Apa yang menarik dari kunang-kunang? Adakah sesuatu hal yang dapat kita petik dari kunang-kunang, apalagi tentang CINTA? Ketika melihat ciri-ciri aktivitas kunang-kunang di malam hari, kita dapat membuat pemaknaan tertentu tentang cinta.
Jika memahami cinta seperti kunang-kunang yang berkilauan di kegelapan malam, terlintas makna bahwa cinta menghadirkan pesona yang memikat dan menggoda hati manusia, cahanya terlihat menarik. Di malam yang sunyi, kunang-kunang menyala, menghadirkan keindahan cahaya tersendiri. Cinta juga demikian; ia datang dengan kilauannya sendiri, kasih, perhatian, menggugah dan menari di dalam hati manusia, mengisinya dengan kehangatan yang tiada tara, memaknai hal-hal tertentu secara imajinasi dan kiasan.
Di malam hari, cahaya kunang-kunang menjadi simbol cahaya cinta yang kerlap-kerlip. Romantisme yang dihiasi perasaan dan pemaknaan akan segala sesuatu, menjadikan cinta itu unik, menarik, dan menggairahkan. Cinta memiliki keajaiban dan keindahan, memiliki kekuatan yang mempesona; mampu menerangi kegelapan hati yang penuh dengan duka, kesedihan, keletihan, dan kekuatiran; memberikan harapan dan kehangatan di saat-saat yang paling kelam dan suram. Cinta adalah pancaran terang dalam kegelapan, memberikan arah dan makna bagi kehidupan manusia yang mengalaminya.
Lalu apa itu kunang-kunang? Kunang-kunang adalah salah satu dari berbagai kumbang nokturnal (yang beraktivitas pada malam hari) bersayap (terutama famili Lampyridae) yang menghasilkan cahaya intermiten (berjeda) lembut yang terang melalui oksidasi luciferin terutama untuk tujuan pacaran. Oksidasi luciferin adalah proses kimia yang terjadi dalam tubuh kunang-kunang dan beberapa organisme lain yang menghasilkan cahaya bioluminesen. Luciferin adalah senyawa kimia yang terdapat dalam tubuh kunang-kunang dan berbagai organisme bioluminesen lainnya (bioluminesensi adalah kemampuan organisme hidup untuk menghasilkan cahaya melalui reaksi kimia dalam tubuh mereka).
Yang menarik dari kunang-kunang adalah kerlap-kerlip cahayanya. Ini pertanda kesetiaan untuk terus bersinar, kesediaan untuk tetap bergerak, berjalan, dan bersinar. Meskipun terbang bebas di malam yang gelap, kunang-kunang bisa kembali pada titik asalnya. Begitu juga dengan cinta: membangun ikatan yang kuat di antara dua hati yang saling mencintai, tetap bersama dalam suka dan duka, senang dan sedih, bahagia dan kecewa. Seperti kunang-kunang yang mampu membuat malam yang sunyi menjadi indah, cinta juga mampu mengubah kehidupan yang terpuruk menjadi berwarna dan penuh bahagia.
Seperti kunang-kunang yang hanya bersinar di malam hari, cinta juga terbatas pada situasi dan kondisi tertentu. Ia tak selalu hadir dalam kehidupan manusia, dan terkadang memudar seiring berjalannya waktu. Namun demikian, sisa-sisa kilauan cahayanya meninggalkan jejak di hati dan pikiran, mengingatkan akan keindahan yang pernah dirasakan pada momen-momen tertentu.
Ada yang mengatakan bahwa cinta kunang-kunang adalah cinta yang misterius dan sulit dipahami. Seperti kunang-kunang yang tersembunyi di dalam kegelapan, cinta kadang-kadang datang tanpa diduga, seketika hinggap dalam mata, hati, perasaan, dan pikiran, hingga kelamin. Cinta menghadirkan rasa ingin tahu dan kekaguman luar biasa terhadap yang disukai, dicintai, atau dikasihi.
Cinta kunang-kunang dapat dianggap sebagai simbol dari keindahan alam. Di tengah gemerlapnya cahaya kunang-kunang, kita seringkali merasa dekat dengan alam, merasakan keajaiban ciptaan Sang Khalik yang tak terduga dan mengagumkan itu. Demikian halnya dengan cinta; ia mengajak kita untuk mengagumi keindahan hubungan, menghargai setiap momen yang dilewati bersama, momen saling pengertian, bergandengan tangan, saling berucap, saling membelai, hingga saling meraba.
Namun, seperti kunang-kunang yang hanya bersinar di malam hari, cinta juga seringkali hadir dalam momen-momen yang gelap dalam kehidupan manusia. Cinta menjadi sumber kekuatan bagi yang tengah berjuang melawan kegalauan, kegelapan, dan memberikan semangat untuk terus maju meski tertatih-tatih.
Cinta kunang-kunang sebagai lambang dari keabadian, cahayanya tetap diingat, menginspirasi; cinta juga demikian: dampaknya terus hidup dalam perasaan, emosi, ingatan, dan pengalaman manusia yang pernah terlibat di dalam cinta itu sendiri. Kunang-kunang bebas berjalan membawa sinarnya, begitu juga dengan cinta, ia bebas membawa cahaya cinta sebagai tanda kepemilikan. Kunang-kunang yang terbang bebas di malam yang gelap, berkorban membawa cahayanya, cinta juga seringkali menuntut pengorbanan untuk tetap membawa cahaya di hati, pikiran, emosi, dan aktivitas.
Kemudian, apa yang kita dapatkan dari Cinta Kunang-kunang? Cinta kunang-kunang adalah metafora yang menarik untuk menggambarkan berbagai segi dari cinta. Kita dapat mengambil beberapa pesan penting dari Cinta Kunang-kunang:
Seperti kunang-kunang yang bersinar kerlap-kerlip di malam hari, cinta seringkali bersinar dalam momen-momen tertentu. Seperti kunang-kunang yang kembali pada titik asalnya, cinta sejati pasti akan kembali ke pangkuan hati dari seseorang yang layak menerima cinta sejati itu. Kunang-kunang yang terbang bebas di malam hari membawa cahayanya, sama halnya dengan cinta yang memberikan kebebasan untuk membawa perasaan cinta yang diungkapkan melalui kesetiaan, penantian, rela berkorban.
Cinta kunang-kunang memberi pesan penting kepada kita untuk menghargai keindahan dalam kesederhanaan, cahaya cinta, cahaya perhatian, cahaya perngorbanan, cahaya kesetiaan, membangun hubungan yang kuat dalam kasih dan kepercayaan, serta menghargai cinta dan menempatkannya pada tahta hati yang dipenuhi dengan kejujuran, ketulusan, dan kemurnian.
Teks Yohanes 20:19 menyatakan: “Ketika hari sudah malam pada hari pertama minggu itu berkumpullah murid-murid Yesus di suatu tempat dengan pintu-pintu yang terkunci karena mereka takut kepada orang-orang Yahudi. Pada waktu itu datanglah Yesus dan berdiri di tengah-tengah mereka dan berkata: ‘Damai sejahtera bagi kamu’”. Narasi tersebut menggambarkan sebuah kondisi psikologis para murid tentang apa yang baru saja terjadi: penyiksaan Yesus yang begitu sadis, kematian-Nya, dan penguburan-Nya. Seolah-olah tidak terjadi apa-apa dengan perkataan nubuatan Yesus tentang kematian dan kebangkitan-Nya, sehingga mereka dilanda ketakutan. Mungkin saja dalam benak mereka bahwa orang-orang yang telah berhasil menyalibkan Yesus, dapat melakukan hal yang sama kepada mereka: menyiksa hingga membunuh. Alasannya bahwa Yesus adalah Guru mereka.
Pada peristiwa kebangkitan Yesus yang dikisahkan oleh Lukas dalam pasal 24:1-12, para perempuan: Maria dari Magdala, Yohana, Maria Ibu Yakobus, dan perempuan-perempuan lain menceritakan apa yang mereka lihat. Mereka datang ke kubur Yesus membawa rempah-rempah. Mereka mendapati batu kubur sudah terguling. Mereka tidak menemukan mayat Yesus di dalam kubur. Malaikat berkata kepada mereka: “Mengapa kamu mencari Dia yang hidup, di antara orang mati? Ia tidak ada di sini, Ia telah bangkit. Ingatlah apa yang dikatakan-Nya kepada kamu, ketika Ia masih di Galilea, yaitu bahwa Anak Manusia harus diserahkan ke tangan orang-orang berdosa dan disalibkan, dan akan bangkit pada hari yang ketika.” Mereka kembali dari kubur dan menceritakan kepada para murid Yesus dan semua saudara yang lain.
Apa responsnya? Ayat 11 menyatakan: “Tetapi bagi mereka perkataan-perkataan itu seakan-akan omong kosong dan mereka tidak percaya kepada perempuan-perempuan itu.” Petrus bangun dan cepat-cepat pergi ke kubur itu sebagai tindakan meminta bukti apakah benar Yesus itu bangkit.
Dua narasi pada teks Yohanes dan Lukas merupakan suatu kondisi yang melingkupi tiga fakta penting yang [mungkin] dipikirkan oleh para murid:
Pertama, teks Yohanes 20:19 menjelaskan bahwa para murid ketakutan dan merasa tidak percaya akan peristiwa yang mengikuti pasca kematian Yesus, masih ragu apakah Yesus akan bangkit atau tidak. Mereka mengunci pintu-pintu tempat mereka berada; takut akan serangan mendadak dari pihak orang-orang Yahudi yang mengetahui bahwa mereka adalah murid-murid Yesus. Sebagaimana diungkapkan di atas, bahwa peristiwa yang dialami Yesus dapat menjadi alasan melanda para murid-Nya.
Kedua, teks Yohanes dan Lukas adalah dasar mengapa para murid tidak percaya akan peristiwa kebangkitan, dan mengapa mereka ketakutan. Dalam gambaran psikologi maupun fakta penyaliban, para murid mengira bahwa tidak mungkin Yesus yang telah disiksa dan dicambuk sedemikian rupa, sehingga tubuh-Nya penuh luka dan hancur (teringat akan narasi Yesaya pasal 53:2-8), lemah tak berdaya, tanpa perlawanan, bahkan [mungkin] wajah dan tubuh-Nya tak bisa dikenali lagi, dapat bangkit dari antara orang mati?
Ketiga, para murid merasa “terancam” karena lawan-lawan Yesus memiliki kesempatan untuk meneror, mengancam, bahkan membunuh mereka. Tidak ada lagi figur yang dapat diandalkan, karena Yesus telah mati. Semasa Ia melayani, para murid merasa nyaman, aman, dan bahkan berani, sebab Ia memiliki kuasa yang tak tertandingi.
Indikasi tersebut—bagi saya—mungkin menjadi dasar bagi para murid mengapa mereka ketakutan dan bahkan tidak percaya akan apa yang disampaikan oleh perempuan-perempuan yang telah pergi ke kubur Yesus (Luk. 24:11). Peristiwa kebangkitan Yesus justru menggugurkan dua asumsi: tidak ada kebangkitan, dan tubuh-Nya hancur karena siksaan, tidak mungkin dapat dibarui atau bangkit lagi. Kondisi psikologis yang dipandang benar oleh lawan-lawan Yesus berdasarkan dua asumsi tersebut, dibalas dengan kondisi psikologis juga oleh Yesus. Para murid mendapat pelajaran penting dari “perang psikologis” ini. Perang ini pun terus berlanjut hingga sekarang, tetapi Yesus tetaplah jadi PEMENANG YANG KEKAL. KEBANGKITAN ITU NYATA DAN MENGHASILKAN CATATAN SEJARAH PANJANG TENTANG KEMENANGAN DEMI KEMENANGAN YESUS KRISTUS ATAS UMAT MANUSIA.
Apa yang kita pahami dari peristiwa kebangkitan Yesus di atas?
Pertama, Yesus secara konsisten menggenapi apa yang dinubuatkan-Nya tentang penderitaan, kematian, dan kebangkitan-Nya.
Kedua, kondisi apa pun yang dialami Yesus tidak menggugurkan apa yang telah dinubuatkan-Nya, termasuk kondisi tubuh-Nya yang hancur karena siksaan dan cambukkan. Ia tetap bangkit dengan gemilang, tanpa ada satu pun yang sanggup menghalangi.
Ketiga, hinaan dan ejekan, perendahan terhadap Yesus, misalnya: Matius 27:42, Orang lain Ia selamatkan, tetapi diri-Nya sendiri tidak dapat Ia selamatkan! Ia Raja Israel? Baiklah Ia turun dari salib itu dan kami akan percaya kepada-Nya; Markus 15:31, Demikian juga imam-imam kepala bersama-sama ahli Taurat mengolok-olokkan Dia di antara mereka sendiri dan mereka berkata: Orang lain Ia selamatkan, tetapi diri-Nya sendiri tidak dapat Ia selamatkan!; Lukas 23:35, Orang banyak berdiri di situ dan melihat semuanya. Pemimpin-pemimpin mengejek Dia, katanya: “Orang lain Ia selamatkan, biarlah sekarang Ia menyelamatkan diri-Nya sendiri, jika Ia adalah Mesias, orang yang dipilih Allah”, TIDAK BERKUTIK SAMA SEKALI DI DEPAN KEBANGKITAN YESUS DARI ANTARA ORANG MATI.
Ejekan yang bernada merendahkan dan menghina—secara psikologis ini sangat menyakitkan—dibalas oleh Yesus dengan kebangkitan-Nya sendiri, yang menggangu psikologis para lawan-Nya. Dengan kata lain, para lawan Yesus “kena mental”. Menyelamatkan diri dari salib bukanlah sebuah peristiwa spektakuler, itu bahkan hanyalah hal yang receh bagi Yesus. Justru Yesus menampar para pengejek-Nya dengan satu peristiwa jauh lebih spektakuler: bangkit dari antara orang mati dengan tubuh yang hancur! Luar biasa bukan?
Matius mencatat peristiwa imam-imam kepala dan tua-tua yang “kena mental” dari peristiwa kebangkitan Yesus. Perang psikologis dimainkan oleh Yesus dengan sangat rapi, elegan, dan tidak ada tandingannya:
Ketika mereka di tengah jalan, datanglah beberapa orang dari penjaga itu ke kota dan memberitahukan segala yang terjadi itu kepada imam-imam kepala. Dan sesudah berunding dengan tua-tua, mereka mengambil keputusan lalu memberikan sejumlah besar uang kepada serdadu-serdadu itu dan berkata: “Kamu harus mengatakan, bahwa murid-murid-Nya datang malam-malam dan mencuri-Nya ketika kamu sedang tidur. Dan apabila hal ini kedengaran oleh wali negeri, kami akan berbicara dengan dia, sehingga kamu tidak beroleh kesulitan apa-apa.” Mereka menerima uang itu dan berbuat seperti yang dipesankan kepada mereka. Dan ceritera ini tersiar di antara orang Yahudi sampai sekarang ini (Mat. 28:11-15)
Kita mungkin juga bertanya: “Bagaimana mungkin orang yang tidak bisa menyelamatkan diri-Nya dari salib, bagaimana mungkin orang yang telah disiksa sedemikian rupa, BANGKIT DARI KONDISI TERSEBUT?” Tetap saja mungkin, karena Yesus telah menubuatkan kematian dan kebangkitan-Nya, dan itulah konsistensi yang ditampilkan Yesus sebagai bagian dari perang psikologis. Betapa bahagianya para murid Yesus, bahkan kita yang telah menjadi murid-Nya mengetahui hal ini. Cara Yesus sungguh di luar dugaan para lawan-Nya, bahkan oleh murid-murid-Nya sendiri. Yesus itu hebat, luar biasa, dan menakjubkan. Jangan bermain-main dengan dunia psikologi. Yesus adalah pakar yang tak terkalahkan!
Berbagai hal telah kita alami, jalani, dan maknai. Semuanya dirasakan sebagai bagian yang tak terpisahkan dari proses kehidupan, bertahan hidup, dan mengembangkan kehidupan. Ada ruas-ruas logika dalam setiap peristiwa yang patut dimaknai untuk hari ini dan esok. Kita bergegas dari waktu ke waktu mendamba sesuatu yang memberikan kita kekuatan jati diri, harga diri, reputasi, dan keuntungan finansial. Kita berjuang untuk sesuatu hal dan dihabiskan untuk sesuatu hal.
Peristiwa yang kita alami adalah mutlak; kita ada di dalam waktu, peristiwa yang lain, merespons, dan bergerak untuk menikmati kehidupan, mewaspadai sesuatu, dan menjaga sesuatu. Mengalami setiap peristiwa adalah bagian dari kehidupan. Kita tak mungkin menghindar dari peristiwa-peristiwa alami yang terjadi. Kita menafsirkannya, kita menarik kesimpulan.
Pada gilirannya, kita terbiasa dengan peristiwa-peristiwa yang alami. Hingga akhirnya kita menjadi kuat dan mampu memahaminya; bahkan menjadikannya sebagai operasi logika dan rasa hati untuk masa depan yang gemilang. Begitulah keadaan dan proses yang kita jalani alami dari hari ke hari.
Peristiwa yang kita jalani merupakan gambaran umum dari kehidupan normal umat manusia. Sebuah lirik lagu menyebutkan: “Dunia ini panggung sandiwara, ceritanya mudah berubah: Kisah Mahabharata atau tragedi dari Yunani. Setiap kita dapat satu peranan yang harus kita mainkan. Ada peran wajar, dan ada peran berpura-pura.” Depiksi semacam ini memang merupakan realita yang bisa saja pernah kita alami, misalnya: “kita suka mengubah cerita diri kita supaya terkesan baik atau cerita orang lain supaya terkesan buruk.” Kita memainkan peran kita sendiri, entah sebagai pribadi yang lugu, lucu, luluh, beringas, berwibawa, berintegritas, hipokrit, atau yang lainnya. Kita memerankan itu secara wajar dan bahkan menciptakan peran yang berpura-pura sebagai korban.
Fakta kehidupan memang multi rasa, multi paham, dan multi makna. Kita menyeduh rasa pada kehidupan untuk suatu tujuan tertentu, termasuk menggapai asa yang kuat. Lambat laun, kita terbiasa dengan peran yang kita mainkan. Sejatinya, sebagai orang yang beriman kepada Sang Khalik, proses tempuh rasa dan harga diri dalam rentang waktu yang panjang, telah membentuk pola pikir kita menjadi seperti sekarang ini. Dan itulah yang menghasilkan karakter dan identitas kita yang sesungguhnya. Kita dihargai atau tidak, bergantung pada fakta ini.
Dari berbagai peristiwa yang kita alami dan jalani, kita memaknainya sebagai alasan kehidupan kini dan mendatang. Semua makna menatang langkah-langkah kecil kita dari waktu ke waktu untuk menggapai tujuan kehidupan. Kita mulai merancang asa, menata strategi, mengoperasikan logika, menyiapkan tenaga dan dana, rasa dan potensi, serta keberanian dan eksekusi. Semua fragmen ini sejatinya menyatu, menjadi bangunan kehidupan kita sendiri. Kita pun bersedia dan bertahan untuk menjaga agar bangunan kehidupan tersebut tidak goyah atau pun roboh.
Rangkaian peristiwa mengikutsertakan tindakan menyeduh rasa, entah rasa hati, rasa pikiran, rasa komitmen, rasa keberanian, dan lain sebagainya. Menyeduh rasa bertujuan untuk menggapai asa. Bagaimana bisa? Semuanya bisa, tergantung dari tindakan dan langkah-langkah kecil kita, yang secara perlahan menunjukkan kemajuan demi kemajuan.
Namun, kita tetap mengingat bahwa penulis Amsal telah memberikan kita wejangan yang sangat berarti: “TUHAN menetapkan langkah-langkah orang, yang hidupnya berkenan kepada-Nya, apabila ia jatuh, tak sampai tergeletak, sebab TUHAN menopang tangannya”.
Tak ada pelayanan yang bebas dari proses berpikir; bagaimana pelayanan itu dapat dapat berjalan dengan baik sesuai harapan atau tidak, bertantung pada cara berpikir yang meliputi konteks, waktu, dan tindakan. Bahkan, dalam kehidupan sehari-hari pun kita melibatkan proses berpikir — entah karena alasan untuk mendapatkan sesuatu, atau karena alasan bertahan hidup dan menggapai kebahagiaan, kedamaian, serta penghiburan. Alhasil, setiap orang dapat merasakan manfaat dari proses berpikir tersebut. Dalam pelayanan pun demikian.
Semua pelayanan Gereja melibatkan kurasan pikiran. Melalui pikiran, kita merumuskan konsep pelayanan, membaca zaman, membaca peluang, mengantisipasi kegagalan, hambatan dan tantangan, dan lain sebagainya. Dalam konteks ini, segala bentuk pelayanan mengutarakan maksud dan tujuan di baliknya. Gereja yang sadar akan panggilannya, tentu tak akan abai pada pelayanan. Gereja hadir untuk melayani dengan berbagai cara yang berkenan kepada Kristus Yesus, Sang Kepala Gereja. Teologi dan ungkapan-ungkapan doktrinal dikemas dalam bentuk-bentuk tertentu untuk disuguhkan kepada jemaat. Gereja dan teologi berjalan berdampingan.
Seiring dengan upaya gereja dalam berteologi, yang mengusung ajaran-ajaran penting untuk diketahui anggota jemaatnya, gereja berhadapan dengan ungkapan-ungkapan atau pernyataan-pernyataan yang bernada sumbang: “ateologi” — sebuah bentuk penyimpangan ajaran-ajaran Alkitab yang dibungkus dengan kebodohan dan kemunafikan. Kebodohan — para pengusung dan pengajar “ateologi” secara terbuka mempertontonkan penyimpangannya kepada publik, sementara yang lainnya secara sembunyi-sembunyi. Pada gilirannya, bentuk ateologi adalah racun yang menghentikan secara perlahan aliran darah spiritual anggota jemaat hingga akhirnya mati kering (rohani).
Kemunafikan — para pengusung dan pengajar ateologi secara terbuka mempertontonkan rayuan-rayuan mautnya dalam mengelabui anggota jemaatnya dengan perkataan-perkataan munafik agar dapat menggapai keuntungan tertentu, misalnya soal persepuluhan atau sumbangan-sumbangan khusus yang dilakukan dengan paksaan atau menakut-nakuti. Fenomena ini mungkin pernah kita lihat, mungkin saja terjadi di gereja kita sendiri. Para pendeta munafik memang selayaknya mendapat hukuman dari Tuhan.
Gereja kadang menaburkan racun pada makanan dan minuman rohani anggota jemaat. Mereka terbius oleh rayuan gombal para gembala dungu, munafik, dan manipulatif. Gereja yang abai terhadap teologi yang sehat, ajaran-ajaran yang membangun, menguatkan iman, harapan, dan kasih, telah menimbulkan banyak masalah dalam gereja maupun masyarakat. Nama baik gereja dirusak oleh segelintir “penjahat rohani berjubah”. Tampak terhormat, tetapi bertindak seperti predator. Ateologi yang mereka usung telah mengaburkan kebenaran Alkitab, telah merusak tatanan iman jemaat, dan mengelabui jemaat dengan cerita-cerita dongeng belaka.
Gereja, teologi, dan ateologi, adalah fakta yang dapat memberikan pelajaran positif dan sekaligus menghindarkan kita dari tindakan menaburkan ateologi, racun yang menghambat aliran darah spiritualitas. Kini, kita dapat berbenah diri; memulai untuk mengamati, memeriksa, apakah teologi yang ditaburkan di gereja sudah benar atau tidak. Kewaspadaan terhadap para pengajar palsu, yang berbicara penuh dusta dan kemunafikan, adalah cara terbaik. Kita pun harus senantiasa memperlengkapi diri dan mengupayakan proses pembelajaran doktrin secara benar dan serius. Jangan beri kesempatan kepada Iblis yang menyamar sebagai malaikat terang.
Gereja yang benar tentu mengupayakan ajaran-ajaran teologi yang benar dan alkitabiah, mengupayakan antisipasi munculnya para pemalsu kebenaran, pengusung dan pengajar ateologi, yang berpotensi meracuni pikiran anggota jemaat. Gereja yang sehat berarti ia berteologi yang benar dan dilakukan secara benar; para pengajar palsu, bagaimana pun bagusnya penampilannya, jangan dipercayai. Usir mereka dari pikiran kita; usir mereka dari lingkungan spiritualitas kita. Singkirkan mereka!
Jangan mengundang ajaran yang beracun masuk ke dalam pikiran dan tubuh rohani kita. Jauhkanlah itu dari hadapan kita. Sebaliknya, bertekunlah dalam ajaran-ajaran yang benar, sembari berjaga-jaga atas segala penyesatan yang dapat muncul kapan saja. Kita perlu membentengi diri dengan iman yang teguh, menghardik para pengajar palsu, pengajar yang sesat!
Kita harus siap menguras pikiran, demi kemajuan bersama. Menguras pikiran untuk pelayanan ini sangatlah penting. Tak jadi soal kita berjerih lelah dengan perlawanan terhadap para pemalsu kebenaran. Yang utama kita utamakan, yang tidak penting kita singkirkan. Menguras pikiran untuk hal-hal yang baik tentu memiliki manfaat yang luar biasa. Gereja perlu membiasakan diri untuk tampil sibuk menguras pikiran agar pelayanan dan pengajarannya tetap sehat dan terjaga dari segala bentuk penyimpangan ateologi — pengajaran yang tidak sesuai dengan Kitab Suci.
Dengan demikian, kita bersama-sama hadir dan tampil di depan publik, menyuarakan kebenaran dengan hati yang tulus, komitmen yang teguh, dan integritas yang kuat. Bergandengan tangan untuk menguras pikiran bagi kemajuan pelayanan gereja, agar olehnya kita menerima manfaat, kini, esok, dan selamanya.
Spektrum konteks tentang “fakta kehidupan” adalah jendela di mana setiap orang dapat menunjukkan kemampuan pemahaman secara demarkasi dan kemudian menghasilkan “disparitas pemikiran”. Aktivitas logika tak berhenti hanya pada pengamatan atas fakta yang terjadi, melainkan juga diteruskan dan dirampungkan melalui fragmen-fragmen penting, sehingga terkesan menarik, utuh, dan memuaskan bagi diri dan hidup kita di masa kini dan mendatang.
Konstelasi (keadaan, gambaran) semacam ini, memberikan kita pengalaman yang rekursif (bersifat berulang atau mengulang) dari waktu ke waktu. Pasalnya, kita — selagi masih mampu — terlalu sering menunjukkan aktivitas logika di setiap waktu, baik untuk tujuan kehidupan di masa sekarang, maupun untuk tujuan di masa mendatang. Itu sebabnya, kita seringkali menarik diri dari situasi tertentu, mencoba merenung untuk menciptakan demarkasi pemahaman tentang sesuatu hal untuk sesuatu hal yang lain. Meskipun demikian, berbagai pertimbangan turut serta di dalamnya. Hal ini dilakukan karena kita menghendaki sesuatu yang baik datang pada kita.
Ada beragam cara yang dilakukan untuk membentuk hasil akhir dari pemikiran-pemikiran kita, yang berguna — utamanya bagi kehidupan yang dijalani. Tentunya, proses demarkasi dan disparitas ikut tertuang di dalamnya, meneropong masa depan. Abstraksi — proses memisahkan atau mendapatkan pengertian melalui seleksi — faktual dari tindakan-tindakan kita, memberi kesan bahwa sejauh ini kita masih menunjukkan komitmen diri untuk “mencintai hikmat, bergumul dengan keadaan, agar hidup menjadi lebih baik dan berpengaruh.”
Kita membentuk wacana — potensi berpikir sistematis, memberikan pertimbangan berdasarkan logika — tentang kehidupan. Di satu sisi, kita berhadapan dengan segala sesuatu yang ditujukan untuk diri kita, dan di sisi lain, segala sesuatu yang ditujukan bagi orang lain. Kita merangkum keduanya, meramunya, dan menyuguhkannya secara sadar atau manipulatif. Harapannya adalah agar hadir kebahagiaan, kedamaian, dan kesenangan, tanpa melupakan Allah yang menopang dan memberkati kita dari waktu ke waktu.
Kita seringkali melakukan negosiasi dengan kehidupan ini. Mencoba menyusun menara pengertian untuk menjadikannya sebagai bangunan yang kokoh dalam menghadapi pertempuran perasaan, relasi yang tak diinginkan, dan perlawanan dari pihak lain — dalam bentuk kebencian, iri hati, atau permusuhan. Ternyata, demarkasi kehidupan telah menyita waktu dan perhatian kita, ditafsirkan berdasarkan rasa dan asa, sehingga terbentuklah opini tentang kehidupan, orang lain, diri kita, dan relasi. Di sini, kita turut bertanya: apakah memang segala peristiwa bertujuan untuk kebaikan kita? Jika ya, maka kita perlu menahan diri untuk tidak segera memberi label negatif pada proses kehidupan yang memaksa kita untuk berlomba-lomba dalam berbuat kebajikan.
Epistemik iman dan harapan telah kita miliki — diberikan oleh Tuhan — untuk kebaikan kita. Sejatinya, refleksi kritis atas kehidupan ini memacu kita untuk tetap bertahan, menjaga integritas, dan hidup dalam pengharapan di dalam Tuhan. Kita sadar, bahwa waktu yang ada sangatlah berguna untuk menarasikan iman kita ke dalam perbuatan-perbuatan kebajikan, dan menjadi magnet cinta kasih bagi orang lain.
Proses kehidupan adalah spektrum — rangkaian yang bersinambung — aktivitas logika yang termaktub dalam tindakan-tindakan. Kita menabur setiap saat, entah baik, entah jahat. Kita berelasi dengan yang lain; kita berpikir setiap waktu, tentang apa dan bagaimana hidup ini disertai dengan kesadaran akan ‘nyawa’ yang membutuhkan sentuhan-sentuhan kuasa dari Sang Khalik. Tanpa Dia, kita lemah tak berdaya, hilang harapan, dan terkungkung dalam kemelaratan dosa sebagai hasil dari kepongahan, keburukan pikiran dan tindakan kita.
Dengan demikian, demarkasi dan disparitas pemikiran yang tampak pada narasi di atas, membawa kita kepada cakrawala kehidupan yang luas dan menjatuhkan pesan-pesan langit bak air hujan, membasahi logika kita untuk merancang bahwa “Tuhan tetap ada dan menyertai kita untuk menerima kebaikan dan masa depan yang bahagia”.
Setelah kita melihat kesadaran kehidupan yang terpampang dalam narasi di atas, kita beralih kepada prinsip kebenaran. Tampak bahwa demarkasi dan disparitas pemahaman akan kebenaran — di samping kehidupan — membutuhkan fragmen-fragmen penting sebagaimana yang dijelaskan berikut ini.
Pertama, pendekatan atau perspektif. Kita memiliki alasan mengapa berbeda dengan yang lain dalam hal pemikiran. Hal itu disebabkan oleh karena ada pendekatan yang melatarinya. Setiap fakta kebenaran bisa ditinjau dari perspektif yang berbeda, dan hasilnya berbeda—sesuai dengan tujuan dari pendekatan yang digunakan. Memang, perspektif dilakukan untuk melihat berbagai sisi. Namun, seringkali pendekatan justru berujung pada negasi, penyimpangan, dan penyesatan. Di sini, navigasi perspektif dilakukan dengan motivasi tertentu untuk tujuan tertentu.
Kedua, sumber/data yang digunakan. Tak dapat dipungkiri bahwa bentuk-bentuk komunikasi, pernyataan kebenaran, penelusuran, menggunakan sumber atau data. Hal ini menjadi dasar untuk sebuah penegasan, pembuktian, dan penjelasan. Sumber atau data dalam kajian ilmiah sangatlah penting. Apalagi jika berbicara tentang kebenaran dalam Kitab Suci.
Ketiga, evidensi. Bukti adalah adalah pendukung argumentasi. Bukti bisa berupa suguhan sumber atau data, penalaran yang benar, penggunaan analogi, dan lain sebagainya. Bukti adalah sesuatu yang ‘sah’, digunakan dalam situasi tertentu untuk menegaskan fakta atau kebenaran. Perkataan dan pemikiran kita seringkali dihubungkan dengan evidensi untuk penguatannya.
Keempat, argumentasi. Di sini, rangkuman kebenaran yang mencakup sumber atau data sebagai evidensi, bisa menjadi sebuah argumentasi yang kuat. Argumentasi tanpa bukti akan menjadi kosong. Bukti tanpa argumentasi (maksudnya, penjelasan yang terang) akan menjadi lemah, atau bahkan tak berdaya. Kadang, argumentasi bisa membunuh bukti, dan bukti bisa membunuh argumentasi. Kebenaran Kitab Suci memuat keduanya.
Kelima, konsistensi logis. Sebuah pernyataan kebenaran, sepanjang ia menyuguhkan dirinya kepada publik, harus tetap konsisten. Kitab Suci memberikan data soal ini. Misalnya Yesus pernah mengatakan bahwa: “Sebab sama seperti Bapa membangkitkan orang-orang mati dan menghidupkannya, demikian juga Anak menghidupkan barangsiapa yang dikehendaki-Nya. (Yohanes 5:21). Juga: “Akulah kebangkitan dan hidup; barangsiapa percaya kepada-Ku, ia akan hidup walaupun ia sudah mati” (Yohanes 11:25), dan kemudian secara konsisten Ia buktikan: “Lazarus, marilah ke luar!” Orang yang telah mati itu datang ke luar, kaki dan tangannya masih terikat dengan kain kapan dan mukanya tertutup dengan kain peluh. Kata Yesus kepada mereka: “Bukalah kain-kain itu dan biarkan ia pergi” (Yohanes 11:43-44).
Keenam, penalaran logis. Fakta bahwa penalaran logis mengimplikasikan sesuatu hal masuk akal, disertai pembuktian dan penjelasannya. Penalaran logis tidak hanya menegaskan kemasuk-akalan, tetapi juga penjelasan yang mendukungnya. Bukankah hampir segala sesuatu memerlukan penjelasan lebih lanjut?
Ketujuh, konsekuensi logis. Fragmen ini menjelaskan akibat dari suatu hal. Kebenaran, apapun bentuknya, selalu memiliki konsekuensi logis, entah sebagai pengaruh, sebagai tujuan, atau hal lain. Setiap tindakan kita memiliki konsekuensi. Setiap perkataan kita memiliki konsekuensi. Kitab Suci terlalu sering menunjukkan konteks ini. Yesus Kristus pernah membuktikan hal ini:
Sesudah itu naiklah Yesus ke dalam perahu lalu menyeberang. Kemudian sampailah Ia ke kota-Nya sendiri. Maka dibawa oranglah kepada-Nya seorang lumpuh yang terbaring di tempat tidurnya. Ketika Yesus melihat iman mereka, berkatalah Ia kepada orang lumpuh itu: “Percayalah, hai anak-Ku, dosamu sudah diampuni.” Maka berkatalah beberapa orang ahli Taurat dalam hatinya: “Ia menghujat Allah.” Tetapi Yesus mengetahui pikiran mereka, lalu berkata: “Mengapa kamu memikirkan hal-hal yang jahat di dalam hatimu? Manakah lebih mudah, mengatakan: Dosamu sudah diampuni, atau mengatakan: Bangunlah dan berjalanlah? Tetapi supaya kamu tahu, bahwa di dunia ini Anak Manusia berkuasa mengampuni dosa” lalu berkatalah Ia kepada orang lumpuh itu :”Bangunlah, angkatlah tempat tidurmu dan pulanglah ke rumahmu!” Dan orang itupun bangun lalu pulang. Maka orang banyak yang melihat hal itu takut lalu memuliakan Allah yang telah memberikan kuasa sedemikian itu kepada manusia. (Matius 9:1-8).
Markus 2:7-10 dan Lukas 5:21-24 menekankan konteks yang sama. Ahli-ahli Taurat dan orang-orang Farisi berpikir dalam hatinya: “Siapakah orang yang menghujat Allah ini? Siapa yang dapat mengampuni dosa selain dari pada Allah sendiri?” (bdk. Kel. 32:32; 1Raj. 8:34, 36; 2Taw. 6:25, 27; 7:14; Mikha 7:18, “Siapakah Allah seperti Engkau yang mengampuni dosa….”).
Akhirnya, kita memerlukan kesadaran untuk melihat bahwa kehidupan diinterpretasikan secara demarkasi dan menghasilkan disparitas pemikiran, demikian juga dengan kebenaran. Tetapi, ketika kita diberikan kesempatan oleh Tuhan untuk menerima dan menikmati kebenaran-Nya, maka kita adalah orang-orang yang berbahagia, karena memang ada jaminan yang sediakan-Nya.
Memahami kebenaran dalam Kitab Suci memerlukan fragmen-fragmen penting sebagaimana yang disebutkan di atas. Kita adalah pelaku kebenaran-Nya dan di waktu yang bersamaan, kita memancarkan terang kasih-Nya dan membawa terang itu ke dalam totalitas kehidupan kita, mengawetkan relasi sosial, persekutuan, di mana kita menyalurkan fungsi sebagai garam dunia!
“Segala sesuatu dapat diinterpretasikan berdasarkan demarkasi konteks”. Kita menempuh perjalanan logika yang terus bergulir di ruang publik. Ini-itu, sana-sini, baik-buruk, jatuh-bangun, adalah pilihan dan fenomena yang sering terjadi. Kita berjuang untuk sebuah kehidupan dan harga diri. Di dalam prosesnya, kita menampilkan karakter diri, potensi, dan komunikasi sebagai modal untuk dihargai, diterima, dan dihormati. Kita belajar, dan kita pun tak luput dari kesalahan. Kita bekerja keras, dan kita pun tak luput dari kegagalan. Kita mencintai dengan tulus, dan kita pun tak luput dari akal bulus pengkhianatan cinta. Kita mengharapkan yang terbaik datang, dan kita pun tak luput dari hal-hal buruk yang datang tanpa diduga.
Dalam guliran waktu, kita terus melihat kepada kehidupan yang sekarang sembari berharap dalam menggapai yang terbaik di waktu yang akan datang. Di sinilah peran kesadaran logika diperlukan untuk dapat melihat berbagai sisi kehidupan. Kita terus menyadari akan keterbatasan, kelemahan, dan kekurangan kita; berharap semuanya akan baik-baik saja. Akan tetapi, kita dipimpin oleh situasi agar secara sadar mengambil tindakan agar yang baik datang.
Logika kita — jika tidak karena terpaksa — memikirkan banyak hal untuk dapat bertahan hidup, mengelola hidup, dan mengembangkan potensi diri. Itulah sebabnya, kita melihat kepentingan dari Teologi Filsafat (selanjutnya disebut TF) untuk kesadaran diri, kehidupan, dan masa depan. TF itu sendiri adalah sebuah konteks yang familiar dan bahkan memberikan kita kesadaran yang tinggi. Artikel singkat ini hendak menjelaskan dua perspektif yakni materi filsafat secara umum dan materi TF yang dimaksudkan untuk menawarkan gagasan teologis dan filosofis tentang kita, hidup, dan masa depan.
Sebelum saya memaparkan tujuh aspek signifikan dari TF, terlebih dahulu saya menguraikan secara singkat materi filsafat berikut ini.
Materi yang pertama dari filsafat “ciptaan”. Ketika seseorang mencermati “ciptaan” dari perspektif non-biblikal, ia akan mungkin menarik kesimpulan yang berbeda, bahwa alam semesta dan segala isinya adalah sebuah evolusi tertentu dari waktu ke waktu, atau mungkin dalam bentuk kesimpulan yang lain. Intinya, kesimpulan yang ditarik memiliki disparitas dengan konteks Kitab Suci.
Filsafat mencermati dan menampilkan berbagai gagasan sebagai hasil dari olah logika terhadap ciptaan yang ada. Meski masih tersisa perbedaan pemahaman soal dunia ciptaan ini, yang pasti olah logika telah memberikan dampak yang besar bagi kemaslahatan manusia. Ciptaan dilihat dari berbagai segi untuk memberikan manusia sebuah prinsip yang akan memandu proses relasi dan hidupnya kini, esok, dan seterusnya.
Materi yang kedua adalah “waktu”. Para filsuf telah membahas soal filsafat waktu yang ditafsirkan sebagai sesuatu yang penting dan tak terpisahkan dari kehidupan manusia secara mutlak. Di dalam waktu kita bergerak, bekerja, dan melakukan berbagai hal. Di dalam waktu kita berpikir untuk mempertahankan kehidupan; bahkan lebih dari itu, di dalam waktu kita menemukan banyak hal, membuang banyak hal, merelakan banyak hal, atau bahkan kehilangan banyak hal. Tetapi “waktu” telah mengajar kita tentang pentingnya kehidupan, cinta kasih, kedamaian, dan relasi penuh bahagia.
Materi yang ketiga adalah “ruang”. Ruang mendapat perhatian logika manusia untuk dipahami. Perspektif soal ruang juga telah memberi manusia banyak manfaat. Selain kita bergerak di dalam waktu, secara bersamaan kita bergerak dalam ruang. Tentu ada manfaat-manfaat tertentu bagi manusia yang memahami peran dan fungsi ruang dalam hidupnya. Kita tidak perlu memperdebatkan soal ini.
Materi dasar yang keempat adalah “manusia”. Filsafat memperbincangkan apa dan bagaimana manusia dapat bertindak, berpikir, dan turut serta dalam pertarungan kehidupan, suka dan duka, hidup dan mati. Tentu, kita tidak dapat memungkiri peran manusia dalam kehidupannya, sebab setiap manusia memperjuangkan kehidupannya sendiri, jika bukan orang yang ia kasihi dan cintai. Manusia menyelidiki manusia. Logika manusia memikirkan logika manusia lainnya. Dan begitu seterusnya.
Manusia yang diciptakan Tuhan telah menempuh perjalanan yang sangat panjang. Ia jatuh dan bangun untuk sebuah kehidupan yang lebih baik; sebuah kehidupan yang menyenangkan, membahagiakan, atau memuaskan, entah positif atau negatif. Manusia adalah makhluk yang unik. Manusia telah menciptakan banyak hal untuk “kehidupan, relasi, dan masa depan”. Cintailah sesama manusia! Itulah pesan kehidupan yang Allah berikan bagi kita semua.
Materi dasar yang kelima adalah “imajinasi”. Imajinasi juga menjadi bagian penting dalam proses kehidupan manusia, entah tujuannya untuk memperkuat narasi perasaan, cinta kasih, hawa nafsu, atau yang lainnya. Yang pasti, imajinasi adalah gerakan logika yang mencoba mendemarkasikan objek atau subjek tertentu untuk suatu tujuan yang tertentu pula. Pernahkah Anda berimajinasi dengan kekasih, pasangan, atau selingkuhan Anda? Pernahkah Anda berimajinasi mendapatkan uang dalam jumlah yang banyak? Pernahkah Anda berimajinasi jalan-jalan ke luar daerah atau negeri? Pernahkah Anda berimajinasi ingin menjadi presiden atau orang terkenal?
Materi dasar yang keenam adalah “peristiwa”. Kehidupan manusia tak lepas dari berbagai peristiwa yang terjadi. Pasalnya, setiap kita diperhadapkan dengan banyak peristiwa dalam satu hari. Barangkali, kita pun adalah pelaku dari peristiwa-peristiwa tersebut. Peristiwa yang terjadi atau fenomena telah menjadi objek logika dalam filsafat kehidupan manusia. Para filsuf memperhatikan peristiwa atau kejadian tertentu untuk bekal bagi diri sendiri, orang lain, atau perdebatan yang tak ada habisnya. Apa pun dapat diperdebatkan, terutama soal peristiwa. Pro dan kontra adalah hal biasa. Yang pasti, setiap peristiwa dapat memberi kesan yang baik atau buruk pada kehidupan kita; tergantung bagaimana kita menafsirkannya!
Materi dasar yang ketujuh adalah “perasaan”. Filsafat tidak lepas dari asumsi “saya rasa”! Saya rasa, kita dapat menarik banyak manfaat dari perasaan. Setiap manusia yang diperlakukan tidak baik, akan merasa tersakiti. Setiap laki-laki dan perempuan yang putus cinta, akan merasa kecewa, sakit hati, terbuang, dikhianati, atau bahkan terbuang dari arena percintaan. Perasaan tidak bisa diabaikan. Kita senang atau sedih, tergantung perasaan. Kita hina, diejek, direndahkan, pasti merasakan “sakit”. Karena kita adalah manusia berperasaan, maka yang terpenting adalah menjaga perasaan kita dan menghargai perasaan orang lain.
Jangan suka menyakiti orang lain. Mereka tentu akan merasa sakit hati atau pikiran. Jagalah lidah dan mulut kita; jangan melukai perasaan orang lain dengan kata-kata yang melecehkan. Alkitab memberi kita pesan terbaik untuk hal ini: “Buanglah mulut serong dari padamu dan jauhkanlah bibir yang dolak-dalik dari padamu” (Amsal 4:24). “Tak bergunalah dan jahatlah orang yang hidup dengan mulut serong” (Amsal 6:12). “Siapa mengumpat, membuka rahasia, sebab itu janganlah engkau bergaul dengan orang yang bocor mulut” (Amsal 20:19). “Siapa menjaga mulutnya, memelihara nyawanya, siapa yang lebar bibir, akan ditimpa kebinasaan” (Amsal 13:3). “Sebab itu marilah kita, oleh Dia, senantiasa mempersembahkan korban syukur kepada Allah, yaitu ucapan bibir yang memuliakan nama-Nya” (Ibrani 13:15).
Dari pemaparan materi filsafat di atas, saya menarik demarkasi konteks tentang TF sebagai berikut:
Pertama, TF memahami naturnya sendiri sebagai bagian dari dunia di mana kita tinggal. Sebab dengan memahami dunia ini, kita semua, termasuk para filsuf hendak menginterpretasikan segala sesuatu untuk tujuannya masing-masing. Namun, demarkasi konteks menjadi tanda bahwa kita hidup dalam batasan-batasan tertentu yang patut dihargai, bukan diabaikan atau dikhianati. Sebagai bagian dari dunia ini, kita perlu memperhatikan dan melestarikan alam; kita tentu dapat menikmati hasilnya.
Kedua, TF memberi ruang bagi kita untuk mengeksplorasi segala sesuatu yang terhubung dengan kehidupan masa lalu, masa kini, dan masa depan. Kita turut menafsirkannya untuk memberi rasa pada hidup, logika, relasi, cinta, dan kasih sayang. Eksplorasi dibutuhkan karena memang natur manusia adalah bergerak mencari sesuatu – utamanya untuk dirinya sendiri.
Ketiga, TF membuka wawasan kehidupan bahwa kita tidak hidup sendiri, tidak hidup untuk diri sendiri, dan tidak hidup untuk memuaskan hawa nafsu, sebab pada kenyataannya, semua peristiwa, termasuk mereka yang memiliki hawa nafsu dan terbakar olehnya, binasa dengan cara yang berbeda, yang mungkin tak pernah mereka pikirkan sebelumnya.
Keempat, TF memberikan jembatan pemahaman bahwa segala sesuatu yang terjadi ada dalam kedaulatan Allah. Bagi orang yang percaya, Allah berdaulat atas hidup mereka. Ia bertindak sesuai kehendak-Nya untuk mendatangkan kebaikan bagi mereka yang mengasihi-Nya (Roma 8:28). “Sebab di dalam Dia kita hidup, kita bergerak, kita ada, seperti yang telah juga dikatakan oleh pujangga-pujanggamu: Sebab kita ini dari keturunan Allah juga” (Kisah Para Rasul 17:28). “Pada hari mujur bergembiralah, tetapi pada hari malang ingatlah, bahwa hari malang inipun dijadikan Allah seperti juga hari mujur, supaya manusia tidak dapat menemukan sesuatu mengenai masa depannya” (Pengkhotbah 7:14). “yang menjadikan terang dan menciptakan gelap, yang menjadikan nasib mujur dan menciptakan nasib malang; Akulah TUHAN yang membuat semuanya ini” (Yesaya 45:7).
Kelima, TF memberikan berbagai solusi normatif-filosofis yang koheren dengan kehidupan praktis umat manusia. Kita tidak meminta masalah itu datang kepada kita, tetapi ketika masalah datang dalam hidup kita, maka kita belajar berpikir dan mencari solusi. Bukankah kita seringkali berpikir untuk menyudahi masalah ketika ternyata masalah itu membuat kita tersiksa, sakit kepala, sakit hati? Bukanlah kita harus berjuang untuk sebuah kehidupan yang lebih baik, bukan?
Keenam, TF membawa kita kesadaran bahwa hidup itu adalah soal pilihan-pilihan yang terbatas. Mungkin ada yang mengatakan bahwa dengan kehendak bebas manusia dapat memilih apa saja. Tetapi yang perlu digarisbawahi adalah pilihan-pilihan manusia selalu terbatas, entah karena ia membatasinya sendiri (karena alasan tertentu) atau karena yang dipilih itu terbatas dan bahkan yang dipilih itu memberikan makna “membatasi”. Misalnya, tidak ada manusia yang memilih untuk dapat memakan makanan yang ditaruh di dalam sepuluh tong air yang besar dalam satu hari. Kondisi fisik kita yang membatasinya.
Ketujuh, TF menyadarkan kita akan masa depan. Kita tidak hidup untuk hari ini saja. Tuhan telah memberikan kita potensi untuk hidup, bekerja, dan menghasilkan segala sesuatu untuk kehidupan itu sendiri. Filsafat, bagaimana pun bentuknya, rasanya, dan tujuannya, selalu terhubung dengan “waktu yang akan datang”. Itu sebabnya TF memberikan kita lebih dari cukup tentang kesadaran bahwa kita dapat menikmati segala sesuatu di hari ini adalah karena alasan masa yang akan datang. Bukankah kita berupaya untuk dapat menikmati hari ini sekaligus berharap dapat menikmatinya di kemudian hari?
Marilah kita belajar dari kehidupan ini. Tuhan begitu baik; Ia menyediakan segala sesuatu untuk dapat kita nikmati dan rasakan sesuai kepentingannya. Bahkan Ia juga memberi kita segala yang terbaik untuk hari ini dan esok, dan seterusnya. Nikmatilah hidup ini dengan rasa syukur, bahagia, dan damai. Hindari konflik, hindari omongan yang melukai, hindari caci maki, dan hindari orang-orang yang berpotensi melukai perasaan orang lain, “bibir karlota [cerewet, bocor mulut] mulut parabola”.
Belajarlah dari kehidupan karena kehidupan itu sendiri adalah “guru terbaik untuk membentuk karakter, harapan, dan hidup kita, kini, esok, dan seterusnya”.
Berhadapan dengan kerja hermeneutik, orang Kristen memposisikan dirinya dalam sketsa atribusi, entah atribusi teologi, atribusi filsafat, atribusi analogi, atau atribusi omong kosong ria. Atribusi dipahamai dalam beberapa makna: tindakan mengaitkan sesuatu; kualitas, karakter, atau hak yang dianggap berasal dari sesuatu/seseorang (misalnya teologi, argumentasi, kekuatan pengaruh, dan lain sebagainya). Dalam pendekatan psikologi, atribusi dipahami sebagai sebuah proses interpretasi di mana orang membuat penilaian tentang penyebab perilaku mereka sendiri dan perilaku orang lain.
Dari beberapa makna di atas, atribusi teologi yang dibicarakan di sini dipahami sebagai sebuah proses penafsiran di mana seseorang membuat penilaian tentang penyebab tindakan-tindakan yang dilakukan atau yang orang lain lakukan untuk suatu tujuan tertentu. Dengan kata lain, tindakan-tindakan tersebut dilakukan sebagai proses mengaitkan, menghubungkan satu dengan lainnya. Artinya, atribusi teologi memperlihatkan fenomena yang terjadi dan ditafsir sebagai sebuah fakta yang tak terpisahkan. Utamanya dengan kedaulatan Allah atas diri seseorang.
Di sini, penilaian tentang penyebab tindakan-tindakan personal dihubungkan dengan konsep teologi, bahwa ada Allah yang turut bekerja di dalam segala sesuatu untuk mendatangkan kebaikan bagi dirinya sendiri; demikian juga bagi orang lain. “Kita tahu sekarang, bahwa Allah turut bekerja dalam segala sesuatu untuk mendatangkan kebaikan bagi mereka yang mengasihi Dia, yaitu bagi mereka yang terpanggil sesuai dengan rencana Allah” (Roma 8:28). Atribusi teologi semacam ini menentukan posisi teologis seseorang sebagai sebuah pilihan pemahaman yang biblikal karena dikaitkan dengan kedaulatan Allah.
Atribusi filsafat berbicara tentang proses penafsiran di mana seseorang membuat penilaian berdasarkan filosofi tertentu tentang penyebab tindakan-tindakan yang dilakukannya atau yang orang lain lakukan. Penalaran secara filosofis membawa seseorang kepada pertimbangan tertentu, untung-rugi, menarik-tidak menarik, bermanfaat atau tidak bermanfaat, berguna atau tidak berguna, berkesan atau tidak berkesan, berpengaruh atau tidak berpengaruh, berhasil atau tidak berhasil, baik atau tidak baik, menyenangkan atau menyakitkan, mendamaikan atau menghancurkan, dan masih banyak lagi.
Atribusi filsafat lebih menekankan kepada penalaran logis dari sebuah tindakan, mengapa tindakan itu dilakukan, bagaimana melakukannya, apa tujuannya, apa dampaknya, dan apa kepentingannya bagi diri sendiri atau bagi orang lain. Pada akhirnya, atribusi ini melemahkan prinsip-prinsip fundamen dari Kitab Suci ketika seseorang hanya bermain di ranah penalaran logis tanpa melibatkan prinsip-prinsip kebenaran Kitab Suci. Misalnya, secara praktis, orang mungkin berpikir bahwa “saya harus membalas dendam kepada orang-orang yang membenciku”. Masuk akal! Tetapi Yesus Kristus berkata lain: “Tetapi kepada kamu, yang mendengarkan Aku, Aku berkata: Kasihilah musuhmu, berbuatlah baik kepada orang yang membenci kamu” (Lukas 6:27). “Tetapi kamu, kasihilah musuhmu dan berbuatlah baik kepada mereka dan pinjamkan dengan tidak mengharapkan balasan, maka upahmu akan besar dan kamu akan menjadi anak-anak Allah Yang Mahatinggi, sebab Ia baik terhadap orang-orang yang tidak tahu berterima kasih dan terhadap orang-orang jahat” (Lukas 6:35). “Tetapi Aku berkata kepadamu: Kasihilah musuhmu dan berdoalah bagi mereka yang menganiaya kamu” (Matius 5:44).
Prinsip mengasihi sesama manusia sebenarnya telah disinggung dalam Perjanjian Lama: “Janganlah engkau menuntut balas, dan janganlah menaruh dendam terhadap orang-orang sebangsamu, melainkan kasihilah sesamamu manusia seperti dirimu sendiri; Akulah TUHAN” (Imamat 19:18), hanya saja Yesus memberikan prinsip pelampauan dari konteks Imamat di atas. Selain dari pada mengasihi sesama, Yesus menambahkan kualitas sikap “mendoakan mereka yang menganiaya”, “mengasihi musuh”, “berbuat baik kepada mereka yang membenci”, dan “meminjamkan sesuatu dengan tidak mengharapkan balasan”. Prinsip ini terlampau tinggi, dan sulit dilakukan bagi mereka yang bukan murid Yesus Kristus.
Atribusi filsafat mungkin menempatkan sebuah prinsip bahwa jika Anda ingin orang lain tidak memperlakukan secara buruk kepada Anda, maka jangan berlaku buruk kepada mereka. Yesus menempatkan hal ini sebagai sebuah standar ganda yang positif yang dilandasi dengan “kasih”, Kasih itulah dasar dari semua tindakan orang percaya terhadap orang lain, dan itu adalah perwujudan hukum “kasihilah sesamamu manusia seperti dirimu sendiri.” Matius 7:12: “Segala sesuatu yang kamu kehendaki supaya orang perbuat kepadamu, perbuatlah demikian juga kepada mereka. Itulah isi seluruh hukum Taurat dan kitab para nabi.” Lukas 6:31: “Dan sebagaimana kamu kehendaki supaya orang perbuat kepadamu, perbuatlah juga demikian kepada mereka.” Rasul Paulus menekankan hal yang sama: Roma 13:3, “…. Perbuatlah apa yang baik dan kamu akan beroleh pujian dari padanya.” Kolose 3:23, “Apapun juga yang kamu perbuat, perbuatlah dengan segenap hatimu seperti untuk Tuhan dan bukan untuk manusia.” Semua tindakan kita, dilakukan sebagai wujud iman kita kepada Tuhan. Bahkan Yesus menegaskan: “Demikianlah hendaknya terangmu bercahaya di depan orang, supaya mereka melihat perbuatanmu yang baik dan memuliakan Bapamu yang di sorga.” (Matius 5:16).
Atribusi analogi berbicara tentang proses penafsiran di mana seseorang membuat analogi tertentu tentang penyebab tindakannya atau tindakan orang lain. Hal ini sama saja dengan mengatakan: “Jika kamu berbuat jahat, maka saya akan lebih jahat daripada kamu”. Tindakan buruk menghasilkan tindakan yang lebih buruk. Jelas, hal ini bertentangan dengan apa yang Yesus nyatakan: “kasihilah musuhmu dan berdoalah bagi mereka yang menganiaya kamu.” Konteks ini sebenarnya menempatkan Yesus sebagai Sang Pembalas kepada mereka yang berbuat jahat. Kitab Suci jelas memberikan ruang yang luas kepada pernyataan bahwa Allah akan membalas semua bentuk tindakan kejahatan. Yesus pun melakukan hal yang sama: Matius 16:27, “Sebab Anak Manusia akan datang dalam kemuliaan Bapa-Nya diiringi malaikat-malaikat-Nya; pada waktu itu Ia akan membalas setiap orang menurut perbuatannya.” “Dan Ia telah memberikan kuasa kepada-Nya untuk menghakimi, karena Ia adalah Anak Manusia. Janganlah kamu heran akan hal itu, sebab saatnya akan tiba, bahwa semua orang yang di dalam kuburan akan mendengar suara-Nya, dan mereka yang telah berbuat baik akan keluar dan bangkit untuk hidup yang kekal, tetapi mereka yang telah berbuat jahat akan bangkit untuk dihukum” (Yohanes 5:27-28).
Atribusi omong kosong ria berbicara tentang proses penafsiran di mana seseorang membuat omong kosong berdasarkan kebodohannya, kesombongannya, kemunafikannya, dan kesesatannya tentang hasil tindakan-tindakan penafsiran yang dilakukannya dan dalam waktu bersamaan mengumumkan bahwa tindakan penafsiran yang benar yang dilakukan oleh mereka yang paham doktrin dan konteks biblika, adalah SALAH.
Atribusi ini dilakukan oleh mereka yang tidak belajar secara baik, mengoleksi sumber-sumber yang tidak kredibel, miskin referensi, dan mencoba memberikan penafsiran yang tidak biasa atau berlawanan dengan ajaran resmi gereja yang diwariskan sepanjang sejarah. Mereka menafsir sesuka hati, dan menyingkirkan konteks komprehensif dari doktrin Alkitab, dan semuanya omong kosong ria.
Fenomena ini terjadi di gereja-gereja yang para pendetanya hanya mengandalkan kemampuan berpikirnya yang praktis-praktis saja, mengutamakan nilai-nilai normatif dan memperjuangkan motivasi kehidupan, tanpa dibarengi dengan prinsip iman yang konkret. Ini bahaya besar bagi gereja. Atribusi omong kosong ria, sesuai konteksnya, berisi bualan-bualan teologis yang tanpa isi, menyesatkan, dan bebal. Otak kosong, omong kosong, dan menafsir tanpa mekanisme biblikal-relasional teks-teks doktrinal. Alhasil, pengikutnya akan menjadi manusia-manusia bebal, otak tumpul, miskin literasi, logika stagnan, dan beria-ria di atas kebodohan dan kebebalannya sendiri.
Kita membutuhkan atribusi teologi yang kredibel dan konsisten. Kualitas, dan karakter yang kuat dipandang sebagai berasal dari Allah yang berkuasa mendidik orang percaya menjadi seperti yang dikehendaki-Nya. Kita menaruh pemahaman kita tentang Allah yang berdaulat pada lokus yang sesungguhnya, di mana pemahaman yang benar berasal dari lokus yang benar: Alkitab, merangkum dasar dan identitas hermeneutika yang dapat dipertanggung jawabkan secara ilmiah (eksegesis).
Umumnya, atribusi omong kosong ria didasarkan pada pola “eisegesis” – memasukkan sesuatu yang salah, sesat, menyimpang, ke dalam teks-teks Alkitab. Prinsip korelasi tekstual diperlukan untuk memandu kita ke dalam pemahaman yang komprehensif tentang doktrin-doktrin Kitab Suci. Atribusi teologi dibutuhkan karena kita sendiri, dalam kesadaran penuh, menilai dan menafsir bahwa semua tindakan kita memiliki alasan (atau sebab) untuk dilakukan (dinyatakan).
Sama seperti yang diungkapkan Yesus: bahwa apa yang engkau kehendaki supaya orang perbuat kepadamu, perbuatlah demikian juga kepada mereka, menyadarkan kita bahwa atribusi teologi yang kita pegang, menyarankan sebuah pemahaman yang konkrit bahwa: “Karena kita ini buatan Allah, diciptakan dalam Kristus Yesus untuk melakukan pekerjaan baik, yang dipersiapkan Allah sebelumnya. Ia mau, supaya kita hidup di dalamnya” (Efesus 2:10). Dengan demikian tiap-tiap manusia kepunyaan Allah diperlengkapi untuk setiap perbuatan baik (2 Timotius 3:17).
Milikilah atribusi teologi yang sehat, kredibel, dan biblikal, sehingga semua bentuk penafsiran atau penilaian kita tentang dasar atau alasan tindakan-tindakan kita, senantiasa diarahkan kepada Allah yang menetapkan, mempersiapkan, dan memperlengkapi orang-orang pilihan-Nya untuk hidup dalam kasih-Nya, melakukan perbuatan-perbuatan baik, selaras dengan kehendak-Nya.
Guliran waktu menyentakkan perasaan dan logika kita untuk melihat apa yang sedang terjadi pada diri kita, pada orang di sekitar kita, dan pada kondisi dunia saat ini. Di dalam waktu kita bergumul, bekerja, menangis, berdoa, melakukan apa yang kita kehendaki maupun yang tidak kita kehendaki. Di dalam waktu kita melihat orang-orang menikmati kehidupan yang layak dan tidak layak. Di dalam waktu kita melihat kejadian-kejadian terjadi di bawah kolong langit ini.
Kita semua memiliki pilihan. Pilihan untuk mengarahkan hidup kita pada apa yang kita inginkan, meksi tak sejalan dengan berbagai situasi yang mengelilingi kita. Sembari berdoa kepada Tuhan, kita pun dipaksa untuk melihat konteks kehidupan dan terus bekerja dan bekerja untuk suatu tujuan yang hendak dicapai.
Tak peduli seberapa berat kehidupan yang dijalani. Itulah prinsip dari mereka yang hendak mengembangkan kehidupannya sendiri dan orang-orang yang dicintainya. Lebih baik menyerah kepada keadaan daripada melanjutkannya. Itulah pilihan dan keputusan dari mereka yang merasa gagal sebelum berjuang.
Prinsip kehidupan memandu setiap kita untuk eksis dan menunjukkan nafas kehidupan melalui serangkaian tindakan yang berpotensi menghasilkan, memenuhi kebutuhan hidup, dan mengantisipasi keadaan yang tak diinginkan. Mencintai diri dan hidup memang tak dapat dipisahkan. Di dalam hidup itu sendiri kita melihat keadaan kita seperti apa; di dalam diri kita tampil keinginan untuk bertahan hidup dan menikmatinya sesuai kadar, tak lebih, tak kurang; jika melewatinya, masalah-masalah akan bermunculan; mencoba melawannya akan mengakhiri kehidupan itu sendiri.
Prinsip umum yang perlu dipahami di sini adalah “ama a tua vida” (bh. Portugis) yang berarti “Cintailah hidupmu atau cintai hidupmu” (ungkapan lainnya adalah: “Amar a vida” dan “Amar a sua vida”). Prinsip ini mengisyaratkan bahwa kehidupan mendorong kita untuk mencintai apa yang kita miliki, termasuk hidup yang dijalani. Membenci kehidupan sama halnya dengan mengakhirinya. Selalu ada jalan, meski tak sejalan dengan pikiran dan kehendak kita; selalu ada jalan, meski tak selalu mulus berjalan; selalu ada jalan, meski bukan yang terbaik versi kita.
Hingga kita menyadari bahwa kita perlu mencintai kehidupan kita sendiri, kita mendapatkan apa yang semestinya, layak ataupun tidak layak. Kita bergulat dengan waktu, tetapi tetap ““ama a tua vida” – cintailah hidupmu. Tuhan telah memberikan banyak hal kepada kita, lalu kita tinggal diam? Tentu tidak! Gerakan-gerakan kecil lahir dari semangat untuk berjuang dan mempertahankan kehidupan.
“Ama a tua vida” – menyediakan banyak manfaat, asalkan kita menyadari betapa pentingnya kehidupan yang telah Tuhan karuniakan kepada kita. Seberapa penting usaha kita untuk bertahan hidup? Sangat penting. Potensi kita miliki, apa yang kurang? Logika masih berdiam dalam diri kita, apa yang perlu menghalangi kita untuk berpikir kritis menggapai tujuan? Harapan dan semangat menjadi sahabat karib di dalam hidup kita. Ikatlah mereka menjadi sahat sejatinya, kini, besok, dan nanti.
Mintalah hikmat dari Allah agar kita ditopang-Nya, dijaga-Nya, dan diberkati untuk mendapatkan apa yang kita upayakan dengan sepenuh hati, dan tidak melanggar firman-Nya.
“Ama a tua vida” perlu menjadi wejangan dan pegangan. Kita menapaki hidup dan berjuang untuknya. Tak ada kata terlambat. Kita masih hidup; kita masih memiliki kekuatan, harapan, dan semangat. Jangan menangis secara berlebihan; jangan bermalas-malasan; jauhkan orang-orang pecundang dari hidupmu; jauhkan para penipu dan pembohong; jauhkanlah segala pikiran yang menghambat kemajuanmu.
Berharaplah selalu kepada Sang Khalik. Mintalah bimbingan dan pertolongan-Nya; engkau akan merasakan lawatan ajaib-Nya, menjadikan dirimu bahagia dan lega. Cintailah hidupmu sendiri – “ama a tua vida” – jangan larut dalam kekecewaan. Semua akan baik-baik saja, semua akan indah pada waktunya. Tuhanlah pandu kita; Dialah sumber kebahagiaan yang sejati.
Rentang waktu yang berlalu, membekas dalam ingatan bahwa peristiwa-peristiwa telah dilalui dan menghasilkan kondisi-kondisi, entah baik entah buruk. Dalam setiap peristiwa terkandung makna positif dan negatif. Setiap orang, baik yang kecil maupun besar, tua dan muda, laki-laki dan perempuan, mendapatkan kesempatan untuk dapat menyadari fakta kehidupan di mana ia harus bertindak atas peristiwa atau terlibat dalam peristiwa atau menolak perstiwa yang akan terjadi pada dirinya.
Tak dapat dipungkiri – dan memang demikian adanya – bahwa manusia menerima, menjalani, dan tak bisa menolak, tiga hal berikut: pertama, fakta hidup; kedua, pilihan hidup; dan ketiga, konsekuensi hidup. Ketiga hal ini diberikan Tuhan untuk dapat dimaknai dan disadari, apapun alasannya.
Dalam proses kehidupan, manusia menunjukkan apa yang seharusnya ia lakukan, meski kadang ada motif terselubung di baliknya. Itu berlaku bagi mereka yang memiliki tujuan untuk meraup berbagai keuntungan terselubung. Tidak demikian dengan mereka yang hidup benar di hadapan Tuhan. Mereka tahu dan sadar bahwa Tuhan menghendaki anak-anak-Nya bertindak selaras dengan kehendak-Nya dalam seluruh proses hidup mereka.
Itu sebabnya, fakta hidup yang dialami, pilihan hidup yang diambil, dan konsekuensi yang akan diterima, adalah jalinan yang begitu kuat untuk mendidik, mengajar, dan menyadarkan kita akan bahagia dan bahaya yang datang menghampiri kita. Salah memilih, pasti ada konsekuensinya. Begitu juga dengan benar dalam memilih.
Kemudaan yang kita rasakan sekarang ini bukanlah dasar untuk menyatakan bahwa kita hidup lebih lama dari mereka yang telah menua usianya. Fajar hidup yang terpampang di hadapan kita bukanlah alasan bahwa kita dapat melakukan segala sesuatu tanpa memikirkan segala konsekuensinya.
Bukan jaminan dan alasan, ketika kita menganggap bahwa kita masih muda, masih menikmati matahari di usia muda, bahwa kita akan dapat merasakan berbagai jenis kebahagiaan. Yang ada hanyalah kesadaran bahwa kita terbatas, lemah, dapat mengalami banyak hal yang dapat saja menghambat kehidupan, dan butuh bantuan orang lain.
Mungkin kesombongan menjadi salah satu penghambat bagi kita untuk menyadari segala keterbatasan kita. Orang-orang yang merasa kuat memilih orang-orang yang lemah dan menganggap bahwa dialah yang kuat dan berkuasa, padahal ia hanya menutupi kelemahannya sendiri. Dia melupakan keterbatasannya dan bertindak sesuka hatinya. Dia pikir dia hebat, padahal hanyalah angin yang berlalu.
Fakta hidup memperlihatkan kepada kita bahwa ada kesenangan, ada kesusahan, ada penderitaan, ada kesulitan, ada kesedihan, ada tragedi. Sebagaimana munculnya kesombongan, maka muncullah akibatnya. Kita tahu bahwa kekuatan kita di masa muda, tidak selamanya bertahan, karena ketika kita tua nanti, kita tidak lagi kuat.
Mereka yang lemah dan merasa paling kuat justru adalah orang-orang yang malang. Ia mengumpulkan orang-orang lemah dan bodoh untuk dijadikan umpan makanan dalam segala situasi. Hingga akhirnya ia terpapar tak berdaya, mengharapkan uluran tangan.
Fakta hidup begitu jelas di depan mata kita. Pilihan-pilihan hidup menentukan langkah kita selanjutnya. Mereka yang munafik mendapati di ujung jalan ada banyak masalah dan berbagai jenis kesakitan. Mereka akan menerima upah yang sepantasnya. Sedangkan mereka yang setia berada di jalan yang benar, mendapati para sahabat menyambutnya dengan senyum kebahagiaan, dan Tuhan memberkati senantiasa.
Pilihan hidup adalah bagian yang tak terpisahkan dari proses tarikan nafas kita. Di setiap waktu kita diperhadapkan dengan pilihan, dan pilihan itu sendiri menentukan apakah kita bergerak atau stagnan (malas). Perasaan muda bisa saja menjadi pemicu gerakan untuk berhasil, tetapi merasa bahwa usia muda dan masih kuat sebagai upaya untuk mempertontonkan kesombongan, kemunafikan, kejahatan, dan berbagai jenis penipuan, malahan akan memperburuk keadaan, menjadikan tulang-tulang pada tubuh tampak menyeramkan: kurus kering.
Konsekuensi hidup menyatu dengan fakta dan pilihan hidup. Semua tindakan yang dilakukan akan menerima konsekuensinya. Sebagai contoh, Raja Salomo menuliskan: “Taburkanlah benihmu pagi-pagi hari, dan janganlah memberi istirahat kepada tanganmu pada petang hari, karena engkau tidak mengetahui apakah ini atau itu yang akan berhasil, atau kedua-duanya sama baik” (Pengkhotbah 11:6). Dari tindakan “menabur”, seseorang menerima hasil (konsekuensinya). Di samping itu, ia perlu mengingat hari-hari yang gelap atau malang, hari-hari di mana manusia bergumul, menghadapi berbagai situasi atau kejadian yang tak diinginkannya sebagai bagian dari kehidupan itu sendiri yang diizinkan Tuhan Allah.
Salomo melanjutkan: “Terang itu menyenangkan dan melihat matahari itu baik bagi mata; oleh sebab itu jikalau orang panjang umurnya, biarlah ia bersukacita di dalamnya, tetapi hendaklah ia ingat akan hari-hari yang gelap, karena banyak jumlahnya. Segala sesuatu yang datang adalah kesia-siaan” (Pengkhotbah 11:7-8). Kita berhadapan dengan kesia-siaan; menarik makna dari setiap peristiwa; mengambil pelajaran, dan bertindak hati-hati.
Dalam gumul juang, manusia berlomba-lomba dengan cara yang adil dan biadab, memilih untuk bertahan hidup dengan cara yang dikendaki Tuhan, atau cara yang dikehendaki Iblis dan diri sendiri (ambisi). Hingga akhirnya kita dapat menilai dan melihat hasilnya sebagai konsekuensinya.
Memang, usia muda memiliki banyak pilihan. Ketika yang muda masih merasa hebat karena perbuatan-perbuatannya yang jahat, karena pergaulannya dengan orang-orang yang sekarakter, memberi mereka kesempatan untuk terus hidup dalam dosa, kemunafikan, dan kebebalan. Tak ada yang dapat dibanggakan dari jenis kehidupan semacam itu, kecuali mereka sendiri yang membanggakannya.
Hingga kita tersadar, seperti yang diungkapkan Salomo: “KEMUDAAN DAN FAJAR HIDUP ADALAH KESIA-SIAAN”. Gambaran ini menarik, selain dari pada sebuah fakta yang tak bisa dibantah. Konteks ini adalah wujud dari kehidupan manusia, bahwa mereka yang merasa muda dan kuat menemukan bahwa mereka bukanlah apa-apa di hadapan Sang Khalik. Berikut gambaran fakta yang diungkapkan Salomo: “Bersukarialah, hai pemuda, dalam kemudaanmu, biarlah hatimu bersuka pada masa mudamu, dan turutilah keinginan hatimu dan pandangan matamu, tetapi ketahuilah bahwa karena segala hal ini Allah akan membawa engkau ke pengadilan! Buanglah kesedihan dari hatimu dan jauhkanlah penderitaan dari tubuhmu, karena kemudaan dan fajar hidup adalah kesia-siaan” (Pengkhotbah 11:9-10). Tentu, setiap tindakan ada konsekuensinya. Itulah penekanan Salomo. Bahwa kita semua akan menghadap Allah di pengadilan. Ia mengadili dengan adil dan menghakimi dengan adil pula.
Lalu, apa yang dapat kita banggakan? “Ingatlah akan Penciptamu pada masa mudamu, sebelum tiba hari-hari yang malang dan mendekat tahun-tahun yang kaukatakan: “Tak ada kesenangan bagiku di dalamnya!” (Pengkhotbah 12:1). Selagi masih ada waktu dan kesempatan, ingatlah senantiasa kepada Sang Khalik. Jangan sombong! Engkau akan menerima konsekuensinya. Fakta hidup menunjukkan hal itu. Pilihan hidup menentukan apa yang akan terjadi di kemudian hari, dan konsekuensi hidup adalah hasil dari semua pilihan dan tindakan-tindakan yang kita lakukan.
Sadarlah, sebelum terlambat. Jangan merasa hebat ketika engkau muda. Engkau hanyalah debu tanah. Engkau pun tak tahu apa yang akan terjadi di kemudian hari. Berharaplah pada Tuhan. Bersandarlah pada-Nya. Berpeganglah pada firman-Nya dan senantiasa hidup benar di hadapan-Nya, kini, besok, dan seterusnya.
Teologi adalah respons dan interpretasi tentang Allah (tindakan-tindakan atau karya-karya-Nya) dan interpretasi terhadap wahyu (penyataan) Allah dalam Yesus Kristus. Dalam pemahaman yang lebih spesifik, teologi mengacu kepada hubungan pribadi (kita) dengan Allah yang didasarkan pada pengetahuan, pengenalan, dan iman kepada-Nya. Teologi itu sendiri berarti upaya kesadaran iman dalam membangun komunikasi antara Allah dan manusia.
Konteks berteologi memiliki ragam fitur, lokus, kepentingan, tujuan, dan harapan. Semua gerak berteologi menawarkan aspek-aspek tertentu entah yang terhubung dengan kehidupan, relasi, atau masa depan. Teologi itu sendiri menghasilkan tindakan-tindakan untuk dilakukan dalam bentuk tanggung jawab iman, kesadaran iman, upah iman, dan harapan iman.
Membangun teologi adalah sikap interaksi kita dengan Alkitab, ada tanya jawab antara kita dan Alkitab (dialogis). Dengan tindakan tersebut, maka dapatlah dikatakan bahwa hal itu merupakan fondasi teologi kita. Jika pengalaman kita tidak sesuai dengan Alkitab, maka perlu dikoreksi, ditinggalkan, diubah ke arah yang benar. Itu sebabnya, kekeliruan dogmatis yang terjadi di kalangan Gereja disebabkan karena melemahnya interpretasi dan demarkasi tentang prinsip-prinsip pemahaman doktrinal yang alkitabiah.
Membangun sebuah teologi berarti menjadikan Allah sebagai subjeknya dan bukan diri kita. Dari situlah mengalir ajaran-ajaran yang membenamkan diri kita pada cinta kasih, kemurahan, kehendak dan kedaulatan Allah atas segala sesuatu. Teologi yang dibangun dari atas ke bawah adalah di mana Allah sendiri yang menjadi subjeknya, sedangkan teologi yang dibangun dari bawah ke atas berarti kita membicarakan tentang Allah yang telah berkarya bagi kita.
Dua prinsip tersebut tentu berbeda tetapi saling berkaitan erat. Teologi dari bawah ke atas bergantung pada point of view seseorang (perespons atau penafsir) yang dilatarbelakangi oleh pendidikan, daerah, budaya, status, tradisi, Gereja, dan sebagainya. Teologi dari atas bergantung pada Allah sendiri (atau Alkitab – wahyu Allah yang sempurna). Tipe teologi seseorang tergantung dari apakah dia memilih “dari atas ke bawah”, “dari bawah ke atas”, atau gabungan keduanya. Tolok ukurnya adalah bahwa semua teologi harus mencerminkan ajaran-ajaran Alkitab yang ditempuh melalui proses interpretasi yang kredibel, korelatif, dan demarkatif.
Seorang teolog biasanya membangun teologi hampir selalu dari pengalamannya (dari bawah ke atas) tentang Allah. Akan tetapi, proses berteologi dari bawah ke atas, jika dinilai secara benar, maka konteks itu dilatari oleh kesadaran iman bahwa Allah telah terlebih dathulu berkarya bagi kita, Ia telah lebih dahulu mengasih kita, barulah kita mengasihi Dia.
Rasul Yohanes menyatakan (dalam 1 Yohanes 4:10): “Inilah kasih itu: Bukan kita yang telah mengasihi Allah, tetapi Allah yang telah mengasihi kita dan yang telah mengutus Anak-Nya sebagai pendamaian bagi dosa-dosa kita”. Konteks berteologi dari atas ke bawah dan dari bawah ke atas, keduanya saling berkait erat.
Meskipun membangun teologi sebagai bentuk tanya jawab atau dialogis antara kita dengan Alkitab, tetapi dalam memahami pesannya harus melihat pada kaidah hermeneutis yang bertanggung jawab. Dialogis antara kita dengan Alkitab (yang kemudian ditafsirkan), perlu juga dibicarakan dalam ruang “komunal”. Hal ini menjaga kemungkinan adanya kekeliruan penafsiran, sehingga ketika dibicarakan dalam ruang komunal, kita dapat saling meluruskan kekeliruan (penafsiran atau pandangan teologi), saling melengkapi, saling memberikan ketegasan penafsiran yang bertanggung jawab dan sebagainya.
Dalam berdialog antara kita dan teks (Alkitab), perlu dilakukan pendalaman bahasa (Ibrani, Aram dan Yunani) dan hal itu akan membawa kita kepada penerjemahan teks-teks. Maka, menerjemahkan adalah sama dengan menafsir (sesuai konteksnya) dan menafsir Alkitab adalah sama dengan membangun sebuah teologi. Itu sebabnya, teologi yang baik berarti pemahaman, penafsiran, dan pemaknaannya berdasarkan konteks-konteks dalam Alkitab itu sendiri.
Dalam proses berdialog dengan teks, sebenarnya kita juga sedang membangun teologi kita. Bangunan teologi tersebut, dasarnya hanyalah Alkitab. Teologi yang baik berdasar pada Alkitab. Jika keluar dari Alkitab, maka prinsip teologi seseorang, kelompok, atau Gereja akan membawa kepada penyesatan, kekeliruan, penyimpangan, dan pengabaian doktrin-doktrin yang benar.
BAGAIMANA MEMBANGUN TEOLOGI? Saya mencatat tiga hal:
Pertama, kita perlu mendasari semua interpretasi (penafsiran) terhadap teks-teks Alkitab secara komprehensif-korelatifisme, yaitu makna dan pesan teks PL dan PB terhubung atau terkait satu dengan lainnya. Tek-teks PL dan PB, sejarah, penyataan Allah, providensia Allah, semuanya memiliki korelasi tekstual, historis, dan tujuan Allah atas umat-Nya.
Kedua, kita perlu mengkaji semua teks Alkitab yang dihubungkan dengan konteks kehidupan kekinian. Artinya, pesan dan makna teks harus memberikan pengaruh bagi kehidupan yang kita jalani sekarang ini. Firman Allah pasti mempengaruhi kehidupan kita, membentuk iman dan karakter kita seperti yang Allah kehendaki. Artinya, tidak ada alasan bagi kita untuk membuang teks-teks tertentu tanpa makna bagi kehidupan kita. Apa yang Allah nyatakan dalam Alkitab, pasti dapat memberikan makna iman, hidup, pastoral, eskatologis, tanggung jawab, hukuman, larangan, bagi pribadi kita masing-masing.
Ketiga, kita perlu mengkomunikasikan semua interpretasi (penafsiran) Alkitab, baik itu doktrin-doktrin fundamental, relasi hidup yang benar dengan Tuhan Yesus, sikap hidup yang kudus, dan bagaimana tanggung jawab iman yang tertuang dalam turut kata (ucapan-ucapan), pemikiran, dan tindakan-tindakan nyata, agar orang-orang dapat menikmati kasih dan kemurahan Tuhan, diselamatkan, dan merasakan lawatan kuasa-Nya yang dahsyat.
Ruang berteologi menyediakan konstruksi teologi kita untuk dipublikasikan dalam narasi tekstual, narasi logika, narasi tindakan, narasi perkataan, dan narasi teladan kehidupan. Semuanya menyatu menjadi satu bangunan teologi yang kokoh. Dari situ kita menghasilkan buah-buah kebenaran dan memberikan pengaruh kepada sesama.