Oleh: Yosia Belo & Stenly R. Paparang

Ia [Tuhan] yang menyediakan benih bagi penabur, dan roti untuk dimakan, Ia juga yang akan menyediakan benih bagi kamu dan melipatgandakannya dan menumbuhkan buah-buah kebenaranmu; kamu akan diperkaya dalam segala macam kemurahan hati, yang membangkitkan syukur kepada Tuhan oleh karena kami. Sebab pelayanan kasih yang berisi pemberian ini bukan hanya mencukupkan keperluan-keperluan orang-orang kudus, tetapi juga melimpahkan ucapan syukur kepada Tuhan (2 Korintus 9:10-12)
Kutipan ayat-ayat di atas menegaskan prinsip pelayanan di mana Tuhanlah yang menjadi sumbernya. Tuhan sendiri yang menyediakan benih bagi penabur, dan roti untuk dimakan. Jika demikian, setiap orang yang menjadi pelayan-Nya adalah mereka yang “menabur” Injil Yesus Kristus. Hal ini tampak pada pribadi Bapak Haryoseno, yang bukan saja “menjadi seorang penabur” (kebaikan, kasih, dan kemurahan yang ia terima dari Tuhan Yesus), tetapi juga seorang yang “memberi makan bagi kaum papa (miskin, sengsara)” melalui berbagai bantuan. Genaplah firman Tuhan: “Siapa yang berbelas kasihan kepada orang miskin, ia memiutangi YAHWEH, apa yang telah ia berikan, YAHWEH akan membalasnya” (Amsal 19:17).
Bapak Haryoseno dikenal sangat baik, perhatian, dan rendah hati di kalangan sekolah-sekolah dalam wadah SETIA-ARASTAMAR. Beliau adalah orang yang sederhana tetapi memiliki hati yang begitu mencinta misi, dan membuktikan bahwa pelayanan yang dikerjakan baik oleh gereja-gereja maupun sekolah-sekolah, ditopang oleh beliau dengan berbagai cara. Gambaran kebaikan hati beliau tampak ke permukaan bukan tanpa alasan. Tentu, didikan orangtua kepada beliau menjadi dasar bagaimana ia seharusnya bertindak terhadap misi dan pelayanan Kristus Yesus yang dikerjakan oleh gereja-gereja dan sekolah-sekolah.
Di usianya yang ke-79 (tanggal 20 Januari 2023), benih-benih yang ditaburkan Bapak Haryoseno telah menghasilkan banyak buah; banyak orang diberkati oleh pelayanan beliau; banyak orang yang mendoakan beliau; banyak orang yang ditolong dan ditopangnya. Semua dilakukannya semata-mata karena kemurahan Tuhan yang dinyatakan kepada beliau.
Melihat pada ayat-ayat di atas, tampak bahwa Tuhan “juga yang akan menyediakan benih bagi kamu dan melipatgandakannya dan menumbuhkan buah-buah kebenaranmu” – dan jika itu dinyatakan kepada jemaat di Korintus, maka sebagai orang percaya kita juga mendapatkan alasan yang sama bahwa Tuhan yang “akan” dan “telah” menyediakan benih bagi kita dan kita melipatgandakannya dan menumbuhkan buah-buah kebenaran di mana nama Tuhan dipuji dan dimuliakan. Bapak Haryoseno telah memperlihatkan hal ini, bahwa ia telah menyediakan baginya benih, dan ia telah melipatgandakannya dan menumbuhkan buah-buah kebenaran melalui tindakan mencintai misi dan menopang pelayanan.
Anak-anak Didik Arastamar sangat mengenal kebaikan dan kemurahan hati beliau. Beliau telah banyak memberi waktu dan tenaga untuk pekerjaan misi Kristus, pelayanan gereja dan sekolah-sekolah. Beliau telah banyak menabur benih kasih; hal itu dilakukannya karena ia begitu mencintai misi; hatinya terpaut pada Kristus Yesus yang telah mengasihi, menopang, dan memberkatinya di sepanjang hidupnya.
Bapak Haryoseno tahu bahwa “tangan Tuhan selalu menolong, menopang, dan memberkatinya” dalam segala usaha, pekerjaan, pelayanan, dan keluarga. Ia tahu bahwa hidup itu bukan tentang siapa yang lebih terkenal, melainkan siapa yang lebih murah hati dan penuh kasih. Yesus berkata: “Berbahagialah orang yang murah hatinya, karena mereka akan beroleh kemurahan” (Matius 5:7). Bapak Haryoseno telah menerima kemurahan Tuhan, dan itulah alasan baginya untuk terus berbuat baik, menabur cinta kasih, mencintai misi, menopang pelayanan, dan terus menghasilkan buah bagi Kerajaan Bapa di surga.
Tuhan juga akan memperkaya orang-orang yang setia melayani-Nya “dalam segala macam kemurahan hati”. Sebagaimana Paulus menyatakan hal ini kepada jemaat di Korintus, maka kita dapat menarik makna dari pernyataan tersebut bahwa Bapak Haryoseno telah menunjukkan kemurahan hatinya di dalam misi dan pelayanan gerejawi serta pelayanan di bidang pendidikan. STT SETIA dan seluruh cabangnya di seluruh Indonesia telah merasakan manfaat dan berkat dari pelayanan beliau. Tak bisa dipungkiri bahwa kebaikan dan kemurahan hati beliau telah menorehkan sejarah panjang dalam dunia pendidikan dan kerohanian di STT SETIA dan Sinode GKSI. Beliau telah menunjukkan kebaikan hati dan turut serta dalam “mencukupkan keperluan-keperluan orang-orang kudus” – sama seperti yang dilakukan oleh jemaat di Korintus.
Ternyata, setiap kebaikan dan kemurahan hati yang beliau taburkan, telah menolong, menguatkan, dan memberikan sukacita kepada semua orang yang merasakan sentuhan “tangan kasih” Bapak Haryoseno. Apa yang telah beliau taburkan akan tetap menjadi “tinta kehidupan” yang dikenang senantiasa.
Dengan limpah syukur kepada Yesus Kristus, kami berdua (Yosia Belo dan Stenly R. Paparang) mengucapkan: “Selamat Ulang Tahun orang tua kami Bapak Haryoseno yang ke-79”. Cinta kasih dan kemurahan Tuhan senantiasa tercurah kepada Bapak dalam menjalani kehidupan ini. Kesehatan dan kekuatan selalu diberikan Tuhan Yesus. Berkat-Nya tercurah atas Bapak dan keluarga.
Terima kasih atas segala kebaikan dan kemurahan hati yang telah Bapak berikan kepada kami di STT SETIA Jakarta dan seluruh caabangnya, mulai dari PAUD, TK, SD, SDTK, SMP, SMPTK, SMTK, SMAK, sampai STT dan STAK di seluruh Indonesia sehingga sampai saat ini tetap eksis menjalankan misi Tuhan. Juga bantuan Bapak kepada Sinode GKSI. Tuhan akan membalas semua kebaikan hati Bapak. Terima kasih juga atas “pelajaran kehidupan [keteladanan]” yang telah kami lihat secara langsung dari pribadi Bapak Haryoseno.

Akhir kata, kami berdua menyadari bahwa semua yang Tuhan berikan dan perbuat bagi kita, sepatutnyalah kita terapkan juga kepada orang lain. Jika Tuhan sudah memberkati kita, maka kita seharusnya menjadi berkat bagi orang lain: “Diberkati untuk menjadi berkat”. Itulah pernyataan yang menggerakkan kita untuk hidup bagi Tuhan dan menjadi berkat. Hal itu pula yang tampak pada pribadi Bapak Haryoseno: “menjadi berkat melalui sikap hidup yang mencintai misi dan menopang pelayanan, untuk menghasilkan buah-buah bagi Yesus Kristus, kini, besok, dan selamanya.
Salam Kasih, YBU…..
















































