BERIMAN SECARA DEWASA

Iman mendapati “ruang” untuk menunjukkan kualitasnya melalui beberapa hal, misalnya ruang untuk berelasi dengan kemajemukan agama, ras, dan budaya, ruang menunjukkan nilai tindakan dan perkataan, serta ruang untuk sebuah toleransi. Iman yang dewasa akan melihat ruang-ruang tersebut bukan sebagai ‘ancaman’ melainkan sebuah kesempatan untuk memperlihatkan kualitasnya – sebab secara umum nilai yang diberikan kepada iman seseorang adalah para perkataan, tindakan (yang selaras dengan iman), serta relasi – sebuah tindakan ‘berani’ untuk tampil beda di dalam kepelbagaian narasi iman yang lain.

Beriman secara dewasa tidak dapat dihayati oleh mereka yang bersumbu pendek (pendek pikiran, pendek emosi). Kedewasaan iman tampil untuk memberikan nuansa warna-warna kehidupan yang mencakup moralitas dan spiritualitas yang murni dan tulus, bukan dengan ‘mencari muka’ atau ‘mencari nama’. Ada banyak orang yang merasa ‘paling beriman’ ketika berdoa di tengah jalan, dilihat banyak orang. Merasa bahwa ketika berdoa yang tidak lazim, itu menambah rasa percaya diri bahwa dia orang beriman. Penipuan dan kesombongan semacam ini telah menyulap pikiran orang-orang dan segera memberi nilai bahwa ‘inilah ciri-ciri orang beriman, berdoa di tengah jalan, menonjolkan diri, dan setelah itu kita tidak tahu apa yang akan dilakukannya besok dan seterusnya.’

Kita terbiasa menilai dan melihat rohani tidaknya seseorang dari bagaimana ia menampilkan dirinya berdoa, pamer berdoa dan lain sebagainya. Yesus mengecam tipe orang semacam ini:

“Dan apabila kamu berdoa, janganlah berdoa seperti orang munafik. Mereka suka mengucapkan doanya dengan berdiri dalam rumah-rumah ibadat dan pada tikungan-tikungan jalan raya, supaya mereka dilihat orang. Aku berkata kepadamu: Sesungguhnya mereka sudah mendapat upahnya. Tetapi jika engkau berdoa, masuklah ke dalam kamarmu, tutuplah pintu dan berdoalah kepada Bapamu yang ada di tempat tersembunyi. Maka Bapamu yang melihat yang tersembunyi akan membalasnya kepadamu.” (Matius 6:5-6)

Dewasa iman sesungguhnya tampil dalam beberapa fakta (akan dijelaskan kemudian). Pada dasarnya, pluralisme dan pluralitas agama telah memecahkan pemahaman iman agama satu dengan iman agama lain. Seolah-olah ada jurang pemisah yang begitu dalam, sehingga mereka yang imannya cetek berulah dan merusak tatanan sosial dan tatanan relasional antar-iman. Barangkali, mereka yang bertindak demikian adalah orang-orang yang begitu alergi dengan ‘iman agama lain’ dan merasa harus disingkirkan, dan jika perlu dimusnahkan. Pemikiran semacam ini memang berpotensi merusak kemajemukan, dan tergolong sebagai ‘kaum intoleran’. Mereka memiliki iman yang unik – yaitu iman yang alergi dan berpotensi menciptakan konflik.

Melihat fenomena semacam itu, kita perlu waspada dan mengupayakan untuk beriman secara dewasa. Meski kita tahu bahwa kesalahpahaman sering terjadi. Di lingkup doktrin Kristen, tak sedikit penyesatan, kesalahpahaman, pemahaman yang salah, dan perendahan terhadap doktrin Kristen yang dilakukan oleh mereka yang merasa beriman tapi tak ada otaknya (tak mampu menilai secara sehat, berpikir secara kritis, dan memahami prinsip hermeneutika). Alhasil, penyimpangan dan keyakinan misterius berbalutkan bidat menjadi makanan siap saji bagi mereka yang mencintai ‘dusta’ (kebohongan).

Oleh sebab itu, jangan lekatkan dalam hatimu pemahaman dan konsep yang keliru tentang doktrin-doktrin Kristen (biblika) yang digulirkan dan dikumandangkan oleh mereka yang membenci Kekristenan, yang skeptis terhadap Kekristenan, dan yang menegasikan Yesus, karena hal itu akan membawamu kepada sikap brutalisme dan berdampak pada saling membunuh dan mencaci maki. Lekatkanlah pada dirimu pemahaman dan konsep biblika terkait doktrin-doktrin Kristen yang didasarkan pada fakta dan dokumentasi. Iman dari Tuhan akan menuntunmu pada kehidupan yang berkenan kepada-Nya.

Iman akan membentuk karaktermu sepanjang hayat,  menghindarkan dirimu dari sikap membunuh sesama atas nama agama, membenci dan bertindak keras atas nama agama. Itulah makna “beriman secara dewasa”.

Ketika ada orang lain yang mengusik, menghina, merendahkan, dan menegasikan imanmu, jangan terbawa emosi. Kita tahu bahwa iman kita berdasar pada penyataan Allah yang peduli terhadap manusia berdosa dan menebusnya dengan cara-Nya sendiri; jangan membalas kejahatan dengan kejahatan; kita tahu bahwa mereka tersesat dalam kebodohannya dan kepada mereka kita dapat menyebutkan sebagai orang-orang yang merasa bahwa “ignorance is bliss”: kebodohan adalah kebahagiaan. Yang perlu kita tegaskan adalah sikap beriman secara dewasa.

Beriman secara dewasa tampak pada tujuh hal: Pertama, memiliki pemikiran yang solid tentang doktrin-doktrin fundamental. Kedewasaan ini akan selalu siap sedia dalam memberi pertanggungan jawab kepada mereka yang mempertanyakan iman Kristen, meragukan atau menegasikannya.

Kedua, memiliki relasi yang baik dengan sesamanya. Relasi ini bukanlah bentuk kompromi terhadap berbagai ajaran yang menyimpang dari mereka yang menganutnya, melainkan tetap menegur dan menghardik segala bentuk ajaran yang menyimpang (menyesatkan). Relasi dipahami dalam konteks humanitas dan sosiologi.

Ketiga, memiliki sikap hidup yang solid dalam menanggapi berbagai problem kehidupan. Sikap yang solid mampu menolak dosa, mampu menolak kemunafikan, dan mampu menolak berbagai bentuk “tawaran menarik” yang berpotensi merusak nama baik dan pelayanannya di hadapan Tuhan.

Keempat, memiliki peran bagi kemaslahatan banyak orang, baik di keluarga, gereja, dan masyarakat (lingkungan makro). Peran ini dilihat dari bentuk kewajiban sebagai warga negara dan menjamin terciptanya relasi yang harmonis di antara sesama manusia. Peran dari mereka yang percaya kepada Tuhan tidak hanya berurusan dengan aspek spiritualitas, melainkan juga dengan aspek moralitas, relasional, dan kemasyarakatan.

Kelima, membangun jembatan iman dalam konteks disparitas doktrinal di kalangan Kristen. Berbagai denominasi memungkinkan terciptanya disparitas doktrinal. Meski demikian, penegasan doktrinal untuk melawan dan menghardik ajaran-ajaran yang menyimpang perlu dilakukan dan sedapat mungkin tidak menyerang “pribadi” melainkan pada “pemikirannya”.

Keenam, berusaha memberi jawab terhadap berbagai penyesatan, penyimpangan, dan tuduhan terhadap iman (doktrin) Kristen dengan prinsip eksegetikal dan dogmatik yang kredibel, sehingga – setidaknya – kita telah memberi tahu apa yang benar. Selebihnya, biarlah Roh Kudus yang bekerja atas kebenaran yang telah kita sampaikan. Ia akan menggerakkan siapa pun yang dikehendaki-Nya untuk dapat memahami dan menerima kebenaran itu.

Ketujuh, dengan iman yang berhadapan dengan ‘iman yang lain’, kita tetap menunjukkan spirit toleransi secara bertanggung jawab dan memberi ruang kepada keadilan untuk menjalankan perannya. Di sini, segala sesuatu yang terhubung dengan relasi sosial, biarlah ‘keadilan’ yang dipegang oleh pemerintah dapat dihormati, dihargai, dan didukung. Hal ini dapat kita lihat, misalnya, pada bagaimana intimidasi dan diskriminasi bagi orang Kristen untuk melakukan ibadah minggu maupun ibadah pada perayaan-perayaan yang besar, misalnya Jumat Agung, Paskah, dan Natal.

Akhirnya, beriman secara dewasa menjadi tujuan kita bersama. Kedewasaan dalam beriman membuktikan bahwa kita adalah anak-anak Allah yang senantiasa membawa damai dan sejahtera kepada “dunia” secara luas. Yesus Kristus telah memanggil kita untuk tugas yang mulia ini. Yesus berkata:  

Berbahagialah orang yang lemah lembut, karena mereka akan memiliki bumi. Berbahagialah orang yang lapar dan haus akan kebenaran, karena mereka akan dipuaskan.   

Berbahagialah orang yang murah hatinya, karena mereka akan beroleh kemurahan. Berbahagialah orang yang suci hatinya, karena mereka akan melihat Allah.   

Berbahagialah orang yang membawa damai, karena mereka akan disebut anak-anak Allah. Berbahagialah orang yang dianiaya oleh sebab kebenaran, karena merekalah yang empunya Kerajaan Sorga (Matius 5:5-10)

Jangan sia-siakan kesempatan yang diberikan oleh Tuhan untuk menunjukkan kedewasaan iman dalam perkataan, perbuatan (tindakan) dan pemikiran untuk menghasilkan solusi-solusi majemuk dan toleransi. Sebelum terlambat, segeralah berbalik kepada Allah dan tunaikanlah tugas pelayananmu. Tetaplah beriman secara dewasa, baik atau tidak baik waktunya.

Salam Bae..…

Sumber gambar: Pinterest

RUANG KEHIDUPAN

Manusia menempatkan dan menampilkan dirinya pada suatu konteks dan sekaligus menentukan jati dirinya. Dalam ruang kehidupan, manusia menceritakan dirinya dengan perkataan, tindakan (positif atau negatif), relasi dan karya. Jati diri yang ditampilkan adalah wajah asli manusia. Jika demikian, kita dapat dengan leluasa  sesuai dengan kemampuan dan kemauan  untuk menyatakan sesuatu melalui perkataan, tindakan, relasi, dan karya dalam faset-faset kehidupan. Ini adalah kenyataan manis maupun pahit.

Kita dapat saja terpengkap dalam kemasan kemunafikan, kemalasan, pengabaian dan penjualan integritas pada waktu-waktu (situasi) tertentu di sebuah ruangan kehidupan yang terbatas. Di saat itulah kita perlu memberanikan diri menunjukkan bagaimana caranya untuk keluar dari perangkap semacam itu, agar kita tidak dilabeli dengan sebutan-sebutan “nyeleneh” ataupun “nyentrik”. Kita terpaksa menerimanya karena kita telah gagal di dalam hal-hal tersebut.

Seiring berjalannya waktu, kita dapat memperbaikinya secara perlahan. Merangkak menggapai kesadaran dan kejujuran diri seperti yang Tuhan kehendaki. Perlu upaya untuk tiba pada gapaian itu. Tanpa usaha kita jatuh tergeletak tak berdaya, diinjak-injak oleh keadaan yang kita ciptakan sendiri yakni sebuah konsekuensi logis dari tindakan-tindakan kita.

Dalam ruang kehidupan, kita bergerak, bertegur sapa, menyapa sahabat, acuh tak acuh, terus berkarya, terus hidup dalam kunkungan dosa, atau terus bersemangat dalam melayani Sang Khalik. Pilihan terakhir tampaknya adalah kebahagiaan dari mereka yang menyadari bahwa pelayanan adalah sebuah ikatan emosional, iman, dan kasih yang ditujukan kepada-Nya. Kita tertegun melihat bagaimana Ia dengan kuasa dan kemurahan-Nya menenun kehidupan iman kita menjadi seperti yang dikehendaki-Nya.

Hal terbaik yang dapat kita persembahkan kepada-Nya adalah bertindak dan hidup di dalam firman-Nya. Itulah tampilan yang menarik, indah, cantik (“nauli”) dari sebuah jati diri orang-orang yang terpanggil untuk melayani Tuhan di mana selalu ada sukacita ketika tampilan itu mendapat sambutan dari setiap konteks. Ternyata, kita yang menempatkan dan menampilkan diri pada suatu konteks sekaligus menentukan jati diri, menemukan jalan bahagia, yang mengundang aroma-aroma terbaik dari kehidupan yang dikaruniakan Tuhan kepada kita.

Harapan yang dapat kita pegang adalah bahwa perkataan, tindakan, relasi dan karya sebagai “wajah asli” pada akhirnya tidak hanya memberi kita sukacita sorgawi, tetapi juga membawa kita kepada kemuliaan yang telah Tuhan sediakan. Di sinilah nilai-nilai pelayanan menjadi kokoh. Itu sebabnya, pelayanan yang kita kerjakan tidak dapat dipandang sebagai sesuatu yang tak berharga, tak berdampak, atau tak bernilai. Pada kenyataannya, Tuhan menyediakan segala sesuatu melampaui dari apa yang kita pikirkan dan harapkan. Pelayanan kepada Tuhan adalah prinsip hidup yang paling terbaik. Jangan diabaikan!

Di kemudian hari, kita sendirilah yang terus mandiri dan membangun pelayanan yang dipercayakan kepada. Ingatlah, bahwa Allah turut bekerja dalam segala sesuatu untuk mendatangkan kebaikan bagi mereka yang mengasihi Dia, yaitu bagi mereka yang terpanggil sesuai dengan rencana Allah (Roma 8:28). Kita melayani karena kita terpanggil. Pelayanan yang bukan karena panggilan tak dapat memberikan hasil terbaik. Panggilan adalah dasar pelayanan. Dengan kesadaran inilah, kita bergerak dan berkarya bagi-Nya, memuliakan nama-Nya serta menyenangkan hati-Nya. Berani menghadapi tantangan dan hambatan sebab kita dilatih oleh-Nya.

Pada akhirnya, kita menceritakan kisah pelayanan kita sendiri kepada dunia di mana kita berpijak. Semuanya dicatat oleh Tuhan, dan kemudian kita mendapatkan upah dari segala pelayanan yang dikerjakan dengan sepenuh hati. Perkataan, tindakan, relasi dan karya yang telah ditaburkan, pasti akan membuahkan hasil. Wajah kita hanya tampak pada taburan benih pelayanan dan buah-buahnya. Kemampuan dan kemauan yang kita miliki membebaskan kita dari ancaman perangkap kemasan kemunafikan, kemalasan, pengabaian dan penjualan integritas. Tuhan menghendaki kita berbuat sesuatu sejalan dengan firman-Nya. 

Tetaplah semangat dalam melayani-Nya. Tetap setia dan jagalah integritas. Tuhan akan memberi sukacita dan kehidupan yang manis kepada mereka yang setia dan jujur di setiap ruang kehidupan.

Salam Bae…..

Note: Gambar diambil dari berbagai sumber

KITA DAN WAKTU

Kita berada di dalam waktu. Kita bekerja dan bergumul di dalam waktu. Apa yang kita lakukan selalu terkait dengan waktu dan batas waktu. Setiap momen selalu dikaitkan dengan waktu. Di dalam waktu, Tuhan memampukan kita untuk mendapatkan segala sesuatu bagi kehidupan yang kita jalani. Tuhan turut serta bekerja untuk mendatangkan kebaikan bagi orang-orang yang mengasihi-Nya.

Ada fase-fase yang kita lalui (tapaki) di dalam waktu-waktu tertentu. Kita mencari dan menemukan. Kita dicari dan ditemukan. Kita dicari dan tidak ditemukan. Kita ditemukan tapi tak dianggap; atau kita dianggap tapi tak pernah dicari; jika dicari pun, itu hanya karena saat dibutuhkan saja. Ada luapan-luapan emosi yang terpancar pada setiap konteks waktu. Pada fase khusus kita berhenti dan menikmati “waktu” yang berharga. Kita melewatinya dan beranjak pada jenis waktu yang berbeda.

Kita dan waktu, pada sebuah kesempatan dapat memberikan kebahagiaan, kesedihan, keletihan, air mata, kesenangan, sukacita, dan lainnya. Kita diikat oleh hal-hal tersebut dan menarik makna terdalamnya. Kita bergegas dari lokus satu ke lokus lainnya; menyapa relasi, menyalami konteks.

Ada didikan di balik setiap peristiwa; kita bahkan terpukau karenanya. Kita mendorong kehidupan kita sendiri untuk suatu tujuan yang dianggap penting. Kita mengupayakan proses untuk tiba di tujuan, meraup kemenangan dan kelegaaan. Tuhan menyediakan kepada kita “hidangan kehidupan” yang dapat dinikmati dengan sukacita saat tiba di tujuan. Bahkan sebelum tiba di tujuan, Ia pun mencurahkan berkat-Nya untuk menyapa kita.

Kesadaran akan fakta ini menggiring kita kepada kehendak Allah, yang mana Ia membentuk kehidupan kita menjadi begitu indah, berlandaskan firman-Nya, dan penuh dengan ucapan syukur. Kehidupan semacam ini menempatkan lima aspek tentang bagaimana kita mengucap syukur.

Pertama, mengucap syukur dalam kehidupan, yang mencakup kekuatan dan kesehatan yang Tuhan berikan, sebab dengan kekuatan dan kesehatanlah kita bergerak, bekerja, dan melayani-Nya.

Kedua, mengucap syukur dalam pekerjaan, yang mencakup upah dan kerja keras. Kita berusaha dengan sekuat tenaga untuk mendapatkan hasil (upah) bagi keberlangsungan kehidupan. Usaha kita membutuhkan topangan Tuhan Yesus, agar dapat menunjukkan kualitas diri yang bertanggung jawab menyelesaikan pekerjaan yang menjadi tanggung jawab kita.

Ketiga, mengucap syukur dalam pelayanan, yang mencakup tindakan bermisi, mengajar, melakukan pelayanan pastoral, dan lain sebagainya. Dalam kesulitan bermisi, kita harus tetap mengucap syukur. Dalam mengajar dan melakukan pastoral, kita pun harus bersyukur, meski menghadapi berbagai kesulitan.

Keempat, mengucap syukur dalam kepemilikan, yang mencakup usaha (bisnis) dan harta kekayaan (harta milik). Mengucap syukur dalam kelimpahan itu biasa, tetapi mengucap syukur dalam kekurangan itu luar biasa. Yang terpenting adalah harta milik apa pun yang kita miliki, harus disyukuri. Jangan mengambil yang bukan milik kita; nikmati milik kita sendiri. Apa yang kita kerjakan untuk suatu bisnis atau usaha, harus ditopang dengan rasa ucapan syukur. Semua milik kita adalah kepunyaan Tuhan.

Kelima, mengucap syukur dalam [segala] keadaan, yang mencakup dukacita, sukacita, tekanan, gelisah, dan lain sebagainya. Kita mungkin berpikir bahwa mengucap syukur cukup dilakukan ketika berada dalam keadaan damai dan tenteram, berkelimpahan, tetapi itu bukan prinsip Alkitab. Justru dalam segala keadaan, kita harus senantiasa mengucap syukur: “Mengucap syukurlah dalam segala hal, sebab itulah yang dikehendaki Allah di dalam Kristus Yesus bagi kamu” (1Tes. 5:18)

Ungkapan-ungkapan syukur semacam itu, merupakan kesadaran bahwa Tuhan adalah di atas segala-galanya, Tuhan adalah pemilik hidup ini, dan Tuhan adalah sumber segala berkat dan kehidupan. Itulah alasan mengapa kita mengucap syukur kepada-Nya.

Bagaimana pun juga, waktu menjadi bagian terpenting dari totalitas proses kehidupan kita, kini, dan seterusnya. Tuhan yang melawat kita, ternyata menerbitkan cahaya kemuliaan agar kita menjadi turut bersinar dalam menampilkan “wajah Kristus” dari waktu ke waktu. Lawatan-lawatan Tuhan mengajari kita bahwa semua diperbuat-Nya untuk kebaikan dan tanggung jawab iman kita.

Hingga kita menemukan kekuatan dan kesadaran dari setiap konteks di dalam waktu, di mana Tuhan hadir dan menunjukkan kasih, kuasa, dan kemurahan-Nya bagi kita yang menaruh harap dan iman pada-Nya. Kita dan waktu yang merangkul kita, memberi lebih dari cukup apa yang kita pikirkan dan harapkan, dan Tuhan ada di baliknya.

Apa yang ada dan kita genggam sekarang ini, merupakan kumpulan hasil yang didapatkan dari usaha, kerja keras, penipuan, kebohongan, pencurian, banting tulang, dan lain sebagainya. Kita tahu bahwa segala sesuatu yang didapatkan dari tindakan-tindakan yang tak berkenan kepada Sang Khalik akan dihembuskan (menjadi berkurang atau hilang) dalam bingkai waktu yang Tuhan tetapkan baginya.

Marilah kita menyadari bahwa kehidupan yang benar membawa kita kepada jalan terbaik – di sana ada damai dan sukacita yang luar biasa, membalut setiap luka-luka kehidupan, dan pada waktunya, kita menikmati segala kebaikan dan kemurahan Tuhan dengan hati yang penuh ucapan syukur.

Salam Bae…..

Note: Gambar diambil dari berbagai sumber

JEJAK-JEJAK KEHIDUPAN: Catatan Awal Tahun

Kita berhadapan dengan banyak kejadian; kejadian di mana kita ada di dalamnya, atau kejadian tentang orang lain, siapa pun dia. Lambat laun, dari setiap jejak, kita mengharapkan pijakan pada tujuan terakhir. Di situlah terungkap sukacita dan damai yang memuncak. Dalam prosesnya, jejak-jejak kehidupan itu sendiri telah memperlihatkan kepada kita apa arti kesabaran, kesulitan, kesedihan, pengkhianatan, kesakithatian, kesetiaan, pengabaian, acuh tak acuh, kemarahan, air mata, doa, dan lainnya.

Rangkuman kehidupan telah menjadi catatan nafas kehidupan. Di situ kita menorehkan sejarah kita sendiri, menitipkan warisan kepada yang lain, mengharapkan sebuah kehidupan yang lebih baik, menuliskan kemelut dan cinta yang kita alami, menelusuri kejadian demi kejadian, memahami penderitaan dan tantangan. Di satu sisi, kita terlena dengan segala sesuatu, di sisi lain kita terdiam karena segala sesuatu. Apa yang kita taburkan dalam berbagai konteks, menghasilkan makna baik dan buruk.

Kita menjauh dari berbagai jenis kejahatan. Kita berkomitmen untuk hidup dalam kebenaran Allah; kita menancapkan prinsip hidup sebagai pegangan untuk melangkah dari waktu ke waktu. Kita tahu bahwa ada tangan Tuhan yang menopang, melawat, memulihkan, membalut setiap luka kehidupan. Adalah Dia yang senantiasa memberkati dan menggendong kita dalam segala keadaan. Di setiap jejak kehidupan kita, Dialah yang memelihara untuk memberikan kasih yang luar biasa.

Terpukau dengan keindahan providensia-Nya, kita pun menciptakan nada-nada iman dalam sebuah lagu ucapan syukur. Kesadaran ini senantiasa merawat kehidupan kita sendiri, bahwa sikap yang mengutamakan Tuhan sebagai wujud dari iman, ternyata memberi lebih dari cukup, tentang segala sesuatu yang terhubung dengan penghidupan dan kesinambungan kata, karya, dan relasi.

Di setiap jejak kehidupan tercipta sebuah pengakuan bahwa “kita tanpa Tuhan, tak berarti”. “Kita tanpa Tuhan, tak berdaya”. Kesombongan justru memberi kita banyak kehancuran diri, karya, dan relasi. Tak ada yang perlu kita banggakan untuk sebuah kesombongan kecuali membuangnya ke tempat sampah, sebab di situlah tempat kesombongan.

Tepian-tepian hidup menyudahi kembara jejak-jejak kehidupan kita; kita lelah dan penat; bergerak dan terus bergerak; mencari dan terus mencari; bangkit dari keterpurukan dan kesedihan, duka mendalam, dan berjalan menuju pengharapan. Air mata menjadi tanda kerapuhan; tak hanya itu, air mata itu juga menjadi tanda bahwa kita adalah manusia yang membutuhkan uluran tangan Tuhan.

Dalam permenungan kehidupan, kita senantiasa melihat jejak-jejak lampau; mencatat atau mengingatnya — entah sebagai sebuah kenangan manis atau kenangan buruk, menyedihkan atau menyenangkan, menyakitkan atau membahagiakan, menyesakkan dada, mematahkan semangat, mengeringkan tulang, memperburuk keadaan, atau justru menjadi cambuk untuk maju, bangkit, bergerak dan berkarya. Itulah yang menjadi bagian dari proses kehidupan.

Kita berhadapan dengan berbagai keadaan. Tidak hanya membuat kita harus berinteraksi dengannya, menolak, menghindar, lari, atau berdoa memohon kekuatan, petunjuk, dan hikmat dari Sang Khalik. Mungkin kita juga terbiasa dengan keadaan yang membuat kita nyaman dalam kemunafikan; berusaha berpura-pura melupakan sahabat-sahabat yang dulu pernah memberi kita kenyamanan, kebahagiaan, dan pertolongan. Kita bahkan melupakannya dan menggantikannya dengan teman-teman berjiwa preman, pembohong, penipu, dan penjilat.

Adakah kita terus menjilat? Kehidupan yang demikian akan juga ambruk dengan segala kepura-puraannya, menggores batin, menciptakan luka yang membuat malu seumur hidup. Itu pun termasuk jejak-jejak kehidupan pada lembaran kotor seseorang. Ada orang-orang yang membungkus banyak kenyataan dengan dua wajah: hipokrit dan menjilat. Mereka berupaya terlihat menawan, rupawan, dan seksi; pula mereka berharap ada banyak yang ikut terlibat dalam “lingkaran setan” ini.

Apa yang dicari? Bukankah kebaikan dan kejahatan sama-sama menghasilkan sesuatu dalam jejak-jejak kehidupan? Kita yang berhenti menjejaki kehidupan ini dapat merenung dan bertanya: apa dan bagaimana? Sejenak kita memerlukan sedikit catatan tentang apa arti hidup ini, apa arti karya, apa arti relasi, dan apa arti integritas. Seyogianya kita menampar pikiran kita ketika telah tersesat dan hendak menyesatkan orang.

Bukankah kehidupan adalah catatan tentang kita, sesama, dan Tuhan? Bukanlah kita harus berbuah dalam kehidupan ini? Bukanlah kita harus hidup benar dan berkarya bagi Tuhan? Itu sebabnya tidak banyak yang menyadari bahwa hidup itu adalah sebuah misteri, di mana setiap kita perlu berhati-hati dalam melangkah, bertindak, dan berkata-kata.

Jejak-jejak kehidupan adalah sebuah ungkapan dari fakta bahwa kita adalah manusia yang potensial. Jika kita membunuh potensi kita hanya karena kita pandai memperalat orang lain, maka kita terkurung dalam duka mendalam, dirantai dengan kelemahan, dan diselimuti dengan ketidakberdayaan.

Apa mau dikata? Kita hidup untuk menikmati segala sesuatu, menciptakan segala sesuatu, menghasilkan segala sesuatu, menopang, mempengaruhi. Kita tentu dapat menyelami kehidupan ini dengan tiga realitas yang suprematif: berkarya dalam kejujuran, berelasi untuk kehidupan yang lebih baik, dan terus mengajari diri sendiri untuk setia kepada Sang Khalik, Yesus Kristus, yang telah mengaruniakan kehidupan di mana kita menorehkan jejak-jejak kehidupan.

Salam Bae…..

Note: Gambar diambil dari beberapa sumber

TEOLOGI SEBAGAI DEPIKSI IMAN

Segala ihwal kehidupan, relasi, dan pengharapan Kristen di masa mendatang terjalin erat — tak terpisahkan — dengan “iman”. Teologi juga demikian. Proses kehidupan dalam ruang teologi (spiritualitas), sosiologi (humanitas), dan eklesiologi (pelayanan), membutuhkan iman sebagai fondasinya. Iman itu sendiri digambarkan sebagai ‘dasar’ dari segala sesuatu untuk tujuan yang ditetapkan Tuhan Allah.

Teologi itu sendiri merupakan depiksi (penggambaran) dari iman yang sejati. Tentu yang dimaksudkan di sini adalah teologi yang sehat (alkitabiah) dan kredibel. Teologi merupakan gerakan logika yang berbalutkan karunia Roh Kudus untuk memberi warna pada kehidupan, relasi, dan pengharapan. Tak dapat dipungkiri, teologi membentuk kita untuk suatu tujuan. Tujuan itu seringkali mendobrak “gagasan duniawi” untuk digantikan dengan “gagasan alkitabiah”.

Pada alurnya, teologi memberikan rasa aman dan keseriusan untuk memperhatikan berbagai pengajaran yang membentuk karakter spiritualitas kita. Dari sini kita beranjak untuk melihat bahwa teologi yang benar lahir dari iman yang benar. Riak-riak penyesatan – perumusan teologi yang salah [menyimpang] – dihasilkan oleh mereka yang memang tumpul dan gegabah dalam ‘membaca teks’, mengkorelasikan secara komprehensif tentang prinsip-prinsip doktrinal, memasukkan sesuatu ke dalam teks. Alhasil, label bidat diberikan kepada mereka.

Logika yang kuat terbentuk dari teologi yang kredibel dan alkitabiah. Meski hampir semua denominasi menyandang gelar ‘doktrinnya’ sebagai yang alkitabiah, toh pada akhirnya setelah diuji malahan menjadi hancur dan roboh. Kesalahpahaman, ketidakterdidikan, salah membaca, menarik kesimpulan yang gegabah (terburu-buru), adalah riak-riak yang marak terjadi. Kenyataannya ada yang merasa ‘nyaman’ dengan segala kesesatan yang tak disadarinya. Meski ia merasa sadar, tetap saja makin menyesatkan.

Teologi adalah ‘ruang publik’ di mana setiap orang dapat melewatinya, ikut antrian, atau bahkan melemparinya dengan kerikil ‘kesombongan’, ‘sok tahu’, ‘iri hati’, dan ‘merasa tersaingi’. Dari fakta yang terjadi, teologi yang membuat pemisahan tajam di berbagai denominasi. Akan tetapi, teologi yang sehat tetap bersinar dan memberikan dampak positif bagi iman dan gereja. Kehidupan yang bermakna tentu tak lepas dari peran teologi yang benar.

Sebagai depiksi iman, teologi menjembatani kehidupan, relasi, dan pengharapan untuk menyatukannya menjadi ramuan spiritualitas, yang memandu kembara humanitas di kolong langit ini. Teologi perlu mengaitkan dirinya dengan kehidupan, relasi, dan pengharapan. Teologi yang telah dirumuskan perlu dipahami dengan baik dan tuntas, sehingga menghindari kesalahpahaman dan penyimpangan makna.

Depiksi (penggambaran) iman memperlihatkan lima aspek fundamental yang membuat kehidupan, relasi, dan pengharapan kita menjadi kuat di dalam Dia.

Pertama, aspek pembacaan teks. Membaca memang mudah. Tetapi menemukan maknanya tidaklah mudah. Membaca teks perlu memperhatikan konteks. Jika proses ini dilakukan, maka kita mendapatkan pemahaman yang mendasar tentang makna teks. Teologi yang sehat bersumber dari pembacaan teks yang sehat pula.

Kedua, aspek penafsiran teks. Pembacaan teks dilanjutkan dengan proses menafsir. Menafsir membutuhkan alat-alat bantu. Kita dapat memilihnya sesuai keperluan penafsiran. Akan tetapi, penafsiran terhadap teks tidak dapat mengabaikan pemahaman korelasional (antar pasal atau antar kitab, bahkan antar perjanjian [PL dan PB).

Ketiga, aspek pemahaman korelasional. Konteks ini mengetengahkan prinsip penafsiran bahwa sebuah pemahaman yang korelasional menghadirkan teologi yang sehat. Misalnya ketika kita memahami ‘keselamatan’ maka korelasional tak dapat diabaikan, sebab dalam PL konsep keselamatan dibicarakan, dan dalam PB konsep keselamatan menyuguhkan pemahaman yang sama dengan peristiwa yang berbeda (PL: binatang; PB: Yesus Kristus; sama-sama dinyatakan dengan ‘darah’).

Keempat, aspek pemahaman komprehensif. Konteks ini adalah penggabungkan dari aspek pembacaan teks, penafsiran teks, dan pemahaman korelasional. Komprehensifitas menghasilkan teologi yang kuat sebab karya Allah tidak dapat dipahami secara fragmentaris. Hal ini tampak, misalnya, dalam doktrin Providensia dan Predestinasi. Mereka yang alergi dengan doktrin predestinasi, secara mendasar tidak memahami secara komprehensif doktrin ini, melainkan hanya sepotong, dan itu pun salah paham, memiliki paham yang salah, dan salah tafsir.

Kelima, aspek teologi yang alkitabiah. Dari semua pemahaman teks, penafsiran, pemahaman korelasional dan komprehensif, akan menghasilkan teologi yang alkitabiah. Inilah yang menyehatkan jantung spiritualitas kita, menyehatkan pelayanan kita. Tidak hanya itu, kehidupan, relasi, dan pengharapan kita pun menjadi sehat bugar penuh semangat.

Jika melihat deskripsi tentang teologi sebagai depiksi iman, maka kita tentu dapat menjadi terang bagi sesama, menjadi para pelaku firman Tuhan, dan hidup secara benar di hadapan-Nya. Dari teologi yang benar kita dapat hidup di dalam iman kepada Yesus Kristus dan bertahan menghadapi tantangan. Dari iman yang benar, lahirlah teologi yang sehat. Oleh sebab itu, cintailah teologi yang sehat, buanglah teologi yang menyimpang dan menyesatkan, karena dengan itulah kita dapat melayani Tuhan dengan benar dan sesuai firman-Nya.

Selamat beriman: hidup dan bertahan dalam iman kepada Yesus Kristus. Berteologilah dengan benar dan sehat, agar orang lain menjadi sehat bugar, bahagia, dan mengamalkan kasih persaudaraan dengan tulus ikhlas. Tuhan Yesus menopang kita semua.

Salam Bae….

SIKAP HIDUP DALAM MELAYANI

Menyadari bahwa pelayanan yang kita kerjakan adalah bagian dari iman, semestinya kita tetap konsisten untuk setia melayani Tuhan. Persoalan-persoalan yang tampak ke permukaan bukan menjadi pemicu tawarnya iman kita, atau bahkan menjadikan kita pesimis terhadap segala sesuatu yang “berbau” pelayanan. Kenyataan telah menunjukkan kepada kita bahwa kehidupan di dalam Tuhan Yesus tak terpisahkan dari (1) sikap hidup yang benar, (2) sikap hidup yang mau melayani, (3) sikap hidup yang rela berkorban, (4) sikap hidup yang berani menghadapi tantangan dan persoalan dalam pelayanan, dan (5) sikap hidup yang pantang menyerah dalam melayani.

Sikap hidup yang semacam itu dapat membentuk karakter kita menjadi semakin kuat, berbobot, dan berpengaruh. Tak dapat dipungkiri bahwa seringkali kita menjadi batu sandungan dalam hal “sikap hidup”. Yang satu merusak yang lain, dan yang lain merusak yang lain lagi. Pelayanan yang telah membaik, diubah menjadi memburuk. Rasanya nilai kredibilitas dan integritas tak digubris; hanya ingin memuaskan hawa nafsu dan keinginan duniawi; mengorbankan pelayanan “demi sesuatu” yang dianggap bernilai.

Barangkali kita belum seberapa memahami apa itu pelayanan. Yang lain memahaminya sebagai ajang menonjolkan kehebatan diri; yang lain mengharapkan imbalan; yang lain melihatnya sebagai kesempatan untuk memulai apresiasi karunia dan talenta yang Tuhan berikan; yang lain lagi masih mempertahankan nilai integritas dan kredibilitas. Ada banyak sudut pandang dalam memahami pelayanan. Kita yang melayani dapat mendaftarkannya sesuai dengan pengalaman dan panggilan.

Di setiap momen hari raya gereja, para pelayan memang terlibat sibuk. Mulai dari pembentukan panitia, proses pembuatan proposal pencarian dana, dekorasi, memasak, dan menyiapkan segala sesuatunya agar acaranya berjalan dengan baik. Tak sedikit kendala yang dihadapi, tetapi karena komitmen untuk melayani, semuanya teratasi, meski menyisahkan sedikit masalah.

Melayani memang unik. Pula menghasilkan pengalaman yang berharga. Kita mengumpulkan fragmen pelayanan menjadi satu “buku bacaan kehidupan” yang dapat dibagikan kepada sesama kita. Kita pun menjadi berkat bagi mereka. Tak sedikit dari kita yang telah menorehkan hasil pelayanan yang terbaik. Ada jiwa-jiwa yang dimenangkan; ada jiwa-jiwa yang dipuaskan dengan pemberitaan firman Tuhan; mereka dipulihkan dari kehidupan yang rusak, relasi yang hancur, dan kekecewaan yang mendalam. Kita sebagai pelayan Tuhan Yesus, pun harus memperhatikan hal ini. Kita dipanggil untuk melayani tidak hanya menciptakan narasi terbaik, gaya retorika yang mumpuni, tetapi harus benar-benar menyederhanakan berita Injil ke dalam proses kehidupan orang percaya.

Kita mendorong orang-orang percaya untuk hidup dalam iman dan bagaimana mempertahankan iman. Kita tahu bahwa zaman sekarang ini memiliki sejumlah tantangan yan besar. Jika kita kurang berhikmat, Injil yang diberitakan akan terkikis habis oleh tantangan zaman. Kita perlu menciptakan berbagai terobosan dalam berkhotbah, dalam melayani, dalam berelasi, dan dalam menyusun program-program pelayanan gereja.

Dengan demikian, kita siap menghadapi tantangan zaman tanpa kehilangan identitas iman kita, siap untuk hidup dalam iman dan siap mempertahankan iman. Keduniawian dan kesulitan yang muncul seringkali melemahkan pengharapan kita kepada Kristus Tuhan. Akan tetapi, sebagaimana kita telah hidup dalam iman, doa dan pengharapan kepada Kristus Yesus tetap menjadi senjata kita untuk melawan keduniawian dan kesulitan tersebut. Kristus senantiasa memberikan kita kekuatan dan hikmat untuk dapat menghadapinya.

Sikap hidup yang benar mewarnai bentuk-bentuk pelayanan kita. Pelayanan terhubung erat dengan sikap hidup yang benar. Itulah panduan iman; itulah kekuatan iman yang sejati. Sikap hidup yang mau melayani adalah sebuah kerelaan iman. Iman mengarahkan kita kepada pelayanan yang berkenan kepada Tuhan. Jika kita diberikan karunia untuk melayani, maka melayanilah dengan baik dan setia.

Sikap hidup yang rela berkorban adalah bagian yang tak terpisahkan dari pelayanan. Semua orang percaya yang melayani harus berkorban. Jangan hanya mau menikmati hal-hal yang enak dan menyenangkan saja. Sikap hidup yang berani menghadapi tantangan dan persoalan dalam pelayanan sangatlah diperlukan. Ada yang menyerah dan akhirnya merusak pelayanan. Berani berhadapan dengan tantangan adalah tanda dari iman yang kuat.

Sikap hidup yang pantang menyerah dalam melayani merupakan bukti bahwa kita mencintai pelayanan yang diberikan kepada kita. Memang, masalah dan tantangan selalu ada saat kita melayani. Tetapi itu bukan berarti kita kecewa dan kemudian meninggalkan pelayanan. Kita dihimpit oleh berbagai kepentingan dan kebutuhan. Tawaran demi tawaran yang menggiurkan mungkin saja mencoba menarik kita untuk meninggalkan pelayanan yang dirasa tidak menguntungkan, merugikan diri sendiri, dan terkesan kita menjadi miskin dan kekurangan. Kita punya perbedaan perspektif tentang hal ini. Tetapi yang perlu digarisbawahi adalah “kita tidak tahu apa yang akan terjadi dengan pilihan kita di masa mendatang”. Tuhan yang memanggil kita untuk melayani pastilah Ia akan menolong dan memberkati kita. Tinggal bagaimana kekuatan iman kita untuk bertahan dan setia.

Ada rekan sepelayanan saya yang pernah ditawarkan dengan jenis pelayanan yang menarik, memiliki jaminan ekonomi yang mantap, dan bahkan jika bergabung bisa langsung pergi ke Israel. Tawaran semacam ini tampaknya menggiurkakan, tetapi pilihan semacam itu terkesan “diukur” dari kemapanan sedangkan hidup kita ada di dalam tangan Tuhan. Pro kontra tentang pelayanan telah membuat perbedaan bahkan mengerucut sampai kepada hal-hal personal.

Bukan itu poin saya. Jika kita terpanggil untuk melayani, maka kita tentu yakin bahwa Tuhan yang kita layani sanggup memberikan “yang terbaik” menurut Dia  dan bukan menurut kita. Seringkali kita mengukur “yang terbaik” versi kita sendiri dan menafsirkannnya seolah-olah itulah versi Tuhan. Hati-hatilah dengan pemahaman semacam ini.

Marilah kita melayani Tuhan dengan setia, siap berhadapan dengan tantangan dan hambatan. Tuhan yang telah memanggil kita untuk melayani, Dialah yang “menyediakan segala sesuatu” yang perlu untuk kita. Tetaplah hidup dalam iman kepada Kristus Yesus dan tetap mempertahankan iman di sepanjang kehidupan dan pelayanan kita.

Salam Bae….

Sumber gambar: Unsplash dan lainnya.

ANTARA HIKMAT DAN IMAN: Refleksi Mazmur 107:43 dan Ibrani 11:1

Kehidupan manusia ditandai dengan dua hal yaitu menilai segala sesuatu dan melakukan segala sesuatu. Seringkali, apa yang dinilai tidak dilakukan. Apa yang dilakukan manusia bukanlah berdasarkan penilaian bahwa hal itu benar. Pengabaian semacam ini telah menggejala di kalangan Kristen, baik para pendeta, majelis, maupun jemaat. Akibat dari lemahnya hikmat dan iman, orang Kristen terjebak (atau terjerumus) ke dalam kubangan dosa. Anehnya, ada yang senang berenang dalam kubangan tersebut tanpa memikirkan bagaimana mencari cara atau jalan keluar dari kubangan dosa.

Ada satu kisah, di mana seorang gadis disukai oleh dua orang pria. Pria yang pertama memang berpacaran dengan gadis tersebut. Namun, karena alasan bahwa sang gadis sering disakiti, maka ia memutuskan hubungan dengannya dan beralih ke pria lainnya. Pria kedua lebih perhatian dan “cool”. Sang gadis sangat jatuh cinta dengannya. Akan tetapi, pria pertama cemburu dan adu mulut dengan sang gadis. Sang gadis bersikeras untuk tidak lagi menjalin hubungan dengan pria tersebut. Akibatnya, sang pria memutuskan bahwa jika ia tidak mendapatkan cinta sang gadis, maka tak seorang pun dapat memiliki sang gadis. Akhirnya, sang pria mencekik mantan pacarnya sampai mati.

Dari kisah di atas, sang pria memiliki penilaian terhadap kasus yang menimpanya. Namun ia melakukan sesuatu di luar kontrolnya karena tergores oleh emosi yang sangat tinggi. Maklum, sang gadis adalah wanita yang sangat dicintainya. Lalu, mengapa ia membunuhnya padahal ia sangat cinta? Apakah orang lain tidak berhak mendapatkan cinta sang gadis jika hubungan mereka telah putus? Apakah sang gadis tidak berhak memutuskan hubungan mereka ketika sang pria selalu menyakitinya?

Jika kita analogikan kisah di atas dengan konteks hikmat dan iman, maka peran hikmat adalah melakukan berbagai pertimbangan. Hasil pertimbangan harus selaras dengan firman Tuhan. Ketika selaras maka di situlah peran iman untuk segera melakukannya atau mewujudkannya. Pertimbangan sang pria dalam kasus di atas bukanlah pertimbangan yang matang. Ia bersifat egois dengan anggapan bahwa dari pada sang gadis dinikmati oleh laki-laki lain lebih baik sang gadis dibunuh saja agar tak seorang pun dapat menikmatinya termasuk dirinya karena dirinya tidak mendapat kesempatan menikmati sang gadis dikarenakan sang gadis tidak lagi menyukainya.

Siapa yang berhikmat, pasti memegang sesuatu. Sesuatu itu adalah prinsip-prinsip Alkitab. Apa yang dipegang tentu haruslah dilakukan. Tidak hanya sekadar ada dalam genggaman tangan, tetapi harus dibagikan kepada semua orang. Itulah prinsip relasi antara hikmat dan iman. Seperti yang diungkapkan dalam Mazmur 107:43, “Siapa yang mempunyai hikmat? Biarlah ia berpegang pada semuanya ini, dan memperhatikan segala kemurahan TUHAN.” seseorang harus memegang segala sesuatu yang terkait dengan hikmat itu sendiri dan tak lupa pula, ia harus memperhatikan segala kemurahan Tuhan. Ketika telah memperhatikannya, maka bagikanlah kemurahan Tuhan kepada semua orang. Itulah iman.

HIKMAT: MEMEGANG SEGALA SESUATU

Dari teks Mazmur 107:43 di atas, maka saya mencatat beberapa hal yang dikaitkan dengan pegangan dari seorang yang berhikmat dalam konteks yang dibicarakan pemazmur.

Pertama, seorang berhikmat perlu menunjukkan sikap bersyukur kepada TUHAN karena kebaikan-Nya dan kasih setia-Nya yang ajaib dan tak berkesudahan. Ini adalah pegangan seumur hidup. Mereka yang diberikan hikmat oleh Tuhan haruslah tunduk dan taat pada aturan main-Nya. Dan pemazmur menegaskan bahwa yang menyatakan syukur kepada Tuhan adalah mereka yang ditebus TUHAN, yang ditebus-Nya dari kuasa yang menyesakkan. Jika demikian, setiap orang Kristen yang telah ditebus-Nya, “harus” bersyukur kepada Tuhan sebab Ia sangat baik dan tak tertandingi kebaikan-Nya. Jadi, pegangan pertama adalah “selalu mengucap syukur”. Ini adalah harga mati.

Kedua, seorang berhikmat perlu mempersembahkan korban syukur. Korban syukur di zaman Musa merujuk pada persembahan hewan yang dikurbankan. Namun, pemazmur kemudian merujuk kepada jiwa hancur hancur: “Korban sembelihan kepada Allah ialah jiwa yang hancur; hati yang patah dan remuk tidak akan Kaupandang hina, ya Allah (Mzm. 51:19), “sebab dipuaskan-Nya jiwa yang dahaga, dan jiwa yang lapar dikenyangkan-Nya dengan kebaikan” (Mzm. 107:9) dan “TUHAN adalah baik bagi orang yang berharap kepada-Nya, bagi jiwa yang mencari Dia (Rat. 3:25).

Ketiga, seorang berhikmat perlu menceritakan pekerjaan-pekerjaan Tuhan dengan sorak-sorai! Tidak ada halangan yang berarti bagi mereka yang berhikmat untuk bersaksi dan menceritakan segala pekerjaan Tuhan. Apalagi cari menyampaikannya dengan sorak-sorai. Suatu situasi dan kondisi yang luar biasa menyenangkan dan menguatkan mereka yang mendengarnya. Di sini, penekanannya adalah “siapa yang hidup di dalam Tuhan, pasti memiliki pengalaman pribadi bersama-Nya. Dan itulah yang akan menjadi rujukan utama sebagai ‘isi’ dari kesaksian seseorang.” Di bagian lain Alkitab, juga memberikan rujukan yang sama mengenai “menceritakan tentang Tuhan dan kemuliaan-Nya.

Ceritakanlah kemuliaan-Nya di antara bangsa-bangsa dan perbuatan-perbuatan-Nya yang ajaib di antara segala suku bangsa (1 Taw. 16:24)

Ceritakanlah kemuliaan-Nya di antara bangsa-bangsa dan perbuatan-perbuatan yang ajaib di antara segala suku bangsa (Mzm. 96:3)

Keempat, seorang berhikmat perlu meninggikan dan memuji-muji Dia. Meninggikan Tuhan berarti “bersandar dan mengandalkan dia dalam segala hal.” Memuji-muji Tuhan berarti menyerahkan dan mengakui bahwa hanya Dialah yang patut disembah, diagungkan, disandarkan, dan diandalkan. Meninggikan dan memuji-muji Tuhan adalah buah dari pengalaman bersama Dia. Seperti kata pemazmur: “Dia yang memuaskan hasratmu dengan kebaikan sehingga masa mudamu menjadi baru seperti pada burung rajawali” (Mzm. 103:5). Kalau Tuhan telah memuaskan hasrat kita dengan kebaikan, bukanlah selayaknya kita meninggikan dan memuji-muji Dia?

Kelima, seorang berhikmat berarti memelihara dirinya dalam kebenaran. Kebenaran firman-Nya [Kitab Suci] adalah penuntun, penopang, penghibur, dan sumber kuasa dan kekuatan dalam menghadapi berbagai hal termasuk menghadapi kuasa kegelapan yang seringkali menyamar menjadi malaikat terang. Memelihara diri dalam kebenaran berarti seseorang selalu menggunakan hikmat dan imannya agar terhindar dan terjaga dari segala jenis goda dan cobaan.

Dari kelima hal di atas, iman menjadi salah satu di antaranya. Seorang beriman perlu menunjukkan sikap bersyukur kepada TUHAN karena kebaikan dan kasih setia-Nya yang ajaib dan tak berkesudahan; perlu mempersembahkan korban syukur yaitu jiwa yang hancur; hati yang patah dan remuk; menceritakan pekerjaan-pekerjaan Tuhan dengan sorak-sorai; meninggikan dan memuji-muji Dia; dan memelihara dirinya dalam kebenaran. Baik hikmat maupun iman, kedua haruslah seimbang dan selaras. Apa yang dirujuk oleh hikmat, itu pula yang dirujuk oleh iman.

Dalam catatan penulis Ibrani, iman diartikan sebagai: (1) dasar dari segala sesuatu yang kita harapkan; dan (2) bukti dari segala sesuatu yang tidak kita lihat. Sebagai “dasar dari segala sesuatu yang kita harapkan”, iman mengutarakan sebuah komitmen dan keyakinan serta kesabaran menanti kehendak Tuhan tergenapi di waktu kemudian. Berbicara mengenai harapan, pasti melibatkan sebuah “komitmen dan keyakinan serta kesabaran”. Sebagai “bukti dari segala sesuatu yang tidak kita lihat”, iman mengutarakan sebuah implikasi dari komitmen dan keyakinan serta kesabaran yang tertuang dalam bentuk nyata. Iman memang melihat hal-hal yang secara gambaran saja, yang kemudian terwujud dalam kenyataan. Dalam mempertahankan sebuah “komitmen dan keyakinan serta kesabaran” dibutuhkan hikmat yang tinggi dan mempertimbangkan segala sesuatu agar “komitmen dan keyakinan serta kesabaran” tidak luntur di telan waktu dan godaan.

Antara hikmat dan iman terdapat hubungan yang erat. Antara menilai dan melakukan terdapat titik temu yang kuat antara pertimbangan dan perbuatan. Ibarat seorang nelayan yang melihat pulau kecil. Ia harus mempertimbangkan [hikmat] bagaimana bisa tiba di pulau itu, dengan cara “melakukan [iman] apa yang dipertimbangkannya”. Jika hanya mendayung tanpa mempertimbangkan bagaimana caranya bisa tiba di pulau tersebut, pasti akan menemui jalan buntu. Dengan demikian, hikmat dan iman adalah dua dasar untuk mencapai satu tujuan.

Dalam bagian lain Alkitab, hikmat digambarkan sebagai berikut:

Pertama, mereka yang berhikmat adalah mereka yang takut [hormat dan patuh] pada Tuhan: “Permulaan hikmat adalah takut akan TUHAN, semua orang yang melakukannya berakal budi yang baik….” (Mzm. 111:10). Orang berhikmat berarti memiliki akal budi yang baik.

Kedua, mereka yang berhikmat adalah mereka yang berbahagia dan sejahtera: “Berbahagialah orang yang mendapat hikmat, orang yang memperoleh kepandaian. Jalannya adalah jalan penuh bahagia, segala jalannya sejahtera semata-mata. Ia menjadi pohon kehidupan bagi orang yang memegangnya, siapa yang berpegang padanya akan disebut berbahagia (Ams. 3:13, 17-18).

Ketiga, mereka yang berhikmat adalah mereka yang memiliki pengertian: “Di bibir orang berpengertian terdapat hikmat, tetapi pentung tersedia bagi punggung orang yang tidak berakal budi” (Ams. 10:13); “Hikmat tinggal di dalam hati orang yang berpengertian, tetapi tidak dikenal di dalam hati orang bebal” (Ams. 14:33)

Keempat, mereka yang berhikmat adalah mereka yang benar (melakukan dan mengatakan apa yang benar): “Mulut orang benar mengeluarkan hikmat, tetapi lidah bercabang akan dikerat” (Ams. 10:31).

Kelima, mereka yang berhikmat adalah mereka yang rendah hati: “Jikalau keangkuhan tiba, tiba juga cemooh, tetapi hikmat ada pada orang yang rendah hati” (Ams. 11:2)

Keenam, mereka yang berhikmat adalah mereka yang bersedia mendengarkan nasihat: “Keangkuhan hanya menimbulkan pertengkaran, tetapi mereka yang mendengarkan nasihat mempunyai hikmat” (Ams. 13:10).

Ketujuh, mereka yang berhikmat adalah mereka yang cerdik dan mengerti jalannnya sendiri (berdasarkan pertimbangan akal sehatnya): “Mengerti jalannya sendiri adalah hikmat orang cerdik, tetapi orang bebal ditipu oleh kebodohannya” (Ams. 14:8).

Lalu bagaimana dengan iman? Dalam kitab Ibrani pasal 11, peran dan fungsi (dampak) iman sangat beragam. Berikut saya mencatatnya di sini.

Pertama, mereka yang beriman bersaksi kepada sesama tentang kebaikan dan kemurahan Tuhan.

Kedua, mereka yang beriman mengerti bahwa alam semesta telah dijadikan oleh firman Allah, sehingga apa yang kita lihat telah terjadi dari apa yang tidak dapat kita lihat.

Ketiga, mereka yang beriman mempersembahkan kepada Allah korban yang lebih baik. Memberikan yang terbaik kepada Allah adalah ciri khas orang beriman. Ia tidak merasa rugi sekalipun.

Keempat, mereka yang beriman berkenan kepada Allah. Apa yang dilakukannya selaras (sesuai) dengan apa yang dikehendaki Allah.

Kelima, mereka yang beriman sungguh-sungguh mencari Dia.

Keenam, mereka yang beriman tidak hanya peduli pada diri sendiri melainkan peduli pada keluarganya.

Ketujuh, mereka yang beriman taat pada firman Tuhan.

Kedelapan, mereka yang beriman yakin akan pertolongan dan kepedulian Tuhan di mana pun mereka berada (tinggal).

Kesembilan, mereka yang beriman kuat menghadapi kesakitan dan penderitaan.

Kesepuluh, mereka yang beriman berani mati demi Tuhan dan memiliki keyakinan bahwa mereka akan bersama dengan Tuhan di dalam Kerajaan-Nya.

Kesebelas, mereka yang beriman taat kepada kehendak Allah.

Kedua belas, mereka yang beriman yakin akan masa depan sebab Tuhanlah yang menetapkan masa depan mereka.

Ketiga belas, mereka yang beriman berbuat baik meski berada dalam ambang kematian.

Keempat belas, mereka yang beriman berani menolak kenikmatan dosa.

Kelima belas, mereka yang beriman aberani mengambil risiko.

Keenam belas, mereka yang beriman berjuang meski merasa lelah.

Ketujuh belas, mereka yang beriman berbuat baik kepada utusan-utusan [pelayan-pelayan] Tuhan.

Jadi, berdasarkan uraian tentang mereka yang berhikmat dan beriman, maka patutlah kita mempertimbangkan di mana posisi kita dan apa identitas kita. Kemudian kita berkomitmen untuk melakukan apa yang menjadi tanggung jawab sebagai orang berhikmat dan beriman. Dan ingat, dalam mempertimbangkan (berhikmat) segala sesuatu dan telah memutuskan mana yang sesuai dengan kehendak Tuhan, maka segeralah untuk melakukannya sebagai wujud nyata dari iman kita.

Salam Bae…..

FILSAFAT SEPATU

Sepatu tidak pernah malu dan tak pernah mengeluh. Yang malu dan mengeluh adalah pemakainya. Kita bangga menggunakan sepatu mahal di depan umum, tetapi pada saat sama ada orang yang malu menggunakan sepatu rusak. Kita malu karena pikiran kita beranggapan bahwa orang lain akan menganggap saya aneh padahal tidak sesederhana itu.

Mungkin ada orang yang merasa terhibur ketika kita menggunakan sepatu rusak apalagi sepatu yang menganga seperti buaya membuka mulutnya. Kita malu dan bangga dan perasaan tersebut kita lekatkan pada orang lain. Tapi tidak semua orang berpikir seperti yang kita pikirkan. Kita menggunakan sepatu sesuai dengan keperluannya. Ada sepatu kerja, ada sepatu roda. Ada sepatu olahraga, ada sepatu ke gereja. Ada sepatu santai, ada sepatu style. Ada sepatu perang, ada sepatu gunung.

Sepatu memiliki beragam warna. Sepatu memiliki beragam model. Sepatu memiliki beragam ukuran. Sepatu memiliki beragam harga, dan sepatu memiliki beragam kualitas dan merek. Jika kita memahami filsafat sepatu dalam korelasinya dengan pelayanan Kristen, kadang kita merasa malu dan berpikir bahwa orang lain berpikir itu adalah pelayanan yang kurang mantap. Namun, kita lupa bahwa definisi dan jenis pelayanan tidak diukur berdasarkan apa yang disukai orang lain sebab tidak ada pelayanan yang dapat memuaskan semua pihak. Jadi, pelayanan Kristen itu tumbuh dari kesadaran iman dan pola pikir kita. Kadang, pikiran kita yang kerdil membuat kita malu dan mengeluh sama seperti pemakai atau pengguna sepatu.

Kadang pula, dari konteks sepatu, kita mengukur sukses tidaknya seseorang dengan sepatu yang dikenakannya. Padahal, siapa saja bisa membeli sepatu dengan harga 2 juta atau 3 juta dan seterusnya. Tetapi perlu diingat, sepatu jenis apapun dan harga berapa pun, tetap menginjak tanah yang sama, tetap menaiki tangga yang sama, dan menuruni bukit yang sama. Sepatu mencerminkan jati diri kita tetapi bukan diukur dari harganya yang mahal tetapi diukur dari kepuasan bahwa sepatu yang kita kenakan pas di kaki kita.

Dapat dibayangkan jika ada sepatu yang harganya 5 juta tetapi sempit atau longgar di kaki kita. Orang-orang mungkin tidak akan berfokus pada harga sepatu tetapi pada kaki dan sepatu yang tidak sinkron. Bahkan mungkin saja menjadi hiburan atau lelucon yang memuaskan. Filsafat sepatu ini perlu kita pahami secara baik. Sepatu yang pas membawa kepuasan bagi pemakainya berapa pun harganya. Demikian pula dengan pelayanan kita. Pelayanan yang pas membawa kepuasan bagi mereka yang melayani.

Filsafat sepatu perlu dilihat melalui aspek-aspek berikut ini:

Ada orang yang berniat menggunakan sepatu mahal

Ada orang yang berniat membeli sepatu mahal atau murah meriah

Ada orang yang berniat memerlukan sepatu

Ada orang yang berniat meminjam sepatu

Ada orang yang berniat meminjam sepatu dan tak mau mengembalikannya

Ada orang yang berniat melempar orang lain dengan sepatu

Ada orang yang bermimpi punya sepatu roda

Ada orang yang ingin membelikan sepatu buat pasangannya atau orang yang dikasihinya, dan sejumlah niat, keinginan, dan rencana dengan sepatu yang diinginkannya.

Sepatu tak pernah malu dan mengeluh. Ia setia menemani pemakainya selama pemakainya menggunakannya. Sepatu tidak pernah meminta dirinya untuk dilepaskan. Ia tidak pula meminta undur diri dalam pertemuan atau pun pertempuran.

Sepatu tak meminta dirinya untuk mencelakai orang lain apalagi pemakainya. Meski kita tahu bahwa sepatu kadang menjadi alat untuk melempar orang yang atau menendang orang lain. Setelah manusia memakainya, ia pun dibiarkan sendiri, tanpa hiburan. Ia ditempatkan di sudut ruangan atau bahkan digantung di mana saja.

Sepatu adalah pahlawan tanpa tanda jasa setelah para guru menerima julukan tersebut. Guru yang adalah pahlawan tanpa tanda jasa juga menggunakan sepatu. Ia setia menemani. Sepatu adalah teman setia yang menunjang penampilan dan rasa percaya diri di depan umum.

Filsafat sepatu adalah refleksi dari cara berpikir manusia untuk menemukan makna di balik sepatu yang adalah teman setia; sepatu yang meningkatkan harga diri sekaligus merendahkan harga diri; sepatu yang tidak mengomel. Ia menemani sampai ia sendiri tak lagi dibutuhkan.

Sepatu, engkau adalah sahabatku yang dapat memberiku berkat melimpah dalam pekerjaan dan pelayanan. Pelayanan adalah ladang untuk saya bekerja dengan menggunakan sepatu, entah sepatu bagus, sepatu yang sudah rusak kulitnya atau sepatu yang pas di kaki. Terima kasih sepatuku. I love You.

Stenly R. Paparang. “SEPATU TIDAK PERNAH MALU DAN MENGELUH: MEMAHAMI FILSAFAT SEPATU”

Salam Bae…..

Sumber gambar: Pinterest

CINTA DUA WAJAH

Umumnya, manusia hidup dalam lingkungan multi wajah. Maksudnya, ada orang-orang di sekitar kita yang memiliki dua atau tiga wajah. “Wajah” dipahami sebagai bentuk ungkapan perasaan hati, pikiran, dan emosi. Dalam penerapannya, ungkapan semacam itu menghadirkan identitas wajah entah yang sesungguhnya, atau semaunya (ada maksud di baliknya).

Dua wajah manusia adalah realita yang tak dapat dipungkiri. Seringkali wajah hidup dipoles sedemikian rupa untuk menghasilkan efek samping. Ada yang terpukau karenanya. Ada yang muak terhadapnya. Ada yang penasaran dengannya. Ada yang hati-hati menafsirkannya. Ada yang segera mempercayainya. Ada yang mengabaikannya. Ada yang meludahinya. Bahkan, ada pula yang mengutuknya.

Kita melihat jenis permainan ini dalam fase-fase hidup seseorang. Wajah memiliki dua implikasi. Pertama, ditunjukkannya wajah yang baik, tetapi semestinya tidak demikian. Ada satu wajah yang disimpan di baliknya. Kedua, ditunjukkannya wajah yang sesungguhnya atas nama kejujuran. Wajah kedua adalah persiapan untuk menjelaskan wajah pertama jika ada yang merendahkannya, meremehkannya, atau membuangnya.

Dalam rumah cinta, kita mengunci identitas kita dalam hubungannya dengan upaya menjaga nama baik, menjaga rasa cinta, dan menjamin rasa aman pada kedua belah pikak. Meski tetap terbuka peluang untuk menciptakan dua wajah, bagi mereka yang memegang teguh komitmen cinta kasih, tidak akan menciptakannya untuk kepentingan tertentu.

Terjebak dalam cinta dua wajah kadangkala terjadi karena situasi dan kondisi yang membuka cela terhadapnya. Dua wajah itu “hidden agenda”. Wajah pertama dibuat menjadi dua konteks: di depan wajah lain yang pertama, ia berbuat baik; di depan wajah lain yang kedua, ia lebih berbuat baik (prinsip melampaui untuk tujuan tertentu). Taburan kebaikan pada dua wajah lain yang dicintai atau disukai, rentan terhadap manipulasi.

Bersembunyi dalam manipulasi membendung rasa jujur yang sebenarnya. Menyembunyikan wajah asli untuk tujuan negatif-manipulatif menghasilkan beban perasaan yang dapat merusak kebahagiaan dan iman. Kita berpura-pura baik untuk terlihat lebih baik dari yang lain. Kita berpura-pura peduli untuk tujuan tertentu. Dan pada akhirnya yang tersisa adalah kemunafikan dan cara-cara kotor untuk memuluskan semua agenda penyimpangan rasa.

Cinta dua wajah sangatlah merugikan, meskipun ada yang menganggapnya sebagai keuntungan diri dan nafsu. Pada kenyataannya, semua rasa dan nafsu menjadi satu dalam kedurhakaan dan ketidaknyamanan. Berbagai upaya untuk menutupi wajah yang kedua, memang harus dilakukan jika menginginkan wajah pertama tetap aman dan terkendali. Akan tetapi, yang perlu dicatat adalah kertas-kertas kehidupan yang telah dituliskan kisah cinta dua wajah, toh pada akhirnya akan basah dan sobek jika hujan dari Tuhan turun membasahinya.

Kita tidak boleh melupakan bahwa adalah hujan dari Tuhan yang membasahi kertas-kertas kehidupan yang kotor, entah dengan tujuan membasahi untuk menghapus semua kekotoran itu, ataukah memang Tuhan bermaksud untuk memusnahkannya.

Dalam proses waktu yang panjang atau pendek, upaya untuk memperlihatkan cinta dua wajah tak akan bertahan lama. Akhirnya, kesadaran dan pertobatanlah yang dapat mengakhirinya. Kesadaran akan kesetiaan pada cinta satu wajah, dan pertobatan dari cinta dua wajah.

Muara cinta pada satu sungai hati, tetap dialirkan pada alur sungai itu sendiri. Itu sebabnya, bertahanlah pada cinta satu wajah. Tantangan dan godaan sering datang dengan wajah-wajah baru yang menawan, menarik, dan menggoda. Mereka yang tahu bahwa cinta butuh komitmen dan saling pengertian, perhatian, dan saling menjaga, akan bertahan dalam waktu, bertahan dalam perasaan-perasaan yang muncul, dan bertahan saat wajah-wajah baru mulai bermunculan.

Salam Bae……

Sumber gambar: Pinterest

MENCINTAI HINGGA TERLUKA: Melukis Perasaan Cinta di atas Kertas Kehidupan

Ungkapan hati ditampilkan dalam bentuk perasaan cinta atau sayang kepada seseorang. Dalam keadaan itu, kita mengupayakan sesuatu untuk dapat membuktikan ungkapan hati tersebut melalui tindakan dan perkataan. Tindakan diwujudkan dalam bentuk perhatian dan kepedulian. Sedangkan perkataan diwujudkan dalam pernyataan-pernyataan dan nada-nada cinta kasih yang indah, berkesan, dan sedikit merayu.

Perjalanan cinta seringkali menempuh kerikil-kerikil tajam. Berbalut “materi” mentah ataupun yang sudah jadi, cinta melangkahkan kakinya menuju tujuan bersama; kadang tak punya tujuan, hanya sekadar “happy” saja. Asalkan hati senang, itu cukup.

Lidah – yang memuji-muji kekasih hati – ibarat pena yang menuliskan syair atau puisi, alunan lagu dan apa pun itu, di atas kertas kehidupan. Banyak hal dan banyak cara telah dilakukan untuk “memurnikan perasaan cinta” agar sang kekasih hati dapat memegang teguh perasaan cinta itu.

Semestinya goresan-goresan lidah di atas kertas kehidupan terwakilkan dengan ungkapan hati. Tapi, kadangkala tidaklah demikian adanya. Lain di hati, lain di lidah. Segala usaha telah dicoba untuk memastikan bahwa hati sang kekasih tidak diambil orang , “berpindah tangan”, atau pun ia tertarik dengan yang lain. Usaha itu kadang mengorbankan banyak hal: tenaga, waktu, pikiran, uang, keluarga, sahabat (teman), pekerjaan, dan lain sebagainya. Cinta memang butuh hal-hal itu sebagai pembuktiannya.

Perasaan cinta yang terlampau tinggi dapat mengabaikan nalar dan kondisi diri. Upaya memang perlu, tetapi tampak bahwa upaya seringkali tak berpihak pada kita. Barangkali, ada hal-hal yang perlu dipikirkan secara mendalam tentang apa dan bagaimana menjaga, mempertahankan, dan memurnikan perasaan cinta.

Goresan-goresan masalah dan kesalahpahaman, emosi, tak dihargai, direndahkan, disalahmengerti, membuat luka di atas luka. Kesabaran adalah alat bayarnya agar tak membuat kita gelap mata bahkan bertindak tak seharusnya.

Terluka karena cinta banyak ragamnya. Ada yang rela terluka demi cinta. Ada yang mencintai hingga terluka. Ada yang menyerah pada luka cinta, dan ada yang mengobati luka cinta itu, menunggunya sembuh. Bahkan, jika terluka lagi, usaha yang sama tetap dilakukan. Hingga kematian tak terbendung, cinta tetap terluka, rasa cinta masih tetap tersimpan dalam relung hati.

Adakah kita memahami cinta yang sejati? Adakah kita melihat kedalaman cinta, menyelami rahasia hati? Setiap kita memiliki waktu dan kesempatan untuk melukis perasaan cinta di atas kertas kehidupan. Tak ada yang mendukung kita sepenuhnya, kecuali karena kepentingan. Jika demikian, kitalah “tuan” yang melukis lukisan cinta kita. Buatlah lukisan itu sesuai dengan harapan, potensi diri, dan kondisi diri.

Memang cinta harus diperjuangkan. Tetapi juga harus dipertahankan. Itu pun tidak cukup. Cinta butuh pengertian dan perhatian. Bahkan itu juga tidak cukup. Cinta butuh pengorbanan segala sesuatu. Kita rela “menjual” sesuatu sebagai “harga yang harus dibayar demi cinta”.

Bukankah hal-hal tersebut menciptakan luka di hati? Ataukah kita dengan mudah menyembuhkan luka cinta itu? Tak jarang, beberapa orang mengakhirinya dengan “membunuh cinta dan diri”. Sebegitu kuatkah perasaan cinta, hingga seseorang rela bahkan nekat kehilangan segala sesuatunya?

Memang, mencintai hingga terluka adalah bagian kehidupan dan perjalanan cinta. Tidak semua orang mengalaminya. Tetapi ini bisa menjadi pelajaran kehidupan. Apalagi lembar demi lembar kertas kehidupan telah terisi dengan cerita cinta, jatuh bangun, upaya, kegagalan, kemarahan, kesabaran, emosi, kesalahpahaman, kesalahmengertian, pengkhianatan, penipuan, dan masih banyak lagi.

Mungkinkah kita telah meyakini bahwa cinta yang kita upayakan adalah cinta yang murni, kuat, dan penuh kasih? Ataukah kita masih ragu menafsirkan rasa cinta yang ada? Biarlah guliran waktu menghempaskan semua keraguan, semua kebodohan, semua keegoisan. Dan yang tersisa adalah “cinta yang tulus.”

Dengan tenaga yang ada, kita pun tetap melukis perasaan cinta kita di atas kertas kehidupan. Semua manusia memiliki waktu dan kesempatan untuk melukiskan kehidupan dan cintanya. Kita punya pena sendiri; kita punya kertas; kita punya cinta; kita punya usaha; kita punya kerinduan menyusun kembali kisah cinta.

Kita membangun rumah bagi cinta; di situlah tempat ternyaman bagi kumpulan kertas kehidupan di mana kisah cinta telah tertulis di sana.

Jangan abaikan komitmen. Jangan abaikan cinta kasih. Di mana ada cinta kasih yang murni di situ ada cerita dan kisah terbaik. Apalagi jika itu dilukiskan di atas kertas kehidupan. Terluka karena cinta adalah fakta yang tak dapat dipungkiri, tetapi mengobati luka cinta adalah usaha yang berani.

Itulah yang dapat menjadi catatan kehidupan cinta yang pernah ada, dan lembar-lembar catatan tersebut dapat dibaca oleh banyak orang. Lukisan perasaan cinta di atas kertas kehidupan merupakan daya ingat abadi: kita, cinta, dan luka, semuanya membentuk karakter cinta yang sesungguhnya.

Salam Bae……

Sumber gambar: Unsplash dan Pinterest

Rancang situs seperti ini dengan WordPress.com
Mulai