FILSAFAT “KERENDAH-HATIAN”

Kesombongan adalah bentuk antonim dari rendah hati. Orang yang sombong berarti orang yang meninggikan hatinya (meninggikan diri), karena merasa bahwa ia “memiliki” sesuatu yang juga dia rasa melebihi dari orang lain. Kesombongan menghasilkan sebuah karakter yang “terpaksa” karena seseorang yang sombong itu harus berusaha memenuhi apa yang akan dia sombongkan. Rendah hati menjadi musuh baginya.

Kebalikannya, orang yang rendah hati adalah orang yang memperlihatkan sikap hidup bahwa apa yang dia miliki bukanlah sesuatu yang dapat dibawa mati (maksudnya benda-benda yang dinikmati selama hidupnya). Rendah hati menjadi simbol bahwa seseorang begitu memahami “kehidupan sebagai kemurahan dari Tuhan”—artinya, Tuhanlah yang memberikan kehidupan itu, dan segala sesuatu yang didapatkan adalah bagian yang tidak dapat dipisahkan dari kehidupan itu sendiri.

Menjadi rendah hati tentu tidak mudah. Kita perlu membuang ego (mau menang sendiri), kesombongan, dan kemunafikan (hipokrisi). Sebaliknya, kita perlu menampilkan kebaikan, kepedulian, ketulusan (berdasar kasih) dan kejujuran dalam bersikap. Sikap rendah hati adalah wujud dari perilaku yang mengenal dan memahami Tuhan, bahwa Dialah yang membuat kehidupan itu lebih bermakna, berguna, berbuah.

Ketika sikap rendah hati pudar, maka kesombongan akan muncul. Kesombongan seringkali menggerogoti jatidiri sehingga lambat laun menjadi buruk. Siapa yang sombong, tidak melakukan kebenaran di hadapan Tuhan; siapa yang sombong menghasilkan kecongkakan. Sebaliknya, siapa yang rendah hati, dialah orang berhikmat, dialah orang yang dikasihi Tuhan, dialah orang yang akan dihormati, dialah yang menerima pujian, dan dialah yang akan menerima kekayaan, kehormatan, dan kehidupan dari Tuhan (Amsal 22:4).

Terkadang menjadi rendah hati mendapat tantangan dan hambatan tersendiri. Kerasnya perjuangan untuk menghidupi “hidup” membuat beberapa orang—setelah berhasil—menjadi sombong dan merasa bahwa apa yang dia dapatkan setelah menempuh perjuangan yang lama, adalah usahanya sendiri. Kesombongan lahir dari mereka yang merasa bahwa ia dapat bertindak dan berusaha sendiri tanpa Tuhan.

Namun, mereka yang berhasil setelah menempuh perjuangan yang panjang, dan masih tetap rendah hati, adalah mereka yang hatinya begitu kuat dalam prinsip, dan benar-benar memahami bahwa Tuhan di atas segala-galanya. Seperti yang penulis Amsal katakan: “berkat TUHANlah yang menjadikan kaya, susah payah tidak akan menambahinya” (Amsal 10:22). Atau dalam Terjemahan Lama, dikatakan: “Bahwa berkat Tuhan juga yang menjadikan kaya, dan tiada disertainya dengan kedukaan”. Juga terjemahan Versi Mudah Dibaca: “Berkat TUHAN membuat engkau sejahtera dan tidak mendatangkan kesulitan.”

Hanya Tuhanlah yang memberikan kita kehidupan, kekuatan, dan kesempatan untuk mendapatkan (meraih) berkat-berkat-Nya. Jikalau Ia tidak memberikan kehidupan, “mustahil kita dapat bergerak”; jikalau Ia tidak memberikan kekuatan, “mustahil kita dapat bekerja”; jikalau Ia tidak memberikan kita kesempatan, mustahil kita dapat meraih berkat”. Semua itu mendidik kita menjadi pribadi yang “rendah hati”. Itulah filsafat kerendah-hatian.

Filsafat kerendah-hatian memperlihatkan kondisi kehidupan manusia di mana di dalam kondisi tersebut, manusia berjuang untuk hidup sekaligus mengasah diri untuk tetap menjadi rendah hati. Kita terus belajar tentang hidup, tentang kekuatan, dan tentang kesempatan. Ketiganya menyatu untuk mendidik kita menjadi orang yang benar di hadapan Tuhan, dan menjadi berkat bagi sesama.

Filsafat kerendah-hatian mengajarkan kita tujuh hal penting:

Pertama, menjadi rendah hati berarti tahu bahwa diri kita terbatas dalam segala hal, membutuhkan Tuhan dan mengandalkan Dia senantiasa.

Kedua, menjadi rendah hati berarti tahu bahwa diri kita juga memerlukan bantuan orang lain.

Ketiga, menjadi rendah hati berarti tahu bahwa diri kita tidak hidup sendiri di dunia ini. Kita harus membangun komunikasi dan relasi dengan sesama, karena dari merekalah kita belajar rendah hati.

Keempat, menjadi rendah hati berarti tahu bahwa diri kita memiliki potensi yang tak terduga untuk menggapai apa yang kita harapkan. Potensi ini haruslah melihat bahwa kehidupan, kekuatan, dan kesempatan adalah pemberian Tuhan yang dengannya kita dapat mencapai tujuan.

Kelima, menjadi rendah hati berarti tahu bahwa diri kita memiliki bagiannya masing-masing, untuk diusahakan (dalam proses hidup), sebab Tuhan memberikan segala sesuatu kepada setiap orang sesuai keperluannya; apa yang dibutuhkan orang lain, belum tentu itu yang kita butuhkan. Tuhan itu adil dan penuh kasih.

Keenam, menjadi rendah hati berarti tahu bahwa diri kita mendapat upah dari apa yang kita kerjakan. Tuhan memberkati orang yang terus berusaha; dan hanya mereka yang percaya kepada-Nya, diberikan kelimpahan. Orang yang bekerja keras dan mengandalkan Tuhan, pasti akan diberkati berlimpah-limpah.

Ketujuh, menjadi rendah hati berarti tahu bahwa diri kita akan mempertanggung jawabkan apa yang kita perbuat (hukum tabur tuai). Ketika kita menabur kebaikan, kita menuai (menerima) kebaikan; ketika kita menabur kesombongan, kita menuai kesombongan; ketika kita menabur kejahatan, kita menuai kejahatan.

Tuhan itu Mahatahu dan Mahaadil; Ia melihat perbuatan-perbuatan yang kita tabur, dan Ia adil karena memberikan kepada kita berdasarkan apa yang kita tabur.

Tetaplah rendah hati meski hidup kita berlimpah-limpah kebajikan, harta kekayaan, dan sebagainya. Tetap andalkan Tuhan dalam segala hal, karena dari Dialah kita mendapatkan kehidupan, kekuatan, dan kesempatan.

Salam Bae

FILSAFAT “MATA”

“Mata adalah pelita tubuh. Jika matamu baik, teranglah seluruh tubuhmu”—demikian pernyataan Yesus Kristus (Matius 6:22). Pernyataan tersebut terkait dengan keinginan mata untuk mendapatkan “segala sesuatu”, dikumpulkan, dan dipakai untuk diri sendiri. Itulah sebabnya, “mata” menjadi “pintu masuk” bagi segala sesuatu untuk menjadikan diri kita sebagai orang baik tetapi dewasa dalam mengelola yang kita miliki, atau menjadi orang yang tamak akan segala sesuatu.

Mata adalah pelita, karena ia melihat segala sesuatu; kita membutuhkan sesuatu ketika kita melihat sesuatu; kita menginginkan sesuatu ketika kita melihat sesuatu. Mata menerawang sesukanya, tapi seringkali dipandu dan diarahkan oleh hati nurani.

Mata menghasilkan dosa, ketika ia tidak dapat mengontrol dirinya; mata bisa menghasilkan kejahatan, ketika ia ingin “memiliki, merasakan, dan menikmati yang bukan miliknya sendiri”. Mata menimbulkan harapan ketika ia berkomitmen (setelah melihat orang sukses) untuk bekerja keras untuk meraih kesuksesann.

Mata adalah pelabuhan hidup, selain pintu masuk. Sebagai pelabuhan, mata menambatkan banyak hal untuk tetap berlabuh di pelabuhan. Seolah-olah mata tidak dapat merelakan kapal-kapal keangkuhan untuk pergi berlayar. Atau sebaliknya, mata tidak merelakan kapal-kapal kebajikan pergi berlayar meninggalkannya. Tetapi penting juga ketika kapal-kapal kebajikan pergi berlayar untuk memberi makan kepada banyak orang; dan kemudian menjadi berkat.

Mata melihat dengan tajam berbagai kebaikan dan kejahatan. Mata kita seringkali tidak puas dengan segala sesuatu. Bahkan mata dapat menjerumuskan kita ke dalam berbagai-bagai pencobaaan dan dukacita.

Mata memiliki sejumlah mutiara. Ketika mutiara bersinar, mata menjadi menyala dan menghasilkan kilauan-kilauan cahaya yang memukau. Akan tetapi, bahaya pun muncul, ketika hati nurani padam dan disingkirkan dari takhtanya.

Mata dapat menangis ketika melihat kejahatan merajalela. Mata dapat menangis ketika terharu melihat berkat-berkat Tuhan turun atas kita. Air mata adalah sahabat mata. Keduanya tak bisa dipisahkan. Memang Tuhan telah menempatkan air di dalam mata sehingga mata dapat mengerti bagaimana ketika air di dalam dirinya mengalir (menetes) tanpa ada sesuatu yang dirasakan dan dipahami.

Oh… mata. Engkau memang adalah pelita hidup manusia. Engkau kadang mengarahkan hidup seorang ke arah yang baik, kadang ke arah yang jahat, kadang ke arah yang abu-abu. Oh… mata. Engkau seringkali bekerja sama dengan hati nurani untuk melihat hal-hal ajaib yang Tuhan perbuat; tetapi sebaliknya, engkau menyingkirkan hati nurani untuk memuaskan hawa nafsunya.

Mata, adakah engkau berubah dan berbuah? Adakah engkau berubah ke arah yang lebih baik ketika engkau tersesat di jalan yang kau ciptakan sendiri? Adakah engkau berbuah setelah berubah?

Hal terpenting dari filsafat mata adalah bahwa kita sendiri dapat mengajar dan mengarahkan mata kita untuk melihat hal-hal baik dan kemudian berkomitmen untuk melakukan hal yang sama.

close-up photo of persons eye

Filsafat mata mengajarkan kita lima hal:

Pertama, mata adalah pelita tubuh. Itu sebabnya, cahaya mata bisa menerangi jalan kita—jika kita menjaga cahayanya. Sebaliknya, jika kita menyembunyikan cahayanya, atau bahkan memadamkannya, maka jalan kita menjadi gelap gulita, dan kita mencari jalan, menciptakan jalan baru, dan kemudian kita tersesat olehnya. Jika mata kita gelap, maka gelaplah seluruh tubuh kita. Kita hidup dalam ketidakpastian dan ketidakjelasan.

Kedua, mata adalah pintu masuk terhadap segala sesuatu. Ketika kita membiarkan mata kita masuk segala hal buruk, maka kita menyimpan dan mengundang “dosa” masuk bertama, duduk, dan menginap di dalam rumah kita. Ketika dosa menginap, hati nurani dibiarkan tidur di luar, tanpa selimut dan obat nyamuk. Mata telah membiarkan pintunya dibuka dan dosa masuk. Mata telah salah mengambil keputusan. Hati nurani menangis dan tersingkirkan.

Ketiga, mata adalah pelabuhan yang dapat mengundang banyak kapal, entah kapal keangkuhan atau kapal kebajikan. Ketika mata bekerja sama dengan hati nurani, maka kapal kebajikanlah yang berlabuh. Tetapi ketika mata ingin berkuasa sendiri (egois) dan tidak mengundang hati nurani, maka kapal keangkuhanlah yang berlabuh. Dengan demikian, kita harus tetap memadukan kerja sama antara mata dan hati nurani agar kapal-kapal kebajikan dapat berlabuh dan sekaligus memuat barang-barang berharga, buah-buah segar, untuk dibagikan kepada orang lain, di pulau-pulau yang jauh.

woman's left eye

Keempat, mata adalah anugerah Tuhan bagi kita. Kita harus menjaganya sedemikian rupa sehingga dari mata, kita dapat berkarya bagi Tuhan, dan melayani-Nya dengan sepenuh hati. Arahkanlah mata kita untuk melihat sekeliling kita, pandanglah ke ladang-ladang yang sudah menguning dan matang untuk dituai (Yohanes 4:35). Arahkan mata kita kepada Tuhan. Jangan biarkan mata kita melihat segala keangkuhan dan kesombongan; jangan biarkan mata memuaskan keinginannya yang justru dapat mencelakakan kita sendiri. Hargailah mata kita, dan bijaklah dalam menggunakan mata, sebab mata kita adalah pelita hidup kita.

Kelima, mata adalah sahabat hati nurani. Jalin kerja sama yang baik dengan hati nurani, karena jika mata berjalan sendiri, maka ia akan mudah tersesat. Ketika hati nurani diajak dalam kendaraan iman, maka pasti kita dapat sampai di tujuan yang Tuhan kehendaki. Jika mata dan hati nurani berjalan bersama dalam satu kendaraan iman, maka kita dapat “membawa berkat bagi orang lain”.

woman doing chin gesture while taking photo

Keenam, mata adalah pabrik air mata. Ia dapat meneteskan air mata ketika memahami dan merasakan sesuatu, entah baik, entah buruk. Pada prinsipnya, air mata adalah sahahat mata, dan dengan demikian juga adalah sahabat hati nurani. Mereka dapat bersama-sama merasakan segala sesuatu yang menyentuh perasaan dan hati. Mereka mengerti dan memahami apa makna hidup, makna prjuangan, makna dukacita, dan makna kepedulian.

Ketujuh, mata adalah “wajah karakter” pribadi kita. Kita bergumul dan berjuang di dalam waktu, dan melihat betapa sulitnya kehidupan yang dijalani, betapa hebatnya tantangan dan cobaan di depan mata kita. karakter yang kuat di dalam iman, akan mengarahkan mata untuk melihat—menengadah—kepada Sang Khalik, seraya memohon pertolongan, pernyerataan, dan kekuatan untuk menghadapi dan menjalani kehidupan.

Akhirnya, marilah kita memakai mata kita sebagai alat untuk mengarahkan hidup kita kepada jalan Tuhan, kepada hal-hal baik, dan mengajak orang lain untuk turut dalam jalan Tuhan itu—bersama-sama menggapai masa depan yang telah Tuhan tetapkan bagi kita. Cintailah matamu, dan jadikanlah hati nurani sebagai sahabatnya, selamanya.

Salam Bae

Sumber gambar: https://unsplash.com/s/photos/eyes

FILSAFAT KESOMBONGAN

Sikap sombong adalah sebuah fakta. Kesombongan lahir dari hati seseorang dengan berbagai latar belakang. Hal ini wajar, jika ada alasan untuk sombong. Di sini, wajar bukan berarti kita setuju dengan sikap sombong, tetapi kesombongan itu sifatnya natural: ada alasan di baliknya.

Keputusan seseorang untuk menyombongkan diri karena ia merasa—dalam penilaian dan perasaannya sendiri—bahwa ia masih lebih baik dari orang lain, masih lebih berkuasa dari orang lain, dan masih lebih hebat dari orang lain, dan sederet alasan kontekstual lainnya. Semua jenis kesombongan itu wajar karena kesombongan lahir dari diri manusia yang memiliki alasan tertentu.

Jenis-jenis kesombongan itu beragam. Saya menyebutnya di sini:

Ada yang sombong karena ia merasa berjasa bagi orang lain

Ada yang sombong karena ia merasa ia lebih aman dan nyaman hidupnya dibanding yang lain

Ada yang sombong karena ia memiliki jabatan yang tinggi

Ada yang sombong karena ia memiliki kekayaan yang besar

Ada yang sombong karena ia memiliki uang yang banyak

Ada yang sombong karena ia mobil atau rumah mewah

Ada yang sombong karena ia telah lulus dari perguruan tinggi dengan nilai yang  tinggi

Ada yang sombong karena ia merasa hebat dari yang lain

Ada yang sombong karena ia pintar dan sangat pandai

Ada yang sombong karena ia telah membenci seseorang

Ada yang sombong karena ia merasa lebih baik dari orang lain

Ada yang sombong karena ia lebih sehat dari yang lain

Ada yang sombong karena ia dipercaya dibanding yang lain

Kesombongan muncul dari banyak faktor. Salah satu faktor yang mendominasi mayoritas pikiran manusia adalah disebabkan oleh “kondisi diri sendiri”. Mengapa harus kondisi diri sendiri? Memang demikian adanya.

Kondisi diri seseorang mengharuskan ia untuk membandingkannya dengan diri orang lain. Ini sifatnya mutlak. Tidak ada seorang pun di dunia ini yang tidak pernah membandingkan dirinya dengan orang lain. Hanya esensinya yang membedakannya. Apa yang dibandingkan? Tentu sangat variatif. Tergantung seseorang mau menilai dan membandingkannya dengan apa yang ia miliki dan ia percayai

Kondisi kesombongan manusia tercermin dari pemikiran, perkataan, dan perbuatan. Tiga hal tersebut adalah “buah” nyata dari hidup manusia. Filsafat kesombongan adalah sebuah filsafat yang mencermati kesombongan manusia secara bijaksana. Artinya, kesombongan dapat dipahami sebagai bagian yang ada dalam diri manusia yang didasari pada apa yang dimiliki seseorang. Dalam pandangan umum, orang boleh sombong asalkan berbanding lurus dengan apa yang ia miliki, apa yang ia hasilkan, dan apa yang ia harapkan, jika memang itu dapat diraihnya.

Filsafat kesombongan—atau dapat diartikan sebagai pengetahuan mengenai seluk-beluk kesombogan—adalah cara memikirkan alasan-alasan kesombongan manusia yang “pada tempatnya” dan “tidak pada tempatnya”.

Kesombongan yang umum ditemui dalam kehidupan sehari-hari adalah kesombongan karena seseorang memiliki uang, harta, dan kekayaan yang banyak. Di samping itu, kesombongan yang satu ini juga tidak kalah terkenalnya yaitu kesombongan karena “telah berjasa”. Telah berjasa ini pun beragam. Ada yang berjasa karena telah menolong orang lain baik materi maupun fisik

Yang lebih menonjol kesombongannya adalah berjasa telah menolong dari segi materi.

Ada orang yang karena pernah menolong orang lain dalam hal materi maka dia berkoar-koar dan dengan sombongnya mengatakan bahwa “kalian pernah mencicipi bantuan saya, jadi tahu dirilah”. Kesombongan ini ada benarnya. Artinya bahwa jika seseorang pernah ditolong atau dibantu oleh orang lain, haruslah berterima kasih dan menurutnya, berterima kasihlah kepadanya telah menolong Anda. Hanya saja, orang yang menolong menekankan hal yang berbeda, dan motivasinya juga berbeda. 

Akan tetapi, kesombongan jenis ini juga ada salahnya. Artinya, orang yang pernah membantu dan menolong mengharuskan orang yang ditolongnya untuk selalu sadar dan tahu diri bahwa ia pernah ditolong olehnya. Kata “mengharuskan” seolah-olah menyatakan bahwa jika tanpa bantuannya, seseorang tidak akan hidup atau tidak dapat berbuat apa-apa.

Dalam alam pemikiran semacam ini, kita perlu mencermati alur situasi dan kondisi yang sebenarnya. Orang yang pernah membantu, mengharapkan bahwa orang yang dibantunya harus selalu ingat dalam segala situasi dan kondisi bahwa ia pernah ditolong, meskipun tidak dalam konteks itu.

Orang semacam ini sedang menggariskan bahwa orang yang pernah berhutang (ditolong) kepadanya haruslah diingat dan disadari sesadar-sadarnya bahwa dia pernah menolong. Apa pun alasannya. Kesombongan macam ini adalah tidak pada tempatnya. Tentu, dari aspek komprehensif hayati manusia, tak seorang pun yang bisa hidup tanpa bantuan orang lain, termasuk orang yang sombong tadi – atau pun orang-orang kaya, sekaya-kayanya di dunia ini. Maka, memaksakan dan menggariskan seseorang untuk selalu tahu diri dan sadar bahwa ia pernah ditolong, harus juga diterapkan kepada orang yang sombong itu. Sebab jika tidak, maka ia akan dengan leluasa menyombongkan diri.

Hidup ini ada keseimbangan. Seseorang dapat dikatakan kaya karena ada yang miskin. Seseorang dapat katakan pintar karena ada yang bodoh. Seseorang dapat dikatakan sombong karena ada yang rendah hati. Itu sebabnya, orang yang sombong boleh sombong tetapi kesombongannya itu tidak berdiri sendiri. Ia harus membutuhkan pendamping sebagai padanan kata dan situasi yang sesuai fakta.

Filsafat kesombongan adalah buah pemikiran manusia yang mendalami akar permasalahan kesombongan manusia. Latar belakang kesombongan manusia perlu menjadi sinosur [pusat perhatian, “cynosure”] untuk mendapatkan alasan-alasan yang akurat dan spesifik.

Kesombongan tidak dapat dihindari, tetapi bisa ditekan dengan rendah hati. Kesombongan tidak dapat dihindari, tetapi bisa diabaikan oleh akal budi yang sehat.

Kesombongan tidak dapat dihindari, tetapi bisa dihilangkan dengan kesabaran. Kesombongan tidak dapat dihindari, tetapi bisa dialihkan kepada hal yang lebih baik dan bermanfaat bagi orang lain.

Kesombongan tidak dapat dihindari, tetapi bisa dicegah dengan selalu menghargai orang lain. Kesombongan tidak dapat dihindari, tetapi bisa dihentikan dengan ketegasan prinsip dan kualitas diri.

Kesombongan yang over dosis adalah sesuatu yang dilakukan oleh manusia yang merasa dirinya paling suci, paling mulia, paling benar, dan paling rohani – seolah-olah dia tidak pernah berbuat dosa. Kesombongan over dosis ini sering dimiliki oleh orang-orang yang mempunyai pola pikir yang kerdil. Dia merasa bahwa orang-orang telah berhutang budi selamanya kepada dirinya. Kesombongan ini dipunyai oleh orang yang menaruh kebencian terhadap seseorang yang dianggap telah memiliki dosa yang tak dapat diampuni. Alasan dia menganggap orang tersebut telah memiliki dosa yang tak dapat diampuni disebabkan oleh hasutan-hasutan dan fitnah-fitnah dari teman sejawatnya atau musuh yang telah menjadi sahabatnya karena keduanya memiliki musuh yang sama.

Berbagai kesombongan yang dia luapkan ke permukaan. Dan karena kesombongannya itu, hal-hal yang tidak terkait dengan “karena jasanya” selalu ia kait-kaitkan. Ini disebut dengan argumentum ad homine – sebuah argumentasi yang dibangun bukan berdasar pada persoalan tetapi kepada personalitas seseorang yang berperan sebagai lawan atau musuhnya.

Filsafat kesombongan sebenarnya secara esensial menghadirkan bentuk-bentuk pemikiran yang membawa seseorang kepada kedewasaan berpikir dan bertindak. Kedewasaan berpikir artinya seseorang memberikan waktu untuk menyelidiki akar persoalan kesombongan manusia. Kedewasaan bertindak artinya seseorang bertindak bukan pada jalur kesombongan atau pada jalur keangkuhan hidup, melainkan pada jalur yang normal dan benar.

Tak jadi soal ketika kita melihat ada orang yang sangat sombong. Tinggal bagaimana kita menilainya berdasarkan buah-buah yang dihasilkan oleh orang yang sombong itu.

Tentu orang yang menyombongkan diri memiliki beragam alasan di baliknya. Kesombongannya menjadikan diri kita sabar dalam menghadapinya, menjadikan kita belajar berpikir jernih tanpa terpancing kesombongannya yang over dosis.

TUHAN memang adil dan benar. Ia tahu bahwa orang-orang yang sombong akan menerima upah. Upah adalah “hadiah” dari-Nya. Hadiah tersebut berbeda-beda, tergantung dari apa yang telah diperbuat manusia selama hidupnya. Yang hidup dan berbuat sesuai dengan kehendak dan kebenaran-Nya, akan menerima bagian yang paling terindah dan menyenangkan. Yang hidup dan berbuat tidak sesuai dengan kehendak dan kebenaran-Nya, akan menerima bagian yang paling mengerikan dan menyiksakan.

Kesombongan adalah soal persepsi yang terkait erat dengan situasi dan kondisi. Situasi dan kondisi ini juga terkait erat dengan kondisi diri seseorang. Persepsi dapat membentuk karakter seseorang. Karakter yang berkembang dipengaruhi oleh persepsi yang berulang-ulang. Artinya, persepsi tentang dirinya telah menjadi semacam habituasi sedemikian rupa.

Memikirkan kesombongan merupakan hal yang rendah dan merendahkan diri sendiri. Pasalnya, tidak ada manusia yang dapat mengklaim bahwa dirinya yang paling hebat di seluruh dunia. Meskipun ada yang bisa mengklaim demikian, namun ada beberapa hal yang perlu diperhatikan. Klaim tersebut tidaklah universal karena pengklaimannya tidak melibatkan semua orang di seluruh dunia. Kehebatan seseorang hanya terjadi di zamannya, dan bukan di zaman-zaman lainnya.

Manusia, meski sombong, tetap ia terbatas: ia bisa mati kapan saja, bisa sakit, bisa lemah, geger otak, stroke, kejang-kejang, gila, stres, bunuh diri, dan lain sebagainya.

Banyak orang sombong di sepanjang sejarah yang hidupnya berakhir stragis. Namun tetap saja kesombongan menjadi “trending topic” dari zaman ke zaman.

Keangkuhan adalah sahabat kesombongan. Selain keangkuhan, rasa percaya diri yang berlebihan yang pada faktanya tidak berbanding lurus dengan apa adanya dirinya sendiri. Rasa percaya diri ini dapat dimunculkan tatkala ia dengan segala kekayaaannya dapat membayar atau mengatur orang lain. Dengan pengalaman membayar dan mengatur orang lain, dia berpikir bahwa dia bisa mengatur orang-orang lain yang dianggap penting. Ini adalah kesombongan yang tak terkendali dan merupakan sebuah omong kosong. Apalagi, ketika dia mengatakan demikian, secara logika sudah tidak masuk akal.

Nah, kesombongan macam ini dilakukan oleh orang-orang yang tidak beres kerohaniannya dengan Tuhan, suka mencaci maki, suka memalsukan kebenaran, memfitnah, menggiring opini, berbohong dan menjelek-jelekkan orang lain.

Di sisi lain, orang yang sombong seperti ini, tidak akan pernah berhenti memamerkan kehebatannya di bidang membayar dan mengatur orang, memfitnah orang lain, melakukan penipuan dengan cara memfitnah, menciptakan sejarah dengan mengutamakan dirinya sendiri yang sebenarnya tidaklah demikian.

Filsafat kesombongan yang sedang kita bicarakan ini, dapat memberikan informasi yang bagus bagi pemahaman kita tentang kesombongan seseorang yang secara nyata menyita perhatian, menguras tenaga dan pikiran kita.

Dalam pandangan psikologi, kesombongan dapat terjadi pada orang-orang yang biasa tetapi ketika bergaul dengan orang yang tidak beres pikirannya. Sebut saja ketika orang-orang biasa bergabung dengan para pemberontak, atau perancang kudeta dalam suatu organisasi, mereka disuguhkan dengan berbagai makanan yang berisi racun pikiran di mana makanan tersebut disuap kepada para pengikutnya yang di dalamnya terdiri dari fitnah, pembohongan, pendustaan, pemalsuan data dan fakta, sehingga para pengikut ini dengan berani menentang orang-orang yang telah difitnahkan secara tidak manusiawi. Mereka menjadi sombong karena menganggap tahu segalanya, dan didukung oleh orang[-orang] yang merasa diri hebat, punya uang banyak, dan dianggap memiliki pengaruh yang kuat.

Kesombongan dari para pengikut pemberontak memang cukup beralasan. Mereka sombong karena mereka tahu bahwa ada orang-orang yang punya uang banyak dan lebih hebat dari diri mereka sendiri. Jarang sekali ditemukan bahwa ada orang miskin dan tak punya apa-apa merasa sombong karena mempunyai pemimpin yang juga tidak punya apa-apa. Apa yang mau disombongkan dan dibanggakan?

Itu sebabnya, para pengikut pemberontak akan merasa leluasa meluberkan kesombongannya karena dia anggap pasti ada yang akan membelanya. Ini dinamakan kesombongan berlapis.

Dengan memahami filsafat kesombongan, mengantar kita kepada kehati-hatian dan kewaspadaan yang tinggi. Kita bisa mengetahui banyak hal. Kita bisa mempelajari banyak hal.

Kita pun tahu, bahwa ada orang yang sombong karena punya uang dan jabatan. Orang yang sombong ini menganggap dirinya bisa berbuat semaunya karena yang dibawahinya adalah orang-orang kecil yang dianggap tidak tahu apa-apa. Orang yang sombong ini menggunakan ancaman, di mana ancaman tersebut bisa berakibat bahwa ia bisa melakukan apa saja karena menganggap orang-orang kecil tidak bisa melawannya. Orang seperti ini tidaklah memiliki karakter yang baik. Ia hanya merasa bangga dengan kepunyaannya yang sifatnya fana. Apa yang bisa dipertahankan darinya?

Ini merupakan gejala-gejala ketidakberesan rohani (spiritual) di hadapan Tuhan dan menjelaskan bahwa orang yang sombong itu, memiliki banyak sekali persoalan hidup yang belum diselesaikannya secara tuntas.

Sombongnya seseorang menciptakan siklus ketidaktertarikan atau ketidaksukaan orang lain terhadapnya. Sombong memiliki makna yang sama dengan “belagu”. Belagu adalah perasaan diri seseorang yang dimunculkan tatkala pengalamannya dijadikan dasar untuk bangga diri yang berlebihan. Penekanannya tentu berbeda dengan memaparkan pengalaman sebagai “contoh”. Tetapi, menjadikan pengalaman sebagai seolah-olah sudah tahu banyak, sudah lebih hebat, sudah tambah hebat dan lain sebagainya, membuat seseorang tersebut dicap sebagai “belagu” atau “sombong”, bisa karena harta, uang, telah berjasa, karena pintar, merasa kuat, dan lain sebagainya.

Ingatlah, janganlah kita menyombongkan diri. Alkitab telah memperingatkan kita untuk tidak sombong, karena itu dibenci oleh Dia.

Enam perkara ini yang paling dibenci TUHAN, bahkan tujuh perkara yang menjadi kekejian bagi hati-Nya: mata sombong, lidah dusta, tangan yang menumpahkan darah orang yang tidak bersalah, hati yang membuat rencana-rencana jahat, kaki yang segera lari menuju kejahatan, seorang saksi dusta yang menyembur-nyemburkan kebohongan dan yang menimbulkan pertengkaran saudara (Amsal 6:16-19).

Janganlah kamu selalu berkata sombong, janganlah caci maki keluar dari mulutmu. Karena TUHAN itu Allah yang mahatahu, dan oleh Dia perbuatan-perbuatan diuji (1 Samuel 2:3)

Takut akan TUHAN ialah membenci kejahatan; aku benci kepada kesombongan, kecongkakan, tingkah laku yang jahat, dan mulut penuh tipu muslihat (Amsal 8:13)

Orang yang kurang ajar dan sombong pencemooh namanya, ia berlaku dengan keangkuhan yang tak terhingga (Amsal 21:24)

Jagalah diri kita untuk tetap bersyukur atas apa yang Allah berikan. Hanya ucapan syukur yang membuat kita puas, membuat kita sadar bahwa berkat itu datangnya dari Allah. Bersyukur adalah keputusan terbaik untuk menekan kesombongan, bahkan menghancurkannya. Tetaplah rendah hati: “Takut akan TUHAN adalah didikan yang mendatangkan hikmat, dan kerendahhatian mendahului kehormatan” (Amsal 15:33; 18:12), “Ganjaran kerendahhatian dan takut akan TUHAN adalah kekayaan, kehormatan, dan kehidupan” (Amsal 22:4), dan “Keangkuhan [congkak] merendahkan orang, tetapi orang yang rendah hati, menerima [meraih] pujian [kemuliaan, kehormatan]” (Amsal 29:23).

Salam Bae.

CINTA KASIH KRISTUS YANG MENGGERAKKAN PERSAUDARAAN: Refleksi 1 Petrus 1:22

Τὰς ψυχὰς ὑμῶν ἡγνικότες ἐν τῇ ὑπακοῇ τῆς ἀληθείας εἰς φιλαδελφίαν ἀνυπόκριτον ἐκ καθαρᾶς καρδίας ἀλλήλους ἀγαπήσατε ἐκτενῶς

“Karena kamu telah menyucikan dirimu oleh ketaatan kepada kebenaran, sehingga kamu dapat mengamalkan kasih persaudaraan yang tulus ikhlas, hendaklah kamu bersungguh-sungguh saling mengasihi dengan segenap hatimu.”

Prolegomena

Kehidupan Kristen memiliki tiga aspek yang saling koheren: pertama, aspek sikap iman; kedua, aspek sikap hidup; dan ketiga, aspek sikap doktrinal. Sikap iman berbicara tentang keterhubungan antara kita dengan Tuhan yang diwujudkan dalam doa, ibadah, puji-pujian, puasa, kerohanian totalitas diri, dan kesaksian hidup. Sikap hidup berbicara tentang relasi kita dengan orang lain, yang tertuang dalam “kasih persaudaraan” tanpa melihat latar sosial, ekonomi, pendidikan, agama, dan lain sebagainya. Sikap doktrinal berbicara tentang pengajaran-pengajaran yang dapat mengarahkan kehidupan orang percaya tetap pada kebenaran Tuhan, serta terhubung dengan pemberitaan Injil Yesus Kristus yang mencakup karya-karya-Nya.

Ketiga aspek tersebut koheren dengan orang percaya dalam perjalanan kehidupan mereka. Ketiganya adalah sahabat orang percaya. Ada harapan dalam pelaksanaan ketiga aspek tersebut. Harapan itu membentuk kita menjadi pribadi yang konsisten dalam melakukan cinta kasih kepada sesama anggota Gereja maupun kepada masyarakat luas. Tak dapat dipungkiri bahwa harapan merupakan kekuatan untuk hidup di dalam Kristus. Mayoritas manusia memiliki pengharapan. Tetapi semua orang percaya pasti memiliki pengharapan di dalam Kristus Yesus. Tak ada orang percaya yang tidak memiliki harapan. Harapan tersebut dibarengi dengan ketaatan kepada kebenaran Kristus, sehingga dengan demikian orang percaya dapat menerapkan kasih persaudaraan yang tulus ikhlas, kapan pun dan di mana pun. Semua itu diikat oleh kasih yang murni.

Kita melihat bahwa Rasul Petrus memberikan wejangan kepada orang-orang pendatang (jemaat Kristen) yang tersebar di Pontus, Galatia, Kapadokia, Asia Kecil, dan Bitinia. Alasan untuk “mengamalkan kasih persaudaraan yang tulus ikhlas dan saling mengasihi dengan segenap hati” karena mereka itu adalah “orang-orang yang dipilih, sesuai dengan rencana Allah Bapa, dan yang dikuduskan oleh Roh, supaya taat kepada Yesus Kristus dan menerima percikan darah-Nya” (1Ptr. 1:2). Tampak bahwa orang-orang pilihan Allah harus memperlihatkan gaya hidup yang berbeda dari dunia dan orang kebanyakan (orang-orang di luar Kristus). Orang-orang pilihan Allah harus taat kepada Yesus Kristus dan dengan demikian saling mengasihi secara sungguh-sungguh serta mengamalkan kasih persaudaraan tanpa melihat perbedaan suku, ras, agama, dan budaya.

Wilayah Pontus, Galatia, Kapadokia, Asia Kecil, dan Bitinia tentu memiliki ragam latar belakang sosial. Oleh sebab itu, menurut Rasul Petrus, penting bagi orang-orang yang percaya kepada Kristus menunjukkan “teladan iman” (setia kepada Kristus, taat akan kebenaran-Nya), “teladan sikap” (relasi sosial dalam konteks mengamalkan kasih persaudaraan dan saling mengasihi), serta “teladan pengajaran” yakni apa yang diajarkan turun-temurun perlu diwariskan kepada generasi berikutnya. Teladan pengajaran inilah yang mendamping teladan iman dan teladan sikap sebagaimana tampak pada jemaat Kristen yang ada di wilayah Pontus, Galatia, Kapadokia, Asia Kecil, dan Bitinia. Dari situlah tampak bahwa “Cinta Kasih Yesus Kristus menggerakkan mereka (jemaat Kristen) untuk mengamalkan kasih persaudaraan”.

Konteks Surat 1 Petrus dan Diskursus Teks

Secara menyeluruh surat ini difokuskan kepada pernyataan: “Kamu yang dahulu bukan umat Allah, tetapi sekarang telah menjadi umat-Nya, yang dahulu tidak dikasihani tetapi yang sekarang telah beroleh belas kasihan” (1Ptr. 2:10). Hal ini terjadi karena Allah telah memilih mereka, sehingga mereka disebut “bangsa yang terpilih, imamat yang rajani, bangsa yang kudus, umat kepunyaan Allah sendiri” (1Ptr. 2:9).

Pemilihan Allah atas orang-orang tertentu dimaksudkan untuk “memberitakan perbuatan-perbuatan yang besar dari Allah di dalam Kristus Yesus”. Ada keterhubungan antara sikap hidup mengamalkan kasih persaudaraan dan relasi pemberitaan perbuatan-perbuatan Allah yang besar, termasuk karya-karya Yesus Kristus: kematian dan kebangkitan, serta teladan Kristus. Ada berbagai relasi yang muncul di sini, yakni: relasi persaudaraan membuka peluang terjadinya relasi pemberitaan Injil. Relasi saling mengasihi membuka peluang terjadinya relasi daya tarik orang-orang di luar Kristus untuk datang dan percaya kepada Kristus. Rasul Petrus memiliki pola pemikiran yang luar biasa. Ia menekankan tidak hanya pada soal ajaran yang benar, melainkan pada sikap hidup yang benar dan iman yang benar.

Salah satu sumber menyebutkan bahwa Asia Kecil pada abad pertama (lima daerah yang disebut oleh Petrus terletak di Asia Kecil) berada di bagian tengah atau utara. Sebagian penduduk daerah tersebut menganut budaya Yunani, sebagian lagi mengikuti budaya penduduk di bagian timur (sekarang Iran). Sejumlah besar orang Yahudi juga tinggal di daerah tersebut. Rasul Paulus memberitakan Injil di wilayah Galatia dan beberapa tempat di wilayah Asia, namun tidak disebutkan bahwa ia mengunjungi daerah-daerah yang disebut dalam 1 Petrus 1 ini. Mungkin Rasul Petrus sudah mengunjungi daerah-daerah ini beberapa waktu sebelum Paulus memulai memberitakan Injil. Dalam suratnya ini, Petrus memberikan pemahaman bahwa orang-orang yang percaya kepada Yesus Kristus akan menanggung penderitaan karena iman mereka (2:19-21; 3:13-15; 4:1-2, 12-19; 5:9-11). Akan tetapi, penderitaan tidak akan mengalahkan mereka karena Yesus telah menderita sengsara dan mati untuk mengampuni dosa mereka, dan karena Allah telah membangkitkan Dia dari kematian. Dalam diri Yesus Kristus, Allah berkarya untuk membentuk umat yang baru bagi-Nya (1:3-25; 3:4-12). Sebagai umat Allah yang baru, jemaat dipilih untuk hidup kudus sebagai bangsa yang kudus (1:13-2:17; 3:1-7; 4:1-11; 5:1-11). Umat Allah yang baru harus menaati hukum dan pemerintah Romawi (2:13-17). Namun, mereka harus menghormati Kristus dan menaati Allah lebih dari segala sesuatu (3:15-17), bahkan jika hal itu mengakibatkan mereka mengalami penderitaan dan kehilangan sahabat-sahabat (4:1-4).

boy in black t-shirt hugging girl in red and white polka dot dress

Dalam Alkitab Edisi Studi (LAI) menjelaskan bahwa surat ini agaknya ditulis ketika pemerintah Romawi mulai menganiaya jemaat Kristen (Gambaran jemaat Kristen dalam surat ini mirip dengan gambaran dalam surat 1 Yohanes. Surat 1 Petrus juga menyerupai surat Ibrani yang menggambarkan sikap para lawan. Karena kebencian dan ketakutan terhadap jemaat, mereka menganiaya jemaat Kristen dan berusaha menyingkirkan orang Kristen dari masyarakat). Sebelum pemerintahan Kaisar Domitianus (tahun 81-96), kekaisaran Romawi tidak menganiaya orang Kristen karena menganggap kekristenan sebagai bagian dari agama Yahudi yang dilindungi oleh pemerintah (penganiayaan orang Kristen oleh kaisar Nero, sekitar tahun 64, adalah satu kekecualian). Pada masa kaisar Domitianus, agama Kristen sudah terpisah sama sekali dari agama Yahudi. Pemerintah Romawi mulai menganiaya orang-orang Kristen yang menolak menyembah kaisar yang menganggap dirinya sebagai dewa [tuhan, karena ia merasa memiliki kuasa tertentu].

Dijelaskan pula, bahwa meski umat Allah sedang menghadapi penganiayaan, Allah yang memiliki mereka, akan melindungi mereka sampai pada hari penghakiman ketika Yesus Kristus datang kembali (1:7). Jemaat akan mengalami keselamatan sesuai dengan rencana Allah (1:5). Rasul Petrus menasihati jemaat Kristen tentang bagaimana sikap hidup mereka dalam memperlakukan sesamanya, juga bagaimana bersikap terhadap masyarakat di sekitar mereka yang sering tidak menerima cara hidup mereka yang baru. Tampaknya, perhelatan cara hidup duniawi dan cara hidup rohani terus bergejolak. Jemaat Kristus harus benar-benar hidup dalam kekudusan dan kasih persaudaraan. Artinya, cara hidup yang baik, meski berhadapan dengan cara hidup yang tidak baik, akan menjadi pembeda sekaligus teladan bagi orang lain. Dalam tindakan-tindakan yang baik dan kudus, terkandung kehidupan dan kedamaian. Itulah sebabnya kasih Kristus mendorong semua orang percaya untuk hidup dalam “kasih persaudaraan” yang dilandasi pada ketaatan dan kebenaran [ἀληθεία – alētheia] Kristus.

Mengamalkan kasih persaudaraan didahului oleh prinsip “kesucian”, sehingga ketika orang percaya “menyucikan dirinya oleh ketaatan kepada kebenaran [atau ketaatan yang benar]”, maka mereka secara sadar, penuh iman dan kasih dalam menerapkan “persaudaraan” di tempat mereka yang memiliki ragam budaya dan kepercayaan. Kata menyucikan (ἡγνικότες) – verb participle perfect active nominative masculine plural kata dari ἁγνίζω [agnizō] secara literal diartikan sebagai of ceremonial washings and purifications (upacara pencucian dan pemurnian) dan secara figuratif diartikan sebagai of moral cleansing, purify (pembersihan moral, memurnikan). Menyucikan diri tidak berhenti pada tindakan satu kali saja, melainkan pada tindakan “aktif” di sepanjang hidup orang percaya. Tantangan dan hambatan, bahkan godaan selalu ada. Itu sebabnya, tindakan menyucikan tidak pernah dilakukan satu kali, tetapi secara kontinu. Tampak bahwa tanggung jawab iman orang percaya adalah menyucikan dirinya – atau dengan perkataan lain: memisahkan dirinya dari kehidupan duniawi yang tidak berkenan kepada Allah, dan hidup dalam kasih Kristus hari demi hari.

two man laughing at each other

Kata ketaatan (ὑπακοῇ: obedience, submission, compliance [kepatuhan]) pada 1:22 adalah noun dative feminine singular common dari kata ὑπακοή (hupakoē). Datif adalah objek tidak langsung dari kata kerja dan kata kerjanya di sini adalah “menyucikan”. Artinya menyucikan tidak dapat dilepaskan dari konteks ketaatan kepada kebenaran atau ketaatan yang [secara] benar kepada Sang Kebenaran. Mereka yang menyucikan dirinya pasti memiliki landasan ketaatan kepada kebenaran Kristus.

Kata kebenaran (ἀληθείας dari kata ἀλήθεια) diartikan: of what has certainty and validity truth; of the real state of affairs, especially as divinely disclosed truth; of the concept of the gospel message as being absolute truth; of true-to-fact statements truth, fact; of what is characterized by love of truth truthfulness, uprightness, fidelity (apa yang memiliki kepastian dan keabsahan kebenaran; keadaan sebenarnya, terutama sebagai kebenaran yang diungkapkan secara ilahi; konsep pesan Injil sebagai kebenaran mutlak; pernyataan benar-ke-fakta kebenaran, fakta; dari apa yang dicirikan oleh cinta akan kebenaran, kejujuran, kesetiaan) “Kebenaran” yang dimaksudkan adalah genitif – kepemilikan – dan berarti kebenaran itu adalah milik Allah (kebenaran di sini berbicara tentang karya penebusan Kristus melalui kematian-Nya dan karya kebangkitan-Nya (1Ptr. 1:18-21). Kebenaran mendasar ini menggiring orang percaya kepada konteks kehidupan plural (majemuk), sebagaimana Kristus telah berkurban bagi mereka karena kasih-Nya yang luar biasa itu, demikianlah orang percaya (jemaat Kristen) harus mengamalkan kasih yang tulus kepada masyarakat di mana mereka tinggal. Cinta kasih dan pengurbanan Kristus menjadi patron (teladan, pola) bagi tindakan dan iman jemaat Kristen perdana.

Frasa tulus ikhlas dipahami sebagai tidak munafik (ἀνυπόκριτον dari kata ἀνυπόκριτος) yang diartikan without hypocrisy; hence genuine, sincere: tanpa kemunafikan; itu sebabnya tulus). Di sini, sikap persaudaraan yang dilandasi cinta kasih Kristus tidak akan pernah bernatur “hipokrit” atau munafik, sebaliknya persaudaraan itu adalah murni, tulus ikhlas dan tidak mengandung hipokrisi. Jemaat Kristen tidak boleh munafik dan mencari keuntungan dalam relasi persaudaraan. Jangan karena ingin mengamalkan kasih persaudaraan supaya dapat keuntungan, maka kasih tersebut bercampur dengan kemunafikan (hipokrisi). Itu bukan ajaran Kristus. Jemaat Kristen yang telah menyucikan diri karena ketaatan kepada kebenaran Allah, tidak akan ada ruang bagi kemunafikan dalam mengamalkan kasih persaudaraan. Jika cinta kasih Kristus menggerakkan persaudaraan, maka tak ada alasan bagi jemaat Kristen untuk mencari keuntungan dalam relasi sosial tersebut, sehingga menciptakan hipokrisi.

Kata mengasihi (ἀγαπήσατε) adalah kata kerja imperatif aoris aktif, dari kata ἀγαπάω yang diartikan sebagai love, especially of love as based on evaluation and choice, a matter of will and action; be loyal to, regard highly; from God (kasih, terutama kasih yang berdasarkan penilaian dan pilihan, soal kemauan dan tindakan; setia kepada, sangat menghormati; dari Allah). Bentuk “imperatif aoris aktif” pertanda bahwa tindakan mengasihi yang sudah dilakukan (terjadi secara aktif) sebelumnya menjadi dasar yang sama untuk terus dilakukan). Aorist adalah salah satu aspek yang menunjukan sebuah tindakan yang terjadi pada masa lampau, sehingga kata Ἀγαπήσατε dapat diterjemahkan: “hendaklah kamu mengasihi” sebagaimana dulunya kamu telah mengasihi Yesus Kristus. Mengasihi sesama tak bisa dilakukan jika jemaat Kristen tidak mengasihi Yesus dengan sepenuh hati. Itu sebabnya, mengasihi Yesus adalah dasar dari semua tindakan mengasihi sesama. Itu adalah “ketetapan suatu tindakan” yang diberikan oleh Tuhan, tak bisa dilanggar, tak bisa ditawar-tawar.

Frasa kasih persaudaraan (φιλαδελφίαν dari kata φιλαδελφία) diterjemahkan: brotherly love, love for brother or sister; as a religious technical term in the New Testament, restricted to love for fellow members of a religious group affection for a fellow believer (kasih persaudaraan, kasih untuk saudara laki-laki atau perempuan; sebagai istilah teknis agama dalam Perjanjian Baru, terbatas pada kasih untuk sesama anggota kelompok agama kasih sayang untuk sesama orang percaya). Tindakan mengasihi sesama saudara adalah sebuah pola hidup mereka yang percaya. Objek untuk dikasihi adalah “sesama jemaat Kristus”. Itulah makna kasih persaudaraan.

Dalam konteks ini kasih persaudaraan dipahami sebagai “tulus ikhlas” (Yun. καθαρᾶς καρδίας) atau sesuai dengan hati yang bersih [clean]; ketika menggunakan preposisi “ek”, maka diterjemahkan dengan: “dari hati yang bersih”. Puncak dari itu semua: menyucikan diri, taat kepada kebenaran, mengamalkan (melakukan) kasih persaudaraan dari hati yang tulus [bersih] adalah “mengasihi dengan segenap hati” sebab Kristus telah memerintah dalam hati mereka.

Penegasan kedua selain dari “karena kamu telah menyucikan diri” (ay. 22), Rasul Petrus menulis: “Karena kamu telah dilahirkan kembali” (ay. 23) sebagai landasan kehidupan yang berkenan kepada Allah. Jemaat Kristen dinyatakan telah dilahirkan kembali dari yang tidak fana, oleh firman Allah (selaras dengan ay. 22, “ketaatan kepada kebenaran Allah/Kristus), firman yang hidup dan kekal. Ini sangat luar biasa. Orang pilihan Allah tidak hanya dilahirkan kembali tetapi dijamin bahwa proses kelahiran (diperanakkan) kembali benih yang hidup dan kekal, yaitu firman Allah. Hal ini ditegaskan kembali pada ay. 25 bahwa firman Tuhan itu tetap untuk selama-lamanya. Itulah kabar (firman) yang diberitakan kepada jemaat Kristen (ay. 25), dan harus menjadi landasan dari totalitas kehidupan, iman, dan doktrinal mereka dalam mengikut Yesus Kristus.

Dibanding hidup seperti rumput dan segala kemuliaannya seperti bunga rumput, rumput itu menjadi kering, dan bunga gugur, tetapi firman Tuhan itu kekal, tidak gugur, tetapi terus memberikan pengaruh yang luar biasa. Jika kasih persaudaraan dilandasi oleh firman Tuhan, itu berarti kita telah sampai kepada fase tertinggi dari sikap iman kita, di mana melalui firman Tuhan pula, sikap hidup dan sikap doktrinal dapat menjadi sempurna. Kemudian, kita menyatakan kasih persaudaraan dan secara sungguh-sungguh saling mengasihi dengan sepenuh hati, tidak munafik.

Tampak bahwa totalitas kehidupan yang berkenan kepada Allah adalah sebuah konteks perubahan total pada diri orang percaya; mereka hidup suci, taat kepada kebenaran Kristus, taat secara benar di hadapan-Nya, memanifestasikan kasih persaudaraan yang dilandasi dengan hati yang bersih, sungguh-sungguh saling mengasihi dengan segenap hati, dan dilahirkan kembali oleh Tuhan melalui firman-Nya yang hidup dan kekal. Pada akhirnya, cinta kasih Kristus secara radikal mengubah kehidupan orang percaya untuk hidup bagi Kristus dan dapat secara bertanggung jawab dalam melakukan hal-hal disebutkan di atas.

Penutup

Cinta kasih Kristus secara mutlak menggerakan semua orang percaya untuk merealisasikan kasih persaudaraan baik di lingkungan jemaat (internal) maupun di lingkungan masyarakat (eksternal). Sebagai pendatang, jemaat Kristen dituntut untuk hidup suci, taat kepada kebenaran Kristus, mengamalkan kasih persaudaraan dari hati yang bersih, dan mengasihi sepenuh hati.

Jika Kristus telah mengasihi kita, maka tak ada alasan apa pun untuk menunda sikap mengasihi; tidak ada alasan yang dapat digunakan untuk menyingkirkan sikap mengasihi. Sebaliknya, sebagai orang percaya, kita dituntut untuk hidup bagi Kristus dan menunjukkan cinta kasih kepada sesama.

Natal yang kita rayakan tahun ini, sejatinya tetap menerapkan prinsip saling mengasihi (aorist aktif) dan terus melakukan hal yang sama dalam segala situasi. Kita sebagai orang percaya telah menyucikan diri dan harus secara terus-menerus hidup dalam kesucian. Kita yang hidup dalam kesucian disebabkan karena ketaatan kita kepada kebenaran Allah. Sebagai buahnya, kita dapat mengamalkan kasih persaudaraan dengan hati yang bersih (tulus ikhlas), dan secara konsisten memanifestasikan sikap hidup saling mengasihi dengan segenap hati, sikap iman, dan sikap doktrinal, sekarang dan sampai selama-lamanya.

Salam Bae……

Sumber gambar: https://unsplash.com/s/photos/brothers-love

NATAL YESUS KRISTUS: Kepedulian Tuhan dan Sukacita Bagi Manusia

Tulisan ini terinspirasi dari seorang rekan yang ketika itu (dalam ibadah Paramount Fellowship tanggal 11 Desember 2018 di Paramount Plaza) sedang menyanyikan lagu yang berjudul “Angels We Have Heard on High”. Pada bagian refreinnya: “Gloria, in excelsis Deo”, antara ekpresi pemimpin pujian dengan lantunan klausa “Gloria, in excelsis Deo” yang dinyanyikan sangatlah membangkitkan “sukacita”. Saya kemudian berpikir: “Mengapa Allah datang ke dunia?” Saya pun menjawab: “Karena Allah ingin berbagi sukacita dengan manusia dan manusia diberikan hak untuk merasakan dan menikmati sukacita yang Ia berikan.”

Klausa “Gloria, in excelsis Deo” memberikan kesadaran kepada saya bahwa: “Allah itu sungguh luar biasa; Ia memberikan sukacita kepada manusia untuk bernyanyi memuji Dia karena telah memberikan Yesus Kristus kepada dunia”; Tuhan itu sungguh luar biasa karena Ia telah berbagi sukacita “Surgawi” kepada manusia agar manusia dapat mengekspresikan sukacita hatinya untuk bersyukur atas kebaikan, kasih, anugerah, dan kemurahan Tuhan yang telah mengutus Yesus Kristus ke dalam dunia (bdk. Yoh. 1:14).

Apa yang menarik dari klausa “Gloria, in excelsis Deo”? Demikian: bahwa Tuhan Allah yang adalah Sumber Sukacita itu, telah berbagi sukacita surgawi-Nya kepada manusia. Kepedulian Allah kepada manusia tampak dalam peristiwa Natal Yesus Kristus. Rasanya lengkap sudah sukacita umat Kristen. Selain dari pada sukacita memuji, menyembah Allah, Sang Khalik, kita juga diberikan sukacita surgawi untuk mengekspresikan kemerdekaan di dalam Kristus Yesus. Kita diberikan porsi yang sesuai dengan natur kita. Manusia tidak dapat mengambil sucakita Surgawi, tetapi Allah memberikannya berdasarkan anugerah semata dan manusia dapat merasakan bagaimana sesungguhnya bersukacita dalam merespons kasih-Nya yang luar biasa itu.

Sukacita Tuhan dibagikan kepada umat-Nya. Tuhan tidak menyimpan sukacita-Nya sendiri, melainkan membagi sukacita-Nya kepada umat manusia melalui Natal Yesus Kristus. Itulah wujud dari kepedulian (kasih) Tuhan. Kepedulian Tuhan bukanlah tanpa alasan. Ia melawat manusia dengan cara-Nya sendiri. Dan implikasi dari lawatan Tuhan bagi manusia adalah sukacita merayakan Penebus dan Juruselamat datang ke dunia. Penebus itu sesungguhnya adalah Tuhan sendiri tetapi Ia membuat cara yang berbeda seperti yang terjadi di dalam Perjanjian Lama. Tuhan berhak dan berdaulat penuh atas manusia dan atas cara bagaimana Ia menebus, mengampuni, menyelamatkan, menguduskan, dan membenarkan manusia berdosa. Dengan demikian, Natal Yesus Kristus adalah finalitas Allah untuk menebus manusia dari dosa-dosa yang membelenggu mereka.

Berikut ini penjelasan lima pokok penting yang terkait dengan Natal Yesus Kristus. Pokok-pokok tersebut merupakan rangkaian karya Tuhan bagi manusia dalam bingkai “Historical of Redemption.”

NATAL YESUS KRISTUS: ALLAH MENEBUS KITA

Dosa adalah musuh terbesar manusia dan tak ada satupun manusia yang dapat mengalahkannya, entah raja, imam, nabi, rasul, gembala gereja, majelis, presiden, penjual sayur, tukang ojek, direktur, pengusaha, pastor, pendeta, bupati, walikota, camat, dan lain sebagainya. Mengapa dosa begitu kuat dan manusia tak dapat melawannya atau bahkan mengalahkannya? Ada beberapa jawaban (sekaligus problem manusia) yang patut diperhatikan dan dipertimbangkan:

Pertama, dosa dilakukan Adam dan Hawa pertama kali di dunia. Pasca kejatuhan manusia pertama dalam dosa, pengaruh dosa merambat hingga sekarang ini. Dosa adalah sebuah pelanggaran serius kepada perintah dan peraturan Allah. Sekuat apa pun manusia berjuang, ia tak akan mampu membereskan masalah dosa. Ia hanya dapat berbuat dosa, bertobat, dan berbuat dosa lagi. Ia tak dapat menyelesaikannya; ia butuh sesuatu di luar dirinya agar dosa dapat dibereskan.

Kedua, dosa berkaitan dengan hati, pikiran, dan perbuatan. Tiga unsur manusiawi ini sangat kuat dalam memahami, memikirkan, dan melakukan dosa. Jika seseorang tidak melakukan dosa dalam perbuatan, maka ia dapat saja berdosa dalam melalui pikiran. Dosa yang tampak dan tak tampak tidak akan dapat diselesaikan oleh manusia. Ia membutuhkan sesuatu di luar dirinya agar dosa dapat dibereskan.

Ketiga, manusia telah dibelenggu oleh dosa. Dalam kondisi terbelenggu manusia memang hidup tapi tak bisa bebas menikmati kemurahan dan kebaikan Allah; ingin berespons tetapi tak dapat mencapainnya, jika bukan Allah yang memberikannya; belenggu dosa menjadikan manusia pasif, dan oleh sebab itu manusia butuh kekuatan dan kuasa dari luar dirinya untuk membebaskannya dari belenggu dosa itu.

Keempat, dosa adalah problem manusia yang paling besar. Dalam kondisi terbelenggu, manusia tak dapat menyatakan kasihnya kepada Tuhan dan sesama secara murni. Manusia mutlak membutuhkan kasih Tuhan, kasih dari surga yang akan melepaskannya dari belenggu dosa, sehingga ia dapat dengan sukacita dan leluasa menyatakan kasihnya kepada Tuhan dan sesama.

Kelima, dosa adalah masalah kehidupan di dunia dan kehidupan sesudah kematian. Manusia yang berdosa (atau terbelenggu dengan dosa) tak akan mampu menikmati kehidupan yang dikehendaki Tuhan; tak dapat menikmati kehidupan yang penuh bahagia dan kekudusan setelah kematian. Meski di satu sisi ada peristiwa diangkatnya beberapa orang, tetapi itu kasus khusus yang dilakukan Tuhan. Intinya adalah manusia yang berdosa, jika Tuhan tidak turun tangan maka ia bukanlah apa-apa, ia tak berdaya, dan ketika Tuhan turun tangan, ia menjadi baru karena diperbarui, dilayakkan, dan dikuduskan oleh Allah. Allah menjamin kehidupan di dunia dan kehidupan setelah kematian karena Dialah Penguasa satu-satunya yang melimpahkan rahmat dan kemurahan bagi manusia agar layak di hadapan-Nya.

Yesus Kristus yang datang ke dunia telah membereskan kelima problem manusia di atas. Yesus Kristus menebus kita. Allah menetapkan cara untuk menebus dan melepaskan kita dari belenggu dosa. Ketika Allah menebus, kita dibebaskan dari belenggu dosa; kita dapat merespons kasih-Nya dengan tindakan yang benar. Tuhan Allah mengambil alih kehidupan kita (yang dulunya terbelenggu dosa) dan mengarahkan kepada kehidupan yang dikehendaki-Nya.

Natal Yesus Kristus memberi harapan bagi manusia untuk menatap masa depan. Manusia dijaga dan ditopang Allah untuk tetap berada pada jalur-Nya. Kita telah ditebus, dan harganya telah lunas dibayar, karena itu muliakanlah Allah dengan tubuh kita dan melakukan kehendak-Nya. Bukankah kita patut bersukacita karena kebaikan dan karena Allah telah menebus kita?

NATAL YESUS KRISTUS: TUHAN MENGAMPUNI KITA

Ketika manusia ditebus, Allah mengampuninya. Menebus manusia berarti Ia mengambil alih dan memberikan kondisi baru pada manusia. Allah yang memanggil dan menjadikan kita sebagai milik-Nya; Ia pun menjadikan kita “manusia baru”, manusia yang telah menanggalkan kehidupan lama penuh dosa dan mengenakan manusia baru yang sesuai dengan kehendak-Nya. Ia mengampuni berarti Ia pula menguduskan kita untuk hidup bagi-Nya.

Rasul Paulus menyatakan, bahwa “Sebab aku telah mati oleh hukum Taurat untuk hukum Taurat, supaya aku hidup untuk Allah. Aku telah disalibkan dengan Kristus; namun aku hidup, tetapi bukan lagi aku sendiri yang hidup, melainkan Kristus yang hidup di dalam aku. Dan hidupku yang kuhidupi sekarang di dalam daging, adalah hidup oleh iman dalam Anak Allah yang telah mengasihi aku dan menyerahkan diri-Nya untuk aku” (Galatia 2:19-20). Ketika kita telah ditebus dan diampuni Tuhan, maka yang kita lakukan bukanlah kemauan kita (yang dapat berpotensi melahirkan dosa), melainkan karena dorongan Allah untuk melakukan kehendak-Nya yang sempurna; Ia mendidik kita untuk menjadi pribadi yang benar dan jujur, layak dan kudus di hadapan-Nya. Makna pengampunan Allah bagi kita adalah kita melakukan apa yang dikehendaki-Nya.

Natal Yesus Kristus adalah realisasi dari kehendak Allah untuk tujuan penebusan, pengampunan, pendamaian, pembenaran, dan penyelamatan. Tak ada manusia yang cukup syarat untuk menyatakan dirinya bahwa ia mampu menyelesaikan dosa-dosanya sendiri. Sekuat dan sehebat apa pun manusia, ia tak akan pernah bisa menyelesaikan dosa-dosanya di hadapan Tuhan. Ketika Tuhan menebus kita, maka implikasinya adalah Ia menjadikan kita sebagai milik-Nya sendiri. Dengan demikian, bukan lagi kita yang berkuasa atas diri kita, melainkan Kristus. Penebusan bertujuan untuk mengampuni pribadi kita yang terbelenggu dosa. Ia melepaskan kita dan mengampuni kita. Bukankah kita patut bersukacita karena kebaikan dan karena Tuhan telah mengampuni kita?

man standing in the middle of field

NATAL YESUS KRISTUS: TUHAN MENYELAMATKAN KITA

Penebusan dan pengampunan Tuhan adalah bertujuan untuk menyelamatkan kita. Keselamatan dilakukan Tuhan dengan cara menebus dan mengampuni umat-Nya. Rencana keselamatan Tuhan telah ditetapkan sejak kekekalan sebagaimana yang ditegaskan Rasul Paulus dalam dua suratnya yaitu Efesus 1:4-10 dan Roma 8:28-30 berikut ini:

“Terpujilah Allah dan Bapa Tuhan kita Yesus Kristus yang dalam Kristus telah mengaruniakan kepada kita segala berkat rohani di dalam sorga. Sebab di dalam Dia Allah telah memilih kita sebelum dunia dijadikan, supaya kita kudus dan tak bercacat di hadapan-Nya. Dalam kasih Ia telah menentukan kita dari semula oleh Yesus Kristus untuk menjadi anak-anak-Nya, sesuai dengan kerelaan kehendak-Nya, supaya terpujilah kasih karunia-Nya yang mulia, yang dikaruniakan-Nya kepada kita di dalam Dia, yang dikasihi-Nya. Sebab di dalam Dia dan oleh darah-Nya kita beroleh penebusan, yaitu pengampunan dosa, menurut kekayaan kasih karunia-Nya, yang dilimpahkan-Nya kepada kita dalam segala hikmat dan pengertian. Sebab Ia telah menyatakan rahasia kehendak-Nya kepada kita, sesuai dengan rencana kerelaan-Nya, yaitu rencana kerelaan yang dari semula telah ditetapkan-Nya di dalam Kristus sebagai persiapan kegenapan waktu untuk mempersatukan di dalam Kristus sebagai Kepala segala sesuatu, baik yang di sorga maupun yang di bumi.”

“Kita tahu sekarang, bahwa Allah turut bekerja dalam segala sesuatu untuk mendatangkan kebaikan bagi mereka yang mengasihi Dia, yaitu bagi mereka yang terpanggil sesuai dengan rencana Allah. Sebab semua orang yang dipilih-Nya dari semula, mereka juga ditentukan-Nya dari semula untuk menjadi serupa dengan gambaran Anak-Nya, supaya Ia, Anak-Nya itu, menjadi yang sulung di antara banyak saudara. Dan mereka yang ditentukan-Nya dari semula, mereka itu juga dipanggil-Nya. Dan mereka yang dipanggil-Nya, mereka itu juga dibenarkan-Nya. Dan mereka yang dibenarkan-Nya, mereka itu juga dimuliakan-Nya.”

person holding Holy Bible

Keselamatan hanya ada dan diberikan oleh Tuhan. Natal Yesus Kristus adalah ketetapan Tuhan dan cara Dia menyelamatkan manusia. Natal dan Salib adalah dua peristiwa penting dalam sejarah iman Kristen (selain dari kebangkitan dan kenaikan Yesus ke surga) yang terkait erat dengan “Historical Redemption”.

Dalam Perjanjian Lama keselamatan yang Tuhan kehendaki berangkat dari “Kasih Karunia-Nya” yang terdiri atas dua hal yaitu: pertama, murni karena Tuhan secara langsung memberikan kasih karunia-Nya; dan kedua, Tuhan menghadirkan media penebusan dan pengampunan (darah kurban yang tak bercacat cela) agar umat-Nya menerima keselamatan. Perjanjian Baru menggenapi dua hal tersebut: keselamatan itu murni karena karena kasih karunia Tuhan (Efesus 1:8) dan keselamatan ditempuh melalui salib Yesus Kristus: DARAH dan KEMATIAN. Darah adalah lambang kehidupan dan kematian adalah lambang kebangkitan. Untuk itulah Yesus menegaskan, “Akulah kebangkitan dan hidup; barangsiapa percaya kepada-Ku, ia akan hidup walaupun ia sudah mati, dan setiap orang yang hidup dan yang percaya kepada-Ku, tidak akan mati selama-lamanya” (Yohanes 11:25-26).

Lalu mengapa Tuhan harus menunjukkan cara penyelamatan melalui DARAH dan KEMATIAN? Kita perlu memperhatikan bahwa cara ini adalah ketetapan dan kedaulatan Tuhan; Ialah yang berhak menetapkan cara menebus dan menyelamatkan manusia. Konsep keselamatan menurut iman Kristen benar-benar berangkat dari titik awal manusia berdosa dan inisiatif Tuhan untuk menyelamatkan manusia yang telah berdosa kepada-Nya.

Sekarang ada agama-agama yang berjuang untuk mengumpulkan pengikutnya ketimbang memikirkan bagaimana hidup bagi Tuhan dan menyenangkan hati-Nya sebagai realisasi dari hidup yang ditebus, diampuni, dan diselamatkan oleh Tuhan. Kekristenan tidak berpusat pada berapa banyak orang yang mengaku Kristen, tetapi berpusat pada pemahaman bahwa “MANUSIA TELAH BERDOSA KEPADA TUHAN DAN TUHAN TELAH MENYATAKAN CARA UNTUK MENYELAMATKANNYA DARI DOSA-DOSA MEREKA YAITU MELALUI ‘DARAH’ DAN ‘KEMATIAN [SALIB]’”.

Dalam pandangan agama-agama dan kepercayaan lain, salib atau kematian Yesus merupakan suatu kebodohan, batu sandungan dan tidak masuk akal. Tetapi cara ini telah membuktikan bahwa Tuhan itu hebat dan luar biasa. Ia menggunakan salib yang dianggap bodoh untuk membungkamkan hikmat manusia; cara yang dianggap tidak masuk akal dipakai Tuhan untuk menyatakan bahwa manusia, dengan akal budinya, dengan rasionya tidak dapat membebaskan diri dari dosa yang membelenggunya; cara yang dianggap sebagai batu sandungan justru sekarang menjadi “BATU PENJURU”.

NATAL YESUS KRISTUS: TUHAN MENGUDUSKAN KITA

Tuhan tidak hanya menebus dan mengampuni kita untuk menerima keselamatan yang Ia berikan, tetapi juga menguduskan kita. Tuhan itu kudus dan setiap orang percaya harus hidup kudus di hadapan-Nya. Tuhan membenci dosa dan Ia mengasihi orang berdosa. Itu sebabnya, ketika Ia menebus dan mengampuni kita (kita telah menjadi miliki-Nya), maka kita harus melakukan apa yang dikehendaki Tuhan, dan bukan sebaliknya.

Rasul Petrus menegaskan, “Tetapi hendaklah kamu menjadi kudus di dalam seluruh hidupmu sama seperti Dia yang kudus, yang telah memanggil kamu, sebab ada tertulis: Kuduslah kamu, sebab Aku kudus” (1 Petrus 1:115-16). Kudus berarti “terpisah” dari dunia [dosa]. Ketika kita menjadi milik Kristus, maka segala sesuatu yang kita lakukan dan pikiran harus selaras dengan firman-Nya (kehendak-Nya). Hidup kudus adalah kehendak Tuhan dan hanya mereka yang kudus yang diperkenankan Tuhan untuk masuk ke dalam kerajaan-Nya. Dalam Ibrani 12:14 dituliskan: “Berusahalah hidup damai dengan semua orang dan kejarlah kekudusan, sebab tanpa kekudusan tidak seorangpun akan melihat Tuhan.”

Kekudusan adalah milik Tuhan; Ia telah menetapkan supaya kita hidup kudus dan berkenan kepada-Nya. Kekudusan adalah bagaimana cara kita hidup di hadapan-Nya. Kelahiran Yesus sebagai Anak Allah yang Kudus mengimplikasikan bahwa Ia akan menguduskan umat pilihan-Nya yang ditebus, diampuni, didamaikan, dibenarkan, dan diselamatkan. Bukankah kita patut bersukacita karena kebaikan Tuhan dan karena Tuhan telah menguduskan kita?

NATAL YESUS KRISTUS: TUHAN MEMBENARKAN KITA

Pada akhirnya, Tuhan membenarkan kita. Ia tidak hanya menebus, mengampuni, menyelamatkan dan menguduskan kita, tetapi Ia membenarkan atau menyatakan benar di hadapan-Nya. Iblis selalu menuduh kita sebagai manusia berdosa dan pendosa, tetapi Tuhan menyatakan bahwa “kita sudah dibenarkan dalam Kristus Yesus”. 

Natal Yesus Kristus adalah tanda bahwa selain menebus, mengampuni, menyelamatkan, dan menguduskan kita, Ia juga yang membenarkan kita. Natal Yesus Kristus tidak hanya dipahami sebatas Natal saja, melainkan dipahami secara komprehensif dari perspektif Sejarah Penebusan.

Yesus Kristus telah membenarkan kita. Sejak peristiwa Natal-Nya, Yesus Kristus melayani tiada henti. Ia mempublikasikan kasih dan kuasa-Nya sebagai Anak Allah Yang Kudus—Sang Logos Ilahi yang menjadi manusia dan tinggal di antara manusia. Kasih dan kuasa-Nya begitu mengagumkan. Meski pada akhirnya Yesus disalibkan, orang-orang menganggapnya sebagai sebuah kebodohan dan batu sandungan, namun peristiwa kematian Yesus tidak berakhir di situ. Ia bangkit dari kematian. Dalam keadaan-Nya sebagai manusia, Yesus mati untuk penebusan dan pengampunan: darah dan kematian-Nya menunjukkan bahwa ada kehidupan dalam darah yang dicurahkan-Nya dan ada kebangkitan dari kematian-Nya. Itu sangat luar biasa.

Rasul Petrus menegaskan: “Sebab kamu tahu, bahwa kamu telah ditebus dari cara hidupmu yang sia-sia yang kamu warisi dari nenek moyangmu itu bukan dengan barang yang fana, bukan pula dengan perak atau emas, melainkan dengan darah yang mahal, yaitu darah Kristus yang sama seperti darah anak domba yang tak bernoda dan tak bercacat” (1 Petrus 1:18-19).

Penebusan juga menghasilkan pembenaran. Yang dapat membenarkan manusia hanyalah Tuhan saja. Manusia tidak dapat membenarkan dirinya sendiri. Tuhan telah membuktikan bahwa mereka yang telah ditebus, diampuni, diselamatkan, dan dikuduskan, telah “dibenarkan”. Mengenai hal ini, Rasul Paulus menjelaskan mengenai pembenaran umat-Nya oleh Kristus Yesus:

Roma 3:24, “dan oleh kasih karunia telah dibenarkan dengan cuma-cuma karena penebusan dalam Kristus Yesus.”

Roma 5:9, “Lebih-lebih, karena kita sekarang telah dibenarkan oleh darah-Nya, kita pasti akan diselamatkan dari murka Allah.”

Roma 8:30, “Dan mereka yang ditentukan-Nya dari semula, mereka itu juga dipanggil-Nya. Dan mereka yang dipanggil-Nya, mereka itu juga dibenarkan-Nya. Dan mereka yang dibenarkan-Nya, mereka itu juga dimuliakan-Nya.”

1 Korintus 6:11, “… Tetapi kamu telah memberi dirimu disucikan, kamu telah dikuduskan, kamu telah dibenarkan dalam nama Tuhan Yesus Kristus dan dalam Roh Allah kita.”

Galatia 2:16, “Kamu tahu, bahwa tidak seorangpun yang dibenarkan oleh karena melakukan hukum Taurat, tetapi hanya oleh karena iman dalam Kristus Yesus. Sebab itu kamipun telah percaya kepada Kristus Yesus, supaya kami dibenarkan oleh karena iman dalam Kristus dan bukan oleh karena melakukan hukum Taurat….”

Titus 3:7, “supaya kita, sebagai orang yang dibenarkan oleh kasih karunia-Nya, berhak menerima hidup yang kekal, sesuai dengan pengharapan kita.”

Kita dibenarkan dari berbagai kesalahan; kita dibenarkan dari segala sesuatu yang menyimpang; kita dibenarkan dari rasa benar pada diri sendiri. Sekarang kita menjadi milik Kristus. Kita diberikan sukacita dan kedamaian.

Natal adalah sukacita yang dibagikan Tuhan kepada kita. Sukacita itu meluap dari hati yang memahami bahwa Tuhan telah menyatakan kasih dan kuasa-Nya melalui Natal Yesus Kristus. Ia memberikan sukacita agar kita bernyanyi memuji Dia. Kita dapat mengekspresikan sukacita itu dalam bentuk ungkapan syukur.

Kepedulian Tuhan kepada manusia tampak dalam peristiwa Natal Yesus Kristus. Lengkap sudah sukacita umat Kristen. Kita telah dimerdekakan di dalam Kristus Yesus. Tuhan mengambil alih kehidupan kita dan mengarahkan kepada kehidupan yang dikehendaki-Nya. Natal Yesus Kristus memberi harapan bagi manusia untuk menatap masa depan.

Natal Yesus Kristus berarti Tuhan mengampuni kita. Ketika manusia ditebus, Tuhan mengampuninya. Penebusan bertujuan untuk mengampuni dan melepaskan kita dari segala yang jahat.

Natal Yesus Kristus berarti Tuhan menyelamatkan kita. Penebusan dan pengampunan Tuhan bertujuan untuk menyelamatkan kita. Keselamatan hanya ada dan diberikan oleh Tuhan.

Natal Yesus Kristus berarti Tuhan menguduskan kita. Kita tahu bahwa Tuhan itu kudus dan setiap orang percaya harus hidup kudus di hadapan-Nya.

Natal Yesus Kristus berarti Tuhan membenarkan kita. Ia menyatakan benar kepada kita yang bersalah di hadapan-Nya.

Natal adalah kepedulian Tuhan Allah bagi manusia yang berdosa; Ia memberikan sukacita Surgawi kepada kita. Marilah kita bersukacita dan menyanyikan pujian bagi Yesus Kristus. “Gloria, in Excelcis Deo”.

Soli Deo Gloria

Sumber gambar:

  1. https://unsplash.com/s/photos/christmas-celebrate
  2. https://unsplash.com/collections/4663346/jesus
  3. https://unsplash.com/s/photos/jesus

SEMUA KARENA ANUGERAH-NYA: Refleksi Atas Efesus 2:8-10

PENDAHULUAN

Dalam pemahaman iman Kristen, apa yang dimiliki, apa yang dialami, dan apa yang dijalani oleh orang-orang percaya adalah murni karena anugerah dan kemurahan Tuhan. Boleh saja ada orang yang beranggapan bahwa semua yang dia miliki, alami, dan jalani adalah kekuatan dan kehebatannya, tetapi pemahaman seperti itu bukanlah berasal dari Alkitab.

Tuhan itu sungguh luar biasa. Ia yang dulunya transenden (jauh dari jangkauan manusia), kini Ia menyatakan diri-Nya sebagai pribadi yang imanen (berada di antara manusia; bdk. Yoh. 1:14, “Firman itu telah menjadi manusia [ho logos sarks egeneto], “diam di antara kita”, dan kita telah melihat kemuliaan-Nya, yaitu kemuliaan yang diberikan kepada-Nya sebagai Anak Tunggal Bapa, penuh kasih karunia dan kebenaran”).

Peristiwa Yesus—Sang Logos Allah—datang ke dunia adalah peristiwa bahwa Allah menyatakan diri secara imanen. Allah yang kita sembah itu, telah berbagi sukacita surgawi kepada manusia. Kita tidak hanya dituntut Allah untuk taat dan menyembah-Nya, melainkan menikmati sukacita yang diberikan Allah. Itu memang menjadi bagian kita untuk mensyukuri anugerah, kasih karunia, dan kemurahan-Nya.

Hampir semua orang berlomba-lomba mencari kesenangan hidup dengan berbagai cara. Mulai dari mengumpulkan harta, membangun rumah mewah, meningkatkan usaha, menjalin berbagai relasi dengan orang-orang tertentu, dan lain sebagainya. Akan tetapi, mereka yang percaya kepada Tuhan akan melakukan berbagai hal yang selaras dengan prinsip Alkitab dan melakukan hal-hal yang dikehendaki Tuhan. Semua orang percaya akan bersukacita dengan keadaannya tanpa merasa iri hati kepada yang lain. Tuhan memberikan rezeki kepada setiap orang sesuai dengan kadarnya masing-masing. Itu adalah anugerah dan kemurahan yang sangat adil.

Kita tidak boleh memaksakan diri untuk menjadi seperti orang lain. Bersyukur atas apa yang Tuhan berikan dan anugerahkan adalah ciri khas orang-orang yang imannya dewasa dan tahu bahwa segala sesuatu adalah pemberian Tuhan sesuai dengan kadarnya masing-masing. Di momen Natal ini, Tuhan telah memberikan berkat kepada semua orang. Tinggal bagaimana kita mensyukurinya. Kita tahu bahwa semua yang kita miliki adalah anugerah Tuhan.

selective focus photography of girl an woman hugging each other in front of christmas tree

ANUGERAH DAN KESELAMATAN

Dalam Efesus 2:8-10, Rasul Paulus mengaitkan kasih karunia sebagai anugerah keselamatan dari Allah. “Sebab karena kasih karunia kamu diselamatkan oleh iman; itu bukan hasil usahamu, tetapi pemberian Allah, itu bukan hasil pekerjaanmu: jangan ada orang yang memegahkan diri” (ay. 8-9). Iman menjadi sarana keselamatan. Iman itu adalah pemberian Tuhan. Oleh sebab itu, kita tidak boleh memegahkan atau menyombongkan diri.

Anugerah Tuhan itu mendorong kita untuk bersyukur karena Tuhan itu baik. Ia baik karena Ia mengasihi kita sebagai manusia yang berdosa. Ia memberikan anugerah-Nya untuk dinikmati dengan penuh sukacita yang berlimbah. Mereka yang bersukacita karena anegerah Tuhan adalah mereka yang memahami bahwa Allah mengasihi mereka.

Manusia telah ditebus dari dosa-dosa mereka dan dituntut untuk hidup dalam kekudusan, melawan dosa, dan hidup sesuai dengan firman-Nya. Mereka yang percaya kepada Tuhan harus menjaga dirinya dari berbagai jenis kejahatan; mereka harus berjuang melawan kedagingan dengan meminta kekuatan dari Tuhan; mereka harus menjaga hati dan pikiran, sikap dan perilaku agar sesuai dengan prinsip-prinsip Alkitab.

Sebagaimana di ayat 10 dikatakan bahwa “Karena kita ini buatan Allah, diciptakan dalam Kristus Yesus untuk melakukan pekerjaan baik, yang dipersiapkan Allah sebelumnya. Ia mau, supaya kita hidup di dalamnya.” Kita yang diselamatkan oleh Yesus Kristus adalah untuk melakukan perbuatan baik. Artinya, kita berbuat baik bukan supaya diselamatkan ‘melainkan’ kita berbuat baik karena sudah diselamatkan. Ini dinamakan dengan “kesadaran akan anugerah Tuhan” dan harus direalisasikan dalam kehidupan nyata secara sadar, kredibel, dan jujur.

body of water

Keselamatan adalah anugerah yang terindah. Manusia yang berjuang melawan dosa tak mungkin dapat mengalahkan dosanya sendiri, kecuali Tuhan turut campur tangan. Hanya Yesus yang dapat dan telah melepaskan kita dari belenggu dosa; Ia memerdekakan kita dan membebaskan dari belenggu dosa itu. Kita yang telah dilepaskan dari belenggu dosa dan dimerdekakan-Nya harus sungguh-sungguh hidup dalam kasih dan kekudusan (menjauhkan diri dari berbagai jenis dosa dan kenajisan, kekotoran dan perbuatan-perbuatan jahat).

Mereka yang diselamatkan adalah orang yang dibenarkan. Orang benar akan diberkati Tuhan. Pemazmur menyatakan bahwa “Sebab Engkaulah yang memberkati orang benar, ya TUHAN; Engkau memagari dia dengan anugerah-Mu seperti perisai” (Mazmur 5:13). Tidak hanya diberkati, tetapi juga dijaga (dipagari, dilindungi) dengan anugerah. Ini sangat luar biasa.

Firman yang kekal itu telah menjadi Juruselamat dalam momen inkarnasi. Hal itu bukan berarti bahwa Firman Allah dulunya belum menjadi Juruselamat, tetapi di sini penekanannya adalah Allah secara konsisten menunjukkan kualitas kuasa dan anugerah-Nya dalam PL hingga ke zaman PB, dan di PB Allah melanjutkan konteks tersebut dengan menggenapi janji-Nya bahwa ada Mesias Ilahi yang akan memerintah (bdk. Mikha 5:1; lih. Yes. 9:5-6) dan menjadi Juruselamat. Sebagaimana Allah adalah Juruselamat, maka Firman-Nya juga adalah Juruselamat. Allah menyatakan keselamatan melalui Firman-Nya.

Allah dan Firman-Nya adalah kekal. Firman menjadi manusia adalah tindakan final (terakhir) Allah kepada manusia. Manusia telah berdosa kepada Allah dan Allah menentukan bagaimana caranya menebus mereka. Penebusan Allah melalui kematian Yesus Kristus disalib menyatakan dua hal yaitu: pertama, darah yang ditumpahkan saat penyaliban dan kematian-Nya, merupakan simbol dari kehidupan; dan kedua, kematian Yesus disalib menyatakan bahwa semua orang percaya yang mati bagi Dia akan dibangkitkan sebagaimana Ia bangkit dari kematian. Dua hal ini adalah kunci memahami mengapa Yesus datang ke dunia, mati untuk menebus manusia dari dosa-dosa mereka.

3 wooden cross on top of the mountain

Yesus pernah mengatakan, bahwa “Akulah kebangkitan dan hidup; barangsiapa percaya kepada-Ku, ia akan hidup walaupun ia sudah mati” (Yoh. 11:25). Ini adalah sebuah pernyataan yang menegaskan karya-Nya ketika Ia datang ke dalam dunia. Rasul Paulus menyatakan dalam Roma 5:17 bahwa “Sebab, jika oleh dosa satu orang, maut telah berkuasa oleh satu orang itu, maka lebih benar lagi mereka, yang telah menerima kelimpahan ‘kasih karunia’ dan ‘anugerah kebenaran’, akan hidup dan berkuasa oleh karena satu orang itu, yaitu Yesus Kristus.”

Anugerah Allah itu tidak terbuang percuma tetapi terealisasi secara penuh dalam sejarah manusia. Anugerah itulah yang memerdekakan dan menyadarkan kita bahwa kita telah ditebus—yaitu kita yang dulunya adalah “hamba” atau “budak” dosa, menjadi “anak-anak Allah yang kudus” yang secara konsisten dan sadar melakukan perbuatan-perbuatan kebenaran (perbuatan-perbuatan terang).

Anugerah Allah menjadikan kita dewasa dalam iman; tidak membalas kejahatan dengan kejahatan; tidak membalas caci maki dengan caci maki, tetapi membalas kejahatan dengan kebaikan dan caci maki dengan doa yang tulus. Anugerah Allah sungguh mengubah hidup kita. Kita yang merasakan sukacita itu adalah karena anugerah Allah. Itu sebabnya, dengan iman dan keyakinan kita dapat berkata: “SEMUA KARENA ANUGERAH-NYA.” Apa yang kita dapatkan, semuanya adalah anugerah. Janganlah kita menyombongkan diri sebab apa yang kita miliki (yaitu benda-benda) tidak dapat kita bahwa ketika kita mati. Kita hanya membawa perbuatan-perbuatan kita untuk menerima upah dari Tuhan.

PENUTUP

Berbuat baik setiap hari tentu ada upahnya. Tuhan melihat segala yang kita lakukan. Keyakinan ini akan mendorong kita semua untuk semakin giat dalam melayani dalam pekerjaan Tuhan; pula giat dalam berbuat baik kepada sesama kita tanpa membedakan suku, agama, ras, dan antargolongan. Kalau Tuhan Yesus mengasihi kita, maka tak ada alasan bagi kita untuk tidak mengasihi orang lain. Kalau Tuhan Yesus sudah menyatakan anugerah keselamatan-Nya kepada kita, maka tak ada alasan bagi kita untuk menyombongkan diri.

Jika kita menyadari bahwa semua yang kita miliki di dunia ini adalah anugerah-Nya, marilah kita menikmatinya dengan rasa sukacita dan syukur. Dan juga jika segala sesuatu yang kita dapatkan di dunia ini berdasarkan cara-cara yang layak dan selaras dengan prinsip-prinsip Alkitab, maka Tuhan akan memberkati kita.

person holding white printer paper

Semua adalah anugerah. Yesus Kristus yang datang ke dunia untuk menyapa dan menyelamatkan manusia dari belenggu dosa, adalah anugerah terindah dan terbesar sepanjang sejarah yang tak mungkin terulang kembali. Kita dituntut untuk bersukacita dan bersyukur kepada karena Ia telah berbuat baik kepada kita. Apa yang telah Tuhan buat bagi kita sungguh merupakan karya yang luar biasa hebatnya.

Yesus telah datang ke dunia dan memberikan kehidupan kekal bagi orang-orang yang dikenan-Nya. Yesus adalah kebangkitan dan kehidupan. Jangan ragu menerima Yesus. Tantangan dunia memang seringkali menghambat kita datang kepada Yesus, tetapi ketika kita berkomitmen untuk percaya, maka Tuhan akan memampukan kita untuk percaya kepada-Nya dan menerima segala berkat surgawi yang telah disediakan. Bukankah itu juga adalah anugerah Tuhan yang luar biasa?

Bersyukurlah kepada Tuhan karena Ia baik.

Soli Deo Gloria.

Sumber gambar:

  1. https://unsplash.com/s/photos/jesus
  2. https://unsplash.com/collections/4663346/jesus
  3. https://unsplash.com/s/photos/christmas

YESUS: HARAPAN KEKRISTENAN

text

Kristen adalah agama yang sejak awal kelahirannya ditandai dengan banyak hal. Perjuangan para rasul dalam mengabarkan Injil Kristus mendapat perlawanan dari sejumlah pihak. Dan pada akhirnya mereka dibenci, lalu dihindari, dihalangi, dan bahkan hendak dimusnahkan. Alasan membenci kekristenan adalah karena dalam pemahaman para pembencinya, Kristen menyembah “manusia”. Ya, kelihatannya begitu, tapi tidak sesederhana itu. Yang perlu diperhatikan di sini adalah: peristiwa ‘LOGOS’ menjadi daging [manusia], menderita, mati disalibkan, bangkit dari antara orang mati pada hari ketiga, dan naik ke surga, merupakan fakta tuunggal, yang tidak dimiliki oleh agama-agama lain. Yesus itu tidak sesederhana yang dipikirkan. Ada sejumlah alasan mengapa Kristen menyembah Yesus, Logos yang Kekal yang menjadi manusia.

Lalu mengapa para pembenci Kekristenan semakin memuncak? Alasannya masih tetap sama. Begini: Kristen adalah agama yang melihat pada KASIH dan PENGAMPUNAN Yesus Kristus yang berkurban bagi umat-Nya. Di dalam kasih-Nya, manusia menemukan kedamaian di tengah ancaman, ketenangan di tengah keributan riuh kebencian, baik terhadap Yesus, maupun terhadap pengikut-Nya.

Di dalam pengampunan-Nya, manusia menemukan bahwa pengampunan adalah syarat perdamaian dan alat untuk meredam konflik berkepanjangan. Tetapi mengapa konflik antar agama masih terus terjadi? Hal itu bisa disebabkan karena dua hal: pertama, karena pembenci Kristen tidak memiliki dan memahami konsep pengampunan Kristen—mereka memiliki sistem kebencian yang permanen, mendarah daging, dan ingin agar Kekristenan musnah dari muka bumi ini; dan kedua, mereka yang mengaku Kristen belum sepenuhnya memahami tentang pengampunan yang sejati.

Mengapa bisa demikian? Memang tidak ada jaminan permanen bahwa orang Kristen yang memahami tentang pengampunan dapat dipertahankan secara konsisten hingga akhir hayatnya. Hanya mereka yang sungguh-sungguh telah diubahkan oleh Yesus Kristus yang dapat menerapkan PENGAMPUNAN kepada siapa saja termasuk kepada mereka yang telah melukai, membenci, mencaci, bahkan membunuh orang-orang yang mereka kasihi. Tak ada hal apapun yang dapat menghalangi kuatnya kasih dan pengampunan yang dilakukan oleh orang-orang Kristen; mereka telah mengikuti teladan Yesus Kristus.

Yesus Kristus adalah harapan kekristenan yang dengannya orang-orang percaya menaruh pengharapan akan kehidupan yang kekal sebagaimana yang dijanjikan-Nya.

Yohanes 3:36, Barangsiapa percaya kepada Anak, ia beroleh hidup yang kekal, tetapi barangsiapa tidak taat kepada Anak, ia tidak akan melihat hidup, melainkan murka Allah tetap ada di atasnya.

Yohanes 5:24, Aku berkata kepadamu: Sesungguhnya barangsiapa mendengar perkataan-Ku dan percaya kepada Dia yang mengutus Aku, ia mempunyai hidup yang kekal dan tidak turut dihukum, sebab ia sudah pindah dari dalam maut ke dalam hidup.

Yohanes 6:40, Sebab inilah kehendak Bapa-Ku, yaitu supaya setiap orang, yang melihat Anak dan yang percaya kepada-Nya beroleh hidup yang kekal, dan supaya Aku membangkitkannya pada akhir zaman.

Yohanes 10:28, dan Aku memberikan hidup yang kekal kepada mereka dan mereka pasti tidak akan binasa sampai selama-lamanya dan seorangpun tidak akan merebut mereka dari tangan-Ku.

Di dalam Yesus Kristus, orang Kristen melihat dunia sebagai objek kasih Allah, dan didorong untuk menyatakan kasih Allah kepada sesamanya, bahkan musuh sekalipun. Saya teringat akan perkataan Yesus, sebagaimana yang dicatat dalam Injil Matius dan Lukas berikut ini:

Matius 5:44, Tetapi Aku berkata kepadamu: Kasihilah musuhmu dan berdoalah bagi mereka yang menganiaya kamu.

Lukas 6:27, Tetapi kepada kamu, yang mendengarkan Aku, Aku berkata: Kasihilah musuhmu, berbuatlah baik kepada orang yang membenci kamu.

Lukas 6:35, Tetapi kamu, kasihilah musuhmu dan berbuatlah baik kepada mereka dan pinjamkan dengan tidak mengharapkan balasan, maka upahmu akan besar dan kamu akan menjadi anak-anak Allah Yang Mahatinggi, sebab Ia baik terhadap orang-orang yang tidak tahu berterima kasih dan terhadap orang-orang jahat.

Pengajaran Yesus Kristus di atas bukanlah hal yang mudah untuk dilakukan. Yesus telah melakukannya. Kita melihat ucapan Yesus ketika Ia disalibkan: “Ya Bapa, ampunilah mereka sebab mereka tidak tahu apa yang mereka perbuat.” Dalam kondisi terhina, tersalib, direndahkan, dicaci maki, dikatakan penghujat Allah, Yesus masih menunjukkan kasih dan pengampunan yang luar biasa. Itulah sebabnya, mengapa orang Kristen yang sejati bisa mengampuni musuh-musuhnya, bahkan lebih dari itu, mendoakan musuh-musuhnya. Ini ajaran yang sungguh luar biasa. Jika saja Yesus mengajarkan sebaliknya, maka dunia ini akan kacau balau.

Jesus engrave text

Di dalam Yesus Kristus, dunia memiliki pengharapan bagi mereka yang berharap dan percaya kepada-Nya. Yesus adalah harapan Kekristenan di mana orang-orang percaya dapat merealisasikan kasih dan pengampunan Allah dalam totalitas kehidupan mereka. Meski pada beberapa catatan sejarah, orang-orang percaya dibunuh karena iman mereka kepada Kristus. Mereka tidak menukar iman hanya karena harta benda, uang, dan lain sebagainya. Sebut saja Perpetua, seorang perempuan muda yang mati dipancung. Ia tidak mau menukar imannya dengan apa pun. Ia tidak gentar sedikit pun ketika kematian sudah di depan mata. Ia memiliki pemahaman bahwa pengampunan Yesus atas dirinya telah mengubah hidupnya menjadi hidup yang bahagia dan merasakan kasih Tuhan. Harta benda tidaklah abadi, tetapi iman kepada Yesus Kristus, menjadikan Perpetua berubah dan begitu mengasihi Tuhan dan sesamanya.

Hingga saat ini, kebencian terhadap Kekristenan masih tetap ada dan bahkan telah diupayakan oleh sekelompok orang yang memiliki paham radikal—yang hanya menggunakan tafsir ala kadarnya dan tak memiliki cukup ilmu untuk melihat dunia yang luas. Bagi mereka, Kristen adalah “kafir” dan darahnya halal untuk ditumpahkan. Ini ajaran yang aneh dan mengundang munculnya potensi perang. Tetapi, apakah orang Kristen di seluruh dunia merasa terganggu dengan sebutan tersebut? Tentu ada, tetapi tidak banyak. Meskipun demikian, orang Kristen tetap menunjukkan teladan mereka dalam hal “mengasihi” dan “mengampuni”—sebuah ajaran yang suprematif dalam iman Kristen. Tak ada yang dapat mengalahkan kedua hal itu. Yesus telah membuktikannya.

Jika Yesus yang menerapkan kasih dan pengampunan dan tidak berhasil maka Kekristenan tidak ada di dunia ini. Sebaliknya, kasih dan pengampunan sangat efektif dan telah terbukti dalam sejarah. Hingga sekarang, tak ada yang dapat menghambat dan melawan gerakan kasih dan pengampunan yang dikerjakan oleh pengikut Yesus Kristus.

Yesus pernah berkata: “Barangsiapa mencintai nyawanya, ia akan kehilangan nyawanya, tetapi barangsiapa tidak mencintai nyawanya di dunia ini, ia akan memeliharanya untuk hidup yang kekal” (Yohanes 12:25). Perkataan Yesus ini hendak menegaskan bahwa jika kematian karena Dia, maka ada jaminan, yaitu kehidupan kekal. Ini adalah harapan iman Kristen. Jika tidak demikian, untuk apa percaya kepada Yesus? Jaminan tersebut telah mengubah dunia dan Kristen telah menunjukkan identitas dirinya sebagai agama yang menunjukkan dan mewartakan kasih dan pengampunan.

blue and brown painted wall

Yesus adalah harapan Kekristenan. Tak ada yang dapat dibanggakan di dunia ini selain bagaimana sikap kita untuk menyatakan kasih dan pengampunan. Memang kelihatannya sulit dilakukan, tetapi mereka yang menancapkan imannya secara kokoh kepada Yesus Kristus, tidak akan mengalami kendala tentang hal ini, melainkan bersemangat dalam menampilkan perilaku hidup yang penuh kasih dan pengampunan.

Marilah kita mengubah dunia di sekitar kita dengan menunjukkan dan mewartakan kasih dan pengampunan. Sebagai pengikut Yesus Kristus, seyogianya kita mengasihi sesama termasuk musuh yang membenci kita, mengampuni orang yang bersalah kepada kita, dan mendoakan orang-orang yang kita kasihi dan yang membenci kita.

Yesus Kristus adalah harapan kita. Lihatlah kepada-Nya dan temukan hidup yang kekal: “Domba-domba-Ku mendengarkan suara-Ku dan Aku mengenal mereka dan mereka mengikut Aku, dan Aku memberikan hidup yang kekal kepada mereka dan mereka pasti tidak akan binasa sampai selama-lamanya dan seorangpun tidak akan merebut mereka dari tangan-Ku” (Yohanes 10:27-28).

Salam Bae

Sumber gambar: https://unsplash.com/s/photos/jesus

NATAL DAN PANEGIRIK

Merry Christmas signage

Natal Yesus Kristus adalah peristiwa sejarah, yang dalam perkembangan pemahaman terhadapnya, telah mengubah dunia. Sosok “Yesus Kristus” yang lahir di Betlehem, di tempat yang biasa saja—palungan—menampakkan fakta bahwa bukan soal di tempat mana Ia dilahirkan, melainkan pada apa yang akan Dia lakukan dalam totalitas kehidupan-Nya di kemudian hari.

Natal telah menyita perhatian dunia. Mulai dari kegembiraan umat Kristen menyambutnya, sampai mereka yang bergeliat untuk melarang mengucapkan “Selamat Natal”. Kebencian dan kebodohan membuat manusia-manusia dengan otak sejengkal yang merasa bahwa perayaan Natal sebagai “ancaman gangguan kejiwaan” bagi mereka yang merasa “beragama” tetapi hati dan pikirannya berisi kebencian dan kebodohan semata.

Dualisme perayaan Natal selalu secara simultan berjalan. Di satu sisi Natal diungkapkan dengan “panegyric” [tulisan yang berisi puji-pujian] dan di sisi lain, Natal dianggap sebagai gangguan tertentu sehingga bagi mereka yang merasa terganggu, mengucapkan “Selamat Natal” dianggap haram. Atau yang lebih parahnya, menggunakan ornamen-ornamen Natal, pun dianggap tidak baik. Ya, sudahlah. Kami yang merayakan Natal, mengapa “mereka” yang menggeliat tanda turun bero?

Kita melihat bahwa Natal tak hanya sekadar perayaan atau seremoni belaka. Natal menghadirkan sebuah pemahaman dan kesadaran. Pemahaman yang menekankan bahwa Sang Logos Ilahi—dengan kuasa-Nya yang luar biasa itu—datang “menjadi” daging, masuk ke dalam kehidupan manusia di dunia, hidup, melayani, dan menghadirkan damai sejahtera sorgawi.

Yesus Kristus yang telah lahir melalui rahim Maria, meskipun ini merupakan tanda ajaib dari surga, masih meninggalkan tanda tanya bagi mereka yang “tidak menyukai iman Kristen” atas konteks inkarnasi. Namun, sepanjang sejarah, Natal menjadi kekuatan tersendiri, tidak hanya bagi umat percaya, tetapi juga bagi mereka yang terhilang, papa (miskin, sengsara), terabaikan, Natal menjadi kesukaan dan sukacita, di mana Tuhan melawat mereka melalui “tangan-tangan kasih” yang diutus-Nya.

Pada momen Natal, terbit berbagai panegirik—tulisan berisi puji-pujian kepada Yesus Kristus—di berbagai media di seluruh dunia. Panegirik adalah tanda kesukacitaan umat Allah akan kasih-Nya yang besar. Mereka mengungkapkan anugerah Allah atas manusia yang berdosa dengan mengutus Anak-Nya yang tunggal—Logos yang kekal bersama-sama dengan Allah, Bapa yang kekal—datang memasuki daging manusia—Maria—dan menjadi manusia sejati. Betapa kuasa Allah dinyatakan bagi manusia dan fakta ini telah melahirkan begitu banyak panegirik. Selain mengungkapkannya melalui pengajaran, khotbah, puji-pujian, tari-tarian, momen Natal pun diungkapkan melalui panegirik.

Memang, secara mutlak, hanya Allah yang layak dipuji dan disembah. Orang Kristen memuji Yesus Kristus dan menyembah-Nya karena Ia menunjukkan perbuatan-perbuatan yang hanya dilakukan Allah. Kita tahu  bahwa peristiwa inkarnasi-Nya begitu ajaib: tanpa ada hubungan seksual. Logos menjadi manusia di dalam rahim Maria adalah karena “Roh Kudus turun atas dia dan kuasa Allah yang Mahatinggi yang menaunginya” (Lukas 1:35). Dari konteks ini, maka istilah “Anak Allah” diperteguh dan diperjelas.

Jadi, Yesus sebagai Anak Allah bukan karena Allah beranak, melainkan karena Logos yang menjadi manusia, dilahirkan melalui rahim perawan Maria, di mana intervensi penuh dari Allah Tritunggal itu sendiri memperlihatkan kepada kita kenyataan mengenai kuasa-Nya yang luar biasa. “Anak”, karena Sang Logos “menjadi daging dan dilahirkan”—sebab semua manusia yang dilahirkan disebut ‘anak’. “Allah”, karena memang Logos adalah Allah yang kekal (Yoh. 1:1-3).

Kita tahu bahwa Yesus memiliki dua natur. Sebagai manusia Ia dilahirkan, maka disebut “Anak”. Sebagai Allah, Ia menyatakan diri melalui peristiwa ajaib: Maria mengandung karena Roh Kudus dan kuasa Allah menaunginya, sebab tak mungkin seorang perempuan muda yang belum menikah, bisa mengandung. Di samping itu, terlihat jelas sejak awal bahwa proses pembuahan dalam rahim Maria bukanlah hasil dari hubungan biologis, melainkan murni intervensi kuasa Allah yang luar biasa itu.

Alkitab secara tegas menjelakan fakta ini: “Sesungguhnya engkau akan mengandung dan akan melahirkan seorang anak laki-laki dan hendaklah engkau menamai Dia Yesus. Ia akan disebut Anak Allah yang Mahatinggi. Dan Tuhan Allah akan mengaruniakan kepada-Nya takhta Daud, bapa leluhurnya, dan Ia akan menjadi raja atas kaum keturunan Yakub sampai selama-lamanya dan Kerajaan-Nya tidak akan berkesudahan” (Lukas 1:31-33).

Berita Natal itu kini masih tetap dan akan tetapi menjadi “trending topic” di seluruh dunia. Perayaannya, meski dilakukan dengan berbagai cara, tapi substansinya menghasilkan berbagai “buah bibir” [percakapan teologis dan aplikatif], berbagai panegirik, berbagai pelayanan dan pemberitaan Injil, dan berbagai kesaksian hidup dari mereka yang percaya dan diubahkan oleh Yesus Kristus.

Kita harus mengakui bahwa Natal adalah supremasi kuasa Allah Tritunggal, yang menyatakan bahwa Ia berkuasa untuk “menjadi” manusia, berkuasa menebus, menyelamatkan, menguduskan, dan membenarkan manusia-manusia berdosa. Dan semuanya diwujudkan karena Ia “mengasihi” manusia. Kasih Allah adalah dasar dari inkarnasi Yesus Kristus yang setiap tahun kita rayakan Natal-Nya. Natal Yesus Kristus mendorong kita untuk terus menciptakan panegirik bagi kemuliaan nama-Nya.

Panegirik—tulisan-tulisan yang memuji dan memuliakan nama-Nya—tetap menjadi bagian dari pewartaan kabar Natal, kabar sukacita bahwa Allah telah menyatakan kasih-Nya untuk datang mengunjungi dunia dan manusia ciptaan-Nya. Ia datang untuk mengajar dan mengarahkan manusia untuk melihat Allah dan kehendak-Nya, bagi sebuah tujuan keselamatan yang dianugerahkan-Nya melalui diri-Nya sendiri, yaitu Logos yang menjadi manusia.

Logos Allah itu yang datang membawa kabar baik bagi manusia berdosa. Menyembah Logos Allah sama saja dengan menyembah Allah. Tak mungkin kita menyembah Allah yang tanpa Logos. Kesalahan fatal bagi para negator ketuhanan Yesus adalah “melihat dengan kacamata kuda yang sudah buram” yaitu pada kemanusiaan Yesus dan mengabaikan natur ontologi-Nya.

red bauble

Allah di dalam daging (God in flesh) merupakan wujud kekuasaan-Nya. Kita hanya dapat berucap: “Engkau hebat, Allahku. Engkau sungguh dahsyat. Engkau telah mengasihi manusia berdosa, dan mengutus Yesus Kristus, Sang Logos yang kekal, untuk menyatakan kuasa, kehendak, kasih, keselamatan, jalan, kebenaran, kehidupan yang benar di hadapan Allah, di mana semuanya adalah ANUGERAH TERINDAH dalam kehidupan manusia.

Sungguh, Natal membawa perubahan, membawa kebahagiaan. Ia yang datang dalam rupa manusia, menyejarah dalam kehidupan manusia, kehidupan kita semua, sepanjang zaman. Natal adalah hadiah bagi kita; Natal adalah anugerah, dan Natal adalah kekuatan untuk menyadarkan bahwa kitalah yang membutuhkan Allah untuk menyelamatkan kita, dan Dialah yang datang membawa kita kepada kerajaan-Nya yang kekal, terlebih membawa kita untuk menerima kehidupan kekal sebagaimana yang Ia janjikan.

Di momen Natal, marilah kita merenungi segala kebaikan Tuhan. “Make up your mind” (ambil keputusan) untuk setia melayani, setia hidup dalam kebenaran, dan setia menjadi saksi Kristus kapan pun dan di mana pun. Tindakan tersebut didukung dengan prinsip “make up one’s mind” (membulatkan hati) bahwa segala sesuatu yang kita kerjakan di jalan Tuhan, akan senantiasa mendapat pertolongan dan berkat dari Dia, Allah yang sejati dan Maha Penolong itu. Ia mengubahkan kita menjadi seperti yang Ia kehendaki. Dan itu sangatlah indah.

red Merry Christmas text overlay

Selamat Merayakan Natal, Saudaraku.

Salam Bae……

Sumber gambar: https://unsplash.com/s/photos/merry-christmas

NATAL: MENYAMBUT SANG JURUSELAMAT

Nativity Poster featuring the painting La Nativita' by Guido Borelli

Iman Kristen tidak bisa dipahami secara fragmentaris (terpecah-pecah); tidak bisa juga dipahami secara parsial (sebagian), melainkan harus dipahami secara komprehensif (menyeluruh). Ketika memahami makna Natal Yesus Kristus, dibutuhkan sebuah pemahaman yang komprehensif yaitu melihat kesatuan aspek-aspek sejarah penebusan (historical of redemption), profetis, penggenapan, teologis, dan mesianis Davidik. Kedatangan (Kelahiran) Yesus Kristus adalah realisasi dari kehendak Allah untuk menyelamatkan manusia dari belenggu dosa. Natal menyatakan bahwa Allah yang Mahakasih itu berkehendak menyelamatkan manusia dengan cara-Nya sendiri.

Natal adalah sebuah konteks di mana Allah menyatakan kasih-Nya untuk menyelamatkan manusia (bdk. Yohanes 3:16). Cara Allah memang lain yaitu mengaruniakan Anak-Nya [Logos menjadi manusia] ke dalam dunia. Meski dipandang sebagai batu sandungan Yesus Kristus sampai sekarang ini telah menjadi “batu penjuru”:

Mazmur 118:22-23. Batu yang dibuang oleh tukang-tukang bangunan telah menjadi batu penjuru. Hal itu terjadi dari pihak TUHAN, suatu perbuatan ajaib di mata kita.

Yesaya 28:16. Sebab itu beginilah firman Tuhan ALLAH: “Sesungguhnya, Aku meletakkan sebagai dasar di Sion sebuah batu, batu yang teruji, sebuah batu penjuru yang mahal, suatu dasar yang teguh: Siapa yang percaya, tidak akan gelisah! 

Matius 21:42. Kata Yesus kepada mereka: “Belum pernahkah kamu baca dalam Kitab Suci: Batu yang dibuang oleh tukang-tukang bangunan telah menjadi batu penjuru: hal itu terjadi dari pihak Tuhan, suatu perbuatan ajaib di mata kita.

Markus 12:10-11. Tidak pernahkah kamu membaca nas ini: Batu yang dibuang oleh tukang-tukang bangunan telah menjadi batu penjuru: hal itu terjadi dari pihak Tuhan, suatu perbuatan ajaib di mata kita.

Lukas 20:17. Tetapi Yesus memandang mereka dan berkata: “Jika demikian apakah arti nas ini: Batu yang dibuang oleh tukang-tukang bangunan telah menjadi batu penjuru?”

Kisah Para Rasul 4:11. Yesus adalah batu yang dibuang oleh tukang-tukang bangunan yaitu kamu sendiri ,namun ia telah menjadi batu penjuru.

Efesus 2:19-20. Demikianlah kamu bukan lagi orang asing dan pendatang, melainkan kawan sewarga dari orang-orang kudus dan anggota-anggota keluarga Allah, yang dibangun di atas dasar para rasul dan para nabi, dengan Kristus Yesus sebagai batu penjuru.

1 Petrus 2:6-7. Sebab ada tertulis dalam Kitab Suci: “Sesungguhnya, Aku meletakkan di Sion sebuah batu yang terpilih, sebuah batu penjuru yang mahal, dan siapa yang percaya kepada-Nya, tidak akan dipermalukan.” Karena itu bagi kamu, yang percaya, ia mahal, tetapi bagi mereka yang tidak percaya: “Batu yang telah dibuang oleh tukang-tukang bangunan, telah menjadi batu penjuru, juga telah menjadi batu sentuhan dan suatu batu sandungan.”

Yesus sebagai batu penjuru adalah penggenapan  nubuatan PL (Mazmur 118:22-23 dan Yesaya 28:16). Itu adalah “perbuatan ajaib” yang luar biasa. Tuhan memang hebat dan luar biasa. Ia memperlihatkan kedaulatan dan kuasa-Nya yang besar kepada manusia dalam hal “menyelamatkan”, yang secara progresif – dari PL ke PB – tergenapi (finalitasnya) dalam diri Kristus Yesus, Juruselamat yang berkuasa.

Cara ini – Inkarnasi Logos – adalah cara yang paling spektakuler karena ternyata Allah sanggup menjadikan cara yang dianggap bodoh dan menjadi batu sandungan malahan telah mengubah dunia, menguasai dunia, dan memberkati dunia. Dari Kristus kita dibenarkan, ditebus, dan diselamatkan. Luar biasa bukan?

Natal [kelahiran] Yesus Kristus adalah sebuah fakta sejarah bahwa Allah begitu mengasihi kita yang berdosa; Ia menebus dan menyatakan kemurahan dan pengampunan-Nya. Itulah HIKMAT ALLAH. Karena manusia berdosa kepada Allah, maka hanya Allah saja yang berhak menentukan bagaimana seharusnya Ia menebus manusia dari dosa-dosa mereka.

Natal Yesus Kristus tidak dapat dipisahkan dari karya keselamatan Allah yang melalui Yesus Kristus—yang mati disalibkan—menebus manusia. Cara ini dianggap oleh manusia sebagai cara yang bodoh, tetapi Allah mengubah yang bodoh itu menjadi sebuah karya yang luar biasa hebatnya: Ia “membenarkan”, “menebus”, “menguduskan”, dan “menyelamatkan” manusia.

Beberapa teks berikut ini, akan menjelaskan sedikit mengenai konteks Natal dan maknanya.

PERTAMA: MATIUS 1:21

Teks Matius 1:21 adalah bukti bahwa Allah telah mengunjungi dunia melalui Yesus Kristus, Firman yang menjadi manusia (Yoh. 1:14). Bagaimana Allah bisa menjadi manusia? Tentu Allah bisa. Bukankah itu dianggap tidak masuk akal? Tentu tidak. Allah itu Pencipta dan Mahakuasa, jadi tidak ada yang mustahil bagi Dia.

Natal berbicara tentang totalitas kehidupan kemanusiaan Yesus. Ia lahir, Ia mati menebus manusia, Ia bangkit dan menyatakan bahwa kematian yang dianggap sebagai kondisi terkutuk, namun kondisi tersebut dipakai Allah untuk tujuan yang mulia dan luar biasa yaitu manusia diselamatkan dan memperoleh kehidupan yang kekal (Yohanes 3:16).

Dalam keadaan-Nya sebagai manusia sejati, Yesus juga memperlihatkan identitas ontologi-Nya: Ia berkuasa membangkitkan, menyembuhkan berbagai jenis penyakit, berjalan di atas air, memberi makan banyak orang, dan lain sebagainya. Yesus, meski secara manusia Ia sama dengan manisia lainnya, tetapi Ia sekaligus menunjukkan perbedaannya dengan manusia lainnya; Ia menunjukkan identitas ontologi-Nya.  

KEDUA: 1 KORINTUS 1:30A

Yesus yang adalah hikmat bagi kita merupakan perluasan makna dari “hikmat Allah”. Penekanan di sini adalah pada soal bagaimana “Cara Allah menyelamatkan manusia dari dosa-dosa mereka”. Melalui “Salib” (bdk. 1:18 [pemberitaan tentang salib]; 1:23) Allah merealisasikan keselamatan-Nya. Pemberitaan tentang Yesus yang disalibkan, untuk tujuan penyelamatan—dan ini adalah hikmat Allah atau cara Allah menyelamatkan manusia yang dianggap sebagai kebodohan oleh orang Yunani dan batu sandungan oleh orang Yahudi.

Cara Allah justru bertolak belakang dengan cara manusia memahami keselamatan. Cara Allah dianggap bodoh oleh dunia yaitu “penyaliban dan kematian Yesus sebagai Mesias”; Yesus yang dianggap sebagai Tuhan, ternyata tidak berdaya saat disalibkan. Pandangan ini sama sekali mengabaikan kebangkitan-Nya. Justru Yesus itu hebat tak tertandingi; saat Ia disalibkan, orang menganggap Dia tak berdaya dan kalah. Tapi saat Ia bangkit, tak ada yang dapat berkata bahwa Ia kalah. Lawan-lawan-Nya bertindak lucu: menganggap Yesus kalah, tapi tak bisa melawan kebangkitan-Nya. Ia memang berkuasa. Yesus hebat.

Allah memilih yang lemah yaitu bagaimana caranya Yesus mati disalib tanpa perlawanan. Kematian Yesus yang tanpa perlawanan (dari Yesus dan murid-murid-Nya) justru dikalahkan oleh kebangkitan Yesus yang juga tanpa perlawanan dari pihak mereka yang membenci dan memusuhi Yesus. Ini impas. Mereka yang membunuh Yesus tak berkutik sedetik pun untuk menghalangi kebangkitan-Nya.

Yesus Kristus dijadikan Allah sebagai “HIKMAT” bagi kita yaitu ketika kita “MEMAHAMI” bahwa kematian Yesus disalib menghasilkan pembenaran, pengudusan, penebusan, dan penyelamatan kita. Kelahiran Yesus Kristus adalah tanda awal “HIKMAT” Allah bagi manusia berdosa; Allah menyatakan kasih dan kemurahan-Nya untuk menebus manusia.

Kelahiran Yesus adalah cara Allah menggenapi janji-Nya. Meski cara ini dianggap tidak berarti, hina, lemah, suatu kebodohan dan sebagai batu sandungan, tetapi hikmat Allah tak dapat dilawan oleh siapa pun juga. Manusia tidak dapat melawan dosa; malahan manusia selalu melakukan dosa, terikat oleh dosa; terbelenggu oleh dosa, dan bahkan menyatu dengan dosa. Tak ada satu manusia pun yang dapat melepaskan diri dari dosa; ia pasti membutuhkan Juruselamat. Yesus telah membuktikan bahwa Ia “menebus” dan menawarkan kehidupan kekal bagi mereka yang telah ditebus-Nya. Itulah HIKMAT ALLAH yang dibuktikan kepada manusia.

Yesus adalah HIKMAT ALLAH yang melalui Dia ‘KITA DISELAMATKAN DARI DOSA, PELANGGARAN, DAN KESALAHAN”. Ini sangat luar biasa, menjadi sukacita dan penghiburan bagi kita. Dosa kita telah ditebus; layaklah kita hidup dalam kebenaran-Nya dan kekudusan.

MAKNA NATAL

Natal membawa damai sejahtera dari Sang Khalik. Dialah sumber damai sejahtera, dan Ia ingin damai itu tinggal menetap dalam kehidupan manusia. Damai sejahtera itu juga telah menjaga bumi dari kerusakan dosa (kejahatan) manusia dan orang-orang pilihan-Nya memperlihatkan sikap hidup yang penuh damai. Yesus yang pernah tinggal menetap di bumi, mewariskan damai sejahtera yang Ia bawa dari tempat-Nya kepada umat pilihan-Nya agar bumi tetap terjaga.

Natal membawa pengaruh yang luar biasa dalam dunia ini. Kita tahu bahwa Yesus tidak hanya sekadar manusia biasa; Ia memiliki dua natur: Ilahi dan manusia. Ia menjadikan dunia sebagai ladang misi Allah, menyadarkan manusia akan dosa-dosa mereka, mengarahkan mereka kembali kepada Allah, memberikan jaminan kehidupan yang akan datang.

Kita mengaku bahwa Yesus adalah Logos yang datang mengunjungi manusia. Ia adalah gambar Allah yang tidak kelihatan. Sebagai manusia Yesus menunjukkan eksistensi humanitas-Nya, dan sebagai Logos, Ia juga menunjukkan eksistensi ontologi-Nya dari perbuatan-perbuatan ajaib yang dilakukan-Nya. Allah telah “menghadapkan” wajah-Nya kepada manusia dan memberikan mereka damai sejahtera. Hanya pada “wajah” Allah—Yesus Kristus—damai itu terberi kepada kita.

Kedatangan Yesus ke dunia bukan tanpa tujuan sehingga orang mengira bahwa Ia hanyalah manusia biasa yang lahir lalu mati. Sebagaimana Allah menyatakan kehendak-Nya melalui Firman-Nya kepada orang-orang yang dipilih-Nya di zaman dulu (PL), maka Ia juga menyatakan kehendak-Nya melalui Firman-Nya sendiri yang menjadi manusia, untuk mengarahkan dan membawa pulang ke jalan kebenaran-Nya. Dalam bingkai Sejarah Penebusan, kita melihat bahwa runut historis mengenai kejatuhan manusia dalam dosa dan proses yang dilakukan Allah untuk menebus manusia dari dosa mereka berlanjut hingga di zaman Yesus Kristus. Aspek teologis ini menjadi penting bagi kita yang mau melihat Natal Yesus dari bingkai Sejarah Penebusan tadi.

Hasil dari proses memahami hal itu mengantarkan kita kepada pemahaman dan kesimpulan bahwa Natal adalah cara Allah yang spektakuler untuk menunjukkan kasih-Nya. Tanpa kasih, tak mungkin ada penebusan dan pengampunan, bahkan keselamatan. Karena kasih, Logos menjadi manusia (bdk. Yoh. 3:13). Karena kasih, Allah mau mengambil manusia dari lumpur dosa.

13395.jpg

Bukankah kita patut bersyukur jika Allah datang mengunjungi manusia dan hidup di antara kita? (bdk. Yoh. 1:14). Natal Yesus Kristus adalah harapan bagi para pendosa. Ia membawa mereka—kepada Bapa-Nya—setelah menyelesaikan tugas-Nya, yaitu mati menggantikan manusia berdosa, menjadi Pendamai yang sempurna, dan menjadi Penebus yang tak berdosa bagi manusia manusia berdosa. Ia adalah Pengantara yang sempurna.

Hikmat Allah begitu tinggi, yaitu: Logos yang memasuki dunia manusia dengan menjadi manusia. Ia adalah Juruselamat. Manusia diselamatkan “melalui” Firman-Nya. Ia menyatakan kasih, kemurahan, dan anugerah yang tak terkatakan. Yesus telah melakukan itu semua.

Natal-Nya yang kita rayakan setiap tahun merupakan alasan bagi kita untuk terus “menyambut Sang Juruselamat” yang telah berkarya bagi kita. Tanpa Dia, kita hampa, hidup dalam kegelapan, hidup dalam dosa dan kenajisan. Di dalam Dia kita merasakan terang yang sesungguhnya, merasakan damai sejahtera, dan hidup dalam kekudusan. Tak ada imbalan yang dapat kita balaskan kepada-Nya, atau hadiah Natal yang kita persembahkan pada-Nya; kita hanya diberikan hati, ya, hati untuk bersyukur, untuk menyadari keterbatasan, hati yang mau datang setiap waktu kepada-Nya, hati yang mengandalkan Dia, dan hati yang mau setia kepada-Nya, sampai akhir hayat.

Soli Deo Gloria

Sumber gambar:

  1. https://fineartamerica.com/featured/la-nativita-guido-borelli.html?product=poster
  2. https://www.wayfair.com/outdoor/pdp/toland-home-garden-star-of-bethlehem-28-x-40-inch-house-flag-btq4289.html?utm_source=pinterest&utm_medium=social
  3. https://www.kohls.com/product/prd-5505008/master-piece-mary-joseph-shepherd-boy-wall-decor.jsp?skuid=76934394
  4. https://www.advocate-art.com/alan-lathwell/13395-jpg?date=&query=Mary&order_by=latest
  5. https://mcwglenys.blogspot.com/2020/08/the-donkey-decree-was-issued-by-caesar.html?spref=pi
  6. https://www.advocate-art.com/alan-lathwell/screen-shot-2020-09-29-at-4-22-36-pm-png

NATAL ADALAH KESUKAAN BAGI KITA

Berita Natal Yesus Kristus—bagi mereka yang percaya kepada-Nya—dipandang sebagai berita yang memiliki makna terdalam. Natal tidak hanya sebuah berita kesukaan besar bagi seluruh bangsa tetapi juga mengandung pesan bahwa “manusia membutuhkan Juruselamat untuk menolongnya dari keterpurukan, keterpisahan dengan Allah karena dosa-dosa manusia”; dosa menjadi persoalan mendasar manusia yang tak dapat diselesaikan oleh manusia. Allah adalah Juruselamat dan dengan “cara-cara” tertentu, Allah menampilkan kualitas kasih, kuasa, dan pengampunan-Nya. Tak ada yang dapat membendung cara Allah menyelesaikan masalah dosa manusia. Perjanjian Lama dan Perjanjian Baru memperlihatkan cara-cara tersebut: penebusan dan pengampunan melibatkan “darah” – kehidupan yang dipertaruhkan sebagai “substitusi” [pengganti]. 

Pada kenyataannya, semua manusia—tanpa terkecuali—menghadapi masa-masa sulit, menyenangkan, dan membosankan. Hal itu disebabkan karena dosa. Mereka yang menghadapi masa-masa sulit karena dosa telah berada pada tingkat konsekuensi dari apa yang mereka lakukan. Dalam kondisi ini, dibutuhkan kesadara untuk memahami bahwa hidup dalam dosa menyisahkan kepedihan dan luka yang mendalam, tak terobati. Tidak hanya itu, dosa membuat relasi dengan sesama menjadi rusak. Jembatan spiritual-moralitas pun perlahan memudar dan pada akhirnya padam.

Mereka yang menghadapi masa-masa menyenangkan karena dosa masih tetap merasakan bahwa dosa itu nikmat dan memberikan kepuasan. Tetapi mereka melupakan bahwa kehidupan yang bersih dan kudus adalah lebih baik ketimbang merasa bersih di dalam kubangan dosa. Orang-orang yang merasakan kesenangan karena dosa akan menimbulkan banyak persoalan-persoalan baik relasi, keluarga, pekerjaan, spiritual, dan lain sebagainya. Akibatnya, mereka berhadapan dengan tuduhan, tekanan, dan bahkan ancaman serius bagi keberlangsungan hayati mereka.

Mereka yang menghadapi masa-masa membosankan karena dosa telah berada pada tingkat kesadaran yang lebih baik. Harapan akan kehidupan yang lebih baik dapat muncul dalam kondisi ini. Mereka dapat sadar dan memikirkan bahwa sebaik apapun dosa itu, tetap akan menimbulkan masalah serius. Kecuali, mereka tergerak untuk menyadarkan diri sendiri bahwa ada jalan yang lebih baik, lebih bahagia, ketimbang berada dalam ikatan dosa.

Pretty girl with long hair in knitted hat and warm sweater on wooden background. She holds christmas present with phone in gloves and looks astonished to camera

Dalam kondisi demikian, selalu ada cara Allah yang ditunjukkan-Nya untuk memberikan manusia pengampunan sekaligus mengundangnya datang kepada-Nya. Dari cara-cara yang tampak dalam Perjanjian Lama, Allah kemudian memperlihatkan cara-Nya tentang bagaimana Ia mengasihi dan menyelamatkan manusia melalui penebusan, pengampunan, pengudusan, pendamaian, dan pembenaran. Semua itu digenapi, dipenuhi, dan dilakukan oleh Yesus Kristus.

Dengan demikian, ketika malaikat Tuhan mengatakan kepada para gembala: “Jangan takut, sebab sesungguhnya aku memberitakan kepadamu kesukaan besar untuk seluruh bangsa: Hari ini telah lahir bagimu Juruselamat, yaitu Kristus, Tuhan, di kota Daud” (Lukas 2:10-11), maka “kesukaan besar” itu meliputi karya-karya Yesus Kristus yang akan menebus, mengampuni, menguduskan, mendamaikan, dan membenarkan.

Natal adalah kesukaan bagi kita, dan Natal itu sendiri adalah awal dari Kekristenan. Natal diawali dengan kuasa Allah yaitu dengan mengandungnya Maria dari [kuasa] Roh Kudus (bdk. Lukas 1:31, 35 “Sesungguhnya engkau akan mengandung dan akan melahirkan seorang anak laki-laki…, Roh Kudus akan turun atasmu dan kuasa Allah Yang Mahatinggi akan menaungi engkau…”; Matius 1:20-21). Dengan demikian, Kekristenan identik dengan penyataan kuasa Allah, dan itu terbukti di sepanjang sejarah hingga saat ini.

Sebagai “Kesukaan Besar”, Natal mengarahkan hidup yang dipimpin oleh kuasa Roh Kudus, sebagaimana kehamilan Maria adalah karena kuasa Roh Kudus dan naungan Allah Yang Mahatingi. Kesukaan Besar itu seharusnya menjadi dasar bagaimana kita menjalani hidup. Dan di atas segalanya, kita mengandalkan Allah yang berkuasa, untuk menjadikan hidup kita kudus, bermakna, dan memuliakan Dia.

Sungguh luar biasa Allah kita yang telah menunjukkan kasih dan kemurahan-Nya. Tak cukup kata-kata untuk mengungkapkannya. Natal Yesus Kristus memperlihatkan kekuatan kasih dan kemurahan Allah. Dari-Nya kita melihat berbagai keajaiban hidup. Mengapa? Allah yang menyatakan kasih dan kemurahan-Nya secara ajaib pada peristiwa Natal Yesus Kristus, adalah Allah yang sama, yang juga menunjukkan keajaiban bagi kehidupan kita.

Natal yang adalah kesukaan besar itu seyogianya dijadikan “pelita” bagi langkah-langkah kita. Kita yang berjalan di jalan Allah pasti dituntun dan diterangi-Nya. Kita menenun kehidupan di dalam kasih Tuhan, dan menempatkan semua kesadaran akan hidup serta tanggung jawabnya di dalam kuasa-Nya. Ketika Natal secara baik kita pahami, maka kehidupan yang kita nikmati dan jalani akan menghasilkan buah-buah yang baik.

Jika menggunakan empat kriteria yang digunakan oleh Ravi Zacharias, seorang apologet terkenal, mengenai kekuatan kebenaran Kristen sebagai salah satu agama di dunia, maka kita akan melihat bahwa pilihan kita untuk percaya kepada Yesus Kristus adalah pilihan yang tepat. Empat kriteria yang diusulkan Zacharias adalah asal-usul, makna hidup, moralitas, tujuan akhir. Keempat kriteria ini harus dijawab secara berkorespondensi dengan kebenaran dan koheren satu sama lain.

Ketika kita melihat ASAL-ASUL kekristenan dan kebenarannya, ternyata dimulai dari kuasa dan keajaiban yang Allah perlihatkan kepada Maria, Elizabeth, para gembala, dan orang-orang majus. Bahkan juga kepada para malaikat dan bala tentara surga. Kekristenan dimulai dari Allah yang menjadi manusia, diawali dengan Natal yang ajaib yang menghadirkan JURUSELAMAT YANG AJAIB yaitu YESUS KRISTUS. Bukankah malaikat Tuhan telah menyatakan bahwa “Hari ini telah lahir bagimu Juruselamat, yaitu Kristus, Tuhan, di kota Daud” (Lukas 2:10-11) kepada para gembala dan juga kepada kita?

Ketika kita melihat MAKNA HIDUP Kristen ternyata totalitas hidupnya dipersembahkan kepada Allah, memuliakan dan menyenangkan hati-Nya. Hidup yang dipersembahkan kepada Allah adalah makna hidup yang suprematif dari Kristen. Dipersembahkan kepada Allah bukan untuk membunuh sesama, bukan pula merusak relasi dan tatanan sosial, bukan menghina dan merendahkan orang, bukan membenci dan memaki-maki, melainkan mengasihi dan mendoakan semua orang, termasuk musuh-musuh yang memusuhi Kristen. Natal Yesus Kristus juga mengajarkan kepada kita makna hidup, yaitu Maria dan Yusuf tunduk dan dengan penuh iman kepada Allah yang menyatakan kuasa-Nya bagi mereka berdua.

Ketika kita melihat MORALITAS Kristen maka semuanya dilandasi pada pengajaran-pengajaran Allah sendiri. Sebagaimana Allah membenci dosa, maka moralitas Kristen didasari pada konsep itu. sebagaimana Allah adalah kudus, maka Ia menghendaki umat-Nya untuk hidup kudus, sebuah moralitas yang paling tinggi sesuai standar yang Allah tetapkan. Allah berkata: “Kuduslah kamu sebab Aku, Tuhan Allahmu, adalah kudus”.

Ketika melihat TUJUAN AKHIR Kristen ternyata—baik awal maupun akhir—hanya di dalam Yesus Kristus. Jika Yesus adalah Alfa dan Omega—Yang Awal dan Yang AKhir—maka tujuan akhir hidup Kristen adalah kehidupan yang dipimpin oleh Yesus Kristus sebagaimana di awal hidup juga demikian. Tujuan akhir dari kehidupan yang dibarui oleh Yesus Kristus adalah kehidupan yang memuliakan Dia di dalam Kerajaan-Nya kelak. Natal adalah awal dari sebuah harapan yang disediakan Allah bagi manusia berdosa, manusia yang rusak moralitasnya karena dosa menjadi kesukaannya. Ketika hidup kita diubahkan Tuhan, maka pasti, akhir hidup kita juga akan tetap berada dalam kasih-Nya, dan menikmati kehidupan kekal yang penuh kekudusan dan kemenangan.

NATAL ADALAH KESUKAAN BAGI KITA—dan kita patut bersyukur untuk hal itu. Yesus—Logos Allah—telah menyejarah dalam kehidupan manusia hingga saat ini. Natal adalah asal usul Kekristenan. Natal menghadiahkan makna hidup yang benar di hadapan Allah, hidup yang bersandar pada-Nya dan tunduk pada kehendak-Nya.

Natal adalah panduan moralitas yang Allah kehendaki yaitu hidup dalam kekudusan. Maria melahirkan Anak yang Kudus. Hidupnya kudus; hidupya terjaga, karena dijaga oleh Roh Kudus. Dirinya dinaungi kuasa Allah yang Mahatinggi. Kita tahu di kemudian hari, seperti yang ditegaskan Rasul Paulus: “…mereka yang hidup menurut Roh, memikirkan hal-hal yang dari Roh…keinginan Roh adalah hidup dan damai sejahtera” (Roma 8:5-6). Allah adalah kudus, maka umat-Nya harus kudus.

Natal mengarahkan kehidupan Kristen kepada tujuan akhir dari hidup, yaitu memuliakan Allah dan menyenangkan hati-Nya.

Jika demikian halnya, marilah kita mengaku dan percaya bahwa NATAL YESUS KRISTUS ADALAH KESUKAAN BAGI KITA. Soli Deo Gloria

Salam Bae

Rancang situs seperti ini dengan WordPress.com
Mulai