Bagi mereka yang sering tampil di depan umum atau sedang menjalani pekerjaan kantoran, “sepatu” adalah teman setianya. Mengapa bisa? Ya, karena sepatu selalu menemaninya dan bahkan bisa menumbuhkan rasa percaya diri. Ya, memang sepatu bisa menumbuhkan rasa percaya diri selain dari kemeja dan celana yang kita kenakan—asal jangan resleting celana rusak atau terbuka dan kancing kemeja lepas dari kainnya saat tampil di depan umum.
Yang menarik dari sebuah sepatu adalah ia menemani kita ke mana pun kita pergi kecuali kita melepaskannya untuk sesaat. Ia menjadi teman yang siap sedia ketika kita melangkahkan kaki. Kita sibuk, dia pun sibuk. Kita istirahat sejenak, dia pun istirahat. Setelah kita pulang ke rumah, kita melepaskannya dan menyimpannya. Kadang kita menaruhnya dengan sembarangan; ia pun tidak mengeluh; ia hanya diam menunggu kapan ia digunakan lagi.
Aku dan sepatuku memiliki sejumlah pengalaman menarik. Ketika saya membelinya, saya merasa nyaman ketika memakainya saat bekerja, mengajar, beribadah, dan melakukan berbagai kegiatan untuk menunjang hayatiku. Rasa percaya diri pun tumbuh saat memakainya. Dipakai pun harus hati-hati. Tidak boleh digunakan untuk menendang bola yang keras.
Sepatuku telah menorehkan sejarahku; berbagai kegiatan telah saya jalani; ia pun menemaniku dengan setia. Kebanggaanku adalah kebanggaannya. Kadang orang melihatnya dan merasa kagum. Aku harus memutuskan untuk menggantikannya saat kulihat ia sudah mulai rusak.
Sepatuku adalah sahabat yang terbatas. Meski terbatas, ia telah menjadi bagian dari proses kerja, penampilan, dan pencarian “hayati”. Ia akan segera pensiun karena sudah hampir lepas alasnya.
Sepatuku, meski nanti engkau akan dibuang di tempat sampah dan kemudian diangkut oleh para petugas kebersihan di mobil kebersihan, meski engkau tidak lagi kulihat, meski engkau tidak akan kembali lagi ke rumahku, dan engkau tidak lagi mengikutiku untuk tampil di depan umum, di mimbar Gereja, di kantor tempat ku bekerja, namun kenangan bersamamu akan dikenang—dan salah satunya adalah tulisan singkat ini.
Mungkin mereka yang membaca tulisan ini sebagai penjelasan tentang dirimu dan kerja yang telah kau buktikan—memiliki pengalaman yang sama denganku, mereka akan merasakan hal yang sama dengan sepatu yang mereka gunakan. Teman-temanmu yang lain yang berada di kaki manusia-manusia lain memperlakukanmu dengan baik; dan mungkin ada yang memperlakukanmu dengan kasar, menendang bola yang bukan haknya, mengotorinya dengan mengarahkanmu kepada perbuatan-perbuatan yang tidak terpuji, perbuatan yang jahat di mata Tuhan, perbuatan yang menipu dan merusak jati diri pemakainya.
Sepatuku, aku telah membawamu begitu jauh dan perjalanan kita berdua penuh makna. Orang lain tak mengingatmu; hanya aku yang mengingatmu; demikian pula dengan sepatu orang lain; aku tidak mengingatnya. Biarkanlah mereka yang menuliskan kisah mereka dengan sepatu-sepatu mereka.
Sepatuku, sahabat-sahabatmu yang dua orang itu akan menggantikan posisimu. Mereka akan bekerja bersamaku; mereka akan tampil bersamaku bersama kemeja dan celana. Mereka berdua adalah sahabatmu yang turut berkontribusi atas prestasi yang kucapai selama ini.
Sepatuku… andai kau bisa bicara, tentu engkau akan menangis kita engkau tak lagi dibutuhkan karena sudah cukup rusak. Memaksamu untuk tampil bersamaku akan merusak citraku dan bahkan dirimu akan ditertawakan. Engkau hanya bisa digunakan tatkala engkau dalam kondisi baik. Lebih dari itu—jika dalam keadaan rusak—kita berdua sama-sama akan malu dan ditertawakan.
Terima kasih sepatuku. Selamat tinggal. Meski nanti engkau akan hancur di bumi ini, tetapi mereka yang membaca kisahmu di sini, akan mengingat pula sahabat-sahabatmu di kaki-kaki mereka masing-masing, dan memperlakunnya dengan sebaik mungkin.
Alangkah baiknya dunia ini menetapkan suatu hari untuk mengingatmu yaitu: “HARI SEPATU SEDUNIA”. Sepatuku, saya hanya bercanda. Tetapi jika memungkinkan, maka engkau akan menjadi pelopor ditetapkanya “HARI SEPATU SEDUNIA”. Atau, mungkin tingkat nasional saja. Jika masih terasa berat, tidak apa-apa jika hanya tingkat lokal saja karena siapa pun mereka yang bergelut di dunia kerja, model (penampilan) dan pelayanan, akan merasa senang karena ada “saya”—sahabatmu—yang menuliskan tentangmu untuk dikenang selalu.
Salut buat sepatuku.
Salam Bae.
Sumber gambar:
- https://lh6.googleusercontent.com/proxy/6YcrIzoGaIizoQaBCwEa2F9ZoddwQMLI5WO8G88C1rcpLnl583_Yt80RhCGxUA6AtSJQI-z87PgiUpbzP9-R68H6CJExVShaZVWuUlnWMC5aWb762_vnCV85-wCd_FLmz2lf3iPCz30NpX1rmsbqjF_cSvczsT4Wqzg0r1sVcenfXHyC=w1200-h630-p-k-no-nu
- https://unsplash.com/photos/mWYhrOiAgmA
- Https://unsplash.com/s/photos/shoes

