KURVA TEOLOGI: Bagaimana Menyatukan Fragmen

Pada ruang [berpikir] teologi, setiap orang merasa tertarik mencetuskan – jika bukan karena menawarkan doktrin resmi Gereja lokalnya – ide-ide teologi yang di dalamnya mencakup beberapa fragmen, seperti: ide sosio-ekonomi, ide doktrin mayor dan minor, ide dendam sejarah, ide konstruksi sosio-politik, ide tentang identitas internal, ide sentimen denominasi, dan ide hermeneutik-selektif, hingga pada akhirnya, semua itu menjadi suatu “kurva teologi”, entah kurva yang menunjukkan atau menggambarkan perkembangan di mana hal itu dipengaruhi oleh suatu konteks atau keadaan.

Sementara itu, hampir semua orang yang tertarik dengan ide teologi untuk menawarkan “iman denominasionalnya” kepada publik dengan ramuan tertentu – sebagai sebuah hidangan yang dapat disantap oleh siapa saja yang tertarik menyantapnya. Kenyataannya, kita terbentur dengan “konteks dulu” dan “konteks kini”. Soal bagaimana kita membaca dan menyatukan dua kurva tersebut, itu menjadi catatan penting, karena sejatinya guratan-guratan pena logika akan membuat hidangan teologi menjadi menarik, berkilau, jika tidak dikatakan sebagai racun yang membius orang-orang tak menempuh sekolah teologi.

Berteologi itu sikap, sedangkan isi teologi adalah iman dan pemahaman kita. Berteologi bisa dilakukan “tanpa celana” – artinya kita dengan leluasa menyampaikan aspirasi, racikan teologi, cetusan pemikiran dan perenungan, atau lebih memamerkan identitas akademik ketimbang kekuatan narasi teologi yang solid dan komprehensif. Menyampaikan isi teologi haruslah bercelana karena kita membungkus “kelamin teologi kita” – sebagai identitas dan harga diri yang patut dijaga dan dilestarikan”, karena setiap mazhab atau denominasi wajib hukumnya untuk mempertaruhkan pena logikanya untuk menyatakan kepiawaiannya dalam berselancar di atas ombak zaman.

Luapan-luapan emosi dalam berteologi adalah wajar tatkala kita hendak memiliki ide orisinal atau ide warisan teologi masa lampau. Kita pun wajib menyatakan semuanya dalam konteks berteologi sebagai sikap kedewasaan. Namun, sejatinya, isi teologi akan menjadi senjata pamungkas sebagai bentuk apologetika ataupun sebagai senjata perlawanan terhadap serangan musuh.

Kurva teologi yang selama ini dibangun dan diciptakan perlu disatukan fragmen-fragmennya. Tawaran berteologi dan isi teologi tetap menjadi “wajah denominasi” agar khalayak tahu bahwa kita sedang beranjak dari satu titik ke titik yang lain, sehingga menjadi suatu kurva. Fragmen mayor-minor dari isi teologi denominasi kita perlu disuarakan sejauh yang dapat disuarakan – secara masiv, konstruktif, dan dinamis.

Misi kontekstual pun membutuhkan sikap berteologi dan isi teologi. Namun, pada akhirnya, benturan-benturan doktrinal minor-mayor antar denominasi harus segera diselesaikan secara “narasi historikal-komprehensif”. Kedewasaan dalam berteologi hanya membutuhkan konsistensi menjaga “kelamin teologi kita sendiri” dan merawatnya – bukan supaya kelamin teologi itu menjadi besar, melainkan supaya tetap pada posisinya, tanpa ragi, tanpa aksi tipu-tipu, dan tanpa negosiasi yang menghasilkan konspirasi.

Kita sedang membentuk KURVA TEOLOGI. Kurva itu sendiri terdiri atas fragmen-fragmen teologi minor-mayor. Tugas kita adalah bagaiman menyatukan fragmen-fragmen tersebut. Penyatuan membutuhkan semangat alkitabiah dan imaniah.

Gelombang-gelombang pemikiran kita seyogianya membuat perahu-perahu kaum awam menjadi nyaman dan santai saat menikmati dan melewati gelombang-gelombang tersebut, bukan membuat perahu-perahu itu bocor dan kemudian menenggelamkan mereka.

Campuran pemikiran teologi dengan asumsi yang tak berdasar seringkali membuat jembatan relasi menjadi rusak. Bahkan campuran pemikiran teologi yang dianggap berbasis “biblika” pun bukanlah sesuatu yang kita banggakan sejauh hal itu masih membutuhkan pendalaman dan pemahaman yang komprehensif.

Kesadaran berteologi sangatlah dibutuhkan di zaman ini. Akan tetapi kesadaran tersebut tidak cukup. Diperlukan keberanian mewartakan “isi teologi” yang adalah “kelamin teologi kita sendiri” sebagai prestise (harga diri); itulah yang menjadikan kita dihargai dan dihormati.

Pada akhirnya, kurva teologi adalah proses keberimanan kita yang akan menavigasikan harapan, relasi, dan kepedulian kita kepada sesama. Kita perlu menyatukan fragmen-fragmennya dan membentuk suatu kehidupan yang layak di hadapan Tuhan agar kita menjadi berkat, menjadi saksi, dan menjadi pelaku-pelaku firman, kini, besok, dan seterusnya. Selamat berteologi dan menyampaikan isi teologi yang solid dan komprehensif.

Salam Bae…..

ANUGERAH TUHAN BAGI KITA

pathway between trees

Kita telah menapaki hari pertama di tahun 2022. Kita hidup dan bergerak di hari pertama, itu adalah anugerah Tuhan. Kita yang telah menaburkan kebaikan di akhir tahun 2021 kiranya akan dilanjutkan di hari pertama 2022, dan seterusnya. Sementara itu mereka yang menyeka mulutnya setelah menikmati dosa di akhir tahun 2021 dan awal tahun 2022, merasa bahwa hidup itu nikmat dan menganggap segala dosa yang dilakukannya tidak terlihat oleh Sang Khalik. Tak mengapa dianggap demikian, akan tetapi, tinggal menunggu waktu saja, bencana dan hukuman akan hinggap menampar para pelaku dosa.

Dosa mengabaikan anugerah Allah, dan menghancurkan diri. Kita perlu menyadari bahwa anugerah itu sangatlah berharga, di atas segalanya. Jalan hidup yang kita tempuh perlu dibarengi dengan hati yang bersyukur atas segala kebaikan Tuhan.

Segala sesuatu yang Allah kerjakan mendatangkan kebaikan bagi kita yang mengasihi Dia. Tahun 2022 adalah anugerah dari Tuhan. Hadirkanlah segala kemurahan di dalam hati kita. Jangan biarkan dosa merajai hati dan hidup kita; jangan biarkan dosa dipelihara dan disimpan sebagai kekasih gelap. Tuhan tidak menghendaki demikian, malahan Ia membenci hal itu.

empty concrete road covered surrounded by tall tress with sun rays

Yang Tuhan kehendaki adalah kita hidup bagi Dia, melayani dan berkarya dengan sebaik mungkin. Ia memberkati orang-orang yang bekerja keras, jujur, dan hidup dalam kebenaran-Nya. Tapak-tapak hidup haruslah meninggalkan warisan berharga. Dengan perkataan lain, kita meninggalkan teladan yang baik.

Adakah kita berpikir demikian? Semoga! Harapan yang dapat kita raih tentu didahului dengan kebenaran yang kita ikuti. Yesus Kristus adalah kebenaran kita. Ia datang ke dunia supaya kita dapat mengenal Allah lebih dekat, kita dapat mengimani bahwa apa yang dikatakan-Nya adalah benar, kita mengakui Dia, sebagai Tuhan dan Juruselamat yang Ajaib, dan pada akhirnya, kita menyembah Dia.

Tahun 2022 dapat kiranya berkat bagi kita, baik dalam pelayanan, keluarga, pekerjaan, dan lainnya. Kita melakukan itu semua karena diberikan kesempatan oleh Tuhan untuk bekerja, menjadi berkat. Hari ini kita mendapat kesempatan untuk memikirkan apa saja yang akan kita lakukan di hari esok, dan seterusnya. Kita pun tahu bahwa perjuangan untuk mewujudkan harapan tidaklah mudah. Tantangan demi tantangan harus siap kita hadapi.

forest with yellow sunlight

Pergolakan dan permulan bisa menjadi bagian hidup kita. Yang terpenting adalah kita tetap mengakui dan mengandalkan Tuhan dalam segala hal. Kekuatiran dapat saja menghantui kita, tetapi seperti Rasul Petrus tegaskan: “Serahkanlah segala kekuatiranmu kepada-Nya, sebab Ia yang memelihara kamu” (1 Petrus 5:7). ada jaminan dari Tuhan. Jika demikian, kekuatiran janganlah mengecilkan iman kita, mengecilkan usaha dan kerja keras kita.

Pencapaian hidup tergantung dari bagaimana kita bersikap dan memutuskannya. Keputusan-keputusan penting sangat menentukan sejauh mana kita bergerak dan mencapai harapan di masa depan. Ketika kita meyakini bahwa Tuhan menjamin hidup kita, apalagi yang kita ragukan dan cemaskan? Apalagi yang harus kita takutkan? Ia bersama kita, Ia adalah “Imanuel”.

eagle-eye view photography of brown pathway

Kebaikan demi kebaikan kita rasakan, dan Tuhan masih tetap menyertai kita. Hidup yang kita jalani tak pernah sepi dari kebaikan dan kasih-Nya. Kasih dan kebaikan-Nya tak terukur dan tak terbatas. Rasul Paulus menulis: “Aku berdoa supaya kamu bersama-sama dengan segala orang kudus dapat memahami, betapa lebarnya dan panjangnya dan tingginya dan dalamnya kasih Kristus” (Efesus 3:18).

Marilah kita berkomitmen di hadapan Tuhan untuk berkarya dan melayani Dia. Segala kelebihan, talenta, dan karunia, kita persembahkan hanya untuk Dia saja. Jangan menjadi sombong dengan apa yang kita miliki. Kita tahu, waktu mati, kita tak membawanya, kecuali perbuatan-perbuatan baik kita (bdk. Wahyu 14:13).

Tuhan mengasihi kita. Ia menghendaki agar kita dapat menikmati kasih dan kebaikan-Nya di sepanjang tahun ini. Sebagai balasannya, kita harus menyenangkan hati-Nya, memuliakan nama-Nya di sepanjang hidup kita. Anugerah-Nya melimpah dan berkat-Nya tercurah bagi mereka yang setia dan mengasihi-Nya.

pathway between of brown leafed trees

Acapkali kita tergiur dengan kemewahan, keindahan, dan kenikmatan “dunia”. acapkali kita melupakan segala kebaikan yang diberikan orang lain kepada kita hanya karena kita telah mendapatkan sesuatu. Kenikmatan dunia membahayakan hidup kita. Berapa banyak yang telah disesatkannya? Berapa banyak yang berdosa dibuatnya, dan dibunuhnya? Sampai di sini saya teringat dengan pesan Rasul Yohanes, yang berbunyi demikian:

“Janganlah kamu mengasihi dunia dan apa yang ada di dalamnya. Jikalau orang mengasihi dunia, maka kasih akan Bapa tidak ada di dalam orang itu. Sebab semua yang ada di dalam dunia, yaitu keinginan daging dan keinginan mata serta keangkuhan hidup, bukanlah berasal dari Bapa, melainkan dari dunia. Dan dunia ini sedang lenyap dengan keinginannya, tetapi orang yang melakukan kehendak Allah tetap hidup selama-lamanya” (1 Yohanes 2:15-17).

Mengasihi Tuhan berarti membenci segala dosa yang disediakan dunia seperti yang dinyatakan oleh Rasul Yohanes (keinginan daging, keinginan mata, dan keangkuhan hidup). “Janganlah kiranya kasih dan setia meninggalkan engkau! Kalungkanlah itu pada lehermu, dan tuliskanlah itu pada loh hatimu” (Amsal 3:3). Pernyataan penulis Amsal tersebut mengindikasikan bahwa kasih dan setia akan menjaga setiap orang yang percaya kepada Allah dari berbagai dosa-dosa. Tidak hanya itu, mereka akan mendapatkan kasih dan penghargaan dalam pandangan Allah serta manusia (Amsal 3:4).

forest trail surrounded by trees

Kepada kita telah tersedia jalan-jalan. Kita memilih dan menentukan jalan mana yang harus kita lalui. Jika kuatir tak dapat memilih jalan yang terbaik, serahkanlah pada Tuhan. Ketika kita ragu akan pilihan itu, mintalah hikmat dari Tuhan agar kita dapat memilih jalan yang terbaik. “Manusia dapat menimbang-nimbang dalam hati, tetapi jawaban lidah berasal dari pada TUHAN” (Amsal 16:1), “Segala jalan orang adalah bersih menurut pandangannya sendiri, tetapi TUHANlah yang menguji hati” (Amsal 16:2).

Jangan bertindak sendiri: “Percayalah kepada TUHAN dengan segenap hatimu, dan janganlah bersandar kepada pengertianmu sendiri” (Amsal 3:5). Ingat pula: “Serahkanlah perbuatanmu kepada TUHAN, maka terlaksanalah segala rencanamu” (Amsal 16:3), sebab “hati manusia memikir-mikirkan jalannya, tetapi TUHANlah yang menentukan arah langkahnya” (Amsal 16:9).

black concrete road surrounded by trees during daytime

Hanya Tuhan yang dapat memampukan kita memilih yang terbaik, dan bersama Tuhan pula kita dapat melakukan perkara-perkara yang besar yang tak pernah kita duga sebelumnya. Semoga di tahun 2022 banyak hal yang Tuhan nyatakan kepada kita, untuk kebaikan kita, untuk pertumbuhan iman kita.

Ingatlah: Jangan melupakan Tuhan dalam segala hal. “Akuilah Dia dalam segala lakumu, maka Ia akan meluruskan jalanmu” (Amsal 3:6).

SELAMAT TAHUN BARU 2022. TUHAN YESUS MEMBERKATI KITA SEMUA

Salam Bae….

Sumber gambar:

  1. https://unsplash.com/photos/3Kv48NS4WUU
  2. https://unsplash.com/photos/74TufExdP3Y
  3. https://unsplash.com/photos/OCXR3-aU4Ss

MELIHAT MATAHARI

“Waktu” adalah bagian terpenting dalam kehidupan manusia. Menjalani kehidupan di dunia ini tentu ada dalam lintasan waktu; kita telah menikmati “waktu” itu dengan berbagai latar belakang dan alasan.

photo of a body of water and sunrise

Frasa “melihat matahari” menandakan sebuah kehidupan yang masih dijalani setiap orang. Melihat matahari identik dengan sebuah kondisi di mana manusia masih menikmati kehidupan meski terdapat liku-liku, problem, perjuangan, suka-duka, gumul, kesedihan, kekecewaan, tangisan, dan kehancuran. Meski demikian, segala sesuatu yang datang pada kita (yang dialami, dirasakan, dinikmati) tak menghilangkan semangat untuk hidup dan berjuang untuk mempertahankannya. Dibutuhkan hikmat untuk bagaimana menjalani kehidupan ini.

white leaf plants covered with tall trees

Pengkhotbah 7:11 menyatakan, “Hikmat adalah sama baiknya dengan warisan dan merupakan suatu keuntungan bagi orang-orang yang melihat matahari.” Ketika seseorang memiliki warisan tetapi tidak memiliki hikmat atau tidak berhikmat untuk mengelolanya (menikmatinya), maka warisan itu menjadi sesuatu yang terbuang percuma. Orang-orang yang “melihat matahari” harus dengan penuh hikmat menjalani kehidupannya.

Mungkin apa yang telah kita perbuat di sepanjang hidup merupakan serangkaian perbuatan yang berhikmat. Jika demikian, pertahankanlah, kembangkanlah, dan bagikanlah kepada yang lain. Jika apa yang telah diperbuat kurang berhikmat, perbaikilah, dan mintalah hikmat kepada Sang Hikmat, agar kehidupan menjadi lebih baik, bermanfaat, dan menjadi berkat bagi sesama.

photography of sun glaring through the hole of finger

Kepada kita diberikan kesempatan yang sama, waktu dan hidup yang sama, meski apa yang kita miliki berbeda. Tetapi sekalipun berbeda, hikmatlah yang menjadikan kita bersyukur atas semuanya itu. Yesus pernah berkata: “Apa gunanya seorang memperoleh seluruh dunia tetapi kehilangan nyawanya? Dan apakah yang dapat diberikannya sebagai ganti nyawanya?” (Matius 16:26; bdk. Markus 8:36)

Hikmat sangat dibutuhkan. Bahkan Pengkhotbah menempatkan hikmat sama baiknya dengan warisan. Apa yang kita wariskan dalam hidup kita? Menurut saya, “hikmat”. Hikmat seperti apa yang diwariskan? Hikmat yang dipakai untuk menikmati, menjalani, menjaga, mempertahankan, mengembangkan, mempertanggung jawabkan kehidupan yang Tuhan berikan. Hidup sudah diberi. Tinggal bagaimana kita memaknainya sebagai sebuah anugerah dan kemurahan Tuhan.

Kita telah menerima banyak hal dari Tuhan. Rencana demi rencana mungkin telah kita pikirkan untuk direalisasikan. Lalu, bagaimana kita mencapainya dan mewujudkannya? Sekali lagi: hikmat Tuhanlah yang akan menjadi penuntun, pengarah, bagaimana kita mencapai dan mewujudkan rencana-rencana itu.

clouds and sun during sunset

Pemaknaan atas hidup merupakan tanggung jawab dan kesadaran setiap orang yang masih hidup. Kita semua punya tanggung jawab atas hidup yang dijalani. Soal bagaimana nantinya bentuk kehidupan kita, dan apa yang dihasilkan, bergantung pada tanggung jawab kita masing-masing. Kita semua memiliki kesadaran atas hidup ini. Soal bagaimana nantinya kita jalani dan mempertahankannya, bergantung pada kesadaran.

Antara tanggung jawab dan kesadaran diri terhadap relasi yang sangat koheren, tak bisa dipisahkan. Menjalani hari demi hari adalah tanggung jawab dan kesadaran kita. Kita yang masih “MELIHAT MATAHARI” pasti memiliki tanggung jawab dan kesadaran.

Ada sederet tanggung jawab yang harus dikerjakan dan penuhi. Kesadaran akan tanggung jawab ini mendorong kita semua untuk berhati-hati dan berhikmat dalam melakukannya. Ketika kita memiliki hikmat—kata Pengkhotbah—itu adalah suatu keuntungan, ya, keuntungan bagi kita yang masih “MELIHAT MATAHARI.”

five birds flying on the sea

Dalam terang doktrin Kristen, Yesus Kristus menempatkan umat-Nya dalam dua situasi yaitu situasi sekarang, di dunia, dan situasi kemudian, di dalam Kerajaan-Nya. Sebagai orang Kristen, kita dituntut untuk hidup bagi Kristus dan tinggal di dalam firman-Nya.

Ada banyak tantangan dan hambatan; tak jarang caci maki dan intimidasi, di samping ancaman dan teriakan “kafir” dari mereka yang merasa suci. Dengan modal secuil dan fragmentaris, mereka suka menghakimi menurut kebodohan mereka tentang iman Kristen padahal itu adalah “kebodohan yang dipelihara” dan “kebodohan yang memuaskan kebodohan mereka”—sebuah PARALOGISME yang nyata.

Orang Kristen perlu dan harus menjalani hidup dengan penuh hikmat yang Tuhan berikan. Ia akan berhadapan dengan berbagai tantangan baik dari dalam maupun dari luar. Orang Kristen yang masih “MELIHAT MATAHARI” memiliki tanggung jawab dan kesadaran iman.

sunset over the horizon

Hari-hari yang baru perlu menjadi lahan di mana iman itu ditaburkan dalam damai sejahtera. Inilah tanggung jawab kita yang ‘melihat matahari’. Di bawah matahari kita menabur iman dan menegaskan bahwa Tuhan Yesus begitu mengasihi orang-orang berdosa dan menebusnya. Ia telah menyerahkan nyawa-Nya bagi umat-Nya (Yoh. 10:11; bdk. Mat. 1:21).

Mengikut Yesus bukan tanpa risiko. Pengikut-Nya akan dibenci oleh dunia karena dunia terlebih dahulu membenci Yesus. Bahkan, ada ancaman yang berat yaitu “kematian”. Meski demikian, sebagaimana telah saya jelaskan di atas bahwa Yesus Kristus menempatkan umat-Nya dalam dua situasi yaitu situasi sekarang, di dunia, dan situasi kemudian, di dalam Kerajaan-Nya. Pada situasi sekarang, di dunia, orang-orang percaya akan mengalami hambatan, tantangan, cacian, bahkan kematian. Mengenai hal ini, Yesus telah memperingatkan sekaligus memberikan jaminan dan penguatan penghiburan:

mountain range under golden hour

“Karena barangsiapa mau menyelamatkan nyawanya, ia akan kehilangan nyawanya; tetapi barangsiapa kehilangan nyawanya karena Aku, ia akan menyelamatkannya” (Lukas 9:24)

“Barangsiapa berusaha memelihara nyawanya, ia akan kehilangan nyawanya, dan barangsiapa kehilangan nyawanya, ia akan menyelamatkannya” (Lukas 17:33)

“Barangsiapa mencintai nyawanya, ia akan kehilangan nyawanya, tetapi barangsiapa tidak mencintai nyawanya di dunia ini, ia akan memeliharanya untuk hidup yang kekal” (Yohanes 12:25)

“Karena siapa yang mau menyelamatkan nyawanya, ia akan kehilangan nyawanya; tetapi barangsiapa kehilangan nyawanya karena Aku dan karena Injil, ia akan menyelamatkannya” (Markus 8:35)

view of mountain being shine with sunlight

“Barangsiapa mempertahankan nyawanya, ia akan kehilangan nyawanya, dan barangsiapa kehilangan nyawanya karena Aku, ia akan memperolehnya” (Matius 10:39)

“Karena barangsiapa mau menyelamatkan nyawanya, ia akan kehilangan nyawanya; tetapi barangsiapa kehilangan nyawanya karena Aku, ia akan memperolehnya” (Matius 16:25)

Semua pengikut Yesus Kristus yang masih ‘MELIHAT MATAHARI’ memiliki tanggung jawab kesadaran untuk bersaksi bagi-Nya meskipun ada ancaman yang akan dihadapi. Meskipun demikian, dari teks-teks di atas, tampak bahwa Yesus tidak meninggalkan dan membiarkan kita berjuang sendiri tanpa hasil, melainkan justru Dia memberikan jaminan kehidupan kekal bagi mereka yang setia kepada-Nya.

mountain pass during sunrise

Tuhan telah memberikan “waktu” yang cukup bagi kita untuk menyatakan kasih, kemurahan, dan pengampunan Tuhan bagi mereka yang membenci kita. Melihat matahari berarti kita berada dalam “lintasan waktu” yang Tuhan buat, yang dengannya kita menjalani semua kondisi hidup.

Keyakinan akan kuasa dan kasih Tuhan tentu tidak akan mengecilkan tanggung jawab dan kesadaran kita untuk menjadi saksi-Nya. Hidup kita ada dalam tangan Tuhan; Ia memberikan jaminan yang luar biasa. Perjuangan melawan ketidakbenaran, kepalsuan dan kebohongan adalah tugas kita di sepanjang waktu, di sepanjang tahun-tahun hidup kita.

Hikmat adalah bagian kita untuk menjalani hidup. Tak lupa, di dalam hikmat terkandung tanggung jawab dan kesadaran iman yang seyogianya diwujudkan dalam kehidupan nyata. Orang-orang yang “melihat matahari” harus dengan penuh hikmat menjalani kehidupan ini, dan itu adalah “kita.” Hikmat Tuhanlah yang akan menjadi penuntun, pengarah, bagaimana kita mencapai dan mewujudkan setiap rencana.

sun over the sea during sunset

Jadilah orang-orang yang kuat dalam iman kepada Kristus Yesus dan menjadi pewarta Injil-Nya, menjadi saksi yang setia. Itulah hikmat yang menghasilkan tanggung jawab dan kesadaran iman. Ketika kita mendapati diri kita “MELIHAT MATAHARI” hingga saat ini, maka hal itu dipandang sebagai sebuah ANUGERAH dan KEMURAHAN Tuhan yang besar yang menuntut kita bertanggung jawab, menyadari betapa kasih-Nya serta kuasa-Nya telah membawa kehidupan kita menjadi seperti sekarang ini.

Salam Bae…..

Sumber gambar:

  1. https://unsplash.com/photos/xP_AGmeEa6s
  2. https://unsplash.com/s/photos/sun
  3. https://unsplash.com/photos/UweNcthlmDc
  4. https://unsplash.com/photos/A4iL43vunlY
  5. https://unsplash.com/photos/o-zOatT4kQw

TAK BERKESUDAHAN KASIH SETIA TUHAN

Tak berkesudahan kasih setia TUHAN, tak habis-habisnya rahmat-Nya, selalu baru tiap pagi; besar kesetiaan-Mu! “TUHAN adalah bagianku,” kata jiwaku, oleh sebab itu aku berharap kepada-Nya. TUHAN adalah baik bagi orang yang berharap kepada-Nya, bagi jiwa yang mencari Dia. (Ratapan 3:22-25)

“Selamat Tinggal Tahun Baru 2021 dan Selamat Datang Tahun Baru 2022”

Mungkin ada yang mengira bahwa saya keliru menulis kalimat di atas. Mungkin saya dianggap keliru ketika menulis frasa “SELAMAT TINGGAL TAHUN BARU 2021”. Mengapa tidak disebutkan “Selamat Tinggal Tahun yang Lama 2021?” Jika dipahami secara logis, mengatakan atau menyebutkan “Selamat Tinggal Tahun yang Lama 2021” adalah “KELIRU”. Mengapa? Sebab tahun 2021 tidak pernah disebutkan sebagai tahun yang lama karena sejatinya 2021 adalah tahun baru.

Mungkin pembaca ingat ketika memasuki tahun 2021, pasti Anda mengatakan “SELAMAT TAHUN BARU 2021” bukan? Yang ada itu “Tahun Baru” dan bukan “Tanggal Baru”. Jika 2021 disebut dengan Tahun Baru, maka mulai tanggal 1 Januari sampai 31 Desember 2021 adalah jumlah keseluruhan dalam satu tahun yang baru.

Mungkin orang mengira bahwa yang disebut tahun baru adalah hanya pada tanggal “1 JANUARI 2018” saja. Tetapi itu keliru. Justru di sepanjang tahun 2021, semuanya masuk dalam kategori tahun yang baru. Demikianlah sedikit celoteh dari saya.

Tulisan singkat ini hendak mengajar kita bahwa “kasih setia Tuhan itu selalu baru tiap pagi”—sebagaimana yang diungkapkan oleh penulis kitab Ratapan: “Tak  berkesudahan kasih setia TUHAN, tak habis-habis rahmat-Nya, selalu baru tiap pagi; besar kesetiaan-Mu!” (Rat. 3:22-23). Tahun-tahun hidup yang kita lalui dan jalani bahkan nikmati merupakan kasih karunia Tuhan yang luar biasa.

Perjalanan yang kita tempuh di tahun 2021 berakhir di tanggal 31 Desember 2021. Akan tetapi, kasih setia Tuhan tak akan berakhir di tanggal tersebut. Kita tetap merasakan dan menikmati kebahagiaan yang Tuhan berikan ketika kita setia dan tetap pada jalan yang Ia kehendaki.

Menetapkan langkah kita pada jalur (jalan) kehendak Tuhan tidak akan terpengaruh dengan tahun-tahun yang kita lewati (tahun demi tahun). Malahan kasih setia Tuhan dan rahmat-Nya selalu baru tiap pagi. Mereka yang dekat dan setia kepada Tuhan tentu tahu apa makna dari kasih setia Tuhan karena mereka telah merasakannya.

Kesadaran akan kehidupan sebagai anugerah Tuhan, mendorong kita untuk bersikap, berpikir, dan berkata selaras dengan kehendak-Nya. Tak ada tempat dalam hidup orang percaya untuk menyimpan dendam, amarah, iri hati, dengki, kebencian, dan kejahatan, karena hidup dan hati kita telah diubahkan Tuhan agar dapat menyimpan segala sesuatu yang baik menurut kehendak-Nya.

firework display during night time

Pertanyaannya: apakah di sepanjang tahun baru 2021 kita lebih sibuk mengurusi kehidupan orang lain ataukah mengurusi diri kita sendiri? Apakah kita lebih banyak mengurusi hal-hal yang penting atau sebaliknya, mengurusi hal-hal yang tidak penting? Apakah kita telah banyak menyenangkan orang lain atau menyenangkan diri sendiri secara egoistis? Apakah kita telah menyatakan kebaikan kepada orang-orang terdekat kita (Opa, Oma, Papa, Mama, Kakak, Adik, Om, Tante, dan lainnya) ataukah kita justru mengabaikan mereka? Apakah kita telah bersikap melayani Tuhan dengan sepatutnya ataukah kita melayani diri kita sendiri sebagai bentuk kesombongan diri?

Kesadaran untuk bersikap, haruslah tetap dipertahankan jika itu mencerminkan sikap yang selaras dengan firman-Nya. Sikap itu harus menjadi kekuatan identitas kita meskipun tantangan dan hambatan kadang datang menghambatnya atau mungkin ingin membuat kita melepaskannya. Peganglah apa yang baik dan lakukanlah dalam terang firman-Nya.

Kesadaran untuk berpikir tentang hal-hal yang mendatangkan kebahagiaan, sukacita, berkat, dan kepuasan, haruslah ditandai dengan bagaimana kita memikirkan bahwa tanpa Tuhan kita dapat tersesat dalam merumuskan berbagai pemikiran. Mungkin kita mendapatkan segala sesuatu yang kita inginkan, tetapi ketika itu dipakai untuk memuaskan hawa nafsu kita, ego kita, maka Tuhan disingkirkan dengan sendirinya.

Kita tidak boleh melupakan bahwa memikirkan bagaimana selama hidup kita harus menyenangkan dan memuliakan Tuhan, akan berdampak pada totalitas sikap, perilaku, dan perkataan kita. Apa yang pernah kita pikirkan dan terealisasi di tahun 2021, patut disyukuri. Tetaplah berdoa dan berharap kepada Tuhan agar di tahun 2022 semua harapan dan karya kita dapat terealisasi dengan sempurna, nama Tuhan dipuji dan dimuliakan.

text

Kesadaran untuk berkata, haruslah mencerminkan identitas kita. Orang dapat menilai kita dari sikap dan perkataan. Keduanya adalah “terang identitas” yang dapat dilihat secara nyata. Apa yang pernah kita katakan dalam bentuk janji, semoga itu dapat ditepati. Jika di tahun 2021 belum ditepati, Tuhan masih memberikan kelanjutan di tahun 2022.

Hendaklah perkataan-perkataan kita sifatnya menguatkan, membangun, menghibur, mencerahkan, dan memberi pengertian terutama tentang personalitas Tuhan dan karya-karya-Nya bagi kita. Ingatlah nasihat Rasul Paulus: “Janganlah ada perkataan kotor keluar dari mulutmu, tetapi pakailah perkataan yang baik untuk ‘membangun’, di mana perlu, supaya mereka yang mendengarnya, beroleh kasih karunia” (Efesus 4:29).

Kita harus meyakini dan mensyukuri bahwa “kasih setia Tuhan itu selalu baru tiap pagi”. Jangan ragu mengharapkan kasih setia Tuhan. Tetap berdoa dan bersandar pada-Nya; meski gumul dan kemeleut hidup begitu mengganggu, yakinlah bahwa Tuhan Yesus akan menguatkan dan menghibur kita senantiasa.

Ingatlah: “Tak berkesudahan kasih setia TUHAN, tak habis-habis rahmat-Nya”. Jika “tak habis-habis rahmat-Nya” mengapa kita masih ragu akan rahmat-Nya? Rahmat-Nya tersedia bagi kita. Mintalah, maka akan diberikan kepadamu. Tuhan mengasihi kita. Kasih-Nya tetap sama, tak berubah bagi mereka yang berharap pada-Nya.

Apa yang tetap kita pertahankan di tahun 2022 sebagai warisan dari tahun 2021? Saya menyuguhkan nasihat Rasul Paulus dalam dua suratnya yaitu surat kepada Jemaat di Efesus dan surat kepada Jemaat di Kolose:

“Tetapi hendaklah kamu ramah seorang terhadap yang lain, penuh kasih mesra dan saling mengampuni, sebagaimana Allah di dalam Kristus telah mengampuni kamu” (Efesus 4:32).

“Karena itu, sebagai orang-orang pilihan Allah yang dikuduskan dan dikasihi-Nya, kenakanlah belas kasihan, kemurahan, kerendah-hatian, kelemahlembutan dan kesabaran. Sabarlah kamu seorang terhadap yang lain, dan ampunilah seorang akan yang lain apabilah seorang menaruh dendam terhadap yang lain, sama seperti Tuhan telah mengampuni kamu, kamu perbuat jugalah demikian” (Kolose 3:12-13).

Segala yang baik harus kita pegang dan menjadi terang bagi hidup kita, di mana orang-orang melihat segala perbuatan kita yang baik itu dan memuliakan Bapa di surga. Sungguh besar kesetiaan Tuhan. Hari demi hari, tahun demi tahun, Ia tetap setia menjaga dan memberkati kita. Jika kita harus senantiasa berkata: “TUHAN adalah bagianku”. Dengan demikian, kita senantiasa berharap kepada-Nya. TUHAN adalah baik bagi orang yang berharap kepada-Nya, bagi jiwa yang mencari Dia. Bukanlah ini adalah ungkapan yang memberikan sukacita bagi kita? Bukanlah sangat membahagiakan ketika kita diberikan jaminan dari Tuhan bahwa Ia akan senantiasa mencurahkan kebaikan dan kemurahan-Nya pada kita yang selalu berharap pada-Nya, berharap akan kasih setia-Nya?

Semoga kasih setia Tuhan – yang tak berkesudahan itu – dan rahmat-Nya menyertai dan membentuk diri dan identitas kita menjadi seperti apa yang dikehendaki-Nya: menjadi manusia baru yang hidup dalam kekudusan, kasih, dan pengampunan.

SELAMAT TAHUN BARU. SOLI DEO GLORIA

Salam Bae…..

DI BAWAH SAYAP-NYA KITA DATANG BERLINDUNG: Refleksi Singkat Rut 2:1-12

bird in flight

Pendahuluan

Pengakuan iman kita adalah bahwa “Tuhan senantiasa melindungi dan memberikan kekuatan dalam menjalani dan menghadapi kehidupan ini”. Pengakuan itu pula memberi kita sebuah harapan bahwa ada Tuhan yang menyertai, menopang, dan menolong kita dalam segala situasi, baik suka maupun duka, dalam tekanan ataupun dalam pergumulan yang berat sekalipun. Hal inilah yang kita lihat dalam kisah Rut berikut ini.

Klausa “di bawah sayap-Nya engkau datang berlindung” adalah pernyataan iman Boas kepada Rut, orang Moab, yang mengalami pergumulan hidup yang berat, di mana suaminya, Mahlon (4:10), mati di tanah Moab, dan kemudian Rut dengan keyakinannya mengikuti Naomi meski ia disuruh kembali kepada orangtuanya oleh Naomi, ketika Naomi telah menjadi janda dan kedua putranya meninggal tanpa ahli waris. Proses kehidupan Rut memang menyedihkan, tetapi tak sesedih Naomi. Meski demikian, Naomi mengakui akan keteguhan Rut untuk mengikutinya ke mana pun Naomi pergi.

Pilihan Rut untuk mengikuti mertuanya (Naomi) adalah keputusan yang berani; meski mungkin Rut akan lebih nyaman bersama orangtuanya di tanah Moab, bahkan dapat menikmati kehidupan yang lebih bahagia, tetapi Rut memilih untuk menghargai dan mengormati mertuanya yang sudah tua. Ketegaran Naomilah yang menjadikan mengapa Rut begitu yakin mengikuti Naomi (suaminya mati, dua anaknya juga mati, tanpa ahli waris). Belajar dari orang yang begitu tegar dan sabar menghadapi kehidupan, menjadikan karakter dan komitmen Rut sangat kuat, tak tergoyahkan. Tidak hanya karakternya, moralitas Rut juga sangat baik (2:11; 3:11).

Konteks

Naomi memutuskan untuk kembali ke negeri asalnya, Betlehem, dan Rut bertekad mengikutinya. Oleh karena itu, Rut berganti kebangsaan dan ia meninggalkan semua ilahnya, lalu memutuskan hanya menyembah Tuhan (bdk. 1:16). Rut berkeputusan teguh untuk tidak meninggalkan Naomi kemana pun ia pergi.

Rut pergi ke ladang pada musim menuiai untuk memungut bulir-bulir jelai (mungkin semacam gandum; sejenis ercis [tumbuhan kacang-kacangan]) yang tercecer di ladang Boas, orang kaya kerabat (keluarga) Elimelekh. Boas memperhatikan Rut dan melindunginya, sebagai penghargaan atas kesetiannya kepada Naomi. Boas adalah pribadi yang peduli kepada para pekerjanya (para penyabit) (2:4). Kepedulian Boas juga terlihat kepada perhatiannya kepada Rut (2:5-9). Boas mengetahui identitas Rut, kemungkinan besar dari Naomi (bdk. 2:11) yaitu: “segala sesuatu yang dilakukan Rut kepada mertuanya sesudah suaminya mati, kerelaan dan komitmen Rut untuk orangtuanya dari tanah kelahirannya dan pergi kepada bangsa yang dulunya tidak ia kenal.”

Boas kemudian berucap: “TUHAN kiranya membalas perbuatanmu itu; kepadamu dikaruniakan upahmu sepenuhnya oleh TUHAN.” Boas menilai bahwa Rut tidak salah mempercayai TUHANnya Naomi. Menurut Boas, “di bawah sayap-Nya Rut datang berlindung.” Penilaian ini sangat benar karena kehidupan yang dijalani Rut yang mana Rut belajar banyak hal dari Naomi; kehidupan Naomi begitu menyedihkan (suaminya, Elimelekh mati saat berada di Moab; kira-kira sepuluh tahun kemudian, anak-anak Naomi: Mahlon dan Kilyon, juga mati); dan meski dalam kondisi demikian, TUHAN tetap memelihara dan melindungi Naomi, dan Rut melihat proses kehidupan Naomi.

Memang, Rut telah memilih jalan yang terbaik, meski kesempatan untuk berbahagia sangat terbuka lebar ketika ia berada bersama Naomi di tanah Moab; mungkin Rut lebih baik mengikuti iparnya, Orpa, yang kembali ke tempat asalnya atas perintah Naomi, namun Rut memiliki keyakinan bahwa bersama Naomi ia akan bahagia dan belajar banyak dari pengalaman Naomi. Benarlah apa yang dikatakan Boas, “di bawah sayap-Nya engkau datang berlindung”. Sayap adalah lambang pemeliharaan dan perlindungan yang diberikan Tuhan kepada mereka yang datang kepada-Nya.

selective focus photography of bald eagle

Cerita selanjutnya (pasal 3 dan 4), atas petunjuk Naomi, Rut menjumpai Boas di tempat pengirikan pada malam hari. Ia memohon supaya Boas bertindak sebagai penebus. Menjelang pagi Boas menyuruh Rut kembali kepada Naomi dengan dibekali 6 takar jelai. Boas berjanji, bahwa jika penebus yang paling dekat tidak bersedia menikahi Rut menurut hukum perkawinan levirat, maka ia sendiri akan menikahi Rut (bdk. Im. 25:47-49). Dengan 10 orang tua-tua kota sebagai saksi, Boas mengimbau sanak Naomi untuk menebus tanah milik Elimelekh, yang tidak boleh terjual kepada orang lain yang bukan anggota keluarga mereka (bdk. Im. 25:23). Kepada himbauan ini ditambahkannya kewajiban menikahi Rut sesuai perkawinan Levirat (Rut 4:5). Karena tidak dapat memenuhi tuntutan tersebut, maka sanak itu menyerahkan haknya kepada Boas. Boas akhirnya menikah dengan Rut, dan melahirkan Obed, yang kemudian menjadi kakek Daud.

Korelasi dengan Konteks Kita

Kalau atas penilaian Boas bahwa “di bawah sayap-Nya Rut datang berlindung”, maka kita juga harus menilai diri kita sendiri—sebagai orang percaya bahwa hanya ““di bawah sayap-Nya kita datang berlindung”; kita datang kepada Allah untuk mendapatkan “pemeliharaan” dan “perlindungan”. Datang kepada Tuhan adalah pilihan terbaik dari semua yang terbaik. Ini pilihan iman yang melihat ke masa depan bahwa Tuhan tak akan meninggalkan kita. Sama seperti Rut yang meyakini bahwa bersama Naomi, ia akan aman karena ia yakin pula bahwa TUHAN yang dipercayai Naomi adalah TUHAN yang hebat, peduli, Pemelihara dan Pelindung.

Ungkapan teologinya adalah: Tuhan membimbing setiap orang, yang percaya kepada-Nya (Rut. 2:12). Ketika percaya, tak ada alasan untuk tidak datang kepada Tuhan. Datang kepada Tuhan tidak dihalangi oleh batu yang besar yang menutup pintu rumah maupun pintu hati kita; tidak pula dihalangi oleh lautan yang luas; datang kepada Tuhan membutuhkan kerelaan dan kesadaran diri bahwa Tuhan dapat dijumpai di setiap detik, setiap waktu, setiap hari, dan bahkan di setiap nafas kita. Adakah yang melarang kita berjumpa dengan Tuhan di segala tempat? Hati yang keras menjadi penghalang untuk datang kepada Tuhan.

Klausa “di bawah sayap-Nya kita datang berlindung” seyogianya menjadi prinsip dan komitmen iman kita bersama; Tuhan tetap menunggu kita untuk datang berseru kepada-Nya.

Sebagaimana dikatakan di bagian lain di Kitab Suci, bahwa “carilah TUHAN, carilah wajah-Nya selalu; carilah TUHAN, maka kamu akan hidup; carilah TUHAN selama Ia berkenan ditemui dan berserulah kepada-Nya selama Ia dekat” (1 Taw. 16:11; Mzm. 105:4; Am. 5:4, 6; Yes. 55:6).

selective focus photography of bird flapping wings

“Mencari TUHAN” telah dilakukan Rut selama proses hidupnya bersama suaminya, dan mertuanya, bertahun-tahun. Rut telah belajar dari ketegaran dan kerohanian Naomi; ia tahu bahwa ia tidak salah mengikuti Naomi. Kita pun dapat belajar dari Naomi dan Rut, belajar dari kejujuran dan ketulusan Boas, sebab dari merekalah, kita mengetahui ketegaran mengikut TUHAN (Naomi), keyakinan memilih TUHAN (Rut), kerelaan meninggalkan orangtua dan tanah kelahiran (Rut), kesadaran diri atas proses hidup yang dijalani (Naomi), kejujuran dan ketulusan memperlakukan orang lain (Boas), kepedulian terhadap orang lain (Boas), dan objektif dalam menilai orang lain (Boas).

Dengan demikian, bersama Naomi, Rut, dan Boas, kita mengaku bahwa “di bawah sayap-Nya kita datang berlindung”. Keyakinan ini sekaligus menjadi percakapan kita setiap hari, menjadi kesaksian kita bagi orang lain, menjadi doa dan harapan kita setiap waktu. Niscaya Tuhan akan melindungi dan memelihara setiap kita yang dengan penuh kasih datang berserah kepada-Nya.

Salam Bae…..

Sumber gambar: https://unsplash.com/s/photos/wings

DIAMPUNI AGAR DIUTUS: Refleksi Yesaya 6:8

man in black jacket lying on floor

Klausa “ini aku, utuslah aku” adalah sebuah jawaban Nabi Yesaya terhadap pertanyaan Tuhan kepadanya. Panggilan Tuhan dan pengutusan Yesaya memperlihatkan kondisi sosial yang tidak baik. Ia memperjuangkan keadilan sosial seperti Mikha, rekan sezamannya. Pembunuhan, pemberontakan, penyogokan, ketidak-adilan, pemberontakan, persundalan sebagainya, melanda Yerusalem (pasal 1 dan 2). Dalam kondisi yang tidak sesuai dengan yang Tuhan harapkan, “penyuara kebenaran” atau “penyambung lidah Allah” dimunculkan oleh Tuhan sendiri untuk membendung dan menasihati raja dan rakyatnya agar hidup sesuai dengan kehendak Tuhan dan menjalankan hukum dengan baik serta menjaga tataran moralitas dan keadilan sosial.

Tuhan memanggil Yesaya untuk menyuarakan kehendak-Nya. Dalam situasi ini, Yesaya menyadari bahwa dirinya adalah najis bibir (6:5), tinggal di tengah bangsa yang najis bibir. Namun, Tuhan memperkenankan Yesaya untuk menyuarakan kebenaran melalui bibir mulutnya. Melalui seorang Serafim (Malaikat) Tuhan menghapus kesalahan dan mengampuni dosa Yesaya dengan cara bara disentuhkan pada mulut Yesaya (6:6-7). Pasca peristiwa tersebut, Tuhan kemudian bertanya: “Siapakah  yang akan Kuutus, dan siapakah yang mau pergi untuk Aku?” Pertanyaan ini dijawab oleh Yesaya: “Ini aku, utuslah aku.” Yesaya diutus pasca diampuni dosanya dan dihapus pelanggarannya.

Apa yang dapat kita maknai dan terapkan dalam kehidupan kita? Apakah kita juga dipanggil menjadi penyuara kebenaran Allah, pembawa kabar baik dan kabar buruk dari Tuhan kepada sesama kita? Nabi dalam PL tidak melulu menyampaikan kabar baik, tetapi juga kabar buruk tentang penghukuman Tuhan kepada mereka yang tidak setia, berubah setia, hidup dalam dosa, hidup dalam kenajisan, dan hidup dalam keserakahan, kesombongan, dan kemunafikan.

Yesaya telah dihapus pelanggaran dan diampuni dosanya karena tugas Yesaya adalah menyuarakan kebenaran dan penghukuman Tuhan bagi mereka yang tidak setia kepada Tuhan. Yesaya diampuni dan kemudian dia diutus Tuhan. Sedangkan kita, telah dihapus pelanggaran dan diampuni dosa-dosa kita oleh Yesus Kristus. Darah-Nya telah menyucikan dan menguduskan kita sehingga kita menjadi duta kebenaran. Peran Nabi Yesaya adalah peran kita. Memang zaman berbeda, tetapi situasi dan kondisi yang terjadi di zaman Yesaya dapat terjadi di zaman kita.

man kneeling down near shore

Apakah di zaman kita tidak terjadi keadilan sosial? Secara fakta terjadi. Apakah di zaman kita tidak terjadi pembunuhan? Apakah di zaman kita tidak terjadi pemberontakan? Apakah di zaman kita tidak terjadi penyogokan? Apakah di zaman kita tidak terjadi ketidak-adilan, pemberontakan, perzinaan dan persundalan ? Secara fakta pernah dan sering terjadi. Bahkan para pendeta pun bisa membunuh; membunuh sesama pendeta karena hawa nafsu. Bukankah kita hidup dalam zaman yang seperti ini? Lalu apa tugas kita?

Seperti yang dilakukan Yesaya yaitu berani diutus Tuhan untuk menghadapi zaman dan kondisi yang di dalamnya manusia melakukan berbagai kejahatan yang bertolak belakang dengan apa yang dikehendaki Tuhan. Kita pun mendapat peran dan tugas yang sama. Jika kita telah ditebus Yesus, mengapa kita masih menolak atau berlambat-lambat atau bahka acuh tak acuh untuk menyatakan kebenaran?

Tugas kita adalah: pertama, menyadari panggilan kita di mana? Tuhan tidak salah menempatkan kita, tetapi kitalah yang sering salah memahami cara kerja Tuhan. Itu berarti, di mana pun kita berada, kitalah menjadi garam dan terang dunia, kitalah menjadi pembawa kabar baik dan kabar buruk (menegur segala kejahatan dan penyimpangan terhadap kehendak Allah); kedua, pergi memberitakan Injil di mana pun dan kapan pun. Totalitas hidup kita adalah bersaksi bagi Tuhan dan hidup bagi Tuhan; ketiga, menjaga pola kehidupan kita agar tetap selaras dengan kehendak Tuhan. Tantangan, cobaan, dan godaan memang selalu ada dan akan kita hadapi, tetapi kita yang telah berkomitmen di hadapan Tuhan harus tetap menjaga moralitas dan spiritualitas agar tetap selaras dengan Firman Tuhan.

person holding book walking

Akhirnya, kehidupan yang kita jalani bukanlah kehidupan yang dapat kita atur sedemikian rupa secara bebas. Kita tahu bahwa Tuhan menetapkan langkah-langkah orang yang hidupnya berkenan kepada-Nya. Memang kita dapat menjalani kehidupan ini dengan mengatur dan mengarahkannya sesuai dengan firman-Nya tetapi ingatlah, janganlah mengandalkan kekuatan dan kemampuan kita sendiri tetapi andalkanlah Tuhan senantiasa, sebab dengan mengandalkan Tuhan, secara langsung kita hidup bagi Dia dan melakukan apa yang dikehendaki-Nya termasuk menyampaikan Injil bagi semua orang dan menjadi “penyuara kebenaran” atau “penyambung lidah Allah”.

stand of trees photo

Sudahkah kita menjadi “penyuara kebenaran” atau “penyambung lidah Allah”? Atau maukah kita diutus karena kita sudah diampuni? Kiranya Tuhan memampukan kita untuk menjadi “penyuara kebenaran” atau “penyambung lidah Allah” dan hidup bagi Tuhan sepanjang hayat kita.

Amin.

Salam Bae

Sumber gambar:

  1. https://unsplash.com/s/photos/surrender
  2. https://unsplash.com/collections/4425175/surrender
  3. https://unsplash.com/collections/3176205/never-surrender-journal

CINTA AKAN UANG LUPA SEGALANYA: Catatan Singkat Pengkhotbah 5:7-19

Pendahuluan

Menjalani kehidupan di dunia dapat ditempuh dengan banyak cara. Artinya, pikiran kita dapat mengontrol seberapa jauh tendensi emosional kita untuk menentukan mana yang harus kita pilih dan mana yang tidak harus kita pilih. Pilihan-pilihan tersebut didasari pada sikap kita dalam menilai apa yang “ada” dalam dunia ini.

Dari sini kita akan melihat dampak-dampak dari pilihan tersebut untuk menentukan, apakah seseorang itu memiliki spiritual yang baik dengan Tuhan, ataukah dia hidup biasa-biasa saja, apakah ia hidup seolah-olah mati segan hidup tak mau, ataukah ia meluapkan kesombongan diri, berpesta pora, semaunya bertindak tanpa pertimbangan yang matang, merasa hidup aman-aman saja, meskipun berbuat dosa dan tahu bahwa itu adalah dosa, toh Tuhan tidak menghukum dan marah, ataukah seseorang merasa bahwa dengan apa yang ia miliki itu telah cukup membuat dirinya senang dan bahagia, bahkan hidup sejahtera, badan sehat, keluarga kaya raya, sehingga tidak perlu lagi menyembah Tuhan, pergi ke Gereja, pelayanan dan sebagainya.

person holding white and red plastic pack

Semua pilihan hidup manusia menentukan akan menjadi seperti “apa” dia nantinya. Seringkali, kekayaan, atau dalam bentuk normatifnya adalah “uang” menyeret manusia ke dalam berbagai-bagai kejahatan, dosa perzinaan, dosa pembunuhan, dosa kemunafikan, kebencian, perseteruan dan sebagainya. Uang bisa membuat orang bahagia dan berkhayal setinggi pohon kelapa, tetapi uang juga dapat membuat orang mati bunuh diri, gantung diri, minum baygon, minum racun serangga, atau melompat dari gedung lantai 5, 6, dan seterusnya. Uang bisa “mengatur” segala sesuatu. Uang bisa membayar pemerintah, kepolisian, hakim, jaksa, pengacara, penjahat, pendeta, majelis, ustadz, rabi, biksu, presiden, camat, bupati, gubernur, pejabat pemerintahan dan sebagainya. Semuanya dapat dimungkinkan dengan uang.

Bahkan yang lebih parah lagi, perempuan-perempuan rela memberikan dirinya menjadi objek seks tak terkendali hanya karena uang. Gereja bisa dijual karena pendeta butuh uang. Jemaat dijual karena pendeta butuh uang. Istri dijual atau ditukar, hanya karena suami butuh uang. Para penari telanjang di bar-bar, rela menari telanjang putar-putar di besi sampai terpeleset, semua demi uang. Para pelacur yang mangkal di pinggir jalan, merayu para lelaki hidung belang, semua karena uang. Seorang pendeta bisa menjadi brutal bahkan main perempuan, semuanya karena ia butuh uang dan banyak uang. Uang bisa memungkinkan kebaikan dan kejahatan terjadi. Maka, berhati-hatilah dengan uang.

Teks Pengkhotbah 5:7–19 menarik. Setidaknya, jika ditinjau dari perspektif sekarang, dengan berbagai perkembangan teknologi dan informasi, uang mendapat peringkat paling atas dalam menerapkan dan menikmati teknologi itu sendiri.

Deskripsi Konteks

Bacaan kita terdiri dari tiga bagian: Pertama, berbicara soal rakyat dan pemerintah. Kedua, kondisi manusia yang cinta uang, dan ketiga, Allah adalah Sang Pemberi kekayaan.  Jika melihat konteks di pasal 5 ini, ada beberapa hal penting yang mendahului bacaan kita yakni: Perkataan dan pekerjaan (ay. 1 dan 2).

Perkataan dan pekerjaan [perbuatan] adalah dua hal paling sering dilakukan manusia. Berkata dan bekerja tentu dapat menghasilkan uang. Pendeta “harus berbicara” di depan jemaat baru dia mendapat upah. Kalo pendeta diam saja, ia tidak mendapat upah. Lain halnya dengan petani. Petani “harus bekerja dengan kaki dan tangannya”, bukan dengan mulutnya, sebab mulut tidak memegang cangkul, melainkan tangannya. Tangan harus bergerak dan bekerja untuk menggemburkan tanah. Maka, petani tidak memusatkan pada ucapan tetapi pada tindakan.

Seorang guru atau dosen, juga harus berbicara. Sebab kalau dia diam, sebaiknya diusir saja dari kelas. Tidak usah masuk. Seorang penyanyi harus berbicara sedangkan pemain keyboard harus bergerak memainkan jari jemarinya untuk menghasilkan bunyi yang mantap dan bagus. Maka, dalam konteks ini, perkataan dan tindakan akan menjadi dasar mengapa manusia benar dalam melakukan dan salah dalam melakukan.

DESKRIPSI MAKNA TEKS

Seperti yang saya katakan di awal bahwa bacaan kita terdiri dari tiga bagian. Dengan demikian, saya akan menjelaskan setiap bagian tersebut yang dapat dijadikan pedoman, prinsip hidup, petunjuk hidup baru dan hal-hal penting lainnya.

Bagian pertama, berbicara soal rakyat dan pemerintah.

Ayat 7 menggambarkan sebuah refleksi. Ini menarik. Salomo mengatakan bahwa “jika engkau melihat ketidakadilan, penindasan, serta pemerkosaan keadilan, kalian tidak perlu heran sebab gejala-gejala tersebut sebenarnya “merefleksikan kondisi pemerintahan yang ada di daerah tersebut.

Ayat 7 ini juga menegaskan bahwa meskipun dalam keadaan demikian, adalah keuntungan jika rajanya dihormati. Artinya, jika raja dihormati, maka ada kemungkinan untuk dapat “membereskan semua penyimpangan yang dilakukan oleh bawahannya. Orang yang dihormati berarti disegani. Orang disegani berarti orang itu bisa didengarkan dan dipatuhi. Maka, amanlah rakyatnya jika memiliki raja yang dihormati. Jika raja tidak dihormati, maka habislah rakyat.

Dari kondisi di atas yakni penindasan, pemerkosaan keadilan, hukum diperkosa, semuanya dilakukan oleh manusia hanya untuk “uang”. Banyak ketidakadilan muncul karena orang-orang mau dibayar untuk menyelewengkan kebenaran. Banyak diskriminasi terjadi karena oknum-oknum yang melakukannya telah dibayar atau karena ia ditawarkan dengan uang dalam jumlah banyak. Kejahatan dapat menjadi benar jika dibayar dengan uang. Penipuan dan kepalsuan dapat menjadi benar jika uang yang berbicara. Itulah kondisi hidup kita sekarang ini. Siapa yang lebih besar membayar kepada oknum-oknum tertentu, maka kepalsuan, kebejatan, kenajisan, tipu muslihat, kebrutalan, bisa menjadi benar di mata publik jika uang telah diturunkan dari tahtanya. Hal ini akan membawa kita kepada pembahasan yang kedua.

Bagian kedua, kondisi manusia yang cinta uang.

Salomo menegaskan bahwa: ‘SIAPA YANG MENCINTAI UANG TIDAK AKAN PUAS DENGAN UANG, DAN SIAPA MENCINTAI KEKAYAAN TIDAK AKAN PUAS DENGAN KEKAYAAN.’ Pada faktanya, “orang yang mencintai uang lebih dari segalanya, biasanya ia lupa segalanya”. Uang seringkali membutakan mata rohani manusia. Uang bisa membuat orang menjadi baik sekaligus juga bisa menjadi jahat. Uang itu netral, tetapi para penggunanya yang bisa menentukan mau jadi apa ia nantinya ketika punya uang.

Uang bisa membuat orang disegani, sekaligus dibenci. Uang dan kekayaan bisa membuat orang banyak sahabat sekaligus banyak musuh. Kita melihat apa yang dipaparkan Salomo berkaitan dengan ‘dampak’ dari uang dan kekayaan.

Ayat 10. Dengan bertambahnya harta, bertambah pula orang-orang yang menghabiskannya; sang pemilik harta, diberikan keuntungan yakni ‘melihat’ harta terpakai. Entah ia bahagia atau kecewa tergantung sikapnya dalam mengelola hartanya. Orang yang kaya yang makan kenyang seringkali tidak bisa tidur enak. Mungkin alasannya adalah karena ia memikirkan kekayaannya yang banyak itu. Analoginya adalah: enak tidurnya orang yang bekerja, yang makan sedikit atau pun banyak;

Ayat 12-13. Ada juga kemalangan bagi orang kaya yakni kekayaannya menjadi kecelakaannya sendiri. Ini bisa berarti bahwa orang kaya yang terlalu menyandarkan dirinya pada uang dan ia dapat saja membeli dan membayar manusia dengan uangnya (atau hartanya), tetapi kemudian orang-orang yang telah dibayarnya berbalik menyerang dia, sehingga berdampak pada kemalangannya dan anaknya tidak mendapat bagian dari kekayaannya itu;

Ayat 14. Kondisi manusia, baik kaya maupun miskin, sama-sama tidak membawa apa-apa ke dalam kuburan (kematiannya). Ia telanjang keluar dari rahim dan ia akan pergi (mati), telanjang seperti ketika ia lahir. Tak satu pun dari apa yang diperolehnya di dunia akan dibawa ketika ia mati. Ini tanda awas bagi kita semua. Janganlah terlalu menyandarkan diri pada kekayaan sampai lupa berdoa. Mau tidur hanya bermain HP, lupa berdoa. Mau mandi bawa HP, mau berak bawa HP, dan sebagainya;

Ayat 15-16, menegaskan bahwa jika demikian, apakah keuntungan bagi manusia yang telah berlelah-lelah, berjerih lelah mencari kekayaan, tetapi pada saat kematian, tak satu pun yang dapat dibawanya? Ini menyedihkan dan sangat malang. Padahal, dalam mencari uang dan kekayaan ia telah merasakan kegelapan, kelaparan, kesusahaan, penderitaan, dan kekesalan. Proses hidup begitu keras dan bahkan kejam untuk mendapatkan uang dan kekayaan. Atau bahkan dengan cara-cara yang kejam dan jahat, orang-orang lebih suka untuk mendapatkan uang dan kekayaan tersebut.

Ketiga, Allah adalah Sang Pemberi kekayaan.

Salomo menegaskan hal penting dari unsur-unsur yang dialami manusia pada umumnya, termasuk mendapatkan uang dan kekayaan dengan cara-cara yang layak dan baik. Bagi Salomo, hal yang baik adalah kalau orang dapat makan dan minum dalam usaha dan jerih payahnya dalam hidupnya yang singkat yang dikaruniakan Allah adalah bagiannya.

Makan, minum, menikmati kesenangan adalah pemberian Allah (3:13);

Kekayaan, harta benda, kuasa untuk menikmatinya, menikmati jerih payahnya, adalah karunia Allah (ay. 18);

(ay. 19). Seringkali manusia tatkala menikmati kekayaan yang diberikan Allah, ia lupa umur hidupnya. Artinya, kepuasan dalam menikmati kekayaan yang diberikan Allah tidak membuat manusia tertekan karena ia akan mati, melainkan Tuhan memberikan kebahagiaan dari apa yang manusia miliki berkat kerja keras dan berjerih lelah. Tuhan itu Adil.

Jika kita tidak mendasarkan pemahaman kita akan kekayaan bahwa hal itu adalah karunia Allah, kita akan terjebak dalam dosa “CINTA AKAN UANG” yang berakibat kita LUPA SEGALANYA. Dengan uang, kita bisa lupa menghormati orangtua, menghormati Tuhan, menghormati sesama kita, menghormati pendeta, dosen, majelis, dan sebagainya. Cinta akan uang membuat kita lupa segalanya. Untuk memburu uang, aturan-aturan moral seringkali dilanggar. Perhatikan pasal 6 ayat 7: SEGALA JERIH PAYAH MANUSIA ADALAH UNTUK MULUTNYA, NAMUN KEINGINANYA TIDAK TERPUASKAN.

Semua yang kita miliki di dunia ini adalah pemberian Allah. Kita harus tahu menggunakan semua kekayaan yang Tuhan berikan. Jangan disalahgunakan. Gunakanlah dengan hikmat dan bijaksana agar kita tidak terjebak dalam dosa kekayaan dan menghambur-hamburkan uang dan kekayaan untuk memuaskan hawa nafsu kita.

SIGNIFIKANSI APLIKASI

Periksalah hidup dan motivasi kita, apakah kita mendapatkan sesuatu karena kita sendiri ataukah karena pertolongan dan karunia Tuhan. Jika kita mengira dan menyangka bahwa apa yang kita dapatkan dalam hidup ini bukan karena Tuhan, maka orientasi hidup tertuju kepada pemuasan hidup yang berlebihan, menghina Tuhan, hidup semaunya, hidup seenaknya, hidup tanpa memperhatikan batasan-batasan moral, hidup sebebas-bebasnya tanpa peduli dengan doa dan ibadah, tanpa perlu ke Gereja dan memuji Tuhan, mendengarkan khotbah.

Uang dapat menolong kita dalam segala kesusahan; tetapi uang juga dapat menjerumuskan kita ke dalam berbagai-bagai duka, berbagai perbuatan dosa, berbagai kesenangan semu yang berpotensi menghancurkan hidup kita. Uang dapat “membeli” kebohongan untuk tujuan menindas kebenaran, tetapi Tuhan tidak tinggal diam. Ia bertindak, mengembalikan kebenaran pada tempatnya, dan kebohongan akan menjadi olok-olokkan dan dihancurkan. Para pelakunya akan dipermalukan.

Mungkin ada yang berkata: “Kami bahagia tanpa Tuhan; kami kaya dan banyak uang tanpa Tuhan; kami sehat sentosa tanpa Tuhan; kami selalu berhasil dalam hidup; kami pesta pora, pesta seks, pesta narkoba, tapi tidak ada hukuman; kami mabuk-mabukan, merokok sebanyak mungkin, kami bebas membawa perempuan di hotel dan kost-kost-an, tapi aman-aman saja. Tuhan tidak menghukum kami; kami suka menipu orangtua, kami tidak perlu ke Gereja karena membosankan.” Silakan berkata sesuka hati dan merasakan kebahagiaan tanpa Tuhan. Tetapi tunggu saja. Jika saatnya tiba Tuhan mengambil nyawa Anda, maka habislah Anda. Uang tidak dapat membeli nafas hidup ketika Tuhan turun tangan. Tamak uang, pasti tamak nafsu, dan hal itu mencelakakan. Bertobatlah.

Cinta akan uang lupa segalanya. Janganlah mencintai uang dan kekayaan. Cintailah Tuhan dengan sepenuh hati. Meskipun hidup apa adanya, tetapi yakinlah Tuhan tetap mengasihi. Jangan mengukur hidup dengan materi, tetapi ukurlah hidup dengan spiritualitas dan relasimu dengan Tuhan. Itu sangat indah. Ingatlah, Allah adalah Sang Pemberi kekayaan.

Ia kiranya memberkati, menyertai, dan menopang kita.

Salam Bae….

Sumber gambar: https://unsplash.com/s/photos/uang

BERMEGAH DI DALAM TUHAN: Refleksi Singkat 1 Korintus 1:18-31

  1. Salib hanya dapat dipahami dan oleh mereka yang disentuh hatinya oleh Roh Kudus. Roh Kudus yang menggerakan manusia yang berdosa untuk bertobat dan mengakui bahwa “ia dikasihi dan diampuni” oleh Allah melalui Yesus Kristus, yang mati di kayu salib (ay. 18)
  2. Salib, meski dihina, apalagi dikatakan “ada jin kafir”, tetap tidak berubah karena hinaan itu, melainkan Allah memperlihatkan kuasa-Nya melalu penebusan dosa, yaitu kematian Yesus di salib. Faktanya, miliaran orang yang diubahkan hidupnya, hanya karena “kuasa Allah” melalui “salib”—ya, salib Yesus Kristus, sebab di sanalah Allah menyatakan kuasa penebusan, pengampunan, kasih, pembenaran, dan penyelamatan. Karena itu, patutlah kita bermegah di dalam Tuhan.
  3. Salib, meski dipandang sebagai batu sandungan oleh orang-orang Yahudi (ay. 23), dan dipandang sebagai kebodohan oleh orang-orang Yunani (non Yahudi) (ay. 23), ternyata bukanlah batu sandungan dan bukan suatu kebodohan. Dunia—ternyata—diubahkan karena “salib” itu sendiri.
  4. Salib yang dianggap sebagai suatu kebodohan (oleh orang-orang Yunani) disebabkan karena Yesus mati disalib. Jika Ia pahlawan, harusnya tidak mati. Tetapi justru itu pemikiran yang bodoh, karena ternyata “Yesus bangkit dari kematian”. Bukankah itu lebih dan sangat spektakuler? Pahlawan yang gagah perkasa dapat mati, tetapi ia tidak dapat bangkit dalam waktu tiga hari. Yesus membuktikan bahwa yang bodoh adalah orang-orang Yunani. Yesus tidak hanya bangkit, tetapi Ia menampakkan diri, naik ke sorga, dan kuasa-Nya terus menyertai orang-orang percaya di sepanjang zaman hingga akhir zaman (lihat Matius 28:20). Jika demikian, patutlah kita bermegah di dalam Tuhan.
  5. Salib, meski dianggap hina oleh dunia, justru sangat berarti. Yesus mendamaikan manusia dengan Allah. Jikalau saja dunia tidak diubahkan Kristus, pasti kejahatan akan terus memuncak. Yesus Kristus, Raja Damai itu tidak memerintahkan pengikut-Nya untuk mengangkat pedang dan menciptakan permusuhan, justru Dia menegaskan bahwa “berdoalah bagi musuhmu dan kasihilah mereka”. Bukankah ini suatu supremasi kehidupan yang sempurna?
  6. Yesus yang disalibkan itu telah membenarkan, menguduskan, dan menebus kita. Jika status kita telah diubahkan Yesus, dari manusia lama menjadi manusia baru, adakah hambatan bagi kita untuk bermegah di dalam Tuhan? Tentu tidak.
  7. Nikmatilah kasih dan pengampunan Tuhan, jalani kehidupan yang berkemenangan, sebab mereka yang bermegah di dalam Tuhan adalah orang-orang yang menyadari bahwa hidup yang dinikmati dan dijalani sekarang ini adalah karena kasih dan anugerah Allah Bapa melalui Yesus Kristus. Bermegahlah di dalam Tuhan dengan penuh sukacita, semangat, dan kasih yang tulus.

Salam Bae…..

MENJALANI HIDUP YANG MELAYANI TUHAN: Aplikasi Jukstaposisi Teks 1 Petrus 5:2-4 dengan Pelayanan, Pendidikan, Pemerintahan, dan Pembangunan

Dalam pemahaman iman Kristen, menjalani hidup memiliki dua implikasi yaitu “menjalani hidup sesuai dengan identitas” dan “menjalani hidup yang menghasilkan kontribusi”. Kedua hal tersebut akan dijelaskan berikut ini.

Pada konteks “menjalani hidup sesuai dengan identitas”, seseorang harus menyadari dirinya sendiri, apa dan bagaimana perannya dalam kehidupan yang dijalani. Identitas akan memperlihatkan kualitas perbuatan, pemikiran, dan perkataan. Ketika identitas dilupakan dan tidak disadari—lalu berbuat yang tidak seharusnya (berdasarkan identitas, misalnya seorang pelayan Gereja yang suka menipu orang lain), maka “dosa” adalah konsekuensi logisnya. Aksentuasinya jelas bahwa “identitas” menghasilkan serangkaian perbuatan, pemikiran, dan perkataan yang selaras dengan “kehendak Allah” sebagaimana yang ditegaskan Alkitab.

Identitas itu sendiri terbagi menjadi lima bagian: Pertama, identitas iman, yang mana semua orang beriman kepada Tuhan harus melayani Tuhan di hadapan manusia dan melayani manusia di hadapan Tuhan. Dua implikasi pelayanan ini sekaligus menjadi identitas mutlak yang diberikan Tuhan, suka atau tidak suka. Identitas iman merupakan kualitas percaya seseorang kepada Tuhan yang tertuang dan tampak dalam perkataan (komunikasi), pemikiran (penalaran), dan perbuatan (konatif).

Kedua, identitas humanitas (kemanusiaan). Identitas ini melihat secara utuh makna relasi humanitas dan relasi hayati (kehidupan). Setiap orang memiliki relasi internal dan eksternal yang mana konsep ini telah ditegaskan Alkitab yaitu: “hendaklah kami saling mengasihi sebagai saudara dan saling mendahului dalam memberi hormat” (Roma 12:10). Relasi humanitas tidak memandang perbedaan. Relasi itu netral pada dirinya sendiri: yang kaya dan miskin harus berelasi; masyarakat dan pemerintah harus berelasi; Gereja dan pemerintah harus berelasi. Singkatnya, semua manusia dalam berbagai ragam perbedaan suku, agama, ras, dan antargolongan, harus bereleasi dalam bingkai “humanitas” dan “hayati”. Kita tentu ingat pepatah tua yang menyatakan: “manusia adalah makhluk sosial”. Artinya, manusia tak bisa hidup tanpa (bantuan dan relasi dengan) orang lain (baik secara internal maupun eksternal).

people walking on grey concrete floor during daytime

Ketiga, identitas pekerjaan di pemerintahan. Pemerintah adalah “Wakil Allah” di dunia. Dalam pemahaman Kristen, Pemerintah memiliki tugas penting atas rakyatnya (masyarakatnya) yang selalu menerapkan kesejahteraan, keamanan, kedamaian, dan keadilan, dan hukum. Seseorang yang memiliki identitas pekerjaan di pemerintahan haruslah secara sacara mengedepankan hak-hak warga negara sebagai sebuah upaya penerapan kesejahteraan, keamanan, kedamaian, dan keadilan, dan hukum. Kesadaran identitas ini akan membuka peluang bagi pengembangan sumber daya masyarakat (SDM), potensi sumber daya alam (SDA), dan potensi sumber daya teknologi (SDT). Ketiganya dibutuhkan dan dilakukan oleh mencapai “pembangunan di segala bidang kehidupan masyarakat maupun pemerintah itu sendiri”. Pemerintah yang mengembangkan SDM, SDA, dan SDT adalah pemerintah yang benar-benar “melayani” manusia di hadapan Tuhan dan sekaligus dengan kesadaran identitasnya, pemerintah melayani Tuhan di hadapan manusia.

Pemerintah harus mengejawantahkan program kerja yang pro humanitas, ekspansi (perkembangan atau perluasan) nilai-nilai humanitas, nilai-nilai pembangunan, dan nilai-nilai pendidikan dan spiritualitas. Identitas yang disadari ini, jika diterapkan secara sehat, kredibel, dan transparan, pasti kemajuan dan kesejahteraan akan menjadi konsekuensi logisnya.

Keempat, identitas pekerjaan di dunia pendidikan. Pendidikan merupakan salah satu tiang penopang pemerintahan yang dengannya—hampir semua kebijakan—dirumuskan, ditempuh dan dipandang berdasarkan sebuah proses pendidikan. Ketika pemerintah dan Gereja mengedepankan pendidikan, baik pendidikan teoretis, praktikal, moralitas, dan spiritualitas, maka kemajuan sebuah kota atau desa sangat dirasakan. Pendidikan tidak dapat diabaikan. Antara stakeholder (pemangku kepentingan) dan pemerintah seyogianya memiliki relasi yang stabil untuk bersama-sama mengedepankan kemajuan dunia pendidikan di semua jenjangnya. Pendidikan akan menghasilkan percepatan pembangunan di segala bidang, asalkan para pelakunya memahami identitas dan secara sadar menerapkannya.

group of people walking on pedestrian lane

Kelima, identitas pekerjaan di dunia kerohanian (pelayanan). Konteks ini tentu dipahami secara demarkasi (pembatasan) dalam dunia Kristen. Artinya, konteks pelayanan Kristen, termasuk di dalamnya Gereja, Sekolah-sekolah Tinggi Teologi, dan LSM, memahami terlebih dahulu identitas, fungsi dan perannya bagi lingkungan masyarakat mikro maupun makro. Ketika ketiganya tidak memahami identitasnya, maka yang terjadi adalah penyimpangan-penyimpangan. Itu sebabanya, baik Gereja, STT, dan LSM perlu secara mendalam memahami fungsi dan perannya di masyarakat mikro maupun makro.

Berikutnya. Pada “menjalani hidup yang menghasilkan kontribusi”, merupakan sebuah panggilan hidup bahwa Tuhan telah memperkenankan kita untuk menikmati identitasnya masing-masing untuk menghasilkan [berbagai] “kontribusi”. Identitas secara implikatif haruslah menghasilkan kontribusi. Kontribusi ini dilakukan oleh personal, komunal (masyarakat), gereja, dan pemerintah. Imensitas (luasnya atau keluasan) kontribusi tergantung pada setiap jenis identitas. Gereja dan pemerintah tentu memiliki imensitas kontribusi yang terbilang sangat luas (mikro maupun makro) yang secara masiv memiliki pengaruh yang juga luar biasa.

Sebagaimana yang kemudian akan dikorelasikan dengan teks 1 Petrus 5:2-4, maka tugas seseorang—siapa pun dia dan identitasnya, akan menempuh sebuah proses di mana ia akan merawat, memelihara, dan memimpin kepada arah yang sesuai naturnya.

shallow focus photography of man in white shirt

POKOK PEMAHAMAN 1 PETRUS 5

Pertama-tama, pesan atau imbauan Rasul Petrus adalah kepada para penatua. Mereka dimohon dan didorong untuk memahami identitas dan kontribusinya bagi kawanan domba. Jabatan penatua tentu memiliki fungsi dan tanggung jawabnya. Jika demikian, maka mereka haruslah menyadari identitas spiritualitas untuk memberikan fungsinya dan menghasilkan kontribusi bagi pelayanan gerejawi.

Dalam Alkitab PB dalam terjemahan Sederhana Indonesia, (ANDI, 2014) disebutkan dengan “Menggembalakan kawanan domba dengan senang hati”—sebuah kondisi yang tanpa beban dan motivasi yang keliru dan mencari keuntungan, sebagaimana yang Rasul Petrus tegaskan bahwa “Jangan mengambil tanggung jawab untuk mencari keuntungan” (Alkitab PB dalam terjemahan Sederhana Indonesia).

Leland Ryken, James C. Wilhoit dan Tremper Longman III, dalam The Dictionary of Biblical Imagery, (1998: 255) mengaitkan kualitas gembala (yang adalah para penatua) dari tindakan-tindakan mereka untuk menggembalakan kawanan domba.

Ketidakberdayaan domba membantu untuk menjelaskan tindakan-tindakan dan kualitas-kualitas seorang gembala yang baik, yang memeliharanya. Gembala berkewajiban untuk memimpin domba dari tempat perlindungan di waktu malam menuju tempat merumput dan berair melalui jalan-jalan yang aman. Para gembala merupakan orang-orang yang menyiapkan kebutuhan, penuntun, pelindung, dan pendamping setia untuk domba-domba. Para gembala memiliki otoritas dan kepemimpinan bagi domba-domba.

Dari kutipan di atas, tampak bahwa tugas dan tanggung jawab gembala adalah memelihara, memimpin, menyiapkan kebutuhan, menuntun, melindungi dan mendampingi dengan setia kawanan dombanya. Dalam penjelasan Ryken, Wilhoit dan Longman III, ada indikasi bahwa para penatua menggunakan cara-cara yang tamak dan ingin menguasai sesuka hati para kawanan domba mereka: “Konteks imbauan Petrus adalah bahwa ia secara negatif menasihati gembala-penatua yang menjalankan peran mereka dengan cara-cara yang tamak dan mendominasi. Pelayanan yang benar di hadapan Allah adalah pelayanan yang sungguh-sungguh tanpa mencari keuntungan yang semu bahkan liar.

Terkait dengan tugas gembala (para penatua), Profesor P. H. R. Van Houwelingen (dalam bukunya Tafsiran Perjanjian Baru 1 Petrus: Surat Edaran dari Babel, [Surabaya: Momentum, 2018]), menyatakan bahwa “mengawasi ialah tugas yang khas gembala: dia yang memelihara domba-domba, dan menjaga mereka (Yer. 23:2; Za. 10:3; 11;16; Yeh. 34:12). Dengan demikian para penatua mempunyai supervisi (episkope) terhadap kawanan domba milik Allah. Tugas mereka adalah mengorganisasi dan mengawasi kawanan domba, sambil menjaga keutuhannya.” Bagi Van Houwelingen, “Seorang penatua menyediakan dirinya dengan spontan sebagai sukarelawan untuk melayani Allah. Maka pelayanan itu tidak terjadi dengan keluh kesah, melainkan dengan gembira.”

Kita pun mungkin pernah melihat ada orang-orang yang memiliki keinginan untuk memerintah yang sangat kuat (katakurieuo). Kecenderungan untuk berkuasa tak dapat dipungkiri bahwa itu ada dan terjadi di berbagai instansi dan lembaga, sehingga menghambat berbagai program dan tindakan kontibusi yang hendak dicapai dan diejawantahkan. Sebagaimana yang Rasul Petrus tegaskan bahwa tugas menggembalakan dilakukan dengan pengabdian diri (ay. 2). Begitu juga dengan cara menggembalakan kawanan domba, yaitu bukan dengan cara “memerintah” dengan sewenang-wenang (ay. 3). Ketika tugas dan tanggung para penatua untuk menggembalakan kawanan domba selaras dengan kehendak Tuhan, maka ada upah yang akan diterima (ay. 4). Hal-hal inilah yang kemudian dapat kita aplikasikan dalam bentuk jukstaposisi (penyejajaan) dengan empat konteks yaitu: Pemerintahan, Pendidikan, Pembangunan, dan Pelayanan.

APLIKASI JUKSTAPOSISI MAKNA TEKS

Pemerintah

Sebagai pelayan Tuhan, seseorang dapat menerapkan identitas dan kontribusinya dalam konteks “Pemerintahan”—jika ia sekaligus adalah seorang yang memiliki jabatan di pemerintahan. Ia harus menjalani kehidupan yang melayani Tuhan di berbagai bidang, baik khusus maupun umum. Orang percaya bukan hanya menunjukkan identitasnya di gereja, melainkan di semua bidang kehidupannya, tanpa terkecuali.

Pada konteks pemerintahan, pemerintah adalah pelayan masyarakat sebab masyarakatlah yang memilih mereka dan karena ada masyarakat maka ada pemerintah. Pemerintah perlu memahami identitas dan kontribusinya bagi masyarakat yang dipimpinnya. Pemerintah harus menunjukkan kualitas-kualitas tindakannya melalui realisasi program kerjanya. Pemerintah berkewajiban untuk memimpin, memberi rasa nyaman, menyiapkan kebutuhan lapangan pekerjaan, melindungi, mengawasi, memelihara, dan menjaga agar masyarakat tetap utuh (tidak terpecah-pecah karena konflik SARA).

aerial view of people walking on raod

Pendidikan

Orang percaya kepada Tuhan tidak dapat mengabaikan konteks pendidikan. Mengabaikannya berarti membunuh diri secara perlahan. Kita semua dapat menerapkan identitas dan kontribusi kita dalam konteks “Pendidikan”. Membuka, mengembangkan, dan mempertahankan lembaga pendidikan adalah tugas semua elemen masyarakat dan pemerintah dan gereja pun termasuk di dalamnya.

Pendidikan adalah identitas kebangsaan kita. Tidak hanya itu, pendidikan adalah identitas hayati dan humanitas setiap orang. Setiap pemangku kepentingan pada konteks pendidikan memiliki tanggung jawab yang besar di dalamnya, termasuk peran serta pemerintah. Pemerintah mendukung penuh penerapan dan pengembangan pendidikan di semua jenjangnya. Itu sebabnya, kerja sama dari semua pihak untuk mengembangkan pendidikan dilakukan bukan semata-mata untuk mencari keuntugan yang liar melainkan memberikan keadilan sosial bagi seluruh rakyat Indonesia.

Pada konteks pendidikan, semua pihak yang terlibat harus berkontribusi bagi kemajuan kualitas-kualitas pendidikan dan prosesnya ke depan.

Pembangunan

Pembangunan adalah kata netral yang dapat diterapkan pada berbagai konteks. Pembangunan tidak hanya dipahami dari aspek fisik saja misalnya pembangunan rumah, kantor, gedung pertemuan, tempat ibadah, dan sebagainya, melainkan dapat dipahami dalam konteks pembangunan moralitas, pembangunan manusia seutuhnya, pembangunan spiritualitas para pelayan Tuhan, dan sebagainya.

Maka di sini aksentuasinya adalah “pembangunan di segala bidang kehidupan” yang dapat memberikan kontribusi positif di kemudian hari. Kita semua sedang membangun. Ya, membangun kehidupan kita masing-masing agar menjadi berkat bagi sesama kita; membangun relasi dengan orang lain; membangun masyarakat seutuhnya dan mandiri; membangun bidang-bidang khusus bagi kesejahteraan bersama, dan lain sebagainya.

Dalam konteks pemerintahan, pemerintah seyogianya menunjukkan identitas dan fungsinya untuk menerapkan pembangunan secara merata, adil, dan berdampak pada kesejahteraan bersama yaitu masyarakat dan pemerintah itu sendiri. Pemerintah yang adalah wakil Allah di dunia perlu meningkatkan akses pelayanan kepada masyarakat agar “pembangunan” di setiap aspek dan keperluannya dapat terwujud dan menciptakan rasa puas dan rasa sejahtera.

Pelayanan

Bedasarkan teks 1 Petrus 5:2-4 mengenai tugas dan tanggung para penatua, maka setiap kita dipanggil dan terpanggil untuk melayani di segala bidang kehidupan dan pekerjaan. Kita pula tidak bisa melupakan identitas kita yang sesungguhnya di mana dengan identitas itu kita dapat memberikan kontribusi.

Pelayanan tidak hanya melulu di gereja—sebagaimana yang dipahami oleh sebagian orang. Melayani itu dapat dilakukan di mana saja asalkan selaras dengan kehendak Allah. kita harus menjalani kehidupan yang melayani Tuhan dan hidup dalam terang Firman Tuhan. Setiap pelayan Tuhan perlu memahami identitas dan kontribusinya di mana ia berada. Para pelayan harus menunjukkan kualitas-kualitas tindakannya melalui realisasi pelayanannya yang maksimal dan kredibel.

Penutup

Menjalani hidup yang melayani Tuhan merupakan sebuah kesadaran identitas. Betapa kita menyakiti hati Tuhan ketika kita tidak melakukan tugas, fungsi, dan tanggung jawab yang diberikan kepada kita. Kita “menjalani hidup sesuai dengan identitas” dan kita “menjalani hidup yang menghasilkan kontribusi”. Bukankah kedua hal ini sangat menyenangkan dan memuaskan? Hanya mereka sadar identitasnya dan memahami makna kehidupan yang Tuhan anugerahkan, yang dapat merasakan kesenangan dan kepuasan dalam “menjalani hidup sesuai dengan identitas” dan “menjalani hidup yang menghasilkan kontribusi”.

Kita didorong untuk menjadi pribadi yang menciptakan relasi yang baik dengan sesama. Melalui identitas kita, kita terpanggil untuk menghadikan “Shalom” kepada semua orang. Dengan identitas iman, kita melayani Tuhan di hadapan manusia dan melayani manusia di hadapan Tuhan. Dengan identitas humanitas (kemanusiaan), kita mampu menciptakan jembatan relasi humanitas dan relasi hayati (kehidupan) dengan semua orang. Dengan identitas pekerjaan di pemerintahan, kita  memiliki tugas penting atas rakyatnya (masyarakatnya) yang selalu menerapkan kesejahteraan, keamanan, kedamaian, dan keadilan, dan hukum.

Dengan identitas pekerjaan di dunia pendidikan, kita   mengupayakan kemajuan pendidikan di semua jenjangnya. Pendidikan akan menghasilkan percepatan pembangunan di segala bidang, asalkan para pelakunya memahami identitas dan secara sadar menerapkannya.

Dengan identitas pekerjaan di dunia kerohanian (pelayanan), kita memahami identitas, fungsi dan peran bagi lingkungan masyarakat mikro maupun makro. Tidak hanya di gereja saja, justru ladang pelayanan yang lebih tampak identitasnya adalah di “masyarakat luas” di mana para pelayanan dapat menunjukkan kualitas-kualitas tindakan melalui berbagai program kerja.

Soli Deo Gloria.

DEMARKASI KONTEKS DUALISME SPESIFIK NATUR YESUS: Meninjau Yohanes 5:19

Ivan Konstantinovich Aivazovsky Art Print featuring the painting Jesus Walks on Water by Ivan Konstantinovich Aivazovsky

“Memahami” adalah salah satu bagian dari ilmu tafsir (hermeneutik). Dalam memahami suatu teks perlu melihat bagaimana perikop dan asosiasi konteks (jika ada dan diperlukan) untuk menghasilkan pemahaman yang komprehensif. Pada setiap konteks, tafsir yang dilakukan perlu menggeluti aspek-aspek penting sebagaimana yang bisa muncul dari konteks itu sendiri. Perlu juga memperhatikan signifikan dan kualitas dari hasil tafsiran tersebut. Hal ini dimaksudkan untuk melihat bagaimana cara kita memahami personalitas Yesus Kristus berdasarkan teks Yohanes 5:19. Di sini, saya hendak menjelaskan beberapa hal penting untuk melihat mengenai demarkasi konteks dan dualisme spesifik natur Yesus: Allah [Ilahi] dan Manusia, sehingga duduk persoalan yang sering diperdebatkan di dunia Kristologi dan kritik terhadapnya, sedapat mungkin dijelaskan dan kemudian dipahami sebagaimana yang Injil-Injil katakan.

Hasil dari proses dan cara menafsir Kristologi memang menuai pro dan kontra—dan itu biasa—di berbagai kalangan. Dalam kubu internal Kristen, perbedaan pendapat (yang bergantung pada proses dan cara menafsir) mengenai personalitas Yesus menjadi ajang perdebatan hingga sekarang ini. Kadangkala, demarkasi konteks tidak menjadi perhatian serius, sehingga pemahaman tentang Yesus menjadi salah kaprah, dan menghasilkan tiga kubu: skeptis,  negator, dan ortodoksi.

Dua hasil pemahaman Kristologi dikaitkan dengan proses menafsir (memahami, mengambil kesimpulan) berdasarkan eksegesis dan eisegesis. Eksegesis (jamak: eksegese) dari berasal dari beberapa kata Yunani seperti: eksēgēsis, exēgeomai, exēgeisthai yang diartikan sebagai eksposisi (exposition), penjelasan (explanation) atau menjelaskan, menafsirkan, sebuah penjelasan atau penafsiran kritis atas suatu teks tertentu (yang hendak ditafsirkan). Secara harfiah kata tersebut berarti “memimpin keluar atau menggali keluar, menuntun atau membawa keluar [makna sesuatu hal]” yang kemudian dalam dunia penafsiran, kata tersebut diartikal sebagau suatu tindakan untuk memahami dan menafsirkan sesuatu.

Dalam salah satu sumber disebutkan bahwa istilah ini sudah digunakan oleh Papias (sekitar awal abad kedua Masehi) di mana ia menggunakannya dalam tulisannya yang berjudul Exegesis of the Lord’s Sayings. Eksegesis adalah usaha menggali bagian tertentu dari Alkitab supaya menjadi jelas. Dengan perkataan lain, eksegese adalah upaya menemukan arti dari sebuah teks dengan menelusuri konteks atau latar belakang. Dalam pola hermeneutika, teks-teks harus diselidiki secara objektif berdasarkan latar belakangnya (zaman, budaya, politik, bahasa, penutur, dan sebagainya). Dalam perkembangannya, eksegesis diterapkan ke dalam berbagai jenis objek penelitian.

Berangkat dari dua pola penafsiran di atas, konteks Kristologi yang terkandung dalam teks-teks PB (dan juga PL), benar-tidaknya, bergantung pada eksegesis atau eisegesis. Teks Yohanes 5:19, dalam hal ini, disoroti berdasarkan pola eksegetis, memahami secara komprehensif tentang demarkasi konteks natur ke-Ilahian Yesus dan natur kemanusiaan Yesus.

Kristologi merupakan sebuah level pemikiran dan pemahaman tentang personalitas Yesus, Sang Logos yang kekal, pra-eksistensi dan  inkarnasi-Nya ke dunia. Setiap orang yang ingin meneliti, mendalami, dan memahami personalitas Yesus berangkat dari sebuah motivasi. Motivasi menghasilkan “penyelesaian” dalam bentuk pernyataan pemikiran, kesimpulan objektif atau subjektif, negasi, skeptisisme mendasar, pengakuan-pengakuan terhadap Yesus, dan penerimaan atas otoritas-Nya. Pada level pengakuan dan penerimaan terhadap Kristus Yesus, motivasi haruslah memenuhi kriteria penafsiran yang kredibel: eksegesis. Seringkali, seseorang telah memiliki persepsi negatif terhadap pemahaman Kristologi biblika yang berangkat dari gagasan “kitab suci” yang lain atau paling tidak pengaruh dari pemikiran-pemikiran yang dianggap sebagai representasi kajian-kajian ilmiah, yang pada gilirannya, ketika diselidiki dan dikaji ulang berdasarkan tata cara hermenetika biblika tadi, ternyata gagal pada dirinya sendiri (out of context) dan mispersepsi terhadap Yesus.

Kristologi mendapat perhatian khusus dari banyak orang. Dua metode tafsir: eksegesis dan eisegesis mewarnai perjalanan pemahaman dan perumusan pribadi dan karya Yesus Kristus. Akibatnya, dua metode ini sering “adu argumentasi” di sepanjang sejarah. Di zaman sekarang, muncul ajaran yang aneh-aneh, nyeleneh, dan asal jadi. Model ajaran aneh ini mendaur ulang tipe eisegesis—yang mana si penafsir, lebih tepatnya teolog—sesuka hati merumuskan ajarannya mengenai Yesus dengan menonjolkan berbagai motivasi, misalnya motivasi ingin popular, ingin menciptakan ajaran baru yang menyesatkan, ingin cepat terkenal, ingin menjadi yang utama, dan ingin dianggap sebagai pemikir. Pada akhirnya, para pendengar dan pembaca (pemikirannya) akan menafsir dan memahami apa yang dirumuskannya, kemudian menilainya sebagai ajaran-ajaran yang menyimpang, menyesatkan, dan mengganggu tatanan iman yang selama ini berjalan dengan baik.

Eksegesis terhadap teks Yohanes 5:19 akan memperlihatkan demarkasi konteks antara natur ke-Ilahian Yesus dan natur kemanusiaan Yesus. Dengan melihat pada “demarkasi konteks” kita akan mengetahui bahwa memahami Yesus tidak semudah yang dipikirkan oleh orang-orang yang suka menghina dengan mengatakan bahwa Yesus itu dianggap sebagai Tuhan oleh orang Kristen, Tuhan yang berkolor. Ada banyak klaim miring tentang Yesus yang berangkat dari kedangkalan pemahaman, bahkan kedunguan teologis yang dimiliki oleh orang-orang yang sama sekali tidak memahami Injil-Injil PB. Mungkin, mereka hanya tahu dari orang-orang yang seagama dengan mereka, sehingga—tanpa mengecek kebenarannya, karena dianggap sealiran—dengan mudah mengklaim secara asal-asalan. Kita pun dapat melihat berbagai kesesatan logika, terutama sebuah tindakan paralogisme terhadap Kristologi.

Yohanes 5:19 juga mengalami masalah yang sama. Pasalnya, Yesus sendiri mengatakan bahwa Ia tidak dapat mengerjakan sesuatu dari diri-Nya sendiri, jikalau tidak Ia melihat Bapa mengerjakannya; sebab apa yang dikerjakan Bapa, itu juga yang dikerjakan Anak. Perkataan Yesus di atas seolah-olah membuka peluang pemikiran dan penafsiran bahwa Ia bukan Tuhan karena tidak mandiri dalam mengerjakan segala sesuatu. Sepintas memang kelihatan demikian. Akan tetapi, prinsip utama dalam mengkaji hal ini adalah mengetahui terlebih dahulu siapa penuturnya dan identitasnya. Tentu, satu perkataan Yesus tidak menggugurkan apa yang pernah Ia katakan sebelumnya dan sesudahnya. Itu berarti, perkataan Yesus di tempat lain yang menegaskan kemanusiaan-Nya tidak menggugurkan pernyataan-Nya di tempat lain yang menegaskan ke-Ilahian-Nya. Hal ini akan saya simpulkan dalam beberapa poin penegasan.

Memahami Injil Yohanes berangkat dari prolognya, pasal 1:1-3. Oleh sebab itu, saya hendak menyuguhkan perspektif pendahuluan terkait dengan dualisme spesifik natur Yesus dalam sebuah demarkasi konteks sebagaimana yang telah dipublikasikan Rasul Yohanes dalam Injil-Nya, dan di akhir tulisan ini, saya menyuguhkan pernyataan-pernyataan Yesus mengenai “egō eimi” [ἐγώ εἰμι], sebuah pernyataan otoritatif.

Beberapa poin penegasan berikut ini akan memberikan pemahaman tentang pengertian teks Yohanes 5:19.

Pertama, Rasul Yohanes menegaskan bahwa Yesus yang adalah Logos Ilahi—berdiam bersama dengan Allah sejak kekal—tak dapat diketahui kapan Logos bersama-sama dengan Allah. Ini hanya dapat ditempatkan pada kategorial “misteri” ontiologi sebagaimana “manusia tak dapat menjawab kapan ia mulai berpikir dan kapan pikiran itu ada dalam dirinya”.

Kedua, Yesus yang adalah Logos Ilahi (1:1) adalah Pencipta—Allah mencipta “dengan” perantaraan Logos-Nya (1:2-3). Allah dan Logos sama-sama kekal: Allah tak mungkin—sesuai fakta—tanpa Logos-Nya.

Ketiga, Logos Ilahi berinkarnasi menjadi daging (baca: manusia), sehingga dari sinilah berangkat pemahaman mengenai dualisme spesifik natur Yesus dan demarkasi konteks sebagaimana yang tampak dalam keseluruhan PB.

Keempat, memahami inkarnasi Logos, perlu menggunakan demarkasi konteks; saat mana Yesus menekankan identitas ke-Ilahian-Nya, dan saat mana Yesus menekankan identitas kemanusiaan-Nya. Dengan begitu, setiap teks yang menyinggung dualisme spesifik natur Yesus haruslah dipahami berdasarkan demarkasi konteks di atas.

Kelima, sebagai manusia, Yesus seringkali menggunakan analogi, pernyataan, dan klaim-klaim yang menguatkan identitas kemanusiaan-Nya. Hal ini—sesuai demarkasi konteks—mengaksentuasikan sisi kemanusiaan-Nya (misalnya Yohanes 4:34), yang seringkali tampak dalam ordo di mana Ia menegaskan bahwa Bapalah yang mengutus-Nya; Bapalah yang menyatakan kehendak-Nya. Yohanes 5:19 masuk dalam kategori ini.

Keenam, karena fakta kemanusiaan Yesus sering dipersoalkan dalam kerangka menegasikan ke-Ilahian-Nya, maka setiap gagasan tunggal sebenarnya menyingkirkan dualisme spesifik natur Yesus dan menggeser pemahaman demarkasi konteks tadi.

Ketujuh, mereka yang memiliki motivasi yang kurang memenuhi kaidah hermeneutika biblika, menghasilkan bentuk-bentuk penyelesaian yang tidak alkitabiah, skeptis, tidak solid,dan tidak valid, bentuk-bentuk pemahaman yang menyimpang dan bukan yang dimaksud oleh Alkitab itu sendiri.

MEMAHAMI 5:19

Berikut ini adalah pemahaman yang menyinggung dualisme spesifik natur Yesus yaitu “kemanusiaan-Nya” dalam bingkai demarkasi konteks.

Herman N. Ridderbos dalam Injil Yohanes: Suatu Tafsiran Theologis, mengamati bahwa ayat 19 dan 20 terkait erat dengan ayat 17 dan karena itu menggemakan konflik atas hari Sabat. Pada waktu yang sama, permulaan jawaban ini juga membicarakan tuduhan bahwa Yesus akan menjadikan diri-Nya sendiri sama dengan Allah. Ia [Yesus] melihat fakta bahwa sebagai Anak, Ia tidak dapat melakukan apa pun dari kehendak-Nya sendiri jika Ia tidak melihat Bapa melakukannya (ayat 19). Dan bahwa sekali lagi (ayat 20) karena kasih Bapa-Nya keluar kepada-Nya (bdk. 3:35) dan membuah-Nya ikut serta dalam semua yang Ia lakukan. Sebab itu, seluruh nas ini menempatkan “pekerjaan Yesus pada hari Sabat – dengan mutlak menghilangkan setiap bentuk kesombongan – atas dasar hubungan-Nya dengan Bapa (bdk. 2:16).

Ridderbos melanjutkan, “seharusnya tidak ada kesalahpahaman sehubungan dengan tujuan pernyataan ‘Anak tidak dapat mengerjakan sesuatu dari diri-Nya sendiri….’ Kata-kata ini sering dipahami sebagai ungkapan kesopanan Yesus dan rasa penundukan kepada Bapa dengan cara yang dikatakan bahwa Ia telah membela diri-Nya sendiri terhadap tuduhan ‘orang-orang Yahudi’ bahwa Ia menjadikan diri-Nya sendiri sama dengan Allah. Akan tetapi YESUS TIDAK MENOLAK KESAMAAN DENGAN ALLAH, tetapi gagasan bahwa Ia ‘menjadikan’ diri-Nya sendiri sama dengan Allah. ‘DARI DIRI-NYA SENDIRI’ berarti terpisah dari Bapa, atas otoritas-Nya sendiri.

Terhadap ayat 19 dan 20, menurut Ridderbos, ditempatkan semua penekanan pada persekutuan dan kesatuan Yesus dengan Bapa. Bahwa Anak ‘tidak dapat mengerjakan sesuatu dari diri-Nya sendiri jikalau tidak Ia melihat Bapa mengerjakannya’ dijelaskan bukan dengan penundukan kepada Bapa tetapi dengan ke-Anakan: ‘Sebab apa yang dikerjakan Bapa, itu juga yang dikerjakan Anak’ (ayat 19c). Itulah yang menjadikan-Nya Anak. Sama halnya ayat 20a: ‘Sebab Bapa mengasihi Anak dan Ia menunjukkan kepada-Nya segala sesuatu yang dikerjakan-Nya sendiri’. Itulah yang menjadikan-Nya Bapa.

R. Bultmann (mengutip John Calvin), menulis bahwa dalam konflik Arian, yang merujuk ke Yohanes 5:19 secara keliru; menurut Calvin “percakapan ini [maksudnya Yohanes 5:19] tidak berkenaan dengan keilahian Kristus yang sebenarnya” tetapi dengan “Anak Allah selagi Ia dinyatakan dalam daging”. 

Dari beberapa tafsir dan pemikiran di atas, tampak bahwa teks Yohanes 5:19 merujuk kepada kemanusiaan Yesus. Sekali lagi, kesimpulan ini berangkat dari data bahwa dualisme spesifik natur Yesus secara gamblang dinyatakan tidak hanya dalam Injil Yohanes tetapi juga dalam Injil Matius, Markus, dan Lukas—yang dengan demikian “meski beberapa orang menafsir bahwa teks tersebut menyatakan bahwa Yesus bukan Tuhan”, tetapi secara komprehensif pemahaman tidaklah demikian sebagaimana satu teks yang menyatakan sisi kemanusiaan Yesus tidaklah menggugurkan pernyataan Yesus yang lain yang menyatakan ke-Ilahian-Nya sendiri. Itu sebabnya, demarkasi konteks dalam memahami dualisme spesifik natur Yesus sangatlah signifikan. Di sinilah letak keunikan Kristologi.

Namun kita perhatikan juga ayat 21 dari Yohanes pasal 5: “Sebab sama seperti Bapa membangkitkan orang-orang mati dan menghidupkannya, demikian juga Anak menghidupkan barangsiapa yang dikehendaki-Nya.” Teks ini, berdasarkan demarkasi konteks, menyatakan sisi ke-Ilahian Yesus di mana Ia memiliki otoritas untuk menghidupkan siapa saja yang dikehendaki-Nya. Akan tetapi, sebagaimana dinyatakan dalam pasal 3:35 bahwa, “Bapa mengasihi Anak dan telah menyerahkan segala sesuatu kepada-Nya” juga menunjukkan demarkasi konteks bahwa dalam inkarnasi-Nya sebagai manusia, kuasa dan kemuliaan yang diberikan Bapa kepada Yesus tidak dalam konotasi ordoistik melainkan dalam demarkasi inkarnasi itu sendiri. Jangan salah paham mengenai hal ini karena melihat secara luas demarkasi konteks sebagaimana yang telah saya jelaskan sebelumnya akan memberikan pemahaman yang objektif (eksegetis).

Ridderbos menjelaskan pasal 5:21 bahwa, “Anak juga seperti Bapa, memberikan hidup kepada ‘barangsiapa yang dikehendaki-Nya’, tentu saja bukan sebagai tindakan kemauan diri, apalagi sewenang-wenang, perilaku yang terpisah dari Bapa, tetapi tepatnya berdasarkan kuasa dan otoritas yang tidak terbatas yang diberikan kepada-Nya oleh Bapa (bdk. 3:35). Hal ini selaras dengan pernyataan Yesus dalam Matius 28:18, “Kepada-Ku telah diberikan segala kuasa di sorga dan di bumi” yang mana pernyataan ini merujuk pada kondisi inkarnasi-Nya sebagai manusia dalam kerangka penyelamatan manusia dari dosa-dosa mereka.

Untuk menegaskan hal ini, Ridderbos menjelaskan, “Titik masalahnya adalah satu Allah dapat dikenal dan dihormati tidak dengan cara lain selain dalam Anak dan bahwa hanya dalam wahyu Anak kesatuan Allah nyata dalam keunikannya. Ketidakterpisahan pemujaan kepada Bapa dari pemujaan kepada Anak melarang gagasan apa pun bahwa ‘selanjutnya’ dan ‘di samping’ Allah sebagai Bapa, Anak sebagai ‘pihak kedua’ harus dihormati sebagai Allah. Karena dengan menyerahkan segala sesuatu ke dalam tangan Anak, Bapa tidak mengundurkan diri ke suatu posisi di belakang Anak, tetapi mendalilkan diri-Nya sendiri sebagai ada di dalam Anak. Allah bukanlah dua tetapi satu. Tetapi pada waktu yang sama dan untuk alasan yang sama Ia dapat dan akan dikenal tidak dengan cara apa pun selain dalam Anak dan dengan demikian dihormati oleh semua yang mengenal dan menghormati Dia sebagai Allah dan Bapa. Sekali lagi, dari pernyataan ini jelas bagaimana kesatuan Anak dengan Bapa, Kristus dengan Allah, merupakan motif dasar akan seluruh pernyataan diri Yesus.”

Dengan demikian, teks Yohanes 5:19 merujuk kepada natur kemanusiaan Yesus dan peran-Nya sebagai “Anak dalam Inkarnasi-Nya”; pernyataan-pernyataan yang bernada “humanitas—temporal” mengaksentuasikan konteks penebusan-Nya; ketika Yesus menyatakan bahwa Ia “tidak dapat mengerjakan sesuatu dari diri-Nya sendiri, jikalau tidak Ia melihat Bapa mengerjakannya; sebab apa yang dikerjakan Bapa, itu juga yang dikerjakan Anak” merujuk pada “ketaatan Yesus sebagai manusia sejatti”, karena berbagai pernyataan Yesus—tidak hanya dalam Injil Yohanes—selalu melibatkan bentuk-bentuk penegasan dualisme spesifik natur-Nya: Ilahi dan manusia.

PERNYATAAN YESUS TENTANG KE-ILAHIAN-NYA

Meski sebagai manusia, Yesus seringkali menegaskan peran-Nya sebagai “Yang diutus Bapa” ke dalam dunia yang kemudian menegaskan juga sisi kemanusiaan-Nya. Di sini, demarkasi konteks selalu menjadi rujukan utama: membedakan saat mana Yesus mengklaim diri-Nya sebagai utusan Bapa, dan saat mana Yesus menunjukkan otoritas-Nya sebagai Firman [Logos] Ilahi yang kekal. Pertanyaan mendasarnya adalah: mengapa harus memerlukan demarkasi konteks? Jawabannya adalah karena Yesus memiliki dua natur, sebagaimana yang diungkapkan Rasul Yohanes: “Firman [Logos Ilahi] menjadi daging”. Lain halnya dengan manusia pada umumnya; mereka dilahirkan dari hubungan biologis. Ada sejumlah disparitas yang dapat diklasifikasikan antara Yesus sebagai Logos Ilahi yang menjadi manusia dan manusia pada umumnya.

Salah satu pernyataan yang menenkankan ke-Ilahian dan ke-Tuhanan-Nya Yesus adalah “egō eimi” [ἐγώ εἰμι]. ἐγώ εἰμι adalah sebuah pernyataan yang sah dari Yesus—sebuah independensi personalitas-Nya yang tampak dalam klaim-klaim spektakuler. Dalam memahhami ego eimi, saya melihatnya dalam tujuh aspek penting: Pertama, pemaknaan konteks. Kedua, pemaknaan personalitas. Ketiga, pemaknaan otoritas. Keempat, pemaknaan konfirmatif. Kelima, pemaknaan tujuan. Keenam, pemaknaan persetujuan. Ketujuh, pemaknaan pengakuan (penjelasan).

Beberapa aspek di atas, tampak dalam penjelasan Verlyn Verbrugge (William D. Mounce, Basics of Biblical Greek. Malang: Literatur SAAT, 2011, 112), bahwa “Dalam Injil Yohanes, mulai Yohanes 6:35, Yesus banyak menggunakan pronominal ‘ego’ dengan verba ‘adalah’ dalam ungkapan ‘ego eimi ho’…(‘Aku adalah…’; lihat juga 6:41; 8:12; 9:5,11,14; 11:25; 14:6; 15:1,5). Dalam setiap pemunculan, Ia menekankan siapa ‘Dia.’ Misalnya, saat Ia mengatakan ‘ego eimi ho artos tes zoes’ (6:35), Ia sedang menunjukkan jari kepada diri-Nya sendiri dan berkata, ‘Jika kamu menginginkan makanan rohani dalam hidupmu, maka pandanglah Aku, hanya Aku saja; karena Aku adalah roti hidup.’ Ayat-ayat ‘ego eimi’ lainnya memiliki penekanan yang sama. Apa pun yang kita inginkan untuk hidup rohani, kita bisa temukan dengan memandang kepada sumber berkat, Juruselamat kita Yesus Kristus.

Lebih dari itu, menurut Verbrugge, “pemakaian ‘ego eimi’ merujuk ke Perjanjian Lama, kepada kisah Musa ketika ia dikunjungi Allah di semak yang terbakar (Kel. 3). Ketika Musa menantang TUHAN agar memberi tahu nama-Nya, Allah menjawab dengan berkata (menurut Septuaginta), ‘ego eimi ho on’ (Aku adalah Aku sebagaimana Aku ada). Yaitu, Yahweh adalah ‘AKU ADALAH’ yang agung (Kel. 3:14). Yesus menggunakan sebutan terkenal untuk Allah ini ketika Ia berkata kepada orang-orang Yahudi, ‘Sebelum Abraham ada, Aku ada (ego eimi)’ (Yoh. 8:58). Ia menggambarkan diri-Nya sendiri dengan nama yang sama seperti yang digunakan Yahweh sendiri dalam Perjanjian Lama. Jadi nama dan ungkapan yang sama ini mendasari semua pernyataan ‘ego eimi’ Yesus dalam Injil Yohanes.

Temptation of Christ, by J. Kirk Richards

Pernyataan-pernyataan tentang “ἐγώ εἰμι” adalah otoritas yang diungkapkan Yesus bahwa Dia adalah Allah. Perlu dicatat di sini adalah bahwa meskipun dalam pasal 5:19 di mana Yesus menegaskan bahwa, “… sesungguhnya Anak tidak dapat mengerjakan sesuatu dari diri-Nya sendiri, jikalau tidak Ia melihat Bapa mengerjakannya; sebab apa yang dikerjakan Bapa, itu juga yang dikerjakan Anak”, namun soal “Pengakuan” atau “Kesaksian” yang diungkapkan Yesus, lebih bersifat independensi berdasarkan demarkasi konteks dwi natur-Nya. Pekerjaan dan Pengakuan (kesaksian) yang Yesus ungkapkan tentu memiliki kualifikasi dan kualitas yang berbeda. Hal ini tampak dalam pernyataan Yesus berikut ini:

“Akulah yang bersaksi tentang diri-Ku sendiri, dan juga Bapa, yang mengutus Aku, bersaksi tentang Aku” (Yoh. 8:18).

Jadi, pasal 5:19 lebih menekankan pada sifat inkarnasi Yesus sebagai manusia sejati dan pasal 8:18 lebih menekankan pada sifat ke-Ilahian Yesus sebagai Allah yang berkuasa sebagaimana yang ditegaskan Rasul Yohanes pada prolog Injilnya, Yohanes 1:1-3, “Pada mulanya adalah Firman; Firman itu bersama-sama dengan Allah dan Firman itu adalah Allah. Ia pada mulanya bersama-sama dengan Allah. Segala sesuatu dijadikan oleh Dia dan tanpa Dia tidak ada suatupun yang telah jadi dari segala yang telah dijadikan.”

Beberapa penegasan terkait ego eimi yang dinyatakan oleh Yesus Kristus: Pertama: Yohanes 6:48, AKULAH ROTI HIDUP (bdk. ay. 51). Kedua: Yohanes 8:12, Maka Yesus berkata pula kepada orang banyak, kata-Nya: “AKULAH TERANG DUNIA; barangsiapa mengikut Aku, ia tidak akan berjalan dalam kegelapan, melainkan ia akan mempunyai terang hidup.” Ketiga: Yohanes 10:7, Maka kata Yesus sekali lagi: “Aku berkata kepadamu, sesungguhnya AKULAH PINTU ke domba-domba itu” (10:9). Keempat: Yohanes 10:11, AKULAH GEMBALA YANG BAIK. Gembala yang baik memberikan nyawanya bagi domba-dombanya (10:14). Kelima: Yohanes 11:25  Jawab Yesus: “AKULAH KEBANGKITAN DAN HIDUP; barangsiapa percaya kepada-Ku, ia akan hidup walaupun ia sudah mati.” Keenam: Yohanes 14:6  Kata Yesus kepadanya: “AKULAH JALAN DAN KEBENARAN DAN HIDUP. Tidak ada seorangpun yang datang kepada Bapa, kalau tidak melalui Aku.” Ketujuh: Yohanes 15:1,  “AKULAH POKOK ANGGUR YANG BENAR dan Bapa-Kulah pengusahanya” (15:5).

Dalam PL, pernyataan “Aku adalah” atau “Akulah” merupakan yang hanya diucapkan Allah dalam setiap konteks, misalnya Keluaran 6:5, “Sebab itu katakanlah kepada orang Israel: Akulah TUHAN, Aku akan membebaskan kamu dari kerja paksa orang Mesir, melepaskan kamu dari perbudakan mereka dan menebus kamu dengan tangan yang teracung dan dengan hukuman-hukuman yang berat (bdk. Kel 6:6, 7, 28; 7:5, 17; Yeh. 20:12, 19, 20, 26, 38, 42; Yeh. 22:16; 23: 49; 24:24, 27; 25:5, 7, 11, dan lain-lain).

Pernyataan-pernyataan Yesus perlu dihapami dalam bentuk demarkasi: dualisme spesifik natur Yesus: Ilahi dan manusia, karena memang pola pemahaman yang demikianlah yang disediakan oleh Yesus dalam Injil-Injil Perjanjian Baru. Berdasarkan elaborasi di atas, kesimpulan yang dapat ditarik adalah sebagai berikut:

Pertama: Dualisme spesifik natur Yesus perlu dipahami berdasarkan demarkasi konteks, sebab kontekslah yang dapat menyuguhkan informasi, data, dan kualitas pernyataan-pernyataan yang terkandung di dalamnya. Ketika Yesus menyatakan bahwa “Ia tidak dapat mengerjakan sesuatu dari diri-Nya sendiri, jikalau tidak Ia melihat Bapa mengerjakannya; sebab apa yang dikerjakan Bapa, itu juga yang dikerjakan Anak” (Yoh. 5:19), maka pernyataan tersebut yang melibatkan unsur humanitas—temporal merupakan sisi kemanusiaan Yesus tanpa “menyangkal ke-Ilahian-Nya” sebagaimana yang Ia nyatakan di tempat lain dalam konteks yang berbeda. 

Kedua: Motivasi sebagai proses pemahaman juga merupakan langkah awal, sebab ketika motivasi seseorang keliru maka penyelesaiannya juga pasti keliru; apalagi ketika demarkasi konteks tidak lagi dibutuhkan; hasilnya adalah “eisegesis”: memasukan sesuatu ke dalam teks.

Ketiga: Motivasi yang benar (berdasarkan kaidah-kaidah hermeneutika [teks dan konteks]), menghasilkan penyelesaian dalam bentuk pernyataan pemikiran, kesimpulan objektif atau pengakuan-pengakuan terhadap Yesus berdasarkan eksegesis (menyatakan makna teks) dan bukan eisegesis.

Keempat: Persepsi negatif terhadap pemahaman Kristologi biblika yang berangkat dari gagasan kitab suci lainnya dan pengaruh dari pemikiran-pemikiran yang dianggap sebagai representasi kajian-kajian ilmiah yang mengambaikan tata cara hermenetika biblika, gagal pada dirinya (out context dan mispersepsi).

Kelima: Meski pada Yohanes 5:19 dinyatakan bahwa Yesus seolah-olah bukan yang Ilahi, akan tetapi pada prolog Injilnya, Rasul Yohanes menegaskan bahwa Yesus yang adalah Logos Ilahi—bersama-sama dengan Allah sejak kekal. Logos Ilahi (1:1) adalah Pencipta—Allah mencipta dengan perantara Logos-Nya (1:2-3). Allah dan Logos sama-sama kekal.

Keenam: Logos Ilahi yang berinkarnasi menjadi daging menghasilkan pemahaman mengenai dualisme spesifik natur Yesus dan demarkasi konteks sebagaimana yang tampak dalam keseluruhan Injil PB dan tulisan-tulisan lainnya dalam PB. Memahami inkarnasi Kristus, haruslah menggunakan demarkasi konteks; saat mana Yesus menekankan identitas ke-Ilahian-Nya, dan saat mana Yesus menekankan identitas kemanusiaan-Nya.

Ketujuh: Sebagai manusia Yesus seringkali menggunakan analogi, pernyataan, dan klaim-klaim yang menguatkan identitas kemanusiaan-Nya. Yohanes 5:19 masuk dalam kategori ini.

Kedelapan: Pernyataan ‘Anak tidak dapat mengerjakan sesuatu dari diri-Nya sendiri….’ sebagaimana yang diungkapkan Ridderbos bahwa hal itu menjelaskan bukan dengan penundukan kepada Bapa tetapi dengan ke-Anakan: ‘Sebab apa yang dikerjakan Bapa, itu juga yang dikerjakan Anak’ (ayat 19c). Itulah yang menjadikan-Nya Anak. Sama halnya ayat 20a: ‘Sebab Bapa mengasihi Anak dan Ia menunjukkan kepada-Nya segala sesuatu yang dikerjakan-Nya sendiri’. Itulah yang menjadikan-Nya Bapa. Sebagaimana yang juga dinyatakan Calvin bahwa teks Yohanes 5:19, “tidak berkenaan dengan keilahian Kristus yang sebenarnya” tetapi dengan “Anak Allah selagi Ia dinyatakan dalam daging”.

Kesembilan: Teks Yohanes 5:19 hanya berbicara mengenai apa yang dikerjakan Yesus (dari Bapa), dan tidak berbicara mengenai “Pengakuan” atau “Kesaksian” Yesus. Pengakuan dan Kesaksian Yesus haruslah dipisahkan berdasarkan demarkasi konteks dwi natur-Nya. Pekerjaan dan Pengakuan (kesaksian) yang Yesus ungkapkan tentu memiliki kualifikasi dan kualitas yang berbeda. Teks dalam 5:19 lebih menekankan pada sifat inkarnasi Yesus sebagai manusia sejati dan pasal 8:18 lebih menekankan pada sifat ke-Ilahian Yesus sebagai Allah yang berkuasa.

Kesepuluh: “egō eimi” [ἐγώ εἰμι] adalah sebuah pernyataan yang sah dari Yesus—sebuah independensi personalitas-Nya yang tampak dalam klaim-klaim spektakuler. Pernyataan-pernyataan tentang “ἐγώ εἰμι” adalah otoritas yang diungkapkan Yesus bahwa Dia adalah Allah sebagaimana tampak dari pengakuan-Nya berikut ini: (1) AKULAH ROTI HIDUP; (2) AKULAH TERANG DUNIA; (3) AKULAH PINTU; (4) AKULAH GEMBALA YANG BAIK; (5) AKULAH KEBANGKITAN DAN HIDUP; (6) AKULAH JALAN DAN KEBENARAN DAN HIDUP; dan (7) AKULAH POKOK ANGGUR YANG BENAR.

Soli Deo Gloria. Salam Bae…..

Sumber gambar:

  1. https://fineartamerica.com/featured/jesus-walks-on-water-ivan-konstantinovich-aivazovsky.html?product=art-print&epik=dj0yJnU9Um92dEN5OGQzQ21pcVBQRUIzREJnd2g4WFV5Ml82YXkmcD0wJm49b3hwQlUyVDdkcmZiUGg0ZDg2UF9adyZ0PUFBQUFBR0hPYlJV
  2. https://dharmadhannyael.blogspot.com/2018/09/oracao-aos-anjos-de-nossa-senhora-dos.html
  3. https://www.gallery19c.com/artworks/9413/
  4. https://jkirkrichards.wpcomstaging.com/2012/01/29/why-beauty-matters-a-k-a-why-modern-art-is-of-the-devil/amp/
  5. https://id.pinterest.com/pin/1970393577039712/
  6. https://fineartamerica.com/featured/the-triumph-of-christianity-over-paganism-gustave-dore.html?product=greeting-card&epik=dj0yJnU9OEp4ZkpXdHhZRVVwRTlTblk5MnBpSS1tUzZkNFV5TXMmcD0wJm49TWFSR3czb00tb09SYjlfdDFja2Z6ZyZ0PUFBQUFBR0hPYmNF
Rancang situs seperti ini dengan WordPress.com
Mulai