
Seringkali kita mendengar bahwa Yesus lahir di kandang domba, padahal tidak ada indikasi apa pun bahwa Yesus lahir di kandang domba. Mungkin pemahaman ini berangkat dari berbagai kartu ucapan Natal, lagu-lagu Natal, dan video atau film Natal Yesus Kristus yang memperlihatkan bahwa Yesus lahir di kandang domba. Bahkan ada satu lagu Natal yang menyatakan bahwa Yesus dilahirkan dalam sebuah gua yang dingin. Pemahaman-pemahaman seperti ini keliru karena sama sekali tidak ada dukungan Alkitab.
Ada yang menggambarkan bahwa orang majus melihat bayi saat berada di palungan, padahal menurut catatan Lukas pasal 2, para gembala-lah yang melihat bayi yang baru lahir itu terbaring di palungan.
Di daerah itu ada gembala-gembala yang tinggal di padang menjaga kawanan ternak mereka pada waktu malam. Tiba-tiba berdirilah seorang malaikat Tuhan di dekat mereka dan kemuliaan Tuhan bersinar meliputi mereka dan mereka sangat ketakutan. Lalu kata malaikat itu kepada mereka:
“Jangan takut, sebab sesungguhnya aku memberitakan kepadamu kesukaan besar untuk seluruh bangsa: Hari ini telah lahir bagimu Juruselamat, yaitu Kristus, Tuhan, di kota Daud. Dan inilah tandanya bagimu: Kamu akan menjumpai seorang bayi dibungkus dengan lampin dan terbaring di dalam palungan. Dan tiba-tiba tampaklah bersama-sama dengan malaikat itu sejumlah besar bala tentara sorga yang memuji Allah, katanya: “Kemuliaan bagi Allah di tempat yang mahatinggi dan damai sejahtera di bumi di antara manusia yang berkenan kepada-Nya.”
Setelah malaikat-malaikat itu meninggalkan mereka dan kembali ke sorga, gembala-gembala itu berkata seorang kepada yang lain: “Marilah kita pergi ke Betlehem untuk melihat apa yang terjadi di sana, seperti yang diberitahukan Tuhan kepada kita.” Lalu mereka cepat-cepat berangkat dan menjumpai Maria dan Yusuf dan bayi itu, yang sedang berbaring di dalam palungan (Luk. 2:8-16)
Orang Majus dari timur datang melihat dan menyembah Yesus di sebuah rumah: “Maka masuklah mereka ke dalam rumah itu dan melihat Anak itu bersama Maria, ibu-Nya, lalu sujud menyembah Dia. Merekapun membuka tempat harta bendanya dan mempersembahkan persembahan kepada-Nya, yaitu emas, kemenyan dan mur” (Mat. 2:11).
Kita beralih kepada hal yang lebih substansial lagi yaitu: “mengapa bayi Yesus harus dibaringkan dalam palungan? Bukankah Ia adalah Anak Allah Yang Mahatinggi? Bagaimana mungkin seorang Anak Allah dibaringkan di tempat yang paling hina, kotor, dan rendah? Mengenai hal ini, akan saya jelaskan kemudian. Agar mudah memahami penjelasan saya, berikut ini saya mengutip teks Lukas 2:1-7 yang mengisahkan kelahiran Yesus. Saya tidak akan menjelaskan beberapa poko penting dari teks Lukas tetapi saya berfokus pada makna palungan dan analoginya dengan dosa-dosa manusia:
“Pada waktu itu Kaisar Agustus mengeluarkan suatu perintah, menyuruh mendaftarkan semua orang di seluruh dunia. Inilah pendaftaran yang pertama kali diadakan sewaktu Kirenius menjadi wali negeri di Siria. Maka pergilah semua orang mendaftarkan diri, masing-masing di kotanya sendiri. Demikian juga Yusuf pergi dari kota Nazaret di Galilea ke Yudea, ke kota Daud yang bernama Betlehem, — karena ia berasal dari keluarga dan keturunan Daud — supaya didaftarkan bersama-sama dengan Maria, tunangannya, yang sedang mengandung. Ketika mereka di situ tibalah waktunya bagi Maria untuk bersalin, dan ia melahirkan seorang anak laki-laki, anaknya yang sulung, lalu dibungkusnya dengan lampin dan dibaringkannya di dalam ‘palungan’, karena tidak ada tempat bagi mereka di rumah penginapan.”
Seperti beberapa pertanyaan yang diajukan di atas, maka saya hendak memberikan ruang pemahaman akan makna “palungan” dalam kaitannya dengan kondisi manusia. Kita mungkin berpikir bahwa Yesus Kristus yang dilahirkan di palungan merupakan sebuah kondisi yang tidak baik, atau kurang terhormat. Pasalnya, dalam Injil Lukas 1 dijelaskan mengenai identitas Anak yang akan dilahirkan Maria. Identitas Anak tersebut rasanya tidak berbanding lurus dengan peristiwa kelahiran-Nya yang dibaringkan di palungan, tempat minum ternak, di ruang bawah—sebuah ruangan yang kurang layak.
Saya mencatat identitas Anak yaitu Yesus Kristus yang dilahirkan oleh Maria. Identitas tersebut tentu—dalam pemahaman beberapa orang kurang pas dengan kondisi kelahiran-Nya yang dianggap begitu rendah, hina, bodoh, dan sebagainya. Akan tetapi, kita juga harus melihat bahwa peristiwa kelahiran-Nya tidak seburuk yang kita duga ketika dikaitkan dengan kondisi manusia yang berdosa.
Pertama, (ay. 32): Anak yang akan dilahirkan Maria akan disebut “Anak Allah Yang Mahatinggi”
Kedua, (ay. 32): Anak yang akan dilahirkan Maria akan dikaruniakan kepada-Nya takhta Daud, bapa leluhur-Nya.
Ketiga, (ay. 33): Anak yang akan dilahirkan Maria akan menjadi raja atas kaum keturunan Yakub sampai selama-lamanya.
Keempat, (ay. 33): Kerajaan-Nya tidak akan berkesudahan.
Kelima, (ay. 35): Anak yang akan dilahirkan Maria itu akan disebut kudus, Anak Allah.
Identitas-identitas tersebut di atas yaitu: Anak yang akan dilahirkan Maria akan disebut “Anak Allah Yang Mahatinggi”, akan dikaruniakan kepada-Nya takhta Daud, bapa leluhur-Nya, akan menjadi raja atas kaum keturunan Yakub sampai selama-lamanya, Kerajaan-Nya tidak akan berkesudahan, dan akan disebut kudus, Anak Allah, merupakan identitas yang sangat suprematif. Tetapi jika dibandingkan dengan peristiwa kelahiran-Nya, hal ini menjadi sebuah perenungan tersendiri.
Ada alasan yang lebih kuat dari pihak Allah, mengapa Ia menetapkan bahwa Anak Yang Kudus itu, yaitu Yesus Kristus, dilahirkan di tempat yang hina dan rendah. Alasan tersebut jika dibandingkan dengan problem terbesar manusia, musuh terbesar manusia yang tak bisa dikalahkan, yaitu itu, maka peristiwa kelahiran Yesus di palungan itu, sama sekali tidak seberapa.
Analogi ini muncul dalam teks Matius 1:21, yang berbunyi: “Ia akan melahirkan anak laki-laki dan engkau akan menamakan Dia Yesus, karena Dialah yang akan MENYELAMATKAN umat-Nya DARI DOSA mereka.” Antara palungan dan dosa-dosa manusia diwujudkan dalam teks ini. Yesus yang lahir begitu hina, dibaringkan dalam palungan belum seberapa dengan kondisi manusia yang berdosa, dibelenggu dan menjadi budak [hamba] dosa. Kita jangan hanya berfokus pada “palungan” tetapi juga memahami mengapa dosa-dosa manusia menjadi masalah serius yang harus dibereskan oleh Tuhan. Tidak ada manusia yang cukup syarat untuk menghindari, membersihkan, membebaskan dirinya dan orang lain dari problem dosa yang sangat masiv menguasai manusia, kecuali Tuhan sendiri.
Cara Inkarnasi adalah bentuk perwujudan kuasa dan kasih Allah yang menyatu pada diri “Sang Bayi Natal” yaitu Yesus Kristus. Jika palungan dan dosa-dosa manusia menjadi gambaran analogi peristiwa Natal, maka inkarnasi adalah gambaran pertemuan antara kuasa dan kasih Allah yang luar biasa, ajaib, untuk membereskan masalah terbesar manusia yaitu “DOSA”. Benarlah apa yang dikatakan Rasul Paulus bahwa “Tetapi sekarang, setelah kamu dimerdekakan dari dosa dan setelah kamu menjadi hamba Allah, kamu beroleh buah yang membawa kamu kepada pengudusan dan sebagai kesudahannya ialah hidup yang kekal. Sebab UPAH DOSA IALAH MAUT; tetapi KARUNIA ALLAH IALAH HIDUP YANG KEKAL DALAM KRISTUS YESUS, Tuhan kita (Roma 6:22-23).
Palungan adalah pertemuan antara penyelesaian dosa dengan kuasa dan kasih Allah yang luar biasa itu. Allah menetapkan cara penebusan manusia atas dosa-dosa mereka melalui peristiwa Natal yang kemudian dilanjutkan dengan peristiwa kematian, kebangkitan, dan kenaikan Yesus Kristus ke surga. Kekristenan meniktikberatkan pada bagaimana Allah menyelesaikan dosa, sementara agama lain sibuk mengkritiknya. Ketika orang Kristen tidak memahami makna peristiwa Natal dalam kaitannya dengan “Historical Redemption”, maka sebenarnya ia bukanlah Kristen yang sesungguhnya. Ia tidak dapat menikmati imannya kepada Tuhan; ia tak mampu merespons dan mengaplikasikan kasih dan kuasa Tuhan dalam relasi humanitasnya.
Antara palungan dan dosa-dosa manusia ada sebuah analogi yang sangat substansial. Palungan tidak lebih kotor dari pada manusia yang bersimbah dosa. Manusia bisa bersih di luar tapi hatinya kotor penuh dengan berbagai macam kemunafikan dan kejahatan. Palungan, meskipun dipandang kotor, tetapi Yesus Kristus telah membersihkan dan menyucikan kita dari segala dosa kita. Catatan penting di sini adalah bahwa kita telah disucikan (dibersihkan oleh Yesus), kita harus terus berjuang menyucikan diri (hidup suci dan kudus), dan Tuhan akan menjaga serta memampukan kita untuk hidup suci.
Rasul Yohanes menegaskan: “Tetapi jika kita hidup di dalam terang sama seperti Dia ada di dalam terang, maka kita beroleh persekutuan seorang dengan yang lain, dan darah Yesus, Anak-Nya itu, menyucikan kita dari pada segala dosa. Jika kita mengaku dosa kita, maka Ia adalah setia dan adil, sehingga Ia akan mengampuni segala dosa kita dan menyucikan kita dari segala kejahatan” (1 Yohanes 1:7, 9).
Rasul Paulus menegaskan bahwa orang percaya harus hidup dalam kesucian: “ Saudara-saudaraku yang kekasih, karena kita sekarang memiliki janji-janji itu, marilah kita menyucikan diri kita dari semua pencemaran jasmani dan rohani, dan dengan demikian menyempurnakan kekudusan kita dalam takut akan Allah” (2 Korintus 7:1). “Jika seorang menyucikan dirinya dari hal-hal yang jahat, ia akan menjadi perabot rumah untuk maksud yang mulia, ia dikuduskan, dipandang layak untuk dipakai tuannya dan disediakan untuk setiap pekerjaan yang mulia” (2 Timotius 2:21).
Rasul Petrus dan Rasul Yohanes juga menekankan hal yang sama: “Karena kamu telah menyucikan dirimu oleh ketaatan kepada kebenaran, sehingga kamu dapat mengamalkan kasih persaudaraan yang tulus ikhlas, hendaklah kamu bersungguh-sungguh saling mengasihi dengan segenap hatimu” (1 Petrus 1:22), dan “Setiap orang yang menaruh pengharapan itu kepada-Nya, menyucikan diri sama seperti Dia yang adalah suci” (1 Yohanes 3:3).
Ketika manusia berjuang—sebagai tanggung jawab imannya untuk hidup dalam kekudusan, upaya manusia tentu terbatas dan akan mengalami kegagalan. Hanya Tuhan yang dapat memampukan manusia memenuhi semua tuntutan hukum-Nya. Ketika manusia berjuang secara terpisah dari Tuhan untuk hidup layak di hadapan-Nya, maka kegagalan adalah hasilnya. Manusia membutuhkan Tuhan dan Tuhanlah yang memampukan manusia agar ia dapat menjalankan dan memenuhi semua tuntutan hukum-Nya dan kehendak-Nya. Penulis Ibrani menegaskan hal ini: “betapa lebihnya darah Kristus, yang oleh Roh yang kekal telah mempersembahkan diri-Nya sendiri kepada Allah sebagai persembahan yang tak bercacat, AKAN MENYUCIKAN HATI NURANI KITA dari perbuatan-perbuatan yang sia-sia, supaya kita dapat beribadah kepada Allah yang hidup” (Ibrani 9:14).
Palungan, meskipun dipandang kotor, tetapi Yesus Kristus telah membersihkan kita, dan menjadikan kita layak di hadapan Allah, memuji, menyembah-Nya, dan bersukacita karena kita telah dijadikan anak-anak Allah yang membawa damai dan sejahtera.
Palungan tidak lebih bau dari pada manusia yang berdosa. Manusia bisa menggunakan minyak wangi untuk menjadikan dirinya tampak harum di depan semua orang, tetapi dosanya menjadikan dirinya ‘bau busuk’ di hadapan Tuhan. Manusia tidak dapat menutupi bau busuk dosa-dosanya, kecuali Tuhan membereskanya. Manusia yang menjadi bau busuk karena dosa hanya dapat dibersihkan oleh Tuhan dan menjadi manusia yang berbau harum bagi kemuliaan nama-Nya. Tepatlah apa yang dikatakan Rasul Paulus (2 Korintus 2:15): “Sebab bagi Allah kami adalah BAU YANG HARUM dari Kristus di tengah-tengah mereka yang diselamatkan dan di antara mereka yang binasa.
Palungan tidak lebih hina dari pada diri manusia yang berdosa. Karena dosa, manusia menjadi terhina dan dipandang rendah. Tidak hanya orang miskin yang dipandang rendah. Ketika ada orang kaya yang berbuat dosa di hadapan Tuhan, maka ia dipandang miskin karena tidak dapat mengekang dirinya untuk melawan dan menghindari dosa. Palungan, meskipun dipandang hina, tetapi Yesus Kristus telah menjadikan kita menjadi anak-anak Allah yang mulia yang memancarkan kemuliaan nama-Nya.
Palungan tidak lebih rendah dari para pelaku dosa dan kejahatan. Meski palungan dianggap tempat yang rendah—tempat minum ternak—tetapi palungan menghadirkan kepedulian Allah yang luar biasa. Meski rendah, palungan tidak lebih rendah dari pada pelaku dosa dan kejahatan. Mereka yang senang dengan dosa, akan dipandang rendah; sekaya apa pun dia, setinggi apa pun jabatannya, ketika ia berbuat dosa dan kejahatan, maka dia akan dipandang rendah. Palungan, meskipun dipandang rendah, tetapi Yesus Kristus telah meninggikan kita menjadi anak-anak Allah yang membawa damai dan sejahtera.
Palungan tidak lebih miskin dari para pendosa yang dibelenggu olehnya. Meski Yesus lahir dalam kondisi seadanya—bersahaja—namun Ia menjadikan kita kaya di dalam hal-hal kebaikan, kemurahan, dan kasih. Hal ini ditegaskan oleh Rasul Paulus dalam 2 Korintus 8:9, “Karena kamu telah mengenal kasih karunia Tuhan kita Yesus Kristus, bahwa Ia, yang oleh karena kamu menjadi miskin, sekalipun Ia kaya, supaya kamu menjadi kaya oleh karena kemiskinan-Nya.”
Palungan tidak lebih aneh dari pada manusia yang tahu kebaikan tetapi memilih berbuat kejahatan. Manusia terkadang dipandang aneh ketika ia tahu bahwa dosa itu adalah hal yang dibenci Allah, tetapi justru menjadi “kesukaan”nya. Bahkan yang lebih parah adalah ada pendeta-pendeta dan para pelayan Gereja yang justru menjadi pelaku dosa dan kenajisan, pembunuhan dan kemunafikan, korupsi dan perzinaan, dan jenis-jenis dosa lainnya. Ini memang tergolong aneh, bahkan sangat aneh. Palungan, meskipun dipandang aneh, tetapi Yesus Kristus telah memampukan dan menyadarkan kita untuk hidup dalam kebenaran dan menjauhi kejahatan.
Palungan tidak lebih bodoh dari pada manusia terhormat tapi suka dan terikat oleh dosa. Kebodohan manusia seringkali tampak dari perilakunya. Ada orang-orang yang terhormat justru melakukan berbagai tindakan bodoh. Justru mereka yang bodoh karena dosa-dosa yang dilakukannya merasa malu dengan palungan, tempat kecil yang digunakan untuk membaringkan bayi Yesus. Mengapa kita membodohi diri kita hanya karena nafsu besar untuk berbuat dosa? Palungan, meskipun dipandang bodoh, tetapi Yesus Kristus telah memberikan kita bijaksana untuk memahami bahwa betapa Allah mengasihi manusia berdosa; dan Ia menebus, mengampuni, menyelamatkan, menguduskan, dan membenarkan kita.
Palungan menjadi simbol yang paling rendah tetapi hasilnya sangat luar biasa. Palungan adalah tempat sederhana tetapi memberikan kesadaran kepada kita bahwa Allah menjadikan palungan sebagai analogi terhadap “dosa-dosa manusia”. Bayi Yesus harus dibaringkan dalam palungan menandakan bahwa analogi-analogi di atas merupakan jawaban atas berbagai pertanyaan, keraguan, dan penolakan terhadap Inkarnasi Yesus Kristus.
Yesus yang adalah Anak Allah Yang Mahatinggi, tidak menjadi rendah karena dilahirkan di palungan karena ternyata yang paling rendah adalah “manusia-manusia yang berdosa kepada Allah” yang hidupnya menjadi rusak, hina, kotor, rendah, bau busuk, dan bodoh di hadapan Tuhan. Meskipun palungan dapat dianggap sebagai tempat yang paling hina, kotor, dan rendah, tetapi justru dari palunganlah, yang manusia yang kotor karena dosa dijadikan bersih, yang bau dijadikan harum; manusia yang bau busuk karena dosa dijadikan harum di hadapan Allah; manusia yang hina karena dosa, dijadikan mulia oleh Tuhan; manusia rendah karena dosa, ditinggikan oleh Tuhan karena Ia telah menebusnya; manusia yang miskin karena dosa, dijadikan kaya dalam segala hal yang baik; manusia yang aneh karena dosa, dimampukan dan disadarkan oleh Tuhan untuk hidup dalam kebenaran dan menjauhi kejahatan; dan manusia yang bodoh karena dosa, dijadikan Tuhan menjadi bijaksana untuk memahami bahwa betapa Allah mengasihi manusia berdosa.
Tidak ada hal yang patut kita banggakan selain dari pada “kita telah ditebus oleh Tuhan”. Berbagai pandangan agama lain hanya sibuk mengkritik soal personalitas Yesus Kristus, tetapi mereka lupa bahwa Kekristenan adalah sebuah kepercayaan bahwa Allah begitu mengasihi manusia berdosa dan Ia telah menebusnya, mengampuninya, menyelamatkannya, menguduskannya, dan membenarkannya. Dosa adalah persoalan serius dan hanyalah Allah yang sanggup dan mutlak menyelesaikannya dengan cara-Nya sendiri.
Hiduplah secara bijaksana dan tancapkanlah iman kita kepada Tuhan yang telah menunjukkan dan membuktikan kuasa dan kasih-Nya yang luar biasa itu melalui peristiwa “Natal Yesus Kristus” yang dibaringkan dalam palungan.
SELAMAT MERAYAKAN NATAL. Tuhan Yesus memberkati kita semua
Soli Deo Gloria
Salam Bae…….







