
Problem hidup menyisahkan tanda tanya bagi kita, entah terhadap diri kita sendiri, keadaan, orang terdekat kita, atau bahkan tanda tanya kita terhadap Tuhan. Problem hidup dapat menimpa siapa saja; dia tidak pandang bulu. Akan tetapi, problem hidup yang kita alami, di mata Tuhan bertujan “melatih kita” untuk tetap kuat dalam iman dan pengharapan agar menghasilkan ketaatan kepada-Nya. Singkatnya: “ketangguhan hati”.
Apa yang menarik dari ketangguhan hati? Tentu hal ini sangatlah menarik dan inspiratif. Ada berbagai kisah yang mendorong kita untuk kuat menghadapi berbagai problem. Kisah-kisah tersebut juga menginspirasikan kita untuk meneladani bagaimana “hati yang tangguh” itu dapat menggiring kehidupan seseorang kepada kehidupan yang berkemenangan, kehidupan yang berhasil dan penuh berkat.
Ada satu kisah menarik. Seorang Ibu yang mengalami depresi berat karena tekanan dan problem hidupnya sangatlah rumit. Ia berkeputusan untuk mengakhiri hidupnya dengan bayinya yang baru dilahirkan. Bayi tersebut divonis dokter hanya hidup selama beberapa bulan. Suami dari Ibu tersebut pergi meninggalkannya. Pula problem lainnya menggerogoti harapannya untuk bertahan hidup.
Ia hanya sempat berucap, Tuhan, jika Engkau ada, buktikan bahwa saya dapat keluar dari masalah-masalah yang saya hadapi. Singkat cerita, ia tidak jadi bunuh diri bersama bayinya. Ia kemudian dipulihkan Tuhan. Proses hidupnya telah menempa hati dan pikirannya. Hatinya yang tangguh menghadapi problem-problem hidup—meski sempat putus asa karena beratnya tekanan hidup dan rasa kecewa dan sakit luar biasa yang menyelimuti hatinya—telah membawanya kepada kebahagiaan yang kemenangan. Tuhan benar-benar memulihkannya.
Ketangguhan hati seringkali diperhadapkan dengan pilihan hidup atau mati. Seringkali kata hati mengikuti pertimbangan akal budi. Sebaliknya, akal budi mengikuti kata hati. Semuanya bergantung konteks dan pilihan kita.
Terkadang, problem hidup menjadi “media” bagi kita untuk semakin kuat dalam iman dan harap kepada Tuhan. Problem hidup menguatkan sendi-sendi dalam tubuh kita; tak jarang, mendorong kita untuk menunjukkan potensi diri, segala upaya dikerahkan untuk bertahan hidup dan mencapai tujuan.
Tuhan tahu batas kemampuan kita. Ia melatih kita untuk setia dan taat akan firman-Nya. Ia menolong kita; Ia menopang kita. Seperti yang ditegaskan Rasul Paulus: “Sebab Allah setia dan karena itu Ia tidak akan membiarkan kami dicobai melampaui kekuatanmu. Pada waktu kamu dicobai Ia akan memberikan kepadamu jalan keluar, sehingga kamu dapat menanggungnya” (1 Korintus 10:13). Pencobaan itu bisa bermacam-macam. Tetapi intinya adalah: “Tuhan menopang dan menolong kita”.
Kisah Ibu di atas adalah salah satu contohnya. Mungkin kita juga pernah merasakan topangan dan pertolongan Tuhan. Kita bersyukur atas kebaikan dan kemurahan-Nya. Hati kita menjadi tangguh disebabkan karena kita telah melewati berbagai problem dan gumul juang hidup ini. Tak ada bukti ketangguhan hati tanpa melalui proses keluar dari problem dan gumul juang hidup. Hati yang tangguh adalah bukti bahwa seseorang telah berhasil keluar dari problem dan gumul juang hidup.
Bagaimana dengan kita? Sudahkah kita melihat kepada Tuhan saat kita tertekan, bergumul, dan berjuang? Sudahkah kita berhadap dan bersandar pada-Nya? Perjuangan kita berbeda-beda. Gumul juang kita juga berbeda-beda. Yang sama adalah “Juruselamat kita” yaitu Yesus Kristus. Ia memberikan kelegaan, sukacita, damai sejahtera, dan jalan keluar dari setiap problem dan gumul juang.
Ketaatan kita kepada-Nya menjadi kunci kehidupan. Kita yang senantiasa berhadap dan bersandar pada-Nya akan diberikan kelegaan dan sukacita. Ketika itu terjadi, kita dapat membagikannya kepada sesama kita; kita menjadi teladan dan berkat bagi mereka. Kita telah dipulihkan Tuhan, kini, kita pun menolong memulihkan kehidupan dari mereka yang hancur, tertekan, dan hampir binasa.
Ketika kita telah ditolong dan dipulihkan Tuhan, jangan lupa untuk menjadi penolong dan pemulih bagi sesama kita. Kita tidak hidup sendiri; kita hidup bersama di dunia ini. Kita yang taat kepada-Nya haruslah menjadi orang yang rendah hati dan peduli. Ketaataan kita sangatlah penting karena Tuhan menghendaki demikian.
Nantikanlah pertolongan-Nya dengan hati yang taat. Kita akan ditempa oleh-Nya untuk menghasilkan hati yang tangguh. Jika Tuhan di pihak kita, siapakah lawan kita?
Salam Bae










