Tampak bahwa cara melihat doktrin sebagai cerminan wajah Kristen—pengikut Kristus—masih merupakan masalah serius, tidak hanya di kalangan jemaat awam, tetapi juga di kalangan teolog. Tentunya “teolog” yang saya maksudkan di sini memiliki perbedaan identitas pada luapan iman yang benar yang dituangkan dalam doktrin, dan luapan imajinasi, spekulasi, skeptisisme, kedunguan, yang dituangkan dalam “a-doktrinal”. Teolog jenis kedua adalah yang saya maksudkan dalam tulisan singkat ini.
Sejatinya, proses keberimanan kita tidak lepas dari sebuah “doktrin”. Itulah pemandu kita untuk tetap melihat kepada subjek iman—yakni Kristus Yesus—secara benar, serius, dan dogmatis. Kita jatuh dan bangun semuanya tergantung pada cara memahami Kitab Suci dan ajaran di dalamnya. Juga tak bisa dipungkiri, di kemudian hari, dalam perkembangannya, kita berkelahi soal doktrin. Pola dan peristiwa ini terus berulang di sepanjang sejarah.
Yang menarik adalah ketika muncul teolog-teolog kelas teri yang menyemburkan air liurnya yang bau itu, kepada para pendengarnya. Dia mulai dengan imajinasi tentang segala sesuatu, kemudian diarahkan kepada sentralisme pemikirannya yang tidak seberapa itu. Lelucon, kebodohan, kedunguan, teologisme, dan ambisiusisme a-doktrinal dimuncratkan bersama air liurnya kepada jemaat yang hidungnya pampat (mampet).
Jelaslah, dengan hidung jemaat yang pampat tadi, tidak bisa mencium bau busuk muncratan air liur sang teolog kelas teri. Alhasil, jemaat meninggal dalam keadaan hidungnya yang disodok pakai kapas pembalut. Fenomena ini sering terjadi di setiap zaman dan generasi. Apakah kita merasakan aroma ini di zaman kita? Yang hidungnya tidak pampat pasti bisa mencium aroma kebusukan teologisme, ambisiusisme, dan amburadulnya a-doktrinal dari para teolog kelas teri.
Dari sini kita belajar, bahwa memahami doktrin tidak semudah mengklaim mendapat inspirasi dari roh kudis, tetapi benar-benar mempelajari sejarah perkembangan doktrin Kristen yang telah dimulai dari zaman para rasul. Jangan tetiba muncul dan mengklaim—karena merasa ‘punya’—pemahaman yang nyeleneh, ngaco, dan beracun. Jemaat pun harus waspada dengan jenis teologisme—ambisiusisme yang dimuncratkan oleh para teolog (para pendeta) kelas teri.
Ini lebih menarik lagi, bahwa ketika teolog kelas teri memuncratkan air liur a-doktrinalnya kepada jemaat awam yang hidungnya pampat tadi, mereka tetap merasa aman dan sejahtera. Lebih dari itu, mereka “bahagiaaaaaaa…iaaaaaaa…..iaaaaaaaa” banget tiada duanya, mengalahkan kacang dua kelinci dan kacang dua bungkus milikku sendiri. Mereka berada pada lingkaran “KITAISME”. Alhasil, bersatulah lingkaran Kitaisme, Teologisme, dan Ambisiusisme.
KITAISME, adalah sebuah konteks perasaan jemaat awam yang tetap merasa hangat dalam pelukan a-doktrinal para pendeta kelas teri. Meski pendeta mereka otaknya miring dan sedikit bergeser—maksudnya ajarannya yang menyimpang dan nyeleneh—mereka tetap merasa bagian darinya. Kitaisme memang begitu kuat, apalagi para pendeta mereka orang berduit. Ngomong apa saja pasti didengarkan. Kitaisme memang masih menguat di gereja-gereja yang “berduit”. Bagi mereka, tidak apalah jika pendeta kami ajarannya bersifat a-dogmatis, yang penting dia baik, murah hati, suka memberi, dan bermoral.
TEOLOGISME, adalah sebuah konteks tentang teologi dan cara berteologi yang mengusung independensi pemikiran seseorang yang cenderung melawan ajaran-ajaran resmi gereja yang telah diwariskan dari zaman ke zaman. Bagi pengusung dan penganut teologisme, yang terpenting adalah kemandirian berteologi tanpa mengaitkan dengan narasi doktrinal yang dipertahankan gereja di sepanjang sejarah.
AMBISIUSISME, adalah sebuah konteks tentang teologi dan cara berteologi seseorang yang mengutamakan ambisinya untuk mendapatkan perhatian, tepuk tangan para peserta, pengagungan, dan pujian-pujian semu. Dengan modal a-doktrinalnya, ia mencoba memperkuat pengaruh ke jemaat awam dengan ambisinya yang besar itu. Alhasil, yang meluber ke permukaan jalanan adalah kesesatan, kekosongan biblika, dan kekusutan dogmatika.
Apakah kita berada dalam lingkungan dan lingkaran ini? Masihkah kita memiliki narasi kitaisme, teologisme, dan ambisiusisme? Jangan menceburkan diri kita ke dalam lingkungan dan lingkaran semacam itu. Kita adalah orang-orang yang diberikan iman dan pengertian oleh Kristus Yesus. Dan oleh karena itu, kita harus tunduk pada kebenaran yang sesungguhnya yang telah diperjuangkan oleh para rasul, para bapa gereja, dan orang-orang yang telah dipakai Allah di sepanjang zaman.
Tinggalkan para pendeta kelas teri yang mengusung teologisme dan ambisiusisme. Mereka adalah perusak iman Kristen; mereka melacurkan dirinya pada narasi dan imajinasi a-doktrinal untuk memuaskan hawa nafsunya. Semoga kita tetap setia pada kebenaran sejati; kebenaran Kristus, Juruselamat kita, yang telah memerdekakan kita dari belenggu dosa dan kematian kekal.
Kepada Dialah kita berpaut dan mengharapkan kemurahan. Kita jangan seperti orang-orang yang berpikir bahwa ketika ‘tuhan’ mereka dihina, segera mereka menolongnya. Kita tahu bahwa Tuhan Yesus adalah Penolong, Penyelamat, dan Penebus. Kita tidak dipanggil untuk menolong Dia, tetapi dipanggil untuk hidup bagi Dia, mengasihi-Nya, melayani-Nya, dan mewartakan Injil-Nya. Jangan mencoba menolong ‘Tuhan’. Apalagi menolong para pendeta kelas teri karena dianggap bahwa dia adalah bagian dari “kitaisme.” Itu salah! Itu keliru! dan itu berdosa!
Jadilah orang Kristen yang kuat dalam iman, pengharapan, dan kasih, sembari tetap memahami, menghidupi, dan mempertahankan ajaran-ajaran Alkitab yang sejati. Jangan sampai hidung kita mampet dan kemudian para pendeta kelas teri sesuka hati memuncratkan air liurnya yang bau, kotor, dan membuat denyut jantung kita terkena racun, kemudian mengalami gangguan bernapasan.
Berbijaksanalah, hidup dalam kebenaran sejati. Jangan lagi dihipnotis dengan air liur yang bau racun, melainkan hiruplah aroma kebenaran Kristus, kekudusan hidup, dan doktrin-doktrin yang benar, yang telah dipertahankan di sepanjang sejarah.
Kita berada di dalam kehidupan, menjalaninya, mempercakapkannya, merenungkannya, memperjuangkannya, bertahan agar dapat beralih dari satu hari ke hari lainnya, merancang masa depan, menikmati kebahagiaan, merasakan kesedihan, keletihan, kekecewaan, luka batin, dan bahkan bergumul dengan tantangan, hambatan, tekanan, dan berbagai bentuk ketidakadilan. Kita pun menafsirkan berbagai gejolak atau kemelut dalam hidup dengan berbagai referensi, pengalaman, doa, iman, agar dapat menemukan suatu “harapan” bertahan hidup dan menikmatinya dengan kelegaan, tanpa beban. Kita dapat menyebut fakta ini sebagai “ombak kehidupan”.
Tetapi, kita terus berhadapan dengan “waktu” dan “kesempatan”. Waktu terus bergulir, tiada henti, sementara kita kadang berhenti sejenak untuk menatap langit sembari berucap permohonan, harapan, dan protes. Sesekali kita menelan ludah, pertanda bahwa ada beban-beban hidup yang berat untuk dipikul, ditanggung, dan dirasakan.
Kesempatan seringkali tiba di depan mata, tapi kita berada dalam posisi tak berdaya, lemah terkulai. Kembali kita menatap langit sembari berucap permohonan, pertolongan, dan topangan dari Sang Khalik. Kita bergegas untuk menjemput kesempatan itu, menjalani prosesnya, menikmati hasilnya.
Pertarungan untuk memecah ombak kehidupan pun tak dapat dihindari. Kekuatan, pertimbangan, dan kesadaran, mendorong kita untuk bertarung bagi kehidupan, mewujudkan masa depan. Dengan lankah tergopoh-gopoh, kita terus saja melangkah menuju titik kesenangan. Sesekali kita tak mempedulikan seberapa besar tantangan yang kita hadapi. Kita masih saja berhadap akan datang pertolongan tepat pada waktunya.
Ombak Kehidupan terkadang kecil, terkadang besar. Kita berada dalam perahu, memegang dayung, menjaga keseimbangan, menatap sekitar, berpikir untuk mendayung ke arah yang tepat. Akan tetapi, seringkali kita salah arah, kurang tenaga untuk mendayung, tertidur pulas di dalam perahu, dan tersadar kembali untuk mendayung.
Pemaknaan terhadap hidup dan ombak kehidupan adalah bagian kita. Tuhan telah memberikan segala potensi kepada kita untuk berjuang menghadapi ombak kehidupan. Keyakinan kita semakin kuat tatkala kita telah melihat pelabuhan semakin dekat. Kegirangan terus memacu dan kekuatan mendayung dipertahankan. Hingga akhirnya kita pun sampai di tujuan.
Ternyata, ombak kehidupan melatih dan menyadarkan kita bahwa masih ada harapan. Tuhan tak meninggalkan kita. Ia hadir memberi kekuatan dan pertolongan agar kita menjadi kuat. Ia tahu batas kemampuan kita. Ia tahu bahwa kita tak sanggup; maka Ia bertindak menolong, menopang, dan menunjukkan kemurahan-Nya.
Ombak kehidupan memberi kita pelajaran tentang apa dan bagaimana kehidupan itu. Kita yang telah memecah ombak kehidupan dapat bersyukur bahwa pada saat yang tepat, Tuhan memperlihatkan kemenangan dan kebahagiaan bagi kita yang tak putus asa menghadapi badai-badai kehidupan.
Memecah ombak kehidupan melibatkan lima aspek penting: Pertama, Keberanian. Kita harus berani menjalani hidup yang dikaruniakan Tuhan. Dan memang adalah tugas kita untuk menjalaninya. Tuhan telah memberikan potensi kepada kita untuk “ada”, “hidup”, “bergerak”, dan “berjuang” dalam hidup ini. Sejak awal Ia berfirman: …. supaya mereka [manusia] “berkuasa” atas ikan-ikan di laut dan burung-burung di udara dan atas ternak dan atas seluruh bumi dan atas segala binatang melata yang merayap di bumi.” … berkuasalah atas ikan-ikan di laut dan burung-burung di udara dan atas segala binatang yang merayap di bumi. … Lihatlah, Aku memberikan kepadamu segala tumbuh-tumbuhan yang berbiji di seluruh bumi dan segala pohon-pohonan yang buahnya berbiji; itulah akan menjadi makananmu (Kejadian 1:26-29). Semua telah disediakan Allah. Dan potensi juga Ia berikan. Dengan demikian, kita harus berani mengembangkan potensi untuk berkuasa dan “mencari makan” karena Ia telah menyediakan segala sesuatunya.
Kedua, Pengharapan. Kita terus berhadap kepada-Nya; kita pasti dapat memecah ombak kehidupan. Pengharapan kita hanyalah pada-Nya. Roma 12:12 menyebutkan: “Bersukacitalah dalam pengharapan, sabarlah dalam kesesakan, dan bertekunlah dalam doa!” Alkitab menyediakan bahan pemahaman tentang pengharapan. Tujuannya agar kita terus berhadap kepada Tuhan. Pemazmur mencatat: “Mengapa engkau tertekan, hai jiwaku, dan gelisah di dalam diriku? Berharaplah kepada Allah! Sebab aku akan bersyukur lagi kepada-Nya, penolongku dan Allahku!” (Mazmur 42:6, 12; 43:5). “Berharaplah kepada TUHAN, hai Israel! Sebab pada TUHAN ada kasih setia, dan Ia banyak kali mengadakan pembebasan” (Mazmur 130:7).
Alkitab juga menegaskan bahwa hanya Tuhanlah pengharapan, sumber air hidup orang percaya (Yeremia 14:22; 17:13; Kisah Para Rasul 24:15; 15:13; 2 Tesalonika 2:16; 1 Timotius 4:10; Ibrani 10:23; 1 Petrus 1:3; 1 Yohanes 3:3). Memecah ombak kehidupan membutuhkan pengharapan. Ya, pengharapan kepada Allah yang hidup.
Ketiga, Keyakinan (iman). Iman memandu kita untuk tetap berharap kepada Tuhan. Dari Dialah kita menerima iman, dan oleh karenanya “kita beriman”. Dalam menempuh perjalanan kehidupan dengan segala suka-dukanya, imanlah yang membantu kita untuk tetap berdiri tegak, menatap langit sembari berkata: “Tuhan, berikanlah aku kekuatan untuk menghadapi ombak kehidupan.”
Keempat, Berserah kepada Kristus Yesus. Ada kalanya kita terkapar tak berdaya, dan pada situasi semacam itu, kita berserah kepada-Nya. Memang, tindakan berserah bukan pada momen-momen terkaparnya kita pada konteks tertentu, melainkan berserah dalam totalitas kehidupan kita. Berserah dapat dipahami sebagai kesadaran akan segala keterbatasan kita untuk menjalani suka-duka hidup, dan membutuhkan Dia, Sang Khalik, untuk menopang, menguatkan, dan membimbing kita menuju keberhasilan, kebahagiaan, dan kesukacitaan.
Kelima, Relasi: Tuhan dan Sesama. Membangun relasi itu penting! Relasi spiritual dengan Tuhan, dan relasi humanitas dengan sesama. Ombak kehidupan dapat kita hadapi bersama, dan Tuhan seringkali memakai sesama kita untuk dapat memberikan pertolongan tatkala menghadapi ombak kehidupan. Memecah ombak kehidupan dapat dilakukan secara bersama. Kebersamaan itu indah. Bangunlah relasi yang kuat dengan Tuhan dan sesama. Itulah yang Ia kehendaki.
Pada akhirnya, kita dilatih oleh-Nya untuk menunjukkan kesadaran kita bahwa Dialah yang merancang kehidupan terbaik kita, merancang masa depan kita, merancang proses kehidupan, termasuk menyuguhkan ombak-ombak kehidupan, supaya kita menjadi kuat, dewasa, dan setia kepada-Nya—yang tetap ada—memberikan yang terbaik menurut kerelaan kehendak-Nya.
Demarkasi dikaitkan dengan proses inferensi (penyimpulan) dari isu yang dibahas. Term “demarkasi” dipahami sebagai: garis batas (memisahkan), penandaan batas-batas sesuatu hal, atau perbedaan yang ditandai kategori tertentu, baik itu suatu peristiwa, prinsip penalaran logis, teks, hermeneutika, konfigurasi, evolusi pemikiran, dan lain sebagainya.
Daniel Cohnitz & Luis Estrada-González dalam An Introduction to the Philosophy of Logic (Cambridge: Cambridge University Press, 2019), 103, melihat kriteria demarkasi dalam konteks logika untuk memberi tahu tentang garis antara ekspresi logis dan non-logis. Istilah demarkasi juga dipahami Gillian Russell sebagai bagian dari argumentasi [Filippo Casati & Daniel O. Dahlstro, Heidegger On Logic (Cambridge: Cambridge University Press, 2022), 15].
Menurut Mario Bunge [dalam Massimo Pigliucci and Maarten Boudry, Philosophy of Pseudoscience: Reconsidering the Demarcation Problem (Chicago: The University of Chicago, 2013), 36], langkah dalam menggunakan demarkasi adalah memilih unit analisis yang paling komprehensif yang mencakup bidang epistemik (pengetahuan). Kriteria demarkasi dalam ruang filosofi, menurut Pigliucci and Boudry, memberi tahu kita apa yang masuk akal untuk dipercaya dan apa yang tidak (Pigliucci and Boudry: 2013, 20).
Secara demarkatif, isu atau fakta yang disuguhkan perlu melihat ekspresi logis dengan didukung oleh argumentasi-argumentasi hermeneutis-historis, kualifikasi epistemik (pengetahuan) tentang segala sesuatu secara solid.
Teori demarkasi memiliki tujuh aspek koheren, yang dapat digunakan dalam proses penarikan kesimpulan, proses pemahaman, dan proses meyakini sesuatu:
Pertama, aspek batasan tindakan. Tindakan seringkali dibatasi pada perspektif saksi mata, para pembaca, para pelaku. Karena adanya perbedaan dalam hal ini, maka demarkasi dibutuhkan.
Kedua, aspek batasan proses. Segala sesuatu memiliki proses, yang kemudian dapat dipahami, dimaknai, diketahui, dan alami. Proses itu terbatas pada kepentingan sesuatu hal. Proses belajar di sekolah tinggi teologi, berbeda dengan proses belajar berenang di kolam renang. Itu sebabnya, dibutuhkan demarkasi proses.
Ketiga, aspek batasan pada hasil penyimpulan. Penyimpulan segala sesuatu terbatas pada cara pandang seseorang akan suatu peristiwa, teks, gerak, visualisasi, bunyi, sejarah, dan lainnya. Hasil penyimpulan dibatasi pada tujuan, keimanan, keberlanjutkan, dan kemanfaatannya bagi kehidupan manusia.
Keempat, aspek konteks. Segala sesuatu memiliki konteks. Singkatnya, “ada konteks” yang mengikat dari semua peristiwa (kejadian) atau hal lainnya. Demarkasi selalu dilihat dari konteksnya. Artinya, konteks adalah navigasi pemahaman, penalaran, dan penyimpulan. Itu sebabnya, demarkasi itu sendiri melibatkan konteks.
Kelima, aspek kategorial. Demarkasi tidak hanya memperlihatkan konteks, tetapi juga aspek kategorial: peristiwa, iman, Kitab Suci, teologi, budaya, pendidikan, golongan, pangkat, identitas, potensialitas, tendensi keilmuan, tendensi kesukuan, tendensi bahasa, politik, ekonomi, dan lain sebagainya. Demarkasi dalam aspek kategorial, sangat mengental dalam hal iman, agama, teologi, dan kitab suci. Perang agama, seringkali disebabkan oleh adanya demarkasi ini.
Keenam, aspek lokus. Demarkasi juga terikat pada lokus. Sejarah Israel berbeda dengan Sejarah berdirinya negara Amerika. Lokusnya berbeda, dan kepentingannya berbeda. Lokus seringkali menjadi dasar pemahaman bahwa evolusi peristiwa dan pemaknaannya, menjadi kekuatan sejarah dan hermeneutik, ketika dikaitkan dengan evolusi agama tertentu.
Ketujuh, selektivitas sumber (peristiwa, identitas pelaku, perspektif, dan lain sebagainya). Suka atau tidak, selektivitas sumber juga menjadi salah satu penggunaan teori demarkasi. Para musuh Kristen, misalnya, menyeleksi sumber-sumber yang menguntungkan bagi mereka. Ketika hendak menyerang iman Kristen, maka mereka menggunakan sumber-sumber dari teolog liberal sebagai acuan kebenaran, padahal justru demarkasi semacam ini bisa berlaku juga untuk agama mereka.
Dengan demikian, teori demarkasi dapat menyelimuti pada mayoritas konteks, baik itu sifatnya historis, tekstual, ucapan, keyakinan, dan lain sebagainya. Demarkasi adalah bukti bahwa kita didorong untuk melihat bahwa selalu ada sisi lain yang bisa digunakan, entah sebagai standar ganda, sebagai siasat mengelabui, sebagai cara untuk mengantisipasi keadaan, atau sebagai cara untuk meneguhkan kebenaran yang diyakini seseorang.
Yang menarik, sebagai penutup tulisan singkat ini, demarkasi secara sederhana bisa dianalogikan seperti berikut: ketika kita melihat seorang perempuan dari depan, kita melihat wajahnya. Sementara yang melibat dari belakang, ia melihat punggung, rambut, dan pinggul atau bokong. Mereka yang melihat dari samping kanan dan kiri, sesuai dengan apa yang mereka lihat. Yang pasti, mereka melihat wajah perempuan separuh (sebelah saja).
Menulis tentang kehidupan setidaknya membutuhkan tiga aspek: pikiran, kesadaran, dan refleksi. Pikiran menyusun rangkaian kata menjadi satu makna atau perspektif; kesadaran menunjukkan tentang apa yang seharusnya dilakukan, dan apa yang seharusnya tidak dilakukan; refleksi menunjukkan sebuah penarikan kesimpulan, pemahaman tentang realitas hidup: baik-buruknya hidup, pasti mendapatkan konsekuensinya. Ketiga aspek tersebut tertuang dalam “Kertas Kehidupan”.
Kertas kehidupan menyuguhkan rangkaian makna atau perspektif kita tentang kehidupan. Di dalam kehidupan itu sendiri terdapat beragam konteks. Kita ada di dalam konteks dan mengembangkannya dengan tujuan agar segala yang baik, menyenangkan, dan membahagiakan, menjadi milik kita.
Siapa yang menulis di atas kertas kehidupan? Tampaknya kita perlu menyebutkan tiga pribadi: pertama, Tuhan; kedua, diri kita sendiri; dan ketiga, orang lain. Dengan iman kita menyadari bahwa Tuhan itu Mahatahu (Mzm. 139); di dalam tangan-Nya terletak nyawa segala yang hidup (Ayub 12:9-10); Ia mengatur segala sesuatu yang ada di alam semesta ini, termasuk kita (Nehemia 9:6; Mzm. 37:24-25). Ia memberi makan (Mzm. 145:16): Ia adil dan penuh kasih (Mzm. 145:17); Ia mengawasi orang jahat dan orang baik (Ams. 15:3). Tuhan melukis (mengukir) umat-Nya di telapak tangan-Nya (Yes. 49:16; bdk. Rm. 8:28-30).
Tuhan pemilik kertas kehidupan. Pada-Nya kita berserah. Dialah yang kita sandari dan kasihi-Nya. Ia mengasihi kita, menopang, menolong, dan mengarahkan kita menuju ke kehidupan yang berkenan kepada-Nya.
Kertas kehidupan telah disediakan-Nya. Kita pun menulis di atasnya. Tulisan dan goresan tinta iman, pengharapan, dan kasih, yang dituangkan pada kertas kehidupan, adalah sebuah pemikiran, kesadaran, dan refleksi tentang apa dan bagaimana seharusnya kita hidup di hadapan Tuhan dan di hadapan manusia. Menulis di atas kertas kehidupan adalah wujud dari ketaatan dan kesetiaan kita kepada Sang Khalik.
Paragraf demi paragraf mungkin telah kita hasilkan. Kita bergelut, bergumul, berjuang, menangis, jiwa tertekan, putus asa, datang kebahagiaan, datang kelegaan, datang bencana, kita berseru, kita berharap, dan masih banyak lagi kisah menarik, kita menantang, kita menyedihkan, yang mendidik kita untuk tetap setia kepada-Nya, bertahan, dan tetap kuat di dalam iman kepada-Nya.
Betapa mengagumkan! Kertas kehidupan yang telah terisi goresan-goresan iman, ternyata membawa kita sampai kepada “titik ini” — titik di mana kita telah ada “di sini”, bersama Dia yang mengasihi kita. Ini sugnguh di luar nalar, luar biasa, dan tak terkira, tak terbayangkan.
Bukankah kita perlu mengucap syukur kepada-Nya karena kita masih ada di “titik ini?” Janganlah gegabah! Janganlah pongah! Janganlah takabur (sombong, angkuh, merasa diri mulia, hebat, pandai)! Nikmati hari-hari ini dengan penuh syukur, kerendah-hatian, dan sukacita. Tuhan tahu apa yang kita kerjakan! Janganlah merasa bisa menipu-Nya. Kita hanyalah debu tanah di hadapan-Nya.
Kertas kehidupan terpampang dan dipampang, di hadapan kita dan orang lain. Kita sendiri diberikan kemampuan untuk menulis kisah-kisah di atas kertas kehidupan. Menulis dengan iman dan perbuatan baik, atau menulis dengan kemunafikan dan kejahatan, adalah pilihan kita masing-masing. Tetapi ingatlah, Allah akan membawa kita ke “pengadilan” (lih. Pengkhotbah 11:9). Tulislah kita menarikmu di kertas kehidupan.
Terakhir, orang lain juga dapat menulis pada kertas kehidupan kita. Kita perlu membedakannya dari dua aspek: pertama, kisah kita adalah gabungan antara keputusan dan komitmen kita untuk menjalani hidup dengan bantuan orang lain; kedua, kisah kita adalah komitmen pribadi untuk meraih masa depan dalam pengertian bahwa segala upaya dan kerja keras diputuskan oleh diri sendiri, dan bukan orang lain, tetapi di dalam kertas kehidupan, kita mencantumkan ejekan-ejekan orang lain yang kita ubah menjadi sebuah motivasi untuk berhasil.
Jadi, orang lain yang ada dalam catatan kertas kehidupan kita memiliki dua kutub: positif dan negatif. Yang satu memberikan dukungan, sementara yang satunya lagi meruntuhkan komitmen dan merusak perjuangan kita. Orang lain boleh ikut dalam tulisan-tulisan pada kertas kehidupan kita, tetapi jangan sampai keseluruhan kertasnya dipenuhi kisah orang lain, atau aturan main yang dibuat orang lain atas diri kita. Sebaliknya, kitalah yang menulis kisah kita, keputusan yang kita ambil, komitmen hidup di hadapan Tuhan, perjuangan yang tak kenal lelah, kerja keras, dan gumul juang, yang membentuk karakter kita sendiri.
Menutup tulisan singkat ini, perlu saya tegaskan kembali bahwa Tuhan, kita, dan orang lain, sama-sama menulis pada kertas kehidupan, tetapi ada perbedaan substansial antara kita dengan Tuhan. Sebab Tuhanlah yang memberi kita kehidupan, sehingga kita dapat menjalaninya.
Kita patut merenungkan apa yang termaktub dalam Kitab Ayub: “Karena Ia tahu jalan hidupku; seandainya Ia menguji aku, aku akan timbul seperti emas” (Ayb. 23:10). Tuhan memberikan yang terbaik. Didikan-Nya membawa kita kepada kebaikan, kemenangan, dan kebahagiaan.
Pada akhirnya, kita patut merenungkan apa yang diungkapkan oleh Pemazmur bahwa kita ini fana, jika Tuhan memberitahukan batas umur kita. Itu sebabnya, jangan sombong atas semua pencapaianmu, semua hal yang engkau miliki. Itu semua akan sirna, jika Tuhan “turun tangan”. Inilah pernyataan dari Pemazmur yang membuat kita untuk senantiasa merenungkan hidup ini dan menuliskannya pada kertas kehidupan:
“Ya TUHAN, beritahukanlah kepadaku ajalku, dan apa batas umurku, supaya aku mengetahui betapa fananya aku! Sungguh, hanya beberapa telempap saja Kautentukan umurku; bagi-Mu hidupku seperti sesuatu yang hampa. Ya, setiap manusia hanyalah kesia-siaan.
Ia hanyalah bayangan yang berlalu! Ia hanya mempeributkan yang sia-sia dan menimbun, tetapi tidak tahu, siapa yang meraupnya nanti.
Dan sekarang, apakah yang kunanti-nantikan, ya Tuhan? Kepada-Mulah aku berharap” (Mazmur 39:5-8)
“Pikiran membawa kita ke mana saja.” Ungkapan ini bisa dimaknai sesuai selera perspektif kita. Kenyataannya, perspektif kita terhadap segala sesuatu adalah bukti bahwa “pikiran membawa kita ke mana saja”. Entah pikiran kita sendiri, atau pikiran orang lain (dalam berbagai bentuk seperti: perkataan langsung, tulisan [buku, majalah, dll.], gambar, suara, gaya, video).
Proses kehidupan yang kita jalani, hasilnya, buahnya, pengaruhnya, konsekuensinya, juga dipengaruhi oleh pikiran. Kekuatan pikiran menemukan jalan yang semestinya ia lalui dan temui. Pikiran memberi kita selera; pikiran memberi kita hasil dan manfaat; pikiran memberi kita rasa (cinta, rindu, benci, dendam, kecewa); pikiran memberi kita air mata (meratapi, mengingat peristiwa atau kenangan tertentu); pikiran memberi kita kesadaran, entah akan kesalahan dan kemunafikan kita, ataukah kebaikan dan kemurahan hati kita yang perlu dikembangkan; pikiran memberi kita tanjakan kehidupan, juga turunan kehidupan; pikiran memberi kita kehancuran, kebahagiaan, kesedihan, sukacita, dan penyesalan.
Pikiran adalah “peta kehidupan”. Kita membawa diri kita bersamanya; kita tumbuh berkembang bersama pikiran; kita layu dan mati bersama pikiran; kita dihempaskan oleh pikiran kita sendiri. Jika pikiran adalah “peta kehidupan”, maka kita perlu membaca peta itu, jangan tersesat, jangan salah pilih rute hidupan. Kitalah yang membedah pikiran kita sendiri, sebelum membedah pikiran orang lain.
Dalam proses pembedahan pikiran itu, kita dapat memberikan analogi-analogi tentang kehidupan, yang mengarahkan kepada pilihan-pilihan yang tepat, antisipasi, dan kewaspadaan. Analogi kehidupan diperlukan karena beberapa alasan:
Pertama, kita membutuhkan perbandingan antara satu hal dengan hal lain untuk melihat kepentingannya bagi kehidupan kita sendiri. Utamanya memang “bagi kita sendiri”, sebelum pindah tangan ke orang lain. Kita ingat perkataan Yesus: “kasihilah sesamamu manusia seperti dirimu sendiri.” Ada prioritas, yaitu diri kita sendiri.
Kedua, kita membutuhkan perbandingan antara satu hal dengan hal lain untuk mendorong kita memilih yang terbaik bagi tindakan saat ini, besok, yang berdampak bagi kebahagiaan. Pilihan-pilihan kehidupan memang harus ada, dan kita yang harus juga memilih salah satunya. Sebagai peta jalan, pikiran kita mengarahkan ke arah yang kita pilih, kehendaki, dan antisipasi. Pikiran memang membawa kita ke mana saja, dan dalam hal ini, “ke mana” kita melangkah dalam sebuah pilihan, ditentukan oleh iman, kasih, dan pengharapan kita di dalam Kristus Yesus.
Ketiga, kita membutuhkan perbandingan antara satu hal dengan hal lain untuk memaksa kita mengambil keputusan untuk sesuatu yang mendesak. Ada fase dalam hidup, di mana kita diperhadapkan dengan situasi dan kondisi yang mendesak. Fase ini memaksa kita untuk memilih dan mengambil keputusan yang sulit. Di sini, pikiran kita bekerja secara keras untuk mempertimbangkan untung-rugi, sehat-sakit, rusak-tidaknya, benar-salahnya, sampai-tidaknya, bahagia-kecewa, sakit hati-merelakan, putus asa-menahan rindu, dan lain sebagainya.
Pilihan-pilihan itu dibedah dalam pikiran dengan proses yang cepat. Analogi tentang pilihan-pilihan hidup merupakan bagian dari proses membedah pikiran kita sendiri. Apa yang kita hasilkan, bergantung dari kecermatan dan ketelitiannya.
Keempat, kita membutuhkan perbandingan antara satu hal dengan hal lain untuk memberikan pilihan terbaik bagi orang lain dengan menerima segala konsekuensinya. Dalam hal tertentu, kita memutuskan sesuatu untuk orang lain, dan tentu, menerima segala konsekuensinya. Fakta ini umumnya terjadi pada konteks “percintaan”, “pacaran”, “pertemanan”, “persahabatan”, “perselingkuhan”, dan “perceraian”. Pada akhirnya, kita membedah pikiran kita untuk kepentingan orang lain, merelakan, mengikhlaskan, menangisi, dan rela sakit hati demi “dia”. Atau sebaliknya.
Beberapa contoh berikut ini mungkin memperkuat pemahaman kita mengenai konteks ini. Satu penggalan kalimat dalam sebuah lagu: “Relakanlah, kupergi darimu, usah kau tangisi perpisahan ini. Biarkanlah kupendam di hati, kan kubawa semua, cerita kita ini.” Atau sepenggal lahu lawas yang dinyanyikan oleh Chrisye: “Pergilah kasih, kejarlah keinginanmu, selagi masih ada waktu. Jangan hiraukan diriku. Aku rela berpisah, demi untuk dirimu. S’moga tercapai, s’gala keinginanmu.”
Kelima, kita membutuhkan perbandingan antara satu hal dengan hal lain untuk merelakan sesuatu yang mungkin berpotensi melukai hati, hidup, dan relasi, sebagai pertimbangan logis dan atau spekulatif. Kurang lebih saling terkait dengan beberapa contoh di atas. Kita membanding-bandingkan (dalam analogi) antara satu dengan lainnya meski hasilnya melukai hati, hidup, dan relasi kita. Pilihan-pilihan, apa pun itu, selalu memiliki konsekuensinya. Kita mungkin bebas berkata-kata, bebas bertindak, bebas berekspresi, bebas ke mana saja, tetapi kita juga musti ingat bahwa ada konsekuensi dari setiap tindakan-tindakan atau pilihan-pilihan kita.
Memang pikiran membawa kita ke mana saja karena ia adalah peta kehidupan. Akan tetapi, kita pun perlu tetap waspada dalam membedah pikiran kita, menawarkan analogi-analogi tertentu bagi masa depan dan untuk sesuatu yang lebih baik. Membedah pikiran, menganalogikan kehidupan sangat penting, tidak saja bagi diri kita, spiritualitas dan moralitas kita, tetapi juga bagi orang lain.
Pikiran dan kehidupan tak terpisahkan. Itu sebabnya ketika membedaH pikiran, jangan lupa juga menganalogikan kehidupan yang kita jalani, karena memang kita ada dalah kehidupan yang sekarang, dan kebutuhan analogi-analogi penting untuk melihat peluang (kesempatan), masa depan, implikasi, konsekuensi, dan apa pun itu, sejauh yang dapat memberikan manfaat bagi kita.
Dalam kesemuanya itu, kenakanlah Tuhan Yesus Kristus, seluruh perlengkapan senjata Allah, belas kasihan, kemurahan, kerendahan hati, kelemahlembutan, kesabaran, dan kasih.
Tetapi kenakanlah Tuhan Yesus Kristus sebagai perlengkapan senjata terang dan janganlah merawat tubuhmu untuk memuaskan keinginannya (Roma 13:14)
Kenakanlah seluruh perlengkapan senjata Allah, supaya kamu dapat bertahan melawan tipu muslihat Iblis (Efesus 6:11)
Karena itu, sebagai orang-orang pilihan Allah yang dikuduskan dan dikasihi-Nya, kenakanlah belas kasihan, kemurahan, kerendahan hati, kelemahlembutan dan kesabaran (Kolose 3:12).
Dan di atas semuanya itu: kenakanlah kasih, sebagai pengikat yang mempersatukan dan menyempurnakan (Kolose 3:14).
Paulus menempatkan kuasa Injil berbarengan dengan pengaruh “diri” (si pemberita Injil) sebagai kesatuan yang koheren. Alasan ini dipahami sebagai daya timbal-balik Injil-[dan]-Diri (pemberita) untuk ditampilkan kepada khalayak. Dalam 1 Korintus 9:27, ia menyatakan demikian: “Tetapi aku melatih tubuhku dan menguasainya seluruhnya, supaya sesudah memberitakan Injil kepada orang lain, jangan aku sendiri ditolak.” Ini bisa dipahami sebagai sebuah kesadaran diri bahwa apa yang dilakukan dalam konteks pemberitaan Injil, si pemberita Injil juga perlu menjaga sikapnya dalam hal: pertama, respons terhadap kritikan (1Kor. 9:2-26, [ayat 26: “Sebab itu aku tidak berlari tanpa tujuan dan aku bukan petinju yang sembarangan saja memukul”]); kedua, penyelarasan berita Injil dan tindakan menghidupi berita Injil dalam proses kehidupan dan relasinya di dalam masyarakat atau gereja; ketiga, tidak menunjukkan secara radikal hak-hak yang layak didapatkan sebagai “hasil” dari pemberitaan Injil (1Kor. 9:1).
Memberitakan Injil memberikan berbagai makna bagi diri dan pelayanan kita. Ada aspek-aspek yang mungkin tidak selaras dan tidak disukai oleh orang lain, tetapi aspek-aspek tersebut justru tidak menjadi masalah, bahkan hal itu merupakan “hak-hak” hidup yang normal dan tidak berbenturan dengan prinsip kekudusan (1Kor. 9:4-9).
Semua pekerjaan kita dilakukan dalam pengharapan. Demikian ungkap Paulus: “pembajak harus membajak dalam pengharapan dan pengirik harus mengirik dalam pengharapan untuk memperoleh bagiannya. Jadi, jika kami telah menaburkan benih rohani bagi kamu, berlebih-lebihank kalau kami menuai hasil duniawi dari pada kamu? Kalau orang lain mempunyai hak untuk mengharapkan hal itu dari pada kamu, bukankah kami mempunyai hak yang lebih besar? Tetapi kami tidak mempergunakan hak itu. Sebaliknya, kami menanggung segala sesuatu, supaya jangan kami mengadakan rintangan bagi pemberitaan Injil Kristus” (1Kor. 9:9-12).
Yang menarik adalah prinsip pengharapan tersebut, dimaknai oleh Paulus sebagai “lakukan—dapatkan”. Ini tampak dari pernyataan berikut: “Tidak tahukah kamu, bahwa mereka yang melayani dalam tempat kudus mendapat penghidupannya dari tempat kudus itu dan bahwa mereka yang melayani mezbah, mendapat bahagian mereka dari mezbah itu? Demikian pula Tuhan telah menetapkan, bahwa mereka yang memberitakan Injil, harus hidup dari pemberitaan Injil itu” (1Kor. 9:13-14).
Semakin menarik! Paulus memperlihatkan hak-hak sang pemberita Injil, tanggung jawab dalam bekerja dan melayani, dan memberikan pengertian bahwa para pelayan Injil berhak mendapatkan bagian darinya, meski pada praktiknya tidaklah dilakukan untuk menghindari hal-hal yang tak diinginkan. Itulah yang Paulus tegaskan: “Tetapi aku tidak pernah mempergunakan satupun dari hak-hak itu. Aku tidak menulis semuanya ini, supaya akupun diperlakukan juga demikian. Sebab aku lebih suka mati dari pada…! Sungguh, kemegahanku tidak dapat ditiadakan siapapun juga!” (1Kor. 9:15).
Justru Paulus menilai dan memutuskan bahwa yang terpenting bukanlah menerima hak-hak itu sebagai upah yang layak, melainkan bagaimana keberanian dan tanggung jawabnya dalam memberitakan Injil itulah yang lebih penting. Paulus sendiri menyatakan: “Kalau demikian apakah upahku? Upahku ialah ini: bahwa aku boleh memberitakan Injil tanpa upah, dan bahwa aku tidak mempergunakan hakku sebagai pemberita Injil” (1Kor. 9:18).
Ia tidak memegahkan dirinya karena berhak menerima semua itu. Tetapi ia dengan rendah, tegas, bahwa Injil adalah lebih utama dari apa pun: “Karena jika aku memberitakan Injil, aku tidak mempunyai alasan untuk memegahkan diri. Sebab itu adalah keharusan bagiku. Celakalah aku, jika aku tidak memberitakan Injil. Kalau andaikata aku melakukannya menurut kehendakku sendiri, memang aku berhak menerima upah. Tetapi karena aku melakukannya bukan menurut kehendakku sendiri, pemberitaan itu adalah tugas penyelenggaraan yang ditanggungkan kepadaku” (1Kor. 9:16-17).
Jadi, memberitakan Injil tidak melulu soal bagaimana kita memenangkan orang lain untuk dibawa kepada Kristus Yesus, tetapi juga berbicara tentang respons konteks dan teladan (sikap) yang baik. Menurut Paulus,
“Sungguhpun aku bebas terhadap semua orang, aku menjadikan diriku hamba dari semua orang, supaya aku boleh memenangkan sebanyak mungkin orang. Demikianlah bagi orang Yahudi aku menjadi seperti orang Yahudi, supaya aku memenangkan orang-orang Yahudi. Bagi orang-orang yang hidup di bawah hukum Taurat aku menjadi seperti orang yang hidup di bawah hukum Taurat, sekalipun aku sendiri tidak hidup di bawah hukum Taurat, supaya aku dapat memenangkan mereka yang hidup di bawah hukum Taurat.
Bagi orang-orang yang tidak hidup di bawah hukum Taurat aku menjadi seperti orang yang tidak hidup di bawah hukum Taurat, sekalipun aku tidak hidup di luar hukum Allah, karena aku hidup di bawah hukum Kristus, supaya aku dapat memenangkan mereka yang tidak hidup di bawah hukum Taurat. Bagi orang-orang yang lemah aku menjadi seperti orang yang lemah, supaya aku dapat menyelamatkan mereka yang lemah. Bagi semua orang aku telah menjadi segala-galanya, supaya aku sedapat mungkin memenangkan beberapa orang dari antara mereka” (1Kor. 9:19-22).
Injil memang dapat memberikan dampak. Dampak pertama adalah orang-orang dapat menerima Injil. Dampak kedua, orang-orang dapat menolak Injil. Dampak ketiga, orang-orang dapat menerima sang pemberita Injil, dan dampak keempat, orang-orang dapat menolak sang pemberita Injil. Jika demikian, sang pemberita Injil perlu memperhatikan sikap hidupnya, apakah selaras dengan Injil atau tidak.
Dalam hal adanya keselarasan antara berita Injil dan sikap hidup berpotensi dapat ditolak, apalagi jika tidak ada keselarasan di antara keduanya? Inilah yang Paulus ungkapkan. Bagi Paulus, “Segala sesuatu ini aku lakukan karena Injil, supaya aku mendapat bagian dalamnya” (1Kor. 9:23). Ada hasil dari Injil; tidak saja hasilnya adalah mereka yang menerima dan percaya kepada Injil Kristus, tetapi juga penerimaan terhadap si pemberita Injil. Bukankah ini sangat harmonis dan luar biasa? Jangan sampai berita Injil diterima, tetapi diri kita tidak diterima atau ditolak.
Paulus memberikan analogi yang bersifat dorongan untuk menguasai diri dan berlari pada tujuan: memperoleh mahkota yang abadi: “Tidak tahukah kamu, bahwa dalam gelanggang pertandingan semua peserta turut berlari, tetapi bahwa hanya satu orang saja yang mendapat hadiah? Karena itu larilah begitu rupa, sehingga kamu memperolehnya! Tiap-tiap orang yang turut mengambil bagian dalam pertandingan, menguasai dirinya dalam segala hal. Mereka berbuat demikian untuk memperoleh suatu mahkota yang fana, tetapi kita untuk memperoleh suatu mahkota yang abadi” (1Kor. 9:24-25).
Sebagai gambaran terakhir, Paulus menyatakan bahwa dirinya tidak berlari tanpa tujuan dan bukanlah seorang petinju yang sembarangan saja memukul (1Kor. 9:26). Memberitakan Injil pasti memiliki tujuan. Demikian pula tindakan-tindakan kita (totalitas sikap hidup) pun memiliki tujuan. Jangan mengabaikan salah satu darinya. Memberitakan Injil dan menjadi teladan adalah kesepadanan yang sungguh harmonis, kuat, dan logis. Itulah tawaran “Teologi Injil-Diri” yang disuguhkan Paulus kepada kita di zaman ini.
Pada akhirnya, mengikuti Paulus, kita perlu melatih tubuh dan menguasainya seluruhnya, supaya sesudah kita memberitakan Injil kepada orang lain, jangan kita sendiri yang ditolak, ditinggalkan, dan tidak dijadikan teladan lagi. Berusahalah untuk menyeimbangkan antara Injil dan diri kita agar keduanya menjadi koheren, harmonis, dan memiliku kuasa dan pengaruh bagi orang lain. Teologi “Injil-Diri” hanya dimiliki oleh mereka yang menyadari akan keseimbangan antara Injil dan teladan diri yang berpatokan pada Injil itu sendiri.
Manusia adalah makhluk berpikir yang di dalamnya ia dapat memahami, menilai, memutuskan, mempertimbangkan, mengabaikan, menolak, dan menerima segala sesuatu yang diamati, dirasakan, direspons, diminati, diteliti, dan sebagainya.
Dalam perkembangannya, proses berpikir manusia mengalami perkembangan yang ditentukan oleh lima aspek: pertama, aspek penyerapan pengetahuan di dalam konteks khusus; kedua, aspek empirikal terbatas; ketiga, aspek relasi; keempat, aspek otodidak; dan kelima, aspek belajar dalam konteks tertentu (melalui guru, dan sebagainya).
Dari lima jenis perkembangan, tentu cakrawala berpikir manusia menjadi berubah. Tanda perubahan dapat dinilai berdasarkan perkataan, pemikiran, tindakan, relasi, dan karya. Itu sebabnya, memahami makna cakrawala berpikir, dan bagaimana mengembangkannya merupakan tindakan yang sangat baik.
Cakrawala berpikir manusia dinilai berdasarkan tujuh aspek: pertama, cakrawala spiritual; kedua, cakrawala kultural; ketiga, cakrawala pengetahuan umum yang didapatkan melalui otodidak; keempat, cakrawala doktrin agama; kelima, cakrawala imajinasi; keenam, cakrawala analitikal melalui penelitian, kajian ilmiah; ketujuh, cakrawala komunikasi, di mana seseorang mendapatkan sesuatu dari hasil komunikasinya (dialog, debat, diskusi, bertukar pikiran, dan bentuk lainnya).
Setiap aspek dalam cakrawala tersebut memiliki keuntungan tersendiri, tantangan dan hambatan tersendiri pula. Ketika manusia menempatkan dirinya dalam salah satu aspek cakrawala tersebut, ia dapat memberi dirinya asupan pengetahuan umum dan khusus yang memberikan pengaruh bagi tindakan, ucapan, dan harapan.
Sejatinya, proses berpikir manusia dalam ruang lingkup aspek-aspek cakrawala tadi, dapat membentuk jatidiri seseorang. Apa dan bagaimana dirinya ditentukan bagaimana ia memanfaatkan aspek-aspek cakrawala tadi. Alhasil, nilai diri dan kehidupan menjadi terikat pada cakrawala berpikir.
Zaman modern sekarang ini membentuk pola pemahaman kita bahwa manusia, dengan cakrawala berpikirnya dapat menyentuh teknologi dengan level kesadaran dan pemberian diri untuk menggunakannya. Cakrawala kesadaran diri untuk menggunakan segala sesuatu termasuk teknologi canggih menawarkan dampak positif dan negatif atas diri seseorang.
Tidak tertutup kemungkinan bahwa orientasi cakrawala berpikir manusia tidak melepaskan dirinya dari “konteks” di mana konteks itu sendiri menyiratkan sebuah perspektif (cara pandang) seseorang akan segala sesuatu yang terjadi di dalam konteks tersebut. Alih-alih memahaminya sebagai sebuah nuansa (kemampuan memahami adanya sesuatu yang terjadi) faktual di dalam ruang dan waktu, cakrawala berpikir pun dapat menjembatani konsep dan tafsir kita untuk menentukan langkah-langkah kehidupan.
Cakrawala —cara pandang atau keluasan pandangan terhadap sesuatu hal — berpikir kita ikut andil dalam upaya mencapai kesuksesan hidup. Benturan-benturan kecil maupun besar pada ruas-ruas jalanan kasar, melatih pikiran dan pemahaman kita untuk merasakan didikan dari benturan-benturan itu agar kaki kita diarahkan kepada tujuan yang hendak kita capai.
Latihan-latihan kehidupan di dalam konteksnya masing-masing, berpotensi menjerumuskan cakrawala berpikir kita dalam kerugian, keberdosaan, dan kesedihan. Tetapi juga berpotensi memberi dan merangkul kita dalam kesuksesan, kebahagiaan, dan kepuasan. Ternyata, cakrawala berpikir memberikan nilai dan rasa pada kehidupan yang kita jalani.
Dengan begitu, upaya untuk tetap menghargai potensi dari cakrawala berpikir, menjadi landasan kehidupan di masa kini, besok, dan masa depan. Kita tidak boleh menjerumuskan diri kepada hal-hal yang tak bermanfaat dan merugikan diri sendiri, di mana cakrawala berpikir menjadi penentunya.
Kita siap berhadapan dengan tantangan. Akan tetapi, keberanian tidaklah cukup. Dibutuhkan ketelitian, komitmen, dan iman kepada Sang Khalik agar dapat menjalani tapak demi tapak pada jalanan kasar di depan kita. Keyakinan akan bermanfaatnya cakrawala berpikir kita adalah hasil dari kerja keras, kekritisan, dan relasi kita dengan dunia yang luas ini.
“Hiasan orang muda ialah kekuatannya, dan keindahan orang tua ialah uban” – Salomo – (Amsal 20:29). [Tulisan ini telah diterbitkan pada buku ulang Tahun Pdt. Dr. Kembong Mallisa’ yang diterbitkan oleh Penerbit DELIMA, tahun 2013].
Aksentuasi tulisan ini berorientasi pada hidup dan etika terhadap orang yang telah berusia lanjut. Hidup dan etika adalah dua hal yang krusial. Bisa dikatakan bahwa dua hal tersebut adalah suatu dikotomi dalam perspektif agama. Perjalanan hidup manusia selalu menekankan “etika” dalam berbagai perspektif masing-masing, entah personal, agama, pemerintah, organisasi, Gereja dan sebagainya. Mengapa etika itu penting? Penting, karena etika merefleksikan citra diri manusia yang adalah gambar dan rupa Allah, tahu yang benar dan jahat, tahu kebaikan, keadilan, hormat kepada TUHAN dan sesama manusia. Tanpa etika, hidup manusia tidak memiliki “keteraturan tatanan hidup yang memadai” sesuai dengan naturnya yang diberikan oleh Tuhan. Pada akhirnya, dedikasi tulisan ini ditujukan kepada Opa Kembong, begitulah panggilan akrab saya kepada beliau, sebagai bentuk penghormatan saya selaku “anak didiknya” sejak beliau mengajar saya dalam kelas teologi tahun 2003, dan hingga sekarang di Delima STT SETIA Jakarta, beliau masih mengajar saya dan sering bertukar pendapat.
Introduksi
Berbicara mengenai hidup, tentu ada beragam pendapat dalam memahami dan memaknai hidup itu. Hidup itu penting dan bermakna, meskipun ada orang yang menganggap bahwa hidup itu tidak bermakna, tapi itulah maknanya bagi orang tersebut, yakni “tidak bermakna”. Bermakna tidaknya hidup itu, bergantung kepada situasi dan kondisi yang dialami atau angle (segi pandangan) seseorang. Dalam konteks ini, saya tidak bermaksud untuk tidak menyinggung soal hidup itu bermakna karena Tuhanlah yang memberi makna dan memampukan manusia untuk dapat menikmati hidup serta berjuang mempertahankan hidup. Maksud saya mengatakan bahwa hidup itu bergantung pada situasi kondisi hanya dalam konteks faktual yang diamati. Tentu sebagai orang Kristen, kedua hal itu juga merupakan faktor yang berpengaruh terhadap makna hidup selain daripada bahwa Tuhanlah yang menjadikan diri kita mampu untuk memahami dan memaknai hidup itu sendiri.
Ketika seseorang merasakan sukacita, gajinya besar, dihargai orang lain, kaya, punya kedudukan, keluarga bahagia, punya usaha, harta benda banyak, disayangi suami atau istri, disayangi oleh anak-anak, disayangi oleh Opa dan Oma (Kakek dan Nenek), punya suami ganteng dan istri yang cantik jelita, maka “tentu” seseorang tersebut menganggap bahwa hidup itu bahagian dan bermakna. Sigmund Freud menulis, “Kebahagiaan dalam artinya yang paling sempit berasal dari kepuasan – sering hal ini berarti terpenuhinya kebutuhan-kebutuhan yang terpendam, yang sangat kuat, dan biasanya berlangsung sementara saja.” Sigmund Freud, Dictionary of Psychoanalysis (New York: Fawcett Publications, n.d.), dikutip oleh Cecil G. Osborne, Seni Mengasihi Diri Sendiri (Jakarta: BPK Gunung Mulia, 2001), 89.
Akan tetapi, hidup itu juga tidak bergantung pada hal-hal lahiriah. Seorang pengusaha kaya raya, pemilik sebuah perusahaan besar di seluruh dunia pun mati karena bunuh diri. Apa yang kurang dari hidupnya? Ketenaran? Harta? Uang? Perusahaan? Karyawan? Tidak tahu apa sebab yang sebenarnya, padahal uangnya berlimpah ruah. Ketika seseorang merasa putus asa, kecewa, ditinggalkan suami atau istri, dibenci anak-anak, tidak dihargai, tidak mendapat kedudukan, gaji kecil, penuh tekanan, stres, menderita, dihina, dicaci maki dan hal-hal semacamnya, maka dapat dipastikan seseorang itu bisa menganggap hidupnya tidak bermakna atau merasa kecewa dengan hidupnya.
PENTINGNYA HIDUP DAN MASALAH DALAM HIDUP
“Kebahagiaan adalah tujuan hidup dari setiap manusia. Jenis kebahagiaannya berbeda. Cara mendapatkannya berbeda. Waktu untuk menikmatinya berbeda pula. Hanya satu yang tidak berbeda secara esensi: ‘Mensyukurinya’. Stenly R. Paparang, Hidup yang Seharusnya: Kumpulan Kata-kata Bijak dan Motivasi Hidup (Talaud, 2010).
“Orang yang menganggap hidup adalah kebebasan untuk berbuat dosa menjadikan pintu kehidupannya menuju kepada kematian.” Stenly R. Paparang, Hidup yang Seharusnya: Kumpulan Kata-kata Bijak dan Motivasi Hidup (Talaud, 2010).
Saya akan menjelaskan terlebih dahulu beberapa hal penting. Pertama, kita hidup adalah karena anugerah TUHAN. Kedua, kita diberikan hidup sejauh TUHAN berkehendak memberikan kepada kita umur panjang. Ketiga, kita harus mensyukuri atau menghargai hidup itu, dan keempat, kita harus berjuang mempertahankan hidup itu.
Keempat hal di atas adalah krusial. Saya hanya memberi aksentuasi pada hal yang pertama dan kedua dan kedua hal inilah yang memiliki kaitan erat dengan judul yang saya ambil sebagai refleksi tentang hidup dan kurangnya etika kepada orang yang telah berusia lanjut.
Hidup adalah anugerah TUHAN. Dan umur kita ditentukan TUHAN. Mati hidup kita ada di tangan TUHAN. Ini prinsip iman Kristen. Tetapi, tidak semua orang Kristen memiliki pemahaman yang demikian. Bagi mereka hidup adalah pesta pora, hidup adalah kesenangan dan sebagainya, hidup hanya membenci dan iri hati kepada sesama, munafik, suka mencari kelemahan orang lain untuk dijatuhkan martabatnya, kadang berani mengatakan bahwa “sampai kapan pun saya tidak akan memaafkan dia” padahal Alkitab jelas mengajarkan bahwa “ampunilah orang yang berbuat salah kepadamu tujuh puluh kali tujuh kali”. Baru dua atau tiga kesalahan yang diperbuat orang lain kepadanya, eh… sudah tidak mau mengampuni lagi.
Akibat dari hal-hal jahat di atas, tentu hidup mereka tidak dibentuk dengan aturan-aturan Alkitab, tidak dibentuk oleh etika Alkitab dan menjadi manusia yang mencintai dirinya sendiri (egoisme).
Prinsip etika adalah hal yang mendasar untuk menjadi orang Kristen selain daripada iman, kasih dan pengakuan kita kepada Tuhan sebagai Pencipta (atau hal-hal lainnya yang fundamental). Kurangnya kesadaran etika tidak juga dilakukan oleh orang muda melainkan juga oleh orang tua, orang yang berpendidikan, atau orang-orang yang duduk di suatu lembaga atau pemerintahan. Kita berharap bahwa yang duduk atau bekerja di suatu lembaga adalah orang-orang yang beretika dan bermoral. Akan tetapi, hal ini kadang-kadang muncul terbalik. Semakin tinggi jabatan seseorang semakin tidak beretika, semakin mencari keuntungan yang tidak benar, tidak tahu sopan santun, seenaknya berbicara di depan orang, bahkan tidak tahu diri. Hal-hal yang demikian bukanlah “hal baru” yang terjadi di sekitar kita.
“Saya berkunjung ke almamater saya untuk berbicara pada acara penyerahan penghargaan akademis. Seusai acara, saya berjalan melintasi halaman kampus ke arah menara “Old Main”. Di sana saya melihat seorang laki-laki berambut putih berjalan dengan hati-hati, tertatih-tatih sambil memegang tongkatnya, sementara para mahasiswa yang tergesa-gesa lalu lalang di sekelilingnya, sehingga membahayakan dirinya.
Ia sudah berusia amat lanjut, hampir 90 tahun. Sebuah jas yang sudah ketinggalan mode menutupi punggungnya yang bungkuk. Saya segera mengenali dia sebagai seorang mantan profesor di universitas itu, seorang yang pernah disanjung di seluruh dunia dalam dekade 30-an untuk karyanya yang merupakan terobosan baru di bidang filsafat. Ia dahulu amat terkenal karena inteleknya yang cemerlang dan wawasannya yang luas.
Kini saya mengamati dia ketika ia berjalan dan tidak seorang pun mengenalinya, para mahasiswa yang bahkan tidak layak untuk membawakan tasnya itu bergegas melewati dia begitu saja. Saya berpikir, “Anak-anak muda ini tidak mengenal dia, tetapi Allah tahu siapa dia.” R. C. Sproul, Mendambakan Makna Diri, terj. Lana Asali Sidharta, (Surabaya: Momentum, 2005), 140-141.
Ketika selesai membaca kisah Sproul, saya sangat sedih dan berpikir bahwa “orang muda sekarang, jika ia tidak menghargai dan menghormati orang yang telah berusia lanjut, adalah orang yang lupa bahwa dirinya akan tua kelak.” Begitu pula dengan para mahasiswa yang dikisahkan di atas, di mana mereka tidak lagi mengenali seorang profesor yang ternama di kampus itu. Sedih rasanya ketika kita tidak dihargai. Sedih rasanya ketika orang lain tidak menghormati kita. Apalah arti sebuah kedudukan, sebuah kepintaran, sebuah kesuksesan, namun orang-orang tidak menghargai kita? Rasanya hancur, sakit dan perih. Siapa yang pernah mengalami hal ini, pastilah ia tahu, bagaimana rasanya ketika tidak dihargai.
Orang muda yang tidak pernah menghargai jasa-jasa orang-orang yang pernah memberikan suatu terobosan, suatu prinsip hidup, apalagi tidak menghargai orang yang telah tua, ia sama sekali menghilangkan bagian penting dalam hidupnya yakni “etika”. Seorang profesor yang dulunya pernah disanjung karena sumbangsih pemikirannya, kini ia tidak dikenali lagi, bahkan tidak dihargai lagi. Ironis memang.
Kemudian, saya kembali merenungkan: Apakah Opa Kembong, di kampus STT SETIA akan mengalami hal yang sama? Akankah mahasiswa di kampus tersebut masih mengenali beliau, atau paling tidak menghargai dan menghormati beliau? Saya tidak yakin akan hal itu, karena menurut saya, orang-orang (termasuk mahasiswa) di STT SETIA pun tidak menjalankan etika Kristen dengan sepenuhnya. Bahkan justru melakukan hal yang berlawanan dengan etika.
Dalam kondisi seperti ini, perlunya kesadaran menilai diri adalah penting. Tidak ada gunanya menyandang “gelar” tertentu tetapi tidak mencerminkan sikap hidup Kristen yang baik dan benar. Mulut penuh hujatan, penuh kemunafikan, penuh kelicikan dan penuh “gosip miring”. Etika perlu ditegakkan, karena TUHAN menciptakan manusia sebagai makhluk yang bermoral dan beretika. Kucing tidak dianugerahi etika dan moral, sapi tidak, monyet tidak, anjing juga tidak, apalagi ayam kampung.
Orang muda perlu beretika, baik di dalam keluarga, lingkungan masyarakat, maupun di lingkungan sekolah. Bagaimana dengan orang muda di STT SETIA? Menurut Sproul, ditinjau dari stigma kebudayaan, kita diyakinkan bahwa dunia adalah milik kaum muda yang agresif, sedangkan orang-orang tua dianggap sudah usang dan tak berguna. Sproul, Mendambakan Makna Diri, 139.
Saya dapat menduga bahwa “kebanyakan” anak muda (termasuk di SETIA) berpendapat sama dengan apa yang dinyatakan oleh Sproul. Bagi mereka, orang tua istirahat saja dan biarkan anak muda yang berkarya. Tak heran, ada yang berkata: “Saatnya yang muda untuk memimpin”.
PESAN ALKITAB BAGI ORANG MUDA
“Kebodohan melekat pada hati orang muda, tetapi tongkat didikan akan mengusir itu dari padanya” (Ams. 22:15).
Zaman sekarang, orang (atau anak) muda adalah anak yang berprestasi, baik di sekolah, maupun di jalanan (tawuran dan mengamen). Anak muda identik dengan hura-hura, pesta pora, kebebasan, lincah, kreatif, inspiratif, suka berkelompok (dan membuat geng), seks bebas, penuh nafsu, aborsi, preman, dan sebagainya. Terlepas dari angle positif atau negatif, anak muda juga mendapat perhatian Alkitab. Dalam Alkitab, ada berbagai prinsip pengajaran dan pedoman kepada orang muda. Orang muda akan menjadi baik jika dididik sesuai dengan apa yang patut baginya. Benar sekali. Penulis kitab Amsal mengerti akan kondisi kejiwaan orang muda.
“Didiklah orang muda menurut jalan yang patut baginya, maka pada masa tuanya pun ia tidak akan menyimpang dari pada jalan itu” (Ams. 22:6). Jikalau orang muda dididik maka tentu akan menjadi baik, dan konten dari didikan itu sesuai dengan yang patut, yang layak, yang sesuai dengan perintah TUHAN, sesuai dengan kehendak TUHAN.
Orang muda akan menjadi baik, santun, dan menghargai hidup dan orang lain adalah karena hasil “didikan”. Bahkan sampai masa tuanya pun ia tidak akan menyimpang. Jika pada masa mudanya ia dididik, maka ia akan menghargai dan mengakui betapa berharganya hidup itu. Pemazmur mengatakan, “Dengan apakah seorang muda mempertahankan kelakuannya bersih? Dengan menjaganya sesuai dengan firman-Mu” (Mzm. 119:9). Paulus menasihati Timotius: “Janganlah seorang pun menganggap engkau rendah karena engkau muda. Jadilah teladan bagi orang-orang percaya, dalam perkataanmu, dalam tingkah lakumu, dalam kasihmu, dalam kesetiaanmu, dan dalam kesucianmu.” (1 Tim. 4:12). Semua aspek teladan yang disebutkan Paulus, merangkum totalitas hidup dan pergaulan orang (anak) muda.
Paulus menyatakan: “Sebab itu, jauhilah nafsu orang muda, kejarlah keadilan, kasih dan damai bersama-sama dengan mereka yang berseru kepada Tuhan dengan hati yang murni (2 Tim. 2:22). Petrus juga menasihati, “Demikian jugalah kamu, hai orang-orang muda, tunduklah kepada orang-orang yang tua. Dan kamu semua, rendahkanlah dirimu seorang terhadap yang lain, sebab: ‘Allah menentang orang yang congkak, tetapi mengasihani orang yang rendah hati” (1 Ptr. 5:5).
Peran orang muda memang penting, tetapi jika ia tidak dididik untuk menjadi lebih baik, mencintai Tuhan dan menghargai hidup, sopan, santun, penuh etika dan bermoral baik, tahu menghargai sesama (termasuk orang yang telah tua). Ingatlah hai engkau yang masih muda: “Belajarlah menghargai sesama dan orang yang telah berusia lanjut, karena dengan demikian engkau telah melakukan suatu hal yang bermakna dan engkau pun akan mengalami hal yang sama ketika engkau tua kelak.”
KRITERIA HIDUP, ETIKA DAN APLIKASINYA BAGI ORANG YANG TELAH BERUSIA LANJUT
Apa yang diharapkan dari perbuatan baik kita? Melatih kita untuk terus melakukannya. Apa yang diharapkan dari terus melakukannya? Melatih kita untuk tidak bosan melakukannya. Apa yang diharapkan untuk tidak bosan melakukannya? Melatih kita untuk bertanggung jawab kepada Tuhan. Apa yang diharapkan dari bertanggung jawab kepada Tuhan? Melatih kita untuk tetap tinggal dalam kebenaran-Nya. Apa yang diharapkan dari tetap tinggal dalam kebenaran-Nya? Melatih kita untuk tetap bertahan sampai pada akhirnya. Apa yang diharapkan dari bertahan sampai pada akhirnya? Untuk memberikan kepada kita upah dan mahkota kehidupan. Paparang, Hidup yang Seharusnya: Kumpulan Kata-kata Bijak dan Motivasi Hidup.
Kriteria Hidup
Hidup memang perlu dijalani. Cara menjalaninya memiliki beragam cara. Inilah yang akan membawa kita kepada kriteria hidup. Tanyakanlah kepada puluhan orang, dan Anda akan menerima beragam kriteria tentang hidup. Hidup adalah anugerah, hidup adalah perjuangan, hidup adalah kepuasan perjalanan yang melelahkan, hidup adalah kebahagiaan, dan hidup penuh dengan kesukaran dan penderitaan. Itulah kriteria hidup, menurut saya.
Kriteria Etika
Kriteria etika (dari perspektif Kristen), dalam pemahaman saya mencakup beberapa hal, yakni: Pertama, takut akan Tuhan dan menghormati kekudusan nama-Nya; kedua, mengasihi Tuhan dan sesama; ketiga, melakukan hal-hal baik sesuai dengan prinsip Alkitab; keempat, mencintai lingkungan; kelima, bertanggung jawab dalam segala aspek hidup dan keenam, mempertahankan prinsip-prinsip Alkitab sampai Tuhan memanggil kita.
Korelasinya [dengan Opa Kembong]
Penghormatan kepada Orang yang Telah Berusia Lanjut
Menghormati orang yang lebih tua, saya rasa, hampir semua suku, bangsa dan budaya di dunia menerapkannya dalam kehidupan yang dijalani. Menghormati orangtua kandung adalah perintah TUHAN seperti yang termaktub dalam kitab Keluaran 20:12, “Hormatilah ayahmu dan ibumu, supaya lanjut umurmu di tanah yang diberikan TUHAN, Allahmu, kepadamu.” Prinsip ini mendasari semua point of view orang Kristen karena itu adalah perintah TUHAN. Di samping itu, “mengasihi sesama” juga adalah perintah Tuhan. Rasul Paulus menulis, “Hendaklah kamu saling mengasihi sebagai saudara dan saling mendahului dalam memberi hormat.”
Lalu di mana ayat Alkitab untuk menghormati orang yang tua yang telah ubanan atau berusia lanjut? Dalam Imamat 19:32 dituliskan, “Engkau harus bangun berdiri di hadapan orang ubanan dan engkau harus menaruh hormat kepada orang yang tua dan engkau harus takut akan Allahmu; Akulah TUHAN.” Kepada setiap anak muda, belajarlah untuk menaruh rasa hormat kepada orang yang telah ubanan, orang yang telah berusia lanjut. Jika hal tersebut jelas, masihkah kita tidak menghargai orang tua (telah ubanan)? Akankah hal ini terjadi di STT SETIA? Mungkin!
Belajar dari Pengalaman dan Bertukar Pendapat dalam Menanggapi Persoalan Hidup
Saya selalu belajar dari pengalaman orang tua termasuk Opa Kembong. Orang tua lebih banyak “makan garam”. Saya menyerap hal-hal yang baik yang bisa dijadikan pedoman hidup saya ke depan. Bagi saya, jika anak muda ingin mendapatkan banyak hal, entah pengalaman, prinsip, suka duka, penderitaan dan kesukaran hidup, bertukar pendapatlah dengan orang tua. Saya seringkali menanyakan banyak hal kepada Opa Kembong tentang hidup dan prinsip hidup. Pengalaman beliau waktu studi pun dia ceritakan kepada saya. Menanggapi persoalan hidup, seringkali memicu perbedaan pendapat, akan tetapi, kita perlu untuk jeli untuk berpikir dalam mengatasi persoalan hidup dengan cara-cara yang layak. Banyak cara dalam mengatasi persoalan hidup tetapi tidak semua dikategorikan sebagai yang “layak” untuk dilakukan.
Pengalaman bersama Tuhan: Kesetiaan-Nya Tak Pernah Redup Sekalipun
Hidup bersama Tuhan pasti melewati berbagai tantangan, hambatan, penderitaan, kebahagiaan, dukacita dan sebagainya. Opa Kembong telah melaluinya dan itu menjadi pengalaman berharga baginya. Sebagai seorang Pendeta, tentu beliau lebih tahu suka duka hidup bersama Tuhan. Kesetiaan Tuhan tak pernah redup bagi umat pilihan-Nya, bagi hamba-hamba-Nya. Yosua, pada masa tuanya (dan sangat lanjut umur) masih memberikan pengarahan, semangat dan kekuatan kepada seluruh orang Israel, para tua-tuanya, para kepalanya, para hakimnya dan para pengatur pasukannya (Yos. 23:1-16). Ingatlah perkataan Daud yang menguatkan kita, “Dahulu aku muda, sekarang telah menjadi tua, tetapi tidak pernah kulihat orang benar ditinggalkan, atau anak cucunya meminta-minta roti (Mzm. 37:25).
Belajar Menghargai Orang yang Berusia Lanjut
Sproul menyatakan bahwa Allah menuntut kita untuk menghormati dan menghargai warga lansia [lanjut usia] kita secara khusus (lihat Im. 19:32; Ams. 23:22; 1 Tim. 5:1). Setiap kali saya melihat kepala beramput putih atau wajah yang keriput, saya merasakan kekaguman yang timbul di dalam sanubari saya. Seorang lansia layak mendapat respek saya, sekalipun tak ada alasan lain di samping usianya itu. Ia telah bertahan. Sproul, Mendambakan Makna Diri, 141-42.
Inilah yang seharusnya kita, sebagai anak muda lakukan yakni memberikan hormat (respek) dan kesantunan terhadap orang yang berusia lanjut sebab sudah jelas apa perintah Alkitab bagi kita.
Sproul juga menjelaskan bahwa “para lansia berhak atas penghormatan. Adalah hak sakral mereka untuk memperolehnya, dan kewajiban mutlak kita untuk memberikannya. Merekalah kekuatan dan kontinuitas keluarga, ibu bapa dari akar-akar martabat kita sendiri.” Sproul, Mendambakan Makna Diri, 142.
BEBERAPA TITIK LEMAH PADA DIRI ORANG MUDA
Orang muda yang lupa bahwa ia akan menjadi tua kelak.
Konteks ini adalah konteks umum, di mana para anak muda ketika melihat orang yang telah tua, kurang menaruh rasa santun dan hormat. Anak muda kadang malu menolong orang yang telah tua bahkan suka menghindar dan pura-pura tidak tahu, karena gengsi. Anak muda lupa, bahwa ia akan tua kelak.
Orang muda yang tidak terdidik dalam soal etika.
Terdidik tidaknya anak muda dalam soal etika, menurut saya berawal dari keadaan dalam keluarganya sendiri. Ketika orangtuanya tidak mengajar dan mempraktikan “etika” dalam kehidupan keluarga, maka ia pun akan melakukan hal yang sama di dalam kehidupan bermasyarakat. Dalam pengamatan saya, banyak anak muda dan tidak tahu etika, sopan santun dan hormat kepada orang yang lebih tua. Itu sebabnya, perlunya orangtua mendidik anaknya sejak dini tentang etika dan menghargai hidup.
Orang muda yang menganggap bahwa ia juga terpelajar dan hebat.
Konteks ini sering terjadi dan menganggap orang tua itu kuno pemikirannya dan sayalah yang hebat karena sudah terpelajar, sudah sekolah tingkat tinggi sehingga ia mendasari dan menilai hidupnya hanya pada ranah “akademik” untuk menghakimi orang tua dan menganggap mereka kuno, kolot dan sebagainya.
Orang muda yang menganggap hidup itu biasa-biasa saja.
Orang muda yang menganggap hidup itu biasa-biasa saja akan merasa tersiksa ketika ia tua kelak. Masa mudanya hanya melakukan hal-hal yang tidak pantas, hal-hal yang kurang berarti. Untuk apa menghargai orang tua dan yang telah berusia lanjut, dan untuk apa belajar etika? Percuma! Saya hidup apa maunya saya lakukan.
PENUTUP
Nabi Musa mengungkapkan, “Ajarlah kami menghitung hari-hari kami sedemikian, hingga kami beroleh hati yang bijaksana. Jika kita menghitung hari-hari kita, itu berarti kita menaruh perhatian penting atas hidup kita. Beroleh bijaksana dikarenakan kita menilai, mengamati, mengevaluasi, mengoreksi hidup kita dan mengisinya dengan hal-hal yang baik sesuai dengan kehendak Tuhan. Semua orang mengakui bahwa hidup itu sulit. Bahkan ketika menghadapi kematian, manusia kadang merasa takut.
Manusia tidak boleh sombong karena pada akhirnya ia akan mati dan dikubur. Apa yang ditabur itu juga yang dituai. Saya berpikir, bahwa mungkin manusia jarang memikirkan tentang “penghakiman” TUHAN pada waktu yang Ia tentukan sehingga mereka sesuka hati mereka melakukan perbuatan-perbuatan jahat tanpa merasa bahwa TUHAN tidak akan menghukum mereka.
Marilah kita belajar menghargai hidup ini. TUHAN telah memberikan kehidupan kepada kita untuk dijalani dengan penuh hikmat dan rasa hormat kepada-Nya. Tuhan pun memerintahkan kita untuk saling mengasihi, saling menghargai dan saling menghormati. Hormatilah orang tua atau yang berusia lanjut. Jangan menganggap rendah nasihat ini. Saudara akan merasakannya sendiri ketika saudara tua kelak. Hidup, jika menerapkan etika secara bertanggung jawab, akan menjadikan hidup kita disiplin, dihargai dan menghargai, dikasihi dan mengasihi, dihormati dan menghormati. Amin.
“Selamat Ulang Tahun yang ke-63 bagi Opa Kembong. Tuhan tetap menyertai Opa dalam hidup yang dijalani, terlebih dalam melayani Tuhan.”
Upaya untuk mengembangkan pelayanan, pengajaran, semangat memberitakan Injil, dan mengatur para pelayan yang sesuai dengan potensinya, merupakan tindakan yang memang seharusnya dilakukan oleh para hamba Tuhan. Mengembangkan hal-hal tersebut membutuhkan semangat dan pemikiran yang baik.
Di sini, saya menyoroti tentang upaya mengembangkan pengajaran. Hal ini penting karena pengajaran Alkitab memiliki begitu banyak manfaat bagi kehidupan spiritualitas kita, bahkan kehidupan relasional kita di dalam keluarga, gereja, tempat, kerja, lingkungan masyarakat mikro maupun makro. Jika demikian halnya, pengajaran yang kita pahami dengan baik, seyogianya dikembangkan dengan baik pula. Pengajaran atau teologi internal gereja harus disuarakan, digemakan, dikembangkan, disebarluaskan, memberikan pengaruh bagi gereja itu sendiri, maupun dunia secara global. Kita menolak gagasan “teologi tanpa ragi”.
Ketika teologi atau pengajaran iman Kristen tidak berkembang, dan tidak dikembangkan, itu dinamakan dengan teologi tanpa ragi, keras. Fakta ini memang bukan pilihan kita. Mereka yang telah menyadari panggilannya untuk melayani Tuhan Yesus, seharusnya memahami apa peran dan tugasnya dalam melayani. Tak dapat dipungkiri bahwa mengembangkan teologi atau pengajaran Alkitab adalah tugas semua orang percaya. Mereka tidak saja mengajarkan tentang ajaran Alkitab, tetapi juga menghidupinya, menjadi teladan dalam perkataan, pemikiran, dan perbuatan.
Tentu kita harus memahami bagaimana seharusnya menumbuhkan iman jemaat dalam konteks pemberitaan firman, pemberitaan Injil dalam pekerjaan misi lintas budaya, dan lain sebagainya. Kita memerlukan ragi dalam melayani. Ragi sebagai pengembang adonan pada roti (Hosea 7:4). Ragi adalah bahan yang dipakai dalam adonan roti atau kue untuk mengkhamirkan atau mengembangkan adonan itu. Ragi adalah gambaran tindakan dan usaha untuk terus melayani dan mengembangkan pekerjaan Tuhan.
Untuk lebih jelasnya, saya merangkum dari berbagai sumber yang menjelaskan mengenai ragi. Berikut penjelasannya. Ragi adalah segumpal adonan yang sudah agak lama dalam keadaan khamir, dengan maksud untuk meragikan gumpalan yang besar yang sudah tersedia. Dalam beberapa teks, ragi mengkiaskan pengajaran yang busuk atau tidak bagi (Matius 16:6; 1 Korintus 5:6-7). Yang menarik, ragi melukiskan hal Kerajaan Sorga (Mat 13:33; Lukas 13:21), pengajaran orang Farisi (Matius 16:6, 12), orang yang mengaku Kristen, tetapi tidak beribadah (1Kor. 5:6-7), guru-guru palsu (Gal. 5:8-9), niat jahat (1Kor. 5:8). Secara kiasan, ragi dipakai untuk menggambarkan sesuatu yang kecil atau tidak terlihat tetapi memiliki pengaruh yang besar.
Ragi dipahami dari berbagai konteks. Di satu sisi, kehidupan spiritual tanpa ragi dalam 1 Korintus 5:8 menekankan sebuah tindakan yang tidak memasukkan hal-hal busuk dan buruk ke dalam diri orang percaya, sehingga digambarkan sebagai “tanpa ragi”. Di sisi lain, ragi dipakai sebagai gambaran Kerajaan Allah dalam hubungannya dengan pewartaan Injil Kristus ke seluruh dunia.
Salah satu sumber (Kamus Alkitab, karangan W. R. F. Browning) menjelaskan bahwa dalam Alkitab ragi mempunyai dua arti yang saling bertentangan. Sebagai adonan khamir yang tersisa dari gumpalan adonan yang terpakai, biasanya dicampurkan pada tepung untuk mengkhamirkannya lebih lanjut lagi. Oleh karena itu, adonan ragi itu dapat dipandang sebagai sesuatu yang hidup yang tidak boleh ikut dibakar dengan korban bakaran di atas mezbah. Atau adonan ragi itu dipandang memiliki pengaruh merusak yang menyebabkan pembusukan. Para rabi Yahudi terutama mempunyai pengertian terakhir ini. Ragi melambangkan perusakan wujud manusia. Demikianlah Yesus mengutuk ragi orang Farisi dan lain-lain (Mrk. 8:15) dan begitu pula Paulus mencela kecongkakan orang Korintus (1Kor. 5:6-8) dan tipu muslihat lawan-lawannya di Galatia (Gal. 5:9). Pada lain pihak, ragi sebagai pemberi hidup digunakan pada perumpamaan tentang ragi dalam Matius 13:33 dan Lukas 13:20-21.
J. D. Douglas, dalam Ensiklopedi Alkitab Masa Kini, menjelaskan, bahwa dalam kehidupan orang Ibrani ragi memainkan peranan penting, tidak hanya dalam pembuatan roti, tapi juga di bidang hukum, upacara dan agama. Ragi dibuat dari dedak halus putih di remas dengan bibit ragi, dari tepung tumbuhan seperti kacang polong, atau dari jelai dicampur air yang tinggal diam hingga menjadi asam. Karena cara membuat roti makin maju, ragi dibuat dari tepung roti di remas tanpa garam, disimpan sampai timbul peragian.
Ragi dalam konteks hukum dan upacara agama tampak pada peraturan Musa (Kel. 23:18; 34:2) yang melarang pemakaian ragi selama Paskah dan hari raya Roti Tidak Beragi (Yunani azumos) (Kel. 23:15; Mat 26:17, dst). Hal ini mengingatkan Israel tentang keberangkatan buru-buru dari Mesir, tatkala tidak ada waktu untuk memanggang roti beragi. Mereka membawa adonan dan tempat meremas tepung dan memanggang roti sambil berkelana (Kel. 12:34 dst; Ul. 16:3 dst).
Douglas menjelaskan, larangan memakai ragi dan madu (Im 2:11), mungkin dibuat karena peragian melibatkan penghancuran dan pembusukan, dan bagi Israel keadaan membusuk menimbulkan kesan kenajisan. Para penulis rabi sering menggunakan ragi sebagai lambang kejahatan dan kebusukan manusia turun temurun (bdk Kel. 12:8, 15-20). Plutarkhus mengulangi pendapat kuno ini tatkala menggambarkan ragi sebagai “benih kebusukan yang membusukkan adonan yang dicampurinya”. Istilah fermentum digunakan Persius untuk “kebusukan”. Mungkin dengan alasan ini pula ragi tidak dipakai dalam korban di mezbah Yahweh; yang diizinkan hanya roti dibuat dari tepung tanpa ragi (masysyot, Im. 10:12). Ada dua kekecualian terhadap peraturan ini (Im 7:13; bnd Am 4:5). Roti bundar beragi menyertai korban syukur, roti batangan beragi dipersembahkan sebagai persembahan unjukan pada Hari Raya Pentakosta.
Douglas menjelaskan, bahwa dalam Perjanjian Baru ragi dipakai dengan arti kiasan yang mencerminkan pendapat lama tentang “busuk dan menimbulkan kebusukan”. Yesus memperingatkan murid mengenai ragi orang Farisi, Saduki dan Herodes (Mat. 16:6; Mrk 8:15). Maksud-Nya, kemunafikan Farisi dan pemahaman yang berlebihan akan yang lahiriah (Mat. 23:14, 16; Luk. 12:1), skeptisisme dan ketidaktahuan Saduki (Mat. 22:23, 29), kebencian dan tipu daya politik Herodes (Mat. 22:16-21; Mrk. 3:6).
Pengertian yang sama terdapat dalam 1 Korintus 5:6 dst, dan Galatia 5:9. Yang pertama menonjolkan pertentangan antara “ragi keburukan dan kejahatan” dengan “roti yang tak beragi kemurnian dan kebenaran”, tapi mengingat arti baru dari pesta lama yaitu bahwa “Kristus, Paskah kita telah dipersembahkan bagi kita”. Maksud ragi dalam perumpamaan Yesus yang membandingkan Kerajaan Allah dengan “ragi yang diambil seorang wanita, dan diadukkan ke dalam tepung terigu tiga sukat sampai khamir seluruhnya” (Mat. 13:33; Luk. 13:21) mengikuti perumpamaan biji sesawi kecil dan lambat tumbuhnya. Makna dari perumpamaan ragi menunjuk pada “pengaruh ragi dalam tepung, tersembunyi, diam-diam, penuh rahasia tapi mempengaruhi seluruhnya secara merata”.
Berdasarkan penjelasan tentang ragi dalam berbagai konteks, tampak bahwa ragi menjadi gambaran penting mengenai banyak hal. Di sini, penekanan saya mengenai teologi tanpa ragi menyiratkan sebuah pesan bahwa teologi tanpa ragi yang baik, menghasilkan kelanusan (ketidakmampuan), tak berdaya, mudah dipengaruhi, lemah pemikiran, iman, dan pengharapan, dan akan berdampak negatif bagi iman, spiritualitas, dan pemahaman Alkitab. Segera terlintas, bahwa hal ini mirip dengan perumpamaan yang Yesus jelaskan yaitu mengenai kisah seorang penabur benih, yang menaburkan benihnya di pinggir jalan, tanah yang berbatu-batu, di tengah semak duri, dan tanah yang subur (Matius 13:1-23).
Tanah di pinggir jalan, berbatu-batu, dan di semak duri adalah gambaran dari mereka yang “tidak beragi” – suatu jenis kehidupan yang tidak berkembang, selalu layu, malas, dan tidak mau bersemangat dalam melayani dan belajar tentang firman Tuhan. Itulah teologi tanpa ragi – tahu tapi tidak mau bertindak.
Teologi tanpa ragi menegaskan tiga fakta utama:
Pertama, kehidupan orang Kristen adalah rangkuman dari hidup beriman dan bertindak. Iman bersifat aktif, dan karena itu iman tidak dapat dipendam, dikuburkan, melainkan dinyatakan dari segala jenis tindakan yang selaras dengan firman Allah. Artinya, iman itu mendorong kita untuk terus aktif dalam mengajar orang lain, berteologi secara sehat, dan mewartakan Injil Kristus kapan pun dan di mana pun. Iman tanpa ragi berarti mati terkapar secara perlahan-lahan. Demikian juga dengan teologi tanpa ragi, dinikmati sendiri, dan pada akhirnya tidak berbuah lebat.
Kedua, menjadi teladan dalam perkataan dan tindakan adalah dua hal yang koheren. Ragi dalam konteks ini menegaskan bahwa perkataan dan tindakan yang beragi berarti akan berkembang dan diterapkan dalam segala aspek pelayanan, kehidupan, keluarga, dan pekerjaan. Teologi tanpa ragi adalah mereka yang tahu tentang ajaran-ajaran Alkitab, tetapi hanya berani kandang, tak mau keluar untuk memberitakan Injil.
Ketiga, teologi tanpa ragi mengabaikan kerinduan untuk orang lain bertumbuh; ia hanya ingin bertumbuh sendiri, egoisme, dan suka memamerkan potensi diri secara negatif. Teologi tanpa ragi juga menjelaskan siapa kita di hadapan Tuhan dan manusia. Kita dinilai oleh siapa saja. Dan untuk mendapatkan nilai yang baik, kita dapat menampilkan gaya hidup yang terbaik. Memang ada yang memperlihatkan gaya hidup yang terbaik dan rohani, tetapi di baliknya menyimpan sikap hipokrit (munafik). Kita tidak perlu memelihara motivasi semacam itu.
Akhirnya, teologi yang benar berisi pengajaran-pengajaran Alkitab yang menegaskan tiga aspek, yaitu: (1) aspek kepercayaan kepada Allah Tritunggal dalam proses pelayanan dan kehidupan secara keseluruhan. Aspek ini menjadi tanda bahwa kita adalah orang yang beriman tidak sembarang beriman. (2) aspek menjalani kehidupan yang benar di hadapan Tuhan dan manusia. Faktanya, hukum yang pertama dan yang terutama memberikan poin korelasional dan konsekuensi logis yaitu bahwa ketika kita mengasihi Allah maka kita juga harus mengasihi sesama kita. (3) aspek realisasi tanggung jawab iman dalam hubungannya dengan menjadi saksi Kristus (Matius 28:19-20; Kisah Para Rasul 1:8).
Menjadi saksi itu tidak mudah. Ada harga yang harus dibayar. Menjadi saksi berarti mampu menyerap berbagai pengajaran atau teologi yang alkitabiah dan secara sadar menerapkannya dalam kehidupan sehari-hari. Sebagai pelayan atau hamba Tuhan, kita terpanggil untuk mengembangkan pengajaran atau teologi yang telah kita pelajari dan pahami. Kita tidak menciptakan teologi tanpa ragi karena kemalasan kita, atau keegoisan kita. Justru kita senantiasa hadir untuk memberikan pengajaran iman dan teladan hidup, mengembangkan semua potensi yang Tuhan berikan, mengembangkan pengajaran/teologi yang alkitabiah, mengembangkan pelayanan gereja, dan lain sebagainya.
Jika kita beriman, dan memiliki tanggung jawab iman, maka kita layak menjadi saksi Kristus Yesus dalam dunia ini. Iman itu bersifat melanus (kelihatan, dapat dilihat) bukan disembunyikan, bukan ditindas, tanpa ragi, justru iman itu harus beragi, berkembang, dan mengupayakan Injil Kristus berjaya di muka bumi ini.
Pelayan Kristen memiliki sejumlah opini, perspektif, dan pengalaman. Opini berbicara tentang bagaimana pendapat atau pendirian seseorang mengenai pelayanan, bagaimama mendapatkan upah dari pelayanan, dan bagaimana bertahan dalam pelayanan. Pada faktanya, “lahan basah” menjadi salah satu alasan mengapa seseorang berjuang dan berusaha untuk bertahan dalam pelayanan. Jika menguntungkan, pertahankan; jika merugikan (secara finansial), tinggalkan.
Perspektif atau sudut pandang, berbicara tentang bagaimana pandangan tertentu seseorang seseorang mengenai pelayanan yang berkenan kepada Allah, bagaimama seharusnya mendapatkan upah yang layak dari pelayanan, dan bagaimana bertahan dalam pelayanan, dalam keadaan apa pun. Perspektif demikian hanya dapat ditemukan pada mereka yang menyadari bahwa panggilan untuk melayani bukanlah mencari keuntungan, bukanlah mencari popularitas, dan bukanlah menipu jemaat dengan iming-iming sorga, bayar persepuluhan supaya diberkati, dan lain sebagainya.
Pengalaman berbicara tentang bagaimana seseorang menceritakan tentang hal-hal yang berharga sebagai pembelajaran, baik bagi dirinya sendiri, maupun bagi orang lain. Artinya, pengalaman dalam melayani, suka-duka yang dirasakan, dapat menjadi catatan imannya dalam mewariskan teladan itu kepada orang lain. Setidaknya, pengalaman yang baik dalam pelayanan adalah buah-buah iman yang sangat berharga.
Tentu, kita tidak mengesampingkan pengalaman lain yang mana seseorang dengan kepiawaiannya mengolah “korupsi iman dan korupsi dana pelayanan” dengan begitu apik, sehingga pada kesempatan lain, ia menggunakan jurus yang sama untuk melanjutkan keberdosaannya yang biadab itu. Alhasil, kehidupannya jelas mencerminkan karakter setan dan berusaha merusak tatanan pelayanan yang ada.
Teologi Rupiah adalah sebutan bagi mereka yang mengupayakan dirinya untuk hidup dari korupsi dana gereja, atau dana jenis lain, yang seharusnya bukan menjadi haknya. Upaya mencari keuntungan yang tidak semestinya, telah menjadi fakta yang menyedihkan. Ada pendeta yang menggertak jemaatnya untuk segera memberikan persepuluhan. Ada pendeta yang menggunakan dana gereja untuk judi online. Ada pula yang menggunakannya untuk kemewahan dirinya sendiri dan keluarganya.
Para perampok ini berjubah rohani memang tampil menarik. Mulut mereka manis, dan menjanjikan hal-hal baik bagi jemaatnya. Penekanan pada persepuluhan yang terkesan memaksa, membuat para perampok ini semakin kaya. Giliran menggelindingkan dana untuk pekerjaan misi di berbagai pedalaman, mereka seolah-olah buta warna atau hilang ingatan.
Teologi Rupiah menampilkan wajah asli para perampok rohani. Mereka menjadi semakin kaya, jemaatnya yang hidup biasa-biasa saja tetap semangat menopang “hura-hura perampok rohani” tersebut. Mereka segar dan gemuk, meskipun mengunyah uang jemaat. Di satu sisi, mereka begitu idealis, di sisi lain, ketika bencana datang melanda, mereka seperti kucing basah tak berdaya, memohon uluran tangan jemaatnya.
Khotbah-khotbah mereka lebih berat ke arah motivasi ketimbang doktrin-doktrin fundamental yang harus dipertahankan sepanjang hayat. Memang tidak keberatan soal itu, akan tetapi, memberi porsi berlebihan terhadap motivasi rohani, akan menimbulkan bahaya tersendiri di zaman digital ini. Apologetika Kristen semakin mencuat akhir-akhir ini, karena disibukkan dengan para pencemooh iman dan ajaran Kristen. Di situlah Gereja harus berbenah diri; memberi porsi yang besar bagi pemahaman doktrin-doktrin yang alkitabiah. Serangan-serangan terhadap iman Kristen semakin gencar, bahkan membabi buta.
Para perampok rohani hanya terus berkumur-kumur ayat-ayat motivasi; tak tertarik pada kepentingan doktrin Alkitab. Jemaat hanya sibuk bagaimana mengatur hidup, tapi mengabaikan ajaran-ajaran yang membangun iman, pengharapan, dan kasih. Asal jemaat senang, persepuluhan lancar, lelucon dan lawakan dalam khotbah terus diupayakan, sembari berdoa, semoga persembahannya banyak yang terkumpul dan dalam jumlah besar.
Motivasi dalam melayani Tuhan menjadi dasar bagaimana kita melihat kebutuhan jemaat. Tidak condong kepada rupiah-rupiah yang harus disabet secepat mungkin. Kita menolak hal semacam itu. Kita mengutamakan upah yang selaras dengan integritas dan aturan main yang berlaku. Kita boleh menerima ucapan terima kasih dari jemaat, tetapi jangan menipu mereka untuk sebuah teologi rupiah. Jangan merampoki jemaat; bangunlah iman mereka, terimalah apa yang mereka berikan, seadanya. Syukurilah. Buatlah diri kita menjadi teladan dalam integritas, dalam kata, dan perbuatan yang berkenan kepada Allah.
Teologi rupiah menjelaskan tiga hal: Pertama, motivasi para pendeta atau pelayanan adalah hanyalah uang semata; bagaimana mendapatkan keuntungan dengan cara-cara tertentu. Motivasi untuk mendapatkan keuntungan dari pelayanan menimbulkan ide-ide kreatif yang jahat untuk meraup kekayaan yang diinginkan. Motivasi sangat menentukan pelayanan kita. Ketika motivasinya negatif, maka tindakan-tindakan yang dihasilkan pastilah yang dibenci Tuhan.
Kedua, upaya untuk mengkorupsi dana gereja dilakukan dengan taktik dan teknik tertetnu. Kerja sama untuk mendapatkan keuntungan negatif, seringkali menjadi masalah dalam jemaat. Kemurnian hati dalam melayani dan mengelola keuangan gereja adalah hal yang penting. Para perampok rohani akan merasa senang jika ada proyek-proyek besar gereja yang mengeluarkan dana yang besar pula. Mereka dengan berbagai cara menentukan pilihan-pilihan untuk bergerak dan memanipulasi berbagai hal, demi tercapainnya cita-cita mereka.
Ketiga, upaya mendapatkan uang yang banyak dengan cara mengutamakan motivasi ketimbang ajaran-ajaran fundamen iman Kristen. Ketidakseimbangan antara keduanya akan menimbulkan problem pada momen-momen tertentu. Juga, mereka dengan semangat mengolah kata-kata agar terkesan rohani dan keren, padahal tujuan mereka adalah supaya jemaat terpanah (terpesona), dan kemudian tergerak memberikan persembahan dalam jumlah besar. Jika jemaat senang, kemungkinan besar mereka tidak segan-segan memberikan persembahan, meski di luar sana masih ada utang yang belum dilunasi. Pemaksaan kepada jemaat agar memberikan persepuluhan telah menjadi hal buruk dalam gereja.
Memberi itu indah, asalkan dengan motivasi yang benar. Para perampok rohani memiliki kemampuan berkata-kata dengan baik agar jemaat termotivasi untuk memberi. Its Ok! Tetapi, jemaat yang tertipu, para perampok yang untung. Itulah Teologi Rupiah: asal ada jalan untuk menipu, di situlah pasti ada duit yang banyak.
Jangan sampai kita terjebak dalam rayuan para perampok yang berjubah rohani. Kita perlu waspada dengan mereka, membaca gerak-gerik mereka, melihat kehidupan mereka sehari-hari; jika mereka sering keluar negeri, padahal sebelumnya tidak, kita patut curiga, tetapi tidak dengan nada menghakimi. Kita perlu mencari tahu fakta yang sesungguhnya agar mendapatkan informasi yang valid.
Jika dana yang mereka miliki hasil dari pelayanan yang jujur (berintegritas), itu hal yang baik. Akan tetapi, jika para pendeta yang sering mengutamakan jalan-jalan santai, bareng keluarganya, sedangkan pelayanan diabaikan, patut dicurigai juga. Hingga akhirnya, jika kita sudah memiliki banyak bukti tentang kecerobohan para pendeta tersebut, maka ambilah langkah seribu alias lari tinggalkan mereka.
Mungkin ada yang menyarankan: jangan lari atau pindah gereja, karena para perampok mungkin saja telah bertobat dengan sungguh-sungguh. Saran itu bisa diterima, tetapi dengan catatan khusus: kita tetap menilai pola hidupnya setiap hari.
Dengan demikian, dari apa yang telah saya paparkan di atas, kiranya dapat memberi kita pengertian dan pelajaran bahwa teologi rupiah bisa menjadi perusak pelayanan, bahkan keluarga. Teologi rupiah menghasilkan para perampok berjubah rohani. Kita tidak boleh terjebak; tetapi senantiasa mengasihi Tuhan, dan tetap menilai pelayanan para pendeta secara benar, agar kita dapat bertumbuh dalam iman dan pengajaran Alkitab.