
Manusia memiliki kemampuan untuk berpikir tentang kehidupan, baik kehidupan di masa lalu, kehidupan di masa kini, maupun kehidupan di masa mendatang (harapan selama hidup dan harapan sesudah kematian). Melalui pikiran pula, manusia berpacu dengan waktu dan pekerjaan. Manusia menyibukan diri dengan berbagai aktivitas, usaha, kewajiban, menjalankan hak, berjuang, bergumul, bertarung, bersenang-senang, dan menikmati kebebasan. Semuanya—dipikirkan—untuk “mempertahankan hidupnya dan orang yang ia kasihi”. Dampak dari berpikir menginsyaratkan manusia untuk menikmati dan mempertahankan hidup. Dengan menikmati, manusia menerima segala yang baik, menerima segala hasil dari perjuangan dan pekerjaan yang berat. Dengan mempertahankan hidup, manusia berusaha untuk mendapatkan kebahagiaan diri sendiri, orangtua, keluarga, dan handai tolan.
Ketika pikiran menghasilkan sesuatu yang baik, maka dua hal ini dilakukan manusia: pertama, memikirkan masa depan; dan kedua, memikirkan kesenangan hari ini. Mereka yang menikmati hasil hidup hanya untuk kesenangan hari ini sebenarnya tidak terlalu peduli dengan masa depan. Harapan bahwa mereka dengan mudah mendapatkan segala sesuatu dan merasa bahwa tidak ada cukup halangan yang dapat menghambat pemerolehan segala sesuatu itu. Yang memikirkan masa depan—secara sederhana—adalah mereka yang berfilsafat tentang masa depan. Mereka memikirkan tentang harapan-harapan di masa mendatang dengan modal apa yang didapatkan saat ini dan modal “yang akan didapatkan” di masa mendatang.
Kita bergumul dengan kehidupan ini; kita bergumul di dalam waktu yang terus bergulir, dan tentunya, di dalamnya terselip keyakinan untuk menapaki hari esok, masa depan yang lebih baik. Itu berarti, kita masih memikirkan masa depan; kita berfilsafat mengenai hari depan. Meski hanya secara sederhana, namun gagasan memikirkan masa depan adalah sebuah langkah hidup yang sangat bijaksana.

Di saat ini, kita perlu memperhatikan sikap untuk “mencintai kebijaksanaan” (berfilsafat tentang masa depan). Meski hanya secara sederhana, namun gagasan memikirkan masa depan adalah sebuah langkah hidup yang sangat bijaksana. Filsafat masa depan berbicara tentang langkah-langkah yang harus ditempuh untuk mencapai sesuatu. Langkah-langkah tersebut adalah bukti bahwa kita masih memiliki sekumpulan berkas kerinduan dan keinginan untuk merasakan kebahagiaan, kenikmatan, kesukacitaan, kedamaian, keharmonisan, cinta kasih, dan persahabatan.
Langkah-langkah yang harus ditempuh untuk mencapai sesuatu di masa depan terdiri atas lima hal:
Pertama, merencanakan pencapaian hidup yang lebih baik untuk dinikmati bersama orang-orang yang dikasihi dan dicintai.
Kedua, merencanakan pencapaian pekerjaan yang mendorong untuk mencapai kehidupan yang lebih baik.
Ketiga, merencanakan pencapaian persahabatan yang lebih baik agar tercipta budaya tolong-menolong dan topang-menopang
Keempat, merencanakan pencapaian kepribadian yang lebih baik agar menjadi berkat dan teladan bagi orang lain; dan
Kelima, merencanakan pencapaian spiritualitas dan moralitas yang lebih baik agar menjadi “terang dan garam dunia” di mana pun berada.
Dari kelima langkah berfilsafat tentang masa depan di atas, terbuka peluang bagi kita untuk berpikir tentang apa yang hendak kita capai dan raih di masa depan. Jika kita menginginkan pencapaian hidup yang lebih baik untuk dinikmati bersama orang-orang yang dikasihi dan dicintai, mulai sekarang kita perlu berbenah diri dan meningkatkan kualitas hidup kita, yakni: kualitas komunikasi, relasi, kasih, integritas, persahabatan, komitmen, moralitas, dan kualitas spiritualitas adalah aspek-aspek yang tidak terpisahkan kehidupan mereka yang ingin pencapaian hidup yang lebih baik.

Jika kita menginginkan pencapaian pekerjaan yang mendorong untuk mencapai kehidupan yang lebih baik, maka kita perlu mengasesmen (menilai) apa yang telah kita kerjakan sebelumnya dan kemudian merumuskan tindakan-tindakan yang lebih baik atau tindakan-tindakan yang baru. Bekerja memang merupakan kebutuhan yang mendesak. Namun, pekerjaan yang kita geluti perlu diasesmen secara baik agar kita menjadi pribadi yang siap bekerja dan bertanggung jawab.
Jika kita menginginkan pencapaian persahabatan yang lebih baik agar tercipta budaya tolong-menolong dan topang-menopang, maka ketika ada konflik-konflik kecil atau pun besar, harus diselesaikan dengan baik. Persahabatan adalah sebuah perjalanan hidup yang mengokohkan, merangkul, dan menginspirasi. Persahabatan adalah buah dari kematangan berpikir dan berfisafat tentang masa depan. Sahabat adalah kekuatan di masa depan. Di sini, Tuhan mendidik kita untuk menghargai persahabatan yang tulus, penuh kasih, dan mengutamakan sikap jujur.
Jika kita menginginkan pencapaian kepribadian yang lebih baik agar menjadi berkat dan teladan bagi orang lain, maka apa yang selama ini dilakukan secara baik harus dipertahankan, dan apa yang belum dilakukan di masa lalu, perlu dilakukan di masa depan. Artinya, berbuat baik tak ada habisnya. Berbuat baik secara fisik berakhir ketika hidup kita berakhir. Akan tetapi, berbuat baik melalui karya dan pengaruh, akan terus berdampak pada generasi selanjutnya, meski mereka yang berkarya dan berpengaruh telah meninggalkan dunia ini.
Jika kita menginginkan pencapaian spiritualitas dan moralitas yang lebih baik agar menjadi “terang dan garam dunia” di mana pun berada, maka perbuatan-perbuatan baik haruslah selalu selaras dengan firman Tuhan. Dekatkan diri dengan Tuhan, Sang Pemberi Hidup. Pergumulan adalah proses penting di mana manusia dapat menjadi lebih dekat. Ketika hidup dirasa tanpa hambatan, jangan melupakan Tuhan. Suka dan duka adalah dua hal yang diizinkan Tuhan agar manusia menyeimbangkan pola hidupnya. Segala sesuatu ada waktunya. Ada saatnya kita tertawa, ada saatnya kita menangis dan bersedih. Seperti pernyataan Raja Salomo berikut ini adalah fakta yang tak terhindarkan:
“Untuk segala sesuatu ada masanya, untuk apapun di bawah langit ada waktunya. Ada waktu untuk lahir, ada waktu untuk meninggal, ada waktu untuk menanam, ada waktu untuk mencabut yang ditanam; ada waktu untuk membunuh, ada waktu untuk menyembuhkan; ada waktu untuk merombak, ada waktu untuk membangun; ada waktu untuk menangis, ada waktu untuk tertawa; ada waktu untuk meratap; ada waktu untuk menari; ada waktu untuk membuang batu, ada waktu untuk mengumpulkan batu; ada waktu untuk memeluk, ada waktu untuk menahan diri dari memeluk; ada waktu untuk mencari, ada waktu untuk membiarkan rugi; ada waktu untuk menyimpan, ada waktu untuk membuang; ada waktu untuk merobek, ada waktu untuk menjahit; ada waktu untuk berdiam diri, ada waktu untuk berbicara; ada waktu untuk mengasihi, ada waktu untuk membenci; ada waktu untuk perang, ada waktu untuk damai.
Apakah untung pekerja dari yang dikerjakannya dengan berjerih payah? Aku telah melihat pekerjaan yang diberikan Allah kepada anak-anak manusia untuk melelahkan dirinya. Ia membuat segala sesuatu indah pada waktunya, bahkan Ia memberikan kekekalan dalam hati mereka. Tetapi manusia tidak dapat menyelami pekerjaan yang dilakukan Allah dari awal sampai akhir. Aku tahu bahwa untuk mereka tak ada yang lebih baik dari pada bersuka-suka dan menikmati kesenangan dalam hidup mereka. Dan bahwa setiap orang dapat makan, minum dan menikmati kesenangan dalam segala jerih payahnya, itu juga adalah pemberian Allah. Aku tahu bahwa segala sesuatu yang dilakukan Allah akan tetap ada untuk selamanya; itu tak dapat ditambah dan tak dapat dikurangi; Allah berbuat demikian, supaya manusia takut akan Dia” (Pengkhotbah 3:1-14)

Filsafat masa depan juga berbicara tentang “waktu” yang akan menjadi bagian penting di masa depan. Saat ini, kita diperhadapkan dengan banyak hal dan melalui proses “waktu” kita ditempa dan diuji untuk menghasilkan kualitas hidup yang kokoh di dalam iman kepada Yesus Kristus.
“Waktu” akan menempa, menguji, dan mengikis rencana pencapaian hidup yang lebih baik. Milikilah komitmen yang teguh.
“Waktu” akan menempa, menguji, dan mengikis rencana pencapaian pekerjaan yang mendorong untuk mencapai kehidupan yang lebih baik. Milikilah kualitas diri.
“Waktu” akan menempa, menguji, dan mengikis rencana pencapaian persahabatan yang lebih baik. Milikilah konsistensi dan kasih yang kokoh.
“Waktu” akan menempa, menguji, dan mengikis rencana pencapaian kepribadian yang lebih baik. Milikilah integritas diri.
“Waktu” akan menempa, menguji, dan mengikis rencana pencapaian spiritualitas dan moralitas yang lebih baik. Milikilah hubungan yang akrab dengan Tuhan dan tetap setia kepada firman-Nya.
Filsafat masa depan memberikan gambaran yang baik tentang bagaimana kita menapaki hidup dan berjuang. Menapaki hidup berarti kita melangkah. Melangkah untuk bekerja, berelasi, bersahabat, dan memuji keajaiban kuasa Tuhan. Menapaki hidup berarti kita bekerja untuk mempertahankan hidup. Bekerja secara baik dan bertanggung jawab. Menapaki hidup berarti kita secara “step by step” menimbun kebaikan dan kualitas hidup agar di masa depan kita dapat mencapai apa yang kita harapkan dan rindukan.

Berjuang untuk masa depan berarti kita mempergunakan potensi berpikir dan potensi kualitas diri untuk mengaplikasikan apa yang telah Tuhan berikan kepada kita. Berjuang untuk masa depan berarti kita tahu bahwa “ada harapan yang disediakan Tuhan”. Berjuang untuk masa depan berarti kita bertanggung jawab di hadapan Tuhan karen Ia telah memberikan segala potensi dalam diri kita untuk bertahan hidup.
Berjuang untuk masa depan berarti kita telah berfilsafat secara sederhana untuk “mengantisipasi masa depan” yang disertai lima langkah sebagaimana telah saya jelaskan di atas.
Akhirnya, berfilsafat tentang masa depan adalah kewajiban setiap orang—kecuali seseorang tidak lagi membutuhkan kehidupan dan kebahagiaan. Marilah memandang masa depan dengan keyakinan bahwa Tuhan akan selalu beserta kita dan memberkati kita. Kita perlu menunjukkan kualitas moral dan spiritual, serta kualitas pekerjaan, hidup, komitmen, dan integritas. Tuhan telah menyediakan berkat bagi mereka yang setia kepada-Nya dan menjalankan kehidupan selaras dengan firman-Nya (perintah-perintah-Nya).

Selamat menyambut situasi dan kondisi yang baru setiap hari. Ketika kita bangun, mengucap syukurlah bahwa Tuhan masih memperhatikan keadaan kita. Kiranya damai sejahtera Kristus memerintah dalam hati kita, sehingga kualitas iman dan hidup terpancar dalam setiap kata, pikiran, dan perbuatan.
Selamat bersyukur atas kehidupan yang Tuhan berikan. Semoga kualitas iman dan hidup yang telah dikerjakan dan dijalani selama hidup kita, akan tetap dilanjutkan, terlebih ditingkatkan, agar nama Tuhan dipuji dan dimuliakan. Dan kita pun dapat menyenangkan hati-Nya.
Jadilah teladan dalam dalam perkataanmu, dalam tingkah lakumu, dalam kasihmu, dalam kesetiaanmu dan dalam kesucianmu, setiap hari, setiap waktu, sampai Tuhan Yesus datang kembali. Berjuanglah melewati waktu. Berjuanglah dan tapakilah hidup bersama Tuhan Yesus. Ia adalah Imanuel. Ia mengasihi kita; Ia peduli dengan kita.
Salam Bae
Sumber gambar-gambar: UNSPLASH










