
Sosok Matheus Mangentang begitu dikenal di kalangan alumni Sekolah Tinggi Teologi Injili Arastamar (SETIA) Jakarta dan cabang-cabangnya di seluruh Indonesia. Beliau adalah sosok yang sederhana, tapi berjiwa penuh kasih. Taburan kebaikannya telah bertumbuh di mana-mana dan menghasilkan banyak buah. Beliau juga adalah tokoh pendidikan yang telah menghasilkan banyak pemimpin baik di gereja-gereja maupun di sekolah-sekolah.
Dalam perjalanan hidupnya, beliau pernah menerima perendahan martabat dan cemooh. Tapi hal itu sama sekali tidak mengurungkan niatnya untuk pergi melayani ke berbagai tempat di seluruh Indonesia. Di kalangan alumni SETIA dan para pendeta (pelayan) Gereja Kristen Setia Indonesia, bahkan seluruh jemaat GKSI, jasa-jasa beliau yang telah mendidik dan menyekolahkan ribuan anak-anak desa (termasuk saya) patut diacungi jempol. Bahkan studi doktoral saya adalah buah tangan beliau. Beliaulah yang merekomendasikan saya untuk studi doktoral. Saya juga mendapatkan bantuan dana dari beliau. Tak hanya itu, beliau dan istrinya, Ibu Ester Kristanto pernah membantu saya untuk membayarkan uang kontrakan rumah saya.
Ada banyak kisah yang saya alami bersama beliau, termasuk kisah perintisan Sekolah Tinggi Teologi Trinitas Arastamar Talaud pada tahun 2008. Beliau hadir selang beberapa tahun untuk meresmikannya. Saya dan senior saya, Matius Bongngi merintis stt di Talaud adalah atas dorongan dan persetujuan beliau.
Mengenai beliau, dua kutub yakni positif dan negatif terus bertanding menunjukkan eksistensinya di dua media sosial terpopuler di Indonesia yakni Facebook dan WhatsApp. Dua kutub ini tetap eksis hingga sekarang. Tapi bukan itu cerita utamanya. Ada kisah menarik dari hidup beliau, yakni kesederhanaan dan ketulusan dalam melayani, serta pertaruhan imannya. Jejak-jejak pelayanannya masih berbekas di bumi ini, pertanda bahwa jejak-jejak Injil Kristus akan selalu dikenang dan dilanjutkan, bahkan dikembangkan.
Dukungan terhadap beliau masih eksis juga hingga sekarang. Doa terus dipanjatkan kepada Sang Khalik, Yesus Kristus, agar Visi dan Misi yang beliau tanamkan, akan tetapi disiram, diberi pupuk, dirawat, dbersihkan, hingga menghasilkan buah-buah yang segar. Pertolongan Tuhan selalu beliau rasakan. Di saat-saat terdesak sekalipun, tangan Tuhan terulur untuk menopang dan memberinya kelegaan. Karakter beliau dibentuk dan ditempa Tuhan dalam sepanjang proses pelayanannya di seluruh Indonesia, hingga ke luar negeri.
Ada pepatah lama yang mengatakan demikian: “Ketika karakter seseorang tampak kurang jelas bagi Anda, lihatlah para sahabatnya”. Pepatah ini mengingatkan pada kita bahwa untuk mengenal karakter seseorang, lihatlah siapa sahabat mereka. Matheus Mangentang memiliki sahabat-sahabat yang berkarakter kuat dan berjiwa pemberani dalam melayani Tuhan. Konteks ini memperlihatkan bahwa ada sesuatu yang diwariskan oleh Matheus Mangentang, dan ada yang hendak meneladani beliau, sehingga mewariskan dan mengikuti (meneladani) adalah dua hal yang secara simultan terjadi.
Pernyataan-pernyataan Raja Salomo dapat kita simak dalam teks-teks berikut ini:
Siapa bergaul dengan orang bijak menjadi bijak, tetapi siapa berteman dengan orang bebal menjadi malang (Amsal 13:20)
Siapa mengumpat, membuka rahasia, sebab itu janganlah engkau bergaul dengan orang yang bocor mulut (Amsal 20:19)
Jangan berteman dengan orang yang lekas gusar, jangan bergaul dengan seorang pemarah (Amsal 22:24)
Jangan iri kepada orang jahat, jangan ingin bergaul dengan mereka (Amsal 24:1)
Teks-teks di atas memberi ruang berpikir kepada kita bahwa bergaul dengan orang bijak menjadi bijak, melayani bersama-sama dengan orang yang tulus, menjadikan kita untuk belajar tulus. Bekerja di ladang Tuhan dengan orang yang bersemangat, membuat kita bersemangat. Siapa yang bergaul dengan pendusta, akan menjadi pendusta, bergaul dengan orang yang bocor mulut, akan menjadi sama seperti dia. Bergaul dengan orang yang pemarah, tentu akan membuat kita menjadi pemarah. Artinya, setiap pergaulan memberikan pengaruh.
Pengaruh yang diberikan Matheus Mangentang sangatlah kuat terutama dalam hal melayani Tuhan. Tak ada yang diragukan dari prinsip pelayanan beliau. Banyak orang telah menyatakan terima kasih kepada beliau karena telah memberikan pengaruh terhadap pelayanan mereka. Buah-buah pelayanan telah dirasakan (dinikmati) oleh banyak orang. Hingga sekarang euforia terhadap pelayanan beliau masih bergema di bumi Indonesia.
Kita pernah mendengar dan melihat bahwa beliau pernah “dihakimi”. Akan tetapi peristiwa tersebut bukanlah menjadi “tsunami kehidupan” beliau, melainkan dipandang sebagai proses penempaan Tuhan agar iman dan harap beliau tetap kuat dan tak tergoyahkan. Seperti yang Alkitab katakan bahwa: “Jangan kamu menghakimi, supaya kamu tidak dihakimi. Karena dengan penghakiman yang kamu pakai untuk menghakimi, kamu akan dihakimi dan ukuran yang kamu pakai untuk mengukur, akan diukurkan kepadamu” (Matius 7:1-2), maka teks tersebut “cukup” menjadi dasar bahwa suatu saat Tuhan akan menghakimi kita semua. Lebih dari itu, “penghakiman” yang pernah dipakai untuk menghakimi orang lain, akan dapat digunakan untuk menghakimi kita.
Beberapa tahun lalu, saya dan beliau bercakap-cakap melalui telepon selular, soal misi ke tanah Papua. Kami berdua tertawa lepas ketika keasyikan ngobrol. Saya tahu bahwa beliau tidak gentar sedikit pun menghadapi persoalan yang sedang dihadapi. Kekuatan dan keberanian tampak dalam setiap percakapan kami. Meski serangan bertubi-tubi, ia tetap meyakini akan pimpinan Tuhan. Seakan ia tetap tersenyum meski di depan harimau yang sedang membuka mulutnya dan mempertontonkan taring-taringnya.
Baginya, harimau dengan taringnya yang mencoba mencabik-cabik harga dirinya, bukanlah sesuatu yang menakutkan, bukan pula “kiamat” yang mengerikan. Itu hanyalah cara Tuhan mendidik dan mengajari beliau untuk mempergunakan setiap waktu dan kesempatan untuk memberitakan Injil Yesus Kristus, kapan pun dan di mana pun.
Pernah satu kali beliau berkata kepada saya: “Stenly, Bapak sudah mati. Harga diri Bapak sudah mati, dan tak perlu lagi merasa hidup. Mereka telah membunuh karakter Bapak, membunuh harga diri dan nama baik Bapak.” Pernyataan ini memberi arti bahwa jika sudah mati, maka tak perlu lagi merasa ada yang memberatkan hati.
Memang, beliau kelelahan menghadapi berbagai persoalan. Ia sangat kuatir akan misi yang sedang ia kerjakan. Namun, dukungan doa dari anak-anak desa yang telah mengenyam studi di SETIA, ia serasa mendapatkan kekuatan dan siap menjalani kembara iman dan persoalan-persoalan yang menghadangnya. Baginya, perjuangan untuk bermisi dan mengasihi anak-anak desa adalah yang utama. Pelayanan di desa yang terjauh sekalipun, tak menyurutkan semangatnya untuk melayani.
Di dalam guliran-guliran waktu, doa dan doa terus disampaikannya kepada Sang Khalik. Hanya itu senjata ampuhnya. Ia mendapatkan kekuatan dari Tuhan. Benarlah perkataan nabi Yesaya: “tetapi orang-orang yang menanti-nantikan TUHAN mendapat kekuatan baru: mereka seumpama rajawali yang naik terbang dengan kekuatan sayapnya….” (Yesaya 40:31). Kekuatan sayap diberikan TUHAN dan itulah penghiburan beliau.
Dengan prinsip “kita doa saja”, telah membawa beliau sampai kepada kondisi sekarang ini. Jikalau bukan “doa”, situasi akan menjadi lain. Ada respek kepada beliau yang masih bertahan dari mereka yang tidak dipengaruhi oleh ilah zaman ini. Mereka yang pernah ditolongnya, masih mengingatnya.
Sebagai pelayan Yesus Kristus, Matheus Mangentang terus mengandalkan Tuhan dalam segala perkara. Tuhan tidak pernah lupa akan kerja kerasnya dalam membangun pelayanan melalui SETIA dan GKSI. Ia telah bertaruh iman dalam menghadapi berbagai tekanan dan persoalan. Ia bertaruh iman dalam mengembangkan pelayanan SETIA dan GKSI. Ia bertaruh iman dalam mempertahankan identitasnya sebagai hamba Tuhan yang setia. Dan ia bertaruh iman demi masa depan anak-anak desa yang membutuhkan uluran tangan dalam melanjutkan studi hingga di perguruan tinggi.
Teruslah melayani Pak Matheus Mangentang. Kami, “ANAK-ANAK ARASTAMAR” terus mendukung dan mendoakanmu siang malam.
Salam Bae.
















