Mereka yang pernah mempunyai “baju baru” di perayaan Natal tentu merasa senang, bahagia, dan sulit untuk diungkapkan. Ternyata, momen perayaan Natal tidak hanya berbicara soal pemahaman yang substansial: Allah di dalam daging [manusia] dalam kerangka penyelamatan, melainkan dapat diterjemahkan sampai kepada hal-hal kecil, misalnya mendapatkan hadiah “baju baru” dari orang-orang yang dikasihi, ataupun “baju baru” yang dibeli sendiri, pakai uang sendiri, bukan uang hasil korupsi.
Mendapatkan baju baru adalah impian hampir semua anak-anak Sekolah Minggu. Sukacita Natal rasanya tak lengkap jika tanpa mengenakan baju baru. Ditambah lagi dengan sepatu baru, kaos kaki baru, ikat pinggang baru. Sukacitanya makin memuncak dan kadang hanya dapat diterjemahkan dengan “air mata”. Rasa syukur bercampur senang adalah pengalaman menarik. Kita yang pernah mengalaminya, tentu berucap terima kasih kepada orangtua, paman, bibi, oma, opa, atau siapa saja yang berkenan membeli dan memberikan baju baru kepada kita. Singkatnya, sukacita Natal menjadi berkesan ketika kita mendapatkan sesuatu yang baru, termasuk baju baru.
Jika kita melihat pengalaman menarik soal mendapatkan baju baru dalam perayaan Natal, maka—menurut saya—ada dua hal yang sangat mendalam yang dapat kita maknai:
Pertama, Natal adalah “hadiah baru” bagi manusia berdosa, di mana Allah, dengan cara yang berbeda dari sebelumnya, menyatakan kekuasaan-Nya untuk menyelamatkan manusia dari dosa-dosa mereka. Ketika “hadiah baru” itu diberikan, seyogianya kita bersyukur dan berterima kasih kepada Allah. Kasih-Nya yang begitu besar—tak dapat kita ungkapkan—telah mengubah dunia; Allah mengubahnya dengan cara menaburkan damai sejahtera bagi keselamatan umat-Nya melalui Yesus Kristus, Anak Allah yang tunggal. Ia lahir sebagai manusia, dan itu adalah konsistensi logis bahwa Logos Allah menempati daging (manusia) dalam sejarah penyataan dan sejarah keselamatan.
Jika Natal adalah “hadiah baru” bagi manusia berdosa, maka kita selayaknya sadar bahwa kita terhilang, papa [miskin], dan bahkan lebih dari itu, kita adalah manusia celaka di hadapan Allah. Melihat kondisi ini, maka syukur kepada Allah yang mengaruniakan Anak-Nya yang tunggal, supaya setiap orang yang percaya kepada-Nya—yang digerakkan Roh Kudus untuk menerima hadiah baru itu—tidak binasa melainkan beroleh hidup yang kekal.
Kelahiran Sang Penebus: Yesus Kristus, menghadirkan damai sejahtera bagi dunia yang berdosa. Misteri Allah yang agung ini menjadi warisan iman bagi setiap zaman sampai akhir zaman. Sebagai Penebus, Yesus adalah Allah. Alkitab secara jelas mengungkapkan identitas ontologi-Nya. Allah menyelamatkan manusia melalui Firman-Nya. Ia berfirman dan menyatakan bahwa kehendak-Nya adalah “menyelamatkan manusia dari dosa-dosa mereka”. Di kemudian hari, Firman Allah itu mewujud menjadi “manusia”—masuk dalam sejarah dan “menjadi” manusia. Kekuasaan Allah tampak secara spektakuler di sini.
Natal adalah pertunjukkan kekuasaan Allah secara logis dan historis. Logis, karena Allah yang Mahakuasa itu mewujudkan kuasa-Nya melalui proses Logos yang kekal, bersama-sama dengan Allah, menjadi manusia. Jika kita mempercayai Allah sebagai Juruselamat, maka layaklah bagi kita untuk mengakui bahwa Yesus Kristus adalah Juruselamat dunia, karena Ia adalah Logos yang keluar dan datang [Yohanes 8:42] dari diri Allah yang kekal.
Itu sebabnya, Natal Yesus Kristus sangat tepat dikatakan sebagai “hadiah baru” bagi kita. Jika kita merasa senang dan bersukacita ketika menerima hadiah baju dari orang-orang yang mengasihi kita, masakan kita tidak bersukacita ketika menerima “hadiah baru” dari Allah? Rayakanlah Natal dengan rasa syukur, bukan dengan pesta pora atau hura-hura.
Kedua, sebagai “hadiah baru”, Natal Yesus Kristus juga menjadi momen di mana kita meninggalkan “manusia lama” yang berlumuran dosa, dan mengenakan “manusia baru”, yang telah dibarui oleh Allah. Jika kita merasakan kesenangan karena mengenakan baju baru, bukankah lebih lagi jika kita mengenakan manusia baru?
Natal tidak hanya sekadar seremoni belaka. Natal lebih dari itu. Bahkan Natal seharusnya menyentuh hal-hal substansial dalam hidup kita. Allah telah menyejarah dalam kehidupan manusia; Ia telah menunjukkan kasih-Nya yang begitu besar. Bukan saja Ia menyelamatkan kita, tetapi juga menyediakan tempat yang terindah, penuh bahagia, yaitu di dalam Kerajaan-Nya.
Kita dapat mengambil makna terdalam dari perasaan kita ketika menerima “baju baru”. Natal Yesus Kristus yang setiap tahun kita rayakan, adalah hadiah baru dari Allah. Meski kita—dalam proses mengikuti-Nya—memiliki banyak kelemahan dan dosa, tetapi Allah selalu memberikan waktu bagi kita untuk mengintrospeksi diri dan menjadi lebih baik dari sebelumnya.
Sudah sepantasnya bagi kita untuk “tahu diri” bahwa Allah telah menganugerahkan kehidupan melalui Yesus Kristus. “Tahu diri” itu tercermin dari sikap kita setiap hari, apalagi dalam momen menyambut perayaan Natal. Baju “manusia lama” harus dibuang (dilepaskan) dari tubuh kita, kemudian kita mengenakan baju “manusia baru”—hadiah dari Allah bagi mereka yang menerima dan percaya kepada Yesus Kristus sebagai Tuhan dan Juruselamat.
Sebagai Tuhan Ia berkuasa menyelamatkan, mengampuni, dan menebus kita dari dosa-dosa, dan sebagai Juruselamat Ia mengarahkan kita—melalui diri-Nya sendiri sebagai “Jalan, Kebenaran, dan Hidup—menuju kepada Bapa di surga.
Kebahagiaan tentu akan menghiasi dan mewarnai kehidupan manusia setiap hari ketika manusia menyadari bahwa dalam kondisinya yang berdosa, manusia masih mendapatkan “hadiah baru” dari Allah: Yesus Kristus, yang mengarahkan dan menyadarkan kita untuk menanggalkan baju manusia lama, serta mengenakan baju manusia baru seperti yang dikehendaki-Nya.
Natal dan baju baru memberikan kita pemahaman bahwa ada sukacita yang tak terkirakan. Tetapi tidak berhenti sampai di situ: dalam konteks Natal, kita harus melihat dalam ketidakmampuan untuk keluar dari masalah dosa, dan ketidakmampuan kita untuk dapat menyelamatkan diri dari murka Allah, hanya dapat dilakukan dan dipenuhi oleh YESUS KRISTUS.
Ia telah lahir bagi kita, umat-Nya. Ia mau, kita hidup di dalam kasih-Nya dan menghasilkan buah-buah pertobatan, kita dapat menjadi saksi bagi-Nya dan mewartakan bahwa “kasih Allah telah mengubahkan dunia [manusia] melalui Natal Yesus Kristus, mengarahkan dunia kepada kehidupan yang kekal, karena hanya Dialah yang mengakui sebagai “JALAN, KEBENARAN, dan HIDUP”. Itulah arti hakiki dari Logos menjadi daging: Logos Allah menjadi penunjuk jalan menuju kepada Allah Bapa, yang dari-Nya Logos itu berasal (bdk. Yoh. 14:6).
Ketika kita percaya kepada-Nya, maka hidup kita diubahkan; kita dimampukan-Nya untuk saling mengampuni, dan saling mengasihi, sebab Allah telah lebih dahulu mengasihi kita.
Dalam pandangan Kristen, berbuat baik didasarkan pada kasih. Menjadi sahabat bagi orang lain, dan bahkan bagi semua orang hanya dapat dilakukan oleh mereka yang memiliki kasih yang tulus. Konsep ini adalah dasar dari perilaku Kristen, yaitu mereka yang percaya kepada Yesus Kristus. Tidak ada seorang Kristen yang benar-benar percaya kepada Yesus, kemudian melakukan hal-hal yang bertentangan dengan kehendak-Nya. Seorang Kristen sejati adalah pribadi yang memiliki kasih di dalam Yesus Kristus. Ini prinsip yang sangat mendasar.
Kasih yang dimiliki oleh seorang Kristen tidak bisa dipendam dan disimpan begitu saja. Kasih itu sifatnya “keluar dari sumber”. Jika demikian, untuk hidup sebagai orang Kristen sejati, maka kita harus hidup “MENJADI SEBAGAI SAHABAT BAGI SEMUA ORANG”. Ini sangat menarik. Ternyata untuk hidup menjadi “sahabat bagi semua orang” tidaklah mudah. Kita seringkali disalahpahami, dicaci maki, dihina, direndahkan, padahal niat kita tulus untuk menjadi sahabat bagi sesama. Risiko ini harus diterima. Tetapi bukan berarti kita berhenti menjadi sahabat bagi orang lain, melainkan semakin menunjukkan kasih dan terlebih menjadi berkat bagi semua orang.
Tema “MENJADI SAHABAT BAGI SEMUA ORANG” adalah sebuah konsep etika dan iman yang disatukan menjadi sebuah prinsip hidup yang penuh kasih. Dalam teks Yohanes 15:9, Yesus menegaskan bahwa “Seperti Bapa telah mengasihi Aku, demikianlah juga Aku telah mengasihi kamu; tinggallah di dalam kasih-Ku itu.” Penegasan Yesus yang pertama adalah bahwa para murid (dan semua orang percaya) “harus” tinggal di dalam kasih Yesus.
Penegasan kedua adalah tentang “cara” untuk tinggal di dalam kasih Yesus. Bagaimana caranya? Yesus menegaskan: “Jikalau kamu menuruti perintah-Ku, kamu akan tinggal di dalam kasih-Ku, seperti Aku menuruti perintah Bapa-Ku dan tinggal di dalam kasih-Nya (ay. 10).
Penegasan ketiga adalah “saling mengasihi”. Mengasihi dapat dilakukan ketika orang percaya telah “hidup dan tinggal di dalam kasih Yesus” (ay. 12).
Penegasan keempat adalah pengorbanan karena kasih (ay. 13). Kasih sifatnya berkorban bagi yang lain. Mustahil mengasihi tanpa memberikan sesuatu dan kehilangan sesuatu. Kasih selalu “memberi” dan rela “kehilangan” karena di balik kehilangan, kita dapat “menerima kembali” dari Tuhan yang Mahakasih itu.
Penegasan kelima adalah “menjadi sahabat Yesus” (ay. 14-15). Kita yang menuruti perintah Yesus, tinggal di dalam kasih-Nya, pasti adalah “Sahabat” dari Yesus dan Yesus menjadi “Sahabat Sejati” kita. Ada kedekatan yang luar biasa ketika kita dijadikan sahabat oleh Yesus karena Ia sendiri yang melekatkan identitas baru kepada orang-orang yang percaya kepada-Nya, yaitu mereka melakukan perintah-perintah-Nya, dan tinggal di dalam kasih-Nya. Ini merupakan totalitas (kepenuhan) kehidupan orang-orang percaya.
Penegasan keenam adalah “menghasilkan buah” (ay. 16). Tidak hanya sampai pada kebahagiaan hidup dalam kasih Yesus, tinggal di dalam kasih-Nya, melalukan perintah-perintah-Nya, dan menjadi Sahabat-Nya, melainkan semua orang percaya harus menghasilkan buah. Hal ini secara substansial mengikuti apa yang telah dilakukan Yesus; Ia telah menghasilkan banyak buah melalui kata dan perbuatan-Nya. Dengan demikian, kita pun harus meneladani Kristus dalam hal berbuat baik, mengasihi, berkorban, menyatakan kebenaran, melawan kesesatan, dan peduli kepada sesama yang membutuhkan.
Penegasan ketujuh adalah konfirmasi kembali tentang mengasihi sesama (ay. 17). Konfirmasi untuk mengasihi satu dengan lainnya adalah wujud dari kepenuhan kasih ada di dalam diri seseorang. Mereka yang memiliki kasih, hidup dan tinggal di dalam kasih, akan merasa tanpa belenggu yang mengikatnya, tidak merasa sedih, tidak munafik, pada saat mereka menerapkan “kasih” kepada yang lain. Dengan demikian, menjadi sahabat Yesus berarti harus mengikuti apa yang diperintahkan-Nya yaitu: “SALING MENGASIHI”.
Untuk hidup sebagai sahabat bagi semua orang, penegasan-penegasan di atas menjadi pedoman-pedoman penting yang harus dipahami dan direalisasikan.
Melihat pada teks rujukan yaitu Yohanes 15:14-15 yang berbunyi: “Kamu adalah sahabat-Ku, jikalau kamu berbuat apa yang Kuperintahkan kepadamu. Aku tidak menyebut kamu lagi hamba, sebab hamba tidak tahu, apa yang diperbuat oleh tuannya, tetapi Aku menyebut kamu sahabat, karena Aku telah memberitahukan kepada kamu segala sesuatu yang telah Kudengar dari Bapa-Ku”, maka penegasan-penegasan di atas adalah konteks utuh dari tema “Menjadi Sahabat bagi Semua Orang”. Mereka yang hidup bersahabat dengan semua orang hanya dapat ditempuh dan dipenuhi ketika mereka tinggal dan hidup di dalam kasih Yesus, serta mengejawantahkan kasih itu “KELUAR” dari diri kita melalui perbuatan-perbuatan kasih.
Yang disebut “Sahabat Yesus” adalah mereka yang berbuat selaras dengan apa yang dikehendaki Yesus, yang mencakup mengasihi sesama, menjadikan mereka sebagai sahabat dalam perdamaian, sukacita, dan pengampunan. Menjadi sahabat haruslah memenuhi kriteria sebagai berikut:
MENGASIHI APA ADANYA
PEDULI DENGAN KEKURANGAN ORANG LAIN
MENGARAHKAN MEREKA KEPADA KEHIDUPAN YANG DIKEHENDAKI TUHAN
MENJADIKAN DIRI KITA TELADAN DALAM BERBUAT BAIK
MENJADIKAN TUHAN SAHABAT KITA
MENJADIKAN SESAMA SEBAGAI SAHABAT KITA
MEMBAWA DAMAI DI BUMI AGAR SEMUA MANUSIA DAPAT HIDUP BERDAMPINGAN, SALING MENGHARGAI MESKI BERBEDA SUKU, AGAMA, DAN RAS.
Kita adalah “sahabat” bagi sesama; kita adalah sahabat Yesus Kristus, dan Yesus Kristus bersahabat dengan kita karena kita telah hidup dalam kasih-Nya, tinggal di dalam kasih-Nya, serta melakukan apa yang dikehendaki-Nya.
Hidup saling mengasihi mencegah kerusakan di bumi, mencegah pertikaian, keburukan moralitas, kebusukan jatidiri dan kemunafikan, perpecahan, kejahatan, dan mencegah kesalahpahaman. Sebaliknya, hidup saling mengasihi satu dengan lainnya adalah bentuk upaya untuk mengarahkan diri kita dan sesama yang kita kasihi kepada jalan Tuhan yang peduh damai, kasih, dan pengampunan.
Hidup dengan cara menjadi sahabat bagi semua orang adalah upaya kita merealisasikan kasih Kristus kepada siapa saja. Tak ada batasan bagi kita untuk mengasihi; siapa pun harus dikasihi sebagaimana Yesus telah mengasihi kita semua.
Semoga di dalam momen Natal di tahun ini, kita menyadari bahwa ketika hidup kita terpisah dari kasih Allah, maka kita tak akan mampu mengasihi sesama kita, mengasihi musuh kita, dan tak akan mampu mengasihi mereka yang membenci dan mengutuk kita. Ketika kita hidup dan tinggal di dalam Allah maka kita pasti sanggup mengasihi siapa pun, dan sanggup menjadi sahabat bagi siapa pun juga.
Natal adalah di mana Allah menjadikan diri-Nya sebagai sahabat bagi dunia yang berdosa, kemudian Ia memulihkan manusia-manusia yang berdosa itu dengan kasih-Nya yang luar biasa hebatnya melalui inkarnasi Sang Logos Allah menjadi manusia. Itu sungguh luar biasa. Allah yang transenden (di luar segala kesanggupan manusia untuk memahami-Nya) kini menjadi imanen (berada di antara manusia). Yesus menyatakan Allah kepada manusia, mengajarkan kasih dan pengampunan. Ia adalah teladan kasih dan pengampunan.
Kita menjadi sahabat bagi sesama karena Yesus telah menjadikan diri-Nya sahabat bagi manusia yang berdosa dan Ia memulihkan mereka; jika demikian, kita yang menjadi sahabat bagi sesama kita, meski mereka memiliki berbagai kekurangan, maka kitalah yang harus menambahkan pada kekurangan mereka sehingga mereka hidup berkelimpahan, ya, berkelimpahan dalam segala kebaikan, kemurahan, kasih, sukacita, dan damai sejahtera.
Hiduplah dengan cara menjadi sahabat bagi semua orang karena Yesus telah menjadikan diri-Nya sebagai sahabat bagi semua orang dan memberikan diri-Nya sebagai kurban yang sempurna untuk menebus, mengampuni, dan menyelamatkan manusia dari dosa-dosa mereka. Yesus telah menjadikan kita sahabat-Nya dan kita menjadikan sesama kita sebagai sahabat kita—sahabat yang diikat dalam kasih dan pengampunan.
Dengan demikian, seyogianya Natal menyadarkan kita akan pentingnya kasih dan pengampunan ketika kita menjadi sahabat bagi sesama.
Dalam pemahaman mengenai “Allah menjadi [daging – sarks] manusia”, ternyata menghadirkan dan menghasilkan dua arus pemikiran yaitu: “Allah bisa dan menjadi manusia”, dan “Allah tak mungkin menjadi manusia.” Pada arus pertama diimani oleh mayoritas Kristen yang mengakui—berdasarkan kesaksian Kitab Suci—bahwa Yesus Kristus adalah Logos Allah yang kekal, bersama-sama dengan Allah, mencipta (Yoh. 1:1-3) dan kemudian menjadi daging [manusia] (Yoh. 1:14), dan hal itu adalah fakta sejarah. Pada arus yang kedua, sama sekali tidak ada bukti, hanya asumsi atau disebut dengan demarkasi negatif. Dasar berpikirnya bukan pada fakta “kekuasaan Allah” melainkan pada konsep negatifnya.
Di sini kita melihat bahwa segala sesuatu yang dipikirkan memiliki dua alasan utama:
Pertama, berpikir pada tataran faktual. Artinya hasil atau kesimpulan yang diambil berdasarkan pada fakta yang telah terjadi. Mengingat bahwa Allah menjadi manusia merupakan fakta yang telah terjadi, dan karena itu kita melihat wujud “kekuasaan Allah”, maka kesimpulan bahwa Kristen beriman kepada Yesus Kristus sebagai Allah, Tuhan, dan Juruselamat yang ajaib, adalah karena “memang demikian faktanya”.
Kedua, berpikir pada tataran konseptual. Artinya hasil atau kesimpulan yang diambil berdasarkan pada konsep negatifnya dan tidak didasarkan pada bukti apa pun. Tataran konsep sama sekali tidak akan memiliki bukti dan menemukan bukti apa pun mengenai Allah dapat menjadi manusia, karena memang dasar pijakannya sudah bernuansa negatif. Di sini, para negator sedang berpikir dalam boks (“think in the box”), atau dengan pengertian lain, “berpikir dalam ketiadaan fakta”. Negator “terkungkung” dalam absennya fakta. Maka, hasilnya adalah “tidak ada apa-apa yang dapat dibuktikan”.
Ketika berbicara Natal Yesus Kristus, maka pola berpikirnya dimulai dari fakta, lalu kita mundur untuk melihat ontologi Allah yang menjadi manusia itu. Allah dan Logos ada sejak kekek. Kekekalan Allah adalah kekekalan Logos. Ketika Logos menjadi manusia, Ia memberi diri-Nya dikenal, melampaui dari apa yang telah dilakukan sebelumnya. Konteks tersebut dapat diterima bukan karena konsep, melainkan karena fakta dan bukti tertulisnya.
Secara logis, orang Kristen menyembah Allah yang “penuh.” Artinya penyembahan itu melibatkan totalitas personal Allah: Bapa, Firman, dan Roh Kudus. Apakah ada umat yang ber-Tuhan, dan menyembah-Nya kemudian memisahkan Logos dan Roh-Nya yang kekal itu? Apakah konteks penyembahan menggunakan prinsip partisi logika? Apakah ketika seseorang menyembah Allah, ia sekaligus menyembah Firman Allah dan Roh Allah? Ataukah ia hanya menyembah Allah saja, dan mengabaikan Firman dan Roh-Nya?
Kristen tidak menyembah Allah hanya sebagai “nama” belaka. Memang, problem muncul—bagi mereka yang menolak Yesus sebagai Tuhan dan Allah yang Mahakuasa—karena mereka melihat pada natur kemanusiaan-Nya. Titik berangkat mereka “sudah dikunci hanya pada kemanusiaan Yesus” dan tidak melihat secara komprehensif natur ontologi Yesus: Logos sebelum berinkarnasi. Ketimpangan berpikir model demikian, sering terjadi dan bahkan dijadikan patokan oleh para negator yang menolak pra-eksistensi Yesus dan ke-Tuhanan-Nya.
Fakta telah membuktikan bahwa Allah benar-benar menunjukkan kemahakuasaan-Nya dengan menjadi daging—“ho Logos sarks egeneto”—sebab bagi Allah tidak ada yang mustahil. Demikianlah pernyataan malaikat Gabriel kepada Maria (Lukas 1:37). “Allah” yang ditolak untuk menjadi manusia adalah konsep berpikir dari mereka yang memiliki dasar pijakan non-faktual. Konsep ini berimplikasi pada dua kebodohan, yaitu “allah dijadikan terkurung dalam ketidakmampuannya sendiri untuk menyatakan kuasanya”, dan “manusia mengatur dan mengukur allah untuk tidak menjadi manusia berdasarkan ketidakmampuannya melihat kemahakuasaan allah.”
Ketika kita melihat dan memahami Natal sebagai Allah [yang] menjadi manusia, maka di situlah kita mengakui bahwa kemahakuasaan Allah, kehebatan, dan keajaiban Allah menjadi nyata dan faktual – tidak berhenti sampai di situ, pula dituliskan dalam Kitab Suci. Ini sangat otentik. Kita juga melihat peristiwa kelahiran dari seorang perawan yang bernama Maria. Ia mengandung dari kuasa Roh Kudus. Ini peristiwa ajaib. Peristiwa ajaib berimplikasi pada Logos yang ajaib. Allah konsisten dengan menunjukkan kekuatan kuasa-Nya.
Natal Yesus Kristus dalam terang fakta “Allah menjadi Manusia” memberikan ruang terbuka bagi kita untuk melihat tanpa batas kuasa dan kasih Allah bagi manusia berdosa. Kebenaran ini sangat koheren dengan bagaimana cara Allah menebus dan menyelamatkan umat-Nya dari dosa-dosa mereka di zaman Perjanjian Lama. Di zaman itu, Allah hadir dengan berbagai cara, baik melalui awan, atau melalui orang-orang pilihan-Nya (nabi, hakim-hakim, raja-raja, dan lainnya). Dan di zaman Perjanjian Baru—zaman di mana Allah mengutus Yesus Kristus sebagai Juruselamat satu-satunya: Firman-Nya sendiri—Allah memperlihatkan tiga kekuasaan-Nya sekaligus.
Pertama: Ia benar-benar mengasihi manusia “dengan” menjadi manusia (Yohanes 1:14).
Kedua, Ia diam [ἐσκήνωσεν – eskēnōsen: live, dwell (temporarily: tinggal, berdiam); literally live or camp in a tent; figuratively in the NT dwell, take up one’s residence, come to reside (among)] “dengan” [di antara] kita—“Imanuel” (Matius 1:23) yang ditandai dengan berdiamnya Logos dalam kandungan Maria secara ajaib.
Ketiga, kehamilan perawan Maria ditandai dengan turunnya Roh Kudus ke atas Maria dan kuasa Allah Yang Mahatinggi yang menaungi Maria (Lukas 1:31-35).
Dengan demikian, berdasarkan fakta historis tersebut—yang telah terdokumentasikan—kita percaya bahwa Natal sebagai fakta bahwa Allah menjadi manusia tidak hanya membuktikan tiga kekuasaan Allah sekaligus, tetapi juga kuasa Allah melalui Yesus Kristus yang “mengubah” manusia dan diwujudkan melalui enam fakta, yaitu: (1) menebus kita dari dosa-dosa kita (Markus 1:21; Galatia 3:13; 4:5; Ibrani 9:15; Matius 20:28; Markus 10:45; 1 Timotius 2:6), (2) menyelamatkan kita dari murka Allah (Kisah Para Rasul 4:12; Roma 5:9; Matius 1:21; Yohanes 3:17; 12:47; 1 Tesalonika 1:10; 1 Timotius 1:15; 2 Timotius 1:9; Ibrani 7:25), (3) mengampuni (Matius 9:6; Efesus 4:32; Kolose 2:13; 3:13; Matius 9:2; Markus 2:5; 1 Yohanes 2:12), (4) menguduskan (1 Korintus 1:30; Efesus 5:26; 1 Tesalonika 5:23; Titus 2:14; Ibrani 2:11; 13:12; 1 Korintus 6:11), (5) membenarkan (1 Korintus 1:30; 6:21; Roma 3:24; 5:9; 8:30; Galatia 2:16; Titus 3:7), dan (6) mendamaikan (Roma 3:25; 5:10).
Dari enam fakta di atas, semuanya dilakukan Allah oleh karena kasih-Nya: Ia mengasihi kita semua. Bersama Rasul Yohanes kita mengakui, bahwa: “Karena begitu besar kasih Allah akan dunia ini, sehingga Ia telah mengaruniakan Anak-Nya yang tunggal, supaya setiap orang yang percaya kepada-Nya tidak binasa, melainkan beroleh hidup yang kekal” (Yohanes 3:16).
Karena kasih-Nya, maka Allah menjadi manusia, diam [tinggal] di antara manusia, beserta dengan manusia, menunjukkan kasih, kuasa, dan kemurahan-Nya. Luar biasa bukan? Itulah makna Natal bahwa Allah Allah telah menjadi manusia dengan cara yang ajaib. Terpujilah Tuhan Yesus Kristus.
Berharap dapat menikmati kehidupan masa depan adalah impian dari mayoritas manusia. Setiap harapan yang dipikirkan dan dipahami, selalu berangkat dari kerinduan terdalam manusia untuk merasa bahagia, tanpa gangguan, ancaman, merasakan sukacita yang memuaskan dahaga dan problem hidup. Harapan itu terpatri dalam hati manusia, meski di satu sisi, manusia masih “memikir-mikir jalannya sendiri”. Apa yang terjadi di masa depan, masih merupakan misteri.
Mereka yang hidup “di dalam” Allah mengakui bahwa masa depan itu ada dan harapan itu tidak hilang. Allah menjamin semuanya. Tetapi, kadangkala harapan itu sirna ketika dosa merajai hati manusia. Atau barangkali harapan itu dapat diwujudkan meski harus melakukan dosa—menghalalkan perbuatan-perbuatan jahat agar memuluskan pencapaian harapan. Tentu, tidak berhenti sampai di situ. Ada konsekuensi yang harus terima manusia yang menghalalkan dosa untuk mencapai harapannya bagi kepuasan dan hasrat dirinya sendiri.
Masa depan boleh cerah dengan diperkuat oleh cara-cara yang kotor: merasa halal supaya terwujud harapan itu. Tetapi bagaimana dengan kesudahannya? Apakah masa depan cerah yang didapatkan dari penghalalan dosa, dapat jadikan pembenaran diri di hadapan Allah? Tentu tidak. Sebaliknya, Allah justru melawan mereka yang berbuat sesuatu dengan menghalalkan dosa.
Pada waktu yang telah ditetapkan-Nya, Allah menghadiahkan sesuatu yang “menjadi kenyataan” bagi mereka yang berharap dan bersandar pada-Nya. Itu adalah hadiah dari nubuatan-nubuatan dalam Perjanjian Lama. Yang pasti, hadiah itu tak akan mengecewakan, kecuali bagi mereka yang tamak, sombong, rakus, dan pelaku kejahatan. Apa yang Allah berikan selalu terkait dengan bagaimana Ia mendidik dan mengarahkan kita untuk melihat hidup sebagai anugerah, melihat bahwa tangan kasih-Nya selalu terulur menopang, menolong, dan menguatkan kita.
Masa depan memang misteri, tetapi bagi kita yang berharap dan bersandar pada-Nya, masa depan menjadi harapan yang mendatangkan sukacita karena kita tahu bahwa tangan Allah akan menopang, menolong, dan menguatkan kita untuk dapat menikmati masa depan itu sesuai dengan waktu yang Ia tentukan. Berbahagialah.
Dalam masa-masa sulit hidup manusia, tidak ada yang sesulit untuk bergumul dan keluar dari dosa. Bagi mereka yang menikmati dosa, keluar dari dosa itu bukan menjadi harapan, melainkan menjadi kehidupan yang mematikan di waktu mendatang. Mereka yang “suka” dengan dosa tentu tidak memikirkan bagaimana keluar dari dosa tersebut, melainkan terus memikirkan bagaimana dosa-dosa itu dirancang sedemikian rupa, sehingga tampak canggih, mengesankan, tetap terjaga kenikmatannya, dan kerahasiaannya.
Mereka yang membenci dosa—meski pernah berdosa—akan berupaya mencari jalan keluar untuk menemukan kehidupan di masa depan. Mereka menyadari bahwa upaya sendiri untuk keluar tak akan berbuahkan apa-apa. Sebaliknya, mereka membutuhkan Allah untuk menolong dan menguatkan mereka agar dapat keluar dari dosa.
Pertolongan dan kemampuan yang Allah berikan tampak dalam peristiwa sejarah umat-Nya. Ia selalu bertindak dengan kasih dan keadilan. Kasih-Nya menunjukkan bahwa Ia ingin mendidik dan mengarahkan umat-Nya untuk hidup benar dan kudus, sedangkan keadilan-Nya menunjukkan bahwa Ia menghukum mereka yang berdosa terhadap-Nya. Ia mengasihi orang berdosa tetap membenci dosa.
Dalam Perjanjian Lama, baik kasih dan keadialan terus diwujudkan Allah bagi umat-Nya. Sejarah telah memberikan pelajaran berharga bagi kita di masa kini. Kita memahami—pada akhirnya—bahwa mereka yang hidup berkenan kepada-Nya akan menikmati “masa depan” sebagaimana yang Ia janjikan.
Kisah penyataan kasih dan keadilan terus berlanjut, hingga tibalah waktunya bagi Allah untuk mengutus Anak-Nya, yang lahir dari seorang perempuan dan takluk kepada hukum Taurat. Ia diutus untuk menebus mereka, yang takluk kepada hukum Taurat, supaya kita diterima menjadi anak (Galatia 4:4-5). Di dalam Kristus kasih dan keadilan ditegakkan. Allah konsisten bertindak atas dasar kasih-Nya yang luar biasa dan secara simultan juga menyatakan keadilan-Nya pada berbagai konteks kehidupan manusia.
Masa depan yang Allah berikan kepada manusia berdosa dipenuhi di dalam Inkarnasi Sang Logos menjadi daging. Rasul Yohanes kemudian menulis: “Karena demikianlah Allah mengasihi isi dunia, sehingga dikaruniakan-Nya Anak-Nya yang tunggal itu, supaya barangsiapa yang percaya akan Dia jangan binasa, melainkan beroleh hidup yang kekal” (Yoh. 3:16, Terjemahan Lama); “Di dalam inilah kasih Allah itu sudah diberi nyata kepada kita, bahwa Allah sudah menyuruhkan anak-Nya yang tunggal ke dalam dunia ini, supaya dengan Dia itu kita boleh hidup” (1 Yoh. 4:9, Terjemahan Lama).
Masa depan manusia berdosa hanya ada pada Allah saja; dan Natal Yesus Kristus adalah salah satu cara untuk menjawab masa depan manusia yang berdosa. Matius mencatat perkataan malaikat Tuhan kepada Yusuf mengenai Maria: “Ia akan melahirkan anak laki-lakidan engkau akan menamakan Dia Yesus, karena Dialah yang akan menyelamatkan umat-Nya dari dosa mereka” (Matius 1:21).
Di kemudian hari, Rasul Paulus menegaskan fakta ini: “dan oleh kasih karunia telah dibenarkan dengan cuma-cuma karena penebusan dalam Kristus Yesus” (Roma 3:24); “Kristus Yesus telah ditentukan Allah menjadi jalan pendamaian karena iman dalam darah-Nya….” (Roma 3:25); “Akan tetapi Allah menunjukkan kasih-Nya kepada kita, oleh karena Kristus telah mati untuk kita, ketika kita masih berdosa” (Roma 5:8); “Sebab upah dosa ialah maut; tetapi karunia Allah ialah hidup yang kekal dalam Kristus Yesus, Tuhan kita” (Roma 6:23); “….Ia membenarkan dan menguduskan dan menebus kita” (1 Kor. 1:30); “Sebab Allah mendamaikan dunia dengan Diri-Nya oleh Kristus dengan tidak memperhitungkan pelanggaran mereka….” (2 Kor. 5:19); “Kristus telah menebus kita dari kutuk hukum Taurat dengan jalan menjadi kutuk karena kita….” (Galatia 3:13).
Dalam Natal Yesus Kristus ada masa depan, yaitu hidup yang kekal dalam di Kerajaan-Nya (Yoh. 3:16), menerima mahkota yang abadi (1 Kor. 9:25), mahkota kebenaran (2 Tim. 4:8), mahkota kehidupan (Yak. 1:12; Why. 2:10), mahkota kemuliaan (1 Ptr. 5:4). Natal membawa perubahan, pengampunan, penebusan, dan pendamaian. Perubahan itu hanya terjadi ketika Allah berkenan mengubah manusia berdosa menjadi manusia yang kudus, dan mereka yang telah dikuduskan harus menyatakan komitmennya untuk hidup bagi Dia.
Pengampunan itu dapat terjadi karena Allah menetapkan kasih-Nya kepada mereka yang berdosa untuk memberikan kehidupan lebih lanjut, baik di dunia maupun di dalam Kerajaan-Nya. Tanpa pengampunan, manusia “mati”; manusia akan bertindak sewenang-wenang, dan pada akhirnya binasa. Pengampunan Allah di dalam Kristus benar-benar mengubahkan hidup dan relasi kita dengan sesama.
Penebusan itu dapat terjadi karena Allah menghendaki agar manusia dapat menikmati sukacita dan kebahagiaan di dalam Kerajaan-Nya, yang didahului oleh kehidupan di dunia ini. Lihatlah, mereka yang telah ditebus Allah melalui Yesus Kristus, telah memperlihatkan kehidupan yang benar, kehidupan yang dewasa dan bersahabat dengan sesamanya, kehidupan yang damai dan selalu mengampuni, serta mengasihi orang lain, siapa pun itu.
Pendamaian itu dapat terjadi karena Allah berkehendak untuk memberikan kehidupan yang damai, penuh sukacita dan tinggal di dalam kasih-Nya. Manusia yang memusuhi Allah, yaitu dengan melawan perintah-perintah-Nya, tidak mengindahkan Allah, memilih jalannya sendiri dan bertindak sesuka hati. Dengan kondisi yang memusuhi Allah, maka Allah yang Mahamurah melalui Yesus Kristus, telah mendamaikan kita dengan-Nya (2 Kor. 5:19).
Cara Allah bekerja adalah tuntas dan total, termasuk memberikan solusi (jalan keluar) bagi manusia dari dosa-dosa. Manusia diberikan Allah lingkungan yang baru, yaitu komunitas orang percaya, dan juga pakaian baru, yaitu manusia baru, manusia yang telah dibarui di dalam Kristus Yesus.
Natal mengungkapkan secara total kasih dan keadilan Allah bagi manusia berdosa. Kita patut bersyukur. Dulunya kita adalah pelaku-pelaku kejahatan dan suka melanggar perintah-perintah Allah. Dulunya kita dengan sesuka hati melakukan apa yang kita inginkan meski nyatakan hal itu bertentangan dengan kehendak Allah. Dulunya kita senang melakukan dosa, baik dosa terbuka maupun tersembunyi. Kita menyimpan borok dosa, tetapi Allah melihatnya. Kita menipu diri kita; kita munafik; kita manusia celaka; kita telah mati karena dosa-dosa kita.
“Tetapi Allah yang kaya dengan rahmat, oleh karena kasih-Nya yang besar, yang dilimpahkan-Nya kepada kita, telah menghidupkan kita bersama-sama dengan Kristus, sekalipun kita telah mati oleh kesalahan-kesalahan kita – oleh kasih karunia kamu diselamatkan – dan di dalam Kristus Yesus Ia telah membangkitkan kita juga dan memberikan tempat bersama-sama dengan Dia di sorga, supaya pada masa yang akan datang Ia menunjukkan kepada kita kekayaan kasih karunia-Nya yang melimpah-limpah sesuai dengan kebaikan-Nya terhadap kita dalam Kristus Yesus. Sebab karena kasih karunia kamu diselamatkan oleh iman; itu bukan hasil usahamu, tetapi pemberian Allah, itu bukan hasil pekerjaanmu; jangan ada orang yang memegahkan diri. Karena kita ini buatan Allah, diciptakan dalam Kristus Yesus untuk melakukan pekerjaan baik, yang dipersiapkan Allah sebelumnya. Ia mau, supaya kita hidup di dalamnya” (Efesus 2:4-10).
Sudahkah kita menyadari kekayaan kasih karunia Allah di dalam Kristus Yesus? Sudahkah kita memahami keadilan Allah bagi manusia berdosa? Kita selayaknyalah dihukum, tetapi syukur kepada Allah yang telah menyelamatkan kita oleh Yesus Kristus.
Pada Allah ada masa depan, dan Natal Yesus Kristus adalah masa depan itu. Waktunya tepat: Allah menghadiahkan sesuatu kepada kita yang berdosa – hadiah itu telah menjadi kenyataan yang – Allah datang menjadi manusia. Sang Logos melawat dunia ciptaan-Nya. Dialah Yesus Kristus. Hadiah itu tak pernah mengecewakan, justru menghadirkan sukacita yang tak terkira.
Sejak Natal-Nya dan kemudian pelayanan-Nya, serta karya penebusan-Nya, Yesus Kristus menjadi tokoh sentral dalam seluruh pembahasan Perjanjian Baru. Konsep mengenai Kristologi menjadi sangat jelas dalam seluruh PB. Inkarnasi-Nya memberi pemahaman baru bahwa Allah datang dalam rupa manusia (Flp. 2:6 dst.) guna mendamaikan antara Allah dan manusia. Kristus menjadi pengantara-Nya. Berdasarkan apodeiktik (penjelasan, pemaparan), kesaksian, dan protestasi (pernyataan) Kitab Suci, Yesus Kristus adalah Allah, dan pra-eksistensi-Nya adalah kekal.
Untuk melihat keutamaan (suprematif) Yesus Kristus, kita perlu memahami beberapa bukti berikut ini.
PERTAMA: YESUS ADALAH GAMBAR ALLAH (KOLOSE 1:15)
Dalam teologi Paulus, dia mengakui bahwa Yesus adalah Anak Allah dalam pengertian prahistoris dan suprahistoris. Kristologi yang dielaborasikan secara sentripetal oleh Paulus mencakup banyak hal. Hal ini merupakan aposteriori dari Paulus secara pribadi dan merupakan destinasi yang paling sentral dalam Perjanjian Baru. John Drane mengatakan: Batu penjuru iman Paulus adalah pengalamannya sewaktu bertemu dengan Kristus yang bangkit itu … perjumpaan tersebut mengilhami Paulus untuk menyampaikan kepada orang lain berita hidup tentang Yesus, yang telah mengubah hidupnya secara begitu radikal … bahkan merupakan sumber pemikirannya sebagai seorang penginjil dan teolog Kristen. Ia bertobat secara intelektual, emosional dan spiritual (John Drane, Memahami Perjanjian Baru, 407-08).
Dalam kitab-kitabnya, Rasul Paulus mendeskripsikan mengenai totalitas karya Kristus yang menjadi manusia (inkarnasi-Nya), menderita, bangkit dan naik ke sorga dan memimpin semua umat-Nya yang rela mati bagi Dia (bdk. Gal. 4:4; Rm. 8:3; 2 Kor. 8:9; Flp. 2:6; Kol 1:15; Rm. 8:32).
Dari pemahaman Perjanjian Lama mengenai kata “gambar”, Anthony Andrew Hoekema, pendeta Calvinis, teolog, dan profesor teologi sistematika di Calvin Theological Seminary, menjelaskan bahwa kata yang diterjemahkan sebagai “gambar” adalah “tselem” (sedangkan kata yang diterjemahkan sebagai “rupa” adalah “demuth”). Kata “tselem”—ketika diterapkan kepada manusia—maka kata tersebut mengindikasikan bahwa manusia menggambarkan Allah; artinya manusia merupakan suatu representasi Allah (Hoekema, Manusia: Ciptaan menurut Gambar Allah, 17-18).
Pada konteks “gambar Allah” yang dikenakan pada Yesus, menurut Hoekema, “jika kita ingin mengetahui mengetahui seperti apa sebenarnya gambar Allah di dalam diri manusia, kita harus melihat pada Kristus. Ini berarti, apa yang sentral di dalam gambar Allah bukanlah rasio atau inteligensi melainkan kasih, karena di dalam kehidupan Kristus, tak ada yang lebih menonjol dibandingkan dengan kasih-Nya yang ajaib. Dengan kata lain, di dalam Kristus kita melihat dengan jelas apa yang tersembunyi di dalam Kejadian 1, yaitu seperti apakah seharusnya manusia sebagai gambar Allah yang sempurna” (Hoekema, Manusia: Ciptaan menurut Gambar Allah, 94).
Kata “gambar” dalam Perjanjian Baru digunakan katan “eikōn”, yang setara dengan kata Ibrani “tselem” (Hoekema). Kristus sebagai “gambar Allah yang tidak kelihatan” merujuk pada aspek substansial, dan bukan fisik. Allah tidak berwajah sama seperti wajah manusia. Manusia sebagai gambar Allah juga bukan merujuk pada aspek fisik, melainkan pada representasi Allah dalam hal kuasa (Kejadian 1:28), kehendak, dan otoritas, yang diberikan Allah kepada manusia.
Knox menjelaskan, bahwa “sebelum menjadi manusia. Kristus berada ‘dalam rupa Allah’ (Flp. 2:6a), yaitu ‘serupa dengan Allah’ (2:6b) – kedua istilah ini menyatakan perbedaan Kristus dari Allah (Theos) sekaligus menegaskan keilahian-Nya.” Kata yang digunakan di sini adalah “morphē”, yang menurut J. H. Moulton dan George Milligan, selalu merujuk kepada suatu bentuk atau rupa yang betul-betul dan sepenuhnya mengekspresikan keberadaan yang melandasinya (Knox, Paulus dan Diri, 62).
Aspek substansial dalam konteks “eikōn” Allah yang ada pada diri Yesus, adalah kuasa-Nya atas hidup manusia, atas maut, atas alam semesta (Yoh. 1:3; Kol. 1:16-17). Menurut Hoekema, ada hubungan antara inkarnasi Yesus dengan gambar Allah yang melekat pada diri-Nya, sehingga ia berkesimpulan bahwa “inkarnasi menegaskan doktrin gambar Allah” (Hoekema, 28-29). Konsep bahwa Kristus sebagai gambar Allah berhubungan dengan doktrin inkarnasi, juga dipahami oleh E. K. Simpson dan F. F. Bruce.
Hoekema menambahkan: “inti dari gambar Allah adalah apa yang menjadi inti di dalam kehidupan Kristus: kasih kepada Allah dan kasih kepada sesama. Jika benar bahwa Kristus secara sempurna menggambarkan Allah, maka inti dari gambar Allah pastilah kasih karena taka da manusia yang pernah mengasihi seperti Kristus mengasihi.” (Hoekema, 29).
Apa yang diungkapkan Hoekema di atas adalah perluasan pemahaman dari teks Yohanes 3:16, “Karena demikianlah Allah mengasihi isi dunia ini, sehingga dikaruniakan-Nya Anak-Nya yang tunggal itu, supaya barangsiapa yang percaya akan Dia jangan binasa, melainkan beroleh hidup yang kekal” (Terjemahan Lama). Kasih Allah menjadi dasar dari inkarnasi Logos, dan karena itu, sebagai gambar Allah, Yesus Kristus menyatakan kasih Allah untuk menebus, menyelamatkan, menguduskan, mendamaikan, dan membenarkan kita.
Dalam pemahaman J. Knox Chamblin, profesor Perjanjian Baru di Reformed Theological Seminary, Jackson, Mississipi, “kasih Allah merupakan dasar bagi rencana keselamatan-Nya. Kasih yang mula-mula terekspresikan dalam pra-pengetahuan Allah akan suatu umat, selanjutnya dinyatakan dalam penetapan mereka: ‘Dalam kasih Ia telah menentukan kita dari semula (mempredestinasikan kita)’” (Efesus 1:4-5) (Knox, 58). Singkatnya, “Allah menggenapkan rencana-Nya dan mewujudkan kasih-Nya melalui kebesaran kuasa-Nya yang tak terukur” (Efesus 1:19) (Knox, 59).
Masih dalam konteks “gambar Allah”, dalam Kolose 1:15-20, Paulus memulai dengan aksentuasi bahwa Kristus adalah “gambar Allah yang tidak kelihatan”. Ada beberapa bagian Alkitab yang menuliskan mengenai hal ini: Pertama: …Kristus, yang adalah gambaran Allah (2 Kor. 4:4); Kedua: Ia adalah gambar Allah yang tidak kelihatan (Kol. 1:5); dan Ketiga: …yang walaupun dalam rupa Allah tidak menganggap….(Flp. 2:6). Ketiga rumusan ini penting karena cara Paulus menyatakan kemuliaan ilahi Kristus sangat bermakna dan mencirikan Kristologinya. Dengan menyebut Kristus sebagai “gambar Allah”, Paulus menunjukkan bahwa kemuliaan Kristus adalah kemuliaan Allah sendiri, serta menjelaskan pra-eksistensi-Nya. Ayat-ayat di atas menunjukkan sampai sejauh mana Kristologi Paulus digarisbawahi oleh kemuliaan ilahi yang telah Kristus sandang dalam pra-eksistensi-Nya bersama Allah, sebelum Ia menyatakan diri untuk melakukan karya penebusan-Nya di kayu salib.
Di lain pihak, pemaparan kemuliaan ilahi Kristus ini memberikan petunjuk baru bagi karakter sejarah penebusan dari Kristologi Paulus. Salah satu sumber menyebutkan bahwa: sebutan Kristus sebagai “gambar Allah” jelas mengingatkan kita kepada Adam yang di Kejadian 1:27; 5:1 dst.; 9:6, disebut diciptakan “menurut gambar dan rupa Allah.” Saat Paulus menyebutkan Kristus sebagai “Adam kedua” (1 Kor. 15:45 dst.), ia menyebut Kristus sebagai “manusia kedua.” Tetapi dengan menyebut Kristus sebagai “gambar Allah”, setidaknya dalam Kolose 1:15 (dan Flp. 2:6), Paulus menyebut Kristus sebagai yang berpra-eksistensi dalam kemuliaan ilahi-Nya. Bahkan sebutan “gambar Allah” di sini bisa dipakai untuk menunjukkan bahwa Paulus bermaksud menjelaskan “relasi kekal antara Bapa dan Anak”.
Istilah Gambar Allah menekankan keilahian Yesus, walaupun kemanusiaan-Nya juga tampil ke depan dalam beberapa ayat surat-surat Paulus yang menggunakan istilah yang sama. Yesus memiliki Gambar Allah karena Ia sama dengan Allah dan memiliki natur ilahi secara penuh: “Sebab di dalam Dialah berdiam secara jasmaniah seluruh kepenuhan ke-Allahan” (Kolose 2:9), dan “…tidak menganggap kesetaraan dengan Allah itu sebagai milik yang harus dipertahankan….” (Filipi 2:6; bdk. Roma 9:5).
KEDUA: YESUS KRISTUS ADALAH “YANG SULUNG” (KOLOSE 1:15)
Donald Guthrie menjelaskan, arti kata “sulung”—prōtotokos—mesti dimengerti dalam arti “terutama” (Guthrie, 642). Artinya Kristus bukanlah diciptakan, karena ayat 16 justru meneguhkan bahwa “di dalam Dialah telah diciptakan segala sesuatu”. Frasa “yang sulung” menunjuk kepada dua hal: Keberadaan Kristus mendahului keberadaan ciptaan (ay. 17: “Ia adalah terlebih dahulu dari segala sesuatu”) dan Ia sebagai “Yang Sulung” (“firstborn”) adalah Tuhan dan ahli waris pertama dari segala sesuatu (ayat 16: “segala sesuatu diciptakan…untuk Dia”).
Frasa “yang sulung”, lebih utama dari segala yang diciptakan merujuk kepada Adam kedua, yaitu Yesus Kristus dengan mengacu pada pembandingannya dengan Adam pertama sebagai yang sulung dari ciptaan Allah (Adam lebih dahulu diciptakan, barulah Hawa, istrinya). Kaitan ini tidak hanya menunjukkan waktu penciptaan, tetapi ordo dan posisi, sehingga mengingatkan kita pada posisi Adam dibandingkan dengan semua ciptaan lain, karena ia diciptakan menurut gambar dan rupa Allah. Yang lebih penting, Paulus juga menyebut Adam kedua sebagai yang sulung. Aposisi (ungkapan penjelas) dari “yang sulung” (Yun. prototokos) adalah “yang ada sebelum” dan “yang lebih tinggi” (Sutanto, PBIK, 1068).
Nama ini [yang sulung] muncul dalam Kolose 1:18 ketika Kristus disebut sebagai yang sulung yang pertama bangkit dari antara orang mati (bdk. Rm. 8:29), di mana dalam kaitan dengan “gambar Allah”, Kristus sekali lagi disebut sebagai yang sulung di antara banyak saudara. Selain itu, kaitan antara Kristus sebagai yang sulung dan “gambar Allah”, dan kebangkitan-Nya dari antara orang mati, ini pula yang membuat Paulus mengontraskan Kristus sebagai manusia kedua, dengan Adam sebagai manusia pertama (1 Kor. 15:45). Jadi, menurut Ridderbos, dalam Kolose 1:15, Paulus sekali lagi mengenakan kategori “Adamitis” yang sama (“Gambar”, “Yang Sulung”; yang ia pakai untuk menjelaskan makna Kristus dalam “eskatologi”) untuk menjelaskan “protologi”-nya.
Kristus sebagai Gambar Allah, Yang Sulung, memang tidak semata-mata berasal dari lukisannya akan Kristus sebagai Adam kedua dalam 1 Korintus 15 dan Roma 5. Jika dalam 1 Korintus 15 dan Roma 5, Kristus adalah Adam yang akhir, yang dalam sejarah penebusan datang setelah Adam pertama, maka dalam Kolose 1:15, sebagai Yang Sulung Gambar Allah, Ia mendahului Adam pertama sehingga dalam pengertian ini, Adam pertama tidak bisa dilihat sebagai “gambaran” Kristus sebagaimana dalam Roma 5 dan 1 Korintus 15. Meski kita dapat memakai hal ini untuk mengatakan bahwa perepresentasian Kristus sebagai Adam bersifat rangkap dua tetapi dalam Kolose 1:15, tempat Kristus dalam ciptaan pertama jelas beranalogi dengan makna Kristus sebagai Adam kedua dalam ciptaan baru.
KETIGA: DI DALAM DIA, OLEH DIA DAN UNTUK DIA SEGALA SESUATU DICIPTAKAN (KOL. 1:16)
Di dalam Dia (en autoi) berarti: keberadaan segala sesuatu yang diciptakan hanya mungkin karena Yesus Kristus (itu juga berlaku bagi kuasa-kuasa yang tidak kelihatan). Segala sesuatu juga diciptakan oleh Yesus Kristus (di autou) dan untuk Dia (eis auton). Kedua istilah ini (oleh Dia dan untuk Dia), bersama-sama dengan istilah “di dalam Dia” menegaskan bahwa kuasa Kristus mencakup segala sesuatu (bdk. 1 Kor. 3:21-23 dan Roma 8:38-39).
Dalam pengertian ini, kita dapat menyebut Kolose 1:15-20 sebagai batu penjuru Kristologi Paulus; meski kita perlu menambahkan bahwa apa yang membuat Paulus menulis perikop ini, bukan spekulasi teologis, tetapi perhatian pastoralnya bagi jemaat dan usahanya menangkis ajaran yang menentang makna sejati dan keselamatan yang dinyatakan dalam Kristus (bdk. Ef. 3:18; Kol. 2:2-3). Yesus lebih unggul daripada segala kuasa yang ada, karena Dia sendiri tidak diciptakan. Asal-asal usul Kristus tidak dibicarakan. Dia ada sebagai Anak Allah dan mencerminkan dalam diri-Nya natur Allah Bapa.
Mengapa Yesus lebih unggul dari segala kuasa yang ada? Ada beberapa alasan yang mendasari-Nya:
(1) Dalam seluruh Kitab Suci, tidak pernah ada satu kuasa pun yang pernah mengalahkan kuasa Yesus.
(2) Iblis yang mencobai Ayub pada akhirnya harus mengakui ketaatan Ayub dan kuasa Allah atas hidup Ayub. Iblis juga kalah pada saat tindakan pencobaan yang dilakukannya kepada Yesus di padang gurun. Ia mundur dari Yesus.
(3) Kuasa maut dikalahkan oleh kebangkitan Yesus Kristus. Juga kuasa-kuasa manusia.
(4) Yesus menunjukkan kuasa-Nya kepada banyak orang, kepada para murid-Nya dan berlanjut kepada para rasul yang diutus-Nya. Tidak ada indikasi satupun mengenai kekalahan Yesus terhadap segala kuasa yang ada di dunia.
(5) Keunggulan Kristus dan kuasa-Nya dalam Kitab Suci telah cukup untuk menyatakan bahwa Ia adalah Allah yang kekal, berotoritas, berdaulat, berkehendak, berkuasa atau mati hidupnya manusia.
(6) Allah Tritunggal telah menyatakan segala kuasa dan kehendak-Nya atas seluruh ciptaann-Nya yang membungkamkan semua kemunafikan manusia. Di manakah manusia yang bisa melawan-Nya? jika ada, manusia pun jatuh (kalah) ke dalam jerat Iblis. Itu berarti manusia kalah terhadap Iblis. Jika Iblis kalah terhadap kuasa Allah, apalagi manusia, yang hanyalah debu?
(7) Seluruh keunggulan Kristus, sangat dijamin kebenarannya dalam Kitab Suci. Kitab Kolose telah menyatakan kepada kita.
Dari elaborasi di atas, kita dapat memahami karya Allah di dalam Yesus Kristus dan karya keselamatan yang telah dikerjakan-Nya dengan sempurna. Berkenaan dengan hal itu, kita tidak dapat memisahkan karya-Nya dengan keunggulan-Nya, kekuasaan-Nya atas segala sesuatu. Jika tidak, maka Ia bukanlah Allah yang sempurna. Dia yang menciptakan manusia dengan tujuan kekal-Nya, Dia pula yang menolong manusia dari keberdosaannya. Dialah yang memilih dan menyelamatkan kita dari segala kejahatan dosa, untuk menerima kehidupan kekal yang telah dijanjikan-Nya.
Paulus telah memberikan eksplikasi yang baik sehingga teologinya mengenai Kristologi juga merupakan egalisasi (penyelesaian) akhir dari segala keraguan manusia mengenai Kristus. Dengan demikian, keutamaan Kristus berawal—jika dipahami dari konteks inkarnasi-Nya—dari kelahiran-Nya, dan kemudian pelayanan serta karya-Nya.
Natal-Nya adalah awal keajaiban dan kekuasaan Allah atas manusia. Kedatangan Sang Logos ke dalam dunia memiliki tujuan yang sangat baik: menyelamatkan manusia. Peristiwa Natal Yesus Kristus adalah momen sejarah yang tidak hanya ajaib, tetapi juga spektakuler. Pengaruhnya begitu mendunia. Hal ini didahului oleh pujian bala tantara sorga kepada Allah:
“Kemuliaan bagi Allah di tempat yang mahatinggi, dan damai sejahtera di bumi di antara manusia yang berkenan kepada-Nya” (Lukas 2:14).
Tidak ada yang dapat mengalahkan damai sejahtera Allah bagi manusia di bumi ini. Jika bukan damai sejahtera Allah yang menguasai dan mempengaruhi bumi, pasti manusia akan mati dalam dosa. Yesus adalah DAMAI SEJAHTERA kita. Dialah JURUSELAMAT yang AJAIB, Gambar Allah yang sempurna, yang menyatakan Allah kepada manusia sekaligus menjadi Imanuel: Allah yang bersama-sama dengan manusia. Ia diam (eskēnōsen, menetap, tinggal dalam kemah) di antara kita. Bersyukurlah.
Selamat Menyambut Natal
Salam Bae.
Referensi:
Ridderbos, Herman, Paulus: Pemikiran Utama Theologinya (Surabaya: Momentum, 2008).
Mak, Dick, Sejarah Penyataan Allah PB I (Jakarta: SETIA, 2008).
Sutanto, Hasan, Perjanjian Baru Interlinear dan Konkordansi Perjanjian Baru.Jilid I (Jakarta: Lembaga Alkitab Indonesia, 2006).
Hoekema, Anthony, Manusia: Ciptaan Menurut Gambar Allah (Surabaya: Momentum, 2008).
Chamblin, J. Knox, Paulus dan Diri: Ajaran Rasuli bagi Keutuhan Pribadi (Surabaya: Momentum, 2011).
Guthrie, Donald, “Tafsiran Kolose”, terj. P. D. Latuihamallo dan P. S. Naipospos, dalam Tafsiran Alkitab Masa Kini 3. Matius-Wahyu (Jakarta: YKBK, 2012).
Persoalan terbesar manusia adalah dosa. Tak ada satu pun manusia yang terbebas dari dosa; tak ada satu pun manusia yang dapat menolak (menampik) dosa dan membebaskan dirinya dari dosa. Tak satupun manusia yang cukup kuat untuk bisa menyingkirkan dosa, baik dosa perbuatan, perkataan, maupun pikiran. Melihat kondisi ini, kita dapat mengajukan pertanyaan: “Jika manusia tidak mampu keluar dari masalah dosa, maka siapa yang dapat menyelamatkan mereka dan membawa mereka keluar dari dosa tersebut?
Kitab Suci menjelaskan fakta mengenai masalah ini, bahwa hanya Allah yang sanggup menyelesaikan masalah dosa manusia. Dengan begitu, kita melihat bahwa Allah telah membuktikan kuasa-Nya atas hidup manusia dengan membebaskannya dari belenggu dosa; manusia dimerdekakan, ditebus, diselamatkan, dan dikuduskan oleh-Nya. Hasil akhir dari itu semua adalah “kehidupan kekal” bersama Dia dalam Kerajaan-Nya.
Kita melihat bahwa apa yang dilakukan Tuhan Allah di dalam masa Perjanjian Lama mengenai fakta penebusan yang mengandung aspek penting, yaitu: kehidupan, darah, dan kematian, kini Ia lakukan juga di masa Perjanjian Baru, yaitu melalui Yesus Kristus—Logos Allah yang menjadi manusia. Di sini Allah memperlihatkan “cara” tertentu untuk menyatakan kuasa, kasih, dan kemurahan-Nya bagi manusia yang berdosa. Memang benar, di masa PL, Alah dengan setia menyatakan kuasa, kasih, dan kemurahan-Nya melalui tata cara penebusan bagi keselamatan umat-Nya, dan cara itulah yang dilakukannya melalui Yesus Kristus.
Keberdosaan manusia menjadikannya terpisah dari Allah, dan Yesus Kristus, dalam inkarnasi-Nya menjadi “mediator” antara Allah dan manusia. Tidak hanya itu, Ia menjadi “pendamai”. Manusia yang berdosa harus bertobat dan kembali kepada-Nya. Manusia harus hidup dalam kebenaran, yang berarti “menerima Yesus Kristus” sebagai Tuhan dan Juruselamat. Ia, yang adalah “Terang”, menerangi hati manusia untuk melihat kuasa, kasih, dan kemurahan-Nya.
Rasul Yohanes menyebutkan bahwa Sang Logos adalah Terang Surgawi yang “sedang datang, telah ada di dalam dunia, dan dunia dijadikan oleh-Nya” (Yohanes 1:9-10). Peristiwa inkarnasi Logos yang menempati (memasuki) “daging” manusia menjadi peristiwa besar yang kita sebut dengan “Natal”.
Terang Surgawi itu pasti menerangi. Itu adalah konsistensi logis dari ketetapan Allah. Ia menerangi kegelapan hidup (hati dan pikiran) manusia karena dosa-dosa. Ketika Sang Terang itu datang ke dunia, “dunia tidak mengenal-Nya” (ay. 10). Bahkan, lebih parahnya, “Ia datang kepada milik kepunyaan-Nya tetapi mereka tidak menerima-Nya” (ay. 11). Dunia—yang ditutupi dosa—tidak dapat melihat Terang itu, kecuali Terang itu datang dan menyapa mereka. Penolakan dunia atas Terang adalah fakta bahwa “kebenaran” dapat ditolak, di samping diterima dan diimani.
Natal yang kita rayakan adalah bukti bahwa kita “menerima” Dia—Yesus Kristus. Meski inkarnasi-Nya adalah sebuah misteri yang tak dapat dijangkau oleh akal manusia, kita tetap memilih menerima Dia; kita menerima-Nya juga adalah karena kuasa-Nya yang memampukan kita untuk memilih Dia menjadi Tuhan dan Juruselamat kita.
“Menerima atau menolak Dia” ada sebuah pilihan, tetapi ketika sebuah fakta yang sungguh meneguhkan iman, maka fakta itu jangan kita ditolak. Yesus—Firman menjadi daging (ho logos sarks egeneto)—adalah sebuah fakta dan sekaligus misteri. Allah memulai inkarnasi-Nya dengan menunjukkan kuasa-Nya: “Roh Kudus akan turun atasmu dan kuasa Allah Yang Mahatinggi akan menaungi engkau; sebab itu anak yang akan kaulahirkan itu akan disebut kudus, Anak Allah” (Lukas 1:35).
Jika Allah memulai inkarnasi Logos-Nya dengan penuh kuasa, apalagi yang kita ragukan? Sepanjang sejarah kekristenan, kuasa Allah begitu nyata. Tanpa itu, kekristenan telah lama lenyap. Allah konsisten menunjukkan kuasa-Nya, baik dalam sejarah di Perjanjian Lama, maupun pada peristiwa inkarnasi, sampai kepada kita sekarang ini. Ia adalah Tuhan yang berkuasa membawa manusia keluar dari dosa, keluar dari “kegelapan dunia”; sebagai Terang, Ia menerangi hati dan pikiran mereka untuk melihat kepada-Nya, Juruselamat itu.
Mengenal Dia adalah tuntutan untuk mendapatkan dan menerima terang dari-Nya. Dosa menjadi kendala dan penghambat utama, sehingga Terang itu ditolak. Baik yang menolak dan menerima Terang itu, ada konsekuensi yang terjadi. Menolak berarti binasa; menerima berarti menikmati kehidupan bersama-Nya di dalam Kerajaan-Nya. Rasul Yohanes (1:12) menyebutkan bahwa “mereka yang menerima-Nya diberi kuasa supaya menjadi anak-anak Allah, yaitu mereka yang percaya dalam nama-Nya.”
Percaya adalah dasar utama untuk menikmati kasih Tuhan. Menjadi anak-anak-Nya berarti mengikuti petunjuk dan perintah-Nya, tidak menyimpang dari kehendak-Nya. Ketika hati kita tertambat pada-Nya, maka segala sesuatu yang dilakukan, haruslah selaras dengan kehendak-Nya. Dia menyatakan bahwa Ia adalah Juruselamat yang berdaulat atas hidup manusia. Dia menggerakkan hati kita untuk menerima Dia, dan oleh sebab itu, kita harus berkomitmen “menerima Dia” sebagai Juruselamat yang mengarahkan hidup kita kepada kekudusan dan kebahagiaan.
Rasul Yohanes menunjukkan fakta mengenai inkarnasi Logos [Firman] yang “keluar” dari diri Allah dan “menjadi” daging [manusia] seperti yang dikehendaki-Nya. Itu adalah murni kuasa dan kedaulatan-Nya yang terkait dengan “historical of redemption”. Kedatangan Yesus ke dunia didasarkan pada kerinduan-Nya untuk memanggil manusia menerima anugerah keselamatan yang telah Ia tetapkan; Ia diam di antara kita; Ia benar-benar hadir dan menyapa manusia. Ia seutuhnya [plērōma] manusia, dan bukan setengah dewa.
Kita pun mengetahui bahwa peristiwa besar itu—inkarnasi Sang Firman—adalah fakta ontologi-Nya (Yoh. 1:15) yang telah ada sejak kekekalan, ada bersama-sama dengan Bapa (Yoh. 1:1), dan Ia juga adalah Pencipta (Yoh. 1:3), tetapi “menyatakan diri-Nya” dalam wujud manusia, datang kepada manusia, menebus, menyelamatkan, menguduskan, dan membenarkan manusia, agar mereka diterima dalam Kerajaan-Nya.
Yesus tidak menjadi pribadi yang setengah Ilahi dan setengah manusia. Ia benar-benar “penuh” menjadi pribadi manusia: lahir, bertumbuh, makan, minum, haus, dan sebagainya. Logos secara “penuh” [plērōma] menjadi seperti manusia. Rasul Paulus menekankan hal ini: “…telah mengosongkan diri-Nya sendiri, dan mengambil rupa seorang hamba, dan menjadi sama dengan manusia” (Flp. 2:7).
Dengan menjadi manusia, Yesus memberikan kasih karunia yang luar biasa kepada manusia. Rasul Yohanes (Yoh. 1:16) menegaskannya: “Karena dari kepenuhan-Nya [plērōmatos] kita semua telah menerima kasih karunia demi kasih karunia”. Tuhan menggunakan firman-Nya, para nabi, dan lainnya untuk menyatakan keselamatan; kini Ia menjadikan diri-Nya sendiri sebagai sarana penyampai kebenaran dan keselamatan. Kasih karunia datang oleh Firman-Nya, Yesus Kristus (Yoh. 1:17). Logos yang menjadi daging (manusia), menyatakan Bapa kepada kita (Yoh. 1:18), karena Logos keluar dari diri Bapa. Logikanya sederhana namun konsisten: Pikiran Allah merepresentasikan diri-Nya sendiri. Bahkan lebih dari itu, “menyatakan diri Allah sendiri”.
Kedatangan Sang Logos ke dalam dunia, selain menyatakan diri Allah, juga bertujuan untuk mengubah dunia (manusia). Inkarnasi Sang Logos, Terang Allah yang ajaib itu, menyatakan kemuliaan Bapa kepada manusia yang berdosa; kasih karunia yang diberikan-Nya, menjamin manusia dapat menikmati keselamatan itu dalam kehidupan (pelayanan dan kesaksian) di dunia dan di dalam Kerajaan-Nya kelak.
Janganlah kita menolak kasih karunia itu. Natal adalah kasih karunia Allah. Terimalah, dan pasti hidupmu akan mendapat ketenangan, kebahagiaan, keselamatan, dan kehidupan yang kekal (bdk. Yoh. 3:16). Terimalah Yesus Kristus yang telah lahir. Ia telah berbuat baik; Ia telah menyelamatkan kita, menebus dan menguduskan kita, Ia pula yang membenarkan kita; jika tidak, kita pasti sudah binasa. Tetapi syukur kepada Bapa. Ia telah mengaruniakan Anak-Nya yang tunggal, supaya setiap orang yang percaya kepada-Nya, tidak binasa, melainkan beroleh hidup yang kekal.
Natal yang telah dirayakan ribuan tahun, masihkah dapat mengubah diri kita? Masihkah kita menerima Natal sebagai sebuah kesadaran iman bahwa peristiwa tersebut sungguh ajaib dan luar biasa, tak dapat dipahami sepenuhnya? Kita pun harus mengakui bahwa perbuatan-perbuatan Allah yang ajaib dan luar biasa, tak dapat dijangkau oleh akal kita. Sebaliknya, ketika Allah berulang kali menunjukkan kuat kuasa-Nya, mengapa kita masih ragu menerima-Nya?
Mari merayakan Natal. Terimalah Yesus, Sang Logos, yang menyatakan kehendak Bapa-Nya bahwa manusia berdosa membutuhkan “Juruselamat” di luar diri manusia; dia adalah Yesus Kristus, seperti yang diklaim-Nya: “Akulah jalan dan kebenaran dan hidup. Tidak ada seorang pun yang datang kepada Bapa, kalau tidak melalui Aku” (Yoh. 14:6).
Ada berbagai pemikiran untuk memahami personalitas Allah. Dalam pengamatan saya, dua hal yang paling sering dilakukan oleh manusia dalam konteks ini adalah: memahami bagaimana sesungguhnya Allah dan memahami bagaimana seharusnya Allah. Pada pemahaman bagaimana sesungguhnya Allah, manusia mendasarinya dengan berangkat pada “apa yang dinyatakan Allah tentang diri-Nya”. Konteks ini secara substansial memiliki bukti-bukti sejarah di mana Ia telah menyatakan diri-Nya terkait dengan realisasi rencana dan kehendak-Nya bagi kebaikan manusia; di sisi lain, Ia menghukum manusia yang berdosa yang dengannya Allah dapat dipahami sebagai pribadi yang baik dan adil yaitu menghukum mereka yang bersalah. Semuanya ini memiliki sumber rujukan atau “dokumentasi”. Oleh karenanya, pemahaman tentang bagaimana sesungguhnya Allah secara iman dapat diargumentasikan, didukung oleh dokumentasi dan peristiwa historis. Ketiganya yaitu argumentasi, dokumentasi, dan historis, saya sebut dengan filsafat iman.
Pada pemahaman bagaimana seharusnya Allah, manusia menggunakan berbagai konsekuensi logis untuk merumuskan tentang apa yang harus dimiliki, dilakukan, dan ditetapkan Allah. Manusia cenderung memahami Allah berdasarkan konsep logis bahwa jika Allah tidak begini, maka Ia pasti begitu. Berbagai hipotesis logis dikumandangkan untuk memuluskan pemahaman mereka tentang Allah.
Kekuatan logika dalam memahami personalitas Allah bukanlah hal yang baru. Logika memang diperlukan untuk memahami-Nya. Ini berlaku pada mereka yang percaya bahwa Allah yang menciptakan manusia; dan tidak berlaku bagi mereka yang tidak percaya bahwa Allah telah menciptakan manusia (dalam pengertian khusus). Jurang pemisah dalam memahami personalitas Allah bukanlah pada bukti-bukti penyataan Allah, melainkan pada konsep logis, analogis, hipotesis, dan lain sebagainya. Memang, secara substansial, logika, analogi, dan hipotesis diperlukan dalam memahami personalitas Allah, hanya saja penggunaannya haruslah melihat demarkasi konteks, bukti-bukti penyataan, dan dokumentasi historis. Kesalahan menggunakan ketiganya — artinya karena berangkat dari a priori ketimbang aposteriori— berakibat pada negasi personalitas Allah dan menggunakan pemahanan bagaimana seharusnya Allah.
Secara historis, Kristen memahami Allah berdasarkan konsep bagaimana sesungguhnya Allah.Allah yang sesungguhnya berarti menyatakan diri; berdasarkan penyataan itulah, bukti bahwa konsep memahami Allah dipandang sebagai dapat dipercaya, bersifat historis, dapat diargumentasikan, memiliki dokumen pendukung (bukti-bukti penyataan itu sendiri). Berangkat dari pemikiran ini, maka doktrin Allah Tritunggul (atau disebut secara singkat dengan Trinitas), adalah doktrin yang memahami Allah yang sesungguhnya. Namun, patut diakui bahwa pemahaman akan personalitas Allah tetap menyisahkan misteri. Alasannya adalah karena keterbatasan logika yang tak mungkin menjangkau Allah yang tak terbatas itu (pengertian, pemahaman, analisis, dan sebagainya), sehingga apa yang dinyatakan itulah yang menjadi dasar pijakan pengetahuan tentang diri-Nya. Memaksa memahami Allah berdasarkan bagaimana seharusnya Allah,membawa seseorang kepada “rasa puas semu dan penyesatan”.
Bagaimana bisa dikatakan rasa puas semu? Puas, karena manusia dengan segala macam rumusan pikirannya menggunakan bukti analogis—dan bukan bukti penyataan—untuk merumuskan dan menyusun formula tentang bagaimana seharusnya Allah. Lalu bagaimana bisa disebutkan sebagai penyesatan? Alasannya karena rumusan dan formula tentang personalitas Allah yang bukan didasarkan pada penyataan bukanlah sebuah pemahaman yang kredibel, dan berpotensi mengusung pemahaman yang menyesatkan (mengasikan bukti penyataan). Permainan logika bisa dianggap logis tetapi tidak berarti itu sesuai dengan fakta penyataan.
Pada kasus Trinitas, beberapa orang memiliki pemahaman yang dangkal bukan karena mereka memahami personalitas Allah yang sesungguhnya melainkan karena mereka menggunakan cara berpikir tentang bagaimana seharusnya Allah yang terlihat cocok dengan logika mereka. Di sini, catatan pentingnya adalah “Allah tidaklah tunduk pada rumusan logika yang menyimpang tanpa bukti penyataan apa pun.” Sebaliknya, dalam pemahaman Kristen (yang menerima Trinitas) Allah dipahami sesuai dengan apa yang Ia nyatakan. Meski dipandang sebagai sesuatu yang sulit dan hampir tidak masuk di akal, Trinitas pada dirinya sendiri adalah fakta ontologis dan historis; kesimpulan logisnya adalah “Allah ada sebagaimana Ia ada, dan Allah dipahami sejauh Ia menyatakan diri-Nya”. Soal bagaimana Ia dipahami sebagai Trinitas, tentu ada jalur berpikirnya yang didasarkan pada fakta historis, dokumentasi pendukung, dan rgumentasi (isi-isi argumen berdasarkan historisitas dan dokumentasi).
Berbicara mengenai doktrin Trinitas, bukanlah hal yang mudah untuk dipahami. Ada orang-orang Kristen maupun non-Kristen beranggapan bahwa doktrin Trinitas sulit dipahami dan tidak masuk akal. Anggapan tersebut di satu sisi ada benarnya dan di sisi lainnya ada salahnya. Mengapa demikian? Alasannya adalah memahami pribadi Allah tidak semudah yang kita bayangkan. Oleh karena itu, mengatakan bahwa belajar Trinitas tidak masuk akal, sama saja dengan mengatakan bahwa doktrin keesaan Allah juga tidak masuk akal. Mengapa bisa tidak masuk di akal? Keesaan Allah diukur atau dinilai dengan apa? Apakah hanya diukur dari pernyataan bahwa “Allah itu esa”? lalu kita merumuskan bahwa “Allah itu satu saja”—maksudnya, diri-Nya hanya ada satu saja, bukan dua atau tiga, dan seterusnya? Tidak sesederhana itu. Mereka yang menganggap bahwa doktrin Trinitas menimbulkan banyak problem, sebenarnya juga menyatakan bahwa doktrin Unitarian memiliki problem yang sama. Kita perlu memahami dan mengakui bahwa Allah itu tidak terbatas – dan manusia terbatas pikirannya. Perumusan Trinitas tentu berdasarkan pada penalaran logis berdasarkan bukti ontologis dan historis.
Sebagai langkah awal, saya hendak menyatakan demikian, bahwa “Allah tidak menyatakan diri-Nya sebagai satu secara numerik, melainkan satu di antara ilah-ilah yang lain.” Maksudnya adalah, Allah sendiri menegaskan bahwa “objek” penyembahan haruslah hanya kepada Dia, dan bukan kepada ilah-ilah yang ada di bumi (ilah-ilah bangsa-bangsa lain di luar Israel). Jika hal ini dipahami secara baik, maka pemahaman akan personalitas Allah tidak membawa kita pada kancah perdebatan yang panjang. Pada dasarnya, memahami “keesaan Allah” haruslah dilihat dari konteks di mana Allah menyatakan bahwa hanya Diri-Nya yang ‘esa’—satu di antara ilah-ilah lain, bukan satu secara numerik tanpa melihat konteks eksistensi ilah-ilah lain di dunia ini. Di sini, titik berangkat prapemahaman seseorang akan pribadi Allah menentukan aspek pengetahuan kita tentang Allah. Dan pada hakikatnya, prapemahaman tersebut harus didasari pada wahyu [revelation, penyataan] Allah, bukan pada asumsi logika manusia semata.
TRINITAS: SATU ROH ATAU TIGA ROH?
Posisi saya adalah Trinitas memiliki “satu Roh”. Satu Roh merujuk pada tidak ada perbedaan kualitas kehendak, sehingga menggiring opini bahwa ketiga Pribadi Trinitas memiliki roh-Nya masing-masing. Tidak ada indikasi soal ini dalam Alkitab.
Perbedaan esensi dan pribadi haruslah dipahami secara baik. Sebagaimana yang diungkapkan Herman Bavink bahwa, “Kitab Suci juga jelas mengenakan natur ilahi dan kesempurnaan-kesempurnaan ilahi kepada Anak dan Roh dan menempatkan Mereka setara dengan Bapa. Maka Bapa, Anak dan Roh adalah subjek-subjek yang berdistingsi di dalam satu esensi ilahi.” Saya memahami esensi ilahi sebagai “Roh yang kekal” sebab natur Allah adalah “Roh” yang dapat dipahami sebagai “esensi hakiki” (self-condition) dan mutlak. Mutlak bukan karena kita yang melekatkannya melainkan “demikianlah adanya”.
Bavink berpendapat bahwa “di dalam Allah tidak ada pemisahan atau pembagian”, yang dapat saya pahami bahwa “Pribadi-pribadi Trinitas tidak memisahkan diri Mereka karena memiliki roh-Nya masing-masing apalagi ‘membagi’ distingsi roh Mereka masing-masing. Karena Trinitas memiliki ‘satu Roh’ maka tidak ada perbedaan kehendak, emosi, dan pikiran, sebagaimana yang tertuang dalam narasi-narasi Alkitab. Emosi, pikiran, dan kehendak Mereka—secara filosofis ‘ada dalam Roh yang satu itu’ sehingga berimplikasi kepada tidak adanya perbedaan kualitas emosi, pikiran, dan kehendak.” Lagipula, tidak ada bukti apa pun dalam Alkitab bahwa Pribadi-Pribadi Trinitas saling bertolak belakang dalam kehendak. Sama sekali tidak.
Memang, Pribadi-Pribadi Trinitas memiliki eksistensi-Nya tersendiri yang disting, tetapi hal itu bukan berarti eksistensi dipahami sebagai “satu roh dimiliki Yesus, satu roh dimiliki Roh Kudus, dan satu roh dimiliki Bapa. Eksistensi hanyalah mengacu pada “ke—ada—an” personalitas Mereka. Eksisten dan esensi memiliki perbedaan. Eksistensi mengacu pada kondisi “ada” dan “adanya” Pribadi-Pribadi Trinitas adalah sejak kekal yang tak terpahami, tak berawal. Ketika seseorang mengatakan: “kapan Allah mulai ada?” maka kita dapat bertanya juga dengan pertanyaan: “kapan manusia mulai berpikir”. Tidak ada jawaban atas dua pertanyaan di atas. Maka, secara faktual, tidak perlu ditanyakan.
Distingsi-distingsi antara ketiga Pribadi secara jelas tampak dalam relasi-relasi yang menghasilkan diferensiasi di dalam keberadaan ilahi (Bavink). “Setiap Pribadi adalah diri-Nya sendiri dalam suatu cara yang kekal, sederhana, dan mutlak, Bapa adalah Allah, Anak adalah Allah, Roh Kudus adalah Allah. Dan karena ketiga-Nya adalah Allah, Mereka semua berbagian dalam “satu natur ilahi”. Maka, hanya ada satu Allah (Bavink).
Pemahaman saya mengenai “satu natur ilahi” merujuk kepada “satu Roh” yang dimiliki oleh tiga Pribadi, sehingga tidak ada perbedaan kualitas pendapat, pikiran, dan kehendak.
Mungkin, kesalahan mereka dalam memahami konteks “tiga roh” terjebak dalam kelogisan demarkasi personal sebagaimana yang diambil dari analogi manusia. Secara logis, ketiga Pribadi dalam Trinitas saling berdingsi, dan konsekuensi logisnya (maksudnya di sini saya hanya memahami makna logis, bukan menjelaskan pandangan saya) adalah Bapa punya roh, Yesus punya roh, dan Roh Kudus punya roh, jadinya ada tiga roh. Sampai di sini memang logis. Tetapi pertanyaan-Nya, apakah “roh” dari masing-masing Pribadi berbeda atau sama? Jika berbeda, bagaimana ukuran untuk sampai pada kesimpulan demikian? Bagaimana “roh”-Nya Roh Kudus bisa berbeda dengan roh Bapa yang dari-Nya Ia keluar? Bagaimana “roh”-Nya Yesus bisa dikatakan berbeda dengan roh Bapa padahal ia dilahirkan dari Bapa? Jika sama, maka implikasinya adalah hanya “ada satu roh” saja meski ada tiga Pribadi yang disting.
Oleh sebab itu, kesimpulan saya adalah: “hanya ada satu roh dalam Trinitas yang dengannya tidak ada perbedaan kualitas pikiran, emosi, dan kehendak karena tidak ada bukti apa pun dalam Alkitab bahwa Allah Trinitas berkelahi dan berbeda pendapat karena masing-masing meliki tiga roh. Justru Alkitab menjelaskan keselarasan dan kesamaan kehendak di antara Pribadi-Pribadi dalam Trinitas. Seperti pernyataan dalam Pengakuan Iman Westminter: “Di dalam Allah yang esa, terdapat tiga Pribadi, yang adalah satu dalam substansi, kuasa, dan kekekalan….” dan seperti yang diungkapkan A. A. Hodge sebagaimana dikutip oleh Cornelius Van Til, bahwa “Bapa, Anak, dan Roh Kudus sama-sama Allah yang tunggal itu, dan bahwa esensi yang tidak bisa dibagi-bagi dan segala kesempurnaan dan prerogatif ilahi, adalah kepunyaan dari masing-masing Pribadi di dalam pengertian dan derajat yang sama”, dengan demikian, tidak ada perbedaan kehendak dalam Trinitas. Ketika kita beranjak memahami Allah dengan tanpa bukti, maka kita terjerumus dalam konsep memahami “bagaimana seharusnya Allah”.
Jika kita berbicara tentang “agama” dalam konteks yang lebih substansial, maka “pengampunan” adalah hal yang signifikan. Pengampunan dihasilkan dari “kasih” yang sangat luar biasa. Sepanjang sejarah, Allah telah menyatakan pengampunan-Nya bagi mereka yang telah berdosa kepada-Nya, yang diungkapkan melalui tindakan-tindakan yang bertentangan dengan kehendak-Nya, dan apa yang telah Ia tetapkan. Manusia lebih jalannya sendiri.
Pemazmur menulis, bahwa “Adapun Allah, jalan-Nya sempurna; janji TUHAN adalah murni; Dia menjadi perisai bagi semua orang yang berlindung pada-Nya” (Mzm. 18:30), “Segala jalan TUHAN adalah kasih setia dan kebenaran bagi orang yang berpegang pada perjanjian-Nya dan peringatan-peringatan-Nya” (Mzm. 25:10), dan “TUHAN itu adil dalam segala jalan-Nya dan penuh kasih setia dalam segala perbuatan-Nya” (Mzm. 145:17).
Pernyataan-pernyataan pemazmur di atas, menyuguhkan prinsip-prinsip yang kuat mengenai “jalan Allah”. Jalan Allah itu sempurna, karena memang Allah mengarahkan manusia untuk menjadi sempurna dalam kekudusan dan kehidupan yang selaras dengan kehendak-Nya. Kesempurnaan itu tampak pada perilaku manusia yang telah ada dan berjalan di jalan Allah.
Segala jalan TUHAN mengarahkan manusia untuk menerima kasih setia-Nya. Artinya, Ia menjamin mereka yang berjalan di jalan-Nya. Kasih setia akan dirasakan oleh mereka yang setia berada pada jalan-Nya. Tidak hanya kasih setia, mereka yang berjalan di jalan Allah, akan menerima dan menikmati “kebenaran-Nya”. Manusia diarahkan untuk memahami kebenaran dan menuai hasilnya. Allah tidak hanya mengarahkan manusia untuk berada pada jalan-Nya, melainkan Ia juga menjamin mereka dengan kasih setia dan kebenaran: manusia dipuaskan oleh-Nya, yaitu mereka yang berpegang pada perjanjian-Nya dan peringatan-peringatan-Nya.
Mereka yang berada di jalan Tuhan, pasti menerima keadilan-Nya. Meski terkadang manusia merasa bahwa Tuhan tidak adil, tetapi toh pada akhirnya, keadilan Tuhan itu tampak ke permukaan, bersinar cemerlang, memberikan kepuasan sejati. Dalam sejarah Israel, Tuhan telah menunjukkan jalan-jalan-Nya kepada mereka untuk—tidak hanya menerima berkat-berkat-Nya—melainkan menerima keadilan, kasih, dan pengampunan-Nya. Hal itu dibuat-Nya karena Ia begitu mengasihi mereka. Pengampunan Allah yang luar biasa mengubah arah hidup manusia ke jalan yang Ia kehendaki.
Pada prosesnya, di kemudian hari, kasih, pengampunan, dan penebusan Allah menjadi “satu dan penuh” yang dibuktikan melalui penyataan-Nya sendiri—sesuai dengan waktu yang ditentukan-Nya—yaitu Firman [Logos] yang berinkarnasi: “Tetapi setelah genap waktunya, maka Allah mengutus Anak-Nya, yang lahir dari seorang perempuan dan takluk kepada hukum Taurat. Ia diutus untuk menebus mereka, yang takluk kepada Taurat, supaya kita diterima menjadi anak” (Galatia 4:4-5).
Yesus Kristus adalah kepenuhan Allah di dalam daging kemanusiaan-Nya. Logos benar-benar “menjadi” manusia penuh, dan bukan “setengah manusia”. Natur ke-Allahan-Nya tidak ditelan untuk kemanusiaan-Nya. Ajaib! Itu sebabnya, inkarnasi adalah bukti bahwa kuasa Allah melampaui dari apa yang kita pikirkan. Pada zaman dahulu Allah berfirman melalui orang-orang pilihan-Nya untuk menyatakan kehendak-Nya, termasuk kasih, pengampunan, dan penebusan. Kini, saat Ia berinkarnasi menjadi manusia, Ia sendiri yang menyatakan kehendak-Nya yaitu mengasihi, mengampuni, dan menebus umat-Nya dari dosa-dosa mereka. Itulah kasih karunia yang luar biasa dari Allah.
Hal ini yang ditegaskan Rasul Yohanes: “Karena dari kepenuhan-Nya kita semua telah menerima kasih karunia demi kasih karunia” (Yohanes 1:16). Allah mencurahkan kasih karunia-Nya melalui Firman-Nya: Yesus Kristus. Kepenuhan-Nya begitu memukau: Allah-Manusia, dua natur dalam satu pribadi, tidak bercampur, tidak tertukar, dan tidak terbagi. Aspek penting dari inkarnasi ini, yaitu “kepenuhan [plērōma]” Allah di dalam daging manusia. Kepenuhan itu pun bukan teori belaka. Kepenuhan itu terbukti dari apa yang Yesus lakukan (kerjakan). Ia pun menampilkan kuasa atas segala sesuatu; selain itu Ia disembah.
Teolog asal Inggris, John Stoot mengkonfirmasi konteks ini. Ia menulis dalam Global Pastors Network Newsletter, 3 Agustus 2004 bahwa: “Pada dasarnya kekristenan adalah Kristus. Pribadi dan karya Kristus adalah batu yang menjadi landasan dibangunnya agama Kristiani. Jika Dia bukan seperti yang Dia katakan mengenai Diri-Nya; dan tidak melakukan apa yang Dia katakan akan dilakukan-Nya, dasar itu akan lemah dan keseluruhan bangunan akan runtuh….” (dikutip Dave Earley, 21 Pertanyaan Paling Berbahaya di dalam Alkitab, [Yogyakarya: Gloria Grafa, 2011], 21).
Kemudian, Dave Earley menyatakan:
Yesus melakukan hal-hal yang hanya bisa dikerjakan oleh Allah. Yesus berjalan di atas air dalam keadaan badai (Mat. 14:25). Dia menghardik angin yang mengamuk dan angin itu taat kepada-Nya (Luk. 8:24; perhatikan bahwa Dia tidak meminta Allah untuk menanangkan laut tersebut; Dia melalukannya sendiri).
Yesus mengubah air menjadi anggur (Yoh. 2:6-11) dan menyembuhkan hamba seorang perwira tanpa pertemuan langsung dengan orang yang sakit (Mat. 8:5-13). Dia memberi makan banyak orang dengan dengan menggunakan jatah makan siang seorang anak (Mat. 14:15-21; 15:34-38).
Di kolam Betesda di Yerusalem, Yesus menyembuhkan seorang laki-laki yang tidak bisa berjalan selama tiga puluh delapan tahun (Yoh. 5:1-9). Dia mengusir setan-setan (Mat. 17:15-21; 15:22-28; Mrk. 1:23-28; 5:1-19), menyembuhkan yang sakit (Mat. 8:14-16; 9:20-22; Mrk.7:32-37), mentahirkan orang yang sakit kusta (Mat. 8:2-4; Luk. 17:11-19), membuat orang lumpuh berjalan (Mat. 9:2-8), dan membuat orang buta melihat (Mat. 12:22; Mrk. 8:22-26). Yesus bahkan membangkitkan orang mati (Mat. 9:18-26; Luk. 7:12-16; Yoh. 11:1-46)!
Yesus menerima penyembahan: Seorang penderita kusta menyembah Yesus (Mat. 8:2-3); murid-murid-Nya menyembah Yesus (Mat. 14:33); seorang wanita Kanaan (Mat. 15:25), dan seorang laki-laki yang buta sejak lahir (Yoh. 9:38). Yesus mengetahui segala sesuatu (Yoh. 16:30; 4:16-19; Mrk. 2:8; Luk. 5:22; Yoh. 2:24-25). (Earley, 21 Pertanyaan Paling Berbahaya di dalam Alkitab, 26-27).
Seperti yang ditegaskan Rasul Paulus, bahwa “Karena seluruh kepenuhan [πληρωθῆτε dari kata πληρόω] Allah berkenan diam di dalam Dia” (Kolose 1:19) maka apa yang disimpulkan Stoot dan Earley mengenai Yesus—berdasarkan data Perjanjian Baru—adalah benar. Tidak hanya benar, tetapi terbukti dan memiliki pengaruh sampai sekarang.
“Plērōma” (atau plēroō) Allah di dalam tubuh jasmaniah Yesus tidak mengurangi ke-Allahan-Nya. Segala keterbatasan Yesus hanya menunjukkan natur kemanusiaan-Nya dan bukan natur ke-Allahan-Nya. Ia lahir sebagai manusia membuktikan bahwa Ia manusia. Ia lahir sama dengan manusia pada umumnya. Tetapi kemudian orang salah paham dan bertanya: “Apa mungkin Tuhan dilahirkan?” Dari pertanyaan tersebut, tampak bahwa “Tuhan” dianggap sebagai fisikal (badani), padahal bukan. Tuhan itu adalah “gelar”. Gelar itu dibuktikan dari “kuasa” yang dimiliki Yesus (pengakuan dari orang lain maupun dari diri-Nya sendiri, berdasarkan fakta dan menjadi fakta):
“…tetapi Ia [Yesus] yang datang kemudian dari padaku lebih ‘berkuasa’ dari padaku” (Matius 3:11);
“Tetapi supaya kamu tahu, bahwa di dunia ini Anak Manusia [Yesus] ‘berkuasa’ mengampuni dosa” (Matius 9:6; Markus 2:10; Lukas 5:24);
“….Dia adalah seorang nabi, yang ‘berkuasa’ dalam pekerjaan dan perkataan di hadapan Allah dan di depan seluruh bangsa kami” (Lukas 24:19);
“Bapa mengasihi Aku, oleh karena Aku memberikan nyawa-Ku untuk menerimanya kembali. Tidak seorangpun mengambilnya dari pada-Ku, melainkan Aku memberikan menurut kehendak-Ku sendiri. Aku ‘berkuasa’ memberikannya dan ‘berkuasa’ mengambilnya kembali. Inilah tugas yang Kuterima dari Bapa-Ku” (Yohanes 10:17-18)
“… Kepada-Ku telah diberikan segala kuasa di sorga dan di bumi” (Matius 28:18).
“…bahwa Ia adalah Anak Allah yang ‘berkuasa’, Yesus Kristus Tuhan kita” (Roma 1:4)
Melihat dua natur Yesus (kepenuhan ke-Allahan [secara ontologi] dan manusia [secara inkarnatif]), harus dibarengi dengan bagaimana membedakan “hasil perbuatan” dari kedua natur itu. Mereka yang gagal melihat perbedaan ini, berakhir pada kesimpulan bahwa Yesus bukan Allah. Kita maklumi saja. Dua natur Yesus ditegaskan oleh Rasul Paulus: “Sebab di dalam Dialah berdiam secara jasmaniah seluruh kepenuhan ke-Allahan” (Kolose 2:9). Penegasan tersebut merupakan konfirmasi fakta yang sesungguhnya.
Ketika kita berbicara mengenai Natal Yesus Kristus, maka pasti melihatkan dua natur Yesus yang menyatu dalam satu pribadi: tidak bercampur, tidak tertukar, dan tidak terbagi. Dari situ kita beranjak untuk melihat bahwa dalam Natal terbitlah pengampunan Allah yang dilandasi oleh kasih-Nya yang kekal, yang menghendaki semua orang yang dipilih-Nya sejak kekekalan diselamatkan. Itulah jalan yang Tuhan tetapkan bagi manusia. Jalan Tuhan itu, seperti yang dituliskan oleh pemazmur di atas, mengarahkan manusia untuk “kembali kepada Allah” dan dengan maksud yang sama, inkarnasi Yesus juga mengarahkan manusia kembali kepada Allah sebagaimana yang Yesus katakan: “Akulah Jalan, Kebenaran, dan Hidup”.
Inkarnasi adalah jalan Tuhan yang sempurna, karena Yesus sendiri telah menyelesaikan tugas-Nya secara sempurna, tuntas. Sebagai Jalan Keselamatan, Yesus mengumandangkan kebenaran Allah: “bahwa manusia tak bisa lepas dari dosa jika Allah tidak berkarya di dalamnya untuk melepaskan manusia”, menunjukkan kasih setia kepada manusia yang sebenarnya tidak layak menerimanya, dan mengarahkan manusia kembali—dari kehidupan yang penuh dosa—kepada kehidupan yang penuh berkat dan pengampunan. Ketika kita kembali pulang kepada Allah, maka kita diampuni-Nya.
Natal tidak hanya sebagai bukti kasih Allah yang luar biasa itu, melainkan juga sebagai bukti bahwa Allah—dengan KERELAAN kehendak-Nya—mengampuni kita. Rasul Paulus menyatakan: “Sebab di dalam Dia dan oleh darah-Nya kita beroleh PENEBUSAN, yaitu PENGAMPUNAN dosa, menurut kekayaan kasih karunia-Nya, yang dilimpahkan-Nya kepada kita dalam segala hikmat dan pengertian. Sebab Ia telah menyatakan rahasia kehendak-Nya kepada kita, sesuai dengan rencana KERELAAN-Nya, yaitu rencana KERELAAN yang dari semula tetah ditetapkan-Nya di dalam Kristus” (Efesus 1:7-9).
Natal dan pengampunan adalah dua hal yang koheren. Dan dari situlah kita mengenal Allah yang mengasihi kita. Itulah sebabnya Rasul Yohanes menulis: “Karena begitu besar kasih Allah akan dunia ini sehingga Ia mengaruniakan Anak-Nya yang tunggal, supaya setiap orang yang percaya kepada-Nya tidak binasa melainkan beroleh hidup yang kekal” (Yohanes 3:16)
Untuk menyelamatkan manusia, Allah bertindak penuh, bukan setengah-setengah; Allah sangat serius, dan bukan main-main. Ia tegas tetapi penuh kasih; Ia mengampuni, sekaligus mendorong manusia untuk menyadari dosa-dosanya, dan lebih dari itu: mengarahkan manusia untuk pulang kepada-Nya melalui Yesus Kristus.
Kedatangan Sang Mesias ke dalam dunia merupakan penggenapan nubuatan dalam Perjanjian Lama (PL). Kedatangan-Nya merupakan “tanda” bagi manusia bahwa Allah berkenan memperlihatkan kekuasaan-Nya atas umat Israel. Karena Israel adalah umat pilihan Allah, maka ada sebuah prinsip yang digunakan untuk melakukan kepemimpinan yang mengarahkan mereka pada kehendak Allah. Orang-orang tertentu dipilih Allah untuk menegakkan kehendak-Nya atas umat-Nya dan bangsa-bangsa lain. Sebut saja dua di antaranya adalah Musa dan Yosua.
Dalam kepemimpinan Musa dan Yosua, umat Israel didorong dan diingatkan untuk selalu mendengar firman Allah, taat kepada-Nya. Mereka juga menjalani proses edukasi dan pembentukan karakter oleh Allah sendiri. Hal itu dituangkan dalam peraturan-peraturan dan hukum-hukum, serta ketetapan-ketetapan. Proses edukasi dan pembentukan karakter bangsa Israel tersebut dilanjutkan oleh Hakim-hakim, lalu Raja-raja, dan terakhir, Nabi-nabi. Semua kepemimpinan mereka, tetap berpedoman pada kehendak dan kedaulatan Allah. Mereka memimpin Israel—berdasarkan petunjuk dan firman Allah—untuk menjadi bangsa yang kuat dan setia kepada-Nya.
Ketika para pemimpin menyampaikan firman (petunjuk, peraturan, hukum, ketetapan) Allah kepada Israel, ada nubuatan-nubuatan yang juga disampaikan. Nubuatan tersebut menyangkut datangnya seorang Raja, Mesias, dan Pemimpin yang akan memimpin Israel. Raja tersebut adalah kekal yang tak tertandingi yang diturunkan dari keturunan Daud. Daud memiliki kerajaan di bumi, sedangkan Mesias memiliki kerajaan di sorga yang menguasai langit dan bumi, seluruh alam semesta.
Dalam PL, ada nubuatan-nubuatan mengenai datangnya seorang Mesias bagi Israel. Tetapi, Mesias yang dijanjikan sekaligus dinantikan bukanlah Mesias yang biasa-biasa saja. Identitasnya berbeda. Hal ini tampak dari isi nubuatan-nubuatan tersebut. Secara fungsi, mesias—sebagai [orang] yang diurapi—melakukan misi Allah bagi kebaikan manusia. “Dalam pemikiran Yahudi, Sang Mesias akan menjadi raja orang Yahudi, pemimpin politik yang akan mengalahkan musuh mereka dan membawa era keemasan perdamaian dan kemakmuran. Dalam pemikiran Kristen, term Mesias mengacu pada peran Yesus sebagai pembebas spiritual, yang menetapkan umat-Nya bebas dari dosa dan kematian.” Ronald F. Youngblood, F. F. Bruce & R. K. Harrison, Nelson’s New Illustrated Bible Dictionary (Nashville, Tennessee: Thomas Nelson, 1995), 826.
J. A. Motyer dan F. F. Bruce (profesor Kritik Biblikal dan Eksegesis, Universitas Manchester) menjelaskan, bahwa “istilah Mesias, yang dipakai sebagai gelar resmi dari tokoh utama yang dinanti-nantikan oleh orang Yahudi, adalah hasil pemikiran dari Yudaisme masa kemudian. Tentu pemakaian istilah itu dikukuhkan oleh PB, tapi dalam PL hanya terdapat dua kali (Dan. 9:25-26). Pemikiran tentang mengurapi, dan pemikiran tentang orang yang diurapi, adalah lazim dalam PL…. Dalam Yesaya 45:1 Koresy, raja Persia, disapa sebagai (mesyikho) ‘yang Ku-urapi’. Di sini ada lima unsur yang jika ditinjau dengan terang Alkitab bagian yang lain, jelas menentukan garis pikiran utama tertentu mengenai mesianisme PL. Koresy ialah orang yang dipilih Allah (Yes. 41:25), ditetapkan untuk menggenapi suatu tujuan penyelamatan bagi umat Allah (Yes. 45:11-13), dan menggenapi hukuman terhadap musuh-musuh-Nya (Yes. 47). Kepadanya diberikan kuasa untuk memerintah bangsa-bangsa (Yes. 45:1-3); dan dalam semua tindakannya, yang sesungguhnya bertindak ialah Yahweh sendiri (Yes. 45:1-7) (Motyer & Bruce, “Mesias”, dalam Ensiklopedi Alkitab Masa Kini. Jilid II: M–Z, 2011: 57).
Dari penjelasan di atas, Mesias bertindak atas nama Allah karena ia adalah orang yang dipilih untuk melakukan misi Allah bagi penyelamatan umat pilihan-Nya. Motyer dan Bruce memahami Mesias sebagai “Yahweh” dalam semua tindakannya. Itulah sebabnya, Mesias dalam pandangan PB mengacu kepada Yesus Kristus. Sebutan “Kristus” dalam bahasa Yunani disebut “khristos” yang memiliki konotasi (atau arti) yang sama dengan kata “mesias” (dalam PL) yaitu “yang diurapi”.
Jika berurusan dengan masalah dosa dan kerajaan yang menguasai seluruh dunia, maka Mesias yang dinubuatkan tentu adalah Mesias yang ilahi. Penggenapan nubuatan tentang Sang Mesias yang hebat tergenapi dalam inkarnasi Sang Logos yang menjadi daging, diam di antara manusia, kekal, dan berkuasa (bdk. Mat. 28:18). Untuk melihat nubuatan mengenai Yesus, saya memiliki tiga teks sebagai representatifnya.
Pertama: nubuat dalam Yesaya 7:14 dan digenapi oleh Yesus dalam Matius 1:23. “Sebab itu Tuhan sendirilah yang akan memberikan kepadamu suatu pertanda: Sesungguhnya, seorang perempuan muda mengandung dan akan melahirkan seorang anak laki-laki, dan mereka akan menamakan Dia Imanuel” [καὶ καλέσουσιν τὸ ὄνομα αὐτοῦ Ἐμμανουήλ]. Sebutan Imanuel hanya muncul dua kali dalam PL (Yes. 7:14 dan 8:8). Meskipun secara konteks, nubuatan ini disampaikan kepada raja Ahas, tetapi karena sifatnya adalah nubuat, maka hal ini harus dilihat dari penggenapannya. Hanya Yesus yang disebut Imanuel. Para nabi dalam PL tidak pernah disebut dengan Imanuel. Penggenapannya jelas bahwa: Yesus—Imanuel itu—membuktikan Allah “dengan” kita, dan Rasul Yohanes sangat tepat menulis: “Firman itu telah menjadi daging, dan ‘diam’ [dengan] di antara kita”. Kata ‘diam’ mengisyaratkan ‘kebersamaan Allah’ dalam kehidupan manusia, yang selaras dengan arti dari Imanuel.
Imanuel pertanda bahwa Allah tidak berhenti menyertai umat-Nya. Dia adalah Raja yang sesungguhnya. Hanya Allah saja yang dapat menyertai umat-Nya sampai selama-lamanya. Identitas Mesias yang adalah Allah yang kekal tampak dalam nubuatan yang kedua berikut ini. Yesus “menyertai umat-Nya” sampai kepada akhir zaman”.
Kedua: Mikha 5:1 yang digenapi Yesus dalam Matius 2:6. “Tetapi engkau, hai Betlehem Efrata, hai yang terkecil di antara kaum-kaum Yehuda, dari padamu akan bangkit bagi-Ku seorang yang akan memerintah Israel, yang permulaannya sudah sejak purbakala, sejak dahulu kala.” Untuk melihat penggenapannya, kita perhatikan pernyataan terakhir dari teks tersebut: “yang permulaannya sudah sejak purbakala, sejak dahulu kala.” Adakah Mesias yang lahir sebelum Yesus yang permulaannya sudah sejak purbakala, sejak dahulu kala? Tidak ada. Dengan demikian, pada peristiwa Natal yang sangat ajaib itu, dimulai dari pertunjukkan kuasa Allah atas rahim Maria, Mesias itu datang [lahir] ke dunia. Cara Ia datang sangat ajaib. Ini membuktikan bahwa Yesus adalah Mesias yang luar biasa. Rasul Yohanes menulis eksistensi Mesias ilahi tersebut: “Pada mulanya adalah Firman; Firman itu bersama-sama dengan Allah dan Firman itu adalah Allah. Ia pada mulanya bersama-sama dengan Allah” (Yoh. 1:1-2). “Ia adalah permulaan dari ciptaan Allah; tanpa Dia, tidak ada permulaan dari semua ciptaan yang ada. Ciptaan tidak mungkin bermula, jika tidak ada Logos yang menciptakannya.
Ketiga: Yesaya 9:6 dan digenapi Yesus dalam Lukas 1:32-33. “Besar kekuasaannya, dan damai sejahtera tidak akan berkesudahan di atas takhta Daud dan di dalam kerajaannya, karena ia mendasarkan dan mengokohkannya dengan keadilan dan kebenaran dari sekarang sampai selama-lamanya. Kecemburuan TUHAN semesta alam akan melakukan hal ini.”
Lukas mencatat penggenapannya: “Ia akan menjadi besar dan akan disebut Anak Allah Yang Mahatinggi. Dan Tuhan Allah akan mengaruniakan kepada-Nya takhta Daud, bapa leluhur-Nya, dan Ia akan menjadi raja atas kaum keturunan Yakub sampai selama-lamanya dan kerajaan-Nya tidak akan berkesudahan.”
Kita melihat aspek-aspek fakta atas penggenapan nubuatan Yesaya di atas:
(1) “Besar kekuasaannya” telah dibuktikan oleh Yesus. Sampai sekarang kekuasaan Yesus tetap teruji, terbukti, dan terealisasi bagi umat-Nya seperti menyertai mereka sampai kepada akhir zaman dan melakukan berbagai mukjizat melalui hamba-hamba-Nya. Di zaman Yesus sendiri, Ia menunjukkan secara gamblangg kekuasaan-Nya atas sakit penyakit, kematian, dan sebagainya.
(2) “damai sejahtera tidak akan berkesudahan di atas takhta Daud dan di dalam kerajaannya”. Sampai sekarang, kita mengakui bahwa Natal Yesus Kristus membawa kedamaian, terutama mendamaikan Allah dengan manusia yang berdosa. Proses mendamaikan itu Dia lakukan dengan mengurbankan diri-Nya sendiri bagi tebusan banyak orang. Damai sejahtera yang diberikan Yesus Kristus, sampai sekarang masih tetap ada bahkan hingga akhir zaman, dan berlanjut di dalam Kerajaan-Nya.
(3) “kerajaan-Nya didasarkan dan dikokohkan dengan keadilan dan kebenaran dari sekarang sampai selama-lamanya.” Dalam Kerajaan-Nya, keadilan dan kebenaran menjadi dasarnya. Ia adil dan benar; Ia membenarkan manusia berdosa secara adil: menggantikan manusia berdosa dengan diri Yesus Kristus. Ia menjadi “jalan pendamaian” (Roma 3:25, “Kristus Yesus telah ditentukan Allah menjadi jalan pendamaian karena iman, dalam darah-Nya. Hal ini dibuat-Nya untuk menunjukkan KEADILAN-NYA….”; bdk. Roma 5:11; Kolose 1:20; 1 Yohanes 2:2; 4:10).
Tiga teks nubuat di atas: Yesaya 7:14 (Imanuel), Mikha 5:1 (permulaannya sejak dahulu kala dan purbakala), dan Yesaya 9:6 (besar kuasanya) hanya digenapi dalam diri Yesus Kristus. Dialah Mesias ilahi yang luar biasa. Eksistensi-Nya sejak kekal dan Ialah yang menyelasaikan masalah dosa manusia. Konsekuensi logisnya, jika hanya Allah yang dapat menyelesaikan masalah dosa, maka Yesus Kristus adalah Allah, tidak hanya dari ucapan-Nya, tetapi juga dari tindakan-tindakan spektakuler-Nya. Hal ini tidak hanya didukung dari penalaran logis (konsekuensi fakta), melainkan dari pernyataan Yesus sendiri dan kesaksian para rasul, serta pengikut-pengikut-Nya pasca para rasul.
Yesus—Mesias yang dijanjikan dan dinantikan—telah datang ke dunia, diam di antara kita, dan menjadi Imanuel; Ia menyatakan Allah bagi kita dan sekaligus menyertai kita selama-lamanya: “Dan ketahuilah, Aku MENYERTAI KAMU SENANTIASA sampai kepada akhir zaman” (Mat. 28:20).
Yesus yang lahir ke dunia menyatakan keadilan dan kebenaran Allah, sebagaimana yang telah Allah tunjukkan di zaman PL. Ini adalah keyakinan Kristen yang dipegang (dipercaya) selama ribuan tahun, abad demi abad. Alasan penggenapan nubuatan PL dilihat dari fakta yang terjadi. Artinya, antara isi nubuatan dan fakta yang terjadi, keduanya tidak bertentangan; dan Yesuslah yang menggenapi nubuat-nubuat itu. Ajaib bukan? Tidak salah jika kita mengatakan: Yesus Kristus adalah JURUSELAMAT YANG AJAIB. Mengapa? Proses kelahiran-Nya ajaib; Logos yang menjadi daging, ajaib; Maria yang belum menikah bisa hamil, ajaib. Ajaib pertanda Allah itu berkuasa dan benar-benar mempertunjukkan kuasa-Nya atas dunia. Sejumlah bala tantara sorga menyanyikan pujian bagi Allah atas peristiwa kelahiran Yesus, Sang Mesias yang dinantikan itu (Lukas 2:13-14).
Mesias itu menebus dosa secara ajaib yang tak dapat dilakukan manusia mana pun. Ia menguduskan kita secara ajaib, membenarkan kita secara ajaib. Dan apa yang dilakukan-Nya, sama sekali tak dapat diikuti, diciptakan, dan dilakukan oleh siapa pun juga. Hanya Yesus saja yang dapat melakukannya.
Jika demikian, mengapa kita masih ragu akan kuasa dan keajaiban-Nya yang telah diwariskan ribuan tahun lamanya? Bukankah Alkitab telah memuatnya untuk menjadi bacaan “ajaib” bagi kita yaitu “mengubah kehidupan buruk kita menjadi kehidupan yang berkenan kepada-Nya?”
Natal Yesus Kristus adalah ungkapan kuasa dan keajaiban Allah bagi kita semua. Jika kita terheran-heran akan keajaiban dunia (dengan segala kemewahan dan kecanggihannya), mengapa kita tidak terheran-heran dengan dosa-dosa kita yang telah diampuni oleh Sang Mesias Ilahi itu? Mengapa kita tidak bersyukur karena Ia telah lahir, hadir, diam, dan bersama dengan kita? Bukankah Ia adalah Imanuel yang permulaannya sudah sejak purbakala, sejak dahulu kala? Ajaib bukan?
Ketika manusia memilih untuk terpisah dari Allah, maka kejahatan dan pemberontakan menjadi bagian dalam hidupnya. Bukan Allah yang memusuhi manusia melainkan manusialah yang memusuhi Allah. Allah mengasihi manusia tetapi membenci dosa-dosanya. Sebaliknya, manusia memusuhi Allah karena peraturan-peraturan-Nya dianggap sebagai pengekangan terhadap kebebasannya. Manusia yang memusuhi Allah “membuang tanggung jawabnya” untuk setia dan taat pada Allah.
Kejahatan adalah fakta bahwa manusia “bebas” memilih apa yang dikehendakinya. Kejahatan adalah dibuangnya tanggung jawab terhadap Allah, yaitu tanggung jawab untuk tetap berada pada jalur Allah. Kejahatan adalah “jalan baru” yang diciptakan manusia untuk menunjukkan bahwa ia bebas dan menentukan jalannya sendiri; ia merasa otonom terhadap hidupnya.
Dengan kekuatannya, kegemilangan diri pun dapat diraih (dicapai) manusia. Lebih dari itu, kegemilangannya dirasakan sebagai bagian dari kebebasannya untuk menentukan pilihan yang terlepas dari Allah. Kondisi ini menumpuk kesombongan manusia menjadi sebuah “bukit pemberontakan”. Mengikuti pendahulunya, yaitu manusia-manusia pembuat “Menara Babel”, menumpuk kesombongan mereka untuk “mencari nama” dan supaya mereka tidak terserak ke seluruh bumi (Kejadian 11:4).
Ide untuk tetap “bersatu” justru dibuat Allah menjadi terbalik. Allah mengacaukan bahasa mereka sehingga mereka menjadi “terserak”. Kesombongan manusia untuk mencari “nama” bertujuan agar mereka tidak ke mana-mana; mereka inging terkenal dan berkembang di satu wilayah saja, dan mengabaikan tanggung jawab yang penting: “beranak cuculah dan penuhilah bumi” yang Allah berikan kepada nenek moyang mereka: Adam dan Hawa.
Melupakan tanggung jawab yang Allah berikan adalah sebuah kejahatan dan pemberontakan. Kebebasan untuk melakukan kejahatan dan pemberontakan adalah wujud dari perlawanan terhadap tanggung jawab yang Allah berikan. Kebebasan jenis ini sangat merusak diri manusia itu sendiri.
Setiap kejahatan menemukan dirinya sebagai bentuk perlawanan terhadap Allah dan kehendak-Nya. Perlawanan berdampak pada keburukan hidup, terpisah dari Allah. Lambat laun, kejahatan yang akan berbuahkan kelaliman dan kesesatan; manusia “lupa jalan pulang”. Ketika tersesat, jalan menuju kebahagiaan dan kedamaian “ditutup” oleh kebebalan hati manusia. Allah telah menyediakan jalan yang terbaik untuk menikmati kebahagiaan dan kedamaian yang luar biasa, berbeda dengan kebahagiaan dan kedamaian yang dunia berikan.
Allah menjamin mereka yang hidup dalam lingkup firman-Nya. Allah menyediakan apa yang kita butuhkan bagi “kebaikan” kita (kehidupan dan masa depan). Allah memperhatikan kehidupan umat-Nya. Dibanding “dunia”, Allah menyediakan kebahagiaan dan kedamaian yang hakiki, yang mendorong manusia untuk hidup dalam kasih karunia-Nya, menikmati apa yang layak dinikmati sesuai keperluan yang telah Allah sediakan bagi kita. Ingatlah apa yang dinyatakan Rasul Paulus kepada jemaat di Filipi: “Allahku akan memenuhi segala keperluanmu menurut kekayaan dan kemuliaan-Nya dalam Kristus Yesus” (Filipi 4:19).
Allah mendandani kita sedemikian rupa sehingga kita menjadi sempurna di dalam kasih-Nya. Tak ada yang dapat menggantikan “kasih Allah” bagi kehidupan manusia. Kasih Allah bersifat “membalut” luka batin, membalut luka relasi dengan orang-orang terdekat, dan membalut goresan-goresan hidup. Kasih Allah bersifat “mengarahkan” kehidupan kita seperti yang apa yang dikehendaki-Nya. Kasih Allah bersifat “memurnikan” hidup kita, sehingga menjadi kuat dan dewasa dalam iman.
Kasih Allah menjadikan manusia mengingat kebaikan-Nya dan menjauhkan diri dari segala kejahatan. Kejahatan semata-mata memisahkan diri kita dari Allah. Apalagi ketika kejahatan dibarengi dengan pemberontakan terhadap perintah-perintah Allah. Itu sangat mematikan, mendatangkan maut selama-lamanya.
Kasih Allah menguatkan kita untuk menempuh hari-hari yang penuh misteri. Kasih Allah menyertai kita sepanjang jalan, dan setiap tapak-tapak kaki yang kita jejaki di bumi ini meninggalkan warisan berharga bagi generasi berikutnya.
Finalnya, kasih Allah dicurahkan bagi manusia melalui inkarnasi Logos Allah ke dalam dunia dengan “menjadi manusia”—hidup bersama-sama dengan kita, penuh kasih karunia dan kuasa. Yesus Kristus—Logos Allah yang kekal—mengarahkan hidup kita untuk setia kepada Allah dan firman-Nya, dan menjamin bahwa “mereka yang percaya kepada-Nya [Yesus Kristus] beroleh hidup yang kekal (Yohanes 3:16).
Adakah hatimu penuh kejahatan? Adakah perilakumu memberontak terhadap Allah? Kembalilah kepada-Nya. Ia akan menyambutmu dengan kelembuhan kasih dan kemurahan-Nya; Ia menjamin hidupmu, menjamin masa depanmu, dan menjamin kehidupanmu dalam kerajaan-Nya.
Yesus Kristus adalah Logos Allah yang “keluar” dari diri Allah. Ia (Logos) diutus ke dalam dunia untuk menawarkan kehidupan yang penuh damai dalam kerajaan-Nya, kehidupan yang bebas dari kejahatan dan pemberontakan. Manusia yang dulunya terhilang dan terpisah dari Allah, kini, di dalam Yesus Kristus, semuanya disatukan dan disempurnakan di dalam kasih-Nya yang kekal.
Di dalam Yesus ada kasih yang sempurna; kasih yang memberi ketimbang menerima; kasih yang menolong yang lemah; kasih yang mengampuni; kasih yang menguatkan sesama; kasih yang dewasa menyikapi caci maki dan hinaan terhadap Yesus maupun terhadap firman-Nya. Tak perlu ragu dan takut jika kita hidup dalam kasih-Nya.
Percayalah, Yesus itu berkuasa dan mahakuasa. Ia lebih dari sanggup untuk menghancurkan para pembenci diri-Nya dan pembenci pengikut-Nya. Tak ada yang dapat melawan-Nya. Maut saja Dia kalahkan apalagi mengalahkan manusia yang dikalahkan maut? Kejahatan Dia kalahkan dan mereka yang menjadi umat pilihan-Nya, tidak akan dikuasai kejahatan, apalagi pemberontakan. Umat-Nya hidup dalam kasih dan kuasa-Nya, dijamin dan dipuaskan dalam menikmati kemurahan dan kebaikan-Nya.
Jangan lagi membiarkan hidup kita dikuasai kejahatan dan pemberontakan. Jauhkan itu dari hadapan kita, dan hiduplah dalam kasih Tuhan Yesus, kasih yang begitu kuat dan mengarahkan kita untuk hidup dalam kekudusan dan kebenaran-Nya. Jangan menjadi pelaku kejahatan tetapi kalahkan kejahatan dengan kebaikan; kebaikan yang lahir dari kasih yang murni, kasih yang berasal dari Yesus Kristus.
Yesus Kristus adalah “jalan pulang” kepada Bapa. Hal ini diteguhkan oleh Yesus sendiri: “Aku jalan, kebenaran, dan hidup, tidak ada seorang pun yang sampai kepada Bapa jikalau tidak melalui Aku” (Yohanes 14:6). Firman (Logos) Bapa adalah “jalan pulang”. Logos itu telah menjadi manusia dan mengajak kita kembali “pulang” menuju kerajaan-Nya. “Jalan pulang” itu masih tersedia di depan mata kita, dan kita diberikan kebebasan untuk memilih ke berjalan “melalui” jalan pulang itu. Yesus Kristus adalah “jalan” yang mengarahkan manusia menemukan “kebenaran” Allah Bapa, yang di dalamnya terkandung sebuah kualitas “kehidupan” yang tidak seperti dunia berikan.
Bersediakah kita kembali kepada Allah melalui “jalan pulang” yaitu Yesus Kristus?