NATAL DAN PANEGIRIK

Merry Christmas signage

Natal Yesus Kristus adalah peristiwa sejarah, yang dalam perkembangan pemahaman terhadapnya, telah mengubah dunia. Sosok “Yesus Kristus” yang lahir di Betlehem, di tempat yang biasa saja—palungan—menampakkan fakta bahwa bukan soal di tempat mana Ia dilahirkan, melainkan pada apa yang akan Dia lakukan dalam totalitas kehidupan-Nya di kemudian hari.

Natal telah menyita perhatian dunia. Mulai dari kegembiraan umat Kristen menyambutnya, sampai mereka yang bergeliat untuk melarang mengucapkan “Selamat Natal”. Kebencian dan kebodohan membuat manusia-manusia dengan otak sejengkal yang merasa bahwa perayaan Natal sebagai “ancaman gangguan kejiwaan” bagi mereka yang merasa “beragama” tetapi hati dan pikirannya berisi kebencian dan kebodohan semata.

Dualisme perayaan Natal selalu secara simultan berjalan. Di satu sisi Natal diungkapkan dengan “panegyric” [tulisan yang berisi puji-pujian] dan di sisi lain, Natal dianggap sebagai gangguan tertentu sehingga bagi mereka yang merasa terganggu, mengucapkan “Selamat Natal” dianggap haram. Atau yang lebih parahnya, menggunakan ornamen-ornamen Natal, pun dianggap tidak baik. Ya, sudahlah. Kami yang merayakan Natal, mengapa “mereka” yang menggeliat tanda turun bero?

Kita melihat bahwa Natal tak hanya sekadar perayaan atau seremoni belaka. Natal menghadirkan sebuah pemahaman dan kesadaran. Pemahaman yang menekankan bahwa Sang Logos Ilahi—dengan kuasa-Nya yang luar biasa itu—datang “menjadi” daging, masuk ke dalam kehidupan manusia di dunia, hidup, melayani, dan menghadirkan damai sejahtera sorgawi.

Yesus Kristus yang telah lahir melalui rahim Maria, meskipun ini merupakan tanda ajaib dari surga, masih meninggalkan tanda tanya bagi mereka yang “tidak menyukai iman Kristen” atas konteks inkarnasi. Namun, sepanjang sejarah, Natal menjadi kekuatan tersendiri, tidak hanya bagi umat percaya, tetapi juga bagi mereka yang terhilang, papa (miskin, sengsara), terabaikan, Natal menjadi kesukaan dan sukacita, di mana Tuhan melawat mereka melalui “tangan-tangan kasih” yang diutus-Nya.

Pada momen Natal, terbit berbagai panegirik—tulisan berisi puji-pujian kepada Yesus Kristus—di berbagai media di seluruh dunia. Panegirik adalah tanda kesukacitaan umat Allah akan kasih-Nya yang besar. Mereka mengungkapkan anugerah Allah atas manusia yang berdosa dengan mengutus Anak-Nya yang tunggal—Logos yang kekal bersama-sama dengan Allah, Bapa yang kekal—datang memasuki daging manusia—Maria—dan menjadi manusia sejati. Betapa kuasa Allah dinyatakan bagi manusia dan fakta ini telah melahirkan begitu banyak panegirik. Selain mengungkapkannya melalui pengajaran, khotbah, puji-pujian, tari-tarian, momen Natal pun diungkapkan melalui panegirik.

Memang, secara mutlak, hanya Allah yang layak dipuji dan disembah. Orang Kristen memuji Yesus Kristus dan menyembah-Nya karena Ia menunjukkan perbuatan-perbuatan yang hanya dilakukan Allah. Kita tahu  bahwa peristiwa inkarnasi-Nya begitu ajaib: tanpa ada hubungan seksual. Logos menjadi manusia di dalam rahim Maria adalah karena “Roh Kudus turun atas dia dan kuasa Allah yang Mahatinggi yang menaunginya” (Lukas 1:35). Dari konteks ini, maka istilah “Anak Allah” diperteguh dan diperjelas.

Jadi, Yesus sebagai Anak Allah bukan karena Allah beranak, melainkan karena Logos yang menjadi manusia, dilahirkan melalui rahim perawan Maria, di mana intervensi penuh dari Allah Tritunggal itu sendiri memperlihatkan kepada kita kenyataan mengenai kuasa-Nya yang luar biasa. “Anak”, karena Sang Logos “menjadi daging dan dilahirkan”—sebab semua manusia yang dilahirkan disebut ‘anak’. “Allah”, karena memang Logos adalah Allah yang kekal (Yoh. 1:1-3).

Kita tahu bahwa Yesus memiliki dua natur. Sebagai manusia Ia dilahirkan, maka disebut “Anak”. Sebagai Allah, Ia menyatakan diri melalui peristiwa ajaib: Maria mengandung karena Roh Kudus dan kuasa Allah menaunginya, sebab tak mungkin seorang perempuan muda yang belum menikah, bisa mengandung. Di samping itu, terlihat jelas sejak awal bahwa proses pembuahan dalam rahim Maria bukanlah hasil dari hubungan biologis, melainkan murni intervensi kuasa Allah yang luar biasa itu.

Alkitab secara tegas menjelakan fakta ini: “Sesungguhnya engkau akan mengandung dan akan melahirkan seorang anak laki-laki dan hendaklah engkau menamai Dia Yesus. Ia akan disebut Anak Allah yang Mahatinggi. Dan Tuhan Allah akan mengaruniakan kepada-Nya takhta Daud, bapa leluhurnya, dan Ia akan menjadi raja atas kaum keturunan Yakub sampai selama-lamanya dan Kerajaan-Nya tidak akan berkesudahan” (Lukas 1:31-33).

Berita Natal itu kini masih tetap dan akan tetapi menjadi “trending topic” di seluruh dunia. Perayaannya, meski dilakukan dengan berbagai cara, tapi substansinya menghasilkan berbagai “buah bibir” [percakapan teologis dan aplikatif], berbagai panegirik, berbagai pelayanan dan pemberitaan Injil, dan berbagai kesaksian hidup dari mereka yang percaya dan diubahkan oleh Yesus Kristus.

Kita harus mengakui bahwa Natal adalah supremasi kuasa Allah Tritunggal, yang menyatakan bahwa Ia berkuasa untuk “menjadi” manusia, berkuasa menebus, menyelamatkan, menguduskan, dan membenarkan manusia-manusia berdosa. Dan semuanya diwujudkan karena Ia “mengasihi” manusia. Kasih Allah adalah dasar dari inkarnasi Yesus Kristus yang setiap tahun kita rayakan Natal-Nya. Natal Yesus Kristus mendorong kita untuk terus menciptakan panegirik bagi kemuliaan nama-Nya.

Panegirik—tulisan-tulisan yang memuji dan memuliakan nama-Nya—tetap menjadi bagian dari pewartaan kabar Natal, kabar sukacita bahwa Allah telah menyatakan kasih-Nya untuk datang mengunjungi dunia dan manusia ciptaan-Nya. Ia datang untuk mengajar dan mengarahkan manusia untuk melihat Allah dan kehendak-Nya, bagi sebuah tujuan keselamatan yang dianugerahkan-Nya melalui diri-Nya sendiri, yaitu Logos yang menjadi manusia.

Logos Allah itu yang datang membawa kabar baik bagi manusia berdosa. Menyembah Logos Allah sama saja dengan menyembah Allah. Tak mungkin kita menyembah Allah yang tanpa Logos. Kesalahan fatal bagi para negator ketuhanan Yesus adalah “melihat dengan kacamata kuda yang sudah buram” yaitu pada kemanusiaan Yesus dan mengabaikan natur ontologi-Nya.

red bauble

Allah di dalam daging (God in flesh) merupakan wujud kekuasaan-Nya. Kita hanya dapat berucap: “Engkau hebat, Allahku. Engkau sungguh dahsyat. Engkau telah mengasihi manusia berdosa, dan mengutus Yesus Kristus, Sang Logos yang kekal, untuk menyatakan kuasa, kehendak, kasih, keselamatan, jalan, kebenaran, kehidupan yang benar di hadapan Allah, di mana semuanya adalah ANUGERAH TERINDAH dalam kehidupan manusia.

Sungguh, Natal membawa perubahan, membawa kebahagiaan. Ia yang datang dalam rupa manusia, menyejarah dalam kehidupan manusia, kehidupan kita semua, sepanjang zaman. Natal adalah hadiah bagi kita; Natal adalah anugerah, dan Natal adalah kekuatan untuk menyadarkan bahwa kitalah yang membutuhkan Allah untuk menyelamatkan kita, dan Dialah yang datang membawa kita kepada kerajaan-Nya yang kekal, terlebih membawa kita untuk menerima kehidupan kekal sebagaimana yang Ia janjikan.

Di momen Natal, marilah kita merenungi segala kebaikan Tuhan. “Make up your mind” (ambil keputusan) untuk setia melayani, setia hidup dalam kebenaran, dan setia menjadi saksi Kristus kapan pun dan di mana pun. Tindakan tersebut didukung dengan prinsip “make up one’s mind” (membulatkan hati) bahwa segala sesuatu yang kita kerjakan di jalan Tuhan, akan senantiasa mendapat pertolongan dan berkat dari Dia, Allah yang sejati dan Maha Penolong itu. Ia mengubahkan kita menjadi seperti yang Ia kehendaki. Dan itu sangatlah indah.

red Merry Christmas text overlay

Selamat Merayakan Natal, Saudaraku.

Salam Bae……

Sumber gambar: https://unsplash.com/s/photos/merry-christmas

NATAL: MENYAMBUT SANG JURUSELAMAT

Nativity Poster featuring the painting La Nativita' by Guido Borelli

Iman Kristen tidak bisa dipahami secara fragmentaris (terpecah-pecah); tidak bisa juga dipahami secara parsial (sebagian), melainkan harus dipahami secara komprehensif (menyeluruh). Ketika memahami makna Natal Yesus Kristus, dibutuhkan sebuah pemahaman yang komprehensif yaitu melihat kesatuan aspek-aspek sejarah penebusan (historical of redemption), profetis, penggenapan, teologis, dan mesianis Davidik. Kedatangan (Kelahiran) Yesus Kristus adalah realisasi dari kehendak Allah untuk menyelamatkan manusia dari belenggu dosa. Natal menyatakan bahwa Allah yang Mahakasih itu berkehendak menyelamatkan manusia dengan cara-Nya sendiri.

Natal adalah sebuah konteks di mana Allah menyatakan kasih-Nya untuk menyelamatkan manusia (bdk. Yohanes 3:16). Cara Allah memang lain yaitu mengaruniakan Anak-Nya [Logos menjadi manusia] ke dalam dunia. Meski dipandang sebagai batu sandungan Yesus Kristus sampai sekarang ini telah menjadi “batu penjuru”:

Mazmur 118:22-23. Batu yang dibuang oleh tukang-tukang bangunan telah menjadi batu penjuru. Hal itu terjadi dari pihak TUHAN, suatu perbuatan ajaib di mata kita.

Yesaya 28:16. Sebab itu beginilah firman Tuhan ALLAH: “Sesungguhnya, Aku meletakkan sebagai dasar di Sion sebuah batu, batu yang teruji, sebuah batu penjuru yang mahal, suatu dasar yang teguh: Siapa yang percaya, tidak akan gelisah! 

Matius 21:42. Kata Yesus kepada mereka: “Belum pernahkah kamu baca dalam Kitab Suci: Batu yang dibuang oleh tukang-tukang bangunan telah menjadi batu penjuru: hal itu terjadi dari pihak Tuhan, suatu perbuatan ajaib di mata kita.

Markus 12:10-11. Tidak pernahkah kamu membaca nas ini: Batu yang dibuang oleh tukang-tukang bangunan telah menjadi batu penjuru: hal itu terjadi dari pihak Tuhan, suatu perbuatan ajaib di mata kita.

Lukas 20:17. Tetapi Yesus memandang mereka dan berkata: “Jika demikian apakah arti nas ini: Batu yang dibuang oleh tukang-tukang bangunan telah menjadi batu penjuru?”

Kisah Para Rasul 4:11. Yesus adalah batu yang dibuang oleh tukang-tukang bangunan yaitu kamu sendiri ,namun ia telah menjadi batu penjuru.

Efesus 2:19-20. Demikianlah kamu bukan lagi orang asing dan pendatang, melainkan kawan sewarga dari orang-orang kudus dan anggota-anggota keluarga Allah, yang dibangun di atas dasar para rasul dan para nabi, dengan Kristus Yesus sebagai batu penjuru.

1 Petrus 2:6-7. Sebab ada tertulis dalam Kitab Suci: “Sesungguhnya, Aku meletakkan di Sion sebuah batu yang terpilih, sebuah batu penjuru yang mahal, dan siapa yang percaya kepada-Nya, tidak akan dipermalukan.” Karena itu bagi kamu, yang percaya, ia mahal, tetapi bagi mereka yang tidak percaya: “Batu yang telah dibuang oleh tukang-tukang bangunan, telah menjadi batu penjuru, juga telah menjadi batu sentuhan dan suatu batu sandungan.”

Yesus sebagai batu penjuru adalah penggenapan  nubuatan PL (Mazmur 118:22-23 dan Yesaya 28:16). Itu adalah “perbuatan ajaib” yang luar biasa. Tuhan memang hebat dan luar biasa. Ia memperlihatkan kedaulatan dan kuasa-Nya yang besar kepada manusia dalam hal “menyelamatkan”, yang secara progresif – dari PL ke PB – tergenapi (finalitasnya) dalam diri Kristus Yesus, Juruselamat yang berkuasa.

Cara ini – Inkarnasi Logos – adalah cara yang paling spektakuler karena ternyata Allah sanggup menjadikan cara yang dianggap bodoh dan menjadi batu sandungan malahan telah mengubah dunia, menguasai dunia, dan memberkati dunia. Dari Kristus kita dibenarkan, ditebus, dan diselamatkan. Luar biasa bukan?

Natal [kelahiran] Yesus Kristus adalah sebuah fakta sejarah bahwa Allah begitu mengasihi kita yang berdosa; Ia menebus dan menyatakan kemurahan dan pengampunan-Nya. Itulah HIKMAT ALLAH. Karena manusia berdosa kepada Allah, maka hanya Allah saja yang berhak menentukan bagaimana seharusnya Ia menebus manusia dari dosa-dosa mereka.

Natal Yesus Kristus tidak dapat dipisahkan dari karya keselamatan Allah yang melalui Yesus Kristus—yang mati disalibkan—menebus manusia. Cara ini dianggap oleh manusia sebagai cara yang bodoh, tetapi Allah mengubah yang bodoh itu menjadi sebuah karya yang luar biasa hebatnya: Ia “membenarkan”, “menebus”, “menguduskan”, dan “menyelamatkan” manusia.

Beberapa teks berikut ini, akan menjelaskan sedikit mengenai konteks Natal dan maknanya.

PERTAMA: MATIUS 1:21

Teks Matius 1:21 adalah bukti bahwa Allah telah mengunjungi dunia melalui Yesus Kristus, Firman yang menjadi manusia (Yoh. 1:14). Bagaimana Allah bisa menjadi manusia? Tentu Allah bisa. Bukankah itu dianggap tidak masuk akal? Tentu tidak. Allah itu Pencipta dan Mahakuasa, jadi tidak ada yang mustahil bagi Dia.

Natal berbicara tentang totalitas kehidupan kemanusiaan Yesus. Ia lahir, Ia mati menebus manusia, Ia bangkit dan menyatakan bahwa kematian yang dianggap sebagai kondisi terkutuk, namun kondisi tersebut dipakai Allah untuk tujuan yang mulia dan luar biasa yaitu manusia diselamatkan dan memperoleh kehidupan yang kekal (Yohanes 3:16).

Dalam keadaan-Nya sebagai manusia sejati, Yesus juga memperlihatkan identitas ontologi-Nya: Ia berkuasa membangkitkan, menyembuhkan berbagai jenis penyakit, berjalan di atas air, memberi makan banyak orang, dan lain sebagainya. Yesus, meski secara manusia Ia sama dengan manisia lainnya, tetapi Ia sekaligus menunjukkan perbedaannya dengan manusia lainnya; Ia menunjukkan identitas ontologi-Nya.  

KEDUA: 1 KORINTUS 1:30A

Yesus yang adalah hikmat bagi kita merupakan perluasan makna dari “hikmat Allah”. Penekanan di sini adalah pada soal bagaimana “Cara Allah menyelamatkan manusia dari dosa-dosa mereka”. Melalui “Salib” (bdk. 1:18 [pemberitaan tentang salib]; 1:23) Allah merealisasikan keselamatan-Nya. Pemberitaan tentang Yesus yang disalibkan, untuk tujuan penyelamatan—dan ini adalah hikmat Allah atau cara Allah menyelamatkan manusia yang dianggap sebagai kebodohan oleh orang Yunani dan batu sandungan oleh orang Yahudi.

Cara Allah justru bertolak belakang dengan cara manusia memahami keselamatan. Cara Allah dianggap bodoh oleh dunia yaitu “penyaliban dan kematian Yesus sebagai Mesias”; Yesus yang dianggap sebagai Tuhan, ternyata tidak berdaya saat disalibkan. Pandangan ini sama sekali mengabaikan kebangkitan-Nya. Justru Yesus itu hebat tak tertandingi; saat Ia disalibkan, orang menganggap Dia tak berdaya dan kalah. Tapi saat Ia bangkit, tak ada yang dapat berkata bahwa Ia kalah. Lawan-lawan-Nya bertindak lucu: menganggap Yesus kalah, tapi tak bisa melawan kebangkitan-Nya. Ia memang berkuasa. Yesus hebat.

Allah memilih yang lemah yaitu bagaimana caranya Yesus mati disalib tanpa perlawanan. Kematian Yesus yang tanpa perlawanan (dari Yesus dan murid-murid-Nya) justru dikalahkan oleh kebangkitan Yesus yang juga tanpa perlawanan dari pihak mereka yang membenci dan memusuhi Yesus. Ini impas. Mereka yang membunuh Yesus tak berkutik sedetik pun untuk menghalangi kebangkitan-Nya.

Yesus Kristus dijadikan Allah sebagai “HIKMAT” bagi kita yaitu ketika kita “MEMAHAMI” bahwa kematian Yesus disalib menghasilkan pembenaran, pengudusan, penebusan, dan penyelamatan kita. Kelahiran Yesus Kristus adalah tanda awal “HIKMAT” Allah bagi manusia berdosa; Allah menyatakan kasih dan kemurahan-Nya untuk menebus manusia.

Kelahiran Yesus adalah cara Allah menggenapi janji-Nya. Meski cara ini dianggap tidak berarti, hina, lemah, suatu kebodohan dan sebagai batu sandungan, tetapi hikmat Allah tak dapat dilawan oleh siapa pun juga. Manusia tidak dapat melawan dosa; malahan manusia selalu melakukan dosa, terikat oleh dosa; terbelenggu oleh dosa, dan bahkan menyatu dengan dosa. Tak ada satu manusia pun yang dapat melepaskan diri dari dosa; ia pasti membutuhkan Juruselamat. Yesus telah membuktikan bahwa Ia “menebus” dan menawarkan kehidupan kekal bagi mereka yang telah ditebus-Nya. Itulah HIKMAT ALLAH yang dibuktikan kepada manusia.

Yesus adalah HIKMAT ALLAH yang melalui Dia ‘KITA DISELAMATKAN DARI DOSA, PELANGGARAN, DAN KESALAHAN”. Ini sangat luar biasa, menjadi sukacita dan penghiburan bagi kita. Dosa kita telah ditebus; layaklah kita hidup dalam kebenaran-Nya dan kekudusan.

MAKNA NATAL

Natal membawa damai sejahtera dari Sang Khalik. Dialah sumber damai sejahtera, dan Ia ingin damai itu tinggal menetap dalam kehidupan manusia. Damai sejahtera itu juga telah menjaga bumi dari kerusakan dosa (kejahatan) manusia dan orang-orang pilihan-Nya memperlihatkan sikap hidup yang penuh damai. Yesus yang pernah tinggal menetap di bumi, mewariskan damai sejahtera yang Ia bawa dari tempat-Nya kepada umat pilihan-Nya agar bumi tetap terjaga.

Natal membawa pengaruh yang luar biasa dalam dunia ini. Kita tahu bahwa Yesus tidak hanya sekadar manusia biasa; Ia memiliki dua natur: Ilahi dan manusia. Ia menjadikan dunia sebagai ladang misi Allah, menyadarkan manusia akan dosa-dosa mereka, mengarahkan mereka kembali kepada Allah, memberikan jaminan kehidupan yang akan datang.

Kita mengaku bahwa Yesus adalah Logos yang datang mengunjungi manusia. Ia adalah gambar Allah yang tidak kelihatan. Sebagai manusia Yesus menunjukkan eksistensi humanitas-Nya, dan sebagai Logos, Ia juga menunjukkan eksistensi ontologi-Nya dari perbuatan-perbuatan ajaib yang dilakukan-Nya. Allah telah “menghadapkan” wajah-Nya kepada manusia dan memberikan mereka damai sejahtera. Hanya pada “wajah” Allah—Yesus Kristus—damai itu terberi kepada kita.

Kedatangan Yesus ke dunia bukan tanpa tujuan sehingga orang mengira bahwa Ia hanyalah manusia biasa yang lahir lalu mati. Sebagaimana Allah menyatakan kehendak-Nya melalui Firman-Nya kepada orang-orang yang dipilih-Nya di zaman dulu (PL), maka Ia juga menyatakan kehendak-Nya melalui Firman-Nya sendiri yang menjadi manusia, untuk mengarahkan dan membawa pulang ke jalan kebenaran-Nya. Dalam bingkai Sejarah Penebusan, kita melihat bahwa runut historis mengenai kejatuhan manusia dalam dosa dan proses yang dilakukan Allah untuk menebus manusia dari dosa mereka berlanjut hingga di zaman Yesus Kristus. Aspek teologis ini menjadi penting bagi kita yang mau melihat Natal Yesus dari bingkai Sejarah Penebusan tadi.

Hasil dari proses memahami hal itu mengantarkan kita kepada pemahaman dan kesimpulan bahwa Natal adalah cara Allah yang spektakuler untuk menunjukkan kasih-Nya. Tanpa kasih, tak mungkin ada penebusan dan pengampunan, bahkan keselamatan. Karena kasih, Logos menjadi manusia (bdk. Yoh. 3:13). Karena kasih, Allah mau mengambil manusia dari lumpur dosa.

13395.jpg

Bukankah kita patut bersyukur jika Allah datang mengunjungi manusia dan hidup di antara kita? (bdk. Yoh. 1:14). Natal Yesus Kristus adalah harapan bagi para pendosa. Ia membawa mereka—kepada Bapa-Nya—setelah menyelesaikan tugas-Nya, yaitu mati menggantikan manusia berdosa, menjadi Pendamai yang sempurna, dan menjadi Penebus yang tak berdosa bagi manusia manusia berdosa. Ia adalah Pengantara yang sempurna.

Hikmat Allah begitu tinggi, yaitu: Logos yang memasuki dunia manusia dengan menjadi manusia. Ia adalah Juruselamat. Manusia diselamatkan “melalui” Firman-Nya. Ia menyatakan kasih, kemurahan, dan anugerah yang tak terkatakan. Yesus telah melakukan itu semua.

Natal-Nya yang kita rayakan setiap tahun merupakan alasan bagi kita untuk terus “menyambut Sang Juruselamat” yang telah berkarya bagi kita. Tanpa Dia, kita hampa, hidup dalam kegelapan, hidup dalam dosa dan kenajisan. Di dalam Dia kita merasakan terang yang sesungguhnya, merasakan damai sejahtera, dan hidup dalam kekudusan. Tak ada imbalan yang dapat kita balaskan kepada-Nya, atau hadiah Natal yang kita persembahkan pada-Nya; kita hanya diberikan hati, ya, hati untuk bersyukur, untuk menyadari keterbatasan, hati yang mau datang setiap waktu kepada-Nya, hati yang mengandalkan Dia, dan hati yang mau setia kepada-Nya, sampai akhir hayat.

Soli Deo Gloria

Sumber gambar:

  1. https://fineartamerica.com/featured/la-nativita-guido-borelli.html?product=poster
  2. https://www.wayfair.com/outdoor/pdp/toland-home-garden-star-of-bethlehem-28-x-40-inch-house-flag-btq4289.html?utm_source=pinterest&utm_medium=social
  3. https://www.kohls.com/product/prd-5505008/master-piece-mary-joseph-shepherd-boy-wall-decor.jsp?skuid=76934394
  4. https://www.advocate-art.com/alan-lathwell/13395-jpg?date=&query=Mary&order_by=latest
  5. https://mcwglenys.blogspot.com/2020/08/the-donkey-decree-was-issued-by-caesar.html?spref=pi
  6. https://www.advocate-art.com/alan-lathwell/screen-shot-2020-09-29-at-4-22-36-pm-png

NATAL ADALAH KESUKAAN BAGI KITA

Berita Natal Yesus Kristus—bagi mereka yang percaya kepada-Nya—dipandang sebagai berita yang memiliki makna terdalam. Natal tidak hanya sebuah berita kesukaan besar bagi seluruh bangsa tetapi juga mengandung pesan bahwa “manusia membutuhkan Juruselamat untuk menolongnya dari keterpurukan, keterpisahan dengan Allah karena dosa-dosa manusia”; dosa menjadi persoalan mendasar manusia yang tak dapat diselesaikan oleh manusia. Allah adalah Juruselamat dan dengan “cara-cara” tertentu, Allah menampilkan kualitas kasih, kuasa, dan pengampunan-Nya. Tak ada yang dapat membendung cara Allah menyelesaikan masalah dosa manusia. Perjanjian Lama dan Perjanjian Baru memperlihatkan cara-cara tersebut: penebusan dan pengampunan melibatkan “darah” – kehidupan yang dipertaruhkan sebagai “substitusi” [pengganti]. 

Pada kenyataannya, semua manusia—tanpa terkecuali—menghadapi masa-masa sulit, menyenangkan, dan membosankan. Hal itu disebabkan karena dosa. Mereka yang menghadapi masa-masa sulit karena dosa telah berada pada tingkat konsekuensi dari apa yang mereka lakukan. Dalam kondisi ini, dibutuhkan kesadara untuk memahami bahwa hidup dalam dosa menyisahkan kepedihan dan luka yang mendalam, tak terobati. Tidak hanya itu, dosa membuat relasi dengan sesama menjadi rusak. Jembatan spiritual-moralitas pun perlahan memudar dan pada akhirnya padam.

Mereka yang menghadapi masa-masa menyenangkan karena dosa masih tetap merasakan bahwa dosa itu nikmat dan memberikan kepuasan. Tetapi mereka melupakan bahwa kehidupan yang bersih dan kudus adalah lebih baik ketimbang merasa bersih di dalam kubangan dosa. Orang-orang yang merasakan kesenangan karena dosa akan menimbulkan banyak persoalan-persoalan baik relasi, keluarga, pekerjaan, spiritual, dan lain sebagainya. Akibatnya, mereka berhadapan dengan tuduhan, tekanan, dan bahkan ancaman serius bagi keberlangsungan hayati mereka.

Mereka yang menghadapi masa-masa membosankan karena dosa telah berada pada tingkat kesadaran yang lebih baik. Harapan akan kehidupan yang lebih baik dapat muncul dalam kondisi ini. Mereka dapat sadar dan memikirkan bahwa sebaik apapun dosa itu, tetap akan menimbulkan masalah serius. Kecuali, mereka tergerak untuk menyadarkan diri sendiri bahwa ada jalan yang lebih baik, lebih bahagia, ketimbang berada dalam ikatan dosa.

Pretty girl with long hair in knitted hat and warm sweater on wooden background. She holds christmas present with phone in gloves and looks astonished to camera

Dalam kondisi demikian, selalu ada cara Allah yang ditunjukkan-Nya untuk memberikan manusia pengampunan sekaligus mengundangnya datang kepada-Nya. Dari cara-cara yang tampak dalam Perjanjian Lama, Allah kemudian memperlihatkan cara-Nya tentang bagaimana Ia mengasihi dan menyelamatkan manusia melalui penebusan, pengampunan, pengudusan, pendamaian, dan pembenaran. Semua itu digenapi, dipenuhi, dan dilakukan oleh Yesus Kristus.

Dengan demikian, ketika malaikat Tuhan mengatakan kepada para gembala: “Jangan takut, sebab sesungguhnya aku memberitakan kepadamu kesukaan besar untuk seluruh bangsa: Hari ini telah lahir bagimu Juruselamat, yaitu Kristus, Tuhan, di kota Daud” (Lukas 2:10-11), maka “kesukaan besar” itu meliputi karya-karya Yesus Kristus yang akan menebus, mengampuni, menguduskan, mendamaikan, dan membenarkan.

Natal adalah kesukaan bagi kita, dan Natal itu sendiri adalah awal dari Kekristenan. Natal diawali dengan kuasa Allah yaitu dengan mengandungnya Maria dari [kuasa] Roh Kudus (bdk. Lukas 1:31, 35 “Sesungguhnya engkau akan mengandung dan akan melahirkan seorang anak laki-laki…, Roh Kudus akan turun atasmu dan kuasa Allah Yang Mahatinggi akan menaungi engkau…”; Matius 1:20-21). Dengan demikian, Kekristenan identik dengan penyataan kuasa Allah, dan itu terbukti di sepanjang sejarah hingga saat ini.

Sebagai “Kesukaan Besar”, Natal mengarahkan hidup yang dipimpin oleh kuasa Roh Kudus, sebagaimana kehamilan Maria adalah karena kuasa Roh Kudus dan naungan Allah Yang Mahatingi. Kesukaan Besar itu seharusnya menjadi dasar bagaimana kita menjalani hidup. Dan di atas segalanya, kita mengandalkan Allah yang berkuasa, untuk menjadikan hidup kita kudus, bermakna, dan memuliakan Dia.

Sungguh luar biasa Allah kita yang telah menunjukkan kasih dan kemurahan-Nya. Tak cukup kata-kata untuk mengungkapkannya. Natal Yesus Kristus memperlihatkan kekuatan kasih dan kemurahan Allah. Dari-Nya kita melihat berbagai keajaiban hidup. Mengapa? Allah yang menyatakan kasih dan kemurahan-Nya secara ajaib pada peristiwa Natal Yesus Kristus, adalah Allah yang sama, yang juga menunjukkan keajaiban bagi kehidupan kita.

Natal yang adalah kesukaan besar itu seyogianya dijadikan “pelita” bagi langkah-langkah kita. Kita yang berjalan di jalan Allah pasti dituntun dan diterangi-Nya. Kita menenun kehidupan di dalam kasih Tuhan, dan menempatkan semua kesadaran akan hidup serta tanggung jawabnya di dalam kuasa-Nya. Ketika Natal secara baik kita pahami, maka kehidupan yang kita nikmati dan jalani akan menghasilkan buah-buah yang baik.

Jika menggunakan empat kriteria yang digunakan oleh Ravi Zacharias, seorang apologet terkenal, mengenai kekuatan kebenaran Kristen sebagai salah satu agama di dunia, maka kita akan melihat bahwa pilihan kita untuk percaya kepada Yesus Kristus adalah pilihan yang tepat. Empat kriteria yang diusulkan Zacharias adalah asal-usul, makna hidup, moralitas, tujuan akhir. Keempat kriteria ini harus dijawab secara berkorespondensi dengan kebenaran dan koheren satu sama lain.

Ketika kita melihat ASAL-ASUL kekristenan dan kebenarannya, ternyata dimulai dari kuasa dan keajaiban yang Allah perlihatkan kepada Maria, Elizabeth, para gembala, dan orang-orang majus. Bahkan juga kepada para malaikat dan bala tentara surga. Kekristenan dimulai dari Allah yang menjadi manusia, diawali dengan Natal yang ajaib yang menghadirkan JURUSELAMAT YANG AJAIB yaitu YESUS KRISTUS. Bukankah malaikat Tuhan telah menyatakan bahwa “Hari ini telah lahir bagimu Juruselamat, yaitu Kristus, Tuhan, di kota Daud” (Lukas 2:10-11) kepada para gembala dan juga kepada kita?

Ketika kita melihat MAKNA HIDUP Kristen ternyata totalitas hidupnya dipersembahkan kepada Allah, memuliakan dan menyenangkan hati-Nya. Hidup yang dipersembahkan kepada Allah adalah makna hidup yang suprematif dari Kristen. Dipersembahkan kepada Allah bukan untuk membunuh sesama, bukan pula merusak relasi dan tatanan sosial, bukan menghina dan merendahkan orang, bukan membenci dan memaki-maki, melainkan mengasihi dan mendoakan semua orang, termasuk musuh-musuh yang memusuhi Kristen. Natal Yesus Kristus juga mengajarkan kepada kita makna hidup, yaitu Maria dan Yusuf tunduk dan dengan penuh iman kepada Allah yang menyatakan kuasa-Nya bagi mereka berdua.

Ketika kita melihat MORALITAS Kristen maka semuanya dilandasi pada pengajaran-pengajaran Allah sendiri. Sebagaimana Allah membenci dosa, maka moralitas Kristen didasari pada konsep itu. sebagaimana Allah adalah kudus, maka Ia menghendaki umat-Nya untuk hidup kudus, sebuah moralitas yang paling tinggi sesuai standar yang Allah tetapkan. Allah berkata: “Kuduslah kamu sebab Aku, Tuhan Allahmu, adalah kudus”.

Ketika melihat TUJUAN AKHIR Kristen ternyata—baik awal maupun akhir—hanya di dalam Yesus Kristus. Jika Yesus adalah Alfa dan Omega—Yang Awal dan Yang AKhir—maka tujuan akhir hidup Kristen adalah kehidupan yang dipimpin oleh Yesus Kristus sebagaimana di awal hidup juga demikian. Tujuan akhir dari kehidupan yang dibarui oleh Yesus Kristus adalah kehidupan yang memuliakan Dia di dalam Kerajaan-Nya kelak. Natal adalah awal dari sebuah harapan yang disediakan Allah bagi manusia berdosa, manusia yang rusak moralitasnya karena dosa menjadi kesukaannya. Ketika hidup kita diubahkan Tuhan, maka pasti, akhir hidup kita juga akan tetap berada dalam kasih-Nya, dan menikmati kehidupan kekal yang penuh kekudusan dan kemenangan.

NATAL ADALAH KESUKAAN BAGI KITA—dan kita patut bersyukur untuk hal itu. Yesus—Logos Allah—telah menyejarah dalam kehidupan manusia hingga saat ini. Natal adalah asal usul Kekristenan. Natal menghadiahkan makna hidup yang benar di hadapan Allah, hidup yang bersandar pada-Nya dan tunduk pada kehendak-Nya.

Natal adalah panduan moralitas yang Allah kehendaki yaitu hidup dalam kekudusan. Maria melahirkan Anak yang Kudus. Hidupnya kudus; hidupya terjaga, karena dijaga oleh Roh Kudus. Dirinya dinaungi kuasa Allah yang Mahatinggi. Kita tahu di kemudian hari, seperti yang ditegaskan Rasul Paulus: “…mereka yang hidup menurut Roh, memikirkan hal-hal yang dari Roh…keinginan Roh adalah hidup dan damai sejahtera” (Roma 8:5-6). Allah adalah kudus, maka umat-Nya harus kudus.

Natal mengarahkan kehidupan Kristen kepada tujuan akhir dari hidup, yaitu memuliakan Allah dan menyenangkan hati-Nya.

Jika demikian halnya, marilah kita mengaku dan percaya bahwa NATAL YESUS KRISTUS ADALAH KESUKAAN BAGI KITA. Soli Deo Gloria

Salam Bae

NATAL DAN BAJU BARU

person holding gift box

Mereka yang pernah mempunyai “baju baru” di perayaan Natal tentu merasa senang, bahagia, dan sulit untuk diungkapkan. Ternyata, momen perayaan Natal tidak hanya berbicara soal pemahaman yang substansial: Allah di dalam daging [manusia] dalam kerangka penyelamatan, melainkan dapat diterjemahkan sampai kepada hal-hal kecil, misalnya mendapatkan hadiah “baju baru” dari orang-orang yang dikasihi, ataupun “baju baru” yang dibeli sendiri, pakai uang sendiri, bukan uang hasil korupsi.

Mendapatkan baju baru adalah impian hampir semua anak-anak Sekolah Minggu. Sukacita Natal rasanya tak lengkap jika tanpa mengenakan baju baru. Ditambah lagi dengan sepatu baru, kaos kaki baru, ikat pinggang baru. Sukacitanya makin memuncak dan kadang hanya dapat diterjemahkan dengan “air mata”. Rasa syukur bercampur senang adalah pengalaman menarik. Kita yang pernah mengalaminya, tentu berucap terima kasih kepada orangtua, paman, bibi, oma, opa, atau siapa saja yang berkenan membeli dan memberikan baju baru kepada kita. Singkatnya, sukacita Natal menjadi berkesan ketika kita mendapatkan sesuatu yang baru, termasuk baju baru.

Jika kita melihat pengalaman menarik soal mendapatkan baju baru dalam perayaan Natal, maka—menurut saya—ada dua hal yang sangat mendalam yang dapat kita maknai:

Pertama, Natal adalah “hadiah baru” bagi manusia berdosa, di mana Allah, dengan cara yang berbeda dari sebelumnya, menyatakan kekuasaan-Nya untuk menyelamatkan manusia dari dosa-dosa mereka. Ketika “hadiah baru” itu diberikan, seyogianya kita bersyukur dan berterima kasih kepada Allah. Kasih-Nya yang begitu besar—tak dapat kita ungkapkan—telah mengubah dunia; Allah mengubahnya dengan cara menaburkan damai sejahtera bagi keselamatan umat-Nya melalui Yesus Kristus, Anak Allah yang tunggal. Ia lahir sebagai manusia, dan itu adalah konsistensi logis bahwa Logos Allah menempati daging (manusia) dalam sejarah penyataan dan sejarah keselamatan.

Jika Natal adalah “hadiah baru” bagi manusia berdosa, maka kita selayaknya sadar bahwa kita terhilang, papa [miskin], dan bahkan lebih dari itu, kita adalah manusia celaka di hadapan Allah. Melihat kondisi ini, maka syukur kepada Allah yang mengaruniakan Anak-Nya yang tunggal, supaya setiap orang yang percaya kepada-Nya—yang digerakkan Roh Kudus untuk menerima hadiah baru itu—tidak binasa melainkan beroleh hidup yang kekal.

Kelahiran Sang Penebus: Yesus Kristus, menghadirkan damai sejahtera bagi dunia yang berdosa. Misteri Allah yang agung ini menjadi warisan iman bagi setiap zaman sampai akhir zaman. Sebagai Penebus, Yesus adalah Allah. Alkitab secara jelas mengungkapkan identitas ontologi-Nya. Allah menyelamatkan manusia melalui Firman-Nya. Ia berfirman dan menyatakan bahwa kehendak-Nya adalah “menyelamatkan manusia dari dosa-dosa mereka”. Di kemudian hari, Firman Allah itu mewujud menjadi “manusia”—masuk dalam sejarah dan “menjadi” manusia. Kekuasaan Allah tampak secara spektakuler di sini.

Natal adalah pertunjukkan kekuasaan Allah secara logis dan historis. Logis, karena Allah yang Mahakuasa itu mewujudkan kuasa-Nya melalui proses Logos yang kekal, bersama-sama dengan Allah, menjadi manusia. Jika kita mempercayai Allah sebagai Juruselamat, maka layaklah bagi kita untuk mengakui bahwa Yesus Kristus adalah Juruselamat dunia, karena Ia adalah Logos yang keluar dan datang [Yohanes 8:42] dari diri Allah yang kekal.

Itu sebabnya, Natal Yesus Kristus sangat tepat dikatakan sebagai “hadiah baru” bagi kita. Jika kita merasa senang dan bersukacita ketika menerima hadiah baju dari orang-orang yang mengasihi kita, masakan kita tidak bersukacita ketika menerima “hadiah baru” dari Allah? Rayakanlah Natal dengan rasa syukur, bukan dengan pesta pora atau hura-hura.

Kedua, sebagai “hadiah baru”, Natal Yesus Kristus juga menjadi momen di mana kita meninggalkan “manusia lama” yang berlumuran dosa, dan mengenakan “manusia baru”, yang telah dibarui oleh Allah. Jika kita merasakan kesenangan karena mengenakan baju baru, bukankah lebih lagi jika kita mengenakan manusia baru?

Natal tidak hanya sekadar seremoni belaka. Natal lebih dari itu. Bahkan Natal seharusnya menyentuh hal-hal substansial dalam hidup kita. Allah telah menyejarah dalam kehidupan manusia; Ia telah menunjukkan kasih-Nya yang begitu besar. Bukan saja Ia menyelamatkan kita, tetapi juga menyediakan tempat yang terindah, penuh bahagia, yaitu di dalam Kerajaan-Nya.

Kita dapat mengambil makna terdalam dari perasaan kita ketika menerima “baju baru”. Natal Yesus Kristus yang setiap tahun kita rayakan, adalah hadiah baru dari Allah. Meski kita—dalam proses mengikuti-Nya—memiliki banyak kelemahan dan dosa, tetapi Allah selalu memberikan waktu bagi kita untuk mengintrospeksi diri dan menjadi lebih baik dari sebelumnya.

person holding red and brown gift box infront of Christmas tree inside the room

Sudah sepantasnya bagi kita untuk “tahu diri” bahwa Allah telah menganugerahkan kehidupan melalui Yesus Kristus. “Tahu diri” itu tercermin dari sikap kita setiap hari, apalagi dalam momen menyambut perayaan Natal. Baju “manusia lama” harus dibuang (dilepaskan) dari tubuh kita, kemudian kita mengenakan baju “manusia baru”—hadiah dari Allah bagi mereka yang menerima dan percaya kepada Yesus Kristus sebagai Tuhan dan Juruselamat.

Sebagai Tuhan Ia berkuasa menyelamatkan, mengampuni, dan menebus kita dari dosa-dosa, dan sebagai Juruselamat Ia mengarahkan kita—melalui diri-Nya sendiri sebagai “Jalan, Kebenaran, dan Hidup—menuju kepada Bapa di surga.

Kebahagiaan tentu akan menghiasi dan mewarnai kehidupan manusia setiap hari ketika manusia menyadari bahwa dalam kondisinya yang berdosa, manusia masih mendapatkan “hadiah baru” dari Allah: Yesus Kristus, yang mengarahkan dan menyadarkan kita untuk menanggalkan baju manusia lama, serta mengenakan baju manusia baru seperti yang dikehendaki-Nya.

woman sitting on black soil during daytime

Natal dan baju baru memberikan kita pemahaman bahwa ada sukacita yang tak terkirakan. Tetapi tidak berhenti sampai di situ: dalam konteks Natal, kita harus melihat dalam ketidakmampuan untuk keluar dari masalah dosa, dan ketidakmampuan kita untuk dapat menyelamatkan diri dari murka Allah, hanya dapat dilakukan dan dipenuhi oleh YESUS KRISTUS.

Ia telah lahir bagi kita, umat-Nya. Ia mau, kita hidup di dalam kasih-Nya dan menghasilkan buah-buah pertobatan, kita dapat menjadi saksi bagi-Nya dan mewartakan bahwa “kasih Allah telah mengubahkan dunia [manusia] melalui Natal Yesus Kristus, mengarahkan dunia kepada kehidupan yang kekal, karena hanya Dialah yang mengakui sebagai “JALAN, KEBENARAN, dan HIDUP”. Itulah arti hakiki dari Logos menjadi daging: Logos Allah menjadi penunjuk jalan menuju kepada Allah Bapa, yang dari-Nya Logos itu berasal (bdk. Yoh. 14:6).

Ketika kita percaya kepada-Nya, maka hidup kita diubahkan; kita dimampukan-Nya untuk saling mengampuni, dan saling mengasihi, sebab Allah telah lebih dahulu mengasihi kita.

Salam Bae……..

Sumber gambar:

  1. https://unsplash.com/photos/MCm43tSNVhY
  2. https://unsplash.com/s/photos/christmas-tshirt
  3. https://unsplash.com/photos/p3fjhzseClE

NATAL: MENJADI SAHABAT BAGI SEMUA ORANG: Refleksi Yohanes 15:14-15

Dalam pandangan Kristen, berbuat baik didasarkan pada kasih. Menjadi sahabat bagi orang lain, dan bahkan bagi semua orang hanya dapat dilakukan oleh mereka yang memiliki kasih yang tulus. Konsep ini adalah dasar dari perilaku Kristen, yaitu mereka yang percaya kepada Yesus Kristus. Tidak ada seorang Kristen yang benar-benar percaya kepada Yesus, kemudian melakukan hal-hal yang bertentangan dengan kehendak-Nya. Seorang Kristen sejati adalah pribadi yang memiliki kasih di dalam Yesus Kristus. Ini prinsip yang sangat mendasar.

Kasih yang dimiliki oleh seorang Kristen tidak bisa dipendam dan disimpan begitu saja. Kasih itu sifatnya “keluar dari sumber”. Jika demikian, untuk hidup sebagai orang Kristen sejati, maka kita harus hidup “MENJADI SEBAGAI SAHABAT BAGI SEMUA ORANG”. Ini sangat menarik. Ternyata untuk hidup menjadi “sahabat bagi semua orang” tidaklah mudah. Kita seringkali disalahpahami, dicaci maki, dihina, direndahkan, padahal niat kita tulus untuk menjadi sahabat bagi sesama. Risiko ini harus diterima. Tetapi bukan berarti kita berhenti menjadi sahabat bagi orang lain, melainkan semakin menunjukkan kasih dan terlebih menjadi berkat bagi semua orang.

Tema “MENJADI SAHABAT BAGI SEMUA ORANG” adalah sebuah konsep etika dan iman yang disatukan menjadi sebuah prinsip hidup yang penuh kasih. Dalam teks Yohanes 15:9, Yesus menegaskan bahwa “Seperti Bapa telah mengasihi Aku, demikianlah juga Aku telah mengasihi kamu; tinggallah di dalam kasih-Ku itu.” Penegasan Yesus yang pertama adalah bahwa para murid (dan semua orang percaya) “harus” tinggal di dalam kasih Yesus.

Penegasan kedua adalah tentang “cara” untuk tinggal di dalam kasih Yesus. Bagaimana caranya? Yesus menegaskan: “Jikalau kamu menuruti perintah-Ku, kamu akan tinggal di dalam kasih-Ku, seperti Aku menuruti perintah Bapa-Ku dan tinggal di dalam kasih-Nya (ay. 10).

Penegasan ketiga adalah “saling mengasihi”. Mengasihi dapat dilakukan ketika orang percaya telah “hidup dan tinggal di dalam kasih Yesus” (ay. 12).

Penegasan keempat adalah pengorbanan karena kasih (ay. 13). Kasih sifatnya berkorban bagi yang lain. Mustahil mengasihi tanpa memberikan sesuatu dan kehilangan sesuatu. Kasih selalu “memberi” dan rela “kehilangan” karena di balik kehilangan, kita dapat “menerima kembali” dari Tuhan yang Mahakasih itu.

Penegasan kelima adalah “menjadi sahabat Yesus” (ay. 14-15). Kita yang menuruti perintah Yesus, tinggal di dalam kasih-Nya, pasti adalah “Sahabat” dari Yesus dan Yesus menjadi “Sahabat Sejati” kita. Ada kedekatan yang luar biasa ketika kita dijadikan sahabat oleh Yesus karena Ia sendiri yang melekatkan identitas baru kepada orang-orang yang percaya kepada-Nya, yaitu mereka melakukan perintah-perintah-Nya, dan tinggal di dalam kasih-Nya. Ini merupakan totalitas (kepenuhan) kehidupan orang-orang percaya.

Penegasan keenam adalah “menghasilkan buah” (ay. 16). Tidak hanya sampai pada kebahagiaan hidup dalam kasih Yesus, tinggal di dalam kasih-Nya, melalukan perintah-perintah-Nya, dan menjadi Sahabat-Nya, melainkan semua orang percaya harus menghasilkan buah. Hal ini secara substansial mengikuti apa yang telah dilakukan Yesus; Ia telah menghasilkan banyak buah melalui kata dan perbuatan-Nya. Dengan demikian, kita pun harus meneladani Kristus dalam hal berbuat baik, mengasihi, berkorban, menyatakan kebenaran, melawan kesesatan, dan peduli kepada sesama yang membutuhkan.

Penegasan ketujuh adalah konfirmasi kembali tentang mengasihi sesama (ay. 17). Konfirmasi untuk mengasihi satu dengan lainnya adalah wujud dari kepenuhan kasih ada di dalam diri seseorang. Mereka yang memiliki kasih, hidup dan tinggal di dalam kasih, akan merasa tanpa belenggu yang mengikatnya, tidak merasa sedih, tidak munafik, pada saat mereka menerapkan “kasih” kepada yang lain. Dengan demikian, menjadi sahabat Yesus berarti harus mengikuti apa yang diperintahkan-Nya yaitu: “SALING MENGASIHI”.

Untuk hidup sebagai sahabat bagi semua orang, penegasan-penegasan di atas menjadi pedoman-pedoman penting yang harus dipahami dan direalisasikan.

Melihat pada teks rujukan yaitu Yohanes 15:14-15 yang berbunyi: “Kamu adalah sahabat-Ku, jikalau kamu berbuat apa yang Kuperintahkan kepadamu. Aku tidak menyebut kamu lagi hamba, sebab hamba tidak tahu, apa yang diperbuat oleh tuannya, tetapi Aku menyebut kamu sahabat, karena Aku telah memberitahukan kepada kamu segala sesuatu yang telah Kudengar dari Bapa-Ku”, maka penegasan-penegasan di atas adalah konteks utuh dari tema “Menjadi Sahabat bagi Semua Orang”. Mereka yang hidup bersahabat dengan semua orang hanya dapat ditempuh dan dipenuhi ketika mereka tinggal dan hidup di dalam kasih Yesus, serta mengejawantahkan kasih itu “KELUAR” dari diri kita melalui perbuatan-perbuatan kasih.

Yang disebut “Sahabat Yesus” adalah mereka yang berbuat selaras dengan apa yang dikehendaki Yesus, yang mencakup mengasihi sesama, menjadikan mereka sebagai sahabat dalam perdamaian, sukacita, dan pengampunan. Menjadi sahabat haruslah memenuhi kriteria sebagai berikut:

MENGASIHI APA ADANYA

PEDULI DENGAN KEKURANGAN ORANG LAIN

MENGARAHKAN MEREKA KEPADA KEHIDUPAN YANG DIKEHENDAKI TUHAN

MENJADIKAN DIRI KITA TELADAN DALAM BERBUAT BAIK

MENJADIKAN TUHAN SAHABAT KITA

MENJADIKAN SESAMA SEBAGAI SAHABAT KITA

MEMBAWA DAMAI DI BUMI AGAR SEMUA MANUSIA DAPAT HIDUP BERDAMPINGAN, SALING MENGHARGAI MESKI BERBEDA SUKU, AGAMA, DAN RAS.

Kita adalah “sahabat” bagi sesama; kita adalah sahabat Yesus Kristus, dan Yesus Kristus bersahabat dengan kita karena kita telah hidup dalam kasih-Nya, tinggal di dalam kasih-Nya, serta melakukan apa yang dikehendaki-Nya.

Hidup saling mengasihi mencegah kerusakan di bumi, mencegah pertikaian, keburukan moralitas, kebusukan jatidiri dan kemunafikan, perpecahan, kejahatan, dan mencegah kesalahpahaman. Sebaliknya, hidup saling mengasihi satu dengan lainnya adalah bentuk upaya untuk mengarahkan diri kita dan sesama yang kita kasihi kepada jalan Tuhan yang peduh damai, kasih, dan pengampunan.

Hidup dengan cara menjadi sahabat bagi semua orang adalah upaya kita merealisasikan kasih Kristus kepada siapa saja. Tak ada batasan bagi kita untuk mengasihi; siapa pun harus dikasihi sebagaimana Yesus telah mengasihi kita semua.

Semoga di dalam momen Natal di tahun ini, kita menyadari bahwa ketika hidup kita terpisah dari kasih Allah, maka kita tak akan mampu mengasihi sesama kita, mengasihi musuh kita, dan tak akan mampu mengasihi mereka yang membenci dan mengutuk kita. Ketika kita hidup dan tinggal di dalam Allah maka kita pasti sanggup mengasihi siapa pun, dan sanggup menjadi sahabat bagi siapa pun juga.

Natal adalah di mana Allah menjadikan diri-Nya sebagai sahabat bagi dunia yang berdosa, kemudian Ia memulihkan manusia-manusia yang berdosa itu dengan kasih-Nya yang luar biasa hebatnya melalui inkarnasi Sang Logos Allah menjadi manusia. Itu sungguh luar biasa. Allah yang transenden (di luar segala kesanggupan manusia untuk memahami-Nya) kini menjadi imanen (berada di antara manusia). Yesus menyatakan Allah kepada manusia, mengajarkan kasih dan pengampunan. Ia adalah teladan kasih dan pengampunan.

person holding gift box

Kita menjadi sahabat bagi sesama karena Yesus telah menjadikan diri-Nya sahabat bagi manusia yang berdosa dan Ia memulihkan mereka; jika demikian, kita yang menjadi sahabat bagi sesama kita, meski mereka memiliki berbagai kekurangan, maka kitalah yang harus menambahkan pada kekurangan mereka sehingga mereka hidup berkelimpahan, ya, berkelimpahan dalam segala kebaikan, kemurahan, kasih, sukacita, dan damai sejahtera.

Hiduplah dengan cara menjadi sahabat bagi semua orang karena Yesus telah menjadikan diri-Nya sebagai sahabat bagi semua orang dan memberikan diri-Nya sebagai kurban yang sempurna untuk menebus, mengampuni, dan menyelamatkan manusia dari dosa-dosa mereka. Yesus telah menjadikan kita sahabat-Nya dan kita menjadikan sesama kita sebagai sahabat kita—sahabat yang diikat dalam kasih dan pengampunan.

Dengan demikian, seyogianya Natal menyadarkan kita akan pentingnya kasih dan pengampunan ketika kita menjadi sahabat bagi sesama.

Salam Bae.

Sumber gambar:

  1. https://unsplash.com/s/photos/christmas-celebrate
  2. https://unsplash.com/photos/MCm43tSNVhY

NATAL: ALLAH MENJADI MANUSIA

birth of Jesus Christ with three kings and angel painting

Dalam pemahaman mengenai “Allah menjadi [daging – sarks] manusia”, ternyata menghadirkan dan menghasilkan dua arus pemikiran yaitu: “Allah bisa dan menjadi manusia”, dan “Allah tak mungkin menjadi manusia.” Pada arus pertama diimani oleh mayoritas Kristen yang mengakui—berdasarkan kesaksian Kitab Suci—bahwa Yesus Kristus adalah Logos Allah yang kekal, bersama-sama dengan Allah, mencipta (Yoh. 1:1-3) dan kemudian menjadi daging [manusia] (Yoh. 1:14), dan hal itu adalah fakta sejarah. Pada arus yang kedua, sama sekali tidak ada bukti, hanya asumsi atau disebut dengan demarkasi negatif. Dasar berpikirnya bukan pada fakta “kekuasaan Allah” melainkan pada konsep negatifnya.

Di sini kita melihat bahwa segala sesuatu yang dipikirkan memiliki dua alasan utama:

Pertama, berpikir pada tataran faktual. Artinya hasil atau kesimpulan yang diambil berdasarkan pada fakta yang telah terjadi. Mengingat bahwa Allah menjadi manusia merupakan fakta yang telah terjadi, dan karena itu kita melihat wujud “kekuasaan Allah”, maka kesimpulan bahwa Kristen beriman kepada Yesus Kristus sebagai Allah, Tuhan, dan Juruselamat yang ajaib, adalah karena “memang demikian faktanya”.

Kedua, berpikir pada tataran konseptual. Artinya hasil atau kesimpulan yang diambil berdasarkan pada konsep negatifnya dan tidak didasarkan pada bukti apa pun. Tataran konsep sama sekali tidak akan memiliki bukti dan menemukan bukti apa pun mengenai Allah dapat menjadi manusia, karena memang dasar pijakannya sudah bernuansa negatif. Di sini, para negator sedang berpikir dalam boks (“think in the box”), atau dengan pengertian lain, “berpikir dalam ketiadaan fakta”. Negator “terkungkung” dalam absennya fakta. Maka, hasilnya adalah “tidak ada apa-apa yang dapat dibuktikan”.

Ketika berbicara Natal Yesus Kristus, maka pola berpikirnya dimulai dari fakta, lalu kita mundur untuk melihat ontologi Allah yang menjadi manusia itu. Allah dan Logos ada sejak kekek. Kekekalan Allah adalah kekekalan Logos. Ketika Logos menjadi manusia, Ia memberi diri-Nya dikenal, melampaui dari apa yang telah dilakukan sebelumnya. Konteks tersebut dapat diterima bukan karena konsep, melainkan karena fakta dan bukti tertulisnya.

The Nativity figurine closeup photography

Secara logis, orang Kristen menyembah Allah yang “penuh.” Artinya penyembahan itu melibatkan totalitas personal Allah: Bapa, Firman, dan Roh Kudus. Apakah ada umat yang ber-Tuhan, dan menyembah-Nya kemudian memisahkan Logos dan Roh-Nya yang kekal itu? Apakah konteks penyembahan menggunakan prinsip partisi logika? Apakah ketika seseorang menyembah Allah, ia sekaligus menyembah Firman Allah dan Roh Allah? Ataukah ia hanya menyembah Allah saja, dan mengabaikan Firman dan Roh-Nya?

Kristen tidak menyembah Allah hanya sebagai “nama” belaka. Memang, problem muncul—bagi mereka yang menolak Yesus sebagai Tuhan dan Allah yang Mahakuasa—karena mereka melihat pada natur kemanusiaan-Nya. Titik berangkat mereka “sudah dikunci hanya pada kemanusiaan Yesus” dan tidak melihat secara komprehensif natur ontologi Yesus: Logos sebelum berinkarnasi. Ketimpangan berpikir model demikian, sering terjadi dan bahkan dijadikan patokan oleh para negator yang menolak pra-eksistensi Yesus dan ke-Tuhanan-Nya.

Fakta telah membuktikan bahwa Allah benar-benar menunjukkan kemahakuasaan-Nya dengan menjadi daging—“ho Logos sarks egeneto”—sebab bagi Allah tidak ada yang mustahil. Demikianlah pernyataan malaikat Gabriel kepada Maria (Lukas 1:37). “Allah” yang ditolak untuk menjadi manusia adalah konsep berpikir dari mereka yang memiliki dasar pijakan non-faktual. Konsep ini berimplikasi pada dua kebodohan, yaitu “allah dijadikan terkurung dalam ketidakmampuannya sendiri untuk menyatakan kuasanya”, dan “manusia mengatur dan mengukur allah untuk tidak menjadi manusia berdasarkan ketidakmampuannya melihat kemahakuasaan allah.”

Ketika kita melihat dan memahami Natal sebagai Allah [yang] menjadi manusia, maka di situlah kita mengakui bahwa kemahakuasaan Allah, kehebatan, dan keajaiban Allah menjadi nyata dan faktual – tidak berhenti sampai di situ, pula dituliskan dalam Kitab Suci. Ini sangat otentik. Kita juga melihat peristiwa kelahiran dari seorang perawan yang bernama Maria. Ia mengandung dari kuasa Roh Kudus. Ini peristiwa ajaib. Peristiwa ajaib berimplikasi pada Logos yang ajaib. Allah konsisten dengan menunjukkan kekuatan kuasa-Nya.

Natal Yesus Kristus dalam terang fakta “Allah menjadi Manusia” memberikan ruang terbuka bagi kita untuk melihat tanpa batas kuasa dan kasih Allah bagi manusia berdosa. Kebenaran ini sangat koheren dengan bagaimana cara Allah menebus dan menyelamatkan umat-Nya dari dosa-dosa mereka di zaman Perjanjian Lama. Di zaman itu, Allah hadir dengan berbagai cara, baik melalui awan, atau melalui orang-orang pilihan-Nya (nabi, hakim-hakim, raja-raja, dan lainnya). Dan di zaman Perjanjian Baru—zaman di mana Allah mengutus Yesus Kristus sebagai Juruselamat satu-satunya: Firman-Nya sendiri—Allah memperlihatkan tiga kekuasaan-Nya sekaligus.

Pertama: Ia benar-benar mengasihi manusia “dengan” menjadi manusia (Yohanes 1:14).

Kedua, Ia diam [ἐσκήνωσεν – eskēnōsen: live, dwell (temporarily: tinggal, berdiam); literally live or camp in a tent; figuratively in the NT dwell, take up one’s residence, come to reside (among)] “dengan” [di antara] kita—“Imanuel” (Matius 1:23) yang ditandai dengan berdiamnya Logos dalam kandungan Maria secara ajaib.

Ketiga, kehamilan perawan Maria ditandai dengan turunnya Roh Kudus ke atas Maria dan kuasa Allah Yang Mahatinggi yang menaungi Maria (Lukas 1:31-35).

Dengan demikian, berdasarkan fakta historis tersebut—yang telah terdokumentasikan—kita percaya bahwa Natal sebagai fakta bahwa Allah menjadi manusia tidak hanya membuktikan tiga kekuasaan Allah sekaligus, tetapi juga kuasa Allah melalui Yesus Kristus yang “mengubah” manusia dan diwujudkan melalui enam fakta, yaitu: (1) menebus kita dari dosa-dosa kita (Markus 1:21; Galatia 3:13; 4:5; Ibrani 9:15; Matius 20:28; Markus 10:45; 1 Timotius 2:6), (2) menyelamatkan kita dari murka Allah (Kisah Para Rasul 4:12; Roma 5:9; Matius 1:21; Yohanes 3:17; 12:47; 1 Tesalonika 1:10; 1 Timotius 1:15; 2 Timotius 1:9; Ibrani 7:25), (3) mengampuni (Matius 9:6; Efesus 4:32; Kolose 2:13; 3:13; Matius 9:2; Markus 2:5; 1 Yohanes 2:12), (4) menguduskan (1 Korintus 1:30; Efesus 5:26; 1 Tesalonika 5:23; Titus 2:14; Ibrani 2:11; 13:12; 1 Korintus 6:11), (5) membenarkan (1 Korintus 1:30; 6:21; Roma 3:24; 5:9; 8:30; Galatia 2:16; Titus 3:7), dan (6) mendamaikan (Roma 3:25; 5:10).

Dari enam fakta di atas, semuanya dilakukan Allah oleh karena kasih-Nya: Ia mengasihi kita semua. Bersama Rasul Yohanes kita mengakui, bahwa: “Karena begitu besar kasih Allah akan dunia ini, sehingga Ia telah mengaruniakan Anak-Nya yang tunggal, supaya setiap orang yang percaya kepada-Nya tidak binasa, melainkan beroleh hidup yang kekal” (Yohanes 3:16).

Karena kasih-Nya, maka Allah menjadi manusia, diam [tinggal] di antara manusia, beserta dengan manusia, menunjukkan kasih, kuasa, dan kemurahan-Nya. Luar biasa bukan? Itulah makna Natal bahwa Allah Allah telah menjadi manusia dengan cara yang ajaib. Terpujilah Tuhan Yesus Kristus.

Salam Bae……

Sumber gambar:

  1. https://unsplash.com/s/photos/jesus-born
  2. https://unsplash.com/photos/eeFMC1UG_k8
  3. https://unsplash.com/photos/Y_XS34BFX00

NATAL DAN MASA DEPAN MANUSIA

Berharap dapat menikmati kehidupan masa depan adalah impian dari mayoritas manusia. Setiap harapan yang dipikirkan dan dipahami, selalu berangkat dari kerinduan terdalam manusia untuk merasa bahagia, tanpa gangguan, ancaman, merasakan sukacita yang memuaskan dahaga dan problem hidup. Harapan itu terpatri dalam hati manusia, meski di satu sisi, manusia masih “memikir-mikir jalannya sendiri”. Apa yang terjadi di masa depan, masih merupakan misteri.

Mereka yang hidup “di dalam” Allah mengakui bahwa masa depan itu ada dan harapan itu tidak hilang. Allah menjamin semuanya. Tetapi, kadangkala harapan itu sirna ketika dosa merajai hati manusia. Atau barangkali harapan itu dapat diwujudkan meski harus melakukan dosa—menghalalkan perbuatan-perbuatan jahat agar memuluskan pencapaian harapan. Tentu, tidak berhenti sampai di situ. Ada konsekuensi yang harus terima manusia yang menghalalkan dosa untuk mencapai harapannya bagi kepuasan dan hasrat dirinya sendiri.

Masa depan boleh cerah dengan diperkuat oleh cara-cara yang kotor: merasa halal supaya terwujud harapan itu. Tetapi bagaimana dengan kesudahannya? Apakah masa depan cerah yang didapatkan dari penghalalan dosa, dapat jadikan pembenaran diri di hadapan Allah? Tentu tidak. Sebaliknya, Allah justru melawan mereka yang berbuat sesuatu dengan menghalalkan dosa.

Pada waktu yang telah ditetapkan-Nya, Allah menghadiahkan sesuatu yang “menjadi kenyataanbagi mereka yang berharap dan bersandar pada-Nya. Itu adalah hadiah dari nubuatan-nubuatan dalam Perjanjian Lama. Yang pasti, hadiah itu tak akan mengecewakan, kecuali bagi mereka yang tamak, sombong, rakus, dan pelaku kejahatan. Apa yang Allah berikan selalu terkait dengan bagaimana Ia mendidik dan mengarahkan kita untuk melihat hidup sebagai anugerah, melihat bahwa tangan kasih-Nya selalu terulur menopang, menolong, dan menguatkan kita.

Masa depan memang misteri, tetapi bagi kita yang berharap dan bersandar pada-Nya, masa depan menjadi harapan yang mendatangkan sukacita karena kita tahu bahwa tangan Allah akan menopang, menolong, dan menguatkan kita untuk dapat menikmati masa depan itu sesuai dengan waktu yang Ia tentukan. Berbahagialah.

Dalam masa-masa sulit hidup manusia, tidak ada yang sesulit untuk bergumul dan keluar dari dosa. Bagi mereka yang menikmati dosa, keluar dari dosa itu bukan menjadi harapan, melainkan menjadi kehidupan yang mematikan di waktu mendatang. Mereka yang “suka” dengan dosa tentu tidak memikirkan bagaimana keluar dari dosa tersebut, melainkan terus memikirkan bagaimana dosa-dosa itu dirancang sedemikian rupa, sehingga tampak canggih, mengesankan, tetap terjaga kenikmatannya, dan kerahasiaannya.

Mereka yang membenci dosa—meski pernah berdosa—akan berupaya mencari jalan keluar untuk menemukan kehidupan di masa depan. Mereka menyadari bahwa upaya sendiri untuk keluar tak akan berbuahkan apa-apa. Sebaliknya, mereka membutuhkan Allah untuk menolong dan menguatkan mereka agar dapat keluar dari dosa.

Pertolongan dan kemampuan yang Allah berikan tampak dalam peristiwa sejarah umat-Nya. Ia selalu bertindak dengan kasih dan keadilan. Kasih-Nya menunjukkan bahwa Ia ingin mendidik dan mengarahkan umat-Nya untuk hidup benar dan kudus, sedangkan keadilan-Nya menunjukkan bahwa Ia menghukum mereka yang berdosa terhadap-Nya. Ia mengasihi orang berdosa tetap membenci dosa.

Dalam Perjanjian Lama, baik kasih dan keadialan terus diwujudkan Allah bagi umat-Nya. Sejarah telah memberikan pelajaran berharga bagi kita di masa kini. Kita memahami—pada akhirnya—bahwa mereka yang hidup berkenan kepada-Nya akan menikmati “masa depan” sebagaimana yang Ia janjikan.

Kisah penyataan kasih dan keadilan terus berlanjut, hingga tibalah waktunya bagi Allah untuk mengutus Anak-Nya, yang lahir dari seorang perempuan dan takluk kepada hukum Taurat. Ia diutus untuk menebus mereka, yang takluk kepada hukum Taurat, supaya kita diterima menjadi anak (Galatia 4:4-5). Di dalam Kristus kasih dan keadilan ditegakkan. Allah konsisten bertindak atas dasar kasih-Nya yang luar biasa dan secara simultan juga menyatakan keadilan-Nya pada berbagai konteks kehidupan manusia.

Masa depan yang Allah berikan kepada manusia berdosa dipenuhi di dalam Inkarnasi Sang Logos menjadi daging. Rasul Yohanes kemudian menulis: “Karena demikianlah Allah mengasihi isi dunia, sehingga dikaruniakan-Nya Anak-Nya yang tunggal itu, supaya barangsiapa yang percaya akan Dia jangan binasa, melainkan beroleh hidup yang kekal” (Yoh. 3:16, Terjemahan Lama); “Di dalam inilah kasih Allah itu sudah diberi nyata kepada kita, bahwa Allah sudah menyuruhkan anak-Nya yang tunggal ke dalam dunia ini, supaya dengan Dia itu kita boleh hidup” (1 Yoh. 4:9, Terjemahan Lama).

Masa depan manusia berdosa hanya ada pada Allah saja; dan Natal Yesus Kristus adalah salah satu cara untuk menjawab masa depan manusia yang berdosa. Matius mencatat perkataan malaikat Tuhan kepada Yusuf mengenai Maria: “Ia akan melahirkan anak laki-lakidan engkau akan menamakan Dia Yesus, karena Dialah yang akan menyelamatkan umat-Nya dari dosa mereka” (Matius 1:21).

Di kemudian hari, Rasul Paulus menegaskan fakta ini: “dan oleh kasih karunia telah dibenarkan dengan cuma-cuma karena penebusan dalam Kristus Yesus” (Roma 3:24); “Kristus Yesus telah ditentukan Allah menjadi jalan pendamaian karena iman dalam darah-Nya….” (Roma 3:25); “Akan tetapi Allah menunjukkan kasih-Nya kepada kita, oleh karena Kristus telah mati untuk kita, ketika kita masih berdosa” (Roma 5:8); “Sebab upah dosa ialah maut; tetapi karunia Allah ialah hidup yang kekal dalam Kristus Yesus, Tuhan kita” (Roma 6:23); “….Ia membenarkan dan menguduskan dan menebus kita” (1 Kor. 1:30); “Sebab Allah mendamaikan dunia dengan Diri-Nya oleh Kristus dengan tidak memperhitungkan pelanggaran mereka….” (2 Kor. 5:19); “Kristus telah menebus kita dari kutuk hukum Taurat dengan jalan menjadi kutuk karena kita….” (Galatia 3:13).

Dalam Natal Yesus Kristus ada masa depan, yaitu hidup yang kekal dalam di Kerajaan-Nya (Yoh. 3:16), menerima mahkota yang abadi (1 Kor. 9:25), mahkota kebenaran (2 Tim. 4:8), mahkota kehidupan (Yak. 1:12; Why. 2:10), mahkota kemuliaan (1 Ptr. 5:4). Natal membawa perubahan, pengampunan, penebusan, dan pendamaian. Perubahan itu hanya terjadi ketika Allah berkenan mengubah manusia berdosa menjadi manusia yang kudus, dan mereka yang telah dikuduskan harus menyatakan komitmennya untuk hidup bagi Dia.

Pengampunan itu dapat terjadi karena Allah menetapkan kasih-Nya kepada mereka yang berdosa untuk memberikan kehidupan lebih lanjut, baik di dunia maupun di dalam Kerajaan-Nya. Tanpa pengampunan, manusia “mati”; manusia akan bertindak sewenang-wenang, dan pada akhirnya binasa. Pengampunan Allah di dalam Kristus benar-benar mengubahkan hidup dan relasi kita dengan sesama.

Penebusan itu dapat terjadi karena Allah menghendaki agar manusia dapat menikmati sukacita dan kebahagiaan di dalam Kerajaan-Nya, yang didahului oleh kehidupan di dunia ini. Lihatlah, mereka yang telah ditebus Allah melalui Yesus Kristus, telah memperlihatkan kehidupan yang benar, kehidupan yang dewasa dan bersahabat dengan sesamanya, kehidupan yang damai dan selalu mengampuni, serta mengasihi orang lain, siapa pun itu.

Pendamaian itu dapat terjadi karena Allah berkehendak untuk memberikan kehidupan yang damai, penuh sukacita dan tinggal di dalam kasih-Nya. Manusia yang memusuhi Allah, yaitu dengan melawan perintah-perintah-Nya, tidak mengindahkan Allah, memilih jalannya sendiri dan bertindak sesuka hati. Dengan kondisi yang memusuhi Allah, maka Allah yang Mahamurah melalui Yesus Kristus, telah mendamaikan kita dengan-Nya (2 Kor. 5:19).

Cara Allah bekerja adalah tuntas dan total, termasuk memberikan solusi (jalan keluar) bagi manusia dari dosa-dosa. Manusia diberikan Allah lingkungan yang baru, yaitu komunitas orang percaya, dan juga pakaian baru, yaitu manusia baru, manusia yang telah dibarui di dalam Kristus Yesus.

Natal mengungkapkan secara total kasih dan keadilan Allah bagi manusia berdosa. Kita patut bersyukur. Dulunya kita adalah pelaku-pelaku kejahatan dan suka melanggar perintah-perintah Allah. Dulunya kita dengan sesuka hati melakukan apa yang kita inginkan meski nyatakan hal itu bertentangan dengan kehendak Allah. Dulunya kita senang melakukan dosa, baik dosa terbuka maupun tersembunyi. Kita menyimpan borok dosa, tetapi Allah melihatnya. Kita menipu diri kita; kita munafik; kita manusia celaka; kita telah mati karena dosa-dosa kita.

“Tetapi Allah yang kaya dengan rahmat, oleh karena kasih-Nya yang besar, yang dilimpahkan-Nya kepada kita, telah menghidupkan kita bersama-sama dengan Kristus, sekalipun kita telah mati oleh kesalahan-kesalahan kita – oleh kasih karunia kamu diselamatkan – dan di dalam Kristus Yesus Ia telah membangkitkan kita juga dan memberikan tempat bersama-sama dengan Dia di sorga, supaya pada masa yang akan datang Ia menunjukkan kepada kita kekayaan kasih karunia-Nya yang melimpah-limpah sesuai dengan kebaikan-Nya terhadap kita dalam Kristus Yesus. Sebab karena kasih karunia kamu diselamatkan oleh iman; itu bukan hasil usahamu, tetapi pemberian Allah, itu bukan hasil pekerjaanmu; jangan ada orang yang memegahkan diri. Karena kita ini buatan Allah, diciptakan dalam Kristus Yesus untuk melakukan pekerjaan baik, yang dipersiapkan Allah sebelumnya. Ia mau, supaya kita hidup di dalamnya” (Efesus 2:4-10).

Sudahkah kita menyadari kekayaan kasih karunia Allah di dalam Kristus Yesus? Sudahkah kita memahami keadilan Allah bagi manusia berdosa? Kita selayaknyalah dihukum, tetapi syukur kepada Allah yang telah menyelamatkan kita oleh Yesus Kristus.

Pada Allah ada masa depan, dan Natal Yesus Kristus adalah masa depan itu. Waktunya tepat: Allah menghadiahkan sesuatu kepada kita yang berdosa – hadiah itu telah menjadi kenyataan yang – Allah datang menjadi manusia. Sang Logos melawat dunia ciptaan-Nya. Dialah Yesus Kristus. Hadiah itu tak pernah mengecewakan, justru menghadirkan sukacita yang tak terkira.

Salam Bae.

NATAL DAN KEUTAMAAN YESUS KRISTUS

81357.jpg

Sejak Natal-Nya dan kemudian pelayanan-Nya, serta karya penebusan-Nya, Yesus Kristus menjadi tokoh sentral dalam seluruh pembahasan Perjanjian Baru. Konsep mengenai Kristologi menjadi sangat jelas dalam seluruh PB. Inkarnasi-Nya memberi pemahaman baru bahwa Allah datang dalam rupa manusia (Flp. 2:6 dst.) guna mendamaikan antara Allah dan manusia. Kristus menjadi pengantara-Nya. Berdasarkan apodeiktik (penjelasan, pemaparan), kesaksian, dan protestasi (pernyataan) Kitab Suci, Yesus Kristus adalah Allah, dan pra-eksistensi-Nya adalah kekal.

Untuk melihat keutamaan (suprematif) Yesus Kristus, kita perlu memahami beberapa bukti berikut ini.

PERTAMA: YESUS ADALAH GAMBAR ALLAH (KOLOSE 1:15)

Dalam teologi Paulus, dia mengakui bahwa Yesus adalah Anak Allah dalam pengertian prahistoris dan suprahistoris. Kristologi yang dielaborasikan secara sentripetal oleh Paulus mencakup banyak hal. Hal ini merupakan aposteriori dari Paulus secara pribadi dan merupakan destinasi yang paling sentral dalam Perjanjian Baru. John Drane mengatakan: Batu penjuru iman Paulus adalah pengalamannya sewaktu bertemu dengan Kristus yang bangkit itu … perjumpaan tersebut mengilhami Paulus untuk menyampaikan kepada orang lain berita hidup tentang Yesus, yang telah mengubah hidupnya secara begitu radikal … bahkan merupakan sumber pemikirannya sebagai seorang penginjil dan teolog Kristen. Ia bertobat secara intelektual, emosional dan spiritual (John Drane, Memahami Perjanjian Baru, 407-08).

82358.jpg

Dalam kitab-kitabnya, Rasul Paulus mendeskripsikan mengenai totalitas karya Kristus yang menjadi manusia (inkarnasi-Nya), menderita, bangkit dan naik ke sorga dan memimpin semua umat-Nya yang rela mati bagi Dia (bdk. Gal. 4:4; Rm. 8:3; 2 Kor. 8:9; Flp. 2:6; Kol 1:15; Rm. 8:32).

Dari pemahaman Perjanjian Lama mengenai kata “gambar”, Anthony Andrew Hoekema, pendeta Calvinis, teolog, dan profesor teologi sistematika di Calvin Theological Seminary, menjelaskan bahwa kata yang diterjemahkan sebagai “gambar” adalah “tselem (sedangkan kata yang diterjemahkan sebagai “rupa” adalah “demuth). Kata “tselem”—ketika diterapkan kepada manusia—maka kata tersebut mengindikasikan bahwa manusia menggambarkan Allah; artinya manusia merupakan suatu representasi Allah (Hoekema, Manusia: Ciptaan menurut Gambar Allah, 17-18).

Pada konteks “gambar Allah” yang dikenakan pada Yesus, menurut Hoekema, “jika kita ingin mengetahui mengetahui seperti apa sebenarnya gambar Allah di dalam diri manusia, kita harus melihat pada Kristus. Ini berarti, apa yang sentral di dalam gambar Allah bukanlah rasio atau inteligensi melainkan kasih, karena di dalam kehidupan Kristus, tak ada yang lebih menonjol dibandingkan dengan kasih-Nya yang ajaib. Dengan kata lain, di dalam Kristus kita melihat dengan jelas apa yang tersembunyi di dalam Kejadian 1, yaitu seperti apakah seharusnya manusia sebagai gambar Allah yang sempurna” (Hoekema, Manusia: Ciptaan menurut Gambar Allah, 94).

Kata “gambar” dalam Perjanjian Baru digunakan katan “eikōn”, yang setara dengan kata Ibrani “tselem” (Hoekema). Kristus sebagai “gambar Allah yang tidak kelihatan” merujuk pada aspek substansial, dan bukan fisik. Allah tidak berwajah sama seperti wajah manusia. Manusia sebagai gambar Allah juga bukan merujuk pada aspek fisik, melainkan pada representasi Allah dalam hal kuasa (Kejadian 1:28), kehendak, dan otoritas, yang diberikan Allah kepada manusia.

Knox menjelaskan, bahwa “sebelum menjadi manusia. Kristus berada ‘dalam rupa Allah’ (Flp. 2:6a), yaitu ‘serupa dengan Allah’ (2:6b) – kedua istilah ini menyatakan perbedaan Kristus dari Allah (Theos) sekaligus menegaskan keilahian-Nya.” Kata yang digunakan di sini adalah “morphē”, yang menurut J. H. Moulton dan George Milligan, selalu merujuk kepada suatu bentuk atau rupa yang betul-betul dan sepenuhnya mengekspresikan keberadaan yang melandasinya (Knox, Paulus dan Diri, 62).

Aspek substansial dalam konteks “eikōn” Allah yang ada pada diri Yesus, adalah kuasa-Nya atas hidup manusia, atas maut, atas alam semesta (Yoh. 1:3; Kol. 1:16-17). Menurut Hoekema, ada hubungan antara inkarnasi Yesus dengan gambar Allah yang melekat pada diri-Nya, sehingga ia berkesimpulan bahwa “inkarnasi menegaskan doktrin gambar Allah” (Hoekema, 28-29). Konsep bahwa Kristus sebagai gambar Allah berhubungan dengan doktrin inkarnasi, juga dipahami oleh E. K. Simpson dan F. F. Bruce.

Hoekema menambahkan: “inti dari gambar Allah adalah apa yang menjadi inti di dalam kehidupan Kristus: kasih kepada Allah dan kasih kepada sesama. Jika benar bahwa Kristus secara sempurna menggambarkan Allah, maka inti dari gambar Allah pastilah kasih karena taka da manusia yang pernah mengasihi seperti Kristus mengasihi.” (Hoekema, 29).

39070.jpg

Apa yang diungkapkan Hoekema di atas adalah perluasan pemahaman dari teks Yohanes 3:16, “Karena demikianlah Allah mengasihi isi dunia ini, sehingga dikaruniakan-Nya Anak-Nya yang tunggal itu, supaya barangsiapa yang percaya akan Dia jangan binasa, melainkan beroleh hidup yang kekal” (Terjemahan Lama). Kasih Allah menjadi dasar dari inkarnasi Logos, dan karena itu, sebagai gambar Allah, Yesus Kristus menyatakan kasih Allah untuk menebus, menyelamatkan, menguduskan, mendamaikan, dan membenarkan kita.

Dalam pemahaman J. Knox Chamblin, profesor Perjanjian Baru di Reformed Theological Seminary, Jackson, Mississipi, “kasih Allah merupakan dasar bagi rencana keselamatan-Nya. Kasih yang mula-mula terekspresikan dalam pra-pengetahuan Allah akan suatu umat, selanjutnya dinyatakan dalam penetapan mereka: ‘Dalam kasih Ia telah menentukan kita dari semula (mempredestinasikan kita)’” (Efesus 1:4-5) (Knox, 58). Singkatnya, “Allah menggenapkan rencana-Nya dan mewujudkan kasih-Nya melalui kebesaran kuasa-Nya yang tak terukur” (Efesus 1:19) (Knox, 59).

82586.jpg

Masih dalam konteks “gambar Allah”, dalam Kolose 1:15-20, Paulus memulai dengan aksentuasi bahwa Kristus adalah “gambar Allah yang tidak kelihatan”. Ada  beberapa bagian Alkitab yang menuliskan mengenai hal ini: Pertama: …Kristus, yang adalah gambaran Allah (2 Kor. 4:4); Kedua: Ia adalah gambar Allah yang tidak kelihatan (Kol. 1:5); dan Ketiga: …yang walaupun dalam rupa Allah tidak menganggap….(Flp. 2:6). Ketiga rumusan ini penting karena cara Paulus menyatakan kemuliaan ilahi Kristus sangat bermakna dan mencirikan Kristologinya. Dengan menyebut Kristus sebagai “gambar Allah”, Paulus menunjukkan bahwa kemuliaan Kristus adalah kemuliaan Allah sendiri, serta menjelaskan pra-eksistensi-Nya. Ayat-ayat di atas menunjukkan sampai sejauh mana Kristologi Paulus digarisbawahi oleh kemuliaan ilahi yang telah Kristus sandang dalam pra-eksistensi-Nya bersama Allah, sebelum Ia menyatakan diri untuk melakukan karya penebusan-Nya di kayu salib.

Di lain pihak, pemaparan kemuliaan ilahi Kristus ini memberikan petunjuk baru bagi karakter sejarah penebusan dari Kristologi Paulus. Salah satu sumber menyebutkan bahwa: sebutan Kristus sebagai “gambar Allah” jelas mengingatkan kita kepada Adam yang di Kejadian 1:27; 5:1 dst.; 9:6, disebut diciptakan “menurut gambar dan rupa Allah.” Saat Paulus menyebutkan Kristus sebagai “Adam kedua” (1 Kor. 15:45 dst.), ia menyebut Kristus sebagai “manusia kedua.”  Tetapi dengan menyebut Kristus sebagai “gambar Allah”, setidaknya dalam Kolose 1:15 (dan Flp. 2:6), Paulus menyebut Kristus sebagai yang berpra-eksistensi dalam kemuliaan ilahi-Nya. Bahkan sebutan “gambar Allah” di sini bisa dipakai untuk menunjukkan  bahwa Paulus bermaksud menjelaskan “relasi kekal antara Bapa dan Anak”.

 Istilah Gambar Allah menekankan keilahian Yesus, walaupun kemanusiaan-Nya juga tampil ke depan dalam beberapa ayat surat-surat Paulus yang menggunakan istilah yang sama. Yesus memiliki Gambar Allah karena Ia sama dengan Allah dan memiliki natur ilahi secara penuh: “Sebab di dalam Dialah berdiam secara jasmaniah seluruh kepenuhan ke-Allahan” (Kolose 2:9), dan “…tidak menganggap kesetaraan dengan Allah itu sebagai milik yang harus dipertahankan….” (Filipi 2:6; bdk. Roma 9:5).

KEDUA: YESUS KRISTUS ADALAH “YANG SULUNG” (KOLOSE 1:15)

Donald Guthrie menjelaskan, arti kata “sulung”—prōtotokos—mesti dimengerti dalam arti “terutama” (Guthrie, 642). Artinya Kristus bukanlah diciptakan, karena ayat 16 justru meneguhkan bahwa “di dalam Dialah telah diciptakan segala sesuatu”. Frasa “yang sulung” menunjuk kepada dua hal: Keberadaan Kristus mendahului keberadaan ciptaan (ay. 17: “Ia adalah terlebih dahulu dari segala sesuatu”) dan Ia sebagai “Yang Sulung” (“firstborn”) adalah Tuhan dan ahli waris pertama dari segala sesuatu (ayat 16: “segala sesuatu diciptakan…untuk Dia”). 

Frasa “yang sulung”, lebih utama dari segala yang diciptakan merujuk kepada Adam kedua, yaitu Yesus Kristus dengan mengacu pada pembandingannya dengan Adam pertama sebagai yang sulung dari ciptaan Allah (Adam lebih dahulu diciptakan, barulah Hawa, istrinya). Kaitan ini tidak hanya menunjukkan waktu penciptaan, tetapi ordo dan posisi, sehingga mengingatkan kita pada posisi Adam dibandingkan dengan semua ciptaan lain, karena ia diciptakan menurut  gambar dan rupa Allah. Yang lebih penting, Paulus juga menyebut Adam kedua sebagai yang sulung. Aposisi (ungkapan penjelas) dari “yang sulung” (Yun. prototokos) adalah “yang ada sebelum” dan “yang lebih tinggi” (Sutanto, PBIK, 1068).

Nama ini [yang sulung] muncul dalam Kolose 1:18 ketika Kristus disebut sebagai yang sulung yang pertama bangkit dari antara orang mati (bdk. Rm. 8:29), di mana dalam kaitan dengan “gambar Allah”, Kristus sekali lagi disebut sebagai yang sulung di antara banyak saudara. Selain itu, kaitan antara Kristus sebagai yang sulung dan “gambar Allah”, dan kebangkitan-Nya dari antara orang mati, ini pula yang membuat Paulus mengontraskan Kristus sebagai manusia kedua, dengan Adam sebagai manusia pertama (1 Kor. 15:45). Jadi, menurut Ridderbos, dalam Kolose 1:15, Paulus sekali lagi mengenakan kategori “Adamitis” yang sama (“Gambar”, “Yang Sulung”; yang ia pakai untuk menjelaskan makna Kristus dalam “eskatologi”) untuk menjelaskan “protologi”-nya.

Kristus sebagai Gambar Allah, Yang Sulung, memang tidak semata-mata berasal dari lukisannya akan Kristus sebagai Adam kedua dalam 1 Korintus 15 dan Roma 5. Jika dalam 1 Korintus 15 dan Roma 5, Kristus adalah Adam yang akhir, yang dalam sejarah penebusan datang setelah Adam pertama, maka dalam Kolose 1:15, sebagai Yang Sulung Gambar Allah, Ia mendahului Adam pertama sehingga dalam pengertian ini, Adam pertama tidak bisa dilihat sebagai “gambaran” Kristus sebagaimana dalam Roma 5 dan 1 Korintus 15. Meski kita dapat memakai hal ini untuk mengatakan bahwa perepresentasian Kristus sebagai Adam bersifat rangkap dua tetapi dalam Kolose 1:15, tempat Kristus dalam ciptaan pertama jelas beranalogi dengan makna Kristus sebagai Adam kedua dalam ciptaan baru.  

Three wisemen cross stitch pattern Christmas cross stitch image 2

KETIGA: DI DALAM DIA, OLEH DIA DAN UNTUK DIA SEGALA SESUATU DICIPTAKAN (KOL. 1:16)

Di dalam Dia (en autoi) berarti: keberadaan segala sesuatu yang diciptakan hanya mungkin karena Yesus Kristus  (itu juga berlaku  bagi kuasa-kuasa yang tidak kelihatan). Segala sesuatu juga diciptakan oleh Yesus Kristus (di autou) dan untuk Dia (eis auton). Kedua istilah ini (oleh Dia dan untuk Dia), bersama-sama dengan istilah “di dalam Dia” menegaskan bahwa kuasa Kristus mencakup segala sesuatu (bdk. 1 Kor. 3:21-23 dan Roma 8:38-39).

Dalam pengertian ini, kita dapat menyebut Kolose 1:15-20 sebagai batu penjuru Kristologi Paulus; meski kita perlu menambahkan bahwa apa yang membuat Paulus menulis perikop ini, bukan spekulasi teologis, tetapi perhatian pastoralnya bagi jemaat dan usahanya menangkis ajaran yang menentang makna sejati dan keselamatan yang dinyatakan dalam Kristus (bdk. Ef. 3:18; Kol. 2:2-3). Yesus lebih unggul daripada segala kuasa yang ada, karena Dia sendiri tidak diciptakan. Asal-asal usul Kristus tidak dibicarakan. Dia ada sebagai Anak Allah dan mencerminkan dalam diri-Nya natur Allah Bapa.

Mengapa Yesus lebih unggul dari segala kuasa yang ada? Ada beberapa alasan yang mendasari-Nya:

(1) Dalam seluruh Kitab Suci, tidak pernah ada satu kuasa pun yang pernah mengalahkan kuasa Yesus.

(2) Iblis yang mencobai Ayub pada akhirnya harus mengakui ketaatan Ayub dan kuasa Allah atas hidup Ayub. Iblis juga kalah pada saat tindakan pencobaan yang dilakukannya kepada Yesus di padang gurun. Ia mundur dari Yesus.

(3) Kuasa maut dikalahkan oleh kebangkitan Yesus Kristus. Juga kuasa-kuasa manusia.

(4) Yesus menunjukkan kuasa-Nya kepada banyak orang, kepada para murid-Nya dan berlanjut kepada para rasul yang diutus-Nya. Tidak ada indikasi satupun mengenai kekalahan Yesus terhadap segala kuasa yang ada di dunia.

(5) Keunggulan Kristus dan kuasa-Nya dalam Kitab Suci telah cukup untuk menyatakan bahwa Ia adalah Allah yang kekal, berotoritas, berdaulat, berkehendak, berkuasa atau mati hidupnya manusia.

(6) Allah Tritunggal telah menyatakan segala kuasa dan kehendak-Nya atas seluruh ciptaann-Nya yang membungkamkan semua kemunafikan manusia. Di manakah manusia yang bisa melawan-Nya? jika ada, manusia pun jatuh (kalah) ke dalam jerat Iblis. Itu berarti manusia kalah terhadap Iblis. Jika Iblis kalah terhadap kuasa Allah, apalagi manusia, yang hanyalah debu?

(7) Seluruh keunggulan Kristus, sangat dijamin kebenarannya dalam Kitab Suci. Kitab Kolose telah menyatakan kepada kita.  

Dari elaborasi di atas, kita dapat memahami karya Allah di dalam Yesus Kristus dan karya keselamatan yang telah dikerjakan-Nya dengan sempurna. Berkenaan dengan hal itu, kita tidak dapat memisahkan karya-Nya dengan keunggulan-Nya, kekuasaan-Nya atas segala sesuatu. Jika tidak, maka Ia bukanlah Allah yang sempurna. Dia yang menciptakan manusia dengan tujuan kekal-Nya, Dia pula yang menolong manusia dari keberdosaannya. Dialah yang memilih dan menyelamatkan kita dari segala kejahatan dosa, untuk menerima kehidupan kekal yang telah dijanjikan-Nya.

Holy Family-Lo-res.jpg

Paulus telah memberikan eksplikasi yang baik sehingga teologinya mengenai Kristologi juga merupakan egalisasi (penyelesaian) akhir dari segala keraguan manusia mengenai Kristus. Dengan demikian, keutamaan Kristus berawal—jika dipahami dari konteks inkarnasi-Nya—dari kelahiran-Nya, dan kemudian pelayanan serta karya-Nya.

Natal-Nya adalah awal keajaiban dan kekuasaan Allah atas manusia. Kedatangan Sang Logos ke dalam dunia memiliki tujuan yang sangat baik: menyelamatkan manusia. Peristiwa Natal Yesus Kristus adalah momen sejarah yang tidak hanya ajaib, tetapi juga spektakuler. Pengaruhnya begitu mendunia. Hal ini didahului oleh pujian bala tantara sorga kepada Allah:

“Kemuliaan bagi Allah di tempat yang mahatinggi, dan damai sejahtera di bumi di antara manusia yang berkenan kepada-Nya” (Lukas 2:14).

Tidak ada yang dapat mengalahkan damai sejahtera Allah bagi manusia di bumi ini. Jika bukan damai sejahtera Allah yang menguasai dan mempengaruhi bumi, pasti manusia akan mati dalam dosa. Yesus adalah DAMAI SEJAHTERA kita. Dialah JURUSELAMAT yang AJAIB, Gambar Allah yang sempurna, yang menyatakan Allah kepada manusia sekaligus menjadi Imanuel: Allah yang bersama-sama dengan manusia. Ia diam (eskēnōsen, menetap, tinggal dalam kemah) di antara kita. Bersyukurlah.

Selamat Menyambut Natal

Salam Bae.

84124.jpg

Referensi:

Ridderbos, Herman, Paulus: Pemikiran Utama Theologinya (Surabaya: Momentum, 2008).

Mak, Dick, Sejarah Penyataan Allah PB I (Jakarta: SETIA, 2008).

Drane, John, Memahami Perjanjian Baru: Pengantar Historis-Teologis (Jakarta: BPK Gunung Mulia, 1996).

Sutanto, Hasan, Perjanjian Baru Interlinear dan Konkordansi Perjanjian Baru. Jilid I (Jakarta: Lembaga Alkitab Indonesia, 2006).

Hoekema, Anthony, Manusia: Ciptaan Menurut Gambar Allah (Surabaya: Momentum, 2008).

Chamblin, J. Knox, Paulus dan Diri: Ajaran Rasuli bagi Keutuhan Pribadi (Surabaya: Momentum, 2011).

Guthrie, Donald, “Tafsiran Kolose”, terj. P. D. Latuihamallo dan P. S. Naipospos, dalam Tafsiran Alkitab Masa Kini 3. Matius-Wahyu (Jakarta: YKBK, 2012).

Sumber gambar:

  1. https://www.advocate-art.com/alan-lathwell/81357-jpg?date=&query=Mary&order_by=latest
  2. https://i.pinimg.com/originals/5b/0e/cd/5b0ecd8cbc920b6fc9a670ed88fd9776.jpg
  3. https://www.advocate-art.com/alan-lathwell/84124-jpg?date=&query=Mary&order_by=latest
  4. https://www.advocate-art.com/alan-lathwell/holy-family-lo-res-jpg?date=&query=Mary&order_by=latest
  5. https://www.advocate-art.com/alan-lathwell/80761-jpg?date=&query=Mary&order_by=latest
  6. https://www.advocate-art.com/alan-lathwell/39070-jpg?date=&query=Mary&order_by=latest
  7. https://www.advocate-art.com/alan-lathwell/82586-jpg?date=&query=Mary&order_by=latest
  8. https://www.etsy.com/listing/616125768/three-wisemen-cross-stitch-pattern?ga_order=most_relevant&ga_search_type=all&ga_view_type=gallery&ga_search_query=christian+cross+stitch+pattern&ref=sr_gallery-2-7&organic_search_click=1&epik=dj0yJnU9MFJQd1JFRDF4UXFXZWVRUUZNaDFjekstLTI5UXlPZWomcD0wJm49ZWJpQUdaUV9LV1g0YVhFY1VVV2ZWQSZ0PUFBQUFBR0dvUGk0

NATAL: MENERIMA ATAU MENOLAK DIA?

Persoalan terbesar manusia adalah dosa. Tak ada satu pun manusia yang terbebas dari dosa; tak ada satu pun manusia yang dapat menolak (menampik) dosa dan membebaskan dirinya dari dosa. Tak satupun manusia yang cukup kuat untuk bisa menyingkirkan dosa, baik dosa perbuatan, perkataan, maupun pikiran. Melihat kondisi ini, kita dapat mengajukan pertanyaan: “Jika manusia tidak mampu keluar dari masalah dosa, maka siapa yang dapat menyelamatkan mereka dan membawa mereka keluar dari dosa tersebut?

Kitab Suci menjelaskan fakta mengenai masalah ini, bahwa hanya Allah yang sanggup menyelesaikan masalah dosa manusia. Dengan begitu, kita melihat bahwa Allah telah membuktikan kuasa-Nya atas hidup manusia dengan membebaskannya dari belenggu dosa; manusia dimerdekakan, ditebus, diselamatkan, dan dikuduskan oleh-Nya. Hasil akhir dari itu semua adalah “kehidupan kekal” bersama Dia dalam Kerajaan-Nya.

Kita melihat bahwa apa yang dilakukan Tuhan Allah di dalam masa Perjanjian Lama mengenai fakta penebusan yang mengandung aspek penting, yaitu: kehidupan, darah, dan kematian,  kini Ia lakukan juga di masa Perjanjian Baru, yaitu melalui Yesus Kristus—Logos Allah yang menjadi manusia. Di sini Allah memperlihatkan “cara” tertentu untuk menyatakan kuasa, kasih, dan kemurahan-Nya bagi manusia yang berdosa. Memang benar, di masa PL, Alah dengan setia menyatakan kuasa, kasih, dan kemurahan-Nya melalui tata cara penebusan bagi keselamatan umat-Nya, dan cara itulah yang dilakukannya melalui Yesus Kristus.

Keberdosaan manusia menjadikannya terpisah dari Allah, dan Yesus Kristus, dalam inkarnasi-Nya menjadi “mediator” antara Allah dan manusia. Tidak hanya itu, Ia menjadi “pendamai”. Manusia yang berdosa harus bertobat dan kembali kepada-Nya. Manusia harus hidup dalam kebenaran, yang berarti “menerima Yesus Kristus” sebagai Tuhan dan Juruselamat. Ia, yang adalah “Terang”, menerangi hati manusia untuk melihat kuasa, kasih, dan kemurahan-Nya.

Rasul Yohanes menyebutkan bahwa Sang Logos adalah Terang Surgawi yang “sedang datang, telah ada di dalam dunia, dan dunia dijadikan oleh-Nya” (Yohanes 1:9-10). Peristiwa inkarnasi Logos yang menempati (memasuki) “daging” manusia menjadi peristiwa besar yang kita sebut dengan “Natal”.

Terang Surgawi itu pasti menerangi. Itu adalah konsistensi logis dari ketetapan Allah. Ia menerangi kegelapan hidup (hati dan pikiran) manusia karena dosa-dosa. Ketika Sang Terang itu datang ke dunia, “dunia tidak mengenal-Nya” (ay. 10). Bahkan, lebih parahnya, “Ia datang kepada milik kepunyaan-Nya tetapi mereka tidak menerima-Nya” (ay. 11). Dunia—yang ditutupi dosa—tidak dapat melihat Terang itu, kecuali Terang itu datang dan menyapa mereka. Penolakan dunia atas Terang adalah fakta bahwa “kebenaran” dapat ditolak, di samping diterima dan diimani.

Natal yang kita rayakan adalah bukti bahwa kita “menerima” Dia—Yesus Kristus. Meski inkarnasi-Nya adalah sebuah misteri yang tak dapat dijangkau oleh akal manusia, kita tetap memilih menerima Dia; kita menerima-Nya juga adalah karena kuasa-Nya yang memampukan kita untuk memilih Dia menjadi Tuhan dan Juruselamat kita.

“Menerima atau menolak Dia” ada sebuah pilihan, tetapi ketika sebuah fakta yang sungguh meneguhkan iman, maka fakta itu jangan kita ditolak. Yesus—Firman menjadi daging (ho logos sarks egeneto)—adalah sebuah fakta dan sekaligus misteri. Allah memulai inkarnasi-Nya dengan menunjukkan kuasa-Nya: “Roh Kudus akan turun atasmu dan kuasa Allah Yang Mahatinggi akan menaungi engkau; sebab itu anak yang akan kaulahirkan itu akan disebut kudus, Anak Allah” (Lukas 1:35).

Jika Allah memulai inkarnasi Logos-Nya dengan penuh kuasa, apalagi yang kita ragukan? Sepanjang sejarah kekristenan, kuasa Allah begitu nyata. Tanpa itu, kekristenan telah lama lenyap. Allah konsisten menunjukkan kuasa-Nya, baik dalam sejarah di Perjanjian Lama, maupun pada peristiwa inkarnasi, sampai kepada kita sekarang ini. Ia adalah Tuhan yang berkuasa membawa manusia keluar dari dosa, keluar dari “kegelapan dunia”; sebagai Terang, Ia menerangi hati dan pikiran mereka untuk melihat kepada-Nya, Juruselamat itu.

Mengenal Dia adalah tuntutan untuk mendapatkan dan menerima terang dari-Nya. Dosa menjadi kendala dan penghambat utama, sehingga Terang itu ditolak. Baik yang menolak dan menerima Terang itu, ada konsekuensi yang terjadi. Menolak berarti binasa; menerima berarti menikmati kehidupan bersama-Nya di dalam Kerajaan-Nya. Rasul Yohanes (1:12) menyebutkan bahwa “mereka yang menerima-Nya diberi kuasa supaya menjadi anak-anak Allah, yaitu mereka yang percaya dalam nama-Nya.”

Percaya adalah dasar utama untuk menikmati kasih Tuhan. Menjadi anak-anak-Nya berarti mengikuti petunjuk dan perintah-Nya, tidak menyimpang dari kehendak-Nya. Ketika hati kita tertambat pada-Nya, maka segala sesuatu yang dilakukan, haruslah selaras dengan kehendak-Nya. Dia menyatakan bahwa Ia adalah Juruselamat yang berdaulat atas hidup manusia. Dia menggerakkan hati kita untuk menerima Dia, dan oleh sebab itu, kita harus berkomitmen “menerima Dia” sebagai Juruselamat yang mengarahkan hidup kita kepada kekudusan dan kebahagiaan.

Rasul Yohanes menunjukkan fakta mengenai inkarnasi Logos [Firman] yang “keluar” dari diri Allah dan “menjadi” daging [manusia] seperti yang dikehendaki-Nya. Itu adalah murni kuasa dan kedaulatan-Nya yang terkait dengan “historical of redemption”. Kedatangan Yesus ke dunia didasarkan pada kerinduan-Nya untuk memanggil manusia menerima anugerah keselamatan yang telah Ia tetapkan; Ia diam di antara kita; Ia benar-benar hadir dan menyapa manusia. Ia seutuhnya [plērōma] manusia, dan bukan setengah dewa.

Kita pun mengetahui bahwa peristiwa besar itu—inkarnasi Sang Firman—adalah fakta ontologi-Nya (Yoh. 1:15) yang telah ada sejak kekekalan, ada bersama-sama dengan Bapa (Yoh. 1:1), dan Ia juga adalah Pencipta (Yoh. 1:3), tetapi “menyatakan diri-Nya” dalam wujud manusia, datang kepada manusia, menebus, menyelamatkan, menguduskan, dan membenarkan manusia, agar mereka diterima dalam Kerajaan-Nya.

Yesus tidak menjadi pribadi yang setengah Ilahi dan setengah manusia. Ia benar-benar “penuh” menjadi pribadi manusia: lahir, bertumbuh, makan, minum, haus, dan sebagainya. Logos secara “penuh” [plērōma] menjadi seperti manusia. Rasul Paulus menekankan hal ini: “…telah mengosongkan diri-Nya sendiri, dan mengambil rupa seorang hamba, dan menjadi sama dengan manusia” (Flp. 2:7).

Dengan menjadi manusia, Yesus memberikan kasih karunia yang luar biasa kepada manusia. Rasul Yohanes (Yoh. 1:16) menegaskannya: “Karena dari kepenuhan-Nya [plērōmatos] kita semua telah menerima kasih karunia demi kasih karunia”. Tuhan menggunakan firman-Nya, para nabi, dan lainnya untuk menyatakan keselamatan; kini Ia menjadikan diri-Nya sendiri sebagai sarana penyampai kebenaran dan keselamatan. Kasih karunia datang oleh Firman-Nya, Yesus Kristus (Yoh. 1:17). Logos yang menjadi daging (manusia), menyatakan Bapa kepada kita (Yoh. 1:18), karena Logos keluar dari diri Bapa. Logikanya sederhana namun konsisten: Pikiran Allah merepresentasikan diri-Nya sendiri. Bahkan lebih dari itu, “menyatakan diri Allah sendiri”.

Kedatangan Sang Logos ke dalam dunia, selain menyatakan diri Allah, juga bertujuan untuk mengubah dunia (manusia). Inkarnasi Sang Logos, Terang Allah yang ajaib itu, menyatakan kemuliaan Bapa kepada manusia yang berdosa; kasih karunia yang diberikan-Nya, menjamin manusia dapat menikmati keselamatan itu dalam kehidupan (pelayanan dan kesaksian) di dunia dan di dalam Kerajaan-Nya kelak.

Janganlah kita menolak kasih karunia itu. Natal adalah kasih karunia Allah. Terimalah, dan pasti hidupmu akan mendapat ketenangan, kebahagiaan, keselamatan, dan kehidupan yang kekal (bdk. Yoh. 3:16). Terimalah Yesus Kristus yang telah lahir. Ia telah berbuat baik; Ia telah menyelamatkan kita, menebus dan menguduskan kita, Ia pula yang membenarkan kita; jika tidak, kita pasti sudah binasa. Tetapi syukur kepada Bapa. Ia telah mengaruniakan Anak-Nya yang tunggal, supaya setiap orang yang percaya kepada-Nya, tidak binasa, melainkan beroleh hidup yang kekal.

Natal yang telah dirayakan ribuan tahun, masihkah dapat mengubah diri kita? Masihkah kita menerima Natal sebagai sebuah kesadaran iman bahwa peristiwa tersebut sungguh ajaib dan luar biasa, tak dapat dipahami sepenuhnya? Kita pun harus mengakui bahwa perbuatan-perbuatan Allah yang ajaib dan luar biasa, tak dapat dijangkau oleh akal kita. Sebaliknya, ketika Allah berulang kali menunjukkan kuat kuasa-Nya, mengapa kita masih ragu menerima-Nya?

Mari merayakan Natal. Terimalah Yesus, Sang Logos, yang menyatakan kehendak Bapa-Nya bahwa manusia berdosa membutuhkan “Juruselamat” di luar diri manusia; dia adalah Yesus Kristus, seperti yang diklaim-Nya: “Akulah jalan dan kebenaran dan hidup. Tidak ada seorang pun yang datang kepada Bapa, kalau tidak melalui Aku” (Yoh. 14:6).

Salam Bae.

Sumber gambar:

  1. https://altusfineart.com/products/for-unto-us-a-child-is-born-minicard?utm_medium=social&utm_source=pinterest
  2. http://www.lookinggoodlicensing.com/content/itmcxm1591
  3. https://i.pinimg.com/originals/b2/cd/0a/b2cd0a3383fa9741fcc023d20d855abd.jpg
  4. https://altusfineart.com/collections/nativity-art?page=2&utm_source=pinterest&utm_medium=social

PEMAHAMAN MENDASAR DAN DISPARITAS LOGIS TENTANG TRINITAS

PENDAHULUAN

Ada berbagai pemikiran untuk memahami personalitas Allah. Dalam pengamatan saya, dua hal yang paling sering dilakukan oleh manusia dalam konteks ini adalah: memahami bagaimana sesungguhnya Allah dan memahami bagaimana seharusnya Allah. Pada pemahaman bagaimana sesungguhnya Allah, manusia mendasarinya dengan berangkat pada “apa yang dinyatakan Allah tentang diri-Nya”. Konteks ini secara substansial memiliki bukti-bukti sejarah di mana Ia telah menyatakan diri-Nya terkait dengan realisasi rencana dan kehendak-Nya bagi kebaikan manusia; di sisi lain, Ia menghukum manusia yang berdosa yang dengannya Allah dapat dipahami sebagai pribadi yang baik dan adil yaitu menghukum mereka yang bersalah. Semuanya ini memiliki sumber rujukan atau “dokumentasi”. Oleh karenanya, pemahaman tentang bagaimana sesungguhnya Allah secara iman dapat diargumentasikan, didukung oleh dokumentasi dan peristiwa historis. Ketiganya yaitu argumentasi, dokumentasi, dan historis, saya sebut dengan filsafat iman.

Pada pemahaman bagaimana seharusnya Allah, manusia menggunakan berbagai konsekuensi logis untuk merumuskan tentang apa yang harus dimiliki, dilakukan, dan ditetapkan Allah. Manusia cenderung memahami Allah berdasarkan konsep logis bahwa jika Allah tidak begini, maka Ia pasti begitu. Berbagai hipotesis logis dikumandangkan untuk memuluskan pemahaman mereka tentang Allah.

01dk_B

Kekuatan logika dalam memahami personalitas Allah bukanlah hal yang baru. Logika memang diperlukan untuk memahami-Nya. Ini berlaku pada mereka yang percaya bahwa Allah yang menciptakan manusia; dan tidak berlaku bagi mereka yang tidak percaya bahwa Allah telah menciptakan manusia (dalam pengertian khusus). Jurang pemisah dalam memahami personalitas Allah bukanlah pada bukti-bukti penyataan Allah, melainkan pada konsep logis, analogis, hipotesis, dan lain sebagainya. Memang, secara substansial, logika, analogi, dan hipotesis diperlukan dalam memahami personalitas Allah, hanya saja penggunaannya haruslah melihat demarkasi konteks, bukti-bukti penyataan, dan dokumentasi historis. Kesalahan menggunakan ketiganya — artinya karena berangkat dari a priori ketimbang aposteriori — berakibat pada negasi personalitas Allah dan menggunakan pemahanan bagaimana seharusnya Allah.

Secara historis, Kristen memahami Allah berdasarkan konsep bagaimana sesungguhnya Allah. Allah yang sesungguhnya berarti menyatakan diri; berdasarkan penyataan itulah, bukti bahwa konsep memahami Allah dipandang sebagai dapat dipercaya, bersifat historis, dapat diargumentasikan, memiliki dokumen pendukung (bukti-bukti penyataan itu sendiri). Berangkat dari pemikiran ini, maka doktrin Allah Tritunggul (atau disebut secara singkat dengan Trinitas), adalah doktrin yang memahami Allah yang sesungguhnya. Namun, patut diakui bahwa pemahaman akan personalitas Allah tetap menyisahkan misteri. Alasannya adalah karena keterbatasan logika yang tak mungkin menjangkau Allah yang tak terbatas itu (pengertian, pemahaman, analisis, dan sebagainya), sehingga apa yang dinyatakan itulah yang menjadi dasar pijakan pengetahuan tentang diri-Nya. Memaksa memahami Allah berdasarkan bagaimana seharusnya Allah, membawa seseorang kepada “rasa puas semu dan penyesatan”.

Bagaimana bisa dikatakan rasa puas semu? Puas, karena manusia dengan segala macam rumusan pikirannya menggunakan bukti analogis—dan bukan bukti penyataan—untuk merumuskan dan menyusun formula tentang bagaimana seharusnya Allah. Lalu bagaimana bisa disebutkan sebagai penyesatan? Alasannya karena rumusan dan formula tentang personalitas Allah yang bukan didasarkan pada penyataan bukanlah sebuah pemahaman yang kredibel, dan berpotensi mengusung pemahaman yang menyesatkan (mengasikan bukti penyataan). Permainan logika bisa dianggap logis tetapi tidak berarti itu sesuai dengan fakta penyataan.

Pada kasus Trinitas, beberapa orang memiliki pemahaman yang dangkal bukan karena mereka memahami personalitas Allah yang sesungguhnya melainkan karena mereka menggunakan cara berpikir tentang bagaimana seharusnya Allah yang terlihat cocok dengan logika mereka. Di sini, catatan pentingnya adalah “Allah tidaklah tunduk pada rumusan logika yang menyimpang tanpa bukti penyataan apa pun.” Sebaliknya, dalam pemahaman Kristen (yang menerima Trinitas) Allah dipahami sesuai dengan apa yang Ia nyatakan. Meski dipandang sebagai sesuatu yang sulit dan hampir tidak masuk di akal, Trinitas pada dirinya sendiri adalah fakta ontologis dan historis; kesimpulan logisnya adalah “Allah ada sebagaimana Ia ada, dan Allah dipahami sejauh Ia menyatakan diri-Nya”. Soal bagaimana Ia dipahami sebagai Trinitas, tentu ada jalur berpikirnya yang didasarkan pada fakta historis, dokumentasi pendukung, dan rgumentasi (isi-isi argumen berdasarkan historisitas dan dokumentasi).

Berbicara mengenai doktrin Trinitas, bukanlah hal yang mudah untuk dipahami. Ada orang-orang Kristen maupun non-Kristen beranggapan bahwa doktrin Trinitas sulit dipahami dan tidak masuk akal. Anggapan tersebut di satu sisi ada benarnya dan di sisi lainnya ada salahnya. Mengapa demikian? Alasannya adalah memahami pribadi Allah tidak semudah yang kita bayangkan. Oleh karena itu, mengatakan bahwa belajar Trinitas tidak masuk akal, sama saja dengan mengatakan bahwa doktrin keesaan Allah juga tidak masuk akal. Mengapa bisa tidak masuk di akal? Keesaan Allah diukur atau dinilai dengan apa? Apakah hanya diukur dari pernyataan bahwa “Allah itu esa”? lalu kita merumuskan bahwa “Allah itu satu saja”—maksudnya, diri-Nya hanya ada satu saja, bukan dua atau tiga, dan seterusnya? Tidak sesederhana itu. Mereka yang menganggap bahwa doktrin Trinitas menimbulkan banyak problem, sebenarnya juga menyatakan bahwa doktrin Unitarian memiliki problem yang sama. Kita perlu memahami dan mengakui bahwa Allah itu tidak terbatas – dan manusia terbatas pikirannya. Perumusan Trinitas tentu berdasarkan pada penalaran logis berdasarkan bukti ontologis dan historis.

02dk_B

Sebagai langkah awal, saya hendak menyatakan demikian, bahwa “Allah tidak menyatakan diri-Nya sebagai satu secara numerik, melainkan satu di antara ilah-ilah yang lain.” Maksudnya adalah, Allah sendiri menegaskan bahwa “objek” penyembahan haruslah hanya kepada Dia, dan bukan kepada ilah-ilah yang ada di bumi (ilah-ilah bangsa-bangsa lain di luar Israel). Jika hal ini dipahami secara baik, maka pemahaman akan personalitas Allah tidak membawa kita pada kancah perdebatan yang panjang. Pada dasarnya, memahami “keesaan Allah” haruslah dilihat dari konteks di mana Allah menyatakan bahwa hanya Diri-Nya yang ‘esa’—satu di antara ilah-ilah lain, bukan satu secara numerik tanpa melihat konteks eksistensi ilah-ilah lain di dunia ini. Di sini, titik berangkat prapemahaman seseorang akan pribadi Allah menentukan aspek pengetahuan kita tentang Allah. Dan pada hakikatnya, prapemahaman tersebut harus didasari pada wahyu [revelation, penyataan] Allah, bukan pada asumsi logika manusia semata.

TRINITAS: SATU ROH ATAU TIGA ROH?

Posisi saya adalah Trinitas memiliki “satu Roh”. Satu Roh merujuk pada tidak ada perbedaan kualitas kehendak, sehingga menggiring opini bahwa ketiga Pribadi Trinitas memiliki roh-Nya masing-masing. Tidak ada indikasi soal ini dalam Alkitab.

Perbedaan esensi dan pribadi haruslah dipahami secara baik. Sebagaimana yang diungkapkan Herman Bavink bahwa, “Kitab Suci juga jelas mengenakan natur ilahi dan kesempurnaan-kesempurnaan ilahi kepada Anak dan Roh dan menempatkan Mereka setara dengan Bapa. Maka Bapa, Anak dan Roh adalah subjek-subjek yang berdistingsi di dalam satu esensi ilahi.” Saya memahami esensi ilahi sebagai “Roh yang kekal” sebab natur Allah adalah “Roh” yang dapat dipahami sebagai “esensi hakiki” (self-condition) dan mutlak. Mutlak bukan karena kita yang melekatkannya melainkan “demikianlah adanya”.

Bavink berpendapat bahwa “di dalam Allah tidak ada pemisahan atau pembagian”, yang dapat saya pahami bahwa “Pribadi-pribadi Trinitas tidak memisahkan diri Mereka karena memiliki roh-Nya masing-masing apalagi ‘membagi’ distingsi roh Mereka masing-masing. Karena Trinitas memiliki ‘satu Roh’ maka tidak ada perbedaan kehendak, emosi, dan pikiran, sebagaimana yang tertuang dalam narasi-narasi Alkitab. Emosi, pikiran, dan kehendak Mereka—secara filosofis ‘ada dalam Roh yang satu itu’ sehingga berimplikasi kepada tidak adanya perbedaan kualitas emosi, pikiran, dan kehendak.” Lagipula, tidak ada bukti apa pun dalam Alkitab bahwa Pribadi-Pribadi Trinitas saling bertolak belakang dalam kehendak. Sama sekali tidak.

Memang, Pribadi-Pribadi Trinitas memiliki eksistensi-Nya tersendiri yang disting, tetapi hal itu bukan berarti eksistensi dipahami sebagai “satu roh dimiliki Yesus, satu roh dimiliki Roh Kudus, dan satu roh dimiliki Bapa. Eksistensi hanyalah mengacu pada “ke—ada—an” personalitas Mereka. Eksisten dan esensi memiliki perbedaan. Eksistensi mengacu pada kondisi “ada” dan “adanya” Pribadi-Pribadi Trinitas adalah sejak kekal yang tak terpahami, tak berawal. Ketika seseorang mengatakan: “kapan Allah mulai ada?” maka kita dapat bertanya juga dengan pertanyaan: “kapan manusia mulai berpikir”. Tidak ada jawaban atas dua pertanyaan di atas. Maka, secara faktual, tidak perlu ditanyakan.

Distingsi-distingsi antara ketiga Pribadi secara jelas tampak dalam relasi-relasi yang menghasilkan diferensiasi di dalam keberadaan ilahi (Bavink). “Setiap Pribadi adalah diri-Nya sendiri dalam suatu cara yang kekal, sederhana, dan mutlak, Bapa adalah Allah, Anak adalah Allah, Roh Kudus adalah Allah. Dan karena ketiga-Nya adalah Allah, Mereka semua berbagian dalam “satu natur ilahi”. Maka, hanya ada satu Allah (Bavink).

Pemahaman saya mengenai “satu natur ilahi” merujuk kepada “satu Roh” yang dimiliki oleh tiga Pribadi, sehingga tidak ada perbedaan kualitas pendapat, pikiran, dan kehendak.

Mungkin, kesalahan mereka dalam memahami konteks “tiga roh” terjebak dalam kelogisan demarkasi personal sebagaimana yang diambil dari analogi manusia. Secara logis, ketiga Pribadi dalam Trinitas saling berdingsi, dan konsekuensi logisnya (maksudnya di sini saya hanya memahami makna logis, bukan menjelaskan pandangan saya) adalah Bapa punya roh, Yesus punya roh, dan Roh Kudus punya roh, jadinya ada tiga roh. Sampai di sini memang logis. Tetapi pertanyaan-Nya, apakah “roh” dari masing-masing Pribadi berbeda atau sama? Jika berbeda, bagaimana ukuran untuk sampai pada kesimpulan demikian? Bagaimana “roh”-Nya Roh Kudus bisa berbeda dengan roh Bapa yang dari-Nya Ia keluar? Bagaimana “roh”-Nya Yesus bisa dikatakan berbeda dengan roh Bapa padahal ia dilahirkan dari Bapa? Jika sama, maka implikasinya adalah hanya “ada satu roh” saja meski ada tiga Pribadi yang disting.

Oleh sebab itu, kesimpulan saya adalah: “hanya ada satu roh dalam Trinitas yang dengannya tidak ada perbedaan kualitas pikiran, emosi, dan kehendak karena tidak ada bukti apa pun dalam Alkitab bahwa Allah Trinitas berkelahi dan berbeda pendapat karena masing-masing meliki tiga roh. Justru Alkitab menjelaskan keselarasan dan kesamaan kehendak di antara Pribadi-Pribadi dalam Trinitas. Seperti pernyataan dalam Pengakuan Iman Westminter: “Di dalam Allah yang esa, terdapat tiga Pribadi, yang adalah satu dalam substansi, kuasa, dan kekekalan….” dan seperti yang diungkapkan A. A. Hodge sebagaimana dikutip oleh Cornelius Van Til, bahwa “Bapa, Anak, dan Roh Kudus sama-sama Allah yang tunggal itu, dan bahwa esensi yang tidak bisa dibagi-bagi dan segala kesempurnaan dan prerogatif ilahi, adalah kepunyaan dari masing-masing Pribadi di dalam pengertian dan derajat yang sama”, dengan demikian, tidak ada perbedaan kehendak dalam Trinitas. Ketika kita beranjak memahami Allah dengan tanpa bukti, maka kita terjerumus dalam konsep memahami “bagaimana seharusnya Allah”.

Salam Bae

Sumber Gambar:

  1. hjttps://iconreader.files.wordpress.com/2011/02/rublev-angels-at-mamre-trinity.jpg
  2. https://icoana.wordpress.com/2016/03/14/mihail-alivizakis/
  3. http://www.holyhillcross.com/NOVENA%20TO%20THE%20HOLY%20SPIRIT.htm
  4. https://www.crossroadsinitiative.com/media/articles/sacrament-of-confirmation-its-importance-and-meaning-to-the-early-church-fathers/
  5. https://rainbowtwo.tumblr.com/image/88756294699
  6. https://regenerationandrepentance.files.wordpress.com/2014/09/1.jpg
  7. https://www.scottishstainedglass.com/wp-content/uploads/2019/12/Church-scottish-stained-glass-shape.jpg
Rancang situs seperti ini dengan WordPress.com
Mulai