
Sepatu tidak pernah malu dan tak pernah mengeluh. Yang malu dan mengeluh adalah pemakainya. Kita bangga menggunakan sepatu mahal di depan umum, tetapi pada saat sama ada orang yang malu menggunakan sepatu rusak. Kita malu karena pikiran kita beranggapan bahwa orang lain akan menganggap saya aneh padahal tidak sesederhana itu.
Mungkin ada orang yang merasa terhibur ketika kita menggunakan sepatu rusak apalagi sepatu yang menganga seperti buaya membuka mulutnya. Kita malu dan bangga dan perasaan tersebut kita lekatkan pada orang lain. Tapi tidak semua orang berpikir seperti yang kita pikirkan. Kita menggunakan sepatu sesuai dengan keperluannya. Ada sepatu kerja, ada sepatu roda. Ada sepatu olahraga, ada sepatu ke gereja. Ada sepatu santai, ada sepatu style. Ada sepatu perang, ada sepatu gunung.

Sepatu memiliki beragam warna. Sepatu memiliki beragam model. Sepatu memiliki beragam ukuran. Sepatu memiliki beragam harga, dan sepatu memiliki beragam kualitas dan merek. Jika kita memahami filsafat sepatu dalam korelasinya dengan pelayanan Kristen, kadang kita merasa malu dan berpikir bahwa orang lain berpikir itu adalah pelayanan yang kurang mantap. Namun, kita lupa bahwa definisi dan jenis pelayanan tidak diukur berdasarkan apa yang disukai orang lain sebab tidak ada pelayanan yang dapat memuaskan semua pihak. Jadi, pelayanan Kristen itu tumbuh dari kesadaran iman dan pola pikir kita. Kadang, pikiran kita yang kerdil membuat kita malu dan mengeluh sama seperti pemakai atau pengguna sepatu.

Kadang pula, dari konteks sepatu, kita mengukur sukses tidaknya seseorang dengan sepatu yang dikenakannya. Padahal, siapa saja bisa membeli sepatu dengan harga 2 juta atau 3 juta dan seterusnya. Tetapi perlu diingat, sepatu jenis apapun dan harga berapa pun, tetap menginjak tanah yang sama, tetap menaiki tangga yang sama, dan menuruni bukit yang sama. Sepatu mencerminkan jati diri kita tetapi bukan diukur dari harganya yang mahal tetapi diukur dari kepuasan bahwa sepatu yang kita kenakan pas di kaki kita.
Dapat dibayangkan jika ada sepatu yang harganya 5 juta tetapi sempit atau longgar di kaki kita. Orang-orang mungkin tidak akan berfokus pada harga sepatu tetapi pada kaki dan sepatu yang tidak sinkron. Bahkan mungkin saja menjadi hiburan atau lelucon yang memuaskan. Filsafat sepatu ini perlu kita pahami secara baik. Sepatu yang pas membawa kepuasan bagi pemakainya berapa pun harganya. Demikian pula dengan pelayanan kita. Pelayanan yang pas membawa kepuasan bagi mereka yang melayani.

Filsafat sepatu perlu dilihat melalui aspek-aspek berikut ini:
Ada orang yang berniat menggunakan sepatu mahal
Ada orang yang berniat membeli sepatu mahal atau murah meriah
Ada orang yang berniat memerlukan sepatu
Ada orang yang berniat meminjam sepatu
Ada orang yang berniat meminjam sepatu dan tak mau mengembalikannya
Ada orang yang berniat melempar orang lain dengan sepatu
Ada orang yang bermimpi punya sepatu roda
Ada orang yang ingin membelikan sepatu buat pasangannya atau orang yang dikasihinya, dan sejumlah niat, keinginan, dan rencana dengan sepatu yang diinginkannya.
Sepatu tak pernah malu dan mengeluh. Ia setia menemani pemakainya selama pemakainya menggunakannya. Sepatu tidak pernah meminta dirinya untuk dilepaskan. Ia tidak pula meminta undur diri dalam pertemuan atau pun pertempuran.
Sepatu tak meminta dirinya untuk mencelakai orang lain apalagi pemakainya. Meski kita tahu bahwa sepatu kadang menjadi alat untuk melempar orang yang atau menendang orang lain. Setelah manusia memakainya, ia pun dibiarkan sendiri, tanpa hiburan. Ia ditempatkan di sudut ruangan atau bahkan digantung di mana saja.
Sepatu adalah pahlawan tanpa tanda jasa setelah para guru menerima julukan tersebut. Guru yang adalah pahlawan tanpa tanda jasa juga menggunakan sepatu. Ia setia menemani. Sepatu adalah teman setia yang menunjang penampilan dan rasa percaya diri di depan umum.
Filsafat sepatu adalah refleksi dari cara berpikir manusia untuk menemukan makna di balik sepatu yang adalah teman setia; sepatu yang meningkatkan harga diri sekaligus merendahkan harga diri; sepatu yang tidak mengomel. Ia menemani sampai ia sendiri tak lagi dibutuhkan.

Sepatu, engkau adalah sahabatku yang dapat memberiku berkat melimpah dalam pekerjaan dan pelayanan. Pelayanan adalah ladang untuk saya bekerja dengan menggunakan sepatu, entah sepatu bagus, sepatu yang sudah rusak kulitnya atau sepatu yang pas di kaki. Terima kasih sepatuku. I love You.
Stenly R. Paparang. “SEPATU TIDAK PERNAH MALU DAN MENGELUH: MEMAHAMI FILSAFAT SEPATU”
Salam Bae…..
Sumber gambar: Pinterest










































