HARAPAN DI TENGAH KEBERDOSAAN

Sumber gambar: https://id.pinterest.com/pin/741968107360208778/

Dalam pandangan pendosa, perbuatan-perbuatan dosa yang dilakukannya dipandang sebagai harapan tersendiri dan tertentu (tersembunyi) yang sedapat mungkin ditutupi rapat-rapat sehingga tidak ada orang lain yang tahu. Pendosa memiliki harapan terkuat, yaitu dosa-dosa yang dilakukannya aman dan terkendali, tak ada tahu, dan berharap dosa-dosa tersebut tidak mendapat hukuman, entah dari orang lain, maupun dari Tuhan.

Di hadapan Tuhan—sebagaimana yang diklaim Allah—segala sesuatu tak ada yang tersembunyi; semua terbuka di mata-Nya. Pendosa tak ada yang lolos atau terlewatkan. Bahkan hukuman menantinya di ujung jalan Allah. Pendosa tak dapat bersembunyi dan menyembunyikan dosa-dosanya. Ia harus bertanggung jawab di hadapan Allah. Kecuali mereka yang menyadari dan mengakuinya kepada Allah, maka ia akan mendapatkan pengampunan-Nya. Hal inilah yang ditegaskan Rasul Yohanes:

“Jika kita berkata, bahwa kita tidak berdosa, maka kita menipu diri kita sendiri dan kebenaran tidak ada di dalam kita. Jika kita mengaku dosa kita, maka Ia adalah setia dan adil, sehingga ia akan mengampuni segala dosa kita dan menyucikan kita dari segala kejahatan” (1 Yohanes 1:8-9).

Harapan terbaik dari pendosa yang “mengakui” dosanya kepada Allah adalah “pengampunan” dan “perkenanan” Allah atas diri dan hidupnya. Harapan terburuk dari pendosa adalah ketika ia merasa aman dalam dosanya. Itu pasti harapan yang dia jaga dan tetap dijaga. Akan tetapi, hal itu akan menjerumuskan dia ke dalam pelbagai kehidupan yang kotor, najis, dan penuh hipokrit.

Allah menyediakan harapan di tengah keberdosaan manusia. Tangan kasih-Nya terulur bagi manusia. Ia berfirman kepada mereka untuk memperlihatkan kepedulian dan kekuatan firman yang keluar dari diri-Nya. Ia menyapa sekaligus mengasihi; Ia mengasihi sekaligus menolong; dan Ia menolong sekaligus mengajak manusia yang berdosa itu kembali pulang kepada-Nya.

Pada Allah, harapan di tengah keberdosaan mengarahkan manusia untuk hidup kudus dan kembali kepada-Nya, sedangkan pada pendosa, harapan di tengah keberdosaannya mengarahkan dirinya untuk hidup terus dalam dosa dan kembali menyembunyikan dosa-dosa supaya aman, tersembunyi, dan dapat dipelihara dengan baik. Kedua harapan tersebut sangatlah berkontradiksi. Allah menyediakan pengampunan bagi mereka yang mengakui dosa-dosanya, sedangkan pendosa menyediakan kehancuran bagi dirinya sendiri.

Kita melihat bahwa Allah berulang kali memberikan kesempatan kepada manusia untuk mengaku dosa, bertobat, dan kembali kepada-Nya. Dari situlah harapan itu terbit dan menyinari totalitas pikiran, hidup, dan relasi kita dengan orang lain. Harapan itu kuat, karena manusia menghendaki sesuatu terjadi dan dialami dalam kehidupannya sendiri. Dan harapan di tengah keberdosaan adalah pilihan utama, apakah akan berharap kepada Allah ataukah berharap pada pikiran dan kekuatan sendiri.

Alkitab, secara khusus kitab Amsal 3:5-7, menyatakan bahwa: “Percayalah kepada TUHAN dengan segenap hatimu, dan janganlah bersandar kepada pengertianmu sendiri. Akuilah Dia dalam segala lakumu, maka Ia akan meluruskan jalanmu. Janganlah engkau menganggap dirimu sendiri bijak, takutlah akan TUHAN dan jauhilah kejahatan.”

Tampak bahwa kekuatan sendiri yang diandalkan manusia akan tetap menjadikan dirinya sebagai budak dosa dan kejahatan jika bukan budak nafsu diri sendiri. Justru Allah mengarahkan manusia berdosa untuk percaya kepada-Nya dan bersandar pada firman Allah yang kuat itu, bukan pada pengertian sendiri. Manusia tak dapat meluruskan jalannya tanpa intervensi Allah. mengakui Allah sebagai Pencipta dan Pemelihara hidup, akan berdampak pada bagaimana Allah mengatur dan mengarahkan langkah manusia. Hal ini jelas dikatakan oleh pemazmur:

“TUHAN menetapkan langkah-langkah orang yang hidupnya berkenan kepada-Nya; apabila ia jatuh, tak sampai tergeletak, sebab TUHAN menopang tangannya” (Mzm. 37:23-24)

Ketika kita mempersembahkan dan mempercayakan hidup kita kepada Tuhan, maka hanya ada satu pilihan yaitu “kita selalu berharap dan mengandalkan Tuhan dalam segala hal”. Ketika kita mempercayakan hidup kepada Tuhan, maka bukan lagi kita bersandar pada pengertian kita sendiri melainkan pada kehendak Allah sebagaimana yang termaktub dalam Alkitab.

Pada saat yang bersamaan, kita juga tidak menganggap diri kita sendiri bijak, melainkan tetap mengandalkan Tuhan dan penuh rasa takut—yaitu taat dan setia—kepada TUHAN. Jika ini terwujud maka sudah pasti kita akan menjauhi kejahatan. Harapan ini begitu indah. Cita-cita untuk menjadi seperti yang Tuhan kehendaki adalah iman kita. meski kita tahu bahwa ada berbagai tantangan dan hambatan yang dapat saja mengganggu, atau menggoda kita, tetapi keputusan untuk tetap percaya kepada Allah akan menyingkirkan dan menolak godaan dosa yang menggiurkan itu. Tentu ada harapan di baliknya. Allah memberikan kekuatan kepada kita untuk tetap berada di jalan-Nya.

Ada dua pilihan yang tersedia bagi kita: menjadi orang yang berkenan kepada Allah yaitu orang yang mengandalkan Allah dalam segala hal dan hidup yang “mengakui” segala dosa, pelanggaran, dan kesalahan, atau menjadi orang yang mengandalkan diri sendiri, menyembunyikan dosa-dosa dalam lemari kemunafikan, dan tidak mau mengakuinya di hadapan Allah. Pada akhirnya, kita akan menerima hadiah dari Allah atas perbuatan-perbuatan baik kita, dan bagi para pendosa, juga akan menerima “hadiah” selaras dengan perbuatan-perbuatannya, yaitu “hukuman”.

Jika para pendosa ingin mengubah hidupnya sendiri, maka ia harus tahu bagaimana jalan menuju pertobatan. Kesadaran—yaitu akal budinya—seharusnya mengetahui bahwa perbuatan-perbuatan jahat tak akan memberikan hal-hal baik: “Anda tentu tidak berharap perahu Anda terbawa arus ketika Anda sedang mendayung melawan arus.” Demikian juga “Anda tentu tidak berharap hidup Anda terbawa arus dosa ketika Anda sedang mendayung [berjuang] melawan arus dosa.” Ketika kita berjuang melawan arus dosa, kita harus tahu bahwa tanpa Allah yang memampukan kita untuk mendayung, maka sia-sialah usaha kita. Harapan terbaik dalam situasi demikian adalah memohon pertolongan dari Allah untuk memampukan kita mendayung melawan arus dosa.

Allah telah menyediakan harapan yang lebih baik yaitu “ketika dosa-dosa kita diampuni-Nya, Allah menyelamatkan kita, dan menguduskan kita melalui firman-Nya yang berkuasa”. Problem terbesar manusia, yaitu “melawan dosa” hanya mampu dilawan ketika Allah memampukan kita untuk melawannya. Usaha dan kerja keras kita tak akan mampu melawan arus dosa; kita bahkan terseret olehnya. Kita mampu berjuang melawan dosa karena kita dimampukan Allah untuk melawannya dan menolaknya.

Allah menyediakan harapan di tengah keberdosaan, yaitu pengampunan dosa. Berbagai cara telah Allah lakukan di zaman lampau, dan Ia pun menunjukkan cara yang lain, yaitu mengutus Yesus Kristus—Sang Logos Ilahi—untuk datang ke dalam dunia, diam di antara manusia, dan menyatakan Allah: pengajaran-Nya, kerajaan-Nya, dan hukum-hukum-Nya secara terbuka. Yesus telah menebus manusia dari dosa-dosa mereka, dan Ia memberikan kekuatan untuk hidup kudus sekaligus memberikan kekuatan untuk menolak hidup najis, hidup yang berdosa.

Harapan itu telah ada dan datang ke dalam dunia. Harapan di tengah keberdosaan telah terbit. Allah menyinari kita dengan wajah-Nya dan memberi kita kasih karunia, dan Allah menghadapkan wajah-Nya kepada kita—melalui Yesus Kristus—dan memberikan kita damai sejahtera, “Karena Dialah [Yesus] damai sejahtera kita, yang telah mempersatukan kedua belah pihak dan yang telah merubuhkan tembok pemisah, yaitu perseteruan” (Ef. 2:14).

Ketika manusia hidup dalam dosa, ia mati, terpisah dengan Allah; perbuatan-perbuatan dosanya justru menjauhkan dirinya dari Allah. Jadi, bukan Allah yang menjauh, melainkan manusialah yang menjauhkan diri dari Allah dengan melakukan dosa. Di mata Allah, di dalam dosa tidak ada harapan, kecuali Ia sendiri datang dan mengangkat manusia dari ikatan dosa; manusia tak sanggup keluar, harus ada “tangan lain” yang terulur untuk memegang dan mengangkatnya. Itulah yang Allah lakukan. Ketika Allah mengangkat manusia, maka kita hidup.

Harapan di tengah keberdosaan manusia memberikan pengertian bahwa “harapan” itu datang dari luar manusia yang berdosa, yaitu Allah yang menawarkan anugerah melalui uluran tangan-Nya kepada manusia, maka secara simultan harapan itu diberikan kepada manusia, dan menguatkan dia untuk—mengakui bahwa Allah telah menolongnya—keluar dari ikatan dosa. Manusia dibebaskan oleh Allah.

Rasul Paulus secara tepat menggambarkan hal ini: “Tetapi Allah yang kaya dengan rahmat, oleh kasih karunia-Nya yang besar, yang dilimpahkan-Nya kepada kita, telah menghidupkan kita bersama-sama dengan Kristus, sekalipun kita telah mati oleh kesalahan-kesalahan kita – oleh kasih karunia kamu diselamatkan” (Efesus 2:4-5).

Semuanya adalah kasih karunia. Dosa manusia dapat teratasi karena Allah menunjukkan kasih karunia-Nya. Melalui Yesus Kristus—Firman-Nya yang kekal—Allah memperlihatkan kuasa-Nya yang dahsyat yaitu menebus manusia dari dosa-dosa mereka dan membawa mereka ke dalam Kerajaan-Nya. Sama seperti di zaman PL, Allah—melalui Firman-Nya—memanggil, menegur, mengarahkan, dan menolong manusia untuk keluar dari keberdosaan mereka dan menerima damai sejahtera. Kini, di zaman PB, Allah melakukan hal yang sama tetapi dengan cara yang berbeda. Logos Allah menjadi manusia dan menyatakan bahwa manusia harus kembali kepada Allah, kembali kepada “Terang Allah”.

Dosa membuat hidup manusia gelap. Yesus memberi terang (bdk. Yoh. 1:9; 3:19; 8:12; 9:5). Yesus sendiri menegaskan: “Aku telah datang ke dalam dunia sebagai terang, supaya setiap orang yang percaya kepada-Ku, jangan tinggal di dalam kegelapan” (Yoh. 12:46). Ada harapan di tengah keberdosaan manusia, yaitu ketika “terang” itu datang menerangi hati manusia yang telah digelapkan oleh dosa-dosanya. Yesus adalah Terang. Ia mengajak kita datang kepada-Nya; Ia mau, kita hidup dalam Terang-Nya, meninggalkan perbuatan-perbuatan kegelapan (dosa). Ketika kita memilih datang kepada Terang itu, maka hidup kita berbuahkan kebenaran dan damai sejahtera. Hidup kita aman dan tenang, selama-lamanya.

Salam Bae.

TERBUKA KEPADA TUHAN ATAU KEPADA FACEBOOK?: Fenomena Simpatetik dan Impetus Logika

Sumber gambar: https://id.pinterest.com/pin/732046114407633379/

Manusia memiliki beragam cara berpikir. Cara berpikir dituangkan melalui kata (dicta) dan perbuatan (gesta) ke dalam lautan kehidupan dengan beragam konteksnya. Kata dan perbuatan yang dituangkan bergantung pada “hasrat untuk….” yang pada gilirannya tampak jelas seperti apa identitas seseorang tersebut.

Fenomena yang terjadi adalah maraknya pengguna media sosial, misalnya Facebook yang secara terang-terangan mempertontonkan gagasan personal yang mencakup enam alasan: pertama, ingin dikenal; kedua, ingin mencari perhatian; ketiga, ingin terlihat rohani; keempat, ingin terlihat jalan-jalan atau sibuk [pelayanan, dan sebagainya]; kelima, ingin terlihat butuh dukungan tetapi sebenarnya hanya sebuah pretensi (berpura-pura); dan keenam, ingin meminta dukungan (doa, nasihat, dan sebagainya) yang serius.

Dari keenam hal di atas, ada fakta yang sering kita lihat pada status seseorang. Ia sering memohon kepada Tuhan dengan menulis status: “Tuhan lindungilah kami dalam perjalanan ini”, dan kalimat seragam dengan itu dalam banyak versi. Intinya, seseorang hanya ingin menunjukkan bahwa, entah dia sedang bergegas pelayanan, atau kerja naik sepeda motor, bus, kapal laut, kapal terbang, kereta api, dan sebagainya. Dengan demikian, semuanya dilatari oleh sebuah motivasi.

Fenomena “terbuka kepada Facebook” menjadikan seseorang atau beberapa orang mengalami masalah serius, baik secara psikologi maupun secara spiritual. Muncullah yang disebut dengan “kesombongan” yang pada gilirannya seseorang hanya ingin memamerkan dirinya. Memang, media sosial dapat menjadi “sarana positif” untuk saling mendukung satu dengan yang lain. Tetapi, semuanya itu tergantung pada “motivasi” seseorang.

Kadang-kadang, seseorang lebih suka terbuka kepada Facebook ketimbang kepada Tuhan. Seperti judul tulisan singkat ini: “Terbuka kepada Tuhan atau kepada Facebook?” adalah gambaran dari fenomena di zaman Millennial ini. Ini bukan berbicara soal benar atau salah, tetapi lebih kepada motivasinya. Jika hanya ingin terlihat rohani dengan memamerkan segala sesuatunya, maka nikmatilah itu, dan kesombongan akan muncul secara perlahan.

Pertanyaan mendasarnya adalah: apakah benar doa kepada Tuhan yang dituliskan di Facebook lahir dari hati yang tulus? Hanya si penulis status yang tahu. Tetapi, apakah “Tuhan punya Facebook”? Ataukah doa itu hanyalah slogan atau cara untuk seseorang dianggap rohani, atau butuh pertahatian? Bibit-bibit kesombongan dan haus perhatian dapat menyelinap dalam setiap publikasi “caper: cari perhatian” di Facebook. “Ah, Anda hanya ngomong saja. Itu kan urusan pribadi.” Gumam orang-orang yang merasa tersinggung.

Benar, itu urusan pribadi. Tetapi perlu diketahui, status di Facebook bukanlah urusan pribadi, tetapi urusan banyak orang, karena itu adalah media sosial, media yang dilihat oleh banyak orang. Bagaimana bisa disebut urusan pribadi sedangkan seseorang giat mempublikasikan “doanya” kepada Tuhan yang bertujuan—entah caper, atau butuh dikasihani, ataukah memang butuh dukungan doa, dilihat dan dibaca banyak orang? Sekali lagi: motivasi melatari status seseorang. Motivasi yang baik menyingkirkan kesombongan. Motivasi yang ingin caper, akan muncul tunas-tunas kesombongan.

Fenomena ini saya sebut dengan “simpatetik” yaitu bekenaan dengan sistem saraf, yang mendorong seseorang untuk melakukan sesuatu. Dalam konteks ini, simpatetik dapat bertujuan untuk mencari simpatik atau daya tarik. Dengan perkataan lain, disebut dengan “caper: cari perhatian”. Seseorang dapat secara mekanis yaitu dapat segera “tergerak” untuk mempublikasikan segala sesuatu dan kemudian disertai dengan doa; entah doa itu hanya pamer atau caper, atau tujuan lain, hanya penulis status yang tahu. Tetapi, jika mau jujur, dugaan saya tertuju kepada “caper: cari perhatian”. Toh bukannya ia bisa berdoa langsung kepada Tuhan tanpa perantara Facebook, bukan? Ah… sudahlah.

Fenomena kedua adalah disebut dengan impetus logika yaitu daya pendorong, di mana seseorang merasa tidak sabar untuk segera berdoa kepada Facebook agar segera pula dapat respons (baca: perhatian) dari orang lain. Kedua gejala psikologi ini yakni simpatetik dan impetus begitu menggejala di dunia per-Facebook-an. Maklum, motivasi caper, pamer, kuper (kurang perhatian), dan ingper (ingin diperhatikan) begitu kuat melandasi pribadi seseorang. Tapi bukankah tidak semua bertindak demikian? Memang benar. Seperti yang saya tegaskan di atas bahwa “motivasi” adalah dasar dari segala status di dunia Facebook. Sekali lagi, “motivasi”.

Coba kita perhatikan, baru tergores sedikit di tangan atau kaki, langsung buat status. Itu motivasinya apa? Baru lecet atau teriris sedikit di tangan atau di kaki, langsung buat status. Motivasinya apa? Bahkan, boarding pass pesawat pun difoto dan dibumbui dengan doa singkat: “Tuhan, lindungilah perjalanan hamba-Mu ini.” Motivasinya apa?

Jadi, kita mau terbuka kepada Tuhan atau kepada Facebook? Apakah kita memiliki gejala psikologi simpatetik dan impetus logika? Hanya kita yang dapat mengatur diri kita. Tetapi berusahalah agar bibit-bibit kesombongan dan rasa haus perhatian janganlah merajai hati dan hidup kita. Gejala per-Facebook-an telah menjadikan manusia haus perhatian sehingga curhat di Facebook; mulai dari urusan makanan, urusan keluarga, urusan pelayanan, maupun urusan pekerjaan. Apalagi jika ada orang yang memaki-maki orang lain di Facebook, bukankah dia sedang mencari perhatian?

Renungkanlah motivasi kita dalam menggunakan Facebook. Jangan semua urusan pribadi, keluarga, pekerjaan dipublis di Facebook. “Jangan jual diri Anda di media sosial”. Juallah dagangan pemikiranmu, dagangan motivasimu, dagangan kepedulianmu, dan masih banyak lagi yang bersifat positif. Kurangi, bahkan hentikan cara-cara yang mudah dibaca orang, bahwa Anda kurang diperhatikan, cari perhatian, dan ingin perhatian, hingga Anda harus pamer segala sesuatu untuk mendatangkan pujian semu nan merdu.

Terbukalah kepada Tuhan, dan bukan kepada Facebook. Jadikanlah diri terang bagi dirimu sendiri hingga akhirnya Anda dapat menjadi terang bagi sesamamu, kapan pun, dan di mana pun, termasuk di dunia per-Facebook-an.

Salam Bae!

TANGAN SANG KHALIK YANG TERULUR

Sumber gambar: https://honourinrevenge.tumblr.com/image/133484282673

Harapan terkuat dari orang percaya adalah ketika Allah “turun tangan” atas segala sesuatu yang membuat mereka terdesak, terhina, tertekan, dan tercaci maki. Lebih dari pada itu, harapan untuk Allah “turun tangan” terhadap berbagai persoalan hidup, ibarat seorang yang lapar dan mendapatkan makanan gratis tanpa dia berusaha sedikit pun. Allah turun tangan pertanda Ia sedang menyatakan sesuatu, entah hukuman, entah teguran, entah berkat, entah penguatan, entah penghiburan, entah topangan, entah penyadaran dan pembelajaran.

Dalam sejarah manusia tak terhitung banyak Allah turun tangan. Sejak awal manusia jatuh ke dalam dosa, tangan-Nya terulur untuk menutupi ketelanjangan dan rasa malu Adam dan Hawa. Tangan Allah, Sang Khalik, yang terulur itu, pertanda kasih dan sayang-Nya kepada manusia. Meski mereka telah mengecewakan-Nya dengan melakukan tindakan yang “melawan” (melanggar) peritah-Nya, Ia tetap menunjukkan uluran tangan-Nya untuk manusia, serta melawat mereka sedemikian rupa.

Dalam pengertian yang lain, tangan yang terulur, dipahami sebagai “tangan Allah yang teracung” untuk menolong umat-Nya. Allah segera menyatakan pertolongan bagi umat-Nya untuk membebaskan mereka, memberi kemenangan, dan bahkan menghukum umat-Nya yang berdosa kepada-Nya (lihat Keluaran 3:20, “Tetapi Aku akan mengacungkan tangan-Ku dan memukul Mesir….”; Keluaran 7:4, 5; 9:15; Yesaya 50:2; 51:5).

Tangan Allah juga menggambarkan kekuasaan atas alam semesta. Tangan-Nya yang memegang penghukuman (Ulangan 32:41; Yesaya 51:25; Yehezkiel 6:14; 13:9; 14:9; 25:7, 13, 16; 35:3; Amos 1:8; Zefanya 1:4; Zakharia 2:9), tangan-Nya yang menciptakan (Yesaya 19:25; 45:11-13; 66:2), tangan-Nya yang memegang kuasa (Yesaya 43:13), tangan-Nya yang melukiskan kehidupan orang yang dipilih-Nya (Yesaya 49:16) tanda bahwa Allah yang memegang kendali (lih. Yesaya 18:6, “Sungguh, seperti tanah liat di tangan tukang periuk, demikianlah kamu di tangan-Ku, hai kaum Israel”; Amos 9:2); tangan- Nya pula yang menaungi orang pilihan-Nya (Yesaya 51:16), tangan-Nya yang menyatukan suku-suku Israel (Yehezkiel 37:19).

Ketika tangan Sang Khalik terulur, Ia menyapa umat-Nya, mendidik, mengarahkan, menolong, dan menopang mereka. Tangan-Nya yang terulur adalah bukti bahwa Allah menunjukkan kasih-Nya bagi umat-Nya yang telah berdosa; Ia menanti pertobatan sejati dari mereka; Ia sabar. Dalam kitab Yesaya 65:2-16, khususnya ayat 2, sangat jelas dinyatakan mengenai kesabaran Allah dengan mengulurkan tangan-Nya: “Sepanjang hari Aku telah ‘mengulurkan’ tangan-Ku kepada suku bangsa yang memberontak, yang menempuh jalan yang tidak baik dan mengikuti rancangannya sendiri….”

Kesabaran Allah dibuktikan dengan mengulurkan tangan-Nya, melalui “waktu” dan “proses” yang Ia berikan kepada mereka yang berdosa untuk segera kembali, bertobat kepada-Nya. Ketika manusia tak berdaya menghadapi kuatnya desakan dosa, tangan-Nya terulur untuk menolong. Dari sini kita belajar bahwa tangan yang terulur—adalah tanda bahwa Ia menyatakan sesuatu sesuai dengan kondisi yang dialami manusia.

Puncaknya, tangan Allah yang diulurkan itu terlihat jelas pada diri Sang Logos yang berinkarnasi menjadi “daging” (sarks); Ia tinggal di dunia, berbaur dengan manusia, mengajar dan menolong manusia, membebaskan yang terbelenggu dan kerasukan setan; Ia mengarahkan manusia untuk “kembali pulang” Sang Bapa. Dia adalah YESUS KRISTUS.

Sungguh luar biasa penyataan tangan Allah. Ia telah mengulurkan tangan-Nya melalui cara yang ajaib. Kelahiran Sang Logos ke dalam dunia, adalah bukti bahwa kasih Allah yang berkesudahan. Ia telah menyatakan kasih-Nya di sepanjang sejarah manusia, pada bangsa Israel, dan kemudian Ia menyatakan kasih-Nya dalam cara lain yang lebih spektakuler, yaitu Logos yang ada di dalam diri-Nya sendiri, “turun”—terulur bagi dunia untuk memanggil mereka pulang kepada Bapa. Rasul Yohanes begitu jelas menyatakan ini: “Karena begitu besar kasih Allah akan dunia ini, sehingga Ia telah mengaruniakan Anak-Nya yang tunggal, supaya setiap orang yang percaya kepada-Nya tidak binasa, melainkan beroleh hidup yang kekal” (Yohanes 3:16).

Kata “mengaruniakan” dapat dipahami sebagai “tangan Allah yang diulurkan” untuk menyelamatkan manusia (bdk. Yoh. 3:17). Yesus Kristus adalah “tangan Allah yang terulur” untuk memberikan konfirmasi bahwa keselamatan itu ada, dan keselamatan itu disediakan bagi mereka yang percaya.

Dalam Perjanjian Lama Allah telah menyatakan (mengulurkan) tangan-Nya bagi umat-Nya dan dalam konteks Perjanjian Baru Allah melakukan hal yang sama tetapi dengan cara yang berbeda: “Logos menjadi manusia”. Ini luar biasa. Tangan yang berkuasa dan memegang kendali itu, kini telah hadir dalam sejarah manusia. Itulah sebabnya, Yesus Kristus—tangan Allah yang terulur” menyediakan jalan pulang, dan Ia mengkonfirmasi kepada kita:

“Akulah JALAN dan KEBENARAN dan HIDUP. Tidak ada seorang pun yang datang kepada Bapa, kalan tidak melalui Aku” (Yoh. 14:6).

Konfirmasi di atas menjelaskan bahwa “tidak ada seorang pun yang datang kepada Allah jika Allah tidak berfirman (tidak menyatakan bagaimana manusia harus kembali kepada-Nya), jika Allah tidak mengulurkan tangan-Nya untuk mengambil manusia dari lumpur dosa.” Allah berfirman melalui Logos-Nya sendiri untuk menyatakan bahwa manusia harus bertobat dan kembali pulang kepada-Nya, dan Allah mengulurkan tangan-Nya melalui cara yang ajaib, Logos-Nya (Firman-Nya) menjadi “manusia” untuk menyatakan kasih, kemurahan, pengampunan, dan penebusan. Itulah yang dilakukan Yesus Kristus. Inkarnasi-Nya menyatakan kepenuhan, ya, kepenuhan kasih, kemurahan, pengampunan, dan penebusan Allah.

Dengan demikian, kita harus bersyukur bahwa Yesus Kristus telah menyediakan jalan pulang kepada Bapa; Ia telah mengulurkan tangan-Nya untuk mengajar, mengarahkan, dan menunjukkan jalan pulang itu. Yang dapat menunjukkan “jalan” hanyalah Yesus Kristus karena Ia telah menyatakan hal itu. Sebagaimana Allah (dalam PL) telah berfirman kepada Nabi Yesaya, bahwa “Beginilah firman TUHAN, Penebusmu, Yang Mahakudus, Allah Israel: ‘Akulah TUHAN, Allahmu, yang mengajar engkau tentang apa yang memberi faedah, yang menuntun engkau di jalan yang harus kautempuh.’”

Jika demikian, konfirmasi bahwa Allah adalah penunjuk jalan yang benar, maka Yesus adalah Allah. Hal ini dijelaskan melalui dua bukti, yaitu: Yesus adalah Logos Allah secara ontologi, dan Yesus menyatakan bahwa identitas ontologi-Nya itu dikonfirmasi melalui pernyataan bahwa Dia adalah jalan dan kebenaran dan hidup, mengarahkan dan menuntun manusia berdosa ke jalan yang seharusnya, yaitu jalan menuju Bapa.

Tangan Sang Khalik yang terulur telah mengubah umat-Nya, bahkan mengubah dunia. Yesus Kristus, tangan Allah yang terulur, telah menyatakan bahwa Diri-Nya adalah jalan keselamatan, dan manusia berdosa diarahkan untuk bertobat, kembali kepada Bapa-Nya, untuk menikmati kehidupan yang berbahagia, kehidupan yang kekal, dan kehidupan yang memberi faedah selama-lamanya. Tetaplah percaya kepada Yesus Kristus.

Salam Bae.

ALLAH DAN MANUSIA: Ia Menebus dan Mengampuni Kita

Sumber gambar: https://id.pinterest.com/pin/820710732086642699/

Dosa, kejahatan, dan pemberontakan terhadap Allah hanya dapat dibereskan melalui penebusan dan pengampunan dari Allah saja. Manusia sama sekali tidak bisa melepaskan diri dari dosa jika Allah tidak memberikan kemampuan kepadanya. Kemampuan yang Allah berikan tidak hanya kemampuan iman untuk tetap kuat menghadapi godaan dan cobaan, melainkan juga kemampuan mempertimbangkan segala sesuatu, baik-buruknya.

Iman mengarahkan kita kepada bagaimana kita melihat Tuhan sebagai “Yang Kudus” dan menerapkan kekudusan kepada diri kita. Allah pernah menegaskan: “Kuduslah kamu sebab Aku, Tuhan Allahmu, adalah kudus”. Manusia yang memilih—dengan kebebasannya—untuk berdosa kepada Allah karena ia menolak untuk taat kepada perintah Allah, termasuk untuk hidup dalam kekudusan. Hidup kudus adalah “tanggung jawab iman” yang tak boleh diabaikan.

Kekudusan menuntun kita untuk pulang kepada Bapa melalui “jalan pulang” yang ditetapkan Bapa bagi kita yaitu Yesus Kristus. Dalam proses melewati jalan pulang itu, Allah menyediakan kita kedamaian dan kekuatan untuk menghadapi berbagai tantangan dan hambatan. Tak jarang, kita berjuang mati-matian menghadapinya. Bersama Allah kita dapat melewatinya, melakukan perkara-perkara yang besar setelah kita “setia” kepada Allah di dalam perkara-perkara yang kecil.

Jalan pulang yang disediakan Allah bagi manusia berdosa menuntun mereka kepada penebusan dan pengampunan yang sejati. Pasca menerima dan merasakan penebusan dan pengampunan, manusia harus mengikuti apa yang dikehendaki-Nya: “hidup kudus”. Dalam hidup kudus terdapat penolakan terhadap dosa; dalam hidup kudus terdapat penolakan terhadap pemberontakan; dan dalam hidup kudus terdapat penolakan terhadap tindak kejahatan.

Ketika Allah memulihkan kita, Ia mendorong kita untuk hidup di dalam firman-Nya (kehendak-Nya). Kita yang hidup di dalam firman-Nya mustahil untuk hidup bagi dosa, mustahil hidup terpisah dari Allah, mustahil  hidup dalam kejahatan dan pemberontakan. Ketika kita berkomitmen hidup bagi Allah, maka secara konsisten kita pun harus menjaga diri dari segala kenajisan, kemunafikan, kejahatan, dan berbagai perilaku menyimpang. Allah adalah kudus, maka Ia akan memuji kita yang hidup dalam kekudusan. Kita “meneladani” Allah.

Penebusan dan pengampunan yang Allah berikan melalui Yesus Kristus menggiring kita kepada kehidupan yang benar, bersih, dan suci. Kita tidak sedang menggiring tanggung jawab ke pinggir jurang dan mendorongnya jatuh, melainkan kita menggiring dosa, kejahatan, dan pemberontakan ke pinggir jurang yang sama, dan mendorongnya jatuh. Itulah tanggung jawab iman. Tanggung jawab yang benar; tanggung jawab yang bebas mendorong “dosa” menemukan tempat yang seharusnya, yaitu “jurang maut”.

Kita hidup bagi Dia. Kita hidup dan bergerak karena Dia, dan kita hidup untuk menyenangkan Dia melalui realisasi tanggung jawab yang benar yaitu menolak dosa dan kejahatan “masuk ke dalam hati dan pikiran”; kita hidup untuk memuliakan Dia melalui perbuatan-perbuatan baik kita supaya setiap orang yang melihatnya memuliakan Bapa yang di surga (Matius 5:16).

Hanya Allah yang dapat menyediakan segala sesuatu untuk kepentingan kita. Segala sesuatu tersedia, tinggal kita yang datang menjemputnya. Allah telah menyediakan “kendaraan” bagi kita, tinggal kitalah yang bergegas untuk menaikinya menuju kasih yang sejati dan sempurna. Allah telah menebus dan mengampuni kita dari segala dosa kita, masihkah kita menolak untuk merealisasikan tanggung jawab iman? Masihkah kita menolak untuk hidup merdeka dalam kasih dan kemurahan-Nya?

Penebusan dan pengampunan Allah yang mengubah hidup kita adalah fakta yang tak terbantahkan. Setiap orang yang merasakan kasih dan kemurahan Allah melingkupi hidupnya adalah orang yang sadar (menyadari) bahwa Allah telah menebus dan mengampuninya. Tak ada yang lebih membahagiakan selain kita tahu bahwa kita telah ditebus dan diampuni Allah melalui Yesus Kristus.

Yesus Kristus datang memperlihatkan kasih dan kepedulian Allah atas manusia yang berdosa. Untuk memulihkan manusia yang berdosa, Allah tidak hanya menggunakan satu cara saja. Justru dengan cara-cara yang berbeda tetapi substansinya sama, Allah menunjukkan bahwa Ia tak kehilangan cara atau kekurangan cara. Cara-cara tersebut menggiring manusia untuk berhadapan langsung dengan “kasih karunia-Nya” yang dahsyat itu.

Inkarnasi Logos ke dalam dunia adalah puncak cara Allah untuk menebus dan mengampuni manusia. Inkarnasi bersifat suprematif dan melaluinya, Allah dengan leluasa menyatakan kehendak-Nya kepada manusia. Ketika Allah menyampaikan Logos-Nya secara langsung, melalui para malaikat, melalui bapa-bapa leluhur, melalui nabi-nabi, hakim-hakim, raja-raja, dan orang-orang pilihan-Nya, Allah juga menyampaikan firman-Nya melalui konsep “menjadi”: “Logos “menjadi” daging (“ho Logos sarks egeneto”). Allah begitu luar biasa memperlihatkan cara-cara yang ajaib di sepanjang sejarah dan berpuncak pada Yesus Kristus.

Allah benar-benar memperlihatkan finalitas kasih-Nya melalui Logos-Nya sendiri hadir dalam sejarah manusia dalam wujud “manusia”. Bukankah ini sangat luar biasa? Jika Allah hanya berfirman (berbicara) melalui para malaikat dan orang-orang yang ditetapkan-Nya, itu sudah biasa, tetapi ketika Ia datang dan berbicara melalui Logos-Nya yang menjadi manusia, maka itu luar biasa.

Allah menunjukkan cara yang lain yang tidak biasanya dan tidak pernah terjadi dalam sejarah Israel, bahkan dalam sejarah umat manusia. Inkarnasi Allah adalah finalitas cara Allah untuk memperlihatkan kemahakuasaan-Nya. Allah menggabungkan dua cara menjadi satu: “Firman Allah” yang dibuat menjadi Kitab Suci dan “Firman Allah” yang menjadi manusia.

Pada “Firman Allah” menjadi Kitab Suci dapat terjadi pada agama-agama lain, sebab mereka juga memiliki kitab suci yang dipercayai sebagai “sabda” Tuhan atau Dewa yang mereka imani, dan kemudian menjadi kitab suci. Akan tetapi pada “Firman Allah” yang menjadi manusia, tidak terdapat pada agama manapun, kecuali dalam Kristen, agama yang lahir dari rahim Yudaisme yang bertitik tolak dari inkarnasi Logos menjadi manusia, yaitu Yesus Kristus. Inilah letak keunikan agama Kristen, agama yang berpusat pada Yesus Kristus.

Melalui Yesus Kristus, manusia sejati dan Allah sejati, kita mendapatkan ketenangan dan menikmati kebenaran Allah dalam rasa takut akan Dia, dalam sikap menghormati dan mengasihi-Nya dengan sepenuh hati. “Jalan” yang ditawarkan Allah melalui Yesus hanya dapat ditempuh melalui keputusan untuk “beriman” dan “percaya” kepada-Nya (bdk. Yohanes 3:16). Tawaran-tawaran menarik di dalam “jalan” itu, mendidik kita untuk tetap setia dan hidup benar di hadapan-Nya.

Kita telah menemukan “jalan pulang” kepada Bapa melalui Yesus Kristus. Dialah yang menunjukkan “jalan menuju Bapa” (Yoh. 14:6). Jalan itu adalah jalan kebenaran, jalan kehidupan, jalan kekudusan. Kita yang telah ditebus dan diampuni-Nya layak melewati jalan itu dengan kebebasan yang sudah dikuduskan melalui darah Kristus.

Oleh sebab itu, kita dapat memahami betapa besar kasih Allah bagi kita, sejauh kita tetap berada di “jalan pulang” itu. Yakinlah bahwa kita tak mungkin tersesat karena Yesus menjamin kita; kita tak mungkin terhilang; kita ada di dalam tangan-Nya, berada dalam kedaulatan-Nya. Tetaplah berada di jalan pulang, dan temukanlah berkat-berkat melimpah karena Yesus Kristus telah berjanji bahwa Ia akan menyertai kita “senantiasa” sampai kepada akhir zaman.

Salam Bae…

KESABARAN SANG KHALIK

Ketika memperhatikan kehidupan manusia pada umumnya, di mana kejahatan manusia semakin hari semakin bertambah, kita mungkin seringkali bertanya: “Di manakah Allah?” Mengapa Allah membiarkan kejahatan terus terjadi dan bahkan merajalela pada lokus-lokus tertentu. Apakah Allah dapat dianggap sebagai pribadi yang tidak berkuasa, atau bahkan tidak ada, karena tidak sanggup menangani dan menghentikan kejahatan manusia?

Atau barangkali kita pernah berpikir bahwa Allah selalu terlambat menolong umat-Nya. Padahal, Allah memiliki kuasa untuk menghambat atau menggagalkan kejahatan yang ditujukan kepada umat-Nya. Bukankah lebih baik jika Allah menghancurkan kejahatan atas umat-Nya?

Ada banyak pertanyaan dan kekesalan hati manusia terhadap Allah, terutama ketika bersentuhan dengan penderitaan, kejahatan, dan persoalan (kemiskinan, tekanan, dan lain sebagainya). Dan semua pertanyaan itu sebenarnya sudah terjawab, entah melalui peristiwa-peristiwa yang dialami oleh mereka yang bertanya dan kesal, atau melalui orang lain, melalui alam, melalui pemerintah, dan lain sebagainya.

Masih tersisa juga beberapa pertanyaan mendasar, terutama mengenai kejahatan: “Jika Allah ada, mengapa masih ada kejahatan di muka bumi?” Pertanyaan dalam bentuk analogi ini seharusnya ditujukan kepada manusia itu sendiri. Jika yang berbuat kejahatan adalah manusia, mengapa Allah yang diajukan ke meja hijau? Apalagi kejahatan dikaitkan dengan eksistensi-Nya. Pertanyaan tersebut tidak tepat, karena manusialah sumber kejahatan dan dengan kebebasannya, manusia dapat melakukan segala cara untuk memuaskan keinginannya, memenuhi kewajiban dan tuntutan agama yang dianutnya, membahagiakan pemimpinnya, dan memuluskan agenda politiknya.

Kesabaran Sang Khalik tak dapat dibaca oleh manusia yang dibaca Allah (masa depan dan hidupnya). Ketika kita berpikir: “mengapa Allah membiarkan kejahatan terjadi?” kita sedang melupakan tuntutan moral kita sendiri. Mengapa kita tidak berusaha menyadarkan mereka? Mengapa kita tidak berusaha membawa mereka kembali kepada Tuhan? Mengapa kita hanya suka berkomentar ketimbang berbuat sesuatu bagi mereka? Mengapa kita selalu menyalahkan Allah?

Kesabaran Allah sebenarnya menunjukkan kepada kita bahwa Ia bertindak bukan berdasarkan kehendak dan emosi kita, melainkan bertindak sesuai dengan kedaulatan-Nya. Adakah Allah terlambat menolong mereka yang percaya kepada-Nya? Bukankah Ia berkuasa atas hidup mereka? Jika mereka ditimpa kejahatan dan kematian, bukan berarti Allah tidak menolong mereka; Allah telah menyediakan “tempat” yang terbaik bagi mereka dalam kerajaan-Nya.

Kita ambil contoh kisah mengenai Nabot dan Izebel. Izebel menghasut beberapa orang untuk memfitnah Nabot, sang pemilik kebun anggur. Sebelumnya, suami Izebel, Raja Ahab menginginkan kebun anggur Nabot, tetapi Nabot tidak menjualnya atau memberikannya kepada Ahab. Akhirnya, Nabot mati dirajam batu karena dituduh telah mengutuk Allah dan raja (1 Raja-Raja 21:13).

Dalam kisah tersebut, seolah-olah kematian Nabot terlewati oleh Allah: Allah tidak menolongnya. Ada yang beranggapan bahwa mengapa orang baik seperti Nabot mati dengan cara dirajam karena difitnah, dan kemudian Allah tidak berbuat sesuatu, atau setidaknya membatalkannya pada saat itu. Bukankah Izebel telah merasa dirinya hebat dan berkuasa menghasut siapa saja dengan menggandengkan dirinya dengan kekuasaan raja Ahab, suaminya?

Tunggu dulu. Allah itu sabar. Ia bertindak sesuai dengan kehendak-Nya. Kita lihat pada kisah berikutnya; apa yang terjadi dengan Izebel sebagai provokator pembunuhan Nabot? Pada 1 Raja-Raja 21:23, TUHAN telah berfirman (melalui Nabi Elia) mengenai Izebel: “Anjing akan memakan Izebel di tembok luar” (bdk. 2 Raj. 9:10, 36).

Dalam 2 Raja-Raja 9:30-37, menceritakan tentang kematian Izebel. Ia dijatuhkan dari jendela, sehingga darahnya memercik ke dinding dan ke kuda; mayatnya pun terinjak-injak. Bahkan menurut Yehu, Izebel adalah orang terkutuk (2 Raj. 9:34). Ya, memang terkutuk, karena Izebel melakukan banyak kejahatan. Mayatnya tersisa hanya kepala dan kedua kaki dan kedua telapak tangannya, yang lainnya dimakan anjing.

Kisah di atas mengajar kita mengenai kesabaran Allah atas para pelaku kejahatan. Jangan mudah menyalahkan Allah. Meski kita tahu dari sejarah bahwa banyak orang-orang percaya dibunuh, dipenggal, dibakar (dijadikan lampu taman), disiksa sedemikian rupa, dan berbagai proses kematian mereka yang begitu mengerikan, namun Allah telah membuktikan kesabaran-Nya sampai sekarang. Buktinya, Kekristenan adalah “agama” [sistem kepercayaan] yang terbesar di dunia. Persebarannya bukan melalui peperangan, pedang, dan ancaman, melainkan melalui pemberitaan Injil Yesus Kristus, melalui sikap kasih yang tulus: mendoakan dan mengampuni musuh.

Dalam proses persebarannya, kuasa dan kasih Tuhan begitu nyata. Ancaman tidak lagi menjadikan mereka takut, melainkan mereka berani bersaksi bagi Yesus Kristus. Kekristenan berkembang ke seluruh dunia disebabkan oleh kasih dan kuasa Tuhan yang begitu dahsyat. Ketika Tuhan melawat hati setiap manusia yang berdosa, maka mereka merasakan perubahan yang luar biasa yang tak dapat terkatakan.

Kesabaran Sang Khalik adalah bukti bahwa Ia mengasihi manusia berdosa; Ia menghendaki manusia untuk bertobat, dan kembali pulang kepada-Nya. Sampai di sini saya teringat dengan pernyataan Rasul Petrus:

“Tuhan tidak lalai menepati janji-Nya, sekalipun ada orang yang menganggapnya sebagai kelalaian, tetapi Ia SABAR terhadap kamu, karena Ia menghendaki supaya jangan ada yang binasa, melainkan supaya semua orang berbalik dan bertobat” (2 Petrus 3:9).

Kita melihat bahwa tujuan dari KESABARAN ALLAH adalah untuk kebaikan kita. Dengan demikian, jika kesabaran Allah mendatangkan kebaikan bagi kita, maka kita harus “mengikuti” Allah. Mengikuti Allah berarti mengikuti (menuruti) kehendak-Nya, yaitu hidup kudus di hadapan-Nya, mengasihi Dia dan mengasihi sesama; dan bersaksi bagi nama-Nya.

Apa yang terjadi dalam kehidupan kita, meski itu menyakitkan, pahamilah itu sebagai bentuk dari kesabaran Allah. Kita telah merasakan kesabaran Allah di sepanjang hidup kita. Jika demikian, kita juga layak untuk bersabar. Hal inilah yang dinyatakan oleh Rasul Paulus: “Kasih itu bersabar, kasih itu bermurah hati….” Kita diberikan kehidupan oleh Tuhan, dan dalam proses menjalani kehidupan tersebut, kita harus tetap ingat bahwa segala sesuatu ada dalam tangan kuasa Allah. “Kita tahu sekarang, bahwa Allah turut bekerja dalam segala sesuatu untuk mendatangkan kebaikan bagi mereka yang mengasihi Dia, yaitu bagi mereka yang terpanggil sesuai dengan rencana Allah” (Roma 8:28).

Jalanilah hidup ini dengan penuh kesabaran tanpa mengabaikan kerja keras dan mengucap syukur. Allah pasti memampukan kita yang siang malam berseru kepada-Nya. Kesabaran Allah adalah kehidupan kita; kesabaran Allah mengajar kita untuk menyadari bahwa ada kebaikan-kebaikan yang Dia sediakan bagi kita; ya, bagi kita yang setia kepada-Nya.

Salam Bae….

Sumber gambar: Naboth in his Vineyard 1856 James Smetham 1821-1889 Bequeathed by W.C. Alexander 1917 http://www.tate.org.uk/art/work/N03203.

KASIH DAN KEMURAHAN SANG KHALIK

Adam and Eve are Driven out of Paradise (Genesis 3, 21-24). Chromolithograph, published in 1886.

Tak ada kasih yang melebihi kasih Allah, dan tak ada kemurahan yang dapat melebihi kemurahan Allah, Sang Khalik yang kita percayai. Kasih-Nya yang nyata dirasakan oleh mereka yang percaya, melihat kebaikan-Nya setiap hari. Kasih Allah terlihat pada tiga peristiwa besar dalam sejarah manusia.

Pertama, terlihat pada cara mula-mula untuk menutupi rasa malu manusia pasca mereka berdosa kepada Allah. Allah menutupi ketelanjangan mereka dengan “kulit binatang”. Cara ini adalah bentuk kepedulian Allah karena Ia tahu bahwa manusia tak mampu untuk keluar dari masalah malu dan ketelanjangan. Manusia yang berdosa tak mampu keluar dari dosa itu. Manusia menciptakan pelanggaran terhada perintah Allah, secara simultan telah mewariskan “sikap” mencoba melawan Allah dengan cara “tidak mematuhi perintah-Nya”. Sikap inilah yang masih terlihat di sepanjang zaman, termasuk di zaman ini.

Cara ini—yaitu menutupi dosa, malu, dan ketelanjangan manusia, berlanjut hingga pada zaman Abraham, Musa, hingga para nabi. Substansinya sama, bahwa Allah memilih “darah” sebagai media penebusan dan pengampunan karena keduanya begitu mahal, bukan murahan. Di kemudian hari, kita melihat dalam catatan Rasul Petrus yang menegaskan prinsip ini: “Sebab kamu tahu, bahwa kamu telah DITEBUS dari cara hidupmu yang sia-sia yang kamu warisi dari nenek moyangmu itu bukan dengan barang yang fana, bukan pula dengan perak dan emas, melainkan dengan DARAH YANG MAHAL, yaitu DARAH KRISTUS yang sama seperti darah anak domba yang tak bernoda dan tak bercacat” (1 Petrus 1:18-19).

Kedua, kasih Allah terlihat pada cara Dia memelihara, memberkati, menopang, menolong umat-Nya, dalam berbagai situasi. Perlu dicatat di sini bahwa kasih Allah terkait dengan konteks tersebut, selalu didasarkan pada “kedaulatan-Nya” dan bukan pada kehendak manusia. Allah bertindak—untuk menolong, memelihara, memberkati, dan menopang—sesuai dengan apa yang Dia kehendaki untuk dialami oleh umat-Nya. Dengan perkataan lain, “providensia” Allah berlaku bagi semua orang di dunia ini. Ia tidak hanya memelihara manusia, tetapi juga bumi yang kita diami ini.

Ketiga, kasih Allah terlihat pada peristiwa Logos menjadi “daging” [manusia]. Peristiwa tersebut merupakan realisasi kuasa dan kedaulatan-Nya bagi umat manusia. Logos tidak hanya diam di dalam diri Allah sejak kekal, tidak hanya “keluar” (berfirman) ketika Allah menciptakan dan menaburkan firman-Nya kepada orang-orang yang dikehendaki-Nya, tetapi Logos itu sendiri—karena kuasa-Nya yang luar biasa itu—“keluar” dan “menjadi” manusia. Yesus menegaskan kondisi ini: “Jikalau Allah adalah Bapamu, kamu akan mengasihi Aku, sebab Aku ‘keluar’ dan datang dari Allah. Dan Aku datang bukan atas kehendak-Ku sendiri, melainkan Dialah yang mengutus Aku” (Yohanes 8:42).

Dalam konteks inkarnasi, Yesus—Logos Allah—menunjukkan berbagai hal mengenai Allah, kehendak Allah, kasih Allah, Kerajaan Allah, keselamatan, pengampunan, kemurahan, kehidupan yang benar, hukuman bagi manusia berdosa, dan lain sebagainya. Kedatangan Logos Allah ke dalam dunia memperlihatkan kuasa, kasih, dan kedaulatan Allah atas hidup manusia termasuk kedaulatan-Nya untuk “menebus” umat-Nya dari dosa-dosa mereka (Mat. 1:21), “mengampuni” mereka, “menyelamatkan mereka dari hukuman kekal”, dan “memberikan kehidupan kekal” bagi mereka yang percaya dan setia kepada-Nya (bdk. Yoh. 3:16).

Kasih Allah sungguh menakjubakan, menggairahkan, mengarahkan, membahagiakan, memuaskan dahaga akan kebenaran, menguatkan iman dan pengharapan. Kasih itu pula yang menjadikan hidup damai, hidup tanpa kekerasan, hidup tanpa kemunafikan. Kasih itu benar-benar mengarahkan hidup manusia untuk mengasihi Allah dan sesama.

Kemurahan Allah pun tampak dalam sejarah manusia sejak awal mereka diciptakan. Kemurahan diartikan sebagai “kebaikan” yang tampak melalui tindakan-tindakan Allah. Sejak awal Allah memberikan tempat yang layak kepada manusia—Adam dan Hawa—Ia pun menyatakan kemurahan-Nya. Dengan bebas mereka dapat memakan dan menikmati buah-buahan di dalam taman itu, tetapi kemurahan itu ada batasannya, yaitu batasan untuk mengajar manusia supaya tidak serakah. Jika demikian adanya, manusia akan merasakan berbagai konsekuensi, baik kesehatan, relasi, spiritual, maupun moralitas.

Kemurahan Tuhan bersifat mendidik; mendidik kita agar menjadi manusia yang menikmati segala sesuatu sesuai dengan apa yang dibutuhkan. Sang Khalik tahu bahwa kita membutuhkan sesuatu untuk kehidupan. Oleh sebab itu, Ia menyatakan kasih dan kemurahan-Nya setiap hari. Benarlah apa yang dikatakan penulis kitab Ratapan: “Tak berkesudahan kasih setia TUHAN, tak habis-habisnya rahmat-Nya, selalu baru tiap pagi; besar kesetiaan-Mu! (Ratapan 3:22-23).

Tak ada yang dapat menggantikan kedudukan “kasih” dan “kemurahan” [kebaikan] Tuhan dalam hidup kita. Kita hidup dan bergerak adalah karena kasih Allah; kita dapat bekerja dan berusaha, berjuang, menikmati hidup dan berbahagia, adalah karena kemurahan-Nya.

Kebahagiaan yang tertinggi dan melagakan (menyenangkan, menenteramkan) adalah ketika kita merasakan kasih dan kemurahan Allah dalam setiap nafas kehidupan kita. Kasih Allah itu telah terbukti, dan dunia diubahkan oleh pengaruh kasih-Nya, yaitu Allah mengutus Yesus Kristus ke dalam dunia. Ia menyatakan kebenaran, kasih, dan kemurahan Bapa-Nya. Ia juga yang menyatakan kasih Bapa melalui pengurbanan diri-Nya: “mati dalam keadaan-Nya sebagai manusia” menjadi tebusan bagi banyak orang. Allah menerapkan cara-Nya sendiri—sebagai kelanjutan dari konteks penebusan dan pengampunan dalam Perjanjian Lama.

Yesus Kristus adalah perwujudan final dari kasih dan kemurahan Allah bagia manusia yang berdosa. Yesus menyediakan “jalan pulang” menuju Bapa-Nya, yaitu percaya kepada-Nya dan mengikuti kehendak-Nya.

Salam Bae……

Sumber gambar: https://www.mediastorehouse.co.uk/fine-art-storehouse/magical-world-illustration/chromolithograph-illustrations/adam-eve-driven-paradise-published-1886-15413547.html?prodid=676#openModal

KEKUATAN FIRMAN ALLAH BAGI KESINAMBUNGAN HIDUP UMAT-NYA

opened book of John Bible page
Sumber gambar: https://unsplash.com/photos/70HRUm5TKj0

Allah membuktikan eksistensi-Nya melalui “berfirman”. Kitab Kejadian pasal 1 menjelaskan mengenai eksistensi Allah dalam konteks penciptaan. “Allah menciptakan langit dan bumi” adalah sebuah pernyataan eksistensi Allah “dari manusia”, yaitu penulis kitab Kejadian, berdasarkan fakta bahwa memang Allah adalah Pencipta, sedangkan Allah berfirman: “Jadilah terang” adalah bukti eksistensi dari diri-Nya sendiri, yang kemudian dituliskan oleh penulis kitab Kejadian melalui inspirasi dari Allah sendiri. Berfirman bukan hanya sekadar berkata-kata saja, tetapi di dalamnya terkandung kekuatan kuasa Allah, baik kuasa eksistensi-Nya, maupun kuasa untuk mengubah segala sesuatu, termasuk mengubah kehidupan manusia.

Ketika Allah berfirman berarti Ia menghendaki sesuatu terjadi. Firman-Nya tak pernah gagal, tak pernah hambar. Firman-Nya mengubah segala sesuatu. Lebih dari itu, firman-Nya memberikan harapan bagi kesinambungan hidup umat-Nya. Alkitab secara jelas menuliskan kisah-kisah menarik di mana Allah menyatakan kehendak-Nya melalui firman yang “keluar” dari diri-Nya sendiri kepada mereka yang dikenan-Nya. Mereka merasakan pengalaman berharga bersama Allah.

Kekuatan Firman Allah tiada tandingannya. Manusia, jatuh-bangun, hidup-mati, gembira, dihukum, disemangatkan, dipimpin, diarahkan, diangkat derajatnya, semua terjadi oleh Firman Allah. Manusia terus berjuang untuk menikmati hidup, mengubah hidup, dan memenuhi tujuan hidupnya. Tetapi jika Allah tidak memberikan kepadanya kesempatan dan waktu untuk melakukan itu semua, maka kesia-siaan akan diraihnya.

Dalam sejarah, tak sedikit pengakuan manusia mengenai kekuatan Firman Allah yang telah mengubah hidup mereka; mengubah keluarga mereka dari yang rusak menjadi baik kembali; mengubah perilaku buruk menjadi baik; mengubah pikiran jahat menjadi pikiran yang dilandasi dengan kesucian, dan masih banyak lagi hal-hal yang tak dapat disebutkan di sini.

Yang terpenting adalah kesadaran dan pengakuan kita tentang bagaimana Firman Allah mengubah kita, sehingga kita memiliki kesinambungan menjalani hidup. Tak ada yang dapat dibanggakan jika kita jauh dan menjauh (memisahkan diri) dari Allah; tidak ada yang dapat kita salami kekayaan karya Allah ketika kita sengaja melupakan Dia; dan tidak ada yang dapat kita wartakan tentang Dia ketika kita lebih mementingkan diri kita dan kisah kita.

Ketika dulu Allah berulang kali dan dalam pelbagai cara berbicara—atau “berfirman”—kepada nenek moyang dengan perantaraan para nabi, maka Allah memperlihatkan cara yang baru, yaitu melalui perantaraan Logos-Nya yang menjadi manusia, yang disebut dengan “Anak”, yaitu Yesus Kristus. Hal inilah yang ditegaskan oleh penulis kitab Ibrani (1:1-2). Ada korelasi ontologis antara peryataan Rasul Yohanes dan penulis kitab Ibrani mengenai Logos (Firman) Allah yang “menjadi” manusia. Pada konteks ini, Firman Allah yang dulu dinyatakan melalui bagaimana ia berkata-kata (berfirman) dalam penciptaan, dalam memanggil orang-orang pilihan-Nya, dalam menetapkan peraturan, hukum, larangan, dan prinsip kehidupan yang selaras dengan kehendak-Nya, kini Ia menyatakan Firman-Nya dengan cara yang penuh kuasa. Allah tidak kekurangan cara. Ia meneguhkan bahwa setiap cara yang dilakukan-Nya, memiliki tujuannya masing-masing.

Jika sebelumnya kita hanya memahami Firman Allah hanya sebatas Allah yang berkata-kata saja, tetapi dalam konteks inkarnasi, Logos benar-benar menjadi daging, menjadi manusia seutuhnya. Ini sangat spektakuler. Kekuatan Firman Allah benar-benar diperlihatkan. Kekuatan itu pula yang akan menebus, mengampuni, menyelamatkan, dan menguduskan umat pilihan-Nya.

Kedatangan Yesus ke dunia membawa pengharapan akan kehidupan yang berkesinambungan: “Setia orang yang percaya kepada-Nya tidak binasa, melainkan beroleh hidup yang kekal” (Yoh. 3:16). Firman Allah telah menyejarah dalam kehidupan manusia berdosa; Ia (Logos) mewujud menjadi manusia. Melalui Logos, Allah menjadikan alam semesta (Yohanes 1:3; Ibrani 1:2). Logos yang menjadikan segala sesuatu, kini Ia “menjadi” manusia. Hal ini tak dapat dibayangkan sama sekali. Ini luar biasa.

Identitas yang melekat pada Firman Allah yang menjadi manusia itu adalah cahaya kemuliaan Allah (Ibrani 1:3). Allah itu mulia dan penuh kemuliaan, dan secara konsekuensi, Allah memiliki kemuliaan yang dipancarkan-Nya kepada dunia. Yesus—cahaya kemuliaan Allah—memancarkan kemuliaan itu melalui kasih, kuasa, dan pengampunan. Tidak hanya itu, Yesus—Firman itu—adalah gambar wujud Allah, yang merujuk pada kekuasaan untuk mengampuni dan menebus, dan kekuasaan untuk menyatakan kasih-Nya yang besar itu (bdk. Yoh. 3:16). Yesus menopang segala yang ada dengan firman-Nya yang penuh kekuasaan, dan Ia duduk di sebelah kanan Allah—tanda Dia diterima dan kembali ke tempat asal-Nya.

Firman yang berkuasa, selain menyejarah, Ia juga mengubah dunia. Hal ini telah berulang kali saya tegaskan sebelumnya. Allah telah memperlihatkan itu semua dalam Perjanjian Lama, dan Yesus, dalam Perjanjian Baru, juga memperlihatkan hal yang sama. Kesetaraan ontologis antara Allah dan Firman-Nya sejak kekekalan, tidak akan berubah kualitas-Nya ketika Firman-Nya itu “menjadi manusia”. Natur (tubuh) manusia hanyalah media di mana Logos itu berdiam sebagaimana Logos berdiam dalam diri Allah. Perbedaannya adalah Allah, tempat berdiamnya Logos, adalah kekal, tak diciptakan, sedangkan (tubuh) manusia, tempat berdiamnya Logos dalam inkarnasi-Nya, tidak kekal, dan diciptakan.

Kekuatan Firman Allah telah nyata. Ia telah datang dalam wujud manusia, dan mengarahkan manusia untuk pulang kepada Sang Bapa. Manusia diajar untuk memahami kehidupan sebagai hadiah baginya. Lebih dari itu, manusia mendapatkan jaminan yang luar biasa tatkala mereka percaya dan menerima Yesus Kristus—Logos Allah—di dalam hati dan hidup mereka.

Firman itu berkuasa. Itu sebabnya, sepanjang hidup-Nya, Yesus menyatakan kuasa dan tak seorang pun dapat melawan atau menolaknya. Yesus adalah Firman Allah, dan Ia menawarkan kepada kita sebuah kehidupan yang berkesinambungan. Kita percaya bahwa meletakkan harapan kita pada Yesus sangatlah tepat; kita tidak rugi. Seperti Rasul Paulus, ketika Ia percaya dan melihat kepada Kristus, yang lain, termasuk masa lalunya, dianggap sampah demi Kristus.

Kita pun dapat melakukan hal yang sama seperti Rasul Paulus. Ketika Yesus menjadi yang utama di dalam hidup kita, maka keinginan dan kemunafikan menjadi sampah yang tak perlu didaur ulang, melainkan harus dibuang atau dibakar sehingga tidak lagi tersisa bentuknya. Perjuangan melawan dosa dan kemunafikan memang tergolong sulit, tetapi Yesus memberikan kita kekuatan dan iman untuk dapat menolaknya, menangkalnya, dan membuangnya jauh-jauh dari hati, pikiran, dan hidup kita.

Marilah kita berserah kepada Firman itu, dan melakukan apa yang Dia kehendaki. Pastinya, yang Dia kehendaki itu adalah kita mengimitasinya dengan cara saling mengasihi, saling mengampuni, dan saling mendoakan. Hidup kita akan berkesinambungan ketika kita melekat pada Yesus Kristus. Caci maki dan hinaan bukanlah apa-apa; itulah yang bagian dari kebodohan mereka yang menolak kuasa, kasih, dan pengampunan Yesus Kristus. Biarkanlah mereka yang menghina kita berurusan dengan Yesus. Tentunya, Ia akan menunjukkan kuasa-Nya yang tak tertandingi itu, kepada mereka yang merendahkan dan menghina-Nya.

Firman itu telah menjadi manusia dan diam di antara kita. Bukankah ini adalah berita sukacita? Hingga sekarang, kita masih merasakan penyertaan Yesus, bukan? Ia tinggal di antara kita melalui kuasa-Nya. Ia pun telah berjanji: “Dan ketahuilah, Aku menyertai kamu senantiasa sampai kepada akhir zaman.” Percayalah kepada Firman yang menguatkan itu, dan terimalah uluran tangan kasih-Nya yang membalut luka-luka hidup kita, dan menyembuhkan segala kesakitan yang kita alami.

Di dalam Dia, hidup kita berkesinambungan sampai selama-lamanya.

Salam Bae.

UNTUK SESEORANG YANG MEMPERCAYAIKU

woman on bike reaching for man's hand behind her also on bike

Kehadiran dirimu telah mengubah perasaanku

Kau datang dengan ketulusan dan itulah yang terlihat dari hatimu

Dengan cinta yang kau bawa untukku telah membuat hatiku merasakan tulus dan setianya apa yang kau berikan

Dengan cintamu, kau menghadirkan kasih dan sayang yang begitu dalam

Terkadang hatiku ragu

Terkadang hatiku sakit

Terkadang hatiku cemburu dengan apa yang terjadi selama ini

Tetapi engkau memberikan sebuah hadiah untukku yang menghapus semua keraguan, kesakitan dan kecemburuan itu

Hadiah itu adalah sebuah “senyuman yang manis”, “kehadiran dirimu” dan “kepercayaanmu” terhadap cintaku

Semua yang telah kita lalui selama ini telah menjadikan diri kita dewasa dan berjiwa besar di saat begitu banyak ujian dan cobaan yang menghadirkan ketakutan di antara kita

Kita berdua telah sepakat bahwa ketakutan itu suatu saat akan hilang bersama waktu yang dianugerahkan Tuhan kepada kita

Cinta tanpa ujian, bagaikan perahu di tengah sungai yang mati

Cinta, selalu diperhadapkan dengan cobaan; ia bagaikan perahu di tengah lautan yang menderu; jika tidak mau menghadapi cobaan, maka ia bagaikan perahu yang tidak pernah dibawa ke lautan

Cinta patut mendapat penghargaan di saat dia mampu bersabar, berjuang dan bertahan menghadapi cobaan dan ujian

Cinta sejati telah melewati dan akan melewati semua itu sebagai pemurniannya

Engkau adalah cintaku yang sejati, karena keyakinanku telah mengatakannya demikian.

Salam Cinta…

Sumber gambar: https://unsplash.com/photos/AsahNlC0VhQ

KITA, CINTA, DAN TANTANGAN

Kita, cinta dan tantangan adalah tiga hal yang dimiliki oleh setiap manusia. Kita, adalah pelaku: pemberi dan penerima cinta. Cinta, adalah perasaan terhadap seseorang atau sesuatu yang memiliki kekuatan tersendiri. Tantangan, adalah proses dari perjalanan hidup manusia yang memiliki cinta – dan dengan tantangan itu, kita dan cinta kita dapat merasakan apa itu artinya kasih, apa itu pengertian, apa itu kesabaran dan kesetiaan, apa itu doa, apa itu air mata, apa itu pengorbanan dan apa itu pengampunan.”

“Cinta yang pantas dinikmati adalah cinta yang “memberi”. Memberi sesuatu untuk cinta ada batasannya. Batasan itu adalah batasan moral, hukum dan kebenaran. Moral, berkenaan dengan aspek seksualitas yang semestinya; hukum, berkenaan aspek peraturan yang mengikatnya dan kebenaran adalah pengontrol semuanya apakah sudah sesuai dengan “tindakan yang benar” tanpa menyalahi aturan yang ada.”

KITA, CINTA, DAN TANTANGAN

Manusia seringkali menciptakan puisi yang indah mengenai kisah cintanya, perasaan cintanya, kehidupan cintanya, masalah dalam cintanya, keinginan untuk mencintai, menolak cinta, belum mau untuk mencintai dan ragam-ragam cinta yang lain

Dengan puisi tersebut, kita seringkali memaknai cinta kita bahwa  dialah satu-satunya cinta kita yang sejati, sehidup semati, setia selamanya dan ungkapan lainnya yang mewarnai cinta itu

Kalimat-kalimat dalam puisi tersebut hanya akan tinggal kata-kata kosong jika kita tidak pernah menjalani hidup bersama dengan cinta dalam hati dan genggaman kita

Sebelum menghadapi segala macam tantangan, godaan dan ujian, kita belum bisa memastikan apakah puisi itu benar atau tidak. Jika kita menganggap bahwa dialah satu-satunya, bersiaplah anda untuk kecewa dan menangis

Waktu… akan menjawab semuanya dan kita tentunya dapat memahaminya…

Aku pernah berkata bahwa “Engkau adalah cinta sejatiku karena keyakinanku mengatakannya demikian” dan kalimat itu ditujukan kepada seseorang yang aku sayangi, cintai dan kasihi

Tetapi, pada prinsipnya, kalimat ini mengandung janji dan harapan yang menembusi waktu ke depan dan meniadakan tantangan, godaan dan ujian, seakan-akan aku tidak akan mengalami itu semua

Akhirnya, tibalah waktunya bagiku untuk menghadapi itu semua dan aku kalah, perasaanku telah berubah karena kehadiran seseorang, kehadiran satu hati bahkan dua hati. Aku tertipu oleh perasaan, keadaan, jarak, waktu dan kesempatan

Aku ingin bersembunyi darinya tetapi kata hatiku harus jujur untuk mengatakan kepada cintaku bahwa aku telah mengalami perubahan perasaan dengan seseorang

Di saat aku jujur, aku telah mengalahkan sedikit dari perubahan perasaanku itu, dan langkah selanjutnya adalah melupakan dia selamanya

Aku tahu apa itu “kesetiaan”, apa itu “kejujuran”, apa itu “godaan”, apa itu “kemunafikan”, apa itu “berdusta”, apa itu “keterbukaan”, apa itu “kepercayaan”, apa itu “penantian”.

Semua itu telah aku alami sebagai bagian dari cinta dan kehidupan kedagingan manusia. Kita memang tidak bisa menolak bila godaan itu datang, bila cinta kedua datang, bila perasaan terasa lain datang, dan ujian itu datang. Tetapi yang bisa kita lakukan adalah mempertimbangkannya sebaik mungkin dan risiko apa yang akan kita tanggung dari tindakan kita

Jarak, merupakan suatu hal yang menjadi batu ujian bagi cinta aku dan dia. Dengan cinta yang kami bawa, kami seakan-akan berjalan sendiri-sendiri. Terkadang cinta itu ingin diserahkan kepada orang lain yang pernah datang menawarkan senyuman manis

Tapi… semua itu berlalu dengan waktu dan kesetiaan

Aku ingin menggapai cinta sejatiku sampai waktunya tiba. Aku berharap dengan tanganku sendiri, aku ingin memegang erat-erat cinta yang telah diserahkan kepadaku

Dan… aku tahu, bahwa masih ada lagi cinta-cinta yang lain yang ada di depanku untuk menawarkan janjinya kepadaku dengan segala harapan-harapannya

Bila itu terjadi, apa yang akan kulakukan? Mungkin anda mempunyai jawabannya! Aku meminta sedikit jawabannya. Bolehkah? Jika boleh, maka aku akan mengungkapkan lebih dahulu jawabanku…

Jawabanku adalah… aku harus mempertimbangkannya, menolaknya dan menjadikan itu semua sebagai batu ujian yang memperkokoh cinta sejatiku.

Dan pada akhirnya, aku hanya tahu hal-hal ini…. Cinta tanpa ujian, bagaikan perahu di tengah sungai yang mati

Cinta, selalu diperhadapkan dengan cobaan; ia bagaikan perahu di tengah lautan yang menderu; jika tidak mau menghadapi cobaan, maka cinta itu bagaikan perahu yang tidak pernah dibawa ke lautan

Cinta patut mendapat penghargaan di saat dia mampu bersabar, berjuang dan bertahan menghadapi cobaan dan ujian

Cinta sejati telah melewati dan akan melewati itu semua sebagai pemurniannya

“Engkau adalah cintaku yang sejati, karena keyakinanku telah mengatakannya demikian.”

Salam Cinta….

MEMAKNAI CINTA

man and woman dancing at center of trees

Pada prinsipnya, manusia memiliki cinta – terlepas dari murni tidaknya cinta itu. Cinta memang menghadirkan beragam makna, dampak dan tujuan akhir dan dengannya banyak kisah cinta yang menginspirasi banyak orang, banyak kisah yang membuat orang lain sedih, geram, marah, kecewa, memfitnah, membunuh, cemburu dan lain-lain. Begitu beragamnya cinta itu sehingga sulit bagi kita untuk dapat menilai dengan cermat apa yang ada di balik cinta itu

Seiring dengan berjalannya waktu, banyak cinta yang putus di tengah jalan. Mencoba bertahan – tapi karena keegoisan dan kecemburuan, juga pengkhianatan cinta dan kesakithatian terhadapnya, membuat semua berakhir dengan berbagai situasi dan kondisi

Pada akhirnya, banyak orang mencoba memulai dengan cinta yang baru dan memulai cerita dan kisahnya. Meskipun sifatnya tidak menentu, cinta, setidaknya telah menjadikan manusia berbalik arah: dari yang buruk menjadi baik dan dari yang baik menjadi buruk – semua bergantung kepada keputusan dan moral seseorang

Kita pun adalah pelaku cinta – tantangan demi tantangan mulai datang sebagai bagian dari pemurnian kesetiaan terhadap cinta. Tak banyak hal yang dapat dilakukan jika cinta itu tidak pernah dimanfaatkan sebagai wadah bagi kita untuk saling berbagi kasih dan kebahagiaan, berbagi waktu dan kesempatan untuk menikmati semua tindakan baik dari cinta pada jalur yang lurus

Kita semestinya berbuat baik terhadap kekasih kita – menjaganya sebaik mungkin. Menjalaninya pun harus dengan penuh pemahaman yang matang tentang apa itu cinta, yang dengannya, setiap orang dapat memenangkan semua tantangan cinta ketika ia dan kekasihnya bertemu dalam suatu ikatan yang khusus

Banyak hal aneh yang terjadi seputar cinta. Banyak pula yang belajar mengambil pelajaran dari kisah cinta yang pernah ia rasakan. Meskipun ia pernah dikecewakan kekasihnya, masih saja ia memberikan kesempatan untuk dapat berbagi cinta dan kasih. Ada pula yang menutup hatinya untuk beberapa waktu lamanya

Kita selalu terlibat dalam intrik cinta, dalam  tulusnya cinta, dalam munafiknya cinta, dalam setianya cinta, dalam pengorbanan cinta, dalam perebutan cinta. Semuanya bisa berdampak bagi perilaku kita, yang bisa juga kembali dilakukan kepada kekasih kita yang berikutnya setelah mengakhiri hubungan dengan kekasih sebelumnya

Cinta perlu dimaknai sebagaimana ia harus dimaknai dengan makna yang terkandung di dalamnya. Makna tersebut harus dinilai dari perspektif yang jujur dan setia.

Saya tidak menyangkal adanya perbedaan makna cinta yang tentunya bisa bersifat membangun dan merusak. Semuanya bergantung pada cara berpikir dan pribadi masing-masing orang. Tak seharusnya kita menilai cinta dan menghasilkan makna yang keliru bahkan bersifat negatif. Menilai cinta secara baik, jujur dan setia, menghasilkan makna cinta yang luar biasa – dan membawa pasangan yang saling cinta kepada situasi dan kondisi yang romantis, bahagia dan menyenangkan

Tatkala kita sibuk dengan cara-cara untuk mendapatkan cinta, ada hal lain yang sering dilupakan orang, yakni: “perlu menilai diri sendiri, apakah cinta yang akan diberikan kepada orang lain adalah cinta yang tulus dan setia atau tidak”.

Biasanya, penilaian itu dilewatkan atau bahkan dilupakan. Yang terpenting adalah bagaimana caranya untuk mendapatkan pujaan hati “dengan berbagai cara”. Dibutuhkan usaha yang giat untuk mendapatkan cinta – entah harus mengorbankan yang satu untuk mendapatkan yang lain atau mengorbankan semuanya untuk mendapatkan “satu cinta”

Memaknai cinta perlu bijaksana yang cukup, bahkan pula dibutuhkan suatu pengalaman berharga. Artinya, pengalaman bisa dijadikan pedoman untuk memaknai cinta itu dan selalu tidak mengulang kesalahan yang sama dan mengulang kebaikan yang sama. Banyak hal yang perlu dilakukan dalam mempertahankan cinta – kemudian tindakan tersebut harus dilandasi dengan cinta dan kasih yang murni.

Murni tidaknya bersumber dari hati dan pikiran kita masing-masing. Cara-cara untuk mendapatkan cinta juga bersumber dari hati dan pikiran kita. Tak banyak yang dapat dilakukan jika kita tidak mempunyai kemamuan yang tinggi untuk menggapai dan menggenggam cinta itu erat-erat.

Ada banyak hal yang perlu dibenahi ketika kita menjalani suatu hubungan cinta yang pasangan kita. Hal-hal tersebut sebenarnya dapat dideteksi oleh para pelaku hubungan cinta – tidak hanya mau menjalani hubungan cinta, melainkan perlu untuk memikirkan apa baiknya yang dikerjakan sebagai bagian dari bertahannya cinta.

Setiap pasangan memiliki berbagai kenangan manis dan pahit. Keduanya berdiri berdampingan dengan cinta.

Yang manis menjadikan kita bahagia; yang pahit menjadikan kita sakit hati, marah dan sedih

Tak jadi soal, seberapa banyak kita mendapatkan kenangan yang manis dan berbuahkan kebahagiaan, tak jadi soal seberapa banyak kita mendapatkan kenangan pahit dan berbuahkan perpisahan, air mata, sakit hati dan kebencian – yang paling penting adalah: menjalani cinta dengan hati yang bersyukur dan merasa puas dengan apa yang ada, tetap setia pada pasangan kita dan menghargai orang lain termasuk perempuan cantik dan menawan atau laki-laki ganteng dan keren, hanya sebatas pada kekaguman dan menghargai mereka sebagai ciptaan Tuhan yang paling mulia

Jika melewati batas-batas itu, dan itu seringkali terjadi, maka suatu hubungan akan rusak dan retak – hadirnya orang ketiga – dan berimbas pada penyesalan semata. Kita semestinya tahu dan menyadari akan hal itu, sebab dengan demikian, kita sudah menjaga kemurnian dan ketulusan cinta yang kita ciptakan sendiri dengan pasangan kita. Dan maknanya adalah “tak ada kebahagiaan lain selain merasakannya dengan pasangan kita dalam cinta, kasih dan sayang yang tulus dan suci”

Itu adalah dasar dari segala hati dan pikiran kita untuk menapaki kisah atau perjalanan cinta kita. Memang, terkadang kita baru melangkah beberapa tapak cinta, maka hambatan dan tantangan, godaan dan gangguan datang. Datang dengan kita duga atau tanpa kita duga sebelumnya

Bila kita dengan cermat menilainya, maka kita bisa bertindak dengan bijaksana dan menang atas semuanya. Memaknai cinta terkadang mengalami berbagai persoalan.

Memaknai cinta biasanya didasari pada pengalaman pribadi. Memaknai cinta, memungkinkan kita dapat berkiprah dalam cinta kasih yang murni. Memaknai cinta dapat dengan tepat didefinisikan. Memaknai cinta menghasilkan tingkat kesadaran dan penghargaan terhadap cinta itu sendiri.

Memaknai cinta berdampak pada seberapa banyak kita memberi perhatian, menolong, menopang, mengasihi, mengampuni, mencari solusi, bersikap bijak hati, bertindak sesuai norma etis dan segalanya dapat kita nikmati dalam terang kasih Tuhan.

Tulisan ini diambil dari buku: KITA, CINTA, DAN TANTANGAN

Sumber gambar: https://unsplash.com/photos/BcVvVvqiCGA (Scott Broome@scottbroomephotography)

Rancang situs seperti ini dengan WordPress.com
Mulai