Teologi yang berguna berarti memperlihatkan sebuah tindakan iman dan kesadaran spiritual tentang bagaimana bermisi melalui pewartaan Kabar Baik (Injil Yesus Kristus), melalui tindakan-tindakan iman, dan melalui karya-karya literatur. Dalam konteks ini, Sekolah Tinggi Teologi Injili Arastamar atau yang dikenal dengan sebutan SETIA (atau STT SETIA Jakarta), telah memperlihatkan “teologi yang berguna” tersebut. Hal ini tampak pada prinsip misi dan pelayanan gerejawi yang dikerjakannya. Bersama dengan Sinode Gereja Kristen Setia Indonesia (GKSI), STT SETIA terus berupaya mengembangkan berbagai bentuk pelayanan dan gerakan misi di pedesaan sampai saat ini.
Dari buah-buah misi dan pelayanan pedesaan yang telah dikerjakannya, SETIA berkomitmen untuk mendukung program pemerintah dalam mengembangkan desa, bahkan desa tertinggal sekalipun. Teologi yang berguna itu, telah memberi dampak yang luas di Indonesia, terutama di wilayah-wilayah pedesaan. Goresan-goresan pelayanan gerejawi yang dihasilkannya, menambah daftar panjang prestasi gemilang STT SETIA Jakarta.
Karya misi SETIA sudah terkenal sampai ke luar negeri. Militansi para mahasiswa dan alumninya tak bisa diabaikan begitu saja. Ketika uji nyali soal misi pedalaman, SETIA masuk dalam daftar itu. Wilayah terpencil bukanlah halangan bagi SETIA untuk mengembangkan pelayanan dan misinya. Keyakinan akan pimpinan Tuhan Yesus membawa SETIA ke puncak prestasinya yang luar biasa. Dengan membawa karakter pendoa, pekerja, pemberani, dan pejuang, SETIA semakin di depan dalam konteks melayani, merintis gereja, merintis sekolah, mewujudkan misi lintas suku, budaya, dan bahasa. Kesadaran misi inilah yang terus dikumandangkan hingga detik ini.
Bermisi melalui pewartaan Kabar Baik (Injil Yesus Kristus) telah mendarah-daging di benak para mahasiswa dan alumni SETIA. Tindakan-tindakan iman turut mewarnai kancah misi dan pelayanan pedesaan. Karya-karya literatur pun meramaikan dunia perteologian di Indonesia maupun di kancah internasional. SETIA jangan dianggap remeh!
Ada suara-suara yang menyepelehkan SETIA. Entah bagaimana sampai suara-suara itu bisa mencuat ke permukaan. Tapi, sudahlah. Pembuktiannya bukan hanya soal akademis saja, tapi bagaimana sebuah sekolah tinggi teologi dan sejenisnya dapat berkontribusi di berbagai bidang termasuk misi dan pelayanan pedesaan (di sanalah kaum papa yang harus kita perhatikan).
Berteologi itu bukan melulu pamer ijazah dan nilai akreditasi, tetapi juga bagaimana konteks pelayanan dan misi itu dapat dikerjakan dengan serius. Sejak awal berdirinya, Pdt. Dr. Matheus Mangentang, pendiri SETIA (dulunya disebut dengan Seminari Theologia Injili Arastamar), menfokuskan sekolah ini untuk misi dan pelayanan pedesaan. Karakter misi ini menjadi kuat dari tahun ke tahun hingga menghasilkan banyak “gereja” dan “sekolah” (berbagai jenjang).
Tak dapat dipungkiri bahwa Amanat Agung Yesus Kristus (Matius 28:19-20) telah menjadi patron abadi bagi SETIA. Perjuangan yang tak kenal lelah, meski dengan segala keterbatasan, SETIA tetap eksis, dinamis, dan misioner. SETIA terus berkarya bagi Tuhan Yesus. SETIA berkomitmen untuk terus menghasilkan buah-buah dari misi dan pelayanan pedesaan. SETIA telah menuai pekerjaan misi dan pelayanan yang telah puluhan tahun dikerjakan. Dengan begitu, kekuatan dan hasil yang telah dicapai, menjadi wacana teologi lokal untuk memberikan kontribusi bagi kemajuan pekerjaan Tuhan di bumi Nusantara ini.
Di usianya yang ke-35, SETIA tetap berdiri, kuat, dan solid dalam memajukan baik pelayanan pendidikan teologi dan pendidikan agama Kristen, misi di pedalaman-pedalaman, dan pelayanan pedesaan di seluruh Indonesia. Militansinya tetap terjaga. Mahasiswanya dilatih untuk melayani di gereja-gereja dan sekolah-sekolah. Para alumninya menjadi pemimpin Gereja dan sekolah-sekolah, dan masih banyak lagi. Ternyata, mereka yang setia melayani Tuhan akan menerima hasil yang berlimpah. Dan itu telah berbukti.
Aku menjadi bagian yang tak terpisahkan dari SETIA. Sebagai alumnus, semangat melayani tetap berkobar. Semangat untuk mendidik, mengajar, dan mendorong mahasiswa tetap dilakukan. Pelayanan di berbagai tempat terus dilakukan, tak menyerah, tetapi tetap semangat. “Melayani di ladang Tuhan sungguh manise”. Tantangan demi tantangan tak memupuskan semangat untuk bermisi dan melayani. Hambatan demi hambatan menjadikan aku semakin kuat di dalam iman. Aku tahu bahwa bekerja bagi Tuhan tidak akan menjadi sia-sia.
Aku, SETIA, dan Misi adalah satu kesatuan yang tak terpisahkan. “Aku” – yaitu semua orang yang menjadi bagian dari SETIA – perlu untuk tetap berkomitmen dalam bermisi, mencintai pekerjaan Tuhan dan hidup dalam terang firman-Nya. Ada jaminan yang disediakan Tuhan Yesus Kristus. Suka-duka melayani selalu ada. Tetapi Yesus Kristus senantiasa menopang, menghibur, dan menguatkan kita semua.
Setialah dalam melayani-Nya. Setialah dalam pekerjaan-Nya. Ucapkanlah syukur atas berkat yang diberikan-Nya di dalam hidup kita. Beritakan Injil-Nya, selamatkanlah jiwa-jiwa yang tehilang. Tetap setia pada-Nya, meski badai hidup kan menerjangmu.
SELAMAT TAMBAH UMUR BUAT ALMAMATERKU TERCINTA: STT SETIA JAKARTA. Tuhan Yesus memberkati, menopang, menolong, dan menyertai senantiasa, sampai maksud dan rencana Tuhan tergenapi.
Pada setiap perjuangan hidup manusia, ada “harap” yang menjadi tujuannya. Harap tersebut adalah bagian dari keyakinan manusia untuk mendapatkan atau menemukan sesuatu yang membuatnya puas, bahagia, sejahtera, aman, sentosa, dan merdeka. Akan tetapi, harap itu juga bisa bernada positif maupun negatif, tergantung dari siapa yang berharap. Orang yang munafik memiliki banyak harapan yang terhubung dengan kelicikan dan kesombongannya. Orang baik dan berintegritas memiliki beberapa harapan (yang berkualitas, jujur, dan bermanfaat bagi banyak orang).
Ruas-ruas kehidupan manusia diisi dengan banyak keinginan untuk menunjukkan identitas diri maupun kesombongan diri. Sejalan dengan itu, manusia berlomba-lomba untuk tampil menarik agar dapat dibaca oleh khalayak. Konteks tersebut menunjukkan bahwa manusia memiliki dua sisi kehidupannya: satu sisi mengandung harap, dan sisi lain mengandung tindakan-tindakan yang mendukung harap itu sendiri.
Tak ada yang dapat ditawarkan manusia selain identitasnya dan tindakan-tindakannya. Itulah yang tampak ke permukaan. Kita bergegas untuk bekerja menghasilkan buah, kita berharap semuanya akan baik-baik saja, kita berpikir tentang bagaimana keluar dari berbagai persoalan kehidupan, dan kita beriman bahwa tangan Tuhanlah yang senantiasa menjaga dan menopang: Ia mengasihi kita yang setia kepada-Nya.
Setiap peristiwa membentuk perspektif kita tentang fakta lampau di mana kita menghubungkannya dengan kuasa Tuhan, iman, dan harapan kita. Yang menarik adalah, ketika kita memiliki perspektif tentang fakta lampau dari aspek-aspek yang mengikatnya, kita mendapatkan makna dan pesan di dalanmnya. Makna kehidupan terbentuk bukan hanya satu alasan, tetapi banyak alasan, banyak peristiwa, banyak kejadian, dan bagaimana Tuhan turut campur tangan di dalamnya. Ialah yang senantiasa memberkati dan menguatkan kita menghadapi bertangan tantangan dan pergumulan. Tanpa-Nya, sia-sialah hidup yang kita jalani, tanpa harapan yang pasti. Dialah yang menggenggam masa depan kita: “masa depan sungguh ada dan harapan tak akan hilang” jika kita hidup di dalam firman-Nya.
Kita membentuk sebuah perspektif tentang kehidupan. Perspektif itulah yang akan memandu bagaimana caranya kita akan hidup, bagaimana mencapai harapan, menyenangkan diri sendiri dan orang-orang terdekat kita, bagaimana meraup keuntungan sebanyak mungkin, menyingkirkan orang lain, menjadi penjilat, memuaskan birahi kemunafikan, bagaimana cara menipu orang lain untuk kepentingan diri sendiri, bagaimana bermuka dua, mencari muka di depan banyak orang, berpura-pura bersikap rohani, bagaimana menunjukkan integritas, kebaikan, kasih, iman, dan bagaimana menunjukkan kualitas tindakan-tindakan.
Menaruh harap pada Tuhan adalah tindakan yang tepat. Inilah kesaksian yang dituangkan dalam Alkitab:
Ratapan 3:21-25, Tetapi hal-hal inilah yang kuperhatikan, oleh sebab itu aku akan berharap: Tak berkesudahan kasih setia TUHAN, tak habis-habisnya rahmat-Nya, selalu baru tiap pagi; besar kesetiaan-Mu! “TUHAN adalah bagianku,” kata jiwaku, oleh sebab itu aku berharap kepada-Nya. TUHAN adalah baik bagi orang yang berharap kepada-Nya, bagi jiwa yang mencari Dia.
Mazmur 31:25, Kuatkanlah dan teguhkanlah hatimu, hai semua orang yang berharap kepada TUHAN!
Mazmur 33:18, Sesungguhnya, mata TUHAN tertuju kepada mereka yang takut akan Dia, kepada mereka yang berharap akan kasih setia-Nya
Mazmur 33:22, Kasih setia-Mu, ya TUHAN, kiranya menyertai kami, seperti kami berharap kepada-Mu.
Mazmur 39:8, Dan sekarang, apakah yang kunanti-nantikan, ya Tuhan? Kepada-Mulah aku berharap.
Mazmur 71:14, Tetapi aku senantiasa mau berharap dan menambah puji-pujian kepada-Mu
Mazmur 119:43, Janganlah sekali-kali mencabut firman kebenaran dari mulutku, sebab aku berharap kepada hukum-hukum-Mu.
Mazmur 119:74, Orang-orang yang takut kepada-Mu melihat aku dan bersukacita, sebab aku berharap kepada firman-Mu.
Mazmur 119:81, Habis jiwaku merindukan keselamatan dari pada-Mu, aku berharap kepada firman-Mu.
Mazmur 119:114, Engkaulah persembunyianku dan perisaiku; aku berharap kepada firman-Mu.
Mazmur 119:147, Pagi-pagi buta aku bangun dan berteriak minta tolong; aku berharap kepada firman-Mu.
Mazmur 147:11, TUHAN senang kepada orang-orang yang takut akan Dia, kepada orang-orang yang berharap akan kasih setia-Nya.
Yeremia 17:7-8, Diberkatilah orang yang mengandalkan TUHAN, yang menaruh harapannya pada TUHAN! Ia akan seperti pohon yang ditanam di tepi air, yang merambatkan akar-akarnya ke tepi batang air, dan yang tidak mengalami datangnya panas terik, yang daunnya tetap hijau, yang tidak kuatir dalam tahun kering, dan yang tidak berhenti menghasilkan buah.
Menaruh harap pada manusia, adalah tindakan yang ceroboh. Apa yang Alkitab katakan tentangnya?
Yesaya 2:22, Jangan berharap pada manusia, sebab ia tidak lebih dari pada embusan nafas, dan sebagai apakah ia dapat dianggap?
Yeremia 17:5-6, Beginilah firman TUHAN: “Terkutuklah orang yang mengandalkan manusia, yang mengandalkan kekuatannya sendiri, dan yang hatinya menjauh dari pada TUHAN! Ia akan seperti semak bulus di padang belantara, ia tidak akan mengalami datangnya keadaan baik; ia akan tinggal di tanah angus di padang gurun, di negeri padang asin yang tidak berpenduduk.
Yesaya 36:6 Sesungguhnya, engkau berharap kepada tongkat bambu yang patah terkulai itu, yaitu Mesir, yang akan menusuk dan menembus tangan orang yang bertopang kepadanya. Begitulah keadaan Firaun, raja Mesir, bagi semua orang yang berharap kepadanya.
Selalu ada konteks pembeda di antara berhadap kepada Tuhan dan berharap kepada manusia. Tapi ada jenis ketiga yaitu mereka yang berharap pada Tuhan sekaligus berharap sesuatu dari kekuatan penipuan dan kemunafikannya. Adalah hal yang sangat menakutkan jika kita berada pada posisi ini. Mengerikan! Mereka yang berada pada posisi ini seringkali tidak membaca bagaimana cara Tuhan menegur. Jika kecelakaan tidak membuat mereka bertobat dan menyesali dosa-dosa penipuan dan kemunafikan, kematianlah yang akan mengakhiri kehidupan mereka.
Ada orang yang memang sudah terbiasa hidup dengan cara menipu. Tuhan menegurnya, tetapi masih juga belum sadar dan tetap melakukan cara-cara menipu seperti yang dilakukannya. Kondisi ini sangatlah menyedihkan, sebab jika ia tak sadar akan tindakan-tindakannya, pasti ada cara lain yang Tuhan sediakan untuknya. Kita dapat belajar dari fenomena ini. Kita pun harus menjaga diri, jangan sampai hidup dalam segala kepahitan, dendam kesumat, kemunafikan, penipuan, dan kesombongan. Tuhan punya banyak cara untuk menegur ataupun membentuk pribadi kita.
Menaruh harap pada Tuhan menghasilkan berkat yang luar biasa. Menaruh harap pada manusia menghasilkan kesedihan dan kecelakaan semata. Anda ingin berharap pada manusia? Temukanlah hasil-hasilnya. Anda ingin hidup dengan terus menipu orang lain? Temukanlah hasil-hasilnya. Hidup Anda berada dalam bahaya.
Berharaplah kepada Tuhan sebab Ia baik. Pada Dia ada hidup dan harapan. Pada Dia adalah keselamatan dan sukacita. Ia sungguh baik dan teramat baik.
“TUHAN itu baik dan benar; sebab itu Ia menunjukkan jalan kepada orang yang sesat” (Mazmur 25:8).
“Sebab TUHAN itu baik, kasih setia-Nya untuk selama-lamanya, dan kesetiaan-Nya tetap turun-temurun” (Mazmur 100:5).
“Pujilah TUHAN, sebab TUHAN itu baik, bermazmurlah bagi nama-Nya, sebab nama itu indah!” (Mazmur 135:3).
“TUHAN itu baik kepada semua orang, dan penuh rahmat terhadap segala yang dijadikan-Nya” (Mazmur 145:9).
“… Bersyukurlah kepada TUHAN semesta alam, sebab TUHAN itu baik, bahwasanya untuk selama-lamanya kasih setia-Nya! …” (Yeremia 33:11).
“TUHAN itu baik; Ia adalah tempat pengungsian pada waktu kesusahan; Ia mengenal orang-orang yang berlindung kepada-Nya” (Nahum 1:7)
Jika kita tahu bahwa Tuhan itu baik, mengapa masih menipu dan melakukan tindak kejahatan? Jika kita menaruh harap pada Tuhan, mengapa masih ragu akan pemeliharaan-Nya? Kita selalu punya pilihan. Kita diperhadapkan dengan banyak pilihan. Jika kita salah memilih, itu akan berdampak buruk.
Harapan kita kepada Tuhanlah yang membuat hidup kita bermakna, menjadi berkat, hidup dalam kebenaran, menjadi teladan dalam kata, perbuatan, dan pikiran. Kita senantiasa memperkatakan kebenaran dan bukan dusta. Kita melakukan kebenaran Tuhan, dan bukan kebenaran dari dusta yang kita ciptakan. Harapan hidup adalah salah satu aspek penting yang perlu kita renungkan. Orang yang munafik memiliki banyak harapan yang terhubung dengan kelicikan dan kesombongannya (mencakup bagaimana ia dapat menyingkirkan orang lain, menikmati hasil kemunafikannya, mencari cara menjatuhkan orang lain, berpura-pura sibuk dan menawarkan sejumlah opini supaya terkesan dia bekerja paling sibuk dari yang lain, suka mencari kambing hitam, berpura-pura jadi pahlawan, berpura-pura baik untuk tujuan menjilat, dan itu, dan lain sebagainya). Orang baik dan berintegritas memiliki beberapa harapan yang berkualitas, yang jujur, dan bermanfaat bagi banyak orang. Ia berharap bahwa tindakan-tindakannya telah selaras dengan firman Tuhan. Itu saja!
Apa yang dapat kita lakukan sekarang? Masih adakah waktu untuk mengubah hal-hal buruk yang telah kita lakukan? Tentu ada! Waktu yang Tuhan berikan adalah berharga. Jangan menundanya. Jangan menjadi semakin beringas dengan tindak kejahatan serta penipuan kita setelah kita mengalami kecelakaan. Stop, dan lakukanlah kebenaran Tuhan, sebelum terlambat. Tangan Tuhan selalu terulur bagi kita. Ia mengasihi orang-orang yang mengasihi-Nya. “Kita tahu sekarang, bahwa Allah turut bekerja dalam segala sesuatu untuk mendatangkan kebaikan bagi mereka yang mengasihi Dia, yaitu bagi mereka yang terpanggil sesuai dengan rencana Allah” (Roma 8:28).
Jangan menunda untuk bertobat. Jangan menunda untuk berbuat baik. Hargai waktu yang Tuhan berikan sebelum terlambat. Berharaplah kepada Tuhan: Mengapa engkau tertekan, hai jiwaku, dan gelisah di dalam diriku? Berharaplah kepada Allah! Sebab aku akan bersyukur lagi kepada-Nya, penolongku dan Allahku!” (Mazmur 42:6)
Saat kita memiliki sejumlah harapan ataupun keinginan untuk menjalani kehidupan, saat itu pula kita berpikir tentang apa dan bagaimana kita bertindak dengan mempertimbangkan masa lalu, masa kini, dan harapan di masa depan; atau barangkali hanya memikirkan tindakan di hari ini untuk mencapai tujuan secepat mungkin.
Kita merangkum hal-hal penting yang dapat dilakukan: semampunya. Barangkali ada di antara kita yang menghalalkan segala cara untuk suatu tujuan terselubung. Semuanya tidak lepas dari “karakter dan pontensi masing-masing”. Potensi dapat disetir sesuai keinginan, entah baik, entah buruk.
Merangkum sesuatu kadang terkesan sulit, kadang terkesan mudah. Begitu pula yang terjadi dengan “teologi”. Ada orang-orang tertentu yang merangkum (merumuskan) teologi dengan tujuan tertentu untuk mencari keuntungan terselubung. Ada yang hanya menaburkan ideologi pribadi yang dicampur dalam teologinya. Juga ada yang merumuskan teologi dengan arogansi sentimen terhadap doktrin denominasi lainnya. Pun tidak lepas dari ramuan teologi ala kadarnya, tanpa dasar, hanya modal kumur-kumur “ocehan yang hilang ingatan”.
Fenomena variasi perumusan teologi menawarkan sejumlah konteks berpikir dan menilai mana teologi yang sehat, mana teologi yang beracun, dan mana teologi yang merusak identitas iman Kristen. Sejatinya, teologi yang kita miliki dapat dengan mudah terhubung pada konteks kehidupan sehari-hari. Seringkali kebaikan seseorang menutupi keburukan teologinya, pula menutupi teologinya yang miring dan sesat.
Orang-orang tersebut jauh dari konsisten (memahami secara benar ajaran-ajaran Alkitab) untuk sebuah kekuatan teologinya. Yang ada hanya sebuah fenomena yang menonjolkan ambisi diri, membabi buta dalam berteologi, menunjukkan wajah kebodohan, dan tak pernah menghasilkan argumentasi yang bersinggungan langsung dengan “konteks Alkitab yang sesungguhnya” (tidak memahami natur hermeneutika secara kredibel), kecuali berpikir absurd dan ignoran, memuaskan kebodohan yang melekat di pikirannya.
Perjalanan berteologi menjadi rekam jejak kita masing-masing. Ada di antara kita yang tidak berniat untuk merangkum secara salah sebuah [konsep] teologi, melainkan hanya karena kurang mendalami sesuatu, sehingga pada titik tertentu melakukan kesalahan perangkuman, penafsiran, dan analogi. Biasanya, tipe orang seperti ini akan sadar bahwa apa yang dirumuskannnya adalah keliru, dan kemudian mengubahnya. Sekali lagi, orang seperti ini tidak berniat untuk menyesatkan dan tersesat, melainkan karena kurangnya mendalami (sesuatu) atau barangkali keterbatasannya dalam memahami sesuatu. Perubahan pemahaman itulah yang disebut dengan “di ujung rasa”.
Ada suatu perasaan bersalah pada “teologi” yang telah dirumuskan, bahkan dipercayai sebagai “kebenaran absolut”. Hal itu dapat terjadi karena seseorang tidak cukup paham tentang dogmatika, historika, biblika, dan praktika. Ia secara berani berurusan dengan konteks berteologi yang mana dalam berteologi ada fase “limitasi logika pada ruang ontologi eksistensi Allah”. Bahkan lebih dari itu, pola penafsiran “harfiah” menjadi lubang-lubang kebodohan yang membuat mereka terperosok tanpa sadar.
Perubahan berteologi di kemudian hari sebagai “di ujung rasa” lumrah terjadi. Namun, poin saya adalah: “bagaimana kita belajar tentang sesuatu hal secara komprehensif dan mengedepankan penafsiran koherensi (misalnya PL dan PB atau teks-teks tertentu dengan konteks yang kurang lebih sama)”. Kelemahan dari mereka yang memiliki rumusan teologi menyimpang dan bahkan menyesatkan hanya berada pada dua opsi: penafsiran harfiah tanpa melihat konteks secara utuh, dan membuang koherensi konteks mengenai sesuatu hal.
Mereka yang memiliki perumusan, pemahaman, dan penafsiran yang salah, sesat, dan menyimpang dari Alkitab, menafsirkan teks-teks Alkitab “sesuka hati” tanpa memperhatikan rambu-rambu hermeneutika, terutama masalah “konteks”. Skema utama dalam dunia hermeneutik adalah “konteks”. Konteks itu sendiri menarik semua fitur dalam penafsiran (mencakup: kata, frasa, klausa, kalimat, paragraf, perikop), sehingga menjadi satu kesatuan yang utuh. Di sinilah letak kelemahan dan kesalahan paling mendasar dari para bidat dalam memahami Alkitab.
Apakah ada fakta “di ujung rasa” pada mereka yang benar-benar bidat? Bisa ya, bisa tidak. Tetapi mayoritas dari para bidat adalah hidupnya berakhir dalam kebidatannya sendiri. Teologi miring mereka tetap berada pada alur konsistensi sebagaimana yang mereka percayai. Akan tetapi, peluangnya menjadi besar ketika di ujung rasa ada perubahan pemahaman pada dogma (ajaran) dan prinsip menafsir yang kredibel. Mereka pasti mendapatkan banyak manfaat dari keputusan “di ujung rasa” tadi.
“Di ujung rasa” menempatkan sebuah wajah teologi dan perkembangan teologi. Seseorang yang “ngotot” menafsir secara harfiah dan mengabaikan koherensi teks-teks, serta pemahaman secara komprehensif, sebenarnya telah membuang prinsip-prinsip dasar dalam penafsiran itu sendiri. Karena perasaan dan kebodohan mereka terlampau tinggi, maka mereka menindas kebenaran, dan menghasilkan “kebenaran” yang “dianggap benar”.
Teologi itu sendiri sedari awal muncul sebagai respons manusia terhadap sesuatu, dan merangkumnya menjadi pijakan iman, logika, etika, dan lain sebagainya. Teologi tertancap kuat di sanubari seseorang ketika didasarkan pada kebenaran Alkitab yang kredibel. Ini adalah awal dari teologi yang konsisten. Tidak hanya kekonsistenan teologi yang harus dipegang dan dipertahankan, tetapi juga bagaimana perjuangan teologi dalam menebarkan keharumannya kepada khalayak di pasar ide, dan juga di pasar kebodohan.
Teologi yang konsisten adalah prinsip yang benar dan harus dipegang teguh. Kita sendiri dalam meracik bentuk-bentuk teologi asalkan dasarnya harus jelas dengan mempertimbangkan penafsiran yang solid dan koherensi teks dan konteks. Niscaya, posisi teologi kita menjadi semakin kokoh dan membawa perubahan bagi kehidupan kita sendiri.
Di ujung rasa akan melabuhkan posisi teologinya kepada “aspek-aspek iman yang konsisten”. Kita berpijak harus kepada teologi yang konsisten. Kita harus mewartakan teologi yang konsisten. Kita harus menghidupi teologi yang konsisten. Para peramu teologi dan pelaku teologi haruslah hidup di dalamnya dan terus berdoa, bersandar pada Tuhan Yesus yang telah memberikan hikmat, akal budi, dan pengertian untuk dapat melakukan kehendak-Nya.
Mereka yang pada akhirnya berada “di ujung rasa” untuk menetapkan diri berada pada teologi yang konsisten akan mendapatkan sebuah kesadaran yang fundamental bahwa doktrin-doktrin yang telah diwariskan dari generasi ke generasi adalah sebuah upaya berpikir sekuat mungkin dalam memahami “misteri Allah” yang meskipun telah dinyatakan dalam sejarah umat manusia, tetap masih tersisa “ruang misteri”. Limitasi logika pada ruang ontologi eksistensi Allah adalah penegasannya. Kita tidak dapat masuk ke dalam eksistensi atau substansi Allah untuk mengetahui apa-apa saja yang ada di sana. Tidak sama sekali. Limitasi logika harus berakhir di sini. Yang kita tahu dan pahami hanyalah “penyataan Allah dalam sejarah” dengan seluruh fragmennya (Ia berfirman, Ia mencipta, Ia membuat mukjizat, Ia memilih, Ia menghukum, Ia menetapkan, Ia memelihara ciptaan-Nya, Ia berdaulat dan berkuasa atas segala sesuatu, dan masih banyak lagi).
Teologi yang konsisten – selaras dengan Alkitab patut mendapat perhatian dari iman kita. Kita dapat bertumbuh dalam pengenalan akan Allah di dalam Kristus Yesus dan juga melalui hubungan pribadi dengan-Nya dalam doa, penyembahan, ibadah, dan melakukan segala perintah-Nya. Kita akan terus berhadapan dengan rancangan-rancangan teologi yang berkilau-kilauan. Akan tetapi, seperti “lumen”, ia akan redup dan larut dalam penyesatan dan ketidaksadaran diri. Tugas kita sangatlah berat: memberi pertanggungjawaban kepada setiap orang yang meminta pertanggungjawaban.
Kita harus berteologi secara konsisten, mengaminkan segala karya Allah di dalam Kristus Yesus, memuliakan Dia yang telah menebus, mengampuni, dan menyelamatkan kita, manusia yang berdosa. Kita harus hidup secara konsisten di dalam firman-Nya. Kita terus bekerja bagi Dia yang memberi hikmat, akal budi, dan pengertian.
Tuhan telah memanggil kita untuk melayani-Nya. Lakukanlah itu semua dan tunaikanlah tugas pelayananmu di hadapan Dia, Sang Pemilik pelayanan dan kehidupan kita semua. Selalu tersedia waktu dan harapan bagi mereka yang telah hidup dalam kesesatan, kembali kepada teologi yang benar dan konsisten. Di ujung rasa adalah momen terbaik bagi seseorang untuk kembali kepada ajaran-ajaran yang benar. Jangan ngoceh sana ngoceh sini hanya menawarkan ajaran-ajaran yang beracun, merusak otak dan iman. Kembalilah kepada ajaran yang benar dan temukanlah Yesus Kristus yang sejati, kini, besok, dan selamanya. Amin!
Manusia menempati ruang kehidupan di mana ia dan “sesamanya” bersama-sama berjalan menapaki ruas-ruas hidup, merealisasikan diri, menciptakan segala sesuatu yang terhubung dengan prinsip bertahan hidup, dan meluapkan apa pun yang dipandang dapat mendukung kehidupan itu sendiri.
Sejatinya, setiap orang mendapatkan dirinya dalam keadaannya seperti sekarang ini. Keadaan tersebut adalah akumulasi dari banyak hal yang memperkuat, memperlemah, menghancurkan, mengecewakan, memulihkan, mengembangkan, meruntuhkan, membinasakan, dan lain sebagainya. Hampir setiap orang juga menginginkan hidupnya mengalami sesuatu yang tampak baik menurut dirinya sendiri. Segala sesuatu dapat dilakukan untuk memperlihatkan “identitas”.
Di sana sini, manusia bergulat dengan kehidupan. Di sana sini, manusia meracik waktu dan kehidupannya. Di sana sini, manusia menghembuskan ucapan lidahnya, kesombongannya, kemunafikannya, kebenciannya, keberdosaannya, kenajisannya, kebaikannya, kelemahannya, karyanya, dan masih banyak lagi, di mana hal-hal tersebut meluap dari “hati dan pikiran” manusia.
Tak jarang, orang-orang tertentu menjual integritasnya, menjual harga dirinya, menjual relasinya yang baik, hingga berubah menjadi relasi – dengan orang-orang tertentu – yang penuh kemunafikan dan sikap “nyaman sendiri”. Apa pun bisa dilakukan untuk mengamankan diri sendiri. Kompromi dan pelanggaran etis pun rela dilakukan hanya karena ingin terlihat “wow” di mata kenalan-kenalannya.
Lambat laun, kualitas diri seolah-olah terukur hanya karena seseorang tampil aneh dan “wow” di mata mereka yang brengsek dan munafik. Padahal, integritaslah yang membawa seseorang ke puncak karakternya, namun, demi sesuap nasi dan jabatan, ia rela membentuk dan memperlihatkan dirinya sebagai “orang yang sealiran dengan mereka yang munafik”.
Ada banyak hal yang terangkum untuk menentukan kualitas diri seseorang. Di dalam waktu, kita semua berjuang untuk merealisasikan harga diri. Di dalam waktu, kita semua memperlihatkan kualitas diri. Di dalam waktu, kita semua berjuang untuk bertahan hidup, berjuang untuk dihargai, dihormati, dicintai, dikasihi. Di dalam waktu, kita semua berharap tidak dibenci oleh orang lain. Di dalam waktu kita menaburkan kebaikan, kebencian, kebohongan, hipokrit, kecerobohan, kebodohan, sumpah palsu, penipuan, pemalsuan, keadilan, kebenaran, cinta kasih, racun lidah, gosip, dan kesombongan.
Di dalam waktu kita melihat bahwa ada orang-orang yang setia sampai mati dalam pekerjaan Tuhan, taat akan perintah-Nya, dan bersedia berjuang bagi pekerjaan Tuhan. Di dalam waktu pula, kita akhirnya disadarkan bahwa masih ada orang-orang penjilat dan munafik yang rela melacuri dirinya demi jabatan, harta kekayaan, popularitas, dan kenyaman diri sendiri (mencari zona aman agar tetap diakui sebagai bagian dari para pelaku kejahatan).m Ada banyak hal yang tak dapat kita selami; ada banyak hal yang tak dapat kita kerjakan; ada banyak hal yang tak dapat kita mengerti. Ternyata, ada hal-hal dapat memberi kita kedamaian, kenyamanan, sukacita, atau sebaliknya: peperangan (konflik), keresahan, dan kesedihan. Baik buruknya kondisi kita, ditentukan oleh kualitas diri. Kualitas itu sendiri ada yang positif, ada yang negatif.
Pada akhirnya, sisi positif dari kualitas diri mencakup tujuh aspek penting. Saya menyebutnya sebagai berikut:
Pertama, lidah. Lidah adalah salah satu anggota tubuh yang kecil, tetapi memiliki pengaruh yang besar. Karena alasan inilah, lidah dikaitkan dengan ucapan (perkataan) dan kemudian dalam skema yang lebih besar, lidah (perkataan) terkait erat dengan iman dan perbuatan. Lidah memainkan peran penting dalam hidup manusia. Identitas, karakter, dan personalitas manusia, seringkali diukur oleh lidah (perkataan).
Dengan lidah manusia meminta sesuatu kepada Tuhan dalam doa, kita memuji Dia. Lidah membentuk sikap dan jati diri kita. Lidah dapat berucap untuk menuduh Tuhan, mengutuk sesama manusia, mengucapkan saksi dusta. Lidah yang belum beres adalah pabrik dosa setiap hari.
Lidah adalah salah satu ukuran kualitas diri kita. Ketika seseorang membiasakan lidah untuk berkata dusta, maka ia akan dibesarkan oleh dusta. Kebenaran bagi dia hanyalah sebuah polesan kemunafikan dan bungkusan yang memalsukan dirinya yang pendusta. Jika ingin menjadi pribadi yang berkualitas terbaik, jagalah lidahmu dan senantiasalah berucap kepada Tuhan untuk memohon pertolongan, penyertaan, berkat, dan kemampuan untuk mengolah lidah agar menjadi berkat bagi sesama.
Kedua, karakter. Karakter adalah gambaran diri seseorang, yang memperlihatkan aspek sikap, perkataan, pemikiran, dan ungkapan-ungkapan diri sendiri. Karakter yang baik akan tampak dari perbuatan-perbuatan yang baik selaras dengan apa yang dikehendaki Tuhan.
Ketiga, relasi. Salah satu ukuran kualitas diri seseorang adalah relasi. Ada satu pepatah kuno yang berbunyi demikian: “Jika karakter seseorang tampak kurang jelas bagi Anda, lihatlah sahabat-sahabatnya.” Pepatah ini menjelaskan bahwa relasi seseorang sangatlah menentukan karakter dan harga dirinya, dan kita dapat menilai seseorang dari siapa sahabat-sahabatnya. Salomo dalam amsalnya menuliskan: “Siapa bergaul dengan orang bijak menjadi bijak, tetapi siapa berteman dengan orang bebal menjadi malang” (Amsal 13:20). “Siapa mengumpat, membuka rahasia, sebab itu janganlah engkau bergaul dengan orang yang bocor mulut” (Amsal 20:19). “Jangan berteman dengan orang yang lekas gusar, jangan bergaul dengan seorang pemarah, supaya engkau jangan menjadi biasa dengan tingkah lakunya dan memasang jerat bagi dirimu sendiri” (Amsal 22:24-25). “Jangan iri kepada orang jahat, jangan ingin bergaul dengan mereka” (Amsal 24:1). Jagalah relasi kita. Kita harus selektif untuk membangun relasi. Jangan merusak integritasmu untuk bergaul dengan para penipu dan orang-orang yang sombong.
Keempat, karya. Manusia memiliki potensi untuk berkarya. Karya adalah salah satu ukuran kualitas diri manusia. Karya memiliki nuansa relasional dan pengaruh. Karya yang berpengaruh memiliki dua aspek: positif dan negatif. Karya positif terkait erat dengan humanitas yang sejalan dengan kehendak Tuhan. Karya negatif terkait erat dengan pengrusakan, penipuan, mencari keuntungan diri sendiri, dan memaksa orang lain untuk setuju dengan karyanya, dan lain sebagainya. Oleh sebab itu, teruslah berkarya, termasuk berkarya bagi kemuliaan nama Tuhan.
Kelima, kasih. Ini adalah prinsip yang sering didengungkan Alkitab. Kasih menempati ruang kehidupan manusia dan membuatnya menjadi orang-orang terbaik di mata Tuhan. Yesus pernah berkata – dengan mengkonfirmasi Perjanjian Lama: “Kasihilah Tuhan, Allahmu, dengan segenap hatimu dan dengan segenap jiwamu dan dengan segenap akal budimu. Itulah hukum yang terutama dan yang pertama. Dan hukum yang kedua, yang sama dengan itu, ialah: Kasihilah sesamamu manusia seperti dirimu sendiri. Pada kedua hukum inilah tergantung seluruh hukum Taurat dan kitab para nabi” Matius 22:37-40).
Di bagian lain, Yesus mengatatakan: “Kamu telah mendengar firman: Kasihilah sesamamu manusia dan bencilah musuhmu. Tetapi Aku berkata kepadamu: Kasihilah musuhmu dan berdoalah bagi mereka yang menganiaya kamu” (Matius 5:43-44).
Keenam, rohani. Kerohanian seseorang dapat menjadi salah satu ukuran kualitas dirinya. Tampaknya, kerohanian ini mencakup bagaimana mempergunakan lidah dengan baik, berkarakter baik, memiliki relasi yang baik, menghasilkan karya yang bermafaat secara positif, dan memiliki kasih yang tulus dan murni di hadapan Allah dan sesama. Seringkali, kerohanian seseorang yang disulap menjadi baik, merupakan luapan dari hipokritisasi dan penipuan seseorang. Ia memalsukan identitasnya. Janganlah kita meniru kerohanian semacam itu.
Ketujuh, sikap menghadapi tantangan. Hampri segala sesuatu memiliki tantangan. Akan tetapi, mereka yang memiliki sikap kuat dalam menghadapi tantangan, mencerminkan dirinya yang beriman. Ia akan selalu mengandalkan Tuhan dalam segala hal. Tuhan adalah perisainya; Tuhan adalah Penolong dan sandaran hidupnya. Orang seperti ini adalah pribadi yang benar-benar tahu bahwa hidupnya ada dalam rencana dand kehendak Tuhan.
Jadilah manusia-manusia yang memiliki kualitas-kualitas hidup sebagaimana yang telah digambarkan di atas. Kiranya Tuhan Yesus memampukan kita untuk merealisasikannya di sepanjang hidup kita. Soli Deo Gloria
“Karena Ia tahu jalan hidupku; seandainya Ia menguji aku, aku akan timbul seperti emas” (Ayub 23:10)
Tanggal 9 Maret 2020 adalah tanggal bebasnya Pdt. Dr. Matheus Mangentang (dari Lapas Cipinang) dan Pdt. Ernawaty Simbolon (dari Lapas Pondok Bambu). Fakta tersebut didasarkan pada Putusan Peninjauan Kembali (PK) Para Pemohon PK, I. Matheus Mangentang, S.Th dan II. Ernawaty Simbolon dikabulkan serta Putusan Mahkamah Agung (MA) No. 3319 K/Pid.Sus/2018 tanggal 13 Februari 2019 dibatalkan, maka dengan demikian dinyatakan, lepas dari segala segala tuntutan hukum (onslag van alle rechtsvervolging); memulihkan hak Para Terpidana dalam kemampuan, kedudukan, dan harkat serta martabatnya; memerintahkan Para Terpidana dibebaskan seketika.
Keputusan PK tersebut diputuskan melalui rapat musyawarah Majelis Hakim Pada Hari Kamis tanggal 20 Februari 2020, No. 45 PK/Pid. Sus/ 2020 oleh Dr. Sofyan Sitompul, S.H., M.H., Hakim Agung yang ditetapkan oleh Ketua Mahkamah Agung sebagai Ketua Majelis, Maruap Dohmatiga Pasaribu, S.H., M.Hum dan Dr. Desnayeni M., S.H., M.H., Hakim-Hakim Agung sebagai Anggota.
Hingga sekarang, sudah dua tahun Pdt. Dr. Matheus Mangentang dan Pdt. Ernawaty Simbolon bebas dan menikmati segala kasih serta kemurahan Tuhan Yesus. Rasa syukur karena berkat pertolongan-Nya masih tetap dinyatakan. Rasa syukur itu tak dapat diungkapkan dengan kata-kata. Sukacita yang meluap-luap adalah bukti bahwa rasa syukur itu tetap menjadi bagian penting dari kehidupan Pdt. Dr. Matheus Mangentang dan Pdt. Ernawaty Simbolon.
Jika kita melihat cara Tuhan membentuk kehidupan orang percaya, selalu ada makna terdalam dari setiap peristiwa yang Dia izinkan dialami oleh orang-orang yang percaya kepada-Nya, meskipun peristiwa itu bukanlah keinginan mereka untuk terjadi. Tuhan selalu “punya cara terbaik” untuk membentuk orang-orang percaya menjadi seperti “emas”. Proses pembentukan emas sangatlah rumit dan panjang. Logam emas akan melebur pada suhu sekitar 1.000 derajat celcius. Ditambah lagi proses lainnya yang mendukung terbentuknya emas yang bernilai tinggi. Karena nilai yang tinggi dan estetikanya, membuat emas sebagai logam mulia yang digunakan sebagai perhiasan, bahkan sebagai bahan investasi. Untuk sampai kepada “emas yang bernilai” – prosesnya harus dilalui.
Kutipan teks Ayub 23:10 di awal tulisan ini, adalah bukti bahwa Tuhan tahu jalan hidup Pdt. Dr. Matheus Mangentang. Ia telah mengujinya dan pada akhirnya, beliau timbul seperti emas. Emas itu berharga. Hidup orang percaya itu berharga. Tuhan memberi harga yang terbaik bagi setiap orang yang percaya dan berharap kepada-Nya. Sama seperti emas, demikianlah Tuhan membentuk Pdt. Dr. Matheus Mangentang.
Ayub mengidentifikasikan dirinya sebagai “emas” ketika ia “diuji” oleh Tuhan. Artinya, Ayub tahu bahwa ketika Tuhan membentuk dan mengujinya, pasti hal yang terbaik adalah hasil akhirnya. Terbaik bukan berdasarkan pandangannya, melainkan berdasarkan pandangan Tuhan. Hal itulah yang dialami oleh Pdt. Dr. Matheus Mangentang. Meskipun beliau diuji oleh Tuhan dengan sesuatu hal yang tak diinginkannya, tetapi hasil akhir telah membuktikan bahwa beliau tetap dipercaya, tetap dihargai, tetap dijadikan teladan, tetap dihormati, dan tetap menjadi patron (pola, suri [teladan]) sebagai “seorang pelayan yang setia, misiolog, pemimpin, visioner, pengajar, dan teolog yang berintegritas.” Beliau telah “timbul seperti emas” – setelah ditempa dengan peristiwa-peristiwa yang diizinkan Tuhan terjadi dalam hidupnya.
Jika Saudara ingin menemukan pengakuan tersebut, tanyakanlah kepada mereka yang telah mengecap kebaikan, teladan, dan kemurahan hati beliau. Mungkin Saudara dapat mendaftarkannya melebihi dari apa yang saya tuliskan di atas.
Apa yang beliau alami telah menjadi bukti betapa Tuhan Yesus itu berkuasa dan penyertaan-Nya sempurna: “Selalu baru tiap hari, kasih dan setia-Nya”. Kita menginginkan sesuatu, tetapi kehendak Tuhanlah yang jadi. Kebebasan yang beliau rasakan cukup memberi bukti bahwa “Tuhan tidak tidur”. Ia senantiasa mengawasi dan menjaga anak-anak-Nya yang setia. Pdt. Dr. Matheus Mangentang bebas karena pertolongan Tuhan yang luar biasa. Rasa syukur atas hal tersebut masih tetap terucap dari bibir mulut beliau hingga sekarang ini.
Dalam pengamatan saya, untuk membuktikan pengakuan Ayub dalam korelasinya dengan kehidupan Pdt. Dr. Matheus Mangentang yang “timbul seperti emas” adalah dengan melihat apa yang beliau kerjakan selama berada di Lapas Cipinang. Beliau tetap menebarkan integritas, relasi, dan spiritualitasnya kepada para tahanan lainnya melalui Pendalaman Alkitab (PA) dan konseling. Hasilnya? Ada banyak di antara mereka yang bertobat. Tuhan punya cara tersendiri untuk membentuk dan membawa seseorang kepada kehendak-Nya yang sempurna. Lawatan tangan kuasa-Nya tak luput sedikit pun dari kehidupan anak-anak-Nya. Itulah yang dirasakan oleh Pdt. Dr. Matheus Mangentang. “Emas tetaplah emas, meskipun diletakkan di berbagai tempat”.
Beliau telah “timbul seperti emas” setelah melewati ujian dari Sang Khalik, ujian yang berat (ibarat suhu yang panas dalam proses melebur emas). Akan tetapi, dalam ujian yang berat itu, ternyata ada kehendak Tuhan bagi beliau, dapat memenangkan sebanyak mungkin orang di dalam Lapas Cipinang, supaya mereka menyerahkan dirinya kepada Tuhan, bertobat, dan hidup dalam terang firman-Nya. Bukankah itu sesuatu yang luar biasa? Tuhan Yesus menggunakan sesuatu yang tidak kita sukai untuk mewujudkan kehendak-Nya yang terbaik bagi orang-orang yang membutuhkan lawatan kuasa dan pengajaran firman-Nya. Pdt. Dr. Matheus Mangentang telah menjadi bagian dalam kehendak Tuhan bagi mereka yang berada di dalam Lapas Cipinang.
Apa yang dialami Ayub, telah menjadi pelajaran bagi kita bahwa Tuhan tidak pernah salah membentuk dan mendidik anak-anak-Nya. Tuhan tidak pernah salah mendidik dan membentuk Pdt. Dr. Matheus Mangentang melalui ujian yang berat. Yang pasti, Tuhan selalu menyediakan yang terbaik bagi kita. Ia membuat “segala sesuatu indah pada waktunya”. Ini sungguh luar biasa, dan beliau telah merasakannya.
“Karena Tuhan tahu jalan hidup kita, maka seandainya Ia menguji kita, pasti kita akan timbul [setelah melalui proses ujian] seperti emas [diri dan hidup yang menjadi teladan dan berkat]”. Dari kehidupan dan pengalaman Pdt. Dr. Matheus Mangentang, kita dapat melihat tiga hal penting:
Pertama, beliau telah menandaskan sebuah prinsip “kesetiaan kepada Tuhan” meski sesuatu yang dialaminya sangat berat. Kesetiaan itu mencakup aspek: tetap menjadi teladan, tetap mewartakan Kabar Baik tentang Yesus Kristus, dan tetap menunjukkan spiritualitas yang selaras dengan firman-Nya.
Kedua, beliau telah mewariskan kepada kita sikap “sabar dalam menghadapi segala sesuatu dan senantiasa berdoa”. Tuhan selalu berpihak kepada orang-orang yang dengan sabar menjalani segala ujian yang datang dan selalu berdoa memohon pertolongan-Nya. Apa yang dialami oleh Pdt. Dr. Matheus Mangentang, termasuk kesabarannya dalam menjalani ujian tersebut dan doa yang menjadi kekuatannya, telah membuat beliau “timbul seperti emas” ― tetap berkualitas, tetap mencintai misi Tuhan, tetap rendah hati, tetap melayani dengan setia, tetap menyatakan kebaikan dan kemurahan hati, dan tetap menjadi pemimpin yang berintegritas.
Ketiga, beliau telah menanamkan prinsip melayani Tuhan dengan penuh komitmen, konsistensi, dan kepedulian. Tidak ada seorang pelayan Tuhan yang dikatakan sebagai seorang yang peduli sampai ia sendiri memberi dirinya, waktunya, harganya, tenaganya, dan pikirannya untuk pekerjaan Tuhan baik di kota maupun di desa. Pdt. Dr. Matheus Mangentang adalah teladan dalam melayani di kota-kota maupun di desa-desa. Gereja Kristen Setia Indonesia (GKSI) yang dipimpin beliau, mayoritas berada di desa-desa. Itulah bukti bahwa melayani Tuhan dengan penuh komitmen, konsistensi, dan kepedulian akan berbuahkan hasil yang melimpah ruah.
Semua pencapaian hidup yang ditempuh melalui proses yang panjang dan bagaimana mengembangkan potensi diri yang mencakup konteks berteologi, berelasi, mengajar, dan mewartakan Injil Kristus menghasilkan “teladan hidup”. Orang percaya sejatinya memberi dirinya menjadi teladan bukan terpaksa menjadi teladan.
Matheus Mangentang adalah seorang pelayan, teolog, pengajar, pemimpin, dan penginjil yang telah mendedikasikan hidupnya bagi Kristus Yesus. Dalam rentang waktu yang panjang beliau telah memperlihatkan “trilogi teladan” kepada Gereja, kepara para pelayan, kepada anak-anak didiknya, dan kepada zamannya.
Sebagai pemimpin, beliau menulis tulisan singkat yang berbicara tentang “Pemimpin yang Membentuk Zaman”. Menurutnya, pemimpin yang membentuk zaman adalah manusia-manusia yang mampu memberdayakan “roh keberhasilan” dalam diri mereka. Spirit of the Success adalah core mereka. Di dalam spirit yang menyala-nyala, mereka mengubah, mencipta dan membuat perbedaan yang signifikan. Akhirnya, Mangentang berkesimpulan bahwa pemimpin yang membentuk zaman dalam Alkitab dan sejarah Gereja adalah “tentang kelemahan” (1 Korintus 27-28). Mereka ini adalah pribadi-pribadi yang memiliki kelemahan tetapi pengaruh mereka sungguh luar biasa: pertama, Yusuf: sudah tamat riwayat hidupya, sudah terkubur masa depannya dalam penjara; kedua, Musa: sudah tidak dianggap apa-apa lagi, terbuang ke padang gurun; ketiga, Petrus: siapa yang memperhitungkan dia yang hanya seorang nelayan; keempat, Yohanes: terbuang ke pulau Patmos, yaitu pulau penuh ular. Mereka berani membayar harga, mereka berani percaya di tempat tidak ada iman. Mereka tetap terjaga ketika yang lain terlelap. Mereka melihat yang dilihat Tuhan. (Matheus Mangentang, “Sebuah Refleksi tentang Pemimpin yang Membentuk Zaman”, dalam Pemimpin yang Membentuk Zaman, editor Kembong Mallisa’, Marianus T. Waang, Aprianus Moimau, Deky H. Y. Nggadas [Jakarta: Delima, 2009], 2-4).
Dari pernyataan di atas, tampak bahwa “kelemahan” bukanlah bukti bahwa seseorang itu tidak berguna, tidak berarti, atau tidak dipakai Tuhan. Kita tahu bahwa semua manusia memiliki kelemahan. Tetapi seringkali – dalam penilaian beberapa orang – kelemahan dijadikan “senjata penghakiman” bahwa seseorang itu tidak layak untuk ini dan itu. Anehnya, tokoh-tokoh yang disebutkan Mangentang di atas justru sebagai bukti bahwa kelemahan dan kekurangan mereka justru membawa mereka ke puncak yang gemilang dan pengaruh pada zamannya, serta teladan pada generasi dan zaman-zaman berikutnya.
Itulah sebabnya, “teladan hidup adalah salah satu aspek yang dapat kita wariskan selain dari pada iman, pengajaran, dan kesetiaan kepada Tuhan Yesus.” Teladan adalah wajah kita sendiri karena darinya orang menilai, entah baik, entah buruk. Mangentang mengalami dua fakta tersebut. Ada orang yang menilai buruk tentangnya, dan ada yang menilai baik tentangnya. Namun, pada akhirnya, buah pelayanan, kesetiaan, dan konsistensi terhadap panggilan Tuhanlah yang menjadikannya gemilang di mata Tuhan.
Kita yang setia dan taat pada firman-Nya tidak perlu kuatir terhadap penilaian orang lain. Tak peduli seberapa buruk kita dalam pandangan manusia, tetapi di mata Tuhan, kita sangatlah berharga. Itulah yang dirasakan oleh Bapak Matheus Mangentang.
Mesyukuri dua tahun bebasnya beliau (bersama Pdt. Ernawati Simbolon, pada tanggal 20 Februari 2022), saya menuliskan goresan singkat yang menjejaki konteks teladan dari kehidupan dan pengalaman beliau dalam melayani Tuhan serta bagaimana pergumulan beliau dalam menghadapi berbagai hambatan dan tantangan.
Oleh sebab itu, Trilogi Teladan (tiga hal yang saling bertaut dan penting) Matheus Mangentang yang digoreskan dalam tulisan singkat ini, setidaknya dapat memberikan makna bagi para pembaca untuk merenungkan bahwa tangan Tuhan selalu terulur bagi mereka yang senantiasa berseru dan berharap pada-Nya, dan bahkan Ia menyertai mereka yang setia pada panggilan-Nya.
Pertama, teladan komitmen pelayanan yang mencakup iman, pengharapan, kasih dan doa. Beliau begitu bersemangat dalam melayani di kota maupun di desa-desa. Apa yang beliau taburkan sejak dulu, kini telah tumbuh dan berbuah-buah lebat. Pelayanan Sekolah Tinggi Teologi Injili Arastamar (SETIA) Jakarta dan Gereja Kristen Setia Indonesia (GKSI) yang terus berkembang telah menjadi bukti bahwa taburan-taburan kasih, pengajaran, teladan, iman, doa, penghadapan, kini menjadi fakta sejarah di mana beliau menjadi pelopornya.
Bahkan pada saat beliau diminta untuk memimpin ibadah pemakaman dari salah satu pengusaha kaya yang meninggal karena Covid-19, beliau pun bersedia. Beliau ditelepon sekitar pukul 04.30 subuh untuk memimpin ibadah tersebut pada pukul 10.00 WIB pagi di hari yang sama. Beberapa pendeta menolak untuk memimpin ibadah dimaksud karena satu dan lain hal. Tetapi beliau bersedia tanpa rasa kuatir. Di sini, bukan berarti karena nekat yang tak terkendali untuk pergi ke ibadah pemakaman seseorang karena Covid-19, tetapi ada prinsip dan komitmen pelayanan yang memang harus dilakukan oleh seorang hamba Tuhan. Ingatlah pesan firman Tuhan berikut ini: “Sungguh Ia mengasihi umat-Nya; semua orang-Nya yang kudus — di dalam tangan-Mulah mereka, pada kaki-Mulah mereka duduk, menangkap sesuatu dari firman-Mu” (Ulangan 33:3).
Beliau selalu berdoa untuk memohon pimpinan dan penyertaan Tuhan dalam seluruh pelayanan yang dikerjakannya, kapan pun dan di mana pun. Doa menjadi kekuatan tak terukur pengaruhnya. Kasih terus ditaburkan. Pengharapan kepada Kristus adalah jawaban atas segala kesulitan dan tantangan yang dihadapi. Iman menjadi dasar pengharapan kepada Kristus dan meyakini pimpinan Tuhan bagi hamba-hamba-Nya.
Kedua, teladan kepemimpinan yang mencakup integritas dan relasi. Integritas adalah dasar dari kepemimpinan dan relasi. Tanpa integritas, rusaklah kepemimpinan, rusaklah relasi. Teladan integritas Matheus Mangentang telah memperlihatkan hasil pelayanan yang telah beliau kerjakan bersama dengan hamba-hamba Tuhan yang benar-benar menjaga “panggilan Tuhan” dengan hati yang penuh syukur dan integritas.
Ketiga, kemurahan hati yang mencakup suka menolong, menopang, dan membantu yang lemah. Apa yang beliau taburkan dalam pelayanan selalu dibarengi dengan kemurahan hati. Beliau suka memberi dan menolong para alumni di berbagai pedalaman. Apalagi beliau didukung sepenuhnya oleh istri terkasih, Ibu Ester Kristanto yang juga memiliki kemurahan hati dan suka menolong orang lain. Teladan ini telah menjadi patron dan nilai tersendiri bagi para alumnus SETIA Jakarta dan para hamba Tuhan GKSI di seluruhh Indonesia.
Pernah satu waktu, ketika beliau ada dalam masalah yang berat, saya dan beliau bercakap-cakap melalui telepon selular mengenai misi ke tanah Papua. Kami berdua membicarakan banyak hal dan kadang dibumbui dengan sedikit lelucon; kami pun tertawa lepas. Di tengah tekanan masalah yang berat, beliau masih tetap menunjukkan ketegaran dan sukacita yang luar biasa. Saya tahu bahwa beliau tidak gentar sedikit pun dalam menghadapi persoalan yang terjadi. Kekuatan dan keberanian tampak dalam setiap percakapan kami. Meski serangan bertubi-tubi datang kepadanya, ia tetap meyakini akan pimpinan Tuhan.
Beberapa waktu lalu, bulan Januari 2022, beliau berkunjung ke daerah Alor, Kupang, dan Rote, NTT. Beliau ditemani sang istri terkasih, dan mengikuti berbagai pelayanan dan kunjungan kepada alumni SETIA Jakarta dan para hamba Tuhan yang setia. Tentu ada sukacita yang dirasakan saat berkunjung ke tanah Alor, Kupang, dan Rote. Tuhan telah menjukkan kemurahan-Nya kepada hamba-Nya yang tetap semangat dalam melayani.
Para alumni SETIA merasa bahagia bisa bertemu dengan orang tua mereka yang telah memberikan kesempatan untuk menempuh studi di SETIA Jakarta hingga akhirnya mereka dapat mengikuti jejak-jejak pelayanannya. Ada banyak rasa syukur yang diungkapkan oleh para alumnus SETIA Jakarta. Kiranya hal itu tetap menjadi fakta sejarah bahwa pelayanan yang dikerjakan Bapak Matheus Mangentang akan terus menghasilkan buah-buah yang manis dan segar.
Trilogi Teladan beliau, yakni: teladan komitmen pelayanan, teladan kepemimpinan, dan teladan kemurahan hati akan menjadi warisan berharga bagi para alumnus SETIA dan para hamba Tuhan GKSI di mana pun berada. Hanya mereka yang berintegritas yang dapat mengambil teladan dari pribadi yang berintegritas. Itulah prinsip kepemimpinan yang sejati. Dan hanya orang yang setia pada firman Tuhan yang dapat memahami secara benar panggilannya di dalam Kristus, dan mengambil pelajaran berharga dari para hamba Tuhan yang terkenal setia dalam melayani.
Matheus Mangentang telah membuktikan Trilogi Teladannya kepada kita. Melayanilah dengan komitmen yang benar di hadapan Tuhan. Pimpinlah dirimu sendiri sebelum memimpin orang lain, dan nyatakan kemurahan hatimu agar nama Tuhan dipuji dan dimuliakan. Ingatlah pesan-pesan firman Tuhan berikut ini:
Roma 8:28, “Kita tahu sekarang, bahwa Allah turut bekerja dalam segala sesuatu untuk mendatangkan kebaikan bagi mereka yang mengasihi Dia, yaitu bagi mereka yang terpanggil sesuai dengan rencana Allah.”
Roma 12:21, “Janganlah kamu kalah terhadap kejahatan, tetapi kalahkanlah kejahatan dengan kebaikan!”
Roma 15:14, “Saudara-saudaraku, aku sendiri memang yakin tentang kamu, bahwa kamu juga telah penuh dengan kebaikan dan dengan segala pengetahuan dan sanggup untuk saling menasihati.”
Filipi 4:5, “Hendaklah kebaikan hatimu diketahui semua orang. Tuhan sudah dekat!”
Ibrani 12:10, “Sebab mereka mendidik kita dalam waktu yang pendek sesuai dengan apa yang mereka anggap baik, tetapi Dia menghajar kita untuk kebaikan kita, supaya kita beroleh bagian dalam kekudusan-Nya.”
1 Petrus 2:1-3, “Karena itu buanglah segala kejahatan, segala tipu muslihat dan segala macam kemunafikan, kedengkian dan fitnah. Dan jadilah sama seperti bayi yang baru lahir, yang selalu ingin akan air susu yang murni dan yang rohani, supaya olehnya kamu bertumbuh dan beroleh keselamatan, jika kamu benar-benar telah mengecap kebaikan Tuhan.”
Matius 5:16, “Demikianlah hendaknya terangmu bercahaya di depan orang, supaya mereka melihat perbuatanmu yang baik dan memuliakan Bapamu yang di sorga.”
Kita dapat menangkap makna dalam setiap peristiwa. Rasa makna akan ditentukan oleh keyakinan, empirikal, dan pengetahuan yang kita miliki. Lambat laun, daya tangkap kita akan sesuatu hal menjadi kuat dan kontekstual.
Rentang waktu yang kita jalani, memberi banyak pengalaman indrawi (mendengar, melihat), emosional, dan spiritual, di mana ada makna teologis yang mendukung pencarian dan pengukuhan identitas iman kita di hadapan Tuhan. Ia sendiri mendidik kita untuk semakin hari semakin dekat dan akrab dengan-Nya. Firman-Nya adalah bentuk yang lebih mudah didapatkan, dibaca, dipahami, dan pada akhirnya mudah atau pun sulit untuk dilakukan.
Theologi menggiring kita kepada suatu ruang berpikir di mana Tuhan, kita, dan sesama ada dalam ruang itu sendiri. Theologi harus berbicara tentang Tuhan, kita, dan sesama. Itulah theologi yang baik dan solid. Ketika luapan-luapan akademis dari para teolog menyingkapkan berbagai pemikiran mereka, jika tanpa terhubung dengan Tuhan, kita, dan sesama, maka hal itu tidak perlu mendapat tempat di dalam hidup kita.
Theologi menempatkan manusia di hadapan Tuhan, menempatkan dunia di hadapan Tuhan, menempatkan manusia di hadapan dunia, dan menempatkan tanggung jawab manusia di hadapan Tuhan. Menempatkan dunia di hadapan Tuhan itulah namanya “Theocosmos” – Theologi yang berbicara tentang “cosmos” sebagai pemberian Allah bagi manusia.
Theocosmos adalah sebuah dasar pemikiran iman Kristen bahwa dunia – sebagai ciptaan Allah – memberi empat makna:
Pertama, bahwa manusia diciptakan Allah untuk menempati dunia ciptaan-Nya dengan cara menaklukan dan mengusahakannya (Kejadian 1:28, Allah memberkati mereka, lalu Allah berfirman kepada mereka: “Beranakcuculah dan bertambah banyak; penuhilah bumi dan taklukkanlah itu, berkuasalah atas ikan-ikan di laut dan burung-burung di udara dan atas segala binatang yang merayap di bumi.” Kejadian 2:4-8, Demikianlah riwayat langit dan bumi pada waktu diciptakan. Ketika TUHAN Allah menjadikan bumi dan langit, belum ada semak apapun di bumi, belum timbul tumbuh-tumbuhan apapun di padang, sebab TUHAN Allah belum menurunkan hujan ke bumi, dan belum ada orang untuk mengusahakan tanah itu; tetapi ada kabut naik ke atas dari bumi dan membasahi seluruh permukaan bumi itu ketika itulah TUHAN Allah membentuk manusia itu dari debu tanah dan menghembuskan nafas hidup ke dalam hidungnya; demikianlah manusia itu menjadi makhluk yang hidup. Selanjutnya TUHAN Allah membuat taman di Eden, di sebelah timur; disitulah ditempatkan-Nya manusia yang dibentuk-Nya itu).
Kedua, bahwa dunia diciptakan Allah untuk menempatkan manusia di dalamnya, menikmati segala keberkahan yang diberikan Allah bagi mereka. Kejadian 1:29, Berfirmanlah Allah: “Lihatlah, Aku memberikan kepadamu segala tumbuh-tumbuhan yang berbiji di seluruh bumi dan segala pohon-pohonan yang buahnya berbiji; itulah akan menjadi makananmu.” Allah peduli kepada manusia dengan menyediakan dunia [bumi] bagi mereka, dan Allah peduli terhadap dunia dengan memberikan manusia kepadanya agar dikelola, dikuasai, dan diusahakan. Kejadian 2:15, “TUHAN Allah mengambil manusia itu dan menempatkannya dalam taman Eden untuk mengusahakan dan memelihara taman itu.”
Ketiga, bahwa manusia dan dunia bergantung sepenuhnya kepada Sang Khalik. Keduanya ada dalam genggaman tangan-Nya yang berkuasa. Ialah yang empunya semuanya; Ialah Penciptanya. Mazmur 24:1 menyatakan bahwa “Tuhanlah yang empunya bumi serta segala isinya, dan dunia serta yang diam di dalamnya.” Mazmur 50:12 menegaskan pula, “Jika Aku lapar, tidak usah Kukatakan kepadamu, sebab punya-Kulah dunia dan segala isinya”, dan Mazmur 89:12 menegaskan prinsip yang sama, bahwa “Punya-Mulah langit, punya-Mulah juga bumi, dunia serta isinya Engkaulah yang mendasarkannya.”
Di bagian lain, dasar pemahaman bahwa manusia dan dunia ciptaan adalah dalam kuasa Tuhan dan bergantung kepada-Nya, tampak pada beberapa teks berikut ini, seperti:
Mazmur 98:4-99, Bersorak-soraklah bagi TUHAN, hai seluruh bumi, bergembiralah, bersorak-sorailah dan bermazmurlah! Bermazmurlah bagi TUHAN dengan kecapi, dengan kecapi dan lagu yang nyaring, dengan nafiri dan sangkakala yang nyaring bersorak-soraklah di hadapan Raja, yakni TUHAN! Biarlah gemuruh laut serta isinya, dunia serta yang diam di dalamnya! Biarlah sungai-sungai bertepuk tangan, dan gunung-gunung bersorak-sorai bersama-sama di hadapan TUHAN, sebab Ia datang untuk menghakimi bumi. Ia akan menghakimi dunia dengan keadilan, dan bangsa-bangsa dengan kebenaran.
Yeremia 10:12, Tuhanlah yang menjadikan bumi dengan kekuatan-Nya, yang menegakkan dunia dengan kebijaksanaan-Nya, dan yang membentangkan langit dengan akal budi-Nya (lih. Yer. 51:15)
2 Samuel 22:16, Lalu kelihatanlah dasar-dasar laut, alas-alas dunia tersingkap karena hardikan TUHAN karena hembusan nafas dari hidung-Nya.
Mazmur 9:9, Dialah yang menghakimi dunia dengan keadilan dan mengadili bangsa-bangsa dengan kebenaran.
Keempat, bahwa Allah memelihara dunia dan segala ciptaan-Nya, juga umat-Nya. Mazmur 55:23, “Serahkanlah kuatirmu kepada TUHAN, maka Ia akan memelihara engkau! Tidak untuk selama-lamanya dibiarkan-Nya orang benar itu goyah.” Mazmur 97:10, “Hai orang-orang yang mengasihi TUHAN, bencilah kejahatan! Dia, yang memelihara nyawa orang-orang yang dikasihi-Nya, akan melepaskan mereka dari tangan orang-orang fasik.” Mazmur 148:6, “Dia mendirikan semuanya untuk seterusnya dan selamanya, dan memberi ketetapan yang tidak dapat dilanggar”.
Providentia (Lat.) diartikan sebagai tindakan kekuatan Ilahi yang berkelanjutan, setelah tindakan penciptaan, dengan sarana di mana Allah memelihara segala sesuatu dalam wujud, mendukung tindakan mereka, mengatur mereka sesuai dengan tatanannya yang mapan, dan mengarahkan mereka menuju tujuan yang telah Allah ditetapkan. Richard A. Muller, Dictionary of Latin and GreekTheological Terms: Drawn Principally Ffom Protestant Scholastic Theology (Grand Rapids, MI: Baker Academic, 1985). Dalam hal decretum (dekrit atau keputusan) abadi dan voluntas Dei (will of God), penciptaan dan pemeliharaan adalah satu tindakan. Muller, Dictionary of Latin and GreekTheological Terms.
Menurut John Calvin, semua kejadian adalah bagian dari providensia rahasia Allah (John Calvin, The Secret Providence of God, ed. Paul Helm, trans. Keith Goad [Wheaton, IL: Crossway, 2010]), sehingga dalam cara yang indah dan tak terlukiskan tidak ada yang terjadi bertentangan dengan kehendak-Nya (Calvin, The Secret Providence of God, 81).
Paul Kjoss Helseth berpendapat bahwa kita dipanggil untuk menempatkan keyakinan kita pada karakter dan janji-janji Bapa kita, bahkan ketika kita tidak tahu persis apa yang Dia lakukan saat Dia mengerjakan hal-hal khusus dari kehendak-Nya yang berdaulat. Paul Kjoss Helseth, “God Causes All Things,” in Four Views on Divine Providence, ed. Dennis W. Jowers (Grand Rapids: Zondervan, 2011), 52.
Dalam penjelasan Matt R. Jantzen, kita melihat bahwa providensia berkaitan dengan pelestarian sejarah penciptaan, bukan penyingkapan sejarah keselamatan. Matt R. Jantzen, God, Race, and History Liberating Providence (Lanham, Maryland: Lexington Books, 2021), 20. Jantzen menegaskan, bahwa “doktrin providensia memberikan visi keteraturan yang kuat tentang Allah dan ciptaan, waktu dan ruang, diri dan orang lain.” Jantzen, God, Race, and History Liberating Providence, 3-4.
David Fergusson berpendapat bahwa dalam sejarah gereja, konsep pemeliharaan Ilahi telah tersebar luas. Ruang lingkupnya meliputi tatanan alam, arah sejarah, cara-cara di mana kehidupan orang-orang tunduk pada bimbingan ilahi, hasil akhir dari alam dan sejarah, dan lainnya. Sebuah tema yang luas, pemeliharaan Allah diilustrasikan oleh kisah-kisah Kitab Suci dan telah diteorikan oleh para teolog sepanjang sejarah gereja. David Fergusson, Current Issues in Theology: The Providence of God A Polyphonic Approach (Cambridge: Cambridge University Press 2018), 1.
Allah memelihara manusia dan segala ciptaan yang lain disebabkan karena Ia menetapkan suatu tujuan atas ciptaan-Nya sendiri. Semua makna yang kita temukan dalam ciptaan ini adalah suatu kesadaran bahwa kita telah melihat Allah mencipta dan berkarya atas ciptaan-Nya. Theocosmos sangatlah kental dengan konteks-konteks tersebut di atas.
Dari penjelasan di atas, tampak bahwa ada sebuah “theorema” yang dapat kita simpulkan. Theorema berbicara tentang proposisi (suatu pernyataan untuk dibuktikan, dijelaskan, atau didiskusikan). Theorema dari kata Yunani “Theorēma” yang diartikan sebagai spekulasi, atau suatu proposisi untuk dibuktikan. Kata tersebut berasal dari kata theōréō, “Saya melihat, melihat, consider [mempertimbangkan], examine [memeriksa]”), dari theōrós, “spectator [penonton (yang melihat atau menyaksikan sesuatu)]”), from théa, “a view [pandangan]”) + horáō, “I see, look”) (lihat: https://en.wiktionary.org/wiki/theorema).
Theorema dapat dipahami sebagai suatu persepsi akal, melihat pada (sebagai penonton) fakta yang sedang dilihat, persepsi mental untuk memahami, persepsi rohani untuk melihat segala sesuatu yang dialami atau diamati. Jika Theologi dan Theocosmos memberi kita petunjuk dan kekuatan pemahaman tentang Tuhan, kita, dan sesama, maka Theorema menawarkan kepada kita ragam persepsi kita untuk melihat fakta yang terjadi di sekitar kita dalam kaitannya dengan Tuhan, kita, dan sesama.
Segala sesuatu memang dapat disaksikan oleh mata jasmani, tetapi ada hal-hal yang tak dapat dilihat dengan mata jasmani. Kita harus melihatnya dengan “mata iman” dan itulah penggabungkan antara Theologi, Theocosmos, dan Theorema. Ketiganya menyatu dalam sebuah kontruksi iman dalam melihat Tuhan, diri kita, dan sesama. Tak ada ruang kosong dalam Theologi, Theocosmos, dan Theorema. Semua diisi untuk kemuliaan Allah. Kemuliaan-Nya memenuhi seluruh dunia (kosmos).
Mazmur 96:3, Ceritakanlah kemuliaan-Nya di antara bangsa-bangsa dan perbuatan-perbuatan yang ajaib di antara segala suku bangsa.
Mazmur 97:6, Langit memberitakan keadilan-Nya, dan segala bangsa melihat kemuliaan-Nya.
Mazmur 104:31, Biarlah kemuliaan TUHAN tetap untuk selama-lamanya, biarlah TUHAN bersukacita karena perbuatan-perbuatan-Nya!
Mazmur 108:6, Tinggikanlah diri-Mu mengatasi langit, ya Allah, dan biarlah kemuliaan-Mu mengatasi seluruh bumi.
Mazmur 113:4, TUHAN tinggi mengatasi segala bangsa, kemuliaan-Nya mengatasi langit.
Yesaya 6:3, Dan mereka berseru seorang kepada seorang, katanya: “Kudus, kudus, kuduslah TUHAN semesta alam, seluruh bumi penuh kemuliaan-Nya!”
Tampak bahwa gerak pengajaran Theologi, Theocosmos, dan Theorema perlu dilekatkan pada pemikiran-pemikiran atau refleksi kita tentang Tuhan, diri kita, dan sesama. Ada berbagai hal yang dapat kita tinjau secara teologis terkait aspek-aspek kehidupan, relasi, spiritualitas, tanggung jawab, dan bagaimana sikap hidup kita terhadap Tuhan, diri kita sendiri, alam semesta, dan sesama kita.
Teologi memberi kita pengertian-pengertian fundamental tentang Tuhan dan karya-karya-Nya, tentang humanitas, dan tentang relasi humanitas dalam bingkai providensia Tuhan. Thecosmos memberi kita dasar pemahaman dan tindakan mengenai bagaimana sikap kita melihat dan memperlakukan dunia ciptaan Tuhan, bagaimana mengelolanya dan bagaimana manusia bergantung kepada Allah agar mereka dapat meneruskan kehidupan di dunia ini. Theorema memberi kita dasar pengertian bahwa apa yang kita lihat di dunia ini tidak lepas dari bagaimana Tuhan membentuk dan mendidik kita. Tuhan telah memperlihatkannya dan kita tinggal menangkap dan memaknainya, sehingga menjadi terhubung dengan konteks relasi kita dengan Tuhan, dengan diri sendiri, dengan alam, dan dengan sesama.
Theologi, Theocosmos, dan Theorema adalah tiga jalan menuju pemahaman dan kedewasaan iman, di mana pengetahuan-pengetahuan yang diterima dari ketiganya membentuk diri kita menjadi serupa dengan Sang Khalik: hidup benar, hidup kudus, dan hidup memuliakan nama-Nya.
Tampilan menarik dari diri kita adalah melalui tiga aspek: perkataan, tindakan, dan karya. Pada perkataan, kita menyatakan kehendak, informasi, ide atau gagasan, pengajaran, fakta, kebenaran, prinsip logis, ekspresi diri, emosi, perasaan, adaptasi diri, pengenalan diri, hukum, peraturan, keputusan, dan menyatakan makna tertentu dari setiap aspek kehidupan yang kita jalani dan asesmen terhadap itu sendiri.
Pada tindakan, kita memperlihatkan nilai-nilai dari sebuah tindakan, baik kecil maupun besar. Besar-kecilnya sebuah tindakan seringkali menjadi ukuran seberapa besar harga diri kita. Barangkali, kita sering terjebak dalam konteks ini, bahwa tindakan kecil dianggap tidak memiliki makna, sedangkan tindakan besar dianggap memiliki makna yang sangat baik. Akan tetapi, penilaian tersebut terjerumus dalam egoisme dan kepentingan tertentu, yang sejatinya tidak melihat pesan dan makna dari sebuah tindakan.
Pada karya, kita memperlihatkan apa yang “dihasilkan” yang berangkat dari ide atau gagasan yang kemudian dilakukan – lambat laun menjadi sempurna ketika gerak realisasi atas ide tersebut dilakukan secara serius. Karya tidak dihasilkan dari sebuah imajinasi liar – tapi karya selalu memiliki tujuan tertentu, pesan dan makna tertentu, dan ditujukan kepada sesuatu hal. Karya menjadi dasar bahwa kita adalah manusia yang telah mempergunakan “potensi yang Tuhan berikan” – dikembangkan, diasa, digumuli, dan direalisasikan dari waktu ke watu. Potensi diri adalah mahakarya diri kita sendiri, sehingga karya-karya yang dihasilkan memikiki pengaruh yang luar biasa.
Perkataan, tindakan, dan karya adalah “mural” – sebuah lukisan kehidupan kita yang terpampang di depan umum. Kita teringat pernyataan Rasul Paulus, bahwa: “Kamu adalah surat pujian kami yang tertulis dalam hati kami dan yang dikenal dan yang dapat dibaca oleh semua orang” (2 Korintus 3:2). Jika orang Korintus adalah surat pujian yang dapat dibaca oleh semua orang melalui tindakan-tindakan mereka, demikianlah kita dapat menerapkan prinsip yang sama.
Kita adalah “mural” kita sendiri yang memperlihatkan kenyataan diri diri, perkataan, tindakan, dan karya kita. Iman dan teologi yang kita anut atau cetuskan juga adalah mural. Iman direalisasikan dalam perkataan, tindakan, dan karya yang memuliakan nama Tuhan. Teologi direalisasikan dalam perkataan, tindakan, dan karya yang memuliakan namak Tuhan. Mural kehidupan kita begitu penting dan menjadi tolok ukur siapa diri kita sebenarnya.
Mural kehidupan menjadi navigasi dari apa yang kita terima dari Tuhan. Kita adalah kita, dan mural adalah lukisan wajah karakter kita sendiri (perkataan, tindakan, dan karya). Iman dan teologi tak bisa melepaskan diri dari mural diri. Apa yang tampak di depan umum tentu menjadi nilai tersendiri. Oleh sebab itu, kita memperindah dan melukis mural kita sendiri hanya dengan perkataan, tindakan dan karya.
Ketika iman dan teologi yang menavigasikan kehidupan kita dan membawa kita kepada pemahaman dan pengenalan Tuhan yang benar, maka mural kehidupan kita akan menjadi harga tertinggi dari sebuah integritas dan pengabdian kita kepada Sang Khalik.
Mural kehidupan yang mengetengahkan iman dan teologi kita, sejatinya hanya tampak dan dilihat khalayak adalah melalui perkataan, tindakan, dan karya. Dari semua pencapaian hidup kita, pasti terkait dengan ketiga mural kehidupan sebagaimana yang telah saya jelaskan di atas.
Benahi diri, koreksi diri, introspeksi diri, kembangkan potensi diri, hasilkan karya-karya terkeren dan serius, hasilkanlah tindakan-tindakan yang memuliakan nama Tuhan Yesus, dan kembangkan potensi komunikasi (perkataan) dalam relasi internal maupun eksternal.
Kita adalah “Mural Terbuka” yang dapat dibaca oleh semua orang. Kita dinilai karena kita menampilkan mural diri kita sendiri. Jadilah bijak, jaga integritas, dan setialah di jalan Tuhan. Ia akan menguatkan, memberkati, dan menopang kita dalam segala hal. Tampilkan mural kehidupan yang terbaik sebab Tuhan Yesus telah memberikan yang terbaik kepada kita.
Setiap proses kehidupan menyediakan berbagai hal untuk dinilai, dipikirkan (dianalisis) atau dijadikan sebagai pembelajaran di mana proses tersebut memberi nilai-nilai hidup yang perlu kita jalankan dan pegang, dan kemudian menjadi prinsip hidup.
“Benang” adalah kata familiar di telinga kita. Pakaian yang kita kenakan dijahit dengan menggunakan benang. Benang itu sendiri adalah sebuah tali kecil dan halus yang dipintal dari kapas (sutra dan sebagainya) yang digunakan untuk menjahit dan menenun. Baju dan celana yang keren tidak lepas dari peran benang di dalamnya. Tukang jahit menggunakan benang berwarna-warni untuk menjahit kain ketika hendak membuat baju atau celana, dan lain sebagainya.
Benang menjadikan pakaian kita menjadi tampil menarik, kuat, dan keren. Benang yang lepas, membuat pakaian yang dikenakan tampak kurang menarik dan memalukan. Benang, meski kadang tak diperhitungkan saat kita melihat model pakaian, tetapi berkat benanglah, pakaian yang mewah dan cantik, atau keren dan menarik, tampak memuaskan para pembeli dan penggunanya.
Ada aspek penting yang dapat kita tarik dari benang tersebut. Itu sebabnya, saya menulis tentang “Teologi Benang” agar kita dapat melihat pesan dan makna dari benang yang dapat memperindah bentuk dan gaya pakaian kita, dan barang-barang lainnya yang menggukan “jasa benang”.
Teologi Benang berbicara tentang sesuatu yang tak kecil dan kurang diperhatikan, tetapi memberi dampak yang besar. Kita teringat dengan analogi yang diberikan oleh Rasul Paulus tentang jemaat di Korintus. Ia memberikan contoh tentang tubuh dan anggota tubuh. Tampak bahwa ada bagian tubuh yang merasa hebat dan mengambaikan bagian tubuh lainnya yang kurang terhormat dang dianggap paling lemah. Analogi tersebut sangat tepat untuk menggambarkan Teologi Benang.
Jadi mata tidak dapat berkata kepada tangan: “Aku tidak membutuhkan engkau.” Dan kepala tidak dapat berkata kepada kaki: “Aku tidak membutuhkan engkau.” Malahan justru anggota-anggota tubuh yang nampaknya paling lemah, yang paling dibutuhkan. Dan kepada anggota-anggota tubuh yang menurut pemandangan kita kurang terhormat, kita berikan penghormatan khusus. Dan terhadap anggota-anggota kita yang tidak elok, kita berikan perhatian khusus.
Hal itu tidak dibutuhkan oleh anggota-anggota kita yang elok. Allah telah menyusun tubuh kita begitu rupa, sehingga kepada anggota-anggota yang tidak mulia diberikan penghormatan khusus, supaya jangan terjadi perpecahan dalam tubuh, tetapi supaya anggota-anggota yang berbeda itu saling memperhatikan. Karena itu jika satu anggota menderita, semua anggota turut menderita; jika satu anggota dihormati, semua anggota turut bersukacita (1 Korintus 12:21-26).
Memang ada bagian tubuh yang kurang tampak saat kita menggerakkan tubuh; ia tersembunyi tapi memiliki peran tertentu. Misalnya tangan tak bisa bergerak jika tidak ada tubuh. Kaki juga akan salah jalan ketika tidak bersahabat dengan mata. Kita dapat melihat analogi-manfaat pada tubuh kita sendiri, sehingga kita harus mengakui dan menghargai semua anggota tubuh dengan perannya masing-masing. Benang juga demikian saat ia menyatu dengan kain yang dibentuk menjadi pakaian. Ia kecil tapi penampilan pakaian bergantung padanya, meski ia sendiri kurang terlihat atau tak terlihat. Ialah yang menentukan seseorang dihargai atau tidak. Ketika benang jahitan pada pakaian yang kita kenakan terlepas atau rusak, kita tentu akan malu, apalagi ketika jahitan di bagian pantat atau dada sobek seketika.
Teologi Benang mengajarkan kita tentang fungsi dan peran kita dalam keluarga, gereja, sekolah, dan masyarakat mikro atau makro. Teologi Benang mengarahkan kita untuk melihat bahwa dari semua proses terbaik yang dihasilkan diri sendiri, keluarga, gereja, komunitas lainnya, sekolah, masyarakat, tidak lepas dari bantuan orang lain. Sekecil apa pun bantuan orang lain, itu adalah bagian dari proses kehidupan dan keberhasilan kita.
Gedung bertingkat yang mewah sekalipun, tidak lepas dari hasil kerja para tukang yang mungkin tidak dianggap. Semua prestasi gemilang yang kita raih tidak lepas dari orang-orang terdekat kita, sahabat, kenalan, atau siapa saja yang ikut berkontribusi di dalamnya. Tapi yang perlu diingat, bahwa semua pencapaian hidup dan keberhasilan kita adalah berkat campur tangan Tuhan; Ia memimpin, menguatkan, dan memelihara serta memberikan semangat dan kekuatan agar kita dapat bekerja dan menikmati hasil-hasilnya.
Teologi Benang adalah sebuah pemahaman bahwa sebelum menjadi benang, kapas bisa ditiup angin dan pergi entah ke mana; satu buah kapas mungkin dianggap tidak berguna dan tak mungkin menjadi benang. Tapi jika satu buah digabungkan dengan buah-buah yang lainnya, maka akan menjadi banyak, dan kemudian diolah menjadi benang.
Kita sendiri melihat bahwa pakaian yang kita kenakan dengan warna yang menarik perhatian banyak orang, tidak lepas dari jahitan penjahit dengan menggunakan benang berwarna (menyesuaikan warna kain atau menggunakan modifikasi warna tertentu supaya terlihat keren). Itu sebabnya, benang yang kecil, halus dan panjang, telah menjadi benda penting dalam proses pembentukan teologi dan jati diri kita. Pakaian yang kita kenakan telah menjadi penentu harga diri dan bahkan jati diri.
Teologi Benang (TB) sangatlah indah untuk dipahami.
Pertama, TB mengajarkan kita untuk menghargai orang lain yang meskipun ia kecil, tetapi ia memberikan kontribusi bagi kehidupan kita.
Kedua, TB mengarahkan hidup kita untuk selalu menopang orang-orang kecil, hal-hal kecil, relasi-relasi yang kecil, agar dapat memberikan manfaat yang besar bagi sesama kita di keluarga, gereja, sekolah, dan masyarakat luas.
Ketiga, TB adalah konsep dari gerak iman Kristen yang meskipun kita orang kecil, dianggap minoritas di tempat di mana kita tinggal, dianggap tidak berguna dan lemah, tetapi sejatinya kita menjadikan segala sesuatu menjadi menarik dan dihargai. Potensi kita perlu dikembangkan agar kita menjadi berkat bagi banyak orang.
Keempat, TB memberi kita pengharapan bahwa hal-hal kecil yang kita lakukan jika kita bersama-sama mengerjakannya, akan menghasilkan hal-hal yang besar.
Kelima, TB memberi dasar kepada kita bahwa meskipun kita hanyalah pelayan kecil di Gereja, misalnya hanya penerima tamu, tukang bersih gereja, tukang pegang kunci Gereja, tetapi tanpa kita jemaat tak bisa masuk ke dalam gedung Gereja jika pintunya tidak dibuka; jemaat tidak dapat melihat gereja bersih jika tidak ada yang membersihkannya, dan jemaat akan merasa dihargai jika ada yang menyambutnya di depan pintu gereja.
Tetaplah berbuat baik meski hanyalah sebuah tindakan kecil. Tindakan kecil dapat berpotensi menghasilkan pekerjaan besar. Lihatlah api yang kecil dapat membakar hutan yang besar. Jadilah orang yang baik dan bersandar pada Tuhan Yesus, Sang Khalik Semesta.
Manusia tidak diajar apa pun untuk menghasilkan sesuatu hingga Allah menjadi gurunya…. —John Newton
Ketika seorang Kristen masuk ke dunia karena ia melihat hal itu sebagai panggilannya dan sekaligus merasa sebagai salibnya, maka hal itu tidak akan melukainya. —John Newton
Pendahuluan
Kehidupan Kristen seyogianya menunjukkan kualitas, di mana kualitas itu terdiri atas lima aspek: pertama, hidup mengasihi; kedua, hidup mengampuni; ketiga, hidup untuk saling mendoakan; keempat, hidup dalam ketabahan (berserah kepada kehendak Tuhan); dan kelima, hidup dalam persekutuan dengan Tuhan. Kualitas tersebut tampaknya sederhana, tetapi sejatinya dapat mengubah sejarah. Bahkan kualitas itu pula yang mengarahkan seseorang untuk setia kepada Tuhan, termasuk setia untuk mengikuti jalan-Nya seumur hidupnya.
Kita ingat apa kata Alkitab: “Segala jalan TUHAN adalah kasih setia dan kebenaran bagi orang yang berpegang pada perjanjian-Nya dan peringatan-peringatan-Nya” (Mzm. 25:10). TUHAN menetapkan langkah-langkah orang yang hidupnya berkenan kepada-Nya; apabila ia jatuh, tidaklah sampai tergeletak, sebab TUHAN menopang tangannya (Mzm. 37:23-24). Ketika TUHAN menemani kita, itu berarti kita berada di jalan-Nya. Ia mengarahkan kita untuk tetap di jalan-Nya, meski terdapat duri-duri dan kerikil-kerikil. Jaminan perlindungan dan topangan TUHAN lebih berharga dari pada duri-duri dan kerikil-kerikil hidup. Di situlah kualitas hidup menjadi tampak bersinar dan memukau.
Dua kisah berikut ini menggambarkan kualitas-kualitas kehidupan Kristen; dan mungkin kisah-kisah tersebut telah menjadi bagian dalam kehidupan Saudara-saudara. Kita melihat bahwa Yesus mengubah diri dan pemahanan kita tentang hidup.
Kisah pertama adalah tentang Graham Staines. Ia adalah seorang misionaris dari Australia yang melayani di antara orang-orang yang menderita lepra dan suku-suku di Orissa, India Utara. Pada tanggal 22 Januari 1999 ia dibunuh secara kejam di luar sebuah gereja bersama dengan kedua anak laki-lakinya. Orang Kristen maupun bukan Kristen di seluruh dunia marah akan kekejian seperti itu. Namun, istri almarhum yang masih berduka, Gladys Staines, mengatakan kepada seorang wartawan surat kabar pada hari berikutnya, “Saya memang sangat sedih, namun saya tidak marah, karena Yesus telah mengajarkan kami bagaimana mengasihi musuh-musuh kami.” Ia memilih untuk tetap tinggal dan meneruskan pelayanan suaminya, menderita dengan penuh sukacita dalam melayani Kristus. Kata-katanya disiarkan di koran-koran India maupun di luar India. Akibatnya, ratusan bahkan ribuan orang Hindu datang kepada orang-orang Kristen untuk menanyakan Alkitab yang mereka baca, dan banyak orang bertanya, “Mengapa kamu orang-orang Kristen berbeda?” (Jonathan Lamb, Integritas: Memimpin di bawah Pengamatan Tuhan [Jakarta: Literatur Perkantas, 2015], 228.)
Kisah kedua adalah tentang John G. Paton (yang dikutip oleh Jonh Piper). Pada usia tiga puluh dua, Paton menerima panggilan untuk pelayanan misi di New Hebrides (kini bernama Vanuatu) di Pasifik Selatan. Pada bulan Maret 1858 ia menikahi Mary Ann Robson, dan pada tanggal 16 April mereka berlayar ke pulau kanibal Tanna. Dalam waktu kurang dari satu tahun, mereka telah membangun sebuah rumah kecil dan Mary telah melahirkan seorang anak laki-laki. Tetapi pada tanggal 3 April 1859, setahun setelah pernikahan mereka, Mary meninggal karena demam dan dalam waktu tiga minggu, bayi laki-laki itu meninggal. John Paton menguburkan keduanya sendirian, dan menulis, “Jika bukan karena Yesus … saya sudah akan menjadi gila dan mati di sisi kuburan yang sunyi itu.” (John Piper, Kesukaan Allah, terj. Grace Purnamasari [Surabaya: Momentum, 2008], 361-62).
Piper melanjutkan kisah ini: Salah satu karunia yang telah diberikan Yesus, yang menopang Paton pada masa-masa itu adalah kata-kata yang diucapkan istrinya sesaat sebelum meninggal. Ia tidak menggerutu kepada Allah dalam penyakitnya yang tidak dapat disembuhkan, atau marah kepada suaminya karena membawanya ke New Hebrides. Sebaliknya, ia mengucapkan kata-kata yang mengagumkan ini: “Saya tidak menyesal meninggalkan rumah dan sahabat-sahabat. Seandainya saya dapat mengulanginya sekali lagi, saya akan melakukannya dengan kesukaan yang lebih besar, ya, dengan segenap hati saya.” (James Paton, ed., John G. Paton: Missionary to the New Hebrides [Edinburgh: Banner of Truth Trust, 1965; artikel asli tahun 1891], 85. Dikutip Piper, Kesukaan Allah, 362).
Dua kisah di atas sungguh menakjubkan. Kematian bukanlah sebuah tragedi yang membuat istri dari Graham Staines terpuruk dan mencela Tuhan; pula John G. Paton tidak menuduh Tuhan sebagai sosok yang ada di balik tragedi yang menimpanya. Apa yang mereka alami adalah bagian dari kesabaran, kekuatan iman mereka kepada Yesus Kristus. Mereka mengasihi Tuhan tentunya. Mereka begitu tabah dan mereka menunjukkan bahwa iman mereka telah membawa mereka kepada kedewasaan memandang kehidupan sebagai anugerah, meski mereka berada dalam duka yang mendalam.
Tepatlah apa yang dikatakan Piper: “Pandangan kita terhadap Allah akan menentukan sikap kita terhadap kehidupan” (Piper, Kesukaan Allah, 212). Melihat dan memahami Allah secara benar, menjadikan kita kuat menghadapi kehidupan. Komitmen dibutuhkan, dan kesetiaan untuk tetap di jalan Tuhan, adalah konfirmasi iman. Ketika seseorang telah berkomitmen untuk melayani Tuhan, maka konsekuensi logisnya adalah ia harus menunjukkan kesetiaannya kepada Tuhan melalui proses hidupnya, pelayanannya, pekerjaannya, dan proses relasinya dengan orang lain. Singkatnya, seseorang harus menunjukkan korelasi antara kata dan perbuatan [tindakan]. Tindakan adalah buah-buah dari jati diri. Dengan perkataan lain, apa yang kita katakan, haruslah dituangkan ke dalam tindakan.
Nilai sebuah kesetiaan bukanlah harga yang murah. Kesetiaan itu tinggi nilainya. Sebuah hubungan hanya dapat dipertahankan jika kesetiaan itu dipupuk dan dijaga dengan baik. Kalau seorang suami atau istri dapat menunjukkan kesetiaannya kepada pasangannya, bukankah orang akan memujinya? Namun, ada hal yang lebih penting dari itu, yakni: setia kepada Tuhan. Ketika seseorang telah setia kepada Tuhan, ia tidak akan mengalami kesulitan untuk setia kepada pasangannya, pelayanannya, pekerjaannya, dan lain sebagainya.
Segala sesuatu yang terjalin indah dan kuat dengan Tuhan menghasilkan sebuah kehidupan yang benar, kudus, dan berkenan kepada-Nya. Kesetiaan juga demikian. Untuk tetap setia kepada Tuhan, berjalan di jalannya bukanlah tanpa hambatan, tantangan, ataupun dukacita. Mereka yang berjuang di jalan Tuhan pasti pernah merasakannya. Pdt. Dr. Edison Djama adalah salah satu dari sekian banyak hamba Tuhan yang telah menunjukkan dedikasinya kepada Tuhan, setia di jalan-Nya, melayani-Nya, dan menghasilkan buah bagi kemuliaan nama-Nya.
Orang dapat menilai kita pada saat ini, tetapi kadangkala mereka tidak tahu bagaimana proses yang kita jalani sehingga kita dapat tiba pada kondisi sekarang ini.
Ada tiga aspek yang menjadi poin dalam tulisan ini. Pertama, mereka yang setia adalah anak-anak Allah. Kedua, mereka yang setia adalah mereka yang mengenal Allah. Ketiga, mereka yang setia adalah mereka yang giat melayani-Nya.
Mereka yang Setia adalah Anak-Anak Allah
Sebagai pelayan, kita disebut juga dengan sebutan “Anak-anak Allah” yang dengannya kita melakukan kehendak Bapa kita. Alkitab seringkali menggunakan istilah tersebut bagi mereka yang percaya kepada-Nya. Dengan demikian, mereka yang setia di jalan Tuhan, setia melayani, setia dalam segala kesukaran dan kedukaan, setia dalam segala perkara, layak disebut anak-anak Allah. Kita ingat apa yang dikatakan Yesus: “Berbahagialah orang yang membawa damai, karena mereka akan disebut anak-anak Allah” (Mat. 5:9).
Identitas anak-anak Allah terlihat dari tiga hal: pertama, sikap hidup setiap hari; kedua, sikap pelayanan; dan ketiga, sikap bekerja. Hal pertama berbicara tentang realisasi dari iman kepada Yesus Kristus dalam konteks relasi dan komunikasi di kehidupan sehari-hari. Iman mendorong terciptanya tindakan nyata. Iman tidak hanya ada pada tataran pengakuan, tetapi juga pada tataran tindakan. Mereka yang setia di jalan Tuhan pasti adalah mereka yang telah bertindak atas nama Tuhan dalam bentuk pelayanan, persekutuan, pengampunan, pengasihan, kesabaran menghadapi segala sesuatu, dan lain sebagainya. Singkatnya, semua tindakan yang selaras dengan firman-Nya.
Hal kedua adalah sebuah sikap yang tidak hanya sekadar “melayani” saja, melainkan ada aspek-aspek penting yang menjadi dasar (penopang) dalam pelayanan. Pada umumnya, melayani adalah sebuah gambaran kegiatan yang rohani (dilakukan oleh orang-orang yang dipakai Tuhan), dan kegiatan yang dianggap rohani (dilakukan oleh orang-orang yang merasa dipakai Tuhan). Secara substansial dan empirikal, keduanya jelas berbeda.
Orang-orang yang melayani Tuhan memiliki orientasi pelayanan yang sesuai dengan kehendak Allah. Orientasi tersebut adalah wujud keterpanggilan mereka untuk melayani dalam segala situasi, dan merupakan wujud kesadaran iman dan tanggung jawab mereka kepada Allah yang telah memanggil dan memakai mereka sebagai alat di tangan-Nya. Allah adalah guru terbaik dan suprematif. Allah mengajar kita untuk menghasilkan buah-buah kebenaran, kasih, dan kehidupan.
Mereka yang Setia adalah Mereka yang Mengenal Allah
Mengenal Allah tampak dalam tindakan, bukan hanya sekadar pemikiran. Ada yang menghasilkan pemikiran tentang Allah, tetapi belum tentu ia mengenal Allah. Mengenal Allah berarti memiliki pengalaman bersama-Nya. Menurut Lamb, “Watak Allah dicirikan oleh kasih yang tidak berkesudahan dan selalu setia, penuh rahmat dan kebenaran, kasih dan terang. Jika kita belajar untuk mengenal-Nya, maka kita terpanggil untuk mewujudkan sifat-sifat tersebut, menjalani hidup yang berpadanan dengan panggilan ini, serta hidup sesuai dengan watak Allah” (Lamb, Integritas, 30).
Mengenal Allah berarti mewujudkan kasih, kesetiaan, kebenaran Allah, dan terang firman-Nya. Hal-hal itu pula yang akan mewarnai perjalanan kita di jalan Tuhan. Kesetiaan yang tampak dalam pelayanan adalah buah-buah dari komitmen untuk mewujdkan kasih, kesetiaan, kebenaran Allah, dan terang firman-Nya. Kita dapat melakukan itu semua karena kita dipanggil untuk merealisasikannya. Lamb menegaskan, “Kita mampu menghadapi berbagai tantangan dalam pelayanan kristiani ketika kita merasa yakin siapa yang telah memanggil kita, dan apa tugas yang dipercayakan-Nya kepada kita. Kita telah melihat bahwa, dengan kemurahan Allah, Ia memperlengkapi kita untuk pelayanan dan mengundang kita agar kita hidup berpadanan dengan panggilan-Nya yang kudus (Lamb, Integritas, 235).
Mereka yang setia adalah mereka yang mengenal Allah dengan baik. Pengenalan akan Allah membawa orang percaya ke dalam kehidupan dan mengajarinya untuk setia, sabar, dan berserah sepenuhnya kepada kehendak Allah. Allah telah menjadikan diri-Nya dikenal manusia.
Bahkan lebih lagi, Allah memperkenalkan diri-Nya melalui Yesus Kristus. Sebagaimana Allah dikenal dari Firman-Nya, kini Ia memperlihatkan diri-Nya dalam wujud manusia, “Logos [Firman] menjadi daging”—tanda kemahakuasaan-Nya yang suprematif—di mana Allah menjadi lebih dekat, lebih akrab, diam di antara manusia (Yoh. 1:14). Allah menunjukkan kualitas penyataan diri-Nya untuk mengarahkan manusia pada jalan yang dikehendaki-Nya. Kita yang dipanggil Allah untuk melayani, haruslah setia dan tetap di jalan-Nya.
Dua kisah yang saya tuliskan di awal tulisan ini adalah bukti bahwa John G. Paton, dan istri dari Graham Staines benar-benar mengenal siapa yang mereka percayai. Mengenal Allah menjadikan kita kuat, setia, dan tabah menjalani kehidupan.
Mereka yang Setia adalah Mereka yang Giat Melayani
Teks yang saya rujuk untuk menjadi dasar dari bagian ini adalah 1 Korintus 15. Dalam pasal tersebut, tampak bahwa Rasul Paulus menjelaskan mengenai “kebangkitan”. Berdasarkan konteks, Paulus menjelaskan tiga bagian mengenai kebangkitan yang bersifat doktrinal yaitu: kebangkitan Yesus (1 Kor. 15:1-11), kebangkitan manusia (orang percaya; 1 Kor. 15:12-34), dan kebangkitan tubuh (1 Kor. 15:35-57).
Setelah menjelaskan hal-hal yang bersifat doktrinal, maka pada teks 1 Korintus 15:58, Rasul Paulus menyimpulkan dengan pernyataan yang bersifat aplikatif: “Berdirilah teguh, jangan goyah, dan giatlah selalu dalam pekerjaan Tuhan! Sebab kamu tahu, bahwa dalam persekutuan dengan Tuhan jerih payahmu tidak sia-sia. Baik “doktrinal” (dasar iman) maupun “aplikatif” (giat melayani Tuhan), keduanya haruslah tertuang dalam totalitas kehidupan dan pelayanan.
Giat melayani Tuhan bukan hanya sekadar terlihat melayani tetapi sungguh-sungguh memperlihatkan substansi pelayanan. Jika kita hanya sekadar terlihat melayani, maka kita akan berpura-pura sibuk melayani padahal isi dan tujuan pelayanannya tidak jelas. Apa saja diperbuat supaya terlihat sibuk melayani; asal terlihat sibuk, pasti dianggap [telah] melayani. Ini jelas pemahaman yang keliru.
Memperlihatkan substansi pelayanan—giat melayani Tuhan—secara faktual memiliki beberapa hal penting sebagai berikut:
Pertama, setiap jenis pelayanan harus menerapkan hal-hal yang bersifat doktrinal untuk menegaskan posisi iman Kristen dibanding ‘iman-iman’ [agama] lainnya. Di sini kita dapat menerapkan pemahaman kita mengenai kebangkitan Kristus, atau yang lainnya sesuai konteks.
Kedua, setiap jenis pelayanan harus menerapkan kemampuan untuk berdiri teguh dan tidak goyah. Pelayanan yang kita kerjakan bukanlah tanpa tantangan dan hambatan. Meski demikian, sikap berdiri teguh dan tidak goyah tetap dilakukan. Ini adalah wujud dari keterpanggilan untuk siap dan giat melayani Tuhan dalam segala hal dan situasi.
Ketiga, setiap jenis pelayanan harus menerapkan kesadaran dan tanggung jawab iman. Kita harus sadar bahwa Tuhan telah memanggil dan memakai kita sebagai alat di tangan-Nya; melalui pelayanan tanggung jawab iman haruslah terwujud dan termaknai.
Keempat, setiap jenis pelayanan harus menerapkan komitmen kepada Tuhan untuk tetap giat melayani, berjerih lelah, dan tetap setia di jalan-Nya.
Butir-Butir Permenungan
Kualitas kehidupan Kristen memperlihatkan sikap hidup untuk saling mengasihi; mengasihi Tuhan lebih dari segalanya. Ketika mengasihi Tuhan menjadi beres, maka sikap mengasihi sesama menjadi beres pula. Mengasihi Tuhan adalah pantulan dari mengasihi sesama. Kita teringat apa yang dikatakan Yesus: “Kasihilah Tuhan, Allahmu, dengan segenap hatimu dan dengan segenap jiwamu dan dengan segenap akal budimu. Itulah hukum yang terutama dan yang pertama. Dan hukum yang kedua, yang sama dengan itu, ialah: Kasihilah sesamamu manusia seperti dirimu sendiri” (Mat. 22:37-38).
Kualitas berikutnya adalah menunjukkan sikap hidup untuk saling mengampuni, saling mendoakan, hidup dalam ketabahan (berserah kepada kehendak Tuhan), dan hidup dalam persekutuan dengan Tuhan. Mereka yang setia di jalan Tuhan tidak akan terhindar dari kualitas-kualitas tersebut, tetapi justru mereka menunjukkannya dalam totalitas hidup mereka.
Kebenaran Allah telah menguasai kita tatkala kita hidup bagi Allah. Kebenaran Allah menjadikan kita merdeka dari dosa, bebas dari kekuatiran akan hidup. Benar apa yang diungkapkan Lamb, bahwa “Kebenaran Alkitab memerdekakan kita, memampukan kita untuk menjalani kehidupan sebagaimana yang seharusnya dalam setiap bidang kehidupan kita. Komitmen kita untuk terus mempelajari, menerapkan dan menjalani kehidupan yang mencerminkan kebenaran merupakan satu-satunya resep untuk pembaruan akal budi dan tingkah laku yang diubahkan” (Lamb, Integritas, 236). Allah tidak hanya memerdekakan, tetapi juga menjanjikan kehidupan yang berbahagia di dalam Kerajaan-Nya.
Dari segala yang kita dapatkan dari Tuhan, kita menyadari bahwa kita dimampukan oleh-Nya untuk hidup bagi-Nya dan setia di jalan-Nya. Kita tahu bahwa mereka yang setia adalah anak-anak Allah, mereka yang setia adalah mereka yang mengenal Allah, dan mereka yang setia adalah mereka yang giat melayani-Nya. Ini sangat mengagumkan.
Hanya mereka yang setia, yang akan menerima mahkota kehidupan. Oleh sebab itu: “Berdirilah teguh, jangan goyah, dan giatlah selalu dalam pekerjaan Tuhan! Sebab kamu tahu, bahwa dalam persekutuan dengan Tuhan jerih payahmu tidak sia-sia.” Jika Allah memanggil kita untuk melayani, Ia menguatkan kita dengan janji-janji-Nya. Ia tidak hanya memberi perintah untuk hidup dan setia di jalan-Nya, tetapi juga menjanjikan sesuatu yang berkualitas. Dengan demikian, bersama J. Knox Chamblin kita mengakui bahwa “Janji Allah harmonis dengan perintah-Nya.
Soli Deo Gloria. Salam Bae….
Artikel ini telah dimuat di buku “TETAP SETIA DI JALAN TUHAN: Kumpulan Tulisan dalam Rangka Mensyukuri Ulang Tahun Pdt. Dr. Edison Djama, M.Pd.K. ke-70”. Editor: Stenly R. Paparang, Pangeran Manurung, Yosia Belo dan Lewi N. Bora. Cet. 1 – Surabaya: Bible Culture Study, 2020. 14.8 x 23 cm. ISBN 978-623-91188-4-6.