Refleksi 1 Korintus 1:10-17

Pendahuluan
Ketika kita mengaku dan percaya kepada Yesus Kristus, maka kita—secara konsisten—harus meneladani Yesus Kristus; kita melakukan apa yang Dia ajarkan. Percaya berarti menaruh harapan (dan segala sesuatunya) kepada Yesus, serta mengikuti Dia (perintah dan teladan-Nya). Konteks ini sebenarnya memberikan kepada kita pemahaman bahwa Tuhan Yesus adalah teladan utama kita, dan orang-orang yang dipakai (dipilih) Tuhan adalah teladan yang kedua (bdk. Ibr. 13:7, “Ingatlah akan pemimpin-pemimpin kamu, yang telah menyampaikan firman Tuhan kepadamu. Perhatikanlah akhir hidup mereka dan contohlah iman mereka”).
Kita mengetahui bahwa problem yang muncul dalam Gereja seringkali disebabkan oleh banyak hal, yang bisa berimbas pada sebuah “perpecahan”, dan imbasnya Yesus Kristus tidak lagi menjadi teladan, tetapi lebih mengunggulkan pemimpin-pemimpin dalam Gereja. Ketika Yesus ditempatkan pada posisi kedua dan pemimpin Gereja sebagai pemimpin utama, maka Gereja sangat rentan dengan perpecahan. Memang, pada faktanya tak terhitung Gereja-gereja yang mengalami perpecahan yang disebabkan oleh munculnya kubu-kubu atau golongan-golongan dengan tokohnya masing-masing. Meskipun demikian, kita juga tak dapat memungkiri bahwa secara prinsipil ada juga Gereja yang tetap konsisten menjalankan pekabaran Injil meski telah mengalami perpecahan.
Kondisi dan Problem Gereja di Korintus
Gereja di Korintus adalah contoh konkret mengenai perpecahan yang disebabkan karena munculnya orang-orang yang mengidentifikasikan diri mereka dengan golongan Paulus, Kefas, Apolos, dan Kristus. Mereka lebih mementingkan siapa “tokoh” yang mereka idolakan atau teladani dan kemudian membentuk “golongan” tertentu. Mereka melupakan pokok utama dari iman yaitu: “Yesus Kristus adalah di atas segala-galanya”. Konsekuensi dari sikap mementingkan golongan atau tokoh tertentu, adalah “perpecahan”.
Rasul Paulus melihat bahwa fenomena perpecahan antar golongan di Gereja Korintus dapat mengancam pelayanan pekabaran Injil. Padahal, sebelumnya Paulus menegaskan identitas Gereja di Korintus sebagai: “yang telah dikuduskan, yang dipanggil menjadi orang-orang kudus (1:2, 9), yang berseru kepada nama Tuhan Yesus Kristus.”
Bahkan mereka memiliki kelebihan, yaitu menjadi kaya dalam segala hal: dalam segala macam perkataan dan segala macam pengetahuan (1:5), tidak kekurangan dalam suatu karuniapun (1:7) dan menantikan penyataan Yesus Kristus. Dalam kondisi yang demikian baik, ternyata muncul situasi yang tidak diinginkan: “ada perselisihan” yaitu mereka tidak seia sekata, adanya perbedaan paham (1:11), dan masing-masing mengunggulkan golongannya sendiri (Paulus, Apolos, Kefas [Petrus], dan Kristus [1:12]).
Menanggapi persoalan ini, Paulus menuliskan demikian: “Adakah Kristus terbagi-bagi? Adakah Paulus disalibkan bagi kamu? Atau adakah kamu dibaptis atas nama Paulus? (ay. 13). Sebenarnya, Paulus hendak menegaskan bahwa dirinya bukanlah apa-apa dibanding Yesus Kristus dan mengarahkan anggota Gereja di Korintus untuk memahami secara mendalam bahwa mengunggulkan Paulus, Kefas, Apolos di dalam Gereja melebihi dari Yesus Kristus sangatlah berpotensi menimbulkan perpecahan. Itu sebabnya ada satu golongan yang merasa suprematif yaitu mereka yang menyebut dirinya sebagai “Golongan Kristus”. Bagi mereka, Kristus lebih tinggi dari Paulus, Kefas, dan Apolos. Namun, bagi Paulus hal itu juga tidak benar karena kemunculan golongan Kristus disebabkan karena adanya golongan lain, dan motivasinya adalah menjadi golongan tandingan.
Intinya, menurut Paulus: “Jangan adan perpecahan di antara kamu”. Alangkah baiknya, fokus iman dan pelayanan hanya tertuju kepada Yesus (lihat analogi Paulus di ay. 13). Kristus tidak terbagi-bagi. Semua anggota Gereja diikat menjadi satu di dalam Kristus (bdk. Efesus 4:16, “Dari pada-Nyalah seluruh tubuh, – yang rapi tersusun dan diikat menjadi satu oleh pelayanan semua bagiannya, sesuai dengan kadar pekerjaan tiap-tiap anggota – menerima pertumbuhannya dan membangun dirinya dalam kasih”; dan Kolose 3:14, “Dan di atas semuanya itu: kenakanlah kasih, sebagai pengikat yang mempersatukan dan menyempurnakan”). Untuk mempertegas pernyataan bahwa semua anggota Gereja satu di dalam Kristus, maka Paulus menuliskan tentang signifikansi dari “iman, kasih, dan pengharapan” di pasal 13:1-13.
Jika Gereja di Korintus menerapkan “kasih Kristus” kepada sesama anggota, maka mereka akan terhindar dari ancaman perpecahan. Sebaliknya, orang-orang yang membentuk golongan tertentu secara substansial mengabaikan kasih kepada Yesus Kristus dan kasih kepada sesama. Memang, perpecahan memberi dampak yang negatif bagi Gereja yang mengalaminya. Apalagi perpecahan karena adanya golongan-golongan dan tokoh-tokoh utamanya. Bukankah Gereja itu sendiri adalah orang-orang yang dulunya hidup dalam kegelapan dan dipanggil oleh Tuhan untuk menikmati kasih, sukacita, dan firman-Nya? Lalu mengapa setelah menjadi anggota Gereja justru malahan menimbulkan perpecahan? Bukankah ini bertentangan dengan ajaran-ajaran Yesus Kristus? Akibat dari perpecahan maka Gereja lebih sibuk mengurus organisasi ketimbang pelayanan penginjilan. Itu berarti, Gereja di Korintus—sebagaimana yang disarankan Paulus—tidak memberikan fokus mereka pada perpecahan, melainkan pada gairah untuk tetap memberitakan Injil.
Gereja di Korintus tentu memperlihatkan kesibukan mereka untuk mengunggulkan golongan mereka sendiri dan merendahkan golongan lainnya. Itu sebabnya, Rasul Paulus menganjurkan untuk melihat teladannya yaitu: “untuk memberitakan Injil dan salib Kristus” (ay. 17). Itu yang terpenting. Perbedaan paham di dalam tubuh Kristus (Gereja) bisa terjadi (bukan karena disengaja). Tetapi jangan sampai melupakan tugas pokok Gereja yaitu “memberitakan Injil Yesus Kristus”.
Yesus adalah teladan dalam pemberitaan Injil (Ia mengabarkan Injil di desa-desa dan di kota-kota). Rasul Paulus mengakui bahwa Ia adalah pengikut Yesus Kristus (1 Kor. 11:1) dan itu berarti Ia meneladani Yesus, termasuk dalam hal memberitakan Injil sesuai dengan panggilan yang Dia terima dari Yesus Kristus melalui Ananias (bdk. Kis. 9:15, “… orang ini [Saulus] adalah alat pilihan bagi-Ku untuk memberitakan nama-Ku kepada bangsa-bangsa lain serta raja-raja dan orang-orang Israel”).
Jika kita mengaitkannya dengan Amanat Agung Yesus Kristus dalam Matius 28:19-20 maka urutannya sangat jelas:
Pertama, pergilah, jadikanlah semua bangsa murid-Ku. Untuk menjadikan semua bangs murid Yesus, ditempuh dengan cara “pergi memberitakan Injil Yesus”. Proses ini adalah proses paling awal dari sebuah pelayanan Kristen. Paulus memberikan konfirmasi bahwa dia diutus bukan untuk membaptis melainkan untuk memberitakan Injil. Paulus tahu benar apa tugas utamanya sebagai Rasul.
Kedua, baptislah mereka dalam nama Bapa, Anak, dan Roh Kudus. Kelanjutan dari pemberitaan Injil adalah ketika ada orang yang percaya pada pemberitaan Injil maka tugas kita adalah membaptis mereka sebagai tanda bahwa mereka diterima sebagai anggota tubuh Kristus dan menikmati persekutuan di dalam kasih (sebagai pengikat yang mempersatukan dan menyempurnakan [tidak lagi melihat perbedaan status, tetapi melihat sesama anggota Gereja sebagai kawan sekerja Tuhan). Mereka yang dibaptis adalah mereka yang telah mengaku dan percaya kepada Yesus Kristus.
Ketiga, ajarlah mereka melakukan segala sesuatu yang telah Kuperintahkan kepadamu. Setiap anggota Gereja yang telah mengaku dan percaya, yang telah dibaptis, memiliki tanggung jawab yang sangat mendasar yaitu melakukan segala perintah Yesus Kristus. Yesus adalah teladan utama dalam hal pengajaran dan memberitakan Injil, dan Rasul Paulus adalah teladan kedua. Dengan demikian, perpecahan dalam Gereja semestinya tidak perlu terjadi, dan tidak boleh terjadi, karena Gereja harus bergairah dalam memberitakan Injil bukan menonjolkan golongan yang dibentuk oleh orang-orang yang menginginkan perpecahan.
Penutup
Pertama,perpecahan dapat terjadi ketika anggota Gereja mulai membentuk golongan tertentu dan kemudian muncullah golongan-golongan lain sebagai tandingan. Maka jangan mengupayakan perpecahan melainkan mengupayakan sikap hidup dalam kasih dan mengutamakan penginjilan. Teladanilah Yesus dan Paulus, Rasul yang dipilih-Nya.
Kedua, Gereja dipanggil oleh Tuhan bukan untuk menciptakan perpecahan, melainkan untuk menjalankan Amanat Agung Yesus Kristus.
Ketiga, Gereja harus terus menyadari akan bahaya perpecahan, dan sedapat mungkin untuk berfokus pada tugas pelayanan penginjilan, di samping pelayanan-pelayanan lainnya seperti marturia dan diakonia.
Keempat, kita dipanggil oleh Tuhan untuk menunjukkan sikap saling mengasihi satu dengan lainnya sehingga tidak menimbulkan ketimpangan di antara sesama anggota Gereja. Semua anggota Gereja harus mendapat perlakuan yang sama, dan tidak dibeda-bedakan.
Kelima, seumur hidup kita hanyalah untuk melakukan apa yang berkenan kepada Yesus Kristus, meneladani-Nya, dan sebagai akibatnya, kita menyenangkan hati-Nya, memenangkan banyak jiwa bagi kemuliaan nama-Nya untuk dibawa ke dalam Gereja.
Jangan ada perpecahan di antara kita!
Salam Bae…










