AGENDA RELASI

“Tak ada hidup tanpa relasi”. Relasi itu sendiri dapat terdiri atas empat fakta, yakni: relasi dengan diri sendiri, dengan orang lain, dengan alam, dan terakhir, relasi dengan Tuhan. Relasi-relasi tersebut mewarnai setiap kehidupan manusia, membentuk karakter dan jati dirinya.

Adakah relasi membentuk karakter dan pola hidup kita selaras dengan apa yang Tuhan kehendaki? Ataukah karakter dan pola hidup justru menjerumuskan hidup kita dalam kubangan keburukan? Bukankah kita hidup bukan untuk diri kita sendiri? Bukankah hidup kita seharusnya menjadi berkat bagi orang lain? Bukankah hidup itu lebih penting dari pada makanan dan pakaian?

Apa yang harus kita cari dalam hidup ini? Tentu relasi adalah salah satu dari sekian hal yang harus kita usahakan—kita cari. Ada kendala-kendala yang telah dan akan kita hadapi; ada pula kesempatan-kesempatan yang hadir di depan kita; kita menilai dan menentukan pilihan hidup dan kemudian memutuskan untuk menjalaninya, entah dengan cara yang baik maupun dengan cara yang kurang baik, atau buruk sama sekali.

Kita pun terdorong untuk melihat sejauh mana relasi yang kita bangun atau terbangun yang dapat mempengaruhi karakter dan pola kehidupan kita. Dari relasi itu kita menemukan berbagai hal termasuk di dalamnya kebahagiaan, sukacita, kesenangan. Sejatinya, agenda relasi yang kita susun atau nanti akan disusun, memasukkan gagasan-gagasan yang mendukung sepenuhnya perkembangan karya-karya, pelayanan, dan relasi itu sendiri.

Berangkat dari konteks tersebut, maka saya menyebutkan tiga relasi yang secara umum sudah kita pahami, untuk dilakukan di hari-hari mendatang.

Pertama, menciptakan relasi yang harmonis. Ketika relasi yang dibangun atau terbangun dengan orang lain menjadi harmonis, ada banyak manfaat yang dapat kita ambil dan nikmati. Oleh karena relasi yang harmonis dapat menciptakan dan menghadirkan banyak manfaat dan “pertumbuhan”, maka seyogianya kita tetap menciptakan relasi yang harmonis, menjaganya agar tetap terjalin indah. Niscaya, harapan-harapan dapat diwujudkan satu demi satu.

Kedua, mengajukan berbagai hal-hal baik untuk dilakukan. Dalam relasi yang telah terjalin, sedapat mungkin kita mengajukan hal-hal baik untuk dilakukan. Artinya, relasi tersebut akan lebih bermanfaat dan berpengaruh secara luas ketika ada hal-hal baik yang dilakukan. Jika kejahatan dapat berpotensi berpengaruh dan bermanfaat bagi para pelaku kejahatan, masakah kebaikan tidak memiliki pengaruh dan manfaat bagi para pelaku kebaikan? Berbuat baik adalah kehendak Tuhan, dan kita diarahkan untuk berbuat kebaikan serta menikmati hasil dari kebaikan-kebaikan yang kita taburkan dalam relasi yang terjalin indah. Relasi tanpa menciptakan dan mengajukan hal-hal baik untuk dilakukan adalah relasi yang buruk, tak perlu dipertahankan.

Ketiga, menjaga relasi untuk menghasilkan karya-karya bermanfaat. Relasi-relasi yang telah terbangun selama ini perlu dilanjutkan untuk menghasilkan karya-karya bermanfaat. Hidup harus jadi berkat bagi orang lain. Sudah berapa banyak relasi yang kita bangun dengan orang lain yang hanya sebatas relasi saja, tanpa ada karya yang dihasilkan? Karya-karya itu beragam bentuknya, termasuk perbuatan-perbuatan baik yang dilakukan. Karya-karya adalah kerja-kerja nyata yang kita berikan bagi diri sendiri, orang lain, dan terlebih kepada Tuhan.

girl's left hand wrap around toddler while reading book during golden hour

Sungguh merupakan suatu sukacita ketika dalam relasi-relasi di mana kita ada di dalamnya, dapat menciptakan, mengusulkan, dan menghasilkan hal-hal baik yang bermanfaat secara luas. Dan ketika kita telah menjadi berkat, maka hal ini harus terus dibawa dan diupayakan di hari-hari mendatang.

Jangan menjadi teladan berkat musiman, tetapi jadilah teladan berkat kapan pun, dan di mana pun. Tuhan pasti memberkati dan menyertai orang-orang yang tulus menciptakan relasi yang membangun dan menjadi berkat bagi orang banyak. Tuhan mengasihi orang-orang yang hidup secara benar dan membangun serta mempertahankan relasi yang benar.

crowd lifting their hands watching concert

Tanggung jawab kita—dalam relasi yang terjalin indah—adalah terus mengembangkan potensi diri melalui hal-hal baik yang bermanfaat bagi orang lain, yang di dalamnya kita menyenangkan hati Tuhan dan memuliakan nama-Nya. Agenda relasi di atas semoga menjadi agenda kita semua dan pada akhirnya, kita menjadi teladan bagi orang lain.

Alangkah indahnya hidup yang berelasi yang di dalamnya kita dapat berbagi, terlebih menjadi berkat dan teladan. Selamat berbuat baik dan menjadi teladan. Tuhan Yesus memberkati kita semua. Jadilah pelopor relasi yang Tuhan kehendaki.

Salam Bae…..

Sumber gambar:

  1. https://unsplash.com/s/photos/service-to-god
  2. https://unsplash.com/photos/gktFjKSWAmA

PELAYANAN YANG SEJATI

Melayani Tuhan adalah hal yang terindah. Kita dapat berbagi berkat, pengalaman, talenta, dan karunia. Pelayanan yang telah kita kerjakan selama ini, mungkin kurang baik, kurang maksimal, atau sangat memuaskan. Kita dapat menilai pelayanan yang kita kerjakan. Apa pun hasil dan kondisinya, kita harus tetap bersyukur karena kesempatan melayani itu masih ada.

Apa yang kita tabur dalam pelayanan itulah yang akan kita tuai di kemudian hari. Pelayanan-pelayanan yang telah dikerjakan tentu mendatangkan sukacita tersendiri. Kita merasakan bahwa tangan Tuhan menyertai kita. Dalam keadaan-keadaan yang sulit sekalipun, kita merasakan kuasa Allah bekerja atas pelayanan yang dikerjakan. Ini adalah pengalaman menarik. Tak sedikit dari kita yang—pada akhirnya—merasakan jamahan dan lawatan kuasa Allah dalam pelayanan. Kita tentu sangat bersyukur dan berterima kasih, sambil memuji Allah yang telah berkarya dalam pelayanan kita.

Seperti dengan iman yang kita miliki, pelayanan juga perlu mendapat perhatian serius terutama dalam hal merealisasikan perbuatan-perbuatan baik yang Allah kehendaki. Kita dapat mewariskan pelayanan yang baik itu kepada orang lain yang juga ingin melayani Tuhan sama seperti kita. Mereka juga perlu dilatih untuk melayani. Dan kita dapat menjadi “pengajar” yang mengajarkan mereka bagaimana melayani Tuhan secara benar, dengan motivasi yang benar pula.

Di sini, saya menyuguhkan tiga aspek pelayanan yang sejati; aspek-aspek tersebut dapat dijadikan sebagai komitmen untuk semakin giat melayani, semakin meningkatkan pelayanan, dan semakin menyadari bahwa melayani itu indah dan mengesankan.

Pertama, melayani dengan sepenuh hati. Pelayanan yang sesungguhnya dilakukan dengan sepenuh hati, bukan setengah hati, atau tanpa melibatkan hati (yang rela). Di dalam pelayanan yang sesungguhnya kita memberikan hati kita untuk berbagi dengan sesama. Jika di tahun ini kita telah melakukannya, maka di tahun yang akan datang kita juga tetap melakukannya dan semakin giat melakukannya. Pelayanan yang kita kerjakan tidak pernah terbuang percuma.

Kedua, melayani dengan kasih. Selain melayani dengan sepenuh hati, pelayanan itu sendiri harus dilandasi dengan kasih. Sebagaimana Yesus Kristus telah mengasihi kita, maka kita juga harus menunjukkan sikap mengasihi kepada sesama kita dalam wadah pelayanan. Kasih adalah dasar dari segala sesuatu. Itulah yang Allah nyatakan kepada kita: “Karena begitu besar kasih Allah akan dunia ini, sehingga Ia mengaruniakan Anak-Nya yang tunggal, supaya setiap orang yang percaya kepada-Nya tidak binasa, melainkan beroleh hidup yang kekal”. Rasul Paulus menandaskan: “Dan di atas semuanya itu: kenakanlah kasih, sebagai pengikat yang mempersatukan dan menyempurnakan” (Kolose 3:14).

Ketiga, melayani bersama dan membangun bersama. Ketika kita melayani dengan sepenuh hati yang dilandasi kasih Kristus, maka kita—secara substansial—sedang melayani bersama dan membangun bersama pelayanan yang dipercayakan Allah. Kita tidak melayani sendiri. Kalau pun kita pernah melayani sendiri dan meletakkan dasar pelayanan itu, maka pasti ada orang lain yang Tuhan persiapkan untuk melanjutkan pelayanan tersebut. Tuhan tak membiarkan pelayanan bagi-Nya hilang begitu saja. Dan dengan demikian, kita melayani bersama dan membangun bersama.

Berapa banyak dari kita yang telah melayani dan membangun bersama? Tentu sangat banyak. Kita pun berbahagia akan pencapaian itu. Kiranya pencapaian-pencapaian yang telah terwujud di tahun ini, akan terus berkembang dan meluas di tahun-tahun yang akan datang.

Melayani itu indah. Kita terpanggil untuk itu. Kita dipersiapkan Allah untuk menyatakan kasih dan kemurahan-Nya dalam berbagai bentuk pelayanan. Tak ada alasan untuk tidak mau melayani Tuhan. Kita telah diselamatkan, dan ungkapan syukur atas hal itu adalah dengan melayani Tuhan.

Betapa bahagianya melayani Tuhan. Mereka yang telah puluhan tahun melayani, atau giat melayani meski baru beberapa bulan dan tahun, dapat merasakan bahwa pelayanan itu adalah berkat. Kita dapat merealisasikan iman dan kasih kita dalam pelayanan. Semua pelayanan bagi Tuhan sama pentingnya, sama berkatnya, dan sama kasihnya. Kasih tidak membeda-bedakan pelayanan. Pelayanan yang kecil dan besar, keduanya sama-sama dilakukan untuk Tuhan.

Kita teringat akan pesan Rasul Paulus, bahwa: “Dan segala sesuatu yang kamu lakukan dengan perkataan atau perbuatan, lakukanlah semuanya itu dalam nama Tuhan Yesus, sambil mengucap syukur oleh Dia kepada Allah, Bapa kita” (Kolose 3r:17), “Apa pun juga yang kamu perbuat, perbuatlah dengan segenap hatimu seperti untuk Tuhan dan bukan untuk manusia” (Kolose 3:23). Luar biasa bukan?

Jangan bersedih hati ketika pelayanan kita dipandang sebelah mata. Bersyukurlah, karena mereka yang memandang dengan sebelah mata membuktikan dua hal: pertama, mereka masih punya mata untuk memandang pelayanan kita; dan kedua, mereka melihat bahwa kita masih melayani. Tetap semangat dalam melayani Tuhan.

Ingatlah, bahwa: “Allah turut bekerja dalam segala sesuatu untuk mendatangkan kebaikan bagi mereka yang mengasihi Dia, yaitu bagi mereka yang terpanggil sesuai dengan rencana Allah” (Roma 8:28) sebab “segala sesuatu adalah dari Dia, dan oleh Dia, dan kepada Dia: Bagi Dialah kemuliaan sampai selama-lamanya” (Roma 11:36).

Mari kita melayani dan membangun bersama pekerjaan Tuhan yang telah dipercayakan kepada kita. Saling bekerja sama untuk memajukan pelayanan yang dilandaskan pada kasih Yesus Kristus adalah tindakan yang terpuji. Kita dipanggil untuk bekerja bagi Dia karena Dialah kemuliaan kita, Dialah kehidupan kita, kini, dan sampai selama-lamanya.

Melayanilah dengan kasih; lanjutkanlah pelayanan yang telah kita kerjakan di tahun ini; di tahun yang akan datang kiranya kita tetap setia melayani dengan penuh semangat dan sepenuh hati. Kasih Tuhan menyertai kita semua.

Salam Bae……

MEREALISASIKAN IMAN

honeybee perched on yellow sunflower in close up photography during daytime

Iman adalah prinsip yang mendorong kita untuk hidup sesuai dengan kehendak Tuhan. Di dalam hidup itu terdapat segala sesuatu yang Tuhan kehendaki untuk direalisasikan dalam pelayanan, karya, dan hubungan dengan sesama. Dalam hubungan dengan sesama, iman itu direalisasikan melalui kata, pikiran, dan perbuatan. Dalam pelayanan juga demikian. Sedangkan dalam karya, iman itu direalisasikan melalui pemikiran yang didasarkan pada prinsip-prinsip Kitab Suci.

Tak dapat dipungkiri bahwa mereka yang beriman adalah orang-orang yang setia dalam melayani Tuhan. Iman dan pelayanan adalah dua hal yang koheren, karena baik iman maupun pelayanan, keduanya sejalan dalam arti bahwa Tuhan menginginkan mereka yang melayani Dia adalah pribadi-pribadi yang telah dianugerahkan iman dan memelihara iman itu.

Kita yang telah merealisasikan iman setiap hari, masih akan terus melanjutkan realisasi iman itu di hari-hari berikutnya. Artinya, merealisasikan iman itu adalah pekerjaan yang tidak pernah berhenti. Ketika seseorang berhenti beriman, maka ia berhenti berbuat baik. Perbuatan baik yang dilakukan di dalam iman memiliki bobot tersendiri dengan perbuatan baik yang dilakukan di luar iman.

girl sitting on daisy flowerbed in forest

Pada kenyataannya, iman yang kita realisasikan kadang belum sepenuhnya terwujud. Jika demikian, iman itu—yang harus kita lakukan dengan tiada henti—masih tetap dilanjutkan di lain waktu dan kesempatan. Hari esok perlu untuk merealisasikan iman. Yang terpenting adalah iman yang direncanakan akan direalisasikan, haruslah bertumpu pada prinsip kasih (kepada Tuhan dan sesama) sebagaimana yang Tuhan ajarkan.

Sejatinya, iman yang kuat berarti terus mengupayakan hal-hal baik untuk dapat direalisasikan, termasuk melalui pelayanan dan karya. Berikut ini saya menyebutkan tiga agenda iman yang mungkin juga merupakan agenda Anda.

Pertama, tetap menjaga iman agar tetap teguh meski berbagai hambatan melanda kita. Misalnya, muncul berbagai larangan untuk merayakan Natal seperti yang terjadi akhir-akhir ini; muncul berbagai fitnah bahwa kita adalah orang-orang kafir, dan masih banyak lagi. Agenda iman kita harus tertumpuh pada kuasa Allah Tritunggal, agar iman kita tetap terjaga dalam naungan kuasa-Nya. Tanpa Allah, mustahil kita dapat menjaga iman tetap teguh. Kita harus bersandar sepenuhnya kepada Allah; melalui Dia kita merasakan lawatan kuasa dan mukjizat-Nya. Kita teguh karena Allah menopang dan menguatkan kita.

man in black long sleeve shirt raising his hand

Kedua, iman yang memahami karya Allah di dalam Yesus Kristus. Iman yang kita miliki adalah pemberian Allah, dan terkorelasi erat dengan karya Yesus Kristus. Beriman kepada Yesus Kristus sama dengan beriman kepada Allah. Setiap orang yang percaya bahwa Allah dan Firman sama-sama kekal (pros ton Theon) pasti percaya kepada Firman yang kekal itu, karena Allah dikenal melalui Firman-Nya (yang keluar dari diri Allah). Jika ada orang yang menolak percaya kepada Firman Allah, ia sedang merumuskan bahwa Allah tanpa Firman. Bukankah kita semua menjadi percaya kepada Allah karena Ia menyatakan Firman-Nya dan menyatakan diri-Nya melalui Firman-Nya?

Iman yang benar berarti melihat Allah secara penuh. Kepenuhan diri Allah itulah yang kita Imani: Bapa, Firman, dan Roh Kudus adalah sama-sama kekal, berperikoresis (tinggal bersama, berada bersama dan saling meresapi [Nico Syukur Dister, Teologi Sistematika I: Allah Penyelamat (Yogyakarta: Kanisius, 2004), 172]). Percaya kepada Allah berarti percaya bahwa Ia adalah Roh yang Kudus, percaya bahwa Firman berdiam sejak kekal di dalam diri Allah.

Apa yang kita imani sekarang ini tentang Yesus Kristus, Juruselamat yang ajaib dan Tuhan kita, haruslah dipertahankan, dipegang sepanjang hayat. Hari-hari yang akan datang kita masih memiliki agenda iman yang sama dengan hari-hari yang telah kita lewati. Iman selalu bersifat progresif. Iman itu terus bertumbuh ketika kita dekat dengan Tuhan. Agenda iman ini kiranya menjadi komitmen sepanjang hidup kita.

Ketiga, iman yang dinyatakan lewat perbuatan. Tak ada iman yang bertumbuh ketika ia tidak bergerak, berbuat sesuatu, dan menghasilkan sesuatu. Iman adalah komitmen untuk meyakini apa yang Allah nyatakan kepada kita, dan dikorelasikan dengan perbuatan-perbuatan yang lahir dari iman itu. Iman adalah pengakuan bahwa Allah telah bertindak bagi kita. Jika demikian, apa yang harus kita persembahkan kepada Allah sebagai persembahan yang hidup dan berkenan kepada-Nya? Bukankah hanya dengan melakukan apa yang dikehendaki-Nya?

Marilah kita memandang hidup ini sebagai sebuah sikap yang dapat secara kredibel merealisasikan iman yang kita miliki. Tuhan pasti memampukan kita untuk dapat melakukan apa yang berkenan kepada-Nya. Agenda-agenda di atas bisa dijadikan pegangan hidup. Tantangan atas iman kita tentu tak pernah sepi, bahkan lebih dari itu, kita justru menjadi kuat ketika tantangan datang. Kita menjadi “matang” dan “dewasa” dalam iman ketika segala sesuatu Tuhan izinkan terjadi dalam hidup kita. Tuhan membentuk iman kita sesuai dengan kemampuan kita. Ia tahu kemampuan kita.

Kita pun melihat bahwa kasih dan kemurahan Tuhan Allah yang melingkupi hidup kita, menyadarkan bahwa kita bukanlah apa-apa. Jika bukan Tuhan yang memimpin dan memampukan kita, maka sia-sia segala sesuatu. Jika Anda memiliki harapan semoga harapan itu terkait dengan agenda iman seperti yang telah saya jelaskan di atas.

people at concert

Tetaplah hidup dalam iman. Ketika kita berada di dalam iman kepada Yesus Kristus, kita dapat melihat dan merasakan perbuatan-perbuatan-Nya yang luar biasa memulihkan kehidupan dan relasi yang rusak karena dosa dan keegoisan kita sendiri. Kita dapat melihat bahwa pengalaman hidup bersama Tuhan menumbuhkan iman dan bahkan kita dapat “menghasilkan” buah-buah iman dalam totalitas hidup, karya, relasi, dan pelayanan.

Melayanilah dengan iman. Berelasilah dengan iman. Berkaryalah dengan iman, dan hiduplah selaras dengan firman Tuhan. Ia akan memberkati kita, menopang, dan memberikan apa yang perlu bagi kebaikan kita, hari ini, dan hari yang akan datang.

Selamat menjalani kehidupan setiap hari. Andalkanlah Dia senantiasa. Tuhan memberkati kita semua.

Salam Bae.

Sumber gambar:

  1. https://unsplash.com/s/photos/acts
  2. https://unsplash.com/s/photos/surrender

AGENDA HIDUP DAN KARYA

Rencana adalah sebuah keputusan yang dilandasi oleh kesadaran akan masa depan yang harus ditempuh dengan pola hidup sesuai dengan yang diinginkan manusia. Rencana menjadi bagian penting dari sederet keinginan manusia saat ini. Rencana mengisyaratkan bahwa ada tujuan dan sesuatu di masa depan yang akan dicapai. Jika tanpa rencana, maka seseorang hanya hidup tanpa tujuan dan arah yang jelas.

Rencana demi rencana telah disusun sedemikian rupa untuk dapat menikmati hari-hari menuju masa depan. Kita telah melewati waktu yang panjang dan pengalaman hari demi hari, kesempatan demi kesempatan. Kenangan manis masih berbekas di benak kita; dan mungkin sudah ada rencana yang telah terwujud di tahun ini. Meskipun demikian, agenda hidup dan karya di hari-hari berikutnya tetap penting direncanakan.

person walking holding brown leather bag

Agenda hidup yang dapat saya berikan di sini adalah sebagai berikut:

Pertama, hidup benar di hadapan Tuhan. Ketika kita mendasarkan hidup pada kasih Tuhan, maka secara konsisten kita harus hidup benar di hadapan Tuhan. Menghindari hal-hal yang tidak berkenan kepada Tuhan adalah sikap yang tepat agar hidup kita tetap terjaga sesuai dengan kebenaran Allah.

Kedua, hidup kudus di hadapan Tuhan dan sesama. Pola hidup kudus ditandai dengan bagaimana kita tidak melakukan perbuatan-perbuatan yang mencemarkan nama baik Allah dan diri sendiri, bahkan keluarga kita. Dalam relasinya dengan sesama, kehidupan yang kudus juga menjadi pegangan hidup yang tak bisa ditawar-tawar. Menjaga diri dari segala kenajisan dan kekotoran moralitas, adalah pilihan yang tepat yang tentunya ditunjang oleh komitmen dan iman yang teguh.

Ketiga, hidup yang memberi dan mengasihi sesama. Kehidupan yang memberi akan tampak ke permukaan jika kita mengasihi mereka. Tak ada kasih yang tak memberi. Memberi waktu untuk berkomunikasi; memberi waktu untuk melayani sesama (misalnya pelayanan di daerah pedalaman); memberi waktu untuk mengajar, mendidik, dan mengarahkan orang-orang berdosa; memberi waktu untuk mengkonseling orang-orang yang bermasalah, dan masih banyak lagi.

people sitting down near table with assorted laptop computers

Sedangkan Agenda karya yang dapat kita pikirkan bersama adalah:

Pertama, melanjutkan karya yang sudah ada. Ada karya yang membutuhkan penanganan lebih lanjut dan kita masih mendapat kesempatan dan waktu—selagi masih hidup—untuk berkarya bagi diri kita, bagi sesama, bagi keluarga, bagi organisasi, dan terlebih bagi Tuhan.

Kedua, menciptakan karya baru. Setelah karya-karya lainnya selesai, maka kita dapat menciptakan karya yang baru, menampilkan hal-hal baru dalam berbagai konteks kehidupan. Kita dapat berkarya dan memberikan manfaat bagi orang lain.

Ketiga, mempublikasikan karya-karya bermanfaat. Tidak hanya berkarya, kita pun terpanggil untuk mempublikasikan, membagikan karya-karya kita secara luas. Artinya, karya itu tidak dinikmati sendiri tetapi lebih kepada memberikan pengaruh positif bagi orang lain. Hal inilah yang patut kita kerjakan untuk kemajuan potensi diri, dan terlebih kemajuan karya-karya kita sendiri (dalam pengertian kuantitas).

Hidup hanya sekali di dunia ini. Berbuat yang berbaik bagi Tuhan akan mendatangkan sukacita tersendiri. Berbuat untuk menghasilkan banyak karya adalah hal yang sangat baik, positif, dan membangun. Pilihan itu ada pada kita; kita perlu sesegera mungkin untuk menetapkan rencana, menyusun langkah-langkah untuk mencapainya.

Mari, terus berkarya. Susunlah agenda hidup dan karya kita di sepanjang hidup yang dikaruniakan Tuhan Yesus. Jika kita menabur kebenaran, kita akan menuai kebenaran; apa yang kita lakukan dengan cermat dan tulus, akan memberi hasil yang memuaskan. Jadilah teladan dalam berkarya dan teladan dalam menjalani kehidupan yang benar di hadapan Tuhan dan sesama.

Percayalah, buah-buah yang enak akan diberikan Tuhan ketika saatnya kita menuai apa yang kita tabur.

Salam Bae.

Sumber gambar: google image & https://unsplash.com/images

MENERIMA, MENJALANI, DAN MENSYUKURI KEMURAHAN TUHAN

Apa yang kita miliki dalam hidup ini, semuanya adalah pemberian Allah. Kita menerimanya dari Dia, sebab “segala sesuatu adalah dari Dia, dan oleh Dia, dan kepada Dia: Bagi Dialah kemuliaan sampai selama-lamanya” (Roma 11:36). Apa yang kita miliki di sepanjang tahun ini, syukurilah sebagai pemberian Allah. Kita patut mensyukuri kebaikan Allah.

Sebentar lagi kita akan memasuki tahun yang baru. Tahun ini juga adalah tahun yang baru (kita menyebut saat tanggal 1 Januari sebagai tahun baru. Tentu tahun baru tidak ada terletak pada tanggal 1 Januari melainkan pada keseluruhan bulan di tahun tersebut). Tahun yang baru berakhir, akan dilanjutkan dengan tahun yang baru pula. Kita pun mengakui bahwa: “Tak berkesudahan kasih setia TUHAN, tak habis-habisnya rahmat-Nya, selalu baru tiap pagi; besar kesetiaan-Mu” (Ratapan 3:22-23). Penyertaan Tuhan selalu baru setiap waktu. Begitu pula dengan kasih setia dan rahmat-Nya. Ini luar biasa.

Jika kita menerima segala sesuatu dari Tuhan, maka pastilah kita bersyukur akan hal itu. Jika tidak, kita adalah orang-orang yang tamak dan sombong. Akibatnya ditanggung sendiri. Kita perlu menyadari hal ini. Tuhan telah menunjukkan rahmat, kasih setia, dan kebaikan-Nya. Masakan kita tidak bersyukur kepada-Nya? Jika tidak bersyukur, ini penipuan terhadap diri kita sendiri. Kita menerima dari Allah tetapi kita melupakan kebaikan-Nya.

Saya teringat dengan tulisan Raja Daud, “Pujilah TUHAN, hai jiwaku, dan janganlah lupakan segala kebaikan-Nya! Dia yang mengampuni segala kesalahanmu, yang menyembuhkan segala penyakitmu, Dia yang menebus hidupmu dari lobang kubur, yang memahkotai engkau dengan kasih setia dan rahmat, Dia yang memuaskan hasratmu dengan kebaikan, sehingga masa mudamu menjadi baru seperti pada burung rajawali” (Mazmur 103:2-5).

Apa yang kurang dari kebaikan TUHAN pada kita? Tentu tidak kurang. Tetapi kitalah yang selalu merasa kurang karena apa yang kita mau adalah hanya ingin memuaskan hawa nafsu kita. Kita telah menerima segala sesuatu dari Tuhan, maka patutlah kita bersyukur.

Sebagai komitmen iman kita kepada Tuhan, kita perlu memperhatikan beberapa aspek berikut ini:

PERTAMA, kita menyadari bahwa segala sesuatu kita terima dari Allah adalah bukti kasih dan kemurahan-Nya. Apakah di tahun ini kita telah menerima hal-hal yang baik dari Allah, dan apakah kita bersyukur akal ahal itu? Jika ya, yakinlah bahwa hal yang sama akan kita terima di tahun berikutnya. Meskipun demikian, ada tanggung jawab iman yang harus kita kerjakan, bukan cuma menerima hal-hal baik dari Allah. Tanggung jawab iman itu direalisasikan dalam kata, perbuatan, dan pemikiran.

Jika bukan kemurahan Tuhan, kita tak dapat berbuat apa-apa. Mungkin saja ada orang yang berkata: “Saya hidup dan berhasil bukan karena kemurahan Tuhan, tetapi karena usaha dan kerja keras saya sendiri.” Kelihatannya benar, tetapi apakah ia tahu bahwa hidup yang ia terima adalah kemurahan Tuhan? Apakah ia dapat menambah sehasta saja pada jalan hidupnya? Tentu tidak! Jangan sombong dengan apa yang engkau miliki. Hidupmu tidak berguna jika engkau kehilangan nyawamu.

Ingatlah apa yang Yesus katakan: “Apa gunanya seorang memperoleh seluruh dunia tetapi kehilangan nyawanya? Dan apakah yang dapat diberikannya sebagai ganti nyawanya?” (Matius 16:26). Jadi, tak ada yang dapat dibanggakan dan tak ada yang dapat menggantikan ketika nyawa kita hilang. Kesombongan menghancurkan kehidupan.

woman in beige blazer sitting on white bed

Kasih yang telah Tuhan nyatakan kepada sudah terlampau besar, bahkan kita sendiri tak sanggup untuk mengungkapkan kasih-Nya itu lewat kata-kata. Kita hanya dapat melayani-Nya, berbuat kasih kepada sesama, dan hidup dalam kebenaran-Nya. Berbagai ungkapan syukur tentu juga dapat mewarnai kehidupan kita, karena Tuhan itu baik dan telah berbuat baik kepada kita.

KEDUA, kita yang menjalani kehidupan harus sadar bahwa kita berada dalam pengamatan (pengawasan) Allah. Penulis kitab Amsal menulis: “Mata TUHAN ada di segala tempat, mengawasi orang jahat dan orang baik”. Tak ada yang dapat kita sembunyikan di hadapan-Nya. Dan kita harus mempertanggungjawabkannya: “Dan tidak ada suatu makhluk pun yang tersembunyi di hadapan-Nya, sebab segala sesuatu telanjang dan terbuka di depan mata Dia, yang kepada-Nya kita harus memberikan pertanggungan jawab” (Ibrani 4:13).

Segala tindak-tanduk kita haruslah benar, sebagaimana yang Allah kehendaki. Perbuatan baik yang kita lakukan akan mendapat upah ketika di surga nanti. Ia yang menjanjikannya adalah setia. Ia akan memberikan upah bagi mereka yang setia dan  melakukan kehendak-Nya. Ia konsisten. Apa yang dijanjikan pasti ditepati. Itulah Allah kita. Dengan demikian, kesadaran tentang apa yang kita perbuat diawasi Allah membawa kita kepada kesimpulan bahwa “perbuatan baik yang kita lakukan semata-mata memuliakan Allah” dan Allah disenangkan.

Apa yang telah kita lakukan di sepanjang tahun ini, patut kita pikirkan kembali, dan melihat ke dalam diri kita, apakah kita telah memuliakan dan menyenangkan hati Allah melalui perbuatan-perbuatan kita? Jika ya, maka jadikanlah itu sebagai pegangan untuk tetap tinggal di dalam kebenaran Allah yang dengannya segala perbuatan kita berangkat dari kebenaran itu sendiri.

KETIGA, kita mensyukuri segala sesuatu yang terjadi dalam hidup kita. Apa yang telah disyukuri di sepanjang hidup, kiranya menjadi dasar bahwa kita juga dapat melakukan hal yang sama di setiap waktu yang bergulir. Tidak ada kata berhenti untuk bersyukur atas kebaikan Tuhan. Kebaikan-Nya tak terukur dan tak terhitung. Kita hanya mampu untuk merasakan kebaikan-Nya dan berucap: “Terima Tuhan. Engkau baik dan telah berbuat baik”.

grayscale photo of man in crew-neck shirt raising both hands

Kita menerima, menjalani, dan mensyukuri hari-hari yang telah dilewati. Fakta bahwa kebaikan Tuhan itu nyata, dan kita merasakannya adalah konfirmasi bahwa Tuhan itu Mahakasih dan memberikan yang terbaik bagi mereka yang mengasihi-Nya. Jika kita menerima segala sesuatu dari Tuhan, apakah balasan kita kepada-Nya? Bukankah Ia menghendaki kita untuk hidup bersyukur, berterima kasih, dan melakukan apa yang dikehendaki-Nya? Ya, itu adalah bagian dari tanggung jawab iman kita.

Marilah menyambut hari-hari hidup kita dengan percaya bahwa kita pasti akan menerima berkat-berkat Tuhan, asalkan kita hidup bagi Dia, bersyukur di setiap waktu, memuji-Nya dengan sepenuh hati. Kita perlu menjalani kehidupan itu dan tetap percaya bahwa apa yang Tuhan buat selalu indah pada waktunya.

Salam Bae.

Sumber gambar:

  1. https://unsplash.com/s/photos/surrender
  2. https://unsplash.com/s/photos/work

INJIL YANG MENYELAMATKAN: Refleksi Roma 1:16-17

Kebutuhan akan “keselamatan” dalam konteks teologi agama-agama adalah sebuah berita substansial yang mendorong setiap penganutnya untuk memahami duduk perkara keselamatan itu sendiri. Keselamatan dibutuhkan karena manusia pada akhirnya menuju kepada “kematian”, sehingga “kehidupan setelah kematian” yang dikaitkan dengan keselamatan menjadi rujukan utama dari iman yang dimiliki oleh setiap penganut agama.

Kekristenan memiliki konteks iman yang menempatkan “anugerah Allah” sebagai dasar dari keselamatan. Iman sebagai pemberian Allah adalah media di mana manusia dapat merespons anugerah itu. Dalam terang Soteriologi, berita Injil adalah bagian di mana “iman dan keselamatan” menjadi satu pondasi untuk membangun sebuah teologi yang biblikal.

Pada dasarnya, Injil yang menyelamatkan berdiri pada konteks di mana Allah yang beranugerah memberi diri-Nya dikenal, diimani, dan disembah. Allah menyatakan kasih dan keselamatan-Nya bagi manusia berdosa. Manusia tak dapat menyelesaikan masalah dosa itu sendiri; hanya Allah saja yang dapat menyelesaikan.

Berita keselamatan menjadi dasar dan sukacita iman Kristen. Sebagai dasar, berita keselamatan adalah pekerjaan Allah yang dinyatakan kepada manusia berdosa. Keberdosaan manusia menjadikan mereka mengalami jatuh bangun dalam menerapkan (melakukan) perintah Allah. Akibatnya, manusia tidak akan bisa menyelamatkan dirinya sendiri dari murka-Nya. Hanya Dia yang dapat menyelamatkan manusia karena manusia telah berdosa kepada-Nya. Dosa menjadi pemisah antara Allah dan manusia. Dosa dapat menjadi dukacita bagi mereka yang menyadari keterpisahan itu, dan dosa juga dapat menjadi sukacita bagi mereka yang merasa tidak membutuhkan Allah dalam hidup mereka.

Mereka yang menyadari bahwa dosa adalah sesuatu yang dibenci Allah, akan mengubah kehidupan mereka untuk kembali kepada Allah – Allah yang telah memanggil mereka dengan kasih-Nya, menghendaki agar mereka dapat hidup benar di hadapan-Nya. Mereka yang telah hidup di dalam Injil Yesus Kristus, akan menemukan sukacita iman yang luar biasa. Berita keselamatan tertuang di dalam firman-Nya. Injil-Injil PB adalah salah satu bagian yang koheren dengan Perjanjian Lama, ketika kita melihat kesatuan penyataan Allah atas umat-Nya, sehingga pemahaman akan “keselamatan” dan “berita keselamatan” akan menjadi sempurna.

Berita keselamatan itu menghasilkan kondisi manusia yang terbebas dari belenggu legalisme hukum Torat, belenggu dosa, dan belenggu kejahatan. Tuhan—yang telah menebus itu—memberikan kemerdekaan kepada orang percaya untuk hidup dalam firman-Nya, hidup dalam kasih yang tulus.

Teks Roma 1:16-17 merupakan sebuah konfirmasi, keyakinan, dan pengalaman dari seorang Rasul Paulus. Konfirmasi Injil terletak pada pesan mendalam dari sebuah karya Tuhan bagi keselamatan, penebusan, pembenaran, dan pengampunan di dalam Kristus Yesus.

Keyakinan terhadap Injil terletak pada pengaruh yang ditimbulkannya, yang mengubahkan hidup orang berdosa—hidup lama, menjadi “hidup yang baru di dalam Kristus Yesus, dan pengalaman iman di dalam dan melalui Injil terletak pada kesadaran diri bahwa hidup yang berdosa tak mungkin berkenan kepada Tuhan, kecuali hidup yang diubahkan oleh Injil Yesus Kristus. Pengalaman itu kemudian dituangkan ke dalam sikap “memberitakan Injil”, menjadi saksi Kristus, dalam pelayanan di mana pun berada.

girl reading book

Injil harus diberitakan; tidak dinikmati sendiri; tidak hanya untuk kalangan sendiri; Injil harus disebarluaskan dengan berbagai cara yang selaras dengan kehendak-Nya, baik melalui perkataan, pikiran, maupun perilaku kita dalam totalitas kehidupan yang dijalani.

Kita melihat bahwa Injillah yang menyelamatkan jiwa yang berdosa, dan bukan kekuatan serta pemikiran manusia yang terlepas dari firman-Nya. Di sini, bukan berarti orang tidak perlu percaya kepada Yesus dan hanya percaya kepada Injil supaya selamat, melainkan di dalam Injil kita melihat Yesus, karya-karya-Nya dan cinta kasih-Nya; di dalam Injil kita melihat kemurahan Allah Bapa yang mengaruniakan anak-Nya yang tunggal itu.

Klausa “Injil yang menyelamatkan” adalah sebuah konfirmasi atas predestinasi Allah bagi setiap orang yang dipilih-Nya sejak kekekalan; orang percaya diubah hidupnya oleh Allah dan harus hidup sesuai firman-Nya. Injil adalah kekuatan Allah yang mendorong orang berdosa untuk bertobat dan kembali kepada Allah. Injil sungguh-sungguh menunjukkan kekuatan Allah sebagaimana tampak dari pertobatan dan perubahan manusia berdosa menuju kepada kehidupan yang benar.

Kita yang sekarang hidup di zaman ini, menjadi percaya karena Injil itu sendiri. Orang-orang di zaman Yesus menjadi percaya karena berita Injil (baik tentang norma-norma kehidupan yang Allah kehendaki, perintah-perintah, larangan-larangan, maupun mukjizat-mukjizat yang dibuat Yesus sebagai konfirman ke-Tuhanan dan ke-Allahan-Nya). Para Rasul mewartakan berita Injil – Yesus Kristus yang adalah Mesias dan Juruselamat umat manusia. Orang-orang percaya berikutnya yang telah menerima Kitab Suci dalam bentuk seperti yang kita miliki sekarang ini, juga menjadi percaya karena berita yang terkandung di dalamnya, dan keselamatan mereka terima sebagai bukti konfirmasi pemilihan Allah atas hidup mereka.

person holding book while standing on field

Kita dipanggil oleh Tuhan untuk menerima anugerah keselamatan. Roh Kudus mendorong kita untuk kembali kepada Sang Bapa yang kekal, menikmati anugerah keselamatan-Nya.

Injillah yang mengarahkan manusia untuk melihat kepada Yesus Kristus, karya-Nya, melihat kasih dan kuasa-Nya. Injil adalah kekuatan Allah yang membawa manusia kepada-Nya, dan menjadikan mereka bertobat, hidup baru, dan hidup berkemenangan.

Beberapa hal penting yang perlu dipahami adalah sebagai berikut:

Pertama: Injil adalah berita keselamatan dari Allah yang menyatakan bahwa manusia membutuhkan Juruselamat dari dosa-dosa mereka, dan mereka—melalui Juruselamat itu, diselamatkan, ditebus, diampuni, dan dibenarkan.

Kedua: Juruselamat itu adalah Yesus Kristus. Dia adalah Tuhan yang menyatakan kuasa-Nya untuk menebus, menyelamatkan, mengampuni, mendamaikan, dan membenarkan.

Ketiga: Injil adalah kekuatan Allah yang “menyelamatkan”. Injil yang menyelamatkan ini tentu diperkuat dengan dua hal, yaitu perkataan tentang isi Injil, dan kuasa Allah yang menyertai pemberitaan Injil itu.

man holding his hands on open book

Keempat: Injil menyatakan kebenaran Allah yang bertolak (berpangkal) dari iman. Kebenaran Allah hanya bisa dipahami, dipercaya berdasarkan “iman” dari-Nya. Itulah makna “bertolak dari iman dan memimpin kepada iman”. Semua karena anugerah Allah: Ia menyelamatkan manusia, memberikan kebenaran, memberikan iman agar orang-orang yang percaya kepada-Nya dapat memahami kebenaran dan mengimaninya sebagai kebenaran-Nya.

Kelima: Injil yang menyelamatkan manusia adalah berita atau kabar baik yang memiliki kuasa. Injil bukan hanya sekadar kata-kata semata, melainkan di dalam kata-kata tersebut ada kuasa yang mengubahkan, mengarahkan, mempertobatkan, dan menyadarkan manusia dari segala dosa dan pemberotakannya di hadapan Allah.

Keenam: Injil adalah kekuatan Allah yang mengarahkan kita untuk mewartakan Injil itu sendiri, berbagi dengan sesama, peduli kepada mereka, dan membawa mereka kepada Yesus Kristus.’

Salam Bae….

Sumber gambar: https://unsplash.com/s/photos/bible

ALLAH, FIRMAN, DAN NARASI KITAB SUCI

“Allah berfirman” mengempasis tiga fakta: pertama, Allah ada [eksis]; kedua, Allah menyatakan kehendak-Nya; dan ketiga, Allah menghendaki sebuah relasi yang berkesinambungan. Allah ada merupakan realitas utama dari sebuah konteks teologi biblika. Pasalnya, eksistensi Allah sedari awal telah dinyatakan dalam narasi Kitab Suci: “Pada mulanya Allah menciptakan langit dan bumi” (Kej. 1:1). Mulanya Allah itu ada, dan Ia mencipta dengan kuasa-Nya.

Kesinambungan eksistensi Allah dinyatakan secara progrestif kepada orang-orang pilihan dan umat-Nya sendiri. PL menandaskan eksistensi Allah yang tampak dari “Allah berfirman”. Dengan berfirman Allah dapat dikenal, tidak hanya eksistensi-Nya, tetapi juga kualitas karya-Nya, rencana-Nya, kehendak-Nya, kasih-Nya, pengampunan-Nya, penghukuman-Nya, murka-Nya, keselamatan-Nya.

Kehendak Allah semata-mata untuk tujuan yang terbaik. Bagi para pelaku kejahatan, tujuan mereka adalah dihukum Allah selaras dengan tindakan-tindakan mereka. Bagi para pelaku kebenaran, tujuan mereka adalah diberikan kehidupan kekal, kehidupan yang terbaik yang disediakan Allah. Kehendak Allah itu sendiri tertuang dalam Ktiab Suci atau yang disebut dengan Alkitab.

Alkitab adalah bukti dan konfirmasi bahwa Tuhan yang kita percayai adalah pribadi yang berkuasa atas segala sesuatu. Kekuasaan-Nya pun terhubung dengan konteks penyelamatan, penebusan, dan pengampunan, di mana Ia – dengan kasih dan kemurahan-Nya, serta anugerah-Nya – memberikan yang terbaik bagi manusia berdosa agar mereka diterima-Nya dalam Kerajaan-Nya.

Tanggung jawab iman orang percaya terhadap Kitab Suci adalah bagaimana mereka memahaminya dan hidup di dalam firman-Nya. Gerak-gerik orang percaya selalu terkontrol oleh firman Allah. Proses kehidupan, relasi, dan spiritual mendapat pondasi terkuatnya di dalam Kitab Suci, firman-Nya.

opened book on brown field during daytime

Pemahaman akan Kitab Suci membutuhkan media-media yang dengannya kita mendapatkan kesadaran bahwa pesan-pesan dan makna dalam Kitab Suci seyogianya memberi suguhan terbaik yang akan memoles, mengubah, mengkritik, mengarahkan totalitas kehidupan kita menjadi seperti yang Tuhan kehendaki.

Kitab Suci (Alkitab) yang kita baca sekarang ini memiliki latar yang variatif, sehingga ada hal-hal tertentu yang memang sulit dipahami, kecuali kita mencari media atau alat bantu untuk mendapatkan pemahanan yang lebih mendalam. Berbagai masalah yang timbul dalam memahami Alkitab hanya terkait dengan “bahasa” yang mencakup proses penulisan dan penyalinan, tetapi secara fakta historis, Tuhan tetap konsisten: Ia mengasihi umat-Nya, menyelamatkan, menebus, mengampuni, mendamaikan, dan membenarkan mereka.

Itulah dasar iman mengapa kita percaya kepada Tuhan yang telah memberikan “diri-Nya” dinarasikan dalam sebuah Kitab Suci. Narasi itu sendiri telah mengubah milyaran manusia untuk melihat bahwa Sang Khalik, tidak hanya memberikan diri-Nya dinarasikan dalam Kitab Suci melainkan Ia sendiri “dialami” oleh manusia-manusia yang memberikan dirinya untuk dipimpin dan dibimbing oleh Dia, Sang Khalik yang berkuasa.

Sejatinya, pengalaman iman adalah kekuatan yang tak terkalahkan. Pengalaman iman dari mereka yang percaya kepada Allah melalui Yesus Kristus juga dinarasikan dalam Kitab Suci. Dari sini kita melihat bahwa narasi tentang Allah dan narasi mereka yang percaya kepada-Nya adalah dua hal yang tak bisa dipisahkan. Itulah alasan mengapa di dalam narasi Kitab Suci kita menemukan pengalaman dan kisah yang demikian.

Allah begitu luar biasa menyatakan kehendak-Nya bagi manusia berdosa. Ia tidak hanya menyatakan diri dalam sejarah, membentuk umat-Nya, menghukum mereka, memimpin mereka kepada tujuan yang dikehendaki-Nya, mendidik dan mengajar mereka, dan masih banyak lagi, tetapi juga menghendaki kisah-kisah yang terjadi di bawah kedaulatan-Nya dituangkan dalam narasi Kitab Suci. Tak terhitung perbuatan Allah kepada umat-Nya, bahkan kepada kita semua, entah melalui pengalaman langsung bersama Allah atau melalui pemahaman narasi Kitab Suci.

Narasi Kitab Suci telah cukup memberikan gizi bagi kerohanian kita. Allah dengan begitu limpahnya menyatakan kasih-Nya agar kita sadar dan tetap bersandar pada-Nya bahwa hidup yang dikaruniakan-Nya patutlah dijalani selaras dengan firman-Nya yang tertuang dalam narasi Kitab Suci. Peganglah firman-Nya. Tinggallah di dalam firman-Nya.

Hingga puncaknya, Firman Allah menjadi daging, menjenguk manusia di dunia, hidup bersama dengan manusia, menyatakan kehendak Bapa-Nya bagi kesinambungan kehidupan mereka yang dipilih-Nya sejak kekekalan. Firman itu telah menyatakan diri-Nya. Ia berkuasa, Ia Pencipta, Ia penuh kasih dan mau mengambil kita yang berdosa untuk ditempatkan pada tempat yang kekal, Kerajaan-Nya sendiri.

Allah, Firman yang telah menyatakan diri-Nya, dan narasi Kitab Suci adalah bukti nyata dari pleroma-revelatio – kepenuhan penyataan [pewahyuan] Allah bagi manusia. Kita menemukan kehidupan yang sejati hanya di dalam Yesus Kristus, Firman yang Kekal, yang telah datang ke dalam dunia dalam rupa manusia.

Salam Bae….

Sumber gambar: https://unsplash.com/s/photos/bible

MESIAS, JURUSELAMAT: Memahami Mikha 5:1-4a

Pendahuluan

Personalitas Mesias dan apa yang dilakukannya menegaskan sebuah konteks nubuatan Mesianik Davidik. Teks Mikha 5:1-4a ditinjau dari empat aspek: pertama, darimu (Betlehem-Efrata) akan bangkit bagi-Ku seorang yang akan memerintah Israel; kedua, yang permulaannya sudah sejak purbakala, sejak dahulu kala; ketiga, (ay. 3) Mesias akan menggembalakan Israel dalam kekuatan Tuhan, dalam kemegahan nama Tuhan; dan keempat, (ay. 4a), Mesias menjadi damai sejahtera.

Ralph L. Smith, profesor Perjanjian Lama, mengamati bahwa Mikha menubuatkan seorang raja Israel yang ideal, dan ini berbicara mengenai nubuatan tentang keselamatan Israel yang akan dipimpin oleh Raja yang Ideal. Pernyataan tersebut—dalam perspektif Kristen dipahami sebagai nubuatan bagi Mesias dan Raja yang luar biasa (bdk. Luk. 19:38). Dengan demikian, Mesias dan Raja yang luar biasa hanya dapat dipenuhi oleh Tuhan, bukan oleh manusia.

Diskursus Singkat

Sebagaimana yang dipahami Kristen bahwa nubuat Mikha merujuk kepada personalitas Yesus. Mikha sedang menjelaskan tentang datangnya seorang mesias [teks Mikha bersifat mesianik] yang menurut Smith, bagian ini telah secara luas disebut sebagai “mesianis” dan mirip dengan janji Yesaya tentang kelahiran seorang raja baru dalam Yesaya 7:4 (Smith, World Biblical Commentary, 43).

Untuk melihat penjelasan lebih lanjut, teks Mikha akan saya kaji berdasarkan empat aspek sebagaimana yang telah saya sebutkan di atas:

Pertama, darimu akan bangkit bagi-Ku seorang yang akan memerintah Israel. Nubuat tentang bangkit-Nya seorang yang akan memerintah Israel memberikan sebuah kekuatan pengharapan atas Israel bahwa “akan ada Raja yang Ideal”. Jika demikian, maka gagasan Raja yang Ideal yang akan memberikan keselamatan kepada Israel memiliki dua pemahaman: (1) pemahaman sosial kenegeraan (yang terkait dengan kondisi yang dialami oleh Israel, sehingga orientasi dari pekerjaan Raja yang Ideal adalah memimpin mereka dan memenangkan mereka atas belenggu penjajahan dan penderitaan); dan (2) pemahaman keselamatan jiwa yang berdosa.

Pemahaman kedua—dalam pengamatan saya—hanya ditekankan oleh Kristen yang kemudian diteropong melalui karya Yesus Kristus di kayu salib. Identifikasi Raja yang Ideal berorientasi kepada imensitas (luasnya) jangkauan penebusan yang tidak hanya ditujukan kepada umat Israel (bdk. Yes. 45:17; 62:11), melainkan juga kepada bangsa-bangsa lain yang menjadi “umat” berdasarkan kedaulatan dan pemilihan Tuhan (Yes. 49:6; Kis. 13:26, 47; 28:28;  Rm. 11:11; 1 Tes. 2:16). Jadi, di sini ada semacam kontinuasi (kelanjutan) dari nubuatan PL yang terwujud dalam PB—secara khusus melalui diri Yesus Kristus.

Sebagai Raja yang Ideal, Ia tentu adalah seorang yang memiliki kuasa [Penguasa], dan hal ini ada dalam diri Yesus. Beberapa teks berikut ini akan memberikan cukup bukti tentang Yesus sebagai Raja.

  • Lukas 23:3 (pengakuan implisit di mana ketika Pilatus bertanya: “Engkaukah raja orang Yahudi” Yesus menjawab: “Engkau sendiri mengatakannya”; bdk. Yoh. 18:37);
  • Yohanes 1:49 (pengakuan Natanael: “Engkau Raja orang Israel”)
  • Yohanes 12:13 (pengakuan orang banyak: “Hosana! Diberkatilah Dia yang datang dalam nama Tuhan, Raja Israel!”)
  • Yohanes 18:36 (pengakuan Yesus bahwa Ia memiliki Kerajaan: “Kerajaan-Ku bukan dari dunia ini…”) (bdk. Kis. 1:3, pengakuan akan fungsi Kerajaan Tuhan ; 17:7, pengakuan sekunder; 28:31, pengakuan tentang identitas Kerajaan Tuhan dan Rajanya; Efesus 5:5; Kolose 1:13; 2 Timotius 4:1; 2 Timotius 4:18; Ibrani 1:8; 2 Petrus 1:11; Wahyu 11:15; Wahyu 15:3; Wahyu 17:14; 19:16 (pengakuan Yesus sebagai Raja dalam Kerajaan-Nya); 1 Timotius 6:15 (pengakuan kualitas dan supremasi Raja).

Perjanjian Baru merupakan imensitas (keluasan) jangkauan nubuatan. Meski bersifat imensitas, pokok personalitasnya jelas dan tertuju kepada satu personal saja yaitu Yesus Kristus. Tidak ada transmutasi (perubahan) dalam penggenapan nubuatan Perjanjian Lama sebab secara data dan konteks data historis, Yesus memenuhi semua kriteria nubuatan PL. PB adalah kontinuasi (kelanjutan) dari PL.

Kedua, yang permulaannya sudah sejak purbakala, sejak dahulu kala. Pernyataan ini menyebutkan sebuah kondisi imutabilitas (keabadian, kekekalan) dari Sang Mesias yang dijanjikan. Mesias yang bersifat Ilahi dan Kekal seperti ini tidak pernah dijumpai dalam Alkitab selain mengacu kepada pribadi Yesus. Karena nubuatan ini menegaskan natur ke-Ilahian Sang Mesias, maka tak ada jalan lain selain bahwa ayat ini adalah menubuatkan Sang Mesias Ilahi.

Meski bisa ditafsirkan secara lebih imajinatif—maksudnya mungkin saja Sang Mesias yang Ilahi ini mengimplikasikan sifat dari pengajaran-pengajarannya yang mana pengajaran-pengajarannya tentu berasal dari Bapa yang adalah Kekal, namun, pemahaman seperti ini tidak mendapat dukungan sama sekali dari Kitab Suci itu sendiri.

Dalam interpretasi Kristen, seorang Mesias yang permulaannya [eksistensinya] sudah sejak purbakala, sejak dahulu kala, merupakan sebuah indikasi yang kuat bahwa hanya Yesus yang memenuhi standar ini. Rasul Yohanes secara jelas mengungkapkan konteks ini (Yoh. 1:1).

Mesias yang Ilahi tentu memiliki natur yang imutabilitas—dan dengan demikian, Mesias adalah Juruselamat, yaitu Tuhan sendiri. Natur ini tidak mungkin dimiliki oleh mesias yang biasa, mesias manusiawi. Dibutukan seorang Mesias yang “Theanthropik” [dari kata Theos dan Anthropos]—yang dapat saya artikan sebagai “Mesias yang Ilahi tapi berdwi-natur [Tuhan-Manusia]” dan “Mesias manusia [inkarnasi] tetapi memiliki natur Ilahi” untuk menjamin bahwa otoritas dan kuasa-Nya memiliki kedaulatan sepenuhnya atas alam semesta dan semua ciptaan-Nya. Inkarnasi Yesus adalah wujud dari “Theanthropik” [Tuhan-Manusia]. Fakta ini tidak dapat disangkal karena memiliki sederetan bukti-bukti faktual—historis.

Eksistensi kekal Sang Mesias membawa kita kepada pemahanan bahwa Mesias itu, tidak lain dan tidak bukan, adalah Tuhan sendiri. Hanya Tuhan yang bernatur kekal dan hanya Tuhan saja yang sanggup memerintah atas Israel sampai selama-lamanya, kuasa dan kasih-Nya tak berkesudahan, dan hanya Tuhan saja yang memerintah umat manusia termasuk Israel, dengan keadilan dan kebenaran. Hanya Tuhan saja yang memberikan damai yang kekal—damai yang tak berkesudahan. Dengan demikian, ke-Ilahian Yesus sebagai Sang Mesias dan Juruselamat yang permulaannya sudah sejak purbakala sejak dahulu kala tidak menyingkirkan identitas-Nya sebagai “Huios tou Theou”—Anak Tuhan yang kekal.

Ketiga, (ay. 3) Mesias akan menggembalakan Israel dalam kekuatan Tuhan, dalam kemegahan nama Tuhan. Konteks ini hanya dipenuhi oleh Yesus Kristus. Yesus adalah Gembala yang baik (Yoh. 10).

Keempat, (ay. 4a), Mesias menjadi damai sejahtera. Para peristiwa kelahiran Yesus, sejumlah besar bala sorga yang memuji: Kemuliaan bagi Tuhan di tempat yang mahatinggi dan damai sejahtera di bumi di antara manusia yang berkenan kepada-Nya” (Luk. 2:14). Yesus adalah sumber Damai Sejahtera dan dengan demikian Ia berotoritas memberikan damai sejahtera (bdk. Luk. 24:36 [damai sejahtera bagi kamu]; Yoh. 14:27 [damai sejahtera Kutinggalkan bagimu. Damai sejahtera-Ku Kuberikan kepadamu]; 16:33 [semuanya itu Kukatakan kepadamu, supaya kamu beroleh damai sejahtera dalam Aku]).

Aplikasi

Yesus adalah Mesias dan Juruselamat yang dinubuatkan oleh Tuhan. Kedatangan Mesias dan Juruselamat itu adalah menunjukkan kasih Tuhan yang luar biasa kepada manusia berdosa. Sebagai Juruselamat, Yesus menyatakan kasih-Nya melalui penebusan manusia yang berdosa. Juruselamat berarti hanya Dia yang menyatakan bagaimana caranya agar manusia diselamatkan.

Yang berhak menyelamatkan manusia adalah Tuhan sendiri. Inilah makna dari Mesias, Juruselamat, yang tidak lain adalah Tuhan sendiri yang datang dalam wujud manusia (Yoh. 1:14). Yesus adalah Raja yang Ideal yang memerintah dunia dan orang-orang percaya, Raja yang kekal [yang permulaannya sudah sejak purbakala, sejak dahulu kala].

Yesus datang sebagai Mesias dan Juruselamat untuk memberikan keselamatan bagi jiwa yang berdosa. Hanya Tuhan saja yang dapat mengampuni manusia dari dosa-dosa mereka sebab manusia telah berdosa kepada Tuhan. Dengan demikian, Tuhan pula yang dapat menentukan bagaimana cara menebus. Itulah sebabnya, Mesias yang dijanjikan dalam Mikha 5:1 digenapi oleh Yesus Kristus. Dialah Juruselamat yang akan menyelamatkan umat-Nya.

Salam Bae.

Sumber gambar: https://unsplash.com/s/photos/jesus-christ

KERENDAH-HATIAN: Sikap Hidup yang Bijaksana

Kerendah-hatian adalah konteks kehidupan manusia yang tak lekang oleh waktu, hingga sekarang ini. Dalam setiap percakapan, mungkin kita menyisipkan pokok kerendah-hatian di dalamnya dibarengi dengan lawan katanya: “kesombongan”. Kerendah-hatian merupakan sebuah topik yang sangat penting. Kepentingannya terletak pada proses waktu yang bergulir di mana setiap orang percaya dituntut untuk memperlihatkan sikap tersebut. Tak dapat dipungkiri bahwa ketika muncul kesombongan dalam diri seseorang, maka tertindaslah rendah hati. Semakin sombong seseorang, maka hilanglah sikap rendah hati, apalagi sikap bijaksana.

Seringkali, sikap rendah hati menjadi tersingkirkan ketika seseorang merasa sudah dikenal, terkenal, dekat dengan seseorang dengan tujuan menjadi penjilat, merasa menjadi bahan pembicaraan, pula merasa sudah berbuat banyak bagi orang lain. Padahal, berbuat baik tidak perlu untuk digembar-gemborkan dengan tujuan mencari popularitas diri. Berbuat baik tidak perlu “mencari nama”. Perbuatan baik akan mencari “jalannya sendiri” untuk memberikan kemuliaan dan nama baik kepada mereka yang dengan tulus melakukannya: “Nama baik lebih berharga dari pada kekayaan besar, dikasihi orang lebih baik dari pada perak dan emas” (Amsal 22:1).

Alkitab menegaskan bahwa sikap hidup yang benar adalah perbuatan-perbuatan yang dikehendaki TUHAN. Mikha 6:8 menyebutkan, bahwa “Hai manusia, telah diberitahukan kepadamu apa yang baik. Dan apakah yang dituntut TUHAN dari padamu: selain berlaku adil, mencintai kesetiaan, dan hidup dengan rendah hati di hadapan Allahmu?” Perbuatan-perbuatan yang dituntut TUHAN mengandung kualitas sorgawi—artinya perbuatan-perbuatan itu merefleksikan diri-Nya.

Menjadi orang yang rendah hati adalah pilihan yang sangat baik dan berkualitas. Ketika kita menggunakan kebijaksanaan, maka secara tepat kita menilai segala sesuatu dengan baik, entah dalam menghadapi berbagai situasi, kesulitan, dan sebagainya. Orang bijaksana berarti dia yang menggunakan akal budinya secara tajam dan jernih untuk mempertimbangkan baik buruknya sesuatu tindakan atau situasi.

Kerendah-hatian adalah sikap yang bijaksana. Menjadi orang yang bermanfaat bagi orang lain, merupakan impian banyak orang. Kemanfaatan itu sendiri mengandung sikap rendah hati. Mereka yang rendah hati tentu bermanfaat bagi sesamanya. Ia sabar, bijaksana, dan penyayang, tidak mau menipu dan mencari keuntungan yang rakus, selalu mengutamakan perkataan yang membangun, dan mendorong orang lain untuk mengarahkan hidupnya kepada Tuhan.

Mazmur 25:9 menyebutkan, “Ia membimbing orang-orang yang rendah hati menurut hukum, dan Ia mengajarkan jalan-jalan-Nya kepada orang-orang yang rendah hati.” Tuhan mengasihi dan memperhatikan, serta mengajarkan orang-orang yang rendah hati. Bahkan lebih dari itu, Mazmur 149:4 menyebutkan “Sebab TUHAN berkenan kepada umat-Nya, Ia memahkotai orang-orang yang rendah hati dengan keselamatan.”

Orang yang rendah hati adalah yang berhikmat. Penulis Amsal menjelaskan, “Jikalau keangkuhan tiba, tiba juga cemooh, tetapi hikmat ada pada orang yang rendah hati” (Amsal 11:2). Tinggi hati atau kesombongan merupakan awal kehancuran, sedangkan mereka yang mengutamakan kerendah-hatian akan menerima kehormatan. Amsal 18:12 menyatakan “Tinggi hati mendahului kehancuran, tetapi kerendah-hatian mendahului kehormatan.” Bahkan “Ganjaran kerendah-hatian dan takut akan TUHAN adalah kekayaan, kehormatan dan kehidupan” (Amsal 22:4).

Sebagaimana orang sombong menerima pujian dari orang-orang yang “dikendalikan atau dibayarnya”, demikian juga orang yang rendah pasti menerima pujian dari Tuhan dan manusia yang baik. Amsal 29:23 menyatakan “Keangkuhan merendahkan orang, tetapi orang yang rendah hati, menerima pujian.”

Tuhan Yesus sendiri menyatakan bahwa diri-Nya rendah hati. Jaminan mengikut-Nya adalah “mendapat ketenangan”. “Pikullah kuk yang Kupasang dan belajarlah pada-Ku, karena Aku lemah lembut dan rendah hati dan jiwamu akan mendapat ketenangan” (Matius 11:29). Tuhan Yesus mengundang setiap orang untuk belajar pada-Nya, sebab Dia lemah lembuh dan rendah hati. Ia layak diteladani, Ia layak diikuti, Ia layak dipuji. Kita MENGIMITASI Tuhan, maka kualitas hidup yang kita nyatakan dalam keseharian, sangatlah tinggi dan kuat.

Yesus Kristus adalah Tuhan yang layak kita teladani. Ini sungguh luar biasa. Oleh sebab itu, sikap rendah hati adalah kewajiban yang harus dipenuhi oleh setiap pengikut Yesus Kristus. Rasul Petrus menegaskan, bahwa “… hendaklah kamu semua seia sekata, seperasaan, mengasihi saudara-saudara, penyayang dan rendah hati” (1 Petrus 3:8). Rendah hati berada di lingkungan perbuatan-perbuatan yang dikehendaki Tuhan.

white arrow signage on black wall

Rasul Paulus menyatakan prinsip dan kualitas yang sama. Ia mengarahkan jemaat di Efesus untuk selalu rendah hati, dan menunjukkan kasih yang tulus: “Hendaklah kamu selalu rendah hati, lemah lembut, dan sabar. Tunjukkanlah kasihmu dalam hal saling membantu” (Efesus 4:2). Dan dengan demikian, sebagai orang-orang pilihan Allah yang dikuduskan dan dikasihi-Nya—menurut Paulus—untuk mengenakan belas kasihan, kemurahan, kerendah-hatian, kelemahlembutan dan kesabaran” (Kolose 3:12).

Kita telah melihat bahwa kerendah-hatian memiliki kualitas yang tinggi, bersama dengan sikap hidup lainnya yang dikehendaki Tuhan. Kebijaksanaan akan memimpin kita kepada kehati-hatian terhadap kesombongan yang dapat saja muncul ketika kita menjadi “lupa daratan”. Sikap rendah hati mengarahkan kita untuk melihat Tuhan Yesus sebagai teladan yang telah membuktikan diri-Nya bahwa Ia adalah lemah lembuh dan rendah hati. Begitu juga dengan para rasul.

Dengan demikian, sebagai orang percaya, kita wajib memiliki sikap rendah hati, dan menunjukkannya dalam totalitas hayati dan dalam relasi humanitas di mana pun dan kapan pun. Marilah kita hidup di dalam kasih-Nya, dan tetap setia memperlihatkan kualitas hidup yaitu rendah hati. Tuhan Yesus memberkati dan memampukan kita menjadi pribadi yang rendah hati dan menggunakan bijaksana untuk menunjukkan sikap yang berkenan kepada-Nya.

Salam Bae.

Sumber gambar: https://unsplash.com/s/photos/right-action

SIDANG SINODE AM V GKSI 2021: EKSIS, DINAMIS, DAN MISIONER

Penyelenggaraan Sidang Sinode Am V GKSI Tahun 2021 yang berlokasi di Jimbaran, Bali (Jimbaran Bay Beach Resort) dimulai sejak tanggal 22 November 2021 dan ditutup pada tanggal 25 November 2021, menghasilkan keputusan-keputusan paripurna termasuk pemilihan KSB: Ketua Umum, Sekretaris Umum, dan Bendahara Umum.

Dalam ibadah pembukaan Sidang Sinode Am V GKSI Tahun 2021, khotbah disampaikan oleh Bishop I Nyoman Agustinus, M.Th., (dari GPKB) selaku Ketua PGIW Bali. Beliau mengatakan bahwa Bali sangat terbuka bagi siapa pun dan denominasi mana pun untuk datang melayani jiwa di Bali. Meskipun GPKB telah 90 tahun namun adalah baik jika bergandengan melayani agar lebih cepat dan lebih besar pelayanan kita bersama.

Pada pembukaan sidang, BPS GKSI sebagai pemimpin sidang, menyatakan bahwa peserta SSAM V memenuhi kuorum dan sah karena jumlah peserta sidang yang memiliki HAK SUARA memenuhi persyaratan Anggaran Dasar dan Anggaran Rumah Tangga GKSI.

Dengan mengusung tema: “Menjadi Gereja yang Eksis, Dinamis, dan Misioner serta Relevan di Atas Dasar Kristus, dalam Menghadapi Tantangan Digital Global guna Mewujudkan VIM 2030 (Mat. 16:13-20), dan Sub Tema: “Dengan Persidangan Sinode Am V GKSI Tahun 2021 ini, Mari Kita Teguh dalam Iman, Setia dalam Kebenaran, Erat dalam Kesatuan dan Maju dalam Karya Pelayanan untuk Memenangkan Jiwa bagi Kemuliaan Tuhan”, penyelenggaraan SSAM V kali ini menitikberatkan pada sebuah konteks dan upaya pengembangan pelayanan (dinamis), menjalankan organisasi secara sehat (eksis), dan tetap setia menjalankan Amanat Agung Yesus Kristus (misioner).

Di hari kedua persidangan tanggal 23 November 2021, BPS GKSI menetapkan susunan Majelis Persidangan Sidang Sinode Am V GKSI sebagai berikut: Pdt. Dr. Uli Saut P. Nainggolan, M.Th. (BPW Jabodetabek), Pdt. Simeon Sau, M.Th. (BPSW Sulseltrateng), Pdt. Wasti E. Betty, S.Th. (BPW Jatim), Pdt. Lajib, M.Pd. (BPW Landak), Pdt. Atong Cancera, MA. (BPW Sumatera Utara) dan Majelis Pendamping Persidangan yaitu: Dr. Purnama Pasande, M.Th. (PRESTASI), dan Yusuf L. M., M.Th. (PRESTASI).

Majelis Persidangan kemudian menetapkan Tata Tertib Persidangan untuk menjadi panduan bagi semua peserta sidang dalam pelaksanaan SSAM V. Di dalam Tata Tertib Persidangan tersebut, khususnya pada bagian IV tentang HAK SUARA DAN KETENTUAN PEMUNGUTAN SUARA nomor 1 dan 2 dinyatakan sebagai berikut:

  1. Setiap yang hadir dalam Sidang yaitu: BPS, BPSW, BPW, Sektor, dan Utusan Jemaat serta Mitra PERKAKAS dan PRESTASI mempunyai satu hak suara.
  2. Hak suara digunakan dalam pemungutan suara/Voting apabila suatu permasalahan tidak dapat diputuskan melalui musyawarah.

Peserta sidang yang memiliki hak suara adalah: BPS, BPW, PRA BPW, SEKTOR, UTUSAN JEMAAT, PERKAKAS, PRESTASI, dan Mitra Misi GKSI yakni Yasabas.

Pencalonan Ketum, Sekum, dan Bendum diusulkan oleh peserta sidang yang memiliki hak suara. Calon Ketum yang diusulkan berjumlah 3 (tiga) orang, sebagai berikut: Pdt. Dr. Matheus Mangentang, M.Th., Pdt. Pieter Maspaitella, M.Th., dan Pdt. Dr. Uli Saut P. Nainggolan, M.Th. Setelah memeriksa persyaratan administratif (syarat minimal), maka Pdt. Pieter Maspaitella, M.Th., dan Pdt. Dr. Uli Saut P. Nainggolan, M.Th. dinyatakan tidak memenuhi syarat minimal karena hanya didukung kurang dari 5 (lima) BPW untuk pencalonan Ketum, sehingga yang terpilih sebagai Ketum adalah Pdt. Dr. Matheus Mangentang, M.Th.

Calon Sekum yang diusulkan berjumlah 5 (lima) orang, sebagai berikut: Pdt. Dr. Uli Saut P. Nainggolan, M.Th., Pdt. Dr. Nicodemus Sabudin, MA., M.Th., Pdt. Pieter Maspaitella, M.Th., Pdt. Dr. Jonidius Illu, M.Th., dan Pdt. Filmon Berekh, M.Pd.K. Setelah memeriksa persyaratan administratif, maka Pdt. Dr. Jonidius Illu, M.Th., dan Pdt. Filmon Berekh, M.Pd.K. dinyatakan tidak memenuhi syarat untuk pencalonan Sekum. Majelis Persidangan melakukan pemungutan suara bagi kedua calon Sekum yang memenuhi persyaratan administratif, dan yang terpilih sebagai Sekum adalah Pdt. Dr. Nicodemus Sabudin, MA., M.Th.

Calon Bendum yang diusulkan berjumlah 2 (dua) orang, sebagai berikut: Pdt. Dr. Uli Saut P. Nainggolan, M.Th., dan Ibu Yane H. Keluanan, M.Pd.K. Dalam persidangan Ibu Yane H. Keluanan menyatakan mengundurkan diri dalam pencalonan Bendum, sehingga sidang paripurna menetapkan Pdt. Dr. Uli Saut P. Nainggolan, M.Th. sebagai Bendum.

Proses pemilihan dan hasil pemilihan BPS GKSI Tahun Pelayanan 2021-2026 dituangkan dalam dua Keputusan, sebagai berikut: Pertama: KEPUTUSAN SIDANG SINODE AM V GEREJA KRISTEN SETIA INDONESIA (GKSI) NOMOR: A1.06/SSAM-V-GKSI/XI/2021 TENTANG SUKSESI PEMILIHAN BADAN PENGURUS SINODE SINODE GEREJA KRISTEN SETIA INDONESIA (GKSI) TAHUN PELAYANAN 2021-2026 tanggal 24 November 2021. Kedua: KEPUTUSAN SIDANG SINODE AM V GEREJA KRISTEN SETIA INDONESIA (GKSI) NOMOR: A1.07/SSAM-V-GKSI/XI/2021 TENTANG PENETAPAN BADAN PENGURUS SINODE SINODE GEREJA KRISTEN SETIA INDONESIA (GKSI) TAHUN PELAYANAN 2021-2026 tanggal 25 November 2021.

Dengan demikian, prosesi pemilihan Ketum, Sekum, dan Bendum, dilakukan berdasarkan Tata Tertib yang ditetapkan oleh Majelis Persidangan dan Anggaran Dasar/Anggaran Rumah Tangga GKSI Tahun 2021.

Tampak bahwa pada prosesi pemilihan kali ini para peserta sidang sangat antusias dan menyampaikan berbagai pendapat serta mengusulkan calon-calon KSB yang mereka nilai layak untuk duduk dalam jajaran BPS GKSI lima tahun ke depan, dan proses tersebut berjalan dengan baik. Panitia menyadari bahwa semua ini dapat terlaksana dan berjalan dengan baik karena campur tangan Tuhan Yesus sungguh luar biasa. Penyelenggaraan SSAM V di Bali pada akhirnya berjalan dengan baik dan demokratis.

Pdt. Dr. Matheus Mangentang, M.Th. menyatakan, bahwa:

“Organisasi Gereja adalah sebuah sistem manajemen yang memperlihatkan eksistensi dan kemandirian dalam konteks pelayanan, misi, pengembangan Gereja, penyelesaian masalah, dan fitur-fitur (karakteristik khusus) lainnya yang tercakup dalam organisasi itu sendiri. Pada kenyataannya, Gereja tidak dapat melepaskan diri dari konteks kepemimpinan, manajemen, dan pengembangan organisasi. Hal ini membuktikan bahwa GKSI menerapkan aspek oikumenikal dengan melibatkan denominasi lain dalam perhelatan GKSI.

BPS GKSI berkomitmen untuk tetap setia pada panggilan dan tanggung jawab iman untuk menunjukkan eksistensi organisasi yang solid, dinamis dalam konteks pelayanan, dan misioner dalam pemberitaan Injil Yesus Kristus. Hal ini sejalan dengan perintah Tuhan Yesus Kristus dalam Matius 28:19-20, ‘Karena itu pergilah, jadikanlah semua bangsa murid-Ku dan baptislah mereka dalam nama Bapa dan Anak dan Roh Kudus, dan ajarlah mereka melakukan segala sesuatu yang telah Kuperintahkan kepadamu. Dan ketahuilah, Aku menyertai kamu senantiasa sampai kepada akhir zaman.’

Kami menyadari bahwa hanya Tuhanlah yang mengiring langkah pelayanan dan misi yang dikerjakan oleh seluruh hamba Tuhan GKSI, baik di kota-kota maupun di desa-desa. Pelayanan yang sejati berarti mengutamakan Tuhan dalam segala hal; mengandalkan Dia dalam setiap gumul-juang pelayanan. Kita pun menyadari bahwa tantangan dan hambatan dalam pelayanan akan selalu muncul. Akan tetapi, iman kepada Yesus Kristus menjadikan kita dewasa dalam menyikapi hal-hal tersebut. Berbagai upaya telah dilakukan untuk kemajuan GKSI. Harapan kami, di masa pelayanan 2021 sampai 2026, ada kemajuan dan perkembangan di tubuh GKSI dalam mewujudkan Vission In Messiah (VIM) 2030. BPS GKSI terpilih akan terus mengupayakan hal-hal yang mendukung terwujudnya pelayanan yang berkenan kepada Tuhan. Harapan kami agar GKSI tetap konsisten dalam bermisi, dinamis dalam mengolah dan mengembangkan pelayanan, dan setia pada panggilan Tuhan.”

Terselenggaranya SSAM V GKSI Tahun 2021 merupakan bukti bahwa Tuhan Yesus, Sang Pemilik Gereja, telah memimpin dan menopang GKSI untuk tetap berjalan dalam terang firman-Nya, menjangkau yang belum terjangkau, melayani yang belum terlayani, dan mengasihi yang belum terkasihi.

Saya sendiri sangat optimis dengan BPS GKSI periode 2021-2026 dalam mengemban tugas pelayanan yang dipercayakan Tuhan. Iman dan Integritas merupakan pegangan dan prinsip hidup yang harus dijalankan dengan penuh tanggung jawab. GKSI tetap eksis, dinamis, dan misioner. Tuhan Yesus memberkati kita semua yang setia dan berintegritas dalam melayani-Nya.

Salam Bae

Via Salutis – Epignosis

Stenly R. Paparang

Rancang situs seperti ini dengan WordPress.com
Mulai