FILSAFAT SEPATU

Sepatu tidak pernah malu dan tak pernah mengeluh. Yang malu dan mengeluh adalah pemakainya. Kita bangga menggunakan sepatu mahal di depan umum, tetapi pada saat sama ada orang yang malu menggunakan sepatu rusak. Kita malu karena pikiran kita beranggapan bahwa orang lain akan menganggap saya aneh padahal tidak sesederhana itu.

Mungkin ada orang yang merasa terhibur ketika kita menggunakan sepatu rusak apalagi sepatu yang menganga seperti buaya membuka mulutnya. Kita malu dan bangga dan perasaan tersebut kita lekatkan pada orang lain. Tapi tidak semua orang berpikir seperti yang kita pikirkan. Kita menggunakan sepatu sesuai dengan keperluannya. Ada sepatu kerja, ada sepatu roda. Ada sepatu olahraga, ada sepatu ke gereja. Ada sepatu santai, ada sepatu style. Ada sepatu perang, ada sepatu gunung.

Sepatu memiliki beragam warna. Sepatu memiliki beragam model. Sepatu memiliki beragam ukuran. Sepatu memiliki beragam harga, dan sepatu memiliki beragam kualitas dan merek. Jika kita memahami filsafat sepatu dalam korelasinya dengan pelayanan Kristen, kadang kita merasa malu dan berpikir bahwa orang lain berpikir itu adalah pelayanan yang kurang mantap. Namun, kita lupa bahwa definisi dan jenis pelayanan tidak diukur berdasarkan apa yang disukai orang lain sebab tidak ada pelayanan yang dapat memuaskan semua pihak. Jadi, pelayanan Kristen itu tumbuh dari kesadaran iman dan pola pikir kita. Kadang, pikiran kita yang kerdil membuat kita malu dan mengeluh sama seperti pemakai atau pengguna sepatu.

Kadang pula, dari konteks sepatu, kita mengukur sukses tidaknya seseorang dengan sepatu yang dikenakannya. Padahal, siapa saja bisa membeli sepatu dengan harga 2 juta atau 3 juta dan seterusnya. Tetapi perlu diingat, sepatu jenis apapun dan harga berapa pun, tetap menginjak tanah yang sama, tetap menaiki tangga yang sama, dan menuruni bukit yang sama. Sepatu mencerminkan jati diri kita tetapi bukan diukur dari harganya yang mahal tetapi diukur dari kepuasan bahwa sepatu yang kita kenakan pas di kaki kita.

Dapat dibayangkan jika ada sepatu yang harganya 5 juta tetapi sempit atau longgar di kaki kita. Orang-orang mungkin tidak akan berfokus pada harga sepatu tetapi pada kaki dan sepatu yang tidak sinkron. Bahkan mungkin saja menjadi hiburan atau lelucon yang memuaskan. Filsafat sepatu ini perlu kita pahami secara baik. Sepatu yang pas membawa kepuasan bagi pemakainya berapa pun harganya. Demikian pula dengan pelayanan kita. Pelayanan yang pas membawa kepuasan bagi mereka yang melayani.

Filsafat sepatu perlu dilihat melalui aspek-aspek berikut ini:

Ada orang yang berniat menggunakan sepatu mahal

Ada orang yang berniat membeli sepatu mahal atau murah meriah

Ada orang yang berniat memerlukan sepatu

Ada orang yang berniat meminjam sepatu

Ada orang yang berniat meminjam sepatu dan tak mau mengembalikannya

Ada orang yang berniat melempar orang lain dengan sepatu

Ada orang yang bermimpi punya sepatu roda

Ada orang yang ingin membelikan sepatu buat pasangannya atau orang yang dikasihinya, dan sejumlah niat, keinginan, dan rencana dengan sepatu yang diinginkannya.

Sepatu tak pernah malu dan mengeluh. Ia setia menemani pemakainya selama pemakainya menggunakannya. Sepatu tidak pernah meminta dirinya untuk dilepaskan. Ia tidak pula meminta undur diri dalam pertemuan atau pun pertempuran.

Sepatu tak meminta dirinya untuk mencelakai orang lain apalagi pemakainya. Meski kita tahu bahwa sepatu kadang menjadi alat untuk melempar orang yang atau menendang orang lain. Setelah manusia memakainya, ia pun dibiarkan sendiri, tanpa hiburan. Ia ditempatkan di sudut ruangan atau bahkan digantung di mana saja.

Sepatu adalah pahlawan tanpa tanda jasa setelah para guru menerima julukan tersebut. Guru yang adalah pahlawan tanpa tanda jasa juga menggunakan sepatu. Ia setia menemani. Sepatu adalah teman setia yang menunjang penampilan dan rasa percaya diri di depan umum.

Filsafat sepatu adalah refleksi dari cara berpikir manusia untuk menemukan makna di balik sepatu yang adalah teman setia; sepatu yang meningkatkan harga diri sekaligus merendahkan harga diri; sepatu yang tidak mengomel. Ia menemani sampai ia sendiri tak lagi dibutuhkan.

Sepatu, engkau adalah sahabatku yang dapat memberiku berkat melimpah dalam pekerjaan dan pelayanan. Pelayanan adalah ladang untuk saya bekerja dengan menggunakan sepatu, entah sepatu bagus, sepatu yang sudah rusak kulitnya atau sepatu yang pas di kaki. Terima kasih sepatuku. I love You.

Stenly R. Paparang. “SEPATU TIDAK PERNAH MALU DAN MENGELUH: MEMAHAMI FILSAFAT SEPATU”

Salam Bae…..

Sumber gambar: Pinterest

CINTA DUA WAJAH

Umumnya, manusia hidup dalam lingkungan multi wajah. Maksudnya, ada orang-orang di sekitar kita yang memiliki dua atau tiga wajah. “Wajah” dipahami sebagai bentuk ungkapan perasaan hati, pikiran, dan emosi. Dalam penerapannya, ungkapan semacam itu menghadirkan identitas wajah entah yang sesungguhnya, atau semaunya (ada maksud di baliknya).

Dua wajah manusia adalah realita yang tak dapat dipungkiri. Seringkali wajah hidup dipoles sedemikian rupa untuk menghasilkan efek samping. Ada yang terpukau karenanya. Ada yang muak terhadapnya. Ada yang penasaran dengannya. Ada yang hati-hati menafsirkannya. Ada yang segera mempercayainya. Ada yang mengabaikannya. Ada yang meludahinya. Bahkan, ada pula yang mengutuknya.

Kita melihat jenis permainan ini dalam fase-fase hidup seseorang. Wajah memiliki dua implikasi. Pertama, ditunjukkannya wajah yang baik, tetapi semestinya tidak demikian. Ada satu wajah yang disimpan di baliknya. Kedua, ditunjukkannya wajah yang sesungguhnya atas nama kejujuran. Wajah kedua adalah persiapan untuk menjelaskan wajah pertama jika ada yang merendahkannya, meremehkannya, atau membuangnya.

Dalam rumah cinta, kita mengunci identitas kita dalam hubungannya dengan upaya menjaga nama baik, menjaga rasa cinta, dan menjamin rasa aman pada kedua belah pikak. Meski tetap terbuka peluang untuk menciptakan dua wajah, bagi mereka yang memegang teguh komitmen cinta kasih, tidak akan menciptakannya untuk kepentingan tertentu.

Terjebak dalam cinta dua wajah kadangkala terjadi karena situasi dan kondisi yang membuka cela terhadapnya. Dua wajah itu “hidden agenda”. Wajah pertama dibuat menjadi dua konteks: di depan wajah lain yang pertama, ia berbuat baik; di depan wajah lain yang kedua, ia lebih berbuat baik (prinsip melampaui untuk tujuan tertentu). Taburan kebaikan pada dua wajah lain yang dicintai atau disukai, rentan terhadap manipulasi.

Bersembunyi dalam manipulasi membendung rasa jujur yang sebenarnya. Menyembunyikan wajah asli untuk tujuan negatif-manipulatif menghasilkan beban perasaan yang dapat merusak kebahagiaan dan iman. Kita berpura-pura baik untuk terlihat lebih baik dari yang lain. Kita berpura-pura peduli untuk tujuan tertentu. Dan pada akhirnya yang tersisa adalah kemunafikan dan cara-cara kotor untuk memuluskan semua agenda penyimpangan rasa.

Cinta dua wajah sangatlah merugikan, meskipun ada yang menganggapnya sebagai keuntungan diri dan nafsu. Pada kenyataannya, semua rasa dan nafsu menjadi satu dalam kedurhakaan dan ketidaknyamanan. Berbagai upaya untuk menutupi wajah yang kedua, memang harus dilakukan jika menginginkan wajah pertama tetap aman dan terkendali. Akan tetapi, yang perlu dicatat adalah kertas-kertas kehidupan yang telah dituliskan kisah cinta dua wajah, toh pada akhirnya akan basah dan sobek jika hujan dari Tuhan turun membasahinya.

Kita tidak boleh melupakan bahwa adalah hujan dari Tuhan yang membasahi kertas-kertas kehidupan yang kotor, entah dengan tujuan membasahi untuk menghapus semua kekotoran itu, ataukah memang Tuhan bermaksud untuk memusnahkannya.

Dalam proses waktu yang panjang atau pendek, upaya untuk memperlihatkan cinta dua wajah tak akan bertahan lama. Akhirnya, kesadaran dan pertobatanlah yang dapat mengakhirinya. Kesadaran akan kesetiaan pada cinta satu wajah, dan pertobatan dari cinta dua wajah.

Muara cinta pada satu sungai hati, tetap dialirkan pada alur sungai itu sendiri. Itu sebabnya, bertahanlah pada cinta satu wajah. Tantangan dan godaan sering datang dengan wajah-wajah baru yang menawan, menarik, dan menggoda. Mereka yang tahu bahwa cinta butuh komitmen dan saling pengertian, perhatian, dan saling menjaga, akan bertahan dalam waktu, bertahan dalam perasaan-perasaan yang muncul, dan bertahan saat wajah-wajah baru mulai bermunculan.

Salam Bae……

Sumber gambar: Pinterest

MENCINTAI HINGGA TERLUKA: Melukis Perasaan Cinta di atas Kertas Kehidupan

Ungkapan hati ditampilkan dalam bentuk perasaan cinta atau sayang kepada seseorang. Dalam keadaan itu, kita mengupayakan sesuatu untuk dapat membuktikan ungkapan hati tersebut melalui tindakan dan perkataan. Tindakan diwujudkan dalam bentuk perhatian dan kepedulian. Sedangkan perkataan diwujudkan dalam pernyataan-pernyataan dan nada-nada cinta kasih yang indah, berkesan, dan sedikit merayu.

Perjalanan cinta seringkali menempuh kerikil-kerikil tajam. Berbalut “materi” mentah ataupun yang sudah jadi, cinta melangkahkan kakinya menuju tujuan bersama; kadang tak punya tujuan, hanya sekadar “happy” saja. Asalkan hati senang, itu cukup.

Lidah – yang memuji-muji kekasih hati – ibarat pena yang menuliskan syair atau puisi, alunan lagu dan apa pun itu, di atas kertas kehidupan. Banyak hal dan banyak cara telah dilakukan untuk “memurnikan perasaan cinta” agar sang kekasih hati dapat memegang teguh perasaan cinta itu.

Semestinya goresan-goresan lidah di atas kertas kehidupan terwakilkan dengan ungkapan hati. Tapi, kadangkala tidaklah demikian adanya. Lain di hati, lain di lidah. Segala usaha telah dicoba untuk memastikan bahwa hati sang kekasih tidak diambil orang , “berpindah tangan”, atau pun ia tertarik dengan yang lain. Usaha itu kadang mengorbankan banyak hal: tenaga, waktu, pikiran, uang, keluarga, sahabat (teman), pekerjaan, dan lain sebagainya. Cinta memang butuh hal-hal itu sebagai pembuktiannya.

Perasaan cinta yang terlampau tinggi dapat mengabaikan nalar dan kondisi diri. Upaya memang perlu, tetapi tampak bahwa upaya seringkali tak berpihak pada kita. Barangkali, ada hal-hal yang perlu dipikirkan secara mendalam tentang apa dan bagaimana menjaga, mempertahankan, dan memurnikan perasaan cinta.

Goresan-goresan masalah dan kesalahpahaman, emosi, tak dihargai, direndahkan, disalahmengerti, membuat luka di atas luka. Kesabaran adalah alat bayarnya agar tak membuat kita gelap mata bahkan bertindak tak seharusnya.

Terluka karena cinta banyak ragamnya. Ada yang rela terluka demi cinta. Ada yang mencintai hingga terluka. Ada yang menyerah pada luka cinta, dan ada yang mengobati luka cinta itu, menunggunya sembuh. Bahkan, jika terluka lagi, usaha yang sama tetap dilakukan. Hingga kematian tak terbendung, cinta tetap terluka, rasa cinta masih tetap tersimpan dalam relung hati.

Adakah kita memahami cinta yang sejati? Adakah kita melihat kedalaman cinta, menyelami rahasia hati? Setiap kita memiliki waktu dan kesempatan untuk melukis perasaan cinta di atas kertas kehidupan. Tak ada yang mendukung kita sepenuhnya, kecuali karena kepentingan. Jika demikian, kitalah “tuan” yang melukis lukisan cinta kita. Buatlah lukisan itu sesuai dengan harapan, potensi diri, dan kondisi diri.

Memang cinta harus diperjuangkan. Tetapi juga harus dipertahankan. Itu pun tidak cukup. Cinta butuh pengertian dan perhatian. Bahkan itu juga tidak cukup. Cinta butuh pengorbanan segala sesuatu. Kita rela “menjual” sesuatu sebagai “harga yang harus dibayar demi cinta”.

Bukankah hal-hal tersebut menciptakan luka di hati? Ataukah kita dengan mudah menyembuhkan luka cinta itu? Tak jarang, beberapa orang mengakhirinya dengan “membunuh cinta dan diri”. Sebegitu kuatkah perasaan cinta, hingga seseorang rela bahkan nekat kehilangan segala sesuatunya?

Memang, mencintai hingga terluka adalah bagian kehidupan dan perjalanan cinta. Tidak semua orang mengalaminya. Tetapi ini bisa menjadi pelajaran kehidupan. Apalagi lembar demi lembar kertas kehidupan telah terisi dengan cerita cinta, jatuh bangun, upaya, kegagalan, kemarahan, kesabaran, emosi, kesalahpahaman, kesalahmengertian, pengkhianatan, penipuan, dan masih banyak lagi.

Mungkinkah kita telah meyakini bahwa cinta yang kita upayakan adalah cinta yang murni, kuat, dan penuh kasih? Ataukah kita masih ragu menafsirkan rasa cinta yang ada? Biarlah guliran waktu menghempaskan semua keraguan, semua kebodohan, semua keegoisan. Dan yang tersisa adalah “cinta yang tulus.”

Dengan tenaga yang ada, kita pun tetap melukis perasaan cinta kita di atas kertas kehidupan. Semua manusia memiliki waktu dan kesempatan untuk melukiskan kehidupan dan cintanya. Kita punya pena sendiri; kita punya kertas; kita punya cinta; kita punya usaha; kita punya kerinduan menyusun kembali kisah cinta.

Kita membangun rumah bagi cinta; di situlah tempat ternyaman bagi kumpulan kertas kehidupan di mana kisah cinta telah tertulis di sana.

Jangan abaikan komitmen. Jangan abaikan cinta kasih. Di mana ada cinta kasih yang murni di situ ada cerita dan kisah terbaik. Apalagi jika itu dilukiskan di atas kertas kehidupan. Terluka karena cinta adalah fakta yang tak dapat dipungkiri, tetapi mengobati luka cinta adalah usaha yang berani.

Itulah yang dapat menjadi catatan kehidupan cinta yang pernah ada, dan lembar-lembar catatan tersebut dapat dibaca oleh banyak orang. Lukisan perasaan cinta di atas kertas kehidupan merupakan daya ingat abadi: kita, cinta, dan luka, semuanya membentuk karakter cinta yang sesungguhnya.

Salam Bae……

Sumber gambar: Unsplash dan Pinterest

BERTUMBUH BERSAMA DALAM PENGETAHUAN: Catatan Singkat Kolose 1:9-14

Kolose, kota di Frigia, di provinsi Romawi (Asia Kecil), terkenal dengan perdagangan wol dan tekstilnya. Umat Kolose pada umumnya terdiri dari orang-orang Kristen asal kafir. Kolose agaknya subur bagi berbagai macam ajaran sesat yang ditentang oleh Paulus. Agama Romawi tidak membuang pemujaan Frigia lama dan dewi kesuburan memiliki tempat pemujaan di kota tetangganya, Hierapolis. Kesannya, masyarakat begitu toleran, yang di dalamnya terjadi perkawinan campur Yahudi dan bukan Yahudi dan berbaurnya ibadah Yahudi yang ketat dengan unsur penyembahan berhala Helenistik. Budaya Helenistik (penyebaran peradaban Yunani pada bangsa non-Yunani yang ditaklukkan oleh Alexander Agung) berkembang dan pada aspek-aspek tertentu mempengaruhi masyarakat—dan mungkin termasuk pada masyarakat kota Kolose. Kota Kolose ini runtuh oleh gempa bumi tahun 60 M (Tacitus, Ann. 14.27). hal ini tidak disebutkan dalam surat Paulus, yang mungkin ditulis sebelum berita bencana ini tiba di Roma.

Surat Kolose adalah salah satu di antara surat-surat yang ditulis Paulus dari dalam penjara. Isinya terkait upaya menghadapi ajaran sesat yang merembes masuk ke Kolose. Salah satunya adalah pengetahuan spekulatif maupun yang mengandalkan bentuk-bentuk askese tertentu dan mengusahakan penghormatan atau memuja para malaikat. Paulus menunjukkan bahwa kekuasaan Kristus di atas segalanya.

Ajaran sesat yang berkembang di Kolose memberikan tempat utama kepada kuasa-kuasa dari dunia roh, sehingga merugikan tempat yang seharusnya diberikan kepada Yesus Kristus (bdk. 2:18). Orang terlalu mementingkan ihwal lahiriah, misalnya hari-hari raya dan puasa, bulan baru dan sabat (2:16) dan sebagainya. Para guru penyesat itu membual bahwa mereka mempunyai filsafat yang lebih tinggi. Hal ini jelas  dari pasal 2:4, 8, 18.

Dari latar belakang di atas, upaya untuk meredam, menolak, dan menafikan ajaran sesat adalah bertumbuh dalam pemahaman dan pengetahuan tentang Allah. Alasannya, karena berbagai bentuk ajaran sesat selalu dimulai dari “pemahaman” (cara berpikir, menalar, dan menyimpulkan), yang kemudian berkembang menjadi “pengetahuan” (dikonsumsi sebagai dasar melakukan segala sesuatu termasuk ritual). Rasul Paulu menghendaki bahwa “pemahaman dan pengetahuan” adalah substansi dari iman kepada Yesus Kristus.

Sebagai umat yang kudus, orang-orang percaya di Kolose, perlu bagi mereka untuk terus memahami dan bertumbuh dalam pengetahuan tentang Yesus Kristus. Mendudukkan (menempatkan) Yesus Kristus sebagai “Raja” dalam hidup sebagai bentuk penolakan terhadap ilah-ilah duniawi dan hawa nafsunya yang dapat saja menjerat iman orang-orang percaya. Itu sebabnya, Rasul Paulus dan rekan-rekannya terus berdoa, mengucap syukur kepada Tuhan karena umat Kolose memiliki dan menjaga iman mereka.

Harapan Rasul Paulus dan rekan-rekannya adalah supaya umat di Kolose menerima segala hikmat dan pengertian yang benar, untuk mengetahui kehendak Tuhan dengan sempurna. Mereka juga hidup layak di hadapan Tuhan serta berkenan kepadaNya dalam segala hal dan “berbuah dalam segala pekerjaan baik dan bertumbuh dalam pengetahuan yang benar tentang Tuhan.” Ketika ajaran sesat mulai menunjukkan eksistensinya, pemahaman dan pengetahuan orang percaya haruslah semakin teguh dan tangguh. Proses berpikir memang cepat mempengaruhi seseorang ketimbang perilaku. Itu sebabnya, Paulus menghendaki agar umat Kolose harus, selain dari berbuah dalam pekerjaan baik, mereka dapat bertumbuh dalam pengetahuan yang benar tentang Sang Khalik yang telah menebus dan menyelamatkan mereka.

Bertumbuh bersama dalam pengetahuan mencakup beberapa hal: pertama, memahami pribadi Tuhan; kedua, memahami dan merasakan perbuatan-perbuatan Tuhan; dan ketiga, bertumbuh dalam pengetahuan tentang Tuhan (pribadi dan perbuatan-perbuatanNya) sebagai bentuk pertahanan diri melawan ajaran-ajaran sesat. Semuanya dilakukan dengan “menalar” lalu diperbuat dalam konteks hidup yang luas termasuk akan berhadapan dengan berbagai ajaran sesat. Berpikir memang sangat dibutuhkan bagi orang-orang percaya sebab lawan-lawan mereka menyuguhkan berbagai proses berpikir, sehingga lawan yang sebanding adalah melalui proses berpikir juga. Pertentangan antara ajaran yang benar (ajaran dari Yesus Kristus) dengan ajaran sesat (ajaran yang menyimpangkan ajaran Yesus dan memang ajaran yang berdasar pada pemahaman akan alam dan ilah-ilah yang dipercaya) merupakan kondisi yang akan terus terjadi.

Hingga saat ini, orang Kristen di seluruh dunia berhadapan dengan musuh yang memiliki substansi yang sama: mengganggu atau mempengaruhi orang-orang percaya dengan berbagai gagasan, opini, dan klaim-klaim yang bertolak belakang dengan ajaran-ajaran Kitab Suci, di mana semuanya bermain dalam ranah “logika” (proses berpikir, menalar). Meski demikian, sebagaimana yang Paulus tuliskan bahwa setiap orang percaya harus menanggung segala sesuatu dengan tekun dan sabar (ay. 11) karena ada jaminan yang diberikan Tuhan (ay. 12-13), sebab dasarnya adalah: “di dalam Dia (Yesus Kristus) kita memiliki penebusan kita, yaitu pengampunan dosa” (ay. 14).

Apa tantangannya bagi gereja masa kini? Melihat berbagai perkembangan teknologi, membuka peluang bagi segala bentuk ajaran sesat dan penyesatan masuk ke dalam lingkungan Gereja. Bahkan, di sekolah-sekolah tinggi teologi dan sejenisnya, ajaran-ajaran sesat dapat menyelinap dan tumbuh di dalamnya. Di sini dibutuhkan tingkat pemahaman yang tinggi dan serius untuk melawan ajaran-ajaran sesat. Cara menalar yang baik dalam memahami pengetahuan yang berlimpah tentang Tuhan dan karya-Nya dalam Yesus Kristus menghasilkan iman yang teguh dan tangguh, siap melawan ajaran-ajaran sesat, dan siap menghantamnya sampai hancur.

Jangan remehkan cara berpikir sebab dengan berpikirlah seseorang dapat tersesat atau menjadi semakin teguh dalam imannya kepada Tuhan. Kitab Suci adalah tulisan yang dibaca dan kemudian dipahami dengan pikiran kita. Berpikir tidak salah, tetapi apa yang perlu dipikirkan, itu yang menjadi pertanyaan mendasarnya. Karena Kitab Suci, termasuk teks di atas, memberikan peran penting pada sebuah pemahaman dan pengetahuan yang baik tentang Tuhan dan karya-karyaNya yang ajaib, sehingga darinya, kita bertumbuh bersama dalam pengetahuan yang benar Tuhan.

Apa yang dialami oleh umat di Kolose dapat menggambarkan situasi kita sekarang. Karena itu bertumbuhlah dalam pengetahuan tentang Allah di dalam Kristus Yesus. Rajinlah membaca dan merenungkan firmanNya agar pikiran kita disibukkan dengan bagaimana menanggapi dan mensyukuri kebaikan Tuhan yang tak habis-habisnya kita rasakan.

Mereka yang terus menutup Kitab Sucinya, akan menjadikan pikirannya tertutup juga dan sangat kecil kemungkinan untuk dapat memahami tentang kasih dan kebaikan Tuhan, serta bertumbuh dalam pengetahuan yang benar tentang Dia. Mereka yang merenungkan firman-Nya, membaca, serta menalar, akan dituntun Roh Kudus—jika motivasinya bersih dan tulus di hadapan Tuhan—untuk menemukan makna teks tentang apa yang telah dan akan Tuhan nyatakan dalam kehidupan setiap kita, serta memampukan kita bertumbuh dalam pengenalan akan Dia, hari demi hari, hingga akhir hayat kita.

Tetap setialah kepada Tuhan dan renungkan firman-Nya. Jagalah pikiran kita dari hal-hal yang tidak memberikan faedah, dan tidak memberikan pertumbuhan bagi relasi dengan Tuhan dan iman kita kepada-Nya. Jadilah pemikir-pemikir Tuhan agar bertumbuh dalam pengetahuan tentang Dia; bagikanlah pengetahuan itu kepada semua orang melalui perkataan, perbuatan, dan buah pikiran kita yang benar.

Salam Bae…..

TAPAK-TAPAK IMAN YANG TAK PERNAH PUDAR: Refleksi Ulang Tahun Pdt. Dr. Matheus Mangentang, M.Th. ke-66

Kita memiliki sejumlah alasan untuk melihat kepada Sang Khalik, bagaimana Ia dengan kuasa, kedaulatan, dan kasih-Nya membentuk kita menjadi seperti yang dikehendaki-Nya. Proses kehidupan di mana iman kita dibentuk adalah bagian dari keputusan kehendak Allah atas umat pilihan-Nya. Tak dapat dipungkiri bahwa proses kehidupan itu sendiri memberi kita pengharapan, kekuatan, ketabahan, dan kita pun menemukan jatidiri kita yang sesungguhnya di dalam kasih Kristus.

Menjalani proses kehidupan, jatuh-bangun, perjuangan, air mata, penerimaan atas apa yang terjadi, adalah bagian dari iman kepada Yesus Kristus. Hal ini tampak dari perjalanan misi Pdt. Dr. Matheus Mangentang, M.Th. Rentang waktu yang panjang hingga sekarang ini, beliau telah dan terus memberi jejak misi yang sesungguhnya. Tapak-tapak imannya tak pernah pudar sampai sekarang. 

Di usianya yang ke-66, tidak hanya teladan imannya yang kita lihat, melainkan juga teladan kasih (kemurahan hati untuk menolong dan memberi kepada mereka yang membutuhkan), teladan integritas di hadapan Tuhan, dan teladan “doa”. Ia tahu bahwa iman, kasih, integritas, dan doa menjadi bagian yang tak terpisahkan dari prinsip percaya, mengikuti, dan melayani Sang Juru Selamat, Yesus Kristus.

Ia sendiri telah menempuh kehidupan dan pelayanan sejak ia memutuskan untuk menjadi hamba Tuhan. Suka-duka mengiringi langkahnya. Kesulitan dalam melayani dan bermisi tidak menjadi penghalang baginya untuk tetap “setia di jalan Tuhan”. Proses kehidupan telah membentuknya menjadi seperti sekarang ini. Kita pun melihat apa yang telah ia taburkan dulu, kini telah memberi buah-buah yang lebat yang dapat dinikmati oleh banyak orang.

Melayani kaum papa (miskin, sengsara) bukanlah hal yang mudah. Tidak banyak orang yang peduli dengan pelayanan jenis ini. Akan tetapi, prinsip melayani kaum papa – termasuk melayani yang tak terlayani, menjangkau yang tak terjangkau, melayani yang belum terlayani, dan menjangkau yang belum terjangkau – menorehkan sejarah pelayanan di Indonesia. Anak-anak Didik Arastamar yang telah mendirikan berbagai gereja dan sekolah, adalah buah dari karya misi beliau.

Meski tampak sederhana, tetapi kekuatan iman dan doanya tak pernah tumbang sedikit pun. Bagi beliau, melayani tak perlu kebanyakan bicara, tetapi langsung bergerak dan memberi buah bagi misi Kristus. Kita yang dipanggil Tuhan untuk turut serta dalam pekerjaan-Nya tak boleh mementingkan diri sendiri, bahkan juga tak boleh mencari nama atau popularitas. Buanglah itu semua. Itu tak berguna di hadapan Kristus.

Kita selayaknya menjadi pelayan dan hamba Yesus Kristus. Melakukan apa yang dikehendaki-Nya yaitu memberitakan Injil. Rasul Paulus pernah berkata: “Celakalah aku, jika aku tidak memberitakan Injil” (1Kor. 9:16). Hal inilah yang terus dipegang oleh beliau hingga sekarang, dan kita dapat mengikuti teladan beliau.

Sebagai seorang pelayan, pemberita Injil, dan pemimpin, beliau telah mewariskan banyak hal kepada kita. Pada tanggal 1 Oktober 2016, saya pernah menulis catatan singkat di Facebook tentang warisan seorang pemimpin yang ditujukan kepada Pdt. Dr. Matheus Mangentang, sebagai berikut:

“Pemimpin yang sederhana tapi berjiwa dan bervisi besar, selalu mewariskan empat hal: 

(1) Mengandalkan Tuhan dalam setiap perencanaan. Tuhan adalah di atas segalanya. Apa pun yang dikerjakan, selalu mengandalkan Tuhan. Kita tidak mampu mengerjakan pekerjaan-Nya jika Ia tidak memberi kita kekuatan.

(2) Mendasari segala sesuatu dengan doa dan yakin akan kuasa Tuhan. Tampak bahwa sikap beliau selalu mengandalkan Tuhan dalam “doa”. Apa pun yang akan dikerjakan bagi pekerjaan Tuhan, ia selalu mengawalinya dengan doa. Prinsip “kita doa saja” telah menjadi kekuatan iman beliau. Ia tahu bahwa kuasa Tuhan akan terjadi untuk menggenapi maksud dan rencana-Nya bagi mereka yang mengasihi Dia.

(3) Kesabaran dan ketenangan hati dalam menghadapi ancaman, caci maki, hinaan, tuduhan, fitnah, dan sering dengan senyuman menghadapi ujian hidup. Apa yang telah beliau alami tentu merupakan bagian dari proses iman yang Tuhan izinkan terjadi dalam hidup beliau. Namun, kita tidak berfokus pada apa yang dialaminya, melainkan pada bagaimana cara beliau menghadapi hal-hal yang terjadi dalam hidupnya. Ia tetap sabar dan bersandar kepada Tuhan. Itulah yang terjadi.

(4) Tidak membalas kejahatan dengan kejahatan tetapi justru mendoakan musuhnya yang telah memfitnah, mencela, merendahkan, membenci, dan mencoba  mencelakakannya. Dalam setiap percakapan dengan beliau, pesannya adalah “jangan membalas mereka yang telah berbuat jahat kepadamu. Doakan saja. Biarkan Tuhan yang memprosesnya dan kehendak Tuhan yang jadi atas mereka yang membenci dan mencelakakan kita.

Apa yang telah ditaburkan beliau sungguh-sungguh telah memberkati banyak orang di berbagai pelosok Indonesia. Sama halnya dengan Pdt. DR. Stephen Tong yang telah menorehkan sejarah pelayanan di berbagai tempat di seluruh dunia, tempat-tempat tersulit sekalipun tidak mengecilkan iman Pdt. Stephen Tong untuk melayani. Itu sebabnya, Pdt. Matheus juga belajar banyak hal dari Pdt. Stephen Tong tentang prinsip-prinsip melayani, prinsip integritas, dan prinsip mengabarkan Injil.

Mengakhiri tulisan ini, saya memberikan beberapa aspek penting:

Pertama, orang percaya tidak terlepas dari berbagai proses kehidupan karena Tuhan Yesus menghendaki kita tetap setia dan beriman kepada-Nya. Kesulitan dan tantangan hidup adalah sarana yang dipakai Tuhan untuk mendidik kita menjadi kuat dalam iman dan pengharapan.

Kedua, setiap orang percaya perlu melihat teladan para hamba Tuhan, para pemimpin, para pelayan sebab kita mendapatkan banyak hal dari teladan mereka. Itu sebabnya, seorang pelayan dan hamba Tuhan harus menjaga kehidupannya untuk tetap berada dalam firman-Nya.

Ketiga, setiap pemimpin dan hamba Tuhan tak boleh menyerah dengan keadaan, karena apa pun yang terjadi, tidak lepas dari kehendak Tuhan. Itu sebabnya, apa yang telah kita lihat dari pribadi Pdt. Dr. Matheus Mangentang, tentang semangat beliau dalam bermisi di pedalaman, dan di berbagai tempat yang sulit, perlu kita ikuti, agar Injil Kristus terus tersebar dan kita terus berupaya untuk memenangkan banyak jiwa bagi kemuliaan-Nya.

Akhirnya, tapak-tapak iman yang telah beliau torehkan dalam sejarah, tak pernah pudar. Teruslah melayani Tuhan.

SELAMAT ULANG TAHUN KEPADA PDT. DR. MATHEUS MANGENTANG YANG KE-66

Sehat selalu. Tuhan Yesus Memberkati. Semoga Umur Panjang.

Salam Bae…..

MEMBANGUN RUMAH KEHIDUPAN

Relasi humanitas umumnya tercipta dalam sebuah konteks mikro dan kemudian meluas ke konteks makro. Relasi tersebut bertujuan untuk menjalin relasi yang biasa atau membangun sebuah relasi yang kuat. Setiap relasi yang tercipta, selalu didasarkan pada sebuah keinginan maupun tujuan tertentu. Kerinduan kita untuk terus membangun relasi yang lebih akrab bertolak dari kasih yang tulus dan hidup yang benar di hadapan Tuhan.

Membangun sebuah relasi membutuhkan proses. Di dalam proses tersebut kita senantiasa berupaya untuk menampilkan gaya hidup tertentu yang tentu merupakan luapan dari karakter kita sendiri. Setiap proses menghadirkan perjuangan dan pergumulan, komitmen dan doa, harapan dan keberanian. Dan pada akhirnya, proses tersebut adalah jalan menuju tindakan “membangun rumah kehidupan”.

Manusia membutuhkan banyak hal untuk menjalani kehidupan, mempertahankan kehidupan, dan merawat kehidupan. Kebutuhan-kebutuhan hidup mendorong manusia untuk bekerja keras dan berusaha semaksimal mungkin. Tidak kerja tidak makan. Itulah peringatan Rasul Paulus kepada jemaat di Tesalonika: “Sebab, juga waktu kami berada di antara kamu, kami memberi peringatan ini kepada kamu: jika seorang tidak mau bekerja, janganlah ia makan” (2 Tesalonika 3:10). Selain kita bekerja untuk Tuhan (pelayanan, persekutuan, dll), kita juga bekerja untuk kehidupan. Kedua hal ini terangkum dalam pernyataan Yesus: “Ada tertulis: Manusia hidup bukan dari roti saja, tetapi dari setiap firman yang keluar dari mulut Allah” (Matius 4:4), yang merujuk pada Ulangan 8:3, “… untuk membuat engkau mengerti, bahwa manusia hidup bukan dari roti saja, tetapi manusia hidup dari segala yang diucapkan TUHAN.”

Kehidupan yang terbangun dari dua prinsip Teologi Kerja di atas, yaitu: bekerja untuk Tuhan dan bekerja untuk kehidupan, akan menghasilkan kesadaran bahwa “kita hidup dan bergerak adalah karena kemurahan Tuhan, yang dengannya kita harus hidup dalam firman-Nya, melayani-Nya, dan bekerja untuk kehidupan kita sendiri berdasarkan potensi yang telah Ia berikan kepada kita untuk direalisasikan”. Hal ini adalah bagian dari tindakan “membangun rumah kehidupan”.

Rumah kehidupan adalah tempat perteduhan kita dari berbagai hal yang ada di dunia. Rumah kehidupan adalah tempat bagi kita untuk saling menyatakan kasih dan firman Allah dalam persekutuan yang erat dengan sesama kita, dengan sesama orang beriman. Rumah kehidupan melindungi kita dari segala ancaman dunia, godaan dunia, dan dosa.

Rumah kehidupan terbangun karena sebuah proses yang menampilkan gaya hidup selaras dengan Kitab Suci, menampikan karakter yang terbaik dari diri kita sendiri, menampilkan kekuatan doa, perjuangan, kekuatan komitmen, mengandalkan Tuhan dalam setiap pergumulan, dan menaruh harapan kepada-Nya, serta berani bertindak dengan bijaksana yang Tuhan berikan.

Konteks membangun rumah kehidupan tidak lepas dari bagaimana kita bertindak dengan benar berdasarkan pengetahuan kita tentang firman Allah. Dengan perkataan lain, kita yang mendengar dan memahami firman Allah, akan mempengaruhi bagaimana kita membangun rumah kehidupan. Saya teringat dengan depiksi (gambaran) yang diberikan oleh Yesus mengenai “dua macam dasar” untuk membangun rumah. Berikut petikannya:

“Setiap orang yang ‘mendengar perkataan-Ku ini dan melakukannya’, ia sama dengan ‘orang yang bijaksana’, yang ‘mendirikan rumahnya di atas batu’. Kemudian turunlah hujan dan datanglah banjir, lalu angin melanda rumah itu, tetapi rumah itu tidak rubuh sebab didirikan di atas batu. Tetapi setiap orang yang ‘mendengar perkataan-Ku ini dan tidak melakukannya’, ia sama dengan ‘orang yang bodoh’, yang ‘mendirikan rumahnya di atas pasir’. Kemudian turunlah hujan dan datanglah banjir, lalu angin melanda rumah itu, sehingga rubuhlah rumah itu dan hebatlah kerusakannya” (Matius 7:24-27).

Dalam hal membangun rumah kehidupan, ada dua dasar yang perlu kita perhatikan. Apakah kita hendak membangun rumah kehidupan di atas batu atau di atas pasir, kita sendiri yang menentukannya. Di sini, konteks membangun rumah kehidupan dikaitkan dengan bagaimana tindakan kita “mendengar firman-Nya dan melakukannya” atau “mendengar firman-Nya dan tidak melakukannya”. Kita dapat menetapkan berada pada posisi mana. Kita tinggal memilihnya dan mulai membangun rumah kehidupan.

Tentu, kita dianjurkan untuk mendengar firman Allah dan melakukannya agar bangunan rumah kehidupan kita kokoh dan bertahan saat badai menyerang. Membangun rumah kehidupan tidaklah mudah. Ada ragam aspek yang harus menyatu dalam konsep berpikir kita untuk direalisasikan. Proses mendengar firman Allah bukanlah perkara “mendengar saja”, tetapi butuh kesadaran dan kerinduan untuk mendengar dengan baik. Proses melakukan firman Allah juga bukanlah perkara mudah. Telinga yang mendengar, pikiran yang memproses pendengaran agar dapat memahami dengan benar, hati yang menetapkan komitmen, menyatu untuk segera melakukan firman Allah itu.

Mereka yang membangun rumah kehidupan harus melihat peryataan Rasul Yakobus berikut ini: “Tetapi hendaklah kamu menjadi pelaku firman dan bukan hanya pendengar saja; sebab jika tidak demikian kamu menipu diri sendiri. Sebab jika seorang hanya mendengar firman saja dan tidak melakukannya, ia adalah seumpama seorang yang sedang mengamat-amati mukanya yang sebenarnya di depan cermin. Baru saja ia memandang dirinya, ia sudah pergi atau ia segera lupa bagaimana rupanya. Tetapi barangsiapa meneliti hukum yang sempurna, yaitu hukum yang memerdekakan orang, dan ia bertekun di dalamnya, jadi bukan hanya mendengar untuk melupakannya, tetapi sungguh-sungguh melakukannya, ia akan berbahagia oleh perbuatannya” (Yakobus 1:22-25).

Dengan demikian, MEMBANGUN RUMAH KEHIDUPAN mendorong kita untuk dapat menyatakan rasa syukur kepada Sang Khalik, memuji, dan melayani-Nya. Kita tidak dapat membangun sendiri. Kita sangat membutuhkan Tuhan dan kuat kuasa-Nya. Salomo menyatakan: “Jikalau bukan TUHAN yang membangun rumah, sia-sialah usaha orang yang membangunnya; jikalau bukan TUHAN yang mengawal kota, sia-sialah pengawal berjaga-jaga” (Mazmur 127:1). Perpaduan antara bekerja bagi Tuhan dan bekerja untuk kehidupan begitu nyata dalam konteks kehidupan kita sebagaimana yang diungkapkan Yesus dan Salomo.

Kita memiliki tanggung jawab untuk membangun rumah kehidupan kita sendiri. Orang tertarik dengan kita atau muak dengan kita, bergantung pada seberapa bagus dan kuat rumah kehidupan kita. Dunia melihat dan menilai kita ― orang-orang yang percaya kepada Yesus Kristus ― dan menghasilkan ragam pemahanam dan penghakiman. Jika kita memperlihatkan rumah kehidupan yang dibangun di atas pasir, pastilah kita ambruk, tak berdaya, dan menjadi incaran Iblis untuk dipermainkannya, menjadi budak dosa, hidup dalam dosa, dan mati dalam dosa. Jika kita memperlihatkan keindahan rumah kehidupan yang dibangun di atas batu, pastilah kita kokoh, berpengharapan, dan menjadi sahabat Allah untuk bersekutu dengan-Nya, serta memuliakan nama-Nya, bahkan menjadi saksi-Nya dalam mewartakan Kabar Baik.

 

Membangun rumah kehidupan sungguh indah. Belum ada kata terlambat. Jangan menyerah! Kita pun belum terlambat untuk membangunnya. Kita sama-sama berjuang, bergumul, dan berharap. Kita harus merealisasikan Teologi Kerja: sama-sama bekerja bagi Tuhan dan bekerja bagi kehidupan kita. Tugas kita adalah mendengar dan melakukan firman Allah, dan Allah akan memberkati kita, mengokohkan rumah kehidupan kita. Dan pada akhirnya kita menjadi berkat: mengajak mereka yang hidup dalam kegelapan untuk kembali kepada Kristus Yesus, kita menjadi tempat perteduhan bagi mereka yang membutuhkan ― di rumah kehidupan kita ― dan menyatakan segala kebaikan dan kemurahan Tuhan sepanjang masa.

Salam Bae…..

Sumber gambar:

  1. https://unsplash.com/photos/rgJ1J8SDEAY
  2. https://unsplash.com/photos/bjej8BY1JYQ
  3. https://unsplash.com/photos/yKRdX-kY8TE
  4. https://unsplash.com/photos/178j8tJrNlc
  5. https://unsplash.com/photos/U6Q6zVDgmSs

MEMBAWA API DALAM PELUKAN: Konsekuensi Berteologi

Ruang berpikir tentang teologi sangatlah terbuka lebar. Siapa saja dapat menuliskan gagasannya tentang sesuatu hal baik untuk tujuan publikasi maupun aplikasi, bahkan gengsi intelektual. Setiap pemikiran mengisi banyak konteks, denominasi, diskusi, dan perdebatan. Pemikiran biasanya lahir dari kondisi hayati dan relasi humanitas yang menyeruak ke permukaan. Setiap pemikiran yang menyeruak harus siap mendapatkan “respons”: pujian, kritikan, koreksi, negasi, dan lain sebagainya.

Dunia teologi memiliki banyak faset yang dengannya ruang diskusi dan menegasikannya terbuka lebar. Tidak ada karcis masuk untuk ikut di dalamnya. Tidak pula sejumlah persyaratan lainnya. Apa yang terpublis, siap dilahap, didiskusikan, diterima, dan dinegasikan. Entah seseorang hendak menonjolkan argumentasi teologinya, atau hanya menampilkan tarian teologi yang indah meski tanpa isi doktrinal yang alkitabiah.

Semua tarian teologi diciptakan oleh mereka yang memang tertarik untuk berteologi. Entah tarian itu diiringi dengan musik yang terbaik, ataukah hanya menabuh botol plastik yang kosong, tidak menarik, dan menyebalkan. Kita semua dapat memilih mana tarian yang baik dan mana tarian yang buruk. Ini lumrah, tetapi jangan sampai salah memilih. Itu adalah kebodohan.

Berteologi sama halnya kita membawa api dalam pelukan. Penulis Amsal menyebutkan: Dapatkah orang membawa api dalam gelumbung baju dengan tidak terbakar pakaiannya? (Amsal 6:27, TB). Terjemahan Lama berbunyi demikian: “Bolehkah orang mengambil api dalam kandungannya, maka tiada hangus kain bajunya?” Kata gelumbung dan kandungan dapat dipahami sebagai pelukan atau bagian dalam pakaian (bagian dada seseorang), di mana ketika api kita masukkan dalam pakaian, pastilah kita menjadi hangat, panas, atau terbakar. Tergantung besar kecilnya api.

Gambaran tersebut ibarat berteologi. Setiap orang harus siap merasakan panasnya kritikan, negasi, bahkan panasnya pujian yang menyimpang (antifrasis). Teologi yang miring akan menjadi sasaran empuk. Meski demikian, semua jenis teologi terbuka untuk dikritisi, dinegasikan, diterima, dan dipuji. Bahkan ada pula yang menjadi terbakar dengan api pujian terhadap teologinya, bersorak-sorak di dalam ketidaktahuan dan kebodohan.

Teologi yang alkitabiah maupun teologi yang miring keduanya tidak luput dari panasnya kritikan dan negasi. Kondisi ini menandai prinsip kedewasaan berteologi dan kematangan isi teologi yang dianut. Mereka yang terlalu lihai beranalogi dan bahkan berimajinasi akan menghasilkan teologi yang terpisah dari iman Kristen dan doktrin alkitabiah. Mereka membuat api asing untuk dipesembahkan kepada dewa Pujangga. Retorika “ngeles” akan menjadi kartu terakhir yang disodorkan ketika kritikan datang. Ada saat di mana mereka melicinkan ‘ngelesnya’, dan ada saat di mana mereka berkoar-koar seolah-olah itulah yang benar menurut Alkitab, tanda bahwa mereka adalah para akademisi handal.

Imajinasi liar pasti menciptakan jenis teologi yang tidak terhubung dengan iman dan doktrin alkitabiah. Mencari sensasi teologi pun tak terhindarkan. Di dalam gorong-gorong pun mereka menyaringkan suaranya, menciptakan nada dering yang sumbang dan menyebalkan. Mereka merasa tidak terbakar meski ada api dalam gelumbung pakaian mereka. Mereka berpura-pura senyum meski sedang merasa panas dan hampir terbakar. Mereka memadamkannya dengan api asmara: perpaduan antara cinta ‘ngeles’ [kelicinan perkataan] dengan cinta gengsi intelektual.

Fenomena ini menarik dan membuat kita mengerutkan kening. Kita pun tahu bahwa rumusan teologi tidak semudah menggoreng tempe atau tahu. Rumusan teologi didasarkan pada pemahaman komprehensif Perjanjian Lama dan Perjanjian Baru. Teologi adalah api yang menerangi perjalanan iman kita. Kita dapat membawa api kecil di dalam pakaian kita supaya tidak terbakar. Itu adalah api semangat yang mendorong kita untuk bekerja bagi Tuhan dan bekerja bagi kehidupan. Kita pun harus membuat api yang besar di depan kita untuk memberikan semangat kepada yang lain agar tetap mencintai pekerjaan Tuhan dan mengasihi Dia dengan sepenuh hati. Api itu tidak hanya menerangi kita tetapi juga orang lain yang ada di sekitar kita. Api dalam gelumbung pakaian kita hanya menerangi dada kita dan bukan mata kita untuk melihat ke depan. Sedangkan api di depan kita akan menjadi tanda ‘terang’ yang lebih luas.

Setiap orang membawa apinya sendiri. Bahkan ada yang terbakar dengan apinya sendiri meski belum ada yang menegasikan atau mengkritiknya. Dia senang dengan teologinya meski ‘jauh panggang dari api’, tak ada isi substansial dan tak ada dukungan Alkitab. Semarak berteologi semakin memuncak. Tak dapat dipungkiri juga bahwa hal itu menyita waktu dan perhatian kita, baik internal maupun eksternal.

Konsekuensinya adalah nada-nada dering dengan berbagai variannya turut membuat banyak orang menari-nari dengan teologinya meski nada deringnya hanya 2 not saja. Posisi api menjadi terbalik: api besar ditaruh di dalam pakaian, dan api kecil ditaruh di depan (di luar pakaian). Pada akhirnya ia akan terbakar dengan api yang besar di dalam pakaiannya.

Membawa api dalam pelukan dapat kita lakukan. Besar kecilnya api kita juga yang membuatnya. Api besar dalam gelumbung pakaian, berpotensi melukai dan membakar kita. Berteologi selalu memiliki konsekuensi. Kadang, kita ingin mendapatkan pujian saja ketimbang orang memahami isi teologi kita. Orang-orang lebih fokus pada gaya retorika ketimbang isinya. Kita cuap-cuap saja tanpa substansi. Konsekuensi berteologi tidak hanya tercipta teologi yang alkitabiah, tetapi juga penyimpangan doktrinal dan retorika ‘ngeles’.

Wajah teologi alkitabiah bisa ditafsirkan beragam, tergantung tingkat pemahaman kita tentang Alkitab. Jangan buru-buru berselancar di atas pasir yang tidak membawamu ke mana-mana. Itu hanya ‘gaya doang’. Jangan pula menyiram bensin di dalam pakaian karena ketika engkau menyalakan api, engkau akan terbakar.

Berteologilah dengan memahami secara menyeluruh PL dan PB. Tidak perlu merumuskan teologi yang ‘ngeles’ supaya terkesan berbeda, meski menyimpang dari iman dan doktrin alkitabiah. Jangan membakar diri dengan teologi yang miring.

Suarakanlah kebenaran, bukan ketenaran. Suarakanlah doktrin yang alkitabiah, bukan doktrin yang murah meriah. Suarakanlah integritas, bukan ambiguitas. Suarakanlah komitmen, bukan eksperimen. Dan suarakanlah Kristus yang benar, bukan Kristus yang “memar” – Kristus yang telah dipukuli (ditinju) dengan teologi-teologi yang kurang ajar.

Jujurlah. Apa yang kita cari dalam berteologi?

Salam Bae…..

Sumber gambar:

  1. https://unsplash.com/photos/BdTtvBRhOng
  2. https://unsplash.com/photos/wnF27F85ZKw
  3. https://unsplash.com/photos/-98jVaVuGv0
  4. https://unsplash.com/photos/wCKzi8nDkw8

VERSI TERBAIK VERSUS VERSI TERBURUK

Setiap orang menunjukkan “versi” dirinya masing-masing, “menilai” dan “dinilai”. Tak bisa terhindar dari konteks tersebut. Tak bisa menutup mata bahwa dinilai oleh orang lain adalah fakta natural. Tak bisa lari dari kenyataan bahwa menilai diri sendiri adalah kemampuan internal untuk melihat sejauh mana kebaikan, kesadaran, kesombongan, dan kemunafikan diri yang telah terurai dalam konteks-konteks kehidupan.

Tanpa disadari bahwa tapak-tapak “versi” tadi telah menjadikan diri setiap orang memiliki “nilai” dan “harga”. Kadang kala nilai dan harga diri diukur dari seberapa baik dan buruk “versi” diri kita. Gelombang-gelombang kehidupan cukup bagi setiap orang untuk berselancar, menentukan seberapa lincah dirinya, entah lincah dalam hal perbuatan baik, atau lincah dalam hal perbuatan buruk – piawai dalam bersilat lidah, menipu, dan membentuk harga dirinya yang tidak seberapa itu.

Versi ― suatu varian atau deskripsi dari sudut pandang tertentu untuk menciptakan analogi dengan deskripsi yang lain ― terbaik dari diri kita tak dapat dipisahkan dari identitas dan karya. Demikian juga versi terburuk kita. Menilai dan dinilai adalah konsekuensi dari versi diri kita masing-masing. Identitas atau karakter (kepribadian yang membedakan kita dengan yang lain) melekat pada diri setiap orang. Baik-buruknya kita, ditentukan oleh identitas kita sendiri. Identitas diberikan oleh Allah kepada setiap manusia. Akan tetapi, Allah juga menyediakan kehidupan agar manusia dapat mengembangkan identitasnya, merespons setiap kejadian, menjalani kehidupan, mempertahankan kehidupan, dan mengakhiri kehidupan dengan takut akan Dia.

Di sisi lain, manusia menempatkan dirinya di dalam dan di hadapan serangkaian proses kehidupan untuk memperkokoh identitas atau karakternya. Identitaslah yang membentuk dan membedakan kita dengan yang lain. Kita dinilai, dibedakan, dipisahkan, direndahkan, dimuliakan, diabaikan, disebabkan oleh identitas kita sendiri. Kita menonjolkan apa yang menjadi “andalan” kita sendiri. Mereka yang berbuat baik akan senantiasa menunjukkan kebaikannya. Mereka yang menipu akan selalu menunjukkan bagaimana caranya untuk menipu. Mereka yang munafik akan selalu membentuk kemunafikan mereka menjadi batu dalam setiap konteks kehidupan. Mereka yang hanya memperalat seseorang akan menunjukkan bagaimana lidah dan perbuatannya ikut membentuk opini untuk mendapatkan apa yang dia inginkan.

Kita dinilai dan dihargai sesuai dengan kualitas, sesuai dengan versi kita sendiri. Itu sebabnya, kita tak dapat lari dari kenyataan, tidak dapat lari dari penilaian. Itu alamiah, entah sesuai dengan fakta ataupun sesuai dengan kepentingan terselubung.

Karya adalah salah satu aspek yang membentuk diri kita menjadi versi terbaik atau versi terburuk. Karya itu memang bermanfaat untuk merealisasikan harga diri, potensi, keilmuan, kesukaan, talenta, dan lain sebagainya. Akan tetapi, seringkali – untuk memuaskan ego, seseorang mencuri karya orang lain, menipu untuk mendapatkan sebuah karya, menggunakan trik tertentu agar ia mendapat “harga dirinya” dari sebuah karya yang tidak diusahakannya. Ini sangat menyedihkan memang.

Tuhan menghendaki kita berkarya dengan cara yang baik, dengan penuh kesadaran bahwa Ia telah memberikan kita potensi untuk dikembangkan ke dalam fitur-fitur kehidupan. Versi terbaik dari diri kita, salah satunya adalah karya. Kita adalah versi terbaik dari karya kita sendiri. Kita adalah versi terbaik dari karakter kita sendiri.

Lalu bagaimana dengan mereka yang memang tidak berkarya, yang dianggap berkarya tapi dengan cara-cara yang tidak pantas? Itu akan menjadi luka kehidupan; mereka yang tidak jujur tidak akan menang dalam perlombaan kehidupan dan jaminan kehidupan. Kita harus bersabar untuk melihat kejatuhan orang-orang yang menggunakan cara-cara yang tak jujur, tak pantas, hanya untuk menunjukkan “versi terbaik mereka” dengan “cara yang buruk”.

Penulis Amsal memberikan pedoman, fakta, dan arah kehidupan yang selaras dengan kehendak Allah. Hal ini mendukung kehidupan kita dan mengarahkan kita untuk menjadi versi terbaik seperti apa yang Allah kehendaki. Tempuhlah jalan orang baik, dan peliharalah jalan-jalan orang benar (2:20). Versi terbaik diri kita tidak lepas dari usaha yang kita lakukan untuk diri kita sendiri: Orang yang murah hati berbuat baik kepada diri sendiri, tetapi orang yang kejam menyiksa badannya sendiri (11:17). Yakinlah bahwa orang baik dikenan TUHAN, tetapi si penipu dihukum-Nya (12:2). Tidak hanya tindakan yang baik yang membentuk versi terbaik diri kita, tetapi juga perkataan dari mulutnya: “Setiap orang dikenyangkan dengan kebaikan oleh karena buah perkataan, dan orang mendapat balasan dari pada yang dikerjakan tangannya (12:14).

Semua versi terburuk seseorang dilandari oleh suatu rencana. Rencana membentuk opininya untuk berbuat yang tidak baik. Rencana mengarahkan seseorang untuk hidup dalam dosa penipuan dan kemunafikan. “Tidak sesatkah orang yang merencanakan kejahatan? Tetapi yang merencanakan hal yang baik memperoleh kasih dan setia” (Ams. 14:22). Kita tidak dapat menipu Tuhan. Ia tahu jalan hidup kita. Tindakan-tindakan buruk yang terjadi jangan dianggap terlewat dari pandangan dan pengamatan-Nya. Baik versi terbaik maupun versi terburuk kita, semuanya diawasi-Nya.

Kita sendiri membentuk diri kita. Meskipun seringkali kita dibentuk menjadi baik dan jahat karena orang lain. Jika demikian apa yang harus kita lakukan? Tinggalkanlah mereka yang memburuk keadaanmu. Jauhilah mereka yang munafik dan yang mengajarkanmu tentang hal-hal yang tidak sejalan dengan firman Tuhan. Kita harus memberikan yang terbaik dari versi kita: identitas dan karya yang memang ditempuh dengan cara-cara yang layak. “Orang baik meninggalkan warisan bagi anak cucunya, tetapi kekayaan orang berdosa disimpan bagi orang benar” (Ams. 13:22).

Pada akhirnya, kita harus mengingat apa yang dituliskan ini: “Nama baik lebih berharga dari pada kekayaan besar, dikasihi orang lebih baik dari pada perak dan emas” (Ams. 22:1) dan kita pun diberitahu bahwa “Orang yang baik hati akan diberkati, karena ia membagi rezekinya dengan si miskin” (Ams. 22:9).

Versi terbaik versus versi terburuk dari setiap orang ditentukan oleh identitas (karakter) dan karya. Hendaklah setiap orang memperhatikan hal ini. Tuhan tidak mengarahkan hidup kita untuk mendapatkan harga dan nilai yang rendah. Ia ingin kita timbul seperti emas, dan bukan “batu apung”. Ia menghendaki kita hidup dalam kebenaran-Nya dan bukan hidup dalam dusta, kesombongan, dan kemunafikan. Ia menghendaki kita untuk jujur dalam berkarya, bukan mencuri karya orang lain, memalsukan karya orang lain, dan menipu untuk mendapatkan “nama baik” berdasarkan “pikiran buruk”.

Kita mendambakan identitas terbaik; pula karya terbaik. Akan tetapi, perlu diingat bahwa kita bertanggung jawab di hadapan Tuhan. Kita harus mengembangkan potensi yang Tuhan berikan – tentu untuk hal-hal terbaik, termanis, dan terjujur. Dari situlah kita “memuji dan memuliakan-Nya” melalui identitas dan karya. Itulah versi terbaik dari kehidupan kita.

Salam Bae……

Sumber gambar: Unsplash, Google Image, Pinterest

KEBENCIAN DAN PENGAMPUNAN

Ada satu kisah yang menarik. Ini kisah fiktif, tetapi cukup memberi kita pelajaran berharga tentang kebencian dan pengampunan. Ada seorang pendeta perempuan yang menikah dengan seorang pria pilihannya. Awalnya rumah tangga mereka baik-baik saja. Lama-kelamaan, muncullah berbagai masalah. Suaminya tidak menjadi “suami” seperti yang dia harapkan. Kesalahan demi kesalahan dilakukan suaminya. Seiring waktu berjalan menumpuklah kekesalan sang pendeta itu terhadap suaminya.

Bahkan hingga suatu waktu, terjadilah percekcokan yang besar di antara keduanya. Kejadian tersebut terus berbekas dalam benak sang pendeta. Ia hidup dalam kebencian terhadap suaminya; suaminya – karena tak punya pekerjaan – hidup dalam tekanan. Meski suaminya tak punya pekerjaan, dia selalu mengampuni istrinya dari setiap perkataan tidak mengenakan perasaannya. Hari demi hari, jika tidak mengeluarkan ucapan-ucapan yang tidak baik, pasti terjadi kesalahpahaman, perkelahian, perselisihan, dan pengutaraan kebencian. Hidup mereka memang tidak ideal, tidak pula menjadi berkat bagi yang lain. Pelayanan sang pendeta terus berjalan, dan demikian juga dengan kebenciannya terhadap suaminya. Si pendeta hidup dalam kepura-puraan.

Selang waktu berjalan, matilah si ibu pendeta ini. Ia menghadap Sang Khalik. Waktu diadili oleh Sang Hakim Yang Adil, ia diputuskan untuk masuk ke dalam neraka. Si pendeta protes: Tuhan, mengapa saya masuk neraka, padahal saya adalah pelayan-Mu, saya berjuang untuk melayani-Mu dengan sekuat tenaga. Saya rajin dan semangat dalam berkhotbah, saya mendoakan orang sakit, saya mendamaikan keluarga yang berkelahi, saya membimbing anak-anak yang melawan orangtuanya. Tapi apa balasan-Mu? Aku malahan dimasukkan ke dalam neraka.

Tuhan pun menjawab: “Aku tahu semua pekerjaanmu dan pelayananmu, semua usahamu untuk orang-orang yang kau layani. Tetapi mengapa engkau dimasukkan ke dalam neraka? Mau tahu alasannya?” Sang pendeta menjawab: “Iya, saya mau tahu alasannya!” Tuhan menjawabnya: “Memang engkau terlihat baik dalam melayani, tetapi engkau sendiri tak dapat ‘mengampuni’ suamimu. Engkau bisa mendamaikan keluarga yang berkelahi, tetapi engkau sendiri tak mampu mendamaikan dirimu sendiri dan mendamaikan dirimu dengan suamimu. Engkau tampak saleh di luar tetapi hatimu penuh kepahitan. Engkau tampak kalem di luar tetapi di hadapan suamimu engkau mencelanya, menghinanya, dan mengata-ngatainya. Engkau tidak mampu mengampuninya sama sekali!”

Dan kisah pun berakhir. Apa yang dapat kita pahami dari kisah di atas? Begini. Kita tahu bahwa Tuhan Maha Pengampun. Ia mengampuni kita meski kita adalah pendosa-pendosa terlatih ataupun baru mau berlatih. Begitu besar dosa-dosa kita, tetapi Ia dengan kerelaan mengampuni kita. Kita tidak layak di hadapan-Nya, tetapi Ia melayakkan kita.

Masih ingat “Doa Bapa Kami”? Yesus berkata: “dan ampunilah kami akan kesalahan kami, seperti kami juga mengampuni orang yang bersalah kepada kami” (Mat. 6:12). Bagaimana mungkin kita meminta pengampunan dari Tuhan untuk diri kita sedangkan kita sendiri tak dapat mengampuni orang lain? Bukan Tuhan yang tidak adil melainkan kitalah yang tidak adil. Kita meminta keadilan tetapi kita sendiri tidak menunjukkan keadilan. Kita meminta orang lain memperlakukan kita dengan baik, tetapi kita sendiri memperlakukan orang lain dengan tidak baik. Kita meminta orang lain untuk menghormati kita, tetapi kita justru merendahkan orang lain. Kita meminta bantuan orang lain, tetapi kita tidak mau membantu orang lain.

“Jangan bermimpi mendapatkan bintang di langit, rumput di bumi engkau tidak tahu. Jangan berharap mendapatkan mutiara di lautan, pasir di pantai engkau lupakan”. Demikian sebuah pepatah. Jangan bermimpi mendapatkan surga jika engkau tak sanggup mengikuti teladan Tuhan Yesus yang penuh pengampunan. Jangan bermimpi mendapatkan penghormatan dari orang lain, sedangkan engkau sendiri tak sanggup menghormati orang yang menjadi bawahanmu. Jangan bermimpi mendapatkan kasih dari Tuhan padahal engkau sendiri kerap kali berbuat jahat. Jangan bermimpi mendapatkan pengampunan dari Tuhan padahal engkau sendiri kerap kali memupuk kebencianmu hingga menjadi pohon yang besar. Tumbangkanlah pohon itu, tanamilah lahan hatimu dengan benih-benih cinta kasih, agar ia dapat bertumbuh subur, berbuah lebat, dan menjadi berkat bagi sesamamu.

Kebencian akan menggerogoti kedamaian dalam hidupmu. Kebencian menghilangkan sukacita. Kebencian melahirkan kepahitan dan keburukan hidup. Jangan bersahabat dengan orang-orang yang menebarkan kebencian. Ketika kita mengharapkan pengampunan, maka kita pun lebih dahulu mengampuni. Jangan bermimpi sanggup menghadapi perkara-perkara besar sedangkan perkara-perkara kecil engkau tak lulus uji.

Tuhan Yesus sungguh mengampuni kita. Ia berkuasa mengampuni manusia (Mat. 9:6; Mrk. 2:10; Luk. 5:24). Ia pun mengajarkan kita untuk saling mengampuni: “Karena jikalau kamu mengampuni kesalahan orang, Bapamu yang di sorga akan mengampuni kamu juga. Tetapi jikalau kamu tidak mengampuni orang, Bapamu juga tidak akan mengampuni kesalahanmu” (Mat. 6:14-15; lih. juga Mrk. 11:25, “Dan jika kamu berdiri untuk berdoa, ampunilah dahulu sekiranya ada barang sesuatu dalam hatimu terhadap seseorang, supaya juga Bapamu yang di sorga mengampuni kesalahan-kesalahanmu”; bdk. 2Kor. 2:10; Paulus menerapkan prinsip yang sama: “Tetapi hendaklah kamu ramah seorang terhadap yang lain, penuh kasih mesra dan saling mengampuni, sebagaimana Allah di dalam Kristus telah mengampuni kamu” [Ef. 4:32]).

Petrus pernah bertanya kepada Yesus: “Tuhan, sampai berapa kali aku harus mengampuni saudaraku jika ia berbuat dosa terhadap aku? Sampai tujuh kali?” Yesus berkata kepadanya: “Bukan! Aku berkata kepadamu: Bukan sampai tujuh kali, melainkan sampai tujuh puluh kali tujuh kali” (Mat. 18:21-22). Paulus menyatakan: “Sabarlah kamu seorang terhadap yang lain, dan ampunilah seorang akan yang lain apabila yang seorang menaruh dendam terhadap yang lain, sama seperti Tuhan telah mengampuni kamu, kamu perbuat jugalah demikian” (Kol. 3:13). Ia pun menegaskan bahwa Kristus telah mengampuni kita: “Kamu juga, meskipun dahulu mati oleh pelanggaranmu dan oleh karena tidak disunat secara lahiriah, telah dihidupkan Allah bersama-sama dengan Dia, sesudah Ia mengampuni segala pelanggaran kita, dengan menghapuskan surat hutang, yang oleh ketentuan-ketentuan hukum mendakwa dan mengancam kita. Dan itu ditiadakan-Nya dengan memakukannya pada kayu salib: Ia telah melucuti pemerintah-pemerintah dan penguasa-penguasa dan menjadikan mereka tontonan umum dalam kemenangan-Nya atas mereka” (Kol. 2:13-15).

Prinsip yang sama juga dinyatakan oleh Rasul Yohanes bahwa: “Jika kita mengaku dosa kita, maka Ia adalah setia dan adil, sehingga Ia akan mengampuni segala dosa kita dan menyucikan kita dari segala kejahatan” (1Yoh. 1:9). “Aku menulis kepada kamu, hai anak-anak, sebab dosamu telah diampuni oleh karena nama-Nya” (1Yoh. 2:12).

KEBENCIAN dan PENGAMPUNAN adalah fakta kehidupan yang sering terjadi atau bahkan kita lakukan. Kita memilih membenci atau mengampuni bergantung pada identitas kita yang sesungguhnya. Ketika kita telah menjadi milik Kristus, maka Ia menghendaki dan mengarahkan hidup kita untuk saling mengampuni. Mengampuni adalah bukti bahwa kita mengasihi. Bukankah Yesus Kristus telah mengasihi kita dan Ia telah mengampuni kita?

Hiduplah dalam kasih dan pengampunan. Buanglah kebencian. Dekatkan diri kepada Sang Khalik. Ia akan menguatkan kita untuk menjalani kehidupan ini. “Tetapi Tuhan adalah setia. Ia akan menguatkan hatimu dan memelihara kamu terhadap yang jahat” (2Tes. 3:3). “Dan Allah, sumber segala kasih karunia, yang telah memanggil kamu dalam Kristus kepada kemuliaan-Nya yang kekal, akan melengkapi, meneguhkan, menguatkan dan mengokohkan kamu, sesudah kamu menderita seketika lamanya” (1Ptr. 5:10).

Salam Bae……

Foto-foto: dari berbagai sumber

TETAPLAH SETIA: Refleksi Wahyu 2:8-11

Tuhan selalu menunjukkan kepedualian-Nya melalui berbagai cara, dan dalam konteks ini, Tuhan memberikan “firman”—sebuah konfirmasi faktual dan solusi yang diberikan-Nya—kepada Gereja di Smirna (modern: Izmir). Alasan pemberian firman kepada mereka adalah karena Tuhan ingin mengingatkan tentang bagaimana proses mempertahankan dan menjaga iman secara konsisten kepada-Nya dalam lingkungan (dunia) di mana mereka hidup; lingkungan bisa menjadi media bagi pertumbuhan iman sekaligus menjadi media yang merusak iman—tergantung dari apa yang terjadi di sana.

Dari konteks tersebut, kita dapat bercermin melihat diri (baca: Gereja) kita; apa yang telah kita kerjakan dan apa yang telah kita lalaikan. Sejatinya, proses mempertahankan iman dalam bentuk konsistensi. Memang tidak mudah, tetapi komitmen dan kesetiaan, serta pandangan kita ke depan akan sangat menentukan bagaimana sikap kita dalam menjalani kehidupan ini. Iman memang akan terus berhadapan dengan “dunia” dan segala sesuatu yang ada di dalamnya. Pertarungan iman akan menjadi kondisi yang menegangkan sekaligus menentukan; seperti apa komitmen dan kesetiaan kita kepada Yesus Kristus sangat bergantung pada konteks relasi, tantangan, dan hambatan.

Dengan melihat pada Gereja di Smirna, setidaknya kita dapat mengambil beberapa kesimpulan mengenai kehidupan, kondisi, dan perjuangan mereka dalam mempertahankan kesetiaan (keimanan) mereka kepada Yesus Kristus.

Pertama: Smirna terletak di pantai barat Asia Kecil, memiliki pelabuhan dan menjadi kota perniagaan, maju pesat. Menurut Simon J. Kistemaker, penduduk Yahudi di Smirna cukup besar dan memusuhi Gereja lokal (bdk. ay. 9). Permusuhan ini membuat mereka terlibat dalam kematian Polikarpus (yang menjadi Uskup Smirna selama bertahun-tahun) pada 23 Februari 155 karena dia (Polikarpus) menolak menyangkal nama Yesus Kristus. Polikarpus tetap setia hingga akhir hayatnya. Ini adalah sebuah fakta yang menunjukkan bahwa kesetiaan kepada Yesus tidak hanya diluapkan melalui kata-kata atau pelayanan semata, tetapi ketika berhadapan dengan penderitaan, tantangan, hingga kematian.

Kedua: Ay. 8 membuktikan bahwa konfirmasi sumber firman itu sangatlah menentukan. Bukan hanya soal isi, tetapi otoritas dari yang memberikan firman. Sumber firman berasal dari “Yang Awal dan Yang Akhir”, yang telah mati dan hidup kembali. Keutuhan dari personalitas sumber firman merujuk kepada Yesus Kristus. Ia yang mati dan bangkit menunjukkan otoritas-Nya atas semua Gereja termasuk Smirna.

Ketiga: Ay. 9. Yesus tahu kesusahan dan kemiskinan Gereja di Smirna. Namun mereka kaya, meski difitnah. Kesusahan berarti hidup dalam penganiayaan dan berbagai kesulitan. Kemiskinan yang dialami oleh Gereja Smirna merujuk pada kemiskinan yang hina dari seorang pengemis. Meski demikian, mereka “kaya” secara rohani.

Keempat: Orang Yahudi di Smirna menolak dan tidak mengakui Yesus sebagai Mesias; mereka memaki Yesus dan pengikut-Nya. Itu sebabnya Yesus menyebut mereka (orang Yahudi) sebagai jemaat Iblis.

Kelima: Ay. 10, Yesus memberikan penguatan kepada Gereja Smirna: “Jangan takut”. Orang Kristen di Smirna sedang berhadapan dengan peperangan rohani melawan Iblis. Mereka diminta waspada karena Iblis akan menghasut penguasa supaya beberapa anggota Gereja dipenjara dan kemungkinan besar akan dibunuh. Meski demikian, iman kepada Yesus harus tetap dipertahankan. Meski mengalami tekanan dan kesusahan, namun Tuhan tetap ada di pihak mereka dan menjamin kehidupan kekal bagi mereka yang mati bagi Dia.

Keenam: Menderita “selama sepuluh hari” adalah simbol bagi lengkapnya periode penderitaan, yang bukannya lama atau singkat tetapi ‘penuh’, karena akhirnya sudah pasti (menurut Isbon T. Beckwith).

Ketujuh: Penguatan dari “Sumber Kekuatan” adalah dengan berkata: Hendaklah engkau setia sampai mati, dan Aku akan mengaruniakan kepadamu mahkota kehidupan. Mereka diperintahkan bukan setia kepada pengauasa Yunani atau pemerintahan Romawi, melainkan kepada Kristus Yesus.

“Hendaklah engkau setia sampai mati” adalah konfirmasi bahwa baik hidup maupun mati, ada dalam kehendak dan kedaulatan Yesus Kristus. Ada jaminan yang teramat luar biasa dari mereka yang setia sampai mati, yaitu “Mahkota Kehidupan”—sebuah kepenuhan hidup, melambangkan sukacita dan kegembiraan kemuliaan dan kekekalan yang paling tinggi (Richard C. Trench, Synonyms of the New Testament). Menurut Kistemaker, jika orang-orang kudus di Smirna membayar kesaksian Kristus dengan hidup mereka, maka mereka akan beroleh hidup yang tidak bisa binasa dalam kemuliaan kekal.

Kedelapan: Ay. 11, konsekuensi logis dari orang percaya yang memiliki telinga adalah “mendengar apa yang dikatakan Roh kepada Gereja-Gereja.” Mendengar adalah salah satu bagian penting dari bagaimana seseorang menjadi “paham” mengenai beriman kepada Yesus. Ya, mendengar firman-Nya, tentunya, dan bukan yang lain, yaitu ajaran-ajaran yang menyesatkan. Telinga dipakai untuk mendengar firman dan lebih dari itu, memahaminya, serta menerapkannya dalam kehidupan sehari-hari.

Jika Gereja Smirna yang telah menunjukkan kesetiaannya kepada Yesus, tentu kesetiaan itu juga didasarkan pada bagaimana mereka mendengar ajaran-ajaran yang benar mengenai Yesus Kristus. Siapa yang setia pasti akan menang, dan meski ia menderita, bahkan mati pada proses merealisasikan iman di dunia di mana ia tinggal, ia tidak akan mengalami penderitaan pada kematian yang kedua.

Gereja Smirna adalah salah satu gambaran penting yang bisa diteladani oleh Gereja di masa sekarang. Tantangan yang dihadapi Gereja, bahkan hambatan yang dialami seharusnya mendorong Gereja untuk tetap setia, semangat, dan berjuang melayani Tuhan. Kita dapat belajar dari mereka, belajar dari Polikarpus; kesetiaan mereka kepada Yesus Kristus telah meninggalkan jejak-jejak iman untuk kita teladani dan wartakan.

Melayani tak pernah tanpa hambatan dan tantangan. Justru melalui hal-hal tersebut, Gereja semakin kuat, setia, dan menunjukkan identitasnya kokoh dalam firman Tuhan. Gereja adalah agen pelayanan, agen kesetiaan, dan agen keteladanan.

Amin. Salam Bae……

Rancang situs seperti ini dengan WordPress.com
Mulai