KETANGGUHAN HATI

Sumber gambar: photoshopcctutorial.com/vijay-mahar-manipulation-backgrounds-download-pack-1/

Problem hidup menyisahkan tanda tanya bagi kita, entah terhadap diri kita sendiri, keadaan, orang terdekat kita, atau bahkan tanda tanya kita terhadap Tuhan. Problem hidup dapat menimpa siapa saja; dia tidak pandang bulu. Akan tetapi, problem hidup yang kita alami, di mata Tuhan bertujan “melatih kita” untuk tetap kuat dalam iman dan pengharapan agar menghasilkan ketaatan kepada-Nya. Singkatnya: “ketangguhan hati”.

Apa yang menarik dari ketangguhan hati? Tentu hal ini sangatlah menarik dan inspiratif. Ada berbagai kisah yang mendorong kita untuk kuat menghadapi berbagai problem. Kisah-kisah tersebut juga menginspirasikan kita untuk meneladani bagaimana “hati yang tangguh” itu dapat menggiring kehidupan seseorang kepada kehidupan yang berkemenangan, kehidupan yang berhasil dan penuh berkat.

Ada satu kisah menarik. Seorang Ibu yang mengalami depresi berat karena tekanan dan problem hidupnya sangatlah rumit. Ia berkeputusan untuk mengakhiri hidupnya dengan bayinya yang baru dilahirkan. Bayi tersebut divonis dokter hanya hidup selama beberapa bulan. Suami dari Ibu tersebut pergi meninggalkannya. Pula problem lainnya menggerogoti harapannya untuk bertahan hidup.

Ia hanya sempat berucap, Tuhan, jika Engkau ada, buktikan bahwa saya dapat keluar dari masalah-masalah yang saya hadapi. Singkat cerita, ia tidak jadi bunuh diri bersama bayinya. Ia kemudian dipulihkan Tuhan. Proses hidupnya telah menempa hati dan pikirannya. Hatinya yang tangguh menghadapi problem-problem hidup—meski sempat putus asa karena beratnya tekanan hidup dan rasa kecewa dan sakit luar biasa yang menyelimuti hatinya—telah membawanya kepada kebahagiaan yang kemenangan. Tuhan benar-benar memulihkannya.

Ketangguhan hati seringkali diperhadapkan dengan pilihan hidup atau mati. Seringkali kata hati mengikuti pertimbangan akal budi. Sebaliknya, akal budi mengikuti kata hati. Semuanya bergantung konteks dan pilihan kita.

Terkadang, problem hidup menjadi “media” bagi kita untuk semakin kuat dalam iman dan harap kepada Tuhan. Problem hidup menguatkan sendi-sendi dalam tubuh kita; tak jarang, mendorong kita untuk menunjukkan potensi diri, segala upaya dikerahkan untuk bertahan hidup dan mencapai tujuan.

Tuhan tahu batas kemampuan kita. Ia melatih kita untuk setia dan taat akan firman-Nya. Ia menolong kita; Ia menopang kita. Seperti yang ditegaskan Rasul Paulus: “Sebab Allah setia dan karena itu Ia tidak akan membiarkan kami dicobai melampaui kekuatanmu. Pada waktu kamu dicobai Ia akan memberikan kepadamu jalan keluar, sehingga kamu dapat menanggungnya” (1 Korintus 10:13). Pencobaan itu bisa bermacam-macam. Tetapi intinya adalah: “Tuhan menopang dan menolong kita”.

Kisah Ibu di atas adalah salah satu contohnya. Mungkin kita juga pernah merasakan topangan dan pertolongan Tuhan. Kita bersyukur atas kebaikan dan kemurahan-Nya. Hati kita menjadi tangguh disebabkan karena kita telah melewati berbagai problem dan gumul juang hidup ini. Tak ada bukti ketangguhan hati tanpa melalui proses keluar dari problem dan gumul juang hidup. Hati yang tangguh adalah bukti bahwa seseorang telah berhasil keluar dari problem dan gumul juang hidup.

Bagaimana dengan kita? Sudahkah kita melihat kepada Tuhan saat kita tertekan, bergumul, dan berjuang? Sudahkah kita berhadap dan bersandar pada-Nya? Perjuangan kita berbeda-beda. Gumul juang kita juga berbeda-beda. Yang sama adalah “Juruselamat kita” yaitu Yesus Kristus. Ia memberikan kelegaan, sukacita, damai sejahtera, dan jalan keluar dari setiap problem dan gumul juang.

Ketaatan kita kepada-Nya menjadi kunci kehidupan. Kita yang senantiasa berhadap dan bersandar pada-Nya akan diberikan kelegaan dan sukacita. Ketika itu terjadi, kita dapat membagikannya kepada sesama kita; kita menjadi teladan dan berkat bagi mereka. Kita telah dipulihkan Tuhan, kini, kita pun menolong memulihkan kehidupan dari mereka yang hancur, tertekan, dan hampir binasa.

Ketika kita telah ditolong dan dipulihkan Tuhan, jangan lupa untuk menjadi penolong dan pemulih bagi sesama kita. Kita tidak hidup sendiri; kita hidup bersama di dunia ini. Kita yang taat kepada-Nya haruslah menjadi orang yang rendah hati dan peduli. Ketaataan kita sangatlah penting karena Tuhan menghendaki demikian.

Nantikanlah pertolongan-Nya dengan hati yang taat. Kita akan ditempa oleh-Nya untuk menghasilkan hati yang tangguh. Jika Tuhan di pihak kita, siapakah lawan kita?

Salam Bae

TETAPLAH SETIA: Refleksi Wahyu 2:8-11

Sumber gambar: https://id.pinterest.com/pin/806355508282238686/

Tuhan selalu menunjukkan kepedualian-Nya melalui berbagai cara, dan dalam konteks ini, Tuhan memberikan “firman”—sebuah konfirmasi faktual dan solusi yang diberikan-Nya—kepada Gereja di Smirna (modern: Izmir). Alasan pemberian firman kepada mereka adalah karena Tuhan ingin mengingatkan tentang bagaimana proses mempertahankan dan menjaga iman secara konsisten kepada-Nya dalam lingkungan (dunia) di mana mereka hidup; lingkungan bisa menjadi media bagi pertumbuhan iman sekaligus menjadi media yang merusak iman—tergantung dari apa yang terjadi di sana.

Dari konteks tersebut, kita dapat bercermin melihat diri (baca: Gereja) kita; apa yang telah kita kerjakan dan apa yang telah kita lalaikan. Sejatinya, proses mempertahankan iman dalam bentuk konsistensi. Memang tidak mudah, tetapi komitmen dan kesetiaan, serta pandangan kita ke depan akan sangat menentukan bagaimana sikap kita dalam menjalani kehidupan ini. Iman memang akan terus berhadapan dengan “dunia” dan segala sesuatu yang ada di dalamnya. Pertarungan iman akan menjadi kondisi yang menegangkan sekaligus menentukan; seperti apa komitmen dan kesetiaan kita kepada Yesus Kristus sangat bergantung pada konteks relasi, tantangan, dan hambatan.

Dengan melihat pada Gereja di Smirna, setidaknya kita dapat mengambil beberapa kesimpulan mengenai kehidupan, kondisi, dan perjuangan mereka dalam mempertahankan kesetiaan (keimanan) mereka kepada Yesus Kristus.

  1. Smirna (terletak di pantai barat Asia Kecil, memiliki pelabuhan dan menjadi kota perniagaan, maju pesat. Menurut Simon J. Kistemaker, penduduk Yahudi di Smirna cukup besar dan memusuhi Gereja lokal (bdk. ay. 9). Permusuhan ini membuat mereka terlibat dalam kematian Polikarpus (yang menjadi Uskup Smirna selama bertahun-tahun) pada 23 Februari 155 karena dia (Polikarpus) menolak menyangkal nama Yesus Kristus. Polikarpus tetap setia hingga akhir hayatnya. Ini sebuah fakta yang menunjukkan bahwa kesetiaan kepada Yesus tidak hanya diluapkan melalui kata-kata atau pelayanan semata, tetapi ketika berhadapan dengan penderitaan, tantangan, hingga kematian.
  2. Ay. 8 membuktikan bahwa konfirmasi sumber firman itu sangatlah menentukan. Bukan hanya soal isi, tetapi otoritas dari yang memberikan firman. Sumber firman berasal dari “Yang Awal dan Yang Akhir”, yang telah mati dan hidup kembali. Keutuhan dari personalitas sumber firman merujuk kepada Yesus Kristus. Ia yang mati dan bangkit menunjukkan otoritas-Nya atas semua Gereja termasuk Smirna.
  3. Ay. 9. Yesus tahu kesusahan dan kemiskinan  Gereja di Smirna. Namun mereka kaya, meski difitnah. Kesusahan berarti hidup dalam penganiayaan dan berbagai kesulitan. Kemiskinan yang dialami oleh Gereja Smirna merujuk pada kemiskinan yang hina dari seorang pengemis. Meski demikian, mereka “kaya” secara rohani.
  4. Orang Yahudi di Smirna menolak mengakui Yesus sebagai Mesias; mereka memaki Yesus dan pengikut-Nya. Itu sebabnya Yesus menyebut mereka (orang Yahudi) sebagai jemaat Iblis.
  5. Ay. 10, Yesus memberikan penguatan kepada Gereja Smirna: “Jangan takut”. Orang Kristen di Smirna sedang berhadapan dengan peperangan rohani melawan Iblis. Mereka diminta waspada karena Iblis akan menghasut penguasa supaya beberapa anggota Gereja dipenjara dan kemungkinan besar akan dibunuh. Meski demikian, iman kepada Yesus harus tetap dipertahankan. Meski mengalami tekanan dan kesusahan, namun Tuhan tetap ada di pihak mereka dan menjamin kehidupan kekal bagi mereka yang mati bagi Dia.
  6. Menderita “selama sepuluh hari” adalah symbol bagi lengkapnya periode penderitaan, yang bukannya lama atau singkat tetapi penuh, karena akhirnya sudah pasti (tafsiran Isbon T. Beckwith).
  7. Penguatan dari “Sumber Kekuatan” adalah dengan berkata: Hendaklah engkau setia sampai mati, dan Aku akan mengaruniakan kepadamu mahkota kehidupan. Mereka diperintahkan bukan setia kepada pengauasa Yunani atau pemerintahan Romawi, melainkan kepada Kristus Yesus.
  8.  “Hendaklah engkau setia sampai mati” adalah konfirmasi bahwa baik hidup maupun mati, ada dalam kehendak dan kedaulatan Yesus Kristus. Ada jaminan yang teramat luar biasa dari mereka yang setia sampai mati, yaitu “Mahkota Kehidupan”—sebuah kepenuhan hidup, melambangkan sukacita dan kegembiraan kemuliaan dan kekekalan yang paling tinggi (Richard C. Trench, Synonyms of the New Testament). Menurut Kistemaker, jika orang-orang kudus di Smirna membayar kesaksian Kristus dengan hidup mereka, maka mereka akan beroleh hidup yang tidak bisa binasa dalam kemuliaan kekal.
  9. Ay. 11, konsekuensi logis dari orang percaya yang memiliki telinga adalah “mendengar apa yang dikatakan Roh kepada Gereja-Gereja.” Mendengar adalah salah satu bagian penting dari bagaimana seseorang menjadi “paham” mengenai beriman kepada Yesus. Ya, mendengar firman-Nya, tentunya, dan bukan yang lain, yaitu ajaran-ajaran yang menyesatkan. Telinga dipakai untuk mendengar firman dan lebih dari itu, memahaminya, serta menerapkannya dalam kehidupan sehari-hari.
  10. Jika Gereja Smirna yang telah menunjukkan kesetiaannya kepada Yesus, tentu kesetiaan itu juga didasarkan pada bagaimana mereka mendengar ajaran-ajaran yang benar mengenai Yesus Kristus.
  11. Siapa yang setia pasti akan menang, dan meski ia menderita, bahkan mati pada proses merealisasikan iman di dunia di mana ia tinggal, ia tidak akan mengalami penderitaan pada kematian yang kedua.

Gereja Smirna adalah salah satu gambaran penting yang bisa diteladani oleh Gereja di masa sekarang. Tantangan yang dihadapi Gereja, bahkan hambatan yang dialami seharusnya mendorong Gereja untuk tetap setia, semangat, dan berjuang melayani Tuhan. Kita dapat belajar dari mereka, belajar dari Polikarpus; kesetiaan mereka kepada Yesus Kristus telah meninggalkan jejak-jejak iman untuk kita teladani dan wartakan.

Melayani tak pernah tanpa hambatan dan tantangan. Justru melalui hal-hal tersebut, Gereja semakin kuat, setia, dan menunjukkan identitasnya kokoh dalam firman Tuhan. Gereja adalah agen pelayanan, agen kesetiaan, dan agen keteladanan.

Amin

Salam Bae…

MEMAHAMI MAKSUD TUHAN DALAM KONTEKS “KORBAN”: Refleksi Imamat 7:22-27

Sumber gambar: https://id.pinterest.com/pin/295478425555643313/

PENDAHULUAN

Teks yang kita baca berbicara mengenai “konteks korban api-apian bagi TUHAN” (yakni korban penebus salah, yaitu korban untuk menebus dosa yang sengaja dilakukan) yang dengannya, korban tersebut memiliki aturan main tersendiri yang ditetapkan Tuhan. Akan tetapi, dalam teks ini pula, tercipta ruang perdebatan antara kalangan yang menolak memakan darah dan kalangan yang bisa memakan darah. Dua kalangan ini hingga sekarang masih eksis untuk mempublikasikan pemikiran mereka mengenai “darah”: apakah darah bisa dimakan atau tidak. Tapi di sini saya tidak mempertunjukkan perdebatan itu secara elaboratif.

KONTEN

Secara kasat mata, teks ini berbicara mengenai larangan makan lemak dan darah. Dua pertanyaan muncul di sini: lemak dan darah yang mana, dan lemak dan darah dalam hal apa? Untuk pertanyaan pertama, dalam teks dijelaskan bahwa lemak yang dilarang untuk dimakan adalah segala lemak dari lembu, domba ataupun kambing. Lemak bangkai atau lemak binatang yang mati diterkam boleh dipergunakan untuk segala keperluan, tetapi jangan sekali-kali kamu memakannya (ay. 23-24).

Pertanyaan kedua, dapat dijawab dengan menjelaskan bahwa lemak dan darah yang dilarang untuk dimakan adalah karena lemak dan darah tersebut adalah bagian dari korban api-apian yang diberikan kepada TUHAN (ay. 25). Konteks ini menjadi “pemahaman mendasar” dari larangan memakan lemak dan darah.” Artinya, segala sesuatu ada konteksnya.

Lalu bagaimana dengan darah? Darah apa yang dilarang untuk dimakan? Ayat 26 menjelaskannya: janganlah memakan darah apapun di segala tempat kediamanmu, baik darah burung-burung ataupun darah hewan. Pertanyaannya, mengapa dilarang? Kita harus kembali memahami konteksnya. Jangan memisahkan kesatuan konteks dari teks yang kita baca. Jika kita memisahkannya, maka hasilnya adalah pemahaman yang keliru dan bisa berpotensi pada kesalahpahaman konteks. Darah yang dimaksud masih tetap sama, yang itu darah dari korban yang dipesembahkan kepada TUHAN, tidak boleh dimakan. Itu saja.

Pertama, setiap korban yang ditujukan kepada TUHAN, haruslah murni hanya diberikan kepada TUHAN. Jangan mencuri dari korban persembahan itu atau jangan mencari keuntungan dari korban itu (bdk. 7:2-5). Dalam hal ini adalah korban penebus salah, yang jelas-jelas korban itu adalah korban untuk menebus dosa umat Israel yang secara sengaja melakukan dosa (kontra korban penghapus dosa). Itulah maksud dari korban api-apian kepada Tuhan.

Kedua, korban penebus salah yang dipersembahkan kepada TUHAN sebagaimana dijelaskan di atas, diperuntukkan—pasca dibakar—bagi imam yang mengadakan pendamaian itu (lih. ay. 6-8).

“Setiap laki-laki di antara para imam haruslah memakannya; haruslah itu dimakan di suatu tempat yang kudus; itulah bagian maha kudus. Seperti halnya dengan korban penghapus dosa, demikian juga halnya dengan korban penebus salah; satu hukum berlaku atas keduanya: imam yang mengadakan pendamaian dengan korban itu, bagi dialah korban itu. Imam yang mempersembahkan korban bakaran seseorang, bagi dia juga kulit korban bakaran yang dipersembahkannya itu.”

Ketiga, TUHAN menetapkan bahwa apa pun persoalan umat-Nya, TUHAN menjadi yang utama, tidak boleh dicampur dengan kepentingan pribadi, seolah-olah TUHAN setuju dengan tindakan kemunafikan umat-Nya.

Keempat,  persembahan yang untuk TUHAN harus dipahami secara baik dan mengikuti ketentuan-ketentuan yang ditetapkan-Nya. Tentu setiap korban ada maksud TUHAN di dalamnya, dan setiap korban yang dipersembahkan kepada-Nya, memiliki konteksnya masing-masing, baik korban keselamatan, korban sajian, korban penebus salah, korban penghapus dosa, dan korban bakaran.

PESAN BAGI KITA

Pertama, segala sesuatu yang telah kita tetapkan untuk diberikan kepada Tuhan, maka harus murni diberikan kepada Tuhan terlebih dahulu. Jangan mencuri dari apa yang telah dipersembahkan kepada Tuhan dan jangan mencari keuntungan dari segala sesuatu yang telah kita berikan kepada Tuhan. Ia lebih tahu apa yang kita butuhkan (perlukan). Tetapi Tuhan harus diutamakan terlebih dahulu.

Kedua, apa yang telah kita berikan kepada Tuhan, pasti Tuhan akan membalasnya dengan memberikan berkat-Nya yang melimpah.

Ketiga, TUHAN menetapkan bahwa apa pun persoalan kita, Tuhanlah yang menjadi utama, tidak boleh bimbang atau ragu; yakinlah bahwa Tuhan sanggup melakukan segala sesuatu, memberikan yang terbaik bagi kita, dan pertolongan-Nya tak pernah terlambat.

Keempat,  apa yang kita persembahkan kepada Tuhan haruslah yang terbaik; jangan berikan kepada Tuhan yang jelek dan buruk. Tuhan telah memberikan yang terbaik kepada kita, bagaimana mungkin kita memberikan yang terburuk kepada-Nya?

Salam Bae…

KESETIAAN MEMBAWA KEPADA KEHIDUPAN KEKAL: Homili Wahyu 3:1-20

Sumber gambar: https://twitter.com/In2itiveLB/status/533061249068982272/photo/1

LATAR BELAKANG

Rasul Yohanes menulis tujuh surat kepada jemaat di Provinsi Asia. Tujuh surat kepada jemaat di Provinsi Asia tampaknya menunjukkan Yohanes telah mengenal kondisi rohani setiap jemaat. Di sepanjang Kitab Wahyu, Yohanes menyinggung penganiayaan yang dihadapi umat Allah. Ia memberi tahu jemaat Smirna, “Iblis akan melemparkan beberapa orang dari antaramu ke dalam penjara supaya kamu akan dicobai, dan kamu akan beroleh kesusahan selama sepuluh hari (2:10). Ia berbicara tentang orang kudus yang dibunuh (2:13), dan memperingatkan jemaat akan hari pencobaan (3:10). Nero memang melampiaskan amarahnya kepada orang Kristen pada tahun 60-an, sementara pendukung penanggalan akhir (Kitab Wahyu) merujuk penganiayaan Domitianus pada pertengahan tahun 90-an.

Klemen dari Aleksandria di awal abad ketiga mencatat hanya Nero dan Domitianus, para kaisar yang memfitnah dan menuduh orang Kristen (Eusebius, Ecclesiastical History, terj. Kirsopp Lape dan J. E. L. Oulton. 2 Vol. Loeb Classical Library. London: Heinemann; Cambridge, Mass.: Harvard University Press, 1980. 4.26.9), dikutip Kistemaker, “Tafsiran Kitab Wahyu”, 37.

Tidak dapat disangkal bahwa Kitab Wahyu berbicara tentang aniaya dan penderitaan. Kitab ini menyajikan sejarah dan nubuat, realisme dan idealisme, fakta dan ketidakpastian. Penerima pertama Kitab Wahyu telah atau sedang mengalami tekanan, dan mereka harus siap untuk menerima siksaan yang lebih berat. Kistemaker, “Tafsiran Kitab Wahyu”, 37-38.

Rasul Yohanes menulis suratnya kepada 7 jemaat: Efesus, Smirna, Pergamus, Tiatira, Sardis, Filadelfia, dan Laodikia

JEMAAT SARDIS (3:1-6)

  1. Sardis: kota benteng yang kokoh di puncak sebuah tanjung dan kota yang makmur karena perdagangan, hasil pertanian, dan industri.
  2. Sardis hanya bisa dicapai dari selatan, dengan melalui dataran yang sempit dan menanjak. Jurang yang curam melindungi kota ini sehingga tak bisa didaki. Pertahanan ini membuat Sardis menjadi ibukota Lidia tetapi sekaligus menghalangi perluasan kota ini dan memaksanya tetap kecil. Kota ini sepenuhnya menggantungkan kebutuhan hidup dari lembah subur di bawahnya untuk dibawa ke kota.
  3. Ketujuh Roh Allah (ay. 1): melukiskan kepenuhan Roh Kudus yang diutus Bapa dalam nama Yesus (Yoh. 14:26). Ia mengutus Roh Kudus untuk membuat orang percaya dan tidak percaya mengenal Dia.
  4. Ketujuh bintang (ay. 1): muncul juga di surat kepada jemaat di Efesus (2:1). Tetapi, jika orang percaya di Efesus telah kehilangan kasih semula dan jatuh dari ketinggian rohani mereka (2:4-5), jemaat di Sardis dikatakan mati secara rohani, yang berarti jauh lebih buruk. Tetapi oleh Roh, mereka akan dibangkitkan rohaninya.
  5. Tuhan memegang ketujuh bintang di tangan kanan (1:16); merekalah utusan-Nya untuk memberitakan firman yang membangkitkan hidup baru dalam jemaat.
  6. Ay. 1b: pekerjaan mereka tidak sempurna (bdk. Ay. 2). Allah tidak tertarik dengan pelayanan setengah hati. Mereka dipengaruhi oleh budaya: mereka—hampir secara keseluruhan—telah menyerah pada Yudaisme dan dunia berhala di sekitarnya. Maka Tuhan menyebut mereka “mati” (rohani—tidak dapat membedakan mana yang berkenan kepada Allah, dan mana yang tidak; Sardis membutuhkan pertobatan.
  7. Ay. 2 Waspadalah (berbentuk present continuous tense), menunjukkan jemaat harus selalu waspada akan bahaya dari dalam dan luar: guru palsu dari dalam dan dari luar.
  8. Ay. 2 b (tidak satupun dari pekerjaanmu Aku dapati sempurna di hadapan Allah-Ku): ada problem pelayanan di jemaat Sardis. Indikasinya adalah kurangnya amalan iman dan kasih secara seimbang, kurang bersyukur, dan masih kurang serius dalam mempersembahkan pelayanan yang terbaik kepada Tuhan.
  9. Ay. 3: ingatlah, apa yang telah kau “terima” menunjukkan waktu yang cukup lama yang telah berlalu. Mengarahkan kepada sikap “mengingat” berita Injil yang dulu pernah diwartakan, dari generasi ke generasi. Di sini pertobatan adalah tindakan yang final untuk mengoreksi diri dan pelayanan, termasuk sikap “berjaga-jaga”.
  10. Ay. 4. Meski demikian, masih ada dari mereka yang “setia” [tidak mencemarkan pakaiannya]-tidak dipengaruhi budaya sekuler masa itu. Pakaian melambangkan kehidupan moral [bdk. Yes. 64:6, perbuatan baik mereka seperti kain kotor] dan perilaku rohani. Mereka tidak tercemar oleh penyembahan berhala dan percabulan. Mereka tidak kompromi.
  11. Ay. 5. Pakaian putih: dikaitkan dengan konsep menang (2:7). Orang yang bertekun sampai akhir akan selamat dan beroleh kemenangan di dalam Kristus. Pakaian putih adalah hasil dari berjalan bersama Tuhan, perbuatan kebenaran orang-orang kudus (19:8). “Putih” menyatakan kemurnian.

YANG PERLU DIPAHAMI:

  1. Melayani Tuhan harus dengan sungguh hati
  2. Melayani Tuhan harus setia, tidak kompromi
  3. Melayani Tuhan berarti hidup beriman kepada-Nya

JEMAAT FILADELFIA (3:7-13)

  1. Jemaat ini menunjukkan model “setia” kepada Yesus Kristus (ay. 8, …namun engkau telah memegang [menuruti] firman-Ku dan engkau tidak menyangkal nama-Ku).
  2. Jemaat ini aktif mengajar dan memberitakan Injil. Hal ini diperkuat oleh klausa “suatu pintu yanag terbuka, yang tidak dapat ditutup oleh seorang pun”. Jika Tuhan sudah membukan pinta bagi “penginjilan”, maka orang percaya haruslah melakukan penginjilan. Meski kekuatan mereka tidak seberapa—sebuah kondisi bahwa mereka dianggap tidak penting oleh orang Yahudi, bahkan dianggap tidak berarti. Namun, Tuhan Yesus tetap menjaga mereka.
  3. Jemaah Iblis menunjuk pada perilaku yang tidak benar di hadapan Tuhan, berdusta, menolak Yesus, menolak pengikut Yesus. Orang-orang Yahudi yang menjadi Kristen tidak lagi diterima dalam sinagoge setelah Bait Suci dan Yerusalem dihancurkan pada 70 M. Dua dekade kemudian, para pemimpin Yahudi berkumpul di Jamnia untuk mengakui kanon Kitab Suci dan merumuskan apa yang dikenal sebagai Delapan Belas Rangkaian Doa. Petisi kedua belas dalam doa ini mengutuk orang-orang yang murtad:

“bagi orang-orang murtad biarlah tidak ada harapan, biarlah kerajaan keangkuhan Engkau tumbangkan secepatnya pada masa ini, dan biarlah orang-orang Kristen (noserim) dan bidat (minim) binasa dalam satu kesempatan, biarlah mereka dihapus dari kitab kehidupan dan biarlah mereka tidak ditulis bersama orang benar. Terpujilah Engkau, oh Tuhan, yang merendahkan orang-orang angkuh.” William Horbury, “The Benedictions of the Minim and Early Jewish-Christian Controversy”, JTS, n.s. 33.1 (1982): 19-61, khususnya hlm. 20-21 dan 59-60. Kutipan diambil dari hlm. 20.

  • Sejak pertengahan abad pertama, orang Yahudi menyebut Kekristenan sebagai “Sekte orang Nasrani” (Kis. 24:5). Setelah kutukan atas bidat dirumuskan, orang Yahudi mencela orang Kristen Yahudi dan non-Yahudi dalam ibadah di sinagoge mereka.
  • Meski mereka dimusuhi, Tuhan menyatakan kasih-Nya kepada mereka dan menjadikan orang-orang yang memusuhi mereka menjadi percaya bahwa Tuhan mengasihi mereka.
  • Ay. 10 meneguhkan iman mereka: mereka memegang perintah Tuhan, mereka bertekun. Ay. 11. “Mahkota” tanda kemenangan dan upah. Mereka yang setia berarti mereka mempertahankan makhotanya.
  • Ay. 12-13 adalah janji Tuhan. Sokoguru berarti “tiang”. Berarti penyanggah, tanda kekuatan dan kemegahan, serta kehormatan. Mereka yang setia dan menang atas penderitaan dan pencobaan akan memberikan kesaksian mereka kepada yang lain sehingga yang lain itu dikuatkan, diteguhkan, dihiburkan. Kita teringat dengan kisah seorang mahasiswa bernama Dominggus Kenjam, leher hampir putus tapi masih diberikan kehidupan oleh Yesus Kristus.

YANG PERLU DIPAHAMI:

  1. Setia kepada Yesus adalah wujud dari iman yang sejati.
  2. Meski dimusuhi dan “tidak dianggap” kita harus tetap bersyukur menjadi pengikut Yesus.
  3. Percaya kepada Yesus berarti harus semangat dalam memberitakan Injil.

JEMAAT LAODIKIA (3:14-22)

  1. Firman dari Amin (istilah ini berdari teks Ibrani PL yang berarti layak dipercaya, teguh, kokoh, apa yang benar), Saksi yang setia dan benar: merujuk kepada Yesus Kristus. Artinya, percaya kepada-Nya bukanlah suatu kebodohan melainkan suatu “jaminan”. Istilah setia dan benar merupakan terjemahan dari istilah Ibrani yang sama, yaitu “Amin”.
  2. Ay. 15-16. Suam-suam kuku. Kondisi ini berbahaya. Akan dimuntahkan dari mulut Tuhan (ay. 16). Yesus menyukai orang yang bersemangat melaksanakan perintah-Nya.
  3. Ay. 17-18 dosa kesombongan: kaya dan merasa tidak membutuhkan apa-apa, tetapi justru sebaliknya, mereka melarat, malang, miskin, buta, dan telanjang. Dosa sombong rohani menjadikan iman dan keyakinan di dalam Yesus Kristus tidak lagi berfungsi dengan baik (Simon J. Kistemaker).

Melarat: menyatakan keduniawian jemaat yang mengabaikan perkara-perkara ilahi. Dengan demikian, mereka malang. Mereka miskin karena dibutakan oleh materi (ilustrasi para mualaf). Mereka telanjang berarti mereka tidak dapat menutupi kondisi dan rasa malu mereka. Ingin keluar dari kondisi ini, haruslah kembali kepada Tuhan.

  • Ay. 19. Mereka yang dikasihi pasti dihajar Tuhan (Ibr. 12:5-6). Ketika jatuh, bertobat. Panggilan pertobatan disebutkan di ayat 20.
  • Ay. 20. Panggilan kesadaran iman (pertobatan). Menyadari bahwa Tuhan selalu mengetuk pintu hati kita melalui hati nurani maka kehidupan jemaat Laodikia menjadi penuh sukacita.
  • Ay. 21 jaminan.

YANG PERLU DIPAHAMI:

  1. Percaya kepada Yesus bukanlah bencana melainkan sebuah jaminan
  2. Melayani Tuhan janganlah suam-suam kuku
  3. Jauhkan diri dari dosa “sombong rohani”
  4. Kita harus menyadari bahwa orang-orang yang dikasihi Tuhan pasti akan ditegur dan dihajar-Nya.

Ketika kita memutuskan untuk mengikut Tuhan Yesus, maka sikap “setia” adalah koheren dengan keputusan itu. Itu sebabnya “KESETIAAN MEMBAWA KEPADA KEHIDUPAN KEKAL” adalah konteks di mana Tuhan menghendaki kita untuk menikmati sukacita dalam Kerajaan-Nya, menikmati segala kasih dan kemurahan-Nya yang tak terkatakan itu.

Tuhan menempa dan membentuk tidak hanya pada orang percaya yang hidup di abad pertama, kedua, dan ketiga, melainkan pada keseluruhan abad di mana orang percaya hidup. Kita juga demikian.

Tetaplah setia hingga akhir….

Salam Bae…

MEMBERI TAPI TAK MERASA KEKURANGAN

Sumber gambar: https://www.freepik.com/premium-photo/crop-hands-carrying-plant_2360124.htm

Kehidupan yang dijalani menyediakan berbagai aspek untuk kita hadapi, olah, dan kembangkan. Ketika potensi diri tak lagi diolah dan dikembangkan, yang ada malahan sikap hidup yang tak mampu menghadapi “goresan dan tantangan zaman.”

Di satu sisi kita diperhadapkan dengan berbagai kemajuan teknologi, di sisi lain kita masih harus memperhatikan potensi diri apakah potensi itu mampu untuk di olah dan kembangkan, atau sebaliknya: dipendam (terkubur) hidup-hidup.

Ada baiknya kita menoleh ke dalam diri kita sendiri; lihatlah yang kita punyai, sehingga kita dapat “berbagi” dengan sesama. Apa yang dibagikan? Pasti potensi. Potensi apa? potensi berpikir dan berbuat. Sebelum berbuat berpikirlah dulu. Setelah dipikir, berbuatlah. Kebaikan tidak pernah hanya dipikirkan saja, melainkan diperbuat senyata-nyata.

Ada fakta yang tampak ke permukaan di mana ada orang-orang yang “MEMBERI TAPI TAK MERASA KEKURANGAN”. Apa yang diberi? Ada banyak! Waktu, tenaga, uang, kesempatan, pemikiran, relasi, pekerjaan, dan lain sebagainya. Hidup tak cukup hanya menerima, kita harus “memberi” sesuatu. Memberi tidak hanya melulu benda atau materi. Tidak! Memberi itu luas dan variatif. Apa yang berguna (bermanfaat), menyenangkan, menopang, yang bisa menolong, membahagiakan, melegakan, itulah yang “diberikan”.

Tak cukup hanya menikmati hidup. Tak cukup hanya membahagiakan diri sendiri. Tak cukup hanya berpuas diri. Kita harus melihat lebih luas, melihat sampai kepada titik di mana kita menyadari bahwa “memberi adalah sebuah ungkapan kasih yang tulus”—sebagai tindakan yang meneladani Sang Khalik: Ia memberi segala sesuatu, secara khusus, berlimpah, dan atau terukur.

“Kita hanya dapat melihat diri kita yang sesungguhnya saat kita mampu memberi (berbagi) kepada yang lain.” Kita hanya dapat dikatakan “manusia yang sejati” saat kita hadir untuk berbagi. MEMBERI TAPI TAK MERASA KEKURANGAN adalah perbuatan yang hanya dapat dilakukan oleh mereka yang memahami apa makna tertinggi dari iman yang hidup.

Ketika Sang Khalik memperlihatkan kasih-Nya yang luar biasa itu, kita terpukau menatap sembari berkata: “Karena kasih-Mu aku bahagia, lega, dan dipuaskan. Aku mengucap syukur atau semua kasih-Mu yang telah mengarahkan hidupku kepada padang rumput yang hijau, duduk bersama-sama dengan sesamaku, saling berbagi.”

Sebagaimana kehidupan yang dijalani menyediakan berbagai aspek untuk kita hadapi, olah, dan kembangkan, maka sepatutnyalah kita mengolah potensi, mengembangkannya untuk memberi tempat kepada sesama, menikmati pemberian kita, apa pun bentuknya dan nilainya. Itulah yang harus kita hadapi dengan penuh kasih dan iman kepada Tuhan.

Akankah kita mampu MEMBERI TAPI TAK MERASA KEKURANGAN? Akankah kita dapat membuat “kisah hayati” kita yang memukau banyak orang? Akankah kita setia pada komitmen iman kita kepada Tuhan untuk mengasihi-Nya dan mengasihi sesama kita seperti yang telah Ia perintahkan? Semoga!

Salam Bae…

INJIL HARUS DIBERITAKAN: Refleksi Lukas 4:42-44

Sumber gambar: https://id.pinterest.com/pin/286471226272283392/

Menjadi Kristen berarti “memahami makna Injil” dan “memahami tanggung jawab iman untuk memberitakan Injil”. Dua hal ini adalah pemahaman paling tinggi (suprematif) dari semua konteks beriman, berteologi, dan melayani. Tidak cukup hanya memahami makna Injil tanpa dibarengi dengan memahami tanggung jawab untuk memberitakan Injil. Keduanya koheren dan sejalan. Tak ada gunanya jika kita hebat berkhotbah, berteologi, hebat melayani, tetapi sama sekali tidak memahami apa makna Injil dan tidak menjalankan tanggung jawab iman untuk memberitakan Injil kepada sesama kita.

Aksentuasi pada pemahaman makna Injil dan tanggung jawab iman mendorong kita untuk semakin giat dalam pekerjaan Tuhan. Memberitakan Injil adalah pekerjaan rohani yang darinya kita tahu bahwa tanggung jawab iman kita telah dikerjakan.  Stephen Tong pernah berucap: “Pekerjaan duniawi semakin dikerjakan semakin lelah, pekerjaan rohani semakin dikerjakan semakin berkuasa”. Pernyataan ini hendak menegaskan bahwa pekerjaan pemberitaan Injil dan melayani Tuhan, akan menghasilkan kuasa yang luar biasa. Sasarannya bukanlah materi melainkan “jiwa manusia yang terhilang dan jauh dari Tuhan”. Prinsip inilah yang secara substansial terkandang dalam teks Lukas 4:42-45 di mana Yesus memiliki kerinduan yang kuat untuk “memberitakan Injil”.

Ketika kita menyatakan iman kepada Tuhan, maka tanggung jawab iman telah melekat dalam diri kita. Iman memimpin kita kepada jalan Tuhan; memimpin kepada hidup kudus dan hidup yang melayani sesama. Tuhan memberikan kepada kita iman. Di dalam iman kita bertumbuh dalam pengenalan akan Tuhan dan semakin berakar kuat di dalam kasih kepada Kristus. Kasih yang sesungguhnya adalah kasih yang rindu dan tergerak melihat sesama dan kemudian menyampaikan Kabar Baik: “Yesus Kristus yang telah menyatakan kasih-Nya melalui pengurbanan diri-Nya di salib untuk menebus, mengampuni, menyelamatkan, menguduskan, dan membenarkan kita.”

Peran Injil dalam kehidupan kekristenan sangatlah signifikan. Artinya, kehidupan Kristen tanpa Injil, sama sekali hampa. Apa yang kita dapatkan dari Injil? Tentu sangat banyak. Tetapi bukankah mereka yang melayani Injil Kristus justru hidupnya sengsara? Bukankah para pelayan Injil mengalami penderitaan dan sengsara? Tunggu dulu. Itu adalah fakta sepihak, tanpa melihat secara keseluruhan. Kita harus melihatnya berdasarkan dasar dan tujuan melayani dan memberitakan Injil. Tujuan kita melayani Tuhan adalah agar Ia dipermuliakan, jiwa dimenangkan (dimerdekakan), dan kita juga diberikan jaminan. Melayani Injil Kristus tidak pernah sia-sia.

Kita adalah ciptaan baru, mengenakan manusia baru, menanggalkan manusia lama. Manusia baru menghasilkan pelayanan yang penuh kuasa. Injil selalu membarui kita, membarui pola pikir dan pola sikap kita di hadapan Tuhan dan sesama. Tidak hanya itu, Injil mendorong kita untuk bersaksi, membagikan pengalaman hidup kita dengan Tuhan. Injil tidak bisa dinikmati sendiri. Injil harus diberitakan.

Kalau begitu, sebagaimana yang Yesus lakukan yaitu Ia memberitakan Injil di dalam rumah-rumah ibadat (Luk. 4:44 dan Mrk. 1:39) dan juga mengusir setan-setan (Mrk. 1:39), maka pekerjaan yang Yesus lakukan, juga menjadi bagian dari pelayanan kita. Memberitakan Injil tidak memandang siapa pun. Semua orang Kristen memiliki tugas yang sama. Mengapa? Karena kita semua memiliki pengalaman hidup bersama Tuhan. Meskipun pengalaman itu tidak sama, tetapi setiap orang punya pengalaman bersama Tuhan. Itulah yang menjadi salah satu isi bagi pemberitaan Injil di samping substansi Injil itu sendiri (Yesus Kristus yang datang ke dunia menebus manusia dari dosa, musuh yang tak bisa dikalahkan oleh manusia mana pun kecuali Yesus Kristus).

Dalam teks Lukas 4:42-44 dijelaskan mengenai kerinduan Yesus untuk memberitakan Injil. Kerinduan ini sangat dalam dan kuat. Ia datang ke dunia menunjukkan kepada manusia “misi surgawi” yaitu “memberitakan Injil”, “melenyapkan berbagai penyakit”, dan “mengusir setan-setan”.

Pertama, Memberitakan Injil berarti Yesus menunjukkan betapa kuatnya “perkataan-perkataan Tuhan” untuk memberikan pengertian kepada logika (rasio) manusia bahwa mereka membutuhkan Juruselamat untuk melepaskannya dari belenggu dosa. Berita pengampunan dosa diwartakan oleh Yesus Kristus. Berita Injil adalah berita keselamatan, kelepasan, pembebasan, pengampunan dan penebusan. Dan hanya Tuhan saja yang dapat melakukan itu semua. Perkataan-perkataan Injil itu sangat kuat dan bisa mengubahkan manusia melalui pimpinan Roh Kudus.

Kedua, Melenyapkan segala penyakit berarti Yesus menunjukkan bahwa betapa hebat kuasa-Nya yang menyembuhkan manusia dari problem jasmaninya yaitu sakit penyakit. Tak ada manusia yang kebal dari rasa sakit. Baik sakit badan maupun sakit hati. Berapa banyak orang yang bunuh diri karena sakit hati? Berapa banyak orang yang sakit hati dan kemudian sakit fisik? Hanya Tuhan yang dapat memberikan segala sesuatu bagi tubuh jasmani manusia sesuai kehendak-Nya. Apa yang diperbuat oleh bagi tubuh manusia, adalah kedaulatan-Nya. Ada jenis kesembuhan yang dilakukan Tuhan yaitu: pertama, kesembuhan tubuh (jasmani) yaitu di mana seseorang disembuhkan dan mendapat kesempatan untuk menikmati kesehatan, dan kedua, kesembuhan spiritual (rohani) yaitu di mana seseorang dipanggil-Nya untuk menikmati kesempatan hidup bersama Tuhan dalam kerajaan-Nya.

Ketiga, Mengusir setan-setan berarti Yesus menunjukkan bahwa betapa dahsyat otoritas-Nya atas setan-setan yang tak berkutik di hadapan-Nya. Manusia yang lemah iman dan jauh dari Tuhan sangat rentan terkena atau dikuasai oleh kuasa setan-setan. Yesus tahu bahwa selain problem fisik yaitu sakit penyakit, manusia punya problem spiritual yaitu bisa menjadi budak setan-setan, dikuasai setan-setan, dan menjadi pemelihara setan-setan.

Yesus mengusir setan-setan (sebagaimana disebutkan dalam teks Markus 1:39 sebagai teks paralel dengan Lukas 4:42-44) agar berita Injil mendapat tempat yang layak yaitu hati dan hidup manusia yang telah dibebaskan dari ganggunan setan-setan dan roh-roh jahat. Manusia yang masih menjadi budak setan-setan, dikuasai setan-setan, dan menjadi pemelihara setan-setan tidak akan menghargai Injil, tidak memberikan tempat bagi Injil dalam hati dan hidup mereka karena hati dan hidup mereka telah dikuasai (dibelenggu) setan-setan.

Injil akan menjadikan kehidupan seseorang diubahkan dan ia menjadi berkat bagi sesama. Mereka yang belum diubahkan Injil adalah mereka yang masih menyimpan dendam, iri hati, sakit hati, kebencian, bahkan menyimpan segala sesuatu yang tidak sesuai dengan kehendak Tuhan. Tubuh kita adalah Bait Roh Kudus dan dengan demikian, selayaknya tubuh kita menjadi perbendaharaan buah Roh Kudus (kasih, sukacita, damai sejahtera, kesabaran, kemurahan, kebaikan, kesetiaan, kelemah-lembutan, dan penguasaan diri).

  • Yesus menjadi sangat terkenal dan berpengaruh karena Ia memberitakan Injil (mengajar) membuat banyak mukjizat. Pada teks Lukas 4:32, Yesus mengajar dan orang-orang takjub mendengar pengajaran-Nya, sebab apa yang diajarkan Yesus, penuh kuasa. Perkataan yang penuh kuasa berimplikasi pada pemahaman dan ketakjuban mereka yang mendengarnya. Jangan sepelehkan “pemberitaan Injil”. Jika kita tak mampu menjadi teladan dalam tindakan, maka jadila teladan dalam perkataan, yaitu perkataan tentang Injil Yesus Kristus.
  • Pada teks Lukas 4:33-41, Yesus membuat mukjizat-mukjizat. Dua kegiatan Yesus adalah “memberitakaan Injil” dan “membuat mukjizat” (menyembuhkan dan mengusir setan-setan). Yesus mengusir setan dari seorang yang berada di rumah ibadat. Ternyata di rumah ibadat, setan bisa merasuki orang-orang tertentu. Yang suka beribadah harus berhati-hati, sebab ketika kita hanya beribadah karena rutinitas tanpa memahami makna Injil dan tanggung jawab iman, maka kita dengan mudah dikuasai oleh setan. Peristiwa ini menjadikan Yesus sangat terkenal, dan tersebar di mana-mana di daerah Kapernaum, sebuah kota di Galilea (Luk. 4:37).
  • Masih dalam teks yang sama, Yesus menyembuhkan ibu mertua Simon yang mengalami demam keras. Yesus menyembuhkan orang-orang sakit, yang menderita berbagai macam penyakit, serta mengusir setan (Luk. 4:40-41).
  • Yesus tahu bahwa “Injil harus diberitakan”, agar manusia berdosa, yang mengalami sakit penyakit, yang kerasukan setan-setan (dibelunggu kuasa setan), mendapatkan kesembuhan yang sejati. Injil tidak bisa tinggal dalam hati mereka yang kerasukan setan; setan harus diusir dan Injil yang tinggal menetap dalam hati manusia. Manusia tidak bisa memelihara Injil sekaligus memelihara setan. Injil tidak bisa dikompromikan dengan dosa apalagi dengan setan. Injil adalah musuh setan, bagaimana bisa mereka bisa hidup akur dalam hati manusia?
  • Lukas dan Markus mencatat bahwa Yesus pergi ke suatu tempat sunyi dan berdoa. Ia berdoa kepada Bapa-Nya. Sebagai manusia (utusan Sang Bapa), Ia tahu apa yang harus dilakukan-Nya: “Aku harus memberitakan Injil Kerajaan Allah sebab untuk itulah Aku diutus”; “Marilah kita pergi ke tempat lain, ke kota-kota yang berdekatan, supaya di sana juga Aku memberitakan Injil, karena untuk itu Aku telah datang.”

Injil harus diberitakan. Tak ada alasan untuk memperlambat atau menunda pemberitaan Injil. Yesus adalah teladan utama dalam memberitakan Injil sebagaimana yang dijelaskan teks Lukas 4:42-44 (dan teks paralelnya dengan Markus 1:35-39).

Ketika kita memahami makna Injil maka implikasinya adalah kita harus memahami tanggung jawab iman untuk memberitakan Injil. Injil tak bisa disimpan atau ditanam dan dinikmati sendiri. Hidup Kristen adalah hidup yang berbuah dan buah-buah itu dapat dinikmati oleh orang-orang yang kita jumpai.

Kita senantiasa mengawali hidup setiap hari dengan mengucap syukur karena Tuhan masih memberikan kesempatan untuk menikmati hidup ini. Menikmati tidak asal menikmati melainkan menikmatinya dalam terang firman-Nya tanpa melupakan tanggung jawab iman untuk memberitakan Injil setelah kita memahami makna Injil yang sesungguhnya.

Yesus adalah teladan dalam memberitakan Injil. Meski Ia terkenal dan sangat popular, bahkan meskipun Ia sangat sibuk dan lelah, memberitakan Injil tidak pernah Ia abaikan. Ia tetap menunjukkan bahwa kuasa dan kasih-Nya harus dinyatakan kepada semua orang yang mendengar pemberitaan Injil-Nya. Ia tahu bahwa problem terbesar manusia adalah dosa, sakit penyakit dan kerasukan setan di mana manusia menjadi dikuasai oleh setan dan mengikuti segala sesuatu yang dikehendaki setan—perbuatan-perbuatan yang bertentangan dengan kehendak Tuhan.

Dosa menjadikan manusia terpisah dari Tuhan; sakit penyakit juga bisa membuat manusia kecewa dengan Tuhan; kerasukan setan menjadikan manusia jauh dan terpisah dari Tuhan dan mengikuti apa yang setan kehendaki. Yang kerasukan setan tak mungkin dapat melakukan kebenaran Tuhan. Maka Tuhan harus mengusir setan dalam diri manusia agar benih-benih Injil dapat ditabur dalam hatinya dan tumbuh subur hingga menghasilkan buah-buah kebenaran.

Sudahkah kita berkomitmen menjadi “saksi Injil Yesus Kristus” di tahun ini? Ataukah kita tetap berkomitmen untuk menjadi saksi Kristus untuk memberitakan Injil sejak kita menyatakan iman kita kepada Yesus? Kiranya Tuhan memampukan dan memakai kita menjadi alat di tangan-Nya untuk memberitakan Injil sebab “Injil harus diberitakan.”

Soli Deo Gloria

NYAMANLAH JIWAKU

Mazmur 32:1-11

Sumber gambar: https://id.pinterest.com/pin/360217670203005046/

Pendahuluan

Frasa “nyamanlah jiwaku” bersifat dualis, bisa bermakna positif dan bermakna negatif. Bagi orang yang hidup dalam Tuhan, “nyamanlah jiwaku” bermakna positif, dan bagi orang yang hidup dalam dosa dan kegelapan, “nyamanlah jiwaku” bermakna negatif.

Orang yang hidup dalam Tuhan, makna merasa nyaman terjadi dari lima peristiwa: (1) apa yang Tuhan buat bagi dia; (2) apa yang orang lain buat bagi dia; (3) apa yang dia buat bagi orang lain; (4) apa yang mereka buat bagi dirinya sendiri; dan (5) apa yang dia buat bagi Tuhan. Sedangkan bagi  orang yang hidup dalam dosa, merasa nyaman terjadi dari dua peristiwa: (1) apa yang ia buat bagi orang lain; dan (2) apa yang orang lain buat bagi dia. Konteks “nyamanlah jiwaku” di kalangan orang Kristen sangat beragam. Awalnya orang Kristen merasa nyaman dengan apa yang Tuhan buat bagi dia, apa yang dia buat bagi orang lain, apa yang dia buat bagi Tuhan, dan apa yang dia buat bagi dirinya sendiri. Tetapi lambat laun “apa yang dia buat bagi Tuhan” dan “apa yang dia buat bagi dirinya sendiri” menjadi bercampur dan menghasilkan sesuatu yang mengganggu kenyamanan orang lain.

Orang yang hidup dalam Tuhan ada yang merasa nyaman berdasarkan hal-hal yang tidak semestinya dilakukan. Saya menyebut salah satu dari sekian banyak contoh. Ada yang merasa nyaman bermain handphone ketika ibadah berlangsung; tidak puas bermain handphone di kamar tidur, dilanjutkan di kamar mandi; tidak puas, dilanjutkan di dalam mobil; tidak puas, dilanjutkan di saat berjalan, dan tidak puas lagi, dilanjutkan di tempat ibadah. Kondisi ini mendatangkan rasa nyaman, apalagi jika tidak ada yang mengganggu.

Di jalanan pun orang Kristen merasa nyaman bermain handphone, sampai tiang listrik pun ditabrak, orang ditabrak, pintu ditabrak, ada yang jatuh di kolam. Tak sedikit yang mengalami kecelakaan lalu lintas akibat keasyikan bermain handphone.

Bahkan di sebuah ibadah pagi yang saya ikuti, tepatnya Selasa tanggal 7 Agustus 2018, ada seorang perempuan, sejak awal hingga ibadah berakhir, sibuk bermain dua handphone secara bergantian, dan ia merasa nyaman. Yang lebih parah lagi, beberapa bulan sebelumnya, dalam ibadah pagi serupa yang dilaksanakan di Ara Center (lantai 6), ketika Pdt. Daniel Nuhamara sedang memimpin doa syafaat, ada seorang yang sibuk bermain handphone dan membuka “tokopedia”. Bagi orang itu, berbuat demikian adalah “nyaman”, tetapi bagi orang lain sangat “tidak nyaman”, termasuk saya. Kelakuan model begini perlu diubah. Kita harus sadar dan tahu menempatkan diri, hormati Tuhan, hargai pendeta/pastor, dan hargai sesama yang sedang beribadah. Kalau Saudara datang beribadah hanya mau bermain handphone supaya “nyaman”, saudara “salah tempat”.

Konteks “Nyamanlah Jiwaku”

Sebagaimana saya menyebut di atas ada lima konteks “nyaman” bagi orang yang hidup dalam Tuhan, maka dalam teks Mazmur 32, saya hanya menyinggung tiga hal yaitu apa yang Tuhan buat bagi kita, apa yang kita buat bagi orang lain dan apa yang kita buat bagi diri sendiri.

Apa yang Tuhan buat bagi kita

Mazmur ini menyinggung tiga hal yang diperbuat Tuhan yaitu: mengampuni kesalahan (ay. 1), menutupi dosa (ay.1); dan tidak tidak memperhitungkan kesalahan (ay. 2). Ketika manusia berdosa diampuni Tuhan, sukacita dan rasa nyaman sangatlah besar. Pengampunan Tuhan menyadarkan kita bahwa kasih dan kemurahan-Nya begitu mengubahkan dan membangkitkan semangat untuk mengasihi Tuhan dan mengasihi orang lain. Tuhanpun tidak memperhitungkan kesalahan kita dan menutupi dosa-dosa kita. Jikalau Tuhan sedemikian memberikan rasa nyaman bagi jiwa kita, masihkah kita dengan posisi yang berlawanan, merasa nyaman dengan dosa?

Apa yang kita buat bagi orang lain

Rasa nyaman yang kita miliki tidak semestinya disimpan, tetapi seyogianya mengajak orang lain untuk berserah kepada Tuhan (ay. 6) dan merasa nyaman; iman harus memberikan pengaruh bagi orang lain. Iman bukan berarti “merasa nyaman sendiri”. Ketika kita berbuat baik kepada orang lain, kita merasa nyaman karena telah melakukan apa yang dikehendaki Tuhan. Tuhan tidak mengajarkan kepada kita untuk mau nyaman sendiri. Siapa kita yang mau menang sendiri (egois), dan mau nyaman sendiri? Nyatakan rasa nyaman kita (diberkati) kepada orang lain sehingga orang lain juga merasa nyaman (terberkati).

Apa yang kita buat bagi diri kita sendiri

Saya mencatat ada empat hal yang membuat kita merasa nyaman yaitu:

Pertama, tidak berjiwa penipu (ay. 2). Ketika kita jujur, kita merasa nyaman, meski ada pula yang merasa nyaman ketika menipu orang. Tetapi hasil akhirlah yang menentukan. Mereka yang hidup jujur akan diberkati dari Tuhan dengan cara Tuhan sendiri.

Kedua, mengakui dosa (ay. 5). Ketika dosa diakui, kita dapat merasakan kelegaan, rasa nyaman yang begitu luar biasa, karena Tuhan dengan kasih-Nya, mengampuni kita. Mereka yang nyaman jiwanya karena Tuhan telah mengampuni dosanya adalah mereka yang menginginkan rasa nyaman menyelimuti totalitas kehidupannya.

Ketiga, percaya meski menderita (ay. 10). Hal ini seringkali sulit dilakukan. Tekanan demi tekanan, pergumulan demi pergumulan, menekan jiwa kita, dan tak sedikit dari kita yang “menyalahkan Tuhan”. Para martir Kristen merasa sangat nyaman ketika di akhir hidup mereka, tidak menyangkal imannya kepada Yesus Kristus. Kematian di depan mata, tapi iman mereka membuat mereka merasa nyaman karena setelah kematian, mereka “nyaman bersama dengan Tuhan.”

Keempat, bersukacita bagi dan karena Tuhan (11). Tiada hal yang lebih indah selain bersukacita bagi Tuhan dan bersukacita karena Tuhan. Sukacita ini melebihi dari sukacita dan kenyamanan bermain handphone di tempat ibadah. Ada yang memuji Tuhan sambil mengangkat tangan dan merasakan kasih Tuhan menjamahnya; ada yang memuji dan bersorak bagi Tuhan dengan bertepuk tangan; dan cara-cara lainnya yang mengekspresikan kesukacitaannya karena Tuhan. Dalam tindakan bersukacita, seseorang merasakan “nyaman [jiwanya]” karena Tuhan telah berbuat baik kepadanya. Dan dengan demikian, “nyamanlah jiwa kita” ketika kita merasakan dan mengalami segala kebaikan Tuhan.

Penutup

Pertama, “Nyamanlah jiwa kita” disebabkan oleh karena Tuhan telah berbuat baik kepada kita, karena kita telah berbuat baik bagi diri kita, dan bagi orang lain.

Kedua, yakinlah bahwa rasa nyaman hanya ditemukan di dalam Tuhan Yesus.

Ketiga, pergumulan boleh ada, tetapi rasa nyaman selalu Tuhan sediakan kepada mereka yang berterima kasih kepada-Nya atas kasih dan pengampunan-Nya, kepada mereka yang peduli dengan sesamanya, dan kepada mereka yang dengan tulus mengakui kesalahan, memperbaiki diri untuk menjadi teladan bagi yang lain.

Soli Deo Gloria.

Khotbah ini pernah disampaikan dalam ibadah pagi di bulan Agustus 2018 (tanggalnya saya lupa).

JANGAN ADA PERPECAHAN DI ANTARA KAMU

Refleksi 1 Korintus 1:10-17

Sumber gambar: https://id.pinterest.com/pin/510314201507042002/

Pendahuluan

Ketika kita mengaku dan percaya kepada Yesus Kristus, maka kita—secara konsisten—harus meneladani Yesus Kristus; kita melakukan apa yang Dia ajarkan. Percaya berarti menaruh harapan (dan segala sesuatunya) kepada Yesus, serta mengikuti Dia (perintah dan teladan-Nya). Konteks ini sebenarnya memberikan kepada kita pemahaman bahwa Tuhan Yesus adalah teladan utama kita, dan orang-orang yang dipakai (dipilih) Tuhan adalah teladan yang kedua (bdk. Ibr. 13:7, “Ingatlah akan pemimpin-pemimpin kamu, yang telah menyampaikan firman Tuhan kepadamu. Perhatikanlah akhir hidup mereka dan contohlah iman mereka”).

Kita mengetahui bahwa problem yang muncul dalam Gereja seringkali disebabkan oleh banyak hal, yang bisa berimbas pada sebuah “perpecahan”, dan imbasnya Yesus Kristus tidak lagi menjadi teladan, tetapi lebih mengunggulkan pemimpin-pemimpin dalam Gereja. Ketika Yesus ditempatkan pada posisi kedua dan pemimpin Gereja sebagai pemimpin utama, maka Gereja sangat rentan dengan perpecahan. Memang, pada faktanya tak terhitung Gereja-gereja yang mengalami perpecahan yang disebabkan oleh munculnya kubu-kubu atau golongan-golongan dengan tokohnya masing-masing. Meskipun demikian, kita juga tak dapat memungkiri bahwa secara prinsipil ada juga Gereja yang tetap konsisten menjalankan pekabaran Injil meski telah mengalami perpecahan.

Kondisi dan Problem Gereja di Korintus

Gereja di Korintus adalah contoh konkret mengenai perpecahan yang disebabkan karena munculnya orang-orang yang mengidentifikasikan diri mereka dengan golongan Paulus, Kefas, Apolos, dan Kristus. Mereka lebih mementingkan siapa “tokoh” yang mereka idolakan atau teladani dan kemudian membentuk “golongan” tertentu. Mereka melupakan pokok utama dari iman yaitu: “Yesus Kristus adalah di atas segala-galanya”. Konsekuensi dari sikap mementingkan golongan atau tokoh tertentu, adalah “perpecahan”.

Rasul Paulus melihat bahwa fenomena perpecahan antar golongan di Gereja Korintus dapat mengancam pelayanan pekabaran Injil. Padahal, sebelumnya Paulus menegaskan identitas Gereja di Korintus sebagai: “yang telah dikuduskan, yang dipanggil menjadi orang-orang kudus (1:2, 9), yang berseru kepada nama Tuhan Yesus Kristus.”

Bahkan mereka memiliki kelebihan, yaitu menjadi kaya dalam segala hal: dalam segala macam perkataan dan segala macam pengetahuan (1:5), tidak kekurangan dalam suatu karuniapun (1:7) dan menantikan penyataan Yesus Kristus. Dalam kondisi yang demikian baik, ternyata muncul situasi yang tidak diinginkan: “ada perselisihan” yaitu mereka tidak seia sekata, adanya perbedaan paham (1:11), dan masing-masing mengunggulkan golongannya sendiri (Paulus, Apolos, Kefas [Petrus], dan Kristus [1:12]).

Menanggapi persoalan ini, Paulus menuliskan demikian: “Adakah Kristus terbagi-bagi? Adakah Paulus disalibkan bagi kamu? Atau adakah kamu dibaptis atas nama Paulus? (ay. 13). Sebenarnya, Paulus hendak menegaskan bahwa dirinya bukanlah apa-apa dibanding Yesus Kristus dan mengarahkan anggota Gereja di Korintus untuk memahami secara mendalam bahwa mengunggulkan Paulus, Kefas, Apolos di dalam Gereja melebihi dari Yesus Kristus sangatlah berpotensi menimbulkan perpecahan. Itu sebabnya ada satu golongan yang merasa suprematif yaitu mereka yang menyebut dirinya sebagai “Golongan Kristus”. Bagi mereka, Kristus lebih tinggi dari Paulus, Kefas, dan Apolos. Namun, bagi Paulus hal itu juga tidak benar karena kemunculan golongan Kristus disebabkan karena adanya golongan lain, dan motivasinya adalah menjadi golongan tandingan.

Intinya, menurut Paulus: “Jangan adan perpecahan di antara kamu”. Alangkah baiknya, fokus iman dan pelayanan hanya tertuju kepada Yesus (lihat analogi Paulus di ay. 13). Kristus tidak terbagi-bagi. Semua anggota Gereja diikat menjadi satu di dalam Kristus (bdk. Efesus 4:16, “Dari pada-Nyalah seluruh tubuh, – yang rapi tersusun dan diikat menjadi satu oleh pelayanan semua bagiannya, sesuai dengan kadar pekerjaan tiap-tiap anggota – menerima pertumbuhannya dan membangun dirinya dalam kasih”; dan Kolose 3:14, “Dan di atas semuanya itu: kenakanlah kasih, sebagai pengikat yang mempersatukan dan menyempurnakan”). Untuk mempertegas pernyataan bahwa semua anggota Gereja satu di dalam Kristus, maka Paulus menuliskan tentang signifikansi dari “iman, kasih, dan pengharapan” di pasal 13:1-13.

Jika Gereja di Korintus menerapkan “kasih Kristus” kepada sesama anggota, maka mereka akan terhindar dari ancaman perpecahan. Sebaliknya, orang-orang yang membentuk golongan tertentu secara substansial mengabaikan kasih kepada Yesus Kristus dan kasih kepada sesama. Memang, perpecahan memberi dampak yang negatif bagi Gereja yang mengalaminya. Apalagi perpecahan karena adanya golongan-golongan dan tokoh-tokoh utamanya. Bukankah Gereja itu sendiri adalah orang-orang yang dulunya hidup dalam kegelapan dan dipanggil oleh Tuhan untuk menikmati kasih, sukacita, dan firman-Nya? Lalu mengapa setelah menjadi anggota Gereja justru malahan menimbulkan perpecahan? Bukankah ini bertentangan dengan ajaran-ajaran Yesus Kristus? Akibat dari perpecahan maka Gereja lebih sibuk mengurus organisasi ketimbang pelayanan penginjilan. Itu berarti, Gereja di Korintus—sebagaimana yang disarankan Paulus—tidak memberikan fokus mereka pada perpecahan, melainkan pada gairah untuk tetap memberitakan Injil.

Gereja di Korintus tentu memperlihatkan kesibukan mereka untuk mengunggulkan golongan mereka sendiri dan merendahkan golongan lainnya. Itu sebabnya, Rasul Paulus menganjurkan untuk melihat teladannya yaitu: “untuk memberitakan Injil dan salib Kristus” (ay. 17). Itu yang terpenting. Perbedaan paham di dalam tubuh Kristus (Gereja) bisa terjadi (bukan karena disengaja). Tetapi jangan sampai melupakan tugas pokok Gereja yaitu “memberitakan Injil Yesus Kristus”.

Yesus adalah teladan dalam pemberitaan Injil (Ia mengabarkan Injil di desa-desa dan di kota-kota). Rasul Paulus mengakui bahwa Ia adalah pengikut Yesus Kristus (1 Kor. 11:1) dan itu berarti Ia meneladani Yesus, termasuk dalam hal memberitakan Injil sesuai dengan panggilan yang Dia terima dari Yesus Kristus melalui Ananias (bdk. Kis. 9:15, “… orang ini [Saulus] adalah alat pilihan bagi-Ku untuk memberitakan nama-Ku kepada bangsa-bangsa lain serta raja-raja dan orang-orang Israel”).

Jika kita mengaitkannya dengan Amanat Agung Yesus Kristus dalam Matius 28:19-20 maka urutannya sangat jelas:

Pertama, pergilah, jadikanlah semua bangsa murid-Ku. Untuk menjadikan semua bangs murid Yesus, ditempuh dengan cara “pergi memberitakan Injil Yesus”. Proses ini adalah proses paling awal dari sebuah pelayanan Kristen. Paulus memberikan konfirmasi bahwa dia diutus bukan untuk membaptis melainkan untuk memberitakan Injil. Paulus tahu benar apa tugas utamanya sebagai Rasul.

Kedua, baptislah mereka dalam nama Bapa, Anak, dan Roh Kudus. Kelanjutan dari pemberitaan Injil adalah ketika ada orang yang percaya pada pemberitaan Injil maka tugas kita adalah membaptis mereka sebagai tanda bahwa mereka diterima sebagai anggota tubuh Kristus dan menikmati persekutuan di dalam kasih (sebagai pengikat yang mempersatukan dan menyempurnakan [tidak lagi melihat perbedaan status, tetapi melihat sesama anggota Gereja sebagai kawan sekerja Tuhan). Mereka yang dibaptis adalah mereka yang telah mengaku dan percaya kepada Yesus Kristus.

Ketiga, ajarlah mereka melakukan segala sesuatu yang telah Kuperintahkan kepadamu. Setiap anggota Gereja yang telah mengaku dan percaya, yang telah dibaptis, memiliki tanggung jawab yang sangat mendasar yaitu melakukan segala perintah Yesus Kristus. Yesus adalah teladan utama dalam hal pengajaran dan memberitakan Injil, dan Rasul Paulus adalah teladan kedua. Dengan demikian, perpecahan dalam Gereja semestinya tidak perlu terjadi, dan tidak boleh terjadi, karena Gereja harus bergairah dalam memberitakan Injil bukan menonjolkan golongan yang dibentuk oleh orang-orang yang menginginkan perpecahan.

Penutup

Pertama,perpecahan dapat terjadi ketika anggota Gereja mulai membentuk golongan tertentu dan kemudian muncullah golongan-golongan lain sebagai tandingan. Maka jangan mengupayakan perpecahan melainkan mengupayakan sikap hidup dalam kasih dan mengutamakan penginjilan. Teladanilah Yesus dan Paulus, Rasul yang dipilih-Nya.

Kedua, Gereja dipanggil oleh Tuhan bukan untuk menciptakan perpecahan, melainkan untuk menjalankan Amanat Agung Yesus Kristus.

Ketiga, Gereja harus terus menyadari akan bahaya perpecahan, dan sedapat mungkin untuk berfokus pada tugas pelayanan penginjilan, di samping pelayanan-pelayanan lainnya seperti marturia dan diakonia.

Keempat, kita dipanggil oleh Tuhan untuk menunjukkan sikap saling mengasihi satu dengan lainnya sehingga tidak menimbulkan ketimpangan di antara sesama anggota Gereja. Semua anggota Gereja harus mendapat perlakuan yang sama, dan tidak dibeda-bedakan.

Kelima, seumur hidup kita hanyalah untuk melakukan apa yang berkenan kepada Yesus Kristus, meneladani-Nya, dan sebagai akibatnya, kita menyenangkan hati-Nya, memenangkan banyak jiwa bagi kemuliaan nama-Nya untuk dibawa ke dalam Gereja.

Jangan ada perpecahan di antara kita!

Salam Bae…

YANG TEGAR MENGHADAPI TANTANGAN: Refleksi Amsal 30:29-31

Kehidupan menyediakan serangkaian makna yang didapatkan dari proses kehidupan itu sendiri. Hal-hal yang dilalui, dijalani, dihadapi, dipikirkan, merupakan ‘cara’ membentuk opini seseorang terhadap hidup itu sendiri. Ketegaran menjalani, menghadapi, dan memaknai tantangan kehidupan membawa seseorang kepada kondisi kokoh yang di dalamnya menyediakan ‘warisan’ bagi orang lain sejauh yang dapat diwariskan.

“Yang tegar menghadapi tantangan” yang diambil dari Amsal 30:29-31 memfokuskan pada sebuah analogi kehidupan yang digambarkan melalui binatang, dan secara khusus, singa, yang kuat dan tak pernah mundur menghadapi tantangan. Hal itu merupakan sebuah pelajaran bahwa manusia dapat melihat analogi tersebut dan dilekatkan pada dirinya.

Perjuangan manusia dalam menghadapi tantangan kehidupan, sering dikaitkan dengan ciptaan lainnya. Ini disebut dengan “pembelajaran analogi”. Misalnya Salomo menyebutkan sebuah prinsip kehidupan yang bahagia di masa sekarang dan masa depan dengan menyebut: “Hai pemalas, pergilah kepada semut, perhatikanlah lakunya dan jadilah bijak” (Ams. 6:6). Yesus juga menggunakan analogi demikian; Ia memerintahkan para murid untuk menjadi cerdik seperti ular dan tulus seperti merpati.

Dari dua contoh tersebut, kita bisa menganalogikan segala sesuatu (di luar diri manusia) dengan kehidupan kita. Analogi-analogi tersebut dapat kita jumpai dalam kitab Pengkhotbah, seperti: “Tetapi siapa yang termasuk orang hidup mempunyai harapan, karena anjing yang hidup lebih baik dari pada singa yang mati (9:4); “Lebih baik berjumpa dengan beruang betina yang kehilangan anak, dari pada dengan orang bebal dengan kebodohannya” (Ams. 17:12).

Dalam kisah percintaan juga analogi ini muncul dalam Kitab Kidung Agung:

1:15 — Lihatlah, cantik engkau, manisku, sungguh cantik engkau, bagaikan merpati matamu.

4:1 … Rambutmu bagaikan kawanan kambing yang bergelombang turun dari pegunungan Gilead.

4:2  Gigimu bagaikan kawanan domba yang baru saja dicukur ….

5:11  Bagaikan emas, emas murni, kepalanya, rambutnya mengombak, hitam seperti gagak.

Dari analogi-analogi tersebut, baik yang sifatnya moralitas, kebahagiaan, prinsip hidup dan iman, maupun kisah cinta, dan kekaguman atas seseorang, secara substansial sebenarnya menggambarkan bahwa kehidupan ini “berwarna [-warni]” ketika kita dapat menganalogikan—serta belajar darinya—segala sesuatu dengan kehidupan yang kita jalani. Tuhan memberikan analogi pembelajaran dari ciptaan lainnya, yang darinya manusia dapat melihat dirinya sendiri untuk belajar dari sesuatu di luar dirinya.

GAMBARAN KHUSUS AMSAL 30:29-31 DAN TERAPANNYA

Ada tiga binatang yang disebut oleh penulis amsal: singa, ayam jantan, kambing jantan. Ketiga binatang ini disebutkan sebagai binatang yang gagah jalannya. Namun, penulis amsal—Agur bin Yake—menyebut gambaran ketiganya secara berbeda: singa digambarkan sebagai binatang “yang tidak mundur terhadap apapun”; ayam jantan yang angkuh; kambing jantan yang angkuh. Kemudian penulis amsal mensejajarkan ketiga binatang tersebut dengan “cara berjalan” seorang raja di depan rakyatnya.

Ada hal menarik yang perlu dicermati dari bacaan ini. Secara jelas penulis amsal menyebutkan soal “langkah” dari tiga binatang dan seorang raja.

Apa yang menarik dari sebuah “langkah”? Langkah seorang anak kecil yang baru belajar berjalan tentu berbeda dengan langkah anak berumur 5 tahun. Langkah anak remaja berbeda dengan langkah seorang direktur. Langkah seorang direktur berbeda dengan langkah seorang kakek tua renta umur 90 tahun. Langkah seorang budak berbeda dengan langkah seorang majikan; langkah seorang rakyat kecil, berbeda dengan langkah seorang raja. Dari sini dapat ditarik kesimpulan bahwa “langkah” memperlihatkan pola hidup, tantangan hidup, dan hasil hidup.

Tema “Yang Tegar Menghadapi Tantangan” dapat digambarkan dengan sebuah “langkah”. Ketika langkah binatang atau manusia menjadi lain dari biasanya, maka ada sesuatu yang mengganggu “pola hidupnya”: bisa berupa perilaku, ekonomi, dan sebagainya.

Tantangan hidup” dapat menentukan “langkah” binatang dan manusia. Di ayat 30 disebutkan, “singa, yang terkuat di antara binatang, yang tidak mundur terhadap apapun.” Meski ada tantangan, singa tak mundur—sebuah konteks di mana singa tak menghasilkan langkah “melarikan diri” dari tantangan, tetapi sebaliknya, singa tak mundur, ia bertahan dari serangan di luar dirinya.

Hasil hidup” sering disebabkan dari sebuah “langkah” yang diambil atau dikerjakan. Di sini, langkah menjadi lebih cair atau longgar untuk memaknai kehidupan. Langkah bisa berarti sebuah keputusan untuk menetapkan, menjalankan, dan mengerjakan sesuatu; langkah juga dapat diartikan sebagai gerakan dari satu titik (situasi/kondisi) ke titik (situasi/kondisi) yang lain.

Orang-orang yang mengakui kekuasaan Tuhan dan percaya kepada-Nya, perlu memperhatikan langkah apa yang harus diambil. Mundur atau menyerah menghadapi tantangan (cobaan, pergumulan, kesulitan, tekanan, dan sebagainya) membuktikan “langkah” seseorang mengalami kemunduran.

“Langkah” yang digambarkan oleh penulis amsal adalah sebuah identitas hayati, baik binatang maupun manusia. Manusia dapat mengambil pelajaran dari binatang yang juga adalah ciptaan Tuhan. Langkah dapat menentukan arah hidup seseorang; arah kembara iman seseorang; dan arah hasil kehidupan.

“Yang Tegar Menghadapi Tantangan” adalah mereka yang menetapkan “langkah” hidupnya untuk memilih tegar, bertahan, dan berjuang untuk menghadapinya. Keyakinan tersebut tentu didasari pada kesadaran bahwa ketegaran yang dimiliki seseorang adalah karena kekuasaan Tuhan. Dialah yang melakukan segala sesuatu yang ajaib dan dahsyat dalam kehidupan orang percaya.

BUTIR-BUTIR PERMENUNGAN

Pertama, ketegaran orang percaya dalam menghadapi tantangan diwujudkan dalam langkah yang ditetapkan: tidak mundur, tidak menyerah, tidak putus asa, tidak kecewa dengan Tuhan, penuh keyakinan, penuh iman kepada Tuhan, dan penuh konsentrasi.

Kedua, setiap manusia dapat saja menemukan, menghadapi, dan dihampiri tantangan. Namun, bagaimana cara menghadapi tantangan tersebut (meski datang tanpa kita duga) adalah melalui sebuah keyakinan bahwa “bersama Tuhan, kita dapat keluar dari tantangan-tantangan”. Bahkan bersama Tuhan, kita dapat melakukan perkara-perkara yang besar. Tinggal menunggu waktu Tuhan saja. Ia akan bertindak.

Ketiga, langkah hidup adalah identitas pribadi; seperti apa identitas kita, ditentukan dari langkah yang kita  lakukan; keberhasilan dan kehormatan dapat dicapai dari sebuah langkah kecil hingga ke langkah yang besar.

Keempat, “Langkah” yang kita ambil dan tetapkan, akan menentukan seperti apa pola hidup, tantangan hidup dan hasil hidup kita. Dengan demikian, siapa “yang tegar, pasti akan sanggup menghadapi tantangan” melalui ketetapan “langkah” hidupnya.

Ingatlah pesan pemazmur: “TUHAN menetapkan langkah-langkah orang yang hidupnya berkenan kepada-Nya; apabila ia jatuh, tidaklah sampai tergeletak, sebab TUHAN menopang tangannya” (Mzm. 37:23-24). Tuhan memberkati kita semua.

Salam Bae…

Sumber gambar: https://id.pinterest.com/pin/492299803022876201/

KETIKA TUHAN TURUN TANGAN

Ada luapan sukacita dan syukur tatkala kita menerima sesuatu dari Tuhan, yang telah lama kita nanti-nantikan. Kadang, kita terpesona dengan bagaimana Tuhan bekerja. Tak dapat dipungkiri bahwa dalam prosesnya kita seringkali merasa tertekan dengan keadaan, kuatir yang berlebihan, merasa kecewa dengan orang lain, bahkan kecewa dengan orang-orang terdekat hingga kecewa dengan diri sendiri.

Kita sendiri melihat dan menilai apa yang terjadi dengan diri kita. Dengan berbekal kekuatan dan sedikit hikmat, kita tertatih-tatih melewati proses demi proses. Tuhan menempa kita sedemikian rupa hingga kita beroleh hati yang bijaksana, kita kuat dalam iman, dan memiliki harapan yang kokoh di dalam Tuhan.

Ada makna di balik setiap peristiwa. Makna itu selalu dikaitkan pada dua konteks: Tuhan akan menjadikan indah pada waktu-Nya dan Tuhan bekerja sesuai dengan kehendak (kedaulatan-Nya). Keduanya terangkum dengan satu fakta: “Tuhan turun tangan”. Apa yang terjadi ketika Tuhan turun tangan? Ada beragam pemahaman terhadapnya karena konteks-konteks yang dilihat oleh setiap orang berbeda-beda.

Namun, ada hal menarik yang ingin saya bagikan di sini. Tuhan turun tangan adalah sebuah fakta yang penting dalam hidup manusia dalam konteks kita masing-masing. Karena gumul juang kita berbeda-beda maka “Tuhan turun tangan” menandakan Ia berkehendak untuk menolong, menghibur, menguatkan, memberikan kelepasan, memberikan sukacita dan syukur, mengangkat saat kita terjatuh, menopang, memberi jalan keluar, membalas semua kejahatan orang lain terhadap kita, menghukum mereka yang berbuat jahat (menipu, bermain ‘mata’, menghina orang lain, meremehkan hamba Tuhan, ikut dalam permufakatan jahat terhadap seseorang).

Ketika “Tuhan turun tangan” adalah jawaban atas harapan dan doa-doa kita. Jangan berhenti berharap; jangan berhenti berdoa; Ia pasti akan turun tangan untuk menyatakan kasih, kehendak, dan hukuman. Ia begitu mengasihi kita. Jangan biarkan kita dikuasai dosa dan kemunafikan. Bawalah gumul juangmu kepada-Nya. Ia menolong kita yang mengasihi-Nya. Ia peduli; Ia baik dan telah berbuat baik.

Adalah bagian dari proses hidup kita ketika berbagai peristiwa datang menghampiri kita. Tak perlu berkecil hati saat kita merasakan ketidakadilan, perlakukan yang tidak semestinya, saat kita dihempaskan, diabaikan (diacuhkan), saat kita dianggap tidak berguna. Bangkitlah, sebab Tuhan akan memberikan kelegaan dan sukacita; Ia akan turun tangan menggenggam tangan kita. Berserah, berharap, dan berdoa. Ia akan tampil bercahaya dalam hidup kita.

Nantilah pertolongan Tuhan. Saat Ia turun tangan kita akan melihat betapa dahsyatnya Tuhan itu. Tak ada kata yang cukup mewakili keterkaguman kita terhadap perbuatan-perbuatan Tuhan itu. Sungguh, kita dididik sedemikian rupa, ditempa dengan berbagai-bagai persoalan, tetapi Tuhan tak membiarkan kita jatuh sampai tergeletak. Berserah, berhadap, dan berdoalah senantiasa. Ada “waktu” yang Tuhan sediakan bagi kita. Ia telah menyimpannya dan akan menghadiahkannya kepada kita.

Ketika Tuhan turun tangan, nantikanlah keajaiban-Nya tampil di depan mata kita. Meski terdesak, meski tersakiti, meski kita tidak menerima bagian kita yang semestinya, tetap yakin bahwa suatu saat Tuhan akan turun tangan bagi kita. Ia peduli dan akan membuatnya indah pada waktu-Nya.

Kita diberikan hati yang kuat untuk melewati berbagai proses kehidupan. Di samping itu, iman akan menuntun kita menemui padang rumput hijau, di mana di situ tersedia segala berkat dan kemurahan-Nya. Tuhan itu baik dan telah berbuat baik. Berserah, berhadap, dan teruslah berdoa. Ia akan turun tangan.

Salam Bae…

Sumber gambar: https://fineartamerica.com/featured/he-lifts-me-up-danny-hahlbohm.html?product=poster

Rancang situs seperti ini dengan WordPress.com
Mulai