“Tak ada hidup tanpa relasi”. Relasi itu sendiri dapat terdiri atas empat fakta, yakni: relasi dengan diri sendiri, dengan orang lain, dengan alam, dan terakhir, relasi dengan Tuhan. Relasi-relasi tersebut mewarnai setiap kehidupan manusia, membentuk karakter dan jati dirinya.
Adakah relasi membentuk karakter dan pola hidup kita selaras dengan apa yang Tuhan kehendaki? Ataukah karakter dan pola hidup justru menjerumuskan hidup kita dalam kubangan keburukan? Bukankah kita hidup bukan untuk diri kita sendiri? Bukankah hidup kita seharusnya menjadi berkat bagi orang lain? Bukankah hidup itu lebih penting dari pada makanan dan pakaian?
Apa yang harus kita cari dalam hidup ini? Tentu relasi adalah salah satu dari sekian hal yang harus kita usahakan—kita cari. Ada kendala-kendala yang telah dan akan kita hadapi; ada pula kesempatan-kesempatan yang hadir di depan kita; kita menilai dan menentukan pilihan hidup dan kemudian memutuskan untuk menjalaninya, entah dengan cara yang baik maupun dengan cara yang kurang baik, atau buruk sama sekali.
Kita pun terdorong untuk melihat sejauh mana relasi yang kita bangun atau terbangun yang dapat mempengaruhi karakter dan pola kehidupan kita. Dari relasi itu kita menemukan berbagai hal termasuk di dalamnya kebahagiaan, sukacita, kesenangan. Sejatinya, agenda relasi yang kita susun atau nanti akan disusun, memasukkan gagasan-gagasan yang mendukung sepenuhnya perkembangan karya-karya, pelayanan, dan relasi itu sendiri.
Berangkat dari konteks tersebut, maka saya menyebutkan tiga relasi yang secara umum sudah kita pahami, untuk dilakukan di hari-hari mendatang.
Pertama, menciptakan relasi yang harmonis. Ketika relasi yang dibangun atau terbangun dengan orang lain menjadi harmonis, ada banyak manfaat yang dapat kita ambil dan nikmati. Oleh karena relasi yang harmonis dapat menciptakan dan menghadirkan banyak manfaat dan “pertumbuhan”, maka seyogianya kita tetap menciptakan relasi yang harmonis, menjaganya agar tetap terjalin indah. Niscaya, harapan-harapan dapat diwujudkan satu demi satu.
Kedua, mengajukan berbagai hal-hal baik untuk dilakukan. Dalam relasi yang telah terjalin, sedapat mungkin kita mengajukan hal-hal baik untuk dilakukan. Artinya, relasi tersebut akan lebih bermanfaat dan berpengaruh secara luas ketika ada hal-hal baik yang dilakukan. Jika kejahatan dapat berpotensi berpengaruh dan bermanfaat bagi para pelaku kejahatan, masakah kebaikan tidak memiliki pengaruh dan manfaat bagi para pelaku kebaikan? Berbuat baik adalah kehendak Tuhan, dan kita diarahkan untuk berbuat kebaikan serta menikmati hasil dari kebaikan-kebaikan yang kita taburkan dalam relasi yang terjalin indah. Relasi tanpa menciptakan dan mengajukan hal-hal baik untuk dilakukan adalah relasi yang buruk, tak perlu dipertahankan.
Ketiga, menjaga relasi untuk menghasilkan karya-karya bermanfaat. Relasi-relasi yang telah terbangun selama ini perlu dilanjutkan untuk menghasilkan karya-karya bermanfaat. Hidup harus jadi berkat bagi orang lain. Sudah berapa banyak relasi yang kita bangun dengan orang lain yang hanya sebatas relasi saja, tanpa ada karya yang dihasilkan? Karya-karya itu beragam bentuknya, termasuk perbuatan-perbuatan baik yang dilakukan. Karya-karya adalah kerja-kerja nyata yang kita berikan bagi diri sendiri, orang lain, dan terlebih kepada Tuhan.
Sungguh merupakan suatu sukacita ketika dalam relasi-relasi di mana kita ada di dalamnya, dapat menciptakan, mengusulkan, dan menghasilkan hal-hal baik yang bermanfaat secara luas. Dan ketika kita telah menjadi berkat, maka hal ini harus terus dibawa dan diupayakan di hari-hari mendatang.
Jangan menjadi teladan berkat musiman, tetapi jadilah teladan berkat kapan pun, dan di mana pun. Tuhan pasti memberkati dan menyertai orang-orang yang tulus menciptakan relasi yang membangun dan menjadi berkat bagi orang banyak. Tuhan mengasihi orang-orang yang hidup secara benar dan membangun serta mempertahankan relasi yang benar.
Tanggung jawab kita—dalam relasi yang terjalin indah—adalah terus mengembangkan potensi diri melalui hal-hal baik yang bermanfaat bagi orang lain, yang di dalamnya kita menyenangkan hati Tuhan dan memuliakan nama-Nya. Agenda relasi di atas semoga menjadi agenda kita semua dan pada akhirnya, kita menjadi teladan bagi orang lain.
Alangkah indahnya hidup yang berelasi yang di dalamnya kita dapat berbagi, terlebih menjadi berkat dan teladan. Selamat berbuat baik dan menjadi teladan. Tuhan Yesus memberkati kita semua. Jadilah pelopor relasi yang Tuhan kehendaki.
Salam Bae…..
Sumber gambar:











