SAMPAI ENGKAU MEMAAFKANKU…

red heart and man hanging drawing

Kasihku, aku tak bisa menahan rasa maafku terhadapmu. Aku berulang kali mengucapkan “maafku” sebagai bukti bahwa aku tidaklah berpikir untuk menyakiti atau melukai perasaan dan hatimu.

Aku melakukan itu semua dengan tujuan “sampai engkau memaafkanku”. Upaya itu telah kulakukan.

Tapi biarlah dirimu yang memutuskannya, memaafkanku atau mengabaikan maafku.

Kasihku, aku tahu hati dan perasaanmu terluka; aku berusaha mengobatinya dengan pertama-tama meminta maaf atas kesalahanku.

Jika hal itu tak dapat mengobati luka di rasa dan hati, aku, sekali lagi: meminta maaf padamu.

Jika tidak cukup juga untuk mengobati luka di rasa dan hati, aku undur diri: aku tak mau lagi mengganggumu; aku tak mau lagi menyakitimu.

Jika “undur diri” ini menjadi pilihan untuk dapat menjadi situasi yang terbaik agar aku dimaafkan, aku merelakannya.

Sekaligus aku hendak bergegas menyendiri, merenungkan kesalahanku terhadapmu yang telah melukai, menyakiti rasa dan hatimu… Akhirnya, kulakukan semua ini “sampai engkau memaafkanku”….

Jika tak termaafkan, aku akan melupakanmu, selamanya….

Kasihku… aku minta maaf.

man in black jacket and black pants walking on road during daytime

#mencobaberimajinasi

#mencobaberkhayal

#maaftakberujung

#maafkukemarahanmu

Sumber gambar:

https://unsplash.com/photos/ka7REB1AJl4

https://unsplash.com/photos/nVDB1IGq64s

AKU MINTA MAAF

Bukan maksud hatiku untuk melukai perasaanmu; bukan pula niatku untuk membuatmu merasa sesak dada karena ulah perkataanku. Tidak sama sekali.

Aku tidak sedang berusaha memperlihatkan “kata-kata” dengan tujuan melukai dan menggelisahkan hatimu. Tidak sama sekali. Pada pikiranku, aku hanya bersenda gurau; sedangkan pada pikiranmu, mungkin aku “sengaja” melukai perasaanmu.

Sungguh, aku tidak seperti itu; aku hanya ingin membuat suasana menjadi cair; meski pada akhirnya “kesalahpahaman” yang terjadi.

Jika memang sikapku dan kata-kataku melukai hatimu, “AKU MINTA MAAF”. Maafkanlah aku yang dengan tulus mengungkapkannya kepadamu. Jikalau pun tidak mendapat “apa-apa” dari permohonan maafku, aku tetap menyatakan diriku bersalah atas perkataanku.

Kelemahan-kelemahanku mungkin menjadi “racun” bagimu ketika aku salah menempatkan diri di hadapanmu dan di hadapan banyak orang. Biarlah “racun” itu kembali padaku; aku meminumnya sebagai permohonan maafku yang paling tinggi terhadapmu.

Biarlah aku belajar dari situasi dan fakta ini, yang pada gilirannya aku berusaha menjadi pribadi yang lebih baik, tidak lagi melukai hati dan perasaan orang lain, termasuk dirimu.

Maafkanlah diriku.

Permohonan ini pada akhirnya akan menentukan guliran waktu di kemudian hari tentang fakta yang akan terjadi.

Aku minta maaf.

Sumber gambar: https://unsplash.com/photos/S4tm-mox-xQ

Catatan:

  1. Ungkapan maaf pada tulisan singkat di atas adalah contoh yang mungkin pernah kita alami, entah sebagai pelaku yang melukai hati dan perasaan orang lain (sengaja atau tidak sengaja [tidak bermaksud untuk melukai]), atau sebagai orang yang terlukai.
  2. Pernahkah kita melukai perasaan orang lain?
  3. Pernahkah kita melukai hati orang lain?
  4. Pernahkah kita dengan sengaja melukai hati dan perasaan orang lain?
  5. Permohonan maaf adalah tanda kesadaran dan kedewasaan.
  6. Kita belajar dari fakta hidup bahwa kita sering disalahpahami atas ucapan atau senda gurau kita; tetapi biarlah dari fakta itu pula kita ditegur untuk tidak menyinggung perasaan orang lain sebab penilaian dan rasa orang lain terhadap kata-kata kita, belum tentu sama.
  7. Setiap respons terhadap kata-kata kita, tentu berbeda. Jadi, perhatikanlah situasi, kondisi, dan pribadi-pribadi di sekeliling kita, agar tidak menyinggung perasaan dan melukai hati mereka.

Salam Bae…

KITA DAN DUNIA PENDIDIKAN: Sebuah Refleksi

control a class with disruptive students
Sumber gambar: https://teach4theheart.com/disruptive-students-control-your-class/

Pendidikan adalah bagian koheren dengan proses kehidupan yang di dalamnya tercakup tentang apa dan bagaimana bertahan hidup, merealisasikan karya dan potensi, bertaruh kehidupan dan identitas, memperjuangkan hak dan keadilan, membebaskan diri dari kebodohan, dan masih banyak lagi.

Pendidikan secara signifikan menempati ruang hidup manusia dalam banyak konteks. Dengan pendidikan, agenda hidup manusia dapat diwujudkan. Ada ruang-ruang kosong yang harus diisi oleh pendidikan. Gerak pendidikan cukup ekspansif, dan secara global, pendidikan tidak dapat diabaikan begitu saja; pendidikan tidak boleh dibelenggu oleh unsur politik dan agenda buruk lainnya. Tumbuh kembang perekonomian suatu negara tidak lepas dari peran pendidikan. Pengembangan teknologi dan informasi juga menjadi bagian koheren dengan pendidikan itu sendiri.

Manusia berlomba-lomba mendapatkan pendidikan, memperjuangkan hak-hak pendidikan, bekerja untuk pendidikan, dan mengembangkan pendidikan. Di satu sisi manusia mengupayakan adanya sistem pendidikan bermutu, dan di sisi lainnya, manusia tidak cukup memadai untuk mendidik dan atau mengembangkan sistem pendidikan. Kolaborasi antara mekanisme akademis dengan potensi humanitas menjadi “syarat utama” bagi terwujudnya pendidikan yang bermutu.

Pula, relasi dan komunikasi dipandang sebagai bagian yang tak terpisahkan dari pengembangan pendidikan di berbagai bidang. Sejatinya, pertemuan dan perpaduan antara akademis, potensi (terkait dengan karya dan keahlian tertentu), relasi, dan komunikasi menjadi peluang bagi kita untuk mengembangkan dan memperkuat sistem pendidikan. Kita dapat menerapkan berbagai konteks di lingkungan masing-masing untuk memperkuat sistem sosial-kemasyarakat, relasi antar ras dan budaya, relasi humanitas dan religiositas, dan lain sebagainya.

Bangunan pendidikan perlu melihat pada cara meramu tujuh bahan berikut ini: pertama, prisip dasar (setiap momen membangun pendidikan, perlu sekali dimulai dari prinsip dasarnya: apa dan bagaimana membangun pendidikan, dan dipadukan dengan hal-hal fundamen lainnya untuk mengokohkan serta mendorong terwujudnya nilai, visi, dan misi pendidikan); kedua, prinsip konseptual (merancang konsep-konsep untuk memulai pembagunan pendidikan); ketiga, prinsip kerja sama tim; keempat, prinsip manajemen; kelima, prinsip relasional (perlu menciptakan dan mengupayakan relasi internal maupun eksternal); keenam, prinsip komitmen (mencapai tujuan); dan ketujuh, prinsip pengembangan (merencanakan apa yang akan terus dilakukan bagi kemajuan pendidikan).

Dari bahan di atas, kita dapat menambahkan hal-hal yang kontekstual untuk memberikan penguatan internal dan eksternal sebab setiap lokus memiliki tantangan, keuntungan, peluang, dan hambatan yang berbeda-beda. Tetapi tujuh bahan di atas merupakan hal-hal yang perlu diperhatikan dan dilakukan dengan sebaik mungkin.

Dalam skema global, kita melihat bahwa dunia pendidikan adalah dunia di mana konsep, konteks, dan konten (isi), merupakan kesatuan yang saling mengikat dan keluar secara bersamaan dalam prosesnya. Beberapa kata (dalam bahasa Belanda) berikut ini adalah suplemen optatif dari konsep, konteks, dan konten pendidikan, di mana pendidikan dapat terwujud secara nyata dan komprehensif: 

  1. voortduwen (mendorong ke depan), 
  2. voorthelpen (membantu terus untuk maju), 
  3. wanten (memperbaiki), 
  4. zwoegen (berjerih payah), 
  5. uitzettingsvermogen (daya muai [daya mengembangkan keilmuan]), 
  6. juistheid (kebenaran), 
  7. naäpen (meneladan), 
  8. nadenken (menimbang), 
  9. samenketenen (merantai satu sama lain), 
  10. gewetensvrijheid (kebebasan berpikir), 
  11. consciëntieus (teliti, amat jujur), dan
  12. consciëntie (kesadaran kesusilaan)

MENYESUAIKAN INTEGRITAS UNTUK MEMUASKAN ORANG LAIN

Sumber gambar: https://ok.ru/group/54832813965318/album/54834208833542?st.cmd=anonymGroupAlbumPhotos&st.groupId=54832813965318&st.albumId=54834208833542

Bekerja adalah sebuah tindakan. Tindakan adalah sebuah usaha. Usaha untuk bekerja menghasilkan sesuatu adalah sebuah tujuan. Tujuan dapat dicapai dengan bekerja keras. Bekerja keras biasanya membutuhkan sebuah prinsip hidup dan prinsip kerja. Itulah pencapaian tertinggi dalam hidup manusia.

Kita perlu berhati-hati dalam bekerja. Lingkungan kerja akan mempengaruhi cara kita bekerja. Cara bekerja bergantung pada ‘cara berpikir’. Cara berpikir dipengaruhi oleh apa yang telah ‘dipelajari’ seseorang. Konten ‘belajar’ dipengaruhi oleh pendidikan, sekolah, sahabat, dan komunitas. Baik buruknya cara berpikir dan tindakan seseorang bergantung pada pendidikan, sekolah, sahabat, dan komunitas

Kita bekerja adalah baik, jika kita memiliki kemampuan untuk mengerjakan sesuatu yang dipercayakan kepada kita tanpa mudah dipengaruhi oleh lingkungan kerja yang tidak mendukung cara kita bekerja. Bahayanya adalah ketika kita menyesuaikan integritas kerja untuk memuaskan seseorang yang kita anggap lebih tinggi jabatannya dari kita, lebih banyak kekayaannya dan lain sebagainya. Tindakan menyesuaikan integritas kerja adalah penyelewengan prinsip diri atau dasar kerja manusia.

Integritas itu ada dalam diri kita dan tidak perlu dikorbankan meskipun kita berada dalam berbagai situasi, kondisi, jabatan atau kedudukan. Secara sederhana integritas berarti kejujuran, ketangguhan. Dalam pemahaman yang lebih luas, integritas diartikan sebagai jujur dan bermoral. Dalam pemahaman Alkitab integritas dapat disimpulkan sebagai: berlaku ramah (tidak menciptakan permusuhan, tidak mencari musuh, tidak mendendam, mandiri (tidak berusaha untuk menyusahkan orang lain atau membebani orang lain), saleh (spritualitas, mengutamakan Tuhan dalam segala hal, menunjukkan jati diri yang sesungguhnya, tidak membauri dirinya dengan dua bidang spiritul [baik dan jahat], tahu membedakan antara yang baik dan jahat), adil (etika, memperlakukan orang lain sesuai dengan apa yang dilakukan kepada kita, tahu diri), tak bercacat (moralitas, pikiran dan mulut konsisten, mengeluarkan kata-kata yang baik, tanpa memfitnah orang lain), dan berani menasihati (kapabilitas, menasihati atau menegur orang lain yang telah berbuat salah, mengetahui kesalahan orang lain dengan benar tanpa ada asumsi negatif yang mendahuluinya).

Dalam hal integritas, ada dua hal yang perlu dipahami: pertama, menggunakan integritas dalam bekerja, dan kedua, bekerja dengan integritas.

Hal pertama, menggunakan integritas dalam bekerja adalah mereka yang memiliki integritas dan dipanggil Tuhan untuk bekerja (atau tindakan lainnya). Mereka harus belajar memahami ‘KERJA’ yang sesungguhnya. Tidak ada kesulitan yang cukup berarti bagi mereka yang telah memiliki integritas untuk bekerja. Integritas itu dapat langsung melebur dalam pekerjaan seseorang.

Hal kedua yakni bekerja dengan integritas adalah mereka yang bekerja untuk menghadirkan integritas sehigga sebuah pekerjaan dapat menumbuhkan hal-hal baru yang didapatkan yang lain dari pada bekerja tanpa integritas. Bekerja tanpa integritas menjadikan seseorang ‘tidak dipercaya’. Ada cukup kesulitan bagi mereka yang mau belajar berintegritas. Integritas itu harus dikejar dan diusahakan.

Banyak orang yang mampu bekerja tapi tidak semua yang memiliki kejujuran dan moralitas yang baik di hadapan Tuhan dan manusia. Bekejar dengan integritas mendorong kita semua untuk bekerja dengan ‘arah’ yang jelas dengan prinsip moralitas dan spiritualitas yang kuat. Bekejar dengan integritas berarti apa pun yang dialami sebagai orang Kristen, kita tetap menunjukkan jati diri yang tetap, tidak berubah meski tawaran harta dan materi sudah di depan mata. Ia tidak mengorbankan integritasnya hanya karena tawaran uang, harta, jabatan, dan sebagainya. Mereka yang tidak berubah integritasnya adalah mereka yang ‘konsisten’.

Bekerja dengan integritas berarti berlaku ramah, jujur, mandiri, saleh (spritualitas), adil (etika), tak bercacat (moralitas), dan berani menasihati (kapabilitas). Bekerja dengan integritas berarti apa yang dipercayakan oleh Tuhan harus dilakukan dengan sepenuh hati.

Mengorbankan integritas untuk menyenangkan seseorang adalah tindakan membunuh diri sendiri sejenak untuk kepuasan sementara. Mengorbankan atau menyesuaikan integritas untuk menyenangkan seseorang bisa membuka peluang bagi diri kita untuk diperalat, ditipu atau dikhianati oleh orang yang disenangkan. Menyesuaikan dan mengorbankan integritas kita untuk menyenangkan orang lain biasanya melupakan atau mengesampingkan “etika”, “hormat”, “kebaikan orang lain” dan lebih melancipkan ‘kekurangan orang lain’ atau ‘memburukkan nama baik orang lain’ meski ia sendiri tidak mendapatkan klarifikasi atau informasi yang berimbang.

Kita menghormati dan menghargai orang yang akan kita senangkan sejauh kita dapat memuaskan berbagai tuntutan yang diminta oleh mereka dan kita membiarkan diri kita menerimanya demi “kesenangan” yang akan kita berikan kepadanya. Rasa hormat dan menghargai mereka hanya dijadikan alasan utama di saat kita menjalani apa yang mereka mau, meskipun kadang kita diminta untuk tidak menghargai orang-orang yang telah berjasa dalam hidup kita.

Kita seharusnya tahu bahwa apa yang kita kerjakan adalah bagian dari apa yang seharusnya menjadi tugas dan tanggung jawab kita. Menertibkan atau mendisiplinkan diri dalam bekerja akan mendidik diri kita dan pikiran serta sikap kita menjadi seorang pribadi yang mandiri, yang berintegritas dan berdedikasi – terlebih ia menjadi seorang yang tahu diri di mana ia berada.

Berintegritas berarti ‘menghargai’ diri sendiri, ‘menghargai’ pimpinan, ‘menghargai’ waktu bekerja, ‘menghargai’ aturan atau hukum kerja dan menghargai kualitas kerja yang kita miliki.

Menyenangkan orang lain adalah hal yang baik. Tetapi “baik” itu bergantung pada natur dari “tindakan menyenangkan” tersebut. Seorang suami harus menyenangkan istrinya, demikian sebaliknya. Seorang bawahan harus menyenangkan atasannya, demikian sebaliknya. Seorang budak harus menyenangkan majikannya, demikian sebaliknya. Akan tetapi, tindakan menyenangkan antara bawahan dan atasan, antara budak dan majikannya, secara natur sangatlah berbeda. Berbeda karena adanya pembedaan status, kedudukan, kekayaan, tingkat pendidikan, strata hidup dan sebagainya yang dapat dibedakan.

Kadang-kadang tindakan menyenangkan dapat melampaui batasnya – di mana harga diri, norma-norma, keluarga, jabatan, kedudukan, kekayaan juga dapat menjadi korbannya. Menyenangkan orang lain ada jalurnya. Jalur tersebut diikat oleh natur manusia, natur hukum, natur hidup dan natur hidup manusia. Seseorang yang menyenangkan orang lain seringkali dilakukan dengan cara-cara yang layak. Dan itu benar. Tetapi yang menjadi persoalannya adalah ketika seseorang menyenangkan orang lain dengan cara yang tidak layak – atau dengan kata lain, ia rela melakukan apa saja asalkan orang itu senang. Dari pernyataan tersebut, tersirat maksud untuk menghalalkan segala cara – apa pun itu, jika orang itu senang, maka saya akan melakukannya dengan segala risiko yang ada.

Integritas yang disesuaikan menandakan bahwa seseorang itu tidak memiliki prinsip integritas diri atau tidak mempunyai landasan hidup secara benar di hadapan Tuhan. Di samping itu, seseorang itu sebenarnya mencari muka atau “menjadikan” dirinya taat dan patuh pada pemimpin yang sifatnya sementara. Orang seperti ini adalah orang yang munafik tapi strategis.

Menyesuaikan integritas kepada seseorang atau orang lain bukanlah ciri khas dari seorang yang berintegritas tinggi. Orang yang berintegritas tinggi adalah orang yang menyatakan integritasnya dalam segala situasi dan kondisi meskipun situasi dan kondisinya tidak memungkinkan. Orang yang mencari muka adalah orang yang tidak akan bertahan lama – dan ia pun akan menuai apa yang ia kerjakan.

Integritas tidak perlu disesuaikan dengan kemauan dari seseorang tertentu tetapi pada hukum dan aturan yang mengikat dalam suatu instansi atau organisasi apa pun. Menyesuaikan integritas adalah tindakan yang menghasilkan pujian sementara – dan kemudian ia akan ditinggalkan oleh sahabat-sahabatnya. Seperti yang dikatakan oleh penulis Amsal, “Duri dan perangkap ada di jalan orang yang serong hatinya; siapa ingin memelihara diri menjauhi orang itu.”

Integritas yang disesuaikan adalah sesuatu yang pasif karena seseorang mau atau rela menyesuaikan integritas atau apa yang dipunyai berkenaan dengan cara kerjanya kepada seseorang yang lain yang adalah lebih tinggi dari jabatannya sehingga ia dapat dianggap sebagai orang yang taat pada aturan dan kepada pemikiran seseorang itu – ia dianggap sebagai budak kerja, karena seorang budak, mau tidak mau, ia harus taat dan patuh sepenuhnya kepada tuannya atau majikannya.

Integritas kita tidak perlu disesuaikan dalam konteks tertentu. Integritas itu perlu diterapkan dalam segala situasi, kepada siapa saja, dalam pemikiran apa pun dan dalam segala sesuatu.

Kita sebagai orang Kristen perlu menerapkan integritas dalam tujuannya untuk menembusi segala batasan pekerjaan, batasan waktu, batasan jabatan atau kedudukan, batasan jam kerja dan batasan-batasan lainnya yang akan mempengaruhi integritas kita.

R. C. Sproul pernah mengikuti pengajaran dari seorang profesor tentang Paulus. Berkenaan dengan hal itu, Profesor itu menjelaskan bahwa: “Orang-orang yang menyesuaikan integritas mereka untuk memuaskan hati orang lain, tidak melalukannya karena mereka mengasihi orang lain. Mereka melakukan hal itu mungkin karena takut terhadap orang lain atau ingin agar orang lain mengasihi dirinya.” ( R. C. Sproul, Sifat Allah: Mencari dan Menemukan Allah, [Jakarta: BPK Gunung Mulia, 2011], 178).

Integritas pada prinsipnya adalah ‘kita tidak membengkokan sifat, jati diri, kejujuran, dan moralitas kita untuk menyesuaikan diri dengan orang lain yang tidak beres, penipu, pemfitnah, pelaku kejahatan, sombong, tamak akan uang dan harta, dan yang jauh dari Tuhan. Milikilah integritas sebab integritas merupakan hal yang sulit dicapat, sulit dipertahankan, di tengah zaman yang sulit ini, zaman di mana kejahatan dan kenikmatan dunia bebas terbang ke sana ke mari. Mereka yang ‘tahu diri’ bahwa mereka adalah ‘hamba Tuhan’ adalah mereka yang pertama menciptakan dan mempertahankan integritas secara konsisten dan tidak ‘mengubah dirinya’ untuk menyenangkan orang lain.

Salam Bae…

MORALITAS DAN AGAMA

Dalam tataran tertentu “agama” mendorong sebuah konteks moralitas yang “baik” berdasarkan kitab sucinya. Titik lemah dari manusia adalah salah memahami konteks tertentu di salah satu zaman dan kemudian menerapkannya pada konteks kini. Di satu sisi, manusia senang dengan agamanya, dan sisi lain manusia benci dengan orang seagamanya karena ulah dan moralitasnya yang sangat buruk. Tidak didapati teladan yang baik padanya.

Teladan adalah hal yang signifikan dalam kehidupan beragama. Tetapi bukan “teladan” dalam berbuat jahat, bukan teladan memaki-maki orang dan merasa paling suci—padahal moralitas dan mulutnya tidak sejalan. Agama kadang “menghalalkan” membunuh demi nafsu dan maksud menutupi segala macam dosa yang dilakukannya, dan dirasa bahwa itu dilakukannya bagi Tuhan yang dipercayainya.

Pembenaran-pembenaran diri sering muncul dengan menampilkan sejumlah teks kitab suci sehingga orang mengira bahwa ia berbuat bakti bagi Tuhannya. Bahkan, para pelaku pembenaran diri pasca berbuat kejahatan, merasa senang karena telah berhasil menipu banyak orang. Kesenangan “merasa benar dan paling suci sendiri” di satu sisi, tetapi melupakan sisi lainnya adalah kondisi yang sering terjadi dari zaman ini. Agama menjadi “senjata” pembenaran diri dan kemunafikan menjadi “perisai” untuk menutupi dosa yang dilakukan.

Tak jarang, pembunuhan terjadi di mana-mana. Dan semuanya memiliki konteksnya masing-masing. Ada berbagai motivasi yang melatarinya, entah baik, entah buruk. Hanya pelakunya yang mengetahui apa motiv di balik tindakannya. Dalam sejarah agama-agama, setiap tindakan memiliki konteksnya. Tidak serta-merta seseorang melihat konteks zaman dulu (dalam agamanya) lalu secara gegabah menerapkannya di zamannya. Perlu dicatat bahwa yang diambil dari sejarah lampau adalah makna dan pesannya: pesan moralitas dan spiritualitas, sebuah makna bahwa relasi manusia dengan Tuhan akan berimbas kepada relasinya dengan manusia.

Kalau relasi seseorang dengan sesamanya begitu buruk, apakah relasinya dengan Tuhan sangat baik? Kalau keinginan hati seseorang hanya mau merusak tatanan yang ada, apakah relasinya dengan Tuhan menjadi baik? Kadang manusia memakai “Tuhan” untuk membenarkan tindakan yang dilakukannya. “Atas nama Tuhan” adalah slogan menipu dan buta ketika tindakan yang dilakukan seseorang begitu buruk, jahat, dan justru menunjukkan perangai yang brutal. Jika Tuhan Mahabaik, maka kebaikan-Nya diwujudkannyatakan dalam kehidupan manusia dan di situlah manusia merefleksikan kebaikan Tuhan. Lalu untuk apa manusia masih saling membenci dan mencaci-caci? Bukankah yang harus dibenci oleh manusia adalah dosa-dosa yang meracuni dan membelenggunya?

Moralitas dan ajaran agama sudah tidak sejalan. Kadang, kesalahan menafsir digunakan sebagai pembenaran diri—dan pada akhirnya, dosa jalan terus, kejahatan semakin tumbuh subur, dan kemunafikan dipelihara sebagai anak di luar pernikahan: pertemuan antara nafsu liar dan kemanafikan berbalutkan rohani. Sungguh menyedihkan kondisi manusia ketika dosa merajai hati dan pikirannya. Pikirannya melahirkan dusta, sumpah serapah, dan kesombongan. Mending kebaikan yang dilahirkannya setiap hari, malahan kebencian, kesombongan, dan hawa nafsunya yang dilahirkannya.

Manusia kadang mengalami gangguan mental “Paralogisme”—sebuah kesesatan bahwa manusia tidak tahu bahwa ia berada dalam kesasatan. Ia bangga dalam dosa, ia puas dalam kebodohannya (ignorance is satisfaction) ia puas dengan kesesatannya (fallacy is satisfaction). Tersesat dalam pikiran akan melahirkan perbuatan-perbuatan jahat, merasa ajaran agama paling benar secara persepsi, tetapi moralitasnya sangat buruk. Keyakinan akan ajaran yang benar tentulah harus didukung oleh moralitasnya. Agama dan moralitas adalah dua hal yang koheren dan signifikan.

Dalam fakta yang terjadi, ada orang-orang yang salah memahami iman Kristen. Memang, beberapa kasus yang terjadi di kalangan Kristen sangatlah memalukan. Tetapi Alkitab sangat jelas mengajarkan tentang hidup kudus di hadapan Allah dan manusia, menjaga diri dari segala kemunafikan, hidup selaras dengan firman-Nya, menjauhkan diri dari segala hawa nafsu, percabulan, dan lain sebagainya. Intinya, segala macam dosa dan kejahatan dilarang oleh Allah, dan orang-orang percaya harus mematikan dalam dirinya segala jenis “keinginan daging” yang berlawanan dengan kehendak-Nya.

Kristen menunjukkan moralitas yang tinggi sebagaimana yang Yesus ajarkan: “kasihilah musuhmu dan berdoalah bagi mereka menganiaya kamu”. Ajaran ini tidak dapat dilakukan oleh agama yang hanya bermodal pedang dan perang. Mengapa Yesus memerintahkan demikian? Kita harus tahu bahwa Tuhan menyukai kedamaian, dan Ia senantiasa mengarahkan manusia untuk hidup dengan dan dalam damai. Akan tetapi, selalu ada saja yang membuat keributan. Yang membuat ribut itu adalah manusia yang kurang berpikir dampak-dampak yang akan ditimbulkan. Ketika kejahatan dibalas kejahatan maka keributan, pembunuhan, dendam akan terus ada, muncul (lahir), menikah, hamil, melahirkan, dan seterusnya hingga akhir zaman. Yesus menghentikan kejahatan dan dosa jenis ini. Ia mau, mereka yang percaya kepada-Nya tidak membalas kejahatan dengan kejahatan, melainkan mendoakan mereka (musuh) sebab doa adalah senjata yang paling mematikan dan paling mengubah manusia.

Doa adalah tindakan tanpa biaya, tanpa kekerasan, dan tanpa dendam atau kebencian. Moralitas jenis ini hanya ditemukan dalam pengajaran Yesus. Dengan demikian agama Kristen adalah warisan dari pengajaran Yesus yang telah menebus umat-Nya agar mereka menerapkan kasih dan pengampunan bagi musuh-musuh yang membenci, terlebih mendoakan mereka. Soal mematikan atau mengubahkan musuh-musuh Kristen, itu adalah urusan Tuhan Yesus.

Terapkanlah moralitas yang sesuai dengan ajaran Kitab Suci kita. Janganlah menabur kebencian jika tidak ingin menuai kematian dan malapetaka; jangan menabur fitnah dan tipu muslihat jika tidak ingin menuai bencana yang sama; dan jangan membalas kejahatan dengan kejahatan melainkan kalahkanlah kejahatan dengan melakukan berbagai kebaikan.

Kedamaian dan moralitas hanya dapat ditaburkan oleh mereka yang telah mengalami kasih dan pengampunan dari Tuhan. Siapakah dari kita yang tidak berdosa? Tuhan sudah mengampuni kita dan Ia begitu mengasihi kita. Tidak ada lagi kebencian dan dendam ketika Tuhan sudah bertakhta di hati kita. Moralitas dan agama memang koheren, tetapi jangan sampai dosa yang dilakukan ditutupi dengan modal celoteh agama agar kelihatan suci dan bersih di luar.

Sudahkah kita mengalami hidup bersama Tuhan? Sudah kita yakin bahwa Tuhan telah mengampuni dan mengasihi kita? Kiranya kasih dan kemurahan Tuhan melingkupi hidup kita dan menjadi saksi moralitas sesuai ajaran-ajaran Kitab Suci.

Salam Bae…..

Sumber gambar: https://id.pinterest.com/pin/165155511321308342/

KITA DAN TUHAN: Faset, Konteks, dan Problem Hidup

Sumber gambar: andreaschristanto.com/wp-content/uploads/2019/10/IMG_0732.jpg

Kita diperhadapkan dengan berbagai faset kehidupan, sekaligus konteks dan problemnya masing-masing. Faset-faset, konteks, dan problem adalah “jembatan” yang terhubung dengan Tuhan. Dalam guliran waktu, kita menampilkan berbagai gaya hidup, menampilkan potensi diri, menampilkan kesombongan akademis, kegalauan atas sesuatu hal, menampilkan relasi yang kuat, menampilkan kepiawaian menipu dan menebar fitnah tentang orang lain, sehingga “jembatan” yang kita bangun sendiri akan memberi “rasa hidup” yang berpotensi membuat kita “dihargai”, “dihindari”, “dicaci maki”, “dihormati”, “dikagumi”, “disanjung [dipuji]”, “dibuang”, atau hal-hal lainnya yang selaras dengan apa yang kita taburkan dalam proses hidup.

“Kita dan Tuhan” adalah fakta bahwa semua jembatan yang kita bangun akan memperlihatkan jati diri kita sendiri untuk dipertanggungjawabkan di hadapan-Nya. Sedapat mungkin kita berjuang dan bekerja keras untuk menghasilkan segala sesuatu agar jembatan-jembatan hidup dapat terjaga dengan baik. Kita yang membangun, kita pula yang menjaganya.

Dengan berkaca pada faset-faset kehidupan, seyogianya kita menarik berbagai kesimpulan untuk melandasi langkah-langkah juang untuk mencapai tujuan. Kita terdorong untuk melihat dan memaknai hidup agar relasi, komunikasi, dan ekspansif iman, tersalurkan semuanya ke dalam ragam hidup. Kita berelasi tidak hanya dengan sesama, tetapi juga—secara khusus—dengan Tuhan melalui kata, pikiran, dan perbuatan. Kita berkomunikasi tidak hanya dengan sesama, tetapi juga dengan Tuhan melalui kata, pikiran, dan perbuatan. Dan kita mengekspansikan iman kita yang didasarkan pada relasi dan komunikasi tadi.

Sebagaimana kita diperhadapkan dengan berbagai faset, konteks, dan problem kehidupan, maka pilihan-pilihan yang harus kita ambil akan berdampak pada masa depan kita yang mencakup relasi, komunikasi, dan ekspansif iman. Sejatinya Tuhan telah memberikan kepada kita ragam potensi yang harus dipertanggung jawabkan di hadapan-Nya, dan dengan potensi itu pula kita memelihara jembatan yang telah kita bangun.

Sumber gambar: andreaschristanto.com/wp-content/uploads/2019/10/Screenshot_616.jpg

Ada masa di mana kita akan mengeluarkan potensi diri kita. Biasanya, ini dilakukan karena adanya pertaruhan hidup, akademis, teologi, pelayanan, denominasi, karya, relasi, komunikasi, dan ekspansif iman. Di dalam potensi kita bersinar dan sinar itu akan menerobos berbagai perbedaan agama, suku, budaya, bahasa, dan geografi. Hasil dari potensi memiliki pengarah lokal, nasional, atau internasional, maupun global.

Kita telah menikmati atau akan menikmati segala hasil dari potensi yang diberikan Tuhan kepada kita. Jembatan yang telah dibangun harus tetap dijaga dan dipelihara. Faset, konteks, dan problem adalah bagian yang tak terpisahkan dari kembara iman kita. Jembatan yang menghubungkan kita dengan Tuhan adalah wajah iman yang di dalamnya kita jatuh dan bangun.

Selalu tersedia harapan, entah di dalam faset, konteks, atau pun problem. Harapan itu menavigasikan relasi, komunikasi, dan ekspansif iman. Kita dan Tuhan menandaskan kehidupan yang terberkati, terjalin indah, termaknai. Kita meresap semua kasih, kebaikan, dan kemurahan Tuhan, dan resapan itu membuat hidup kita berkenan kepada-Nya: hidup kudus dan mengasihi, serta melayani Dia dan sesama.

Kita dan Tuhan menyadarkan kita bahwa Tuhan senantiasa memberkati orang-orang yang setia dan bersandar pada-Nya dalam segala situasi. Tuhan menerima kita bukan karena kita hebat, tetapi karena Ia mengasihi kita dan memampukan kita untuk melakukan yang terbaik, yang berkenan kepada-Nya, dan melakukan hal-hal yang menopang masa depan kita.

Faset, konteks, dan problem hidup dapat mendewasakan kita. Semua jembatan hidup dapat dilalui dengan kebesaran hati dan harapan kita. Ia akan selalu menopang dan menyertai kita tatkala kita serius (sungguh-sungguh) memancarkan potensi-potensi diri. Jangan menyimpan ataupun mengubur potensi-potensi yang telah Tuhan berikan. Kita harus tahu mempergunakan dan mengembangkan potensi. Dari situlah terpancar jati diri kita. Kemudian kita menjadi pribadi yang rendah hati, dan bukan menjadi tinggi hati.

Ada kalanya kita berhadapan dengan tantangan yang lebih besar. Dari situ pun kita tahu bahwa Tuhan tak akan membiarkan kita melainkan memampukan kita untuk menghadapinya dan keluar dari tantangan tersebut. Tantangan yang besar sering berbarengan dengan cara Tuhan mendidik dan membentuk kita menjadi pribadi yang kuat dalam iman dan memiliki harapan di dalam kuasa-Nya.

“Kita dan Tuhan” adalah sebuah fakta yang menyadarkan kita bahwa hanya di dalam dan bersama Dialah kita teguh berdiri menghadapi faset, konteks, dan problem hidup. Dari-Nya kita mendapatkan ketenangan, kekuatan, dan harapan, bahwa semua yang terjadi adalah bagian dari pemeliharaan-Nya, didikan-Nya, dan keadilan-Nya.

Salam Bae…

IDENTITAS KRISTEN: Realisasi Pemikiran dan Tingkah Laku

Sumber gambar: https://id.pinterest.com/pin/560135272411309605/

Selain pemikiran, tingkah laku adalah koheren dengan karakter seseorang. Pemikiran seseorang menjembatani dirinya dengan konteks relasi terhadap Tuhan, alam (lingkungan), budaya, agama, humanisme, teologi, iman, pengharapan, pendidikan, ekonomi, politik, sosial, ilmu pengetahuan tertentu (filsafat, dan lainnya). Melalui pemikiran, karakter seseorang dapat dipahami; sedangkan tingkah laku seseorang menambah konfirmasi dan kekuatan dari karakter seseorang hingga tampak ke permukaan secara faktual, samar-samar, hipokrit, atau misterius.

Pemikiran biasanya lebih menonjol ketimbang tingkah laku. Bahkan, tak jarang kita lebih memperkenalkan pemikiran seseorang ketimbang apa yang menjadi tindakannya dalam kehidupan sehari-hari. Pemikiran memang lebih asyik dipikirkan. Lebih dari itu, hampir semua studi kritis atau analisis selalu terkait erat dengan buah pemikiran seseorang, sebut saja Plato, Aristoteles, dan lain sebagai. Dalam dunia teologi, pemikiran menempati tingkat atas dibanding tingkah laku seseorang. Patut diakui, memang kita lebih sering menyebarkan pemikiran dan bukan tingkah laku. Ada yang tak mau peduli dengan tingkah laku seseorang, yang penting pemikirannya di atas segalanya.

Fakta sebaliknya, ada orang-orang yang berusaha untuk meneladani tingkah laku seseorang ketimbang pemikirannya. Baik yang mengunggulkan pemikiran maupun tingkah laku, semuanya tergantung pada apa yang menjadi realitas pemikiran dan tindakan seseorang. Pemikiran hanyalah sebuah pemikiran jika tidak menyentuh wilayah pribadi, relasi, dan harapan di masa depan. Banyak orang berlomba-lomba untuk mencapai harapan di masa depan dengan berpijak pada semua pemikiran atau tingkah laku. Seolah-olah, pemikiran dan tindakan tidak dapat dipisahkan. Bukanlah untuk menjadikan pelita tetap menyala, kita harus menyediakan minyak? Lihatlah kisah tentang lima gadis bijaksana dan lima gadis bodoh dalam Matius 25:1-13.

Orang boleh berpikir untuk menentukan apa-apa saja yang akan dicapai di masa mendatang. Akan tetapi, jika tidak dibarengi dengan tindakan (tingkah laku), maka belum tentu atau bahkan tidak dapat diwujudkan apa yang menjadi capaian (target) yang ditetapkan. Itu berarti, ada keseimbangan antara pemikiran dan tindakan. Bertindak adalah langkah terbaik dari sebuah pemikiran, dan sebuah pemikiran mendorong terjadinya tindakan untuk mewujudkan apa yang dipikirkan.

Orang Kristen yang sejati adalah pribadi yang memahami identitasnya, baik di hadapan Tuhan maupun di hadapan manusia. Identitas, dalam pandangan umum merupakan salah satu dari sekian banyak ketubuhan hidup, nilai etis-relasional, etis-edukasional, dan etis-spiritual, yang paling dibutuhkan dan dianggap krusial. Betapa tidak, identitas seseorang akan memberi nilai kepada dirinya sendiri, memberi kekuatan kepercayaan dalam sebuah komunitas masyarakat mikro maupun makro.

Dalam konteks ini, identitas seseorang memainkan peran penting bagi keberlangsungan hidup, bahkan sistem kepercayaan seseorang. Memahami identitas kita bukanlah merupakan perkara elusif (yang sukar), sebab setiap orang pasti tahu siapa dirinya sendirinya karena ia adalah makhluk yang berpikir. Identitas adalah bersifat inheren (berhubungan erat) dengan personalitas manusia. Jika ia inheren, maka tentu dapat dipahami dan diterapkan.

Sebagaimana dijelaskan di atas bahwa pemikiran dan tingkah laku saling terkait dan harus seimbang, maka identitas Kristen menancapkan kedua hal tersebut sebagai realisasi iman yang benar. Ada bagian-bagian yang harus diisi, dikembangkan, dan diwartakan. Sejatinya, baik pemikiran maupun tingkah laku ada bagian-bagian yang harus diisi pada tempat yang seharunya (hidup, relasi, pekerjaan, pelayanan, dan lain sebagainya), yang harus dikembangkan agar dapat memberi rasa pada hidup, relasi, pekerjaan, dan pelayanan, dan harus diwartakan sebagai bagian dari “peyorasi hayati” yaitu “hidup yang dulunya jauh, terpisah dari Tuhan, kita menjadi hidup yang baik, menyenangkan Tuhan“. Ini merupakan suatu “konasi” – yaitu bagian dari kehidupan manusia yang mengandung usaha untuk memperbaiki tingkah laku yang buruk menjadi baik, sebagaimana yang ditegaskan Alkitab: “Karena kamu telah mendengar tentang Dia dan menerima pengajaran di dalam Dia menurut kebenaran yang nyata dalam Yesus, yaitu bahwa kamu, berhubung dengan kehidupan kamu yang dahulu harus menanggalkan manusia lama, yang menemui kebinasaannya oleh nafsunya yang menyesatkan, supaya kamu dibaharui di dalam roh dan pikiranmu, dan mengenakan manusia baru, yang telah diciptakan menurut kehendak Allah di dalam kebenaran dan kekudusan yang sesungguhnya” (Efesus 4:21-24).

Realisasi pemikiran dan tingkah laku adalah identitas Kristen yang paling jelas untuk dinilai dan diteladani. Keselarasan antara pikiran dan perbuatan adalah hal yang dikehendaki Tuhan. Meski tak dapat dipungkiri bahwa ada orang-orang tertentu yang pemikiran dan tingkah lakunya tidak sejalan. Pada kasus ini, Yesus memberi solusi yang paling bijak: Ikutlah ajaran mereka, dan jangan ikuti tingkah laku mereka”. Jika kita menemukan orang yang konsisten antara pemikiran dan perbuatannya, mengapa kita tidak meneladaninya? Itu pasti lebih baik, bukan?

Yesus adalah Teladan yang sempurna. Apa yang Ia katakan, dilakukan-Nya dengan konsisten. Kita yang telah meneladani Yesus, dapat mewariskan teladan-Nya kepada generasi-generasi mendatang. Identitas Kristen harus menjadi “trending topic” di segala zaman dan waktu. Jangan berhenti menjadi “Kristen” – jangan berhenti menjadi pribadi yang benar di hadapan Tuhan. Kita diperhadapkan dengan berbagai tantangan, hambatan, dan godaan. Namun, apa pun situasi dan kondisinya, identitas kita yaitu merealisasikan pemikiran dan perbuatan haruslah menjadi “persembahan yang berbau harum di hadapan Tuhan”.

Kiranya kita dimampukan oleh Yesus Kristus untuk merealisasikan identitas kita. Niscaya, nama-Nya dipuji dan dimuliakan. Ialah yang harus menjadi pokok puji-pujian kita, penyembahan, dan pengagungan, selamanya. Apa yang telah Tuhan berikan kepada kita harus dengan bijaksana ditampilkan secara kredibel di depan semua orang, tampil bersinar bak bintang-bintang di langit. Bukankah Yesus pernah berkata: “Kamu adalam garam dan terang dunia?”

Salam Bae…

TEOLOGI BERCELANA DAN TAK BERCELANA

Sumber gambar: 1.bp.blogspot.com/-RzJ-_eTHDk8/UPpzdXoOL6I/AAAAAAAAAgw/RaIpRzGnm4k/w1200-h630-p-k-no-nu/No-Pants-Subway-Ride.jpg

Fenomena berteologi marak terjadi di sepanjang sejarah dan zaman. Fakta ini mengindikasikan bahwa proses berpikir dan berespons terhadap sesuatu yang bersifat teologis (dengan faset-fasetnya) begitu diminati. Ini patut diacungi jempol. Akan tetapi, soal “pengaruh” dan kekisruhan serta penilaian terhadap teologi tidak berhenti pada tataran pemikiran dan proses logis dari merangkum semua nuansa teologisnya, melainkan dilanjutkan pada tataran perilaku (moralitas) atau perbuatan nyata.

Keselarasan kata dan perbuatan menjadi identik dengan bagaimana seseorang berpikir dan bertindak. Tidak dapat dipungkiri bahwa fenomena dualisme hasil atau pengaruh dalam berteologi menjejaki proses kehidupan seseorang, yaitu antara berkata (berpikir) tanpa bertindak dan berkata disertai (dibuktikan) dengan perbuatan sangatlah mencolok. Kita memperlihatkan diri kita sekaligus diperlihatkan tentang diri orang lain untuk dinilai, diteladani, dan dihindari (dibenci).

Pesona teologi dan berteologi menampilkan ragam makna. Ada yang tampak merona tapi tidak ada kekuatan substansi doktinal. Ada teologi yang tampak biasa tapi kedalaman doktrinalnya sangatlah mantap. Ada yang merana dengan teologinya; dan ada yang terpanah dengan teologi orang lain. Merona, jiwa merana, kekosongan moralitas dan spiritualitas, bertumbuh dalam iman, sukacita menjalani hidup, tabah menghadapi pergumula dan penderitaan, semuanya adalah hasil “teologi” dan “berteologi”.

Orang-orang Kristen yang hanya memiliki teologi merona tanpa isi yang solid, akan menjadikan jiwa mereka merana, menderita selamanya. Mereka yang di satu sisi bicara tentang Tuhan dan di sisi lain menghina sesama dan mengeluarkan sumpah serapah, ibarat seseorang yang setelah mandi lalu lupa pakai celana. Memang teologi merona terlihat sangat mempesona, tetapi ketika lupa “pakai celana” setelah “buka celana” yaitu mengumbar aib teologi yang tidak beres, maka hasilnya menyedihkan.

Teologi yang beres adalah teologi yang bercelana; ya, celana yang terbaik, dibeli dengan hasil kerja keras yang jujur dan kredibel. Teologi yang buruk adalah teologi yang ingin terlihat merona, tetapi sayang “tanpa celana.” Berteologi berarti kita tahu apakah kita terlihat menggunakan “celana” atau “tanpa celana dan busana” (lalu menuduh orang lain mencuri “celana”).

Berhatilah-hatilah ketika berjalan, karena saat berjalan kita sedang menampilkan gaya berteologi melalui sikap (perbuatan), pemikiran, dan perkataan. Jangan sampai kita terlihat tanpa celana dan busana.

Berhati-hati juga terhadap mereka yang terlihat berpendidikan tetapi mengusung teologi merona tanpa isi; sebenarnya ingin mencari pesona, memperlihatkan kelana logika bernanah (tanda kebusukan dari dalam diri), dan memperlihatkan panorama logika tanpa asa (semangat) biblika.

Jadilah pengusung dan penyuara teologi kemala (seperti batu yang indah dan bercahaya) melalui kata, pikiran, dan perbuatan, yang selaras dengan prinsip-prinsip Alkitab.

S. R. Paparang. TEOLOGI MERONA, JIWA MERANA: Fenomena Beriman Tapi Tanpa Perbuatan

DELAPAN DASAR APOLOGETIKA

Sumber gambar: https://www.pinterest.ca/pin/281543703508449/

Ada delapan hal yang mendasari apologetika Kristen sebagai reliabilitas (kebenaran) protestasi alkitabiah terhadap ajaran-ajaran palsu yakni:

Protestasi Iman
Dalam pengakuan Iman Rasuli, diuraikan tentang kepercayaan kepada Allah Tritunggal. Kristologi menjadi dominan dalam pengakuan ini. Protestasi iman seharusnya mempengaruhi pola pikir, tindakan nyata dan perkataan penuh kasih (Kol. 4:6), kemudian direalisasikan. Pernyataan ini harus tegas dan tetap memperlengkapi diri dengan membaca Alkitab (bdk. 1 Tim. 4:13 dan 2 Tim. 3:16-17) sehingga iman menjadi kokoh, tidak tergeserkan oleh ajaran palsu dan menyesatkan (Kol. 1:23).

Disklaim Ajaran Baru
Penolakan ini akan terjadi bila protestasi iman terus dikerjakan melalui kogitasi doktrinal. Kebenaran baru yang muncul dapat dengan jelas ditolak bila konseptualisasi iman terjadi dalam diri orang percaya baik secara internal (diri/pribadi) maupun eksternal (gereja/persekutuan).

Defensif Dogma
Mempertahankan kepercayaan adalah bagian yang signifikan selain hal-hal di atas. Mempertahankan dogma berarti “bertekun di dalamnya”, sehingga kemurnian iman dan pengetahuan Alkitab menjadi senjata utama dalam melawan ajaran-ajaran palsu (1 Tim. 4:12,16).

Afirmasi Doktrinal
Dari keseluruhan Alkitab, ada beberapa doktrin yang menjadi destinasi teologi misalnya: Allah Tritunggal, Kristologi, Soteriologi, dan lain sebagainya. Afirmasi doktrinal dan tindakan iman adalah untuk membekali semua orang percaya tentang pengetahuan Alkitab secara komprehensif. Kurangnya afirmasi doktrinal mengakibatkan keterpurukan rohani dalam lingkungan Gereja, keluarga maupun pribadi. Hal ini harus diperjuangkan dengan usaha dan kerja keras (bdk. 2 Ptr. 1:3-9).

Akuitas Apologetika (ketajaman apologetika)
Di sini perlu melihat dengan cermat apa dasar-dasar iman dalam Alkitab, sehingga kita mempunyai pegangan atau pondasi yang kuat. Ketika diperhadapkan dengan pemunculan ajaran-ajaran palsu, dapat dengan jelas melihat perbedaan dari keduanya. Jika kontras dengan dasar iman Kristen, maka hal itu ditolak dan dianggap sesat.

Afirmasi Alkitab (penegasan Alkitab)
Kita harus tegas tanpa kompromi dengan kesesatan. Jika ada ajaran yang jelas-jelas menyimpang (tidak sesuai dengan kesaksian Alkitab), maka harus dilawan dan ditolak.

Kogitasi Doktrinal (pertimbangan/pemikiran yang mendalam mengenai doktrin)
Sebelum melakukan apologetika, maka setiap orang percaya harus membekali dirinya dengan kogitasi doktrinal. Ini adalah bukti iman, sehingga dapat membedakan mana doktrin yang benar dan mana yang salah atau sesat (bdk. Rm. 12:2).

Konseptualisasi Hermeneutika
Menerapkan konsep hermeneutika atau interpretasi (penafsiran) Alkitab sangat penting bagi setiap orang percaya, sehingga dapat mengerti esensi dari iman Kristen. Dan bila ada ajaran atau kitab baru yang muncul, orang percaya dapat juga memberlakukan konseptualisasi hermeneutika ini.

FILSAFAT “KEMUNGKINAN”

Sumber gambar: https://id.pinterest.com/pin/446560119271944665/

Faset (segi) kehidupan menempati ruang pemikiran manusia untuk mempertahankan dan mengembangkan potensi yang ada di dalam diri manusia. Pada kenyataannya, ada banyak faset yang tak mungkin dipahami, apalagi dicapai. Meski demikian, dorongan dan ambisi manusia untuk mencapai sesuatu masih menjadi fakta yang umum.

Ada hal menarik dari proses berkehidupan, di mana berbagai kemungkinan dapat saja terjadi atau bahkan kita lakukan untuk menemukan sesuatu, mencapai sesuatu, dan mempertahankan sesuatu. Pada gilirannya, masih juga tersisa ruang “kemungkinan” lain yang bisa menjadi penghalang, pendobrak, atau penghancur segala kemungkinan yang ada dalam benak kita.

Sejatinya, kita merenungkan berbagai kemungkinan di sepanjang kehidupan yang dijalani. Kemungkinan menjadi sebuah patron (pola) hidup dan logika, di mana manusia bergerak dari kemungkinan yang satu kepada kemungkinan lainnya. Kita diperhadapkan dengan berbagai kemungkinan dan di dalamnya kita bergerak, bekerja, berusaha, gigih, berdoa, berkisah, bermain, dan lain sebagainya.

Koridor kehidupan telah menyediakan halte-halte di mana kita harus berhenti sejenak, menarik napas, bergumam, berdoa, bernyanyi, berpikir, berkhayal. Perhentian kita pada halte-halte tersebut bukanlah tanpa alasan. Itu disebabkan karena kita membutuhkan “istirahat” yang cukup, melepas letih, penat, dan kekesalan, atau bahkan melepas kemungkinan-kemungkinan terburuk dalam proses perjalanan berikutnya.

Setelah kita diperhadapkan dengan variasi-variasi hidup, kita bergegas menuju tujuan. Ada segenggam harap dan doa yang mengarahkan langkah-langkah agar tiba di tujuan. Kita bergerak dari kemungkinan ke kemungkinan. Bagi kita, kepastian itu ada, tetapi selalu—di dalam kepastian itu—tersedia kemungkinan yang tidak kita tahu dan duga.

Di sini kita melihat bahwa ketika rasa dan kehendak memaksa kita untuk bergerak dan bertahan hidup, kemungkinan untuk berhasil sangatlah besar. Kita berjejak-jejak dari konteks yang satu ke konteks lainnya; kita melatih—jika bukan karena terpaksa—diri kita untuk mengembangkan potensi diri. Kita berharap bahwa kemungkinan-kemungkinan terkuat dapat segera terwujud.

Inilah yang menjadi dasar berpikir kita bahwa kehidupan itu sendiri tidaklah semudah yang kita bayangkan. Meski kita terbiasa dengan jalan hidup yang mulus, sedikit bergelombang, tetapi hingga gilirannya kemungkinan lainnya, misalnya cobaan, tekanan, problem, hasutan, kesedihan, kedukaan, dan lain sebagainya, dapat dengan segera menghampiri kita, meski hal-hal itu tidak kita inginkan.

Seringkali kita terperanjat (terkejut) akan apa yang terjadi. Kemudian kita berupaya keluar untuk menghindar atau menyelesaikannya. Kemungkinan lain pun muncul menambah kegelisahan dan kekuatiran kita. Lebih dari itu, ketakutan untuk menghadapinya menjadi mengendap dalam logika kita. Ketakutan itu beralasan sebab kemungkinan-kemungkinan terasa tertutup dan menutupi jalan-jalan keluar kita.

Masalah yang besar pun datang. Kita tidak siap menghadapinya. Kita terdesak; kita merasa tak berdaya; kita putus asa; kita sedih dan tertekan. Kemungkinan lain pun datang: naikkan doa kepada Sang Khalik. Ia senantiasa ada dan memperhatikan kita. Segala kemungkinan tersedia bagi-Nya dan Ia akan bertindak memberi pertolongan kepada kita.

Tekanan demi tekanan, kekuatiran demi kekuatiran, kesedihan demi kesedihatan, ketakutan demi ketakutan, kegelisahan demi kegelisahan, air mata demi air mata, kedukaan demi kedukaan, putus asa demi putus ada, semuanya adalah kemungkinan-kemungkinan yang dapat terjadi dalam hidup kita. Kita tak tahu kapan kemungkinan itu datang, tetapi kita harus meyakini bahwa Tuhan di atas segala kemungkinan dan Ia selalu memberi kepastian yang terbaik dalam hidup kita.

Filsafat “Kemungkinan” mengajari kita tentang bagaimana melihat hidup dan melihat Sang Khalik berkarya, menolong, dan menopang kita. Kita perlu berbenah dan berserah diri kepada-Nya; biarkan Dia mengatur hidup kita dan memberikan kepastian-kepastian yang melegakan hidup kita. Ia adalah harapan kita; Ia adalah hidup kita; dan Ia adalah kekuatan, serta perisai kita.

Bagi Dia segala sesuatu mungkin. Kita dipanggil untuk hidup di dalam kasih-Nya. Kemungkinan-kemungkinan yang buruk bukanlah menjadi orientasi iman kita, melainkan iman kita diarahkan untuk melihat pekerjaan-Nya dan siap melayani-Nya. Selalu ada harapan terbaik yang disediakan Tuhan bagi kita yang setia kepada-Nya. Kita ditempa sedemikian rupa untuk menghasilkan kehidupan yang berkualitas, kehidupan yang menjadi berkat bagi yang lain dan memberikan jawaban (solusi) atau segala kemungkinan yang tidak kita inginkan terjadi.

Filsafat “Kemungkinan” adalah bagian dari proses kehidupan kita. Menjalani hidup dengan penuh syukur dan takut akan Tuhan, memberi ruang bagi hati kita untuk diajari apa artinya berserah, berterima kasih, dan memuji-Nya. Segala kemungkinan dapat kita hadapi jika Tuhan di pihak kita. Ia adalah “Imanuel”—Ia adalah Sang Penghibur, Pelepas, dan Penolong. Ia membuat kita tertawa, membuat kita berbahagia, tersenyum, dan merasa damai.

Adakah hati kita ragu menghadapi berbagai kemungkinan? Bersama Yesus kita sanggup menghadapi segala kemungkinan, segala sesuatu. Siapkanlah hati kita untuk senantiasa berhadap dan bersandar pada-Nya. Ingatlah: masa depan sungguh ada dan harapan kita tidak akan hilang jika kita hidup di dalam-Nya.

Salam Bae….

Rancang situs seperti ini dengan WordPress.com
Mulai