MENCINTAI MISI, MENOPANG PELAYANAN, DAN MENGHASILKAN BUAH: Catatan Singkat dalam Rangka Ulang Tahun DR. Haryoseno ke-79

Oleh: Yosia Belo & Stenly R. Paparang

Ia [Tuhan] yang menyediakan benih bagi penabur, dan roti untuk dimakan, Ia juga yang akan menyediakan benih bagi kamu dan melipatgandakannya dan menumbuhkan buah-buah kebenaranmu; kamu akan diperkaya dalam segala macam kemurahan hati, yang membangkitkan syukur kepada Tuhan oleh karena kami. Sebab pelayanan kasih yang berisi pemberian ini bukan hanya mencukupkan keperluan-keperluan orang-orang kudus, tetapi juga melimpahkan ucapan syukur kepada Tuhan (2 Korintus 9:10-12)

Kutipan ayat-ayat di atas menegaskan prinsip pelayanan di mana Tuhanlah yang menjadi sumbernya. Tuhan sendiri yang menyediakan benih bagi penabur, dan roti untuk dimakan. Jika demikian, setiap orang yang menjadi pelayan-Nya adalah mereka yang “menabur” Injil Yesus Kristus. Hal ini tampak pada pribadi Bapak Haryoseno, yang bukan saja “menjadi seorang penabur” (kebaikan, kasih, dan kemurahan yang ia terima dari Tuhan Yesus), tetapi juga seorang yang “memberi makan bagi kaum papa (miskin, sengsara)” melalui berbagai bantuan. Genaplah firman Tuhan: “Siapa yang berbelas kasihan kepada orang miskin, ia memiutangi YAHWEH, apa yang telah ia berikan, YAHWEH akan membalasnya” (Amsal 19:17).

Bapak Haryoseno dikenal sangat baik, perhatian, dan rendah hati di kalangan sekolah-sekolah dalam wadah SETIA-ARASTAMAR. Beliau adalah orang yang sederhana tetapi memiliki hati yang begitu mencinta misi, dan membuktikan bahwa pelayanan yang dikerjakan baik oleh gereja-gereja maupun sekolah-sekolah, ditopang oleh beliau dengan berbagai cara. Gambaran kebaikan hati beliau tampak ke permukaan bukan tanpa alasan. Tentu, didikan orangtua kepada beliau menjadi dasar bagaimana ia seharusnya bertindak terhadap misi dan pelayanan Kristus Yesus yang dikerjakan oleh gereja-gereja dan sekolah-sekolah.

Di usianya yang ke-79 (tanggal 20 Januari 2023), benih-benih yang ditaburkan Bapak Haryoseno telah menghasilkan banyak buah; banyak orang diberkati oleh pelayanan beliau; banyak orang yang mendoakan beliau; banyak orang yang ditolong dan ditopangnya. Semua dilakukannya semata-mata karena kemurahan Tuhan yang dinyatakan kepada beliau.

Melihat pada ayat-ayat di atas, tampak bahwa Tuhan “juga yang akan menyediakan benih bagi kamu dan melipatgandakannya dan menumbuhkan buah-buah kebenaranmu” – dan jika itu dinyatakan kepada jemaat di Korintus, maka sebagai orang percaya kita juga mendapatkan alasan yang sama bahwa Tuhan yang “akan” dan “telah” menyediakan benih bagi kita dan kita melipatgandakannya dan menumbuhkan buah-buah kebenaran di mana nama Tuhan dipuji dan dimuliakan. Bapak Haryoseno telah memperlihatkan hal ini, bahwa ia telah menyediakan baginya benih, dan ia telah melipatgandakannya dan menumbuhkan buah-buah kebenaran melalui tindakan mencintai misi dan menopang pelayanan.

Anak-anak Didik Arastamar sangat mengenal kebaikan dan kemurahan hati beliau. Beliau telah banyak memberi waktu dan tenaga untuk pekerjaan misi Kristus, pelayanan gereja dan sekolah-sekolah. Beliau telah banyak menabur benih kasih; hal itu dilakukannya karena ia begitu mencintai misi; hatinya terpaut pada Kristus Yesus yang telah mengasihi, menopang, dan memberkatinya di sepanjang hidupnya.

Bapak Haryoseno tahu bahwa “tangan Tuhan selalu menolong, menopang, dan memberkatinya” dalam segala usaha, pekerjaan, pelayanan, dan keluarga. Ia tahu bahwa hidup itu bukan tentang siapa yang lebih terkenal, melainkan siapa yang lebih murah hati dan penuh kasih. Yesus berkata: “Berbahagialah orang yang murah hatinya, karena mereka akan beroleh kemurahan” (Matius 5:7). Bapak Haryoseno telah menerima kemurahan Tuhan, dan itulah alasan baginya untuk terus berbuat baik, menabur cinta kasih, mencintai misi, menopang pelayanan, dan terus menghasilkan buah bagi Kerajaan Bapa di surga.

Tuhan juga akan memperkaya orang-orang yang setia melayani-Nya “dalam segala macam kemurahan hati”. Sebagaimana Paulus menyatakan hal ini kepada jemaat di Korintus, maka kita dapat menarik makna dari pernyataan tersebut bahwa Bapak Haryoseno telah menunjukkan kemurahan hatinya di dalam misi dan pelayanan gerejawi serta pelayanan di bidang pendidikan. STT SETIA dan seluruh cabangnya di seluruh Indonesia telah merasakan manfaat dan berkat dari pelayanan beliau. Tak bisa dipungkiri bahwa kebaikan dan kemurahan hati beliau telah menorehkan sejarah panjang dalam dunia pendidikan dan kerohanian di STT SETIA dan Sinode GKSI. Beliau telah menunjukkan kebaikan hati dan turut serta dalam “mencukupkan keperluan-keperluan orang-orang kudus” – sama seperti yang dilakukan oleh jemaat di Korintus.

Ternyata, setiap kebaikan dan kemurahan hati yang beliau taburkan, telah menolong, menguatkan, dan memberikan sukacita kepada semua orang yang merasakan sentuhan “tangan kasih” Bapak Haryoseno. Apa yang telah beliau taburkan akan tetap menjadi “tinta kehidupan” yang dikenang senantiasa.

Dengan limpah syukur kepada Yesus Kristus, kami berdua (Yosia Belo dan Stenly R. Paparang) mengucapkan: “Selamat Ulang Tahun orang tua kami Bapak Haryoseno yang ke-79”. Cinta kasih dan kemurahan Tuhan senantiasa tercurah kepada Bapak dalam menjalani kehidupan ini. Kesehatan dan kekuatan selalu diberikan Tuhan Yesus. Berkat-Nya tercurah atas Bapak dan keluarga.

Terima kasih atas segala kebaikan dan kemurahan hati yang telah Bapak berikan kepada kami di STT SETIA Jakarta dan seluruh caabangnya, mulai dari PAUD, TK, SD, SDTK, SMP, SMPTK, SMTK, SMAK, sampai STT dan STAK di seluruh Indonesia sehingga sampai saat ini tetap eksis menjalankan misi Tuhan. Juga bantuan Bapak kepada Sinode GKSI. Tuhan akan membalas semua kebaikan hati Bapak. Terima kasih juga atas “pelajaran kehidupan [keteladanan]” yang telah kami lihat secara langsung dari pribadi Bapak Haryoseno.

Akhir kata, kami berdua menyadari bahwa semua yang Tuhan berikan dan perbuat bagi kita, sepatutnyalah kita terapkan juga kepada orang lain. Jika Tuhan sudah memberkati kita, maka kita seharusnya menjadi berkat bagi orang lain: “Diberkati untuk menjadi berkat”. Itulah pernyataan yang menggerakkan kita untuk hidup bagi Tuhan dan menjadi berkat. Hal itu pula yang tampak pada pribadi Bapak Haryoseno: “menjadi berkat melalui sikap hidup yang mencintai misi dan menopang pelayanan, untuk menghasilkan buah-buah bagi Yesus Kristus, kini, besok, dan selamanya.

Salam Kasih, YBU…..

LANGIT,  KUMENYAPAMU: Ceramah Kehidupan dan Lukisan Diri

Barangkali kita kerap menengadah ke langit, menyapa Sang Khalik untuk sebuah “ceramah kehidupan”, entah menawarkan sebuah harapan dan konsekuensi, atau mengungkapkan protes diri terhadap apa yang telah terjadi. Ceramah kehidupan itu sendiri mencakup dua hal: kebahagiaan dan kesedihan.

Kebahagiaan menambah gairah kehidupan, sehingga isi ceramahnya pun diwarnai dengan diksi-diksi keren dan menarik. Di sisi lain, kesedihan justru menambah kekecewaan dan sakit hati, sehingga isi ceramahnya pun diwarnai dengan diksi-diksi kacau, tuduhan, buruk, dan memuakkan. Dua hal ini, ketika diceramahkan, sering ditujukan kepada ‘langit’.

Tak dapat disangkal bahwa kehidupan itu sendiri mematri diri (pikiran) kita untuk melihat seluk-beluknya, apa dan bagaimana seharusnya kita bertindak dan berkata. Apa dasar tindakan kita supaya bahagia? Apa dasar tindakan supaya keluar dari kesedihan? Bagaimana tindakan-tindakan yang semestinya kita lakukan untuk menemukan dan merasakan kebahagiaan atau menyingkirkan kesedihan dan kemelut hidup? Apakah perkataan kita membangun atau meruntuhkan? Bagaimana perkataan-perkataan kita dapat mempengaruhi proses pencarian kebahagiaan dan kesedihan kita?

Kita menarik pesan dan makna dari kehidupan; kita bahkan menyobek kertas-kertas hidup yang telah kotor oleh karena kesembronoan (kecerobohan); kita membeli kertas-kertas baru untuk melukis apa yang hendak kita lakukan, hadapi, dan nikmati. Lukisan itu kemudian terpampang dalam diri kita hari lepas hari; dilihat dan dilai orang. Mungkin bagus pada tampak luar lukisan. Tetapi siapa sangka, alat pewarna lukisan justru adalah hasil curian, kesombongan dan penipuan kita?

Setiap manusia melukis dirinya sendiri, entah dengan alat pewarna yang dibeli sendiri, dipinjam, atau bahkan hasil curian dan penipuan. Kita melukis diri karena kita ingin mencari jati diri, memperkenalkan diri, menunjukkan kualitas diri, dan mungkin hendak memamerkan diri. Pada akhirnya, diri yang “berkelaslah” yang mampu diteladani. Bila kita cermat memahami kehidupan, ada banyak faset yang dapat dijalin satu sama lain. Di situ kita membentuk istana integritas menjadi sebuah “sekolah kehidupan” tempat orang lain mendapatkan sesuatu yang berharga, atau menjadi sebuah “wisata kebahagiaan” di mana banyak orang berkerumun untuk menikmati keindahannya. Setelahnya, kita menyapa langit dan bersyukur atas semua pencapaian yang telah diraih.

Namun, tak disangka-sangka, muncul goresan-goresan hidup: kesakitan, kekecewaan, keputus-asaan, kesedihan, kemaharan, dendam, iri hati, dan sederet sahabat-sahabatnya, yang menciptakan narasi ceramah kehidupan terus menguap ke permukaan. Akhirnya, kita menyapa langit, menggerutu tertatih-tatih, mengeluh menggebu-gebu.

Ada apa gerangan? Semua ceramah kehidupan adalah gambaran dari lukisan diri kita sendiri. Setiap orang mendapatkan jatah dari Sang Khalik, mengelola jatah, mengembangkan jatah, membuang jatah, mengubur jatah, dan menikmati jatah. Jatah itu adalah: jatah makan, jatah nafas kehidupan, dan jatah kesempatan.

Mereka yang sama sekali tidak bersyukur atas jatah yang diberikan, akan terus menyapa langit dengan nada sinis atau pesimis. Atau mungkin setelah menikmati jatah-jatah tersebut, tak pernah menyapa langit untuk berterima kasih, malahan terus mengunyah kebohongan, penipuan, dan ketamakan; kenyang, kenyang, dan perutnya buncit penuh keserakahan. Ini menyedihkan sekali.

Tetapi, langit tetap menyapa manusia. Ia memperlihatkan kepeduliannya dengan mengubah bentuk-bentuk awam-gemawan agar tidak hanya memberikan sensasi menakjubkan, tetapi juga sensasi kehidupan. Di satu sisi, langit menceritakan kemuliaan Allah, di sisi lain langit menceritakan kedaulatan Allah: “Aku akan menurunkan hujan pada waktunya; itu adalah hujan yang membawa berkat” (Yehezkiel 34:26). “Aku menurunkan hujan ke atas kota yang satu dan tidak menurunkan hujan ke atas kota yang lain; ladang yang satu kehujanan, dan ladang, yang tidak kena hujan, menjadi kering” (Amos 4:7). “Mintalah hujan dari pada TUHAN pada akhir musim semi! TUHANlah yang membuat awan-awan pembawa hujan deras, dan hujan lebat akan diberikan-Nya kepada mereka dan tumbuh-tumbuhan di padang kepada setiap orang” (Zakharia 10:1).

Maka, menyapa langit dan mengungkapkan ceramah kehidupan sebagai lukisan diri sang penceramah, adalah baik dan berguna, ketimbang menyapa sesama untuk menipu tapi melupakan langit. Ceramah kehidupan kita memang dapat dipublikasikan kepada dua hal: untuk kebaikan (kepedulian dan cinta kasih) atau untuk penipuan (kehobongan, kejahatan). Keduanya adalah realisasi dari lukisan diri manusia.

Menyapa langit adalah tindakan yang menjelaskan tiga hal.

Pertama, menyatakan ungkapan keletihan pikiran, hati, dan emosi. Kedua, menyatakan ungkapan kekecewaan atas hidup, orang, pekerjaan, dan perasaan. Ketiga, menyatakan ungkapan syukur dalam segala hal yang terjadi. Sapaan terhadap langit selalu terkait dengan ‘kehidupan’, entah baik, entah buruk. Syukur-syukur masih bisa menyapa langit. Betapa celakanya mereka yang lupa menyapa ‘langit’. Acuh tak acuh terhadap langit. Bahkan, meski terkesan menyapa langit, orang-orang jahat hanya berpura-pura tampil rohani dan menunjukkan diri sebagai pribadi berhati gembala, tapi pada kenyataannya ia adalah serigala yang buas dan penuh kudis dalam hatinya; ia nista, bau, dan menjijikkan.

Kita dapat terus belajar dari kehidupan kita sendiri dan kehidupan orang lain. Kita menemukan jejak-jejak sejarah iman dalam balutan integritas untuk dijadikan sebagai alas kaki kerelaan untuk setia melayani Sang Khalik.

Dari-Nya kita menerima segala sesuatu. Seperti Ayub yang menampik istrinya yang salah paham dan memerintahkan Ayub untuk mengutuki Allah: “Engkau berbicara seperti perempuan gila! Apakah kita mau menerima yang baik dari Allah, tetapi tidak mau menerima yang buruk?” Seperti Salomo yang menulis: “Pada hari mujur bergembiralah, tetapi pada hari malang ingatlah, bahwa hari malang ini pun dijadikan Allah seperti juga hari mujur, supaya manusia tidak dapat menemukan sesuatu mengenai masa depannya” (Pengkhotbah 7:14). Dan seperti yang dikatakan Nabi Yesaya: “…. Akulah TUHAN dan tidak ada yang lain, yang menjadikan terang dan menciptakan gelap, yang menjadikan nasih mujur dan menciptakan nasib malang; Akulah TUHAN yang  membuat semuanya ini. Hai langit, teteskanlah keadilan dari atas, dan baiklah awan-awan mencurahkannya! Baiklah bumi membukakan diri dan bertunaskan keselamatan, dan baiklah ditumbuhkannya keadilan! Akulah TUHAN yang menciptakan semuanya ini” (Yesaya 45:6-8).

“Langit”, kumenyapamu sebab aku tahu dari Engkaulah aku menerima segala sesuatu malang dan mujur untuk mendidikku menjadi seperti yang Engkau kehendaki. Pada akhirnya, sapaan-sapaanku terhadap Engkau telah melatih diriku untuk menyusun ceramah kehidupan di mana Engkau juga yang telah memampukanku untuk melukis diriku sendiri dalam terang firman-Mu.

Langit, bila kumenyapa-Mu, berikanlah keadilan dan kebahagiaan, berikanlah kelegaan agar nikmat hidup yang Engkau karuniakan, dapat dirasakan dengan penuh syukur dan kesadaran diri. Ceramah kehidupan yang terbentuk adalah hasil patrian di mana Engkau turut campur tangan di dalamnya. Langit, kuatkanlah aku untuk menjalani kehidupan, menelusuri lorong-lorong waktu, menerobos berbagai kesempatan, sebab Engkau pula yang memperlengkapi diriku dengan segala kebaikan dan kemurahan agar dalam ‘semua tentang kehidupan’ ada nama-Mu disebut, dimuliakan, dan diagungkan.

Salam Bae……

MENJADI MANUSIA BARU

Frasa “manusia baru” digunakan Paulus untuk merujuk kepada sebuah implikasi logis dari “perbuatan moralitas” dan “perbuatan spiritualitas”. Dua hal ini merupakan konsep “dualisme spesifik” — yang mana Rasul Paulus secara terang-terangan membedakan dan mendefinisikan bahkan mengklasifikasikan jenis-jenis perbuatan [hasil pemikiran] dari kedua perbuatan tersebut.

Perbuatan moralitas di sini bernada negatif, yakni berbagai perbuatan daging yang mencemarkan diri seseorang dan dengannya identitasnya dicap sebagai seorang yang mengenakan “manusia lama”. Perbuatan spiritualitas bernada positif, yakni berbagai perbuatan rohani, berdasarkan ketentuan hukum Tuhan yang mencerminkan diri seseorang dan dengannya identitas seseorang dicap sebagai seorang yang mengenakan “manusia baru”.

Dualisme spesifik (perbuatan moralitas dan spiritualitas) merujuk kepada dua hal yang saling bertentangan. Artinya, secara spesifik, dualisme tersebut terdefinisi secara jelas berdasarkan data faktualnya. Paulus melakukan pengamatan terhadap keduanya berdasarkan pengalamannya. Dengan begitu, Paulus tidak sedang menuduh secara sepihak. Jemaat Efesus tentu masuk dalam klasifikasi dualisme tersebut. Ada tingkatan-tingkatan perbuatan moral dan perbuatan spiritual yang terjadi di lingkungan jemaat Efesus. Oleh sebab itu, nasihat-nasihat Paulus membuktikan kepeduliannya untuk membentuk sebuah jemaat yang sadar dan kuat. Kuat dalam iman kepada Yesus Kristus, dan sadar akan tanggung jawab bahwa mereka telah menjadi murid Kristus dan melakukan apa yang menjadi pedoman iman sesuai dengan kehendak Tuhan.

Frasa τὸν καινὸν ἄνθρωπον (ton kainon anthrōpon – manusia baru) atau ἐνδύσασθαι τὸν καινὸν ἄνθρωπον (endusasthai ton kainon anthrōpon – mengenakan [berpakaian] manusia baru) adalah pendefinisian secara analogis di mana “manusia baru” dipadankan dengan “manusia lama”. Analogi ini adalah sebuah data faktual yang dapat atau sering dijumpai di sekitar kita. Rasul Paulus mendefinisikan manusia baru karena dalam tulisannya mengindikasikan bahwa jemaat Efesus dinilai telah mengalami hal-hal yang tidak semestinya mereka lakukan sebagai umat Kristus. Dengan begitu, gagasan manusia baru adalah gagasan pencerah, penentu, dan pengarah tujuan hidup jemaat Efesus.

Indikasi tindakan-tindakan yang bertolak belakang dengan natur orang-orang percaya dijelaskan Paulus, yakni: hidup seperti orang-orang yang tidak mengenal Allah, berpikir sia-sia, berpengertian gelap, jauh dari hidup persekutuan dengan Allah, bodoh, degil hati, perasaan tumpul [tidak peka, tidak menguasai diri], serakah dan cemar, sesat, dusta, kemarahan tak beralasan, mencuri, berkata kotor, mendukakan Roh Kudus, akar pahit, pertikaian, fitnah, dan dendam.

Dari penjabaran perbuatan-perbuatan manusia lama di atas, maka Paulus menyelaraskan secara seimbang melalui analogi pembanding: “manusia baru” (τὸν καινὸν ἄνθρωπον). Menjadi manusia baru adalah sebuah tujuan pembersihan dan pembasuhan diri dari jemaat Efesus yang telah terjebak dalam arus duniawi—arus pemikiran yang menggerogoti iman mereka. Dari situlah, Paulus mendapat kesempatan baik untuk memberikan sebuah pemikiran untuk mengubah “mindset [kerangka berpikir] dari jemaat Efesus. Mengubah “mindset ternyata didasari pada fakta bahwa jemaat Efesus telah atau sedang atau akan [ada tanda-tanda] terpengaruh dengan “cara berpikir yang sia-sia [ματαιότητι – omong kosong, kekosongan, tanpa tujuan –  Ef. 4:17] dari mereka yang tidak mengenal Allah.”

Oleh sebab itu, menjadi manusia baru adalah sebuah harapan iman dan perubahan pikiran untuk menyelaraskan pikiran jemaat Efesus dengan pikiran Kristus. Secara jelas bahwa Paulus menuliskan pesan-pesan pastoral—dogmatis untuk mencegah tindakan-tindakan yang duniawi terjadi di kalangan orang percaya (jemaat Efesus). Pola pikir sering menjadi sasaran utama Paulus, sebagaimana yang tampak dalam surat-suratnya yang lain. Dalam pasal 4:17-18, Paulus menegaskan bahwa:

Sebab itu kukatakan dan kutegaskan ini kepadamu di dalam Tuhan: Jangan hidup lagi sama seperti orang-orang yang tidak mengenal Allah dengan pikirannya yang sia-sia dan pengertiannya yang gelap, jauh dari hidup persekutuan dengan Allah, karena kebodohan yang ada di dalam mereka dan karena kedegilan hati mereka.

Dark Hand in Heavy Chains

Pola pikir orang-orang yang tidak mengenal Allah, adalah sia-sia atau hampa sama sekali. Tentu, penetapan bahwa pikiran mereka “sia-sia” berangkat dari buah-buah pemikiran mereka yang tampak pada perbuatan mereka. Artinya, alat ukur untuk mengamati dan menetapkan seseorang bahwa ia memiliki pola pikir yang hampa atau sia-sia, adalah dilihat dari “buahnya” atau perbuatannya. Pikiran yang sia-sia dan pengertian yang gelap dihasilkan dari dua hal yaitu kebodohan dan kedegilan. Kebodohan adalah sebuah sikap seseorang yang bersumber dari pemikiran yang tidak melibatkan pertimbangan yang baik untuk menghasilkan perbuatan-perbuatan baik dan mengabaikan tatanan moralitas dan spiritualitas sesuai dengan kehendak Allah.

Dibutuhkan upaya untuk bekerja dalam alur iman yang benar. Tatanan kerja adalah sebuah prinsip ketegasan iman untuk hidup dan bertindak sesuai dengan kehendak Tuhan. Paulus dengan baik dan penuh perhatian kepada jemaat Efesus untuk hidup berdasarkan firman Allah dan hidup di dalamnya.

Beberapa prinsip hidup berikut ini, yang ditegaskan Paulus terkait dengan upaya untuk menanggalkan manusia lama dan mengenakan manusia baru perlu diperhatikan dan dimaknai, kemudian dilakukan dalam kehidupan kita (meneladani jemaat Efesus):

Petama: ἐμάθετε (dari kata μανθάνω) (Ef. 4:20 – Tetapi kamu bukan demikian. Kamu telah belajar mengenal Kristus): belajar, yaitu mengarahkan pikiran seseorang pada sesuatu dan menghasilkan efek eksternal, sebagai pembelajaran melalui inkuiri (memastikan, menemukan, mencari tahu), belajar melalui praktek atau pengalaman menjadi tahu, menjadi sadar, atau belajar mencapai pemahaman. Di sini, Paulus menegaskan bahwa jemaat Efesus telah belajar mengenal (memahami) Kristus, maka itulah yang terus dipertahankan, tidak boleh ditukar dengan keinginan duniawi. Kristus tetaplah yang utama.

Kedua: Aποτιθημι [apotithēmi] (Ef. 4:22, 25): membuang, menanggalkan, pakaian dilepas (gambaran bahwa moralitas jahat harus dilepaskan), secara kiasan menyingkirkan, berhenti dari. Jemaat Efesus harus benar-benar menyingkirkan manusia lama, membuang, melepaskan, berhenti dari perbuatan-perbuatan daging (jahat). Pula, jemaat Efesus harus membuang dusta, dan hidup dalam perkataan yang benar.

Ketiga: Eνδυοω [enduō] (Ef. 4:24): ἐνδύσασθαι (dari kata ἐνδύω): secara harfiah; (a) berpakaian aktif, mendandani seseorang; (b) menggambar, mengenakan sesuatu; (2) secara kiasan, mengambil atau diperlengkapi dengan karunia atau kualitas spiritual yang diterima (Luk. 24:49 – “diperlengkapi dengan kekuasaan dari tempat tinggi”). Paulus menegaskan bahwa jemaat Efesus harus mengenakan manusia baru, menggambar diri mereka dengan kehidupan yang baru, mendandani kehidupan dengan firman Allah dan menerima karunia Allah sebagai ‘kelengkapan’ iman dalam melayani dan hidup di hadapan-Nya.

Keempat: λαλεῖτε ἀλήθειαν (Ef. 4:25): berkata benar, berbicara seperti menyampaikan pesan, menceritakan, fokus pada berbicara ketimbang penalaran logis, mengungkapkan diri berbicara (keluar), berbicara secara transitif (memerlukan objek), menegaskan, menyatakan sesuatu. Penegasan Paulus tentu terhubung dengan bagaimana jemaat Efesus berkata benar menyangkut “Kabar Baik” yang melebur ke dalam kehidupan dan relasi mereka sehari-hari. Berkata benar berarti tidak berdusta, jujur (berintegritas), dan menampilkan perkataan pengajaran yang bersumber dari firman Allah yang telah mereka terima.

Berkata atau berbicara benar menafikan kompromistis yang merusak iman, mengungkapkan apa yang benar, menegaskan apa yang benar dan salah, menyatakan apa yang seharusnya dilakukan dan apa yang seharusnya dihindari (ditanggalkan). Ini merupakan realisasi dari iman yang sejati. Allah adalah kebenaran, maka orang percaya harus hidup dalam kebenaran dan berkata benar dalam segala situasi.

Kelima: μὴ λυπεῖτε τὸ πνεῦμα τὸ ἅγιον τοῦ θεοῦ – (Ef. 4:30 – janganlah kamu mendukakan Roh Kudus Allah). λυπεῖτε (dari kata λυπέω), diartikan sebagai: aktif: (menyebabkan) sakit, berduka, membuat sedih, berduka cita, melukai perasaan, mendukakan; pasif: sedih, tertekan.  Paulus menasihati bahwa “jangan mendukakan [membuat sedih, atau membuat berduka] Roh Kudus Allah melalui tindakan-tindakan yang jahat, tidak benar, dan melawan Dia. Tindakan-tindakan tersebut seperti: kepahitan, kegeraman, kemarahan, pertikaian, fitnah, segala kejahatan. Semuanya harus dibuang dari antara jemaat Efesus. Itu tidak membuat mereka bertumbuh dalam iman, malahan merusak iman mereka, merusak kehidupan dan relasi dengan Allah dan sesama. Paulus melanjutkan bahwa jemaat Efesus harus menunjukkan sikap ramah seorang terhadap yang lain, penuh kasih mesra dan saling mengampuni, sebagaimana Allah di dalam Kristus telah mengampuni kamu (Eph. 4:31-32). Ajaran ini sungguh luar biasa, tak tertandingi. Menjadi pengikut Kristus haruslah demikian.

Intisari dari ‘mengenakan manusia baru’ adalah mengikuti apa yang Allah kehendaki. Di sini dibutuhkan peringatan sebagaimana yang diutarakan Paulus. Peringatan untuk menanggalkan manusia lama perlu mendeteksi dua inti dari perbuatan manusia lama yakni: (a) ayat 25: ψεῦδος (pseudos: dusta, palsu, kebohongan, tipuan; dan (b) ayat 29: πᾶς λόγος σαπρὸς ἐκ τοῦ στόματος ὑμῶν (janganlah ada perkataan kotor keluar dari mulutmu). Kata σαπρὸς (sapros) diartikan sebagai: ikan atau buah yang membusuk tidak lagi berguna untuk makanan; tidak berharga, tidak layak; (sebagai substantif) τὰ σαπρά: yang tidak dapat digunakan (Mat. 13.48); secara kiasan, ucapan yang tidak mendidik, berbahaya, buruk, tidak menguntungkan.

Screaming and suffering woman with terrible rope on her neck

Penegasan bahwa jemaat Efesus tidak boleh mengeluarkan “perkataan kotor” adalah tanda  bahwa hidup dan diri mereka telah diubahkan Kristus. Perkataan kotor itu (sapros) ibarat ikan atau buah yang busuk, yang tidak dapat dimakan. Artinya, perkataan kotor itu tidak membangun, tidak berfaedah, tidak membangun, tetapi merusak dan menciptakan pertikaian. Perkataan kotor itu tidak berharga dan tidak layak diucapkan oleh orang-orang percaya. Ucapan-ucapan kotor itu sejatinya tidak mendidik, berbahaya, buruk, dan tidak menguntungkan. Tidak ada didikan dalam perkataan kotor (busuk); justru malahan berbahaya, menunjukkan keburukkan penutur maupun hasil tuturan, bahkan tidak memberikan keuntungan sama sekali.

Jemaat Efesus benar-benar diberikan dasar tindakan yang luar biasa sebagai umat Allah. Dan itulah yang dapat kita teladani dari mereka. Menjadi manusia baru memiliki tantangan tersendiri, tetapi membuat diri dan kehidupan kita bersinar seperti bintang-bintang (supaya kamu tiada beraib dan tiada bernoda, sebagai anak-anak Allah yang tidak bercela di tengah-tengah angkatan yang bengkok hatinya dan yang sesat ini, sehingga kamu bercahaya di antara mereka seperti bintang-bintang di dunia [Flp. 2:15]; bdk. Matius 5:16, Demikianlah hendaknya terangmu bercahaya di depan orang, supaya mereka melihat perbuatanmu yang baik dan memuliakan Bapamu yang di sorga; Matius 13:43, Pada waktu itulah orang-orang benar akan bercahaya seperti matahari dalam Kerajaan Bapa mereka. Siapa bertelinga, hendaklah ia mendengar!; 2 Korintus 4:6. Sebab Allah yang telah berfirman: “Dari dalam gelap akan terbit terang!,” Ia juga yang membuat terang-Nya bercahaya di dalam hati kita, supaya kita beroleh terang dari pengetahuan tentang kemuliaan Allah yang nampak pada wajah Kristus; Efesus 5:14  Itulah sebabnya dikatakan: “Bangunlah, hai kamu yang tidur dan bangkitlah dari antara orang mati dan Kristus akan bercahaya atas kamu”).

Dengan demikian, menanggalkan manusia lama dan mengenakan manusia baru membutuhkan kuasa Tuhan. Dialah yang menjadikan kita ‘baru’ di dalam firman-Nya, kasih-Nya, dan di dalam damai-Nya. Kita dimampukan Tuhan untuk mengerjakan hal-hal yang mengarahkan kita kepada perubahan pola pikir atau mindset.

Prinsip-prinsip hidup yang telah dijelaskan di atas perlu diperhatikan sebaik mungkin agar kita betul-betul melakukannya — kita sebagai manusia baru di dalam Kristus — mengandalkan Dia. Manusia baru berarti kita telah berubah dari yang lama menuju (mengenakan) yang baru. Pola pikir kita juga harus bersih, tidak berkata kotor, tetapi justru menunjukkan perkataan yang membangun. Menjadi Kristen sejati berangkat dari kuasa Roh Kudus yang mengubahkan kita. Kita disadarkan untuk tidak mendukakan Roh Kudus. Hanya Tuhanlah yang telah mengubah kita menjadi pribadi yang lebih baik—pribadi yang baru, manusia yang bersinar kapan pun dan di mana pun.

Menjadi manusia baru adalah sebuah sukacita manusia di mana diri kita dilepaskan dari belenggu dosa-dosa dunia, dosa-dosa personal maupun komunal. Manusia baru berarti “membuang” dan menjadikan sampah segala dosa-dosa lampau, dan segala perbuatan buruk yang dibenci Tuhan.

Berkatalah benar, berucaplah selaras dengan prinsip-prinsip Kitab Suci, selaras dengan kehendak Tuhan, dan jangan mengabaikan karunia yang telah diberikan Roh Kudus; jangan mendukakan Dia; jangan menganggap enteng pekerjaan Tuhan. Seyogianya, karunia yang diberikan-Nya tertuang dalam perkataan, percakapan, dan pemberitaan tentang Yesus Kristus dan firman-Nya.

Kiranya Tuhan memberkati dan memampukan kita untuk hidup sebagai manusia baru (τὸν καινὸν ἄνθρωπον) agar dapat melakukan kehendak-Nya, mengatakan yang benar dan tidak mendudukan Roh Kudus Allah. Amin.

Salam Bae……

Sumber gambar: Pinterest

BERIMAN SECARA DEWASA

Iman mendapati “ruang” untuk menunjukkan kualitasnya melalui beberapa hal, misalnya ruang untuk berelasi dengan kemajemukan agama, ras, dan budaya, ruang menunjukkan nilai tindakan dan perkataan, serta ruang untuk sebuah toleransi. Iman yang dewasa akan melihat ruang-ruang tersebut bukan sebagai ‘ancaman’ melainkan sebuah kesempatan untuk memperlihatkan kualitasnya – sebab secara umum nilai yang diberikan kepada iman seseorang adalah para perkataan, tindakan (yang selaras dengan iman), serta relasi – sebuah tindakan ‘berani’ untuk tampil beda di dalam kepelbagaian narasi iman yang lain.

Beriman secara dewasa tidak dapat dihayati oleh mereka yang bersumbu pendek (pendek pikiran, pendek emosi). Kedewasaan iman tampil untuk memberikan nuansa warna-warna kehidupan yang mencakup moralitas dan spiritualitas yang murni dan tulus, bukan dengan ‘mencari muka’ atau ‘mencari nama’. Ada banyak orang yang merasa ‘paling beriman’ ketika berdoa di tengah jalan, dilihat banyak orang. Merasa bahwa ketika berdoa yang tidak lazim, itu menambah rasa percaya diri bahwa dia orang beriman. Penipuan dan kesombongan semacam ini telah menyulap pikiran orang-orang dan segera memberi nilai bahwa ‘inilah ciri-ciri orang beriman, berdoa di tengah jalan, menonjolkan diri, dan setelah itu kita tidak tahu apa yang akan dilakukannya besok dan seterusnya.’

Kita terbiasa menilai dan melihat rohani tidaknya seseorang dari bagaimana ia menampilkan dirinya berdoa, pamer berdoa dan lain sebagainya. Yesus mengecam tipe orang semacam ini:

“Dan apabila kamu berdoa, janganlah berdoa seperti orang munafik. Mereka suka mengucapkan doanya dengan berdiri dalam rumah-rumah ibadat dan pada tikungan-tikungan jalan raya, supaya mereka dilihat orang. Aku berkata kepadamu: Sesungguhnya mereka sudah mendapat upahnya. Tetapi jika engkau berdoa, masuklah ke dalam kamarmu, tutuplah pintu dan berdoalah kepada Bapamu yang ada di tempat tersembunyi. Maka Bapamu yang melihat yang tersembunyi akan membalasnya kepadamu.” (Matius 6:5-6)

Dewasa iman sesungguhnya tampil dalam beberapa fakta (akan dijelaskan kemudian). Pada dasarnya, pluralisme dan pluralitas agama telah memecahkan pemahaman iman agama satu dengan iman agama lain. Seolah-olah ada jurang pemisah yang begitu dalam, sehingga mereka yang imannya cetek berulah dan merusak tatanan sosial dan tatanan relasional antar-iman. Barangkali, mereka yang bertindak demikian adalah orang-orang yang begitu alergi dengan ‘iman agama lain’ dan merasa harus disingkirkan, dan jika perlu dimusnahkan. Pemikiran semacam ini memang berpotensi merusak kemajemukan, dan tergolong sebagai ‘kaum intoleran’. Mereka memiliki iman yang unik – yaitu iman yang alergi dan berpotensi menciptakan konflik.

Melihat fenomena semacam itu, kita perlu waspada dan mengupayakan untuk beriman secara dewasa. Meski kita tahu bahwa kesalahpahaman sering terjadi. Di lingkup doktrin Kristen, tak sedikit penyesatan, kesalahpahaman, pemahaman yang salah, dan perendahan terhadap doktrin Kristen yang dilakukan oleh mereka yang merasa beriman tapi tak ada otaknya (tak mampu menilai secara sehat, berpikir secara kritis, dan memahami prinsip hermeneutika). Alhasil, penyimpangan dan keyakinan misterius berbalutkan bidat menjadi makanan siap saji bagi mereka yang mencintai ‘dusta’ (kebohongan).

Oleh sebab itu, jangan lekatkan dalam hatimu pemahaman dan konsep yang keliru tentang doktrin-doktrin Kristen (biblika) yang digulirkan dan dikumandangkan oleh mereka yang membenci Kekristenan, yang skeptis terhadap Kekristenan, dan yang menegasikan Yesus, karena hal itu akan membawamu kepada sikap brutalisme dan berdampak pada saling membunuh dan mencaci maki. Lekatkanlah pada dirimu pemahaman dan konsep biblika terkait doktrin-doktrin Kristen yang didasarkan pada fakta dan dokumentasi. Iman dari Tuhan akan menuntunmu pada kehidupan yang berkenan kepada-Nya.

Iman akan membentuk karaktermu sepanjang hayat,  menghindarkan dirimu dari sikap membunuh sesama atas nama agama, membenci dan bertindak keras atas nama agama. Itulah makna “beriman secara dewasa”.

Ketika ada orang lain yang mengusik, menghina, merendahkan, dan menegasikan imanmu, jangan terbawa emosi. Kita tahu bahwa iman kita berdasar pada penyataan Allah yang peduli terhadap manusia berdosa dan menebusnya dengan cara-Nya sendiri; jangan membalas kejahatan dengan kejahatan; kita tahu bahwa mereka tersesat dalam kebodohannya dan kepada mereka kita dapat menyebutkan sebagai orang-orang yang merasa bahwa “ignorance is bliss”: kebodohan adalah kebahagiaan. Yang perlu kita tegaskan adalah sikap beriman secara dewasa.

Beriman secara dewasa tampak pada tujuh hal: Pertama, memiliki pemikiran yang solid tentang doktrin-doktrin fundamental. Kedewasaan ini akan selalu siap sedia dalam memberi pertanggungan jawab kepada mereka yang mempertanyakan iman Kristen, meragukan atau menegasikannya.

Kedua, memiliki relasi yang baik dengan sesamanya. Relasi ini bukanlah bentuk kompromi terhadap berbagai ajaran yang menyimpang dari mereka yang menganutnya, melainkan tetap menegur dan menghardik segala bentuk ajaran yang menyimpang (menyesatkan). Relasi dipahami dalam konteks humanitas dan sosiologi.

Ketiga, memiliki sikap hidup yang solid dalam menanggapi berbagai problem kehidupan. Sikap yang solid mampu menolak dosa, mampu menolak kemunafikan, dan mampu menolak berbagai bentuk “tawaran menarik” yang berpotensi merusak nama baik dan pelayanannya di hadapan Tuhan.

Keempat, memiliki peran bagi kemaslahatan banyak orang, baik di keluarga, gereja, dan masyarakat (lingkungan makro). Peran ini dilihat dari bentuk kewajiban sebagai warga negara dan menjamin terciptanya relasi yang harmonis di antara sesama manusia. Peran dari mereka yang percaya kepada Tuhan tidak hanya berurusan dengan aspek spiritualitas, melainkan juga dengan aspek moralitas, relasional, dan kemasyarakatan.

Kelima, membangun jembatan iman dalam konteks disparitas doktrinal di kalangan Kristen. Berbagai denominasi memungkinkan terciptanya disparitas doktrinal. Meski demikian, penegasan doktrinal untuk melawan dan menghardik ajaran-ajaran yang menyimpang perlu dilakukan dan sedapat mungkin tidak menyerang “pribadi” melainkan pada “pemikirannya”.

Keenam, berusaha memberi jawab terhadap berbagai penyesatan, penyimpangan, dan tuduhan terhadap iman (doktrin) Kristen dengan prinsip eksegetikal dan dogmatik yang kredibel, sehingga – setidaknya – kita telah memberi tahu apa yang benar. Selebihnya, biarlah Roh Kudus yang bekerja atas kebenaran yang telah kita sampaikan. Ia akan menggerakkan siapa pun yang dikehendaki-Nya untuk dapat memahami dan menerima kebenaran itu.

Ketujuh, dengan iman yang berhadapan dengan ‘iman yang lain’, kita tetap menunjukkan spirit toleransi secara bertanggung jawab dan memberi ruang kepada keadilan untuk menjalankan perannya. Di sini, segala sesuatu yang terhubung dengan relasi sosial, biarlah ‘keadilan’ yang dipegang oleh pemerintah dapat dihormati, dihargai, dan didukung. Hal ini dapat kita lihat, misalnya, pada bagaimana intimidasi dan diskriminasi bagi orang Kristen untuk melakukan ibadah minggu maupun ibadah pada perayaan-perayaan yang besar, misalnya Jumat Agung, Paskah, dan Natal.

Akhirnya, beriman secara dewasa menjadi tujuan kita bersama. Kedewasaan dalam beriman membuktikan bahwa kita adalah anak-anak Allah yang senantiasa membawa damai dan sejahtera kepada “dunia” secara luas. Yesus Kristus telah memanggil kita untuk tugas yang mulia ini. Yesus berkata:  

Berbahagialah orang yang lemah lembut, karena mereka akan memiliki bumi. Berbahagialah orang yang lapar dan haus akan kebenaran, karena mereka akan dipuaskan.   

Berbahagialah orang yang murah hatinya, karena mereka akan beroleh kemurahan. Berbahagialah orang yang suci hatinya, karena mereka akan melihat Allah.   

Berbahagialah orang yang membawa damai, karena mereka akan disebut anak-anak Allah. Berbahagialah orang yang dianiaya oleh sebab kebenaran, karena merekalah yang empunya Kerajaan Sorga (Matius 5:5-10)

Jangan sia-siakan kesempatan yang diberikan oleh Tuhan untuk menunjukkan kedewasaan iman dalam perkataan, perbuatan (tindakan) dan pemikiran untuk menghasilkan solusi-solusi majemuk dan toleransi. Sebelum terlambat, segeralah berbalik kepada Allah dan tunaikanlah tugas pelayananmu. Tetaplah beriman secara dewasa, baik atau tidak baik waktunya.

Salam Bae..…

Sumber gambar: Pinterest

RUANG KEHIDUPAN

Manusia menempatkan dan menampilkan dirinya pada suatu konteks dan sekaligus menentukan jati dirinya. Dalam ruang kehidupan, manusia menceritakan dirinya dengan perkataan, tindakan (positif atau negatif), relasi dan karya. Jati diri yang ditampilkan adalah wajah asli manusia. Jika demikian, kita dapat dengan leluasa  sesuai dengan kemampuan dan kemauan  untuk menyatakan sesuatu melalui perkataan, tindakan, relasi, dan karya dalam faset-faset kehidupan. Ini adalah kenyataan manis maupun pahit.

Kita dapat saja terpengkap dalam kemasan kemunafikan, kemalasan, pengabaian dan penjualan integritas pada waktu-waktu (situasi) tertentu di sebuah ruangan kehidupan yang terbatas. Di saat itulah kita perlu memberanikan diri menunjukkan bagaimana caranya untuk keluar dari perangkap semacam itu, agar kita tidak dilabeli dengan sebutan-sebutan “nyeleneh” ataupun “nyentrik”. Kita terpaksa menerimanya karena kita telah gagal di dalam hal-hal tersebut.

Seiring berjalannya waktu, kita dapat memperbaikinya secara perlahan. Merangkak menggapai kesadaran dan kejujuran diri seperti yang Tuhan kehendaki. Perlu upaya untuk tiba pada gapaian itu. Tanpa usaha kita jatuh tergeletak tak berdaya, diinjak-injak oleh keadaan yang kita ciptakan sendiri yakni sebuah konsekuensi logis dari tindakan-tindakan kita.

Dalam ruang kehidupan, kita bergerak, bertegur sapa, menyapa sahabat, acuh tak acuh, terus berkarya, terus hidup dalam kunkungan dosa, atau terus bersemangat dalam melayani Sang Khalik. Pilihan terakhir tampaknya adalah kebahagiaan dari mereka yang menyadari bahwa pelayanan adalah sebuah ikatan emosional, iman, dan kasih yang ditujukan kepada-Nya. Kita tertegun melihat bagaimana Ia dengan kuasa dan kemurahan-Nya menenun kehidupan iman kita menjadi seperti yang dikehendaki-Nya.

Hal terbaik yang dapat kita persembahkan kepada-Nya adalah bertindak dan hidup di dalam firman-Nya. Itulah tampilan yang menarik, indah, cantik (“nauli”) dari sebuah jati diri orang-orang yang terpanggil untuk melayani Tuhan di mana selalu ada sukacita ketika tampilan itu mendapat sambutan dari setiap konteks. Ternyata, kita yang menempatkan dan menampilkan diri pada suatu konteks sekaligus menentukan jati diri, menemukan jalan bahagia, yang mengundang aroma-aroma terbaik dari kehidupan yang dikaruniakan Tuhan kepada kita.

Harapan yang dapat kita pegang adalah bahwa perkataan, tindakan, relasi dan karya sebagai “wajah asli” pada akhirnya tidak hanya memberi kita sukacita sorgawi, tetapi juga membawa kita kepada kemuliaan yang telah Tuhan sediakan. Di sinilah nilai-nilai pelayanan menjadi kokoh. Itu sebabnya, pelayanan yang kita kerjakan tidak dapat dipandang sebagai sesuatu yang tak berharga, tak berdampak, atau tak bernilai. Pada kenyataannya, Tuhan menyediakan segala sesuatu melampaui dari apa yang kita pikirkan dan harapkan. Pelayanan kepada Tuhan adalah prinsip hidup yang paling terbaik. Jangan diabaikan!

Di kemudian hari, kita sendirilah yang terus mandiri dan membangun pelayanan yang dipercayakan kepada. Ingatlah, bahwa Allah turut bekerja dalam segala sesuatu untuk mendatangkan kebaikan bagi mereka yang mengasihi Dia, yaitu bagi mereka yang terpanggil sesuai dengan rencana Allah (Roma 8:28). Kita melayani karena kita terpanggil. Pelayanan yang bukan karena panggilan tak dapat memberikan hasil terbaik. Panggilan adalah dasar pelayanan. Dengan kesadaran inilah, kita bergerak dan berkarya bagi-Nya, memuliakan nama-Nya serta menyenangkan hati-Nya. Berani menghadapi tantangan dan hambatan sebab kita dilatih oleh-Nya.

Pada akhirnya, kita menceritakan kisah pelayanan kita sendiri kepada dunia di mana kita berpijak. Semuanya dicatat oleh Tuhan, dan kemudian kita mendapatkan upah dari segala pelayanan yang dikerjakan dengan sepenuh hati. Perkataan, tindakan, relasi dan karya yang telah ditaburkan, pasti akan membuahkan hasil. Wajah kita hanya tampak pada taburan benih pelayanan dan buah-buahnya. Kemampuan dan kemauan yang kita miliki membebaskan kita dari ancaman perangkap kemasan kemunafikan, kemalasan, pengabaian dan penjualan integritas. Tuhan menghendaki kita berbuat sesuatu sejalan dengan firman-Nya. 

Tetaplah semangat dalam melayani-Nya. Tetap setia dan jagalah integritas. Tuhan akan memberi sukacita dan kehidupan yang manis kepada mereka yang setia dan jujur di setiap ruang kehidupan.

Salam Bae…..

Note: Gambar diambil dari berbagai sumber

KITA DAN WAKTU

Kita berada di dalam waktu. Kita bekerja dan bergumul di dalam waktu. Apa yang kita lakukan selalu terkait dengan waktu dan batas waktu. Setiap momen selalu dikaitkan dengan waktu. Di dalam waktu, Tuhan memampukan kita untuk mendapatkan segala sesuatu bagi kehidupan yang kita jalani. Tuhan turut serta bekerja untuk mendatangkan kebaikan bagi orang-orang yang mengasihi-Nya.

Ada fase-fase yang kita lalui (tapaki) di dalam waktu-waktu tertentu. Kita mencari dan menemukan. Kita dicari dan ditemukan. Kita dicari dan tidak ditemukan. Kita ditemukan tapi tak dianggap; atau kita dianggap tapi tak pernah dicari; jika dicari pun, itu hanya karena saat dibutuhkan saja. Ada luapan-luapan emosi yang terpancar pada setiap konteks waktu. Pada fase khusus kita berhenti dan menikmati “waktu” yang berharga. Kita melewatinya dan beranjak pada jenis waktu yang berbeda.

Kita dan waktu, pada sebuah kesempatan dapat memberikan kebahagiaan, kesedihan, keletihan, air mata, kesenangan, sukacita, dan lainnya. Kita diikat oleh hal-hal tersebut dan menarik makna terdalamnya. Kita bergegas dari lokus satu ke lokus lainnya; menyapa relasi, menyalami konteks.

Ada didikan di balik setiap peristiwa; kita bahkan terpukau karenanya. Kita mendorong kehidupan kita sendiri untuk suatu tujuan yang dianggap penting. Kita mengupayakan proses untuk tiba di tujuan, meraup kemenangan dan kelegaaan. Tuhan menyediakan kepada kita “hidangan kehidupan” yang dapat dinikmati dengan sukacita saat tiba di tujuan. Bahkan sebelum tiba di tujuan, Ia pun mencurahkan berkat-Nya untuk menyapa kita.

Kesadaran akan fakta ini menggiring kita kepada kehendak Allah, yang mana Ia membentuk kehidupan kita menjadi begitu indah, berlandaskan firman-Nya, dan penuh dengan ucapan syukur. Kehidupan semacam ini menempatkan lima aspek tentang bagaimana kita mengucap syukur.

Pertama, mengucap syukur dalam kehidupan, yang mencakup kekuatan dan kesehatan yang Tuhan berikan, sebab dengan kekuatan dan kesehatanlah kita bergerak, bekerja, dan melayani-Nya.

Kedua, mengucap syukur dalam pekerjaan, yang mencakup upah dan kerja keras. Kita berusaha dengan sekuat tenaga untuk mendapatkan hasil (upah) bagi keberlangsungan kehidupan. Usaha kita membutuhkan topangan Tuhan Yesus, agar dapat menunjukkan kualitas diri yang bertanggung jawab menyelesaikan pekerjaan yang menjadi tanggung jawab kita.

Ketiga, mengucap syukur dalam pelayanan, yang mencakup tindakan bermisi, mengajar, melakukan pelayanan pastoral, dan lain sebagainya. Dalam kesulitan bermisi, kita harus tetap mengucap syukur. Dalam mengajar dan melakukan pastoral, kita pun harus bersyukur, meski menghadapi berbagai kesulitan.

Keempat, mengucap syukur dalam kepemilikan, yang mencakup usaha (bisnis) dan harta kekayaan (harta milik). Mengucap syukur dalam kelimpahan itu biasa, tetapi mengucap syukur dalam kekurangan itu luar biasa. Yang terpenting adalah harta milik apa pun yang kita miliki, harus disyukuri. Jangan mengambil yang bukan milik kita; nikmati milik kita sendiri. Apa yang kita kerjakan untuk suatu bisnis atau usaha, harus ditopang dengan rasa ucapan syukur. Semua milik kita adalah kepunyaan Tuhan.

Kelima, mengucap syukur dalam [segala] keadaan, yang mencakup dukacita, sukacita, tekanan, gelisah, dan lain sebagainya. Kita mungkin berpikir bahwa mengucap syukur cukup dilakukan ketika berada dalam keadaan damai dan tenteram, berkelimpahan, tetapi itu bukan prinsip Alkitab. Justru dalam segala keadaan, kita harus senantiasa mengucap syukur: “Mengucap syukurlah dalam segala hal, sebab itulah yang dikehendaki Allah di dalam Kristus Yesus bagi kamu” (1Tes. 5:18)

Ungkapan-ungkapan syukur semacam itu, merupakan kesadaran bahwa Tuhan adalah di atas segala-galanya, Tuhan adalah pemilik hidup ini, dan Tuhan adalah sumber segala berkat dan kehidupan. Itulah alasan mengapa kita mengucap syukur kepada-Nya.

Bagaimana pun juga, waktu menjadi bagian terpenting dari totalitas proses kehidupan kita, kini, dan seterusnya. Tuhan yang melawat kita, ternyata menerbitkan cahaya kemuliaan agar kita menjadi turut bersinar dalam menampilkan “wajah Kristus” dari waktu ke waktu. Lawatan-lawatan Tuhan mengajari kita bahwa semua diperbuat-Nya untuk kebaikan dan tanggung jawab iman kita.

Hingga kita menemukan kekuatan dan kesadaran dari setiap konteks di dalam waktu, di mana Tuhan hadir dan menunjukkan kasih, kuasa, dan kemurahan-Nya bagi kita yang menaruh harap dan iman pada-Nya. Kita dan waktu yang merangkul kita, memberi lebih dari cukup apa yang kita pikirkan dan harapkan, dan Tuhan ada di baliknya.

Apa yang ada dan kita genggam sekarang ini, merupakan kumpulan hasil yang didapatkan dari usaha, kerja keras, penipuan, kebohongan, pencurian, banting tulang, dan lain sebagainya. Kita tahu bahwa segala sesuatu yang didapatkan dari tindakan-tindakan yang tak berkenan kepada Sang Khalik akan dihembuskan (menjadi berkurang atau hilang) dalam bingkai waktu yang Tuhan tetapkan baginya.

Marilah kita menyadari bahwa kehidupan yang benar membawa kita kepada jalan terbaik – di sana ada damai dan sukacita yang luar biasa, membalut setiap luka-luka kehidupan, dan pada waktunya, kita menikmati segala kebaikan dan kemurahan Tuhan dengan hati yang penuh ucapan syukur.

Salam Bae…..

Note: Gambar diambil dari berbagai sumber

JEJAK-JEJAK KEHIDUPAN: Catatan Awal Tahun

Kita berhadapan dengan banyak kejadian; kejadian di mana kita ada di dalamnya, atau kejadian tentang orang lain, siapa pun dia. Lambat laun, dari setiap jejak, kita mengharapkan pijakan pada tujuan terakhir. Di situlah terungkap sukacita dan damai yang memuncak. Dalam prosesnya, jejak-jejak kehidupan itu sendiri telah memperlihatkan kepada kita apa arti kesabaran, kesulitan, kesedihan, pengkhianatan, kesakithatian, kesetiaan, pengabaian, acuh tak acuh, kemarahan, air mata, doa, dan lainnya.

Rangkuman kehidupan telah menjadi catatan nafas kehidupan. Di situ kita menorehkan sejarah kita sendiri, menitipkan warisan kepada yang lain, mengharapkan sebuah kehidupan yang lebih baik, menuliskan kemelut dan cinta yang kita alami, menelusuri kejadian demi kejadian, memahami penderitaan dan tantangan. Di satu sisi, kita terlena dengan segala sesuatu, di sisi lain kita terdiam karena segala sesuatu. Apa yang kita taburkan dalam berbagai konteks, menghasilkan makna baik dan buruk.

Kita menjauh dari berbagai jenis kejahatan. Kita berkomitmen untuk hidup dalam kebenaran Allah; kita menancapkan prinsip hidup sebagai pegangan untuk melangkah dari waktu ke waktu. Kita tahu bahwa ada tangan Tuhan yang menopang, melawat, memulihkan, membalut setiap luka kehidupan. Adalah Dia yang senantiasa memberkati dan menggendong kita dalam segala keadaan. Di setiap jejak kehidupan kita, Dialah yang memelihara untuk memberikan kasih yang luar biasa.

Terpukau dengan keindahan providensia-Nya, kita pun menciptakan nada-nada iman dalam sebuah lagu ucapan syukur. Kesadaran ini senantiasa merawat kehidupan kita sendiri, bahwa sikap yang mengutamakan Tuhan sebagai wujud dari iman, ternyata memberi lebih dari cukup, tentang segala sesuatu yang terhubung dengan penghidupan dan kesinambungan kata, karya, dan relasi.

Di setiap jejak kehidupan tercipta sebuah pengakuan bahwa “kita tanpa Tuhan, tak berarti”. “Kita tanpa Tuhan, tak berdaya”. Kesombongan justru memberi kita banyak kehancuran diri, karya, dan relasi. Tak ada yang perlu kita banggakan untuk sebuah kesombongan kecuali membuangnya ke tempat sampah, sebab di situlah tempat kesombongan.

Tepian-tepian hidup menyudahi kembara jejak-jejak kehidupan kita; kita lelah dan penat; bergerak dan terus bergerak; mencari dan terus mencari; bangkit dari keterpurukan dan kesedihan, duka mendalam, dan berjalan menuju pengharapan. Air mata menjadi tanda kerapuhan; tak hanya itu, air mata itu juga menjadi tanda bahwa kita adalah manusia yang membutuhkan uluran tangan Tuhan.

Dalam permenungan kehidupan, kita senantiasa melihat jejak-jejak lampau; mencatat atau mengingatnya — entah sebagai sebuah kenangan manis atau kenangan buruk, menyedihkan atau menyenangkan, menyakitkan atau membahagiakan, menyesakkan dada, mematahkan semangat, mengeringkan tulang, memperburuk keadaan, atau justru menjadi cambuk untuk maju, bangkit, bergerak dan berkarya. Itulah yang menjadi bagian dari proses kehidupan.

Kita berhadapan dengan berbagai keadaan. Tidak hanya membuat kita harus berinteraksi dengannya, menolak, menghindar, lari, atau berdoa memohon kekuatan, petunjuk, dan hikmat dari Sang Khalik. Mungkin kita juga terbiasa dengan keadaan yang membuat kita nyaman dalam kemunafikan; berusaha berpura-pura melupakan sahabat-sahabat yang dulu pernah memberi kita kenyamanan, kebahagiaan, dan pertolongan. Kita bahkan melupakannya dan menggantikannya dengan teman-teman berjiwa preman, pembohong, penipu, dan penjilat.

Adakah kita terus menjilat? Kehidupan yang demikian akan juga ambruk dengan segala kepura-puraannya, menggores batin, menciptakan luka yang membuat malu seumur hidup. Itu pun termasuk jejak-jejak kehidupan pada lembaran kotor seseorang. Ada orang-orang yang membungkus banyak kenyataan dengan dua wajah: hipokrit dan menjilat. Mereka berupaya terlihat menawan, rupawan, dan seksi; pula mereka berharap ada banyak yang ikut terlibat dalam “lingkaran setan” ini.

Apa yang dicari? Bukankah kebaikan dan kejahatan sama-sama menghasilkan sesuatu dalam jejak-jejak kehidupan? Kita yang berhenti menjejaki kehidupan ini dapat merenung dan bertanya: apa dan bagaimana? Sejenak kita memerlukan sedikit catatan tentang apa arti hidup ini, apa arti karya, apa arti relasi, dan apa arti integritas. Seyogianya kita menampar pikiran kita ketika telah tersesat dan hendak menyesatkan orang.

Bukankah kehidupan adalah catatan tentang kita, sesama, dan Tuhan? Bukanlah kita harus berbuah dalam kehidupan ini? Bukanlah kita harus hidup benar dan berkarya bagi Tuhan? Itu sebabnya tidak banyak yang menyadari bahwa hidup itu adalah sebuah misteri, di mana setiap kita perlu berhati-hati dalam melangkah, bertindak, dan berkata-kata.

Jejak-jejak kehidupan adalah sebuah ungkapan dari fakta bahwa kita adalah manusia yang potensial. Jika kita membunuh potensi kita hanya karena kita pandai memperalat orang lain, maka kita terkurung dalam duka mendalam, dirantai dengan kelemahan, dan diselimuti dengan ketidakberdayaan.

Apa mau dikata? Kita hidup untuk menikmati segala sesuatu, menciptakan segala sesuatu, menghasilkan segala sesuatu, menopang, mempengaruhi. Kita tentu dapat menyelami kehidupan ini dengan tiga realitas yang suprematif: berkarya dalam kejujuran, berelasi untuk kehidupan yang lebih baik, dan terus mengajari diri sendiri untuk setia kepada Sang Khalik, Yesus Kristus, yang telah mengaruniakan kehidupan di mana kita menorehkan jejak-jejak kehidupan.

Salam Bae…..

Note: Gambar diambil dari beberapa sumber

TEOLOGI SEBAGAI DEPIKSI IMAN

Segala ihwal kehidupan, relasi, dan pengharapan Kristen di masa mendatang terjalin erat — tak terpisahkan — dengan “iman”. Teologi juga demikian. Proses kehidupan dalam ruang teologi (spiritualitas), sosiologi (humanitas), dan eklesiologi (pelayanan), membutuhkan iman sebagai fondasinya. Iman itu sendiri digambarkan sebagai ‘dasar’ dari segala sesuatu untuk tujuan yang ditetapkan Tuhan Allah.

Teologi itu sendiri merupakan depiksi (penggambaran) dari iman yang sejati. Tentu yang dimaksudkan di sini adalah teologi yang sehat (alkitabiah) dan kredibel. Teologi merupakan gerakan logika yang berbalutkan karunia Roh Kudus untuk memberi warna pada kehidupan, relasi, dan pengharapan. Tak dapat dipungkiri, teologi membentuk kita untuk suatu tujuan. Tujuan itu seringkali mendobrak “gagasan duniawi” untuk digantikan dengan “gagasan alkitabiah”.

Pada alurnya, teologi memberikan rasa aman dan keseriusan untuk memperhatikan berbagai pengajaran yang membentuk karakter spiritualitas kita. Dari sini kita beranjak untuk melihat bahwa teologi yang benar lahir dari iman yang benar. Riak-riak penyesatan – perumusan teologi yang salah [menyimpang] – dihasilkan oleh mereka yang memang tumpul dan gegabah dalam ‘membaca teks’, mengkorelasikan secara komprehensif tentang prinsip-prinsip doktrinal, memasukkan sesuatu ke dalam teks. Alhasil, label bidat diberikan kepada mereka.

Logika yang kuat terbentuk dari teologi yang kredibel dan alkitabiah. Meski hampir semua denominasi menyandang gelar ‘doktrinnya’ sebagai yang alkitabiah, toh pada akhirnya setelah diuji malahan menjadi hancur dan roboh. Kesalahpahaman, ketidakterdidikan, salah membaca, menarik kesimpulan yang gegabah (terburu-buru), adalah riak-riak yang marak terjadi. Kenyataannya ada yang merasa ‘nyaman’ dengan segala kesesatan yang tak disadarinya. Meski ia merasa sadar, tetap saja makin menyesatkan.

Teologi adalah ‘ruang publik’ di mana setiap orang dapat melewatinya, ikut antrian, atau bahkan melemparinya dengan kerikil ‘kesombongan’, ‘sok tahu’, ‘iri hati’, dan ‘merasa tersaingi’. Dari fakta yang terjadi, teologi yang membuat pemisahan tajam di berbagai denominasi. Akan tetapi, teologi yang sehat tetap bersinar dan memberikan dampak positif bagi iman dan gereja. Kehidupan yang bermakna tentu tak lepas dari peran teologi yang benar.

Sebagai depiksi iman, teologi menjembatani kehidupan, relasi, dan pengharapan untuk menyatukannya menjadi ramuan spiritualitas, yang memandu kembara humanitas di kolong langit ini. Teologi perlu mengaitkan dirinya dengan kehidupan, relasi, dan pengharapan. Teologi yang telah dirumuskan perlu dipahami dengan baik dan tuntas, sehingga menghindari kesalahpahaman dan penyimpangan makna.

Depiksi (penggambaran) iman memperlihatkan lima aspek fundamental yang membuat kehidupan, relasi, dan pengharapan kita menjadi kuat di dalam Dia.

Pertama, aspek pembacaan teks. Membaca memang mudah. Tetapi menemukan maknanya tidaklah mudah. Membaca teks perlu memperhatikan konteks. Jika proses ini dilakukan, maka kita mendapatkan pemahaman yang mendasar tentang makna teks. Teologi yang sehat bersumber dari pembacaan teks yang sehat pula.

Kedua, aspek penafsiran teks. Pembacaan teks dilanjutkan dengan proses menafsir. Menafsir membutuhkan alat-alat bantu. Kita dapat memilihnya sesuai keperluan penafsiran. Akan tetapi, penafsiran terhadap teks tidak dapat mengabaikan pemahaman korelasional (antar pasal atau antar kitab, bahkan antar perjanjian [PL dan PB).

Ketiga, aspek pemahaman korelasional. Konteks ini mengetengahkan prinsip penafsiran bahwa sebuah pemahaman yang korelasional menghadirkan teologi yang sehat. Misalnya ketika kita memahami ‘keselamatan’ maka korelasional tak dapat diabaikan, sebab dalam PL konsep keselamatan dibicarakan, dan dalam PB konsep keselamatan menyuguhkan pemahaman yang sama dengan peristiwa yang berbeda (PL: binatang; PB: Yesus Kristus; sama-sama dinyatakan dengan ‘darah’).

Keempat, aspek pemahaman komprehensif. Konteks ini adalah penggabungkan dari aspek pembacaan teks, penafsiran teks, dan pemahaman korelasional. Komprehensifitas menghasilkan teologi yang kuat sebab karya Allah tidak dapat dipahami secara fragmentaris. Hal ini tampak, misalnya, dalam doktrin Providensia dan Predestinasi. Mereka yang alergi dengan doktrin predestinasi, secara mendasar tidak memahami secara komprehensif doktrin ini, melainkan hanya sepotong, dan itu pun salah paham, memiliki paham yang salah, dan salah tafsir.

Kelima, aspek teologi yang alkitabiah. Dari semua pemahaman teks, penafsiran, pemahaman korelasional dan komprehensif, akan menghasilkan teologi yang alkitabiah. Inilah yang menyehatkan jantung spiritualitas kita, menyehatkan pelayanan kita. Tidak hanya itu, kehidupan, relasi, dan pengharapan kita pun menjadi sehat bugar penuh semangat.

Jika melihat deskripsi tentang teologi sebagai depiksi iman, maka kita tentu dapat menjadi terang bagi sesama, menjadi para pelaku firman Tuhan, dan hidup secara benar di hadapan-Nya. Dari teologi yang benar kita dapat hidup di dalam iman kepada Yesus Kristus dan bertahan menghadapi tantangan. Dari iman yang benar, lahirlah teologi yang sehat. Oleh sebab itu, cintailah teologi yang sehat, buanglah teologi yang menyimpang dan menyesatkan, karena dengan itulah kita dapat melayani Tuhan dengan benar dan sesuai firman-Nya.

Selamat beriman: hidup dan bertahan dalam iman kepada Yesus Kristus. Berteologilah dengan benar dan sehat, agar orang lain menjadi sehat bugar, bahagia, dan mengamalkan kasih persaudaraan dengan tulus ikhlas. Tuhan Yesus menopang kita semua.

Salam Bae….

SIKAP HIDUP DALAM MELAYANI

Menyadari bahwa pelayanan yang kita kerjakan adalah bagian dari iman, semestinya kita tetap konsisten untuk setia melayani Tuhan. Persoalan-persoalan yang tampak ke permukaan bukan menjadi pemicu tawarnya iman kita, atau bahkan menjadikan kita pesimis terhadap segala sesuatu yang “berbau” pelayanan. Kenyataan telah menunjukkan kepada kita bahwa kehidupan di dalam Tuhan Yesus tak terpisahkan dari (1) sikap hidup yang benar, (2) sikap hidup yang mau melayani, (3) sikap hidup yang rela berkorban, (4) sikap hidup yang berani menghadapi tantangan dan persoalan dalam pelayanan, dan (5) sikap hidup yang pantang menyerah dalam melayani.

Sikap hidup yang semacam itu dapat membentuk karakter kita menjadi semakin kuat, berbobot, dan berpengaruh. Tak dapat dipungkiri bahwa seringkali kita menjadi batu sandungan dalam hal “sikap hidup”. Yang satu merusak yang lain, dan yang lain merusak yang lain lagi. Pelayanan yang telah membaik, diubah menjadi memburuk. Rasanya nilai kredibilitas dan integritas tak digubris; hanya ingin memuaskan hawa nafsu dan keinginan duniawi; mengorbankan pelayanan “demi sesuatu” yang dianggap bernilai.

Barangkali kita belum seberapa memahami apa itu pelayanan. Yang lain memahaminya sebagai ajang menonjolkan kehebatan diri; yang lain mengharapkan imbalan; yang lain melihatnya sebagai kesempatan untuk memulai apresiasi karunia dan talenta yang Tuhan berikan; yang lain lagi masih mempertahankan nilai integritas dan kredibilitas. Ada banyak sudut pandang dalam memahami pelayanan. Kita yang melayani dapat mendaftarkannya sesuai dengan pengalaman dan panggilan.

Di setiap momen hari raya gereja, para pelayan memang terlibat sibuk. Mulai dari pembentukan panitia, proses pembuatan proposal pencarian dana, dekorasi, memasak, dan menyiapkan segala sesuatunya agar acaranya berjalan dengan baik. Tak sedikit kendala yang dihadapi, tetapi karena komitmen untuk melayani, semuanya teratasi, meski menyisahkan sedikit masalah.

Melayani memang unik. Pula menghasilkan pengalaman yang berharga. Kita mengumpulkan fragmen pelayanan menjadi satu “buku bacaan kehidupan” yang dapat dibagikan kepada sesama kita. Kita pun menjadi berkat bagi mereka. Tak sedikit dari kita yang telah menorehkan hasil pelayanan yang terbaik. Ada jiwa-jiwa yang dimenangkan; ada jiwa-jiwa yang dipuaskan dengan pemberitaan firman Tuhan; mereka dipulihkan dari kehidupan yang rusak, relasi yang hancur, dan kekecewaan yang mendalam. Kita sebagai pelayan Tuhan Yesus, pun harus memperhatikan hal ini. Kita dipanggil untuk melayani tidak hanya menciptakan narasi terbaik, gaya retorika yang mumpuni, tetapi harus benar-benar menyederhanakan berita Injil ke dalam proses kehidupan orang percaya.

Kita mendorong orang-orang percaya untuk hidup dalam iman dan bagaimana mempertahankan iman. Kita tahu bahwa zaman sekarang ini memiliki sejumlah tantangan yan besar. Jika kita kurang berhikmat, Injil yang diberitakan akan terkikis habis oleh tantangan zaman. Kita perlu menciptakan berbagai terobosan dalam berkhotbah, dalam melayani, dalam berelasi, dan dalam menyusun program-program pelayanan gereja.

Dengan demikian, kita siap menghadapi tantangan zaman tanpa kehilangan identitas iman kita, siap untuk hidup dalam iman dan siap mempertahankan iman. Keduniawian dan kesulitan yang muncul seringkali melemahkan pengharapan kita kepada Kristus Tuhan. Akan tetapi, sebagaimana kita telah hidup dalam iman, doa dan pengharapan kepada Kristus Yesus tetap menjadi senjata kita untuk melawan keduniawian dan kesulitan tersebut. Kristus senantiasa memberikan kita kekuatan dan hikmat untuk dapat menghadapinya.

Sikap hidup yang benar mewarnai bentuk-bentuk pelayanan kita. Pelayanan terhubung erat dengan sikap hidup yang benar. Itulah panduan iman; itulah kekuatan iman yang sejati. Sikap hidup yang mau melayani adalah sebuah kerelaan iman. Iman mengarahkan kita kepada pelayanan yang berkenan kepada Tuhan. Jika kita diberikan karunia untuk melayani, maka melayanilah dengan baik dan setia.

Sikap hidup yang rela berkorban adalah bagian yang tak terpisahkan dari pelayanan. Semua orang percaya yang melayani harus berkorban. Jangan hanya mau menikmati hal-hal yang enak dan menyenangkan saja. Sikap hidup yang berani menghadapi tantangan dan persoalan dalam pelayanan sangatlah diperlukan. Ada yang menyerah dan akhirnya merusak pelayanan. Berani berhadapan dengan tantangan adalah tanda dari iman yang kuat.

Sikap hidup yang pantang menyerah dalam melayani merupakan bukti bahwa kita mencintai pelayanan yang diberikan kepada kita. Memang, masalah dan tantangan selalu ada saat kita melayani. Tetapi itu bukan berarti kita kecewa dan kemudian meninggalkan pelayanan. Kita dihimpit oleh berbagai kepentingan dan kebutuhan. Tawaran demi tawaran yang menggiurkan mungkin saja mencoba menarik kita untuk meninggalkan pelayanan yang dirasa tidak menguntungkan, merugikan diri sendiri, dan terkesan kita menjadi miskin dan kekurangan. Kita punya perbedaan perspektif tentang hal ini. Tetapi yang perlu digarisbawahi adalah “kita tidak tahu apa yang akan terjadi dengan pilihan kita di masa mendatang”. Tuhan yang memanggil kita untuk melayani pastilah Ia akan menolong dan memberkati kita. Tinggal bagaimana kekuatan iman kita untuk bertahan dan setia.

Ada rekan sepelayanan saya yang pernah ditawarkan dengan jenis pelayanan yang menarik, memiliki jaminan ekonomi yang mantap, dan bahkan jika bergabung bisa langsung pergi ke Israel. Tawaran semacam ini tampaknya menggiurkakan, tetapi pilihan semacam itu terkesan “diukur” dari kemapanan sedangkan hidup kita ada di dalam tangan Tuhan. Pro kontra tentang pelayanan telah membuat perbedaan bahkan mengerucut sampai kepada hal-hal personal.

Bukan itu poin saya. Jika kita terpanggil untuk melayani, maka kita tentu yakin bahwa Tuhan yang kita layani sanggup memberikan “yang terbaik” menurut Dia  dan bukan menurut kita. Seringkali kita mengukur “yang terbaik” versi kita sendiri dan menafsirkannnya seolah-olah itulah versi Tuhan. Hati-hatilah dengan pemahaman semacam ini.

Marilah kita melayani Tuhan dengan setia, siap berhadapan dengan tantangan dan hambatan. Tuhan yang telah memanggil kita untuk melayani, Dialah yang “menyediakan segala sesuatu” yang perlu untuk kita. Tetaplah hidup dalam iman kepada Kristus Yesus dan tetap mempertahankan iman di sepanjang kehidupan dan pelayanan kita.

Salam Bae….

Sumber gambar: Unsplash dan lainnya.

ANTARA HIKMAT DAN IMAN: Refleksi Mazmur 107:43 dan Ibrani 11:1

Kehidupan manusia ditandai dengan dua hal yaitu menilai segala sesuatu dan melakukan segala sesuatu. Seringkali, apa yang dinilai tidak dilakukan. Apa yang dilakukan manusia bukanlah berdasarkan penilaian bahwa hal itu benar. Pengabaian semacam ini telah menggejala di kalangan Kristen, baik para pendeta, majelis, maupun jemaat. Akibat dari lemahnya hikmat dan iman, orang Kristen terjebak (atau terjerumus) ke dalam kubangan dosa. Anehnya, ada yang senang berenang dalam kubangan tersebut tanpa memikirkan bagaimana mencari cara atau jalan keluar dari kubangan dosa.

Ada satu kisah, di mana seorang gadis disukai oleh dua orang pria. Pria yang pertama memang berpacaran dengan gadis tersebut. Namun, karena alasan bahwa sang gadis sering disakiti, maka ia memutuskan hubungan dengannya dan beralih ke pria lainnya. Pria kedua lebih perhatian dan “cool”. Sang gadis sangat jatuh cinta dengannya. Akan tetapi, pria pertama cemburu dan adu mulut dengan sang gadis. Sang gadis bersikeras untuk tidak lagi menjalin hubungan dengan pria tersebut. Akibatnya, sang pria memutuskan bahwa jika ia tidak mendapatkan cinta sang gadis, maka tak seorang pun dapat memiliki sang gadis. Akhirnya, sang pria mencekik mantan pacarnya sampai mati.

Dari kisah di atas, sang pria memiliki penilaian terhadap kasus yang menimpanya. Namun ia melakukan sesuatu di luar kontrolnya karena tergores oleh emosi yang sangat tinggi. Maklum, sang gadis adalah wanita yang sangat dicintainya. Lalu, mengapa ia membunuhnya padahal ia sangat cinta? Apakah orang lain tidak berhak mendapatkan cinta sang gadis jika hubungan mereka telah putus? Apakah sang gadis tidak berhak memutuskan hubungan mereka ketika sang pria selalu menyakitinya?

Jika kita analogikan kisah di atas dengan konteks hikmat dan iman, maka peran hikmat adalah melakukan berbagai pertimbangan. Hasil pertimbangan harus selaras dengan firman Tuhan. Ketika selaras maka di situlah peran iman untuk segera melakukannya atau mewujudkannya. Pertimbangan sang pria dalam kasus di atas bukanlah pertimbangan yang matang. Ia bersifat egois dengan anggapan bahwa dari pada sang gadis dinikmati oleh laki-laki lain lebih baik sang gadis dibunuh saja agar tak seorang pun dapat menikmatinya termasuk dirinya karena dirinya tidak mendapat kesempatan menikmati sang gadis dikarenakan sang gadis tidak lagi menyukainya.

Siapa yang berhikmat, pasti memegang sesuatu. Sesuatu itu adalah prinsip-prinsip Alkitab. Apa yang dipegang tentu haruslah dilakukan. Tidak hanya sekadar ada dalam genggaman tangan, tetapi harus dibagikan kepada semua orang. Itulah prinsip relasi antara hikmat dan iman. Seperti yang diungkapkan dalam Mazmur 107:43, “Siapa yang mempunyai hikmat? Biarlah ia berpegang pada semuanya ini, dan memperhatikan segala kemurahan TUHAN.” seseorang harus memegang segala sesuatu yang terkait dengan hikmat itu sendiri dan tak lupa pula, ia harus memperhatikan segala kemurahan Tuhan. Ketika telah memperhatikannya, maka bagikanlah kemurahan Tuhan kepada semua orang. Itulah iman.

HIKMAT: MEMEGANG SEGALA SESUATU

Dari teks Mazmur 107:43 di atas, maka saya mencatat beberapa hal yang dikaitkan dengan pegangan dari seorang yang berhikmat dalam konteks yang dibicarakan pemazmur.

Pertama, seorang berhikmat perlu menunjukkan sikap bersyukur kepada TUHAN karena kebaikan-Nya dan kasih setia-Nya yang ajaib dan tak berkesudahan. Ini adalah pegangan seumur hidup. Mereka yang diberikan hikmat oleh Tuhan haruslah tunduk dan taat pada aturan main-Nya. Dan pemazmur menegaskan bahwa yang menyatakan syukur kepada Tuhan adalah mereka yang ditebus TUHAN, yang ditebus-Nya dari kuasa yang menyesakkan. Jika demikian, setiap orang Kristen yang telah ditebus-Nya, “harus” bersyukur kepada Tuhan sebab Ia sangat baik dan tak tertandingi kebaikan-Nya. Jadi, pegangan pertama adalah “selalu mengucap syukur”. Ini adalah harga mati.

Kedua, seorang berhikmat perlu mempersembahkan korban syukur. Korban syukur di zaman Musa merujuk pada persembahan hewan yang dikurbankan. Namun, pemazmur kemudian merujuk kepada jiwa hancur hancur: “Korban sembelihan kepada Allah ialah jiwa yang hancur; hati yang patah dan remuk tidak akan Kaupandang hina, ya Allah (Mzm. 51:19), “sebab dipuaskan-Nya jiwa yang dahaga, dan jiwa yang lapar dikenyangkan-Nya dengan kebaikan” (Mzm. 107:9) dan “TUHAN adalah baik bagi orang yang berharap kepada-Nya, bagi jiwa yang mencari Dia (Rat. 3:25).

Ketiga, seorang berhikmat perlu menceritakan pekerjaan-pekerjaan Tuhan dengan sorak-sorai! Tidak ada halangan yang berarti bagi mereka yang berhikmat untuk bersaksi dan menceritakan segala pekerjaan Tuhan. Apalagi cari menyampaikannya dengan sorak-sorai. Suatu situasi dan kondisi yang luar biasa menyenangkan dan menguatkan mereka yang mendengarnya. Di sini, penekanannya adalah “siapa yang hidup di dalam Tuhan, pasti memiliki pengalaman pribadi bersama-Nya. Dan itulah yang akan menjadi rujukan utama sebagai ‘isi’ dari kesaksian seseorang.” Di bagian lain Alkitab, juga memberikan rujukan yang sama mengenai “menceritakan tentang Tuhan dan kemuliaan-Nya.

Ceritakanlah kemuliaan-Nya di antara bangsa-bangsa dan perbuatan-perbuatan-Nya yang ajaib di antara segala suku bangsa (1 Taw. 16:24)

Ceritakanlah kemuliaan-Nya di antara bangsa-bangsa dan perbuatan-perbuatan yang ajaib di antara segala suku bangsa (Mzm. 96:3)

Keempat, seorang berhikmat perlu meninggikan dan memuji-muji Dia. Meninggikan Tuhan berarti “bersandar dan mengandalkan dia dalam segala hal.” Memuji-muji Tuhan berarti menyerahkan dan mengakui bahwa hanya Dialah yang patut disembah, diagungkan, disandarkan, dan diandalkan. Meninggikan dan memuji-muji Tuhan adalah buah dari pengalaman bersama Dia. Seperti kata pemazmur: “Dia yang memuaskan hasratmu dengan kebaikan sehingga masa mudamu menjadi baru seperti pada burung rajawali” (Mzm. 103:5). Kalau Tuhan telah memuaskan hasrat kita dengan kebaikan, bukanlah selayaknya kita meninggikan dan memuji-muji Dia?

Kelima, seorang berhikmat berarti memelihara dirinya dalam kebenaran. Kebenaran firman-Nya [Kitab Suci] adalah penuntun, penopang, penghibur, dan sumber kuasa dan kekuatan dalam menghadapi berbagai hal termasuk menghadapi kuasa kegelapan yang seringkali menyamar menjadi malaikat terang. Memelihara diri dalam kebenaran berarti seseorang selalu menggunakan hikmat dan imannya agar terhindar dan terjaga dari segala jenis goda dan cobaan.

Dari kelima hal di atas, iman menjadi salah satu di antaranya. Seorang beriman perlu menunjukkan sikap bersyukur kepada TUHAN karena kebaikan dan kasih setia-Nya yang ajaib dan tak berkesudahan; perlu mempersembahkan korban syukur yaitu jiwa yang hancur; hati yang patah dan remuk; menceritakan pekerjaan-pekerjaan Tuhan dengan sorak-sorai; meninggikan dan memuji-muji Dia; dan memelihara dirinya dalam kebenaran. Baik hikmat maupun iman, kedua haruslah seimbang dan selaras. Apa yang dirujuk oleh hikmat, itu pula yang dirujuk oleh iman.

Dalam catatan penulis Ibrani, iman diartikan sebagai: (1) dasar dari segala sesuatu yang kita harapkan; dan (2) bukti dari segala sesuatu yang tidak kita lihat. Sebagai “dasar dari segala sesuatu yang kita harapkan”, iman mengutarakan sebuah komitmen dan keyakinan serta kesabaran menanti kehendak Tuhan tergenapi di waktu kemudian. Berbicara mengenai harapan, pasti melibatkan sebuah “komitmen dan keyakinan serta kesabaran”. Sebagai “bukti dari segala sesuatu yang tidak kita lihat”, iman mengutarakan sebuah implikasi dari komitmen dan keyakinan serta kesabaran yang tertuang dalam bentuk nyata. Iman memang melihat hal-hal yang secara gambaran saja, yang kemudian terwujud dalam kenyataan. Dalam mempertahankan sebuah “komitmen dan keyakinan serta kesabaran” dibutuhkan hikmat yang tinggi dan mempertimbangkan segala sesuatu agar “komitmen dan keyakinan serta kesabaran” tidak luntur di telan waktu dan godaan.

Antara hikmat dan iman terdapat hubungan yang erat. Antara menilai dan melakukan terdapat titik temu yang kuat antara pertimbangan dan perbuatan. Ibarat seorang nelayan yang melihat pulau kecil. Ia harus mempertimbangkan [hikmat] bagaimana bisa tiba di pulau itu, dengan cara “melakukan [iman] apa yang dipertimbangkannya”. Jika hanya mendayung tanpa mempertimbangkan bagaimana caranya bisa tiba di pulau tersebut, pasti akan menemui jalan buntu. Dengan demikian, hikmat dan iman adalah dua dasar untuk mencapai satu tujuan.

Dalam bagian lain Alkitab, hikmat digambarkan sebagai berikut:

Pertama, mereka yang berhikmat adalah mereka yang takut [hormat dan patuh] pada Tuhan: “Permulaan hikmat adalah takut akan TUHAN, semua orang yang melakukannya berakal budi yang baik….” (Mzm. 111:10). Orang berhikmat berarti memiliki akal budi yang baik.

Kedua, mereka yang berhikmat adalah mereka yang berbahagia dan sejahtera: “Berbahagialah orang yang mendapat hikmat, orang yang memperoleh kepandaian. Jalannya adalah jalan penuh bahagia, segala jalannya sejahtera semata-mata. Ia menjadi pohon kehidupan bagi orang yang memegangnya, siapa yang berpegang padanya akan disebut berbahagia (Ams. 3:13, 17-18).

Ketiga, mereka yang berhikmat adalah mereka yang memiliki pengertian: “Di bibir orang berpengertian terdapat hikmat, tetapi pentung tersedia bagi punggung orang yang tidak berakal budi” (Ams. 10:13); “Hikmat tinggal di dalam hati orang yang berpengertian, tetapi tidak dikenal di dalam hati orang bebal” (Ams. 14:33)

Keempat, mereka yang berhikmat adalah mereka yang benar (melakukan dan mengatakan apa yang benar): “Mulut orang benar mengeluarkan hikmat, tetapi lidah bercabang akan dikerat” (Ams. 10:31).

Kelima, mereka yang berhikmat adalah mereka yang rendah hati: “Jikalau keangkuhan tiba, tiba juga cemooh, tetapi hikmat ada pada orang yang rendah hati” (Ams. 11:2)

Keenam, mereka yang berhikmat adalah mereka yang bersedia mendengarkan nasihat: “Keangkuhan hanya menimbulkan pertengkaran, tetapi mereka yang mendengarkan nasihat mempunyai hikmat” (Ams. 13:10).

Ketujuh, mereka yang berhikmat adalah mereka yang cerdik dan mengerti jalannnya sendiri (berdasarkan pertimbangan akal sehatnya): “Mengerti jalannya sendiri adalah hikmat orang cerdik, tetapi orang bebal ditipu oleh kebodohannya” (Ams. 14:8).

Lalu bagaimana dengan iman? Dalam kitab Ibrani pasal 11, peran dan fungsi (dampak) iman sangat beragam. Berikut saya mencatatnya di sini.

Pertama, mereka yang beriman bersaksi kepada sesama tentang kebaikan dan kemurahan Tuhan.

Kedua, mereka yang beriman mengerti bahwa alam semesta telah dijadikan oleh firman Allah, sehingga apa yang kita lihat telah terjadi dari apa yang tidak dapat kita lihat.

Ketiga, mereka yang beriman mempersembahkan kepada Allah korban yang lebih baik. Memberikan yang terbaik kepada Allah adalah ciri khas orang beriman. Ia tidak merasa rugi sekalipun.

Keempat, mereka yang beriman berkenan kepada Allah. Apa yang dilakukannya selaras (sesuai) dengan apa yang dikehendaki Allah.

Kelima, mereka yang beriman sungguh-sungguh mencari Dia.

Keenam, mereka yang beriman tidak hanya peduli pada diri sendiri melainkan peduli pada keluarganya.

Ketujuh, mereka yang beriman taat pada firman Tuhan.

Kedelapan, mereka yang beriman yakin akan pertolongan dan kepedulian Tuhan di mana pun mereka berada (tinggal).

Kesembilan, mereka yang beriman kuat menghadapi kesakitan dan penderitaan.

Kesepuluh, mereka yang beriman berani mati demi Tuhan dan memiliki keyakinan bahwa mereka akan bersama dengan Tuhan di dalam Kerajaan-Nya.

Kesebelas, mereka yang beriman taat kepada kehendak Allah.

Kedua belas, mereka yang beriman yakin akan masa depan sebab Tuhanlah yang menetapkan masa depan mereka.

Ketiga belas, mereka yang beriman berbuat baik meski berada dalam ambang kematian.

Keempat belas, mereka yang beriman berani menolak kenikmatan dosa.

Kelima belas, mereka yang beriman aberani mengambil risiko.

Keenam belas, mereka yang beriman berjuang meski merasa lelah.

Ketujuh belas, mereka yang beriman berbuat baik kepada utusan-utusan [pelayan-pelayan] Tuhan.

Jadi, berdasarkan uraian tentang mereka yang berhikmat dan beriman, maka patutlah kita mempertimbangkan di mana posisi kita dan apa identitas kita. Kemudian kita berkomitmen untuk melakukan apa yang menjadi tanggung jawab sebagai orang berhikmat dan beriman. Dan ingat, dalam mempertimbangkan (berhikmat) segala sesuatu dan telah memutuskan mana yang sesuai dengan kehendak Tuhan, maka segeralah untuk melakukannya sebagai wujud nyata dari iman kita.

Salam Bae…..

Rancang situs seperti ini dengan WordPress.com
Mulai