TEKSTUALISME: Ignoransi dan Kumur-kumur Ayat

Stenly R. Paparang

Logika digunakan untuk melakukan penalaran. Penalaran itu sendiri ada berbagai macam. Tetapi yang merupakan inti dari penalaran adalah bagaimana seseorang memahami sesuatu, mengklaim (menyatakan) dan menyuguhkan bukti (argumentasi). Rangkaian logis menjadi dasar bagaimana seseorang bernalar. Pada titik ini, kita diajak atau mengajak untuk menggunakan logika formal, argumentasi legal, dan penarikan kesimpulan.

Logika formal berarti seseorang menyoroti aturan-aturan (mengamati data, verifikasi data, klarifikasi data [memerlukan asosiasi dengan sumber lain agar hasilnya solid], klasifikasi data) untuk mendapatkan kesimpulan-kesimpulan yang valid (sahih) dan logis.

Argumentasi legal adalah alasan yang mendukung klaim yaitu penyodoran bukti-bukti yang sahih atas klaim yang dibangun. Dengan perkataan lain, pernyataan tak mungkin tanpa argumentasi. Jika demikian, penarikan kesimpulan akan menjadi kuat dan solid.

Bagaimana dengan “Tekstualisme”? Pada tekstualisme, seseorang dapat terjerumus pada ignoransi (ketidaktahuan) atas sesuatu hal. Penyakit tekstualisme sering terjadi di kalangan umum. Mereka sering menggunakan teks untuk kepentingan tertentu, dan “melupakan” konteks sempit dan luas dari teks itu sendiri. Penggunaan teks secara sembarangan untuk mendukung keyakinan dogmatis merupakan kesalahan berlogika dan berujung pada penyesatan dan ketersesatan.

Tekstualisme adalah sebuah paham yang mengunggulkan teks-teks selektif untuk mendukung keyakinan-keyakinan dogmatis seseorang yang bertolak belakang dengan keyakinan historis. Dengan perkataan lain, tekstualisme menekankan pada bagaimana cara seseorang untuk mengutip (menggunakan) teks-teks selektif untuk memuaskan presaposisi-presaposisi yang telah hadir dalam pikirannya. Teks-teks dilepaskan dari konteks, dan digunakan sebagai senjata untuk menyerang (orang lain) dan membenarkan diri sendiri.

Lebih parahnya lagi, teks-teks yang tidak relevan dengan zaman ini digunakan untuk mengulang sejarah (tindakan) yang sama. Padahal, setiap teks dapat “diambil makna terdalamnya” dan juga “pesannya”. Kita tidak mengulang perbuatan tertentu di zaman ini, melainkan memahami apa pesan dan makna dari teks tersebut.

Tentu, teks-teks yang saya maksudkan di sini adalah teks-teks tertentu yang mengandung sebuah perbuatan-perbuatan tertentu yang tidak seharusnya dilakukan di zaman ini. Misalnya tentang perang antara Israel dan bangsa-bangsa lain, karena kisah tersebut memiliki konteksnya di zaman itu. Kita hanya perlu mengambil makna dan pesannya untuk diterapkan ke masa kita sekarang ini.

Yang menarik perhatian saya adalah ketika “tekstualisme” secara naif digunakan oleh orang-orang ignoran secara pengetahuan biblika, historis, dan dogmatis. Misalnya mengenai “Kristologi”. Ada orang yang memang sejak awal tidak dapat memahami demarkasi konteks dan secara definisi gagal dan bahkan sesat.

Demarkasi konteks dan definisi adalah jalan utama untuk memahami dwi natur Yesus. Kesalahan para penganut tekstualisme adalah menggunakan satu ayat tetapi melupakan ayat-ayat lainnya yang masih terikat dengan konteks dan perikop. Sayangnya, gejala tekstualisme marak terjadi di kalangan “muslimers tipikal pesorak”—dengan perkataan lain, para pesorak doktrin Kristen tetapi otaknya tidak ada isi sama sekali, baik pengetahuan biblical, hermeneutical, historical, dan dogmatical. Tipikal ini sering mencomot ayat lalu dikumur-kumur; seolah-olah benar, dan membenarkan diri dengan tekstualismenya.

Gejala tekstualisme menampilkan pola pikir (pembacaan) yang lain yang menyimpang (vario lectio) pada teks, sejarah, hermeneutic, dan dogmatika. Akibatnya, kesesatan demi kesesatan, penyesatan demi penyesatan terus terjadi. “Ada jin kafir di salib [Yesus]” juga merupakan dampak dari tekstualisme-dogmatis yang bersifat ignoran tingkat menengah. “Jika Yesus Tuhan, mengapa Ia mati disalibkan?”—[yang tentunya didasarkan pada teks-teks bahwa Yesus mati]—adalah contoh terbaik dari kesesatan tekstualisme. Tentu kita masih dapat mendaftarkan berbagai kesesatan tektualisme di sini.

Satu lagi dari jenis tekstualisme yang aneh. Dikatakan Alkitab bahwa Yesus adalah Logos Allah (pre-inkarnasi) yang menjadi “manusia” (sarks: daging). Lalu muncul pertanyaan: “Apakah Firman keluar dari vagina [Rahim] Maria atau dari mulut Allah”? Pertanyaan ini sebenarnya telah salah memahami demarkasi konteks dan definisi Firman (Logos). Jika kita membandingkannya dengan teks Al-Qur’an mengenai Isa yang adalah “kalimat” [kalam Allah] , maka standar ganda dapat kita gunakan di sini:

Surat Ali ‘Imran [3]:45 “….Hai Maryam, sesungguhnya Allah menggembirakan kamu (dengan kelahiran seorang putera yang diciptakan) dengan kalimat (yang datang) daripada-Nya, namanya Al Masih ‘Isa putera Maryam….” dan Surat An Nisaa’ [4]:171 “… Sesungguhnya Al Masih, ‘Isa putera Maryam itu, adalah utusan Allah dan (yang diciptakan dengan) kalimat-Nya yang disampaikan-Nya kepada Maryam, dan (dengan tiupan) roh dari-Nya.

Meski pada dua teks di atas ada tambahan keterangan bahwa Isa itu diciptakan Allah—kontradiksi dengan teks-teks Alkitab—namun fokus kita bukan pada hal itu melainkan pada konsistensi logis dari tekstualisme yang diusung di atas. Jika konsisten dengan pertanyaan “apakah Firman keluar dari vagina Maria atau dari mulut Allah”, maka apakah Kalam Allah (yaitu Isa) keluar dari vagina [rahim] Maryam atau mulut Allah SWT? Dengan demikian, pertanyaan yang memojokan Logos Allah yaitu Yesus Kristus akan bernasib sama dengan Isa yang adalah Kalam [dari] Allah.

Pertanyaan bermotif tekstualisme di atas sudah salah pada dirinya sendiri karena tidak membedakan mana Logos yang belum berinkarnasi dan mana Logos yang telah menjadi manusia (Yoh. 1:14) yang tentunya pasti lahir dari rahim Maria, yaitu dalam kondisi-Nya sebagai “menjadi manusia” pastilah Yesus lahir dari rahim maria. Alkitab menyatakannya, begitu juga dengan dua teks Qur’an di atas, meski bunyinyan mengandung motivasi teologis yang menyimpang dari doktrin Kristen.

Jadi, bahaya tekstualisme dapat kita cermati secara internal maupun eksternal. Kita bisa menggunakan teks-teks tertentu, tetapi sedapat mungkin memahami korelasi (asosiasi) doktrinal, historis, dan konteksnya. Tekstualisme yang liar dan buta mengarahkan seseorang pada penyesatan. Hal ini juga dijumpai pada Ahmed Deedat, Zakir Naik, dan bahkan teolog yang popular karena kebodohan dan provikasinya, yaitu Muhammad Yahwa Waloni.

Berhati-hatilah memahami iman Kristen karena Kristen adalah pabrik pembuat kacamata. Pilihlah kacamata mana yang hendak dipakai jika memahami kekayaan Kristologi. Jangan merasa pintar karena kebodohan Anda menggunakan tekstualisme. Tetapi berusahalah belajar memahami demarkasi konteks dan definisi. Jika Yesus adalah Logos Allah, tentu Ia ada dan satu dengan Allah (Yoh. 1:1). Akan tetapi ketika Logos menjadi manusia, maka pasti Ia lahir dari rahim Maria. Itulah logika formal dan argumentasi legal. Itulah konteks penalaran logis.

Hentikan model kumur-kumur ayat. Jangan pamer kebodohan. Iman Kristen bukanlah ayatiah tetapi alkitabiah—tegas Deky H. Y. Nggadas (maksudnya jika memahami iman Kristen jangan hanya modal satu dua ayat, dan lepas konteks, melainkan pahami secara komprehensif)

Sampai di sini sudah jelas? Yang merasa tidak jelas, makin tambahlah kebodohannya alias ignoran tingkat tinggi.

Salam Bae

Sumber gambar: Francis Bacon drawings (Google Search)

https://www.bing.com/images/search?q=francis+bacon+drawings&id=21DCE5D648FED8FFD7EE4CC2AAE445E60579F97C&form=IQFRBA&first=1&disoverlay=1

Rancang situs seperti ini dengan WordPress.com
Mulai