ANTARA PALUNGAN DAN DOSA-DOSA MANUSIA: Sebuah Refleksi Natal Yesus Kristus

Seringkali kita mendengar bahwa Yesus lahir di kandang domba, padahal tidak ada indikasi apa pun bahwa Yesus lahir di kandang domba. Mungkin pemahaman ini berangkat dari berbagai kartu ucapan Natal, lagu-lagu Natal, dan video atau film Natal Yesus Kristus yang memperlihatkan bahwa Yesus lahir di kandang domba. Bahkan ada satu lagu Natal yang menyatakan bahwa Yesus dilahirkan dalam sebuah gua yang dingin. Pemahaman-pemahaman seperti ini keliru karena sama sekali tidak ada dukungan Alkitab.

Ada yang menggambarkan bahwa orang majus melihat bayi saat berada di palungan, padahal menurut catatan Lukas pasal 2, para gembala-lah yang melihat bayi yang baru lahir itu terbaring di palungan.

Di daerah itu ada gembala-gembala yang tinggal di padang menjaga kawanan ternak mereka pada waktu malam. Tiba-tiba berdirilah seorang malaikat Tuhan di dekat mereka dan kemuliaan Tuhan bersinar meliputi mereka dan mereka sangat ketakutan. Lalu kata malaikat itu kepada mereka:

“Jangan takut, sebab sesungguhnya aku memberitakan kepadamu kesukaan besar untuk seluruh bangsa: Hari ini telah lahir bagimu Juruselamat, yaitu Kristus, Tuhan, di kota Daud. Dan inilah tandanya bagimu: Kamu akan menjumpai seorang bayi dibungkus dengan lampin dan terbaring di dalam palungan. Dan tiba-tiba tampaklah bersama-sama dengan malaikat itu sejumlah besar bala tentara sorga yang memuji Allah, katanya: “Kemuliaan bagi Allah di tempat yang mahatinggi dan damai sejahtera di bumi di antara manusia yang berkenan kepada-Nya.”

Setelah malaikat-malaikat itu meninggalkan mereka dan kembali ke sorga, gembala-gembala itu berkata seorang kepada yang lain: “Marilah kita pergi ke Betlehem untuk melihat apa yang terjadi di sana, seperti yang diberitahukan Tuhan kepada kita.” Lalu mereka cepat-cepat berangkat dan menjumpai Maria dan Yusuf dan bayi itu, yang sedang berbaring di dalam palungan (Luk. 2:8-16)

Orang Majus dari timur datang melihat dan menyembah Yesus di sebuah rumah: “Maka masuklah mereka ke dalam rumah itu dan melihat Anak itu bersama Maria, ibu-Nya, lalu sujud menyembah Dia. Merekapun membuka tempat harta bendanya dan mempersembahkan persembahan kepada-Nya, yaitu emas, kemenyan dan mur” (Mat. 2:11).

Kita beralih kepada hal yang lebih substansial lagi yaitu: “mengapa bayi Yesus harus dibaringkan dalam palungan? Bukankah Ia adalah Anak Allah Yang Mahatinggi? Bagaimana mungkin seorang Anak Allah dibaringkan di tempat yang paling hina, kotor, dan rendah? Mengenai hal ini, akan saya jelaskan kemudian. Agar mudah memahami penjelasan saya, berikut ini saya mengutip teks Lukas 2:1-7 yang mengisahkan kelahiran Yesus. Saya tidak akan menjelaskan beberapa poko penting dari teks Lukas tetapi saya berfokus pada makna palungan dan analoginya dengan dosa-dosa manusia:

“Pada waktu itu Kaisar Agustus mengeluarkan suatu perintah, menyuruh mendaftarkan semua orang di seluruh dunia. Inilah pendaftaran yang pertama kali diadakan sewaktu Kirenius menjadi wali negeri di Siria. Maka pergilah semua orang mendaftarkan diri, masing-masing di kotanya sendiri. Demikian juga Yusuf pergi dari kota Nazaret di Galilea ke Yudea, ke kota Daud yang bernama Betlehem, — karena ia berasal dari keluarga dan keturunan Daud —  supaya didaftarkan bersama-sama dengan Maria, tunangannya, yang sedang mengandung. Ketika mereka di situ tibalah waktunya bagi Maria untuk bersalin, dan ia melahirkan seorang anak laki-laki, anaknya yang sulung, lalu dibungkusnya dengan lampin dan dibaringkannya di dalam ‘palungan’, karena tidak ada tempat bagi mereka di rumah penginapan.”

Seperti beberapa pertanyaan yang diajukan di atas, maka saya hendak memberikan ruang pemahaman akan makna “palungan” dalam kaitannya dengan kondisi manusia. Kita mungkin berpikir bahwa Yesus Kristus yang dilahirkan di palungan merupakan sebuah kondisi yang tidak baik, atau kurang terhormat. Pasalnya, dalam Injil Lukas 1 dijelaskan mengenai identitas Anak yang akan dilahirkan Maria. Identitas Anak tersebut rasanya tidak berbanding lurus dengan peristiwa kelahiran-Nya yang dibaringkan di palungan, tempat minum ternak, di ruang bawah—sebuah ruangan yang kurang layak.

Saya mencatat identitas Anak yaitu Yesus Kristus yang dilahirkan oleh Maria. Identitas tersebut tentu—dalam pemahaman beberapa orang kurang pas dengan kondisi kelahiran-Nya yang dianggap begitu rendah, hina, bodoh, dan sebagainya. Akan tetapi, kita juga harus melihat bahwa peristiwa kelahiran-Nya tidak seburuk yang kita duga ketika dikaitkan dengan kondisi manusia yang berdosa.

Pertama, (ay. 32): Anak yang akan dilahirkan Maria akan disebut “Anak Allah Yang Mahatinggi”

Kedua, (ay. 32): Anak yang akan dilahirkan Maria akan dikaruniakan kepada-Nya takhta Daud, bapa leluhur-Nya.

Ketiga, (ay. 33): Anak yang akan dilahirkan Maria akan menjadi raja atas kaum keturunan Yakub sampai selama-lamanya.

Keempat, (ay. 33): Kerajaan-Nya tidak akan berkesudahan.

Kelima, (ay. 35): Anak yang akan dilahirkan Maria itu akan disebut kudus, Anak Allah.      

Identitas-identitas tersebut di atas yaitu: Anak yang akan dilahirkan Maria akan disebut “Anak Allah Yang Mahatinggi”, akan dikaruniakan kepada-Nya takhta Daud, bapa leluhur-Nya, akan menjadi raja atas kaum keturunan Yakub sampai selama-lamanya, Kerajaan-Nya tidak akan berkesudahan, dan akan disebut kudus, Anak Allah, merupakan identitas yang sangat suprematif. Tetapi jika dibandingkan dengan peristiwa kelahiran-Nya, hal ini menjadi sebuah perenungan tersendiri.

Ada alasan yang lebih kuat dari pihak Allah, mengapa Ia menetapkan bahwa Anak Yang Kudus itu, yaitu Yesus Kristus, dilahirkan di tempat yang hina dan rendah. Alasan tersebut jika dibandingkan dengan problem terbesar manusia, musuh terbesar manusia yang tak bisa dikalahkan, yaitu itu, maka peristiwa kelahiran Yesus di palungan itu, sama sekali tidak seberapa.

Analogi ini muncul dalam teks Matius 1:21, yang berbunyi: “Ia akan melahirkan anak laki-laki dan engkau akan menamakan Dia Yesus, karena Dialah yang akan MENYELAMATKAN umat-Nya DARI DOSA mereka.” Antara palungan dan dosa-dosa manusia diwujudkan dalam teks ini. Yesus yang lahir begitu hina, dibaringkan dalam palungan belum seberapa dengan kondisi manusia yang berdosa, dibelenggu dan menjadi budak [hamba] dosa. Kita jangan hanya berfokus pada “palungan” tetapi juga memahami mengapa dosa-dosa manusia menjadi masalah serius yang harus dibereskan oleh Tuhan. Tidak ada manusia yang cukup syarat untuk menghindari, membersihkan, membebaskan dirinya dan orang lain dari problem dosa yang sangat masiv menguasai manusia, kecuali Tuhan sendiri.

Cara Inkarnasi adalah bentuk perwujudan kuasa dan kasih Allah yang menyatu pada diri “Sang Bayi Natal” yaitu Yesus Kristus. Jika palungan dan dosa-dosa manusia menjadi gambaran analogi peristiwa Natal, maka inkarnasi adalah gambaran pertemuan antara kuasa dan kasih Allah yang luar biasa, ajaib, untuk membereskan masalah terbesar manusia yaitu “DOSA”. Benarlah apa yang dikatakan Rasul Paulus bahwa “Tetapi sekarang, setelah kamu dimerdekakan dari dosa dan setelah kamu menjadi hamba Allah, kamu beroleh buah yang membawa kamu kepada pengudusan dan sebagai kesudahannya ialah hidup yang kekal. Sebab UPAH DOSA IALAH MAUT; tetapi KARUNIA ALLAH IALAH HIDUP YANG KEKAL DALAM KRISTUS YESUS, Tuhan kita (Roma 6:22-23).

Palungan adalah pertemuan antara penyelesaian dosa dengan kuasa dan kasih Allah yang luar biasa itu. Allah menetapkan cara penebusan manusia atas dosa-dosa mereka melalui peristiwa Natal yang kemudian dilanjutkan dengan peristiwa kematian, kebangkitan, dan kenaikan Yesus Kristus ke surga. Kekristenan meniktikberatkan pada bagaimana Allah menyelesaikan dosa, sementara agama lain sibuk mengkritiknya. Ketika orang Kristen tidak memahami makna peristiwa Natal dalam kaitannya dengan “Historical Redemption”, maka sebenarnya ia bukanlah Kristen yang sesungguhnya. Ia tidak dapat menikmati imannya kepada Tuhan; ia tak mampu merespons dan mengaplikasikan kasih dan kuasa Tuhan dalam relasi humanitasnya.

Antara palungan dan dosa-dosa manusia ada sebuah analogi yang sangat substansial. Palungan tidak lebih kotor dari pada manusia yang bersimbah dosa. Manusia bisa bersih di luar tapi hatinya kotor penuh dengan berbagai macam kemunafikan dan kejahatan. Palungan, meskipun dipandang kotor, tetapi Yesus Kristus telah membersihkan dan menyucikan kita dari segala dosa kita. Catatan penting di sini adalah bahwa kita telah disucikan (dibersihkan oleh Yesus), kita harus terus berjuang menyucikan diri (hidup suci dan kudus), dan Tuhan akan menjaga serta memampukan kita untuk hidup suci.

Rasul Yohanes menegaskan: “Tetapi jika kita hidup di dalam terang sama seperti Dia ada di dalam terang, maka kita beroleh persekutuan seorang dengan yang lain, dan darah Yesus, Anak-Nya itu, menyucikan kita dari pada segala dosa. Jika kita mengaku dosa kita, maka Ia adalah setia dan adil, sehingga Ia akan mengampuni segala dosa kita dan menyucikan kita dari segala kejahatan” (1 Yohanes 1:7, 9).

Rasul Paulus menegaskan bahwa orang percaya harus hidup dalam kesucian: “ Saudara-saudaraku yang kekasih, karena kita sekarang memiliki janji-janji itu, marilah kita menyucikan diri kita dari semua pencemaran jasmani dan rohani, dan dengan demikian menyempurnakan kekudusan kita dalam takut akan Allah” (2 Korintus 7:1). “Jika seorang menyucikan dirinya dari hal-hal yang jahat, ia akan menjadi perabot rumah untuk maksud yang mulia, ia dikuduskan, dipandang layak untuk dipakai tuannya dan disediakan untuk setiap pekerjaan yang mulia” (2 Timotius 2:21).

Rasul Petrus dan Rasul Yohanes juga menekankan hal yang sama: “Karena kamu telah menyucikan dirimu oleh ketaatan kepada kebenaran, sehingga kamu dapat mengamalkan kasih persaudaraan yang tulus ikhlas, hendaklah kamu bersungguh-sungguh saling mengasihi dengan segenap hatimu” (1 Petrus 1:22), dan “Setiap orang yang menaruh pengharapan itu kepada-Nya, menyucikan diri sama seperti Dia yang adalah suci” (1 Yohanes 3:3).

Ketika manusia berjuang—sebagai tanggung jawab imannya untuk hidup dalam kekudusan, upaya manusia tentu terbatas dan akan mengalami kegagalan. Hanya Tuhan yang dapat memampukan manusia memenuhi semua tuntutan hukum-Nya. Ketika manusia berjuang secara terpisah dari Tuhan untuk hidup layak di hadapan-Nya, maka kegagalan adalah hasilnya. Manusia membutuhkan Tuhan dan Tuhanlah yang memampukan manusia agar ia dapat menjalankan dan memenuhi semua tuntutan hukum-Nya dan kehendak-Nya. Penulis Ibrani menegaskan hal ini: “betapa lebihnya darah Kristus, yang oleh Roh yang kekal telah mempersembahkan diri-Nya sendiri kepada Allah sebagai persembahan yang tak bercacat, AKAN MENYUCIKAN HATI NURANI KITA dari perbuatan-perbuatan yang sia-sia, supaya kita dapat beribadah kepada Allah yang hidup” (Ibrani 9:14).

Palungan, meskipun dipandang kotor, tetapi Yesus Kristus telah membersihkan kita, dan menjadikan kita layak di hadapan Allah, memuji, menyembah-Nya, dan bersukacita karena kita telah dijadikan anak-anak Allah yang membawa damai dan sejahtera.

Palungan tidak lebih bau dari pada manusia yang berdosa. Manusia bisa menggunakan minyak wangi untuk menjadikan dirinya tampak harum di depan semua orang, tetapi dosanya menjadikan dirinya ‘bau busuk’ di hadapan Tuhan. Manusia tidak dapat menutupi bau busuk dosa-dosanya, kecuali Tuhan membereskanya. Manusia yang menjadi bau busuk karena dosa hanya dapat dibersihkan oleh Tuhan dan menjadi manusia yang berbau harum bagi kemuliaan nama-Nya. Tepatlah apa yang dikatakan Rasul Paulus (2 Korintus 2:15): “Sebab bagi Allah kami adalah BAU YANG HARUM dari Kristus di tengah-tengah mereka yang diselamatkan dan di antara mereka yang binasa.   

Palungan tidak lebih hina dari pada diri manusia yang berdosa. Karena dosa, manusia menjadi terhina dan dipandang rendah. Tidak hanya orang miskin yang dipandang rendah. Ketika ada orang kaya yang berbuat dosa di hadapan Tuhan, maka ia dipandang miskin karena tidak dapat mengekang dirinya untuk melawan dan menghindari dosa. Palungan, meskipun dipandang hina, tetapi Yesus Kristus telah menjadikan kita menjadi anak-anak Allah yang mulia yang memancarkan kemuliaan nama-Nya.

Palungan tidak lebih rendah dari para pelaku dosa dan kejahatan. Meski palungan dianggap tempat yang rendah—tempat minum ternak—tetapi palungan menghadirkan kepedulian Allah yang luar biasa. Meski rendah, palungan tidak lebih rendah dari pada pelaku dosa dan kejahatan. Mereka yang senang dengan dosa, akan dipandang rendah; sekaya apa pun dia, setinggi apa pun jabatannya, ketika ia berbuat dosa dan kejahatan, maka dia akan dipandang rendah. Palungan, meskipun dipandang rendah, tetapi Yesus Kristus telah meninggikan kita menjadi anak-anak Allah yang membawa damai dan sejahtera.

Palungan tidak lebih miskin dari para pendosa yang dibelenggu olehnya. Meski Yesus lahir dalam kondisi seadanya—bersahaja—namun Ia menjadikan kita kaya di dalam hal-hal kebaikan, kemurahan, dan kasih. Hal ini ditegaskan oleh Rasul Paulus dalam 2 Korintus 8:9, “Karena kamu telah mengenal kasih karunia Tuhan kita Yesus Kristus, bahwa Ia, yang oleh karena kamu menjadi miskin, sekalipun Ia kaya, supaya kamu menjadi kaya oleh karena kemiskinan-Nya.”

Palungan tidak lebih aneh dari pada manusia yang tahu kebaikan tetapi memilih berbuat kejahatan. Manusia terkadang dipandang aneh ketika ia tahu bahwa dosa itu adalah hal yang dibenci Allah, tetapi justru menjadi “kesukaan”nya. Bahkan yang lebih parah adalah ada pendeta-pendeta dan para pelayan Gereja yang justru menjadi pelaku dosa dan kenajisan, pembunuhan dan kemunafikan, korupsi dan perzinaan, dan jenis-jenis dosa lainnya. Ini memang tergolong aneh, bahkan sangat aneh. Palungan, meskipun dipandang aneh, tetapi Yesus Kristus telah memampukan dan menyadarkan kita untuk hidup dalam kebenaran dan menjauhi kejahatan.

Palungan tidak lebih bodoh dari pada manusia terhormat tapi suka dan terikat oleh dosa. Kebodohan manusia seringkali tampak dari perilakunya. Ada orang-orang yang terhormat justru melakukan berbagai tindakan bodoh. Justru mereka yang bodoh karena dosa-dosa yang dilakukannya merasa malu dengan palungan, tempat kecil yang digunakan untuk membaringkan bayi Yesus. Mengapa kita membodohi diri kita hanya karena nafsu besar untuk berbuat dosa? Palungan, meskipun dipandang bodoh, tetapi Yesus Kristus telah memberikan kita bijaksana untuk memahami bahwa betapa Allah mengasihi manusia berdosa; dan Ia menebus, mengampuni, menyelamatkan, menguduskan, dan membenarkan kita.

Palungan menjadi simbol yang paling rendah tetapi hasilnya sangat luar biasa. Palungan adalah tempat sederhana tetapi memberikan kesadaran kepada kita bahwa Allah menjadikan palungan sebagai analogi terhadap “dosa-dosa manusia”. Bayi Yesus harus dibaringkan dalam palungan menandakan bahwa analogi-analogi di atas merupakan jawaban atas berbagai pertanyaan, keraguan, dan penolakan terhadap Inkarnasi Yesus Kristus.

Yesus yang adalah Anak Allah Yang Mahatinggi, tidak menjadi rendah karena dilahirkan di palungan karena ternyata yang paling rendah adalah “manusia-manusia yang berdosa kepada Allah” yang hidupnya menjadi rusak, hina, kotor, rendah, bau busuk, dan bodoh di hadapan Tuhan. Meskipun palungan dapat dianggap sebagai tempat yang paling hina, kotor, dan rendah, tetapi justru dari palunganlah, yang manusia yang kotor karena dosa dijadikan bersih, yang bau dijadikan harum; manusia yang bau busuk karena dosa dijadikan harum di hadapan Allah; manusia yang hina karena dosa, dijadikan mulia oleh Tuhan; manusia rendah karena dosa, ditinggikan oleh Tuhan karena Ia telah menebusnya; manusia yang miskin karena dosa, dijadikan kaya dalam segala hal yang baik; manusia yang aneh karena dosa, dimampukan dan disadarkan oleh Tuhan untuk hidup dalam kebenaran dan menjauhi kejahatan; dan manusia yang bodoh karena dosa, dijadikan Tuhan menjadi bijaksana untuk memahami bahwa betapa Allah mengasihi manusia berdosa.

Tidak ada hal yang patut kita banggakan selain dari pada “kita telah ditebus oleh Tuhan”. Berbagai pandangan agama lain hanya sibuk mengkritik soal personalitas Yesus Kristus, tetapi mereka lupa bahwa Kekristenan adalah sebuah kepercayaan bahwa Allah begitu mengasihi manusia berdosa dan Ia telah menebusnya, mengampuninya, menyelamatkannya, menguduskannya, dan membenarkannya. Dosa adalah persoalan serius dan hanyalah Allah yang sanggup dan mutlak menyelesaikannya dengan cara-Nya sendiri.

Hiduplah secara bijaksana dan tancapkanlah iman kita kepada Tuhan yang telah menunjukkan dan membuktikan kuasa dan kasih-Nya yang luar biasa itu melalui peristiwa “Natal Yesus Kristus” yang dibaringkan dalam palungan.

SELAMAT MERAYAKAN NATAL. Tuhan Yesus memberkati kita semua

Soli Deo Gloria

Salam Bae…….

YESUS KRISTUS HIKMAT BAGI KITA

PENDAHULUAN

Natal Yesus Kristus adalah sebuah konteks di mana Allah menyatakan kasih-Nya yang luar biasa untuk menyelamatkan manusia (bdk. Yohanes 3:16). Kasih Allah diperlihatkan secara faktual: Logos menjadi daging (ὁ λόγος σὰρξ ἐγένετο [ho logos sarks egeneto]). Allah yang transenden itu, kini menyatakan diri-Nya secara imanen. Apakah ada masalah terhadap konteks ini? Tentu ada. Siapa yang mempermasalahkan? Tentu manusia. Bagi manusia, Allah cukup mengampuni manusia dengan kuasa-Nya, tanpa pencurahan darah Yesus Kristus.

Pemahaman seperti itu adalah usulan manusia kepada Allah. Tetapi substansinya adalah manusia berdosa kepada Allah sehingga manusia tidak dapat menawarkan kepada Allah bagaimana Ia menebus dosa-dosa mereka. Di sini, kita harus memahami bahwa Allah berdaulat menebus manusia dengan “cara-Nya” sendiri. Cara Allah memang lain yaitu mengaruniakan Anak-Nya [Logos Ilahi] ke dalam dunia untuk menyelamatkan manusia dari dosa—yang dalam anggapan orang Yunani dan Yahudi sebagai suatu “kebodohan dan batu sandungan”.

Tetapi cara ini adalah cara yang paling spektakuler meski dianggap bodoh oleh. Akan tetapi, ternyata Allah menunjukkan (menyatakan) bahwa cara yang dianggap bodoh oleh orang Yunani dan cara yang dianggap sebagai batu sandungan oleh orang Yahudi sebagai cara untuk “membenarkan”, “menebus”, “menguduskan”, dan “menyelamatkan” manusia dari dosa-dosa mereka. Luar biasa bukan?

Mengapa Allah harus menebus manusia dari dosa-dosa mereka? Kita perlu tahu bahwa persoalan utama yang dihadapi manusia bukanlah soal makan minum, bukanlah soal bekerja atau tidak, bukanlah soal mengasihi atau tidak mengasihi, bukanlah persoalan bagaimana bertahan hidup, melainkan bagaimana manusia bergumul dengan dosa.

Kita dapat melihat bahwa ada fakta bahwa hanya karena persoalan makan minum, manusia bisa saling membunuh, saling menyingkirkan, dan saling menjatuhkan, untuk mendapatkan sesuap nasi dan itu adalah dosa di hadapan Tuhan.

Kita dapat melihat bahwa ada fakta bahwa hanya karena persoalan pekerjaan manusia bisa menghalalkan segala cara yang tidak baik agar diterima bekerja dan itu adalah dosa di hadapan Tuhan.

Kita dapat melihat bahwa ada fakta bahwa hanya karena persoalan seseoang tidak bekerja, maka kemudian ia mencuri barang orang lain untuk menikmati hasil curian tersebut, dan itu adalah dosa di hadapan Tuhan.

Kita dapat melihat bahwa ada fakta bahwa hanya karena persoalan orang lain tidak mengasihi kita, lalu kita membencinya dan kemudian merusak tatanan kehidupan yang harmonis, dan itu adalah dosa di hadapan Tuhan.

Kita dapat melihat bahwa ada fakta bahwa hanya karena persoalan bertahan hidup, manusia melakukan apa saja meski harus melakukan kejahatan dan berbagai perbuatan-perbuatan tidak terpuji, dan itulah adalah dosa di hadapan Tuhan.

Dari fakta di atas, kita dapat menyimpulkan bahwa persoalan utama manusia adalah “DOSA”. Lalu apakah manusia sanggup menyelamatkan dirinya dan terbebas dari dosa-dosanya? Tentu manusia tidak sanggup. Manusia harus bertanggung jawab kepada Allah. Oleh sebab itu, Allah menunjukkan HIKMAT-NYA untuk menyatakan kepada manusia bagaimana caranya agar manusia dapat diselamatkan. Cara tersebut adalah melalui karya luar biasa dari Yesus Kristus.

Natal Yesus Kristus tidak dapat dipisahkan dari karya keselamatan Allah yang melalui Yesus Kristus—yang mati disalibkan—menebus manusia. Cara ini dianggap oleh manusia sebagai cara yang bodoh, tetapi Allah mengubah yang bodoh itu menjadi sebuah karya yang luar biasa hebatnya yaitu “membenarkan”, “menebus”, “menguduskan”, dan “menyelamatkan” manusia.

Manusia dengan berbagai cara yang dilakukannya untuk mengekang dosa tetapi mereka tetap bergumul dengan dosa. Meski orang Yunani meresa hebat, mereka juga tetap bergumul dengan dosa. Begitu pula dengan orang Yahudi. Dengan demikian, problem utama manusia yaitu dosa hanya dapat diselesaikan dan dibereskan oleh Allah dan bukan dengan cara manusia.

Lalu, bukankah orang Kristen yang ditebus oleh Allah melalui Yesus Kristus masih melakukan dosa? Memang benar ada fakta demikian, tetapi jika Allah telah menebus kita semua, maka kita harus sadar dan tidak boleh hidup dalam dosa “terus-menerus”. Hidup yang ditebus adalah hidup yang diubahkan, hidup yang suci. Kita sudah dikuduskan oleh Allah dan tanggung jawab kita adalah menjaga diri dari segala kecemaran dan kenajisan. Mereka yang masih melakukan dosa secara permanen tentu bukanlah bagian dari mereka yang telah ditebus secara Allah tahu dan memberikan kemampuan kepada mereka yang ditebusnya untuk hidup sesuai dengan kehendak-Nya.

Jika ada orang Kristen yang terus-menerus hidup dalam dosa maka orang tersebut tidak menghargai kasih Tuhan; atau dia bukanlah orang pilihan Tuhan sebab orang yang dipilih Tuhan pasti ditebus dan mereka yang ditebus pasti akan hidup dalam kebenaran, tidak melakukan dosa secara sadar, dan hidup dalam kekudusan. Seperti yang dikatakan oleh Rasul Paulus bahwa:

Kita tahu sekarang, bahwa Allah turut bekerja dalam segala sesuatu untuk mendatangkan kebaikan bagi mereka yang mengasihi Dia, yaitu bagi mereka yang terpanggil sesuai dengan rencana Allah. Sebab semua orang yang dipilih-Nya dari semula, mereka juga ditentukan-Nya dari semula untuk menjadi serupa dengan gambaran Anak-Nya, supaya Ia, Anak-Nya itu, menjadi yang sulung di antara banyak saudara. Dan mereka yang ditentukan-Nya dari semula, mereka itu juga dipanggil-Nya. Dan mereka yang dipanggil-Nya, mereka itu juga dibenarkan-Nya. Dan mereka yang dibenarkan-Nya, mereka itu juga dimuliakan-Nya. (Roma 8:28-30)

KONTEKS 1 KORINTUS

Untuk menjembatani tema kita mengenai YESUS KRISTUS HIKMAT BAGI KITA, maka kita perlu melihat konteksnya secara utuh agar dapat memahaminya secara baik.

Pertama, Jemaat Korintus telah menjadi kaya dalam segala hal (1:5), dalam segala macam perkataan dan segala macam pengetahuan. Dalam hal ini, jemaat Korintus dapat dikatakan sudah cukup mapan dalam konteks pengetahuan.

Kedua, Jemaat Korintus tidak kekurangan dalam suatu karunia pun (1:7). Jemaat Korintus sangat maju dalam pelayanan karena kepada mereka diberikan beragam karunia. Karunia-karunia tersebut adalah identitas spiritualitas yang dipakai untuk melayani dan mengembangkan pelayanan mereka.

Ketiga, intinya, Allah telah memanggil jemaat Korintus kepada persekutuan dengan Anak-Nya Yesus Kristus (1:9). Ada kekuatan identitas yang membedakan antara Jemaat Korintus dengan orang-orang dunia. Jemaat Korintus telah memiliki pengetahuan tentang Yesus Kristus.

Keempat, ada perselisihan di antara jemaat Korintus padahal mereka berlimpah dalam hal “perkataan”,  “pengetahuan” dan “karunia”. Ini merupakan kondisi bertolak belakang. Perselisihan ini disebakan karena masing-masing golongan mementingkan diri sendiri dan mencari supremasi dari kelompoknya masing-masing (1:11-13). Tidak berbanding lurus dengan pengetahuan yang karunia yang mereka miliki. Justru seharusnya pengetahuan dan karunia dipakai untuk saling menghargai dan mengasihi, malahan menimbulkan perselisihan.

Kelima, masalah ini kemudian diluruskan oleh Rasul Paulus untuk menekankan pentingnya karya Yesus Kristus. Meski berbeda golongan, tetapi yang terutama adalah bagaimana “PEMAHAMAN JEMAAT KORINTUS” tentang HIKMAT ALLAH yang dinyatakan melalui Yesus Kristus yang mati disalibkan bagi pembenaran, pengudusan, penebusan, dan penyelamatan.

Keenam, Yesus yang adalah “hikmat bagi jemaat Korintus, merupakan perluasan makna dari “hikmat Allah”. Penekanan di sini adalah pada soal bagaimana “Cara Allah menyelamatkan manusia dari dosa-dosa mereka”. Cara Allah menyelamatkan yaitu melalui “Salib” (bdk. 1:18 [pemberitaan tentang salib]; 1:23 [pemberitaan tentang Yesus yang disalibkan, untuk tujuan penyelamatan—dan ini adalah hikmat Allah atau cara Allah menyelamatkan manusia yang dianggap sebagai kebodohan oleh orang Yunani dan batu sandungan oleh orang Yahudi].

POKOK KORELASI DENGAN NATAL DAN KEMATIAN YESUS KRISTUS

Cara Allah justru bertolak belakang dengan cara manusia dalam memahami keselamatan. Allah justru memilih yang dianggap bodoh oleh dunia yaitu “penyaliban dan kematian Yesus sebagai Mesias”; Allah memilih yang lemah yaitu bagaimana caranya Yesus mati disalib tanpa perlawanan yang mana cara ini dipakai Allah untuk memalukan mereka yang kuat yaitu melalui kebangkitan Yesus.

Kematian Yesus YANG TANPA PERLAWANAN dari Yesus dan murid-murid-Nya, justru DIKALAHKAN oleh kebangkitan Yesus yang juga TANPA PERLAWANAN DARI PIHAK MEREKA YANG MEMBENCI DAN MEMUSUHI Yesus. Ini impas. Mereka yang membunuh Yesus tak berkutik sedetik pun untuk menghalangi kebangkitan-Nya.

Itu berarti, ketika berbicara tentang Natal, kita harus mengaitkan antara kelahiran Yesus, dengan kematian dan kebangkitan-Nya. Ini adalah satu kesatuan yang tak bisa dipisahkan. Inilah yang disebut dengan HIKMAT ALLAH yang luar biasa. Natal, Penebusan (kematian) dan kebangkitan adalah tiga hal yang “koheren” (berhubungan satu dengan lainnya; melekat erat).

Kematian Yesus memang memalukan tetapi rasa malu itu terhapus oleh “kebangkitan Yesus dari antara orang mati”; Allah memilih yang tidak dipandang, dianggap hina, dan yang diangggap tidak berarti oleh dunia, yaitu pribadi Yesus yang mati dengan cara yang paling hina yaitu disalib tanpa perlawanan, untuk membuatnya menjadi berarti bagi mereka yang percaya.

Yesus Kristus dijadikan Allah sebagai “HIKMAT” bagi kita yaitu ketika kita “MEMAHAMI” bahwa kematian Yesus disalib menghasilkan pembenaran, pengudusan, penebusan, dan penyelamatan kita. Kelahiran Yesus Kristus adalah tanda awal “HIKMAT” Allah bagi manusia berdosa. Yesus Kristus adalah Hikmat Allah di mana Allah menyatakan kasih dan kemurahan-Nya untuk menebus manusia.

Kelahiran Yesus adalah cara Allah menyelamatkan manusia, membenarkan, menguduskan, menebus, dan menyelamatkan manusia. Meski cara ini dianggap tidak berarti, hina, lemah, suatu kebodohan dan sebagai batu sandungan, tetapi satu hal yang perlu diingat bahwa “Ketika manusia berdosa kepada Allah maka hanya Allah saja yang berhak menentukan bagaimana cara menebus, dan cara Allah adalah mengutus Yesus Kristus sebagai tebusan bagi banyak orang. Itulah HIKMAT ALLAH bagi manusia.”

Natal berarti Allah menyatakan kasih dan hikmat-Nya melalui Yesus Kristus yang adalah Juruselamat umat manusia. Dalam Perjanjian Lama, Allah dinyatakan bahwa Allah adalah Juruselamat dan di dalam Perjanjian Baru ditegaskan bahwa Yesus Kristus adalah Juruselamat. Maka implikasinya adalah Yesus itu adalah Allah yang menjadi manusia. Firman yang menjadi daging. Lukas 2:11 mencatat bahwa “Hari ini telah lahir bagimu Juruselamat, yaitu Kristus, Tuhan, di kota Daud.”

Yesus sebagai Juruselamat kemudian didengungkan oleh para rasul (murid-murid Yesus) seperti yang tampak pada teks-teks berikut ini:

Kisah Rasul 5:31 “Dialah yang telah ditinggikan oleh Allah sendiri dengan tangan kanan-Nya menjadi Pemimpin dan Juruselamat, supaya Israel dapat bertobat dan menerima pengampunan dosa.”

Kisah Rasul 13:23 “…Allah telah membangkitkan Juruselamat bagi orang Israel, yaitu Yesus.”

Filipi 3:20 “… kita menantikan Tuhan Yesus Kristus sebagai Juruselamat.”

2 Timotius 1:10 “dan yang sekarang dinyatakan oleh kedatangan Juruselamat kita Yesus Kristus….”

Titus 2:13 “… penyataan kemuliaan Allah yang Mahabesar dan Juruselamat kita Yesus Kristus.”

Titus 3:6 “yang sudah dilimpahkan-Nya kepada kita oleh Yesus Kristus, Juruselamat kita.”

2 Petrus 1:1 “… kepada mereka yang bersama-sama dengan kami memperoleh iman oleh karena keadilan Allah dan Juruselamat kita, Yesus Kristus.”

2 Petrus 1:11 “… kepada kamu akan dikaruniakan hak penuh untuk memasuki Kerajaan kekal, yaitu Kerajaan Tuhan dan Juruselamat kita, Yesus Kristus.”

1 Yohanes 4:14 “Dan kami telah melihat dan bersaksi, bahwa Bapa telah mengutus Anak-Nya menjadi Juruselamat dunia.”

Yudas 1:25 “Allah yang esa, Juruselamat kita oleh Yesus Kristus, Tuhan kita, bagi Dia adalah kemuliaan, kebesaran, kekuatan dan kuasa sebelum segala abad dan sekarang dan sampai selama-lamanya. Amin.”

Keyakinan kita kepada Yesus Kristus sangatlah beralasan, jika kita memahami bahwa kita adalah manusia yang berdosa dan membutuhkan Allah untuk menyelesaikan dan menebus kita dari dosa-dosa kita. Allah telah menetapkan bagaimana caranya menebus, membenarkan, menyelamatkan, dan menguduskan manusia berdosa yaitu melalui “Kematian Yesus disalib”. Inilah makna “HIKMAT ALLAH”.

Kematian Yesus tidak berakhir hanya pada kematian saja, melainkan Ia bangkit untuk membuktikan bahwa anggapan orang bahwa “kematian Yesus disalib” merupakan sebuah kebodohan dan batu sandungan, jusru dipakai Allah untuk menyelamatkan manusia. Allah membuat sebuah kebodohan (dalam anggapan manusia) untuk menyelamatkan manusia.

Allah tidak menggunakan cara yang hebat dan luar biasa spektakulernya untuk menyelamatkan manusia, melainkan Allah menggunakan cara yang lain meski dianggap hina, tidak dianggap, cara yang dianggap tidak masuk akal, cara yang dianggap bodoh, cara yang aneh. Cara tersebut ternyata ampuh sekali untuk “memalukan mereka yang sombong”, membungkam hikmat manusia. Allah luar biasa. Yesus adalah “HIKMAT ALLAH” yang melaui Dia “KITA DISELAMATKAN DARI DOSA, PELANGGARAN DAN KESALAHAN”. Ini sangat luar biasa dan menjadi sukacita serta penghiburan kita. Dosa kita telah ditebus dan mereka yang ditebus harus hidup dalam kebenaran-Nya dan kekudusan.

APLIKASI DAN PEMAHAMAN

Pertama, Natal adalah bagaimana kita memahami cara Allah menyelamatkan manusia dari dosa-dosa mereka. Pemahaman haruslah melihat secara komprehensif konteks “Historical Redemption” bahwa manusia telah berdosa kepada Allah dan hanya Allah saja yang berhak dan berdaulat menyelamatkan manusia. Dengan demikian, kita dipanggil oleh Allah untuk hidup dalam ketaatan pada-Nya dan terus memahami dan merasakan kuasa dan kasih-Nya yang luar biasa itu.

Kedua, cara Allah bertolak belakang dengan cara dan harapan manusia. Allah memilih salib untuk menyatakan bahwa yang paling hina dan bodoh (dalam pandangan manusia) justru dapat menyelamatkan manusia dari dosa-dosa mereka. Bayangkan, dari cara yang dianggap paling bodoh saja Allah sanggup menyelamatkan manusia dan memberikan kehidupan kekal, apalagi cara yang menurut Allah luar biasa. Inilah Hikmat Allah yang luar biasa.

Ketiga, Natal adalah bagaimana Allah merendah untuk merendahkan kesombongan manusia yaitu Yesus yang adalah Logos [Firman] Allah “menjadi manusia.” Allah memilih yang paling hina yaitu Yesus yang disalibkan untuk mempermalukan keangkuhan manusia dan Allah memilih apa yang dianggap paling bodoh yaitu “penyaliban” untuk menghancurkan kepandaian dan hikmat manusia (bdk. 1 Kor. 1:23). Kepada kita diberikan sukacita yang tak terkira ketika Yesus datang ke dunia, lahir, mati, dan bangkit, serta kembali ke surga-Nya yang kekal dan mulia. Natal membentuk sukacita menjadi sukacita karena kasih Tuhan yang melawat umat-Nya. Allah memberikan sukacita surgawi-Nya untuk memenuhi bumi. Hal ini diteguhkan oleh Allah melalui malaikat dan sejumlah besar bala tentara sorga yang memuji Allah, katanya: 

“Kemuliaan bagi Allah di tempat yang mahatinggi dan damai sejahtera di bumi di antara manusia yang berkenan kepada-Nya.” Lukas 2:14

Soli Deo Gloria

NATAL YESUS KRISTUS MEMBAWA KESELAMATAN: Imensitas Aplikatif-Teologis atas Matius 1:21

“Ia akan melahirkan anak laki-laki dan engkau akan menamakan Dia Yesus, karena Dialah yang akan menyelamatkan umat-Nya dari dosa mereka”

PENDAHULUAN

Iman Kristen tidak bisa dipahami secara fragmentaris (terpecah-pecah); tidak bisa juga dipahami secara parsial (sebagian), melainkan harus dipahami secara komprehensif (menyeluruh). Oleh sebab itu, Natal Yesus Kristus harus dipahami secara menyeluruh dalam konteks “Historical of Redemption” [Sejarah Penebusan]. Robert A. Peterson dalam bukunya Keselamatan Dikerjakan oleh Sang Anak: Karya Kristus, (Momentum, 2018) menggabungkan 9 karya keselamatan yang dikerjakan Sang Anak yakni: Inkarnasi (Yoh. 1:14), kehidupan tanpa dosa, kematian, kebangkitan, kenaikan, kedudukan, pentakosta, syafaat, dan kedatangan kembali. Ini dapat dipahami sebagai komprehensifitas Soteriologi-Kristologi (Soterio-Christo).

Kedatangan (Kelahiran) Yesus Kristus adalah realisasi (proses menjadikan nyata) dari kehendak Allah untuk menyelamatkan manusia dari belenggu dosa. Ketika manusia dibelenggu dosa, ia bisa merespons keselamatan tapi tak bisa meraihnya dan membebaskan diri dari belenggu dosa. Karena manusia hanya bisa merespons dan melihat keselamatan Allah, tapi tidak bisa meraihnya dan membebaskan diri dari belenggu dosa, maka dibutuhkan kuasa di luar dirinya untuk bebas.

Kondisi ini menyeret manusia pada kesombongan bahwa ia bisa menyelamatkan diri. Bagaimana bisa menyelamatkan diri sedangkan ia sendiri sedang dalam kondisi terbelenggu. Di sini, Allah turun tangan. Allah datang, membebaskan manusia dari belenggu dosa melalui penebusan Yesus Kristus. Bagaimana bisa demikian? Tentu bisa. Karena alasan bahwa hanya kuasa Allah saja yang dapat membebaskan manusia dari belenggu dosa, maka Allah memilih cara penebusan manusia dari dosa-dosa mereka yaitu “darah dan kematian” Yesus Kristus. Rasul Petrus menuliskan mengenai konteks ini sebagai berikut:

“Sebab kamu tahu, bahwa kamu telah ditebus dari cara hidupmu yang sia-sia yang kamu warisi dari nenek moyangmu itu bukan dengan barang yang fana, bukan pula dengan perak atau emas, melainkan dengan darah yang mahal, yaitu darah Kristus yang sama seperti darah anak domba yang tak bernoda dan tak bercacat. Ia telah dipilih sebelum dunia dijadikan, tetapi karena kamu baru menyatakan diri-Nya pada zaman akhir” (1 Ptr 1:18-20).

Untuk merealisasikan penebusan manusia melalui “darah dan kematian” maka Yesus—Sang Logos Ilahi—datang ke dalam dunia. Makna darah adalah “kehidupan yang dipersembahkan kepada Allah” karena darah adalah lambang kehidupan, dan makna kematian [tubuh Yesus] adalah jaminan bahwa ada kebangkitan dari antara orang mati bagi mereka yang percaya kepada Yesus Kristus sebagaimana Ia telah bangkit dari antara orang mati.

Maka, memahami Natal Yesus Kristus dan Penebusan yang dikerjakan Allah melalui Yesus, haruslah dipahami secara komprehensif. Darah dan kematian adalah dua cara untuk satu tujuan: manusia ditebus, yang ketika “ditebus”, manusia yang dipilih dan ditetapkan sejak kekekalan “diampuni”, “diselamatkan”, “dikuduskan”, dan “dibenarkan.” Ini sangat luar biasa. Untuk alasan inilah mengapa saya secara pribadi, begitu bersukacita memahami dan menikmati Natal Yesus Kristus.

Natal Yesus Kristus adalah wujud nyata kasih Allah yang begitu luar biasa. Keluarbiasaan kasih Allah dimaksudkan agar manusia—umat pilihan-Nya—ditebus. Natal [hari kelahiran] Yesus Kristus adalah sebuah fakta sejarah bahwa Allah begitu mengasihi manusia berdosa dan menebus mereka dengan cara-Nya sendiri. Itulah HIKMAT ALLAH yang bertolak belakang dengan hikmat manusia. Karena manusia berdosa kepada Allah maka hanya Allah saja yang berhak menentukan bagaimana seharusnya Ia menebus manusia dari dosa-dosa mereka.

Melalui Natal, kita mendapatkan pengharapan baru bahwa kasih Allah yang luar biasa itu, telah dirasakan oleh semua manusia yang telah dipilih dan diselamatkan. Yesus Kristus adalah wujud Allah yang kekal yang mengunjungi dunia [manusia] untuk menyatakan bahwa Allah sangat dekat dengan manusia ciptaan-Nya. Allah tidak menjadikan diri-Nya terasa jauh dari manusia, melainkan Ia menjadikan diri-Nya sangat dekat dengan manusia.

Bukankah kita patut berbahagia ketika Allah mengunjungi manusia dengan cara-Nya sendiri melalui kelahiran Yesus Kristus? Memang, Natal sering disalahpahami oleh sebagian orang. Tetapi bagi kita, Natal adalah hadiah dari Allah kepada manusia berdosa. Allah tahu apa yang terbaik bagi manusia sebab Dialah yang menciptakan dan menyelamatkan manusia.

POKOK PIKIRAN TEKS MATIUS 1:21

Teks Matius 1:21 adalah bukti bahwa Allah telah mengunjungi dunia melalui Yesus Kristus, Firman yang menjadi manusia (Yoh. 1:14). Bagaimana Allah bisa menjadi manusia? Tentu Allah bisa. Bukankah itu dianggap tidak masuk akal? Tentu tidak. Allah itu Pencipta dan Mahakuasa, jadi tidak ada yang mustahil bagi Dia. Mereka yang menganggapnya sebagai tidak masuk akal adalah mereka yang tidak memahami duduk persoalan penebusan yang dilakukan Allah. Sampai di sini tidak ada titik temu untuk menjembatani pemahaman yang salah itu dengan pemahaman yang benar, sejauh manusia tetap pada pemahaman yang salah dan dangkal itu.

Ada orang-orang yang selalu mempersoalkan mengenai inkarnasi Yesus. Tetapi toh, Yesus sudah berinkarnasi. Mereka yang mempersoalkan memang akan terus mempersoalkan sejauh mereka tidak memahami mengapa Kristen begitu bersukacita menerima dan memahami kelahiran (Natal) Yesus Kristus. Ada harapan dalam peristiwa Natal. Ada sukacita surgawi yang tampak dalam peristiwa Natal. Jika demikian, mungkinkah kita yang hidup sekarang tidak bersukacita? Tentu tidak.

Kelahiran Yesus dari rahim seorang perawan merupakan peristiwa unik dan ajaib. Dalam hal kelahiran, ada tiga perempuan yang dipakai Allah untuk menyatakan bahwa kuasa-Nya sungguh luar biasa dan tak ada yang mustahil bagi-Nya. Yang pertama adalah Sara yang mana Tuhan menetapkan bahwa meski Sara sudah tua, namun ia diberikan kesempatan oleh Tuhan untuk mengadung (“Adakah sesuatu apa pun yang mustahil untuk TUHAN?” [Kejadian 18:14]). Kedua, Elisabet yang mengandung seorang anak laki-laki di hari tuanya (Lukas 1:36), dan ketiga adalah Maria yang mengandung Yesus Kristus di masa mudanya dan masih perawan. Ini semua adalah kemahakuasaan Tuhan atas manusia untuk tujuannya masing-masing. Dan yang ketiga adalah Maria.

Namun, pada fakta kelahiran Yesus Kristus melalui rahim Maria, Allah hendak menunjukkan cara terbaik untuk menyelesaikan masalah dosa agar manusia ditebus (diampuni, diselamatkan, dikuduskan, dan dibenarkan) oleh Allah melalui Yesus Kristus.

Memahami Natal harus terkait dengan totalitas kehidupan Yesus. Ia lahir, Ia mati menebus manusia, Ia bangkit dan menyatakan bahwa kematian yang dianggap sebagai kondisi terkutuk, namun kondisi tersebut dipakai Allah untuk tujuan yang mulia dan luar biasa yaitu manusia diselamatkan dan memperoleh kehidupan yang kekal (Yohanes 3:16).

Dari teks Matius di atas, tampak bahwa Natal (Kelahiran) Yesus Kristus membawa keselamatan bagi mereka yang ditetapkannya untuk diselamatkan yaitu “Umat-Nya”. Di sini Allah menunjukkan cara yang berbeda sebagaimana yang terlihat dalam Perjanjian Lama, yaitu setiap orang Israel yang berdosa harus mempersembahkan binatang yang darahnya menjadi simbol penebusan dan pengampunan.

Karena “darah” telah ditetapkan Allah menjadi simbol penebusan dan pengampunan, maka inkarnasi Logos Allah (Yoh. 1:1, 14) menjadi daging, Yesus akan mencurahkan dara-Nya sebagai lambang penebusan dan pengampunan. Konteks inilah yang kemudian ditegaskan oleh Rasul Petrus bahwa:

“Sebab kamu tahu, bahwa kamu telah ditebus dari cara hidupmu yang sia-sia yang kamu warisi dari nenek moyangmu itu bukan dengan barang yang fana, bukan pula dengan perak atau emas, melainkan dengan darah yang mahal, yaitu darah Kristus yang sama seperti darah anak domba yang tak bernoda dan tak bercacat. Ia telah dipilih sebelum dunia dijadikan, tetapi karena kamu baru menyatakan diri-Nya pada zaman akhir. Oleh Dialah kamu percaya kepada Allah, yang telah membangkitkan Dia dari antara orang mati dan yang telah memuliakan-Nya, sehingga imanmu dan pengharapanmu tertuju kepada Allah.” (1 Petrus 1:18-21)

Benarlah penegasan Malaikat bahwa Yesus adalah Juruselamat yang akan menyelamatkan umat-Nya dari dosa mereka. Natal harus dipahami sebagai berita sukacita yang menawarkan kebahagiaan dan kehidupan kekal.

Natal adalah jalan yang disediakan Allah untuk manusia melewatinya bersama Tuhan dan Ia pun menyertai kita. Hal ini tampak dalam sebuah kata yang dilekatkan pada Yesus yaitu: IMANUEL yang berarti “Allah dengan [beserta] Kita”. Bukankah ini sangat luar biasa?

Natal adalah keselamatan yang dihadiahkan kepada manusia. Tanpa Natal, kita terpisah dari Allah. Allahlah yang berdaulat untuk membereskan keterpisahan manusia dengan-Nya. Natal adalah tanpa Allah itu dekat dengan kita. Allah yang peduli dengan kita.

Natal adalah penyelesaian Allah atas masalah terberat manusia yaitu dosa. Semua orang boleh mengaku hebat, tapi semuanya adalah manusia berdosa dan bahkan sering dibelenggu dosa; orang-orang boleh mengatakan bahwa ia sangat kaya, punya jabatan dan harta melimpah, tetapi mereka tidak bisa menyelesaikan dosa mereka; mereka masih melakukan dosa. Tuhan tahu cara yang terbaik untuk mengalahkan dosa, yaitu dengan menyatakan diri-Nya dalam peristiwa inkarnasi [Natal] ke dunia.

Dosa adalah musuh terberat manusia dan tak satupun manusia yang dapat melawannya. Kecuali Yesus Kristus yang telah lahir dan mati bagi kita, Ia pun bangkit membuktikan kuasa-Nya yang tak dapat dikalahkan oleh maut. Yesus Kristus adalah hikmat Allah yang luar biasa.

APLIKASI

Pertama, kita harus tetap beriman kepada Yesus Kristus karena Ia adalah Juruselamat yang telah menyatakan kasih-Nya yang luar bisa melalui penebusan dan pengampunan, karena kita tahu bahwa Natal adalah penyelesaian Allah atas masalah terberat manusia yaitu dosa.

Kedua, kita harus mewartakan Kabar Sukacita ini bahwa manusia yang tidak bisa menyelesaikan masalah dosa kini telah diselesaikan oleh Yesus Kristus, dan mereka yang telah ditebus dan diampuni dosanya, harus hidup kudus, hidup sesuai dengan Firman-Nya, hidup yang berbuat baik dan saling mengasihi sesama, terlebih mengasihi Tuhan.

Ketiga, kasih Tuhan Allah sangat besar kepada kita, maka kita juga harus menunjukkan kasih kepada sesama melalui pelayanan, penopangan, pekabaran Injil, dan pelayanan-pelayanan lainnya yang selaras dengan prinsip Alkitab.

Keempat, Natal harus dilakukan bukan dengan mempertontonkan kesombongan dan pesta pora melainkan menunjukkan sikap hidup yang baik, bermoral, rendah hati, dan saling mengasihi.

Kelima, Natal haruslah menjadikan kita semakin menyadari bahwa kasih Tuhan sungguh melimpah dari kehidupan kita dan seyogianya kita menaikkan pujian dan syukur kepada Tuhan Yesus Kristus.

Soli Deo Gloria

Salam Bae…..

NATAL BERSAMA PARA PELAKOR DAN SUPERIOR: Sebuah Panggilan Pertobatan untuk Kembali kepada Yesus Kristus

Setelah puas berbuat dosa dan menyeka mulutnya, tanpa telah menikmati dosa dan kesenangan semu, para pendosa mencoba datang kepada Tuhan untuk menghilangkan jejaknya dan menciptakan jejak baru di depan orang banyak, untuk membuktikan bahwa mereka suci dan kudus. Mereka bersembunyi di balik “baju ibadah” untuk memuluskan agenda dosa-dosa yang telah disusun rapi dalam daftar pribadi.

Tak sedikit anggota Gereja yang terjebak dan menjebakkan dirinya sendiri dalam baskom dosa, ukuran 2 x 1 cm. Di dalamnya tersedia berbagai macam dosa; mereka mandi dan bercebar-cebur di dalam air dosa. Mereka membersihkan diri dalam kotoran. Tampak bersih, tapi di dalamnya masih tetap kotor. Mereka membenci kesucian dan kekudusan hidup, seperti yang dituntut Tuhan Allah. Mereka ingin mendapatkan kenikmatan seksual dan kenikmatan dompet. Meraup sebanyak mungkin uang dan kenikmatan sambil merasa suci dalam pandangannya sendiri. Itulah yang dilakukan oleh para pelakor dan superior.

Apakah pelakor dan superior itu? Pelakor adalah singkatan dari “Perebut laki orang”. Dengan perkataan lain, seorang perempuan, entah yang sudah pacaran, yang belum pacaran, yang sudah menikah, merebut laki atau suami orang lain. Sedangkan superior, adalah singkatan dari “Suami perebut istri orang”. Dengan perkataan lain, pada kasus ini, hanya khusus pada konteks keluarga karena seorang suami merebut istri orang lain dengan berbagai alasan di baliknya. Kita bisa juga memasukan di sini mengenai “Perisor” yang berarti “perebut istri orang”. Kira-kira kasusnya sama saja: mereka “merebut” yang bukan hak atau miliknya. Semua kasus yang “merebut” sesuatu untuk memuaskan hawa nafsu yang liar dan tak terkendali itu, adalah dosa, karena melanggar aturan main yang ditetapkan Tuhan.

Secara teologis, manusia tidak boleh melewati batas-batas aturan sebagaimana yang telah diberikan Tuhan kepada manusia. Tuhan menetapkan sejak awal bahwa “pernikahan” adalah kudus, dan tidak boleh dirusak oleh hawa nafsu yang liar dan tak terkendali seperti yang dilakukan oleh para pelakor dan superior akhir-akhir ini. Kerusakan dalam hubungan pacaran dan rumah tangga disebabkan oleh kacaunya pikiran manusia yang menginginkan kenikmatan dosa, kenikmatan kemunafikan, dan kenikmatan uang hasil “setor diri” kepada si pemuas nafsu.

Dosa-dosa tersebut begitu spektakuler dan terlihat kekar di mata pengagum dosa. “Gereja” (tertentu) seolah-olah tak berdaya memberangus hawa nafsu liar para pelakor dan superior yang menjadi jemaatnya; gereja tersebut juga seolah-olah tak sanggup melawan dosa yang dilakukan oleh sahabat-sahabat para pelakor dan superior, seperti “perisor” (perebut istri orang), “perpaor” (perebut pacar orang), “perangai” (perebut anak gadis), “penata2” (pemuas nafsu tante-tante), “penajam” (pemuas nafsu janda muda), dan masih banyak lagi (disesuaikan dengan jenis dosanya).

Kasih karunia yang diberikan Allah di dalam Yesus Kristus terkesan menjadi murah karena para pendosa tersebut merasa bahwa dosa itu mahal karena mendatangkan kenikmatan tersendiri. Mereka benar-benar mengacuhkan kasih karunia Allah, atau barangkali membuangnya di tempat sampah. Mereka lupa bahwa dosa telah membuat mereka tinggal di dalam tempat sampah, penuh kekotoran dan kenajisan.

Allah telah menunjukkan kasih-Nya yang besar kepada manusia yang berdosa, termasuk para pelakor dan superior. Yesus—Sang Logos Ilahi—telah lahir bagi kita semua dan memberikan jalan terbaik menuju kekudusan hidup. Seandainya Gereja berjuang dan bekerja keras memberantas bibit-bibit dosa yang ditaburkan oleh para pelakor dan superior, maka kemungkinan terbesarnya adalah mereka digerakkan dan disadarkan untuk memilih kehidupan yang benar, yang kudus, dan yang berkenan kepada Allah.

Allah sangat membenci dosa tetapi mengasihi orang berdosa. Kita tidak mungkin merasa suci datang kepada Allah tetapi hati dan pikiran kita masih kotor, belum dibersihkan; dosa-dosa masih dikenakan, hanya ditutupi dengan baju ibadah: terlibat bersih dari luar tapi di dalamnya adalah kubangan. Adakah jalan keluar untuk masalah ini? Mungkinkah Tuhan masih menerima para pelakor dan superior yang mau bertobat dan meninggalkan dosa-dosanya yang dianggap spektakuler itu? Akankah Tuhan mengasihi mereka?

Natal Yesus Kristus, yang telah terjadi ribuan tahun yang lalu, telah membuka lapangan dan lowongan pekerjaan yang baru di Kerajaan Allah. Mereka yang mau bekerja (melayani) di Kerajaan Allah, harus mengikuti aturan main yang ditetapkan-Nya: bertobat, percaya kepada-Nya, hidup kudus, dan menjadi berkat bagi sesamanya.

Natal Yesus Kristus adalah hadiah bagi para pendosa, hadiah bagi para pelakor dan superior, serta sahabat-sahabat dekatnya. Jangan menjadikan momen Natal (setiap tahun) sebagai wacana untuk berpura-pura beribadah tetapi tetap mengenakan pakaian kenajisan. Natal Yesus Kristus seyogianya memanggil kita untuk bertobat untuk kembali kepada Allah, Sang Khalik. Firman-Nya telah menggerakkan kita untuk membersihkan diri dari keberdosaan dan kenajisan.

Jikalau para pendosa: pelakor dan superior menyadari dirinya yang kotor, Tuhan Yesus pasti akan membersihkannya. Ia memanggil, pasti Ia memulihkan; Ia mengajak untuk bekerja (melayani) dalam Kerajaan-Nya, pasti Ia akan melengkapi. Hidupmu berharga bagi Dia; jangan jadikan dirimu sebagai budak dosa; Anda boleh bahagia dan bersembunyi di balik dosa-dosamu yang spektakuler itu, tetapi di mata Tuhan, tak ada yang tersembunyi. Ingatlah pesan dari penulis kitab Ibrani:

“Dan tidak ada suatu makhluk pun yang tersembunyi di hadapan-Nya, sebab sebab segala sesuatu telanjang dan terbuka di depan mata Dia, yang kepada-Nya kita harus memberikan pertanggungan jawab” (Ibr. 4:13).

Ingat pula pesan dari Raja Salomo: “Mata TUHAN ada di segala tempat, mengawasi orang jahat dan orang baik” (Amsal 15:3)

Ia melihat kita, Ia mengawasi kita, Ia tahu segala sesuatu. Kita tidak dapat bersembunyi dari pandangan mata-Nya, apalagi menyembunyikan dosa. Ia menyelidiki hati kita. Sampai kapan, hai para pelakor dan superior, serta sahabat-sabahatmu menyimpan rapi dosa-dosamu? Sampai kapan kalian mau bersenang-senang dalam kubangan dosa? Apakah kurang rahmat dan anugerah Yesus Kristus untukmu, atau memang karena kalian tidak pernah datang kepada-Nya, menyerahkan diri sepenuhnya dan hidup dalam kekudusan? Apakah kalian sudah menetapkan langkah-langkah untuk setia kepada dosa ketimbang pada Tuhan?

Ingatlah, kejatuhanmu sudah dekat. Jika kalian tetap berkeras hati untuk tidak kembali kepada Yesus Kristus, hukuman menanti di ujung jalan. Jangan berharap dan bersandar pada dosa, sebab dosa bukan membuat hidupmu sempurna dan kudus, melainkan akan menggiringmu ke tepi jurang maut, dan kemudian ia menendangmu sampai jatuh.

Yesus, yang telah lahir itu, menawarkan pengampunan dan pengudusan. Datang pada-Nya; akui dosa-dosamu, berserah pada-Nya dan buatlah komitmen untuk hidup kudus. Dosa memang kuat menggoda, tetapi mereka yang tahu bahwa di balik dosa adalah malapetaka, tentu tidak akan menjerumuskan dirinya. Masih ada harapan; Yesus adalah harapan kita semua. Ia telah lahir bagi kita; Ia datang dengan misi yang kekal, membawa manusia berdosa kembali kepada Sang Khalik.

Perjuangan melawan belum usai. Roh Kudus akan memberikan pencerahan bagi hati dan akal budi kita melalui Firman-Nya yang kita baca setiap waktu. Renungkanlah hidup ini; ambil makna terdalam mengenai pernyertaan Tuhan. Dosa membuat kita terpisah dari Allah; dosa membuat kita rusak moral dan spiritual; dosa merusak hubungan baik dengan sesama, apalagi tetangga. Hentikan merebut laki [suami] orang. Hentikan merebut istri orang. Dosa membawamu ke neraka, kepada penghukuman kekal.

Rayakan Natal Bersama keluarga, bersama orang-orang yang dikasihi. Cintai dan kasihi Tuhan Yesus, maka engkau pasti akan sanggup mencintai dan mengasihi Tuhan. Mereka yang mencintai dosa perebutan laki dan istri orang tidak bisa dalam waktu bersamaan mencintai Tuhan Yesus.

Bertobatlah dan kembali kepada Yesus. Jadikan hidupmu berarti bagi orang lain, dan bukan menjadi penghancur rumah tangga orang lain, maupun hubungan orang lain. Hanya Yesus jalan satu-satunya menuju kehidupan yang berbahagia, kudus, dan memuaskan. Ketika engkau menjadi pengikut Yesus, maka berkat akan mengikutimu kemana pun engkau pergi. Tuhan Yesus memberkati kita semua.

Salam Bae……

INJIL DITULIS DALAM BAHASA APA?

Polemikus Islam seringkali mencuatkan omongan kosong tak berdasar terhadap Alkitab. Salah satunya adalah pernyataan bahwa: “KRISTEN SELALU SEPAKAT UNTUK TIDAK SEPAKAT”. Hal ini dimaksudkan merujuk kepada perbedaan pernyataan apakah Injil Matius itu ditulis dalam bahasa Ibrani, Yunani, atau Aramaic. Alhasil, mereka seringkali menganggap bahwa orang Kristen berbohong soal teks-teks Alkitab yang mendasari problem bahasa tersebut.

Akan tetapi, hal tersebut belum seberapa. Saya mengerucut kepada akar persoalannya. Fach Rudin – salah satu polemikus Islam yang hanya modal kumur-kumur – mengusung dua pendapat soal Injil Matius.

Pertama. Fransiscus Xaverius Arianto Nugroho yang menyatakan bahwa: “Injil yang diwahyukan oleh Roh Kudus ditulis oleh Matius dalam bahasa Yunani. Bahasa Yunani lebih tepat menunjukkan makna asli dari maksud penulis Injil yaitu Roh Kudus sendiri yang berbicara melalui para rasul.”

Kedua. Willy Kende yang menyatakan bahwa: “Teks Matius yang asli sendiri ditulis dalam bahasa Aram dan bukannya Yunani Attic.”

Dari dua pernyataan di atas, Fach Rudin berkesimpulan bahwa bahasa mana yang dipakai penulis Injil Matius? Karena ada dua pernyataan, maka Fach Rudin berkesimpulan bahwa Kristen pandai berdusta.

KLARIFIKASI DAN KORELASI TEKS-TEKS QURANIK

Jika Fach Rudin menyodorkan dua pernyataan soal bahasa apa yang ditulis dalam Injil Matius, maka berikut ini ada bentuk klarifikasi dari saya soal quran.

Dalam quran, ada ayat-ayat yang menyebutkan bahwa quran membenarkan kitab-kitab sebelumnya yakni Taurat, Zabur, dan Injil. Beberapa di antaranya:

Surat Ali ‘Imran [3]:3, Dia menurunkan Al Kitab (Al Quran) kepadamu dengan sebenarnya; membenarkan kitab yang telah diturunkan sebelumnya dan menurunkan Taurat dan Injil

Al Maa-idah 5:46, Dan Kami iringkan jejak mereka (nabi nabi Bani Israil) dengan Isa putera Maryam, membenarkan Kitab yang sebelumnya, yaitu: Taurat. Dan Kami telah memberikan kepadanya Kitab Injil sedang didalamnya (ada) petunjuk dan dan cahaya (yang menerangi), dan membenarkan kitab yang sebelumnya, yaitu Kitab Taurat. Dan menjadi petunjuk serta pengajaran untuk orang-orang yang bertakwa.

Surat Al An’aam [6]:92, Dan ini (Al Quran) adalah kitab yang telah Kami turunkan yang diberkahi; membenarkan kitab-kitab yang (diturunkan) sebelumnya dan agar kamu memberi peringatan kepada (penduduk) Ummul Qura (Mekah) dan orang-orang yang di luar lingkungannya. Orang-orang yang beriman kepada adanya kehidupan akhirat tentu beriman kepadanya (Al Quran) dan mereka selalu memelihara sembahyangnya.

Surat Yunus 10:37,  Tidaklah mungkin Al Quran ini dibuat oleh selain Allah; akan tetapi (Al Quran itu) membenarkan kitab-kitab yang sebelumnya dan menjelaskan hukum-hukum yang telah ditetapkannya, tidak ada keraguan di dalamnya, (diturunkan) dari Tuhan semesta alam.

Surat Yusuf [12]:111, Sesungguhnya pada kisah-kisah mereka itu terdapat pengajaran bagi orang-orang yang mempunyai akal. Al Quran itu bukanlah cerita yang dibuat-buat, akan tetapi membenarkan (kitab-kitab) yang sebelumnya dan menjelaskan segala sesuatu, dan sebagai petunjuk dan rahmat bagi kaum yang beriman.

Surat Faathir 35:31  Dan apa yang telah Kami wahyukan kepadamu yaitu Al Kitab (Al Quran) itulah yang benar, dengan membenarkan kitab-kitab yang sebelumnya. Sesungguhnya Allah benar-benar Maha Mengetahui lagi Maha Melihat (keadaan) hamba-hamba-Nya.

PERTANYAANNYA:

Jika quran membenarkan (dan atau Allah menurunukan) kitab-kitab sebelumnya (Taurat, Zabur, dan Injil), maka INJIL yang DIBENARKAN itu tertulis dalam BAHASA APA? Apakah bahasa Aramaic, bahasa Yunani, atau bahasa Ibrani? Jika polemikus mempermasalahkan dua pendapat soal bahasa dalam Injil Matius, lalu Quran membenarkan Injil dalam bahasa apa? Ini jadinya lucu kan?

Pasti tidak ada yang dapat menjawab pertanyaan tersebut dikaitkan dengan kebingungan apakah Injil Matius ditulis dalam bahasa Yunani atau Aram.

Nah, kira-kira menurut mereka, Injil yang dibenarkan oleh Qur’an ditulis dalam bahasa Yunani atau Aram? Lalu apakah Injil Matius, Markus, Lukas, dan Yohanes yang dibenarkan Qur’an? Sudah pasti mereka tidak akan merujuk pada salah satu dari Injil tersebut. Dengan dalih yang terkesan “miskin” mereka akan menyimpangkan pokok persoalan yang sedang dibahas.

Bagi mereka, Injil yang dibenarkan pastilah Injil yang asli, belum dipalsukan. Lalu kita bertanya, siapa yang palsukan, apa saja yang dipalsukan, kapan dipalsukan, teks-teks atau Injil-Injil yang asli ada di mana; lalu saat Qur’an membenarkan Injil, apakah Muhammad tahu keberadaan Injil yang asli? Apakah dalam bentuk kitab atau bentuk oral?

Yang pasti, tak satu pun ahli yang dapat menjawabnya, kecuali dengan dalih yang lihai dan permai. Paling-paling dalih yang muncul adalah: ah, Qur’an tidak membenarkan kitab Injil, tapi berita Injil. Dan segera kita bertanya: “apa sih berita Injil itu?” Mereka kemudian akan berdalih mencari-cari alasan. Lalu seketika terdengar suara dari langit: “inilah dusta yang kurencanakan, kepadanyalah aku berkenan”. Tidak ada yang dapat mereka andalkan selain “dusta” dan “menipu” banyak orang. Ignoransi mereka terhadap doktrin Kristen membuat mereka tampak hebat di mata para pendengarnya yang juga bodoh. Tetapi, sudahlah, itu rezeki mereka untuk mencari makan. Jika tidak menghina Kristen, para mualaf sulit cari makan. Memang tidak semuanya, tetapi mayoritas seperti itu. Lihatlah Muhammad Yahya Waloni, Kainama, Irena Handono, dan lain sebagainya.

white book pge

Kita melihat bahwa serangkan para mualaf terhadap doktrin dan Alkitab Kristen marak terjadi. Mereka pasti mengunggulkan kitab suci yang mereka percayai. Itu sih lumrah dalam dunia transfer agama. Para mualaf hanyalah pencual kecap dan terong, pintar bicara, tapi tak ada isi sama sekali. Begitulah cara mencari keuntungan dengan menipu orang lain; metode yang digunakan adalah jualan kecap dan terong dengan menuduh bahwa Alkitab orang Kristen telah dipalsukan; Injil yang asli telah mereka palsukan; Yesus bukan Tuhan; Yesus tidak disalibkan, dan sederet kumur-kumur ignoransi yang meleleh dari bibir pendusta.

Salam Bae….

Catatan:

Konsep yang sama tentang QURAN MEMBENARKAN KITAB-KITAB SEBELUMNYA lihat Surat Al Baqarah [2]:4, 41, 89, 91, 97, 136, 285; Surat Ali ‘Imran [3]:84; Surat An Nissa’ [4]:47, 136, 162-163; Surat Al Maa-idah [5]:44, 46, 48, 68; Surat As Sajdah [32]:23; Surat Asy Syuura [42]:13, 15; Surat Al Ahqaaf [46]:12, 29-30; Surat Al A’Laa [87]:14-19; Surat Al Bayyinah [98]:1-4 – untuk ayat 3 [Surat Al Bayyinah (98)], diberi penjelasan pada catatan kaki nomor 1595 bahwa “isi kitab-kitab yang lurus” ialah isi kitab-kitab yang diturunkan kepada nabi-nabi seperti Taurat, Zabur, dan Injil yang murni).

IMANKU YANG DISALAHPAHAMI

person holding Holy Bible

“Salah Paham” adalah kondisi yang sering terjadi di sekitar kita, bahkan di lingkungan “agama”, salah paham telah menjadi “trending topic” di berbagai media sosial, dan mungkin juga di masyarakat, tempat kita berada. Salah paham ini bisa menjurus kepada situasi yang ‘chaos’, dan konflik berdarah-darah. Akibatnya, suara-suara sumbang dan celoteh-celoteh jalanan dapat menjadi alat untuk membesar-besarkan kesalahpahaman tadi, apalagi jika kesalahpahaman itu terkait dengan iman Kristen.

Seorang mualaf yang mulutnya kotor (saya temukan dalam bukunya), yaitu Muhammad Yahya Waloni, adalah seorang yang mengatakan bahwa Rasul Paulus masuk neraka.  Tentu perkataan tersebut sama sekali tidak berdasar. Omong kosong ini, entah dia dapat dari mana, sampai ia berani menuliskan di dalam bukunya. Dari semua isi buku Waloni, hampir 100 persen salah paham, bahkan salah total.

Kesalahannya menggaungkan iman Kristen yang dikiranya “benar” menurut pemahamannya ternyata ketika diuji secara ilmiah, mengandung kebohongan-kebohongan yang dirancang untuk memperbesar omong kosong dan kesalahpahamannya tentang iman Kristen, baik Kristologi, Alkitab, nubuatan Mesias yang dikaitkan dengan Muhammad, dan masih banyak lagi.

Ia pun mengajukan pernyataan yang kurang lebih sama dengan para mualaf lainnya: “Yesus itu bukan Tuhan. Ia hanyalah utusan Allah.” Pernyataan tersebut memang benar, tetapi tidak secara komprehensif dipahami, baik berdasarkan historis, logis, dan dogmatis. Untuk menjawab pernyataan tersebut, saya memulai dengan menilainya berdasarkan pada “cara memahami”.

Pertama, Pernyataan “Yesus itu bukan Tuhan. Ia hanyalah utusan Allah” dipahami secara fragmentaris oleh para mualaf. Saya memakluminya.

Kedua, para mualaf menganggap bahwa Allah yang mengutus Yesus adalah “Allah” yang sama dengan “Allah” Islam.

Ketiga, para mualaf akan selalu memahami secara fragmentaris dan parsial, kemudian tidak membuka peluang bagi proses atau cara memahami secara komprehensif, jukstaposisi, dan demarkasi (untuk konteks tertentu) berdasarkan prinsip hermeneutika Alkitab yang kredibel, dengan mengikuti rambu-rambu penafsirannya.

Bagi mereka, Yesus diutus Allah. Itu saja. Padahal, cara memahaminya tidak demikian. Saya memakluminya. Namanya juga mualaf, ya, pasti tidak mau membuka pikiran dalam konteks cara memahami Yesus secara komprehensif berdasarkan Alkitab. Karena ini berbicara mengenai historisitas, maka ada korelasi yang dapat dipahami, meski kita tahu ada jurang pemisah antara pemahaman Islam dengan pemahaman Kristen mengenai pribadi Yesus.

Para mualaf mengira bahwa jika Yesus utusan Allah maka Ia adalah Rasul sama dengan Muhammad. Pola ini diadopsi dari konsep quranik. Menurut Kristen, Yesus adalah Imam Besar, [kepala] Rasul (Ibrani 3:1) yang mengutus para rasul (para murid) untuk menjalankan kehendak-Nya (Matius 28:18-20), dan bukan “rasul” seperti yang dipahami oleh Islam, karena makna dan identitasnya sangatlah berbeda jauh. Yesus Kristus adalah Kepala para rasul. Ia sendiri mengakui bahwa Ia diutus Sang Bapa. Pola ini menandaskan bahwa perutusan-Nya berbeda dengan perutusan para rasul yang lain, apalagi jika dipahami dalam pola pikir quranik. Injil Yohanes mencatat konteks ini, di mana Yesus berulang kali menegaskan bahwa Ia diutus dari Sorga oleh Bapa-Nya, dan di kemudian hari, Ia mengutus para murid sebagai konfirmasi bahwa Ia diutus Bapa-Nya.

Yohanes 3:17  Sebab Allah mengutus Anak-Nya ke dalam dunia bukan untuk menghakimi dunia, melainkan untuk menyelamatkannya oleh Dia.   

Yohanes 4:34  Kata Yesus kepada mereka: “Makanan-Ku ialah melakukan kehendak Dia yang mengutus Aku dan menyelesaikan pekerjaan-Nya.   

Yohanes 5:23  supaya semua orang menghormati Anak sama seperti mereka menghormati Bapa. Barangsiapa tidak menghormati Anak, ia juga tidak menghormati Bapa, yang mengutus Dia.   

Yohanes 5:24  Aku berkata kepadamu: Sesungguhnya barangsiapa mendengar perkataan-Ku dan percaya kepada Dia yang mengutus Aku, ia mempunyai hidup yang kekal dan tidak turut dihukum, sebab ia sudah pindah dari dalam maut ke dalam hidup.  

Yohanes 5:30  Aku tidak dapat berbuat apa-apa dari diri-Ku sendiri; Aku menghakimi sesuai dengan apa yang Aku dengar, dan penghakiman-Ku adil, sebab Aku tidak menuruti kehendak-Ku sendiri, melainkan kehendak Dia yang mengutus Aku.   

Yohanes 5:36  Tetapi Aku mempunyai suatu kesaksian yang lebih penting dari pada kesaksian Yohanes, yaitu segala pekerjaan yang diserahkan Bapa kepada-Ku, supaya Aku melaksanakannya. Pekerjaan itu juga yang Kukerjakan sekarang, dan itulah yang memberi kesaksian tentang Aku, bahwa Bapa yang mengutus Aku.   

Yohanes 5:37  Bapa yang mengutus Aku, Dialah yang bersaksi tentang Aku. Kamu tidak pernah mendengar suara-Nya, rupa-Nyapun tidak pernah kamu lihat,   

Yohanes 6:38  Sebab Aku telah turun dari sorga bukan untuk melakukan kehendak-Ku, tetapi untuk melakukan kehendak Dia yang telah mengutus Aku.   

Yohanes 6:39  Dan Inilah kehendak Dia yang telah mengutus Aku, yaitu supaya dari semua yang telah diberikan-Nya kepada-Ku jangan ada yang hilang, tetapi supaya Kubangkitkan pada akhir zaman.   

Yohanes 6:44  Tidak ada seorangpun yang dapat datang kepada-Ku, jikalau ia tidak ditarik oleh Bapa yang mengutus Aku, dan ia akan Kubangkitkan pada akhir zaman.   

Yohanes 6:57  Sama seperti Bapa yang hidup mengutus Aku dan Aku hidup oleh Bapa, demikian juga barangsiapa yang memakan Aku, akan hidup oleh Aku.   

Yohanes 7:16  Jawab Yesus kepada mereka: “Ajaran-Ku tidak berasal dari diri-Ku sendiri, tetapi dari Dia yang telah mengutus Aku.   

Yohanes 7:29  Aku kenal Dia, sebab Aku datang dari Dia dan Dialah yang mengutus Aku.”   

Yohanes 7:33  Maka kata Yesus: “Tinggal sedikit waktu saja Aku ada bersama kamu dan sesudah itu Aku akan pergi kepada Dia yang telah mengutus Aku.   

Yohanes 8:16  dan jikalau Aku menghakimi, maka penghakiman-Ku itu benar, sebab Aku tidak seorang diri, tetapi Aku bersama dengan Dia yang mengutus Aku.   

Yohanes 8:18  Akulah yang bersaksi tentang diri-Ku sendiri, dan juga Bapa, yang mengutus Aku, bersaksi tentang Aku.”   

Yohanes 8:26  Banyak yang harus Kukatakan dan Kuhakimi tentang kamu; akan tetapi Dia, yang mengutus Aku, adalah benar, dan apa yang Kudengar dari pada-Nya, itu yang Kukatakan kepada dunia.”   

Yohanes 8:29  Dan Ia, yang telah mengutus Aku, Ia menyertai Aku. Ia tidak membiarkan Aku sendiri, sebab Aku senantiasa berbuat apa yang berkenan kepada-Nya.”   

Yohanes 8:42  Kata Yesus kepada mereka: “Jikalau Allah adalah Bapamu, kamu akan mengasihi Aku, sebab Aku keluar dan datang dari Allah. Dan Aku datang bukan atas kehendak-Ku sendiri, melainkan Dialah yang mengutus Aku.   

Yohanes 9:4  Kita harus mengerjakan pekerjaan Dia yang mengutus Aku, selama masih siang; akan datang malam, di mana tidak ada seorangpun yang dapat bekerja.   

Yohanes 11:42  Aku tahu, bahwa Engkau selalu mendengarkan Aku, tetapi oleh karena orang banyak yang berdiri di sini mengelilingi Aku, Aku mengatakannya, supaya mereka percaya, bahwa Engkaulah yang telah mengutus Aku.”   

Yohanes 12:44  Tetapi Yesus berseru kata-Nya: “Barangsiapa percaya kepada-Ku, ia bukan percaya kepada-Ku, tetapi kepada Dia, yang telah mengutus Aku;   

Yohanes 12:45  dan barangsiapa melihat Aku, ia melihat Dia, yang telah mengutus Aku.   

Yohanes 12:49  Sebab Aku berkata-kata bukan dari diri-Ku sendiri, tetapi Bapa, yang mengutus Aku, Dialah yang memerintahkan Aku untuk mengatakan apa yang harus Aku katakan dan Aku sampaikan.   

Yohanes 13:20  Aku berkata kepadamu: Sesungguhnya barangsiapa menerima orang yang Kuutus, ia menerima Aku, dan barangsiapa menerima Aku, ia menerima Dia yang mengutus Aku.”   

Yohanes 14:24  Barangsiapa tidak mengasihi Aku, ia tidak menuruti firman-Ku; dan firman yang kamu dengar itu bukanlah dari pada-Ku, melainkan dari Bapa yang mengutus Aku.   

Yohanes 15:21  Tetapi semuanya itu akan mereka lakukan terhadap kamu karena nama-Ku, sebab mereka tidak mengenal Dia, yang telah mengutus Aku.   

Yohanes 16:5  tetapi sekarang Aku pergi kepada Dia yang telah mengutus Aku, dan tiada seorangpun di antara kamu yang bertanya kepada-Ku: Ke mana Engkau pergi?   

Yohanes 16:7  Namun benar yang Kukatakan ini kepadamu: Adalah lebih berguna bagi kamu, jika Aku pergi. Sebab jikalau Aku tidak pergi, Penghibur itu tidak akan datang kepadamu, tetapi jikalau Aku pergi, Aku akan mengutus Dia kepadamu.   

Yohanes 17:3  Inilah hidup yang kekal itu, yaitu bahwa mereka mengenal Engkau, satu-satunya Allah yang benar, dan mengenal Yesus Kristus yang telah Engkau utus.

Yohanes 17:8  Sebab segala firman yang Engkau sampaikan kepada-Ku telah Kusampaikan kepada mereka dan mereka telah menerimanya. Mereka tahu benar-benar, bahwa Aku datang dari pada-Mu, dan mereka percaya, bahwa Engkaulah yang telah mengutus Aku.   

Yohanes 17:18  Sama seperti Engkau telah mengutus Aku ke dalam dunia, demikian pula Aku telah mengutus mereka ke dalam dunia;   

Yohanes 17:21  supaya mereka semua menjadi satu, sama seperti Engkau, ya Bapa, di dalam Aku dan Aku di dalam Engkau, agar mereka juga di dalam Kita, supaya dunia percaya, bahwa Engkaulah yang telah mengutus Aku.   

Yohanes 17:23  Aku di dalam mereka dan Engkau di dalam Aku supaya mereka sempurna menjadi satu, agar dunia tahu, bahwa Engkau yang telah mengutus Aku dan bahwa Engkau mengasihi mereka, sama seperti Engkau mengasihi Aku.   

Yohanes 17:25  Ya Bapa yang adil, memang dunia tidak mengenal Engkau, tetapi Aku mengenal Engkau, dan mereka ini tahu, bahwa Engkaulah yang telah mengutus Aku

Dari pernyataan tersebut, perutusan Yesus dikaitkan dengan misi penebusan, pengampunan, dan penyelamatan umat-Nya (Matius 1:21). Ia pun mengutus para murid untuk tugas misi: “Damai sejahtera bagi kamu! Sama seperti Bapa mengutus Aku, demikian juga sekarang Aku mengutus kamu” (Yohanes 20:21). Hal ini selaras dengan perintah Yesus dalam Matius 28:19-20. Tidak ada rumusan Kristen bahwa Yesus adalah Rasul seperti yang dipahami Islam, karena kerasulan Yesus dalam al-Qur’an tidak dalam kerangka misi penyelamatan, penebusan, dan pengampunan. Sama sekali tidak! Yesus adalah kepala Rasul dan Imam Besar. Islam tidak pernah berbicara sama sekali tentang peran Yesus sebagai Imam Besar. Itu sebabnya dalam kitab Ibrani, disebutkan bahwa Yesus adalah Rasul dan Imam Besar yang diakui, yang setia kepada Dia yang telah menetapkan-Nya, dipandang layak mendapat kemuliaan lebih besar dari pada Musa (Ibr. 3:1-3).

Yesus itu berbeda dengan apa yang dipikirkan para mualaf. Pola pikir quranik tidak bisa dipakai untuk mengukur pola pikir biblikal karena keduanya memiliki perbedaan yang fundamental, baik iman, doktrin, dan historis.

Untuk memperteguh klaim mereka bahwa Yesus adalah utusan, maka mereka menyuguhkan sederet ayat Alkitab, terutama dalam Injil Yohanes. Anehnya, tak satupun yang memahami konteksnya. Ini kelemahan yang sangat mendasar. Padahal, sejak prolog Injilnya, Rasul Yohanes menuliskan:

“Firman menjadi daging [manusia; Yun. sarks]” (Yoh. 1:14). Yesus adalah Logos Allah yang berdiam sejak kekal. Jadi, seluruh Injil Yohanes yang berbicara mengenai natur kemanusiaan Yesus, termasuk Ia diutus Bapa-Nya, Ia tidak dapat berbuat apa-apa dari diri-Nya jika Bapa tidak mengaruniakannya, TETAP DAN HARUS melihat pada pasal 1 (prolog Injil Yohanes). Memisahkan tulang dari daging menjadikan tubuh manusia lemah tak berdaya, dan tak bisa berbuat apa-apa. Ini cara-cara yang sama sekali “salah” sebagaimana yang dilakukan oleh Yahya Waloni, Irena Handono, Ust. Kainama, dan lainnya.

Ilmu “comotologi” atau ilmu mencomot-comot ayat-ayat Alkitab tanpa memahami konteksnya adalah kelihaian mayoritas para mualaf. Karena lihai menampilkan ilmu “comotologi”, maka mereka asyik dan puas mengajukan dalil bahwa memang Yesus adalah utusan, Ia bukan Tuhan, dan masih banyak lagi. Sayangnya, impotensi kehendak berimbas kepada impotensi logika mereka yang tidak mau memahami teks dan konteks secara utuh. Model tafsir comotologi sudah membudaya di kalangan mualaf, termasuk mualaf “abal-abal” (dari aspek ilmu dan kajian Kristologi) yaitu Yahya Waloni. 

Kondisi psikologi “IGNORANCE IS SATISFACTION” (kebodohan adalah kepuasan) para mualaf ini tidak tanggung-tanggung untuk ditampilkan. Yahya Waloni, mantan pendeta yang mulutnya penuh ucapan-ucapan kotor dan omong kosong, merasa puas dengan kebodohannya sendiri mengenai salah pahamnya tentang iman Kristen. Yang ada hanyalah bualan-bualan tanpa dasar sama sekali. Tentunya, Waloni cs, menganggap sudah tahu segalanya tentang iman Kristen, terutama soal Kristologi, kian merasakan diri mereka berada di atas angin buatan sendiri.

Berbagai celoteh para mualaf yang terlampau luar biasa, maksudnya luar biasa “ngalor ngidulnya” cukup membuat riuh suasana di Nusantara. Kebebasan berpendapat menjadi tidak terbendung. Padahal, kebebasan berpendapat yang seperti apa yang dijunjung tinggi, menjadi pertanyaan mendasar kita.

Dalam dunia penelitian ilmiah, siapa saja yang menyodorkan gagasan mengenai iman Kristen, itu sah-sah saja, tetapi harus dibarengi dengan ulasan, kajian, kritik, sumber, metodologi, pendekatan, dan hal lain yang dapat menunjang penelitian itu sendiri. Sebaliknya, setiap respons atau sanggahan (apologetis) atas ulasan mengenai iman Kristen, bernatur sama. Hal ini dipandang biasa dalam dunia akademis.

Mengingat ada orang-orang tertentu yang mudah salah paham dengan iman Kristen, maka sedapat mungkin para rohaniwan, pendeta, pastor, pemerhati teologi, haruslah bergerak untuk memberikan respons atau kajian yang mengarahkan siapa saja yang membaca atau melihatnya, mendapatkan pengajaran yang benar tentang iman Kristen yang biblikal. Meresponsnya bukan dengan cara membabi buta, melainkan dengan cara yang akademis, tajam, dan solid. Memberikan respons bukan berarti kita tersinggung, tetapi lebih bersifat mengklarifikasi berbagai bentuk kesalahpahaman orang lain tentang iman Kristen.

Suara-suara kebenaran adalah suara-suara klarifikasi. Mereka yang tergerak berbagi berkat dengan sesama dalam konteks “memberikan respons terhadap kesalahpahaman orang lain tentang iman Kristen”, adalah orang-orang yang berniat untuk berbagi, ketimbang “pelit ilmu”. Daripada ilmu dipendam dan dinikmati sendiri (bermasturbasi teologis), lebih baik berbondong-bondong berbagi berkat melalui tulisan apologetis, klarifikatif, dogmatis, historis, dan logis.

Suasana makin memanas karena isu-isu agama mudah digoreng dengan minyak paralogisme dan sentimen agama. Orang Kristen pun tidak boleh tinggal diam. Ia harus menyadari bahwa dirinya dipanggil untuk menyatakan kebenaran, ketimbang diam dan merasa puas sendiri. Kita dipanggil untuk berbicara—tentunya dengan berbagai cara—apalagi ditunjang dengan berbagai media sosial yang marak digunakan oleh masyarakat secara luas.

Salah paham iman Kristen akan tetap ada dan terus berkembang. Apakah kita tetap tinggal diam? Mungkin ada yang mengatakan: “Ah, itu tidak penting”, dan saya harus katakan: “WOW GITU?” Sebaiknya potensi yang Tuhan berikan kepada kita, disalurkan untuk memberikan pengarahan, pemahaman, klarifikasi, penjelasan, penerangan, dan konfirmasi mengenai isu-isu iman Kristen yang digoreng sedemikian rupa, apalagi panci dan minyaknya berada di tangan para mualaf yang tidak jujur secara akademis, semisal Yahya Waloni, Irena Handono, dan lainnya.

Silakan saja mengkritisi iman Kristen, tetapi jangan “asal bunyi” dan “salah paham”. Gunakan akal sehat, dan bukan mulut penuh caci maki; gunakan kajian ilmiah dan bukan “ngalor ngidul disoraki”. Iman Kristen adalah iman yang didasari pada pemahaman bahwa Allah yang mengasihi manusia berdosa, dan Ia menetapkan bagaimana caranya agar manusia diselamatkan, dibenarkan, dikuduskan, diampuni, dan ditebus.

Tak ada manusia yang cukup kuat, cukup iman, cukup umur, dan cukup uang (harta kekayaan) yang dapat melepaskannya dari jerat dosa dan kejahatan. Hanya Allah saja yang sanggup melakukannya, dan Yesus Kristus adalah perwujudan kasih Allah yang begitu besar, yang menebus, mengampuni, membenarkan, mendamaikan, dan menyelamatkan manusia dari kuasa dosa dan kuasa maut. Itulah inti iman Kristen.

Lihatlah pada Allah yang mengasihi manusia; lihatlah pada Allah yang menyelamatkan, mengampuni, dan menebus manusia; lihatlah pada Allah yang peduli dengan moralitas umat-Nya; lihatlah pada Allah yang mengarahkan manusia untuk hidup kudus. Ketika ada Allah yang telah berbuat demikian, maka ikutilah Dia. Dan Kristen telah melihat semuanya itu. Allah yang penuh kasih, mengaruniakan anak-Nya yang tunggal supaya setiap orang yang percaya kepada-Nya (yaitu Yesus Kristus), tidak binasa, melainkan beroleh hidup yang kekal.”

Yang tidak paham secara utuh soal iman Kristen, tidak perlu kebakaran jenggot, apalagi mewartakan “salah paham” Yesus Kristus. Yahya Waloni dan lainnya boleh saja mengkritik iman Kristen, asalkan dengan cara-cara akademis, bukan dengan cara memaki, menyebarkan kebohongan dan memalsukan dokumen historis.

Tuhan kiranya memberkati pelayanan kita di segala bidang kehidupan. Dan wartakanlah kebenaran Alkitab selagi masih ada kesempatan.

Selamat berpikir, dan selamat beragama secara dewasa.

Salam Bae!

Sumber gambar: https://unsplash.com/s/photos/follow-to-jesus

ANTARA HIKMAT DAN IMAN: Refleksi Mazmur 107:43 dan Ibrani 11:1

woman in gray top sitting on a building's edge

Kehidupan manusia ditandai dengan dua hal yaitu menilai segala sesuatu dan melakukan segala sesuatu. Seringkali, apa yang dinilai tidak dilakukan. Apa yang dilakukan manusia bukanlah berdasarkan penilaian bahwa hal itu benar. Pengabaian semacam ini telah menggejala di kalangan Kristen, baik para pendeta, majelis, maupun jemaat. Akibat dari lemahnya hikmat dan iman, orang Kristen terjebak (atau terjerumus) ke dalam kubangan dosa. Anehnya, ada yang senang berenang dalam kubangan tersebut tanpa memikirkan bagaimana mencari cara atau jalan keluar dari kubangan dosa.

Ada satu kisah, di mana seorang gadis disukai oleh dua orang pria. Pria yang pertama memang berpacaran dengan gadis tersebut. Namun, karena alasan bahwa sang gadis sering disakiti, maka ia memutuskan hubungan dengannya dan beralih ke pria lainnya. Pria kedua lebih perhatian dan “cool”. Sang gadis sangat jatuh cinta dengannya. Akan tetapi, pria pertama cemburu dan adu mulut dengan sang gadis. Sang gadis bersikeras untuk tidak lagi menjalin hubungan dengan pria tersebut. Akibatnya, sang pria memutuskan bahwa jika ia tidak mendapatkan cinta sang gadis, maka tak seorang pun dapat memiliki sang gadis. Akhirnya, sang pria mencekik mantan pacarnya sampai mati.

Dari kisah di atas, sang pria memiliki penilaian terhadap kasus yang menimpanya. Namun ia melakukan sesuatu di luar kontrolnya karena tergores oleh emosi yang sangat tinggi. Maklum, sang gadis adalah wanita yang sangat dicintainya. Lalu, mengapa ia membunuhnya padahal ia sangat cinta? Apakah orang lain tidak berhak mendapatkan cinta sang gadis jika hubungan mereka telah putus? Apakah sang gadis tidak berhak memutuskan hubungan mereka ketika sang pria selalu menyakitinya?

grayscale photography of a man standing in front of a Jesus graffiti

Jika kita analogikan kisah di atas dengan konteks hikmat dan iman, maka peran hikmat adalah melakukan berbagai pertimbangan. Hasil pertimbangan harus selaras dengan firman Tuhan. Ketika selaras maka di situlah peran iman untuk segera melakukannya atau mewujudkannya. Pertimbangan sang pria dalam kasus di atas bukanlah pertimbangan yang matang. Ia bersifat egois dengan anggapan bahwa dari pada sang gadis dinikmati oleh laki-laki lain lebih baik sang gadis dibunuh saja agar tak seorang pun dapat menikmatinya termasuk dirinya karena dirinya tidak mendapat kesempatan menikmati sang gadis dikarenakan sang gadis tidak lagi menyukainya.

Siapa yang berhikmat, pasti memegang sesuatu. Sesuatu itu adalah prinsip-prinsip Alkitab. Apa yang dipegang tentu haruslah dilakukan. Tidak hanya sekadar ada dalam genggaman tangan, tetapi harus dibagikan kepada semua orang. Itulah prinsip relasi antara hikmat dan iman. Seperti yang diungkapkan dalam Mazmur 107:43, “Siapa yang mempunyai hikmat? Biarlah ia berpegang pada semuanya ini, dan memperhatikan segala kemurahan TUHAN.” seseorang harus memegang segala sesuatu yang terkait dengan hikmat itu sendiri dan tak lupa pula, ia harus memperhatikan segala kemurahan Tuhan. Ketika telah memperhatikannya, maka bagikanlah kemurahan Tuhan kepada semua orang. Itulah iman.

HIKMAT: MEMEGANG SEGALA SESUATU

Dari teks Mazmur 107:43 di atas, maka saya mencatat beberapa hal yang dikaitkan dengan pegangan dari seorang yang berhikmat dalam konteks yang dibicarakan pemazmur.

Pertama, seorang berhikmat perlu menunjukkan sikap bersyukur kepada TUHAN karena kebaikan-Nya dan kasih setia-Nya yang ajaib dan tak berkesudahan. Ini adalah pegangan seumur hidup. Mereka yang diberikan hikmat oleh Tuhan haruslah tunduk dan taat pada aturan main-Nya. Dan pemazmur menegaskan bahwa yang menyatakan syukur kepada Tuhan adalah mereka yang ditebus TUHAN, yang ditebus-Nya dari kuasa yang menyesakkan. Jika demikian, setiap orang Kristen yang telah ditebus-Nya, “harus” bersyukur kepada Tuhan sebab Ia sangat baik dan tak tertandingi kebaikan-Nya. Jadi, pegangan pertama adalah “selalu mengucap syukur”. Ini adalah harga mati.

Kedua, seorang berhikmat perlu mempersembahkan korban syukur. Korban syukur di zaman Musa merujuk pada persembahan hewan yang dikurbankan. Namun, pemazmur kemudian merujuk kepada jiwa hancur hancur: “Korban sembelihan kepada Allah ialah jiwa yang hancur; hati yang patah dan remuk tidak akan Kaupandang hina, ya Allah (Mzm. 51:19), “sebab dipuaskan-Nya jiwa yang dahaga, dan jiwa yang lapar dikenyangkan-Nya dengan kebaikan” (Mzm. 107:9) dan “TUHAN adalah baik bagi orang yang berharap kepada-Nya, bagi jiwa yang mencari Dia (Rat. 3:25).

silhouette of person hand

Ketiga, seorang berhikmat perlu menceritakan pekerjaan-pekerjaan Tuhan dengan sorak-sorai! Tidak ada halangan yang berarti bagi mereka yang berhikmat untuk bersaksi dan menceritakan segala pekerjaan Tuhan. Apalagi cari menyampaikannya dengan sorak-sorai. Suatu situasi dan kondisi yang luar biasa menyenangkan dan menguatkan mereka yang mendengarnya. Di sini, penakanannya adalah “siapa yang hidup di dalam Tuhan, pasti memiliki pengalaman pribadi bersama-Nya. Dan itulah yang akan menjadi rujukan utama sebagai ‘isi’ dari kesaksian seseorang.” Di bagian lain Alkitab, juga memberikan rujukan yang sama mengenai “menceritakan tentang Tuhan dan kemuliaan-Nya.

Ceritakanlah kemuliaan-Nya di antara bangsa-bangsa dan perbuatan-perbuatan-Nya yang ajaib di antara segala suku bangsa (1 Taw. 16:24)

Ceritakanlah kemuliaan-Nya di antara bangsa-bangsa dan perbuatan-perbuatan yang ajaib di antara segala suku bangsa (Mzm. 96:3)

Keempat, seorang berhikmat perlu meninggikan dan memuji-muji Dia. Meninggikan Tuhan berarti “bersandar dan mengandalkan dia dalam segala hal.” Memuji-muji Tuhan berarti menyerahkan dan mengakui bahwa hanya Dialah yang patut disembah, diagungkan, disandarkan, dan diandalkan. Meninggikan dan memuji-muji Tuhan adalah buah dari pengalaman bersama Dia. Seperti kata pemazmur: “Dia yang memuaskan hasratmu dengan kebaikan sehingga masa mudamu menjadi baru seperti pada burung rajawali” (Mzm. 103:5). Kalau Tuhan telah memuaskan hasrat kita dengan kebaikan, bukanlah selayaknya kita meninggikan dan memuji-muji Dia?

Kelima, seorang berhikmat berarti memelihara dirinya dalam kebenaran. Kebenaran firman-Nya [Kitab Suci] adalah penuntun, penopang, penghibur, dan sumber kuasa dan kekuatan dalam menghadapi berbagai hal termasuk menghadapi kuasa kegelapan yang seringkali menyamar menjadi malaikat terang. Memelihara diri dalam kebenaran berarti seseorang selalu menggunakan hikmat dan imannya agar terhindar dan terjaga dari segala jenis goda dan cobaan.

person reading book while kneeling

Dari kelima hal di atas, iman menjadi salah satu di antaranya. Seorang beriman perlu menunjukkan sikap bersyukur kepada TUHAN karena kebaikan dan kasih setia-Nya yang ajaib dan tak berkesudahan; perlu mempersembahkan korban syukur yaitu jiwa yang hancur; hati yang patah dan remuk; menceritakan pekerjaan-pekerjaan Tuhan dengan sorak-sorai; meninggikan dan memuji-muji Dia; dan memelihara dirinya dalam kebenaran. Baik hikmat maupun iman, kedua haruslah seimbang dan selaras. Apa yang dirujuk oleh hikmat, itu pula yang dirujuk oleh iman.

Dalam catatan penulis Ibrani, iman diartikan sebagai: (1) dasar dari segala sesuatu yang kita harapkan; dan (2) bukti dari segala sesuatu yang tidak kita lihat. Sebagai “dasar dari segala sesuatu yang kita harapkan”, iman mengutarakan sebuah komitmen dan keyakinan serta kesabaran menanti kehendak Tuhan tergenapi di waktu kemudian. Berbicara mengenai harapan, pasti melibatkan sebuah “komitmen dan keyakinan serta kesabaran”. Sebagai “bukti dari segala sesuatu yang tidak kita lihat”, iman mengutarakan sebuah implikasi dari komitmen dan keyakinan serta kesabaran yang tertuang dalam bentuk nyata. Iman memang melihat hal-hal yang secara gambaran saja, yang kemudian terwujud dalam kenyataan. Dalam mempertahankan sebuah “komitmen dan keyakinan serta kesabaran” dibutuhkan hikmat yang tinggi dan mempertimbangkan segala sesuatu agar “komitmen dan keyakinan serta kesabaran” tidak luntur di telan waktu dan godaan.

Antara hikmat dan iman terdapat hubungan yang erat. Antara menilai dan melakukan terdapat titik temu yang kuat antara pertimbangan dan perbuatan. Ibarat seorang nelayan yang melihat pulau kecil. Ia harus mempertimbangkan [hikmat] bagaimana bisa tiba di pulau itu, dengan cara “melakukan [iman] apa yang dipertimbangkannya”. Jika hanya mendayung tanpa mempertimbangkan bagaimana caranya bisa tiba di pulau tersebut, pasti akan menemui jalan buntu. Dengan demikian, hikmat dan iman adalah dua dasar untuk mencapai satu tujuan.

Dalam bagian lain Alkitab, hikmat digambarkan sebagai berikut:

Pertama, mereka yang berhikmat adalah mereka yang takut [hormat dan patuh] pada Tuhan: “Permulaan hikmat adalah takut akan TUHAN, semua orang yang melakukannya berakal budi yang baik….” (Mzm. 111:10). Orang berhikmat berarti memiliki akal budi yang baik.

Kedua, mereka yang berhikmat adalah mereka yang berbahagia dan sejahtera: “Berbahagialah orang yang mendapat hikmat, orang yang memperoleh kepandaian. Jalannya adalah jalan penuh bahagia, segala jalannya sejahtera semata-mata. Ia menjadi pohon kehidupan bagi orang yang memegangnya, siapa yang berpegang padanya akan disebut berbahagia (Ams. 3:13, 17-18).

Ketiga, mereka yang berhikmat adalah mereka yang memiliki pengertian: “Di bibir orang berpengertian terdapat hikmat, tetapi pentung tersedia bagi punggung orang yang tidak berakal budi” (Ams. 10:13); “Hikmat tinggal di dalam hati orang yang berpengertian, tetapi tidak dikenal di dalam hati orang bebal” (Ams. 14:33)

Keempat, mereka yang berhikmat adalah mereka yang benar (melakukan dan mengatakan apa yang benar): “Mulut orang benar mengeluarkan hikmat, tetapi lidah bercabang akan dikerat” (Ams. 10:31).

Kelima, mereka yang berhikmat adalah mereka yang rendah hati: “Jikalau keangkuhan tiba, tiba juga cemooh, tetapi hikmat ada pada orang yang rendah hati” (Ams. 11:2)

Keenam, mereka yang berhikmat adalah mereka yang bersedia mendengarkan nasihat: “Keangkuhan hanya menimbulkan pertengkaran, tetapi mereka yang mendengarkan nasihat mempunyai hikmat” (Ams. 13:10).

Ketujuh, mereka yang berhikmat adalah mereka yang cerdik dan mengerti jalannnya sendiri (berdasarkan pertimbangan akal sehatnya): “Mengerti jalannya sendiri adalah hikmat orang cerdik, tetapi orang bebal ditipu oleh kebodohannya” (Ams. 14:8).

Lalu bagaimana dengan iman? Dalam kitab Ibrani pasal 11, peran dan fungsi (dampak) iman sangat beragam. Berikut saya mencatatnya di sini.

Pertama, mereka yang beriman adalah mereka yang bersaksi kepada sesama tentang kebaikan dan kemurahan Tuhan.

Kedua, mereka yang beriman adalah mereka yang mengerti bahwa alam semesta telah dijadikan oleh firman Allah, sehingga apa yang kita lihat telah terjadi dari apa yang tidak dapat kita lihat.

Ketiga, mereka yang beriman adalah mereka yang mempersembahkan kepada Allah korban yang lebih baik. Memberikan yang terbaik kepada Allah adalah ciri khas orang beriman. Ia tidak merasa rugi sekalipun.

Keempat, mereka yang beriman adalah mereka yang berkenan kepada Allah. Apa yang dilakukannya selaras (sesuai) dengan apa yang dikehendaki Allah.

Kelima, mereka yang beriman adalah mereka yang sungguh-sungguh mencari Dia.

Keenam, mereka yang beriman adalah mereka yang tidak hanya peduli pada diri sendiri melainkan peduli pada keluarganya.

Ketujuh, mereka yang beriman adalah mereka yang taat pada firman Tuhan.

Kedelapan, mereka yang beriman adalah mereka yang yakin akan pertolongan dan kepedulian Tuhan di mana pun mereka berada (tinggal).

Kesembilan, mereka yang beriman adalah mereka yang kuat menghadapi kesakitan dan penderitaan.

Kesepuluh, mereka yang beriman adalah mereka yang berani mati demi Tuhan dan memiliki keyakinan bahwa mereka akan bersama dengan Tuhan di dalam Kerajaan-Nya.

Kesebelas, mereka yang beriman adalah mereka yang taat kepada kehendak Allah.

Kedua belas, mereka yang beriman adalah mereka yang yakin akan masa depan sebab Tuhanlah yang menetapkan masa depan mereka.

Ketiga belas, mereka yang beriman adalah mereka yang berbuat baik meski berada dalam ambang kematian.

Keempat belas, mereka yang beriman adalah mereka yang berani menolak kenikmatan dosa.

Kelima belas, mereka yang beriman adalah mereka yang berani mengambil risiko.

Keenam belas, mereka yang beriman adalah mereka yang berjuang meski merasa lelah.

Ketujuh belas, mereka yang beriman adalah mereka yang berbuat baik kepada utusan-utusan [pelayan-pelayan] Tuhan.

Jadi, berdasarkan uraian tentang mereka yang berhikmat dan beriman, maka patutlah kita mempertimbangkan di mana posisi kita dan apa identitas kita. Kemudian kita berkomitmen untuk melakukan apa yang menjadi tanggung jawab sebagai orang berhikmat dan beriman. Dan ingat, dalam mempertimbangkan (berhikmat) segala sesuatu dan telah memutuskan mana yang sesuai dengan kehendak Tuhan, maka segeralah untuk melakukannya sebagai wujud nyata dari iman kita.

Salam Bae

Sumber gambar: https://unsplash.com/s/photos/follow-to-jesus

IKUTLAH  AKU: Refleksi Yohanes 21:15-19

Pendahuluan

Tema “Ikutlah Aku [Yesus]” sangatlah menarik. Alasannya, karena tema ini merupakan perwujudan totalitas iman kita kepada Yesus yang terlihat dari keseharian kita. Bagaimana mungkin seseorang mengatakan: “Aku percaya dan mengikut Yesus” dan di waktu yang bersamaan dia tidak melakukan apa yang diperintahkan Yesus?

Tema ini juga bisa menjadi “pertanyaan” dan “pernyataan”. Kita disuguhkan dengan pertanyaan: “Sudahkah kita mengikut Yesus secara benar?”, “Apakah kita masih mengikuti Yesus?”, dan “Bagaimana kita mempertahankan iman untuk tetap mengikut Yesus?” Kita dituntut untuk menyatakan iman: “Saya telah mengikut Yesus secara benar”, “Saya tetap mengikut Yesus dengan setia”, dan “Saya akan terus mempertahankan iman untuk mengikut Yesus dalam segala situasi, entah baik, entah buruk.

Baik pertanyaan dan pernyataan, keduanya sangat penting untuk terapkan (dilakukan) dalam kehidupan setiap hari. “Pertanyaan” diajukan untuk memotivasi kita melihat proses perjalanan iman dan pelayanan (pengabdian) kita kepada Allah. “Pernyataan” diajukan untuk menunjukkan komitmen dan konsistensi iman kita di hadapan Allah.

Kita pun yang hadir saat ini tentu adalah orang-orang yang “telah” mengikut Yesus. Kesaksian demi kesaksian dalam mengikut Yesus, telah menjadi berkat bagi orang lain. Suka duka mengikut Yesus dapat dilalui dengan penuh iman dan harap. Jatuh bangun dialami; berdoa, berpuasa, dan menangis di hadapan Allah juga dialami. Setiap orang memiliki pengalaman hidup bersama dengan Allah; tidak sama, tetapi semuanya mendapat kelepasan dan kebahagiaan dari Allah yang sama.

Makna dan Konteks “Ikutlah Yesus”

Setelah Yesus bertanya dan mengatakan sesuatu kepada Petrus tentang bagaimana Petrus akan mati dan memuliakan Tuhan, Yesus kemudian mengatakan: “Ikutlah Aku” (Yoh. 21:15-19). Konteks “Ikutlah Aku” telah dilakukan Yesus sebelumnya: “Mari, ikutlah Aku, dan kamu akan Kujadikan penjala manusia” (Mat. 4:19-22, Mrk 1:17, pemanggilan para murid: Simon, Andreas, Yakobus, dan Yohanes; Mat. 9:9, pemanggilan Matius; bdk. Mrk. 2:14; Luk. 5:27; pemanggilan Filipus, Yoh. 1:43).

Pemanggilan Yesus kepada murid-murid yang pertama bertujuan untuk melakukan transformasi sosial; dulunya Petrus dan kawan-kawan sebagai bekerja sebagai penjala ikan yang bisa dikonsumsi sendiri, keluarga, dan atau dijual secara terbatas kepada beberapa orang saja (kepada masyarakat mikro), “kini” mereka dipanggil Yesus mengikuti-Nya menjadi ‘penjala manusia’, yang mana mereka mendapat tugas yang lebih besar, lebih berat, dan lebih luas wilayahnya. Ini adalah sebuah kejutan bagi mereka dan sekaligus mengajar mereka untuk mentransformasi sosial dalam lingkup makro.

Jadi, mengikut Yesus selalu terkait dengan tugas untuk melakukan transformasi sosial yang bersifat makro—dan kita telah menjadi ‘penjala manusia’. Mengikut Yesus adalah sebuah “pilihan iman” yang bersifat optatif (harapan di masa depan).

Kita akan melihat signifikansi dari mengikut Yesus sebagaimana tema kita hari ini. Frasa “Ikutlah Aku [Yesus]” secara logis dapat diajukan beberapa pertanyaan mendasar: pertama, untuk apa mengikut Yesus?; kedua, apa pentingnya mengikut Yesus?; ketiga, tujuannya apa?; keempat, siapa Yesus yang harus diikuti? dan kelima, apa yang harus diikuti dari Yesus? Saya akan menjelaskan kelima pertanyaan di atas.

Pertama, untuk [alasan] apa mengikut Yesus? Sama seperti murid-murid Yesus yang pertama dipanggil, tanpa berpikir panjang, mereka langsung mengikut Yesus ketika Yesus menawarkan mereka untuk mengikuti-Nya. Mereka melihat pribadi Yesus sebagai pribadi yang dapat dipercaya. Alasan mengikut Yesus adalah karena Yesus “menyuguhkan sebuah kondisi yang lebih faktual, lebih besar, dan lebih bernilai transformatif”. Pilihan untuk mengikut Yesus bukan karena pekerjaan yang ditawarkan itu enak, nyaman, aman dan terkendali, bukan pekerjaan yang mudah, melainkan pekerjaan yang bernilai kekal: membawa orang lain kepada Yesus Kristus. Itu transformasi. Yang ditransformasikan (diubah) adalah kondisi spiritual dan humanitas sosial ke arah yang Tuhan kehendaki. Bukankah Tuhan menghendaki semua orang hidup dalam kehendak dan rencana-Nya?

Kedua, apa pentingnya mengikut Yesus? Mengikut Yesus akan mendapatkan/menerima “damai sejahtera” dari Dia [Yesus]—bukan dari dunia. Yesus mengatakan: “Damai sejahtera Kutinggalkan bagimu. Damai sejahtera-Ku Kuberikan kepadamu, dan apa yang Kuberikan tidak seperti yang diberikan oleh dunia kepadamu. Janganlah gelisah dan gentar hatimu” (Yoh. 14:27). Mengikut Yesus bukanlah tanpa hambatan, tantangan, aniaya, dan penderitaan. Selalu ada risiko ketika mengikut Yesus. Namun, kita perlu melihat jaminan yang ditegaskan Yesus kepada para murid-Nya yang dapat kita jadikan pegangan dalam mengikut Yesus: “Semuanya itu Kukatakan kepadamu, supaya kamu beroleh damai sejahtera dalam Aku. Dalam dunia kamu menderita penganiayaan, tetapi kuatkanlah hatimu, Aku telah mengalahkan dunia” (Yoh. 16:33).

Ketiga, tujuannya apa? Kita mendapatkan jaminan kelegaan (ketenangan), hidup kekal, dan makhota kehidupan. Kelegaan diberikan Yesus bagi siapa saja yang datang kepada-Nya (Mat. 11:28-29). Dalam Matius 19:29 (bdk. Mrk. 10:30; Luk. 18:29-30) Yesus menegaskan, mereka yang mengikut Dia akan menerima kembali seratus kali lipat dari apa yang mereka tinggalkan, dan akan memperoleh hidup yang kekal (bdk. Yoh. 3:16, 36; 5:24; 6:40, 47; 10:28 [“Aku memberikan hidup yang kekal”]; 17:3). Tujuan mengikut Yesus adalah mendapatkan sesuatu yang bersifat spiritual yang tertuang dalam sikap hidup sehari-hari, mewujudkan teladan iman, dan memancarkan kasih serta pengampunan dari Yesus kepada sesama kita. Untuk mencapai tujuan, ada proses yang harus ditempuh. Kesetiaan akan berbuahkan makhota kehidupan (bdk. Why. 2:10b). Menempuh perjalanan hidup yang panjang, membutuhkan bekal bagi tubuh kita, baik jasmani maupun rohani.

Keempat, siapa Yesus yang harus diikuti? Ketika kita memilih untuk mengikuti seseorang, kita pun—setidaknya sebagai gambaran awal—harus mengetahui “siapa dia” yang akan kita ikuti. Jika Yesus memanggil kita dan kita harus mengikuti-Nya, lalu siapakah Dia? Para penulis kitab-kitab Perjanjian Baru menyebutkan identitas Yesus (termasuk pengakuan Yesus sendiri): (1) Yesus adalah “roti [ke]hidup”[an] (Yoh. 6:35, 48, 51); (2) Yesus adalah “terang dunia” (Yoh. 8:12; 9:5); (3) Yesus adalah “pintu” (Yoh. 10:7, 9); (4) Yesus adalah “Gembala yang baik” (Yoh. 10:11, 14); (5) Yesus adalah “kebangkitan dan hidup” (Yoh. 11:25; (6) Yesus adalah “jalan, kebenaran, dan hidup” (Yoh. 14:6); (7) Yesus adalah “pokok anggur yang benar” (Yoh. 15:1; (8) Yesus adalah pemberi “air kehidupan” (Yoh. 4:10, 14); (9) Yesus adalah Tuhan dan Juruselamat umat manusia; dan masih banyak lagi yang dapat kita sebutkan tentang Yesus.

Kalau Yesus memanggil, segeralah terima panggilan-Nya dan jadilah pelayan-Nya. Mengikut Yesus bukan supaya berebut untuk menjadi yang terbesar, tetapi justru harus menjadi pelayan sesama: “Barangsiapa terbesar di antara kamu, hendaklah ia menjadi pelayanmu” (Mat. 23:11; Luk. 22:26, “…yang terbesar di antara kamu hendaklah menjadi sebagai yang paling muda dan pemimpin sebagai pelayan”).

Sampai di sini saya teringat dengan satu lagu yang diterjemahkan oleh Yamuger tahun 1979, yang berjudul “Yesus Memanggil” (Kidung Jemaat No. 355, Come to the Savior, George F. Root [1820-1895]). Syairnya berbunyi demikian:

(1) Yesus memanggil, “Mari seg’ra!”

Ikutlah jalan s’lamat baka;

jangan sesat dengar sabda-Nya,

“Hai marilah seg’ra!”

Refrein:

Sungguh, nanti kita ‘kan senang,

bebas dosa, hati pun tentr’am

bersama Yesus dalam terang

di rumah yang kekal

(2) Hai marilah, kecil dan besar,

biar hatimu girang benar.

Pilihlah Yesus – jangan gentar.

Hai mari datanglah!

(3) Jangan kaulupa, Ia serta;

p’rintah kasih-Nya patuhilah.

Mari dengar lembut suara-Nya,

“Anak-Ku, datanglah!”

religious concert performed by a band on stage

Kelima, apa yang harus diikuti dari Yesus? Kalau pada bagian keempat kita melihat identitas personal Yesus, kini kita melihat apa saja yang harus diikuti dari Yesus. Matius 11:29 menyebutkan: Yesus lemah lembut dan rendah hati. Dalam catatan Injil-Injil PB, Yesus menunjukkan kepedulian-Nya kepada semua golongan masyarakat, baik di kota maupun di desa. Ia peduli kepada mereka yang disingkirkan, mereka yang tidak dianggap dalam status sosial, mereka yang penyakitan, mereka yang miskin, mereka yang tidak diperhatikan oleh kelompok elit agama Yahudi, dan masih banyak lagi. Setidaknya, apa yang telah saya sebutkan tadi bisa menjadi poin penegasan bahwa mengikut Yesus sangatlah beruntung. Mungkin kita ingat akan sebuah lagu dari Nafiri Kemenangan (NK 46) “Untung Besar” (atau dalam terjemahan lainnya disebut “Besarlah Untungku” dalam NKB 197; syair dan lagu oleh J. Uktolseja/Tim Nyanyian GKI).

Ya, untungku besar kar’na Yesus milikku

Jiwaku bergemar dapat damai yang sungguh

Di tengah ribut k’ras, ombak dunia menderu

Hatiku tak gentar, kar’na Yesus sertaku

Benar, benar, ya untungku besar

Benar, benar, ya untungku besar

Benar, benar, ya untungku besar

Kar’na kudapat Yesus sungguh untung besar

Penutup

Ikutlah Yesus. Tetap setia kepada-Nya. Di tengah ribut dunia yang menderu, jangan gentar, sebab Yesus telah berjanji akan “menyertai kita senantiasa” sampai kepada akhir zaman.

Soli Deo Gloria

Salam Bae

Sumber gambar: https://unsplash.com/s/photos/follow-to-jesus

WARTAKAN KABAR DAMAI: Refleksi Markus 16:15

PENDAHULUAN

Kehidupan Kristen sifatnya aktif; sebuah kehidupan yang memiliki peran dalam berbagai aspek humanitas dan spiritualitas. Di samping itu, kehidupan yang aktif itu ditandai oleh tujuh aspek sebagai berikut: pertama, kehidupan yang memancarkan kasih yang tulus; kedua, kehidupan yang memberkati orang lain; ketiga, kehidupan yang menunjukkan kekukudusan; keempat, kehidupan yang menampakkan terang perbuatan; kelima, kehidupan yang menggarami situasi dan kondisi; keenam, kehidupan yang siap menderita; dan ketujuh, kehidupan yang mewartakan Injil (Kabar Baik).

Ketujuh aspek tersebut adalah ‘aktivitas’ iman Kristen. Layak tidaknya seseorang dalam melayani Tuhan dapat diukur oleh tujuh aspek tersebut. Ketujuh aspek itu adalah perintah Tuhan sendiri. Jadi, mau tidak mau, suka atau tidak suka, semuanya harus menjadi aktivitas iman dalam totalitas kehidupan orang percaya.

person's hand holding book page

Itulah sebabnya, mengapa tugas mengabarkan Injil menjadi suatu tugas yang signifikan. Yesus telah memberi perintah kepada para murid-Nya, dan kepada kita juga untuk: “Pergi, dan memberitakan Injil—Kabar Baik, kepada semua orang”. Baik Matius dan Markus mengumandangkan substansi yang sama dari kegiatan “pergi” yakni “memberitakan [mewartakan] Kabar Baik.

SUBSTANSI KABAR BAIK

Kabar Baik adalah kabar damai—di mana berita keselamatan yang dikerjakan Tuhan direalisasikan dalam sejarah inkarnasi Yesus Kristus. Perintah mewartakan Kabar Baik [damai] mencakup hal-hal substansial sebagaimana yang dicatat Markus:

Pertama, Kabaik Baik mengumandangkan “kebangkitan Yesus” (ay. 14).

Kedua, Kabar Baik mengumandangkan bahwa orang-orang harus percaya kepada Yesus sebagai Tuhan dan Juruselamat (ay. 16).

person holding black smartphone during night time

Ketiga, Kabar Baik mengumandangkan bahwa Yesus yang dipercaya itu memiliki kuasa yang tak terbatas, kuasa mengusir setan yang diberikan kepada orang-orang percaya; mereka yang mewartakan Kabar Baik tidak akan takut terhadap ancaman: memegang ular, minum racun maut, tidak akan mendapat celaka (ay. 17-18).

Kempat, Kabar Baik untuk menyertakan kepedulian terhadap orang-orang sakit (ay. 18).

Kelima, Kabar Baik mengumandangkan “kenaikan Yesus ke surga” (ay. 19) tanda bahwa Yesus yang menderita, disalibkan, dan mati, bukanlah peristiwa yang menindas iman Kristen melainkan merupakan kesatuan peristiwa yang tuntas di mana Yesus telah menyelesaikan kehendak Bapa untuk menebus serta mendamaikan manusia dengan diri-Nya.

silhouette of man and woman standing beside cross during sunset

Penjelasan ayat 15 berikut ini merupakan kesatuan perintah mewartakan Kabar Baik yang mencakup hal-hal substansial sebagaimana yang telah saya sebutkan di atas. Kata “pergilah” [πορευθέντες, poreuthentes] dari kata πορεύομαι [poreuomai], πορεύω [poreuō] adalah kata kerja partisip yang menjadi pendukung dari “pemberitaan Injil”. Kata “beritakanlah” [κηρύσσω, kērussō, to proclaim, preach, memproklamasikan, mengajarkan (Kabar Baik)] adalah kata kerja aoris aktif. Aoris adalah sebuah “tindakan yang terjadi pada masa lampau”. Ini mengacu kepada tindakan yang telah Yesus lakukan dan Ia menghendaki para murid melakukan hal yang sama. Perbuatan yang telah terjadi yakni “memberitakan Injil” sebagaimana yang telah Yesus lakukan, haruslah terus dilakukan secara ‘aktif’. Itulah hidup Kristen yang sesungguhnya sebagaimana telah saya sebutkan di awal. Yesus memberitakan Injil dari kota ke kota dan dari desa ke desa. Kita pun demikian.

white book page on black metal frame

WARTAKAN KABAR DAMAI: KERJA IMAN, KERJA NYATA

Mewartakan kabar damai sebagai bagian dari tugas pekabaran Injil adalah wujud dari kerja nyata berdasarkan iman. Di sinilah perpaduan dan konfirmasi bahwa iman dan perbuatan sama-sama direalisasikan. Perbuatan mengabarkan Injil adalah konsekuensi dari iman; iman yang ada haruslah diwujudnyatakan dalam kerja nyata, aktif bersaksi, dan memberitakan Injil dengan berbagai cara. Kerja iman adalah kesadaran diri untuk melakukan apa yang diimani. Itu berarti, seorang Kristen telah melakukan kerja nyata sebagai bagian signifikan dari kehidupan Kristen yang aktif.

Tak ada cukup alasan untuk menolak keaktifan kehidupan Kristen. Seperti yang ditegaskan Rasul Paulus kepada Timotius bahwa, “Beritakanlah firman, siap sedialah baik atau tidak baik waktunya, nyatakanlah apa yang salah, tegorlah dan nasihatilah dengan segala kesabaran dan pengajaran” (2 Tim. 4:2). Apa yang ditegaskan Rasul Paulus mengikuti prinsip Yesus Kristus: “pergi dan mengabarkan Kabar Baik”.

Mewartakan Kabar Baik adalah sebuah tugas mulia sebab kita adalah Lux Mundi [Terang Dunia] (Mat. 5:14, 16). Mewartakan Kabar Baik adalah tugas mulia di mana kita perlu membagikan cinta kasih Tuhan yang telah kita alami kepada sesama, sebagaimana yang ditegaskan Yesus: “pohon yang baik menghasilkan buah yang baik”. Pohon yang baik memberikan buah tanpa memandang bulu; tak peduli siapa yang lewat atau melihat buahnya; tetap berproses untuk menghasilkan buah; memberikan buah yang baik dan membagikan hasil tanpa merasa rugi atau tersakiti. Berbagi Injil tidak menyakiti kita, tetapi justru memberikan sukacita dan kebahagiaan. Itulah kehidupan Kristen yang aktif.

black microphone on book page

PENUTUP

Beberapa hal yang perlu kita pahami dari penjelasan di atas adalah sebagai berikut:

Pertama, kehidupan Kristen adalah kehidupan yang aktif; kehidupan yang memiliki peran dalam berbagai sendi kehidupan. Karena itu wartakanlah Kabar Baik kepada manusia.

Kedua, perintah Yesus untuk pergi dan memberitakan Injil adalah perintah aktif dan merupakan teladan Yesus yang diwariskan kepada para murid. Yesus sendiri telah melakukan pekabaran Injil semasa pelayanannya.

Ketiga, perintah mewartakan Kabar Baik [damai] mencakup hal-hal substansial: kebangkitan, percaya kepada Yesus, Yesus yang berkuasa dan memberi kuasa kepada orang percaya, kepedulian terhadap sesama, dan kenaikan Yesus ke surga.

Keempat, mewartakan kabar damai adalah wujud dari kerja nyata berdasarkan iman. Ini adalah perpaduan dan konfirmasi bahwa iman dan perbuatan sama-sama direalisasikan.

Salam Bae

Sumber gambar: https://unsplash.com/s/photos/gospel

AKU DAN TUHAN: Cristianismo é um Acontecimento

“Cristianismo é um acontecimento – Kekristenan adalah sebuah peristiwa”

Manusia pada umumnya memiliki sikap relasional. Segala sesuatu dapat direlasikan dengan sesuatu yang lain. Manusia tak bisa tidak harus membuat dirinya terkoneksi dengan yang lain, entah benda, waktu, kesempatan, materi, dan pikiran. Imajinasi dan proses berpikir seringkali membentuk hidup manusia menjadi sesuatu yang berarti, bertumbuh, yang merusak, mengganggu, kejam, brutal, dan lain sebagainya.

Dalam setiap kasus atau kejadian yang terjadi, bisa dikatakan bahwa manusia langsung mengaitkannya (menghubungkannya) dengan sesuatu yang lain. Cara ini menjadi sebuah habit permanen di sepanjang sejarah. Dalam konteks agama pun demikian. Ketika kita—orang yang percaya kepada Tuhan—mengalami suatu kejadian, maka kita langsung merelasikannya dengan Tuhan.

Bahkan lebih dari itu, ketika ada musuh yang menghina kita, lalu ia mengalami kejadian buruk, maka kita langsung mengatakan: “Itu karena ia menghina saya”. Lebih buruknya lagi, ketika kasus bom bunuh diri di beberapa gereja yang mengakibatkan banyak orang mati, serentak semua kaum beragama berkomentar. Ada yang senang, dan ada yang sedih. Ada yang pura-pura simpati dan lain sebagainya.

“Aku dan Tuhan” seolah-olah menjadi kekuatan logika untuk membenarkan segala perbuatan keji yang membunuh banyak orang—dan orang-orang tertentu bangga bahwa “Tuhan”-nya membalaskan dendam pribadinya atau dendam agamanya. Kita senang jika agama di luar kita mengalami sengsara, dan bahkan mensyukurinya. Sikap arogansi beragama menjadi sesuatu yang melekat dalam diri orang-orang munafik dan sombong rohani. Mereka ibarat binatang buas yang kelaparan.

Propaganda-propaganda agama dan ayat-ayat kitab suci yang menjadi “jualan kecap” marak terjadi. Berbagai ujaran kebencian yang membabi buta menghiasi ladang kehidupan beragama. Ada yang senang dengan mengucapkan ujaran kebencian dan penghinaan, dan ada yang marah karena dianggap bisa merusak relasi humanitas.

“Aku dan Tuhan” adalah sikap pribadi yang ingin menjadikan diri kita baik terhadap diri kita dan terhadap sesama. “Aku dan Tuhan” bisa juga berpotensi untuk menjadi sombong rohani dan kaku dalam keyakinan dogmatis. Sikap balas dendam dan mengajak perang bisa terjadi di sekitar kita dengan berbagai alasan. Agama menjadi senjata untuk membunuh, menyalahkan, menghina dan mencaci maki. Hal itu dapat dianggap benar bagi mereka yang pikirannya dibutakan oleh “ilah” zaman ini; ya, “ilah” yang mendorong manusia menjadi jahat.

Pula, “Aku dan Tuhan” berpotensi menciptakan kedamaian dan kesejukkan hidup dan relasi keagamaan. Siapa pun kita dapat memiliki pemikiran untuk menciptakan segala sesuatu, entah baik, entah buruk. Pada prinsipnya, “Aku dan Tuhan” merupakan keputusan iman (keyakinan) dan keputusan pikiran (pemahaman) akan “hidup dan Tuhan”. Hidup, selalu melibatkan relasi humanitas, dan Tuhan, selalu diyakini sebagai Penolong, Pembebas, Penghibur, Penyayang, dan Pembalas.

Kekristenan hadir di dunia untuk memberikan pemikiran dan pemahaman yang baru. Dua senjata yang mematikan dosa dan kesombongan adalah: KASIH dan KUASA TUHAN. Dua senjata ini juga diberikan kepada mereka yang percaya kepada-Nya. Kekristenan kuat, tangguh, tak terkalahkan, karena ia menggunakan dua senjata ini di sepanjang sejarah – senjata pemberian Yesus Kristus (bdk. Matius 28:18-20).

KASIH, mengisahkan tentang pengurbanan Yesus Kristus di kayu salib, untuk menebus, mengampuni, membenarkan, mendamaikan, menguduskan, dan menyelamatkan manusia-manusia berdosa. Mengapa harus ditempuh dengan cara demikian? Hanya Allah yang tahu. Jika Allah sudah mengetahui bahwa tidak ada cara lain yang lebih mujarab (ampuh) untuk menyelamatkan manusia-mansia berdosa, maka tentu tidak ada cara lain yang muncul dalam sejarah selain dari pada cara pengurbanan Yesus Kristus di kayu salib. Ingat, Allah Mahatahu; Ia tahu masa depan manusia. Kita manusia yang terbatas dan tidak tahu masa depan kita.

Bukankah manusia berdosa kepada Allah? Jika demikian, bukankah Allah berhak menentukan bagaimana cara untuk menebus manusia? Lalu mengapa Allah harus menggunakan cara salib yang mengerikan? Bukankah bertolak belakang antara cara Allah untuk mendamaikan manusia dengan diri-Nya melalui Kristus tapi dengan cara penyaliban yang sadis? Sama sekali tidak. Tentu Allah juga bisa bertanya kepada kita: “Apakah ada cara lain untuk mendamaikan manusia yang berdosa dengan diri Allah?” Dan kita mungkin menjawab: “Ada”. Persoalannya adalah bukan Allah yang berhutang kepada kita, melainkan kitalah yang berhutang kepada Allah. Jadi, Allah berdaulat menentukan bagaimana cara-Nya menebus manusia.

Itulah KASIH Allah yang besar yang diberikan kepada kita (Yoh. 3:16), dan KASIH itulah yang menjadi sarana persebaran Kristen di seluruh dunia hingga sekarang ini. Di pihak Allah, KASIH adalah supremasi dari pengampunan, penebusan, pembenaran, pendamaian, pengudusan, dan penyelamatan manusia berdosa. Di pihak orang percaya, KASIH adalah supremasi dari sikap hidup berelasi dengan sesama, mengampuni sesama yang telah berbuat jahat kepada mereka, mewartakan bahwa YESUS KRISTUS adalah wujud KASIH Bapa yang mengasihi dan menyelamatkan kita yang berdosa. KASIH itulah yang tak bisa dirobohkan oleh apa pun. Ingatlah perkataan Rasul Paulus:

Siapakah yang akan memisahkan kita dari kasih Kristus? Penindasan atau kesesakan atau penganiayaan, atau kelaparan atau ketelanjangan, atau bahaya, atau pedang? Seperti ada tertulis: “Oleh karena Engkau kami ada dalam bahaya maut sepanjang hari, kami telah dianggap sebagai domba-domba sembelihan.” Tetapi dalam semuanya itu kita lebih dari pada orang-orang yang menang, oleh Dia yang telah mengasihi kita. Sebab aku yakin, bahwa baik maut, maupun hidup, baik malaikat-malaikat, maupun pemerintah-pemerintah, baik yang ada sekarang, maupun yang akan datang, atau kuasa-kuasa, baik yang di atas, maupun yang di bawah, ataupun sesuatu makhluk lain, tidak akan dapat memisahkan kita dari kasih Allah, yang ada dalam Kristus Yesus, Tuhan kita. (Roma 8:35-39)

Dunia bertahan karena ada KASIH Allah dan KASIH manusia-manusia yang percaya kepada-Nya, dan Kekristenan adalah Pelopor KASIH.

KUASA adalah senjata kedua yang dipakai Tuhan untuk menunjukkan bahwa Ia berkuasa, berdaulat, dan bertoritas atas hidup manusia. Orang Kristen yang mengalami penindasan, pembunuhan, pembantaian, dan penderitaan, tetap bertahan dalam iman mereka kepada Yesus Kristus. Mereka tak takut menghadapi kematian. Bagi mereka, KUASA Tuhan yang telah mengubahkan hidup mereka menjadi hidup yang berkenan kepada-Nya, lebih dari apapun juga.

KUASA Tuhan adalah pengubah hidup manusia. Seringkali Tuhan menunjukkan kuasa kepada mereka yang percaya, dan mereka selamat dari malapetaka dan kecelakaan. Bahkan dengan KUASA itu pula, orang-orang yang dulunya membenci Kekristenan, kita diubahkan oleh Tuhan.

Tuhan juga memperlengkapi orang percaya dengan KUASA-NYA. Pekabaran Injil dan perluasan ajaran-ajaran Yesus sangat cepat tersebar karena Tuhan seringkali menunjukkan KUASA-Nya melalui orang-orang yang dipilih-Nya. Para pelayan Tuhan diberikan KUASA untuk mengadakan mukjizat dan menyembuhkan, serta kuasa-kuasa lainnya. Sampai sekarang KUASA itu tetap ada.

KASIH dan KUASA adalah alat di tangan Tuhan untuk mengubahkan dunia tanpa menggunakan kekerasan, perang, pembunuhan, intimidasi, dan lain sebagainya. Ketika ketika mengatakan bahwa kita adalah orang yang percaya kepada Tuhan, maka wujudkanlah KASIH dan KUASA itu dalam totalitas kehidupan. Tiada yang mustahil bagi Tuhan untuk mengubahkan orang-orang jahat dan sombong, melalui KASIH dan KUASA yang kita tunjukkan.

“Aku dan Tuhan” harus diwujudnyatakan dalam KASIH dan KUASA yang mengubahkan hidup sesama kita setelah kita diubahkan Tuhan.

Itu adalah “peristiwa” yang luar biasa, yang Tuhan nyatakan bagi kita, orang-orang yang percaya kepada-Nya. Kekristenan adalah [sebuah] peristiwa di mana Allah datang dan bermurah hati kepada manusia yang berdosa. Yesus Kristus adalah “Peristiwa” itu sendiri. Dia adalah Tuhan dan Juruselamat kita.

Benar, bahwa: “Cristianismo é um Acontecimento” – Kekristenan adalah sebuah peristiwa”. Nyatakanlah peristiwa itu kepada dunia. Pengalaman bersama Tuhan adalah bagian terpenting dalam hidup kita, juga sebuah peristiwa berharga. Jadilah pribadi yang tangguh, senantiasa bersandar pada-Nya dan nikmati setiap peristiwa bersama Kristus Yesus dalam rentang waktu yang dikaruniakan-Nya kepada kita.

Peristiwa-peristiwa dalam hidup kita tidak lepas dari campur tangan Tuhan untuk mendatangkan kebaikan bagi kita semua. Rasul Paulus menegaskan: “Kita tahu sekarang, bahwa Allah turut bekerja dalam segala sesuatu untuk mendatangkan kebaikan bagi mereka yang mengasihi Dia, yaitu bagi mereka yang terpanggil sesuai dengan rencana Allah. Sebab semua orang yang dipilih-Nya dari semula, mereka juga ditentukan-Nya dari semula untuk menjadi serupa dengan gambaran Anak-Nya, supaya Ia, Anak-Nya itu, menjadi yang sulung di antara banyak saudara. Dan mereka yang ditentukan-Nya dari semula, mereka itu juga dipanggil-Nya. Dan mereka yang dipanggil-Nya, mereka itu juga dibenarkan-Nya. Dan mereka yang dibenarkan-Nya, mereka itu juga dimuliakan-Nya (Roma 8:28-30).

Salam Bae…..

Sumber gambar: https://unsplash.com/s/photos/i-and-lord

Rancang situs seperti ini dengan WordPress.com
Mulai