JANGAN ADA PERPECAHAN DI ANTARA KAMU

Refleksi 1 Korintus 1:10-17

Sumber gambar: https://id.pinterest.com/pin/510314201507042002/

Pendahuluan

Ketika kita mengaku dan percaya kepada Yesus Kristus, maka kita—secara konsisten—harus meneladani Yesus Kristus; kita melakukan apa yang Dia ajarkan. Percaya berarti menaruh harapan (dan segala sesuatunya) kepada Yesus, serta mengikuti Dia (perintah dan teladan-Nya). Konteks ini sebenarnya memberikan kepada kita pemahaman bahwa Tuhan Yesus adalah teladan utama kita, dan orang-orang yang dipakai (dipilih) Tuhan adalah teladan yang kedua (bdk. Ibr. 13:7, “Ingatlah akan pemimpin-pemimpin kamu, yang telah menyampaikan firman Tuhan kepadamu. Perhatikanlah akhir hidup mereka dan contohlah iman mereka”).

Kita mengetahui bahwa problem yang muncul dalam Gereja seringkali disebabkan oleh banyak hal, yang bisa berimbas pada sebuah “perpecahan”, dan imbasnya Yesus Kristus tidak lagi menjadi teladan, tetapi lebih mengunggulkan pemimpin-pemimpin dalam Gereja. Ketika Yesus ditempatkan pada posisi kedua dan pemimpin Gereja sebagai pemimpin utama, maka Gereja sangat rentan dengan perpecahan. Memang, pada faktanya tak terhitung Gereja-gereja yang mengalami perpecahan yang disebabkan oleh munculnya kubu-kubu atau golongan-golongan dengan tokohnya masing-masing. Meskipun demikian, kita juga tak dapat memungkiri bahwa secara prinsipil ada juga Gereja yang tetap konsisten menjalankan pekabaran Injil meski telah mengalami perpecahan.

Kondisi dan Problem Gereja di Korintus

Gereja di Korintus adalah contoh konkret mengenai perpecahan yang disebabkan karena munculnya orang-orang yang mengidentifikasikan diri mereka dengan golongan Paulus, Kefas, Apolos, dan Kristus. Mereka lebih mementingkan siapa “tokoh” yang mereka idolakan atau teladani dan kemudian membentuk “golongan” tertentu. Mereka melupakan pokok utama dari iman yaitu: “Yesus Kristus adalah di atas segala-galanya”. Konsekuensi dari sikap mementingkan golongan atau tokoh tertentu, adalah “perpecahan”.

Rasul Paulus melihat bahwa fenomena perpecahan antar golongan di Gereja Korintus dapat mengancam pelayanan pekabaran Injil. Padahal, sebelumnya Paulus menegaskan identitas Gereja di Korintus sebagai: “yang telah dikuduskan, yang dipanggil menjadi orang-orang kudus (1:2, 9), yang berseru kepada nama Tuhan Yesus Kristus.”

Bahkan mereka memiliki kelebihan, yaitu menjadi kaya dalam segala hal: dalam segala macam perkataan dan segala macam pengetahuan (1:5), tidak kekurangan dalam suatu karuniapun (1:7) dan menantikan penyataan Yesus Kristus. Dalam kondisi yang demikian baik, ternyata muncul situasi yang tidak diinginkan: “ada perselisihan” yaitu mereka tidak seia sekata, adanya perbedaan paham (1:11), dan masing-masing mengunggulkan golongannya sendiri (Paulus, Apolos, Kefas [Petrus], dan Kristus [1:12]).

Menanggapi persoalan ini, Paulus menuliskan demikian: “Adakah Kristus terbagi-bagi? Adakah Paulus disalibkan bagi kamu? Atau adakah kamu dibaptis atas nama Paulus? (ay. 13). Sebenarnya, Paulus hendak menegaskan bahwa dirinya bukanlah apa-apa dibanding Yesus Kristus dan mengarahkan anggota Gereja di Korintus untuk memahami secara mendalam bahwa mengunggulkan Paulus, Kefas, Apolos di dalam Gereja melebihi dari Yesus Kristus sangatlah berpotensi menimbulkan perpecahan. Itu sebabnya ada satu golongan yang merasa suprematif yaitu mereka yang menyebut dirinya sebagai “Golongan Kristus”. Bagi mereka, Kristus lebih tinggi dari Paulus, Kefas, dan Apolos. Namun, bagi Paulus hal itu juga tidak benar karena kemunculan golongan Kristus disebabkan karena adanya golongan lain, dan motivasinya adalah menjadi golongan tandingan.

Intinya, menurut Paulus: “Jangan adan perpecahan di antara kamu”. Alangkah baiknya, fokus iman dan pelayanan hanya tertuju kepada Yesus (lihat analogi Paulus di ay. 13). Kristus tidak terbagi-bagi. Semua anggota Gereja diikat menjadi satu di dalam Kristus (bdk. Efesus 4:16, “Dari pada-Nyalah seluruh tubuh, – yang rapi tersusun dan diikat menjadi satu oleh pelayanan semua bagiannya, sesuai dengan kadar pekerjaan tiap-tiap anggota – menerima pertumbuhannya dan membangun dirinya dalam kasih”; dan Kolose 3:14, “Dan di atas semuanya itu: kenakanlah kasih, sebagai pengikat yang mempersatukan dan menyempurnakan”). Untuk mempertegas pernyataan bahwa semua anggota Gereja satu di dalam Kristus, maka Paulus menuliskan tentang signifikansi dari “iman, kasih, dan pengharapan” di pasal 13:1-13.

Jika Gereja di Korintus menerapkan “kasih Kristus” kepada sesama anggota, maka mereka akan terhindar dari ancaman perpecahan. Sebaliknya, orang-orang yang membentuk golongan tertentu secara substansial mengabaikan kasih kepada Yesus Kristus dan kasih kepada sesama. Memang, perpecahan memberi dampak yang negatif bagi Gereja yang mengalaminya. Apalagi perpecahan karena adanya golongan-golongan dan tokoh-tokoh utamanya. Bukankah Gereja itu sendiri adalah orang-orang yang dulunya hidup dalam kegelapan dan dipanggil oleh Tuhan untuk menikmati kasih, sukacita, dan firman-Nya? Lalu mengapa setelah menjadi anggota Gereja justru malahan menimbulkan perpecahan? Bukankah ini bertentangan dengan ajaran-ajaran Yesus Kristus? Akibat dari perpecahan maka Gereja lebih sibuk mengurus organisasi ketimbang pelayanan penginjilan. Itu berarti, Gereja di Korintus—sebagaimana yang disarankan Paulus—tidak memberikan fokus mereka pada perpecahan, melainkan pada gairah untuk tetap memberitakan Injil.

Gereja di Korintus tentu memperlihatkan kesibukan mereka untuk mengunggulkan golongan mereka sendiri dan merendahkan golongan lainnya. Itu sebabnya, Rasul Paulus menganjurkan untuk melihat teladannya yaitu: “untuk memberitakan Injil dan salib Kristus” (ay. 17). Itu yang terpenting. Perbedaan paham di dalam tubuh Kristus (Gereja) bisa terjadi (bukan karena disengaja). Tetapi jangan sampai melupakan tugas pokok Gereja yaitu “memberitakan Injil Yesus Kristus”.

Yesus adalah teladan dalam pemberitaan Injil (Ia mengabarkan Injil di desa-desa dan di kota-kota). Rasul Paulus mengakui bahwa Ia adalah pengikut Yesus Kristus (1 Kor. 11:1) dan itu berarti Ia meneladani Yesus, termasuk dalam hal memberitakan Injil sesuai dengan panggilan yang Dia terima dari Yesus Kristus melalui Ananias (bdk. Kis. 9:15, “… orang ini [Saulus] adalah alat pilihan bagi-Ku untuk memberitakan nama-Ku kepada bangsa-bangsa lain serta raja-raja dan orang-orang Israel”).

Jika kita mengaitkannya dengan Amanat Agung Yesus Kristus dalam Matius 28:19-20 maka urutannya sangat jelas:

Pertama, pergilah, jadikanlah semua bangsa murid-Ku. Untuk menjadikan semua bangs murid Yesus, ditempuh dengan cara “pergi memberitakan Injil Yesus”. Proses ini adalah proses paling awal dari sebuah pelayanan Kristen. Paulus memberikan konfirmasi bahwa dia diutus bukan untuk membaptis melainkan untuk memberitakan Injil. Paulus tahu benar apa tugas utamanya sebagai Rasul.

Kedua, baptislah mereka dalam nama Bapa, Anak, dan Roh Kudus. Kelanjutan dari pemberitaan Injil adalah ketika ada orang yang percaya pada pemberitaan Injil maka tugas kita adalah membaptis mereka sebagai tanda bahwa mereka diterima sebagai anggota tubuh Kristus dan menikmati persekutuan di dalam kasih (sebagai pengikat yang mempersatukan dan menyempurnakan [tidak lagi melihat perbedaan status, tetapi melihat sesama anggota Gereja sebagai kawan sekerja Tuhan). Mereka yang dibaptis adalah mereka yang telah mengaku dan percaya kepada Yesus Kristus.

Ketiga, ajarlah mereka melakukan segala sesuatu yang telah Kuperintahkan kepadamu. Setiap anggota Gereja yang telah mengaku dan percaya, yang telah dibaptis, memiliki tanggung jawab yang sangat mendasar yaitu melakukan segala perintah Yesus Kristus. Yesus adalah teladan utama dalam hal pengajaran dan memberitakan Injil, dan Rasul Paulus adalah teladan kedua. Dengan demikian, perpecahan dalam Gereja semestinya tidak perlu terjadi, dan tidak boleh terjadi, karena Gereja harus bergairah dalam memberitakan Injil bukan menonjolkan golongan yang dibentuk oleh orang-orang yang menginginkan perpecahan.

Penutup

Pertama,perpecahan dapat terjadi ketika anggota Gereja mulai membentuk golongan tertentu dan kemudian muncullah golongan-golongan lain sebagai tandingan. Maka jangan mengupayakan perpecahan melainkan mengupayakan sikap hidup dalam kasih dan mengutamakan penginjilan. Teladanilah Yesus dan Paulus, Rasul yang dipilih-Nya.

Kedua, Gereja dipanggil oleh Tuhan bukan untuk menciptakan perpecahan, melainkan untuk menjalankan Amanat Agung Yesus Kristus.

Ketiga, Gereja harus terus menyadari akan bahaya perpecahan, dan sedapat mungkin untuk berfokus pada tugas pelayanan penginjilan, di samping pelayanan-pelayanan lainnya seperti marturia dan diakonia.

Keempat, kita dipanggil oleh Tuhan untuk menunjukkan sikap saling mengasihi satu dengan lainnya sehingga tidak menimbulkan ketimpangan di antara sesama anggota Gereja. Semua anggota Gereja harus mendapat perlakuan yang sama, dan tidak dibeda-bedakan.

Kelima, seumur hidup kita hanyalah untuk melakukan apa yang berkenan kepada Yesus Kristus, meneladani-Nya, dan sebagai akibatnya, kita menyenangkan hati-Nya, memenangkan banyak jiwa bagi kemuliaan nama-Nya untuk dibawa ke dalam Gereja.

Jangan ada perpecahan di antara kita!

Salam Bae…

YANG TEGAR MENGHADAPI TANTANGAN: Refleksi Amsal 30:29-31

Kehidupan menyediakan serangkaian makna yang didapatkan dari proses kehidupan itu sendiri. Hal-hal yang dilalui, dijalani, dihadapi, dipikirkan, merupakan ‘cara’ membentuk opini seseorang terhadap hidup itu sendiri. Ketegaran menjalani, menghadapi, dan memaknai tantangan kehidupan membawa seseorang kepada kondisi kokoh yang di dalamnya menyediakan ‘warisan’ bagi orang lain sejauh yang dapat diwariskan.

“Yang tegar menghadapi tantangan” yang diambil dari Amsal 30:29-31 memfokuskan pada sebuah analogi kehidupan yang digambarkan melalui binatang, dan secara khusus, singa, yang kuat dan tak pernah mundur menghadapi tantangan. Hal itu merupakan sebuah pelajaran bahwa manusia dapat melihat analogi tersebut dan dilekatkan pada dirinya.

Perjuangan manusia dalam menghadapi tantangan kehidupan, sering dikaitkan dengan ciptaan lainnya. Ini disebut dengan “pembelajaran analogi”. Misalnya Salomo menyebutkan sebuah prinsip kehidupan yang bahagia di masa sekarang dan masa depan dengan menyebut: “Hai pemalas, pergilah kepada semut, perhatikanlah lakunya dan jadilah bijak” (Ams. 6:6). Yesus juga menggunakan analogi demikian; Ia memerintahkan para murid untuk menjadi cerdik seperti ular dan tulus seperti merpati.

Dari dua contoh tersebut, kita bisa menganalogikan segala sesuatu (di luar diri manusia) dengan kehidupan kita. Analogi-analogi tersebut dapat kita jumpai dalam kitab Pengkhotbah, seperti: “Tetapi siapa yang termasuk orang hidup mempunyai harapan, karena anjing yang hidup lebih baik dari pada singa yang mati (9:4); “Lebih baik berjumpa dengan beruang betina yang kehilangan anak, dari pada dengan orang bebal dengan kebodohannya” (Ams. 17:12).

Dalam kisah percintaan juga analogi ini muncul dalam Kitab Kidung Agung:

1:15 — Lihatlah, cantik engkau, manisku, sungguh cantik engkau, bagaikan merpati matamu.

4:1 … Rambutmu bagaikan kawanan kambing yang bergelombang turun dari pegunungan Gilead.

4:2  Gigimu bagaikan kawanan domba yang baru saja dicukur ….

5:11  Bagaikan emas, emas murni, kepalanya, rambutnya mengombak, hitam seperti gagak.

Dari analogi-analogi tersebut, baik yang sifatnya moralitas, kebahagiaan, prinsip hidup dan iman, maupun kisah cinta, dan kekaguman atas seseorang, secara substansial sebenarnya menggambarkan bahwa kehidupan ini “berwarna [-warni]” ketika kita dapat menganalogikan—serta belajar darinya—segala sesuatu dengan kehidupan yang kita jalani. Tuhan memberikan analogi pembelajaran dari ciptaan lainnya, yang darinya manusia dapat melihat dirinya sendiri untuk belajar dari sesuatu di luar dirinya.

GAMBARAN KHUSUS AMSAL 30:29-31 DAN TERAPANNYA

Ada tiga binatang yang disebut oleh penulis amsal: singa, ayam jantan, kambing jantan. Ketiga binatang ini disebutkan sebagai binatang yang gagah jalannya. Namun, penulis amsal—Agur bin Yake—menyebut gambaran ketiganya secara berbeda: singa digambarkan sebagai binatang “yang tidak mundur terhadap apapun”; ayam jantan yang angkuh; kambing jantan yang angkuh. Kemudian penulis amsal mensejajarkan ketiga binatang tersebut dengan “cara berjalan” seorang raja di depan rakyatnya.

Ada hal menarik yang perlu dicermati dari bacaan ini. Secara jelas penulis amsal menyebutkan soal “langkah” dari tiga binatang dan seorang raja.

Apa yang menarik dari sebuah “langkah”? Langkah seorang anak kecil yang baru belajar berjalan tentu berbeda dengan langkah anak berumur 5 tahun. Langkah anak remaja berbeda dengan langkah seorang direktur. Langkah seorang direktur berbeda dengan langkah seorang kakek tua renta umur 90 tahun. Langkah seorang budak berbeda dengan langkah seorang majikan; langkah seorang rakyat kecil, berbeda dengan langkah seorang raja. Dari sini dapat ditarik kesimpulan bahwa “langkah” memperlihatkan pola hidup, tantangan hidup, dan hasil hidup.

Tema “Yang Tegar Menghadapi Tantangan” dapat digambarkan dengan sebuah “langkah”. Ketika langkah binatang atau manusia menjadi lain dari biasanya, maka ada sesuatu yang mengganggu “pola hidupnya”: bisa berupa perilaku, ekonomi, dan sebagainya.

Tantangan hidup” dapat menentukan “langkah” binatang dan manusia. Di ayat 30 disebutkan, “singa, yang terkuat di antara binatang, yang tidak mundur terhadap apapun.” Meski ada tantangan, singa tak mundur—sebuah konteks di mana singa tak menghasilkan langkah “melarikan diri” dari tantangan, tetapi sebaliknya, singa tak mundur, ia bertahan dari serangan di luar dirinya.

Hasil hidup” sering disebabkan dari sebuah “langkah” yang diambil atau dikerjakan. Di sini, langkah menjadi lebih cair atau longgar untuk memaknai kehidupan. Langkah bisa berarti sebuah keputusan untuk menetapkan, menjalankan, dan mengerjakan sesuatu; langkah juga dapat diartikan sebagai gerakan dari satu titik (situasi/kondisi) ke titik (situasi/kondisi) yang lain.

Orang-orang yang mengakui kekuasaan Tuhan dan percaya kepada-Nya, perlu memperhatikan langkah apa yang harus diambil. Mundur atau menyerah menghadapi tantangan (cobaan, pergumulan, kesulitan, tekanan, dan sebagainya) membuktikan “langkah” seseorang mengalami kemunduran.

“Langkah” yang digambarkan oleh penulis amsal adalah sebuah identitas hayati, baik binatang maupun manusia. Manusia dapat mengambil pelajaran dari binatang yang juga adalah ciptaan Tuhan. Langkah dapat menentukan arah hidup seseorang; arah kembara iman seseorang; dan arah hasil kehidupan.

“Yang Tegar Menghadapi Tantangan” adalah mereka yang menetapkan “langkah” hidupnya untuk memilih tegar, bertahan, dan berjuang untuk menghadapinya. Keyakinan tersebut tentu didasari pada kesadaran bahwa ketegaran yang dimiliki seseorang adalah karena kekuasaan Tuhan. Dialah yang melakukan segala sesuatu yang ajaib dan dahsyat dalam kehidupan orang percaya.

BUTIR-BUTIR PERMENUNGAN

Pertama, ketegaran orang percaya dalam menghadapi tantangan diwujudkan dalam langkah yang ditetapkan: tidak mundur, tidak menyerah, tidak putus asa, tidak kecewa dengan Tuhan, penuh keyakinan, penuh iman kepada Tuhan, dan penuh konsentrasi.

Kedua, setiap manusia dapat saja menemukan, menghadapi, dan dihampiri tantangan. Namun, bagaimana cara menghadapi tantangan tersebut (meski datang tanpa kita duga) adalah melalui sebuah keyakinan bahwa “bersama Tuhan, kita dapat keluar dari tantangan-tantangan”. Bahkan bersama Tuhan, kita dapat melakukan perkara-perkara yang besar. Tinggal menunggu waktu Tuhan saja. Ia akan bertindak.

Ketiga, langkah hidup adalah identitas pribadi; seperti apa identitas kita, ditentukan dari langkah yang kita  lakukan; keberhasilan dan kehormatan dapat dicapai dari sebuah langkah kecil hingga ke langkah yang besar.

Keempat, “Langkah” yang kita ambil dan tetapkan, akan menentukan seperti apa pola hidup, tantangan hidup dan hasil hidup kita. Dengan demikian, siapa “yang tegar, pasti akan sanggup menghadapi tantangan” melalui ketetapan “langkah” hidupnya.

Ingatlah pesan pemazmur: “TUHAN menetapkan langkah-langkah orang yang hidupnya berkenan kepada-Nya; apabila ia jatuh, tidaklah sampai tergeletak, sebab TUHAN menopang tangannya” (Mzm. 37:23-24). Tuhan memberkati kita semua.

Salam Bae…

Sumber gambar: https://id.pinterest.com/pin/492299803022876201/

KETIKA TUHAN TURUN TANGAN

Ada luapan sukacita dan syukur tatkala kita menerima sesuatu dari Tuhan, yang telah lama kita nanti-nantikan. Kadang, kita terpesona dengan bagaimana Tuhan bekerja. Tak dapat dipungkiri bahwa dalam prosesnya kita seringkali merasa tertekan dengan keadaan, kuatir yang berlebihan, merasa kecewa dengan orang lain, bahkan kecewa dengan orang-orang terdekat hingga kecewa dengan diri sendiri.

Kita sendiri melihat dan menilai apa yang terjadi dengan diri kita. Dengan berbekal kekuatan dan sedikit hikmat, kita tertatih-tatih melewati proses demi proses. Tuhan menempa kita sedemikian rupa hingga kita beroleh hati yang bijaksana, kita kuat dalam iman, dan memiliki harapan yang kokoh di dalam Tuhan.

Ada makna di balik setiap peristiwa. Makna itu selalu dikaitkan pada dua konteks: Tuhan akan menjadikan indah pada waktu-Nya dan Tuhan bekerja sesuai dengan kehendak (kedaulatan-Nya). Keduanya terangkum dengan satu fakta: “Tuhan turun tangan”. Apa yang terjadi ketika Tuhan turun tangan? Ada beragam pemahaman terhadapnya karena konteks-konteks yang dilihat oleh setiap orang berbeda-beda.

Namun, ada hal menarik yang ingin saya bagikan di sini. Tuhan turun tangan adalah sebuah fakta yang penting dalam hidup manusia dalam konteks kita masing-masing. Karena gumul juang kita berbeda-beda maka “Tuhan turun tangan” menandakan Ia berkehendak untuk menolong, menghibur, menguatkan, memberikan kelepasan, memberikan sukacita dan syukur, mengangkat saat kita terjatuh, menopang, memberi jalan keluar, membalas semua kejahatan orang lain terhadap kita, menghukum mereka yang berbuat jahat (menipu, bermain ‘mata’, menghina orang lain, meremehkan hamba Tuhan, ikut dalam permufakatan jahat terhadap seseorang).

Ketika “Tuhan turun tangan” adalah jawaban atas harapan dan doa-doa kita. Jangan berhenti berharap; jangan berhenti berdoa; Ia pasti akan turun tangan untuk menyatakan kasih, kehendak, dan hukuman. Ia begitu mengasihi kita. Jangan biarkan kita dikuasai dosa dan kemunafikan. Bawalah gumul juangmu kepada-Nya. Ia menolong kita yang mengasihi-Nya. Ia peduli; Ia baik dan telah berbuat baik.

Adalah bagian dari proses hidup kita ketika berbagai peristiwa datang menghampiri kita. Tak perlu berkecil hati saat kita merasakan ketidakadilan, perlakukan yang tidak semestinya, saat kita dihempaskan, diabaikan (diacuhkan), saat kita dianggap tidak berguna. Bangkitlah, sebab Tuhan akan memberikan kelegaan dan sukacita; Ia akan turun tangan menggenggam tangan kita. Berserah, berharap, dan berdoa. Ia akan tampil bercahaya dalam hidup kita.

Nantilah pertolongan Tuhan. Saat Ia turun tangan kita akan melihat betapa dahsyatnya Tuhan itu. Tak ada kata yang cukup mewakili keterkaguman kita terhadap perbuatan-perbuatan Tuhan itu. Sungguh, kita dididik sedemikian rupa, ditempa dengan berbagai-bagai persoalan, tetapi Tuhan tak membiarkan kita jatuh sampai tergeletak. Berserah, berhadap, dan berdoalah senantiasa. Ada “waktu” yang Tuhan sediakan bagi kita. Ia telah menyimpannya dan akan menghadiahkannya kepada kita.

Ketika Tuhan turun tangan, nantikanlah keajaiban-Nya tampil di depan mata kita. Meski terdesak, meski tersakiti, meski kita tidak menerima bagian kita yang semestinya, tetap yakin bahwa suatu saat Tuhan akan turun tangan bagi kita. Ia peduli dan akan membuatnya indah pada waktu-Nya.

Kita diberikan hati yang kuat untuk melewati berbagai proses kehidupan. Di samping itu, iman akan menuntun kita menemui padang rumput hijau, di mana di situ tersedia segala berkat dan kemurahan-Nya. Tuhan itu baik dan telah berbuat baik. Berserah, berhadap, dan teruslah berdoa. Ia akan turun tangan.

Salam Bae…

Sumber gambar: https://fineartamerica.com/featured/he-lifts-me-up-danny-hahlbohm.html?product=poster

MERDEKA MENUJU KEMULIAAN: Refleksi Roma 8:18-21

Sumber gambar: https://dontcallmebetty.tumblr.com/post/47882756576/thealienchild-hippie-nature-spiritual

Pendahuluan

Kemuliaan yang Tuhan berikan kepada kita memiliki alasan eskatologis. Artinya, mereka yang percaya kepada Tuhan, tidak akan mendapatkan harapan kosong atau bahkan upah yang kosong, melainkan menerima harapan yang terpenuhi (digenapi), menerima kemuliaan, mendapatkan mahkota, dan menikmati kehidupan kekal di dalam Kerajaan-Nya.

Iman menuntun kita kepada kemuliaan Allah. Dengan iman, kita melangkah di jalan Tuhan, hidup, bertumbuh dalam kasih dan pengharapan. Dalam perjalanan iman, kita diperhadapkan dengan berbagai hal yang membentuk komitmen, perilaku, bahkan membentuk karakter kita selaras dengan kehendak-Nya. Penderitaan adalah salah satu hal yang menjadi familiar di tengah konsep kita beriman, fakta di mana kita menjalani dan merealisasikan iman itu. Ada kemerdekaan di dalam iman kepada Yesus. Merdeka dari dosa adalah cara Ia membentuk karakter kita.

Makna merdeka dari dosa berarti kita telah dilepaskan dari kungkungan dosa, dipanggil keluar dari kehidupan yang lama, dan terus dipimpin Roh Kudus untuk menerima kemuliaan Tuhan di dalam Kerajaan-Nya. Apakah manusia bisa merdeka dari jerat dosa dan kejahatan? Tentu tidak bisa; kecuali Tuhan sendiri yang “memerdekakannya.”  Konsep kemerdekaan Kristen sejatinya merupakan sebuah fakta di mana Tuhanlah yang berinisiatif memerdekakan manusia dari segala jerat dosa dan kejahatan. Tak ada manusia yang cukup kuat, cukup iman, cukup umur, dan cukup uang (harta kekayaan) yang dapat melepaskannya dari jerat dosa dan kejahatan. Hanya Tuhanlah yang sanggup melakukannya. Oleh karena itu, memerdekakan manusia dari dosa adalah pekerjaan Tuhan semata-mata.

Pembahasan

Teks Roma 8, secara khusus ayat 18-30 berbicara mengenai harapan dari hidup beriman kepada Yesus Kristus. Harapan itu ada karena Tuhan telah memberikan kemerdekaan kepada orang percaya. Rasul Paulus adalah contoh nyata bahwa ia telah mengalami kemerdekaan di dalam Yesus Kristus; hidupnya yang lama telah ditanggalkannya, dan mengenakan manusia baru; ia meyakini bahwa apa yang dia imani memiliki harapan di kemudian hari (bersifat eskatologis). Harapan itu adalah sebuah keyakinan akan menikmati kemuliaan Tuhan dalam kerajaan-Nya.

Kita melihat, bahwa ayat 18 menjelaskan keyakinan Rasul Paulus, bahwa mengikut Yesus memang bisa mengalami penderitaan, tetapi penderitaan yang dialaminya sekarang tidak dapat dibandingkan dengan upah (kemuliaan) yang akan dinyatakan Tuhan di kemudian hari.

Paulus melanjutkan (ay. 19-21), bahwa dalam keselamatan terkandung harapan; harapan untuk menikmati upah dan kemuliaan yang diberikan Tuhan; harapan untuk mencapai garis akhir tujuan iman kita kepada Yesus Kristus. Rasul Paulus menegaskan (ay. 24) bahwa “kita diselamatkan dalam pengharapan”. Sejatinya, pengharapan adalah kerinduan iman untuk dapat menikmati janji-janji Tuhan. Mengikut Tuhan berarti akan menerima realisasi dari janji-janji-Nya.

Kita beriman bukanlah sembarang beriman. Beriman memiliki tujuan yang jelas. Yesus Kristus adalah “jalan keselamatan” menuju Bapa-Nya yang di sorga. Kondisi merdeka dari segala jerat dosa dan kejahatan, membawa semua orang percaya kepada kemuliaan surgawi yang disediakan Allah Bapa.

Apa yang kita alami sekarang bukanlah penghalang untuk menolak kasih karunia Tuhan Yesus. Jangan sampai penderitaan yang dialami menjadikan kita sebagai pribadi-pribadi yang meragukan kasih dan kuasa Tuhan yang telah memerdekakan kita. Memang, penderitaan itu sangatlah berat; ada yang menyangkal imannya karena penderitaan yang dialaminya; ada pula yang tetap setia, bertahan dalam iman kepada Yesus Kristus, hingga mati dalam kesetiaannya kepada Yesus Kristus. Paulus adalah salah satu contohnya. Mereka yang setia telah berbahagia, dan Tuhan memberikan hadiah yang besar: “kemuliaan dan kehidupan kekal”. Itulah harapan dari iman kepada Yesus Kristus.

Dari semua yang kita alami, rasakan, dan kita jalani dalam konteks mengikut Yesus, kita pun harus mengingat bahwa Tuhan turut bekerja dalam segala sesuatu untuk mendatangkan kebaikan bagi mereka yang mengasihi Dia, yaitu mereka yang terpanggil sesuai dengan rencana Allah (ay. 28). Ada prinsip-prinsip yang perlu kita pahami dan pegang.

Berikut ini adalah prinsip-prinsip—sebagaimana yang ditegaskan oleh Rasul Paulus (ay. 29-30)—yang harus kita pahami baik-baik dan kita pegang:

  1. Mereka yang dipilih-Nya dari semula, adalah mereka yang ditentukan-Nya dari semula.
  2. Mereka yang ditentukan-Nya dari semula, adalah mereka yang dipanggil-Nya (konfirmasi faktual).
  3. Mereka yang dipanggil-Nya, adalah mereka yang dibenarkan-Nya (diselamatkan).
  4. Mereka yang dibenarkan-Nya, adalah mereka yang juga akan dimuliakan (menerima upah dari pemilihan Tuhan atas mereka).

Prinsip-prinsip di atas mengarahkan kita bahwa segala sesuatu datangnya dari Tuhan, ditetapkan oleh Tuhan, dijamin oleh Tuhan, ditopang oleh Tuhan, dan membawa itu semua kembali kepada Tuhan. artinya, dari Dia, karena Dia, dan oleh Dia.

Penutup

Merdeka menuju kemuliaan adalah harapan dari iman kita. Harapan itu ada karena Tuhan telah memberikan “kemerdekaan” kepada orang percaya. Dengan demikian, kita harus serius untuk hidup beriman dan tetap setia pada Tuhan, melakukan kehendak-Nya, setia untuk tetap menjaga iman dan harapan yang kita terima dari Tuhan. Itulah keyakinan kita. Tuhan menjaminnya bagi kita yang setia.

Upah dari kesetiaan kita kepada Tuhan adalah mendapatkan mahkota kehidupan, dan hidup yang kekal. Beriman dan setia adalah dua kesadaran diri, dan bahwa kita telah dimerdekakan oleh Yesus Kristus melalui kematian-Nya dan kebangkitan-Nya. Akhirnya, kita yang telah “merdeka” karena kasih dan kuasa Yesus Kristus, akan diperhadapkan dengan kehidupan yang berat, kehidupan yang diwarnai dengan berbagai penderitaan. Namun, penyertaan-Nya selalu ada dan tetap ada. Tidak hanya itu saja, kita yang beriman dan merdeka, dapat juga merasakan kasih dan kuasa Tuhan Yesus yang menopang, memberkati, dan menyertai perjalanan kehidupan kita, hari demi hari.

Tuhan Yesus Memberkati Kita Semua. Salam Bae…..

Artikel ini diterbitkan dalam buku Antologi:

TUHAN MEMINTA YANG TERBAIK: Kumpulan Refleksi Iman dan Pelayanan sebagai Penghargaan kepada Pdt. Dr. Matheus Mangentang di Usianya ke-63 Tahun. Editor: Stenly R. Paparang, Kembong Mallisa’, Purnama Pasande, Yosia Belo, Jeffrit K. Ismail. Copyright © 2019. Penerbit Pustaka STAR’S Lub. ISBN 978-623-90326-9-2.

TUHAN MEMINTA YANG TERBAIK

Refleksi Imamat 3:1-117

Sumber gambar: https://id.pinterest.com/pin/234890936803500844/

Lima pasal pertama dalam kitab Imamat berbicara mengenai lima jenis kurban, yaitu: kurban bakaran, kurban sajian, kurban keselamatan, kurban penghapus dosa, dan kurban penebus salah. Korban-korban tersebut memiliki ketentuan dan tujuannya masing-masing. Hal ini menunjukkan bahwa Tuhan begitu ketat dalam memberikan dan mengajarkan tentang prinsip hidup dan konsekuensinya kepada umat-Nya.

Kita melihat bahwa sampai sekarang prinsip ini masih berlaku. Bukan pada kurban-kurban, melainkan pada prinsip. Kurban-kurban yang ditentukan Tuhan mengisyaratkan adanya tata cara yang harus dilalui dan dilakukan oleh orang-orang Israel, dan juga oleh para imam. Semua mendapat tugas dan tanggung jawab. Tuhan tidak membiarkan seseorang “menganggur” dalam melayani-Nya. Tak lupa pula, dalam proses mengikut Tuhan, ada berbagai konsekuensi yang diterima, baik konsekuensi positif maupun konsekuensi negatif.

KONTEKS

Dari teks Imamat 3:1-117, tampak bahwa konsekuensi yang diterima oleh orang Israel adalah konsekuensi positif yaitu “kurban [untuk] keselamatan].” Allah tidak menginginkan umat-Nya yang melakukan pelanggaran (dosa) lalu santai-santai seolah-olah tidak terjadi apa-apa. Apa yang Tuhan perintahkan kepada mereka menandakan bahwa mereka harus menerima konsekuensi dari segala jenis perbuatan tidak benar di hadapan-Nya, dan mengikuti peraturan (“aturan main”) Tuhan, sebagaimana tampak dalam bacaan kita tadi.

Empat jenis binatang yang dipersembahkan kepada Tuhan sebagai kurban keselamatan adalah bentuk kepedulian Tuhan atas umat-Nya. Ia telah berbuat baik dan begitu baik, maka tentu Ia konsisten: meminta yang terbaik dari umat-Nya. Tidak hanya yang terbaik, tetapi juga mengikuti ketentuan-Nya, tidak sembarangan. Persembahan yang baik menurut kita, belum tentu baik menurut Tuhan. Oleh sebab itu, baik jenis binatang yang dipersembahkan, Tuhan memberikan ketentuan-ketentuan yang harus dilakukan sehingga proses mempersembahkan persembahan kepada Tuhan, tidak terkesan sembarangan dan asal-asalan.

Berikut penjelasan singkat mengenai empat jenis persembahan (binatang) yang dipersembahkan kepada Tuhan sebagai kurban keselamatan, terdiri atas jenis (binatang) persembahan dan ketentuannya:

Pertama: Lembu (seekor jantan atau betina). Ketentuannya: (1) Persembahan haruslah yang “tidak bercela” (ay. 1); (2) Darah kurban disiramkan pada mezbah sekeliling Kemah Pertemuan (ay. 2); (3) Persembahan harus selektif yaitu lemak (ay. 3); dan (4) Dibakar oleh anak-anak Harun (ay. 5).

Kedua: Kambing domba (seekor jantan atau betina). Ketentuannya: Persembahan haruslah yang “tidak bercela” (ay. 6).

Ketiga: Domba. Ketentuanya: (1) Darah kurban disiramkan pada mezbah sekeliling Kemah Pertemuan (ay. 8); (2) Persembahan harus selektif yaitu lemak (ay. 9); dan (3) Dibakar oleh imam (ay. 11).

Keempat: Kambing. Ketentuannya: Darah kurban disiramkan pada mezbah sekeliling Kemah Pertemuan (ay. 13); (2) Persembahan harus selektif yaitu lemak (ay. 14); (3) Dibakar oleh imam (ay. 16).

Dari empat jenis binatang kurban di atas, semuanya memiliki ketentuan. Ketentuan ini dimaksudkan agar bangsa Israel tidak “sembarangan mempersembahkan” persembahan kepada Tuhan. Tuhan tentu meminta yang terbaik; Tuhan memilih yang terbaik. Tujuannya adalah agar kita menerima yang terbaik dari Tuhan.

Ketentuan-ketentuan yang diberikan adalah untuk mendidik bangsa Israel, bahwa persembahan itu haruslah memenuhi kriteria yang ditetapkan Allah. Jika mereka berdosa kepada Allah, bukankah masuk akal dan konsisten jika Allah menetapkan ketentuan-ketentuan persembahan?

Dengan demikian, persembahan kepada Allah janganlah dimanipulasi, janganlah dikorupsi, janganlah dinajiskan, janganlah dikotori oleh cara-cara yang kurang ajar, cara-cara yang sembarangan. Allah kita adalah pribadi yang kudus, maka konsekuensi logisnya adalah persembahan itu harus kudus.

BUTIR-BUTIR PERMENUNGAN

Pertama. Tuhan telah berbuat banyak hal terhadap diri, keluarga, pelayanan, dan pekerjaan kita. Jika demikian, masihkah kita mengeluh kepada Tuhan ketika Tuhan meminta kepada yang terbaik dari kita untuk dipersembahkan kepada-Nya?

Kedua. Persembahan yang diperuntukkan bagi Tuhan, tidak boleh diambil sesuka hati: “Janganlah sekali-kali kamu makan lemak darah” (ay. 17). Artinya, lemak darah kurban yang dipersembahkan bagi Tuhan, tidak boleh dialihkan kepada yang lain, dan tidak boleh diambil oleh yang mempersembahkan kurban. Apa yang dikhususkan untuk Tuhan, harus benar-benar untuk Tuhan.

Ketiga. Kita mungkin seringkali mengatakan: “Tuhan, aku mengasihi-Mu”. Jika demikian, akankah kita memberikan yang terbaik kepada-Nya, seperti: waktu, potensi, dan sebagainya?

Keempat. Jika Tuhan—setiap waktu—memberikan yang terbaik kepada kita, apakah kita tetap konsisten memberikan yang terbaik kepada Tuhan selagi kita masih hidup?

Salam Bae…

Artikel ini diterbitkan dalam buku Antologi:

TUHAN MEMINTA YANG TERBAIK: Kumpulan Refleksi Iman dan Pelayanan sebagai Penghargaan kepada Pdt. Dr. Matheus Mangentang di Usianya ke-63 Tahun. Editor: Stenly R. Paparang, Kembong Mallisa’, Purnama Pasande, Yosia Belo, Jeffrit K. Ismail. Copyright © 2019. Penerbit Pustaka STAR’S Lub. ISBN 978-623-90326-9-2

JANGAN JEMU-JEMU BERBUAT BAIK: Refleksi Galatia 6:1-10 (Bagian 2)

Sumber gambar: https://id.pinterest.com/pin/755197431266775115/

Pendahuluan

Hampir setiap orang memiliki pemahaman tentang “perbuatan baik”. Pemahaman setiap orang tentang “perbuatan baik” kadang dilatari oleh budaya, filsafat, teologi, agama, denominasi, suku, bangsa, dan lain sebagainya. Perbuatan baik menurut seseorang, belum tentu baik jika dipandang oleh orang lain, demikian sebaliknya.

Kitab Suci memiliki penjelasan menarik tentang apa itu perbuatan baik. Tuhan adalah Sumber kebaikan itu. Ia telah menunjukkan kebaikan-Nya kepada manusia dengan menyediakan segala sesuatu. Pemazmur menyatakan: “Bersyukurlah kepada TUHAN sebab Ia baik. Bahwasanya kasih setia-Nya untuk selama-lamanya” (Mzm. 107:1).

Kebaikan Tuhan tampak dari tiga hal yaitu: providensia (pemeliharaan), pengampunan (perwujudan kasih Tuhan yang besar), dan penyelamatan (yang dalam konteks iman Kristen dikaitkan dengan pengurbanan Yesus Kristus di kayu salib sebagai wujud kasih Bapa kepada manusia berdosa). Dari ketiga kebaikan Tuhan di atas, kebaikan yang dapat ditiru oleh manusia (orang percaya) adalah pengampunan(mengampuni). Mengapa? Karena Tuhan telah terlebih dahulu mengampuni kita maka kita pun harus mengampuni sesama kita. Itulah salah satu perbuatan baik manusia yang bersumber dari Tuhan.

Orang Kristen memahami “perbuatan baik” yang sesuai dengan kehendak Tuhan. Artinya, perbuatan  baik yang dilakukan (berdasarkan pemahaman tadi) mengikuti standar Tuhan. Perbuatan baik yang dilakukan oleh orang Kristen bersumber dari Kitab Suci. Tidak ada hambatan baginya untuk menerapkan segala bentuk perbuatan baik. Apa yang baik menurut Tuhan pasti berguna (bermanfaat) dan berpengaruh bagi manusia yang beriman kepada-Nya. Apa yang baik menurut manusia belum tentu baik menurut Tuhan; perbuatan baik yang ditetapkan Tuhan, pasti menyenangkan hati-Nya ketika kita melakukannya dengan tulus dan jujur.

Di masa sekarang, kita melihat orang-orang dengan berbagai jenis karakternya, berlomba-lomba berbuat baik. Tak jarang, perbuatan baik mereka memiliki motivasi yang terselubung; berbuat baik karena “ada maunya”. Pada prinsipnya, iman Kristen mengajarkan bahwa berbuat baik tidak perlu dilakukan secara hipokrit (munafik) yaitu berbuat baik karena ada “maunya” (motivasi terselubung). Berbuat baik harus dari hati yang tulus dan penuh kasih. Itulah yang berkenan kepada Tuhan dan menyenangkan hati-Nya.

Perbuatan Baik berdasarkan Teks Galatia 6:1-10

Rasul Paulus menjelaskan tentang apa dan bagaimana berbuat baik kepada sesama manusia. Hal ini dimaksudkan sebagai sebuah pengajaran bahwa orang beriman bukan hanya sekadar beriman kepada Tuhan, tetapi harus tahu bagaimana menunjukkan sikap hidupnya sebagai bukti bahwa ia beriman.

Pertama, Paulus memberi makna pada perbuatan umat di Galatia sebagai perbuatan baik yaitu: “memimpin orang yang melakukan suatu pelanggaran, dengan roh lemah lembut” (ay. 1). Yang memimpin orang yang melakukan pelanggaran adalah seorang yang “rohani”. Mengapa? Karena tidak mungkin orang yang suka melakukan pelanggaran dapat memimpin orang yang juga melakukan pelanggaran. Di sini harus ada perbedaan identitas. Mereka yang beriman harus memimpin orang yang belum beriman.

Kedua, perbuatan baik kedua adalah: “Bertolong-tolongan dalam menanggung beban sesama anggota Gereja! Dengan berbuat demikian, itu sudah memenuhi hukum Kristus” (ay. 2). Menolong sesama yang membutuhkan adalah sebuah perbuatan baik yang dikehendaki Tuhan. Menolong bukan supaya dapat imbalan melainkan karena lahir dari kasih yang tulus tanpa menuntut balasan.

Ketiga, perbuatan baik ketiga adalah: “seseorang yang menerima pengajaran dalam Firman, membagi segala sesuatu yang ada padanya dengan orang yang memberikan pengajaran itu” (ay. 6). Saling berbagi adalah hal yang penting terkait dengan perbuatan baik. Apalagi berbagi dengan orang yang telah berjasa pada kita, terutama berjasa dalam mengajarkan firkin Tuhan.

Keempat, perbuatan baik keempat adalah: “menabur dalam Roh”. Perbuatan ini merupakan sebuah konsistensi iman seseorang dengan apa yang dilakukannya. Jika mereka yang hidup dalam Roh Kudus, maka ia harus melakukan segala sesuatu di dalam Roh Kudus. Artinya, perbuatan-perbuatan yang dilakukannya selaras dengan kehendak Roh Kudus.

Keempat perbuatan baik di atas perlu dilakukan secara berkelanjutan—tidak jemu-jemu (tidak bosan-bosan). Melakukan perbuatan baik selagi masih ada waktu dan kesempatan, adalah pilihan utama orang percaya. Berbuat baik dimulai dari lingkungan kita, komunitas kita, kepada saudara-saudara kita yang seiman.

Konteks Sebelumnya dari Galatia 6:1-10

Untuk memahami berbagai jenis perbuatan baik sebagaimana yang disebutkan di atas, kita perlu melihat konteks sebelumnya yang dijelaskan Rasul Paulus sebagaimana tercantum dalam pasal 5.

Pertama, mereka yang berbuat baik berarti mereka telah dimerdekakan Kristus (5:1) dan menjadi milik Kristus (bdk. 5:24).

Kedua, mereka yang berbuat baik berarti mereka berada dalam kasih karunia Tuhan (bdk. 5:4).

Ketiga, mereka yang berbuat baik berarti mereka hidup dalam Roh Kudus (bdk. 5:5 dan 16-18) menghasilkan buah Roh (5:22-23) dan dipimpin Roh Kudus (5:25).

Keempat, mereka yang berbuat baik berarti mereka yang tidak mempergunakan kemerdekaan itu sebagai kesempatan untuk kehidupan dalam dosa (bdk. 5:13).

Kelima, mereka yang berbuat baik berarti mereka yang suka melayani sesamanya oleh kasih (bdk. 5:13-14).

Keenam, mereka yang berbuat baik berarti mereka yang tidak lagi dikuasai atau diperbudak oleh perbuatan-perbuatan daging (bdk. 5:19-21).

Ketujuh, mereka yang berbuat baik berarti mereka yang tidak gila hormat, tidak suka menantang dan tidak suka mendengki (5:26).

Jangan Jemu-jemu Berbuat Baik

Prinsip ini—maksudnya “jangan jemu-jemu berbuat baik—merupakan dasar pijak orang percaya. Hal ini adalah prinsip yang dipahami dari personalitas dan karya Tuhan. Pasalnya, kebaikan Tuhan tidak pernah bisa diukur oleh manusia, bahkan tak dapat dibalas oleh manusia. Bahkan mungkin kita pernah mengatakan: “Tuhan, kasih setia-Mu lebih dari hidup”—yang dapat diartikan bahwa kasih setia Tuhan sungguh luar biasa memenuhi dan mengubah hidup kita. Tanpa kasih setia Tuhan, hidup kita menjadi terpisah dari-Nya, dan mustahil kita berbuat baik sesuai dengan kehendak-Nya.

Alasan mengapa kita jangan jemu-jemu berbuat baik adalah karena kita meneladani Tuhan: Ia sangat baik dan telah berbuat baik (bdk. Mzm. 119:68, “Engkau baik dan berbuat baik….”). Bahkan penulis Amsal mengabadikan peran seorang istri yang cakap, yang berbuat baik kepada suaminya dan tidak berbuat jahat sepanjang umurnya sebagaimana tercantum dalam Amsal 31:12). Ia menyediakan makanan untuk seisi rumahnya (Ams. 31:15). Mengapa ia bisa berbuat demikian? Karena ia takut akan TUHAN (Ams. 31:30).

Benarlah apa yang dikatakan pemazmur: “Aku mau menyanyi untuk TUHAN, karena Ia telah berbuat baik kepadaku” (Mzm. 13:6). Orang yang paham tentang makna perbuatan baik dari Tuhan akan melakukan kebaikan kepada orang lain karena ia telah merasakan kebaikan Tuhan. Orang yang tidak jemu-jemu berbuat baik adalah orang yang paham betul mengenai kebaikan Tuhan, dan juga karena ia telah terbiasa dalam hal berbuat baik. Pohon yang baik pasti menghasilkan buah yang baik.

Bahkan ada analogi yang bersifat tajam yaitu ketika Yeremia menyatakan firman TUHAN bahwa: “Dapatkah orang Etiopia mengganti kulitnya atau macan tutul mengubah belangnya? Masakan kamu dapat berbuat baik, hai orang-orang yang membiasakan diri berbuat jahat?” (Yer. 13:23). Yesus sendiri berani menerobos pemahaman yang dangkal dari ahli-ahli Taurat dan orang-orang Farisi, dengan menegaskan bahwa boleh berbuat baik pada hari Sabat. Padahal, meski berbuat baik pada hari Sabat—misalnya menolong orang lain, dianggap sebagai tindakan yang salah oleh ahli-ahli Taurat dan orang-orang Farisi (Mrk. 3:1-6; Luk. 6:6-11; Mat. 12:9-14). Yang terpenting menurut Yesus adalah “berbuat baik”, karena berbuat baik itu dapat melampaui apa pun, hari apa pun, budaya apa pun.

Penutup

Rasul Paulus mendorong jemaat di Galatia untuk memberikan perhatian serius kepada jenis-jenis perbuatan baik dan mengajarkan jemaat di Galatia agar mereka tidak jemu-jemu berbuat baik dengan cara: “memimpin orang yang melakukan suatu pelanggaran, dengan roh lemah lembut”, “Bertolong-tolongan untuk menanggung beban sesama anggota Gereja”, “membagi segala sesuatu kepada orang yang memberikan telah mengajari mereka”, dan “menabur dalam Roh” yaitu segala sesuatu yang dilakukan harus menunjukkan “kekudusan” dan lahir (berasal) dari Roh Kudus.

Jangan jemu-jemu berbuat baik karena Tuhan telah berbuat baik kepada kita. Berbuat baik memang terdengar mudah, tetapi kadang sulit untuk dilakukan. Berbuat baik melibatkan kasih yang tulus dan pengorbanan (tenaga, uang, waktu, harta dan sebagainya). Dalam perspektif Kristen, perbuatan baik adalah tindakan yang dilandasi dengan kasih dan pengorbanan. Mereka yang berbuat sesuatu tetapi tidak mau berkorban, bukan berbuat baik, melainkan hanya ingin terlihat baik; mereka berpura-pura baik, bukan menunjukkan kebaikan yang sesungguhnya (kasih yang tulus dan berkorban bagi sesama).

Jika kita sudah berbuat baik sejak dulu, jadikanlah itu sebagai dorongan untuk berbuat baik di kemudian hari, tanpa merasa bosan. Berbuat baik kadang terlihat buruk ketika dilihat oleh mereka yang iri hati kepada kita. Tetapi pada akhirnya, dari buahnya kita dapat melihat hasilnya, yaitu hasi dari benih-benih perbuatan baik yang kita taburkan setiap hari.

Selamat berbuat baik dengan tidak jemu-jemu. Tuhan Yesus memberkati kita semua. Shalom.

Salam Bae…

Artikel ini diterbitkan dalam buku Antologi:

TUHAN MEMINTA YANG TERBAIK: Kumpulan Refleksi Iman dan Pelayanan sebagai Penghargaan kepada Pdt. Dr. Matheus Mangentang di Usianya ke-63 Tahun. Editor: Stenly R. Paparang, Kembong Mallisa’, Purnama Pasande, Yosia Belo, Jeffrit K. Ismail. Copyright © 2019. Penerbit Pustaka STAR’S Lub. ISBN 978-623-90326-9-2

GIAT MELAYANI TUHAN

Refleksi 1 Korintus 15:58

Sumber gambar: https://id.pinterest.com/pin/373446994105086361/

Identitas anak-anak Allah terlihat dari tiga hal: pertama, sikap hidup setiap hari; kedua, sikap pelayanan; dan ketiga, sikap bekerja. Hal kedua menjelaskan tentang sebuah sikap yang tidak hanya sekadar “melayani” saja, melainkan ada aspek-aspek penting yang menjadi dasar dan menjadi menopang dalam pelayanan. Pada umumnya, melayani adalah sebuah gambaran kegiatan yang rohani (dilakukan oleh orang-orang yang “dipakai” Tuhan) dan dianggap rohani (dilakukan oleh orang-orang yang “merasa dipakai” Tuhan). Secara substansial dan empirikal, keduanya jelas berbeda.

Orang-orang yang melayani Tuhan memiliki orientasi pelayanan yang sesuai dengan kehendak Tuhan. Orientasi tersebut merupakan wujud nyata dari keterpanggilan mereka untuk siap melayani dalam segala hal dan situasi; pula merupakan wujud dari kesadaran iman dan tanggung jawab mereka kepada Tuhan yang telah memakai mereka sebagai alat di tangan-Nya.

Dalam pasal 15 tampak bahwa Rasul Paulus menjelaskan mengenai “kebangkitan”. Berdasarkan konteks, Paulus menjelaskan tiga bagian mengenai kebangkitan yang bersifat doktrinal yaitu: “kebangkitan Yesus” (1 Kor. 15:1-11), “kebangkitan manusia” (orang percaya; 1 Kor. 15:12-34), dan “kebangkitan tubuh” (1 Kor. 15:35-57). Setelah menjelaskan hal-hal yang bersifat doktrinal, maka pada 15:58, Rasul Paulus menyimpulkan dengan pernyataan yang bersifat aplikatif: “Berdirilah teguh, jangan goyah, dan giatlah selalu dalam pekerjaan Tuhan! Sebab kamu tahu, bahwa dalam persekutuan dengan Tuhan jerih payahmu tidak sia-sia.” Baik “doktrinal” (dasar iman) maupun “aplikatif” (giat melayani Tuhan), keduanya haruslah tertuang dalam totalitas kehidupan dan pelayanan orang percaya.

Giat melayani Tuhan bukan hanya sekadar “terlihat” melayani tetapi sungguh-sungguh “memperlihatkan” substansi pelayanan. Jika kita hanya sekadar terlihat melayani, maka kita akan berpura-pura sibuk melayani padahal isi dan tujuannya tidak jelas. Apa saja diperbuat supaya terlihat sibuk melayani. Asal terlihat sibuk, pasti dianggap [telah] melayani. Ini jelas suatu pemahaman yang keliru.

Memperlihatkan substansi pelayanan (giat melayani Tuhan) secara faktual terdapat dalam teks Pada teks 1 Korintus 15:58 (dan kaitannya dengan teks-teks sebelumnya).

Pertama, setiap jenis pelayanan harus menerapkan hal-hal yang bersifat doktrinal untuk menegaskan posisi iman Kristen dibanding ‘iman-iman’ [agama] lainnya. Di sini kita dapat menerapkan pemahaman kita mengenai “kebangkitan Kristus”, atau yang lainnya yang sesuai konteks (situasi dan kondisi). Meski ada yang menolak kebangkitan, kita pun harus menegaskan bahwa Yesus benar-benar bangkit dari antara orang mati. Ini adalah perwujudan dari “orientasi pelayanan yang sesuai dengan kehendak Tuhan.”

Kedua, setiap jenis pelayanan harus menerapkan kemampuan untuk “berdiri teguh dan tidak goyah”. Pelayanan yang kita kerjakan bukanlah tanpa tantangan dan hambatan. Meski demikian, sikap berdiri teguh dan tidak goyah tetap dilakukan. Ini adalah wujud dari “keterpanggilan untuk siap dan giat melayani Tuhan” dalam segala hal dan situasi.

Ketiga, setiap jenis pelayanan harus menerapkan “kesadaran iman” dan “tanggung jawab iman”. Kita harus sadar bahwa Tuhan telah memanggil dan memakai kita sebagai alat di tanggan-Nya, yang dengannya tanggung jawab iman haruslah terwujud, termaknai dalam berbagai jenis pelayanan.

Keempat, setiap jenis pelayanan harus menerapkan “komitmen”kepada Tuhan untuk tetap giat melayani dan berjerih lelah bagi-Nya. Kita dipanggil untuk melayani sesama, giat melayani Tuhan; dan tetap setia dalam segala situasi dan kondisi.

Ingatlah, bahwa hanya mereka yang “setia” dalam melayani Tuhan, yang akan menerima mahkota kehidupan. Oleh sebab itu: “Berdirilah teguh, jangan goyah, dan giatlah selalu dalam pekerjaan Tuhan! Sebab kamu tahu, bahwa dalam persekutuan dengan Tuhan jerih payahmu tidak sia-sia.”

Salam Bae…

TEGURAN TUHAN

Refleksi Keluaran 9:13-35

Sumber gambar: https://id.pinterest.com/pin/185562447119685197/

Pendahuluan

Setiap orang selalu menunjukkan “dicta (perkataan-perkataan) dan “gesta (perbuatan-perbuatan) dalam totalitas hayati humanitas yang dijalani. Ada yang suka berkata-berkata dan berbuat selaras dengan perkataannya; ada yang berbuat tidak selaras dengan perkataannya; ada yang berkata tetapi tidak melakukannya sama sekali. Firaun adalah contohnya. Dalam Kejadian 8:8, Firaun berjanji bahwa jika katak-katak itu dijauhkan TUHAN darinya, maka ia (Firaun) akan melepaskan bangsa Israel. Apa yang terjadi? Sampai tulah kesembilan, Firaun tidak melepaskan bangsa Israel.

Teks Keluaran 9:13-35 menjelaskan kelanjutan dari kekerasan hati Firaun (ketidakkonsistenannya) dengan tidak melepaskan bangsa Israel meskipun ia telah berjanji kepada Musa. Teks ini pula menjelaskan dua hal, teguran TUHAN melalui tulah “hujan es” dan “kekerasan hati Firaun”.

Pokok-pokok Penting

Pertama, frasa “Berfirmanlah TUHAN” menandakan bahwa Ia hendak menyatakan sesuatu (ay. 13). Frasa “Berfirmanlah TUHAN” kadang hanya dilewati begitu saja seolah-olah tidak ada apa-apa dengannya. Padahal, justru di situlah letak inti dari semua kejadian yang mengikutinya (bdk. ay. 22 “Berfirmanlah TUHAN” kepada Musa yang menjelaskan peristiwa turunnya tulah).

Musa diperintahkan untuk bangun pagi-pagi, berdiri menantikan Firaun, dan mengatakan “Beginilah firman TUHAN”, biarkanlah umat-Ku ‘pergi’ supaya mereka ‘beribadah’ kepada-Ku. Perintah TUHAN yang ditujukan kepada Firaun sebenarnya sangat sederhana yaitu hanya membiarkan bangsa Israel keluar dari tanah Mesir untuk beribadah kepada TUHAN.

Kedua, tulah “hujan es” ditujukan kepada Firaun, pegawai-pegawainya, dan rakyatnya. Tujuan diberikan tulah adalah supaya Firaun mengetahui bahwa tidak ada yang seperti TUHAN di seluruh bumi. Maksud di balik tujuan tersebut adalah TUHAN hendak menyatakan bahwa Dialah satu-satunya yang hebat, berkuasa, berdaulat, berotoritas di antara ilah-ilah lain termasuk ilah yang dipercayai oleh Firaun. Di sini TUHAN sedang membandingkan—selain dari pada menyatakan kekuasaan-Nya yang mutlak—diri-Nya dengan ciptaan. Dalam konteks ini, memahami pribadi TUHAN bersumber dari dua hal yakni dalam kaitannya dengan ciptaan dan  dalam kaitannya dengan ontologis (eksistensi personal TUHAN).

Ketiga, setiap tulah (tulah sebelumnya: air menjadi darah, katak, nyamuk, lalat pikat, penyakit sampar pada ternak, barah) hingga tulah ketujuh tidak menyadarkan Firaun akan teguran TUHAN. Dia ayat 27-28 Firaun menyesal tetapi untuk sementara waktu, sebagaimana Musa menegaskannya (ay. 30), bahwa Firaun dan para pegawainya, belum takut kepada TUHAN. Mengenai teguran TUHAN kepada Firaun juga dibuktikan dengan tulah-tulah berikutnya yang menyatakan bahwa Firaun masih belum sadar akan teguran TUHAN sebab di pasal 10-12 masih ada tiga tulah (belalang, gelap gulita selama tiga hari, dan anak sulung orang Mesir, mati). Bahkan, di ayat 34-35 dijelaskan bahwa Firaun dan para pegawainya, terus berbuat dosa, berkeras hati. Ia pun tidak melepaskan orang Israel pergi.

Kematian menyadarkan Firaun?

Hingga akhirnya, “kematian” menyadarkan Firaun (12:29-33). Teguran TUHAN melalui tulah-tulah (pertama sampai kesembilan) belum menyadarkan Firaun. Ia berkeras hati, ia terus berbuat dosa, ia terus tidak menepati janjinya untuk melepaskan bangsa Israel sebagaimana yang dikatakan Musa kepadanya. Dan pada akhirnya, pasca kematian anak sulungnya dan semua anak sulung rakyatnya, barulah ia sadar dan mengakui bahwa memang TUHAN orang Israel itu hebat.

Firaun sebenarnya banyak mendapat kemurahan dari TUHAN, hanya saja karena ia berkeras hati dan ingin menunjukkan kekuasaannya yang hanya secuil untuk menantang kekuasaan TUHAN atas seluruh bumi. Firaun malahan diberikan kesempatan sampai sembilan kali oleh TUHAN, tetapi ia membuangnya dengan percuma.

Butir-Butir Permenungan

Ada hal yang membuat kita sulit mengeluarkan kebaikan dari dalam diri dan justru memasukkan dosa ke dalam diri kita sendiri. Ketika dosa telah menjadi habit, maka seseorang akan terus berkeras hati, terus melakukan dosa, sehingga kebaikan dalam diri tidak lagi keluar. Kebaikan diri kita bukanlah dari luar, melainkan dari dalam yang harus keluar (dikeluarkan).

“Keras hati” adalah sebuah frasa yang menegaskan bahwa niat seseorang untuk mengabaikan TUHAN, masa bodoh dengan teguran TUHAN, bahkan lebih dari itu, ada orang yang merasa “nyaman” dalam dosa, disimpan rapi dalam dirinya. Ini sangat berbahaya. Jangan sampai kita asyik dengan dosa “keras hati” dan tidak mau berbalik kepada TUHAN (metanoia).

Teguran TUHAN itu ada bermacam-macam. Tinggal bagaimana kita memahami dan memaknainya serta mengkorelasikan dengan apa yang telah kita buat selama ini. Sebagaimana kebaikan tidak pernah terbuang percuma, maka kejahatan juga tidak pernah terbuang percuma. Kebaikan yang kita buat akan dibalas oleh TUHAN, demikian juga dengan kejahatan.

Taburlah kebaikan selagi masih ada waktu. Buanglah keras hati dan masa bodoh dengan TUHAN; jadilah pelaku-pelaku firman yang menyelaraskan antara dicta dan gesta seumur hidup kita. Amin.

Salam Bae…

JANGAN MENYOMBONGKAN DIRI

Refleksi Keluaran 18:1-12

Sumber gambar: https://id.pinterest.com/pin/807340670674924817/

Pendahuluan

“Kesadaran” adalah bagian dari kehidupan kita. Dengan kesadaran kita dapat menempuh jalan hidup kita, menjaganya, dan mempertahankannya. Kita tidak dapat memisahkan identitas kita dengan bagaimana caranya kita bersikap. Artinya, meskipun kita memiliki identitas yang terpandang dan terhormat, tetapi moralitas dan sikap rendah hati tak bisa tidak harus dilakukan dan ditunjukkan. Itulah makna kesadaran diri, tidak menyombongkan diri. Antara kesadaran diri dan identitas sangatlah koheren jika ditinjau dari aspek biblika.

“Jangan menyombongkan diri” hendak menegaskan sebuah sikap “agere contra (bertindak sebaliknya), di mana kesadaran dan identitas bukan digunakan sebagai “alat pembenaran diri” dan “alat untuk menyombongakan diri. Jangan karena kita memiliki sesuatu maka kita bertindak melampaui batas dan menunjukkan sikap yang tidak terpuji, memamerkan diri yang tak terkendali, bermotif kesombongan, entah teologi, gelar, harta, kekayaan, atau relasi.

Salah satu tokoh yang tidak memamerkan kesombongannya adalah Musa. Ia tidak menunjukkan sikap “mentang-mentang” [tidak mempergunakan apa yang dimilikinya sebagai senjata untuk sombong] melainkan justru menunjukkan identitas moral dan hormatnya kepada Yitro, mertuanya. Musa sadar akan statusnya sebagai menantu. Hal inilah yang kemudian menjadi warisan bagi kita sebagai orang Kristen hingga sekarang sebagai sebuah kesadaran iman. Kita tak mungkin melepaskan moralitas ketika kita menjadi orang yang memiliki jabatan tinggi. Kitab Suci justru menunjukkan bahwa siapa pun kita, sikap “bermoral” dan “rendah hati” tetap menjadi hal yang utama dan tak bisa disingkirkan begitu saja.

Ketika manusia menunjukkan sikap “mentang-mentang” (menyombongkan diri) maka ia sedang merendahkan dirinya sendiri dan tidak menampilkan gaya hidup yang bermartabat, bermoral, dan rendah hati. Orang Kristren perlu memperhatikan identitasnya dan sedapat mungkin menunjukkan kegemilangan imannya melalui iman dan karya. Orang Kristen perlu menyadari identitas dan statusnya yang sebenarnya.

Teks Keluaran 18:1-12 hendak menegaskan Musa dan sikap hidupnya yang sangat baik dan menunjukkan kesadarannya bahwa meski ia adalah seorang nabi, tetapi ia juga sadar bahwa statusnya adalah sebagai menantu Yitro.

INTISARI

PERTAMA: “Jangan menyombongkan diri” hendak menjelaskan sebuah fakta bahwa apa yang dipunyai, identitas yang dimiliki, tidak perlu disombongkan karena semuanya bisa hilang kapan saja. Seperti Musa yang adalah seorang nabi, menunjukkan sikap hormat dan rendah hati kepada mertuanya. Musa sebagai nabi yang dipilih Tuhan telah menunjukkan sikap hidup yang baik dan bermoral (berintegritas). Itulah kesadaran Musa.

KEDUA: Musa tidak melihat jabatannya sebagai nabi untuk dijadikan sebagai rasa “kesombongan” diri. Ia menyadari bahwa itu adalah pemberian Tuhan dan digunakan sesuai perlunya.

KETIGA: Musa tidak melupakan statusnya sebagai seorang menantu dari Yitro. Musa tidak menunjukkan sikap “mentang-mentang” (yaitu hanya karena merasa Nabi, maka ia tidak menghargai mertuanya). Musa tidak melakukan hal itu. Ia tahu, bahwa orangtua harus tetap dihargai meski ia dihargai oleh begitu banyak orang Israel. Musa sadar secara moral. Dengan demikian, ia tidak menyombongkan dirinya.

KEEMPAT: dalam ayat 7, sikap Musa adalah ia sujud dan mencium mertuanya ketika mereka bertemu. Sungguh ini adalah sikap yang rendah hati. Ia tetap menghargai “orang tua” meski ia adalah seorang nabi yang hebat.

KELIMA: baik Musa maupun Yitro, keduanya sama-sama menunjukkan sikap saling menghargai. Dalam konteks kehidupan sehari-hari, kita berbuat baik dan menghargai secara ideal kita juga mengharapkan tindakan sebaliknya. Akan tetapi, seringkali kita tidak menerima perlakukan yang sama. Apa pun situasinya, kita tetap berbuat baik dan menghargai orang lain.

APLIKASI

Kesadaran akan identitas dan status, akan menunjukkan bahwa diri kita bermoral dan rendah hati. Kesadaran menjadikan hidup kita tertib dan selaras dengan kehendak Tuhan. Jika kita tahu bahwa kita adalah umat Tuhan, seyogianya melakukan apa yang dikehendaki Tuhan.

Tidak perlu menyombongkan diri dengan identitas atau status kita sebab itu bukanlah realisasi dari iman kepada Tuhan, bukan pula koheren dengan kehendak Tuhan. Justru Tuhan menghendaki kita untuk rendah hati dan saling menghormat, menghargai sesama.

Musa adalah teladan dalam bersikap bermoral dan rendah hati. Ia tidak menunjukkan sikap mentang-mentang, tidak menyombongkan dirinya, melainkan menunjukkan kebalikkannya; ia memperlihatkan rasa hormat kepada mertuanya, Yitro.

Sikap Musa yang menghargai dan memperlihatkan rasa hormatnya, dapat kita contohi untuk diterapkan kepada orangtua atau siapa saja yang berhak menerima penghormatan kita.

Kita harus sadar dan menunjukkan identitas kita dengan cara merealisasikan cara hidup yang menghormati, bermoral, dan rendah hati. Dengan demikian, kesombongan akan tersingkirkan dari hidup kita.

Salam Bae…

DUSTA MELAWAN ROH KUDUS

Refleksi Kisah Para Rasul 5:1-11

Sumber gambar: dianaleaghmatthews.com/ananias-and-sapphira/#.YDzF2U7is_7

Pendahuluan

Pada setiap konteks kehidupan, berkata “dusta”, atau saling “mendustai” adalah fakta yang tak bisa terhindarkan, entah kita sendiri sebagai pelakunya, entah orang lain, atau bahkan orang-orang terdekat kita. Atau barangkali, kita pernah mendengar dan melihat bahwa ada ‘pelayan-pelayan Tuhan’ yang hidup dalam dusta dan saling mendustai satu sama lain, sehingga menimbulkan berbagai penderitaan, salah paham, kebencian, dan bahkan saling memusuhi.

Sejatinya, sikap atau perilaku dusta berpotensi mencemarkan nama baik kita, terlebih nama baik Tuhan yang kita percayai. Dusta tidak pernah lahir dari kebenaran. Dusta lahir dari penolakan terhadap fakta yang sesungguhnya. Atau dengan perkataan lain, dusta lahir dari ketakutan atau bahkan dari kekerasan hati dan kebencian (terhadap seseorang) untuk tidak mau mengakui kesalahan. Pada kasus Ananias dan Safira, dusta yang mereka lakukan terkait dengan penolakan atas fakta yang terjadi. Mereka “ingin” mencari keuntungan di balik hasil penjualan tanah, yang pada gilirannya justru membawa mereka kepada kematian.

Apakah berkata dusta diperbolehkan? Ada yang mengatakan: “Tergantung situasi dan kondisinya”. Tetapi jelas, Kitab Suci menolak untuk berkata dusta, bahkan Tuhan membenci dusta (perkataan tidak benar).

Salah satu hukum Tuhan dalam PL menegaskan: “Jangan mengucapkan saksi dusta tentang sesamamu” (Kel. 20:16). Petunjuk lainnya adalah: “Haruslah kaujauhkan dirimu dari perkara dusta…” (Kel. 23:7); “Siapa mengatakan kebenaran, menyatakan apa yang adil, tetapi saksi dusta menyatakan tipu daya” (Ams. 12:17); “Orang yang dusta bibirnya adalah kekejian bagi TUHAN, tetapi orang yang berlaku setia dikenan-Nya” (Ams. 12:22); “Orang benar benci kepada dusta, tetapi orang fasik memalukan dan memburukkan diri” (Ams. 13:5); “Saksi yang setia tidak berbohong, tetapi siapa menyembur-nyemburkan kebohongan, adalah saksi dusta” (Ams. 14:5); “Lidah dusta membenci korbannya, dan mulut licin mendatangkan kehancuran” (Ams. 26:28).

Perjanjian Baru juga menegaskan hal yang sama. Orang percaya harus “membenci dusta”: “Jangan lagi kamu saling mendustai, karena kamu telah menanggalkan manusia lama serta kelakuannya” (Kol. 3:9); “Karena itu buanglah dusta dan berkatalah benar seorang kepada yang lain, karena kita adalah sesama anggota” (Ef. 4:25); “Aku menulis kepadamu, bukan karena kamu tidak mengetahui kebenaran, tetapi justru karena kamu mengetahuinya dan karena kamu juga mengetahui, bahwa tidak ada dusta yang berasal dari kebenaran” (1 Yoh. 2:21); dan “Jika kamu menaruh perasaan iri hati dan kamu mementingkan diri sendiri, janganlah kamu memegahkan diri dan janganlah berdusta melawan kebenaran!” (Yak. 3:14).

Kita melihat bahwa Kitab Suci secara tegas menempatkan dan menyatakan bahwa “dusta” sebagai perilaku yang dibenci Tuhan. Kita mungkin pernah melihat beberapa orang yang karena dustanya, mengalami penderitaan dan kematian.

Bahkan yang lebih aneh lagi adalah, ada orang yang karena “dusta” malahan ia mengalami hidup makmur dan sejahtera, terbebas dari penderitaan, dan kondisi kehidupan yang baik-baik saja, seolah-olah dusta telah menjadi sahabat dekatnya yang membawa keuntungan. Mungkin itulah yang mau dirasakan oleh suami-istri: Ananias dan Safira. Mereka ingin mendapatkan keuntungan dengan cara “berdusta” tentang hasil penjualan tanah. Meski mereka menyerahkan sejumlah uang hasil penjualan tanah, namun mereka justru menahan sejumlah uang untuk tujuan mencari keuntungan tadi. Motivasilah yang melatari lahirnya “dusta”.

Hal lainnya adalah dusta lahir dan terjadi karena dilatari berbagai motif, situasi, dan kondisi. Berbagai dusta telah terjadi mengakibatkan relasi sesama manusia menjadi rusak dan hancur. Relasi yang rusak masih bisa diperbaiki, tetapi kematian itu sendiri, yang ditakuti itu, tak dapat diperbaiki. Siapakah yang dapat memperbaiki kematian yang ia telah mati? Itulah yang terjadi dengan Ananias dan Safira, mereka tidak dapat memperbaiki apapun karena kematian telah menghampiri mereka.

Korelasi dan Konteks

Pertama, orang-orang percaya dalam komunitas “Gereja mula-mula” adalah mereka yang menunjukkan hidup yang egaliter (sama derajatnya [di hadapan Tuhan]). Dikatakan bahwa mereka “hidup bersama dalam relasi kasih yang menerima dan memberi; segala kepunyaan mereka adalah kepunyaan bersama—selalu ada dari mereka yang menjual harta miliknya, lalu membagi-bagikannya kepada semua orang sesuai dengan keperluan masing-masing” (Kis. 2:44-45). Cara hidup yang memberi pada Gereja mula-mula menghasilkan sisi positif di masyarakat: “mereka disukai semua orang”.

Kedua, pasal 4 menjelaskan, bahwa mereka menampilkan hidup yang berbagi: “segala sesuatu adalah kepunyaan mereka bersama” (ay. 32). Bukti nyata adalah ada yang menjual tanah dan hasilnya dinikmati oleh semua anggota Gereja (ay. 34). Pola hidup egaliter menghasilkan sebuah kondisi dan relasi yang baik. Bahkan “tidak ada seorang pun yang berkekurangan di antara mereka; karena semua orang yang mempunyai tanah atau rumah, menjual kepunyaannya itu, dan hasil penjualan itu mereka bawa dan diletakkan di depan kaki rasul-rasul; lalu dibagi-bagikan kepada setiap orang sesuai dengan keperluannya” (4:34-37, Yusuf, dan lainnya).

Ketiga, tetapi mengapa Ananias dan Safira berkata dusta melawan Roh Kudus? Apakah mereka tidak rela untuk berbagi dengan sesama anggota Gereja lainnya? Apakah mereka pelit? Apakah mereka tulus mengikut Yesus Kristus? Apakah mereka terpaksa berdusta ataukah mereka ingin terlihat baik dengan cara ikut-ikut jual tanah seperti yang lain?

Berdasarkan teks yang kita baca, Ananias memiliki ide untuk menahan sebagian hasil penjualan tanah pribadi. Ide tersebut diketahui istrinya. Di sini, suami istri sepakat untuk merencanakan dusta dan mencari keuntungan. Ini kerja sama yang baik, tetapi pada konteks yang salah. Kerja sama boleh-boleh saja, asalkan jangan kerja sama untuk merencanakan dosa dan dusta. Itu berbahaya dan dibenci Tuhan.

Keempat, hingga waktunya tiba setelah tanah dijual, Ananias menahan “sebagian” hasil penjualan tanah mereka. Dan dengan semangat (mungkin ingin menunjukkan bahwa mereka juga adalah orang-orang yang peduli dan ingin berbagi dengan sesama anggota Gereja, sama seperti yang lainnya), Ananias membawa uang yang sisa (dari hasil “tilap” sebagian) dan meletakkannya di depan kaki rasul-rasul (5:2). Mengapa harus diletakkan di kaki para rasul? Pada pasal 4:34-35, 36-37, hasil penjualan diletakkan di bawa kaki rasul-rasul sebagai bukti bahwa hal itu diketahui bersama, bukan diserahkan secara sepihak kepada salah satu rasul. Hal ini menghindari tindak “korupsi”.

Kelima, pada akhirnya tindakan dusta—yaitu tilap (menggelapkan) sebagian uang hasil penjualan tanah diketahui oleh Rasul Petrus. Tidak hanya tilap uang, tetapi Ananias justru mengatakan dusta bahwa itulah hasil penjualan tanah mereka. Kita tidak tahu apakah sebelumnya Ananias dan Safira telah berjanji kepada para rasul atau minimal di depan anggota Gereja lainnya bahwa mereka akan menjual sebidang tanah, sama seperti yang telah dilakukan oleh anggota Gereja yang lain. Kita pun tidak tahu motivasi awalnya. Tetapi dugaan saya bahwa memang motivasi Ananias dan Safira adalah mencari nama (popularitas) dan mencari muka (ingin dihormati dan disanjung).

Keenam, tindakan Ananias kemudian dikaitkan dengan “dipenuhi” [πληρόω, plērō] oleh Iblis (Satan). Iblis adalah musuh Tuhan. Dan yang pasti ia melawan Tuhan dengan dusta perkataan. Secara kuasa, Iblis tentu jauh panggang dari api jika diperhadapkan dengan Sang Penciptanya. Ia tak mungkin melawan Tuhan dengan kuasa yang dimilikinya. Justru Iblis menggunakan yang lain, yaitu dengan “dusta” melawan kebenaran. Petrus menegaskan bahwa perbuatan Ananias adalah mendustai Roh Kudus. Konsekuensinya adalah “mati”.

Ketujuh, Safira datang setelah suaminya mati karena dustanya sendiri yang dirancang sebelumnya. Ia datang tanpa mengetahui bahwa suaminya sudah mati. Petrus menginterogasinya. Safira mengiyakan bahwa ia dan suaminya telah menjual tanah dan uang yang dipersembahkan di kaki para rasul adalah hasil utuh dari penjualan tanah mereka (ay. 8). Kongkalikong (perihal tahu sama tahu) antara Ananias dan Safira telah menimbulkan masalah kematian bagi mereka sendiri.

Kedelapan, ada kemungkinan bahwa Petrus tahu harga jual tanah. Indikatornya adalah karena telah terjadi sebelumnya bahwa ada anggota Gereja mula-mula menjual milik mereka dan hasilnya diletakkan di kaki para rasul (2:44-45) dan mungkin salah satunya adalah tanah milik. Pasal 4:34-37 ada yang menjual tanah dan hasilnya diletakkan di kaki para rasul. Pengalaman ini yang mungkin dipakai Petrus untuk menginterogasi Ananias dan Safira. Integrogasi Petrus berbuahkan hasil. Ternyata suami istri tersebut telah “berdusta” terhadap Roh Kudus. Mereka telah tilap uang dan kongkalikong soal hasil jual tanah. Seandainya mereka jujur, pasti mereka tidak mati.

Kesembilan, dusta melawan Roh Kudus bukanlah jenis perbuatan yang ringan, justru itu adalah tindakan makar (akal busuk atau tipu muslihat) baik terhadap para rasul maupun terhadap Roh Kudus. Hasilnya: “kematian mendadak”.

Terapan dan Pesan kepada Kita

Jangan hanya karena ingin terlihat baik dan peduli terhadap orang lain, kita mencari nama dan muka dengan cara-cara kompromistis dengan dusta dan kejahatan. Tuhan membenci dusta dan kejahatan, apalagi kejahatan rohani.

Bersikaplah jujur meski kerugian bisa kita alami. Toh, Tuhan tahu kejujuran kita. Ia akan membalas dengan cara-Nya sendiri dan hasilnya akan memberkati kita. Mencari nama dan popularitas di Gereja hanya akan menyisahkan konflik, perpecahan, kebencian, penderitaan, dendam, permusuhan, dan kematian. Buanglah itu jauh-jauh.

Hidup dalam dusta dan mengusahakan dusta adalah tindakan berdosa di hadapan Roh Kudus. Ananias dan Safira adalah contoh keluarga yang mau memberi dengan motivasi yang keliru: memberi tapi tidak rela kehilangan. Kita pun diingatkan, bahwa berkata dusta bukanlah pilihan yang tepat dalam konteks hidup di hadapan Tuhan. Dusta hanya melahirkan dusta dan keburukan, bahkan kematian.

Jagalah hati dan mulut kita untuk tetap setia mengatakan kebenaran Tuhan, setia mewujudkan sikap hidup yang jujur, sebab dengan berbuat demikian, kita akan dimuliakan Tuhan dengan cara yang ajaib.

Salam Bae…

Rancang situs seperti ini dengan WordPress.com
Mulai