TEOLOGI KULKAS: SEBUAH KRITIK INTERNAL

strawberry ice cream bottle inside container covered in ice

Pendahuluan

Sejak saya pelayanan di Desa Damau, Pulau Kabaruan, Kabupaten Talaud pada tahun 2008 hingga bertahun-tahun kemudian, saya menggeluti pelayanan di bidang pendidikan teologi. Saya bersama rekan senior saya, Matius Bongngi, yang mengajak saya untuk merintis SMTK dan STT di Kabupaten Talaud, telah menunjukkan dan membuktikan kepedulian kami kepada masyarakat Talaud.

Dalam prosesnya, berbagai kesulitan kami alami, tetapi karena kebaikan beberapa keluarga Kristen yang tinggal di Melonguane, Beo, Desa Alo, dan Desa Damau, maka kami dapat melalui dan keluar dari berbagai kesulitan tersebut. Hingga pada akhirnya berdirilah SMTK dan STT secara bersamaan. Belakangan, SMTK ditutup dan beberapa muridnya kami pindahkan ke SMTK Setia Jakarta, sedangkan STT—karena dirasa tidak ada perkembangan dan sulit berkembang, maka sebelum sekolah ini akan ditutup, kami (saya, Pak Matius Bongngi, dan Hendrik Sanda) berinisiatif untuk memindahkan beberapa mahasiswa di dua STT yaitu STT STAR’S Lub (Sulawesi Tengah) dan STTIS Siau (Sulawesi Utara).

Sebelum kami berencana menutup dan memindahkan murid dan mahasiswa ke beberapa sekolah, saya sendiri, dalam pergumulan pelayanan di bidang pendidikan. Akhirnya dalam benak saya terlintas untuk menuliskan tentang “Teologi Kulkas”. Ide ini muncul sekitar tahun 2009 dalam konteks pelayanan tadi. Teologi Kulkas berangkat dari akumulasi penilaian saya terhadap pelayanan yang dikerjakan oleh para pendeta, dan juga para pelayan Tuhan dengan berbagai motivasi di belakangnya. Dalam penilaian saya: “ada orang-orang yang merasa melayani Tuhan tetapi tidak sepenuh hati untuk ‘mengeluarkan’ apa yang dimilikinya, yaitu ilmu dan pengetahuan teologi, pengalamannya, kepada masyarakat yang membutuhkan.” Mereka lebih senang untuk menyimpannya secara pribadi dan merasa tak perlu untuk berjuang membagikan apa yang dimilikinya.

Teologi Kulkas yang saya tuliskan ini, ditujukan kepada para pendeta berjiwa “sekuler” yang bertopeng rohani, di mana mereka bergelar akademik, berpendidikan, bisa berkhotbah, dan menganggap dirinya sudah melayani Tuhan tetapi sebenarnya mereka adalah orang-orang yang tidak sepenuhnya mempergunakan talenta dan karunia yang diberikan Tuhan; mereka menganggap dirinya pintar, berkuasa, dan hebat tetapi cara hidupnya sama dengan manusia-manusia “duniawi”.

Makna Teologi, Keluasan [Ekspansi] dan Substansi

Teologi, dalam perkembangannya telah menjadi luas pemahamannya. Berbagai respons telah disuguhkan ke publik menghasilkan berbagai konsep (pemikiran), dan pernyataan-pernyataan teologis atas segala sesuatu yang diteliti dan dipahami. Tepatlah apa yang dikatakan oleh Charles C. Ryrie, bahwa “Secara sederhana teologi berarti memikirkan mengenai Allah dan mengekspresikan pemikiran-pemikiran tersebut dalam suatu cara tertentu” (Charles C. Ryrie, Teologi Dasar 1, peredaksi Antoni Stevens, Hariyono, Xavier Q. P [Yogyakarta: ANDI, 2014], 9). Pada kenyataannya, berbagai pemikiran yang mengekpresikan teologi seseorang telah meramaikan dunia teologi terkait isu-isu, doktrin-doktrin, dan konteks iman, baik di kalangan kampus teologi, keluarga, institusi atau lembaga-lembaga Kristen, dan di kalangan luas: antar budaya, bangsa, dan agama.

Terkait dengan teologi dalam lingkup khusus, seyogianya kita melihat pada suatu pola atau model berteologi dan teologi itu sendiri. Saya menyebut satu istilah yang bisa digunakan untuk melihat signifikansi teologi, yaitu term “arketipal”. Maksudnya, teologi harus bertitik tolak dari Allah sebagai Pribadi yang berdaulat dan menetapkan segala sesuatu, termasuk ketetapan untuk kita melakukan apa dikehendaki-Nya.

Jika menelisik secara etimologi, term arketipal berasal dari kata Yunani Kuno, arche, yang berarti permulaan, tipe, pola, atau model. Arketipe diartikan sebagai model atau pola yang mula-mula. Berdasarkan pola atau model ini dibentuk atau dikembangkanlah hal yang baru.

Teologi yang kita pahami haruslah menghasilkan hal-hal baru dalam konteks di mana kita hidup. Artinya, teologi itu harus terendam dan memberikan pengaruh kehangatan bagi totalitas kehidupan manusia di mana ia hidup dan berelasi. Dengan tidak mengabaikan arketipal tadi, para teolog dan pemerhati teologi, harus melihat pola dasar dari teologi itu sendiri dengan menempatkan Allah sebagai pusat dari teologi dan kemudian dikembangkan berdasarkan konteks-konteksnya.

Teologi itu adalah pemahaman yang terkait dengan Allah dan tindakan-tindakan-Nya. Dua pemahaman ini diresapi secara ekspresif dalam empiris kehidupan manusia. Dengan demikian, Teologi Kulkas yang akan saya jelaskan secara singkat dalam tulisan ini, adalah bagian dari ekspresi berteologi.

Menurut Nico Syukur Dister, teologi itu ilmu iman, maka caranya untuk memperoleh pengetahuan bukan hanya melalui sensus, ratio, intellectus, yaitu masing-masing pengalaman indrawi, akal budi, dan intuisi rohani. Sebagai ilmu iman, teologi masih mempunyai cara lan untuk memperoleh pengetahuan, yakni melalui revelatio dan fides, yaitu wahyu dan iman (Nico Syukur Dister, Teologi Sistematika I: Allah Penyelamat [Yogyakarta: Kanisius, 2004], 35). Harianto GP, menyebutkan beberapa unsur teologi sebagai berikut (sebagai catatan simpulan atas elaborasi pengertian teologi oleh Yulia Oeniyati): (1) dapat dimengerti oleh pikiran manusia dengan cara teratur dan rasional; (2) menuntut adanya penjelasan secara metodologis. (3) menyajikan kebenaran; (4) mempunyai nilai yang universal; dan (5) memiliki objek yang diteliti (Harianto GP, Teologi Misi: Dari Missio Dei Menuju Missio Ecclesia [Yogyakarta: ANDI, 2017], 3).

Namun, teologi tidak hanya sekadar teori belaka, melainkan sebuah konsep yang dapat mengubah hidup kita sendiri dan bahkan orang lain. Theos [Allah] dan Logos (perkataan, pikiran, ilmu, uraian, kata-kata, ucapan, wacara [percakapan]) dimulai dari apa yang ada [materi] baik alam, maupun pikiran (logika). Logika tidak bisa berdiri sendiri jika tidak membutuhkan perasaan dan emosi. Keduanya mendukung terwujudnya sebuah kesimpulan logis dan non-logis, berdasarkan bukti dan berdasarkan asumsi.

Materi teologi itu sendiri adalah Allah, manusia, dan ciptaan. Semuanya tercantum dalam Alkitab. Dengan demikian, teologi perlu memperhatikan aspek-aspek dari ketiga materi tersebut dan mengaitkannya dengan tanggung jawab iman kepada Allah. Sebagaimana yang diungkapkan Ryrie, bahwa “Bagaimana teologi mempengaruhi hidup saya atau hidup Anda merupakan tanggung jawab pribadi dan individu kita masing-masing” (Ryrie, Teologi Dasar 1, 12). Ryrie menambahkan, bahwa “Membahas tentang teologi sekaligus berarti juga membicarakan sesuatu mengenai luas jangkauan, fokus, dan keterbatasan-keterbatasan. Kata “teologi” berasal dari kata Yunani theos yang artinya Allah dan logos yang berarti pernyataan yang rasional. Jadi, kata ini berarti suatu interpretasi yang rasional tentang iman keagamaan. Dengan demikian, teologi Kristen berarti suatu interpretasi yang rasional mengenai iman Kristen” (Ryrie, Teologi Dasar 1, 15).

Teologi Kulkas, sebagaimana yang akan saya jelaskan secara singkat di sini, adalah teologi yang didasarkan pada analogi. Ryrie hanya menyebutkan tiga macam teologi, seperti yang tampak beriktu ini:

Macam-macam teologi: (1) berdasarkan era: antara lain, teologi partristik para Bapa Gereja, teologi abad pertengahan, teologi reformasi, teologi modern; (2) berdasarkan sudut pandang: antara lain teologi Arminian, teologi Calvinis, teologi Katolik, teologi Barth, dan sebagainya; (3) berdasarkan fokus; antara lain: teologi historis, teologi Alkitab, teologi sistematika, teologi apologetis, teologi eksegetis, dan lain-lain (Ryrie, Teologi Dasar 1, 16).

Saya perlu menambahkan apa yang disebutkan Ryrie di atas, sebagai yang keempat yaitu teologi berdasarkan analogi, yaitu teologi yang melihat sebuah prinsip tertentu yang kemudian dapat dikaitkan dengan sesuatu yang dapat merepresentasikan prinsip tertentu tadi; misalnya Teologi Kulkas yang akan saya bahas sekarang. Di sini, kita dapat saja mencari analogi dari teologi yang hendak kita bangun, sebagaimana yang akan saya lakukan pada teologi kulkas dalam tulisan ini.

Teologi juga memiliki keluasan atau ekspansi pemahaman, pembahasan, dan pemikiran. Mengenai hal ini tidak perlu saya jelaskan di sini. Cukup dengan kita mengamati perkembangan teologi sekarang ini di berbagai negara sudah cukup untuk membuktikan bahwa teologi sangatlah ekspansif dalam berbagai bidang kehidupan, pekerjaan, pelayanan, moralitas, politik, ekonomi, dan lain sebagainya.

Mengenai substansi teologi, saya menyebutkan beberapa di antaranya. Pertama, teologi hendaklah menunjukkan etika dan moralitas di dalamnya. Artinya, moralitas seseorang dapat tampak pada teologi tertentu. Kedua, teologi hendak memperlihatkan kuasa dan kasih Allah kepada manusia berdosa dengan tidak berspekulasi tingkat tinggi sampai-sampai menjadikan teologi Alkitab menjadi tawar dan tidak memiliki rasa lagi. Ketiga, teologi perlu memperlihatkan wacana iman yang empirikal, iman yang kuat, dan iman yang dewasa. Terapan Teologi Kulkas adalah wujud dari iman yang empirikal, iman yang kuat, dan iman yang dewasa. Keempat, teologi perlu melihat manusia sebagai bagian terpenting dan utama untuk menjembatani pemahamannya tentang Allah yang telah berkarya menyatakan kasih, pengampunan, dan menganugerahkan keselamatan bagi umat pilihan-Nya. Hal ini selaras dengan apa yang diungkapkan oleh Abraham Calovius. Menurut Calovius, sebagaimana dikutip oleh Bavink, bahwa “Objek yang sesungguhnya dari teologi adalah manusia ‘sejauh dia harus dibawa kepada keselamatan’, atau agama yang dirumuskan oleh Allah dalam Firman-Nya (Abraham Calovius, Isagoge ad Summa Theologia. Wittenberg A. Hartmann, typis J. S. Fincelli [1652], 252, 280, 299, 324. Calovius adalah teolog Lutheran abad ke-17, dikutip Herman Bavink, Dogmatika Reformed. Jilid 1: Prolegomena, terj. Ichwei G. Indra dan Irwan Tjulianto [Surabaya: Momentum, 2011], 31). Manusia menjadi objek keselamatan Allah yang dengannya Kristus Yesus mati bagi mereka, untuk menebus, menguduskan, membenarkan, dan menyelamatkan mereka. Terkait dengan teologi, maksudnya berkaitkan dengan konteks penyataan, menurut Bavink, “agar Allah dapat diketahui, Ia harus menyatakan diri-Nya tidak hanya dalam perbuatan-perbuatan, tetapi juga dalam perkataan-perkataan-Nya. Isi di dalam penyataan itu adalah pengetahuan tentang Allah dalam arti yang objektif, dan pengetahuan tentang Allah dalam arti objektif inilah yang menjadi objek dari teologi” (Herman Bavink, Dogmatika Reformed. Jilid 1: Prolegomena, terj. Ichwei G. Indra dan Irwan Tjulianto [Surabaya: Momentum, 2011], 40).

Apa yang diungkapkan Bavink di atas sangat tepat, dengan melihat pada fakta biblika bahwa teologi hendak menyatakan penyataan Allah dalam konteks penebusan dosa melalui Yesus Kristus. Baik perbuatan-perbuatan Allah maupun perkataan-perkataan-Nya, semuanya telah rampung dalam perjalanan sejarah hingga tiba bagi Allah untuk mengutus Logos-Nya menjadi manusia (Yoh. 1:14) bagi realisasi sempurna dari rencana keselamatan-Nya. Pemahaman ini tentu juga merupakan bagian penting untuk dinyatakan kepada semua orang—sejauh yang dapat dijangkau oleh mereka yang benar-benar ingin memberitakan Injil. Dengan itulah, Teologi Kulkas menjadi nyata.

Iman juga merupakan aspek penting dalam berteologi. Meskipun perdebatan teologis masih mencuat ke permukaan, tetapi iman janganlah diabaikan. Ada orang-orang tertentu yang memang memiliki pemikiran yang tajam, tapi soal imannya, masih dipertanyakan. Menurut Bavink, “Kitab Suci berfungsi sebagai aturan iman dan fondasi dari semua teologi” (Bavink, Dogmatika Reformed, 63). Di samping itu,

teologi muncul dari gereja ketika orang-orang percaya memikirkan ajaran-ajaran utama iman. Teologi adalah sumber iman; “objek”-nya hanya dapat diakses melalui iman, teologi berefleksi pada isi dari iman, dan harus dilakukan dalam iman. Keduanya saling membutuhkan. Iman menjaga teologi dari sekularisasi; teologi menjaga iman dari separatisme (Bavink, Dogmatika Reformed, 732).

Teologi Kulkas itu sendiri berbicara mengenai “kesadaran Kristen” yang mencakup aspek tanggung jawab iman, kesadaran iman, dan realisasi iman. Ketika kita sadar bahwa kita beriman, maka konsistensi logisnya adalah kita pun harus menyatakan iman itu kepada orang lain. Kesadaran Kristen merupakan bagian dari “metode dogmatika”, dan di sini saya mengikuti Bavink.

Menurut Bavink, metode dogmatika, harus dipahami sebagai cara bahan dogmatika diperoleh dan diperlakukan. Tiga faktor memainkan peran dalam pemerolehan ini: Kitab Suci, pengakuan iman Gereja, dan kesadaran Kristen (Bavink, Dogmatika Reformed, 66). Dengan demikian, dalam pemahaman saya, kesadaran Kristen adalah kesadaran dogmatis—yang mana seorang Kristen yang beriman kepada Yesus Kristus mampu memahami kedalaman karya-karya Allah, termasuk karya penebusan Allah melalui Yesus Kristus dan menjadikannya sebagai sebuah kekuatan “dogmatis” yang solid, untuk kemudian “dicairkan” ke dalam relasi humanitas kita setiap hari.

Fakta dan Substansi Teologi Kulkas

“Mencairkan” keyakinan dogmatis adalah wujud nyata dari Teologi Kulkas yang hendak saya paparkan di sini. Oleh sebab itu, duduk perkara yang sebenarnya adalah adanya fakta bahwa ‘kemalasan’, ‘sikap acuh tak acuh’, ‘sikap cari aman sendiri’, ‘sikap merasa pintar dan hebat sendiri’ telah menjadikan berita Injil menjadi beku dalam kulkas hati mereka yang malas, acuh tak acuh, cari aman sendiri, merasa pintar dan hebat sendiri; dan para pendeta, dan para pelayan pun tidak lepas dari kondisi semacam ini. Dengan melihat pada fakta yang terjadi dan berkembangnya sikap beku seperti es dalam kulkas, maka diperlukan kritik internal agar setiap orang yang telah dipercayakan pelayanan, untuk merealisasikan iman dan pengetahuannya kepada orang lain.

white refrigerator with assorted items

Teologi Kulkas menjelaskan kepada kita bahwa, “dunia Gereja” bukanlah suatu hal yang tersembunyi melainkan sesuatu hal yang bisa dilihat dan dikerjakan sesuai dengan kemampuan yang Tuhan berikan. Dan anehnya, para pendeta sekuler yang berkecimpung di dunia pelayanan (dan Gereja) merasa selalu paling benar dan paling suci. Ada lagi yang merasa dirinya dipanggil Tuhan sehingga ia melayani-Nya dengan semangat tetapi pada akhirnya, bertahun-tahun kemudian, gelar sarjana teologinya hanya berakhir pada daftar calon legislatif. Dari “buah-buah perbuatan mereka” kita dapat mengetahui seperti apa motivasinya.

Pendeta adalah sebuah profesi rohani karena yang dinamakan pendeta, dalam berbagai Gereja, harus melewati suatu acara penahbisan oleh pendeta senior atau orang-orang yang dianggap lebih tua di kalangan Gereja tersebut. Jabatan pendeta dalam sebuah jemaat bukanlah suatu jabatan yang tanpa syarat. Salah satu syarat menjadi pendeta adalah penguasaan prinsip-prinsip Alkitab, penafsiran, pelayanan, iman, kasih dan tanggung jawab dalam setiap tugas dan penggilannya untuk menjadi hamba Tuhan. Kalau dalam istilah salah satu Gereja, pendeta dan hamba Tuhan memiliki suatu perbedaan. Kalau dikatakan orang itu adalah pendeta, maka ia adalah hamba Tuhan (tergantung pada konteksnya). Kalau orang itu disebut sebagai hamba Tuhan, ada kemungkinan ia bukan pendeta tetapi seorang yang melayani full time di Gereja lokal, semisal pengerja, majelis, diaken, dan lain sebagainya (di luar jabatan pendeta). Hamba Tuhan adalah orang-orang yang giat dalam pekerjaan Tuhan dan selalu mau berkorban bagi pekerjaan Tuhan.

Pendeta lebih identik dengan pelayanan gerejawi di tempatnya sendiri, tetapi tidak menutup kemungkinan ia juga dapat melayani di berbagai tempat, termasuk “pergi menginjil” di tempat lain. Tetapi kalau melihat fakta yang ada maka pendeta lebih dekat dengan jemaatnya sendiri karena ia adalah gembala sidang bagi Gereja yang dipimpinnya. Sedangkan hamba Tuhan lebih luas jangkauan pelayanannya dan tidak terlalu diikat oleh organisasi Gereja.

Dalam konteks pelayanan, memang kedua istilah ini, tidak dibedakan menurut fungsinya, karena kedua-duanya sama-sama melayani Tuhan. Yang membedakannya adalah wilayah kerjanya. Memang hal ini tidak terlalu menjadi patokan tetapi minimal hal ini sudah menjadi fakta di tempat di mana kita melayani. Pendeta, Gereja, dan pelayanan tidak dapat dipisahkan. Di mana ada pendeta, pasti di situ ada Gereja; di mana ada pendeta, pasti berkhotbah kepada jemaat dalam salah satu gereja atau di berbagai denominasi gereja. Pendeta (dalam konteks tertentu) melewati proses penahbisan. Pendeta dan Gereja sama-sama berkembang, sama-sama bergumul, menangis, berdoa, berjuang, menginjil, teguh dalam iman dan lain sebagainya.

Ada juga pendeta yang menghancurkan Gerejanya, menghancurkan jemaatnya, menghancurkan keuangan Gereja, menghancurkan nama baik Gereja dan dirinya sendiri, memecahbelah jemaat, menimbulkan kecurigaan, menimbulkan perselisihan, perbantahan, percekcokkan, kemunafikan dan sebagainya. Sedangkan kalau kita melihat dari sisi positifnya adalah: ada pendeta yang membentuk jemaat yang dari kecil (jumlahnya sedikit sekali) dan menjadi besar, menyaingi Gereja-gereja mainstream.

Yang menjadi masalah dalam konteks “Teologi Kulkas” adalah para pendeta, yang sudah ditahbiskan, sudah belajar, sudah diutus untuk melayani, tetapi pada faktanya, ia tidak menjadi hamba Tuhan yang sungguh-sungguh, ia menjadi malas melayani dan meluangkan waktu berbagi iman dan pengetahuannya, mengabaikan domba-domba yang sudah Tuhan berikan untuk dipelihara dengan baik (diajar, dididik, dibimbing). Mereka lebih menyukai “membekukan ilmunya [atau pengetahuannya]” di dalam dirinya tanpa berpikir untuk “mencairkannya”. Untuk mencairkan es batu di dalam kulkas, maka kulkas harus dibuka. Ketika pendeta membuka dirinya, maka pengetahuan pun akan mencair—terbagi untuk mereka yang dilayaninya di Gereja, dan persekutuan lainnya.

Memang berbagai kejadian aneh di gereja sering terjadi. Para pelayan tidak lagi sibuk mencairkan ilmu dan pengetahuannya—membuka pintu hatinya agar semuanya menjadi mencair: orang lain yang dahaga menjadi terpuaskan, tetapi sibuk dengan hah-hal yang sama sekali tidak substansial. Teologi yang ada pada dirinya menjadi seperti kulkas yang tidak dibuka. Hanya dibekukan begitu saja. Mereka lebih suka mencari sensasi di Gereja; mencari kedudukan dan gelar semata-mata. Mereka tidak tertarik pada bagaimana berbagi (mencairkan) pengetahuan teologinya.

Apakah ini yang terjadi di sekitar kita? Berusahalah untuk tidak menjadikan ilmu dan teologi kita berada dalam kulkas dan membeku selamanya, melainkan harus dicairkan dan dibagikan kepada siapa saja dalam bentuk kesaksian pribadi, khotbah dan pelayanan pribadi, penginjilan di mana saja. Tuhan pasti memberkati dan menguatkan orang-orang yang demikian.

Relasi Pendeta dengan Sikon (Situasi dan Kondisi)

Kita melihat bahwa ada relasi yang kuat antara pendeta dengan gereja. Maksudnya, pelayanan pendeta dapat direalisasikan di dalam Gereja. Dalam perealisasiannya, pendeta perlu mencairkan ilmu teologinya kepada semua orang sejauh yang dapat ia sampaikan. Relasinya dengan masyarakat luas memungkinkan ia dengan cepat “menjangkiti” kehebatan dan kekuatan teologinya kepada sesamanya. Meski demikian, ada bahaya-bahaya yang perlu diwaspada dan dijauhi, yang bisa saja menjerumuskan para pendeta ke lubang dosa. Bahaya-bahaya tersebut bisa berupa jabatan, politisasi, uang, harta, seks, korupsi, dan lain sebagainya.

Apa yang dipelajari selama ini yaitu “teologi” akan menjadi terbuang percuma ketika mereka terperangkap atau sengaja memperangkapkan dirinya sendiri. Padahal, teologi yang benar mendorong seseorang untuk menjaga dirinya dari segala bentuk kesesatan dan dosa; Tuhan menghendaki para pelayan-Nya hidup kudus, berbuat baik, dan menjadi teladan dalam hal-hal baik yang selaras dengan kehendak Tuhan.

Dalam pengertian yang lebih sempit, teologi adalah miliki semua orang percaya. Jadi, pada dasarnya teologi adalah untuk semua jemaat Tuhan yang mau belajar tentang Alkitab. Tetapi, ada pemahaman yang berkembang bahwa “teologi” hanyalah milik para pendeta, para akademisi, dan bukan jemaat awam. Padahal, teologi adalah milik semua orang yang merespons kasih dan anugerah Tuhan atas hidupnya. Hingga implikasinya, baik pendeta maupun kaum awam, sama-sama mempunyai tugas yang sama—jika sudah belajar teologi dengan tingkat frekuensinya masing-masing—haruslah “mencairkan” teologinya ke dalam relasi humanitas, relasi persekutuan orang percaya, dan relasi lainnya yang sesuai konteksnya. Teologi Kulkas hendak mengetengahkan gagasan faktual yang terealisasi ke dalam relasi, ketika seseorang membuka dirinya untuk mencairkan pengetahuan teologinya dalam segala situasi.

Substansi dan Terapan Teologi Kulkas

Berdasarkan penjelasan-penjelasan singkat di atas, ditambah beberapa fakta yang terjadi, maka di akhir tulisan ini, saya hendak menyimpulkan substansi dan terapan Teologi Kulkas untuk dapat dijadikan teguran, sapaan, dorongan, dan semangat dalam melayani Tuhan. Kesadaran Kristen sebagaimana yang disebutkan Bavink sebagai bagian dari metode dogmatik perlu mendapat perhatian penting di sini, mengingat adanya fakta bahwa para pelayan Tuhan, para pendeta tidak menjalankan tugasnya dengan baik, hanya menyimpan iman dan pengetahuan Alkitab dalam hati mereka; mereka hanya “membekukan” tetapi lupa untuk mencairkannya.

Pertama, secara substansi Teologi Kulkas bisa bermakna positif dan negatif. Pada makna negatif, seseorang yang telah memiliki konsep teologi yang benar, ia tidak bergerak membuka dirinya untuk menjadi teladan (layaknya kulkas yang dibuka kemudian es yang ada di dalamnya mencair); ia tidak membuka dirinya untuk mencairkan pengetahuan teologinya dan dibagikan kepada sesama yang dilayani.

Kedua, pada makna positif, Teologi Kulkas melihat fakta bahwa ketika seseorang membuka dirinya dalam rangka “berbagi” (mencairkan) pengetahuan teologi maka ada pengaruh positif yang dapat ditularkan kepada orang lain. Pencairan teologi seseorang dilakukan dengan berbagai cara dan berbagai media, mengingat sekarang adalah era industry 4.0 di mana segala sesuatu menggunakan system teknologi.

Ketiga, pengaruh positif berbicara tentang sikap hidup yang benar di hadapan Tuhan dan di hadapan manusia, hidup beretika, hidup beryukur dan sabar, hidup penuh kasih dan pengampunan, hidup yang setia dan senantiasa berdoa.

Keempat, Teologi Kulkas membekukan (menyimpan) pengetahuan di dalam diri sehingga ketika dibuka dan isinya dibagikan, maka “rasa teologi” akan menjadi lebih enak dimakan dan dikunyah oleh kaum awam, atau oleh siapa saja yang mendapatkan teologi itu, dengan cara yang lebih kontekstual.

boy in white and black tank top standing beside red top mount refrigerator

Kelima, Teologi Kulkas pada hakikatnya membicarakan tentang sikap hidup para pendeta (dan atau pelayan Tuhan); mereka dipanggil untuk menjadi berkat dalam segala sesuatu, termasuk menjadi berkat melalui “teologi” yang dimilikinya. Artinya, teologi itu menyenangkan dan rasa menyenangkan itu janganlah dinikmati sendiri (masturbasi teologis) tetapi bagikanlah (cairkanlah—sebagaimana mencairkan isi kulkas) kepada orang lain.

Keenam, Teologi Kulkas adalah analogi umum untuk menjelaskan apa dan bagaimana kita, sebagai teolog (para pendeta, pelayan, aktivis gereja, dan pemerhati iman Kristen) dalam merealisasikan iman. Ada banyak waktu yang diberikan Tuhan kepada kita, dan rasanya tak adil jika waktu yang banyak itu hanya dipakai untuk memuaskan diri sendiri dengan teologi yang dimiliki, ketimbang berbagi teologi dengan yang lain: “Jangan pelit ilmu”.

Ketujuh, Teologi Kulkas adalah wacana (percakapan) melalui pikiran, perkataan, dan perbuatan. Itulah konstruksi dasar dari iman Kristen. Darinya buah-buah diri dan teologi yang kita miliki akan dikonsumsi oleh orang-orang yang menerima dari kita atau mereka yang meminta kepada kita.

Pada akhirnya, janganlah kita berpuas diri dengan ilmu pengetahuan Alkitab yang kita miliki, melainkan merasa puaslah ketika kita telah berbagi ilmu pengetahuan tersebut dengan sesama kita, sesama yang kita layani, baik di gereja, persekutuan doa, dan lain sebagainya. Jangan merasa sombong dengan ilmu yang dimiliki; jangan meresa lebih hebat dari lainnya, tetapi tetaplah rendah hati, tetap mencairkan iman (pengalaman bersama Tuhan), mencairkan teologi yang selama ini dipelajari. Jangan menyebarkan teologi yang aneh-aneh dan merasa sudah “liberal” dalam berpikir.

Hanya perlu diingat bahwa berbagai gagasan teologi yang “liberal” bukanlah merupakan gagasan tunggal. Masih ada gagasan lainnya yang bisa dibuktikan berdasarkan historisitas dan dokumen-dokumen yang kredibel. Apalagi ketika berbicara mengenai teologi biblika. Liberalisme memang sangat dekat dengan spekulasi-spekulasi bahkan spekulasi-spekulasi liar, tetapi tidak semua bernatur demikian.

Tuhan telah memanggil kita untuk menjadi “saksi-Nya” dan sebagai konsekuensi logisnya adalah kita harus “berbicara dan mencairkan” apa yang telah diberikan Tuhan kepada kita. Dengan begitu, kita telah menerapkan dan merealisasikan Teologi Kulkas secara sadar dan bertanggung jawab. Tuhan memberkati kita semua. Soli Deo Gloria!

Referensi

Bavink, Herman. Dogmatika Reformed. Jilid 1: Prolegomena, terj. Ichwei G. Indra dan Irwan Tjulianto. Surabaya: Momentum, 2011.

Dister, Nico Syukur. Teologi Sistematika I: Allah Penyelamat. Yogyakarta: Kanisius, 2004.

GP, Harianto. Teologi Misi: Dari Missio Dei Menuju Missio Ecclesia. Yogyakarta: ANDI, 2017.

Ryrie, Charles C. Teologi Dasar 1, peredaksi Antoni Stevens, Hariyono, Xavier Q. P. Yogyakarta: ANDI, 2014.

Artikel ini sudah diterbitkan di buku Antologi dalam rangka mesyukuri ulang tahun Pong Kembong Mallisa’ ke-69 yang diterbitkan oleh Penerbit VIEWS pada tahun 2020.

Sumber gambar:

  1. https://unsplash.com/photos/pwr2uTPpz68
  2. https://unsplash.com/photos/F5G4YTN5uEQ
  3. https://unsplash.com/photos/eYzg_aaTkcU

EMOSI DAN HARGA DIRI: DEPIKSI KARAKTER

man in brown coat sitting on chair

Pada setiap kesempatan, di ruang keluarga maupun publik kita diperhadapkan dengan ragam karakter orang lain, sekaligus kita memperlihatkan karakter kita sendiri. Dalam relasi dan komunikasi, kita menciptakan sebuah fenomena harga diri yang dibaluti dengan emosi. Harga diri dan emosi adalah depiksi (penggambaran atau pelukisan) dari karakter seseorang. Dari situ kita dapat menilai orang lain dan menilai diri sendiri.

Dari berbagai kejadian atau fenomena hidup di mana kita hadir dan ikut ambil andil di dalamnya, serentetan potensi diri tampak ke permukaan. Kepiawaian potensi, keberanian diri, kuatnya komunikasi, harga diri yang dipertahankan, dan relasi yang terbangun rapi, adalah buah-buah dari depiksi karakter kita sendiri. Memang, ada fakta bahwa seseorang menyembunyikan karakter aslinya. Ia adalah seorang munafik. Kebaikan, senyum manis, fasih lidah, dan sederet nuansa (variasi) positif diri tampaknya meyakinkan, tapi sebenarnya tidaklah demikian. Kemunafikan adalah tindakan menyembunyikan keburukan diri dengan cara menampilkan sesuatu yang tampak etis, baik, benar, dan ditunjang dengan perkataan yang terkesan rohani. Depiksi karakter semacam itu, tidaklah mendapat tempat di hati dan hidup dari orang-orang yang “tahu kebenaran Tuhan dan hidup jujur dalam kebenaran itu sendiri”.

Emosi dan harga diri adalah luapan karakter. Ketika seseorang sangat emosi karena ada alasan di baliknya, itu wajar. Harga dirinya tidaklah menjadi kolaps seketika. Asalkan emosi itu tepat sasaran, bukan membabi buta. Emosi dan harga diri sangatlah koheren. Itulah depiksi dari karakternya. Emosi itu sendiri netral, dan akan terlihat ke permukaan sebagai respons terhadap segala sesuatu.

man in black crew neck t-shirt kissing woman in white long sleeve shirt

Emosi diartikan sebagai perasaan atau reaksi psikologis dan fisiologis yang diwujudkan dalam bentuk kegembiraan, kesedihan, kesenangan, kecintaan, dan lain sebagainya. Artinya, emosi itu tampak dari raut wajah, perkataan, dan sikap hidup dalam kaitannya dengan respons positif atau negatif terhadap sesuatu. Emosi juga dipahami sebagai keberanian [diri] yang bersifat subjektif.

woman in black tank top

Harga diri dipahami sebagai kesadaran tentang kualitas atau potensi yang dimiliki oleh diri kita yang dipandang sebagai “berharga” atau “memiliki harga [nilai]”. Seberapa besar harga diri kita, kitalah yang menentukannya. Orang lain hanya meneguhkan atau memuji harga diri kita. Lain halnya dengan mereka yang memiliki harga diri rendah, yang disanjung setinggi-tingginya karena alasan tertentu. Itu adalah kemunafikan dan kompromi. John MacArthur pernah menyatakan, bahwa orang-orang tahu pasti ada sesuatu yang salah, tetapi demi perdamaian, mereka menutupi kebenaran. Itulah kompromi.

woman in black tank top wearing black mask

Kompromi dengan ketidakbenaran adalah penipuan diri dan menurunkan harga diri. Emosi memang ikut bermain di dalamnya, tetapi emosi tersebut telah mengkhianati hati nurani. Ketika ada sesuatu yang salah, tetapi karena ingin menjaga rasa persahabatan, kekeluargaan, rasa menjilat, rasa kagum, dan rasa perdamaian di antara para penipu, kompromi adalah pilihannya. Profanasi (perbuatan tak suci) yang tampak sangatlah berpengaruh pada emosi positif dan harga diri. Depiksi karakter seseorang menjadi jelas: menjadi penjilat dan menjadi penipu.

Demolisi (perusakan) harga diri dan emosi semacam ini berdampak pada relasi sekarang dan mendatang. Syukur jika di kesempatan berikutnya seseorang menjadi sadar bahwa sikap kompromi yang telah dilakukannya adalah “salah” dan berpotensi merusak emosi dan harga dirinya. Jika itu terjadi, ada masa depan baginya. Fakta itu adalah depik (menggambarkan) karakternya.

man in red polo shirt standing beside man in black jacket

Bagaimana dengan kita? Apakah kita turut larut dalam kompromi yang akan berpotensi merusak emosi positif kita dan bahkan menurunkan harga (nilai) diri kita? Bukankah kita yang terbiasa dengan mengatakan kebenaran dari bibir mulut kita, harus hidup perkataan itu? Ataukah kita sedang asyik menipu diri kita dan orang lain, sehingga menghasilkan fakta: “lain di bibir lain di hati”?

woman in yellow turtleneck sweater

Ketika hidup yang kita jalani tak seperti yang kita bayangkan (harapkan), bukankah hal itu akan menguras emosi kita? Kita pun tahu bahwa Tuhan tak akan membiarkan kita menghadapi persoalan hidup secara sendiri. Ia ada dan menyatakan kasih, kemurahan, dan kuasa-Nya bagi kita yang mengasihi Dia. Burung di udara Dia pelihara, pasti kita juga dipelihara. Ia baik dan telah berbuat baik, bahkan tetap berbuat baik. Kasihilah Dia dengan segenap hati, akal budimu, dan kekuatan kita. Ia membentuk kita melalu berbagai kejadiaan dalam hidup agarr menjadi pribadi yang kuat. Emosi dan harga diri perlu kita jaga. Jangan mengandalkan diri sendiri, tetapi andalkanlah Tuhan senantiasa.

Emosi dan harga yang baik dan stabil depik (menggambarkan) karakter kita sendiri. Apa dan bagaimana emosi kita dibaca orang lain, itu adalah fakta yang tak terhindarkan. Begitu pula dengan harga diri kita. Guliran waktu yang terpampang di mata kita mengisyaratkan sebuah fenomena yang Tuhan berikan kepada kita untuk melatih emosi dan menjaga harga diri tetap stabil. Jika perlu, harga diri kita menjadi meningkat. Semua itu adalah pemberian Tuhan. Ini luar biasa.

Di setiap koridor kehidupan kita, tersedia aspek-aspek yang signifikan (bermutu tinggi) dan inferior (bermutu rendah) dengan fitur-fiturnya (karakternya) masing-masing. Kita dapat memilih di antara keduanya. Pilihan kita akan menopang dan mengembangkan emosi serta harga diri kita. Pilihan yang salah, menurunkan harga diri dan mempermainkan emosi kita; kita disibukkan dengan berganti peran, berpura-pura, menampilkan kemunafikan, dan topeng-topeng keburukan lainnya. Depiksi karakter pun tak bisa dihindari dari penilaian publik.

woman in white long sleeve shirt and black pants wearing white hat standing on gray concrete

Jika kita menghendaki yang baik datang pada kita, seyogianya kita semakin giat melakukan hal-hal yang baik. Emosi dan harga diri membawa kita kepada fase-fase kehidupan dan pergumulan, melatih kita untuk kuat, tabah, dan bijaksana. Bijaksana adalah rangkuman fragmen-fragmen identitas dan potensi diri kita termasuk emosi dan harga diri. Di dalam bijaksana ada kebahagiaan, solusi, relasi, kesenangan, kepuasan, cinta kasih, dan komitmen hidup. Rohani kita bertumbuh dan berbuah lebat.

Akhirnya, kita perlu menjaga dan mengembangkan emosi dan harga diri. Proses hidup yang kita jalani memberikan nilai lebih bagi diri dan hidup kita. Tuhan akan senantiasa menyertai dan menopang orang-orang yang menjaga dan mengembangkan emosi dan harga dirinya sesuai dengan kehendak-Nya.

woman in white shirt holding black chopsticks

Bagi kita tersedia banyak kesempatan untuk melatih emosi dan memperlihatkan harga diri sebagai depiksi karakter. Pada setiap kesempatan, di ruang keluarga maupun publik, hal-hal yang bermanfaat tetap dilakukan dan diusahakan secara simultan. Ada fakta yang emotif (mengharukan) orang lain ketika kita secara tegas dan benar memperlihatkan emosi dan harga diri sesuai jalur yang dikehendaki Tuhan.

woman in red tank top and blue denim jeans with black and red backpack

Teruslah melatih emosi melalui ragam fenomena. Kita dapat belajar dari kehidupan agar harga diri kita tetap terjaga dan bertambah nilainya. Jauhkan kompromi dengan ketidakbenaran; jauhkanlah kemunafikan (hipokrit), dan jauhkanlah segala jenis kejahatan. Jaga emosi dan harga diri kita dengan sebaik mungkin, karena dari situlah depiksi karakter kita dilihat dan dinilai oleh orang lain.

Salam Bae

Via Salutis – Epignosis

Sumber gambar:

  1. https://unsplash.com/photos/KmTMUXswBZA
  2. https://unsplash.com/photos/8DnV2WARfCw
  3. https://unsplash.com/photos/ZsuJDM3o_UY
  4. https://unsplash.com/photos/XHnSh8hg4uk
  5. https://unsplash.com/photos/LxlQWbvPIvQ
  6. https://unsplash.com/photos/PA6Ln4b0Bmc
  7. https://unsplash.com/photos/Sj9dOO8C3BM
  8. https://unsplash.com/photos/m2zXM9FFVP0

KITA, TEOLOGI, DAN TUJUAN AKHIR

assorted-title books on shelf

Ada fase di mana manusia melakukan kembara pikiran, perkataan, dan perbuatan. Hal itu dilakukan untuk mencari sesuatu, menunjukkan sesuatu, dan membuktikan sesuatu. Kemudian, ada fase di mana manusia menghentikan kembara tersebut ketika ia berhasil menetapkan pilihannya untuk memegang suatu “agama”. Di dalam agama, ada fase di mana seseorang harus belajar “teologi”, karena pada teologi terdapat fitur-fitur menarik yang mengarahkan seseorang kepada prinsip kitab suci yang dipercayainya. Dalam Kekristenan, teologi mengarahkan seseorang pada iman yang benar, perbuatan yang benar, dan tujuan akhir yang benar, karena itu adalah jaminan yang disediakan Tuhan bagi mereka yang setia kepada-Nya.

girl reading book

Agama sering dipahami sebagai pajangan gengsi intelektual dan kefasihan berbicara. Itu salah; itu tidak menjadi ukuran dari sebuah “tujuan akhir”. Jika agama yang benar dipandang sebagai sebuah wadah untuk menjadi yang terbaik dan menjadi lebih baik, ukuran menjadi lebih baik itu apa? Apakah hanya welas asih? Apakah hanya berbuat tindakan-tindakan yang benar? Tetapi tujuan akhirnya apa? Ketika agama menandaskan ajarannya hanya pada konteks welas asih dan berbuat baik, itu sama sekali memisahkan diri dari karya Allah bagi manusia yang berdosa. Lebih-lebih lagi dari bagaimana Allah menebus, mengampuni, dan menyelamatkan manusia berdosa dan pendosa.

Menempatkan ruang teologi pada setiap fragmen (bagian) hayati dan humanitas, menggiring kita kepada skema fakta bahwa “ada Tuhan yang senantiasa mengamati, memelihara, menolong, dan memberkati umat-Nya” yang setia serta mengasihi-Nya. Kita dapat melihat dengan jelas apa yang diungkapkan Rasul Paulus berikut ini: “Kita tahu sekarang, bahwa Allah turut bekerja dalam segala sesuatu untuk mendatangkan kebaikan bagi mereka yang mengasihi Dia, yaitu bagi mereka yang terpanggil sesuai dengan rencana Allah” (Roma 8:28).

two white books

Kekuatan teologi memperlihatkan sayap-sayap pemahaman yang benar tentang Allah dan karya-Nya. Dari situ kita melihat bahwa dengan sayap-sayapnya “teologi itu harus menerbangkan dirinya” (memberi pengajaran dan penginjilan [lih. Mat. 28:19-20]) dan sanggup hinggap di mana saja karena kekuatannya terletak pada sayap-sayap itu. Teologi harus berani menembus batas geografis, dan itu telah dibuktikan oleh Yesus dan para rasul di kemudian hari. Kita pun demikian. Teladan itu harus menjadi kekuatan terbang dari teologi yang kita pahami dan yakini.

selective focus photography of woman reading book while sitting at bench

Teologi mengarahkan agama menjadi sebuah wadah di mana setiap manusia melihat Allah yang telah berkarya, yaitu membawa manusia kepada tujuan akhir: kehidupan kekal. Dosa adalah masalah serius. Di sini, hanya Allah yang sanggup menyelesaikan masalah dosa manusia. Manusia tak cukup kekuatannya untuk keluar dari problem yang serius ini. Uluran tangan kasih Allah dibutuhkan manusia. Sebab Dialah yang memiliki kuasa dan kedaulatan atas dunia ciptaan-Nya termasuk manusia.

Agama yang menekankan welas asih dan perbuatan baik, seolah-olah melupakan masalah dosa: pikiran dan perbuatan. Dosa perbuatan bisa tampak ke permukaan, sedangkan dosa pikiran menyelinap dalam hati dan tindakan-tindakan tersembunyi. Dapatkah kita menyatakan bahwa kita benar-benar berbuat baik sedangkan pikiran kita dipenuhi dengan berbagai jenis kemunafikan dan kejahatan?

Dapatkah kita menyatakan bahwa agama akan membawa kita menjadi lebih baik dan memisahkan diri dari karya Allah yang menyelamatkan manusia dari kungkungan dosa? Dapatkah agama menawarkan sesuatu yang lebih baik, jika tidak melibatkan Allah di dalamnya? Memang pada dasarnya hampir setiap agama memiliki iman kepada “Yang lebih Tinggi dan Berkuasa dari manusia”. Akan tetapi, letak problemnya bukan pada yang lebih tinggi dan berkuasa, tetapi pada cara untuk “membereskan masalah krusial manusia, yakni ‘dosa’”.

Institutes of the Christian Religion by John Calvin book

Tugas teologi adalah meracik setiap konteks (berdasarkan prinsip biblika) dan menawarkan serta membagikan pengajaran-pengajaran dari hasil racikan tersebut kepada khalayak (mengikuti perintah Yesus: ajarlah mereka melakukan segala sesuatu yang telah Kuperintahkan kepadamu). Teologi itu sifatnya “keluar” – menjadi berkat bagi orang lain. Teologi itu bergerak maju, bukan jalan di tempat. Teologi itu melindas kesesatan dan menghancurkannya. Perjuangan untuk berteologi secara benar dan sehat, menjadi isu penting di setiap zaman termasuk di zaman kita sekarang ini.

Teologi yang dikemas secara sederhana memang tampak masuk akal, seperti agama yang terbaik adalah membawa manusia menjadi lebih baik. Jika demikian, konteks ini hanya berkutat pada masalah etis dan moralitas, ketimbang menyentuh aspek keselamatan manusia dari dosa-dosa mereka.

books on black wooden shelf

Teologi Kristen lebih dari pada itu; ia melihat secara komprehensif bahwa manusia tak dapat membawa dirinya kepada tujuan akhir yang Allah tetapkan. Manusia berurusan dengan masalah dosa. Kesalehan manusia seperti kain kotor; kebaikan yang ditaburkan hanya tampak di permukaan saja; manusia butuh sentuhan kuasa Allah yang mengubah hidup lamanya menjadi manusia baru. Identitas manusia baru mencakup semua aspek yang Allah kehendaki dilakukan oleh mereka yang telah dibentuk-Nya, telah diubahkan-Nya.

Kita diperhadapkan dengan berbagai pilihan teologi. Akan tetapi, kita harus melihat apakah teologi itu benar-benar membawa kita kepada tujuan akhir, ataukah memuaskan kita hanya dalam waktu sesaat? Teologi yang sehat bukan berarti membuat para penganutnya buncit perutnya, bukan berarti menjadikan pipi para penganutnya tembem, bukan berarti menjadikan uang di rekening para penganutnya bertambah terus, bukan berarti menjadikan para pemimpinnya memiliki aset tertentu untuk memperkaya diri dan “gaya-gayaan”. Bukan, bukan itu.

Teologi itu sendiri menciptakan proses beriman, berpikir, dan bertindak untuk mencapai tujuan akhir: kehidupan kekal. Kita, teologi, dan tujuan akhir adalah rentetan peristiwa yang harus dimaknai sebagai faset (bagian) yang melekat (koheren) dengan predestinasi. Predestinasi Allah secara faktual direalisasikan secara penuh dalam kehidupan manusia yang dipilihnya saat berada di dunia ini, hingga kemudian menemukan kepenuhannya di dalam Kerajaan Allah.

man standing infront of stage lifting hands

KITA, TEOLOGI, DAN TUJUAN AKHIR adalah sebuah pemahaman signifikan bahwa kesadaran berteologi bukan hanya mempertontonkan gelar akademik, racikan teologi tertentu, bukan pula kekritisan mengulas fragmen dari pemikiran tokoh-tokoh Kristen atau pun tokoh-tokoh yang melawan iman Kristen, melainkan “memahami, menghidupi, dan melakukan teologi secara serius dan bergairah.” Teologi yang sehat memberikan asupan gizi bagi pertumbuhan iman, kasih, dan pengharapan akan masa depan yang lebih baik, yang dikontrol oleh Allah.

boy and girl playing on three tree log

Ketika kita memahami dan menerima teologi, usahakanlah ia tetap tinggal di dalam hidup kita. Mintalah Roh Kudus untuk memimpin kita agar realisasi teologi yang sehat, membawa kita kepada tujuan akhir yang Allah tetapkan bagi kita di dalam Kristus Yesus.

Selamat Berteologi!

Salam Bae

Stenly R. Paparang

Via Salutis – Epignosis

Sumber gambar:

  1. https://unsplash.com/photos/pSjwUXBMnlc
  2. https://unsplash.com/photos/XqXJJhK-c08
  3. https://unsplash.com/photos/OKR_iCn02DM
  4. https://unsplash.com/photos/kSTcz5gE018
  5. https://unsplash.com/photos/i6pKVDldgVA
  6. https://unsplash.com/photos/UlmvH-7MghU
  7. https://unsplash.com/photos/nhH1CAzzgj8
  8. https://unsplash.com/photos/9VpI3gQ1iUo

DI BAWAH MATAHARI

Stenly R. Paparang

selective focus photography of plant

Frasa “di bawah matahari” adalah sebuah ungkapan yang menggambarkan konteks hayati segala sesuatu yang ada di atas bumi. Kita bergerak di bawah matahari; kita bekerja dan berusaha di bawah matahari; kita menangis dan bergembira di bawah matahari; kita berjerih lelah di bawah matahari; kita berharap dan berserah kepada Tuhan di bawah matahari; kita berbuat dosa dan menindas orang lain di bawah matahari; kita menyombongkan diri dan menipu orang lain di bawah matahari; kita bersenang-senang di bawah matahari; kita mendapat upah di bawah matahari; kita berduka di bawah matahari; kita dilahirkan di bawah matahari; kita mati di bawah matahari; dan segala sesuatu yang terjadi di atas bumi, terjadi di bawah matahari.

Pengkhotbah menampilkan sebuah catatan kehidupan yang pada faktanya menuju pada kesia-siaan di bawah matahari. Pengamatan Pengkhotbah terhadap hidup memberikan pelajaran bagi kita tentang upaya dan kesia-siaan dalam hidup.

“Aku telah melihat segala perbuatan yang dilakukan orang di bawah matahari, tetapi lihatlah, segala sesuatu adalah kesia-siaan dan usaha menjaring angin.” Pengkhotbah 1:14  

“Ketika aku meneliti segala pekerjaan yang telah dilakukan tanganku dan segala usaha yang telah kulakukan untuk itu dengan jerih payah, lihatlah, segala sesuatu adalah kesia-siaan dan usaha menjaring angin; memang tak ada keuntungan di bawah matahari.” Pengkhotbah 2:11  

“Oleh sebab itu aku membenci hidup, karena aku menganggap menyusahkan apa yang dilakukan di bawah matahari, sebab segala sesuatu adalah kesia-siaan dan usaha menjaring angin. Aku membenci segala usaha yang kulakukan dengan jerih payah di bawah matahari, sebab aku harus meninggalkannya kepada orang yang datang sesudah aku.” Pengkhotbah 2:17-18

“Dengan demikian aku mulai putus asa terhadap segala usaha yang kulakukan dengan jerih payah di bawah matahari. Apakah faedahnya yang diperoleh manusia dari segala usaha yang dilakukannya dengan jerih payah di bawah matahari dan dari keinginan hatinya?” Pengkhotbah 2:20, 22

“Ada lagi yang kulihat di bawah matahari: di tempat pengadilan, di situpun terdapat ketidakadilan, dan di tempat keadilan, di situpun terdapat ketidakadilan.” Pengkhotbah 3:16

“Lagi aku melihat segala penindasan yang terjadi di bawah matahari, dan lihatlah, air mata orang-orang yang ditindas dan tak ada yang menghibur mereka, karena di fihak orang-orang yang menindas ada kekuasaan.” Pengkhotbah 4:1  

sunset view

Manusia yang mengharapkan kehidupan yang ideal harus ditopang oleh usaha dan kerja keras. Jika tidak, apa yang dikerjakan menjadi sia-sia. Tak ada usaha, tak ada kehidupan; tak ada kerja keras, tak ada hasil yang dapat menunjang kehidupan, bahkan kebahagiaan kita. “Matahari” telah menyediakan sinarnya untuk menggerakkan kita dalam bekerja dan berusaha. “Matahari” membiri dirinya dilihat kapan saja agar manusia dapat melihat “Sang Khalik” sebagai Sumber kekuatan, kehidupan, dan kebahagiaan.

white and blue cloudy sky

“Di bawah matahari” adalah frasa yang menegaskan kedaulatan Allah sebab Dialah yang menciptakan matahari. Kita yang hidup tak mungkin dapat menolak gerakan waktu dan matahari. Yang dapat kita buat adalah berusaha menggapai tujuan dalam rasa takut akan Allah di bawah matahari ciptaan Allah itu.

Kita terus bergerak, menuangkan potensi diri dalam pekerjaan, entah itu pekerjaan yang baik, atau pekerjaan yang buruk, yang mencelakakan dan menipu orang lain untuk memperkaya diri. Segala upaya tipu muslihat yang dirancang sedemikian rupa akan mengalir kembali kepada para pelakunya. Seperti kata Pengkhotbah: “Ada kemalangan yang menyedihkan kulihat di bawah matahari: kekayaan yang disimpan oleh pemiliknya menjadi kecelakaannya sendiri” (Pengkhotbah 5:12).

Kita harus berhati-hati dan bijaksana dalam menjalani kehidupan di bawah matahari. Jika kita masih melihat “matahari”, berarti kita masih diberikan kesempatan oleh Tuhan untuk memperbaiki diri, melakukan kehendak-Nya, dan berupaya (bekerja keras) memenuhi kebutuhan hidup sambil tetap bersandar pada Allah, Sang Pemberi Berkat yang tak tertandingi. Kata Pengkhotbah: “Lihatlah, yang kuanggap baik dan tepat ialah, kalau orang makan minum dan bersenang-senang dalam segala usaha yang dilakukan dengan jerih payah di bawah matahari selama hidup yang pendek, yang dikaruniakan Allah kepadanya, sebab itulah bahagiannya” (Pengkhotbah 5:17).

body of water wave photo during golden time

Allah menghendaki kita mengucap syukur atas segala sesuatu yang terjadi di bawah matahari. Oleh sebab itu, kata Pengkhotbah: “aku memuji kesukaan, karena tak ada kebahagiaan lain bagi manusia di bawah matahari, kecuali makan dan minum dan bersukaria. Itu yang menyertainya di dalam jerih payahnya seumur hidupnya yang diberikan Allah kepadanya di bawah matahari” (Pengkhotbah 8:15).

Kita harus sadar bahwa hidup kita di bawah matahari ini sangatlah terbatas. Menyombongkan diri sama saja membuat kita berhenti melihat matahari yang menyinari kita. Merasa di atas angin karena kekuasaan dan berupaya menyingkirkan orang yang membuat dia terusik adalah sebuah kesia-siaan dan usaha menjaring angin. Tuhan melihat tindak tanduk manusia di bawah matahari. Ingatlah kata-kata Pengkhotbah: “Inilah yang celaka dalam segala sesuatu yang terjadi di bawah matahari; nasib semua orang sama. Hati anak-anak manusiapun penuh dengan kejahatan, dan kebebalan ada dalam hati mereka seumur hidup, dan kemudian mereka menuju alam orang mati” (Pengkhotbah 9:3). Mereka yang memelihara kejahatan dan kebebalan akan menerima kematian di dunia yang disediakan Tuhan bagi mereka. Oleh sebab itu, tinggalkanlah cara hidup yang tidak berkenan kepada Tuhan; nikmatilah hidup dengan hikmat yang Tuhan berikan kepada kita; syukuri apa yang Ia berikan.

Intensi (tujuan) Tuhan dalam memberikan yang terbaik bagi mereka yang mengasihi Dia, adalah agar mereka mengetahui bahwa hidup yang terberkati adalah semata-mata karena kemurahan dan kebaikan Tuhan. Tak ada yang dapat kita banggakan untuk tujuan menyombongkan diri sebab pada akhirnya kita tidak dapat “menggenggam apa pun” dalam tangan kita saat kita mati. Kita hanya membawa “perbuatan-perbuatan” kita untuk dipertanggungjawabkan di hadapan Allah.

Lihatlah segala sesuatu yang terjadi “di bawah matahari”. Tuhan telah menyediakan banyak pelajaran darinya. Kita ada di dalam waktu di bawah matahari dalam kontrol Tuhan. Apa yang dapat kita berikan kepada-Nya? Tentu segala sesuatu yang berkenan kepada-Nya, mengasihi Dia dan sesama, berjuang menyatakan kebenaran, tidak kompromi dengan kejahatan, penipuan, dan keserakahan.

photography of sun glaring through the hole of finger

Kita hidup di bawah matahari yang sama, di bumi yang sama, hanya beda tempat saja. Kita perlu melihat dan menilai hidup apakah kita telah menyatakan apa yang menjadi kehendak Tuhan, ataukah kita hendak menonjolkan kehendak kita sendiri untuk memperkaya diri dan merugikan orang lain? Apakah kita sudah menyadari bahwa segala sesuatu yang jahat, yang kita rencanakan di bawah matahari adalah hal yang dibenci Tuhan? Masihkah kita melanjutkan kejahatan kita, atau berhenti sebelum terlambat dan mati?

silhouette of woman sitting on ground

Sungguh, kejadian-kejadian yang terjadi di bawah matahari bisa menjadi menyenangkan atau menyedihkan; bisa menjadi membahagiakan, bisa menjadi kedukaan, bisa menjadi kecelakaan, bisa menjadi kemunafikan, bisa menjadi kesombongan. Seringkali, jika manusia ingin mencari aman, ia menjadi penjilat, dengan berbagai cara agar dirinya tetap aman. Sayangnya, kita terjerat dalam kemunafikan dan bahkan melupakan Tuhan sebagai Sumber Kehidupan. Haruskah kita meragukan kuasa Tuhan untuk membereskan kejahatan yang terjadi di bawah matahari? Haruskah kita melupakan Tuhan dan mengandalkan manusia agar hidup kita aman dan terhindar dari kerugian? Tuhan adalah sandaran yang kokoh; manusia adalah sandaran yang rapuh. Kita tinggal memilihnya. Jika salah pilih, kita tak dapat melihat “matahari” lagi.

“Di bawah matahari” menyadarkan kita bahwa kehidupan yang disediakan Tuhan layak diperjuangkan, dipertahankan, dan dikembangkan agar menghasilkan “buah-buah yang manis” yang memberikan kesegaran dan kekuatan bagi kehidupan kita dan orang-orang yang kita kasihi. “Segala sesuatu yang dijumpai tanganmu untuk dikerjakan, kerjakanlah itu sekuat tenaga, karena tak ada pekerjaan, pertimbangan, pengetahuan dan hikmat dalam dunia orang mati, ke mana engkau akan pergi” (Pengkhotbah 9:10).

Berbuat baiklah dan berusahalah sebelum terlambat. Mintalah hikmat dari Tuhan agar langkah dan pikiran kita terarah kepada kehendak-Nya. Kita adalah benih-benih yang baik yang jatuh di tanah yang subur. Ingatlah perumpamaan yang dikatakan Yesus mengenai “Seorang Penabur”. Benih-benih yang jatuh di tanah yang subur (yang baik) akan berbuah seratus kali lipat, enam puluh kali lipat, dan tiga puluh kali lipat.

assorted fruits on display

“Buah-buah kehidupan yang manis” hanya dapat dihasilkan dari mereka yang memiliki sikap hidup yang benar di hadapan Tuhan; mereka yang tahu mengucap syukur atas segala kebaikan dan kemurahan Tuhan; mereka yang suka menolong dan tidak menindas orang lain; mereka yang mengupayakan segala kebaikan bagi sesama; mereka yang tidak memperkaya diri dengan segala tipu muslihat; mereka yang tidak menyombongkan diri; dan mereka yang menjadi pelaku-pelaku firman Tuhan. Sebab “Ia membuat segala sesuatu indah pada waktunya, bahkan Ia memberikan kekekalan [kehendak untuk mengetahui hari depan]  dalam hati mereka. Tetapi manusia tidak dapat menyelami pekerjaan yang dilakukan Allah dari awal sampai akhir” (Pengkhotbah 3:11).

Tak ada yang perlu kita sombongkan; tak ada yang perlu kita bangga-banggakan karena semuanya akan berlalu; kita harus kembali kepada-Nya, menyadari segala keterbatasan kita. Lanjutannya adalah kita mengucap syukur kepada-Nya karena Ia mencurahkan kasih dan kemurahan-Nya dengan begitu limpahnya. Masakan kita memungkiri segala kebaikan Tuhan? Dapatkah kita menggeser matahari? Dapatkah kita menahan sinarnya? Demikian pula kita tidak dapat memungkiri segala kekuasaan dan kebaikan Tuhan yang terpampang di depan mata kita.

landscape photography of mountain

Kita diarahkan-Nya menuju kehidupan yang benar, penuh berkat, penuh kebaikan, dan penuh kejujuran di bawah matahari. Jadi, “Kita tahu sekarang, bahwa Allah turut bekerja dalam segala sesuatu untuk mendatangkan kebaikan bagi mereka yang mengasihi Dia, yaitu bagi mereka yang terpanggil sesuai dengan rencana Allah” (Roma 8:28).

Segala sesuatu yang dilakukan Allah di bawah matahari akan tetap ada untuk selamanya; itu tidak dapat ditambah dan tak dapat dikurang; Allah berbuat demikian, supaya manusia takut akan Dia, dan menyadari bahwa manusia yang terbatas membutuhkan Allah yang tidak terbatas, sebab dari-Nya segala kuasa, hidup, dan kebahagiaan, serta berkat yang disediakan bagi mereka yang setia dan mengasihi Dia dengan segenap hati, akal budi, dan segenap kekuatan.

Sumber gambar:

  1. https://unsplash.com/photos/87MIF4vqHWg
  2. https://unsplash.com/photos/5YWf-5hyZcw
  3. https://unsplash.com/photos/TSgwbumanuE
  4. https://unsplash.com/photos/mOcdke2ZQoE
  5. https://unsplash.com/photos/absT1BNRDAI
  6. https://unsplash.com/photos/EIuHrsxJJHU
  7. https://unsplash.com/photos/rkjsSXImi2A
  8. https://unsplash.com/photos/DJWa4FWXDG4
  9. https://unsplash.com/photos/c61jL_NpAn8

RENUNGAN KEHIDUPAN: Kita, Corona, dan Waktu

white and red heart shaped decor

Mungkin ada banyak hal atau agenda yang akan kita lakukan saat sebelum merebaknya Corona Virus secara luas di Indonesia pada tahun 2020. Tetapi, hampir semuanya berubah dan tidak jadi dilakukan. Beberapa di antara kita menundanya sampai menunggu kondisinya membaik. Ada yang membatalkan sama sekali. Ada yang memaksakannya. Ada yang melakukannya tetapi dengan sangat hati-hati.

person holding black and white device

Terlepas dari semua tindakan kita, seringkali mungkin keabaian dan kelengahan atas mekanisme kesehatan di masa pandemik Corona telah membuat kita terkena Corona atau menularkan Corona ke orang lain. Kita sendiri melihat dan mendengar, banyak orang yang telah meninggal karena Corona ini. Kita terkelu, tak dapat berbuat banyak; kita lemah, tak berdaya. Kita menangis kehilangan orang-orang yang kita sayangi, para sahabat, para hamba Tuhan, para tokoh masyarakat, dan lainnya. Rasanya pedih karena kepergian mereka dan menyisahkan duka mendalam. Kita berada dalam suasana genting. Kita selalu berharap “Tangan Tuhan kiranya terus terulur bagi kita untuk memberikan pertolongan, kekuatan, dan penghiburan”.

Kita diperhadapkan dengan waktu yang sangat genting. Saat-saat mana kita mengalami situasi mencekam, menggelisahkan, dan bahkan menakutkan. Kita menyimak bahwa kehidupan saat ini begitu rapuh, meskipun beberapa di antara kita melihat fenomena Corona hanyalah biasa-biasa saja. Bahkan ada yang tidak mempercayai bahwa Corona itu ada. Tetapi bukan itu poin saya. Di sini, kita perlu memperhatikan diri kita dan waktu yang digunakan saat ini.

group of people walking on pedestrian lane

Fenomena pandemik Corona telah menyita banyak waktu. Pihak pemerintah terus berjuang untuk menekan angka penyebaran Corona di berbagai wilayah. Penerapan pembatasan sosial dan kegiatan masyarakat terus dilakukan. Tidak hanya itu, pemberian vaksin untuk masyarakat Indonesia masih berjalan hingga saat ini. Dalam skema pemerintah, upaya vaksinasi setidaknya memberikan peningkatan terhadap daya tahan tubuh untuk dapat melawan Corona. Kita perlu menyadari bahwa hidup itu berharga. Jangan sampai ketika kita yang terpapar Corona, barulah sadar bahwa kesehatan itu mahal.

Kita merenungi hidup dan menemukan bahwa waktu yang terus bergulir, tanpa kita sadari telah membawa kita sampai kepada kondisi saat ini. Di dalam waktu kita hidup, bergumul, berjuang, dan berdoa. Adakalanya, kita menampilkan egoisme diri. Kita berdoa untuk diri sendiri tapi melupakan orang-orang di luar sana. Hidup ini patut direnungkan. Ada saat di mana kita melihat tangan Tuhan yang kuat menolong dan menopang kita; ada saat di mana Ia juga yang menguatkan kita, serta menghibur kita saat berduka, kehilangan orang-orang yang dikasihi.

Waktu yang tersedia, patut kita jalani. Kita tak tahu kapan “waktu” kita berakhir. Yang pasti adalah “Tuhan senantiasa menyediakan yang terbaik bagi mereka yang mengasihi Dia”. Ketika kita menyadari betapa berartinya hidup, kita pun perlu memperlihatkan kualitas tindakan dan waktu Hentikan tindakan-tindakan yang tidak mendatangkan berkat bagi kita dan orang lain. Kita terpanggil untuk memperlihatkan potensi diri secara benar dan berada pada jalur yang Tuhan kehendaki.

Kita menilai fenomena Corona, menarik kesimpulan, kemudian kita merenungkan hidup ini. Akankah waktu yang kita miliki dipakai untuk hal-hal yang berkenan kepada Tuhan? Ataukah kita “cuek bebek” terhadap waktu dan potensi yang Tuhan berikan kepada kita? Sejatinya, mereka yang menyadari betapa pentingnya potensi dan waktu akan berus berjuang untuk bertahan hidup dan memberikan pengaruh terhadap yang lain.

aerial view of people walking on raod

Kita terus bergerak berpacu di dalam waktu. Sementara itu, kita pun tetap waspada terhadap Corona. Spiritualitas jangan sampai kendor. Kita yang masih setia menyatakan cinta kasih kepada Allah, akan menerima upah dari-Nya. Meski di satu sisi kita waspada terhadap Corona, di sisi lain kita tetap mempergunakan waktu sebaik mungkin untuk memperlihatkan kualitas-kualitas tindakan yang dikerjakan di dalam terang firman-Nya.

four women carrying file of bananas

Kita, Corona, dan Waktu, sama-sama ada dalam kedaulatan Allah. Dalam benak kita, ada harapan bahwa Ia akan mengakhiri Corona ini. Yang pasti, Tuhan selalu melakukan dan menyediakan yang terbaik bagi kita yang mengasihi-Nya. Berdasarkan kasih dan kedaulatan-Nya, Ia menunjukkan segala kebaikan dan kemurahan-Nya tak terhingga, tak terduga.

Jangan lupa bersyukur sebab Tuhan itu baik dan telah berbuat baik.

two girl playing water

Salam sehat selalu

Via Salutis – Epignosis

Sumber gambar:

  1. https://unsplash.com/photos/FcDqdJUM6B4
  2. https://unsplash.com/photos/z9Bbk7o8MNU
  3. https://unsplash.com/photos/PMxT0XtQ–A
  4. https://unsplash.com/photos/gQd4SRfKs40
  5. https://guiadafarmacia.com.br/wp-content/uploads/2020/09/mundo-covid.jpg
  6. https://unsplash.com/photos/IBaVuZsJJTo
  7. https://unsplash.com/photos/9xp0AWvlGC4
  8. https://unsplash.com/photos/_h_weGa3eGo

TEOLOGI CACING: PLUS MINUS

brown dried leaves on persons hand

Barangkali, kata “cacing” sangat familiar di telinga kita. Bagi petani yang suka mencangkul tanah untuk tujuan bertani (menanam berbagai jenis tumbuhan), cacing adalah sahabat yang sering ditemukan. Tanah menjadi subur ketika banyak cacing ditemukan di dalamnya. Di sini, cacing memiliki nuansa (adanya makna) positif.

Lain halnya dengan cacing yang ada di dalam perut manusia. Nuasanya sangatlah negatif. Apalagi jika dikatakan: “kamu kok cacingan ya?”. Cacing dalam tanah memberikan kesuburan pada tanah; sedangkan cacing dalam perut manusia mengganggu kesehatan tubuh manusia.

Cacing adalah hewan tak bertulang punggung (jenis hewan invertebrata), tidak berkaki, tubuhnya bulat, panjang, dan tidak memiliki anggota tubuh (misalnya tangan atau kaki). Sesuai jenisnya, ia hidup di tanah, air, dalam perut manusia, atau perut binatang.

Dalam Alkitab, cacing adalah sejenis ulat dan sejenis serangga pengerat. Dalam zaman purba di antara masyarakat paling primitif penggunaan kata “cacing” sangat kabur. Penggunaan kata ‘cacing’ dalam Alkitab kebanyakan bersifat kiasan (Ensiklopedi Alkitab Masa Kini).

Cacing berhubungan erat dengan kematian dan kebusukan (Yesaya 14:11, “Ke dunia orang mati sudah diturunkan kemegahanmu dan bunyi gambus-gambusmu; ulat-ulat dibentangkan sebagai lapik tidurmu, dan cacing-cacing sebagai selimutmu”; Kisah Para Rasul. 12:23, “Dan seketika itu juga ia ditampar malaikat Tuhan karena ia tidak memberi hormat kepada Allah; ia mati dimakan cacing-cacing”).

Cacing juga dipahami sebagai kiasan. Misalnya dalam Yesaya 41:14, dituliskan sebagai berikut: “Janganlah takut, hai si cacing Yakub, hai si ulat Israel! Akulah yang menolong engkau, demikianlah firman TUHAN, dan yang menebus engkau ialah Yang Mahakudus, Allah Israel.”

Dari beberapa pengertian dan penggunaan kata “cacing” di atas, saya menarik beberapa implikasi ke dalam konteks teologi. Lokus dan jenis cacing akan menambah daya tarik tersendiri ketika diterapkan ke dalam konteks teologi.

Pertama, teologi cacing tanah (dalam nuansa positif) bertujuan untuk memberikan kesuburan bagi iman, pengertian progresif, dan tindakan. Bagi iman, teologi cacing memberikan asupan-asupan segar untuk memperkuat imun dari iman itu sendiri. Iman tidak hanya sekadar milik dari mereka yang percaya saat menerima Yesus Kristus sebagai Tuhan dan Juruselamat, melaikan iman itu sendiri perlu diberikan asupan-asupan gizi agar terus berkembang dan terus berbuah.

green plant on brown soil

Asupan-asupan gizi tersebut berbentuk kesaksian hidup yang berpadanan dengan Injil Yesus Kristus, persekutuan (beribadah), dan kontemplasi personal (berdoa secara pribadi). Kita harus menyerap berbagai makna dan fakta dari kesaksian sesama orang percaya. Kita tidak hanya mendengar khotbah saja, melainkan mendengar apa dan bagaimana kehidupan serta pergumulan orang percaya lainnya dalam mempertahankan iman. Pula membangun persekutuan yang kuat dengan sesama orang beriman, dan meningkatkan relasi pribadi dengan Tuhan.

person watering plant

Memberikan kesuburan bagi pengertian progresif, adalah gerakan kontinuitas bagi orang percaya untuk selalu menambah pengertian-pengertian baru teks teks-teks Alkitab. Kita butuh pengertian yang mendalam tentang firman Tuhan. Dan tentunya, mengerti firman Tuhan tidak terjadi hanya dalam satu kali mendengar, membaca, atau menafsir. Kita butuh proses yang berkelanjutan. Selalu ada hal-hal baru yang Tuhan singkapkan kepada kita melalui orang lain, perenungan pribadi, perjalanan hidup, dan lain sebagainya.

Memberikan kesuburan bagi tindakan, adalah sebuah konteks di mana teologi cacing (tanah) mendorong agar tindakan-tindakan kita menghasilkan buah-buah yang segar. Sebagaimana cacing memberikan kesuburan bagi tanah agar tanaman-tanaman menjadi tumbuh subur berbuah, demikianlah tindakan-tindakan kita yang lahir dari iman menampakkan buah-buah kehidupan yang selaras dengan firman-Nya.

person holding green plant stem

Kedua, teologi cacing mengharuskan tubuh kita bergerak aktif dalam melayani Tuhan. Sebagaimana cacing dalam tanah bergerak terus untuk memberikan kesuburan, dan petani menanami berbagai jenis tanaman di tanah tersebut, demikianlah kita harus aktif dalam melayani Tuhan yang didasarkan pada pengertian yang benar tentang doktrin-doktrin fundamental, agar dapat bertumbuh dan berbuah.

apple tree

Teologi sifatnya menggerakan kita. Ketika teologi tidak membuat kita bergerak untuk melayani dan menjadi berkat bagi orang lain, tinggalkanlah teologi itu. Itu pasti bukanlah cacing tanah, melainkan cacing yang ada di dalam perut manusia, menggerogoti kesehatan kita sendiri. Jika kita salah memahami dan memberikan teologi kepada yang lain, maka dapat berpotensi membawa kebusukan hidup, dan pada akhirnya menikmati kematian. Ini adalah plus minusnya.

photo of basket near fruits and tree

Ketiga, teologi cacing tidak menonjolkan diri. Dia bergerak di dasarnya, bekerja siang malam, tetapi memberikan hasil yang maksimal. Cacing tidak bekerja di atas tanah, melainkan di dalam tanah. Teologi yang kuat, tidak memamerkan diri di atas tanah, melainkan bergerak dan memperkuat dasar (pondasi) di dalam tanah. Sampai di sini kita dapat melihat beberapa teks yang menyentuh dan memberikan penguatan atas konteks yang sedang dibicarakan.

Misalnya dalam Filipi 2:5, dikatakan, bahwa “Hendaklah kamu dalam hidupmu bersama, menaruh pikiran dan perasaan yang terdapat juga dalam Kristus Yesus”. Teks ini memberikan pengertian mendasar bahwa segala tindak-tanduk kita didahului dengan sebuah tindakan untuk menaruh pikiran dan perasaan seperti Yesus Kristus yang begitu rendah hati, tak memandang status ontologi-Nya. Jika dasarnya kuat, maka tindakan kita kuat pula dan sangat bermakna.

Filipi 4:5, “Hendaklah kebaikan hatimu diketahui semua orang. Tuhan sudah dekat!” Teks ini memberikan penguatan terhadap teologi cacing tanah. Kebaikan hati ada di hati. Untuk menjadikan terlihat, maka harus diperlihatkan. Begitulah runut logisnya.

red round fruits in tilt shift lens

Kolose 2:6, “Kamu telah menerima Kristus Yesus, Tuhan kita. Karena itu hendaklah hidupmu tetap di dalam Dia.” Teks ini memberikan pengertian bahwa ketika pemahaman teologi kita berdasar pada Yesus Kristus, maka segala tindakan kita haruslah tetap di dalam Dia, tidak boleh bergesert lokus menjadi teologi cacing [dalam] perut manusia.

Kolose 2:7, “Hendaklah kamu berakar di dalam Dia dan dibangun di atas Dia, hendaklah kamu bertambah teguh dalam iman yang telah diajarkan kepadamu, dan hendaklah hatimu melimpah dengan syukur.” Teks ini sangatlah merepresentasikan makna dari teologi cacing tanah. Ketika kita berakar di dalam Yesus Kristus, maka gerakan selanjutnya adalah kita membangun kehidupan. Setelah itu, kita menyatakan kelimpahan syukur karena kita menjadi manusia baru yang hidup di dalam (berakar) Yesus Kristus.

Kolose 3:15, “Hendaklah damai sejahtera Kristus memerintah dalam hatimu, karena untuk itulah kamu telah dipanggil menjadi satu tubuh. Dan bersyukurlah.” Teks ini memberikan pengertian bahwa teologi yang kita pelajari dan pahami, haruslah memerintah (menjadi penentu) dalam hati kita sekaligus menilai dan menolak teologi-teologi yang buruk yang berpotensi menjerumuskan kita ke dalam kesesatan dan penyesatan.

Kolose 3:16, “Hendaklah perkataan Kristus diam dengan segala kekayaannya di antara kamu, sehingga kamu dengan segala hikmat mengajar dan menegur seorang akan yang lain dan sambil menyanyikan mazmur, dan puji-pujian dan nyanyian rohani, kamu mengucap syukur kepada Allah di dalam hatimu.” Teks ini juga memberikan penguatan terhadap teologi cacing tanah. Perkataan Kristus yang berdiam di dalam diri kita, haruslah direalisasikan ke dalam bentuk pengajaran, teguran, puji-pujian, dan nyanyian. Kita harus selalu mengucap syukur sebagai puncak dari tindakan-tindakan kita.

green fruits

Keempat, teologi cacing [dalam] perut manusia bukanlah teologi yang mumpuni. Itu hanyalah sebuah teologi yang memperlihatkan raut wajah menarik, padahal sedang menggegoti kita dari dalam (kontras dengan teologi cacing tanah). Ajaran-ajaran yang tampaknya menarik di luar, belumlah menjamin memiliki dasar yang kuat. Malahan ketika diuji di dapur hermeneutika (dogmatika, biblika, historika, apologetika), ajaran-ajaran tersebut berpotensi menyesatkan. Lokus teologi sangatlah menentukan apakah itu teologi cacing perut manusia, atau teologi cacing tanah.

black beads on persons hand

Kelima, teologi cacing adalah gambaran besar dari pola kehidupan beriman, bersekutu, dan berelasi secara luas. Kita memegang yang mana, itu adalah pilihan kita sendiri. Sedapat mungkin kita sadar dan menilai mana teologi yang benar-benar berakar kuat di dalam Kristus Yesus, dan mana teologi yang tampak segar di permukaan tetapi memiliki akar (dasar) yang rapuh. Kita tinggal memilih teologi cacing yang mana yang akan kita ciptakan, pelajari, dan adopsi. Kemampuan bernalar secara baik dengan memperhatikan fitur-fitur hermeneutika, akan memimpin kita ke dalam seluruh kebenaran Allah.

magnifying glass on book

Bukankah kita dipanggil Allah untuk melakukan kehendak-Nya? Bukankah segala sesuatu dilakukan Allah untuk mendatangkan kebaikan bagi kita? Allah telah bekerja dan membuktikan itu semua. Sekarang giliran kita yang membuktikan iman kitat kepada-Nya melalui pemahaman tentang teologi, penalaran yang sehat tentang teologi, dan perealisasian teologi cacing tanah ke dalam totalitas kehidupan kita, sekarang, dan sampai selamanya.

Salam Bae….

Stenly R. Paparang [Via Salutis – Epignōsis]

Sumber gambar:

  1. https://unsplash.com/photos/6v9w4ZR2TJE
  2. https://unsplash.com/photos/seAuOkajqj0
  3. https://wordpress.com/post/stenlyreinalpaparang.home.blog/2556
  4. https://unsplash.com/photos/4z3lnwEvZQw
  5. https://unsplash.com/photos/g9H2akguulg
  6. https://unsplash.com/photos/YJWcZkXlGlI
  7. https://unsplash.com/photos/qfdfFA-GOEU
  8. https://unsplash.com/photos/ZowJcavBYt4
  9. https://unsplash.com/photos/OZ94M5lYVMY
  10. https://unsplash.com/photos/YD5TvbPgmQc
  11. https://unsplash.com/photos/6msKBfnPTgk

DOKTRIN, DENOMINASI, DAN GENGSI INTELEKTUAL

person holding black book

Segala bentuk realisasi diri [iman] kepada khalayak dilatari oleh doktrin, denominasi, dan gengsi (entah dalam arti positif maupun negatif). Sejatinya, Gereja adalah “gerakan manusiawi-spiritual” yang hendak menunjukkan jatidirinya (doktrin dan denominasi) serta mengkonfirmasi keduanya sebagai “gengsi intelektual”. Gengsi intelektual dipahami sebagai kehormatan dan pengaruh yang tampak ke permukaan sebagai “wajah atau identitas” yang disebabkan oleh cara berpikir dan meramu doktrin-doktrin internal menjadi kemasan yang menarik.

Dalam proses berteologi, setiap denominasi memperlihatkan kekuatan doktrinalnya dan disertai gengsi intelektual. Problem internal dan eksternal sedapat mungkin diracik bumbu-bumbunya, sehingga menjadi makanan siap saji. Soal rasa, nanti dulu. Soal kemasan dan promosi, keduanya menjadi pasukan “frontliner” [garis depan]. Pasukan garis depan pasti dilengkapi dengan pedang, panah api, baju zirah, korek api, dan kertas kosong.

person reading book

“Pedang” [ajaran, logika, penokohan, dan pengalaman] digunakan untuk melawan musuh dari jarak dekat (berhadapan langsung). Konteks ini menggambarkan dua fakta, yakni: pertama, fakta bahwa pekabaran Injil menjadi media penting bagi Gereja untuk merealisasikan ajaran-ajarannya termasuk denominasinya (bisa dalam bentuk perlawanan terhadap berbagai ideologi, ajaran-ajaran di luar Alkitab), dan kedua, fakta bahwa Gereja harus berhadapan dengan penyesat dan penyesatan dari dalam tubuhnya sendiri.

“Pedang” adalah senjata utama Gereja. Gereja berperang melawan segala kesesatan dan penyesatan dari dalam dan dari luar. “Pedang” adalah “bukti kita siap bertempur melawan musuh iman [pemikiran] Kristen, musuh yang menegasikan doktrin-doktrin fundamental kita.”

Lain halnya dengan Gereja yang pemimpinnya sesat dan tersesat. Dalam konteks ini, para pengikutnya yang harus mengasa kembali “pedang-pedangnya” – mungkin sudah berkarat oleh perkembangan zaman – dan menghasilkan sebuah “pedang baru” yang segar bugar dan masuk akal tentunya. Selain pemimpin Gereja yang sesat dan tersesat, anggota jemaat bisa mengalami hal serupa. Upaya yang sama juga dilakukan agar Gereja menjadi murni kembali dan menghadirkan makanan (ajaran) yang sehat bergizi tinggi, baik untuk sumsum tulang belakang dan tempurung kepala.

Panah api digunakan untuk melawan musuh dari jarak jauh. Sama halnya dengan pedang, panah api juga mencakup ajaran, logika, penokohan, dan pengalaman, yang siap ditembakkan sesuai sasarannya. Media-media sosial bertaburan di mana-mana. Gereja harus menggunakannya sebagai “panah api” agar mampu melawan musuh dari yang jauh sekalipun. Perang media sosial sekarang ini adalah zaman di mana kita sedang ada di dalamnya, dan terus menggempur serangan terhadap iman Kristen (internal maupun eksternal).

Baju zirah adalah perlengkapan diri Gereja agar mampu menangkal serangan musuh. Baju zirah itu adalah iman kepada Yesus Kristus. Kita ingat pesan Rasul Petrus: “Kuduskanlah Kristus dalam hatimu sebagai ‘Tuhan’”. Jika demikian, Gereja pertama-tama harus tahu bahwa ia beriman kepada Tuhan Yesus atau tidak. Gereja tidak boleh ragu dalam hal ini. Ketika Gereja menampilkan “Yesus yang Lain”, maka baju zirah yang digunakannya tentu terbuat dari kain pel: berusaha memberi pencerahan (pembersihan) kepada orang lain, tetapi ia sendiri menjadi kotor.

Baju zirah adalah benteng yang kokoh. Iman kepada Yesus Kristus tak bisa ditawar-tawar. Para mualaf yang doyan jualan tentang “Yesus yang Lain” dengan mengais teks-teks Alkitab, lupa bahwa Isa dalam kitab suci mereka bersifat ahistoris dan bukan fakta yang sebenarnya. Para mualaf percaya “Yesus yang Lain” (berdasarkan kitab sucinya sendiri) dan berusaha menyanyi di depan Gereja untuk mengatakan bahwa “Yesus yang kalian sembah bukanlah Tuhan, bukanlah Yesus yang sesungguhnya. Sebaliknya Yesus yang kami ketahui adalah yang benar sesuai dengan kitab suci kami”. Piye toh? Wong kitab sucinya beda, kok malahan jualan kecap?

Dari pengalaman ini, baju zirah harus tetap dipakai dan terus dipakai untuk mempertahankan iman dan ajaran-ajaran yang benar tentang Yesus. Prinsipnya adalah Alkitab menyatakan Yesus yang sesungguhnya, jadi jangan menerima “Yesus yang Lain” yang berasal dari kitab suci lain. Itu bukan iman kita.

Korek api adalah alat untuk menyalahkan benda-benda yang ada di sekitar kita untuk menerangi. Dua aspek penting menjadi sasaran kita.

Pertama, korek api dipakai untuk merebus ajaran-ajaran para bidat di dalam belanga, secara perlahan. Korek api adalah pemantik, dan selanjutnya terserah Anda (kayak iklan aja, ya). Untuk mengeluarkan ular dari semak-semak, maka semak-semak itu harus dibakar, barulah kita tahu ada ular di dalamnya. Gereja harus dipanas-panasi supaya tampaklah siapa yang bidat, siapa yang benar. “Bidat” di sini berpusat pada cara memahami ajaran-ajaran Alkitab secara salah (menyimpang).

Kedua, korek api dipakai untuk situasi-situasi tertentu tatkala kita hendak menolong diri sendiri dan orang lain dalam kegelapan dunia. Korek api harus membakar benda-benda di sekitarnya untuk tujuan menerangi agar bisa melihat jalan pulang.

white pen on table

Terakhir, “kertas kosong.” Apa maksudnya? Gereja harus selalu membawa kertas kosong yang akan digunakan untuk mencatat kehidupannya sendiri, kehidupan orang lain, dan pengetahuan-pengetahuan baru yang didapatkan dalam kembara imannya pada proses pekabaran Injil. Mencatat kehidupan pribadi sangatlah penting sebagai warisan; mencatat kehidupan orang lain dalam konteks pekabaran Injil adalah bukti bahwa Gereja itu aktif; bukankah kita melihat bahwa buku-buku Sejarah Gereja begitu banyak? Sedangkan mencatat pengetahuan-pengetahuan baru berarti Gereja didorong untuk terus bejalar kapan pun dan di mana pun, menggali sejarah dan penerapan doktrin dari masa ke masa.

red lighthouse near sea

Gereja yang mengupayakan realisasi doktrin-doktrin yang benar, akan menjadi mercu suar di zamannya. Gereja yang mengupayakan untuk menjadi garam dan terang dunia adalah Gereja yang hidup, yang peduli, dan yang diberkati Tuhan Yesus. Gereja tidak boleh berpuas diri, bermasturbasi teologi secara sembunyi-sembunyi. Gereja adalah “Penjala Manusia” bukan “penjala angin”. Gereja harus tampil memukau dengan pedangnya, panah apinya, baju zirahnya, korek apinya, dan kertas kosongnya.

Proses berteologi tidak bisa lepas dari konteks denominasi (label) Gereja dan tidak bisa dihindari begitu saja. Setiap teolog dan pelayan Tuhan selalu menunjukkan “label” teologinya. Kesalahan pandang terhadap konteks ini berujung pada jemawa [congkak] denominasi, meski doktrin yang mereka miliki amburadul. Ada Gereja yang hanya kuat di organisasi tetapi lemah di doktrin, dan sebaliknya. Hampir selalu, dalam diskusi teologi, standar ganda mengenai pola pikir denominasi digunakan. Artinya, setiap luapan teologi yang diucapkan, harus juga distandar gandakan supaya adil.

cathedral interior

Gengsi intelektual didasarkan pada doktrin dan atau denominasi. Setiap pemimpin Gereja dan atau teolog, pasti memperlihatkan gengsi intelektualnya. Di sini kita menilai dan melihat bahwa proses berteologi seringkali bergeser dan menuju pada sebuah kesombongan. Kita harus membedakan antara menyatakan kebenaran dengan menyatakan kesombongan (tapi menggunakan kebenaran). Hanya mereka yang “dewasa dalam berpikir dan bertindak” akan memahami apa yang sedang dibicarakan di sini.

Pada akhirnya, realisasi iman Gereja kepada dunia menampilkan tiga lukisan besar yakni: DOKTRIN, DENOMINASI, dan GENGSI INTELEKTUAL. Apa yang kita cari dalam kembara iman kita? Itulah mungkin salah satu pertanyaan Tuhan kepada kita sekarang ini.

Selamat berteologi untuk menunjukkan kekuatan doktrin, denominasi, dan gengsi intelektual kita masing-masing. Jangan gegabah, andalkanlah Tuhan Yesus; jangan jemawa, andalkanlah Roh Kudus, dan jangan berhenti bekerja, sebab Bapa di surga terus bekerja sampai sekarang, untuk mendatangkan kebaikan bagi Gereja yang mengasihi-Nya dengan sepenuh hati, jiwa, dan pikiran.

Salam Bae
Via Salutis – Epignosis

Sumber gambar:

  1. https://unsplash.com/photos/5s07Z1h2EE8
  2. https://unsplash.com/photos/9uL9h8zaBc0
  3. https://unsplash.com/photos/cvUIv9j5wDg
  4. https://unsplash.com/photos/vOWaLcUCJIM
  5. https://unsplash.com/photos/UEesKwR8ccY

WAKTU DAN KEHIDUPAN

round Timex analog clock at 2:33

Kita hidup dan bergerak di dalam “waktu” dan secara sadar menempatkan waktu dalam setiap alur kehidupan kita untuk menikmati hidup, berjuang, melakukan segala sesuatu yang disukai (entah karena terpaksa atau karena dorongan sesuatu), bersenang-senang, bergumul atas segala sesuatu, menyatakan kasih, dan berbahagia.

group of people making smoke during daytime

Waktu menjadi semacam penentu pikiran, perkataan, dan perbuatan kita. Di dalam waktu kita tersadar, dan di dalam waktu juga kita terbuai. Di dalam waktu kita hidup, dan di dalam waktu juga kita mati. Di dalam waktu kita tertawa, dan di dalam waktu juga kita menangis. Di dalam waktu kita terluka, dan di dalam waktu juga kita dipulihkan. Di dalam waktu kita sakit, dan di dalam waktu juga kita sembuh. Di dalam waktu kita berjuang, dan di dalam waktu juga kita berhasil. Di dalam waktu kita menipu, dan di dalam waktu juga kita menerima imbalannya. Di dalam waktu kita bersama, dan di dalam waktu juga kita kehilangan. Di dalam waktu kita tersakiti, dan di dalam waktu juga kita dikasihi.

grayscale photo of person palm

Ada banyak kisah menarik dan sedih yang terjadi di dalam waktu. Guliran waktu seakan-akan menyeret kita menuju tujuan akhir hidup kita. Tak ada yang tahu kapan waktu itu berakhir. Yang kita tahu bahwa hidup kita akan berakhir. Waktu dan kehidupan menjadi dua hal yang secara sadar mengingatkan kita akan keterbatasan kita.

person on body of water

Kerapuhan hidup seharusnya membawa kita kepada Sang Khalik, yang dengan rahmat-Nya dan kemurahan-Nya telah “membentuk kehidupan” agar kita dapat menikmatinya dengan rasa syukur dan tahu diri. Tangan-Nya terulur bagi kita: menolong, menopang, memimpin, menyertai, dan memberkati. Ia setia menunjukkan kasih-Nya agar kita terlatih untuk bersyukur kepada-Nya dalam segala hal.

girl sitting on daisy flowerbed in forest

Terkadang kita melupakan keterbatasan kita. Kita berupaya untuk selalu senang, bahkan senang di atas penderitaan orang lain. Kita acuh tak acuh dengan “rasa peduli”. Apalagi ketika kita merasa di atas angin, tindakan-tindakan kita “dihalalkan” untuk mencapai tujuan tertentu.

Terkadang pula, kita menutup mata dengan kondisi di sekitar kita. Berbagai pertimbangan membuat kita sulit untuk berbuat baik. Ini dan itu menjadi prasyarat untuk menolong orang lain. Pada akhirnya, setelah semuanya terjadi, kita menyesal; menyesal karena perbuatan baik yang seharusnya kita lakukan, malahan disimpan jadi beku dalam benak. Kita punya banyak waktu untuk menolong atau menyatakan rasa peduli terhadap sesama, tetapi kita mengabaikan “waktu-waktu” itu, sehingga kebaikan kita tersimpan, membusuk, dan hancur, tak ada gunanya.

Kehidupan itu rumit. Tersedia bagi kita pilihan-pilihan yang dengannya diri kita bernilai, dinilai, dihargai, diindahkan, dan diabaikan. Kesulitan-kesulitan dalam hidup pun menjadi kekuatiran tersendiri bagi mereka yang serba terbatas. Di tengah pandemik Corona Virus saat ini, kehidupan menjadi serba sulit. Waktu-waktu yang dijalani dibarengi dengan kekuatiran, ketakutan, kewaspadaan, kepenatan, kepelitan, kesombongan, dan masih banyak lagi.

person wearing round black analog watch at 9:46

Pada akhirnya, manusia berjuang untuk bertahan hidup. Toko-toko obat pun menjadi wisata kesehatan yang ramai dikunjungi. Indomaret dan Alfamart pun tak ketinggalan. Manusia berlomba-lomba membeli berbagai jenis obat untuk menjaga kondisi tubuh, meningkatkan daya tahan tubuh. Singkatnya, semua itu dilakukan untuk bertahan hidup.

running man on bridge

Sayangnya, ada orang-orang yang tidak terselamatkan. Waktu hidup mereka begitu singkat. Demikian kita memahaminya. Mereka yang serba terbatas akhirnya harus pasrah dan tabah menerima kenyataan hidup. Mereka kehilangan orang-orang terdekat yang mereka cintai, kasihi, dan sayangi. Di sini kita melihat bahwa “segala sesuatunya ada waktunya”.

person holding brown sand close-up photography

Waktu dan kehidupan menjadi titik sadar kita untuk melakukan lima hal: pertama, senantiasa bersyukur atas hidup yang dikaruniakan Tuhan kepada kita; kedua, bergerak dan bekerja untuk mempertahankan hidup (menghidupi diri sendiri dan orang-orang yang kita kasihi, cintai, dan sayangi); ketiga, menyatakan rasa peduli kepada sesama kita; keempat, mengembangkan potensi diri untuk meraih masa depan; dan kelima, tetap mengandalkan Tuhan (berserah, berhadap, dan beriman) dalam segala hal.

Kelima hal di atas terjadi di dalam waktu dan harus direalisasikan dalam kehidupan kita. Kita perlu mempergunakan waktu sebaik mungkin, menempatkan diri secara bijak di dalam segala situasi. Tuhan telah memberikan waktu kepada kita untuk dinikmati (dijalani) dengan penuh iman dan hikmat. Raja Salomo pernah menulis, bahwa “setiap orang dapat makan, minum dan menikmati kesenangan dalam segala jerih payahnya, itu juga adalah pemberian Allah” (Pengkhotbah 3:13). Kesadaran kita membawa kita kepada sikap rendah hati, mengakui bahwa segala sesuatu datangnya dari Allah untuk kebaikan kita semua. Allah merencanakan kebaikan dan masa depan penuh bahagia. Semuanya terjadi di dalam “waktu”. Ingatlah selalu, bahwa “Untuk segala sesuatu ada masanya, untuk apapun di bawah langit ada waktunya” (Pengkhotbah 3:1).

silver round analog wall clock

Sebagai penutup dari tulisan singkat ini, saya mengutip kitab Pengkhotbah 3. Ayat-ayat ini menyadarkan kita bahwa “WAKTU DAN KEHIDUPAN” menyediakan rentetan peristiwa yang harus kita sadari dan maknai, untuk menjadikan hidup kita berkenan kepada Tuhan, menjadi berkat bagi sesama. Kita sadar bahwa segala sesuatu adalah pemberian Tuhan bagi kita.

“Ada waktu untuk lahir, ada waktu untuk meninggal, ada waktu untuk menanam, ada waktu untuk mencabut yang ditanam; ada waktu untuk membunuh, ada waktu untuk menyembuhkan; ada waktu untuk merombak, ada waktu untuk membangun; ada waktu untuk menangis, ada waktu untuk tertawa; ada waktu untuk meratap; ada waktu untuk menari; ada waktu untuk membuang batu, ada waktu untuk mengumpulkan batu; ada waktu untuk memeluk, ada waktu untuk menahan diri dari memeluk; ada waktu untuk mencari, ada waktu untuk membiarkan rugi; ada waktu untuk menyimpan, ada waktu untuk membuang; ada waktu untuk merobek, ada waktu untuk menjahit; ada waktu untuk berdiam diri, ada waktu untuk berbicara; ada waktu untuk mengasihi, ada waktu untuk membenci; ada waktu untuk perang, ada waktu untuk damai.” Pengkhotbah 3:2-8

Dari semua yang terjadi di bawah kolong langit ini, kita harus tahu bahwa Allah membuat segala sesuatu indah pada waktunya, bahkan Ia memberikan kekekalan dalam hati manusia. Tetapi manusia tidak dapat menyelami pekerjaan yang dilakukan Allah dari awal sampai akhir (Pengkhotbah 3:11). Meski dalam keterbatasan, kita harus senantiasa memahami bahwa segala sesuatu memiliki tujuan tersendiri yang Allah tetapkan bagi kita. Waktu dan kehidupan disediakan-Nya agar kita menjalaninya dengan rasa takut akan Dia.

man and woman holding hands

Kita diberikan kebahagiaan dan kesadaran oleh Allah agar di dalam kebahagiaan itu, Ia mengingatkan kita untuk selalu sadar bahwa ada orang-orang yang merindukan kebahagiaan; kita berbagi dengan mereka dalam terang kasih Yesus Kristus.

Dari semua yang kita alami “di dalam waktu”, menjalani kehidupan ini, marilah kita menyadari, bahwa “segala sesuatu yang dilakukan Allah akan tetap ada untuk selamanya; itu tak dapat ditambah dan tak dapat dikurangi; Allah berbuat demikian, supaya manusia takut akan Dia” (Pengkhotbah 3:14).

Salam Bae

Via Salutis – Epignosis

Sumber gambar:

  1. https://unsplash.com/photos/eIkbSc3SDtI
  2. https://unsplash.com/photos/4qgJ2E28Uvw
  3. https://unsplash.com/photos/kw9n3L-JRRo
  4. https://unsplash.com/photos/AIfbUyzhKz0
  5. https://unsplash.com/photos/8n00CqwnqO8
  6. https://unsplash.com/photos/7_Gkf5JZRv4
  7. https://unsplash.com/photos/uq2E2V4LhCY
  8. https://unsplash.com/photos/tSSB4PL-w-E
  9. https://unsplash.com/photos/fzGIju4PUGM
  10. https://unsplash.com/photos/0chVl3b15MQ

KEHIDUPAN DAN KEPEDULIAN

Rentetan peristiwa dalam hidup manusia memiliki alasan tentang apa dan bagaimana rasa peduli itu dinyatakan. Pada faktanya, kehidupan tanpa kepedulian bukanlah kehidupan yang sesungguhnya dari mereka yang beriman kepada Yesus Kristus. Sedangkan kepedulian tanpa dikaitkan dengan konteks kehidupan sesama hanya menyisahkan rasa puas diri dan ego yang sangat buruk.

Di masa pandemik Corona Virus (CoVir), rasa kepedulian menjadi terealisasi dan membuktikan “siapa diri kita sebenarnya”. Ada banyak hal yang dapat kita nilai dan lihat sendiri dalam bingkai pandemik ini. Kita bergerak dari kepedulian yang satu ke kepedulian yang lain, sembari kita juga “menjaga diri” dari serangan CoVir.

man in green shirt and blue knit cap sitting on floor

Bukan alasan bagi kita untuk tidak berbuat sesuatu bagi sesama kita, bagi orang-orang yang kita kasihi, sayangi, dan cintai. Kita mungkin dan bahkan telah membuktikan rasa peduli itu yang darinya kita menengadah ke langit dan berkata: “Terima kasih Tuhan karena Engkau telah memakai aku sebagai saluran berkat (kepedulian) bagi sesamaku. Aku juga memohon kepada-Mu, kiranya Engkau melindungiku di masa pandemik ini, melindungi orang-orang terdekatku, yang aku kasihi, cintai, dan sayangi.”

Luapan rasa syukur dari mereka yang telah sembuh dari CoVir patutlah kita syukuri juga. Mereka bisa berbagi testimoni kepada yang lain agar dapat menguatkan dan saling menopang. Itulah kehidupan yang sejati, sebuah kehidupan yang berkualitas, kehidupan yang koheren dengan kepedulian dan kepedulian yang mengikat kehidupan itu sendiri.

grayscale photography of human hands

Kita telah beranjak cukup jauh dari pandemik ini. Perjalanan kita untuk terus menjaga kesehatan tubuh masih menjadi prioritas. Pergulatan dan pergumulan untuk sembuh, terhindar dari CoVir, adalah harapan kita semua, sambil terus waspada terhadap segala bentuk penyebaran CoVir di lingkungan kita.

Sedari awal kita tahu bahwa tangan Tuhan selalu terulur bagi kita yang terpuruk, tertekan, yang bergumul dengan hidup, depresi, apalagi saat pandemik CoVir melanda dunia. Mungkin kekuatiran dan kegelisahan kita semakin meningkat saat ini karena CoVir belum juga usai. Gejala psikologi menjadi tampak ke permukaan karena banyak kebutuhan yang ingin kita penuhi tetapi tidak terpenuhi semuanya.

Lalu kita bergegas untuk terus mewaspadai diri sebagai langkah antisipasi agar tetap aman dari CoVir, menjaga agar orang-orang di sekitar kita tetap aman dan tidak terpapar. Kita merenungkan hidup ini; hidup yang dikungkung oleh pandemik yang belum juga usai. Kehidupan kita menjadi tidak normal, meski kadang-kadang dipaksakan untuk normal. Kita tidak dapat “membaca” sepenuhnya tentang pandemik CoVir ini. Namun yang pasti adalah kita dapat “membaca” apa yang Tuhan kehendaki dalam hidup kita, yakni: “Kasihilah Tuhan, Allahmu, dengan segenap hatimu dan dengan segenap jiwamu dan dengan segenap akal budimu. Itulah hukum yang terutama dan yang pertama. Dan hukum yang kedua, yang sama dengan itu, ialah: Kasihilah sesamamu manusia seperti dirimu sendiri” (Matius 22:37-39)

Perkataan Yesus di atas berlaku untuk semua konteks humanitas kita. Di sini, kehidupan dan kepedulian menjadi koheren dan menyatu (solid). Dalam kecamuk gelisah dan kuatir, hadir juga kecamuk peduli. Kita terdorong untuk memperlihatkan kepedulian kita kepada yang lain. Doa, bantuan, dan penguatan, adalah bentuk-bentuk kepedulian yang selama ini kita lakukan.

woman in purple polo shirt wearing eyeglasses

Tentu Tuhan melihat apa yang kita kerjakan. Kita tahu bahwa Tuhan itu menghendaki perbuatan-perbuatan yang demikian. Kita tidak mengharapkan apa-apa supaya terkesan kita “baik dalam pandangan orang lain”, tetapi kita tahu bahwa apa yang kita berikan dengan tulus akan digantikan oleh Tuhan sendiri. Tuhanlah yang menilai dan memberkati kita; Dialah yang menguatkan kita senantiasa agar dapat melakukan kehendak-Nya: mengasihi Dia, mengasihi diri sendiri, dan mengasihi sesama kita.

KEHIDUPAN DAN KEPEDULIAN mengajari kita tentang makna kehidupan. Kita diajar untuk melihat Tuhan sebagai Sang Pemberi Kehidupan, yang dari-Nya kita bergerak dan menikmati segala kemurahan-Nya. Saat kita melihat Sang Pemberi Kehidupan, kita sadar bahwa kita tidak hidup sendiri, ada orang lain yang perlu kita kasihi dan sekaligus kita menunjukkan kualitas iman kita di hadapan Tuhan dan di hadapan manusia.

Kita diajar untuk melihat potensi diri kita dan bersyukur bahwa apa yang kita miliki, semuanya karena kemurahan Tuhan. Kita bergerak untuk merealisasikan potensi-potensi itu dalam ruang kepedulian, di mana kita tidak memikirkan untung-ruginya, melainkan karena kita tahu segala perbuatan baik kita lahir dari iman yang Tuhan berikan kepada kita. Kita dapat mengaku, bahwa: “Sebab segala sesuatu adalah dari Dia, dan oleh Dia, dan kepada Dia”.

Kita juga diajar untuk melihat sesama kita yang membutuhkan uluran (pertolongan) tangan kita. Kasih kita kepada Tuhan dan diri sendiri menjadi solid ketika kasih itu juga direalisasikan kepada sesama kita, sebagaimana kita lihat dari perkataan Yesus di atas. Saat kita peduli dan menolong orang lain, kita tidak sedang menghitung berapa banyak kekayaan kita, berapa banyak uang yang kita miliki, melainkan kita menghitung berapa banyak pertolongan Tuhan bagi kita dan karena itu kita harus menolong orang lain.

Di masa pandemik ini, marilah kita senantiasa bersyukur kepada Tuhan, saling mendoakan, saling peduli, dan terus memarcarkan kemuliaan Tuhan melalui tindakan-tindakan kita. Terima kasih kepada mereka yang telah menunjukkan kepedulian yang tulus untuk menolong sesama di masa-masa yang sukar ini. Tuhan senantiasa memberkati kita dan menunjukkan kemurahan-Nya hari demi hari.

Salam Bae

Via Salutis – Epignosis

Sumber gambar:

  1. https://unsplash.com/photos/89bQBucvJdw
  2. https://unsplash.com/photos/JeCNRxGLSp4
  3. https://unsplash.com/photos/n85taMiq0S4
  4. https://unsplash.com/photos/eO_JhqabBY0
  5. https://unsplash.com/photos/0nkFvdcM-X4

BERTARUH HIDUP DI MASA PANDEMIK CORONA VIRUS

Ada pergulatan hidup yang dialami manusia pada umumnya. Pergulatan tersebut tidak hanya pada masa-masa tertentu, tetapi hampir pada setiap waktu dialami dan dilalui manusia. Pergulatan demi pergulatan memaksa setiap manusia yang mengalaminya untuk bertaruh hidup.

Berbagai kesulitan dan ancaman, bahkan hambatan, turut mewarnai pola hidup manusia. Di satu sisi, ada manusia yang merasa semuanya aman karena ia memiliki kekayaan yang besar, penjaga yang siang malam menjaga rumahnya, memiliki rumah mewah, dan fasilitas-fasilitas yang diinginkannya, dipenuhinya.

Di sisi lain, ada manusia yang serba kekurangan, yang merasa takut kehilangan apa yang ada padanya, memiliki pinjaman yang belum terbayarkan. Mereka kesulitan dengan pekerjaannya, ada yang malahan di PHK, dan sederet pergulatan hidup mereka.

Dua kondisi di atas tampaknya mengalami konteks yang sama di masa pandemik Corona Virus (CoVir). Baik kaya dan miskin, dua-duanya harus berjuang melawan CoVir, menjaga protokol kesehatan. Kematian demi kematian melanda manusia secara global karena pandemik ini. CoVir tak mengenal kaya dan miskin; siapa saja yang lengah, imunnya tidak kuat, akan terpapar CoVir.

Ketika kematian melanda, harta dan segala jenis kekayaan menjadi tak berharga sama sekali. Dulu, kekayaan dan harta menjadi kebanggaan, di mata CoVir itu tidak menjadi ukuran kehidupan. Ada yang menjual segalanya untuk memperoleh kesehatan dan kesembuhan; mengorbankan harta dan segala jenis kekayaannya agar ia sembuh. Sementara itu, di tempat lain, ada orang-orang yang sederhana, menanti uluran tangan kuasa Tuhan agar mereka sembuh dari CoVir.

Tak memandang siapa pun, pergulatan hidup di masa pandemik CoVir adalah sebuah fakta yang terpampang di depan mata kita. Ketika kita lengah, kita terjangkit; atau menjadi pembawa virus ke orang lain. Pertaruhan yang cukup menegangkan ini memaksa kita untuk kembali melihat Sang Khalik. Kalau dulu kita mungkin seringkali melupakan-Nya, sibuk dengan segala urusan kita, hampir tak ada waktu untuk berdoa, tak ada waktu berbagi firman Tuhan dengan sesama, kini, justru banyak waktu yang Tuhan sediakan bagi kita untuk berdoa dan merenungkan serta membagikan firman Tuhan kepada orang lain.

Di awal CoVir pada tahun 2020, orang-orang tertentu menggunakan berbagai jenis ayat Kitab Suci untuk menghibur manusia; bahkan ada yang “jualan kecap agama” untuk meraup keuntungan diri (popularitas, dan lain sebagainya). Sekarang, jualan ayat-ayat Kitab Suci bukanlah dasar bagi kita berharap orang lain menjadi kuat dan sembuh, melainkan kepedulian kita berbagi makanan, vitamin, biaya, berdoa bagi mereka, dan lain sebagainya, menjadi dasar iman kita untuk memohon belas kasihan Tuhan.

Ketakutan manusia pun memuncak. Gejala ringan saja langsung divonis CoVir. Batuk dan flu biasa, divonis CoVir. Spekulasi karena terkontaminasi dengan konteks pandemik membuat manusia kadang lupa untuk berpikir bahwa sebelum CoVir, batuk dan flu itu menjadi pengalaman hampir pada setiap orang. Kini, gejala tersebut dicurigai, dan bahkan divonis. Ketakutan manusia dan sikap “sok tahu” menjadi fakta bahwa kita seringkali merasa peduli untuk menetapkan seseorang bahwa ia terpapar CoVir meski hanya mengalami gejala ringan, ketimbang berbagi beras, pisang barangan (dan buah-buahan lain), vitamin C, minuman kesehatan, biaya beli minyak kayu putih, masker, tes antigen, dan lain sebagainya.

Kita terkesan sangat rohani ketika jualan ayat-ayat Kitab Suci untuk disuap kepada mereka yang terpapar CoVir. Padahal, yang dibutuhkan adalah tindakan berdoa bagi mereka, menolong, membantu (meski tak seberapa) mereka yang membutuhkan uluran tangan kita. Mereka butuh doa kita; mereka butuh makanan, buah-buahan, dan lain sebagainya.

Pada masa pandemik ini, kita diperhadapkan dengan pilihan-pilihan testimoni dari mereka yang sembuh dari CoVir. Kita tinggal memilih testimoni mana yang mudah bagi kita untuk dilakukan, tidak memberatkan kantong (duit). Kita berjuang untuk sembuh, dan tetap bersukacita karena Tuhan masih memelihara kita. Di balik itu semua, kita perlu menyadari bahwa Tuhan mendidik kita dalam ragam siatuasi dan konteks. Ia menghendaki agar kita mengingat Dia, mengandalkan Dia, dan mengasihi Dia dengan sepenuh hati.

Bertaruh hidup di masa pandemik sangatlah nyata. Perjuangan untuk tetap sehat dan hidup adalah upaya yang maksimal dilakukan dan diharapkan oleh setiap orang. Di masa ini, kewaspadaan terus ditingkatkan. Sementara beberapa orang menganggapnya sepeleh. Upaya pemerintah untuk menekan angka kasus CoVir terus dilakukan. Kita semua pun harus sadar bahwa pandemik ini sangatlah berbahaya. Jika demikian, kewaspadaan menjalankan protokol kesehatan masih tetap yang utama. Kita harus waspada setiap saat.

CoVir melanda dan tak kenal waktu. Manusia harus membatasi diri: pertemuan, salaman, berpelukan, dan lain sebagainya, harus dihindari. Persebaran CoVir agar tidak meluas adalah upaya kita bersama. Imun tubuh menjadi properti utama diri untuk tetap kuat melawan CoVir. Mereka yang memiliki imun tubuh yang rendah (lemah) rentan terkena CoVir.

Perjuangan untuk tidak terpapar CoVir menandai pergulatan hidup manusia yang ditambah dengan berbagai kesulitan lainnya. Apakah ada harapan dalam hidup kita? Tentu ada! Kita yang masih mempertahankan iman kepada Tuhan, secara konsisten menuangkan iman itu ke dalam gumul juang, kepedulian, doa, dan kasih terhadap Tuhan, diri sendiri, dan sesama kita.

Bertaruh hidup di masa pandemik CoVir adalah perjuangan kita bersama. Kita terus berhadap kepada Tuhan bahwa Ia akan mengakhiri persebaran CoVir ini. Harapan itu harus menjadi landasan hidup kita bahwa segala sesuatu memiliki rencana dan tujuan tersendiri yang disediakan Tuhan bagi kita.

Marilah kita terus saling mendoakan, tetap peduli bukan karena memvonis gejala ringan sebagai CoVir, tetapi peduli berbagi materi, karena yang dibutuhkan sesama kita adalah “barang yang dibutuhkan” bukan vonis yang menjatuhkan.

Yang perlu diingat adalah pertaruhan hidup di masa pandemik adalah perjuangan kita semua. Tetaplah waspada. Jangan lengah. Ikuti protokol kesehatan. Saling peduli, saling mengingatkan, saling menopang dan mendoakan.

Tuhan Yesus memberkati dan melindungi kita semua. Terlebih, Ia menghibur mereka yang berdukacita, kehilangan orang-orang yang mereka kasihi karena CoVir.

Kasih Tuhan selalu hadir dan rahmat-Nya selalu baru tiap pagi. Tetaplah bersyukur dan bergembira karena Tuhan. Hati yang gembira adalah obat yang manjur bagi kehidupan kita setiap hari.

Salam Bae…

Sumber gambar:

  1. https://unsplash.com/photos/_HN4ZNgXH5w
  2. https://unsplash.com/photos/RCBh6NSmy_0
  3. https://unsplash.com/photos/6jI4JwI64JI
  4. https://unsplash.com/photos/R-EYaqOjhlo
  5. https://unsplash.com/photos/OptEsFuZwoQ
Rancang situs seperti ini dengan WordPress.com
Mulai