Hatiku adalah lambang diriku. Cintaku adalah lambang hatiku. Dari hatilah, aku memupuk cinta yang datang dan hadir menghiasinya.
Senyumku adalah buah dari hatiku. Kesedihanku adalah luka di hatiku
Kekecewaanku adalah goresan di hatiku. Hatiku, adalah mahkotaku dan di situlah cintaku menumpuk satu demi satu.
Cinta yang menumpuk itu disebabkan oleh tatapan mata, perhatian, sentuhan kecil, senyuman tipis dan lebar, pertemuan yang jarang dan keseringan.
Cinta bertumpuk di hatiku: mau dibawa kemana? Aku hanya ingin seorang pujaan hati yang dengannya aku akan memupuk dan menumpuk cintaku.
Cinta yang kurasakan, hari demi terasa ada yang bertambah. Ketika kurasakan indahnya momen bersamanya, perasaan cinta itu kembali hadir dan menumpuk di hatiku.
Aku ingin memberikan rasa cinta itu satu demi satu sampai aku membuktikan bahwa cinta yang menumpuk itu adalah luapan perasaan keinginrinduanku padanya.
Jika memang ia adalah milikku – oh Tuhan – aku menginginkan dia jadi milikku – aku dapat mencurahkan cinta yang menumpuk selama aku hidup bersamanya. Itulah yang tersimpan dalam pikiran dan sanubariku.
Cinta, oh cinta, betapa engkau mengubah hidupku. Betapa engkau memberi secercah harapan dan bahkan harapan itu lambat laun dapat menjadi kekuatan dalam diriku. Cintaku yang tumbuh mekar di hatiku menebarkan pesona kecantikan dan kelembutan hatiku.
Aku ingin dia tahu bahwa pesona kecantikan dan kelembutan hatiku dapat ia nikmati dan rasakan tatkala ia selalu bersamaku. Memang, dalam membuktikannya selalu ada saja tantangan, godaan, dan rayuan yang menghalanginya. Namun, perjuangan cintaku tak mudah pudar – sering, ia hampir pudar.
Tekadku tetap kuat: perasaan ini harus terungkap dalam sikap, tutur kata, dan relasi keintiman bersamanya.
Sampai kapan aku harus menumpuk cintaku? Oh cinta, dapatkah kau merasakan betapa aku membutuhkanmu untuk memiliki dirinya?
Aku mau dia tahu bahwa cinta ini adalah bukan cinta biasa tapi luar biasa yang mampu meredam dan menyingkirkan segala perbedaan di antara kami
Cinta itu pula yang akan menyertai panggung cinta kami. Kami ingin juga memperlihatkan keharmonisan dan keromantisan cinta kasih di antara kami agar yang lainnya juga tahu bahwa cinta kamilah yang membuat kami saling mengerti dan memahami
Tumpukan cinta itu kini sudah mulai berkurang. Sebab aku telah mencoba membawanya ke ruang hati sang pujaan hati.
Hari demi hari aku selalu berusaha membawa dan memberi cintaku padanya. Namun, di balik semuanya, ada harapan bahwa aku ingin membagi cintaku itu dalam ikatan yang lebih kuat, lebih mantap, dan lebih harmonis tanpa ada yang melarangnya.
Aduh, hatiku begitu kuat ingin secepatnya menyerahkan cintaku ini. Dan berharap dapat berbagi suka dan duka bersama dengan kekasih hatiku. Bilakah dalam waktu cepat ini hal itu dapat terwujud?
Oh Tuhan, kangennya diriku merasakan pelukan hangat penuh kasih dan sayang. Dialah pujaan hatiku yang selalu kurindu
Meski seringkali aku merasa bahwa tak pastaslah diriku buat dirinya, namun, kata hati taku bisa kubohongi bahwa aku sangat mencintainya.
Dan kuberharap – di waktu yang tepat – aku dapat memberikan cintaku pada orang yang tepat, setepat cintanya yang menusuk di hatiku, tempat di mana kutaburi semua cinta yang aku tumpuk sekian lamanya
Semoga, akhir dari pengembaraan cintaku, dilabuhkan pada pelabuhan cintanya dan kuingin berlayar bersamanya di lautan cinta yang luas, agar kami dapat berbagi kasih sayang, berbagi perhatian dan pemahaman, berbagi suka dan duka, berbagi berkat dan kehidupan, dalam ikatan yang Tuhan tetapkan bagi kami.
Akhirnya…. cintaku yang menumpuk di hatiku, kubawa kepadanya, kuserahkan kepadanya, menikmati bersamanya….
Dan aku tahu, di dalam perjalanan pelayaran cinta kami, pasti ada gelombang dan angin badai datang menghempas; tapi dengan “satunya” cinta dan komitmen kami, kami yakin dapat melaluinya.
Kadang salah paham dan salah pengertian menggerogoti cinta kami. Kadang emosi dan perasaan menang sendiri menghantui cinta kami. Kadang orang luar dapat mengganggu cinta kami.
Tetapi, ku yakin selalu ada jalan terbaik yang disediakan Tuhan, dan kami dituntut untuk selalu berharap kepada-Nya, mengandalkan Dia.
Kerendah-hatian, kesetiaan, kejujuran, dan ketulusan dalam memupuk cinta diharapkan dapat membangun rumah kasih sayang yang dapat memberikan keteduhan bagi cinta kami dan berbahagia di dalam rumah kasih sayang itu
Tuhan, kumohon, jagalah cinta ini, cinta yang sekian lama menumpuk di hatiku agar kekasihku dapat menampung cintaku dan membagikannya bersama dengan aku, dalam rumah tangga yang bahagia dan romantis.
Terima kasih Tuhan, karena Engkau telah mempertemukan aku dengan dia. Harapanku, dia yang kucintai – akan setia bagiku, dan aku yang juga setia – selamanya…
Di salah satu video yang saya terima dari grup WhatsApp, seorang muda bertanya kepada bapak yang sudah tua: “Adakah Yesus menganggap Tuhan sebagai Triniti atau sebagai taudid?” Sepintas pertanyaan ini seakan mempertentangkan dua hal, yaitu antara Tuhan yang tauhid (esa) dan Tuhan yang Triniti, yang tak mungkin dipercaya oleh orang Kristen. Pasti salah satu darinya adalah benar. Inti pertanyaan tersebut adalah menggugurkan konsep Trinitas Kristen “melalui” anggapan Yesus. Jika Pak Tua mengatakan “Tuhan itu tauhid” maka konsep Trinitas dengan sendirinya gugur.
Pertanyaan di atas menarik karena memberi kesan bahwa orang Kristen akan mengalami kebuntuan logis mengenai iman mereka kepada Allah Trinitas, ketika ternyata Yesus mengakui bahwa Allah (Tuhan) itu tauhid, dan bukan Trinitas. Namun, pertanyaan tersebut secara substansial haruslah “diklarifikasi”: “apa yang tauhid (esa) dari Tuhan?” dan “apa yang Trinitas dari Tuhan?”. Dengan pertanyaan lain: “tauhid yang bagaimana yang dimaksudkan?” dan “Trinitas yang bagaimana yang dimaksudkan?”
Dalam pengalaman pribadi, saya sering memahami bahwa dalam pandangan beberapa orang Islam (apalagi tipikal pesorak [hanya suka bersorak tapi tanpa isi dari klaimnnya]), Allah SWT itu esa [tauhid] adalah satu-satunya dan tidak ada yang lain. Secara artifisial, klaim tersebut adalah benar. Tetapi ada pertanyaan yang muncul: “apanya yang tauhid dari Allah SWT?” apakah tauhid diri-Nya atau tauhid penyembahan? Hal ini akan saya jawab kemudian secara simultan dengan pertanyaan utama di atas.
Lalu, apa jawaban atas pertanyaan tersebut? Pak Tua menjawab—sebelumnya menarik nafas karena dirasa pertanyaan tersebut sangatlah sulit dijawab—: “Saya rasa keduanya”. Apakah jawaban Pak Tua itu salah? Menurut saya, benar! Benar, ketika ada penjelasan yang mengikutinya. Di mana letak benarnya? Berikut penjelasannya.
Ada dua substansi dari jawaban Pak Tua di atas.
Pertama: Tuhan [Allah] itu adalah “esa [tauhid] secara penyembahan (dalam konteks satu-satunya yang disembah dari semua ilah yang ada di dunia ini). Artinya ketika dikaitkan dengan ciptaan (manusia), maka Allah (Tuhan) adalah esa [tauhid] yang “harus disembah”.
Kedua, Tuhan itu trinitas secara ontologis: Tuhan [Allah] memiliki Logos dan Roh-Nya. Ketiga-Nya satu, tetapi berdistingsi. Berbicara mengenai esa [tauhid] tidak dapat ditempatkan pada “PRIBADI ALLAH SECARA ONTOLOGIS” karena hal ini bukanlah merupakan konsistensi logis. Keesaan Allah hanya ditempatkan pada konteks “RELASINYA DENGAN CIPTAAN ALLAH”, sedangkan berbicara mengenai Trinitas hanya dapat ditempatkan pada pribadi Allah secara ontologis. Alkitab menegaskan bahwa: “hanya TUHAN saja yang disembah, tidak ada yang lain.” Sekali lagi, esa (tauhid) tidak berbicara Allah adalah “berapa” tetapi berbicara mengenai “hanya Allah saja” yang disembah, dan bukan ilah-ilah lain.
Secara logis, pertanyaan tersebut di atas: “ADAKAH YESUS MENGANGGAP TUHAN SEBAGAI TRINITAS ATAU SEBAGAI TAUHID?” dapat diajukan juga kepada Allah SWT, Allah orang Islam. Pertanyaannya menjadi begini: “Adakah Allah SWT menganggap diriNya trinitas atau tauhid?” Mengapa pertanyaannya demikian? Alasannya adalah karena setiap orang bisa mengajukan pertanyaan yang sama. Jika demikian, apakah Allah Kristen juga bisa diajukan pertanyaan yang sama? Tentu juga bisa; dan secara substansial, baik esa dan trinitas yang saya jelaskan di sini adalah konteks ajaran Kristen yang diterapkan kepada konsep personalitas Allah Islam.
Iman Kristen menegaskan bahwa Allah menyatakan diri-Nya sebagai “Yang Esa” dalam kaitannya dengan penyembahan yaitu ciptaan-Nya mengarahkan penyembahan dan iman mereka “hanya” kepada diri-Nya (satu-satunya), dan sebagai “Trinitas” dalam kaitan-Nya dengan ontologis, keberadaan diri-Nya sejak kekal: Logos dan Roh Allah ada sejak kekal bersama-sama dengan Allah.
Allah itu esa jika dipahami dalam relasinya dengan ciptaan, dan Allah itu Trinitas jika dipahami dalam relasinya dengan ontologis. Dengan demikian, Allah sebagai “satu” (esa) karena berbeda dengan eksistensi ilah-ilah lainnya. Allah harus disembah; sedangkan Trinitas adalah “kepenuhan kepribadian”: Allah, Logos, dan Roh. Manusia juga merefleksikan fakta ini: manusia, logika, dan roh.
Lalu, apakah Yesus menganggap Tuhan sebagai Trinitas atau tauhid (esa)? Jawabannya: “dua-duanya”. Secara ontologis (hukum yang sama dengan Allah Kristen), Allah SWT yang dipercaya dan diimani umat Islam adalah trinitas: kalam, dzat, dan Allah (nama yang ada pada diri-Nya sendiri). Lalu bagaimana Allah SWT dinyatakan sebagai “tauhid”? Apanya yang tauhid? Beberapa rekan muslim tak dapat menjawab pertanyaan tersebut. Bagi mereka Allah SWT itu tauhid, tidak ada yang lain. Allah itu satu-satunya, tidak ada yang lain.
Memang benar klaim seperti itu, tetapi “tauhid dalam hal apa” Allah SWT itu? Apakah tauhid pribadi atau penyembahan? Allah SWT adalah satu-satunya, tidak ada yang lain? Benar, tetapi satu-satunya dari apa? Pasti ciptaan-Nya karena untuk menjadikan Allah SWT sebagai satu-satunya, harus ada yang dibandingkan dengan yang lain, dan yang lain itu adalah ciptaan-Nya.
Dalam konteks Kristen, Allah tidak memungkiri adanya ilah-ilah lain yang disembah oleh bangsa-bangsa di luar Israel. Bbahkan Israel sendiri pernah jatuh dalam dosa penyembahan berhala. Itu sebabnya mereka harus kembali kepada Allah dan menyembah-Nya sebagai “satu-satunya” (esa) dari sekian banyak ilah. Dengan demikian, tauhid terkait erat dengan penyembahan yang dilakukan oleh umat pilihan-Nya: kepada-Nya umat-Nya menyembah, dan bukan ilah-ilah lain. Karenanya, hanya Allah saja yang disembah (monoteisme) dari sekian banyak ilah di dunia (henoteisme). Artinya, Allah adalah pribadi satu-satunya (esa) dalam hal penyembahan, sedangkan dalam hal personalitas ontologis, Allah itu trinitas: Bapa (adalah wujud Allah), Anak (adalah Firman/Logos Allah), dan Roh Kudus (adalah Roh Allah). Ketiga-Nya adalah “satu” dalam esensi dan distingsi dalam pribadi: tiga pribadi satu esensi.
Allah tak mungkin tanpa Logos; Allah tak mungkin tanpa Roh-Nya. Jika demikian, Allah itu esa (tauhid) hanya dalam konteks penyembahan, dan Allah itu Trinitas dalam hanya konteks ontologis (kepenuhan kepribadian). Konsep dan fakta ini, jika diterapkan kepada Allah SWT yang dipercayai Islam, akan memiliki konsistensi logis yang sama.
Iman Kristen memiliki kekuatan logika yang paling kuat di dunia ketika berbicara mengenai personalitas Allah. Mereka memahami bahwa Allah, Logos, dan Roh Allah adalah kesatuan esensial yang tak dapat dipisahkan. Trinitas adalah “KEPENUHAN KEPRIBADIAN” yang dinyatakan dalam sejarah. Pribadi manusia adalah representasi dari Pribadi Allah. Manusia adalah makhluk yang hidup (memiliki roh) dan memiliki pikiran (logika). Penjelasan ini justru menegaskan trinitas. Ketika seseorang mengatakan bahwa Allah memiliki Logos (kalam) dan Roh-Nya (Dzat), maka hal itu menegaskan Trinitas: tiga pribadi satu esensi. Menjelaskannya saja sudah terlihat secara Trinitas, apalagi secara ontologis [“self-condition” Allah]? Setiap orang tidak bisa menghindari dari rumusan ini, sebab konteks Trinitas adalah sebuah konsistensi logis.
Islam memang menolak formulasi Trinitas Kristen, tetapi mereka sendiri seharusnya berpikir sama dengan Kristen bahwa di dalam Allah SWT yang mereka imani berdiam Kalam sejak kekal dan Allah yang sama adalah Dzat yang sejak dari kekal bersama-sama dengan Allah SWT. Jadi, mustahil menyangkal Allah SWT itu trinitas jika mengaitkannya dengan konteks ontologis-Nya. Tauhid itu ada konteksnya, bukan “semua disapu rata”.
Model sapu rata sering terjadi pada muslimers tipikal pesorak. Bagi mereka, sekali tauhid tetap tauhid. Benar, tetapi apanya yang tauhid? Mereka menjawab: “Pribadi”. Justru pribadi Allah SWT itu trinitas: Allah SWT, Kalam, dan Dzat. Bukankah itu ada “tiga”? Ya! Tetapi tetap satu pribadi. Benar, tetapi bukankah kita tetap berpikir bahwa Allah itu memiliki Kalam dan Dzat, bukan? Memisahkan ketiga-Nya sangatlah mustahil. Lalu, yang disembah Islam adalah Allah SWT, Kalam-Nya, atau Roh-Nya? Tentu yang disembah adalah “satu” karena ketiga-Nya adalah satu dalam kedirian-Nya. Secara substansial, konsep tersebut adalah konsep Kristen yang saya diterapkan secara logis kepada pribadi Allah SWT.
Anggapan bahwa Trinitas adalah ajaran sesat, ajaran setan, dan ajaran tidak masuk di akal, sebenarnya memungkiri logikanya sendiri. Trinitas adalah supremasi konsistensi logis dan bukan konsekuensi logis. Konsistensi logis berarti secara ontologis kita melihat bahwa personalitas Allah memanglah demikian: tiga pribadi satu esensi. Allah tak mungkin disebut pribadi jika Ia tak memiliki Logos. Allah tak mungkin disebut pribadi jika Ia tak memiliki Roh. Semua ilah yang diyakini oleh pengikutnya sebagai pribadi yang “pernah berkata, berfirman atau berbicara”, pasti bernatur trinitas: ilah (namanya), pikirannya (logos, kalam), dan rohnya (dzatnya). Allah adalah esa dan trinitas; tergantung dari konteks yang mengikatnya.
Pertanyaan “ADAKAH YESUS MENGANGGAP TUHAN SEBAGAI TRINITAS ATAU SEBAGAI TAUHID?” bisa diterapkan kepada Allah SWT. Jika jawabannya sama dengan Kristen sebagaimana yang telah saya paparkan di atas, maka tidak perlu lagi mempertanyakan Trinitas dan Tauhid kepada Kristen karena ternyata konsep konsistensi logisnya adalah sama. Jawaban Pak Tua—meskipun dianggap sebagai lelucon oleh mereka yang berpaham tauhid dan dianggap isi otaknya keluar semua—namun jawabannya adalah benar: Tuhan itu tauhid dan trinitas. Tinggal bagaimana kita menjelaskannya sesuai konteksnya. Tauhid memiliki konteks yang selalu dikaitkan dengan ciptaan-Nya, sedangkan trinitas memiliki konteks yang selalu dikaitkan dengan ontologis.
Dalam konteks kehidupan, manusia memperlihatkan jati dirinya ke dalam pelbagai bidang, misalnya: pendidikan, kesehatan, pelayanan, ilmu pengetahuan, politik, budaya, agama, dan lain sebagainya. Bidang-bidang tersebut mengasah potensi diri untuk menghasilkan sesuatu, di mana “hasil hidup” tersebut dapat mempertahankan tiga hal: integritas, relasi, dan spiritualitas.
Guliran waktu menghadirkan berbagai fenomena dalam kehidupan kita. Integritas, relasi, dan spiritualitas kita diasah sedemikian rupa hingga menjadikan diri kita kuat menghadapi badai hidup. Inilah yang dialami oleh Pdt. Dr. Matheus Mangentang. Dalam pergumulannya menghadapi berbagai tantangan dan rintangan, integritas, relasi, dan spiritualitas beliau tetap seimbang, bahkan tak tergoyahkan.
Saat berada dalam Lembaga Pemasyarakatan (Lapas) Cipinang Jakarta Timur, beliau tidak berhenti menebarkan (membuktikan) integritas, relasi, dan spiritualitas. Ada hasil dari semuanya itu. Matheus Mangentang tulus memberi dan tak takut rugi (kekurangan): memberi diri menjadi alat di tangan Tuhan untuk mengabarkan Injil selama di dalam tahanan melalui PA (Pendalaman Alkitab) dan konseling. Alhasil, banyak di antara mereka yang bertobat dan berkomitmen bahwa kelak ketika mereka bebas akan belajar di Sekolah Tinggi Teologi Injili Arastamar (SETIA) Jakarta untuk menjadi hamba Tuhan. Agus adalah salah satu tahanan yang mendampingi beliau selama di dalam Lapas, dan saat ini ia sudah berada di SETIA, ikut beliau.
Fenomena saat Putusan Peninjauan Kembali (PK) Para Pemohon PK, I. Matheus Mangentang, S.Th dan II. Ernawaty Simbolon dikabulkan serta Putusan Mahkamah Agung (MA) No. 3319 K/Pid.Sus/2018 tanggal 13 Februari 2019 dibatalkan, maka dengan demikian dinyatakan, lepas dari segala segala tuntutan hukum (onslag van alle rechtsvervolging); memulihkan hak Para Terpidana dalam kemampuan, kedudukan, dan harkat serta martabatnya; memerintahkan Para Terpidana dibebaskan seketika.
Keputusan PK tersebut diputuskan melalui rapat musyawarah Majelis Hakim Pada Hari Kamis tanggal 20 Februari 2020, No. 45 PK/Pid. Sus/ 2020 oleh Dr. Sofyan Sitompul, S.H., M.H., Hakim Agung yang ditetapkan oleh Ketua Mahkamah Agung sebagai Ketua Majelis, Maruap Dohmatiga Pasaribu, S.H., M.Hum dan Dr. Desnayeni M., S.H., M.H., Hakim-Hakim Agung sebagai Anggota.
Berdasarkan Putusan PK tersebut, bahwaMatheus Mangentang dan Ernawaty Simbolon dibebaskan dari Lapas Cipinang dan Lapas Pondok Bambu tanggal 09 Maret 2020, menghadirkan luapan sukacita tidak hanya bagi Matheus sendiri melainkan bagi keluarganya, bagi SETIA Jakarta, BPS- GKSI, para alumunus SETIA, dan masih banyak lagi. Fenomena ini patut disyukuri.
Ketika menyimak integritas, relasi, dan spiritualitas yang diperlihatkan Matheus Mangentang, kita mendapati bahwa ketiganya tetap sama, konsiten, tak berubah. Pasca bebas murni beliau tetap seperti dulu: melayani tanpa pamrih, menebar kasih, dan tetap konsisten dengan pelayanan yang telah Tuhan percayakan kepadanya. Ia rela memberi dirinya tanpa merasa rugi (kekurangan) karena hal itu dibuktikan selama beliau menjalani masa tahanan; beliau tetap berkarya bagi Tuhan, memberi diri menjadi pelayan Tuhan untuk terus berbuat baik, menyatakan kasih dan kemurahan Tuhan kepada siapa saja yang ditemuinya. Itulah kekuatan iman beliau.
Prinsip hidup: “memberi tanpa merasa rugi”, patut kita lakukan, sebab Tuhan telah menunjukkan kasih-Nya dengan memberi dan memberikati kita. Oleh sebab itu, ketika kita memberi dengan sukacita, hal itu tak pernah terbuang percuma. Tuhan mencukupkan segala sesuatu bagi kita dengan caranya sendiri. Pelayanan yang dikerjakan Matheus Mangentang sebenarnya menegaskan prinsip ini: “memberi [diri dan segala sesuatu yang kita miliki] tanpa merasa rugi”. Matheus Mangentang tak pernah merasa rugi atas kebaikan yang telah ia taburkan selama hidupnya melayani Tuhan.
Rumah tahanan tidak menjadi alasan baginya untuk tidak memberi dirinya menjadi saksi bagi Yesus Kristus. Hal itu justru menjadi syukur karena Tuhan telah menempanya selama kurang lebih 7 bulan (di rumah tahanan). Meski demikian imannya tidak menjadi kecut-ciut. Matheus Mangentang telah memperlihatkan ketegaran imannya meski dalam masa-masa sulit. Doa siang malam disampaikan kepada Sang Khalik. Akhirnya, datanglah “keputusan dari-Nya”: memberikan pertolongan dan kelegaan serta syukur yang luar biasa karena Matheus Mangentang dinyatakan “bebas murni” dari kasus yang menjeratnya.
Keadilan dan kuasa Tuhan tidak selalu datang pada saat kita memintanya. Tuhan memproses kita; Tuhan melatih iman dan harap kita; Tuhan membentuk pribadi dan karakter kita menjadi kuat dan solid. Matheus Mangentang melihat bahwa “tangan Tuhan” teracung untuk menyatakan keadilan dan kuasa-Nya; tak satu pun manusia sanggup melawannya. Jangan melawan Tuhan. Ia dahsyat tak tertandingi; Ia membenci orang yang berbuat kejahatan, tetapi memberkati orang benar, orang yang setia kepada-Nya.
Matheus Mangentang telah menorehkan sejarah pelayanan di SETIA dan GKSI, juga di lembaga lainnya. Sampai sekarang ia masih tetap bersyukur dan memberi dirinya bagi pekerjaan Tuhan tanpa merasa rugi atau kekurangan. Satu tahun sudah beliau “bebas murni” (tanggal 09 Maret 2021). Semangat beliau dalam melayani Tuhan tak pernah pudar. Ia bahkan senantiasa memberikan wejangan-wejangan pelayanan bagi generasi muda.
Ucapan syukur yang luar biasa ini menandai kehidupan yang berkenan kepada Tuhan. Tak ada apa pun yang dapat membalas semua kebaikan Tuhan. Kita diberikan hati dan pikiran untuk “mengucap syukur kepada-Nya”. Pilihan terbaik kita adalah “mengucap syukur dalam segala hal di dalam Kristus Yesus”. Matheus Mangentang telah melakukannya. Satu tahun sudah menikmati kebebasan yang diberikan Tuhan dan itu harus disyukuri.
Apa yang dapat kita simak dari kisah Matheus Mangentang di atas? Kita harus melihat bahwa cara Tuhan bekerja dalam hidup manusia tidak seperti yang kita duga. Meski duka dan tekanan melanda, biarkanlah Tuhan bekerja di dalamnya. Kita tak dapat melawan Dia. Kita hanya dapat berserah dan memohon kepada-Nya agar kasih dan kemurahan datang pada kita sesuai dengan waktu yang Ia tentukan: “Ia membuat segala sesuatu indah pada waktunya…” (Pengkhotbah 3:11).
Bersyukurlah karena Tuhan masih memberikan kita “waktu dan kesempatan” untuk menikmati kebaikan-Nya dalam situasi apa pun, dalam suka dan duka. Kita tahu bahwa hidup dalam Tuhan ada sukacita, damai, dan sejahtera. Matheus Mangentang menunjukkan ketegaran hatinya untuk tetap melihat kepada Tuhan sebab ia tahu bahwa Tuhan akan bekerja sesuai dengan kehendak-Nya, dan beliau telah merasakannya. Beliau pun menaikkan rasa syukur bersama keluarga, juga bersama dengan Ibu Ernawaty Simbolon. Rasa syukur itu adalah tanda bahwa iman yang diberikan Tuhan kepada mereka telah terkonfimasi saat mereka menjalani kehidupan di masa-masa yang sulit sekalipun.
Kehidupan yang kita jalani mengungkapkan sebuah fakta bahwa Tuhan itu adil dan menyatakan keadilan-Nya sesuai dengan waktu yang Ia tentukan. Tuhan itu juga pemurah; Ia memberi yang terbaik bagi anak-anak-Nya; Ia membalut luka-luka kehidupan kita; Ia merangkul orang-orang yang tidak perhatikan; Ia menguatkan mereka yang lemah dan memberikan harapan bagi mereka yang putus asa. Ia memberi hati yang kuat menghadapi berbagai tantangan. Dan Ia juga mengangkat mereka yang jatuh, dan menjadikannya sebagai alat bagi kemuliaan nama-Nya.
Jika Matheus Mangentang telah memberi teladan dalam “memberi tanpa merasa rugi” ketika ia melayani Tuhan dalam segala situasi dan kondisi, demikianlah kita melakukan itu, dan menyadari bahwa melayani Tuhan jangan pernah merasa rugi atau kekurangan. Apa yang kita lakukan, lakukanlah dengan tulus ikhlas, bukan karena ingin mendapat imbalan atau uang banyak. Melayani Tuhan itu indah dan berkesan. Kadang, ungkapan syukur tak mampu menampung kebaikan dan kemurahan Tuhan. Meski demikian, tetaplah mengucap syukur dalam segala hal karena Tuhan itu baik dan telah berbuat baik.
Salam Bae…
Catatan:
Saya dan rekan-rekan pernah membuat dua buku untuk beliau. Buku yang pertama dibuat waktu beliau berada dalam lapas.
KATA PENGANTAR
Setiap orang yang beriman kepada Yesus Kristus menyadari bahwa dirinya harus mengimplementasikan imannya ke dalam perbuatan-perbuatan yang selaras dengan firman Allah. Artinya, apa yang diberikannya (dilakukan) adalah “yang terbaik” sesuai kehendak Tuhan.
Dalam perjalanan kehidupan, ada berbagai hal yang kita jumpai, dan secara simultan, hal-hal tersebut dapat berpotensi membentuk karakter kita menjadi seperti yang dikehendaki Allah. “Memberikan yang terbaik kepada Tuhan” bukanlah slogan semata; memberikan yang terbaik didasarkan pada pengenalan kita akan Tuhan dan sikap kasih kita kepada-Nya.
Tak ada satu pun orang percaya yang mengasihi Tuhan tanpa memberikan—segala perbuatannya—yang terbaik kepada-Nya. Di sini, konsistensi iman menjadi yang utama. Ketika kita diberikan kesempatan oleh Tuhan untuk menjalani dan menikmati kehidupan, maka secara simultan tanggung jawab iman yang kita miliki seyogianya diejawantahkan ke dalam kehidupan itu sendiri. Kita harus tetap konsisten memberikan yang terbaik bagi Tuhan.
Buku ini adalah kumpulan tulisan yang merupakan refleksi (kesaksian) iman dan pelayanan dari para hamba Tuhan, yang didedikasikan kepada Pdt. Dr. Matheus Mangentang, seorang pendeta, pendidik, dan teolog, yang telah berkarya bagi Tuhan, baik di sekolah, gereja, maupun ladang misi. Meskipun beliau berada dalam penjara, hal itu tak menyurutkan kerinduan beliau untuk melayani Tuhan dan menyatakan kasih kepada sesama.
Semangat beliau dalam melayani dan bermisi tak pernah surut. Bahkan beliau telah menjadi teladan bagi “anak-anak Arastamar” di seluruh Indonesia, yang juga mendedikasikan hidupnya bagi pekerjaan (pelayanan) Tuhan. Tak kenal lelah, dan kenal menyerah adalah komitmen beliau. Kini, “taburan-taburan benih pelayan” yang telah dikerjakannya sejak dulu, telah berbuah lebat, dan telah memberkati banyak orang, baik lewat pendidikan, gereja, maupun pekerjaan misi ke pedalaman-pedalaman.
Dengan “semangat untuk berbagi berkat bagi sesama”, maka ide untuk membuat buku yang didedikasikan kepada Pdt. Matheus Mangentang, memiliki dasar yang sama. Ide tersebut muncul dalam pikiran saya beberapa minggu sebelum beliau merayakan tanggal kelahirannya yaitu 6 Oktober 2019. Saya pun bergerilya untuk mengumpulkan berbagai naskah khotbah dari para hamba Tuhan. Ide ini disambut baik oleh Pdt. Dr. Andreas A. Yewangoe, Pdt. Dr. Soegeng A. Hardiyanto, dan Pdt. Dr. Thobias A. Messakh; dilanjutkan dengan rekan-rekan sepelayanan dan sahabat-sahabat saya yang bersedia berkontribusi untuk menerbitkan buku ini.
Saya mengucapkan terima kasih yang sebesar-besarnya kepada semua hamba Tuhan yang telah bersedia memberikan kontribusinya melalui refleksi iman dan pelayanan—dalam bentuk khotbah—sehingga buku ini dapat diterbitkan.
Semoga buku ini dapat memberikan kekuatan dan semangat kepada Bapak Pdt. Matheus Mangentang dalam menjalani kehidupan yang dianugerahkan Tuhan; dan juga kepada para pembaca sekalian. Kami tetap berdoa, agar kasih setia dan pertolongan Tuhan tetap menyertai Bapak. Amin!
Salam,
Pdt. Dr. Stenly R. Paparang. Penggagas Pembuatan Buku “Tuhan Meminta yang Terbaik”
DAFTAR ISI
Orang Benar Berbelas Kasih: Mazmur 37:12-26. Pdt. Dr. Andreas A. Yewangoe
Tuhan Yesus – Gembala yang Baik: Yohanes 10:11-18. Pdt. Dr. Soegeng A. Hardiyanto
Pilihlah pada Hari ini kepada Siapa Kamu Beribadah: Yosua 24:1-16. Pdt. Dr. Thobias A. Messakh
Tuhan Meminta yang Terbaik: Refleksi Imamat 3:1-117. Pdt. Dr. Stenly R. Paparang
Dan Siapapun yang Memaksa Engkau BerjalanSejauh Satu Mil, Berjalanlah Bersama Dia Sejauh Dua Mil: Matius 5:41. St. Dr. Hasahatan Hutahaean
Tuhan yang Baik adalah Dia yang Rela Menderita: Menggantikan Umat-Nya: Yesaya 53:1-6. Pdt. Heri Anderson, M.Th.
Kalahkan Kejahatan dengan Kebaikan: Roma 12:9-21. Pdt. Dr. Antonius Missa
Memperoleh Keadilan dengan Hidup Benar: Mazmur 26:1-8. Novida Dwici Yuanri Manik, M.Pd.K.
Bahagiakanlah Orang Lain, Maka Engkau Akan Bahagia: Kolose 3:18-25. Fredik Masneno, M.Th.
Jujur dalam Ucapan: Matius 26:69-75. Pdt. Aris D. Rimbe, M.Th.
Pertolongan Tuhan Tidak Pernah Berakhir: Yesaya 40:28-31. Pdt. Dr. Sensius A. Karlau
Menjadi Saksi Kristus: Kisah Para Rasul 1:8: Pdt. James A. Lola, M.Th.
Memimpin dan Mengganti Pemimpin: Ulangan 32:44-52. Pdt. Dr. Youke Singal
Hidup yang Berpusat pada Kristus: Efesus 5:15-17 dan Mazmur 90:12. Pdt. Dr. (c) Yeremia Hia, M.Th.
Kasih Allah pada Manusia Berdosa. Pdt. Djanne Tando, M.Th.
Kemerdekaan Orang Kristen: Galatia 5:13-15. Pdt. Aris D. Rimbe, M.Th.
Harapan dalam Kristus: 1 Petrus 1:3-9. Novida Dwici Yuanri Manik, M.Pd.K.
Merdeka Menuju Kemuliaan: Roma 8:18-21. Pdt. Dr. Stenly R. Paparang
Mempertahankan Kelakuan: Mazmur 119:9. Dr. Purnama Pasande, M.Th.
Christynata dan Gilchrist Paparang
BUKU KEDUA dibuat oleh Saya dan rekan-rekan saat beliau merayakan hari ketambahan usia yang ke-64. Buku ini saya serahkan pada hari Rabu tanggal 7 Oktober 2020 pada saat ibadah bersama (Beliau berhari ulang tahun pada tanggal 6 Oktober).
KATA PENGANTAR
Ada proses yang harus ditempuh oleh setiap orang Kristen untuk menunjukkan kualitas imannya kepada Tuhan dan sesama. Hal ini dimaksudkan untuk melihat sejauh mana kekuatan kesetiaan seseorang kepada Tuhan, dan bagaimana dalam totalitas proses kehidupannya menghasilkan buah atau tidak.
Pada akhirnya, semua orang percaya hanya memperlihatkan buah-buah dari pemikirannya, perkataannya, dan perbuatannya. Asesmen terhadap buah-buah merupakan konsekuensi logis dari proses kehidupan setiap orang. Oleh karena itu, tak adil jika kita yang mengaku percaya kepada Tuhan, tetapi tidak berbuat apa-apa; atau mungkin hanya berbuat sesuatu ketika hal itu mendatangkan keuntungan semata ketimbang memikirkan bagaimana menghasilkan pengaruh totalitas diri kita dalam lautan kehidupan yang multiiman dan multikulturalisme.
Kenyataannya, kita seringkali terperangkap dalam kesibukan kita tanpa membuka jendela pemikiran untuk berbagi dengan orang lain. Kita lebih suka berpuas diri dengan pemikiran kita, jabatan, karya kita, yang hanya berputar pada ego diri, ketimbang memikirkan keseimbangan antara karya pribadi dan karya “bagi” orang lain. Pada tataran ini, saya dan sahabat-sahabat yang sepaham mengenai hal ini, sepakat untuk “berbagi” dengan sesama melalui buah-buah pemikiran. Hal ini memiliki tujuan bahwa kita hidup untuk berbagi, jika tidak, kita hanya puas dengan diri sendiri dan tidak puas dengan relasi serta kepedulian terhadap orang lain.
Selagi kita masih hidup, jangan menikmati kelebihan diri sendiri secara sendiri-sendiri; jangan pelit ilmu dan pemikiran, apalagi merasa bahwa berbagi dengan sesama melalui tulisan tidak banyak menguntungkan. Hal itu benar, tetapi bagi mereka yang pelit ilmu dan hanya menikmati kepiawannya sendiri di kamar pribadi. Saya tidaklah demikian. Saya mengajak sahabat-sahabat saya untuk giat berbagi, giat melayani, meski lelah dan peluh bercucuran. Tentu Tuhan tahu apa yang kita kerjakan, dan kita juga tahu apa motivasi yang kita pegang untuk berbagi dengan sesama.
Dari sini kita melihat bahwa buah-buah iman tampak dalam kehidupan yang kita jalani, termasuk di dalamnya karya-karya pribadi maupun karya-karya yang bersifat “berbagi”. Melihat fakta ini, saya memiliki orientasi bahwa segala sesuatu yang Tuhan berikan kepada kita sejatinya terejawantah dalam karya nyata, karya bagi kita, bagi sesama, bagi Gereja, dan bagi dunia secara luas.
Buku ini lahir dari skema tersebut. Sudah berulang kali saya membuat buku sejenis ini. Membuatnya didasari pada ketulusan. Saya tak kekurangan cara untuk bekerja, berelasi, dan terlebih mencari jalan untuk dapat membuat proyek semacam ini. Dan saya yakin bahwa ketulusan yang kita buat, pasti akan dibalaskan oleh Tuhan. Termasuk para sahabat dan kenalan saya yang telah berkontribusi dalam menuliskan artikel/khotbah di buku ini.
Saya pun bersyukur bahwa sahabat-sahabat saya memang memiliki komitmen yang sama: berbagai berkat melalui tulisan. Mereka adalah orang-orang super sibuk. Saya menyadari hal itu. Namun, ada sebuah fakta yang saya amati, yaitu jika kita hanya menghitung kesibukan-kesibukan kita sendiri, pada akhirnya kita tak dapat membuka jendela logika untuk menghirup harumnya persaudaraan dan indahnya kehidupan yang berbagi. Berbagi itu memberikan kebahagiaan. Kata-kata tak mampu untuk meng-ungkapkan kebahagiaan ini.
Dengan mengulang kembali proyek buku yang sejenis, saya dan dibantu oleh Yosia Belo, bergerilya untuk menghubungi orang-orang tertentu, sahabat dan rekan sepelayanan, agar mereka dapat berbagi pemikiran, yang dimuat dalam buku ini. Di bawah judul “BERSAMA TUHAN AKU SETIA, KUAT, DAN BERBUAH: Kumpulan Tulisan dalam Rangka Mensyukuri Ulang Tahun Pdt. Dr. Matheus Mangentang, M.Th., ke-64”,buku ini menyuguhkan berbagai pemikiran, pengalaman, konsep, dan edukasi—biblikal yang dapat menjadi makanan siap saji bagi para pembaca sekalian.
Buku ini dirancang khusus untuk dipersembahkan kepada Pdt. Dr. Matheus Mangentang, yang merasakan kasih dan kemurahan Tuhan karena Ia telah menambahkan umur setahun kepada beliau. Apa yang beliau kerjakan dalam kaitannya dengan pelayanan kepada Tuhan, telah membuktikan kesetiaannya, tetap kuat di dalam kuasa-Nya, dan telah menghasilkan buah-buah dari iman. Ini suatu hal yang luar biasa. Di usianya yang ke-64, semangat melayani dan bekerja di ladang Tuhan masih begitu kuat dan tetap menjadi prioritas.
Beberapa tulisan dalam buku ini, secara khusus menyebutkan nama beliau sebagai sosok yang patut diteladani. Dalam pengalaman hidup bersama Tuhan, beliau telah membuktikan bahwa kekuatan, kesetiaan, dan buah-buah pelayanan dapat dirasakan, dialami, dan dihasilkan, semuanya adalah karena kemurahan Tuhan semata. Tepatlah jika dikatakan: “Bersama Tuhan Aku Setia, Kuat, dan Berbuah” sebagai gambaran faktual dari pelayanan Pdt. Matheus Mangentang.
Itu sebabnya, dengan berbagai tema dan fitur teologis-aplikatif dalam buku ini, memperkaya khazanah pengetahuan dan pemahaman kita tentang hidup. Tulisan-tulisan dalam buku ini juga memiliki nuansa dan fitur-fitur iman yang secara substansial menunjukkan jati diri kualifikasi, tendensi keilmuan, dan pengalaman hidup para penulis, bersama Sang Khalik.
Pada kesempatan ini, saya patut mengucapkan terima kasih kepada sahabat-sahabat saya dan rekan sepelayanan, yang telah meluangkan waktu dan kesempatan untuk menulis. Tuhan memberkati kalian semua. Terima kasih kepada Yosia Belo dan Pangeran Manurung, tim editor yang luar biasa; meski dalam waktu yang sangat mepet, kita dapat bekerja secara cepat agar buku ini dapat diterbitkan, terlepas dari kekurangan di sana-sini. Kiranya Tuhan yang akan membalas kebaikan hamba-hamba-Nya.
Akhirnya, semoga buku ini memberikan berkat tersendiri kepada para pembaca, terlebih kepada Bapak Pdt. Dr. Matheus Mangentang. Selamat Ulang Tahun Bapak Matheus. Tuhan memberkati Bapak dalam pelayanan, pekerjaan, dan keluarga.
Salam Bae
Gading Serpong, 15 September 2020,
Stenly R. Paparang. Penggagas buku “Bersama Tuhan Aku Setia, Kuat, dan Berbuah”
DAFTAR ISI
TEKNOGOGI:Jarak Teori, Pengetahuan Hidup, dan Pengalaman Hidup. Dr. Elia Tambunan
JADILAH BERIMAN — JANGAN HANYA BERAGAMA!Refleksi Kisah Para Rasul 15:1-21.Dr. Soegeng A. Hardiyanto
HAMBA YANG BAIK DAN SETIA. Dr. Edu Arto Silalahi
DISKURSUS IMAN DAN PERGUMULAN HIDUP: ORANG KRISTEN: Proaktif Masa Kini, Antisipasi Masa Depan. Refleksi 1 Petrus 4:7-19. Dr. Marde Christian Stenly Mawikere
ALLAH MENEROBOS UNTUK MEMBEBASKAN. Dr. Thobias A. Messakh
URGENSI KEBANGUNAN ROHANI ZAMAN EZRA: Mengintip Intrik Politik Persia, Mengkaji Spiritualisme. Dr. Pangeran Manurung
KUAT OLEH KASIH KARUNIA: MENGGAPAI VISI TO REACH THE UNREACH PEOPLE: Refleksi 2 Timotius 2:1-7. Dr. Junior Natan Silalahi
TINJAUAN TERHADAP KITAB “YESUS BIN SIRAKH”. Dr. Heryson T. M. Butar-Butar
KEBENARAN BERASAL DARI HIKMAT ALLAH,BUKAN PENGETAHUAN: Mendemonstrasikan Karakter Ilahi di Masa Pagebluk. Dr. Maria Patricia Tjasmadi, M.Pd.K.
MEMBANGUN DAN MENGEMBANGKANKARAKTER KRISTEN YANG KUAT. Pdt. Samuel T. Gunawan, S.Th., S.E., M.Th.
HIDUP BERSAMA TUHAN. Pdt. Jimmy Kambey, M.Th.
INKARNASI KRISTUS SEBAGAI PATRON HIDUP BERJEMAAT: Homili Filipi 2:1-11. Hendy Graciano Puttileihalat
GENERASI PILIHAN ALLAH. Dr. Aan, M.Th.
YESUS MEMBERITAKAN KEMATIAN-NYA: Kajian Yohanes 12:20-36. Pdt. Henni Somantik, M.Th.
GEMBALA-GEMBALA ZAMAN. Yosep Belay
MENELUSURI MAKNA אֱלהֵׄינוּבְּשֵׁם־יְהוׇה ךְנֵלֵ DALAM MIKHA 4:5b DAN IMPLIKASINYA BAGI UMAT ALLAH. Susten Bako
API TUHAN DAN TRAGEGI DALAM KELUARGA HARUN: Refleksi Imamat 10:1-20. Pdt. Dr. Youke Singal, M.Th.
HIDUP YANG BERBUAHDALAM PERKATAAN DAN PERBUATAN. Refleksi Yakobus 1:17-27. Pdt. Febrianto Sutomo Rompis, M.Th.
Kehidupan Kristen tidak lepas dari sebuah kesadaran untuk “berdoa” kepada Tuhan. Kehidupan Kristen selalu melibatkan dan mengutamakan doa—sebuah sikap tunduk dan bersandar kepada Tuhan. Dua senjata yang mengubah segala sesuatu dan mematikan adalah “doa [bersandar kepada Tuhan dan wujud dari mengasihi Dia dan sesama yang tertuang dalam doa]” dan “Tuhan turun tangan [kuasa-Nya]”. Dua senjata ini telah berlangsung ribuan tahun yang membuktikan bahwa kekristenan dapat bertahan hingga kini.
Meski orang Kristen dihina, dicaci maki, dibunuh, dibakar hidup-hidup, dimakan binatang buas, dan sebagainya, tetapi apa yang terjadi? Kristen adalah agama terbesar di dunia dan membuatnya besar adalah “doa” dan “Tuhan turun tangan”. Itu sebabnya, “doa” itu penting. Yesus, dalam keadaan-Nya sebagai manusia, Ia berdoa kepada Bapa-Nya; implikasinya adalah kita pun harus berdoa. Para rasul berdoa, maka Gereja harus berdoa. Lalu apa kepentingan dan tujuan doa? Hal ini akan saya jelaskan kemudian.
Ketika saya membaca tujuh ayat dalam 1 Timotius 2, saya merasa apa yang dituangkan Rasul Paulus sangatlah luas sekali. Tidak hanya tema “doa orang percaya” yang dibahas, melainkan pokok-pokok dasar dari iman Kristen pun ditegaskan Paulus di dalam pasal ini (misalnya penebusan yang dikerjakan Yesus Kristus menjadikan kita sebagai ciptaan baru, yang kudus, dan berkenan kepada Tuhan). Tetapi kita tidak membahasnya di sini, melainkan fokus pada konteks “doa orang percaya”.
Saya mencatat beberapa pokok penting—selain dari pada tema kita “Doa Orang Percaya”—sebagai berikut:
Pertama, orang percaya dinasihatkan untuk menaikkan “permohonan”, doa “syafaat” dan “ucapan syukur” atas semua orang termasuk raja-raja, dan semua pembesar. Tujuannya adalah agar orang percaya dapat hidup tenang dan tenteram dalam segala kesalehan dan kehormatan. Mendoakan pemerintah adalah wujud dari iman karena orang percaya hidup di dalam sistem pemerintahan. Meski di zaman sekarang, orang Kristen mengalami banyak kesulitan untuk beribadah, namun mendoakan pemerintah adalah sebuah keharusan. Ini adalah tindakan yang berkenan kepada Tuhan.
Kedua, Paulus menyambung dari pokok keharusan orang percaya berdoa, dengan “karya Tuhan sebagai Juruselamat” umat manusia (ay. 3 dst). Tuhan menghendaki semua orang diselamatkan dan memperoleh pengetahuan akan kebenaran. Kebenaran tentang apa? Tentu kebenaran tentang bagaimana Ia menebus dan menyelamatkan manusia dari dosa-dosa.
Ketiga, Paulus mengaitkan “konteks keselamatan dengan Allah sebagai yang ‘esa’” [Yun. eis] dan Yesus Kristus sebagai yang “esa” [Yun. eis] yang menjadi perantara (Yun. mesitēs, mediator). Di sini, ada dua konteks ‘esa’ yang ditegaskan Paulus. Keesaan Allah dipahami dari dua aspek yaitu aspek kreasi (dunia ciptaan yang diciptakan Allah) dan aspek ontologis (hakikat yang ada [eksis] pada diri Allah sendiri). Keesaan Allah yang terkait dengan kreasi (ciptaan) merujuk pada “satu” sebagai “yang disembah” dari semua kekuatan dan kekuasaan dunia. Yesus sebagai yang esa berarti “hanya Dia saja Perantara tunggal” yang menyerahkan diri sebagai tebusan bagi semua manusia. Tidak ada perantara lain yang juga menyerahkan dirinya untuk mati bagi orang lain. Jadi, Yesus tidak ada bandingnya, Ialah yang esa.
Keempat, Paulus menyatakan bahwa ia “tidak berdusta dalam iman dan kebenaran”; ia ditetapkan sebagai pemberita, rasul, dan pengajar untuk menyampaikan kebenaran Allah yang sesungguhnya.
Dari keempat pokok di atas yang terangkum dalam tujuh ayat, maka pokok pertama akan menjadi tujuan kita dalam memahami pesan dan makna tentang “doa” dan “berdoa”.
DOA ORANG BENAR
Berbicara mengenai “doa”, kita perlu memahami enam hal: pertama, siapa dan apa identitas pendoa; kedua, apa isi doa; ketiga, kapan berdoa; keempat, bagaimana posisi berdoa; kelima, berdoa di mana; dan keenam, berapa lama berdoa. Untuk menjelaskan tema hari ini, maka saya akan menjelaskan poin yang pertama dan kedua.
Pertama, siapa yang berdoa. Berdasarkan teks yang kita baca, Paulus menasihatkan Timotius untuk berdoa. Jadi, Timotius mendapat kesempatan untuk berdoa di mana doa dipandang sebagai senjata yang tak terlihat namun hasilnya nyata. Timotius adalah seorang muda yang penuh kasih sayang (2 Tim. 1:4) tapi sangat penakut (2 Tim. 1:7); ia adalah seorang yang taat (1 Kor. 16:10; Flp. 2:19; 2 Tim. 3:10). Ia adalah seorang percaya dari Listra (ibunya seorang wanita Yahudi dan ayahnya seorang Yunani, [Kis. 16:1; 2 Tim. 1:5]). Ia bersama dengan Paulus pada perjalanan misi kedua (Kis. 16:1-4; 17:14-15; 18:5; 20:4). Ia diutus untuk mengurus persoalan-persoalan di Korintus (1 Kor. 4:17; 16:10), dan memimpin Gereja di Efesus (1 Tim. 1:3).
Dari beberapa identitas Timotius, maka layaklah jika ia dikatakan sebagai “orang benar” yang “berdoa”. Ia diminta untuk berdoa karena dengan doa yang tulus, Allah berkenan melakukan apa yang sesuai dengan kehendak-Nya, yang terbaik bagi orang-orang percaya. “Doa adalah jembatan terbaik”. Meski badai sebesar apapun melanda orang percaya, jembatan itu tak pernah putus. Justru malahan jembatan itu tetap kokoh.
Bagaimana dengan kita? Setiap orang Kristen harus berdoa, tetapi tidak semua orang Kristen memiliki identitas yang benar di hadapan Tuhan. Setiap orang Kristen dapat berdoa, tetapi tidak semua memiliki waktu untuk berdoa. Berdoa bukan hanya sekadar bicara, memohon kepada Tuhan, melainkan harus menunjukkan identitas yang benar di hadapan Tuhan. Semua orang Kristen memiliki kesempatan untuk berdoa, tetapi tidak semua doa dijawab Tuhan.
Persoalan utamanya adalah “apakah kita sudah benar di hadapan Tuhan atau tidak”. Boleh kita berdoa, tapi harus sadar, apa yang telah kita buat untuk Tuhan. Jangan hanya berdoa ketika berada dalam kesesakan, tetapi pada saat keadaan senang dan nyaman, dengan sengaja kita lupa untuk berdoa. Pada faktanya, ada orang-orang yang jarang atau malas berdoa ketika situasi dan kondisi hidupnya aman, nyaman, bahagia, dan tanpa ada halangan/hambatan sedikit pun. Rasa nyaman dengan kondisi hidup membuat orang-orang lupa untuk berdoa dan bersyukur. Sebaliknya, ketika situasi dan kondisi hidup serba sulit, muncul berbagai masalah, barulah ingat untuk berdoa.
Kedua, apa isi doa. Dari bacaan kita tadi, tampak bahwa Paulus mendeskripsikan apa saja yang perlu didoakan oleh Timotius. (1) Timotius diminta untuk menaikkan “permohonan” kepada Tuhan, untuk raja-raja dan semua pembesar; (2) berdoa “syafaat” (sebagai perantara) untuk raja-raja dan semua pembesar, agar orang percaya dapat hidup tenang dan tenteram dalam segala kesalehan dan kehormatan; (3) “mengucap syukur” untuk raja-raja dan semua pembesar. Mengucap syukur di sini adalah karena pemerintah (raja-raja dan pembesar) pemimpin yang mengatur ketenangan dan ketenteraman hidup rakyatnya.
Timotius tidak hanya diminta berdoa syafaat bagi raja-raja dan semua pembesar, tetapi hidup dalam segala kesalehan dan kehormatan. Dengan demikian, Timotius tidak hanya berdoa tetapi harus menjaga hidupnya selaras dengan kehendak dan kebenaran Allah. Hidup dalam kesalehan dan kehormatan adalah perilaku yang berkenan kepada-Nya. Alasannya adalah karena dengan kesalehan dan kehormatan, orang percaya dinilai dan dipuji perilakunya. Paulus menegaskan bahwa berdoa untuk raja-raja dan para pembesar adalah berkenan kepada Tuhan. Bukan saja berkenan, tetapi orang percaya didorong untuk menjadi teladan dalam kesalehan dan kehormatan. Bukankah ini sangat indah?
APLIKASI
Pertama, kita semua adalah pendoa, dan Tuhan menghendaki semua orang percaya adalah pendoa bagi pekerjaan-Nya, bagi pemerintah, dan bagi semua orang.
Kedua, Tuhan selalu memberikan kesempatan kepada kita untuk berdoa; waktu berdoa tidak ada batasnya; kapan saja dan di mana saja. Kesempatan yang Tuhan berikan harus dipakai dengan sebaik-baiknya.
Ketiga, doa adalah senjata yang tak terlihat namun hasilnya nyata.
Keempat, doa adalah jembatan terbaik yang tak pernah putus meski dilanda badai sebesar apa pun.
Kelima, setiap orang Kristen dapat berdoa, tetapi tidak semua orang Kristen memiliki identitas yang benar di hadapan Tuhan. Boleh kita berdoa, tapi harus tahu kita telah berbuat apa untuk Tuhan. Jangan hanya berdoa ketika berada dalam kesesakan, tetapi pada saat keadaan senang dan nyaman, dengan sengaja kita lupa untuk berdoa.
Keenam, hiduplah dalam segala kesalehan dan kehormatan. Seorang Kristen tidak hanya hebat dalam berdoa, tetapi juga hebat dalam teladan iman dan perbuatan. Kita tidak hanya berdoa tetapi harus menjaga hidup ini agar selaras dengan kehendak dan kebenaran Tuhan.
Kekuatan sebuah rencana secara substansial diukur oleh tujuh hal: pertama, siapa yang merencanakan; kedua, merencanakan apa; ketiga, situasi dan kondisi hidup yang menjadi pendorong rencana itu direncanakan; keempat, apa tujuannya merencanakan sesuatu; kelima, siapa saja yang terlibat dalam mewujudkan rencana itu; keenam, berapa lama rencana itu bertahan; dan ketujuh, apa yang dibutuhkan dalam mewujudkan rencana itu. Hampir semua orang merencanakan sesuautu untuk hari depan. Tetapi tak sedikit yang gagal mewujudkan rencana itu. Akan tetapi, bagi orang percaya, setiap rencana yang dibuat, harus melibatkan Tuhan di dalamnya. Kisah Musa adalah sebuah potret kehidupan yang cukup mencekam mengingat bahwa anak laki-laki yang lahir dari orang Ibrani haruslah dibuang ke sungai Nil. Meski demikian, Musa akhirnya dipimpin Tuhan menjadi pemimpin besar bangsa Israel. Ia menjadi pemimpin, tidak lepas dari campur tangan Tuhan melalui rencana-rencana kecil yang mendahului rencananya yaitu rencana ibunya dan rencana kakaknya.
Implikasi “Rencana” Berdasarkan Teks Bacaan
Pada teks yang dibaca, “rencana” yang dimaksudkan sesuai dengan tema khotbah adalah “rencana dari Ibu Musa”, “kakak Musa”, dan “Musa”. Memang, dalam teks tersebut, tidak terlihat di mana rencana mereka. Tetapi saya berusaha memahami kisah kelahiran Musa hingga ia dewasa.
Pertama, rencana ibu Musa (ay. 2-3, 9-10): ia memutuskan untuk menaruh anaknya di dalam peti dan diletakkan di tepi sungai Nil. Ia kemungkinan besar ia merencanakan agar anaknya tetap selamat, mengingat Firaun memberi perintah kepada seluruh rakyatnya bahwa segala anak laki-laki yang lahir bagi orang Ibrani, dilemparkan ke dalam sungai (1:22). Ibu Musa merencanakan keselamatan anaknya meski ia tidak tahu apa yang akan terjadi sesudahnya. Ibu Musa merencanakan untuk meletakkan bayinya di tepi sungai Nil karena situasi dan kondisi yang menakutkan, karena perintah Firaun untuk melemparkan semua anak laki-laki orang Ibrani ke dalam sungai Nil. Ibu Musa melibatkan anaknya (kakak dari bayi itu) untuk menjaga agar rencananya tidak gagal; rencana itu berjalan dan selang beberapa waktu, datanglah puteri Firaun dan dayang-dayang yang melihat peti di sungai Nil (ay. 5). Ibu Musa hanya membutuhkan peti dan anaknya (kakak Musa). Di sini, rencana ibu Musa didasarkan pada sikap pasrah. Ia pun dapat kesempatan menyusui Musa hingga beberapa tahun, dan dikembalikan kepada putri Firaun setelah Musa menjadi besar. Meski demikian, implikasi dari rencananya adalah Musa, abdi Tuhan, menjadi tokoh yang luar biasa. Rencana yang seadanya, ternyata berdampak besar.
Kedua, rencana kakak Musa (ay. 4, 7-8). Kakak Musa merencanakan keselamatan adiknya, di mana ia berdiri agak jauh dari posisi peti. Ketika ia melihat ada putri Firaun yang mengambil adiknya, ia menawarkan agar anak itu disusui oleh seorang inang penyusu yang dia rujuk kepada ibunya sendiri. Rencana ini berjalan mulus hingga ibunya mendapat kesempatan menyusui Musa selama beberapa tahun. Rencana kakak Musa cukup strategis dengan melihat kondisi yang terjadi pada saat itu. Ketika adiknya menangis, ia segera menemui putri Firaun dan menawarkan bantuan. Rencana tidak selalu harus ditulis panjang-panjang; rencana dapat muncul ketika situasi dan kondisi tidak berpihak kepada kita. Tetapi, dengan keberanian melawan situasi dan kondisi, maka kakaknya Musa berhasil meyakinkan putri Firaun. Itu berarti, rencana boleh saja dibuat dan dipikirkan, tetapi tanpa keberanian, mustahil bisa terwujud. Orang penakut hanya menghasilkan rencana di atas kertas, sedangkan orang berani menghasilkan rencana pada tataran fakta dan langsung bertindak.
Kakak Musa berhasil mewujudkan rencana singkatnya (sesuai situasi); ia merencanakan agar adiknya kembali kepada ibunya, disusui, dan dididik hingga besar; ia merencanakan sesuatu karena situasi dan kondisi hidup yang mendorongnya untuk berani mewujudkan rencananya; ia hanya ingin bahwa adiknya selamat; ia melibatkan ibunya untuk mewujudkan rencananya; ia berhasil menjadikan rencananya bertahan selama beberapa tahun.
Ketiga, rencana Musa (ay. 11-12, 14). “Musa takut perkaranya ketahuan, maka ia melarikan diri” (ay. 15). Melarikan diri adalah sebuah rencana, entah dadakan atau terencana dengan baik. Di sini, rencana terbaik Musa adalah “melarikan diri”. Ia takut dibunuh Firaun karena ia telah membunuh seorang Mesir (ay. 11). Rencana melarikan diri berbuah manis (pada akhirnya ia diberikan oleh Rehuel, Zipora, anaknya). Ia tiba di tanah Midian dan duduk-duduk di tepi sumur. Datanglah perempuan-perempuan yang hendak menimba air. Mereka diusir oleh gembala-gembala, dan Musa (langsung merencanakan sesuatu) menolong tujuh anak perempuan Yitro, seorang imam di Midian (disebut juga Rehuel) (ay. 17). Rencana Musa untuk menolong anak-anak Yitro mendatangkan penerimaan bagi dirinya oleh calon mertua.
Rencana Musa yaitu melarikan diri adalah sebuah rencana penyelamatan diri. Rencana ini adalah sebuah bijaksana yang logis. Kemudian, rencana untuk menolong pada akhirnya menuai hasil yang baik. Musa mendapatkan isteri yaitu Zipora hasil dari rencana pendeknya untuk menolong anak-anak Yitro. Pertolongan meski itu kecil, akan berbuahkan hasil yang besar. Rencana, sekecil dan secepat apa pun itu, asalkan memiliki tujuan yang baik, akan berbuahkan hasil yang baik pula.
Implikasi Faktual Kekinian
Mungkin masih segar dalam ingatan kita mengenai seorang anak bernama Johanis Adekalla Gama Marshall, siswa kelas VII SMPN I, Silawan Desan Mota’ain, Kabupaten Belu, NTT, perbatasan Indonesia dengan Timor Leste yang secara spontan (rencana dadakan dan singkat) untuk memperbaiki tali bendera yang tersangkut di ujung tiang. Ia seketika menjadi terkenal; ia diundang oleh Presiden Jokowi, mendapat beasiswa dan berbagai hadiah lainnya. Rencana singkat yang mungkin sederhana, pada akhirnya berbuahkan hasil yang sangat besar. Rencana yang baik, meski sederhana, dan dilakukan dengan motivasi yang tulus, akan mendapatkan hasil yang luar biasa.
Bermisi juga demikian. Meski yang kita rencanakan itu kecil, tetapi jika dikerjakan, akan berbuahkan hasil yang besar. Rencana yang besar tetapi yang mengerjakannya tidak ada, maka menjadi rugi. Merencanakan sesuatu haruslah sesuai dengan konteks dan tujuan yang hendak dicapai. Kekuatan rencana bukan terletak pada berapa banyak yang direncanakan, melainkan pada kondisi, situasi apa hal itu direncanakan. Ibu dan kakak Musa memiliki rencana yang sederhana. Demikian juga dengan Musa. Mereka berencana hanya untuk “menyelamatkan orang lain dan diri sendiri”. Dikaitkan dengan konteks misi maka rencana yang kita buat adalah untuk “menolong, mengasihi, dan menyelamatkan orang lain, ya, orang lain yang membutuhkan pertolongan dan kasih kita”. Orang Kristen seringkali hanya suka berencana tetapi sangat lemah dalam pelaksanaannya. Bahkan yang direncanakan tidak mendukung pengaktualisasian iman untuk mengasihi yang tak terkasihi, melayani yang tak terlayani. Syukur kepada Tuhan, Moriah Ministry telah membuktikan bahwa “rencana yang disusun” adalah sebuah aktualisasi iman kepada mereka yang membutuhkan, kepada mereka yang belum terlayani. Dan kiranya ini terus berlanjut dan menjadi berkat bagi banyak orang.
Penutup
Pertama, rencana tidak melulu disiapkan di belakang meja (secara aplikasi kekinian). Rencana harus berangkat dari fakta yang sebenarnya dan kita terdorong untuk memberikan perhatian dan pelayanan misi kepada mereka yang membutuhkan. Kedua, rencana tidak perlu yang muluk-muluk, tetapi harus terukur. Dampaknya sangat besar (contoh, rencana Ibu dan kakak Musa). Ketiga, rencana haruslah bernilai strategis dengan melihat kondisi yang terjadi pada saat itu. Apa yang hendak dicapai haruslah didasari pada kondisi. Rencana melayani, misalnya, haruslah terdorong dari rasa kasih yang tulus untuk melayani mereka yang membutuhkan. Keempat, rencana harus diwujudkan dengan keberanian melawan situasi dan kondisi. Kelima, rencana perlu mewujudkan untuk mendatangkan penerimaan dari orang lain terhadap diri kita. Keenam,rencana juga perlu mempertimbangkan unsur keselamatan kita dan orang lain yang dilayani.
Yesus adalah Nabi. Ia sendiri menubuatkan penderitaan, kematian, kebangkitan, kenaikan, dan kedatangan-Nya kembali. Semua nubuatan sudah tergenapi kecuali yang terakhir, kedatangan-Nya, karena hal itu masih dalam pengharapan iman Kristen: Kristus akan datang pada kali yang kedua sebagaimana yang dikatakan malaikat-malaikat pasca Yesus naik ke surga dengan disaksikan para murid-Nya di bukit Zaitun: “Hai orang-orang Galilea, mengapakah kamu berdiri melihat ke langit? Yesus ini, yang terangkat ke sorga meninggalkan kamu, akan datang kembali dengan cara yang sama seperti kamu melihat Dia naik ke sorga” (Kis. 1:11).
Nubuatan-nubuatan Yesus, termasuk nubuatan mengenai “Terhitung di antara pemberontak-pemberontak” merupakan konteks nubuatan Nabi Yesaya 53:12 yang berbunyi: “Sebab itu Aku akan membagikan kepadanya orang-orang besar sebagai rampasan, dan ia akan memperoleh orang-orang kuat sebagai jarahan, yaitu sebagai ganti karena ia telah menyerahkan nyawanya ke dalam maut dan karena ia terhitung di antara pemberontak-pemberontak, sekalipun ia menanggung dosa banyak orang dan berdoa untuk pemberontak-pemberontak.”
Nubuatan ini ditegaskan kembali oleh Yesus (Luk. 22:37) untuk memperlihatkan bahwa nubuatan Yesaya berbicara mengenai Mesias yang menderita, dan itu adalah Yesus Kristus. Meski beberapa kali Yesus menubuatkan penderitaan, dan kematian-Nya, para murid belum sepenuhnya memahami, termasuk Petrus. Bahkan dalam teks yang kita baca, tampak bahwa para murid ribut tentang siapa yang dianggap terbesar di antara mereka (ay. 24).
Konteks
Ayat 24-38 berada di bawah perikop “Percakapan waktu Perjamuan Malam”. Apa yang dipercakapkan?
Pertama, para murid bertengkar (ribut) mengenai siapa yang dapat dianggap terbesar di antara mereka. Hal ini terjadi karena popularitas Yesus terus menanjak. Pastinya, para murid kena imbasnya. Akan tetapi, pada pasal 22:22-23, para murid ribut soal siapa yang akan menyerahkan Yesus. Mereka tidak berhenti di situ, malahan mereka melanjutkan ke percakapan lainnya soal siapa yang lebih besar.
Kedua, akhirnya Yesus menjawab mereka: “…yang terbesar di antara kamu hendaklah menjadi sebagai yang paling muda dan pemimpin sebagai pelayan. Sebab siapakah yang lebih besar: yang duduk makan, atau yang melayani? Bukankah dia yang duduk makan? Tetapi Aku ada di tengah-tengah kamu sebagai pelayanan….”
Ketiga, Yesus memperingatkan dan mendoakan Petrus (31-32). Tetapi Petrus dengan yakin mengatakan bahwa “Tuhan, aku bersedia masuk penjara dan mati bersama-sama dengan Engkau.” Yesus pun menjawab: “Aku berkata padamu, Petrus, hari ini ayam tidak akan berkokok sebelum engkau tiga kali menyangkal, bahwa engkau mengenal Aku.”
Keempat, Yesus kemudian menjelaskan mengenai fakta bahwa mengikut Dia akan tidak kekurangan (ay. 35-36) dan direspons para murid. Yesus juga akhinya menubuatkan kematian-Nya: “terhitung di antara pemberontak-pemberontak” sebagai penggenapan dari nubuatan Nabi Yesaya.
Berangkat dari konteks tersebut di atas, penegasan Yesus bahwa diri-Nya nanti akan “terhitung di antara pemberontak-pemberontak” memberi kita pemahaman bahwa Yesus dianggap sebagai pemberontak terhadap pemerintah Romawi, dan atau dianggap sebagai pemberontah terhadap tradisi Yahudi, sebagaimana kita tahu bahwa Yesus selalu diincar untuk dicari kesalahan-Nya untuk dipersalahkan, dijebak, dan atau dibunuh.
Hingga akhirnya, nubuatan Yesus mengenai diri-Nya adalah tanda bahwa Ia setia menjalani dan menyelesaikan misi penyelamatan Tuhan bagi penebusan dosa-dosa umat-Nya, pembenaran, pengudusan, dan hingga puncaknya menganugerahkan keselamatan kepada umat pilihan-Nya.
Makna dan Pesan
Kisah di atas tampaknya merupakan sebuah konteks di mana Tuhan Yesus menggenapi nubuatan tentang diri-Nya—sebagaimana yang diklaim-Nya—bahwa penderitaan dan kematian-Nya merupakan bagian yang tidak terpisahkan dari totalitas rencana keselamatan Tuhan, sehingga dari teks bacaan di atas, kita dapat mengambil makna dan pesannya.
Pertama, mengikut Yesus haruslah secara tulus. Mengikut-Nya perlu pemahaman yang bahwa bukan soal siapa yang terbesar di antara kita melainkan siapa yang mau melayani meski ia—secara faktual—adalah “orang besar” atau “orang penting”. Analogi yang tepat yang digunakan Yesus: yang paling besar apakah yang duduk makan atau yang melayani? Tentu yang duduk makan. Meski demikian Yesus yang lebih besar melayani para murid-Nya.
Kedua, dalam proses mengikut Yesus, hindarilah percakapan-percakapan yang tidak penting, tidak berarti, dan tidak berdampak pada perubahan karakter, pemahaman tentang iman kepada Yesus, dan soal siapa yang lebih penting. Pelayanan adalah sebuah “kesatuan” (unity) dan bukan “individual”. Tak ada orang yang melayani jika ia sendirian, dan tidak ada orang yang dilayani. Pula tidak perlu merasa hebat sendiri, seperti Rasul Petrus ketika ia mengatakan bahwa ia siap dipenjara dan mati bagi Yesus, padahal Yesus sudah mengetahui bahwa ia akan menyangkal Yesus tiga kali.
Ketiga, mengikut Yesus berarti harus siap menderita bagi Injil-Nya. Meski kita tahu bahwa para pengikut Yesus bisa dianggap sebagai kaum pemberontak, kafir, pendusta, dan atau sebutan lainnya yang sinis dan membabi buta, kita harus tetap menjalani dengan tetap setia beriman kepada Yesus Kristus sebagaimana Ia telah menunjukkan teladan yang baik. Tentu hambatan dan tantangan akan ada, tetapi yang terpenting adalah kesiapan dan keteguhan kita untuk mengikut Yesus dan siap dalam segala hal dalam melayani Sang Raja kita, Yesus Kristus Juruselamat dunia. Amin
Salah satu pokok penting dari iman Kristen adalah “kasih”. Kasih Tuhan telah dinyatakan kepada kita melalui serangkaian kemurahan dan karunia-Nya serta kuasa-Nya yang mengubahkan hidup dan hati kita menjadi seperti yang Ia kehendaki. Pada setiap konteks kehidupan, kasih Tuhan—sadar atau tidak sadar, tahu atau tidak tahu—selalu nyata bagi kita. Kasih Tuhan melampaui dari segala sesuatu yang kita miliki. Apalah gunanya kita memiliki segala sesuatu tetapi kita kehilangan kasih kepada Tuhan dan kehilangan kasih dari Tuhan?
Tulisan ini berbicara tentang persatuan dengan Yesus Kristus yang digambarkan sebagai persatuan dalam kasih-Nya. Kasih kepada Yesus berarti kita memahami dan menjadi satu dalam kasih-Nya. Kasih Yesus menuntun dan mengarahkan langkah, serta pikiran kita untuk menjadi serupa dengan-Nya. Puncak pemahaman dan aplikasi iman kita kepada Tuhan adalah dengan “mengasihi Tuhan” dan “mengasihi sesama”. Hal ini selaras dengan ajaran Yesus (yang mengutip PL): “Kasihilah Tuhan, Sesembahanmu, dengan segenap hatimu dan dengan segenap jiwamu dan dengan segenap akal budimu… Kasihilah sesamamu manusia seperti dirimu sendiri (Mat. 22:37-39; bdk. Ul. 6:5; Im. 19:18; Mrk. 12:30).
DESKRIPSI SIGNIFIKAN
Teks Roma 8:31-39 menjelaskan pokok-pokok penting mengenai implikasi dari Kristologi Rasul Paulus. Untuk melihat kedalaman Kristologi Paulus, saya mencatatya sebagai berikut:
Pertama, pernyataan Paulus pada ayat 31 merupakan korelasi dengan ayat 28-30 bahwa orang-orang dimuliakan Allah adalah orang-orang yang ditentukan-Nya dari semula, yang dipanggil dan dibenarkan melalui Yesus Kristus. Artinya, setiap orang yang datang kepada Allah adalah mereka yang telah ditetapkan-Nya sejak semula (sejak kekekalan). Bukan kita yang mencari Allah, tetapi Allah-lah yang mencari kita. Bukan kita yang memanggil Allah, tetapi Allah-lah yang memanggil kita. Bukan kita yang menyelamatkan diri kita melainkan Allah yang menyelamatkan kita. Prinsip ini harus benar-benar dipahami.
Dalam kondisi demikian, kita harus yakin bahwa jika Allah di pihak kita—artinya keselamatan dan perlindungan Allah sudah nyata—siapakah yang akan melawan (menantang) kita? Sebagai jawabannya, Paulus menegaskan (ay. 32) bahwa Allah telah menyerahkan Yesus Kristus bagi penebusan kita, maka Ia pasti mengaruniakan segala sesuatu kepada kita. Meski penderitaan dapat dialami oleh orang percaya, tetapi ada jaminan dari Allah (bdk. ay. 18). Persatuan dengan Kristus menjadikan orang percaya kuat dalam kasih kepada-Nya.
Kedua, meski orang-orang pilihan menerima berbagai hinaan dan gugatan, tetapi Allah akan melindungi dan bahkan menyelamatkan mereka dengan cara dan tujuan-Nya. Karya Allah dalam Kristus Yesus yaitu membenarkan orang-orang berdosa, merupakan karya yang luar biasa agungnya. Kristus mati, bangkit dan menjadi Pembela orang-orang percaya.
Kuasa Yesus Kristus sungguh ada dan nyata. Tak ada yang dapat melawannya. Itu sudah terbukti di sepanjang sejarah. Meski orang-orang percaya menderita, mereka akan dilindungi dengan dua cara yaitu: Tuhan menyelamatkan mereka dan mereka dapat memberikan kesaksian akan pertolongan Tuhan selagi mereka hidup, dan Tuhan menyelamatkan mereka dengan memberikan kehidupan baru dalam kerajaan-Nya (Tuhan mengakhiri kehidupan mereka di dunia untuk melanjutkan kehidupan bersama Dia di kerajaan-Nya). Persatuan dengan Kristus menjadikan orang percaya kuat dalam kasih kepada-Nya, baik dalam penderitaan, aniaya, kelaparan, kematian, dan sebagainya.
Ketiga, mereka yang percaya kepada Yesus Kristus berarti mereka yang mengasihi-Nya secara sungguh-sungguh, tak tergoyahkan. Ayat 35 menegaskan hal ini. Baik penindasan, kelaparan, ketelanjangan, bahaya, atau pedang tidak akan mampu memisahkan kita dari dari kasih Kristus. Kristus menjamin orang-orang percaya; Ia menguatkan dan memampukan orang-orang percaya menghadapi penderitaan, ancaman, bahaya, pedang, kelaparan, penindasan dan kondisi lainnya. Yesus Kristus berdaulat atas kehidupan umat-Nya. Ayat 37-39 juga merupakan penegasan Rasul Paulus mengenai kuatnya kasih Tuhan kepada umat-Nya. Meski orang percaya dianggap kalah di dunia (maksudnya mereka menderita, dianiaya, dibunuh, dan sebagainya), namun di mata Tuhan mereka adalah orang-orang yang lebih dari pada orang-orang yang menang (ay. 37). Mereka yang membunuh dan menganiaya orang percaya memang menang tetapi mereka kalah—mereka akan dihukum Tuhan di kemudian hari, sedangkan orang-orang percaya yang dibunuh dan dianiaya oleh mereka, meskipun dianggap kalah, tetapi mereka berbahagia dalam keyakinan iman dan kasih mereka kepada Tuhan, mereka mendapat upah dan jaminan kehidupan kekal di Kerajaan-Nya.
Penegasan Paulus sangatlah kuat yaitu: “Sebab aku yakin, bahwa baik maut, maupun hidup, baik malaikat-malaikat, maupun pemerintah-pemerintah, baik yang ada sekarang, maupun yang akan datang, atau kuasa-kuasa, baik yang di atas, maupun yang di bawah, ataupun sesuatu makhluk lain, tidak akan dapat memisahkan kita dari kasih Allah, yang ada dalam Kristus Yesus, Tuhan kita (ay. 38-39). Kasih kita kepada Yesus Kristus adalah implikasi faktual dari kasih Yesus kepada kita. Bukan kita yang mengasihi Allah, tetapi Allahlah yang mengasihi kita. Kasih kita kepada-Nya yang begitu kuat (menyatu) disebabkan karena kita dimampukan oleh-Nya. Kita dimampukan untuk tetap setia meskipun penderitaan dan segala sesuatu datang mengganggu iman dan kasih kita kepada-Nya.
Keempat, pemahaman Kristologi dari teks Roma 8 tadi mengantar kita kepada kedalaman karya dan kasih Allah kepada manusia berdosa. Ia telah menetapkan kita menjadi umat-Nya dan Ia meneguhkan itu dengan panggilan surgawi. Ia memanggil kita karena Ia menghendaki agar kita dibenarkan di dalam Yesus Kristus melalui kematian-Nya dan kebangkitan-Nya, agar kita dimuliakan-Nya. Ini sangat luar biasa.
Mengikut Yesus berarti mengasihi Dia dengan sepenuh hati, jiwa, kekuatan, dan akal budi. Ketika kita berkomitmen untuk mengasihi-Nya, maka secara langsung kita menjadi satu dengan Kristus—satu di dalam kasih. Kita dijaga-Nya, disayang, dikasihi, dilindungi, dan dimuliakan. Penderitaan bukanlah penghalang bagi kita untuk tidak mengasihi-Nya, tetapi justru dalam penderitaanlah, kasih kita kepada Yesus Kristus semakin kuat dan kokoh, tak tergoyahkan.
Ia tetap menjaga dan berdaulat atas kehidupan kita. Apakah kita masih ragu? Bukankah penderitaan, aniaya, kelaparan, pedang, penindasan, ketelanjangan, dan bahaya adalah kondisi-kondisi yang kadang membuat orang-orang yang tahu dan kenal Yesus meninggalkan imannya, menyangkal-Nya, dan mengkhianati-Nya? Bukankah mereka lebih memilih aman dan nyaman meski menyangkal imannya kepada Yesus Kristus? Itulah yang sering terjadi. Itulah fakta hidup yang mungkin pernah kita lihat.
PENUTUP
Kasih merupakan merupakan media pemersatu antara kita dengan Allah. Allahlah yang terlebih dahulu mengasihi kita, barulah kita mengasihi-Nya sebagai respons iman. Rasul Yohanes menegaskan: “Inilah kasih itu: Bukan kita yang telah mengasihi Allah, tetapi Allah yang telah mengasihi kita dan yang telah mengutus Anak-Nya sebagai pendamaian bagi dosa-dosa kita” (1 Yoh. 4:10), dan “Kita mengasihi, karena Tuhan lebih dahulu mengasihi kita” (1 Yoh. 4:19). Menyatu dengan Kristus berarti kita menyatakan kasih kita kepada-Nya dan kuat dalam iman.
Kondisi hidup bisa saja tidak sesuai atau tidak seperti yang kita harapkan, dan semua manusia dapat mengalaminya tanpa terkecuali, tetapi yakinlah bahwa Allah mengasihi kita. Ia menjamin dan menjaga kita. Apa pun di dunia boleh terjadi tetapi kasih Kristus kepada kita tak mungkin pudar atau hilang. Ia begitu mengasihi mereka yang ditetapkan, dipanggil, dan dibenarkan-Nya. Ia setia dan kita pun harus setia; Ia mengasihi kita dan kita pun harus mengasihi-Nya, selamanya.
Hidup dalam Tuhan merupakan suatu konteks kehidupan yang “menerima” dan “memberi”. Kita menerima secara benar (sikap hidup) dan menerima segala sesuatu yang benar dari Tuhan meskipun kadang kala kita sendiri tidak mengakuinya. Singkatnya, kita “memberi” dari apa yang Tuhan berikan kepada kita. Dua model kehidupan ini secara faktual dialami dan dilakukan oleh orang-orang Kristen dan Gereja di seluruh dunia. Dua model kehidupan ini pula menandai sebuah konteks di mana “mereka yang tahu bahwa segala sesuatu yang diterimanya adalah pemberian Tuhan, mampu bertindak memberi kepada sesamanya.”
Kekuatan sebuah relasi kehidupan dalam komunitas Gereja bergantung pada kedua hal ini. Gereja mula-mula menunjukkan bahwa “mereka hidup bersama dalam relasi kasih yang menerima dan memberi; segala kepunyaan mereka adalah kepunyaan bersama—selalu ada dari mereka yang menjual harta miliknya, lalu membagi-bagikannya kepada semua orang sesuai dengan keperluan masing-masing” (Kis. 2:44-45). Konsekuensi logis dari kondisi faktual kehidupan Gereja mula-mula adalah bahwa “mereka disukai semua orang”.
Ternyata, untuk menjadikan “Gereja itu disukai” bukan karena berapa banyak jumlah anggotanya, melainkan terletak paca “cara hidup yang menerima dan memberi”. Kondisi ini terus berlanjut. Kisah Para Rasul 4 mencatat bahwa: “segala sesuatu adalah kepunyaan mereka bersama” (ay. 32). Mungkin ini adalah dasar bahwa hasil dari menjual sebidang tanah, dapat dinikmati oleh semua anggota Gereja karena keadaan mereka adalah “hidup dalam kasih karunia yang melimpah-limpah” (ay. 33).
Kemudian, Lukas mencatat bahwa “tidak ada seorang pun yang berkekurangan di antara mereka; karena semua orang yang mempunyai tanah atau rumah, menjual kepunyaannya itu, dan hasil penjualan itu mereka bawa dan diletakkan di depan kaki rasul-rasul; lalu dibagi-bagikan kepada setiap orang sesuai dengan keperluannya. Salah satunya contohnya adalah Yusuf (disebut Barnabas) menjual ladang, miliknya, lalu membawa uangnya itu dan meletakkan di depan kaki rasul-rasul” (Kis. 4:34-37).
Pokok Bahasan
Judul artikel ini adalah bentuk “agere contra” (bertindak sebaliknya) dari teks yang kita baca, karena keluarga Ananias telah bersepakat untuk menahan sebagian hasil penjualan sebidang tanah milik mereka, dan “tidak mencerminkan sikap memberi atas dasar kerelaan.” Keluarga yang diberkati Tuhan—adalah keluarga yang memberi atas dasar kerelaan—tetapi yang ditemukan dalam teks Kisah Para Rasul 5, justru sebaliknya (agere contra): keluarga Ananias tidak tulus memberi kepada Tuhan.
“Memberi” adalah sikap hidup Gereja mula-mula. Menurut saya, sikap hidup “menerima dan memberi” telah berlangsung secara sehat di Gereja mula-mula. Ketulusan untuk “berbagi” dengan sesama anggota Gereja mendasari tindakan menjual tanah, ladang, dan rumah: hasilnya dibagikan kepada sesama sesuai keperluannya masing-masing, tidak lebih tidak kurang. Tidak ada yang mendapat lebih karena perbuatan pilih kasih melainkan, setiap anggota Gereja mendapatkan sesuatu sesuai keperluannya.
Jadi, motivasi menjual tanah, ladang, dan rumah, bukan untuk gaya-gayaan atau menyombongkan diri, melainkan untuk berbagi—“memberi”—karena mereka telah “menerima segala sesuatu” dari Tuhan. Akan tetapi, dalam keadaan demikian, muncul satu keluarga yaitu Ananias dan Safira yang juga ingin menunjukkan kebaikan mereka—menjual sebidang tanah—dengan motivasi yang berbeda seperti sedia kala.
Kita melihat beberapa fakta berikut ini:
PERTAMA: Ananias dan Safira menjual sebidang tanah. Ide Ananias untuk menahan sebagian hasil penjualan diketahui istrinya. Artinya, mereka “sepakat”. Ini contoh suami istri yang sepakat tapi dalam hal yang tidak berkenan kepada Tuhan. Suami tanya istri dan istri setuju, sebuah contoh kerja sama dalam berbuat kejahatan terhadap Roh Kudus.
KEDUA: Ananias menahan sebagian dari hasil penjualan tanah dan sisanya dibawa dan diletakkan di depan kaki rasul-rasul (ay. 2). Seperti sedia kala (bdk. Kis. 4:34-35, 36-37), hasil penjualan diletakkan di bawa kaki rasul-rasul sebagai bukti bahwa hal itu diketahui bersama, bukan sebaliknya, diberikan secara sembunyi-sembunyi. Para rasul juga menjaga identitas dan kekudusan hidup mereka. Mereka tidak membuat peluang untuk menerima hasil penjualan tanah secara personal, melainkan secara komunal. Setidaknya, ide untuk mengkorupsi hasil penjualan tanah, jauh dari pandangan para rasul.
KETIGA: Petrus tahu kemunafikan Ananias. Soal bagaimana Petrus mengetahui kemunafikan Ananias, tentu itu adalah pekerjaan Roh Kudus, meski dalam teks tidak disebutkan. Petrus menegaskan bahwa hati Ananias “dipenuhi” [πληρόω, plēroō] oleh Iblis (Satan). Akibatnya, Ananias mendustai Roh Kudus [pseusasthai se to pneuma to hagion]. Kehendak Satan bertentangan dengan kehendak Roh Kudus. Ketika seseorang dipenuhi (dikuasai) Iblis, maka ia pasti akan melakukan hal-hal yang bertentangan dengan kehendak Roh Kudus.
KEEMPAT: Petrus kemudian memberikan penegasan (ay. 4): Jika tanah belum dijual, itu adalah hak milik Ananias dan Safira. Demikian juga sesudah dijual, masih tetap dalam kuasa Ananias dan Safira. Lalu apa persoalannya? Mereka mendustai Roh Kudus”. Kemungkinan besar mereka “telah berjanji” akan mempersembahkan uang hasil penjualan tanah mereka kepada para rasul untuk kepentingan bersama, sebagaimana yang sedia kala terjadi dalam Gereja mula-mula. Atau mungkin karena mereka ingin “mencari nama” (atau mau dipuji-puji karena telah memberikan uang hasil jual tanah mereka) tetapi dengan motivasi yang tidak tulus.
KELIMA: Apa akibatnya dari motivasi yang tidak tulus itu? Akibatnya adalah pasca mendengar perkataan Petrus, Ananias rebah dan putuslah nyawanya (ay. 5). Safira juga demikian. Meski ia tidak tahu soal kematian suaminya karena telah mendustai Roh Kudus, tetapi ia meneguhkan pertanyaan Petrus mengenai harga tanah yang dipersembahkan oleh Ananias (ay. 8). Safira sebenarnya tahu bahwa harga tanah bukanlah sejumlah uang yang dipersembahkan oleh suaminya, tetapi karena mereka telah sepakat menahan sebagian hasilnya, maka Safira menjawab “betul”, harga tanah sesuai dengan yang dipersembahkan suaminya. Mungkin Petrus juga tahu harga jual tanah (sebagaimana yang pernah terjadi sebelumnya oleh anggota Gereja mula-mula yang menyerahkan uang hasil penjualan tanah mereka). Jadi ketika diserahkan uangnya, maka Petrus curiga jangan-jangan mereka telah mengurangi uang hasil jual tanah. Akhirnya, Safira rebah dan putus nyawanya.
KEENAM: Andai kata mereka tulus, pasti mereka tidak mati. Kematian mereka disebabkan ketamakan, kesombongan, dan tidak rela berbagi. Hanya karena ingin terlihat bahwa mereka peduli dengan sesama anggota Gereja, mereka mau menipu Roh Kudus. Mereka tidak tulus dan tidak sepenuh hati melayani Tuhan.
KETUJUH: Kejahatan dalam Gereja dapat timbul karena ingin mencari nama, ingin dipuji-puji tetapi tidak tulus melayani. Hanya ingin terlihat sibuk melayani, hanya ingin terlihat suka memberi supaya dilihat orang.
KEDELAPAN: Dua peristiwa tersebut menimbulkan “ketakutan” di Gereja mula-mula (ay. 5 dan 11). Tuhan seringkali menggunakan mukjizat dan kematian untuk menegur manusia agar mereka tidak main-main dengan Tuhan.
KESEMBILAN: Keluarga Ananias dan Safira tidak memberi atas dasar kerelaan: “mereka ingin memberi tapi tidak rela kehilangan.” Memberi memang akan kehilangan tetapi Tuhan akan memberkati orang yang suka memberi. Pendek kata, mereka tidak tulus memberi. Memberi hanya ingin terlihat dermawan, tetapi sebetulnya mereka munafik. Memberi hanya ingin terlihat mereka peduli, tetapi justru menipu Roh Kudus.
Aplikasi
Apa yang dapat dipetik dari kisah keluarga Ananias? Apa yang sesungguhnya dilakukan oleh keluarga Kristen untuk memberi dengan dasar kerelaan?
Pertama, hidup dalam Tuhan merupakan kehidupan yang “menerima” dan “memberi”. Keluarga Kristen adalah keluarga yang harus memberi secara tulus kepada Tuhan karena Tuhan terlebih dahulu memberkati keluarga Kristen.
Kedua, Keluarga Kristen harus menunjukkan pola hidup bersama dalam relasi kasih yang menerima dan memberi. Keluarga yang diberkati adalah keluarga yang menyadari bahwa mereka telah menerima segala sesuatu dari Tuhan, dan mereka harus “memberi” kepada sesama anggota Gereja.
Ketiga, Keluarga Kristen harus menunjukkan bahwa memberi kepada sesama menghasilkan penilaian orang lain dan dapat membuka peluang bahwa keluarga Kristen disukai oleh orang lain, dan tidak menutup kemungkinan, mereka menjadi tertarik untuk bergabung ke dalam komunitas Gereja di mana keluarga Kristen itu berada.
Keempat, keluarga Kristen yang berniat untuk berbagi (membagi) sesuatu kepada sesama anggota Gereja, harus dilandasi dengan kerelaan, ketulusan, dan kasih yang murni, agar hati Tuhan disenangkan dan nama-Nya dimuliakan. Keluarga Kristen adalah keluarga yang menunjukkan “cara hidup yang menerima dan memberi”.
Kelima, keluarga Kristen: suami dan istri, bahkan anak-anak, haruslah satu hati (sepakat) untuk menyatakan sikap hidup “memberi” tanpa ada motivasi yang keliru, bukan untuk tujuan supaya dikenal dan dipuji-puji, melainkan supaya sesama anggota Gereja mendapatkan manfaat dari apa yang dibagikan.
Pernahkah kita terlihat ambisius terhadap sesuatu? Pernahkah kita menonjolkan diri mengenai hal-hal tertentu? Pernahkah kita menjadi sedikit tinggi hati ketika orang lain memuji-muji kita? Atau pernahkah kita terlihat hebat padahal sebenarnya tidak?
Ada serentetan pertanyaan yang dapat diajukan terutama mengenai “kita dan kehidupan”. Apa yang menarik dari diri kita? Apa yang menarik dari kehidupan yang kita jalani? Bukankah ragam kehidupan telah menjadi bagian dari pembentukan karakter dan kerohanian kita? Apa yang harus kita kerjakan bagi kemuliaan nama Tuhan? atau mungkin selama ini kita justru mengerjakan sesuatu bagi kemuliaan diri kita?
Kita dan kehidupan telah menyeret logika, emosi, dan jati diri kita agar terlihat di depan umum. Ragam percakapan juga menjadi bagian realisasi potensi yang kita miliki. Kita hidup dalam dunia yang majemuk pada segala bidang. Lalu, dengan pongah kita merasa di atas angin, tahu segalanya. Apakah ini kehidupan kita?
Faset kehidupan menyita perhatian kita, dan kita ada di dalamnya. Kita bergerak, jatuh bangun, dan menjatuhkan orang lain, di samping membangunkan orang lain. Jatuh bangun adalah hal lumrah; itulah yang menyatakan bahwa pada faset tertentu kita kuat, dan pada faset lainnya kita lemah. Kita merangkum semua makna dan pesan hidup sesuai dengan kesadaran dan tendensi.
Pada kenyataannya, kita diperhadapkan dengan banyak faset dan di situ kita melihat, menarik kesimpulan, mengumpulkan makna dan pesan, membuang sesuatu, memikirkan masa depan, dan masih banyak lagi. Kita dan kehidupan menjadi fakta yang harus dilalui yang dengannya asa digapai.
Pada akhirnya, kita terus bergumul dengan kehidupan. Tak ada yang bebas dari pergumulan. Faset-faset yang kita maknai juga menjadi bagian dari pergumulan. Alhasil, iman dan pengetahuan kita dibentuk dan terbentuk melalui faset-faset tersebut.
Kita kemudian menawarkan segala sesuatu sesuai harapan dan kehendak kita kepada orang lain dan berharap mereka menemukan sesuatu dari tawaran kita. Akan tetapi, seyogianya kita tawarkan dulu kepada diri kita sendiri, berbenah diri, dan mengembangkan potensi diri untuk mengisi faset-faset hidup yang kita inginkan. Di sana kita akan berbahagia karena kita telah “menjadi berkat bagi orang lain”.
Lihatlah diri kita sebelum melihat diri orang lain. Pikiran dan perkataan kita adalah “cermin kehidupan” yang bisa menjadi baik dan bisa menjadi buruk pada faset-fasetnya. Jika ini yang menjadi perjuangan kita, maka kita dan kehidupan yang diberikan Tuhan, haruslah digunakan untuk hal-hal yang bermanfaat, membangun, dan memperkuat kualitas iman, kasih, dan pengetahuan. Di situlah kita “berbuah” bagi Tuhan.
Niscaya, Tuhan menolong, menopang, dan memberkati upaya yang kita lakukan bagi kemuliaan nama-Nya. Tuhan semakin besar, dan kita semakin kecil.
Kita dan kehidupan memperlihatkan fakta yang menarik, mendorong kita untuk berjuang, bergumul, dan berkisah tentang segala sesuatu yang terhubung dengan Tuhan, diri kita sendiri, lingkungan, masyarakat (mikro dan makro), dan orang-orang yang kita kasihi. Jadilah manusia-manusia yang “hidup” – memandang anugerah dan kemurahan Tuhan sebagai “hadiah” terindah yang patut disyukuri dan dikisahkan, selamanya.
Kita terbiasa memberikan sesuatu untuk dan kepada orang lain, dan dengan kebiasaan itu, kita pun menyatakan bahwa “CINTA INI UNTUKMU SAYANGKU”, atau ungkapan lain yang senada. “Untukmu, kekasih hati” adalah pernyataan umum dalam dunia percintaan, baik yang baru menjalin hubungan (berpacaran), yang telah menjalaninya dalam kurun waktu yang cukup lama, hingga mereka yang telah menikah.
Tak ada problem dalam pernyataan itu. Itu lumrah dan bahkan perlu diungkapkan. Lebih dari itu, kata “untukmu” mengindikasikan adanya sesuatu yang diberikan, entah perasaan cinta, cincin (harga murah dan mahal), barang tertentu, cokelat, buku, handphone, lemari, dan sebagainya. “Untukmu” adalah ungkapan kasih yang terdalam; sebuah kasih yang memberi, kasih yang berkorban. Kecuali dengan motivasi yang berbeda dan tersembunyi, maka kata “Untukmu” hanyalah slogan semata dan berpotensi merusak dan menghancurkan diri dan masa depan.
Kata “untukmu” bisa berakibat fatal ketika kita tahu belakangan bahwa orang yang mengatakan “untukmu” ternyata hanyalah memperalat kita, hanya memuaskan hawa nafsunya setelah dia mengambil sesuatu yang berharga dalam hidup (maksudnya celana terbuka, dan seterusnya, silakan dilanjutkan sesuai selera dan pengalaman [?]), sesuatu yang mewah (rumah, mobil, dan sebagainya), dan lain sebagainya. Kata “Untukmu” jangan mudah dipercaya dalam konteks tertentu. Seseorang harus paham “siapa” yang mengatakan dan memberinya. Memang, manusia tidak memiliki potensi membaca masa depan, apa yang akan terjadi di kemudian hari dengan cinta yang dijalaninya, tetapi setidaknya manusia punya potensi untuk mengantisipasi segala sesuatu dengan pertimbangan yang dia pilih.
Ungkapan “UNTUKMU, KEKASIH HATI” menegaskan bahwa kasih yang memberi itu telah diwujudkan; ya, diwujudkan oleh kita yang tulus mengasihi, mencintai, dan menyanyangi pasangan kita. Apa saja bisa kita berikan kepada kekasih hati, sebagai bukti betapa kuatnya dan seriusnya cinta yang diberikan. Dengan demikian, kita tahu dan kekasih hati pun tahu bahwa ternyata cinta itu adalah “memberi”—ya, memberi sesuatu dengan ketulusan dan harapan bahwa paduan kasih dan cinta semakin lengket kayak prangko.
Tantangan dan hambatan tentu ada; itu tak dapat kita duga sebelumnya. Eksistensi “rasa-rasa yang lain” bisa saja berkeliaran di sekitar kita; ia menawarkan senyuman, keseksian, ketampanan, kenafsuan yang menggoda, celana kurang bahan, belahan dada, dan sederet kelebihan yang berpotensi merusak nafsu kudus menjadi nafsu liar tak terkendali.
Kita yang masih sadar akan munculnya bahaya dan tantangan yang begitu menggoda, perlu menjaga diri, berdoa, dan berpegang teguh pada janji cinta, pada harapan cinta yang didambakan sejak awal menaiki perahu hidup, dan telah bersama-sama mendayungnya untuk berhadap sampai di tujuan yang diharapkan.
Dayunglah perahu hidup (baca: cinta); kemudikanlah dengan baik, sesekali belok kanan belok kiri supaya semakin asyik dan mengesankan; apalagi disertai canda tawa, goresan tinta atau arang di pipi, dan senyuman sang kekasih. Aduhai…. Mana tahan. Pasti bisa ditahan. Tunggulah waktu yang tepat untuk melabuhkan perahu cinta.
Hanya kitalah pemegang harapan cinta, karena kita sendiri yang berjanji, mengakui, dan menyatakan bahwa “UNTUKMU, KEKASIH HATIKU”, untukmu cinta, harapan, dan kebahagiaan agar kita—bersama-sama—menggapai masa depan. Berilah kepada kekasih hati kita apa yang perlu, apa yang menguatkan hati dan perasaan, selamanya….