Sahabat yang satu ini, selain terkenal baik, dia juga unik dan lucu. Santi Meilawati namanya. Dia adalah sahabat saya semenjak bekerja sebagai dosen dan Wakil Ketua I Bidang Akademik di Sekolah Tinggi Teologi Moriah, Tangerang. Waktu itu beliau juga menjabat sebagai Wakil Ketua II Bidang Administrasi dan Keuangan.
Kebaikan beliau adalah keunikannya. Begitu juga kelucuannya. Semenjak bersahabat, beliau mengirimkan kepada saya kartu ucapan Selamat Natal dan Tahun Baru setiap tahun. Hingga di tahun ini, saya mendapat kejutan: menerima kiriman parsel Natal (kue-kue, minuman, dan kartu ucapan). Hati kami sungguh bahagia. Istri dan anak-anak saya pun menyambut gembira kiriman dari Ibu Santi. Ini adalah Kado Natal pertama dalam keluarga saya.
Setelah menerima parsel tersebut, seperti biasa, saya menyampaikan ucapan terima kasih kepada Ibu Santi via akun Facebook saya. Sebelumnya saya sudah menyampaikan terima kasih kepada beliau via WhatsApp, begitu juga dengan ucapan terima kasih kepada sekretaris beliau, Mba Cindy, yang dipercayakan untuk mengirimkannya kepada saya.
Sebagai seorang penulis, rasanya tidak cukup hanya mengucapkan terima kasih via WA dan FB. Sejak saya bergegas pulang dari Gading Serpong, sore tadi, saya berencana untuk membuat satu tulisan singkat mengenai hal ini. Setibanya di kampus Arastamar, saya menyempatkan waktu untuk menulis tulisan singkat ini, tentang Kejutan Natal dari Ibu Santi.
Ini adalah tulisan kedua tentang beliau. Tulisan pertama saat saya pindah dari STT Moriah ke STT SETIA (Arastamar) Jakarta. Perjanjiannya adalah kami berdua tetap bersahabat meski saya sudah pindah ke alamamater saya, kampus Arastamar.
Apa yang telah ditaburkan Ibu Santi, tentu tetap diingat. Kebaikan itu sendiri, pasti akan kembali kepada tuannya. Harapan saya, kebaikan yang telah ditaburkan Ibu Santi, akan kembali kepadanya dalam bentuk-bentuk serupa atau yang lain. Itulah prinsip saya pegang sampai sekarang. Dengan menerima kejutan dari beliau, sukacita dalam menyambut Natal Yesus Kristus memberi kesan yang mendalam bagi kami sekeluarga.
Kiranya, kebersamaan, persahabatan, dan saling mendoakan, tetap menjadi wajah keberimanan kita, dalam membangun kehidupan yang indah, kehidupan yang berkilau gemilang, dan bahkan kehidupan yang menaburkan berkat bagi sesama. Momen Natal di tahun ini, memanggil kita untuk senantiasa memancarkan terang Kristus dalam segala situasi, kapan pun dan di mana pun.
Akhirnya, saya secara pribadi mengucapkan banyak terima kasih atas KEJUTAN NATAL dari Ibu Santi yang juga merupakan Kado Natal pertama yang kami terima di bulan Desember ini. Cinta kasih dan kemurahan Tuhan Yesus, kiranya senantiasa menaungi dan melingkupi Ibu Santi sekeluarga. Untuk anak terkasih, Petra, kiranya juga dapat mengikuti jejak Mami Santi yang keren. Tuhan Yesus memberkati!
Manusia dapat melakukan apa saja, sejauh yang dapat ia lakukan, sesuai keinginan, keperluan, rencana, siasat, dan politik, baik yang berguna maupun yang tidak berguna, yang menguntungkan atau tidak menguntungkan, mencelakakan, sengaja, merusak, atau menghancurkan, hingga membunuh dirinya sendiri. Perbuatan-perbuatan manusia jelas mencerminkan dirinya sendiri yang mencakup karakter, integritas, dan jati dirinya (identitas).
Tindakan-tindakan manusia mewakili dirinya sendiri, meski di lain kesempatan, mewakili diri orang lain, agama, bahasa, dan lain sebagainya. Kita perlu melihat lima fakta berikut ini:
Pertama. Manusia bertindak (melakukan segala sesuatu) berdasarkan keyakinan diri (di luar agama). Perbuatannya dianggap bebas dan liar karena tidak menurut berbagai pertimbangan moralitas melainkan dengan konsep, gagasan, dan fakta yang terjadi (lokal, nasional, dan global). Tetapi dia pun berpikir bahwa perbuatannya benar berdasarkan keyakinannya. Ini adalah dualisme logika dalam bentuk demarkasi.
Kedua. Manusia bertindak berdasarkan hubungan darah (keluarga). Apa yang dilakukan “dibenarkan” karena merasa bahwa membela keluarga adalah penting.
Ketiga. Manusia bertindak berdasarkan kesamaan suku dan bahasa. Tindakan-tindakan tersebut kadang benar dan kadang salah. Memang perlu bertindak atas nama suku dan bahasa tetapi duduk persoalannya haruslah dipahami secara benar.
Keempat. Manusia bertindak atas nama bangsa atau negaranya. Biasanya hal ini terkait dengan nasionalisme atau bela negara ketika negaranya dilanda perang atau serangan dari pihak luar.
Kelima. Manusia bertindak atas nama agama. Ajaran agama dilakukan dengan penuh semangat, meski kadang salah sasaran, salah tempat dan salah pemahaman. Tetapi tindakan tersebut bisa dianggap tetap benar sesuai dengan pengajaran agama tersebut.
Berangkat dari kelima dasar tindakan di atas, semuanya dapat menghasilkan – di samping hal-hal yang berguna dan berpengaruh baik – “manusia-manusia [yang] infructuosus” (atau manusia yang fruitless/unprofitabel – tidak berbuah atau tidak menguntungkan) yang pada gilirannya hanya menghasilkan kekacauan, pembunuhan, peperangan, sikap main hakim sendiri dan lain sebagainya; pada akhirnya merugikan banyak pihak. Alhasil, tindakan-tindakan tersebut ternyata tidak berbuah (unfruitful) atau tidak menghasilkan buah-buah kebaikan, kebajikan, keadilan, kedamaian, kerukunan, dan kebersamaan dalam toleransi; sia-sia/tidak berhasil (fruitless), dan tak menguntungkan (unprofitable).
Secara khusus, pada ranah agama, tindakan-tindakan yang tidak berguna dan tidak menguntungkan, justru sedang menonjol dan bahkan menghalalkan segala cara untuk menunjukkan supremasi agamanya. Ya, memang itu yang terjadi, tetapi sayangnya, bukan itu substansi agama. Ada yang mau mengambil konteks lampau untuk dimasukkan ke dalam konteks sekarang terutama konteks perang dan berharap model atau cara perang dulu diterapkan di masa sekarang. Padahal, konteksnya sudah berbeda.
Agama tidak lagi mengulang bagaimana proses pemunculannya melainkan melakukan pembaharuan seiring kemajuan zaman. Mereka yang masih berpikir kolot akan terus mengupayakan gagasan tafsir provokatif polemis untuk membakar emosi massa bagi kepentingan kelompok tertentu.
Manusia yang tidak berguna dan tidak menguntungkan (secara baik) adalah mereka yang mengutamakan nafsu kekuasaan ketimbang pola hidup yang aman dan sejahtera dan mengajak orang lain untuk bersama membangun bangsa dan negara. Mereka akan menggunakan “agama” untuk memuluskan agenda perpecahan, pertikaian, permusuhan, dan semacamnya. Mereka tidak berguna memang! Mereka hanyalah menjadi beban bagi bangsa dan negara; mereka mengacau dan suka main hakim sendiri. Mereka tidak berguna memang! Tidak menghasilkan buah kedamaian, tidak pula buah keadilan, tetapi tindakan-tindakan main hakim sendiri, brutal, dan suka mengkafir-kafirkan orang lain yang berbeda pandangan!
Siapakah manusia yang infructuosus – tidak berbuah atau tidak menguntungkan? Mereka adalah orang yang bernafsu gila terhadap kekuasaan, melegalkan korupsi, membunuh, mencelakakan orang lain, menista nilai-nilai humanitas dan nasionalisme, merendahkan manusia lain hanya karena dirinya dirasa tak berdosa dan berjuang di jalan “Dewa Tertinggi”-nya: UANG.
Manusia yang infructuosus hanyalah tahu bahwa dirinya benar dan berada di jalan Tuhan, padahal perbuatan dan perkataannya tidak mencerminkan manusia berakhlak dan berTuhan – bahkan menjadi musuh Tuhan. Itulah manusia yang infructuosus, manusia yang tidak berguna, tidak memberikan keuntungan yang baik bagi sesama, baik di masa kini maupun di masa depan. Ia patut dihindari; tidak dapat dijadikan sahabat atau teman curhat (curahan hati), apalagi dijadikan rekan kerja.
Berhati-hatilah dalam menilai sesuatu, termasuk relasi atau persahabatan. Bahaya munculnya manusia yang infructuosus diantisipasi sebab ia akan sangat merugikan kita, kehidupan, pekerjaan, dan bahkan pelayanan kita. Marilah menjadi manusia-manusia yang menghasilkan buah-buah kebenaran, dan bukan manusia-manusia yang infructuosus – tidak berbuah, tidak menguntungkan, malahan membuat rugi karena kelalaian dan kesalahan diri sendiri.
Bahaya akan senantiasa mengancam kita ketika berhadapan atau bersahabat dengan manusia-manusia yang infructuosus. Dia bertindak berdasarkan keyakinan diri yang berlebihan, tanpa ada hasil yang memuaskan. Akan tetapi, lebih baik kita membangun relasi dengan mereka yang benar-benar menunjukkan jati diri yang baik, berintegritas, dan memiliki kerohanian yang baik. Alhasil, kita sesungguhnya turut memberikan kontribusi bagi terciptanya relasi dan konteks yang lebih bersahabat, sederhana, dan solid.
Berbagai peristiwa yang terjadi, baik pada orang lain, pada diri kita sendiri, atau pada alam, barangkali menyisakan pertanyaan-pertanyaan yang belum terjawab sepenuhnya, meskipun di satu sisi – tergantung pada jenis peristiwanya – kita menarik makna untuk menjadi bekal teguran, harapan, atau koreksi, agar diri dan hidup menjadi lebih bergairah, memiliki tujuan yang jelas.
Gelanggang kehidupan adalah bagian yang tak terpisahkan dari proses kembara dan kehidupan. Di waktu yang bersamaan, gerak dan potensi diri ikut dalam memeriahkan proses kehidupan itu sendiri. Mereka yang malas, terseret dalam pusaran kemiskinan, ketidakberdayaan, atau bahkan keputusasaan. Mereka yang rajin menerima upah yang sepadan, melampaui, atau secukupnya. Ternyata, kehidupan dan peristiwa membuahkan banyak hal, termasuk bagaimana kita membangun jembatan hari ini dengan masa depan.
Kehidupan dan harapan tidak dapat dipisahkan. Manusia yang hidup pasti memiliki harapan. Harapan dimiliki oleh mereka yang hendak berjuang untuk sesuatu yang menguntungkan, mencukupkan kebutuhan diri, atau bahkan untuk bertahan hidup dari hari ke hari. Kehidupan terkadang rumit, terkadang bahagia, terkadang sulit, terkadang menyesakkan dada.
Bagaimanapun keadaannya, kita memiliki pilihan-pilihan untuk ditindaklanjuti. Demi kehidupan yang bahagia, kita rela menambah waktu kerja, waktu berelasi, atau waktu untuk mengembangkan potensi internal. Di satu sisi, kita bertemu dengan banyak kesulitan, tetapi di balik itu semua, iman dan kemampuan dilatih untuk menanggapi berbagai problem kehidupan, berusaha keluar, dan membebaskan diri dari cengkeramannya.
Lambat laun, kita terbiasa dengan keadaan, meski goresan luka hidup belum sembuh sempurna. Waktu demi waktu kita hanya melihat keadaan, berharap ada perubahan di kemudian hari. Kehidupan menampilkan wajah harapan dan harapan memperteguh kehidupan. Menyusuri lorong waktu, tampilan hidup kita tidak boleh pudar, tergerus keadaan, atau bahkan stagnan di tengah jalan.
Ungkapan perasaan terdalam menyeruak; kepastian menjadi keyakinan; harapan menjadi penunjuk arah, dan iman memperkokoh perjuangan. Selalu tersedia berbagai kesempatan, dan kita meraupnya untuk bertahan hidup, memperteguh identitas, dan berjuang untuk bahagia.
Berharap bahwa apa yang telah terjadi selama ini, cukup untuk memberi tanda dan bahwa kehidupan tak boleh diabaikan; harapan tak boleh dianggap remeh; baik kehidupan maupun harapan, keduanya saling mengikat dan mengkokohkan komitmen kehidupan kita. Hingga kita dapat mengetahui bahwa Tuhan senantiasa mengulurkan tangan kasih-Nya untuk membalut luka kehidupan, memulihkan luka terdalam, menyembuhkan perasaan yang tersakiti, membangkitkan semangat yang telah mati, dan memperkuat integritas.
Kita terus menikmati hidup, tetapi tak boleh lengah; perlu kekuatan dan kesadaran, agar kita dapat memahami, melewati, dan memaknai proses kehidupan yang bervariasi. Tanamkan rasa percaya diri untuk menggapai harapan kehidupan. Andalkan Tuhan senantiasa; jangan sombong; jangan meremehkan ujian kehidupan sebab dari situlah terpancar kehidupan yang kuat, berwibawa, dan berpengaruh, kini, besok, dan seterusnya.
Kembara asa menyusuri ruas-ruas waktu, kesempatan, dan keadaan. Asa hadir di dalam waktu, pada suatu keadaan, dan dapat merupakan sebuah kesempatan untuk memaksa kita berjalan, menuju suatu titik.
Waktu mengajarkan kepada kita betapa berharganya tindakan-tindakan kecil yang nyata. Kesempatan mengajarkan kita betapa pentingnya mengambil keputusan untuk bertindak, berhikmat, dan berharap. Sedangkan keadaan mengajarkan kita betapa kuatnya asa untuk berjuang keluar dari keadaan-keadaan yang tidak menguntungkan, tidak berguna dan percuma!
Kita bergerak dari waktu ke waktu, dari kesempatan ke kesempatan lainnya, dan dari keadaan ke keadaan yang berikutnya. Kita menyatukan kepingan-kepingan hidup, menjadi suatu torehan komitmen menuju integritas sejati. Hingga akhirnya bahagia mencerahkan hidup.
Mendekap asa mengharuskan sebuah proses dan guratan hati. Pikiran memandu jalannya komitmen untuk sebuah asa terbaik, kuat, dan berpengaruh. Dari dekapan asa itulah, kita merajut bahagia di setiap sela kesempatan yang ada, pada setiap keadaan, kapan pun dan di mana pun.
Merajut bahagia adalah ungkapan dan nada kehidupan yang terbaik. Ia – Tuhan – memberikan konteks hidup di mana kita mendapat kesempatan untuk memperlihatkan potensi diri, diasa sedemikian rupa, berjuang membalut lupa perasaan, dan bahkan relasi.
Kita ada untuk melihat bahwa segala sesuatu disediakan Tuhan untuk suatu tujuan. Kita memutuskan untuk mendekap asa; asa itulah yang menyiapkan lahan untuk ditanami bibit-bibit cinta kasih. Kita berharap bahwa apa yang ditanam akan berbuah lebat, memberikan rasa kenyang bagi mereka yang lapar.
Waktu demi waktu, bergulir; mengajarkan kita arti kehidupan. Kita memainkan akrobat perkataan, di mana setiap perkataan yang kita ucapkan akan menjadi desakan bagi orang lain dan diri kita sendiri. Mendamba harap tidak cukup. Perlu mendekapnya. Itu akan berlanjut dalam sebuah tindakan merajut bahagia ketika kita sadar bahwa kita memiliki tanggung jawab!
Mendekap asa, merajut bahagia adalah pilihan terbaik kita! Mengambil keputusan untuk berjuang, menghadapi tantangan, adalah bagian tak terpisahkan dari mendekap asa, merajut bahagia. Bagaimana pun, kita berada di dalam waktu yang panjang, tetapi fisik kita terbatas. Apa yang harus diperbuat?
Bahagia itu memang sangat sederhana. Kita cukup menyadari bahwa bersyukur adalah tanda utama bahwa kita bahagia, akan bahagia, dan tetap bahagia. Bersyukur adalah komitmen untuk menerima segala sesuatu yang tidak diinginkan. Meski demikian, bersyukur menciptakan siklus kebahagiaan yang sederhana tapi memuaskan jiwa dan pikiran kita.
Dekaplah asa, rajutlah bahagia. Kitalah yang menciptakan kebahagiaan itu. Asal hati penuh syukur, mulut penuh pujian kepada Sang Khalik, pikiran mengarahkan kita pada asa terbaik, niscaya kehidupan yang dijalani akan menjadi berkat tersendiri, bernas, dan berkualitas.
Tergerus oleh waktu, ditepis oleh keadaan, berharap terurai menjadi alunan lagu terindah, tapi akhirnya tercipta sebuah keadaan yang menyakitkan. Kita bergulat melawan letih, berjuang melawan kecewa. Langkah demi langkah memijaki bumi, untuk sebuah keinginan terbaik.
Masalah muncul tapi tanda diundang, menghilang tanpa pamit. Tangan Tuhan membentuk hidup kita menjadi seperti pejuang yang tak terkalahkan. Untaian tantangan, jalinan hambatan, ikatan kesempatan, terpampang di depan mata, membisikkan nada-nada yang harus dimainkan. Kita beryanyi dalam sedih, bergumam dalam demam. Harap demi harap diuji dalam temaram pikiran.
Kekalutan hati, membangunkan rintih. Kecemasan mengundang tanya; kekecewaan menabuh gendang, membuat kita menari dalam pedih. Apa mau dikata? Itulah juang, itulah keadaan, itulah hidup. Tersisa nada yang dapat kita mainkan, tertatih-tatih menyaringkan suara, berucap pada langit: beri aku secercah, agar mata meneteskan embun iman, di mana bongkahan persoalan dihancurkan berkeping-keping.
Kita terperanjat melihat keajaiban hidup. Tuhan menciptakan pelangi bagi mata kita: indah dan menawan, menghibur lara. Ia menyediakan makanan; Ia memberi kita minum; Ia menyediakan tempat pembaringan yang nyaman, damai, dan penuh kasih. Kita bangun dan beranjak pergi; pergi menapaki janji, untuk hidup dari hari ke hari. Ada tanjakan yang harus dilalui. Alas kaki mulai menipis, keringat menetes dalam hempasan langkah; tak mengapa, demi sebuah kebahagiaan.
Kisah hidup dalam gumul dan juang, dituliskan dalam secarik kertas; sebuah fenomena terbaik, memberi kita pikulan agar bahu menjadi kekar. Goresan luka, sayatan hinaan, lebam pukulan, wajah memerah kesakitan, mata perih akibat percikan caki maki, menyatu, membentuk sosok tangguh. Itulah “KITA”; ya, KITA yang telah merasakan getir, pahit, dan sempoyongan. Ketangguhan hanya lahir dari sikap berani menenteng masalah dan membuangnya di tempat sampah.
Tuhan tak membiarkan kita sendiri; Ia ada, tak terlihat, tapi kuasa-Nya mendorong, membalut, memulihkan, mengobati, menyembuhkan, menguatkan. Ia tetap melihat perjuangan kita; Ia tahu memberi yang terbaik; dan kita tahu, Dialah yang melatih kita untuk bertanding dalam hidup. Dan kita menyanyikan nyanyian kehidupan.
Tak perlu kecewa; sedu sedan – isak, tangisan yang tertahan-tahan – akan menjadi nyanyian kebahagiaan, asal waktunya genap. Tak ada manusia yang bebas dari gumul juang; kita sama; sama-sama hidup dan berjuang; tak perlu iri hati; kita mendapatkan bagian sesuai kadar masing-masing. Tuhan menakar sesuai kehendak-Nya.
Jangan berhenti bersyukur; melaluinya, hati tenang, jiwa tenteram, pikiran damai, tubuh segar, kaki tegar, tangan kuat, prinsip kokoh. Banyak hadiah yang kita terima akibat dari hati yang senantiasa bersyukur. Bukankah kita tercerahkan oleh kebaikan dan kemurahan Tuhan? Bukankah kita tahu bahwa setiap orang menikmati hidup sesuai dengan apa yang dia kerjakan?
Nyanyian kehidupan adalah cerminan proses; proses itu tak bisa ditolak, tak bisa dihindari, tak bisa diabaikan; kita hanya dapat mendalami proses, menikmatinya, dan berusaha menempuh perjalanan menuju kebahagiaan sejati. Tuhan menempa setiap hati agar harap terpatri dalam integritas.
Nyanyian kehidupan dicipta dalam waktu, dalam proses yang panjang, dalam gumul dan juang, dalam keletihan; mungkinkah nyanyian kita terdengar indah? Mungkinkah nyanyian kita memberi penghiburan bagi mereka yang lebih sedih dari kita? Mungkinkah nyanyian kita memberi kebahagiaan kepada yang lain? Itu semua dapat terwujud!
Kita menapaki tangga-tangga kehidupan; di dalam waktu, kaki kita dilatih untuk menjadi kuat, beranjak di antara tangga-tangga itu. Kita, waktu, dan nyanyian kehidupan adalah kesatuan rasa, fakta, dan masa depan. Semua dapat ditempuh; iman yang diberikan Sang Khalik melekatkan ketiganya, menyatu, kuat, menuju hidup yang berarti; hidup yang layak di hadapan-Nya; hidup berkenan kepada-Nya.
Kita terus berharap agar langkah yang tertatih-tatih, tergopoh, memijaki tangga terakhir di mana kita bertemu dengan kumpulan kebahagiaan yang telah lama menunggu kita untuk bertegur sapa dalam rasa yang kuat berbalut damai sorgawi.
KITA, WAKTU, DAN NYAYIAN KEHIDUPAN adalah realita. Yang terpenting adalah mengucap syukur dalam segala hal, berjuang dalam harap pada-Nya, menyandarkan diri pada Dia yang berkuasa, dan menitipkan keletihan pada-Nya dalam doa siang malam.
Manusia adalah pribadi yang berpikir dan pikiran yang dihasilkan mencakup berbagai hal tentang kehidupan itu sendiri. Sebagai pribadi yang hidup dan diberikan kehidupan oleh Tuhan, manusia mampu menciptakan, memahami, menjalani, menghasilkan, dan memeluk segala sesuatu yang memberinya kemudahan, kesenangan, dan kepuasan.
Pikiran manusia digunakan untuk banyak hal, bahkan keseluruhan hal yang membuat manusia bertahan hidup, agar dapat menikmati hidup. Untuk dapat menikmati hidup, manusia harus berpikir. Untuk dapat bertahan hidup, manusia juga harus berpikir. Pikiran memandu diri manusia untuk mengeluarkan potensinya di dalam waktu yang terbatas.
Kehidupan memberi manusia banyak pelajaran berharga, selebihnya, memberikan kesadaran bahwa hidup itu perlu diperjuangkan, dipertahankan, dijaga, diwarnai, digumulkan, dan direnungkan. Manusia berjuang dari waktu ke waktu untuk meneguhkan identitas dan harkat (derajat) dan martabat (harga diri). Akan tetapi, dalam proses kehidupan, manusia terikat pada waktu dan dapat dihentikan oleh waktu.
Memang, pikiran dapat memandu kita untuk mencapai tujuan hidup, bahkan kesenangan. Kita merancang segala sesuatu dengan berbagai motivasi. Yang satu berpikir tentang bagaimana mendapatkan keuntungan, yang satu berpikir tentang bagaimana mendapatkan uang secukupnya; yang satu berpikir tentang bagaimana menyenangkan orang lain, yang satu berpikir tentang bagaimana menyusahkan atau menjatuhkan orang lain; yang satu berpikir tentang bagaimana membalas dendam, yang satu berpikir tentang bagaimana mengampuni; yang satu berpikir tentang bagaimana membalas kebaikan orang lain, yang satu berpikir tentang bagaimana memanfaatkan orang lain; yang satu berpikir tentang bagaimana memuaskan hasrat seksual, yang satu berpikir tentang bagaimana menahan hawa nafsu; yang satu berpikir tentang bagaimana mendekatkan diri kepada Tuhan, yang satu berpikir tentang bagaimana menjauh dari Tuhan; yang satu berpikir tentang bagaimana membangun relasi dengan sesama, yang satu berpikir tentang bagaimana memelihara egoisme yang semu; yang satu berpikir tentang bagaimana berbagi dengan yang lain, yang satu berpikir berpikir tentang bagaimana memelihara sikap pelit; yang satu berpikir tentang bagaimana berlomba dalam kebajikan, yang satu berpikir tentang bagaimana berlomba dalam berbuat kejahatan, dan masih banyak lagi.
Pikiran memang rumit. Manusia tertekan karena terlalu banyak yang dipikirkan; manusia stres karena pikiran membebaninya; pikiran kacau, tak terkendali, dan lebih dari itu, karena pikiranlah beberapa orang memilih mengakhiri hidupnya; baginya, caci maki, kesalahpahaman, dan perendahan martabat dirinya, cukup diakhiri dengan kematiannya, agar – menurut dia – para pembencinya merasa puas.
Hampir semua hal yang menyedihkan dan memilukan disebabkan oleh keputusan pikiran; hati yang terluka, hidup terasing, perlakuan tidak adil, dan sederet kejadian yang memuakkan, dipengaruhi oleh ‘jalan pikiran orang lain dari jalan pikiran diri sendiri’. Ini juga berlaku bagi semua hal yang menyenangkan dan memuaskan.
Kitab Suci memberikan gambaran menarik tentang fenomena dan aktivitas pikiran manusia. Bahkan, bahaya-bahaya pikiran perlu dihindari. Artinya kebahagiaan dan keburukan dipengaruhi oleh pikiran manusia itu sendiri. Pengambilan keputusan untuk melakukan yang baik atau buruk, dipengaruhi oleh pikiran. Inilah yang saya sebut dengan Teologi Pikiran (selanjutnya disebut TP).
Pertama, TP menegaskan prinsip kehati-hatian dalam mempergunakan pikiran. Hindari pikiran dursila, pikiran jahat (lih. Matius 9:4; Markus 7:21) dan sesat pikir (yang mempunyai mata, tetapi tidak melihat, yang mempunyai telinga, tetapi tidak mendengar). Pikiran manusia memang bersifat bebas, apa saja dapat dipikirkan. Akan tetapi, kita perlu mempertimbangkan aspek baik-buruknya, dan apa keuntungan dan kepentingannya. Dengan demikian, kita dapat lebih dewasa dalam berpikir dan memikirkan bahaya-bahaya dari pikiran yang jahat, dursila, dan sesat.
Kedua, TP menegaskan prinsip ketepatan menjawab segala sesuatu pada waktu yang tepat (Kisah Para Rasul 6:4; 15:7; 26:25): Kami mematahkan setiap siasat orang dan merubuhkan setiap kubu yang dibangun oleh keangkuhan manusia untuk menentang pengenalan akan Allah. Kami menawan segala pikiran dan menaklukkannya kepada Kristus (2 Korintus 10:5). Kita dapat berpikir bahwa waktu yang tepat dalam menyampaikan sesuatu hal memberikan manfaat yang baik. Kita tidak boleh membuang-buang kesempatan dalam menyampaikan kebenaran. Saat Tuhan mendorong kita untuk mengatakannya, katakanlah dengan berani!
Ketiga, TP menegaskan aspek spiritualitas bahwa segala titah Tuhan itu menyenangkan, termasuk penghiburan dari Tuhan (Mazmur 94:19). Pikiran kita senantiasa disegarkan oleh firman Tuhan yang mendorong kita untuk taat pada titah-Nya, perintah, dan larangan-Nya. Firman Tuhan itu menyegarkan pikiran dan kehidupan, bahkan mengarahkan hidup kita kepada kebahagiaan yang sejati.
Keempat, TP menegaskan prinsip kesadaran bahwa pikiran Allah tak terselami. Apa yang Ia kerjakan dalam kehidupan kita adalah bagian dari rancangan kuasa-Nya bagi kebaikan kita semata (Mazmur 139:17; Lukas 1:17; 24:45; Roma 1:20): Sebab, siapakah yang mengetahui pikiran Tuhan? Atau siapakah yang pernah menjadi penasihat-Nya? (Roma 11:34); Sebab: “Siapakah yang mengetahui pikiran Tuhan, sehingga ia dapat menasihati Dia?” Tetapi kami memiliki pikiran Kristus (1 Korintus 2:16). Allah menghendaki yang terbaik, dan kita mendapatkan yang terbaik dari Allah (Roma 8:28-30).
Kelima, TP menegaskan prinsip kesadaran bahwa pikiran-pikiran kita diketahui oleh Tuhan (Mazmur 139:23, “Selidikilah aku, ya Allah, dan kenallah hatiku, ujilah aku dan kenallah pikiran-pikiranku”). Kita tidak dapat bersembunyi dari hadapan Tuhan; Ia mengetahui pikiran kita dari jauh (Mazmur 139:2). Itu sebabnya, marilah kita menjaga pikiran!
Keenam, TP mengarahkan kita untuk menghindari pikiran-pikiran negatif yang menggelisahkan hati dan hidup kita (bdk. Daniel 4:19; 5:6, 10; 7:28); mengarahkan kita untuk berpikir selaras dengan kehendak Tuhan (Filipi 2:5; 1 Petrus 4:1). Pikiran negatif mengganggu kita; pikiran jahat menghancurkan kita; pikiran yang dilandasi firman-Nya, menciptakan kelegaan dan sukacita!
Ketujuh, TP memperlihatkan bahwa Allah membuka segala bentuk kejahatan manusia karena pikirannya (Roma 1:21, 28; 2:15; Efesus 2:3; Filipi 3:19; Kolose 1:21; Titus 1:10; Yakobus 2:4). Pada akhirnya, segala pikiran jahat akan dipertanggungjawabkan di hadapan Allah. Karena itu, kita harus hidup dengan benar, berpikir benar, berkata benar, dan bertindak benar.
TP adalah wajah manusia. Kita dikenal dan disayangi karena buah-buah pemikiran kita. Masa depan yang Tuhan rancang bagi kita, dapat ditempuh dengan pikiran yang benar sesuai dengan firman-Nya, di mana dengan pikiran semacam itu, kita dapat meraih masa depan yang gemilang. TP adalah fakta bahwa kita bergulat dengan pikiran. Berbagai fenomena di sekitar kita dapat mempengaruhi dan memburukkan kita, tetapi bisa juga mempengaruhi dan menyadarkan kita.
Mereka yang menjaga pikirannya tidak mudah jatuh dalam dosa dan kesesatan. Pikiran yang sehat adalah buah dari iman yang benar. Kita diperhadapkan dengan dunia yang carut-marut, tetapi pikiran kita senantiasa ditujukan kepada Kristus Yesus: kini, besok, dan selamanya…..
Kesetiaan memiliki makna terdalam. Kehidupan dan relasi manusia mencerminkan sikap ‘setia’ kepada Tuhan. Kesetiaan kepada Tuhan tampak dalam totalitas hidup yang dijalani. Setia menenkankan prinsip ketaatan, komitmen, dan kesediaan menerima segala sesuatu dari Tuhan—apa pun itu—bagi kebaikan kita.
Ada fakta menarik yang dapat kita lihat di kehidupan kita sendiri. Terkadang, fakta itu sering diabaikan, sering dianggap remeh bahkan tak pernah terlintas di pikiran kita. Apakah itu? Kita merasakan bagaimana kehidupan ini baik-baik saja; bagaimana kita meraih segala sesuatu yang kita inginkan dan kehendaki. Kita mendapati diri kita masih bernafas, mendapati diri kita masih bergerak, membuka mulut untuk makan dan minum, kita bekerja untuk menyambung hidup. Dari semuanya itu, sudahkah kita bersyukur kepada Tuhan? Sudahkah kita menyadari bahwa hidup itu adalah anugerah?
Dapatkah kita sejenak merenung bahwa hidup itu penting dan berharga dan mengakui bahwa ada ‘tangan Tuhan yang kuat’ yang sedang menopang, memberkati, dan menyertai kita setiap waktu? Apakah Tuhan pernah alpa menolong dan memelihara kita? Apakah Tuhan lalai menepati janji-Nya? Apakah Tuhan hanya menjadi tujuan doa ketika kita sedang sekarat, tak berdaya? Bukankah dalam situasi suka dan duka kita tetap mengucap syukur kepada-Nya?
Hanya mereka yang setia kepada Tuhan yang dapat melakukan apa yang berkenan kepada-Nya. Hanya mereka yang menyadari dengan hikmatnya bahwa kebaikan Tuhan itu tak pernah pudar dan kemurahan Tuhan selalu baru tiap hari, selalu mengiringi langkah hidup kita.
Tak ada yang dapat kita berikan kepada-Nya selain rasa syukur dan perbuatan-perbuatan yang menyenangkan hati-Nya. Kesetiaan membawa hidup kita semakin dekat dengan Tuhan. Kesetiaan memberi kita sukacita yang luar biasa. Tuhan telah menyuguhkan kehidupan yang bermakna bagi kita; kita tinggal menyantapnya sambil mengucap syukur.
Kesetiaan kepada Tuhan mahal harganya. Kita terpanggil untuk melihat dan menyadari bahwa kasih Tuhan tak terbatas pada saat kita senang, melainkan juga saat kita dalam keadaan sedih, berduka, dan kecewa. Kita datang kepada-Nya dalam berbagai kondisi—dan Tuhan tetap menerima kita, menerima keluh kesah. Tuhan itu setia akan janji-Nya. Sudahkah kita menyatakan kesetiaan kita kepada-Nya?
Kesetiaan kita kepada Tuhan mencakup dua aspek: pertama, apa yang kita pertahankan; dan kedua, apa yang kita pertaruhkan.
Kita harus memperlihatkan iman kita dan lebih dari itu, mempertahankannya. Godaan dan cobaan adalah bumbu-bumbu kehidupan yang dapat mendorong kita untuk memperlihatkan kesetiaan iman kita kepada Tuhan.
Kita harus bertaruh segala sesuatu: waktu, tenaga, pikiran, uang, harta benda, dan lain sebagainya. Semuanya dilakukan untuk menunjukkan bahwa kita setia kepada Tuhan karena Dialah yang mengaruniakan segala sesuatu kepada kita.
Kesetiaan Tuhan kepada kita dibuktikan melalui tiga hal: pertama, Ia berdaulat atas hidup dan mati manusia; kedua, Ia memelihara semua ciptaan-Nya sesuai dengan kehendak-Nya; dan ketiga, Ia menjadikan segala sesuatu indah pada waktu-Nya.
Tuhan adalah setia; Ia telah menyatakan kesetiaan-Nya, dan Ia mengasihi kita. Ya, kita yang senantiasa berharap dan bersandar kepada-Nya.
Kita bergerak di dalam waktu; bergegas dari waktu ke waktu; berharap, mendamba, bergumul, menanti, menangis, bersukacita, dan bersedih dari waktu ke waktu. Kita ada di dalam waktu, dan di waktu yang bersamaan kita pun mencari “waktu” untuk sesuatu hal.
Berbagai kemungkinan yang kita dapatkan, baik untuk menjadikan hidup kita nyaman, atau menjadikan proses mencapai tujuan berjalan mulus, bahkan kita dapat keluar dari masalah-masalah yang telah menyita waktu, tenaga, relasi, keuarga, dan uang. Kemungkinan-kemungkinan itu sejatinya adalah bentuk lain dari bagaimana kehidupan itu menyediakan hal-hal yang dapat melatih diri kita untuk menatap, bergerak, dan berjuang mencapai sebuah tujuan akhir.
Hingga kita terperanjat (terkejut) menatap langit menerima segala yang ada; kadang-kadang tidak seperti yang kita inginkan. Kita mengubah rencana, mengubah arah, dan mengubah pola pikir untuk segera mendapatkan hasil. Tetapi yang kita terima adalah menjaring angin. Kewewa dan sedih menyatu. Kita bangun dan bergegas mencari “waktu” yang tepat untuk melangkah kembali. Di dalam waktu kita mencari “waktu”. Itulah yang kita lakukan hampir setiap hari.
Aktivitas telah menghasilkan patrian potensi diri menjadi bentuk yang lebih baik. Dan kemudian, kita menyadari bahwa Tuhan menyediakan segala sesuatu lebih dari apa yang kita harapkan. Di situlah kita dapat mengambil manik-manik kehidupan yang berkilau. Tampilan diri kita adalah gambaran cerminan hati kita sendiri. Di dalam waktu kita membentuk hati, dan di dalam waktu jualah kita memancarkan cahaya dari hati yang terbaik, hasil patrian hidup.
Mencari “waktu” di dalam waktu mencakup aktivitas yang dapat memberi kita sebuah kekuatan, kesenangan, kebahagiaan, atau bahkan kepuasan dan kemenangan tak didamba selama ini.
Pertama: mencari waktu yang tepat untuk mengungkapkan sesuatu. Waktu tak bisa diputar kembali. Gagal tidaknya mengungkapkan sesuatu, bergantung pada waktu yang kita gunakan. Pemaknaan atas ungkapan-ungkapan kehidupan di waktu tepat, tentu dapat memberikan pengaruh yang baik bagi kita dan orang lain.
Kedua: mencari waktu untuk menyelesaikan berbagai hal. Pikiran dan hati kita mungkin ditumpuki dengan ragam masalah atau persoalan hidup; kita ingin keluar darinya; kita dibebankan dengan banyak aktivitas, bahkan kesibukan yang tak terkontrol dengan baik, dan pada akhirnya, belum ada waktu yang tepat untuk menyelesaikan berbagai hal yang mengganggu jalan pikiran.
Ketiga: mencari waktu untuk menunjukkan kualitas diri. Di sini, pertunjukkan egoisme dan kesombongan diri, serta kualitas (potensi) diri dapat bagiannya masing-masing, tergantung dari siapa yang menunjukkannya. Kelebihan dan kekurangan diri bersama-sama tampil di dalam waktu dan pada ‘waktunya’ sendiri. Kita diberikan waktu untuk tampil, dan kita pun mencari ‘waktu’ yang tepat untuk menyatakan potensi atau kualitas diri. Keduanya, waktu yang diberikan dan waktu pertunjukkannya saling terkait.
Keempat: mencari waktu untuk ‘healing’, pemulihan diri, menyendiri, bertapa. Ada waktunya untuk merenungkan kehidupan, memulihkan hati yang terluka, memulihkan semangat yang patah, menenangkan hati dan pikiran, serta mencoba membalut luka-luka kehidupan. Waktu yang tetap berpotensi mempercepat pemulihan.
Kelima: mencari waktu untuk mengembangkan kualitas kehidupan. Manusia berlomba-lomba untuk mencari kebahagiaan, dan berbagai cara dapat dilakukan untuk menerima hasil kerja keras. Mereka yang berusaha dan bekerja untuk mengembangkan kualitas kehidupan tentu mencurahkan waktunya di dalam waktu yang terus berjalan, untuk mendapatkan hasil atau keuntungan.
Waktu itu sangat berharga. Waktu adalah kesempatan untuk bertindak, bukan bermalas-malasan. Waktu adalah jalan yang mengantarkan kita sampai tujuan. Waktu adalah perahu yang membawa kita mengarungi lautan kehidupan. Waktu adalah pena yang mendorong kita untuk menuliskan kisah hidup kita. Waktu adalah penghapus yang memaksa kita untuk melupakan – menghapus – semua peristiwa yang melukai dan merugikan kita. Waktu adalah api yang membakar kertas-kertas hidup yang telah mencoreng nama baik kita akibat ulah dari mereka yang membenci kita tanpa alasan. Waktu adalah kuas yang mendorong kita untuk melukiskan betapa indahnya hidup yang Tuhan karuniakan, dan waktu adalah harapan di mana kita semua berharap bahwa semua akan indah pada waktunya…..
Sifat egois mungkin ada dalam diri kita atau mungkin orang yang kita kenal. Apa yang menyebabkan seseorang menjadi egois dan bagaimana mengatasinya? Egoisme bisa dikikis atau bahkan dihilangkan dengan melihat secara cermat pada lima substansi hidup:
Pertama, setiap manusia harus melihat bahwa ia dan orang lain memiliki kesamaan hidup. Artinya, sama-sama menikmati hidup dan udara, atau bumi yang sama. Bedanya adalah soal kesempatan. Ketika seseorang dapat memahami hal ini, maka egoisme dalam konteks memandang kehidupan, akan segera luntur atau menurun, karena seseorang dapat menyadari bahwa dirinya adalah sama dengan orang lain: mendapat kesempatan hidup yang sama tetapi soal kesempatan menikmati hidup dengan berbagai cara adalah pembedanya.
Kedua, setiap manusia harus melihat bahwa dirinya dan orang lain sama-sama mempertahankan hidup. Setiap manusia memiliki potensi untuk mempertahankan hidupnya dan orang-orang yang dikasihi serta dicintainya. Jadi, egoisme terhadap konteks mempertahankan hidup membawa seseorang kepada rasa puas diri yang semu sebab ia sendiri tak bisa hidup tanpa orang lain. Jika seseorang merasa bahwa hanya dia yang dapat berbuat ini dan itu, seseorang tersebut melupakan prinsip substansial ini. Uang yang didapati, dimiliki, dicari, toh bukanlah karena usaha sendiri melainkan adanya kontribusi dari orang lain. Sebut saja seorang guru atau dosen. Mereka mengajar mendapatkan upah (gaji) dari penyelenggara pendididikan atau para murid/mahasiswa yang menyetor uang bayaran sebagai kewajibannya. Maka, di sini hendak ditegaskan bahwa sehebat-hebatnya dosen atau guru, jika tanpa murid atau mahasiswa, maka dosen atau guru bukanlah apa-apa, bahkan tak menghasilkan apa-apa.
Ketiga, setiap manusia harus menyadari bahwa ia dan orang lain sama-sama akan mati. Keegoisan untuk mau menang sendiri dalam hal hidup, mengurangi rasa hormat terhadap orang lain. Apa bedanya seorang direktur yang memiliki gaji besar, dengan seorang pemulung di jalanan? Mereka berbeda dalam hal pendapatan hidup, tetapi mereka sama dalam hal substansi hayatinya dan sama-sama akan mati. Entah direktur, entah pemulung semuanya akan mati. Soal siapa duluan mati, itu adalah kehendak Tuhan. Tidak ada jaminan bahwa karena pemulung adalah orang yang tidak terhormat, maka ialah yang dahulu mati. Memahami hal ini, akan menjadikan diri kita untuk tidak egois dengan apa yang kita miliki untuk disombongkan. Sebaliknya, apa yang kita miliki haruslah menjadi berkat bagi orang lain dengan berbagai cara.
Keempat, setiap manusia harus menyadari bahwa ia dan orang lain memiliki potensi yang berbeda. Potensi-potensi menghasilkan karya-karya. Baik direktur dan pemulung, keduanya memiliki potensi. Seorang pemulung jika ia berhenti menjadi pemulung dan kemudian belajar dan berusaha, maka terbuka peluang baginya untuk menjadi seorang direktur. Seorang direktur yang ketika bangkrut dan jatuh miskin, terbuka peluang baginya untuk menjadi seorang pemulung. Potensi-potensi yang dimiliki manusia tidak perlu disombongkan atau menjadi sebuah egoisme yang tinggi. Memahami bahwa kita dan orang lain memiliki potensi yang berbeda, akan menghilangkan rasa egoisme.
Kelima, setiap manusia harus menyadari bahwa ia dan orang lain memiliki prinsip hidup, kekurangan, dan kelebihan. Setiap manusia memiliki keunikan tersendiri. Namun, setiap manusia juga memiliki prinsip hidup yang mengukuhkan iman dan pengharapannya. Di samping itu, kekurangan dan kelebihan adalah hal yang bersifat natural dalam diri manusia. Lalu untuk apa egois jika kita tahu bahwa setiap manusia memiliki prinsip hidup, kekurangan, dan kelebihan? Seorang yang memiliki uang banyak tidak lebih lama hidupnya dibanding seorang yang miskin. Seorang yang menggunakan uangnya untuk menghalalkan segala cara dan dianggap hebat oleh para pendukungnya, tidak lebih hebat dari seorang ibu yang penuh kesabaran merawat, mendidik, mengasuh, dan mengajar anak-anaknya meski ia sendiri tidak memiliki uang dalam jumlah banyak.
Orang yang berduit banyak memiliki kekurangan dan kelebihan. Begitu pula dengan para pedagang asongan. Mereka yang berbuat jahat memiliki kelebihan dan kekurangan, begitu pula dengan mereka yang berbuat baik. Pembedanya adalah substansi dari kekurangan dan kelebihan dari masing-masing manusia.
Seringkali, egoisme lahir dari empat hal: pertama, karena seseorang merasa lebih kaya dari orang lain sehingga ia dapat mengendalikan, mengatur, dan menetapkan sesuka hati karena ia merasa bahwa karena dialah maka semuanya terjadi dan terwujud; kedua, karena seseorang merasa bahwa ia lebih berpengalaman dibanding lainnya, sehingga ia mau bahwa pendapatnya saja yang diterima; ketiga, karena seseorang merasa bahwa hanya dialah yang hebat dan pintar maka semua orang harus melihat kepada dirinya dan harus menerima setiap hal yang diusulkannya. Karena kepintarannya, maka pendapat dan gagasan orang lain dianggap tidaklah bermutu atau berguna; dan keempat, karena seseorang merasa bahwa dirinya adalah paling beriman, paling dekat dengan Tuhan, dan paling sering tampil di depan umum. Konteks ini memberikan data faktual bahwa seringkali mereka yang merasa paling dekat dengan Tuhan justru bertindak melawan Tuhan. Mereka yang merasa paling beriman justru yang melakukan hal-hal di luar iman. Keegoisan lahir dari kesombongan rohani dan menganggap bahwa hanya dia yang layak didengar dan ditakuti.
Untuk menghindari, meredam, dan mengikis sifat-sifat egois dalam diri, kelima hal yang substansial di atas adalah solusinya.
Selamat memahami, merenungkan, dan mencobanya, sehingga mendapatkan perubahan yang berarti dalam hidup.
Dalam “waktu” kita bergumul, berjuang, dan tetap berada pada jalan Tuhan untuk membuktikan tugas dan panggilan yang Kristus nyatakan kepada kita. Dari situlah kita benar-benar menyadari bahwa hidup adalah anugerah terindah, di mana kemurahan dan cinta kasih Kristus Yesus senantiasa kita rasakan, hari demi hari, minggu demi minggu, bulan demi bulan, dan tahun demi tahun. Inilah yang menjadi dasar tentang bagaimana kita melayani Dia di sepanjang hidup, yang dapat kita lihat juga pada seorang Pdt. Dr. Matheus Mangentang.
Di momen yang berbahagia ini, Pdt. Dr. Matheus Mangentang memberikan sebuah implikasi penting dari teks Lukas 17:17-18, “Lalu Yesus berkata: ‘Bukankah kesepuluh orang tadi semuanya telah menjadi tahir? Di manakah yang sembilan orang itu? Tidak adakah di antara mereka yang kembali untuk memuliakan Allah selain dari pada orang asing ini?’”
Teks tersebut memberikan sebuah pengajaran agar kita menyadari bahwa semua yang kita terima dari Tuhan patut disyukuri. Kealpaan kita dalam mengucap syukur atas perbuatan-perbuatan ajaib Tuhan, justru membuktikan bahwa kita bukanlah tipe orang yang “tahu berterima kasih” dan bukan pula tipe orang yang “tahu mengucap syukur”. Itu pertanda bahwa ada yang bermasalah dengan diri kita, cara pandang kita, dan sikap kita di hadapan Tuhan.
Teks tersebut juga mengajarkan bahwa kita jangan melupakan hamba-hamba Tuhan yang telah mengajari kita apa artinya beriman kepada Kristus, apa artinya mengikut Kristus, dan apa artinya hidup dalam kebenaran-Nya, di mana dari semuanya itu, kita bersyukur kepada Sang Khalik bahwa Dia telah memakai hamba-hamba-Nya untuk mengajari dan mendidik kita dalam mengenal Dia. “Jangan melupakan mereka yang telah membimbing dan mengajarimu tentang kebenaran Tuhan.”
Teks Ibrani 13:7 memberikan pemahaman bahwa kita perlu mengingat pada pemimpin yang telah menyampaikan firman Allah, mencontoh iman mereka selama mereka berjuang di jalan kebenaran. Kristus memanggil kita untuk menjadi pelayan-Nya, memberitakan Injil, dan senantiasa hidup bersandar pada-Nya. Tantangan yang dihadapi bukanlah penghalang untuk menjauh dari Tuhan, melainkan semakin mendekatkan diri kita kepada-Nya dalam hal menyadari akan keterbatasan kita, sehingga kita sadar bahwa kita membutuhkan Tuhan, bersandar dan senantiasa berharap pada-Nya.
Di usianya yang ke-67 tahun, Pdt. Dr. Matheus Mangentang masih tetap segar dan bersemangat dalam melayani Tuhan. Ia tak gentar sedikitpun untuk melayani di pedesaan-pedesaan. Semangat pelayanannya masih tetap sama, meski fisik mulai terbatas karena usia terus bertambah. Para muridnya yang mengikuti jejak beliau, telah menorehkan semangat dan jejak pelayanan yang sama, karena mereka “meneladani beliau”.
Apa yang dapat saya ungkapkan di sini tetap terbatas. Akan tetapi, beberapa hal penting perlu saya catat sebagai refleksi 67 tahun usia Pdt. Dr. Matheus Mangentang (tanggal 6 Oktober 2023) dengan menyajikan prinsip-prinsip spiritual dan pelayanan yang diturunkan dari beliau:
Pertama, melayani adalah sebuah panggilan yang harus dikerjakan dengan konsisten. Pdt. Dr. Matheus Mangentang tidak saja mengajarkan hal ini, tetapi ia sendiri telah menunjukkan teladan panggilan dan melayani Kristus
Kedua, kesetiaan kepada Kristus menjamin bahwa apa yang kita kerjakan pasti akan menghasilkan buah-buah yang manis. Apa yang telah dikerjakan Pdt. Dr. Matheus Mangentang telah menunjukkan buah-buah yang manis. Sekolah Tinggi Teologi Injili Arastamar (SETIA) Jakarta, dan cabang-cabangnya di seluruh Indonesia, Gereja Kristen Setia Indonesia (GKSI) yang tersebar di seluruh Indonesia, dan buah-buah pelayanan beliau melalui pengajaran, pendidikan, dan pembinaan, telah menunjukkan kesetiaannya kepada Yesus Kristus.
Ketiga, selalu berdoa dan berserah adalah buah dari iman yang taat kepada Yesus Kristus. Pdt. Dr. Matheus Mangentang bukan saja sebagai pelayan, pengkhotbah, penginjil, teolog, atau pengajar, tetapi juga seorang pendoa. Ini membuktikan bahwa semua pencapaian dalam pelayanan beserta buah-buahnya adalah hasil yang nyata dari “doa”.
Keempat, prinsip rendah hati adalah bagian yang tak terpisahkan dari semua bentuk pelayanan Kristen. Pdt. Dr. Matheus Mangentang telah menunjukkan sikap rendah hati sejak awal mengikuti Yesus Kristus. Prinsip inilah yang beliau wariskan dan ajarkan selama ia melayani. Artinya, prinsip rendah hati tidak hanya menjadi sebuah wacana teologis dan ucapan-ucapan pengajaran, melainkan beliau sendiri juga telah melakukannya dengan penuh iman.
Kelima, semangat dalam melayani adalah pilihan untuk tetap menjaga panggilan yang kita terima dari pada Kristus. Pdt. Dr. Matheus Mangentang telah menunjukkan semangat dalam melayani hingga sekarang ini. Di usianya yang ke-67 tahun, semangat untuk melayani tak pernah hilang dari wajahnya. Ia senantiasa mendidik mahasiswa, para majelis, para penginjil, dan para pendeta dalam jajaran Sinode GKSI yang dipimpinnya, agar tetap semangat, melawan semua bentuk tantangan yang menghalangi atau menghambat proses melayani Tuhan. Dari situlah kita melihat bahwa panggilan pelayanan senantiasa terkonfirmasi dari waktu ke waktu untuk membentuk kita menjadi seperti yang dikehendaki Kristus.
Kita melihat bahwa proses kehidupan Kristen tak dapat mengabaikan prinsip-prinsip Alkitab tentang melayani Tuhan. Dan kita juga tahu bahwa semua hal yang kita kerjakan, tak luput dari proses Dia membentuk kita. Pdt. Dr. Matheus Mangentang adalah seorang pelayan Kristus yang mendedikasikan hidupnya bagi pekerjaan Tuhan hingga sekarang ini. Kita dapat belajar darinya; kita dapat meneladani semangat bermisi dari beliau, dan lebih dari itu semua, kita dapat bersama-sama beliau untuk berjuang bagi Injil Kristus, hidup dalam ketaatan, kesetiaan, cinta kasih, dan pengampunan selama kita diberikan kesempatan oleh Yesus Kristus untuk hidup di muka bumi ini.