Setelah puas berbuat dosa dan menyeka mulutnya, tanpa telah menikmati dosa dan kesenangan semu, para pendosa mencoba datang kepada Tuhan untuk menghilangkan jejaknya dan menciptakan jejak baru di depan orang banyak, untuk membuktikan bahwa mereka suci dan kudus. Mereka bersembunyi di balik “baju ibadah” untuk memuluskan agenda dosa-dosa yang telah disusun rapi dalam daftar pribadi.
Tak sedikit anggota Gereja yang terjebak dan menjebakkan dirinya sendiri dalam baskom dosa, ukuran 2 x 1 cm. Di dalamnya tersedia berbagai macam dosa; mereka mandi dan bercebar-cebur di dalam air dosa. Mereka membersihkan diri dalam kotoran. Tampak bersih, tapi di dalamnya masih tetap kotor. Mereka membenci kesucian dan kekudusan hidup, seperti yang dituntut Tuhan Allah. Mereka ingin mendapatkan kenikmatan seksual dan kenikmatan dompet. Meraup sebanyak mungkin uang dan kenikmatan sambil merasa suci dalam pandangannya sendiri. Itulah yang dilakukan oleh para pelakor dan superior.
Apakah pelakor dan superior itu? Pelakor adalah singkatan dari “Perebut laki orang”. Dengan perkataan lain, seorang perempuan, entah yang sudah pacaran, yang belum pacaran, yang sudah menikah, merebut laki atau suami orang lain. Sedangkan superior, adalah singkatan dari “Suami perebut istri orang”. Dengan perkataan lain, pada kasus ini, hanya khusus pada konteks keluarga karena seorang suami merebut istri orang lain dengan berbagai alasan di baliknya. Kita bisa juga memasukan di sini mengenai “Perisor” yang berarti “perebut istri orang”. Kira-kira kasusnya sama saja: mereka “merebut” yang bukan hak atau miliknya. Semua kasus yang “merebut” sesuatu untuk memuaskan hawa nafsu yang liar dan tak terkendali itu, adalah dosa, karena melanggar aturan main yang ditetapkan Tuhan.
Secara teologis, manusia tidak boleh melewati batas-batas aturan sebagaimana yang telah diberikan Tuhan kepada manusia. Tuhan menetapkan sejak awal bahwa “pernikahan” adalah kudus, dan tidak boleh dirusak oleh hawa nafsu yang liar dan tak terkendali seperti yang dilakukan oleh para pelakor dan superior akhir-akhir ini. Kerusakan dalam hubungan pacaran dan rumah tangga disebabkan oleh kacaunya pikiran manusia yang menginginkan kenikmatan dosa, kenikmatan kemunafikan, dan kenikmatan uang hasil “setor diri” kepada si pemuas nafsu.
Dosa-dosa tersebut begitu spektakuler dan terlihat kekar di mata pengagum dosa. “Gereja” (tertentu) seolah-olah tak berdaya memberangus hawa nafsu liar para pelakor dan superior yang menjadi jemaatnya; gereja tersebut juga seolah-olah tak sanggup melawan dosa yang dilakukan oleh sahabat-sahabat para pelakor dan superior, seperti “perisor” (perebut istri orang), “perpaor” (perebut pacar orang), “perangai” (perebut anak gadis), “penata2” (pemuas nafsu tante-tante), “penajam” (pemuas nafsu janda muda), dan masih banyak lagi (disesuaikan dengan jenis dosanya).
Kasih karunia yang diberikan Allah di dalam Yesus Kristus terkesan menjadi murah karena para pendosa tersebut merasa bahwa dosa itu mahal karena mendatangkan kenikmatan tersendiri. Mereka benar-benar mengacuhkan kasih karunia Allah, atau barangkali membuangnya di tempat sampah. Mereka lupa bahwa dosa telah membuat mereka tinggal di dalam tempat sampah, penuh kekotoran dan kenajisan.
Allah telah menunjukkan kasih-Nya yang besar kepada manusia yang berdosa, termasuk para pelakor dan superior. Yesus—Sang Logos Ilahi—telah lahir bagi kita semua dan memberikan jalan terbaik menuju kekudusan hidup. Seandainya Gereja berjuang dan bekerja keras memberantas bibit-bibit dosa yang ditaburkan oleh para pelakor dan superior, maka kemungkinan terbesarnya adalah mereka digerakkan dan disadarkan untuk memilih kehidupan yang benar, yang kudus, dan yang berkenan kepada Allah.
Allah sangat membenci dosa tetapi mengasihi orang berdosa. Kita tidak mungkin merasa suci datang kepada Allah tetapi hati dan pikiran kita masih kotor, belum dibersihkan; dosa-dosa masih dikenakan, hanya ditutupi dengan baju ibadah: terlibat bersih dari luar tapi di dalamnya adalah kubangan. Adakah jalan keluar untuk masalah ini? Mungkinkah Tuhan masih menerima para pelakor dan superior yang mau bertobat dan meninggalkan dosa-dosanya yang dianggap spektakuler itu? Akankah Tuhan mengasihi mereka?
Natal Yesus Kristus, yang telah terjadi ribuan tahun yang lalu, telah membuka lapangan dan lowongan pekerjaan yang baru di Kerajaan Allah. Mereka yang mau bekerja (melayani) di Kerajaan Allah, harus mengikuti aturan main yang ditetapkan-Nya: bertobat, percaya kepada-Nya, hidup kudus, dan menjadi berkat bagi sesamanya.
Natal Yesus Kristus adalah hadiah bagi para pendosa, hadiah bagi para pelakor dan superior, serta sahabat-sahabat dekatnya. Jangan menjadikan momen Natal (setiap tahun) sebagai wacana untuk berpura-pura beribadah tetapi tetap mengenakan pakaian kenajisan. Natal Yesus Kristus seyogianya memanggil kita untuk bertobat untuk kembali kepada Allah, Sang Khalik. Firman-Nya telah menggerakkan kita untuk membersihkan diri dari keberdosaan dan kenajisan.
Jikalau para pendosa: pelakor dan superior menyadari dirinya yang kotor, Tuhan Yesus pasti akan membersihkannya. Ia memanggil, pasti Ia memulihkan; Ia mengajak untuk bekerja (melayani) dalam Kerajaan-Nya, pasti Ia akan melengkapi. Hidupmu berharga bagi Dia; jangan jadikan dirimu sebagai budak dosa; Anda boleh bahagia dan bersembunyi di balik dosa-dosamu yang spektakuler itu, tetapi di mata Tuhan, tak ada yang tersembunyi. Ingatlah pesan dari penulis kitab Ibrani:
“Dan tidak ada suatu makhluk pun yang tersembunyi di hadapan-Nya, sebab sebab segala sesuatu telanjang dan terbuka di depan mata Dia, yang kepada-Nya kita harus memberikan pertanggungan jawab” (Ibr. 4:13).
Ingat pula pesan dari Raja Salomo: “Mata TUHAN ada di segala tempat, mengawasi orang jahat dan orang baik” (Amsal 15:3)
Ia melihat kita, Ia mengawasi kita, Ia tahu segala sesuatu. Kita tidak dapat bersembunyi dari pandangan mata-Nya, apalagi menyembunyikan dosa. Ia menyelidiki hati kita. Sampai kapan, hai para pelakor dan superior, serta sahabat-sabahatmu menyimpan rapi dosa-dosamu? Sampai kapan kalian mau bersenang-senang dalam kubangan dosa? Apakah kurang rahmat dan anugerah Yesus Kristus untukmu, atau memang karena kalian tidak pernah datang kepada-Nya, menyerahkan diri sepenuhnya dan hidup dalam kekudusan? Apakah kalian sudah menetapkan langkah-langkah untuk setia kepada dosa ketimbang pada Tuhan?
Ingatlah, kejatuhanmu sudah dekat. Jika kalian tetap berkeras hati untuk tidak kembali kepada Yesus Kristus, hukuman menanti di ujung jalan. Jangan berharap dan bersandar pada dosa, sebab dosa bukan membuat hidupmu sempurna dan kudus, melainkan akan menggiringmu ke tepi jurang maut, dan kemudian ia menendangmu sampai jatuh.
Yesus, yang telah lahir itu, menawarkan pengampunan dan pengudusan. Datang pada-Nya; akui dosa-dosamu, berserah pada-Nya dan buatlah komitmen untuk hidup kudus. Dosa memang kuat menggoda, tetapi mereka yang tahu bahwa di balik dosa adalah malapetaka, tentu tidak akan menjerumuskan dirinya. Masih ada harapan; Yesus adalah harapan kita semua. Ia telah lahir bagi kita; Ia datang dengan misi yang kekal, membawa manusia berdosa kembali kepada Sang Khalik.
Perjuangan melawan belum usai. Roh Kudus akan memberikan pencerahan bagi hati dan akal budi kita melalui Firman-Nya yang kita baca setiap waktu. Renungkanlah hidup ini; ambil makna terdalam mengenai pernyertaan Tuhan. Dosa membuat kita terpisah dari Allah; dosa membuat kita rusak moral dan spiritual; dosa merusak hubungan baik dengan sesama, apalagi tetangga. Hentikan merebut laki [suami] orang. Hentikan merebut istri orang. Dosa membawamu ke neraka, kepada penghukuman kekal.
Rayakan Natal Bersama keluarga, bersama orang-orang yang dikasihi. Cintai dan kasihi Tuhan Yesus, maka engkau pasti akan sanggup mencintai dan mengasihi Tuhan. Mereka yang mencintai dosa perebutan laki dan istri orang tidak bisa dalam waktu bersamaan mencintai Tuhan Yesus.
Bertobatlah dan kembali kepada Yesus. Jadikan hidupmu berarti bagi orang lain, dan bukan menjadi penghancur rumah tangga orang lain, maupun hubungan orang lain. Hanya Yesus jalan satu-satunya menuju kehidupan yang berbahagia, kudus, dan memuaskan. Ketika engkau menjadi pengikut Yesus, maka berkat akan mengikutimu kemana pun engkau pergi. Tuhan Yesus memberkati kita semua.
Polemikus Islam seringkali mencuatkan omongan kosong tak berdasar terhadap Alkitab. Salah satunya adalah pernyataan bahwa: “KRISTEN SELALU SEPAKAT UNTUK TIDAK SEPAKAT”. Hal ini dimaksudkan merujuk kepada perbedaan pernyataan apakah Injil Matius itu ditulis dalam bahasa Ibrani, Yunani, atau Aramaic. Alhasil, mereka seringkali menganggap bahwa orang Kristen berbohong soal teks-teks Alkitab yang mendasari problem bahasa tersebut.
Akan tetapi, hal tersebut belum seberapa. Saya mengerucut kepada akar persoalannya. Fach Rudin – salah satu polemikus Islam yang hanya modal kumur-kumur – mengusung dua pendapat soal Injil Matius.
Pertama. Fransiscus Xaverius Arianto Nugroho yang menyatakan bahwa: “Injil yang diwahyukan oleh Roh Kudus ditulis oleh Matius dalam bahasa Yunani. Bahasa Yunani lebih tepat menunjukkan makna asli dari maksud penulis Injil yaitu Roh Kudus sendiri yang berbicara melalui para rasul.”
Kedua. Willy Kende yang menyatakan bahwa: “Teks Matius yang asli sendiri ditulis dalam bahasa Aram dan bukannya Yunani Attic.”
Dari dua pernyataan di atas, Fach Rudin berkesimpulan bahwa bahasa mana yang dipakai penulis Injil Matius? Karena ada dua pernyataan, maka Fach Rudin berkesimpulan bahwa Kristen pandai berdusta.
KLARIFIKASI DAN KORELASI TEKS-TEKS QURANIK
Jika Fach Rudin menyodorkan dua pernyataan soal bahasa apa yang ditulis dalam Injil Matius, maka berikut ini ada bentuk klarifikasi dari saya soal quran.
Dalam quran, ada ayat-ayat yang menyebutkan bahwa quran membenarkan kitab-kitab sebelumnya yakni Taurat, Zabur, dan Injil. Beberapa di antaranya:
Surat Ali ‘Imran [3]:3, Dia menurunkan Al Kitab (Al Quran) kepadamu dengan sebenarnya; membenarkan kitab yang telah diturunkan sebelumnya dan menurunkan Taurat dan Injil
Al Maa-idah 5:46, Dan Kami iringkan jejak mereka (nabi nabi Bani Israil) dengan Isa putera Maryam, membenarkan Kitab yang sebelumnya, yaitu: Taurat. Dan Kami telah memberikan kepadanya Kitab Injil sedang didalamnya (ada) petunjuk dan dan cahaya (yang menerangi), dan membenarkan kitab yang sebelumnya, yaitu Kitab Taurat. Dan menjadi petunjuk serta pengajaran untuk orang-orang yang bertakwa.
Surat Al An’aam [6]:92, Dan ini (Al Quran) adalah kitab yang telah Kami turunkan yang diberkahi; membenarkan kitab-kitab yang (diturunkan) sebelumnya dan agar kamu memberi peringatan kepada (penduduk) Ummul Qura (Mekah) dan orang-orang yang di luar lingkungannya. Orang-orang yang beriman kepada adanya kehidupan akhirat tentu beriman kepadanya (Al Quran) dan mereka selalu memelihara sembahyangnya.
Surat Yunus 10:37, Tidaklah mungkin Al Quran ini dibuat oleh selain Allah; akan tetapi (Al Quran itu) membenarkan kitab-kitab yang sebelumnya dan menjelaskan hukum-hukum yang telah ditetapkannya, tidak ada keraguan di dalamnya, (diturunkan) dari Tuhan semesta alam.
Surat Yusuf [12]:111, Sesungguhnya pada kisah-kisah mereka itu terdapat pengajaran bagi orang-orang yang mempunyai akal. Al Quran itu bukanlah cerita yang dibuat-buat, akan tetapi membenarkan (kitab-kitab) yang sebelumnya dan menjelaskan segala sesuatu, dan sebagai petunjuk dan rahmat bagi kaum yang beriman.
Surat Faathir 35:31 Dan apa yang telah Kami wahyukan kepadamu yaitu Al Kitab (Al Quran) itulah yang benar, dengan membenarkan kitab-kitab yang sebelumnya. Sesungguhnya Allah benar-benar Maha Mengetahui lagi Maha Melihat (keadaan) hamba-hamba-Nya.
PERTANYAANNYA:
Jika quran membenarkan (dan atau Allah menurunukan) kitab-kitab sebelumnya (Taurat, Zabur, dan Injil), maka INJIL yang DIBENARKAN itu tertulis dalam BAHASA APA? Apakah bahasa Aramaic, bahasa Yunani, atau bahasa Ibrani? Jika polemikus mempermasalahkan dua pendapat soal bahasa dalam Injil Matius, lalu Quran membenarkan Injil dalam bahasa apa? Ini jadinya lucu kan?
Pasti tidak ada yang dapat menjawab pertanyaan tersebut dikaitkan dengan kebingungan apakah Injil Matius ditulis dalam bahasa Yunani atau Aram.
Nah, kira-kira menurut mereka, Injil yang dibenarkan oleh Qur’an ditulis dalam bahasa Yunani atau Aram? Lalu apakah Injil Matius, Markus, Lukas, dan Yohanes yang dibenarkan Qur’an? Sudah pasti mereka tidak akan merujuk pada salah satu dari Injil tersebut. Dengan dalih yang terkesan “miskin” mereka akan menyimpangkan pokok persoalan yang sedang dibahas.
Bagi mereka, Injil yang dibenarkan pastilah Injil yang asli, belum dipalsukan. Lalu kita bertanya, siapa yang palsukan, apa saja yang dipalsukan, kapan dipalsukan, teks-teks atau Injil-Injil yang asli ada di mana; lalu saat Qur’an membenarkan Injil, apakah Muhammad tahu keberadaan Injil yang asli? Apakah dalam bentuk kitab atau bentuk oral?
Yang pasti, tak satu pun ahli yang dapat menjawabnya, kecuali dengan dalih yang lihai dan permai. Paling-paling dalih yang muncul adalah: ah, Qur’an tidak membenarkan kitab Injil, tapi berita Injil. Dan segera kita bertanya: “apa sih berita Injil itu?” Mereka kemudian akan berdalih mencari-cari alasan. Lalu seketika terdengar suara dari langit: “inilah dusta yang kurencanakan, kepadanyalah aku berkenan”. Tidak ada yang dapat mereka andalkan selain “dusta” dan “menipu” banyak orang. Ignoransi mereka terhadap doktrin Kristen membuat mereka tampak hebat di mata para pendengarnya yang juga bodoh. Tetapi, sudahlah, itu rezeki mereka untuk mencari makan. Jika tidak menghina Kristen, para mualaf sulit cari makan. Memang tidak semuanya, tetapi mayoritas seperti itu. Lihatlah Muhammad Yahya Waloni, Kainama, Irena Handono, dan lain sebagainya.
Kita melihat bahwa serangkan para mualaf terhadap doktrin dan Alkitab Kristen marak terjadi. Mereka pasti mengunggulkan kitab suci yang mereka percayai. Itu sih lumrah dalam dunia transfer agama. Para mualaf hanyalah pencual kecap dan terong, pintar bicara, tapi tak ada isi sama sekali. Begitulah cara mencari keuntungan dengan menipu orang lain; metode yang digunakan adalah jualan kecap dan terong dengan menuduh bahwa Alkitab orang Kristen telah dipalsukan; Injil yang asli telah mereka palsukan; Yesus bukan Tuhan; Yesus tidak disalibkan, dan sederet kumur-kumur ignoransi yang meleleh dari bibir pendusta.
Salam Bae….
Catatan:
Konsep yang sama tentang QURAN MEMBENARKAN KITAB-KITAB SEBELUMNYA lihat Surat Al Baqarah [2]:4, 41, 89, 91, 97, 136, 285; Surat Ali ‘Imran [3]:84; Surat An Nissa’ [4]:47, 136, 162-163; Surat Al Maa-idah [5]:44, 46, 48, 68; Surat As Sajdah [32]:23; Surat Asy Syuura [42]:13, 15; Surat Al Ahqaaf [46]:12, 29-30; Surat Al A’Laa [87]:14-19; Surat Al Bayyinah [98]:1-4 – untuk ayat 3 [Surat Al Bayyinah (98)], diberi penjelasan pada catatan kaki nomor 1595 bahwa “isi kitab-kitab yang lurus” ialah isi kitab-kitab yang diturunkan kepada nabi-nabi seperti Taurat, Zabur, dan Injil yang murni).
“Salah Paham” adalah kondisi yang sering terjadi di sekitar kita, bahkan di lingkungan “agama”, salah paham telah menjadi “trending topic” di berbagai media sosial, dan mungkin juga di masyarakat, tempat kita berada. Salah paham ini bisa menjurus kepada situasi yang ‘chaos’, dan konflik berdarah-darah. Akibatnya, suara-suara sumbang dan celoteh-celoteh jalanan dapat menjadi alat untuk membesar-besarkan kesalahpahaman tadi, apalagi jika kesalahpahaman itu terkait dengan iman Kristen.
Seorang mualaf yang mulutnya kotor (saya temukan dalam bukunya), yaitu Muhammad Yahya Waloni, adalah seorang yang mengatakan bahwa Rasul Paulus masuk neraka. Tentu perkataan tersebut sama sekali tidak berdasar. Omong kosong ini, entah dia dapat dari mana, sampai ia berani menuliskan di dalam bukunya. Dari semua isi buku Waloni, hampir 100 persen salah paham, bahkan salah total.
Kesalahannya menggaungkan iman Kristen yang dikiranya “benar” menurut pemahamannya ternyata ketika diuji secara ilmiah, mengandung kebohongan-kebohongan yang dirancang untuk memperbesar omong kosong dan kesalahpahamannya tentang iman Kristen, baik Kristologi, Alkitab, nubuatan Mesias yang dikaitkan dengan Muhammad, dan masih banyak lagi.
Ia pun mengajukan pernyataan yang kurang lebih sama dengan para mualaf lainnya: “Yesus itu bukan Tuhan. Ia hanyalah utusan Allah.” Pernyataan tersebut memang benar, tetapi tidak secara komprehensif dipahami, baik berdasarkan historis, logis, dan dogmatis. Untuk menjawab pernyataan tersebut, saya memulai dengan menilainya berdasarkan pada “cara memahami”.
Pertama, Pernyataan “Yesus itu bukan Tuhan. Ia hanyalah utusan Allah” dipahami secara fragmentaris oleh para mualaf. Saya memakluminya.
Kedua, para mualaf menganggap bahwa Allah yang mengutus Yesus adalah “Allah” yang sama dengan “Allah” Islam.
Ketiga, para mualaf akan selalu memahami secara fragmentaris dan parsial, kemudian tidak membuka peluang bagi proses atau cara memahami secara komprehensif, jukstaposisi, dan demarkasi (untuk konteks tertentu) berdasarkan prinsip hermeneutika Alkitab yang kredibel, dengan mengikuti rambu-rambu penafsirannya.
Bagi mereka, Yesus diutus Allah. Itu saja. Padahal, cara memahaminya tidak demikian. Saya memakluminya. Namanya juga mualaf, ya, pasti tidak mau membuka pikiran dalam konteks cara memahami Yesus secara komprehensif berdasarkan Alkitab. Karena ini berbicara mengenai historisitas, maka ada korelasi yang dapat dipahami, meski kita tahu ada jurang pemisah antara pemahaman Islam dengan pemahaman Kristen mengenai pribadi Yesus.
Para mualaf mengira bahwa jika Yesus utusan Allah maka Ia adalah Rasul sama dengan Muhammad. Pola ini diadopsi dari konsep quranik. Menurut Kristen, Yesus adalah Imam Besar, [kepala] Rasul (Ibrani 3:1) yang mengutus para rasul (para murid) untuk menjalankan kehendak-Nya (Matius 28:18-20), dan bukan “rasul” seperti yang dipahami oleh Islam, karena makna dan identitasnya sangatlah berbeda jauh. Yesus Kristus adalah Kepala para rasul. Ia sendiri mengakui bahwa Ia diutus Sang Bapa. Pola ini menandaskan bahwa perutusan-Nya berbeda dengan perutusan para rasul yang lain, apalagi jika dipahami dalam pola pikir quranik. Injil Yohanes mencatat konteks ini, di mana Yesus berulang kali menegaskan bahwa Ia diutus dari Sorga oleh Bapa-Nya, dan di kemudian hari, Ia mengutus para murid sebagai konfirmasi bahwa Ia diutus Bapa-Nya.
Yohanes 3:17 Sebab Allah mengutus Anak-Nya ke dalam dunia bukan untuk menghakimi dunia, melainkan untuk menyelamatkannya oleh Dia.
Yohanes 4:34 Kata Yesus kepada mereka: “Makanan-Ku ialah melakukan kehendak Dia yang mengutus Aku dan menyelesaikan pekerjaan-Nya.
Yohanes 5:23 supaya semua orang menghormati Anak sama seperti mereka menghormati Bapa. Barangsiapa tidak menghormati Anak, ia juga tidak menghormati Bapa, yang mengutus Dia.
Yohanes 5:24 Aku berkata kepadamu: Sesungguhnya barangsiapa mendengar perkataan-Ku dan percaya kepada Dia yang mengutus Aku, ia mempunyai hidup yang kekal dan tidak turut dihukum, sebab ia sudah pindah dari dalam maut ke dalam hidup.
Yohanes 5:30 Aku tidak dapat berbuat apa-apa dari diri-Ku sendiri; Aku menghakimi sesuai dengan apa yang Aku dengar, dan penghakiman-Ku adil, sebab Aku tidak menuruti kehendak-Ku sendiri, melainkan kehendak Dia yang mengutus Aku.
Yohanes 5:36 Tetapi Aku mempunyai suatu kesaksian yang lebih penting dari pada kesaksian Yohanes, yaitu segala pekerjaan yang diserahkan Bapa kepada-Ku, supaya Aku melaksanakannya. Pekerjaan itu juga yang Kukerjakan sekarang, dan itulah yang memberi kesaksian tentang Aku, bahwa Bapa yang mengutus Aku.
Yohanes 5:37 Bapa yang mengutus Aku, Dialah yang bersaksi tentang Aku. Kamu tidak pernah mendengar suara-Nya, rupa-Nyapun tidak pernah kamu lihat,
Yohanes 6:38 Sebab Aku telah turun dari sorga bukan untuk melakukan kehendak-Ku, tetapi untuk melakukan kehendak Dia yang telah mengutus Aku.
Yohanes 6:39 Dan Inilah kehendak Dia yang telah mengutus Aku, yaitu supaya dari semua yang telah diberikan-Nya kepada-Ku jangan ada yang hilang, tetapi supaya Kubangkitkan pada akhir zaman.
Yohanes 6:44 Tidak ada seorangpun yang dapat datang kepada-Ku, jikalau ia tidak ditarik oleh Bapa yang mengutus Aku, dan ia akan Kubangkitkan pada akhir zaman.
Yohanes 6:57 Sama seperti Bapa yang hidup mengutus Aku dan Aku hidup oleh Bapa, demikian juga barangsiapa yang memakan Aku, akan hidup oleh Aku.
Yohanes 7:16 Jawab Yesus kepada mereka: “Ajaran-Ku tidak berasal dari diri-Ku sendiri, tetapi dari Dia yang telah mengutus Aku.
Yohanes 7:29 Aku kenal Dia, sebab Aku datang dari Dia dan Dialah yang mengutus Aku.”
Yohanes 7:33 Maka kata Yesus: “Tinggal sedikit waktu saja Aku ada bersama kamu dan sesudah itu Aku akan pergi kepada Dia yang telah mengutus Aku.
Yohanes 8:16 dan jikalau Aku menghakimi, maka penghakiman-Ku itu benar, sebab Aku tidak seorang diri, tetapi Aku bersama dengan Dia yang mengutus Aku.
Yohanes 8:18 Akulah yang bersaksi tentang diri-Ku sendiri, dan juga Bapa, yang mengutus Aku, bersaksi tentang Aku.”
Yohanes 8:26 Banyak yang harus Kukatakan dan Kuhakimi tentang kamu; akan tetapi Dia, yang mengutus Aku, adalah benar, dan apa yang Kudengar dari pada-Nya, itu yang Kukatakan kepada dunia.”
Yohanes 8:29 Dan Ia, yang telah mengutus Aku, Ia menyertai Aku. Ia tidak membiarkan Aku sendiri, sebab Aku senantiasa berbuat apa yang berkenan kepada-Nya.”
Yohanes 8:42 Kata Yesus kepada mereka: “Jikalau Allah adalah Bapamu, kamu akan mengasihi Aku, sebab Aku keluar dan datang dari Allah. Dan Aku datang bukan atas kehendak-Ku sendiri, melainkan Dialah yang mengutus Aku.
Yohanes 9:4 Kita harus mengerjakan pekerjaan Dia yang mengutus Aku, selama masih siang; akan datang malam, di mana tidak ada seorangpun yang dapat bekerja.
Yohanes 11:42 Aku tahu, bahwa Engkau selalu mendengarkan Aku, tetapi oleh karena orang banyak yang berdiri di sini mengelilingi Aku, Aku mengatakannya, supaya mereka percaya, bahwa Engkaulah yang telah mengutus Aku.”
Yohanes 12:44 Tetapi Yesus berseru kata-Nya: “Barangsiapa percaya kepada-Ku, ia bukan percaya kepada-Ku, tetapi kepada Dia, yang telah mengutus Aku;
Yohanes 12:45 dan barangsiapa melihat Aku, ia melihat Dia, yang telah mengutus Aku.
Yohanes 12:49 Sebab Aku berkata-kata bukan dari diri-Ku sendiri, tetapi Bapa, yang mengutus Aku, Dialah yang memerintahkan Aku untuk mengatakan apa yang harus Aku katakan dan Aku sampaikan.
Yohanes 13:20 Aku berkata kepadamu: Sesungguhnya barangsiapa menerima orang yang Kuutus, ia menerima Aku, dan barangsiapa menerima Aku, ia menerima Dia yang mengutus Aku.”
Yohanes 14:24 Barangsiapa tidak mengasihi Aku, ia tidak menuruti firman-Ku; dan firman yang kamu dengar itu bukanlah dari pada-Ku, melainkan dari Bapa yang mengutus Aku.
Yohanes 15:21 Tetapi semuanya itu akan mereka lakukan terhadap kamu karena nama-Ku, sebab mereka tidak mengenal Dia, yang telah mengutus Aku.
Yohanes 16:5 tetapi sekarang Aku pergi kepada Dia yang telah mengutus Aku, dan tiada seorangpun di antara kamu yang bertanya kepada-Ku: Ke mana Engkau pergi?
Yohanes 16:7 Namun benar yang Kukatakan ini kepadamu: Adalah lebih berguna bagi kamu, jika Aku pergi. Sebab jikalau Aku tidak pergi, Penghibur itu tidak akan datang kepadamu, tetapi jikalau Aku pergi, Aku akan mengutus Dia kepadamu.
Yohanes 17:3 Inilah hidup yang kekal itu, yaitu bahwa mereka mengenal Engkau, satu-satunya Allah yang benar, dan mengenal Yesus Kristus yang telah Engkau utus.
Yohanes 17:8 Sebab segala firman yang Engkau sampaikan kepada-Ku telah Kusampaikan kepada mereka dan mereka telah menerimanya. Mereka tahu benar-benar, bahwa Aku datang dari pada-Mu, dan mereka percaya, bahwa Engkaulah yang telah mengutus Aku.
Yohanes 17:18 Sama seperti Engkau telah mengutus Aku ke dalam dunia, demikian pula Aku telah mengutus mereka ke dalam dunia;
Yohanes 17:21 supaya mereka semua menjadi satu, sama seperti Engkau, ya Bapa, di dalam Aku dan Aku di dalam Engkau, agar mereka juga di dalam Kita, supaya dunia percaya, bahwa Engkaulah yang telah mengutus Aku.
Yohanes 17:23 Aku di dalam mereka dan Engkau di dalam Aku supaya mereka sempurna menjadi satu, agar dunia tahu, bahwa Engkau yang telah mengutus Aku dan bahwa Engkau mengasihi mereka, sama seperti Engkau mengasihi Aku.
Yohanes 17:25 Ya Bapa yang adil, memang dunia tidak mengenal Engkau, tetapi Aku mengenal Engkau, dan mereka ini tahu, bahwa Engkaulah yang telah mengutus Aku
Dari pernyataan tersebut, perutusan Yesus dikaitkan dengan misi penebusan, pengampunan, dan penyelamatan umat-Nya (Matius 1:21). Ia pun mengutus para murid untuk tugas misi: “Damai sejahtera bagi kamu! Sama seperti Bapa mengutus Aku, demikian juga sekarang Aku mengutus kamu” (Yohanes 20:21). Hal ini selaras dengan perintah Yesus dalam Matius 28:19-20. Tidak ada rumusan Kristen bahwa Yesus adalah Rasul seperti yang dipahami Islam, karena kerasulan Yesus dalam al-Qur’an tidak dalam kerangka misi penyelamatan, penebusan, dan pengampunan. Sama sekali tidak! Yesus adalah kepala Rasul dan Imam Besar. Islam tidak pernah berbicara sama sekali tentang peran Yesus sebagai Imam Besar. Itu sebabnya dalam kitab Ibrani, disebutkan bahwa Yesus adalah Rasul dan Imam Besar yang diakui, yang setia kepada Dia yang telah menetapkan-Nya, dipandang layak mendapat kemuliaan lebih besar dari pada Musa (Ibr. 3:1-3).
Yesus itu berbeda dengan apa yang dipikirkan para mualaf. Pola pikir quranik tidak bisa dipakai untuk mengukur pola pikir biblikal karena keduanya memiliki perbedaan yang fundamental, baik iman, doktrin, dan historis.
Untuk memperteguh klaim mereka bahwa Yesus adalah utusan, maka mereka menyuguhkan sederet ayat Alkitab, terutama dalam Injil Yohanes. Anehnya, tak satupun yang memahami konteksnya. Ini kelemahan yang sangat mendasar. Padahal, sejak prolog Injilnya, Rasul Yohanes menuliskan:
“Firman menjadi daging [manusia; Yun. sarks]” (Yoh. 1:14). Yesus adalah Logos Allah yang berdiam sejak kekal. Jadi, seluruh Injil Yohanes yang berbicara mengenai natur kemanusiaan Yesus, termasuk Ia diutus Bapa-Nya, Ia tidak dapat berbuat apa-apa dari diri-Nya jika Bapa tidak mengaruniakannya, TETAP DAN HARUS melihat pada pasal 1 (prolog Injil Yohanes). Memisahkan tulang dari daging menjadikan tubuh manusia lemah tak berdaya, dan tak bisa berbuat apa-apa. Ini cara-cara yang sama sekali “salah” sebagaimana yang dilakukan oleh Yahya Waloni, Irena Handono, Ust. Kainama, dan lainnya.
Ilmu “comotologi” atau ilmu mencomot-comot ayat-ayat Alkitab tanpa memahami konteksnya adalah kelihaian mayoritas para mualaf. Karena lihai menampilkan ilmu “comotologi”, maka mereka asyik dan puas mengajukan dalil bahwa memang Yesus adalah utusan, Ia bukan Tuhan, dan masih banyak lagi. Sayangnya, impotensi kehendak berimbas kepada impotensi logika mereka yang tidak mau memahami teks dan konteks secara utuh. Model tafsir comotologi sudah membudaya di kalangan mualaf, termasuk mualaf “abal-abal” (dari aspek ilmu dan kajian Kristologi) yaitu Yahya Waloni.
Kondisi psikologi “IGNORANCE IS SATISFACTION” (kebodohan adalah kepuasan) para mualaf ini tidak tanggung-tanggung untuk ditampilkan. Yahya Waloni, mantan pendeta yang mulutnya penuh ucapan-ucapan kotor dan omong kosong, merasa puas dengan kebodohannya sendiri mengenai salah pahamnya tentang iman Kristen. Yang ada hanyalah bualan-bualan tanpa dasar sama sekali. Tentunya, Waloni cs, menganggap sudah tahu segalanya tentang iman Kristen, terutama soal Kristologi, kian merasakan diri mereka berada di atas angin buatan sendiri.
Berbagai celoteh para mualaf yang terlampau luar biasa, maksudnya luar biasa “ngalor ngidulnya” cukup membuat riuh suasana di Nusantara. Kebebasan berpendapat menjadi tidak terbendung. Padahal, kebebasan berpendapat yang seperti apa yang dijunjung tinggi, menjadi pertanyaan mendasar kita.
Dalam dunia penelitian ilmiah, siapa saja yang menyodorkan gagasan mengenai iman Kristen, itu sah-sah saja, tetapi harus dibarengi dengan ulasan, kajian, kritik, sumber, metodologi, pendekatan, dan hal lain yang dapat menunjang penelitian itu sendiri. Sebaliknya, setiap respons atau sanggahan (apologetis) atas ulasan mengenai iman Kristen, bernatur sama. Hal ini dipandang biasa dalam dunia akademis.
Mengingat ada orang-orang tertentu yang mudah salah paham dengan iman Kristen, maka sedapat mungkin para rohaniwan, pendeta, pastor, pemerhati teologi, haruslah bergerak untuk memberikan respons atau kajian yang mengarahkan siapa saja yang membaca atau melihatnya, mendapatkan pengajaran yang benar tentang iman Kristen yang biblikal. Meresponsnya bukan dengan cara membabi buta, melainkan dengan cara yang akademis, tajam, dan solid. Memberikan respons bukan berarti kita tersinggung, tetapi lebih bersifat mengklarifikasi berbagai bentuk kesalahpahaman orang lain tentang iman Kristen.
Suara-suara kebenaran adalah suara-suara klarifikasi. Mereka yang tergerak berbagi berkat dengan sesama dalam konteks “memberikan respons terhadap kesalahpahaman orang lain tentang iman Kristen”, adalah orang-orang yang berniat untuk berbagi, ketimbang “pelit ilmu”. Daripada ilmu dipendam dan dinikmati sendiri (bermasturbasi teologis), lebih baik berbondong-bondong berbagi berkat melalui tulisan apologetis, klarifikatif, dogmatis, historis, dan logis.
Suasana makin memanas karena isu-isu agama mudah digoreng dengan minyak paralogisme dan sentimen agama. Orang Kristen pun tidak boleh tinggal diam. Ia harus menyadari bahwa dirinya dipanggil untuk menyatakan kebenaran, ketimbang diam dan merasa puas sendiri. Kita dipanggil untuk berbicara—tentunya dengan berbagai cara—apalagi ditunjang dengan berbagai media sosial yang marak digunakan oleh masyarakat secara luas.
Salah paham iman Kristen akan tetap ada dan terus berkembang. Apakah kita tetap tinggal diam? Mungkin ada yang mengatakan: “Ah, itu tidak penting”, dan saya harus katakan: “WOW GITU?” Sebaiknya potensi yang Tuhan berikan kepada kita, disalurkan untuk memberikan pengarahan, pemahaman, klarifikasi, penjelasan, penerangan, dan konfirmasi mengenai isu-isu iman Kristen yang digoreng sedemikian rupa, apalagi panci dan minyaknya berada di tangan para mualaf yang tidak jujur secara akademis, semisal Yahya Waloni, Irena Handono, dan lainnya.
Silakan saja mengkritisi iman Kristen, tetapi jangan “asal bunyi” dan “salah paham”. Gunakan akal sehat, dan bukan mulut penuh caci maki; gunakan kajian ilmiah dan bukan “ngalor ngidul disoraki”. Iman Kristen adalah iman yang didasari pada pemahaman bahwa Allah yang mengasihi manusia berdosa, dan Ia menetapkan bagaimana caranya agar manusia diselamatkan, dibenarkan, dikuduskan, diampuni, dan ditebus.
Tak ada manusia yang cukup kuat, cukup iman, cukup umur, dan cukup uang (harta kekayaan) yang dapat melepaskannya dari jerat dosa dan kejahatan. Hanya Allah saja yang sanggup melakukannya, dan Yesus Kristus adalah perwujudan kasih Allah yang begitu besar, yang menebus, mengampuni, membenarkan, mendamaikan, dan menyelamatkan manusia dari kuasa dosa dan kuasa maut. Itulah inti iman Kristen.
Lihatlah pada Allah yang mengasihi manusia; lihatlah pada Allah yang menyelamatkan, mengampuni, dan menebus manusia; lihatlah pada Allah yang peduli dengan moralitas umat-Nya; lihatlah pada Allah yang mengarahkan manusia untuk hidup kudus. Ketika ada Allah yang telah berbuat demikian, maka ikutilah Dia. Dan Kristen telah melihat semuanya itu. Allah yang penuh kasih, mengaruniakan anak-Nya yang tunggal supaya setiap orang yang percaya kepada-Nya (yaitu Yesus Kristus), tidak binasa, melainkan beroleh hidup yang kekal.”
Yang tidak paham secara utuh soal iman Kristen, tidak perlu kebakaran jenggot, apalagi mewartakan “salah paham” Yesus Kristus. Yahya Waloni dan lainnya boleh saja mengkritik iman Kristen, asalkan dengan cara-cara akademis, bukan dengan cara memaki, menyebarkan kebohongan dan memalsukan dokumen historis.
Tuhan kiranya memberkati pelayanan kita di segala bidang kehidupan. Dan wartakanlah kebenaran Alkitab selagi masih ada kesempatan.
Selamat berpikir, dan selamat beragama secara dewasa.
Kehidupan manusia ditandai dengan dua hal yaitu menilai segala sesuatu dan melakukan segala sesuatu. Seringkali, apa yang dinilai tidak dilakukan. Apa yang dilakukan manusia bukanlah berdasarkan penilaian bahwa hal itu benar. Pengabaian semacam ini telah menggejala di kalangan Kristen, baik para pendeta, majelis, maupun jemaat. Akibat dari lemahnya hikmat dan iman, orang Kristen terjebak (atau terjerumus) ke dalam kubangan dosa. Anehnya, ada yang senang berenang dalam kubangan tersebut tanpa memikirkan bagaimana mencari cara atau jalan keluar dari kubangan dosa.
Ada satu kisah, di mana seorang gadis disukai oleh dua orang pria. Pria yang pertama memang berpacaran dengan gadis tersebut. Namun, karena alasan bahwa sang gadis sering disakiti, maka ia memutuskan hubungan dengannya dan beralih ke pria lainnya. Pria kedua lebih perhatian dan “cool”. Sang gadis sangat jatuh cinta dengannya. Akan tetapi, pria pertama cemburu dan adu mulut dengan sang gadis. Sang gadis bersikeras untuk tidak lagi menjalin hubungan dengan pria tersebut. Akibatnya, sang pria memutuskan bahwa jika ia tidak mendapatkan cinta sang gadis, maka tak seorang pun dapat memiliki sang gadis. Akhirnya, sang pria mencekik mantan pacarnya sampai mati.
Dari kisah di atas, sang pria memiliki penilaian terhadap kasus yang menimpanya. Namun ia melakukan sesuatu di luar kontrolnya karena tergores oleh emosi yang sangat tinggi. Maklum, sang gadis adalah wanita yang sangat dicintainya. Lalu, mengapa ia membunuhnya padahal ia sangat cinta? Apakah orang lain tidak berhak mendapatkan cinta sang gadis jika hubungan mereka telah putus? Apakah sang gadis tidak berhak memutuskan hubungan mereka ketika sang pria selalu menyakitinya?
Jika kita analogikan kisah di atas dengan konteks hikmat dan iman, maka peran hikmat adalah melakukan berbagai pertimbangan. Hasil pertimbangan harus selaras dengan firman Tuhan. Ketika selaras maka di situlah peran iman untuk segera melakukannya atau mewujudkannya. Pertimbangan sang pria dalam kasus di atas bukanlah pertimbangan yang matang. Ia bersifat egois dengan anggapan bahwa dari pada sang gadis dinikmati oleh laki-laki lain lebih baik sang gadis dibunuh saja agar tak seorang pun dapat menikmatinya termasuk dirinya karena dirinya tidak mendapat kesempatan menikmati sang gadis dikarenakan sang gadis tidak lagi menyukainya.
Siapa yang berhikmat, pasti memegang sesuatu. Sesuatu itu adalah prinsip-prinsip Alkitab. Apa yang dipegang tentu haruslah dilakukan. Tidak hanya sekadar ada dalam genggaman tangan, tetapi harus dibagikan kepada semua orang. Itulah prinsip relasi antara hikmat dan iman. Seperti yang diungkapkan dalam Mazmur 107:43, “Siapa yang mempunyai hikmat? Biarlah ia berpegang pada semuanya ini, dan memperhatikan segala kemurahan TUHAN.” seseorang harus memegang segala sesuatu yang terkait dengan hikmat itu sendiri dan tak lupa pula, ia harus memperhatikan segala kemurahan Tuhan. Ketika telah memperhatikannya, maka bagikanlah kemurahan Tuhan kepada semua orang. Itulah iman.
HIKMAT: MEMEGANG SEGALA SESUATU
Dari teks Mazmur 107:43 di atas, maka saya mencatat beberapa hal yang dikaitkan dengan pegangan dari seorang yang berhikmat dalam konteks yang dibicarakan pemazmur.
Pertama, seorang berhikmat perlu menunjukkan sikap bersyukur kepada TUHAN karena kebaikan-Nya dan kasih setia-Nya yang ajaib dan tak berkesudahan. Ini adalah pegangan seumur hidup. Mereka yang diberikan hikmat oleh Tuhan haruslah tunduk dan taat pada aturan main-Nya. Dan pemazmur menegaskan bahwa yang menyatakan syukur kepada Tuhan adalah mereka yang ditebus TUHAN, yang ditebus-Nya dari kuasa yang menyesakkan. Jika demikian, setiap orang Kristen yang telah ditebus-Nya, “harus” bersyukur kepada Tuhan sebab Ia sangat baik dan tak tertandingi kebaikan-Nya. Jadi, pegangan pertama adalah “selalu mengucap syukur”. Ini adalah harga mati.
Kedua, seorang berhikmat perlu mempersembahkan korban syukur. Korban syukur di zaman Musa merujuk pada persembahan hewan yang dikurbankan. Namun, pemazmur kemudian merujuk kepada jiwa hancur hancur: “Korban sembelihan kepada Allah ialah jiwa yang hancur; hati yang patah dan remuk tidak akan Kaupandang hina, ya Allah (Mzm. 51:19), “sebab dipuaskan-Nya jiwa yang dahaga, dan jiwa yang lapar dikenyangkan-Nya dengan kebaikan” (Mzm. 107:9) dan “TUHAN adalah baik bagi orang yang berharap kepada-Nya, bagi jiwa yang mencari Dia (Rat. 3:25).
Ketiga, seorang berhikmat perlu menceritakan pekerjaan-pekerjaan Tuhan dengan sorak-sorai! Tidak ada halangan yang berarti bagi mereka yang berhikmat untuk bersaksi dan menceritakan segala pekerjaan Tuhan. Apalagi cari menyampaikannya dengan sorak-sorai. Suatu situasi dan kondisi yang luar biasa menyenangkan dan menguatkan mereka yang mendengarnya. Di sini, penakanannya adalah “siapa yang hidup di dalam Tuhan, pasti memiliki pengalaman pribadi bersama-Nya. Dan itulah yang akan menjadi rujukan utama sebagai ‘isi’ dari kesaksian seseorang.” Di bagian lain Alkitab, juga memberikan rujukan yang sama mengenai “menceritakan tentang Tuhan dan kemuliaan-Nya.
Ceritakanlah kemuliaan-Nya di antara bangsa-bangsa dan perbuatan-perbuatan-Nya yang ajaib di antara segala suku bangsa (1 Taw. 16:24)
Ceritakanlah kemuliaan-Nya di antara bangsa-bangsa dan perbuatan-perbuatan yang ajaib di antara segala suku bangsa (Mzm. 96:3)
Keempat, seorang berhikmat perlu meninggikan dan memuji-muji Dia. Meninggikan Tuhan berarti “bersandar dan mengandalkan dia dalam segala hal.” Memuji-muji Tuhan berarti menyerahkan dan mengakui bahwa hanya Dialah yang patut disembah, diagungkan, disandarkan, dan diandalkan. Meninggikan dan memuji-muji Tuhan adalah buah dari pengalaman bersama Dia. Seperti kata pemazmur: “Dia yang memuaskan hasratmu dengan kebaikan sehingga masa mudamu menjadi baru seperti pada burung rajawali” (Mzm. 103:5). Kalau Tuhan telah memuaskan hasrat kita dengan kebaikan, bukanlah selayaknya kita meninggikan dan memuji-muji Dia?
Kelima, seorang berhikmat berarti memelihara dirinya dalam kebenaran. Kebenaran firman-Nya [Kitab Suci] adalah penuntun, penopang, penghibur, dan sumber kuasa dan kekuatan dalam menghadapi berbagai hal termasuk menghadapi kuasa kegelapan yang seringkali menyamar menjadi malaikat terang. Memelihara diri dalam kebenaran berarti seseorang selalu menggunakan hikmat dan imannya agar terhindar dan terjaga dari segala jenis goda dan cobaan.
Dari kelima hal di atas, iman menjadi salah satu di antaranya. Seorang beriman perlu menunjukkan sikap bersyukur kepada TUHAN karena kebaikan dan kasih setia-Nya yang ajaib dan tak berkesudahan; perlu mempersembahkan korban syukur yaitu jiwa yang hancur; hati yang patah dan remuk; menceritakan pekerjaan-pekerjaan Tuhan dengan sorak-sorai; meninggikan dan memuji-muji Dia; dan memelihara dirinya dalam kebenaran. Baik hikmat maupun iman, kedua haruslah seimbang dan selaras. Apa yang dirujuk oleh hikmat, itu pula yang dirujuk oleh iman.
Dalam catatan penulis Ibrani, iman diartikan sebagai: (1) dasar dari segala sesuatu yang kita harapkan; dan (2) bukti dari segala sesuatu yang tidak kita lihat. Sebagai “dasar dari segala sesuatu yang kita harapkan”, iman mengutarakan sebuah komitmen dan keyakinan serta kesabaran menanti kehendak Tuhan tergenapi di waktu kemudian. Berbicara mengenai harapan, pasti melibatkan sebuah “komitmen dan keyakinan serta kesabaran”. Sebagai “bukti dari segala sesuatu yang tidak kita lihat”, iman mengutarakan sebuah implikasi dari komitmen dan keyakinan serta kesabaran yang tertuang dalam bentuk nyata. Iman memang melihat hal-hal yang secara gambaran saja, yang kemudian terwujud dalam kenyataan. Dalam mempertahankan sebuah “komitmen dan keyakinan serta kesabaran” dibutuhkan hikmat yang tinggi dan mempertimbangkan segala sesuatu agar “komitmen dan keyakinan serta kesabaran” tidak luntur di telan waktu dan godaan.
Antara hikmat dan iman terdapat hubungan yang erat. Antara menilai dan melakukan terdapat titik temu yang kuat antara pertimbangan dan perbuatan. Ibarat seorang nelayan yang melihat pulau kecil. Ia harus mempertimbangkan [hikmat] bagaimana bisa tiba di pulau itu, dengan cara “melakukan [iman] apa yang dipertimbangkannya”. Jika hanya mendayung tanpa mempertimbangkan bagaimana caranya bisa tiba di pulau tersebut, pasti akan menemui jalan buntu. Dengan demikian, hikmat dan iman adalah dua dasar untuk mencapai satu tujuan.
Dalam bagian lain Alkitab, hikmat digambarkan sebagai berikut:
Pertama, mereka yang berhikmat adalah mereka yang takut [hormat dan patuh] pada Tuhan: “Permulaan hikmat adalah takut akan TUHAN, semua orang yang melakukannya berakal budi yang baik….” (Mzm. 111:10). Orang berhikmat berarti memiliki akal budi yang baik.
Kedua, mereka yang berhikmat adalah mereka yang berbahagia dan sejahtera: “Berbahagialah orang yang mendapat hikmat, orang yang memperoleh kepandaian. Jalannya adalah jalan penuh bahagia, segala jalannya sejahtera semata-mata. Ia menjadi pohon kehidupan bagi orang yang memegangnya, siapa yang berpegang padanya akan disebut berbahagia (Ams. 3:13, 17-18).
Ketiga, mereka yang berhikmat adalah mereka yang memiliki pengertian: “Di bibir orang berpengertian terdapat hikmat, tetapi pentung tersedia bagi punggung orang yang tidak berakal budi” (Ams. 10:13); “Hikmat tinggal di dalam hati orang yang berpengertian, tetapi tidak dikenal di dalam hati orang bebal” (Ams. 14:33)
Keempat, mereka yang berhikmat adalah mereka yang benar (melakukan dan mengatakan apa yang benar): “Mulut orang benar mengeluarkan hikmat, tetapi lidah bercabang akan dikerat” (Ams. 10:31).
Kelima, mereka yang berhikmat adalah mereka yang rendah hati: “Jikalau keangkuhan tiba, tiba juga cemooh, tetapi hikmat ada pada orang yang rendah hati” (Ams. 11:2)
Keenam, mereka yang berhikmat adalah mereka yang bersedia mendengarkan nasihat: “Keangkuhan hanya menimbulkan pertengkaran, tetapi mereka yang mendengarkan nasihat mempunyai hikmat” (Ams. 13:10).
Ketujuh, mereka yang berhikmat adalah mereka yang cerdik dan mengerti jalannnya sendiri (berdasarkan pertimbangan akal sehatnya): “Mengerti jalannya sendiri adalah hikmat orang cerdik, tetapi orang bebal ditipu oleh kebodohannya” (Ams. 14:8).
Lalu bagaimana dengan iman? Dalam kitab Ibrani pasal 11, peran dan fungsi (dampak) iman sangat beragam. Berikut saya mencatatnya di sini.
Pertama, mereka yang beriman adalah mereka yang bersaksi kepada sesama tentang kebaikan dan kemurahan Tuhan.
Kedua, mereka yang beriman adalah mereka yang mengerti bahwa alam semesta telah dijadikan oleh firman Allah, sehingga apa yang kita lihat telah terjadi dari apa yang tidak dapat kita lihat.
Ketiga, mereka yang beriman adalah mereka yang mempersembahkan kepada Allah korban yang lebih baik. Memberikan yang terbaik kepada Allah adalah ciri khas orang beriman. Ia tidak merasa rugi sekalipun.
Keempat, mereka yang beriman adalah mereka yang berkenan kepada Allah. Apa yang dilakukannya selaras (sesuai) dengan apa yang dikehendaki Allah.
Kelima, mereka yang beriman adalah mereka yang sungguh-sungguh mencari Dia.
Keenam, mereka yang beriman adalah mereka yang tidak hanya peduli pada diri sendiri melainkan peduli pada keluarganya.
Ketujuh, mereka yang beriman adalah mereka yang taat pada firman Tuhan.
Kedelapan, mereka yang beriman adalah mereka yang yakin akan pertolongan dan kepedulian Tuhan di mana pun mereka berada (tinggal).
Kesembilan, mereka yang beriman adalah mereka yang kuat menghadapi kesakitan dan penderitaan.
Kesepuluh, mereka yang beriman adalah mereka yang berani mati demi Tuhan dan memiliki keyakinan bahwa mereka akan bersama dengan Tuhan di dalam Kerajaan-Nya.
Kesebelas, mereka yang beriman adalah mereka yang taat kepada kehendak Allah.
Kedua belas, mereka yang beriman adalah mereka yang yakin akan masa depan sebab Tuhanlah yang menetapkan masa depan mereka.
Ketiga belas, mereka yang beriman adalah mereka yang berbuat baik meski berada dalam ambang kematian.
Keempat belas, mereka yang beriman adalah mereka yang berani menolak kenikmatan dosa.
Kelima belas, mereka yang beriman adalah mereka yang berani mengambil risiko.
Keenam belas, mereka yang beriman adalah mereka yang berjuang meski merasa lelah.
Ketujuh belas, mereka yang beriman adalah mereka yang berbuat baik kepada utusan-utusan [pelayan-pelayan] Tuhan.
Jadi, berdasarkan uraian tentang mereka yang berhikmat dan beriman, maka patutlah kita mempertimbangkan di mana posisi kita dan apa identitas kita. Kemudian kita berkomitmen untuk melakukan apa yang menjadi tanggung jawab sebagai orang berhikmat dan beriman. Dan ingat, dalam mempertimbangkan (berhikmat) segala sesuatu dan telah memutuskan mana yang sesuai dengan kehendak Tuhan, maka segeralah untuk melakukannya sebagai wujud nyata dari iman kita.
Tema “Ikutlah Aku [Yesus]” sangatlah menarik. Alasannya, karena tema ini merupakan perwujudan totalitas iman kita kepada Yesus yang terlihat dari keseharian kita. Bagaimana mungkin seseorang mengatakan: “Aku percaya dan mengikut Yesus” dan di waktu yang bersamaan dia tidak melakukan apa yang diperintahkan Yesus?
Tema ini juga bisa menjadi “pertanyaan” dan “pernyataan”. Kita disuguhkan dengan pertanyaan: “Sudahkah kita mengikut Yesus secara benar?”, “Apakah kita masih mengikuti Yesus?”, dan “Bagaimana kita mempertahankan iman untuk tetap mengikut Yesus?” Kita dituntut untuk menyatakan iman: “Saya telah mengikut Yesus secara benar”, “Saya tetap mengikut Yesus dengan setia”, dan “Saya akan terus mempertahankan iman untuk mengikut Yesus dalam segala situasi, entah baik, entah buruk.
Baik pertanyaan dan pernyataan, keduanya sangat penting untuk terapkan (dilakukan) dalam kehidupan setiap hari. “Pertanyaan” diajukan untuk memotivasi kita melihat proses perjalanan iman dan pelayanan (pengabdian) kita kepada Allah. “Pernyataan” diajukan untuk menunjukkan komitmen dan konsistensi iman kita di hadapan Allah.
Kita pun yang hadir saat ini tentu adalah orang-orang yang “telah” mengikut Yesus. Kesaksian demi kesaksian dalam mengikut Yesus, telah menjadi berkat bagi orang lain. Suka duka mengikut Yesus dapat dilalui dengan penuh iman dan harap. Jatuh bangun dialami; berdoa, berpuasa, dan menangis di hadapan Allah juga dialami. Setiap orang memiliki pengalaman hidup bersama dengan Allah; tidak sama, tetapi semuanya mendapat kelepasan dan kebahagiaan dari Allah yang sama.
Makna dan Konteks “Ikutlah Yesus”
Setelah Yesus bertanya dan mengatakan sesuatu kepada Petrus tentang bagaimana Petrus akan mati dan memuliakan Tuhan, Yesus kemudian mengatakan: “Ikutlah Aku” (Yoh. 21:15-19). Konteks “Ikutlah Aku” telah dilakukan Yesus sebelumnya: “Mari, ikutlah Aku, dan kamu akan Kujadikan penjala manusia” (Mat. 4:19-22, Mrk 1:17, pemanggilan para murid: Simon, Andreas, Yakobus, dan Yohanes; Mat. 9:9, pemanggilan Matius; bdk. Mrk. 2:14; Luk. 5:27; pemanggilan Filipus, Yoh. 1:43).
Pemanggilan Yesus kepada murid-murid yang pertama bertujuan untuk melakukan transformasi sosial; dulunya Petrus dan kawan-kawan sebagai bekerja sebagai penjala ikan yang bisa dikonsumsi sendiri, keluarga, dan atau dijual secara terbatas kepada beberapa orang saja (kepada masyarakat mikro), “kini” mereka dipanggil Yesus mengikuti-Nya menjadi ‘penjala manusia’, yang mana mereka mendapat tugas yang lebih besar, lebih berat, dan lebih luas wilayahnya. Ini adalah sebuah kejutan bagi mereka dan sekaligus mengajar mereka untuk mentransformasi sosial dalam lingkup makro.
Jadi, mengikut Yesus selalu terkait dengan tugas untuk melakukan transformasi sosial yang bersifat makro—dan kita telah menjadi ‘penjala manusia’. Mengikut Yesus adalah sebuah “pilihan iman” yang bersifat optatif (harapan di masa depan).
Kita akan melihat signifikansi dari mengikut Yesus sebagaimana tema kita hari ini. Frasa “Ikutlah Aku [Yesus]” secara logis dapat diajukan beberapa pertanyaan mendasar: pertama, untuk apa mengikut Yesus?; kedua, apa pentingnya mengikut Yesus?; ketiga, tujuannya apa?; keempat, siapa Yesus yang harus diikuti? dan kelima, apa yang harus diikuti dari Yesus? Saya akan menjelaskan kelima pertanyaan di atas.
Pertama, untuk [alasan] apa mengikut Yesus? Sama seperti murid-murid Yesus yang pertama dipanggil, tanpa berpikir panjang, mereka langsung mengikut Yesus ketika Yesus menawarkan mereka untuk mengikuti-Nya. Mereka melihat pribadi Yesus sebagai pribadi yang dapat dipercaya. Alasan mengikut Yesus adalah karena Yesus “menyuguhkan sebuah kondisi yang lebih faktual, lebih besar, dan lebih bernilai transformatif”. Pilihan untuk mengikut Yesus bukan karena pekerjaan yang ditawarkan itu enak, nyaman, aman dan terkendali, bukan pekerjaan yang mudah, melainkan pekerjaan yang bernilai kekal: membawa orang lain kepada Yesus Kristus. Itu transformasi. Yang ditransformasikan (diubah) adalah kondisi spiritual dan humanitas sosial ke arah yang Tuhan kehendaki. Bukankah Tuhan menghendaki semua orang hidup dalam kehendak dan rencana-Nya?
Kedua, apa pentingnya mengikut Yesus? Mengikut Yesus akan mendapatkan/menerima “damai sejahtera” dari Dia [Yesus]—bukan dari dunia. Yesus mengatakan: “Damai sejahtera Kutinggalkan bagimu. Damai sejahtera-Ku Kuberikan kepadamu, dan apa yang Kuberikan tidak seperti yang diberikan oleh dunia kepadamu. Janganlah gelisah dan gentar hatimu” (Yoh. 14:27). Mengikut Yesus bukanlah tanpa hambatan, tantangan, aniaya, dan penderitaan. Selalu ada risiko ketika mengikut Yesus. Namun, kita perlu melihat jaminan yang ditegaskan Yesus kepada para murid-Nya yang dapat kita jadikan pegangan dalam mengikut Yesus: “Semuanya itu Kukatakan kepadamu, supaya kamu beroleh damai sejahtera dalam Aku. Dalam dunia kamu menderita penganiayaan, tetapi kuatkanlah hatimu, Aku telah mengalahkan dunia” (Yoh. 16:33).
Ketiga, tujuannya apa? Kita mendapatkan jaminan kelegaan (ketenangan), hidup kekal, dan makhota kehidupan. Kelegaan diberikan Yesus bagi siapa saja yang datang kepada-Nya (Mat. 11:28-29). Dalam Matius 19:29 (bdk. Mrk. 10:30; Luk. 18:29-30) Yesus menegaskan, mereka yang mengikut Dia akan menerima kembali seratus kali lipat dari apa yang mereka tinggalkan, dan akan memperoleh hidup yang kekal (bdk. Yoh. 3:16, 36; 5:24; 6:40, 47; 10:28 [“Aku memberikan hidup yang kekal”]; 17:3). Tujuan mengikut Yesus adalah mendapatkan sesuatu yang bersifat spiritual yang tertuang dalam sikap hidup sehari-hari, mewujudkan teladan iman, dan memancarkan kasih serta pengampunan dari Yesus kepada sesama kita. Untuk mencapai tujuan, ada proses yang harus ditempuh. Kesetiaan akan berbuahkan makhota kehidupan (bdk. Why. 2:10b). Menempuh perjalanan hidup yang panjang, membutuhkan bekal bagi tubuh kita, baik jasmani maupun rohani.
Keempat, siapa Yesus yang harus diikuti? Ketika kita memilih untuk mengikuti seseorang, kita pun—setidaknya sebagai gambaran awal—harus mengetahui “siapa dia” yang akan kita ikuti. Jika Yesus memanggil kita dan kita harus mengikuti-Nya, lalu siapakah Dia? Para penulis kitab-kitab Perjanjian Baru menyebutkan identitas Yesus (termasuk pengakuan Yesus sendiri): (1) Yesus adalah “roti [ke]hidup”[an] (Yoh. 6:35, 48, 51); (2) Yesus adalah “terang dunia” (Yoh. 8:12; 9:5); (3) Yesus adalah “pintu” (Yoh. 10:7, 9); (4) Yesus adalah “Gembala yang baik” (Yoh. 10:11, 14); (5) Yesus adalah “kebangkitan dan hidup” (Yoh. 11:25; (6) Yesus adalah “jalan, kebenaran, dan hidup” (Yoh. 14:6); (7) Yesus adalah “pokok anggur yang benar” (Yoh. 15:1; (8) Yesus adalah pemberi “air kehidupan” (Yoh. 4:10, 14); (9) Yesus adalah Tuhan dan Juruselamat umat manusia; dan masih banyak lagi yang dapat kita sebutkan tentang Yesus.
Kalau Yesus memanggil, segeralah terima panggilan-Nya dan jadilah pelayan-Nya. Mengikut Yesus bukan supaya berebut untuk menjadi yang terbesar, tetapi justru harus menjadi pelayan sesama: “Barangsiapa terbesar di antara kamu, hendaklah ia menjadi pelayanmu” (Mat. 23:11; Luk. 22:26, “…yang terbesar di antara kamu hendaklah menjadi sebagai yang paling muda dan pemimpin sebagai pelayan”).
Sampai di sini saya teringat dengan satu lagu yang diterjemahkan oleh Yamuger tahun 1979, yang berjudul “Yesus Memanggil” (Kidung Jemaat No. 355, Come to the Savior, George F. Root [1820-1895]). Syairnya berbunyi demikian:
(1) Yesus memanggil, “Mari seg’ra!”
Ikutlah jalan s’lamat baka;
jangan sesat dengar sabda-Nya,
“Hai marilah seg’ra!”
Refrein:
Sungguh, nanti kita ‘kan senang,
bebas dosa, hati pun tentr’am
bersama Yesus dalam terang
di rumah yang kekal
(2) Hai marilah, kecil dan besar,
biar hatimu girang benar.
Pilihlah Yesus – jangan gentar.
Hai mari datanglah!
(3) Jangan kaulupa, Ia serta;
p’rintah kasih-Nya patuhilah.
Mari dengar lembut suara-Nya,
“Anak-Ku, datanglah!”
Kelima, apa yang harus diikuti dari Yesus? Kalau pada bagian keempat kita melihat identitas personal Yesus, kini kita melihat apa saja yang harus diikuti dari Yesus. Matius 11:29 menyebutkan: Yesus lemah lembut dan rendah hati. Dalam catatan Injil-Injil PB, Yesus menunjukkan kepedulian-Nya kepada semua golongan masyarakat, baik di kota maupun di desa. Ia peduli kepada mereka yang disingkirkan, mereka yang tidak dianggap dalam status sosial, mereka yang penyakitan, mereka yang miskin, mereka yang tidak diperhatikan oleh kelompok elit agama Yahudi, dan masih banyak lagi. Setidaknya, apa yang telah saya sebutkan tadi bisa menjadi poin penegasan bahwa mengikut Yesus sangatlah beruntung. Mungkin kita ingat akan sebuah lagu dari Nafiri Kemenangan (NK 46) “Untung Besar” (atau dalam terjemahan lainnya disebut “Besarlah Untungku” dalam NKB 197; syair dan lagu oleh J. Uktolseja/Tim Nyanyian GKI).
Ya, untungku besar kar’na Yesus milikku
Jiwaku bergemar dapat damai yang sungguh
Di tengah ribut k’ras, ombak dunia menderu
Hatiku tak gentar, kar’na Yesus sertaku
Benar, benar, ya untungku besar
Benar, benar, ya untungku besar
Benar, benar, ya untungku besar
Kar’na kudapat Yesus sungguh untung besar
Penutup
Ikutlah Yesus. Tetap setia kepada-Nya. Di tengah ribut dunia yang menderu, jangan gentar, sebab Yesus telah berjanji akan “menyertai kita senantiasa” sampai kepada akhir zaman.
Kehidupan Kristen sifatnya aktif; sebuah kehidupan yang memiliki peran dalam berbagai aspek humanitas dan spiritualitas. Di samping itu, kehidupan yang aktif itu ditandai oleh tujuh aspek sebagai berikut: pertama, kehidupan yang memancarkan kasih yang tulus; kedua, kehidupan yang memberkati orang lain; ketiga, kehidupan yang menunjukkan kekukudusan; keempat, kehidupan yang menampakkan terang perbuatan; kelima, kehidupan yang menggarami situasi dan kondisi; keenam, kehidupan yang siap menderita; dan ketujuh, kehidupan yang mewartakan Injil (Kabar Baik).
Ketujuh aspek tersebut adalah ‘aktivitas’ iman Kristen. Layak tidaknya seseorang dalam melayani Tuhan dapat diukur oleh tujuh aspek tersebut. Ketujuh aspek itu adalah perintah Tuhan sendiri. Jadi, mau tidak mau, suka atau tidak suka, semuanya harus menjadi aktivitas iman dalam totalitas kehidupan orang percaya.
Itulah sebabnya, mengapa tugas mengabarkan Injil menjadi suatu tugas yang signifikan. Yesus telah memberi perintah kepada para murid-Nya, dan kepada kita juga untuk: “Pergi, dan memberitakan Injil—Kabar Baik, kepada semua orang”. Baik Matius dan Markus mengumandangkan substansi yang sama dari kegiatan “pergi” yakni “memberitakan [mewartakan] Kabar Baik.
SUBSTANSI KABAR BAIK
Kabar Baik adalah kabar damai—di mana berita keselamatan yang dikerjakan Tuhan direalisasikan dalam sejarah inkarnasi Yesus Kristus. Perintah mewartakan Kabar Baik [damai] mencakup hal-hal substansial sebagaimana yang dicatat Markus:
Pertama, Kabaik Baik mengumandangkan “kebangkitan Yesus” (ay. 14).
Kedua, Kabar Baik mengumandangkan bahwa orang-orang harus percaya kepada Yesus sebagai Tuhan dan Juruselamat (ay. 16).
Ketiga, Kabar Baik mengumandangkan bahwa Yesus yang dipercaya itu memiliki kuasa yang tak terbatas, kuasa mengusir setan yang diberikan kepada orang-orang percaya; mereka yang mewartakan Kabar Baik tidak akan takut terhadap ancaman: memegang ular, minum racun maut, tidak akan mendapat celaka (ay. 17-18).
Kempat, Kabar Baik untuk menyertakan kepedulian terhadap orang-orang sakit (ay. 18).
Kelima, Kabar Baik mengumandangkan “kenaikan Yesus ke surga” (ay. 19) tanda bahwa Yesus yang menderita, disalibkan, dan mati, bukanlah peristiwa yang menindas iman Kristen melainkan merupakan kesatuan peristiwa yang tuntas di mana Yesus telah menyelesaikan kehendak Bapa untuk menebus serta mendamaikan manusia dengan diri-Nya.
Penjelasan ayat 15 berikut ini merupakan kesatuan perintah mewartakan Kabar Baik yang mencakup hal-hal substansial sebagaimana yang telah saya sebutkan di atas. Kata “pergilah” [πορευθέντες, poreuthentes] dari kata πορεύομαι[poreuomai], πορεύω[poreuō] adalah kata kerja partisip yang menjadi pendukung dari “pemberitaan Injil”. Kata “beritakanlah” [κηρύσσω, kērussō, to proclaim, preach, memproklamasikan, mengajarkan (Kabar Baik)] adalah kata kerja aoris aktif. Aoris adalah sebuah “tindakan yang terjadi pada masa lampau”. Ini mengacu kepada tindakan yang telah Yesus lakukan dan Ia menghendaki para murid melakukan hal yang sama. Perbuatan yang telah terjadi yakni “memberitakan Injil” sebagaimana yang telah Yesus lakukan, haruslah terus dilakukan secara ‘aktif’. Itulah hidup Kristen yang sesungguhnya sebagaimana telah saya sebutkan di awal. Yesus memberitakan Injil dari kota ke kota dan dari desa ke desa. Kita pun demikian.
WARTAKAN KABAR DAMAI: KERJA IMAN, KERJA NYATA
Mewartakan kabar damai sebagai bagian dari tugas pekabaran Injil adalah wujud dari kerja nyata berdasarkan iman. Di sinilah perpaduan dan konfirmasi bahwa iman dan perbuatan sama-sama direalisasikan. Perbuatan mengabarkan Injil adalah konsekuensi dari iman; iman yang ada haruslah diwujudnyatakan dalam kerja nyata, aktif bersaksi, dan memberitakan Injil dengan berbagai cara. Kerja iman adalah kesadaran diri untuk melakukan apa yang diimani. Itu berarti, seorang Kristen telah melakukan kerja nyata sebagai bagian signifikan dari kehidupan Kristen yang aktif.
Tak ada cukup alasan untuk menolak keaktifan kehidupan Kristen. Seperti yang ditegaskan Rasul Paulus kepada Timotius bahwa, “Beritakanlah firman, siap sedialah baik atau tidak baik waktunya, nyatakanlah apa yang salah, tegorlah dan nasihatilah dengan segala kesabaran dan pengajaran” (2 Tim. 4:2). Apa yang ditegaskan Rasul Paulus mengikuti prinsip Yesus Kristus: “pergi dan mengabarkan Kabar Baik”.
Mewartakan Kabar Baik adalah sebuah tugas mulia sebab kita adalah Lux Mundi [Terang Dunia] (Mat. 5:14, 16). Mewartakan Kabar Baik adalah tugas mulia di mana kita perlu membagikan cinta kasih Tuhan yang telah kita alami kepada sesama, sebagaimana yang ditegaskan Yesus: “pohon yang baik menghasilkan buah yang baik”. Pohon yang baik memberikan buah tanpa memandang bulu; tak peduli siapa yang lewat atau melihat buahnya; tetap berproses untuk menghasilkan buah; memberikan buah yang baik dan membagikan hasil tanpa merasa rugi atau tersakiti. Berbagi Injil tidak menyakiti kita, tetapi justru memberikan sukacita dan kebahagiaan. Itulah kehidupan Kristen yang aktif.
PENUTUP
Beberapa hal yang perlu kita pahami dari penjelasan di atas adalah sebagai berikut:
Pertama, kehidupan Kristen adalah kehidupan yang aktif; kehidupan yang memiliki peran dalam berbagai sendi kehidupan. Karena itu wartakanlah Kabar Baik kepada manusia.
Kedua, perintah Yesus untuk pergi dan memberitakan Injil adalah perintah aktif dan merupakan teladan Yesus yang diwariskan kepada para murid. Yesus sendiri telah melakukan pekabaran Injil semasa pelayanannya.
Ketiga, perintah mewartakan Kabar Baik [damai] mencakup hal-hal substansial: kebangkitan, percaya kepada Yesus, Yesus yang berkuasa dan memberi kuasa kepada orang percaya, kepedulian terhadap sesama, dan kenaikan Yesus ke surga.
Keempat, mewartakan kabar damai adalah wujud dari kerja nyata berdasarkan iman. Ini adalah perpaduan dan konfirmasi bahwa iman dan perbuatan sama-sama direalisasikan.
“Cristianismo é um acontecimento – Kekristenan adalah sebuah peristiwa”
Manusia pada umumnya memiliki sikap relasional. Segala sesuatu dapat direlasikan dengan sesuatu yang lain. Manusia tak bisa tidak harus membuat dirinya terkoneksi dengan yang lain, entah benda, waktu, kesempatan, materi, dan pikiran. Imajinasi dan proses berpikir seringkali membentuk hidup manusia menjadi sesuatu yang berarti, bertumbuh, yang merusak, mengganggu, kejam, brutal, dan lain sebagainya.
Dalam setiap kasus atau kejadian yang terjadi, bisa dikatakan bahwa manusia langsung mengaitkannya (menghubungkannya) dengan sesuatu yang lain. Cara ini menjadi sebuah habit permanen di sepanjang sejarah. Dalam konteks agama pun demikian. Ketika kita—orang yang percaya kepada Tuhan—mengalami suatu kejadian, maka kita langsung merelasikannya dengan Tuhan.
Bahkan lebih dari itu, ketika ada musuh yang menghina kita, lalu ia mengalami kejadian buruk, maka kita langsung mengatakan: “Itu karena ia menghina saya”. Lebih buruknya lagi, ketika kasus bom bunuh diri di beberapa gereja yang mengakibatkan banyak orang mati, serentak semua kaum beragama berkomentar. Ada yang senang, dan ada yang sedih. Ada yang pura-pura simpati dan lain sebagainya.
“Aku dan Tuhan” seolah-olah menjadi kekuatan logika untuk membenarkan segala perbuatan keji yang membunuh banyak orang—dan orang-orang tertentu bangga bahwa “Tuhan”-nya membalaskan dendam pribadinya atau dendam agamanya. Kita senang jika agama di luar kita mengalami sengsara, dan bahkan mensyukurinya. Sikap arogansi beragama menjadi sesuatu yang melekat dalam diri orang-orang munafik dan sombong rohani. Mereka ibarat binatang buas yang kelaparan.
Propaganda-propaganda agama dan ayat-ayat kitab suci yang menjadi “jualan kecap” marak terjadi. Berbagai ujaran kebencian yang membabi buta menghiasi ladang kehidupan beragama. Ada yang senang dengan mengucapkan ujaran kebencian dan penghinaan, dan ada yang marah karena dianggap bisa merusak relasi humanitas.
“Aku dan Tuhan” adalah sikap pribadi yang ingin menjadikan diri kita baik terhadap diri kita dan terhadap sesama. “Aku dan Tuhan” bisa juga berpotensi untuk menjadi sombong rohani dan kaku dalam keyakinan dogmatis. Sikap balas dendam dan mengajak perang bisa terjadi di sekitar kita dengan berbagai alasan. Agama menjadi senjata untuk membunuh, menyalahkan, menghina dan mencaci maki. Hal itu dapat dianggap benar bagi mereka yang pikirannya dibutakan oleh “ilah” zaman ini; ya, “ilah” yang mendorong manusia menjadi jahat.
Pula, “Aku dan Tuhan” berpotensi menciptakan kedamaian dan kesejukkan hidup dan relasi keagamaan. Siapa pun kita dapat memiliki pemikiran untuk menciptakan segala sesuatu, entah baik, entah buruk. Pada prinsipnya, “Aku dan Tuhan” merupakan keputusan iman (keyakinan) dan keputusan pikiran (pemahaman) akan “hidup dan Tuhan”. Hidup, selalu melibatkan relasi humanitas, dan Tuhan, selalu diyakini sebagai Penolong, Pembebas, Penghibur, Penyayang, dan Pembalas.
Kekristenan hadir di dunia untuk memberikan pemikiran dan pemahaman yang baru. Dua senjata yang mematikan dosa dan kesombongan adalah: KASIH dan KUASA TUHAN. Dua senjata ini juga diberikan kepada mereka yang percaya kepada-Nya. Kekristenan kuat, tangguh, tak terkalahkan, karena ia menggunakan dua senjata ini di sepanjang sejarah – senjata pemberian Yesus Kristus (bdk. Matius 28:18-20).
KASIH, mengisahkan tentang pengurbanan Yesus Kristus di kayu salib, untuk menebus, mengampuni, membenarkan, mendamaikan, menguduskan, dan menyelamatkan manusia-manusia berdosa. Mengapa harus ditempuh dengan cara demikian? Hanya Allah yang tahu. Jika Allah sudah mengetahui bahwa tidak ada cara lain yang lebih mujarab (ampuh) untuk menyelamatkan manusia-mansia berdosa, maka tentu tidak ada cara lain yang muncul dalam sejarah selain dari pada cara pengurbanan Yesus Kristus di kayu salib. Ingat, Allah Mahatahu; Ia tahu masa depan manusia. Kita manusia yang terbatas dan tidak tahu masa depan kita.
Bukankah manusia berdosa kepada Allah? Jika demikian, bukankah Allah berhak menentukan bagaimana cara untuk menebus manusia? Lalu mengapa Allah harus menggunakan cara salib yang mengerikan? Bukankah bertolak belakang antara cara Allah untuk mendamaikan manusia dengan diri-Nya melalui Kristus tapi dengan cara penyaliban yang sadis? Sama sekali tidak. Tentu Allah juga bisa bertanya kepada kita: “Apakah ada cara lain untuk mendamaikan manusia yang berdosa dengan diri Allah?” Dan kita mungkin menjawab: “Ada”. Persoalannya adalah bukan Allah yang berhutang kepada kita, melainkan kitalah yang berhutang kepada Allah. Jadi, Allah berdaulat menentukan bagaimana cara-Nya menebus manusia.
Itulah KASIH Allah yang besar yang diberikan kepada kita (Yoh. 3:16), dan KASIH itulah yang menjadi sarana persebaran Kristen di seluruh dunia hingga sekarang ini. Di pihak Allah, KASIH adalah supremasi dari pengampunan, penebusan, pembenaran, pendamaian, pengudusan, dan penyelamatan manusia berdosa. Di pihak orang percaya, KASIH adalah supremasi dari sikap hidup berelasi dengan sesama, mengampuni sesama yang telah berbuat jahat kepada mereka, mewartakan bahwa YESUS KRISTUS adalah wujud KASIH Bapa yang mengasihi dan menyelamatkan kita yang berdosa. KASIH itulah yang tak bisa dirobohkan oleh apa pun. Ingatlah perkataan Rasul Paulus:
Siapakah yang akan memisahkan kita dari kasih Kristus? Penindasan atau kesesakan atau penganiayaan, atau kelaparan atau ketelanjangan, atau bahaya, atau pedang? Seperti ada tertulis: “Oleh karena Engkau kami ada dalam bahaya maut sepanjang hari, kami telah dianggap sebagai domba-domba sembelihan.” Tetapi dalam semuanya itu kita lebih dari pada orang-orang yang menang, oleh Dia yang telah mengasihi kita. Sebab aku yakin, bahwa baik maut, maupun hidup, baik malaikat-malaikat, maupun pemerintah-pemerintah, baik yang ada sekarang, maupun yang akan datang, atau kuasa-kuasa, baik yang di atas, maupun yang di bawah, ataupun sesuatu makhluk lain, tidak akan dapat memisahkan kita dari kasih Allah, yang ada dalam Kristus Yesus, Tuhan kita. (Roma 8:35-39)
Dunia bertahan karena ada KASIH Allah dan KASIH manusia-manusia yang percaya kepada-Nya, dan Kekristenan adalah Pelopor KASIH.
KUASA adalah senjata kedua yang dipakai Tuhan untuk menunjukkan bahwa Ia berkuasa, berdaulat, dan bertoritas atas hidup manusia. Orang Kristen yang mengalami penindasan, pembunuhan, pembantaian, dan penderitaan, tetap bertahan dalam iman mereka kepada Yesus Kristus. Mereka tak takut menghadapi kematian. Bagi mereka, KUASA Tuhan yang telah mengubahkan hidup mereka menjadi hidup yang berkenan kepada-Nya, lebih dari apapun juga.
KUASA Tuhan adalah pengubah hidup manusia. Seringkali Tuhan menunjukkan kuasa kepada mereka yang percaya, dan mereka selamat dari malapetaka dan kecelakaan. Bahkan dengan KUASA itu pula, orang-orang yang dulunya membenci Kekristenan, kita diubahkan oleh Tuhan.
Tuhan juga memperlengkapi orang percaya dengan KUASA-NYA. Pekabaran Injil dan perluasan ajaran-ajaran Yesus sangat cepat tersebar karena Tuhan seringkali menunjukkan KUASA-Nya melalui orang-orang yang dipilih-Nya. Para pelayan Tuhan diberikan KUASA untuk mengadakan mukjizat dan menyembuhkan, serta kuasa-kuasa lainnya. Sampai sekarang KUASA itu tetap ada.
KASIH dan KUASA adalah alat di tangan Tuhan untuk mengubahkan dunia tanpa menggunakan kekerasan, perang, pembunuhan, intimidasi, dan lain sebagainya. Ketika ketika mengatakan bahwa kita adalah orang yang percaya kepada Tuhan, maka wujudkanlah KASIH dan KUASA itu dalam totalitas kehidupan. Tiada yang mustahil bagi Tuhan untuk mengubahkan orang-orang jahat dan sombong, melalui KASIH dan KUASA yang kita tunjukkan.
“Aku dan Tuhan” harus diwujudnyatakan dalam KASIH dan KUASA yang mengubahkan hidup sesama kita setelah kita diubahkan Tuhan.
Itu adalah “peristiwa” yang luar biasa, yang Tuhan nyatakan bagi kita, orang-orang yang percaya kepada-Nya. Kekristenan adalah [sebuah] peristiwa di mana Allah datang dan bermurah hati kepada manusia yang berdosa. Yesus Kristus adalah “Peristiwa” itu sendiri. Dia adalah Tuhan dan Juruselamat kita.
Benar, bahwa: “Cristianismo é um Acontecimento” – Kekristenan adalah sebuah peristiwa”. Nyatakanlah peristiwa itu kepada dunia. Pengalaman bersama Tuhan adalah bagian terpenting dalam hidup kita, juga sebuah peristiwa berharga. Jadilah pribadi yang tangguh, senantiasa bersandar pada-Nya dan nikmati setiap peristiwa bersama Kristus Yesus dalam rentang waktu yang dikaruniakan-Nya kepada kita.
Peristiwa-peristiwa dalam hidup kita tidak lepas dari campur tangan Tuhan untuk mendatangkan kebaikan bagi kita semua. Rasul Paulus menegaskan: “Kita tahu sekarang, bahwa Allah turut bekerja dalam segala sesuatu untuk mendatangkan kebaikan bagi mereka yang mengasihi Dia, yaitu bagi mereka yang terpanggil sesuai dengan rencana Allah. Sebab semua orang yang dipilih-Nya dari semula, mereka juga ditentukan-Nya dari semula untuk menjadi serupa dengan gambaran Anak-Nya, supaya Ia, Anak-Nya itu, menjadi yang sulung di antara banyak saudara. Dan mereka yang ditentukan-Nya dari semula, mereka itu juga dipanggil-Nya. Dan mereka yang dipanggil-Nya, mereka itu juga dibenarkan-Nya. Dan mereka yang dibenarkan-Nya, mereka itu juga dimuliakan-Nya (Roma 8:28-30).
Bagi mereka yang sering tampil di depan umum atau sedang menjalani pekerjaan kantoran, “sepatu” adalah teman setianya. Mengapa bisa? Ya, karena sepatu selalu menemaninya dan bahkan bisa menumbuhkan rasa percaya diri. Ya, memang sepatu bisa menumbuhkan rasa percaya diri selain dari kemeja dan celana yang kita kenakan—asal jangan resleting celana rusak atau terbuka dan kancing kemeja lepas dari kainnya saat tampil di depan umum.
Yang menarik dari sebuah sepatu adalah ia menemani kita ke mana pun kita pergi kecuali kita melepaskannya untuk sesaat. Ia menjadi teman yang siap sedia ketika kita melangkahkan kaki. Kita sibuk, dia pun sibuk. Kita istirahat sejenak, dia pun istirahat. Setelah kita pulang ke rumah, kita melepaskannya dan menyimpannya. Kadang kita menaruhnya dengan sembarangan; ia pun tidak mengeluh; ia hanya diam menunggu kapan ia digunakan lagi.
Aku dan sepatuku memiliki sejumlah pengalaman menarik. Ketika saya membelinya, saya merasa nyaman ketika memakainya saat bekerja, mengajar, beribadah, dan melakukan berbagai kegiatan untuk menunjang hayatiku. Rasa percaya diri pun tumbuh saat memakainya. Dipakai pun harus hati-hati. Tidak boleh digunakan untuk menendang bola yang keras.
Sepatuku telah menorehkan sejarahku; berbagai kegiatan telah saya jalani; ia pun menemaniku dengan setia. Kebanggaanku adalah kebanggaannya. Kadang orang melihatnya dan merasa kagum. Aku harus memutuskan untuk menggantikannya saat kulihat ia sudah mulai rusak.
Sepatuku adalah sahabat yang terbatas. Meski terbatas, ia telah menjadi bagian dari proses kerja, penampilan, dan pencarian “hayati”. Ia akan segera pensiun karena sudah hampir lepas alasnya.
Sepatuku, meski nanti engkau akan dibuang di tempat sampah dan kemudian diangkut oleh para petugas kebersihan di mobil kebersihan, meski engkau tidak lagi kulihat, meski engkau tidak akan kembali lagi ke rumahku, dan engkau tidak lagi mengikutiku untuk tampil di depan umum, di mimbar Gereja, di kantor tempat ku bekerja, namun kenangan bersamamu akan dikenang—dan salah satunya adalah tulisan singkat ini.
Mungkin mereka yang membaca tulisan ini sebagai penjelasan tentang dirimu dan kerja yang telah kau buktikan—memiliki pengalaman yang sama denganku, mereka akan merasakan hal yang sama dengan sepatu yang mereka gunakan. Teman-temanmu yang lain yang berada di kaki manusia-manusia lain memperlakukanmu dengan baik; dan mungkin ada yang memperlakukanmu dengan kasar, menendang bola yang bukan haknya, mengotorinya dengan mengarahkanmu kepada perbuatan-perbuatan yang tidak terpuji, perbuatan yang jahat di mata Tuhan, perbuatan yang menipu dan merusak jati diri pemakainya.
Sepatuku, aku telah membawamu begitu jauh dan perjalanan kita berdua penuh makna. Orang lain tak mengingatmu; hanya aku yang mengingatmu; demikian pula dengan sepatu orang lain; aku tidak mengingatnya. Biarkanlah mereka yang menuliskan kisah mereka dengan sepatu-sepatu mereka.
Sepatuku, sahabat-sahabatmu yang dua orang itu akan menggantikan posisimu. Mereka akan bekerja bersamaku; mereka akan tampil bersamaku bersama kemeja dan celana. Mereka berdua adalah sahabatmu yang turut berkontribusi atas prestasi yang kucapai selama ini.
Sepatuku… andai kau bisa bicara, tentu engkau akan menangis kita engkau tak lagi dibutuhkan karena sudah cukup rusak. Memaksamu untuk tampil bersamaku akan merusak citraku dan bahkan dirimu akan ditertawakan. Engkau hanya bisa digunakan tatkala engkau dalam kondisi baik. Lebih dari itu—jika dalam keadaan rusak—kita berdua sama-sama akan malu dan ditertawakan.
Terima kasih sepatuku. Selamat tinggal. Meski nanti engkau akan hancur di bumi ini, tetapi mereka yang membaca kisahmu di sini, akan mengingat pula sahabat-sahabatmu di kaki-kaki mereka masing-masing, dan memperlakunnya dengan sebaik mungkin.
Alangkah baiknya dunia ini menetapkan suatu hari untuk mengingatmu yaitu: “HARI SEPATU SEDUNIA”. Sepatuku, saya hanya bercanda. Tetapi jika memungkinkan, maka engkau akan menjadi pelopor ditetapkanya “HARI SEPATU SEDUNIA”. Atau, mungkin tingkat nasional saja. Jika masih terasa berat, tidak apa-apa jika hanya tingkat lokal saja karena siapa pun mereka yang bergelut di dunia kerja, model (penampilan) dan pelayanan, akan merasa senang karena ada “saya”—sahabatmu—yang menuliskan tentangmu untuk dikenang selalu.
Secara fakta, hampir semua manusia menginginkan kehidupan yang merdeka, dalam pengertian “bebas” melakukan apa yang diinginkan. Sejalan dengan itu, dengan kebebasan yang dimiliki, manusia seringkali lupa bahwa kondisi yang “bebas” itu sebenarnya ia tidak benar-benar bebas. Manusia tetap akan berurusan dengan segala macam “aturan main” seperti hukum, peraturan, ketentuan, waktu, dan ketetapan. Jadi, mindset (pola pikir) manusia tentang “kebebasan” akan berbenturan dengan segala sesuatu, sehingga ia tidak dapat sepenuhnya merasa bebas. Ini disebut dengan kondisi ketidakbebasan mutlak.
Pertanyaannya: adakah manusia yang benar-benar bebas atau merdeka dalam hidupnya? Tentu tidak. Jika demikian, kemerdekaan seperti apa yang dimaksudkan Rasul Paulus? Pertanyaan ini akan dijawab kemudian. Dalam iman Kristen, manusia menjadi “merdeka” bukan berarti merdeka dari “segala sesuatu” yang ada di dunia ini, melainkan merdeka dalam arti substansialnya: “dimerdekakan Kristus dari tuntutan legalisme agama Yahudi”. Perikop Galatia 5 berfokus pada persoalan legalisme Yahudi. Kemerdekaan Kristen dalam arti yang luas tentu memiliki banyak aspek. Kemerdekaan yang Yesus berikan adalah berstandar tinggi, berbeda dengan standar dunia. Kemerdekaan Kristen menyentuh aspek spiritualitas, moralitas, relasi, kasih, dan aspek iman. Aspek-aspek tersebut secara nyata terlihat dalam totalitas kehidupan orang percaya.
Sejatinya, kemerdekaan Kristen adalah sebuah kondisi di mana setiap orang percaya mendapatkan kemurahan Tuhan; dari statusnya sebagai orang berdosa dan pendosa, dimerdekakan Tuhan untuk menikmati hidup kudus, hidup berkemenangan (merdeka), dan menikmati segala berkat-Nya. Oleh sebab itu, legalisme menjadikan manusia berfokus pada gerak-gerik ritualisme dan seringkali melupakan relasi yang benar dengan Tuhan. Sedangkan hidup di bawah kasih karunia menekankan pada pola hidup yang selaras dengan firman Tuhan, mengasihi, dan mengampuni sesama.
Kasih karunia mendorong seseorang untuk tahu dan sadar bahwa dirinya dikasihi Tuhan dan Tuhan mengampuni dia. Kasih karunia membawa seseorang kepada wilayah di mana ia dikelilingi oleh kasih dan sayang Tuhan. Hidup di bawah kasih karunia adalah hidup yang merdeka, merdeka dari segala kuk perhambaan, beban-beban legalisme, dan merasakan setiap waktu pernyertaan Tuhan. Lebih dari itu, dalam setiap waktu, seseorang terus menyatakan kasihnya kepada Tuhan dan memuji, menyembah Dia.
Pesan dan Makna Kemerdekaan
Sebagaimana dikatakan oleh Rasul Paulus di ayat 1, bahwa Yesus Kristuslah yang memberikan kemerdekaan, maka kemerdekaan yang dimaksudkan adalah “kemerdekaan di dalam Kristus”. Di dalam Kristus berarti kita mengetahui dan melakukan apa yang diperintahkan oleh Dia, mengakui kasih, kuasa, dan karya-karya. Konsistensi logis dari kemerdekaan yang diberikan Yesus adalah berdiri teguh (dalam iman kepada-Nya), dan jangan mau dikenakan (oleh orang lain) kuk perhambaaan (dari konsep legalisme yang menjadikan manusia “budak hukum” yang tidak memberikan faedah). Hal ini tampak pada persoalan “sunat lahiriah”. Jika mereka—menurut Paulus—menyunatkan dirinya, ketika mereka sudah dimerdekakan Yesus Kristus, maka Kristus menjadi tidak berguna (ay. 2). Legalisme sunat menjadi incaran orang Yahudi untuk tetap menjaga perintah dalam PL. Padahal, kemerdekaan yang diberikan oleh Yesus Kristus adalah “kasih karunia”. Sunat bukanlah sebuah prinsip pembenaran. Pembenaran hanya ditemui dalam kasih karunia Tuhan (bdk. ay. 4).
Jika masih mempersoalkan sunat tidak bersunat, bukankah orang percaya masih belum merdeka? Jika masih memfokuskan pada hal-hal lahiriah dan mengabaikan yang rohaniah, bukankah orang percaya masih berada pada level “dibelenggu?” Pertanyaannya: “Apakah sunat masih berlaku atau tidak? Apakah sunat yang diberikan Tuhan di zaman Musa, memiliki makna yang lain?
Sunat—dalam konteks kasih karunia, tidak lagi menjadi syarat diterimanya seseorang dalam komunitas Yahudi, karena Yesus Kristus telah menyatakan bahwa bangsa-bangsa lain yang memperoleh keselamatan di dalam nama-Nya, tidak lagi berurusan dengan sunat Yahudi, melainkan berada di bawah kasih karunia. Artinya, Tuhan tidak menetapkan sunat sebagai tanda percaya kepada-Nya, melainkan sebagai tanda perjanjian antara Tuhan dengan Abraham. Jika sunat dipahami sebagai sarana “keselamatan”, maka Adam dan Nuh serta keturunan mereka tentu tidak selamat.
TUHAN sendiri juga menegaskan bahwa selain sunat lahiriah; TUHAN menginginkan sunat hati (bdk. Yeremia 4:4, “Sunatlah dirimu bagi TUHAN, dan jauhkanlah kulit khatan hatimu…). Jauh sebelum Yeremia, TUHAN memberi perintah kepada orang Israel melalui Musa, bahwa Ia akan menyunat hati umat Israel, dan hati keturunan mereka, sehingga mereka mengasihi DIa dengan segenap hati dan dengan segenap jiwa, dan supaya mereka hidup (Ulangan 30:6). Jadi, memang sunat hati jauh lebih penting dalam konteks “mengasihi Tuhan dengan segenap hati dan jiwa”. Sunat lahiriah adalah tanda pembeda antara Israel dengan bangsa lain, dan tanda perjanjian antara Tuhan dengan Abraham.
Kemerdekaan Kristen tentu tidaklah berkutat pada persoalan sunat lahiriah, sebab TUHAN telah menetapkan bahwa umat-Nya akan disunat hatinya, tanda bahwa Tuhan membentuk umat-Nya untuk mengasihi Dia dengan segenap hati mereka.
Sunat hati berbicara mengenai perubahan dan pertobatan hidup, mengakui Tuhan sebagai pribadi yang berkuasa, yang menyelamatkan manusia dari dosa. Dengan demikian, kemerdekaan yang dimaksudkan Paulus adalah bentuk kemerdekaan dari kuk perhambaan sunat yang terlalu dipaksakan oleh beberapa orang di Galatia. Paulus menegaskan bahwa yang ada artinya adalah menjadi ciptaan baru (bdk. Gal. 6:15; Kol. 2:11).
Ketika jemaat Galatia sudah merdeka, maka tidak perlu ada lagi soal perdebatan sunat dan tidak bersunat. Fokus bukan pada hal-hal lahiriah melainkan pada hal rohaniah, hal-hal terkait iman dan kasih. Tidak ada gunanya jika seseorang disunat lalu merendahkan orang yang belum disunat yang kemudian justru tidak menyatakan iman dan kasihnya kepada sesamanya (bdk. ay. 6). Ingat saja bahwa Yesus menyelamatkan manusia bukan karena ia telah bersunat, melainkan karena Ia bermurah hati kepada siapa Ia mau bermurah hati. Keselamatan adalah karena kemurahan (anugerah) Tuhan, dan bukan soal sunat tidak bersunat secara lahiriah.
Di Galatia ternyata ada orang-orang tertentu yang mencoba menghalangi yang lain untuk tetap bersunat dan mengabaikan kebenaran dan kemerdekaan di dalam Kristus (bdk. ay. 7-10). Persoalan sunat adalah sebuah ragi yang dapat “mengkhamirkan” seluruh adonan. Satu perkara kecil yang dibesar-besarkan, apalagi ditambah hasutan (ay. 12) akan menjadi besar, dan dapat merusak dan mengacaukan relasi orang percaya di Galatia.
Kemerdekaan dari Kristus seyogianya menjadikan orang percaya hidup dalam iman, saling mengasihi, dan kekudusan (ay. 13-14), dan bukan hidup dalam dosa perselisihan, permusuhan, kepentingan diri sendiri, dan sebagainya. Perselisihan, salah paham dapat saja terjadi di dalam komunitas Gereja di Galatia, tetapi jangan sampai hal itu membawa kebinasaan satu sama lain.
Makna dan pesan dari kemerdekaan Kristen adalah bahwa Kristus telah memberikan kemerdekaan dari segala sesuatu yang memberatkan orang percaya, memerdekakan dengan segala urusan legalisme, atau hal-hal lain yang mengekang. Justru kemerdekaan yang diberikan oleh Yesus Kristus menandakan adanya sukacita yang dirasakan, tetapi harus hidup dalam terang-Nya. Jika hidup dalam terang Tuhan, kegelapan (dosa) akan tersingkirkan. Kita harus mengakui dosa-dosa kita dan meninggalkannya. Tuhan adalah terang kita, dan dengan demikian, dosa haruslah dibuang karena terang firman-Nya telah menerangi hati kita yang gelap. Itulah kemerdekaan Kristen yang sesungguhnya.
Penutup
Dari pemaparan di atas, tampak bahwa kemerdekaan Kristen berbicara mengenai hal-hal sebagai berikut: pertama, hidup yang dibebaskan dari belenggu dosa. Artinya manusia tidak lagi dibelenggu dosa dan diperbudak olehnya, melainkan hidup di bawah kasih karunia Allah; kedua, hidup yang merdeka dari belenggu legalisme; ketiga, hidup yang penuh syukur kepada Allah; keempat, hidup yang menciptakan perdamaian, kedewasaan, dan mengasihi; kelima, hidup yang mengupayakan kebersamaan dalam semangat kasih dan sukacita; keenam, hidup yang mengandalkan Tuhan dalam segala hal karena Ia telah menjadikan kita merdeka; dan ketujuh, hidup yang setia pada firman-Nya dan melakukan kehendak-Nya dalam pelayanan dan totalitas kehidupan.
Dalam ruang teologi, para mualaf dan polemikus Islam seringkali mengajukan pertanyaan yang sama sejak dulu: Apakah Yesus adalah Tuhan? Bukankah Ia hanyalah manusia seperti kita? Masakan Tuhan itu mati disalibkan? dan sederet pertanyaan yang sebenarnya sudah ada jawabannya sejak dulu. Hanya, karakter mereka tidak pernah memperhatikan ulasan teologis-historis-dogmatis yang berdasarkan biblika tentang status atau identitas Yesus Kristus.
Itu sebabnya, ketika kita berhadapan dengan mereka, selalu saja pertanyaan yang sama, atau bahkan klaim-klaim absurd, sering dikumandangkan. Bukan karena mereka tertarik dengan jawaban, melainkan karena mereka bodoh (dungu) yang tak mau menerima ulasan biblika.
Mungkin, jika narasi teologis-historis-dogmatis tak mampu membuat otak mereka sedikit bergizi dalam memahami status atau identitas Yesus, maka begini saja: kita adu perbuatan-perbuatan yang dilakukan Yesus dengan “Allah” yang mereka percayai. Jika Yesus pernah membangkitkan orang mati, apakah “Allah” yang mereka percayai pernah membangkitkan orang mati dan dituliskan dalam kitab suci mereka? Jika Yesus pernah berjalan di atas air, apakah “Allah” mereka pernah melakukan hal yang sama? Jika Yesus menyebuhkan berbagai penyakit dari orang-orang yang sakit: yang buta melihat, yang lumpuh berjalan, yang tuli mendengar, apakah “Allah” yang mereka percayai pernah melakukan hal sama dan dituliskan dalam kitab suci mereka?
Dialog imajinatif berikut ini cukup mewakili status atau identitas Yesus sebagai Allah dan Tuhan yang berkuasa. Mari kita simak bersama.
Omdo: mengapa kalian menyembah Yesus yang bukan Tuhan?
Benar: oya? Memangnya kenapa Omdo?
Omdo: karena memang Yesus bukan Tuhan! Ia hanyalah manusia yang kalian jadikan Tuhan. Ia hanyalah Nabi dan Rasul utusan Allah SWT.
Benar: ok. Begini saja. Kita mulai dari definisi kata “Tuhan”. Menurut anda, apa definisi Tuhan?
Omdo: Tuhan itu berarti dia yang berkuasa, Dia yang mengampuni dosa
Benar: ok. Jika demikian, apakah anda percaya jika Yesus mengatakan bahwa Ia berkuasa dan mengampuni dosa, bahwa Dia adalah Tuhan?
Omdo: oke. Saya percaya
Benar: betul?
Omdo: betul dong.
Benar: mari kita lihat teks-teks pendukung. Teks Matius 9:6, Yesus berkata: “supaya kamu tahu, bahwa di dunia ini Anak Manusiaberkuasa mengampuni dosa“. Bukankah Yesus sendiri menegaskan bahwa Ia berkuasa mengampuni dosa layaknya Allah?
Omdo: kok bisa begitu ya? (sambil jantung mulai berdebar-debar)
Benar: kita lanjut ke teks berikutnya. Teks Matius 12:8, Yesus menegaskan bahwa: “Anak Manusia adalah Tuhan atas hari Sabat.” Bukankah Yesus sendiri mengakui bahwa Ia adalah Tuhan atas hari Sabat?
Omdo: tapi itu kan “Anak Manusia”, bukan Tuhan secara langsung
Benar: memang benar. Tetapi Anak Manusia merujuk pada Yesus sendiri bukan?
Omdo: o iya ya… kok saya baru sadar.
Benar: kita lanjut pada teks berikutnya. Teks Matius 13:41 menegaskan bahwa Yesus yang adalah Anak Manusia “akan menyuruh malaikat-malaikat-Nya dan mereka akan mengumpulkan segala sesuatu yang menyesatkan dan semua orang yang melakukan kejahatan dari dalam Kerajaan-Nya.” Bukankah hanya Allah saja yang dapat berkuasa memerintahkan malaikat-malaikat-Nya?
Omdo: benar demikian.
Benar: jika demikian, bukankah Yesus memiliki kuasa sebagaimana Allah memilikinya yang dibuktikan dari memerintahkan malaikat-malaikat-Nya?
Omdo: o iya ya…kok bisa begitu ya? (mulai keringat dingin)
Benar: teks berikutnya adalah Matius 16:27 di mana Yesus berkata: “Sebab Anak Manusia akan datang dalam kemuliaan Bapa-Nya diiringi malaikat-malaikat-Nya; pada waktu itu Ia akan membalas setiap orang menurut perbuatannya.” Dalam teks tersebut, Yesus membalas setiap orang menurut perbuatannya. Itu berarti, Yesus memiliki kuasa untuk menghakimi layaknya Allah yang dapat menghakimi. Bukan begitu Omdo?
Omdo: o iya ya….kok bisa begitu ya? (mulai korek-korek telinga)
Benar: kita lihat beberapa teks penguat konteks ini: Yohanes 5:22, Bapa tidak menghakimi siapapun, melainkan telah menyerahkan penghakiman itu seluruhnya kepada Anak. Yohanes 5:27, Dan Ia telah memberikan kuasa kepada-Nya untuk menghakimi, karena Ia adalah Anak Manusia. Yohanes 9:39, Kata Yesus: “Aku datang ke dalam dunia untuk menghakimi, supaya barangsiapa yang tidak melihat, dapat melihat, dan supaya barangsiapa yang dapat melihat, menjadi buta.” Roma 2:16, Hal itu akan nampak pada hari, bilamana Allah, sesuai dengan Injil yang kuberitakan, akan menghakimi segala sesuatu yang tersembunyi dalam hati manusia, oleh Kristus Yesus.
Omdo: wah… saya semakin penasaran dengan Yesus.
Benar: teks berikutnya adalah Matius 16:28 di mana Yesus berkata: “Aku berkata kepadamu: Sesungguhnya di antara orang yang hadir di sini ada yang tidak akan mati sebelum mereka melihat Anak Manusia datang sebagai Raja dalam Kerajaan-Nya.” Dalam teks tersebut tampak bahwa Yesus datang sebagai Raja dalam kerajaan-Nya. Dari perspektif Alkitab, hanya Allah saja yang adalah Raja dan memiliki kerajaan. Dengan demikian, Yesus adalah Allah yang juga adalah Raja.
Omdo: bukankah dengan demikian ada 2 raja?
Benar: tidak. Dalam doktrin Kristen, Baik Bapa dan Yesus memiliki kesatuan ontologis [maksudnya satu esensi] yang mana pribadi yang satu merepresentasikan pribadi lainnya. Sama halnya dengan tuduhan bahwa orang Kristen menyembah tiga Allah. Itu keliru sebab Bapa, Firman dan Roh Kudus adalah satu esensi, setara dan kekal, tetapi sekaligus berdistingsi. Misalnya, Anda dan perkataan Anda adalah satu dalam substansi kemanusiaan Anda. Tetapi perkataan [pikiran] Anda bukanlah Anda dan Anda bukanlah perkataan Anda. Anda dan perkataan sama-sama ada sejak Anda diciptakan. Bedanya, Allah dan Firman-Nya tidak diciptakan, kedua-Nya sama-sama kekal.
Dalam Doktrin Trinitas, ada disebut dengan istilah “Trinitas-Koeksistensi” yang diartikan sebagai “hidup bersama atau pada saat yang sama (sejak kekal)” – konteks ini menolak theogonie. Juga disebut dengan “Trinitas-Konsubstansial” yakniBapa, Firman, dan Roh Kudus: of the same substance(dari substansi yang sama). Ketiganya “Homoousios”, “kodrat yang sama atau setara”. Bapa, Firman, dan Roh Kudus memiliki kodrat yang satu dan sama. Pribadi-Pribadi bersifat konsubstansial. Dalam Trinitas ada kodrat Ilahi: substansi yang satu dan sama dalam setiap Pribadi; hal yang mempersatukan dalam Allah.
Dengan demikian, orang Kristen tidak percaya adanya dua Allah atau tiga Allah, tidak mempercayai ada dua Raja, melainkan satu Raja saja. Satu Allah [Raja], Tiga Pribadi yang kekal, berperikhoresis (tinggal bersama, atau berada bersama dan saling meresapi. Nico Syukur Dister, Teologi Sistematika I: Allah Penyelamat [Yogyakarta: Kanisius, 2004], 172).
Allah mencipta dengan Firman dan Firman itu ada sejak kekal (Yohanes 1:1-3, “Pada mulanya adalah Firman; Firman itu bersama-sama dengan Allah dan Firman itu adalah Allah. Ia pada mulanya bersama-sama dengan Allah. Segala sesuatu dijadikan oleh Dia dan tanpa Dia tidak ada suatupun yang telah jadi dari segala yang telah dijadikan”).
Allah mustahil tanpa Firman. Yesus pernah berkata bahwa Dia dan Bapa-Nya adalah satu.
Omdo: bukankah itu hanyalah satu tujuan?
Benar: tidak hanya satu tujuan, melainkan satu hakikat [substansi]. Malaikat tak mungkin satu tujuan dengan Allah, karena Allah lebih tinggi dan menetapkan segala sesuatu. Hanya Allah saja yang dapat memiliki satu tujuan dengan Firman-Nya.
Omdo: kok bisa begitu ya? (sambil merasa heran)
Benar: kita lanjutkan ya. Teks berikutnya adalah Matius 19:28, yang berbunyi: Kata Yesus kepada mereka: “Aku berkata kepadamu, sesungguhnya pada waktu penciptaan kembali, apabila Anak Manusia bersemayam di takhta kemuliaan-Nya, kamu, yang telah mengikut Aku, akan duduk juga di atas dua belas takhta untuk menghakimi kedua belas suku Israel.” Dari teks tersebut, Yesus berhak menghakimi kedua belas suku Israel. Dengan demikian, sebagaimana Allah adalah hakim, maka ketika Yesus mengklaim bahwa diri-Nya adalah hakim, maka Ia adalah Allah yang berkuasa menghakimi. Bukan begitu Omdo?
Omdo: kok bisa begitu ya? (sambil mulai garuk-garuk kepala)
Benar: jika definisi Tuhan sudah terbukti sesuai dengan apa yang Anda definisikan, dan Yesus memenuhi kriteria tersebut, apakah Anda keberatan untuk memahami dan percaya kepada-Nya?
Omdo: saya tidak keberatan.
Benar: jika demikian, untuk memahami setiap gagasan ketuhanan atau keallahan Yesus haruslah berangkat data biblikal secara utuh dan bukan sepotong-sepotong seperti yang telah Anda lakukan sebelumnya.
Omdo: iya… saya paham maksud Anda.
Benar: mulai sekarang, jangan berbuat dosa lagi Pak Ust. Omdo
Omdo: baik Pak Pdt. Benar. Nanti kita lanjut pada diskusi berikutnya. Bagaimana Pak Benar?