Di mana kita hidup di situ kita “membaca”. Apa yang dibaca? Yang dibaca adalah kehidupan dan perilaku di zaman itu, termasuk diri dan hidup kita. Apa maknanya? Maknanya adalah hal itu dapat menjadi kekuatan teladan dan warisan sekaligus “tanda awas” untuk mengoreksi diri kita. Berapa lama pengaruh bacaan zaman? Lamanya adalah seumur hidup kita dan bergantung kepada seberapa paham diri kita akan proses hidup dan apa yang terjadi di dalamnya. Artinya, apa yang kita pegang—mungkin itu adalah hasil dari “membaca zaman”.
Membaca zaman bergantung pada bijaksana. Bijaksana itu bisa kita terima langsung dari Tuhan atau melalui Firman-Nya. Sejatinya, bijaksana mempengaruhi totalitas hidup kita, memimpin hidup kita untuk tetap bertahan pada keyakinan kita kepada Sang Khalik.
Di setiap zaman, setiap manusia dapat melakukan tiga hal: pertama, membaca zaman dan bertindak dengan bijaksana (buku karya John Stott dapat mewakili hal ini); kedua, membaca zaman dan bodoh amat (tidak menanggapi secara serius situasi zaman dan melakukan hal lain sebagai gantinya); dan ketiga, membaca zaman dan tidak berbuat apa-apa (tidak memiliki niat untuk bergerak melakukan sesuatu).
Kita akan melihat beberapa konteks yang terjadi di zaman Adam dan Hawa serta generasi yang dilahirkannya dari teks yang kita baca. Peristiwa-peristiwa tersebut dapat terjadi (atau terulang kembali) di zaman kita sekarang ini. Membaca zaman memang perlu. Ada asosiasi-asosiasi internal yang dapat muncul dalam pikiran. Artinya, kita tidak boleh lupa di mana dan dalam situasi seperti apa kita hidup dan mengaitkannya dengan peristiwa-peristiwa lampau yang bisa menjadikan diri kita semakin lebih baik. Hal ini tampak dalam asosiasi teks dengan zaman kita yang akan saya jelaskan kemudian.
Banyak buku yang membahas mengenai Generasi Millennial, Generasi Z, dan sejumlah nama lain yang dikarang sendiri berdasarkan bacaaan zaman. Bahkan, muncul buku-buku yang membahas revolusi industri 4.0. Sementara itu, kita masih tetap setia kepada Tuhan dalam bentuk beribadah di Gereja, dan di tempat lainnya, memohon agar Tuhan melindungi kita, keluarga, anak-anak, dan lainnya, dalam menghadapi kemajuan teknologi.
Salah satu buku yang merepresentasikan (mewakili) pembacaan zaman adalah buku yang berjudul “Homo Deus” karya Yuval N. Harari. Buku tersebut mengkaji sebuah pembacaan zaman. Harari menyinggung peristiwa-peristiwa historis dan melihat kekuatan tekonologi masa kini, kemudian meramal masa depan, apa yang akan terjadi dengan kemajuan teknologi tersebut. Buku ini begitu kuat membaca zaman dan generasi yang akan datang. Jika demikian, apakah yang perlu kita kerjakan ketika kita hidup di zaman yang begitu maju teknologinya? Apakah bisa kita mengkorelasikan zaman dulu kepada zaman sekarang ini? Tentu bisa.
Kita melihat bahwa generasi dan situasi zaman yang dijelaskan dalam teks bacaan kita, menggambarkan adanya korelasi. Apa yang terjadi di zaman kita, dulu sudah terjadi. Artinya, kita dapat melihat zaman dulu untuk dijadikan “alasan dan keputusan” untuk menjalani hari ini dan dapat memberi pengaruh di masa depan.
Berdasarkan teks yang kita baca, terdapat peristiwa-peristiwa yang terbingkai dalam konteks “situasi zaman”; di dalam zaman itu terdapat “generasi-generasi”. Hal ini menjadi menarik karena setiap zaman, generasinya berbeda, peristiwa berbeda, dan kadang terulang kembali, dan lain sebagainya.
Membaca zaman di mana kita hidup adalah sebuah kebijaksanaan (kecakapan/kepandaian) untuk mengambil makna terhadapnya. Sebagaimana yang akan kita amati, bahwa dalam bacaan kita, tampak hal-hal yang menarik, sebagai berikut:
Penamaan kota berdasarkan nama anak (ay. 17b).
Poligami (ay. 19).
Penemuan kecapi dan suling (ay. 21).
Lahirnya pakar tembaga dan besi (ay. 22).
Pembunuhan beralasan (ay. 23-24): “lebih baik membunuh daripada dibunuh”. Alasan Lamekh membunuh adalah karena dirinya dilukai oleh orang lain, membunuh karena dirinya dipukul sampai bengkak.
Pembelaan diri dari segala serangan. Hal ini dilakukan Lamekh.
Kasih karunia Tuhan terhadap Adam dan Hawa. Pasca matinya Habel, Tuhan memberikan anak kepada mereka dan menamainya Set (ay. 25).
Kerinduan generasi di zaman itu untuk memanggil nama TUHAN (ay. 26).
Di sini, saya memfokuskan pada “kerinduan memanggil nama TUHAN”. Situasi atau kondisi yang terjadi di zaman Adam dan Hawa dan keturunannya, mendorong sebuah kesadaran untuk datang kepada Tuhan. Memang tidak disebutkan secara luas mengenai gambaran situasi di zaman itu, tetapi apa yang kita baca dirasa cukup merepresentasikan kondisi zaman di mana mereka hidup.
Di zaman ini, di tengah lajunya teknologi, masih adakah yang rindu dan peduli memanggil nama Tuhan? Tentu masih ada ada. Lihat saja semua yang hadir di Persekutuan Doa Paramount Enterprise hari ini: semuanya datang karena rindu memanggil (memuji, berdoa, memohon, dan bersyukur) nama Tuhan. Lihat saja di Gereja, masih ada orang-orang yang datang bersyukur dan memohon kepada Tuhan dalam ibadah.
Di tengah maraknya pengguna media sosial, nama Tuhan pun ikut dipanggil-panggil. Ada yang buat status: “Tuhan Yesus, tolonglah saya”. Memangnya Tuhan Yesus punya Facebook? Sekarang, ada orang-orang tertentu kelihatan rohani di media sosial, padahal kenyataannya tidaklah demikian. Selalu berdoa di dunia maya, tetapi selalu berdosa di dunia nyata. Lalu apa yang seharusnya kita pahami dari konteks rindu “memanggil nama Tuhan?” Memanggil nama Tuhan dapat bermakna:
Menyadari akan fananya hidup manusia dan manusia membutuhkan Tuhan: manusia memanggil nama Tuhan.
Mengakui bahwa hidup manusia berada dalam kedaulatan-Nya, segala sesuatu dapat terjadi jika Ia berkenan: manusia memanggil nama Tuhan dan mengakuinya. Hal ini tampak dalam peristiwa di man Tuhan mengaruniakan anak kepada Adam dan Hawa, ganti Habel, yaitu Set dan kemudian Set memperanakkan Enos di mana di zaman itulah orang mulai memanggil nama Tuhan.
Mensyukuri bahwa segala sesuatu yang baik adalah karena kemurahan Tuhan: manusia memanggil nama Tuhan dan bersyukur kepada-Nya.
Menyadari bahwa Tuhan itu adil dan akan memberikan keadilan kepada mereka yang berseru dan bersandar kepada-Nya: manusia memanggil nama Tuhan dan bersyukur.
Menyadari bahwa setiap dosa yang dilakukan pasti akan menerima hukuman dari Tuhan dan karenanya seseorang harus “memanggil” nama-Nya, berseru dan memohon ampun.
Mengakui bahwa Tuhan adalah Sang Pembela manusia, dan Ia akan bertindak sesuai dengan kehendak-Nya: manusia memanggil nama Tuhan dan memohon pembelaan-Nya.
Menyadari bahwa kasih karunia Tuhan melampaui segala sesuatu yang kita usahakan dan harapkan: manusia memanggil nama Tuhan dan menyadari keterbatasannya.
Di zaman Adam dan Hawa serta keturunannya (secara khusus pada generasi Enos), “memanggil nama Tuhan” membuktikan iman kepada Tuhan yang diyakini bahwa Ia mengatur dan menjadikan segala sesuatu indah pada waktunya. Di zaman kita, memanggil nama Tuhan juga seyogianya dilakukan sebagai bukti bahwa kita beriman kepada-Nya. Kita dapat menarik makna dari zaman Adam dan Hawa dan menempatkan makna itu di hidup kita sekarang ini.
Menarik makna berarti kita telah mampu “membaca zaman”. Ada orang-orang yang berlomba-lomba menulis tentang masa depan Generasi Millennial, Generasi Z, dan sebagainya, bahkan tentang pengaruh kuat Revolusi Industri 4.0. Profesor Harari menyebutkan bahwa manusia dapat menjadi Tuhan bagi dirinya sendiri, yang dengannya manusia bisa bebas menentukan pilihan hidupnya. Sementara ada segelintir orang Kristen yang sibuk berteologi “silat lidah” dan menghasilkan ajaran-ajaran yang aneh, menyimpang, dan sesat.
Diharapkan kita menyadari bagaimana situasi zaman sekarang ini dan membacanya dengan iman yang dari Tuhan, serta menyadari bahwa “kita tetap membutuhkan Tuhan, kemudian memanggil nama-Nya, berseru, memohon kekuatan, bimbingan, dan pertolongan-Nya”.
Bisa saja seseorang hidup tanpa iman kepada Tuhan, dan dia bahagia. Tetapi ingatlah, kematian bisa datang secara tak terduga dan merobohkan kesombongannya. Bisa saja kita merasa lebih hebat dari orang lain, tetapi ingat, ketika mati, kita membutuhkan orang lain untuk memikul jenazah kita. Bisa saja kita merasa tidak perlu memanggil nama Tuhan, tetapi ingatlah bahwa suatu saat, Tuhan akan memanggil kita.
Bijaksanalah dalam hidup. Bijaksanalah dalam membaca zaman. Rindukanlah perubahan diri. Rindukanlah Tuhan, rindukanlah kasih dan kuasa-Nya. Panggillah nama-Nya, setiap waktu, free and unlimited. Hiduplah dalam terang firman Tuhan, dan rasakan jamahan kuasa Tuhan.
Setiap manusia memiliki potensi untuk menyombongkan diri karena potensi itu nyata dan ada dalam diri manusia. Kesombongan adalat natur alamiah. Kita tidak perlu “memasukkan” ke dalam diri, karena potensi kesombongan sudah melekat secara alamiah. Kesombongan tentu memiliki latar belakang. Latar belakang ditengarai oleh sejumlah hal yakni: situasi, kondisi, psikologi, ekonomi, sosial, politik, kekayaan, harta, strata hidup, pendidikan, pekerjaan, agama, suku, bangsa, budaya, dan karakter.
Dalam budaya populer yang terkontaminasi sekarang ini, di mana hampir segala sesuatu dipublikasikan, maka kesombongan dapat saja ikut bermain di dalamnya. Publikasi melalui media sosial—dalam hal ini: facebook, dapat mencakup banyak hal, termasuk kesombongan. Kesombongan terwujud dalam karya cetak dan noncetak, verbal, tindakan fisik, gestikulasi, dan raut wajah. Di dunia maya, kesombongan begitu marak marak. Meski kadang tidak tampak atau tidak secara terang-terangan, indikasi ke arah kesombongan dapat dengan mudah “terbaca”.
Kesombongan sering “menyamar” dalam bentuk publikasi-publikasi personal maupun komunal. Maraknya pengguna media sosial facebook menyeret karakter manusia menjadi “karakter mekanis”. Tangan dan hati manusia menjadi tak terkendali dan bahkan seringkali menjadi liar. Ketika tangan dan hati tertuju pada facebook, maka dampak yang ditimbulkan cukup beragam:
Pertama, relasi sesama manusia menjadi berkurang. Misalnya kita berada di bus Transjakarta, bus Mayasari Bakti, Kopaja, atau berada di rumah sakit, puskesmas, di tempat-tempat umum, atau di tempat lainnya, mayoritas kita melihat manusia sibuk menggunakan handphone dan saya menduga di antaranya sibuk dengan media sosial termasuk facebook. Seorang ibu sibuk menggunakan facebook meski anaknya merengek meminta susu atau dibuatkan susu. Relasi ibu-anak menjadi terabaikan. Facebook memiliki implikasi untuk mengganggu relasi antar sesama.
Kedua, manusia sibuk dengan dunianya, dan jarang memperhatikan dunia sekitar. Meski tidak selalu demikian, tetapi berdasarkan pengamatan saya, seseorang yang sibuk dengan dunianya adalah pokoknya apa yang saya lakukan, entah di dalam kamar, di dapur, di ruang tamu, di depan rumah, di kebun, di pohon, di pantai, di dalam pesawat, dan di berbagai tempat umum, semuanya “harus” dipublikasikan. Tak jarang, anak bayi yang tak tahu apa-apa pun dipublikasikan. Meski dengan tujuan berbagi cerita, tetapi kita pun tidak tahu apakah ada orang yang sedang mengincar bayi tersebut atau tidak. Semuanya dalam pandangan si facebooker adalah baik, dan sering melupakan dampak negatifnya.
Dalam rapat juga demikian. Seorang pemimpin sibuk dengan dunianya, dan lupa bahwa ia sedang rapat. Anggota jemaat juga demikian. Ketika sedang ibadah, mereka sibuk mengurus dunianya (menggunakan handphone untuk mengamati, mengomentari, menyukai status), ketimbang berelasi dengan Tuhan dan sesama. Facebook memiliki implikasi untuk menjadikan manusia sibuk dengan dunianya dan kurang memperhatikan dunia sesamanya.
Ketiga, tidak adanya batasan “berbagi” di facebook. Contoh kasus adalah persoalan keluarga atau rumah tangga dipublikasikan. Ketika dipublikasikan, beberapa harapan yang saya duga ikut di dalamnya seperti mencari perhatian (caper), meminta belas kasihan, ingin memberitahukan bahwa saya ada masalah, ingin melihat berapa banyak yang peduli, komentar, dan “like” statusnya. Bahkan tak jarang, seseorang mengumbar emosi dan caci maki di facabook, padahal sebenarnya hal itu justru menindas karakter personal. Psikologi semacam ini sudah begitu menggejala di kalangan masyarakat, terutama bagi masyarakat yang kurang memahami makna media sosial. Facebook memiliki implikasi untuk seseorang sesuka hati mempublikasikan apa yang dia sukai dan inginkan sehingga tidak adanya batasan tertentu sebagai seleksi informasi, gambar, dan sebagainya.
Keempat, ajang permusuhan dipublikasikan di facebook. Adanya kesalahpahaman ditimbulkan karena publikasi permusuhan dan caci maki sering menjadi “tajuk rencana” dari isu-isu atau fakta permusuhan, pertikaian, perselisihan, baik bersifat personal maupun komunal. Tak jarang nama salah satu suku pun dibawa-bawa. Ini bisa memicu timbulnya konflik antar suku. Bahkan yang lebih masiv adalah publikasi permusuhan antar agama. Agama yang satu merasa paling hebat di negeri ini yang kemudian menyombongkan diri seolah-olah agama-agama lainnya kafir dan tidak ada apa-apanya.
Dari pengamatan saya, model publikasikan berbau agama atau lebih tepatnya SARA sudah banyak memakan korban. Mereka yang hanya memiliki “otak sejengkal” merasa paling benar dan arah pemikirannya sudah sepanjang “jalan tol Jakarta—Merak”, padahal justru merupakan otak sumbu pendek yang mudah meledak. Facebook memiliki implikasi untuk mengganggu tatanan hidup beragama yang damai dan tentram, tanpa adanya provokasi masiv untuk menghancurkan agama-agama lain yang tidak sepaham dengan agama tertentu.
Kelima, ajang pamer-memamerkan sering menjadi perhatian setiap hati. Para pengguna facebook sering tidak menyaring sesuatu tetapi main hantam saja asalkan “gue senang”. Memang tidak ada yang melarang seseorang mempublikasikan apa yang dia mau, tetapi sekali lagi, ada batasan yang perlu diperhatikan. Seringkali kita melihat seseorang memamerkan: sepatu baru, celana baru, baju baru, kiriman baru, handphone baru, tas baru, pacar baru, agama baru, makanan (saat makan di salah satu rumah atau warung makan), menonton bioskop, pelayanan gerejawi, daging ayam, daging babi, daging rw, tiket pesawat, surat lamaran, sedang mengajar, sedang berkhotbah, sedang santai bareng, duduk di dalam pesawat, sedang tamasya, sedang berada di hotel, di kamar mandi, di kamar tidur, sedang berlibur ke luar negeri, sedang berenang, dan kegiatan lainnya. Facebook memiliki implikasi untuk memamerkan segala sesuatu untuk tujuan agar diri seseorang dipuji, dielu-elukan, di-ok-kan, dan kemudian kesombongan dapat muncul karenanya.
Perhatikan, mungkin dari berbagai kegiatan yang saya sebutkan di atas dapat disalahpahami. Tetapi tujuan saya di sini adalah memberikan gambaran bahwa publikasi-publikasi berbagai kegiatan adalah hak setiap orang (privasi). Saya setuju pada poin tersebut. Akan tetapi, dampak atau indikasi kesombongan dapat muncul di dalamnya. Seperti judul tulisan ini: “Kesombongan Media Sosial Facebook” adalah sebuah indikasi bahwa kesombongan seseorang terlihat dari apa yang dia publis. Meski tidak bermaksud menyombongkan diri, tetapi hati manusia tidak ada yang tahu. Yang dapat kita nilai adalah frekuensi dari sesuatu yang dia publis secara berulang-ulang. Karakter manusia menjadi “Karakter Mekanis”—ia tahu bahwa kapan ia akan mempublikasikan sesuatu yang “itu-itu melulu”. Hati, pikiran, dan tangan sudah terkontaminasi secara mekanis sehingga “sedikit-sedikit foto sesuatu dan publis” sehingga apa saja dipublis. Berciuman dengan pacar dipublis. Berciuman dengan hewan dipublis. Berciuman dengan sesama jenis, juga dipublis.
Keenam, seseorang menindas karakternya. Implikasinya dari penindasan karakter seseorang adalah banyak waktu yang terbuang hanya untuk membuka dan mengamati facebook. Bahkan hampir setiap menit seseorang membuka facebooknya (ketika menggunakan smartphone, karena dianggap lebih mudah). Karakter manusia menjadi ditekan untuk memenuhi dan memuaskan diri sendiri serta pelanggan facebook. Jumlah para “liker” sering diamati. Tangan dan hati sudah terkoneksi dengan keinginan: “semoga status saya [entah tulisan, celoteh, curhat, caci maki, marah-marah, gambar/foto” banyak yang ‘like’ sehingga hati ini merasa senang karena banyak yang peduli (menurut dia) dan banyak yang menyukainya. Inilah yang saya sebut dengan “karakter mekanis.”
(1) penggunaan waktu yang terlalu banyak untuk ber-facebook-an;
(2) tangan dan hati yang selalu tergerak untuk membuka, melihat, mengamati, dan berkomentar tentang isi facebook (baca: status). Rasa-rasanya hati dan tangan telah terpikat oleh “MAGNETISASI FACEBOOK”. Sepertinya ada spekulasi perasaan, di mana seseorang merasakan bahwa ia harus “membuka” dan “melihat” facebook, entah melihat jumlah “liker” atau hanya sekadar melihat status lainnya;
(3) ketika naik bus atau mobil, yang pertama dibuka adalah facebook;
(4) ketika melakukan berbagai aktivitas seperti makan, naik pesawat, mengajar, berkhotbah, tamasya, dan sebagainya, yang paling pertama dilakukan adalah kegiatan tersebut difoto dan dipublis. Misalnya foto makanan dengan status: “yang mau makan silakan merapat”. Yang lebih aneh adalah tulang ayam pun difoto, dan tak jarang, berdoa sebelum makan adalah “second time” sesudah foto makanan (“first time”);
(5) ada persoalan sedikit, langsung dipublikasikan di facebook, entah persoalan pribadi, pelayanan, gereja, keluarga/rumah tangga, pemimpin, dan sebagainya. Hati dan pikiran selalu terkontak dengan facebook;
(6) ada kegiatan, langsung dipublikasikan. Biasanya, manusia mekanis seperti ini tidak tahu membedakan mana kegiatan yang bersifat penting (kegiatan organisasi dan sebagainya) dan mana kegiatan yang tidak bersifat penting (seperti makan, minum, tidur, mandi, pakai bedak, pakai lipstik, pakai sepatu, pakai baju, dan sebagainya); dan
(7) kelihatan agak berbeda (situasi dan kondisi), langsung dipublikasikan. Model seperti ini misalnya sesudah mandi, sudah pakai bedak, sudah pakai lipstik, sudah make-up, sudah pangkas rambut, baru dari salon smoothing rambut dan sebagainya, dan sudah-sudah lainnya. Manusia mekanis model ini, sering mencari perhatian dan mencari popularitas. Sering yang dipublikasikan adalah tidak memandang umur, mulai dari bayi dalam kandungan, bayi baru lahir, dan sampai orang mati. Meski tujuannya hanya sekadar informasi, tetapi dapat dinilai dari seberapa banyak waktu yang digunakan untuk mempublis sesuatu. Biasanya, informasi atau berita kelahiran dan kematian merupakan sebuah bentuk pemberitahuan dan kepedulian terhadap sesama. Itu justru baik. Tetapi, jangan sampai orang yang mempublis kelahiran dan kematian, juga masuk dalam daftar manusia mekanis.
Kesombongan Media Sosial Facebook adalah sebuah pemikiran mendasar tentang karakter manusia, latar belakang manusia, dan potensi negatifnya. Kita mengetahui bersama bahwa setiap manusia memiliki potensi untuk menyombongkan diri karena potensi itu nyata dan ada dalam diri manusia. namun rasanya tidak adil jika hanya potensi kesombongan yang dimunculkan. Benar, potensi positif dan kerendah-hatian juga tampak dalam perilaku psikologi media sosial facebook. Namun, dalam tulisan ini, saya memfokuskan pada potensi kesombongan, di mana kesombongan memiliki latar belakang seperti: situasi, kondisi, psikologi, ekonomi, sosial, politik, kekayaan, harta, strata hidup, pendidikan, pekerjaan, agama, suku, bangsa, budaya, dan karakter.
Menggunakan facebook tentu sah-sah saja. Tidak ada yang mengusik perilaku psikologi para penggunanya, kecuali ada batasan-batasan yang ditetapkan oleh perusahaan facebook itu sendiri. Salah memahami penggunaan facebook bisa berdampak pada sebuah kesombongan maya yang nyata. Kesombongan sering “menyamar” dalam bentuk publikasi-publikasi personal maupun komunal. Maraknya pengguna media sosial facebook menyeret karakter manusia menjadi “karakter mekanis”. Tangan dan hati manusia menjadi tak terkendali dan bahkan seringkali menjadi liar.
Dampak yang ditimbulkan oleh penggunaan facebooka adalah: (1) relasi sesama manusia menjadi berkurang; (2) manusia sibuk dengan dunianya, dan jarang memperhatikan dunia sekitar; (3) tidak adanya batasan “berbagi” di facebook (apa saja dipublikasikan tanpa memikirkan nilai-nilai etis dan moral; (4) ajang permusuhan dipublikasikan di facebook; (5) ajang pamer-memamerkan sering menjadi perhatian setiap hati; dan (6) seseorang menindas karakternya. Implikasinya dari penindasan karakter seseorang adalah banyak waktu yang terbuang hanya untuk membuka dan mengamati facebook.
Akibatnya, manusia menjadi seperti mekanis. Maka layaklah jika disebut dengan manusia berkarakter mekanis yang ditandai tujuh fakta: (1) penggunaan waktu yang terlalu banyak untuk ber-facebook-an; (2) tangan dan hati yang selalu tergerak untuk membuka, melihat, mengamati, dan berkomentar tentang isi facebook (baca: status); (3) ketika naik bus atau mobil, yang pertama dibuka adalah facebook; (4) ketika melakukan berbagai aktivitas seperti makan, naik pesawat, mengajar, berkhotbah, tamasya, dan sebagainya, yang paling pertama dilakukan adalah kegiatan tersebut difoto dan dipublis; (5) ada persoalan sedikit, langsung dipublikasikan di facebook; (6) ada kegiatan, langsung dipublikasikan; dan (7) kelihatan agak berbeda (situasi dan kondisi), langsung dipublikasikan.
Menggunakan media sosial facebook perlu bijaksana/hikmat untuk mempertimbangkan untung ruginya dan implikasi yang muncul karenanya. Oleh sebab itu, marilah menggunakan facebook untuk kegiatan-kegiatan seperti: menyampaikan informasi atau berita tentang hal-hal yang baik, menunjukkan rasa kepedulian terhadap sesama, menunjukkan sikap beragama yang sehat meski dalam konteks perdebatan, menunjukkan sikap kedewasaan dengan tidak mempublikasikan kelemahan dan persoalan keluarga, rumah tangga, atau tetangga, menunjukkan sikap kedewasaan dengan tidak marah-marah, mencaci maki orang lain yang belum tentu memiliki facebook, dan menunjukkan sikap bijaksana dalam memberikan solusi, rasa belangsungkawa, dan rasa humanisme yang sesuai dengan prinsip-prinsip kebenaran.
Pengguna yang cerdik, cerdas, dan bijak, akan menuai implikasi dan hasil yang baik. Mencari pujian di media sosial facebook boleh-boleh saja, asalkan tindakan-tindakan yang dipublis memiliki nilai dan karakter kemanusiaan, karakter kepedulian terhadap alam semesta dan karakter yang mencintai Tuhan yang terwujud dalam rasa saling mengasihi dan mengampuni satu dengan lainnya.
Proses hidup yang kita jalani selalu muncul kebenaran, dan ketidakadilan. Kebenaran, sebagai lawan dari kepalsuan dan kebohongan, merupakan sebuah natur yang paling banyak disukai manusia.
Kebenaran selalu bersifat menenangkan jiwa, memuaskan jiwa, memberikan pengharapan yang penuh, dan memberikan sukacita berlimpah
Ketidakadilan merupakan sebuah natur yang juga paling banyak disukai manusia.
Ketidakadilan selalu bersifat menggangu jiwa, melaparkan jiwa, memberikan pengharapan yang kosong, dan memberikan dukacita.
Ketidakadilan adalah hasil dari kebenaran yang diselewengkan; hasil dari ketidakpedulian terhadap sesama; hasil dari kesombongan dan keangkuhan manusia; hasil dari hawa nafsu manusia yang inggin menguasai banyak hal untuk pemuasan diri sendiri baik secara fisikal, maupun secara psikologikal.
Ketidakadilan adalah wujud dari penipuan, pemalsuan, ketidakseimbangan, korupsi, nepotisme, pilih kasih, dan kecenderungan membela yang sepaham, sesuku, dan segama.
Marilah berbuat kebenaran. Nyatakan apa yang benar, dan tegorlah yang salah. Tugas kita adalah “tinggal” di dalam kebenaran dan kebenaran itu akan memerdekakan kita.
Serakah adalah sebuah kata yang merangkum sikap dan habitat seseorang dalam menginginkan lebih dari apa yang telah ia miliki dengan cara yang tidak layak.
Kata yang sama dengan serakah adalah “tamak”, “loba”, dan “rakus”. Indikasi keserakahan manusia adalah menginginkan sesuatu dengan cara-cara yang tidak layak, atau cara-cara yang brutal agar tujuannya tercapai.
Tidak hanya orang duniawi yang serakah. Para pendeta Kristen juga sering terlihat sebagai seorang yang serakah. Ia ingin mendapatkan jumlah uang yang fantastis dan merangkul sejumlah pendeta lainnya yang “bodoh”—“domba yang pandir” yang siap dibodohi
Domba-domba tersebut tentu akan diberi makan. Meski makanan yang diberikan adalah makanan tipu muslihat, namun bagi si serakah, ia akan terus mendukung dan menjaga domba-domba pandirnya untuk dihidupi, diberi makan dan diberi minum dari mata air kematian. Domba-domba siap membela si serakah karena si serakah telah berjasa terhadap mereka. Si serakah terus mengeruk keuntungan yang dapat ia raih. Dengan berbagai cara ia lakukan, ia yakin akan mendapatkan jumlah uang yang fantastis itu
Keserakahan telah menutupi lemak hatinya. Matanya telah tertutup dengan uang kertas. Pikirannya telah dibungkus dengan kejahatan dan ketamakan. Ia hidup hanyalah bagaimana supaya mendapat kekayaan yang besar. Bahkan, tidak segan-segan ia menghabisi orang-orang yang menjadi penghalangnya.
Si serakah yang adalah para pendeta, telah mencurangi sebanyak mungkin orang. Ia bergelagat “sok suci” dan “tak bersalah”, mengendus suara-suara Alkitab untuk dijadikan jimat kebohongan dan kemunafikan terselubung. Dia merasa yakin bahwa apa yang dilakukannya adalah benar-benar Tuhan berkati. Domba-domba pandirnya juga ikut menyuarakan berkat-berkat semu agar si serakah menjadi bangga dan yakin bahwa mereka ternyata masih setia. Si serakah yang tak akan pernah puas, sampai ia mati dalam keadaan yang menjadi musuh Allah.
Kita pun melihat bahwa perkara mengenai serakah dan keserahkan terjadi di sekitar kita. Tak jarang, juga di gereja kita.
Pada akhirnya, kita dapat menilai bahwa keserakahan dapat menjerumuskan siapa saja—tak pandang bulu.
Yang dibutuhkan adalah kesadaran bahwa apa yang kita miliki sekarang ini, dinikmati dengan ucapan syukur, karena Tuhanlah yang menjadi sumber berkat kita; Ia memberikan kepada kita apa yang diperlukan; Ia mencukupkan segala sesuatu bagi kebaikan kita, orang-orang yang kita kasihi, dan bagi sesama yang membutuhkan.
Kebaikan adalah penyejuk hati, penetral pikiran, dan penyeimbang hidup.
Berbuat baik adalah unsur spiritual manusia yang secara alami telah tertanam dalam dirinya.
Kebaikan yang ditaburkan dalam damai menghasilkan kesejukan dan sukacita tak terkira.
Kebaikan yang ditaburkan dalam konflik menghasilkan peredaman emosi dan amarah.
Kebaikan yang ditaburkan dalam perselisihan menghasilkan kedamaian yang kuat.
Kebaikan yang ditaburkan dalam perang menghasilkan penyesalan dan pertobatan.
Kebaikan yang ditaburkan dalam kebencian menghasilkan kesadaran jiwa bahwa membenci itu tidak ada gunanya dan merusak pikiran, hati, relasi, dan hidup itu sendiri.
Kebaikan yang ditaburkan dalam permusuhan menghasilkan kelegaan dan sukacita.
Kebaikan yang ditaburkan dalam kehinaan menghasilkan kehidupan yang mulia dan bermartabat.
Kebaikan yang ditaburkan dalam kelemahan menghasilkan kekuatan dan keyakinan.
Tetaplah berbuah baik dan bagikanlah kebaikan kita kepada orang lain selagi masih ada waktu.
Orang yang berbuat baik, menaburkan kebaikan, menciptakan kebaikan, dan meluaskan kebaikan. Ia pasti akan menerima kebaikan dari Sang Khalik.
Dalam diri manusia terdapat banyak kemungkinan yang bisa menjadikan dirinya dihina, dicaci maki, dimuliakan, ditinggikan, disanjung, diteladani, dan dihindari.
Keadaan munafik adalah keadaan di mana seseorang sering melakukan pembohongan, mengumbar janji palsu, meyakinkan orang lain dengan iming-iming uang, jabatan, fasilitas, kenyamanan, dan kehancuran orang lain yang menjadi musuhnya.
Kemunafikan adalah habitualisme seseorang yang di dalam dirinya telah melekat berbagai kehidupan dan natur duniawi. Rasul Paulus telah menegaskan bahwa perbuatan daging itu ialah: percabulan, kecemaran, hawa nafsu, penyembahan berhala, sihir, perseteruan, perselisihan, iri hati, amarah, kepentingan diri sendiri, percideraan, roh pemecah, kedengkian, kemabukan, pesta pora, perzinaan, perburitan (persebutuhan antara laki-laki dengan laki-laki), pencurian, kikir, fitnahan dan penipuan.
Kemunafikan adalah musuh dari kejujuran dan sahabat dari kekotoran hati. Kemunafikan adalah musuh dari kebaikan dan sahabat dari kejahatan.
Kemunafikan adalah musuh dari keadilan dan sahabat dari ketidakadilan. Kemunafikan adalah musuh dari cinta kasih yang tulus dan sahabat dari perusak kesucian hidup.
Kemunafikan adalah musuh dari kebenaran dan sahabat dari kepalsuan. Kemunafikan adalah musuh dari welas asih dan sahabat dari kepura-puraan dan mencari muka.
Kemunafikan adalah musuh dari pengorbanan dan sahabat dari egoism. Kemunafikan adalah musuh dari kesucian dan kekudusan hidup dan sahabat dari kekotoran dan kenajisan hidup.
Kemunafikan adalah sesuatu yang dibenci Tuhan dan sahabat dari Iblis (setan). Kemunafikan dilakukan oleh mereka yang tidak mengasihi sesama; mereka yang tidak jujur pada diri sendiri; mereka yang ambisius dan egoisme; mereka yang hidupnya tidak beres; mereka yang relasi dengan Tuhan tidak beres; dan mereka yang selalu menipu, membohongi, dan memperalat orang lain.
Janganlah munafik. Jauhkanlah diri kita dari kemunafikan.
Kebencian yang brutal adalah fakta yang terlihat dari mereka yang membenci seseorang yang dianggap tidak bernilai, dianggap sebagai sampah atau kotoran, dianggap sebagai orang yang kurang ajar, dianggap sebagai musuh utama, dianggap sebagai penipu luar biasa, dianggap sebagai seorang yang layak mati dan celaka, dianggap sebagai seorang pendosa besar.
Kebencian yang brutal dilakukan oleh mereka yang rata-rata memiliki uang yang banyak. Mereka (para pembenci) berani melakukan segala sesuatu karena ditunjang dengan kekayaan (uang) mereka. Mereka dapat menjadi sangat jahat hanya karena tujuan mereka untuk menyingkirkan, mencelakakan, membunuh musuh utama mereka.
Kebencian telah menjadi makanan mereka setiap hari. Yang mereka pikirkan adalah kira-kira bagaimana melakukan usaha-usaha yang jitu agar musuh mereka segera dihancurkan atau pun dipermalukan bahkan dilenyapkan. Mereka seolah-olah menjadi sahabat dekatnya Iblis, Bapa segala dusta dan sang Pembunuh manusia sejak mulanya. Para pembenci yang brutal tidak mengenal usia dan jabatan. Para pendeta pun bisa ikut nimbrung di dalam kandang “kebencian”. Mereka merasa diri mereka paling suci dan benar. Mereka merasa bahwa merekalah yang tidak berdosa sedangkan musuh mereka adalah pendosa besar.
Mereka merasa bahwa “Tuhan berpihak kepada mereka” meski dengan cara-cara yang menipu, memalsukan kebenaran, pembohongan publik, mengadopsi cara-cara preman (menakut-nakuti, atau mengancam siapa pun yang tidak mau mengikuti mereka). Tuhan dibajak oleh mereka. Omongan mereka seperti tidak berdosa. Nama Tuhan diserukan, tetapi orang lain dijuhat dan direndahkan. Nama Tuhan dipajang sebagai penguat argumentasi dan kepura-puraan mereka. Mereka merasa suci karena mereka telah menyucikan diri dari hal-hal duniawi meski cara-cara yang mereka lakukan persis duniawi. Nama Tuhan dipakai sebagai ornament doa mereka dan merasa bahwa Tuhan akan menjawab doa mereka. Mereka berdoa dengan mengatakan orang lain berdosa dan mereka tidak, suci tanpa noda, cela, dan dosa. Luar biasa kesucian dan kekudusan mereka
Bahkan, jika semut pun mendengarkan identitas mereka, semut akan jatuh terpeleset karena goncangan yang dahsyat yang didengar oleh semut. Semut akan terheran-heran dengan kesucian dan ketakberdosaan mereka. Menuduh orang lain berdosa, sedangkan mereka tidak. Wow.. luar biasa hebatnya. Langit pun tak sanggup melihatnya dan menggunakan awan untuk menutupi matanya. Bahkan awan yang menutupi mata langit tak sanggup menahan pedihnya hati mereka, sehingga mereka, akhirnya mencucurkan air mata ke bumi.
Kebencian telah memenuhi semua ruangan hati mereka. Tiada tempat bagi kebaikan, kesadaran, dan kesucian diri. Kebencian telah menjadi raja hati mereka. Anak buah kebencian yaitu: kesombongan, tipu muslihat, kepalsuan, intimidasi, roh pemecah, penipuan, premanisme, memperalat orang lain dengan uang dan kekuasaan, dan kemunafikan. Mereka setiap hari berolah raga untuk memperkuat tubuh mereka agar siap berperang melawan orang yang diurapi Tuhan, siap melawan siapa saja yang menjadi musuh dari kebencian yang brutal
Tak ada waktu bagi mereka untuk merenung sejenak akan fananya hidup ini, akan penghakiman dan pengadilan Tuhan yang Mahakuasa. Kebencian telah menguburkan kebaikan dan kekudusan hidup dirinya dan orang lain. Kebencian membawa kematian.
Kebencian yang brutal seringkali menjadi sesuatu yang menggelikan di telinga kita. Betapa tidak, orang yang menamakan dirinya Kristen, toh masih juga memiliki kebencian yang brutal yang dampaknya adalah “menghalalkan” segala cara untuk memuaskan hawa nafsu yang tak terkendali itu – meskipun rugi, ia tetap saja memelihara kebenciannya. Hanya ada tiga cara yang dapat menyadarkan orang itu yakni: kecelakaan, jatuh sakit, dan hampir mati. Dan hanya ada satu cara untuk menghentikan kebrutalannya itu: “kematian mendadak”.
Dengan kematian mendadak, di mana secara bersamaan dia sedang dalam kondisi membenci orang lain secara brutal, bisa saja juga menyadarkan kawan-kawan karibnya yang juga melakukan hal yang sama, atau mendukung apa yang dilakukan orang tersebut.
Dari sudut ini, TUHAN masih memberikan kesempatan untuk bertobat, dan mengubah diri menjadi orang yang menebarkan cinta kasih dan pengampunan yang dari TUHAN. Seringkali, tanpa kita duga, para pendeta terjebak atau sengaja menjebakkan dirinya ke dalam gerakan kejahatan untuk menghancurkan orang lain. Dengan bermodalkan “menghalalkan segala cara”, pada pendeta tersebut dengan gencar akan melalukan banyak hal agar banyak orang-orang, atau para pendeta lainnya yang mengikuti dan percaya akan omong kosong mereka. Mereka pintar merayu dan menebarkan cinta kasih semu, cinta kasih yang sebenarnya brutal tetapi dibalutkan dengan emas. Mereka pintar mengungkapkan kecantikan dan kebersihan diri mereka (meskipun hatinya kotor) – ibarat seorang pelacur yang senantiasa merayu dan menebarkan senyum semu agar dirinya dilacuri oleh sekian banyak laki-laki yang haus akan seks dan kenikmatannya.
Menebarkan kebencian yang brutal sama saja menaburkan benih-benih kematian dan benih-benih kehancuran. Hidup ini tidak akan berarti jika hanya kebencian yang pelihara dan besarkan dalam hati dan pikiran kita. Kebencian merusak hati dan pikiran. Kebencian mengambil dan menyita banyak waktu kita untuk hidup dalam kubangan dosa. Kebencian adalah praktik hidup dari orang-orang yang tidak beres secara moralitas dan spiritualitas. Kebencian adalah kesukaan dari orang-orang yang suka mencelakakan orang lain; kesukaan dari mereka yang sombong, baik sombong secara kekuasaan, maunpun sombong secara kekayaan.
Kebencian adalah matinya nurani, matinya kebaikan, matinya cinta kasih, matinya kesadaran diri. Tidak ada yang dapat dibanggakan manusia selain menyadari bahwa dirinya ada dalam pemeliharaan Tuhan.
Hidup manusia, sejak awal, adalah sebuah pembatasan. Pembatasan tersebut adalah naturnya. Tuhan telah menetapkan sebuah ciptaan yakni “manusia” sebagai makhluk bermoral, berpendidikan, berlogika, berkembang biak, berkesadaran tinggi, berperasaan, beremosi, berketetapan, berkehendak, berkemauan, berkeinginan, berhasrat, berelasi, berkasih sayang, dan beradab. Pembatasan yang dimaksud adalah pembatasan potensi dan kehidupan manusia di bumi. Akibat dari pembatasan tersebut, kematian merupakan salah satu implikasinya. Kematian adalah natur kewajaran manusia. Kematian memiliki latar belakang pembatasan natur manusia. Kematian berdampak pada kesedihan, kebahagiaan, sukacita, pesta pora, kepuasan, pelunasan hutang, tindakan diperalat, tindakan siasat dan tipu muslihat, penipuan dan lain sebagainya.
Kematian manusia adalah sebuah fenomena hidup yang sudah Tuhan atur. Kematian tidak memandang siapa pun. Natur pembatasan melingkupi semua jenis manusia. Tak ada yang dapat melarikan diri dari kematian. Kematian melanda semua belahan dunia. Ada kematian wajar, ada kematian tak disengaja, ada kematian yang disengaja, ada kematian karena hukuman, ada kematian karena pembalasan dendam, ada kematian karena iri hati, perselisihan, permusuhan, peperangan, kecelakaan, gempa bumi, sakit menyakit, penanganan medis, pembunuhan, pembantaian, stroke, diguna-guna, dan lain sebagainya.
Menyadari bahwa kematian adalah sesuatu yang bernatur pembatasan, seharusnya kita menjaga pola hidup dan kesehatan; menjaga perilaku dan pola pemikiran; menjaga identitas dan jatidiri kita; menjaga keamanan dan kenyamanan hidup kita. Kematian adalah sebuah hadiah bagi mereka yang mencintai Tuhan untuk bertemu dengan-Nya. Kematian adalah hadiah bagi mereka yang secara sadar telah melakukan berbagai tindak kejahatan, melakukan pemalsuan kebenaran, melakukan penipuan, melakukan penghinaan, melakukan kebohongan, melakukan intrik-intrik politik busuk, dan melakukan berbagai cara yang jahat dan tak berperi kemanusiaan.
Kematian melanda semua manusia tanpa terkecuali. Hidup mati dikuasai lidah, demikian ungkapan Raja Salomo. Lidah bijak mendatangkan hidup, tetapi lidah dusta mendatangkan celaka dan kematian. Hidup benar di hadapan Tuhan mendatangkan hidup, hidup buruk dan membenci sesama mendatangkan kematian yang wajar. Hidup yang suci mendatangkan pujian dan kemuliaan. Hidup yang kotor dan nista mendatangkan hinaan dan kematian yang tanpa disengaja. Hidup yang peduli dengan sesama mendatangkan kedamaian dan keriangan. Hidup yang kudus mendatangkan kebersihan diri dan terhindar dari jerat-jerat duniawi
Memahami kematian berarti memahami kehidupan. Memahami kehidupan berarti memahami kefanaan hidup – pembatasan hidup yang telah menjadi ketetapan Tuhan. Namun, Tuhan juga telah menyediakan hidup yang tak terbatas—sebuah kehidupan bersama Dia, kehidupan kekal. Mereka yang bersama Dia adalah mereka yang telah setia, telah taat, dan telah bertahan dalam kekudusan, bertahan dalam menghadapi goncangan-goncangan dunia, bertahan menghadapi manisnya rayuan dunia: seks, perzinaan, kemabukan, pesta pora, kekayaan besar tapi harus membenci dan menjatuhkan orang lain yang tidak bersalah, kenikmatan seks, obat-obat terlarang, dan minuman keras.
Kematian merupakan pembatasan hidup. Bagi orang jahat, kematian menghadiahkan kematian kekal, dan bagi orang benar dan setia, kematian menghadiahkan kehidupan kekal.
Pendeta pelacur adalah pendeta yang terlibat dalam kasus-kasus yang lumrah: percabulan, kudeta, perebutan jabatan, penipuan, mau mendapatkan jatah pembagian harta kekayaan, memperalat orang lain untuk kepentingan dan pemuasan hawa nafsu pribadi. Kasus-kasus tersebut menjadi ukuran betapa brutalnya pendeta – dengan menghalalkan segala cara – ia mulai mencari dukungan di mana-mana dan mengumpulkan sebanyak mungkin orang yang dapat dirayunya, yang dapat dipeluknya, yang dapat diciumnya, yang dapat dibayarnya, yang dapat dilacurinya.
Dengan bermodalkan jabatan “pendeta” dan ditambah dengan pemalsuan “suara Tuhan”, pendeta pelacur tersebut akan rela mengeluarkan apa saja termasuk uangnya untuk berjuang mencapai apa yang menjadi tujuannya. Pendeta pelacur akan menggunakan berbagai cara seperti kekerasan, ancaman, sogokan, pembohongan, kemunafikan, provokasi, dan penipuan. Anehnya, orang-orang yang ditipu adalah anggota jemaatnya, bahkan ada juga yang berstatus pendeta dan pelayan Tuhan. Jadi, pendeta menipu pendeta.
Para pendeta dan pelayan yang ditipu atau dirayu oleh pendeta pelacur adalah pendeta dan pelayan yang matanya hanya berfungsi sebelah. Mengapa? Karena mata sebelahnya telah ditutupi dengan “iming-iming” harta kekayaan, uang, seks, dan sebagainya. Para pendeta yang telah terkena racun penipuan yang dahsyat digambarkan sebagai pendeta-pendeta pandir yang tidak dapat berbuat apa-apa.
Mungkinkah mereka disebut orang baik dan akan berbuat baik? Dalam anggapan saya, tidak mungkin. Nabi Yeremia pernah berujar: “Dapatkah orang Etiopia mengganti kulitnya atau macan tutul mengubah belangnya? Masakan kamu dapat berbuat baik, hal orang-orang yang membiasakan diri berbuat jahat? (Yeremia 13:23).
Di sini jelas bahwa habitualisme seseorang yang berbuat jahat, tidak dapat berbuat baik karena perbuatan jahat telah menjadi kebiasaan mereka setiap hari. Tak mungkin satu sumber mata air memancarkan air tawar dan air pahit. “Pohon yang baik menghasilkan buat yang baik, sedang pohon yang tidak baik menghasilkan buah yang tidak baik” (Matius 7:17). “Karena tidak ada pohon yang baik yang menghasilkan buah yang tidak baik, dan juga tidak ada pohon yang tidak baik yang menghasilkan buah yang baik” (Lukas 6:43), dan “Orang yang baik mengeluarkan hal-hal yang baik dari penbendaharaannya yang baik dan orang-orang yang jahat mengeluarkan hal-hal yang jahat dari perbendaharaannya yang jahat” (Matius 12:35)
Rasul Petrus pernah berujar: “Bagi mereka cocok apa yang dikatakan peribahasa yang benar ini: ‘Anjing kembali lagi ke muntahnya, dan babi yang mandi kembali lagi ke kubangannya.’” Gagasan ini sebenarnya berangkat dari natur manusia itu sendiri. Jika naturnya selalu berbuat jahat semata-mata, maka dia akan tetap kembali ke kubangannya. Mereka akan memakan apa yang pernah mereka muntahkan. Ucapan mereka tidaklah dapat dipercaya karena bersumber dari hati yang mau mencari kepentingan diri sendiri.
Sebelum Rasul Petrus, penulis kitab Amsal menegaskan bahwa: “Seperti anjing kembali ke muntahnya, demikianlah orang bebal yang mengulangi kebodohannya.” Raja Daud juga menjelaskan konteks yang sama. Ia menuturkan, “Dosa bertutur di lubuk hati orang fasik; rasa takut kepada Allah tidak ada pada orang itu, sebab ia membujuk dirinya, sampai orang mendapati kesalahannya dan membencinya. Perkataan dari mulutnya ialah kejahatan dan tipu daya, ia berhenti berlaku bijaksana dan berbuat baik. Kejahatan dirancangkannya di tempat tidurnya, ia menempatkan dirinya di jalan yang tidak baik; apa yang jahat tidak ditolaknya” (Mazmur 36)
Mengapa dikatakan pendeta pelacur? Alasannya sederhana, sesuai dengan apa yang diperbuatnya yakni:
(1) Melacurkan dirinya untuk diikuti oleh para domba pandir.
(2) Dirinya siap digunakan oleh para domba pandir dengan cara meminta sesuatu dari pendeta pelacur untuk memuaskan keinginan mereka.
(3) Para domba pandir memiliki sejumlah alasan untuk menjadi pengikut pendeta pelacur, dan salah satunya adalah pendeta pelacur harus memberi makan dan minum sebagai imbalan atas lacurannya.
(4) Melakukan apa saja dengan siapa saja agar keinginannya terpuaskan.
(5) Siap membayar siapa saja agar hasrat dan kesombongannya terpenuhi.
(6) Siap bekerja sama dengan siapa saja asalkan memberikan keuntungan kepada dirinya meski dengan cara-cara yang tidak ia sukai.
(7) Terus mencari dukungan, mencari mangsa yang dapat ditelannya dengan rayuan manisnya
Pendeta pelacur adalah mereka yang telah mengesampingkan gagasan-gagasan moral dan spiritual demi pemuasan ambisi dan egonya. Mereka adalah orang-orang yang durhaka. Mungkinkah kita melihat mereka? Mungkinkah klta telah mengikuti mereka? Mungkinkah kita telah terperangkap dalam jaringnya?
Keluarlah! Tinggalkanlah dia! Jangan merusak dirimu dengan berbagai-bagai duka akibat dari pergaulan dengan pendeta pelacur. Hidup itu begitu berharga untuk diserahkan kepadanya. Jangan ragu untuk pergi dan meninggalkannya, sebab kehidupanmu sangatlah berarti dan masih dapat dipakai Tuhan untuk pekerjaan yang lebih mulia, lebih baik, lebih lurus dan berkenan kepada Tuhan Yesus.
Kekristenan berkembang dan menjadi agama terbesar di dunia adalah fakta yang mengejutkan. Hal ini disebabkan karena pekabaran Injil terus dilakukan, yang menegaskan bahwa Yesus Kristus adalah Juruselamat dunia, mengasihi, menebus, mengampuni, mendamaikan, menguduskan, dan menyelamatkan manusia-manusia yang berdosa. Dalam catatan sejarah, sejak abad pertama hingga sekarang ini, gerakan misi terus dilakukan. Meski berbagai ancaman, kekejaman, dan pembunuhan terhadap para pekabar Injil, bahkan juga bagi para pengikut Yesus, telah menimbulkan kesedihan yang mendalam. Para martir Kristen dibunuh, dipenggal, dijadikan tontonan umum tatkala mereka dimakan binatang buas, disalibkan, dibakar hidup-hidup untuk dijadikan lampu taman. Apakah kemudian orang Kristen lainnya menuntut balas? Tentu tidak. Tuhanlah yang akan membalasnya, karena para martir mati demi Tuhan yang telah memberikan iman yang kuat; mereka tetap mempertahankan iman hingga mati. Itu adalah sebuah upaya rekursif dalam menghadapi tantangan di zaman mereka.
Rekursif adalah sesuatu yang berkaitan dengan tindakan yang berulang-ulang, berasal dari bahasa Latin “recursus” yang berarti “berulang-ulang”, atau “berulang”. Jika dikaitkan dengan tindakan misi, maka pola bermisi sejak awal di zaman para rasul terus dilakukan secara “berulang” sampai sekarang ini.
Dalam kaitannya dengan upaya rekursif tersebut, tidak hanya keberhasilan para misionaris yang membawa jiwa kepada Kristus Yesus, tetapi sejarah juga mencatat bahwa muncul juga gerakan perlawanan untuk meredam dan menghalangi proses pekabaran Injil. Gerakan perlawanan terhadap iman Kristen bermuara pada dua tujuan yaitu menghambat berita Injil dan memusnahkan ajaran-ajaran Kristen tentang Yesus (sebagaimana termaktub dalam Alkitab). Upaya untuk memusnahkan pengikut Yesus dan Alkitab masih terus terjadi. Namun ketika Injil tidak lagi diberitakan karena hambatan dan halangan tersebut, Tuhan kemudian membuat “mukjizat” yang luar biasa. Mukjizat adalah suara Tuhan yang berbicara melalui tindakan (perbuatan ajaib) ketika para pekabar Injil dilarang berbicara. Maka di sini, kekristenan berkembang karena tiga hal: pertama, karena pemberitaan Injil mengandung kasih dan keselamatan dari Tuhan; kedua, karena mukjizat yang Tuhan lakukan untuk meneguhkan berita Injil atau karena Tuhan ingin menunjukkan kuasa-Nya, baik kepada pekabar Injil maupun kepada mereka yang menentang Injil; dan ketiga, karena perbuatan-perbuatan kasih yang dilakukan oleh orang-orang Kristen termasuk para penginjil.
Dalam sejarahnya, Kristen adalah agama yang diiringi dengan penderitaan. Oleh para lawan mereka, pengikut Yesus Kristus dibuat menderita bahkan dibunuh karena mereka mempertahankan iman kepada Yesus Kristus. Ancaman demi ancaman, halangan demi halangan, hambatan demi hambatan, pembunuhan demi pembunuhan, persekusi demi persekusi, tidak mengecilkan peran para pekabar Injil untuk menyatakan bahwa keselamatan yang telah dikerjakan Yesus dan penebusan manusia dari dosa-dosa mereka telah secara sempurna digenapi oleh Yesus melalui kematian-Nya sebagai “manusia” di kayu salib (bdk. Filipi 2:8). Berita ini tetap ada dan bertahan di sepanjang sejarah. Pengampunan dosa adalah berita yang cukup menggelisahkan atau menggentarkan para pelaku dosa bahwa mereka membutuhkan Juruselamat untuk memberi mereka kedamaian, kelepasan, dan kebahagiaan.
Kristen, selain Yudaisme (Israel) adalah agama yang sering mengalami penderitaan. Yudaisme dalam sejarahnya diwarnai dengan penindasan dan kesengsaraan. Dalam bingkai “Perjanjian Lama” versi Kristen, bangsa Israel yang adalah cikal bakal agama Yudaisme, bangsa yang hidup dalam tekanan, penindasan, perbudakan, kesengsaraan, dan terutama berada di bawah hukuman Tuhan akibat dari berbagai bentuk penyelewengan dan kenajisan hidup yang melawan hukum-hukum dan perintah-perintah Tuhan. Kristen yang lahir dari rahim Yudaisme adalah agama yang memiliki perspektif yang sedikit berbeda dengan Yudaisme. Terutama dalam soal tafsir “Mesias”. Percabangan tafsir yang muncul dalam konteks ini menjadikan Kristen sebagai “agama” yang lahir, berdiri, dan berkembang dalam wadah “Inkarnasi Allah menjadi daging [manusia]—ο λογος σαρξ εγενετο [ho logos sarks egeneto]” yaitu “Yesus Kristus”.
Yesus, sebagai pijakan dan tolok ukur ajaran-ajaran kasih dan keselamatan telah menjadi “trending topic” dari arus orang-orang percaya yaitu para pengikut-Nya. Mereka adalah para penyembah Yesus, menaruh harapan pada-Nya sebagai Juruselamat: Penebus dan Penyelamat. Keselamatan yang diwujudkan dalam peristiwa kematian-Nya disalib sebagai manusia telah menjadi peristiwa yang sangat berkesan. Allah yang menjadi manusia (inkarnasi) adalah satu-satunya cara yang diperlihatkan Allah kepada dunia. Meski ada orang-orang dunia yang tidak menerima cara tersebut, namun cara itu pula yang menjadikan Kristen sebagai agama yang kuat dan dikagumi di sepanjang sejarah.
Dalam perkembangannya melalui penginjilan, berita yang dikumandangkan adalah tentang “Allah yang begitu mengasihi manusia berdosa dan mengaruniakan Yesus Kristus sebagai ‘jalan penebusan’” dan “kasih Yesus yang luar biasa: rela mati di kayu salib untuk maksud penebusan dan realisasi keselamatan.” Konsep keselamatan yang ditetapkan Allah didasarkan pada dua hal yakni kasih karunia dan pencurahan darah. Dua konsep ini kemudian diwujudkan dalam inkarnasi [ho logos sarks egeneto]: Allah yang mewujud dalam tubuh manusia secara alamiah. Allah menetapkan “cara” menebus yang lain dan unik. Mereka yang tidak paham tentu akan mengumpulkan sejumlah opini dan keberatan untuk mempertanyakannya dan menggembar-gemborkan konsep atau paham yang tidak benar (menyimpang).
Berita bahwa “Allah yang begitu mengasihi manusia berdosa dan mengaruniakan Yesus Kristus sebagai ‘jalan penebusan’” dinyatakan oleh Rasul Yohanes dalam Injilnya yang ditulis berdasarkan fakta bahwa ia sendiri adalah pengikut Yesus Kristus; ia sendiri melihat dan merasakan kuasa dan mukjizat yang diperlihatkan Yesus; ia pula yang mendengar dan melihat bukti klaim-klaim spektakuler Yesus mengenai diri-Nya: Tuhan dan Allah, Sang Juruselamat dunia:
Karena begitu besar kasih Allah akan dunia ini, sehingga Ia telah mengaruniakan Anak-Nya yang tunggal, supaya setiap orang yang percaya kepada-Nya tidak binasa, melainkan beroleh hidup yang kekal. Sebab Allah mengutus Anak-Nya ke dalam dunia bukan untuk menghakimi dunia, melainkan untuk menyelamatkannya oleh Dia. Barangsiapa percaya kepada-Nya, ia tidak akan dihukum; barangsiapa tidak percaya, ia telah berada di bawah hukuman, sebab ia tidak percaya dalam nama Anak Tunggal Allah (Yohanes 3:16-18)
Mereka yang percaya kepada Yesus berarti sama dengan percaya kepada Sang Bapa yang mengaruniakan Yesus bagi dunia yang berdosa. Lalu bukankah pernyataan Rasul Yohanes mengindikasikan bahwa “Allah punya Anak” atau “Allah beranak?” Mereka yang memahami “Allah beranak” pasti pikirannya tumpul; ya, memang tumpul. Istilah “Anak” di sini tidak dipahami sebagai sebagai konsep biologis bahwa istri Allah hamil dan beranak. Ini jelas pikiran dari yang bodoh; bodoh karena tidak memahami konsep bahwa Allah memiliki sejumlah kualitas kuasa yang tak dapat dipahami oleh manusia. Istilah “anak” memiliki beberapa pemahaman: pertama, anak secara biologis (status sebagai anak karena dilahirkan dari orangtuanya); kedua, anak secara pengakuan (misalnya Israel adalah ‘anak kesayangan Allah’. Itu berarti Israel diakui oleh Allah sebagai yang disayang, dijaga, dan diberkati. Yesus Kristus, dalam keadaan-Nya sebagai manusia, dinyatakan ‘diakui’ oleh Allah sebagai ‘Anak-Nya yang tunggal’ yang kepada-Nya Ia berkenan [Mat. 3:17; 17:5; Mrk. 1:11; bdk. Yoh. 1:14, 18; 3:16, 18; 1Yoh. 4:9]); ketiga, anak secara adopsi (seseorang dapat disebut sebagai anak karena ia telah ‘diadopsi’ oleh seseorang. Dalam istilah sekarang, disebut dengan ‘anak angkat’); keempat, anak secara atau dalam konteks silsilah (misalnya: Yesus Kristus anak Daud, anak Abraham [Mat. 1:1]); dan kelima, anak secara identitas turunan [penyebutan] yang sama, satu substansi yang setara, misalnya penyebutan atau pengakuan “Anak Allah”. Konteks ini seringkali dipakai Yesus untuk menyebut diri-Nya sebagai “Anak Allah” (Yoh. 5:25, “…orang-orang mati akan mendengar suara Anak Allah”; Luk. 22:70, “Jawab Yesus: ‘Kamu sendiri mengatakan, bahwa Akulah Anak Allah’”; Yoh. 11:4, “…sebab oleh penyakit itu Anak Allah akan dimuliakan”), atau pengakuan Yohanes (Yoh. 1:18, “…tetapi Anak Tunggal Allah….; 1:34, “Ia inilah Anak Allah”; 3:16, “Karena begitu besar kasih Allah akan dunia ini, sehingga Ia telah mengaruniakan Anak-Nya yang tunggal….”; 3:17-18, “Sebab Allah mengutus Anak-Nya … sebab ia tidak percaya dalam nama Anak Tunggal Allah”; 20:31, “…supaya kamu percaya, bahwa Yesuslah Mesias, Anak Allah….”), pengakuan Iblis untuk mencobai Yesus (Mat. 4:3, 6; Luk. 4:3, 9), pengakuan setan-setan, roh-roh jahat (Mat. 8:29; Mrk. 3:11; 5:7; Luk. 4:41; 8:28), terlebih para murid yang mengakui bahwa Yesus adalah Mesias, Anak Allah (Mat. 14:33; 16:16), pengakuan kepala pasukan (Mrk. 15:39), pernyataan Markus (Mrk. 1:1), peryataan (pengakuan) malaikat terkait kelahiran Yesus, Sang Juruselamat (Luk. 1:32, “disebut Anak Allah Yang Mahatinggi”; 1:35, “sebab itu anak yang akan kaulahirkan itu akan disebut kudus, Anak Allah”), pengakuan Natanael (Yoh. 1:49, “Rabi, Engkau Anak Allah, Engkau Raja orang Israel!”).
Dalam terang inkarnasi Logos menjadi daging [manusia], Allah merealisasikan kovenan yang baru untuk menunjukkan kepada manusia berdosa bahwa “cara penebusan dalam PL secara penuh dan final dikerjakan oleh Yesus Kristus melalui kematian dan kebangkitan-Nya, di mana kurban dalam PL hanya mati tapi tidak bangkit dari kematian, sedangkan Yesus melampaui dari kurban PL. Itulah cara Allah yang dipilih-Nya tanpa meminta persetujuan manusia. Berita tentang “kasih Yesus yang luar biasa itu: rela mati di kayu salib untuk maksud penebusan dan realisasi keselamatan yang ditetapkan-Nya sejak kekekalan” menjadi topik utama dalam tulisan-tulisan para rasul. Sebut saja dua di antaranya: Rasul Petrus dan Rasul Paulus. Rasul Petrus menegaskan,
Sebab kamu tahu, bahwa kamu telah ditebus dari cara hidupmu yang sia-sia yang kamu warisi dari nenek moyangmu itu bukan dengan barang yang fana, bukan pula dengan perak atau emas, melainkan dengan darah yang mahal, yaitu darah Kristus yang sama seperti darah anak domba yang tak bernoda dan tak bercacat. Ia telah dipilih sebelum dunia dijadikan, tetapi karena kamu baru menyatakan diri-Nya pada zaman akhir. Oleh Dialah kamu percaya kepada Allah, yang telah membangkitkan Dia dari antara orang mati dan yang telah memuliakan-Nya, sehingga imanmu dan pengharapanmu tertuju kepada Allah (1Ptr. 1:18-21).
Penegasan Rasul Petrus di atas adalah sebuah fakta yang terjadi. Konsep “darah” menjadi familiar dalam kaitannya dengan penebusan. Petrus mengkorelasikan “darah” dalam PL dengan “darah” Yesus Kristus di Perjanjian Baru. Darah sebagai media adalah cara Allah, sekali lagi: cara Allah — dan bukan cara manusia — untuk menebus manusia dari dosa-dosa mereka. Darah adalah simbol pengurbanan. PL hanya memperlihatkan darah binatang untuk membereskan ketidakberesan bangsa Israel. PB memperlihatkan darah Yesus untuk menebus manusia yang berdosa (bdk. Mat. 1:21). Di sini sangat terlihat konsep pengurbanan yang luar biasa. Seperti pemahaman yang diungkapkan Rasul Paulus, bahwa “Dia yang tidak mengenal dosa telah dibuat-Nya menjadi dosa karena kita, supaya dalam Dia kita dibenarkan oleh Allah” (2 Kor. 5:21) adalah benar, sama seperti konsep pengurbanan dalam PL. Binatang-binatang tidak mengenal dosa bangsa Israel, tetapi binatang-binatang itu jadi “pengganti” bangsa Israel. Itulah cara Allah: mengganti Israel untuk ditebus dengan binatang yang darahnya harus dicurahkan. Binatang itu mati menggantikan mereka. Yesus pun demikian: Ia adalah “pengganti” manusia berdosa; Ia tidak berdosa, tetapi dibuat Allah menjadi dosa karena kita, sama dengan binatang-binatang (dalam PL) yang tidak bersalah apa-apa tetapi dijadikan sebagai dosa untuk menebus bangsa Israel. Binatang adalah “pengantara” antara Allah dan bangsa Israel, demikian pula Yesus: Ia adalah Pengantara yang sempurna. Ia mati sebagai kurban yang sempurna, dan bangkit dari kematian. Teks-teks berikut meneguhkannya:
Karena Allah itu esa dan esa pula Dia yang menjadi pengantara antara Allah dan manusia, yaitu manusia Kristus Yesus yang telah menyerahkan diri-Nya sebagai tebusan bagi semua manusia: itu kesaksian pada waktu yang ditentukan (1 Tim 2:5-6)
Karena itu Ia sanggup juga menyelamatkan dengan sempurna semua orang yang oleh Dia datang kepada Allah. Sebab Ia hidup senantiasa untuk menjadi Pengantara mereka (Ibr. 7:25)
Karena itu Ia adalah Pengantara dari suatu perjanjian yang baru, supaya mereka yang telah terpanggil dapat menerima bagian kekal yang dijanjikan, sebab Ia telah mati untuk menebus pelanggaran-pelanggaran yang telah dilakukan selama perjanjian yang pertama (Ibr. 9:15)
Anak-anakku, hal-hal ini kutuliskan kepada kamu, supaya kamu jangan berbuat dosa, namun jika seorang berbuat dosa, kita mempunyai seorang pengantara pada Bapa, yaitu Yesus Kristus, yang adil (1 Yoh. 2:1)
Rasul Paulus juga menegaskan konteks kematian Yesus dalam rangka penebusan yang bertolak dari kesaksian Kitab Suci (maksudnya PL): “Sebab yang sangat penting telah kusampaikan kepadamu, yaitu apa yang telah kuterima sendiri, ialah bahwa Kristus telah mati karena dosa-dosa kita, sesuai dengan Kitab Suci, bahwa Ia telah dikuburkan, dan bahwa Ia telah dibangkitkan, pada hari yang ketiga, sesuai dengan Kitab Suci” (1 Kor. 15:3-4). Ada nubuat-nubuat yang cukup menegaskan bahwa penderitaan, kematian, kebangkitan Mesias diwujudkan dalam diri Yesus Kristus. Karya-karya Yesus meneguhkan nubuatan-nubuatan PL. Itu berarti konsep penebusan PL yang melibatkan darah binatang terealisasi secara sempurna dalam kematian Yesus yang mencurahkan darah dan mengalami kematian sebagai manusia sebagaimana yang ditegaskan Paulus berikut ini: “Dan dalam keadaan sebagai manusia, Ia telah merendahkan diri-Nya dan taat sampai mati, bahkan sampai mati di kayu salib” (Flp. 2:8).
Kematian Yesus adalah bukti cinta kasih-Nya kepada manusia berdosa. Allah menggunakan cara yang ajaib dan luar biasa. Yesus menjadi manusia untuk membereskan ketidakberesan manusia. Lalu bukankah Allah itu Mahakuasa? Bukankah Ia dapat mengampuni manusia berdosa tanpa harus melalui cara penyaliban Yesus? Pertanyaan-pertanyaan tersebut berangkat dari ketidakmengertian akan kedaulatan Allah. Saya dapat mengajukan pertanyaan untuk menyeimbangi pertanyaan tersebut: “Yang berhak menebus itu siapa?”; “Apakah manusia berdosa berhak mengatur Allah yang Maha Berdaulat?”; “Apakah Allah kurang pandai untuk menebus manusia dari dosa, sehingga manusia harus memberikan saran kepada-Nya soal cara yang paling baik untuk menebus manusia?” Kematian adalah cara yang paling baik yang dilakukan Allah untuk memberikan kehidupan kekal kepada mereka yang ditebus Allah. Binatang-binatang (dalam PL) darahnya dicurahkan dan mati; Yesus Kristus (dalam PB) darah-Nya dicurahkan dan mati. Dua prinsip ini sama tetapi “medianya” berbeda.
Berangkat dari dua prinsip tersebut, saya memahaminya sebagai cara Allah yang luar biasa. Kalau darah binatang yang dikurbankan hanya menebus bangsa Israel sebagai umat pilihan, darah Yesus yang dicurahkan justru membuktikan bahwa darah Yesus cukup untuk menebus semua umat pilihan yang tersebar di seluruh dunia. Allah menampilkan kehebatan kuasa-Nya sebagai realisasi dari rencana kekal-Nya untuk menyelamatkan manusia di seluruh dunia—umat yang telah dipilih-Nya. Dari situlah ide untuk mewartakan Injil kepada semua bangsa sebagai gerakan “Kasih dan Keselamatan” yang telah diwariskan Yesus kepada para pengikut-Nya.
Selain keberhasilan dari para pekabar Injil, ada pula aliran penentang kekristenan. Arus ini sering mengandalkan otot ketimbang otak. Meski juga otak sering dipakai untuk melawan gagasan-gagasan doktrinal Kristen. Otot digunakan untuk membuat kekerasan, intimidasi, pengusiran, pembakaran, pembunuhan kepada orang-orang Kristen dan tempat ibadahnya. Karena otak mereka tidak dapat menerima ajaran-ajaran Kristen, maka ototlah yang lebih berperan. Bukan karena Kristen tidak bisa berperang atau melawan, tetapi karena tidak ada teks rujukan yang pernah Yesus ajarkan untuk membalas kejahatan dengan kejahatan. Tidak sama sekali.
Arus penentang kekristenan di sepanjang sejarah sering melakukan tiga hal: pertama, menghambat pergerakan misi dan perkembangan populasi Kristen dengan berbagai cara; kedua, membunuh atau membantai orang-orang Kristen dengan cara-cara yang sadis sehingga menimbulkan ketakutan bagi orang Kristen lainnya; dan ketiga, menafsirkan ajaran-ajaran Alkitab sesuka hati tanpa didasari oleh pengkajian hermeneutik yang kredibel dan solid. Pada kasus pertama, kedua, dan ketiga, hingga sekarang masih dilakukan. Ketika kasus pertama dan kedua tidak dapat dijalankan, maka kasus ketiga dijalankan. Sekarang ini, ada sejumlah orang atau kelompok yang sering menggunakan ayat-ayat Alkitab dengan model tafsiran sesuka hati [tafsir dengkul] dan kemudian menyodorkan kepada orang-orang Kristen yang kurang terpelajar atau yang bahkan kurang memahami ajaran-ajaran Kristen, sehingga bisa berpotensi mempengaruhi mereka.
Arus jenis ini yaitu menggunakan tafsir bebas sesuka hati terhadap teks-teks Alkitab, cukup marak di Indonesia. Mereka suka sekali menafsirkan Alkitab dari kacamata agama mereka dan kemudian menjadikan seolah-olah agama mereka yang benar sesuai harapan mereka tentunya. Arus jenis ini juga sudah dimulai sejak lama. Sebut saja dari kalangan Islam adalah Ahmed Deedat dan dilanjutkan oleh Zakir Naik yang memiliki pola yang sama yaitu menggunakan teks-teks Alkitab lalu menafsirkannya sesuka hati sesuai kepentingan. Demikian juga dengan Irena Handono, Ustadz Kainama, Yahya Waloni, dan lain sebagainya yang tipenya sama. Bahkan yang lebih bodoh/konyol lagi adalah ada yang mengatakan bahwa: “Alkitab dinyatakan benar kalau Alquran menyatakannya benar”. Ini lucu sekali, dan terkesan sangat bodoh.
Berangkat dari arus penentang tersebut, tugas orang Kristen adalah terus mendalami kekayaan ajaran-ajaran Alkitab, sehingga dapat mempertanggungjawabkan iman di hadapan semua orang yang meminta, mengingingkan, menanyakan penjelasan tentangbya. Tidak perlu takut ketika ada pertanyaan-perntayaan sulit untuk dijawab, sebab iman itu kadang tidak bisa dijelaskan dengan perkataan (secara logis), sebab catatan penting di sini adalah “Tuhan tidak dipahami secara penuh oleh manusia yang terbatas”. Yang dipahami adalah apa yang telah difirmankan-Nya kepada manusia. Kritik-kritik atas Alkitab wajar saja dilakukan, tetapi para pengkritik juga harus memahami jawaban yang diberikan. Tidak hanya suka mengkritik, tetapi juga suka menerima penjelasan atas kritik tersebut.
Gerakan kasih dan keselamatan harus terus dilakukan dan dikumandangkan. Kekristenan akan terus berkembang ketika gerakan kasih dan keselamatan menjadi bagian penting untuk dilakukan. Kasih tentu lebih dari sekadar berbuat baik secara normatif. Pemberitaan Injil berisikan kasih dan keselamatan yang Tuhan anugerahkan kepada manusia berdosa. Gerakan kasih adalah saat orang Kristen mempublikaskan perbuatan-perbuatan terang (baik dan selaras dengan kehendak Allah), melalui pikiran, perkataan, dan perbuatan. Penginjilan adalah bagian yang tak terpisahkan dari iman Kristen. Penginjilan telah menjadi sahabat karib iman Kristen. Penginjilan bukanlah pemaksaan untuk menjadi Kristen, tetapi lebih kepada bagaimana manusia memahami dirinya yang berdosa dan membutuhkan Tuhan sebagai Penebus yang menebusnya dan memberikan keselamatan yang kekal.
Keselamatan yang diberikan Tuhan hanya bagi mereka yang percaya kepada-Nya dan setia melakukan apa yang berkenan kepada-Nya. Mengapa harus keselamatan? Pasalnya, manusia itu mati, dan setelah mati ia ke mana? Tuhan justru menawarkan kehidupan setelah kematian dan manusia yang ditebus-Nya dapat menikmati kehidupan dan kebahagiaan dalam Surga-Nya. Penghiburan bagi orang percaya adalah karena mereka diyakinkan menerima kehidupan kekal, mahkota kehidupan, dan ikut tinggal dalam Surga-Nya. Maka, kematian bukanlah ketakutan yang membelenggu iman, tetapi justru iman itulah yang memberikan pengharapan dan kelegaan bahkan kekuatan untuk menjalani kehidupan dengan rasa syukur dan meletakkan semua proses kehidupan ke dalam tangan kuasa Tuhan. Tentu Tuhan sanggup mengatur kehidupan semua orang yang percaya kepada-Nya.
Sebagai gerakan kasih melalui pikiran, perkataan, dan perbuatan, Kristen haruslah menjadi garam dan terang dunia di mana pun berada. Keselamatan yang Tuhan berikan haruslah diwartakan dengan cara damai, bukan dengan cara perang. Mewartakan kasih dan keselamatan Tuhan telah menjadi tugas utama kita sebagai orang percaya. Tugas kita hanyalah mewartakannya, dan selebihnya Tuhan yang akan mengerakkan hati setiap orang yang telah mendengar kabar tentang kasih dan keselamatan yang Tuhan lakukan dalam sejarah kemanusiaan.
Yesus Kristus adalah Juruselamat—dengan darah-Nya, Ia menebus manusia berdosa—dan kehendak-Nya adalah manusia hidup dalam kebenaran, hidup dalam kekudusan dan kesucian, menjadi pembawa damai, sebagaimana yang diajarkan-Nya: “Berbahagialah orang yang membawa damai, karena mereka akan disebut anak-anak Allah” (Mat. 5:9). Meski kadang penderitaan dan aniaya terjadi bagi kita oleh mereka yang membenci kita karena beriman kepada Yesus Kristus, tetap bersabar dan ingat pesan-Nya:
“Berbahagialah orang yang dianiaya oleh sebab kebenaran, karena merekalah yang empunya Kerajaan Sorga. Berbahagialah kamu, jika karena Aku kamu dicela dan dianiaya dan kepadamu difitnahkan segala yang jahat. Bersukacita dan bergembiralah, karena upahmu besar di sorga, sebab demikian juga telah dianiaya nabi-nabi yang sebelum kamu” (Matius 5:10-12).
Kristen sebagai gerakan kasih dan keselamatan harus terus menjadi berkat meski sering dihujat. Teruslah menjadi terang meski sering dianggap berpikiran gelap. Teruslah menjadi pelayanan Tuhan meski ada hambatan di depan. Teruslah lemah lembut, meski kadang sering dianggap kurang ajar. Teruslah mencari kebenaran, memahaminya, dan tinggal di dalamnya, meski kebenaran sering disalahpahami oleh mereka yang membenci kita. Teruslah bermurah hati meski sering dicurigai. Teruslah menjaga kesucian hati, meski kadang godaan dan tawaran menggiurkan dikipaskan di depan mata kita. Teruslah membawa damai, meski kadang diintimidasi dan ditekan bahkan didiskriminasikan. Teruslah bertahan dan bersabar dalam penderitan dan aniaya oleh sebab kebenaran iman kepada Yesus KRistus, meski ketidakadilan dan diskriminasi kita terima. Teruslah sabar dan berdoa bagi mereka yang mencela, menganiaya, dan yang memfitnah segala yang jahat kepada kita.
Dan ingatlah keagungan rahasia ibadah kita, bahwa “Dia [Yesus Kristus], yang telah menyatakan diri-Nya dalam rupa manusia, dibenarkan dalam Roh; yang menampakkan diri-Nya kepada malaikat-malaikat, diberitakan di antara bangsa-bangsa yang tidak mengenal Allah; yang dipercayai di dalam dunia, diangkat dalam kemuliaan” (1 Tim. 3:16). Inilah yang menjadi isi berita Injil sebagai bentuk kasih kita kepada sesama, dan keselamatan yang telah diberikan Yesus Kristus melalui kematian-Nya di kayu salib akan terus menjadi pemberitaan bagi bangsa-bangsa lain. Tugas kita adalah memberitakan Injil-Nya, dan Tuhan akan meneguhkan-Nya sesuai dengan kehendak-Nya.