Pendahuluan
Sejak saya pelayanan di Desa Damau, Pulau Kabaruan, Kabupaten Talaud pada tahun 2008 hingga bertahun-tahun kemudian, saya menggeluti pelayanan di bidang pendidikan teologi. Saya bersama rekan senior saya, Matius Bongngi, yang mengajak saya untuk merintis SMTK dan STT di Kabupaten Talaud, telah menunjukkan dan membuktikan kepedulian kami kepada masyarakat Talaud.
Dalam prosesnya, berbagai kesulitan kami alami, tetapi karena kebaikan beberapa keluarga Kristen yang tinggal di Melonguane, Beo, Desa Alo, dan Desa Damau, maka kami dapat melalui dan keluar dari berbagai kesulitan tersebut. Hingga pada akhirnya berdirilah SMTK dan STT secara bersamaan. Belakangan, SMTK ditutup dan beberapa muridnya kami pindahkan ke SMTK Setia Jakarta, sedangkan STT—karena dirasa tidak ada perkembangan dan sulit berkembang, maka sebelum sekolah ini akan ditutup, kami (saya, Pak Matius Bongngi, dan Hendrik Sanda) berinisiatif untuk memindahkan beberapa mahasiswa di dua STT yaitu STT STAR’S Lub (Sulawesi Tengah) dan STTIS Siau (Sulawesi Utara).
Sebelum kami berencana menutup dan memindahkan murid dan mahasiswa ke beberapa sekolah, saya sendiri, dalam pergumulan pelayanan di bidang pendidikan. Akhirnya dalam benak saya terlintas untuk menuliskan tentang “Teologi Kulkas”. Ide ini muncul sekitar tahun 2009 dalam konteks pelayanan tadi. Teologi Kulkas berangkat dari akumulasi penilaian saya terhadap pelayanan yang dikerjakan oleh para pendeta, dan juga para pelayan Tuhan dengan berbagai motivasi di belakangnya. Dalam penilaian saya: “ada orang-orang yang merasa melayani Tuhan tetapi tidak sepenuh hati untuk ‘mengeluarkan’ apa yang dimilikinya, yaitu ilmu dan pengetahuan teologi, pengalamannya, kepada masyarakat yang membutuhkan.” Mereka lebih senang untuk menyimpannya secara pribadi dan merasa tak perlu untuk berjuang membagikan apa yang dimilikinya.
Teologi Kulkas yang saya tuliskan ini, ditujukan kepada para pendeta berjiwa “sekuler” yang bertopeng rohani, di mana mereka bergelar akademik, berpendidikan, bisa berkhotbah, dan menganggap dirinya sudah melayani Tuhan tetapi sebenarnya mereka adalah orang-orang yang tidak sepenuhnya mempergunakan talenta dan karunia yang diberikan Tuhan; mereka menganggap dirinya pintar, berkuasa, dan hebat tetapi cara hidupnya sama dengan manusia-manusia “duniawi”.
Makna Teologi, Keluasan [Ekspansi] dan Substansi
Teologi, dalam perkembangannya telah menjadi luas pemahamannya. Berbagai respons telah disuguhkan ke publik menghasilkan berbagai konsep (pemikiran), dan pernyataan-pernyataan teologis atas segala sesuatu yang diteliti dan dipahami. Tepatlah apa yang dikatakan oleh Charles C. Ryrie, bahwa “Secara sederhana teologi berarti memikirkan mengenai Allah dan mengekspresikan pemikiran-pemikiran tersebut dalam suatu cara tertentu” (Charles C. Ryrie, Teologi Dasar 1, peredaksi Antoni Stevens, Hariyono, Xavier Q. P [Yogyakarta: ANDI, 2014], 9). Pada kenyataannya, berbagai pemikiran yang mengekpresikan teologi seseorang telah meramaikan dunia teologi terkait isu-isu, doktrin-doktrin, dan konteks iman, baik di kalangan kampus teologi, keluarga, institusi atau lembaga-lembaga Kristen, dan di kalangan luas: antar budaya, bangsa, dan agama.
Terkait dengan teologi dalam lingkup khusus, seyogianya kita melihat pada suatu pola atau model berteologi dan teologi itu sendiri. Saya menyebut satu istilah yang bisa digunakan untuk melihat signifikansi teologi, yaitu term “arketipal”. Maksudnya, teologi harus bertitik tolak dari Allah sebagai Pribadi yang berdaulat dan menetapkan segala sesuatu, termasuk ketetapan untuk kita melakukan apa dikehendaki-Nya.
Jika menelisik secara etimologi, term arketipal berasal dari kata Yunani Kuno, arche, yang berarti permulaan, tipe, pola, atau model. Arketipe diartikan sebagai model atau pola yang mula-mula. Berdasarkan pola atau model ini dibentuk atau dikembangkanlah hal yang baru.
Teologi yang kita pahami haruslah menghasilkan hal-hal baru dalam konteks di mana kita hidup. Artinya, teologi itu harus terendam dan memberikan pengaruh kehangatan bagi totalitas kehidupan manusia di mana ia hidup dan berelasi. Dengan tidak mengabaikan arketipal tadi, para teolog dan pemerhati teologi, harus melihat pola dasar dari teologi itu sendiri dengan menempatkan Allah sebagai pusat dari teologi dan kemudian dikembangkan berdasarkan konteks-konteksnya.
Teologi itu adalah pemahaman yang terkait dengan Allah dan tindakan-tindakan-Nya. Dua pemahaman ini diresapi secara ekspresif dalam empiris kehidupan manusia. Dengan demikian, Teologi Kulkas yang akan saya jelaskan secara singkat dalam tulisan ini, adalah bagian dari ekspresi berteologi.
Menurut Nico Syukur Dister, teologi itu ilmu iman, maka caranya untuk memperoleh pengetahuan bukan hanya melalui sensus, ratio, intellectus, yaitu masing-masing pengalaman indrawi, akal budi, dan intuisi rohani. Sebagai ilmu iman, teologi masih mempunyai cara lan untuk memperoleh pengetahuan, yakni melalui revelatio dan fides, yaitu wahyu dan iman (Nico Syukur Dister, Teologi Sistematika I: Allah Penyelamat [Yogyakarta: Kanisius, 2004], 35). Harianto GP, menyebutkan beberapa unsur teologi sebagai berikut (sebagai catatan simpulan atas elaborasi pengertian teologi oleh Yulia Oeniyati): (1) dapat dimengerti oleh pikiran manusia dengan cara teratur dan rasional; (2) menuntut adanya penjelasan secara metodologis. (3) menyajikan kebenaran; (4) mempunyai nilai yang universal; dan (5) memiliki objek yang diteliti (Harianto GP, Teologi Misi: Dari Missio Dei Menuju Missio Ecclesia [Yogyakarta: ANDI, 2017], 3).
Namun, teologi tidak hanya sekadar teori belaka, melainkan sebuah konsep yang dapat mengubah hidup kita sendiri dan bahkan orang lain. Theos [Allah] dan Logos (perkataan, pikiran, ilmu, uraian, kata-kata, ucapan, wacara [percakapan]) dimulai dari apa yang ada [materi] baik alam, maupun pikiran (logika). Logika tidak bisa berdiri sendiri jika tidak membutuhkan perasaan dan emosi. Keduanya mendukung terwujudnya sebuah kesimpulan logis dan non-logis, berdasarkan bukti dan berdasarkan asumsi.
Materi teologi itu sendiri adalah Allah, manusia, dan ciptaan. Semuanya tercantum dalam Alkitab. Dengan demikian, teologi perlu memperhatikan aspek-aspek dari ketiga materi tersebut dan mengaitkannya dengan tanggung jawab iman kepada Allah. Sebagaimana yang diungkapkan Ryrie, bahwa “Bagaimana teologi mempengaruhi hidup saya atau hidup Anda merupakan tanggung jawab pribadi dan individu kita masing-masing” (Ryrie, Teologi Dasar 1, 12). Ryrie menambahkan, bahwa “Membahas tentang teologi sekaligus berarti juga membicarakan sesuatu mengenai luas jangkauan, fokus, dan keterbatasan-keterbatasan. Kata “teologi” berasal dari kata Yunani theos yang artinya Allah dan logos yang berarti pernyataan yang rasional. Jadi, kata ini berarti suatu interpretasi yang rasional tentang iman keagamaan. Dengan demikian, teologi Kristen berarti suatu interpretasi yang rasional mengenai iman Kristen” (Ryrie, Teologi Dasar 1, 15).
Teologi Kulkas, sebagaimana yang akan saya jelaskan secara singkat di sini, adalah teologi yang didasarkan pada analogi. Ryrie hanya menyebutkan tiga macam teologi, seperti yang tampak beriktu ini:
Macam-macam teologi: (1) berdasarkan era: antara lain, teologi partristik para Bapa Gereja, teologi abad pertengahan, teologi reformasi, teologi modern; (2) berdasarkan sudut pandang: antara lain teologi Arminian, teologi Calvinis, teologi Katolik, teologi Barth, dan sebagainya; (3) berdasarkan fokus; antara lain: teologi historis, teologi Alkitab, teologi sistematika, teologi apologetis, teologi eksegetis, dan lain-lain (Ryrie, Teologi Dasar 1, 16).
Saya perlu menambahkan apa yang disebutkan Ryrie di atas, sebagai yang keempat yaitu teologi berdasarkan analogi, yaitu teologi yang melihat sebuah prinsip tertentu yang kemudian dapat dikaitkan dengan sesuatu yang dapat merepresentasikan prinsip tertentu tadi; misalnya Teologi Kulkas yang akan saya bahas sekarang. Di sini, kita dapat saja mencari analogi dari teologi yang hendak kita bangun, sebagaimana yang akan saya lakukan pada teologi kulkas dalam tulisan ini.
Teologi juga memiliki keluasan atau ekspansi pemahaman, pembahasan, dan pemikiran. Mengenai hal ini tidak perlu saya jelaskan di sini. Cukup dengan kita mengamati perkembangan teologi sekarang ini di berbagai negara sudah cukup untuk membuktikan bahwa teologi sangatlah ekspansif dalam berbagai bidang kehidupan, pekerjaan, pelayanan, moralitas, politik, ekonomi, dan lain sebagainya.
Mengenai substansi teologi, saya menyebutkan beberapa di antaranya. Pertama, teologi hendaklah menunjukkan etika dan moralitas di dalamnya. Artinya, moralitas seseorang dapat tampak pada teologi tertentu. Kedua, teologi hendak memperlihatkan kuasa dan kasih Allah kepada manusia berdosa dengan tidak berspekulasi tingkat tinggi sampai-sampai menjadikan teologi Alkitab menjadi tawar dan tidak memiliki rasa lagi. Ketiga, teologi perlu memperlihatkan wacana iman yang empirikal, iman yang kuat, dan iman yang dewasa. Terapan Teologi Kulkas adalah wujud dari iman yang empirikal, iman yang kuat, dan iman yang dewasa. Keempat, teologi perlu melihat manusia sebagai bagian terpenting dan utama untuk menjembatani pemahamannya tentang Allah yang telah berkarya menyatakan kasih, pengampunan, dan menganugerahkan keselamatan bagi umat pilihan-Nya. Hal ini selaras dengan apa yang diungkapkan oleh Abraham Calovius. Menurut Calovius, sebagaimana dikutip oleh Bavink, bahwa “Objek yang sesungguhnya dari teologi adalah manusia ‘sejauh dia harus dibawa kepada keselamatan’, atau agama yang dirumuskan oleh Allah dalam Firman-Nya (Abraham Calovius, Isagoge ad Summa Theologia. Wittenberg A. Hartmann, typis J. S. Fincelli [1652], 252, 280, 299, 324. Calovius adalah teolog Lutheran abad ke-17, dikutip Herman Bavink, Dogmatika Reformed. Jilid 1: Prolegomena, terj. Ichwei G. Indra dan Irwan Tjulianto [Surabaya: Momentum, 2011], 31). Manusia menjadi objek keselamatan Allah yang dengannya Kristus Yesus mati bagi mereka, untuk menebus, menguduskan, membenarkan, dan menyelamatkan mereka. Terkait dengan teologi, maksudnya berkaitkan dengan konteks penyataan, menurut Bavink, “agar Allah dapat diketahui, Ia harus menyatakan diri-Nya tidak hanya dalam perbuatan-perbuatan, tetapi juga dalam perkataan-perkataan-Nya. Isi di dalam penyataan itu adalah pengetahuan tentang Allah dalam arti yang objektif, dan pengetahuan tentang Allah dalam arti objektif inilah yang menjadi objek dari teologi” (Herman Bavink, Dogmatika Reformed. Jilid 1: Prolegomena, terj. Ichwei G. Indra dan Irwan Tjulianto [Surabaya: Momentum, 2011], 40).
Apa yang diungkapkan Bavink di atas sangat tepat, dengan melihat pada fakta biblika bahwa teologi hendak menyatakan penyataan Allah dalam konteks penebusan dosa melalui Yesus Kristus. Baik perbuatan-perbuatan Allah maupun perkataan-perkataan-Nya, semuanya telah rampung dalam perjalanan sejarah hingga tiba bagi Allah untuk mengutus Logos-Nya menjadi manusia (Yoh. 1:14) bagi realisasi sempurna dari rencana keselamatan-Nya. Pemahaman ini tentu juga merupakan bagian penting untuk dinyatakan kepada semua orang—sejauh yang dapat dijangkau oleh mereka yang benar-benar ingin memberitakan Injil. Dengan itulah, Teologi Kulkas menjadi nyata.
Iman juga merupakan aspek penting dalam berteologi. Meskipun perdebatan teologis masih mencuat ke permukaan, tetapi iman janganlah diabaikan. Ada orang-orang tertentu yang memang memiliki pemikiran yang tajam, tapi soal imannya, masih dipertanyakan. Menurut Bavink, “Kitab Suci berfungsi sebagai aturan iman dan fondasi dari semua teologi” (Bavink, Dogmatika Reformed, 63). Di samping itu,
teologi muncul dari gereja ketika orang-orang percaya memikirkan ajaran-ajaran utama iman. Teologi adalah sumber iman; “objek”-nya hanya dapat diakses melalui iman, teologi berefleksi pada isi dari iman, dan harus dilakukan dalam iman. Keduanya saling membutuhkan. Iman menjaga teologi dari sekularisasi; teologi menjaga iman dari separatisme (Bavink, Dogmatika Reformed, 732).
Teologi Kulkas itu sendiri berbicara mengenai “kesadaran Kristen” yang mencakup aspek tanggung jawab iman, kesadaran iman, dan realisasi iman. Ketika kita sadar bahwa kita beriman, maka konsistensi logisnya adalah kita pun harus menyatakan iman itu kepada orang lain. Kesadaran Kristen merupakan bagian dari “metode dogmatika”, dan di sini saya mengikuti Bavink.
Menurut Bavink, metode dogmatika, harus dipahami sebagai cara bahan dogmatika diperoleh dan diperlakukan. Tiga faktor memainkan peran dalam pemerolehan ini: Kitab Suci, pengakuan iman Gereja, dan kesadaran Kristen (Bavink, Dogmatika Reformed, 66). Dengan demikian, dalam pemahaman saya, kesadaran Kristen adalah kesadaran dogmatis—yang mana seorang Kristen yang beriman kepada Yesus Kristus mampu memahami kedalaman karya-karya Allah, termasuk karya penebusan Allah melalui Yesus Kristus dan menjadikannya sebagai sebuah kekuatan “dogmatis” yang solid, untuk kemudian “dicairkan” ke dalam relasi humanitas kita setiap hari.
Fakta dan Substansi Teologi Kulkas
“Mencairkan” keyakinan dogmatis adalah wujud nyata dari Teologi Kulkas yang hendak saya paparkan di sini. Oleh sebab itu, duduk perkara yang sebenarnya adalah adanya fakta bahwa ‘kemalasan’, ‘sikap acuh tak acuh’, ‘sikap cari aman sendiri’, ‘sikap merasa pintar dan hebat sendiri’ telah menjadikan berita Injil menjadi beku dalam kulkas hati mereka yang malas, acuh tak acuh, cari aman sendiri, merasa pintar dan hebat sendiri; dan para pendeta, dan para pelayan pun tidak lepas dari kondisi semacam ini. Dengan melihat pada fakta yang terjadi dan berkembangnya sikap beku seperti es dalam kulkas, maka diperlukan kritik internal agar setiap orang yang telah dipercayakan pelayanan, untuk merealisasikan iman dan pengetahuannya kepada orang lain.
Teologi Kulkas menjelaskan kepada kita bahwa, “dunia Gereja” bukanlah suatu hal yang tersembunyi melainkan sesuatu hal yang bisa dilihat dan dikerjakan sesuai dengan kemampuan yang Tuhan berikan. Dan anehnya, para pendeta sekuler yang berkecimpung di dunia pelayanan (dan Gereja) merasa selalu paling benar dan paling suci. Ada lagi yang merasa dirinya dipanggil Tuhan sehingga ia melayani-Nya dengan semangat tetapi pada akhirnya, bertahun-tahun kemudian, gelar sarjana teologinya hanya berakhir pada daftar calon legislatif. Dari “buah-buah perbuatan mereka” kita dapat mengetahui seperti apa motivasinya.
Pendeta adalah sebuah profesi rohani karena yang dinamakan pendeta, dalam berbagai Gereja, harus melewati suatu acara penahbisan oleh pendeta senior atau orang-orang yang dianggap lebih tua di kalangan Gereja tersebut. Jabatan pendeta dalam sebuah jemaat bukanlah suatu jabatan yang tanpa syarat. Salah satu syarat menjadi pendeta adalah penguasaan prinsip-prinsip Alkitab, penafsiran, pelayanan, iman, kasih dan tanggung jawab dalam setiap tugas dan penggilannya untuk menjadi hamba Tuhan. Kalau dalam istilah salah satu Gereja, pendeta dan hamba Tuhan memiliki suatu perbedaan. Kalau dikatakan orang itu adalah pendeta, maka ia adalah hamba Tuhan (tergantung pada konteksnya). Kalau orang itu disebut sebagai hamba Tuhan, ada kemungkinan ia bukan pendeta tetapi seorang yang melayani full time di Gereja lokal, semisal pengerja, majelis, diaken, dan lain sebagainya (di luar jabatan pendeta). Hamba Tuhan adalah orang-orang yang giat dalam pekerjaan Tuhan dan selalu mau berkorban bagi pekerjaan Tuhan.
Pendeta lebih identik dengan pelayanan gerejawi di tempatnya sendiri, tetapi tidak menutup kemungkinan ia juga dapat melayani di berbagai tempat, termasuk “pergi menginjil” di tempat lain. Tetapi kalau melihat fakta yang ada maka pendeta lebih dekat dengan jemaatnya sendiri karena ia adalah gembala sidang bagi Gereja yang dipimpinnya. Sedangkan hamba Tuhan lebih luas jangkauan pelayanannya dan tidak terlalu diikat oleh organisasi Gereja.
Dalam konteks pelayanan, memang kedua istilah ini, tidak dibedakan menurut fungsinya, karena kedua-duanya sama-sama melayani Tuhan. Yang membedakannya adalah wilayah kerjanya. Memang hal ini tidak terlalu menjadi patokan tetapi minimal hal ini sudah menjadi fakta di tempat di mana kita melayani. Pendeta, Gereja, dan pelayanan tidak dapat dipisahkan. Di mana ada pendeta, pasti di situ ada Gereja; di mana ada pendeta, pasti berkhotbah kepada jemaat dalam salah satu gereja atau di berbagai denominasi gereja. Pendeta (dalam konteks tertentu) melewati proses penahbisan. Pendeta dan Gereja sama-sama berkembang, sama-sama bergumul, menangis, berdoa, berjuang, menginjil, teguh dalam iman dan lain sebagainya.
Ada juga pendeta yang menghancurkan Gerejanya, menghancurkan jemaatnya, menghancurkan keuangan Gereja, menghancurkan nama baik Gereja dan dirinya sendiri, memecahbelah jemaat, menimbulkan kecurigaan, menimbulkan perselisihan, perbantahan, percekcokkan, kemunafikan dan sebagainya. Sedangkan kalau kita melihat dari sisi positifnya adalah: ada pendeta yang membentuk jemaat yang dari kecil (jumlahnya sedikit sekali) dan menjadi besar, menyaingi Gereja-gereja mainstream.
Yang menjadi masalah dalam konteks “Teologi Kulkas” adalah para pendeta, yang sudah ditahbiskan, sudah belajar, sudah diutus untuk melayani, tetapi pada faktanya, ia tidak menjadi hamba Tuhan yang sungguh-sungguh, ia menjadi malas melayani dan meluangkan waktu berbagi iman dan pengetahuannya, mengabaikan domba-domba yang sudah Tuhan berikan untuk dipelihara dengan baik (diajar, dididik, dibimbing). Mereka lebih menyukai “membekukan ilmunya [atau pengetahuannya]” di dalam dirinya tanpa berpikir untuk “mencairkannya”. Untuk mencairkan es batu di dalam kulkas, maka kulkas harus dibuka. Ketika pendeta membuka dirinya, maka pengetahuan pun akan mencair—terbagi untuk mereka yang dilayaninya di Gereja, dan persekutuan lainnya.
Memang berbagai kejadian aneh di gereja sering terjadi. Para pelayan tidak lagi sibuk mencairkan ilmu dan pengetahuannya—membuka pintu hatinya agar semuanya menjadi mencair: orang lain yang dahaga menjadi terpuaskan, tetapi sibuk dengan hah-hal yang sama sekali tidak substansial. Teologi yang ada pada dirinya menjadi seperti kulkas yang tidak dibuka. Hanya dibekukan begitu saja. Mereka lebih suka mencari sensasi di Gereja; mencari kedudukan dan gelar semata-mata. Mereka tidak tertarik pada bagaimana berbagi (mencairkan) pengetahuan teologinya.
Apakah ini yang terjadi di sekitar kita? Berusahalah untuk tidak menjadikan ilmu dan teologi kita berada dalam kulkas dan membeku selamanya, melainkan harus dicairkan dan dibagikan kepada siapa saja dalam bentuk kesaksian pribadi, khotbah dan pelayanan pribadi, penginjilan di mana saja. Tuhan pasti memberkati dan menguatkan orang-orang yang demikian.
Relasi Pendeta dengan Sikon (Situasi dan Kondisi)
Kita melihat bahwa ada relasi yang kuat antara pendeta dengan gereja. Maksudnya, pelayanan pendeta dapat direalisasikan di dalam Gereja. Dalam perealisasiannya, pendeta perlu mencairkan ilmu teologinya kepada semua orang sejauh yang dapat ia sampaikan. Relasinya dengan masyarakat luas memungkinkan ia dengan cepat “menjangkiti” kehebatan dan kekuatan teologinya kepada sesamanya. Meski demikian, ada bahaya-bahaya yang perlu diwaspada dan dijauhi, yang bisa saja menjerumuskan para pendeta ke lubang dosa. Bahaya-bahaya tersebut bisa berupa jabatan, politisasi, uang, harta, seks, korupsi, dan lain sebagainya.
Apa yang dipelajari selama ini yaitu “teologi” akan menjadi terbuang percuma ketika mereka terperangkap atau sengaja memperangkapkan dirinya sendiri. Padahal, teologi yang benar mendorong seseorang untuk menjaga dirinya dari segala bentuk kesesatan dan dosa; Tuhan menghendaki para pelayan-Nya hidup kudus, berbuat baik, dan menjadi teladan dalam hal-hal baik yang selaras dengan kehendak Tuhan.
Dalam pengertian yang lebih sempit, teologi adalah miliki semua orang percaya. Jadi, pada dasarnya teologi adalah untuk semua jemaat Tuhan yang mau belajar tentang Alkitab. Tetapi, ada pemahaman yang berkembang bahwa “teologi” hanyalah milik para pendeta, para akademisi, dan bukan jemaat awam. Padahal, teologi adalah milik semua orang yang merespons kasih dan anugerah Tuhan atas hidupnya. Hingga implikasinya, baik pendeta maupun kaum awam, sama-sama mempunyai tugas yang sama—jika sudah belajar teologi dengan tingkat frekuensinya masing-masing—haruslah “mencairkan” teologinya ke dalam relasi humanitas, relasi persekutuan orang percaya, dan relasi lainnya yang sesuai konteksnya. Teologi Kulkas hendak mengetengahkan gagasan faktual yang terealisasi ke dalam relasi, ketika seseorang membuka dirinya untuk mencairkan pengetahuan teologinya dalam segala situasi.
Substansi dan Terapan Teologi Kulkas
Berdasarkan penjelasan-penjelasan singkat di atas, ditambah beberapa fakta yang terjadi, maka di akhir tulisan ini, saya hendak menyimpulkan substansi dan terapan Teologi Kulkas untuk dapat dijadikan teguran, sapaan, dorongan, dan semangat dalam melayani Tuhan. Kesadaran Kristen sebagaimana yang disebutkan Bavink sebagai bagian dari metode dogmatik perlu mendapat perhatian penting di sini, mengingat adanya fakta bahwa para pelayan Tuhan, para pendeta tidak menjalankan tugasnya dengan baik, hanya menyimpan iman dan pengetahuan Alkitab dalam hati mereka; mereka hanya “membekukan” tetapi lupa untuk mencairkannya.
Pertama, secara substansi Teologi Kulkas bisa bermakna positif dan negatif. Pada makna negatif, seseorang yang telah memiliki konsep teologi yang benar, ia tidak bergerak membuka dirinya untuk menjadi teladan (layaknya kulkas yang dibuka kemudian es yang ada di dalamnya mencair); ia tidak membuka dirinya untuk mencairkan pengetahuan teologinya dan dibagikan kepada sesama yang dilayani.
Kedua, pada makna positif, Teologi Kulkas melihat fakta bahwa ketika seseorang membuka dirinya dalam rangka “berbagi” (mencairkan) pengetahuan teologi maka ada pengaruh positif yang dapat ditularkan kepada orang lain. Pencairan teologi seseorang dilakukan dengan berbagai cara dan berbagai media, mengingat sekarang adalah era industry 4.0 di mana segala sesuatu menggunakan system teknologi.
Ketiga, pengaruh positif berbicara tentang sikap hidup yang benar di hadapan Tuhan dan di hadapan manusia, hidup beretika, hidup beryukur dan sabar, hidup penuh kasih dan pengampunan, hidup yang setia dan senantiasa berdoa.
Keempat, Teologi Kulkas membekukan (menyimpan) pengetahuan di dalam diri sehingga ketika dibuka dan isinya dibagikan, maka “rasa teologi” akan menjadi lebih enak dimakan dan dikunyah oleh kaum awam, atau oleh siapa saja yang mendapatkan teologi itu, dengan cara yang lebih kontekstual.
Kelima, Teologi Kulkas pada hakikatnya membicarakan tentang sikap hidup para pendeta (dan atau pelayan Tuhan); mereka dipanggil untuk menjadi berkat dalam segala sesuatu, termasuk menjadi berkat melalui “teologi” yang dimilikinya. Artinya, teologi itu menyenangkan dan rasa menyenangkan itu janganlah dinikmati sendiri (masturbasi teologis) tetapi bagikanlah (cairkanlah—sebagaimana mencairkan isi kulkas) kepada orang lain.
Keenam, Teologi Kulkas adalah analogi umum untuk menjelaskan apa dan bagaimana kita, sebagai teolog (para pendeta, pelayan, aktivis gereja, dan pemerhati iman Kristen) dalam merealisasikan iman. Ada banyak waktu yang diberikan Tuhan kepada kita, dan rasanya tak adil jika waktu yang banyak itu hanya dipakai untuk memuaskan diri sendiri dengan teologi yang dimiliki, ketimbang berbagi teologi dengan yang lain: “Jangan pelit ilmu”.
Ketujuh, Teologi Kulkas adalah wacana (percakapan) melalui pikiran, perkataan, dan perbuatan. Itulah konstruksi dasar dari iman Kristen. Darinya buah-buah diri dan teologi yang kita miliki akan dikonsumsi oleh orang-orang yang menerima dari kita atau mereka yang meminta kepada kita.
Pada akhirnya, janganlah kita berpuas diri dengan ilmu pengetahuan Alkitab yang kita miliki, melainkan merasa puaslah ketika kita telah berbagi ilmu pengetahuan tersebut dengan sesama kita, sesama yang kita layani, baik di gereja, persekutuan doa, dan lain sebagainya. Jangan merasa sombong dengan ilmu yang dimiliki; jangan meresa lebih hebat dari lainnya, tetapi tetaplah rendah hati, tetap mencairkan iman (pengalaman bersama Tuhan), mencairkan teologi yang selama ini dipelajari. Jangan menyebarkan teologi yang aneh-aneh dan merasa sudah “liberal” dalam berpikir.
Hanya perlu diingat bahwa berbagai gagasan teologi yang “liberal” bukanlah merupakan gagasan tunggal. Masih ada gagasan lainnya yang bisa dibuktikan berdasarkan historisitas dan dokumen-dokumen yang kredibel. Apalagi ketika berbicara mengenai teologi biblika. Liberalisme memang sangat dekat dengan spekulasi-spekulasi bahkan spekulasi-spekulasi liar, tetapi tidak semua bernatur demikian.
Tuhan telah memanggil kita untuk menjadi “saksi-Nya” dan sebagai konsekuensi logisnya adalah kita harus “berbicara dan mencairkan” apa yang telah diberikan Tuhan kepada kita. Dengan begitu, kita telah menerapkan dan merealisasikan Teologi Kulkas secara sadar dan bertanggung jawab. Tuhan memberkati kita semua. Soli Deo Gloria!
Referensi
Bavink, Herman. Dogmatika Reformed. Jilid 1: Prolegomena, terj. Ichwei G. Indra dan Irwan Tjulianto. Surabaya: Momentum, 2011.
Dister, Nico Syukur. Teologi Sistematika I: Allah Penyelamat. Yogyakarta: Kanisius, 2004.
GP, Harianto. Teologi Misi: Dari Missio Dei Menuju Missio Ecclesia. Yogyakarta: ANDI, 2017.
Ryrie, Charles C. Teologi Dasar 1, peredaksi Antoni Stevens, Hariyono, Xavier Q. P. Yogyakarta: ANDI, 2014.
Artikel ini sudah diterbitkan di buku Antologi dalam rangka mesyukuri ulang tahun Pong Kembong Mallisa’ ke-69 yang diterbitkan oleh Penerbit VIEWS pada tahun 2020.
Sumber gambar:









