Proses komunikasi (interaksi) dan relasi mengundang “pikiran” untuk menyusun konsep dan menata konteks. Di setiap komunikasi, kita menyusun konsep: apa yang hendak kita sampaikan, dan berbarengan dengan itu, kita tetap menjaga tatanan konteks agar tidak keluar dari pokok pembicaraan.
Berpikir adalah aktivitas dalam waktu yang terus bergulir. Berpikir menginsyaratkan sebuah komunikasi: internal dan eksternal. Dalam berbagai bentuknya, berpikir mengungkapkan sebuah konteks untuk dapat dikorelasikan dan dikembangkan hingga mencapai pemaknaan yang utuh. Tanpa makna, berpikir menjadi percuma. Tanpa konteks, berpikir hanya “membuang-buang” waktu saja!
Berpikir memungkinkan terjadinya jalinan konteks, menjadi satu kesatuan makna. Kekeliruan makna melalui daya tangkap dan daya paham orang lain terhadap pemikiran kita atau pemahamn yang baik (daya tangkap maksimal) orang lain terhadap apa yang kita komunikasikan, bergantung pada tiga aspek sebagai berikut:
Pertama. KONFIGURASI KONTEKS. Apa yang dibahas, dikaji, dikomunikasi, dianalisis, menjadi dasar dari tindakan atau bahkan pemahaman akan sesuatu (objek). Konfigurasi (bentuk) konteks adalah syarat utama dalam berpikir sebab itulah yang akan dikomunikasikan atau disampaikan. Singkatnya, pokok pikiran kita yang menjadi landasan komunikasi adalah sebuah konfirmasi dari konfigurasi konteks. Bukankah segala sesuatu memiliki konteks?
Kedua. REALITAS KORELASIONAL. Setiap fragmen dari topik bahasan atau kajian, memenuhi alur korelasi. Realitas ini tak bisa dihindari atau diabaikan. Dalam komunikasi kita sebenarnya mengkorelasikan pemaknaan yang satu dengan pemaknaan yang lainnya untuk menjadikan satu konstruksi konteks, sehingga dapat menghindari kesalahpahaman. Realitas korelasional adalah kesatuan pemikiran yang dengannya kita menawarkan gagasan (ide), maksud dan tujuan, dan lainnya, melalui tutur kata (komunikasi), atau bisa juga dalam sebuah tulisan.
Ketiga. EVOLUSI KONTEKS. Pokok bahasan senantiasa mengalami evolusi dalam pembahasan, analis, atau kajiannya. Awal sampai akhir konsisten dengan pokok pikiran. Apa yang kita ucapkan di awal, itu juga yang terkonfirmasi di akhir. Ingatlah slogan: “Mulutmu, harimaumu”. Atau seperti yang ditegaskan Yesus: “Jika ya, hendaklah kamu katakan: ya, jika tidak, hendaklah kamu katakan: tidak. Apa yang lebih dari pada itu berasal dari si jahat” (Matius 5:37). Penekannya di sini adalah: “Konsitensi melahirkan konsekuensi.”
Berdasarkan tiga aspek di atas: Konfigurasi Konteks, Realitas Korelasional, dan Evolusi Konteks, kita mendapatkan sebuah depiksi dari proses berpikir yang dituangkan dalam satuan komunikasi (diskusi, interaksi, mengkritik, menegasikan, menyetujui, mempertimbangkan). Satu contoh yang penting saya suguhkan di sini. Pernyataan: “Aku cinta padamu” adalah sebuah konsep perasaan. Pernyataan ini diungkapkan dalam konteks “rasa suka, rasa sayang, rasa ingin memiliki”, sehingga pernyataan tersebut mendapatkan sandaran yang pas, tepat, dan tajam – menusuk hati, menggetarkan jiwa. Contoh ini menegaskan prinsip menyusun konsep menata konteks.
Berpikir berarti kita hendak menyusun konsep dan menata konteks. Menyusun konsep adalah dasar komunikasi. Apa yang hendak kita sampaikan? Kemudian, tindakan menata konteks dipahami sebagai proses menjaga agar tetap konsisten pada konteks yang dibicarakan (disampaikan), tidak bias, tidak menyimpang, tidak ‘kutu luncat’, dan tidak kabur.
Dengan demikian, proses berpikir membuat makna dan maksud dari perkataan kita dapat dipahami – dan secara kontinu – berevolusi menjadi kesatuan makna. Konsep dan makna adalah dua hal yang koheren. Kitalah yang menentukan konsep, dan kita pulalah yang menata konteksnya menjadi bangunan makna yang elegan dan menarik hati.
“Menilai”—apa pun bentuknya—adalah fakta umum yang terjadi dalam kehidupan manusia. Segala sesuatu dapat dinilai berdasarkan perspektif atau kriteria—singkatnya—keinginan seorang. Penalaran manusia dalam berbagai variasinya menciptakan fitur-fitur tertentu untuk dijadikan pedoman, pegangan, dan harapan. Tak sedikit dari kita bertumpu pada prinsip penalaran hidup untuk satu tujuan tertentu.
Terkadang, hasil penalaran itu sendiri bertolak belakang dengan kenyataan. Hal ini disebabkan oleh “ego” yang mengendalikan pikiran untuk menilai segala sesuatu. Kita tahu bahwa hidup itu tak sesederhana yang kita lihat. Ada fakta menarik lainnya yang tak terjangkau oleh mata-indrawi kita. Itu sebabnya, dibutuhkan sebuah prinsip kehidupan untuk dapat menyerap sesuatu yang dikaitkan dengan kegunaan bagi hidup yang dijalani.
Kita bergerak, berpikir, berbicara, dan merealisasikan potensi diri tidak lepas dari konteks “ego”. Menakar ego itu penting sejauh bertumpu pada sebuah prinsip kesadaran dan demarkasi. Menjaring angin terjadi karena proses menakar ego melampaui ambang batas kesadaran dan fakta penilaian. Baik hidup kita maupun hidup orang lain layak dinilai. Perbedaannya adalah: penilaian diri sendiri dimaksudkan untuk melihat apakah potensi internal kita memiliki manfaat bagi perubahan, perbaikan, peningkatan, dan pengembangan kehidupan diri sendiri. Sedangkan penilaian terhadap hidup orang dimaksudkan untuk memberi kita pelajaran berharga untuk menegur, menyadarkan, atau mendorong kita untuk menjadi lebih baik, seperti yang Tuhan kehendaki.
Analogi-analogi “diri sendiri dan orang lain” bisa berpotensi positif atau negatif. Positif berarti kita menarik pelajaran penting dari hidup orang lain. Negatif berarti kita membenarkan diri sendiri lebih baik daripada orang lain. Padahal kenyataannya tidaklah demikian. Ego itu menyimpang ke kiri, sedangkan hati nurani ke kanan. Yang tersisa berjalan lurus adalah: kesombongan.
Ego dapat dipahami sebagai suatu tindakan yang “sadar akan diri sendiri atau konsepsi seseorang tentang dirinya sendiri”. Ego yang berlebihan pertanda ekspektasinya melenceng. Ada empat jenis ego.
Pertama. Ego alien atau egodistonik, yaitu suatu konsep ideal diri seseorang yang tidak dapat diterima oleh egonya. Ekspektasi melampaui potensi diri atau kemampuan diri. Menaruh harap yang tinggi terhadap diri sendiri tetapi potensi tidaklah mendukung, sama saja dengan merusak dan memburukkan diri. “Maksud hati memeluk gunung, apa daya tangan tak sampai”.
Kedua. Ego sintonik, yaitu sebuah perilaku, perasaan, dan nilai-nilai yang sejalan dengan konsep diri seseorang. Di sini tampak adanya keseimbangan. Kita boleh menakar ego, tetapi jangan sampai kita menjaring angin. Sejalan itu pasti lebih baik ketimbang: ego dan fakta, dua-duanya seimbang (sejalan). Ada banyak manfaat dari hal ini. Kitab Suci sangat jelas menekankan prinsip keseimbangan, sebagaimana tampak dari sebuah komitmen berikut ini: “Kasihilah sesamamu seperti engkau mengasihi dirimu sendiri.” Inilah prinsip terbaik yang diberikan Allah kepada kita.
Imamat 19:18, “… melainkan kasihilah sesamamu manusia seperti dirimu sendiri”. Imamat 19:34, “… kasihilah dia seperti dirimu sendiri”. Matius 22:39, “… Kasihilah sesamamu manusia seperti dirimu sendiri.” Markus 12:31, “… Kasihilah sesamamu manusia seperti dirimu sendiri.” Yohanes 15:17, Inilah perintah-Ku kepadamu: “Kasihilah seorang akan yang lain.” Roma 13:9, “… Kasihilah sesamamu manusia seperti dirimu sendiri!” Galatia 5:14, “ Sebab seluruh hukum Taurat tercakup dalam satu firman ini, yaitu: “Kasihilah sesamamu manusia seperti dirimu sendiri!” Yakobus 2:8, “… ‘Kasihilah sesamamu manusia seperti dirimu sendiri’”. 1 Petrus 2:17, “Hormatilah semua orang, kasihilah saudara-saudaramu, takutlah akan Allah, hormatilah raja!” 1 Petrus 4:8 Tetapi yang terutama: kasihilah sungguh-sungguh seorang akan yang lain, sebab kasih menutupi banyak sekali dosa.
Prinsip keseimbangan kasih di atas, tidak dapat dilepaskan dari prinsip untuk mengasihi Allah: Ulangan 6:5, “Kasihilah TUHAN, Allahmu, dengan segenap hatimu dan dengan segenap jiwamu dan dengan segenap kekuatanmu.” Matius 22:37, “Kasihilah Tuhan, Allahmu, dengan segenap hatimu dan dengan segenap jiwamu dan dengan segenap akal budimu.” Mazmur 31:24, “Kasihilah TUHAN, hai semua orang yang dikasihi-Nya!” Markus 12:30, Kasihilah Tuhan, Allahmu, dengan segenap hatimu dan dengan segenap jiwamu dan dengan segenap akal budimu dan dengan segenap kekuatanmu.”
Bahkan Yesus Kristus memberikan suatu prinsip pelampauan dari apa yang semestinya kita lakukan, yaitu: “Kasihilah musuhmu, berbuatlah baik kepada orang yang membenci kamu” (Lukas 6:27), “Tetapi kamu, kasihilah musuhmu dan berbuatlah baik kepada mereka dan pinjamkan dengan tidak mengharapkan balasan, maka upahmu akan besar dan kamu akan menjadi anak-anak Allah Yang Mahatinggi, sebab Ia baik terhadap orang-orang yang tidak tahu berterima kasih dan terhadap orang-orang jahat” (Lukas 6:35). Prinsip-prinsip di atas hanya dapat dilakukan oleh mereka yang percaya kepada Yesus Kristus.
Ketiga. Egodiakronik, yaitu perilaku atau perasaan seseorang serta nilai-nilai diri yang didapatkan berdasarkan akumulasi serangkaian fakta kehidupan seseorang. Tentu, rangkaian peristiwa dapat diakumulasi untuk membentuk kepribadian kita. Sejalan dengan itu, ada proses sejarah yang dilalui untuk mewujudkan harapan hidup. Kita menaruh harapan pada diri kita, dan menunjukkan bahwa potensi diri telah ditaburkan di sepanjang tapak-tapak perjuangan dan pergumulan.
Dari sini kita mengetahui bahwa ternyata proses hidup itu menempa kita menjadi pribadi yang seimbang, dan meraup berbagai manfaat dari setiap peristiwa yang diakumulasikan. Menjaring angin tampaknya tidak masuk dalam proses ini. Memang, dalam perjalanan hidup, kita dapat saja mengalami hal yang tak diinginkan, mengalami kerugian, difitnah, direndahkan, tidak dianggap, dan bahkan tidak dihargai (dihormati). Akan tetapi, egodiakronik pasti menjadi alasan untuk menghasilkan kehidupan yang terbaik.
Keempat. Egosinkronik, yaitu perilaku atau perasaan seseorang serta nilai-nilai diri yang muncul dan dinilai berdasarkan satu peristiwa penting. Pada ego jenis ini, seseorang mengalami perubahan mendadak karena satu peristiwa penting. Itu bisa bermakna perubahan positif atau negatif. Perubahan negatif ketika seseorang mengalami suatu peristiwa yang akhirnya membawanya kepada kesombongan, keangkuhan, merasa lebih baik dan lebih hebat dari yang lain, merasa ingin dihargai dan dihormati, padahal sebenarnya tidak layak.
Perubahan negatif seringkali tampak dari perilaku, perkataan, dan pemikirannya. Tidak perlu jauh-jauh menilainya. Cukup dengan perubahan mendadak, kita langsung mengerti apa dan bagaimana seseorang berubah. Sudah pasti, dari perubahan negatif, seseorang sedang “menjaring angin”. Ia hanya menakar egonya ketika merasa lebih baik atau bahkan lebih berkuasa dari yang lain. Sedangkan perubahan positif, terkait dengan erat juga dengan pemikiran, perkataan, dan perilaku. Kita dapat mendaftarkannya berdasarkan prinsip-prinsip Kitab Suci.
Dari keempat jenis ego di atas, kita pasti berada pada salah satu di antaranya, atau bahkan mungkin dua jenis ego pernah kita miliki dan beralih pada jenis ego yang lain. Kita sendirilah yang diberikan kesempatan oleh Tuhan untuk menapaki kehidupan. Perhatikan apa yang dituliskan oleh Pemazmur: “TUHAN menetapkan langkah-langkah orang yang hidupnya berkenan kepada-Nya; apabila ia jatuh, tidaklah sampai tergeletak, sebab TUHAN menopang tangannya” (Mazmur 37:23-24).
Bersyukurlah bahwa kita ada dalam kekuasaan Tuhan. Kita yakin bahwa setiap pemberian yang baik datang dari Dia. Jauhkanlah dari diri kita untuk berbuat segala sesuatu yang berlawanan dengan firman-Nya, menjaring angin, bahkan menjaring orang lain untuk merusak nama baiknya, merusak citra dan harga dirinya. Ego perlu dijaga.
Kita dapat menghindari tindakan ego alien atau egodistonik, sebab kita perlu untuk menilai diri kita apakah selaras dengan potensi atau sebaliknya. Kita dapat memilih ego sintonik (prinsip yang sejalan dengan konsep kita) asalkan memiliki natur positif, untuk kemajuan dan pencapaian tujuan terbaik dari hidup kita. Kita bisa menilik apakah egodiakronik telah mengalaminya atau justru membuat kita semakin jauh dari Sang Khalik. Akumulasi fakta dalam proses kehidupan kita, seyogianya menciptakan perubahan atau perbaikan bagi diri, relasi, dan kehidupan yang kita jalani.
Atau barangkali kita pun pernah mengalami egosinkronik, di mana satu peristiwa penting mengubah hidup kita ke arah yang lebih baik. Ini dapat menjadi satu tampilan jati diri yang kuat yang dapat menghindarkan kita dari tindakan menjaring angin. Menakar ego seharusnya menjaring potensi-potensi terbaik, ketimbang menakar ego menjaring angin.
“Sesudah Ia mengatakan demikian, terangkatlah Ia disaksikan oleh mereka, dan awan menutup-Nya dari pandangan mereka” (Kisah Para Rasul 1:9)
Pasca kebangkitan-Nya, Yesus, selang beberapa waktu, naik ke surga “disaksikan” oleh banyak saksi. Mengapa harus ada saksi? Ya, saksi mata haruslah menjadi catatan penting di sini. Seperti bunyi teks Kisah Para Rasul di atas bahwa peristiwa kenaikan Yesus ke langit [baca: surga] “disaksikan” oleh para murid. Ini tentu sangat spektakuler bagi para murid Yesus, bagi para saksi mata peristiwa tersebut. Iman mereka diteguhkan dan betapa terpukau, terheran, dan sangat bersukacita, serta semangat mereka berkobar-kobar. Mengapa berkobar-kobar? Lihatlah peristiwa yang menyusul setelah itu: para murid dengan semangat “mengabarkan Injil”: Yesus yang lahir, mati, bangkit, dan naik ke surga menjadi inti pemberitaan mereka; mereka tidak takut mati; mereka siap mati demi Yesus dalam proses mengabarkan Injil. Mengapa mereka begitu berani dan tidak takut mati? Catatan penegesan yang penting di sini adalah karena “melihat secara langsung bagaimana Yesus naik ke surga”.
Peristiwa naik ke surga atau “diangkat” ke surga dialami oleh tiga pribadi: Henokh, Elia, dan Yesus. Henokh menjadi “tidak ada lagi” (di dunia) sebab ia telah diangkat oleh Allah (Kejadian5:24, “Dan Henokh hidup bergaul dengan Allah, lalu ia tidak ada lagi, sebab ia telah diangkat oleh Allah”). Elia terangkat ke surga dengan kereta berapi dengan kuda berapi:“Sedang mereka berjalan terus sambil berkata-kata, tiba-tiba datanglah kereta berapi dengan kuda berapi memisahkan keduanya, lalu naiklah Elia ke sorga dalam angin badai” (2 Raja-raja 2:11). Yesus yang naik ke surga disaksikan oleh para murid-Nya: “Sesudah Tuhan Yesus berbicara demikian kepada mereka, terangkatlah Ia ke sorga, lalu duduk di sebelah kanan Allah” (Markus 16:19); “Lalu Yesus membawa mereka ke luar kota sampai dekat Betania. Di situ Ia mengangkat tangan-Nya dan memberkati mereka. Dan ketika Ia sedang memberkati mereka, Ia berpisah dari mereka dan terangkat ke sorga (Lukas 24:50-51).
Yesus memiliki supremasi dari Henokh dan Elia. Supremasi pertama, Yesus melebihi Henokh, karena Henokh tidak melalui proses kehidupan yang berjuang melawan kematian terlebih dahulu, Elia pun demikian. Yesus mati dulu baru terangkat ke surga. Secara substansial, ketiga pribadi memiliki latar belakang yang berbeda sekaligus misi yang berbeda; kedua Yesus melebihi Henokh dan Elia, di mana para saksi mata kenaikan-Nya ke surga disaksikan oleh banyak saksi. Saksi mata naiknya Elia ke surga adalah Elisa. Saksi mata Henokh diangkat ke surga, memang tidak disebutkan, tetapi jika pun ada saksi (meski tidak dituliskan dalam Alkitab) tentu tidak melebihi Yesus; ketiga, kenaikan Yesus ke surga adalah “menyediakan tempat bagi orang-orang percaya” sedangkan Henokh dan Elia tidak: “Janganlah gelisah hatimu; percayalah kepada Allah, percayalah juga kepada-Ku. Di rumah Bapa-Ku banyak tempat tinggal. Jika tidak demikian, tentu Aku mengatakannya kepadamu. Sebab Aku pergi ke situ untuk menyediakan tempat bagimu (Yohanes 14:1-2); keempat, Yesus naik ke surga menjadi “Pengatara” [Jurusyafaat]: “Karena itu Ia sanggup juga menyelamatkan dengan sempurna semua orang yang oleh Dia datang kepada Allah. Sebab Ia hidup senantiasa untuk menjadi Pengantara mereka” (Ibr. 7:25); “Tetapi sekarang Ia telah mendapat suatu pelayanan yang jauh lebih agung, karena Ia menjadi Pengantara dari perjanjian yang lebih mulia, yang didasarkan atas janji yang lebih tinggi” (Ibr. 8:6); “Karena itu Ia adalah Pengantara dari suatu perjanjian yang baru, supaya mereka yang telah terpanggil dapat menerima bagian kekal yang dijanjikan, sebab Ia telah mati untuk menebus pelanggaran-pelanggaran yang telah dilakukan selama perjanjian yang pertama” (Ibr. 9:15).
Supremasi Yesus di antara Henokh dan Elia mengindikasikan bahwa personalitas mereka berbeda. Yesus adalah “Logos Ilahi” yang datang ke dunia menggunakan “tubuh” [daging] manusia—dan Ia menyatakan sebagai Imanuel: “Allah dengan Kita”—sebuah penegasan bahwa Allah menggunakan sebuah cara “persahabatan” untuk mengunjungi dunia ciptaan-Nya. Ia layak dan berdaulat bahkan mutlak untuk menentukan bagaimana cara untuk mengunjungi, peduli, bersahabat, dan menebus manusia ciptaan-Nya. Ialah yang berhak atas ciptaan-Nya. Cara-Nya tidak perlu dipersoalkan sebab Allah tidak berhutang kepada manusia, tetapi sebaliknya, manusia berhutang kepada Allah.
Kenaikan Yesus ke surga tidak hanya merupakan peristiwa spektakuler, melainkan ada pesan-pesan yang signifikan yang Dia berikan [wariskan] kepada para murid dan para generasi selanjutnya, hingga kepada kita sekarang ini. Saya mencatat dari keempat Injil dan Kisah Para Rasul yang menegaskan hal-hal substantif terkait dengan pesan Yesus pra-kenaikan-Nya ke surga.
Pertama: Pesan-pesan dalam Injil Matius 28
Yesus menegaskan bahwa Ia memiliki kuasa baik di sorga maupun di bumi. Yesus memerintahkan para murid untuk pergi, menjadikan semua bangsa murid-Nya, membaptis mereka dalam nama Bapa dan Anak dan Roh Kudus, dan mengajarkan mereka untuk melakukan segala sesuatu yang telah Dia perintahkan kepada para murid. Yesus menegaskan bahwa Ia akan menyertai para murid senantiasa sampai kepada akhir zaman.
Kedua: Pesan-pesan dalam Injil Markus 16
Yesus memberi perintah kepada para murid-Nya untuk pergilah ke seluruh dunia, dan memberitakan Injil kepada segala makhluk. Yesus menegaskan bahwa dalam proses pekabaran Injil itu, para murid harus meyakinkan bahwa Injil itu memberikan perubahan, pertobatan sehingga mereka menjadi percaya dan dibaptis. Yesus melengkapi para murid dengan kuasa-kuasa untuk mengusir setan-setan demi nama-Nya, mereka akan berbicara dalam bahasa-bahasa yang baru bagi mereka, mereka akan memegang ular, mereka akan minum racun maut, mereka tidak akan mendapat celaka; mereka akan meletakkan tangannya atas orang sakit, dan orang itu akan sembuh.
Ketiga: Pesan-pesan dalam Injil Lukas 24
Yesus menegaskan kembali pesan-pesan penting bahwa Mesias harus menderita dan bangkit dari antara orang mati pada hari yang ketiga. Yesus menegaskan bahwa dalam nama-Nya berita tentang pertobatan dan pengampunan dosa harus disampaikan kepada segala bangsa, mulai dari Yerusalem. Yesus menegaskan bahwa para murid adalah saksi dari semuanya ini. Yesus menggenapi janji-Nya dengan mengirim Roh Kudus kepada para murid dalam proses pemberitaan Injil, dan para murid akan diperlengkapi dengan kekuasaan dari tempat tinggi.
Keempat: Pesan-pesan dalam Injil Yohanes 21
Yesus memerintahkan Petrus untuk “Menggembalakan domba-domba Yesus.” Yesus kembali menegaskan pesan penting kepada Petrus untuk “mengikuti-Nya” yang berimplikasi logis kepada semua orang percaya untuk tetap mengikuti Yesus meski banyak cobaan dan tantangan, bahkan maut sekalipun
Kelima: Pesan-pesan dalam Kisah Para Rasul 1
Yesus pasca kebangkitan-Nya berulang-ulang menampakkan diri dan berbicara kepada para murid tentang Kerajaan Allah. Yesus menjanjikan bahwa para murid akan dibaptid dengan Roh Kudus. Yesus meneguhkan iman para murid dengan mengatakan: “Tetapi kamu akan menerima kuasa, kalau Roh Kudus turun ke atas kamu, dan kamu akan menjadi saksi-Ku di Yerusalem dan di seluruh Yudea dan Samaria dan sampai ke ujung bumi.”
Supremasi Yesus di antara Henokh Elia dapat juga dinilai berdasarkan pesan-pesan dan prinsip-prinsip signifikan (tentang personalitas dan karya Yesus Kristus) pra-kenaikan dan terangkatnya mereka ke surga. Dengan demikian, kenaikan Yesus ke surga menyatakan bahwa Ia memiliki kuasa di sorga dan di bumi (Mat. 28:18); Ia memiliki dua natur yakni Ilahi dan manusiawi; Ia memiliki saksi mata atas peristiwa kenaikan-Nya; Ia meninggalkan pesan-pesan substantif tentang Injil dan Kerajaan Allah; Ia memberkati para murid; Ia mempersiapkan para murid; Ia memperlengkapi para murid dengan kuasa-kuasa; dan Ia menyatakan diri-Nya sebagai “Allah dan Tuhan” yang layak disembah.
Kenaikan Yesus ke surga adalah harapan dan peneguhan iman Kristen bahwa Yesus yang adalah manusia tidak berhenti menjadi manusia dan memiliki natur Ilahi tidak berhenti memiliki natur Ilahi itu, melainkan kedua natur itu begitu menyatu dan tidak saling bercampur, tidak saling tertukar, dan tidak saling tumpang tindih. Inilah kehebatan dan kedahsyatan Allah yang luar bisa dalam sejarah kekristenan. Ini adalah “KISAH TUNGGAL” yang tak ada tandingannya di dunia ini. Yesus memang hebat dan berkuasa; Ia adalah Tuhan dan Juruselamat manusia yang memberikan kedamaian, sukacita, dan kehidupan kekal.
Jika para negator menolaknya, mereka hanya perlu mengingat beberapa hal berikut ini:
Pertama, Yesus itu tidak pernah membalas kejahatan dengan kejahatan;
Kedua, Yesus tidak pernah memerintahkan murid-murid-Nya untuk berperang, membunuh, dan mencaci maki orang lain;
Ketiga, Yesus tidak pernah memerintahkan para murid-Nya untuk membenci orang lain, membalas kejahatan dengan kejahatan, tetapi justru malah Ia memerintahkan untuk mengasihi musuh-musuh dan berdoa bagi mereka.
Keempat, Yesus menjamin para pengikutnya dengan kehidupan kekal dan klaim-klaim-Nya sangat luar biasa dan dapat dibuktikan.
Jika ada pribadi yang dapat melebihi Yesus, saya siap percaya kepada Yesus dan sujud menyembah-Nya. Mengapa menyembah-Nya? Karena memang tak ada seorang pun yang dapat menyamai dan menyaingi Yesus
Gagasan Mesias dalam Perjanjian Baru merupakan perwujudan dari nubuatan datangnya seorang Mesias yang ideal yang dijanjikan TUHAN untuk membebaskan umat-Nya. Dalam pelayanan-Nya, Yesus mendapat berbagai pertanyaan dan pernyataan dari lawan-lawan-Nya yang selalu mencari kelemahan Yesus. Dalam Matius 22:41-46, Yesus menyodorkan pertanyaan tentang Mesias orang-orang Farisi yang dikaitkan dengan teks Mazmur 110:1.
“Apakah pendapatmu tentang Mesias? Anak siapakah Dia?” Kata mereka kepada-Nya: “Anak Daud.” Kata-Nya kepada mereka: “Jika demikian, bagaimanakah Daud oleh pimpinan Roh dapat menyebut Dia Tuannya, ketika ia berkata: Tuhan telah berfirman kepada Tuanku: duduklah di sebelah kanan-Ku, sampai musuh-musuh-Mu Kutaruh di bawah kaki-Mu. Jadi jika Daud menyebut Dia Tuannya, bagaimana mungkin Ia anaknya pula?” Tidak ada seorangpun yang dapat menjawab-Nya, dan sejak hari itu tidak ada seorangpun juga yang berani menanyakan sesuatu kepada-Nya.
Perjanjian Baru memberikan bukti-bukti perdebatan Yesus dan ahli-ahli Taurat, orang-orang Farisi, Imam-imam kepada dan lainnya. Dalam perdebatan atau pun tanya jawab yang terjadi, Yesus seringkali memberikan suatu apologet kepada para ahli Taurat dan sekutunya dan tidak bisa dijawab oleh mereka. Meskipun demikian, gelagat dari para ahli Taurat dan sekutunya, tidak pernah mengalah. Dalam beberapa kesempatan, mereka mau melempari Yesus dengan batu, mau membunuh dan rencana tindakan kriminal lainnya. Mengapa demikian? Mereka malu, mereka tidak bisa menjawab pertanyaan Yesus, penafsiran mereka tentang Taurat berbeda dengan penafsiran Yesus dan masih banyak lagi.
Penulis akan memaparkan kisah perdebatan atau tanya jawab Yesus dan yang melawan-Nya, dalam konteks apologetik Yesus, baik terhadap pertanyaan yang ditujukan kepada Yesus atau pun jawaban dan pertanyaan Yesus yang ditujukan kepada pelawan-Nya.
Memahami, mengenal, dan percaya kepada Yesus (Kristologi) membutuhkan waktu seumur hidup. Pasalnya, Kristologi menempati ruang akademis sekaligus ruang empiris dari orang-orang Kristen yang percaya di mana keduanya kadang bisa sejalan dan kadang tidak sejalan, hingga manusia mati. Yesus yang datang ke dunia meninggalkan legasi historis di mana Ia menyatakan dua hal: pertama, Ia datang sebagai “Tuhan”, dan kedua, Ia datang sebagai “manusia”. Sebagai “Tuhan” (Kurios), Ia berkuasa (memiliki kuasa) sebagaimana tampak dalam seluruh pelayanan-Nya yang dicatat dalam keempat Injil Kanonik. Ia berkuasa mengampuni dosa; Ia berkuasa membangkitkan orang mati, dan lain sebagainya. Sebagai “Manusia” (Anthropos), Ia menjalani proses hidup layaknya manusia pada umumnya dan dapat mati.
Rentetan peristiwa yang dicatat para penulis Injil berkonteks pada sifat “Ke-Tuhan-an” Yesus dan natur “kemanusiaan-Nya”. Berangkat dari dua konteks ini, maka bacaan kita dalam Markus 12:35-37, sebenarnya menyatakan dua konteks ini pula. Sebelum saya menjelaskan kisah dalam Markus, saya mengkorelasikannya dengan dua bagian yang sama yang ditulis oleh Matius (22:41-46) dan Lukas (20:41-44). Matius mencatat bahwa “Yesus bertanya kepada orang-orang Farisi yang sedang berkumpul: ‘Apakah pendapatmu tentang Mesias? Anak siapakah Dia?’ Kata mereka kepada-Nya: ‘Anak Daud’” Lukas mencatat, sebelum Yesus mengajukan pertanyaan tentang hubungan Mesias dengan Daud, ada ahli-ahli Taurat, Imam-iman kepala, dan orang-orang Saduki (20:20-40) yang mengamat-amati (membuntuti) Yesus untuk menjerat Dia. Dengan demikian, pertanyaan Yesus di ayat 41 “kepada mereka” ditujukan kepada ahli-ahli Taurat, imam-imam kepala dan orang-orang Saduki. Pertanyaannya, “di mana orang-orang Farisi” sebagaimana yang dicatat Matius? Apakah ada kesalahan penulisan, perbedaan penekanan ataukah Yesus melakukan jukstaposisi (penjajaran) identitas? Untuk mendalami hal ini, saya menganjurkan untuk mengikuti “Bible Study” yang diampu oleh Pastor Thobias Messakh.
Kembali ke teks-teks Markus. Kisah Yesus mengajar di Bait Tuhan menghasilkan sebuah gagasan yang menarik yang membuat para pendengar-Nya antusias (penuh minat). Saya mengamati bahwa pola pengajaran Yesus selalu dibarengi dengan pertanyaan-pernyataan kritis dan bahkan mengguncang iman. Dan pertanyaan-pernyataan Yesus sebenarnya ingin menunjukkan dan menegaskan identitas-Nya yang sesungguhnya. Dengan demikian, memahami personalitas Yesus tidak cukup hanya dalam ranah empiris, tetapi juga dalam ranah akademis. Keduanya harus seimbang: antara kognitif dan empiris harus sejalan.
Yesus tidak hanya menampilkan kuasa-Nya sebagai Tuhan, namun Ia menampilkan sisi logis dari pertanyaan-pertanyaan yang menggoncangkan logika manusia agar mereka tahu mempergunakan otaknya. Iman Kristen dibangun bukan hanya dari penglihatan-penglihatan, mukjizat-mukjizat, dan sebagainya, melainkan juga dibangun berdasarkan pemahaman logis tentang Pribadi-Nya yang adalah Tuhan dan manusia sejati. Pertanyaan Yesus kepada orang-orang Farisi adalah sisi lain dan pemahaman akan diri-Nya dari sisi logis yang luar biasa dan menggiring kepada kesimpulan akhir bahwa “meski Yesus adalah manusia, namun Ia bersifat Ilahi, melebihi Daud yang dalam peristiwa sejarah humanitas, Daud lebih dulu lahir, tetapi dalam konteks substansial, Yesus adalah “Tuan”-nya Daud. Hal ini selaras dengan perkataan Yesus kepada orang-orang Yahudi dan ahli-ahli Torat: “Sebelum Abraham ada, Aku telah ada”.
Berangkat dari teks-teks Markus di atas, maka saya mencatat tiga pokok penting sebagai bentuk pemahaman akan pribadi Yesus. Hal ini bertujuan untuk memberikan semangat untuk terus mengasihi Yesus, mengenal-Nya, menyembah-Nya, dan mewartakan-Nya dalam tugas misi dan pelayanan kita semua.
Pertama, Yesus hendak menegaskan diri-Nya bahwa Ia adalah Mesias dengan menghubungkan diri-Nya dengan Daud. Pertanyaan Yesus adalah pertanyaan yang tak mungkin dijawab dengan menggunakan rumusan biologis kecuali “hanya mengakui” bahwa Mesias yang dimaksudkan adalah “Mesias yang Ilahi” (yang harus disembah). Yesus menunjuk kepada diri-Nya bahwa Ia adalah Mesias tersebut dan layak disembah. Ini adalah penggabungan antara sifat ke-Ilahian (disembah) dan ke-Tuhan-an Yesus (berkuasa). Hubungan antara Yesus dan Daud menegaskan bahwa Yesus sah berdasarkan catatan nubuatan dan bukan datang dan mengakui diri-Nya secara sembarangan. Jika sah, tak ada yang bisa menggugat
Kedua, meski Yesus adalah Mesias yang Ilahi, Ia hendak menegaskan sisi kemanusiaan-Nya untuk tujuan penebusan. Artinya, dengan kematian-Nya, Ia menaklukkan maut sebagai musuh yang paling ditakuti manusia. Ketika ada yang mengatakan bahwa: “Mengapa ‘Tuhannya’ orang Kristen kok bisa mati? Apakah Tuhan bisa mati? Jawabannya adalah: “yang mati bukan Tuhan, tetapi natur kemanusiaan Yesus (bdk. Flp. 2:8). Tidak ada bukti bahwa Tuhan itu mati sebab Tuhan bukanlah fisik tetapi substansi.
Ketiga, Yesus hendak mengajarkan bahwa membuat pertanyaan tentang diri-Nya haruslah menantang logika supaya timbul minat yang tinggi. Mengapa demikian? Jika orang Kristen hanya sibuk dengan mendengarkan khotbah tentang bagaimana Yesus baik kepada mereka, dan melupakan pertanyaan-pertanyaan mendasar dari iman Kristen, bisa berpeluang untuk mengabaikan pelayanan dan bahkan iman. Markus mencatat: “Orang banyak yang besar jumlahnya mendengarkan Dia dengan penuh minat.” Mengapa mereka berminat? Karena pertanyaan Yesus begitu menantang dan tak bisa dijawab.
Bertanya atau mempertanyakan iman Kristen bukanlah hal yang keliru tetapi justru membangunkan mereka yang sedang tidur meski menyatakan diri Kristen. Berapa banyak orang Kristen yang tidur secara rohani? Pertanyaan-pertanyaan yang menantang logika kadang mendorong orang Kristen untuk belajar semakin giat dan bahkan rajin membaca Alkitab.
Tidak sedikit pertanyaan Yesus yang diucapkan, baik kepada musuh-musuh yang membenci-Nya, maupun kepada pengikut-pengikut-Nya. Karena alas an inilah, maka saya juga mengajukan pertanyaan kepada saudara-saudara untuk dijawab secara pribadi: Pertama, apakah Yesus yang selama ini dipercaya adalah Yesus dalam Kitab Suci atau “Yesus” yang Saudara proyeksikan sendiri berdasarkan pikiran Anda? Kedua, jika Yesus sudah menebus dosa kita, mengapa kita masih saja berdosa dan makin berdosa? Ketiga, apakah Yesus yang pernah mati disalibkan, layak disembah dan diagungkan? Keempat, apakah iman kepada Yesus bertumbuh setiap kali beribadah atau hanya sebagai rutinitas belaka yang tak mengubah apa pun dari sikap dan perilaku Saudara? Kelima, apakah Yesus yang tidak kelihatan membuat Saudara semakin yakin bahwa Ia ada atau hanya karena Saudara yang meng-‘ada’-kannya.
Kesimpulan
Pertanyaan Yesus tentang hubungan diri-Nya dengan Daud adalah wujud dari perluasan pemahaman akan identitas Yesus yang sesungguhnya. Yesus menyatakan bahwa diri-Nya adalah Mesias Ilahi yang sah berdasarkan catatan nubuatan PL. Dengan identitas tersebut, Yesus hendak memberitahukan bahwa diri-Nya datang sebagai manusia untuk tujuan penebusan melalui kematian-Nya (sebagai manusia) dan sekaligus menunjukkan bahwa meski Ia mati, Ia akan bangkit untuk membuktikan bahwa diri-Nya adalah Tuhan. Jika pengetahuan dan pengalaman kita bersama Yesus telah memenuhi dua pokok ini, maka berbahagialah. Sebab Yesus yang kita sembah dan puji selama kita hidup adalah benar-benar Yesus yang pernah datang ke dunia—Yesus yang Ilahi dan Yesus yang manusiawi—untuk membawa perubahan hidup yang tertuju kepada Sang Bapa, di mana kita akan bersama-Nya dalam Kerajaan-Nya.
Ibadah dalam arti sempit adalah sebuah bentuk pelayanan di mana di dalamnya terdapat berbagai hal seperti puji-pujian, pemberitaan firman Tuhan, dan hal-hal lainnya yang disesuaikan dengan kondisi ibadah. Ibadah memiliki kondisi atau konteks tertentu. Ada ibadah syukur, kedukaan, pengutusan, dan lain sebagainya.
Penyembahan adalah bagian dari ibadah. Namun penyembahan tidak selalu terikat dengan ibadah. Sebenarnya ibadah juga demikian. Akan tetapi, ibadah sudah dianggap sebagai sesuatu yang tersusun secara rapi. Sering, dalam ibadah, ada penyembahan yang hanya berfokus pada “puji-pujian”. Ya, hanya puji-pujian, sehingga dalam ibadah itu sering disebut: “pujian dan penyembahan.” Maka, penyembahan disempitkan maknanya hanya pada “tutup mata sambil menyanyi lagu yang bernatur [dianggap] penyembahan.”
Penyembahan tidak sesederhana itu, tidak pula dipahami secara sempit. Penyembahan dapat memiliki arti yang lebih luas. Penyembahan kepada Tuhan berarti adanya ketundukan, kesetiaan, dan penghormatan kepada-Nya. Ketika seseorang telah menganggap dirinya menyembah Tuhan dalam ibadah tetapi tingkah laku, pikiran, dan perkataannya tidak sesuai dengan prinsip-prinsip Alkitab, maka yang dia lakukan adalah tidak menyembah tetapi hanya merasakan bahwa dia menyembah.
Berikut ini saya menyertakan informasi dari salah satu sumber yang menjelaskan ibadah dan penyembahan. Menurut J. G. S. S. Thomson, kosa kata ibadat dalam Alkitab sangat luas, tapi konsep asasinya baik dalam PL maupun PB ialah ‘pelayanan’. Kata Ibrani ‘avoda, dan Yunani “latreia” pada mulanya menyatakan pekerjaan budak atau hamba upahan. Dan dalam rangka mempersembahkan ‘ibadat’ ini kepada Allah, maka para hamba-Nya harus meniarap — Yunani “proskuneo” — dan dengan demikian mengungkapkan rasa takut penuh hormat, kekaguman dan ketakjuban penuh puja.
Thomson menjelaskan, bahwa dalam PL ada beberapa contoh ibadat pribadi (Kej. 24:26; Kel. 33:9-34:8). Tapi tekanannya adalah pada ibadat dalam jemaat (Mzm. 42:3; 1Taw. 29:20). Ibadat umum yang sudah demikian berkembang, dilaksanakan dalam kemah pertemuan dan Bait Suci, berbeda sekali dari ibadat pada zaman yang lebih awal ketika para Bapak leluhur percaya, bahwa Tuhan dapat disembah di tempat mana pun Dia pilih untuk menyatakan diriNya. Tapi bahwa ibadat umum di Bait Suci merupakan realitas rohani, jelas dari fakta bahwa ketika tempat suci itu dibinasakan, dan masyarakat Yahudi terbuang di Babel, ibadat tetap merupakan kebutuhan dan untuk memenuhi kebutuhan itu ‘diciptakanlah’ kebaktian sinagoge, yang terdiri dari:
(1) Shema‘, (2) doa-doa, (3) pembacaan Kitab Suci, dan (4) penjelasan. Tapi kemudian di Bait Suci yang kedua kebaktian-kebaktian harian, sabat, perayaan-perayaan tahunan dan puasa-puasa, serta pujian dan buku puji-pujian (Kitab Mzm) memastikan, bahwa ibadat tetap merupakan faktor amat penting dalam kehidupan nasional Yahudi.
Demikian juga dalam PB, menurut Thomson, pula muncul ibadat di Bait Suci dan di sinagoge. Kristus mengambil bagian dalam keduanya, tapi Dia selalu menekankan bahwa ibadat adalah sungguh-sungguh kasih hati terhadap Bapak sorgawi. Dalam ajaran-Nya, mendekati Allah melalui perantaraan ritual dan imamat bukan saja tidak penting lagi, bahkan sekarang tidak perlu. Pada akhirnya ‘ibadat’ adalah ‘avoda atau “latreia” yang sebenarnya, suatu pelayanan yang dipersembahkan kepada Allah tidak hanya dalam arti ibadat di Bait Suci, tapi juga dalam arti pelayanan kepada sesama (Luk. 10:25 dab; Mat. 5:23 dab; Yoh. 4:20-24; Yak. 1:27). Namun pada permulaannya gereja tidak meninggalkan kebaktian di Bait Suci; dan mungkin orang Kristen terus mengikuti kebaktian di sinagoge juga. Dan ketika akhirnya terjadi perpisahan antara Yahudisme dan gereja, ada kemungkinan ibadat Kristen meniru kebaktian di sinagoge.
Ibadah sebagaimana dijelaskan di atas dipahami dalam arti liturgis atau kegiatan resmi. Penyembahan dipahami tidak hanya dalam arti sempit misalnya dalam ibadah saja, tetapi penyembahan adalah terwujudkan dalam sikap, perkataan, dan pemikiran seseorang yang selaras dengan Alkitab. Jadi, baik ibadah dan penyembahan keduanya menyatakan sikap tunduk, hormat, setia kepada Tuhan, hanya bentuk pengungkapannya sedikit berbeda. Ada yang resmi (misalnya dalam ibadah), dan ada juga yang tidak resmi (dalam kehidupan sehari-hari), tanpa mencari muka atau memamerkan diri bahwa dia adalah penyembah yang benar.
Teks-teks dalam kitab-kitab Injil yang menyinggung penggunaan ‘Standar Sumber’ yang dilakukan Yesus, adalah salah satu model berapologetika. Pembaca yang jeli melihat percakapan Yesus dengan mereka yang ragu dan yang membenci-Nya, akan mengundang pemikiran lain dari yang biasanya. Pasalnya, model yang biasa digunakan dalam diskusi atau debat sering bertumpu pada eksplanasi argumentasi dan pernyataan dengan didukung oleh data dan fakta, atau dengan cara saling mengumbar argumentasi secara acak dan tak beraturan.
Sering pula, dalam diskusi atau debat, setiap pembicara mengemukakan pendapat yang didukung oleh sumber primer maupun sekunder (data dan fakta) lalu direspons oleh pembicara lain dalam bentuk negasi, keraguan, dan penerimaan. Akan tetapi, dalam teks-teks yang menjelaskan penggunaan standar sumber, Yesus menciptakan ‘kebingungan’ yang tak terpuaskan dari mereka yang bertanya dan kemudian dari pertanyaan mereka tersebut, Ia meneguhkan identitas-Nya dan menjadi sebuah ‘pernyataan’ penegasan. Ini menarik!
Teks-teks tersebut adalah Matius 26:63-64; 27:11; Lukas 22:70; Markus 15:2. Berikut kutipannya:
Matius 26:63-64, Tetapi Yesus tetap diam. Lalu kata Imam Besar itu kepada-Nya: “Demi Allah yang hidup, katakanlah kepada kami, apakah Engkau Mesias, Anak Allah, atau tidak.” Jawab Yesus: “Engkau telah mengatakannya. Akan tetapi, Aku berkata kepadamu, mulai sekarang kamu akan melihat Anak Manusia duduk di sebelah kanan Yang Mahakuasa dan datang di atas awan-awan di langit.”
Matius 27:11 Lalu Yesus dihadapkan kepada wali negeri. Dan wali negeri bertanya kepada-Nya: “Engkaukah raja orang Yahudi?” Jawab Yesus: “Engkau sendiri mengatakannya.”
Lukas 22:70, Kata mereka semua: “Kalau begitu, Engkau ini Anak Allah?” Jawab Yesus: “Kamu sendiri mengatakan, bahwa Akulah Anak Allah.”
Markus 15:2 Pilatus bertanya kepada-Nya: “Engkaukah raja orang Yahudi?” Jawab Yesus: “Engkau sendiri mengatakannya.” (lih. Juga Luk. 23:3)
Dari teks-teks tersebut, dapat disimpulkan bahwa berdasarkan standar sumber, maka kalimat: “Engkau sendiri mengatakannya”, adalah juga sebuah pernyataan atau pengakuan [klaim] Yesus. Ini adalah model ‘peneguhan ganda’. Artinya, pengakuan bahwa Yesus adalah Anak Allah dan Raja Orang Yahudi dilakukan dengan model berlapis.
Kehidupan manusia ditandai dengan berbagai hal dan ditentukan oleh konteks kehidupan itu sendiri. Di dalam segala hal dan konteks, selalu ada makna dan tujuan yang dialami, dirasakan, dihadapi, dan dijalani. Semua hal dalam hidup, memiliki makna tersendiri bagi setiap orang. Begitu juga dengan tujuan hidup. Manusia berusaha untuk mencapai tujuan yang telah dirancang sebelumnya.
Siapa pun kita, tidak dapat mengabaikan “makna” hidup, karena makna itu lahir dari proses kehidupan yang dijalani, suka duka yang dialami, gumul juang yang dihadapi, dan berbagai masalah serta keinginan yang menghasilkan banyak buah dalam kehidupan kita sendiri.
Memahami hidup, ditentukan dari kondisi seseorang. Konteks ini sifatnya normatif – semua orang, ketika menilai hidupnya, selalu dikaitkan dengan situasi dan kondisi yang dialaminya. Ada yang kecewa dengan hidup, bosan dengan nasihat, muak dengan ketidakadilan, gelisah dengan sekuritas hidup, takut mati, putus asa, stres dan depresi, murung, pesimis, benci terhadap sesama, dan berbagai macam hal lainnya; semuanya ditentukan oleh situasi dan kondisi di sekitarnya atau yang dialami sendiri.
Kita tidak dapat menghindar dari berbagai persoalan hidup. Itu adalah fakta yang perlu dimaknai, dihadapi, dan direnungkan. Mereka yang beriman akan melihat kehidupan sebagai proses yang dizinkan Tuhan untuk dilalui dengan penuh rasa syukur kepada-Nya. Mereka yang berpengetahuan akan melihat kehidupan sebagai pembelajaran dan penguat wawasan tentang segala sesuatu dan dapat memberikan kebahagiaan, kewaspadaan, sekuritas, dan langkah-langkah antisipatif. Mereka yang beriman dan berpengetahuan, memandang kehidupan sebagai proses perealisasian tangung jawab di hadapan Tuhan untuk tetap melakukan apa yang dikehendaki-Nya, dan hidup dalam kebenaran firman-Nya.
Tak dapat dipungkiri, iman dan pengetahuan seringkali terpisah ketika direalisasikan dalam sebuah tindakan. Bahkan, setiap pengetahuan tentang sesuatu hal, entah baik, entah jahat, bisa disetir oleh “iman” yang salah kaprah. Tampak bahwa tindakan kejahatan dapat dilakukan dengan cara (teknik) pengetahuan dengan cara dipengaruhi oleh iman tertentu (misalnya dari ajaran agamanya sendiri). Memang terkesan aneh jika orang yang merasa beriman, atau dipandang [tampak] beriman, kemudian membunuh demi imannya kepada “tuhan”; atau orang yang berpengetahuan melakukan tindakan-tindakan yang tidak bermoral, kotor, merusak kepentingan banyak orang, dan lain sebagainya. Keanehan tersebut dapat ditelusuri sampai kepada akar utamanya.
Orang Kristen pasti dapat mengetahuai secara tepat, bahwa akibat dari semua tindakan kejahatan baik tingkat rendah sampai kepada tingkat tinggi adalah karena “dosa” dan penyimpangan terhadap kebenaran Allah. Seperti yang Alkitab utarakan: “Semua orang telah berbuat dosa. Tidak ada yang benar, satu pun tidak ada. Semua telah menyeleweng.” Pernyataan tersebut menjadi standar dari Tuhan bahwa siapa pun dia, telah dikuasai, diikat, dipengaruhi, dan dipaksa oleh “kuasa” dosa yang sangat kuat, sehingga ia tidak dapat melawannya – dan akhirnya, tindakan-tindakan yang bertentangan dengan hukum dan aturan TUHAN diperbuatnya dengan senang hati, atau karena desakan lainnya.
Dosa, meskipun orang seringkali tidak merasakan “ada” apa-apa dari satu kata tersebut, tetapi dampaknya sangat luar biasa. Siapakah yang dapat menyangka bahwa Hitler melakukan pembantaian (pembunuhan masal) terhadap jutaan orang Yahudi? Siapakah yang dapat menyangka bahwa demi agama, seseorang bisa membunuh sesamanya? Siapa yang bisa menyangka bahwa seorang guru bisa mencabuli muridnya? Siapa yang bisa menyangka bahwa seorang ibu berani membunuh anaknya sendiri? Siapa yang bisa menyangka seorang anak berbuat khianat terhadap orangtuanya? Siapa bisa menyangka bahwa para pendeta berebut aset gereja? Siapa yang bisa menyangka orang Kristen saling memaki dan membenci? Siapa yang bisa menyangka orang Kristen memiliki dendam dan kebencian yang tak pernah ia leburkan ke dalam pengampunan sejati?
Bukankah manusia sudah menjadi pemangsa sesamanya seperti yang dilakukan binatang? Lalu di mana moral dan etika? Di mana rasa takut manusia terhadap TUHAN dan hukuman-Nya? Di mana rasa hormat manusia terhadap hukum-hukum TUHAN? Bukankah neraka merupakan tempat yang sangat mengerikan, tempat siksaan kekal, tetapi tidak dihiraukan oleh manusia yang berbuat kebejatan moral, kekejian di mata TUHAN?
Sungguh luar biasa jahatnya tindakan manusia yang beriman dan berpengetahuan. Tidak disangka-sangka, tidak dapat dipikirkan secara akal sehat tindakan-tindakan seperti itu. Tetapi itulah faktanya; itu sering terjadi, sedang terjadi, dan akan terjadi. Demikian seterusnya. Mungkin kita pernah menjadi bagian di dalamnya bahkan senang melakukannya karena merasa bahwa tidak ada hukuman langsung dari Tuhan. Iman yang salah tempat, membawa manusia kepada tindak kejahatan. Pengetahuan yang salah juga memiliki dampak yang sama. Seharusnya iman dan pengetahuan yang benar membawa manusia ke jalan yang terang, jalan Tuhan, jalan kedamaian.
Apakah ada kaitan antara iman dan pengetahuan dalam kaitannya dengan kondisi hidup manusia yang telah berdosa? Tentu ada.
Dalam Alkitab, pengetahuan – atau yang seringkali disebut dengan “pengenalan akan TUHAN” – memiliki kaitan erat dengan iman. Iman itu pemberian Allah untuk mengenal pribadi-Nya, karya, kuasa, kasih, kemurahan, anugerah, dan rencana-Nya. Iman membutuhkan pengetahuan; dalam konteks ini “pengetahuan tentang Dia dan firman-Nya”. Aspek pengetahuan memang luas tetapi perlu dipahami atau dibatasi pada konteksnya. Dengan demikian, iman bisa bertumbuh karena pengetahuan tentang Dia dan firman-Nya.
Dalam Efesus 4:13, Rasul Paulus menegaskan bahwa “sampai kita semua telah mencapai kesatuan iman dan PENGETAHUAN yang benar tentang Anak Allah….”. Dalam 2 Korintus 4:6, Paulus menegaskan akan pentingnya pengetahuan: “Sebab Allah yang telah berfirman: ‘Dari dalam gelap akan terbit terang!’, Ia juga yang membuat terang-Nya bercahaya di dalam hati kita, supaya kita beroleh terang dari pengetahuan tentang kemuliaan Allah yang nampak pada wajah Kristus. Demikian juga dalam Kolose 3:8-10, Paulus menulis bahwa: “Tetapi sekarang, buanglah semuanya ini, yaitu marah, geram, kejahatan, fitnah dan kata-kata kotor yang keluar dari mulutmu. Jangan lagi kamu saling mendustai, karena kamu telah menanggalkan manusia lama serta kelakuannya, dan telah mengenakan manusia baru yang terus-menerus diperbaharui untuk memperoleh pengetahuan yang benar menurut gambar Khaliknya. Setiap orang yang beriman dan berpengetahuan memiliki jatidiri dan moralitas yang baik di hadapan Tuhan – jika ia mau menghidupi imannya secara bertanggung jawab dan selaras dengan firman-Nya.
Pengetahuan, secara umum merupakan tindakan aktif manusia untuk mengetahui sesuatu, yang tahu sesuatu, memikirkan sesuatu, menganalis sesuatu, dan menghasilkan sesuatu. Pengetahuan sifatnya tidak terbatas. Yang terbatas adalah keingintahuan manusia dan sesuatu yang diketahui manusia. Terbatas karena natur manusia terbatas. Pengetahuan mencakup segala sesuatu yang diciptakan TUHAN. Wilayah pengetahuan tentu sangatlah luas. Eksplorasi manusia tidak sanggup mendalaminya atau memahaminya secara utuh dan memadai. Yang dapat dipahami dari eksplorasi dan penelitian manusia hanyalah pengetahuan yang sifatnya faktual dan tidak menutup kemungkinan, imajinatif.
Pengetahuan tentang TUHAN yang kekal dan tidak terbatas, dapat dibuktikan sejauh TUHAN menyatakan diri-Nya – dan jika tidak, pengetahuan manusia tentang Dia, mengalami stagnasi.
“Iman” – dalam pengertian praktis – merupakan tindakan yang mencakup kepada tiga fakta: kepercayaan seseorang terhadap objek [sesuatu] yang diakui lebih berkuasa darinya, rasa percaya terhadap diri sendiri, dan kekuatan keyakinan terhadap ambisi hidup. Pengetahuan adalah kegiatan pikiran. Pikiran dapat bereksplorasi, berekspansi, dan berkomparasi dengan objek lainnya dan menghasilkan sebuah “statement” [pernyataan], pertanyaan, kesimpulan [tentatif dan definitif], konsepsi, prinsipil [benar dan salah], kebenaran, hukum, aturan, etika, dan kaidah.
Iman adalah keyakinan pikiran dan kegiatan pikiran yang berorientasi kepada masa depan [setelah tahu tentang karya Allah dalam Kristus Yesus di masa lalu], dan bersandar pada objek yang dipercaya dapat memberikan solusi atau kuasa dari apa yang diyakini. Iman adalah pemberian Tuhan, jika orientasi iman itu berdasar pada kehendak dan rencana-Nya. Iman dapat bertumbuh melalui dua hal: penderitaan dan demonstrasi kuasa Tuhan.
Orang yang beriman berarti ia termasuk orang yang berpengetahuan. Orang yang berpengetahuan memiliki “iman” yang dibagi ke dalam dua bagian: iman kepada diri sendiri [di luar Tuhan] dan iman kepada Tuhan. Orang beriman adalah ia yang terus belajar dari Tuhan melalui firman-Nya serta mengalami kuasa dan penyertaan-Nya. Orang yang “beriman” pada dirinya sendiri, membuang firman Tuhan, hendak menciptakan kekuatan dan pengaruhnya sendiri, agar ia mendapat “nama dan kehormatan” di mata mereka yang menjadi budaknya.
Namun, perlu diingat bahwa dalam pandangan Alkitab, iman berkorelasi dengan pengetahuan. Pengetahuan tentang Tuhan menghasilkan iman kepada Tuhan, meskipun kita tahu bahwa tidak semua orang yang belajar dan mau mengenal Tuhan, menjadi percaya kepada-Nya.
Hingga pada akhirnya, iman dan pengetahuan yang kita miliki harus terejawantahkan ke dalam lautan kehidupan yang terbatas tetapi berpotensi meluas. Pengetahuan dan iman yang direalisasikan secara internal mencakup tentang bagaimana bersikap dalam keseharian kita; bagaimana kita berkontribusi, bekerja dan melayani, dan bagaimana kita memberikan pengaruh—“menjadi teladan”—dalam pikiran, kata, dan perbuatan.
Pengetahuan dan iman yang direalisasikan secara eksternal mencakup tentang bagaimana kita bersikap melalui media waktu dan kesempatan. Di media waktu, berarti kita siap sedia pada segala waktu untuk berekspresi; ya, mengekspresikan pengetahuan dan iman kita. Di media kesempatan, berarti kita—dalam setiap kesempatan yang kita miliki dan kita dapatkan dari orang lain—digunakan untuk juga berekspresi.
Secara tepat, di zaman sekarang ini, ada ruang realisasi yang begitu besar di mana kita dapat merealisasikan pengetahuan dan iman melalui berbagai media. Tidak perlu lagi merasa harus mengeluarkan banyak uang untuk memperluas pengetahuan dan [kesaksian] iman kita. Medianya sudah ada, tinggal kita yang mempergunakannya. Jangan sampai kita sibuk dengan segala sesuatu yang hanya memperkaya diri, kemudian menjadi tamak, dan melupakan tanggung jawab iman dan pengetahuan kita.
Iman dan pengetahuan perlu direalisasikan dalam kehidupan. Tujuannya jelas, yaitu untuk mencapai tingkat pemahaman yang selaras dengan firman Tuhan. Diperlukan sebuah pemahaman yang baik tentang hidup dan tanggung jawab yang terkandung di dalamnya. Pada setiap kesempatan, keduanya terlihat jelas, sebuah konfirmasi jati diri dan identitas yang sebenarnya.
Hasil-hasil dari proses realisasi iman dan pengetahuan adalah pengaruh terhadap orang lain di mana diri kita sekaligus menjadi teladan utama. Jangan mengandalkan kekuatan sendiri, melainkan tetap bersandar dan mengutamakan Tuhan di setiap sendi kehidupan. Persoalan hidup tetap ada; mumpung ada waktu dan kesempatan, kita datang kepada-Nya untuk mengharapkan kekuatan, hikmat, dan bijaksana, serta tuntunan-Nya.
Ada berbagai tindakan yang disebabkan oleh realisasi iman dan pengetahuan, entah baik, entah buruk. Dosa menjadi penghalang bagi mereka yang ingin merealisasikan iman dan pengetahuan yang benar dan pada tempatnya; dosa menjadi pendorong bagi mereka yang sombong dengan iman dan pengetahuan yang dimilikinya, yang tujuannya hanya menyombongkan diri, meraup keutungan, egoisme, dan sikap tidak bersahabat.
Pengetahuan dan iman adalah pedoman untuk menjadikan hidup semakin baik berdasarkan firman Allah, dan mengarahkan hidup kepada-Nya. Dan yang terpenting adalah—sekali lagi: “Orang beriman dan berpengetahuan seharusnya terus belajar dari Tuhan dan firman-Nya serta mengalami kuasa dan penyertaan-Nya, sehingga dapat menjadikan dirinya berkenan kepada Tuhan, pula menjadi teladan dan berkat bagi sesamanya.”
Tampak bahwa cara melihat doktrin sebagai cerminan wajah Kristen—pengikut Kristus—masih merupakan masalah serius, tidak hanya di kalangan jemaat awam, tetapi juga di kalangan teolog. Tentunya “teolog” yang saya maksudkan di sini memiliki perbedaan identitas pada luapan iman yang benar yang dituangkan dalam doktrin, dan luapan imajinasi, spekulasi, skeptisisme, kedunguan, yang dituangkan dalam “a-doktrinal”. Teolog jenis kedua adalah yang saya maksudkan dalam tulisan singkat ini.
Sejatinya, proses keberimanan kita tidak lepas dari sebuah “doktrin”. Itulah pemandu kita untuk tetap melihat kepada subjek iman—yakni Kristus Yesus—secara benar, serius, dan dogmatis. Kita jatuh dan bangun semuanya tergantung pada cara memahami Kitab Suci dan ajaran di dalamnya. Juga tak bisa dipungkiri, di kemudian hari, dalam perkembangannya, kita berkelahi soal doktrin. Pola dan peristiwa ini terus berulang di sepanjang sejarah.
Yang menarik adalah ketika muncul teolog-teolog kelas teri yang menyemburkan air liurnya yang bau itu, kepada para pendengarnya. Dia mulai dengan imajinasi tentang segala sesuatu, kemudian diarahkan kepada sentralisme pemikirannya yang tidak seberapa itu. Lelucon, kebodohan, kedunguan, teologisme, dan ambisiusisme a-doktrinal dimuncratkan bersama air liurnya kepada jemaat yang hidungnya pampat (mampet).
Jelaslah, dengan hidung jemaat yang pampat tadi, tidak bisa mencium bau busuk muncratan air liur sang teolog kelas teri. Alhasil, jemaat meninggal dalam keadaan hidungnya yang disodok pakai kapas pembalut. Fenomena ini sering terjadi di setiap zaman dan generasi. Apakah kita merasakan aroma ini di zaman kita? Yang hidungnya tidak pampat pasti bisa mencium aroma kebusukan teologisme, ambisiusisme, dan amburadulnya a-doktrinal dari para teolog kelas teri.
Dari sini kita belajar, bahwa memahami doktrin tidak semudah mengklaim mendapat inspirasi dari roh kudis, tetapi benar-benar mempelajari sejarah perkembangan doktrin Kristen yang telah dimulai dari zaman para rasul. Jangan tetiba muncul dan mengklaim—karena merasa ‘punya’—pemahaman yang nyeleneh, ngaco, dan beracun. Jemaat pun harus waspada dengan jenis teologisme—ambisiusisme yang dimuncratkan oleh para teolog (para pendeta) kelas teri.
Ini lebih menarik lagi, bahwa ketika teolog kelas teri memuncratkan air liur a-doktrinalnya kepada jemaat awam yang hidungnya pampat tadi, mereka tetap merasa aman dan sejahtera. Lebih dari itu, mereka “bahagiaaaaaaa…iaaaaaaa…..iaaaaaaaa” banget tiada duanya, mengalahkan kacang dua kelinci dan kacang dua bungkus milikku sendiri. Mereka berada pada lingkaran “KITAISME”. Alhasil, bersatulah lingkaran Kitaisme, Teologisme, dan Ambisiusisme.
KITAISME, adalah sebuah konteks perasaan jemaat awam yang tetap merasa hangat dalam pelukan a-doktrinal para pendeta kelas teri. Meski pendeta mereka otaknya miring dan sedikit bergeser—maksudnya ajarannya yang menyimpang dan nyeleneh—mereka tetap merasa bagian darinya. Kitaisme memang begitu kuat, apalagi para pendeta mereka orang berduit. Ngomong apa saja pasti didengarkan. Kitaisme memang masih menguat di gereja-gereja yang “berduit”. Bagi mereka, tidak apalah jika pendeta kami ajarannya bersifat a-dogmatis, yang penting dia baik, murah hati, suka memberi, dan bermoral.
TEOLOGISME, adalah sebuah konteks tentang teologi dan cara berteologi yang mengusung independensi pemikiran seseorang yang cenderung melawan ajaran-ajaran resmi gereja yang telah diwariskan dari zaman ke zaman. Bagi pengusung dan penganut teologisme, yang terpenting adalah kemandirian berteologi tanpa mengaitkan dengan narasi doktrinal yang dipertahankan gereja di sepanjang sejarah.
AMBISIUSISME, adalah sebuah konteks tentang teologi dan cara berteologi seseorang yang mengutamakan ambisinya untuk mendapatkan perhatian, tepuk tangan para peserta, pengagungan, dan pujian-pujian semu. Dengan modal a-doktrinalnya, ia mencoba memperkuat pengaruh ke jemaat awam dengan ambisinya yang besar itu. Alhasil, yang meluber ke permukaan jalanan adalah kesesatan, kekosongan biblika, dan kekusutan dogmatika.
Apakah kita berada dalam lingkungan dan lingkaran ini? Masihkah kita memiliki narasi kitaisme, teologisme, dan ambisiusisme? Jangan menceburkan diri kita ke dalam lingkungan dan lingkaran semacam itu. Kita adalah orang-orang yang diberikan iman dan pengertian oleh Kristus Yesus. Dan oleh karena itu, kita harus tunduk pada kebenaran yang sesungguhnya yang telah diperjuangkan oleh para rasul, para bapa gereja, dan orang-orang yang telah dipakai Allah di sepanjang zaman.
Tinggalkan para pendeta kelas teri yang mengusung teologisme dan ambisiusisme. Mereka adalah perusak iman Kristen; mereka melacurkan dirinya pada narasi dan imajinasi a-doktrinal untuk memuaskan hawa nafsunya. Semoga kita tetap setia pada kebenaran sejati; kebenaran Kristus, Juruselamat kita, yang telah memerdekakan kita dari belenggu dosa dan kematian kekal.
Kepada Dialah kita berpaut dan mengharapkan kemurahan. Kita jangan seperti orang-orang yang berpikir bahwa ketika ‘tuhan’ mereka dihina, segera mereka menolongnya. Kita tahu bahwa Tuhan Yesus adalah Penolong, Penyelamat, dan Penebus. Kita tidak dipanggil untuk menolong Dia, tetapi dipanggil untuk hidup bagi Dia, mengasihi-Nya, melayani-Nya, dan mewartakan Injil-Nya. Jangan mencoba menolong ‘Tuhan’. Apalagi menolong para pendeta kelas teri karena dianggap bahwa dia adalah bagian dari “kitaisme.” Itu salah! Itu keliru! dan itu berdosa!
Jadilah orang Kristen yang kuat dalam iman, pengharapan, dan kasih, sembari tetap memahami, menghidupi, dan mempertahankan ajaran-ajaran Alkitab yang sejati. Jangan sampai hidung kita mampet dan kemudian para pendeta kelas teri sesuka hati memuncratkan air liurnya yang bau, kotor, dan membuat denyut jantung kita terkena racun, kemudian mengalami gangguan bernapasan.
Berbijaksanalah, hidup dalam kebenaran sejati. Jangan lagi dihipnotis dengan air liur yang bau racun, melainkan hiruplah aroma kebenaran Kristus, kekudusan hidup, dan doktrin-doktrin yang benar, yang telah dipertahankan di sepanjang sejarah.
Kita berada di dalam kehidupan, menjalaninya, mempercakapkannya, merenungkannya, memperjuangkannya, bertahan agar dapat beralih dari satu hari ke hari lainnya, merancang masa depan, menikmati kebahagiaan, merasakan kesedihan, keletihan, kekecewaan, luka batin, dan bahkan bergumul dengan tantangan, hambatan, tekanan, dan berbagai bentuk ketidakadilan. Kita pun menafsirkan berbagai gejolak atau kemelut dalam hidup dengan berbagai referensi, pengalaman, doa, iman, agar dapat menemukan suatu “harapan” bertahan hidup dan menikmatinya dengan kelegaan, tanpa beban. Kita dapat menyebut fakta ini sebagai “ombak kehidupan”.
Tetapi, kita terus berhadapan dengan “waktu” dan “kesempatan”. Waktu terus bergulir, tiada henti, sementara kita kadang berhenti sejenak untuk menatap langit sembari berucap permohonan, harapan, dan protes. Sesekali kita menelan ludah, pertanda bahwa ada beban-beban hidup yang berat untuk dipikul, ditanggung, dan dirasakan.
Kesempatan seringkali tiba di depan mata, tapi kita berada dalam posisi tak berdaya, lemah terkulai. Kembali kita menatap langit sembari berucap permohonan, pertolongan, dan topangan dari Sang Khalik. Kita bergegas untuk menjemput kesempatan itu, menjalani prosesnya, menikmati hasilnya.
Pertarungan untuk memecah ombak kehidupan pun tak dapat dihindari. Kekuatan, pertimbangan, dan kesadaran, mendorong kita untuk bertarung bagi kehidupan, mewujudkan masa depan. Dengan lankah tergopoh-gopoh, kita terus saja melangkah menuju titik kesenangan. Sesekali kita tak mempedulikan seberapa besar tantangan yang kita hadapi. Kita masih saja berhadap akan datang pertolongan tepat pada waktunya.
Ombak Kehidupan terkadang kecil, terkadang besar. Kita berada dalam perahu, memegang dayung, menjaga keseimbangan, menatap sekitar, berpikir untuk mendayung ke arah yang tepat. Akan tetapi, seringkali kita salah arah, kurang tenaga untuk mendayung, tertidur pulas di dalam perahu, dan tersadar kembali untuk mendayung.
Pemaknaan terhadap hidup dan ombak kehidupan adalah bagian kita. Tuhan telah memberikan segala potensi kepada kita untuk berjuang menghadapi ombak kehidupan. Keyakinan kita semakin kuat tatkala kita telah melihat pelabuhan semakin dekat. Kegirangan terus memacu dan kekuatan mendayung dipertahankan. Hingga akhirnya kita pun sampai di tujuan.
Ternyata, ombak kehidupan melatih dan menyadarkan kita bahwa masih ada harapan. Tuhan tak meninggalkan kita. Ia hadir memberi kekuatan dan pertolongan agar kita menjadi kuat. Ia tahu batas kemampuan kita. Ia tahu bahwa kita tak sanggup; maka Ia bertindak menolong, menopang, dan menunjukkan kemurahan-Nya.
Ombak kehidupan memberi kita pelajaran tentang apa dan bagaimana kehidupan itu. Kita yang telah memecah ombak kehidupan dapat bersyukur bahwa pada saat yang tepat, Tuhan memperlihatkan kemenangan dan kebahagiaan bagi kita yang tak putus asa menghadapi badai-badai kehidupan.
Memecah ombak kehidupan melibatkan lima aspek penting: Pertama, Keberanian. Kita harus berani menjalani hidup yang dikaruniakan Tuhan. Dan memang adalah tugas kita untuk menjalaninya. Tuhan telah memberikan potensi kepada kita untuk “ada”, “hidup”, “bergerak”, dan “berjuang” dalam hidup ini. Sejak awal Ia berfirman: …. supaya mereka [manusia] “berkuasa” atas ikan-ikan di laut dan burung-burung di udara dan atas ternak dan atas seluruh bumi dan atas segala binatang melata yang merayap di bumi.” … berkuasalah atas ikan-ikan di laut dan burung-burung di udara dan atas segala binatang yang merayap di bumi. … Lihatlah, Aku memberikan kepadamu segala tumbuh-tumbuhan yang berbiji di seluruh bumi dan segala pohon-pohonan yang buahnya berbiji; itulah akan menjadi makananmu (Kejadian 1:26-29). Semua telah disediakan Allah. Dan potensi juga Ia berikan. Dengan demikian, kita harus berani mengembangkan potensi untuk berkuasa dan “mencari makan” karena Ia telah menyediakan segala sesuatunya.
Kedua, Pengharapan. Kita terus berhadap kepada-Nya; kita pasti dapat memecah ombak kehidupan. Pengharapan kita hanyalah pada-Nya. Roma 12:12 menyebutkan: “Bersukacitalah dalam pengharapan, sabarlah dalam kesesakan, dan bertekunlah dalam doa!” Alkitab menyediakan bahan pemahaman tentang pengharapan. Tujuannya agar kita terus berhadap kepada Tuhan. Pemazmur mencatat: “Mengapa engkau tertekan, hai jiwaku, dan gelisah di dalam diriku? Berharaplah kepada Allah! Sebab aku akan bersyukur lagi kepada-Nya, penolongku dan Allahku!” (Mazmur 42:6, 12; 43:5). “Berharaplah kepada TUHAN, hai Israel! Sebab pada TUHAN ada kasih setia, dan Ia banyak kali mengadakan pembebasan” (Mazmur 130:7).
Alkitab juga menegaskan bahwa hanya Tuhanlah pengharapan, sumber air hidup orang percaya (Yeremia 14:22; 17:13; Kisah Para Rasul 24:15; 15:13; 2 Tesalonika 2:16; 1 Timotius 4:10; Ibrani 10:23; 1 Petrus 1:3; 1 Yohanes 3:3). Memecah ombak kehidupan membutuhkan pengharapan. Ya, pengharapan kepada Allah yang hidup.
Ketiga, Keyakinan (iman). Iman memandu kita untuk tetap berharap kepada Tuhan. Dari Dialah kita menerima iman, dan oleh karenanya “kita beriman”. Dalam menempuh perjalanan kehidupan dengan segala suka-dukanya, imanlah yang membantu kita untuk tetap berdiri tegak, menatap langit sembari berkata: “Tuhan, berikanlah aku kekuatan untuk menghadapi ombak kehidupan.”
Keempat, Berserah kepada Kristus Yesus. Ada kalanya kita terkapar tak berdaya, dan pada situasi semacam itu, kita berserah kepada-Nya. Memang, tindakan berserah bukan pada momen-momen terkaparnya kita pada konteks tertentu, melainkan berserah dalam totalitas kehidupan kita. Berserah dapat dipahami sebagai kesadaran akan segala keterbatasan kita untuk menjalani suka-duka hidup, dan membutuhkan Dia, Sang Khalik, untuk menopang, menguatkan, dan membimbing kita menuju keberhasilan, kebahagiaan, dan kesukacitaan.
Kelima, Relasi: Tuhan dan Sesama. Membangun relasi itu penting! Relasi spiritual dengan Tuhan, dan relasi humanitas dengan sesama. Ombak kehidupan dapat kita hadapi bersama, dan Tuhan seringkali memakai sesama kita untuk dapat memberikan pertolongan tatkala menghadapi ombak kehidupan. Memecah ombak kehidupan dapat dilakukan secara bersama. Kebersamaan itu indah. Bangunlah relasi yang kuat dengan Tuhan dan sesama. Itulah yang Ia kehendaki.
Pada akhirnya, kita dilatih oleh-Nya untuk menunjukkan kesadaran kita bahwa Dialah yang merancang kehidupan terbaik kita, merancang masa depan kita, merancang proses kehidupan, termasuk menyuguhkan ombak-ombak kehidupan, supaya kita menjadi kuat, dewasa, dan setia kepada-Nya—yang tetap ada—memberikan yang terbaik menurut kerelaan kehendak-Nya.
Demarkasi dikaitkan dengan proses inferensi (penyimpulan) dari isu yang dibahas. Term “demarkasi” dipahami sebagai: garis batas (memisahkan), penandaan batas-batas sesuatu hal, atau perbedaan yang ditandai kategori tertentu, baik itu suatu peristiwa, prinsip penalaran logis, teks, hermeneutika, konfigurasi, evolusi pemikiran, dan lain sebagainya.
Daniel Cohnitz & Luis Estrada-González dalam An Introduction to the Philosophy of Logic (Cambridge: Cambridge University Press, 2019), 103, melihat kriteria demarkasi dalam konteks logika untuk memberi tahu tentang garis antara ekspresi logis dan non-logis. Istilah demarkasi juga dipahami Gillian Russell sebagai bagian dari argumentasi [Filippo Casati & Daniel O. Dahlstro, Heidegger On Logic (Cambridge: Cambridge University Press, 2022), 15].
Menurut Mario Bunge [dalam Massimo Pigliucci and Maarten Boudry, Philosophy of Pseudoscience: Reconsidering the Demarcation Problem (Chicago: The University of Chicago, 2013), 36], langkah dalam menggunakan demarkasi adalah memilih unit analisis yang paling komprehensif yang mencakup bidang epistemik (pengetahuan). Kriteria demarkasi dalam ruang filosofi, menurut Pigliucci and Boudry, memberi tahu kita apa yang masuk akal untuk dipercaya dan apa yang tidak (Pigliucci and Boudry: 2013, 20).
Secara demarkatif, isu atau fakta yang disuguhkan perlu melihat ekspresi logis dengan didukung oleh argumentasi-argumentasi hermeneutis-historis, kualifikasi epistemik (pengetahuan) tentang segala sesuatu secara solid.
Teori demarkasi memiliki tujuh aspek koheren, yang dapat digunakan dalam proses penarikan kesimpulan, proses pemahaman, dan proses meyakini sesuatu:
Pertama, aspek batasan tindakan. Tindakan seringkali dibatasi pada perspektif saksi mata, para pembaca, para pelaku. Karena adanya perbedaan dalam hal ini, maka demarkasi dibutuhkan.
Kedua, aspek batasan proses. Segala sesuatu memiliki proses, yang kemudian dapat dipahami, dimaknai, diketahui, dan alami. Proses itu terbatas pada kepentingan sesuatu hal. Proses belajar di sekolah tinggi teologi, berbeda dengan proses belajar berenang di kolam renang. Itu sebabnya, dibutuhkan demarkasi proses.
Ketiga, aspek batasan pada hasil penyimpulan. Penyimpulan segala sesuatu terbatas pada cara pandang seseorang akan suatu peristiwa, teks, gerak, visualisasi, bunyi, sejarah, dan lainnya. Hasil penyimpulan dibatasi pada tujuan, keimanan, keberlanjutkan, dan kemanfaatannya bagi kehidupan manusia.
Keempat, aspek konteks. Segala sesuatu memiliki konteks. Singkatnya, “ada konteks” yang mengikat dari semua peristiwa (kejadian) atau hal lainnya. Demarkasi selalu dilihat dari konteksnya. Artinya, konteks adalah navigasi pemahaman, penalaran, dan penyimpulan. Itu sebabnya, demarkasi itu sendiri melibatkan konteks.
Kelima, aspek kategorial. Demarkasi tidak hanya memperlihatkan konteks, tetapi juga aspek kategorial: peristiwa, iman, Kitab Suci, teologi, budaya, pendidikan, golongan, pangkat, identitas, potensialitas, tendensi keilmuan, tendensi kesukuan, tendensi bahasa, politik, ekonomi, dan lain sebagainya. Demarkasi dalam aspek kategorial, sangat mengental dalam hal iman, agama, teologi, dan kitab suci. Perang agama, seringkali disebabkan oleh adanya demarkasi ini.
Keenam, aspek lokus. Demarkasi juga terikat pada lokus. Sejarah Israel berbeda dengan Sejarah berdirinya negara Amerika. Lokusnya berbeda, dan kepentingannya berbeda. Lokus seringkali menjadi dasar pemahaman bahwa evolusi peristiwa dan pemaknaannya, menjadi kekuatan sejarah dan hermeneutik, ketika dikaitkan dengan evolusi agama tertentu.
Ketujuh, selektivitas sumber (peristiwa, identitas pelaku, perspektif, dan lain sebagainya). Suka atau tidak, selektivitas sumber juga menjadi salah satu penggunaan teori demarkasi. Para musuh Kristen, misalnya, menyeleksi sumber-sumber yang menguntungkan bagi mereka. Ketika hendak menyerang iman Kristen, maka mereka menggunakan sumber-sumber dari teolog liberal sebagai acuan kebenaran, padahal justru demarkasi semacam ini bisa berlaku juga untuk agama mereka.
Dengan demikian, teori demarkasi dapat menyelimuti pada mayoritas konteks, baik itu sifatnya historis, tekstual, ucapan, keyakinan, dan lain sebagainya. Demarkasi adalah bukti bahwa kita didorong untuk melihat bahwa selalu ada sisi lain yang bisa digunakan, entah sebagai standar ganda, sebagai siasat mengelabui, sebagai cara untuk mengantisipasi keadaan, atau sebagai cara untuk meneguhkan kebenaran yang diyakini seseorang.
Yang menarik, sebagai penutup tulisan singkat ini, demarkasi secara sederhana bisa dianalogikan seperti berikut: ketika kita melihat seorang perempuan dari depan, kita melihat wajahnya. Sementara yang melibat dari belakang, ia melihat punggung, rambut, dan pinggul atau bokong. Mereka yang melihat dari samping kanan dan kiri, sesuai dengan apa yang mereka lihat. Yang pasti, mereka melihat wajah perempuan separuh (sebelah saja).