanya perkataan semata, melainkan keselamatan yang menjamin kekudusan dan kemerdekaan orang-orang percaya dalam Kerajaan Tuhan.

Mungkin kita pernah mengatakan: “kalau ikut Yesus, saya dapat apa?”, atau bahkan pertanyaan ini ditanyatakan langsung kepada Tuhan: “Tuhan, saya ikut Engkau, dapat apa?” Malahan ada yang kecewa dengan Yesus. Mengapa? Karena waktu dia percaya kepada Yesus, dia kecewa karena tidak mendapatkan apa yang diinginkan, dia mendapatkan caci maki, mendapatkan penderitaan, dan lain sebagainya. Kemudian dia bertanya: “Tuhan, mengapa waktu saya memutuskan untuk percaya dan mengikut Engkau, justru penderitaanlah yang saya dapatkan?” Pertanyaan-pertanyaan di atas adalah pertanyaan klasik, yang terus ada dan bergulir dari waktu ke waktu.

Ada berbagai motivasi ketika seseorang mengikut Yesus. Motivasilah itulah yang menjadi ukuran seberapa besar ia mengasihi Yesus dan seberapa mampu ia mengikut Yesus di tengah cercaan dunia yang semakin menggila ini. Akan tetapi, ada satu hal yang paling suprematif ketika kita percaya dan mengikut Yesus, yaitu “keselamatan”.

Teks Kisah Para Rasul 4:12 adalah fokus dari tema khotbah ini: “Dan keselamatan tidak ada di dalam siapapun juga selain di dalam Dia, sebab di bawah kolong langit ini tidak ada nama lain yang diberikan kepada manusia yang olehnya kita dapat diselamatkan.” Tuhan adalah “Juruselamat” satu-satunya. Jika Rasul Petrus mengatakan bahwa di dalam Yesus ada keselamatan, maka secara langsung Petrus menyatakan bahwa Yesus itu adalah “Tuhan”—Juruselamat umat manusia.

Jika kita melihat konteksnya, Petrus dan Yohanes  didatangi imam-imam dan kepala pengawal Bait Tuhan serta orang-orang Saduki, ketika mereka sedang berbicara kepada orang banyak (ay. 1). Orang-orang itu sangat marah karena mereka mengajar orang banyak dan memberitakan, bahwa dalam Yesus ada kebangkitan dari antara orang mati.  Akhirnya Petrus dan Yohanes ditangkap dan diserahkan ke dalam tahanan sampai keesokan harinya, karena hari telah malam (ay. 3). Pekabaran Injil mereka menghasilkan orang-orang yang menjadi percaya. Pada keesokan harinya, Petrus dan Yohanes dihadapkan kepada sidang di Yerusalem yang dihadiri pemimpin-pemimpin Yahudi serta tua-tua dan ahli-ahli Taurat, Imam Besar Hanas dan Kayafas, Yohanes dan Aleksander dan semua orang lain yang termasuk keturunan Imam Besar.

Dalam sidang itu terjadi tanya jawab. Tetapi Petrus menjawab pertanyaan dengan sangat berani (bdk. ay. 13), dan ayat 12 adalah puncak jawaban Petrus. Para peserta sidang tidak dapat membantah Petrus karena mereka melihat orang yang disembuhkan Petrus dan Yohanes berdiri di samping kedua rasul itu (ay. 14, 22, orang yang sudah lebih dari empat puluh tahun umurnya).

Tidak ada yang dapat membantah kuasa nama Yesus. Yesus sendiri telah membuktikan bahwa para pengikut-Nya dibekali dengan kuasa untuk mengadakan mukjizat sesuai kehendak-Nya. Kesempatan bagi Petrus untuk bersaksi di depan banyak orang, membuka peluang bagi siapa saja untuk mempertimbangkan apakah yang diucapkan Petrus benar atau tidak.  Dan ternyata benar, Petrus berbicara sesuai fakta bahwa dalam nama Yesus, orang lumpuh disembuhkan.

Sebagai Juruselamat, Yesus adalah Tuhan. Berbicara mengenai ‘Tuhan’ berarti berbicara tentang ‘kuasa’. Benarkah Yesus berkuasa? Tentu benar. Sebab kematian-Nya berkuasa menebus manusia dari dosa, kebangkitan-Nya berkuasa memberikan jaminan kebangkitan bagi mereka yang percaya kepada-Nya. Tuhan bukanlah fisik sebagaimana yang dipahami Islam. Mereka berpikir bahwa “Tuhan Kristen mati, makan, dan sebagainya” yang mengarah kepada kondisi fisik manusia. Tuhan itu berbicara substansi dari perbuatan-perbuatan yang berkuasa. Yesus berkuasa mengampuni dosa, maka hal itu menunjukkan bahwa Ia adalah Tuhan yang berkuasa. Pemahaman Islam tentang “Tuhan” yang dipahami secara fisik membawa mereka kepada sebuah kesesatan logika yaitu “PALOGISME”, sebuah jenis sesat pikir yang mana yang menyatakan sesuatu tidak tahu bahwa dirinya sesat.

Yesus menunjukkan karya yang luar biasa untuk menyatakan diri sebagai Juruselamat. Sebagaimana Perjanjian Lama menyatakan bahwa unsur penting dalam “keselamatan” dan “pengampunan dosa” adalah “darah” dan “kematian” anak domba (binatang). Mengapa bisa demikian? Karena manusia berdosa kepada Tuhan, dan karena itu, hanya Tuhan yang berdaulat menentukan dan menetapkan bagaimana cara manusia diselamatkan dan diampuni.

Yesus Kristus adalah wujud sempurna dari Juruselamat itu. Ia mati dan mencurahkan darah-Nya bagi keselamatan dan penebusan manusia. Benarlah yang dikatakan Rasul Petrus bahwa: “Sebab kamu tahu, bahwa kamu telah ditebus dari cara hidupmu yang sia-sia yang kamu warisi dari nenek moyangmu itu bukan dengan barang yang fana, bukan pula dengan perak atau emas, melainkan dengan “darah yang mahal”, yaitu “darah Kristus yang sama seperti darah anak domba” yang tak bernoda dan tak bercacat” (1 Ptr. 1:18-19).

Teks di atas berbicara mengenai “darah” dan “kematian” Yesus. Darah menegaskan sebuah “kehidupan” dan kematian menegaskan sebuah “kebangkitan”. Mengenai hal ini Yesus mengatakan: “Akulah kebangkitan dan hidup” (Yoh. 11:25). Jika demikian, keselamatan hanya ada dalam Yesus Kristus”. Mungkin ada yang berkata: “bukankah keselamatan berasal Tuhan, Bapa yang kekal?” Ketika berbicara mengenai hal ini, mau tidak mau kita berurusan dengan teologi Trinitas.

Trinitas memang menimbulkan kebingungan tersendiri. Tidak hanya di kalangan non-Kristen, tetapi di kalangan Kristen pun, Trinitas masih menimbulkan problem. Terkait dengan keselamatan menurut teologi Kristen, maka kita akan berurusan dengan Trinitas, kecuali Yudaisme yang tidak percaya akan Trinitas. Allah yang kekal itu tidak sendirian. Ia kekal bersama Firman-Nya [Logos] dan Roh-Nya. Allah tanpa Firman dan Roh bukanlah Allah. Disebut Allah karena Ia memiliki Firman dan Roh [kata ‘memiliki’ tidak mengindikasikan bahwa Allah sebelumnya tidak memiliki Firman dan Roh. Kata tersebut hanyalah derivasi dari cara memahami yang terbatas terhadap diri Allah. Logika kita hanya dapat merumuskan dengan kata-kata yang terbatas]. Jadi, yang kekal di surga ada tiga: Allah, Firman, dan Roh.

Dalam konteks keselamatan, baik Allah, Firman, dan Roh merepresentasikan satu sama lain. Mengatakan bahwa keselamatan hanya ada dalam Yesus Kristus (Logos Ilahi), hal itu sama dengan mengatakan keselamatan berasal dari Allah [Bapa] dan Roh Kudus. Bapa, Firman, dan Roh Kudus tak bisa dipisahkan. Kita selalu melihatnya berpola trinitarian. Yudaisme tak dapat mengesampingkan Logos Allah yang ada sejak kekal di dalam diri Allah. Jika percaya kepada Allah, maka harus percaya kepada Firman Allah. Jika percaya Allah menyelamatkan, maka kita harus percaya kepada Firman Allah yang menyelamatkan. Dapatkah Allah menyelamatkan tanpa menyatakan Firman-Nya?

Teks Kisah Para Rasul 4 ayat 12 merupakan pernyataan Rasul Petrus bahwa Yesus adalah Juruselamat yang telah membuktikan bahwa Ia telah berkuasa menebus, mendamaikan, menguduskan, membenarkan kita, orang berdosa. Apa yang kita dapatkan ketika kita mengikut Yesus? Tentu keselamatan, kehidupan kekal, dan surga-Nya yang mulia. Ini adalah pengharapan iman kita. KESELAMATAN HANYA DALAM NAMA YESUS.

Salam Bae…

GEREJA YANG BERDIAKONIA: Homili Kisah Para Rasul 2:41-47

Sumber gambar: https://www.countryliving.com/life/g3727/amazing-photos-of-autumn-leaves/

Pendahuluan

“Melayani” adalah ciri khas Kristen (baca: Gereja). Prinsip melayani menekankan bahwa semua orang percaya perlu melayani dan dilayani. Melayani berarti kita peduli kepada orang lain. Dilayani berarti kita membutuhkan pelayan gereja bagi keberlangsungan gereja itu sendiri. Ketika gereja mengabaikan tugas “diakonia” maka ia bukan lagi gereja yang sesungguhnya tetapi gereja palsu—mengatasnamakan Tuhan, tetapi tidak melakukan kehendak Tuhan.

Kitab Suci menjelaskan bahwa Tuhan sangat peduli dengan umat-Nya; Ia mengasihi, mengampuni, bahkan memberkati umat-Nya. Tuhan pula yang memerintahkan kepada umat-Nya untuk melayani-Nya dan menerapkan prinsip cinta kasih dan pengampunan kepada sesama manusia (eksternal) termasuk sesama umat Tuhan (internal).

Dalam konteks ini, gereja diberikan mandat oleh Tuhan untuk melakukan pelayanan. Jenis-jenis pelayanan tentu berbeda tetapi substansinya sama: mengasihi Tuhan dan mengasihi sesama. Gereja mula-mula adalah contoh praktis dan substansial dalam hal ber-“diakonia”. Gereja yang melayani bukan hanya secara penampilan luarnya, kelihatan sibuk sana-sini, tetapi melayani di dalam persekutuan itu sendiri. Pelayanan bersifat internal dan eksternal. Internal adalah bagi sesama anggota gereja, dan keluar (eksternal) bagi sesama manusia yang perlu ditolong, didoakan, dan diperhatikan, agar mereka turut merasakan jamahan cinta kasih dan pengampunan Yesus Kristus; hidup mereka berubah menjadi hidup yang kudus, penuh syukur, dan menjadi berkat bagi orang lain pula.

Dari teks yang kita baca, dua pelayanan yakni internal dan eksternal secara nyata dipublikasikan: pertama, bertekun (internal); kedua, bersekutu (internal); dan ketiga, memancarkan sikap hidup yang baik (eksternal). Dari ketiga jenis pelayanan tersebut, dua pelayanan internal yang dimaksudkan untuk memperkokoh pemahaman dan iman kepada Yesus Kristus, kemudian setelah matang dalam pemikiran (pemahaman) dan iman, maka para pelayan (anggota gereja) diperintahkan keluar untuk melayani sesama.

Gereja yang Berdiakonia

  1. Bertekun (ay. 42).

Prinsip bertekun yang dilakukan oleh para pengikut Yesus adalah “bertekun dalam pengajaran rasul-rasul”. Pengajaran adalah pondasi dari pelayanan. Apalah gunanya melayani tapi kita tidak tahu apa makna dari pelayanan? Pengajaran-pengajaran itu sangat dibutuhkan karena kita hendak memberikan pertanggungan jawab kepada orang lain tentang iman kepada Yesus.

  • Bersekutu/berkumpul (ay. 46).

Bersekutu tanda adanya “persatuan” (bdk. ay. 44). Bersekutu tanda kesehatian. Di mana ada kesehatian di situ ada perkembangan dan kemajuan penginjilan. Ketika persatuan terjadi, maka semangat berjuang dalam memberitakan Injil akan semakin membara. Persekutuan adalah wadah yang sangat baik bagi kemajuan Injil dan kekuatan iman. Di situ sesama anggota gereja bisa saling mendoakan, menopang, menyatakan kepedulian (saling berbagi, sebagaimana tampak dalam ayat 44-45). Ini sungguh luar biasa. Kasih mempersatukan dalam persekutuan dan kasih menjadi tampak ketika kepedulian terjadi.

  • Memancarkan sikap hidup yang baik (ay. 47).

Frasa “mereka disukai semua orang” adalah tanda bahwa gereja mula-mula telah melakukan dan merealisasikan hidup yang penuh kasih, cinta damai, hidup yang peduli, dan hidup yang kudus. Gereja tidak hanya sibuk memperkaya diri sendiri dan sibuk membesarkan pelayanan di dalam, melainkan gereja juga harus sibuk untuk membawa keluar kekayaan dalam persekutuan kepada sesama manusia yang membutuhkan, baik di kota-kota maupun di desa-desa. Gereja menjadi gereja yang sesungguhnya ketika ia terlihat melayani “keluar” dari kandangnya. Gereja tidak hanya “berani kandang”, tetapi siap berlaga di medan yang lebih besar dan lebih luas, bahkan lebih liar. Ajaran-ajaran Kitab Suci tidak hanya menjadi beku dalam kulkas hati kita, tetapi ajaran-ajaran tersebut harus dicairkan—yang berarti pintu kulkas hati dibiarkan terbuka.

Penutup

Gereja yang berdiakonia adalah gejera yang bertekun dalam pengajaran, gereja yang bersekutu, dan gereja yang menampakkan teladan (sikap hidup yang baik). Kekristenan tidak akan semakin dihina ketika gereja melayani dengan benar, menampilkan hidup kudus. Meski ada kasus-kasus tertentu yang mencoreng wajah Kristen, tetapi itu bukanlah ajaran Yesus. Hidup kudus berarti hidup yang terjauhkan dari segala jenis kejahatan.

Meski beberapa hari lalu ada kasus pembunuhan yang dilakukan seorang Pendeta bernama Henderson Sembiring terhadap keponakannya yang bernama Rosalia Siahaan, dibunuh di kamar mandi Gereja Sidang Roh Kudus Indonesia (GSRI) Limau Manis, Deliserdang, Kamis 31 Mei 2018, hal itu bukanlah menyatakan bahwa semua pendeta pembunuh dan tidak hidup dalam kekudusan. Itu oknum, bukan agama. Kitab Suci tidak mengajarkan demikian, tetapi justru mengajarkan untuk hidup kudus. Gereja yang menjaga kekudusan hidupnya dari segala macam hawa nafsu jahat dan berbagai jenis kejahatan adalah wujud dari gereja yang bertekun dan bersekutu serta melayani sepanjang waktu.

Gereja yang berdiakonia seyogianya menampakkan wajahnya yang mengasihi, mengampuni, cinta damai, dan hidup kudus. Marilah semua umat Tuhan untuk setia kepada Tuhan, bertekun dalam pengajaran-pengajaran Kitab Suci, rajin bersekutu, dan menjadi garam dan terang dunia di mana pun kita berada. Soli Deo Gloria.

Salam Bae…

KESETIAAN KEPADA TUHAN SANGATLAH MAHAL HARGANYA: Refleksi Hakim-Hakim 2:6-23

Sumber gambar: https://id.pinterest.com/pin/370421138071690355/

PENDAHULUAN

Kitab Suci menyatakan bahwa “Tuhan adalah penyayang dan pengasih, panjang sabar dan berlimpah kasih setia” (Mzm. 103:8). Jika kita merenungkan pernyataan tersebut, maka secara sadar—dengan iman—kita mengakui bahwa memang Tuhan itu berlimpah kasih setia. Mereka yang mengakuinya adalah orang-orang yang telah merasakan bahwa Tuhan itu berlimpah kasih setia. Pengalaman hidup bersama-Nya adalah “saksi” bahwa Ia begitu mengasihi dan menunjukkan kasih setia-Nya.

Di sisi lain, kasih setia Tuhan yang berlimpah itu seringkali tidak ditanggapi secara serius oleh orang-orang Kristen tertentu. Mereka mengalihkan kesetiaannya bukan lagi kepada Tuhan, melainkan pada sesuatu hal. Fenomena ini menjadi catatan penting untuk mengoreksi diri kita dan sedapat mungkin menyadari serta berbalik kepada Tuhan yang berlimpah kasih setia itu.

Kesetiaan kepada Tuhan memang mahal harganya. Konteks ini merefleksikan kondisi bangsa Israel dan juga kita yang hidup di zaman sekarang ini. Kita dapat belajar dari bangsa Israel, dari diri kita, dan sesama yang hidup di zaman ini. Proses belajar menjadi konteks yang signifikan. Dari belajar itulah kita mendapatkan banyak hal yang bisa mempengaruhi pola pikir dan pola hidup yang benar di hadapan Tuhan.

Bertolak dari sejarah bangsa Israel, secara khusus dalam konteks Hakim-Hakim 2:6-23, kita memahami bahwa bangsa Israel tidak menunjukkan kesetiaan-Nya kepada Allah. Mereka mengingkari komitmen untuk setia kepada-Nya; mereka memberontak, melawan Dia, berzina dengan menyembah ilah lain, tetapi Allah tetap menunjukkan kasih setia dan pengampunan-Nya.

KONTEKS DAN MAKNA

Bacaan Hakim-Hakim 2:6-23 memberikan kisah yang menarik yang memiliki kandungan edukasi bagi kita di zaman ini. Bangsa Israel yang adalah umat pilihan Allah tidak lepas dari “jatuh bangun dalam mengikuti-Nya”. Di satu sisi mereka menyatakan pertobatan kepada Allah, dan di sisi lain—karena pengaruh ketidaktahuan tentang sejarah penyataan dan penyertaan Allah bagi Israel—mereka akhirnya menyembah para Baal (ay. 10-11), dan dengan demikian mereka berzina, mengingkari kesetiaan dan kekudusan mereka terhadap-Nya.

Tidak hanya berzina, mereka malahan meninggalkan Allah dan mengikuti ilah lain (dari sekeliling mereka). Lebih dari itu, mereka menggantikan penyembahan mereka yang dulunya kepada Tuhan Allah, dialihkan kepada ilah-ilah lain, sehingga mereka menyakiti hati-Nya (ay. 12).

Dikatakan di ayat 7 bahwa bangsa Israel beribadah kepada Allah sepanjang zaman Yosua. Itu berarti “kepemimpinan dan ketegasan serta teladan Yosua memberikan pengaruh bagi bangsa Israel yang dipimpinnya.” Yosua adalah salah satu contoh pemimpin yang mengarahkan umat Israel untuk setia kepada Tuhan (bdk. Yos. 24:14-15, “…. Tetapi aku dan seisi rumahku, kami akan beribadah kepada Tuhan.” Pasca Yosua menegaskan bagaimana prinsip untuk setia dan berkomitmen kepada Tuhan, maka bangsa itu menjawab: “Jauhlah dari pada kami meninggalkan Tuhan untuk beribadah kepada ilah lain!” (Yos. 24:16) dan disusul dengan pernyataan: “Tidak, hanya kepada Tuhan saja kami akan beribadah” (Yos. 24:21).

Berangkat dari ikrar mereka di atas, maka pada Hakim-Hakim 2 terutama ayat 7, dituliskan bahwa bangsa itu beribadah kepada Tuhan. Jika melihat fenomena peralihan dari penyembahan dari Tuhan ke para Baal maka penyebabnya adalah adanya pengaruh dari “orang-orang Israel yang tidak mengenal Tuhan dan karya-karya-Nya yang dilakukan-Nya bagi orang Israel”. Kita melihat faktanya bahwa ternyata “pengetahuan tentang Tuhan” memiliki pengaruh luar biasa bagi kehidupan manusia yaitu mengarahkannya untuk taat dan setia kepada-Nya; dan “ketidaktahuan tentang Tuhan” juga memiliki pengaruh yang menjadikan manusia “raja” bagi dirinya sendiri, memuaskan hawa nafsunya, dan ingin bebas melakukan apa saja, termasuk melakukan apa yang dilarang Tuhan.

Ini menjadi semakin menarik. Antara memiliki pengetahuan tentang Tuhan dan tidak memiliki pengetahuan tentang Tuhan menjadi dua kubu yang saling bertolak belakang. Bahkan yang lebih menarik lagi adalah ketika ada orang-orang yang memiliki pengetahuan tentang Tuhan tetapi perilakunya menipu, merendahkan orang lain, dan melakukan tindak kejahatan. Singkatnya, memiliki perilaku yang bertentangan dengan firman Tuhan. Ini tentu sangat berbahaya.

Mereka yang memiliki pengetahuan tentang Tuhan, yang mengalami kuasa dan kasih-Nya, mendapat kesempatan melihat segenap perbuatan Tuhan yang besar. Bangsa Israel pun demikian. Yosua telah berjuang seumur hidupnya untuk menyenangkan hati Tuhan dan menjaga kesetiaannya kepada Tuhan. Dia tahu, kesetiaan itu mahal harganya. Tak bisa digantikan dengan yang lain yaitu baal-baal dan ilah-illah lain.

Yosua mati umur 110 tahun (ay. 8), dan pastinya, ia telah memberikan teladan kesetiaan; ia setia mengikut Tuhan dan berbakti pada-Nya. Ia dan seisi rumahnya telah menjadi contoh yang kuat dalam hal komitmen untuk tetap setia kepada Tuhan. Apa yang ditabur Yosua memiliki pengaruh yang luar biasa bagi generasi di zamannya. Meski pada akhirnya, muncul problem yang serius yaitu bangkitnya angkatan lain yang tidak mengenal Tuhan (ay. 10); mereka memberontak melawan Tuhan. Hal itu disebabkan memang mereka tidak mendengar atau mengetahui mengenai perbuatan-perbuatan Tuhan (kontra dengan tradisi Israel pada Ulangan 6:4). Atau ada kemungkinan lainnya yaitu mereka mungkin saja tahu tentang Tuhan tetapi kehidupan yang mereka alami tidak seperti yang mereka “harapkan”. Biasanya mereka ini kecewa dengan Tuhan. Tapi itu hanyalah kemungkinan saja.

Yang dilakukan generasi yang baru adalah meninggalkan Tuhan, menyembah para baal dan ilah-ilah lain (mereka melakukan apa yang jahat di mata Tuhan [ay. 11-12]). Di sini, penekanannya adalah “ketika seseorang beribadah kepada baal atau ilah lain, maka karakter (yang dilekatkan padanya) atau identitasnya akan menjadi panutan bagi mereka yang menyembahnya. Sebaliknya, mereka yang menyembah Tuhan akan mengikuti identitas dan sifat-sifat Tuhan untuk mereka aplikasikan dalam kehidupan mereka.

Angkatan yang baru melupakan sejarah tentang Allah (yang membawa mereka keluar dari tanah Mesir), dan mengikuti ilah lain; mereka menyakiti hati-Nya. Tentu Ia tidak tinggal diam. Ia murka (ay. 14-15). Ia bertindak. Dosa memiliki konsekuensi. Jangan dikira bahwa setelah melakukan dosa maka tidak terjadi apa-apa. Israel merasakan konsekuensi dari dosa dan pemberontakan mereka. Tuhan menyerahkan mereka ke dalam tangan perampok dan menjual mereka kepada musuh di sekeliling mereka, sehingga mereka tidak sanggup lagi menghadapi musuh (ay. 14-15).

Dalam kondisi kekalahan bangsa Israel, Allah tetap menunjukkan kepedulian-Nya dengan cara menolong mereka (ay. 16-19): “membangkitkan hakim-hakim.” Tetapi mereka malahan lebih memilih memberontak dan melawan Allah. Padahal Ia telah menyelamatkan mereka. Malahan mereka menunjukkan sikap tegar tengkuk: sadar, menyesal, lalu berbuat lagi, sadar, berbuat dosa lagi. Mereka tidak benar-benar menjaga kesetiaannya kepada-Nya. Di sini kita melihat bahwa Tuhan juga menunjukkan bentuk kemarahan-Nya, bukan karena Ia tidak mengasihi melainkan bangsa Israel “menolak” didikan-Nya (ay. 20-23).

Tuhan selalu datang dengan kasih dan pengampunan-Nya, tetapi seringkali umat-Nya tidak mengindahkannya dan memilih jalannya sendiri. Tuhan seringkali membuka pintu pertobatan, tetapi umat-Nya kadang-kadang menolaknya. Tuhan menyatakan pertolongan-Nya dengan mengutus hakim-hakim, tetapi mereka tidak dihiraukan. Setelah hakim-hakim mati, mereka kembali berbuat jahat. Mereka sadar sementara, dan kambuh lagi, sadar lagi, kambuh lagi. Seolah-olah komitmen dan kesetiaan menjadi barang mainan. Lebih dari itu semua, kasih setia Tuhan itu berlimpah; meski Ia mengasihi umat-Nya, tapi Ia juga menghukum mereka yang tidak taat dan tidak setia (melawan) kepada-Nya.

CATATAN REFLEKSI

  1. Mengingkari janji atau komitmen adalah fakta yang kita lihat pada orang lain maupun pada diri kita sendiri. Ada alasan tertentu mengapa “kita atau orang lain” mengingkari atau tidak menepati janji maupun komitmen kita. Dalam bingkai kehidupan manusia, kadang-kadang hal tersebut dianggap biasa. Tetapi bagaimana ketika kita mengingkari janji kita kepada Tuhan?
  2. Jika bangsa Israel mengalihkan penyembahannya kepada para baal dan ilah lain, apakah di zaman ini, kita juga berpotensi—secara sadar—mengalihkan penyembahan kita kepada “teknologi”?
  3. Satu hal yang pasti, kasih dan rahmat Tuhan tiada henti-hentinya dirasakan oleh umat-Nya, termasuk kita yang hidup di zaman ini. Kesetiaan itu sangatlah mahal harganya. Ada komitmen dalam sebuah kesetiaan; ada harapan masa depan di dalam sebuah kesetiaan; dan ada keyakinan di dalam kesetiaan.
  4. Kesetiaan itu bukanlah barang mainan; kesetiaan itu adalah keputusan tertinggi kita, ketika kita menyatakan bahwa “Tuhan, aku akan tetap setia kepada-Mu”.
  5. Ingatlah pernyataan dalam sebuah lagu yang dinyanyikan oleh Grezia Epiphania yang berjudul “Tetap Setia”: “Sampai akhir ku menutup mata, ku tetap setia menanti janji-Mu, sampai kudapatkan makhota kehidupanku; ku tetap setia ‘tuk melayani-Mu.” TETAPLAH SETIA KEPADA TUHAN; IA TELAH BERBUAT BAIK KEPADA KITA

Salam Bae….

JANGAN JEMU-JEMU BERBUAT BAIK: Refleksi Galatia 6:1-10

Sumber gambar: https://id.pinterest.com/pin/789537378418852913/

PENDAHULUAN

Melakukan perbuatan baik memiliki alasan tertentu. Ada berbagai alasan yang dapat dipegang seseorang ketika ia berbuat baik. Berbuat baik memiliki konteks dan definisi tersendiri. Kadang kala, latar budaya, agama, dan lingkungan menjadi bagian penting dari bagaimana seseorang mendefinisikan apa itu “berbuat baik”.

Dalam pandangan Kitab Suci, berbuat baik itu, didasarkan pada apa yang dikehendaki Tuhan. Dengan demikian, kita mengikuti standarnya Tuhan. Perbuatan baik memiliki konsekuensi yang dapat menjadikan totalitas kehidupan orang percaya. Dengan berbuat baik, maka kita telah memperlihatkan konsistensi dari pemahaman kita tentang firman Tuhan: pemahaman melahirkan tindakan; berbuat baik lahir dari pemahanan akan firman Tuhan.

Pada tataran berbuat baik, Tuhan mengajarkan umat-Nya untuk taat akan perintah-Nya dan menjauhi larangan-larangan-Nya. Umat percaya diarahkan Tuhan untuk tetap berada pada jalur yang benar. Namun, dalam proses berbuat baik, ada halangan dan hambatan yang bisa mengganggu atau menghambat perbuatan-perbuatan baik kita.

Meski demikian, umat Tuhan harus tetap berbuat baik, kapan pun, di mana pun, dan dalam situasi apa pun. Apa  yang dituliskan oleh Rasul Paulus dalam Galatia 6:1-10 dapat menjadi dasar bagaimana kita—sebagai umat Tuhan—untuk berbuat baik dengan tidak jemu-jemu (tidak bosan). Kepentingan berbuat baik bukan karena kita mendapatkan sesuatu, melainkan karena kita “diciptakan dalam Yesus untuk melakukan pekerjaan baik, yang dipersiapkan Tuhan sebelumnya” (Efesus 2:10).

POKOK-POKOK PENTING

       Tidak mudah untuk berbuat baik dengan tidak jemu-jemu. Kadang, perbuatan baik kita terjadi secara musiman dan berkondisi, ketimbang tulus dan murni, tanpa mengharapkan imbalan. Apalagi ketika kita berbuat baik lalu disalahpahami. Ini sangat menyakitkan.  Ada pula mereka yang berbuat baik dengan motivasi terselubung malahan mendapat pujian yang berlebihan. Ini adalah kesalahpahaman yang juga sangat menyakitkan.

       Meskipun kita tahu bahwa ada berbagai masalah dalam kehidupan manusia di mana yang jahat seringkali mengganggu mereka yang berbuat baik, namun yang pasti perbuatan baik kita tidak terbuang percuma. Tuhan memperhitungkan segala perbuatan baik kita. Hal ini membawa kita kepada pokok-pokok penting mengenai perbuatan baik seperti yang tampak dalam bacaan kita.

  1. Ketika ada seorang yang melakukan suatu pelanggaran, maka seorang yang rohani, harus memimpin orang itu ke jalan yang benar dalam roh lemah lembut, sambil menjaga diri supaya jangan kena pencobaan (ay. 1). Anggota Gereja yang bermasalah atau yang menimbulkan masalah (membuat pelanggara) tidak boleh dibiarkan, melainkan diarahkan, dibimbing untuk kembali jalan yang benar sesuai dengan kehendak Tuhan.
  2. Bertolong-tolong dalam menanggung beban sesama anggota Gereja di Galatia, sebagai realisasi dari hukum Kristus (ay. 2) adalah jenis perbuatan baik yang umum. Arinya, perbuatan baik yang pertama-tama dilakukan dalam komunitas Gereja adalah kepada anggota Gereja itu sendiri. Jangan “bergaya” ingin berbuat baik kepada orang lain di luar Gereja padahal anggota Gereja sendiri engkau lupakan. Ada pepatah berbunyi begini: “Jangan bermimpi bintang di atas langit, rumput di bumi engkau tak tahu; jangan berkhayal mutiara di lautan, pasir di pantai kau lupakan”. Pepatah tersebut hendak menegaskan bahwa jangan bermimpi untuk melalukan sesuatu di luar lingkungan kita, sedangkan lingkungan kita sendiri dilupakan (diabaikan), atau dalam konteks pelayanan Kristen: “jangan bermimpi berbuat hal besar di luar Gereja sedangkan di dalam Gereja dilupakan.”
  3. Mereka yang merasa bahwa ia berarti tetapi pada kenyataannya ia tidak berarti, ia menipu dirinya sendiri (ay. 3). Demikian juga mereka yang memiliki potensi tetapi tidak menerapkan potensinya maka ia dianggap menipu dirinya sendiri. Jadi, berbuat baik haruslah didasarkan pada kesadaran diri apakah sudah baik atau belum.
  4. Setiap orang harus menguji pekerjaannya sendiri dan puas dengan apa yang ada pada dirinya ketimbang iri dengan apa yang dimiliki orang lain (ay. 4). Setiap orang bertanggung jawab atas dirinya dan pekerjaannya sendiri (ay. 5). Jika seseorang merasa sudah menerapkan tugas dan tanggung jawab, barulah ia dapat menyatakan hal ini di luar dirinya. Dengan demikian, kita adalah adalah teladan dalam berbuat baik bagi orang lain.
  5. Berbagi dengan orang yang mengajar dalam Firman (ay. 6). Kita harus berbuat baik dengan orang pernah berjasa kepada kita, apalagi kepada mereka yang pernah mengajarkan kita tentang firman Tuhan.
  6. Kebaikan ditabur, kebaikan pula yang dituai: “Apa yang ditabur itulah yang dituai” (ay. 7-8). Artinya seorang yang menabur kebaikan akan menuai (menerima) kebaikan pula. Jangan jemu-jemu berbuat baik (ay. 9) disebabkan karena jika kita menabur kebaikan maka akan menuai kebaikan. Oleh sebab itu, sangatlah tepat jika terus berbuat baik dengan tidak jemu-jemu.
  7. Dalam waktu dan kesempatan yang diberikan Tuhan, kita harus selalu berbuat baik kepada semua orang, dan terutama kepada kawan-kawan seiman dalam komunitas Gereja (ay. 10). Jangan berpikir bahwa kita akan dapat berbuat baik kepada orang lain di luar komunitas dengan mengabaikan sesama di dalam komunitas Gereja. Itu sangat buruk. Jika mau berbuat baik, dimulailah dulu dari dalam Gereja sendiri. Jangan dibalik. Jangan munafik.

DASAR BERBUAT BAIK DENGAN TIDAK JEMU-JEMU

Untuk dapat berbuat baik dengan tidak jemu-jemu (tidak bosan-bosan), maka orang Kristen harus memahami secara benar mengenai hal-hal berikut:

Pertama, percaya kepada Injil Yesus Kristus yaitu Injil yang memberikan pedoman tentang iman dan iman kepada Tuhan yang hidup dan berkuasa, pedoman bagaimana mengasihi sesama dan mendoakan musuh-musuh, pedoman berbuat baik dan masih banyak lagi (bdk. Gal. 1:6-10).

Kedua, iman kepada Yesus Kristus (bdk. Gal 3:26).

Ketiga, hidup dalam iman kepada Yesus yaitu hidup sebagai ahli waris (bdk. Gal. 4:1-7).

Keempat, hidup dalam kemerdekaan karena Yesus Kristus (bdk. Gal. 5:13). Artinya hidup yang mengutamakan kasih terhadap Tuhan dan sesama.

Kelima, hidup dalam pimpinan Roh Kudus (bdk. Gal. 5:16-26), di mana orang percaya harus menampilkan gaya hidup yang kudus, yaitu menghindari dan menolak hidup yang tidak berkenan kepada Tuhan seperti: percabulan, kecemaran, hawa nafsu, penyembahan berhala, sihir, perseteruan, perselisihan, iri hati, dan sebagainya (Gal. 5:19-21a).

Ketika kelima aspek di atas dipahami dan dilakukan maka dijamin, kita pasti dapat berbuat baik dengan tidak jemu-jemu. Di sini, berbuat baik bukan karena ada maksud tertentu untuk mencari dan mendapatkan keuntungan melainkan karena dorongan dari kelima aspek di atas.

PENUTUP

       Tuhan telah berbuat baik kepada kita, maka kita mendapatkan dasar penting tentang mengapa kita berbuat baik dengan tidak jemu-jemu. Tuhan memampukan kita untuk melalukan perbuatan-perbuatan baik yang selaras dengan kehendak-Nya, dan dengan demikian, hati Tuhan disenangkan, dan nama Tuhan dimuliakan. Ingatlah apa yang dikatakan Yesus: “Demikianlah hendaknya terangmu bercahaya di depan orang, supaya mereka melihat perbuatanmu yang baik dan memuliakan Bapamu yang di sorga” (Matius 5:16).

       Teruslah berbuat baik dengan tidak jemu-jemu, meski kadang kita diperlakukan tidak baik. Yesus telah menunjukkan teladan yang sempurna: Ia berbuat teramat baik, meski Ia sendiri pada akhirnya harus dibunuh. Para rasul, termasuk Rasul Paulus, telah menunjukkan teladan dalam berbuat baik, meski pada akhirnya mereka dibunuh. Perbuatan baik memiliki pengaruh yang besar. Di dalam perbuatan baik, terdapat kasih yaitu kasih yang memberi dan kasih yang mengampuni. Karena itu, “jangan jemu-jemu berbuat baik”. Tuhan menetapkan kita untuk menjadi pelaku-pelaku kebaikan.

Soli Deo Gloria

MENJADI SERUPA DENGAN DIA: Refleksi Filipi 3:4-11

Sumber gambar: https://id.pinterest.com/pin/384494886916988013/

Pendahuluan

Menjadi “serupa dengan Yesus” adalah harapan orang-orang percaya. Tetapi ketika menjadi serupa dengan Yesus yang dimaksudkan adalah “serupa [summorphizomenos, being conformed, menjadi sesuai/selaras] dalam kematian-Nya” (3:10), maka mungkin saja harapan itu menjadi berubah. Apalagi ini soal kematian. Hal itu tergantung pada kita yang memahami panggilan dan kesetiaan kepada Tuhan Yesus.

Pertanyaannya: kematian seperti apa yang dimaksudkan Rasul Paulus? Apakah “serupa dalam kematian Kristus mengindikasikan proses Yesus mati, proses penderitaan Yesus hingga kematian-Nya, proses penyaliban yang kemudian Dia menyerahkan diri-Nya kepada Bapa dan Ia mati? Ataukah frasa “serupa dengan Yesus” adalah konfirmasi faktual—imaniah bahwa hal itu dapat diwujudkan ketika Rasul Paulus mengenal Yesus secara baik, mengenal dan memahami kuasa kebangkitan Yesus dan persekutuan dalam penderitaan-Nya?

Kita akan melihat bagaimana konteks ini menjadi begitu penting ketika iman kepada Yesus digiring kepada “pengenalan akan pribadi Yesus” dan “pemahaman akan karya-karya Yesus” bagi orang percaya. Sejatinya, pribadi dan karya Yesus menjadi tolok ukur iman Kristen yang pada gilirannya, setiap orang percaya akan berurusan dengan “penderitaan”, “perjuangan”, dan “penerapan kasih” yang tulus.

Menjadi “serupa dengan Yesus” tidak bisa dilepaskan dari kesadaran iman bahwa kita harus melakukan segala sesuatu dengan baik dan sesuai dengan kehendak (firman) Tuhan (bdk. 2:14-15) sehingga kita memacarkan sikap hidup yang benar dan tidak bercela (bdk. Mat. 5:16 “Demikianlah hendaknya terangmu bercahaya di depan orang, supaya mereka melihat perbuatanmu yang baik dan memuliakan Bapamu yang di sorga). Ketika kita menjadi serupa dengan Kristus maka itu berarti kita tinggal di dalam Kristus (ἐν Χριστῷ).

Bahkan, menjadi “serupa dengan Yesus” berarti bersukacita dalam keadaan apa pun (bdk. 2:16-18), “mencari kepentingan Kristus Yesus” di atas kepentingan yang lain (2:21). Kristus telah berkarya dalam kehidupan umat-Nya, dan dengan demikian, ketika mencari kepentingan Kristus di atas segalanya, kita sedang menempatkan iman kita kepada sebuah harapan yang mulia. Menduakan Kristus dalam hidup akan menjadikan kita sengsara.

Rasul Paulus pernah berkata: “Pikirkanlah perkara yang di atas, dan bukan yang di bumi.” Meski kita hidup di bumi, tidak semata-mata hanya memikirkan soal makan minum, tetapi lebih dari itu—seperti yang Yesus katakan: “Carilah dahulu kerajaan Tuhan dan kebenarannya, maka semuanya akan ditambahkan kepadamu”.

Menjadi Serupa dengan Yesus dalam Perjuangan Injil

Pertama, menjadi “serupa dengan Yesus” berarti setia dalam segala hal termasuk menolong sesama yang membutuhkan terutama dalam pelayanan Injil. Pula rela melewati berbagai tantangan yang berat sekalipun (Rasul Paulus memberi contoh mengenai dua orang yang melakukan hal ini yaitu Timotius [2:19-21] dan Epafroditus [2:25-30]).

Kedua, menjadi “serupa dengan Yesus” berarti tahu dan sadar bahwa tantangan internal maupun eksternal selalu dan pasti ada. Mengapa demikian? Sebab pelayanan dan pekabaran Injil akan menjadi berbuah dan berpengaruh ketika tantangan dan hambatan datang menghadang. Bahkan lebih dari itu, Tuhan seringkali mengizinkan tantangan dan hambatan hadir dalam pelayanan dan pekabaran Injil-Nya sehingga konsep dan konteks “berjuang”, “berusaha”, “semangat”, “berdoa dan berhadap” akan muncul secara otomatis.

Rasul Paulus mencermati fenomena ini. Ia berkata (3:2): “Hati-hatilah terhadap anjing-anjing, hati-hatilah terhadap pekerja-pekerja yang jahat, hati-hatilah terhadap penyunat-penyunat yang palsu.” Bukankah pada setiap konteks kita masing-masing, selalu ada hambatan dan tantangan?

Ketiga, menjadi “serupa dengan Yesus” berarti mengutamakan Kristus dalam segala sesuatu. Memang kita butuh segala sesuatu, tetapi jangan sampai fokus dan arah hidup bahkan pelayanan kita tertuju pada segala sesuatu. Ada orang yang mengatakan: “segala sesuatu butuh uang”. Tetapi harus diingat bahwa: “uang bukanlah segala sesuatu”. Kristus di atas segala-galanya. Ini yang terpenting (bdk. 3:7-9, di mana Paulus menggangap rugi segala sesuatu yang dia alami dan miliki di masa lampau dan dianggap rugi karena Kristus. Malahan segala sesuatu dianggap rugi, karena pengenalan akan Kristus Yesus, Tuhanku, lebih mulia dari pada semuanya).

Keempat, menjadi “serupa dengan Yesus” berarti mengenal Yesus dan kuasa kebangkitan-Nya dan persekutuan dalam penderitaan-Nya.

Kelima, menjadi “serupa dengan Yesus” berarti melupakan apa yang telah terjadi di masa lalu (yang bisa menjadi jerat dan dosa bagi kita ketika melayani Tuhan), dan mengarahkan diri kepada apa yang di hadapan kita (faktual dan harapan), dan berlari-lari kepada tujuan untuk memperoleh hadiah, yaitu panggilan sorgawi dari Allah dalam Kristus Yesus.

Penutup

Menjadi “serupa dengan Yesus” dalam kematian-Nya dapat dipahami sebagai sebuah proses untuk mengikuti Yesus hingga akhir hayat. Situasi dan kondisi yang dijalani dan dialami adalah bagian internal bagi pembentukan karakter, iman, dan komitmen kita untuk tetap ‘setia’ kepada ‘Yang Setia’, hingga saatnya akan tiba bahwa kita akan menuai (bangkit) dari penderitaan dan pergumulan untuk menerima upah dari Sang Khalik.

Pergumulan dan penderitaan merupakan sebuah ‘konsekuensi’ dari mengikut dan menyerupai Kristus. Upaya yang ditempuh untuk menjadi “serupa dengan Yesus” adalah konfirmasi faktual—imaniah bahwa hal itu dapat diwujudkan ketika kita mengenal Yesus secara baik, mengenal dan memahami kuasa kebangkitan Yesus dan persekutuan dalam penderitaan-Nya.

Akhirnya, kepada kita diberikan iman dan kuasa untuk menghadapi berbagai tantangan dan hambatan hidup serta pelayanan. Mereka yang kuat dalam iman akan menunjukkan kuasa sebagai anak-anak Tuhan untuk terus menyatakan kebenaran dalam segala situasi. Dengan demikian, pada saatnya kita akan menjadi serupa dengan Kristus; mengikut Yesus dan menjadi serupa dengan-Nya bukanlah tanpa penderitaan. Dibutuhkan sikap setia dan siap melewati berbagai perguluman dan tantangan; melayani Sang Khalik dan menerima mahkota kehidupan.

Ps. Stenly Paparang

“IKUTLAH AKU”: Refleksi Yohanes 21:15-19

Sumber gambar: https://id.pinterest.com/pin/542191242614876636/

Pendahuluan

Tema “Ikutlah Aku [Yesus]” sangatlah menarik. Alasannya, karena tema ini merupakan perwujudan totalitas iman kita kepada Yesus yang terlihat dari keseharian kita. Bagaimana mungkin seseorang mengatakan: “Aku percaya dan mengikut Yesus” dan di waktu yang bersamaan dia tidak melakukan apa yang diperintahkan Yesus?

Tema ini juga bisa menjadi “pertanyaan” dan “pernyataan”. Kita disuguhkan dengan pertanyaan: “Sudahkah kita mengikut Yesus secara benar?”, “Apakah kita masih mengikuti Yesus?”, dan “Bagaimana kita mempertahankan iman untuk tetap mengikut Yesus?” Kita dituntut untuk menyatakan iman: “Saya telah mengikut Yesus secara benar”, “Saya tetap mengikut Yesus dengan setia”, dan “Saya akan terus mempertahankan iman untuk mengikut Yesus dalam segala situasi, entah baik, entah buruk.

Baik pertanyaan dan pernyataan, keduanya sangat penting untuk terapkan (dilakukan) dalam kehidupan setiap hari. “Pertanyaan” diajukan untuk memotivasi kita melihat proses perjalanan iman dan pelayanan (pengabdian) kita kepada Tuhan. “Pernyataan” diajukan untuk menunjukkan komitmen dan konsistensi iman kita di hadapan Tuhan.

Kita pun (yang mengaku percaya) adalah orang-orang yang “telah” mengikut Yesus. Kesaksian demi kesaksian dalam mengikut Yesus, telah menjadi berkat bagi orang lain. Suka duka mengikut Yesus dapat dilalui dengan penuh iman dan harap. Jatuh bangun dialami; berdoa, berpuasa, dan menangis di hadapan Tuhan juga dialami. Setiap orang memiliki pengalaman hidup bersama dengan Tuhan; tidak sama, tetapi semuanya mendapat kelepasan dan kebahagiaan dari Tuhan yang sama.

Makna dan Konteks “Ikutlah Yesus”

Setelah Yesus bertanya dan mengatakan sesuatu kepada Petrus tentang bagaimana Petrus akan mati dan memuliakan Allah, Yesus kemudian mengatakan: “Ikutlah Aku” (Yoh. 21:15-19). Konteks “Ikutlah Aku” telah dilakukan Yesus sebelumnya: “Mari, ikutlah Aku, dan kamu akan Kujadikan penjala manusia” (Mat. 4:19-22, Mrk 1:17, pemanggilan para murid: Simon, Andreas, Yakobus, dan Yohanes; Mat. 9:9, pemanggilan Matius; bdk. Mrk. 2:14; Luk. 5:27; pemanggilan Filipus, Yoh. 1:43).

Pemanggilan Yesus kepada murid-murid yang pertama bertujuan untuk melakukan transformasi sosial; dulunya Petrus dan kawan-kawan sebagai bekerja sebagai penjala ikan yang bisa dikonsumsi sendiri, keluarga, dan atau dijual secara terbatas kepada beberapa orang saja (kepada masyarakat mikro), “kini” mereka dipanggil Yesus mengikuti-Nya menjadi ‘penjala manusia’, yang mana mereka mendapat tugas yang lebih besar, lebih berat, dan lebih luas wilayahnya. Ini adalah sebuah kejutan bagi mereka dan sekaligus mengajar mereka untuk mentransformasi sosial dalam lingkup makro.

Jadi, mengikut Yesus selalu terkait dengan tugas untuk melakukan transformasi sosial yang bersifat makro—dan kita telah menjadi ‘penjala manusia’. Mengikut Yesus adalah sebuah “pilihan iman” yang bersifat optatif (harapan di masa depan).

Kita akan melihat signifikansi dari mengikut Yesus sebagaimana tema kita hari ini. Frasa “Ikutlah Aku [Yesus]” secara logis dapat diajukan beberapa pertanyaan mendasar: pertama, untuk apa mengikut Yesus?; kedua, apa pentingnya mengikut Yesus?; ketiga, tujuannya apa?; keempat, siapa Yesus yang harus diikuti? dan kelima, apa yang harus diikuti dari Yesus? Saya akan menjelaskan kelima pertanyaan di atas.

Pertama, untuk [alasan] apa mengikut Yesus? Sama seperti murid-murid Yesus yang pertama dipanggil, tanpa berpikir panjang, mereka langsung mengikut Yesus ketika Yesus menawarkan mereka untuk mengikuti-Nya. Mereka melihat pribadi Yesus sebagai pribadi yang dapat dipercaya. Alasan mengikut Yesus adalah karena Yesus “menyuguhkan sebuah kondisi yang lebih faktual, lebih besar, dan lebih bernilai transformatif”. Pilihan untuk mengikut Yesus bukan karena pekerjaan yang ditawarkan itu enak, nyaman, aman dan terkendali, bukan pekerjaan yang mudah, melainkan pekerjaan yang bernilai kekal: membawa orang lain kepada Yesus Kristus. Itu transformasi. Yang ditransformasikan (diubah) adalah kondisi spiritual dan humanitas sosial ke arah yang Allah kehendaki. Bukankah Tuhan menghendaki semua orang hidup dalam kehendak dan rencana-Nya?

Kedua, apa pentingnya mengikut Yesus? Mengikut Yesus akan mendapatkan/menerima “damai sejahtera” dari Dia [Yesus]—bukan dari dunia. Yesus mengatakan: “Damai sejahtera Kutinggalkan bagimu. Damai sejahtera-Ku Kuberikan kepadamu, dan apa yang Kuberikan tidak seperti yang diberikan oleh dunia kepadamu. Janganlah gelisah dan gentar hatimu” (Yoh. 14:27). Mengikut Yesus bukanlah tanpa hambatan, tantangan, aniaya, dan penderitaan. Selalu ada risiko ketika mengikut Yesus. Namun, kita perlu melihat jaminan yang ditegaskan Yesus kepada para murid-Nya yang dapat kita jadikan pegangan dalam mengikut Yesus: “Semuanya itu Kukatakan kepadamu, supaya kamu beroleh damai sejahtera dalam Aku. Dalam dunia kamu menderita penganiayaan, tetapi kuatkanlah hatimu, Aku telah mengalahkan dunia” (Yoh. 16:33).

Ketiga, tujuannya apa? Kita mendapatkan jaminan kelegaan (ketenangan), hidup kekal, dan makhota kehidupan. Kelegaan diberikan Yesus bagi siapa saja yang datang kepada-Nya (Mat. 11:28-29). Dalam Matius 19:29 (bdk. Mrk. 10:30; Luk. 18:29-30) Yesus menegaskan, mereka yang mengikut Dia akan menerima kembali seratus kali lipat dari apa yang mereka tinggalkan, dan akan memperoleh hidup yang kekal (bdk. Yoh. 3:16, 36; 5:24; 6:40, 47; 10:28 [“Aku memberikan hidup yang kekal”]; 17:3). Tujuan mengikut Yesus adalah mendapatkan sesuatu yang bersifat spiritual yang tertuang dalam sikap hidup sehari-hari, mewujudkan teladan iman, dan memancarkan kasih serta pengampunan dari Yesus kepada sesama kita. Untuk mencapai tujuan, ada proses yang harus ditempuh. Kesetiaan akan berbuahkan makhota kehidupan (bdk. Why. 2:10b). Menempuh perjalanan hidup yang panjang, membutuhkan bekal bagi tubuh kita, baik jasmani maupun rohani.

Keempat, siapa Yesus yang harus diikuti? Ketika kita memilih untuk mengikuti seseorang, kita pun—setidaknya sebagai gambaran awal—harus mengetahui “siapa dia” yang akan kita ikuti. Jika Yesus memanggil kita dan kita harus mengikuti-Nya, lalu siapakah Dia? Para penulis kitab-kitab Perjanjian Baru menyebutkan identitas Yesus (termasuk pengakuan Yesus sendiri): (1) Yesus adalah “roti [ke]hidup”[an] (Yoh. 6:35, 48, 51); (2) Yesus adalah “terang dunia” (Yoh. 8:12; 9:5); (3) Yesus adalah “pintu” (Yoh. 10:7, 9); (4) Yesus adalah “Gembala yang baik” (Yoh. 10:11, 14); (5) Yesus adalah “kebangkitan dan hidup” (Yoh. 11:25; (6) Yesus adalah “jalan, kebenaran, dan hidup” (Yoh. 14:6); (7) Yesus adalah “pokok anggur yang benar” (Yoh. 15:1; (8) Yesus adalah pemberi “air kehidupan” (Yoh. 4:10, 14); (9) Yesus adalah Tuhan dan Juruselamat umat manusia; dan masih banyak lagi yang dapat kita sebutkan tentang Yesus.

Kalau Yesus memanggil, segeralah terima panggilan-Nya dan jadilah pelayan-Nya. Mengikut Yesus bukan supaya berebut untuk menjadi yang terbesar, tetapi justru harus menjadi pelayan sesama: “Barangsiapa terbesar di antara kamu, hendaklah ia menjadi pelayanmu” (Mat. 23:11; Luk. 22:26, “…yang terbesar di antara kamu hendaklah menjadi sebagai yang paling muda dan pemimpin sebagai pelayan”).

Sampai di sini saya teringat dengan satu lagu yang diterjemahkan oleh Yamuger tahun 1979, yang berjudul “Yesus Memanggil” (Kidung Jemaat No. 355, Come to the Savior, George F. Root [1820-1895]). Syairnya berbunyi demikian:

(1) Yesus memanggil, “Mari seg’ra!” Ikutlah jalan s’lamat baka;

Jangan sesat dengar sabda-Nya, “Hai marilah seg’ra!”

Refrein:

Sungguh, nanti kita ‘kan senang, bebas dosa, hati pun tentr’am

Bersama Yesus dalam terang di rumah yang kekal

(2) Hai marilah, kecil dan besar, biar hatimu girang benar.

Pilihlah Yesus – jangan gentar. Hai mari datanglah!

(3) Jangan kaulupa, Ia serta; p’rintah kasih-Nya patuhilah.

Mari dengar lembut suara-Nya, “Anak-Ku, datanglah!”

Kelima, apa yang harus diikuti dari Yesus? Kalau pada bagian keempat kita melihat identitas personal Yesus, kini kita melihat apa saja yang harus diikuti dari Yesus. Matius 11:29 menyebutkan: Yesus lemah lembut dan rendah hati. Dalam catatan Injil-Injil PB, Yesus menunjukkan kepedulian-Nya kepada semua golongan masyarakat, baik di kota maupun di desa. Ia peduli kepada mereka yang disingkirkan, mereka yang tidak dianggap dalam status sosial, mereka yang penyakitan, mereka yang miskin, mereka yang tidak diperhatikan oleh kelompok elit agama Yahudi, dan masih banyak lagi. Setidaknya, apa yang telah saya sebutkan tadi bisa menjadi poin penegasan bahwa mengikut Yesus sangatlah beruntung. Mungkin kita ingat akan sebuah lagu dari Nafiri Kemenangan (NK 46) “Untung Besar” (atau dalam terjemahan lainnya disebut “Besarlah Untungku” dalam NKB 197; syair dan lagu oleh J. Uktolseja/Tim Nyanyian GKI).

Ya, untungku besar kar’na Yesus milikku

Jiwaku bergemar dapat damai yang sungguh

Di tengah ribut k’ras, ombak dunia menderu

Hatiku tak gentar, kar’na Yesus sertaku

Benar, benar, ya untungku besar

Benar, benar, ya untungku besar

Benar, benar, ya untungku besar

Kar’na kudapat Yesus sungguh untung besar

Penutup

Ikutlah Yesus. Tetap setia kepada-Nya. Di tengah ribut dunia yang menderu, jangan gentar, sebab Yesus telah berjanji akan “menyertai kita senantiasa” sampai kepada akhir zaman.

Soli Deo Gloria

Salam Bae

Rancang situs seperti ini dengan WordPress.com
Mulai