KENAIKAN YESUS KE SURGA SEBAGAI WUJUD EKSISTENSI-NYA

Memahami personalitas Yesus tidaklah hanya diukur dari sebuah ‘pemikiran sejengkal’ yang hanya memahami Yesus dari aspek kemanusiaan-Nya. Perdebatan dwi natur Yesus masih menyita perhatian para pemerhati dan pembenci Yesus hingga sekarang. Kitab-Kitab Perjanjian Baru menyuguhkan data tentang personalitas Yesus yang bersumber dari pengalaman mereka hidup bersama dengan Yesus, dari tradisi oral yang dekat dengan sumber utama, dan keyakinan iman dari mereka yang telah mendengar, mengalami, dan diubahkan oleh Yesus.

Peristiwa kenaikan Yesus adalah bagian dari karya Yesus dalam inkarnasi-Nya ke dunia. Peristiwa tersebut ditandai dengan beberapa konteks penting terkait dengan keilahian-Nya. Perjanjian Baru mencatat bahwa:

Pertama: Matius 28:16-20 menyatakan: Dan kesebelas murid itu berangkat ke Galilea, ke bukit yang telah ditunjukkan Yesus kepada mereka. Ketika melihat Dia mereka menyembah-Nya, tetapi beberapa orang ragu-ragu.  Yesus mendekati mereka dan berkata: “Kepada-Ku telah diberikan segala kuasa di sorga dan di bumi. Karena itu pergilah, jadikanlah semua bangsa murid-Ku dan baptislah mereka dalam nama Bapa dan Anak dan Roh Kudus, dan ajarlah mereka melakukan segala sesuatu yang telah Kuperintahkan kepadamu. Dan ketahuilah, Aku menyertai kamu senantiasa sampai kepada akhir zaman.”

Dari teks-teks di atas, murid-murid Yesus menyembah Dia. Meski ada beberapa orang yang ragu-ragu, hal itu tidaklah mengurangi substansi penyembahan dari murid-murid lainnya. Yesus kemudian meneguhkan identitas-Nya dengan mengatakan: “Kepada-Ku telah diberikan segala kuasa di sorga dan di bumi” (ἐδόθη μοι πᾶσα ἐξουσία ἐν οὐρανῷ καὶ ἐπὶ [τῆς] γῆς). Sebagaimana Allah berkuasa baik di sorga dan di bumi, Yesus juga meneguhkan identitas-Nya bahwa Dia memiliki kuasa di sorga dan di bumi. Maka, penyembahan kepada diri-Nya tidaklah merupakan sebuah penghujatan kepada Allah.

Kedua: Markus 16:17-19 menyatakan, “Tanda-tanda ini akan menyertai orang-orang yang percaya: mereka akan mengusir setan-setan demi nama-Ku, mereka akan berbicara dalam bahasa-bahasa yang baru bagi mereka, mereka akan memegang ular, dan sekalipun mereka minum racun maut, mereka tidak akan mendapat celaka; mereka akan meletakkan tangannya atas orang sakit, dan orang itu akan sembuh.” Sesudah Tuhan Yesus berbicara demikian kepada mereka, terangkatlah Ia ke sorga, lalu duduk di sebelah kanan Allah.

Teks-teks di atas menyebutkan bahwa pra kenaikan Yesus, Ia melengkapi para murid dengan kuasa untuk mengusir setan-setan, dan kemampuan berbicara dengan bahasa-bahasa yang baru, memegang ular, minum racun maut tetapi tetap aman, dan menyembuhkan orang sakit. Kuasa yang diberikan Yesus membuktikan bahwa Ia berhak dan berkuasan memberikan kuasa kepada siapa yang dikehendaki-Nya, sebagaimana Allah dalam PL memberikan kuasa kepada mereka yang dipilih dan dikehendaki-Nya.

Ketiga: Lukas 24:50-52 menyatakan, “Lalu Yesus membawa mereka ke luar kota sampai dekat Betania. Di situ Ia mengangkat tangan-Nya dan memberkati mereka. Dan ketika Ia sedang memberkati mereka, Ia berpisah dari mereka dan terangkat ke sorga. Mereka sujud menyembah [προσκυνέω – proskuneo] kepada-Nya, lalu mereka pulang ke Yerusalem dengan sangat bersukacita.”

Teks-teks di atas menyebutkan bahwa Yesus “memberkati” [εὐλόγησεν, dari kata  εὐλογέω – eulogeo] para murid. Dari data Matius dan Markus, sepertinya sejalan dengan apa yang dilakukan Yesus. Ia memberkati dan memberi kuasa kepada para murid untuk memberitakan Injil. Meski ada tantangan, namun hal itu bukanlah alasan yang perlu ditakutkan karena Yesus telah memperlengkapi dengan kuasa dan mukjizat untuk melakukan tanda-tanda yang ajaib dan besar.

Dikatakan pula bahwa para murid menyembah [προσκυνέω] Yesus. Selaras dengan data dari Matius, Lukas memiliki penekanan yang sama bahwa “Yesus disembah” sebagai Tuhan dan Allah karena klaim dan perbuatan-perbuatan lampau yang dilakukannya di depan mata para murid orang-orang yang menerima perbuatan ajaib-Nya.

Keempat: Kisah Para Rasul 1:6-11, “Maka bertanyalah mereka yang berkumpul di situ: “Tuhan, maukah Engkau pada masa ini memulihkan kerajaan bagi Israel?” Jawab-Nya: “Engkau tidak perlu mengetahui masa dan waktu, yang ditetapkan Bapa sendiri menurut kuasa-Nya. Tetapi kamu akan menerima kuasa, kalau Roh Kudus turun ke atas kamu, dan kamu akan menjadi saksi-Ku di Yerusalem dan di seluruh Yudea dan Samaria dan sampai ke ujung bumi.” Sesudah Ia mengatakan demikian, terangkatlah Ia disaksikan oleh mereka, dan awan menutup-Nya dari pandangan mereka. Ketika mereka sedang menatap ke langit waktu Ia naik itu, tiba-tiba berdirilah dua orang yang berpakaian putih dekat mereka, dan berkata kepada mereka: “Hai orang-orang Galilea, mengapakah kamu berdiri melihat ke langit? Yesus ini, yang terangkat ke sorga meninggalkan kamu, akan datang kembali dengan cara yang sama seperti kamu melihat Dia naik ke sorga.”

Teks-teks di atas menyebutkan beberapa hal penting: 1) Murid-murid memanggil dia sebagai “Tuhan” [κύριος]. Mengapa harus “Tuhan?” pasalnya, para murid adalah saksi mata dari setiap perbuatan-perbuatan ajaib yang dilakukan Yesus: orang buta melihat, orang lumpuh berjalan, orang mati dibangkitkan, setan diusir, setan mengakui Yesus sebagai Anak Allah yang Maha Tinggi [υἱὲ τοῦ θεοῦ τοῦ ὑψίστου. Lih. Markus 5:7].

Jawaban Yesus merujuk kepada Bapa-Nya: “Engkau tidak perlu mengetahui masa dan waktu, yang ditetapkan Bapa sendiri menurut kuasa-Nya.” Akan tetapi, jika kita kaitkan dengan teks dalam Matius 28:18, “Kepada-Ku telah diberikan segala kuasa di sorga dan di bumi.” Hal ini menunjukkan kesetaraan antara Bapa dan Yesus. Yesus pun menegaskan bahwa Ia datang dan keluar dari Bapa (Yoh. 8:42):

εἶπεν αὐτοῖς ὁ Ἰησοῦς· εἰ ὁ θεὸς πατὴρ ὑμῶν ἦν ἠγαπᾶτε ἂν ἐμέ, ἐγὼ γὰρ ἐκ τοῦ θεοῦ ἐξῆλθον καὶ ἥκω· οὐδὲ γὰρ ἀπ᾽ ἐμαυτοῦ ἐλήλυθα, ἀλλ᾽ ἐκεῖνός με ἀπέστειλεν.

Kata Yesus kepada mereka: “Jikalau Allah adalah Bapamu, kamu akan mengasihi Aku, sebab Aku keluar dan datang dari Allah. Dan Aku datang bukan atas kehendak-Ku sendiri, melainkan Dialah yang mengutus Aku.”

Keluar dari Allah [ἐκ τοῦ θεοῦ] menunjukkan sumber eksistensi Yesus. Allah adalah kekal (bdk. Yoh. 1:1), maka substansi yang keluar dari diri Allah bersifat [bernatur] kekal sesuai dengan dari mana eksistensi-Nya keluar, yaitu dari Allah yang kekal. Kata ἐκ [ek] memiliki beragam arti, dan tergantung konteksnya. F. Wilbur Gingrich dalam Shorter Lexicon of the Greek New Testament, second edition revised by Frederick W. Danker, mencatat arti dari kata ἐκ [ek]:

ἐκ; before vowels ἐξ prep. w. gen. from, out of, away from1. to denote separation Mt 2:15; 26:27; Mk 16:3; J 12:27; 17:15; Ac 17:33; Gal 3:13; Rv 14:13; from among Lk 20:35; Ac 3:23.—2. to denote the direction from which something comes from, out from Mt 17:9; Mk 11:20; Lk 5:3; in answer to the question where? at, on Mt 20:21, 23; Ac 2:25, 34.—3. to denote origin, cause, motive reason from, of, by Mt 1:3, 5, 18; J 1:13, 46; 1 Cor 7:7; 2 Cor 5:1; Gal 2:15; 4:4; Phil 3:5. Because of, by Mk 7:11; 2 Cor 2:2; Rv 8:11. By reason of, as a result of, because of Lk 12:15; Ac 19:25; Ro 4:2; with Lk 16:9. Of, from of source or material Mt 12:34; J 19:2; 1 Cor 9:13; Rv 18:12. According to, in accordance with Mt 12:37; 2 Cor 8:11, 13. ἐκ τούτου for this reason, therefore J 6:66. οἱ ἐκ νόμου partisans of the law Ro 4:14.—4. in periphrasis for the partitive gen. Mt 10:29; 25:2; Lk 11:15, which may even function as subject of a sentence ἐκ τ. μαθητῶν some of the disciples J 16:17; used with εἶναι = belong to someone or something Mt 26:73; Ac 21:8; 1 Cor 12:15f. After verbs of filling with Lk 15:16; J 12:3; Rv 8:5. For the gen. of price or value for Mt 20:2; 27:7; Ac 1:18.—5. of time from, from this or that time on Mt 19:12; Mk 10:20; J 9:1, 32; for Lk 23:8; after 2 Pt 2:8.

Eksistensi Yesus yang adalah keluar dari Allah [ἐκ τοῦ θεοῦ] meneguhkan perkataan-Nya sendiri bahwa kuasa yang dimiliki-Nya setara dengan Allah Bapa, sebagaimana tampak dari dua teks di atas yakni Kisah Para Rasul 1:7 dan Matius 28:18. Yesus kemudian menjelaskan bahwa ketika para murid menerima kuasa, melalui turunnya Roh Kudus, berimplikasi kepada identitas dan tanggung jawab mereka untuk menjadi saksi Yesus Kristus di Yerusalem dan di seluruh Yudea dan Samaria dan sampai ke ujung bumi.” Hal ini selaras dengan data dari Markus 16:17-20.

Setelah Yesus naik ke surga, berdirilah dua orang yang berpakaian putih dan berkata: “Hai orang-orang Galilea, mengapakah kamu berdiri melihat ke langit? Yesus ini, yang terangkat ke sorga meninggalkan kamu, akan datang kembali dengan cara yang sama seperti kamu melihat Dia naik ke sorga.” Penegasan identitas KEILAHIAN Yesus ditambahkan oleh dua malaikat yang menyatakan bahwa Yesus akan datang kembali. Perlu dicatat bahwa, para saksi mata yang melihat Yesus naik ke surga merupakan bukti yang sangat kuat dan akurat. Ketika mereka yang meragukan peristiwa ini, juga harus menyodorkan saksi-saksi mata yang ‘TIDAK’ melihat Yesus naik ke surga. Artinya, menolak Yesus tidak naik ke surga harus sebanding dengan saksi-saksi mata yang melihat Yesus naik ke surga.

Peristiwa kenaikan Yesus ke surga adalah peristiwa historis. Dari data PB, kita menemukan peristiwa kenaikan Yesus ke surga, dan beberapa bukti lain meneguhkan peristiwa tersebut.

Pertama. Lukas 24:50-51, Lalu Yesus membawa mereka ke luar kota sampai dekat Betania. Di situ Ia mengangkat tangan-Nya dan memberkati mereka. Dan ketika Ia sedang memberkati mereka, Ia berpisah dari mereka dan terangkat ke sorga.

Kedua. Yohanes 3:13, Tidak ada seorangpun yang telah naik ke sorga, selain dari pada Dia yang telah turun dari sorga, yaitu Anak Manusia.

Ketiga. Kisah Para Rasul 1:9, Sesudah Ia mengatakan demikian, terangkatlah Ia disaksikan oleh mereka, dan awan menutup-Nya dari pandangan mereka.

Keempat. 1 Petrus 3:21-22 “… oleh kebangkitan Yesus Kristus, yang duduk di sebelah kanan Allah, setelah Ia naik ke sorga sesudah segala malaikat, kuasa dan kekuatan ditaklukkan kepada-Nya.

Kelima. Efesus 4:10,  Ia yang telah turun, Ia juga yang telah naik jauh lebih tinggi dari pada semua langit, untuk memenuhkan segala sesuatu.

Teks-teks di atas memberi kesaksian tentang identitas Yesus. Rasul Paulus menegaskan bahwa Yesus yang telah turun [inkarnasi] adalah Yesus yang naik ke surga. “Oὗτος ὁ Ἰησοῦς ὁ ἀναλημφθεὶς ἀφ᾽ ὑμῶν εἰς τὸν οὐρανὸν οὕτως ἐλεύσεται ὃν τρόπον ἐθεάσασθε αὐτὸν πορευόμενον εἰς τὸν οὐρανόν” [Outos ho Insous ho analemphtheis aph humon eis ton ouranon outos eleusetai hon tropon ethasasthe auton poreuomenon eis ton ouranon].

Teks Yohanes 3:13 sebagaimana yang merupakan judul dari artikel singkat ini menguatkan peristiwa kenaikan Yesus Kristus ke surga. Rasul Paulus memiliki pandangan yang sama terkait dengan peristiwa turunnya Yesus ke dunia dan peristiwa Yesus naik ke surga karena Ia telah turun: “Tidak ada seorangpun yang telah naik ke sorga, selain dari pada Dia yang telah turun dari sorga, yaitu Anak Manusia.” [καὶ οὐδεὶς ἀναβέβηκεν εἰς τὸν οὐρανὸν εἰ μὴ ὁ ἐκ τοῦ οὐρανοῦ καταβάς, ὁ υἱὸς τοῦ ἀνθρώπου — kai oudeis anabebeken eis ton ouranon ei me ho ek tou ouranou katabas, ho uios tou anthropou].

Kesimpulannya adalah kenaikan Yesus merupakan penegasan identitas-Nya. Ia dari surga. Ia datang dan keluar dari Allah [ἐκ τοῦ θεοῦ]. Ia memiliki kuasa yang setara dengan Allah (teks Matius 28:18 dan Kisah Para Rasul 1:7). Ia memberi perintah sebagai Allah dan Tuhan untuk memberitakan Injil-Nya melalui para murid yang telah diperlengkapi dengan kuasa dan mengadakan tanda-tanda mukjizat. Yesus yang naik adalah Yesus yang telah turun ke dunia, berinkarnasi menjadi sama dengan manusia. Yesus yang naik adalah membuktikan bahwa eksistensi-Nya telah Ia perlihatkan. Yesus tidak menutup-nutupi pra eksistensi-Nya. Dengan gamblang Ia membuktikan bahwa Ia adalah Tuhan yang berdaulat sepenuhnya, di langit dan di bumi.

Soli Deo Gloria

TEKS TANPA KONTEKS: MENYAMAR DI BALIK AYAT ALKITAB: Sebuah Ulasan Atas Status Elia Hanafi

Jika pembaca secara cermat memperhatikan tiga status Elia Hanafi (di facebook) dalam gambar di tulisan ini, pembaca (yang memahami Alkitab) akan dengan segera dapat mengetahui apa makna dari status Hanafi tersebut. Sekilas memang tidak menyinggung Alkitab Kristen, namun pembaca yang pernah belajar hermeneutika, akan menemukan sebuah “hidden agenda” dalam status Hanafi. Pertanyaannya: ada apa dengan Hanafi? Tentu ada ‘apanya’.

Mencermati ‘mind set’ Hanafi, tentu ada landasan pijak (persepsi) yang hendak disuguhkan kepada para pembaca. Kita tidak tahu apa motif di balik ‘mind set’ Hanafi. Akan tetapi, karena statusnya Hanafi berbau tafsir Alkitab, maka saya selaku pembaca Alkitab dapat dengan segera mengetahui apa yang hendak dimaksudkan Hanafi: ia menyamar di balik ayat Alkitab.

Dalam dunia hermeneutika, sebuah objek yang yang diamati, diteliti, dan dibaca, menimbulkan berbagai prasangka, presumsi, asumsi, persepsi, untuk menafsirkannya. Jika demikian, Hanafi bisa saja memiliki sejumlah alasan entah prasangka, presumsi, asumsi, atau persepsi dalam menafsirkan ayat-ayat Alkitab dengan cara “menyamar” di balik ayat-ayat itu sendiri.

Untuk menghindari prasangka, presumsi, asumsi, dan persepsi dalam memahami Alkitab, saya sedikit menyuguhkan poin-poin penting dalam dunia tafsir [hermeneutika] sehingga pembaca dapat memahaminya sebagai dasar dalam membaca dan menafsirkan status Hanafi akhir-akhir ini.

Pertama. Setiap orang yang menyampaikan sesuatu, memikirkan sesuatu dan menuliskan sesuatu memiliki indikasi interpretasi makna

Kedua. Makna dari sebuah maksud akan ditafsirkan dari berbagai perspektif, tergantung siapa yang menafsirkan.

Ketiga. Dalam menafsirkan sesuatu, ada aspek-aspek yang mempengaruhinya: aspek ideologi, aspek konsep, aspek subjektivitas, aspek similaritas, aspek disimilaritas, aspek objektivitas, aspek situasional

Keempat. Dalam dunia Alkitab, kita menerima tulisan-tulisan sejarah yang tentunya memiliki makna baik di zaman penulisan, atau pun di zaman kita sekarang ini. Dalam konteks ini, interpretasi [penafsiran] seseorang harus difokuskan pada aspek situasional di mana penulis menuliskan sesuatu yang dikaitkan dengan kondisi di mana ia berada atau distansi yang dekat dengan kehidupan si penulis

Kelima. Hermeneutika, dilihat dari aspek umum adalah sebuah ilmu yang mempelajari bagaimana memahami sesuatu [menafsirkan] sesuai naturnya atau makna aslinya. Hermeneutika tidak dapat dipengaruhi (dalam arti hakikinya) oleh para penafsir sebab makna asli adalah salah satu aspek penting di dalam hermeneutika itu sendiri. Selain itu, hermeneutika mengharuskan seorang penafsir menghargai bukti-bukti penunjang makna asli dari sebuah objek yang diteliti, dibaca, dan ditafsirkan

Keenam. Dalam konteks literalistik, setiap pembaca atau penulis buku, harus selalu mengutamakan “makna” dari sebuah bacaan atau buku. Signifikansi hermeneutika melibatkan unsur ketilitian, kecermatan, keakuratan, fokus, pengkajian ilmiah dan eksgesis dalam konteks biblikal, eksegesis adalah tindakan hermeneutika terhadap teks-teks yang diteliti. Dengan demikian, maka setiap orang yang mempelajari Alkitab, harus melewati proses eksegesis yang cermat, solid dan memadai.

Ketujuh. H. A. Van Dop, dalam tulisannya “Hermeneusis dan Anamnesis” menjelaskan: Dalam dunia teologi modern ilmu hermeneutik merupakan suatu disiplin yang tidak dapat diremehkan. Tentunya istilah hermêneutikê tekhnê sudah lama dikenal dan digunakan, tetapi sejak Schleiermacher dan Dilthey pengertiannya menjadi lebih spesifik dengan menekankan keharusan bahwa ilmu ini harus dapat diuji validitasnya menurut standar-standar yang juga diberlakukan pada disiplin-disiplin ilmiah lainnya. H. A. Van Dop menjelaskan, istilah “hermeneusis” berasal dari nama dewa Yunani, Hermes. Tugas terutama dewa Hermes ini ialah menjadi pengantar pesan dari para dewa, khususnya pesan-pesan dari dewa Zeus – dewa tertinggi – kepada manusia. Di dalam dunia modern, Hermes menjadi simbol komunikasi. Ada aspek profetis padanya, karena ia menyampaikan hal-hal yang hakiki, yang perlu diketahui. Dengan demikian ia harus dapat menginterpretasikan maksud para dewa. Segala kabar angin, kabar burung dan info, dialah yang memungkinkannya.

Kedelapan. H. A. Van Dop menguraikan: Kata Ibrani yang digunakan dalam hubungan ini ialah bentuk-bentuk turunan dari kata kerja “lits” yang berarti “berfungsi sebagai jurubicara atau penyambung lidah”, “menerjemahkan”, tetapi juga dengan konotasi kecurigaan apakah terjemahannya mungkin dimanipulasi, sehingga menjadi “mengolok-olok”: siapa yang mengetahui persis apa yang dikatakan oleh jurubahasa? Maka teringatlah kita pada pepatah Perancis, “menerjemahkan adalah memperdayakan”. Anamnesis (peringatan), dari kata Yunani “anamimniskein” yang berarti “mengingat”.

Kesembilan. Hermeneutik tidak dapat berfungsi dengan baik, jika tidak menghasilkan inspirasi untuk mengekpresikan iman. Tidak semua orang harus sanggup untuk memahami hasil studi para teolog, tetapi semua orang sanggup menghayati suatu pesan “kerygmatis”, entah mereka menerima atau menolaknya. Pesan itu, jika sudah diterima, perlu dihayati dan dirayakan, tidak kurang dari penghayatan dan perayaan yang kita perhatikan di dalam seremoni adat. Hermeneusis dan anamnesis bersama-sama mempunyai aspek pastoral.

Kesepuluh. Martin Lukito Sinaga, dalam “Sekelumit Hermenetik Paul Ricoeur”, menyatakan, “Dari fungsinya memang hermeneutik mau membawa orang dari situasi ketidaktahuan menjadi mengerti, dari sesuatu yang relatif gelap ke dalam bentuk ungkapan yang jelas dan terang, dari teks yang semula didengar di masa lampau dengan nyaringnya menjadi teks yang masih punya gemanya di telinga pembaca masa kini. Karena itu hermeneutik adalah suatu teori penafsiran, yang berniat mengajak orang menafsir dengan benar dan bernas.”

Kesebelas. Martin Lukito Sinaga menambahkan, Hermeneutik adalah suatu upaya menyelam ke dalam warisan dan serat-serat kultural manusia – melalui teks-teks kebudayaan – dan juga upaya menemukannya secara baru (artinya: membacanya secara baru) demi memperoleh kekuatan untuk hidup di belantara masa kini. Melalui hermeneutik, seseorang dapat bertemu secara kreatif dengan warisan masa lalunya, bahkan ia akan ditolong dalam upayanya membentangkan lintasan cakrawala di hadapan kehidupannya.

Kedua belas. R. C. Sproul menjelaskan bahwa tujuan hermeneutika adalah menetapkan garis-garis pedoman dan aturan- aturan menafsir. Hermeneutika telah berkembang menjadi ilmu yang teknis dan rumit. Dokumen tertulis mana saja adalah subjek salah tafsir. Karena itu kita telah mengembangkan aturan-aturan untuk menjaga kita dari kesalahpahaman seperti itu. Penelitian ini akan kita batasi hanya sampai pada aturan-aturan dan garis-garis pedoman yang dasar saja.

Ketiga belas. Christian de Jonge, dalam “Sola Scriptura: Alkitab pada Zaman Reformasi, Terutama dalam Teologi Calvin” menyatakan: Seorang Humanis terkemuka dari Perancis, Jacques Lefèvre d’Étaples (1455-1536), berpendapat bahwa Roh Kudus berbicara melalui huruf-huruf Alkitab dan oleh sebab itu tidak benar kalau orang hanya memperhatikan arti harfiah tanpa merenungkan apa yang hendak disampaikan oleh Roh Kudus melalui huruf-huruf itu. Ia tidak mau melepaskan arti rohani dari teks Alkitab, tetapi ia menolak tafsiran harfiah yang hanya melihat teks dalam konteks historisnya (yang disebutnya sensus literalis historicus), seakan-akan Gereja dalam renungannya terhadap Perjanjian Lama tidak dapat maju lebih jauh dari orang-orang Yahudi. Yang penting bagi Lefèvre d’Étaples adalah sensus literalis propheticus, yaitu tafsiran yang mampu melihat dalam Perjanjian Lama nubuat mengenai Kristus dan amanat yang penting untuk Gereja sekarang. Mendengarkan suara Roh Kudus melalui huruf Alkitab akan membarui Gereja sesuai dengan maksud Allah.

Keempat belas. Christian de Jonge menyimpulkan: Kenyataan membuktikan bahwa prinsip bahwa Alkitab menafsirkan diri sendiri, walaupun mungkin berguna dalam pertikaian teologis, dalam praktek tidak dapat berfungsi. Para penafsir dalam mendekati teks selalu dipengaruhi oleh praduga-praduga dan prapaham-prapaham yang ditentukan oleh konteks mereka sendiri, bukan oleh teks. Oleh sebab itu seorang penafsir dalam proses penafsiran bertugas untuk mengeliminasikan praduga-praduga yang menghalangi pemahaman yang tepat mengenai teks.

Kelima belas. Dalam dunia hermeneutka, ada sejumlah tantangan: Kesejangan Waktu, Kesejangan budaya, Kesenjangan geografis, Kesenjangan bahasa.

Keenam belas. Adanya faktor-faktor yang mempengaruhi penafsiran Alkitab: 1) Pluralitas membaca; 2) Ideologi personal; 3) “mind set” personal; 4) pengaruh pola pikir dari kitab suci lain yang dibawa ke dalam Alkitab.

Ketujuh belas. Hermeneutika yang tepat bertujuan: pertama, untuk menemukan berita dari Allah. Hermeneutika melindungi Alkitab dari penyalahgunaan, baik secara sengaja atau tidak, yang mengubah pengajaran Alkitab demi mencapai tujuan pribadinya. Hermeneutika yang benar menyediakan kerangka konsep untuk menafsirkan secara tepat dengan memakai alat-alat bantu eksegesis yang akurat (Yun. exegeomai, berarti “mengeluarkan” makna dari sebuah teks atau bagian tulisan). Kedua, untuk menghindari atau menyingkirkan kesalahpahaman atau perspektif dan kesimpulan yang salah tentang ajaran Alkitab. Ketiga, mampu menerapkan berita Alkitab dalam kehidupan kita. Seperti yang dikatakan E. J. Carnell, “Sebuah istilah dapat digunakan dalam salah satu dari tiga cara berikut ini: hanya memiliki satu makna pasti (univocally [makna tunggal]), dengan berbagai makna yang berbeda (equivocally), dan dengan sebuah makna proporsional – sebagian sama dan sebagian lagi beda (analogically).” E. J. Carnel, An Introduction to Christian Apologetics, (Grand Rapids: Eerdmans, 1948), p. 144. Dengan kata lain, pada bagian-bagian tertentu Allah berbicara kepada kita secara univokal. Yakni, meskipun beritanya ditulis kepada orang-orang di zaman kuno, sebagian besar unsurnya tetap sama – sebut saja beberapa contoh: eksistensi manusia, realitas dari malaikat, setan-setan, Allah, dan Yesus sebagai Anak Allah.

Kembali soal penyamaran Hanafi di balik ayat-ayat Alkitab. Hanafi sendiri memunculkan sejumlah asumsi bahwa ayat-ayat yang dikutipnya dipahami Kristen sebagaimana ia memahaminya. Ketika ia menyuguhkan ayat-ayat yang berbau ‘pedang’, dan membandingkannya dengan demo umat Islam yang santun, seolah-olah bahwa Kristen yang berdemo menggunakan ayat-ayat pedang, dan Islam menggunakan ayat-ayat yang santun. Asumsi ini adalah sebuah tindakan “jukstaposisi opini” personal Hanafi dengan opini Kristen.

Saya mengamati bahwa Hanafi sendiri menggunakan metode tafsir “visual harfiah” yang menyingkirkan “konteks”. Ini saya namakan dengan “Teks Tanpa Konteks” [TTK]. Pola pemikiran tafsir Hanafi jelas berdasar pada TTK yang diusung dalam setiap statusnya. Ketika pembaca tidak secara teliti memperhatikan gagasan TTK Hanafi, maka secara tidak langsung, pembaca dapat berpikir bahwa gagasan TTK Hanafi adalah benar. Akan tetapi, tentu tidaklah demikian adanya. Ketika gagasan yang sama kita terapkan kepada quran, maka Hanafi sendiri mengalami kesulitan. Sebut saja beberapa teks berikut ini yang bisa diajukan kepada Hanafi untuk ditafsirkan berdasarkan gagasan TTK sebagaimana ia terapkan kepada Alkitab:

AYAT-AYAT KERAS:

Surah 8:12  (Ingatlah), ketika Tuhanmu mewahyukan kepada para malaikat: “Sesungguhnya Aku bersama kamu, maka teguhkan (pendirian) orang-orang yang telah beriman”. Kelak akan Aku jatuhkan rasa ketakutan ke dalam hati orang-orang kafir, maka penggallah kepala mereka dan pancunglah tiap-tiap ujung jari mereka.

Surah 47:4  Apabila kamu bertemu dengan orang-orang kafir (di medan perang) maka pancunglah batang leher mereka. Sehingga apabila kamu telah mengalahkan mereka maka tawanlah mereka dan sesudah itu kamu boleh membebaskan mereka atau menerima tebusan sampai perang berakhir. Demikianlah apabila Allah menghendaki niscaya Allah akan membinasakan mereka tetapi Allah hendak menguji sebahagian kamu dengan sebahagian yang lain. Dan orang-orang yang syahid pada jalan Allah, Allah tidak akan menyia-nyiakan amal mereka.

Surah 2:191  Dan bunuhlah mereka di mana saja kamu jumpai mereka, dan usirlah mereka dari tempat mereka telah mengusir kamu (Mekah); dan fitnah itu lebih besar bahayanya dari pembunuhan, dan janganlah kamu memerangi mereka di Masjidil Haram, kecuali jika mereka memerangi kamu di tempat itu. Jika mereka memerangi kamu (di tempat itu), maka bunuhlah mereka. Demikanlah balasan bagi orang-orang kafir.

Surah 4:89  Mereka ingin supaya kamu menjadi kafir sebagaimana mereka telah menjadi kafir, lalu kamu menjadi sama (dengan mereka). Maka janganlah kamu jadikan di antara mereka penolong-penolong(mu), hingga mereka berhijrah pada jalan Allah. Maka jika mereka berpaling, tawan dan bunuhlah mereka di mana saja kamu menemuinya, dan janganlah kamu ambil seorangpun di antara mereka menjadi pelindung, dan jangan (pula) menjadi penolong

Su 4:91  Kelak kamu akan dapati (golongan-golongan) yang lain, yang bermaksud supaya mereka aman dari pada kamu dan aman (pula) dari kaumnya. Setiap mereka diajak kembali kepada fitnah (syirik), merekapun terjun kedalamnya. Karena itu jika mereka tidak membiarkan kamu dan (tidak) mau mengemukakan perdamaian kepadamu, serta (tidak) menahan tangan mereka (dari memerangimu), maka tawanlah mereka dan bunuhlah mereka dan merekalah orang-orang yang Kami berikan kepadamu alasan yang nyata (untuk menawan dan membunuh) mereka.

Surah 9:5  Apabila sudah habis bulan-bulan Haram itu, maka bunuhlah orang-orang musyrikin itu dimana saja kamu jumpai mereka, dan tangkaplah mereka. Kepunglah mereka dan intailah ditempat pengintaian. Jika mereka bertaubat dan mendirikan sholat dan menunaikan zakat, maka berilah kebebasan kepada mereka untuk berjalan. Sesungguhnya Allah Maha Pengampun lagi maha Penyayang.

Surah 5:38 Laki-laki yang mencuri dan perempuan yang mencuri, potonglah tangan keduanya (sebagai) pembalasan bagi apa yang mereka kerjakan dan sebagai siksaan dari Allah. Dan Allah Maha Perkasa lagi Maha Bijaksana.

CURI ISTRI (?)

Surah 33:37  Dan (ingatlah), ketika kamu berkata kepada orang yang Allah telah melimpahkan nikmat kepadanya dan kamu (juga) telah memberi nikmat kepadanya: “Tahanlah terus isterimu dan bertakwalah kepada Allah,” sedang kamu menyembunyikan di dalam hatimu apa yang Allah akan menyatakannya, dan kamu takut kepada manusia, sedang Allah-lah yang lebih berhak untuk kamu takuti. Maka tatkala Zaid telah mengakhiri keperluan terhadap istrinya (menceraikannya), Kami kawinkan kamu dengan dia supaya tidak ada keberatan bagi orang mukmin untuk (mengawini) isteri-isteri anak-anak angkat mereka, apabila anak-anak angkat itu telah menyelesaikan keperluannya daripada isterinya. Dan adalah ketetapan Allah itu pasti terjadi.

ISTRI EMPAT

Surah 4:3  Dan jika kamu takut tidak akan dapat berlaku adil terhadap (hak-hak) perempuan yang yatim (bilamana kamu mengawininya), maka kawinilah wanita-wanita (lain) yang kamu senangi: dua, tiga atau empat. Kemudian jika kamu takut tidak akan dapat berlaku adil, maka (kawinilah) seorang saja, atau budak-budak yang kamu miliki. Yang demikian itu adalah lebih dekat kepada tidak berbuat aniaya.

BIDADARI SURGA

Surah 37:48 Di sisi mereka ada bidadari-bidadari yang tidak liar pandangannya dan jelita matanya

Surah 37:49 seakan-akan mereka adalah telur (burung unta) yang tersimpan dengan baik.

Surah 38:52 Dan pada sisi mereka (ada bidadari-bidadari) yang tidak liar pandangannya dan sebaya umurnya.

Surah 55:56 Di dalam syurga itu ada bidadari-bidadari yang sopan menundukkan pandangannya, tidak pernah disentuh oleh manusia sebelum mereka (penghuni-penghuni syurga yang menjadi suami mereka), dan tidak pula oleh jin.

Surah 55:58 Seakan-akan bidadari itu permata yakut dan marjan.

Surah 55:70 Di dalam syurga itu ada bidadari-bidadari yang baik-baik lagi cantik-cantik.

Surah 55:72 (Bidadari-bidadari) yang jelita, putih bersih, dipingit dalam rumah.

Surah 56:35 Sesungguhnya Kami menciptakan mereka (bidadari-bidadari) dengan langsung

Surah 56:36 dan Kami jadikan mereka gadis-gadis perawan.

Surah 56:37 penuh cinta lagi sebaya umurnya.

Surah Al-Baqarah 2:25, Dan sampaikanlah kabar gembira kepada orang-orang yang beriman dan berbuat kebajikan, bahwa untuk mereka (disediakan) surga-surga yang mengalir di bawahnya sungai-sungai. Setiap kali mereka diberi rezki buah-buahan dari surga, mereka berkata, “Inilah rezeki yang diberikan kepada kami dahulu”. Mereka telah diberi (buah-buahan) yang serupa. Dan di sana mereka (memperoleh) pasangan-pasangan yang suci. Mereka kekal di dalamnya.

Surah Âli ‘Imran 3:15, Katakanlah, “Maukah aku kabarkan kepadamu apa yang lebih baik dari yang demikian itu?” Bagi orang-orang yang bertakwa (tersedia) di sisi Tuhan mereka surga-surga yang mengalir di bawahnya sungai-sungai, mereka kekal di dalamnya, dan pasangan-pasangan yang suci serta rida Allah. Dan Allah Maha Melihat hamba-hamba-Nya.

Surah An-Nisa’ 4:57, Adapun orang-orang yang beriman dan mengerjakan kebajikan, kelak akan Kami masukkan ke dalam surga yang mengalir di bawahnya sungai-sungai, mereka kekal di dalamnya selama-lamanya. Di sana mereka mempunyai pasangan-pasangan yang suci, dan Kami masukkan mereka ke tempat yang teduh lagi nyaman.

Surah Yasin 36:55, 56, Sesungguhnya penghuni surga pada hari itu bersenang-senang dalam kesibukan (mereka). Mereka dan pasangan-pasangannya berada dalam tempat yang teduh, bersandar di atas dipan-dipan.

Surah As-Saffaat 37:48-50, Dan di sisi mereka ada (bidadari-bidadari) yang bermata indah dan membatasi pandangannya. Seakan-akan mereka adalah telur yang tersimpan dengan baik. Lalu mereka berhadap-hadapan satu sama lain sambil bercakap-cakap.

Surah Az-Zukhruf 43:70-71, Masuklah kamu ke dalam surga, kamu dan pasanganmu akan digembirakan. Kepada mereka diedarkan piring-piring dan gelas-gelas dari emas, dan di dalam surga itu terdapat apa yang diingini oleh hati dan segala yang sedap (dipandang) mata. Dan kamu kekal di dalamnya.

Surah At-Tur 52:20, Mereka bersandar di atas dipan-dipan yang tersusun dan Kami memberikan kepada mereka pasangan bidadari yang bermata indah.

Surah Ar-Rahman 55:56,72-74, Di dalam surga itu ada bidadari-bidadari yang membatasi pandangan, yang tidak pernah disentuh oleh manusia maupun jin sebelumnya. Bidadari-bidadari dipelihara di dalam kemah-kemah. Maka nikmat Tuhanmu yang manakah yang kamu dustakan? Mereka sebelumnya tidak pernah disentuh oleh manusia maupun oleh jin.

Surah Al-Waqi’ah 56:22-23,34-37, Dan ada bidadari-bidadari bermata indah, laksana mutiara yang tersimpan baik. (Ayat 34) dan kasur-kasur yang tebal lagi empuk. (Ayat 35) Kami menciptakan mereka (bidadari-bidadari itu) secara langsung, (ayat 36) lalu Kami jadikan mereka perawan-perawan, (ayat 37) yang penuh cinta (dan) sebaya umurnya.

Sura An-Naba’ 78:31-34, Sungguh, orang-orang yang bertakwa mendapat kemenangan. (yaitu) kebun-kebun dan buah anggur, dan gadis-gadis montokyang sebaya, dan gelas-gelas yang penuh (berisi minuman).

Sura Ad-Dukhan 44:51-55, Sungguh, orang-orang yang bertakwa berada dalam tempat yang aman, [52] (yaitu) di dalam taman-taman dan mata air-mata air. [53] mereka memakai sutera yang halus dan sutera yang tebal, (duduk) berhadapan, [54] demikianlah, kemudian Kami berikan kepada mereka pasangan bidadari yang bermata indah. [55] Di dalamnya mereka dapat meminta segala macam buah-buahan dengan aman dan tenteram.

Bagaimana pendapat Hanafi? Silakan menafsirkan teks-teks quran di atas berdasarkan metodologi TEKS TANPA KONTEKS sebagaimana yang anda lakukan pada Alkitab.

Salam Bae

HIDUP BAGI TUHAN

Pengalaman hidup manusia menjadikan dirinya sebagai penentu internal atas apa yang akan ia lakukan. Atau dengan perkataan lain, pengalaman adalah bagian kohesif dengan masa depan yang akan diraih. Pengalaman percaya kepada Tuhan memiliki indikasi yang sama. Namun, dalam segala aspek hidupnya, Tuhan mengatur dan menetapkan jalan hidup manusia. Artinya, dalam kebebasan manusia menentukan, memilih, dan merangkum semua jalan hidupnya, TUHAN tetap berintervensi (campur tangan) atas segala sesuatunya.

Alkitab menegaskan hal ini; bahwa Tuhanlah yang memungkinkan segala sesuatu terjadi. Kita yang hidup bagi Tuhan, tetap percaya bahwa Dialah yang memutuskan dan menetapkan segala sesuatu. Raja Sulaiman menuliskan konteks ini secara jelas:

Segala jalan orang adalah bersih menurut pandangannya sendiri, tetapi TUHANlah yang menguji hati (Amsal 16:2)

Hati manusia memikir-mikirkan jalannya, tetapi TUHANlah yang menentukan arah langkahnya (Amsal 16:9)

Banyaklah rancangan di hati manusia, tetapi keputusan TUHANlah yang terlaksana (Amsal 19:2)

Setiap jalan orang adalah lurus menurut pandangannya sendiri, tetapi TUHANlah yang menguji hati (Amsal 21:2)

Karena TUHANlah yang memberikan hikmat, dari mulut-Nya datang pengetahuan dan kepandaian (Amsal 2:6)

Dari ayat-ayat di atas, tampak jelas bahwa Tuhanlah yang berdaulat atas segala sesuatu dan memungkinkan segala sesuatu dapat terjadi sesuai dengan kehendak-Nya. Ia campur tangan atas hidup manusia. Tentulah Tuhan memperhatikan hidup orang-orang pilihan-Nya, dan menghukum orang-orang yang melakukan kejahatan, dan yang membenci umat-Nya. Dari ayat-ayat tersebut, kita belajar bahwa Tuhan itu peduli dan penuh kasih sayang terhadap orang-orang yang percaya kepada-Nya.

Hal ini pula yang ditegaskan oleh Raja Daud ketika ia menuliskan, “TUHAN menetapkan langkah-langkah orang yang hidupnya berkenan kepada-Nya; apabila ia jatuh, tidaklah sampai tergeletak ,sebab TUHAN menopang tangannya (Mazmur 37:23-24). Mereka yang hidup bagi Tuhan dan berkenan kepada-Nya tentu akan diberkati, disertai, dan ditopang oleh-Nya. Jaminan Tuhan adalah bahwa “Ia menetapkan—dan Ia menjaga umat pilihan-Nya dari segala kesesakan dan godaan dunia.” Tuhan pula yang menjamin bahwa umat pilihan-Nya akan tetap bersandar kepada-Nya sebagai Pribadi yang layak dipercaya dan diandalkan.

Hidup bagi Tuhan adalah hidup yang: pertama, beriman; kedua, berserah; dan ketiga, berdoa. Beriman, berarti kita meyakini akan semua janji Tuhan dan apa yang Ia janjikan pasti dikabulkan. Beriman berarti tangguh menghadapi badai kehidupan, tangguh menghadapi kesulitan dan problem kehidupan. Beriman, berarti kita siap menanggung segala risiko yang datang sebagai konsekuensi dari iman kepada Yesus Kristus. Orang Kristen adalah “sasaran caci maki dan perendahan, baik kepada Tuhannya, kepada orang Kristennya, kepada Kitab Sucinya, dan kepada ajarannya”. Tidak ada ruang di mana Kristen tidak dihina dan dikritisi. Anehnya, Kristen adalah agama terbesar di dunia. Ada apa? Dalam pengamatan saya, Kristen adalah agama yang menjalankan ajaran-ajarannya secara dewasa, dan lebih siap menghadapi badai kritikan, perendahan, caci maki, dan hinaan ketimbang lainnya. Itulah kehebatan Kristen: hidup bagi Tuhan melakukan kehendak-Nya dan siap menerima segala risiko dengan tidak melalukan “balas dendam”.

Lebih dahsyatnya, Yesus Kristus malahan memerintahkan untuk berdoa bagi musuh: “Tetapi Aku berkata kepadamu: Kasihilah musuhmu dan berdoalah bagi mereka yang menganiaya kamu. Karena dengan demikianlah kamu menjadi anak-anak Bapamu yang di sorga, yang menerbitkan matahari bagi orang yang jahat dan orang yang baik dan menurunkan hujan bagi orang yang benar dan orang yang tidak benar (Matius 5:44-45). Adakah yang dapat menandingin ajaran Yesus Kristus? Tidak ada. Itulah sebabnya, Kristen menjadi agama terbesar sekaligus menjadi incaran dan sasaran empuk untuk dihina dan direndahkan. Mengapa demikian? Ingatlah perkataan Yesus berikut ini:

Jikalau dunia membenci kamu, ingatlah bahwa ia telah lebih dahulu membenci Aku dari pada kamu (Yohanes 158)

Sekiranya kamu dari dunia, tentulah dunia mengasihi kamu sebagai miliknya. Tetapi karena kamu bukan dari dunia, melainkan Aku telah memilih kamu dari dunia, sebab itulah dunia membenci kamu (Yohanes 15:19)

Aku telah memberikan firman-Mu kepada mereka dan dunia membenci mereka, karena mereka bukan dari dunia, sama seperti Aku bukan dari dunia (Yohanes 17:14)

Janganlah kamu heran, saudara-saudara, apabila dunia membenci kamu. Kita tahu, bahwa kita sudah berpindah dari dalam maut ke dalam hidup, yaitu karena kita mengasihi saudara kita. Barangsiapa tidak mengasihi, ia tetap di dalam maut. Setiap orang yang membenci saudaranya, adalah seorang pembunuh manusia. Dan kamu tahu, bahwa tidak ada seorang pembunuh yang tetap memiliki hidup yang kekal di dalam dirinya. Demikianlah kita ketahui kasih Kristus, yaitu bahwa Ia telah menyerahkan nyawa-Nya untuk kita; jadi kitapun wajib menyerahkan nyawa kita untuk saudara-saudara kita (1 Yohanes 3:13-16)

Tidak ada yang dapat menandingi ajaran Yesus dan kehidupan Kristen. Dibenci tetapi membenci. Direndahkan tetapi tidak merendahkan; dikutuk tetapi tidak mengutuk, justru memberkati: “Berkatilah siapa yang menganiaya kamu, berkatilah dan jangan mengutuk!” (Roma 12:14). Hidup bagi Tuhan berarti beriman, yang siap menerima segala risiko sebagai konsekuensi dari percaya kepada Yesus Kristus yang adalah Tuhan dan Juruselamat dunia.

Hidup bagi Tuhan berarti berserah. Berserah kepada Yesus berarti mengakui kekuasaan dan kedaulatan-Nya atas hidup semua manusia, atas hidup orang-orang benar (percaya), dan atas hidup orang-orang jahat. Sikap pasrah adalah sikap di mana manusia terbatas dan ia membutuhkan Tuhan dalam totalitas hidupnya. Mereka yang sombong tentu tidak membutuhkan Tuhan. Sekuat dan sehebat bagaimana pun orang Kristen, haruslah memiliki sikap pasrah kepada Tuhan. Ialah yang empunya kehidupan. Maka, tidak perlu kuatir. Cukup serahkan kekuatiran dan problem kehidupan kepada Yesus Kristus:

Serahkanlah hidupmu kepada TUHAN dan percayalah kepada-Nya, dan Ia akan bertindak (Mazmur 37:5)

Serahkanlah kuatirmu kepada TUHAN, maka Ia akan memelihara engkau! Tidak untuk selama-lamanya dibiarkan-Nya orang benar itu goyah (Mazmur 55:23)

Serahkanlah perbuatanmu kepada TUHAN, maka terlaksanalah segala rencanamu (Amsal 16:3)

Serahkanlah segala kekuatiranmu kepada-Nya, sebab Ia yang memelihara kamu (1 Petrus 5:7)

Kepasrahan berarti menempatkan dan menyerahkan hak pembalasan kepada Tuhan saja. Seperti yang dialami dan ditegaskan Rasul Paulus bahwa: “Janganlah membalas kejahatan dengan kejahatan; lakukanlah apa yang baik bagi semua orang! Sedapat-dapatnya, kalau hal itu bergantung padamu, hiduplah dalam perdamaian dengan semua orang! Saudara-saudaraku yang kekasih, janganlah kamu sendiri menuntut pembalasan, tetapi berilah tempat kepada murka Allah, sebab ada tertulis: Pembalasan itu adalah hak-Ku. Akulah yang akan menuntut pembalasan, firman Tuhan (Roma 12:17-19).

Yang terakhir, hidup bagi Tuhan berarti berdoa. Yesus menegaskan demikian: “Mintalah, maka akan diberikan kepadamu; carilah, maka kamu akan mendapat; ketoklah, maka pintu akan dibukakan bagimu. Karena setiap orang yang meminta, menerima dan setiap orang yang mencari, mendapat dan setiap orang yang mengetok, baginya pintu dibukakan. Berdoa berarti kita membutuhkan pertolongan Tuhan dan berkat Tuhan. Ia dengan penuh kasih mendengar doa-doa yang disampaikan kepada-Nya. Berdoa adalah pekerjaan yang paling ringan sekaligus paling berat. Ringan, karena setiap waktu seseorang dapat berdoa kepada Tuhan. Berat, karena manusia yang merasa hebat dan memiliki segala sesuatu merasa berat untuk mengakui dan berdoa kepada Tuhan. Ia mengakui bahwa apa yang didapatkan adalah usahanya, dan tidak ada urusan dengan Tuhan apalagi berkat Tuhan.

Namun, sebagai prinsip hidup bagi Tuhan, berdoa adalah bagian yang kohesif dengan beriman dan pasrah. Berdoa melatih kita berkomunikasi dengan Tuhan. berdoa tak membutuhkan biaya; doa melintasi ruang dan waktu; tak ada hambatan sedikitpun karena di mana pun, kita dapat berdoa. Hiduplah bagi Tuhan dan tunjukkan iman dan sikap pasrah kepada Tuhan dengan cara berdoa: berdoa bagi orang lain, berdoa bagi mereka yang melakukan penginjilan, berdoa bagi musuh-musuh yang menghina Yesus, ajaran Kristen, Kitab Suci, dan orang Kristen. Tuhan itu berdaulat atas kehidupan, dan jika Ia berkenan, doa kita pasti dijawab. Meski kita dibenci, tidak perlu membalas kebencian. Cukup dengan doa dan memohon agar Tuhan memberkati orang yang membenci kita. Itu saja. Tidak lebih dari itu. Tuhan tentu punya rencana yang akan diwujudkan dalam kehidupan kita maupun dalam kehidupan para pembenci kita.

Sumber gambar: Unsplash

KRISTOLOGI DORAEMON

Stenly R. Paparang

Ada tiga fundamen iman Kristen tentang personalitas Logos yang menjadi daging [sarks] dalam terang Kristologi, yakni: Kristologi Biblika, Kristologi Definisi, dan Kristologi Solidisme. Tiga fundamen ini secara biblikal—teologis—historis, adalah warisan iman yang begitu kuat dan tetap berdiri, tampil keren di antara semak-semak belukar kesesatan (doctrinal, biblical, logical, dan historical).

Dalam memahami Kristologi, tak jarang riak-riak lelucon, kebodohan, kesesatan, muncul untuk mencari “panggung”nya sendiri, memperlihatkan akrobat yang dapat menyita perhatian kita. Bahkan ketika ada yang mengaku sebagai “Kristolog”, sebenarnya ia hanyalah memerankan “Doraemon”. Apa yang dihasilkannya pasti “suka-sukanya”, tak memenuhi kriteria hermeneutik bibikal.

Kita melihat bahwa riak-riak bidat Kristologi telah muncul di abad-abad awal perkembangan kekristenan. Secara historis, riak-riak tersebut mendapat panggung karena dicatat dalam buku-buku sejarah Gereja. Sebut saja Kaum Ebionit. Kemudian disusul dengan bidat-bidat lainnya, yang juga diadopsi, diracik kembali, diolah kembali oleh para pengusung Kristologi Doraemon di zaman ini.

Menariknya, tiga fundamen Kristologi yang seiring-sejalan dengan kekuatan pekabaran Injil dan menghasilkan ekspansi pertumbuhan Gereja di seluruh dunia, secara simultan memunculkan reaksi terhadapnya sehingga berbagai jenis kesesatan Kristologi mencuri perhatian. Alhasil, perdebatan Kristologi menjadi “panggung utama” dalam dua posisi: bagi Kristologi Biblika, tetap mempertahankan rumusan biblikanya, sedangkan Kristologi Sesat merumuskan sesuatu yang menyimpang dengan olahan bumbu-bumbu logika sesuka hati mereka.

Bahkan hingga sekarang ini, para peramu Kristologi Sesat mengubah bentuknya menjadi Kristologi Doraemon: Rumusan Kristologi sesat memang sangatlah variatif. Teks-teks rujukan mereka selalu menampilkan pola hermeneutik “doraemon”—dengan perkataan lain: “suka-suka gue”.

Tipe Kristologi Doraemon telah menjamur di mana-mana. Tipe ini memang eksis dan diadopsi oleh orang-orang Kristen yang tidak matang dalam hal logika, atau cacat bernalar untuk memahami konteks doctrinal, biblical, logical, dan historical. Di samping itu, tipe ini selalu menampilkan berbagai kebodohan dan inkonsistensi yang secara demarkatif salah, sehingga tidak dapat mengakomodasi Kristologi secara komprehensif dan jukstaposisi.

Kristologi Doraemon adalah jenis pemikiran yang salah dan menyesatkan, baik dalam kategori tiga fundamen Kristologi (Biblikal, Definisi, dan Solidisme), maupun dalam kategori doctrinal, logical, dan historical. Jika kita mengadaptasi lirik lagu “Doraemon”, maka akan jadi begini rumusan tipe penganut Kristologi Doraemon:

Aku ingin begini, aku ingin begitu

Ingin ini, ingin itu, banyak sekali

Semua, semua, semua, dapat dikabulkan

Dapat dikabulkan dengan “otak yang bodoh”                                         

Aku ingin terbangkan kesesatan di angkasa

Hey, “kumur-kumur ayat”

La, la, la, aku sayang sekali: “kebodohan”

Kristologi Doraemon diusung oleh mereka yang memang bernafsu paralogisme untuk mengabulkan semua rumusan teologis (non biblical) Kristologi dengan otak [cara berpikir] yang bodoh. Kita dapat menilai sendiri mana tipe Kristologi Doraemon yang diusung oleh para penyesat, para penyombong kebodohan, dan para pemalsu kebenaran.

Kebodohan itu sendiri secara klasifikasi terbagi atas tiga: kebodohan secara logika (cara bernalar memahami pengetahuan tertentu), kebodohan secara moralitas (perilaku keseharian), dan kebodohan secara spiritual (tindakan beragama yang salah menggunakan teks-teks kitab suci). Kaum penganut Kristologi Doraemon mengusung kebodohan jenis pertama dan ketiga.

Dan akhirnya, saya menyebut lima prinsip penganut Kristologi Doraemon.

PERTAMA, mereka dengan sesuka hati menafsirkan teks-teks Kitab Suci tanpa melihat dua aspek mendasar dari hermeneutic: konteks dan korelasi (satu teks yang memiliki korelasi dengan teks yang lain).

KEDUA, seperti adaptasi lirik lagu Doraemon yang saya tuliskan di atas, mereka ingin apa saja bisa, hanya dengan modal “otak yang bodoh”, bodoh dalam hal logika dan bodoh dalam hal spiritual.

KETIGA, mereka menciptakan rumusan Kristologi yang parsial dan fragmentaris, dan bukan rumusan Kristologi yang demarkatif (konteks-konteks), komprehensif, dan jukstaposisi.

KEEMPAT, mereka pada akhirnya memiliki rumusan Kristologi yang menumbuhkan semak-semak belukar kesesatan (doctrinal, biblical, logical, dan historical).

KELIMA, mereka ingin menerbangkan kesesatan di angkasa (kepada publik) dengan modal ‘kumur-kumur ayat’. Artinya, ayat-ayat yang digunakan tidak memenuhi konteks hermeneutik yang dapat dipertanggungjawabkan secara korelasional, historis, dan doktrinal.

Apa yang dapat kita tarik dari fenomena penganut Kristologi Doraemon? Kita didorong untuk memahami secara demarkatif, komprehensif, dan juktaposisi perihal Kristologi Biblikal, Definisi, dan Solidisme.

Kita diajak untuk memahami secara benar apa yang dinyatakan kepada kita dalam Kitab Suci, dan kita disadarkan bahwa ternyata perlawanan kita terhadap ajaran-ajaran sesat tidak akan pernah berhenti, tetapi justru—fakta itu—memberikan kepada kita sebuah pengharapan bahwa “ajaran-ajaran yang benar tentang Yesus, selalu memiliki tandingan sebagaimana tampak dalam sejarah Kekristenan.

Akan tetapi, fakta itu membuat kita untuk tetap berjuang ‘mempertahankan iman kepada Yesus Kristus’, dan ‘mempertaruhkan segala sesuatu bagi Dia’—dan dengan demikian kita menunjukkan kesetiaan yang kuat kepada-Nya.

Sejatinya, kesetiaan kepada Yesus Kristus hanya dapat dibuktikan melalui dua hal: apa yang kita pertahankan dan apa yang kita pertaruhkan. Tetaplah setia pada kebenaran, dan jangan menjualnya. Milikilah cara memahami Kristologi secara Biblika, Definisi, dan Solidisme.

Salam Bae

Sumber gambar: https://dyp.im/mentahan-gambar-doraemon-png/

YANG TERSISA DARI TEOLOGI

Beberapa waktu lalu, tanggal 19 Mei 2020, kita kehilangan seorang teolog (sekaligus apolget)  yang ternama, Ravi Zacharias. Beliau telah melalang buana untuk memberikan berbagai ceramah ataupun kuliah. Lebih dari itu, tidak hanya soal “apa yang ia ucapkan dan ajarkan”, sikap hidupnya telah menjadi “teladan”. Antara teologi dan sikap hidupnya, selaras. Itu adalah sebuah daya tarik yang seimbang, tidak berat sebelah.

Ada fakta menarik yang mungkin telah kita lihat, atau bahkan kita alami sendiri, bahwa adanya ketimpangan antara teologi dan sikap hidup. Seringkali, orang sulit memisahkan antara personalitas seseorang dengan teologi yang dia anut. Kesulitan ini disebabkan karena soal “sikap hidup” tadi.

Ketika seseorang yang memiliki pandangan teologi tertentu yang dinilai cukup atau sangat baik, namun sikap hidupnya tidak menjadi teladan, maka penilaian tersebut akan bermuara pada empat fakta: pertama, orang-orang tetap menerima ajarannya (teologinya) dan menyingkirkan “sikap hidupnya”; kedua, orang-orang menerima sikap hidupnya, dan menyingkirkan teologinya (yang miring itu); ketiga, tidak menerima keduanya; dan keempat, ini yang lebih ekstrem lagi, yaitu ada orang-orang “menerima keduanya”.

Dalam sejarah, empat fakta di atas muncul dalam setiap agama mana pun. Dalam tubuh Kristen, tampak kerancuan dalam berteologi telah memunculkan sejumlah respons positif maupun negatif, termasuk “orang-orang” memperlihatkan salah satu dari fakta empat fakta yang telah saya sebutkan di atas.

Saat ini, proses berteologi masih BERLANJUT, SEMAKIN HANGAT, dan SEMAKIN MESRA. BERLANJUT, menunjukkan bahwa ajaran-ajaran rasuli yang diwariskan dari zaman ke zaman, tetap dipertahankan oleh orang-orang percaya. Ajaran-ajaran tersebut dihidupi dalam totalitas hayati sebagai tanggung jawab iman.

SEMAKIN HANGAT, menunjukkan bahwa ada perbedaan paham (pemikiran)—jika tidak dikatakan sebagai kontradiksi total—mengenai aspek-aspek substansial maupun non-substansial. Riak-riak keributan teologi seringkali berkutat pada aspek-aspek non-substansial. Misanya, apakah Yudas masuk neraka atau tidak?; apakah penganut ajaran Calvin (Calvinisme) itu sesat dan masuk neraka atau tidak?; apakah penganut Arminian (Arminianisme) sesat dan masuk neraka atau tidak? Adakah kontribusi Pak Stephen Tong bagi negara? (ini celoteh seorang Kristen beberapa waktu lalu); mengapa orang Kristen tidak dapat menghafal Alkitab; dan masih banyak lagi.

Ada sejumlah aspek non-substansial yang diributkan, bahkan diobok-obok, sehingga menimbulkan “busa-busa” kotor pada riak-riak tersebut. Ada pula yang membela “tokoh-tokoh” tertentu—meski pengajarannya sesat, menyesatkan, dan tersesat, bahkan menyimpang—dengan cara “memuji-mujinya” ibarat calon anggota dewan menang dalam pemilihan dengan cara memanipulasi data pemilih. Entah ini disebut seimbang atau pincang, biarlah publik yang menilainya.

Kebutaan dalam berteologi telah membuat orang-orang Kristen salah sasaran. Yang dicari adalah “superioritas teolog” ketimbang sikap hidupnya. Seorang buta tentu meraba-raba; ia kehilangan arah dan tak tahu arah pulang. Kebutaan dalam berteologi memperlihatkan “pukulan-pukulan” untuk meninju tidak tepat sasaran. Bahayanya adalah ketika “pukulan-pukulan” itu ditujukan pada pohon Aras dari Libanon, batu besar, atau angin.

Maraknya “teologi-teologi” angin—yakni teologi-teologi yang hanya ditiupkan untuk menghibur pada pendengar tanpa menyentuh aspek-aspek spiritual, moralitas, dan relasional (kita dengan Tuhan dan sesama [dalam persekutuan]). Lalu, apa yang tersisa dari teologi?

Berteologi itu asyik dan menyenangkan. Tetapi ketika teologi itu tidak semestinya dilakukan, maka hasilnya tidak memuaskan. Meski berteologi itu asyik dan menyenangkan, kita tidak boleh melupakan sikap hidup sebagaimana yang Yesus ajarkan: Kamu adalah Garam dan Terang Dunia. Koherensi antara teologi dengan sikap hidup adalah sebuah niscaya.

Berteologi adalah realisasi dari apa yang kita “tahu” tentang Yesus Kristus berdasarkan warisan iman yang termaktub dalam Alkitab (hal ini masuk dalam kategori “BERLANJUT”). Sedangkan sikap hidup adalah realisasi dari iman kepada Yesus Kristus. Beriman tidak hanya “mengetahui” apa yang diajarkan Alkitab, melainkan juga “melakukan” apa yang diajarkan Alkitab. Ini sangat seimbang.

Terakhir, SEMAKIN MESRA menunjukkan kualitas antara teologi dengan sikap hidup secara seimbang, konsisten, dan ekspansif. Teknologi informasi yang sedemikian maju, dapat dipakai secara media untuk menunjukkan KEMESRAAN antara teologi dan sikap hidup, sehingga menjadi sangat ekspansif. Teologi yang kita bangun dan kita kabarkan hanya menyisahkan “sikap hidup” untuk menjadi teladan. Sikap hidup mencerminkan apa yang kita tahu, termasuk teologi. Teologi—yang terus dikembangkan dan digumuli—sangat menentukan sikap hidup seseorang.

Konsistensi dalam berteologi juga penting. Konsistensi bukan mengacu pada serangkaian konsep atau pemikiran yang terpisah dari konteks Alkitab, melainkan sebuah kondisi di mana teologi yang kita bangun dan kembangkan (ajarkan) didasarkan pada pemahaman yang komprehensif.

Alkitab menjadi “media utama” untuk melihat berbagai ajaran yang akan membimbing, mengarahkan, dan memimpin kita menuju kehidupan yang dikehendaki Allah. Teologi bukan hanya sekadar bagaimana kita berbicara, menyampaikan argumentasi, meluruskan pandangan yang keliru, tetapi juga menekankan sikap hidup yang benar di hadapan Tuhan dan sesama kita.

Kita tidak hanya berurusan dengan Tuhan yang tak kelihatan itu, tetapi juga berurusan dengan sesama kita di mana kita dapat mengajarkan mereka untuk mengikuti ajaran Alkitab dan membentuk kehidupan mereka menjadi seperti yang Tuhan kehendaki.

Yang tersisa dari teologi—seperti yang terjadi pada Ravi Zacharias—adalah sikap hidupnya yang selaras dengan apa yang ia pahami dari Alkitab. Ia telah menjadi teladan tidak hanya pemikirannya (teologinya), melainkan juga sikap hidupnya.

Jangan jadikan teologi untuk memenuhi “nafsu-nafsu” yang terselubung; jangan gunakan teologi untuk menyerempet warisan-warisan yang telah diberikan kepada kita di sepanjang sejarah; jangan jadikan teologi sebagai landasan kesombongan kita untuk mencuatkan “diri” ketimbang sikap hidup kita sendiri. “Kamu adalah Garam dan Terang Dunia”—“Kamu adalah Penjala Manusia”, dan itulah yang menjadi sikap hidup kita dalam berteologi. Teologi adalah alat untuk “memberitakan Injil” melalui kata (pewartaan) dan sikap hidup (perbuatan).

Waspadalah, jangan sampai teologi kita hanyalah sebuah upaya menjaring angin.

Tuhan Yesus Memberkati kita semua.

Salam Bae…

Sumber gambar: Unsplash

KETIKA PARALOGISME DIPERCAYAI

Sumber gambar: Pinterest

Teologi memiliki faset-faset yang dapat mengkorelasikan satu dengan lainnya dengan melihat pada “big picture” [gambar besar] dari karya Allah bagi umat manusia. Hal ini kemudian menjadi ajang debat antara mereka yang benci dengan doktrin Kristen, mereka yang memiliki “a priori” terhadap Alkitab Kristen, dan lain sebagainya. Faset-faset teologi Kristen kemudian akan menjadi terdengar aneh ketika ada mualaf yang mencoba menunjukkan aksi diri supaya terlihat pintar di depan para pendengarnya yang bodoh.

Ketika seorang Kristen yang berstatus pendeta beralih ke agama lain, maka secara hasrat ia akan memberikan ruang kuliah yang isinya hanyalah sebuah “celoteh jalanan” bernatur “paralogisme” tentang iman Kristen yang dulunya dia percayai. Sebut saja Muhammad Yahya Waloni, dan atau seorang wanita bernama Irena Handono, yang mana keduanya memiliki konstruksi teologi yang sangat amburadul.

Mereka mengais rezeki dari jenis paralogisme tentang doktrin Kristen dan sesuka hati mengkritik dengan pendekatan “negative thinking”. Kita tahu bahwa Kristen adalah agama yang terbuka untuk diperdebatkan. Siapa pun bebas mengkitiknya. Namun lain halnya dengan agama tertentu yang mendapat respons negatif dari sekelompok orang yang tersinggung ketika kritik yang sama digunakan untuk mengkritik historis doktrinal mereka.

Pada faktanya para pelaku paralogisme secara bebas bergentayangan di Indonesia. Bahkan mereka dianggap sebagai pembicara handal. Tapi mereka handal di antara orang-orang bodoh yang mudah dibodohi. Mereka mendapat panggung yang luas untuk mencaci maki iman Kristen, Paulus, dan juga Yesus, menafsirkan teks-teks Alkitab secara buta [teks tanpa konteks].

Yahya Waloni, dengan pendekatan “negative thinking”-nya terhadap iman Kristen membawa dirinya kepada sebuah kondisi paralogisme tingkat tinggi. Beliau adalah teolog kelas teri yang hanya bermodalkan kumur-kumur doktrin Kristen tanpa memiliki substansi biblika, historis, dan eksegetis. Irena Handono juga sama. Dengan metode salah kaprah [seperti judul bukunya: BIBEL BUKAN INJIL] menjadikan dirinya sendiri sebagai seorang penganut paralogisme yang buta sejarah dan doktrin Kristen.

Mereka berdua adalah representatif paralogisme dari semua mualaf di Indonesia. Mereka seringkali mencuatkan provokasi cuci otak kepada para pendengarnya supaya meyakini paralogisme mereka yang tiada taranya itu. Dari kondisi tersebut kita dapat menilai bahwa gejala psikologis yang bertujuan mendapat nama dan keuntungan hasil pembodohan dan penyesatan, cukup berhasil di kalangan para mualaf kelas teri tersebut.

Ketika paralogisme doktrin Kristen [yang dikumandangkan oleh para mualaf], dipercayai oleh orang-orang bodoh, mereka terhibur dan sangat bahagia sekali. Anggapan mereka Kristen adalah agama yang telah disesatkan oleh Paulus dan ajaran-ajarannya tidak masuk di akal. Masih banyak tuduhan dan lelucon yang ditujukan kepada Kristen.

Lebih parahnya lagi, ada yang beranggapan bahwa tidak mungkin percaya Yesus adalah Tuhan yang bisa makan dan buang air besar. Bahkan seorang yang lahir dari vagina perempuan pasti bukan Tuhan. Di sini, paralogisme yang muncul adalah mereka memahami “Tuhan” sebagai “fisik” dan bukan sebagai gelar. Atau alasan klasik mereka: “Jika Yesus itu Tuhan, mengapa Dia mati? Tuhan kok mati?”.

Mereka sama sekali tidak cerdas, bahkan sangat ignoran [saya maklumi] dan tetap bahagia dalam ketidakcerdasan dan ignoran mereka. Kemanusiaan Yesus tidak dipahami secara utuh. Bahwa ketika Yesus makan, maka wajar saja karena Ia adalah manusia yang sempurna seperti kita. Begitu pula dengan buang air besar dan lahir dari vagina perempuan, karena Ia dilahirkan sebagai manusia. Masakan manusia dilahirkan oleh sapi? Bahkan alquran pun menyebutkan kisah kelahiran Isa dari perawan Maria meski kisah kelahiran Isa bernatur dongeng.

Jika mengikuti pola paralogisme mereka soal Yesus mati, maka analogi ini bisa dipikirkan: “ketika seorang bupati mati, apakah yang mati jabatannya atau orang yang menjabat sebagai bupati?” Kalau mau konsisten maka menurut para penganut paralogisme, jabatan bupati juga ikut mati. Jika Yesus Tuhan, ketika Ia mati, maka Tuhannya pun ikut mati. Begitulah cara berpikir mereka. Sesat dan tidak tahu bahwa mereka sedang sesat. Tentu apa yang dipahami oleh kaum paralogisme di atas, bukanlah pemahaman iman Kristen.

Ada lagi yang cukup membuat kita tertawa geli. Menurut mereka, Yesus dan Bapa adalah satu. Yesus berdoa kepada Bapa, maka Yesus berdoa kepada diriNya sendiri. Inilah jenis paralogisme. Padahal dalam kemanusiaanNya, Yesus berdoa kepada BapaNya tidak ada masalah, karena Dia manusia. Titik persoalannya adalah muslimer tidak dapat memahami dua natur Yesus yang ada dalam diriNya sehingga mereka bingung dan dalam kebingungannya, merumuskan suatu pemahaman yang sama sekali bukanlah pemahaman iman Kristen.

Pada konsep Trinitas juga tak kalah menakjubkan. Bagi mereka Trinitas adalah ajaran setan dan menyesatkan. Sayangnya mereka tidak bisa membuktikan setan mana yang mengajarkan Trinitas, kapan diajarkan dan mana bukti dokumen ajaran setan. Perlu dicatat, bahwa sejatinya setan juga bernatur Trinitas: setan [nama yang diberikan kepadanya], rohnya, dan pikirannya. Islam juga menyembah Trinitas: Allah, Kalam, Dzat. Ketika Islam menyembah Allah, maka mereka sekaligus menyembah dzat Allah dan kalam dalam diri Allah.

Tidak mungkin Islam menyembah Allah yang tidak punya kalam dalam diriNya. Mereka tentu tidak berpikir bahwa Allah adalah esa yang kosong, tanpa dzat dan kalam. Justru sebaliknya, ketika mereka berbicara tentang Allah maka secara simultan mereka meyakini bahwa ada dzat dan kalam selain Allah. Ketiganya adalah satu dan tak bisa dipisahkan. Ketiganya adalah pribadi sebab tanpa dzat, Allah tak mungkin disebut pribadi.

Jadi, jika para mualaf dengan beraninya mengkritik Trinitas Kristen maka mereka juga memiliki iman kepada Allah SWT yang bernatur trinitas: Allah, kalam, dzatNya. Bedanya dengan Trinitas Kristen ada pada Logos Allah yang menjadi daging [manusia]. Itulah hebatnya Allah Kristen. Logos Ilahi menjadi manusia itu luar biasa sekaligus mengkonfirmasi bahwa Allah berkuasa. Logos mengenakan materi terbatas tetapi Ia sendiri tidak terbatas. Di samping itu, Logos yang menjadi “sarks” [daging] memiliki agenda penebusan dan penyelamatan Allah. Manusia berdosa kepada Allah dan hanya Allah saja yang berhak menentukan bagaimana caranya menebus manusia. Itulah yang Allah kerjakan melalui Yesus Kristus.

Ketika paralogisme merajai pikiran para mualaf maka berbagai celoteh jalanan akan terus terdengar. Kesesatan demi kesesatan akan terus mereka lakukan sampai kematian menjemput mereka. Tepatlah dikatakan bahwa paralogisme menutup logika mereka untuk berpikir cerdas. Malahan mereka bahagia dengan paralogisme mereka sendiri.

Akhir kata, kita hanya perlu menyuguhkan kepada para pelaku paralogisme dengan tiga jenis “pan de muerto” (bread of the dead) yaitu: terkonteks, terdefinisi dan terklasifikasi, terhadap semua tuduhan absurd yang dikumandangkan oleh para mualaf dan dipercayai oleh orang-orang bodoh. Niscaya mereka akan tersedak dan menelan bukti-bukti historis yang kredibel tentang Yesus Kristus.

Kita tetap harus waspada terhadap gelagat para mualaf yang hanya bermodalkan kumur-kumur ayat dan logika yang absurd dalam memahami iman Kristen. Ketika paralogisme para mualaf dipercayai, maka relasi Islam-Kristen akan semakin tawar, retak, dan memunculkan kebencian serta sentimen agama. Itulah yang terjadi. Akan tetapi, sedapat mungkin kita terus belajar dan memberikan pertanggung jawaban terhadap semua kesesatan yang mereka munculkan. Tuhan Yesus memberkati usaha dan kerja keras kita untuk memberitakan kebenaran, memberitakan Kabar Baik bahwa Yesus adalah Juruselamat dunia yang telah menebus, memberikan jaminan kehidupan kekal bagi mereka yang percaya kepada-Nya (Yohanes 3:16).

Salam Bae

Untuk melihat lebih juah buah pemikiran paralogisme Yahya Waloni, silakan beli dan baca buku yang berjudul: MENJAWAB DAN MENERTAWAKAN ARGUMEN TEOLOG KELAS TERI: Klarifikasi Atas Klaim-Klaim Muhammad Yahwa Waloni dalam Bukunya Islam Meruntuhkan Iman Sang Pendeta.

YESUS ZAMAN OLD DAN YESUS ZAMAN NOW

Tulisan ini adalah bagian Pendahuluan dari buku saya: “Yesus Zaman Old dan Yesus Zaman Now: Warisan Iman yang Tak Pernah Pudar”, 2019.

Semua manusia memiliki potensi untuk memahami sesuatu. Memahami sesuatu memiliki dasar atau titik pijak. Saya menyebut enam aspek: Pertama, memahami secara parsial. Artinya seseorang hanya melihat sepotong (sebagian) dari sesuatu yang dipahaminya, melihat satu bagian tertentu dan mengabaikan (atau menolak) bagian yang lainnya. Adakalanya konteks parsial itu lebih mendukung keyakinan dan pra-pemahamannya maka seseorang tidak menerima parsial lainnya (yang bertentangan). Hal ini sering terjadi pada aspek informasi, dokumen historis, keyakinan, berita, perkataan, dan fakta dari suatu peristiwa, padahal dalam satu peristiwa atau dokumen, rangkaian yang utuh dapat saja dapat merupakan akumulasi di mana yang satu sesuai dengan a priori dan lainnya tidak, meski keduanya berada dalam satu peristiwa atau dokumen. Hal ini terlihat, misalnya pada konteks Kristologi; ada yang membagi Yesus historis dan Yesus iman; ada yang percaya Yesus lahir dari perawan (Maria) dan menegasikan penyaliban-Nya; ada yang mengakui Yesus mati tetapi menegasikan kebangkitan-Nya.

Kedua, memahami secara fragmentaris. Pemahaman jenis ini memiliki kaitan dengan pemahaman yang pertama. Pada pemahaman fragmentaris, keutuhan konteks diabaikan; seseorang hanya berfokus pada salah satu hal dan tidak melihat korelasi dengan hal-hal lainnya di mana secara substansial sesuatu hal itu saling terkait.

Ketiga, memahami secara demarkasi. Pemahaman ini melihat batasan-batasan ketika memahami sesuatu. Jika tidak ada kaitannya, maka demarkasi diperlukan (membatasinya). Selain itu, demarkasi dilakukan untuk tidak mengalirkan logika ke semua arah yang tak ada kaitannya sama sekali. Artinya, spekulasi-spekulasi liar tidak perlu mendapat perhatian. Maka demarkasi adalah solusinya.

Keempat, memahami secara jukstaposisi. Pemahaman ini berarti menempatkan dua hal atau objek secara berdampingan atau sejajar, antara objek yang satu dan objek lainnya memiliki dua konten yang sangat terkait, saling mendukung, saling mengkonfirmasi, dan saling mengisi, sehingga pemahamannya menjadi utuh.

Kelima, memahami secara komprehensif. Pemahaman ini mengutamakan kesadaran untuk melihat sesuatu secara utuh (penuh). Rangkaian peristiwa yang terjadi dapat dan harus dilihat secara berkesinambungan, sehingga tidak ada kisah yang terpotong. Di samping itu, pemahaman ini menegaskan posisi penyelidikan terhadap sesuatu yang menghasilkan data dan bukti sebagai kekuatan objektivitasnya.

Yang terakhir, keenam, memahami secara paralogisme. Jenis ini sejak dari awal sudah memiliki a priori, asumsi negatif (dari sumber lain atau dari berbagai klaim-klaim miring), dan pemahaman yang salah yang dipercaya sebagai sesuatu yang benar. Memahami secara paralogisme tentu menyatakan kondisi seseorang bahwa sejak dari awal dia telah [memiliki paham] sesat dan dia tidak tahu bahwa dia telah berada dalam kesesatan itu. Tidak ada peluang bagi dia untuk melihat secara utuh mengenai sesuatu yang disalahpahami itu, sehingga berdampak pada konteks “sesat yang menyesatkan” baik orang lain maupun dirinya sendiri.  

Berangkat dari cara memahami di atas, ranah iman dan teologi Kristen pun didasarkan pada bagaimana kita memahami apa yang diwariskan kepada kita hingga sekarang ini. Alkitab—yang dengannya bangunan iman dan teologi Kristen terbangun—adalah dokumen historis yang memiliki kekuatan data dan bukti, yang menyuguhkan sebuah fakta penyataan Allah, kasih karunia, anugerah, rahmat, penghukuman, pengampunan, dan penyelamatan Allah atas umat-Nya.

Dalam konteks penyataan, Allah menyatakan diri-Nya melalui Logos yang (berinkarnasi) menjadi daging (manusia). Ia menunjukkan kekuatan kuasa Allah yang dapat menyelamatkan manusia dengan kondisi terendah: menjadi manusia. Jika Allah menyelamatkan manusia dengan kekuasaan yang dimiliki-Nya, tanpa menjadi manusia, itu tidak ada persoalaan. Toh, hampir semua manusia mengakui bahwa Allah itu Mahakuasa. Tetapi jika Logos Allah menjadi manusia dan menyelamatkan manusia, bukankah hal itu menunjukkan bahwa betapa hebat dan dahsyatnya Allah kita? Melalui inkarnasi, kita dapat melihat betapa Allah datang dengan kasih-Nya, melawat kita dan membersihkan segala kekotoran dosa. Di sini, Yesus adalah fokus utama, yang dulunya telah membuktikan kuasa-Nya, hingga kini kuasa itu tetap sama, tidak berubah.

Yesus yang kita kenal melalui Alkitab, adalah Yesus yang sama dengan yang dikenal oleh para murid. Seperti yang penulis kitab Ibrani tegaskan: “Yesus Kristus tetap sama, baik kemarin maupun hari ini dan sampai selama-lamanya” (Ibr. 13:8). Yesus yang kita imani dan taati adalah Yesus yang sama dengan yang diimani dan taati oleh para pemimpin Kristen yang telah mati bagi Kristus (bdk. Ibr. 13:7). Yesus zaman Now (sekarang) adalah Yesus yang sama di zaman Old (dulu). Mengenai aspek “sama” antara Yesus Now dan Yesus Old akan saya bahas pada bab tujuh di bagian akhir. Apa yang nanti dijelaskan mengenai aspek “sama” tersebut mengantarkan kita pada cara memahami sebagaimana yang telah saya sebutkan di atas.

Sejatinya, memahami Yesus memberikan gambaran yang kuat mengenai apa yang Dia perbuat di zaman-Nya, meski tidak sepenuhnya dituliskan—seperti yang Rasul Yohanes tuliskan: “Masih banyak hal-hal lagi yang diperbuat oleh Yesus, tetapi jikalau semuanya itu harus dituliskan satu per satu, maka agaknya dunia ini tidak dapat memuat semua kitab yang harus ditulis itu” (Yoh. 21:25).

Kita yang percaya hanya dapat menambah pengetahuan kita tentang Yesus Kristus melalui pengalaman (empiris) pribadi sebagai bentuk konfirmasi dari apa yang dituliskan dalam Alkitab (Perjanjian Lama dan Perjanjian Baru). Tak ada yang dapat berbicara lebih kuat dari pengalaman hidup bersama Yesus. Alkitab memberikan petunjuk kepada kita bahwa setiap orang yang percaya kepada Yesus Kristus akan disertai-Nya (bdk. Mat. 28:20) hingga akhir zaman. Memang teks itu ditujukan kepada para murid-Nya, tetapi perkataan Yesus itu mencakup semua orang yang percaya karena pemberitaan Injil di segala zaman dan tempat, yang disampaikan oleh para murid Yesus sampai kepada kita sekarang ini; mereka dan kita telah membuktikan bahwa penyertaan Yesus Kristus sangat nyata dan sungguh luar biasa. Mereka dan kita telah melihat dan merasakan kuasa Yesus bekerja sedemikian ajaib, sehingga iman menjadi kuat, bertumbuh, dan berbuah.

Mengenal Yesus haruslah membawa kita kepada tindakan mengasihi sesama secara tulus. Jika Yesus zaman Old begitu memperlihatkan kasih dan kuasa-Nya, maka kita yang hidup di zaman sekarang harus mengumandangkan dan memper-dengarkan bahwa Yesus di zaman Now – adalah Yesus yang sama dengan Yesus zaman Old; Ia mengasihi, berkuasa, dan mencintai orang yang mengarahkan diri pada hidup kudus, dan penuh kasih. Berita tentang Yesus zaman Now mengandung pokok-pokok iman yang dapat menyadarkan, mengarahkan, menguatkan, membimbing kita untuk melihat kasih dan pengampunan-Nya yang begitu luar biasa. Belenggu-belenggu dosa harus diputuskan dan dilepaskan tatkala seseorang mengikut Yesus. Segala penghalang jangan dijadikan sahabat saat kita mengikut Yesus. Justru penghalang-penghalang itu harus dilepaskan, dibuang jauh-jauh, dan menjadikan Yesus sebagai “Raja di hati kita” tanpa ada hal lain yang mengganjalnya. Mereka yang pernah mengalami kuasa Tuhan Yesus, tak mungkin menukar imannya dengan sesuatu yang lain. Iman kepada Yesus itu mahal, bukan murahan.

Oleh sebab itu, memahami dan mengenal Yesus serta mengalami kuasa dan penyertaan-Nya adalah sesuatu yang sangat berharga dan membahagiakan. Kita melihat ke masa depan dan meyakini bahwa ada kehidupan yang lebih baik, yaitu kehidupan kekal yang diberikan oleh Yesus bagi mereka yang percaya, mengasihi, dan setia kepada-Nya sampai akhir hayat. Mereka yang memahami Yesus hanya didasarkan pada teori dari Alkitab tanpa mengalami kuasa, kasih, dan tuntutan-Nya, adalah suatu kondisi yang sama sekali tidak biblikal, bahkan tidak dianjurkan.

Lihatlah para martir Kristen di sepanjang sejarah. Mayoritas di antara mereka mati secara sadis dan mengenaskan. Kita mungkin terharu bahkan meneteskan air mata ketika membayangkan bagaimana mereka begitu tangguh dalam iman meski penyiksaan dan kematian di depan mata mereka. Warisan iman mereka tak pernah pudar hingga sekarang. Kita yang hidup beriman kepada Yesus Kristus adalah karena warisan imannya mereka. Roh Kudus bekerja meneguhkan warisan iman mereka kepada kita sekarang ini.

Abad pertama, para rasul mengalami penganiayaan yang luar biasa. Abad-abad berikutnya, orang-orang Kristen juga mengalami hal serupa. Namun, keyakinan kepada Yesus Kristus yang mengubahkan hidup mereka tertanam kuat dalam diri. Iman mereka tidak hanya sebatas pengetahuan saja; tidak sebatas pada pengakuan saja; tetapi iman mereka ditunjukkan dan dibuktikan secara total melalui perbuatan-perbuatan, melalui kesetiaan dan ketaatan, bahkan mereka tetap setia dan taat sampai mati. Hal inilah yang dinyatakan John R. W. Stott, bahwa  

Fakta bahwa salib menjadi simbol Kristen, dan bahwa orang-orang Kristen, meskipun diolok-olok, dengan keras kepala menolak untuk membuangnya dan menggantinya dengan sesuatu yang kurang ofensif, hanya mungkin dijelaskan dengan satu alasan. Itu berarti bahwa sentralitas salib berasal dari pikiran Yesus sendiri. Oleh karena kesetiaan kepada Dialah para pengikut-Nya dengan gigih mempertahankan tanda ini.[1]

Teladan iman yang sedemikian tangguh dari para rasul dan orang percaya di sepanjang zaman, patut kita teladani. Zaman boleh berganti dan berubah, zaman boleh mengalami kemajuan di berbagai bidang, namun Yesus Kristus tetap sama; Ia tetap menyertai orang-orang yang percaya dan bersandar pada-Nya. Kita tetap memiliki iman yang sama dengan para murid Yesus, para martir, dan semua orang percaya di seluruh dunia di sepanjang zaman dan sejarah. Kita berbeda suku, bahasa, dan budaya, namun iman kita satu, yaitu [ber]iman kepada Yesus Kristus. Berita tentang Yesus tetap berkumandang di seantero dunia.

Di zaman ini, berita itu tetap sama dan dikabarkan kepada semua jenis generasi, entah generasi “tempo doeloe”, Z, Alpa, Millennial, dan sebutan lainnya. Berita tentang Yesus adalah berita damai, kasih, dan pengampunan dosa. Berita itu menyadarkan kita bahwa kita adalah manusia berdosa dan membutuhkan pengampunan Allah di dalam dan melalui Yesus Kristus: Logos Allah yang kekal. Mengapa harus pengampunan? Ingatlah bahwa pengampunan itu adalah tindakan meredam dan menggagalkan bencana yang lebih besar terjadi. Ketika pengampunan tidak ada, dunia dalam bencana besar dan kemudian dunia (baca: manusia) akan bertindak sesuka hati, bersaing, saling membenci, membunuh, dan kemudian musnah secara perlahan.

Di zaman Old, Yesus menunjukkan pengampunan yang luar biasa. Dosa, kesalahan, dan pemberontakan mendapat peng-ampunan dari Allah. Pengampunan-Nya memberitahukan kepada kita bahwa Allah membenci dosa, pemberontakan, dan kesalahan yang bertentangan dengan kehendak dan hukum-hukum-Nya. Dalam Perjanjian Lama (PL), Allah menyatakan pengampunan-Nya kepada mereka yang berkenan mengakui kesalahannya, dan kepada mereka yang ditegur langsung oleh Allah. Allah menyapa umat-Nya melalui pengampunan, dan mereka merasakan sukacita yang luar biasa; merasakan bahwa hidup mereka menjadi kuat dan berarti, baik di hadapan Allah maupun sesama.

Efek dari pengampunan Allah pun (dalam PL) berlanjut sampai kepada inkarnasi Logos menjadi daging (sarks [manusia]). Melalui inkarnasi, Yesus—Logos Allah—mem-perlihatkan jangkauan kuasa-Nya yang dahsyat. Dalam inkarnasi, Yesus menampilkan kuasa dan otoritas-Nya atas manusia berdosa, setan-setan, orang-orang yang kerasukan, atas alam, dan lain sebagainya. Fakta ini—meski ada yang melihatnya sebagai mitos (dalam arti negatif) atau pun omong kosong—telah menjadi pembuktian kemudian, bahwa ternyata orang-orang percaya diberikan “kuasa” oleh Yesus Kristus untuk mengusir setan (pada orang-orang yang dirasukinya), menyembuhkan berbagai jenis penyakit, menyembuhkan orang lumpuh, dan masih banyak lagi. Dengan demikian kuasa Yesus zaman Now (selanjutnya disebut Yesus Now), masih tetap sama dengan kuasa Yesus zaman Old (selanjutnya disebut Yesus Old). Zaman berganti, kuasa-Nya tetap sama. Yesus memberikan kuasa kepada setiap generasi, dan itu membuktikan siapa Dia sebenarnya: Dia adalah Tuhan yang berkuasa dan berdaulat.

Kalau ada orang yang ‘otaknya setengah’—maksudnya berpikirnya hanya parsial, fragmentaris, dan paralogisme—mengatakan bahwa Yesus adalah ‘Tuhan’ yang kalah (maksudnya Yesus Old), Ia adalah Yesus yang lemah, manusia biasa, Dia kalah (entah maksudnya apakah Yesus kalah ketika disalib, atau penekannya pada aspek manusiawi Yesus lainnya), maka itu merupakan sebuah pernyataan tanpa dasar, hanya sebuah imajinasi, asumsi, dan sebuah celoteh jalanan. Maksudnya? Otak (cara berpikir) model begini hanya bermaksud melihat sebuah objek tertentu sesuai dengan apa yang dia inginkan untuk ditafsirkan dan bukan apa yang hendak dia ketahui untuk mendapatkan tafsiran yang objektif terhadap objek yang dilihat (diamati). Alhasil, pernyataan di atas adalah bentuk lain dari kesesatan logika, tanpa bukti, tapi hanya berimajinasi, sebuah a priori.

Mengatakan Yesus sebagai Tuhan yang kalah—maksudnya “Yesus yang disalibkan”—bukanlah sebuah pernyataan yang valid pada dirinya sendiri melainkan “memotong” fakta penyaliban (memberhentikan personalitas Yesus pada peristiwa salib) tanpa melihat fakta sesudahnya, untuk memenuhi nafsu otak parsial tadi. Dia lupa bahwa Yesus bangkit dari kematian; dan kemudian Ia menampakkan diri kepada banyak orang (termasuk kepada para murid). Apakah Dia adalah Tuhan yang kalah? Tentu tidak. Yesus kemudian terangkat ke surga. Apakah Dia adalah Tuhan yang kalah? Yesus pun menegaskan bahwa: “Aku menyertai kamu (para murid dan semua orang yang percaya atas pemberitaan Injil oleh para murid Yesus) senantiasa sampai kepada akhir zaman” (Mat. 28:20). Apakah Yesus adalah Tuhan yang kalah? Tentu tidak. Kuasa Yesus Now masih tetap sama dengan kuasa Yesus Old. Apakah Dia adalah Tuhan yang kalah? Tentu tidak. Telah begitu banyak orang diubahkan oleh Yesus. Apakah Dia adalah Tuhan yang kalah? Tentu tidak. Bahkan Yesus akan datang pada hari kiamat. Apakah Dia adalah Tuhan yang kalah? Tentu tidak.

Yesus dan kematian-Nya di salib, bukanlah tanda kekalahan, tetapi justru membuktikan bahwa Dia berkuasa: berkuasa menebus, mengampuni, dan berkuasa atas maut dan kehidupan. Dia tidak dikuasai maut. Dia justru bangkit dari kematian. Luar biasa bukan? Ingatlah, bahwa sebelum Dia disalibkan, Dia telah menubuatkan kematian-Nya. Bukankah itu pertanda ucapan Yesus penuh kuasa? Bukankah Yesus konsisten dengan ucapan-Nya? Lihatlah teks-teks berikut. Yesus telah menyatakan kematian dan kebangkitan-Nya: Markus 8:31,  “Anak Manusia harus menanggung banyak penderitaan dan ditolak oleh tua-tua, imam-imam kepala dan ahli-ahli Taurat, lalu dibunuh dan bangkit sesudah tiga hari. Markus 9:31, “Anak Manusia akan diserahkan ke dalam tangan manusia, dan mereka akan membunuh Dia, dan tiga hari sesudah Ia dibunuh Ia akan bangkit. Lukas 9:22, “Anak Manusia harus menanggung banyak penderitaan dan ditolak oleh tua-tua, imam-imam kepala dan ahli-ahli Taurat, lalu dibunuh dan dibangkitkan pada hari ketiga. Lukas 24:7, “Anak Manusia harus diserahkan ke tangan orang-orang berdosa dan disalibkan, dan akan bangkit pada hari yang ketiga.

Menariknya, malaikat yang turun dari langit (Mat. 28:2-3) justru juga konsisten dengan fakta yang terjadi. Dia mengatakan bahwa: “Janganlah kamu takut; sebab aku tahu kamu mencari Yesus yang disalibkan itu. Ia tidak ada di sini, sebab Ia telah bangkit, sama seperti yang telah dikatakan-Nya. Mari, lihatlah tempat Ia berbaring (Mat. 28:5-6). Lukas 24:6-8 juga mencatat hal yang sama: “Ia tidak ada di sini, Ia telah bangkit. Ingatlah apa yang dikatakan-Nya kepada kamu, ketika Ia masih di Galilea, yaitu bahwa Anak Manusia harus diserahkan ke tangan orang-orang berdosa dan disalibkan, dan akan bangkit pada hari yang ketiga.” Maka teringatlah mereka akan perkataan Yesus itu.

Konfirmasi kebangkitan Yesus sebagaimana yang ditegaskan malaikat merujuk kepada “ucapan Yesus” di mana seperti tampak pada teks-teks di atas, menyebutkan bahwa Yesus telah menubuatkan kematian dan kebangkitan-Nya. Bagaimana mungkin kemudian Dia dipahami sebagai Tuhan yang kalah? Sebenarnya bukan Yesus yang kalah, melainkan orang yang mengatakan Dia kalah adalah yang kalah—tidak sanggup menerima fakta Alkitab secara komprehensif. Sejatinya, orang-orang yang memupuk rasa menang berdasarkan kekalahan yang diterimanya mengindikasikan “kelainan jiwa dan otak” dalam bingkai ketidakpuasan menerima fakta dan iman Kristen terhadap Yesus Kristus yang adalah Tuhan, berkuasa atas hidup dan maut, berkuasa menyertai umat-Nya sampai akhir zaman. Lebih dari itu, kelainan jiwa dan otak tersebut bersumber dari a priori dan negasi-negasi mereka terhadap iman Kristen yang dianggap tidak masuk akal, padahal sejatinya otak mereka yang tidak dapat menerima fakta yang sebenarnya. Fakta adalah fakta, negasi terhadap fakta tidak menggagalkan fakta. Justru otak yang menolak fakta adalah sesat (paralogisme).

Apakah Yesus adalah Tuhan yang kalah? Yang mengatakan bahwa Dia kalah jelas memiliki model berpikir parsial-kondisional, yaitu memahami sesuatu secara sebagian untuk mengkondisikannya sesuai dengan apa yang dia yakini tentang Yesus, berdasarkan penalaran yang tidak sah. Dia lupa bahwa Yesus bangkit, menampakkan diri, naik ke surga, menyertai semua orang-orang percaya hingga akhir zaman. Bukankah PB menyebutkan bahwa Yesus adalah Tuhan yang menang atas maut? Siapa bilang Dia kalah? Pasti yang mengatakan Dia kalah adalah orang-orang yang memiliki pengetahuan yang kerdil tentang Yesus.

Masih ingat dengan pernyataan Rasul Paulus mengenai kemenangan Yesus atas maut? Apakah Dia kalah? Tentu tidak.

Dan sesudah yang dapat binasa ini mengenakan yang tidak dapat binasa dan yang dapat mati ini mengenakan yang tidak dapat mati, maka akan genaplah firman Tuhan yang tertulis: “Maut telah ditelan dalam kemenangan. Hai maut di manakah kemenanganmu? Hai maut, di manakah sengatmu?” Sengat maut ialah dosa dan kuasa dosa ialah hukum Taurat. Tetapi syukur kepada Allah, yang telah memberikan kepada kita kemenangan oleh Yesus Kristus, Tuhan kita” (1 Kor. 15:54-57

Bagaimana mungkin Yesus disebut sebagai Tuhan yang kalah padahal Ia bangkit dari kematian, Ia mengalahkan maut, Ia menampakkan diri (sebagai bukti kebangkitan-Nya) dan Ia naik surga? Ia tetap menunjukkan kuasa-Nya dari zaman ke zaman. Apakah Ia adalah Tuhan yang kalah? Tentu tidak. Yesus yang kalah adalah “Yesus yang lain, Yesus yang disesuaikan dengan keyakinan seseorang” yang tidak memiliki pengetahuan yang benar tentang Yesus versi Alkitab.

Hingga sekarang ini, warisan iman para rasul masih tetap sama, tidak pernah pudar. Yesus yang menunjukkan kuasa Allah; Yesus yang diakui oleh setan-setan sebagai Anak Allah Yang Mahatinggi, dan masih banyak lagi pengakuan dan demonstrasi kuasa Yesus. Yesus yang disembah bukanlah Yesus yang kalah, tetapi Yesus yang menang. Tidak ada konsep Yesus yang kalah dalam iman Kristen.

Cara berpikir demikian (melihat fakta secara parsial) sebenarnya mendaur ulang peristiwa hoax di zaman Yesus di mana pasca kebangkitan-Nya (Mat. 28:1-10), imam-imam kepala dan tua-tua bersepakat menyebarkan hoax.

Ketika mereka di tengah jalan, datanglah beberapa orang dari penjaga itu ke kota dan memberitahukan segala yang terjadi itu kepada imam-imam kepala. Dan sesudah berunding dengan tua-tua, mereka mengambil keputusan lalu memberikan sejumlah besar uang kepada serdadu-serdadu itu dan berkata: “Kamu harus mengatakan, bahwa murid-murid-Nya datang malam-malam dan mencuri-Nya ketika kamu sedang tidur. Dan apabila hal ini kedengaran oleh wali negeri, kami akan berbicara dengan dia, sehingga kamu tidak beroleh kesulitan apa-apa.” Mereka menerima uang itu dan berbuat seperti yang dipesankan kepada mereka. Dan ceritera ini tersiar di antara orang Yahudi sampai sekarang ini. (Mat. 28:11-15)

Bukankah imam-iman kepala dan tua-tua sedang membuat Yesus sebagai orang yang kalah? Mari kita mundur sejenak untuk melihat ketakutan imam-imam kepala dan orang-orang Farisi bahwa Yesus akan bangkit sebagaimana yang Ia katakan. Perhatikan narasi berikut ini:

Keesokan harinya, yaitu sesudah hari persiapan, datanglah imam-imam kepala dan orang-orang Farisi bersama-sama menghadap Pilatus, dan mereka berkata: “Tuan, kami ingat, bahwa si penyesat itu sewaktu hidup-Nya berkata: Sesudah tiga hari Aku akan bangkit. Karena itu perintahkanlah untuk menjaga kubur itu sampai hari yang ketiga; jikalau tidak, murid-murid-Nya mungkin datang untuk mencuri Dia, lalu mengatakan kepada rakyat: Ia telah bangkit dari antara orang mati, sehingga penyesatan yang terakhir akan lebih buruk akibatnya dari pada yang pertama.” Kata Pilatus kepada mereka: “Ini penjaga-penjaga bagimu, pergi dan jagalah kubur itu sebaik-baiknya.” Maka pergilah mereka dan dengan bantuan penjaga-penjaga itu mereka memeterai kubur itu dan menjaganya (Mat. 27:62-66)

Ketakutan imam-imam kepala dan orang-orang Farisi tentang kebangkitan Yesus, diasumsikan bahwa para murid Yesus akan datang mengambil mayat-Nya supaya terkesan bahwa apa yang Yesus ucapkan itu tergenapi. Memang masuk akal asumsi mereka setidaknya jika ditinjau dari penempatan Yesus sebagai penyesat seperti yang mereka tuduhkan (ay. 63: … Tuan, kami ingat, bahwa si penyesat itu sewaktu hidup-Nya berkata: Sesudah tiga hari Aku akan bangkit). Akan tetapi, pada faktanya, Yesus bangkit dari kematian. Apa buktinya? Kubur kosong, penampakkan diri, kenaikan Yesus ke surga dan penyertaan Yesus kepada semua orang-orang yang percaya pada-Nya (termasuk percaya kepada kuasa-Nya yang dahsyat), sampai sekarang ini.

Dengan demikian, Yesus Now adalah Yesus yang masih tetap sama dengan Yesus Old. Yesus bukanlah Tuhan yang kalah, tetapi Tuhan yang menang. Melihat personalitas Yesus haruslah secara komprehensif. Kuasa-Nya tetap sama, sebagaimana kita melihat bahwa banyak orang yang telah diubahkan oleh Yesus menjadi orang-orang yang cinta damai, suka mengampuni, dan menebarkan kasih Kristus dalam totalitas kehidupan mereka. Yesus disembah karena Ia adalah Tuhan yang memiliki kuasa. Ia telah membuktikan hal itu.

Hingga kini, semua orang yang pernah mengalami kuasa Yesus Kristus tak terhitung jumlahnya. Pengalaman hidup bersama Yesus—merasakan kuasa-Nya yang luar biasa—telah menjadi kekuatan iman dan tidak dapat digantikan oleh hal-hal yang lainnya, seperti yang diungkapkan Stott di atas. Pengalaman iman berbicara lebih kuat; dan melaluinya, kita tahu bahwa apa yang tertulis dalam Alkitab tentang Yesus adalah benar. Tepatlah yang dituliskan oleh penulis kitab Ibrani: “Yesus Kristus tetap sama, baik kemarin maupun hari ini dan sampai selama-lamanya” (Ibr. 13:8). Berangkat dari pemahaman tersebut, maka buku ini hendak menyuguhkan pemahaman-pemahaman tentang Yesus baik di zaman old maupun di zaman now. Ada konsistensi logis dari apa yang diperbuat dan yang dikatakan Yesus. Yesus tetap sama; Ia tak berubah.

Meski berbagai asumsi negatif dan kritik, hal itu tidak mengubah kuasa-Nya. Orang-orang begitu tergugah ketika dilawat oleh Yesus. Tak ada yang dapat menahan dan melawan kuasa-Nya. Maut saja dikalahkan, apalagi hanya segelintir mulut pencaci dan penista Yesus. Terlalu kecil bagi-Nya untuk menyingkirkan mereka itu. Tak bisa terbayangkan betapa dahsyatnya kuasa Yesus. Ada yang kemudian bertobat dan berlutut mengakui-Nya. Tanyakanlah kepada mereka yang dulunya hidup dalam kejahatan dan ketika mereka bertobat, diubahkan Yesus, apakah hidup mereka ada sukacita atau tidak? Dari berbagai kesaksian yang saya dengar, semuanya merasakan sukacita, kelegaan, dan damai. Mereka hidup mengadakan damai, mereka mengampuni musuh-musuh bahkan mendoakan mereka. Ajaran-ajaran Yesus tetap segar dalam pikiran, mulut, dan totalitas hidup mereka. Itulah tandanya, bahwa kuasa Yesus tetap sama. Mereka yang dulunya menghina Yesus, kini berlutut memohon ampun dan memuji Dia. Benarlah apa yang dikatakan Paulus: “Itulah sebabnya Allah sangat meninggikan Dia dan mengaruniakan kepada-Nya nama di atas segala nama, supaya dalam nama Yesus bertekuk lutut segala yang ada di langit dan yang ada di atas bumi dan yang ada di bawah bumi, dan segala lidah mengaku: ‘Yesus Kristus adalah Tuhan,’ bagi kemuliaan Allah, Bapa!” (Flp. 2:9-11).

Di samping itu, buku ini menegaskan bagaimana cara memahami personalitas Yesus secara jukstaposisi, komprehensif, demarkasi konteks, dan hendak menyatakan tiga hal. Pertama, Yesus yang kita imani zaman now berdasarkan kesaksian Alkitab dan pengalaman iman kita, adalah Yesus yang sama yang diimani oleh para murid di zaman old. Artinya, empirikal para murid meneguhkan bahwa apa yang Yesus katakan adalah benar. Di zaman ini, hanya mereka yang pernah merasakan jamahan kasih dan mengalami kuasa Yesus yang dapat mengakui bahwa Yesus adalah Tuhan dan Juruselamat. Kedua, Yesus adalah pribadi yang membuktikan konsistensi dari ucapan-Nya. Sekarang, semua orang percaya menikmati dan merealisasikan ucapan-Nya yang berkuasa itu. Dari aspek filsafat, konsistensi logis dan konsekuensi logis adalah dua hal yang substansial di mana keduanya dibuktikan oleh Yesus. Ketiga, Yesus Now memiliki korelasi yang sangat kuat dan faktual dengan Yesus Old, yang dalam konteks yang lebih luas, perdebatan dan negasi terhadap personalitas Yesus dalam bingkai pluralisme agama, tidak dapat menyuguhkan gagasan berdasar historis, dokumen, dan argumentasi logis.

Dalam tiga dunia pemikiran: empirikal, filsafat, dan pluralisme, Yesus Now dapat menampilkan kepiawaiannya berselancar untuk menghadapi serangan-serangan terhadapnya, melalui pemahaman jukstaposisi, komprehensif, dan demarkasi konteks. Dengan demikian, apa yang kita dapatkan dalam pemahaman yang benar tentang Yesus dan pengalaman hidup (mengalami kasih, kuasa, dan pengampunan) bersama Yesus, membawa kita kepada hidup yang berkemenangan, penuh damai, kasih, dan pengampunan. Tak ada yang dapat menandingi teladan Yesus dalam hal “mengampuni”. Meski Ia dalam keadaan disalibkan—dan sebelumnya Ia disiksa, dicaci maki, dihina, dipukul—Ia malahan mengatakan: “Ya Bapa, ampunilah mereka sebab mereka tidak tahu apa yang mereka perbuat.” Pengampunan Yesus sungguh luar biasa. Ia tidak mewariskan sikap balas dendam, melainkan sikap yang mengampuni dan mendoakan musuh. Dia bukanlah Tuhan yang kalah. Semua yang menyalibkan Yesus sudah mati, tetapi Yesus yang bangkit, telah naik ke surga, dan Ia akan datang kembali di akhir zaman.

Mengalahkan Yesus mutlak tidak bisa dilakukan. Dunia malahan diubah oleh Dia. Dunia yang berusaha untuk menyingkirkan Yesus, termasuk para teolog liberal, justru semua sudah mati, mereka gagal—meskipun pengaruhnya terasa, tetapi hal itu tidaklah menjadi bencana bagi dunia kekristenan, mereka kadang berkhayal, mereka berparalogisme ria, tetapi pengaruh Yesus masih saja dialami oleh semua orang percaya, yang sakit disembuhkan, yang lumpuh berjalan, yang mati dibangkitkan, yang buta melihat, dan masih banyak lagi. Yesus mengajarkan cinta damai, menebarkan kasih dan pengampunan agar dunia menjadi aman dan tenteram. Lihatlah para pengikut Yesus yang sungguh-sungguh mengasihi dan percaya kepada-Nya; mereka hidup dalam kasih, dan benar-benar memperlihatan pengampunan. Mereka meneladani dan mengakui kehebatan Yesus Old.

Kita menyadari bahwa hidup beriman kepada Yesus bukanlah perkara mudah. Ada saja tantangan, hambatan, perendahan, caci maki, persekusi terhadap orang-orang percaya. Salah satu contoh adalah ada yang mengatakan bahwa Yesus adalah Tuhan yang kalah. Masih banyak pernyataan dan klaim yang didasarkan pada gangguan kejiwaan dari mereka yang tidak menyukai dan membenci orang Kristen. Pola paralogisme begitu kental dan bahkan telah menjadi habitat harian mereka, seperti surat kabar harian.

Lebih dari itu, cara memahami tentang Yesus, merupakan fakta utama dari berbagai bentuk kesesatan, penyesatan, kebodohan, dan kesalahpahaman. Sebagaimana di atas telah dijelaskan mengenai enam cara memahami. Dengan demikian, kesalahan-kesalahan dan penyesatan-penyesatan pemahaman Kristologi berangkat dari bagaimana memahaminya.

Akhirnya, beriman kepada Yesus tidak pernah salah. Pilihan kita sangat tepat. Mengapa? Kita telah memiliki bukti tertulis: Alkitab. Dan kita pun memiliki bukti empiris: merasakan dan mengalami kasih dan kuasa Yesus Kristus. Tidak hanya itu, warisan iman dari mereka yang percaya, setia, dan mati demi Yesus Kristus, tidak pernah pudar hingga sekarang ini. Masihkah kita ragu mengikuti-Nya dan mengakui-Nya? Masihkah kita membenci mereka yang memaki dan membenci Yesus Kristus? Masihkah kita ragu memberitakan Injil? Masihkah kita membenci mereka yang membenci kita? Tinggalkan semuanya, dan biarkan Yesus yang mengatur hidup kita, dan berdoalah bagi mereka yang membenci serta menganiaya kita. Tuhan bersama kita.


[1] John R. W. Stott, Salib Kristus. Terj. Grace Purnamasari(Surabaya: Momentum, 2015), 29.

KATA-KATA, KITAB SUCI, PENDENGARAN, DAN MATA

Sumber gambar: Unsplash (https://unsplash.com/photos/vGReyBvIX-o)

Dalam peristiwa lampau—yang kita sebut dengan ‘sejarah’—telah menyisahkan berbagai kenangan, polemik, dan dendam yang tak kunjung usai, meski di satu pihak “telah usai”. Kenangan, polemik, dan dendam adalah bagian dari pikiran manusia yang belajar memahami makna dan pesan di balik itu semua.

Tak dapat dipungikiri bahwa ‘sejarah’ itu sendiri telah memberikan kepada manusia pelajaran berharga di samping menawarkan warisan yang: “entah baik entah buruk.” Kita tidak dapat memisahkan sejarah dari keempat aspek penting yang telah mengubah dunia, merusak dunia, mengacaukan dunia, dan mendamaikan dunia.

PERTAMA: Kata-kata adalah penguasa yang menggerakkan manusia untuk menjadi baik, jahat, ragu-ragu, munafik, dan sebagainya. Dengan kata-kata, manusia memahami makna terluar dan terdalam dari satu peristiwa atau objek tertentu yang sedang dibicarakan. Kata-kata mengusung tema besar: “percayalah apa yang dikatakan, dan lakukanlah”. Tujuan dari kata-kata pada dasarnya menginginkan seseorang yang mendengarkannya untuk mempercayai dan melakukannya.

Kata-kata telah mengubah dunia. Penulis Amsal menyatakan hal-hal factual mengenai perkataan:

Perkataan orang fasik menghadang darah, mulut [perkataan] orang jujur menyelamatkan orang (12:6)

Setiap orang dikenyangkan dengan kebaikan oleh karena “buah” perkataan, dan orang yang mendapat balasan dari pada yang dikerjakan tangannya (12:14)

Jawaban (perkataan) yang lemah lembut meredakan kegeraman, tetapi perkataan yang pedas membangkitkan marah (15:1)

Rancangan orang jahat adalah kekejian bagi TUHAN, tetapi perkataan yang ramah itu suci (15:26)

Perkataan yang menyenangkan adalah seperti sarang madu, manis bagi hati dan obat bagi tulang-tulang (16:24)

Perkataan yang diucapkan tepat pada waktunya adalah seperti buah apel emas di pinggan (piring) perak (25:11)

Penulis kitab Pengkhotbah juga menjelaskan mengenai kegunaan dan pengaruh dari perkataan:

Karena sebagaimana mimpi disebabkan oleh banyak kesibukan, demikian pula percakapan bodoh disebabkan oleh banyak perkataan (5:2)

Juga janganlah memperhatikan segala perkataan yang diucapkan orang, supaya engkau tidak mendengar pelayanmu mengutuki engkau (7:21)

Perkataan orang berhikmat yang didengar dengan tenang, lebih baik daripada teriakan orang yang berkuasa di antara orang bodoh (9:17)

Perkataan mulut orang berhikmat menarik, tetapi bibir orang bodoh menelan orang itu sendiri (10:12)

KEDUA: kitab suci. Kitab suci adalah pedoman dan dasar dari berpikir dan bertindak dari mereka yang mempercayainya. Namun, seringkali kesalahan memahami teks-teksnya menjerumuskan manusia ke dalam berbagai perilaku buruk, hipokrit (munafik) dan jahat. Orang yang melakukan kejahatan dengan didasarkan—ia memilih teks-teks pendukung perbuatannya—pada teks-teks kitab suci tentu merasa benar, terpuji, dan akhirnya akan meraih (masuk) surga. Padahal, secara logis—bagi mereka yang mendudukan etika dan moralitas yang baik [kontra kejahatan dan kehipokritan] pada ajaran dan imannya, tidak akan melegalkan tindak kejahatan atas nama agama (teks-teks kitab suci).

Tetapi yang terjadi pada orang-orang tertentu adalah perilakunya yang buruk dan jahat dirasa benar karena ada dukungan kitab suci. Di sini, kitab suci dijadikan “alat pembenaran” perilaku buruk dan jahat. Kita tak dapat menafikan bahwa berbagai kejahatan dan pembunuhan, baik karakter maupun fisik terjadi karena ada alasan penggunaan teks-teks tertentu dari kitab suci. Ini sangat berbahaya.

Orang Kristen melihat substansi teks-teks Kitab Suci—secara suprematif—pada bagaimana mengasihi sesama, bagaimana mengampuni orang, bagaimana bertobat (berbalik) kepada jalan Tuhan Allah, dan bagaimana membawa orang kepada Yesus Kristus yang menawarkan kasih, pengampunan, dan keselamatan. Apa yang menjadi dasar orang Kristen melakukan hal-hal itu? Tentu dasarnya dilihat pada apa yang telah Yesus lakukan. Ajaran-ajaran suprematif Yesus tak ada yang dapat menyerupainya: “kasihilah  musuhmu dan berdoalah bagi mereka yang menganiaya kamu” (Matius 5:44) dan teks paralelnya dalam Lukas 6:27, “Tetapi kepada kamu, yang mendengarkan Aku, Aku berkata: ‘kasihilah musuhmu, berbuat baik kepada orang yang membenci kamu; mintalah berkat baig orang yang mengutuk kamu; berdoalah bagi orang yang mencaci kamu.’”

KETIGA: Pendengaran. Kesalahan mendengar pesan apalagi pesan yang bernada provokatif dan berisi “hoax”. Hal ini memicu berbagai konflik kepentingan dan tindakan anarkis, apalagi “hoax” atas nama agama. Ini sangat sensitif dan berbahaya. Pendengaran diberikan Tuhan memang untuk mendengar; tetapi dengan hikmat yang ada pada kita, kita dapat menyeleksi dan memeriksa apakah yang kita dengar itu benar (kebenaran) atau palsu (kepalsuan, kesesatan).

KEEMPAT: Mata (pengamatan, penglihatan). Mata melihat segala fenomena. Terkadang, perilaku atau tindakan kita didasarkan apa yang kita lihat. Lalu, serentak kita bertindak sesuka hati. Di sini, diperlukan kehati-hatian terhadap apa yang kita amati (lihat). Bisa saja apa yang kita lihat salah; dan bisa juga benar. Itu sebabnya, dengan hikmat kita bisa menilai dan juga memeriksa apa yang kita amati itu, apakah benar demikian, ataukah pengamatan kita yang tidak sempurna (utuh). Kesalahan melihat fenomena fisikal, informasi, bacaan (teks-teks kitab suci), akan berdampak pada lahirnya tindakan-tindakan yang tidak dikehendaki Tuhan.

Lakukanlah yang baik, dan jauhilah yang jahat. Tuhan memberkati orang-orang yang berbuat baik sebagaimana yang Ia kehendaki. Jadilah pelaku-pelaku kebenaran, dan bukan penyesatan dan pemalsuan. Jadilah pembawa damai, dan bukan pembawa kerusakan.

Salam Bae

TEOLOG, TEOLOGI, DAN KESOMBONGAN

Bersikap sombong (atau menunjukkan kesombongan) biasanya dilakukan oleh orang-orang yang “memiliki sesuatu” yang dirasa tidak dimiliki oleh orang lain, atau “merasa memiliki” sesuatu yang dianggap lebih dari pada orang lain. Kesombongan dapat berubah menjadi sikap yang dapat melampaui batas-batas normal dan menggiring seseorang kepada pola kehidupan yang terisolasi dengan dunia kebaikan dan dunia mengasihi, serta dunia berbagi.

Pada kenyataannya, kita sering melihat fakta ini, yaitu fakta tentang kesombongan-kesombongan yang muncul di dalam komunitas kita (baca: Gereja). Tak jarang, dampaknya juga luar biasa: perpecahan, pertikaian, pembunuhan, percekcokan (pertengkaran), mencaci maki satu dengan lainnya, dan kemudian masing-masing melihat dirinya sebagai “pahlawan kebenaran”.

Kesombongan dapat terjadi di berbagai ranah kehidupan. Teologi tak terkecuali. Di bidang ini, terlihat bagaimana perangai para “teolog” tertentu yang memiliki pemikiran-pemikiran yang boleh dikatakan “cukup”—meski yang lain menganggapnya bombastis. Tak jadi soal mengenai pemikiran-pemikirannya, akan tetapi fokus masalahnya adalah bagaimana perangai (watak) teolog tersebut. Teologinya tak usah diragukan—jika dinilai selaras dengan prinsip-prinsip Alkitab. Tentu yang kita ikuti adalah dua-duanya, baik itu teologinya maupun wataknya. Bukankah itu menarik untuk diteladani?

Pengajaran dan teladan tak bisa dipisahkan. Meskipun pada kenyataannya antara pengajaran dan teladan dari orang yang mengajar seringkali timpang (tidak seimbang). Harapannya adalah sedapat mungkin para teolog yang mengajar secara baik dan kredibel, juga mengajarkan orang lain “melalui” perilakunya yang lahir dari perangainya yang baik.

Terkadang, kesombongan menyelinap pada ruang-ruang kecil yang sengaja dibuka oleh para teolog. Ruang-ruang kecil tersebut, kalau tidak ditutup akan berpotensi menjadi lebih besar secara perlahan, atau dipelihara sedemikian rupa untuk mempertahankan kesombongan itu sendiri. Teologi dan kesombongan dapat secara simultan terjadi. Tentu, kesombongan bukanlah pilihan kita (para teolog, para rohaniwan, dan orang-orang percaya di berbagai komunitas [Gereja]). Kesombongan bukanlah adik dari teologi melainkan musuh teologi.

Jika demikian, akankah kita yang berteologi menjadi sombong? Kita harus tolak dan menghindari hal ini. Jangan sampai kita merasa lebih tahu dari yang lain lalu merasa sombong; jangan sampai kita merasa bahwa hanya kitalah yang tahu tentang sesuatu hal lalu merasa seperti “naik daun” terbang sendiri, padahal angin yang membuat daun itu terbang adalah orang lain.

Teolog dan teolog harus melahirkan kerendah-hatian, kelemah-lembutan, kepedulian, kasih yang tulus, dan hidup yang mau berbagi satu dengan yang lain. Jangan menikmati “TEOLOGI” secara sendiri-sendiri; jangan merasa teologi itu milik saya sendiri; jangan merasa bahwa sayalah yang hebat, dan kamu tidak hebat; jangan merasa sombong dengan pengetahuan teologi yang dimiliki sebab manusia lainnya memiliki fungsi otak yang sama; mereka dapat berpikir lebih kritis dari kita; mereka bisa lebih baik dari kita; perbuatan mereka dapat lebih baik dan lebih tulus dari kita. Jangan mengumpulkan “fragmen-fragmen kesombongan” karena lambat laun kita sedang menjadikannya MENARA BABEL yang dapat menghancurkan kita sendiri.

Teologi yang kita dapatkan dari Tuhan melalui Alkitab dan juga orang lain, jangan dimiliki sendiri, dinikmati sendiri, dikunyah sendiri, dan kenyang sendiri. Jika kita dapat berbagi “makanan” dengan si miskin, mengapa kita tidak bisa berbagi ilmu teologi kepada orang lain?

Jika kita dapat berbuat baik kepada orang lain, mengapa dengan teologi justru kita menjadi terpisah dengan sesama kita? Jika kita dapat memahami Alkitab lebih baik dari orang lain, mengapa kita terlalu pelit untuk berbagi pemahaman itu kepada orang lain?

Teologi dan kesombongan dapat saja terlihat di sekitar kita. Kesombongan adalah bahaya laten yang dapat dimunculkan oleh orang-orang yang merasa lebih baik dan lebih tahu dari orang lain. Kita harus menjauhkan diri dan menolak untuk menjadi sombong. Prinsipnya sederhana: “Tuhan telah memberikan pemahaman tentang diri-Nya kepada kita dengan penuh kasih dan kemurahan, jadi kitapun yang telah memahami diri-Nya berdasarkan Alkitab, juga dapat melakukan hal yang sama yaitu memberikan (berbagi) pengajaran tentang diri Tuhan dengan sesama kita dengan penuh kasih dan kemurahan.”

Jangan menolak untuk menjadi baik, apalagi menolak untuk berbagi teologi dengan orang lain. Kesombongan menghambat kebaikan kita; kesombongan memotong jalur yang benar yang seharusnya jalur itu dapat menghubungkan kita dengan orang lain. Kesombongan adalah musuh teolog yang murah hati; kesombongan adalah sahabat teolog yang merasa hebat sendiri dan pelit ilmu (dinikmati sendiri).

Tuhan memakai orang-orang yang rendah hati dan memiliki perangai yang baik. Tuhan memakai kita untuk menjadi “pewarta Injil (Kabar Baik)”, dan bukan “penyimpan Injil”. Tuhan memanggil kita untuk menjadi “saksi”, dan bukan “pembisu”. Teolog yang sejati adalah pribadi yang mewartakan Injil, dan menjadi saksi Injil Yesus Kristus. Tidak ada yang perlu disombongkan. Kita hanyalah “alat” di tangan Tuhan, dan bukan “memperalat” orang lain untuk menampilkan kesombongan kita. Kita adalah anak-anak Allah yang dikuduskan dan diberikan kuasa untuk aktif dalam pekerjaan Tuhan. Teolog yang baik adalah teolog yang aktif “berbagi ilmu”, bukan aktif “menyimpan ilmu”.

Selamat menjadi teolog-teolog yang baik, jujur, tulus, penuh kasih, kemurahan, dan peduli dengan sesama. Jangan menjadi sombong dengan apa yang dimiliki karena engkau tidak tahu bahwa banyak orang yang telah memiliki lebih dulu apa yang engkau anggap hanya dimiliki oleh dirimu sendiri. Kebaikan justru berbuahkan kebaikan, dan kesombongan berbuahkan kehancuran.

Sebagai penutup, saya menyertakan beberapa ayat yang menjelaskan mengenai bahaya kesombongan dan prinsip orang benar yaitu membenci kesombongan:

(1) Amsal 21:4, Mata yang congkat dan hati yang sombong, yang menjadi pelita orang fasik, adalah dosa; (2) Amsal 8:13, Takut akan TUHAN ialah membenci kejahatan; aku benci kepada kesombongan, kecongkakan, tingkah laku yang jahat, dan mulut penuh tipu muslihat; (3) 1 Samuel 2:3, Janganlah kamu selalu berkata sombong, janganlah caci maki keluar dari mulutmu. Karena TUHAN itu Allah yang mahatahu, dan oleh Dia perbuatan-perbuatan diuji; (4) Amsal 21:24, “Orang yang kurang ajar dan sombong pencemooh namanya, ia berlaku dengan keangkuhan yang tak terhingga.”

Salam Bae

Sumber gambar: Unsplash

VARIO LECTIO: Semangat Paralogisme Akut

Dalam ruang ‘pembacaan tekstual’, setiap orang memiliki sejumlah pemahaman, prapemahaman, dan imajinasi. Hal ini menuntut setiap pembacaan memberikan “hasil”, entah selaras dengan makna teks atau merumuskan nalar imajinasi, ahistoris, ahermeneutik, dan abiblikal. Konteks ini tampak pada beberapa fakta pembacaaan yang dilakukan oleh “orang-orang luar” terhadap Alkitab.

Kita terbiasa melihat gelagat “sok tahu” dari sejumlah orang yang merasa “tahu segalanya” mengenai Kristologi. Misalnya Irena Handono, Yahya Waloni, Ikhsan Mokoginta, Ust. Kainama, dan masih banyak lagi. Mereka ini tergolong unik; unik karena metode paralogisme sebagai bagian dari gerakan “vario lectio” begitu kental dan bahkan sudah seperti pasangan hidup mereka masing-masing.

Mereka terbiasa bercumbu dan mencumbui “paralogisme” Kristologi yang mengulang konsep ignoransi liar: teks tanpa konteks. Atau dengan perkataan lain, disebut sebagai penganut “tekstualisme”. Pada kenyataannya kita menjumpai berbagai kesesatan berpikir yang diusung oleh mereka yang mengurung diri mereka pada konsep “vario lectio”.

Vario lectio diartikan sebagai suatu teks yang lain, atau suatu kondisi bahwa ada pembacaan yang menyimpang. Dalam konteks ini, tindakan vario lectio terhadap iman Kristen dipandang menyimpang sebagaimana yang dilakukan oleh para mualaf. “Teks yang lain” dapat dipahami sebagai “paham yang lain” atau “sumber yang lain” yang sengaja dilekatkan pada iman Kristen—jika itu bernada negatif, misalnya Alkitab telah dipalsukan, Isa tidak mati, Injil-Injil tidak memiliki landasan yang kuat mengenai penyaliban, orang Kristen dan Yahudi salah dalam memahami penyaliban, dan lainnya. Hal ini adalah sebuah pembacaan yang menyimpang—Vario Lectio.

Sedangkan paralogisme adalah sebuah a priori, asumsi negatif (dari sumber lain atau dari berbagai klaim-klaim miring), dan pemahaman yang salah yang dipercaya sebagai sesuatu yang benar. Memahami secara paralogisme tentu menyatakan kondisi seseorang bahwa sejak dari awal dia telah [memiliki paham] sesat dan dia tidak tahu bahwa dia telah berada dalam kesesatan itu. Tidak ada peluang bagi dia untuk melihat secara utuh mengenai sesuatu yang disalahpahami itu, sehingga berdampak pada konteks “sesat yang menyesatkan” baik orang lain maupun dirinya sendiri. Dengan semangat paralogisme akut (gawat, berbahaya), para mualaf mengumandangkan celoteh-celoteh tanpa isi, baik aspek teologis, historis, maupun hermeneutika. Sayangnya, tipe seperti demikian, justru laris di “pasar agama”.

Semangat paralogisme yang akut ini telah menjamur di mana-mana. Mereka tergolong berani mencaci maki iman [ajaran] Kristen. Sebut saja Muhammad Yahwa Waloni, Ustadz Kainama. Koaran mereka penuh rumput duri yang bernada provokatif. Kita pun tahu apa motivasinya. Para mualaf jika tidak “menjual Yesus dalam kemasan”, mereka tidak akan laku dipasaran.

Berikut ini saya mendaftarkan beberapa konteks “vario lectio” mengenai Kristologi:

Pertama, tujuannya telah diseting terlebih dahulu. Artinya, tujuan berargumentasi sudah ada, sudah ditetapkan yaitu “menegasikan” Ke-Tuhanan Yesus. Negasi tersebut sudah menjadi keyakinan terdalam karena didasarkan pada sejumlah opini dan keyakinan dogmatis kitab suci mereka. Karena tujuannya sudah direkayasa sesuai keyakinan dogmatis, maka bagaimanapun metodologi dan pendekatan yang digunakan—bahkan pendekatan historis sekalipun—tetap hasilnya akan sama: “Yesus bukan Tuhan”. Menempuh jalur penelitian historis seseorang perlu mengesampingkan terlebih dahulu keyakinan dogmatis, presaposisi-presaposisi negatif mengenai Yesus, lalu berjalan sesuai alur dan ranah penelitian itu sendiri. Hasilnya pasti berbeda. Kisah penyaliban dan kematian Yesus yang historis itu tidak dapat menjadi ahistoris seketika karena sekelompok orang yang meyakini berdasarkan konsep dogmatisnya bahwa Yesus tidak mati disalibkan. Padahal, Qur’an adalah wahyu Allah, tetapi pada kenyataannya kontradiksi dengan sejarah penyaliban yang sesungguhnya. Sampai di sini, pembaca sudah tahu apa kesimpulannya.

Kedua, metodologinya salah. Ruang penelitian akademik menempatkan langkah-langkah metodologis sebagai bagian terdepan dalam melakukan penelitian.

Ketiga, pendekatannya salah. Sebuah pendekatan adalah bagian dari penggunaan metodologi.

Keempat, isi pemahamannnya salah. Sejak awal para muslimers tipikal diletantis memiliki paham yang salah mengenai Kristologi. Kalau soal salah paham itu biasa; tapi yang berbahaya adalah kalau menganut paham yang salah dan menyerang paham yang benar lalu menganggapnya salah karena didasarkan pada paham mereka yang salah itu. Terlalu sulit mengubah mereka yang menganut paham yang salah ketimbang salah memahami paham Kristen.

Kelima, cara menafsirkannya salah. Kaum islamis diletan sering menggunakan teks-teks selektif lalu menafsirkannya sesuka hati. Maksudnya, mereka menafsirkan untuk memuaskan presaposisi-presaposisi yang telah mereka miliki, padahal dalam dunia hermeneutik, presaposisi-presaposisi penafsir harus dikesampingkan.

Keenam, melepaskan teks dari konteks. Seperti kebiasaan para islamis diletan, yaitu mereka menggunakan atau mengutip teks tetapi tanpa memahami konteks. Seperti dijumpai pada Ahmed Deedat, Zakir Naik, Yahya Waloni, Munsir Situmorang, dan sejenisnya (memiliki model berpikir yang serupa).

Ketujuh, tidak memahami secara komprehensif. Bermain di ranah ayatiah dan bukan alkitabiah. Hal ini meneguhkan poin keenam di atas.

Pada komunitas mualaf, konteks “vario lectio” telah menjadi semangat untuk terus mengumandangkan gagasan ‘sampah’: adoktrinal, ahistoris, ahermeneutik, abiblikal, dan mengusung imajinasi sesat. Semangat ini merangkul paralogisme — yaitu sesat pikir yang tidak disadari oleh para pemikir tentang sesuatu hal yang dibicarakan, dipahami, atau diyakini. Penekanannya adalah “salah memahami”, sehingga memiliki paham yang salah — yang bersifat akut (gawat). Dengan demikian, diperlukan sebuah upaya untuk memahami secara konteks, biblikal, dan hermeneutis. “Vario Lectio” yang dilakukan oleh para mualaf terhadap teks-teks Alkitab telah memperlihatkan semangat paralogisme akut, dan menjadikan mereka “salah memahami” dan memiliki “paham yang salah” tentang iman Kristen, baik itu pewahyuan, doktrin Allah, keselamatan, Yesus Kristus, Roh Kudus, dan karya-karya Yesus dalam sejarah.

Bertolak belakang dengan tipe Vario Lectio para mualaf soal doktrin Kristen (terutama Kristologi), maka untuk memberikan penjelasan yang baik dan solid, maka metodologi yang saya gunakan adalah “historis-teologis” dengan pendekatan klarifikasi. Metode ini menempuh tindakan penelusuran historis mengenai personalitas Yesus yang terkait dengan Historical of Redemption yang merupakan rencana Allah, dan kemudian diwujudkan sepenuhnya melalui Yesus Kristus. Jadi, peristiwa inkarnasi, penderitaan, kematian, kebangkitan, Yesus adalah rangkaian peristiwa yang tidak lepas dari konteks karya penebusan Allah dalam PL. Kematian Yesus di salib bukan soal mati begitu saja, melainkan mengandung dasar utama bahwa “Allah menebus manusia [umat-Nya] dari dosa-dosa mereka dengan cara-Nya sendiri” yang sempurna, konfirmatif, dan eskatologis.

Sempurna menunjuk pada kurban yaitu Yesus Kristus yang tak bercacat cela, tak berdosa, dan kurban yang kudus yang berkenan kepada Allah. Kesempurnaan kurban tersebut juga berdampak pada karya Allah yang sempurna, tanpa kurang suatu apa pun.

Konfirmatif menunjuk pada gagasan dan fakta penebusan dalam PL yang direalisasikan melalui kurban: darah dan kematian.

Eskatologis menunjuk pada jaminan keselamatan itu sendiri, bahwa mereka yang dipilih Allah, ditetapkan Allah, mereka juga yang dikasihi dan ditebus-Nya, bahkan diselamatkan untuk menerima kehidupan yang kekal.

Akhirnya, tindakan “Vario Lectio” sebagaimana yang dilakukan oleh para mualaf dan mereka yang memiliki gagal paham terhadap doktrin Kristen, sejatinya tidak dapat memasuki pintu gerbang dogmatika Kristen jika mereka tidak memenuhi syarat untuk masuk dan menikmati jamuan makan teologi Kristen yang kredibel, solid, dan akuntabel.

Salam Bae.

Catatan: Untuk melihat penjelasan tentang konteks Vario Lectio dalam Kristologi, bisa membaca artikel saya yang berjudul: “Kristologi Diletantis: Islam dan Vario Lectio terhadap Historical Jesus” yang dimuat di buku KRISTOLOGI MIRING. Buku ini sudah selesai diedit, tinggal menunggu proses cetak. Buku ini adalah kumpulan artikel (antologi) dari sahabat-sahabat saya yang memiliki minat pada bidang studi agama-agama, dogmatika, biblika, dan apologetika.

Sumber gambar: https://i.pinimg.com/originals/e7/e7/5e/e7e75e4b008e2946b64f83ffcde31ca9.jpg

Rancang situs seperti ini dengan WordPress.com
Mulai