
Kolose, kota di Frigia, di provinsi Romawi (Asia Kecil), terkenal dengan perdagangan wol dan tekstilnya. Umat Kolose pada umumnya terdiri dari orang-orang Kristen asal kafir. Kolose agaknya subur bagi berbagai macam ajaran sesat yang ditentang oleh Paulus. Agama Romawi tidak membuang pemujaan Frigia lama dan dewi kesuburan memiliki tempat pemujaan di kota tetangganya, Hierapolis. Kesannya, masyarakat begitu toleran, yang di dalamnya terjadi perkawinan campur Yahudi dan bukan Yahudi dan berbaurnya ibadah Yahudi yang ketat dengan unsur penyembahan berhala Helenistik. Budaya Helenistik (penyebaran peradaban Yunani pada bangsa non-Yunani yang ditaklukkan oleh Alexander Agung) berkembang dan pada aspek-aspek tertentu mempengaruhi masyarakat—dan mungkin termasuk pada masyarakat kota Kolose. Kota Kolose ini runtuh oleh gempa bumi tahun 60 M (Tacitus, Ann. 14.27). hal ini tidak disebutkan dalam surat Paulus, yang mungkin ditulis sebelum berita bencana ini tiba di Roma.
Surat Kolose adalah salah satu di antara surat-surat yang ditulis Paulus dari dalam penjara. Isinya terkait upaya menghadapi ajaran sesat yang merembes masuk ke Kolose. Salah satunya adalah pengetahuan spekulatif maupun yang mengandalkan bentuk-bentuk askese tertentu dan mengusahakan penghormatan atau memuja para malaikat. Paulus menunjukkan bahwa kekuasaan Kristus di atas segalanya.
Ajaran sesat yang berkembang di Kolose memberikan tempat utama kepada kuasa-kuasa dari dunia roh, sehingga merugikan tempat yang seharusnya diberikan kepada Yesus Kristus (bdk. 2:18). Orang terlalu mementingkan ihwal lahiriah, misalnya hari-hari raya dan puasa, bulan baru dan sabat (2:16) dan sebagainya. Para guru penyesat itu membual bahwa mereka mempunyai filsafat yang lebih tinggi. Hal ini jelas dari pasal 2:4, 8, 18.
Dari latar belakang di atas, upaya untuk meredam, menolak, dan menafikan ajaran sesat adalah bertumbuh dalam pemahaman dan pengetahuan tentang Allah. Alasannya, karena berbagai bentuk ajaran sesat selalu dimulai dari “pemahaman” (cara berpikir, menalar, dan menyimpulkan), yang kemudian berkembang menjadi “pengetahuan” (dikonsumsi sebagai dasar melakukan segala sesuatu termasuk ritual). Rasul Paulu menghendaki bahwa “pemahaman dan pengetahuan” adalah substansi dari iman kepada Yesus Kristus.

Sebagai umat yang kudus, orang-orang percaya di Kolose, perlu bagi mereka untuk terus memahami dan bertumbuh dalam pengetahuan tentang Yesus Kristus. Mendudukkan (menempatkan) Yesus Kristus sebagai “Raja” dalam hidup sebagai bentuk penolakan terhadap ilah-ilah duniawi dan hawa nafsunya yang dapat saja menjerat iman orang-orang percaya. Itu sebabnya, Rasul Paulus dan rekan-rekannya terus berdoa, mengucap syukur kepada Tuhan karena umat Kolose memiliki dan menjaga iman mereka.
Harapan Rasul Paulus dan rekan-rekannya adalah supaya umat di Kolose menerima segala hikmat dan pengertian yang benar, untuk mengetahui kehendak Tuhan dengan sempurna. Mereka juga hidup layak di hadapan Tuhan serta berkenan kepadaNya dalam segala hal dan “berbuah dalam segala pekerjaan baik dan bertumbuh dalam pengetahuan yang benar tentang Tuhan.” Ketika ajaran sesat mulai menunjukkan eksistensinya, pemahaman dan pengetahuan orang percaya haruslah semakin teguh dan tangguh. Proses berpikir memang cepat mempengaruhi seseorang ketimbang perilaku. Itu sebabnya, Paulus menghendaki agar umat Kolose harus, selain dari berbuah dalam pekerjaan baik, mereka dapat bertumbuh dalam pengetahuan yang benar tentang Sang Khalik yang telah menebus dan menyelamatkan mereka.

Bertumbuh bersama dalam pengetahuan mencakup beberapa hal: pertama, memahami pribadi Tuhan; kedua, memahami dan merasakan perbuatan-perbuatan Tuhan; dan ketiga, bertumbuh dalam pengetahuan tentang Tuhan (pribadi dan perbuatan-perbuatanNya) sebagai bentuk pertahanan diri melawan ajaran-ajaran sesat. Semuanya dilakukan dengan “menalar” lalu diperbuat dalam konteks hidup yang luas termasuk akan berhadapan dengan berbagai ajaran sesat. Berpikir memang sangat dibutuhkan bagi orang-orang percaya sebab lawan-lawan mereka menyuguhkan berbagai proses berpikir, sehingga lawan yang sebanding adalah melalui proses berpikir juga. Pertentangan antara ajaran yang benar (ajaran dari Yesus Kristus) dengan ajaran sesat (ajaran yang menyimpangkan ajaran Yesus dan memang ajaran yang berdasar pada pemahaman akan alam dan ilah-ilah yang dipercaya) merupakan kondisi yang akan terus terjadi.
Hingga saat ini, orang Kristen di seluruh dunia berhadapan dengan musuh yang memiliki substansi yang sama: mengganggu atau mempengaruhi orang-orang percaya dengan berbagai gagasan, opini, dan klaim-klaim yang bertolak belakang dengan ajaran-ajaran Kitab Suci, di mana semuanya bermain dalam ranah “logika” (proses berpikir, menalar). Meski demikian, sebagaimana yang Paulus tuliskan bahwa setiap orang percaya harus menanggung segala sesuatu dengan tekun dan sabar (ay. 11) karena ada jaminan yang diberikan Tuhan (ay. 12-13), sebab dasarnya adalah: “di dalam Dia (Yesus Kristus) kita memiliki penebusan kita, yaitu pengampunan dosa” (ay. 14).

Apa tantangannya bagi gereja masa kini? Melihat berbagai perkembangan teknologi, membuka peluang bagi segala bentuk ajaran sesat dan penyesatan masuk ke dalam lingkungan Gereja. Bahkan, di sekolah-sekolah tinggi teologi dan sejenisnya, ajaran-ajaran sesat dapat menyelinap dan tumbuh di dalamnya. Di sini dibutuhkan tingkat pemahaman yang tinggi dan serius untuk melawan ajaran-ajaran sesat. Cara menalar yang baik dalam memahami pengetahuan yang berlimpah tentang Tuhan dan karya-Nya dalam Yesus Kristus menghasilkan iman yang teguh dan tangguh, siap melawan ajaran-ajaran sesat, dan siap menghantamnya sampai hancur.
Jangan remehkan cara berpikir sebab dengan berpikirlah seseorang dapat tersesat atau menjadi semakin teguh dalam imannya kepada Tuhan. Kitab Suci adalah tulisan yang dibaca dan kemudian dipahami dengan pikiran kita. Berpikir tidak salah, tetapi apa yang perlu dipikirkan, itu yang menjadi pertanyaan mendasarnya. Karena Kitab Suci, termasuk teks di atas, memberikan peran penting pada sebuah pemahaman dan pengetahuan yang baik tentang Tuhan dan karya-karyaNya yang ajaib, sehingga darinya, kita bertumbuh bersama dalam pengetahuan yang benar Tuhan.

Apa yang dialami oleh umat di Kolose dapat menggambarkan situasi kita sekarang. Karena itu bertumbuhlah dalam pengetahuan tentang Allah di dalam Kristus Yesus. Rajinlah membaca dan merenungkan firmanNya agar pikiran kita disibukkan dengan bagaimana menanggapi dan mensyukuri kebaikan Tuhan yang tak habis-habisnya kita rasakan.
Mereka yang terus menutup Kitab Sucinya, akan menjadikan pikirannya tertutup juga dan sangat kecil kemungkinan untuk dapat memahami tentang kasih dan kebaikan Tuhan, serta bertumbuh dalam pengetahuan yang benar tentang Dia. Mereka yang merenungkan firman-Nya, membaca, serta menalar, akan dituntun Roh Kudus—jika motivasinya bersih dan tulus di hadapan Tuhan—untuk menemukan makna teks tentang apa yang telah dan akan Tuhan nyatakan dalam kehidupan setiap kita, serta memampukan kita bertumbuh dalam pengenalan akan Dia, hari demi hari, hingga akhir hayat kita.

Tetap setialah kepada Tuhan dan renungkan firman-Nya. Jagalah pikiran kita dari hal-hal yang tidak memberikan faedah, dan tidak memberikan pertumbuhan bagi relasi dengan Tuhan dan iman kita kepada-Nya. Jadilah pemikir-pemikir Tuhan agar bertumbuh dalam pengetahuan tentang Dia; bagikanlah pengetahuan itu kepada semua orang melalui perkataan, perbuatan, dan buah pikiran kita yang benar.
Salam Bae…..





































