SAHABAT YANG TIDAK MENGENAL SAHABATNYA

“Jangan tinggalkan integritasmu, sebab dialah yang membawamu ke puncak karaktermu yang sesungguhnya” – S. R. Paparang

“Persahabatan adalah fragmen iman; di dalam persahabatan kita meluapkan kasih, sukacita, harapan, dan damai sejahtera” – S. R. Paparang

Pikiran membawa kita kepada sebuah kesimpulan atau keputusan untuk melakukan sesuatu, melupakan sesuatu, menyenangkan sesuatu, menjadi penjilat terhadap orang tertentu, pura-pura tidak mengenal orang lain yang dikenal, bersikap munafik (hipokrit), membenci, memfitnah, dan masih banyak lagi. Kesimpulan atau keputusan tersebut adalah akumulasi dari serangkaian asumsi-asumsi pikiran terhadap fakta yang terjadi.

Setiap fakta menghasilkan proses penilaian, entah baik, entah buruk. Di ruang publik, kita memberikan cermin agar orang dapat melihat kita sebagai pencipta dan pembawa cermin. Cermin yang dibawa dihadapkan ke depan, sedangkan bagian belakang cermin menghadap ke diri kita. Kita menyembunyikan identitas dan perangai kita agar tampak menarik di depan khalayak.

Dalam persahabatan juga demikian. Kita mempunyai cermin masing-masing. Pada kita cermin itu seharusnya menghadapi ke diri kita supaya kita siap tampil apa adanya di depan sahabat-sahabat kita.

Cermin itu ada tiga jenis: cermin yang jernih, cermin yang kabur (buram), dan cermin yang hitam. Tiga jenis cermin tersebut adalah lambang persahabatan.

Cermin yang jernih adalah tanda persahabatan yang jujur, terbuka, tetapi tetap menjaga rahasia-rahasia yang sangat rahasia. Artinya, kita tidak membeberkan hal-hal tersebut dengan tujuan menjatuhkan sahabatnya. Cermin jernih pertanda bahwa ada masa depan bagi persahabatan. Keterbukaan menghasilkan kilauan manik-manik yang variatif, di mana setiap sahabat dapat memberikan sesuatu yang bermanfaat bagi sahabat-sahabat lainnya yang terbuka menyatakan gumul-juangnya.

Cermin yang kabur atau suram adalah tanda persahabatan yang kurang baik, hadir saat butuh (misalnya saat meminta bantuan sahabatnya), dan hilang saat tak dibutuhkan (misalnya sudah meresa enjoy sendiri). Sesekali saja dia menyapa, setelah itu lama menghilang, lalu muncul kembali saat “ada maunya”. Jenis sahabat seperti cermin yang kabur (buram) ini tidak secara tulus bersahabat. Paling hanya menyapa biasa saja, setelah itu lewat. Dia menganggap dialah yang penting dan merasa dibutuhkan. Padahal tidaklah demikian adanya. Merasa sibuk sendiri dan ingin menjadi pusat perhatian, sehingga persahabatan itu menjadi kabur (tak jelas): siapa butuh siapa.

Pula persahabatan cermin kabur ini sering memanfaatkan keadaan, sehingga suasana persahabatan menjadi kabur (tidak jelas). Ia ingin cari aman sendiri; mengaburkan pesona persahabatan itu sendiri. Alasannya karena ia ingin mencari aman pada posisinya, maka ia menjaga jarak yang berlebihan dan seolah-seolah tidak mengenal sahabatnya sendiri. Sahabatnya menjadi “orang asing” baginya demi memuaskan egonya sendiri.

Cermin yang hitam adalah tanda persahabatan yang sama sekali buruk. Jenis ini sarat dengan berbagai kepentingan. Perbedaan paham, dukungan, partai, Gereja, mazhab (denominasi), dan pemimpin, menciptakan jurang pemisah yang dalam dan gelap. Persahabatan tiba-tiba menjadi gelap, terputus, dan ambruk. Fenomena jenis ini sering terjadi. Semua memiliki kepentingan maka kepentingan-kepentingan itu sendiri bertabrakan, berbeda haluan, berbeda donatur (atau sponsor), dan berbeda komplotan.

Lalu bagaimana dengan “SAHABAT YANG TIDAK MENGENAL SAHABATNYA?” Dari tiga jenis cermin di atas, tampak bahwa cermin jenis kedualah yang merepresentasikan “SAHABAT YANG TIDAK MENGENAL SAHABATNYA”. Alasannya sederhana: ia – saat bersahabat dulu – secara tiba-tiba menjaga jarak untuk kepentingannya sendiri. Dia hanya melihat “masa kini” dan mengabaikan “masa depan”. Padahal persahabatan itu tidak hanya berbicara tentang masa kini, tetapi juga masa depan.

Sahabat yang tidak mengenal sahabatnya biasanya ada berbagai kepentingan dan rasa tertentu. Kepentingannya sering terkait dengan keamanannya melakukan atau menjalin sesuatu, sehingga ia tiba-tiba lupa sahabatnya untuk mencari aman sendiri. Rasa tertentu mewakili pola pemikirannya bahwa masa kini ia rasa aman, padahal belum tentu juga di masa mendatang, apakah rasa itu tetap sama atau tidak.

Karena kepentingan dan rasa tersebutkah seseorang rela menggadaikan persahabatan, bahkan integritasnya. Apa yang dikorbankan untuk merasa aman sendiri sangatlah mendukung posisinya saat itu, tetapi belum tentu rasa aman itu terjaga di kemudian hari.

Selalu ada perubahan situasi dan kondisi, tetapi sahabat yang baik akan selalu memberikan topangan, bantuan, dan perhatian sesuai perlunya. Kini, kita melihat bahwa tidak semua persahabatan akan terjaga saat “kepentingan” dan “rasa tertentu” hadir menyelinap pada mereka yang tidak kuat integritasnya, tidak kuat karakternya, dan tidak kuat imannya.

Pada akhirnya, kita hanya melihat proses persahabatan itu terjalin erat, atau tiba-tiba retak dan putus di tengah jalan. Jangan mencari aman sendiri, jangan hanya merasa sendiri dan tidak lagi menganggap sahabat kita yang dulu dekat, tetiba berubah hanyak karena ada teman yang baru, hanya karena jabatan, kedudukan, dan lain sebagainya.

Saya sendiri memiliki sahabat-sahabat yang luar biasa. Saya ikhlas membantu mereka saat mereka membutuhkan pertolongan. Bantuan itu tidak lahir dari niat mencari keuntungan, melainkan karena ketulusan dalam persahabatan itulah yang mendorong untuk siap menolong sahabat-sahabat yang butuh bantuan kita.

Persahabatan tidak dibangun hanya dalam satu dua hari. Proses “membaca karakter” sahabat kita tentu tidaklah cepat. Butuh waktu yang lama untuk saling mengenal, saling melihat karakter kita masing-masing. Tuhan selalu memberi sahabat-sahabat yang terbaik bagi mereka yang memang baik dan berintegritas. Tuhan itu adil. Ia selalu menyelamatkan mereka yang dikhianati sahabatnya sendiri. Ia menyediakan antrian sahabat-sahabat baik lainnya untuk saling berbagi, saling menopang dalam pelayanan, dan masih banyak lagi.

“SAHABAT YANG TIDAK MENGENAL SAHABATNYA” adalah orang-orang yang tidak memiliki bacaan akan masa depan. Padahal, setiap persahabatan yang terjalin indah sebelumnya, yang didasari pada sikap saling menerima satu dengan yang lain, akan berpengaruh pada diri dan karakter kita sendiri. Kita membawa cermin kehidupan kita sendiri dalam persahabatan, yang darinya kita dikenal, diterima, diteladani.

“SAHABAT YANG TIDAK MENGENAL SAHABATNYA” belum seberapa. Alkitab mencatat kondisi bangsa Israel yang terparah: “Lembu mengenal pemiliknya, tetapi Israel tidak; keledai mengenal palungan yang disediakan tuannya, tetapi umat-Ku tidak memahaminya” (Yesaya 1:3). Kondisi ini sangatlah memprihatinkan. Allah adalah SAHABAT TERBAIK bangsa Israel, tetapi mereka tidak MENGENAL-NYA. Jika saat ini kita mengalami hal serupa, maka ingatlah bahwa ada suatu bangsa yang pernah melupakan SAHABAT TERBAIK yang peduli dan mengasihi mereka, yaitu Tuhan Allah. Bukankah kita seringkali berdosa kepada-Nya dan membutuhkan-Nya seperti kita membutuhkan seorang SAHABAT dan JURUSELAMAT atas hidup kita?

Jika kita menjalin persahabatan yang intim dengan TUHAN, maka pastilah persahabatan tersebut dapat diturunkan kepada persahabatan kita dengan orang-orang yang jujur, peduli, dan penuh kasih.

Jadilah sahabat yang baik meski sering dilukai. Jadilah sahabat yang baik meski sering tidak dianggap. Jadilah sahabat yang baik meski sering dicuekin. Jadilah sahabat yang baik yang tidak terkontaminasi dengan hipokrisi. Dan jadilah sahabat yang baik yang meneladani Yesus Kristus, karena Dialah Sahabat yang Sejati.

Selamat Bersahabat!

Salam Bae

Sumber gambar: https://unsplash.com/s/photos/unfriend

MENGUMPULKAN HARAPAN DALAM GENGGAMAN IMAN

closeup photography of woman wearing floral skirt holding red gas lantern at brown grass field

Ada saat di mana sebuah peristiwa (kondisi) yang terjadi, membuat kita mengerutkan kening, menghela napas, menundukan wajah, menengadah ke langit, memejamkan mata, meneteskan air mata, menggerutu, naik darah, geram, pasrah (berserah), merenung, dan lain sebagainya. Semua itu terjadi sesuai dengan ringan-beratnya peristiwa itu sendiri.

Ragam pergumulan setiap orang berbeda-beda. Saya pernah bercakap-cakap dengan seorang Bapak di mana istrinya sedang mengalami kanker serviks. Beliau berkisah bahwa biaya pengobatan istrinya sangatlah mahal. Bahkan harga popok untuk istrinya adalah satu juta lebih untuk satu bungkus yang isinya 8 buah. Belum lagi kebutuhan lainnya yang mendesak. Tampak bahwa Bapak tersebut berada dalam pergumulan yang berat. Saya hanya mengatakan: semoga ibu segera pulih kembali. Dan beliau mengatakan: Terima kasih Pak.

Kami berdua bertetangga, berbeda agama. Tetapi keramahan beliau dan istrinya tersebut patut saya hargai. Tentu, dalam pergumulan yang dihadapinya, ada fragmen harapan yang sedang ia kumpulkan berdasarkan imannya kepada Tuhan yang ia percayai. Kita pun sama. Kita meyakini bahwa “Tuhan yang kita sembah” sanggup menolong, menopang, memulihkan, memberkati, dan menyertai kita. Meski demikian, Tuhan seringkali mendidik kita melalui berbagai gumul juang; iman kita menjadi kuat; fragmen harapan segera kita genggam dalam iman kita kepada-Nya.

person in black long sleeve shirt holding book

Kita melihat di sekitar hidup kita, atau bahkan melihat secara luas tentang kehidupan manusia pada umumnya. Ternyata kesulitan-kesulitan hidup bukanlah milik orang-orang miskin, susah, terhimpit, atau orang-orang yang tertekan, depresi, dan putus harapan. Semua orang tanpa terkecuali menemui dan menerima kesulitan-kesulitan hidup. Virus Corona cukup memberi kita pelajaran bahwa kesulitan-kesulitan itu menghampiri semua jenis orang, semua orang beragama, orang baik, orang jahat, orang munafik, orang atheis, dan lainnya. Pembelajaran hidup seperti itu haruslah mendorong kita untuk melihat kepada Tuhan dalam segala keadaan. Dugaan saya, saat pandemik Covid-19 melanda seluruh dunia, semua orang beragama berdoa kepada Tuhannya masing-masing agar terlindung dari serangan Covid-19. Mereka yang dulunya malas berdoa, seketika menjadi rajin berdoa.

woman wearing red sweatshirt looking at top between trees near grass during daytime

Fenomena hidup seperti itu adalah fakta bahwa manusia itu rapuh dan tak boleh sombong. Tidak juga merasa bahwa kita dapat dengan leluasa berbuat kejahatan, penipuan, kebohongan, dan sederet amoralitas lainnya. Mereka yang menyadari akan hal ini, setidaknya bersegera memutuskan untuk melihat Sang Khalik, berdoa dan memohon ampun pada-Nya.

Kesulitan-kesulitan yang menghampiri hidup kita, mengalihkan fokus dari pekerjaan kita. Terkadang, justru mengganggu segala yang penting dalam hidup kita. Ditambah lagi dengan tekanan dari berbagai pihak, kesakithatian atas tindakan amoralitas, kejahatan dan semacamnya. Rasa hidup menjadi hambar karena kita diperlihatkan dengan fakta yang tidak kita inginkan terjadi.

man raising his arms on sea under black clouds

Dalam keadaan yang demikian, mereka yang beriman, akan tetap melihat Tuhan sebagai Penolong yang setia. Di situ mereka mengumpulkan harapan dalam genggaman iman. Harapan itu berisi tentang bagaimana Tuhan melindungi mereka, menjaga dari segala jenis kejahatan, dari segala kenikmatan dunia yang dapat saja melunturkan iman mereka, menjaga mereka dari segala marabahaya, dan lainnya.

Pada proses waktu, orang-orang beriman tadi ditempa oleh Tuhan sesuai kadar imannya masing-masing. Tuhan senantiasa mendidik dan mengajar mereka melalui kesulitan-kesulitan hidup, berbagai masalah, dan tekanan hidup yang tak biasa. Pada akhirnya, Tuhan Yesus telah menyiapkan “hadiah” bagi para pemenang kehidupan, yaitu mereka yang bersandar dan mengandalkan Tuhan setiap waktu.

Ternyata Alkitab memberikan kebahagiaan bagi mereka yang senantiasa bersandar, berlindung, dan mengandalkan Tuhan, mereka yang ditegur-Nya, mereka disebut berbahagia, mereka yang hidup benar, suci, dan kehidupan mereka dijamin oleh Tuhan, Sang Khalik:

sun rays through white cumulus clouds

2 Tawarikh 13:18, Demikianlah orang Israel ditundukkan pada waktu itu, sedang orang Yehuda menjadi kokoh, karena mereka mengandalkan diri kepada TUHAN, Allah nenek moyang mereka.   

Yeremia 17:7, Diberkatilah orang yang mengandalkan TUHAN, yang menaruh harapannya pada TUHAN!   

Ayub 5:17, Sesungguhnya, berbahagialah manusia yang ditegur Allah; sebab itu janganlah engkau menolak didikan Yang Mahakuasa.   

Mazmur 1:1-2, Berbahagialah orang yang tidak berjalan menurut nasihat orang fasik, yang tidak berdiri di jalan orang berdosa, dan yang tidak duduk dalam kumpulan pencemooh, tetapi yang kesukaannya ialah Taurat TUHAN, dan yang merenungkan Taurat itu siang dan malam.

Mazmur 2:12, …. Berbahagialah semua orang yang berlindung pada-Nya!   

Mazmur 34:9, Kecaplah dan lihatlah, betapa baiknya TUHAN itu! Berbahagialah orang yang berlindung pada-Nya!   

Mazmur 40:5, Berbahagialah orang, yang menaruh kepercayaannya pada TUHAN, yang tidak berpaling kepada orang-orang yang angkuh, atau kepada orang-orang yang telah menyimpang kepada kebohongan!   

Mazmur 84:6, Berbahagialah manusia yang kekuatannya di dalam Engkau, yang berhasrat mengadakan ziarah!   

Mazmur 84:13, Ya TUHAN semesta alam, berbahagialah manusia yang percaya kepada-Mu!   

Mazmur 106:3, Berbahagialah orang-orang yang berpegang pada hukum, yang melakukan keadilan di segala waktu!   

Mazmur 112:1, Haleluya! Berbahagialah orang yang takut akan TUHAN, yang sangat suka kepada segala perintah-Nya.   

Mazmur 119:1  Berbahagialah orang-orang yang hidupnya tidak bercela, yang hidup menurut Taurat TUHAN.

Mazmur 119:2, Berbahagialah orang-orang yang memegang peringatan-peringatan-Nya, yang mencari Dia dengan segenap hati,   

Mazmur 128:1, Nyanyian ziarah. Berbahagialah setiap orang yang takut akan TUHAN, yang hidup menurut jalan yang ditunjukkan-Nya!   

Mazmur 146:5, Berbahagialah orang yang mempunyai Allah Yakub sebagai penolong, yang harapannya pada TUHAN, Allahnya:  

Amsal 16:20, Siapa memperhatikan firman akan mendapat kebaikan, dan berbahagialah orang yang percaya kepada TUHAN.   

Amsal 20:7, Orang benar yang bersih kelakuannya — berbahagialah keturunannya.   

Amsal 28:14,  Berbahagialah orang yang senantiasa takut akan TUHAN, tetapi orang yang mengeraskan hatinya akan jatuh ke dalam malapetaka.   

Matius 5:5, Berbahagialah orang yang lemah lembut, karena mereka akan memiliki bumi.   

Matius 5:7, Berbahagialah orang yang murah hatinya, karena mereka akan beroleh kemurahan.   

Matius 5:8, Berbahagialah orang yang suci hatinya, karena mereka akan melihat Allah.   

Matius 5:9, Berbahagialah orang yang membawa damai, karena mereka akan disebut anak-anak Allah.   

Matius 5:10, Berbahagialah orang yang dianiaya oleh sebab kebenaran, karena merekalah yang empunya Kerajaan Sorga.   

Matius 5:11, Berbahagialah kamu, jika karena Aku kamu dicela dan dianiaya dan kepadamu difitnahkan segala yang jahat.   

Matius 11:6, Dan berbahagialah orang yang tidak menjadi kecewa dan menolak Aku.

Lukas 6:21, Berbahagialah, hai kamu yang sekarang ini lapar, karena kamu akan dipuaskan. Berbahagialah, hai kamu yang sekarang ini menangis, karena kamu akan tertawa.   

Lukas 6:22, Berbahagialah kamu, jika karena Anak Manusia orang membenci kamu, dan jika mereka mengucilkan kamu, dan mencela kamu serta menolak namamu sebagai sesuatu yang jahat.   

Yakobus 1:12, Berbahagialah orang yang bertahan dalam pencobaan, sebab apabila ia sudah tahan uji, ia akan menerima mahkota kehidupan yang dijanjikan Allah kepada barangsiapa yang mengasihi Dia.   

1 Petrus 4:14, Berbahagialah kamu, jika kamu dinista karena nama Kristus, sebab Roh kemuliaan, yaitu Roh Allah ada padamu.   

Wahyu 16:15,  “Lihatlah, Aku datang seperti pencuri. Berbahagialah dia, yang berjaga-jaga dan yang memperhatikan pakaiannya, supaya ia jangan berjalan dengan telanjang dan jangan kelihatan kemaluannya.”   

Semua hal yang diberikan dan dijamin oleh Tuhan, menghasilkan harapan-harapan yang kemudian dikumpulkan dalam genggaman iman. Perjanjian Lama mengisahkan tentang bagaimana Allah membentuk dan mendidik Israel supaya menjadi seperti yang Ia kehendaki. Harapan-harapan Israel seringkali terhalang oleh kedegilan hati mereka, tetapi Allah tetap mengulurkan tangan-Nya bagi mereka yang bersedia bertobat dan kembali kepada-Nya. Selebihnya, Allah menghukum mereka yang keras kepala, bejat, najis, dan sering melawan Dia.

person holding white printer paper

Perjanjian Baru menegaskan bahwa mengikut Yesus memiliki jaminan dan konsekuensi. Jaminannya adalah kehidupan kekal, dan konsekuensinya adalah mereka dihina, dicaci, sehingga mereka dikucilkan, dibunuh. Meski demikian, harapan orang-orang percaya pasca Yesus naik ke surga, tetap dipegang dalam genggaman iman. Mereka tetap setia untuk beriman kepada Yesus Kristus. Tak ada yang dapat menggantikan Yesus di hati mereka, meski nyawa taruhannya. Mereka tidak menyangkal Yesus, tetapi hidup bagi Yesus.

Di konteks kita sekarang ini, mengumpulkan harapan dalam genggaman iman adalah perlu dan tetap dikerjakan. Iman kepada Yesus Kristus membawa kita kepada kekayaan kasih karunia-Nya yang mengantarkan kita kepada kemuliaan dan sukacita sorgawi.

Berbagai kesulitan dan tekanan hidup bisa saja muncul, tetapi hal-hal itu janganlah menjadi alasan untuk kita menyerah dan patah semangat. Yakinlah, bahwa Yesus Kristus senantiasa memberikan kekuatan, kebahagiaan, sukacita, dan kedamaian dalam hidup kita, asalkan kita setia kepada-Nya, dan berkomitmen hidup di dalam firman-Nya, niscaya harapan-harapan yang kita kumpulkan dalam genggaman iman akan diwujudnyatakan oleh Tuhan dalam kehidupan kita, senantiasa, dan selamanya.

Salam Bae….

Sumber gambar: https://unsplash.com/s/photos/faith

MENIKMATI HIDUP BERDASARKAN BIJAKSANA YANG TUHAN BERIKAN: Catatan Reflektif Mazmur 112:1-10

Secara umum manusia menyukai apa yang dinamakan dengan bahagia dan jaminan. Apa saja dapat dilakukan manusia yang penting bahagia dan memiliki jaminan. Manusia berlomba-lomba mempertahankan hidup. Mereka yang kalah dalam lomba kehidupan bisa tersingkirkan. Perlombaaan kehidupan seringkali menggunakan berbagai cara, entah baik, entah buruk. Tetapi, mereka yang berintegritas tentu mempergunakan integritasnya dalam lomba tersebut; mereka setia pada komitmen untuk hidup benar di hadapan Tuhan meskipun rugi. Sedangkan mereka yang menipu, memalsukan apa yang bisa dipalsukan, menunjukkan kemunafikan untuk mencari keuntungan, berbuat kejahatan untuk meraup banyak hal yang tidak halal, tidak akan terluput dari hukuman Tuhan.

Orang-orang yang berintegritas, meski mereka dapat disingkirkan, mereka tetap dipelihara oleh Tuhan. Sedangkan mereka yang menipu dan melakukan kejahatan untuk “menang”, akan disingkirkan oleh Tuhan di kemudian hari. Di sisi lain, mereka yang malas mempertahankan hidup juga akan tersingkirkan. Mereka yang hanya menanti segala sesuatu tanpa mengusahakannya, akan masuk ke dalam perangkap hidup yang ia sendiri ciptakan.

Bahagia itu sendiri adalah kombinasi dari empat hal: PELUANG, TUJUAN HIDUP, BERKAT, dan KEWAJIBAN. Peluang berbicara mengenai kondisi hidup yang harus kita upayakan atau usahakan. Ketika seorang mahasiswa ingin menjadi sarjana yang berintegritas, kapabel, dan kredibel, ia harus mengupayakan atau mengusahakan peluang yang ada di depannya (belajar dan mengerjakan apa yang harus dikerjakannya) dan kemudian menjalani prosesnya.

Tujuan hidup berbicara tentang apa yang ingin dinikmati dalam kondisi bahagia itu. Ketika manusia tidak memikirkan tujuan hidupnya, maka bahagia dapat dirasakan tetapi tidak secara penuh karena masih ada hal-hal lain yang belum tercapai. Tujuan hidup ingin dicapai manusia tetapi ia harus menjalani prosesnya sebagai bagian yang tak terpisahkan.

Berkat berbicara tentang hal-hal yang tanpa kita duga datang pada kita. Artinya, selain peluang dan tujuan hidup, manusia dapat menikmati bahagia karena adanya berkat dari Tuhan yang datang tanpa kita duga sebelumnya, tanpa kita sangka-sangka.

Kewajiban berbicara tentang apa yang harus kita lakukan untuk menangkap peluang, untuk meraih tujuan hidup, dan apa yang dilakukan untuk menerima berkat-berkat yang datang pada kita.

Keempat hal tersebut (peluang, tujuan hidup, berkat, dan kewajiban) sangatlah penting dan secara nyata tampak dalam teks-teks Mazmur 112:1-10. Saya akan menguraikannya demikian:

Alkitab terjemahan LAI secara baik memberi perikop pada Mazmur 112 ini dengan: “Bahagia Orang Benar. Fokus saya ada pada dua kategori yaitu “bahagia” dan “orang benar”.  Secara garis besar, Alkitab memberikan perbedaan antara orang benar dan orang fasik. Keduanya sama-sama ada dalam dunia dan menikmati hidup. Keduanya memiliki bijaksana atau pertimbangan. Namun secara substansial keduanya berbeda. Orang bijaksana belum tentu adalah orang benar. Benar yang dimaksudkan adalah benar secara moralitas dan spiritualitas. Orang benar pasti berhikmat karena ia sendiri menjadi benar karena ia berhikmat dalam menentukan arah hidup yang benar di hadapan Tuhan.

Mazmur 112 menyebut “berbahagialah orang yang takut akan TUHAN”. Ucapan pernyataan ini adalah sebuah dampak dari mereka yang takut akan TUHAN (orang yang berhikmat dan melakukan perintah-Nya berdasarkan petunjuk Tuhan), yang percaya kepada kuasa-Nya. Alasan berbahagia didukung oleh sebuah jaminan dari TUHAN. Di sini, saya memandang jaminan sama dengan berkat. Setiap orang yang berbahagia, jika tidak ada jaminan atau berkat, akan menempuh perjalanan hidup yang melelahkan, atau bahkan tanpa harapan.

Untuk menjelaskan secara aplikatif teks-teks Mazmur 112, maka menyebut kembali empat hal yang telah saya jelaskan sebelumnya.

Pertama: PELUANG

Sebagai orang benar, peluangnya adalah “berbahagia”. Bahagia harus diusahakan dan bukan ditunggu (ay. 1); mujur: dalam segala hal TUHAN sering dan selalu memberi kemujuran kepada orang benar karena apa yang dia lakukan menyenangkan hati TUHAN; Memberi pinjaman kepada sesamanya, dan peduli kepada orang miskin (ay. 9)

Kedua: TUJUAN-TUJUAN HIDUP

Orang benar memiliki tujuan yaitu taat pada segala perintah TUHAN (suka) (ay. 1) sepanjang hidup; berbuat kebajikan seumur hidup (ay. 3, 9); dan menjadi terang dalam hidupnya (ay. 4)

Ketiga: BERKAT

Orang benar mendapat berkat dari TUHAN yaitu harta dan kekayaan (ay. 3); Orang benar mendapat jaminan dari TUHAN yaitu anak cucunya akan perkasa di bumi (ay. 2); angkatan orang benar akan diberkati (ay. 2); ia takkan goyah selama-lamanya (ay. 6); ia dijaga dan dilindungi TUHAN (ay. 7-8); dan dimuliakan oleh TUHAN (ay. 9).

Keempat: KEWAJIBAN

Orang benar wajib takut akan TUHAN (ay. 1); adil bagi sesamanya (ay. 4); pengasih dan penyayang (ay. 4); mengurus urusannya dengan wajar (ay. 5); dan berani melawan orang fasik (ay. 10).

Bahagia orang benar terletak pada peluang, tujuan-tujuan hidup, berkat-berkat TUHAN dan kewajibannya sebagai orang benar.

Kita yang hidup di zaman ‘now’ perlu memperhatikan empat hal di atas. (1) Setiap peluang yang diberikan Tuhan haruslah dimanfaatkan; (2) Kita perlu menetapkan apa saja tujuan hidup kita. Saya sudah menyebutkan beberapa hal, tinggal saudara yang tambahkan sesuai kehendak masing-masing; (3) Yakinlah bahwa Tuhan pasti memberkati kita dan mencurahkan berkat-Nya; dan (4) Dan jangan lupa, ada kewajiban yang harus kita lakukan seumur hidup kita untuk taat dan setia kepada Tuhan. Kita patut bersyukur dan menyukakan hati Tuhan dengan melakukan perintah-perintah-Nya, hukum-hukum-Nya, titah-titah-Nya.

Niscaya, bahagia menjadi milik kita. Tidak hanya itu saja, jaminan dari Tuhan pasti berlaku atas kita dan anak cucu kita.

Tuhan memberkati, menyertai, dan menopang kita. Amin

Salam Bae.

Sumber gambar: Foto Yan Suhendra, Unsplash, Pinterest, Google Image.

DAMAI SEJAHTERA DI BUMI

82042.jpg

Masih tersisa perdebatan soal tanggal berapa Yesus dilahirkan ke dunia ini, sampai ada yang melupakan apa yang terjadi dalam peristiwa Natal, apa tujuannya, dan apa landasan historisnya. Kita perlu mengakui bahwa jika Yesus datang dalam dunia dalam rupa manusia melalui peristiwa inkarnasi (Yoh. 1:14) – Logos menjadi daging yang dilahirkan dari perawan Maria, maka pasti ada “waktu” Ia dilahirkan. Pencarian dan pengesahan tanggal kelahiran Yesus bagi sebagian orang itu penting, bagi sebagian orang kurang penting, dan bagi sebagian orang lagi tidak dipandang sebagai sesuatu yang mengganggu perayaan Natal Yesus Kristus. Dengan demikian, secara substansial, pemahaman dan pemaknaan Natal haruslah dilihat dari aspek kovenan Allah dengan manusia, aspek nubuatan Sang Mesias (identitas-Nya), dan aspek penggenapannya.

Pada aspek penggenapannya, ada peristiwa yang spektakuler yang terjadi di tanah Yudea, di kota Daud yang bernama Betlehem. Para gembala didatangi oleh seorang malaikat Tuhan (Luk. 2:8-9). Kedatangan malaikat Tuhan adalah mewartakan suatu berita: “…kesukaan besar untuk seluruh bangsa: Hari ini telah lahir bagimu Juruselamat, yaitu Kristus, Tuhan, di kota Daud. Dan inilah tandanya bagimu: Kamu akan menjumpai seorang bayi dibungkus dengan lampin dan terbaring di dalam palungan” (Luk. 2:10-12). Dan tiba-tiba tampaklah bersama-sama dengan malaikat itu sejumlah besar bala tentara sorga yang memuji Allah, katanya: “Kemuliaan bagi Allah di tempat yang mahatinggi dan damai sejahtera di bumi di antara manusia yang berkenan kepada-Nya” (Luk. 2:14).

Kisah di atas diawali dengan peristiwa kelahiran Yesus (Luk. 2:6-7), dan kemudian seorang malaikat Tuhan memberitakan kesukaan besar untuk seluruh bangsa kepada para gembala yang tinggal di padang menjaga kawanan ternak mereka pada waktu malam (Luk. 2:8-10), sementara orang-orang Majus bersukacita melihat “bintang Sang Raja” di Timur, dan mereka datang (melalui perjalanan yang cukup jauh) untuk menyembah Raja, yang baru dilahirkan itu (Mat. 2:1-2).

three shepherds 85041.jpeg

Jika malaikat Tuhan memberitakan KESUKAAN BESAR, maka kita melihat konfirmasinya dalam teks-teks Lukas pasal 2.

Pertama: “Hari ini telah lahir bagimu JURUSELAMAT, yaitu KRISTUS, TUHAN, di kota Daud.” pernyataan ini – sebagai kesukaan besar – didasarkan pada penggenapan Mikha 5:1, yang mana teks tersebut memperlihatkan permulaan dari Sang Mesias yang akan datang itu sebagai “Mesias yang akan memerintah Israel, yang permulaannya sudah sejak purbakala, sejak dahulu kala”. Jika Mesias itu permulaannya sejak purbakala, sejak dahulu kala, maka hal itu tidak dapat merujuk pada mesias yang biasa, melainkan merujuk pada Mesias Ilahi. Hanya Mesias Ilahi yang dapat memerintah Israel sampai selama-lamanya, karena teks Mikha 5 menyebutkan “permulaan Sang Mesias” sejak purbakala, sejak dahulu kala. Sepanjang sejarah Israel atau pun Yudaisme, tak ada sebutan Mesias yang permulaannya sejak purbakala, sejak dahulu kala. Kecuali Yesus Kristus saja yang dinyatakan dan menyatakan identitas kekalnya: “Pada mulanya adalah Firman; Firman itu bersama-sama dengan Allah dan Firman itu adalah Allah. Ia pada mulanya bersama-sama dengan Allah. Segala sesuatu dijadikan oleh Dia dan tanpa Dia tidak ada suatupun yang telah jadi dari segala yang telah dijadikan. Firman itu telah menjadi manusia, dan diam di antara kita, dan kita telah melihat kemuliaan-Nya, yaitu kemuliaan yang diberikan kepada-Nya sebagai Anak Tunggal Bapa, penuh kasih karunia dan kebenaran” (Yoh. 1:1-3, 14). Kata Yesus kepada mereka: “Jikalau Allah adalah Bapamu, kamu akan mengasihi Aku, sebab Aku keluar dan datang dari Allah. Dan Aku datang bukan atas kehendak-Ku sendiri, melainkan Dialah yang mengutus Aku” (Yoh. 8:42).

Identitas itu begitu kuat dan konfirmatif bahwa Mesias Ilahi adalah pemilik umat-Nya dan memerintah sampai selama-lamanya. Ia juga adalah Juruselamat umat-Nya. Allah adalah Juruselamat, dan Yesus Kristus meneguhkan identitas tersebut. Dengan demikian, tepatlah berita malaikat kepada para gembala: “hari ini telah lahir bagimu JURUSELAMAT, yaitu KRISTUS, TUHAN, di kota Daud”, sebab hanya Allah – sebagai yang Ilahi – yang dapat disebut sebagai Juruselamat dan Tuhan, karena Dia telah membuktikannya dalam sejarah.

Kedua: Malaikat tidak hanya menyampaikan kabar kesukaan besar, tetapi mengarahkan para gembala untuk MENGKONFIRMASI apa yang telah dikatakannya: “Dan inilah tandanya bagimu: Kamu akan menjumpai seorang bayi dibungkus dengan lampin dan terbaring di dalam palungan” (Luk. 2:12). Para gembala kemudian pergi untuk menemui Yusuf, Maria, dan bayi Yesus. Mereka perlu bukti, karena memang itulah petunjuk yang diberikan oleh malaikat tersebut. Malaikat itu datang dari sorga dan kembali ke sorga (Luk. 2:15). Artinya, malaikat itu bukanlah hantu yang datang dari pepohonan, bebatuan, atau kuburan, atau yang lainnya. Tidak. Justru Lukas mencatat bahwa malaikat Tuhan datang dari sorga untuk memberitakan kabar sukacita yang besar, Logos [yang kekal di surga] datang menjadi daging [manusia, dan diam di bumi, di antara manusia].

Mendengar petunjuk malaikat Tuhan, para gembala itu berkata seorang kepada yang lain: “Marilah kita pergi ke Betlehem untuk melihat apa yang terjadi di sana, seperti yang diberitahukan Tuhan kepada kita.” Lalu mereka cepat-cepat berangkat dan menjumpai Maria dan Yusuf dan bayi itu, yang sedang berbaring di dalam palungan. Dan ketika mereka melihat-Nya, mereka memberitahukan apa yang telah dikatakan kepada mereka tentang Anak itu. Dan semua orang yang mendengarnya heran tentang apa yang dikatakan gembala-gembala itu kepada mereka. Tetapi Maria menyimpan segala perkara itu di dalam hatinya dan merenungkannya. Maka kembalilah gembala-gembala itu sambil memuji dan memuliakan Allah karena SEGALA SESUATU YANG MEREKA DENGAR DAN MEREKA LIHAT, SEMUANYA SESUAI DENGAN APA YANG TELAH DIKATAKAN KEPADA MEREKA. (Luk. 2:15-20).

Ketiga: Tidak hanya sukacita bagi Yusuf dan Maria, serta para gembala, tetapi juga ada kesukaan besar di sorga yang dinyatakan oleh sejumlah besar bala tentara sorga yang memuji Allah, katanya: “Kemuliaan bagi Allah di tempat yang mahatinggi dan damai sejahtera di bumi di antara manusia yang berkenan kepada-Nya” (Luk. 2:14).

musical angels 85042.jpeg

Kemuliaan Allah dinyatakan melalui peristiwa Natal. Memang kemuliaan hanya ditujukan kepada Allah di tempat yang maha tinggi, sedangkan damai sejahtera diberikan Allah kepada manusia [di bumi] yang berkenan kepada-Nya. Sorga dan bumi dipertemukan di dalam Yesus Kristus, dan peristiwa itu hanya dapat dilakukan oleh Allah sendiri. Konfirmasi ini sangatlah luar biasa. Allah memperlihatkan kekuasaan dan kedaulatan-Nya dalam sejarah Inkarnasi, Natal Yesus Kristus, Tuhan dan Juruselamat kita.

Keempat: “Manusia yang berkenan kepada-Nya” adalah umat-Nya sendiri. Kita melihat dalam teks Matius 1:21, “Ia akan melahirkan anak laki-laki dan engkau akan menamakan Dia Yesus, karena Dialah yang akan menyelamatkan umat-Nya dari dosa mereka.” Rasul Yohanes menegaskan hal yang sama, bahwa “Firman itu telah menjadi manusia, dan diam di antara kita, dan kita telah melihat kemuliaan-Nya, yaitu kemuliaan yang diberikan kepada-Nya sebagai Anak Tunggal Bapa, penuh kasih karunia dan kebenaran” (Yoh. 1:14). Dengan demikian, mereka yang percaya adalah orang-orang yang mana Allah menyatakan kasih-Nya: “Karena begitu besar kasih Allah akan dunia ini, sehingga Ia telah mengaruniakan Anak-Nya yang tunggal, supaya setiap orang yang percaya kepada-Nya tidak binasa, melainkan beroleh hidup yang kekal. (Yoh. 3:16). Ini juga adalah “kesukaan besar”.

Semua manusia yang berkenan kepada-Nya karena dikenan oleh Allah, akan menerima “damai sejahtera” [εἰρήνη – eirēnē] dari Allah. Mereka adalah umat pilihan-Nya. Ini adalah DAMAI SEJAHTERA yang terbesar yang berpadu dengan KASIH [ἠγάπησεν] Allah yang terbesar. Sorga dan bumi berpadu dalam peristiwa Natal. Allah menghubungkan keduanya, melampaui dari perjumpaan Allah dengan umat-Nya dalam Perjanjian Lama.

Dalam Natal, ada kemuliaan Allah dan ada “damai sejahtera” yang dikaruniakan bagi manusia yang berkenan kepada-Nya. Kita yang telah diperkenankan-Nya, harus mendengarkan suara-Nya sebab Ia mengenal kita dan kita mengikut Dia, Yesus Kristus. Dia memberikan hidup yang kekal kepada kita dan kita pasti tidak akan binasa sampai selama-lamanya dan seorangpun tidak akan merebut kita dari tangan Yesus Kristus (Yoh. 10:27-28). Natal membawa damai di bumi bagi manusia yang berkenan kepada-Nya. Hal ini menandaskan bahwa tak ada manusia yang berkenan kepada Allah jika Allah tidak memperkenankan kita untuk datang menyembah Dia. 

Madonna Painting - Madonna and Child by Giuseppe Maria Crespi

Kelima: Natal adalah pertemuan dua natur yaitu: Ilahi dan manusia. Ia – Sang Logos – datang dalam rupa manusia. Rasul Paulus menegaskan hal ini: “yang walaupun dalam rupa Allah, tidak menganggap kesetaraan dengan Allah itu sebagai milik yang harus dipertahankan, melainkan telah mengosongkan diri-Nya sendiri, dan mengambil rupa seorang hamba, dan menjadi sama dengan manusia” (Flp. 2:6-7). 1 Timotius 3:16, “Dan sesungguhnya agunglah rahasia ibadah kita: “Dia, yang telah menyatakan diri-Nya dalam rupa manusia, dibenarkan dalam Roh; yang menampakkan diri-Nya kepada malaikat-malaikat, diberitakan di antara bangsa-bangsa yang tidak mengenal Allah; yang dipercayai di dalam dunia, diangkat dalam kemuliaan.” Ini adalah kesukaan besar tidak hanya di surga, tetapi juga di bumi. Hal ini tampak dalam Lukas 2:10-12, “…Hari ini telah lahir bagimu Juruselamat, yaitu Kristus, Tuhan, di kota Daud. Dan inilah tandanya bagimu: Kamu akan menjumpai seorang bayi dibungkus dengan lampin dan terbaring di dalam palungan.” Pertemuan dua natur menciptakan sejarah yang spektakuler.

Konteks ini adalah pertanda bahwa Allah datang dalam rupa manusia dan membawa kembali manusia kepada gambar-Nya. Manusia diciptakan menurut gambar Allah: Kejadian 1:26, “Berfirmanlah Allah: “Baiklah Kita menjadikan manusia menurut gambar dan rupa Kita, supaya mereka berkuasa atas ikan-ikan di laut dan burung-burung di udara dan atas ternak dan atas seluruh bumi dan atas segala binatang melata yang merayap di bumi”; Yakobus 3:9, Dengan lidah kita memuji Tuhan, Bapa kita; dan dengan lidah kita mengutuk manusia yang diciptakan menurut rupa Allah”.

Manusia yang berdosa telah merusak gambar Allah dalam dirinya. Itulah sebabnya, tujuan Natal (Inkarnasi) tidak hanya menggenapi nubuatan, kovenan, dan menyelamatkan umat-Nya, tetapi juga memulihkan gambar Allah yang telah rusak karena dosa (pemberontakan, perlawanan, penentangan). Kemudian, pemulihan dan pengembalian gambar Allah juga menjadi pokok penting dalam Teologi Perjajian Baru. Teks-teks representatif dan konfirmatif berikut ini memberi ruang pemahaman yang kuat: Roma 8:29, “Sebab semua orang yang dipilih-Nya dari semula, mereka juga ditentukan-Nya dari semula untuk menjadi serupa dengan gambaran Anak-Nya, supaya Ia, Anak-Nya itu, menjadi yang sulung di antara banyak saudara.” 2 Korintus 3:18, “Dan kita semua mencerminkan kemuliaan Tuhan dengan muka yang tidak berselubung. Dan karena kemuliaan itu datangnya dari Tuhan yang adalah Roh, maka kita diubah menjadi serupa dengan gambar-Nya, dalam kemuliaan yang semakin besar” (2Kor. 3:18).

Sukacita Natal memadukan kasih dan damai sejahtera dari satu-satunya Sumber Kehidupan. Allah begitu mengasihi umat-Nya, sehingga Ia mengaruniakan Anak-Nya yang Tunggal, yang lahir dari perawan Maria. Mukjizat ini menandai proses ketaatan Sang Anak dalam kemanusiaan-Nya untuk menderita, mati, bangkit, dan naik ke surga. Ia dari surga datang ke bumi, dan kembali ke surga. Malaikat Tuhan yang membawa kabar kesukaan besar datang dari surga dan kembali ke surga. Fakta ini begitu ajaib dan luar biasa. Kita tak dapat mengungkapkannya dengan kata-kata.

Madonna Painting - Our Lady Worshipping the Child by Correggio

Kita hanya patut bersyukur tatkala Allah datang mengunjungi manusia dalam rupa manusia. Sesungguhnya, kabar kesukaan besar yang telah dikumandangkan ribuan tahun yang lalu bahwa: telah lahir bagimu Juruselamat, yaitu Kristus, Tuhan, di kota Daud, merupakan penyediaan “iman kepada Sang Logos” yang lahir dengan sederhana, dibungkus dengan lampin, dibaringkan dalam palungan. Iman yang diberikan Allah kepada kita membawa kita kepada kekayaan kasih karunia dan anugera-Nya, bahkan damai sejahtera yang telah diturunkan Allah pada peristiwa Natal Yesus Kristus, tetap melingkupi umat-Nya, dulu, sekarang, dan sampai selama-lamanya.

Pujian yang pernah dikumandangkan oleh sejumlah besar bala tentara sorga, kita kumandangkan kembali bahwa: “Kemuliaan bagi Allah di tempat yang mahatinggi dan damai sejahtera di bumi di antara manusia yang berkenan kepada-Nya.”

Salam Bae….

Sumber gambar:

  1. https://www.advocate-art.com/daniel-rodgers/82042-jpg?query=angel
  2. https://i.pinimg.com/originals/ed/71/d6/ed71d67182ce35f2224ec00092b74440.jpg
  3. https://fineartamerica.com/featured/madonna-and-child-giuseppe-maria-crespi.html. Madonna and Child is a painting by Giuseppe Maria Crespi which was uploaded on October 26th, 2015.
  4. https://fineartamerica.com/featured/our-lady-worshipping-the-child-correggio.html?epik=dj0yJnU9UjllTk5RRVBfU2JGcE12Q19GbElrR20wS0hZRFBxVEcmcD0wJm49c2V1VGVHLXBVTzlETWt2Qkc3VS1nQSZ0PUFBQUFBR0hHcVl3. Our Lady Worshipping the Child is a painting by Correggio which was uploaded on December 11th, 2013
  5. https://www.advocate-art.com/daniel-rodgers/three-shepherds-85041-jpeg?query=angel
  6. https://www.advocate-art.com/daniel-rodgers/musical-angels-85042-jpeg?query=angel

HENDAKLAH DAMAI SEJAHTERA KRISTUS MEMERINTAH DALAM HATIMU: Komprehensifitas Ontologis Iman Kristen berdasarkan Kolose 3:15

man in white shirt sitting on brown rock near body of water during daytime

PENDAHULUAN

Kehidupan Kristen membutuhkan aspek-aspek berikut: kualitas pemikiran, kualitas komitmen, kualitas hati, dan kualitas perbuatan. Pada faktanya, ada orang-orang Kristen yang “gagal” melakukan, menjalankan, dan mempertahankan aspek-aspek tersebut. Hal itu bisa disebabkan oleh adanya desakan, godaan, rayuan, tekanan, dan pengaruh dari kehidupan duniawi yang mengandung nilai-nilai kejahatan yang luar biasa. Berbagai perbuatan kedagingan (hawa nafsu) telah menodai dan merusak iman Kristen. Tak bisa dipungkiri, ini adalah fakta yang mengejutkan sekaligus menyedihkan.

Memang ada cukup tantangan yang diperhadapkan dalam hidup kekristenan kita. Tantangan tersebut datang dari berbagai motif. Bahkan kita sendiri yang menciptakan motif tersebut dengan maksud mencoba membuat sesuatu yang berdosa dengan sedikit memperhalus caranya. Apa pun alasannya, motif-motif yang diciptakan untuk menyembunyikan dosa, tidaklah benar dalam pandangan Tuhan. Kehidupan yang benar di hadapan Tuhan adalah kehidupan yang “kudus”; sebuah kehidupan yang “terpisah” dan “memisahkan diri” dari keinginan duniawi, perbuatan-perbuatan jahat — dan sebuah kehidupan yang telah menanggalkan “manusia lama dengan segala hawa nafsunya yang liar” dan kemudian “mengenakan manusia baru dengan segala sukacita dan kesuciannya” untuk hidup dalam kasih, kemurahan, kelemahlembutan, kerendah-hatian, kesabaran, dan penguasaan diri.

LATAR BELAKANG

Hal-hal demikian tampak dalam sejumlah pengamatan Rasul Paulus kepada jemaat di Kolose. Terkait dengan judul tulisan ini, saya hendak menjelaskan konteksnya berdasarkan apa yang dipaparkan oleh Paulus tentang perpaduan antara hati dan pikiran orang percaya yang telah percaya kepada Yesus Kristus. Hal ini sebenarnya menjelaskan konstruksi pemikiran Paulus untuk memberikan pemahaman yang bersifat komprehensif ontologis (eksistensi, esensi, kenyataan) iman kepada Yesus Kristus. Ia melihat bahwa komitmen dan konsekuensi dari percaya kepada Kristus menjadi sebuah pilihan hidup sekaligus substansi dari iman itu sendiri.

Komitmen Paulus dituangkan ketika ia berbicara tentang pengakuan kepada Tuhan bahwa apa yang telah Ia buat (menebus, menguduskan, menyelamatkan) merupakan sesuatu yang sangat luar biasa yang memberi dampak bagi kualitas pemikiran, kualitas hati, dan kualitas perbuatan sebagaimana yang tampak dalam elaborasi Paulus dalam tiga pasal (1, 2, dan 3) yang mendahului konteks pasal 3:15 yang akan dibahas di sini. Pengakuan tersebut berangkat dari karya-karya Tuhan Yesus dalam totalitas kehidupan jemaat Kolose yang dulunya hidup dalam segala kecemaran dan hawa nafsu yang liar. Saya mencatat hal-hal penting tentang komitmen Paulus mengenai perbuatan Tuhan terhadap orang percaya di mana di dalamnya, mereka perlu menetapkan sebuah komitmen (sebagai implikasinya) teguh untuk tetap mengikuti Dia, dan berjalan bersama-Nya serta meniggalkan perbuatan-perbuatan kedagingan (hawa nafsu). Mengenai ini akan saya jelaskan sedikit setelah komitmen dan konsekuensi:

1. Komitmen dasar adalah bahwa jemaat Kolose disebut kudus dan yang percaya dalam Kristus (1:2). Percaya kepada Yesus berarti harus hidup kudus dan Tuhan sajalah yang menguduskannya.

2. Jemaat Kolose telah beriman kepada Kristus (1:4). Iman jemaat Kolose disebabkan oleh Injil Kristus “yang” disampaikan oleh para Rasul.

3. Jemaat Kolose mengasihi semua orang kudus (1:4). Mengasihi adalah wujud nyata dari mereka yang telah dipanggil oleh Tuhan Yesus.

4. Jemaat Kolose telah dilepaskan dari kuasa kegelapan dan dipindahkan Allah ke dalam Kerajaan Yesus Kristus (1:13). Allah melepaskan mereka dari [kuasa] kegelapan dan diterima dalam Kerajaan Yesus Kristus.

5. Jemaat Kolose telah ditebus dan diampuni dosanya (1:14).

6. Jemaat Kolose diperdamaikan dengan diri-Nya melalui darah salib Kristus (1:20-22).

7. Jemaat Kolose telah menerima Kristus Yesus Tuhan (2:6)

8. Jemaat Kolose telah dipenuhi di dalam Dia (Yesus) (2:10)

9. Jemaat Kolose telah disunat, bukan dengan sunat yang dilakukan oleh manusia, tetapi dengan sunat Kristus, yang terdiri dari penanggalan akan tubuh yang berdosa (2:11)

10. Jemaat Kolose telah dikuburkan dalam baptisan Kristus (2:12)

11. Jemaat Kolose turut dibangkitkan oleh kepercayaan mereka sendiri kepada kerja kuasa Allah, yang telah membangkitkan Dia [Yesus] dari orang mati (2:12)

12. Jemaat Kolose telah dan dibebaskan dari roh-roh dunia (2:20)

13. Jemaat Kolose terus-menerus diperbaharui untuk memperoleh pengetahuan yang benar menurut gambar Khaliknya (3:10).

14. Jemaat Kolose telah dibebaskan dari sekat-sekat identitas (suku dan sebagainya) (3:11)

Dari komitmen (pengakuan) Paulus di atas mengenai karya-karya Tuhan, ia mengharapkan sebuah komitmen dari orang percaya sebagai implikasinya. Implikasi tersebut merupakan sebuah komitmen hidup kudus dan konsekuensi dari iman kepada Kristus. Artinya, beriman kepada Kristus tidak membuka peluang bagi orang percaya (jemaat Kolose) untuk hidup secara bebas dalam dosa yang begitu merusak moralitas dan spiritualitas mereka di hadapan-Nya. Sebaliknya, ketika mereka telah percaya kepada Yesus Kristus, mereka harus menyatakan komitmen untuk hidup di dalam Tuhan sebagaimana Tuhan telah memanggil dan menguduskan mereka.

white book on brown wooden table

Konsekuensi tersebut tampak dalam penegasan Paulus kepada jemaat Kolose bahwa mereka harus hidup kudus dan menanggalkan kemanusiaan yang terkungkung dalam dosa dan kemunafikan dunia (bdk. Gal. 5:19-21). Kemunafikan terkait dengan pemikiran bahwa menjadi orang percaya “masih bisa bermain dalam air keruh dosa” yang dianggap jernih dan menggairahkan serta memuaskan. Dosa memang menarik dan memuaskan. Menarik kemasannya tetapi kemudian meruntuhkan identitas, moralitas, dan imannya. Berikut konsekuensi yang ditempuh oleh orang percaya:

Karena itu matikanlah dalam dirimu segala sesuatu yang duniawi, yaitu percabulan, kenajisan, hawa nafsu, nafsu jahat dan juga keserakahan, yang sama dengan penyembahan berhala (3:5)

Tetapi sekarang, buanglah semuanya ini, yaitu marah, geram, kejahatan, fitnah dan kata-kata kotor yang keluar dari mulutmu (3:8)

Jangan lagi kamu saling mendustai, karena kamu telah menanggalkan manusia lama serta kelakuannya (3:9)

Kemudian, dari konsekuensi tersebut, jemaat Kolose diminta untuk perlu mengupayakan nilai-nilai spiritualitas dalam bentuk tindakan nyata. Tindakan tersebut sebenarnya merupakan “balasan” dari apa yang dulu dilakukan oleh jemaat Kolose sebagai solusi yang baik:

Karena itu, sebagai orang-orang pilihan Allah yang dikuduskan dan dikasihi-Nya, kenakanlah belas kasihan, kemurahan, kerendahan hati, kelemahlembutan dan kesabaran (3:12)

Sabarlah kamu seorang terhadap yang lain, dan ampunilah seorang akan yang lain apabila yang seorang menaruh dendam terhadap yang lain, sama seperti Tuhan telah mengampuni kamu, kamu perbuat jugalah demikian (3:13)

Dan di atas semuanya itu: kenakanlah kasih, sebagai pengikat yang mempersatukan dan menyempurnakan (3:14)

Dengan demikian, komitmen (pengakuan) Paulus tentang karya-karya Yesus Kristus terhadap dirinya, jemaat Kolose, dan orang percaya lainnya, konsekuensi yang harus dialami oleh jemaat Kolose dan upaya jemaat Kolose untuk mewujudkan nilai-nilai spiritualitas dalam bentuk tindakan nyata, adalah kesatuan yang saling terkait (terkonstruksi) untuk masuk ke dalam kontkeks pasal 3:15 berikut ini.

TEKS DAN PENDALAMAN

καὶ ἡ εἰρήνη τοῦ Χριστοῦ βραβευέτω ἐν ταῖς καρδίαις ὑμῶν, εἰς ἣν καὶ ἐκλήθητε ἐν ἑνὶ σώματι· καὶ εὐχάριστοι γίνεσθε [kai hē eirēnē tou Khristou brabeuetō en tais kardiais humōn, eis hēn kai eklēthete en heni sōmati. Kai eukharistoi ginesthe].

ASV  And let the peace of Christ rule in your hearts, to the which also ye were called in one body; and be ye thankful.

KJV  And let the peace of God rule in your hearts, to the which also ye are called in one body; and be ye thankful.

MGI  And the peace of Christ will govern your hearts, for to him you were called in one body. And be thankful to Christ,

NAB  And let the peace of Christ control your hearts, the peace into which you were also called in one body. And be thankful.

NAS  And let the peace of Christ rule in your hearts, to which indeed you were called in one body; and be thankful.

NIV  Let the peace of Christ rule in your hearts, since as members of one body you were called to peace. And be thankful.

NJB And may the peace of Christ reign in your hearts, because it is for this that you were called together in one body. Always be thankful.

Dari beberapa terjemahan di atas, ada kata-kata yang digunakan untuk menerjemahkan “memerintah”: rule, will govern, control, dan reign. Arti dari kata-kata tersebut kurang lebih bersubstansi sama: memerintah, menentukan, mengarahkan, mengontrol, memandu, menuntun, menguasai, mengendalikan. Dari terjemahan (kata-kata) di atas, saya lebih memilih kata βραβεύω [brabeuō] dalam arti sebagai “menguasai atau mengendalikan. Artinya “damai sejahtera εἰρήνη [eirēnē]” Kristus menguasai/mengendalikan hati (pusat hidup manusia) sehingga apa yang keluar (output) dari hati dituangkan dalam bentuk tindakan nyata (lihat mengupayakan nilai-nilai spiritualitas dalam bentuk tindakan nyata, di atas).

Kata βραβευέτω adalah kata kerja imperatif present active (dari βραβεύω, judge, control, to be an umpire, to decide, determine, to direct, control, rule). Di sini, Paulus sedang menegaskan bahwa pola kehidupan jemaat Kolose jangan sampai dikuasai atau dikendalikan oleh manusia lama (bandingkan konsekuensi yang telah saya jelaskan di atas). Sebaliknya, hendaklah damai sejahtera Kristus tersebut mengendalikan/menguasai hati dan pikiran agar implikasi yang timbul, adalah implikasi yang sesuai dengan kehendak Tuhan.

brown and blue floral textile

Hati, sebagai pusat damai sejahtera Kristus yang menguasai/mengendalikan merupakan sebuah titik pertemuan antara pikiran dan perasaan (emosi atau kehendak) untuk menentukan apa yang harus dilakukan. Di sini, Paulus menetapkan hati [καρδία] sebagai “the seat of physical life” (pusat dari kehidupan jasmani). Penetapan (komitmen) bahwa damai sejahtera Kristus harus menguasai/mengendalikan hati jemaat Kolose selaras (sesuai) dengan konsep “panggilan” mereka. Artinya, mereka (jemaat Kolose) yang menjadikan damai sejahtera Kristus menguasai hati mereka adalah mereka yang telah dipilih untuk “dipanggil” oleh Kristus sebagai terapan dari keterpanggilan mereka. Apa yang Tuhan tetapkan, pasti terwujud. Jemaat Kolose telah ditetapkan dan dipanggil, maka mereka harus mewujudkan kehidupan yang penuh damai, dan bukan perselisihan, kemarahan, dan sebagainya.

KORELASI

Ayat 15 memiliki korelasi kuat dengan ayat 16: “Hendaklah perkataan Kristus diam dengan segala kekayaannya di antara kamu, sehingga kamu dengan segala hikmat mengajar dan menegur seorang akan yang lain dan sambil menyanyikan mazmur, dan puji-pujian dan nyanyian rohani, kamu mengucap syukur kepada Allah di dalam hatimu.” Korelasi tersebut memadukan dua unsur penting dalam hidup manusia yaitu: hati dan tindakan. Tindakan dinyatakan dalam bentuk “mengajar” dan “menegur”.

Damai sejahtera berbicara mengenai suasana hati, sedangkan perkataan Kristus berbicara mengenai tindakan yang harus dilakukan untuk meyakinkan orang lain bahwa pilihan untuk percaya kepada Kristus adalah pilihan yang benar yang disertai dengan perubahan radikal di mana kehidupan dikuasai atau dikendalikan oleh firman Tuhan (perintah-perintah, aturan-aturan, dan prinsip-prinsip) untuk menghasilkan kehidupan yang berkualitas (kualitas pemikiran, kualitas komitmen, kualitas hati, dan kualitas perbuatan).

Kualitas pemikiran merupakan cara orang Kristen untuk menghasilkan perenungan atas firman-Nya dengan menuangkannya dalam tulisan. Pemikiran Kristen haruslah mencakup pengajaran, iman, moralitas, relasi manusia dengan Tuhan dan sesama, dan bagaimana menjaga iman agar tetap kuat hingga akhir hidup.

Kualitas komitmen adalah iman yang direalisasikan dalam totalitas kehidupan dan berhadapan dengan berbagai tantangan, cobaan, godaan bahkan konsekuensi-konsekuensi yang muncul akibat kuatnya komitmen kita—tak berubah meski tawaran uang, harta, dan kenikmatan dosa yang menggiurkan. Komitmen adalah langkah-langkah iman yang terus dijaga dan dipelihara agar tidak ada kompromi iman yang bisa masuk menginap di ruang hati dan ruang pikiran kita. Perkuat kualitas pemikiran agar komitmen tetap teguh. Berpegang pada firman Tuhan dan terus bersandar pada Tuhan yang penuh kuasa.

Kualitas hati berbicara tentang kesadaran bahwa “hati” merupakan bagian internal yang signifikan dan bersifat menentukan. Hati yang terjaga (dijaga dengan baik) merupakan perjuangan seumur hidup kita. Dari hati kita dapat menyatakan syukur dengan ungkapan-ungkapan yang kepada Tuhan yang tak terkirakan. Sikap bersyukur lahir dari kualitas hati yang mapan dan telah mengecap kebaikan-kebaikan Tuhan.

Kualitas perbuatan adalah sebuah hasil dari berbagai upaya kualitas iman, komitmen, dan hati. Ukuran iman adalah perbuatan. Seperti yang dinyatakan Rasul Yakobus: “Iman tanpa perbuatan, pada hakikatnya adalah mati”. Apa yang harus diperbuat tentu harus selaras dengan firman Tuhan.

Keempat kualitas tersebut mengantar kita pada kesimpulan bahwa damai sejahtera Kristus, seyogianya juga berpengaruh kepada lingkungan mikro maupun makro. Damai sejahtera Kristus harus menguasai dan memerintah kehidupan kita sehingga perluasan pemikiran, komitmen, kualitas hati, dan perbuatan, dapat dirasakan oleh banyak orang. Tuhan tentu menopang dan menyertai mereka yang terus-menerus berjuang melakukan kehendak-Nya dalam segala aspek kehidupan—menghadirkan dan menyebarkan damai sejahteran-Nya dalam segala situasi dan tempat.

PENUTUP

Klausa “HENDAKLAH DAMAI SEJAHTERA KRISTUS MEMERINTAH DALAM HATIMU” diwujudkan dalam tindakan dan relasi yang nyata. Kehidupan jemaat Kolose sebagaimana yang dikehendaki Rasul Paulus, perlu memperhatikan relasi internal maupun eksternal. Internal dikuasai oleh damai sejahtera Kristus untuk menjadi satu, sedangkan eksternal dikuasai oleh perkataan Kristus untuk mengajar dan menegur orang lain, siapa pun mereka.

Komprehensifitas ontologis (esensi) iman Kristen dinampakkan dalam perilaku setiap hari. Perilaku harus selaras dengan hati di mana hati telah dikuasai oleh damai sejahtera Kristus. Dalam konteks kehidupan keseharian kita, damai sejahtera Kristus dan perkataan Kristus seyogianya “memerintah”—sebagai pemberi perintah yang menguasai atau mengendalikan—semua orang percaya yang telah menyatakan komitmen (pengakuannya) bahwa Yesus adalah Tuhan dan Juruselamat manusia dan menawarkan keselamatan bukan dengan cara “menggertak orang dengan pedang atau dengan hasutan (intimidasi)”, melainkan dengan berita bahwa “dosa-dosa manusia telah diampuni”. Bukankah ini adalah berita yang luar biasa? Yesus yang datang sebagai Logos Ilahi dalam rupa manusia, menjelaskan apa sebenarnya makna pengurbanan; makna penebusan melalui unsur darah; Yesus menyatakan bahwa kebangkitan-Nya sangat mampu menjamin kehidupan kekal bagi mereka yang rela mati bagi-Nya; bagi mereka yang menderita bagi-Nya; bagi mereka yang setia hingga akhir hidup mereka.

human hand

Kehidupan yang kita jalani dengan menerapkan hal-hal baik yang sesuai dengan firman-Nya; seyogianya kehidupan kita membawa perubahan dan menjadikan damai sejahtera Kristus menguasai pola pikir, pola hidup, dan pola perkataan kita sebagai orang percaya. Di dalamnya, kita boleh menyanyikan mazmur, dan puji-pujian dan nyanyian rohani, serta menyatakan ungkapan syukur kepada Allah yang hidup sebagai wujud dari kualitas pemikiran, kualitas komitmen, kualitas hati, dan kualitas perbuatan

Shalom. Salam Bae

Sumber gambar: https://unsplash.com/s/photos/christ

ORANG MAJUS DAN NATAL YESUS KRISTUS: Undangan Allah untuk Menyembah Sang Logos Ilahi

Peristiwa kelahiran Yesus sangat unik. Biasanya, orang Kristen terfokus pada palungan saja—yaitu tempat di mana bayi Yesus dibaringkan. Namun, kali ini, saya hendak memberikan sedikit penjelasan mengenai mengapa Allah mengundang orang-orang Majus dari timur untuk datang menyembah Yesus Kristus.

Kita melihat bahwa Allah seringkali menyatakan cara-cara yang tak terduga untuk merealisasikan maksud dan kehendak-Nya. Allah tentu berdaulat untuk menyatakan bagaimana cara Dia untuk menyelamatkan manusia, memberikan petunjuk kepada manusia, mengarahkan dan mendidik manusia, bahkan menegur serta menghukum manusia. Semua rentetan peristiwa sejarah—dalam konteks iman Kristen—tidak lepas dari campur tangan Allah untuk menyatakan kekuasaan, kasih, kemurahan, kebaikan, keadilan, hukuman, dan anugerah-Nya. Kita perlu tahu bahwa apa pun yang dikerjakan Allah selalu memiliki tujuan tersendiri.

Natal Yesus Kristus dilingkupi dengan berbagai peristiwa ajaib dan luar biasa. Ada kehamilan seorang perawan Maria yang tanpa didahului oleh hubungan suami istri. Maria belum menikah dan ia hamil karena kuasa Roh Kudus. Peristiwa ini bisa dimaknai secara positif maupun negatif, tergantung bagaimana kita memahaminya, apakah secara fragmentaris ataukah secara komprehensif (pokok ini tidak saya jelaskan di sini). Sebelum Yesus lahir dari seorang perawan bernama Maria, peristiwa ajaib lainnya adalah mengandungnya Elisabet meski ia sudah lanjut umurnya (Luk. 1:18, 24-25), dan anak yang dikandung Elisabet diberi nama Yohanes (Luk. 1:13); ia akan mendahului Tuhan Yesus dalam roh dan kuasa Elia (Luk. 1:17).

Peristiwa ajaib lainnya terjadi pada diri Zakharia, ayah Yohanes, suami dari Elisabet. Ia menjadi bisu karena ia tidak percaya pada perkataan Gabriel, pelayan Allah dan yang diutus Allah untuk menyampaikan kabar gembira kepada Zakharia (Luk. 1:18-20), dan ia dapat berbicara pasca Yohanes dilahirkan (Luk. 1:57-64). Dan terakhir adalah “Bintang Timur” yang menjadi penunjuk bagi orang-orang Majus yang menafsirkannya sebagai “Lahirnya Seorang Raja”. Ini tentu, dalam keyakinan saya adalah sebuah undangan Allah bagi orang-orang Majus untuk datang menyembah Sang Logos Ilahi yang menjadi manusia.

Allah mengundang para gembala untuk menyaksikan bahwa apa yang dikatakan oleh malaikat itu benar (Luk. 2:8-20). Allah menghadirkan sejumlah besar bala tentara sorga untuk memuji-Nya karena peristiwa Natal Yesus Kristus (Luk. 2:13-14). Allah menghadirkan para tentara sorga untuk menyaksikan inkarnasi Sang Logos, mempertemukan para gembala dengan Sang Logos, dan mengundang orang-orang Majus untuk melihat kekuasaan-Nya dinyatakan melalui Sang Logos Ilahi menjadi manusia (bdk. Yoh. 1:14), yang pada gilirannya para bala tentara sorga memuji Allah, para gembala memuji dan memuliakan Allah, dan orang-orang Majus dari timur bersukacita, menyembah Yesus, dan mempersembahkan emas, kemenyan, dan mur.

Peristiwa-peristiwa tersebut di atas adalah cara Allah mengundang manusia untuk melihat kekuasaan-Nya dinyatakan. Allah memilih para gembala, orang-orang yang sederhana, tetapi mendapat kesempatan dan undangan dari Allah melalui malaikat-Nya untuk melihat Sang Bayi, Yesus Kristus, yang dilahirkan di Betlehem, sesuai dengan yang telah dinubuatkan. Allah mengutus bala tentara sorga untuk mewakili Kerajaan-Nya karena seorang Raja yang Kekal datang ke dalam dunia dan memberikan damai sejahtera bagi mereka yang berkenan kepada-Nya (Luk. 2:13-14). Allah memilih dan mengundang orang-orang Majus untuk mewakili orang-orang bijaksana untuk memperlihatkan bahwa apa yang mereka tafsirkan mengenai perbintangan, tunduk pada Allah karena Allah menggunakan bintang sebagai tanda bahwa Sang Logos Ilahi telah datang mengunjungi manusia, menjadi manusia, dan hidup sebagai manusia, bagi tergenapinya rencana keselamatan yang telah ditetapkan-Nya. Ini sangat luar biasa.

Dalam tulisan ini, saya hendak menjelaskan beberapa pokok penting yaitu: pertama, bintang timur dalam kaitannya dengan Yesus; kedua, orang-orang Majus yang datang dan memberikan persembahan; dan ketiga, makna bintang timur yang dipakai Allah untuk mengundang orang-orang Majus datang menyembah Yesus, Sang Logos Ilahi yang menjadi manusia. Ketiga pokok ini sekaligus menjadi perenungan kita untuk melihat bahwa iman kita kepada Yesus Kristus tidak salah, melainkan iman kita diteguhkan karena Allah yang mengasihi kita tidak hanya memperlihatkan kekuasaan-Nya secara spektakuler seperti membelah laut Teberau, membangkitkan orang mati, dan sebagainya, tetapi Allah memperlihatkan kekuasaan-Nya dengan penggabungan dua cara yaitu cara ajaib dan sederhana; ajaib karena Sang Logos Ilahi “menjadi manusia” dan peristiwa kelahiran-Nya hanya di sebuah ruangan yang tidak spesial dan dibaringkan di palungan—tempat minum ternak.

Salam Bae

Sumber gambar:

SEMBAH DAN PUJI DIA, TUHANMU: Allah yang Transenden Adalah Allah yang Imanen

Natal Yesus Kristus adalah kunjungan Allah atas dunia ciptaan-Nya. Ia membuktikan bahwa personalitas-Nya yang transenden diseimbangkan dengan personalitas-Nya yang imanen. Allah sangat mengerti keseimbangan. Ia tidak hanya disembah dan dipuji karena perbuatan dan kuasa-Nya yang ajaib dan dahsyat, tetapi Ia juga adalah Allah yang mengerti kerinduan manusia untuk menikmati sukacita dari hati yang penuh syukur. Allah tidak membatasi diri-Nya hanya sebagai Allah yang transenden, melainkan Ia menunjukkan bahwa diri-Nya juga imanen.

Natal adalah berlimpahnya sukacita Surgawi dan disambut sukacita oleh manusia yang “memahami” makna kasih dan kuasa Allah bagi manusia yang berdosa. Natal tidak hanya berbicara mengenai sukacita Allah yang dibagikan kepada manusia tetapi juga berbicara mengenai problem yang akan diselesaikan oleh Allah yaitu: “dosa”. Manusia terbelenggu dengan dosa dan ia sendiri tak mampu melepaskan dirinya. Tuhan sangat mengerti keterbatasan manusia sebab Dialah yang menciptakan mereka.

Ketika Sang Logos Ilahi datang ke dunia—itu pertanda bahwa kekuasaan-Nya tak terbatas. Ia “menjadi” sesuai dengan apa yang dikehendaki-Nya. Peristiwa Natal Yesus Kristus merupakan peristiwa penting dalam sejarah kekristenan. Peristiwa ini bukan asal peristiwa yang muncul ke permukaan tanpa ada sejarahnya. Pada konteks “historical redeption” Allah menetapkan bahwa manusia harus ditebus, diampuni, diselamatkan, dikuduskan, dan dibenarkan. Semuanya hanya dapat dilakukan oleh Allah saja, dan Yesus Kristus sebagai “Syafaat” merepresentasikan sekaligus menegaskan “kesatuan-Nya” dengan Sang Bapa yang dari-Nya Logos itu keluar.

Implikasi dokrinal-historis dari Logos menjadi manusia adalah berlimpahnya sukacita manusia memahami, menerima, dan merasakan lawatan kasih Allah bagi mereka. Sangat tepat dikatakan: “SEMBAH DAN PUJI DIA, TUHANMU”, yaitu Yesus Kristus, Juruselamat dunia. Mengapa harus menyembah Yesus? Kita ingat bagaimana orang-orang Majus dari timur datang menyembah Yesus ketika mereka diberikan petunjuk melalui bintang timur yang bercahaya terang. Bintang itu bukanlah bintang biasa dalam tafsiran mereka; mereka yang adalah ahli ilmu perbintangan memiliki sejumlah indikasi bahwa bintang di timur itu adalah bintang yang luar biasa sehingga mereka meyakini bahwa pasti ada seorang Raja yang telah dilahirkan. Dugaan mereka benar, dan mereka menemui Yesus dan menyembah-Nya.

Jikalau orang-orang Majus memiliki kerinduan untuk datang menyembah Sang Raja dan mempersembahkan emas, kemenyan, dan mur, bagaimana mungkin kita yang telah percaya kepada-Nya—bahkan melebihi orang-orang Majus—tidak menyembah Dia (tunduk dan setia) dan mempersembahkan segala sesuatu kepada-Nya? Mengapa kita justru menyembah diri sendiri, menyembah benda-benda, mengajak orang lain untuk menyembah diri kita, dan mempersembahkan hidup kita kepada hal-hal yang tidak berguna, mempersembahkan hidup kepada dunia dan kemudian dunia merusak hidup kita?

Berapa banyak dari kita yang gagal memahami makna Natal Yesus Kristus dan menjerumuskan diri ke dalam berbagai-bagai duka, berbagai-bagai kemunafikan dan kejahatan, berbagai-bagai dosa dan kebohongan serta kesombongan? Orang-orang Majus bukanlah orang-orang biasa; mereka adalah ahli perbintangan, tetapi mereka membawa diri mereka untuk datang menyembah Yesus Kristus, Raja Yahudi (Mat. 2:2).

Meskipun orang-orang Majus tidak memahami bahwa Raja Yahudi yang dilahirkan itu adalah Inkarnasi Sang Logos Ilahi, Logos yang kekal, namun dalam pemahaman mereka mengenai perbintangan, memiliki makna tersendiri yang kemudian berakhir pada kesimpulan bahwa “ada seorang Raja yang telah lahir” ketika mereka melihat bintang yang bersinar di timur. Keyakinan mereka akan bintang timur itu membawa kerinduan mereka yang ingin terpuaskan ketika mereka melihat dan menyembah Sang Raja itu. Allah telah memberi petunjuk dan membawa mereka masuk ke dalam rencana-Nya untuk memperlihatkan bahwa Logos yang berinkarnasi itu adalah Logos Ilahi.

Bagaimana dengan kita? Apakah kita masih belum memahami mengapa Sang Logos Ilahi datang ke dalam dunia? Allah yang transenden itu kini menyatakan diri-Nya bahwa Ia adalah Allah yang imanen juga. Haruskah kita membuang pemahaman bahwa “Allah yang penuh kasih dan rahmat itu telah menyatakan kehendak-Nya untuk menebus, mengampuni, menyelamatkan, menguduskan, dan membenarkan kita melalui Yesus Kristus, Logos yang menjadi manusia”. Allah yang kita sembah dan kita muliakan memberikan diri-Nya kepada manusia berdosa agar manusia dapat menikmati sukacita yang sesuai dengan natur manusia-Nya. Allah memberikan sukacita surga ke dalam dunia agar manusia dapat menyatakan dan mengekspresikan sukacita hatinya yang berlimpah dalam bentuk kebahagiaan, pujian (menyanyi), gembira, dan keceriaan. Natal bukanlah hari untuk bersedih tetapi hari di mana kita mengekpresikan sukacita karena kita mengetahui bahwa Yesus datang untuk kita, manusia yang berdosa.

Memahami bagaimana Allah bertindak dalam menyelesaikan dosa harus dipahami sebagai kasih karunia-Nya. Jika Allah tidak menyatakan kasih karunia-Nya maka penebusan itu tidak akan ada. Allah—yang oleh kasih karunia-Nya telah menetapkan bahwa setiap manusia berdosa (pada zaman PL) haruslah mempersembahkan binatang yang layak, darahnya dicurahkan dan dipersembahkan kepada Allah. Hal ini tertuang dalam Im. 17:11, “Karena nyawa makhluk ada di dalam darahnya dan Aku telah memberikan darah itu kepadamu di atas mezbah untuk mengadakan pendamaian bagi nyawamu, karena darah mengadakan pendamaian dengan perantaraan nyawa (bdk. Ibr. 9:22. Sebelumnya, Adam, Nuh, Abraham dan sebagainya belum memakai cara demikian. Mereka diampuni berdasarkan kasih karunia Allah.

Dalam Perjanjian Baru (PB) Allah menyatakan cara pengampunan dengan menggabungkan keduanya yaitu kasih karunia dan penebusan melalui darah Anak Domba Allah yaitu Yesus Kristus. Bagaimana ini bisa terjadi? Tentu hal ini didasarkan pada kedaulatan Allah karena manusia telah berdosa “kepada” Allah. Dua teks PB yang menyatakan hal ini yaitu Yohanes 1:29, “Lihatlah Anak Domba Allah, yang menghapus dosa dunia”, dan Efesus 1:7-9, “supaya pada masa yang akan datang Ia menunjukkan kepada kita kekayaan kasih karunia-Nya yang melimpah-limpah sesuai dengan kebaikan-Nya terhadap kita dalam Kristus Yesus. Sebab karena kasih karunia kamu diselamatkan oleh iman; itu bukan hasil usahamu, tetapi pemberian Allah, itu bukan hasil pekerjaanmu: jangan ada orang yang memegahkan diri.”

Allah yang transenden telah menyatakan diri-Nya sebagai Allah yang imanen—menjadi manusia dan tinggal di antara kita (Yoh. 1:14), mati bagi kita dalam keadaan-Nya sebagai manusia (Flp. 2:8), menebus kita (1 Kor. 1:30; Gal. 3:13; 4:5; Ibr. 9:15), mengampuni kita (Mat. 9:6; Mrk. 2:10; Luk. 5:24; Kol. 2:13; 1 Yoh. 2:12; Mat. 26:28; Kis. 5:31; 10:43; Ef. 1:7; Kol. 1:14), menyelamatkan kita (Mat. 1;21; Yoh. 3:17; 1 Tes. 1:10; 1 Tim. 1:15; 2 Tim. 1:9; Tit. 2:11; 3:5; Ibr. 7:25; Ef. 2:5, 8), menguduskan kita (1 Kor. 1:30; Ibr. 10:10), dan membenarkan kita (1 Kor. 1:30; Rm. 3:24; 5:1 [dibenarkan karena iman kepada Yesus Kristus]; 5:9; 8:30; 1 Kor. 6:11; 2 Kor. 5:21).

Jika kita dikasihi Allah sedemikian rupa, bagaimana mungkin kita tidak menyembah dan memuji-Nya? Lalu bagaimana cara kita menyembah-Nya? Kita menyembah-Nya berarti kita setia dan taat pada firman-Nya: melakukan dan bertindak sesuai dengan prinsip-prinsip yang ditetapkan-Nya [hukum-hukum, peraturan-peraturan, dan sebagainya]. Allah menjadikan diri-Nya dapat dijangkau manusia dan dapat dipahami berdasarkan penyataan diri-Nya kepada manusia dan firman-Nya. Itulah Allah yang imanen. Allah yang transenden memang tidak dapat dijangkau oleh manusia kecuali Ia sendiri yang datang menyatakan diri-Nya kepada manusia. Natal adalah Allah yang memberi diri sebagai yang Imanen: IMANUEL: ALLAH DENGAN KITA [GOD WITH US].

Marilah menyatakan syukur, penyembahan dan pujian kita kepada Sang Logos Ilahi: Allah menjadi manusia yang memberikan kita sukacita yang berlimpah. Dia yang menciptakan hati kita maka untuk memuaskan sukacita hati kita, maka hanya Allah saja yang tahu bagaimana membuat hati kita terpuaskan sesuai kehendak-Nya. Dengan demikian, Natal adalah pemuasan sukacita di hati manusia yang datangnya dari Allah; sukacita itu adalah diberikan-Nya Logos [Firman yang Kekal] menjadi manusia dan diam di antara kita. Dia diam di antara kita tidak hanya secara fisik (sebagaimana terjadi di zaman Yesus Kristus), melainkan Ia diam dan hadir secara kuasa yang tak terbatas. Kita dapat merasakan kasih dan kuasa-Nya sama seperti mereka, para murid dan semua orang percaya kepada-Nya di sepanjang sejarah.

red Merry Christmas text overlay

Sembah dan puji Dia, Tuhanmu yang berkuasa dan penuh kasih: Allah yang Transenden adalah Allah yang Imanen, memberi diri, memperkenalkan diri, dan menunjukkan bahwa Ia berkuasa dan berdaulat sepenuhnya atas hidup manusia. Natal adalah cara Allah memuaskan sukacita hati kita, melalui penggenapan rencana keselamatan-Nya (Historical Redemption [Sejarah Penebusan]) yaitu manusia ditebus, diampuni, diselamatkan, dikuduskan, dan dibenarkan. Bersukacita senantiasa di dalam Tuhan. Peganglah apa yang ada pada kita sebab kita memiliki JAMINAN YANG PASTI di dalam Yesus Kristus. “KITA TELAH DISELAMATKAN” sehingga kita hidup bukan lagi untuk diri kita sendiri, melainkan untuk Kristus.

Kita berbuat baik bukan supaya selamat, melainkan karena kita telah diselamatkan: “Karena kita ini buatan Allah, diciptakan dalam Kristus Yesus untuk melakukan pekerjaan baik, yang dipersiapkan Allah sebelumnya. Ia mau, supaya kita hidup di dalamnya (Ef. 2:10).

Soli Deo Gloria

Salam Bae……

Sumber gambar: https://unsplash.com/s/photos/merry-christmas

ANTARA PALUNGAN DAN DOSA-DOSA MANUSIA: Sebuah Refleksi Natal Yesus Kristus

Seringkali kita mendengar bahwa Yesus lahir di kandang domba, padahal tidak ada indikasi apa pun bahwa Yesus lahir di kandang domba. Mungkin pemahaman ini berangkat dari berbagai kartu ucapan Natal, lagu-lagu Natal, dan video atau film Natal Yesus Kristus yang memperlihatkan bahwa Yesus lahir di kandang domba. Bahkan ada satu lagu Natal yang menyatakan bahwa Yesus dilahirkan dalam sebuah gua yang dingin. Pemahaman-pemahaman seperti ini keliru karena sama sekali tidak ada dukungan Alkitab.

Ada yang menggambarkan bahwa orang majus melihat bayi saat berada di palungan, padahal menurut catatan Lukas pasal 2, para gembala-lah yang melihat bayi yang baru lahir itu terbaring di palungan.

Di daerah itu ada gembala-gembala yang tinggal di padang menjaga kawanan ternak mereka pada waktu malam. Tiba-tiba berdirilah seorang malaikat Tuhan di dekat mereka dan kemuliaan Tuhan bersinar meliputi mereka dan mereka sangat ketakutan. Lalu kata malaikat itu kepada mereka:

“Jangan takut, sebab sesungguhnya aku memberitakan kepadamu kesukaan besar untuk seluruh bangsa: Hari ini telah lahir bagimu Juruselamat, yaitu Kristus, Tuhan, di kota Daud. Dan inilah tandanya bagimu: Kamu akan menjumpai seorang bayi dibungkus dengan lampin dan terbaring di dalam palungan. Dan tiba-tiba tampaklah bersama-sama dengan malaikat itu sejumlah besar bala tentara sorga yang memuji Allah, katanya: “Kemuliaan bagi Allah di tempat yang mahatinggi dan damai sejahtera di bumi di antara manusia yang berkenan kepada-Nya.”

Setelah malaikat-malaikat itu meninggalkan mereka dan kembali ke sorga, gembala-gembala itu berkata seorang kepada yang lain: “Marilah kita pergi ke Betlehem untuk melihat apa yang terjadi di sana, seperti yang diberitahukan Tuhan kepada kita.” Lalu mereka cepat-cepat berangkat dan menjumpai Maria dan Yusuf dan bayi itu, yang sedang berbaring di dalam palungan (Luk. 2:8-16)

Orang Majus dari timur datang melihat dan menyembah Yesus di sebuah rumah: “Maka masuklah mereka ke dalam rumah itu dan melihat Anak itu bersama Maria, ibu-Nya, lalu sujud menyembah Dia. Merekapun membuka tempat harta bendanya dan mempersembahkan persembahan kepada-Nya, yaitu emas, kemenyan dan mur” (Mat. 2:11).

Kita beralih kepada hal yang lebih substansial lagi yaitu: “mengapa bayi Yesus harus dibaringkan dalam palungan? Bukankah Ia adalah Anak Allah Yang Mahatinggi? Bagaimana mungkin seorang Anak Allah dibaringkan di tempat yang paling hina, kotor, dan rendah? Mengenai hal ini, akan saya jelaskan kemudian. Agar mudah memahami penjelasan saya, berikut ini saya mengutip teks Lukas 2:1-7 yang mengisahkan kelahiran Yesus. Saya tidak akan menjelaskan beberapa poko penting dari teks Lukas tetapi saya berfokus pada makna palungan dan analoginya dengan dosa-dosa manusia:

“Pada waktu itu Kaisar Agustus mengeluarkan suatu perintah, menyuruh mendaftarkan semua orang di seluruh dunia. Inilah pendaftaran yang pertama kali diadakan sewaktu Kirenius menjadi wali negeri di Siria. Maka pergilah semua orang mendaftarkan diri, masing-masing di kotanya sendiri. Demikian juga Yusuf pergi dari kota Nazaret di Galilea ke Yudea, ke kota Daud yang bernama Betlehem, — karena ia berasal dari keluarga dan keturunan Daud —  supaya didaftarkan bersama-sama dengan Maria, tunangannya, yang sedang mengandung. Ketika mereka di situ tibalah waktunya bagi Maria untuk bersalin, dan ia melahirkan seorang anak laki-laki, anaknya yang sulung, lalu dibungkusnya dengan lampin dan dibaringkannya di dalam ‘palungan’, karena tidak ada tempat bagi mereka di rumah penginapan.”

Seperti beberapa pertanyaan yang diajukan di atas, maka saya hendak memberikan ruang pemahaman akan makna “palungan” dalam kaitannya dengan kondisi manusia. Kita mungkin berpikir bahwa Yesus Kristus yang dilahirkan di palungan merupakan sebuah kondisi yang tidak baik, atau kurang terhormat. Pasalnya, dalam Injil Lukas 1 dijelaskan mengenai identitas Anak yang akan dilahirkan Maria. Identitas Anak tersebut rasanya tidak berbanding lurus dengan peristiwa kelahiran-Nya yang dibaringkan di palungan, tempat minum ternak, di ruang bawah—sebuah ruangan yang kurang layak.

Saya mencatat identitas Anak yaitu Yesus Kristus yang dilahirkan oleh Maria. Identitas tersebut tentu—dalam pemahaman beberapa orang kurang pas dengan kondisi kelahiran-Nya yang dianggap begitu rendah, hina, bodoh, dan sebagainya. Akan tetapi, kita juga harus melihat bahwa peristiwa kelahiran-Nya tidak seburuk yang kita duga ketika dikaitkan dengan kondisi manusia yang berdosa.

Pertama, (ay. 32): Anak yang akan dilahirkan Maria akan disebut “Anak Allah Yang Mahatinggi”

Kedua, (ay. 32): Anak yang akan dilahirkan Maria akan dikaruniakan kepada-Nya takhta Daud, bapa leluhur-Nya.

Ketiga, (ay. 33): Anak yang akan dilahirkan Maria akan menjadi raja atas kaum keturunan Yakub sampai selama-lamanya.

Keempat, (ay. 33): Kerajaan-Nya tidak akan berkesudahan.

Kelima, (ay. 35): Anak yang akan dilahirkan Maria itu akan disebut kudus, Anak Allah.      

Identitas-identitas tersebut di atas yaitu: Anak yang akan dilahirkan Maria akan disebut “Anak Allah Yang Mahatinggi”, akan dikaruniakan kepada-Nya takhta Daud, bapa leluhur-Nya, akan menjadi raja atas kaum keturunan Yakub sampai selama-lamanya, Kerajaan-Nya tidak akan berkesudahan, dan akan disebut kudus, Anak Allah, merupakan identitas yang sangat suprematif. Tetapi jika dibandingkan dengan peristiwa kelahiran-Nya, hal ini menjadi sebuah perenungan tersendiri.

Ada alasan yang lebih kuat dari pihak Allah, mengapa Ia menetapkan bahwa Anak Yang Kudus itu, yaitu Yesus Kristus, dilahirkan di tempat yang hina dan rendah. Alasan tersebut jika dibandingkan dengan problem terbesar manusia, musuh terbesar manusia yang tak bisa dikalahkan, yaitu itu, maka peristiwa kelahiran Yesus di palungan itu, sama sekali tidak seberapa.

Analogi ini muncul dalam teks Matius 1:21, yang berbunyi: “Ia akan melahirkan anak laki-laki dan engkau akan menamakan Dia Yesus, karena Dialah yang akan MENYELAMATKAN umat-Nya DARI DOSA mereka.” Antara palungan dan dosa-dosa manusia diwujudkan dalam teks ini. Yesus yang lahir begitu hina, dibaringkan dalam palungan belum seberapa dengan kondisi manusia yang berdosa, dibelenggu dan menjadi budak [hamba] dosa. Kita jangan hanya berfokus pada “palungan” tetapi juga memahami mengapa dosa-dosa manusia menjadi masalah serius yang harus dibereskan oleh Tuhan. Tidak ada manusia yang cukup syarat untuk menghindari, membersihkan, membebaskan dirinya dan orang lain dari problem dosa yang sangat masiv menguasai manusia, kecuali Tuhan sendiri.

Cara Inkarnasi adalah bentuk perwujudan kuasa dan kasih Allah yang menyatu pada diri “Sang Bayi Natal” yaitu Yesus Kristus. Jika palungan dan dosa-dosa manusia menjadi gambaran analogi peristiwa Natal, maka inkarnasi adalah gambaran pertemuan antara kuasa dan kasih Allah yang luar biasa, ajaib, untuk membereskan masalah terbesar manusia yaitu “DOSA”. Benarlah apa yang dikatakan Rasul Paulus bahwa “Tetapi sekarang, setelah kamu dimerdekakan dari dosa dan setelah kamu menjadi hamba Allah, kamu beroleh buah yang membawa kamu kepada pengudusan dan sebagai kesudahannya ialah hidup yang kekal. Sebab UPAH DOSA IALAH MAUT; tetapi KARUNIA ALLAH IALAH HIDUP YANG KEKAL DALAM KRISTUS YESUS, Tuhan kita (Roma 6:22-23).

Palungan adalah pertemuan antara penyelesaian dosa dengan kuasa dan kasih Allah yang luar biasa itu. Allah menetapkan cara penebusan manusia atas dosa-dosa mereka melalui peristiwa Natal yang kemudian dilanjutkan dengan peristiwa kematian, kebangkitan, dan kenaikan Yesus Kristus ke surga. Kekristenan meniktikberatkan pada bagaimana Allah menyelesaikan dosa, sementara agama lain sibuk mengkritiknya. Ketika orang Kristen tidak memahami makna peristiwa Natal dalam kaitannya dengan “Historical Redemption”, maka sebenarnya ia bukanlah Kristen yang sesungguhnya. Ia tidak dapat menikmati imannya kepada Tuhan; ia tak mampu merespons dan mengaplikasikan kasih dan kuasa Tuhan dalam relasi humanitasnya.

Antara palungan dan dosa-dosa manusia ada sebuah analogi yang sangat substansial. Palungan tidak lebih kotor dari pada manusia yang bersimbah dosa. Manusia bisa bersih di luar tapi hatinya kotor penuh dengan berbagai macam kemunafikan dan kejahatan. Palungan, meskipun dipandang kotor, tetapi Yesus Kristus telah membersihkan dan menyucikan kita dari segala dosa kita. Catatan penting di sini adalah bahwa kita telah disucikan (dibersihkan oleh Yesus), kita harus terus berjuang menyucikan diri (hidup suci dan kudus), dan Tuhan akan menjaga serta memampukan kita untuk hidup suci.

Rasul Yohanes menegaskan: “Tetapi jika kita hidup di dalam terang sama seperti Dia ada di dalam terang, maka kita beroleh persekutuan seorang dengan yang lain, dan darah Yesus, Anak-Nya itu, menyucikan kita dari pada segala dosa. Jika kita mengaku dosa kita, maka Ia adalah setia dan adil, sehingga Ia akan mengampuni segala dosa kita dan menyucikan kita dari segala kejahatan” (1 Yohanes 1:7, 9).

Rasul Paulus menegaskan bahwa orang percaya harus hidup dalam kesucian: “ Saudara-saudaraku yang kekasih, karena kita sekarang memiliki janji-janji itu, marilah kita menyucikan diri kita dari semua pencemaran jasmani dan rohani, dan dengan demikian menyempurnakan kekudusan kita dalam takut akan Allah” (2 Korintus 7:1). “Jika seorang menyucikan dirinya dari hal-hal yang jahat, ia akan menjadi perabot rumah untuk maksud yang mulia, ia dikuduskan, dipandang layak untuk dipakai tuannya dan disediakan untuk setiap pekerjaan yang mulia” (2 Timotius 2:21).

Rasul Petrus dan Rasul Yohanes juga menekankan hal yang sama: “Karena kamu telah menyucikan dirimu oleh ketaatan kepada kebenaran, sehingga kamu dapat mengamalkan kasih persaudaraan yang tulus ikhlas, hendaklah kamu bersungguh-sungguh saling mengasihi dengan segenap hatimu” (1 Petrus 1:22), dan “Setiap orang yang menaruh pengharapan itu kepada-Nya, menyucikan diri sama seperti Dia yang adalah suci” (1 Yohanes 3:3).

Ketika manusia berjuang—sebagai tanggung jawab imannya untuk hidup dalam kekudusan, upaya manusia tentu terbatas dan akan mengalami kegagalan. Hanya Tuhan yang dapat memampukan manusia memenuhi semua tuntutan hukum-Nya. Ketika manusia berjuang secara terpisah dari Tuhan untuk hidup layak di hadapan-Nya, maka kegagalan adalah hasilnya. Manusia membutuhkan Tuhan dan Tuhanlah yang memampukan manusia agar ia dapat menjalankan dan memenuhi semua tuntutan hukum-Nya dan kehendak-Nya. Penulis Ibrani menegaskan hal ini: “betapa lebihnya darah Kristus, yang oleh Roh yang kekal telah mempersembahkan diri-Nya sendiri kepada Allah sebagai persembahan yang tak bercacat, AKAN MENYUCIKAN HATI NURANI KITA dari perbuatan-perbuatan yang sia-sia, supaya kita dapat beribadah kepada Allah yang hidup” (Ibrani 9:14).

Palungan, meskipun dipandang kotor, tetapi Yesus Kristus telah membersihkan kita, dan menjadikan kita layak di hadapan Allah, memuji, menyembah-Nya, dan bersukacita karena kita telah dijadikan anak-anak Allah yang membawa damai dan sejahtera.

Palungan tidak lebih bau dari pada manusia yang berdosa. Manusia bisa menggunakan minyak wangi untuk menjadikan dirinya tampak harum di depan semua orang, tetapi dosanya menjadikan dirinya ‘bau busuk’ di hadapan Tuhan. Manusia tidak dapat menutupi bau busuk dosa-dosanya, kecuali Tuhan membereskanya. Manusia yang menjadi bau busuk karena dosa hanya dapat dibersihkan oleh Tuhan dan menjadi manusia yang berbau harum bagi kemuliaan nama-Nya. Tepatlah apa yang dikatakan Rasul Paulus (2 Korintus 2:15): “Sebab bagi Allah kami adalah BAU YANG HARUM dari Kristus di tengah-tengah mereka yang diselamatkan dan di antara mereka yang binasa.   

Palungan tidak lebih hina dari pada diri manusia yang berdosa. Karena dosa, manusia menjadi terhina dan dipandang rendah. Tidak hanya orang miskin yang dipandang rendah. Ketika ada orang kaya yang berbuat dosa di hadapan Tuhan, maka ia dipandang miskin karena tidak dapat mengekang dirinya untuk melawan dan menghindari dosa. Palungan, meskipun dipandang hina, tetapi Yesus Kristus telah menjadikan kita menjadi anak-anak Allah yang mulia yang memancarkan kemuliaan nama-Nya.

Palungan tidak lebih rendah dari para pelaku dosa dan kejahatan. Meski palungan dianggap tempat yang rendah—tempat minum ternak—tetapi palungan menghadirkan kepedulian Allah yang luar biasa. Meski rendah, palungan tidak lebih rendah dari pada pelaku dosa dan kejahatan. Mereka yang senang dengan dosa, akan dipandang rendah; sekaya apa pun dia, setinggi apa pun jabatannya, ketika ia berbuat dosa dan kejahatan, maka dia akan dipandang rendah. Palungan, meskipun dipandang rendah, tetapi Yesus Kristus telah meninggikan kita menjadi anak-anak Allah yang membawa damai dan sejahtera.

Palungan tidak lebih miskin dari para pendosa yang dibelenggu olehnya. Meski Yesus lahir dalam kondisi seadanya—bersahaja—namun Ia menjadikan kita kaya di dalam hal-hal kebaikan, kemurahan, dan kasih. Hal ini ditegaskan oleh Rasul Paulus dalam 2 Korintus 8:9, “Karena kamu telah mengenal kasih karunia Tuhan kita Yesus Kristus, bahwa Ia, yang oleh karena kamu menjadi miskin, sekalipun Ia kaya, supaya kamu menjadi kaya oleh karena kemiskinan-Nya.”

Palungan tidak lebih aneh dari pada manusia yang tahu kebaikan tetapi memilih berbuat kejahatan. Manusia terkadang dipandang aneh ketika ia tahu bahwa dosa itu adalah hal yang dibenci Allah, tetapi justru menjadi “kesukaan”nya. Bahkan yang lebih parah adalah ada pendeta-pendeta dan para pelayan Gereja yang justru menjadi pelaku dosa dan kenajisan, pembunuhan dan kemunafikan, korupsi dan perzinaan, dan jenis-jenis dosa lainnya. Ini memang tergolong aneh, bahkan sangat aneh. Palungan, meskipun dipandang aneh, tetapi Yesus Kristus telah memampukan dan menyadarkan kita untuk hidup dalam kebenaran dan menjauhi kejahatan.

Palungan tidak lebih bodoh dari pada manusia terhormat tapi suka dan terikat oleh dosa. Kebodohan manusia seringkali tampak dari perilakunya. Ada orang-orang yang terhormat justru melakukan berbagai tindakan bodoh. Justru mereka yang bodoh karena dosa-dosa yang dilakukannya merasa malu dengan palungan, tempat kecil yang digunakan untuk membaringkan bayi Yesus. Mengapa kita membodohi diri kita hanya karena nafsu besar untuk berbuat dosa? Palungan, meskipun dipandang bodoh, tetapi Yesus Kristus telah memberikan kita bijaksana untuk memahami bahwa betapa Allah mengasihi manusia berdosa; dan Ia menebus, mengampuni, menyelamatkan, menguduskan, dan membenarkan kita.

Palungan menjadi simbol yang paling rendah tetapi hasilnya sangat luar biasa. Palungan adalah tempat sederhana tetapi memberikan kesadaran kepada kita bahwa Allah menjadikan palungan sebagai analogi terhadap “dosa-dosa manusia”. Bayi Yesus harus dibaringkan dalam palungan menandakan bahwa analogi-analogi di atas merupakan jawaban atas berbagai pertanyaan, keraguan, dan penolakan terhadap Inkarnasi Yesus Kristus.

Yesus yang adalah Anak Allah Yang Mahatinggi, tidak menjadi rendah karena dilahirkan di palungan karena ternyata yang paling rendah adalah “manusia-manusia yang berdosa kepada Allah” yang hidupnya menjadi rusak, hina, kotor, rendah, bau busuk, dan bodoh di hadapan Tuhan. Meskipun palungan dapat dianggap sebagai tempat yang paling hina, kotor, dan rendah, tetapi justru dari palunganlah, yang manusia yang kotor karena dosa dijadikan bersih, yang bau dijadikan harum; manusia yang bau busuk karena dosa dijadikan harum di hadapan Allah; manusia yang hina karena dosa, dijadikan mulia oleh Tuhan; manusia rendah karena dosa, ditinggikan oleh Tuhan karena Ia telah menebusnya; manusia yang miskin karena dosa, dijadikan kaya dalam segala hal yang baik; manusia yang aneh karena dosa, dimampukan dan disadarkan oleh Tuhan untuk hidup dalam kebenaran dan menjauhi kejahatan; dan manusia yang bodoh karena dosa, dijadikan Tuhan menjadi bijaksana untuk memahami bahwa betapa Allah mengasihi manusia berdosa.

Tidak ada hal yang patut kita banggakan selain dari pada “kita telah ditebus oleh Tuhan”. Berbagai pandangan agama lain hanya sibuk mengkritik soal personalitas Yesus Kristus, tetapi mereka lupa bahwa Kekristenan adalah sebuah kepercayaan bahwa Allah begitu mengasihi manusia berdosa dan Ia telah menebusnya, mengampuninya, menyelamatkannya, menguduskannya, dan membenarkannya. Dosa adalah persoalan serius dan hanyalah Allah yang sanggup dan mutlak menyelesaikannya dengan cara-Nya sendiri.

Hiduplah secara bijaksana dan tancapkanlah iman kita kepada Tuhan yang telah menunjukkan dan membuktikan kuasa dan kasih-Nya yang luar biasa itu melalui peristiwa “Natal Yesus Kristus” yang dibaringkan dalam palungan.

SELAMAT MERAYAKAN NATAL. Tuhan Yesus memberkati kita semua

Soli Deo Gloria

Salam Bae…….

YESUS KRISTUS HIKMAT BAGI KITA

PENDAHULUAN

Natal Yesus Kristus adalah sebuah konteks di mana Allah menyatakan kasih-Nya yang luar biasa untuk menyelamatkan manusia (bdk. Yohanes 3:16). Kasih Allah diperlihatkan secara faktual: Logos menjadi daging (ὁ λόγος σὰρξ ἐγένετο [ho logos sarks egeneto]). Allah yang transenden itu, kini menyatakan diri-Nya secara imanen. Apakah ada masalah terhadap konteks ini? Tentu ada. Siapa yang mempermasalahkan? Tentu manusia. Bagi manusia, Allah cukup mengampuni manusia dengan kuasa-Nya, tanpa pencurahan darah Yesus Kristus.

Pemahaman seperti itu adalah usulan manusia kepada Allah. Tetapi substansinya adalah manusia berdosa kepada Allah sehingga manusia tidak dapat menawarkan kepada Allah bagaimana Ia menebus dosa-dosa mereka. Di sini, kita harus memahami bahwa Allah berdaulat menebus manusia dengan “cara-Nya” sendiri. Cara Allah memang lain yaitu mengaruniakan Anak-Nya [Logos Ilahi] ke dalam dunia untuk menyelamatkan manusia dari dosa—yang dalam anggapan orang Yunani dan Yahudi sebagai suatu “kebodohan dan batu sandungan”.

Tetapi cara ini adalah cara yang paling spektakuler meski dianggap bodoh oleh. Akan tetapi, ternyata Allah menunjukkan (menyatakan) bahwa cara yang dianggap bodoh oleh orang Yunani dan cara yang dianggap sebagai batu sandungan oleh orang Yahudi sebagai cara untuk “membenarkan”, “menebus”, “menguduskan”, dan “menyelamatkan” manusia dari dosa-dosa mereka. Luar biasa bukan?

Mengapa Allah harus menebus manusia dari dosa-dosa mereka? Kita perlu tahu bahwa persoalan utama yang dihadapi manusia bukanlah soal makan minum, bukanlah soal bekerja atau tidak, bukanlah soal mengasihi atau tidak mengasihi, bukanlah persoalan bagaimana bertahan hidup, melainkan bagaimana manusia bergumul dengan dosa.

Kita dapat melihat bahwa ada fakta bahwa hanya karena persoalan makan minum, manusia bisa saling membunuh, saling menyingkirkan, dan saling menjatuhkan, untuk mendapatkan sesuap nasi dan itu adalah dosa di hadapan Tuhan.

Kita dapat melihat bahwa ada fakta bahwa hanya karena persoalan pekerjaan manusia bisa menghalalkan segala cara yang tidak baik agar diterima bekerja dan itu adalah dosa di hadapan Tuhan.

Kita dapat melihat bahwa ada fakta bahwa hanya karena persoalan seseoang tidak bekerja, maka kemudian ia mencuri barang orang lain untuk menikmati hasil curian tersebut, dan itu adalah dosa di hadapan Tuhan.

Kita dapat melihat bahwa ada fakta bahwa hanya karena persoalan orang lain tidak mengasihi kita, lalu kita membencinya dan kemudian merusak tatanan kehidupan yang harmonis, dan itu adalah dosa di hadapan Tuhan.

Kita dapat melihat bahwa ada fakta bahwa hanya karena persoalan bertahan hidup, manusia melakukan apa saja meski harus melakukan kejahatan dan berbagai perbuatan-perbuatan tidak terpuji, dan itulah adalah dosa di hadapan Tuhan.

Dari fakta di atas, kita dapat menyimpulkan bahwa persoalan utama manusia adalah “DOSA”. Lalu apakah manusia sanggup menyelamatkan dirinya dan terbebas dari dosa-dosanya? Tentu manusia tidak sanggup. Manusia harus bertanggung jawab kepada Allah. Oleh sebab itu, Allah menunjukkan HIKMAT-NYA untuk menyatakan kepada manusia bagaimana caranya agar manusia dapat diselamatkan. Cara tersebut adalah melalui karya luar biasa dari Yesus Kristus.

Natal Yesus Kristus tidak dapat dipisahkan dari karya keselamatan Allah yang melalui Yesus Kristus—yang mati disalibkan—menebus manusia. Cara ini dianggap oleh manusia sebagai cara yang bodoh, tetapi Allah mengubah yang bodoh itu menjadi sebuah karya yang luar biasa hebatnya yaitu “membenarkan”, “menebus”, “menguduskan”, dan “menyelamatkan” manusia.

Manusia dengan berbagai cara yang dilakukannya untuk mengekang dosa tetapi mereka tetap bergumul dengan dosa. Meski orang Yunani meresa hebat, mereka juga tetap bergumul dengan dosa. Begitu pula dengan orang Yahudi. Dengan demikian, problem utama manusia yaitu dosa hanya dapat diselesaikan dan dibereskan oleh Allah dan bukan dengan cara manusia.

Lalu, bukankah orang Kristen yang ditebus oleh Allah melalui Yesus Kristus masih melakukan dosa? Memang benar ada fakta demikian, tetapi jika Allah telah menebus kita semua, maka kita harus sadar dan tidak boleh hidup dalam dosa “terus-menerus”. Hidup yang ditebus adalah hidup yang diubahkan, hidup yang suci. Kita sudah dikuduskan oleh Allah dan tanggung jawab kita adalah menjaga diri dari segala kecemaran dan kenajisan. Mereka yang masih melakukan dosa secara permanen tentu bukanlah bagian dari mereka yang telah ditebus secara Allah tahu dan memberikan kemampuan kepada mereka yang ditebusnya untuk hidup sesuai dengan kehendak-Nya.

Jika ada orang Kristen yang terus-menerus hidup dalam dosa maka orang tersebut tidak menghargai kasih Tuhan; atau dia bukanlah orang pilihan Tuhan sebab orang yang dipilih Tuhan pasti ditebus dan mereka yang ditebus pasti akan hidup dalam kebenaran, tidak melakukan dosa secara sadar, dan hidup dalam kekudusan. Seperti yang dikatakan oleh Rasul Paulus bahwa:

Kita tahu sekarang, bahwa Allah turut bekerja dalam segala sesuatu untuk mendatangkan kebaikan bagi mereka yang mengasihi Dia, yaitu bagi mereka yang terpanggil sesuai dengan rencana Allah. Sebab semua orang yang dipilih-Nya dari semula, mereka juga ditentukan-Nya dari semula untuk menjadi serupa dengan gambaran Anak-Nya, supaya Ia, Anak-Nya itu, menjadi yang sulung di antara banyak saudara. Dan mereka yang ditentukan-Nya dari semula, mereka itu juga dipanggil-Nya. Dan mereka yang dipanggil-Nya, mereka itu juga dibenarkan-Nya. Dan mereka yang dibenarkan-Nya, mereka itu juga dimuliakan-Nya. (Roma 8:28-30)

KONTEKS 1 KORINTUS

Untuk menjembatani tema kita mengenai YESUS KRISTUS HIKMAT BAGI KITA, maka kita perlu melihat konteksnya secara utuh agar dapat memahaminya secara baik.

Pertama, Jemaat Korintus telah menjadi kaya dalam segala hal (1:5), dalam segala macam perkataan dan segala macam pengetahuan. Dalam hal ini, jemaat Korintus dapat dikatakan sudah cukup mapan dalam konteks pengetahuan.

Kedua, Jemaat Korintus tidak kekurangan dalam suatu karunia pun (1:7). Jemaat Korintus sangat maju dalam pelayanan karena kepada mereka diberikan beragam karunia. Karunia-karunia tersebut adalah identitas spiritualitas yang dipakai untuk melayani dan mengembangkan pelayanan mereka.

Ketiga, intinya, Allah telah memanggil jemaat Korintus kepada persekutuan dengan Anak-Nya Yesus Kristus (1:9). Ada kekuatan identitas yang membedakan antara Jemaat Korintus dengan orang-orang dunia. Jemaat Korintus telah memiliki pengetahuan tentang Yesus Kristus.

Keempat, ada perselisihan di antara jemaat Korintus padahal mereka berlimpah dalam hal “perkataan”,  “pengetahuan” dan “karunia”. Ini merupakan kondisi bertolak belakang. Perselisihan ini disebakan karena masing-masing golongan mementingkan diri sendiri dan mencari supremasi dari kelompoknya masing-masing (1:11-13). Tidak berbanding lurus dengan pengetahuan yang karunia yang mereka miliki. Justru seharusnya pengetahuan dan karunia dipakai untuk saling menghargai dan mengasihi, malahan menimbulkan perselisihan.

Kelima, masalah ini kemudian diluruskan oleh Rasul Paulus untuk menekankan pentingnya karya Yesus Kristus. Meski berbeda golongan, tetapi yang terutama adalah bagaimana “PEMAHAMAN JEMAAT KORINTUS” tentang HIKMAT ALLAH yang dinyatakan melalui Yesus Kristus yang mati disalibkan bagi pembenaran, pengudusan, penebusan, dan penyelamatan.

Keenam, Yesus yang adalah “hikmat bagi jemaat Korintus, merupakan perluasan makna dari “hikmat Allah”. Penekanan di sini adalah pada soal bagaimana “Cara Allah menyelamatkan manusia dari dosa-dosa mereka”. Cara Allah menyelamatkan yaitu melalui “Salib” (bdk. 1:18 [pemberitaan tentang salib]; 1:23 [pemberitaan tentang Yesus yang disalibkan, untuk tujuan penyelamatan—dan ini adalah hikmat Allah atau cara Allah menyelamatkan manusia yang dianggap sebagai kebodohan oleh orang Yunani dan batu sandungan oleh orang Yahudi].

POKOK KORELASI DENGAN NATAL DAN KEMATIAN YESUS KRISTUS

Cara Allah justru bertolak belakang dengan cara manusia dalam memahami keselamatan. Allah justru memilih yang dianggap bodoh oleh dunia yaitu “penyaliban dan kematian Yesus sebagai Mesias”; Allah memilih yang lemah yaitu bagaimana caranya Yesus mati disalib tanpa perlawanan yang mana cara ini dipakai Allah untuk memalukan mereka yang kuat yaitu melalui kebangkitan Yesus.

Kematian Yesus YANG TANPA PERLAWANAN dari Yesus dan murid-murid-Nya, justru DIKALAHKAN oleh kebangkitan Yesus yang juga TANPA PERLAWANAN DARI PIHAK MEREKA YANG MEMBENCI DAN MEMUSUHI Yesus. Ini impas. Mereka yang membunuh Yesus tak berkutik sedetik pun untuk menghalangi kebangkitan-Nya.

Itu berarti, ketika berbicara tentang Natal, kita harus mengaitkan antara kelahiran Yesus, dengan kematian dan kebangkitan-Nya. Ini adalah satu kesatuan yang tak bisa dipisahkan. Inilah yang disebut dengan HIKMAT ALLAH yang luar biasa. Natal, Penebusan (kematian) dan kebangkitan adalah tiga hal yang “koheren” (berhubungan satu dengan lainnya; melekat erat).

Kematian Yesus memang memalukan tetapi rasa malu itu terhapus oleh “kebangkitan Yesus dari antara orang mati”; Allah memilih yang tidak dipandang, dianggap hina, dan yang diangggap tidak berarti oleh dunia, yaitu pribadi Yesus yang mati dengan cara yang paling hina yaitu disalib tanpa perlawanan, untuk membuatnya menjadi berarti bagi mereka yang percaya.

Yesus Kristus dijadikan Allah sebagai “HIKMAT” bagi kita yaitu ketika kita “MEMAHAMI” bahwa kematian Yesus disalib menghasilkan pembenaran, pengudusan, penebusan, dan penyelamatan kita. Kelahiran Yesus Kristus adalah tanda awal “HIKMAT” Allah bagi manusia berdosa. Yesus Kristus adalah Hikmat Allah di mana Allah menyatakan kasih dan kemurahan-Nya untuk menebus manusia.

Kelahiran Yesus adalah cara Allah menyelamatkan manusia, membenarkan, menguduskan, menebus, dan menyelamatkan manusia. Meski cara ini dianggap tidak berarti, hina, lemah, suatu kebodohan dan sebagai batu sandungan, tetapi satu hal yang perlu diingat bahwa “Ketika manusia berdosa kepada Allah maka hanya Allah saja yang berhak menentukan bagaimana cara menebus, dan cara Allah adalah mengutus Yesus Kristus sebagai tebusan bagi banyak orang. Itulah HIKMAT ALLAH bagi manusia.”

Natal berarti Allah menyatakan kasih dan hikmat-Nya melalui Yesus Kristus yang adalah Juruselamat umat manusia. Dalam Perjanjian Lama, Allah dinyatakan bahwa Allah adalah Juruselamat dan di dalam Perjanjian Baru ditegaskan bahwa Yesus Kristus adalah Juruselamat. Maka implikasinya adalah Yesus itu adalah Allah yang menjadi manusia. Firman yang menjadi daging. Lukas 2:11 mencatat bahwa “Hari ini telah lahir bagimu Juruselamat, yaitu Kristus, Tuhan, di kota Daud.”

Yesus sebagai Juruselamat kemudian didengungkan oleh para rasul (murid-murid Yesus) seperti yang tampak pada teks-teks berikut ini:

Kisah Rasul 5:31 “Dialah yang telah ditinggikan oleh Allah sendiri dengan tangan kanan-Nya menjadi Pemimpin dan Juruselamat, supaya Israel dapat bertobat dan menerima pengampunan dosa.”

Kisah Rasul 13:23 “…Allah telah membangkitkan Juruselamat bagi orang Israel, yaitu Yesus.”

Filipi 3:20 “… kita menantikan Tuhan Yesus Kristus sebagai Juruselamat.”

2 Timotius 1:10 “dan yang sekarang dinyatakan oleh kedatangan Juruselamat kita Yesus Kristus….”

Titus 2:13 “… penyataan kemuliaan Allah yang Mahabesar dan Juruselamat kita Yesus Kristus.”

Titus 3:6 “yang sudah dilimpahkan-Nya kepada kita oleh Yesus Kristus, Juruselamat kita.”

2 Petrus 1:1 “… kepada mereka yang bersama-sama dengan kami memperoleh iman oleh karena keadilan Allah dan Juruselamat kita, Yesus Kristus.”

2 Petrus 1:11 “… kepada kamu akan dikaruniakan hak penuh untuk memasuki Kerajaan kekal, yaitu Kerajaan Tuhan dan Juruselamat kita, Yesus Kristus.”

1 Yohanes 4:14 “Dan kami telah melihat dan bersaksi, bahwa Bapa telah mengutus Anak-Nya menjadi Juruselamat dunia.”

Yudas 1:25 “Allah yang esa, Juruselamat kita oleh Yesus Kristus, Tuhan kita, bagi Dia adalah kemuliaan, kebesaran, kekuatan dan kuasa sebelum segala abad dan sekarang dan sampai selama-lamanya. Amin.”

Keyakinan kita kepada Yesus Kristus sangatlah beralasan, jika kita memahami bahwa kita adalah manusia yang berdosa dan membutuhkan Allah untuk menyelesaikan dan menebus kita dari dosa-dosa kita. Allah telah menetapkan bagaimana caranya menebus, membenarkan, menyelamatkan, dan menguduskan manusia berdosa yaitu melalui “Kematian Yesus disalib”. Inilah makna “HIKMAT ALLAH”.

Kematian Yesus tidak berakhir hanya pada kematian saja, melainkan Ia bangkit untuk membuktikan bahwa anggapan orang bahwa “kematian Yesus disalib” merupakan sebuah kebodohan dan batu sandungan, jusru dipakai Allah untuk menyelamatkan manusia. Allah membuat sebuah kebodohan (dalam anggapan manusia) untuk menyelamatkan manusia.

Allah tidak menggunakan cara yang hebat dan luar biasa spektakulernya untuk menyelamatkan manusia, melainkan Allah menggunakan cara yang lain meski dianggap hina, tidak dianggap, cara yang dianggap tidak masuk akal, cara yang dianggap bodoh, cara yang aneh. Cara tersebut ternyata ampuh sekali untuk “memalukan mereka yang sombong”, membungkam hikmat manusia. Allah luar biasa. Yesus adalah “HIKMAT ALLAH” yang melaui Dia “KITA DISELAMATKAN DARI DOSA, PELANGGARAN DAN KESALAHAN”. Ini sangat luar biasa dan menjadi sukacita serta penghiburan kita. Dosa kita telah ditebus dan mereka yang ditebus harus hidup dalam kebenaran-Nya dan kekudusan.

APLIKASI DAN PEMAHAMAN

Pertama, Natal adalah bagaimana kita memahami cara Allah menyelamatkan manusia dari dosa-dosa mereka. Pemahaman haruslah melihat secara komprehensif konteks “Historical Redemption” bahwa manusia telah berdosa kepada Allah dan hanya Allah saja yang berhak dan berdaulat menyelamatkan manusia. Dengan demikian, kita dipanggil oleh Allah untuk hidup dalam ketaatan pada-Nya dan terus memahami dan merasakan kuasa dan kasih-Nya yang luar biasa itu.

Kedua, cara Allah bertolak belakang dengan cara dan harapan manusia. Allah memilih salib untuk menyatakan bahwa yang paling hina dan bodoh (dalam pandangan manusia) justru dapat menyelamatkan manusia dari dosa-dosa mereka. Bayangkan, dari cara yang dianggap paling bodoh saja Allah sanggup menyelamatkan manusia dan memberikan kehidupan kekal, apalagi cara yang menurut Allah luar biasa. Inilah Hikmat Allah yang luar biasa.

Ketiga, Natal adalah bagaimana Allah merendah untuk merendahkan kesombongan manusia yaitu Yesus yang adalah Logos [Firman] Allah “menjadi manusia.” Allah memilih yang paling hina yaitu Yesus yang disalibkan untuk mempermalukan keangkuhan manusia dan Allah memilih apa yang dianggap paling bodoh yaitu “penyaliban” untuk menghancurkan kepandaian dan hikmat manusia (bdk. 1 Kor. 1:23). Kepada kita diberikan sukacita yang tak terkira ketika Yesus datang ke dunia, lahir, mati, dan bangkit, serta kembali ke surga-Nya yang kekal dan mulia. Natal membentuk sukacita menjadi sukacita karena kasih Tuhan yang melawat umat-Nya. Allah memberikan sukacita surgawi-Nya untuk memenuhi bumi. Hal ini diteguhkan oleh Allah melalui malaikat dan sejumlah besar bala tentara sorga yang memuji Allah, katanya: 

“Kemuliaan bagi Allah di tempat yang mahatinggi dan damai sejahtera di bumi di antara manusia yang berkenan kepada-Nya.” Lukas 2:14

Soli Deo Gloria

NATAL YESUS KRISTUS MEMBAWA KESELAMATAN: Imensitas Aplikatif-Teologis atas Matius 1:21

“Ia akan melahirkan anak laki-laki dan engkau akan menamakan Dia Yesus, karena Dialah yang akan menyelamatkan umat-Nya dari dosa mereka”

PENDAHULUAN

Iman Kristen tidak bisa dipahami secara fragmentaris (terpecah-pecah); tidak bisa juga dipahami secara parsial (sebagian), melainkan harus dipahami secara komprehensif (menyeluruh). Oleh sebab itu, Natal Yesus Kristus harus dipahami secara menyeluruh dalam konteks “Historical of Redemption” [Sejarah Penebusan]. Robert A. Peterson dalam bukunya Keselamatan Dikerjakan oleh Sang Anak: Karya Kristus, (Momentum, 2018) menggabungkan 9 karya keselamatan yang dikerjakan Sang Anak yakni: Inkarnasi (Yoh. 1:14), kehidupan tanpa dosa, kematian, kebangkitan, kenaikan, kedudukan, pentakosta, syafaat, dan kedatangan kembali. Ini dapat dipahami sebagai komprehensifitas Soteriologi-Kristologi (Soterio-Christo).

Kedatangan (Kelahiran) Yesus Kristus adalah realisasi (proses menjadikan nyata) dari kehendak Allah untuk menyelamatkan manusia dari belenggu dosa. Ketika manusia dibelenggu dosa, ia bisa merespons keselamatan tapi tak bisa meraihnya dan membebaskan diri dari belenggu dosa. Karena manusia hanya bisa merespons dan melihat keselamatan Allah, tapi tidak bisa meraihnya dan membebaskan diri dari belenggu dosa, maka dibutuhkan kuasa di luar dirinya untuk bebas.

Kondisi ini menyeret manusia pada kesombongan bahwa ia bisa menyelamatkan diri. Bagaimana bisa menyelamatkan diri sedangkan ia sendiri sedang dalam kondisi terbelenggu. Di sini, Allah turun tangan. Allah datang, membebaskan manusia dari belenggu dosa melalui penebusan Yesus Kristus. Bagaimana bisa demikian? Tentu bisa. Karena alasan bahwa hanya kuasa Allah saja yang dapat membebaskan manusia dari belenggu dosa, maka Allah memilih cara penebusan manusia dari dosa-dosa mereka yaitu “darah dan kematian” Yesus Kristus. Rasul Petrus menuliskan mengenai konteks ini sebagai berikut:

“Sebab kamu tahu, bahwa kamu telah ditebus dari cara hidupmu yang sia-sia yang kamu warisi dari nenek moyangmu itu bukan dengan barang yang fana, bukan pula dengan perak atau emas, melainkan dengan darah yang mahal, yaitu darah Kristus yang sama seperti darah anak domba yang tak bernoda dan tak bercacat. Ia telah dipilih sebelum dunia dijadikan, tetapi karena kamu baru menyatakan diri-Nya pada zaman akhir” (1 Ptr 1:18-20).

Untuk merealisasikan penebusan manusia melalui “darah dan kematian” maka Yesus—Sang Logos Ilahi—datang ke dalam dunia. Makna darah adalah “kehidupan yang dipersembahkan kepada Allah” karena darah adalah lambang kehidupan, dan makna kematian [tubuh Yesus] adalah jaminan bahwa ada kebangkitan dari antara orang mati bagi mereka yang percaya kepada Yesus Kristus sebagaimana Ia telah bangkit dari antara orang mati.

Maka, memahami Natal Yesus Kristus dan Penebusan yang dikerjakan Allah melalui Yesus, haruslah dipahami secara komprehensif. Darah dan kematian adalah dua cara untuk satu tujuan: manusia ditebus, yang ketika “ditebus”, manusia yang dipilih dan ditetapkan sejak kekekalan “diampuni”, “diselamatkan”, “dikuduskan”, dan “dibenarkan.” Ini sangat luar biasa. Untuk alasan inilah mengapa saya secara pribadi, begitu bersukacita memahami dan menikmati Natal Yesus Kristus.

Natal Yesus Kristus adalah wujud nyata kasih Allah yang begitu luar biasa. Keluarbiasaan kasih Allah dimaksudkan agar manusia—umat pilihan-Nya—ditebus. Natal [hari kelahiran] Yesus Kristus adalah sebuah fakta sejarah bahwa Allah begitu mengasihi manusia berdosa dan menebus mereka dengan cara-Nya sendiri. Itulah HIKMAT ALLAH yang bertolak belakang dengan hikmat manusia. Karena manusia berdosa kepada Allah maka hanya Allah saja yang berhak menentukan bagaimana seharusnya Ia menebus manusia dari dosa-dosa mereka.

Melalui Natal, kita mendapatkan pengharapan baru bahwa kasih Allah yang luar biasa itu, telah dirasakan oleh semua manusia yang telah dipilih dan diselamatkan. Yesus Kristus adalah wujud Allah yang kekal yang mengunjungi dunia [manusia] untuk menyatakan bahwa Allah sangat dekat dengan manusia ciptaan-Nya. Allah tidak menjadikan diri-Nya terasa jauh dari manusia, melainkan Ia menjadikan diri-Nya sangat dekat dengan manusia.

Bukankah kita patut berbahagia ketika Allah mengunjungi manusia dengan cara-Nya sendiri melalui kelahiran Yesus Kristus? Memang, Natal sering disalahpahami oleh sebagian orang. Tetapi bagi kita, Natal adalah hadiah dari Allah kepada manusia berdosa. Allah tahu apa yang terbaik bagi manusia sebab Dialah yang menciptakan dan menyelamatkan manusia.

POKOK PIKIRAN TEKS MATIUS 1:21

Teks Matius 1:21 adalah bukti bahwa Allah telah mengunjungi dunia melalui Yesus Kristus, Firman yang menjadi manusia (Yoh. 1:14). Bagaimana Allah bisa menjadi manusia? Tentu Allah bisa. Bukankah itu dianggap tidak masuk akal? Tentu tidak. Allah itu Pencipta dan Mahakuasa, jadi tidak ada yang mustahil bagi Dia. Mereka yang menganggapnya sebagai tidak masuk akal adalah mereka yang tidak memahami duduk persoalan penebusan yang dilakukan Allah. Sampai di sini tidak ada titik temu untuk menjembatani pemahaman yang salah itu dengan pemahaman yang benar, sejauh manusia tetap pada pemahaman yang salah dan dangkal itu.

Ada orang-orang yang selalu mempersoalkan mengenai inkarnasi Yesus. Tetapi toh, Yesus sudah berinkarnasi. Mereka yang mempersoalkan memang akan terus mempersoalkan sejauh mereka tidak memahami mengapa Kristen begitu bersukacita menerima dan memahami kelahiran (Natal) Yesus Kristus. Ada harapan dalam peristiwa Natal. Ada sukacita surgawi yang tampak dalam peristiwa Natal. Jika demikian, mungkinkah kita yang hidup sekarang tidak bersukacita? Tentu tidak.

Kelahiran Yesus dari rahim seorang perawan merupakan peristiwa unik dan ajaib. Dalam hal kelahiran, ada tiga perempuan yang dipakai Allah untuk menyatakan bahwa kuasa-Nya sungguh luar biasa dan tak ada yang mustahil bagi-Nya. Yang pertama adalah Sara yang mana Tuhan menetapkan bahwa meski Sara sudah tua, namun ia diberikan kesempatan oleh Tuhan untuk mengadung (“Adakah sesuatu apa pun yang mustahil untuk TUHAN?” [Kejadian 18:14]). Kedua, Elisabet yang mengandung seorang anak laki-laki di hari tuanya (Lukas 1:36), dan ketiga adalah Maria yang mengandung Yesus Kristus di masa mudanya dan masih perawan. Ini semua adalah kemahakuasaan Tuhan atas manusia untuk tujuannya masing-masing. Dan yang ketiga adalah Maria.

Namun, pada fakta kelahiran Yesus Kristus melalui rahim Maria, Allah hendak menunjukkan cara terbaik untuk menyelesaikan masalah dosa agar manusia ditebus (diampuni, diselamatkan, dikuduskan, dan dibenarkan) oleh Allah melalui Yesus Kristus.

Memahami Natal harus terkait dengan totalitas kehidupan Yesus. Ia lahir, Ia mati menebus manusia, Ia bangkit dan menyatakan bahwa kematian yang dianggap sebagai kondisi terkutuk, namun kondisi tersebut dipakai Allah untuk tujuan yang mulia dan luar biasa yaitu manusia diselamatkan dan memperoleh kehidupan yang kekal (Yohanes 3:16).

Dari teks Matius di atas, tampak bahwa Natal (Kelahiran) Yesus Kristus membawa keselamatan bagi mereka yang ditetapkannya untuk diselamatkan yaitu “Umat-Nya”. Di sini Allah menunjukkan cara yang berbeda sebagaimana yang terlihat dalam Perjanjian Lama, yaitu setiap orang Israel yang berdosa harus mempersembahkan binatang yang darahnya menjadi simbol penebusan dan pengampunan.

Karena “darah” telah ditetapkan Allah menjadi simbol penebusan dan pengampunan, maka inkarnasi Logos Allah (Yoh. 1:1, 14) menjadi daging, Yesus akan mencurahkan dara-Nya sebagai lambang penebusan dan pengampunan. Konteks inilah yang kemudian ditegaskan oleh Rasul Petrus bahwa:

“Sebab kamu tahu, bahwa kamu telah ditebus dari cara hidupmu yang sia-sia yang kamu warisi dari nenek moyangmu itu bukan dengan barang yang fana, bukan pula dengan perak atau emas, melainkan dengan darah yang mahal, yaitu darah Kristus yang sama seperti darah anak domba yang tak bernoda dan tak bercacat. Ia telah dipilih sebelum dunia dijadikan, tetapi karena kamu baru menyatakan diri-Nya pada zaman akhir. Oleh Dialah kamu percaya kepada Allah, yang telah membangkitkan Dia dari antara orang mati dan yang telah memuliakan-Nya, sehingga imanmu dan pengharapanmu tertuju kepada Allah.” (1 Petrus 1:18-21)

Benarlah penegasan Malaikat bahwa Yesus adalah Juruselamat yang akan menyelamatkan umat-Nya dari dosa mereka. Natal harus dipahami sebagai berita sukacita yang menawarkan kebahagiaan dan kehidupan kekal.

Natal adalah jalan yang disediakan Allah untuk manusia melewatinya bersama Tuhan dan Ia pun menyertai kita. Hal ini tampak dalam sebuah kata yang dilekatkan pada Yesus yaitu: IMANUEL yang berarti “Allah dengan [beserta] Kita”. Bukankah ini sangat luar biasa?

Natal adalah keselamatan yang dihadiahkan kepada manusia. Tanpa Natal, kita terpisah dari Allah. Allahlah yang berdaulat untuk membereskan keterpisahan manusia dengan-Nya. Natal adalah tanpa Allah itu dekat dengan kita. Allah yang peduli dengan kita.

Natal adalah penyelesaian Allah atas masalah terberat manusia yaitu dosa. Semua orang boleh mengaku hebat, tapi semuanya adalah manusia berdosa dan bahkan sering dibelenggu dosa; orang-orang boleh mengatakan bahwa ia sangat kaya, punya jabatan dan harta melimpah, tetapi mereka tidak bisa menyelesaikan dosa mereka; mereka masih melakukan dosa. Tuhan tahu cara yang terbaik untuk mengalahkan dosa, yaitu dengan menyatakan diri-Nya dalam peristiwa inkarnasi [Natal] ke dunia.

Dosa adalah musuh terberat manusia dan tak satupun manusia yang dapat melawannya. Kecuali Yesus Kristus yang telah lahir dan mati bagi kita, Ia pun bangkit membuktikan kuasa-Nya yang tak dapat dikalahkan oleh maut. Yesus Kristus adalah hikmat Allah yang luar biasa.

APLIKASI

Pertama, kita harus tetap beriman kepada Yesus Kristus karena Ia adalah Juruselamat yang telah menyatakan kasih-Nya yang luar bisa melalui penebusan dan pengampunan, karena kita tahu bahwa Natal adalah penyelesaian Allah atas masalah terberat manusia yaitu dosa.

Kedua, kita harus mewartakan Kabar Sukacita ini bahwa manusia yang tidak bisa menyelesaikan masalah dosa kini telah diselesaikan oleh Yesus Kristus, dan mereka yang telah ditebus dan diampuni dosanya, harus hidup kudus, hidup sesuai dengan Firman-Nya, hidup yang berbuat baik dan saling mengasihi sesama, terlebih mengasihi Tuhan.

Ketiga, kasih Tuhan Allah sangat besar kepada kita, maka kita juga harus menunjukkan kasih kepada sesama melalui pelayanan, penopangan, pekabaran Injil, dan pelayanan-pelayanan lainnya yang selaras dengan prinsip Alkitab.

Keempat, Natal harus dilakukan bukan dengan mempertontonkan kesombongan dan pesta pora melainkan menunjukkan sikap hidup yang baik, bermoral, rendah hati, dan saling mengasihi.

Kelima, Natal haruslah menjadikan kita semakin menyadari bahwa kasih Tuhan sungguh melimpah dari kehidupan kita dan seyogianya kita menaikkan pujian dan syukur kepada Tuhan Yesus Kristus.

Soli Deo Gloria

Salam Bae…..

Rancang situs seperti ini dengan WordPress.com
Mulai