
Iman mendapati “ruang” untuk menunjukkan kualitasnya melalui beberapa hal, misalnya ruang untuk berelasi dengan kemajemukan agama, ras, dan budaya, ruang menunjukkan nilai tindakan dan perkataan, serta ruang untuk sebuah toleransi. Iman yang dewasa akan melihat ruang-ruang tersebut bukan sebagai ‘ancaman’ melainkan sebuah kesempatan untuk memperlihatkan kualitasnya – sebab secara umum nilai yang diberikan kepada iman seseorang adalah para perkataan, tindakan (yang selaras dengan iman), serta relasi – sebuah tindakan ‘berani’ untuk tampil beda di dalam kepelbagaian narasi iman yang lain.
Beriman secara dewasa tidak dapat dihayati oleh mereka yang bersumbu pendek (pendek pikiran, pendek emosi). Kedewasaan iman tampil untuk memberikan nuansa warna-warna kehidupan yang mencakup moralitas dan spiritualitas yang murni dan tulus, bukan dengan ‘mencari muka’ atau ‘mencari nama’. Ada banyak orang yang merasa ‘paling beriman’ ketika berdoa di tengah jalan, dilihat banyak orang. Merasa bahwa ketika berdoa yang tidak lazim, itu menambah rasa percaya diri bahwa dia orang beriman. Penipuan dan kesombongan semacam ini telah menyulap pikiran orang-orang dan segera memberi nilai bahwa ‘inilah ciri-ciri orang beriman, berdoa di tengah jalan, menonjolkan diri, dan setelah itu kita tidak tahu apa yang akan dilakukannya besok dan seterusnya.’
Kita terbiasa menilai dan melihat rohani tidaknya seseorang dari bagaimana ia menampilkan dirinya berdoa, pamer berdoa dan lain sebagainya. Yesus mengecam tipe orang semacam ini:
“Dan apabila kamu berdoa, janganlah berdoa seperti orang munafik. Mereka suka mengucapkan doanya dengan berdiri dalam rumah-rumah ibadat dan pada tikungan-tikungan jalan raya, supaya mereka dilihat orang. Aku berkata kepadamu: Sesungguhnya mereka sudah mendapat upahnya. Tetapi jika engkau berdoa, masuklah ke dalam kamarmu, tutuplah pintu dan berdoalah kepada Bapamu yang ada di tempat tersembunyi. Maka Bapamu yang melihat yang tersembunyi akan membalasnya kepadamu.” (Matius 6:5-6)
Dewasa iman sesungguhnya tampil dalam beberapa fakta (akan dijelaskan kemudian). Pada dasarnya, pluralisme dan pluralitas agama telah memecahkan pemahaman iman agama satu dengan iman agama lain. Seolah-olah ada jurang pemisah yang begitu dalam, sehingga mereka yang imannya cetek berulah dan merusak tatanan sosial dan tatanan relasional antar-iman. Barangkali, mereka yang bertindak demikian adalah orang-orang yang begitu alergi dengan ‘iman agama lain’ dan merasa harus disingkirkan, dan jika perlu dimusnahkan. Pemikiran semacam ini memang berpotensi merusak kemajemukan, dan tergolong sebagai ‘kaum intoleran’. Mereka memiliki iman yang unik – yaitu iman yang alergi dan berpotensi menciptakan konflik.

Melihat fenomena semacam itu, kita perlu waspada dan mengupayakan untuk beriman secara dewasa. Meski kita tahu bahwa kesalahpahaman sering terjadi. Di lingkup doktrin Kristen, tak sedikit penyesatan, kesalahpahaman, pemahaman yang salah, dan perendahan terhadap doktrin Kristen yang dilakukan oleh mereka yang merasa beriman tapi tak ada otaknya (tak mampu menilai secara sehat, berpikir secara kritis, dan memahami prinsip hermeneutika). Alhasil, penyimpangan dan keyakinan misterius berbalutkan bidat menjadi makanan siap saji bagi mereka yang mencintai ‘dusta’ (kebohongan).
Oleh sebab itu, jangan lekatkan dalam hatimu pemahaman dan konsep yang keliru tentang doktrin-doktrin Kristen (biblika) yang digulirkan dan dikumandangkan oleh mereka yang membenci Kekristenan, yang skeptis terhadap Kekristenan, dan yang menegasikan Yesus, karena hal itu akan membawamu kepada sikap brutalisme dan berdampak pada saling membunuh dan mencaci maki. Lekatkanlah pada dirimu pemahaman dan konsep biblika terkait doktrin-doktrin Kristen yang didasarkan pada fakta dan dokumentasi. Iman dari Tuhan akan menuntunmu pada kehidupan yang berkenan kepada-Nya.
Iman akan membentuk karaktermu sepanjang hayat, menghindarkan dirimu dari sikap membunuh sesama atas nama agama, membenci dan bertindak keras atas nama agama. Itulah makna “beriman secara dewasa”.
Ketika ada orang lain yang mengusik, menghina, merendahkan, dan menegasikan imanmu, jangan terbawa emosi. Kita tahu bahwa iman kita berdasar pada penyataan Allah yang peduli terhadap manusia berdosa dan menebusnya dengan cara-Nya sendiri; jangan membalas kejahatan dengan kejahatan; kita tahu bahwa mereka tersesat dalam kebodohannya dan kepada mereka kita dapat menyebutkan sebagai orang-orang yang merasa bahwa “ignorance is bliss”: kebodohan adalah kebahagiaan. Yang perlu kita tegaskan adalah sikap beriman secara dewasa.
Beriman secara dewasa tampak pada tujuh hal: Pertama, memiliki pemikiran yang solid tentang doktrin-doktrin fundamental. Kedewasaan ini akan selalu siap sedia dalam memberi pertanggungan jawab kepada mereka yang mempertanyakan iman Kristen, meragukan atau menegasikannya.
Kedua, memiliki relasi yang baik dengan sesamanya. Relasi ini bukanlah bentuk kompromi terhadap berbagai ajaran yang menyimpang dari mereka yang menganutnya, melainkan tetap menegur dan menghardik segala bentuk ajaran yang menyimpang (menyesatkan). Relasi dipahami dalam konteks humanitas dan sosiologi.
Ketiga, memiliki sikap hidup yang solid dalam menanggapi berbagai problem kehidupan. Sikap yang solid mampu menolak dosa, mampu menolak kemunafikan, dan mampu menolak berbagai bentuk “tawaran menarik” yang berpotensi merusak nama baik dan pelayanannya di hadapan Tuhan.

Keempat, memiliki peran bagi kemaslahatan banyak orang, baik di keluarga, gereja, dan masyarakat (lingkungan makro). Peran ini dilihat dari bentuk kewajiban sebagai warga negara dan menjamin terciptanya relasi yang harmonis di antara sesama manusia. Peran dari mereka yang percaya kepada Tuhan tidak hanya berurusan dengan aspek spiritualitas, melainkan juga dengan aspek moralitas, relasional, dan kemasyarakatan.
Kelima, membangun jembatan iman dalam konteks disparitas doktrinal di kalangan Kristen. Berbagai denominasi memungkinkan terciptanya disparitas doktrinal. Meski demikian, penegasan doktrinal untuk melawan dan menghardik ajaran-ajaran yang menyimpang perlu dilakukan dan sedapat mungkin tidak menyerang “pribadi” melainkan pada “pemikirannya”.
Keenam, berusaha memberi jawab terhadap berbagai penyesatan, penyimpangan, dan tuduhan terhadap iman (doktrin) Kristen dengan prinsip eksegetikal dan dogmatik yang kredibel, sehingga – setidaknya – kita telah memberi tahu apa yang benar. Selebihnya, biarlah Roh Kudus yang bekerja atas kebenaran yang telah kita sampaikan. Ia akan menggerakkan siapa pun yang dikehendaki-Nya untuk dapat memahami dan menerima kebenaran itu.
Ketujuh, dengan iman yang berhadapan dengan ‘iman yang lain’, kita tetap menunjukkan spirit toleransi secara bertanggung jawab dan memberi ruang kepada keadilan untuk menjalankan perannya. Di sini, segala sesuatu yang terhubung dengan relasi sosial, biarlah ‘keadilan’ yang dipegang oleh pemerintah dapat dihormati, dihargai, dan didukung. Hal ini dapat kita lihat, misalnya, pada bagaimana intimidasi dan diskriminasi bagi orang Kristen untuk melakukan ibadah minggu maupun ibadah pada perayaan-perayaan yang besar, misalnya Jumat Agung, Paskah, dan Natal.
Akhirnya, beriman secara dewasa menjadi tujuan kita bersama. Kedewasaan dalam beriman membuktikan bahwa kita adalah anak-anak Allah yang senantiasa membawa damai dan sejahtera kepada “dunia” secara luas. Yesus Kristus telah memanggil kita untuk tugas yang mulia ini. Yesus berkata:
Berbahagialah orang yang lemah lembut, karena mereka akan memiliki bumi. Berbahagialah orang yang lapar dan haus akan kebenaran, karena mereka akan dipuaskan.
Berbahagialah orang yang murah hatinya, karena mereka akan beroleh kemurahan. Berbahagialah orang yang suci hatinya, karena mereka akan melihat Allah.
Berbahagialah orang yang membawa damai, karena mereka akan disebut anak-anak Allah. Berbahagialah orang yang dianiaya oleh sebab kebenaran, karena merekalah yang empunya Kerajaan Sorga (Matius 5:5-10)
Jangan sia-siakan kesempatan yang diberikan oleh Tuhan untuk menunjukkan kedewasaan iman dalam perkataan, perbuatan (tindakan) dan pemikiran untuk menghasilkan solusi-solusi majemuk dan toleransi. Sebelum terlambat, segeralah berbalik kepada Allah dan tunaikanlah tugas pelayananmu. Tetaplah beriman secara dewasa, baik atau tidak baik waktunya.
Salam Bae..…
Sumber gambar: Pinterest












































