BERTARUH IMAN: Catatan Singkat tentang Matheus Mangentang

Sosok Matheus Mangentang begitu dikenal di kalangan alumni Sekolah Tinggi Teologi Injili Arastamar (SETIA) Jakarta dan cabang-cabangnya di seluruh Indonesia. Beliau adalah sosok yang sederhana, tapi berjiwa penuh kasih. Taburan kebaikannya telah bertumbuh di mana-mana dan menghasilkan banyak buah. Beliau juga adalah tokoh pendidikan yang telah menghasilkan banyak pemimpin baik di gereja-gereja maupun di sekolah-sekolah.

Dalam perjalanan hidupnya, beliau pernah menerima perendahan martabat dan cemooh. Tapi hal itu sama sekali tidak mengurungkan niatnya untuk pergi melayani ke berbagai tempat di seluruh Indonesia. Di kalangan alumni SETIA dan para pendeta (pelayan) Gereja Kristen Setia Indonesia, bahkan seluruh jemaat GKSI, jasa-jasa beliau yang telah mendidik dan menyekolahkan ribuan anak-anak desa (termasuk saya) patut diacungi jempol. Bahkan studi doktoral saya adalah buah tangan beliau. Beliaulah yang merekomendasikan saya untuk studi doktoral. Saya juga mendapatkan bantuan dana dari beliau. Tak hanya itu, beliau dan istrinya, Ibu Ester Kristanto pernah membantu saya untuk membayarkan uang kontrakan rumah saya.

Ada banyak kisah yang saya alami bersama beliau, termasuk kisah perintisan Sekolah Tinggi Teologi Trinitas Arastamar Talaud pada tahun 2008. Beliau hadir selang beberapa tahun untuk meresmikannya. Saya dan senior saya, Matius Bongngi merintis stt di Talaud adalah atas dorongan dan persetujuan beliau.

Mengenai beliau, dua kutub yakni positif dan negatif terus bertanding menunjukkan eksistensinya di dua media sosial terpopuler di Indonesia yakni Facebook dan WhatsApp. Dua kutub ini tetap eksis hingga sekarang. Tapi bukan itu cerita utamanya. Ada kisah menarik dari hidup beliau, yakni kesederhanaan dan ketulusan dalam melayani, serta pertaruhan imannya. Jejak-jejak pelayanannya masih berbekas di bumi ini, pertanda bahwa jejak-jejak Injil Kristus akan selalu dikenang dan dilanjutkan, bahkan dikembangkan.

Dukungan terhadap beliau masih eksis juga hingga sekarang. Doa terus dipanjatkan kepada Sang Khalik, Yesus Kristus, agar Visi dan Misi yang beliau tanamkan, akan tetapi disiram, diberi pupuk, dirawat, dbersihkan, hingga menghasilkan buah-buah yang segar. Pertolongan Tuhan selalu beliau rasakan. Di saat-saat terdesak sekalipun, tangan Tuhan terulur untuk menopang dan memberinya kelegaan. Karakter beliau dibentuk dan ditempa Tuhan dalam sepanjang proses pelayanannya di seluruh Indonesia, hingga ke luar negeri.

Ada pepatah lama yang mengatakan demikian: “Ketika karakter seseorang tampak kurang jelas bagi Anda, lihatlah para sahabatnya”. Pepatah ini mengingatkan pada kita bahwa untuk mengenal karakter seseorang, lihatlah siapa sahabat mereka. Matheus Mangentang memiliki sahabat-sahabat yang berkarakter kuat dan berjiwa pemberani dalam melayani Tuhan. Konteks ini memperlihatkan bahwa ada sesuatu yang diwariskan oleh Matheus Mangentang, dan ada yang hendak meneladani beliau, sehingga mewariskan dan mengikuti (meneladani) adalah dua hal yang secara simultan terjadi.

Pernyataan-pernyataan Raja Salomo dapat kita simak dalam teks-teks berikut ini:

Siapa bergaul dengan orang bijak menjadi bijak, tetapi siapa berteman dengan orang bebal menjadi malang (Amsal 13:20)

Siapa mengumpat, membuka rahasia, sebab itu janganlah engkau bergaul dengan orang yang bocor mulut (Amsal 20:19)

Jangan berteman dengan orang yang lekas gusar, jangan bergaul dengan seorang pemarah (Amsal 22:24)

Jangan iri kepada orang jahat, jangan ingin bergaul dengan mereka (Amsal 24:1)

Teks-teks di atas memberi ruang berpikir kepada kita bahwa bergaul dengan orang bijak menjadi bijak, melayani bersama-sama dengan orang yang tulus, menjadikan kita untuk belajar tulus. Bekerja di ladang Tuhan dengan orang yang bersemangat, membuat kita bersemangat. Siapa yang bergaul dengan pendusta, akan menjadi pendusta, bergaul dengan orang yang bocor mulut, akan menjadi sama seperti dia. Bergaul dengan orang yang pemarah, tentu akan membuat kita menjadi pemarah. Artinya, setiap pergaulan memberikan pengaruh.

Pengaruh yang diberikan Matheus Mangentang sangatlah kuat terutama dalam hal melayani Tuhan. Tak ada yang diragukan dari prinsip pelayanan beliau. Banyak orang telah menyatakan terima kasih kepada beliau karena telah memberikan pengaruh terhadap pelayanan mereka. Buah-buah pelayanan telah dirasakan (dinikmati) oleh banyak orang. Hingga sekarang euforia terhadap pelayanan beliau masih bergema di bumi Indonesia.

Kita pernah mendengar dan melihat bahwa beliau pernah “dihakimi”. Akan tetapi peristiwa tersebut bukanlah menjadi “tsunami kehidupan” beliau, melainkan dipandang sebagai proses penempaan Tuhan agar iman dan harap beliau tetap kuat dan tak tergoyahkan. Seperti yang Alkitab katakan bahwa: “Jangan kamu menghakimi, supaya kamu tidak dihakimi. Karena dengan penghakiman yang kamu pakai untuk menghakimi, kamu akan dihakimi dan ukuran yang kamu pakai untuk mengukur, akan diukurkan kepadamu” (Matius 7:1-2), maka teks tersebut “cukup” menjadi dasar bahwa suatu saat Tuhan akan menghakimi kita semua. Lebih dari itu, “penghakiman” yang pernah dipakai untuk menghakimi orang lain, akan dapat digunakan untuk menghakimi kita.

Beberapa tahun lalu, saya dan beliau bercakap-cakap melalui telepon selular, soal misi ke tanah Papua. Kami berdua tertawa lepas ketika keasyikan ngobrol. Saya tahu bahwa beliau tidak gentar sedikit pun menghadapi persoalan yang sedang dihadapi. Kekuatan dan keberanian tampak dalam setiap percakapan kami. Meski serangan bertubi-tubi, ia tetap meyakini akan pimpinan Tuhan. Seakan ia tetap tersenyum meski di depan harimau yang sedang membuka mulutnya dan mempertontonkan taring-taringnya.

Baginya, harimau dengan taringnya yang mencoba mencabik-cabik harga dirinya, bukanlah sesuatu yang menakutkan, bukan pula “kiamat” yang mengerikan. Itu hanyalah cara Tuhan mendidik dan mengajari beliau untuk mempergunakan setiap waktu dan kesempatan untuk memberitakan Injil Yesus Kristus, kapan pun dan di mana pun.

Pernah satu kali beliau berkata kepada saya: “Stenly, Bapak sudah mati. Harga diri Bapak sudah mati, dan tak perlu lagi merasa hidup. Mereka telah membunuh karakter Bapak, membunuh harga diri dan nama baik Bapak.” Pernyataan ini memberi arti bahwa jika sudah mati, maka tak perlu lagi merasa ada yang memberatkan hati.

Memang, beliau kelelahan menghadapi berbagai persoalan. Ia sangat kuatir akan misi yang sedang ia kerjakan. Namun, dukungan doa dari anak-anak desa yang telah mengenyam studi di SETIA, ia serasa mendapatkan kekuatan dan siap menjalani kembara iman dan persoalan-persoalan yang menghadangnya. Baginya, perjuangan untuk bermisi dan mengasihi anak-anak desa adalah yang utama. Pelayanan di desa yang terjauh sekalipun, tak menyurutkan semangatnya untuk melayani.

Di dalam guliran-guliran waktu, doa dan doa terus disampaikannya kepada Sang Khalik. Hanya itu senjata ampuhnya. Ia mendapatkan kekuatan dari Tuhan. Benarlah perkataan nabi Yesaya: “tetapi orang-orang yang menanti-nantikan TUHAN mendapat kekuatan baru: mereka seumpama rajawali yang naik terbang dengan kekuatan sayapnya….” (Yesaya 40:31). Kekuatan sayap diberikan TUHAN dan itulah penghiburan beliau.

Dengan prinsip “kita doa saja”, telah membawa beliau sampai kepada kondisi sekarang ini. Jikalau bukan “doa”, situasi akan menjadi lain. Ada respek kepada beliau yang masih bertahan dari mereka yang tidak dipengaruhi oleh ilah zaman ini. Mereka yang pernah ditolongnya, masih mengingatnya.

Sebagai pelayan Yesus Kristus, Matheus Mangentang terus mengandalkan Tuhan dalam segala perkara. Tuhan tidak pernah lupa akan kerja kerasnya dalam membangun pelayanan melalui SETIA dan GKSI. Ia telah bertaruh iman dalam menghadapi berbagai tekanan dan persoalan. Ia bertaruh iman dalam mengembangkan pelayanan SETIA dan GKSI. Ia bertaruh iman dalam mempertahankan identitasnya sebagai hamba Tuhan yang setia. Dan ia bertaruh iman demi masa depan anak-anak desa yang membutuhkan uluran tangan dalam melanjutkan studi hingga di perguruan tinggi.

Teruslah melayani Pak Matheus Mangentang. Kami, “ANAK-ANAK ARASTAMAR” terus mendukung dan mendoakanmu siang malam.

Salam Bae.

DESTITUSI MANUSIA DAN JALAN KELUAR

Sumber gambar: https://id.pinterest.com/pin/34340015895610848/

Secara umum destitusi manusia terbagi atas enam konteks: Pertama, destitusi manusia yang terkait dengan moralitas. Artinya, destitusi tersebut menjelaskan bahwa ada hal-hal yang tidak dimiliki, tidak dilakukan, dan diabaikan manusia. Destitusi moralitas menandakan bahwa seseorang itu tidak memiliki kualitas yang cukup untuk membedakan mana yang baik dan mana yang buruk.

Kedua, destitusi manusia yang terkait dengan spiritualitas. Artinya, destitusi tersebut menjelaskan bahwa ada hal-hal yang diperhatikan yaitu relasi pribadi dengan Tuhan, dalam konteks ibadah, pelayanan, dan penerapan perbuatan baik seperti yang dikehendaki-Nya.

Sumber gambar: https://id.pinterest.com/pin/224405993913156723/

Ketiga, destitusi manusia yang terkait dengan berbagi. Artinya, destitusi tersebut menjelaskan bahwa ada orang-orang yang hanya mau menikmati segala sesuatu secara personal. Memang benar, jika sesuatu yang kita miliki dan nikmati sendiri adalah hak personal, akan tetapi ada sesuatu hal yang dipandang perlu untuk dibagikan kepada yang lain. Berbagi dengan sesama adalah hal penting karena kita tidak dapat merasa lebih penuh dan lengkap dalam “hidup” tanpa bantuan orang lain.

Sumber gambar: https://id.pinterest.com/pin/277182552035414589/

Keempat, destitusi manusia yang terkait dengan relasi. Artinya, destitusi tersebut menjelaskan bahwa ada orang-orang yang tidak ingin menjalin relasi. Relasi adalah hal penting dalam menjalani hidup karena kita pasti membutuhkan bantuan dan peran dari orang lain. Memang, pada beberapa orang menjalin relasi dilakukan secara selektif, tetapi jika menekankan pada sikap selektif secera berlebihan, maka kita menutup pintu-pintu lain yang mungkin saja dapat memberikan kita sesuatu yang bermanfaat. Menjalin relasi secara baik, adalah hal yang baik, asalkan kita tahu dan memahami bahwa relasi itu sendiri bukan didorong oleh motivasi “mencari untung” melainkan oleh motivasi “berbagi dan saling tolong-menolong”.

Kelima, destitusi manusia yang terkait dengan harta kekayaan. Artinya, destitusi tersebut menjelaskan bahwa manusia memiliki perbedaan yang mencolok dalam hal kepemiliki harta kekayaan. Ada yang miskin, ada yang kaya. Ini hal umum. Destitusi pada konteks ini seringkali menimbulkan kesenjangan sosial, bahkan kesedihan yang mendalam. Contoh praktis adalah ketika orang miskin pergi ke rumah sakit, mereka tak punya cukup uang untuk membiayai pengobatan sakit-penyakit mereka; malahan ada di antara mereka yang diperas, dan dipaksa membayar mahal untuk sebuah pengobatan. Destitusi ini sangatlah menyedihkan dan memilukan hati. Yang miskin ditindas oleh yang kaya; yang kaya merasa di atas angin, dan kesombongan menjadikan mereka terjerumus dalam rasa puas diri.

Sumber gambar: https://id.pinterest.com/pin/214413632232880231/

Keenam, destitusi manusia yang terkait dengan dosa. Artinya, karena dosa-dosa tertentu yang dilakukan, maka manusia mengalami destitusi. Pada konteks ini, dosa membawa malapetaka yang menjerumuskannya pada kehidupan yang buruk. Memang, dosa memberikan kenikmatan bahkan kepuasan, tetapi dosa berdampak pada destitusi; bisa destitusi moralitas, spiritualitas, relasi. Dosa merusak banyak hal. Ketika destitusi dialami karena dosa, maka kehidupan seseorang akan menghasilkan berbagai hal yang menyiksa dirinya sendiri. Dosa nikmat, tapi menyiksa. Jika tidak tersiksa dalam waktu dekat, maka pasti dalam waktu yang lama, akan mengalami perasaan tersiksa.

Sumber gambar: https://id.pinterest.com/pin/161918549079197543/

Destitusi (kemiskinan, kemelaratan) yang dapat kita amati di sekitar kita, memberikan pelajaran bahwa hidup harus diperjuangkan, ditata sedemikian, dan diperbaiki—jika terdapat kesalahan, apalagi destitusi moral, spiritual, dan lainnya. Mungkin kita tergolong pada salah satu dari enam destitusi di atas (moralitas, spiritualitas, berbagi, relasi, harta kekayaan, dan dosa). Meski demikian, kita juga dapat berjuang untuk keluar dari destitusi tersebut.

Tuhan memberikan kita jalan untuk keluar dari destitusi—terutama karena dosa—dan memilih kehidupan yang layak di hadapan Tuhan; kehidupan yang berkenan kepada-Nya. Destitusi karena dosa sangatlah mengerikan. Tidak hanya menerima hukuman saat masih hidup di dunia, di penghakiman kekal—setelah ia mati—akan menerima hukuman yang sangat berat setimpal dengan dosa-dosa yang dilakukannya. Jalan yang diberikan Tuhan adalah “mengakui dosa” dan “pertobatan”. Ia akan mengampuni mereka yang mengakui dan bertobat. Setelah itu, dilanjutkan dengan komitmen untuk setia kepada-Nya.

Sumber gambar: https://id.pinterest.com/pin/620652392389904694/

Jika kita ingin berjalan di jalan Tuhan, maka kita harus memulai dengan Tuhan. Artinya, pengakuan, pertobatan, dan berkomitmen, merupakan titik awal kita melangkah bersama-Nya. Ada banyak jalan yang tersedia dan disediakan “dunia”, tetapi semuanya tidak memiliki kepastian; bisa berubah atau hancur, bisa menyesatkan bahkan membinasakan.

Yesus pernah berkata: “Akulah Jalan, Kebenaran, dan Hidup, tidak ada seorangpun yang datang kepada Bapa jikalau tidak melalui Aku”. Jalan itu telah tersedia. Kita harus bergegas ke sana. Destitusi karena dosa akan dibereskannya, dan Ia mengangkat kita, menjadikan kita kaya dalam kebenaran, kekudusan, kemurahan, dan berkat.

Sumber gambar: https://id.pinterest.com/pin/533676624596966175/

Destitusi moralitas, spiritualitas, berbagi, relasi, harta kekayaan, dan dosa, dapat dipulihkan Yesus jika kita menyerahkan hidup kita kepada-Nya. Kita harus berharap dan bersandar pada-Nya. Jangan menunda-nunda waktu. Tangan-Nya selalu terbuka menerima kita; waktu masih tersedia bagi kita untuk datang pada-Nya; kesempatan juga tetap ada. Itulah jalan keluar dari destitusi moralitas, spiritualitas, berbagi, relasi, harta kekayaan, dan dosa.

Jika Yesus adalah Jalan kehidupan dan kebahagiaan—dan itu sudah terbukti selama ribuan tahun—mengapa kita masih ragu untuk datang kepada-Nya? Adakah kita rindu hidup di dalam firman-Nya? Adakah kerinduan untuk menikmati kebahagiaan yang telah Ia sediakan bagi mereka yang percaya dan setia? Adakah rindu untuk berkomitmen melayani Dia dalam suka dan duka?

Memang, setiap manusia—tanpa terkecuali—bergumul dengan kehidupannya. Yang miskin bergumul, yang kaya juga; yang lemah bergumul, yang kuat juga; yang bodoh bergumul, yang pintar juga; yang tak punya “pekerjaan” bergumul, yang punya pekerjaan juga. Semuanya merasakan keletihan, kelesuan; semuanya dapat merasakan “beban” hidup. Tak sedikit yang mengakhirinya dengan “bunuh diri.” Apalagi jika mengalami destitusi harta kekayaan.

Hidup memang berat; setiap manusia berjuang untuk dirinya sendiri, maupun untuk orang-orang yang dia kasihi. Perjuangan demi perjuangan ditempuh, keringat bercucuran, semangat naik turun, dan masih banyak lagi kondisi yang dialami manusia untuk bertahan hidup. Destitusi dapat melanda kapan saja jika kita salah melangkah. Mengupayakan kehidupan yang bermakna dan menjadi berkat adalah sebuah pekerjaan yang baik. Dan itulah yang dikehendaki Yesus Kristus.

Masih ada harapan ketika kita memilih kembali kepada-Nya. Masih ada jalan yang terbuka yang kapan saja dapat kita lalui; jalan itu telah disediakan Yesus, bagi mereka yang berserah, mengaku dosa, bertobat, dan berkomitmen untuk hidup dalam kasih-Nya.

Sumber gambar: https://id.pinterest.com/pin/429390145719752800/

Meski letih dan lelah, serta berbeban berat, tetap datanglah pada Yesus. Berdoalah, minta kekuatan dan hikmat untuk menjalani hidup ini. Ada jalan terbaik yang disediakan oleh-Nya. Komitmen kita menentukan masa depan kita. Komitmen untuk percaya kepada Yesus mengantarkan kita pada jalan dan kehidupan yang berbahagia. Destitusi apa pun yang kita rasakan, jika kita datang pada-Nya, maka Ia pasti akan memulihkan dan menjadikan kita “berkat” bagi banyak orang.

Salam Bae…

MEMAHAMI DAN MENILAI MANUSIA

Braceletes sustentáveis da Bottletop (Foto: Jerome Duran/Vogue UK)
Sumber gambar: https://vogue.globo.com/moda/moda-news/noticia/2019/04/bottletop-lanca-braceletes-sustentaveis-da-amizade-feitos-partir-do-metal-de-armas-derretidas-e-plastico-do-lixo-oceanico.html

Ada berbagai pemahaman dan penilaian tentang “manusia” yang dilihat dari perspektif tertentu. Dengan perkataan lain, setiap orang mengusulkan bagaimana cara ia memahami dan menilai manusia dan menjawab mengenai “apa” dan “bagaimana” manusia itu.

“Apa itu manusia?” dan “bagaimana memahami manusia?” adalah dua pertanyaan yang telah dijawab dari berbagai bidang ilmu pengetahuan yang diciptakan manusia. Yang terpenting di sini adalah bagaimana seseorang melakukan klasifikasi (pembagian) perspektif mengenai apa dan bagaimana manusia itu.

Di sini, saya hendak memberikan beberapa klasifikasi mengenai pemahaman dan penilaian tentang manusia.

Pertama: ONTOLOGI (hakikat hidup); dari kata “ontos” yang berarti “ada” atau “keberadaan”. Manusia pada suatu waktu pernah “tidak ada” dalam arti fisikal. Namun, secara ontologi, manusia “ada” dalam pikiran Allah sebelum Ia menciptakannya. Dalam konteks ini, kita tidak dapat memahami dan menilai manusia secara utuh sebagaimana yang kita lihat pada diri kita sendiri. Tetapi kemudian kita mendapat gambaran yang utuh mengenai manusia ketika Allah merealisasikan manusia melalui penciptaan dan secara alamiah, manusia dapat kita lihat, kenal, pahami, dan menilainya.

Kedua: PENCIPTAAN. Alkitab menjelaskan bahwa manusia diciptakan dari debu tanah (materi ciptaan Allah) dan menghembuskan nafas hidup ke dalam hidungnya (Kej. 2:7). Di sini, manusia hanya dapat dipahami sebagai dikotomi yang terdiri atas “tubuh jasmani manusia yang dibentuk Allah” dan “nafas hidup” yang dihembuskan Allah ke dalam hidung manusia. Dan konsekuensi logisnya adalah: “manusia itu menjadi makhluk yang hidup.” Di sini, manusia dipahami dan dinilai sebagai makhluk yang hidup karena ia diberikan nafas hidup oleh Allah, dan memiliki tubuh dan unsur-unsur lain yang mengikat dalam tubuh itu. Hal ini juga berlaku bagi Hawa (Kej. 2:21-23).

Ketiga: KEHIDUPAN PASCA PENCIPTAAN. Manusia—setelah ia diciptakan—memiliki tanggung jawab kehidupan yang diberikan Allah. Dalam Kejadian 1:26-30 disebutkan beberapa aspek penting:

(1) manusia memiliki kuasa atas ikan-ikan di laut dan atas ternak dan atas seluruh bumi dan atas segala binatang melata yang merayap di bumi
disebabkan oleh karena manusia “diciptakan” menurut “gambar” dan “rupa” Allah—yang memiliki potensi berpikir dan bekerja.

(2) manusia memiliki potensi beranak cucu karena ada perbedaan jenis kelamin: laki-laki dan perempuan (Kej. 1:27).

(3) manusia memiliki potensi untuk bertambah banyak dan memenuhi bumi (populasi)

(4) manusia memiliki potensi untuk menaklukan bumi (aspek-aspek yang mengandung kehidupan di dalamnya).

(5) manusia memiliki potensi untuk bertahan hidup: makan dari segala tumbuh-tumbuhan yang diberikan Allah (Kej. 1:29).

Potensi yang diberikan Allah sangatlah penting bagi cara kita memahami dan menilai diri kita sendiri sebagai “manusia ciptaan Allah”.

Keempat: KUALITAS. Secara kualitas, manusia berbeda dengan ciptaan lainnya, misalnya binatang. Potensi manusia menentukan kualitasnya.

Kelima: PROBLEM. Biasanya, pada pemahaman dan penilaian seseorang terhadap manusia yang dikaitkan dengan dosa dan kematian, adalah bagian dari problem. Dosa dipandang sebagai problem dari ketidaktaatan manusia terhadap perintah Allah. sedangkan kematian haruslah dipahami dari dua aspek, yaitu: kematian karena keterbatasannya (karena ia ciptaan), dan kematian karena akibat dari keberdosaannya kepada Allah.

Keenam: PENGARUH. Ada yang memahami dan menilai manusia dari aspek pengaruh. Maka, seringkali fokus pemahaman dan penilaian tertuju pada potensi dan kualitas pikiran dan kekuatan (kerja) manusia.

Ketujuh: ESKATOLOGI. Memahami dan menilai manusia dari aspek eskatologis, yaitu masa depan kehidupan manusia. Di sini, Alkitab memberikan gambaran mengenai manusia yang bergantung pada Allah, percaya dan setia kepada-Nya, akan mendapatkan kehidupan yang kekal dalam kerajaan-Nya.

Dengan demikian, ketika kita melihat manusia secara klasifikatif, akan memberikan pemahaman demarkatif dan ketika melihatnya secara utuh, maka kita mendapatkan gambaran yang utuh (pemahaman dan penilaian) bahwa manusia diciptakan Allah untuk menerima potensi dan anugerah-Nya dalam menjalani kehidupan yang dikaruniakan kepada manusia.

Kita bergantung pada Allah; karena kita sendiri terbukti tidak mampu hidup sendiri. Allah telah menyatakan kasih-Nya yang luar biasa; Ia peduli, dan dengan demikian, Ia berbagi dengan kita tidak hanya dengan kuasa dan kedaulatan yang ditunjukkan-Nya, melainkan Ia sendiri datang dan tinggal sebagai manusia di bumi ciptaan-Nya:

“Firman telah menjadi manusia, dan diam di antara kita….”

Tugas kita adalah “melakukan pekerkaan baik selaras dengan kehendak Allah, karena itulah kita diciptakan.

Efesus 2:10. Karena kita ini buatan Allah, diciptakan dalam Kristus Yesus untuk melakukan pekerjaan baik, yang dipersiapkan Allah sebelumnya. Ia mau, supaya kita hidup di dalamnya.

Salam Bae

TELADAN PELAYANAN MEMBUAHKAN HASIL: Catatan Singkat untuk Pdt. Matheus Mangentang


Kita melihat bahwa kehidupan itu memiliki beragam makna; setiap makna terjalin satu dengan lainnya yang dapat membentuk pribadi kita, entah baik, entah buruk. Hingga pada akhirnya, apa yang kita tabur itulah yang kita tuai. Mereka yang setia “melayani Sang Khalik” akan menerima mahkota kehidupan; mereka yang merasa melayani Sang Khalik sambil menumpuk dosa, memperlihatkan keburukan dan kenajisan, akan juga menerima “hadiah” terbaik di akhir kehidupannya. Soal bentuk hadiah tersebut, tentu hanya Tuhan yang tahu.

Dalam proses melayani Tuhan, kita diperhadapkan dengan banyak pilihan: mau jadi penumpuk kebaikan, atau penumpuk sumpah serapah dan dosa, serta kejahatan moral, spiritual, dan pikiran. Melayani memang terlihat keren, tetapi bukan itu substansinya; melayani itu adalah perwujudan kasih kepada Tuhan dan sesama. Jika kita melayani Tuhan dan secara simultan membenci bahkan menyumpahi orang lain, maka pelayanan itu menjadi tidak murni.

Dalam sejarah pelayanan Pdt. Mangentang, kepedulian terhadap kaum papa, marginal, kaum yang tak terlayani dan terkasihi telah dia buktikan sendiri. Jika Anda berbicara dengan beliau soal pelayanannya, maka Anda harus menyiapkan waktu yang lama untuk menyerap berbagai makna dan pesan dari pelayanannya di seluruh Indonesia.

Pada kesempatan-kesempatan tertentu ketika saya berbicara dengan Beliau, pesan dan makna pelayanan begitu indah dan kuat, sehingga dari situlah saya “meneladani” beliau. Tanyakanlah kepada sahabat-sahabat saya, semisal Sensius Amon Karlau, Purnama Pasande, Jeffrit Kalprianus Ismail, Jansakti Saddusaly, Gihon Nenabu, Narsing M, Hendrik Sanda, Yopi Alfalor Karhom, Aris Rimbe, atau para senior saya: Yane Henderina Keluanan, Safira Mau, Aprianus Moimau, Yosia Belo, dan sederet alumni SETIA dari berbagai angkatan, tentang bagaimana pengalaman Beliau dalam melayani. Pelayanan beliau sungguh luar biasa. Visi dan Misi yang Beliau tanamkan di hati para alumni SETIA sangatlah kuat dan satu persatu telah terjadi dan diaplikasikan.

Melihat kontribusi pelayanan beliau di bidang kerohanian (Gereja) dan Pendidikan (Sekolah-sekolah di berbagai jenjang), maka tak ada alasan yang cukup untuk tidak menyatakan dan meneladaninya. Dalam setiap perayaan hari ulang tahunnya, selalu ada kejutan. Kejutan dari saya selalu dalam bentuk buku atau sebuah artikel singkat. Hal itu didasari pada pengalaman beliau dalam pelayanan dan wejangan-wejangan yang baik bagi kemajuan pelayanan ke depannya.

Memang, teladan pelayanan Beliau tidak bisa dilupakan. Setiap orang dapat melihat sikap hidup dan motivasi melayani Tuhan, termasuk melihat teladan dan sikap hidup Pdt. Mangentang. Beliau melayani dengan tulus dan bahkan seringkali rugi; ketulusan seringkali berjalan beriringan dengan kerugian. Tetapi Tuhan akan membalasnya berlipat kali ganda.

Di sisi lain, kita pun tahu bahwa ada orang yang terlihat melayani Tuhan tetapi tidak tulus; bahkan lebih dari itu, dari mulutnya pujian kepada Tuhan dan dari mulut yang sama keluar caci maki dan kesombongan. Mengenai ini, kita tidak perlu ragu karena orang yang sombong akan direndahkan Tuhan; tinggal menunggu waktunya saja.

Dari pengalaman beliau kita belajar apa arti berserah kepada Tuhan, apa arti iman yang kuat ketika menghadapi problem dan hambatan, apa arti berbagi dengan orang lain, dan apa arti ketulusan dalam melayani Tuhan. Setiap taburan kebaikannya patut kita ingat.

Dalam ketegarannya menghadapi cobaan dan tantangan, bahkan tekanan, tak mengurung niatnya untuk terus menjadi berkat bagi orang lain. Tak ada hambatan yang cukup berarti baginya ketika hendak berbagi firman Tuhan dengan orang lain. “Tembok-tembok” bukanlah penghalang melainkan sebuah kesempatan untuk menerobos agar Injil diberitakan. Tugas inilah yang patut kita teladani.

Dalam sejarah pelayanannya, banyak hal yang telah terjadi. Beliau pernah dihina, tetapi ia hanya membalas dengan doa dan berkat. Ia tahu bahwa hinaan tersebut tak membuatnya hina dina; tidak juga membuatnya tersingkirkan dari dunia pelayanan. Apa yang telah ditaburkan, sekarang telah berbuah: pelayanan-pelayanan dari yang dikerjakan oleh para alumnus SETIA di seluruh Indonesia telah membuktikannya.

Doa kami kiranya Tuhan menyertai, menopang dan memberkati Bapak.

Salam Bae…

GEREJA DAN TANGGUNG JAWABNYA

Church of Saint Primus in Jamnik Croatia
Sumber gambar: https://jessomewhere.com/ultimate-two-week-balkans-itinerary/

Berbicara mengenai Gereja—jika dilihat dari perspektif dan pemahaman zaman sekarang—kita tentu akan mendengar berbagai pendapat yang telah terkontaminasi dengan situasi-situasi yang dialami Gereja, baik mencakup kesuksesan Gereja, perpecahan Gereja, perebutan kekuasaan, perebutan aset Gereja, perselisihan, pembunuhan hamba Tuhan, konflik berkepajangan, Gereja yang bermisi, Gereja yang mengutus, pengajaran sesat, pertumbuhan Gereja, Gereja yang berdoa, dan masih banyak lagi daftar kemajuan, kemunduran, dan keburukan Gereja.

Dari kenyataan yang ada—sebagaimana yang telah kita lihat di zaman kita, Gereja dipandang dari dua sisi: positif dan negatif; dan itu tidak dapat kita pungkiri, karena memang penilaian kita terhadap Gereja selalu bertolak dari fakta yang kita lihat sendiri. Namun, tidak adil jika kita menilai Gereja hanya dari konteks sekarang ini. Kita juga perlu melihat Gereja secara komprehensif yang dimulai sejak berdirinya (lahirnya) hingga perkembangannya, sampai kepada kita sekarang ini. Kita pun tahu bahwa suguhan dari berbagai buku yang membahas sejarah Gereja, tidak lepas dari sejarah perpecahan Gereja, konflik kepentingan, konflik pengajaran dan iman kepada Yesus Kristus, pengkultusan pemimpin, skandal-skandal, pembunuhan, dan masih banyak lagi. Kita juga akan menetaskan air, bahkan menangis terharu melihat perjuangan iman orang-orang Kristen di sepanjang sejarah yang mati martir; mereka dibunuh, dipenggal, dibakar, disiksa, dipenjara, didiskriminasi, diancam, dan sejumlah perlakukan tidak adil dari mereka yang memusuhi “Gereja” (orang-orang percaya).

Para martir adalah tokoh-tokoh Gereja yang melalui mereka iman kepada Yesus Kristus tetap kokoh, terjaga, dan terwariskan dari generasi ke generasi. Tak dapat disangkal bahwa peran para martir Kristen telah memperkuat sejarah kekristenan dan perkembangannya (ekspansi) ke berbagai belahan dunia, sehingga menjadi “agam” terbesar di dunia. Apa yang hendak kita katakan tentang mereka? Kita sendiri dapat menjawabnya berdasarkan apa yang kita pahami tentang mereka. Saya sendiri selalu berpikir bahwa “betapa kuat iman mereka kepada Yesus Kristus”. Meski kematian di depan mereka, meski penderitaan dan siksaan sedang mereka alami, meski sakit mereka rasakan, iman mereka tetap kokoh dan mereka pun tak menyangkal iman mereka.

Kita dapat menilai dan memahami Gereja dalam konteks bahwa sukacita dalam mengikut Yesus Kristus, dan penderitaan yang dialami sebagai konsekuensi dari beriman kepada Yesus Kristus, adalah dua hal yang tak bisa dipisahkan. Bahkan, di tengah maraknya isu-isu agama yang digoreng oleh oleh orang-orang yang memiliki kepentingan tertentu di baliknya, mengakibatkan relasi antar umat beragama menjadi tegang dan tidak terjamin keamanannya. Orang Kristen memang seringkali mendapat perlakuan yang tidak adil ketika mereka berada dalam posisi “minoritas”. Bahkan ada orang-orang tertentu yang menyalakan api permusuhan dengan mengedepankan isu minoritas agar mereka yang mayoritas menjadi terbakar emosinya dan melakukan hal-hal yang tidak semestinya dilakukan.

Melihat fenomena beragama dan bergereja sekarang ini, bahkan ketika kita melihat relasi Gereja dengan masyarakat secara umum, kita dapat membentuk pemahaman kita tentang apa dan bagaimana Gereja itu. Sejauh yang dapat kita pahami, sejarah mencatat bahwa “Gereja tetap eksis dan terus berkembang di satu sisi, dan mendapat perlakuan tidak adil, diskriminatif, tekanan, persekusi, intimidasi, di sisi lainnya”. Kita dapat membaca di banyak literatur yang membahas tentang Gereja, dan melihat bahwa suka-duka Gereja selalu berjalam berdampingan.

Apa makna dan pesan yang dapat kita ambil dari sejarah Gereja hingga fenomena Gereja dan bergereja sekarang ini? Kita sendiri dapat mendaftarkan sesuai dengan apa yang diamati dan dialami. Namun, satu hal yang penting di sini adalah, bahwa “Gereja yang sejati adalah Gereja yang tetap bersandar kepada Tuhan yang Mahakasih dan Mahakuasa dan percaya bahwa segala sesuatu yang terjadi pada diri Gereja, adalah kedaulatan dan kehendak Tuhan.” Gereja berkembang adalah karena pekerjaan Allah Tritunggal. Gereja yang bermisi dan terus berjuang mewartakan Injil, juga adalah dorongan dari kuasa Allah.

Dari Gerejalah kita belajar mengenai apa itu kesetiaan kepada Tuhan dan kasih kepada sesama, apa itu sukacita mengikut Yesus Kristus, apa itu menderita bagi Dia, apa itu kesabaran dalam menjalani tekanan, diskriminasi, dan tindakan ketidakadilan lainnya. Dari Gerejalah kita dapat melihat betapa iman kepada Yesus Kristus harus menerima konsekuensinya; kita dapat melihat bahwa Gereja harus terus bersaksi, menjadi garam dan terang dunia, menjadi pelaku-pelaku firman. Itulah tanggung jawab Gereja yang paling utama dan yang terus-menerus dikerjakan.

Salam Bae…

HARAPAN CINTA

Sumber gambar: https://id.pinterest.com/pin/848084173573387060/

Perjalanan kisah cinta membutuhkan kendaraan agar tetap ada di dalam kendaraan dan mencapai tujuan, yaitu kesetiaan yang di dalamnya terdapat kebahagiaan, kepuasan, dan kasih yang tulus. Ketika kita menemukan dan menetapkan bahwa “dialah” cinta yang harus kutancapkan dalam hidup, maka ketetapan itu harus menjadi panduan kendaraan yang dinaiki.

Bahan bakar kendaraan haruslah terus diperhatikan, jangan sampai kehabisan di tengah jalan. Kalau hampir habis, singgalah di tempat penjualan bahan bakar dan belilah. Lalu mulailah melanjutkan perjalanan “rumah cinta”.

Harapan cinta tidak muluk-muluk. Biasanya seseorang cukup dengan mengatakan bahwa “Aku mencintaimu. Aku akan membahagiakanmu. Aku akan menjagamu, dan Aku akan setia sampai kapan pun.” Ini sederhana tapi sulit untuk dilakukan. Meski demikian, tetap saja harapan cinta itu diucapkan dan diyakinkan.

Cinta tanpa penegasan keyakinan tentu tidak kuat, meski dalam perjalanan cinta, terbukti keyakinan itu tidak kuat, malahan seseorang membuat “kekuatan lain” yang ditancapkan pada hati yang lain. Seyogianya tidaklah demikian. Ketika keyakinan cinta itu diucapkan, harapan terkandung di dalamnya. Tugas seseorang (atau kedua belah pihak) adalah menjaga harapan itu hingga terwujud sampai maut memisahkan mereka.

Harapan cinta itu kuat; lebih kuat dari orang yang makan Biskuat.

Harapan cinta itu membahagiakan; lebih Bahagia dari mereka yang menang lotre.

Harapan cinta itu meneguhkan hati, perasaan, dan nafsu.

Namun, harapan cinta itu pudar dan bahkan hilang ketika “ada harapan lain yang masuk mengganggunya”. Berhati-hatilah dalam menjalani kehidupan cinta; pegang teguh cinta itu; mintalah hikmat dan kekuatan dari Tuhan agar Ia menguatkan dan menyadarkan kita tentang bahayanya “harapan palsu” yang mengganggu harapan asli yang telah diikrarkan di depan sang kekasih, maupun di depan umum sehingga menjadi pengumuman.

Harapan cinta itulah yang mengarahkan langkah kita dalam menggapai bahagia, kepuasan, kesetiaan, dan pengorbanan. Jika kita tak memiliki harapan cinta bersama dengan orang yang kita kasihi dan cintai, atau bahkan harapan cinta itu hilang ditelah harapan dan tawaran cinta yang lain (yang hadir di tengah jalan), maka bahaya akan mengancam keutuhan ikatan cinta yang telah terbina.

Katakan kepada sang kekasih: “Aku tetap bersamamu, menggapai harapan cinta yang telah kita ikrarkan Bersama”. Aku akan tetap menjagamu; aku ada untukmu; akulah tulang rusukmu; dan akulah cinta sejatimu.

Salam Bae.

JANGAN BERIKAN HATIMU KEPADA YANG LAIN

Sumber gambar: https://id.pinterest.com/pin/129689664257712079/

Cinta itu sederhana; juga kadang-kadang rumit. Rumit bisa dilihat dari lika-liku jalan cinta itu sendiri, atau jalan cinta yang lain: mencari cara lain untuk menciptakan jalan lain agar mendapatkan cinta yang tidak semestinya.

Proses mencintai dan dicintai memang memiliki gumul juang dari masing-masing pelakunya. Kadangkala, prosesnya berakhir menyedihkan dan memilukan. Betapa tidak, harapan cinta yang digenggam selama ini, terlepas karena ternyata orang yang kita harapkan telah “memegang” cinta yang lain—dan itu sangatlah menyakitkan.

Apalagi jika kita mendengar “celana” ikut bermain di sana—dan terciptalah kisah cinta yang terjerumus dalam pelubang dosa; ya, dosa yang umum terjadi, yaitu “terbukanya celana”. Padahal, dari sederet fakta, para pelakunya adalah orang-orang yang terlihat “rohani”, bahkan rohani sekali; tak disangka-sangka ternyata mereka ada golongan pembuka celana dan golongan merelakan celananya terbuka. Sudahlah, kita lupakan mereka itu. Kita beralih kepada konteks yang lebih tajam lagi.

Dalam menjalani percintaan, harapan-harapan dalam hati dan pikiran seketika menjadi kuat. Salah satunya adalah: “JANGAN BERIKAN HATIMU KEPADA YANG LAIN”. Pikir seorang laki-laki atau perempuan yang terpaut hatinya karena cintanya. Ungkapan “Jangan berikan hatimu kepada yang lain” secara sadar dan kuat hadir ketika cinta mulai bersemi dan mengeluarkan harum mewanginya.

Rasanya, cinta itu tak bisa diambil oleh yang lain atau pula diberikan kepada yang lain; cukup diberikan kepadaku. Cinta itu kuat seperti maut karena ada orang yang rela menerima maut demi cintanya; cinta kuat seperti perasaan memiliki karena ada orang yang rela melepaskan apa yang dimilikinya untuk berharap cintanya dimiliki oleh pasangannya. Cinta itu bersifat “mengorbankan” dan “dikorbankan”; cinta itu aneh tetapi kadang menggairahkan.

Tak jarang, cinta menjadi begitu liar ketika “nafsu” merasukinya. Apalagi merasuk “celana”. Pikiran seringkali dibutakan oleh “sesuatu” di balik celana. Memang bagi mereka yang bernafsu untuk mengorbankan sesuatu memiliki orientasi pada sesuatu di balik celana; mereka itu menghalalkan segala cara. Meski sudah terikat, masih saja berjuang untuk mendapatkan sesuatu di balik celana.

Celana, oh celana; engkau menyimpan keindahan dan kenikmatan, sampai-sampai dosa menjadi kesukaan dari mereka yang menginginkan menikmati sesuatu di balik celana; iman menjadi luntur ketika celana turun. Ada apa dengan cinta? Apakah cinta dibalut dengan nafsu sehingga membiarkan dosa seksual bertakhta di pikiran dan di celana?

Cinta itu suci; perasaan itu suci; nafsulah yang mengotorinya; nafsulah yang merusaknya. Nafsu seksual yang liar mengakibatkan “dosa” menjadi kesukaan, bahkan dipelihara dengan baik. Harapan cinta yang kuat itu seketika menjadi hancur berkeping-keping; dosa membuatnya tanpa harapan yang pasti; bahkan menjadi manusia seperti kubur yang dilabur putih tetapi isinya tulang-belulang.

Ketika menjalin cinta, maka pastikan bahwa cinta yang kita miliki tidak diserahkan kepada yang lain; ketika cinta didasari pada hawa nafsu, kecantikan atau kegantengan, maka cinta itu tak dapat bertahan lama. Cinta itu murni melihat hati dan kebaikan yang terpancar dari hati dan hidup seseorang.

Hanya kebaikan yang menjadikan cinta itu kuat, bermakna, dan bertahan. Oleh sebab itu, “jangan berikan hatimu kepada yang lain”. Jadikan cinta itu bertumbuh dan berbuah; singkirkan nafsu liar yang menggagalkan niat baik.

Akhir kata, “Di dalam Kebaikan Terdapat Cinta yang Kuat dan Bermakna; dan Hanya Komitmen yang Layak Tinggal Serumah dengan Cinta Itu.”

Salam Bae

AKU BERHARAP ENGKAU SETIA

Sumber gambar: https://id.pinterest.com/pin/777222848186057672/

Tak ada kata yang begitu kuat dan mengesankan selain “Aku berharap engkau setia”. Kesetiaan itu adalah proses dan bukan tujuan. Ketika kesetiaan menjadi sebuah tujuan, maka seseorang akan terbentur dengan berbagai pilihan yang dapat saja membawanya kepada sebuah kegagalan dalam mempertahankan cinta.

Setia adalah proses yang membawa kedewasaan dan kebahagiaan ke dalam kehidupan yang dijalani. Saya rasa, hampir semua—dan bahkan semua pasangan yang menjalani dan menikmati cintanya—menginginkan, mengharapkan pasangannya untuk “setia kepadanya”. Begitu sebaliknya. Harapan itu sangat kuat, masih segar. Tetapi, akan segera menjadi layu dan lemah, ketika ada cinta lain yang kuat dan segar, menawarkan diri, mencari gara-gara, mencari perhatian, dan merayu menampilkan keseksian-kegantengan yang menawan-mempesona.

Oh cinta, adakah engkau sanggup setia tinggal dalam rumah hatiku dan memegang erat pikiran untuk berjuang menjaga harapan itu tetap ada dan kuat? Bagaimana aku menghadapi kuatnya hasutan nafsu dan godaan yang datang silih berganti, menawarkan pesona dan daya tariknya?

Perjuangan dalam cinta memang menyisahkan banyak problem, baik ekonomi, waktu, harta, pekerjaan, perhatian, keluarga, gaji, pangkat atau jabatan, potensi, talenta, wajah, postur tubuh, dan masih banyak lagi. Adakah perkataan “Aku berharap engkau setia” menguatkan rasa cinta dan komitmen untuk tetap mencintai dan saling menjaga?

Hanya waktu dapat membuktikannya. Itu sebabnya, ke[-setia-]an itu adalah proses dan bukan tujuan. Tujuan dicapai ketika seseorang melewati proses yang panjang dan menantang. Seorang istri berharap “suaminya setia padanya”; “seorang wanita/pria berharap pasangannya setia padanya”. Terkesan memang logis—karena itulah konsekuensinya. Sejatinya, ketika cinta itu datan, harapan untuk “setia” itu ada, meskipun motivasinya ingin merusak cinta. Setidaknya, seseorang akan setia sampai ia mendapatkan apa yang ada di balik celana, apa yang ada di dalam dompet (tabungan), dan apa yang ada di dalam rumah (harta benda atau kekayaan). Hal ini dilakukan karena didasari pada motivasi yang merusak, hipokrit, dan menipu.

“AKU BERHARAP ENGKAU SETIA” adalah pernyataan yang menyuguhkan sebuah prinsip untuk mempertahankan apa yang sudah diikrarkan, dijanjikan, diucapkan, disumpahkan. Janganlah mengorbankan sesuatu cinta hanya demi cinta yang lain; atau hanya demi “celana seksi” yang lain. Memang seringkali manusia tidak puas dengan apa yang ia miliki, sehingga memaksanya untuk memiliki atau memegang cinta yang lain sementara tangan yang satu memegang cinta yang ia miliki sebelumnya.

Kita juga jangan mengharapkan pasangan kita setia, sementara kita bebas dari komitmen itu. Hal ini sangatlah tidak seimbang. Justru akan merusak hubungan. Hanya mereka yang berkomitmen untuk setia yang layak mengungkapkan “Aku Berharap Engkau Setia”, sebab mereka yakin bahwa dengan kestiaan yang ia miliki, ia dapat mempengaruhi pasangannya untuk tetap setia.

Kesetiaan itu diwujudkan dari kata dan perbuatan—keduanya harus selaras dan terus konsisten dilakukan. Tak ada cinta tanpa tindakan pembuktian; cinta butuh bukti dan bukan janji melulu; cinta itu nyata dan bukan angan-angan.

Sekiranya cinta dalam berbicara, ia akan menegur kita untuk setia dan tetap setia menjaga rasa cinta itu hingga di kemudian hari menghasilkan buah-buah yang segar.

Bangunlah “rumah sederhana”, yang di dalamnya terdapat enam kamar. Satu kamar untuk kita dan istri/suami, bersama “cinta”. Satu kamar untuk komitmen, satu kamar untuk kasih, satu kamar untuk harapan, satu kamar untuk pengorbanan, dan satu kamar untuk bahan makanan.

Sedangkan bagi yang belum menikah, bangunlah “rumah perasaan” yang di dalamnya terdapat WAKTU (yang menguji cinta), PERASAAN (rindu, kangen, mimpi, berkhayal, dan berharap), KOMITMEN (yang menguatkan rasa cinta meski melewati badai cobaan), HARAPAN (tetap yakin cinta yang dipertahankan mendapatkan rumah baru yang terdiri atas enam kamar), dan PENGORBANAN, yaitu selama proses waktu itu, kita dapat saling memberi pengertian, memberi bantuan, dan memberi motivasi.

Akhir kata: Aku Berharap Engkau Setia haruslah diucapkan oleh kedua pasangan; katakanlah itu dengan yakin; jangan pikirkan yang lain karena akan berpotensi mengganggu, merayu, menggoda, dan mengakibatkan celana terbuka. Berhatilah-hatilah dalam memilih dan menjalani cinta. Pilihlah yang dapat berkomitmen membangun “rumah perasaan” hingga akhirnya membangun “rumah sederhana”.

Salam Bae… Salam Setia

OTAK PELACUR: Kebodohan yang Telanjang

Sumber gambar: https://id.pinterest.com/pin/276971445823110150/

Manusia memikir-mikir jalannya. Bermodalkan pikiran, ia mengarahkan hidupnya ke [berbagai] arah yang dikehendakinya. Ia memiliki keyakinan yang didapatkan dari pengalamannya sendiri; ia selalu berharap bahwa apa yang dia tahu adalah benar dan selalu merasa benar di jalan logika yang salah.

Karena terbiasa dengan “merasa benar”, ia sama sekali tidak tahu bahwa ia di jalan logika yang salah. Kebodohannya telah membawa dirinya di tengah jalan ramai, di mana ia dalam keadaan telanjang; kebodohannya tak bisa ditutupi. Ada banyak orang yang memberikan dia hadiah pakaian, namun karena kebodohannya, ia tidak mau dan merasa bahwa ia berpakaian.

Otak pelacurnya ikut bermain. Kebodohan yang dirasakannya begitu tinggi sampai-sampai “kebenaran Tuhan” dianggap salah dengan logikanya yang salah di jalan yang salah dalam keadaan bodoh yang mencolok.

Otak pelacur adalah penista kebenaran; mulutnya penuh caci maki; hatinya penuh kebencian, dan apa yang dipikirkannya selalu dirasa benar di jalan yang salah. Ia hanya mempertontonkan kebodohannya, pelacurannya dengan dusta, kebencian, kesesatannya. Logika selalu bermain “seks” dengan wanita-wanita dusta, kebencian, dan kesesatan; logikanya setiap hari bernafsu tinggi dan sering orgasme tak terkendali.

Otak pelacur telah menyerahkan dirinya kepada jalan Setan dan mengungkapkan berbagai ketelanjangan. Aibnya terlihat; auratnya terlihat; itulah kebodohan dan kesesatannya. Ia seakan-akan kesetanan, tak terkendali, dan merasa menang sendiri.

Otak pelacur telah menunjukkan eksistensinya di jalan hidup khalayak ramai; kebenaran yang hakiki dijadikannya olok-olok. Hingga akhirnya ia sendiri beranak paralogisme.

Kebodohan yang telanjang begitu terlihat. Ia senang dan bangga meski kelaminnya tampak aneh dan menyedihkan. Orang semacam ini memang tak mendapat tempat di jalan kebenaran, karena ia telah membuat jalannya sendiri, jalan yang memang mulus dan lurus dalam pandangannya tetapi ujugnya menuju kesesatan.

Raja Salomo pernah menulis: “Ada jalan yang disangka orang lurus, tetapi ujungnya menuju maut”. Apa yang terjadi dengan si otak pelacur? Ia sendiri telah hampir berada di ujung jalannya sendiri, meski di sepanjang jalan ia terus mengoce dan mempertontonkan kebodohannya yang telanjang.

Otak pelacur adalah lawan kita semua. Ketika kebenaran yang kita sodorkan ditolaknya, itu bukan masalah pada kita, melainkan pada otaknya yang pelacur itu. Sejauh kita menyuapinya dengan kebenaran, sejauh itulah ia menolaknya, karena ia mempunyai makanannya sendiri. Ia makan dari dusta bercampur kebodohan, dan melahirkan kesesatan dan kematian.

Jenis kebenarannya adalah kebenaran yang dianggapnya “benar” pada jalan dusta, suatu kebodohan yang telanjang, kebodohan yang menyesatkan. Itulah makanan dan pekerjaan sehari-hari. Kebenaran Tuhan diputarbalikkan untuk memuaskan libido paralogisme. Ia menyediakan harapan sesat bagi para pendengarnya, dan menyerahkan dirinya sendiri pada orgasme sesaat.

Ingatlah, bahwa Tuhan—pada waktu-Nya—akan menyatakan kuasa dan kedaulatan-Nya bagi mereka yang terus memelihara “otaknya” menjadi pelacur. Tuhan menghancurkan mereka; Tuhan menaruh mereka di tempat yang licin, mereka terpeleset dan jatuh, hingga Tuhan menempatkan mereka di dalam perapian yang menyala-nyala.

Tuhan telah disediakan tempat yang layak dengan kebodohannya yang menyesatkan. Meskipun hari-hari yang dilaluinya dirasakan puas, tetapi tibalah waktunya bagi si otak pelacur untuk beberes, sebab Tuhan sedang dalam perjalanan untuk menjemputnya, menghukumnya, dan menggilasnya.

Jangan mengikut jalan-jalan otak pelacur. Jangan memberikan mutiara kepada babi, itu tidak layak; sama sekali tidak. Babi tak makan mutiara, ia makan kotoran yang menjijikkan.

Teruslah hidup dalam kebenaran Tuhan. Jangan berdusta; nyatakanlah apa yang benar. Ingatlah pesan Rasul Yohanes: “TIDAK ADA DUSTA YANG LAHIR DARI KEBENARAN”. Tetaplah berada di jalan kebenaran Yesus, maka kita akan menerima apa yang dijanjikan-Nya.

Salam Waras

HARAPAN DAN HIDUP YANG TEDIUS

Sumber gambar: https://fineartamerica.com/featured/meditation-franz-fotografer.html

Warna-warni kehidupan manusia yang tampak ke permukaan disebabkan oleh banyak faktor. Faktor-faktor tersebut bisa berupa kondisi identitas, jumlah kekayaan, pekerjaan, relasi, kekuasaan, politik, harta milik, nama baik, dan lain sebagainya. Dari sekian faktor yang dijalani, dilakoni, dan dilakukan manusia seringkali muncul rasa yang tedius atau membosankan. Kebosanan hidup banyak penyebabnya. Biasanya karena salah satu faktor di atas, atau karena alasan lainnya, misalnya relasi yang tidak baik dengan sesama, kurangnya jumlah uang di dompet, kurangnya pendapatan, dan lainnya.

Dalam kondisi yang demikian, kadangkala harapan itu mulai pupus, atau bahkan pupus sama sekali. Padahal, harapan itu dapat dipandang sebagai penguat semangat hidup, tergantung apa isi dari harapan itu. Pada kenyataannya, semua manusia berjuang (berusaha) menggapai harapan-harapannya. Entah harapan yang telah lama dipikirkan, atau harapan yang muncul dadakan karena situasi dan kondisi.

Sikap melihat fakta sebagai sebuah hal yang tedius bergantung pada apa yang dilakukan, dipikirkan, dan diusahkan. Jika yang dilakukannya hanya itu-itu saja, maka sikap menjadi tedius dapat muncul. Jika yang dipikirkan selalu tak dapat diwujdukan, maka sikap menjadi tedius dapat muncul. Dan jika yang diusahkan selalu mengalami jalan buntu, kesusahan, dan kegagalan, maka sikap menjadi tedius juga dapat muncul. Lalu bagaimana  sikap yang seharusnya? Tentu tetap sama, yaitu melakukan segala sesuatu dengan bersyukur dan memohon kekuatan kepada Tuhan agar dalam melakukannya secara benar dan bermanfaat. Proses memikirkan masa depan adalah alami, tetapi usaha untuk mencapainya bukanlah hal yang mudah. Meski demikian, teruslah berpikir. Kita juga perlu dan penting untuk berusaha dalam menghidupi diri dan orang lain (yang dikasihi). Dengan begitu, rasa tedius akan hilang dengan sendirinya.

Hal-hal di atas adalah bersifat umum. Setiap manusia dapat merasakan dan mengalaminya, entah dia merasa bahwa hidup itu tedius, tergantung dari apa yang dia lakukan, pikirkan, dan usahakan. Namun, ada hal lain lagi yang juga penting, yang berbentuk pertanyaan: “Adakah Anda merasa bahwa dosa adalah sesuatu yang tedius?” atau sebaliknya, “apakah dosa adalah sesuatu yang menyenangkan bagi Anda?” Jawabannya tergantung dari karakter dan pengalaman hidup Anda. Jika Anda memilih pertanyaan pertama, maka tanda-tanda pertobatan sudah diambang itu. Anda tinggal melanjutkannya: memutuskan untuk bertobat dan percaya kepada Allah. Jika Anda memilih pertanyaan kedua, maka Anda akan terpisah dari Allah, dan akan menghalalkan segala cara untuk menutupi dosa agar tidak ketahuan.

Memang terlihat—dan itu fakta umum—bahwa manusia-manusia di bumi dengan segala pergumulan dan kesenangannya menempatkan harapannya setiap hari pada hati, pikiran, dan pandangan mata. Harapan itu ada di hati, dan pikiran memikirkan bagaimana untuk mengupayakan harapan itu, sementara mata melihat setiap kesempatan yang ada dan menilai segala situasi dan kondisi agar dapat memulai masuk ke dalamnya dan berproses menggapai harapan itu. Baik orang-orang benar maupun para pendosa memiliki hari dan jam yang sama, bahkan udara yang sama dalam mengikuti proses hidup dan berjuang menggapan harapan. Bedanya adalah pribadi mereka (karakter), tujuan hidupnya di dunia, dan tujuan akhir hidupnya pasca mati.

Siapa saja dapat merasakan hidup sebagai sesuatu yang tedius. Itu alami dan bergantung pada hidup seperti apa yang dijalaninya. Harapan di masa depan dapat muncul di setiap detik dan menit hidup manusia. Hidup itu sendiri sangat singkat jika diukur berdasarkan “waktu” Tuhan. Menjalani hidup yang tedius boleh-boleh saja, tetapi sikap seperti itu tidak dapat mendorong seseorang untuk maju dan menghasilkan karya-karya yang bermanfaat bagi sesama.

Terkadang, beban hidup yang begitu berat, membuat seseorang merasa bosan akan apa yang dijalaninya. Keletihan dan kepenatan hidup, bahkan hati dan pikiran juga, membuat manusia yang berjuang menjalani hidup, harus beristirahat sejenak dan memikirkan langkah selanjutnya. Terkadang pula, beban-beban yang berat itu, membuat seseorang mengakhirinya hidupnya; tak sanggup menjalaninya, ia kemudian berpikir: “untuk apa saya hidup jika saya tak mampu menanggung beban hidup yang begitu berat”. Tentu masih ada kasus lain yang terjadi, terkait dengan kondisi hidup manusia, baik yang berbeban berat, maupun yang merasa hidup itu sangat tedius.

Tak dapat dipungkiri bahwa memang menjalani hidup memiliki suka dan dukanya, dan setiap orang juga memiliki proses yang berbeda. Mereka ditempa (dibentuk) oleh hidup dan menempa (mendidik dan melatih) hidup mereka sendiri. Hasil dari ditempa dan menempa, keduanya diserahkan untuk menggapai harapan di masa mendatang. Ada yang kecewa, merasa tedius, ada yang mengakhiriya di tengah jalan, ada yang putus harapan, dan ada yang mengakhiri hidupnya sendiri, karena merasa tak sanggup melewati proses hidup itu.

Di tengah kondisi hidup yang sedemikian sulit, tidak mudah menggapai harapan apalagi dalam konteks hidup yang tedius. Meski demikian, semangat untuk tetap meneruskan perjuangan dalam menggapai harapan masih ada. Bahkan jika kita menyadari sejak awal, bahwa kita membutuhkan Tuhan untuk menjalani hidup ini. Kita tak mungkin bisa berjalan sendiri. Tanpa Tuhan, kita terasing, dan tak dapat berbuat banyak. Kita ingat tapa yang dikatakan Yesus: “Akulah pokok anggur dan kamulah ranting-rantingnya. Barangsiapa tinggal di dalam Aku dan Aku di dalam dia, ia berbuah banyak, sebab di luar Aku kamu tidak dapat berbuat apa-apa” (Yoh. 15:5). Kita hidup harus menghasilkan buah, dan jika demikian, kita harus tinggal di dalam Yesus. Itulah maksud dari perkataan Yesus di atas.

Menghasilkan buah dalam kehidupan tidaklah mudah. Dunia juga menawarkan buah-buahnya untuk mengganggu kita, dan bahkan menjerumuskan kita. Dunia menawarkan hal-hal yang kadang menggiurkan, tetapi pada akhirnya mengecewakan dan menghancurkan. Jika tidak ingin kecewa, maka tinggallah di dalam Yesus, pasti kita berbuah banyak.

Kita berjuang untuk hidup dan menghasilkan banyak buah. Di dalamnya kita juga berharap bahwa Tuhan akan selalu menyertai dan memberikan kekuatan agar kita sanggup menjalaninya, meski kita merasa letih, lesu, dan berbeban berat. Mereka letih, lesu, dan berbeban berat adalah fakta umum dari kehidupan manusia, tetapi mereka yang membutuhkan Yesus, akan menjadi berbeda hidup dan karakternya. Yesus melihat bahwa beban dunia sangat menyiksa, itu sebabnya Dia menawarkan solusinya: “Marilah kepadak-Ku, semua yang letih lesu dan berbeban berat, Aku akan memberi kelegaan kepadamu. Pikullah kuk yang Kupasang dan belajarlah pada-Ku, karena Aku lemah lembut dan rendah hati dan jiwamu akan mendapat ketenangan. Sebab kuk yang Kupasang itu enak dan beban-Ku pun ringan” (Matius 11:28-30).

Jika kita mau mengikut Yesus, maka beban dunia harus dilepaskan, dan kita mendapatkan kuk yang baru dari Yesus. Tetapi perlu diingat bahwa kuk dan beban yang kita pikul itu enak dan ringan, karena Yesus memampukan kita untuk memikulnya. Yesus tahu batas kemampuan kita; Ia memberikan kuk sesuai dengan kemampuan kita. Mengikut Yesus, selain memikul kuk dari Dia, kita diberikan jaminan bahwa kuk itu enak dan ringan; tidak membuat kita tersiksa dan merasa tedius. Jika ada dari antara kita yang merasa bahwa kuk dari Tuhan itu menyiksa, maka sebenarnya yang kita pikul adalah beban dunia, dan bukan beban dari Tuhan. Tuhak tidak menyiksa kita ketika kita melayani-Nya (gambaran dari kuk dan beban yang kita pikul).

Yesus menawarkan jalan kebahagiaan, yaitu memiliku kuk yang Dia pasang pada kita. Jika kita memikul beban dunia, kita akan tersiksa, bahkan mungkin akan menjadi budaknya. Kita harus menanggalkan beban-beban dunia, dan memikul kuk yang diberikan Yesus. Kita harus memutuskan apakah kita mau memikul beban dunia yang bisa membuat kita merasa tedius, karena dunia tidak mengenal dan memahami kita yang berimbas pada beban yang kita pikul itu “over capacity”, ataukah kita memutuskan untuk mengikut Yesus dan memikul kuk yang dipasang (diberikan) kepada kita sesuai dengan kemampuan kita.

Keputusan-keputusan kita sangat menentukan proses kehidupan itu berjalan dengan baik, asalkan prinsip-prinsip yang Tuhan tetapkan, kita dapat menerima, memegangnya, dan tetap menggunakannya sebagai “cahaya” pada setiap langkah hidup kita. Ada harapan di dalam hidup yang tedius, dan harapan itu hanya ada di dalam Yesus. Ikutlah Dia, pikullah kuk yang Dia pasang, karena kuk itu enak dan bebannya pun ringan. Mengapa? Karena Yesus tidak hanya memberikan kuk kepada kita, tetapi Ia juga yang memberikan kemampuan, kesabaran, dan kebijaksanaan untuk memikulnya. Bersama Yesus kita pasti bisa.

Salam Bae…..

Rancang situs seperti ini dengan WordPress.com
Mulai