
Bukankah kita pernah mengalami peristiwa di mana kita terlibat dalam usaha “menjaring angin?” Bukankah kita pernah kecewa dengan peristiwa itu? Apakah masih membekas di pikiran kita bahwa “menjaring angin” telah membuat kita kehilangan banyak hal? Ada banyak hal serupa yang mungkin membawa kita kepada keadaan yang tidak semestinya kita alami.
Ungkapan “menjaring angin” seringkali digunakan untuk menggambarkan tindakan atau kerja keras yang sia-sia, percuma, atau tujuan yang mustahil dicapai. Dalam konteks filsafat, metafora ini bisa digunakan untuk merenungkan berbagai aspek kehidupan manusia, termasuk upaya, perjuangan, harapan, ketidakpastian, dan pencarian makna kehidupan. Kita dapat mencatat narasi kehidupan tentang fakta ini, mengeksplorasi tentang konsep “menjaring angin” yang pernah kita alami, dan kemudian membagikannya kepada yang lain sebagai “catatan berbagi” yang mendorong kita semua untuk berhati-hati, bijaksana, dan tetap setia pada jalan kebenaran.
Dalam narasi tekstual, penulis kitab Pengkhotbah mencatat konteks menjaring angin yang terhubung erat dengan kehidupan manusia. Di sini, saya mencatat teks-teks yang menyinggung soal ini.
Pertama, 1:14, Aku telah melihat segala perbuatan yang dilakukan orang di bawah matahari, tetapi lihatlah, segala sesuatu adalah kesia-siaan dan usaha menjaring angin. Memang, patut diakui bahwa segala perbuatan manusia di bawah kolong langit ini menemui usaha menjaring angin, sia-sia. Kita dapat mendata apa saja yang telah kita kerjakan dan hasil akhirnya: “sia-sia”. Akan tetapi, kita dapat belajar dari peristiwa tersebut dan kembali merangkai fragmen-fragmen kehidupan untuk sebuah usaha yang lebih baik baik, agar terhindar dari hasil akhir: “menjaring angin”.
Kedua, 1:17, Aku telah membulatkan hatiku untuk memahami hikmat dan pengetahuan, kebodohan dan kebebalan. Tetapi aku menyadari bahwa hal inipun adalah usaha menjaring angin. Analogi-analogi fakta dalam kehidupan kita, cukup memberi catatan kritis tentang segala usaha yang kita kerjakan. Kadang kala, orang berhikmat pun mendapatkan hasil “menjaring angin”. Demikian pula dengan mereka yang berpengetahuan, yang bodoh, dan bebal.
Tampaknya, Tuhan mengizinkan kita mengalami hal ini karena keterbatasan yang kita miliki tak menghindarkan dari fakta bahwa kita dapat saja gagal, kurang beruntung, malang, kecewa, sakit hati, bertepuk sebelah tangan, sia-sia, rugi, dan lain sebagainya. Mungkin kita perlu merencanakan dan meramu berbagai konteks kehidupan dan kemudian mengolahnya menjadi sebuah produk kehidupan yang lebih baik, untuk usaha dan hasil yang memuaskan. Intinya: “Jangan melupakan Tuhan dalam setiap perencanaan”.
Ketiga, 2:11, Ketika aku meneliti segala pekerjaan yang telah dilakukan tanganku dan segala usaha yang telah kulakukan untuk itu dengan jerih payah, lihatlah, segala sesuatu adalah kesia-siaan dan usaha menjaring angin; memang tak ada keuntungan di bawah matahari. Di satu sisi, mereka yang selalu gagal, akan berkesimpulan bahwa “tidak ada keuntungan di bawah matahari”. Bahkan, karena sedemikian gagal, seseorang kemudian memutuskan untuk mengakhiri hidupnya. Ini menyedihkan!
Apa yang kita kerjakan dengan tangan kita, tidak selalu berhasil; segala usaha yang telah kita lakukan dengan jerih payah yang maksimal, kadang-kadang tidak memberikan hasil yang memuaskan, bahkan yang didapatkan adalah “menjaring angin”. Inilah alasan mengapa Pengkhotbah menuliskan: “lihatlah, segala sesuatu adalah kesia-siaan dan usaha menjaring angin.” Ini adalah fakta kehidupan. Meski demikian, kita tetap menengadah ke langit, menyapa Sang Khalik, memohon pertolongan, bimbingan, dan kekuatan, agar mampu bangkit kembali menggapai sesuatu yang bermanfaat bagi kehidupan kita.

Keempat, 2:17, Oleh sebab itu aku membenci hidup, karena aku menganggap menyusahkan apa yang dilakukan di bawah matahari, sebab segala sesuatu adalah kesia-siaan dan usaha menjaring angin. Konteks ini adalah fakta bahwa ketika seseorang mengalami banyak kegagalan, kegelisahan, kekecewaan, kesakithatian, perlakuan yang tidak adil, tekanan ekonomi, caci maki, menerima fitnah, ditolak, direndahkan, dihina, maka “kebencian terhadap hidup” tak terhindarkan. Ia benci orang-orang yang selalu merendahkan dan menghinanya, orang-orang yang selalu membuat ia gagal, kecewa, dan putus asa. Kebencian terhadap hidup pasti disebabkan oleh banyak kegagalan dan yang didapatkan adalah “menjaring angin”, semuanya menjadi sia-sia. Sudah berusaha, tapi kegagalan yang didapatkan.
Kelima, 2:26, Karena kepada orang yang dikenan-Nya Ia mengaruniakan hikmat, pengetahuan dan kesukaan, tetapi orang berdosa ditugaskan-Nya untuk menghimpun dan menimbun sesuatu yang kemudian harus diberikannya kepada orang yang dikenan Allah. Inipun kesia-siaan dan usaha menjaring angin. Allah memberikan hadiah khusus bagi mereka yang dikenan-Nya: hikmat, pengetahuan, dan kesukaan. Ini adalah bagian yang luar biasa diterima oleh mereka yang dikenan Allah. Di sisi lain, Allah menugaskan orang berdosa untuk menghimpun dan menimbun sesuatu yang kemudian harus diberikannya kepada orang yang dikenan Allah. Bagi dia, ini kesia-siaan dan usaha menjaring angin. Allah merancang kehidupan orang yang dikenan-Nya dan mewujudkannya dengan gemilang. Bukankah ini hadiah yang luar biasa dari Dia?
Keenam, 4:4, Dan aku melihat bahwa segala jerih payah dan segala kecakapan dalam pekerjaan adalah iri hati seseorang terhadap yang lain. Inipun kesia-siaan dan usaha menjaring angin. Iri hati adalah salah satu fakta dari usaha menjaring angin. Tak ada gunanya iri hati itu. Malahan hanya memperkeruh raut wajah, hati, dan pikiran. Mereka yang berjerih payah mendapatkan hasilnya, janganlah kita iri hati terhadapnya. Mereka yang mempergunakan segala kecakapannya dalam bekerja, dan mendapatkan hasil yang memuaskan, janganlah kita iri hati kepadanya. Itu tidak akan memberikan apa-apa kepada kita, malahan kita menghasilkan usaha menjaring angin. Semuanya akan menjadi sia-sia, tak berguna, tak bermanfaat.
Ketujuh, 4:6, Segenggam ketenangan lebih baik dari pada dua genggam jerih payah dan usaha menjaring angin. Ketenangan memang perlu. Dan itu menjadikan kita bahagia, tak mengurusi hal-hal yang bukan urusan kita, tidak memfitnah yang lain, tidak menyebarkan omongan yang tidak penting, tidak mempedulikan bibir dolak-dalik (bibir karlota), dan segala bentuk perilaku negatif lainnya.
Kedelapan, 4:16, Tiada habis-habisnya rakyat yang dipimpinnya, namun orang yang datang kemudian tidak menyukai dia. Oleh sebab itu, inipun kesia-siaan dan usaha menjaring angin. Dalam hal kepemimpinan, Pengkhotbah memberikan analogi sebagai berikut: “Lebih baik seorang muda miskin tetapi berhikmat dari pada seorang raja tua tetapi bodoh, yang tak mau diberi peringatan lagi. Karena dari penjara orang muda itu keluar untuk menjadi raja, biarpun ia dilahirkan miskin semasa pemerintahan orang yang tua itu. Aku melihat semua orang yang hidup di bawah matahari berjalan bersama-sama dengan orang muda tadi, yang akan menjadi pengganti raja itu (Pengkhotbah 4:13-15).
Tampaknya, analogi ini mengunggulkan peran hikmat dalam diri seseorang. Raja yang bodoh tidak mau diberi peringatan, sedangkan orang muda miskin yang berhikmat menerima segala sesuatu yang baik, yang bermanfaat dan berpengaruh di masa depan. Raja yang bodoh seringkali merasa tersinggung ketika ada pesaingnya, selalu bertindak ceroboh, bahkan melampaui batas-batas etika, hukum, dan kemanusiaan. Raja yang bodoh telah menjaring angin, sia-sialah segala perbuatannya yang bodoh itu, karena ia kemudian tidak disukai. Jika kita hendak disukai orang, miliki hikmat. Meski tetap terbuka perilaku ketidaksukaan dari mereka yang membenci kita.
Kesembilan, 5:15, Inipun kemalangan yang menyedihkan. Sebagaimana ia datang, demikianpun ia akan pergi. Dan apakah keuntungan orang tadi yang telah berlelah-lelah menjaring angin? Pengkhotbah mencatat bahwa: “Ada kemalangan yang menyedihkan kulihat di bawah matahari: kekayaan yang disimpan oleh pemiliknya menjadi kecelakaannya sendiri. Dan kekayaan itu binasa oleh kemalangan, sehingga tak ada suatupun padanya untuk anaknya. Sebagaimana ia keluar dari kandungan ibunya, demikian juga ia akan pergi, telanjang seperti ketika ia datang, dan tak diperolehnya dari jerih payahnya suatupun yang dapat dibawa dalam tangannya” (5:12-14). Memang malang, bahwa kekayaan yang diusahakan oleh pemiliknya menjadi kecelakaan baginya. Ada peristiwa tertentu yang menyentak kehidupan kita, bahwa apa yang kita miliki, dapat hilang sekejap, karena “kemalangan”. Ia telah menjaring angin.
Pengkhotbah menilai bahwa ini adalah kemalangan yang menyedihkan. Malah sepanjang umurnya ia berada dalam kegelapan dan kesedihan, mengalami banyak kesusahan, penderitaan dan kekesalan (5:16). Begitulah kehidupan. Kita diperhadapkan dengan situasi-situasi yang sulit, bahkan menguras emosi: kesusahan, penderitaan, dan kekesalan, adalah fenomena yang benar-benar membuat kita tertekan bahkan putus asa. Ini adalah usaha menjaring angin. Yang dapat kita lakukan adalah senantiasa bersyukur; ada sesuatu yang indah yang disiapkan Tuhan bagi kita yang dikenan-Nya.

Kesepuluh, 6:9, Lebih baik melihat saja dari pada menuruti nafsu. Inipun kesia-siaan dan usaha menjaring angin. Keinginan hati manusia sulit terpuaskan. Pengkhotbah mencatat: “Segala jerih payah manusia adalah untuk mulutnya, namun keinginannya tidak terpuaskan” (6:7). Bukankah ini adalah usaha menjaring angin?
Ketika seseorang merasa tidak puas, karena tidak ada perbedaan antara orang yang berhikmat dari pada orang yang bodoh, atau orang miskin yang tahu berperilaku di hadapan orang. Yang terbaik adalah “melihat saja dari pada menuruti nafsu” untuk memiliki apa pun yang disukai hati. Kita tidak dapat mengadopsi semua hal dalam hidup. Yang kita miliki, syukuri, yang dapat kita upayakan untuk kehidupan yang lebih baik dan yang berkenan kepada Allah, dikerjakan dan diusahakan dengan penuh kerja keras dan integritas. Ketika kita menginginkan dengan hawa nafsu segala sesuatu yang tidak semestinya, itu adalah kesia-siaan dan usaha menjaring angin.
Pengkhotbah menyimpulkan: “Dan sudah diketahui siapa manusia, yaitu bahwa ia tidak dapat mengadakan perkara dengan yang lebih kuat dari padanya.” Artinya, manusia itu terbatas, tangannya tidak sanggup menggenggam dunia ini. Tepatlah apa yang dikatakan Yesus:
“Barangsiapa mempertahankan nyawanya, ia akan kehilangan nyawanya, dan barangsiapa kehilangan nyawanya karena Aku, ia akan memperolehnya” (Matius 10:39). “Karena barangsiapa mau menyelamatkan nyawanya, ia akan kehilangan nyawanya; tetapi barangsiapa kehilangan nyawanya karena Aku, ia akan memperolehnya. Apa gunanya seorang memperoleh seluruh dunia tetapi kehilangan nyawanya? Dan apakah yang dapat diberikannya sebagai ganti nyawanya?” (Matius 16:25-26; bdk. Markus 8:35-36; Lukas 9:24; Lukas 17:33; Yohanes 12:25).
Menjaring angin adalah sebuah frasa yang mungkin tidak kita sukai. Tetapi faktanya memang demikian. Kita telah berjuang sedemikian rupa, tapi tanpa hasil. Itulah makna menjaring anging. Frasa ini menyimpan makna filosofis yang mendalam tentang upaya manusia untuk meraih hal-hal yang tampaknya tak tergapai.
Menjaring angin bukan hanya tentang tindakan fisik, tetapi juga tentang metafora untuk upaya manusia dalam berbagai aspek kehidupannya. Meskipun menjaring angin bisa dilihat sebagai usaha yang sia-sia, ada nilai dalam proses berusaha itu sendiri. Ketekunan dalam menghadapi tantangan dan kegagalan adalah bagian dari empirikal manusia. Dalam pendidikan, karier, atau hubungan personal, kita sering kali menghadapi situasi di mana hasil tidak pasti. Filosofi menjaring angin mengingatkan kita bahwa meskipun usaha mungkin tidak selalu membuahkan hasil yang diinginkan, proses dan pembelajaran dari usaha tersebut tetap bermakna dan bernilai tinggi.
Menerima bahwa ada hal-hal yang di luar kendali kita adalah bagian dari kebijaksanaan hidup yang Tuhan berikan kepada kita. Menjaring angin mengajarkan kita untuk membedakan antara usaha yang produktif bagi diri dan kehidupan dengan usaha yang sia-sia. Kebijaksanaan terletak pada mengetahui kapan harus terus berusaha dan kapan harus berhenti sebelum menjaring angin.
Filsafat menjaring angin menawarkan pandangan yang kaya tentang usaha, ketidakpastian, dan makna dalam kehidupan manusia. Menjaring angin bukan hanya tentang mencapai hasil, tetapi juga tentang perjalanan dan pemahaman yang lebih dalam tentang diri kita dan dunia di sekitar kita. Meskipun menjaring angin secara harfiah adalah hal yang mustahil, upaya untuk mencapainya memberikan banyak manfaat. Di sini kita dapat mencermati apa yang seharusnya kita lakukan ketika mengetahui bahwa ada bahaya untuk menjaring angin dari semua yang kita lakukan dan usahakan. Mental kita harus kuat, siap menghadapi tantangan yang berat, menengadah ke langit untuk menyapa Sang Khalik. Mungkin kita gagal, ragu, dan terbatas, tetapi Dia akan memampukan kita untuk dapat meraih impian yang benar, yang berkenan kepada-Nya.
Menjaring angin merupakan metafora yang kuat tentang upaya manusia untuk mencapai hal-hal yang tampaknya tak tergapai. Upaya ini, meskipun penuh tantangan, dapat memberikan banyak manfaat dan membantu kita untuk lebih memahami diri sendiri dan makna hidup. Kita terpanggil untuk membenahi diri dan terus berusaha dalam menggapai impian yang benar yang berguna bagi kehidupan dan relasi yang baik. Perjalanan hidup dan prosesnya harus kita hadapi dengan rasa syukur. Dari kehidupan ini, kita belajar memahami dan belajar bersyukur atas apa yang Tuhan berikan kepada kita.
Salam Bae….

































