FILSAFAT MASA DEPAN

Manusia memiliki kemampuan untuk berpikir tentang kehidupan, baik kehidupan di masa lalu, kehidupan di masa kini, maupun kehidupan di masa mendatang (harapan selama hidup dan harapan sesudah kematian). Melalui pikiran pula, manusia berpacu dengan waktu dan pekerjaan. Manusia menyibukan diri dengan berbagai aktivitas, usaha, kewajiban, menjalankan hak, berjuang, bergumul, bertarung, bersenang-senang, dan menikmati kebebasan. Semuanya—dipikirkan—untuk “mempertahankan hidupnya dan orang yang ia kasihi”. Dampak dari berpikir menginsyaratkan manusia untuk menikmati dan mempertahankan hidup. Dengan menikmati, manusia menerima segala yang baik, menerima segala hasil dari perjuangan dan pekerjaan yang berat. Dengan mempertahankan hidup, manusia berusaha untuk mendapatkan kebahagiaan diri sendiri, orangtua, keluarga, dan handai tolan.

Ketika pikiran menghasilkan sesuatu yang baik, maka dua hal ini dilakukan manusia: pertama, memikirkan masa depan; dan kedua, memikirkan kesenangan hari ini. Mereka yang menikmati hasil hidup hanya untuk kesenangan hari ini sebenarnya tidak terlalu peduli dengan masa depan. Harapan bahwa mereka dengan mudah mendapatkan segala sesuatu dan merasa bahwa tidak ada cukup halangan yang dapat menghambat pemerolehan segala sesuatu itu. Yang memikirkan masa depan—secara sederhana—adalah mereka yang berfilsafat tentang masa depan. Mereka memikirkan tentang harapan-harapan di masa mendatang dengan modal apa yang didapatkan saat ini dan modal “yang akan didapatkan” di masa mendatang.

Kita bergumul dengan kehidupan ini; kita bergumul di dalam waktu yang terus bergulir, dan tentunya, di dalamnya terselip keyakinan untuk menapaki hari esok, masa depan yang lebih baik. Itu berarti, kita masih memikirkan masa depan; kita berfilsafat mengenai hari depan. Meski hanya secara sederhana, namun gagasan memikirkan masa depan adalah sebuah langkah hidup yang sangat bijaksana.

Di saat ini, kita perlu memperhatikan sikap untuk “mencintai kebijaksanaan” (berfilsafat tentang masa depan). Meski hanya secara sederhana, namun gagasan memikirkan masa depan adalah sebuah langkah hidup yang sangat bijaksana. Filsafat masa depan berbicara tentang langkah-langkah yang harus ditempuh untuk mencapai sesuatu. Langkah-langkah tersebut adalah bukti bahwa kita masih memiliki sekumpulan berkas kerinduan dan keinginan untuk merasakan kebahagiaan, kenikmatan, kesukacitaan, kedamaian, keharmonisan, cinta kasih, dan persahabatan.

Langkah-langkah yang harus ditempuh untuk mencapai sesuatu di masa depan terdiri atas lima hal:

Pertama, merencanakan pencapaian hidup yang lebih baik untuk dinikmati bersama orang-orang yang dikasihi dan dicintai.

Kedua, merencanakan pencapaian pekerjaan yang mendorong untuk mencapai kehidupan yang lebih baik.

Ketiga, merencanakan pencapaian persahabatan yang lebih baik agar tercipta budaya tolong-menolong dan topang-menopang

Keempat, merencanakan pencapaian kepribadian yang lebih baik agar menjadi berkat dan teladan bagi orang lain; dan

Kelima, merencanakan pencapaian spiritualitas dan moralitas yang lebih baik agar menjadi “terang dan garam dunia” di mana pun berada.

Dari kelima langkah berfilsafat tentang masa depan di atas, terbuka peluang bagi kita untuk berpikir tentang apa yang hendak kita capai dan raih di masa depan. Jika kita menginginkan pencapaian hidup yang lebih baik untuk dinikmati bersama orang-orang yang dikasihi dan dicintai, mulai sekarang kita perlu berbenah diri dan meningkatkan kualitas hidup kita, yakni: kualitas komunikasi, relasi, kasih, integritas, persahabatan, komitmen, moralitas, dan kualitas spiritualitas adalah aspek-aspek yang tidak terpisahkan kehidupan mereka yang ingin pencapaian hidup yang lebih baik.

Jika kita menginginkan pencapaian pekerjaan yang mendorong untuk mencapai kehidupan yang lebih baik, maka kita perlu mengasesmen (menilai) apa yang telah kita kerjakan sebelumnya dan kemudian merumuskan tindakan-tindakan yang lebih baik atau tindakan-tindakan yang baru. Bekerja memang merupakan kebutuhan yang mendesak. Namun, pekerjaan yang kita geluti perlu diasesmen secara baik agar kita menjadi pribadi yang siap bekerja dan bertanggung jawab.

Jika kita menginginkan pencapaian persahabatan yang lebih baik agar tercipta budaya tolong-menolong dan topang-menopang, maka ketika ada konflik-konflik kecil atau pun besar, harus diselesaikan dengan baik. Persahabatan adalah sebuah perjalanan hidup yang mengokohkan, merangkul, dan menginspirasi. Persahabatan adalah buah dari kematangan berpikir dan berfisafat tentang masa depan. Sahabat adalah kekuatan di masa depan. Di sini, Tuhan mendidik kita untuk menghargai persahabatan yang tulus, penuh kasih, dan mengutamakan sikap jujur.

Jika kita menginginkan pencapaian kepribadian yang lebih baik agar menjadi berkat dan teladan bagi orang lain, maka apa yang selama ini dilakukan secara baik harus dipertahankan, dan apa yang belum dilakukan di masa lalu, perlu dilakukan di masa depan. Artinya, berbuat baik tak ada habisnya. Berbuat baik secara fisik berakhir ketika hidup kita berakhir. Akan tetapi, berbuat baik melalui karya dan pengaruh, akan terus berdampak pada generasi selanjutnya, meski mereka yang berkarya dan berpengaruh telah meninggalkan dunia ini.

Jika kita menginginkan pencapaian spiritualitas dan moralitas yang lebih baik agar menjadi “terang dan garam dunia” di mana pun berada, maka perbuatan-perbuatan baik haruslah selalu selaras dengan firman Tuhan. Dekatkan diri dengan Tuhan, Sang Pemberi Hidup. Pergumulan adalah proses penting di mana manusia dapat menjadi lebih dekat. Ketika hidup dirasa tanpa hambatan, jangan melupakan Tuhan. Suka dan duka adalah dua hal yang diizinkan Tuhan agar manusia menyeimbangkan pola hidupnya. Segala sesuatu ada waktunya. Ada saatnya kita tertawa, ada saatnya kita menangis dan bersedih. Seperti pernyataan Raja Salomo berikut ini adalah fakta yang tak terhindarkan:

“Untuk segala sesuatu ada masanya, untuk apapun di bawah langit ada waktunya. Ada waktu untuk lahir, ada waktu untuk meninggal, ada waktu untuk menanam, ada waktu untuk mencabut yang ditanam; ada waktu untuk membunuh, ada waktu untuk menyembuhkan; ada waktu untuk merombak, ada waktu untuk membangun; ada waktu untuk menangis, ada waktu untuk tertawa; ada waktu untuk meratap; ada waktu untuk menari; ada waktu untuk membuang batu, ada waktu untuk mengumpulkan batu; ada waktu untuk memeluk, ada waktu untuk menahan diri dari memeluk; ada waktu untuk mencari, ada waktu untuk membiarkan rugi; ada waktu untuk menyimpan, ada waktu untuk membuang; ada waktu untuk merobek, ada waktu untuk menjahit; ada waktu untuk berdiam diri, ada waktu untuk berbicara; ada waktu untuk mengasihi, ada waktu untuk membenci; ada waktu untuk perang, ada waktu untuk damai.

Apakah untung pekerja dari yang dikerjakannya dengan berjerih payah? Aku telah melihat pekerjaan yang diberikan Allah kepada anak-anak manusia untuk melelahkan dirinya. Ia membuat segala sesuatu indah pada waktunya, bahkan Ia memberikan kekekalan dalam hati mereka. Tetapi manusia tidak dapat menyelami pekerjaan yang dilakukan Allah dari awal sampai akhir. Aku tahu bahwa untuk mereka tak ada yang lebih baik dari pada bersuka-suka dan menikmati kesenangan dalam hidup mereka. Dan bahwa setiap orang dapat makan, minum dan menikmati kesenangan dalam segala jerih payahnya, itu juga adalah pemberian Allah. Aku tahu bahwa segala sesuatu yang dilakukan Allah akan tetap ada untuk selamanya; itu tak dapat ditambah dan tak dapat dikurangi; Allah berbuat demikian, supaya manusia takut akan Dia” (Pengkhotbah 3:1-14)

Filsafat masa depan juga berbicara tentang “waktu” yang akan menjadi bagian penting di masa depan. Saat ini, kita diperhadapkan dengan banyak hal dan melalui proses “waktu” kita ditempa dan diuji untuk menghasilkan kualitas hidup yang kokoh di dalam iman kepada Yesus Kristus.

“Waktu” akan menempa, menguji, dan mengikis rencana pencapaian hidup yang lebih baik. Milikilah komitmen yang teguh.

“Waktu” akan menempa, menguji, dan mengikis rencana pencapaian pekerjaan yang mendorong untuk mencapai kehidupan yang lebih baik. Milikilah kualitas diri.

“Waktu” akan menempa, menguji, dan mengikis rencana pencapaian persahabatan yang lebih baik. Milikilah konsistensi dan kasih yang kokoh.

“Waktu” akan menempa, menguji, dan mengikis rencana pencapaian kepribadian yang lebih baik. Milikilah integritas diri.

“Waktu” akan menempa, menguji, dan mengikis rencana pencapaian spiritualitas dan moralitas yang lebih baik. Milikilah hubungan yang akrab dengan Tuhan dan tetap setia kepada firman-Nya.

Filsafat masa depan memberikan gambaran yang baik tentang bagaimana kita menapaki hidup dan berjuang. Menapaki hidup berarti kita melangkah. Melangkah untuk bekerja, berelasi, bersahabat, dan memuji keajaiban kuasa Tuhan. Menapaki hidup berarti kita bekerja untuk mempertahankan hidup. Bekerja secara baik dan bertanggung jawab. Menapaki hidup berarti kita secara “step by step” menimbun kebaikan dan kualitas hidup agar di masa depan kita dapat mencapai apa yang kita harapkan dan rindukan.

Berjuang untuk masa depan berarti kita mempergunakan potensi berpikir dan potensi kualitas diri untuk mengaplikasikan apa yang telah Tuhan berikan kepada kita. Berjuang untuk masa depan berarti kita tahu bahwa “ada harapan yang disediakan Tuhan”. Berjuang untuk masa depan berarti kita bertanggung jawab di hadapan Tuhan karen Ia telah memberikan segala potensi dalam diri kita untuk bertahan hidup.

Berjuang untuk masa depan berarti kita telah berfilsafat secara sederhana untuk “mengantisipasi masa depan” yang disertai lima langkah sebagaimana telah saya jelaskan di atas.

Akhirnya, berfilsafat tentang masa depan adalah kewajiban setiap orang—kecuali seseorang tidak lagi membutuhkan kehidupan dan kebahagiaan. Marilah memandang masa depan dengan keyakinan bahwa Tuhan akan selalu beserta kita dan memberkati kita. Kita perlu menunjukkan kualitas moral dan spiritual, serta kualitas pekerjaan, hidup, komitmen, dan integritas. Tuhan telah menyediakan berkat bagi mereka yang setia kepada-Nya dan menjalankan kehidupan selaras dengan firman-Nya (perintah-perintah-Nya).

Selamat menyambut situasi dan kondisi yang baru setiap hari. Ketika kita bangun, mengucap syukurlah bahwa Tuhan masih memperhatikan keadaan kita. Kiranya damai sejahtera Kristus memerintah dalam hati kita, sehingga kualitas iman dan hidup terpancar dalam setiap kata, pikiran, dan perbuatan.

Selamat bersyukur atas kehidupan yang Tuhan berikan. Semoga kualitas iman dan hidup yang telah dikerjakan dan dijalani selama hidup kita, akan tetap dilanjutkan, terlebih ditingkatkan, agar nama Tuhan dipuji dan dimuliakan. Dan kita pun dapat menyenangkan hati-Nya.

Jadilah teladan dalam dalam perkataanmu, dalam tingkah lakumu, dalam kasihmu, dalam kesetiaanmu dan dalam kesucianmu, setiap hari, setiap waktu, sampai Tuhan Yesus datang kembali. Berjuanglah melewati waktu. Berjuanglah dan tapakilah hidup bersama Tuhan Yesus. Ia adalah Imanuel. Ia mengasihi kita; Ia peduli dengan kita.

Salam Bae

Sumber gambar-gambar: UNSPLASH

IMAN DAN INSPIRASI HIDUP

person in blue dress wearing black leather sandals standing on dried leaves

Hidup adalah sesuatu yang terus bergerak. Bergerak dari zaman ke zaman, dari musim ke musim, dari waktu ke waktu, dari hari ke hari, karena semuanya diberikan hidup dan kapasitas oleh Tuhan. Keadaan atau kondisi hidup adalah bagian internal dari apa yang dinamakan “perjuangan mempertahankan hidup”. Yang perlu kita sadari adalah bahwa Tuhan telah memberikan kepada kemampuan untuk melakukan banyak hal, bukan hanya “satu hal”. Kemampuan itu disertai dengan kelemahan, karena kita terbatas. Tidak ada manusia di dunia ini yang dapat mengangkat batu sebesar rumah (tanpa menggunakan alat bantu), atau batu dengan kapasitas berat seratus ribu kilogram. Itu berarti, kita lemah.

brown cliff near beach

Lemah yang lain adalah kita tidak bisa bekerja terus-menerus selama satu bulan tanpa tidur sedikit pun. Itu berarti, kita lemah. Lemah yang lain adalah setiap manusia pasti akan merasakan “sakit” pada tubuhnya, sakit karena bekerja dan terlalu lemah, sakit karena sudah tua, sakit karena terserang penyakit dan lain sebagainya. Itu berarti, kita lemah. Lemah yang lain adalah seringkali kita melakukan dosa dan tidak sanggup untuk menolaknya. Mulai dari dosa yang biasa sampai dosa yang luar biasa bahkan sampai “dosa yang biasa di lakukan di luar” rumah. Itu berarti, kita lemah. Lemah yang lain adalah kita tidak bisa menolak kematian. Tak ada satu pun manusia yang bisa menolak kematian. Semua pasti mati. Itu berarti, kita lemah. Lemah yang lain adalah seringkali kita merasa lapar. Tidak ada manusia yang tidak makan. Semuanya makan dan minum. Itu berarti, kita lemah.

woman in white sleeveless dress sitting beside woman in white sleeveless dress

Kemampuan dan kelemahan adalah dua hal yang diberikan Tuhan. Jika manusia selalu merasa mampu, dengan kekuatannya sendiri ia merasa sanggup mengatasi persoalan hidup, maka dia akan melupakan Tuhan yang mem-berikan hidup dan kekuatan. Alkitab berkata:

“Terkutuklah orang yang mengandalkan manusia, yang mengandalkan kekuatannya sendiri, dan yang hatinya menjaud dari pada TUHAN!”

“Percayalah kepada TUHAN dengan segenap hatimu, dan janganlah bersandar kepada pengertianmu sendiri”

Perintah di atas menggambarkan kelemahan manusia sekaligus kemampuan manusia untuk taat kepada perintah TUHAN. Hanya orang beriman teguh dan sungguh-sungguh melayani TUHAN yang dapat taat sepenuhnya kepada TUHAN.

Orang yang beriman memiliki banyak sekali inspirasi dari pengalaman hidupnya bersama dengan Tuhan. Meskipun kita juga tahu bahwa orang yang jauh dengan Tuhan dapat saja menciptakan inspirasi bagi dirinya dan orang lain. Tetapi esensi dari inspirasi itu tentu berbeda secara kualitas dan tujuannya. Yang beriman, kualitas dari inspirasinya selalu didasarkan pada kebergantungan hidupnya kepada Tuhan dan hal itu dapat menjadi prinsip dan inspirasi bagi semua orang yang percaya, di mana pun, dan kapan pun.

brown grass field during daytime

Iman dan inspirasi hidup memadukan kualitas dan kejujuran dalam kata dan perbuatan seseorang. Iman dan inspirasi hidup membentuk karakter yang mampu bersaing dalam berbagai aspek, mampu menolong orang lain, mampu menopang orang yang susah dan lemah, mampu membangkitkan semangat juang yang telah pudar, mampu mengembangkan talenta dan karunia yang dimiliki oleh orang-orang pilihan Tuhan. Iman dan inspirasi hidup menyatakan apa adanya dasar kepercayaan seseorang, dan kemudian, ia menjadi teladan bagi sesamanya. Inspirasi adalah sesuatu yang lahir dari pengalaman dan keyakinan seseorang, lalu dianalisis. Hati yang bersih dan tunduk pada kedaulatan Tuhan akan menghasilkan inspirasi yang kuat, berbobot, tahan lama, dan teruji.

woman in white dress walking on forest

Semua iman yang kita miliki harus diuji. Ujian itu datangnya dari Tuhan. Tuhan yang menguji, menyediakan kemampuan dan kekuatan agar sanggup keluar dari ujian tersebut. Yang takut diuji, tidak memiliki iman yang teguh. Mungkin saja imannya hanya pada permukaannya saja, tidak dalam dan berakar. Sebuah tumbuhan yang kuat dan kokoh, diukur dari akarnya. Akar adalah pondasi segala sesuatu – dan iman, adalah akar dari segala kepercayaan kita akan firman-Nya, mukjizat-Nya, kedaulatan-Nya, kasih-Nya dan rencana-Nya.

Iman patut mendapat penghargaan, jika telah lulus ujian. Tuhan akan menyediakan mahkota kehidupan bagi siapa yang setia dan bertahan. Iman dibutuhkan ketika kita lemah tak berdaya – dan dengan iman itu, jalan kita yang telah terputus dapat tersambung menuju tujuan yang mulia. Iman dibutuhkan ketika kita tahu bahwa diri kita lemah dan terbatas. Iman mengantarkan kita kepada kuasa, kasih, rencana, dan mukjizat Tuhan. Semuanya kita nikmati dalam terang ketaatan dan ketundukkan mutlak kepada-Nya. Apa yang dapat kita lakukan sekarang? Berjuanglah mendapatkan iman yang sejati melalui jalan yang telah Tuhan tetapkan untuk dijalani. Nikmati semua ujian dari Tuhan; nikmati semua serangan, hambatan dan tantangan.

white and brown windmill on brown grass field under blue sky during daytime

Iman akan semakin teguh berdiri dan bertumbuh, hanya jika iman itu telah melalui semua hasutan, semua perlakuan yang tidak adil, diskriminasi, hambatan, tantangan, dusta, fitnah. Iman itulah yang kemudian meng-hasilkan inspirasi bagi hidup kita. Kita menjadi berkat bagi sesama kita melalui iman kita – iman yang kita nyatakan dalam kata dan perbuatan kita, tanpa kemunafikan. Tuhan akan selalu menyertai orang-orang yang beriman kepada-Nya, menujukkan jalan yang akan dilaluinya meskipun badai dan topan akan menghadang di depannya. Tuhan pasti menopang, menjaga, dan memelihara umat-Nya. Berdoalah senantiasa, memohan pertolongan, kekuatan, hikmat, bijaksana, dan akal budi, sehingga segala sesuatu yang kita lakukan, tidak menjebak kita ke dalam dosa dan rayuan Iblis.

Kemudian, kita dituntut untuk terus beriman dan menjadi berkat bagi sesama, lewat kata (inspirasi) dan perbuatan (mengasihi dan mengampuni, menolong dan menopang). Ciptakanlah inspirasimu, nyatakanlah imanmu, dan bagikanlah itu kepada semua orang, agar mereka juga dapat membagikannya kepada siapa saja yang mereka temui.

Tulisan ini diambil dari buku saya yang berjudul: “IMAN, MAKNA, DAN INPIRASI HIDUP KRISTEN (2013)

Sumber gambar:

  1. https://unsplash.com/photos/lRp1oc7hFWE
  2. https://unsplash.com/photos/J8ySAkyXkmk
  3. https://unsplash.com/photos/gorbBYbo6KM
  4. https://unsplash.com/photos/alWWQKA9eNY
  5. https://unsplash.com/photos/MOmyYDm5HRc
  6. https://unsplash.com/photos/jRIQHwUyjqM

IMAN: BAHASA KEYAKINAN

man praying

“Iman”, suatu kata yang lazim diperbincangkan dalam konteks agamais, atau pun di kalangan akademisi. Kata tersebut memiliki serangkaian makna yang mendalam yang dikaitkan dengan kualitas hidup, kualitas kepercayaan kepada Tuhan, kualitas ketaatan dan kesetiaan kepada janji dan perintah Tuhan, kualitas pelayanan, kualitas perbuat-an, kualitas kejujuran, kualitas perkataan dan kualitas pikiran kita.

Dalam faktanya, di sepanjang sejarah – iman memiliki dampak yang sangat luas dalam perkembangan hidup manusia, baik yang beragama maupun yang tidak beragama (tidak percaya kepada Tuhan), sebab yang tidak percaya kepada Tuhan, juga mempunyai “keyakinan” bahwa Tidak ada Tuhan, di mana kata “keyakinan” dan disejajarkan dengan kata “iman” dari aspek “prinsip.

Iman merangkum semua konteks hidup dan tindakan manusia dalam bingkai “agama”. Iman bisa juga menjadi senjata untuk menghakimi, tatkala ada sesuatu yang dialami oleh manusia dan tak kunjung usai, entah penderitaan, entah penyakit, entah kecelakaan, entah penganiayaan, entah kutukan, entah kemiskinan, entah keterpurukan, entah bencana, entah kematian, entah iri hati, dan sebagainya.

Iman adalah “bahasa keyakinan”, di mana keyakinan seseorang diukur dari seberapa besar ia beriman kepada objek yang diimaninya. Ukuran besarnya iman memang tidak dapat dipastikan sebab iman itu bukan benda yang dapat diukur besar, panjang, tinggi, dan lebarnya. Iman itu tidak terlihat. Ia ada di dalam hati dan pikiran manusia. Ia nyata, ketika manusia bertindak – dan hasil dari tindakan manusia, menjadi hasil yang nyata, tidak bisa direkayasa, tidak bisa ditipu, tidak bisa ditutup-tutupi dan tidak bisa dihilangkan.

silhouette photo of man on cliff during sunset

“Tindakan” menjadi faktor penentu nyatanya iman itu. Kita seringkali malu menampakkan iman itu di hadapan orang banyak (sesama kita). Kadang, akibatnya adalah penilaian dari orang lain terhadap diri kita menjadi berkurang. Kita tentu dapat melihat ini sebagai fakta hidup yang mungkin terjadi di sekitar kita. Kita pun dapat menyerap makna-makna lain dari setiap kejadian yang terjadi di sekitar kita. Iman adalah suatu kekuatan bagi kita, bagi hidup kita dan bagi harapan kita. Saya tahu bahwa iman itu datangnya dari Tuhan – Ia adalah Sang Pemberi iman, dan Ia pula yang menentukan seberapa besar iman kita bertumbuh. Pertumbuhan iman harusnya dapat dipahami dan dinilai oleh setiap manusia yang percaya kepada Tuhan.

Bertumbuhnya iman, bergantung pada seberapa sering kita berdoa dan bersandar kepada Tuhan dalam menjalani setiap langkah hidup kita yang selalu diperhadapkan dengan situasi dan kondisi yang baik atau buruk, yang senang dan susah, yang sulit dan mudah, yang keras dan lembut. Kita tentu tidak bermasa bodoh dalam menilai pertumbuhan iman kita, yang seringkali tidak dipedulikan oleh orang-orang Kristen. Saya memang tidak dapat menduga seberapa besar orang-orang Kristen yang tidak menilai pertumbuhan imannya; tidak menum-buhkembang-kan imannya dan tidak mengoreksi imannya. Mungkin dikarenakan sulitnya mencari kesempatan untuk mere-nungkan hidup dan kepelikkannya, sehingga kita dibiasa-kan dan membiasakan diri dengan hal-hal yang mungkin tidak berguna atau dengan melakukan berbagai pekerjaan dan tugas-tugas yang belum tuntas dan bahkan bisa saja tak kunjung usai. Asal saja kita tahu siapa diri kita di hadapan Tuhan dan siapa Tuhan di hadapan kita, maka kita akan dapat menilai seberapa lemahnya kita di hadapan Tuhan dan seberapa jauhnya Tuhan dari hadapan kita, sebab kitalah yang menjadikan diri kita jauh dari Tuhan.

shallow focus photography of person raising hand

Kita bisa saja tidak mengindahkan teguran dan janji Tuhan yang dengan istimewanya menjadikan kita sebagai biji mata-Nya dan dijaga-Nya kita seperti biji mata-Nya. Bukankah itu hal yang luar biasa? Bukankah hal itu menandakan bahwa betapa berharganya kita di mata Tuhan? Jangan biarkan iman kita, yang adalah bahasa keyakinan yang teguh di dalam kuasa dan kebenaran Tuhan, diombang-ambingkan oleh sederet godaan Iblis yang bisa mengancam gugurnya iman kita. Kita perlu mawas diri, kita perlu berbenah diri dan bertindak segera jika iman mendorong kita untuk maju dan bertanggung jawab atas apa yang telah Tuhan percayakan kepada kita.

Dengan iman kita dapat berjalan aman dengan Tuhan. Dengan iman kita dapat meraih masa depan yang disediakan Tuhan. Dengan iman kita dapat dituntun Tuhan untuk mendapatkan berkat-berkat-Nya. Dengan iman kita semakin bercahaya dan menjadi pelaku-pelaku firman, memancarkan kasih Kristus kepada semua orang, tanpa ragu, tanpa rasa malu dan tanpa rasa gengsi. Buang itu jauh-jauh. Taatlah pada Tuhan dan tetap setia melakukan apa yang diperintahkan-Nya kepada kita. Menjadi Kristen, bukanlah hal yang mudah – banyak tuntutan yang harus dijalankan. Tuntutan itu sifatnya perlu untuk menyaring orang-orang Kristen yang katanya percaya kepada Tuhan Yesus, agar kita dapat mengetahui, mana yang setia dan mana yang tidak setia.

Yang tidak setia pasti akan mundur dan menciptakan jalannya sendiri yang dianggapnya lurus, tetapi ujungnya menuju maut. Seperti yang Alkitab katakan bahwa Tuhan menghajar dan menyesah orang yang dianggap-Nya seba-gai anak – Tuhan mengasihinya – dan implikasinya adalah tidak ada anak yang tidak dihajar oleh orangtuanya. Tuhan pun demikian. Ia ada-lah Bapa kita yang senantiasa menegur, menasihati, membimbing, mengarahkan, mengampuni, menghajar jika kita melakukan kesalahan, dan memberi kita damai sejahtera di dalam Yesus Kristus.

person reading book while kneeling

Iman adalah landasan hidup Kristen di dalam Yesus Kristus. Meskipun iman Kristen sering dianggap sebagai iman yang tidak masuk di akal, tetapi iman memanglah demikian. Jika manusia hanya mau imannya masuk di akalnya, maka dia sendiri sebenarnya sedang mengatur Tuhan. Tuhan tidak perlu diatur. Dialah yang mengatur kita. Iman sebagai bahasa keyakinan, membuktikan banyak hal dalam konteks melakukan firman-Nya, dan hidup bersama-Nya. Orang-orang yang memiliki prinsip dan komitmen hidup di dalam Tuhan, adalah mereka yang juga memiliki iman – yang pada dasarnya, mereka tahu bahwa ada Tuhan yang selalu menyertai, memberkati, membim-bing, mengarahkan ke arah yang jelas serta menggendong di saat mereka lelah dan letih akan perjalanan hidup ini.

Siapa yang “setia” adalah orang yang beriman. Siapa yang beriman harus “setia”. Kesetiaan orang beriman, juga dijamin oleh Yesus. hal-hal itu harus dimiliki dan terus dimiliki, sebab keduanya akan menghasilkan keteguhan hidup dan semangat juang yang tinggi yang berorientasi pada hidup yang akan datang. Jangan sia-siakan waktu kita untuk terus duduk tenang tanpa menghasilkan apa-apa. Jangan sia-siakan waktu kita untuk terus melalukan hal-hal yang tidak semestinya kita lakukan. Jangan sia-siakan waktu kita untuk terus melalukan hal-hal yang tidak berorientasi pada masa yang akan datang. Kita perlu meni-lainya, jenis pekerjaan mana yang membawa manfaat bagi kita, bagi sesama kita dan bagi masa depan kita.

Tindakan “menilai” tindakan atau pekerjaan kita, manakah yang membawa manfaat bagi kita bagi totalitas kehidupan kita, adalah sebuah langkah maju di dalam mengukur prinsip hidup kita. Sebaiknya, prinsip hidup harus berorientasi pada “makna” yang esensinya mengandung “kebaikan” dan “kebahagiaan”. Dengan mengukur kemampuan kita, maka kita akan mengetahui tindakan apa yang akan kita lakukan. Dengan demikian, kita melakukan apa yang sanggup kita lakukan – dan seperti perkataan Paulus: Tuhan memberikan kepada kita pencobaan-pencobaan yang tidak melampaui kekuatan kita. Artinya, setiap hal yang diberikan Tuhan, sudah pasti dijamin Tuhan bahwa kita akan sanggup menjalaninya atau mengatasinya. Itu sebabnya, jangan sia-siakan waktu kita hanya mau berdiam diri dan tidak mau bekerja keras mencapai sesuatu yang baik. Jangan sia-siakan waktu kita untuk terus mondar-mandir menyebarkan isu-isu busuk tentang sesama kita.

Jangan sia-siakan waktu kita ketika kita terus stagnan dalam hal pengetahuan tentang Tuhan, tentang iman, tentang kasih, tentang pengampunan, tentang hidup, tentang relasi terhadap sesama dan tentang kebenaran Tuhan. Jangan sia-siakan waktu kita ketika kita terus berkeras hati tidak mau belajar dan belajar, mengasa potensi diri yang mungkin kita pendam. Kita harus melatih diri kita untuk mengembangkan potensi diri, sebab dengan tindakan melatihlah, kita menjadikan diri kita terbiasa terhadapnya dan dapat menghasilkan potensi diri yang luar biasa. Latihan adalah suatu tindakan yang sering dilakukan setiap manusia. Ketika satu tim sepak bola akan melangsungkan pertandingan antar kota, maka tidak hanya satu tim, melainkan semua tim yang bergabung dalam kompetisi tersebut, melakukan latihan guna membiasakan diri dalam menyusun strategi atau taktik supaya menang dalam pertandingan tersebut.

Tidak cuma itu, setiap peserta dalam suatu lomba balap motor, melakukan latihan sebelum bertanding. Setiap regu paduan suara yang akan memamerkan kekompakan suara tim dalam suatu kompetensi, akan melakukan latihan sebelum tampil dalam kompetensi tersebut. “Latihan”, dibutuhkan dalam berbagai bidang hi-dup manusia. Beribadah pun, kata Paulus, juga perlu dilatih. Latihan badani terbatas waktunya, tetapi ibadah mengandung janji dan hidup yang akan datang, demikian kata Paulus. Seorang penulis hebat, tidak akan menjadi penulis hebat jika ia tidak melatih dirinya untuk selalu menulis dan menulis. Setidaknya, langkah awal adalah “melatih” dirinya untuk memulai menulis meskipun kita tahu bahwa ada kekeliruan, kurang menarik atau pun kesalahan dalam penulisan awal. Tindakan yang sering dilakukan akan menjadi suatu kebiasaan. Jika tindakan yang sering dilakukan itu adalah tindakan yang ber-manfaat, tentu hasilnya akan bermanfaat bagi sesama. Begitu pula dengan tindakan negatif yang sering dilakukan, akan menghasilkan efek negatif bagi diri kita dan sesama manusia.

Jadi, sebaiknya, latihlah diri kita dengan tindakan-tindakan yang baik, sehingga hasilnya akan memuaskan dan memberi pengaruh yang baik pula bagi sesama kita. Jangan sia-siakan waktu kita untuk terus bersantai-santai tanpa memikirkan apa yang harus “saya wariskan” kepada dunia, kepada keluarga, kepada anak-anak, kepada lembaga di mana kita bekerja, kepada jemaat dan kepada orang-orang beriman berikutnya. Jangan sia-siakan waktu kita untuk tidak melakukan perbuatan-perbuatan baik yang diperintahkan Tuhan untuk kita lakukan. Jangan simpan kebaikan hatimu sebab hal itu tidak ada gunanya. Tuhan mau tindakan nyata bukan konsep dan penyimpanan kebaikan diri. Jangan sia-siakan waktu kita untuk memendam [semua] talenta yang sudah berikan kepada kita. Talenta jangan disimpan, jangan pula dibuang, jangan pula dikubur dan jangan pula dibiarkan. Talenta harus dipergunakan. Itulah bagian dari tindakan iman.

person reading book

Jangan sia-siakan waktu kita untuk terus menyom-bongkan diri dengan setampuk talenta yang kita miliki. Tak ada gunanya jika hanya menjadi pajangan-pajangan di pintu bibir kita. Jangan sia-siakan waktu kita untuk terus bermasa bodoh terhadap perkembangan zaman di mana kita hidup di dalamnya. Kita harus melangkah dengan iman yang dari Tuhan, bukan dengan keyakinan diri sendiri. Kita perlu hati-hati di sini. Iman dari Tuhan adalah iman yang didasari pada prinsip-prinsip firman-Nya. Keyakinan diri didasari pada pemahaman yang dangkal akan sesuatu hal dalam hidup yang harus dilalui, ditindaki dan dikerjakan tanpa melibatkan Tuhan dan menganggap bahwa dirinya sanggup untuk melakukannya. Tuhan memberikan kita hikmat dan akal budi. Keduanya dipakai sebagai sarana untuk menilai dan menimbang segala sesuatu yang akan kita lakukan. Bertindak hati-hati lebih baik daripada bertindak buru-buru atau ceroboh tanpa berpikir secara matang.

Iman adalah bagian dalam diri kita yang telah Tuhan berikan. Kita tak dapat menolak dan mengatakan: “Saya tidak butuh iman”. Dengan mengatakan demikian, sebenarnya, kalimat tersebut adalah bentuk imannya [keyakinannya] untuk tidak membutuhkan iman. Tentu iman yang dimaksud adalah iman yang tidak semestinya, sebab iman yang dari Tuhan adalah iman yang menghargai kehendak Tuhan, tunduk dan taat kepada firman Tuhan, dan terus melalukan apa yang berkenan kepada Tuhan sebagai bagian dari hidup dan anugerah yang diberikan-Nya. Marilah kita senantiasa bersandar kepada Tuhan, dan dengan iman, kita terus melalukan firman-Nya. Iman yang murni adalah iman yang tetap setia kepada Tuhan dan firman-Nya.

bible page on gray concrete surface

Iman yang terkontaminasi dan iman yang terdiskrimi-nasi adalah iman yang dicampuri dengan keraguan yang mendalam akan kuasa Tuhan, iman yang dicampuri dengan kenikmatan dunia yang menghimpit hati dan pikirannya. Iman, bukanlah satu kata yang biasa saja. Dengan satu kata itulah dunia dapat diubahnya. Iman mengharuskan ketaat-an kepada Sang Pemberi iman. Manusia dapat diubah hanya dengan satu kata: “Iman”. Gunung dapat dipin-dahkan hanya dengan satu kata: “Iman”. Dunia dipengaruhi oleh orang-orang yang memiliki “Iman” kepada Yesus Kristus. Dunia dikalahkan dengan satu kata: “Iman” kepada Yesus Kristus, Anak Allah. Rasul Yohanes menyatakan: “Sebab inilah kasih kepada Allah, yaitu bahwa kita menuruti perintah-perintah-Nya. Perintah-perintah-Nya itu tidak berat, sebab semua yang lahir dari Allah, mengalahkan dunia. Dan inilah kemenangan yang mengalahkan dunia: iman kita. Siapakah yang mengalahkan dunia, selain dari pada dia yang percaya, bahwa Yesus adalah Anak Allah? (1 Yohanes 5:3-5).

silhouette of people raising hands

Iman, itulah sebutan popular dalam Kristen. Hiduplah dengan terus bersandar kepada Tuhan Allah, yang dengannya kita dapat melakukan hal-hal yang luar biasa yang tanpa kita duga sebelumnya. Perbuatan-perbuatan kasih, yang dilakukan di dalam iman, akan menghidupkan semangat yang rapuh, semangat yang patah dan semangat yang pudar. Bibir mulut kita akan menceritakan perbuatan-perbuatan TUHAN yang luar biasa, ketika kita beriman kepada-Nya. Iman diberikan bukan untuk menipu orang lain. Iman diberikan bukan untuk memperkaya diri dengan cara-cara yang brutal dan keji. Iman diberikan bukan untuk menyombongkan diri. Iman diberikan bukan untuk adu ketangkasan dan kehebatan diri. Iman diberikan bukan untuk mendapatkan segala keinginan daging kita termasuk pemuasan diri dengan seks yang tak terkendali. Iman diberikan bukan untuk menyiksa orang lain. Iman diberikan bukan untuk saling menyalahkan tanpa menilai sesuatu dengan bijaksana dan hikmat Allah. Iman diberikan bukan untuk memuja diri sendiri dan memamerkan diri sendiri.

person standing on hill

Iman diberikan untuk memuji dan memuliakan Tuhan. Iman diberikan untuk menyatakan kemuliaan dan kuasa Tuhan. Tak ada alasan bagi kita untuk menjadikan iman sebagai senjata diri untuk tujuan kepuasan diri sendiri. Tuhanlah yang layak ditinggikan, disembah dan diagung-kan. Mari, kita melakukan firman-Nya dengan iman yang teguh, iman yang taat dan iman yang murni, karena itulah yang dikehendaki Tuhan dan itulah yang akan menjadikan kita dihargai Tuhan dan sesama kita. Iman adalah bahasa keyakinan, akan mengantar kita kepada kekekalan. Iman membawa kita dari satu anak tangga naik ke anak tangga berikutnya. Iman membawa kita  untuk hidup kudus di dalam Tuhan, menjaga sikap, hati dan pikiran agar tetap murni dan suci, disiplin dan tegas.

Iman itu indah. Iman itu damai. Iman itu tegas. Iman itu sifatnya “pembeda” dan “pemisah”: membedakan yang baik dan jahat dan memisahkan yang jahat dari yang baik. Jika kita yakin bahwa kita beriman, seharusnya kita menilai segala perbuatan kita, apakah semakin sesuai dengan prinsip-prinsip Alkitab dan berlanjut kepada keserupaan dengan Yesus Kristus, atau tidak. Dengan demikian, kita akan menjadi orang-orang yang berbahagia dan diberikati Tuhan.

Tulisan ini diambil dari buku saya yang berjudul “Iman, Makna, dan Inspirasi Hidup Kristen” (2013)

Sumber gambar:

  1. https://unsplash.com/photos/OptEsFuZwoQ
  2. https://unsplash.com/photos/_6HzPU9Hyfg
  3. https://unsplash.com/photos/BtNxJsFOjtQ
  4. https://unsplash.com/photos/voIzq8LEdlo
  5. https://unsplash.com/photos/G-_L3Eqkqmc
  6. https://unsplash.com/photos/9zsHNt5OpqE
  7. https://unsplash.com/photos/Zhao6F3du80
  8. https://unsplash.com/photos/EAvS-4KnGrk

BEBAN HIDUP MENYELAMATKAN KITA: Sebuah Refleksi yang Menguatkan

unknown persons walking outdoors

Barangkali kita menolak untuk memiliki atau memikul beban hidup karena dianggap memberatkan kita, atau membuat kita sulit berjalan, bergerak, dan bernapas. Bahkan mungkin kita mau beban hidup itu ada di pundak orang lain dan kita tinggal menontonnya dengan penuh sikap sinis: berharap ia jatuh, tak mampu, dan celaka. Apakah kita pernah berbuat demikian? Ataukah justru kitalah yang mengalami hal tersebut: memikul beban yang berat dan orang lain mencibir kita dengan sinis?

people skiing on snow covered mountain

Tunggu dulu! Kita tahu bahwa tak ada manusia yang tak memiliki beban hidup. Yang berbeda adalah soal “ringan-beratnya”. Itu pun tergantung dari siapa yang mendefinisikannya, apakah ringan itu benar-benar ringan, dan berat itu benar-benar berat. Siapa pun dapat menilai dan mengukur kekuatan beban hidup itu sendiri. Rentang waktu yang kita jalani, tak sedikit hambatan, tantangan, tekanan, desakan, polusi pikiran, emosional, kemarahan, perselisihan, kebencian, iri hati, kemunafikan, menghiasa proses kehidupan kita. Di samping hal-hal positif yang kita rasakan, hal-hal negatif juga dapat secara simultan (bersamaan) datang menghampiri kita. Atau barangkali datang secara bergantian.

Perhelatan hidup yang mengusung potensi dan karya, cukup menyita perhatian kita. Pasalnya, potensi-potensi yang kita miliki dapat berbuahkan karya-karya yang bermanfaat, di samping karya-karya yang menipu dan merusak diri sendiri. Beban-beban hidup dapat dimaknai secara variatif. Ada yang menganggapnya sebagai latihan iman; ada yang menganggapnya sebagai bagiaan dari proses kehidupan; ada yang menganggapnya sebagai akibat dari kesalahannya sendiri (salah bertindak, salah berucap, salah memutuskan); dan ada pula yang menganggapnya sebagai cara Tuhan mendidiknya supaya tetap kuat dalam iman, harapan, dan kasihnya kepada Tuhan.

man with red hiking backpack facing body of water and mountains at daytime

Pertanyaannya: Apakah beban hidup dapat menolong dan menyelamatkan kita? Atau sebaliknya, beban hidup dapat mencelakai dan membuat kita terpuruk? Untuk memahami dua pertanyaan ini, saya hendak menyuguhkan kisah yang menarik berikut ini. Kisah tersebut memberikan kepada kita pelajaran berharga untuk melihat bahwa “beban hidup” tak selalu dimaknai secara negatif, justru selalu ada “hal-hal ajaib” yang Tuhan sisipkan dalam hidup kita termasuk di dalam beban hidup itu sendiri.

“Ada seorang lelaki dari India dan temannya yang sedang mendaki gunung Himalaya. Mereka berdua dalam perjalanan turun dari gunung dan berjuang melawan suhu dingin yang ekstrem. Di tengah perjalanan mereka menjumpai seorang pendaki lain yang kakinya terjepit di antara bebatuan. Sang lelaki memutuskan untuk menolong orang itu, sementara temannya justru memilih untuk terus berjalan menyelamatkan diri sendiri.

person in black jacket standing on snow covered mountain during daytime

Tubuh orang yang tidak berdaya itu dipikul di atas punggung sang lelaki dan mereka berdua melanjutkan perjalanan dengan tertatih-tatih. Sesekali sang lelaki merasa kelelahan, ia istirahat sejenak hingga tenaganya pulih kembali. Meski penuh perjuangan, mereka berdua tiba di kaki gunung dengan selamat.

person standing on top of snowy mountain

Namun anehnya justru temannya yang sudah berjalan jauh di depannya ternyata belum sampai. Seharusnya ia sudah tiba lebih dulu. Hingga beberapa jam kemudian, tim SAR mendapat kabar bahwa temannya itu mati membeku di tengah perjalanan. Tubuhnya tak sanggup melawan cuaca dingin yang menusuk tulang itu.

Tersadarlah si lelaki justru karena beban berat yang ia pikul tersebutlah yang menyebabkan tubuhnya berkeringat dan menjaganya tidak membeku. Ditambah lagi punggungnya yang bersentuhan badan dengan orang yang ia tolong, menjaga panas tubuhnya.”

milky way galaxy under yellow camping tent

Apa yang dapat kita petik dari kisah di atas? Sekali lagi, terbukti bahwa terkadang beban yang berat itu menyelamatkan hidup kita. Apakah demikian? Ya, tentu. Mungkin kita berpikir bahwa untuk apa menolong orang lain sedangkan kita juga sedang membutuhkan pertolongan? Untuk apa menambah beban pikulan di punggung kita sedangkan diri kita saja sudah sulit berjalan? Ingatlah kisah di atas. Justru ada hal yang tidak diduga oleh seorang lelaki. Meski ia menanggung beban yang berat, ia tahu bahwa apa yang ia buat adalah murni karena “menolong” orang yang patut ditolong. Sedangkan sahabatnya, yang berjalan tanpa beban, dan tak peduli dengan pendaki lain yang membutuhkan pertolongan. Apa yang terjadi? Mereka yang tidak ambil pusing dengan beban orang lain justru mengalami kecelakaan menghadapi badai hidup.

Dari sini kita tahu, bahwa waktu yang tersedia harus dimaknai dengan tindakan-tindakan kebaikan. Meski kita tahu bahwa kita sedang memikul beban diri sendiri, tapi tidak ada salahnya jika menolong orang yang kesulitan, membantu orang yang sedang bergumul. Kisah di atas adalah contohnya. Niat untuk menolong, akhirnya tertolong. Ketika kita menolong orang lain, kita sedang menolong diri kita sendiri. Jangan egois dan merasa hidup kita aman-aman saja. Bukankah sahabat dari lelaki di atas merasa aman jika ia berjalan tanpa beban yang berat? Tetapi justru dengan berpikir demikian, ia malahan mati karena kedinginan.

three person trekking on snow field mountain at daytime

Latihlah diri kita untuk tetap tulus menolong orang lain, meski kita sendiri dalam keadaan yang tidak baik. Hati nurani yang jujur dan ikhlas untuk menolong orang lain, menjadikan lelaki itu selamat dari dinginnya cuaca pada saat ia turun dari pendakian, karena sedang memikul beban yang berat. Barangkali, kita dapat menduga bahwa lelaki itu memang benar-benar berniat untuk menolong seorang pendaki yang kakinya terjepit di antara bebatuan. Ia tahu bahwa ia akan kesulitan membawa pendaki tersebut, tetapi karena niatnya yang tulus, ia mendapatkan semangat dan kekuatan, dan di situlah potensinya tampak. Sedangkan temannya yang berjalan duluan, tidak memperlihatkan potensi apa-apa karena tidak ada beban yang harus dia pikul; ia hanya mencari aman saja; ia tidak mau direpotkan; ia egois. Akhirnya? ia sendiri yang menanggungnya.

Kita belajar dari kisah di atas, bahwa Tuhan tidak salah memberikan beban hidup; Ia memiliki rencana terindah bagi kita. Hanya, seringkali kita mengomel kepada Tuhan; kita tidak setuju jika beban kita berat dan orang lain yang justru ingin mencelakai kita, tanpa beban; malahan mereka semakin subur dan semakin lihai dalam berbuat dosa. Ini sangat fenomenal dan menggelitik kita. Tetapi tunggu dulu. Tuhan selalu memberikan yang terbaik di dalam waktu yang Ia tentukan sendiri. Kita hanya perlu sabar dan terus berharap bahwa Tuhan akan memulihkan, mengangkat kita, memuliakan kita, menolong dan memberkati kita.

Kita teringat akan sapaan firman Tuhan berikut ini: ” 𝗦𝗲𝗿𝗮𝗵𝗸𝗮𝗻𝗹𝗮𝗵 𝗸𝘂𝗮𝘁𝗶𝗿𝗺𝘂 𝗸𝗲𝗽𝗮𝗱𝗮 𝗧𝗨𝗛𝗔𝗡, 𝗺𝗮𝗸𝗮 𝗜𝗮 𝗮𝗸𝗮𝗻 𝗺𝗲𝗺𝗲𝗹𝗶𝗵𝗮𝗿𝗮 𝗲𝗻𝗴𝗸𝗮𝘂! 𝗧𝗶𝗱𝗮𝗸 𝘂𝗻𝘁𝘂𝗸 𝘀𝗲𝗹𝗮𝗺𝗮-𝗹𝗮𝗺𝗮𝗻𝘆𝗮 𝗱𝗶𝗯𝗶𝗮𝗿𝗸𝗮𝗻-𝗡𝘆𝗮 𝗼𝗿𝗮𝗻𝗴 𝗯𝗲𝗻𝗮𝗿 𝗶𝘁𝘂 𝗴𝗼𝘆𝗮𝗵” (Mazmur 55:23)

silhouette of kneeling man

Dengan kasih-Nya, Tuhan membawakan (memberikan) beban bagi kita, tetapi Ia juga memberikan kita kekuatan agar mampu memikul beban itu, untuk keselamatan kita, untuk latihan kerohanian kita, untuk menguatkan rasa kepedulian kita. Rasul Paulus berkata: “Bertolong-tolonganlah menanggung bebanmu! Demikianlah kamu memenuhi hukum Kristus” (Galatia 6:2).

people climbing mountain under sunny sky

Kita patut bersyukur karena menjadi pengikut Yesus Kristus. Sebagaimana Yesus peduli dengan kita, demikianlah kita harus peduli dengan sesama kita. Yesus adalah teladan kita, dan kita adalah teladan bagi orang lain. Meski kita sedang berbeban berat, kita tidak boleh lupa untuk menolong orang lain, karena beban yang berat yang kita pikul dapat melatih kita, menolong kita, dan menyelamatkan kita dari berbagai kesulitan.

two man jumper on charcoal

Ingatlah apa yang dikatakan Yesus: “Marilah kepada-Ku, semua yang letih lesu dan berbeban berat, Aku akan memberi kelegaan kepadamu. Pikullah kuk yang Kupasang dan belajarlah pada-Ku, karena Aku lemah lembut dan rendah hati dan jiwamu akan mendapat ketenangan. Sebab kuk yang Kupasang itu enak dan beban-Kupun ringan” (Matius 11:28-30).

Jadi, jangan pernah mengeluh dengan bebanmu…

Salam Bae. Tuhan Yesus Memberkati Kita Semua!

Sumber gambar:

  1. https://unsplash.com/photos/vdMllb3x-1s
  2. https://unsplash.com/photos/vhCL8ZBTQ8M
  3. https://unsplash.com/photos/6Mxb_mZ_Q8E
  4. https://unsplash.com/photos/J_xplkxx–8
  5. https://unsplash.com/photos/b1x3JGmF-ps
  6. https://unsplash.com/photos/qRk8vLNFU4I
  7. https://unsplash.com/photos/1_Iz-bm9sQg
  8. https://unsplash.com/photos/lPCu8HnGU2E
  9. https://unsplash.com/photos/7j-aTZwAB7s
  10. https://unsplash.com/photos/PMwu9gfCSbw

MAKNA PERSAHABATAN

unknown persons standing outdoors

Setiap manusia mempunyai sahabat, entah sahabat fisik, benda, spiritual, atau pun binatang. Sahabat tersebut menjadi bagian dalam proses kehidupan, menunjang potensi, memberikan perhatian, kesenangan, kebahagiaan, kepuasaan, sukacita, menopang hidup kita, menolong dan peduli, dan lain sebagainya.

people holding shoulders sitting on wall

Riak-riak hidup mendatangkan rasa tersendiri bersama dengan sahabat[-sahabat]-nya. Bersama menjalin waktu demi waktu dan menyatukannya menjadikan satu kesatuan yang utuh, menggapai masa depan di dalam alur desahan nafas. Selama ada hidup yang diberikan Tuhan di dunia ini, kita dapat melakukan banyak hal, termasuk bersama sahabat-sahabat kita.

fiver person running on the field near trees

Sejatinya, pola hidup yang kita tunjukkan di ruang publik, menginsyaratkan sebuah pilihan kita sendiri, karakter, integritas, keburukan moral dan habit, kekurangmengertian dampak dari tindakan tertentu, kesombongan, hipokrisi, kepura-puraan, kualitas pikiran, relasi, dan kekuasaan, dan masih banyak lagi. Kita mungkin pernah dan sering mengisi ruang persahabatan dengan hal-hal tersebut sesuai konteks, kondisi, tujuan tertentu. Pada akhirnya, ada dampak yang ditimbulkannya, entah baik, entah buruk.

Kita menyelinap di sela-sela waktu luang, menghadirkan kekuatan dari sebuah persahabatan, kepedulian, dan saling menopang. Kesulitan-kesulitan yang muncul tak cukup kuat untuk melunturkan persahabatan. Bahkan, lebih dari itu, kita melihat sendiri bahwa seorang sahabat menaruh kasih setiap waktu dan menjadi saudara dalam kesukaran – demikian pernyataan Raja Salomo.

man sitting beside two woman on gray surface

Teladan-teladan baik dan berkualitas yang hadir dalam bingkai persahabatan, sepatutnya mendapat tempat dalam hidup kita. Ternyata, persahabatan itu sendiri menciptakan kebahagiaan tersendiri; menghiasi setiap rasa, menaburkan benih-benih kasih; menguatkan identitas dan karakter kita; mengisi setiap ruang kosong; memberi makna khusus, dan terlebih mengikatkan kita pada sebuah ketulusan, kejujuran, dan kemurahan. Semuanya tak lepas dari campur tangan Sang Khalik.

three women walking on brown wooden dock near high rise building during daytime

Ada hal menarik yang kita simak dari hidup kita sendiri. Kita memiliki sahabat-sahabat yang peduli, yang seru dan menceriakan. Mereka hadir mengisi waktu-waktu kita, menawarkan berbagai “produk kepedulian” agar kita dapat menikmatinya secara bersama. Sahabat adalah pelangi yang menghiasi langit – tampak indah. Sahabat adalah hujan yang menyejukkan. Sahabat adalah matahari yang memberi kehangatan. Sahabat adalah air yang menghilangkan rasa dahaga. Sahabat adalah orang-orang yang keren.

group of people in white long sleeve shirt and green pants standing on rocky ground

Sahabat yang keren itu tidak melupakan kita saat kita ada dalam keadaan terpuruk atau titik terendah. Ia tidak lari meninggalkan kita, dan tidak datang saat hanya membutuhkan kita. Sahabat yang keren itu datang mengisi sesuatu dalam hidup kita dan berusaha mendorong serta mengembangkan potensi yang kita miliki. Ia tidak menjerumuskan kita ke dalam berbagai duka ataupun kecelakaan. Ia tidak menipu dan mencari keuntungan. Sahabat sejati itu terlihat sederhana dalam perkataan, tetapi memberi rasa dan nilai pada kehidupan kita.

four person hands wrap around shoulders while looking at sunset

Lalu apa makna persahabatan itu? Apakah hanya sebatas saling mendukung dan mendoakan? Atau lebih dari itu? Makna persahabatan adalah: melakukan sesuatu yang bertujuan untuk menghiasi hidup dengan benih-benih kasih, menunjukkan kepedulian dalam bentuk menguatkan identitas dan karakter, ketulusan, kejujuran, dan kemurahan. Makna tersebut mencakup totalitas hidup yang kita jalani.

smiling woman and man sitting on floor

Dari guliran waktu, kita terus bergumul dengan berbagai keadaan. Di situ Tuhan pun selalu hadir memberikan kekuatan, hikmat, dan topangan. Kita perlu bersyukur bahwa Tuhan mendidik dan membentuk kita dengan cara-Nya, termasuk Ia menyediakan kepada kita sahabat-sahabat yang luar biasa, peduli, dan siap menolong kita dalam kondisi yang terpuruk, berada di titik terendah.

boy and girl playing on three tree log

Kita perlu tahu bahwa ketika persahabatan terjalin indah, kita didorong untuk terus mempertahankan siklus kasih yang Tuhan berikan. Dengan kasih Tuhan, kita dapat merasakan lawatan-Nya. Dengan kasih Tuhan, kita dapat berbagi kebaikan dengan sahabat-sahabat kita, menaburkan sukacita, kedamaian, dan kebenaran-Nya.

group of people sitting on bench near trees duting daytime

Kita hidup karena kasih-Nya. Demikian pula kita secara terbuka dan jujur untuk menyatakan kasih kepada yang lain, termasuk dalam persahabatan yang terjalin indah. Makna persahabatan menjadi sebuah fakta yang bernilai tinggi, sebab kita sendiri ikut berperan menjadi pribadi-pribadi yang baik yang berjalan dalam terang firman Tuhan.

people running on grassfield under blue skies at daytime

Tak ada persahabatan yang sejati jika tidak dilandasi dengan kebenaran firman-Nya. Kita dibekali dengan hal-hal yang terbaik dari Tuhan, maka sedapat mungkin merealisasikannya dalam konteks persahabatan yang tanpa pamrih.

Salam Bae…..

Sumber gambar:

  1. https://unsplash.com/photos/2P6Q7_uiDr0
  2. https://unsplash.com/photos/Cecb0_8Hx-o
  3. https://unsplash.com/photos/bEcC0nyIp2g
  4. https://unsplash.com/photos/rwF_pJRWhAI
  5. https://unsplash.com/photos/mKJUoZPy70I
  6. https://unsplash.com/photos/Ns8trMR4Om8
  7. https://unsplash.com/photos/PGnqT0rXWLs
  8. https://unsplash.com/photos/nnLMFQ4p1HM
  9. https://unsplash.com/photos/9VpI3gQ1iUo
  10. https://unsplash.com/photos/Q_Sei-TqSlc
  11. https://unsplash.com/photos/AcWC8WuCQ_k

TITIK TERENDAH DAN TITIK BALIK

Entah kita dapat melewati atau tidak, tantangan kehidupan yang hadir dalam ruang dan waktu menyentuh, melukai, menyusahkan, menguatkan, mendorong, memaksa, menyesakkan, dan menyadarkan kita bahwa segala potensi yang ada pada kita, dapat tersalurkan sesuai konteksnya. Pada gilirannya, potensi itu tertuang, entah secara alami atau ajaib, setidaknya memberi rasa pada ruang-ruang pikiran kita tatkala kita berjuang untuk keluar dari tantangan kehidupan.

Ada fase di mana kita berada pada titik terendah dalam hidup. Saya rasa, setiap manusia yang memiliki daya juang untuk bertahan hidup dan mengembangkan hidup, bisa merasakan titik terendah itu. Ada yang berhasil bangkit dan melihat “titik balik”, berupaya semampunya untuk meyakinkan dirinya, orang-orang yang dikasihinya, atau bahkan musuhnya sekalipun, bahwa “titik balik” berpihak padanya.

grayscale photo of crying woman holding bouquet of flowers

Titik terendah dan titik balik adalah dua hal yang disediakan Tuhan kepada kita. Adam dan Hawa mengalami titik terendah, yaitu “kejatuhan dalam dosa”, dan mereka menemukan titik balik, yaitu menjalani kehidupan yang telah dikutuk Tuhan, di mana Tuhan tetap menyertai mereka hingga mereka beranak cucu. Titik balik adalah bukti bahwa Tuhan masih menyediakan jalan bagi kita untuk dilalui. Meski titik terendah dapat saja membuat kita hilang harapan, patah kemudi, dan melemahkan daya juang hidup, akan tetapi titik balik itu sendiri adalah sebuah kesempatan untuk kembali melihat Tuhan sebagai Sang Khalik, Pemilik dan Penolong kita, kemudian melihat pula diri kita yang telah dibekali Tuhan dengan segala potensi yang ada.

Musa pernah mengalami titik terendah, dan ia menyadari titik baliknya. Ia tetap dipelihara Tuhan hingga akhir hayatnya. Daud pernah mengalami titik terendah, yaitu saat mana ia mengambil istri Uria, Batsyeba, dan tidur dengannya. Ia kemudian menyadari bahwa titik balik itu adalah pemberian Tuhan sebagai kesempatan untuk mengakui dan bertobat dan dosa-dosanya.

man in black crew-neck shirt

Ada banyak konteks titik terendah dan titik balik dalam kehidupan manusia. Setiap orang memiliki pengalamannya masing-masing. Berbagai kesempatan kita rasakan dan alami. Tetapi sekaligus juga berbagai tantangan kita hadapi. Pada tataran tertentu, fase-fase kehidupan mendorong dan menyadarkan kita bahwa “hidup tak selamanya berjalan seperti yang kita harapkan”. Ada orang yang terbiasa menipu, memalsukan dokumen, memfitnah, merencanakan sesuatu untuk mencari dan meraup banyak uang, menghalalkan segala cara untuk mendapatkan uang; bahkan ia aman dan sentosa dengan perbuatan-perbuatan itu. Ia ingin – tentunya – agar perbuatan-perbuatannya tetap awet muda, tak pernah tua (baca: ketahuan), dan dapat menikmati segala keuntungannya.

Adakah titik terendah bagi orang tersebut? Tentu ada. Tetapi mengapa tak kunjung tiba? Belum waktunya! Kita harus melihat hal ini dalam pandangan Tuhan. Ia punya kesabaran yang tak tertandingi. Tetapi, sekali Ia bertindak dengan kuasa dan kedaulatan-Nya, semuanya pasti BERES, tak berkutik. Ada saatnya Ia memberikan kesempatan untuk menyadari dosa-dosa, ada saatnya Ia sabar dan memanggil untuk kembali pada-Nya. Jika berbagai kesempatan yang Tuhan berikan tak digubris (tak diindahkan), tak pula menyadarkannya, maka jalan satu-satunya adalah “memukul”. Tuhan memukul bukan seperti kita memukul. Pukulan-Nya tak ada lawan-Nya. Semuanya akan terlihat saat pukulan itu “turun dan meluncur cepat”. Kita terperanjat dibuat-Nya. Titik baliknya dari kondisi orang yang demikian hanya ada tiga: pertama: bertobat; kedua: mengalami sakit-penyakit; dan ketiga: kematian.

man covering face with both hands while sitting on bench

Masih ingat dengan kasus Yudas Iskariot? Bukankah ia bunuh diri dengan cara menggantung dirinya? Ia mengalami titik terendah saat melihat Yesus akan disalibkan, Yesus seolah-olah terdesak dan tiada harapan, sebab Ia akan segera dieksekusi mati. Ia kemudian berkhianat dan menjual Yesus. Itu adalah awal dari titik baliknya. Kemudian, kelanjutannya adalah ia mengembalikan uang hasil penjualan Sang Gurunya, dan pergi menggantung diri.

Saulus juga demikian. Ia adalah salah satu penganiaya murid-murid Kristus. Ia sendiri mengalami titik terendah: ia buta saat hendak berkobar-kobar membunuh pengikut Jalan Tuhan [Yesus]. Kemudian, ia mengalami titik balik, menjadi Rasul yang hebat, rela menderita demi Kristus Yesus hingga akhir hayatnya. Para rasul yang lainnya pun mengalami titik terendah – dalam arti positif karena mereka rela menderita dan mati demi Kristus – dan dalam kondisi demikian, mereka mengalami titik balik, meski maut di depan mati, mereka yakin bahwa titik balik itu adalah sebuah jalan masuk menuju kepada Yesus Kristus, agar dapat menerima janji-janji-Nya, serta kehidupan yang kekal di dalam Kerajaan Allah.

broken heart hanging on wire

Titik terendah itu bervariasi. Titik ini mengindikasikan sebuah kondisi yang sulit, menyiksa, menyakitkan, menggelisahkan, menakutkan, kondisi yang membuat stress atau depresi, kondisi yang menyisahkan duka mendalam, rusaknya sebuah hubungan, ditinggalkan orang-orang terdekat, dikhianati, disakiti, ditipu, kondisi yang membuat kita menangis, dan tak tahu harus berbuat apa, kondisi yang mengalami jalan buntu. Sedangkan titik balik mengindikasikan sebuah proses pemulihan kehidupan, kesehatan, mental, relasi, bangkitnya semangat juang, sadar bahwa hidup itu berharga ketimbang disesali, keyakinan akan janji Tuhan, iman yang dipulihkan, iman yang mengarahkan kita kepada Tuhan yang tetap setia memelihara dan menyertai, serta menopang, pertobatan, pengampunan, diampuni, diberkati, dan mengalami kebahagiaan dari Tuhan.

Jalan-jalan hidup mengarahkan kita kepada berbagai kondisi. Ketika kita mengandalkan kekuatan sendiri, pasti akan berada pada ujung jalan yang menyedihkan. Ketika kita bersandar dan mengandalkan Tuhan, pasti kita akan berada di ujung jalan yang membahagiakan; ada Tuhan di sana; Ialah yang memimpin dan menyertai sejak awal kita melangkah. Ia menjamin kita dari awal sampai akhir.

woman in black shirt with yellow hair

Titik terendah memang menyusahkan, bahkan menyakitkan. Akan tetapi, selalu Tuhan sediakan titik balik. Para sahabat yang sejati, ketika melihat kita berada dalam titik terendah, mereka akan menawarkan bantuan tanpa pamrih; kepedulian mereka beralasan. Karena mereka tahu bahwa Tuhan itu baik kepada mereka, maka tak ada alasan yang dapat menghalangi mereka untuk berbuat baik kepada sahabat-sahabatnya. Kesulitan hidup itu normal. Semua manusia mengalaminya. Yang berbeda adalah respons dari orang-orang di sekitar kita, bahkan para sahabat kita. Hanya mereka yang menjadi sahabat sejati, akan memahami titik terendah yang kita alami, dan mereka menjadi bagian dari titik balik kita.

Sahabat sejati akan memberikan waktu mereka untuk dinikmati bersama, bukan mengambil waktu kita untuk dia nikmati sendiri. Sahabat sejati akan segera tergerak oleh belas kasihan ketika melihat kita berada pada titik terendah. Bukan seperti sahabat-sahabat Ayub yang memang peduli dengan apa yang dialami Ayub, tetapi kemudian mereka mencela Ayub. Syukurlah Ayub mendoakan mereka. Ayub pernah mengalami titik terendah dalam hidupnya, sangat menyedihkan dan memilukan; ia pun dipulihkan, diberkati Tuhan secara luar biasa. Itulah titik balik dari Ayub. Semuanya terjadi karena ada campur tangan Tuhan.

man in black crew neck t-shirt smiling

Bagaimana dengan kita? Apakah kita pernah mengalami titik terendah? Apakah kita juga pernah mengalami titik balik? Apakah ada dari sahabat-sahabat kita yang ikut ambil bagian untuk membawa kita kepada titik balik saat mengalami titik terendah? Adakah kita berdoa kepada Tuhan untuk mendapatkan titik balik? Adakah kita mengalami titik terendah akibat dari orang-orang yang serakah, sombong, dan menyalahgunakan kewenangan? Apakah dalam kondisi titik terendah tersebut, kita tetap berharap dan berserah kepada Tuhan?

grayscale photo of woman crying holding her right chest

Kita tentu punya jawaban dan pengalaman masing-masing. Kiranya, pengalaman yang kita rasakan dapat dibagikan kepada orang lain yang mengalami hal serupa, atau bahkan lebih berat dari apa yang kita rasakan. Yang terpenting adalah “jangan menghilangkan rasa peduli dan humanitas kita, dan berpura-pura tidak mampu untuk menolong padahal sebenarnya kita mampu orang lain.” Jangan berpikir bahwa kita akan bebas dari berbagai problem hidup yang bisa membuat kita berada pada titik terendah. Ingatlah, Tuhan selalu melatih iman kita melalui berbagai kesulitan dan tekanan hidup. Jangan berpikir bahwa ketika kita beriman maka kita bebas dari kesulitan dan tekanan hidup. Itu salah!

woman in brown shirt covering her face

Kita mampu karena Tuhan memberikan kekuatan dan iman agar dapat melihat kepada-Nya, berserah dan berharap saat dalam keadaan titik terendah. Kita ditopang-Nya dan beranjak menuju titik balik – dari sana kita bernyanyi, menyanyikan kasih dan kemurahan Tuhan yang telah menopang, menolong, dan menyertai kita. Ia bahkan menyediakan sahabat-sahabat yang peduli dengan kita. Mereka disediakan Tuhan untuk saling mengisi, menguatkan, dan mendukung. Bersyukurlah ketika kita memiliki sahabat-sahabat yang luar biasa. Mereka adalah pemberian Tuhan bagi kita untuk bersama-sama memberi dukungan saat kita berada pada titik terendah dan titik balik.

Salam Bae….

Sumber gambar:

  1. https://unsplash.com/photos/T5lmpSYxnSU
  2. https://unsplash.com/photos/ymtDjV7jkPI
  3. https://unsplash.com/photos/fZQrEnxqvxU
  4. https://unsplash.com/photos/sxQz2VfoFBE
  5. https://unsplash.com/photos/E8H76nY1v6Q
  6. https://unsplash.com/photos/tblxZC4gCJg
  7. https://unsplash.com/photos/BxHnbYyNfTg
  8. https://unsplash.com/photos/7I1wrtRz5QQ
  9. https://unsplash.com/photos/yRB81uWKK-M

“NOT THE WAY IT’S SUPPOSED TO BE”: Sebuah Pemahaman Atas Buku Cornelius Plantinga, Jr.

Buku “NOT THE WAY IT’S SUPPOSED TO BE” karya Cornelius Plantinga, Jr. sudah diterjemahkan ke dalam bahasa Indonesia dengan judul: “Tidak Seperti Maksud Semula” yang diterbitkan oleh Penerbit Momentum.

Buku ini memaparkan sejumlah pemahaman tentang dosa yang dilakukan manusia di satu sisi, dan di sisi lain mereka mempercayai adanya Tuhan. Plantinga mengamati bahwa, dalam kelompok pengakuan dosa zaman sekarang, orang semakin sulit untuk mengaku dosa. Di mana dosa disinggung, orang zaman sekarang akan mengomel. 

Bagi Plantinga, mengingat dan mengakui dosa bagaikan mengeluarkan sampah: sekali tidak cukup. Memang benar, bahwa dosa harus dikeluarkan sebanyak yang dilakukan. Atau barangkali, sekali dosa ditumpuk, maka sekalian dibakar (dikeluarkan dari dalam diri). Di sini, saya mencoba memahami apa yang hendak diamati Plantinga, bahwa problem utama manusia adalah sulitnya mengakui dan mengeluarkan dosa dari dalam diri mereka.

Saya sendiri pernah berucap pada satu kesempatan bahwa ada hal yang membuat kita sulit mengeluarkan kebaikan dari dalam diri dan justru memasukkan dosa ke dalam diri kita sendiri. Ketika dosa telah menjadi habit, maka seseorang akan terus berkeras hati, terus melakukan dosa, sehingga kebaikan dalam diri tidak lagi keluar. Kebaikan diri kita bukanlah dari luar, melainkan dari dalam. Ketika dosa terus dimasukkan ke dalam diri, maka kebaikan menjadi ditindas, kebaikan ditumpuk dengan dosa, sulit bernapas, dan kemudian mati secara perlahan.

Pada faktanya, seperti yang diamati Plantinga, bahwa tergelincirnya kesadaran kita akan dosa, bisa menyenangkan namun bisa juga menghancurkan. Menipu diri sendiri akan realitas dosa sama saja dengan membius diri, sebuah tekanan yang menenangkan sekaligus sistem syaraf pusat rohani kita. Yang fatal adalah ketika kita tidak mengenal nada-nada yang salah dalam hidup kita, sehingga kita tidak dapat memainkan not-not yang benar dan bahkan tidak dapat mengenalinya ketika orang lain memainkannya.

Apa yang dinyatakan Plantinga di atas sangatlah faktual. Memang dosa itu menyenangkan atau memuaskan birahi seseorang, baik birahi seksual (kepuasan tubuh) maupun birahi emosional (kepuasaan perasaan [dan rencana]). Hingga akhirnya dosa menghancurkan kita sendiri; rasa malu dan sesal kemudian mengikutinya dari belakang. Kita tidak bisa lepas dari adanya fakta dosa dan kita dapat was-awas terhadapnya. Kesadaran akan adanya fakta dosa memberikan kita kebahagiaan dan tidak menciptakan masalah dengan diri sendiri maupun sesama. Ibarat melantunkan nada-nada dan not-not seperti yang ilustrasikan Plantinga, kita secara sadar harus tahu mana nada-nada dan not-not yang buruk yang tidak perlu kita bunyikan (tampakkan, lakukan), dan mana nada-nada dan not-not yang baik (pas) yang harus kita bunyikan.

Menurut Plantinga, “dosa adalah akar dari kesengsaraan seperti kesepian, keresahan, keterasingan, rasa malu, dan ketiadaan makna. Dosa adalah penyebab dan akibat dari kesengsaraan.” Dengan demikian, dosa adalah penyebab kesengsaraan sebagaimana kebaikan adalah adalah penyebab kebahagiaan. Dosa adalah menimbun rasa malu dan makna moralitas menjadi pudar dan lama-kelamaan hilang.

Namun, ada hal yang menarik juga – sebagai perluasan dari pernyataan Plantinga di atas – bahwa dosa [dalam pengertian kesadaran untuk berbuat di luar dari segala kehendak Tuhan, yang merencanakan segala sesuatu untuk tujuan memuaskan hawa nafsu dan egoisme diri] adalah akar dari segala hipokrisi, penyalahguaan kewenangan, ketersaingan, kebencian terhadap orang, kesakithatian, ketidaksukaan, gila hormat, penipuan, pembunuhan, perzinaan, dan kepongahan. Di sini, tindakan-tindakan manusia didasarkan pada sebuah rencana untuk suatu tujuan yang “negatif” dan berpotensi menimbulkan perpecahan, perselisihan, dan kebencian lanjutan.

Berangkat dari pengamatan Plantinga di atas, saya mendefinisikan dosa dalam kaitannya dengan segala tindakan manusia, sebagai berikut: 

Dosa adalah ketidakmampuan atau gagalnya seseorang untuk menolak keinginan atau kemauan yang bertentangan dengan kehendak Allah atau dengan kata lain, dosa adalah suatu keputusan yang tidak kokoh untuk menyerahkan diri kepada kepuasan dan hawa nafsu.

Ketidakmampuan untuk menolak dosa melibatkan hasrat  yang mengandung nafsu yang kuat yang menggagalkan niat baik kita untuk menggantikannya dengan kenikmatan sesaat. 

Kebanyakan dari kita tahu bahwa Iblis adalah penggoda manusia hingga mereka jatuh, bermain, dan tidur dengan dosa. Manusia adalah eksekutor atas apa yang hendak dia lakukan. Ketidakmampuan atau gagalnya seseorang untuk menolak keinginan atau kemauan yang bertentangan dengan kehendak Allah, adalah dosa yang berdampak luas pada relasi kita dengan Tuhan dan sesama. Suatu keputusan yang tidak kokoh untuk menyerahkan diri kepada kepuasan dan hawa nafsu adalah sebuah fakta di mana manusia tidak dapat memutuskan untuk menolak dosa, bahkan siap menerima dosa menginap dalam hatinya.

Benar bahwa ketika kita tidak mampu untuk menolak dosa, maka hasrat kita secara kuat mengandung nafsu untuk menikmati kebebasan dosa di mana pun dan kapan pun. Hasrat kita menindas hati nurani dan dosa kemudian keluar dari himpitan keduanya dan membebaskan dirinya sebebas-bebasnya. Kita bahkan membiarkan dosa—seperti layang-layang yang terbang dengan benang hawa nafsu kita – dosa akan tampak menarik di udara ketika pendosa memegang kuat-kuat benangnya dan bahkan memaikannya mengikuti irama angin dunia.

Di sini, Plantinga menegaskan, bahwa “Dosa artinya meleset dari sasaran, menyimpang dari jalan, terpisah dari kelompok. Dosa merupakan sikap keras hati dan tegar tengkuk. Dosa itu buta dan tuli.” Dosa memisahkan kita dari kondisi baik sebuah relasi dan dosa bisa mempererat hubungan di antara sesama pendosa. Dosa kadang diberi pendengaran untuk mendengar panggilan Sorgawi, tetapi dosa menjadikan manusia tuli ketika ia keasyikan menikmati lumpur kotor tetapi membuat manusia senang dan memuaskan. 

Di samping itu, menurut Plantinga, dosa merupakan tindakan melampaui batas dan kegagalan untuk mencapai batas itu – baik melalui pelanggaran maupun kekurangan kita. Dosa adalah monster yang mengancam di depan pintu. Dalam dosa, orang menyerang, mengelak atau mengakibatkan kerusakan moral (bdk. Yes. 2:2-4; 11:1-9; 32:14-20; 42;1-12; 60; 65:17-25; Yoel 2:24-29; 3:17-18). Bagaimana kita menanggapinya? Kita harus menolak membuka pintu bagi dosa supaya ia jangan bertamu, duduk, menginap, dan tinggal selamanya dalam hati. Ketika hati kita kehilangan damai (shalom) maka dosa dengan segera masuk untuk menggantikan posisi damai itu.

Kita adalah pembawa “shalom”; kita adalah pengusaha damai untuk menawarkan dan menjual produk-produk damai kepada orang lain. Tidak mencari keuntungan sendiri melainkan menawarkan dan menjualnya sesuai dengan apa yang Tuhan kehendaki. Apa maksudnya? Tuhan telah menetapkan bahwa kita harus “menghasilkan buah” dan “membawa damai” karena kita adalah anak-anak-Nya.

Plantinga menjelaskan, dalam Alkitab, shalom berarti kelancaran, keutuhan dan sukacita. Suatu kondisi berlimpah yang di dalamnya kebutuhan alami dipuaskan dan karunia alami dipakai untuk menghasilkan kondisi yang membangkitkan ketakjuban yang penuh sukacita ibarat Yesus yang membuka pintu dan menyambut siapa yang dikenan-Nya. Shalom, sebagaimana yang dijelaskan Plantinga, memberi kita ruang yang sejuk di mana kita duduk dan menikmati kesejukannya, dalam damai, menghadirkan damai dalam hati, memahami damai, membawa damai, dan memberitakan damai.

Perjuangan melawan dosa tidak bisa dilakukan sekali seumur hidup. Justru seumur hidup kita berjuang melawan dan menolak dosa. Sebagaimana kebaikan adalah tindakan, maka dosa, menurut Plantinga adalah “tindakan, pikiran, keinginan, emosi, perkataan atau perbuatan apapun atau kelalaian untuk melakukan tindakan yang tidak berkenan kepada Allah dan layak dipersalahkan.” Dosa itu membelenggu seseorang untuk aktif melancarkan keinginannya yang buruk dan najis (kotor).

Benarlah apa yang dikatakan Plantinga, bahwa “Dosa memang terkadang menyebarkan atau menyebabkan penyakit seks bebas yang menyebabkan penyakit kelamin. Sebaliknya, penyakit terkadang memuluskan atau bahkan mendorong orang untuk berdosa, seperti orang cacat yang membenci orang yang sehat. Tetapi keduanya berbeda, karena dosa merupakan kejahatan rohani dan moral, sedangkan penyakit merupakan kejahatan fisik. Dosa membuat kita bersalah, penyakit membuat kita sengsara.” 

Jadi, menurut Plantinga, “kita membutuhkan anugerah untuk dosa tetapi belas kasihan dan penyembuhan untuk penyakit kita.” Allah tentu selalu memberika kesempatan kepada manusia untuk bertobat, dan kembali kepada-Nya:

“Carilah TUHAN selama Ia berkenan ditemui; berserulah kepada-Nya selama Ia dekat! Baiklah orang fasik meninggalkan jalannya, dan orang jahat meninggalkan rancangannya; baiklah ia kembali kepada TUHAN, maka Dia akan mengasihaninya, dan kepada Allah kita, sebab Ia memberi pengampunan dengan limpahnya” (Yes. 55:6-7).

Bukankah Allah akan memberi pengampunan dengan limpahnya kepada mereka yang kembali kepada TUHAN dan bertobat? Di sini, menurut Plantinga, “Allah membereskan dosa sedemikian rupa sehingga dosa yang menjadi kegembiraan bagi manusia tatkala mereka melakukannya, menjadi alat Allah tatkala Dia menghukum manusia.” Meski Allah menghukum manusia karena dosa mereka, namun Ia memberikan kasih dan pengampunan ketika manusia sadar dan kembali kepada-Nya. Jangan lain kita mencemari diri kita dengan rupa-rupa perbuatan kotor dan najis. Mencemari berarti mengotori (akar kata ini dalam bahasa Latin berarti menyeret sesuatu menuju lumpur). Ketika kita sudah bersih, tidak perlu lagi kembali bermain di lumpur dosa; bukankah kita kembali menjadi kotor? Komitmen untuk tetap setia dan berada pada jalan Tuhan adalah hal yang paling penting.

Kita juga memerlukan hikmat dari Tuhan. Di samping menjaga diri kita dari segala serangan dosa, kita perlu mewartakan Injil Yesus Kristus sebagai kebenaran yang memerdekakan, membuka ruang hati manusia untuk mengeluarkan kotoran-kotoran dari dalamnya; Injil tidak hanya menawarkan jalan keselamatan tetapi menegur dosa dan menyatakan bahwa dosa sangat membuat manusia sengsara dan akhirnya menerima hukuman dari Tuhan.

Plantinga menyatakan bahwa, kebenaran sejati tanpa penyingkapan dosa sepenuhnya, menjadikan Injil anugerah tidak relevan, tidak penting dan pada akhirnya tidak menarik. Itu berarti, kebenaran tidak melulu yang baik-baik saja, yang dipakai untuk memuaskan telinga orang, melainkan Injil itu sendiri menegur dosa, menghancurkan dosa dan menawarkan pengampunan serta pemulihan dari TUHAN. Hingga akhirnya kita terus dilatih untuk memperkuat kerohanian dengan berbagai cara. Salah satunya adalah “berdoa”. Bagi Plantinga, “Semakin kurang kita berdoa, semakin Allah tampak kurang nyata bagi kita. Dan semakin Dia kurang nyata bagi kita, rasa tanggung jawab kita semakin terkikis, dan itu membuat kita semakin mengabaikan Dia.”

Jangan mengabaikan “doa”. Kekuatan terbesar orang Kristen adalah “doa”, yang tak membutuhkan pedang, tak membutuhkan uang banyak, tak membutuhkan tatap muka dengan musuh; tak membutuhkan peralatan perang. Doa adalah kata-kata penuh kuasa ketika Tuhan mendengar dan menjawabnya. Dosa membuat orang malas berdoa, dan rajin berdoa membuat orang merasa hidupnya jauh dari dosa: Ia mengutamakan Tuhan dalam segala hal.

Dosa jangan lagi menjadi habit. Dosa harus ditinggalkan. Undanglah dan usahakanlah kebaikan dan kesucian serta kekudusan hidup. Hidup dalam terang firman-Nya, menjauhkan diri dari godaan Iblis yang mempengaruhi kita untuk melakukan dosa. Teruslah menjadi pelopor doa dan pelaku firman. Niscaya, ada kuasa Tuhan yang akan menyertai dan memulihkan kita serta orang-orang yang kita kasihi dan injili. Shalom

Salam Bae…

WAJAH BERSERI, HATI BERMANIK-MANIK HIPOKRISI

Kehidupan menyediakan banyak hal, relasi, dan kejadian; entah yang kita rindukan, inginkan, butuhkan, entah yang tidak kita butuhkan, yang kita benci, yang tidak kita sukai, dan lain sebagainya. Kenyataannya, kita telah berproses dalam kehidupan itu sendiri, sehingga membentuk jati diri, relasi, pekerjaan, dan karakter.

Kita telah melalui berbagai jembatan kehidupan. Jembatan-jembatan itu menghubungkan diri kita dengan yang lain. Di situ tercipta relasi, entah suka atau tidak suka, relasi itu tetap saja hadir tanpa kita duga sebelumnya. Yang satu menyingkirkan yang lain agar relasinya dengan orang-orang tertentu menjadi baik dalam pandangannya sendiri; sementara itu, yang lain masih tetap menjaga relasinya dengan sahabat-sahabatnya; semuanya memperlihatkan bahwa “ruang sosial kita” terukur oleh waktu. Kita mencoba menciptakan ruang khusus agar dapat bergembira dengan orang-orang yang kita kenal baik. Lebih dari itu, relasi-relasi yang terbentuk membuat kita menikmatinya, terus mengupayakan sebuah kehidupan yang benar di mata Tuhan.

Kita menemukan diri kita ada dalam sangkar waktu, yang setiap gulirannya mendorong kita untuk sadar dan sekaligus berjuang, bertahan hidup, menunjukkan kekuatan identitas, atau menunjukkan kekuatan hipokrisi dalam mencapai tujuan yang telah direncanakan.

Ruang-ruang relasi sosial mempertontonkan berbagai jenis karakter. Kepongahan (keangkuhan), kerendah-hatian, kejujuran, kelamahlembutan, hipokrisi, kekejaman, kebaikan, ketulusan, adalah fakta “tindakan manusia” yang terpampang jelas di dalam sangkar waktu.

Mungkin kita pernah melihat ada orang-orang tertentu yang menunjukkan wajahnya yang berseri dalam setiap perkataan yang dia ucapkan. Tetapi kita tidak tahu apakah perkataan-perkataan tersebut benar-benar tulus atau ada “udang di balik batu?” Kita hanya dapat melihat faktanya selang beberapa waktu atau barangkali kita langsung mendengar apa rencananya yang telah ia susun saat kita mendapat bocorannya atau mendengar secara langsung (tanpa disengaja).

Memang, tampilan wajah bisa menipu orang lain, tetapi isi hati siapa yang tahu? Soal isi hati, akan diketahui dalam fakta itu sendiri. Artinya, semua akan terungkap ke permukaan waktu rencana-rencana yang dilandasi hipokrisi. Klausa “WAJAH BERSERI, HATI BERMANIK-MANIK HIPOKRISI” memang melekat pada seseorang atau orang-orang yang secara alami merasa dirinya hebat, berkuasa, dan menggunakan wewenangnya dengan sesuka hati. Ia tidak melihat bahwa waktu-waktu mendatang masih merupakan misteri di mana mungkin dia akan bertemu dengan mereka yang pernah ia sakiti, ia anggap remeh, dan ia anggap sampah hidup.

TitleActor

Sejatinya, orang-orang yang menunjukkan wajahnya yang berseri, tetapi hatinya bermanik-manik hipokrisi akan sampai pada titik waktu di mana ia menjadi tidak berdaya, menjadi orang yang terhina (yang dulunya ia anggap dirinya paling mulia), menjadi orang yang malang (yang dulunya ia tidak peduli dengan mereka yang ia hina, dan rendahkan). Tuhan tidak tinggal diam, meski waktu yang kita nantikan mengenai kejatuhannya sangat lama. Semuanya kembali kepada kuasa dan kedaulatan-Nya.

Yang terpenting dari fakta tersebut, kita tetap menjaga integritas kita. Jangan melupakan integritasmu sebab dialah yang membawamu ke puncak karakter yang sesungguhnya. Orang-orang yang memiliki manik-manik hipokrisi dalam hatinya, akan menampakkan perilaku hipokrit dan ingin memuaskan hawa nafsunya, menyingkirkan mereka yang tampak kuat, dan mencari pendukung sebanyak mungkin. Tipe orang seperti ini mudah ditinggalkan orang pengikutnya, sebab ia hanya bermodal kelihaian berbicara tanpa teladan yang benar. Ia akan tersiksa dengan perbuatannya sendiri dan menuai apa yang ia taburkan.

Ia menjadi pemimpin dari para pengikut yang juga hipokrit. Para pengikutnya menjadi “penjilat”, pura-pura berbuat baik dan peduli dengannya, menyetujui segala rencana dan tindak-tanduknya, menyanjungnya setinggi langit, dan mereka suka berpura-pura lucu saat dia bertindak tidak lucu. Pada akhirnya, yang tersisa adalah ruang kosong yang akan diisi oleh dia dan para pengikutnya. Ruang kosong tersebut tak akan pernah penuh sebab ternyata para penyanjungnya hanya meluberkan kepura-puraan dan memanfaatkannya. Baik dia dan para pengikutnya sama-sama saling memanfaatkan. Pokoknya simbiosis mutualistis.

Kita dapat belajar dari fakta ini, bahwa integritas yang kita miliki harus tetap diperhankan karena integritas yang menentukan karakter kita. Jangan mengubah atau menjual integritas hanya karena kita dibuai sesuatu yang “wah”. Ketika kita menjual integritas, kita ternodai, kita terluka dan akan menjadi luka batin berkepanjangan. Orang mungkin berpikir: “Ah, tidak apa-apa menjual integritas, asalkan saya mendapatkan untung, mendapatkan apa yang saya inginkan. Toh saya bisa memperbaikinya.” Kelemahan dari pikiran semacam ini, berpotensi untuk terus melakukan hal yang sama, dan pada akhirnya, integritasnya menjadi barang murahan, atau menjadi “pelacur” yang siap meluncur saat dibutuhkan. Lambat-laun, tak ada integritas yang dimilikinya; yang tersisa adalah lubang-lubang hipokrisi, yang terisi dengan nanah, yang menimbulkan bau tak sedap.

Laisser tomber son masque

Hipokrisi memang bermanfaat (dalam arti negatif) bagi mereka yang tergolong “orang-orang berhati mulia dalam pandangan mereka sendiri, atau dalam pandangan orang yang menjadi pemimpin mereka”. Akan tetapi, ini hanya terjadi dalam rentang waktu yang singkat. Orang yang selalu menampilkan wajah berseri, tetapi hatinya terdapat manik-manik hipokrisi akan menjadi “bos” dari para penjilatnya yang sejati. Meraup berbagai keuntungan adalah rencana terbesar mereka. Segala cara akan dilakukan asalkan nyaman, aman, dan tidak ketahuan.

Masque de la persona ou la psychologie analytique | DPJ puissance et joie

Manik-manik hipokrisi mengental tatkala kenyamanan yang mereka rasakan semakin menyenangkan mereka. Kita yang terkesima (tercengang) dengan “politik cat duco” – cara menyemprotkan fakta buruk yang sebenarnya dengan cat duco agar tampak mengkilat, menutupi semua keburukan yang dimiliki oleh pemimpin hipokrit maupun para pengikutnya yang juga hipokrit – yang pada tataran tertentu akan lapuk termakan waktu, kuasa, dan kedaulatan Tuhan, Sang Maha Melihat.

Kita yang hidup dengan hati yang jujur di hadapan Tuhan, tetap akan mendapatkan kemuliaan melebihi kemuliaan yang kotor yang didapatkan oleh para hipokrit. Ketika Tuhan mengangkat kita, integritas kita semakin kuat. Pertaruhan integritas menghadapi fakta hidup yang kadang tak sejalan dengan apa yang kita pikirkan, menyisahkan ruang berpikir bagi kita untuk tetap konsisten di hadapan Tuhan, bertahan pada kebenaran dan tetap jujur kepada-Nya.

Tak ada yang perlu ditakutkan. Tuhan pasti menyertai orang-orang yang berserah dan bersandar pada-Nya. Kebenaran tetaplah kebenaran; hipokrit tak bisa berubah menjadi kebenaran. Kita yang adalah pelaku kebenaran mendapatkan “waktu berharga” dari Sang Khalik, sebab Ia mendidik dan membentuk kita dari guliran waktu yang terpampang di depan mata kita.

Hargai waktu, hargai integritas, sebab karakter kita akan terbentuk menjadi bejana yang indah, bejana yang dibuat langsung oleh Tuhan. Jangan kompromi dengan hipokrisi demi meraup sesuatu, tetapi tetap setia pada Tuhan, karena Dialah yang membuat kita bahagia, membuat kita menikmati segala kemurahan-Nya, membuat kita menyadari bahwa hidup ini adalah anugerah, sehingga kita tidak menyia-nyiakannya. Tetaplah bersyukur kepada Tuhan sebab Ia bertindak dan memberkati, serta menolong kita tanpa kita duga.

Salam Bae

Sumber gambar:

  1. https://georgianewsdaily.com/single-again-fake-feelings/
  2. https://muirgilsdream.tumblr.com/post/10651796049
  3. https://id.pinterest.com/pin/473722454532070067/
  4. https://bencaosdiarias.com/2016/06/20/20-de-junho-religioso-pedra-de-tropeco/
  5. ficadicaclaudialima.blogspot.com/2018/09/6-sinais-de-que-voce-esta-lidando-com.html?spref=pi
  6. rocio-desdelossilencios.blogspot.com/2015/11/virtudes-envueltas-en-falsas-modestias.html?spref=pi
  7. https://www.developper-puissance-et-joie.com/le-masque-de-la-persona-ou-la-personnalite-analytique/

THEOREGIUM: Kita, Teologi, dan Berteologi

person reading book on brown wooden table

PROLEGOMENA

Fakta hidup membuka mata dan pikiran kita untuk merenungkan sekaligus mendesak cara berpikir dalam menemukan sesuatu, mengembangkan sesuatu, dan menyelesaikan sesuatu sesuai konteksnya. Di ruang teologi, setiap orang percaya dapat merumuskan sesuatu, mempercayai sesuatu, memahami dan menafsir sesuatu, menerima dan atau menolak sesuatu. Dari fakta ini, kita kembali melihat dan menilai diri kita sendiri; kita berada pada titik mana: apakah merumuskan sesuatu, mempercayai sesuatu, memahami dan menafsir sesuatu, menerima dan atau menolak sesuatu. Itulah yang dinamakan “berteologi”.

bible page on gray concrete surface

Berteologi itu adalah sebuah tindakan aktif untuk menemukan sesuatu, mengembangkan sesuatu, dan menyelesaikan sesuatu sesuai konteksnya. “Menemukan sesuatu” berarti kita telah melihat berbagai kepentingan dalam hidup, relasi sosial, relasi teologis (doktrinal), dan relasi kultural (konteks) pada saat itu. Apa yang ditemukan tidak lepas dari konteks yang mengikat. Pertanyaannya: apa yang ditemukan? Saya mencatat ada lima hal:

Pertama, kita menemukan diri kita sendiri dalam ruang teologi untuk kepentingan diri kita sendiri (sikap berteologi). Ini disebut dengan “persuasif internal” (internal persuasive) yaitu sebuah tindakan membujuk diri sendiri untuk menunjukkan – atau setidaknya membangun – potensi diri yang telah Tuhan berikan kepada kita. Di sini, kita harus yakin dengan potensi diri sebab Tuhan memakai setiap orang dengan cara yang berbeda sesuai dengan potensinya masing-masing. Oleh sebab itu, menemukan diri sendiri adalah langkah mendasar dalam berteologi dan memahami teologi.

Kedua, kita menemukan makna teologi dan berteologi. Ada makna pada setiap teologi dan sikap berteologi kita. Makna itupun dapat menjadi fragmen (bagian) yang koheren (menyatu) dari teologi itu sendiri. Makna terdalam dari teologi adalah pemahaman yang baik tentang Allah dan karya-karya-Nya yang meresap ke dalam totalitas kehidupan orang beriman di mana mereka memiliki tanggung jawab untuk menghidupi teologi itu dalam sikap hidup (relasi), perkataan, dan perbuatan sehari-hari. Berteologi memiliki makna yaitu mengarahkan kita kepada kehidupan yang dikehendaki Yesus Kristus. Berteologi bukan sekadar mempertontonkan kepiawaian berbicara, unjuk keilmuan, tetapi bagaimana sikap yang terbaik yang Tuhan kehendaki terwujud dalam kehidupan di dunia nyata, bukan kehidupan di dunia maya.

Ketiga, kita menemukan signifikansi (kepentingan) teologi dan berteologi. Teologi berkepentingan untuk membawa manusia berdosa memahami betapa Allah mengasihi mereka dan menyediakan keselamatan yang luar biasa, sebagaimana yang dikerjakan oleh Yesus Kristus, Firman yang menjadi manusia. Fitur-fitur teologi yang signifikan lainnya, menyusun kerangka hidup orang percaya untuk mencapai puncak iman: mengasihi Allah dan mengasihi sesama. Berteologi memiliki kepentingan yang juga sama. Kita berteologi menandakan sebuah kesadaran bahwa kita harus berbicara, memberi teladan, dan mengusahakan sebuah siklus kehidupan beriman yang mengarah kepada puncak iman: mengasihi Allah dan mengasihi sesama.

person reading book while kneeling

Keempat, kita menemukan tanggung jawab teologi dan berteologi. Tanggung jawab teologi adalah menguatkan iman, meningkatkan pemahaman yang benar tentang Allah dan karya-karya-Nya, dan menyadarkan orang percaya tentang bahaya-bahaya dosa, penyesatan, dan penyangkalan terhadap Yesus Kristus. Tanggung jawab berteologi adalah menyelaraskan iman dan perbuatan dan membuat keduanya tetap stabil, seimbang, dan aplikatif. Teologi yang terbaik adalah ketika kita berhasil membuat iman dan perbuatan berjalan beriringan dalam kestabilan dan keseimbangannya. Berteologi yang baik adalah ketika kita mampu menjaga keseimbangan di antara keduanya.

Kelima, kita menemukan harapan teologi dan berteologi. Teologi dan berteologi bukan sekadar terjadi di setiap konteks kita tanpa memikirkan kelanjutannya (harapannya). Sebagaimana iman itu sendiri memiliki harapan yang bersifat eskatologis, demikianlah dengan teologi dan berteologi. Harapan teologi adalah kemurnian ajaran-ajaran Alkitab tetap terjaga, dipertahankan, dan terus direalisasikan di sepanjang hayat. Sedangkan harapan berteologi adalah menjaga konsistensi antara iman dan perbuatan di sepanjang hayat.

Holy Bible

Setelah melihat konteks “Menemukan sesuatu”, kita melihat konteks “Mengembangkan sesuatu”. Teologi bersifat “mengembangkan” yang tertuang dalam perumusan-perumusan doktrinal dalam bentuk elaborasi, sehingga menghasilkan pemahaman yang baik. Pemahaman tersebut dapat dikonsumsi oleh jemaat awam. Berteologi juga sama. Berteologi berarti “mengembangkan” gagasan doktrinal, biblikal, historis, dalam bentuk elaborasi atau penegasan-penegasan tertentu. Pengembangan tersebut pasti menghasilkan sesuatu yang bermanfaat bagi orang-orang percaya. Sedapat mungkin tindakan mengembangkan ini berdiri di atas dasar kebenaran. Artinya, tidak semua pengembangan teologi berdiri di atas kebenaran. Penyimpangan-penyimpangan teologi, doktrinal, historis, masih terus terjadi di berbagai mazhab atau denominasi Gereja. Kebenaran Alkitab menavigasikan teologi dan sikap berteologi, bukan sebaliknya.

Konteks “Menyelesaikan sesuatu” adalah tugas berteologi dengan menggunakan isi teologi. Kita yang berteologi perlu mengumpulkan fragmen-fragmen doktrinal menjadi satu kesatuan dan kemudian dibagikan (diajarkan) kepada orang-orang percaya (termasuk kaum awam di dalam Gereja) dalam bingkai “menyelesaikan sesuatu” sesuai kondisi atau konteksnya. Salah satu aspek penting dari sikap berteologi yang benar adalah kita dapat menyelesaikan sesuatu sesuai perlunya, dan atau sesuai konteksnya.

APA ITU THEOREGIUM?

Deskripsi sikap berteologi sebagai tindakan aktif untuk menemukan sesuatu, mengembangkan sesuatu, dan menyelesaikan sesuatu, yang telah dijelaskan di atas adalah fitur-fitur dari Theoregium. Theoregium adalah sebuah istilah yang terdiri atas dua kata, yakni: Theologi dan Egregium yang berarti outstanding (terkenal), exceptional (luar biasa), extraordinary (luar biasa), remarkable (luar biasa, hebat, baik sekali) atau amazing (mengagumkan). Egregium (Ing. egregious) dipahami sebagai terhormat atau terkemuka, sangat baik (dalam hal sikap atau tindakan, bahkan pribadi). Dengan demikian, makna praktis dari Theoregium adalah teologi [yang sangat] luar biasa; teologi yang terhormat [terpandang], sangat baik. Artinya, teologi yang terpandang dan sangat baik itu, adalah rumusan yang “keluar dari” pemahaman yang benar, komprehensif, dan kredibel. Dari aspek lain juga dipahami bahwa rumusan yang baik (tentang ajaran) yang keluar dari kritisisme terhadap kumpulan yang tidak baik atau bermutu rendah. Hal ini tampak misalnya pada kumpulan pengajaran bidat, di mana ada orang-orang tertentu yang keluar dari kumpulan pengajaran tersebut, karena berpikir kritis untuk menghasilkan “teologi yang sangat baik” itu.

person reading Holy Bible

Setiap proses berteologi kita – mau tidak mau, suka tidak suka – akan berurusan dengan berbagai “kumpulan pengajaran” lain (asing) yang dapat saja mengganggu lalu lintas pengajaran yang kita anut. Atau dengan perkataan lain, kita yang hidup dalam satu mazhab maupun denominasi akan merasa terganggu ketika muncul di dalamnya ajaran-ajaran asing yang menyimpang, kecuali kita sendiri “dibayar” untuk tetap ada dalam ajaran-ajaran asing itu.

Fenomena “bayar-membayar” kepada seseorang untuk hidup dalam ajaran asing itu, bisa saja terjadi di Gereja atau persekutuan di mana kita ada. Desakan ekonomi misalnya, dapat menjadi pemicu utama bagi orang-orang tertentu yang terpaksa mengimani dan mempercayai ajaran asing itu, yang penting “ada uang untuk beli semen” sebagai upaya untuk membangun pondasi harga diri yang telah ternodai itu.

Hingga pada akhirnya, Theoregium dapat dicapai dengan hati yang bulat. Di sini, saya hendak menyuguhkan fitur-fitur dari Theoregium yang sejatinya menjadi dasar tentang bagaimana kita mengajar diri sendiri dan orang lain. Konteks ini juga meneropong fakta yang terjadi bahwa mereka yang berusaha untuk menyatakan dan mewartakan Theoregium adalah pribadi-pribadi yang sadar bahwa panggilan Tuhan terhadap mereka bukanlah sebuah panggilan untuk menyesatkan, melainkan untuk menyelamatkan “otak [logika]” dari orang-orang yang belum percaya maupun yang sudah percaya tetapi terkontaminasi dengan ajaran-ajaran asing (menyimpang).

Secara khusus, Theoregium menampilkan lima fitur yang signifikan. Berikut fitur-fiturnya:

Pertama, Theoregium (teologi yang baik, terpandang, yang luar biasa) harus menciptakan ruang pemahaman agar orang lain dapat memahami isi teologi tersebut. Artinya, kita memberikan kesempatan kepada siapa saja yang mendengar dan memahami deskripsi teologi (pengajaran-pengajaran biblikal dan dogmatis). Jangan sampai kita hanya terkesan mau berbicara terus, tetapi tidak memberikan kesempatan kepada para pendengar untuk mencerna (memahami) secara baik isi dari teologi yang kita bicarakan.

assorted books on brown wooden shelf

Kedua, Theoregium harus menyentuh wilayah spiritualitas dalam pengertian bahwa isi teologi mengarahkan manusia untuk membangun relasi yang kuat dengan Tuhan. Teologi yang hanya bermain di ranah “kutip ayat untuk kepentingan tertentu” dan tidak mengarahkan orang lain untuk semakin mengasihi Tuhan dalam bentuk relasi spiritual, bukanlah teologi yang terpandang, melainkan teologi kesombongan.

white ceramic mug on white and red tray

Ketiga, Theoregium harus menyentuh wilayah kondisi kehidupan materi dalam pengertian yang seimbang dengan wilayah spiritualitas. Ada fakta bahwa orang-orang tertentu seringkali menciptakan kepincangan antara spiritualitas dengan materi. Penekanan pada materi dalam arti negatifnya adalah kecenderungan mengajak manusia untuk berusaha meminta kepada Tuhan berbagai materi yang tidak selaras dengan kehidupan manusia itu sendiri. Ada perbedaan antara kebutuhan dan keinginan. Theoregium memperlihatkan posisinya untuk memberikan pemahaman yang baik tentang kehidupan. Kita butuh materi, tetapi jangan sampai menjadi materialisme. Kita butuh relasi spiritual, tetapi jangan sampai menjadikan kita malas bekerja untuk mendapatkan materi sebagai upah kehidupan. Tangan yang rajin akan menerima berkat dari Tuhan, tangan yang malas akan membuat hidup menderita.

Keempat, Theoregium harus menciptakan “pembelaan iman” karena kita berhadapan dengan ragam ideologi, pemikiran, filsafat, klaim-klaim keagamaan, dan lain sebagainya. Karena kita diperhadapkan dengan situasi tersebut, maka Theoregium sedapat mungkin memberi pemahaman ekstra bagi orang-orang percaya agar mereka siap tidak hanya menjadi pewarta dan pelaku firman Tuhan, tetapi juga menjadi para pembela iman tatkala ada yang meminta pertanggungan jawab, sekaligus kita melawan segala bentuk kesesatan dan penyesatan.

2 Korintus 10:3-6, “Memang kami masih hidup di dunia, tetapi kami tidak berjuang secara duniawi, karena senjata kami dalam perjuangan bukanlah senjata duniawi, melainkan senjata yang diperlengkapi dengan kuasa Allah, yang sanggup untuk meruntuhkan benteng-benteng. Kami mematahkan setiap siasat orang dan merubuhkan setiap kubu yang dibangun oleh keangkuhan manusia untuk menentang pengenalan akan Allah. Kami menawan segala pikiran dan menaklukkannya kepada Kristus, dan kami siap sedia juga untuk menghukum setiap kedurhakaan, bila ketaatan kamu telah menjadi sempurna.”

1 Petrus 3:15-16, “Tetapi kuduskanlah Kristus di dalam hatimu sebagai Tuhan! Dan siap sedialah pada segala waktu untuk memberi pertanggungan jawab kepada tiap-tiap orang yang meminta pertanggungan jawab dari kamu tentang pengharapan yang ada padamu, tetapi haruslah dengan lemah lembut dan hormat, dan dengan hati nurani yang murni, supaya mereka, yang memfitnah kamu karena hidupmu yang saleh dalam Kristus, menjadi malu karena fitnahan mereka itu.”

selective focus photography of book

Kelima, Theoregium harus memberikan penguatan akan eskatologis. Theoregium itu, selain mengandung harapan, ia juga mengarahkan manusia kepada pengharapan di dalam Kristus Yesus. Ada harapan di dalam teologi dan teologi itu membawa kita kepada Kristus yang kita harapkan kedatangan-Nya yang kedua kali. Theoregium mengkoherensikan antara iman dan pengharapan, yang diikat oleh kasih (lih. Kolose 3:14).

PERMENUNGAN MENUJU GESTA

Wacana (pertukaran ide, kemampuan berpikri secara sistematis) dalam berteologi mendorong semua orang percaya untuk tampil bersinar dalam kata, pikiran, perbuatan. Kita tidak dapat menolak penilaian atas hidup kita melalui kata, pikiran, dan perbuatan, sebab dari ketiganya kita dinilai oleh orang lain dalam makna positif maupun negatif sebagai: orang yang berpengaruh, orang yang mempengaruhi, menjadi teladan, menjadi perusak, penyesat, peleter, dan lain sebagainya.

man picking book on bookshelf in library

Dari fakta hidup, kita tidak dapat melepaskan diri dari iman dan pemahaman tentang iman yang terkandung dalam “teologi”. Dalam prosesnya kita perlu meracik, merangkum, dan merumuskan sebuah Theoregium yang darinya kita dapat merealisasikan fitur-fiturnya yakni: Theoregium harus menciptakan ruang pemahaman agar orang lain dapat memahami isi teologi tersebut, Theoregium harus menyentuh wilayah spiritualitas dalam pengertian bahwa isi teologi mengarahkan manusia untuk membangun relasi yang kuat dengan Tuhan, Theoregium harus menyentuh wilayah kondisi kehidupan materi dalam pengertian yang seimbang dengan wilayah spiritualitas, Theoregium harus menciptakan “pembelaan iman” karena kita berhadapan dengan ragam ideologi, pemikiran, filsafat, klaim-klaim keagamaan, dan Theoregium harus memberikan penguatan akan eskatologis.

woman holding book

Kita harus berteologi dan mewartakan teologi yang sehat, Theoregium. Setiap kita diberikan potensi oleh Tuhan. Kita terpanggil untuk melayani Tuhan dalam berbagai aspek, dan salah satunya adalah aspek “berteologi”. Jika demikian, Theoregium adalah desakan yang tak bisa ditawar-tawar lagi. Kita harus berdiri mewartakan Theoregium, menyatakan bahwa kehidupan ini tak dapat lepas dari intervensi dan providensi Tuhan. Dengan demikian, sikap untuk menjadi pelaku Theoregium sangatlah diperlukan di zaman ini. Kitalah yang memulai agar banyak orang memiliki pemahaman yang benar tentang Yesus Kristus dan apa yangg telah diperbuat-Nya bagi kita, dulu, kini, dan selamanya.

Salam Bae…..

Sumber gambar:

  1. https://unsplash.com/photos/4C-XkKW-rgs
  2. https://unsplash.com/photos/9zsHNt5OpqE
  3. https://unsplash.com/photos/BtNxJsFOjtQ
  4. https://unsplash.com/photos/_AEj9pyHepo
  5. https://unsplash.com/photos/jGr-QpdoCi0
  6. https://unsplash.com/photos/Hx8HaI4ERkA
  7. https://unsplash.com/photos/uvcUq8cGncQ
  8. https://unsplash.com/photos/cmIqkMPfpMQ
  9. https://unsplash.com/photos/Hzp-1ua8DVE
  10. https://unsplash.com/photos/tzsUJD0TGkk

SALING MENDOAKANLAH KAMU: Catatan untuk Para Sahabat yang Terkasih

four women looking down

Judul tulisan singkat ini mungkin kurang menarik dibanding judul-judul tulisan pada jurnal terindeks Scopus yang bergengsi itu. Tetapi substansi dari judul tulisan ini sangatlah kuat, bersifat historis, dan teologis. Pasalnya, “doa telah mengubah dunia” dan kekristenan berlari serta mengembangkan pelayanannya di seantero dunia ini, itu semua tidak lepas dari peran “doa”.

Apa yang menarik dari “saling mendoakan”? Apakah generasi muda post milenial ini masih tergerak untuk berdoa, atau mereka lebih suka mengekpresikan diri mereka dengan gerakan lompat-lompat di kasur tanda kepenuhan roh kudis? Ataukah mereka lebih suka berbuat apa saja (tanpa batasan) untuk menunjukkan jatidiri mereka? Lalu masihkah generasi yang sudah tua tergerak untuk berdoa? Ataukah mereka lebih suka kumur-kumur teologi untuk mencari sensasi?

Masihkah Gereja (orang percaya) memikirkan tentang gerakan “saling mendoakan” di segala situasi? Apalagi era pandemik Covid-19 telah membuka mata kita bahwa “kematian karena Covid-19” sangat memprihatinkan sekali. Kematian karena Covid-19 sudah mencapai angka 3.834.951 per tanggal 17 Juni 2021 (versi Wikipedia). Pergumulan dan kegelisahan karena pandemik ini sangatlah tinggi. Setiap orang perlu waspada atas persebaran virus ini. Masihkah kita berdoa? Tentu!

Apakah doa dapat menghentikan persebaran Covid-19? Tidak! Doa tidak cukup, tapi dibutuhkan tindakan kita untuk selalu waspada dan sadar bahwa ketika kita lalai terhadap mekanisme (protokol) kesehatan, maka kita bisa terpapar Covid-19. Tuhan tidak menjawab doa seseorang yang meminta uang segepok turun dari langit tanpa bekerja. Tuhan tidak pernah memberkati orang pemalas, justru pemalas harus disuruh bekerja untuk mendapatkan hasil. Petani ubi jalar tidak menanti ubi jalar turun dari langit. Ia harus mencangkul tanah dan menanam batangnya.

Demikian juga dengan kita. Kita berdoa kepada Tuhan, sembari bekerja. Ketika kita saling mendoakan, kita pun harus bekerja, tidak menunggu. Tuhan menunjukkan kuasa, kasih, dan kemurahan-Nya kepada kita yang berserah, bersandar, dan berharap pada-Nya di dalam doa setiap hari. Doa adalah harapan kita untuk menanti uluran tangan Tuhan menolong kita dan orang-orang yang kita doakan. Doa adalah tanda penyerahan diri kita kepada Tuhan dan menanti lawatan kasih-Nya.

Dengan doa, kita peduli terhadap sesama kita. Di masa pandemik Covid-19, kita mendengar banyak orang yang terpapar virus Corona. Kita harus mendoakan mereka, apalagi terhadap sesama kita yang seiman. Kita terus berharap agar Tuhan memulihkan dan menyembuhkan mereka. “Tuhan berbuat sesuai kehendak-Nya, bagi kebaikan kita semua”.

men touching each other's foreheads

Saling mendoakan adalah wujud dari kepedulian yang dibungkus dengan iman yang sejati. Alkitab memberikan kepada kita fakta menarik tentang hal ini. Dalam Kisah Para Rasul 12:5 disebutkan, bahwa “Demikianlah Petrus ditahan di dalam penjara. Tetapi jemaat dengan tekun mendoakannya  kepada Allah.” Doa adalah bentuk kepedulian dan pengharapan kepada Tuhan, karena Dialah yang memungkinkan segala sesuatu terjadi. Ia berbuat sesuai maksud dan rencana-Nya yang indah bagi kita semua. Di dalam pandemik Covid-19, pasti ada rencana Tuhan yang indah bagi kita. Tetaplah berdoa dan saling mendoakan.

Dalam konteks Yakobus 5:14-16, orang sakit perlu didoakan dan saling mendoakan satu dengan yang lain. Kekuatan kebersamaan itu sangatlah penting. Tujuan dari saling mendoakan adalah karena kita percaya bahwa Allah bekerja untuk mendatangkan kebaikan bagi kita semua. Kita hanya berharap bahwa Allah-lah yang dengan kuasa-Nya menyembuhkan dan memulihkan kita dan orang yang kita doakan. Sahabat dan kenalan kita yang terpapar Covid-19 harus kita doakan. Karena itu, kepedulian kita tidak hanya dalam bentuk materi, melainkan juga dengan doa kita kepada Sang Khalik. Tetaplah berdoa dan saling mendoakan.

Yang terakhir, dalam 2 Korintus 1:10-11 dituliskan demikian: “Dari kematian yang begitu ngeri Ia telah dan akan menyelamatkan kami: kepada-Nya kami menaruh pengharapan kami, bahwa Ia akan menyelamatkan kami lagi, karena kamu juga turut membantu mendoakan kami, supaya banyak orang mengucap syukur atas karunia yang kami peroleh berkat banyaknya doa mereka untuk kami.” Tantangan bagi orang percaya selalu ada. Rasul Paulus mengalami banyak penderitaan demi Kristus, bahkan beberapa kali ia terancam kematian. Tetapi ia tahu bahwa Yesus Kristus memiliki rencana yang indah bagi dia, sehingga bertolak dari hal itu, ia dengan gigih memberitakan Injil Kristus. Paulus juga tahu bahwa orang-orang percaya turut mendoakan ia dan rekan-rekannya dalam perjalanan memberitakan Injil.

Paulus tahu bahwa segala macam penderitaan dengan penghiburan, diterima dari Allah (2Kor. 1:4). Ia meyakini bahwa Allah Bapa adalah sumber segala penghiburan yang menghibur dalam segala penderitaan yang dialami (2Kor. 1:3-4). Allah menggerakan orang-orang tertentu untuk mendoakan kita atau sebaliknya, Allah menggerakan kita untuk mendoakan bagi orang-orang tertentu. Di sini kita mengetahui bahwa Allah menghendaki kita untuk saling mendoakan agar Ia menunjukkan kasih, kemurahan, dan kuasa-Nya bagi kita dan bagi orang-orang yang kita doakan. Tetaplah berdoa dan saling mendoakan.

man praying

Dari teks-teks di atas, kita menyadari akan kepentingan “saling mendoakan”. Kita beriman bahwa Allah akan memulihkan dan menyembuhkan sahabat-sahabat kita yang terpapar Covid-19. Kita pun tahu bahwa dunia ada dalam erangan (rintih) pandemik Covid-19. Kita yang beriman kepada-Nya memiliki harapan bahwa Allah akan memulihkan erangan itu dan menyediakan segala kelimpahan sukacita karena Ia telah menyatakan kebaikan bagi kita semua. Tetaplah berdoa dan saling mendoakan.

Kepada sahabat-sahabat saya yang terpapar Covid-19, doa kami untuk kalian. Tuhan memulihkan dan menyembuhkan kalian semua.

Salam Bae

Via Salutis – Epignosis.

Sumber:

  1. https://unsplash.com/photos/rTwhmFSoXC8
  2. https://unsplash.com/photos/ShCVvQbQBDk
  3. https://unsplash.com/photos/I-YAoNw2nds
Rancang situs seperti ini dengan WordPress.com
Mulai