MENINJAU KEMBALI MAKNA DAN SEMANGAT REFORMASI MARTIN LUTHER

“Aku berusaha sekeras mungkin untuk menaati peraturan. Aku biasa bertobat, dan membuat daftar dosa-dosaku. Aku mengakukannya terus-menerus. Dengan skrupel aku menjalankan penitensi yang diberikan padaku. Namun suara hatiku tetap gelisah…. Aku mencoba menyembuhkan keragu-raguan dan rasa skrupel suara hati dengan dengan obat manusiawi, tradisi manusia. Semakin aku mencoba obat-obat ini, semakin kacau dan tidak tenang suara hatiku jadinya.” – Martin Luther –

Pendahuluan

Tidak semua Gereja yang merayakan atau bahkan mengingat lahirnya Reformasi, karena saya tahu, orang Kristen seringkali melupakan sejarah yang telah membentuk imannya hingga saat ini. Saya tidak melulu menyajikan figur Luther secara keseluruhan, sebab jika saya hanya menyajikan figur Luther dan sejarah lahirnya Reformasi, maka terkesan tidak ada hal yang baru. Mengapa? Bisa saja, setiap kita, jika ingin mengetahui sejarah Reformasi dan figur Luther, dapat mengaksesnya melalui internet.

Saya berpikir lain. Saya mau, apa yang telah dikerjakan oleh Luther dapat kita maknai dan mengikuti semangatnya untuk mencintai kebenaran Alkitab, tidak berkompromi, menganggap remeh Alkitab, menghina Yesus, menjual Yesus, menyangkal Alkitab, atau bermalas-malasan untuk mengabarkan Injil. Ada Gereja yang menyangkal (tidak menerima) Injil Yohanes, ada Gereja yang menyangkal keilahian Yesus, ada pula Gereja yang bersifat sekuler, mulai dari pendetanya sampai ke para majelis Gereja. Suatu fenomena yang aneh.

Perlu bagi kita meninjau kembali makna dan semangat Reformasi yang telah memberikan dampak yang berarti bagi iman dan ajaran kita. Reformasi bukanlah sekadar slogan semata. Bukan pula sejarah tanpa arti yang signifikan. Banyak Gereja yang tidak lagi memperhatikan secara serius makna Reformasi. Masing-masing sibuk dengan urusan organisasi, lomba paduan suara, tuding-menuding penggelapan uang, terlibat dalam politik dan masih banyak lagi, sehingga ajaran yang fundamental tidak menjadi sasaran utama.

Memang, dalam bergereja, banyak hal yang perlu kita pelajari dalam Alkitab. Jika Gereja terlalu banyak mengajarkan tentang kehidupan sehari-hari tanpa dibarengi dengan ajaran teologi (Kristologi) yang kuat, maka iman kepada Yesus ‘mungkin’ menjadi tidak kokoh dan “collaps” (runtuh)  serta menganggap keilahian Yesus hanya relatif saja. Kehidupan rohani semakin merosot dan bobrok. Salah satu contoh, di daerah Asmat (Papua), seorang Kepala Sekolah Dasar, pergi ke perempuan pelacur untuk melakukan hubungan seks bebas. Anehnya, karena ia tidak punya uang, ia berhutang dulu, dan berjanji, bahwa setelah dana BOS (Biaya Operasional Sekolah) cair, baru ia pergi lagi ke perempuan pelacur tersebut dan melunasi ongkos ‘bermain seks’. Tentu ini adalah perbuatan yang memalukan, sedangkan ia adalah seorang Kristen. Ironis memang!

Banyak orang Kristen yang menghina Yesus bahkan menjual Yesus dan berpindah agama, menjual Yesus demi politik, demi jabatan (pangkat, kedudukan), kekayaan, bahkan karena ‘perempuan cantik’ – menurut analisis saya adalah karena menganggap Yesus biasa-biasa saja. Apa yang telah dikerjakan Yesus, dianggap tidak berarti apa-apa.

Sekilas sejarah Reformasi Martin Luther

Linda Smith dan William Raeper dalam buku mereka, Ide-ide Filsafat dan Agama: Dulu dan Sekarang menjelaskan tentang sejarah Reformasi Luther.

Pada awal abad keenam belas, suatu jeritan diteriakkan di seluruh Eropa. Jeritan ini adalah ‘pembaruan di kepala dan anggota-anggota’ Gereja Katolik Romawi – dan muncullah perdebatan. Perdebatan bukanlah mengenai kebenaran ajaran Roma Katolik melainkan mengenai cara Gereja bertingkah laku. Akibatnya adalah kawah perubahan dan pembaruan, yang sekarang disebut “Reformasi”.

Para pejabat Gereja memegang jabatan-jabatan negara yang berkuasa. Banyak dari mereka bukan hanya menjadi politikus yang kaya. Mereka mengira untuk memajukan kerajaan Allah tampak menyamakan dengan terlalu dekat dengan dunia ini. Gereja menuntut pajak dan menjual harta-harta rohani demi uang – pengampunan dosa, misa, lilin, upacara-upacara, jabatan uskup, dan bahkan jabatan Paus sendiri.

Paus adalah kepala Gereja Katolik Roma, tetapi bertindak seperti pangeran duniawi. Banyak orang menyebut Gereja bejat. Dalam kondisi seperti ini, gerakan Reformasi diperlukan. Reformasi adalah memperbarui Gereja yang bobrok. Reformasi dimulai dengan letupan yang segera menjadi kebakaran. Ada beberapa kejadian penting yang menjadi latar belakang timbulnya Reformasi. Paus Leo X terus-menerus menghadapi kebangkrutan. Pada tahun 1513 ia berhutang sekurang-kurangnya 125.000 dukat, dan ia perlu juga mengumpulkan uang dengan cepat untuk membayar Katedral St. Petrus. Satu cara untuk mengumpulkan uang adalah menjual indulgensi.

Martin Luther, seorang profesor Kitab Suci di Universitas Wittenberg tidak senang dengan praktek indulgensi. Martin Luther terdorong untuk menerbitkan sembilan puluh lima Tesisnya tentang penjualan dokumen-dokumen indulgensi yang menjamin penyelamatan jiwa-jiwa dari api penyucian. Indulgensi ini dijual untuk mengumpulkan uang bagi pembangunan Katedral St. Petrus Roma. Luther melihat ini sebagai penolakan lengkap atas kebenaran pokok – ia percaya kita selamat hanya dengan menempatkan iman kita pada Yesus.

Gereja Katolik Roma mengajarkan bahwa jiwa-jiwa pergi ke suatu tempat yang disebut “Api Pencucian” setelah kematian. Jiwa-jiwa dibersihkan untuk bisa sampai ke surga. Dengan membeli indulgensi, orang-orang biasa percaya bahwa mereka akan membutuhkan sedikit waktu di api pencucian, dan juga bahwa jiwa seseorang yang telah meninggal dapat dibebaskan dari api pencucian dan langsung pergi ke surga. Menutut Tetlze, “Begitu uang logam di koper berbunyi, jiwa meloncat dari api pencucian.” Uskup Agung Albert dari Mainz menggunakan pertapa Dominikan yang bernama Tetlzel untuk menjual indulgensi. Ia berpendapat bahwa bila orang-orang biasa membeli indulgensi, mereka tidak melihat lagi perlunya mengubah tingkah laku mereka. Luther terkejut ketika salinan dari instruksi Uskup Agung kepada Tetlzel ditunjukkan kepadanya.

Pada tanggal 31 Oktober 1517, ia menempelkan sebuah plakat pada pintu Gereja puri di Wittenberg, ditulisi “Sembilan puluh lima Tesis mengenai Indulgensi.” Bahkan Luther sendiri tidak menyadari bahwa pada waktu itu Reformasi telah dimulai. 95 Tesis atau dalil yang dipaparkan Luther dipublikasikan dan diedarkan dan pandangannya memperoleh dukungan massa dan ia menjadi pahlawan hampir dalam waktu semalam. Ia menjadi berbahaya bagi Tetlzel untuk berjalan di jalanan. Pemerintah setempat, Elector Frederick dari Saxony, memutuskan untuk melindungi Luther. Frederick lelah dengan paus-paus Itali yang campur tangan terhadap urusan Jerman dan senang karena dan senang karena menjengkelkan Uskup Agung. Begitulah Reformasi menjadi gabungan yang sangat kuat antara agama dan politik.

Tujuan Luther adalah untuk memurnikan Gereja Katolik Roma dan memelihara kebenarannya. Namun, segera ia terlibat dengan peristiwa-peristiwa dan pandangan barunya menjadi reformasi spiritual dan moral terhadap keseluruhan dunia Kristen. Meskipun begitu, baik Luther maupun temannya, Philip Melanchthon, tidak mengira bahwa mereka sedang mendirikan Gereja baru. Luther tidak mau menarik kembali pandangan-pandangannya. Ia memilih memberontak ketimbang otoritas Paus. Demikian pula dengan perdebatannya dengan John Eck pada tahun 1519  di Leipzig. Eck menyudutkan Luther untuk memilih Roma atau Kitab Suci. Tetapi Luther memilih Kitab Suci.

Luther memang menentang keras kekuasaan Paus. Bagi Luther, Paus adalah antikristus, seperti setan sendiri. Luther mengecam keburukan-keburukan dalam Gereja, seperti penyelewengan surat penghapusan siksa, dan kepausan. Reformasi menekankan untuk kembali kepada Gereja mula-mula. Luther menyerang ajaran transsubstansiasi, selibat para klerus dan menuntut penghapusan kuasa Paus atas Jerman.

Pada tanggal 15 Juni 1520 Roma mengeluarkan Bulla Exsurge Domine, yang mengutuk Luther sebagai seorang bidaah. Orang-orang Kristen yang taat diperintah untuk membakar buku-bukunya. Jawaban Luther adalah membakar Bulla, dokumen dari Paus, di depan khalayak ramai. Luther dicekal dan dinyatakan sebagai buron. Ia bersembunyi di sebuah puri yang disebut Wartburg. Di sana ia mulai menerjemahkan Kitab Suci ke bahasa Jerman. Ia menyelesaikan pekerjaan tersebut pada tahun 1534. Luther percaya bahwa setiap orang harus mampu membaca Kitab Suci, dari yang paling tinggi sampai yang paling rendah. Sebelumnya Kitab Suci dalam bahasa Latin dan hanya diperuntukkan bagi para imam dan ahli. Setelah diterjemahkan ke dalam bahasa Jerman dan diterbitkan dengan mesin cetak, sekarang setiap orang Kristen dapat membaca Kitab Suci.

Makna dan Semangat Reformasi

Hal yang dapat kita pelajari dari sejarah Reformasi adalah pentingnya menegakkan kebenaran Tuhan. Luther telah menjadi teladan yang baik bagi kita untuk menindaklanjuti keberanian dan semangatnya dalam menegakkan kebenaran, apa pun yang terjadi. Luther tidak pernah takut untuk dikucilkan atau dianggap sesat, karena ia tahu bahwa Gereja Katolik Roma telah menyimpang dari kebenaran Alkitab.

Konteks indulgensi adalah persoalan serius. Luther menegaskan bahwa dosa-dosa manusia tidak dapat dihapuskan hanya dengan membeli indulgensi. Pengampunan hanyalah milik Tuhan, dan hanyalah Dialah yang dapat mengampuni manusia bukan indulgensi. Penjualan indulgensi adalah karena ada unsur politik. Politik telah merusak prinsip Alkitab.

Karena politik juga, para pendeta bisa terjebak dalam mengatasnamakan Allah. Salah satunya adalah Pendeta Yakob Nahuway, yang pernah mengatakan bahwa ia mendapat wangsit  (pesan gaib) dari Allah bahwa Foke (Fuazi Bowo) pasti terpilih jadi gubernur (DKI Jakarta). Tetapi, kenyataannya, Foke pun kalah dalam Pilgub DKI Jakarta. Siapa yang salah? Allah atau Jacob Nahuway? Allah tidak mungkin salah. Jadi, Jacob Nahwaylah yang salah.

Kebanyakan dari kita, jika dalam kondisi yang sama dengan Luther, lebih memilih mempertahankan jabatan meskipun telah terbukti menyimpang dari prinsip Alkitab, lebih memilih kompromi dengan dosa, dengan intrik-intrik (persekongkolan atau taktik untuk menipu) dalam Gereja dari pada tetap menegakkan kebenaran Alkitab. Saya terlalu sedih melihat perkembangan Gereja saat ini. Keprihatinan saya terfokus pada “menganggap murah segala karya Tuhan”. Anggota jemaat menjadi liar.

Pembaruan dalam Gereja itu perlu – tatkala Gereja sudah mulai menyimpang. Luther melihat kebobrokan Gereja terjadi di masanya. Dan, ia harus bertindak bukan berkompromi. Tindakan Luther memacu Gereja untuk semakin giat mencintai Alkitab dan kebenarannya. Belajar melakukan kehendak Tuhan dengan penuh ketaatan.

Apa yang terjadi di zaman Luther, di mana Gereja Katolik Roma, demi mengumpulkan uang untuk pembangunan katedral, harus menipu jemaat dengan menjual indulgensi. Menghalalkan segala cara demi mendapat uang. Ini juga yang dilakukan Gereja sekarang.

Luther telah mewariskan semangat keberanian dalam menegakkan kebenaran meskipun mendapat tentangan yang hebat dari pihak Paus. Makna Reformasi adalah “berani melawan ketidakbenaran dan penyimpangan terhadap Alkitab”. Semangat Reformasi mendorong kita untuk selalu waspada terhadap perkembangan ajaran di dalam Gereja. Banyak pendeta, para pelayan yang menyebarkan ajaran-ajaran yang tidak beres dan menyimpang – dan ini perlu dinilai secara baik dan kritis, karena Gereja yang teguh dan mandiri adalah Gereja yang mempertahankan ajaran Alkitab secara serius.

Aplikasi bagi Kita

Dari sejarah Reformasi, kita dapat melihat bahwa perjuangan Martin Luther untuk melawan ketidakberesan Gereja Katolik Roma telah membuahkan hasil. Itu berarti, jika dalam Gereja terjadi ketidakberesan ajaran, permainan politik jabatan, monopoli keuangan, monopoli ajaran Alkitab dan kejahatan lainnya, maka harus segera dibereskan.

Para pejabat Gereja yang ikut dalam dunia politik, sebenarnya tidak memberikan dampak yang berarti bagi Gereja. Kita bisa berbeda pendapat mengenai hal ini. Jika Gereja dan politik menyatu, maka kerohanian jemaat akan merosot dan penuh dengan segala penipuan – menghalalkan segala cara.

Ada Gereja-gereja yang hanya mementingkan keuangan (atau mencari uang untuk kepuasan diri), mementingkan paduan suara, mementingkan perpuluhan dan mementingkan bagaimana mendapat uang sebanyak mungkin dari ibadah-ibadah yang dilakukan. Ini adalah penipuan yang luar biasa bobroknya.

Mari kita berbenah diri, berjuang dalam menegakkan kebenaran seperti yang dilakukan Luther. Semangat dan keberanian Luther patut kita contohi. Dan dengan demikian, kita semakin mencintai kebenaran, semakin mencintai Tuhan dan semakin mencerminkan sikap dan karakter sebagai hamba-bamba TUHAN dan meneladani Yesus Kristus serta menjadi serupa dengan Dia.

Gereja perlu juga untuk menilai dirinya sendiri, apakah sudah menyimpang atau tidak, sama seperti pesan Paulus kepada Timotius: “Awasilah dirimu sendiri dan awasilah ajaranmu. Bertekunlah dalam semuanya itu, karena dengan berbuat demikian engkau akan menyelamatkan dirimu dan semua orang yang mendengar engkau” (1 Tim. 4:16).

Glosari

Bula: surat resmi dari Paus yang dimeteraikan dengan bulla; dekrit atau perintah dari Paus.

Bulla: berasal dari bahasa Latin yang berarti meterai, biasanya dari timah hitam yang dikenakan pada bula resmi.

Dukat: uang emas dan perak yang nilainya berbeda-beda.

Exsurge Domine: (dari bahasa Latin) adalah kata-kata pertama dari bula paus Leo X, diterbitkan untuk menolak 95 dalil Martin Luther dan yang dibakar Luther pada tanggal 2 Januari 1521.

Indulgensi: surat penghapusan dosa; surat yang menjamin pengurangan hukuman dalam api penyucian yang sebenarnya harus dijalani orang berdosa.

Penitensi: kesedihan dan penyesalan atas perbuatan yang telah dilakukan atau keadaan menyesali dosa. Dalam bahasa Inggris disebut “penitence”. Penitensi diserap dari bahasa Belanda.

Skrupel: kecemasan yang berlebihan tentang baik tidaknya perbuatan tertentu, yang mengganggu seperti batu kecil yang tajam (Lat. scrupulus) dalam sepatu waktu berjalan; pertimbangan etis yang menyebabkan orang tidak bertindak.

Transsubstansiasi: berasal dari bahasa Latin (trans: ‘di atas’ dan substantia: ‘hakikat’), adalah ajaran Katolik Roma yang ditentukan Konsili Lateran (tahun 1215) mengenai makna misa, yang mengajarkan bahwa pada kesempatan Ekaristi, ketika roti dan anggur diberkati, maka hakikat (substansi) roti dan anggur menjadi hakikat tubuh dan darah Kristus, sehingga Kristus hadir di atas altar.

Sumber Referensi:

Majalah Warta Bangsa: Warta untuk Semua. Edisi 3 Tahun 1 – 2012

Paparang, Stenly R., Kamus Multi Terminologi: Sebuah Kamus dengan Multi Bahasa (Jakarta: Delima, 2012).

Salim, Peter & Yenny Salim, Kamus Bahasa Indonesia Kontemporer (Jakarta: Modern English Press, 1991).

Smith, Linda & William Raeper, Ide-ide Filsafat dan Agama, Dulu dan Sekarang, terj. P. Hardono Hadi (Yogyakarta: Kanisius, 2004). Judul asli: A Beginner’s Guide to Ideas, (Oxford, England: Lion Publishing, 1991).

ten Napel, Henk, Kamus Teologi Inggris – Indonesia (Jakarta: BPK Gunung Mulia, 2001).

Wellem, F. D., Kamus Sejarah Gereja, edisi revisi (Jakarta: BPK Gunung Mulia, 2006).

MANAJEMEN WAKTU DAN RUMUSAN MENGGAPAI CITA-CITA

“Sebuah tindakan yang baik, dimulai ketika kita berpikir untuk melakukan sesuatu yang berguna.”

“Kebahagiaan yang sejati adalah terletak pada hati, pikiran dan mulut yang bersyukur. Sebelumnya, ada usaha dan kerja keras, semangat yang tinggi dan keyakinan akan kuasa Tuhan. Langkah selanjutnya adalah: “bersyukur.”

“Ketekunan seseorang dalam melakukan suatu pekerjaan terkadang menguras pikiran dan waktu kita tetapi semuanya akan digantikan dengan hasil akhir dari ketekunan itu sendiri.”

Stenly R. Paparang, Iman, Makna, dan Inspirasi Hidup Kristen, (Batam: Februari 2012) –

“Sesuatu yang baik adalah bertindak. Hasil yang baik dari tindakan kita adalah sukacita. Berkat yang terbesar yang diberikan kepada kita adalah waktu. Waktu yang baik bagi kita adalah belajar. Proses yang terbaik setelah belajar adalah menjadi dewasa. Belajar tidak pernah berhenti. Itu sebabnya kedewasaan tidak akan pernah berhenti.”

“Harapan satu-satunya bagi orang yang  rajin dan bijaksana adalah ia boleh menjadi berkat bagi orang lain dalam perbuatannya, pemikirannya, tingkah lakunya, relasinya dan segala yang ia miliki ia jadikan sebagai penolong bagi orang lain pada saat mereka membutuhkannya.”

Stenly R. Paparang, Hidup yang Seharusnya: Kumpulan Kata-kata Bijak dan Motivasi Hidup, (Talaud, 2009, 2010)

Pendahuluan

Semua manusia hidup di dalam “waktu.” Semua kegiatan manusia diatur oleh waktu, dibatasi oleh waktu, dan diikat oleh waktu. Segala sesuatu dalam dunia ini berada dalam waktu. Stephen Tong mengatakan bahwa manusia mau tidak mau, suka atau tidak suka, harus digeser oleh waktu. Secantik apa pun seorang perempuan, tetap akan tua dan keriput karena digeser oleh waktu. Tidak ada seorangpun yang dapat menggeser waktu. Ia hanya dapat mensyukuri waktu yang telah diberikan Tuhan, hidup baik-baik dalam mengatur waktu, tidak menyia-nyiakan waktunya.

Rasul Paulus menekankan pentingnya mempergunakan waktu. Ia menulis: “Pergunakanlah waktu yang ada, karena hari-hari ini adalah jahat” (Efesus 4:16). Banyak tantangan yang akan menghalangi kita dalam melakukan segala sesuatu yang baik. Jika tidak dapat mengatur waktu dengan baik dalam melakukan kehendak Tuhan, maka kita akan diperhadapkan dengan berbagai hambatan, masalah, sehingga waktu kita terbuang percuma; menjadi sia-sia segala perbuatan kita.

five person by table watching turned on white iMac

Mengapa perlu mengatur (memanajemenkan) waktu? Seberapa pentingkah “waktu” itu? Apakah orang Kristen berkewajiban mengatur waktu? Mungkin masih banyak bentuk pertanyaan serupa berkenaan dengan waktu. Tetapi, yang pasti, waktu itu penting, dan sangat berharga. Memanajemen waktu itu penting. Manajemen adalah proses pemakaian sumber daya secara efektif untuk mencapai sasaran yang telah ditentukan (Peter Salim dan Yenny Salim, Kamus Bahasa Indonesia Kontemporer: Edisi Pertama, [Jakarta: Modern English Press, 1991]). Sumber daya menunjang proses manajemen. Tak ada sumber daya, jangan berharap dapat mengatur waktu.

Suatu pepatah mengatakan “Waktu adalah uang.” Tapi uang bukanlah waktu. “Waktu” menopang segala sesuatu dalam hidup manusia. Uang tidak bisa membeli “waktu”. Kita hanya dapat membeli barang-barang tertentu. Sadar atau tidak sadar, waktu berjalan terus; terkadang tanpa kita duga, waktu bergulir terus. Kita terpukau dengan kesombongan dan kemunafikan, sementara itu waktu mengikisnya secara perlahan. Dalam renung kalbu, kita mengakui bahwa Tuhan adalah pemberi waktu yang terbaik. Ia merancang kita untuk menikmati waktu yang Ia berikan. Waktu sangatlah berharga sebab di dalamnya kita bergerak, berkarya, dan berelasi.

Ada satu film yang sangat menarik yang berjudul “IN TIME”. Film tersebut dibintangi oleh Justin Timberlake dan Amanda Seyfried. Film tersebut mengisahkan tentang suatu dunia di mana waktu telah menggantikan uang sebagai kurs yang berlaku; manusia bisa hidup selamanya atau mati karena mencoba bertahan di dalam waktu yang berlimitasi sebagaimana terpampang di tangan mereka; manusia berpacu dengan waktu, bahkan untuk menelpon (di telpon umum), manusia dikenakan biaya “1 detik” dari waktu hidupnya. Pokoknya segala sesuatu serba dibayar dengan waktu.

Makna dari film ini yang dapat saya pelajari adalah: “Waktu begitu berharga, sehingga orang-orang berusaha mempertahankan hidupnya dengan cara yang baik atau dengan cara yang jahat (mencuri waktu [hidup] orang lain untuk ditambahkan ke dalam waktu hidupnya). Orang yang kaya dan kuatlah yang berpeluang besar untuk bertahan lebih lama, bahkan sampai ribuan tahun, sedangkan orang miskin bisa diperalat dan diperdaya oleh yang kuat dan kaya.

Lalu, bagaimana jika hidup kita demikian? Pasti kita akan menjaga baik-baik waktu hidup kita agar jangan sampai orang lain mencuri waktu kita. Tetapi kenyataannya tidaklah demikian. Tuhan memberikan kepada kita waktu yang sangat berharga agar kita bisa hidup dan hidup kita seharusnya mengatur waktu dengan baik dan digunakan untuk hal-hal yang berguna dan terlebih bisa berguna bagi sesama kita.

girl writing on the ground using a spray an

MANAJEMEN WAKTU

Memanajemenkan waktu berarti mengatur, menyusun, dan menetapkan waktu kita untuk dipakai dalam berbagai hal yang akan dilakukan. Jika kita berbicara mengenai “manajemen”, maka ada hal-hal yang penting yang perlu dipertimbangkan berkenaan dengan pekerjaan, uang, waktu, program, proyek, usaha, belajar, bisnis dan sebagainya.

Mengapa perlu manajemen? karena kita dituntut untuk melakukan tindakan “sistematis” dalam segala sesuatu. Seperti yang telah saya sebutkan di atas bahwa  “Memanajemenkan waktu berarti “mengatur”, “menyusun” dan “menetapkan” waktu kita untuk dipakai dalam berbagai hal yang akan kita lakukan.” Berikut adalah penjelasan mengenai ketiga hal tersebut.

Mengatur waktu

Mengatur waktu adalah suatu usaha pembelajaran dan pendisiplinan diri kita agar tidak membuang-buang waktu, misalnya mengatur waktu untuk belajar, waktu istirahat, waktu untuk makan, waktu untuk tidur, waktu untuk bermain, dan sebagainya. Dari langkah “mengatur” waktu,  setidaknya kita telah mulai mendisiplinkan diri kita agar hidup kita memiliki tujuan yang bermakna.

Menyusun waktu

Dalam hal ini, menyusun waktu adalah sama dengan menyusun jadwal. Biasanya hal ini berkenaan dengan orang-orang yang sibuk karena begitu banyak pekerjaan yang dilakukan. Misalkan seseorang menyusun waktu (jadwal) kegiatannya selama seminggu tanpa menyebutkan waktu untuk makan, minum dan mandi.

Seringkali “penyusunan waktu” hanya berkenaan dengan hal-hal penting untuk dikerjakan, misalnya: Hari Senin (membaca buku dan analisa masalah); Hari Selasa (menyusun diktat Metode Belajar); Hari Rabu (belajar mengenai ilmu alam); Hari Kamis (belajar menjahit); Hari Jumat (mengajar  Sejarah Gereja); Hari Sabtu (latihan Sepak Bola).

Sama halnya dengan menyusun jadwal belajar dalam seminggu bagi anak-anak Sekolah Dasar atau SMP dan SMA atau SMTK dst.

  1. Menetapkan waktu

Menetapkan waktu adalah menetapkan prioritas waktu mengenai suatu kegiatan. Misalnya menetapkan waktu rapat atau pertemuan, menetapkan waktu tamasya, ret-reat atau pergi berlibur di suatu tempat sehingga tidak mengganggu jadwal yang lainnya. Artinya sudah ditetapkan bahwa pada tanggal sekian, saya harus bertemu dengan presiden Susilo Bambang Yudhoyono atau Nazaruddin, Sule, Komeng dan lainnya.

Dari berbagai penjelasan di atas, maka “manajemen” waktu perlu untuk kita lakukan agar kita belajar mempergunakan waktu yang Tuhan berikan. Tindakan ini  akan menjadikan kita sebagai orang yang menghargai waktu, mengisi waktu dengan berbagai kegiatan yang bermanfaat, mensyukuri waktu karena kita masih hidup dan menikmati waktu. Kita tentu akan menyesali hidup kita jika hidup kita hanya kita pergunakan dengan melakukan hal-hal yang tidak berguna, tidak mendidik, tidak membangun, tidak mendisipkan diri dan sebagainya.

Maka, perlu adanya tindakan “memprioritas” waktu bagi pekerjaan kita. Apalagi jika kita adalah seorang pelajar. Pastinya, prioritas waktunya dipakai untuk belajar dan belajar. Setiap pelajar identik dengan “belajar.” Hanya orang yang mempergunakan waktunya dengan belajar secara baik akan dapat mencapai hasil yang dia inginkan.

Tidak ada pelajar yang tidak belajar. Jika ada pelajar yang tidak belajar maka ia tidak disebut sebagai pelajar. Belajar itu perlu. Seorang anak yang belum bisa berjalan, tetapi mau belajar berjalan, biarkan dia belajar berjalan dan pasti ia akan jatuh. Tapi ia akan terus belajar berjalan meskipun harus jatuh. Jika seorang ibu merasa kasihan dengan anak yang baru belajar berjalan dan lebih memilih menggendongnya, maka anak tidak bisa berjalan dengan baik. Seekor burung kecil yang mau belajar terbang pasti ia akan jatuh. Tapi ia akan terus belajar terbang meskipun harus jatuh berulang-ulang.

Demikian juga dengan manusia. Jika kita tidak mau belajar untuk melakukan sesuatu yang berguna dan takut untuk salah, takut untuk jatuh, takut untuk bertindak maka kita  tidak akan menjadi orang yang dewasa, kuat dan berpengaruh. Salomo mengatakan: “Hai pemalas, pergilah kepada semut, perhatikanlah lakunya dan jadilah bijak: biarpun tidak ada pemimpinnya, pengaturnya atau penguasannya, ia menyediakan rotinya di musim panas, dan mengumpulkan makanannya pada waktu panen (Amsal 6:6-8).

“Orang malas adalah orang yang tidak mempergunakan banyak hal. Di antaranya adalah: ia tidak mempergunakan alat yang ada di tangannya; ia tidak mempergunakan  pikirannya; ia tidak mempergunakan waktu yang ada; ia tidak mempergunakan kesempatan yang ada dan dibiarkannya lewat begitu saja; ia tidak mempergunakan tangannya untuk berkreatifitas;  ia tidak mempergunakan kakinya untuk mencari sesuatu;  ia tidak mempergunakan temannya sebagai mitra yang baik yang mungkin bisa menolongnya; ia tidak mempergunakan bahan-bahan yang telah tersedia;  ia tidak mempergunakan lahan yang ada di depan  matanya. Sebaliknya, ia hanya mempergunakan kursi untuk duduk; kasur untuk tidur; musik untuk hiburan; meja untuk melipat tanggannya; teman untuk diperintahkannya untuk bekerja; hujan sebagai penambah semangat untuk tidur pulas” (Stenly R. Paparang, Hidup yang Seharusnya: Kumpulan Kata-kata Bijak dan Motivasi Hidup, [Talaud, 2009, 2010]).

Kita harus memimpin diri kita sendiri. Kitalah yang mengatur waktu. Semut tidak ada pemimpinnya karena mereka tidak ada rapat untuk menentukan siapa yang akan menjadi pemimpinnya. Lain halnya dengan kita. Kita bisa bermusyawarah dengan diri kita sendiri dan berkata: “Aku harus mampu mengatur waktu.” Di sini menyatakan bahwa Aku (diri) berbicara kepada diri saya sendiri bahwa diri saya harus mempu mengatur waktu.

Oleh karena itu, manajemen waktu merupakan hal yang sangat baik bagi kita, karena waktu itu berharga, waktu tidak dapat diputar kembali, begitu juga dengan kesempatan yang kita miliki. Orang bodoh membuang kesempatan, orang biasa menunggu kesempatan, dan orang bijak mencari kesempatan (Stephen Tong).

Tuhan telah memberikan waktu bagi kita dengan begitu limpahnya sehingga kita bisa menikmati hidup ini. Tuhan telah memberikan kita bijaksana, maka perlu bagi kita untuk menggunakan dan memanajemen waktu agar kita menjadi orang yang tidak ketinggalan dalam segala sesuatu. Orang bodoh adalah orang yang menyia-nyiakan waktu sedangkan orang bijak adalah orang yang mempergunakan waktunya dengan hal-hal yang bernilai. Memikirkan kebodohan adalah dosa (Amsal 24:9). Orang bodoh sangat dekat dengan kemalasan” Kemalasan sangat dekat keterpurukan hidup dan kekurangan segala sesuatu.” Kebodohan memperlambat pencapaian tujuan hidup dan kemalasan menimbulkan pemborosan waktu dan kesempatan (Paparang, Hidup yang Seharusnya).

Buanglah kemalasan dan kebodohan itu dalam dirimu. Jika engkau mau memperkaya diri dengan pelbagai hal yang baik, maka dirimu akan menjadi teladan bagi semua orang. Aturlah waktu sedemikian rupa.

Ada beberapa manfaat dari memanajemenkan waktu:

  1. Belajar mendisiplinkan diri dengan waktu
  2. Mendidik diri kita untuk melakukan hal-hal yang telah ditetapkan
  3. Tidak membuka peluang bagi kita untuk membuang-buang waktu dalam melakukan hal-hal yang tidak berguna
  4. Mengajar kita bahwa waktu itu penting jika diatur dengan baik
  5. Mengajar kita bahwa waktu itu berharga
  6. Menjadikan kita sebagai pribadi yang berhasil jika manajemen waktunya baik
  7. Keberhasilan diukur oleh pemanfaatan waktu untuk bekerja keras, belajar, dan menetapkan tujuan-tujuan utama (prioritas) dalam prinsip-prinsip hidup.
  8. Menjadikan kita terbiasa dan gesit dalam melakukan segala tugas dan tanggung jawab kita, kapan saja diperlukan dan dimintai pertanggungan jawab
  9. Orang yang disiplin dalam waktu lebih dihargai ketimbang orang yang selalu membuang waktu secara percuma
  10. Mengatur waktu, melatih kita menjadi lebih bijaksana dan penuh hikmat dalam menyelesaikan tugas-tugas, persoalan-persoalan, pekerjaan rumah, dan masalah yang dihadapi.
  11. Mengarahkan langkah kita kepada pencapaian tujuan, cita-cita, kesuksesan, kebahagiaan, kesukacitaan dan segala sesuatu yang bernilai tinggi.

RUMUSAN MENGGAPAI CITA-CITA

“Mengarahkan langkah kita pada tujuan yang jelas akan memberikan pengharapan dan sukacita di setiap langkah yang diayunkan. Kesempurnaan pengharapan dan sukacita akan terjadi bila langkah terakhir kita telah mencapai tujuan itu”

“Belajar adalah kebutuhan hidup setiap manusia. Tanpanya, kita tidak pernah tahu apa artinya hidup. Dan manusia hanya diberikan dua pilihan: “Belajar dan bertindak atau diam dan tak berbuat apa-apa” – Stenly R. Paparang, Hidup yang Seharusnya: Kumpulan Kata-kata Bijak dan Motivasi Hidup, (Talaud, 2009, 2010).

Cita-cita adalah sebuah impian dari setiap manusia yang merencanakan hidup dan masa depannya. Terlepas dari cita-cita yang terlampau tinggi tanpa diseimbangkan dengan kualitas dan kapasitas diri manusia atau cita-cita yang sederhana, semuanya didasari pada keinginan manusia untuk menjadikan hidup lebih baik dalam pandangannya sendiri.

Orang yang menghargai waktu adalah orang yang sebenarnya mempunyai cita-cita yang besar. Orang yang membuang-buang waktu, adalah orang yang menghancurkan masa depannya. Bila kita mempunyai suatu cita-cita, maka mau tidak mau, suka atau tidak suka, kita harus berjuang dan bekerja keras untuk terus maju, tekun, belajar, berani mengambil resiko dan berdoa. “Ora et Labora” adalah istilah dari bahasa Latin yang artinya “Berdoalah dan bekerjalah.” Ini adalah termasuk prinsip hidup orang Kristen yang mengasihi dan mengandalkan Tuhan.

Ora et labora mengandung pengertian bahwa sambil berdoa Anda harus bekerja, bekerjalah untuk menolang doa Anda. Kata ora dari kata orare, kata kerja yang artinya ‘berdoa, memohon’; ‘ora’ adalah bentuk perintah tunggal. ‘Et’ adalah kata sambung yang artinya ‘dan.’ Kata ‘labora’ dari kata ‘laborare’, kata kerja yang artinya bekerja, berjerih payah; ‘labora’ adalah bentuk perintah tunggal. Semboyan ini semula dipakai oleh para rahib Kristen ordo Benediktin di Abad Pertengahan (Rayner Hardjono, Kamus Saku: Istilah Bahasa Asing [Jakarta: PT Gramedia Pustaka Utama, 2001]).

Rumusan menggapai suatu cita-cita tentu tidak semudah yang kita bayangkan. Banyak orang telah berhasil menggapai cita-cita mereka dan banyak hal yang mereka lakukan untuk mencapai cita-cita mereka. Mereka telah berjuang di dalam waktu, menguras tenaga mengorbankan banyak waktu. Hanya orang yang berani mengorbankan banyak waktu untuk bisa mencapai cita-cita mereka dengan gemilang. Tidak ada pengusaha yang sukses tanpa mengorbankan lebih banyak waktu untuk bekerja, berusaha dan berpikir. Jika ia seorang yang cinta Tuhan, maka ia juga perlu mengorbankan waktu untuk berdoa, berpikir, berusaha dan bekerja.

people sitting on chair in front of table while holding pens during daytime

Sebagai seorang pelajar Sekolah Menengah Teologi Kristen (SMTK) SETIA Jakarta, Saudara perlu mengerti manajemen waktu dan menghargai waktu. Meskipun akan mengawali proses pendidikan, Saudara sudah berkesempatan untuk mulai mendisiplinkan diri, mengatur waktu, menyusun waktu dan menetapkan waktu. Prioritas waktu untuk belajar dan jangan lupa atur juga waktu untuk berdoa karena hanya kuasa dan penyertaan Tuhan, Saudara dapat mengerjakan segala sesuatu dan meraih cita-cita Saudara.

Meskipun nantinya banyak sekali kegiatan, namun jika Saudara dapat memanajemenkan waktu sebaik mungkin, Saudara bisa melewati itu semua dengan baik dan bertanggung jawab. Saya tahu akan ada hambatan dan tantangan yang dilalui dalam mencapai cita-cita. Selalu andalkan Tuhan dalam segala hal. Tidak perlu kecut-ciut ketika menghadapi tantangan dan hambatan. Semakin banyak tantangan dan hambatan yang kita hadapi, semakin kuat iman dan pengharapan kita. Kita akan menjadi manusia tangguh dan mantap dalam menapaki hidup ini.

Tantangan itu perlu untuk mengiring kita dalam mencapai cita-cita. Tantangan adalah bagian dari cita-cita kita. Setiap pelajar harus mengikuti ujian agar dapat diketahui kemampuan mereka. Ujian di sekolah itu perlu sebab jika tidak ada ujian maka semuanya akan dianggap sama entah pintar, entah bodoh semuanya lulus. Aneh bukan? Tanyakanlah kepada orang-orang yang telah sukses di berbagai bidang bagaimana kisah mereka meraih sukses. Pasti ada tantangan dan hambatan, tetapi tentu mereka terus maju dan bekerja keras untuk meraih kesuksesan tersebut.

Penutup

Setelah kita mengetahui betapa penting dan berharganya waktu dalam menggapai cita-cita, maka persiapkanlah diri kita untuk memulai memanajemen waktu sebaik mungkin. Mungkin pada awalnya terasa sulit, banyak tantangan dan hambatan dan kadang gagal dalam menjalankan program kerja yang telah disusun dan ditetapakan. Tetapi tidak perlu menyerah dan kecewa. Tetap bangkit dan biasakanlah untuk mendisiplinkan diri dan waktu kita sehingga hidup kita menjadi lebih berarti dan berguna bagi orang lain.

Tuhan telah memberikan kepada kita bijaksana dan kemampuan untuk menghadapi tantangan dan hambatan. Hanya dari diri kitalah yang perlu mengembangkan kemampuan dan bijaksana tersebut. Meraih cita-cita adalah impian setiap orang. Dibutuhkan kerja keras, manajemen waktu, berusaha, pantang menyerah, belajar dari kesalahan, berdoa dan jangan lupa berbagi kasih dengan sesama. Jangan sampai lupa diri ketika kita berhasil. Bantulah sesama kita, saling mengasihi dan saling menolong karena kita adalah anak-anak Tuhan.

Selamat belajar. Pergunakanlah waktu dengan sebaik mungkin. Raihlah cita-cita dengan terus mengandalkan Tuhan, belajar, bekerja keras dan terus maju.

Tuhan Yesus memberkati kita semua. Soli Deo Gloria!

Salam Bae….

Sumber gambar:

  1. https://unsplash.com/s/photos/management
  2. https://unsplash.com/collections/7762327/management-blog
  3. https://unsplash.com/collections/MEvg5gmCmDo/management

HARAPAN DAN AIR MATA

Kepada kita diberikan waktu dan kesempatan. Artinya waktu dan kesempatan bukanlah milik kita secara mutlak. Kita hanya dapat menikmati dan menjalaninya, memahami maknanya dan hidup di dalamnya. Sejalan dengan itu, kita juga diberi keluasan dan kelapangan hati untuk menerima segala sesuatu yang mungkin tidak kita harapkan.

Harapan kita bertumpuk. Bahkan mungkin lebih menumpuk ketimbang apa yang harus kita kerjakan. Harapan memang menjadi sebuah kesenangan dan kebahagiaan tersendiri. Akan tetapi, apa yang terjadi jika harapan yang begitu kuat di hati kita, tiba-tiba tidak terwujud? Ada banyak rasa yang dapat diekspresikan. Sejak mendengar engkau mengalami kecelakaan, siang-malam doa diucapkan kepada Tuhan. Tebersit harapan dalam doa bahwa “kiranya Tuhan menyembuhkanmu dan engkau mengikuti jejakku, menjadi pelayan Tuhan yang setia.”

Tetapi kehendak Tuhan menang dan mengalahkan harapanku. Aku tahu bahwa kehendak Tuhan di atas segala-galanya dan Tuhanlah yang mengajari kita tentang apa artinya berserah.

Adikku, Kakak tidak bisa melihatmu untuk yang terakhir kalinya. Tetapi doaku telah mendahuluiku sebelum engkau mengakhiri hidupmu. Sang Khalik telah melakukan apa yang terbaik. Doaku, dan doa semua keluarga dan sahabat, tak mampu memahami kedalaman kehendak Allah. Allah telah menunjukkan kasih setia-Nya. Allah berbuat sesuai kehendak-Nya bagi kebaikan kita semua.

Selamat Jalan Adikku tercinta. Tuhan menyambutmu dalam kemuliaan-Nya. Air mata tak mampu mengungkapkan kesedihan tetapi iman kepada Yesus Kristus sanggup mengobati hati yang sedih dan air mata yang mengalir, karena kepergianmu. Akhirnya, dari fakta kepergianmu yang menorehkan kesedihan bagi kami keluarga besar Paparang—Israel, aku hendak berucap:

Tuhan yang setia, lindungi kita dan selalu hadir memberi penghiburan.

Tuhan yang kuasa, berkati kita selalu di sepanjang hidup, Dia menguatkan kita

Bersyukurlah dan pujilah Tuhan. Kemurahan-Nya tercurah bagi kita yang percaya. Tuhan Yesus telah membuktikan cinta kasih-Nya

Mengampuni kita, selamatkan kita, dan berikan kehidupan kekal. Amin

Gading Serpong, 8 Agustus 2020

Pdt. Stenly R. Paparang

LOGIKA APOLOGETIKA

man standing infront of group of people

Logika memainkan peran penting dalam setiap percakapan (wacana), diskusi, perdebatan, dan dalam setiap konteks pemikiran dan penegasan dari suatu objek. Ada berbagai jalan yang dapat ditempuh ketika terjadi proses berpikir (mengkaji, merumuskan, dan memahami). Di satu sisi, logika digunakan untuk mendasari setiap argumentasi, dan di sisi lain, logika mengalami kesesatan (mencoba memikirkan dan memahami sesuatu).

Pada setiap konteks, pemikiran seseorang dapat memberikan poin-poin penegasan. Di samping itu, bisa muncul juga—bukan poin-poin penegasan yang absah—melainkan poin-poin “sesat pikir”. Bagaimana bisa? Kita dapat melihatnya dari struktur pemikirannya dan penyuguhan “bukti” yang dianggap sebagai “bukti” tetapi sama sekali “tidak ada buktinya”. Bahkan, seseorang dapat memberikan kesimpulan terlebih dahulu ketimbang menyuguhkan premis-premis (dasar-dasar pemikiran; alasan).

Bisa saja kesimpulan diberikan terlebih dahulu lalu menyusul premis-premis. Ketika premis-premis sangat lemah maka konsekuensi logisnya adalah kesimpulan tadi dianggap tidak absah atau tidak didukung oleh bukti-bukti yang mendukung kesimpulan tersebut. Letak kelemahan premis dan kesimpulan dapat dibuktikan dengan menggunakan konteks dan klarifikasi. Keduanya merupakan ‘senjata’ yang paling andal dan kuat.

woman in black and red crew neck t-shirt

Proses memahami konteks dan mengklarifikasi baik premis maupun kesimpulan sangat penting. Maka, apologetika yang hendak saya sajikan di sini adalah sebuah rasiosinasi (proses berpikir logis) yang memenuhi standar filsafat logika yaitu: terdefinisi, terkonteks, dan terklasifikasi. Dalam ketiga aspek filsafat logika ini, konteks dan klarifikasi merupakan bagian koheren.

Ketika seseorang mengkritik iman Kristen, kita harus meminta kepadanya konteks apa yang sedang dibicarakan sehingga menemukan titik “konteks” yang dimaksud. Artinya, sah-sah saja bila seseorang mengatakan bahwa ajaran Paulus dan Yesus bertentangan, dan menganggap bahwa Yesus mengajarkan keesaan Allah sedangkan Paulus mengajarkan Trinitas. Di sini, konteks perlu diajukan: pada konteks apa ajaran Paulus bertentangan dengan ajaran Yesus, dan pada konteks apa Yesus berbicara keesaan dan Paulus berbicara Trinitas? Bukankah Paulus juga berbicara mengenai keesaan Allah? Maka konteks yang hendak kita ajukan akan membingkai pokok pembicaraan atau perdebatan.

grayscale of man in dress shirt

Selain itu, klarifikasi menjadi “sahabat karib” dari konteks. Dalam kasus yang sama di atas, kita dapat mengajukan klarifikasi yaitu: ajaran mana saja yang bertentangan antara Paulus dan Yesus? Apakah bisa berikan bukti-bukti tekstualnya?; keesaan yang bagaimana yang dipahami ketika mengklaim bahwa Yesus mengajarkan keesaan? Apakah keesaan ontologi atau keesaan dalam kaitannya dengan penyembahan?

Dalam apologetika, “konteks adalah sebuah demarkasi problem, kritik, analisis, teks, lokus, situasi, kondisi, dan segala sesuatu yang diajukan. Artinya, setiap orang harus secara internal menetapkan konteks yang sedang ia dibicarakan. Mungkin kita melihat bahwa ada yang terbiasa dengan mengajukan kritik (atau pertanyaan) tanpa memahami konteksnya terlebih dahulu. Asal dianggap bernada polemis dan menguntungkan dia, maka dengan semangat “paralogisme” ia merasa gembira dengan ajuan (hasil pengajuan) kritik atau pertanyaannya; ia berbahagia dalam kebodohannya (ignorance is bliss).

Klarifikasi adalah cara penting untuk melihat dan membuktikan apakah klaim atau pernyataan seseorang itu kuat atau tidak, berdasar atau tidak. Dalam beberapa kasus, pada akhirnya klaim atau pernyataan seseorang ternyata tidak bisa diklarifikasi. 

Dalam penjelasan berikutnya, saya akan memberikan beberapa pokok pikiran dan penegasan soal kegunaan konteks dan klarifikasi yang merupakan bagian dari logika apologetika. Kita yang beriman tentunya mempergunakan logika—sebagai pemberian Tuhan—untuk menyatakan kebenaran, membuktikan kesalahan, menegur kesalahan, membawa orang kepada kebenaran, dan mendidik orang agar mencintai dan mengasihi Tuhan.

grayscale photo of woman doing silent hand sign

Natur Logika Apologetika

Ada beberapa hal yang menjelaskan mengenai natur logika apologetika. Hal-hal tersebut menjelaskan korelasi antara logika dengan pemahaman doktrinal. Memahami doktrin adalah dasar dari berlogika apologetika. Pasalnya, doktrin yang kita pahami mengajak kita untuk melihatnya sebagai “imanen”—ada dalam pikiran kita untuk diterapkan.

Natur pertama adalah bahwa logika apologetika adalah diskursif—yaitu iman Kristen dapat disimpulkan secara logis. Secara logis didasarkan pada fakta penyataan dan empirikal (orang-orang yang merasakan kasih dan kuasa Tuhan Allah)

Natur kedua adalah bahwa logika apologetika adalah sebuah rasiosinasi (proses pemikiran logis) untuk berteologi, menampilkan sebuah konstruksi berpikir logis. Artinya, rasiosinasi dapat ditempuh dengan berbagai cara (maksudnya untuk berteologi) tanpa meninggalkan asas-asas iman Kristen. Kita tahu bahwa proses berteologi telah menghasilkan dua arus, yaitu arus yang benar (tetap berpegang pada kebenaran), dan arus yang menyimpang (menghasilkan teologi-teologi yang serampangan dan asal simpul demi ketenaran dan motivasi lainnya yang terselubung).

Natur ketiga adalah bahwa logika apologetika mendasari dirinya pada Filsafat Logika: terdefinisi, terkonteks, dan terklasifikasi. Segala sesuatu yang bicarakan dan diklaim, harus memperlihatkan materi dasarnya melalui definisi, konteks, dan klasifikasi. Pada tataran ini, logika apologetika menjadikan dirinya kuat secara logis. Ada banyak pertanyaan yang diajukan kepada iman Kristen, tetapi jika mau dikaji berdasarkan filsafat logika, saya rasa, mayoritas akan gugur dengan sendirinya.

woman in black jacket sitting beside woman in white blazer

Aspek Logika Apologetika

Logika Apologetika mengandung beberapa aspek penting (interpretasi materi dasar sebagai pertimbangan). Di antaranya adalah:

Pertama, aspek klaritas (kejelasan). Apologetika menyuguhkan klaritas dan meminta klaritas (kepada lawan). Artinya, keduanya harus adil (standar gandar). Iman Kristen menunjukkan klaritasnya, sedangkan kritik terhadap iman Kristen harus juga menunjukkan klaritasnya. Misalnya kritik Ateis yang  menyatakan bahwa bahwa tidak ada “Allah”, dan tidak mempercayai eksistensi Tuhan. Harus dijelaskan secara jelas, Tuhan seperti apa yang tidak eksis, atau Allah yang bagaimana yang tidak ada.

Kedua, aspek asertif (tegas). Apologetika menjelaskan ketegasan dan meminta ketegasan (posisi) lawan. Artinya, lawan harus menentukan posisinya secara tegas, apakah ia mendukung gagasan pemikiran salah satu denominasi dalam kekristenan, atau menganut paham salah satu (atau lebih) bidat Kristen. Ketegasan posisi menentukan kritik dan pemikiran kita selanjutnya.

Ketiga, aspek klarifikasi. Apologetika selalu mengklarifikasi salah paham tentang iman Kristen dan meminta klarifikasi atas tuduhan-tuduhan yang tidak berdasar. Misalnya ada yang mengatakan bahwa kekristenan sebagai  “tolma barbarikon”, suatu ketololan biadab. Jika kita meminta klarifikasinya, ketololan seperti apa yang dimaksud, dan mengapa ketololan itu biadab?

Keempat, aspek deskriptif (menjelaskan yang sesungguhnya). Apologetika harus secara kuat menerapkan deskriptif. Hal ini penting karena iman Kristen sangat kaya dan terkadang sulit dipahami. Sulit dipahami bukan berarti tidak dapat dipahami. Sebaliknya, kesulitan tersebut disebabkan karena natur dari iman Kristen itu sendiri memang sulit dipahami. Dengan demikian kepentingan untuk menjelaskan hal yang sesungguhnya, adalah tugas yang amat penting.

Kelima, aspek komprehensivitas memahami. Memahami sesuatu tidak mudah. Selalu ada hal-hal lain yang dipakai untuk melengkapi pemahaman kita. Apologetika harus menampilkan bagaimana memahami dan menjelaskan secara komprehensif tentang iman Kristen. Komprehensivitas memahami bukanlah milik Kristen saja, tetapi semua konteks iman agama lain, menempuh upaya yang sama.

silver corded microphone in shallow focus photography

Dalam konteks ini, apologetika bisa saja berhadapan dengan paham rasionalisme, yaitu doktrin filsafat yang menyatakan bahwa kebenaran haruslah ditentukan atau didapatkan melalui pembuktian, logika, dan analisis yang berdasarkan fakta, bukan berasal dari pengalaman inderawi. Ada kesalahpahaman di sini. Jika memahami kebenaran tidak berasal pengalaman indrawi, maka kebenaran seperti apa yang tidak membutuhkan indrawi? Di sini, rasionalisme gagal memahami secara komprehensif mengenai kebenaran.

Apologetika juga bisa berhadapan dengan Solipsisme (Lat. Solus yang berarti ‘sendirian’ dan ipse yang berarti ‘diri’), yaitu pandangan yang menyatakan bahwa pengalaman pribadi seseoranglah yang merupakan satu-satunya fakta yang dapat dipercaya. Dengan perkataan lain, seseorang tidak memiliki landasan untuk percaya akan hal lain kecuali dirinya sendiri. Solipsisme—dipandang berasal dari pemikiran Gorgias, seorang sofis (memandang bahwa kebenaran itu relatif adanya—menutup ruang validasi atas fakta yang terjadi di luar dirinya. Bahkan solipsisme menjadikan setiap manusia, dengan pengalamannya sendiri, menafikan pengalaman orang lain (alasan logis [standar ganda]). Dengan demikian, tidak ada kebenaran di luar diri manusia selain kebenaran yang diukur berdasarkan pengalaman diri sendiri.

Kesalahan dan kelemahan solipsisme adalah tidak memiliki pemahaman yang komprehensif tentang kehidupan manusia secara umum dan hanya menempatkan pengalaman pribadinya sebagai data fakta. Jika semua orang berpikiran sama, maka tidak ada kebenaran umum; yang ada kebenaran versi diri sendiri.

Dari penjelasan di atas, kita dapat menyimpulkan bahwa logika apologetika—dalam relasinya dengan konteks pluralisme agama, pertanggungjawaban iman, relasi-imaniah mikro dan makro, dan melawan ajaran-ajaran sesat, maka logika apologetika perlu menampilkan prinsip diskursif, rasiosinasi, dan aspek-aspek filsafat logika: terdefinisi, terkonteks, dan terklasifikasi.

Dalam geraknya, logika apologetika, ketika berhadapan dengan “lawan-lawan”—dalam hal mereka mengklaim “pemikiran” tertentu sebagai serangan terhadap iman Kristen, menyimpulkan segala sesuatu tentang iman Kristen, dan menegasikan pokok-pokok iman Kristen, maka menerapkan aspek-aspek logika apologetika—klaritas, asertif, klarifikasi, deskriptif, dan komprehensivitas memahami—sangatlah penting dan krusial (esensial).

Salam Bae….

Sumber gambar: https://unsplash.com/s/photos/speaking

M E N G U L I T I   H I D U P

man in black jacket lying on floor

Bagaimana kita memahami dan menjalani hidup? Bagaimana kita bersikap dan bertahan hidup? Bagaimana kita memperlihatkan ketangguhan dan perjuangan hidup?

Ada beragam pertanyaan yang lazim kita dengar, atau bahkan kita sendiri mengungkapkannya, baik kepada diri sendiri, kepada orang lain, maupun kepada Tuhan. Pertanyaan-pertanyaan itu muncul karena disebabkan oleh sesuatu hal. Biasanya disebabkan oleh “hidup tidak seperti yang diharapkan”. Apa yang diharapkan? Tentu banyak: sesuai kadarnya, atau sesuai keingingan dan harapan, sesuai kehendak, atau sesuai nafsu; semuanya sah untuk diungkapkan. Akan tetapi tidak semua pertanyaan layak diajukan. Kita harus membaca diri dan melihat apa yang kita miliki (potensi internal).

Tak salah jika kita melihat dan membaca diri. Sebab dengan berbuat demikian, kita dapat memulai menentukan hal apa, atau pekerjaan apa yang harus dan dapat dikerjakan semaksimal mungkin. Membaca diri adalah sebuah tingkat kedewasaan yang baik, yang telah memahami betul, bahwa hidup itu membutuhkan perjuangan dan kerja keras.

Kita harus berani “menguliti” hidup kita sendiri, mengingat bahwa “mata TUHAN ada di segala tempat, mengawasi orang jahat dan orang baik” (Amsal 15:3), dan “Dan tidak ada satu makhlukpun yang tersembunyi di hadapan-Nya sebab segala sesuatu telanjang dan terbuka di depan mata Dia, yang kepada-Nya kita harus memberikan pertanggungan jawab” (Ibrani 4:13).

woman standing with hands spread on side facing lake at sundown

Ketika kita menyembunyikan sesuatu, ingatlah, bahwa Tuhan melihat itu semua. Maka, tidak perlu bersembunyi; nyatakanlah apa yang benar dan salah di hadapan Tuhan, kulitilah hidup kita sendiri, sebab Tuhan Maha Melihat.

Apa yang dikuliti? Tergantung apa yang hendak kita kuliti, asalkan kita jujur di hadapan Tuhan. Ketika kita telah jujur di hadapan Tuhan, maka kita tak mungkin berbohong kepada “sesama kita”. Kita perlu mengoreksi diri: apa yang telah kita lakukan itu benar atau tidak; apa yang kita pikirkan itu benar atau tidak, dan apa yang ucapkan itu benar atau tidak. Ukurannya untuk menyatakan apakah itu benar atau tidak, adalah ALKITAB. Mereka yang rajin membaca dan mendengar orang berbicara tentang Alkitab, tentu tidak akan mengalami kesulitan melakukannya, kecuali memang dia mengabaikannya sama sekali.

Bagaimana kita memahami dan menjalani hidup? Memahami hidup adalah sebuah tanggung jawab hakiki dari setiap manusia. Ia memahami hidup karena ia sedang [menjalani] hidup. Ada sesuatu yang harus dipegang, dijalani, dan dituju. Hidup itu punya tujuan dan tujuan itu tergantung dari kita yang mencapainya. Mencapai tujuan bergantung pada apa yang kita pegang yaitu “prinsip hidup”.

woman in brown coat with black beaded necklace

Menjalani hidup adalah bagian penting dari memahami hidup. Mereka yang paham soal hidup dan liku-likunya, pasti akan berani menjalani hidup, meski mereka tahu bahwa ada tantangan, hambatan, dan gumul juang terbentang di hadapannya. Mereka yang menjalani hidup berarti mereka telah siap berjuang dan mempertahankan hidup.

Bagaimana kita bersikap dan bertahan hidup? Bersikap dalam hidup adalah sebuah dorongan dan pilihan. Menyikapi hidup tergantung dari jenis hambatan, tantangan dan gumul juang. Kita harus bersikap dan menentukan sikap. Karena dari ketetapan untuk bersikap kita dapat bertahan, dan tangguh menjalani hidup. Memang tidak mudah, tetapi tidak ada pilihan lain.

red and pink flower headdress on woman's head

Bertahan hidup merupakan natur hayati manusia. Kita dapat menggambarkannya seperti para pendaki Mount Everest (pegunungan Himalaya), gunung tertinggi di dunia. Mereka yang tiba di puncaknya, adalah yang bertahan hidup; mereka yang mati karena kelelahan, karena kedinginan, dan lain sebagainya, adalah yang berjuang untuk bertahan, tetapi mereka tidak sanggup. Itu adalah risiko yang harus mereka tanggung. Dari situ kita dapat belajar bahwa “bertahan hidup” adalah tanggung jawab setiap orang.

Bertahan hidup memiliki konteksnya masing-masing, tetapi intinya tetap sama: manusia memerlukan potensi untuk bertahan dalam segala situasi di mana ia berada. Ia harus berani menguliti hidupnya dan membacanya, menakar apakah dirinya sanggup berjuang dan bertahan hidup atau tidak. Harapan tentu ada; dan itu perlu diperjuangkan dengan segala potensi yang ada.

Bagaimana kita memperlihatkan ketangguhan dan perjuangan hidup? Ketangguhan hidup adalah kondisi dan bukti dari mereka yang memahami, menjalani, bersikap, dan bertahan hidup. Dan mereka itulah yang terus memperlihatkan perjuangan hidupnya.

man in black long sleeve shirt raising his hand

Apakah kita termasuk di dalamnya? Sudah pasti. Tetapi situasi dan kondisinya berbeda. Meskipun kita tahu bahwa masa depan itu ada, kita tahu bahwa tantangan itu ada—dan seringkali kita berharap tantangan tidak perlu ada, supaya perjalanan hidup mulus—namun, yang terpenting adalah bagaimana kita menggunakan “potensi” yang Tuhan berikan untuk memahami, menjalani, bersikap, dan bertahan hidup. Potensi itu juga kita gunakan untuk menguliti hidup yang artinya kita berani membaca hidup dan melihat diri kita seutuhnya, kemudian mengoreksi, membenahi, membangun, menguatkan, mendorong, dan memperjuangkannya.

Selamat menjalani hidup. Tetapkan komitmen untuk berjuang dan bertahan hidup, niscaya harapan dan kebahagiaan dapat kita capai dan rasakan.

Salam Bae….

Sumber gambar: https://unsplash.com/s/photos/surrender

H I D U P   D A N    H A R A P A N

Semua yang hidup memiliki harapan, baik harapan yang diberikan Tuhan melalui alam semesta dan harapan yang diberikan-Nya pada diri manusia melalui logika (yang mencakup pula perasaan, kehendak, emosi). Harapan-harapan itu secara faktual terlihat dalam tujuh kerja manusia:

Pertama. Kerja untuk diri sendiri. Manusia bekerja untuk mempertahankan hidup, gengsi, identitas (predikat), dan jatidiri.

Kedua. Kerja untuk orang terdekat. Manusia bekerja dan berjuang karena ia ingin berbagi dengan yang lain, dan orang-orang terdekatnya adalah salah satunya.

Ketiga. Kerja untuk orang lain. Hal yang sama dilakukan pada orang terdekat, manusia dapat bekerja bagi orang lain untuk menyambung hidup, memperjuangkan hidup, dan dari pada itu, ia juga memperkuat posisinya untuk mempertahankan identitasnya.

Keempat. Kerja untuk organisasi/perusahaan/instansi. Ketika manusia ingin bekerja di berbagai organisasi, perusahaan, dan atau instansi, maka tentu ia akan bekerja semaksimal mungkin karena dari situ ia mendapatkan upah, dan konsekuensinya, ia dapat bertahan hidup. Selebihnya ia menikmati kebahagiaan.

girl sitting on daisy flowerbed in forest

Kelima. Kerja untuk negara. Sebagai bagian dari negara, manusia adalah warga negara dan dengannya ia harus bekerja bagi negara dalam banyak aspek. Alasannya adalah karena manusia juga diatur oleh negara dalam aspek hayati humanitas, geografis, keyakinan, dan lain sebagainya.

Keenam. Kerja untuk keluarga. Manusia secara hakiki mempunyai keluarga. Dan karena alasan itulah, ia dapat berjuang dan bekerja bagi keluarga (bagi orangtua, suami, istri, anak-anak, cucu, dan kakek-nenek).

Ketujuh. Kerja untuk Tuhan. Yang terakhir adalah kerja untuk Tuhan. Dalam konteks ini, manusia—sebagaimana ia tahu bahwa harapan dari kehidupan yang ia jalani adalah dari Tuhan—bekerja dan melayani Tuhan dalam konteks-konteks pelayanan kategorial. Dengan demikian, ia menyandarkan dirinya, keluarganya, orang terdekatnya, tempat ia bekerja untuk mendapatkan upah, hanya kepada Sang Khalik yang telah memberikannya kesempatan hidup, bernafas, dan bekerja, serta menikmati hidup.

man holding his hair against sunlight

HIDUP dan HARAPAN adalah milik mereka yang sadar bahwa ia tidak hanya hidup dan memiliki harapan, melainkan ia harus bekerja dan berusaha untuk mencapai harapan-harapan yang terpatri dalam hatinya.

Ketika hidup dan harapan menjadi bagian penting dari proses menjalani kehidupan ini, maka manusia, mau tidak mau, suka atau tidak suka, harus berjuang dan mempertahankan apa yang ia miliki, mempertahankan apa yang menjadikan dirinya berguna (bermanfaat), berpengaruh, dihargai, dihormati, dicintai, dan dikasihi.

grayscale photo of man in crew-neck shirt raising both hands

Selamat menjalani hidup ini. Yakinlah bahwa harapan-harapan yang kita miliki dapat terwujud ketika Tuhan campur tangan dan kita—secara sadar dan yakin (beriman)—benar-benar bersandar pada-Nya.

Salam Bae….

Sumber gambar: https://unsplash.com/s/photos/surrender

DICTA DAN GESTA: MUARA TEOLOGI

Sebagus apa pun konsep atau pemikiran tentang teologi, tidak akan menjadi lebih baik ketika hal itu tidak ditunjukkan melalui perilaku, karakter, dan relasi. Teologi perlu direalisasikan dalam perilaku sehari-hari; teologi harus membentuk karakter yang didasarkan pada prinsip-prinsip Alkitab, dan teologi harus membangun relasi humanitas dan kemasyarakatan (sosial) mikro maupun makro. Teologi tanpa relasi adalah “omong kosong”. Teologi yang demikian hanyalah menunjukkan “kesombongan logika” dan ingin mencari popularitas.

Lalu siapa yang layak berteologi? Tentu yang berteologi itu adalah semua orang yang memiliki iman dan mengakui bahwa Tuhan adalah penolong-Nya dan tempat baginya untuk menyampaikan segala sesuatu yang menyangkut kehidupan dan masa depan. Teologi bukanlah milik para pendeta dan para mahasiswa teologi. Tidak. Bahwa semua orang percaya layak berteologi adalah natur dari iman kepada Tuhan. Sebab beriman menghasilkan respons terhadap Tuhan, karya, kasih, kuasa, dan pemeliharaan-Nya.

Lalu, teologi seperti yang apa yang layak dipikirkan dan diperbincangkan? Jawabannya adalah teologi yang mengarahkan kehidupan manusia kepada kehendak Tuhan, teologi yang secara serius mengenal dan mengalami (kasih, kuasa, pemeliharaan) Tuhan dalam totalitas kehidupan yang dijalani, dan teologi yang memuliakan Tuhan dalam kata/perkataan (dicta), pikiran, dan perbuatan/tindakan (gesta).

white book pge

Teologi haruslah bermuara pada realisasi (respons) dari iman kepada Tuhan Yesus Kristus. Dicta dan gesta adalah muara teologi. Perkataan dan perbuatan adalah ukuran faktual dari teologi seseorang. Kendati demikian, pengalaman hidup bersama dengan Tuhan akan membentuk karakter, relasi, dan perilaku seseorang secara nyata.

Kita semua yang pernah dan sedang berteologi membutuhkan “orang lain” untuk mempercakapkan teologi, mengajar, dan belajar (timbal-balik). Bertukar pengalaman dan pikiran menguatkan karakter, relasi, dan perilaku kita. Kita tak mungkin mengabaikan “orang lain” dalam proses berteologi. Akan tetapi, dalam konteks tersebut, kokoh dalam prinsip Alkitab adalah pegangan utama. Pengaruh yang timbul dari interaksi teologi dengan “orang lain” memiliki potensi mengubah, menyesatkan, meragukan, mempertimbangkan, atau memperkokoh posisi teologi kita.

Perlu dipikirkan bahwa dicta dan gesta sebagai muara teologi mendatangkan berkat bagi kita dan bagi orang lain di mana teologi itu diterapkan. Kemuliaan seseorang didapatkan ketika teologi yang dibangunnya dapat membangun orang lain, teologi yang dapat “menghidupkan” (menyemangatkan) orang lain, teologi yang berbagi rasa dengan mereka yang membutuhkan penghiburan dan pertolongan kita, dan teologi yang mengutamakan “kasih” sebagai landasan.

Dicta dan gesta bukanlah tanpa alasan menjadi muara teologi. Marilah kita melihat beberapa pokok yang mendukung pemahaman tersebut.

woman in blue and white striped long sleeve shirt holding black book

Pertama, kita berteologi bukan karena hendak menonjolkan logika (pemikiran) kita, melainkan karena kita telah diberikan iman oleh Tuhan, dan dengan demikian merespons segala perbuatan dan kehendak-Nya dalam konteks kehidupan (sejatinya, kita memperlihatkan perbuatan/perilaku, relasi, dan karakter).

Kedua, kita berteologi karena dipanggil Tuhan untuk menunjukkan perkataan yang membangun, dan perbuatan yang penuh kasih, kejujuran, dan pengampunan.

Ketiga, teologi yang sehat berarti memberikan asupan gizi kepada diri kita dan orang lain. Teologi tersebut membawa kita dan orang lain melihat kebaikan, kasih, kemurahan, dan kuasa Tuhan secara nyata, empirikal, dalam segala situasi dan kondisi.

Keempat, dicta dan gesta adalah wujud dari iman yang hidup dan sejati. Mereka yang mengakui Yesus Kristus sebagai Tuhan dan Juruselamat tidak akan menyia-nyiakan hidupnya untuk hal-hal yang tidak berguna, hal-hal yang merusak teologi, perilaku, karaker, dan relasinya. Sebaliknya, mereka akan terus menebarkan keharuman iman di segala waktu dan kondisi.

man in blue and white striped crew neck shirt reading book during daytime

Kelima, dicta dan gesta memperlihatkan diri kita sebagai pengikut Yesus Kristus yang serius menggumuli proses kehidupan (suka dan duka), menyandarkan imannya kepada Yesus, dan berharap secara teguh bahwa “Ia akan membuat segala sesuatunya indah pada waktunya”.

Selamat berteologi, dan jangan lupa untuk menunjukkan dicta dan gesta, sehingga karakter kita menjadi semakin kuat, relasi kita tetap terjaga, dan memberi manfaat bagi diri kita dan orang lain.

Salam Bae….

Sumber gambar:

  1. Pinterest
  2. https://unsplash.com/collections/1180633/bible
  3. https://unsplash.com/collections/4858217/bible

KURVA KEHIDUPAN

Kehidupan adalah sebuah kesadaran bahwa ada gerak, rasa, dan bentuk di dalamnya. Gerak adalah tanda kehidupan di mana setiap manusia berjuang mendapatkan sesuatu, dari waktu ke waktu, dari kesempatan ke kesempatan lain, dari titik satu ke titik yang lain; manusia berusaha menghasilkan sesuatu dengan berbagai cara.

Rasa adalah tanda bahwa manusia – karena keadaan atau kondisi yang dialami – dapat mengungkapkan kebahagiaan, kesedihan, kesenangan, kesengsaraan, tangisan, keceriaan, dukacita, kesakithatian, kemarahan, kejengkelan, kebodohan, keteledoran, kesombongan, kemunafikan, kebencian, permusuhan, pertikaian, dan lain sebagainya. Rasa itu adalah “jiwa dari kehidupan manusia”. Tanpa rasa, mustahil manusia dapat menikmati kehidupan ini.

Bentuk adalah tanda bahwa manusia “menafsir kehidupan”. Apa yang ditafsirkan dan kesukaan untuk menafsir bergantung pada “bentuk”. Semua jenis pekerjaan tidak hanya melibatkan rasa, tetapi juga bentuk. Manusia menghendaki bentuk-bentuk tertentu dari segala pekerjaan dan usahanya untuk mendapatkan dan menikmati sesuatu. Benda dan manusia dapat ditafsirkan sesuai bentuk yang kita inginkan dan kemudian mengambil maknanya.

Secara fakta manusia memperlihatkan gerak, rasa, dan bentuk. Ketiganya adalah “kurva kehidupan”, seringkali berjalan bersamaan; kadang pula berjalan berduaan: gerak dan rasa, sedangkan bentuk berjalan sendiri. Atau gerak dan bentuk berjalan bersama, sedangkan rasa menyepi; rasa dan bentuk bertemu, dan gerak menyingkir. Baik gerak, rasa, maupun bentuk, semuanya memiliki “tujuan” yang hendak dicapai.

Tujuan memandu manusia untuk menjalani setiap proses kehidupan. Kurva akan membentuk kesatuan yang memberi kita pengalaman, kedamaian, hasil maksimal, kegagalan, kesedihan, kebahagiaan, dan lain sebagainya. Pada kenyataannya, manusia yang sampai pada tujuannya telah berurusan dengan gerak, rasa, dan bentuk. Dengan demikian, kurva kehidupan adalah hadiah bagi setiap orang karena ia berhasil menyatukan satu peristiwa dengan peristiwa-peristiwa lainnya.

black road near trees at daytime

Kurva adalah garis yang terdiri atas persambungan titik-titik atau grafik yang menggambarkan variabel (misalnya yang memperlihatkan perkembangan) yang dipengaruhi oleh keadaan. Dalam konteks kehidupan, kurva dipahami sebagai sebuah kondisi yang menyatukan satu kejadian dengan kejadian lain, sehingga membentuk suatu prinsip kehidupan, yang olehnya dapat dibagikan kepada yang lain. Di sini, kita menjadi teladan karena kurva kehidupan itu sendiri telah memperlihatkan gerak, rasa, dan bentuk tadi.

Setiap hari ada peristiwa. Kita ada di dalam peristiwa itu. Minimal peristiwa kita sendiri. Hidup ini tak mungkin tanpa peristiwa. Jika bukan kita yang menciptakan peristiwa, maka orang lain, benda, atau alam yang menciptakan peristiwa untuk manusia pada umumnya, dan diri kita sendiri pada khususnya.

Menghasilkan kurva kehidupan yang bermakna bergantung pada apa dan bagaimana diri kita di hadapan Tuhan dan di hadapan manusia. Di hadapan Tuhan, kita diarahkan untuk bersandar dan berharap kepada-Nya, sebab Dialah hidup kita; Dialah yang memberi kita kehidupan, waktu, kesempatan, kekuatan, kesehatan, untuk dapat menikmati dan mempertanggungjawabkan kehidupan ini kepada-Nya. Tampak bahwa Alkitab memberi dukungan yang serius tentang bersandar, berharap, dan kebergantungan kita kepada Sang Khalik.

white and brown concrete building near green mountains during daytime

Kisah Rasul 17:28, Sebab di dalam Dia kita hidup, kita bergerak, kita ada, seperti yang telah juga dikatakan oleh pujangga-pujanggamu: Sebab kita ini dari keturunan Allah juga.

Roma 14:8, Sebab jika kita hidup, kita hidup untuk Tuhan, dan jika kita mati, kita mati untuk Tuhan. Jadi baik hidup atau mati, kita adalah milik Tuhan.   

Mazmur 42:6, Mengapa engkau tertekan, hai jiwaku, dan gelisah di dalam diriku? Berharaplah kepada Allah! Sebab aku akan bersyukur lagi kepada-Nya, penolongku dan Allahku!   

Mazmur 130:7, Berharaplah kepada TUHAN, hai Israel! Sebab pada TUHAN ada kasih setia, dan Ia banyak kali mengadakan pembebasan.   

Mazmur 131:3, Berharaplah kepada TUHAN, hai Israel, dari sekarang sampai selama-lamanya!   

1 Korintus 8:6, namun bagi kita hanya ada satu Allah saja, yaitu Bapa, yang dari pada-Nya berasal segala sesuatu dan yang untuk Dia kita hidup, dan satu Tuhan saja, yaitu Yesus Kristus, yang oleh-Nya segala sesuatu telah dijadikan dan yang karena Dia kita hidup.

Galatia 5:25, Jikalau kita hidup oleh Roh, baiklah hidup kita juga dipimpin oleh Roh,   

Efesus 2:10, Karena kita ini buatan Allah, diciptakan dalam Kristus Yesus untuk melakukan pekerjaan baik, yang dipersiapkan Allah sebelumnya. Ia mau, supaya kita hidup di dalamnya.   

1 Tesalonika 5:9-10, Karena Allah tidak menetapkan kita untuk ditimpa murka, tetapi untuk beroleh keselamatan oleh Yesus Kristus, Tuhan kita, yang sudah mati untuk kita, supaya entah kita berjaga-jaga, entah kita tidur, kita hidup bersama-sama dengan Dia.   

Titus 2:12, Ia mendidik kita supaya kita meninggalkan kefasikan dan keinginan-keinginan duniawi dan supaya kita hidup bijaksana, adil dan beribadah di dalam dunia sekarang ini.

1 Yohanes 1:7, Tetapi jika kita hidup di dalam terang sama seperti Dia ada di dalam terang, maka kita beroleh persekutuan seorang dengan yang lain, dan darah Yesus, Anak-Nya itu, menyucikan kita dari pada segala dosa.   

1 Yohanes 4:9, Dalam hal inilah kasih Allah dinyatakan di tengah-tengah kita, yaitu bahwa Allah telah mengutus Anak-Nya yang tunggal ke dalam dunia, supaya kita hidup oleh-Nya.   

2 Tawarikh 14:11, … “Ya TUHAN, selain dari pada Engkau, tidak ada yang dapat menolong yang lemah terhadap yang kuat. Tolonglah kami ya TUHAN, Allah kami, karena kepada-Mulah kami bersandar dan dengan nama-Mu kami maju melawan pasukan yang besar jumlahnya ini….

2 Tawarikh 16:8, … Namun TUHAN telah menyerahkan mereka ke dalam tanganmu, karena engkau bersandar kepada-Nya.   

Amsal 3:5, Percayalah kepada TUHAN dengan segenap hatimu, dan janganlah bersandar kepada pengertianmu sendiri.   

Apa yang diutarakan oleh Tuhan di dalam firman-Nya di atas cukup memberi landasan bagi kita agar menghasilkan kurva kehidupan yang selaras dengan kehendak-Nya. Itulah kurva kurva kehidupan di hadapan Tuhan

Kurva kehidupan di hadapan manusia menandakan bahwa ada relasi-relasi yang tercipta. Relasi humanitas, relasi religiositas, relasi pekerjaan, pelayanan, keluarga, percintaan, persekutuan, politik, ekonomi, pendidikan, persabatahan, perselingkuhan, persekongkolan, budaya, adalah kurva yang akan menjadi kesatuan dan membentuk kisah kita sendiri, entah positif [baik] entah negatif [buruk]. Dalam relasi-relasi tersebut tentu ada peristiwa-peristiwa yang di dalamnya ada gerak, rasa, dan bentuk. Semua dapat kita lakukan untuk menciptakan kurva kehidupan personal.

brown and green grass field near mountain under white clouds and blue sky during daytime

Pada akhirnya, kurva kehidupan adalah diri kita sendiri di hadapan Tuhan dan di hadapan manusia. Kita berhadapan dengan kurva kehidupan orang lain: baik dan buruk. Kita dapat menarik makna pada setiap peristiwa untuk ditempelkan pada kurva kehidupan kita sendiri.

Waktu terus bergulir. Sementara kita masih sibuk merangkai kurva hidup kita. Tidak hanya kita, orang lain juga sedang melakukan hal yang sama. Pada akhirnya, kurva kehidupan memberi kita lima prinsip:

Pertama: kurva kehidupan melibatkan “waktu” dan “kesempatan” yang Tuhan berikan. Gunakanlah waktu sebaik mungkin (hargailah waktu yang Tuhan berikan), raih setiap kesempatan yang ada, asalkan kesempatan itu berpotensi memberi nilai (mutu) pada gerak, rasa, dan bentuk. Tuhan senantiasa memberi kita waktu dan kesempatan, tinggal bagaimana kita mempergunakannya.

green and white mountains under white sky during daytime

Kedua: kurva kehidupan melibatkan diri kita. Kitalah yang bergerak, merasakan, dan menghasilkan bentuk-bentuk kehidupan kita sendiri. Mereka yang tidak mengandalkan Tuhan memiliki perbedaan kurva dengan kita yang mengandalkan Tuhan. Dengan demikian, mengandalkan Tuhan (bersandar dan berharap pada-Nya) adalah terbaik yang dapat kita genggam untuk menghasilkan kurva kehidupan yang selaras dengan firman-Nya. Di sini, kita tidak boleh melupakan Tuhan.

Ketiga: kurva kehidupan melibatkan orang lain. Kehidupan yang indah adalah proses penyatuan pelaku-pelaku kehidupan: kita dan orang lain. Tak ada makna hidup yang lebih berarti ketika orang lain terlibat dalam hidup kita. Keterlibatan orang lain janganlah dipandang sebagai sebuah proses di mana segala kejahatan dan keburukan membentuk kurva kehidupan kita, sebaliknya keterlibatan orang lain haruslah mencakup tindakan-tindakan yang baik, bermoral, dan selaras dengan kehendak Tuhan.

Keempat: kurva kehidupan melibatkan potensi yang mencakup potensi relasional, potensi komunikasi, dan potensi intelektual.

Kelima: kurva kehidupan melibatkan lingkungan di mana kita berpijak. Semua kisah manusia memiliki perbedaan karena dibentuk oleh lingkungannya sendiri. Mereka yang tinggal di wilayah pegunungan memiliki kisah kehidupan yang berbeda dengan mereka yang tinggal di wilayah pesisir pantai. Lingkungan adalah salah satu aspek yang membentuk kurva kehidupan kita.

gray concrete road between green grass field under blue sky and white clouds during daytime

Jika menginginkan kurva kehidupan kita bermakna dalam pandangan Tuhan, maka lima prinsip di atas perlu menjadi perhatian dan dapat diterapkan dari waktu ke waktu. Selamat menjalani hidup yang dikaruniakan Tuhan kepada kita. Bentuklah kurva kehidupan yang terbaik. Pergunakanlah waktu yang ada. Raih setiap kesempatan, dan pada akhirnya kurva kehidupan kita akan memuaskan dan menyenangkan kita sendiri, orang yang kita kasihi, terlebih menyenangkan hati Tuhan.

Salam Bae…..

Sumber gambar:

  1. https://unsplash.com/photos/hTtK6tvTRY0
  2. https://unsplash.com/s/photos/curva
  3. https://unsplash.com/photos/qZ3x2op5t-U

SAHABAT YANG DIKIRIM TUHAN: Menabur Kebaikan, Menuai Bahagia

“Persahabatan adalah sebuah untaian perhiasan dengan beragam manik-manik. Ketika terjalin ragam manik-manik itu, akan tampak indah dan menarik. Persahabatan adalah relasi yang meluapkan rasa kasih, peduli, sukacita, dan harapan. Kita tampil dalam persahabatan tidak hanya menampilkan apa yang kita miliki, tetapi lebih dari itu, menampilkan diri kita apa adanya. Tampaknya, setiap persahabatan yang kuat, ditandai oleh ‘relasi humanitas-spiritual’ di mana setiap sahabat tidak hanya memberikan apa-apa yang perlu sebagai hadiah atau kebutuhan melainkan saling mendoakan satu dengan lain.” – Stenly R. Paparang. LAKONISME

Tidak bermaksud mengabaikan sahabat-sahabatku yang lain, yang baik dan luar biasa, tulisan singkat ini dibuat sebagai “tanda perpisahan kerja” (bukan tanda berakhirnya persahabatan) dengan rekan kerja saya di salah satu institusi teologi. Saat saya menyampaikan permohonan “pamit” kepadanya, ia menulis: “tetapi kita tetap bersahabat ya pak”. Sudah pasti akan tetap bersahabat, karena persahabatan yang terbangun selama ini, perlu dihargai, patut diapresiasi, terlebih – meski terpisah oleh lokus, tindakan saling mendoakan satu dengan lainnya harus tetap dilakukan.

Sesuai dengan janji saya, bahwa di akhir tahun saya akan membuat satu tulisan untuk beliau sebagai rasa terima kasih karena beliau telah menabur kebaikan selama kami bekerja di satu institusi. Meski begitu, perpisahan kerja bukanlah akhir dari kebaikan yang ada dalam diri kita. Perpisahan kerja bukanlah akhir dari kebahagiaan, bukanlah akhir dari “kasih yang telah kita tabur”. Kasih itu sendiri akan menjadi pegangan seumur umur dan akan terus ditaburkan selama kita hidup. Ini prinsip yang hakiki bagi seorang Kristen.

Saya mengenal Ibu Santi Meilawati semenjak beliau diangkat menjadi Wakil Ketua II Bidang Administrasi dan Keuangan pada bulan Agustus 2020. Waktu itu saya juga diangkat menjadi Wakil Ketua I Bidang Akademik bersama senior saya, Edward E. Hanock sebagai Wakil Ketua III Bidang Kemahasiswaan. Saya menjabat Waket I hanya selang tiga belas bulan dan kemudian diganti.

Meski kami bersahabat dalam konteks kerja hanya dalam waktu singkat, tetapi Ibu Santi telah menunjukkan karakter dan kebaikan kepada kami. Pembacaan terhadap karakter dan kebaikan seseorang adalah hal yang sering saya lakukan dalam setiap persahabatan. Hal itu dilihat dari komunikasi, relasi, dan bagaimana membicarakan hal-hal tertentu. Terlebih lagi, “bercanda” menjadi khas dari setiap persahabatan yang terjalin.

group of people sitting on bench near trees duting daytime

Ibu Santi adalah tipe orang yang serius tapi sekaligus suka bercanda. Dengan karakter beliau yang tangguh dalam bekerja, memegang prinsip kerja secara berintegritas, membuat saya kagum dengan beliau. Bacaan-bacaan hidup terhadap segala situasi dan kondisi selama kami bersahabat di satu institusi, membuat saya mengambil kesimpulan yang demikian. Tak salah jika beliau adalah: SAHABAT YANG DIKIRIM TUHANbagi saya, dan juga bagi sahabat-sahabat saya yang lainnya. Ibu Santi telah membuktikan bahwa taburan kebaikan yang ia kerjakan telah membuat para sahabatnya menuai bahagia. Dan tentu juga Ibu Santi merasa bahagia karena telah menabur kebaikan pada jalan-jalan kebenaran.

Kita tidak akan pernah tahu karakter seseorang sampai “sesuatu terjadi”, entah baik, entah buruk. Setiap peristiwa yang terjadi akan mengeluarkan karakter seseorang sebagai respons atas kejadian atau peristiwa tersebut. Artinya, “persahabatan yang terbaik tidak dapat dipastikan sampai kita berada di titik terendah dan melihat tangan mana yang terulur menolong, kaki mana yang datang melihat kondisi kita, mulut mana yang mendoakan kita, dan telinga mana yang siap mendengar keluh kesah kita.” Prinsip ini telah teruji di sepanjang sejarah, bahwa seorang sahabat yang baik adalah dia yang senantiasa memberikan dorongan, bantuan, doa, perhatian, dan terlebih saling menguatkan satu dengan lainnya, dan bukan menjauhi kita bahkan menganggap kita sebagai “orang asing.”

Saya pernah mengalami hal buruk dan menyesakkan dada. Saya bersahabat dengan seseorang, tapi seketika ia berubah dan tidak lagi menegor saya, malah menjauhi saya. Ia sudah memiliki sahabat baru, dan saya pun adalah orang asing baginya. Ini karakter buruk karena terkesan menjadi “penjilat” – hanya mau bersahabat saat kondisinya aman, tapi pada saat ada ancaman bagi dirinya, sahabatnya pun ia korbankan; ia rela mencari tempat baru yang aman yang menjaga posisinya agar tetap aman. Ini pribadi yang buruk.

Ada satu kalimat yang ditulis seseorang: “Saya tidak menyesal jadi orang baik, tetapi menyesal pernah berbuat baik kepada orang yang salah”. Maksud dari kalimat tersebut adalah kadang-kadang kebaikan kita tidak dihargai tatkala seseorang mendapatkan sesuatu. Ia seketika berubah dan menganggap kita sebagai sosok asing, terasa tak dikenalnya, tak ditegurnya, dan dijauhinya. Ini pengalaman yang buruk bagi saya.

Seringkali orang mengukur persahabatan dengan atau dari materi. Ini bukanlah jenis persahabatan yang baik. Karena seketika kita tidak punya apa-apa, maka sahabat-sahabatmu yang hanya memperalat materi kita, akan meninggalkan kita. Sebaliknya, sahabat yang selalu menopang dan mendoakan kita, akan tetap menemani pada titik terendah sekalipun.

Ketika persahabatan dibalut dengan “sikap saling mendoakan” barulah persahabatan itu mencapai puncak kesuksesannya. Itulah prinsip yang selama ini saya pegang. Saling mendoakan adalah hal yang indah karena Tuhan menghendaki kita saling mendoakan.

Fragmen persabahatan mencakup kepedulian, saling menopang dan menguatkan, saling mendukung, saling menasihati, saling memperhatikan satu dengan yang lain dalam hal-hal kerohanian, dan saling menyatakan integritas. Ini adalah fragmen yang penting bagi kita yang menjalin persahabatan, agar tercipta persahabatan yang baik, yang terpuji, dan berkesan.

woman in white dress walking on pathway between trees during daytime

Fragmen tersebut kudapati dalam persahabatan dengan Ibu Santi (juga dengan beberapa sahabat saya di satu institusi). Hal penting yang dapat saya simpulkan adalah bahwa “persahabatan yang berkesan dan berkualitas ketika karakter dan integritas kita memiliki persamaan”. Persahabatan seperti ini akan menjadi kuat dan bertahan di sepanjang hidup.

Ada satu pepatah yang mengatakan: “Jangan bermimpi [mendapatkan] bintang di langit, jika rumput di bumi engkau tak tahu. Jangan berkhayal [mendapatkan] mutiara di lautan, jika pasir di pantai engkau lupakan.” Pepatah ini sangat menarik dan memberi kita pesan bahwa “untuk mencapai persahabatan yang terbaik, jangan melupakan proses yang membentuknya.” Jangan memimpinkan hal-hal yang tinggi jika kita melupakan hal-hal yang rendah, di mana kita berpijak. Melihat bintang di langit tidak salah, tetapi jangan melupakan “rumput” yang kita pijaki. Jangan berharap mendapatkan perilaku yang baik dari orang lain sedangkan dirimu memberi perilaku buruk kepada sahabatmu. “Jangan bermimpi mendapatkan perhatian, jika dirimu tak lagi menegurku. Jangan berkhayal mendapatkan mutiara, jika dirimu menabur kerikil pada jalanku”.

Pesan-pesan persabatan yang demikian setidaknya mendorong kita untuk memperhatikan karakter kita masing-masing dan kemudian memperlihatkan karakter yang terbaik, yang didapatkan dari proses yang panjang, agar sabahat-sahabat kita dapat mengikuti teladan hidup kita. Ibu Santi adalah sahabatku. Meski terpisah secara institusi atau lembaga atau kantor, hal itu bukanlah pertanda bahwa persahabatan berakhir. Ibu Santi adalah satu satu SAHABAT YANG DIKIRIM TUHAN kepada saya. Saya sangat bersyukur akan hal itu.

Mengakhiri tulisan singkat ini, saya menandaskan sebuah prinsip penting: Pertama, semua proses pembelajaran dan pengetahuan yang kita miliki akan berguna bagi kehidupan kita yang dengannya kita memberi diri untuk dinilai, dikasihi, dan dicintai oleh orang lain. Bahkan dari situlah kita menciptakan “kehidupan” yang layak “dihidupi”. Persahabatan adalah kehidupan yang layak dihidupi. Kita membutuhkan sahabat, tetapi sahabat yang baik, berintegritas, dan penuh kasih.

Kedua, “persahabatan adalah fragmen iman; di dalam persahabatan kita meluapkan kasih, sukacita, harapan, dan damai sejahtera.”

Ketiga, dalam persahabatan, jangan meninggalkan integritas kita, sebab dialah yang membawa kita ke puncak karakter yang sesungguhnya. Karena dengan integritaslah, persahabatan kita menjadi kuat, bermakna, dan bertahan.

Semoga kenangan yang tercipta selama ini – dalam persahabatan – mendorong kita untuk semakin lebih baik, semakin menyemai kasih dan kemurahan di setiap jalan hidup kita, di setiap persahabatan kita, hari ini, besok, dan seterusnya.

Terima kasih Ibu Santi atas kesediaan Ibu untuk bersahabat dengan saya. Kasih dan kebaikan Ibu menjadi kisah menarik dalam hidup saya dan sekaligus menjadi “buah bibir” yang patut diceritakan kepada mereka yang ingin membangun dan memahami apa itu persahabatan.

Salam Bae….

Sumber gambar:

  1. https://unsplash.com/s/photos/friends-together
  2. https://unsplash.com/photos/MJNbBLx9W5U

GURATAN HATI BUAT SAHABAT-SAHABAT TERBAIK

“Persahabatan adalah proses pertunjukkan karakter dan pembentukan karakter. Di dalamnya ada proses saling mempengaruhi, saling meneladani, dan saling mengasihi. Tak ada persahabatan yang lebih baik selain dari bagaimana tercipta rasa kasih yang tulus dan perwujudan integritas yang dituangkan di gelas-gelas hati para sahabat kita.” – Stenly R. Paparang. LAKONISME.

Ada saatnya kita bertemu, ada pula saatnya kita berpisah. Bagi seorang sahabat, perpisahan bukanlah akhir dari perealisasian kasih dan kebaikan. Selalu tersedia waktu dan kesempatan bagi kita untuk dapat memperlihatkan kasih dan kebaikan, ditaburkan dalam sukacita dan menyediakan harapan di masa mendatang bahwa kasih dan kebaikan yang telah ditaburkan akan menghasilkan kuncup-kuncup bunga kebenaran yang menguatkan karakter kita. Ia akan mekar mewangi. Dan itu sangat indah.

Guratan hati yang singkat ini adalah refleksi persahabatan yang terjalin indah sejak saya masuk STT Moriah. Dua Ibu yang menyambut saya pertama kali adalah Ibu Youke Singal dan Ibu Maria Patricia Tjasmadi. Mereka berdua ibarat Alfamart dan Indomaret yang menyediakan berbagai jenis makanan dan kebutuhan lainnya saat saya masuk bertamu ke ruangan mereka. Menyusul Ibu Carol Nababan, Ibu Peni Hestiningrum, dan Ibu Roce.

Suka duka terjalin indah dalam proses waktu selama empat tahun. Ada canda, ada tawa, ada konflik kecil-kecilan. Semuanya menarik untuk dibahas sekaligus sedang membentuk karakter untuk semakin kuat dan berpengaruh. Tapi ini bukan akhir dari persahabatan. Tetap akan berjalan seperti biasanya, hanya beda lokus kerja saja.  Tidak ada akhir dari persahabatan yang tulus.

Di akhir masa kerja di STT Moriah, saya berkeinginan membuat satu tulisan untuk sahabat-sahabat saya, yang semuanya adalah perempuan-perempuan hebat, peduli, dan sangat baik. Penilaian tersebut adalah fragmen yang saya kumpulkan selama empat tahun. Tak salah jika saya menyebut mereka adalah “SAHABAT-SAHABAT YANG TUHAN KIRIMKAN” untuk saya.

Perpisahan kerja bukanlah akhir dari kebaikan yang ada dalam diri kita. Perpisahan kerja bukanlah akhir dari kebahagiaan, bukanlah akhir dari “kasih yang telah kita tabur”. Kasih itu sendiri akan menjadi pegangan dan akan terus ditaburkan selama kita hidup. Ini prinsip yang hakiki bagi seorang Kristen.

Saya mengenal Ibu-Ibu yang hebat bukanlah sebuah kebetulan. Semuanya karena kemurahan Tuhan semata. Saling memahami, saling mengenal adalah proses dalam sebuah persahabatan. Meski persahabatan yang terjalin hanya dalam konteks pekerjaan, tetapi Ibu-Ibu hebat telah menunjukkan karakter dan kebaikan. Semuanya ditaburkan dengan ketulusan.

Suatu saat, semua yang ditaburkan akan berbuah lebat, dan kita tinggal memetiknya, kemudian kita berbagi dengan yang lain, memberi makan bagi yang lapar, memberi minum bagi mereka yang dahaga, dan memberi penghiburan bagi mereka yang berduka cita. Dan itu hanya dapat dilakukan oleh mereka yang percaya bahwa semua yang kita miliki adalah kepunyaan Tuhan. Kita bertindak atas nama Tuhan, Sang Khalik, yang telah menolong, dan memberi kehidupan. Demikian pula kita mendasari setiap gerak dan tindakan kita dari apa yang telah Tuhan buat bagi kita secara pribadi.

Setiap persahabatan yang terjadi akan mengeluarkan karakter seseorang sebagai respons atas kejadian atau peristiwa tersebut. Saya bersyukur karena dapat menjadi bagian dari persahabatan ini; bersahabat dengan Ibu-Ibu yang hebat tadi.

Setiap sahabat memiliki karakter yang berbeda, tetapi di satu sisi, karakter itu menjadi menyatu antara satu dengan lainnya pada aspek “kasih dan kebaikan”. Kita berbuat baik bukan karena terpaksa, tetapi karena Tuhan telah menyatakan kebaikan-Nya pada kita. Tak ada alasan untuk menahan kebaikan bagi orang yang layak menerima kebaikan kita. Itu prinsip yang sangat mendasar.

Persahabatan jangan diukur dari materi. Jika demikian, pasti kita akan kecewa. Ukurlah persahabatan itu dari kasih dan kebaikan yang tulus diberikan kepada sesama sahabat. Saling menolong dan menopang adalah tanda persahabatan sejati. Ada fragmen lainnya yang saling mengikat untuk membentuk persahabatan menjadi semakin kokoh. Kita dapat mendaftarkannya di sini.

Bersahat juga perlu saling mendoakan. Itu jauh lebih baik, ketimbang saling memanfaatkan satu dengan lainnya. Ada sahabat yang menjauh saat ia menemukan temannya yang baru, dan kita pun dianggap sebagai “orang asing”. Tidak demikian dengan Ibu-Ibu hebat ini. Mereka secara tulus berbagi kasih, kisah, kepedulian, dan berbagi teladan. Pembelajaran terbaik bisa didapatkan dari proses bersahabat. Dan itulah yang terjadi dan yang saya alami.

Setiap hal yang akan kita kerjakan, haruslah sepenuhnya “benar” menurut kehendak Tuhan. Janganlah membiarkan masuk segala cara yang tidak baik dalam persahabatan. Itu akan menodainya. Yakinlah bahwa persahabatan yang terbaik adalah saat kita sadar bahwa lokus bukanlah hambatan atau halangan untuk berbagi kisah, kasih, dan kebaikan.

Kisah, kasih, dan kebaikan tidak pernah dipasung oleh jarak atau lokus. Mereka [kisah, kasih, dan kebaikan] akan senantiasa datang pada waktu yang tidak kita duga. Taburan-taburan kisah, kasih, dan kebaikan, pada saatnya akan menghasilkan sesuatu yang berguna bagi kehidupan kita.

Kita pun tak boleh melupakan bahwa kasih setia Tuhanlah yang menjadikan kita menemukan sahabat-sahabat terbaik, sahabat-sahabat yang peduli, sahabat-sahabat yang mengerti kondisi kita dan mendukung kita dalam doa-doa mereka. “Persahabatan adalah kehidupan yang layak dihidupi. Kita membutuhkan sahabat, tetapi sahabat yang baik, berintegritas, dan penuh kasih.”

Semoga kenangan yang tercipta selama ini – dalam persahabatan – mendorong kita untuk semakin lebih baik, semakin menyemai kasih dan kemurahan di setiap jalan hidup kita, di setiap persahabatan kita, hari ini, besok, dan seterusnya.

Melalui guratan hati ini, saya mengucapkan terima kasih kepada Ibu Youke Singal, Ibu Maria Patricia Tjasmadi, Ibu Peni N. Hestiningrum, Ibu Carol Nababan, dan Ibu Roce Marsaulina atas kesediaan kalian semua dalam berbagi kisah, kasih, dan kebaikan. Terima kasih juga telah menjadi sahabat-sahabatku yang keren dan baik, serta peduli. Kiranya kisah, kasih, dan kebaikan yang telah tertabur dalam persahabatan ini akan menjadi “buah bibir” yang patut dibagikan kepada mereka yang ingin membangun dan memahami apa itu persahabatan yang sejati. Tuhan Yesus memberkati kita semua.

Salam Bae….

Rancang situs seperti ini dengan WordPress.com
Mulai