
Dalam pandangan pendosa, perbuatan-perbuatan dosa yang dilakukannya dipandang sebagai harapan tersendiri dan tertentu (tersembunyi) yang sedapat mungkin ditutupi rapat-rapat sehingga tidak ada orang lain yang tahu. Pendosa memiliki harapan terkuat, yaitu dosa-dosa yang dilakukannya aman dan terkendali, tak ada tahu, dan berharap dosa-dosa tersebut tidak mendapat hukuman, entah dari orang lain, maupun dari Tuhan.
Di hadapan Tuhan—sebagaimana yang diklaim Allah—segala sesuatu tak ada yang tersembunyi; semua terbuka di mata-Nya. Pendosa tak ada yang lolos atau terlewatkan. Bahkan hukuman menantinya di ujung jalan Allah. Pendosa tak dapat bersembunyi dan menyembunyikan dosa-dosanya. Ia harus bertanggung jawab di hadapan Allah. Kecuali mereka yang menyadari dan mengakuinya kepada Allah, maka ia akan mendapatkan pengampunan-Nya. Hal inilah yang ditegaskan Rasul Yohanes:
“Jika kita berkata, bahwa kita tidak berdosa, maka kita menipu diri kita sendiri dan kebenaran tidak ada di dalam kita. Jika kita mengaku dosa kita, maka Ia adalah setia dan adil, sehingga ia akan mengampuni segala dosa kita dan menyucikan kita dari segala kejahatan” (1 Yohanes 1:8-9).
Harapan terbaik dari pendosa yang “mengakui” dosanya kepada Allah adalah “pengampunan” dan “perkenanan” Allah atas diri dan hidupnya. Harapan terburuk dari pendosa adalah ketika ia merasa aman dalam dosanya. Itu pasti harapan yang dia jaga dan tetap dijaga. Akan tetapi, hal itu akan menjerumuskan dia ke dalam pelbagai kehidupan yang kotor, najis, dan penuh hipokrit.
Allah menyediakan harapan di tengah keberdosaan manusia. Tangan kasih-Nya terulur bagi manusia. Ia berfirman kepada mereka untuk memperlihatkan kepedulian dan kekuatan firman yang keluar dari diri-Nya. Ia menyapa sekaligus mengasihi; Ia mengasihi sekaligus menolong; dan Ia menolong sekaligus mengajak manusia yang berdosa itu kembali pulang kepada-Nya.
Pada Allah, harapan di tengah keberdosaan mengarahkan manusia untuk hidup kudus dan kembali kepada-Nya, sedangkan pada pendosa, harapan di tengah keberdosaannya mengarahkan dirinya untuk hidup terus dalam dosa dan kembali menyembunyikan dosa-dosa supaya aman, tersembunyi, dan dapat dipelihara dengan baik. Kedua harapan tersebut sangatlah berkontradiksi. Allah menyediakan pengampunan bagi mereka yang mengakui dosa-dosanya, sedangkan pendosa menyediakan kehancuran bagi dirinya sendiri.
Kita melihat bahwa Allah berulang kali memberikan kesempatan kepada manusia untuk mengaku dosa, bertobat, dan kembali kepada-Nya. Dari situlah harapan itu terbit dan menyinari totalitas pikiran, hidup, dan relasi kita dengan orang lain. Harapan itu kuat, karena manusia menghendaki sesuatu terjadi dan dialami dalam kehidupannya sendiri. Dan harapan di tengah keberdosaan adalah pilihan utama, apakah akan berharap kepada Allah ataukah berharap pada pikiran dan kekuatan sendiri.
Alkitab, secara khusus kitab Amsal 3:5-7, menyatakan bahwa: “Percayalah kepada TUHAN dengan segenap hatimu, dan janganlah bersandar kepada pengertianmu sendiri. Akuilah Dia dalam segala lakumu, maka Ia akan meluruskan jalanmu. Janganlah engkau menganggap dirimu sendiri bijak, takutlah akan TUHAN dan jauhilah kejahatan.”
Tampak bahwa kekuatan sendiri yang diandalkan manusia akan tetap menjadikan dirinya sebagai budak dosa dan kejahatan jika bukan budak nafsu diri sendiri. Justru Allah mengarahkan manusia berdosa untuk percaya kepada-Nya dan bersandar pada firman Allah yang kuat itu, bukan pada pengertian sendiri. Manusia tak dapat meluruskan jalannya tanpa intervensi Allah. mengakui Allah sebagai Pencipta dan Pemelihara hidup, akan berdampak pada bagaimana Allah mengatur dan mengarahkan langkah manusia. Hal ini jelas dikatakan oleh pemazmur:
“TUHAN menetapkan langkah-langkah orang yang hidupnya berkenan kepada-Nya; apabila ia jatuh, tak sampai tergeletak, sebab TUHAN menopang tangannya” (Mzm. 37:23-24)
Ketika kita mempersembahkan dan mempercayakan hidup kita kepada Tuhan, maka hanya ada satu pilihan yaitu “kita selalu berharap dan mengandalkan Tuhan dalam segala hal”. Ketika kita mempercayakan hidup kepada Tuhan, maka bukan lagi kita bersandar pada pengertian kita sendiri melainkan pada kehendak Allah sebagaimana yang termaktub dalam Alkitab.
Pada saat yang bersamaan, kita juga tidak menganggap diri kita sendiri bijak, melainkan tetap mengandalkan Tuhan dan penuh rasa takut—yaitu taat dan setia—kepada TUHAN. Jika ini terwujud maka sudah pasti kita akan menjauhi kejahatan. Harapan ini begitu indah. Cita-cita untuk menjadi seperti yang Tuhan kehendaki adalah iman kita. meski kita tahu bahwa ada berbagai tantangan dan hambatan yang dapat saja mengganggu, atau menggoda kita, tetapi keputusan untuk tetap percaya kepada Allah akan menyingkirkan dan menolak godaan dosa yang menggiurkan itu. Tentu ada harapan di baliknya. Allah memberikan kekuatan kepada kita untuk tetap berada di jalan-Nya.
Ada dua pilihan yang tersedia bagi kita: menjadi orang yang berkenan kepada Allah yaitu orang yang mengandalkan Allah dalam segala hal dan hidup yang “mengakui” segala dosa, pelanggaran, dan kesalahan, atau menjadi orang yang mengandalkan diri sendiri, menyembunyikan dosa-dosa dalam lemari kemunafikan, dan tidak mau mengakuinya di hadapan Allah. Pada akhirnya, kita akan menerima hadiah dari Allah atas perbuatan-perbuatan baik kita, dan bagi para pendosa, juga akan menerima “hadiah” selaras dengan perbuatan-perbuatannya, yaitu “hukuman”.
Jika para pendosa ingin mengubah hidupnya sendiri, maka ia harus tahu bagaimana jalan menuju pertobatan. Kesadaran—yaitu akal budinya—seharusnya mengetahui bahwa perbuatan-perbuatan jahat tak akan memberikan hal-hal baik: “Anda tentu tidak berharap perahu Anda terbawa arus ketika Anda sedang mendayung melawan arus.” Demikian juga “Anda tentu tidak berharap hidup Anda terbawa arus dosa ketika Anda sedang mendayung [berjuang] melawan arus dosa.” Ketika kita berjuang melawan arus dosa, kita harus tahu bahwa tanpa Allah yang memampukan kita untuk mendayung, maka sia-sialah usaha kita. Harapan terbaik dalam situasi demikian adalah memohon pertolongan dari Allah untuk memampukan kita mendayung melawan arus dosa.
Allah telah menyediakan harapan yang lebih baik yaitu “ketika dosa-dosa kita diampuni-Nya, Allah menyelamatkan kita, dan menguduskan kita melalui firman-Nya yang berkuasa”. Problem terbesar manusia, yaitu “melawan dosa” hanya mampu dilawan ketika Allah memampukan kita untuk melawannya. Usaha dan kerja keras kita tak akan mampu melawan arus dosa; kita bahkan terseret olehnya. Kita mampu berjuang melawan dosa karena kita dimampukan Allah untuk melawannya dan menolaknya.
Allah menyediakan harapan di tengah keberdosaan, yaitu pengampunan dosa. Berbagai cara telah Allah lakukan di zaman lampau, dan Ia pun menunjukkan cara yang lain, yaitu mengutus Yesus Kristus—Sang Logos Ilahi—untuk datang ke dalam dunia, diam di antara manusia, dan menyatakan Allah: pengajaran-Nya, kerajaan-Nya, dan hukum-hukum-Nya secara terbuka. Yesus telah menebus manusia dari dosa-dosa mereka, dan Ia memberikan kekuatan untuk hidup kudus sekaligus memberikan kekuatan untuk menolak hidup najis, hidup yang berdosa.
Harapan itu telah ada dan datang ke dalam dunia. Harapan di tengah keberdosaan telah terbit. Allah menyinari kita dengan wajah-Nya dan memberi kita kasih karunia, dan Allah menghadapkan wajah-Nya kepada kita—melalui Yesus Kristus—dan memberikan kita damai sejahtera, “Karena Dialah [Yesus] damai sejahtera kita, yang telah mempersatukan kedua belah pihak dan yang telah merubuhkan tembok pemisah, yaitu perseteruan” (Ef. 2:14).
Ketika manusia hidup dalam dosa, ia mati, terpisah dengan Allah; perbuatan-perbuatan dosanya justru menjauhkan dirinya dari Allah. Jadi, bukan Allah yang menjauh, melainkan manusialah yang menjauhkan diri dari Allah dengan melakukan dosa. Di mata Allah, di dalam dosa tidak ada harapan, kecuali Ia sendiri datang dan mengangkat manusia dari ikatan dosa; manusia tak sanggup keluar, harus ada “tangan lain” yang terulur untuk memegang dan mengangkatnya. Itulah yang Allah lakukan. Ketika Allah mengangkat manusia, maka kita hidup.
Harapan di tengah keberdosaan manusia memberikan pengertian bahwa “harapan” itu datang dari luar manusia yang berdosa, yaitu Allah yang menawarkan anugerah melalui uluran tangan-Nya kepada manusia, maka secara simultan harapan itu diberikan kepada manusia, dan menguatkan dia untuk—mengakui bahwa Allah telah menolongnya—keluar dari ikatan dosa. Manusia dibebaskan oleh Allah.
Rasul Paulus secara tepat menggambarkan hal ini: “Tetapi Allah yang kaya dengan rahmat, oleh kasih karunia-Nya yang besar, yang dilimpahkan-Nya kepada kita, telah menghidupkan kita bersama-sama dengan Kristus, sekalipun kita telah mati oleh kesalahan-kesalahan kita – oleh kasih karunia kamu diselamatkan” (Efesus 2:4-5).
Semuanya adalah kasih karunia. Dosa manusia dapat teratasi karena Allah menunjukkan kasih karunia-Nya. Melalui Yesus Kristus—Firman-Nya yang kekal—Allah memperlihatkan kuasa-Nya yang dahsyat yaitu menebus manusia dari dosa-dosa mereka dan membawa mereka ke dalam Kerajaan-Nya. Sama seperti di zaman PL, Allah—melalui Firman-Nya—memanggil, menegur, mengarahkan, dan menolong manusia untuk keluar dari keberdosaan mereka dan menerima damai sejahtera. Kini, di zaman PB, Allah melakukan hal yang sama tetapi dengan cara yang berbeda. Logos Allah menjadi manusia dan menyatakan bahwa manusia harus kembali kepada Allah, kembali kepada “Terang Allah”.
Dosa membuat hidup manusia gelap. Yesus memberi terang (bdk. Yoh. 1:9; 3:19; 8:12; 9:5). Yesus sendiri menegaskan: “Aku telah datang ke dalam dunia sebagai terang, supaya setiap orang yang percaya kepada-Ku, jangan tinggal di dalam kegelapan” (Yoh. 12:46). Ada harapan di tengah keberdosaan manusia, yaitu ketika “terang” itu datang menerangi hati manusia yang telah digelapkan oleh dosa-dosanya. Yesus adalah Terang. Ia mengajak kita datang kepada-Nya; Ia mau, kita hidup dalam Terang-Nya, meninggalkan perbuatan-perbuatan kegelapan (dosa). Ketika kita memilih datang kepada Terang itu, maka hidup kita berbuahkan kebenaran dan damai sejahtera. Hidup kita aman dan tenang, selama-lamanya.
Salam Bae.










